Sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan

sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan

I Pilihan Ganda Pilihlah satu jawaban yang benar! 1. Yang bukan termasuk petuah dan amanah dalam tunjuk ajar Melayu adalah… a. petuah amanah guru kepada murid b.

petuah amanah anak kepada tetangga c. petuah amanah menghadapi hari kemudian d. petuah amanah kesetiakawanan sosial e. petuah amanah alam lingkungan 2. Sungai dan laut menjadi kawasan orientasi ruang bagi orang Melayu yang memiliki fungsi sebagai… a. komunikasi, transportasi, dan sistem pasar b. lalu lintas peradaban dan moda pencarian c.

hiburan dan taman bermain d. tempat mencari kekayaan e. semua benar 3. Selain sebagai sumber kehidupan, alam bagi orang Melayu juga menjadi sumber… a. keindahan b. pengetahuan c. kekayaan d. pencarian e. daya 4. Orang Melayu menjadikan alam sebagai sumber ekonomi dan pusat pengetahuan. Selain itu, alam juga dianggap sebagai simbol… a.

marwah dan harga diri b. pusat kekuasaan c. persatuan persukuan d. adat istiadat e. cadangan masa depan 5. Suatu gagasan yang berupa norma-norma yang disusun berdasarkan kesepakatan bersama dan ajaran agama Islam di sebut… a. adab b. adat c. budaya d. tunjuk ajar e.

budaya Melayu 6. Ungkapan lebih baik mati anak dari pada mati adat dimaknai sebagai… a. pentingnya adat dari pada anak b. adat yang mengatur kehidupan c. adat lebih penting dari pada anak d. kebaikan yang dihasilkan adat e. menggambarkan bahwa kepentingan bersama lebih diutamakan dari kepentingan pribadi SUSURI JUGA: Soal-soal Evaluasi BMR Kelas X SMA/SMK/MA Bab 9 Mata Pencarian Tapak Lapan 7.

Masyarakat adat yang tidak memiliki hutan tanah dianggap sebagai masyarakat… a. hina b. celaka c. miskin d.

sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan

terbuang e. tak beradat 8. Sungai, danau, dan rawa merupakan bagian dari saujana perkampungan orang Melayu. Sungai merupakan wilayah yang masuk pada… a. rimba larangan b. tanah perkampungan c. tanah ulayat d.

rimba kepungan sialang e. hutan tanah 9. Sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan… a. aliran larangan b. batas larangan c. hutan larangan d.

sungai larangan e. rimba kepungan sialang 10. Berdasarkan studi sosial, Melayu disebut sebagai masyarakat… a. fanatik b. simpatik c. simbolik d.

aquatik e. empati 11. Pola ruang wilayah adat mengikuti kosmologis wilayah adat yaitu tanah untuk kehidupan dan hutan tanah sebagai rumah bagi… a. marwah b. flora dan fauna c. ekonomi d. adat istiadat e. kebudayaan 12. Orang Melayu mengenal hutan tanah milik persukuan atau kaum masyarakat tertentu lazimnya di sebut… a.

tanah pusaka b. tanah ulayat c. tanah persukuan d. tanah ninik mamak e. tanah bersama 13. Adat yang tidak pernah berubah dan hilang keberadaannya di alam Melayu di sebut… a. adat sebenar adat b. adat yang teradatkan c. adat yang diadatkan d. adat istiadat e. adat berumah tangga 14. Pada masa dahulu, pemilikan, penguasaan, dan pemanfaatan hutan tanah yang tergolong tanah adat dilegitimasi oleh… SUSURI JUGA: Soal-soal Evaluasi BMR Kelas VI SD/MI Bab 7 Makanan Berhidang Melayu Riau a.

kepala adat b. kepala suku c.

sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan

kepala desa d. datuk-datuk e. raja 15. Hutan tanah dengan segala isinya adalah sumber etika dan nilai-nilai yang digambarkan dalam tunjuk ajar sebagai penanda.

Hal ini termasuk ke dalam fungsi hutan-tanah sebagai… a. penanda eksistensi dan marwah b. sumber falsafah dan dinamika budaya c. sumber mencari nafkah d. ruang hidup e. sumber ekonomi II Esai Jawablah pertanyaan berikut dengan benar dan ringkas! • Jelaskan kedudukan alam (hutan-tanah) dalam budaya Melayu! • Mengapa alam sangat penting bagi orang Melayu sehingga alam menjadi marwah yang perlu dijaga keberlangsungannya?

• Jelaskan bagaimana sistem pemanfaatan hutan-tanah dalam budaya Melayu! • Jelaskan dengan bahasa yang sederhana tentang makna yang terkandung dalam ungkapan lebih baik mati anak dari pada mati adat! • Jelaskan bagaimana alam (hutan-tanah) menjadi sumber falsafah dan dinamikan kebudayaan bagi orang Melayu! III Tugas Individu Kumpulkan kliping berita media masa baik cetak maupun online yang bertemakan kelestarian dan kehancuran hutan di Riau.

IV Tugas Kelompok Buatlah kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa. Susunlah paper yang bertemakan dampak perkebunan sawit terhadap kelestarian hutan di Provinsi Riau. Sumber: Taufik Ikram Jamil, Derichard H. Putra, Syaiful Anuar. 2020. Pendidikan Budaya Melayu Riau tingkat SMA/SMK/MA Kelas X. Pekanbaru: Narawita Swarna Persada Setiap Negara memiliki kemungkinan untuk menambah atau memperluas wilayahnya.

Disamping wilayah awal, seringkali negara bertambah wilayahnya melalui akresi, cessi, okupasi, preskripsi, dan perolehan wilayah secara paksa yang biasanya berupa aneksasi. Konsep wilayah sangat penting dibicarakan dalam hukum internasional : a) H ukum I nternasional adalah kaidah atau asas hukum yang mengatur persoalan yang melintas batas negara.

Salah satu syarat suatu negara adalah wilayah. b) Konsep atau paham kedaulatan dibatasi oleh wilayah negara. Menurut hukum internasional cara penambahan wilayah yang dibenarkan adalah dengan cara damai tanpa kekerasan. Piagam PBB Pasal 2 ayat 4 dengan jelas menyatakan larangan untuk menambah wilayah dengan kekerasan.

Berikut bunyi pasal tersebut : Dalam melaksanakan hubungan internasional, semua anggota harus mencegah tindakan-tindakan yang berupa ancaman atau kekerasan terhadap kedaulatan atau kemerdekaan politik Negara lain.

Cara memperoleh yang dibenarkan menurut hukum internasional, yaitu okupasi, akkresi, prespeksi, cessi. Sedangkan aneksasi atau penaklukan (penggabungan suatu wilayah lain dengan kekerasan atau paksaan kedalam wilayah negara yang menganaksasi) tidak dibernarkan. Sedangkan, referendum ( plebisit) adalah cara memperoleh wilayah melalui pilihan kemauan penduduk yang bersangkutan. Referendum adalah cara damai dengan pemungutan suara oleh penduduk wilayah seperti, Jejak Pendapat Timor Timor tahun 1999.

Island of Palmas Arbritation, cara-cara diperolehnya wilayah ini telah banyak berkurang menjadi dipertunjukannya suatu control dan kewenangan, baik oleh Negara yang mengklaim kedaulatan ataupun oleh suatu Negara dari mana Negara yang mengklaim kedaulatan dapat membuktikan bahwa hak tersebut telah dirampas. Dengan demikian okupasi dan aneksasi didasarkan pada suatu tindakan penanganan efektif wilayah terkait, sementara penambahan ( accretion) hanya dapat diartikan sebagai suatu penambahan terhadap suatu bagian wilayah dimana telah ada suatu kedaulatan actual.

Preskripsi tergantung pada pelanjutan dari dipertunjukannya kedaulatan secara damai atas wilayah untuk waktu yang lama, sedangkan penyerahan ( cession) member pengandaian bahwa Negara yang menyerahkan ( ceding state) memiliki kewenangan yang efektif untuk mengatur wilayah yang dialihkan. Salah satu tambahan wilayah diperolehnya kedaulatan territorial, yang tidak termasuk dalam lima hal tadi yakni melalui keputusan Konferensi Negara-negara. Hal ini biasanya terjadi apabila konferensi Negara-negara pemenang perang pada akhir peperangan menyerahkan kepada Negara tertentu sehubungan dengan suatu penyelesaian perdamaian umum: misalnya, pembagian kembali wilayah Eropa pada waktu konferensi perdamaian Versailles tahun 1919.

Menurut doktrin Soviet, kedaulatan territorial juga dapat diperoleh dengan cara plebisit (penentuan kehendak rakyat), meskipun hal ini tampaknya lebih merupakan pengurangan atas cara perolehan disbanding sebagai langkah yang mendahului diperolehnya kedaulatan. A. Cara yang dibenarkan menurut hukum internasional untuk: 1.

Okupasi atau Pendudukan ( occupation) Perolehan dan atau penegakan ked a ulatan atas wilayah yang terra nulius (wilayah yang bukan dan sebekumnya sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan pernah diletakkan dibawah kedaulatan suatu bangsa). Wilayah tersebut tidak berada di bawah penguasaan negara manapun, baik wilayah yang baru ditemukan ataupun suatu hal yang tidak mungkin yang ditinggalkan oleh negara semula.

Penguasaan tersebut harus dilakukan oleh negara dan bukan oleh orang perorangan, secara efektif dan harus terbukti adanya kehendak untuk menjadikan wilayah tersebut sebagai bagian dari kedaulatan negara.

Hal itu harus ditunjukkan misalnya dengan suatu tindakan simbolis yang menunjukkan adanya penguasaan terhadap wilayah tersebut, misalnya dengan pemancangan bendera atau pembacaan proklamasi. Penemuan saja tidak cukup kuat untuk menunjukkan kedaulatan negara, karena hal ini dianggap hanya memiliki dampak sebagai suatu pengumuman. Agar penemuan tersebut mempunyai arti yuridis, harus dilengkapi dengan penguasaan secara efektif untuk suatu jangka waktu tertentu. Dalam Eastern Greenland Case, Permanaent Court of International Justice menetapkan bahwa okupasi supaya efektif mensyaratkan dua unsur di pihak negara yang melakukan: 1) Suatu kehendak atau keinginan untuk bertindak sebagai yang berdaulat 2) Melaksanakan atau menunjukan kedaulatan secara pantas.

Syarat yang harus ada dalam okupasi damai adalah : 1) Dilakukan oleh Negara2) Atas daerah yang tidak bertuan atau tidak dimiliki negara lain, biasanya dengan penemuan3) Pemukiman harus dengan jangka waktu yang wajar dan bersifat menetapdan 4) Penguasaan yang efektif5) Ada maksud untuk bertindak sebagai pemegang kedaulatan atas wilayah yang bersangkutan.

2. Akkresi ( accretion) Penambahan wilayah yang disebabkan oleh proses alamiah. Misalnya terbentuknya pulau yang disebabkan oleh endapan lumpur muara sungai; mengeringnya bagian sungai disebabkan oleh terjadinya perubahan aliran sungai; terbentuknya pulau baru disebabkan oleh letusan gunung berapi.

Syarat dalam cara memperoleh wilayah dengan akkresi tidak ada, karena berlangsung secara alamaih tanpa ada campur tangan manusia.

3. Preskripsi ( p rescripton ) Perolehan wilayah karena okkupasi suatu negara yang terus menerus dalam jangka waktu lama atas suatu wilayah yang benar-benar milik negara lain atau yang semula milik negara lain. Pelaksanaan kedaulatan oleh suatu sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan secara de facto dan damai untuk kurun waktu tertentu, bukan terhadap terra nullius melainkan terhadap wilayah yang sebenarnya berada di bawah kedaulatan negara lain.

Syarat Preskripsi yaitu : 1) Tidak ada protes dari pemilik terdahulu. 2) Adanya pelaksanaan hak kedaulatan untuk jangka waktu lama. 4.

sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan

Cessi atau Penyerahan ( c ession ) Penyerahan wilayah mungkin dilakukan secara sukarela atau mungkin dilakukan dengan paksaan sebagai akibat peperangan yang diselesaikan dengan sukses oleh negara penerima penyerahan wilayah terkait. Penyerahan wilayah secara damai yang biasanya dilakukan melalui perjanjian perdamaian untuk mengakhiri perang, atau dengan cara-cara yang berbeda.

Sesungguhnya penyerahan wilayah menyusul kekalahan dalam perang lebih lazim terjadi daripada aneksasi. Suatu penyerahan melalui traktat adalah batal apabila pembentukan traktat itu dihasilkan dari ancaman atau penggunaan kekerasan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional. Negara yang menyerahkan tidak dapat mengurangi apa yang telah ia serahkan. Sesungguhnya penyerahan wilayah menyusul kekalahan dalam perang lebih lazim terjadi daripada aneksasi.

Suatu penyerahan melalui traktat adalah batal apabila pembentukan traktat itu dihasilkan dari ancaman atau penggunaan kekerasan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional. Negara yang menyerahkan tidak dapat mengurangi apa yang telah ia serahkan. B. Cara yang tidak dibenarkan menurut hukum internasional untuk: Piagam PBB Pasal 2 ayat 4 dengan jelas menyatakan larangan untuk menambah wilayah dengan kekerasan.

Berikut bunyi pasal tersebut : Dalam melaksanakan hubungan internasional, semua anggota harus mencegah tindakan-tindakan yang berupa ancaman atau kekerasan terhadap kedaulatan atau kemerdekaan politik Negara lain. Aneksasi merupakan bentuk memperoleh wilayah dengan kekerasan dan hal itu tidak dibenarkan.

Aneksasi ( annexation) adalah p erolehan wilayah secara paksa, istilah lainnya adalah penaklukan. Adapun perolehan kedaulatan teritorial yang dipaksakan dengan dua bentuk keadaan: 1) Apabila wilayah yang dianeksasi telah dilakukan atau ditundukan oleh negara yang menganeksasi 2) Apabila wilayah yang dianeksasi dalam kedudukan yang benar-benar berada di bawah negara yang menganeksasi pada waktu diumumkannya kehendak aneksasi oleh negara tersebut.

C. Plebesit atau Referendum Sebuah referendum ( Latin ) atau jajak pendapat dalam istilah bahasa Indonesia merupaka n pemungutan suara untuk mengambil sebuah keputusan (politik).Pada sebuah referendum, biasanya orang-orang yang memiliki hak pilih dimintai pendapatnya.

Referedum (plebisit) dalam hukum internsional adalah cara memperoleh wilayah melalui pilihan kemauan penduduk yang bersangkutan. Referedum adalah cara damai dengan pemungutan suara oleh penduduk wilayah tersebut untuk menentukan nasibnya.

Namun pada prakteknya diwarnai oleh tindakan kekerasan karena dianggaap pemberontakan seperti, Kasus Timor Tim u r. Hasil dari Jejak Pendapat tahun 1999sebagian besar penduduk Timor Timur ingin merdeka dan pada akhirnya memisahkan diri dari Indonesia menjadi negara Timor Leste. Dengan demikian, lepaslah Timor Timur dari Indonesia dan menjadi negara baru.

2. PENAMBAHAN WILAYAH DENGAN CARA T ERSEBUT PADA MASA SEKARANG Penambahan dengan cara-cara akresi, cessi, okupasi, preskripsi, dan perolehan wilayah secara paksa yang biasanya berupa aneksasisaat ini masih mungkin terjadi dan masih berlangsung. Cara tersebut (dalam teori hukum internasional) masih relevan apabila, pada kenyataannya masih ada fenomena tersebut. Cara-cara tersebut masih digunakan oleh negara-negara untuk menambah wilayah. Namun pada masa sekarang tidak semua cara masih digunakan.

Cara yang paling sering muncul saat ini untuk menambah wilayah yaitu dengan cara aneksasi dan referendum. Misalnya, aneksasi yang dilakukan Israel terhadap wilayah Palestina. Menurut hukum internasional cara tersebut tidak dibenarkan, karena ada larangan untuk menambah wilayah dengan kekerasan (Pasal 2 ayat 4 Piagam PPB).

Selain itu, dengan cara referendum seperti di Timor Timur 1999, Sudan Selatan 2011. Wilayah merupakan bagian dari kedaulatan dari suatu negara. Maka dari itu negara melindungi wilayah kekuasaan. Wilayah juga meruoakan sumber sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan internasional (antar negara). Banyak negara ingin menambah wilayahnnya, hukum internasional membatasi keinginan itu.

Dalam memperoleh atau menambah wilyah sering terjadi konflik antar negara. Sengketa-sengketa juga dapat diselesaikan melalui konsialiasi dan dalam beberapa hal tertentu wajib menggunakan penyelesaian melalui konsialiasi. Berikut contoh penambahan wilayah yang masih terjadi masa sekarang : 1. Okupasi atau Pendudukan ( occupation) – Sengketa Pulau Falkland oleh Inggris dan Argentina Otoritas eksekutif Falkland berada di bawah wewengan Ratu dan menjadi mandat gubernur. Kekalahan Argentina dalam perebutan Falkland mengakibatkan runtuhnya kekuasaan diktator militer Argentina pada 1983.

Pertentangan mengenai kontrol kepulauan tersebut masih berlangsung hingga kini. Sejak abad ke 18, Argentina dan Inggris telah bersitegang soal siapa yang memiliki pulau Falkland.

sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan

Pada tahun 1982, pecang perang kedua negara memperebutkan pulau ini. Lebih dari 600 tentara Argentina dan 200 tentara Inggris tewas dalam pertempuran tersebut. Status pulau Falkland sendiri di PBB dianggap sebagai wilayah tak bertuan.

Konflik tesebut saat ini mulai memanas kembali. Dilansir dari Daily Mail, Rabu 1 Februari 2012, Angkatan Laut Inggris akan menurunkan kapal penghancur tipe 45 HMS Dauntless selama tujuh bulan di perairan sekitar Falkland, atau yang oleh Argentina disebut pulau Malvinas. Penurunan kapal perang ini juga untuk mengamankan wilayah tersebut menjelang perayaan pembebasan Falkland oleh Inggris dari Argentina 30 tahun silam.

2. Akkresi ( accretion) – melalui P ergerakan S ungai Contoh cara penambahan wilayah secara alamiah yang mungkin timbul karena pergerakan sungai atau lainnya (misalnya tumpukan pasir karena tiupan angin), terdapat wilayah yang telah ada yang berada di bawah kedaulatan Negara yang memperoleh hak tersebut. Tindakan atau pernyataan formal tentang hak ini tidak diperlukan.

Tidak penting untuk diketahui apakah proses penambahan wilayah itu terjadi secara bertahap atu tidak terlihat, seperti dalam kasus biasa endap-endapan lumpur atau tentang apakah penambahan itu disebabkan oleh sesuatu pemindahan tanah secara tiba-tiba atau mendadak, dengan ketentuan bahwa penambahan itu melekat dan bukan terjadi dalam satu peristiwa yang dapat diidentifikasiakan berasal dari loksi lain.

Apabila dikatakan bertahap atau tidak kelihatan setelah selang waktu yang cukup lama. Kaidah-kaidah hokum perdata Romawi mengenai pembagian pemilikan terhadap endapan-endapan lumpur pada aliran atau sungai-sungai diantara pemilik-pemilik yang bersebrangan secara analogi berlaku terhadap persoalan pembagian kedaulatan antara Negara-negara yang bersebrangan dimana endapan-endapan sama-sama timbul di sungai-sungai yang menjadi garis perbatasan mereka.

3. Preskripsi ( p rescripton ) – P ulau Palmas Akibat perang Spanyol-Amerika Serikat tahun 1898, Spanyol menyerahkan Filipina kepada Amerika Serikat berdasarkan Treaty of Paris. Pada 1906 pejabat Amerika Serikat mengunjungi pulau Palmas (Miangas) yang diyakini Amerika Serikat sebagai wilayah yang diserahkan kepadanya, tetapi Amerika Serikat mendapatkan bendera Belanda berkibar di Pulau Palmas.

Amerika Serikat dan Belanda merasa memiliki hak kedaulatan terhadap Pulau Palmas. Dasar klaim Amerika Serikat adalah cessi, yang ditetapkan dalam Treaty of Paris.

Cessi “mentransfer” semua hak kedaulatan yang dimiliki Spanyol terhadap Pulau Palmas. Sedangkan Belanda mendasarkan klaim kedaulatannya terhadap Pulau Palmas pada alas hak okkupasi yaitu melalui pelaksanaan kekuasaan negara secara damai serta terus menerus atas Pulau Palmas.

Alas Hak Okkupasi ditentukan oleh prinsip “ effectiveness”, efektif berarti memenuhi dua syarat, yakni adanya kemauan untuk melakukan kedaulatan negara di wilayah yang diduduki dan adanya pelaksanaan kedaulatan negara yang memadai di wilayah itu. Sedangkan Alas Hak Cessi adalah tambahan kedaulatan wilayah melalui proses peralihan hak yang dapat berupa pemberian, tukar menukar atau paksa. Cessi dapat terjadi dengan sukarela atau dengan paksa.

Alas hak yang diperoleh melalui cara okupasi oleh Belanda lebih kuat dibandingkan cara cessi yang dilakukan oleh Amerika Serikat maka dari itu Arbitror memutuskan bahwa Pulau Palmas seluruhnya merupakan bagian wilayah Belanda. 4. Cessi atau Penyerahan ( c ession ) – Pembelian Alaska P embelian Alaska oleh Amerika Serikat dari Kekaisaran Rusia tahun 1867. Pembelian ini menambah luas wilayah Amerika Serikat sebesar 586.412 mil persegi (1.518.800 km²). Rusia saat itu sedang berada dalam posisi finansial yang sulit dan takut kehilangan Alaska Rusia tanpa kompensasi (terutama terhadap Britania Rayamusuh mereka dalam Perang Krim ).

Tsar Alexander II memilih menjual Alaska. Rusia menawarkan Alaska pada Amerika Serikat tahun 1859. Namun, Perang Saudara Amerika meletus. Setelah Perang Saudara Amerika berakhir, Tsar menginstruksikan menteri Rusia untuk Amerika Serikat Eduard de Stoeckl untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat.

Negosiasi dimulai pada Maret 1867, dan Amerika setuju untuk membeli Alaska dengan harga $4.74/km 2, total $7.200.000. Pembelian ini terbukti berguna bagi Amerika Serikat karena penemuan kandungan minyak bumi yang besar di Alaska.

Sesungguhnya penyerahan wilayah menyusul kekalahan dalam perang lebih lazim terjadi daripada aneksasi. Suatu penyerahan melalui traktat adalah batal apabila pembentukan traktat itu dihasilkan dari ancaman atau penggunaan kekerasan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional.

Negara yang menyerahkan tidak dapat mengurangi apa yang telah ia serahkan. 5. Aneksasi atau Penaklukan ( a nnexation ) – Pendudukan Israel di Palestina Pada tahun 1946Transyordania sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan kemerdekaan dari Mandat Britania atas Palestina. Agensi Yahudi untuk Israel mendeklarasikan berdirinya Negara Israel sesuai dengan rencana PBB yang diusulkan.

Komite Tinggi Arab tidak mengumumkan keadaan sendiri dan sebaliknya, bersama dengan TransyordaniaMesirdan anggota lain dari Liga Arab saat itu, mulai tahun 1948 Perang Arab-Israel. Selama perang, Israel memperoleh wilayah tambahan yang diharapkan menjadi bagian dari negara Arab di bawah rencana PBB.

Mesir memperoleh kendali atas Gaza dan Transyordania mendapat kontrol atas West Bank. Mesir awalnya mendukung terciptanya Pemerintahan Seluruh Palestinatapi itu dibubarkan pada tahun 1959 dan Transyordania memasukkan Tepi Barat dalam membentuk Yordania. Aneksasi itu diratifikasi pada 1950. Perang Enam Hari 1967 berakhir dengan ekspansi teritorial signifikan oleh Israel.

Ekspansi ini melibatkan seluruh Tepi Baratyang tetap di bawah pendudukan Israeldan Jalur Gaza yang diduduki sampai penarikan mundur Israel tahun 2005. Faktanya, Israel terus saja membangun permukiman Yahudi di Tepi Barat.

Pembangunan permukiman Yahudi yang terus berlanjut di daerah pendudukan akan membuat pendudukan Israel atas wilayah Palestina menjadi permanen. Dalam laporan untuk Sidang Umum PBB itu, Falk mengatakan, sebegitu luasnya pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat dan Jerusalem Timur sehingga membuat wilayah Palestina secara de facto telah dianeksasi Israel. Asumsi dasar resolusi DK PBB atas pendudukan wilayah Palestina oleh Israel tahun 1967 adalah sementara dan reversible.

Kesimpulannya, bukan hanya berdasar pada meluasnya pemukiman Yahudi di tempat pendudukan, melainkan juga pengusiran warga Palestina dari Jerusalem Timur dan penggusuran rumah-rumah mereka.

PBB seharusnya mendukung sanksi ataupun boikot terhadap Israel dengan tuduhan melakukan pelanggaran hukum internasional. 6. Plebesit atau Referendum – Referendum Sudan Selatan 2011 Pada awalnya konflik di Darfur, Sudan merupakan sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan etnis dengan lingkup internal saja. Konfik di Darfur lama kelamaan menjadi isu penting internasional karena disini banyak ladang minyak.

Negara lain berkepentingan atas isu ini seperti AS dan China. Cara r eferendum diambil untuk mengakhiri konflik saudara di Sudan, hasil Persetujuan Naivasha tahun 2005 antara pemerintah pusat di Khartoum dan Tentara Pembebasan Rakyat Sudan. Referendum juga akan diadakan di Abyei untuk menentukan apakah wilayah tersebut akan menjadi bagian dari Sudan Selatan atau tidak, tetapi referendum tersebut ditunda akibat konflik mengenai hak-hak kependudukan.

Sudan Selatan menjadi sebuah negara merdeka pada 9 Juli 2011 tengah malam (00:00) waktu setempat setelah referendum yang diselenggarakan pada Januari 2011 menghasilkan sekitar 99% pemilih memilih untuk memisahkan diri dari Sudan.

Sudan bagian selatan secara resmi mengumumkan berdirinya negara Sudan Selatan. Kemungkinan konflik yang berkelanjutan, pembagian penghasilan dari minyak bumi, serta pertanggung jawaban kejahatan kemanusiaan yang terjadi selama perang sipil .
Sungai dan laut menjadi kawasan orientasi ruang bagi orang Melayu yang memiliki fungsi sebagai .

* 10 points A. komunikasi, transportasi, dan sistem pasar D. tempat mencari kekayaan C. hiburan dan taman bermain B. lalu lintas peradaban dan moda pencarian E. semua benar 2. Yang bukan termasuk petuah dan amanah dalam tunjuk ajar Melayu adalah . * 10 points B. petuah amanah anak kepada tetangga E.

petuah amanah alam lingkungan C. petuah amanah menghadapi hari kemudian D. petuah amanah kesetiakawanan sosial A. Petuah amanah guru kepada murid 3.

sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan

Adat yang tidak pernah berubah dan hilang keberadaannya di alam Melayu di sebut. * 10 points E. adat berumah tangga C. adat yang diadatkan A. adat sebentar adat D. adat istiadat B. adat yang teradatkan 4. Orang Melayu menjadikan alam sebagai sumber ekonomi dan pusat pengetahuan.

Selain itu, alam juga dianggap sebagai simbol . * 10 points E. cadangan masa depan B. pusat kekuasaan C. persatuan persukuan A. marwah dan harga diri D. adat istiadat 5. Orang Melayu mengenal hutan tanah milik persukuan atau kaum masyarakat tertentu lazimnya disebut. * 10 points A. tanah pusaka E.

tanah bersama C. tanah persukuan D. tanah ninik mamak B. tanah ulayat 6. Suatu gagasan yang berupa norma-norma yang disusun berdasarkan kesepakatan bersama dan ajaran agama Islam disebut. * 10 points E. budaya melayu D. tunjuk ajar A. adab C. budaya B.

adat 7. Pola ruang wilayah adat mengikuti kosmologis wilayah adat yaitu tanah untuk kehidupan dan hutan tanah sebgai rumah bagi. * 10 points E. kebudayaan B. flora dan fauna A. marwah D. adat istiadat C. ekonomi 8. Ungkapan lebih baik mati anak dari pada mati adat dimaknai sebagai . * 10 points E. menggambarkan bahwa kepentingan bersama lebih diutamakan dari kepentingan pribadi D.

kebaikan yang dihasilkan adat B. adat yang mengatur kehidupan A. pentingnya adat daripada anak C. adat lebih penting dari pada anak 9. Masyarakat adat yang tidak memiliki hutan tanah dianggap sebagai masyarakat .

* 10 points E. tak beradat D. terbuang C. miskin B. celaka A. hina 10. Sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan . * 10 points A. lubuk larangan C. hutan larangan E. rimba kepungan sialang D. sungai larangan B.

batas larangan​ 1. gaya hidup hedonisme dan konsumtif bukanlah untuk memenuhi kebutuhan, melainkan.2. seseorang melakukan gaya hidup mater … ialistis untuk meraih keuntungan.3.

orang yang menyombongkan harta dunia, kikir, bersifat hedonisme dan konsumtif hanya akan mendapatkan.​ 1. Allah Swt. berfirman : "Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat … demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi"Jelaskan ibrah yang dapat diambil berdasarkan pernyataan berikut!2. Tuliskan dalil tentang ancaman Allah Swt. kepada orang yang mempunyai gaya hidup materialistis!bantuannya.​ Jakarta - Sungai yang dimanfaatkan sebagai sarana transportasi utama di Indonesia cukup banyak.

Untuk menempuh jarak yang lebih dekat, beberapa orang memanfaatkan jalur sungai. Sungai merupakan aliran air yang besar dan terbentuk karena proses alam. Mata air sungai berasal dari daerah pegunungan. Pemanfaatan sungai di Indonesia disesuaikan dengan keadaan geografis daerahnya. Jika di Jawa tidak ada lagi pemanfaatan sarana transportasi melalui sungai, lain halnya dengan sungai di Pulau Sumatera serta Kalimantan yang sungai besarnya dijadikan sebagai sarana transportasi utama.

Baca juga: Amazon: Rumah Asli Ikan Arapaima Gigas, Bukan Sungai Brantas Transportasi sungai ini juga disebut sebagai angkutan yang paling murah. Karena tidak perlu lagi membangun jalur transportasi karena sudah diciptakan oleh yang maha kuasa. Berikut beberapa sungai besar yang dimanfaatkan sebagai sarana transportasi utama: 1. Sungai Mahakam Sungai Mahakam yang berada di Kalimantan Timur ini memang membelah Provinsi Kalimantan Timur.

Sungai ini menjadi salah satu sungai yang masih digunakan sebagai sarana transportasi utama sekaligus menjadi penopang bagi wilayah dari hulu sampai hilir. Dua Pesut terlihat sedang berenang di Sungai Mahakam. Foto: ANTARA FOTO/Sugeng Hendratno Sungai ini juga memiliki beberapa jenis habitat seperti biota ikan air tawar seperti ikan patin dan juga pesut meskipun jumlahnya tinggal sedikit.

Sungai Mahakam memiliki panjang sekitar 920 km ini melintasi wilayah Kabupaten Kutai Barat di bagian hulu hingga kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda di bagian hilir. Sungai Mahakam juga dimanfaatkan sebagai jalur lewatnya kapal tongkang batu bara dari berbagai tempat.

Pada beberapa titik lebar sungai ini bisa mencapai ratusan meter. 2. Sungai Kapuas Sungai Kapuas atau sungai Kapuas Buhang merupakan sungai yang ada di Kalimantan Barat. Sungai ini menjadi yang terpanjang di pulau Kalimantan sekaligus menjadi sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang 1.143 km. Sungai ini berperan penting sebagai jalur distribusi barang di wilayah Kalbar.

Kedalamannya yang melebihi 20 meter membuat sungai Kapuas bisa dilewati baik kapal penumpang maupun barang.

Di sungai Kapuas banyak kapal-kapal atau perahu nelayan yang hendak mencari ikan atau sekedar ingin bersantai dan bersandar di kota tujuan. Sungai Kapuas Foto: (Merza Gamal/d'Traveler) 3. Sungai Musi Sungai Musi merupakan sungai yang dimanfaatkan sebagai sarana transportasi utama di Indonesia. Tak hanya itu sungai Musi juga memiliki spot menarik sehingga tak pernah sepi dikunjungi para pelancong. Sungai Musi terletak di Sumatera Selatan yang merupakan sungai terpanjang di Sumatera dan salah satu yang terpanjang di Indonesia.

Menikmati Sunset di Sungai Musi Foto: Afif Farhan 4. Sungai Barito Sungai Barito memiliki panjang 909 km. Sungai ini terletak di wilayah Kabupaten Barito Utara dan Murung Raya, Kalimantan Tengah.

Di sungai ini banyak aktifitas kapal besar yang umumnya ialah kapal transportasi hingga pengangkut barang. Sungai Barito Foto: Boma Stork Sijabat/d'Traveler 5. Sungai Batanghari Sungai Batanghari berlokasi di Pulau Sumatera Barat dan Jambi. Ini menjadi salah satu sungai terpanjang di Pulau Sumatera.

Sungai Batanghari banyak dimanfaatkan warga sebagai transportasi utama. Transportasi penyeberangan di sungai Batanghari ini menggunakan kapal berukuran sedang yang nantinya akan diisi dengan sepeda motor untuk membantu pengendara menyeberang ke sungai. Warga memanfaatkan jasa penyeberangan sepeda motor di Sungai Batanghari, Muarojambi, Jambi, Selasa (21/4/2020). Penyedia jasa penyeberangan yang melayani rute Taman Rajo-Maro Sebo tersebut mematok tarif Rp10 ribu per sepeda motor.

ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan./hp. Foto: ANTARA FOTO/WAHDI SEPTIAWAN Itulah beberapa sungai yang dimanfaatkan sebagai moda transportasi utama di Indonesia detikers.
PERATURAN INTERNASIONAL UNTUK MENCEGAH TUBRUKAN DI LAUT 1972 BAGIAN UMUM ATURAN I PEMBERLAKUAN (a). Aturan-aturan ini berlaku bagi semua kapal di laut lepas dan di semua perairan yang berhubungan dengan laut yang dapat dilayari oleh kapal-kapal laut. (b). Tidak ada suatu apapun dalam aturan –aturan ini yang menghalangi berlakunya peraturan-peraturan khusus yang dibuat oleh penguasa yang berwenang,untuk alur pelayaran ,pelabuhan,sungaidanau atau perairan pedalaman yang berhubungan dengan laut dan dapat dilayari oleh kapal laut.

Aturan-aturan khusus demikian itu harus semirip mungkin dengan aturan-aturan ini. (c). Tidak ada suatu apapun dari aturan ini yang akan menghalangi berlakunya aturan-aturan khusus yang manapun yang dibuat oleh pemerintah negara manapun berkenaan dengan tambahan kedudukan atau lampu-lampu isyarat, sosok benda atau isyarat suling untuk kapal –kapal perang dan kapal-kapal yang berlayar dalam beririnng-iringan atau lampu-lampu isyarat atau sosok-sosok benda untuk kapal-kapal ikan yang sedang menangkap ikan dalam suatu armada.

Tambahan –tambahan kedudukan atau lampu-lampu isyarat ,sosok-sosok benda atau isyarat –isyarat suling ini harus dibuat sejauh yang dapat dilaksanakan ,supaya tidak dapat disalah artikan dengan lampu manapun sosok benda atau isyarat yang ditentukan di lain tempat dalam peraturan ini.

(d). Bagan-bagan pemisah lalu lintas dapat disyahkan oleh organisasi untuk maksud aturan-aturan ini. (e). Manakala pemerintah yang bersangkutan berpendapat bahwa kapal berkonstruksi atau kegunaan khusus tiadak dapat memenuhi ketentuan dari aturan-aturan ini sehubungan dengan jumlahjarak atau busur tampak lampu-lampu atau sosok-sosok benda ,maupun penempatan dari ciri-ciri atau isyarat bunyi ,tanpa menghalangi tugas khusus kapal-kapal itu ,maka kapal yang demikian itu harus memenuhi ketentuan-ketentuan lain yang berhubungan dengan jumlah ,tempat,jarak atau busur tampak lampu-lampu atau sosok-sosok benda manapun yang berhubungan dengan penempatan dan ciri-ciri alat isyarat bunyi sebagaimana ditentukan oleh pemerintahnya yang semirip mungkin dengan aturan-aturan ini,bagi kapal yang bersangkutan.

ATURAN 2 TANGGUNG JAWAB (a). Tidak ada suatu apapun dalam aturan –aturan ini akan membebaskan tiap kapal atau pemiliknya,nakhoda atau awak kapalnya,atas akibat-akibat setiap kelalaian untuk memenuhi aturan-aturan ini atau atas kelalaian terhadap setiap tindakan berjaga-jaga yang dipandang perlu menurut kebiasaan pelaut atau terhadap keadaan-keadaan khusus dimana kapal itu berada.

(b). Dalam menafsirkan dan memenuhi aturan-aturan iniharus benar-benar memperhatikan semua bahaya navigasi dan bahaya tubrukan serta setiap keadaan khusus termasuk keterbatasan-keterbatasan dari kapal-kapal yang terlibat,yang dapat memaksa menyimpang dari aturan-aturan ini untuk menghindari bahaya mendadak. ATURAN 3 DEFINISI-DEFINISI UMUM Untuk maksud atruan-aturan ini kecuali di dalamnya diisyaratkan lain : (a). Kata “kapal” mencakup setiap jenis kendaraan air ,termasuk kapal tanpa benaman (displacement) dan pesawat terbang laut, yang digunakan atau dapat diguakan sebagai sarana angkutan di air.

(b). Istilah” kapal tenaga “ berarti setiap kapal yang digerakkan dengan mesin. (c). Istilah”kapal layar” berarti setiap kapal yang sedang berlayar dengan menggunakan layar, dengan syarat bahwa mesin penggeraknya bila ada sedang tidak digunakan.

(d). Istilah ”kapal yang sedang menagkap ikan” berarti setiap kapal yang menangkap ikan dengan jaring, tali, pukat atau jaring penangkap ikan lainnya yang membatasi kemampuan olah geraknya, tetapi tidak meliputi kapal yang menangkap ikan dengan tali pancing atau alat penangkap ikan lainnya yang tidak membatasi kemampuan mengolah geraknya diair. (e). Kata ”pesawat terbang laut” mencakup setiap pesawat terbang yang dibuat untuk mengolah gerak di air.

(f). Istilah ”Kapal yang tidak terkendalikan ” berarti kapal yang karena sesuatu keadaan yang istimewa tidak mampu untuk mengolah gerak seperti yang diisyaratkan oleh aturan-aturan ini dan karenanya tidak mampu menyimpangi kapal lain. (g). Istilah ”kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas” berarti kapal yang sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan sifat pekerjaannya mengakibatkan kemampuannya untuk mengolah gerak seperti diisyaratkan oleh aturan-aturan ini menjadi terbatas dan karenanya tidak mampu untuk menyimpangi kapal lain.

Kapal –kapal berikut harus dianggap sebagai kapal-kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas. Kapal yang digunakan memasang merawat atau mengangkat merkah navigasi atau pipa laut. Kapal yang melakukan kegiatan pengerukan, penelitian atau pekerjaan-pekerjaan di bawah air. Kapal yang melakukan pengisian atau memindahkan sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan, perbekalan atau muatan pada waktu sedang berlayar.

Kapal yang sedang meluncurkan atau sedang mendaratkan kembali pesawat terbang. Kapal yang melakukan kegiatan pembersihan ranjau.

sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan

Kapal yang menunda sedemikian rupa sehingga menjadikan tidak mampu untung menyimpang dari haluannya. (h). Istilah “ Kapal yang terkendala oleh saratnya” berati kapal tenaga yang kerena saratnya terhadap kedalaman air dan lebar perairan yang dapat dilayari mengakibatkan kemampuan olah geraknya untuk menyimpang dari garis haluan yang sedang diikuti menjadi terbatas sekali.

(i). Istilah “sedang berlayar“ Berarti kapal tidak berlabuh jangkar atau diikat pada daratan atau kandas. (j). Kapal-kapal yang harus dianggap melihat satu sama lainnya apabila kapal yang satu dapat dilihat visual oleh kapal lainnya.

(k). Istilah penglihatan terbatas berarti setiap keadaan dalam mana daya tampaknya dibatasi oleh kabut, halimun, hujan salju, hujan badai,badai pasir,atau setiap sebab lain yang serupa dengan itu. BAGIAN B ATURAN –ATURAN MENGEMUDIKAN KAPAL DAN MELAYARKAN KAPAL SEKSI 1 SIKAP KAPAL-KAPAL DALAM SETIAP KEADAAN PENGLIHATAN ATURAN 4 PEMBERLAKUAN Aturan-aturan dalam seksi ini berlaku dalam setiap keadaan penglihatan. ATURAN 5 PENGAMATAN Tiap kapal harus senantiasa melakukan pengamatan yang layak,baik dengan penglihatan dan pendengaran maupun dengan semua sarana tersedia yang sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada sehingga dapat membuat penilaian sepenuhnya terhadap situasi dan bahaya tubrukan.

***Hal – hal yang harus dilakukan pada saat mengadakan pengamatan keliling adalah : Menjaga kewaspadaan secara terus – menerus dengan penglihatan maupun dengan pendengaran dan juga dengan alat – alat yang lain.

Memperhatikan sepenuhnya situasi dan resiko tubrukan, kandas dan bahaya navigasi. Petugas pengamat harus melaksanakan dengan baik atas tugasnya dan tidak boleh diberikan tugas lain karena dapat mengganggu pelaksanaan pengamatan. Tugas pengamat dan pemegang kemudi harus terpisah dan tugas kemudi tidak boleh merangkap atau dianggap merangkap tugas pengamatan, kecuali di kapal – kapal kecil dimana pandangan ke segala arah tidak terhalang dari tempat kemudi.

Jika dipandang perlu personel yang melaksanakan tugas jaga ditambah sesuai dengan kondisi yang ada. Jika kapal menggunakan kemudi otomatis diharapkan selalu mengadakan pengecekan terhadap haluan kapal dalam jangka waktu tertentu.

***Kondisi – kondisi khusus yang harus mendapat prioritas untuk dilaksanakannya pengamatan keliling yang lebih intensif adalah : Berlayar di daerah yang padat lalu lintas kapalnya. Berlayar di daerah dekat pantai. Berlayar di dalam atau di dekat bagan pemisah dan di dalam alur pelayaran sempit. Berlayar di daerah tampak terbatas. Berlayar di daerah yang mempunyai banyak bahaya navigasi. Berlayar pada malam hari.

ATURAN 6 KECEPATAN AMAN Setiap kapal harus senantiasa bergerak dengan kecepatan aman sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat dan berhasil untuk menghindari tubrukan dan dapat dihentikan dalam jarak yang sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada.dalam menentukan kecepatan aman, faktor-faktor berikut termasuk faktor-faktor yang sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan diperhitungkan : • Oleh semua kapal : Tingkat penglihatan ; Kepadatan lalu lintas termasuk pemusatan kapal-kapal ikan atau kapal lain ; Kemampuan olah gerak kapal ,khususnya yang berhubungan jarak henti dan kemampuan berputar ; Pada malam hari, terdapatnya cahaya latar belakang misalanya lampu lampu dari daratan atau pantulan lampu-lampu sendiri ; Keadaan angin,laut dan arus dan bahaya-bahaya navigasi yang ada disekitarnya; Sarat sehubungan dengan keadaan air yang ada ; • Tambahan bagi kapal kapal yang radarnya dapat bekerja dengan baik Ciri-ciri effesiensi dan keterbatasan pesawat radar Setiap kendala yang timbul oleh skala jarak radar yang dipakai; Pengaruh keadaan laut ,cuaca dan sumber sumber gangguan lain pada penggunaan radar; Kemungkinan bahwa kapal-kapal kecil ,gunung es dan benda-benda terapung lainnya tidak dapat ditangkap oleh radar pada jarak yang cukup; Jumlah, posisi dan gerakan kapal-kapal yang ditangkap oleh radar; Berbagai macam penilaian penglihatan yang lebih tepat yang mungkin dapat bila radar digunakan untuk menentukan jarak kapal-kapal atau benda lain disekitarnya.

ATURAN 7 BAHAYA TUBRUKAN (a). Semua kapal harus menggunakan semua sarana yang tersedia sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada untuk menentukan ada tidak adanya bahaya tubrukan .Jika timbul keragu-raguan maka bahaya demikian itu harus dianggap ada. (b). Penggunaan pesawat radar harus dilakukan dengan tepat ,jika dipasang dikapal dan bekerja dengan baik ,termasuk penyimakan jarak jauh untuk memperoleh peringatan dini akan adanya bahaya tubrukan dan pelacakan posisi radar atau pengamatan sistematis yang sepadan atas benda-benda yang terindra.

(c). Praduga-praduga tidak boleh dibuat berdasarkan oleh keterangan yang sangat kurang khususnya keterangan radar. (d). Dalam menentukan ada tidak adanya bahaya tubrukan ,pertimbangan-pertimbangan berikut ini termasuk pertimbangan-pertimbangan yang harus diperhitungkan. Bahaya demikian harus dianggap ada jika baringan pedoman kapal yang sedang mendekat tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

Bahaya demikain kadang-kadang mungkin ada,walaupun perubahan baringan yang berarti itu nyata sekali ,terutama bilamana sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan menghampiri sebuah kapal dengan jarak yang dekat sekali. ATURAN 8 TINDAKAN UNTUK MENGHINDARI TUBRUKAN (a). Setiap tindakan yang dilakukan untuk menghindari tubrukan ,jika keadaan mengijinkan harus tegas, dilakukan dalam waktu yang cukup lapang dan benar-benar memperhatikan syarat-syarat kepelautan yang baik.

(b). Setiap perubahan haluan dan atau kecepatan untuk menghindari tubrukan jika keadaan mengizinkan harus cukup besar sehingga segera menjadi jelas bagi kapal lain yang sedang mengamati dengan penglihatan atau dengan radar ,serangkaian prubahan kecil dari haluan dan atau kecepatan hendaknya dihindari.

(c). Jika ada ruang gerak yang cukup perubahan haluan saja mungkin merupakan tindakan yang paling berhasil guna untuk menghindari situasi saling mendekat terlalu rapat,dengan ketentuan bahwa perubahan itu dilakukan dalam waktu cukup dini ,bersungguh sungguh dan tidak mengakibatkan terjadinya situasi saling mendekat terlalu rapat.

(d). Tindakan yang dilakukan untuk menghindari tubrukan dengan kapal lain harus sedemikian rupa sehingga menghasilkan pelewatan dengan jarak aman .Hasil guna tindakan itu harus dikaji secara seksama sampai kapal yang lain itu pada akhirnya terlewati dan bebas sama sekali. (e). Jika diperlukan untuk menghindari tubrukan atau untuk memberikan waktu yang lebih banyak untuk menilai keadaan ,kapal harus mengurangi kecepatannya atau menghilangkan kecepatannya sama sekali dengan memberhentikan atau menjalankan mundur sarana penggeraknya.

(f). Kapal yang oleh aturan ini diwajibkan tidak boleh merintangi jalan atau jalan aman kapal lainnya,bilamana diwajibkan oleh suatu keadaan harus mengambil tindakan sedini mungkin untuk memberikan untuk memberi ruang gerak yang cukup bagi jalan kapal orang lainnya.

(g). Kapal yang diwajibkan untuk tidak merintangi jalannya atau jalan aman kapal lain tidak dibebaskan dari kewajiban ini jika mendekati kapal lain mengakibatkan bahaya tubrukan ,dan bilamana akan mengambil tindakan harus memperhatikan tindakan yang diwajibkan oleh aturan-aturan dalam bagian ini.

sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan

(h). Kapal yang jalannya tidak boleh dirintangi tetap wajib sepenuhnya untuk melaksanakan aturan-aturan dibagian ini bilamana kedua kapal itu sedang berdekatan satu dengan lainnya yang mengakibatkkan bahaya tubrukan.

ATURAN 9 ALUR-ALUR PELAYARAN SEMPIT (a). Kapal jika berlayar mengikuti arah alur pelayaran atau air pelayaran sempit harus berlayar sedekat mungkin dengan batas luar alur pelayaran yang terletak disis lambung kanannya selama masih aman dan dapat dilaksanakan. (b). Kapal dengan panjang kurang dari 20 meter atau kapal layar tidak boleh menghalang-halangi jalannya kapal lain yang hanya dapat berlayar dengan aman didalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit.

(c). Kapal yang sedang menangkap ikan tidak boleh menghalang-halangi jalannya kapal lain yang berlayar di dalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit. (d). Kapal tidak boleh memotong air pelayaran sempit atau alur pelayaran sempit ,jika pemotongan demikian itu menghalangi jalannya kapal yang hanya dapat belayar dengan aman didalam alur pelayaran atau air pelayaran demikian itu. (e). Kapal yang disebut belakangan boleh menggunakan isyarat bunyi yang diatur dalam aturan 34 d jika ragu –ragu mengenai maksud pada kapl yang memotong haluan itu.

(f). Dialur atau air pelayaran sempit jika penyusulan dapat dilaksanakan ,hanya kapal yang disusul itu merlakukan tindakan untuk memungkinkan dilewatinya dengan aman,maka kapal yang bermaksud untuk menyusul harus menunjukkan maksudnya dengan membunyikan isyarat yang sesuai diisyaratkan dalam aturan 34(c) (i).Kapal yang disuusl itu jika menyetujui harus mermperdengarkan isyarat sesduai dengan yang ditentukan dalam aturan 34(c) (ii)dan mengambil langkah untuk memungkinkan dilewati dengan aman.Jika ragu-ragu boleh membunyikan isyarat –isyarat yang diatur dalam aturan 13.

• Aturan ini tidak membebaskan kapal yang menyusul dari kewajibannya berdasarkan aturan 13. (f). Kapal yang sedang mendekati tikungan atau daerah pelayaran atau air pelayaran sempit dimana kapal-kapal lain dapat dikaburkan oleh rintangan yang terletak diantaranya harus berlayar dengan kewaspadaan dan hati-hati dan harus membunyikan isyarat yang sesuai yang diisyaratkan dalam aturan 34(e).

Setiap kapal ,jika keadaan mengijinkan harus menghindarkan diri dari berlabuh jangkar di alur pelayaran sempit. ATURAN 10 TATA PEMISAHAN LALU LINTAS (a). Aturan ini berlaku bagi tata pemisahan lalu lintas yang ditrima secara syah oleh organisasi dan tidak membebaskan setiap kapal dari kewajibannya untuk melaksanan aturan lainnya.

(b). Kapal yang sedang menggunakan tata pemisahan lalu lintas harus : Berlayar dijalur lalu lintas yang sesuai dengan arah lalu lintas umum untuk jalur itu; Sedapat mungkin tetap bebas dari garis pemisah atau zona pemisah lalu lintas.

Jalur lalu lintas pada umumnya dimasuki atau ditinggal kan dari ujung jalur ,tetapi bilamana tindakan memasuki maupun meninggalkan jalur itu dilakukan dari salah satu sisi ,tindakan itu harus dilakukan sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah sudut yang sekecil-kecilnya terhadap arah lalu lintas umum. (c).Sedapat mungkin ,kapal harus menghindari memotong jalur lalu lintas tetapi jika terpaksa melakukannya harus memotong dengan haluan sedapat mungkin tegak lurus terhadap arah lalu lintas umum.

(d). i Kapal yang berada di sekitar tata pemisah lalu lintas tidak boleh menggunakan zona lalu lintas dekat pantai bilamana ia dapat menggunakan jalur lalu lintas yang sesuai dengan aman. Akan tetapi kapal yang sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan kurang dari 20 meter ,kapal layar dan kapal yang sedang menangkap ikan boleh menggunakan zona lalu lintas dekat pantai.

ii Lepas dari sub ayat (d)(i) kapal boleh menggunakan zona lalu lintas dekat pantai bilamana sedang berlayar menuju atau dari sebuah pelabuhan ,instalasi atau bangunan lepas pantai ,stasion pandu atau setiap tempat yang berlokasi di dalm zona lalu lintas dekat pantai atau untuk menghindari bahaya mendadak.

(e). Kapal kecuali sebuah kapal yang sedang memotong atau kapal-kapal yang sedang memasuki atau sedang meninggalkan jalur ,pada umumnya tidak boleh memasuki zona pemisah atau memotong garis pemisah kecuali : Dalam keadaan darurat untuk menghindari bahaya mendadak.

Untuk menangkap ikan pada zona pemisah. (f). Kapal yang sedang berlayar di daerah dekat ujung tata pemisahan lalu lintas harus berlayar sangat hati-hati. (g). Sedapat mungkin ,kapal harus menghindari dirinya berlabuh jangkar didalam tata pemisahan lalu lintas atau di daerah-daerah dekat ujung-ujungnya. (h). Kapal yang tidak menggunakan tata pemisahan lalu lintas harus menghindarinya dengan ambang batas selebar-lebarnya. (i). Kapal yang sedang menangkap ikan tidak boleh merintangi kapal jalan setiapa kapal lain yang sedang mengikuti jalur lalu lintas.

(j). Kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter atau kaapl layar tidak boleh merintangi pelayaran aman dari kaapl tenaga yang sedang mengikuti suatu jalur lalu lintas. (k). Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas apabila sedang tugas untuk memelihara keselamatan pelayaran/navigasi dalam bagan tata pemisah lalu lintas dibebaskan mengikuti peraturan ini sejauh yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya.

(l). Kapal yang terbatas kemampuan olah geraknya apabila dalam tugas memasang ,merawat atau mengangkat kabel laut dalam bagan tata pemisah lalu lintas dibebaskan mengikuti peraturan ini sejauh yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya SEKSI II SIKAP KAPAL DALAM KEADAAN SALING MELIHAT ATURAN 11 PEMBERLAKUAN Aturan-aturan dalam seksi ini berlaku dalam keadaan saling melihat.

ATURAN 12 KAPAL LAYAR a). Bilamana dua kapal layar saling mendekati, sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan ,satu diantarnya harus menghindari yang lain sebagai berikut : Bilamana masing-masing dapat angin pada lambung yang berlainan maka kapal yang mendapat angin pada lambung kiri harus menghindar kapal lain.

Bilaman keduanya mendapat angin dari lambung yang sama maka kapal yang berada di atas angin harus mengindari kapal yang di bawah angin. Jika kapal mendapat angin dari lambung yang kiri melihat kapal berada di atas angin dan tidak dapat memastikan apakah kapal lain itu mendapat angin dari lambung kiri atau kanannya ,ia harus menghindari kapal yang lain itu (b). Untuk mengartikan aturan ini sisi diatas angin ialah sisi yang berlawanan dengan sisi dimana layar utama berada sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan dalam hal kapal dengan layar persegi sisi yang berlawanan dengan sisi dimana layar muka belakang yang terbesar di pasang.

ATURAN 13 PENYUSULAN (a). Lepas dari apapun yang tercantum dalam aturan-aturan bagian B seksi I dan II setiap kapal yang menyusul kapal lain ,harus menyimpangi kapal yang disusul. (b). Kapal dianggap sedang menyusul ,bilamana mendekat kapal lain dari jurusan lebih dari 22.5 derajat di belakang arah melintang ,ialah dalam kedudukan sedemikain sehingga terhadap kapal yang disusul itu pada malah hari ia dapat melihat hanya penerangan buritan ,tetapi tidak satupun penerangan-penerangan lambungnya.

(c). Bilamana sebuah kapal ragu-ragu apakah ia sedang menyusul kapal lain ia harus menganggap bahwa demikain halnya dan bertindak sesuai dengan hal itu. (d). Setiap perubahan baringan selanjutnya antara kedua kapal itu tidak akan mengakibatkan kapal yang sedang menyusul sebagai kapal yang menyilang,dalam pengertian aturan-aturan ini atau membebaskan dari kewajibannya unutk tetap bebas dari kapal yang sedang di susul itu sampai akhirnya lewat dan bebas.

ATURAN 14 SITUASI BERHADAPAN (a). Bilamana dua buah kapal tenaga sedang bertemu dengan haluan berhadapan atau hampir berhadapan, sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan ,masing-masing kapal harus berubah haluannya ke kanan sehingga saling berpapasan pada lambung kirinya.

(b). Situasi demikian itu selalu dianggap ada ,bilamana sebuah kapal melihat kapal lain tepat atau hampir tepat di depannya pada malam hari ia dapat melihat penerangan tiang kapal lain segaris atau hampir segaris dan/atau kedua penerangan lambung pada siang hari dengan memperhatikan penyesuaian sudut pandangan dari kapal lain.

sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan

(c).Bilamana sebuah kapal ragu-ragu apakah situasi demikian itu ada ,ia harus menganggap demikian halnya dan bertindak sesuai dengan keadaan itu. ATURAN 15 SITUASI BERSILANGAN Bilamana dua buah kapal tenaga bersilangan sedemikian rupa sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan ,maka kapal yang disebelah kanannya terdapat kapal lain harus menyimpang dan jika keadaan mengijinkan menghindari memotong di depan kapal lain itu.

ATURAN 16 TINDAKAN KAPAL YANG MENYIMPANG Setiap kapal yang oleh aturan-aturan ini di wajibkan menyimpangi kapal lain,sepanjang keadaan memungkinkan ,harus mengambil tindakan dengan segera dan nyata untuk dapat bebas dengan baik.

ATURAN 17 TINDAKAN KAPAL YANG BERTAHAN (a). i. Apabila salah satu dari kedua kapal diharuskan menyimpang ,maka kapal yang lain harus mempertahankan haluan dan kecepatannya.

• Bagaimanapun juga ,kapal yang di sebut terakhir ini boleh bertindak untuk menghindari tubrukan dengan olah geraknya sendiri,segera setelah jelas baginya ,bahwa kapal yang diwajibkan menyimpang itu tidak mengambil tindakan yang sesuai dalam memenuhi aturan-aturan ini. (b).Bilamana oleh sebab apapun, kapal yang diwajibkan mempertahankan haluan dan kecepatannya mengetahui dirinya berada terlalu dekat, sehingga tubrukan tidak terhindari lagi dengan tindakan oleh kapal yang menyimpang itu saja, ia harus mengambil tindakan sedemikain rupa,sehingga merupakan bantuan yang sebaik-baiknya untuk menghindari tubrukan.

(c). Kapal tenaga yang bertindak dalam situasi bersilangan sesuai dengan sub paragraph(a) (ii) aturan ini untuk menghindari tubrukan dengan kapal tenaga yang lain, jika keadaan mengijinkan, tidak boleh merubah haluannya ke kiri untuk kapal yang berada di lambung kirinya.

(d). Aturan ini tidak membebaskan kapal yang menyimpang dari kewajibannya untuk menghindari jalannya kapal lain. ATURAN-18 TANGGUNG JAWAB ANTAR KAPAL Kecuali bilamana aturan – aturan 9, 10, dan 13 mensyaratkan lain : (a). Kapal tenaga yang sedang berlayar harus menghindari : Kapal yang tidak terkendalikan ; Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas ; Kapal yang sedang menangkap ikan ; Kapal layar.

(b). Kapal layar yang sedang berlayar harus menghindari : Kapal yang tidak terkendalikan ; Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas ; Kapal yang sedang menangkap ikan. (c). Kapal yang sedang menangkap ikan sedapat mungkinharus menghindari : Kapal yang tidak terkendalikan ; Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas (d). i. Setiap kapal, selain dari pada kapal yang tidak terkendalikan atau kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas, jika keadaan mengijinkan, harus menghindarkan dirinya merintangi jalan aman sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan kapal yang terkendala oleh saratnya yang sedang memperlihatkan isyarat-isyarat dalam aturan 28 ; ii.Kapal yang terkendala oleh saratnya harus berlayar dengan kewaspadaan khusus dengan benar – benar memperhatikan keadaannya yang khusus itu.

(e). Pesawat terbang laut di air, pada umumnya harus tetap benar-benar bebas dari semua kapal dan menghindarkan dirinya merintangi navigasi kapal-kapal itu. Sekalipun demikian jika ada bahaya tubrukan, pesawat terbang laut itu harus memenuhi aturan – aturan bagian ini.

SEKSI III SIKAP KAPAL DALAM PENGLIHATAN TERBATAS ATURAN 19 PERILAKU KAPAL DALAM PENGLIHATAN TERBATAS (a). Aturan ini berlaku bagi kapal-kapal yang tidak saling melihat bilamana sedang berlayar disuatu daerah yang berpenglihatan terbatas atau didekatnya.

(b). Setiap kapal harus berjalan dengan kecepatan aman yang disesuaikan dengan keadaan dan suasana penglihatan terbatas yang ada. Kapal tenaga harus menyiapkan mesin-mesinnya untuk segera dapat berolah gerak. (c). Setiap kapal harus benar-benar memperhatikan keadaan dan suasana penglihatan terbatas yang ada bilamana sedang memenuhi aturan-aturan Seksi I bagian ini. (d). Kapal yang mengindera kapal lain hanya dengan radar harus menentukan apakah sedang berkembang situasi saling mendekat terlalu rapat dan / atau apakah ada bahaya tubrukan.

Jika demikian kapal itu harus melakukan tindakan dalam waktu yang cukup lapang, dengan ketentuan bahwa bilamana tindakan demikian terdiri dari perubahan haluan, maka sejauh mungkin harus dihindari hal-hal berikut : • Perubahan haluan kekiri terhadap kapal yang ada didepan arah melintang, selain dari pada kapal yang sedang disusul ; • Perubahan haluan kearah kapal yang ada diarah melintang atau dibelakang arah melintang. (e). Kecuali apabila telah yakin bahwa tidak ada bahaya tubrukan, setiap kapal yang mendengar isyarat kabut kapal lain yang menurut pertimbangannya berada didepan arah melintangnya, atau yang tidak dapat menghindari situasi saling mendekat terlalu rapat hingga kapal yang ada didepan arah melintangnya harus mengurangi kecepatannya serendah mungkin yang dengan kecepatan itu kapal tersebut dapat mempertahankan haluannya.

Jika dianggap perlu, kapal itu harus meniadakan kecepatannya sama sekali dan bagaimanapun juga berlayar dengan kewaspadaan khusus hingga bahaya tubrukan telah berlalu. BAGIAN C PENERANGAN DAN SOSOK BENDA ATURAN 20 P E M B E R L A K U A N (a). Aturan-aturan didalam bagian ini harus dipenuhi dalam segala keadaan cuaca. (b).

sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan

Aturan-aturan tentang penerangan-penerangan harus dipenuhi semenjak saat matahari terbenam sampai saat matahari terbit, dan selama jangka waktu tersebut penerangan-penerangan lain tidak boleh diperlihatkan kecuali apabila penerangan-penerangan demikian tidak dapat terkelirukan dengan penerangan-penerangan yang disebutkan secara terperinci didalam aturan-aturan ini atau tidak melemahkan daya tampak atau sifat khususnya atau mengganggu terselenggaranya pengamatan yang layak.

(c). Penerangan-penerangan yang ditentukan oleh aturan-aturan ini, jika dipasang harus juga diperlihatkan sejak saat matahari terbit sampai saat matahari terbenam dalam keadaan penglihatan terbatas dan boleh diperlihatkan dalam semua keadaan bilamana dianggap perlu (d).

Aturan-aturan tentang sosok-sosok benda harus dipenuhi pada siang hari. (e). Penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang disebutkan secara terperinci didalam aturan-aturan ini harus memenuhi ketentuan-ketentuan Lampiran I Peraturan ini. ATURAN 21 D E F I N I S I (a). “ Penerangan tiang “ berarti penerangan putih yang ditempatkan disumbu membujur kapal, memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 225º dan dipasang sedemikian rupa sehingga memperlihatkan cahaya dari arah lurus kedepan sampai 22,5º dibelakang arah melintang dikedua sisi kapal.

(b). “ Penerangan lambung “ berarti penerangan hijau dilambung kanan dan penerangan merah dilambung kiri, masing-masing memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 112,5º dan ditempatkan sedemikian rupa hingga memperlihatkan cahaya dari arah lurus kedepan sampai 22,5º dibelakang arah melintang dimasing-masing sisinya.

Di kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, penerangan-penerangan lambung itu boleh digabungkan dalam satu lentera yang ditempatkan disumbu membujur kapal. (c). “ Penerangan buritan “ berarti penerangan putih yang ditempatkan sedekat mungkin dengan buritan, memperlihatkan sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 135º dan dipasang sedemikian rupa hingga memperlihatkan cahaya 67,5º dari arah lurus kebelakang dimasing-masing sisi kapal.

(d). “ Penerangan tunda “ berarti penerangan kuning yang mempunyai sifat-sifat khusus yang sama dengan “ Penerangan buritan “ yang didefinisikan didalam paragrap (c). (e). “ Penerangan kedip “ berarti penerangan yang berkedip-kedip dengan selang waktu teratur dengan frekuensi 120 kedipan atau lebih setiap menit.

(f). “ Penerangan keliling “ berarti penerangan yang memperlihatkan cahaya tidak terputus-putus yang meliputi busur cakrawala 360º. ATURAN 22 JARAK TAMPAK PENERANGAN Penerangan-penerangan yang ditentukan didalam aturan-aturan ini harus mempunyai kuat cahaya sebagaimana yang disebutkan secara terperinci didalam didalam Seksi 8 Lampiran I untuk dapat kelihatan dari jarak-jarak minimum berikut : (a).

Di kapal-kapal yang panjangnya 50 meter atau lebih : – Penerangan tiang 6 mil ; – Penerangan lambung 3 mil ; – Penerangan buritan 3 mil ; – Penerangan tunda 3 mil ; – Penerangan keliling putih, merah, hijau atau kuning 3 mil. (b). Di kapal-kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih tetapi kurang dari 50 meter : – Penerangan tiang 5 mil, kecuali apabila panjang kapal itu kurang dari 20 meter 3 mil ; – Penerangan lambung 2 mil – Penerangan buritan 2 mil – Penerangan tunda 2 mil – Penerangan keliling putih, merah, hijau atau kuning 2 mil.

(c). Di kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter : – Penerangan tiang 2 mil ; – Penerangan lambung 1 mil ; – Penerangan buritan 2 mil ; – Penerangan tunda 2 mil ; – Penerangan keliling putih, merah, hijau atau kuning 2 mil. (d). Di kapal-kapal yang terbenam sebagian atau benda-banda yang sedang ditunda yang tidak kelihatan dengan jelas : – Penerangan keliling putih 3 mil. ATURAN 23 KAPAL TENAGA YANG SEDANG BERLAYAR (a).

Kapal tenaga yang sedang berlayar harus memperlihatkan : Penerangan tiang di depan ; Penerangan tiang kedua di belakang dan lebih tinggi dari pada penerangan tiang depan kecuali kapal yang panjangnya kurang dari 50 meter, tidak wajib memperlihatkan penerangan demikian, tetapi boleh memperlihatkannya ; Penerangan-penerangan lambung ; Penerangan buritan.

(b).Kapal bantalan udara bilamana sedang beroperasi dalam bentuk tanpa berat benaman disamping penerangan-penerangan yang ditentukan di dalam paragrap (a) aturan ini, harus memperlihatkan penerangan keliling kuning kedip. (c). i. Kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 12 meter, sebagai ganti penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, boleh memperlihatkan penerangan keliling putih dan penerangan-penerangan lambung.

• Kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 7 meter yang kecepatan meximumnya tidak lebih dari 7 mil setiap jam, sebagai ganti penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, memperlihatkan penerangan keliling putih dan jika mungkin, harus juga memperlihatkan penerangan-penerangan lambung.

Penerangan tiang atau penerangan keliling putih dikapal tenaga yang panjangnya kurang dari 12 meter boleh dipindahkan dari sumbu membujur kapal jika pemasangan disumbu membujur tidak dapat dilakukan,dengan ketentuan bahwa penerangan-penerangan lambung digabungkan dalam satu lentera yang harus diperlihatkan disumbu membujur kapal atau ditempatkan sedekat mungkin disumbu membujur yang sama dengan penerangan tiang atau penerangan keliling putih.

ATURAN 24 MENUNDA DAN MENDORONG (a). Kapal tenaga bilamana sedang menunda, harus memperlihatkan : Penerangan pengganti peneranganyang ditentukan didalam aturan (23) (a) (i) atau (a) (ii), dua penerangan tiang yang bersusun tegak. Bilamana panjang tundaan diukur dari buritan kapal yang sedang menunda sampai keujung belakang tundaan lebih dari 200 meter, tiga penerangan yang demikian itu, bersusun tegak lurus ; Penerangan-penerangan lambung ; Penerangan buritan ; Penerangan tunda, tegak sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan diatas penerangan buritan ; Bilamana panjang tundaan lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

(b).Bilamana kapal yang sedang mendorong dan kapal yang sedang didorong maju diikat erat-erat dalam suatu unit berangkai, kapal-kapal itu harus dianggap sebagai sebuah kapal tenaga dan memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam aturan 23.

(c).Kapal tenaga bilamana sedang mendorong maju atau sedang menggandeng kecuali didalam hal suatu unit berangkai harus memperlihatkan : • Sebagai pengganti penerangan yang ditentukan didalam aturan 23 (a) (i) atau (a) (ii) dua penerangan tiang yang bersusun tegak lurus ; • Penerangan-penerangan lambung ; iii. Penerangan buritan. (d).Kapal tenaga yang dikenai paragrap (a) atau (c) aturan ini, harus juga memenuhi aturan 23 (a) (ii). (e).Kapal atau benda yang sedang ditunda, selain dari pada yang dinyatakan didalam paragrap (g) aturan ini harus memperlihatkan : • Penerangan-penerangan lambung ; • Penerangan buritan ; iii.Bilamana panjang tundaan lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

(f).Dengan ketentuan bahwa berapapun jumlah kapal yang sedang digandeng atau didorong dalam suatu kelompok, harus diberi penerangan sebagai satu kapal : • Kapal yang sedang didorong maju yang bukan merupakan bagian dari suatu unit berantai, harus memperlihatkan penerangan-penerangan lambung di ujung depan ; • Kapal yang sedang digandeng harus memperlihatkan penerangan buritan dan ujung depan, penerangan-penerangan lambung.

(g) Kapal atau benda yang terbenam sebagian, atau gabungan dari kapal-kapal atau benda-benda demikian yang sedang ditunda yang tidak kelihatan dengan jelas, harus memperlihatkan : Jika lebarnya kurang dari 25 meter, satu penerangan keliling putih diujung depan atau didekatnya dan satu diujung belakang atau didekatnya kecuali apabila naga umbang itu tidak perlu memperlihatkan penerangan diujung depan atau didekatnya ; Jika lebarnya 25 meter atau lebih, dua penerangan keliling putih tambahan diujung-ujung paling luar dari lebarnya atau didekatnya ; Jika panjangnya lebih dari 100 meter, penerangan-penerangan keliling putih tambahan diantara penerangan-penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i) dan (ii) sedemikian rupa hingga jarak antara penerangan-penerangan itu tidak boleh lebih dari 100 meter ; Sosok belah ketupat di atau didekat ujung paling belakang dari kapal atau benda paling belakang yang sedang ditunda dan jika panjang tundaan itu lebih dari 200 meter, sosok belah ketupat tambahan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya serta ditempatkan sejauh mungkin di depan.

(h). Apabila karena suatu sebab yang cukup beralasan sehingga tidak memungkinkan kapal atau benda yang sedang ditunda memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan didalam paragrap (e) atau (g) aturan ini, semua upaya yang mungkin harus ditempuh untuk menerangi kapal atau benda yang ditunda itu atau setidak-tidaknya menunjukan adanya kapal atau benda demikian itu. (i). Apabila karena suatu sebab yang cukup beralasan sehingga tidak memungkinkan kapal yang tidak melakukan operasi-operasi penundaan untuk memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (c) aturan ini, maka kapal demikian itu tidak diisyaratkan untuk memperlihatkan penerangan-penerangan itu bilamana sedang menunda kapal lain dalam bahaya atau dalam keadaan lain yang membutuhkan pertolongan.

Segala upaya yang mungkin harus ditempuh untuk menunjukan sifat hubungan antara kapal yang sedang menunda dan kapal yang sedang ditunda sebagaimana yang diharuskan dan dibolehkan oleh aturan 36 terutama untuk mrnerangi tali tunda. ATURAN 25 KAPAL LAYAR YANG SEDANG BERLAYAR DAN KAPAL YANG SEDANG BERLAYAR DENGAN DAYUNG (a). Kapal layar yang sedang berlayar yang sedang berlayar harus memperlihatkan : Penerangan-penerangan lambung ; Penerangan buritan.

(b). Di kapal layar yang panjangnya kurang dari 20 meter, penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini, boleh digabungkan didalam satu lentera yang dipasang dipuncak tiang atau didekatnya disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

(c). Kapal layar yang sedang berlayar, disamping penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) aturan ini boleh memperlihatkan dipuncak tiang atau didekatnya disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya, dua penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang diatas merah dan yang dibawah hijau, tetapi penerangan-penerangan ini tidak boleh diperlihatkan bersama-sama dengan lentera kombinasi yang dibolehkan paragrap (b) aturan ini.

(d). i. Kapal layar yang panjangnya kurang dari 7 meter, jika mungkin harus memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) aturan ini, tetapi jika tidak memperlihatkannya, kapal layar itu harus selalu siap dengan sebuah lampu senter atau lentera yang menyala yang memperlihatkan cahaya putih yang harus ditunjukan dalam waktu yang cukup untuk mencegah tubrukan.

• Kapal yang sedang berlayar dengan dayung boleh memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam aturan ini bagi kapal-kapal layar, tetapi jika tidak memperlihatkannya, kapal yang sedang berlayar dengan dayung itu harus selalu siap dengan sebuah lampu senter atau lentera yang menyala yang memperlihatkan cahaya putih yang harus ditunjukan dalam waktu yang memadai untuk mencegah tubrukan. ATURAN 26 KAPAL IKAN (a). Kapal yang sedang menangkap ikan, apakah sedang berlayar atau berlabuh jangkar hanya boleh memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan oleh aturan ini.

(b). Kapal yang sedang mendogol, maksudnya sedang menarik pukat tarik atau perkakas lain di dalam air digunakan sebagai alat menangkap ikan, harus memperlihatkan : Dua penerangan keliling sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan tegak lurus, yang di atas hijau dan yang di bawah putih, atau sosok benda yang terdiri dari dua kerucut yang titik-titik puncaknya berimpit bersusun tegak lurus, kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, sebagai pengganti sosok benda ini boleh memperlihatkan keranjang ; Penerangan tiang lebih kebelakang dan lebih tinggi dari pada penerangan hijau keliling, kapal yang panjangnya kurang dari 50 meter tidak wajib memperlihatkan penerangan demikian itu, tetapi boleh memperlihatkannya ; Bilaman mempunyai laju di air, sebagai tambahan atas penerangan- penerangan yang ditentukan dalam paragrap ini, penerangan- penerangan lambung dan penerangan buritan.

(c). Kapal yang sedang menangkap ikan, kecuali yang sedang mendogol harus memperlihatkan : Dua penerangan keliling bersusun tegaklurus, yang di atas merah dan di bawah putih, atau sosok benda yang terdiri dari dua kerucut yang titik-titik puncaknya berimpit bersusun tegaklurus. Kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter, sebagai pengganti sosok benda ini, boleh memperlihatkan keranjang ; Bilamana mana ada alat penangkap ikan yang terjulur mendatar dari kapal lebih dari 150 meter, penerangan putih keliling atau kerucut yang titik puncaknya ke atas diarah alat penangkap ; Bilamana mempunyai kecepatan di air, disamping penerangan- penerangan yang ditentukan didalam paragrap ini, penerangan- penerangan lambung dan penerangan buritan.

(d). Kapal yang sedang menangkap ikan dekat sekali dengan kapal-kapal lain yang menangkap ikan, boleh memperlihatkan isyarat-isyarat tambahan yang diuraikan dengan jelas didalam Lampiran II Peraturan ini.

(e). Bilamana sedang tidak menangkap ikan tidak boleh memperlihatkan penerangan- penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam Aturan ini tetapi hanya penerangan- penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang panjangnya sama dengan panjang kapal itu.

ATURAN 27 KAPAL YANG TIDAK TERKENDALIKAN ATAU YANG KEMAMPUAN OLAH GERAKNYA TERBATAS (a). Kapal yang tidak terkendalikan harus memperlihatkan : Dua penerangan merah keliling bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya ; Dua bola atau sosok benda yang serupa, bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya ; Bilamana mempunyai laju di air sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap ini, penerangan-penerangan lambung dan penerangan buritan.

(b).Kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas, kecuali kapal yang sedang melaksanakan pekerjaan pembersihan ranjau, harus memperlihatkan : Tiga penerangan keliling bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

Penerangan yang tertinggi dan yang terendah harus merah, sedangkan penerangan yang tengah harus putih ; Tiga sosok benda bersusun tegak lurus disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya. Sosok benda yang tertinggi dan yang terendah harus bola, sedangkan yang di tengah sosok belah ketupat ; Bilamana mempunyai laju di air, penerangan atau penerangan-penerangan tiang, penerangan-penerangan lambung dan penerangan buritan, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i) ; Bilamana berlabuh jangkar, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam sub paragrap (i) dan (ii) penerangan, penerangan- penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam Aturan 30.

(c). Kapal tenaga yang sedang melaksanakan pekerjaan penundaan sedemikian rupa sehingga sangat membatasi kemampuan kapal yang sedang menunda dan tundaannya itu menyimpang dari haluannya yang ditentukan di dalam Aturan 24 (a) harus memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam sub paragrap (b) (i) dan (ii) Aturan ini.

(d). Kapal yang sedang melaksanakan pengerukan atau pekerjaan di dalam air, bilamana kemampuan olah sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan terbatas, harus memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam su paragrap (b) (i), (ii) dan (iii) Aturan ini dan sebagai tambahan bilamana ada rintangan ,harus memperlihatkan : Dua penerangan merah keliling atau dua bola bersusun tegak lurus untuk menunjukkan sisi tempat rintangan itu berada ; Dua penerangan hijau keliling atau dua sosok belah ketupat bersusun tegak lurus untuk menunjukan sisi yang boleh dilewati kapal lain ; Bilaman berlabuh jangkar, penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam paragrap ini sebagai ganti penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan di dalam Aturan 30.

(e) Bilaman ukuran kapal yang sedang melaksanakan pekerjaan-pekerjaan penyelaman itu membuatnya tidak mampu memperlihatkan semua penerangan dan sosok benda yang ditentukan di dalam paragrap (d) Aturan ini, harus diperlihatkan yang berikut ini : Tiga penerangan keliling bersusun tegak lurus dis suatu tempat yang diperlihatkan sejelas-jelasnya.

Penerangan yang tertinggi dan yang terendah harus merah, sedangkan penerangan yang di tengah harus putih ; Tiruan bendera kaku “A” dari Kode Internasional yang tingginya tidak kurang dari 1 meter. Langkah-langkah harus dilakukan untuk menjamin agar tiruan itu dapat kelihatan keliling.

(f). Kapal yang sedang melaksanakan pekerjaan pembersihan ranjau, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan bagi kapal tenaga di dalam Aturan 23 atau atas penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang sedang berlabuh jangkar di dalam Aturan 30,mana yang sesuai harus memperlihatkan tiga penerangan hijau keliling atau tiga bola.

Salah atu dari penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda ini harus diperlihatkan di puncak tiang depan atau di dekatnya dan satu dimasing-masing ujung andang-andang depan. Penerangan-penerangan atau sosok benda ini menunjukan bahwa berbahayalah kapal lain yang mendekat dalam jarak 1000 meter dari pembersih ranjau itu. (g). Kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter, kecuali kapal-kapal yang sedang menjalankan pekerjaan penyelaman, tidak wajib memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda yang ditentukan di dalam Aturan ini.

(h). Isyarat-isyarat yang yang ditentukan di dalam Aturan ini bukan isyarat-isyarat dari kapal-kapal dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan. Isyarat-isyarat demikian tercantum di dalam Lampiran IV Peraturan ini. ATURAN 28 KAPAL YANG TERKENDALA OLEH SARATNYA Kapal yang terkendala oleh saratnya, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan bagi kapal-kapal tenaga didalam Aturan 23, boleh memperlihatkan tiga penerangan merah keliling bersusun tegak lurus, atau sebuah silinder di tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

ATURAN 29 KAPAL PANDU (a). Kapal yang sedang bertugas memandu harus memperlihatkan : Di puncak tiang atau di dekatnya, dua penerangan keliling bersusun tegak lurus, yang di atas putih dan yang di bawah merah ; Bilamana sedang berlayar, sebagai tambahan, penerangan-penerangan lambung dan penerangan buritan ; Bilaman berlabuh jangkar, sebagai tambahan atas penerangan-penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i), penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan didalam Aturan 30 bagi kapal-kapal yang berlabuh jangkar.

(b). Kapal pandu bilaman tidak sedang bertugas memandu harus memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan bagi kapal yang serupa sesuai dengan panjangnya. ATURAN 30 KAPAL YANG BERLABUH JANGKAR DAN KAPAL YANG KANDAS (a).

Kapal yang berlabuh jangkar harus memperlihatkan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya : Di bagian depan, penerangan putih keliling atau satu bola ; Di buritan atau di dekatnya dan di suatu ketinggian yang lebih rendah dari pada penerangan yang ditentukan didalam sub paragrap (i), sebuah penerangan putih keliling.

(b). Kapal yang panjangnya kurang dari sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan meterboleh memperlihatkan sebuah penerangan putih keliling di suatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya, sebagai ganti penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) Aturan ini.

(c). Kapal yang berlabuh jangkar boleh juga menggunakan penerangan-penerangan kerja atau penerangan-penerangan yang sepadan yang ada di kapal untuk menerangi geladak-geladaknya, sedangkan kapal yang panjangnya 100 meter ke atas harus memperlihatkan penerangan-penerangan demikian itu. (d). Kapal yang kandas harus memperlihatkan penerangan-penerangan yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini dan sebagai tambahan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya : Dua penerangan merah bersusun tegak lurus ; Tiga bola bersusun tegak lurus.

(e). Kapal yang panjangnya kurang dari 7 meter bilamana berlabuh jangkar, tidak didalam atau didekat alur pelayaran sempit, air pelayaran atau tempat berlabuh jangkar, atau tempat yang biasa dilayari oleh kapal-kapal lain, tidak disyaratkan memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok benda yang ditentukan didalam paragrap (a) dan (b) Aturan ini.

(f). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter, bilamana kandas, tidak disyaratkan memperlihatkan penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam su paragrap (d) (i) dan (ii) Aturan ini. ATURAN 31 PESAWAT TERBANG LAUT Apabila pesawat terbang laut tidak mampu memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda dengan sifat-sifat atau kedudukan-kedudukan yang ditentukan didalam aturan-aturan bagian ini, pesawat terbang laut itu harus memperlihatkan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benba yang sifat-sifat dan kedudukan-kedudukannya semirip mungkin dengan penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda.

BAGIAN D ISYARAT BUNYI DAN ISYARAT CAHAYA ATURAN 32 D E F I N I S I (a). Kata “ suling “ berarti alat isyarat bunyi yang dapat menghasilkan tiupan-tiupan yang ditentukan dan yang memenuhi perincian-perincian didalam Lampiran III Peraturan-peraturan ini.

sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan

(b). Istilah “ tiup pendek “ berarti tiupan yang lamanya kira-kira satu detik ; (c). Istilah “ tiup panjang “ berarti tiupan yang lamanya 4 sampai 6 detik. ATURAN 33 PERLENGKAPAN UNTUK ISYARAT BUNYI (a). Kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih harus dilengkapi dengan suling dan genta serta kapal yang panjangnya 100 meter atau lebih sebagai tambahan, harus dilengkapi dengan gong yang nada dan bunyinya tidak dapat terkacaukan dengan nada dan bunyi genta. Suling, genta dan gong itu harus memenuhi, perincian-perincian didalam Lampiran III Peraturan ini.

Genta atau gong atau kedua-duanya boleh diganti dengan perlengkapan lain yang mempunyai sifat-sifat khas yang sama dengan bunyi masing-masing, dengan ketentuan bahwa alat-alat isyatar yang ditentukan itu harus selalu mungkin dibunyikan dengan tangan.

(b). Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter tidak wajib memasang alat-alat isyarat bunyi yang ditentukan didalam paragrap (a) Aturan ini, tetapi jika tidak memasangnya, kapal itu harus dilengkapi dengan beberapa sarana lain yang menghasilkan isyarat bunyi yang efisien.

ATURAN 34 ISYARAT OLAH GERAK DAN ISYARAT PERINGATAN (a). Bilamana kapal-kapal dalam keadaan saling melihat, kapal tenaga yang sedang berlayar, bilamana sedang berolah gerak sesuai dengan yang diharuskan atau dibolehkan atau disyaratkan oleh Aturan-aturan ini, harus menunjukan olah gerak tersebut dengan isyarat-isyarat berikut dengan menggunakan sulingnya : – Satu tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang merubah haluan saya kekanan “ ; – Dua tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang merubah haluan saya kekiri “ ; – Tiga tiup pendek untuk menyatakan “ Saya sedang menjalankan mundur mesin penggerak “.

(b). Setiap kapal boleh menambah isyarat-isyarat suling yang ditentukan didalam paragrap (a) Aturan ini dengan isyarat-isyarat cahaya, diulang-ulang seperlunya sementara olah gerak sedang dilakukan : Isyarat-isyarat cahaya ini harus mempunyai arti berikut : Satu kedip untuk menyatakan “ Saya sedang mengubah haluan saya kekanan “ ; Dua kedip untuk menyatakan “ Saya sedang mengubah haluan saya kekiri “ ; Tiga kedip untuk menyatakan “ Saya sedang menjalankan mundur mesin penggerak “ ; Lamanya masing-masing kedip harus kira-kira satu detik, selang waktu antara kedip-kedip itu harus kira-kira satu detik, serta selang waktu antara isyarat-isyarat beruntun tidak boleh kurang dari 20 detik ; Penerangan yang digunakan untuk isyarat ini jika dipasang, harus penerangan putih keliling, dapat kelihatan dari jarak minimum 5 mil dan harus memenuhi ketentuan-ketentuan Lampiran I Peraturan ini.

(c). Bilamana dalam keadaan saling melihat dalam alur pelayaran atau air pelayaran sempit : Kapal yang sedang bermaksud menyusul kapal lain, sesuai dengan Aturan 9 (e) (i) harus menyatakan maksudnya itu dengan isyarat berikut dengan sulingnya : – Dua tiup panjang diikuti satu tiup pendak untuk menyatakan “ Saya bermaksud menyusul anda di sisi kanan anda “ ; – Dua tiup panjang diikuti dua tiup pendak untuk menyatakan “ Saya bermaksud menyusul anda di sisi kiri anda “.

Kapal yang sedang siap untuk disusul itu bilamana sedang melakukan tindakan sesuai dengan Aturan 9 (e) (i), harus menyatakan persetujuannya dengan isyarat-isyarat dengan sulingnya : -Satu tiup panjang, satu tiup pendek, satu tiup panjang dan satu tiup pendek dengan tata urutan tersebut.

(d). Bilamana kapal-kapal yang dalam keadaan saling melihat sedang saling mendekat dan karena suatu sebab, apakah salah satu dari kapal-kapal itu atau kedua-duanya tidak berhasil memahami maksud-maksud atau tindakan-tindakan kapal yang lain atau dalam keadaan ragu-ragu apakah kapal yang lain sedang melakukan tindakan yang memadai untuk menghindari tubrukan, kapal yang dalam keadaan ragu-ragu itu harus segera menyatakan keragu-raguan demikian dengan memperdengarkan sekurang-kurangnya 5 tiup pendek dan cepat dengan suling.

Isyarat demikian boleh ditambah dengan isyarat cahaya yang sekurang-kurangnya terdiri dari 5 kedip, pendek dan cepat. (e). Kapal yang sedang mendekati tikungan atau daerah alur pelayaran atau air pelayaran yang ditempat itu kapal-kapal lain dapat terhalang oleh alingan, harus memperdengarkan satu tiup panjang. Isyarat demikian itu harus disambut dengan tiup panjang oleh setiap kapal yang sedang mendekat yang sekiranya ada didalam jarak dengar disekitar tikungan atau dibalik alingan itu.

(f). Jika suling-suling dipasang di kapal secara terpisah dengan jarak lebih dari 100 meter, hanya satu suling saja yang harus digunakan untuk memberikan isyarat olah gerak dan isyarat peringatan.

ATURAN 35 ISYARAT BUNYI DALAM PENGLIHATAN TERBATAS Didalam atau didekat daerah yang berpenglihatan terbatas baik pada siang hari atau pada malam hari, isyarat-isyarat yang ditentukan didalam Aturan ini harus digunakan sebagai berikut : (a).

Kapal tenaga yang mempunyai laju di air memperdengarkan satu tiup panjang dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit. (b). Kapal tenaga yang sedang berlayar tetapi berhenti dan tidak mempunyai laju di air harus memperdengarkan dua tiup panjang beruntun dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit dan selang waktu tiup-tiup panjang itu kira-kira 2 detik.

(c). Kapal yang tidak terkendalikan, kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas, kapal yang terkendala oleh saratnya, kapal layar, kapal yang sedang menangkap ikan dan kapal yang sedang menunda atau mendorong kapal lain sebagai pengganti isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini harus memperdengarkan tiga tiup beruntun, yakni satu tiup panjang diikuti oleh dua tiup pendek dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

(d). Kapal yang sedang menangkap ikan bilamana berlabuh jangkar dan kapal yang kemampuan olah geraknya terbatas bilamana sedang menjalankan pekerjaannya dalam keadaan berlabuh jangkar, sebagai pengganti isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (g) Aturan ini, harus memperdengarkan isyarat yang ditentukan dadalam paragrap (c) Aturan ini. (e). Kapal yang ditunda atau jika yang kapal ditunda itu lebih dari satu, maka kapal yang paling belakang dari tundaanitu jika diawaki, harus memperdengarkan 4 tiup beruntun, yakni 1 tiup panjang diikuti 3 tiup pendek, dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

Bilamana mungkin, isyarat ini harus diperdengarkan oleh kapal yang menunda. (f). Bilamana kapal yang sedang mendorong dan kapal yang sedang didorong maju diikat erat-erat dalam kesatuan gabungan, kapal-kapal itu harus dianggap sebagai sebuah kapal tenaga dan harus memperdengarkan isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragrap (a) atau (b) Aturan ini. (g). Kapal yang berlabuh jangkar harus membunyikan genta dengan cepat selama kira-kira 5 detik dengan selang waktu tidak lebih dari 1 menit.

Di kapal yang panjangnya 100 meter atau lebih genta itu harus dibunyikan dibagian depan kapal dan segera setelah pembunyian genta, gong harus dibunyikan cepat-cepat selama kira-kira 5 detik dibagian belakang kapal. Kapal yang berlabuh jangkar, sebagai tambahan boleh memperdengarkan tiga tiup beruntun, yakni satu tiup pendek, satu tiup panjang dan satu tiup pendek untuk mengingatkan kapal lain yang mendekat mengenai kedudukannya dan adanya kemungkinan tubrukan.

(h). Kapal yang kandas harus memperdengarkan isyarat genta dan jika dipersyaratkan, isyarat gong yang ditentukan didalam paragrap (g) Aturan ini, dan sebagai tambahan harus memperdengarkan tiga ketukan terpisah dan jelas dengan genta sesaat sebelum dan segera setelah pembunyian genta yang sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan itu.

Kapal yang kandas, sebagai tambahan boleh memperdengarkan isyarat suling yang sesuai. (i).

sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan

Kapal yang panjangnya kurang dari 12 meter tidak wajib memperdengarkan isyarat-isyarat tersebut diatas, tetapi jika tidak memperdengarkannya, kapal itu harus memperdengarkan isyarat bunyi lain yang efisien dengan selang waktu tidak lebih dari 2 menit.

(j). Kapal pandu bilamana sedang bertugas memandu, sebagai tambahan atas isyarat-isyarat yang ditentukan didalam paragraph (a), (b) atau (g) Aturan ini boleh memperdengarkannya isyarat pengenal yang terdiri dari 4 tiup pendek. ATURAN 36 ISYARAT UNTUK MENARIK PERHATIAN Jika perlu untuk menarik perhatian kapal lain, setiap kapal boleh menggunakan isyarat cahaya atau isyarat bunyi yang tidak dapat terkelirukan dengan setiap isyarat yang diharuskan atau dibenarkan dimanapun didalam Aturan ini, atau boleh mengarahkan berkas cahaya lampu kejurusan manapun.

Sembarang cahaya yang digunakan untuk menarik perhatian kapal lain harus sedemikian rupa sehingga tidak dapat terkelirukan dengan alat bantu navigasi manapun.

Untuk memenuhi maksud Aturan ini penggunaan penerangan berselang-selang atau penerangan berputar dengan intensitas tinggi, misalnya penerangan-penerangan stroba, harus dihindarkan. ATURAN 37 ISYARAT BAHAYA Bilaman kapal dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan, kapal itu harus menggunakan atau memperlihatkan isyarat-isyarat yang ditentukan didalam Lampiran IV Peraturan ini. BAGIAN E PEMBEBASAN – PEMBEBASAN ATURAN 38 P E M B E B A S A N Setiap kapal ( atau kelas kapal-kapal ) dengan ketentuan bahwa kapal itu memenuhi syarat-syarat Peraturan internasional tentang pencegahan tubrukan di laut 1960 yang lunasnya diletakkan sebelum peraturan ini berlaku atau yang pada tanggal itu dalam tahapan pembangunan yang sesuai, dibebaskan dari kewajiban untuk memenuhi Peraturan ini sebagai berikut : (a).

Pemasangan penerangan-penerangan dengan jarak yang ditentukan didalam Aturan 22, sampai 4 tahun setelah tanggal mulai berlakunya aturan ini. (b). Pemasangan penerangan-penerangan dengan perincian warna sebagaimana yang ditentukan didalam seksi 7 Lampiran I Aturan ini, sampai 4 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan.

(c). Penempatan kembali penerangan-penerangan sebagai akibat dari pengubahan satuan-satuan imperial kesatuan-satuan metrik dan pembulatan angka-angka ukuran, merupakan pembebasan tetap. (d). i. Penempatan kembali penerangan-penerangan tiang di kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 150 meter sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 3 (a) Lampiran I Peraturan ini merupakan pembebasan tetap. • Penempatan kembali penerangan-penerangan tiang di kapal-kapal yang panjangnya 150 meter atau lebih sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 3 (a) Lampiran I Peraturan ini sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya peraturan ini.

(e). Penempatan kembali penerangan-penerangan tiang, sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 2 (b) Lampiran I Peraturan ini, sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan ini. (f). Penempatan kembali penerangan-penerangan lambung, sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 2 (g) dan 3 (b) Lampiran I Peraturan ini, sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan ini.

(g). Syarat-syarat tentang alat-alat isyarat bunyi yang ditentukan didalam Lampiran III Peraturan ini, sampai 9 tahun setelah tanggal mulai berlakunya Peraturan ini. (h). Penempatan kembali penerangan-penerangan keliling, sebagai akibat dari ketetapan-ketetapan Seksi 9 (b) Lampiran I Peraturan ini, merupakan pembebasan tetap. LAMPIRAN I PENEMPATAN DAN PERINCIAN TEKNIS PENERANGAN –PENERANGAN DAN SOSOK – SOSOK BENDA Definisi Istilah ” tiang di atas badan ” berarti ketinggian diatas geladak jalan terus yang teratas.

Ketinggian ini harus diukur dari kedudukan tegak lurus dibawah tempat penerangan. Penempatan dan Pemisahan tegak lurus Penerangan ; Di kapal tenaga yang panjangnya 20 meter atau lebih, penerangan-penerangan tiang harus di tempatkan sebagai berikut : Penerangan tiang depan atau jika hanya dipasang satu penerangan tiang saja, maka penerangan tersebut pada ketinggian diatas badan tidak kurang dari sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan meter dan jika lebar kapal lebih dari 6 meter maka tidak pada ketinggian tidak kurang dari lebar tersebut, tetapi sekalipun demikian penerangan itu tidak perlu ditempatkan pada ketinggian diatas badan lebih dari 12 meter.

Bilamana dipasang 2 penerangan tiang, penerangan tiang belakang harus sekurang-kurangnya 4,5 meter tegak lurus lebih tinggi dari pada penerangan tiang depan. Pemisahan secara tegak lurus penerangan-penerangan tiang dari kapal-kapal tenaga harus sedemikian rupa sehingga dalam segala keadaan trim normal, penerangan tiang belakang akan terlihat diatas dan terpisah dari penerangan tiang depan, bilamana terlihat dari permukaan laut pada jarak 100 meter dimuka linggi depan.

Penerangan tiang kapal tenaga yang panjangnya 12 meter atau lebih tetapi kurang dari 20 meter harus ditempatkan pada ketinggian diatas tutup tajuk tidak kurang dari 2,5 meter. Kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 12 meter boleh memasang penerangan yang teratas pada ketinggian yang kurang dari 2,5 meter diatas tutup. Tetapi bilamana penerangan tiang dipasang sebagai tambahan penerangan-penerangan lambung dan penerangan buritan,maka penerangan tiang demikian itu harus dipasang sekurang-kurangnya 1 meter lebih tinggi dari pada penerangan-penerangan lambung.

Salah satu dari dua atau tiga penerangan tiang yang ditentukan bagi kapal tenaga yang sedang menunda atau mendorong kapal lain harus ditempatkan ditempat yang sama dengan penerangan tiang didepan atau penerangan tiang belakang, dengan ketentuan bahwa apabila dipasang ditiang belakang, penerangan tiang belakang yang paling bawah harus sekurang-kurangnya 4,5 meter tegak lurus lebih tinggi dari pada penerangan Tiang depan. • Penerangan atau penerangan-penerangan tiang yang ditentukan didalam Aturan 23 (a) harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga berada diatas dan bebas dari semua penerangan dan rintangan lain, kecuali sebagaimana yang termaksud didalam su paragrap (ii) ; • Bilamana tidak dimungkinkan untuk memasang penerangan-penerangan keliling yang ditentukan oleh Aturan 27 (b) (i) atau Aturan 28 itu boleh dipasang diatas penerangan-penerangan tiang belakang atau tegak lurus diantara penerangan tiang depan dan penerangan tiang belakang, dengan ketentuan bahwa dalam hal yang terahir itu syarat-syarat Seksi 3 (c) Lampiran ini harus dipenuhi.

Penerangan-penerangan lambung kapal tenaga harus ditempatkan pada ketinggian diatas badan tidak boleh lebih dari tiga perempat tinggi penerangan tiang depan. Penerangan-penerangan lambung itu tidak boleh ditempatkan sedemikian rendahnya sehingga akan terganggu oleh penerangan-penerangan geladak.

Penerangan-penerangan lambungjika dalam lentera gabungan dan dipasang di kapal tenaga yang panjangnya kurang dari 20 meter, harus ditempatkan tidak kurang dari 1 meter dibawah penerangan tiang. Bilamana aturan-aturan menentukan dua atau tiga penerangan dipasang bersusun tegak lurus, penerangan-penerangan demikian itu harus berjarak sebagai berikut : • Di kapal yang panjangnya 20 meter atau lebih, penerangan-penerangan demikian itu harus diberi berjarak tidak kurang dari 2 meter, dan penerangan yang terendah dari penerangan-penerangan ini, kecuali jika wajib memperlihatkan penerangan tunda harus ditempatkan pada ketinggian yang tidak kurang dari 4 meter diatas badan.

• Di kapal yang panjangnya 20 meter, penerangan-penerangan demikian itu harus diberi berjarak tidak kurang dari 1 meter, dan penerangan yang terendah dari penerangan ini, kecuali jika wajib memperlihatkan penerangan tunda, harus ditempatkan pada ketinggian yang tidak kurang dari 2 meter diatas badan.

iii. Bilamana diperlihatkan tiga penerangan, penerangan-penerangan itu harus dipisahkan dengan jarak antara yang sama. Penerangan yang terendah dari kedua penerangan keliling yang ditentukan bagi kapal bilamana sedang menangkap ikan harus berada pada ketinggian diatas penerangan-penerangan lambung tidak kurang dari dua kali jarak antara kedua penerangan tegak lurus.

Penerangan labuh depan yang ditentukan didalam Aturan 30 (a) (i) bilamana dipasang dua penerangan labuh belakang. Di kapal yang panjangnya 50 meter atau lebih, penerangan labuh depan ini harus ditempatkan pada ketinggian yang tidak kurang dari 6 meter diatas badan. Penempatan dan Pemisahan Mendatar Penerangan Bilamana penerangan tiang disyaratkan bagi kapal tenaga, maka jarak mendatar antara penerangan-penerangan itu tidak boleh kurang dari setengah panjang kapal, tetapi tidak boleh lebih dari 100 meter.

Penerangan yang didepan harus ditempatkan tidak lebih dari seperempat panjang kapal diukur dari linggi depan. Di kapal tenaga yang panjangya 20 meter atau lebih, penerangan-penerangan lambung tidak boleh ditempatkan didepan penerangan tiang depan. Penerangan-penerangan lambung itu harus ditempatkan di lambung atau didekatnya. Bilaman penerangan-penerangan yang ditentukan didalam Aturan 27 (b) (i) atau Aturan 28 itu ditempatkan tegak lurus diantara penerangan tiang depan dan penerangan belakang, penerangan-penerangan keliling ini harus ditempatkan disuatu tempat yang jarak mendatarnya dalam arah melintang kapal tidak kurang dari 2 meter diukur dari sumbu membujur kapal.

Perincian tentang Letak Penerangan Penunjuk arah bagi kapal ikan, kapal keruk dan kapal yang sedang menjalankan pekerjaan didalam air. Penerangan yang menunjukan arah alat penangkap ikan yang menjulur dari kapal yang sedang menangkap ikan sebagaimana yang ditentukan didalam Aturan 26 (c) (ii), harus ditempatkan dengan jarak mendatar yang tidak kurang dari 2 meter diukur dari dua penerangan merah dan putih keliling yang ditentukan didalam Aturan 26 (c) (i) dan tidak lebih rendah dari pada penerangan-penerangan lambung.

Penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda di kapal yang sedang mengeruk atau yang sedang melakukan pekerjaan didalam air untuk menunjukan sisi yang ada rintangannya dan/atau sisi yang dapat dilewati dengan aman yang ditentukan didalam Aturan 27 (d) (i) dan (ii), harus ditempatkan dengan jarak mendatar yang sejauh mungklin, tetapi bagaimanapun juga tidak kurang dari 2 meter diukur dari penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda yang ditentukan didalam Aturan 27 (d) (i) dan (ii).

Bagaimana juga penerangan atau sosok benda yang teratas dari penerangan-penerangan atau sosok-sosok benda ini tidak akan lebih tinggi dari pada penerangan atau sosok-sosok benda yang terbawah dari tiga penerangan atau sosok benda yang ditentukan didalam Aturan 27 (b) (i) dan (ii).

Tedeng untuk Penerangan Lambung Penerangan-penerangan lambung dari kapal-kapal yang panjangnya 20 meter atau lebih harus dipasangi tedeng dalam yang dicat hitam kusam dan memenuhi syarat-syarat Seksi 9 Lampiran ini. Di kapal-kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter penerangan-penerangan lambung itu, jika harus memenuhi syarat-syarat Seksi 9 Lampiran ini, harus dipasangi tedeng dalam yang dicat hitam kusam.

Dilentera gabungan yang menggunakan kawat pijar tegak lurus tunggal dan penyekat yang sangat sempit diantara bagian hijau dan bagian merah, tedeng luar tidak perlu dipasangi. Sosok-sosok Benda Sosok benda harus berwarna hitam dan dengan ukuran-ukuran berikut : Bola harus dengan garis tengah tidak kurang dari 0,6 meter ; Kerucut harus dengan bidang alas yang garis tengahnya tidak kurang dari 0,6 meter dan tingginya sama dengan garis tengahnya ; Silinder harus dengan garis tengah tidak kurang dari 0,6 meter dan tingginya sama dengan dua kali garis tengahnya ; Sosok belah ketupat harus terdiri dari dua kerucut sebagaimana yang diuraikan dengan jelas didalam sub paragrap (ii) diatas yang mempunyai bidang alas persekutuan.

Jarak tegak lurus antara sosok-sosok benda harus sekurang-kurangnya 1,5 meter Di kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter boleh digunakan sosok-sosok benda dengan ukuran-ukuran yang lebih kecil tetapi sebanding dengan ukuran kapal dan jarak antaranya boleh dikurangi sesuai dengan itu.

Perincian Warna Penerangan Kromatisitas semua penerangan bavigasi, harus sesai dengan standar berikut yang terletak didalam batas-batas daerah diagram yang untuk masing-masing warna telah ditentukan secara terperinci oleh komisi Internasional tentang penerangan ( CIE ). Batas-batas daerah untuk masing-masing warna ditentukan dengan menunjukan koordinat titik-titik sudut, sebagai berikut : Putih x 0,525 0,525 0,452 0,310 0,310 0,443 y 0,382 0,440 0,440 0,348 0,283 0,382 ` Hijau x 0,028 0,009 0,300 0,203 y 0,385 0,723 0,511 0,356 Merah x 0,680 0,660 0,735 0,721 y 0,320 0,320 0,265 0,259 Kuning x 0,612 0,618 0,575 0,575 y 0,382 0,382 0,425 0,406 Intensitas Cahaya Intensitas cahaya minimum dari penerangan-penerangan harus dihitung dengan menggunakan rumus : I = 3,43 x 10 6 x T x D² x K -D Dengan ketentuan : I : intensitas cahaya dalam lilin dalam kondisi kerja T : faktor ambang 2 x 10 -7 lux D : jarak tampak ( jarak pancar ) penerangan dalam mil laut K : daya hantar atmosfera Untuk penerangan-penerangan yang ditentukan nilai K itu harus = 0,8 sesuai dengan jarak pandang meteorologi kira-kira 13 mil laut.

Pilihan angka-angka yang diperoleh dari rumus itu diberikan didalam tabel berikut : Jarak tampak ( jarak pancar ) Penerangan dalam mil laut D Intensitas cahaya penerangan Dalam lilin untuk K = 0,8 I 1 2 3 4 5 6 0,9 4,3 12 27 52 94 Catatan : Intensitas cahaya maksimum dari penerangan-penerangan navigasi harus dibatasi untuk menghindari kilau yang mengganggu.

Hal ini tidak boleh dicapai dengan pengatur intensitas cahaya yang dapat diatur. Sektor-sektor mendatar • Kearah depan penerangan-penerangan lambung jika dipasang di kapal harus memperlihatkan intensitas cahaya minimum yang disyaratkan.

Intensitas cahaya harus berkurang sampai praktis lenyap antara 1 derajat dan 3 derajat diluar sektor-sektor yang ditetapkan. • Bagi penerangan-penerangan buritan dan penerangan tiang serta pada 22,5° dibelakang arah melintang bagi penerangan-penerangan lambung, intensitas cahaya minimum yang ditetapkan itu harus dipertahankan meliputi busur cakrawala sampai dengan 5 derajat didalam batas-batas dari sektor-sektor yang ditentukan dadalam Aturan 21.

Dari 5 derajat didalam sektor-sektor yang ditentukan, kuat cahaya harus berkurang secara berangsur-angsur sampai praktis lenyap diarah yang tidak lebih dari 5° diluar sektor yang ditentukan. Semua penerangan keliling harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak akan terhalang oleh tiang-tiang, puncak-puncak tiang atau bangunan-bangunan meliputi busur tang lebih besar dari 6°, kecuali penerangan-penerangan labuh yang ditentukan didalam Aturan 30 yang tidak perlu disuatu ketinggian diatas badan yang tidak memungkinkan.

Sektor-sektor Tegak lurus Sektor-sektor tegak lurus penerangan listrik, jika dipasang kecuali penerangan-penerangan di kapal-kapal layar, akan menjamin bahwa : • Sekurang-kurangnya intensitas minimum yang disyaratkan itu dipertahankan disetiap sudut dari 5° diatas sampai 5° dibawah bidang mendatar.

Bagi penerangan-penerangan yang bukan penerangan listrik, perincian-perincian ini sedapat mungkin harus disesuaikan : Sekurang-kurangnya intensitas minimum yang disyaratkan itu harus dipertahankan disetiap sudut dari 5° diatas sampai 5° dibawah bidang mendatar.

Sekurang-kurangnya 50% intensitas minimum yang disyaratkan itu dipertahankan dari 25° diatas sampai 25° dibawah bidang mendatar. Intensitas penerangan-penerangan bukan penerangan listrik Penerangan-penerangan yang bukan penerangan listrik sejauh mungkin harus memenuhi intensitas cahaya minimum sebagaimana yang diuraikan secara terperinci didalam Tabel yang diberikan didalam Seksi 8 Lampiran ini Penerangan Olah Gerak Lepas dari pada ketentuan-ketentuan paragrap 2 (f) Lampiran ini, penerangan olah gerak yang ditentukan didalam Aturan 34 (b) itu harus ditempatkan dibidang tegak lurus membujur yang sama dengan penerangan atau penerangan-penerangan tiang, dan apabila mungkin pada ketinggian minimum dua meter tegak lurus diatas penerangan tiang depan, dengan ketentuan bahwa penerangan olah gerak itu harus dipasang tidak kurang dari dua meter tegak lurus diatas ataupun dibawah penerangan tiang belakang.

Di kapal yang hanya dipasangi satu penerangan tiang, penerangan olah gerak itu, jika dipasang harus ditempatkan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya, terpisah tegak lurus dari penerangan tiang dengan jarak tidak kurang dari dua meter. Persetujuan Konstruksi penerangan-penerangan dan sosok-sosok benda serta pemasangan penerangan-penerangan di kapal harus memperoleh persetujuan dari negara yang benderanya dikibarkan oleh kapal secara sah.

LAMPIRAN II ISYARAT – ISYARAT TAMBAHAN BAGI KAPAL – KAPAL NELAYAN YANG SEDANG MENANGKAP IKAN YANG SALING BERDEKATAN Umum Penerangan-penerangan yang disebutkan disini, jika diperlihatkan sesuai dengan Aturan 26 (d), harus ditempatkan disuatu tempat yang dapat kelihatan dengan sejelas-jelasnya.

Penerangan-penerangan itu harus terpisah sekurang-kurangnya 0,9 meter tetapi pada ketinggian yang lebih rendah dari pada penerangan-penerangan yang ditentukan didalam Aturan 26 (b) (i) dan (c) (i). Penerangan-penerangan itu harus dapat kelihatan keliling cakrawala dari jarak sekurang-kurangnya 1 mil tetapi dari jarak yang lebih dekat dari pada penerangan-penerangan yang ditentukan oleh Aturan-aturan ini bagi kapal-kapal ikan.

Syarat-syarat bagi Kapal-kapal Dogol Kapal-kapal bilamana sedang menangkap ikan dengan dogol, entah menggunakan pukat dasar entah pukat laut dalam, boleh memperlihatkan : Bilamana sedang memasang pukat-pukatnya : dua penerangan putih bersusun tegak ; • Bilamana sedang menarik pukat-pukatnya : satu penerangan putih diatas satu penerangan merah bersusun tegak lurus ; iii.

Bilamana pukat tersangkut disuatu rintangan : dua penerangan merah bersusun tegak lurus. Masing-masing kapal yang sedang menangkap ikan dengan dogol secara berpasangan boleh memperlihatkan : Pada malam hari : lampu sorot diarahkan kedepan dan kearah kapal lain dari pasangan itu ; • Bilamana sedang memasang atau menarik pukat-pukatnya atau bilamana pukat-pukatnya tersangkut disuatu rintangan, sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan yang ditentukan didalam Aturan 2 (a) diatas.

Isyarat-isyarat bagi Kapal-kapal Jaring lingkar Kapal-kapal yang sedang menangkap ikan dengan alat penangkap ikan jaring lingkar boleh memperlihatkan dua penerangan kuning bersusun tegak lurus.

Penerangan-penerangan ini harus berkedip secara berganti-ganti setiap detik dan dengan waktu nyala dan waktu padam yang sama. Penerangan-penerangan ini hanya boleh diperlihatkan bilamana olah gerak kapal terganggu oleh alat penangkap ikannya. LAMPIRAN III PERINCIAN – PERINCIAN TEKNIS TENTANG ALAT – ALAT ISYARAT BUNYI Suling Frekuensi-frekuensi dan Jarak Dengar Frekuensi dasar isyarat harus terletak dalam batas 70 – 700 Hz. Jarak dengar isyarat dari suling harus ditentukan oleh frekuensi-frekuensi itu yang dapat meliputi frekuensi dasar dan atau satu atau beberapa frekuensi yang lebih tinggi, yang terletak dalam batas 180 – 700 Hz ( ± 1 persen ) dan yang menghasilkan tingkat-tingkat tekanan bunyi yang disebutkan secara terperinci didalam paragrap 1 (c) dibawah ini.

Batas-batas dari Frekuensi-frekuensi Dasar Untuk menjamin keragaman yang luas dari ciri-ciri suling, frekuensi dasar sebuah suling harus terletak diantara batas-batas : • 70 – 200 Hz bagi kapal yang panjangnya 200 meter atau lebih ; • 130 – 350 Hz bagi kapal yang panjangnya 75 meter, tetapi kurang dari 200 meter ; iii.

250 – 700 Hz bagi kapal yang panjangnya kurang dari 75 meter. Kekuatan Isyarat Bunyi dan Jarak Dengar Suling yang dipasang di kapal didalam arah kekuatan maksimum dari suling itu dan disuatu tempat yang jaraknya 1 meter dan suling itu harus menghasilkan suatu tingkat tekanan bunyi didalam sekurang-kurangnya 1 bidang ⅓ oktaf didalam batas-batas frekuensi-frekuensi 180 – 700 Hz ( ± 1 persen ) yang tidak lebih kecil dari pada angka yang sesuai dengan yang tercantum didalam tabel dibawah ini : Panjang Kapal Dalam meter Tingkat lebar bidang ⅓ oktaf di 1 meter dB Dengan acuan 2 x 10 -5 N/m 2 Jarak dengar Dalam mil laut 200 atau lebih 75 atau lebih tetapi Kurang dari 200 20 atau lebih tetapi Kurang dari 75 Kurang dari 20 143 138 130 120 2 1,5 1 0,5 Jarak dengar didalam tabel diatas itu digunakan sebagai informasi dan merupakan perkiraan jarak yang pada jarak itu bunyi suling dapat terdengar disumbu depannya dengan 90% kemungkinan dalam keadaan cuaca tenang disebuah kapal dengan tingkat kebisingan latar belakang rata-rata di pos-pos pendengaran ( diambil sebesar 68 dB didalam bidang oktaf yang dipusatkan di 500 Hz ).

Didalam praktek, jarak terdengarnya bunyi suling itu sangat berubah-ubah dan tergantung sekali pada keadaan cuaca, nilai-nilai yang diberikan itu dapat dianggap sebagai nilai-nilai khas, tetapi dalam kondisi angin kencang atau keadaan tingkat kebisingan sekitar yang tinggi di pos pendengaran, jarak dengar itu dapat banyak berkurang.

Sifat-sifat Arah Tingkat tekanan bunyi sebuah suling yang berarah disumbu disetiap arah dibidang mendatar didalam ± 45° dari sumbu tidak boleh lebih dari 4 dB dibawah tingkat tekanan bunyi diarah lain manapun dibidang mendatar itu tidak boleh lebih dari 10 dB dibawah tekanan bunyi yang ditentukan disumbu itu sehingga jarak dengan disetiap arah akan sekurang-kurangnya sama dengan setengah jarak dengar disumbu depan.

Tingkat tekanan bunyi itu harus diukur didalam bidang ⅓ oktaf yang menentukan jarak dengar tersebut. Penempatan Suling-suling Bilamana sebuah suling berarah akan digunakan sebagai satu-satunya suling di kapal, suling itu harus dipasang dengan kekuatan maksimumnya diarahkan lurus kedepan. Suling harus ditempatkan setinggi mungkin di kapal untuk mengurangi tertahannya bunyi yang dihasilkan itu oleh rintangan-rintangan, demikian juga untuk membatasi bahaya rusaknya indera pendengaran petugas hingga serendah mungkin.

Tingkat tekanan bunyi isyarat sendiri dari kapal di pos-pos pendengar tidak boleh lebih dari 110 dB ( A) dan sedapat mungkin tidak lebih dari 100 dB (A). Pemasangan lebih dari Satu Suling Jika suling-suling dipasang dengan jarak lebih dari 100 meter, maka harus ditata sedemikian rupa hingga suling-suling itu tidak dibunyikan secara serentak. Sistem Suling Gabungan Jika oleh adanya rintangan-rintangan sehingga isyarat bunyi dari suling tunggal atau salah satu dari suling-suling yang diacukan didalam paragrap 1 (f) diatas itu sekiranya mempunyai zona yang tingkat isyaratnya sangat kurang dianjurkan agar memasang suatu sistem suling gabungan dengan maksud untuk mengatasi pengurangan ini.

Untuk memenuhi maksud-maksud dari Aturan-aturan ini sistem suling gabungan harus dianggap sebagai suling tunggal. Suling-suling dari sistem suling gabungan harus ditempatkan secara terpisah dengan jarak yang tidak lebih dari 100 meter dan ditata untuk dibunyikan secara serentak, frekuensi salah satu suling yang manapun harus berbeda dengan frekuensi suling-suling yang lain dengan nilai sekurang-kurangnya 10 Hz.

Genta atau Gong Intensitas Isyarat Genta atau gong atau alat bunyi lain yang mempunyai ciri-ciri bunyi yang serupa harus menghasilkan tingkat tekanan bunyi yang tidak lebih dari 110 dB pada jarak 1 meter dari genta atau gong itu. Konstruksi Genta-genta dan gong-gong harus dibuat dari bahan tahan karat dan dirancang untuk menghasilkan nada yang bening. Garis tengah mulut gentatidak boleh kurang dari 300 mm bagi kapal-kapal yang panjangnya 12 meter atau lebih tetapi kurang dari 20 meter.

Persetujuan Konstuksi alat-alat isyarat bunyi, cara kerjanya dan pemasangannya di kapal harus dengan persetujuan pengusaha yang berwenang dari negara yang benderanya dikibarkan oleh kapal secara sah. LAMPIRAN IV ISYARAT – ISYARAT BAHAYA Isyarat-isyarat berikut ini digunakan atau diperlihatkan secara bersama-sama atau sendiri-sendiri menunjukkan bahaya dan membutuhkan pertolongan : Tembakan senjata atau isyarat ledak lainnya yang ditembakkan dengan selang waktu kira-kira 1 menit ; Membunyikan sembarang alat isyarat kabut secara terus menerus ; Roket-roket atau peluru-peluru yang menebarkan bintang-bintang merah yang ditembakkan satu demi satu dengan selang waktu singkat ; Isyarat yang dipancarkan dengan telegrap radio atau dengan cara lain manapun yang terdiri dari kelompok • • • ▬ ▬ ▬ • • • ( SOS ) dalam kode morse ; Isyarat yang dipancarkan dengan telephon radio yang terdiri dari kata yang dituturkan ” MEDE ” ; Isyarat bahaya dari kode Internasional yang ditunjukan dengan ” NC ” Isyarat yang terdiri dari sehelai bendera segi empat yang dibawah atau diatasnya disambung dengan bola atau sesuatu yang menyamai bola ; Nyala api di kapal ( misalnya dari tong ter, tong minyak yang sedang terbakar, dan sebagainya ) ; Cerawat payung roket atau obor tangan yang memperlihatkan cahaya merah ; Isyarat asap yang menghasilkan asap berwarna jingga ; Menaik turunkan lengan-lengan yang terentang kesamping secara perlahan-lahan dan berulang-ulang ; Tanda bahaya telegrap radio ; Tanda bahaya telephon radio ; Isyarat-isyarat yang dipancarkan oleh rambu-rambu penunjuk kedudukan darurat.

Penggunaan atau penunjukan setiap isyarat yang manapun dari isyarat-isyarat tersebut diatas itu kecuali dengan maksud untuk menunjukan bahaya dan membutuhkan pertolongan serta penggunaan isyarat-isyarat lain yang dapat menimbulkan kekeliruan terhadap isyarat manapun dari isyarat-isyarat tersebut diatas dilarang. Perhatian dicurahkan kebagian-bagian kode internasional yang sesuai. Buku petunjuk pencarian dan pemberian pertolongan kapal niaga serta isyarat-isyarat berikut : Sehelai kain terpal berwarna jingga dengan segi empat dan lingkaran hitam atau lambung lain yang sesuai ( untuk pengenalan dari udara ) ; Penanda zat warna.

LAMPIRAN TAMBAHAN KONVENSI TENTANG PERATURAN-PERATURAN INTERNASIONAL UNTUK MENCEGAH TUBRUKAN DI LAUT 1972 Peserta-peserta konvensi ini : Berhasrat mempertahankan tingkat tinggi keselamatan di laut, sadar akan kebutuhan untuk meninjau kembali dan memutakhirkan Peraturan-peraturan Internasional untuk Mencegah Tubrukan di Laut yang dilampirkan pada Piagam Wasana Konperensi Internasional tentang Keselamatan Jiwa di Laut 1960.

Setelah mempertimbangkan Peraturan-peraturan itu dengan memperhatikan perkembangan-perkembangan semenjak disetujui, telah menyetujui sebagai berikut : PASAL I KEWAJIBAN – KEWAJIBAN UMUM Peserta-peserta konvensi ini terikat untuk melaksanakan Aturan-aturan dan Lampiran-lampiran lain yang merupakan Peraturan-peraturan Internasional untuk Mencegah Tubrukan di Laut 1972 ( selanjutnya teracu sebagai ” Peraturan ” yang dilekatkan padanya. PASAL II PENANDATANGANAN PENGESAHAN PENERIMAAN PENYETUJUAN DAN PENYERTAAN Konvensi ini akan tetap terbuka untuk penandatanganan sampai 1 Juni 1973 dan setelah tanggal itu akan tetap terbuka untuk penyertaan.

Negara-negara Anggota Perserikatan Bangsa-bangsa atau setiap Perwakilan Khusus atau Badan Tenaga Atom Internasional, atau Peserta Penandatanganan Ketentuan-ketentuan Mahkamah Internasional boleh menjadi Peserta Konvensi ini dengan : Penandatanganan tanpa syarat mengenai pengesahan, penerimaan atau penyetujuan ; Penandatanganan dengan syarat pengesahan, penerimaan atau penyetujuan disusul dengan pengesahan, penerimaan atau penyetujuan ; Pengertian.

Pengesahan, penerimaan, penyetujuan atau penyerahan akan mulai berlaku dengan menyerahkan dokumen yang bersangkutan kepada Organisasi Konsultatif Maritim Antar Pemerintah ( selanjutnya teracu sebagai ” Organisasi ” ) untuk disimpan yang akan memberitahukan kepada pemerintah dari Negara-negara yang telah menandatangani atau menyetujui konvensi ini tentang penyampaian masing-masing dokumen dan tanggal penyerahannya.

PASAL III PENERAPAN WILAYAH Perserikatan bangsa-bangsa dalam hal ini menjalankan penguasaan administrasi untuk suatu wilayah atau setiap peserta penandatanganan yang bertanggung jawab untuk hubungan Internasional suatu wilayah boleh memperluas konvensi ini kewilayah demikian pada setiap waktu dengan pemberitahuan secara tertulis kepada Sekretaris Jenderal Organisasi ( yang selanjutnya teracu sebagai ” Sekretaris Jenderal ”.

Konvensi yang sekarang ini pada tanggal penerimaan pemberitahuan atau semenjak tanggal lain yang demikian yang dapat disebutkan didalam pemberitahuan akan diperluas kewilayah yang disebut didalamnya. Setiap pemberitahuan yang dilakukan sesuai dengan ayat 1 pasal ini dapat ditarik kembali berkenaan dengan setiap wilayah yang disebutkan didalam pemberitahuan tersebut dan perluasan konvensi ini kewilayah tersebut akan tidak berlaku lagi setelah satu tahun atau suatu kurun waktu yang lebih lama yang dapat disebut pada saat penarikan kembali.

Sekretaris Jenderal akan memberitahukan kepada semua Peserta Penandatanganan tentang pemberitahuan dari setiap perluasan atau penarikan kembali setiap perluasan yang diumumkan berdasarkan pasal ini. PASAL IV MULAI BERLAKUNYA • Konvensi ini mulai berlaku dua belas bulan setelah tanggal yang pada waktu itu sekurang-kurangnya 15 Negara yang jumlah armada niaga seluruhnya merupakan sekurang-kurangnya 65% jumlah armada dunia atau tonase armada kapal dunia yang isi kotornya 100 ton keatas telah menjadi peserta Konvensi, mana saja yang dicapai lebih dahulu.

• Lepas dari pada ketentuan-ketentuan didalam sub ayat (a) ayat ini, konvensi ini tidak akan mulai berlaku sebelum tanggal 1 Januari 1976.

Mulai berlakunya bagi Negara-negara yang mengesahkan, menerima atau menyetujui atau menyertai Konvensi ini sesuai dengan Pasal II sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan syarat-syarat yang ditetapkan didalam subayat 1 (a) dipenuhi dan sebelum Konvensi mulai berlaku, adalah pada tanggal mulai berlakunya Konvensi.

Mulai berlakunya bagi Negara-negara yang mengesahkan, menerima, menyetujui atau menyertai setelah Konvensi inimulai berlaku, adalah pada tanggal penyampaian dokumen sesuai dengan Pasal II.

Setelah tanggal mulai berlakunya suatu perubahan Konvensi ini sesuai dengan ayat 3 Pasal VI, maka setiap pengesahan, penerimaan, penyetujuan atau penyertaan akan berlaku terhadap Konvensi yang telah diubah.

Pada tanggal mulai berlakunya Konvensi Peraturan-peraturan ini menggantikan dan mencabut Peraturan-peraturan Internasional untuk Mencegah Tubrukan di laut 1960. Sekretaris Jenderal akan memberitahukan kepada Pemerintah dari Negara-negara yang telah menandatangani atau menyetujui Konvensi ini tentang tanggal mulai berlakunya. PASAL V KONPERENSI PERBAIKAN Suatu Konperensi dengan maksud untuk meninjau kembali Konvensi atau Peraturan-peraturan ini atau kedua-duanya dapat diselenggarakan oleh Organisasi.

Organisasi akan mengundang suatu Konperensi para peserta Penandatangan dengan maksud untuk meninjau kembali Konvensi atau Peraturan-peraturan ini atau kedua-duanya atas permintaan dari tidak kurang dari sepertiga para Peserta Penandatangan. PASAL VI PERUBAHAN – PERUBAHAN ATAS PERATURAN – PERATURAN Setiap perubahan atas Peraturan-peraturan yang diusulkan oleh peserta penandatangan akan dipertimbangkan didalam Organisasi atas permintaan Peserta tersebut.

Apabila diterima oleh dua pertiga mayoritas dari para Peserta Penandatangan yang hadir dan memberikan suara didalam Komisi Keselamatan Maritim dari Organisasi, maka perubahan demikian akan diberitahukan kepada semua Peserta Penandatangan dan para Anggota Organisasi sekurang-kurangnya enam bulan sebelum dipertimbangkan oleh Majelis Organisasi.

Setiap Peserta penandatangan yang bukan Anggota Organisasi akan diberi hak untuk berperan serta bilamana perubahan itu dipertimbangkan oleh Majelis. Apabila diterima oleh duapertiga mayoritas dari para Peserta Penandatangan yang hadir dan memberikan suara didalam majelis, maka Sekretaris Jenderal akan memberitahukan perubahan itu kepada semua peserta penandatangan atas penerimaan mereka.

Perubahan demikian akan mulai berlaku pada suatu tanggal yang akan ditentukan oleh Majelis pada waktu yang sama, lebih dari sepertiga dari para Peserta Penandatangan memberitahu Organisasi tentang keberatan-keberatan mereka terhadap perubahan itu.

Penentuan oleh Majelis sehubungan dengan tanggal-tanggal yang teracu didalam ayat ini harus dilakukan oleh dua pertiga mayoritas dari mereka yang hadir dan memberikan suara.

Dengan mulai berlakunya maka setiap ketentuan terdahulu yang teracu oleh perubahan, bagi semua Peserta Penandatangan yang tidak berkeberatan terhadap perubahan tersebut.

Sekretaris Jenderal akan memberitahukan kepada semua peserta penandatangan tentang setiap permintaan dan komunikasi didalam Pasal ini serta tanggal mulai berlakunya setiap perubahan. PASAL VII P E M U T U S A N Konvensi ini dapat diputuskan oleh Peserta Penandatangan pada setiap waktu setelah berakhirnya lima tahun terhitung sejak tanggal mulai berlakunya Konvensi bagi peserta tersebut.

Pemutusan akan berlaku setelah penyampaian dokumen kepada Organisasi untuk disimpan. Sekretaris Jenderal akan memberitahukan kepada semua Peserta Penandatangan tentang penerimaan dokumen pemutusan dan tentang tanggal penyampaiannya. Suatu pemutusan akan berlaku satu tahun, atau kurun waktu yang lebih lama yang dapat disebutkan didalam dokumen setelah penyampaiannya.

PASAL VIII PENYIMPANAN DAN PENDAFTARAN Konvensi dan Peraturan-peraturan ini akan disimpan oleh Organisasi dan Sekretaris Jenderal akan mengirimkan salinan-salinanya sesuai dengan aslinya yang disahkan kepada semua Pemerintah dari Negara-negara yang telah menandatangani Konvensi ini sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan menyertainya.

Bilamana Konvensi ini mulai berlaku, naskahnya akan dikirimkan oleh Sekretaris Jenderal ke Sekretariat Perserikatan Bangsa-bangsa untuk didaftar dan diumumkan sesuai dengan Pasal 102 Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa. PASAL IX B A H A S A Konvensi ini dibuat bersama-sama dengan Peraturan-peraturannya, dalam naskah rangkap tunggal dalam bahasa Inggris dan bahasa Perancis, kedua naskah itu sama Otentiknya. Alih bahasa – alih bahasa dalam bahasa Rusia dan bahasa Spanyol akan disiapkan dan disimpan bersama dengan naskah asli yang ditanda tangani.

Selaku saksi untuk hal-hal tersebut di atas, yang bertanda tangan di bawah ini diberi wewenang dengan sepatutnya oleh Pemerintah mereka untuk maksud itu, telah menandatangani Konvensi yang sekarang ini. Dilakukan di London, pada tanggal dua puluh Oktober seribu sembilan ratus tujuh puluh dua.
• Acèh • Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • Pangcah • Aragonés • العربية • ܐܪܡܝܐ • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • Atikamekw • Авар • Kotava • Aymar aru • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Basa Bali • Boarisch • Žemaitėška • Bikol Central • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • Banjar • বাংলা • བོད་ཡིག • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • Нохчийн • Cebuano • ᏣᎳᎩ • Tsetsêhestâhese • کوردی • Corsu • Čeština • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Zazaki • Dolnoserbski • Ελληνικά • Emiliàn e rumagnòl • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • Estremeñu • فارسی • Suomi • Võro • Na Vosa Vakaviti • Français • Arpetan • Nordfriisk • Furlan • Frysk • Gaeilge • 贛語 • Kriyòl gwiyannen • Gàidhlig • Galego • Avañe'ẽ • Bahasa Hulontalo • Gaelg • Hausa • 客家語/Hak-kâ-ngî • עברית • हिन्दी • Fiji Hindi • Hrvatski • Hornjoserbsce • Kreyòl ayisyen • Magyar • Հայերեն • Interlingua • Iñupiak • Ilokano • ГӀалгӀай • Ido • Íslenska • Italiano • ᐃᓄᒃᑎᑐᑦ/inuktitut • 日本語 • Patois • La .lojban.

• Jawa • ქართული • Qaraqalpaqsha • Taqbaylit • Kabɩyɛ • Kongo • Қазақша • ಕನ್ನಡ • 한국어 • Къарачай-малкъар • Kurdî • Коми • Kernowek • Кыргызча • Latina • Lëtzebuergesch • Лезги • Lingua Franca Nova • Limburgs • Ladin • Lombard • Lingála • Lietuvių • Latviešu • Madhurâ • Мокшень • Malagasy • Олык марий • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • मराठी • Bahasa Melayu • Mirandés • မြန်မာဘာသာ • Эрзянь • مازِرونی • Dorerin Naoero • Nāhuatl • Napulitano • Plattdüütsch • Nedersaksies • नेपाली • नेपाल भाषा • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Nouormand • Sesotho sa Leboa • Chi-Chewa • Occitan • Livvinkarjala • ଓଡ଼ିଆ • Ирон • ਪੰਜਾਬੀ • Papiamentu • Deitsch • Norfuk / Pitkern • Polski • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Rumantsch • Romani čhib • Ikirundi • Română • Armãneashti • Tarandíne • Русский • Русиньскый • Ikinyarwanda • संस्कृतम् • Саха тыла • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sicilianu • Scots • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • Taclḥit • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • ChiShona • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • Seeltersk • Sunda • Svenska • Kiswahili • Ślůnski • தமிழ் • Tayal • ತುಳು • తెలుగు • Тоҷикӣ • ไทย • Türkmençe • Tagalog • Türkçe • Татарча/tatarça • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vèneto • Vepsän kel’ • Tiếng Việt • West-Vlams • Winaray • Wolof • 吴语 • IsiXhosa • მარგალური • ייִדיש • Yorùbá • Vahcuengh • 中文 • 文言 • Bân-lâm-gú • 粵語 • IsiZulu Gambar radar dari sungai metana dan etana sepanjang 400-kilometer (250 mi) di dekat kutub utara bulan Saturnus, Titan Sungai (disebut juga sebagai kali atau bengawan; bahasa Inggris: river) adalah aliran air di permukaan yang besar dan berbentuk memanjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara).

[1] Sungai merupakan tempat mengalirnya air secara grafitasi menuju ke tempat yang lebih rendah, Sungai juga merupakan salah satu wadah tempat berkumpulnya air dari suatu kawasan. Apabila aktivitas manusia yang berada di sekitar aliran sungai tidak diimbangi dengan kesadaran melestarikan lingkungan sungai, maka kualitas air sungai akan buruk. Tetapi jika sebaliknya aktivitas manusia diimbangi oleh kesadaran menjaga lingkungan sungai, maka kualitas air sungai akan relatif baik.

[2] Arah aliran sungai sesuai dengan sifat air mulai dari tempat yang tinggi ke tempat rendah. Sungai bermula dari gunung atau dataran tinggi menuju ke danau atau lautan. Ada juga sungai yang terletak di bawah tanah, disebut sebagai " underground river".

Misalnya sungai bawah tanah di Gua Hang Soon Dong di Vietnam, sungai bawah tanah di Yucatan (Meksiko), sungai bawah tanah di Gua Pindul (Indonesia). Pada beberapa kasus, sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap ke dalam tanah sebelum menemukan badan air lainnya. Melalui sungai merupakan cara yang biasa bagi air hujan yang turun di daratan untuk mengalir ke laut atau tampungan air yang besar seperti danau. Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai.

Beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan saluran dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan. Pengujung sungai di mana sungai bertemu laut dikenali sebagai muara sungai. Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan, embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu juga berasal dari lelehan es/ salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan.

Kemanfaatan terbesar sebuah sungai adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya potensial untuk dijadikan objek wisata sungai. Di Indonesia saat ini terdapat 5.950 daerah aliran sungai (DAS). Sungai Bengawan Solo di Pulau Jawa yang kering saat musim kemarau. • sungai periodik - yaitu sungai yang pada waktu musim hujan airnya banyak, sedangkan pada musim kemarau airnya sedikit.

Contoh sungai jenis ini banyak terdapat di Pulau Jawa, misalnya Bengawan Solo dan Sungai Opak di Jawa Tengah, Sungai Progo dan Sungai Code di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Sungai Brantas di Jawa Timur. • sungai intermittent atau sungai episodik - yaitu sungai yang mengalirkan airnya pada musim penghujan, sedangkan pada musim kemarau airnya kering.

Contoh sungai jenis ini adalah Sungai Kalada di Pulau Sumba dan Sungai Batanghari di Sumatra. • sungai ephemeral - yaitu sungai yang ada airnya hanya pada saat musim hujan.

Pada hakikatnya, sungai jenis ini hampir sama dengan jenis episodik, hanya saja pada musim hujan sungai jenis ini airnya belum tentu banyak. Menurut genetiknya: • sungai konsekuen yaitu sungai yang arah alirannya searah dengan kemiringan lereng. • sungai subsekuen yaitu sungai yang aliran airnya tegak lurus dengan sungai konsekuen.

• sungai obsekuen yaitu anak sungai subsekuen yang alirannya berlawanan arah dengan sungai konsekuen. • sungai insekuen sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan sungai yang alirannya tidak teratur atau terikat oleh lereng daratan. • sungai resekuen yaitu anak sungai subsekuen yang alirannya searah dengan sungai konsekuen. • sungai andesen yaitu sungai yang kekuatan erosi ke dalamnya mampu mengimbangi pengangkatan lapisan batuan yang dilalui.

• sungai anaklinal yaitu sungai yang arah alirannya mengalami perubahan karena tidak mampu mengimbangi pengangkatan lapisan batuan. Menurut sumber airnya: • sungai hujan yaitu sungai yang berasal dari air hujan. Banyak dijumpai di Pulau Jawa dan kawasan Nusa Tenggara. • sungai gletser yaitu sungai yang berasal dari melelehnya es. Banyak dijumpai di negara-negara yang beriklim dingin, seperti Sungai Gangga di India dan Sungai Rhein di Jerman. • sungai campuran yaitu sungai yang berasal dari air hujan dan lelehan es.

Dapat dijumpai di Papua, contohnya Sungai Digul dan Sungai Mamberamo. Manajemen Sungai [ sunting - sunting sumber ] Tanggul di sepanjang sebuah sungai di Johor, Malaysia. Sungai sering kali dikendalikan atau dikontrol supaya lebih bermanfaat atau mengurangi dampak negatifnya terhadap kegiatan manusia.

[3] • Bendung dan Bendungan dibangun untuk mengontrol aliran, menyimpan air atau menghasilkan energi. • Tanggul dibuat untuk mencegah sungai mengalir melampaui batas dataran banjirnya. • Kanal-kanal dibuat untuk menghubungkan sungai-sungai untuk mentransfer air maupun navigasi • Badan sungai dapat dimodifikasi untuk meningkatkan navigasi atau diluruskan untuk meningkatkan rerata aliran.

Manajemen sungai merupakan aktivitas yang berkelanjutan, karena sungai cenderung untuk mengulangi kembali modifikasi buatan manusia. Saluran yang dikeruk akan kembali mendangkal, mekanisme pintu air akan memburuk seiring waktu berjalan, tanggul-tanggul dan bendungan sangat mungkin mengalami rembesan atau kegagalan yang dahsyat akibatnya.

Keuntungan yang dicari dalam manajemen sungai sering kali "impas" bila dibandingkan dengan biaya-biaya sosial ekonomis yang dikeluarkan dalam mitigasi efek buruk dari manajemen yang bersangkutan. Sebagai contoh, di beberapa bagian negara berkembang, sungai telah dikungkung dalam kanal-kanal sehingga dataran banjir yang datar dapat bebas dan dikembangkan. Banjir dapat menggenangi pola pembangunan tersebut sehingga dibutuhkan biaya tinggi, dan sering kali makan korban jiwa. Banyak sungai kini semakin dikembangkan sebagai wahana konservasi habitat, karena sungai termasuk penting untuk berbagai tanaman air, ikan-ikan yang bermigrasi dan menetap, serta budidaya tambak, burung-burung, dan beberapa jenis mamalia.

Dampak ekploitasi berlebihan pada ekosistem sungai [ sunting - sunting sumber ] Eksploitasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti "pengusahaan; pendayagunaan; pemanfaatan untuk keuntungan sendiri"; "pengisapan"; "pemerasan (tenaga manusia)".

Eksploitasi dalam bahasa Inggris (exploitation) berarti "politik pemanfaatan yang secara sewenang-wenang atau terlalu berlebihan terhadap suatu subyek, hanya untuk kepentingan ekonomi semata-mata tanpa mempertimbangan rasa kepatutan, keadilan, serta kompensasi kesejahteraan." Eksploitasi berlebihan terjadi ketika sumber daya yang dikonsumsi telah berada pada tingkat yang tidak berkelanjutan. Tidak hanya ekosistem darat yang dapat mengalami eksploitasi berlebihan.

Ekosistem akuatik seperti laut, sungai, danau, dan perairan lainnya dapat mengalami hal yang serupa. Eksploitasi sumber daya akuatik dapat berupa penangkapan organisme laut secara berlebihan. Penangkapan organisme laut (seperti ikan konsumsi maupun ikan hias) dan pengambilan terumbu karang dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan lingkungan di ekosistem laut. [4] [5] Organisme yang beragam hidup di terumbu karang. Namun, terumbu karang demikian rapuh terhadap kerusakan karena pertumbuhannya lambat, mudah terganggu, dan hanya hidup pada perairan yang dangkal, hangat, dan bersih.

Terumbu karang hanya dapat hidup pada perairan dengan suhu 18 — 30 °C. Kenaikan suhu sebesar 1 °C dari batas maksimum dapat menyebabkan kerusakan terumbu karang.

Rusaknya terumbu karang akan menyebabkan hilangnya tempat tinggal bagi organisme yang ada pada sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan terumbu karang. Ancaman lain yang dapat mengganggu ekosistem perairan adalah penggunaan ekosistem perairan sebagai daerah wisata. Penetapan daerah wisata perairan dapat dikatakan sebagai eksploitasi karena apabila daerah wisata tersebut tidak dikelola dengan balk maka akan mengganggu keberadaan organisme yang ada di ekosistem tersebut.

Sebagai contoh, daerah wisata pantai di Bali atau wilayah Jakarta bagian utara yang ekosistem alaminya telah terganggu oleh aktivitas manusia yang berlebihan. Kedua pantai tersebut telah tercemar oleh sampah yang dibuang pengunjung tempat wisata tersebut.

Nama-nama daerah [ sunting - sunting sumber sungai yang tidak dibenarkan untuk diambil ikannya dalam batas waktu tertentu disebut dengan Sungai disebut dalam beragam istilah di Indonesia: • Krueng ( Bahasa Aceh) • Binanga ( Bahasa Batak) • Aek, Air, Aie, Batang, atau Sei ( Bahasa Melayu) • Way/Air ( bahasa Lampung) • Batang Banyu ( Bahasa Banjar) • Batang, Danum ( Bahasa Ngaju) • Walungan, Wahangan, Susukan ( Bahasa Sunda) • Bengawan, Kali, Lèpèn ( Bahasa Jawa) • Tukad (dibaca /ʈukad/, Bahasa Bali) • Kokok ( Bahasa Sasak) • Salo/Salu ( Bahasa Bugis- Makassar) • Ci ( Bahasa Sunda) • River ( Bahasa Inggris) Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Daftar sungai di Indonesia • Rambu sungai Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b Media, Kompas Cyber.

"Pengertian dan Jenis-jenis Sungai". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2020-12-30. • ^ Yogafani (2015). "Pengaruh Aktifitas Warga di Sempadan Sungai terhadap Kualitas Air Sungai Winongo" (PDF). Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan. 7 (1): 42. • ^ Allan, J.D. 1995. Stream Ecology: structure and function of running waters.

Chapman and Hall, London. Pp. 388. • ^ Angelier, E. 2003. Ecology of Streams and Rivers. Science Publishers, Inc., Enfield. Pp. 215. • ^ ”Biology Concepts & Connections Sixth Edition”, Campbell, Neil A. (2009), page 2, 3 and G-9. Retrieved 2010-06-14. Bacaan lanjutan [ sunting - sunting sumber ] Wikibuku Historical Geology memiliki halaman berjudul Rivers Cari tahu mengenai river pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: Definisi dan terjemahan dari Wiktionary Gambar dan media dari Commons Berita dari Wikinews Kutipan dari Wikiquote Teks sumber dari Wikisource Buku dari Wikibuku • Jeffrey W.

Jacobs. "Rivers, Major World". Rivers, Major World – dam, sea, effects, important, largest, salt, types, system, source. Water Encyclopaedia. • Luna B. Leopold (1994). A View of the River. Harvard University Press. ISBN 978-0-674-93732-1. OCLC 28889034. — a non-technical primer on the geomorphology and hydraulics of water. • Middleton, Nick (2012). Rivers: a very short introduction. New York: Oxford University Press.

ISBN 978-0-19-958867-1. • Halaman ini terakhir diubah pada 9 September 2021, pukul 23.08. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku.

Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •

SPOT PAYA INI BELUM PERNAH DIJAMAH.. #zbzzakaria #roadsto10Ksubs




2022 www.videocon.com