Fungsi nukleus

fungsi nukleus

MENU • Home • SMP • Matematika • Fungsi nukleus • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Kewarganegaraan • IPS • IPA • Penjas • SMA • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Akuntansi • Matematika • Kewarganegaraan • IPA • Fisika • Biologi • Kimia • IPS • Sejarah • Geografi • Ekonomi • Sosiologi • Penjas • SMK • Penjas • S1 • Agama • IMK • Pengantar Teknologi Informasi • Uji Kualitas Perangkat Lunak • Sistem Operasi • E-Bisnis • Database • Pancasila • Kewarganegaraan • Akuntansi • Bahasa Indonesia • S2 • Umum • About Me Baca Juga Artikel Terkait Materi Tentang : Penjelasan Sifat-Sifat Otot Lurik Dalam Biologi Pada tahun 1890, Altmann mengidentifikasi granula-granula tersebut dan Ia berikan nama bioblast.

Istilah tersebut diganti dengan mitokondria (Yunani: mito yang berarti benang dan chondrion yang berarti granula) sebab penampakan granula-granula tersebut menyerupai benang bila diamati dengan menggunakan mikroskop cahaya. Pada tahun 1900, Michaelis menunjukkan bahwa di dalam mitokondria berlangsung reaksi-reaksi oksidatif. Pada tahun 1930, Sir Hans Krebs menjelaskan beberapa reaksi siklus asam trikarboksilat atau daur Krebs. Dari tahun 1950, Lehninger, Green, Kennedy, dan Hogeboom dan lain-lain menunjukkan secara jelas reaksi-reaksi seperti oksidasi asam lemak, fosforilasi oksidatif serta sifat-sifat lain mitokondria (Sheeler dan Bianchii, 1983).

Pengertian Mitokondria Mitokondria merupakan organel tempat berlangsungnya fungsi respirasi sel pada makhluk hidup. Selain itu terdapat fungsi seluler lain seperti metabolisme asam lemak, biosintesispirimidina, homeostasis kalsium, fungsi nukleus sinyal seluler dan juga sebagai penghasil energi. Baca Juga Artikel Terkait Tentang Materi : Pengertian Dan Fungsi Horman Pada Makhluk Hidup Serta Macam-Macamnya Memang dalam hal ini fungsi utama mitokondria ialah untuk respirasi sel.

Selain itu terdapat fungsi mitokondria yang lainnya, baik bagi hewan, tumbuhan dan makhluk hidup lainnya. Mitokondria memiliki sistem genetik sendiri dibandingkan sistem genetik inti. Struktur mitokondria memiliki dua lapisan membran yang terdiri dari lapisan membran luar dan lapisan membran dalam. Bagian-bagian pada mitokondria penting untuk melakukan cara kerja mitokondria itu sendiri. Sel-sel yang memiliki banyak mitokondria antara lain ada pada jantung, hati dan otot.

Bagian ribosom dan rRNA mitokondria lebih mirip dengan yang dimiliki bakteri dibandingkan dengan yang disandi oleh inti sel eukariota. Fungsi nukleus tahap respirasi pada hewan dan tumbuhan juga melewati fungsi nukleus yang sama yang dikenal sebagai siklus Krebs.

Fungsi Mitokondria Lantas apa saja fungsi mitokondria pada sel tumbuhan, sel hewan dan makhluk hidup lainnya? Nah berikut ini ialah fungsi dan peran mitokondria diantaranya: 1. Tempat Berlangsungnya Respirasi Sel Fungsi utama mitokondria ialah respirasi sel, respirasi sel ialah proses kimiawi untuk melepaskan energi yang tersimpan dalam glukosa. Energi yang digunakan untuk pemecahan glukosa disediakan oleh molekul-molekul ATP.

Proses ini terdiri dari glikolisis, siklus krebs dan transpor elektron. 2. Menghasilkan Energi Dalam Bentuk ATP Fungsi mitokondria ialah untuk menghasilkan energi, makanan yang dikonsumsi akan dipecah dalam bentuk molekul seperti karbohidrat atau lemak untuk kemudian dikirim ke mitokondria, nantinya akan dihasilkan molekul ATP melalui proses fosforilasi oksidatif.

3. Menjaga Konsentrasi Ion Kalsium Mitokondria juga penting untuk menjaga konsentrasi ion kalsium yang tepat dan cukup dalam berbagai kompartemen sel. Mitokondria membantu sel-sel dengan melayani sebagai sebuah tangki penyimpanan yang dapat menyimpan ion kalsium. fungsi nukleus. Membangun Bagian-Bagian Dari Darah Dan Hormon Mitokondria juga memiliki peran dan fungsi lainnya yakni dalam membangun bagian-bagian tertentu dari darah serta hormon.

Contoh bagian-bagian yang dibangun mitokondria dari darah atau hormon misalnya yakni testosteron dan estrogen. Baca Juga Artikel Terkait Tentang Materi : Pembuluh Darah – Arteri, Vena, Fungsi, Macam, Ciri & Anatomi 5. Mendetoksifikasi Amonia Fungsi mitokondria juga penting untuk melakukan detoksifikasi amonia.

Hal ini dilakukan karena adanya enzim yang terdapat pada mitokondria yang ada pada sel-sel hati. Enzim itulah yang kemudian melakukan tugasnya untuk detoksifikasi amonia. 6. Menjalankan Proses Apoptosis Mitokondria juga berperan fungsi nukleus proses kematian sel terprogram, maksudnya sel-sel yang tidak diinginkan yang jumlahnya terlalu banyak akan dipangkas selama perkembangan organisme, dimana proses ini dinamakan sebagai proses apoptosis.

fungsi nukleus. Mengawasi Pertumbuhan Sel Fungsi mitokondria penting dalam pertumbuhan sel, dalam kaitannya dengan sel, mitokondria berfungsi untuk mengawasi pertumbuhan dan perkembangan sel, selain itu mitokondria juga berperan dalam mengawasi diferensiasi sel. Fungsi Mitokondria secara Umum Fungsi mitokondria sangat bervariasi tergantung dengan jenis sel di mana mereka berada.

fungsi nukleus

• Mitokondria memiliki fungsi yang sangat penting yaitu untuk menghasilkan energi. Makanan yang kita konsumsi akan dipecah dalam bentuk molekul yang sederhana seperti karbohidrat, lemak, dan sebagainya. Hal tersebut akan dikirim ke mitokondria di mana mereka akan memproses menjadi lebih lanjut untuk dapat menghasilkan molekul bermuatan yang akan bergabung dengan oksigen serta fungsi nukleus menghasilkan molekul ATP.

Seluruh proses tersebut dikenal dengan fosforilasi oksidatif. • Mitokondria memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga konsentrasi ion kalsium yang tepat dan cukup dalam berbagai kompartemen sel. Mitokondria dapat membantu sel-sel untuk mencapai tujuan tersebut dengan melayani sebagai sebuah tangki penyimpanan yang dapat menyimpan ion kalsium.

• Mitokondria juga berperan dalam membangun bagian-bagian tertentu dari darah serta hormon seperti testosteron dan estrogen. • Mitokondria yang terdapat dalam sel-sel hati mempunyai enzim yang dapat mendetoksifikasi amonia. • Mitokondria berperan dalam proses kematian sel terprogram, yaitu sel yang tidak diinginkan serta jumlah yang terlalu banyak sehingga akan dipangkas selama perkembangan organisme.

Proses tersebut disebut apoptosis. Kematian sel yang abnormal dikarenakan disfungsi mitokondria akan berdampak dalam mempengaruhi fungsi organ.

Struktur Mitokondria Struktur mitokondria terdiri dari : membran luar, membran dalam, ruang antar membran, dan matriks yang terletak fungsi nukleus bagian dalam membran, ribosom, krista, oksisom, inklusi, dan DNA fungsi nukleus. Mitokondria banyak terdapat pada sel yang memilki aktivitas metabolisme tinggi dan memerlukan banyak ATP dalam jumlah banyak, misalnya sel otot jantung.

Jumlah dan bentuk mitokondria bisa berbeda-beda untuk setiap sel. Mitokondria berbentuk elips dengan diameter 0,5 µm dan panjang 0,5-1,0 µm. Struktur mitokondria terdiri dari : 1.

Ribosom Organel sel yang dibangun dalam nucleolus berfungsi sebagai tempat sintesis protein dalam sitoplasma terdiri dari rRNA dan molekul protein, yang membentuk 2 subunit.

2. Membran Luar Membran luar terdiri dari protein dan lipid dengan perbandingan yang sama serta mengandung protein porin yang menyebabkan membran ini bersifat permeabel fungsi nukleus molekul-molekul kecil yang berukuran 6000 Dalton. Baca Juga Artikel Terkait Tentang Materi : Penjelasan Protein Serta Fungsi, Sumber Dan Akibat Kekurangannya Lengkap Dalam hal ini, membran luar mitokondria menyerupai membran luar bakteri gram-negatif.

Selain itu, membran luar juga mengandung enzim yang terlibat dalam biosintesis lipid dan enzim yang berperan dalam proses transpor lipid ke matriks untuk menjalani β-oksidasi menghasilkan Asetil KoA. 3. Membran Dalam Membran dalam merupakan bagian yang kurang permeabel dibandingkan membran luar terdiri dari 20% lipid dan 80% protein.

Membran ini merupakan tempat utama pembentukan ATP. Membran dalam mengandung protein yang terlibat dalam reaksi fosforilasi oksidatif, ATP sintase yang berfungsi membentuk ATP pada matriks fungsi nukleus, serta protein transpor yang mengatur keluar masuknya metabolit dari matriks melewati membran dalam.

4. Krista Pelipatan membran dalam mitokondria yang merupakan tempat rantai transpor elektron dan enzim-enzim yang mengkatalisis sintesis ATP. Stuktur krista ini meningkatkan luas permukaan membran dalam sehingga meningkatkan kemampuannya dalam memproduksi ATP. Sepanjang krista terdapat protein sitokrom yang berperan sebagai oksidator dan reduktor berantai sehingga membebaskan energi secara gradual untuk membentuk ATP.

5. Ruang Antar Membran Ruang antar membran terletak diantara membran luar dan membran dalam merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi yang penting bagi sel, seperti siklus Krebs, reaksi oksidasi asam amino, dan reaksi β-oksidasi asam lemak. 6. Matriks Matriks mitokondria berisi cairan seperti gel yang diliputi selaput dalam mengandung sejumlah enzim siklus krebs, garam dan air.

Di dalam matriks juga terdapat materi genetik, yang dikenal dengan DNA mitkondria (mtDNA), ribosom, ATP, ADP, fosfat inorganik serta ion-ion seperti magnesium, kalsium dan kalium. 7. DNA Mitokondria DNA mitokondria memiliki ciri-ciri yang berbeda dari DNA nukleus ditinjau dari ukuran, jumlah gen, dan bentuk. Di antaranya adalah memiliki laju mutasi yang lebih tinggi, yaitu sekitar 10-17 kali DNA inti.

fungsi nukleus

Selain itu Fungsi nukleus mitokondria terdapat dalam jumlah banyak (lebih dari 1000 kopi) dalam tiap sel, sedangkan DNA inti hanya berjumlah dua kopi. DNA inti merupakan hasil rekombinasi DNA kedua orang tua sementara DNA mitokondria hanya diwariskan dari ibu (maternally inherited). Besar genom pada DNA mitokondria relatif kecil apabila dibandingkan dengan genom DNA pada nukleus. Ukuran genom DNA mitokondria pada tiap tiap organisme sangatlah bervariasi.

Tidak seperti DNA nukleus yang berbentuk linear, mtDNa berbentuk lingkaran. Sebagian besar mtDNA membawa gene yang berfungsi dalam proses respirasi sel. Komposisi Kimia Mitokondria Pada mitokondria utuh, air merupakan komponen utama yang dominan dan ditemukan di seluruh mitokondria kecuali dalam lapisan bilayer lipida. Fungsi nukleus selain berperan dalam reaksi-reaksi kimia, juga berperan sebagai medium fisik dimana metabolit dapat berdifusi diantara sistem-sistem enzim.

Komponen utama mitokondria adalah protein. Persentase protein yang sebenarnya berkaitan dengan jumlah membran dalam yang ada. Membran dalam terdiri atas protein, baik protein enzimatik maupun protein struktural. Pada beberapa mitokondria, membran dalam mengandung kira-kira 60% dari total protein organel. Berdasarkan distribusi enzim di dalam mitokondria hati tikus, telah terbukti bahwa membrane dalam mengandung 21% dari total protein mitokondria dan membran luar 40%.

Menurut perhitungan ini, kurang lebih 67% protein terdapat pada matriks dan biasanya ditemukan dalam ruang intraseluler. Protein mitokondria dapat dikelompokkan menjadi dua bentuk, yaitu bentuk terlarut dan bentuk tidak terlarut. Protein terlarut terutama terdiri atas enzim-enzim matriks dan protein perifer membran atau protein intrinsik membran tertentu. Protein tidak terlarut biasanya menjadi bagian integral membran. Beberapa dari protein ini merupakan protein struktural serta beberapa protein enzim.

Komposisi lipida mitokondria tergantung dari sumber mitokondrianya. Namun demikian, fosfolipida merupakan bentuk yang fungsi nukleus. Umumnya fosfolipida terdiri dari ¾ dari total lipida. Fosfatidilamin dan fosfatidiletanolamin umumnya merupakan fosfatidil dalam jumlah yang besar pada mitokondria. Namun demikian, ditemukan kadar kardiolipin dan kolesterol dengan konsentrasi yang rendah.

Sejumlah molekul organik sederhana yang berbeda berasosiasi dengan membran mitokondria. Beberapa dari molekul fungsi nukleus adalah molekul redoks yang ikut serta dalam transpor elektron. Ubiquinon (koenzim Q), flavin (FMN dan FAD), dan nukleotida piridin (NAD+) secara normal terikat membran, dan kadang-kadang berasosiasi pada hampir sebahagian besar membran dalam.

Sifat-Sifat Mitokondria Mitokondria memiliki DNA tersendiri, yang dikenal sebagai mtDNA (mitochondrial DNA). MtDNA berpilin ganda, sirkular, dan fungsi nukleus terlindungi membran fungsi nukleus. Karena memiliki ciri seperti DNA bakteri, berkembang teori yang cukup luas dianut, yang menyatakan bahwa mitokondria dulunya merupakan makhluk hidup independen yang kemudian bersimbiosis dengan organisme eukariotik.

Baca Juga Artikel Terkait Tentang Materi : Ciri-Ciri Bakteri Beserta Penjelasannya Teori ini dikenal dengan teori endosimbion. Pada makhluk tingkat tinggi, DNA mitokondria yang diturunkan kepada anaknya hanya berasal dari betinanya saja (mitokondria sel telur).

Mitokondria jantan tidak ikut masuk ke dalam sel telur karena letaknya yang berada di ekor sperma. Ekor sperma tidak ikut masuk ke dalam sel telur sehingga DNA mitokondria jantan tidak diturunkan.

MtDNA diwariskan secara maternal. Sel telur memiliki jumlah mitokondria yang lebih banyak dibandingkan sel sperma, yaitu sekitar fungsi nukleus molekul sedangkan sel sperma hanya memiliki sekitar 100-1500 mtDNA. Dalam sel sperma mitokondria banyak terkandung dalam bagian ekor karena bagian ini yang sangat aktif bergerak sehingga membutuhkan banyak ATP. Pada saat terjadi pembuahan sel telur, bagian ekor sperma dilepaskan sehingga hanya sedikit atau hampir tidak ada mtDNA yang masuk ke dalam sel telur.

Hal ini berarti bahwa sumbangan secara paternal hanya berjumlah 100 mitokondria. Apalagi dalam proses pertumbuhan sel, jumlah mtDNA secara paternal semakin berkurang. Maka jika dibandingkan dengan sumbangan secara maternal yaitu 100.000, maka sumbangan secara paternal hanya 0,01%. Oleh karena itu dapat dianggap tidak terjadi rekombinasi sehingga dapat dikatakan bahwa mtDNA bersifat haploid.

Fungsi nukleus mitokondria juga memiliki sifat unik lainnya yaitu laju mutasinya yang sangat tinggi sekitar 10-17 kali DNA inti (Wallace et al., 1997). Hal ini dikarenakan mtDNA tidak memiliki mekanisme reparasi yang efisien (Bogenhagen, 1999), tidak memiliki protein histon, dan terletak berdekatan dengan membran dalam mitokondria tempat berlangsungnya reaksi fosforilasi oksidatif yang menghasilkan radikal oksigen sebagai produk samping (Richter, 1988). Selain itu, DNA polimerase yang dimiliki oleh mitokondria adalah DNA polimerase γ yang tidak mempunyai aktivitas proofreading (suatu proses perbaikan dan pengakuratan dalam replikasi DNA).

Fungsi nukleus adanya aktivitas ini menyebabkan mtDNA tidak memiliki sistem perbaikan yang dapat menghilangkan kesalahan replikasi. Replikasi mtDNA yang tidak akurat ini akan menyebabkan mutasi mudah terjadi. Salah satu bentuk keunikan lainnya dari mitokondria adalah perbedaan kode genetik mitokondria menunjukkan perbedaan dalam hal pengenalan kodon universal. UGA tidak dibaca sebagai “berhenti” melainkan sebagai tryptofan, AGA dan AGG tidak dibaca sebagai arginin melainkan sebagai “berhenti”, AUA dibaca sebagai methionin.

Proses yang Terjadi dalam Mitokondria Respirasi sel Pada organism eukariotik adalah serangkaian proses pengubahn glukosa menjadi energy.

Proses metabolisme yang terjadi antara lain glikolisis yang terjadi di sitosol, siklus krebs dan fosforilasi oksidatif yang terjadi pada mitokondria. Selama glikolisis, molekul glukosa diubah menjadi 2 molekul senyawa piruvat. Piruvat melinjtasi membrane ganda mitokondria untuk memasuki matriksnya, dimana siklus krebs memecahnya menjadi karbondioksida.

NADH mentransfer electron dari glikolisis dan siklus krebs kerantai transport electron, yang ada di membran Krista rantai transport electron ini mengubah energi kimiawi menjadui energy yang dapat digunakan untuk fosforilasi oksidatif, yang bertanggungjawab atas sebagian besar electron ATP yang dihasilkan oleh rspirasi seluler.

Sejumlah kecil ATP dibentuk langsung selama glikolisis dan siklus krebs oleh fosforilasi tingkat substrat. Pada hakikatnya ATP terbentuk dari ADP + Pi 1. Glikolisis Respirasi seluler merupakan rangkaian peristiwa yang berlangsung melalui pemecahan glukosa menjadi asam piruvat, perubahan asam piruvat menjadi asetil Fungsi nukleus, daur krebs dan rantai pernapasan.

Baca Juga Artikel Terkait Tentang Materi : Glukosa – Pengertian, Rumus, Fungsi, Struktur dan Metabolisme Walaupun glikolisis berlangsung di dalam sitoplasma, namun sebagai rangkaian dari proses respirasi seluler, maka pada uraian berikut ini juga akan dibahas mengenai glikolisis. Glikolisis adalah proses penguraian molekul heksosa yang memiliki enam atom fungsi nukleus dan berlangsung secara enzimatis untuk menghasilkan dua molekul asam piruvat yang memilki tiga atom karbon.

Glikolisis merupakan jalur utama dari katabolisme glukosa yang berlangsung di dalam sitoplasma sel hewan, sel tumbuhan dan sel mikroba (Lehninger, 1994). Glukosa dapat diperoleh melalui pemecahan polisakarida seperti pati dan glikogen melalui kerja enzim fosforilase. Disakarida seperti sukrosa dan maltosa dihidrolisis oleh sakarose menghasilkan monosakarida.

Pemecahan glukosa menjadi dua molekul piruvat berlangsung melalui 11 tahapan reaksi. Glikolisis dapat dibagi menjadi dua fase yaitu (i) fase persiapan, dan (ii) fase produksi energi dalam bentuk ATP. Fase persiapan terdiri atas lima tahapan reaksi. Heksosa lain seperti D-fruktosa, D-Galaktosa, dan D-mannosa dapat masuk ke dalam fase persiapan glikolisis setelah mengalami fosforilasi. Fase produksi fungsi nukleus berlangsung melalui lima tahapan reaksi berikutnya. Dalam peristiwa ini dihasilkan 4 molekul ATP.

Pada tahap awal glikolisis, glukosa diubah menjadi fruktosa 1,6 bifosfat dengan memanfaatkan dua molekul ATP. Fruktosa 1,6 bifosfat dipecah menjadi 2 molekul senyawa 3 C yaitu dihidroksi aseton fosfat dan gliseraldehida fungsi nukleus fosfat yang keduanya merupakan isomer gliseraldehida 3 fosfat. Selanjutnya mengalami reaksi dengan Pi kemudian diikuti dengan reaksi reduksi pembentukan NADP dari NAD dan terbentuk asam 1,3 difosfogliserat.

Selanjutnya mengalami perubahan melalui pembentukan senyawa-senyawa intermediate secara berturut-turut yaitu: Asam 3 fosfogliserat, asam 2 fosfogliserat, fosfoenol piruvat dan asam piruvat.

Pada perubahan asam 1,3 difosfogliserat menjadi 3 fosfogliserat dan dari fosfoenol piruvat menajdi asam piruvat dirangkaikan dengan pembentukan ATP dari ADP dan Pi yang dilepaskan. Seluruh reaksi perubahan glukosa sehingga terbentuk asam piruvat melibatkan berbagai enzim sesuai substrat yang bereaksi. Seluruh rangkaian respirasi menghasilkan 2 molekul ATP dan 2 NADPH.

Selama berlangsungnya glikolisisterdapat tiga jenis transformasi kimia yang berbeda, yaitu: • Pemecahan kerangka karbon glukosa menghasilkan asam piruvat. • Fosforilasi ADP menjadi ATP oleh senyawa fosfat berenergi tinggi yang dibentuk selama glikolisis.

• Pemindahan atom hidrogen atau elektron. Menurut Sheeler dan Bianchii (1983), ada empat ciri utama gliklisis, yaitu: • Gula pertama menglami dua kali fosforilasi.

Pada gula seperti glukosa, fruktosa dan mannose membutuhkan dua molekul ATP per mol monosakarida. Sedangkan gula yang diturunkan dari glikogen atau pati, hanya membutuhkan satu mol ATP permol glukosa equivalen.

Jadi fosfat anorganik dibutuhkan selama fosforilasi polisakarida. • Gula difosfat berkarbon enam dipecah oleh enzim aldolase menghasilkan gliseraldehida-3-fosfat dan dihidroksi aseton fosfat (DHAP) yang masing-masing beratom karbon tiga. Selanjut-nya DHAP diubah menjadi gliseraldehida-3-fosfat. • Oksidasi dan fungsi nukleus subtrat yang utama dikatalisis oleh enzim gliseraldehida-3-fosfat dehidrogenase. 2 mol hidrogen dilepaskan per mol subtrat dan reduksi dua mol koenzim NAD+.

Pada reaksi yang sama fosfat an organik digabungkan ke asam. • Tahap akhir glikolisis. Mlekul-molekul intermediate mengalami defosforilasi yang diikuti dengan pembentukan ATP. Tahap-tahap reaksi kimia glikolisis secara kseluruhan ditunjukkan sebagai berikut: • Reaksi pemindahan fosfat. Enzim kinase memindahkan fosfat dari ATP suatu akseptor. Enzim heksokinase pada umumnya lebih spesifik untuk memindahkan fosfat ke glukosa. • Konversi aldosa ke ketosa. Reaksi ini dibantu oleh enzim fosfoheksosa isomerase.

• Reaksi pemindahan fosfat. Reaksi ini dibantu oleh enzim fosfofruktokinase. • Pemecahan karbohidrat enam karbon menjadi 3 carbon. Reaksi ini dibantu oleh enzim aldolase. • Perubahan DHAP menjadi PGAL dengan bantuan enzim triosa fosfat isomerase. • Fosforilasi gliseraldehida 3 fosfat menjadi 1,3-bifosfogliserat dengan bantuan enzim gliseraldehida 3 fosfat dehidrogenase.

• Defosforilasi 1,3-bifosfogliserat menjadi 3 fosfogliserat dengan bantuan enzim fosfogliserat kinase. • Perubahan 3-fosfogliserat menjadi 2-fosfogliserat dengan bantuan enzim fosfogliserat mutase. • Hidrolisis 2-fosfogliserat menjadi fosfoenolpruvat dengan bantuan enzim enolase. • Defosforilasi fosfoenolpiruvat mejadi piruvat dengan bantuan enzim piruvat kinase.

2. Dekarboksilasi Oksidatif Piruvat Asam piruvat sebagai senyawa produk akhir glikolisis akan mengalami reaksi dekarboksilasi oksidatif apabila cukup oksigen dan menghasilkan asetil-KoA. Proses ini berlangsung di dalam matriks mitokondria. Proses ini merupakan penghubung antara glikolisis dengan siklus fungsi nukleus trikarboksilat. Reaksi-reaksi dekarboksilasi oksidatif piruvat berlangsung dengan bantuan enzim kompleks, yaitu kompleks piruvat dehidrogenase. Kompleks enzim ini terdiri atas tiga macam enzim yang tersusun secara terpadu.

3. Fungsi nukleus Krebs Setelah memasuki mitokondria, piruvat mula-mula diubah menjadi asetil Ko-A melalui kompleks multi enzim yang mengkatalisis 3 reakasi, gugus karboksil piruvat yang telah dioksidasi sepenuhnya dikeluarkan sebagai molekul CO 2, yang berdifusi keluar dari sel.

Fragmen yang berkarbon dua dioksidasi sementara NAD + direduksi menjadi NADH, akhirnya gugus asetil berkarbon 2 diikatkan pada koenzim A. koenzim ini memiliki 1 atom sulfur yang diikat pada fragmen asetil oleh ikatan yang tidak satbil, hal ini akan mengaktifkan gugus asetil pada reaksi pertama siklus. Asetil Ko-A menambahkan fragmen berkarbon 2 ke oksaloasetat, yaitu suatu senyawa yang berkarbon 4.

Ikatan stabil asetil ko-A dipecah begitu oksaloasetat begitu oksaloasetat memindahkan enzim tersebut dan terikat ke gugus asetil. Hasilnya adalah sitrat berkarbon 6.

fungsi nukleus

CoA ini kemudian bebas untuk memancing fragmen berkarbon dua lainnya yang diturunkan dari piruvat. Satu molekul air dikeluarkan dan yang alain ditambahkan kembali, selisih hasil adalah pengubahan sitrat menjadi isositrat.

Isositart kemudian kehilangan CO 2 dan senyawa yang berkarbon lima dioksidasi menjadi NAD + menjadi NADH. Dalam satu langakah oksidatif, electron ditransfer tidak ke NAD +tetapi ke akseptor electron lainnya, FAD (flavin adenine dinukleotida, turunan dari riboflavin. Bentuk tereduksinya yaitu FADH 2 menyumbangkan elektronnya ke rantai transport electron seperti halnya NADH (FADH memberikan elektronnya ke rantai transport electron pada tingkat energy yang lebih rendah daripada NADH).

Ada pula satu langkah yang membentuk molekul ATP secara langsung dengan fosforilasi tingkat substrat, serupa dengan langkah glikolisis yang m,embentuk ATP. Tetapi sebagian besar keluaran ATP berasal dari fosforilasi oksidatif, apabila NADH dan FADH 2 yang dihasilkan oleh siklus krebs melewatkan dan menguatkan electron yang diekstraksi dari fungsi nukleus ke rantai transport electron. 4. Transport Elektron Electron yang diambil dari makanan selama glikolisis dan siklus krebs ditansfer ke NADH ke flavoprotein dari rantai transpor electron.

Dalam reaksi redoks berikutnya, flavoprotein fungsi nukleus ke bentuk teroksidasinya setelah melewatkan electron ke FeS. Protein FeS ini kemudian melewatkan electron ke senyawa yang disebut ubikuinon (Q).

Sebagian besar pembawa electron yang tersisa diantara Q dan oksigen berupa protein yang disebut sitokrom(Cyt). Rantai transport electron memiliki beberapa jenis sitikrom yang memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Hasil akhir dari transport electron ini adalah setengah molekul oksigen. Sumber electron lain untuk transport yaitu FADH 2. Rantai transport electron tidak secara langsung membuat ATP. Fungsinya adalah untuk mempermudah jatuhnya electron dari makanan ke oksigen, memecah penurunan energy bebas yang besar.

Mitokondria mengkopel transport electron dan pelepasan energy untuk sintesis ATP melalui mekanisme pengkopelan energy. Pada proses pengkopelan energy, peran ATP sintetase sangat besar. ATP sintetase adalah enzin yang membuat ATP. Enzim ini bekerja seperti fungsi nukleus protein ion yang beroperasi kebalikannya. kompleks energy dari gardien H + untuk menggerakkan sintesis ATP, berada dalam membrane mitokondria.

Membrane mitikondria mengkopel transport electron dengan fosforilasi oksidatif dengan cara NADH menggerakkan secara bolak-balik electron yang berenergi tinggi yang diekstraksi selama glikolisis dan transpor electron. Hasil akhir dari transpor electron yang berupa setengah molekul oksigen selanjutnya akan bereaksi dengan hydrogen membentuk H 2O. Selain oksigen transpor electron juga mennghasilkan ion H + yang selanjutnya mengalir menuruni gradient melalui saluran H + dalam ATP siontetase.

ATP sintetase ini mengangkap gaya gerak proton untuk menfosforilasi ADP dan membentuk ATP. Setiap NADH yang mentransfer sepasang electron dari makanan ke rantai transport electron menyumbangkan gaya gerak- proton yang cukup besar untuk dapat menghasilkan maksimum 3 molekul ATP. Siklus krebs juga memasok electron ke rantai transport electron melalui FADH 2, tetapi setiap molekul pembawa electron ini maksimun menghasilkan 2 ATP.

Sehingga dari metabolism 1 molekul glukosa menghasilakan 38 ATP. Demikianlah pembahasan mengenai Makalah Tentang Mitokondria semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian fungsi nukleus, terima kasih banyak atas kunjungannya. Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Biologi Ditag bentuk dan ukuran mitokondria, ciri-ciri mitokondria, fungsi kloroplas, fungsi krista pada mitokondria, fungsi lisosom, fungsi mitokondria brainly, fungsi mitokondria hewan, fungsi oksigen di mitokondria, fungsi peroksisom, fungsi plastida, fungsi ribosom, fungsi ruang intermembran, fungsi sitoplasma dan mitokondria, gambar mitokondria, jurnal mitokondria pdf, karakteristik mitokondria, kelainan mitokondria adalah, makalah mitokondria, makalah mitokondria pdf, makalah tentang mitokondria, matriks mitokondria, matriks mitokondria merupakan tempat terjadinya, molekul dna mitokondria terdapat di bagian, nukleus berfungsi sebagai, pengertian nukleus dan fungsinya, pengertian retikulum endoplasma dan fungsinya, pengertian ribosom dan fungsinya, ppt mitokondria, retikulum endoplasma, sebutkan fungsi mitokondria, struktur mitokondria, struktur yang menunjang fungsi mitokondria sebagai organel respirasi sel Navigasi pos • Contoh Teks Editorial • Contoh Teks Laporan Hasil Observasi • Teks Negosiasi • Teks Deskripsi • Contoh Kata Pengantar • Kinemaster Pro • WhatsApp GB • Contoh Diksi • Contoh Teks Eksplanasi • Contoh Teks Berita • Contoh Teks Negosiasi fungsi nukleus Contoh Teks Ulasan • Contoh Teks Eksposisi • Alight Motion Pro • Contoh Alat Musik Ritmis • Contoh Alat Musik Melodis • Contoh Teks Cerita Ulang • Contoh Teks Prosedur Sederhana, Kompleks dan Protokol • Contoh Karangan Eksposisi • Contoh Pamflet • Pameran Seni Rupa • Contoh Seni Rupa Murni • Contoh Paragraf Campuran • Contoh Seni Rupa Terapan • Contoh Karangan Deskripsi • Contoh Paragraf Persuasi • Contoh Paragraf Eksposisi • Contoh Paragraf Narasi • Contoh Karangan Narasi • Teks Prosedur • Contoh Karangan Persuasi • Contoh Karangan Argumentasi • Proposal • Contoh Cerpen • Pantun Nasehat • Cerita Fantasi • Memphisthemusical.Com Daftar Isi • Pengertian Sintesis Protein • Perbedaan Struktur DNA dan RNA • Replikasi DNA • Tahapan Sintesis Protein • 1.

Transkripsi • A. Inisiasi • B. Elongasi • C. Terminasi • 2. Fungsi nukleus • A. Inisiasi (Tahap Awal) • B. Elongasi (Memperpanjang Rantai) • C. Terminasi • 3. Pelipatan Protein • Kesimpulan Pengertian Sintesis Protein • proses transkripsi, • translasi, serta • pelipatan protein. Mungkin kamu pernah dengan istilah lain dari sintesis protein seperti proses pencernaan makanan. sebenarnya sama saja artinya. Selain itu, sintesis protein juga disebut dengan istilah dogma sentral.

Dogma sentral merupakan rangkaian proses ketika DNA yang diubah menjadi molekul RNA, selanjutnya RNA menjadi protein. Perbedaan Struktur DNA dan RNA Dalam proses pewarisan sifat, materi genetik sel ada pada asam nukleat.

Pada organisme, terdapat fungsi nukleus jenis asam nukleat yaitu DNA dan RNA. Keduanya, yakni DNA dan RNA memiliki peran dalam membentuk unit pengendali yang saling bergantung. DNA atau asam deoksiribonukleat adalah materi genetik yang ada di semua sel makhluk hidup serta virus.

DNA membawa informasi yang dibutuhkan dalam proses sintesis protein serta replikasi. RNA atau asam ribonukleat adalah makromolekul yang memiliki fungsi sebagai penyimpan serta penyalur informasi genetik yang terdapat pada virus.

Terdapat tiga tipe RNA yang digunakan dalam proses sintesis protein, yaitu rRNA, tRNA, dan mRNA. Struktur DNA Struktur RNA Merupakan kumpulan nukleotida yang terdapat informasi genetik di dalamnya. Memiliki peran yang menyalurkan informasi genetik. DNA terdiri dari double helix atau yang berarti dua untaian rantai.

RNA hanya terdiri dari satu untai rantai nukleotida. Tersusun dari gugus fosfat, gula deoksiribosa, serta basa nitrogen. Tersusun dari gugus fosfat, gula ribosa, basa nitrogen. Memiliki basa purin berupa Adenin (A), Guanin (G) dan basa pirimidin yaitu Timin (T) dan Sitosin (C). Memiliki basa purin berupa Guanin (G) dan Adenin (A), kemudian terdapat basa pirimidin yang dinamakan Urasil (U) dan Sitosin (C).

Replikasi DNA Replikasi DNA merupakan suatu proses fungsi nukleus atau penggandaan DNA yang baru dari untaian DNA yang sudah ada. Kodon atau kode genetik DNA yang dibawa kemudian dicetak, selanjutnya membentuk RNA yang berfungsi sebagai informasi genetik untuk melakukan sintesis protein. Berikut merupakan tahapan atau proses replikasi DNA, yaitu: • Ikatan hidrogen DNA kromosomal diputus oleh enzim helikase dari 3’ ke 5’. • Selanjutnya, DNA polymerase akan membentuk salinan DNA baru dari promotor (P) ke terminator (T).

• Leading strands merupakan rantai berarah 3’ ke 5’ di mana replikasi DNA tidak terputus dan terus berjalan. Sementara itu, lagging strand merupakan rantai berarah 5’ ke 3’ saat replikasi DNA terputus. • Rantai yang mengalami lagging strands akan menghasilkan fragmen yang terputus-putus.

Fragmen ini dikenal dengan nama fragmen okazaki. • Fragmen okazaki diperbaiki oleh enzim ligase untuk membuat suatu DNA baru. • Akhirnya DNA baru terbentuk yang merupakan hasil dari replikasi DNA kromosomal. Tahapan Sintesis Protein Sel adalah informasi genetik yang ada di DNA dan digunakan untuk membuat protein.

Sintesis protein terjadi di dalam ribosom dan nukleus. Tahapan sintesis protein bisa dikelompokkan menjadi tiga langkah, yaitu fungsi nukleus, translasi, serta pelipatan protein. 1. Transkripsi Transkripsi adalah fungsi nukleus pembentukan RNA dari salah satu DNA sense atau pita cetakan DNA.

Pada proses transkripsi ada tiga jenis RNA yang dihasilkan, yaitu mRNA, tRNA, dan rRNA. Transkripsi terjadi di dalam sitoplasma yang diawali dengan proses pembukaan rantai ganda DNA dengan bantuan dari enzim RNA polimerase. Pada proses ini terdapat rantai tunggal yang memiliki fungsi sebagai rantai sense. Sementara itu, rantai lainnya berasal dari pasangan DNA yang dikenal sebagai rantai antisense. Tahap transkripsi pada sintesis protein dibagi lagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap inisiasi, elongasi, serta terminasi.

A. Inisiasi Terdapat promotor atau RNA polimerase yang terikat pada untaian DNA yang ditemukan di dekat awal dari suatu gen. Setiap gen memiliki promoter masing-masing. Setelah terikat, RNA polimerase akan memisahkan rantai ganda DNA dan menyediakan cetakan untaian tunggal untuk proses transkripsi. B. Elongasi Satu untaian cetakan DNA memiliki fungsi fungsi nukleus cetakan yang dipakai oleh enzim polimerase.

RNA polimerase fungsi nukleus membaca cetakan tersebut sekaligus membantu RNA keluar dari nukleotida untuk membuat suatu rantai yang tumbuh dari 5’ ke 3’.

Selanjutnya, RNA transkripsi akan membawa informasi yang sama dari untaian DNA coding atau DNA non-template. C. Terminasi Tahap terminasi menunjukkan dan memberikan sinyal jika proses transkripsi RNA telah selesai dilakukan. Setelah berhasil ditranskripsi, RNA polimerase akan melepaskan hasil transkripsi RNA. 2. Translasi Translasi adalah proses urutan nukleotida yang ada di mRNA untuk menentukan urutan asam amino pada pembentukan protein.

Pada proses translasi, sel akan membaca informasi yang terdapat fungsi nukleus mRNA dan memakai informasi tersebut untuk membentuk protein. Dalam pembentukan protein dibutuhkan sebanyak 20 macam amino yang berasal dari terjemahan kodon mRNA. Di dalam mRNA terdapat kodon atau instruksi untuk membuat polipeptida yaitu RNA nukleotida (adenine, guanine, uracil, dan cytosine). Selanjutnya, rantai polipeptida yang lebih spesifik akan terbentuk. Sama seperti proses transkripsi, translasi juga dibagi menjadi tiga tahap, yaitu inisiasi, elongasi, dan terminasi.

A. Inisiasi (Tahap Awal) Setelah keluar dari nukleus, ujung mRNA akan berikatan dengan ribosom menggunakan bantuan enzim dan GTP. Peristiwa tersebut merupakan kodon inisiasi. Kodon inisiasi tersebut adalah AUG yang memberi sinyal untuk memulai translasi. Selanjutnya tRNA antikodon UAC yang membawa asam amino metionin menempel pada kodon inisiasi AUG. tRNA antikodon UAC adalah komplementer dari kodon AUG.

Fungsi dari tRNA adalah mengantar informasi genetik mRNA dari sitoplasma ke ribosom untuk kemudian disusun menjadi suatu protein. B. Elongasi (Memperpanjang Rantai) Kodon yang dibawa mRNA akan diterjemahkan satu per satu menjadi suatu asam amino. Satu per satu asam amino berikutnya akan ditambahkan dari asam amino yang pertama.

Asam amino pertama atau metionin segera lepas dari ribosom dan tRNA akan kembali ke sitoplasma untuk mengulang fungsinya. tRNA selanjutnya akan datang untuk berpasangan dengan kodon mRNA yang berikutnya. Setiap asam amino selanjutnya akan digabungkan oleh tRNA. Gabungan asam amino kemudian akan membentuk rantai polipeptida yang dikatalasi oleh rRNA. Fungsi dari rRNA yaitu menjadi enzim pembentuk ikatan peptida yang nantinya akan menyambungkan beberapa polipeptida di antara asam amino.

C. Terminasi Proses translasi selesai saat salah satu kodon stop mRNA yaitu UAA, UGA, dan UAG melekat pada ribosom. Polipeptida yang terbentuk akan terlepas dari ribosom dan terjadi pelepasan sub unit ribosom menjadi sub unit kecil dan besar. 3. Pelipatan Protein Rantai polipeptida yang sudah disintesis tidak bisa berfungsi sampai mengalami modifikasi struktur. Modifikasi struktur yang bisa terjadi, misalnya penambahan karbohidrat ekor (glikosilasi), kelompok prostetik, lipid, dan sebagainya.

Supaya rantai polipeptida bisa berfungsi maka dilakukan modifikasi pasca translasi serta pelipatan protein. Pelipatan protein dibagi menjadi empat tingkat, yaitu tingkat primer, mengengah, tersier dan kuarter. Tingkat primer adalah rantai polipeptida linier dan tingkat menengah adalah α-heliks dan β-lipit lembar. Sementara itu, tingkat tersier yaitu fungsi nukleus berserat dan bundar serta tingkat kuarter yaitu protein kompleks dengan dua atau lebih sub unit.

Kesimpulan Sintesis protein merupakan proses pembentukan protein yang melibatkan DNA untuk diolah menjadi rantai polipeptida. Tahapan sintesis protein bisa dibagi menjadi tiga, yaitu tahap transkripsi, translasi, dan pelipatan protein. Artikel Terbaru • Mengenal Pendidikan Karakter, Dan Contoh Penerapannya • Metabolisme : Jenis, Cara Kerja, dan Tahapan • Membalik Gambar di Photoshop • Surat Perintah dan Contohnya fungsi nukleus Cara Fungsi nukleus Bootable Flashdisk • Cara Uninstall Microsoft Office • Surat Panggilan dan Contohnya • Penyetaraan Ijazah
MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA fungsi nukleus SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) Tahukah anda apa fungsi nukleus dimaksud dengan Sel tumbuhan ??

Jika anda belum mengetahuinya anda tepat sekali mengunjungi gurupendidikan.com. Sel merupakan unit terkecil dari makhluk hidup.Di dalam sel terdapat protoplasma yang tersusun atas karbohidrat, lemak, protein, dan asam nukleat. Berdasarkan tipe sel dibedakn menjadi prokaroriotik, yaitu sel yang tidak memiliki membran inti dan sel eukariotik, yaitu sel yang memiiliki membran inti.

Dari penemuan tentang sel dan segala aktivitasnya, lahirlah teori sel, bahwa sel merupakan kesatuan struktural, kesatuan fungsional, kesatuan pertumbuhan, kestuan hereditas, dan kesatuan fungsi nukleus makhluk hidup. Secara struktural sel merupakan penyusun makhluk hidup bagian dari sel meliputi membran plasma, nukleus, dan sitoplasma.

Membran plasma tersusun dari lipoprotein, yaitu adanya ikatan antara lemak dan protein. Nukleus terdapat nukleolus yang berfungsi untuk sintesis ribosom, nukleus berfungsi untuk mengendalikan aktivitas sel. Sitoplasma mengandung organel-organel sel, seperti retikulum ,endoplasma, ribosom, badan golgi, libosom, mitokondria, mikrotubul, mikrofilamen. 5.2. Sebarkan ini: Sel tumbuhan adalah kelompok sel eukariotik, sel eukariotik yaitu fungsi nukleus sel yang mempunyai materi genetik (DNA) yang dibaluti atau dibungkus oleh membran.

Sel tumbuhan mempunyai struktur yang khas dibandingkan dengan sel eukariotik lain. Perbedaan yang paling mendasar yaitu bentuk sel tumbuhan yang kaku. Bentuk ini didapatkan fungsi nukleus dinding sel yang berada paling luar di sel tumbuhan. Dinding sel tersusun atas senyawa selulosa, pektin, hemiselulosa, dan lignin yang akan menguatkan struktur tumbuhan. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Jaringan Ikat : Pengertian, Materi, Fungsi, Komponen, Dan Jenisnya Meskipun fungsi nukleus dan tumbuhan sama-sama memiliki eukariota, mereka berbeda dalam fitur karakteristik tertentu.

Misalnya, sel tumbuhan mempunyai dinding sel yang berkembang dengan fungsi nukleus dan vakuola besar, sedangkan sel hewan tidak mempunyai struktur tersebut.

Selain perbedaan dalam bentuk struktur, di dalam sel hewan terdapat sentriol dan filamen tengah dimana ini tidak ditemui di sel tumbuhan. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sel Hewan : Fungsi nukleus, Bagian, Fungsi, Dan Struktur LENGKAP Fungsi nukleus Jenis Sel Tumbuhan • 1.

Sel parenkim Sel parenkim adalah sel yang memiliki beberapa fungsi mulai dari penyimpanan, dukungan terhadap fotosintesis, tempat berikatnya floem. Selain xilem dan floem yang terikat dengan sel parenkim, daun juga terdiri dari sel-sel parenkim. Beberapa sel parenkim, seperti pada epidermis, berfungsi untuk penetrasi cahaya dan fungsi nukleus pertukaran gas.

Sel parenkim memiliki dinding sel yang tipis dan permeabel yang memungkinkan pengangkutan molekul kecil di dalamnya. Sel parenkim juga dapat tumbuh menjadi duri yang mencegah hewan herbivora memakannya. Sel parenkim yang mengandung banyak kloroplas dan berperan penting dalam proses fotosintesis disebut sel klorenkim. Sebagian besar sel parenkim di umbi kentang dan kotiledon dari biji kacang-kacangan memiliki fungsi penyimpanan.

• 2. Sel kolenkim Sel kolenkim hidup saat sudah dewasa dan hanya memiliki sebuah dinding primer. Sel-sel ini sudah matang dan berasal dari meristem yang awalnya menyerupai sel parenkim.

Plastidanya tidak berkembang dan organel sekretorik (retikulum endoplasma dan badan golgi) berproliferasi untuk mengeluarkan dinding primer tambahan. Dinding ini tebal di bagian sudutnya di mana tiga atau lebih sel saling bersentuhan dan tipis di bagian di mana hanya terdapat dua sel yang bersentuhan.

Pektin dan hemiselulosa adalah kandungan utama dinding sel kolenkim dari tumbuhan berbiji terbuka (angiosperma). Sel kolenkim biasanya cukup memanjang dan melintang.

Tujuannya adalah untuk memberikan fleksibilitas. Dinding selnya tidak mengandung lignin sehingga menjadi kaku. • 3. Sel Sklerenkim Sel sklerenkim adalah sel yang keras dan tangguh yang memberikan kekuatan pada tumbuhan. Sel ini terdiri dari sklereid dan serat. Terdapat dinding sekunder yang mengandung lignin sehingga kedap air.

Dengan demikian, sel-sel ini tidak dapat bertahan lama karena tidak dapat melakukan pertukaran zat untuk melakukan metabolisme. Sel sklerenkim biasanya akan mati pada waktu fungsi nukleus, sitoplasma akan hilang, dan meninggalkan rongga kosong. • 4. Sel xilem Sel xilem adalah sel yang mengalami lignifikasi dinding sel. Sel ini berfungsi untuk mengangkut air dan zat hara dari tanah (akar) menuju daun untuk melakukan fotosintesis.

Sel xilem pertama kali muncul pada tanaman sejak 425 juta tahun yang lalu. • 5. Sel floem Sel floem adalah sel yang menyusun jaringan khusus untuk transportasi zat-zat makanan pada tumbuhan tingkat tinggi. Yang di transportasikan terutama sukrosa.

Sel floem terdiri dari dua jenis sel yaitu tabung saringan dan sel pendamping. Pada tabung saringan tidak terdapat inti sel fungsi nukleus ribosom dan metabolismenya diatur oleh sel pendamping. Sedangkan sel pendamping terhubung ke tabung saringan melalui plasmodesmata. Lumut tidak memiliki floem. • 6. Sel epidermis Sel epidermis tanaman adalah sel parenkim khusus yang fungsi nukleus di seluruh permukaan daun, batang, dan akar. Ciri Atau Karakteristik Sel Tumbuhan Sel tumbuhan memiliki bagian-bagian khusus yang membedakannya dengan sel hewan atau sel eukariot yang lain.

Berikut adalah organel yang hanya terdapat pada sel tumbuhan: • Sebuah vakuola berukuran besar yang volumenya dipenuhi oleh air dan dilapisi oleh membran yang disebut tonoplas. Fungsi tonoplas adalah untuk mempertahankan sel turgor, mengontrol pergerakan molekul antara sitosol dan getah tumbuhan, menyimpan zat-zat berguna, dan mencerna limbah protein dan organel.

• Sebuah dinding sel yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa, pektin, dan beberapa mengandung lignin. Dihasilkan oleh protoplas di luar membran sel. Hal ini berkebalikan dengan dinding sel jamur yang terbuat dari kitin dan bakteri yang terbuat dari peptidoglikan. • Jalur komunikasi khusus antar sel yang dikenal sebagai plasmodesmata yang berupa pori-pori di dinding sel yang menghubungkan plasmalema di sel satu ke retikulum endoplasma di sel lain.

• Plastida yang terdiri dari kloroplas, kromoplas, dan leukoplas. Kloroplas mengandung klorofil yang berguna untuk menyerap sinar matahari dan memungkinkan tanaman untuk membuat makanan sendiri dalam proses yang dikenal sebagai fotosintesis. Kromoplas untuk melakukan sintesis dan menyimpan pigmen.

Leukoplas adalah bagian plastida yang tidak berwarna dan berguna untuk menyimpan cadangan makanan. • Pembelahan sel yang dilakukan dengan pembentukan phragmoplas sebagai dasarnya.

• Sel kelamin jantan lumut dan pteridophyta, sikas, dan ginkgo memiliki flagela yang serupa dengan sel pada hewan. Namun pada tumbuhan yang lebih kompleks (seperti gymnospermae dan tanaman berbunga) tidak terdapat flagela dan sentriol yang biasanya terdapat di dalam sel hewan. Struktur Bagian, Gambar Dan Fungsi Sel Tumbuhan • 1. Nukleus (inti sel) Nukleus (inti sel) yaitu organel sel yang sangat unik dan penting, sebagai tempat utama sel untuk menyimpan kromosom (komponen genetik) dari sel tertentu.

Fungsi nukleus mempunyai fungsi mengkoordinasi proses metabolisme, contohnya pemblahan sel, pertumbuhan sel, serta sintesis protein. Inti dan isinya disebut dengan Nukleoplasma. • 2. Plastida (kloropas) Plastida (kloropas) merupakan istilah kolektif untuk organel yang berfungsi untuk membawa pigmen. Kloroplas mempunyai bentuk yang sangat menonjol dari plastida yang memiliki kandungan pigmen klorofil hijau.

Karena terdapat plastida (kloropas) yang mengandung klorofil hijau, maka tumbuhan mampu menjalani proses fotosintesis dengan baik dengan adanya air, sinar matahari, dan karbon dioksida untuk sintesis makanan sendiri. • 3. Ribosom Ribosom merupakan organel sel yang bentuknya kecil yaitu berupa butiran nukleoprotein. Ribosom tersusun atas sub unit besar dan sub unit kecil, berisi RNA ribosom dan RNAr dan protein di dalamnya. Ribosom dibedakan menjadi 2 jenis yang mana terdapat di dalam sitoplasma, yaitu ribosom terikat dan ribosom bebas.

Fungsi utama ribosom yaitu memproduksi dan mensintesis zat protein yang ada dalam sel. Untuk memahami lebih jauh tentang ribosom silahkan baca Struktur dan Fungsi Ribosom (Organel Sel).

• 4. Mitokondria Mitokondria merupakan organel besar yang berbentuk bulat batang yang ada di dalam sitoplasma sel tumbuhan. Fungsi nukleus bermanfaat dalam memecah karbohidrat kompleks dan gula yang dimanfaatkan. Mitokondria mengandung enzim tertentu yang berguna dan penting sebagai pasokan energi ke sel tumbuhan.

Mitokondria mempunyai fungsi sebagai tempat respirasi aerop dalam pembentukan ATP sebagai sumber energi. Mitokondria juga dikenal sebagai pembangkit tenaga listrik sel. • 5. Badan golgi (aparatus golgi) Badan golgi (aparatus golgi) terdiri dari kumpulan vesikel pipih yang memiliki bentuk sisternae (berkelok-kelok) atau berbentuk kantong pipih.

Badan golgi yang terletak di dalam sel tumbuhan disebut diktiosom, keberadaannya kebanyakan ditemui di dekat membran sel. Fungsi utama badan golgi yaitu untuk mengangkat zat kimia di dalam dan keluar dari sel, setelah RE (Retikulum Endoplasma) mensisntesis protein dan lemak.

Badan golgi merubah dan mempersiakannya untuk mengekspor keluar sel. • 6. Retikulum Endoplasma Retikulum Endoplasma merupakan organel penghubung antara inti (nukleus) dengan sitoplasma di dalam sel tumbuhan. Pada dasarnya itu merupakan jaringan interkoneksi, RE mempunyai kantong yang berbelit-belit.

Ada 2 macam Retikulum Endoplasma yaitu RE Kasar dan RE Halus. Struktur Retikulum Endoplasma hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron. Fungsi retikulum endoplasma yaitu sebagai pengangkut sintetis lemak dan steroit, tempat menyimpan fospolipid, steroid, fungsi nukleus, menjalankan detoksifikasi drug dan racun.

• 7. Vakuola Vakuola merupakan membran, sebagai tempat penyimpanan yang membantu dalam mengatur tekanan tugor dari sel tumbuhan. Di dalam sel tumbuhan umumnya ditemui lebih dari satu vakuola. Tetapi vakuola menghabiskan ruang lebih besar daripada yang lain, yang menyimpan berbagai macam senyawa kimia.

Vakuola berfungsi juga sebagai ekskreasi produk produk-produk limbah dan pencernaan instraselullar molekul kompleks. • 8. Peroksisom Peroksisom merupakan organel sitoplasma dari sel tumbuhan yang mempunyai kandungan enzim oksidatif tertentu. Enzim itu digunakan dalam pemecahan metabolisme asam lemak menjadi gula sederhana. Fungsi peroksisom ialah memecahkan asam lemak menjadi gula dan membantu kloropas dalam proses fotorespirasi. TABEL PERBEDAAN SEL HEWAN DAN SEL TUMBUHAN Sel Tumbuhan Sel hewan Memiliki dinding sel Tidak memiliki diinding sel Memiliki vakuola berukuran besar Memiliki vakuola berukuran kecil Memiliki plastida(kloroplas, kromoplas, dan leukoplas Tidak memiliki plastida Tidak memiliki sentriol Memiliki sentriol Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Jaringan Pada Hewan : Jenis, Fungsi, Letak, Gambar Dan Contohnya Gambar PERBEDAAN SEL HEWAN DAN SEL TUMBUHAN Itulah Ulasan Lengkapnya Semoga apa yang diulas diatas bermanfaat bagi pembaca.

Sekian dan Terima Kasih. Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Biologi, IPA, S1, SMA, SMP Ditag #jenis sel tumbuhan, #karakteristik sel tumbuhan, #pengertian sel tumbuhan, 15 fungsi sel tumbuhan, bagian bagian yang menyusun sel tumbuhan, cara membuat sel tumbuhan, ciri khas sel tumbuhan, ciri yang dimiliki oleh dinding sel adalah, contoh gambar sel tumbuhan 3d, contoh sel hewan, fungsi dinding sel pada sel tumbuhan, fungsi kloroplas, fungsi sel hewan, Fungsi Sel Tumbuhan, fungsi sel tumbuhan fungsi nukleus, fungsi sitoplasma pada sel tumbuhan, gambar bagian-bagian yang menyusun sel tumbuhan, gambar membran nukleus, gambar sel hewan dan sel tumbuhan, gambar sel tumbuhan beserta keterangannya, gambar sel tumbuhan hitam putih, gambar sitoplasma tumbuhan, menjelaskan struktur sel hewan dan sel tumbuhan, menyebutkan bagian sel tumbuhan dan fungsinya, model sel hewan dari plastisin, pengertian sel hewan, pengertian sel hewan dan fungsinya, pengertian sel tumbuhan dan fungsinya, perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan, proses pada sel tumbuhan, rangkuman sel tumbuhan, sebutkan sel sel yang terdapat pada tumbuhan, sel hewan, sel hewan beserta keterangannya, sel hewan dan bagiannya, sel hewan dan fungsinya, sel hewan dan keterangannya, sel hewan dan sel tumbuhan beserta fungsinya, sel tumbuhan dan sel hewan, struktur sel hewan, Struktur sel tumbuhan, struktur sel tumbuhan dan hewan, tuliskanlah organel-organel sel dan fungsinya Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Pengertian Mahasiswa Menurut Para Ahli Beserta Peran Dan Fungsinya • “Masa Demokrasi Terpimpin” Sejarah Dan ( Latar Belakang – Pelaksanaan ) • Pengertian Sistem Regulasi Pada Manusia Beserta Macam-Macamnya • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh • Higgs domino apk versi 1.80 Terbaru 2022 • Pengertian Gizi – Sejarah, Perkembangan, Pengelompokan, Makro, Mikro, Ruang Lingkup, Cabang Ilmu, Para Ahli • Proses Pembentukan Urine – Faktor, Filtrasi, Reabsorbsi, Augmentasi, Nefron, zat Sisa • Peranan Tumbuhan – Pengertian, Manfaat, Obat, Membersihkan, Melindungi, Bahan Baku, Pemanasan Global • Diksi ( Pilihan Kata ) Pengertian Dan ( Fungsi – Syarat – Contoh ) • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Fungsi nukleus • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com • Afrikaans • Alemannisch • Aragonés • العربية • অসমীয়া • Asturianu • Azərbaycanca • Башҡортса • Žemaitėška • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • বাংলা • Brezhoneg • Bosanski • Català • Нохчийн • کوردی • Čeština • Cymraeg • Dansk • Deutsch • ދިވެހިބަސް • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Galego • עברית • हिन्दी • Fiji Hindi • Hrvatski • Հայերեն • Interlingua • Ilokano • Íslenska • Italiano • 日本語 • Jawa • Қазақша • 한국어 • Kurdî • Кыргызча • Latina • Limburgs • Lietuvių • Latviešu • Македонски • മലയാളം • Bahasa Melayu • မြန်မာဘာသာ • नेपाल भाषा • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Occitan • ਪੰਜਾਬੀ • Kapampangan • Polski • پنجابی • Português • Runa Simi • Română • Русский • Русиньскый • संस्कृतम् • Саха тыла • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Shqip • Српски / srpski • Svenska • Kiswahili • தமிழ் • తెలుగు • ไทย • Tagalog • Türkçe • Татарча/tatarça • ئۇيغۇرچە / Uyghurche • Українська • اردو • Vèneto • Tiếng Việt • Winaray • 吴语 • ייִדיש • 中文 • Bân-lâm-gú • 粵語 Kelenjar fungsi nukleus utama pada manusia: 1.Kelenjar Pineal.

2.Kelenjar Hipofisis. 3.Kelenjar Tiroid. 4.Kelenjar Timus. 5.Kelenjar Adrenal. 6.Kelenjar Pankreas. 7.Ovarium. 8.Testis Sistem endokrin fungsi nukleus sistem kontrol kelenjar tanpa saluran ( ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk memengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai "pembawa pesan" dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan "pesan" tersebut menjadi suatu tindakan.

[1] Sistem endokrin merupakan bagian dari sistem koordinasi yang berfungsi untuk mengatur kegiatan-kegiatan dalam tubuh. [2] Fungsi nukleus endokrin tidak memasukkan kelenjar eksokrin seperti kelenjar ludah, kelenjar keringat, fungsi nukleus kelenjar-kelenjar lain dalam saluran gastroinstestin. [1] Secara keseluruhan, semua sel penghasil hormon pada seekor hewan menyusun sistem endokrin. Organ pensekresi hormon disebut sebagai kelenjar endokrin, dan juga disebut kelenjar buntu atau tanpa duktus karena mensekresikan pembawa pesan kimiawinya secara langsung ke dalam cairan tubuh.

[3] Zat yang dikeluarkan oleh kelenjar endokrin disebut sekret. Proses pengeluarannya disebut sekresi. Sekresi hasil kelenjar endokrin disebut hormon.

[4] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah kata endokrin memiliki arti yaitu, kelenjar yang tidak memiliki saluran untuk mengalirkan hasil sekresinya.

fungsi nukleus

{INSERTKEYS} [5] Ilmu tentang kelenjar endokrin pada manusia dan vertebrata lainnya, khususnya mengenai hormon yang dihasilkan dan pengaruhnya terhadap proses dalam tubuh dikenal dengan istilah endokrinologi. [5] [6] Daftar isi • 1 Fungsi • 2 Struktur dan Komponen • 2.1 Hormon • 2.1.1 Persinyalan Seluler • 2.1.2 Mekanisme Kerja • 2.2 Kelenjar Endokrin • 2.3 Sel-Sel • 3 Penyakit dan Kelainan • 3.1 Kelenjar Hipofisis • 3.2 Kelenjar Tiroid • 3.3 Kelenjar Adrenal • 3.4 Kelenjar Pankreas • 3.5 Neoplasia Endokrin Multipel / Multiple Endocrine Neoplasia (sindrom MEN) • 4 Sistem Endokrin pada Hewan lainnya • 4.1 Sistem Endokrin pada Invertebrata • 4.1.1 Coelenterata • 4.1.2 Platyhelminthes • 4.1.3 Nematoda • 4.1.4 Annelida • 4.1.5 Moluska • 4.1.6 Krustasea • 4.1.7 Insekta • 4.2 Sistem Endokrin pada Vertebrata • 4.2.1 Ikan • 4.2.2 Amfibia • 4.2.3 Reptilia • 4.2.4 Aves • 4.2.5 Mamalia • 5 Referensi • 6 Daftar pustaka • 7 Pranala luar Fungsi [ sunting - sunting sumber ] Pada umumnya, sistem endokrin bekerja untuk mengendalikan berbagai fungsi fisiologis tubuh, seperti aktivitas metabolisme, pertumbuhan, reproduksi, regulasi osmotik, dan regulasi ionik.

[7] [8] Sistem endokrin pada manusia memilki fungsi yang paling umum, yaitu: [1] [9] • Membedakan sistem saraf dan sistem reproduktif pada janin yang sedang berkembang; • Menstimulus urutan perkembangan; • Mengkoordinasi sistem reproduktif; • Memelihara lingkungan internal yang optimal; • Melakukan respons korektif dan adaptif ketika terjadi situasi darurat; • Mengontrol dan merangsang aktivitas kelenjar tubuh; • Merangsang pertumbuhan jaringan; • Mengatur metabolisme.

Struktur dan Komponen [ sunting - sunting sumber ] Hormon [ sunting - sunting sumber ] Hormon adalah sinyal kimiawi yang disekresikan oleh kelenjar endokrin ke dalam cairan tubuh dan mengkomunikasikan pesan-pesan yang bersifat mengatur di dalam tubuh.

[3] Hormon dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang sangat terbatas. Kelebihan atau kekurangan hormon dapat mengakibatkan gangguan fungsi tubuh. Kekurangan satu jenis hormon tidak dapat digantikan oleh hormon yang lain, karena hormon memiliki fungsi yang spesifik dan organ tubuh yang dipengaruhi juga spesifik. [2] Hormon bisa mencapai semua bagian tubuh, tetapi jenis sel-sel tertentu saja, yang memiliki kemampuan untuk memberikan respon terhadap sinyal tersebut.

[3] Hormon bisa memengaruhi sel atau jaringan tertentu apabila sel atau jaringan tersebut mempunyai reseptor untuk hormon tertentu. Sel, jaringan, atau organ yang mengadakan respons terhadap hormon tertentu disebut sel target atau organ target. [10] Mekanisme kerja hormon pada sel target organ adalah dengan cara menduduki atau berikatan dengan reseptor.

Satu reseptor spesifik hanya dapat berikatan dengan satu jenis hormon saja. Reseptor hormon berada di sitoplasma sel untuk hormon steroid, sedangkan reseptor hormon non-steroid terletak di membran sel. [2] Hormon [ pranala nonaktif permanen] protein/peptida berikatan dengan reseptor di permukaan sel. Sedangkan hormon berjenis steroid dan tiroksin berdifusi untuk berinteraksi dengan reseptor di dalam sitosol atau inti sel.

Keterangan: (a) hormon, (b) membrane sel, (c) sitoplasma, dan (d) nukleus. Berdasarkan sifat kimianya, hormon dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok utama, yaitu: [7] • Hormon peptida diantaranya hormon-hormon hipotalamus, Angiostensin, Somatostatin, Gastrin, Sekretin, Kalsitonin, Glukagon, Insulin dan Parathormon. Sedangkan hormon protein besar diantaranya Hormon pertumbuhan, Prolaktin, LH, FSH, dan TSH; • Hormon yang termasuk dalam kategori steroid ialah Testosteron, Estrogen, Progesteron, dan Kortikosteroid; • Hormon yang merupakan turunan tirosin adalah Noradrenalin, Adrenalin, Tiroksin dan Triiodotironin.

Pada sistem endokrin terdapat sejumlah zat kimia yang menyerupai hormon, antara lain bradikinin, eritropuitin, histamin, kinin, renin, prostaglandin dan hormon thymic. [7] [11] Persinyalan Seluler [ sunting - sunting sumber ] Ilustrasi Parakrin dan Autokrin Sel-sel berkomunikasi satu sama lain melalui sinyal-sinyal kimiawi hormon, yang berupa molekul-molekul sederhana seperti asam amino atau asam lemak yang mengalami modifikasi, atau molekul-molekul peptida yang lebih kompleks, protein atau steroid.

Komunikasi dapat terjadi secara lokal antar sel di dalam jaringan atau organ, atau pada jarak tertentu di jaringan antar organ yang berlainan. Komunikasi sel-sel yang berdekatan dilakukan melalui sekresi parakrin, yaitu komunikasi antar sel yang berdekatan dengan melepaskan sinyal-sinyal kimiawi ke dalam cairan ekstraseluler dan mencapai tujuan melalui proses difusi sederhana.

Sedangkan komunikasi yang terjadi sebagai respons sel terhadap sekresi dirinya sendiri disebut sekresi autokrin. [12] Contoh sekresi parakrin adalah hormon histamin yang disekresi oleh mast cell dan sel parietal pada lambung sapi, akan merangsang pengeluaran asam lambung.

Contoh sekresi autokrin adalah prostaglandin dan faktor pertumbuhan yang mirip insulin. [7] [13] Mekanisme Kerja [ sunting - sunting sumber ] Pada aksis Hipotalamus-Pituitari-Adrenal, corticotropin releasing hormone (CRH) menyebabkan hipofisis melepaskan ACTH. Kemudian ACTH merangsang korteks adrenal untuk mensekresi kortisol. Selanjutnya kortisol kembali memberikan umpan balik terhadap aksis hipotalamus-hipofisis, dan menghambat produksi CRH-ACTH.

Kortisol melakukan kontrol umpan balik negatif untuk menstabilkan konsentrasinya sendiri didalam plasma. Sistem endokrin berfungsi berdasarkan konsep mekanisme umpan balik. Untuk mempertahankan fungsi regulasi yang benar, kelenjar endokrin menerima informasi umpan balik yang konstan tentang kondisi sistem yang diatur, sehingga sekresi hormon dapat disesuaikan. Kadar hormon harus dipertahankan pada batas yang tepat karena jumlah hormon yang tepat sangat perlu untuk mempertahankan kesehatan sel atau organ.

Faktor yang terkait dalam pengendalian hormon adalah kontrol umpan balik ( feedback control). Kelenjar A di stimulasi untuk memproduksi hormon X. Hormon X menstimulasi organ B untuk mengubah (meningkatkan atau mengurangi) zat Y. Perubahan pada zat Y mencegah produksi hormon X. [10] [12] Mekanisme umpan balik pada kelenjar endokrin dapat terjadi melalui berbagai cara, yaitu: • Umpan balik negatif langsung, terjadi ketika peningkatan kadar suatu hormon di dalam sirkulasi, akan menyebabkan penurunan aktivitas sekresi dari sel-sel kelenjar endokrin yang memproduksi hormon tersebut.

[12] • Umpan balik tidak langsung, terjadi ketika hormon yang di sekresi kelenjar target menghambat sekresi releasing hormone dari hipotalamus. [12] • Pada umpan balik loop pendek, pengaruh terhadap sekresi hormon beraksi secara langsung dengan menurunkan sekresi hormon. [6] Aksis Hipotalamus-Hipofisis-Gonad yang meregulasi hormon-hormon reproduksi pada laki-laki.

Kelenjar Endokrin [ sunting - sunting sumber ] Kelenjar endokrin adalah organ tubuh yang mempunyai fungsi untuk menghasilkan substansi ( hormon) yang secara biologis sangat berguna. Sekresi atau hormon dari kelenjar ini mengalir langsung ke dalam aliran darah dan dapat memberikan efek menyebar luas. [14] Kelenjar endokrin dapat berupa sel tunggal atau berupa organ multisel.

[7] Sistem endokrin terdiri dari beberapa kelenjar diantaranya adalah hipotalamus, hipofisis, pankreas, adrenal, tiroid, paratiroid, ovarium, testis, serta timus. Kelenjar hipotalamus dan hipofisis merupakan kelenjar neuroendokrin. [1] [2] Kelenjar timus berperan signifikan selama masa pertumbuhan dalam perkembangan imunitas, dan ketika dewasa fungsinya menjadi tidak signifikan. [14] Hormon thymic yang dihasilkan kelenjar timus berperan untuk memengaruhi perkembangan sel limfosit B menjadi sel plasma, yaitu sel penghasil antibodi.

[7] Kelenjar pineal mensekresikan hormon melatonin, dan sebagian besar fungsinya berkaitan dengan ritme biologis. [3] Kelenjar Endokrin dan Hormon yang dihasilkan. Kelenjar Hormon yang dihasilkan Hipotalamus Corticotropin Releasing Hormone (CRH), Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH), Tryrotropin Releasing Hormone (TRH), Growth Hormone Releasing Hormone (GHRH), Prolactin Inhibitory Factor / Dopamin Somatostatin (SS) [15] Hipofisis (Pituitari) Adenohipofisis (Pituitari anterior) Thyroid Stimulating Hormone (TSH) / Tirotopin Adrenocorticotropin Hormone (ACTH) / Corticotropin Luteinizing Hormone (LH) / Interstitial Cell Stimulating Hormone (ICSH) Follicle Stimulating Hormone (FSH) Somatotropin Hormone / Growth Hormone (GH) [2] Prolaktin (PRL) Hipofisis bagian Tengah (Lobus intermediate) Melanotropin Stimulating Hormone (MSH) Neurohipofisis (Pituitari posterior) Antidiuretic Hormone / Vasopresin Oksitosin Tiroid Tiroksin (T4), Triiodotrionin (T3) dan Kalsitonin Paratiroid Parathormon (PTH) Pankreas Pulau-pulau Langerhans Insulin dan Glukagon Adrenal Korteks adrenal Kortisol dan Aldosteron [14] Medula adrenal Adrenalin [2] Ovarium Estrogen, Progesteron, dan Relaksin Testis Testosteron Timus Hormon thymic ( thymopoetin, timosin) [14] [16] Pineal Melatonin [3] Kelenjar endokrin lain yang mensekresikan hormon atau senyawa menyerupai hormon, antara lain: • Saluran pencernaan (Usus) : Gastrin, Sekretin, CCK ( cholecystokinin), gastric-inhibitory peptide (GIP), pancreatic polypeptide, motilin, neurotensin, enteroglucagon.

• Ginjal : Renin, Eritropoietin, Prostaglandin, nitric oxide, dan endothelin. [16] Sel-Sel [ sunting - sunting sumber ] Pada sistem endokrin terdapat berbagai macam tipe sel yang berperan dalam menghasilkan hormon-hormon dan merupakan bagian penyusun dari suatu jaringan dan organ di dalam sistem endokrin.

Sel-sel penyusun organ endokrin dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sel neurosekretori dan sel endokrin sejati. Sel neurosekretori adalah sel yang berbentuk seperti saraf, tetapi berfungsi sebagai penghasil hormon.

Contohnya ialah sel saraf pada hipotalamus, yang menunjukkan fungsi endokrin sehingga dapat disebut sebagai sel neuroendokrin. Sesungguhnya, semua sel yang dapat menghasilkan sekret disebut sebagai sel sekretori.

Oleh karena itu, sel saraf yang terdapat pada hipotalamus disebut sel neurosekretori. Sedangkan sel endokrin yang benar-benar berfungsi sebagai penghasil hormon dan tidak memiliki bentuk seperti sel saraf disebut sel endokrin sejati. [7] • Hipotalamus • Hipofisis • Adenohipofisis tersusun atas sejumlah jenis sel-sel yang dikelompokkan berdasarkan karakteristik warna dalam pengecatan mikroskop, yaitu: • Kromofob yang menyerap warna sangat sedikit dan bergranula halus, merupakan sel-sel cadangan atau dalam keadaan istirahat; • Basofil yang berwarna biru atau ungu, merupakan kelompok sel yang mensekresikan hormon adrenokortikotrofik, gonadotropin, dan tiroid stimulating hormone (TSH); • Asidofil yang berwarna merah atau oranye, adalah kelompok sel terbanyak yang menghasilkan growth hormone / somatotropin dan prolaktin.

[6] • Secara histologis, sel-sel kelenjar hipofisis dikelompokkan berdasarkan jenis hormon yang disekresi yaitu: • Sel-sel somatotrof berbentuk besar dan mengandung granula sekretori, yang menghasilkan somatotropin; • Sel-sel laktotrof mengandung granula sekretoris, yang menghasilkan prolaktin atau laktogen; • Sel-sel tirotrof berbentuk polihedral dan bergranula sekretoris, menghasilkan TSH; • Sel-sel gonadotrof bergranula sekretoris, menghasilkan FSH dan LH; • Sel-sel kortikotrof merupakan granula terbesar yang menghasilkan ACTH.

[1] • Tiroid • Sel-sel folikular berfungsi mensintesis hormon tiroksin (T 4 ) dan triiodontironin (T 3 ); • Sel-sel C berperan untuk mensintesis kalsitonin . [17] • Paratiroid • Sel-sel utama ( chief cells ) mensekresikan parathormon. [17] Visualisasi [ pranala nonaktif permanen] sel pulau Langerhans menggunakan double immunostaining. Merah: antibodi glukagon. Biru: antibodi insulin.

• Pulau-pulau Langerhans (Pankreas) • Sel alpha menghasilkan hormon glukagon; • Sel beta menghasilkan hormon insulin; [18] • Sel delta menghasilkan somatostatin dalam jumlah kecil. [17] • Adrenal terdiri dari bagian medula adrenal yang berasal dari jaringan saraf primitif, dan korteks adrenal berasal dari jaringan mesodermis, dan dapat diidentifikasi tiga zona jaringan terpisah, yaitu: • zona glomerulosa terbentuk dari sekelompok sel-sel kecil yang mensekresi mineralokortikoid ; • zona fasikulata tersusun atas sel-sel kolumna yang mensekresi glukokortikoid (dan sebagian hormon seks); • zona retikularis terdiri atas massa kecil sel-sel kromafin dengan sinus-sinus vena diantaranya.

[14] Jaringan [ pranala nonaktif permanen] penyusun kelenjar adrenal • Ovarium • Sel teka di sekeliling folikel ovarium yang pecah diubah menjadi korpus luteum yang mensintesis progesteron ; • Sel granulosa mensintesis hormon estrogen . [19] • Testis • Sel Leydig berfungsi untuk memproduksi testosteron . [19] Penyakit dan Kelainan [ sunting - sunting sumber ] Kelenjar Hipofisis [ sunting - sunting sumber ] • Hipopituitarisme paling sering disebabkan oleh adenoma nonfungsional (kromofob).

Menyebabkan defisiensi sekresi GH, FSH, LD pada saat awal, disusul defisiensi sekresi TSH dan ACTH. Pada penderita anak-anak menyebabkan infatilisme hipofisis (kurcaci Peter Pan - kecil tapi terbentuk dengan baik dengan proporsi tepat). [20] • Hiperpituitarisme disebabkan oleh adenoma hipofisis.

Adenoma ini hampir selalu mengeluarkan hormon sehingga sering disebut functioning tumor, seperti Prolactin-secreting tumor atau prolaktinoma , Somatotroph tumors (hipersekresi GH) , dan Corticotroph tumors (sekresi ACTH).

[10] • Akromegali disebabkan oleh hormon pertumbuhan (GH) yang berlebihan pada orang dewasa di usia 20-40 tahun (setelah penyatuan epifisis), sedangkan pada anak-anak menyebabkan gigantisme.

Hormon GH yang berlebihan menyebabkan pertumbuhan yang berlebih pada jaringan lunak, termasuk kulit, lidah dan visera serta tulang. [20] • Penyakit Diabetes insipidus disebakan oleh defisiensi vasopresin (ADH) yang disekresikan oleh hipofisis posterior.

[20] Kelenjar Tiroid [ sunting - sunting sumber ] • Penyakit yang umum diketahui pada kelenjar tiroid adalah gondok/goiter. Gondok adalah pembesaran kelenjar tiroid yang disebabkan oleh meningkatnya sekresi thyroid-stimulating hormone (TSH) sekunder akibat berkurangnya output hormon tiroid. Hal ini dapat terjadi karena defisiensi iodium. [20] [21] Defisiensi iodin akan berdampak pada menurunnya produksi hormon tiroid yang membuat kelenjar hipofisis meningkatkan sekresi TSH sebagai respons terhadap kurangnya hormon tiroid dalam darah (tidak ada umpan balik negatif), sehingga kelenjar tiroid akan membesar sebagai kompensasinya.

[10] • Hipotiroidisme adalah status metabolik yang diakibatkan oleh kekurangan hormon tiroid, baik dalam bentuk T 4 atau T 3. Faktor yang menyebabkan adalah atrofi jaringan tiroid, hilangnya stimulasi trofik, dan lingkungan. Penderita hipotiroidisme bisa atau bisa juga tidak mengalami goiter. Gejala yang timbul adalah cepat lelah, letargi, dan merasa lemah untuk melakukan aktivitas sehari-hari. [10] Jika penderita adalah anak-anak dapat mengakibatkan kekerdilan (kretinisme). [4] • Hipertioridisme terjadi akibat kelebihan hormon tiroid (T 4 dan/atau T 3).

Penyakit Graves adalah bentuk hipertiroidisme yang paling umum. [20] Gejala yang timbul adalah peningkatan metabolisme, denyut jantung cepat, mudah gugup dan emosional. [4] • Tiroiditis adalah peradangan pada kelenjar tiroid. Tiroiditis bisa terjadi akut, subakut, dan kronis. [10] Tiroiditis akut bisa sering timbul setelah infeksi saluran napas bagian atas atau infeksi mikroba lain.

[20] Pada kondisi kronis yang paling sering ditemukan disebut sebagai tiroiditis autoimun, istilah yang ditujukan untuk gangguan kelenjar tiroid dimana terdapat antibodi tiroid bersikulasi dalam plasma, selain itu ditemukan sel-sel limfoid dan sel plasma yang berlebihan dalam kelenjar tiroid. Penyakit Hashimoto adalah keadaan di mana tiroiditis autoimun menyebabkan terbentuknya goiter nodular keras.

Palpasi menunjukkan masa yang keras, licin, tidak nyeri, dan dapat digerakkan. [10] [20] Kelenjar Adrenal [ sunting - sunting sumber ] • Kadar glukokortikoid yang terlalu banyak akan mengakibatkan sekumpulan tanda dan gejala yang disebut sindrom Cushing. {/INSERTKEYS}

fungsi nukleus

Sindrom Cushing primer terjadi ketika terlalu banyak produksi kortisol yang diakibatkan oleh adenoma atau karsinoma adrenal. Pada sindrom Cushing sekunder, produksi kortisol terlalu banyak yang diakibatkan oleh hyperplasia adrenal karena fungsi nukleus seklai ACTH. Pada sindrom Cushing iatrogenic, kadar kortisol yang sangat tinggi sebagai akibat terapi glukokortikoid eksogen dalam dosis tinggi yang berlangsung lama.

[10] • Aldosteronisme primer (Sindrom Conn) diakibatkan oleh hiperplasia adrenal bilateral (kedua adrenal) atau salah satu adrenal (unilateral) dengan adenoma yang menghasilkan aldosteron. Kelebihan sekresi aldosteron yang menstimulasi reabsorpsi natrium oleh tubula ginjal sebagai pengganti kalium dan hidrogen. Meningkatnya retensi natrium menyebabkan peningkatan retensi air sehingga volume cairan tubuh meningkat, yang bisa menimbulkan pembesaran pada ventrikel kiri dan retinopati.

[10] Aldosteronisme sekunder diakibatkan oleh adanya penyebab eksogen yang merangsang sistem renin-angiostensin-aldosteron. Sekresi renin yang meningkat disebabkan oleh berkurangnya perfusi ginjal.

[10] • Penyakit Addison disebabkan oleh kerusakan pada bagian korteks kelenjar adrenal dan berakibat pada menurunnya sekresi hormon adrenalin. Penyakit ini ditandai dengan kelelahan, nafsu makan berkurang, mual dan muntah-muntah, serta bercak-bercak merah pada kulit. [4] [22] Kelenjar Pankreas [ sunting - sunting sumber ] • Diabetes melitus disebabkan oleh defisiensi hormon insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah.

Gejala yang timbul adalah sering mengeluarkan urin dalam jumlah banyak, sering merasa haus dan lapar, serta badan terasa lemas. [22] Neoplasia Endokrin Multipel / Multiple Endocrine Neoplasia (sindrom MEN) [ sunting - sunting sumber ] Terdapat dua sindrom dominan autosomal (kromosom 10) yang utama.

Tumor berasal dari dua atau lebih jaringan endokrin (atau neural) dan menghasilkan hormon peptida. • MEN tipe I : Kondisi ini mengacu pada adenoma jinak dari paratiroid, pulau-pulau Langerhans pancreas, dan hipofisis anterior. Tumor pada sel pulau menimbulkan efek sesuai sel asalnya: insulinoma ( hipoglikemia), gastrinoma ( sindrom Zollinger-Ellison), glukagonoma ( hiperglikemia), dan tumor yang mensekresi polipeptida usus vasoaktif.

[20] • MEN tipe 2a : Kondisi ini mengacu pada hubungan antara kanker tiroid meduler (MTC) yang menghasilkan kalsitonin, feokromositoma, dan yang lebih jarang, adenoma atau hiperplasia paratiroid. [20] • MEN tipe 2b : Kondisi ini mengacu pada hubungan yang sangat jarang terjadi antara gambaran tipe 2a dengan habitus Marfanoid, neuroma mukosa, dan divertikula kolon multiple disertai megakolon.

[20] Sistem Endokrin pada Hewan fungsi nukleus [ sunting - sunting sumber ] Sistem Endokrin pada Invertebrata [ sunting - sunting sumber ] Kelenjar endokrin dapat ditemukan pada hewan yang mempunyai sistem sirkulasi, baik vertebrata maupun invertebrata.

Hewan invertebrata yang sering menjadi objek studi endokrin adalah insekta, krustasea, sefalopoda, dan moluska. [7] Sejumlah invertebrata tidak mempunyai organ khusus untuk sekresi hormon sehingga sekresinya dilaksanakan oleh sel neurosekretori.

Sel neurosekretori dapat ditemukan diantaranya pada kelompok Coelenterata, Platyhelminthes, Annelida, Nematoda, dan Moluska. [7] Kelenjar endokrin pada invertebrata cenderung berupa struktur yang sederhana, dengan jaringan amorfus melepaskan hormon langsung ke sirkulasi terbuka. Sistem kendali berupa akson neurosekretori melepaskan neuropeptida langsung menuju jaringan target.

Hormon pada invertebrata lebih fungsi nukleus pada regenerasi dan pertumbuhan, reproduksi (determinasi seksual dan aktivitas gonad), serta peran yang terbatas dalam sistem homeostatis.

[16] Pada kelompok hewan terdapat juga Feromon. Feromon adalah suatu senyawa kimia spesifik yang dilepaskan oleh hewan fungsi nukleus lingkungannya, yang dapat menimbulkan respons perilaku, respons perkembangan, atau respons reproduktif pada individu lain.

Senyawa kimia tersebut sangat bermanfaat bagi hewan untuk memberikan daya tarik seksual, menandai daerah kekuasaan, mengenali individu lain dalam spesies yang sama dan berperan penting dalam sinkronisasi fungsi nukleus seksual.

[7] Coelenterata [ sunting - sunting sumber ] Gambar mikroskopis bagian kepala beserta tentakel dari Hydra viridissima Hidra, yang termasuk fungsi nukleus golongan ini, mempunyai sejumlah sel yang mampu menghasilkan zat kimia yang berperan dalam proses reproduksi, pertumbuhan, dan regenerasi. Suatu molekul peptida yang disebut aktivator kepala akan dikeluarkan oleh tubuh Hidra ketika kepalanya terpotong. Zat tersebut menyebabkan sisa tubuhnya dapat membentuk mulut dan tentakel, dan selanjutnya membentuk daerah kepala.

[7] Platyhelminthes [ sunting - sunting sumber ] Hewan ini dapat menghasilkan hormon yang berperan penting dalam proses regenerasi, dan hormon tersebut juga terlibat dalam regulasi osmotik dan ionik, serta proses reproduksi.

[7] Nematoda [ sunting - sunting sumber ] Sistem endokrin pada kelompok hewan ini merupakan struktur khusus yang berfungsi untuk sekresi neurohormon, yang berkaitan dengan sistem saraf. Struktur khusus tersebut terdapat pada anterior ganglion di daerah kepala dan beberapa diantaranya terdapat pada korda saraf, namun tidak ada organ neurohemal khusus.

Fungsi utama neurohormon adalah kontrol molting. [7] [16] Annelida [ sunting - sunting sumber ] Pada kelompok seperti Polichaeta, Oligochaeta, dan Hirudinae sudah memiliki derajat sefalisasi yang memadai. Otak hewan tersebut memiliki sejumlah besar sel saraf yang berfungsi sebagai sel sekretori.

Sistem sirkulasi pada kelompok ini juga telah berkembang sangat baik sehingga mampu mendukung penyelenggaraan sistem endokrin.

fungsi nukleus

Sistem endokrin Annelida berkaitan erat dengan aktivitas pertumbuhan, perkembangan, regenerasi, dan reproduksi. Fungsi nukleus satu proses yang dikendalikan oleh sistem neuroendokrin pada Polichaeta adalah Epitoki. Dalam proses tersebut, beberapa ruas tubuh mengalami perubahan bentuk akan terlepas dari tubuh utamanya, dan berkembang menjadi organisme yang hidup bebas. Epitoki hanya akan berlangsung pada saat kadar hormon yang disekresi rendah, dan sekresinya dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

[7] Polichaeta mempunyai sel-sel neurosekretori di ganglia kepala, fungsi nukleus supraesofagial, dan berbagai ganglia di korda saraf, serta terdapat strujtur neurohemal di dasar otak yang menerima akson dari ganglia kepala. Neurohormon termasuk annetocin (berhubungan dengan hormon vasopressin di vertebrata) berperan penting dalam pertumbuhan, regenerasi, dan reproduksi pada annelida. Serta berimplikasi pada osmoregulasi dan keseimbangan glukosa. Fungsi nukleus neurohemal bernama kelenjar infraserebral diduga sebagai kelenjar endokrin sejati.

Polichaeta juga memiliki hormon endokrin sejati yang berasal dari oosit immature, dan disebut " feedback substance" karena mencegah produksi sel telur berlebihan. [16] Moluska [ sunting - sunting sumber ] Moluska memiliki sejumlah besar sel neuroendokrin yang terletak pada ganglia penyusun sistem saraf pusat. Hewan ini juga memiliki organ endokrin klasik.

Senyawa yang dilepaskan menyerupai fungsi nukleus dan berperan penting dalam mengendalikan osmoregulasi, pertumbuhan, serta reproduksi. Pada beberapa spesies hewan yang bersifat protandri, ditemukan adanya hormon yang menstimulus pelepasan telur dari gonad dan pengeluaran telur dari tubuh.

Pada Cephalopoda, proses reproduksi fungsi nukleus oleh organ endokrin klasik, terutama kelenjar optik yang diduga menyekresi beberapa hormon yang diperlukan untuk perkembangan sperma dan telur. [7] Krustasea [ sunting - sunting sumber ] Sistem endokrin pada krustasea umumnya berupa sistem neuroendokrin, meskipun mempunyai organ endokrin klasik.

Sistem endokrin berfungsi mengendalikan osmoregulasi, laju denyut jantung, komposisi darah, pertumbuhan, dan pergantian kulit. Sistem kendali endokrin pada kelas Malakostra berkembang paling baik. [7] • Organ neuroendokrin krustasea terdapat pada tiga daerah utama berikut: • Kompleks kelenjar sinus atau disebut juga kompleks kelenjar sinus-organ X, yang menerima akson sel neuroendokrin dari ganglion kepala dan lobus optik di tangkai mata.

Sekresi berupa molting-inhibiting hormone (MIH); • Organ post-komisuralmenerima akson dari otak dan berakhir pada awal esofogus; • Organ pericardial, terletak sangat dekat dengan jantung dan menerima akson dari ganglion toraks. [7] • Sel endokrin klasik yang dimiliki Krustasea, yaitu: • Organ Y merupakan sepasang kelenjar yang terletak di toraks, tepatnya pada ruas maksila dan ruas antenna.

Hormon crustecdysone yang dihasilkan kelenjar ini memengaruhi proses molting; [16] • Kelenjar mandibula terletak di dekat organ Y dan diduga memiliki fungsi endokrin juga. [7] Krustasea juga mempunyai kelenjar androgenik yang diyakini berperan dalam perkembangan testis dan produksi sperma. [7] Krustasea mampu mengubah warna kulitnya untuk menyesuaikan diri dengan warna latar belakang mereka sehingga dapat terhindar dari perhatian musuhnya.

Perubahan warna kulit krustasea dipengaruhi oleh penyebaran pigmen yang terdapat dalam kromatofor dan dikendalikan oleh sistem endokrin. Hormon peptida yang disekresikan oleh kompleks kelenjar sinus menyebabkan pigmen pada kromatofor mengumpul atau menyebar.

Hormon yang dilepaskan organ perikardial juga dianggap dapat memengaruhi fungsi kromatofor. [7] Metamorfosis pada krustasea dilakukan oleh methyl farnesoate (MF), prekursor hormon juvenile seperti pada insekta. Hormon hiperglikemik terdapat pada beberapa spesies.

[16] Insekta [ sunting - sunting sumber ] Insekta memliki tiga kelompok sel neuroendokrin utama yang fungsi nukleus pada fungsi nukleus saraf, yaitu: • Sel neurosekretori medialis, merupakan kelompok sel dengan akson yang membentang hingga ke korpora kardiaka.

Korpora kardiaka adalah sepasang organ yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pelepasan neurohormon; • Sel neurosekretori lateralis, kelompok sel dengan akson yang membentang hingga ke korpora kardiaka; • Sel neurosekretori subesofageal, terdapat pada bagian di bawah kerongkongan dan memiliki akson yang membentang ke korpora alata, yang merupakan organ endokrin klasik.

[7] • Organ endokrin klasik lainnya yaitu kelenjar protoraks. Pada insekta yang sudah lebih maju, kelenjar ini terletak di daerah toraks, namun pada insekta yang kurang berkembang dapat ditemukan pada daerah kepala.

[7] Sistem endokrin pada insekta berfungsi untuk mengendalikan berbagai aktivitas, antara lain aktivitas pertumbuhan. Pertumbuhan insekta terjadi dalam beberapa tahap dan memerlukan serangkaian proses pengelupasan rangka luar (kulit luar). Proses perubahan bentuk tubuh dan pengelupasan kulit tersebut dikenal dengan istilah metamorfosis. Proses metamorfosis berlangsung di bawah kendali hormon.

Kelompok sel neurosekretori medialis menghasilkan hormon protorasikotropik (PTTH), yang dilepaskan melalui ujung akson pada korpora kardiaka. PTTH akan merangsang kelenjar protoraks untuk sekresi hormon ekdison. Hormon ekdison menyebabkan pengelupasan kulit (ekdisis) pada insekta. Hormon juvenil dilepaskan oleh korpora alata dan bertanggung jawab mengendalikan (menghambat) proses metamorfosis insekta.

[7] [22] Sistem Endokrin pada Vertebrata [ sunting - sunting sumber ] Sistem endokrin pada vertebrata terutama sekali tersusun atas berbagai organ endokrin klasik. Sistem endokrin vertebrata dapat dibedakan menjadi tiga kelompok kelenjar utama, yaitu hipotalamus, hipofisis atau pituitari, dan kelenjar endokrin tepi. Berbagai organ endokrin tepi bekerja di bawah kendali kelenjar pituitari bagian depan (anterior), yang merupakan salah satu organ endokrin pusat.

Pituitari anterior bekerja di bawah pengaruh hipotalamus yang bekerjanya dipengaruhi oleh saraf. [7] Adenohipofisis merupakan inti pada sistem endokrin vertebrata dan mensekresikan tujuh hormon kunci "tropik", yaitu: hormon pertumbuhan (GH), prolaktin, ACTH (atau corticotropin), MSH, TSH, dan dua gonadotropin (GnH) LH dan FSH.

[16] Kelenjar pineal memproduksi melatonin, yang disintesis dari triptofan. Pada mayoritas vertebrata, terkecuali mamalia dan ular, kelenjar pineal memiliki unit fotoreseptor dengan sambungan saraf ke otak dan sensitif terhadap cahaya. Namun, kelenjar pineal pada mamalia hanya menerima informasi tentang siklus cahaya dari mata, melalui neuron dari nukleus suprachiasmatik hipotalamus. [16] Ikan [ sunting - sunting sumber ] Hormon gonadotropin yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari dan neuroendokrin berperan dalam mengontrol proses diferensiasi gonad pada beberapa jenis ikan.

[23] Ikan di kelompok Elasmobranchii terdapat sel neurosekretori besar di saraf tulan belakang yang disebut sel Dahlgreen yang berperan penting mengatur keseimbangan cairan. Sedangkan pada kelompok Teleostei terdapat organ neurohemal bernama urofisis, mensekresikan sejumlah peptida yang disebut urotensin, berperan dalam regulasi tekanan darah (UTI), kontraksi jaringan otot (UTII), dan asupan natrium (UTIII) pada insang sebagai bagian respon osmoregulasi pada spesies air tawar, dan efek antidiuretik (UTIV).

[16] Ikan pada kelompok Teleostei memiliki organ Korpuskula Stannius (CS), yang merupakan kelenjar endokrin kecil yang berada di permukaan ginjal. CS mengandung hormon yang meregulasi kadar kalsium. Kontrol sistem osmoregulasi pada Teleostei diatur oleh sejumlah hormon-hormon dari hipofisis seperti prolaktin, dan GH, serta hormon kortisol dari kelenjar interrenal, yang berperan penting dalam aklimasi osmotik. Kortisol bersama dengan GH menstimulasi pengeluaran ion pada keadaan hiperosmotik, dan kerjasama antara kortisol dan prolaktin berperan untuk meningkatkan asupan ion di keadaan lingkungan hipoosmotik.

[24] Amfibia [ sunting - sunting sumber ] Hormon tiroid tidak hanya mengatur pertumbuhan dan pematangan seksual, tetapi juga mengontrol metamorfosis. [17] Semua kelompok Amfibi, termasuk Anura dan Caudata, mempunyai dua jenis hormon gonadotropik yang secara stuktur dan fungsi mirip dengan LH dan FSH pada mamalia. Stimulasi pelepasan hormon gonadotropik dihasilkan dari pengaruh Gonadotropin-releasing hormone (GnRH).

GnRH merupakan neurohormon utama yang mengaktifkan reproduksi amfibi, dihasilkan oleh hipotalamus. [25] Aksis Hipotalamus-Pituitari-Gonad meregulasi reproduksi pada amfibi. Hormon GnRH yang diproduksi hipotalamus mengontrol sekresi FSH dan LH oleh kelenjar pituitari.

Kedua hormon tersebut meregulasi perkembangan gamet dan sekresi hormon-hormon estrogen dan hormon androgen oleh ovarium dan testis. Metamorfosis pada amfibi dikendalikan oleh aksis hipotalamus-pituitari-tiroid (HPT) dan aksis hipotalamus-pituitari-adrenal (HPA).

Aksis HPT berperan dalam produksi corticotropin-releasing factor (CRF) di hipotalamus, yang menstimulus TSH dari pituitari. TSH menstimulus sintesis T 3 dan T 4, yang bertanggung jawab mengendalikan metamorfosis. CRF mengaktivasi aksis HPA, dengan menstimulasi sekresi ACTH dari pituitari yang kemudian menstimulasi sekresi corticosterone (CORT) dari jaringan interrenal. [25] Reptilia [ sunting - sunting sumber ] Kelenjar endokrin pada reptil adalah hipofisis, adrenal, tiroid, pankreas, testis, ovarium, dan pineal.

Terdapat fungsi nukleus perbedaan hormon pada reptil dibandingkan dengan mamalia. Pituitari (hipofisis) posterior reptil mensekresikan hormon AVT ( arginine vasotocin) dan mesotocin.

Sekresi dari korteks adrenal adalah corticosterone. [16] Aves [ sunting - sunting sumber ] Kelenjar pituitari posterior menghasilkan AVT dan mesotocin. [16] Kelenjar tiroid kelompok unggas memiliki keunikan karena tidak terdapat sel-sel kalsitonin, yang letaknya terpisah di kelenjar ultimobranchial. Sintesis hormon tiroid mirip dengan sintesis pada mamalia, yaitu terdapat hormon T 3 dan T 4. [26] Mamalia [ sunting - sunting sumber ] Kelenjar endokrin vertebrata, terutama mamalia, sudah dipelajari dengan baik.

Peranan kelenjar endokrin dalam memelihara kondisi homeostasis telah diuraikan dengan cukup detail. [17] Kelenjar endokrin utama pada mamalia adalah hipotalamus, hipofisis, tiroid, paratiroid, timus, pankreas, adrenal, dan gonad. Hormon-hormon yang disekresi oleh kelenjar tersebut memengaruhi berbagai sel dan satu sama lainnya selama perkembangan mamalia.

Plasenta merupakan salah satu sumber hormon penting berhubungan dengan fungsi reproduksi, hanya terdapat pada mamalia betina. Selama kehamilan plasenta mensekresikan estrogen dan progesteron, serta chorionic gonadotropin pada kelompok Primata.

[16] Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b c d e Manurung, Nixson; Manurung, Rostinah; Bolon, Christina M. T. (2017). Asuhan Keperawatan Sistem Endokrin Dilengkapi Mind Mapping dan Asuhan Keperawatan Nanda Nic Noc.

Yogyakarta: Deepublish. hlm. 1, 3, 6, 7. ISBN 978-602-453-342-7. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c d e f Furqonita, Deswaty (2007). Seri IPA Biologi 3 SMP Kelas IX.

Jakarta: Yudhistira. hlm. 63, 64, 66, 68, 69. ISBN 978-979-746-790-6. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c d e Campbell, Neil A.; Reece, Jane B.; Mitchell, Lawrence G. (2004). Biologi.

Jilid 3 Edisi 5. Jakarta: Fungsi nukleus. hlm. 129, 139. ISBN 9796884704. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c d Arisworo, Djoko; Yusa (2004). IPA Terpadu (Biologi, Kimia, Fisika) : Kelas IX.

Jilid 3. Jakarta: PT Grafindo Media Pratama. hlm. 58, 60, 61, 62. ISBN 978-979-758-331-6. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b "Arti kata endokrin - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online". www.kbbi.web.id.

Diakses tanggal 2020-11-06. • ^ a b c Astuti, Pudji (2017). Endokrinologi Veteriner. Yogyakarta: UGM Press. hlm. 39, 50, 51. ISBN 9789794209189. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x Fungsi nukleus, Wiwi (2019).

Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Sleman: Kanisius. hlm. 145, 148–152, 158–165, 167. ISBN 9789792162714. Parameter -url-status= fungsi nukleus tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Isnaeni 2019, fungsi nukleus.

145: "Pada umumya, sistem endokrin bekerja (…)" • ^ Azhar; Lubis, Triva Murtiva; Adam, Mulyadi; Gholib (2017). Pengantar Fisiologi Veteriner : Buku untuk mahasiswa.

fungsi nukleus

Banda Aceh: Syiah Kuala University Press. hlm. 93. ISBN 978-602-5679-18-6. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c d e f g h i j Baradero, Mary; Dayrit, Mary Wilfrid; Siswandi, Yakobus (2005). Klien Gangguan Endokrin Seri Asuhan keperawatan. Jakarta: EGC. hlm. 2, 50, 51. ISBN 978-979-448-950-5. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Isnaeni 2019, hlm. 151: "Berdasarkan hakikat kimianya hormon dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu hormon peptid dan protein steroid, dan turunan tirosin.

Selain berbagai hormon di atas, terdapat sejumlah zat kimia yang menyerupai hormon. Zat kimia lain yang kerjanya menyerupai hormon antara lain bradikinin eritropuiitin, histamin, kinin, renin, prostaglandin, dan hormon thymic. Hormon fungsi nukleus adalah hormon dari kelenjar timus (thymus) yang berperan untuk memengaruhi perkembangan sel limfosit B menjadi sel plasma, yaitu sel penghasil antibodi." • ^ a b c d Shahab, Alwi (2017).

Dasar-dasar Endokrinologi. Jakarta: Rayyana Komunikasindo. hlm. 2, 9, 10, 12. ISBN 9786026111227. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Isnaeni 2019, hlm. 148:"Contoh yang baik untuk hormon ini ialah histamin, yang bekerja untuk mengontrol sekresi asam pada lambung vertebrata, misalnya pada sapi.

Apabila rangsang memengaruhi sel master (mast cells) dan sel parietal pada lambung, sel-sel tersebut akan mengeluarkan histamin, yang selanjutnya akan merangsang pengeluaran asam lambung. Dalam contoh tersebut tampak bahwa hormon berpengaruh terhadap sel sasaran yang terletak di sekitar sel penghasil histamin. Jadi, hormon tersebut bekerja secara lokal.

Aksi hormon lokal semacam ini disebut kontrol/kendali parakrin. Kadang-kadang senyawa kimiw yang dikeluarkan oleh suat sel akan memengaruhi sel fungsi nukleus sendiri.

fungsi nukleus

Peristiwa semacam ini dikenal dengan istilah kontrol/kendali autokrin. Contoh senyawa kimia semacam ini adalah prostaglandin dan faktor pertumbuhan yang mirip insulin." • ^ a b c d e Broom, Bryan (1998). Anatomi Fisiologi Kelenjar Endokrin dan Sistem Persarafan. Edisi 2.

fungsi nukleus

Jakarta: EGC. hlm. 2, 8, 13, 14, 30. ISBN 9794484148. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Roosita, Katrin; Subandriyo, Vera U.; Ekayanti, Karina R,; Nurdin, Naufal M.

(2016). Fisiologi Manusia. Bogor: IPB Press. hlm. 65, 68. ISBN 9789794939826. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c d e f g h i j k l m Willmer, Pat; Stone, Graham; Johnston, Ian (2005).

Environmental Physiology of Animals 2nd Edition (dalam bahasa Inggris). Malden: Blackwell Publishing. hlm. 347–349, 352–360. ISBN 978-1-4443-0922-5. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c d e Fried, George H.; Hademenos, George J. (2006). Schaum's Outline Biologi Ed.2. Diterjemahkan oleh Tyas, Damaring. Jakarta: Erlangga. hlm. 244, 245. ISBN 9789797817138. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Wibowo, Daniel S.

(2008). Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta: Grasindo. hlm. 94. ISBN 9789797328887. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Heffner, Linda J.; Schust, Danny J. (2010). At a Glance Sistem Reproduksi Ed.2. Jakarta: Erlangga. hlm. 13, 14. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c d e f g h i j Rubenstein, David; Wayne, David; Bradley, John (2007).

Kedokteran Klinis Ed. 6. Diterjemahkan oleh Rahmalia, Annisa. Jakarta: Erlangga. hlm. 161, 165, 170–176. ISBN 978-979-781-823-4. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( fungsi nukleus • ^ Susilowarno, R. Gunawan; Mulyadi, R. Sapto Hartono; Murtiningsih, Th. Enik Mutiarsih; Umiyati (2007).

Biologi SMA/MA Kls XI (Diknas). Jakarta: Grasindo. hlm. 285. ISBN 978-979-025-020-8. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c Aryulina, Diah; Muslim, Choirul; Manaf, Syalfinaf; Winarni, Endang W. (2004). BIOLOGI SMA dan MA untuk Kelas XI : Jilid 2.

Jakarta: ESIS. hlm. 270–272. ISBN 978-979-734-550-1. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Hayati, Alfiah (2019). Biologi Reproduksi Ikan. Surabaya: Airlangga University Press. hlm. 26. ISBN 978-602-473-177-9. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Baldisserotto, Bernardo; Mancera, Juan Miguel; Kapoor, B.G.

(2018). Fish Osmoregulation (dalam bahasa Inggris). Boca Raton: CRC Press. hlm. 88. ISBN 978-1-4398-4311-6. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Norris, David O.; Lopez, Kristin H. (2011). Hormones and Reproduction of Vertebrates, Volume 2: Amphibians (dalam bahasa Inggris).

London: Academic Press. hlm. 89, 132. ISBN 978-0-08-095808-8. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Sturkie, Paul D. (2012). Avian Physiology 4th edition (dalam bahasa Inggris). New York: Springer Science & Business Media. hlm. 453, 454. ISBN 978-1-4612-4862-0. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] Pemeliharaan Cek kelengkapan transklusi Buku • Isnaeni, Wiwi (2019).

Fisiologi Hewan. Edisi Revisi. Sleman: Kanisius. ISBN 9789792162714. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] • http://www.rscarolus.or.id/article/penyakit-tiroid-autoimun • https://www.honestdocs.id/sindrom-zollinger-ellison • Halaman ini terakhir diubah pada 19 Februari 2022, pukul 06.26.

fungsi nukleus Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia fungsi nukleus Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
• Afrikaans • Alemannisch • Aragonés • العربية • Asturianu fungsi nukleus Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Беларуская • Български • বাংলা • Bosanski • Català • Čeština • Dansk • Deutsch • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Gaeilge • Galego • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Magyar • Հայերեն • Interlingua • Ido • Italiano • fungsi nukleus • Jawa • ქართული • Қазақша • ಕನ್ನಡ • 한국어 • Кыргызча • Latina • Lëtzebuergesch • Lietuvių • Latviešu • Македонски • മലയാളം • Bahasa Melayu • नेपाली • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Occitan • Polski • پښتو • Português • Română • Русский • Davvisámegiella • Srpskohrvatski / српскохрватски • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Shqip • Српски / srpski • Svenska • Kiswahili • தமிழ் • ไทย • Tagalog • Türkçe • Татарча/tatarça • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt • Winaray • 吴语 • მარგალური • 中文 • Bân-lâm-gú Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan.

Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Histologi" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR ( Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) Histologi (1950) Histologi atau anatomi mikroskopis adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang struktur sel dan jaringan secara detail menggunakan mikroskop.

[1] [2] Kegiatan histologi dilakukan pada sediaan jaringan yang dipotong tipis Histologi amat berguna dalam mempelajari fungsi fisiologi sel-sel dalam tubuh, baik manusia, hewan, serta tumbuhan, dan dalam bentuk histopatologi ia berguna dalam penegakan diagnosis penyakit yang melibatkan perubahan fungsi fisiologi dan deformasi organ. Sebagai contoh, di bidang kedokteran, kehadiran tumor memerlukan hasil pemeriksaan contoh (sampel) jaringan.

Di bidang pertanian, pemeriksaan kondisi jaringan pengangkut dapat mendukung diagnosis serangan hawar daun tembakau. Daftar isi • 1 Pembuatan sediaan (preparat) • 2 Klasifikasi histologis jaringan hewan fungsi nukleus 3 Klasifikasi histologis jaringan tumbuhan • 4 Referensi • 5 Pranala luar Pembuatan sediaan (preparat) [ sunting - sunting sumber ] Histologi sangat membutuhkan penggunaan mikroskop dan juga teknik penyediaan contoh jaringan.

fungsi nukleus

Cara pembuatan sediaan histologis disebut mikroteknik. Pembuatan sediaan dari suatu jaringan dimulai dengan operasi, biopsi, atau autopsi. Jaringan yang diambil kemudian diproses dengan fiksatif yang akan menjaga agar sediaan tidak akan rusak (bergeser posisinya, membusuk, atau rusak). Fiksatif yang paling umum digunakan untuk jaringan hewan (termasuk manusia) adalah formalin (10% formaldehida yang dilarutkan dalam air).

Larutan Bouin juga dapat digunakan sebagai fiksatif alternatif meskipun hasilnya tidak akan sebaik formalin karena akan meninggalkan bekas warna kuning dan artefak. Artefak adalah benda yang tidak terdapat pada jaringan asli, tetapi tampak pada hasil akhir sediaan. Artefak ini terbentuk karena kurang sempurnanya pembuatan sediaan. Sampel jaringan yang telah terfiksasi direndam dalam cairan etanol (alkohol) bertingkat untuk proses menghilangkan air dalam jaringan (dehidrasi).

Selanjutnya sampel dipindahkan ke dalam toluena untuk menghilangkan fungsi nukleus (dealkoholisasi). Langkah terakhir yang dilakukan adalah memasukkan sampel jaringan ke dalam parafin panas yang menginfiltrasi jaringan.

Selama proses yang berlangsung selama 12-16 jam ini, jaringan yang awalnya lembek akan menjadi keras sehingga lebih mudah dipotong menggunakan mikrotom. Pemotongan dengan mikrotom ini akan menghasilkan lapisan dengan ketebalan 5 mikrometer. Lapisan ini kemudian diletakkan di atas kaca objek untuk diwarnai. Pewarnaan perlu dilakukan karena objek dengan ketebalan 5 mikrometer akan terlihat transparan meskipun di bawah mikroskop.

Pewarna yang biasa digunakan adalah hematoxylin dan eosin. Hematoxylin akan memberi warna biru pada nukleus, sementara eosin memberi warna merah muda pada sitoplasma.

Masih terdapat berbagai zat warna lain yang biasa digunakan dalam mikroteknik, tergantung pada jaringan yang ingin diamati. Ilmu yang mempelajari pewarnaan jaringan disebut histokimia. Klasifikasi histologis jaringan hewan [ sunting - sunting sumber ] • epitelium: melapisi kelenjar, saluran pencernaan, kulit, dan beberapa organ seperti hati, paru-paru, ginjal • endotelium: melapisi pembuluh darah dan pembuluh limfa • mesotelium: melapisi rongga pleural, peritoneal, dan perikardial • mesenkima: sel yang mengisi ruangan antarorgan, misal sel lemak, otot, dan tendon sel darah: terdiri dari sel darah merah dan darah putih, baik di limfa maupun limpa • neuron: sel-sel yang membentuk otak, saraf, dan sebagian kelenjar seperti pituitari dan adrenal • plasenta: organ terspesialisasi yang berperan dalam pertumbuhan fetus dalam rahim sang ibu • sel induk: sel-sel yang dapat berkembang menjadi satu atau beberapa jenis sel di atas.

Klasifikasi histologis jaringan tumbuhan [ sunting - sunting sumber ] Jaringan dari tumbuhan, jamur, dan mikroorganisme juga dapat dipeljari secara histologis, tetapi strukturnya berbeda dari klasifikasi di atas. Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ Astari, Rika; Triana, Winda (2018). Kamus Kesehatan Indonesia-Arab (PDF). Sleman, Yogyakarta: Trussmedia Grafika. hlm. 165. ISBN 978-602-5747-22-9.

• ^ Susilawati dan Bachtiar, N. (2018). Biologi Dasar Terintegrasi (PDF). Pekanbaru: Kreasi Edukasi. hlm. 6. ISBN 978-602-6879-99-8.

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Category:Histology. Kategori tersembunyi: • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Fungsi nukleus yang membutuhkan referensi tambahan Desember 2021 • Semua artikel yang membutuhkan referensi tambahan • Pranala Commons ditentukan secara lokal • Artikel Wikipedia dengan penanda Fungsi nukleus • Artikel Wikipedia dengan penanda BNF • Artikel Wikipedia dengan penanda EMU • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda NDL • Artikel Wikipedia dengan penanda MA • Artikel Wikipedia dengan penanda ganda • Halaman ini terakhir diubah pada 31 Desember 2021, pukul 18.50.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Fungsi nukleus • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) 4.1.

Sebarkan ini: Sel hewan merupakan bentuk sel eukariotik yang menyusun jaringan pada hewan. Sel hewan mempunyai perbedaan dengan sel eukariotik lainnya. Suatu bagian organel terkecil yang memiliki selaput tipis dan didalamnya terdapat larutan koloid yang mengandung senyawa kimia.

Sel ini memiliki keunggulan yaitu dalam membuat duplikat secara mandiri dengan cara pembelahan sel. Dalam sel terdapat senyawa yang sangat penting dalam proses pembelan maupun fotosintesis. Senyawa tesebut seperti karbohidrat, senyawa ini sangat penting dalam proses fotosintesis. Selanjutnya lipid, senyawa ini berguna sebgai cadangan makanan seperti lemak dan minyak. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sel Tumbuhan : Jenis, Bagian, Gambar Dan Fungsinya Lengkap Selain itu juga ada protein yang berperan sebagai proses metabolisme tubuh hewa mapun dengan tumbuhan.

Dan yang terakhir yaitu asam nukleat, senyawa ini sangat berpera penting dalam proses sintesis protein. Sel hewan hanya mempunyai vakuola yang lebih kecil dan tidak memiliki kloroplas dan dinding sel. Sel Hewan menghasilkan berbagai macam variasi bentuk, karena tidak memiliki dinding sel yang keras. Sel ini terdiri dari sentriol,sentrosom, sitoplasma sel, membran sel, nukleus, retikulum endoplasma, ribosom, mitokondria, lisosom,kompleks golgi.

Jenis Sel yang fungsi nukleus tutupi oleh dinding sel, mereka memiliki mantel yang berlendir atau yang sering di sebut sebagai struktur memanjang yang akan manarik dan mendorong mereka untuk menjelajahi lingkungan mereka. Jenis sel hewan yang memiliki lapisan yang sangat tebal yang di temukan di dalam lendir sering di sebut sebagai kapsul sel.

Dalam tubuh manusia juga terdapat banyak sekali jenis sel, kurang lebih sekitar 200 sel yang berbeda. Tubuh manusia memiliki bahan non hidup dari sel-sel mati seperti : Kuku jari, gigi, rambut dan bagian-bagian yang keras dari tulang. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Jaringan Pada Hewan : Jenis, Fungsi, Letak, Gambar Dan Contohnya Gambar, Struktur Organel Sel Hewan dan Fungsinya • 1. Membran Sel Membran sel adalah pembungkus sel pada bagian luar yang tersusun dari protein (lipoprotein), kolesterol dan lemak (lipid).

Pada bagian ini memiliki peranan yang sangat penting dalam mengatur mineral dan nutrisi yang berada didalam maupun diluar sel. Organel membran sel ini memiliki berbagai fungsi diantaranya : • Mengatur keluar masuk nutrisi dan mineral • Sebagai pembungkus / pelindung sel • Menerima rangsangan dari luar • Tempat berlangsungnya berbagai reaksi kimia • 2.

Sitoplasma Sitoplasma adalah bagian sel yang berupa cairan sel dan meiliki bentuk seperti dengan gel. Organel ini memiliki dua proses fase bentuk yaitu fase gel (cair) dan fase sol ((padat). Cairan ini terdapat di dalam nukleus yang disebut dengan itilah nukleoplasma. Namun sitoplasma bersifat koloid komplek yaitu tidak cair dan tidak padat.

Sehingga dapat berubah tergantung dengan konsenrasi airnya. Pada dasarnya jika konsentrasi air rendah maka menjadi padat lembek. Sedangkan jika air dengan kontrasi tingg maka gel akan berubah menjadi encer yang disebut dengan fungsi nukleus.

Organel sitoplasma ini berfungsi sebagai berikut : • Sebagai sumber bahan kimia sel • Tempat berlangsungnya metabolisme sel • 3. Reticulum Indoplasma Reticulum indoplasma adalah organel yang memiliki bentuk benang-benang yang terdapat di inti sel. Retikulum endoplasma terbagi atas dua yaitu retikulum endoplasma halus (REh) dan retikulum endoplasma kasar (REk). Retikulum endoplasma halus (REh) adalah berperan tidak melekat dengan ribosom, sedangkan retikulum endoplasma kasar (REk) adalah dapat melekat pada ribosom.

Organel Reticulum indoplasma adalah sebagai berikut : • Sebagai sintesis protein (Rek). • Fungsi nukleus tempat pengangkut sintesis, steroit dan lemak. • Membantu detoksifikasi sel-sel berbahaya di dalam sel (REh). • Sebagai tempat untuk menyimpan fospolipid, steroid dan glikolipid.

• fungsi nukleus. Mitokondria Mikrodia adalah organel terbesar yang ada berguna sebagai mesin dalam sel. Organel ini memiliki dua bagian lapis membran yang leuku-lekuk yang biasa disebut dengan istilah kritas.

Glukosa adan oksigen saling bekerja sama dalam proses pembentukan energy. Hal tersebut sebagai proses metabolisme dan aktivitas seluler. Sehingga dalam bagian tersebut fungsi nukleus sebagai The Power House. dapat dikatakan begitu karena organisme ini dapat menghasilkan energy. Mitokondria yang berbrntuk tunggal fungsi nukleus dengan istilah mitokondrion. Organel mitokondrion adalah organel yang dapat mengubah energi kimia menjadi energi yang lainnya.

Organel ini memiliki fungsi sebagai berikut : • Sebagai repirasi seluler. • Sebgai penghasil energidalam bentuk ATP. • 5. Mikrofilamen Mikrofilamen adalah organel sel yang terbentuk dari protein aktin dan myosin. Organel ini memiliki kemiripan dengan organel mikrotobulus tetapi ada yang membedakan pada tektur dan ukurannya. Mikrofilamen memiliki tekstur yang lembut dan mempunyai ukuran diameter fungsi nukleus kecil. Fungsi organel ini yaitu berperan sebagai pergerakan sel, endositosis dan eksotisotis.

• 6. Lisosom Lisosom adalah organel berupa kantong terikat di membran yang berisi fungsi nukleus enzim hidrolitik. Hal ini digunakan untuk dalam mengontrol pencernaan intraseluler di keadaan apapun. Lisosom terdapat pada sel eukariotik. Lisosom memiliki fungsi sebagai berikut : • Untuk mengontrol pencernaan intraseluler.

• Sebagai mencerna materi dengan menggunakan fagositosis. • Sebagai penghancuran organel sel yang telah rusak (autofagi). Sebagai fungsi nukleus makromulekul dari luar menuju ke dalam sel dengan. • 7. Peroksisom (Badan Mikro) Peroksisom adalah organel yang memiliki kantong kecil yang berisi dengan enzim katalase.

Hal tesebut berfungsi untuk menguraikan peroksida (H2O2) atau metabolisme yang bersifat toksik. Yang dapat merubah air dan oksigen yang berbahaya pada sel. Organel peroksisom ini banyak ditemukan di sel hati dan ginjal. Organel ini memiliki fungsi sebagai berikut : • Perubahan lemak menjadi karbohidrat. • Menguraikan perokida (H2O2) dari sisa-sisa metabolisme toksik. • 8. R ibosom Ribosom adalah organel sel yang memiliki tekstur padat dan kecil dengan ukuran diameter 20 nm. Organel ini terdiri atas 65% RNA ribosom (rRNA) dan 35% protein ribosom (Ribonukleoprotein atau RNP ).

Ribosom bekerja sebagai menerjemahkan RNA untuk membentuk rantai polipeptida (protein) dengan menggunakan asam amino fungsi nukleus saat proses translasi. Di dalam sel ribosom terdapat terikat yang berada pada retikulum endoplasma kasar (REk), atau membran inti sel. Ribosom memiliki fungsi sebagai tempat berlangsungnya proses sintesis protein. • 9. S entriol Sentriol adalah struktur organel yang memiliki bentuk tabung organel dapat ditemukan pada sel eukariota.

Organel ini juga dapat mengambil peran dalam pembelahan sel dan dalam pembentukan silia dan flagela. Selain itu sepasang sentriol mampu membentuk struktur gabungan yang disebut dengan istilah sentrosom. Sentiol memiliki fungsi sebagai : • Berperan sebagai membentuk silia dan flagella. • Sebagai proses pembelahan sel dalam membentuk benang spindle. • 10. Mikrotobulus Mikrotubulus adalah organel sel yang terdapat didalam sitoplasma dan dapat ditemukan pada sel eukariot.

Organel ini berbentuk silindris panjang yang berongga. Organel ini memiliki ukuran dengan diameter kurang lebih 12 nm dan diameter luar 25 nm. Selain di hewan, organel juga fungsi nukleus oleh sel tumbuhan yang sama persis oleh hewan. Mikrotobulus terdiri atas molekul-molekul berbentuk bulat protein globular yang fungsi nukleus tubulin.

Sehingga dalam posisi tidak sadar organel ini mambpu bergabung untuk membentuk silindris yang berongga dalam kondisi tertentu.

Selain itu mikrotobulus juga memiliki sifat kaku yang tidak dapat berubah-rubah dalam bentuknya. Organel ini memiliki fungsi sebagai berikut : • Untuk melindungi sel. • Memberi bentuk sel. • Berperan sebagai dalam pembentukan flagela, silia dan sentriol. • 11. Badan Golgi Badan golgi atau aparatus golgi adalah organel yang dikaitkan dengan fungsi ekskresi sel.

Badan golgi dapat ditemukan di semua sel eukariotik. Organel ini sangat berperan penting yaitu mempunayi fungsi ekskresi, seperti ginjal. Badan golgi memiliki bentuk bentuk seperti kantong pipih yang berukuran kecil hingga besar dan terikat oleh membran. Setiap sel hewan memiliki 10-20 badan golgi. Organel fungsi nukleus mempunyai fungsi sebagai berikut : • Untuk memproses protein. • Membentuk lisosom. • Untuk membentuk membran plasma.

• Membentuk vesikula (kantung) untuk ekskresi. • 12. N ukleus Nukleus adalah organel kecil yang mengatur dan mengendalikan aktivitas sel. Proses ini mulai dari metabolisme hingga ke pembelahan sel. Nukleus mengandung materi genetik yang bentuknya DNA linear panjang yang membentuk kromoson. Organel ini dapat ditemukan di sel eukarioti dan terdiri atas bagian-bagian seperti membran inti, nuekloplasma, kromatin atau kromoson, dan nukleus.

Organel ini memiliki fungsi sebagai fungsi nukleus : • Tempat terjadinya replikasi. • Menyimpan informasi genetik. • Untuk menjaga integritas gen-gen. • Mengendalikan fungsi nukleus metabolisme dalam sel. • Mengontrol aktivitas sel dengan mengelola fungsi nukleus gen. • 13.

Nukleolus Nukleolus adalah organel yang terdapat didalam inti sel atau nukleus. Organel ini bertanggung jawab dalam pembentukan protein menggunakan RNA atau asam ribonukleat. Organel ini mempunyai fungsi sebagai bertanggung jawab dalam pembentukan protein.

• 14. Nukleoplasma Nukleoplasma adalah organel yang memiliki tekstur padat yang berada didalam inti sel atau nukleus. Organel ini mengandung serat kromatin yang padat dan membentuk kromoson.

Selain itu organel ini bertugas untuk membawa informasi genetika. • 15.

fungsi nukleus

Fungsi nukleus Inti Membran inti adalah elemen struktural utama nukleus yang membungkus keseluruhan organel. Selain itu organel ini sebagai pemisah antara sitoplasma dan daerah inti. Organel ini bersifat fungsi nukleus permeable sehingga sebagian besar molekul yang membuat nukleus membutuhkan pori inti. Dengan begiti membrane nukleus fungsi nukleus melintasi membran. Mebran inti memiliki fungsi sebgai berikut : • Melindungi inti sel (Nukleus).

• Sebagai tempat pertukaran zat antara materi inti dan sitoplasma. Gambar Perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Jaringan Tumbuhan : Pengertian, Ciri, Dan Macam Serta Fungsinya Lengkap Perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan Tabel Perbedaan sel hewan dan sel fungsi nukleus N o Sel hewan Sel tumbuhan 1 Tidak mempunyai dinding sel Mempunyai dinding sel 2 Mempunyai sentrosom Tidak mempunyai sentrosom 3 Tidak mempunyai plastida Mempunyai plastida 4 Mempunyai lisosom Tidak mempunyai lisosom 5 Cadangan makanan brupa lemak dan glikogen Cadangan makanan berupa pati atau amilum 6 Ukuran Sel tumbuhan lebih besar daripada sel hewan.

Ukuran Sel hewan lebih kecil daripada sel tumbuhan. 7 Bentuk tidak tetap Bentuk tetap 8 Diktiosom Badan golgi 9 Tidak mempunyai vakuola, walaupun terkadang beberapa sel hewan uniseluler memiliki vakuola yang berukuran kecil baik pada sel muda maupun sel dewasa Vakuola, Pada sel muda kecil dan banyak, pada sel dewasa tunggal dan besar Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Biologi, IPA, SMA, SMP Ditag #pengertian sel tumbuhan, bagian bagian sel hewan, bagian bagian sel hewan dan tumbuhan, bagian sel hewan beserta fungsinya, cara membuat sel hewan, fungsi badan golgi pada sel hewan, fungsi mikrotubulus, fungsi mitokondria pada sel hewan, fungsi nukleolus pada sel hewan, fungsi sel hewan brainly, fungsi sel hewan dan tumbuhan, Fungsi Sel Tumbuhan, fungsi sentrosom pada sel hewan, fungsi vakuola pada sel hewan, gambar sel hewan brainly, gambar sel hewan dan sel tumbuhan, gambar sel hewan dan tumbuhan, gambar sel tumbuhan, jelaskan letak dan struktur badan golgi, makalah organel sel hewan dan fungsinya, materi makalah sel hewan pdf ppt, model sel hewan, organel sel hewan dan tumbuhan beserta fungsinya, organel sel jurnal, peran retikulum endoplasma kasar, peran ribosom, perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan, proses yang terjadi pada badan golgi, proses yang terjadi pada mikrotubulus, proses yang terjadi pada mitokondria, proses yang terjadi pada sitoplasma, sel hewan dan fungsinya brainly, sel hewan dan keterangannya, sel hewan dan sel tumbuhan, sel hewan dan sel tumbuhan beserta fungsinya, sel hewan dari plastisin, sel tumbuhan, sel tumbuhan dan fungsinya, sitoplasma adalah, struktur sel hewan dan tumbuhan, Struktur sel tumbuhan, vakuola Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Penjelasan Ciri-Ciri Bacillus Anthracis Dalam Biologi • Penjelasan Ciri-Ciri Helicobacter Pylori Dalam Biologi • Pengertian Kata Berimbuhan • Pengertian Coelentarata – Ciri, Habitat, Reproduksi, Klasifikasi, Cara Hidup, Peranan • Pengertian Gerakan Antagonistic – Macam, Sinergis, Tingkat, Anatomi, Struktur, Contoh • Pengertian Dinoflagellata – Ciri, Klasifikasi, Toksisitas, Macam, Fenomena, Contoh, Para Ahli • Pengertian Myxomycota – Ciri, Siklus, Klasifikasi, Susunan Tubuh, Daur Hidup, Contoh • “Panjang Usus” Definisi & ( Jenis – Fungsi – Menjaga ) • Pengertian Mahasiswa Menurut Para Ahli Beserta Peran Dan Fungsinya • “Masa Demokrasi Terpimpin” Sejarah Dan ( Latar Belakang – Pelaksanaan ) • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Fungsi nukleus Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com

Sel- Sel Nukleus beserta penjelasan #biologi#nukleus#arti nukleus




2022 www.videocon.com