Tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah

tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah

Udang Vaname ( Lithopenaeus vannamei) adalah udang yang berasal dari bagian barat pantai Amerika Latin, udang ini telah berhasil dibudidayakan di daerah tropis, di beberapa wilayah Indonesia.

Teknologi Busmetik sangat cocok untuk budidaya udang vannamei karena udang vannamei dapat dipelihara dalam kepadatan tinggi, di atas 100 ekor/m 3. Selain itu, udang vannamei memiliki pertumbuhan lebih cepat, lebih tahan terhadap penyakit, dan memiliki segmen pasar yang fleksibel. Udang vanname juga memiliki pasaran yang luas di tingkat internasional.

Pembudidayaan Vaname dengan menggunakan Tambak Busmetik merupakan pengembangan teknologi budidaya udang, yang saat ini dijadikan media pembelajaran tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah mencetak peserta didik yang terampil dalam budidaya udang.

Langkah – Langkah Persiapan sebagai berikut : Budidaya Udang Vannamei - Pemberantasan Hama Pemberantasan ikan-ikan dengan sapion 15-20 ppm (7,5-10kg/ha) dengan tinggi air tambak 5 cm. Pengapungan dan Pemupukan Untuk menunjang berbaikan kualitas tanah dari air dilakukan pemberian kapur bakar (CaO), 1000 kg/ha, dan kapur pertanian sebanyak 320 kg/ha.

Selanjutnya masukkan air ke tambak sehingga tambak menjadi macak macak kemudian dilakukan pemupukan dengan pupuk urea (150 kg/ha), pupuk kandang (2000 kg/ha).

Budidaya Udang Vannamei - Pengisian AirPengisian air dilakukan setelah seluruh persiapan dasar tambak telah rampung dan air dimasukkan ke dalam tambak secara bertahap.

Ketinggian air tersebut dibiarkan dalam tambak selama 2-3 minggu sampai kondisi air betul-betul siap ditebari benih udang. Tinggi air di petak pembesaran diupayakan lebih dari 1,0 m. Budidaya Udang Vannamei - Penebaran Benih Penebaran benur udang vannamei dilakukan setelah plankton tumbuh baik (7-10 hari) sesudah penumpukan. Benur vannamei yang digunakan adalah PL 10 – PL 12 berat awal 0,001 g/ekor diperoleh dari hatchery yang telah mendapat rekomondasi bebas patogen, Spesifik Pathogen Free (SPF).

Kriteria benur vannamei yang baik adalah mencapai ukuran PL-10 atau oragan insangnya telah sempurna, seragam atau rata, tubuh benih dan usus terlihat jelas, berenang melawan tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah.

Sebelum benur ditebar terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi terhadap suhu dengan cara mengapungkan kantong yang berisi benur di tambak dan menyiram dengan perlahan-lahan. Sedangkan aklimatisasi terhadap salinitas dilakukan dengan cara membuka kantong dan diberi sedikit demi sedikit air tambak selama 15-20 menit. Selanjutnya kantong benur dimiringkan dan perlahan-lahan benur vannamei akan keluar dengan sendirinya.

Penebaran benur vannamei dilakukan pada saat siang hari. Padat penebaran untuk pola tradisional tanpa pakan tambahan dan hanya mengandalkan pupuk susulan 10% dari pupuk awal adalah 1-7 ekor/m2. Sedangkan apabila menggunakan pakan tambahan pada bulan ke-2 pemeliharaan, maka disarankan dengan padat tebar 8-10 ekor/m2.

Budidaya Udang Vannamei - Pemeliharaan Selama pemeliharaan udang vannamei, dilakukan monitoring kualitas air meliputi: suhu, salinitas, transparasi, pH dan kedalam air dan oksigen setiap hari.

Selain itu, juga dilakukan pemberian pemupukan urea dan TSP susulan setiap 1 minggu sebanyak 5-10% dari pupuk awal. (urea 150kg/ha) dan hasil fermentasi probiotik yang diberikan seminggu sekali guna menjaga kestabilan plankton dalam tambak. Pengapuran susulan dengan dolomit super dilakukan apabila pH berfluktuasi.

Pakan diberikan budidaya udang vannamei pada hari ke-70 dimana pada saat itu dukungan pakan alami (plankton) sudah berkurang atau pertumbuhan udang vannamei muai lambat.

Dosis pakan yang diberikan 5-2% dari biomassa udang dengan frekuensi pemberian 3 kali/hari yakni 30% pada jam 7 pagi dan jam 4 sore serta 40% pada jam 10 malam. Pergantian air yang pertama kali dilakukan setelah udang berumur 60 hari dengan volume pergantian 10% dari volume total, sedangkan pada bukaan berikutnya hingga panen, volume pergantian air ditingkatkan mencapai 15-20% pada setiap periode pasang.

Sebelum umur pemliharaan budidaya udang vannamei mencapai 60 hari hanya dilakukan penambahan air sebanyak yang hilang akibat penguapan atau rembesan. Kualitas air yang layak untuk pembesaran udang vannamei adalah salinitas optimal 10-25 ppt (toleransi 50 ppt), suhu 28-31 derajat C, oksigen > 4ppm, amoniak <0,1 ppm, pH 7,8-82 dan H2S < 0,003 ppm. Budidaya Udang Vannamei – Panen Panen harus mempertibangkan aspek harga, pertumbuhan dan kesehatan udang. Panen dilakukan setelah umur pemeliharaan 100-110 hari.

Perlakuan sebelum panen adalah pemberian kapur dolomit sebanyak 80kg/ha (tinggi air tambak 1m), dan mempertahankan ketinggian air (tidak ada pergantian air) selama 2-4 hari yang bertujuan agar udang tidak mengalami molting (ganti kulit) pada saat panen. Selain itu disiapkan peralatan panen berupa keranjang panen, jarring yang dipasang di pintu air, jala lempar, dan lampu penerang yang dilakukan dengan menurunkan volume air secara grafitasi dan dibantu pengeringan dengan pompa. Bersamaan dengan aktifitas tersebut juga dilakukan penangkapan udang dengan jala.

Sebaiknya panen dilakukan pada malam hari yang bertujuan untuk mengurangi resiko kerusakan mutu udang, karena udang hasil penen sangat peka terhadap sinar matahari. Udang hasil tangkapan juga harus dicuci kemudian direndam es, selanjutnya dibawa ke cold stroge. Dengan pola tradisional plus produksi udang vannamei 835 – 1050 kg/ha/musim tanam dengan sintasan 60-96%, ukuran panen antara 55-65 ekor/kg. Oleh : 1 Oleh : Darmawan Adiwidjaya& S upito PENDAHULUAN 1.i.Latar Belakang Usaha budidaya air payau di tambak berkembang sedemikian pesat dalam tiga dekade terakhir dengan memberikan konstribusi terhadap produksi perikanan di pasar internasional cukup tinggi.

Namun dari sekian negara yang memproduksi ikan/udang tersebut masih banyak para produsen yang masih kurang memeperhatikan kepada usaha budidaya berawawasan lingkungan dan keamanan pangan ( food rubber). Terkait dengan isu perusakan lingkungan dan ikan/udang hasil budidaya terdeteksi banyak mengandung residu beberapa jenis antibiotik yang melebihi batas ambang menjadikan permasalahan yang cukup merisaukan negara konsumen, terutama negara-negara maju seperti Uni Eropa, Every bit dan Jepang.

Sebagai contoh kasus penolakan udang Republic of indonesia sejak tahun 2006 – 2007 oleh negara Jepara sebanyak 23 kontainer dengan alasan mengandung residu antibiotik dan bakteri yang membahayakan manusia. Beberapa negara berkembang seperti Taiwan, Indonesia, Thailand, Ekuador, Meksiko, Bharat, Filipina, Republik Rakyat Communist china dan Vietnam merupakan pelaku dan pelopor dalam perkembangan budidaya air payau di dunia.

Walaupun bisnis ini telah memberikan banyak keuntungan dan manfaat yang signifikan, ternyata keberadaannya seringkali berkaitan dengan isu perusakan lingkungan, konflik kepentingan, isu penggunaan obat-oabatan, dan faktor sosial yang melibatkan berbagai unsur masyarakat (multi-sektoral). Dengan sederet masalah yang menyertai budidaya ikan/udang, pada akhirnya yang menyangsikan keberlanjutan usaha ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, insiden wabah penyakit pada beberapa komoditas air payau yang tidak kunjung selesai dengan tuntas, semakin memunculkan pertanyaan akan berlansungnya bisnis produksi ikan/udang di tambak.

Dari sudut konservasi sumber daya alam, pembukaan lahan mangrove untuk budidaya ikan/udang tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah ektensif (tradisional) dan semi-intensif telah membawa dampak hilangnya habitat alami benih ikan dan udang akibat alih fungsi (konversi) menjadi lahan-lahan tambak (Murdjani, dkk. 2005). Lesunya aktivitas dan usaha budidaya udang windu pada saat sekarang akibat menurunnya daya dukung lahan, menurunnya kualitas lingkungan dan sering terjadinya serangan penyakit (bercak putihβ€”WSSVβ€”SEMBV).

Para petambak banyak yang mengalami kegagalan panen secara optimal (panen premateur) akibat serangan penyakit secara massal dan cepat pada umur one-two bulan, dan akhirnya para petambak mengalami kerugian materi yang tidak sedikit. Secara umum lahan tambak yang masih aktif beropersional dan beproduksi pada saat sekarang berkisar antara twenty-thirty %. Dengan kondisi usaha budidaya udang seperti ini, banyak para petambak yang sementara waktu meninggalkan lahan tambaknya untuk tidak dioperasionalkan.

Dan pada akhirnya lahan-lahan yang berpotensi untuk kegiatan budidaya perairan di wilayah pesisir banyak yang tidak termanfaatkan secara optimal. Melihat tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah pada kondisi lahan di wilayah pesisir (air payau dengan mikroklimat pantai) yang tidak termanfaatkan untuk meningkatkan produktifitas tersebut, maka tidak dapat disangkal lagi bahwa potensi untuk dikembangan dengan cara dan teknik pengelolaan dan pengembangan untuk kegiatan usaha budidaya air payau sesuai dengan keragaman hayati dan daya dukung lahan sangatlah besar.

Namun perlu diketahui pula bahwa potensi untuk komoditas spesifik pada budidaya air payau yang akan dikembangkan dimasa datang berpeluang sangat besar. Pengembangan komoditas yang strategis dan cukup ekonomis untuk dibudidayakan di wilayah pesisir pada saat sekarang adalah sebagai berikut : ane) budidaya udang (windu, vaname, rostris dan udang putih lokal) rajungan di tambak; 2) budidaya ikan bandeng; three) budidaya rumput laut; iv) budidaya artemia; 5) budidaya kepiting; 6) budidaya kerang hijau; dan 7) budidaya komoditas lainnya.

β€’ Tendensi Permintaan Pasar Internsional Permintaan pasar internasional pada saat ini dan adanya kasus penolakan udang Indonesia oleh beberapa negara importir atas ditemukannya residu antibiotik dan mengandung bakteri berbahaya pada tubuh udang, maka kegiatan budidaya udang dituntut untuk menerapkan cara budidaya yang baik ( GAP β€” Practiced Aquaculture Practaces).

Penerapan GAP dan sistem mutu ( HCCPβ€” Hazard Analysis Critical Control Point) ini lebih menekankan kepada hasil produksi yang berkualitas dan keamanan pangan ( food rubber). Permintaan pasar seperti ini lebih menekankan kepada perlindungan terhadap keamanan pangan bagi kensumennya (aman dikonsumsi manusia). Terkait dengan hal tersebut, bahwa udang hasil budidaya dituntut untuk lebih aman dikonsumsi dan ramah lingkungan.

Pada saat sekarang, ada beberapa lembaga konsumen internasional menghendaki produksi udang yang dihasilkan dari tambak dipelihara secara organik ( o rganic aquaculture). Latar belakang budidaya sistem organik ini adalah budidaya yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Ada tiga komponen utama dalam budidaya udang organik antara lain, benih dan pakan yang dihasilkan secara organik, serta menerapkan bioremidiasi dalam pengelolaan lingkungan budidaya artinya tidak menggunakan bahan sintetis.

Alternatif untuk meningkatkan produkstivitas ikan/udang nasional yang berwawasan lingkungan dan aman dikonsumsi serta diterima oleh pasar intensional adalah dengan cara budidaya ikan yang baik (CBIB). Tingkatan teknologi budidaya yang diterapkan tidak menjadi ukuran dalam menghasilkan ikan/udang untuk diterima di pasar internsional. Dalm proses peningkatan produksi tambak ini akan dilihat dari cara penerapan budidaya yang baik dan benar.

Dengan potensi luas lahan tambak di Republic of indonesia, peluang untuk meningkatkan produksi udang nasional sangat memungkin, apabila didukung oleh cara budidaya udang yang baik (GAPβ€”>HACCP), penguatan modal, pembangunan infrastruktur dan pendampingan teknologi yang tepat. Persyaratan teknis seperti pemilihan dan penempatan lokasi kegiatan budidaya air payau harus disesuaikan dengan peruntukannya serta menjaga ekosistem secara lestari.

Sehingga dengan penerapan teknologi budidaya ikan/udang yang baik ini dapat berproduksi secara tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah, berkelanjutan dan aman dikonsumsi. β€’ Strategi Musim Tanam Permintaan pasar internasional terhadap komoditas hasil usaha perikanan budidaya di tambak terutama jenis udang dari tahun ke tahun terus meningkat.

Secara nasional komoditas ini merupakan program Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya untuk mensukseskan INBUDKAN (Revitalisasi Komoditas Budidaya Air Payau) dan untuk menunjang program ini diperlukan : 1) terobosan inovasi teknologi yang terus berkembang (inovasi baru) sesuai dengan perkembangan kondisi lingkungan; 2) penerapkan kaidah, aturan dan teknik budidaya udang yang tepat dan benar; 3) dukungan semua pihak terkait; dan 4) strategi musim tanam yang tepat sesuai kondisi musim di Indonesia.

Strategi musim tanam yang tepat dalam usaha komoditas budidaya di tambak, khususnya ikan/udang merupakan salah satu keberhasilan dalam produksi sampai mencapai tingkat yang optimal. Kegagalan panen (panen premateur) tersebut, selain akibat serangan penyakit yang bersifat massal dan mematikan disebabkan pula para petambak salah dalam memilih waktu tanam yang tepat.

Periode musim dalam satu tahun di Republic of indonesia dikenal dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Dimana periode musim penghujan berkisar antara bulan Oktober sampai dengan bulan Maret, sedangkan periode musim kemarau berkisar antara bulan April sampai dengan bulan September. Kaitannya dengan musim tanam ini, khususnya usaha budidaya udang diperlukan kecermatan untuk memprediksi peluang keberhasilan yang maksimal.

Dalam memprediksi musim tersebut, banyak yang harus dipertimbangkan dalam hal faktor-faktor yang bersifat menguntungkan dan merugikan dalam proses produksi budidaya air payau di tambak. Informasi ini diharapkan akan memberi gambaran secara umum tentang musim tanam yang tepat untuk kegiatan usaha komoditas budidaya di tambak dan yang terpenting disesuikan pula dengan kondisi daya dukung lahan, terutama untuk usaha beberapa jenis proses pembesaran udang di tambak.

β€’ Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari pengembangan budidaya air payau ini adalah sebagai berikut : β€’ meningkatkan produksi komoditas budidaya air payau secara optimal sesuai dengan kondisi teknis dan daya dukung lahan tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah carrying capacity) β€’ memanfaatkan komoditas ekenomis pada lahan air payau secara berkelanjutan tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah sustainable) β€’ untuk mendapatkan produksi dari budidaya air payau yang aman dikonsumsi ( food safety) β€’ membantu petambak agar mampu memprediksi musim tanam yang tepat dan mengetahui daya dukung sesuai dengan keadaan lahan yang akan digunakan untuk kegiatan usaha budidaya tambak II.

POTENSI WILAYAH AIR PAYAU DAN PENGEMBANGAN KOMODITAS Luas hamparan pesisir yang berpotensi untuk lahan budidaya air payau adalah ane.225.500 ha dengan total panjang pantai mencapai 81.000 km, sementara yang termanfaatkan baru mencapai 610.500 ha (Β± 50%), tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah peluang untuk pengembangan budidaya perairan kawasan air payau dari berbagai komoditas penting dan bernilai ekonomis masih sangat terbuka lebar.

Selain luas hamparan wilayah pesisir yang berpotensi, jangakauan (daerah) pasang surut air laut sebagai sumber air utama untuk kehidupan dan berkembangannya organisme perairan cukup memadai untuk dijadikan alternatif pengembangan usaha budidaya di wilayah perairan yang spesifik dan karakter lokasi. Bagi daerah pasang surut yang memenuhi standar dan persyaratan teknis minimal kemungkinan besar peruntukannya dapat dimaksimalkan untuk pengembangan dan pengelolaan usaha budidaya air payau.

Ini dapat diukur dan dilihat dari tinggi rendahnya pasang surut pada suatu lokasi secara periodik dan periode masa pasang (lamanya waktu air pasang). Dengan melihat faktor teknis lainnya seperti persyaratan kualitas lingkungan secara fisika, kimia dan biologis yang optimal. Hal lain dalah perlu adanya predisksi usim tanam yang tepat.

Musim di Indonesia terbagi dua periode, yaitu periode musim penghujan dan periode musim kemarau. Kedua musim ini secara langsung mempunyai mikroklimat yang berbeda, dalam hal ini mikroklimat tambak untuk kegiatan usaha budidaya. Kedua musim tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan bagi organisma (biota) air yang dibudidayakan.

Maka dengan kondisi demikian petambak secara cermat harus mewaspadai dan memilih waktu/musim tanam yang tepat sesuai komoditas budidaya tambak yang akan diusahakan. Jenis dan keragaman hayati wilayah perairan pesisir adalah merupakan bekal dan tolok ukur untuk dijadikan kawasan ini sebagai lahan usaha budidaya yang prospektif pula. Hal ini secara alamiah dan habitatnya mengindikasikan bahwa berbagai komoditas ekonomis (unggulan) yang akan dikembangkan di lokasi tersebut sudah merupakan komoditas spesifik dan tidak terlalu sulit untuk dibudidayakan dengan orientasi pada tingkat komersial dan menguntungkan bagi para pelaku usaha (pembudidaya).

Dengan adanya pengembangan dan pengelolaan wilayah pesisir untuk usaha budidaya secara spesifik lokal tersebut diharapkan masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah kawasan air payau dapat memperoleh dampak positifnya, yaitu dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya.

Komoditas yang dapat tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah dan dikelola di daerah wilayah pesisir pantai dengan jangkauan air payau adalah merupakan komoditas yang bernilai ekonomis penting. Tingkat pengelolaan dan pembudidayaannya dapat disesuaikan dengan lokasi dan potensi yang ada, termasuk keragaman hayatinya. Dalam hal ini BBPBAP Jepara telah banyak menghasilkan paket-paket teknologi yang dapat diterapkan dan dikembangkan oleh para petambak (pembudidaya) yang bergerak pada usaha dan kegiatannya di wilayah pesisir.

Namun demikian penyerapan teknologinya sangatlah lamban, hal ini adanya keterbatasan informasi dan penyerapan inovasi baru serta keterbatasan permodalan. Beberapa komoditas yang sudah dikembangkan dan dapat diterapakan oleh pembudidaya air payau adalah sebagai berikut : β€’ Budidaya udang (udang windu, rostris, vanamei, dan merguiensis) β€’ Budidaya Ikan Bandeng β€’ Budidaya Ikan Kakap Putih β€’ Budidaya Rajungan β€’ Budidaya Kepiting (penggemukan dan kulit lunak) β€’ Budidaya Rumput Laut ( Gracillaria sp dan Caulerpa sp) β€’ Nila Salin Iii.

PERSYARATAN BUDIDAYA AIR PAYAU DI WILAYAH PESISIR Wilayah pesisir adalah merupakan lokasi yang heterogen baik dari segi keragaman hayati maupun karakter lahannya (jenis tanah, dan lain sebagainya).

Ini sebetulnya merupakan peluang usaha dibidang budidaya perairan air payau dengan komoditas yang sesuai dengan spesifik lokal tersebut. Setiap komoditas yang akan dikembangkan dan dibudidayakan mempunyai persyaratan lokasi yang spesifik pula, baik ditinjau dari segi lahan (tanah) dan sumber air maupun dari segi daya dukung lahan lainnya, seperti bioindikator suatu perairan dan lingkungan hidupnya. Pemilihan lokasi untuk suatu pengembangan usaha budidaya air payau merupakan syarat utama yang secara teknis harus dipenuhi.

Hal ini sangat menjadi penting, karena dalam kegiatan usaha dibidang organisme perairan ini sangat dinamis dan beresiko tinggi. Dan lebih diutamakan lagi dari aspek penjagaan kondisi dan kualitas parameter lingkungan yang harus selalu sesuai dengan kebutuhan biologis komoditas yang dibudidayakan.

Maka dengan adanya usaha komditas budidaya perairan air payau ini perlu disesuaikan dengan daya dukung lahan dan tata ruang dari suatu hamparan, sehingga pada akhirnya dapat menjadikan kegitan usaha yang berkesinambungan dan ramah lingkungan. Beberapa lokasi/lahan di wilayah pesisir air payau mempunyai karakter dan kriteria yang berbeda, baik dari kondisi air maupun tanah. Secara umum kondisi wilayah pesisir hampir sama, sebagai contoh tercantum pada Tabel one. Tabel 1. Persyaratan kondisi umum wilayah pantai/pesisir untuk budidaya air payau Lokasi/Lahan Tanah Sumber Air Keterangan – Topografi landai, – Tekstur liat berpasir due south/d liat berdebu/lumpur, – Bahan organik 6-ten % – pH five-seven, – Kesuburan lahan kurang s/d subur, – Lahan terjangkau oleh pasang terendah, – Vegetasi semak s/d mangrove – Air payau (ada sumber air tawar/sungai), – Perairan pantai/sungai keruh s/d jernih, – Umumnya tercemar oleh limbah industri/pabrik/ pertanian/rumah tangga, – Salinitas 0-35 ppt, – Bahan organik 50-60 ppm, – Alkalinitas 80-120 ppm, – pH 7- 8,5, – Tingkat kesuburan air kurang south/d subur, – Terdapat jenis plankton yang menguntungkan dan yang merugikan.

Pemilihan lokasi untuk kegiatan usaha komoditas budidaya harus disesuaikan dengan daya dukung lahan dan keanekaragam an hayati. Dalam menentukan suatu lokasi/lahan yang akan dikembangkan untuk usaha budidaya air payau dapat mengacu kepada komoditas spesifik dalam hal kebutuhan biologis dan kebiasaan hidup ( life habits) dan kemudian sistem pembudidayaannya menyesuaikan.

Karena dalam kaidah budidaya perairan adalah komoditas budidaya yang dapat hidup, tumbuh, dan berkembang sesuai dengan target optimal, terkandung nilai berkesinambungan dan ramah lingkungan. Jenis komoditas budidaya perairan yang spesifik adalah sebagai berikut (Tabel 2), Tabel 2.

Spesifik lokasi dan air sumber yang dapat dikembangkan untuk budidaya air payau No Spesifik Lokasi dan Air Sumber Komoditas Yang Dikembangkan Keterangan one – Tanah liat berpasir s/d liat berdebu – Salinitas 0-25 ppt – Suhu air 28-31 C – Perairan jernih dan bebas pencemaran berat – Kesuburan tanah dan air cukup subur – Daerah pasut yang ideal – Mikroklimat pantai – Udang Windu – Ikan Bandeng – Ikan Nila – Udang Vaname – Musim tanam yang baik adalah antara bulan Oktober s/d Juni – Kondisi konstruksi sesuai kebutuhan biologis komoditas 2 – Persyaratan lainnya sama dengan udang windu, tetapi dapat dipelihara pada salinitas > 25 ppt dan suhu air 24-31,v C – Daerah pasut yang ideal – Mikroklimat pantai – Udang putih lokal (meguiensis dan indicus) – Udang putih introduksi (rostris dan vanamei) – Artemia – Dapat dipelihara pada musim kemarau dan suhu dingin (musim bediding) dan sebagai sistem pola tanam.

– Artemia dibudidayakan pada tambak garam (salinitas > 100 ppt). 3 – Tanah liat berpasir, mencapi 40 % pasir dan tanah liat berdebu/ berlumpur – Perairan jernih dan subur – Salinitas 25-35 ppt – Suhu air 25-32 C – Mikroklimat pantai – Rajungan – Ikan Kerapu – Ikan Kakap – Rumput Laut – Kerang Hijau Lokasi tidak terlalu jauh dengan pantai. 4 – Tanah liat berpasir, mencapi forty % pasir dan tanah liat berdebu/ berlumpur – Perairan tidak terlalu jernih, tetapi subur – Suhu air 25-32 C – Salinitas 15-35 ppt – Mikroklimat pantai – Kepiting Bakau – Rajungan – Ikan Bandeng – Kerang Hijau – Rumput Laut Lokasi di daerah sekitar hutan bakau (mangrove).

Iv. DAMPAK BEBERAPA PARAMETER KUNCI PADA PERIODE MUSIM TERHADAP USAHA KOMODITAS BUDIDAYA DI TAMBAK 4.1. Salinitas Setiap organisme (biota) air laut dan payau mempunyai toleransi yang berbeda terhadap kandungan salinitas (kadar garam).

Untuk tumbuh dan berkembangnya organisme yang dibudidayakan tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah toleransi optimal. Kandungan salinitas air terdiri dari garam-garam mineral yang banyak manfaatnya untuk kehidupan organisme air laut atau payau.

Sebagai contoh kandungan calcium yang ada berfungsi untuk membantu mempercepat pengerasan kulit udang setelah moulting. Salinitas air media pemeliharaan yang tinggi (> 30 pptβ€”umumnya musim kemarau) kurang begitu menguntungkan untuk kegiatan budidaya udang windu. Karena jenis udang windu akan lebih cocok untuk pertumbuhan optimalnya berkisar antara 0-25 ppt.

Namun untuk komoditas lainnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan proses metabolisme yang optimal dan kebutuhan bilogis lainnya, contoh ikan kerapu, kakap putih, artemia, rumput laut, kerang hijau dapat tumbuh baik pada salinitas tinggi (> 25 ppt). Terlalu tingginya salinitas untuk kegiatan usaha budidaya udang windu atau jenis udang lainnya akan banyak efek yang kurang menguntungkan, diantaranya : 1) agak sulit untuk ganti kulit (kulit cenderung keras) pada saat proses biologis bagi pertumbuhan dan perkembangan; two) kebutuhan untuk beradaptasi terhadap salinitas tinggi bagi jenis udang memerlukan energi (kalori) yang melebihi dari nutrisi yang diberikan; 3) bakteri atau vibrio cenderung tinggi; 4) ikan/udang pada umunya lebih sensitif terhadap goncangan parameter kualitas air yang lainnya dan mudah stres; dan 5) jenis udang umumnya sering mengalami lumutan.

Selain itu, pada saat puncak musim kemarau jenis udang umumnya akan lebih mudah terserang oleh penyakit yang disebabkan oleh virus. 4.2.Suhu air Suhu pada air media pemeliharaan ikan/udang pada umumnya sangat berperan dalam hal keterkaitan dengan nafsu makan dan proses metabolisme ikan/udang.

Apabila suatu lokasi tambak yang mikroklimatnya berfluktuatif secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap air media pemeliharaan pada komoditas yang dibudidayakan. Sebagai contoh pada musim kemarau yang puncaknya mulai bulan Juli hingga September sering terjadi adanya suhu udara dan air media pemeliharaan udang yang sangat rendah (bisa mencapai 22 oC).

Rendahnya suhu tersebut akibat dari pengaruh angin selatan dari Australia (musim bediding), pada musim seperti ini biasanya suhu air berkisar antara 22-26 oC. Pada suhu kurang dari 26 oC bagi udang windu dan vaname akan sangat berpengaruh terhadap nafsu makan (bisa berkurang tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah % dari kondisi normal).

Sedangkan bagi jenis komoditas lain pada umumnya nafsu makan masih normal pada suhu air antara 26-31 oC. Musim penghujan umumnya suhu air lebih stabil (optimal), yaitu 27-xxx,five oC. Pada kondisi puncak musim kemarau sering diikuti tingginya salinitas air tambak (akibat penguapan tinggi), terlebih bagi tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah tambak yang tidak ada sumber air tawar atau tidak terjangkau oleh pasang surut yang optimal.

Dengan kondisi suhu air yang tidak tepat dan salinitas tinggi akan membawa dampak terhadap beberapa komoditas yang dipelihara dan organisme mudah stres/lemah, yang akhirnya pertumbuhan terhambat dan akan mudah terserang oleh penyakit.

Pada kondisi suhu yang ekstrim (tidak optimal) umumnya sering terjadi kemelimpahan bakteri dan vibrio yang berlebihan (diatas ambang). 4.3. Tingkat kekeruhan air Tingkat kekeruhan air, baik air sumber maupun air media pemeliharaan mempunyai dampak yang positif dan negatif terhadap organisme yang dibudidayakan, dan setiap organisme mempunyai toleransi tingkat kekeruhan yang berbeda pula. Sebagai contoh bagi jenis kerang hijau masih dapat hidup normal dan tumbuh baik pada tingkat kekeruhan yang tinggi, sementara rumput laut pada umumnya memerlukan tingkat kekeruhan yang rendah.

Sementara untuk jenis udang pada umumnya sangat sensitif terhadap tingkat kekeruhan yang tinggi (bahan organik).

Karena pada tingkat kekeruhan yang tinggi yang diakibatkan oleh organik mentah akan mengganggu pernafasan udang peliharaan dan penumupukan bahan organik pada petak tambak berlebihan (terjadi pembusukan). Bahan organik yang menumpuk dalam jumlah yang banyak (tebal) merupakan tempat bersarangnya bakteri dan vibrio yang merugikan bagi udang. Sealin itu, bahan organik yang berlebihan akan mengeluarkan gas-gas beracun pada saat proses dekomposisi (pembusukan).

Bila air sumber yang digunakan untuk kegiatan budidaya banyak membawa material organik akibat limbah kiriman dari darat, maka secara tidak langsung akan berpengaruh negatif terhadap biota air yang dipelihara di tambak. Tingkat kekeruhan yang tinggi (limbah dari darat) sering terjadi pada musim penghujan, dimana material yang terbawa berupa cair, padat dan gas.

Namun untuk mengendalikan air keruh akibat limbah bawaan tersebut masih dapat digunakan untuk kegiatan budidaya komoditas ekonomis lainnya di tambak. Dalam menangani kekeruhan air sumber dapat dilakukan dengan cara menampung air terlebih dahulu pada petak tandon, dengan tujuan untuk proses pengendapan dari partikel lumpur/kotoran dan menetralisir bahan yang bersifat gas.

Hal ini dianggap tepat karena budidaya udang pada saat sekarang sudah banyak yang menerapkan sistem tertutup, dimana pada satu unit tambak terdapat beberapa petak tandon dan petak endapan. Proses pengendapan dan untuk menetralisir pada petak tandon dapat menggunakan bahan kimia resiko rendah dan berbagai jenis organisme bioscreen (biofilter). Jenis biofilter yang digunakan pada unit tambak dapat berupa komoditas yang bernilai ekonomis, dengan harapan dapat memberikan nilai tambah pada kegiatan budidaya air payau di tambak.

four.4. Jenis dan kemelimpahan plankton Keberadaan plankton dalam air media pemeliharaan organisme, khususnya jenis fitoplankton yang menguntungkan dan persentase dominansi (keseimbangan) sangatlah dibutuhkan, baik dari segi keanekaragaman maupun kemelimpahannya. Fungsi dan peran plankton pada air media pemeliharaan diantaranya adalah : i) sebagai pakan alami untuk pertumbuhan organisme yang dipelihara; two) sebagai Penyangga (buffer) terhadap intensitas cahaya matahari; dan 3) sebagai bio-indikator kestabilan lingkungan air media pemeliharaan.

Kaitannya dengan kedua musim yang ada ini, keanekaragaman (jenis) maupun kemelimpahan plankton akan sangat berbeda antara musim kemarau dan musim penghujan. Pada musim kemarau yang salinitasnya relatif tinggi (>35 ppt) penumbuhan plankton pada saat persiapan air media hingga umur pemeliharaan satu bulan pada umumnya sangat sulit untuk tumbuh dalam kondisi populasi yang stabil.

Sebetulnya keuntungan pada musim kemarau adalah sinar matahari yang penuh untuk proses fotosintesa dari plankton tersebut, namun ada kesulitan untuk mempertahankan kemelimpahan yang stabil, hal ini diakibatkan oleh serangan nyamuk (cacing) cyronomid. Akibat serangan nyamuk cyronomid ini, air media pemeliharaan menjadi jernih dan akhirnya diikuti oleh tumbuhnya lumut yang melimpah.

Sedangkan pada musim penghujan mempunyai kelebihan salinitas yang relatif optimal untuk perkembangan jenis plankton tertentu yang lebih stabil, walaupun sinar matahari tidak normal penuh intensitasnya untuk proses fotosintesa plankton, tetapi serangan nyamuk cyronomid terhadap air media dapat dikatakan tidak ada.

Pada peralihan musim dari kemarau ke penghujan dan sebaliknya biasanya kondisi perairan, baik air sumber maupun air media pemeliharaan di tambak sering terjadi adanya kemelimpahan jenis plankton yang beracun, seperti dari jenis plankton Dinoplagellata sp.

Jenis plankton ini cukup membahayakan bagi kehidupan udang yang dipelihara.

tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah

Karena cairan atau plankton yang mati umumnya beracun (toksik), dan toksiknya dapat mematikan udang atau organisme air lainnya. 4.five. Kemelimpahan bakteri, vibrio dan virus Pada musim kemarau sering terjadi kasus red tide akibat up willing air laut, yaitu jenis plankton merah yang cukup membahayakan bagi organisme perairan. Apabila kejadian ini terbawa arus laut yang kuat dan ikut dengan air pasang ke daratan (surface area tambak) harus diwaspadai oleh semua petambak. Kondisi air seperti ini sering terjadi kemelimpahan bakteri dan vibrio yang membahayakan terhadap komoditas yang dipelihara di tambak (khususnya jenis udang).

Apabila tingkat kemelimpahan bakteri dan vibrio yang membahayakan ini melebihi batas ambang (pada air media > 10 3 dan pada tubuh udang x 2), maka udang yang dipelihara akan terlihat tanda sebagai berikut : nafsu makan menurun, gerakan udang tidak lincah, pernafasan terganggu (insang kotor), kecenderungan udang banyak yang keropos, dan sering didapat udang yang mati akibat keropos dan berlumut.

Kemelimpahan berbagai jenis virus pada musim kemarau akan lebih membahayakan bagi organisme (khususnya jenis udang) yang dipelihara bila dibandingkan pada musim penghujan. Hal ini diduga bahwa kondisi jenis udang pada umumnya kurang tahan terhadap serangan virus, khusunys jenis SEMBV (White Spot β€” WSSV) pada air media pemeliharaan yang salinitasnya tinggi (> thirty ppt).

Pada salinitas tinggi, penampakan secara visual di lapangan lebih sulit untuk dilihat dan diketahui secara pasti terserang oleh jenis virus atau bukan. Bahkan jenis udang windu khususnya secara mendadak minggir ketepi pematang beberapa saat, dan kemudian mati dalam kondisi segar.

Kasus ini biasanya cenderung terserang oleh jenis virus SEMBV yang ditandai dengan serangan yang cepat dan massal dalam waktu tidak lebih dari ii – 3 hari udang sudah mati secara total. Sedangkan pada musim penghujan (salinitas cukup optimal antara antara 5-25 ppt) kemelimpahan virus relatif berkurang. Hal yang pasti dari kasus ini adalah bahwa bukan tidak adanya virus yang berbahaya melainkan kondisi udang realtif lebih tahan terhadap serangan penyakit.

Namun tetap harus diwaspadai oleh petambak untuk lebih hati-hati dan ikuti aturan atau kaidah budidaya tambak yang benar serta berkesinambungan dan berawawasan lingkungan. Secara umum organisme air payau atau laut mempunyai daya tahan tubuh yang berbeda terhadap berbagai serangan penyakit. Namun begitu pula keberadaab bekteri, vibrio dan virus mempunyai daya kesesuaian yang cepat pada musim tertentu. Sehingga dalam pengembangan usaha komoditas air payau yang bernilai ekonomis harus menjadi selektif untuk mengatur strategi musim tanam.

Tabel 3. Jadual musim tanam beberapa komoditas budidaya air payau (tambak) No Komoditas Ekonomis B u l a n 1 2 iii 4 5 half dozen 7 eight ix 10 xi 12 one U. Windu 2 Tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah. Merguiensis/Indicus Chm17 xiii Mei 2019 Dilihat : 49084 Artikel Terkait: β€’ MONITORING DAN EVALUASI PELAKSANAAN KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK β€’ KAMPUNG NILA SALIN DESA JEPAT LOR KECAMATAN TAYU KABUPATEN PATI β€’ Maklumat Pelayanan β€’ Prosiding Pertemuan Teknis Teknisi Litkayasa Lingkup BBPBAP Jepara Tahun 2017 β€’ meningkatkan produksi komoditas budidaya air payau secara optimal sesuai dengan kondisi teknis dan daya dukung lahan ( carrying capacity) β€’ memanfaatkan komoditas ekenomis pada lahan air payau secara berkelanjutan ( sustainable) β€’ untuk mendapatkan produksi dari budidaya air payau yang aman dikonsumsi ( food prophylactic) β€’ membantu petambak agar mampu memprediksi musim tanam yang tepat dan mengetahui daya dukung sesuai dengan keadaan lahan yang akan digunakan untuk kegiatan usaha budidaya tambak II.

POTENSI WILAYAH AIR PAYAU DAN PENGEMBANGAN KOMODITAS Luas hamparan pesisir yang berpotensi untuk lahan budidaya air payau adalah 1.225.500 ha dengan total panjang pantai mencapai 81.000 km, sementara yang termanfaatkan baru mencapai 610.500 ha (Β± 50%), sehingga peluang untuk pengembangan budidaya perairan kawasan air payau dari berbagai komoditas penting tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah bernilai ekonomis masih sangat terbuka lebar.

Selain luas hamparan wilayah pesisir yang berpotensi, jangakauan (daerah) pasang surut air laut sebagai sumber air utama untuk kehidupan dan berkembangannya organisme perairan cukup memadai untuk dijadikan alternatif pengembangan usaha budidaya di wilayah perairan yang spesifik dan karakter lokasi.

Bagi daerah pasang surut yang memenuhi standar dan persyaratan teknis minimal kemungkinan besar peruntukannya dapat dimaksimalkan untuk pengembangan dan pengelolaan usaha budidaya air payau. Ini dapat diukur dan dilihat dari tinggi rendahnya pasang surut pada suatu lokasi secara periodik dan periode masa pasang (lamanya waktu air pasang). Dengan melihat faktor teknis lainnya seperti persyaratan kualitas lingkungan secara fisika, kimia dan biologis yang optimal. Hal lain dalah perlu adanya predisksi usim tanam yang tepat.

Musim di Republic of indonesia terbagi dua periode, yaitu periode musim penghujan dan periode musim kemarau. Kedua musim ini secara langsung mempunyai mikroklimat yang berbeda, dalam hal ini mikroklimat tambak untuk kegiatan usaha budidaya. Kedua musim tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan bagi organisma (biota) air yang dibudidayakan.

Maka dengan kondisi demikian petambak secara cermat harus mewaspadai dan memilih waktu/musim tanam yang tepat sesuai komoditas budidaya tambak yang akan diusahakan. Jenis dan keragaman hayati wilayah perairan pesisir adalah merupakan bekal dan tolok ukur untuk dijadikan kawasan ini sebagai lahan usaha budidaya yang prospektif pula.

Hal ini secara alamiah dan habitatnya mengindikasikan bahwa berbagai komoditas ekonomis (unggulan) yang akan dikembangkan di lokasi tersebut sudah merupakan komoditas spesifik dan tidak terlalu sulit untuk dibudidayakan dengan orientasi pada tingkat komersial dan menguntungkan bagi para pelaku usaha (pembudidaya). Dengan adanya pengembangan dan pengelolaan wilayah pesisir untuk usaha budidaya secara spesifik lokal tersebut diharapkan masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir dan kawasan air payau dapat memperoleh dampak positifnya, yaitu dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya.

Komoditas yang dapat dikembangan dan dikelola di daerah wilayah pesisir pantai dengan jangkauan air payau tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah merupakan komoditas yang bernilai ekonomis penting.

tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah

Tingkat pengelolaan dan pembudidayaannya dapat disesuaikan dengan lokasi dan potensi yang ada, termasuk keragaman hayatinya. Dalam hal ini BBPBAP Jepara telah banyak menghasilkan paket-paket teknologi yang dapat diterapkan dan dikembangkan oleh para petambak (pembudidaya) yang bergerak pada usaha dan kegiatannya di wilayah pesisir. Namun demikian penyerapan teknologinya sangatlah lamban, hal ini adanya keterbatasan informasi dan penyerapan inovasi baru serta keterbatasan permodalan.

Beberapa komoditas yang sudah dikembangkan dan dapat diterapakan oleh pembudidaya air payau adalah sebagai berikut : β€’ Budidaya udang (udang windu, rostris, vanamei, dan merguiensis) β€’ Budidaya Ikan Bandeng β€’ Budidaya Ikan Kakap Putih β€’ Budidaya Rajungan β€’ Budidaya Kepiting (penggemukan dan kulit lunak) β€’ Budidaya Rumput Laut ( Gracillaria sp dan Caulerpa sp) β€’ Nila Salin III.

PERSYARATAN BUDIDAYA AIR PAYAU DI WILAYAH PESISIR Wilayah pesisir adalah merupakan lokasi yang heterogen baik dari segi keragaman hayati maupun karakter lahannya (jenis tanah, dan lain sebagainya). Ini sebetulnya merupakan peluang usaha dibidang budidaya perairan air payau dengan komoditas yang sesuai dengan spesifik lokal tersebut. Setiap komoditas yang akan dikembangkan dan dibudidayakan mempunyai persyaratan lokasi yang spesifik pula, baik ditinjau dari segi lahan (tanah) dan sumber air maupun dari segi daya dukung lahan lainnya, seperti bioindikator suatu perairan dan lingkungan hidupnya.

Pemilihan lokasi untuk suatu pengembangan usaha budidaya air payau merupakan syarat utama yang secara teknis harus dipenuhi.

Hal ini sangat menjadi penting, karena dalam kegiatan usaha dibidang organisme perairan ini sangat dinamis dan beresiko tinggi. Dan lebih diutamakan lagi dari aspek penjagaan kondisi dan kualitas parameter lingkungan yang harus selalu sesuai dengan kebutuhan biologis komoditas yang dibudidayakan.

Maka dengan adanya usaha komditas budidaya perairan air payau ini perlu disesuaikan dengan daya dukung lahan dan tata ruang dari suatu tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah, sehingga pada akhirnya dapat menjadikan kegitan usaha yang berkesinambungan dan ramah lingkungan. Beberapa lokasi/lahan di wilayah pesisir air payau mempunyai karakter dan kriteria yang berbeda, baik dari kondisi air maupun tanah.

Secara umum kondisi wilayah pesisir hampir sama, sebagai contoh tercantum pada Tabel 1. Tabel 1. Persyaratan kondisi umum wilayah pantai/pesisir untuk budidaya air payau Lokasi/Lahan Tanah Sumber Air Keterangan - Topografi landai, - Tekstur liat berpasir s/d liat berdebu/lumpur, - Bahan organik half dozen-10 % - pH five-7, - Kesuburan lahan kurang s/d subur, - Lahan terjangkau oleh pasang terendah, - Vegetasi semak due south/d mangrove - Air payau (ada sumber air tawar/sungai), - Perairan pantai/sungai keruh s/d jernih, - Umumnya tercemar oleh limbah industri/pabrik/ pertanian/rumah tangga, - Salinitas 0-35 ppt, - Bahan organik 50-60 ppm, - Alkalinitas 80-120 ppm, - pH seven- 8,5, - Tingkat kesuburan air kurang s/d subur, - Terdapat jenis plankton yang menguntungkan dan yang merugikan.

Pemilihan lokasi untuk kegiatan usaha komoditas budidaya harus disesuaikan dengan daya dukung lahan dan keanekaragam an hayati. Dalam menentukan suatu lokasi/lahan yang akan dikembangkan untuk usaha budidaya air payau dapat mengacu kepada komoditas spesifik dalam hal kebutuhan biologis dan kebiasaan hidup ( life habits) dan kemudian sistem pembudidayaannya menyesuaikan.

Karena dalam kaidah budidaya perairan adalah komoditas budidaya yang dapat hidup, tumbuh, dan berkembang sesuai dengan target optimal, terkandung nilai berkesinambungan dan ramah lingkungan. Jenis komoditas budidaya perairan yang spesifik adalah sebagai berikut (Tabel ii), Tabel 2. Spesifik lokasi dan air sumber yang dapat dikembangkan untuk budidaya air payau No Spesifik Lokasi dan Air Sumber Komoditas Yang Dikembangkan Keterangan one - Tanah liat berpasir southward/d liat berdebu - Salinitas 0-25 ppt - Suhu air 28-31 C - Perairan jernih dan bebas pencemaran berat - Kesuburan tanah dan air cukup subur - Daerah pasut yang ideal tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah Mikroklimat pantai - Udang Windu - Ikan Bandeng - Ikan Nila - Udang Vaname - Musim tanam yang baik adalah antara bulan Oktober s/d Juni - Kondisi konstruksi sesuai kebutuhan biologis komoditas 2 - Persyaratan lainnya sama dengan udang windu, tetapi dapat dipelihara pada salinitas > 25 ppt dan suhu air 24-31,5 C - Daerah pasut yang ideal - Mikroklimat pantai - Udang putih lokal (meguiensis dan indicus) - Udang putih introduksi (rostris dan vanamei) - Artemia - Dapat dipelihara pada musim kemarau dan suhu dingin (musim bediding) dan sebagai sistem pola tanam.

- Artemia dibudidayakan pada tambak garam (salinitas > 100 ppt). three - Tanah liat berpasir, mencapi 40 % pasir dan tanah liat berdebu/ berlumpur - Perairan jernih dan subur - Salinitas 25-35 ppt - Suhu air 25-32 C - Mikroklimat pantai - Rajungan - Ikan Kerapu - Ikan Kakap - Rumput Laut - Kerang Hijau Lokasi tidak terlalu jauh dengan pantai.

4 - Tanah liat berpasir, mencapi twoscore % pasir dan tanah liat berdebu/ berlumpur - Perairan tidak terlalu jernih, tetapi subur - Suhu air 25-32 C - Salinitas 15-35 ppt - Mikroklimat pantai - Kepiting Bakau - Rajungan - Ikan Bandeng - Kerang Hijau - Rumput Laut Lokasi di daerah sekitar hutan bakau (mangrove).

IV. DAMPAK BEBERAPA PARAMETER KUNCI PADA PERIODE MUSIM TERHADAP USAHA KOMODITAS BUDIDAYA DI TAMBAK four.1. Salinitas Setiap organisme (biota) air laut dan payau mempunyai toleransi yang berbeda terhadap kandungan salinitas (kadar garam). Untuk tumbuh dan berkembangnya organisme yang dibudidayakan mempunyai toleransi optimal.

Kandungan salinitas air terdiri dari garam-garam mineral yang banyak manfaatnya untuk kehidupan organisme air laut atau payau. Sebagai contoh kandungan calcium yang ada berfungsi untuk membantu mempercepat pengerasan kulit udang setelah moulting. Salinitas air media pemeliharaan yang tinggi (> thirty ppt---umumnya musim kemarau) kurang begitu menguntungkan untuk kegiatan budidaya udang windu. Karena jenis udang windu akan lebih cocok untuk pertumbuhan optimalnya berkisar antara 0-25 ppt.

Namun untuk komoditas lainnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan proses metabolisme yang optimal dan kebutuhan bilogis lainnya, contoh ikan kerapu, kakap putih, artemia, rumput laut, kerang hijau dapat tumbuh baik pada salinitas tinggi (> 25 ppt).

Terlalu tingginya salinitas untuk kegiatan usaha budidaya udang windu atau jenis udang lainnya akan banyak efek yang kurang menguntungkan, diantaranya : 1) agak sulit untuk ganti kulit (kulit cenderung keras) pada saat proses biologis bagi pertumbuhan dan perkembangan; two) kebutuhan untuk beradaptasi terhadap salinitas tinggi bagi jenis udang memerlukan energi (kalori) yang melebihi dari nutrisi yang tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah 3) bakteri atau vibrio cenderung tinggi; iv) ikan/udang pada umunya lebih sensitif terhadap goncangan parameter kualitas air yang lainnya dan mudah stres; dan 5) jenis udang umumnya sering mengalami lumutan.

Selain itu, pada saat puncak musim kemarau jenis udang umumnya akan lebih mudah terserang oleh penyakit yang disebabkan oleh virus. four.2.Suhu air Suhu pada air media pemeliharaan ikan/udang pada umumnya sangat berperan dalam hal keterkaitan dengan nafsu makan dan proses metabolisme ikan/udang. Apabila suatu lokasi tambak yang mikroklimatnya berfluktuatif secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap air media pemeliharaan pada komoditas yang dibudidayakan.

Sebagai contoh pada musim kemarau yang puncaknya mulai bulan Juli hingga September sering terjadi adanya suhu udara dan air media pemeliharaan udang yang sangat rendah (bisa mencapai 22 oC). Rendahnya suhu tersebut akibat dari pengaruh angin selatan dari Australia (musim bediding), pada musim seperti ini biasanya suhu air berkisar antara 22-26 oC. Pada suhu kurang dari 26 oC bagi udang windu dan vaname akan sangat berpengaruh terhadap nafsu makan (bisa berkurang l % dari kondisi normal).

Sedangkan bagi jenis komoditas lain pada umumnya nafsu makan masih normal pada suhu air antara 26-31 oC. Musim penghujan umumnya suhu air lebih stabil (optimal), yaitu 27-xxx,5 oC. Pada kondisi puncak musim kemarau sering diikuti tingginya salinitas air tambak (akibat penguapan tinggi), terlebih bagi daerah/lokasi tambak yang tidak ada sumber air tawar atau tidak terjangkau oleh pasang surut yang optimal. Dengan kondisi suhu air yang tidak tepat dan salinitas tinggi akan membawa dampak terhadap beberapa komoditas yang dipelihara dan organisme mudah stres/lemah, yang akhirnya pertumbuhan terhambat dan akan mudah terserang oleh penyakit.

Pada kondisi suhu yang tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah (tidak optimal) umumnya sering terjadi kemelimpahan bakteri dan vibrio yang berlebihan (diatas ambang).

4.three. Tingkat kekeruhan air Tingkat kekeruhan air, baik air sumber maupun air media pemeliharaan mempunyai dampak yang positif dan negatif terhadap organisme yang dibudidayakan, dan setiap organisme mempunyai toleransi tingkat kekeruhan yang berbeda pula. Sebagai contoh bagi jenis kerang hijau masih dapat hidup normal dan tumbuh baik pada tingkat kekeruhan yang tinggi, sementara rumput laut pada umumnya memerlukan tingkat kekeruhan yang rendah.

Sementara untuk jenis udang pada umumnya sangat sensitif terhadap tingkat kekeruhan yang tinggi (bahan organik). Karena pada tingkat kekeruhan yang tinggi yang diakibatkan oleh organik mentah akan mengganggu pernafasan udang peliharaan dan penumupukan bahan organik pada petak tambak berlebihan (terjadi pembusukan).

Bahan organik yang menumpuk dalam jumlah yang banyak (tebal) merupakan tempat bersarangnya bakteri dan vibrio yang merugikan bagi udang. Sealin itu, bahan organik yang berlebihan akan mengeluarkan gas-gas beracun pada saat proses dekomposisi (pembusukan). Bila air sumber yang digunakan untuk kegiatan budidaya banyak membawa material organik akibat limbah kiriman dari darat, maka secara tidak langsung akan berpengaruh negatif terhadap biota air yang dipelihara di tambak.

Tingkat kekeruhan yang tinggi (limbah dari darat) sering terjadi pada musim penghujan, dimana material yang terbawa berupa cair, padat dan gas. Namun untuk mengendalikan air keruh akibat limbah bawaan tersebut masih dapat digunakan untuk kegiatan budidaya komoditas ekonomis lainnya di tambak.

tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah

Dalam menangani kekeruhan air sumber dapat dilakukan dengan cara menampung air terlebih dahulu pada petak tandon, dengan tujuan untuk proses pengendapan dari partikel lumpur/kotoran dan menetralisir bahan yang bersifat gas. Hal ini dianggap tepat karena budidaya udang pada saat sekarang sudah banyak yang menerapkan sistem tertutup, dimana pada satu unit tambak terdapat beberapa petak tandon dan petak endapan.

Proses pengendapan dan untuk menetralisir pada petak tandon dapat menggunakan bahan kimia resiko rendah dan berbagai jenis organisme bioscreen (biofilter). Jenis biofilter yang digunakan pada unit tambak dapat berupa komoditas yang bernilai ekonomis, dengan harapan dapat memberikan nilai tambah pada kegiatan budidaya air payau di tambak.

4.four. Jenis dan kemelimpahan plankton Keberadaan plankton dalam air media pemeliharaan organisme, khususnya jenis fitoplankton yang menguntungkan dan persentase dominansi (keseimbangan) sangatlah dibutuhkan, baik dari segi keanekaragaman maupun kemelimpahannya. Fungsi dan peran plankton pada air media pemeliharaan diantaranya adalah : 1) sebagai pakan alami untuk pertumbuhan organisme yang dipelihara; two) sebagai Penyangga (buffer) terhadap intensitas cahaya matahari; dan 3) sebagai bio-indikator kestabilan lingkungan air media pemeliharaan.

Kaitannya dengan kedua musim yang ada ini, keanekaragaman (jenis) maupun kemelimpahan plankton akan sangat berbeda antara musim kemarau dan musim penghujan.

tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah

Pada musim kemarau yang salinitasnya relatif tinggi (>35 ppt) penumbuhan plankton pada saat persiapan air media hingga umur pemeliharaan satu bulan pada umumnya sangat sulit untuk tumbuh dalam kondisi populasi yang stabil. Sebetulnya keuntungan pada musim kemarau adalah sinar matahari yang penuh untuk proses fotosintesa dari plankton tersebut, namun ada kesulitan untuk mempertahankan kemelimpahan yang stabil, hal ini diakibatkan oleh serangan nyamuk (cacing) cyronomid. Akibat serangan nyamuk cyronomid ini, air media pemeliharaan menjadi jernih dan akhirnya diikuti oleh tumbuhnya lumut yang melimpah.

Sedangkan pada musim penghujan mempunyai kelebihan salinitas yang relatif optimal untuk perkembangan jenis plankton tertentu yang lebih stabil, walaupun sinar matahari tidak normal penuh intensitasnya untuk proses fotosintesa plankton, tetapi serangan nyamuk cyronomid terhadap air media dapat dikatakan tidak ada. Pada peralihan musim dari kemarau ke penghujan dan sebaliknya biasanya kondisi perairan, baik air sumber maupun air media pemeliharaan di tambak sering terjadi adanya kemelimpahan jenis plankton yang beracun, seperti dari jenis plankton Dinoplagellata sp.

Jenis plankton ini cukup membahayakan bagi kehidupan udang yang dipelihara. Karena cairan atau plankton yang mati umumnya beracun (toksik), dan toksiknya dapat mematikan udang atau organisme air lainnya. 4.5. Kemelimpahan bakteri, vibrio dan virus Pada musim kemarau sering terjadi kasus red tide akibat upwardly willing air laut, yaitu jenis plankton merah yang cukup membahayakan bagi organisme perairan. Apabila kejadian ini terbawa arus laut yang kuat dan ikut dengan air pasang ke daratan (expanse tambak) harus diwaspadai oleh semua petambak.

Kondisi air seperti ini sering terjadi kemelimpahan bakteri dan vibrio yang tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah terhadap komoditas yang dipelihara di tambak (khususnya jenis udang). Apabila tingkat kemelimpahan bakteri dan vibrio yang membahayakan ini melebihi batas ambang (pada air media > 10 3 dan pada tubuh udang 10 2), maka udang yang dipelihara akan terlihat tanda sebagai berikut : nafsu makan menurun, gerakan udang tidak lincah, pernafasan terganggu (insang kotor), kecenderungan udang banyak yang keropos, dan sering didapat udang yang mati akibat keropos dan berlumut.

Kemelimpahan berbagai jenis virus pada musim kemarau akan lebih membahayakan bagi organisme (khususnya jenis udang) yang dipelihara bila dibandingkan pada musim penghujan. Hal ini diduga bahwa kondisi jenis udang pada umumnya kurang tahan terhadap serangan virus, khusunys jenis SEMBV (White Spot -- WSSV) pada air media pemeliharaan yang salinitasnya tinggi (> thirty ppt).

Pada salinitas tinggi, penampakan secara visual di lapangan lebih sulit untuk dilihat dan diketahui secara pasti terserang oleh jenis virus atau bukan. Bahkan jenis udang windu khususnya secara mendadak minggir ketepi pematang beberapa saat, dan kemudian mati dalam kondisi segar.

tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah

Kasus ini biasanya tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah terserang oleh jenis virus SEMBV yang ditandai dengan serangan yang cepat dan massal dalam waktu tidak lebih dari 2 – iii hari udang sudah mati secara full. Sedangkan pada musim penghujan (salinitas cukup optimal antara antara five-25 ppt) kemelimpahan virus relatif berkurang.

Hal yang pasti dari kasus ini adalah bahwa bukan tidak adanya virus yang berbahaya melainkan kondisi udang realtif lebih tahan terhadap serangan penyakit. Namun tetap harus diwaspadai oleh petambak untuk lebih hati-hati dan ikuti aturan atau kaidah budidaya tambak yang benar serta berkesinambungan dan berawawasan lingkungan. Secara umum organisme air payau atau laut mempunyai daya tahan tubuh yang berbeda terhadap berbagai serangan penyakit. Namun begitu pula keberadaab bekteri, vibrio dan virus mempunyai daya kesesuaian yang cepat pada musim tertentu.

Sehingga dalam pengembangan usaha komoditas air payau yang bernilai ekonomis harus menjadi selektif untuk mengatur strategi musim tanam. Tabel 3. Jadual musim tanam beberapa komoditas budidaya air payau (tambak) No Komoditas Ekonomis B u l a n 1 2 3 four 5 6 7 8 9 10 11 12 1 U.

Windu 2 U. Merguiensis/Indicus Terbaru β€’ Cara Melihat Nomor Hp Orang Di Messenger β€’ Jenis Sarana Dan Peralatan Budidaya Ternak Kesayangan β€’ Cara Mengukur Penggaris Dari 0 Atau 1 β€’ Cara Membuat Pistol Mainan Dari Botol Bekas β€’ Jurnal Tesis Aplikasi Recording Andriod Peternakan β€’ Cara Menggendong Bayi 2 Bulan Dengan Selendang β€’ Sistem Kemitraan Pada Perusahaan Peternakan Ruminansia β€’ Cara Pasang Elcb 3 Phase Yang Benar β€’ Cara Membuat Lamaran Kerja via Email Pdf Di Hp Kategori β€’ Aplikasi β€’ Berkebun β€’ Bisnis β€’ Budidaya β€’ Cara β€’ News β€’ Pelajaran β€’ Serba-serbi β€’ SIM Keliling β€’ Soal β€’ Ternak β€’ Uncategorized
Belajar Tentang 5 Daerah Penghasil Udang Dunia industri tambak udang berkembang cukup baik di Indonesia.

Dimulai dari tahun 2000-an industri ini mulai maju hingga sekarang, bisnis tambak udang tersebar di seluruh nusantara. Tapi, tahukah Anda, daerah-daerah mana saja yang menjadi sumber penghasil atau produsen udang terbesar di Indonesia? Yuk, temukan penjelasannya berikut ini. B udidaya udang merupakan suatu usaha budidaya perairan yang terkait dengan pemeliharaan udang sejak penetasan telur hingga siap dipanen untuk konsumsi manusia.

Udang yang dibudidayakan dapat berupa udang air tawar maupun air laut, Kemudian jenis udang yang potensial untuk dibudidayakan dalam tambak adalah udang windu ( Penaeus monodon) dan udang vannamei ( Litopenaeus vannamei).

Sekitar 75 persen udang yang dikonsumsi di seluruh dunia dihasilkan di Asia, dan 25 persen dihasilkan di Amerika Selatan. Dan China merupakan produsen terbesar udang air tawar untuk seluruh dunia tahun 2010. Sedangkan di Indonesia sendiri daerah penghasil udang yang terbesar ada di kawasan Pantura dan Jawa Barat. Di posisi berikutnya daerah Nusa Tenggara Barat menjadi penghasil udang terbesar setelah Jabar, dengan menghasilkan kurang lebih 103.000 ton udang per tahun.

Lalu ada daerah Jawa Timur yang juga menjadi penghasil udang, disusul daerah Sumatera Selatan dan Lampung. β€’ Informasi lebih lanjut tentang produk-produk PT. Mutiaracahaya Plastindo, bisa didapatkan lewat menghubungi kami disini. none
5 Daerah Penghasil Udang di Indonesia Dunia industri tambak udang berkembang cukup baik di Indonesia. Dimulai dari tahun 2000-an industri ini mulai maju hingga sekarang, bisnis tambak udang tersebar di seluruh nusantara. Tapi, tahukah Anda, daerah-daerah mana saja yang menjadi sumber penghasil atau produsen udang terbesar di Indonesia?

Yuk, temukan penjelasannya berikut ini. B udidaya udang merupakan suatu usaha budidaya perairan yang terkait dengan pemeliharaan udang sejak penetasan telur hingga siap dipanen untuk konsumsi manusia. Udang yang dibudidayakan dapat berupa udang air tawar maupun air laut, Kemudian jenis udang yang potensial untuk dibudidayakan dalam tambak adalah udang windu ( Penaeus monodon) dan udang vannamei ( Litopenaeus vannamei).

β€’ Sekitar 75 persen udang yang dikonsumsi di seluruh dunia dihasilkan di Asia, dan 25 persen dihasilkan di Amerika Selatan. β€’ Dan China merupakan produsen terbesar udang air tawar untuk seluruh dunia tahun 2010. β€’ Sedangkan di Indonesia sendiri daerah penghasil udang yang terbesar ada di kawasan Pantura dan Jawa Barat. Di posisi berikutnya daerah Nusa Tenggara Barat menjadi penghasil udang terbesar setelah Jabar, dengan menghasilkan kurang lebih 103.000 ton udang per tahun.

Lalu ada daerah Jawa Timur yang juga menjadi penghasil udang, disusul daerah Sumatera Selatan dan Lampung. Informasi lebih lanjut tentang produk-produk PT. Mutiaracahaya Plastindo, bisa didapatkan lewat menghubungi kami disini.
peremajaan induk unggul merupakan langkah KKP dalam memastikan produk perikanan budi daya dapat terus terjaga mutu dan kualitasnya.Jakarta (ANTARA) - Rasa syukur terucap dari Ketua Kelompok Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT) Wijaya Kusuma, Ong Aryadi yang menerima bantuan calon induk unggul dari Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIU2K) Karangasem.

Bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan itu adalah sebanyak 2000 ekor calon induk udang yang diberikan kepada HSRT Wijaya Kusuma di Desa Tegalmulya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Kelompok HSRT Wijaya Kusuma yang beranggotakan 7 orang ini telah melakukan usaha pembenihan udang selama 15 tahun dengan komoditas udang vaname dan udang windu. Ong Aryadi menjelaskan bahwa kelompoknya merupakan fasilitator dari pembudi daya dan petambak semi tradisional dan tradisional dengan memasarkan larva udang vaname dan udang windu untuk dibudidayakan.

HSRT Wijaya Kusuma memasok beberapa daerah seperti di wilayah Tegal dan Pangandaran. Selain itu, kelompok HSRT tersebut juga telah memiliki sertifikat Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB), serta sarana biosecurity dan unit pengolahan limbah yang baik, sehingga kelestarian lingkungan di sekitar lokasi usahanya tetap terjaga. Aryadi juga mengungkapkan bahwa pihaknya menggunakan induk yang berasal dari Balai yang merupakan bantuan dari KKP, kualitas dari tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah yang dihasilkan menjadi lebih terjamin.

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Tb Haeru Rahayu, yang akrab disapa Tebe, menyatakan bahwa peremajaan induk unggul merupakan langkah KKP dalam memastikan produk perikanan budi daya dapat terus terjaga mutu dan kualitasnya, sehingga mendapatkan kepercayaan baik pasar domestik maupun internasional. Apalagi, lanjutnya, subsektor perikanan budi daya menjadi salah satu bidang yang diarahkan untuk diperkuat dan dioptimalkan sesuai arahan Presiden Joko Widodo.

Baca juga: KKP bantu akses induk udang unggul ke pembudidaya skala rumah tangga Tebe menilai bahwa tambak tradisional memiliki potensi yang sangat besar untuk dapat dikembangkan karena tingkat produktivitas maupun pemanfaatan yang masih cukup rendah. Untuk itu, ujar dia, program bantuan calon induk menyasar kepada HSRT agar pemanfaatan tambak tradisional dapat terus berjalan.

Sedangkan untuk tahun 2022 KKP telah menyiapkan program revitalisasi infrastruktur dasar pertambakan tradisional agar dapat ditingkatkan produktivitasnya. Terkait pengembangan induk unggul, Haeru juga memastikan bahwa jajarannya terus melakukan kegiatan perekayasaan genetik yang diperlukan untuk dapat menghasilkan strain baru yang pertumbuhannya lebih cepat, kemampuan adaptasi lebih baik, dan lebih tahan akan penyakit.

Tidak hanya di Pulau Jawa, KKP juga telah menyalurkan bantuan di luar Jawa seperti Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujung Batee, Aceh Besar, yang telah menyalurkan sebanyak 2,1 juta benur atau benih udang windu di provinsi tersebut sepanjang 2021.

Terakhir, pada Tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah 2021 KKP menyalurkan bantuan berupa benur udang windu sebanyak 500 ribu ekor yang diberikan kepada Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Hidayah Bahari dan Pokdakan Dayah Mini Aceh. Baca juga: Menteri Trenggono: Aktivitas tambak udang perlu selaras ekonomi biru Tambak superintensif Banyaknya bantuan tersebut juga perlu diimbangi dengan peningkatan standarisasi dalam pengelolaan tambak udang yang bersifat superintensif.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengemukakan bahwa standarisasi pengelolaan tambak udang superintensif sangat penting agar bisa menjadi acuan masyarakat maupun pelaku usaha yang ingin menekuni budidaya udang vaname tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah hasil panen optimal.

tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah

Selain standarisasi pengelolaan, Menteri Trenggono juga meminta jajarannya menghitung lebih detail biaya produksi udang per kilogram pada ukuran kolam tertentu.

Penghitungan ini penting untuk menarik minat pelaku usaha untuk berinvenstasi, dan memudahkan mereka dalam menjalankan kegiatan budi daya udang vaname superintensif. Menteri Trenggono optimistis bahwa budi daya tambak udang superintensif dapat segera diterapkan untuk segmentasi industri maupun rumah tangga sehingga dapat berkontribusi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal maupun nasional.

Beberapa program yang telah disiapkan oleh KKP untuk meningkatkan produksi dan ekspor udang nasional, antara lain revitalisasi tambak dengan membangun infrastruktur atau sarana dan prasarana sebagai percontohan kawasan udang bagi masyarakat, dan penyederhanaan perizinan usaha tambak udang.

tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah

Ia menambahkan ada pula pembangunan Model Shrimp Estate untuk budi daya udang dari hulu ke hilir. Shrimp Estate sendiri merupakan budi daya udang berskala memadai yang proses budi dayanya dalam satu kawasan dengan proses produksi berteknologi agar hasil panen optimal, mencegah penyakit, serta lebih ramah lingkungan agar prinsip budidaya berkelanjutan tetap terjaga.

Baca juga: Tingkatkan produksi, KKP salurkan 2,1 juta benih udang di Aceh Target ekspor Trenggono juga mengingatkan bahwa udang juga menjadi salah satu komoditas perikanan yang digenjot produktivitasnya untuk kebutuhan pasar ekspor, dengan target ekspor udang nasional meningkat 250 persen pada tahun 2024.

Produksi udang nasional yang harus dipenuhi untuk mencapai target peningkatan ekspor, yakni sebanyak 2 juta ton per tahun. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dari produksi tahun 2019 yang ada di angka 856.753 ton. Untuk mencapai target itu, ujar dia, KKP mengusung beberapa program, antara lain mengevaluasi tambak udang eksisting di seluruh Indonesia. Luas tambak udang di Indonesia mencapai 562.000 hektare (ha).

Dari jumlah tersebut, 93 persen di antaranya merupakan tambak udang tradisional dengan luas 522.600 ha dan 7 persen sisanya adalah tambak semi-intensif dan intensif seluas 52.698 ha. Kemudian dari luas tambak tradisional yang ada, menunjukkan 56 persen merupakan tambak idle atau sudah berubah fungsi, sehingga total tambak tradisional yang masih aktif hanya tinggal 247.803 ha dengan produktivitas 0,6 ton/hektare/tahun.

Angka tersebut jauh di bawah hasil panen tambak semi intensif atau intensif yang diperkirakan bisa mencapai 10-30 ton/hektare/tahun. Kemudian program ketiga, Menteri Trenggono akan membangun modelling tambak udang terintegrasi dengan luas mencapai 1.000 hektare. Di satu kawasan tambak nantinya berdiri pula laboratorium, hatchery, cold storage (gudang pendingin), hingga ekosistem usaha seperti pabrik pakan, pabrik es, hingga kuliner.

Baca juga: KKP salurkan 600.000 benih udang windu ke pembudidaya di Tarakan KKP juga meyakini bahwa komoditas udang dari Indonesia bisa mendominasi pasar Amerika Serikat (AS) karena ada aturan baru dari negara adidaya tersebut terkait pembebasan Bea Masuk (BM) untuk udang yang masuk ke AS.

Sebagai gambaran, berdasarkan data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Fisheries, pada bulan April 2021, nilai impor udang AS mencapai 514,2 juta dolar AS atau meningkat sebesar 17 persen dibanding April 2020. Dari sisi volume, impor udang AS pada April 2021 sebesar 61,1 ribu ton atau meningkat sebesar 18,2 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu udang yang berasal dari Indonesia sejak Januari-April 2021 sebesar 503,8 tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah dolar (24,1 persen) dengan volume 58,0 ribu ton (23,5 persen). Penekanan kepada komoditas udang untuk peningkatan produksi dan ekspor memang merupakan wajar karena menurut pakar oseanografi atau ilmu kelautan IPB, Alan F Koropitan mengingatkan bahwa ke depan hasil perikanan tangkap bakal stagnan dan sukar berkembang, sehingga masa depan perikanan ada di bidang budi daya.

Bila Indonesia dapat mencapai target yang diinginkan terkait dengan komoditas udang pada tahun 2014, maka hal tersebut juga akan bisa membuka jalan kepada berbagai pengembangan komoditas perikanan budi daya lainnya di Tanah Air. Editor: Nusarina Yuliastuti COPYRIGHT Β© ANTARA 2021 Mungkin anda suka Pemain sepatu roda diminta manfaatkan JIRTA Sunter 14 menit lalu Alcaraz juarai Madrid Open tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah bekuk Zverev 21 menit lalu KPK laksanakan apel pagi usai libur Lebaran 22 menit lalu Kemarin, kapal karam hingga 76.706 kendaraan masuk Jakarta H+5 lebaran 25 menit lalu Wagub DKI nilai arogan warga yang bermain sepatu roda di jalan raya 28 menit lalu Kemarin, pahlawan nasional hingga silaturahim Megawati-Jokowi 9 Mei 2022 06:58none
Cara Membuka Usaha Tambak Udang Perlu Anda ingat bahwa bisnis tambak udang mampu menyasar seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pengusaha industri makanan maupun konsumen langsung.

tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah

Mulai dari pembudidayaan sampai pengembangan bisnis, berikut langkah-langkah yang bisa Anda ikuti: Baca Juga : Ciri-Ciri Usaha Perikanan dan Jenis Usaha Perikanan Lengkap 1. Memilih jenis udang yang akan dibudidayakan (Sumber: Piqsels.com) Ada banyak jenis udang yang tersedia di alam bebas. Namun, Anda harus cermat memilih jenis udang yang ingin dikembangkan jika ingin meraup keuntungan cukup besar.

Setidaknya, udang tersebut populer dan memiliki nilai ekonomis bila menjangkau pasaran seperti rekomendasi jenis berikut: β€’ Udang vaname berasal dari luar negeri dan mampu dibudidayakan memakai sistem tambak tradisional. Kelebihan utama dari udang ini adalah daya tahan tubuh yang kuat serta mudah mencari pakannya. Pertumbuhannya cukup cepat dengan masa panen kurang dari 110 hari.

β€’ Udang windu atau tiger shrimp mampu dibudidayakan melalui tambak ekstensif maupun intensif. Ciri khasnya adalah kulit tebal, perawakan besar, hingga cita rasa manis gurih. Memiliki corak tubuh berupa garis tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah dengan tubuh warna merah atau hijau. β€’ Udang galah mempunyai istilah lain fresh tiger shrimp mempunyai jenis warna tubuh kuning kecoklatan, hijau kecoklatan, atau hijau kebiruan.

Tubuhnya yang gemuk juga menjadi salah satu alasan mengapa harga jualnya cukup tinggi. 2. Lokasi dari tambak udang Sebuah rekomendasi tempat yang bisa Anda pertimbangkan adalah lokasi penambakan di wilayah pantai.

Hal ini dikarenakan pantai punya keistimewaan tekstur yang liat dan berpasir sehingga dapat menahan air karena mudah dipadatkan. Selain itu, Anda juga perlu membudidayakan udang di dalam air payau pada suhu di atas 26 derajat Celsius. Pastikan bahwa lahan yang dipakai mampu menyediakan tempat bagi saluran keluar dan masuk air.

Kondisi tersebut mampu mendukung proses ternak udang sampai masa panen berlangsung. 3. Konsep berbisnis dari tambak udang Terdapat tiga konsep yang bisa Anda terapkan ketika membangun sebuah tambak udang. Ketiganya bisa dipilih sesuai kebutuhan maupun kondisi yang memungkinkan untuk pengembangbiakan udang.

β€’ Tambak udang tradisional merupakan salah satu sistem yang tidak membutuhkan biaya awal cukup besar. Umumnya, jenis udang yang cocok dibudidayakan lewat konsep ini adalah udang windu. β€’ Tambak semi intensif menghadirkan saluran keluar dan masuk air tambak yang optimal. Saluran ini bisa diteruskan sampai petak tambak, petak pembesaran udang, hingga ke titik akhir tambak. β€’ Tambak intensif atau modern tidak memerlukan ukuran tambak yang luas. Melalui konsep ini, Anda sudah bisa menjalankan usaha tambak udang yang berpeluang panen melimpah.

Meskipun demikian, Anda harus menyiapkan dana dalam jumlah cukup besar. Baca Juga : Rahasia Sukses Cara Ternak Menguntungkan di Lahan Sempit 4. Persiapan tambak udang (Sumber: Antaranews.com) Bentuk fisik dari tambak udang sendiri dipengaruhi oleh faktor biaya sekaligus syarat pemenuhan konstruksi yang maksimal. Dalam aspek biaya, faktor tersebut sejak awal didasarkan pada sistem budidaya dan luas wilayah tambak udang.

Kriteria yang harus dipenuhi adalah penyediaan saringan, tanggul, pencegah udang keluar dari saluran, hingga pengarah pintu air. Setiap ketentuan harus mampu dipenuhi supaya budidaya dan panen bisa berjalan dengan baik.

5. Pemilihan bibit udang yang akan dibudidayakan Siapkan bibit-bibit udang yang unggul dan menjamin kualitas terbaik bagi pelanggan di bidang apa pun. Dapatkan bibit terbaik dari pemasok yang terpercaya dan beli sejumlah tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah lahan yang Anda miliki. Intinya semakin tua bibit tersebut, maka harganya jadi semakin mahal. 6. Penyebaran benih udang dan pengawasan terhadap penyakit Tebarkan benih udang di sore atau malam hari.

Apabila semua sudah ditebarkan dengan baik, lakukan pengendalian terhadap hama yang berisiko menjadi musuh atau pemangsa. Pastikan hama pengundang penyakit dapat dibasmi agar kualitas pertumbuhan udang juga tetap maksimal. Beberapa hewan yang harus diminimalisir kontak dengan udang adalah ular, kura-kura, kerapu, kakap, kepiting, serangga, bangau, cacing, siput, hingga ikan mujaer.

Lakukan pemantauan secara berkala agar pembudidayaan berjalan lancar sampai panen. 7. Pemberian pakan yang alami Bibit udang membutuhkan asupan yang alami dan biasanya berupa diatome dan zooplankton.

Cara yang bisa diterapkan adalah penebaran pupuk organik layaknya TSP, NPK, dan urea. Pakan akan muncul dalam jangka waktu satu minggu dan ditandai warna air yang kecoklatan. 8. Pengolahan udang (Sumber: Katadata.com) Seusai masa panen, tentu Anda perlu menyiapkan udang agar mampu dijual dengan harga yang tinggi.

tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah

Perlu diingat bahwa udang yang sudah diolah harganya lebih mahal ketimbang udang mentah. Beberapa alternatif yang bisa digunakan adalah udang kupas beku, udang olahan, dan udang beku. Baca Juga : 5 Alasan Merintis Usaha Kolam Pemancingan 9. Jaringan pemasaran yang kuat dan terus berkembang Pada usaha tambak udang, masa panen akan terus berhubungan dengan upaya pemasaran produk yang berhasil dibudidayakan.

Pemasaran konvensional umumnya meliputi distribusi menuju pasar tradisional, depot, restoran, atau konsumen secara langsung. Namun tidak terpaku pada cara yang umum saja, Anda juga perlu memanfaatkan teknologi dari media sosial. Sediakan penjualan dan pemesanan via daring supaya semakin banyak orang yang mengetahui bisnis Anda.

tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah

Bahkan, Anda juga mampu mengupayakan pengiriman lingkup nasional dan internasional. 10. Persiapan proposal bisnis tambak udang Hal ini bisa dilakukan jika Anda membutuhkan modal lebih untuk membangun tambak udang. Modal eksternal diperoleh melalui pihak swasta, BUMN, pemerintah, maupun perseorangan. Yang terpenting jalankan usaha Anda dengan niat dan komitmen besar dalam mengejar kesuksesan.

Rincian Biaya Modal dari Bisnis Tambak Udang Sebelum membuka dan menjalankan pemeliharaan udang, tentu Anda membutuhkan modal untuk membangun semuanya.

Hitungan kasar memberikan nominal akhir sekitar Rp100.000.000,00. Tentu bisa kurang jika Anda mau melakukan penghitungan barang yang lebih penting untuk diutamakan. Cermati beberapa kebutuhan esensial yang harus disiapkan jika ingin berbisnis tambak udang, antara lain: Baca Juga : 10 Ternak Paling Mudah dan Menghasilkan Kamu Harus Coba β€’ Kolam tambak akan menjadi ruang budidaya bagi seluruh bibit udang yang berkembang di masa depan.

Kepentingan kolam tambak menambah anggaran belanja dalam jumlah cukup banyak. Paling tidak, pembudidayaan di laham 1 hektare membutuhkan dana hingga Rp30.000.000,00 β€’ Generator listrik sebagai pemutar kincir bagi sebuah tambak udang. Jumlah generator yang harus dibeli menyesuaikan kebutuhan budidaya. Sebuah generator listrik bisa dihargai sekitar Rp5.000.000,00 β€’ Pakan udang yang sudah jadi bisa ditemukan di pasaran. Harganya sekitar Rp14.000,00 dan tambak udang dapat dibudidayakan di wilayah jumlah yang bisa ditakar secara mandiri β€’ Perlengkapan usaha penunjang yang beragam.

Beberapa di antaranya adalah jaring, jala, serok, waring, ember, bak, dan sebagainya β€’ Biaya listrik agar kincir angin dan generator bisa beroperasi β€’ Vitamin dan obat-obatan untuk menjaga kesehatan udang Itulah cara menjalankan usaha udang tambak serta rincian biaya yang mampu menjadi gambaran awal bagi Anda. Pastikan Anda berkompeten untuk membudidayakan udang agar hasilnya berkualitas dan mampu bersaing di pasaran.

Anda bisa membawa manfaat bagi konsumen sekaligus profit yang optimal. Jangan lupa untuk ikuti perkembangan website kita dengan LIKE Facebook, Follow Twitter dan Instagram Bukausaha.com.

Jangan Lupa Juga Untuk Follow Instagram dan Subscribe Channel Youtube penulis. β€’ Tags: β€’ bisnis β€’ real β€’ Usaha Tambak Udang

Lulusan SMP bisa hasilkan milyaran rupiah dari budidaya udang Vaname [Cerita Budidaya]




2022 www.videocon.com