Orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan

orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan

Buka Tutup • Diabetes melitus atau penyakit kencing manis adalah suatu penyakit kronis ketika kadar gula darah (glukosa) di dalam tubuh terlampau tinggi; • Ada 3 jenis penyakit diabetes mellitus, yakni diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, dan diabetes gestasional (diabetes di masa kehamilan); • Pemeriksaan kadar gula darah sangat penting untuk memantau dan mengendalikan kadar gula darah agar tetap terjaga di batas normal; • Pasien diabetes melitus tipe 2 dapat diberikan beberapa jenis obat diabetes seperti metformin, sulfonilurea, agonis GLP-1, hingga terapi insulin; • Klik untuk membeli obat diabetes secara online ke rumah Anda melalui HDmall.

*Gratis ongkir ke seluruh Indonesia & bisa COD. • Dapatkan paket pemeriksaan gula darah (diabetes) yang dilakukan di klinik kesehatan atau homecare dengan promo menarik hanya di HDmall. Apa itu diabetes melitus? Diabetes melitus atau penyakit kencing manis adalah suatu penyakit kronis ketika kadar gula darah (glukosa) di dalam tubuh terlampau tinggi dan berada di atas normal. Tingginya kadar gula darah penyebab diabetes melitus dapat terjadi karena kurangnya hormon insulin ataupun tidak tercukupinya hormon insulin karena tubuh tidak dapat menggunakannya secara optimal (resistensi insulin).

Kedua hal tersebut dapat terjadi secara tunggal atau kombinasi. Glukosa sendiri berasal dari sumber makanan yang dikonsumsi lalu diolah tubuh dan menjadi sumber energi utama bagi sel tubuh manusia. Kadar gula darah dikendalikan oleh hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas. Pankreas melepaskan insulin ini ke dalam aliran darah dan membantu glukosa (zat gula) dari makanan masuk ke dalam sel-sel seluruh tubuh.

Akan tetapi jika tubuh tidak membuat cukup insulin atau insulin tidak bekerja dengan baik dapat menyebabkan glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel dan membuat glukosa menumpuk dalam darah. Hal ini yang membuat kadar gula dalam darah menjadi tinggi dan menyebabkan terjadinya penyakit diabetes melitus. Kadar glukosa darah yang tinggi dapat menimbulkan gangguan pada organ tubuh, termasuk merusak pembuluh darah kecil di organ ginjal, jantung, mata, ataupun sistem saraf. Ketika tidak ditangani dengan baik pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya komplikasi penyakit seperti jantung, stroke, penyakit ginjal, kebutaan, dan kerusakan pada saraf.

Pada wanita hamil, diabetes karena kadar gula darah yang tinggi juga dapat menyebabkan masalah selama kehamilan dan membuatnya lebih rentan dalam proses persalinan. Kondisi itu pun berisiko menyebabkan bayi cacat lahir, lahir mati, ataupun lahir prematur. Diabetes saat kehamilan disebut juga dengan diabetes gestasional. Jenis-jenis diabetes melitus Secara umum terdapat 3 jenis utama diabetes mellitus, yakni diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, dan diabetes gestasional. Diabetes melitus tipe 1 Diabetes melitus tipe 1 sering disebut diabetes mellitus tergantung insulin.

Diabetes tipe ini terjadi karena sistem imun tubuh menyerang sel beta pankreas yang berperan untuk menghasilkan hormon insulin dan lebih dari 90% mengalami kerusakan permanen. Diabetes tipe 1 ini biasanya muncul bukan karena pengaruh gaya hidup dan lebih sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda.

Penyakit diabetes tipe 1 ini termasuk penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan bertahan seumur hidup tetapi gejala diabetes dapat dikendalikan. Pada diabetes melitus tipe 1, tubuh tidak memproduksi insulin sehingga membutuhkan tambahan insulin dari luar setiap hari (suntik insulin). Pengobatan untuk diabetes melitus tipe 1 meliputi suntikan insulin atau menggunakan pompa insulin, mengonsumsi makanan sehat, melakukan aktivitas fisik secara teratur, dan mengendalikan tekanan darah dan kadar kolesterol.

Diabetes melitus tipe 2 Diabetes melitus tipe 2 ini disebut juga diabetes melitus tidak tergantung insulin. Diabetes melitus jenis ini merupakan jenis yang paling banyak terjadi, hampir 9 dari 10 penderita diabetes adalah diabetes tipe 2.

Seseorang bisa menderita diabetes tipe 2 pada usia berapa pun, bahkan pada usia anak-anak. Pada diabetes tipe 2, tubuh masih dapat memproduksi insulin tetapi insulin gagal melakukan tugasnya, sehingga glukosa tidak masuk ke dalam sel. Pada penderita diabetes tipe 2, tubuh memproduksi insulin dengan jumlah makin sedikit secara periodik, oleh karena itu dilakukan peningkatan dosis obat atau mulai menggunakan orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan untuk menjaga diabetes agar tetap terkontrol dengan baik.

Perawatan tambahan bagi penderita diabetes tipe 2 termasuk minum obat anti diabetes, mengonsumsi menu makanan sehat, melakukan aktivitas fisik secara teratur, mengonsumsi aspirin setiap hari (bagi kebanyakan orang), dan mengendalikan tekanan darah dan kadar kolesterol. Diabetes Gestational Diabetes gestational merupakan kondisi yang terjadi pada beberapa kasus kehamilan, yakni sekitar 1 dari 20 kasus kehamilan.

Selama kehamilan, tubuh memproduksi insulin ekstra yang dihasilkan hormon agar melakukan tugasnya dengan baik. Namun beberapa wanita gagal memproduksi insulin ekstra, sehingga mereka mendapatkan diabetes gestational. Diabetes Gestasional biasanya hilang bila kehamilan sudah berakhir.

Wanita yang mengalami diabetes gestational sangat mungkin untuk berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2 di kemudian hari. Mengenai diabetes mellitus Gejala diabetes melitus Gejala diabetes akibat kadar glukosa darah yang tinggi dapat meliputi rasa haus yang meningkat (polidipsia), peningkatan buang air kecil (poliuria), penglihatan kabur, mudah mengantuk, mual, menurunnya daya tahan tubuh, dan meningkatnya rasa lapar (polifagia).

• Sering buang air kecil Ketika kadar glukosa darah naik di atas 160-180 mg/dL, glukosa akan bocor hingga ke urin karena ginjal tidak sanggup menyaringnya. Ketika kadar glukosa dalam urine meningkat bahkan lebih tinggi, ginjal akan mengeluarkan air tambahan untuk mengencerkan orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan yang berlebihan tersebut.

Hal inilah yang membuat penderita diabetes melitus sering buang air kecil dalam jumlah besar (poliuria). • Sering haus Terlalu banyak buang air kecil yang merupakan salah satu gejala diabetes juga akan menciptakan haus yang abnormal (polidipsia). Hal ini disebabkan adanya banyak kalori yang hilang dalam urin sehingga menyebabkan penurunan berat badan.

Untuk mengimbanginya, maka pasien dengan diabetes melitus akan sering merasa lapar berlebihan (polifagia). Seseorang yang mengalami trias gejala poliuria, polifagia, dan polidipsia sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan apakah dirinya mengalami diabetes mellitus atau tidak. Pasien berusia 17 tahun dengan riwayat keluarga memiliki penyakit diabetes mellitus juga disarankan memeriksakan diri ke dokter untuk melakukan skrining diabetes.

Pasien berusia 40 tahun ke atas juga disarankan untuk melakukan skrining diabetes melitus. Baca juga: Waspadai Gejala Diabetes Orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan atau Kencing Manis Penyebab diabetes melitus • Penyebab diabetes melitus tipe 1 Penyebab pasti diabetes mellitus tipe 1 belum diketahui, tetapi dapat dipengaruhi juga oleh peran sistem daya tahan tubuh. Sistem kekebalan tubuh yang seharusnya berfungsi melawan bakteri atau virus berbahaya malah menyerang dan menghancurkan sel-sel yang memproduksi insulin di pankreas.

Hal ini membuat tubuh memiliki sedikit atau bahkan tanpa insulin, akibatnya gula menumpuk di aliran darah. Diabetes tipe 1 diduga disebabkan oleh kombinasi kerentanan genetik dan faktor lingkungan, meskipun penelitian akan faktor-faktor tersebut masih belum jelas. • Penyebab diabetes melitus tipe 2 Pada diabetes melitus tipe 2, sel-sel tubuh mengalami resistensi terhadap aksi insulin sehingga pankreas tidak dapat membuat insulin yang cukup untuk mengatasi resistensi ini.

Beberapa penyebab diabetes melitus tipe 2: • Faktor usia - di atas usia 45 tahun • Kegemukan atau obesitas • Riwayat keluarga - memiliki ibu, ayah, kakak, atau adik dengan diabetes melitus • Ras / etnis tertentu • Memiliki bayi dengan berat lahir lebih dari 4.000 gram • Mengalami diabetes selama kehamilan (gestational diabetes) • Tekanan darah tinggi - 140/90 mmHg atau lebih tinggi.

Kedua angka ini penting. Jika salah satu atau kedua angka tinggi, berarti tekanan darah tinggi • Kolesterol tinggi - kolesterol total lebih dari 240 mg/dL • Kurang aktivitas fisik - berolahraga kurang dari 3 kali seminggu • Kadar gula darah yang tinggi pada pemeriksaan sebelumnya • Memiliki kondisi kesehatan lain yang terkait insulin, seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS) • Memiliki riwayat penyakit jantung atau stroke Setelah mengetahui beberapa penyebab yang memungkinkan seseorang mengidap diabetes mellitus, maka memperbaiki gaya hidup dan pola makan sangat dianjurkan.

Hal ini untuk membantu menjaga kondisi kesehatan serta mengurangi gejala dan keparahan kondisi diabetes yang dialami. • Penyebab diabetes gestasional Selama kehamilan, plasenta menghasilkan hormon untuk mempertahankan kehamilan.

Hormon-hormon ini membuat sel-sel menjadi lebih tahan (resisten) terhadap insulin. Biasanya, pankreas akan merespons dengan memproduksi cukup insulin tambahan untuk mengatasi resistensi ini. Tetapi terkadang pankreas tidak dapat melakukannya. Ketika hal ini terjadi, maka jumlah glukosa yang bisa masuk ke sel-sel tubuh menjadi terlalu sedikit dan kebanyakan yang tinggal di darah sehingga mengakibatkan terjadinya diabetes gestasional.

Pecegahan diabetes mellitus Penyakit diabetes mellitus tipe 1 tidak bisa dicegah, tetapi untuk diabetes melitus tipe 2 dapat dicegah dengan cara: • Menjaga pola hidup sehat berupa mengurangi makanan tinggi karbohidrat dan lemak • Meningkatkan asupan makanan tinggi serat • Meningkatkan aktivitas fisik dengan bberolahraga teratur 30–45 menit sehari sebanyak 3-5 kali per minggu • Menurunkan berat badan berlebih Baca juga: Kadar Gula Darah Normal dan Cara Mencegah Diabetes Diagnosis diabetes melitus Untuk memastikan diabetes melitus perlu dilakukan anamnesis (tanya jawab) secara detail pada pasien terkait keluhan yang dialami, riwayat penyakit diri dan keluarga, riwayat penyakit dahulu yang pernah dialami hingga riwayat kebiasaan sehari-hari.

Sejumlah tes pemeriksaan, termasuk pemeriksaan fisik diperlukan guna mengetahui ada atau tidaknya gangguan fisik yang dialami meski hal itu jarang terjadi. Selain anamnesis dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang sangat penting untuk menegakkan diagnosis. Beberapa pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan, antara lain: • Pemeriksaan kadar gula darah sewaktu (GDS) • Pemeriksaan kadar gula darah puasa (GDP) • Pemeriksaan kadar gula darah 2 jam post prandial (GDPP) • Pemeriksaan kadar hemoglobin (HbA1C) Baca juga: 4 Tes Pemeriksaan Kadar Gula Darah Pengobatan diabetes melitus Pengobatan di rumah Untuk mengatasi diabetes melitus perlu dilakukan terapi non farmakologi berupa pengaturan diet dan juga peningkatan aktivitas fisik.

Diet sehat yang bisa dilakukan adalah pembatasan makanan tinggi karbohidrat terutama karbohidrat sederhana seperti gula, coklat, roti, serta membatasi makanan tinggi kolesterol seperti santan, gorengan, jeroan, maupun telur puyuh. Sementara itu, makanan yang perlu ditingkatkan adalah makanan tinggi serat seperti sayur dan buah terutama apel. Namun beberapa buah yang tinggi gula dan lemak juga sebaiknya dibatasi seperti mangga, pisang dan durian.

Peningkatan aktivitas fisik terutama dengan olahraga teratur sangat disarankan misalnya berenang, jalan cepat, dan bersepeda. Olahraga sebaiknya dilakukan teratur 30-45 menit tiap sesinya sebanyak 3-5 kali setiap minggu.

Pengobatan di rumah sakit Untuk saat ini, satu-satunya cara pengobatan diabetes mellitus tipe 1 adalah dengan menggunakan suntik insulin. Terdapat beberapa jenis insulin, yaitu: insulin kerja panjang yang dapat bertahan satu hari, insulin kerja singkat yang bekerja 30-60 menit dan bertahan maksimal 8 jam, dan insulin kerja cepat bekerja 5-15 menit dan dipertahankan hingga 4-6 jam.

Biasanya jenis-jenis insulin itu digunakan secara kombinasi. Insulin diberikan dengan cara injeksi (suntikan) dan dapat dilakukan dengan 2 cara: • Menggunakan jarum dan alat suntik atau pena • Menggunakan pompa insulin Dokter dan perawat akan membantu dan mengajari untuk menggunakan alat-alat ini dengan baik sehingga nantinya bisa melakukan pengobatan secara mandiri di rumah.

Dibandingkan alat suntik jarum, pompa insulin sangat mudah digunakan, namun harganya relatif mahal. Alat ini biasanya lebih diutamakan untuk penderita yang sering mengalami hipoglikemia, suatu kondisi di mana kadar gula darah turun terlalu rendah.

Alternatif lain pengobatan diabetes melitus tipe 1 adalah transplantasi sel-sel pankreas yang memproduksi insulin (sel islet). Namun karena resikonya yang cukup tinggi, banyak penderita diabetes tidak menempuh cara ini. Pengobatan diabetes melitus tipe 2 Dalam pengobatan diabetes melitus tipe 2, terdapat beberapa macam obat diabetes yang bisa digunakan. Obat-obatan ini bisa diberikan secara tunggal maupun kombinasi dari dua atau lebih obat.

Jenis obat diabetes, antara lain: 1. Metformin Metformin adalah obat diabetes lini pertama yang digunakan untuk pengobatan pasien diabetes melitus tipe 2. Metformin bekerja dengan cara menekan produksi glukosa oleh hati dan membuat tubuh lebih responsif terhadap insulin. Kelebihan mengonsumsi metformin dibandingkan jenis obat lain adalah obat ini tidak menyebabkan kenaikan berat badan sehingga cocok diberikan untuk penderita yang mengalami kelebihan berat badan.

Pengobatan diabetes dengan metformin terkadang mengakibatkan efek samping ringan seperti mual, muntah dan diare. Obat diabetes ini juga dikontraindikasikan untuk penderita yang juga mengalami masalah ginjal. 2. Sulfonilurea Jika metformin tidak efektif menurunkan kadar gula darah penderita diabetes, obat diabetes jenis sulfonilurea biasanya digunakan sebagai pengganti. Sulfonilurea bermanfaat untuk meningkatkan produksi insulin dalam pankreas.

Obat-obat jenis ini bisa diberikan secara tunggal atau kombinasi dengan metformin. Beberapa jenis obat sulfonilurea di antaranya, glimepiride, glibenclamide, glipizide, gliclazide, dan gliquidone. Obat diabetes ini harus digunakan di bawah pengawasan dokter, karena jika tidak digunakan dengan benar dapat meningkatkan resiko terjadinya hipoglikemia terutama pada lansia.

3. Pioglitazone (Thiazolidindione) Pioglitazone bermanfaat untuk meningkatkan sensitivitas sel-sel tubuh penderita terhadap insulin. Peningkatan sensitivitas insulin ini mengakibatkan gula yang diubah menjadi energi lebih banyak, sehingga kadar gula dalam darah menjadi menurun. Obat diabetes biasanya digunakan dalam kombinasi dengan metformin, obat-obat golongan sulfonilurea, atau keduanya.

Tetapi penggunaannya untuk mengobati diabetes sangat perlu diperhatikan karena sempat diketahui dapat meningkatkan resiko penyakit jantung. 4. Gliptin (Dipeptidyl Peptidase-4 Inhibitor) Gliptin atau orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan DPP-IV(misalnya, linagliptin, saxagliptin, sitagliptin, dan vildagliptin) menghambat pemecahan hormon GLP-1 (glucagon-like peptide-1), hormon yang terkait dalam produksi insulin.

Dengan menghambat pemecahan hormon GLP-1, gliptin bermanfaat meningkatkan sekresi insulin menghambat sekresi glucagon. Obat ini biasanya diberikan untuk penderita diabetes yang tidak bisa menggunakan metformin atau sulfonilurea, atau dikombinasikan dengan kedua obat-obat tersebut. 5. Agonis GLP-1 Agonis GLP-1 (misalnya, Exenatide dan liraglutide) adalah obat diabetes yang bekerja dengan mekanisme mirip hormon GLP-1 alami.

Kedua obat ini banyak digunakan untuk mengobati penderita diabetes yang menggunakan metformin atau sulfonilurea dan mengalami obesitas. 6. Acarbose untuk memperlambat pencernaan karbohidrat Acarbose digunakan untuk penderita diabetes yang tidak cocok dengan obat-obat lain.

Acarbose bekerja dengan cara memperlambat pemecahan karbohidrat menjadi gula dalam tubuh sehingga dapat mencegah peningkatan kadar gula darah. 7. Nateglinide dan Repaglinide Obat diabetes ini bekerja dengan cara merangsang pankreas melepaskan lebih banyak insulin ke dalam darah.

Dengan demikian glukosa yang diubah menjadi energi akan lebih banyak sehingga kadar gula tidak akan meningkat. 8. Terapi Insulin Penderita diabetes yang menggunakan obat-obatan yang diberikan secara oral, kadang-kadang membutuhkan terapi tambahan berupa suntikan insulin. Jenis dan cara pemakaian suntikan insulin untuk penderita diabetes melitus tipe 2 sama dengan yang digunakan untuk penderita diabetes melitus tipe 1 yang sudah dijelaskan di atas. Penyakit diabetes melitus adalah suatu penyakit yang harus mendapatkan penanganan serius.

Penanganan yang tepat sejak tanda-tanda awal muncul, akan mencegah penyakit ini semakin memburuk dan menimbulkan komplikasi. Komplikasi diabetes melitus Diabetes melitus yang tidak ditangani orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan baik bisa menyebabkan berbagai komplikasi penyakit kronis.

Berikut ini beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat diabetes: 1. Kerusakan mata (Retinopati) Kadar gula darah yang tinggi bisa menyebabkan pembuluh darah pada retina tersumbat, bocor atau munculnya pembuluh darah baru sehingga menghalangi cahaya sampai ke retina. Jika tidak segera ditangani bisa menyebabkan kebutaan. Oleh karena itu, bagi orang-orang yang memiliki faktor risiko tinggi menderita penyakit diabetes disarankan untuk memeriksakan mata secara rutin. Hal ini dilakukan agar resiko terkena retinopati diabetik dapat terdeteksi secara dini, sehingga penanganan dapat segera dilakukan.

2. Kerusakan saraf (Neuropati) Selain menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, bisa juga terjadi kerusakan sel-sel saraf. Kadar gula darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan selubung syaraf. Gejala diabetes komplikasi akibat berusakan saraf bisa berupa kesemutan atau terasa seperti terbakar pada ujung jari-jari tangan atau kaki.

Jika dibiarkan akan menyebar ke bagian tubuh yang lain. 3. Penyakit jantung dan stroke Penderita penyakit diabetes memiliki resiko tinggi mengalami gangguan pada organ jantung dan otak. Resiko yang mungkin terjadi pada kesehatan jantung misalnya angina, yang terjadi karena aliran darah ke jantung terhambat.

Stroke juga bisa terjadi karena aliran darah ke otak juga terganggu akibat penyumbatan pembuluh darah ke otak. 4. Penyakit ginjal (Nefropati) Sama seperti organ tubuh lainnya, kadar gula darah yang tinggi dapat merusak proses penyaringan di organ ginjal.

Apabila tidak diwaspadai dan ditangani secara serius bisa menyebabkan komplikasi diabetes lainnya, yakni gagal ginjal. 5. Depresi Penderita diabetes mellitus tipe 2 umumnya memiliki kecenderungan mengalami gejala depresi. Belum dapat diketahui apa yang menjadi penyebab kondisi iini terjadi, tetapi mungkin disebabkan oleh faktor psikologi karena efek orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan yang terjadi dapat mempengaruhi fungsi otak.

Hal ini juga bisa disebabkan karena pola makan yang buruk serta pengaruh pengobatan. Baca juga: Pengaruh Stress terhadap Diabetes dan Gula Darah 6. Risiko pada wanita hamil dan bayi Jika tidak ditangani dengan baik, diabetes melitus bisa membahayakan kesehatan ibu dan janinnya. Berat bayi diatas normal di atas 4 kg (giant baby), penyakit jantung bawaan, kelainan sistem saraf pusat, dan cacat otot rangka adalah beberapa bahaya yang bisa dialami bayi jika penanganan penyakit diabetes gestasional tidak dilakukan dengan baik.

Sindrom gangguan pernafasan, hyperbilirubinemia, hipoglikemia (gula darah rendah), diabetes melitus tipe 2, bahkan kematian bayi dalam kandungan juga bisa terjadi akibat komplikasi diabetes. 7. Luka yang terinfeksi atau ulkus diabetikum Ulkus diabetikum merupakan luka yang terjadi akibat adanya gangguan pada sistem saraf tepi, kerusakan struktur tulang kaki, maupun penebalan serta adanya penyempitan pembuluh darah.

Gejala ulkus diabetikum yang terjadi pada penderita diabetes dapat berupa pembengkakan kaki, kemerahan, serta iritasi. 8. Disfungsi seksual Kerusakan pembuluh darah dan saraf akibat penyakit diabetes beresiko menyebabkan difungsi seksual, misalnya impotensi. Pada wanita, kerusakan saraf akan menurunkan tingkat kepuasan saat berhubungan intim. Untuk itu, penting untuk mengendalikan gula darah agar terhindar dari risiko komplikasi.

Ajukan pertanyaan dengan promosi dan dapatkan jawabannya dalam 60 menit 40.000 HealthCoins Pertanyaan Anda akan dijawab dalam waktu 60 menit dan Anda akan menerima pemberitahuan secepatnya melalui email Jika pertanyaan Anda tidak terjawab dalam waktu 60 menit, kami akan mengembalikan 20.000 HealthCoins dan pertanyaan Anda akan diturunkan ke Pertanyaan Reguler. Pertanyaan Anda akan dijawab dalam waktu 24 jam sebagai gantinya.

Jika pertanyaan Anda tidak terjawab dalam 24 jam, kami akan mengembalikan semua HealthCoins. (gratis) Pertanyaan Anda akan diprioritaskan bagi dokter, perawat, dan apoteker yang terverifikasi dalam waktu 2 hari agar Anda bisa mendapatkan jawaban yang lebih banyak Standar Pemeriksaan Konten HonestDocs Konten ini ditulis atau ditinjau oleh praktisi kesehatan dan didukung oleh setidaknya tiga referensi dan sumber yang dapat dipercaya.

Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk mengirimkan konten yang akurat, komprehensif, mudah dipahami, terbaru, dan dapat ditindaklanjuti. Anda dapat membaca proses editorial lengkap di sini. Jika Anda memiliki pertanyaan atau komentar tentang artikel kami, Anda dapat memberi tahu kami melalui WhatsApp di 0821-2425-5233 atau email di [email protected] Buka di app Pada tahun 2012, lebih dari tiga juta orang yang meninggal akibat PPOK.

Angka itu setara dengan 6 persen jumlah kematian di seluruh dunia pada tahun itu. Dikutip dari badan kesehatan dunia, WHO, PPOK sendiri terdiri atas dua jenis utama, yaitu bronkitis dan emfisema.

Beberapa orang bisa hanya memiliki salah satunya, sedangkan yang lainnya memiliki keduanya. Dua jenis penyakit paru obstruktif kronis yang terjadi, yaitu: Bronkitis kronis Bronkitis kronis adalah peradangan dinding saluran bronkus (cabang tenggorok) yang terjadi menahun.

Penyakit ini menyebabkan dinding pada saluran bronkus di paru-paru menjadi merah, bengkak, dan dipenuhi lendir. Lendir inilah yang kemudian menyumbat saluran napad dan membuat bernapas menjadi lebih sulit.

Emfisema Emfisema secara bertahap merusak kantung udara (alveolus) di paru-paru sehingga membuat Anda semakin sesak napas. Rusaknya kantung udara, akan membuat jumlah alveolus dalam paru-paru Anda semakin sedikit. Akibatnya, oksigen akan kesulitan untuk masuk dan karbon dioksida juga sulit keluar. Kondisi ini juga menjadi penyebab membuang napas menjadi lebih sulit.

Selama proses pernapasan, terdapat bagian-bagian utama paru yang ikut bekerja, yaitu saluran bronkus (cabang tenggorok atau disebut juga saluran udara), alveolus (kantung-kantung udara), dan trakea (batang tenggorok). Saat menarik napas, udara bergerak dari batang tenggorok melewati bronkus untuk kemudian menuju ke alveolus.

Dari alveolus, oksigen bergerak masuk ke darah sementara karbon dioksida keluar dari darah. Begitulah pernapasan normal seharusnya. Namun, pada orang PPOK prosesnya tak berjalan lancar.

Gangguan yang muncul akibat penyakit ini dapat menyebabkan sesak napas. Hal ini menyebabkan paru-paru kekurangan oksigen, begitu juga organ tubuh lainnya. Bila ini yang terjadi, Anda harus segera mencari bantuan medis sedini mungkin. Tanda dan gejala PPOK PPOK memengaruhi sistem pernapasan sehingga dapat orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan banyak tanda-tanda dan gejala yang menyebabkan masalah pernapasan.

Beberapa gejala dan tanda-tanda PPOK, antara lain: • batuk kronis (berkepanjangan) • batuk dengan dahak berwarna bening, putih, abu kekuningan atau hijau—meskipun jarang, lendir bisa terdapat bercak darah • sring infeksi pernapasan, seperti flu dan pilek • sesak napas, terutama saat beraktivitas fisik • perasaan sesak di dada • mengi • kelelahan • demam ringan dan panas-dingin Pada awalnya, Anda mungkin tidak merasakan gejala apa pun. Atau, kalaupun gejalanya muncul Anda hanya mengalami gejala ringan sehingga tidak menyadari bahwa Anda memiliki PPOK.

Oleh karena merupakan penyakit progresif, gejalanya baru benar-benar mengganggu jika penyakit ini sudah cukup lama bersarang dalam tubuh Anda. Saat gejala PPOK Anda telah mengalami perkembangan selama bertahun-tahun lamanya, pada akhirnya gejala itu mulai memengaruhi tingkat aktivitas dan kualitas hidup Anda. Pada saat inilah mungkin Anda baru benar-benar sadar bahwa ada masalah dalam paru-paru Anda.

Eksaserbasi PPOK Gejala PPOK bisa memburuk secara tiba-tiba. Kondisi ini disebut dengan PPOK eksaserbasi akut. Ketika tidak diobati, kondisi PPOK bisa saja memburuk. Beberapa gejala berat mungkin sampai mengharuskan Anda melakukan perawatan di rumah sakit. Eksaserbasi, atau disebut juga dengan flare-up PPOK, bahkan dapat membuat Anda merasa cemas dan kesulitan untuk tidur atau bahkan hanya untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Banyak pemicu yang bisa menyebabkan eksaserbasi. Pemicu paling umum sering kali adalah infeksi. Menurut sebuah artikel di American Family Physician pada tahun 2001, infeksi bakteri merupakan faktor yang berkontribusi hingga 70-75% pada PPOK eksaserbasi akut.

Sisanya, viruslah yang jadi penyebab orang mengalami eksaserbasi PPOK. Polusi udara dan iritan lingkungan lainnya juga bisa memicu flare-up PPOK. Memahami pemicu apa saja yang berpotensi menyebabkan perburukan gejala, serta berupaya mengindarinya dapat sangat membantu mengurangi jumlah episode flare-up dan kunjungan ke rumah sakit. Kapan sebaiknya ke dokter?

Beberapa gejala berat mungkin memerlukan pengobatan di rumah sakit. Anda harus mencari pengobatan darurat jika Anda mengalami masalah berikut: • Orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan mengatur napas atau berbicara. • Bibir atau kuku Anda membiru atau abu-abu (ini adalah tanda rendahnya kadar oksigen dalam darah).

• Anda tidak waspada secara mental. • Jantung Anda berdetak sangat cepat. • Anjuran pengobatan untuk gejala yang memburuk tidak bekerja. Mungkin saja ada gejala yang belum disebutkan. Jika Anda memiliki kekhawatiran akan gejala-gejala lain, berkonsultasi ke dokter adalah pilihan tepat untuk menjawab keraguan Anda. Penyebab penyakit paru obstruktif kronis Penyebab PPOK adalah penyumbatan atau kerusakan jaringan paru-paru.

Jenis kerusakan ini biasanya terjadi saat Anda secara rutin menghirup iritan untuk jangka waktu lama. Iritan yang umum dapat meliputi: • Asap rokok (baik mereka yang merokok aktif ataupun perokok pasif)—merokok jangka panjang merupakan penyebab dari 80 sampai 90 persen kasus PPOK • Asap, gas, uap, atau bahan kimia • Debu • Polusi dalam ruangan (seperti bahan bakar padat yang digunakan untuk memasak dan pemanasan) • Polusi luar ruangan • Debu dan zat kimia okupasi (uap, iritan, dan asap) • Infeksi pernapasan bawah yang sering terjadi selama masa kanak-kanak Siapa yang berisiko kena kondisi ini?

Faktor risiko utama yang bisa jadi penyebab PPOK adalah merokok. Selain merokok, ada iritan lain dan polutan yang dapat merusak paru-paru. Anda bisa menemukan lebih banyak polutan di negara-negara berkembang. Berikut faktor risiko lainnya yang dapat meningkatkan risiko penyebab PPOK: • Orang orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan 65-74 tahun • Ras kulit putih non-Hispanik • Orang yang menganggur, pensiun, atau tidak mampu bekerja • Orang dengan pendidikan di bawah SMA • Orang dengan pendapatan rendah • Orang yang bercerai, ditinggal mati, atau berpisah • Perokok yang masih aktif ataupun mantan perokok • Orang dengan riwayat asma Risiko komplikasi PPOK PPOK adalah salah satu penyakit orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan berisiko menimbulkan komplikasi.

Terdapat beberapa komplikasi PPOK yang mungkin saja terjadi, seperti: • Masalah jantung: PPOK dapat menyebabkan detak jantung tidak teratur dan mengalami perubahan. Kondisi ini disebut dengan aritmia. Masalah jantung lain yang juga mungkin berisiko pada orang dengan PPOK adalah gagal jantung. • Tekanan darah tinggi: PPOK dapat menyebabkan tekanan darah tinggi pada pembuluh darah yang memasok darah ke paru-paru. Kondisi ini disebut dengan hipertensi paru. • Infeksi pernapasan: Ketika memiliki PPOK, Anda mungkin akan lebih sering untuk terkena pilekfluatau bahkan pneumonia (infeksi paru serius yang disebabkan oleh virus atau jamur).

Infeksi ini dapat membuat gejala Anda memburuk atau menyebabkan kerusakan paru orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan lanjut. Diagnosis PPOK PPOK adalah penyakit yang terjadi secara perlahan.

Penyakit ini biasanya sering terdiagnosis pada orang di atas 40 tahun. Dokter akan mendiagnosis PPOK berdasarkan tanda-tanda dan gejala, riwayat medis dan keluarga, serta hasil tes Anda. Dokter mungkin akan menanyakan apakah Anda merokok atau pernah mengalami kontak dengan iritan paru, seperti asap rokok, polusi udara, asap zat kimia, atau debu. Dokter juga akan memeriksa Anda dan stetoskop untuk mendengarkan mengi atau suara abnormal lainnya pada dada. 1. Tes fungsi paru Tes fungsi paru akan mengukur berapa sebanyak udara yang dapat Anda hirup dan embuskan.

Tes ini juga dapat mengetahui seberapa cepat Anda dapat membuang napas, dan seberapa baik paru-paru Anda mengantarkan oksigen ke darah. 2. Spirometri Spirometri digunakan untuk mengukur kemampuan Anda untuk bernapas. Alat ini mengukur seberapa banyak udara yang Anda embuskan dan seberapa cepat Anda dapat membuang napas.

3.

orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan

Rontgen atau CT scan dada Tes ini memberikan gambaran struktur orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan dada, seperti jantung, paru-paru, dan pembuluh darah. Gambaran ini bisa memberikan informasi mengenai adanya tanda-tanda PPOK atau tidak. 4. Tes darah Tes darah dilakukan untuk mengukur kadar oksigen dalam darah. Darah yang diperiksa menggunakan sampel darah yang diambil dari arteri.

Hasil tes ini dapat menunjukkan seberapa parah PPOK Anda dan apakah Anda membutuhkan pengobatan. Pengobatan penyakit paru obstruktif kronis Sayangnya, tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit ini. Metode terbaik untuk mengatasi PPOK adalah dengan pencegahan dan pengendalian gejala, yakni mencegah kerusakan dan gejalanya tidak memburuk. Tujuan pengobatan PPOK meliputi: • Meredakan gejala • Memperlambat perkembangan penyakit • Meningkatkan kemampuan untuk tetap aktif • Mencegah dan mengobati komplikasi 1.

Obat-obatan • Bronkodilator: obat ini membuat Anda dapat bernapas lebih mudah dengan mengendurkan otot di paru-paru dan memperlebar saluran udara • Kombinasi bronkodilator dengan kortikosteroid inhalasi: obat jenis steroid diberikan dengan tujuan mengurangi peradangan paru 2. Vaksin Mendapatkan vaksin secara rutin setiap tahunnya juga menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah memburuknya kondisi dan gejala PPOK.

Beberapa vaksin yang dapat mencegah pneumonia adalah: • Vaksin flu • Vaksin pneumococcal, yang berfungsi mencegah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang disebut Streptococcus pneumoniae atau pneumococcus ). Vaksin ini berguna mencegah penyakit pneumonia 3. Terapi oksigen Salah satu terapi yang perlu dilakukan adalah terapi oksigen, terutama jika kondisinya sudah cukup parah.

Penyakit PPOK adalah penyakit yang menyebabkan seseorang kesulitan mengambil oksigen. Dalam kondisi parah, seseorang terkadang membutuhkan tambahan oksigen melalui terapi oksigen secara rutin. 4. Operasi Operasi biasanya merupakan pilihan terakhir bagi orang yang menderita gejala parah yang tidak membaik dengan minum obat.

Operasi paling sering berkaitan dengan emfisema, termasuk bullectomy dan operasi pengurangan volume paru (LVRS). Transplantasi paru bisa menjadi pilihan bagi orang yang menderita PPOK sangat parah.

• Bullectomyyaitu pengangkatan gelembung pada kantung udara ( bullae ) di paru-paru • Operasi pengurangan volume paru • Transplantasi paru Bagaimana cara mencegah PPOK kambuh? Perubahan gaya hidup dan pengobatan dapat membuat Anda merasa lebih baik, tetap aktif, dan memperlambat perkembangan PPOK. Beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mencegah PPOK kambuh adalah sebagai berikut: Berhenti merokok dan hindari iritan paru Jika Anda merokok, berhentilah.

Selain sebagai penyebab utama PPOK, merokok juga berdampak buruk untuk perkembangan penyakit ini. Konsultasikan pada dokter mengenai program dan produk yang dapat membantu Anda berhenti merokok. Dapatkan bantuan medis yang konstan Sangat penting untuk mendapatkan perawatan medis yang tak terputus, terutama jika dokter mengharuskan Anda meminum obat tertentu di sepanjang hidup Anda. Atasi penyakit dan gejalanya Jalani program makan untuk mendapatkan cukup kalori dan gizi yang diperlukan tubuh, karena saat menderita PPOK, Anda bisa mengalami kesulitan orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan.

Tetaplah aktif dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur. Bersiaplah untuk keadaan darurat Catat dan simpan nomor telepon dokter, rumah sakit, dan seseorang yang bisa membawa Anda ke rumah sakit di tempat yang mudah diraih. Hubungi dokter jika Anda merasa bahwa gejala Anda memburuk atau jika Anda mengalami tanda-tanda infeksi, seperti demam.

CDC – COPD Home Page – Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). (2020). Retrieved 17 June 2020, from https://www.cdc.gov/copd/index.html Chronic obstructive pulmonary disease (COPD). (2017). Retrieved 17 June 2020, from https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/chronic-obstructive-pulmonary-disease-(copd) staff, f.

(2019). Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) — Symptoms & Treatment. Retrieved 17 June 2020, from https://familydoctor.org/condition/chronic-obstructive-pulmonary-disease-copd/?adfree=true Emphysema – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 17 June 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/emphysema/symptoms-causes/syc-20355555 COPD - National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI).

(2020). Retrieved 17 June 2020, from https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/copd Bronchitis – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 17 June 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bronchitis/symptoms-causes/syc-20355566 Bullectomy: Background, Indications, Contraindications.

(2020). Retrieved 17 June 2020, from https://emedicine.medscape.com/article/1894169-overview flare-ups, C. (2020). COPD flare-ups: MedlinePlus Medical Encyclopedia. Retrieved 17 June 2020, from https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000698.htm Avoiding COPD Exacerbations - COPD Foundation. (2020). Retrieved 17 June 2020, from https://www.copdfoundation.org/Learn-More/I-am-a-Person-with-COPD/Avoiding-COPD-Exacerbations.aspx
Escherichia coli ( E.

coli) adalah bakteri yang hidup di dalam usus manusia untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan. Bakteri orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan umumnya tidak berbahaya. Namunada jenis E. coli yang menghasilkan racun dan menyebabkan diare parah. Seseorang dapat terpapar bakteri E.

coli berbahaya karena mengonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi. Paparan E. Coli ini dapat menimbulkan gejala berupa sakit perut, diare, mual, dan muntah. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri E. coli ini akan berdampak lebih parah jika terjadi pada anak-anak dan lansia. Penyebab Infeksi Bakteri Escherichia Coli Keberadaan bakteri E.

coli di dalam tubuh manusia merupakan hal yang wajar, karena bakteri ini turut berperan menjaga kesehatan saluran pencernaan. Meski demikian, ada beberapa jenis bakteri E. coli yang justru berbahaya bagi kesehatan manusia, yaitu: • Shiga toxin-producing coli atau STEC/VTEC/EHEC • Enterotoxigenic coli (ETEC) • Enteropathogenic coli (EPEC) • Enteroaggregative coli (EAEC) • Enteroinvasive coli (EIEC) • Diffusely adherent coli (DAEC) Sebagian besar diare disebabkan oleh bakteri jenis STEC.

Bakteri ini memproduksi racun yang dapat merusak lapisan usus kecil sehingga menyebabkan BAB berdarah. Pada umumnya, bakteri E. coli yang berbahaya dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui: • Makanan dan minuman yang terkontaminasi Bakteri coli yang berbahaya sangat mudah menular akibat mengonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi. • Kontak langsung dengan bakteri E. coli Lupa cuci tangan setelah memegang binatang atau sesudah buang air besar, lalu menjalin kontak dengan orang lain dapat menularkan bakteri tersebut.

Faktor risiko infeksi E. Coli Siapapun dapat mengalami infeksi bakteri E. coli. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit yang disebabkan bakteri E. coli, di antaranya: • Usia Anak-anak, ibu hamil, dan lansia lebih rentan menderita penyakit yang disebabkan oleh E. coli dan menderita komplikasi yang lebih serius. • Sistem imun yang lemah Orang dengan daya tahan tubuh lemah, seperti penderita AIDS dan pasien yang menjalani kemoterapi, lebih rentan mengalami infeksi E.

coli. • Penurunan asam dalam perut Obat penurun asam lambung atau obat sakit maag, seperti esomeprazole, pantoprazole, lansoprazole, dan omeprazole, berpotensi meningkatkan risiko terjadinya infeksi E. coli. Gejala Infeksi Escherichia Coli Gejala infeksi E. coli dapat berbeda pada setiap orang. Namun, infeksi ini sering kali ditandai dengan diare, yang umumnya muncul 3-4 hari setelah terpapar bakteri.

Selain diare, gejala lain akibat infeksi E. Coli dapat berupa: • Rasa sakit perut yang parah hingga kram • Mual dan muntah • Perut kembung • Hilang nafsu makan • Demam • Menggigil • Pusing • Nyeri otot Kapan harus ke dokter Beberapa infeksi E. coli dapat diobati di rumah dan dapat pulih dengan sendirinya dalam beberapa hari. Namun, penderita infeksi ini dianjurkan untuk segera menemui dokter apabila mengalami gejala berikut: • Diare yang tidak membaik setelah 4 hari pada orang dewasa atau selama 2 hari pada anak-anak • Muntah-muntah selama lebih dari 12 jam • Muncul gejala dehidrasi, seperti menurunnya jumlah urine, sangat haus, atau pusing • Tinja yang dikeluarkan bercampur dengan nanah atau darah ( disentri) Diagnosis Infeksi Escherichia Coli Dokter akan menanyakan gejala dan memeriksa fisik pasien.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan sampel feses di laboratorium. Melalui pemeriksaan tersebut, dokter dapat mengetahui apakah feses tersebut mengandung E. coli atau tidak. Pengobatan Infeksi Escherichia Coli Infeksi E. coli biasanya dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari.

Namun, pada pasien yang mengalami diare parah, dokter dapat memberikan obat antibiotik.

orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan

Akan tetapi, antibiotik tidak boleh diberikan pada pasien yang diduga terinfeksi bakteri E. coli tipe STEC. Hal ini karena antibiotik dapat meningkatkan produksi racun Shiga sehingga memperparah gejala yang dialami.

orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan

Selama pemulihan, penting untuk beristirahat dan mendapatkan asupan cairan yang cukup. Selain itu, konsumsilah makanan yang berkuah untuk mengganti cairan tubuh yang hilang karena muntah-muntah dan diare. Setelah merasa lebih baik, cobalah untuk mengonsumsi makanan rendah serat, seperti biskuit, roti, atau telur. Namun, sebaiknya hindari produk susu serta makanan berlemak, karena dapat membuat gejala makin parah.

Jika gejala tidak membaik setelah mengonsumsi antibiotik selama 3 hari, disarankan untuk berkonsultasi kembali dengan dokter.

Hal ini dapat menandakan bahwa infeksi disebabkan oleh bakteri yang kebal terhadap antibiotik, seperti bakteri penghasil ESBL. Oleh karena itu, pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan. Komplikasi Akibat Infeksi Escherichia Coli Sebagian kecil penderita E. coli tipe STEC dapat terkena komplikasi berupa sindrom hemolitik uremik (HUS). Kondisi tersebut terjadi akibat racun dari bakteri E.coli yang mengalir di pembuluh darah menuju ginjal. Akibatnya, penderita bisa mengalami gagal ginjal akut, pankreatitis, kejang, dan koma.

Komplikasi tersebut lebih sering terjadi pada anak usia 1-10 tahun dan lansia daripada orang dewasa. Pencegahan Infeksi E scherichia coli Menerapkan pola hidup bersih dapat mencegah infeksi bakteri Escherichia coli yang berbahaya. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan: • Cuci tangan setelah dari kamar mandi, sehabis mengganti popok anak, serta sebelum dan sesudah menyiapkan makanan.

• Cuci tangan setelah menyentuh binatang atau bekerja di lingkungan yang banyak binatang, seperti di kebun binatang atau peternakan. • Pastikan barang-barang yang menyentuh mulut bayi dan balita, seperti dot dan alat untuk gigitan bayi ( teether), dalam keadaan bersih. • Jika tidak ada air dan sabun, gunakan pembersih tangan yang mengandung alkohol dengan kadar minimal 60%, untuk mengurangi kuman di tangan. Selain beberapa upaya pencegahan di atas, Anda harus memasak daging hingga matang dan mencuci semua peralatan masak yang digunakan, untuk mencegah paparan bakteri E.

coli yang berbahaya dari makanan. Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan ciri-ciri berupa tingginya kadar gula (glukosa) darah.

Glukosa merupakan sumber energi utama bagi sel tubuh manusia. Glukosa yang menumpuk di dalam darah akibat tidak diserap sel tubuh dengan baik dapat menimbulkan berbagai gangguan organ tubuh. Jika diabetes tidak dikontrol dengan baik, dapat timbul berbagai komplikasi yang membahayakan nyawa penderita. Kadar gula dalam darah dikendalikan oleh hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas, yaitu organ yang terletak di belakang lambung.

Pada penderita diabetes, pankreas tidak mampu memproduksi insulin sesuai kebutuhan tubuh. Tanpa insulin, sel-sel tubuh tidak dapat menyerap dan mengolah glukosa menjadi energi. Jenis-Jenis Diabetes Secara umum, diabetes dibedakan menjadi dua jenis, yaitu diabetes tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1 terjadi karena sistem kekebalan tubuh penderita menyerang dan menghancurkan sel-sel pankreas yang memproduksi insulin.

Hal ini mengakibatkan peningkatan kadar glukosa darah, sehingga terjadi kerusakan pada organ-organ tubuh. Diabetes tipe 1 dikenal juga dengan diabetes autoimun. Pemicu timbulnya keadaan autoimun ini masih belum diketahui dengan pasti. Dugaan paling kuat adalah disebabkan oleh faktor genetik dari penderita yang dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan. Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang lebih sering terjadi. Diabetes jenis ini disebabkan oleh sel-sel tubuh yang menjadi kurang sensitif terhadap insulin, sehingga insulin yang dihasilkan tidak dapat dipergunakan dengan baik (resistensi sel tubuh terhadap insulin).

Sekitar 90-95% persen penderita diabetes di dunia menderita diabetes tipe ini. Selain kedua jenis diabetes tersebut, terdapat jenis diabetes khusus pada ibu hamil yang dinamakan diabetes gestasional. Diabetes pada kehamilan disebabkan oleh perubahan hormon, dan gula darah akan kembali normal setelah ibu hamil menjalani persalinan. Gejala Diabetes Diabetes tipe 1 dapat berkembang dengan cepat dalam beberapa minggu, bahkan beberapa hari saja.

Sedangkan pada diabetes tipe 2, banyak penderitanya yang tidak menyadari bahwa mereka telah orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan diabetes selama bertahun-tahun, karena gejalanya cenderung tidak spesifik. Beberapa ciri-ciri diabetes tipe 1 dan tipe 2 meliputi: • Sering merasa haus. • Sering buang air kecil, terutama di malam hari. • Sering merasa sangat lapar. • Turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas.

• Berkurangnya massa otot. • Terdapat keton dalam urine. Keton adalah produk sisa dari pemecahan otot dan lemak akibat tubuh tidak dapat menggunakan gula sebagai sumber energi. • Lemas. • Pandangan kabur. • Luka yang sulit sembuh. • Sering mengalami infeksi, misalnya pada gusi, kulit, vagina, atau saluran kemih.

Beberapa gejala lain juga bisa menjadi ciri-ciri bahwa seseorang mengalami diabetes, antara lain: • Mulut kering. • Rasa terbakar, kaku, dan nyeri pada kaki. • Gatal-gatal. • Disfungsi ereksi atau impotensi. • Mudah tersinggung. • Mengalami hipoglikemia reaktif, yaitu hipoglikemia yang terjadi beberapa jam setelah makan akibat produksi insulin yang berlebihan.

• Munculnya bercak-bercak hitam di sekitar leher, ketiak, dan selangkangan, ( akantosis nigrikans) sebagai tanda terjadinya resistensi insulin. Beberapa orang dapat mengalami kondisi prediabetes, yaitu kondisi ketika glukosa dalam darah di atas normal, namun tidak cukup tinggi untuk didiagnosis sebagai diabetes.

Seseorang yang menderita prediabetes dapat menderita diabetes tipe 2 jika tidak ditangani dengan baik. Faktor risiko diabetes Seseorang akan lebih mudah mengalami diabetes tipe 1 jika memiliki faktor-faktor risiko, seperti: • Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 1.

• Menderita infeksi virus. • Orang berkulit putih diduga lebih mudah mengalami diabetes tipe 1 dibandingkan ras lain. • Diabetes tipe 1 banyak terjadi pada usia 4-7 tahun dan 10-14 tahun, walaupun diabetes tipe 1 dapat muncul pada usia berapapun.

Sedangkan pada kasus diabetes tipe 2, seseorang akan lebih mudah mengalami kondisi ini jika memiliki faktor-faktor risiko, seperti: • Kelebihan berat badan.

• Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 2. • Memiliki ras kulit hitam atau asia. • Kurang aktif. Aktivitas fisik membantu mengontrol berat badan, membakar glukosa sebagai energi, dan membuat sel tubuh lebih sensitif terhadap insulin. Kurang aktif beraktivitas fisik menyebabkan seseorang lebih mudah terkena diabetes tipe 2.

• Usia. Risiko terjadinya diabetes tipe 2 akan meningkat seiring bertambahnya usia. • Menderita tekanan darah tinggi ( hipertensi). • Memiliki kadar kolesterol dan trigliserida abnormal.

Seseorang yang memiliki kadar kolesterol baik atau HDL ( high-density lipoportein) yang rendah dan kadar trigliserida yang tinggi lebih berisiko mengalami diabetes tipe 2.

Khusus pada wanita, ibu hamil yang menderita diabetes gestasional dapat lebih mudah mengalami diabetes tipe 2. Selain itu, wanita yang memiliki riwayat penyakit polycystic ovarian syndrome (PCOS) juga lebih mudah mengalami diabetes tipe 2.

Diagnosis Diabetes Gejala diabetes biasanya berkembang secara bertahap, kecuali diabetes tipe 1 yang gejalanya dapat muncul secara tiba-tiba. Dikarenakan diabetes seringkali tidak terdiagnosis pada awal kemunculannya, maka orang-orang yang berisiko terkena penyakit ini dianjurkan menjalani pemeriksaan rutin. Di antaranya adalah: • Orang yang berusia di atas 45 tahun. • Wanita yang pernah mengalami diabetes gestasional saat hamil.

• Orang yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) di atas 25. • Orang yang sudah didiagnosis menderita prediabetes. Tes gula darah merupakan pemeriksaan yang mutlak akan dilakukan untuk mendiagnosis diabetes tipe 1 atau tipe 2. Hasil pengukuran gula darah akan menunjukkan apakah seseorang menderita diabetes atau tidak.

Dokter akan orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan pasien untuk menjalani tes gula darah pada waktu dan dengan metode tertentu. Metode tes gula darah yang dapat dijalani oleh pasien, antara lain: Tes gula darah sewaktu Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada jam tertentu secara acak. Tes ini tidak memerlukan pasien untuk berpuasa terlebih dahulu. Jika hasil tes gula darah sewaktu menunjukkan kadar gula 200 mg/dL atau lebih, pasien dapat orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan menderita diabetes.

Tes gula darah puasa Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada saat pasien berpuasa. Pasien orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan diminta berpuasa terlebih dahulu selama 8 jam, kemudian menjalani pengambilan sampel darah untuk diukur kadar gula darahnya.

Hasil tes gula darah puasa yang menunjukkan kadar gula darah kurang dari 100 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes gula darah puasa di antara 100-125 mg/dL menunjukkan pasien menderita prediabetes. Sedangkan hasil tes gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih menunjukkan pasien menderita diabetes.

Tes toleransi glukosa Tes ini dilakukan dengan meminta pasien untuk berpuasa selama semalam terlebih dahulu. Pasien kemudian akan menjalani pengukuran tes gula darah puasa. Setelah tes tersebut dilakukan, pasien akan diminta meminum larutan gula khusus.

orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan

Kemudian sampel gula darah akan diambil kembali setelah 2 jam minum larutan gula. Hasil tes toleransi glukosa di bawah 140 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal.

Hasil tes tes toleransi glukosa dengan kadar gula antara 140-199 mg/dL menunjukkan kondisi prediabetes. Hasil tes toleransi glukosa dengan kadar gula 200 mg/dL atau lebih menunjukkan pasien menderita diabetes. Tes Hb A1C ( glycated haemoglobin test) Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa rata-rata pasien selama 2-3 bulan ke belakang.

Tes ini akan mengukur kadar gula darah yang terikat pada hemoglobin, yaitu protein yang berfungsi membawa orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan dalam darah. Dalam tes HbA1C, pasien tidak perlu menjalani puasa terlebih dahulu. Hasil tes HbA1C di bawah 5,7 % merupakan kondisi normal.

Hasil tes HbA1C di antara 5,7-6,4% menunjukkan pasien mengalami kondisi prediabetes. Hasil tes HbA1C di atas 6,5% menunjukkan pasien menderita diabetes. Selain tes HbA1C, pemeriksaan estimasi glukosa rata-rata (eAG) juga bisa dilakukan untuk mengetahui kadar gula darah dengan lebih akurat. Hasil dari tes gula darah akan diperiksa oleh dokter dan diinformasikan kepada pasien.

Jika pasien didiagnosis menderita diabetes, dokter akan merencanakan langkah-langkah pengobatan orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan akan dijalani.

Khusus bagi pasien yang dicurigai menderita diabetes tipe 1, dokter akan merekomendasikan tes autoantibodi untuk memastikan apakah pasien memiliki antibodi yang merusak jaringan tubuh, termasuk pankreas. Pengobatan Diabetes Pasien diabetes diharuskan untuk mengatur pola makan dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, protein dari biji-bijian, serta makanan rendah kalori dan lemak.

Pilihan makanan untuk penderita diabetes juga sebaiknya benar-benar diperhatikan. Bila perlu, pasien diabetes juga dapat mengganti asupan gula dengan pemanis yang lebih aman untuk penderita diabetes, sorbitol.

Pasien diabetes dan keluarganya dapat melakukan konsultasi gizi dan pola makan dengan dokter atau dokter gizi untuk mengatur pola makan sehari-hari.

Untuk membantu mengubah gula darah menjadi energi dan meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin, pasien diabetes dianjurkan untuk berolahraga secara rutin, setidaknya 10-30 menit tiap hari. Pasien dapat berkonsultasi dengan dokter untuk memilih olahraga dan aktivitas fisik yang sesuai.

Pada diabetes tipe 1, pasien akan membutuhkan terapi insulin untuk mengatur gula darah sehari-hari. Selain itu, beberapa pasien diabetes tipe 2 juga disarankan untuk menjalani terapi insulin untuk mengatur gula darah. Insulin tambahan tersebut akan diberikan melalui suntikan, bukan dalam bentuk obat minum.

Dokter akan mengatur jenis dan dosis insulin yang digunakan, serta memberitahu cara menyuntiknya.

orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan

Pada kasus diabetes tipe 1 yang berat, dokter dapat merekomendasikan operasi pencangkokan (transplantasi) pankreas untuk mengganti pankreas yang mengalami kerusakan. Pasien diabetes tipe 1 yang berhasil menjalani operasi tersebut tidak lagi memerlukan terapi insulin, namun harus mengonsumsi obat imunosupresif secara rutin. Pada pasien diabetes tipe 2, dokter akan meresepkan obat-obatan, salah satunya adalah metformin, obat minum yang berfungsi untuk menurunkan produksi glukosa dari hati.

Selain itu, obat diabetes lain yang bekerja dengan cara menjaga kadar glukosa dalam darah agar tidak terlalu tinggi setelah pasien makan, juga dapat diberikan. Dokter juga dapat menyertai obat-obatan di atas dengan pemberian suplemen atau vitamin untuk mengurangi risiko terjadinya komplikasi. Misalnya, pasien diabetes yang sering mengalami gejala kesemutan akan diberikan vitamin neurotropik.

Vitamin neurotropik umumnya terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12. Vitamin-vitamin tersebut bermanfaat untuk menjaga fungsi dan struktur saraf tepi. Hal ini sangat penting untuk dijaga pada pasien diabetes tipe 2 untuk menghindari komplikasi neuropati diabetik yang cukup sering terjadi. Pasien diabetes harus mengontrol gula darahnya secara disiplin melalui pola makan sehat agar gula darah tidak mengalami kenaikan hingga di atas normal. Selain mengontrol kadar glukosa, pasien dengan kondisi ini juga akan diaturkan jadwal untuk menjalani tes HbA1C guna memantau kadar gula darah selama 2-3 bulan terakhir.

Komplikasi Diabetes Sejumlah komplikasi yang dapat muncul akibat diabetes tipe 1 dan 2 adalah: • Penyakit jantung • Stroke • Gagal ginjal kronis • Neuropati diabetik • Gangguan penglihatan • Katarak • Depresi • Demensia • Gangguan pendengaran • Frozen shoulder • Luka dan infeksi pada kaki yang sulit sembuh • Kerusakan kulit atau gangrene akibat infeksi bakteri dan jamur, termasuk bakteri pemakan daging Diabetes akibat kehamilan dapat menimbulkan komplikasi pada ibu hamil dan bayi.

Contoh komplikasi pada ibu hamil adalah preeklamsia. Sedangkan contoh komplikasi yang dapat muncul pada bayi adalah: • Kelebihan berat badan saat lahir. • Kelahiran prematur. • Gula darah rendah (hipoglikemia). • Keguguran. • Penyakit kuning. • Meningkatnya risiko menderita diabetes tipe 2 pada saat bayi sudah menjadi dewasa. Pencegahan Diabetes Diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah karena pemicunya belum diketahui.

Sedangkan, diabetes tipe 2 dan diabetes gestasional dapat dicegah, yaitu dengan pola hidup sehat. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah diabetes, di antaranya adalah: • Mengatur frekuensi dan menu makanan menjadi lebih sehat • Menjaga berat badan ideal • Rutin berolahraga • Rutin menjalani pengecekan gula darah, setidaknya sekali dalam setahun
MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) Sel Darah Putih : Pengertian, Fungsi, Ciri, Jenis dan Kekurangan Adalah sel lain yang terdapat dalam darah.

Fungsi umum sel darah putih ini ini sangat berbeda dengan SDM dan berperan dalam mempertahankan tubuh terhadap penyusupan benda asing yang selalu dipandang mempunyai kemungkinan untuk mendatangkan bahaya bagi kelangsungan hidup individu. 11.1. Sebarkan ini: Sel darah putih adalah sel lain yang terdapat dalam darah. Fungsi umum sel darah putih ini ini sangat berbeda dengan SDM. Sel darah putih atau leukosit (Leukocyte) ini umumnya berperan dalam mempertahankan tubuh terhadap penyusupan benda asing yang selalu dipandang mempunyai kemungkinan untuk mendatangkan bahaya bagi kelangsungan hidup individu.

Meskipun demikian, bila dilihat kembali kemahluk hidup yang lebih sederhana, leukosit ini hanya merupakan spesialisasi dari fungsi pertahanan tubuh, seperti yang dijalankan oleh sel-sel pengembara (wanderring cells). Sel pengembara ini berfungsi membawa makanan dari tempat penyerapan keseluruh tubuh, membawa bahan buangan dalam arah sebaliknya dan mempertahankan tubuh dari benda dan sel asing. Leukosit ini merupakan sel darah yang mengkhususkan diri, tercermin dari asal usulnya, yang sama dengan SDM, yaitu sel-sel “akar” (stem cells) yang terus menerus membelah didalam sumsum tulang.

Jumlah normal leukosit mempunyai rentangan yang cukup luas, yaitu antara 5.10 3-10 4/mL. Jumlah leukosit didalam darah tidaklah sebanyak SDM. Leukosit berada dalam jumlah antara 0,1-0,2% dari jumlah SDM. Untuk menjelaskan kenyataan tersebut, perlu diingat bahwa tubuh memerlukan oksigen tiap saat dan dalam jumlah yang besar. Untuk itu, diperlukan pembawa khusus, yang tidak melakukan fungsi lain. Ini dipenuhi oleh SDM yang berada dalam jumlah yang besar. Selain itu, untuk menjamin orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan tunggal ini, SDM orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan sel yang telah berdiferensiasi sempurna dan sekaligus merupaka sel akhir (end cells).

Sebaiknya, leukosit tidaklah diperlukan tiap saat diseluruh tubuh. Sel ini hanya diperlukan ditempat-tempat terjadinya konflik dengan benda asing.

Untuk menghadang benda atau sel asing orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan tempat tertentu, leukosit dapat dikerahkan dari tempat lain dalam aliran darah kesana. Apabila benda asing tersebut cukup banyak atau penanganannya memerlukan suatu jangka waktu tertentu, sebagian dari leukosit dapat memperbanyak diri dengan mitosis diluar jaringan sumsum tulang. Leukosit yang serupa ini bukanlah sel akhir.

Jelaslah, mengapa leukosit dibuat dalam perbandingan yang jauh lebih kecil dari pada SDM, walaupun keduanya mengekspresikan 2 fungsi yang berbeda dari sel pengembara pada makhluk metazoa yang lebih sederhana (Mohamad Sadikin, 2001). Sel darah putih merupakan komponen selular penting dalam darah yang berperan dalam sistem kekebalan. Dikenal adanya 3 jenis sel darah putih, yaitu limfosit (baik B maupun T), granulosit (neutrofil, eosinofil dan basofil) dan monosit.

Ketiganya berasal dari dua garis keturunan asal sel stem hematopoietic multipoten yang sama, limfosit berasal dari garis keturunan progenitor limfoid, sedangkan granulositdan monosit berasal dari garis keturunan progenitor myeloid. Limfosit B berfungsi menghasilkan antibodi, sedangkan limfosit T berperan utama dalam berbagai mekanisme imun selular seperti membunuh sel-sel yang terinfeksi virus atau sel-sel kanker.

Dalam sel darah tepi, jumlah sel darah putih relatif paling sedikit dibandingkan dengan dua sel darah lainnya dengan masa hidup selama 13-20 hari. Pada orang dsewasa normal, jumlah keseluruhan sel darah putih adalah sekitar 4.500-10.000 per mcl dengan presentasi limfosit 25-35%, granulosit neutrophil (segmen) 50-70%, basophil 0,4-1%, eosinophil 1-3% dan monosit 4-6%.

Pada keadaan tertentu karena gangguan kesehatan jumlah leukosit dapat mengkat disebut leukositosis dan sebaliknya dapat menurun disebut leucopenia. Sebagaimana halnya dengan sel darah merah, pada membran sel darah putih juga terdapat antigen-antigen.

Selain antigen sistem golongan darah, pada sel darah putih dikenal adanya antigen leukosit yang menyerupai antigen kompleks histokompatibilitas utama (Major Histocompatibility Complex, MHC) pada tikus. Sistem antigen leukosit yang kemudian dikenal sebagai antigen manusia (Human Leukocyte Antigen, HLA) ini terbukti kelak sangat kompleks dan dikatakan sebagai sistem polimorfisma genetik paling rumit pada manusia (Abdul Salam, 2012).

Bentuk dan sifat dari sel darah putih (leukosit) berbeda dengan eritrosit. Bentuknya bening, tidak berwarna, lebih besar dari eritrosit, dapat berubah dan bergerak dengan perantara kaki palsu (pseudopodia), mempunyai bermacam-macam inti sel, banyaknya antara 6000-9000/mm 3.

Fungsi utama sel darah putih adalah sebagai pertahanan tubuh dengan cara menghancurkan patogen (kuman, virus, dan toksin). Sebagai pertahanan tubuh dikerahkan ketempat-tempat infeksi dengan jumlah berlipat ganda. Leukosit dapat bergerak dari pembuluh darah menuju jaringan, saluran limfe dan kembali lagi kedalam aliran darah. Leukosit bersama sistem magrofag jaringan atau sel retikuloendotel dari hepar, limpa, sumsum tulang, alveoli paru, mikroglia otak dan kelenjar getah bening melakukan fagositosis terhadap kuman dan virus yang masuk.

Setelah didalam sel kuman/virus dicerna dan dihancurkan oleh enzim pencernaan sel (Syaifuddin, 2006). Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sistem Peredaran Darah – Pengertian, Terbuka, Tertutup, Kecil, Besar, Fungsi Jenis Sel Darah Putih (Leukosit) Leukosit bukanlah sel yang semacam saja. Sel darah putih ini pada mulanya dibedakan berdasarkan gambaran mikroskopis masing-masing.

Ada 5 macam leukosit, yang menurut bentuk inti masing-masing terbagi menjadi 2 kelompok utama. Kedua macam bentuk inti tersebut ialah bentuk yang pecah-pecah atau bersegmen dan bentuk bulat.

Bentuk yang bermacam-macam ini menjalankan fungsi yang berbeda-beda pula, yang semuanya berhubungan dengan fungsi pertahanan.

Selain itu, tiap jenis leukosit orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan dalam keadaan sehat ternyata berada dalam jumlah yang berbeda-beda pula. Perubahan presentase tiap-tiap leukosit dapat menunjukkan, apakah radang yang dialami tersebut nisbi baru terjadi ataukah sudah lama. Bahkan perubahan pola distribusi leukosit biasanya dapat diperiksa secara sederhana dengan menggunakan mikroskop cahaya biasa.

Setetes darah yang biasanya diambil dengan menusuk jari manis dengan suatu penunjuk yang steril dan kering. Dari tetesan darah tersebut, segera dibuatkan hapusan darah, yang setelah kering segera diwarnai dengan pewarna MGG. Leukosit sejumlah 100 dihitung dalam lapang pandang berbeda. Tiap kali menghitung, leukosit tersebut segera dikelompokkan ke dalam salah satu dari jenis-jenis leukosit yang lazim ditemukan dalam darah.

Perhitungan presentase jenis-jenis leukosit ini dinamai hitung jenis ( differential count atau diff. count), suatu pemeriksaan yang sangat penting untuk mengetahui, apakah radang yang dialami nisbi baru terjadi ataukah sudah agak lama. Leukosit dengan inti terpecah (sel PMN) atau granulosit Sel-sel dengan inti terpecah-pecah atau bersegmen disebut sebagai leukosit PMN.

Karena sel-sel ini juga mempunyai butir-butir halus didalam sitoplasma, maka leukosit jenis ini dinamai sebagai granulosit. Sel-sel ini bukanlah sekelompok sel yang homogen. Granulosit ini masih dapat dipilah-pilah lagi dalam 3 kelompok, berdasarkan warna sitoplasma masing-masing sesudah diwarnai dengan pewarna MGG, yaitu netral, kemerahan dan kebiruan.

Leukosit PMN atau granulosit yang netral pada pewarnaan MGG, dalam arti kata seimbang dalam nuansa kemerahan dan kebiruan, juga disebut juga sebagai leukosit netrofil. Inilah leuokosit yang terbanyak diantara ketiga jenis granulosit tersebut, bahkan leukosit netrofil ini adalah leukosit yang terbanyak didalam darah.

Sel-sel leukosit netrofilini didalam darah berada dalam konsentrasi 2. 10 3 sampai 7. 10 3 / mL. Ini berarti lebih kurang separuh atau lebih dari leukosit darah ternyata adalah sel-sel netrofil.

Waktu paruh dari leukosit netrofil ini didalam darah ialah 6 jam, sedangkan didalam jaringan 1 sampai 2 hari. Dengan demikian leukosit netrofil ini termasuk sel yang cepat mengalami pergantian, seperti juga sel-sel epitel usus. Bandingkan, misalnya dengan umur SDM didalam darah, yaitu 120 hari atau 4 bulan. Dalam keadaan sehat, hanya sedikit sekali sel-sel neutrofil ini ditemukan dalam jaringan.

Hanya bila terjadi penyusupan benda atau sel asing kedalam jaringan maka sel-sel netrofil berada dalam jumlah besar ditempat konflik tersebut.

Sifat lain yang dapat disimpulkan ialah bahwa sel-sel leukosit netrofil mempunyai kemampuan untuk menyelinap diantara sela-sela yang sangat sempit dan ketat dari sel-sel endotel yang melapisi permukaan dalam pembuluh darah. Kedua kemampuan ini dimungkinkan oleh sifat leukosit netrofil yang mampu bergerak sendiri (bukan dihanyutkan demikian saja secara pasif oleh aliran darah) secara amubiod (seperti gerak amuba).

Leukosit netrofil mempunyai kemampuan untuk melakukan gerak fagositosis, yaitu menelan dan memakan benda atau sel asing, dengan cara menjulurkan sitoplasmanya yang mampu melakukan gerak amuboid, mengelilingi benda asing tersebut. Selanjutnya kedua ujung jaluran sitoplasma bertaut dan benda asing pun terkurungdalam suatu ruang didalam sel netrofil.

Ruang baru yang berisi benda asing tersebut, disebut fagosom, melebur dengan suatu strukturpenghancur yang bernama yang benama lisosom didalam sel netrofil. Lisosom ini mengandung berbagai enzim yang menghancurkan bermacam-macam senyawa kimia. Dengan cara demikian benda asing dihancurkan. Karena itu, dapatlah dipahami bahwa fungsi leukosit netrofil ini sangat pentingdalam masa-masa awal dari suatu proses radang.

Gangguan apapun terhadap leukosit netrofil, baik yang bersifat bawaan atau genetik maupun karena pengaruh lingkungan akan menyebabkan individu yang bersangkutan amat mudah mengalami infeksi. Defisiensi enzim-enzim leukosit tertentu, baik yang terdapat didalam lisosom maupun yang diluarnya, yang berperan sdalam penghancuran benda asing, menyebabkan individu tersebut menjadi sangat mudah mengalami infeksi piogenik (infeksi yang disertai dengan pembentukan nanah, seperti bisul).

Desinfeksi enzim, seperti diketahui, merupakan kelainan bawaan yang berakar pada gen. Pemberian obat-obatan yang mepunyai dampak samping mengurangi produksi leukosit, akan menyebabkan orang tersebut akan sangat mudah mengalami radang tenggorokan dan infeksi kuman yang lain.

Obat-obatan yang mempunyai akibat samping seperti ini antara lain ialah obat tertentu penhilang rasa nyeri (analgetika), obat-obatan golongan kortikosteroid serta obat-obat penghambat mitosis yang digunakan untuk mengobati kanker. Laukosit PMN atau granulosit yang bernuansa kemerahan pada pewarnaan MGG dinamai sebagai sel leukosit eosinofil. Sel ini, walaupun granulosit kedua terbanyak sesudah leukosit netrofil, konsentrasinya dalam darah jauh lebih rendah.

Hanya saja 3 sampai 5% dari seluruh leukosit beredar yang berupa leukosit eosinofil, atau kira-kira 150 sampai 500 sel/mL darah. Tampaknya, sel ini lebih banyak berada dijaringan dari pada didalam darah. Agaknya, keberadaannya didalam darah adalah dalam rangka rangka perjalanannya untuk menuju berbagai jaringan, terutama dipermukaan epitel.

Ditempat ia menetap ini, eosinofil mempunyai umur yang lebih panjang dari pada sel-sel leukosit netrofil, atau kira-kira 150 sampai 500 sel/mL darah. Tampaknya, sel ini lebih banyak berada dijaringan dari pada didalam darah.

Agaknya, keberadaannya didalam darah adalah dalam rangka perjalanannya untuk menuju berbagai jaringan, terutama dipermukaan epitel. Ditempat ia menetap ini, eosinofil dapat berdiam selama beberapa minggu. Dengan demikian, sel eosinofil mempunyai umur yang lebih panjang daripadasel-sel leukosit netrofil.

Nuansa kemerahan dari sel ini disebabkan adanya senyawa- senyawa khusus didalam sitoplasma, terutama di dalam granula. Senyawa ini terutama adalah protein kation (bersifat basa) yang mempunyai afinitas untuk berikatan dengan zat warna golongan anilin asam, seperti eosin, yang terdapat didalam pewarna MGG.

Sel-sel eosinofil ini juga mempunyai kemampuan bermigrasi, seperti yang terbukti dengan lebih banyaknya sel ini dijaringan dari pada didalam darah. Leukosit eosinofil ini juga mampu melakukan fagositosis. Berbeda dengan sel-sel netrofil, sel eosinofil mampu membunuh parasittermasuk parasit besar seperti cacing. Parasit tersebut dibunuh oleh sel-sel eosinofil dengan cara mengeluarkan isi granula yang kaya akan protein basa atau protein kation tadi, setelah lebih dulu leukosit eusinofil tersebut melekat ke sel-sel permukaan tubuh cacing tidak berada didalam darah, tetapi terutama diepitel jaringan, dapat dipahami mengapa sel-sel eosinofil ini lebih banyak berada didalam jaringan, terutama epitel.

Dapat dikatakan bahwa sel-sel eosinofil ini merupakan alat pertahanan terhadap infestasi cacing. Karena itu, meningkatkan konsentrasi sel-sel leukosit eosinofil didalam darah merupakan petunjuk yang mengarah kepada kemungkinan adanya parasit didalam tubuh.

Keadaan lain yang juga ditandai dengan hipereosinofilia ini ialah keadaan alergi. Keterangannya belum jelas, mungkin berhubungan dengan meningkatkan konsetrasi antibiotik kelas IgE didalam dara, baik pada alergi maupun pada infestasi cacing.

Sel leukosit PMN jenis ketiga ialah pemulasan MGG tampak warna biru. Oleh karena itu, granulosit jenis ketiga ini dinamai juga sebagai leukosit basofil. Warna kebiruan ini disebabkan oleh banyaknya granula yang berisi histamin, suatu senyawa amina biogenik yang merupakan metabolit dari asam amino histidin.

Sebagaimana senyawa amina lainnya, histamin juga bersifat basa, yang menyebabkan warna biru pada pewaranaan MGG dan menjadi asal usul nama basofil tersebut. Ciri lain dari sel leukosit basofil ialah adanya kemampuan yang sangat kuat untuk mengikat IgE, berkat adanya molekul protein reseptor (pengikat) IgE di permukaan membran.

Afinitas reseptor terhadap IgE. Konsentarsi sel leukosit basofil didalam darah sangat rendah, bahkan kerap kali sukar dihitung dengan cara pemeriksaan mikroskopis biasa. Sel-sel basofil ini sangat berperan dalam keadaan alergi. Pada seseorang yang menderita alergi bila terjadi konflik antara alergen (antigen pencetus alergi) dengan antibodi yang sesuai dengan dengan kelas IgE yang biasanya terikat dengan reseptor spesifik di membran sel basofil, maka terjadilah degranulasi (penglepasan isi granula) sehingga histamin pun keluar dari sel dan masuk kedalam aliran darah.

Histamin yang bebas tersebut akan menyebabkan terjadinya gejala-gejala alergi (antara lain gatal, kulit dan mukosa membengkak akibat meningkatkan permeabilitas pembuluh darah, termasuk mukosa hidung sehingga jalan nafas bawah seperti bronkus kecil yang disertai konstriksi atau penyempitan rongga bronkus kecil karena kelarutan otot polos sehingga terjadi asma, kerutan otot polos usus sehingga cairan saluran cerna bertambah dan disertai rasa mulas.

Gejala-gejala ini dapat terjadi setampat saja, dapat pula terjadi diseluruh tubuh. Bila yang terakhir ini terjadi dalam waktu singkat (beberapa detik atau menit sesudah konflik antigen-antibodi), keadaan ini disebut renjatan anafilaktik (anaphylactic shock), keadaan yang sangat berbahaya karena turunnya jumlah cairan didalam pembuluh darah aliran darah ke berbagai organ penting, termasuk otak, menjadi sangat berkurang. Keadaan ini sangat jelas sangat memerlukan pertolongan segera.

Perlu pula diketahui, bahwa didalam jaringan terdapat sel lain yang dulu dinamai sebagai sel basofil jaringan dan kini lebih dikenal sebagai mastosit (mastocyte) atau sel mast (mast cells), yang mempunyai ukuran dan sifat yang sama dengan sel-sel basofil darah, namun asal usulnya berlainan.

Leukosit dengan inti bulat (leukosit mononukleus) Leukosit jenis ini mempuyai inti yang utuh, tidak terpecah-pecah menjadi beberapa segmen. Sebenarnya inti sel leukosit ini tidaklah selalu bulat sempurna, yang pasti ialah selalu utuh dan tidak terbagi-bagi.

orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan

Selain itu, sitoplasma sel leukosit mononukleus ini tidak mempunyai butiran-butiran kecil atau granula. Leukosit mononukleus ini tidak mempunyai butiran-nutiran kecil atau granula.

Leukosit mononukleus inipun bukan sel-sel yang homogen. Sel-sel leukosit mononukleus ini, berdasarkan perbandingan sitoplasma dengan inti, dapat dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama ialah leukosit mononukleus yang perbandingan sitoplasma dengan intinya kecil, sedangkan kelompok kedua ialah sel-sel dengan perbandingan sitoplasma dengan inti besar.

Leukosit mononukleus dengan sitoplasma: inti kecil dinamakan sebagai limfosit. Bila dilihat dengan mikroskop, tampak inti sel yang mengisi sebagian besar dari sel.

Sitoplasma limfosit bernuansa biru dan jumlahnya sedikit, mengelilingi inti saja.

orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan

Sel limfosit mempunyai ukuran yang kecil, kira-kira hampir sama dengan SDM. Limfosit adalah leukosit kedua terbanyak didalam darah sesudah leukosit netrofil. Antara 25% dan 35% dari jumlah seluruh leukosit darah adalah limfosit.

Jumlah ini akan bertambah pada tahap kronis dari suatu peradangan karena infeksi. Berbeda dengan sel-sel granulosit, limfosit tidak dapat melakukan fagositosis. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa limfosit ini kurang penting atau tidak mempunyai fungsi yang jelas dalam pertahanan tubuh. Bahkan sebaliknya, sel-sel limfosit ini mempunyai fungsi yang sangat penting dalam mekanisme pertahanan atau imunitas spesifik terhadap benda asing.

Limfosit adalah sel yang menghasilkan antibodi terhadap berbagai benda atau senyawa asing. Senyawa ini sangat penting untuk menghancurkan dan menyingkirkan benda asing dari dalam tubuh. Sel limfosit ini berada sementara didalam darah dan akan bermigrasi keberbagai kelenjar getah bening atau kelenjar limfe dan berdiam disana.

Bila limfosit bertemu dengan benda asing, ia akan berkembang adan mitosis menjadi sel plasma (plasmosit) yang berfungsi sebagai sel penghasil antibodi. Limfosit sendiri juga masih berpilah-pilah lagi menjadi 2 atau 3 jenis, yaitu limfosit B, limfosit T dan sel-sel pembuluh alamiah (Natural Killer=NK). Perbedaan antara limfosit B dengan T ini disebabkan oleh berbedanya tempat sel-sel ini dimatangkan setelah melalui tahap perkembangan tertentu disumsum tulang.

Sel limfosit B mengalami pematangan lebih lanjut tanpa meninggalkan sumsum tulang, baru kemuadian dimasukkan kedarah. (B adalah singkatan dari Bone Marrow atau sumsum tulang, tempat ia dimatangkan sebelum masuk kedarah).

Sel limfosit T mengalami pematangan lebih lanjut dikelenjar timus sebelum masuk kepembuluh darah. (T adalah singkatan untuk kelenjar timus). Ketiga jenis linfosit ini praktis tidak dapat dibedakan dengan pewarnaan MGG saja(walaupun barangkali sel-sel NK masih dapat dikenali). Untuk membedakannya diperlukan cara-cara tertentu dan tehnik pewarnaan khusus (pewarnaan imunokimia).

Bahkan, sel-sel limfosit T nasih dapat dipilah-pilah lagi dengan tehnik imunokimia ini, menjadi sel limfosit T penolong limfosit T supresor dan limfosit T pembunuh (berbeda dengan sel NK).

Sel-sel mononukleus yang mempunyai sitoplasma: inti besar, atau dengan perkataan lain mempunyai sitoplasma yang banyak dinamai sebagai sel-sel monosit. Inti sel monosit biasanya tampak seperti kacang merah atau ginjal, karena mempunyai bagian yang melekuk. Konsentrasi sel monosit ini didalam darah antara 5% sampai 10%. Selmonosit ini berada didalam darah hanyaa selama 24 menit saja, untuk selanjutnya bermigrasi keberbagai jaringan, menetap disana dan berubah menjadi sel dengan sitoplasma yang lebih besar dari padaa monosit dan kerap kali berlekuk-lekuk.

Monosit yang sudah berdiam diri di jaringan ini disebut makrofag jaringan (tissue macrophages) atau makrofag penghuni (resident macrophages).

Bentuk dan nama-nama makrofag ini bermacam-macam. Didalam dalam jaringan hati, makrofag ini dinamakan sebagai sel kupffer, dijaringan susunan saraf pusat dinamakan sel mikroglia, dilimbah dan kelenjar getah bening dinamakan sebagai sel dendritik (karena sitoplasama sel ini memiliki tonjolan yang sangat banyak sekali sehingga tampak berlekuk-lekuk. Diparu, makrofag dikenal sebagai sel makrofag alveolus, di ginjal makrofak dijumpai sebagai sel mesangium dan didalam tulang makrofag dinamakan sebagai sel oeteoklas.

Makrofag juga ditemukan sebagai sel-sel dendritik dikulit dan dinamai sebagai sel langerhans. Selain mampu melakukan gerak amuboid, makrofag juga mempunyai kemampuan fagositosis dan menghancurkan benda asing yang sangat kuat. melebii kemampuan sel-sel leukosit netrofil, sitoplasma makrofag juga kaya akan lisosom yang mengandung berbagai enzim penghidrolisis.

Selain itu seperti juga leukosit netrofil, sel ini mapu meningkatkan metabolisme aerobnya bila sedang membunuh sel asing. Hasil metabolisme aerobik tersebut berupa H 2O 2 dan turunannya.seperti hipoklorit (CIO –) dan radikal hidroksil (OH –) digunakan untuk pengoksidasi atau merusak benda atau sel asing yang telah ditelan oleh makrofag tersebut. Dengan demikian, makrofag mempunyai peranan dalam mempertahankan tubuh terhadap benda asing, terutama pada tahap yang agak lanjut, bila sel-sel leukosit netfil mulai memerlukan bantuan.

Pada tahap yang lanjut, tugas ini dilakukan oleh makrofag dan sel ini bekerja secara khas dengan bantuan anti bodi menghancurkan benda asing. Lebih penting lagi, makrofak ternyata mempunyai peran pusat dalam tanggapan imusn spesifik. Karena sel inilah yang mengelolah dan menyajikan benda asing sebagai antigen ke sel-sel yang membuat antibodi, yaitu limfosit B yang bekerja atas bantuan limfosit T. Oleh karena itu, makrofag, terutama dalam bentuk sel-sel dendritik di kelenjar getah bening, limfa dan kulit, dinamai juga sebagai sel penyaji antigen.

Selain itu, makrofag juga membuat dan mengeluarkan senyawa yang mampu membuat dan mengaktifkan sel-sel limfosit didekatnya, sehingga sel limfosit tersebut siap untuk mengolah antigen dan menghasilkan anti bodi. Senyawa tersebut, sutu protein, didalam tulang, sebagai osteoklas sel-sel makrofag memfagositosis matriks tulang yang selanjutnya dibentuk laggi oleh sel lain yang bernama selosteoblas. Ini berarti, sel-sel makrofag tulang (osteoklas) mempunyai peran pentng dalam memberi bentuk (remodelling) pada tulang (Mohamad Sadikin, 2001).

Orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pembuluh Darah – Aliran, Komponen, System, Lapisan, Kapiler, Arteri, Vena Fungsi Sel Darah Putih Fungsi Sel Darah Putih (Leukosit) ialah sebagai berikut : • Berfungsi menjaga kekebalan tubuh sehingga tak mudah terserang penyakit • Melindungi badan dari serangan mikroorganisme pada jenis sel darah putih granulosit dan monosit • Mengepung darah yang sedang terkena cidera atau infeksi • Menangkap dan menghancurkan organisme hidup • Menghilangkan atau menyingkirkan benda-benda lain atau bahan lain seperti kotoran, serpihan-serpihan dan lainnya.

• Mempunyai enzim yang dapat memecah protein yang merugikan tubuh orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan menghancurkan dan membuangnya • Menyediakan pertahanan yang cepat dan juga kuat terhadap penyakit yang menyerang. • Sebagai pengangkut zat lemak yang berasal dari dinding usus melalui limpa lalu menuju ke pembuluh darah Pembentukan Antibodi di dalam tubuh. Granulosit dan monosit mempunyai peranan penting dalam pelindungan badan terhadap mikroorganisme.

Dengan kemampuannya sebagai fagosit (fago-saya makan), mereka memakan bakteri bakteri hidup yang masuk ke peredaran darah. Melalui mikroskop adakalanya dapat dijumpai sebanyak 10-20 mikroorganisme tertelan oleh sebutir granulosit. Pada waktu menjalankan fungsi ini mereka disebut fagosit. Dengan kekuatan gerakan amuboidnya ia dapat bergerak bebas didalam dan dapat keluar pembuluh darah dan berjalan mengitar seluruh bagian tubuh.

Dengan cara ini ia dapat : mengepung daerah yang terkena infeksi atau cedera, menangkap organismehidup dan menghancurkannya, menyingkirkan bahan lain seperti kotoran-kotoran dan sebagi tambahan granulosit memiliki enzim yang dapat memecah protein, yang memungkinkan merusak jaringan hidup, menghancurkan dan membuangnya.

Dengan cara ini jaringan yang sakit atau terluka dapat dibuang dan penyembuhan dimungkinkan. Sebagai hasil kerja fagositik dari sel darah putih, peradangan dapat dihentikan sama sekali.

Mengenai fungsi limfosit sedikit yang diketahui. Mereka tidak memiliki gerakan amuboid, terapung-apung didalam aliran darah dan juga terdapat dalam jaringan limfe dari semua bagian badan. Mereka tidak memakan bakteri, tetapi diduga bahwa mereka membentuk antibodi (badan penangkis) penting yang melindungi tubuh terhadap infeksi khronik dan mempertahankan tinggkat kekebalannya (imunitas) tertentu terhadap infeksi.

Leukositosis adalah istilah untuk menunjukan penambahan jumlah keseluruhan sel darah putih dalam darah, yaitu jika penambahan melampaui 10.000 butir per milimeter kubik.

Leukopenia berarti berkurangnya jumlah sel darah putih sampai 5000 atau kurang. Limfositosis pertambahan jumlah limfosit Agranulositosis suatu penurunan jumlah granulosit atau sel polimorfonuklear secara menyolok (Evelyn Pearce, 2008). Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Cairan Intraseluler Dan Ekstraseluler Beserta Perbedaannya Ciri-Ciri Sel Darah Putih (Leukosit) • Sel darah putih tersebut berjumlah kurang lebih 6 ribu-9 ribu butir atau mm3 • Sel darah putih tersebut tidak memiliki warna ataupun tidak berwarna • Mempunyai inti sel ataupun nukleus • Memiliki bentuk yang banyak atau juga dapat dikatakan bentuknya tidak beraturan • Dapat juga berubah bentuk • Sel darah putih tersebut hanya dapat bertahan hidup antara 12 sampai dengan 13 hari • Sel darah putih tersebut terbuat di dalam sumsum merah tulang pipih, limpa, dan juga kelenjar getah bening • Bergerak secara ameboid (seperti dengan amoeba) • Dapat juga menembus dinding pembuluh darah Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Mekanisme Pertukaran Gas Selama Pernapasan Pembentukan Leukosit Polimorfonuklear dan monosit normalnya dibentuk hanya dalam orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan tulang.

Sebaliknya limfosit dan sel plasma dihasilkan dalam berbagai organ termasuk kelenjar limfe, limpa, kelenjar timus, tonsil dan sisa limfoid yang terletak dalam usus dan ditempat lain. Beberapa sel darah putih yang dibentuk dalam sumsusm tulang, khususnya granulosit, disimpan dalam sumsum tulang sampai dibutuhkan dalam sistem sirkulasi, bila dibutuhkan akan dilepas. Sel magrofag sebagai sel mobil sanggup mengembara melalui jaringan.

Kebanyakan sel monosiot memasuki jaringan setelah menjadi makrofag melekat pada jaringan selama berbulan-bulan.sel monosit menpunyaisanggupan seperti makrofag yaitu memakan bakteri, virus, jaringan nekrosis atau partikel asing dalam jaringan.

Bila dirangsang dapat lepas orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan perlengketan dan berespon terhadap hemotaksis dan semua rangsangan lain yang berhubungan. Kombinasi makrofag mobil dengan makrofag jaringan tersebut dinamakan sistem retikuloendotel. Bila dipartikel tidak dihancurkan secara lokal dalam jaringan ia akan masuk kedalam limfe dan mengalir melalui pembuluh darah (Syaifuddin, 2006).

Granulopoiesis Granulosit dan monosit dalam darah dibentuk dalam sumsum tulang dari suatu sel prekusor yang sama. Dalam seri granulopoietik, sel progenitor, mieloblas, promielosit dan mielosit membentuk sekumpulan (pool) sel mitotik atau proliferatif, sedangkan metamielosit, granulosit batang, dan segmen membentuk kompartemen pematangan pasca mitosis.

Sejumlah besar netrofil batang dan segmen ditahan dalam sumsum tulang sebagai “pool persendian” atau kompartemen penyimpanan. Sumsum tulang biasanya mengandung lebih banyak sel mieloid dari pada eritroid dengan perbandingan 2:1 sampai 12:1, dengan proporsi terbesar berupa netrofil dan metamielosit.

Pada keadaan stabil atau normal, kompartemen penyimpanan sumsum tulang mengandung 10-15 kali dari jumlah granulosit yang ditemukan dalam sel darah tepi. Setelah pelepasannya dari sumsum tulang, granulosit hanya menghabiskan waktu 6-10 jam dalam darah sebelum orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan ke dalam jaringan tempat mereka melaksanakan fungsi fagositiknya.

Dalam aliran darah, terdapat dua kelompok yang biasanya berukuran hampir sama-kelompok yang bersikulasi/ circulating pool (termasuk dalam hitung darah) dan kelompok yang ditepi/ marginating pool (tidak termasuk dalam hitung darah). Diperkirakan netrofil rata-rata menghabiskan waktu selama 4-5 hari dalam jaringan sebelum dirusak selama kerja pertahanan atau akibat penuaan. Leukositosis basofil (basofillia) yaitu peningkatan jumlah basofil darah diatas 0,1 x 10 9/1 jarang terjadi.

Penyebab umumnya adalah kelainana mieloproliferatif seperti leukimia mieloid kronik atau polisitemia vera. Peningkatan basofil reaktif kadang-kadang ditemukan pada miksedema, selam infeksi cacar atau cacar air, dan pada kolitis ulseratif (Hoffbrand dkk, 2005). Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Pengaturan Kadar Gula Darah Dalam Tubuh Faktor Pertumbuhan Mieloid Pengendali Granulopoesis : Faktor Pertumbuhan Mieloid Seri granulosit berasal dari sel progenitor sumsum tulang yang makin lama terspesialisasi.

Banyak faktor pertumbuhan yang terlibat dalam proses pematangan ini termasuk interleukin-1 (IL-1), IL-3, IL-5 (untuk eosinofil), IL-6, IL-11, faktor pertumbuhan koloni granulosit-makrofag (granulocite-macrophage colony stimulating factor, GM-CSF), CSF granulosit (G-CSG) dan CSF monosit (M_CSF). Faktor-faktor pertumbuhan tersebutmerangsang terjadinya proliferasi, diferensiasi, serta mempengaruhi fungsi sel matur tempat faktor tersebut bekerja (misalnya fagositosis, pembentukan superoksida dan sitotoksisitas dan produksi sitoksin lain oleh monosit.

Produksi granulosit dan monosit yang bertambah akibat adanya infeksi diinduksi oleh meningkatnya produksi faktor pertumbuhan dari sel stroma dan limfosit T, yang dirangsang oleh endotoksin, IL-1, atau faktor nekrosis tumor ( tumor necrosis factor, TNF) (Hoffbrand dkk, 2005). Aplikasi Klinis Faktor Pertumbuhan Mieloid Pemberian G-CSF secara intravena atau subkutan dalam klinik telah terbukti menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah netrofil, sedangkan pemberian GM_CSF meningkatkan jumlah netrofil, eosinofil dan monosit.

Obat-obat ini telah banyak dipakai dalam praktik klinik dan beberapa indikasinya adalajjjh sebagai berikut : • Pasca-kemoterapi, radioterapi atau transpalantasi sumsum tulang. Pada keadaan ini GM_CSFdan G_CSF mempercepat pemulihan hemopoietik dan mempersingkat periode netropenia.

Sehingga hal ini mengurangi lama rawat inap dirumah sakit, pemakaian antibiotik dan kekerapan infeksi, tetapi periode netropenia berat setelah kemoterapi intensif tidak dapat dicegah atau dipersingkat. • Leukemia mielositik akut. G-CSFdigunakan dalam beberapa protokol untuk merangsang sel blas mieloid masuk ke dalam siklus sel yang meningkatkan sensivitasnya terhadap kemoterapi. • Mielodisplasia. Faktor pertumbuhan granulosit telah diberikan secara tersendiri atau bersama dengan zat seperti eritropoietin sebagai usaha untuk memperbaiki fungsi sumsum tulang tanpa mempercepat transformasi leukemia.

• Netropenia berat. Netropenia konginetal dan dapat (termasuk netropenia siklik dan netropenia yang diinduksi obat) telah terbukti berespons baik terhadap pemberian G-CSF. • Infeksi berat. GM-CSF dan G-CSF telah digunakan sebagai adjuvan untuk terapi antimikroba dan GM-CSF dapat sangat membantu pada penyakit jamur invasif.

• Transplantasi sel induk darah tepi. G-CSF digunakan untuk meningkatkan jumlah progenitor multipoten dalam darah, dan meningkatkan panen sel induk darah tepi yang cukup untuk transplantasi (Hoffbrand dkk, 2005). Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian dan fungsi Plasma Darah Menurut Ahli Biologi Kelainan Fungsi Netrofil dan Monosit Fungsi normal netrofil dan monosit dapat orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan menjadi 3 fase : • Kemotaksis (mobilisasi dan migrasi sel).

Fagostik tertarik ke bakteri atau lokasi inflamasi oleh zat kemotaktik yang dilepaskan dari jaringan yang rusak atau oleh komponen komplemen dan juga oleh interaksi molekul perlekatan leukosit dengan ligan dijaringan yang rusak. • Fagositosis.

Bahan asing (bakteri, jamur, dll) atau sel pejamu yang mati atau rusak difagositosis. Pengenalan partikel asing dibantu oleh opsonisasi dengan imunoglobulin atau komplemen karena netrofil maupun monosit mempunyai reseptor Fe dan C3b. Opsonisasi sel tubuh normal (misalnya eritrosit atau trombosit) juga membuat sel tersebut dapat dirusak oleh makrofag sistem retikuloendotelia, seperti pada hemolisis autoimun, purpura trombositopenik idiopatik (autoimun), atau sitopenia yang diinduksi obat.

• Makrofag mempunyai suatu peran sentral dalam presentasi antigen-memproses dan mempresentasikan antigen asing di molekul antigen leukosit manusia (HLA) ke sistem imun. Makrofag juga menyekresi sejumlah besar faktor pertumbuhan yang mengatur respons inflamasi dan respon imun. • Kemokin adalah sitokin kemotaktik yang terdiri atas dua kelas utama-kemokin CXC(α), yaitu sitokin pro-inflamsi kecil (8-10000 MW) yang terutama bekerja pada netrofil dan kemokin CC (β) seperti protein inflamsi makrofag ( macrophage inflammatory protein) (MIP)-1α dan RANTES yang bekerja pada monosit, basofil, eosinofil, dan sel natural killer (NK).

Kemokin dapat dihasilkan secara konstitusi dan mengatur aktivitas limfosit pada kondisi fisiologik; kemokin inflamatorik diinduksi dan diregulasi meningkat oleh rangsangan inflamasi. Orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan ini berikatan dengan dan mengaktifkan sel melalui reseptor kemokin dan berperan penting dalam merekrut sel yang sesuai ke lokasi inflamsi. Reseptor kemokin telah diidentifikasi sebagai koreseptor untuk masuknya virus HIV ke dalam sel.

orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan

Membunuh dan mencerna. Ini terjadi melalui jalur bergantung-oksigen atau tidak bergantung oksigen. Pada reaksi bergantung oksigen superoksida (O 2 –), hidrogen peroksida (H 2O), dan spesies oksigen (O 2) teraktivasi lainnya, dihasilkan dari O 2 dan nikotimanida adenin dinukleotida fosfat tereduksi (NADPH). Dalam netrofil, H 2O 2 bereaksi dengan mieloperoksidase dan halida intraseluler untuk membunuh bakteri; mungkin juga terdapat keterlibatan oksigen teraktivasi. Mekanisme mikrobisida non-oksidatif melibatkan penurunan pH dalam vakuo fagosit tempat dilepaskannya enzim lisosom.

Faktor tambahan yaitu laktoferin-suatu protein pengikat besi yang terdapat dalam granula netrofil bersifat bakteriostatik dengan cara mengambil besi dari bakteri.

Monositosis adalah peningkatan jumlah monosit darah ditas 0,8 x 10 9 /l jarang ditemukan. Neutropenia kongenital. Batas bawah hitung neutrofil normal adalah 2,5 x 10 9 /l.

Apabila jumlah neutrofil absolut kurang dari 0,5 x 10 9 /l, pasien mungkin menderita infeksi berulang dan jika jumlahnya turun sampai kurang dari 0,2 x 10 9 /l, resikonya sangat serius, khususnya jika terdapat juga suatu defek fungsional. Netropenia dapat bersifat selektif atau merupakan bagian dari pensitopenia umum.

orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan

Netropenia berat terutama disertai dengan infeksi mulut dan tenggorokan. Ulserasi yang terasa nyeri dan sering kali sulit diatasi dapat terjadi di tempat-tempat tersebut, pada kulit atau anus. Septikemia dapat terjadi dengan cepat. Organisme yang biasanya dibawa sebagai komensal oleh individu normal, seperti Staphylococcus epidermitis atau organisme gram negatif dalam usus, dapat menjadi patogen.

orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan

Orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan sumsum tulang berguna dalam menentukan derajat kerusakan granulopoiesis, misalnya apakah terdapat pengurangan jumlah prekusor dini atau apakah hanya terdapat pengurangan jumlah netrofil darah dan netrofil sumsum tulang dengan prekusor lanjut tetap dalam sumsum tulang.

Aspirasi sumsusm tulang dan biopsi trephin juga dapat membuktikan adanya leukemia, mielodisplasia, atau infiltrasi lain. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Fungsi dan Jenis-Jenis Vitamin Menurut Ahli Kimia Kekurangan Sel Darah Putih Kekurangan Sel Darah Putih Berdasarkan Jenis Darah Putih Sel darah putih terbagi menjadi beberapa jenis dengan masing-masing fungsi yang tidak jauh berbeda, yaitu sama-sama menopang sistem kekebalan tubuh.

Berikut berbagai jenis kekurangan sel orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan putih berdasarkan jenis darah putih dalam tubuh. • Kekurangan neutrofil Neutrofil merupakan jenis sel darah putih yang paling berlimpah di dalam tubuh dengan jumlah mencapai 55-70 persen dari jumlah sel darah putih. Kehadiran neutrofil dalam tubuh terbilang penting karena dibandingkan dengan jenis sel darah putih lainnya, neutrofil mampu bergerak bebas melewati dinding pembuluh darah dan ke dalam jaringan tubuh untuk menyerang semua zat antigen yang masuk ke tubuh.

Pengobatan yang dapat diberikan kepada penderita neutrofil rendah bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan penyakit. Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah: antibiotik khusus jika penyebabnya infeksi bakteri, pemberian obat untuk menekan sistem imun, terapi granulosit koloni stimulating factor (GCSF), mengganti obat yang dikonsumsi jika dicurigai obat yang digunakan adalah pemicu neutropenia, hingga melakukan transplantasi sumsum tulang pada beberapa tipe neutropenia berat.

• Kekurangan basofil Peran basofil dalam tubuh adalah memerangi infeksi, mencegah pembekuan darah, menyerang zat yang menyebabkan alergi, dan memproduksi serotonin dan histamin yang berperan dalam memediasi respons inflamasi terhadap serangan alergi. Kandungan basofil dalam tubuh adalah kurang dari 3 persen dari jumlah total sel darah putih.

Salah satu yang menyebabkan tingkat basophil rendah dalam tubuh adalah terjadinya hipertiroidisme, yaitu kondisi ketika kelenjar tiroid memproduksi terlalu banyak hormon tiroid. Gejala-gejala yang bisa timbul adalah peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah, keringat berlebih, penurunan berat badan.

Infeksi dan reaksi hipersensitivitas akut juga bisa memicu basophil rendah. • Kekurangan limfosit Limfosit merupakan sel darah putih yang berperan melawan infeksi bakteri, virus dan kanker.

orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan

Saat jumlah limfosit rendah atau dikenal dengan sebutan limfositopenia, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi akan terganggu dan tubuh akan lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit kanker. Berbagai macam hal ditengarai menjadi penyebab kadar limfosit rendah. Mulai dari infeksi HIV/AIDS, tubuh tidak dapat memproduksi limfosit dengan baik, limfosit terjebak pada limpa atau kelenjar getah bening, malanutrisi, flu, mengalami kondisi autoimun, penghancuran limfosit yang berlebihan dan beberapa kondisi medis lainnya.

Penderita limfositopenia ringan tidak membutuhkan pengobatan khusus karena dengan sendirinya, kandungan limfosit di dalam tubuh bisa kembali normal. Terapi limfositopenia akan bergantung pada kondisi yang mendasari penyakit ini. Bagi penderita yang mengalami infeksi yang dinilai berat dan terjadi secara berulang-ulang karena limfositopenia akan membutuhkan suatu pengobatan untuk mengatasi infeksi.

Dokter juga akan berusaha untuk menangani penyakit orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan mungkin saja menjadi pemicu dari limfositopenia. Kekurangan sel darah putih dapat menjadikan Anda rentan terhadap infeksi virus, bakteri, atau patogen lainnya. Jika dalam sebuah pemeriksaan Anda mengalami kekurangan sel darah putih, disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter guna mendapatkan penanganan yang tepat.

Periksakan diri pula kepada dokter jika dalam hal ini Anda mengalami mual, muntah parah, demam, menggigil, tidak dapat minum dan makan, diare berdarah, lemas, sakit kepala, dan sesak napas karena kondisi-kondisi semacam ini bisa menjadi pertanda bahwa jumlah sel darah putih Anda tidak normal.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Biologi : Pengertian, Manfaat, Cabang dan Menurut Para Ahli Penyebab Kekurangan sel darah putih Berbagai macam hal ditengarai menjadi penyebab kekurangan sel darah putih, seperti: • Gangguan medis tertentu sejak lahir yang mengakibatkan berkurangnya fungsi sumsum tulang belakang. • Adanya infeksi virus yang menyebabkan terjadinya gangguan kerja sumsum tulang belakang. • Infeksi berat yang menyebabkan sel darah putih dibutuhkan dengan cepat dibandingkan produksi sel darah putih sendiri.

• Penggunaan obat-obatan, seperti antibiotik, yang berisiko menghancurkan sel darah putih. • Kanker, atau penyakit autoimun yang berhubungan dengan kerusakan sumsum tulang belakang.

Pada kasus-kasus tertentu, seseorang yang mengidap penyakit sarkoidosis juga bisa mengalami defisiensi sel darah putih. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 10 Organ Sistem Alat Reproduksi Wanita Beserta Fungsi Dan Bagiannya Jumlah Leukosit Ketika dihadapkan peda kelainan sel darah putih, pertama-tama harus dilakukan hitung jumlah absolute setiap bentuk sel darah putih perifer untuk menentukan secara tepat kelainan yang perlu dijelaskan.

Jumlah Leukosit = Jumlah Leukosit yang Dihitung x Faktor Pengencer Volume yang Dihitung Ketepatan jumlah absolut yang ditentukan dengan metode ini buruk jika sel-sel yang ada kurang dari 5-10% dari semua sel darah putih (misalnya eosinofil, basofil), dan diperlukan teknik penghitungan langsung yang khusus jika ketepatan sangat penting (misalnya : jumlah neutrofil pada penderita asma) (Larry Waterbury, 1998). Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Biologi, SMA Ditag band neutrophil rendah artinya, buah untuk menurunkan sel darah putih, buah-buahan untuk menurunkan sel darah putih, cara mengatasi kelebihan sel darah putih, cara mengatasi leukosit rendah, cara mengobati sel darah putih tinggi, cara menurunkan leukosit, cara orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan sel darah putih, ciri ciri kelebihan sel darah putih, ciri ciri sel darah putih, eritrosit, jenis sel darah putih, kekurangan sel darah putih, kelainan morfologi leukosit, kelainan sel darah merah, kelebihan darah merah, kelebihan sel darah putih pada bayi, kelebihan trombosit, leukimia, leukosit 27000, leukosit dan trombosit rendah, leukosit dan trombosit tinggi pada anak, leukosit normal, leukosit rendah, leukosit tinggi pada ibu hamil, makanan yg bisa mengobati kelebihan sel darah putih, nilai normal eritrosit, nilai normal hematokrit, nilai normal trombosit, normal sel darah putih, obat herbal myelofibrosis, obat penurun leukosit di apotik, obat tradisional kelebihan sel darah putih, Pengertian Sel Darah Putih (Leukosit), penyakit kekurangan sel darah putih, penyakit leukemia sel darah putih, perbedaan leukositosis dan leukemia, radang tenggorokan leukosit tinggi, sel darah merah, sel darah putih jawaban tts, sel darah putih normal, sel darah putih rendah, sel darah putih tts, trombosit, wbc adalah hasil lab Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Penjelasan Ciri-Ciri Bacillus Anthracis Dalam Biologi • Penjelasan Ciri-Ciri Helicobacter Pylori Dalam Biologi • Pengertian Kata Berimbuhan • Pengertian Coelentarata – Ciri, Habitat, Reproduksi, Klasifikasi, Cara Hidup, Peranan • Pengertian Gerakan Antagonistic – Macam, Sinergis, Tingkat, Anatomi, Struktur, Contoh • Pengertian Dinoflagellata – Ciri, Klasifikasi, Toksisitas, Macam, Fenomena, Contoh, Para Ahli • Pengertian Myxomycota – Ciri, Siklus, Klasifikasi, Susunan Tubuh, Daur Hidup, Contoh • “Panjang Usus” Definisi & ( Jenis – Fungsi – Menjaga ) • Pengertian Mahasiswa Menurut Para Ahli Beserta Peran Dan Fungsinya • “Masa Demokrasi Terpimpin” Sejarah Dan ( Latar Belakang – Pelaksanaan ) • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com
RumahCom – Masyarakat melakukan kegiatan sehari – hari dimanapun mereka berada.

Dari kegiatan sehari – hari tersebut, tidak sedikit yang menghasilkan limbah. Limbah adalah zat sisa yang sudah tidak terpakai dan harus disingkirkan agar tidak menumpuk di suatu tempat.

Dalam pengelolaannya, limbah menjadi masalah besar terutama limbah dari kegiatan rumah tangga. Limbah rumah tangga memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan jika anda tidak mengolahnya terlebih dahulu sebelum membuangnya. Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai limbah rumah tangga dan cara mengelolanya dengan tepat dalam 4 sesi diantaranya: • Apa yang Dimaksud Limbah Rumah Tangga?

• Dampak dari Bahayanya Limbah Rumah Tangga • Inilah Limbah Rumah Tangga yang Bisa Berbahaya • Sampah Organik • Sampah Anorganik • Cara Mengelola Limbah Rumah Tangga agar Tidak Mencemari Lingkungan • Pemilihan • Pewadahan • Pengumpulan • Penangan Sampah dengan Konsep 3R 1. Apa yang Dimaksud Limbah Rumah Tangga? Rumah tangga banyak sekali menghasilkan jenis limbah yang berbeda.

(foto: Pexels – Juan Pablo Serrano Arenas) Dilansir dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya, limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoran manusia. Pengolahan limbah rumah tangga yang tepat sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya pencemaran terhadap lingkungan.

Adapun pengolahan limbah rumah tangga yang baik disesuaikan dengan jenis limbah rumah tangga yang dihasilkan. Daerah perkotaan dengan jumlah penduduk yang padat, memiliki permasalahan pada pembuangan limbah rumah tangga. Permukiman padat di perkotaan banyak yang tidak dilengkapi dengan sumur resapan untuk mengolah kembali air ataupun mengendapkan limbah cair rumah tangga yang dihasilkan dari berbagai aktivitas, seperti: mandi, buang air kecil, buang air besar, cuci tangan, cuci alat masak dan alat makan, cuci pakaian, cuci kendaraan ataupun aktivitas lainnya.

Banyak rumah secara sengaja mengalirkan buangan limbah tersebut ke selokan ataupun sungai yang ada disekitarnya. Hal ini mengakibatkan munculnya kerusakan lingkungan yang akan membawa dampak buruk lain pada kehidupan di masyarakat. Bila limbah dibuang langsung ke sungai, air sungai akan tercemar oleh zat kimia dan berbagai bakteri berbahaya yang akan menyebar lebih luas.

Dengan begitu air sungai tidak lagi bisa dimanfaatkan sebagai sumber air bersih. 2. Dampak dari Bahayanya Limbah Rumah Tangga limbah rumah tangga berdampak buruk bagi lingkungan (foto: Wikipedia) Dilansir dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, pembuangan limbah rumah tangga memiliki berbagai dampak. Dari aspek kesehatan, air limbah yang berasal toilet mengandung bakteri E.

Coli yang dapat menyebabkan penyakit perut seperti typhus, orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan, kolera.

Bila tidak diolah secara memadai, limbah toilet bisa merembes ke dalam sumur (apalagi bila jarak antara sumur dan septic tank tidak sesuai baku mutu, seperti yang banyak ditemukan di permukiman padat). Bila air sumur yang sudah tercemar tersebut dimasak, bakteri akan mati, tetapi bakteri tetap dapat menyebar melalui proses lain, seperti; cuci piring, mandi, gosok gigi, wudhu dan kegiatan penggunaan air sumur lainnya tanpa melalui proses memasak.

Dari aspek lingkungan, jenis limbah tertentu, seperti limbah cuci mengandung bahan kimia deterjen yang dapat mempengaruhi tingkat keasaman tanah. Limbah dengan kandungan bahan kimia yang dibuang ke sungai dapat mematikan tumbuhan dan hewan tertentu yang hidup di sungai. Keadaan ini dapat merusak ekologi sungai secara keseluruhan dalam waktu yang berkelanjutan.Air mengandung kadar oksigen, dan bisa berkurang saat ada komponen lain masuk ke dalamnya.

Jika kadar oksigen di dalam air berkurang, maka kualitas air bisa dikatakan buruk. Di dalam air terdapat ekosistem yang harus dijaga keseimbangannya.Jika air tercemar limbah seperti sampah ataupun bahan kimia, hal ini akan mengganggu makhluk hidup yang hidup di dalamnya.

Tidak hanya hewan-hewan yang hidup di dalamnya, tumbuhan air pun akan terganggu produktivitasnya karena air berguna sebagai pembentuk protoplasma yang berperan dalam proses transpirasi dan fotosintesis. Dan dari aspek estetika, limbah yang tidak diolah dapat menimbulkan masalah bau yang tidak sedap dan menghadirkan lingkungan yang tidak elok dipandang. Jangan disepelekan. Sebab limbah rumah tangga bisa berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan orang sekitar.

orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan

Agar lingkungan asri dan sehat, lakukan pemanfaatan limbah tersebut. Rumah.com berikan rekomendasi hunian sejuk dan asri di Bandung di bawah Rp700 jutaan. 3. Inilah Limbah Rumah Tangga yang Bisa Berbahaya Ada beberapa jenis limbah yang berbeda.

(foto: Westsussex) Sampah organik adalah sampah yang bisa terurai dengan sendirinya karena bisa membusuk misalnya sisa makanan, sayuran, buah – buahan, nasi, dan sebagainya. Dampak dari pembuangan limbah organik yang mengandung protein akan menghasilkan bau yang tidak busuk dan menyebabkan eutrofikasi atau menjadikan perairan terlalu subur sehingga terjadi ledakan jumlah alga dan fitoplankton yang saling berebut mendapat cahaya untuk fotosintesis.

Orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan kedua adalah limbah air. Limbah air dihasilkan dari kegiatan mandi dan mencuci yang dilakukan rumah tangga, restoran, penginapan, mall dan lainnya seperti air bekas cucian pakaian atau alat makan, air bekas mandi, sisa makanan berwujud cair dan lain – lain. Dan yang terakhir adalah kotoran yang dihasilkan manusia seperti tinja dan urine.

Jika tidak dikelola dengan baik, kotoran manusia dapat mengganggu keseimbangan ekosistem tanah, air, udara karena pencemaran ekosistem yang diakibatkan oleh berbagai jenis bahan pencemar biologis, kimiawi, maupun fisik yang terdapat pada tinja dan urine. 4. Cara Mengelola Limbah Rumah Tangga agar Tidak Mencemari Lingkungan Pisahkanlah sampah untuk membantu dan mempermudah kerja dari pembuangan akhir. (foto: Geneve) Pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan mengadakan pemilahan sampah organik dan sampah anorganik oleh setiap rumah tangga.

Bagi rumah tangga yang memiliki lahan, dapat mengolah sampah basah menjadi kompos yang berguna untuk tanaman, sedangkan untuk sampah kering seperti kertas, botol, plastik dan kaleng, sebelum dibuang sebaiknya dipilah dulu, dikarenakan sampah tersebut ada yang dapat didaur ulang atau digunakan kembali, bisa juga diberikan kepada pemulung dan yang tidak bisa dipakai kembali dapat dibuang. b. Pewadahan Pewadahan yang merupakan suatu cara penampungan sampah untuk sementara sebelum dipindahkan ke Tempat Pembuangan Sementara.

Untuk mencegah terjadinya kebocoran atau menimbulkan bau sehingga mengganggu lingkungan dan pernafasan, maka semua sampah harus disimpan dalam wadah yang tertutup, tidak mudah rusak dan kedap air, mudah dan cepat dikosongkan serta diangkut, ekonomis dan mudah diperoleh.

c. Pengumpulan Untuk menangani masalah persampahan yang bersumber dari rumah tangga, sampah dikumpulkan oleh petugas kebersihan yang mendatangi sumber sampah dan diangkut ke Tempat Pembuangan Sementara. Pola pengumpulan lain yang menjadi alternatif adalah pola Komunal Langsung (kegiatan pengambilan sampah dari masing – masing titik komunal dan diangkut langsung ke Tempat Pembuangan Akhir tanpa melalui kegiatan pemindahan).

d. Penangan Sampah dengan Konsep 3R Untuk limbah cair, pengolahan air limbah rumah tangga dapat dilakukan dengan membuat saluran air kotor dan bak peresapan dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut: • Tidak mencemari sumber air minum yang ada di daerah sekitarnya baik air di permukaan tanah orang yang merusak lingkungan sebaiknya diberikan air di bawah permukaan tanah.

• Tidak mengotori permukaan tanah. • Menghindari tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah. • Mencegah berkembang biaknya lalat dan serangga lain. • Tidak menimbulkan bau yang mengganggu. • Konstruksi agar dibuat secara sederhana dengan bahan yang mudah didapat dan murah. • Jarak minimal antara sumber air dengan bak resapan 10 m. Pengelolaan limbah rumah tangga yang paling sederhana dengan menggunakan pasir dan benda – benda terapung melalui bak penangkap pasir dan saringan. Benda yang melayang dapat dihilangkan oleh bak pengendap yang dibuat khusus untuk menghilangkan minyak dan lemak.

Lumpur dari bak pengendap pertama dibuat stabil dalam bak pembusukan lumpur, dimana lumpur menjadi semakin pekat dan stabil, kemudian dikeringkan dan dibuang. Pengelolaan sekunder dibuat untuk menghilangkan zat organik melalui oksidasi dengan menggunakan saringan khusus. Pengelolaan secara tersier hanya untuk membersihkan saja. Cara pengelolaan yang digunakan tergantung keadaan setempat seperti sinar matahari.

Suhu yang tinggi dapat dimanfaatkan.

AKTIVITAS MANUSIA YANG MERUSAK LINGKUNGAN & MENGENAL KENAMPAKAN ALAM




2022 www.videocon.com