Swab batal puasa

swab batal puasa

OLEH USTAZ Swab batal puasa ONI SAHRONI Saat pandemi Covid-19, melakukan swab menjadi kebutuhan sebagian orang, seperti sebagai syarat perjalanan ke luar kota dan memastikan kesehatan fisik. Saat Ramadhan nanti, swab pun bisa jadi dilakukan pada siang hari ketika umat Islam sedang berpuasa. Pemeriksaan swab, yaitu cara untuk mendapatkan sampel lendir dari dalam hidung atau tenggorokan seseorang guna diperiksa menggunakan metode PCR ( polymerase chain reaction) hingga menunjukkan ada tidaknya virus korona dalam tubuh seseorang.

Yang diperiksa adalah materi genetik dari virusnya, swab batal puasa virus utuh, melainkan bagian protein dari virus. Melakukan swab saat berpuasa Ramadhan tidak membatalkan puasa. Sebab, tidak ada bahan nutrisi, baik makanan atau minuman atau sejenisnya yang dimasukkan melalui alat swab ke dalam hidung ataupun mulut. Yang terjadi, alat swab tersebut dimasukkan ke lubang hidung dan mulut untuk mengambil lendir.

Selain itu, alat swab-nya bukan alat cair. Kesimpulan ini menjadi pandangan beberapa otoritas fatwa di beberapa negara Islam, salah satunya Komisi Fatwa Persatuan Ulama Dunia. Untuk mengetahui asal-muasal ketentuan tentang swab ini membatalkan puasa atau tidak, perlu dibahas tentang kata kunci hal-hal yang membatalkan puasa dan menerapkan apakah swab termasuk kategori yang membatalkan tersebut atau tidak. Sesungguhnya, para ulama telah konsensus bahwa makan, minum, dan muntah itu membatalkan puasa.

Selanjutnya, para ulama berbeda pendapat tentang apakah selain ke empat hal tersebut juga bisa membatalkan puasa. SHARE Yang menjadi isu syariah, apakah swab ini termasuk memasukkan sesuatu ke dalam tubuh atau mengeluarkan sesuatu dari tubuh dan membatalkan puasa layaknya makan dan minum?

Sesungguhnya sumber perbedaan pendapat tersebut adalah apakah yang membatalkan itu setiap yang dimasukkan atau hanya bahan yang swab batal puasa. Bagi yang mengambil substansi makan dan minum, maka menyimpulkan yang membatalkan hanya memasukkan sesuatu yang bernutrisi ke dalam tubuh.

Sedangkan yang tidak bernutrisi itu tidak membatalkan puasa. Namun, bagi yang tidak mengambil substansi makan dan minum, maka menyimpulkan bahwa setiap yang dimasukkan, baik yang bernutrisi ataupun tidak itu membatalkan puasa. (Lihat Bidayatul Mujtahid 232).

Bagi para ulama yang mengambil substansi makan dan minum sebagai sebab yang membatalkan puasa. Maka, swab itu tidak membatalkan puasa karena tidak ada unsur nutrisi yang dimasukkan ke dalam tubuh.

swab batal puasa

Namun, para ahli fikih yang tidak mengambil analogi ini berkesimpulan bahwa swab tidak membatalkan selama alat yang dimasukkan tidak sampai ke rongga. SHARE Sebagian ahli fikih kontemporer berkesimpulan bahwa swab tidak membatalkan puasa karena faktanya alat yang swab batal puasa tersebut, baik melalui mulut ataupun hidung, itu tidak masuk ke perut.

Berdasarkan pendapat sebagian ahli fikih tersebut, saat berpuasa pada bulan Ramadhan boleh melakukan swab. Apalagi, untuk memenuhi maslahat dan kebutuhan, seperti perjalanan dinas ke luar kota atau persyaratan instansi tempat bekerja atau kebutuhan lainnya yang halal. Wallahu a’lam. Teknologi telah mendorong aliran informasi yang sangat deras. Informasi yang berkualitas pun bercampur dengan informasi palsu tanpa mutu. Republika.id bergiat untuk terus memandu umat pada sumber literasi yang kredibel.

Mari menjadi bagian dari ikhtiar menjaga umat dari informasi sesat melalui gerakan "Literasi Umat". Salurkan donasi Anda untuk mendukung ikhtiar ini. Soalan: Assalamualaikum ustaz. Saya ada satu persoalan. Apakah hukum swab test COVID ketika sedang berpuasa?

Adakah ianya membatalkan puasa atau tidak? Mohon pencerahan dari pihak ustaz. Jawapan ringkas: Swab test atau ujian saringan COVID-19 yang menggunakan kaedah Nasopharyngeal swab (melalui hidung) dan Oropharyngeal swab (melalui hidung) yang dijalankan ketika sedang berpuasa adalah tidak membatalkan puasa. Ini kerana calitan yang dijalankan melalui kedua-dua proses tersebut tidak sampai ke kawasan rongga dalam.

Advertisement Huraian jawapan: Ujian saringan, pengesanan dan pengesahan COVID-19 terbahagi kepada dua jenis. Pertama adalah Reverse Transcritase Polymerase Chain Reaction (Rt-PCR). Manakala yang kedua pula disebut sebagai Antigen Rapid Test (RTK Ag). Kedua-kedua ujian ini dijalankan menggunakan calitan melalui tekak ( Oropharyngeal swab) dan melalui hidung ( Nasopharyngeal swab)[1].

Kedua-dua ujian ini dijalankan untuk mengesan jangkitan virus COVID-19. Kaedah Nasopharyngeal swab ialah alat swab akan dimasukkan ke dalam rongga hidung individu sehingga ke kawasan nasopharynx (rongga hidung paling swab batal puasa dengan kedalaman 18. lebih kurang 4.8 cm bagi kanak-kanak dan 8-12 cm bagi orang dewasa untuk mengambil sampel mukus.

swab batal puasa

Manakala kaedah Oropharyngeal swab pula ialah alat swab dimasukkan ke dalam mulut hingga ke kawasan oropharynx iaitu di belakang anak tekak bagi mengambil sampel mucus. Antara perkara yang boleh menyebabkan puasa terbatal adalah memasukkan sesuatu ke dalam rongga melalui saluran yang terbuka seperti hidung, telinga, mulut, dubur dan kemaluan. Ibn Al-Naqib Al-Misri menyatakan: وصولُ عينٍ وإنْ قلَّتْ منْ منفدٍ مفتوحٍ إلى جوفٍ “(Antara yang membatalkan puasa itu adalah) Sampai sesuatu benda ke dalam rongga melalui saluran yang terbuka walaupun sedikit.”[2] Sheikh Zakariya Al-Ansari menyebut: (فَرْعٌ يُفْطِرُ) الصَّائِمُ أَيْضًا (بِوُصُولِ عَيْنٍ) وَإِنْ قَلَّتْ كَسِمْسِمَةٍ وَلَمْ تُؤْكَلْ عَادَةً كَحَصَاةٍ (مِنْ الظَّاهِرِ فِي مَنْفَذٍ) بِفَتْحِ الْفَاءِ (مَفْتُوحٍ عَنْ قَصْدٍ) لِوُصُولِهَا (مَعَ ذِكْرِ الصَّوْمِ إلَى مَا يُسَمَّى جَوْفًا) “Orang yang berpuasa terbatal puasanya dengan sampainya sesuatu benda walaupun sedikit seperti bijan dan walaupun yang masuk itu kebiasaannya benda yang tidak dimakan seperti batu kecil.

Yang mana ianya masuk melalui saluran yang terbuka dengan sengaja. Ini kerana ianya sampai kepada apa yang dinamakan sebagai rongga yang terbuka.”[3] Saluran yang terbuka itu termasuklah telinga, hidung, mulut, dubur dan kemaluan.

Perkara ini dijelaskan oleh Ibn Al-Muqri’: وَحُدِّدَ الظَّاهِرُ بِمَخْرَجِ الْحَاءِ الْمُهْمَلَةِ ثُمَّ دَاخِلُ الْفَمِ وَالْأَنْفِ إلَى مُنْتَهَى الْغَلْصَمَةِ وَالْخَيْشُومِ… “Piawaian had zahir dihadkan dengan makhraj huruf Ha’, kemudian dalam mulut dan hidung sehingga penghujung anak tekak dan juga rongga hidung.”[4] Justeru, menurut swab batal puasa Al-Syafi’i, apa sahaja yang masuk melalui saluran tersebut boleh menyebabkan puasa seseorang terbatal.

Tambahan lagi, jika prosedur swab test yang dijalankan masuk jauh ke dalam rongga hidung. Ia dikira boleh membatalkan puasa seseorang. Sheikh Zakariya Al-Ansari menyatakan hal ini: (ثُمَّ أَلْحلَقَ وَمَا وَرَاءَ الْخَيَاشِيمِ) جَمْعُ خَيْشُومٍ وَهُوَ أَقْصَى الْأَنْفِ (جَوْفَانِ) فَالْوَاصِلُ إلَيْهِمَا مُفْطِرٌ “Kemudian halkum dan di sebalik rongga hidung yang mana ia adalah pangkal hidung merupakan bahagian rongga.

Apa-apa yang masuk ke dalam kedua-dua bahagian tersebut boleh menyebabkan puasa terbatal.”[5] Pandangan ini berbeza dengan mazhab Maliki yang berpendapat bahawa puasa hanya terbatal jika ada sesuatu yang masuk ke dalam rongga melalui mulut.

Apa-apa yang masuk melalui bahagian yang lain, maka ianya tidak membatalkan puasa sepertimana yang dinyatakan oleh Sheikh Abu Abdullah Al-Maliki menyebut: وَالْإِفْطَارُ بِمَا يَصِلُ إلَى ‌الْجَوْفِ أَوْ الْمَعِدَةِ مِنْ الْفَمِ “Puasa terbatal dengan sampai sesuatu ke dalam rongga atau tali perut melalui mulut.”[6] Sheikh Abu Al-Barakat Al-Dardir juga menyebut: وَأَمَّا غَيْرُ الْمَائِعِ فَلَا يُفْطِرُ إلَّا إذَا وَصَلَ لِلْمَعِدَةِ مِنْ الْفَمِ “Adapun selain cecair maka ia tidak membatalkan puasa melainkan jika ia sampai ke perut melalui mulut.”[7] Berdasarkan keputusan Mesyuarat Khas Jawatankuasa Muzakarah MKI kali ke 3 tahun 2020, mesyuarat menetapkan: “Prosedur saringan bagi mengesan penyakit COVID-19 adalah dengan mengambil sampel lender (mukus) yang berada di dalam rongga hidup sehingga ke kawasan nasopharynx (rongga hidung paling atas) dan rongga mulut sehingga ke kawasan oropharynx (anak tekak) adalah TIDAK MEMBATALKAN PUASA.

Ianya selaras dengan keputusan Jawatankuasa Muzakarah Kebangsaan Majlis Swab batal puasa Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia (MKI) kali ke-87 pada 23 hingga 25 Jun 2009 yang telah memperakukan Panduang Berpuasa bagi Pesakit.” Justeru, swab test atau ujian saringan COVID-19 yang menggunakan kaedah Nasopharyngeal swab batal puasa (melalui hidung) dan Oropharyngeal swab (melalui mulut) yang dijalankan ketika sedang berpuasa adalah tidak membatalkan puasa.

Ini kerana calitan yang dijalankan melalui kedua-dua proses tersebut tidak sampai ke kawasan rongga dalam. – HARAKAHDAILY 1/5/2021 Nota hujung: [1] Rujuk laman My Health KKM di pautan https://www.myhealth.ph/covid-19-test-now-available-at-myhealth/ [2] Ibn Al-Naqib, Ahmad Bin Lu’lu, ‘Umdah Al-Salik wa ‘Uddah Al-Nasik (1982), cetakan Al-Syuun Al-Diniyah,Qatar, h.117.

[3] Al-Ansari, Zakariya Bin Muhammad, Asna Al-Matalib Syarh Raudh Al-Talib, Dar Al-Kitab Al-Islami, j. 1 h.41 [4] Ibn Al-Muqri’Ismail Bin Al-Muqri’, Raudh Al-Talib wa Nihayah Al-Matlab Al-Raghib(2013), Dar Al-Dhiya’, Kuwait, j. 1 h.335-336 [5] Ibid. [6] Abu Abdullah, Muhammad Bin Ahmad, Manh Al-Jalil Syarh Mukhtasar Al-Khalil (1989), Dar Al-Fikr, Beirut, j.2 h.137 [7] Abu Al-Barakat Al-Dardir, Ahmad Bin Muhammad, Aqrab Al-Masalik ila Mazhab Al-Imam Malik, Dar Al-Ma’arif, j.1 h.699.

Tulisan ini diambil daripada laman web rasmi Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan di ruangan Irsyad Fatwa Khas Ramadhan yang diterbitkan pada 23 April 2021.
Tes Swab Membatalkan Puasa?

Pertanyaan: Apakah tes swab membatalkan puasa?

swab batal puasa

benda seperti cotton bud dimasukkan ke hidung sampai ke pangkal tenggorokan. kadang efeknya ada yang tertelan. Apakah itu membatalkan puasa? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Pertanyaan swab batal puasa pernah diajukan ke Lembaga Fatwa Yordania. Pertanyaan: هل إجراء فحص كورونا في نهار رمضان يبطل الصوم؟ Apakah tes corona di siang hari Ramadhan bisa membatalkan puasa?

Jawab: الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله فمن خلال البحث والنظر والسؤال، تبيّن لنا أنّ فحص الكورونا لا يفطر الصائم؛ لأنّ أداة الفحص الجافة التي تدخل من الأنف لا تصل إلى الحلق، Alhamdulillah, was shalatu was salam ‘ala sayyidina Rasulillah. Setelah dilakukan penelitian dan pencarian data, kami memahami bahwa tes corona tidak membatalkan puasa. Karena media kering yang digunakan untuk mengambil sampel, yang dimasukkan ke dalam hidung, tidak sampai ke tenggorokan وما كان كذلك فلا يعتبر من المفطّرات حيث اشترط السادة المالكية في المفطر أن يصل إلى الجوف، واشترط الحنفية استقرار الداخل في الجوف، وألا يبقى شيء منه في الخارج، وكلا الشرطين لا يتوافران في عملية الفحص؛ Jika kondisinya demikian, maka tes swab tidak termasuk pembatal, mengingat para ulama Malikiyah mensyaratkan bahwa memasukkan benda asing menjadi pembatal apabila sampai ke perut.

Sementara Hanafiyah mensyaratkan, benda yang dimasukkan harus bertahan di perut dan tidak ada yang tersisa di luar. Dan kedua syarat ini tidak terpenuhi dalam tes swab. ولأنّ الصوم لا يبطل بالشكّ، لذلك من قام بفحص swab batal puasa عليه أن يُتمّ صومه، ولا شيء عليه. والله تعالى أعلم Lebih dari itu, puasa tidak batal karena sebab keraguan. Karena itu, orang yang melakukan tes korona, dia harus melanjutkan puasanya dan tidak perlu mengqadha’nya.

Allahu a’lam. Sumber: Fatwa Lajnah al-Ifta Yordan: https://www.aliftaa.jo/Question2.aspx?QuestionId=3570#.YC3EBPkzbIV Demikian. Allahu a’lam.

swab batal puasa

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.

Download Sekarang !! Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n.

YAYASAN YUFID NETWORK 🔍 Insya Allah Arab, Takdir Mubram Jodoh, Zakat Fitrah Beras Berapa Liter, Tanda Orang Mau Meninggal Menurut Islam, Mukjizat Shalawat Nariyah, Wajah Asli Ratu Kidul, Gambar Tempat Wudhu Masjid POPULAR CATEGORIES • FIKIH 1490 • AQIDAH 931 • Ibadah 790 • Sholat 599 • Halal Haram 552 • Pernikahan 517 Recent Posts • Bolehkah Ayah Mencium Anak Perempuannya yang Sudah Dewasa?

• Apakah Jual Beli Kurma Secara Online Termasuk Riba? • Hukum Shalat di Antara Tiang-tiang dalam Shalat Jama’ah • Hukum Meminjam Uang di Pinjaman Online (Pinjol) • Apa yang Dilakukan Masbuk ketika Masuk ke Shaf? • Sembuh Sakit karena Bersedekah Artikel Terbaru • Bolehkah Puasa Syawal, Tetapi Masih Memiliki Utang Puasa Ramadhan Karena Haidh?

• Buku Gratis: Fikih Bulan Syawal • Cara Puasa Syawal Menurut Ulama Syafi’iyah • Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa? • Naskah Khutbah Idul Fitri 2022 Terfavorit: Realisasi Syukur Bakda Ramadhan • Faedah Sirah Nabi: Pensyariatan Jihad dan Pelajaran di Dalamnya • Khutbah Jumat: Kiat Istiqamah Bakda Ramadhan • Tingkatan Menghidupkan Lailatul Qadar • Faedah Surat An-Nuur #48: Adab Terhadap Rasulullah, Tidak Boleh Menyelisihi Perintahnya • Faedah Sirah Nabi: Sejarah Pensyariatan Zakat dan Pelajaran di Dalamnya Apakah tes swab covid-19 tidak membatalkan puasa?

Pembahasan Masuknya Sesuatu ke Jauf Kita telah mengetahui bahwa salah satu rukun puasa swab batal puasa diri dari yang membatalkan puasa, di antaranya makan dan minum. Allah Taála berfirman, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ “ Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang swab batal puasa, yaitu fajar.

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 183) Sebagian ulama termasuk sebagian ulama Syafiiyah berpendapat bahwa sesuatu yang sampai pada perut (al-jauf) itu membatalkan puasa jika masuk lewat rongga badan yang terbuka dan sesuatu tersebut dianggap makanan atau minuman. Imam Rafi’i berkata: ulama-ulama Syafiiyah memberikan batasan (dhabit) bahwa sesuatu yang masuk ke perut yang membatalkan puasa adalah sesuatu yang masuk dari luar lewat rongga yang terbuka dengan kesengajaan dan dalam keadaan tidak lupa sedang berpuasa.

Hal ini dinukil oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, 6:313. Imam al-Nawawi dalam kitab Raudlatu al-Thalibin wa ‘Umdatu al-Muftin (2/358) berpendapat bahwa obat yang masuk ke dalam daging tidak membatalkan puasa: Jika obat dimasukkan ke dalam daging betis atau dimasukkannya obat melalui pisau sehingga sampai pada otak, maka puasanya tidak batal karena tempat tersebut tidak termasuk bagian dari perut.

Jika seseorang mengolesi kepalanya atau perutnya dengan minyak dan minyak tersebut sampai pada rongga perut melalui pori-pori, maka tidak batal puasanya, karena masuknya tidak melalui rongga badan yang terbuka, sebagaimana tidak batal puasa seseorang yang mandi dan menyelam di air, meskipun pengaruh air tersebut sampai pada bagian dalam badannya.

Adapun batasan al-jauf sebagaimana diterangkan oleh Abu Bakr bin Muhammad Syatha ketika menjelaskan kitab I’anatu al-Thalibin (2/261), ia berkata: • (dan tidak membatalkan puasa karena sampainya sesuatu ke dalam batang hidung) karena itu bagian luar hidung dan karena batang hidung adalah bagian dari rongga hidung (khaisyum).

Dan semua bagian khaisyum adalah bagian luar dari hidung. • (sampai melewati ujung khaisyum) jika telah melewati bagian tersebut maka membatalkan puasa. Jika belum melewati batas tersebut maka tidak membatalkan puasa. Baca juga: • Pembatal Puasa Kontemporer, Memahami Al-Jauf • Pembatal Puasa Berupa Makan dan Semisalnya Terkait Swab Tes Swab adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus dengan cara pengambilan sampel dahak, lendir, atau cairan dari nasofaring (bagian pada tenggorokan bagian atas yang terletak di belakang hidung dan di balik langit-langit rongga mulut) dan orofaring (bagian antara mulut dan tenggorokan).

Para pakar mengatakan bahwa: • Habitat Covid-19 adalah saluran pernafasan, maka Covid-19 dideteksi melalui belakang hidung (Nasofaring) atau mulut (orofaring). • Faring adalah nama lain dari tenggorokan dan berperan untuk pernapasan sekaligus pencernaan. • Nasofaring adalah salah satu bagian pada tenggorokan bagian atas yang terletak di belakang hidung dan di balik langit-langit rongga mulut.

• Orofaring adalah permukaan tonsil atau dinding posterior faring (perbatasan antara mulut dan tenggorokan). • Bahan yang digunakan untuk mengambil sampel adalah dacron/rayon steril dengan tangkai plastik atau jenis flocked swab (tangkai lebih lentur). • Swab Nasofaring dilakukan dengan memasukkan dacron/rayon steril secara perlahan ke dalam hidung, dengan memastikan posisi swab pada septum bawah hidung, secara perlahan-lahan ke bagian nasofaring.

Kemudian swab dilakukan dengan gerakan memutar secara perlahan. Dengan swab yang sama, dilakukan tindakan yang sama pada lubang hidung yang lain, sehingga diperoleh spesimen swab nasofaring dari ke dua lubang hidung. • Swab orofaring dilakukan swab pada lokasi dinding mukosa orofaring (biasanya belakang faring) dan dihindarkan menyentuh bagian lidah. Kita Diperintahkan Berobat Dari Abu Darda’, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إنَّ اللَّهَ أنزلَ الدَّاءَ والدَّواءَ ، وجعلَ لِكُلِّ داءٍ دواءً فتداوَوا ولا تداوَوا بحرامٍ “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat bagi setiap penyakit, maka berobatlah dan janganlah berobat dengan yang haram”.

(HR. Abu Daud, no. 3874) Ada juga kaidah yang bisa diperhatikan, الضَّرَرُ يُزَالُ “Bahaya harus dihilangkan.” الضَّرَرُ يُدْفَعُ بِقَدْرِ الإِمْكَانِ “Bahaya dicegah dengan sedapat mungkin.” Baca juga: Kaedah Fikih, Kesulitan Mendatangkan Swab batal puasa Kesimpulan Tes swab tidak membatalkan puasa karena yang dimasukkan bukan nutrisi makanan dan tidak menguatkan tubuh, serta tidak sampai ke bagian dalam perut, hanya sampai pada nasofaring (bagian pada tenggorokan bagian atas yang terletak di belakang hidung dan di balik langit-langit swab batal puasa mulut) dan orofaring (bagian antara mulut dan tenggorokan).

Saran penulis mengikuti saran MUI: • Pelaksaan tes Swab sebagaimana dalam ketentuan umum tidak membatalkan puasa.

swab batal puasa

• Umat Islam yang sedang berpuasa diperbolehkan melakukan tes Swab untuk deteksi Covid-19. Sumber rujukan: FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA, Nomor : 23 Tahun 2021, Tentang HUKUM TES SWAB UNTUK DETEKSI COVID-19 SAAT BERPUASA, ditetapkan 7 April 2021. Silakan unduh materi fatwa: Fatwa Hukum Tes Swab Saat Puasa dari MUI — Malam Sabtu, 5 Ramadhan 1442 H, 16 April 2021 Di Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul DIY Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com
none
Majelis Ulama Indonesia (MUI) memutuskan bahwa Test Swab dan Rapid Antigen tidak membatalkan puasa.

Bagi masyarakat yang hendak melakukan test usap baik melalui hidung maupun tenggorokan, tetap boleh dilaksanakan. Ketentuan ini tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 23 Tahun 2021 tentang Hukum Tes Swab untuk Deteksi COVID-19 saat Berpuasa, yang ditetapkan pada 7 April 2021. “MUI telah mengeluarkan Fatwa bahwa test swab maupun antigen tidak membatalkan ibadah puasa. Oleh karenanya kegiatan ini tetap diperbolehkan,” kata Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi pada Senin (12/4).

Sejalan dengan fatwa ini, kegiatan vaksinasi tetap berjalan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat. Kami mendorong kerja sama pengurus swab batal puasa dengan Puskesmas dan perangkat desa untuk menetapkan jadwal vaksinasi,” tutur Nadia.

swab batal puasa

Oleh karena masih dalam situasi pandemi COVID-19, Nadia mengimbau kepada masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan serta mengurangi mobilitas keluar rumah. Apabila hendak shalat tarawih dan tadarus di masjid, jemaah maupun pengurus harus melaksanakan protokol kesehatan seperti memakai masker, membawa peralatan sholat sendiri, menjaga jarak serta menghindari kerumunan guna menghindari risiko penularan COVID-19.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Batalkah Puasa Bila Lakukan Donor Darah, Swab Test & Vaksin? Jakarta, CNBC Indonesia - Ini Ramadan kedua umat muslim di seluruh dunia berpuasa dalam kondisi pandemi Covid-19. Misalnya Swab Test dan Rapid Antigen, dalam keterangan Kementerian Kesehatan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memutuskan keduanya tidak membatalkan puasa.

Ketentuan tersebut terdapat dalam Fatwa MUI Nomor 23 Tahun 2021 ditetapkan pada 7 April 2021 tentang Hukum Tes Swab untuk Deteksi Covid-19 saat Berpuasa. Oleh karenanya kegiatan ini tetap diperbolehkan," kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi dalam keterangan resminya beberapa waktu lalu, dikutip Jumat (16/4/2021). Namun akan dilakukan pada siang dan malam hari, Nadia menuturkan ini agar tidak mengganggu ibadah di bulan Ramadhan.

Nadia juga meminta pihak terkait dapat bekerja sama dalam penetapan jadwal vaksinasi bagi masyarakat. Kami mendorong kerja sama pengurus masjid dengan Puskesmas dan perangkat desa untuk menetapkan jadwal vaksinasi,"jelasnya. MUI: Tes Swab Covid Tidak Membatalkan Puasa Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan hukum rapid test antigen dan Polymerase Chain Reaction (PCR) alias tes swab tidak membatalkan ibadah puasa, sehingga dapat dilakukan di siang hari.

"Kemarin sudah dirapatkan, hasilnya tes swab intinya tidak membatalkan puasa," kata Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin Abdul Fatah saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (8/4). Selain itu, alat swab batal puasa cotton bud atau kapas lidi yang digunakan untuk mengambil sampel lendir termasuk kategori benda padat sehingga tidak membuat ibadah puasa menjadi batal.

Secepatnya, MUI akan mengeluarkan fatwa tersebut agar dapat dijadikan pedoman bagi pelaksanaan tes swab di lapangan. Tindakan ini, kata dia, boleh dilakukan pada siang hari saat Ramadan dengan catatan tidak menimbulkan bahaya. Test Swab Saat Puasa Bikin Batal Nggak Sih? Komisi Fatwa MUI menyatakan hukum melakukan test swab PCR atau rapid antigen pada siang hari tidak membatalkan puasa.

MUI melihat tidak ada hal-hal yang dapat membatalkan puasa pada pelaksaan swab PCR itu. Kalau pun siang hari tidak membatalkan puasa. Ya tidak ada hal-hal yang membatalkan puasa, " kata Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin Abdul Fatah saat dihubungi, Kamis (8/4/2021). Hasanuddin menerangkan hal-hal yang dapat membatalkan puasa adalah masuknya sesuatu ke dalam perut melalui mulut. Sedangkan dalam konteks test swab PCR ini, hanya alat berbentuk lidi yang dimasukkan ke lubang belakang hidung untuk pengambilan sampel lendir.

"Kan yang swab batal puasa puasa itu kan memasukkan sesuatu ya kepada lubang yang terbuka masuk ke dalam perut begitu kan, kalau ini kan sesuatu yang di masukkan cuman apa, cuma lidi kaya lidi, korek kuping ujungnya kapas kan begitu, melalui mulut ataupun belakang hidung belakang mulut dan tidak sampai swab batal puasa itu ke dalam itu, ya kalau ke mulut juga tidak menimbulkan muntah gitu kan," tuturnya.

Kendati demikian, Hasanuddin menyarankan agar test swab PCR atau rapid test antigen saat bulan puasa dilaksanakan pada malam hari. Hal itu dilakukan agar mengantisipasi muncul rasa ingin muntah saat pengambilan sampel dari saluran antara mulut dan tenggorokan. Lihat Video: Ma'ruf Amin Tegaskan Vaksinasi Saat Ramadhan Tak Batalkan Puasa. Sudah ada fatwa, jangan cemas batal puasa karena tes swab Terlebih, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan fatwa yang menyebut, tes swab tidak membatalkan puasa.

Sehingga, masyarakat tidak perlu cemas puasanya batal jika harus melakukan tes swab. "Kalau kata MUI tidak membatalkan puasa, saya siap swab," ujar analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas saat dimintai tanggapannya terkait tes swab selama bulan puasa, Senin (26/4). Perusahaannya saat ini memang swab batal puasa melakukan tes swab secara berkala kepada karyawannya.

Ketika ada karyawan yang sakit dan memiliki gejala seperti flu misalnya.

swab batal puasa

Karyawan tersebut lebih dulu dites swab sebelum kembali masuk kantor. Tes swab juga menjadi keharusan jika ada perjalanan dinas luar kota misalnya. Ketentuan terkait tes swab di tengah bulan puasa tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 23 Tahun 2021 tentang Hukum Tes Swab untuk Deteksi Covid-19 saat berpuasa. Sejalan dengan fatwa ini, kegiatan vaksinasi tetap berjalan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat.

Tes Swab untuk Deteksi Virus Covid-19 Tidak Batalkan Puasa (ysw). - Masih sama seperti tahun lalu, masyarakat melaksanakan bulan Ramadhan kali ini di bawah bayang-bayang pandemi Covid-19 Dan tes swab masih menjadi salah satu cara yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus corona di dalam tubuh.Selain itu swab juga masih menjadi syarat bagi para pelancong untuk melakukan perjalanan baik menggunakan pesawat atau kereta.Swab sendiri merupakan pemeriksaan laboratorium dengan cara pengambilan sampel cairan dari nasofaring (tenggorokan bagian atas yang terletakbdi belakang hidung dan di balik langit-langit rongga mulut) dan orofaring (bagian antara mulut dan tenggorokan).Lalu muncul pertanyaan apakah tes swab dapat membatalkan puasa?Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan fatwa tentang pelaksanaan tes swab.Dikutip dari Instagram resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika, fatwa tersebut tertuang dalam nomor 23/2021 tentang Hukum Tes Swab untuk dereksi Covid-19 saat berpuasa.Dalam fatwa MUI disebutkan bahwa tes swab tidak akan membatalkan puasa.

Untuk itu umat islam yang sedang berpuasa diperbolehkan melakukan tes swab untuk deteksi Covid-19.Jadi tidak perlu khawatir atau ragu untuk melakukan tes swab dalam keadaan berpuasa. Sebab menurut fatwa MUI tes swab tidakk membatalkan puasa. Fatwa MUI: Tes Swab Covid-19 tak Batalkan Puasa REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa bahwa hukum rapid tes antigen dan polymerasechain reaction (PCR) atau swabtest tidak membatalkan ibadah puasa.

"Umat Islam yang sedang berpuasa diperbolehkan melakukan tes swab untuk deteksi Covid-19," kata dia. Swab batal puasa upaya memutus rantai penularan Covid-19, MUI mengimbau agar masyarakat tetap mematuhi protokol pencegahan Covid-19 dengan disiplin memakai makser, mencuci tangan secara berkala, meminimalisir mobilitas dan menghindari kerumunan.

MUI juga mendorong pemerintah lebih proaktif dalam mengawasi pelaksanaan penerapan protokol kesehatan di lingkungan sekitar masyarakat. "Pemerintah agar melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan dengan ketat, supaya pandemi Covid-19 segera berakhir," katanya.

Sebelumnya, MUI juga telah mengeluarkan fatwa bahwa vaksinasi tak membatalkan puasa. "Vaksinasi Covid-19 yang dilakukan dengan injeksi intramuscular tidak membatalkan puasa," ujar Ketua Bidang Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh saat dihubungi di Jakarta, Selasa swab batal puasa. Vaksinasi yang tengah dilakukan saat ini sebagai ikhtiar mengatasi pandemi Covid-19 melalui cara injeksi intramuskular. Injeksi intramuskular dilakukan dengan cara menyuntikkan obat atau vaksin melalui otot.

Hal itu tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 13 Tahun 2021 tentang Hukum Vaksinasi Covid19 saat Berpuasa. • TAGS: • antigen • juga • vaksinasi • ini • rapid • yang • swab • puasa • tidak • pcr • saat • test • tetap • dan • diperbolehkan • untuk • bila • bulan • batalkah • ibadah • lakukan • donor • dalam • vaksin • darah • test • dilakukan • ada • membatalkan • atau • covid • tes • itu • fatwa • mui • tidak • nggak • mulut • ke • batal • kan • sih • bikin • muntah • yang • sudah • jangan • swab batal puasa • karena • untuk • masih • covid19 • virus • melakukan • batalkan • deteksi • puasa • tak • di • vaksinasiBagi yang masih sangsi dan ragu-ragu, ini keterangan terkini untuk hukum membuat ujian swab menurut Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Hal Ehwal Agama) Senator Datuk Seri Dr Zulkifli Mohamad Al-Bakri, hukumnya tidak batal sama sekali.

Kemudian terlintas di kepala anda, bagaimana pula dengan korek hidung batal puasa atau tidak? Swab test tidak batal puasa kerana: Foto: News Scientist Bekas Mufti Wilayah Persekutuan menjelaskan kaedah memasukkan peralatan tertentu yang bertujuan perubatan ke dalam rongga hidung dan belakang anak tekak pada kadar dalaman tertentu didapati tidak membawa gambaran sebagai makan (mengenyangkan) dan minum (menghilangkan dahaga) atau rasa nikmat sehingga membatalkan puasa.

Sama juga isu korek hidung batal puasa, adakah anda mengorek hidung sehingga ke dalam mencecah rongga tekak? Mengikut syarak, ujian seperti itu mempunyai kelonggaran dalam Islam kerana mengambil kira aspek kesihatan seseorang. Menurut laporan dari Bernama Dr Zulkifli juga menegaskan ujian swab COVID-19 telah diberi pandangan dalam (Jawatankuasa) Fatwa Majlis Kebangsaan pada tahun lepas dan mencapai kata sepakat bahawa kaedah ujian swab yang digunakan petugas Kementerian Kesihatan (KKM) adalah tidak membatalkan puasa “Walaupun masuk (rongga hidung dan mulut), ada membahaskan ia bukan (sehingga) masuk dalam perut yang ternyata membatalkan puasa mengikut hukum syarak.

Ia sekadar (masuk) panjang sejengkal dan lebih sikit,” katanya. Memandangkan ini isu baru dan dunia sedang melalui pandemik ini, swab batal puasa kekeliruan dikalangan umat Islam khususnya sama ada ujian ini menyebabkan terbatalnya puasa ataupun tidak. Antara perkara yang menguatkan kenyataan ujian swab tidak membatalkan puasa: Foto: Medical News Today • Ujian swab tidak membawa gambaran sebagai makan dan minum yang menjadi sebab batal puasa dengan ijmak ulama.

swab batal puasa

• Pandangan sebahagian ulama hanafi yang mensyaratkan sesuatu yang masuk ke dalam rongga badan mestilah sesuatu yang kekal di dalamnya dan tidak bersambung dengan sesuatu lain dari luar badan. • Peralatan ujian swab ni sama seperti gastroscope ( teropong perut ) yang boleh dimasukkan ke dalam rongga badan tapi tidak membatalkan puasa asalkan peralatan tersebut bebas dari sebarang bendalir atau yang seumpama dengannya. Walau bagaimanapun tidak di galakkan untuk SENGAJA memasukkan jari telunjuk ke dalam hidung pada waktu berpuasa kerana perbuatan itu boleh batal puasa.

Menurut pendapat dari mazhab Syafieapabila memasukkan sesuatu swab batal puasa lubang hidung hingga melepas had yang batin itu membatalkan puasa. Bermula had yang batin ialah dari permulaan tulang hidung dan setengah fuqahak berkata had batin bagi hidung ialah sampai kepada otak atau lepas hingga ke kerongkong.

Dari kerana ini boleh dikatakan ujian swab Covid-19 dengan memasukkan objek ke dalam hidung tidak membatalkan puasa kerana walau pun melepasi tulang hidung tetapi tidak sampai ke otak atau kepada kerongkong. Jika objek ujian masuk melepasi otak atau sampai melepasi kerongkong atau masuk ke dalam perut maka ia membatalkan puasa. Berkata Mufti Negeri Jordan : swab batal puasa لنا أنّ فحص الكورونا لا يفطر الصائم؛ لأنّ أداة الفحص الجافة التي تدخل من الأنف لا تصل إلى الحلق، وما كان كذلك فلا يعتبر من المفطّرات حيث اشترط السادة المالكية في المفطر أن يصل إلى الجوف، واشترط الحنفية استقرار الداخل في الجوف، وألا يبقى شيء منه في الخارج، وكلا الشرطين لا يتوافران في عملية الفحص؛ ولأنّ الصوم لا يبطل بالشكّ، لذلك من قام بفحص الكورونا عليه أن يُتمّ صومه، ولا شيء عليه.

والله تعالى أعلم Ertinya : “Telah nyata bagi kami bahawa ujian corona tidak membatalkan puasa kerana alat ujian yang bukan cecair itu masuk melalui hidung tidak sampai ke dalam perut dan perkara yang seperti demikian itu swab batal puasa terhitung dari yang membatalkan sekira-kira ulamak mazhab Maliki mensyaratkan masuk ke dalam perut barulah membatalkan puasa dan ulamak mazhab Hanafi pula mensyaratkan semua objek masuk kedalam perut tiada tinggal suatu pun diluar.

Maka kedua syarat ini tidak berlaku ketika ujian corona dibuat dan pula dari kerana puasa itu tidak batal dengan sebab syak. Korek hidung tidak batal puasa “Janganlah terlalu dalam ketika melakukan mubalaghah (semasa beristinsyaq), lalu jadilah ia suatu su`ut (kaedah memasukkan sesuatu, kebiasaannya ubat, ke kawasan melepasi pangkal hidung). Jika tidak, sesungguhnya pembatalan puasa itu berkait dengan apa yang sampai kepada sebahagiannya, oleh kerana itu Syarak melarangnya.

Ini juga kerana apa yang sampai ke bahagian otak manusia boleh diambil khasiat, sama seperti suatu yang sampai kepada rongga, lalu batallah puasa dengan sebab itu, sama seperti suatu yang sampai ke bahagian rongga.” Rujuk al-Bayan fi al-Madzhab al-Syafie (3/501) Daripada kenyataan di atas, jelas kepada kita bahawa perbuatan mengorek hidung tidak membatalkan puasa.

Ini kerana diharuskan bagi orang yang berpuasa untuk berwuduk dengan mengamalkan sunat istinsyak. Cumanya, jika dibuat secara berlebihan sehingga sampai ke pangkal hidung atau kaisyum itu swab batal puasa dimakruhkan, selagi tidak sampai ke bahagian otak atau tekak.

Jika sampai, maka batal puasanya. Justeru, berdasarkan fakta tersebut, jelaslah bahawa perbuatan mengorek hidung juga tidak membatalkan puasa kerana kaedah dan wasilahnya yang sama yakni, memasukkan suatu ain untuk mengeluarkan kotoran daripada lubang hidung. Tips to harness the power of your parenting style to raise resilient children Ini juga kerana sekalipun terdapat perbuatan memasukkan ain ke dalam saluran yang terbuka, namun ia tidak sampai kepada had rongga sehingga membatalkan puasa.

Namun jika dilakukan dengan melampau dengan alat-alat yang boleh menyampaikan ke bahagian otak maka itu batallah puasanya. Wallahua’lam. Istilah otak di sini merujuk kepada kawasan yang berdekatan dengan otak. Kajian saintifik moden menunjukkan bahawa saluran hidung tidak sampai secara terus kepada bahagian dalam otak. Wallahua’lam. Sumber: Mingguan Wanita, Mufti Wilayah Peringatan: Anda tidak dibenarkan menyiar artikel swab batal puasa di mana-mana laman web atau status Facebook yang lain, tanpa pemberian kredit dan pautan yang tepat lagi berfungsi pada artikel asal di laman The AsianParent Malaysia Baca juga: Terima Suntikan Vaksin Ketika Hamil, Ibu Ini Lahirkan Bayi Dengan Antibodi Covid • Cubaan untuk hamil • Anak angkat • Kehamilan • Sebelum & Proses Bersalin • Perkahwinan & Seks • Bayi • Nama bayi • Perkembangan & Anak • Tip keibubapaan • Penyusuan & Pemakanan • Kesihatan • Senaman • Alahan & Sindrom • Penyakit • Hidangan • Pendidikan • Prasekolah • Sekolah rendah • Sekolah menengah • Pendidikan khas • Gaya Hidup • Rumah • Kewangan • Percutian • Pertandingan & promosi • Banyak Lagi • TAP Komuniti • Beriklan Dengan Kami • Hubungi Kami • Jadi Penyumbang Kami
Assalamu ‘alaikum wr.

wb. Redaksi NU Online, di samping rapid test, swab test atau tes swab dinilai efektif untuk menemukan infeksi virus corona atau Covid-19 dengan mengambil sampel lendir dari dalam rongga hidung atau dalam tenggorokan. Pertanyaannya, bagaimana status puasa seseorang yang melakukan tes swab saat berpuasa? Terima kasih. (hamba Allah/Depok) Jawaban Wassalamu ‘alaikum wr. wb. Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua.

Tes swab dengan memasukkan sesuatu ke dalam hidung untuk mengambil sampel lendir menjadi problematis dalam kaitannya dengan puasa. Para ulama dari berbagai mazhab bersepakat bahwa tindakan memasukkan ke dalam rongga-rongga tubuh termasuk rongga hidung sebagaimana tes swab membatalkan puasa. Cara pengambilan sampel lendir melalui tes swab memiliki kemiripan dengan tindakan “ As-Sa‘uth” dalam istilah ulama fiqih sebagaimana keterangan Syekh Wahbah Az-Zuhayli.

والسعوط صبه في الأنف Artinya, “’As-Sa‘uth’ adalah menuangkan obat ke dalam hidung,” (Syekh Wahbah Az-Zuhaily, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz II, halaman 652). Berikut ini kami kutip salah satunya Mazhab Syafi’i yang menyebutkan bahwa syarat sah puasa adalah menahan diri dari tindakan memasukkan sesuatu ke dalam rongga hidung meski sedikit atau bukan makanan: و الخامس swab batal puasa (عن دخول عين) من أعيان الدنيا وإن قلت ولم تؤكل ما يسمى (جوفا) كباطن أذن وهو ما وراء المنطبق والأنف ما وراء القصبة جميعها Artinya, “Kelima adalah menahan (dari kemasukan suatu benda) dari sekian benda dunia meski sedikit dan swab batal puasa dapat dimakan ke dalam apa yang disebut sebagai (rongga) seperti bagian dalam hidung, yaitu sesuatu di balik lapisan.

Sementara hidung adalah sesuatu di sepanjang pipa/rongga hidung,” (Habib Abdullah bin Husein bin Thahir, Is’adur Rafiq, [Surabaya, Maktabah Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 115-116).

swab batal puasa

Oleh karena itu, dari berbagai keterangan ini kami menganjurkan masyarakat terutama yang sedang mengamalkan puasa sunnah atau qadha puasa misalnya untuk melakukan tes swab pada malam hari agar tidak mengganggu keabsahan ibadah puasanya sebagaimana keterangan empat mazhab fiqih yang kami amati.

Demikian jawaban singkat kami, semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca. Wallahul muwaffiq ila swab batal puasa thariq, Wassalamu ’alaikum wr.

wb. ( Alhafiz Kurniawan)
Jakarta - Komisi Fatwa MUI menyatakan hukum melakukan test swab PCR atau rapid antigen pada siang hari tidak membatalkan puasa. MUI melihat tidak ada hal-hal yang dapat membatalkan puasa pada pelaksaan swab PCR itu.

"Tidak membatalkan puasa. Kalau pun siang hari tidak membatalkan puasa. Ya tidak ada hal-hal yang membatalkan puasa, " kata Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin Abdul Fatah saat dihubungi, Kamis (8/4/2021). Baca juga: Pandangan MUI Jatim: Vaksinasi di Bulan Ramadhan Tidak Batalkan Puasa Hasanuddin menerangkan hal-hal yang dapat membatalkan puasa adalah masuknya sesuatu ke dalam perut melalui mulut.

Sedangkan dalam konteks test swab PCR ini, hanya alat berbentuk lidi yang dimasukkan ke lubang belakang hidung untuk pengambilan sampel lendir.

"Kan yang membatalkan puasa itu kan memasukkan sesuatu ya kepada lubang yang terbuka masuk ke dalam perut begitu kan, kalau ini kan sesuatu yang di masukkan swab batal puasa apa, cuma lidi kaya lidi, korek kuping ujungnya kapas kan begitu, melalui mulut ataupun belakang hidung belakang mulut dan tidak sampai apa itu ke dalam itu, ya kalau ke mulut juga tidak menimbulkan muntah gitu kan," tuturnya, Baca juga: Benarkah Vaksinasi Bisa Batalkan Puasa? Ini Penjelasan PWNU Jatim Kendati demikian, Hasanuddin menyarankan agar test swab PCR atau rapid test antigen saat bulan puasa dilaksanakan pada malam hari.

Hal itu dilakukan agar mengantisipasi muncul rasa ingin muntah saat pengambilan sampel dari saluran antara mulut dan tenggorokan. "Itu batal kalau muntah, salah satu batal kan muntah secara disengaja muntah.

Makanya diakhir kan ada saran makanya dilakukan malam hari dilaksanakan," ujarnya. Lihat Video: Ma'ruf Amin Tegaskan Vaksinasi Saat Ramadhan Tak Batalkan Puasa [Gambas:Video 20detik] (whn/fjp)

Hukum swab test ketika puasa - Habib Muhammad Alhabsyi




2022 www.videocon.com