Homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa

homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa

KOMPAS.com - Perilaku menyimpang seksual adalah perilaku pemenuhan kebutuhan seksual dengan cara yang tidak wajar. Perilaku tersebut disebut juga dengan parafilia. Penyebab perilaku menyimpang sosial bisa disebabkan oleh gangguan psikologis, pengalaman sewaktu kecil, pergaulan, faktor genetik, dan penyalahgunaan obat dan alkohol. Macam-macam perilaku menyimpang seksual 1. Fetisisme Fetisisme adalah perilaku menyimpang dimana cara memenuhi kebutuhan seksualnya dengan menggunakan benda mati, seperti pakaian dalam, kain, dan benda lainnya.

2. Homoseksual Homoseksual adalah kelainan seksual berupa disorientasi pasangan yang ditandai menyukai sesama jenis. Penyuka sesama pria disebut gay, sedangkan penyuka sesama wanita disebut lesbi. 3. Sadomasokisme Perilaku ini adalah kondisi dimana seseorang merasakan kepuasan seksual setelah menyakiti pasangan seksualnya.

Sadomakisme disebut juga dengan sadisme. 4. Masokisme Ini merupakan kelainan seksual dimana seseorang menikmati seks setelah disiksa terlebih dahulu oleh pasangannya. Masokisme adalah perilaku yang berkebalikan dengan sadomakisme. Berita Terkait Istri Juga Bisa Alami Disfungsi Seksual, Kenali 5 Penyebabnya Mengenal 5 Jenis Pelecehan Seksual, termasuk Komentar Cabul dan Penyuapan 3 Alasan Selingkuh Menurut Sains, Stres hingga Urusan Seksual Teori Seleksi Seksual Darwin Ternyata Terbalik, Riset Mengungkap Bisa Timbulkan Trauma, Begini Cara Bantu Korban Pelecehan Seksual Berita Terkait Istri Juga Bisa Alami Disfungsi Seksual, Kenali 5 Penyebabnya Mengenal 5 Jenis Pelecehan Seksual, termasuk Komentar Cabul dan Penyuapan 3 Alasan Selingkuh Menurut Sains, Stres hingga Urusan Seksual Teori Seleksi Seksual Darwin Ternyata Terbalik, Riset Mengungkap Bisa Timbulkan Trauma, Begini Cara Bantu Korban Pelecehan Seksual Homoseksual adalah ketertarikan seksual berupa disorientasi pasangan seksualnya, yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan perilaku seksual dengan sesama jenis.

Disebut gay bila penderitanya laki-laki dan lesbian untuk penderita perempuan (Nietzel dkk, 1998:489). Homoseksual Homoseksual diartikan sebagai orang yang mengalami ketertarikan emosional, romantik, seksual atau rasa sayang terhadap sejenis. Secara sosiologis, homoseksual merupakan seseorang yang cenderung mengutamakan orang sejenis kelaminnya sebagai mitra seksual (Soekanto,1990:381).

Menurut PPDGJ II (Depkes RI, 1983), homoseksual adalah makna rasa ketertarikan perasaan (kasih sayang, hubungan perasaan dan atau secara erotik), baik secara eksklusif terhadap orang-orang yang berjenis kelamin sama, dengan atau tanpa hubungan fisik.

Dalam pengertian yang disusun oleh para ahli kedokteran dan psikologi tersebut memaknai homoseksual bukan sebagai perilaku seksual semata, akan tetapi juga melibatkan adanya unsur emosi dan perasaan. Istilah homoseksual pertama kali ditemukan pada tahun 1869 dalam sebuah pamflet di Jerman, hasil dari tulisan seorang novelis Karl-Maria Kertbeny, berisi perdebatan melawan hukum anti-sodomi Prusia. Pada tahun 1879, Gustav Jager menggunakan istilah Kertbeny dalam bukunya Discovery of The Soul untuk menyebut homoseksual.

Sedangkan pada tahun 1886, istilah homoseksual dan heteroseksual disebut dalam buku Psychopathia Sexualis karangan Richard Von Krafft-Ebing.

Jenis-jenis Homoseksual Berdasarkan psikiatri (aspek kesehatan jiwa), homoseksual dibagi menjadi dua jenis, yaitu (Santoso, 1988): a. Homoseksual Ego Sintonik Seorang homoseksual ego sintonik adalah homoseksual yang tidak merasa terganggu oleh orientasi seksualnya, tidak ada konflik bawah sadar yang ditimbulkan, serta tidak ada desakan, dorongan atau keinginan untuk mengubah orientasi seksualnya. b. Homoseksual Ego Distonik Homoseksual ego distonik adalah homoseksual yang mengeluh dan merasa terganggu akibat konflik psikis.

Ia senantiasa tidak atau sedikit sekali terangsang oleh lawan jenis. Hal itu menghambatnya untuk memulai dan mempertahankan hubungan heteroseksual yang sebetulnya didambakan. Secara terus terang Ia menyatakan dorongan homoseksualnya menyebabkan Ia merasa tidak disukai, cemas dan sedih.

Konflik psikis tersebut menyebabkan perasaan bersalah, kesepian, malu, cemas dan depresi. Berdasarkan perilaku yang diperlihatkan, homoseksual dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu (Coleman dkk, 1980): • Homoseksual tulen.

Jenis ini memenuhi gambaran stereotipik populer tentang lelaki yang keperempuan-perempuanan, atau sebaliknya perempuan yang kelaki-lakian. Bagi penderita yang memiliki kecenderungan homoseksual ini, daya tarik lawan jenis sama sekali tidak membuatnya terangsang, bahkan ia sama sekali tidak mempunyai minat seksual terhadap lawan jenisnya.

• Homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa malu-malu. Yaitu kaum lelaki yang suka mendatangi wc-wc umum atau tempat-tempat mandi uap, terdorong oleh hasrat homoseksual namun tidak mampu dan tidak berani menjalin hubungan personal yang cukup intim dengan orang lain untuk mempraktikkan homoseksualitas. • Homoseksual tersembunyi.

Kelompok ini biasanya berasal dari kelas menengah dan memiliki status sosial yang mereka rasa perlu dilindungi dengan cara menyembunyikan homoseksulitas mereka. Homoseksualitas mereka biasanya hanya diketahui oleh sahabat-sahabat karib, kekasih mereka, atau orang lain tertentu yang jumlahnya sangat terbatas.

• Homoseksual situasional. Homoseksualitas jenis ini terjadi pada penderita hanya pada situasi yang mendesak dimana kemungkinan tidak mendapatkan partner lain jenis, sehingga tingkah lakunya timbul sebagai homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa menyalurkan dorongan seksualnya.

• Biseksual. Yaitu orang-orang yang mempraktikkan baik homoseksualitas maupun heteroseksualitas sekaligus. Penderita homoseksualitas ini dapat mencapai kepuasan erotis optimal baik dengan sama jenis maupun dengan lawan jenis. • Homoseksual mapan. Sebagian besar kaum homoseksual menerima homoseksualitas mereka, memenuhi aneka peran kemasyarakatan secara bertanggung jawab, dan mengikat diri dengan komunitas homoseksual setempat. Faktor Penyebab Homoseksual Menurut Kartono (1998:248), terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya homoseksual, yaitu: • Faktor herediter, berupa ketidakseimbangan hormon-hormon seks.

Contohnya seperti cairan dan kelenjar endokrin pada fase-fase pertumbuhan yang kritis dapat mempengaruhi arah dari dorongan-dorongan seksual dan tingkah laku. • Pengaruh lingkungan yang tidak baik atau tidak menguntungkan bagi perkembangan kematangan seksual yang normal.

Contohnya seperti individu yang besar di lingkungan yang terdiri dari para homoseksual yang melakukan prostitusi yang selanjutnya memberikan contoh yang tidak baik bagi perkembangan individu. • Seseorang selalu mencari kepuasan relasi homoseksual karena pernah menghayati pengalaman homoseksual yang menggairahkan pada masa remaja.

Contohnya seperti laki-laki yang semasa remaja sudah pernah berhubungan seksual dengan laki-laki dan mengalami kepuasan yang sama halnya seperti berhubungan seksual dengan perempuan sehingga membuat individu tersebut selalu mencari kepuasan yang sama dengan relasi homoseksual.

• Seorang anak laki-laki pernah mengalami pengalaman traumatis dengan ibu, sehingga timbul kebencian atau antipati terhadap ibu dan berdampak kepada semua wanita. Individu yang mengalami trauma dengan ibu tersebut kemudian memunculkan dorongan menjadi homoseksual yang permanen.

Tahapan Pembentukan Homoseksual Menurut Troiden (Siahaan, 2009:51), terdapat tiga tahapan proses pengakuan atau pembentukan homeseksual, yaitu: • Sensitization, tahapan ini seseorang menyadari bahwa dia berbeda dari laki-laki lain. • Dissaciation dan Signification, tahapan ini menggambarkan terpisahnya perasaan seksual seseorang dan menyadari orientasi dan perilaku seksualnya. Di sinilah seseorang mendapat pengalaman hiburan seksualnya dari laki-laki, tetapi mungkin gagal menunjukkan perasaannya atau mencoba untuk mengingkarinya.

• Coming Out (pengakuan), tahap ini merupakan tahap di mana homoseksualitas diambil sebagai jalan hidup. Tahap ini mungkin dapat diartikan bahwa telah terjadi kombinasi antara seksualitas dan emosi, dan mempunyai hubungan dengan pasangan tetap. Daftar Pustaka • Nietzel, dkk. 1998. Abnormal Psychology. Boston: Allyn dan Bacon. • Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Grafindo Persada. • Santoso, Sulistiowati Budi. 2000. Tingkat Homoseksual pada Narapidana Ditinjau dari Lama Menjalani Pidana Penjara.

Semarang: Unika Soegijapranata. • Kartono, Homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa. 1998. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual.

Bandung: Bandar Maju. • Coleman, dkk. 1980. Abnormal Psychology and Modern Life. Scoot: Foresman and Company. • Siahaan, M S Jokie. 2009. Perilaku Menyimpang Pendekatan Sosiolog. Jakarta: INDEKS.
Well, LGBT is one of the controversial issues nowadays. So I made a term paper about it, and here it is: (be free to copy it but please write my link) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya, manusia diciptakan berpasang-pasangan. Lelaki dengan perempuan, dan begitu pula sebaliknya.

Namun sekarang ini, banyak sekali ditemukan penyimpangan pada kodrat manusia, salah satunya adalah rasa suka atau cinta pada sesama jenis atau biasa dikenal dengan LGBT ( Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender) Homoseksualitas adalah rasa ketertarikan atau rasa suka dan cinta seorang individu kepada individu lainnya yang berjenis kelamin sama. Adapun sebutan lesbian dipakai untuk wanita yang menyukai atau mencintai sesama wanita, dan ada pula sebutan gay untuk pria yang menyukai atau mencintai sesama pria.

Homoseksual kini sudah semakin meluas, bahkan di beberapa negara sudah dilegalkan pernikahan sesama jenis. Di Indonesia sendiri, negara islam terbesar, homoseksual yang masih menjadi kaum minoritas sudah mulai melewati zona amannya. Dan anehnya lagi, hampir tidak ada organisasi atau tokoh umat yang menanggapinya dengan serius. Dibalik itu semua, bagaimana bisa manusia yang kodratnya adalah heteroseksual menjadi ada yang homoseksual atau biseksual (ketertarikan pada sesama dan juga berbeda jenis kelamin)?

Apa penyebab terjadinya dan menyebarnya ‘virus’ homoseksual ini? Ada penelitian yang mengatakan bahwa pada awalnya homoseksual ini seperti layaknya vampire, dapat menyebar dari individu ke individu lainnya dengan cepat.

homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa

Karena sudah melakukan hubungan seks sesama jenis, korban atau pelaku,akan homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa mencari mangsa lainnya dengan sendirinya atau tanpa sadar. Dengan begitu, semakin luas penyebaran homoseksual. Ditambah zaman yang sudah modern, banyak sekali komunitas homoseksual di sosial media seperti facebook, twitter, dan bahkan ada aplikasi khusus homoseksual.

Dan karena itu pula, kami disini mengambil tema makalah “ Upaya Mengatasi Penyimpangan Homoseksual” dengan tujuan agar penulis dan pembaca semakin tahu apa itu, bahaya, dan bagaimana cara mengatasi penyimpangan dari homoseksualitas. 1.2 Rumusan Masalah • Apa itu penyimpangan seksual? • Apa itu homoseksual? • Apa saja faktor – faktor penyebab penyimpangan homoseksual? • Bagaimana gejala orang yang terkena penyimpangan homoseksual?

• Bagaimana contoh dan ciri-ciri penyimpangan homoseksual? • Bagaimana cara mengatasai orang yang terkena penyimpangan homoseksual?

1.3 Tujuan Pembelajaran • Mengetahui pengertian dari penyimpangan homoseksual • Mengetahui bagaimana mencegah terkena penyimpangan homoseksual • Mengetahui bagaimana mengatasi penyimpangan homoseksual • Menambah wawasan tentang penyimpangan seksual khususnya pada homoseksual BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Penyimpangan Homoseksualitas 2.1.1 Pengertian Penyimpangan Penyimpangan Menurut Beberapa Sosiolog • James Vander Zander Perilaku menyimpang merupakan perilaku yang dianggap sebagai hal tercela dan di luar batas – batas toleransi oleh sejumlah besar orang.

• Robert M. Z. Lawang Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut. • Bruce J. Cohen Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat. • Paul B.

Horton Penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat. Dari definisi-definisi di atas, pengertian perilaku menyimpang dapat diartikan sebagai setiap perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada di dalam masyarakat.

Perilaku-perilaku seperti ini terjadi karena seseorang mengabaikan norma atau tidak mematuhi patokan baku dalam masyarakat sehingga sering dikaitkan dengan istilah-istilah negatif. Penyimpangan adalah perilaku yang melanggar standar perilaku atau harapan dari sebuah kempok atau masyarakat. Tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial.

Penyimpangan melibatkan pelanggaran norma kelompok yang mungkin atau tidak mungkin diformalkan menjadi hukum. Penyimpangan dari Sudut Pandang Psikologi Teori ini berpandangan bahwa penyakit mental dan gangguan kepribadian berkaitan erat dengan beberapa bentuk perilaku menyimpang karena perilaku menyimpang sering kali dianggap sebagai suatu gejala penyakit mental.

Perilaku menyimpang juga sering kali dikaitkan dengan penyakit mental, homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa demikian teori psikologis tidak dapat memberikan banyak bantuan untuk menjelaskan penyebab perilaku menyimpang seseorang. Ilmuwan yang terkenal di bidang ini adalah Sigmund Freud. Dia membagi diri manusia menjadi tiga bagian penting sebagai berikut: • Id, yaitu bagian diri yang bersifat tidak sadar, naluriah, dan impulsif (mudah terpengaruh oleh gerak hati).

• Ego, yaitu bagian diri yang bersifat sadar dan rasional (penjaga pintu kepribadian). • Superego, yaitu bagian diri yang telah menyerap nilai-nilai kultural dan berfungsi sebagai suara hati. Menurut Freud, perilaku menyimpang terjadi apabila id yang berlebihan (tidak terkontrol) muncul bersamaan dengan superego yang tidak aktif, sementara dalam waktu yang sama ego yang seharusnya dominan tidak berhasil memberikan perimbangan. 2.1.2 Pengertian Penyimpangan Seksual Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya.

Biasanya, cara yang digunakan oleh orang-orang tersebut adalah objek seks yang tidak wajar.

homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa

Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan. Psikologi berpandangan bahwa penyakit mental dan gangguan kepribadian berkaitan erat dengan beberapa bentuk perilaku penyimpangan. Penyimpangan seksual adalah segala bentuk penyimpangan seksual, baik arah, minat, maupun orientasi seksual. Penyimpangan adalah gangguan atau kelainan. Sedangkan perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis.

Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa bermacam-macam mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama. Objek seksualnya juga bisa berupa orang lain, diri sendiri, maupun objek dalam khayalan. Penyimpangan seksual merupakan salah satu bentuk perilaku yang menyimpang karena melanggar norma-norma yang berlaku. Penyimpangan seksual dapat juga diartikan sebagai bentuk perbuatan yang mengabaikan nilai dan norma.

Yang melanggar, bertentangan, atau menyimpang dari aturan-aturan hukum. Sebagian dari tingkah laku itu memang tidak berdampak apa-apa, terutama jika tidak ada akibat fisik atau sosial yang dapat ditimbulkannya. Akan tetapi pada sebagian perilaku seksual yang lain, dampaknya cukup serius, seperti perasaan bersalah, depresi, marah dan sebagainya (Sarwono, 2006).

2.1.3 Pengertian Homoseksual Kata homoseksual homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa hasil penggabungan bahasa Yunani dan Latin dengan elemen pertama berasal dari bahasa Yunani ὁμός homos, ‘sama’ (tidak terkait dengan kata Latin homo, ‘manusia’, seperti dalam Homo sapiens), sehingga dapat juga berarti tindakan seksual dan kasih sayang antara individu berjenis kelamin sama, termasuk lesbianisme.

Gay umumnya mengacu pada homoseksualitas laki-laki, tetapi dapat digunakan secara luas untuk merujuk kepada semua orang LGBT.

homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa

Dalam konteks seksualitas, lesbian, hanya merujuk pada homoseksualitas perempuan. Kata “ lesbian” berasal dari nama pulau Yunani Lesbos, di mana penyair Sapfo banyak sekali menulis tentang hubungan emosionalnya dengan wanita muda. Homoseksualitas adalah rasa ketertarikan romantis dan/atau seksual atau perilaku antara individu berjenis kelamin atau gender yang sama.

Sebagai orientasi seksual, homoseksualitas mengacu kepada “pola berkelanjutan atau disposisi untuk pengalaman seksual, kasih sayang, atau ketertarikan romantis” terutama atau secara eksklusif pada orang dari jenis kelamin sama, “Homoseksualitas juga mengacu pada pandangan individu tentang identitas pribadi dan sosial berdasarkan pada ketertarikan, perilaku ekspresi, dan keanggotaan dalam komunitas lain yang berbagi itu.” Istilah umum dalam homoseksualitas yang sering digunakan adalah lesbian untuk perempuan pecinta sesama jenis dan gay untuk pria pecinta sesama jenis, meskipun gay dapat merujuk pada laki-laki atau perempuan.

Bagi para peneliti, jumlah individu yang diidentifikasikan sebagai gay atau lesbian — dan perbandingan individu yang memiliki pengalaman seksual sesama jenis — sulit diperkirakan atas berbagai alasan. Dalam modernitas Barat, menurut berbagai penelitian, 2% sampai 13% dari populasi manusia adalah homoseksual atau pernah melakukan hubungan sesama jenis dalam hidupnya.

Sebuah studi tahun 2006 menunjukkan bahwa 20% dari populasi secara anonim melaporkan memiliki perasaan homoseksual, meskipun homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa sedikit peserta dalam penelitian homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa menyatakan diri mereka sebagai homoseksual.

2.2 Gejala dan Faktor dari Penyimpangan Homoseksualitas 2.2.1 Gejala Penyimpangan Homoseksualitas Gejala Umum Kebanyakan pria yang menghadapi perasaaan homoseksual yang tidak diinginkan merasa terlalu familiar dengan gejala-gejala masalah homoseksualitas mereka.

Sangat mudah untuk melihat gejala ini, dan sangat sulit untuk melihat jauh di bawah gejala itu untuk menemukan masalah yang mendasari. Beberapa dari gejala yang paling menyakitkan dan mengganggu adalah berikut ini: Nafsu Bagi para gay, mengidolakan pria sangat mudah berubah menjadi erotisisasi. Tidak mampu merasa “cukup laki-laki” di dalam diri, mereka menginginkan pria lain untuk “melengkapi” mereka dari luar.

Memandangi atau menyentuh badan pria lain membuat mereka benar-benar “merasakan” maskulinitas dalam suatu cara yang tidak pernah dapat dirasakannya dari diri sendiri. Tapi menuruti nafsu melalui pornografi, fantasi, atau voyeurism hanya akan meningkatkannya. Lebih jauh lagi mendewakan pria yang dinginkan dan mengisolasi diri dari mereka, memperlebar jurang yang tumbuh antara diri sendiri dan “pria sejati” yang membuat mereka tampak seperti “lawan jenis.” Nafsu juga membuka pintu bagi mereka kearah kecanduan sex.

Ketergantungan Seksual Kepuasan seksual dapat sangat memabukkan bagi pria. Segera ketika sebagian dari mereka mulai menggunakan nafsu atau pornografi untuk membius luka emosional, mereka berada di jalur cepat ke ketergantungan seks – mungkin satu dari ketergantungan yang pria sangat mudah terjatuh ke dalamnya dan yang paling sulit untuk lepas darinya. Mereka dari para gay yang menjadi kecanduan akan seks dan pornografi menemukan bahwa, untuk dapat lepas dari kecanduan homoseksual, mereka seringkali harus menjalani paling tidak dua “ program recovery” secara bersamaan – program “ detox” untuk menarik mereka dari kebiasaan seks dan program pengakuan maskulinitas dan penyembuhan dari dalam untuk menyembuhkan luka emosional.

Obsesi Bahkan mereka yang dapat menghindari memperturutkan perasaan homoseksual dengan pria lain atau keinginan yang mengarah ke ketergantungan, seringkali menemukan dirinya menjadi terobsesi dengan tubuh pria dan seksualitasnya. Mereka menemukan diri mereka memandangi pria lain terus menerus dan membandingkan diri mereka dengan para pria lain itu.

Sebagaimana tradisi gay yang terobsesi dengan fisik, mereka juga menjadi merasa mudah terobsesi dengan kualitas-kualitas ideal. Rasa Bersalah Nafsu dan obsesi mereka mengarahkan banyak dari mereka menjadi merasa bersalah dan malu yang dalam, yang menarik mereka menjadi lebih down. Mereka tidak ingin menjadi gay. Mereka tidak ingin seseorang tahu perasaan mereka.

Beberapa dari mereka tenggelam dalam rasa bersalah, bahkan merencanakan bunuh diri. Yang lain memutuskan bahwa rasa bersalah adalah masalahnya dan mencoba mengabaikan nalurinya, membuang keyakinan agamanya, memutuskan hubungan keluarga, memberikan izin kepada diri sendiri untuk memperturutkan nafsunya, mencari “ Mr. Homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa dan merangkul “ gay pride.” Apakah itu berhasil? Tampaknya, untuk sementara. Tapi mereka yang mencobanya mendapati bahwa membungkam nuraninya tampaknya mengarahkan ke sisi gelap yang lebih dan lebih dalam dari “kehidupan gay”, dimana mereka menginginkan lebih dan pengalaman seks yang lebih liar untuk mendapatkan kepuasan yang sama.

Itu menghancurkan kerinduan spiritual mereka akan Tuhan dan akan kebaikan. Mereka yang mengambil jalan ini pada suatu saat jatuh ke dasar, dan akhirnya memohon pertolongan. Konflik Internal Kebanyakan, masalah ini dan gejalanya menimbulkan konflik yang sangat ekstrim yang kadang terasa akan merobek-robek diri mereka. Dari dalam diri mereka mengharapkan pemulihan emosional dan rasa keutuhan.

Jiwa mereka sendiri mengharapkan suatu kekuatan dan tujuan yang lebih besar. Sosial mereka mengharapkan kesatuan dengan pria heteroseksual dan penerimaan dalam dunia maskulin. Tetapi, didorong oleh nafsu mereka, Seksual mereka mengancam untuk menguasai bagian mereka yang lain. Seksual mereka membohongi diri sendiri bahwa mereka dapat memuaskan seluruh hasrat mereka dan mendapatkan kebahagiaan dan pemulihan dengan melakukan hubungan seks dengan pria lain.

Pada akhirnya, salah satu harus menang. Mereka tidak dapat hidup dalam kondisi peperangan di dalam diri mereka selamanya. 2.2.2 Faktor Penyebab Homoseksualitas Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab homoseksual tersebut, di antaranya: Faktor Keluarga Didikan yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya memiliki peranan yang penting bagi para anak untuk lebih cenderung menjadi seorang anggota LGBT homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa hidup normal layaknya orang yang lainnya.

Ketika seorang anak mendapatkan perlakuan yang kasar atau perlakuan yang tidak baik, maka pada akhirnya kondisi itu bisa menimbulkan kerenggangan hubungan keluarga serta timbulnya rasa benci si anak pada orang tuanya. Sebagai contoh adalah ketika seorang anak perempuan mendapatkan perlakuan yang kasar atau tindak kekerasan lainnya dari ayah atau saudara laki-lakinya yang lain, maka akibat dari trauma tersebut nantinya anak perempuan tersebut bisa saja memiliki sifat atau sikap benci terhadap semua laki-laki.

Akibat sikap orang tua yang terlalu mengidam-idamkan untuk memiliki anak laki-laki atau perempuan, namun kenyataan yang terjadi justru malah sebaliknya. Kondisi seperti ini bisa membuat anak akan cenderung bersikap seperti apa yang diidamkan oleh orang tuanya. Orang tua yang terlalu mengekang anak juga bisa malah menjerumuskan anak pada pilihan hidup yang salah. Kurangnya didikan perihal agama dan masalah seksual dari orang tua tua kepada anak-anaknya.

Orang tua sering beranggapan bahwa membicarakan masalah yang menyangkut seksual dengan anak-anak mereka adalah suatu hal yang tabu, padahal hal itu justru bisa mendidik anak agar bisa mengetahui perihal seks yang benar. Faktor Lingkungan dan Pergaulan Lingkungan serta kebiasaan seseorang dalam bergaul disinyalir telah menjadi faktor penyebab yang paling dominan terhadap keputusan seseorang untuk menjadi bagian dari komunitas LGBT.

Beberapa poin terkait dengan faktor ini adalah: Seorang anak yang dalam lingkungan keluarganya kurang mendapatkan kasih sayang, perhatian, serta pendidikan baik masalah agama, seksual, maupun pendidikan lainnya sejak dini bisa terjerumus dalam pergaulan yang tidak semestinya. Di saat anak tersebut mulai asik dalam pergaulannya, maka ia akan beranggapan bahwa teman yang berada di dekatnya bisa lebih mengerti, menyayangi, serta memberikan perhatian yang lebih padanya.

Dan tanpa ia sadari, teman tersebut justru membawanya ke dalam kehidupan yang tidak benar, seperti narkoba, miras, perilaku seks bebas, serta perilaku seks yang menyimpang. Masuknya budaya-budaya yang berasal dari luar negeri mau tidak mau telah dapat mengubah pola pikir sebagian besar masyarakat kita dan pada akhirnya terjadilah pergeseran norma-norma susila yang dianut oleh sebagian masyarakat.

sebagai contoh adalah perilaku seks yang menyimpang seperti seks bebas maupun seks dengan sesama jenis atau yang lebih dikenal dengan istilah LGBT. Faktor Genetik Dari beberapa hasil penelitian telah menunjukkan bahwa salah satu faktor pendorong terjadinya homoseksual, lesbian, atau perilaku seks yang menyimpang lainnya bisa berasal dari dalam tubuh si pelaku yang sifatnya bisa menurun dari anggota keluarga terdahulu.

ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui terkait masalah ini, seperti: Dalam dunia kesehatan, pada umumnya seorang pria normal memiliki kromosom XY dalam tubuhnya, sedangkan wanita yang normal kromosomnya adalah XX. Akan tetapi dalam beberapa kasus ditemukan bahwa seorang pria bisa saja memiliki jenis kromosom XXY, ini artinya bahwa laki-laki tersebut memiliki kelebihan satu kromosom. Akibatnya, lelaki tersebut bisa memiliki berperilaku yang agak mirip dengan perilaku perempuan.

Keberadaan hormon testosteron dalam tubuh manusia memiliki andil yang besar terhadap perilaku LGBT. Seseorang yang memiliki kadar hormon testosteron yang rendah dalam tubuhnya, maka bisa mengakibatkan antara lain berpengaruh terhadap perubahan perilakunya, seperti perilaku laki-laki menjadi mirip dengan perilaku perempuan. Faktor Akhlak dan Moral Faktor moral dan akhlak yang dimiliki seseorang juga memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku LGBT yang dianggap menyimpang. Ada beberapa hal yang dapat berpengaruh pada perubahan akhlak dan moral yang dimiliki manusia yang pada akhgirnya akan menjerumuskan manusia tersebut kepada perilaku yang menyimpang seperti LGBT, yaitu: Iman yang lemah dan rapuh.

Ketika seseorang memiliki tingkat keimanan yang lemah dan rapuh, besar kemungkinan kondisi tersebut akan membuatnya lemah dalam hal mengendalikan hawa nafsu. Kita tahu bahwa iman adalah benteng yang paling efektif dalam diri seseorang untuk menghindari terjadinya perilaku seksual yang menyimpang.

Jadi dengan lemahnya iman, maka kekuatan seseorang untuk dapat mengendalikan hawa nafsunya akan semakin kecil, dan itu nantinya bisa menjerumuskan orang itu pada perilaku yang menyimpang, salah satunya dalam hal seks.

Semakin banyaknya rangsangan seksual. Banyak contoh yang bisa kita ambil sebagai pemicu rangsangan seksual seseorang. Misalnya semakin maraknya VCD porno, majalah porno, atau video-video lain yang bisa kita akses melalui internet. Faktor Pendidikan dan Pengetahuan Tentang Agama Faktor internal lainnya yang menjadi penyebab kemunculan perilaku seks menyimpang seperti kemunculan LGBT adalah pengetahuan serta pemahaman seseorang tentang agama yang masih sangat minim. Di atas dikatakan bahwa agama atau keimanan merupakan benteng yang paling efektif dalam mengendalikan hawa nafsu serta dapat mendidik kita untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Untuk itulah, sangat perlu ditanamkan pengetahuan serta pemahaman agama terhadap anak-anak sejak usia dini untuk membentuk akal, akhlak, serta kepribadian mereka. 2.3 Ciri-Ciri Homoseksualitas Homoseksualitas dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu: Gay Gay atau “Homo” adalah istilah untuk yang memiliki kecenderungan seksual kepada sesama pria atau disebut juga pria yang mencintai pria baik secara fisik, seksual, emosional ataupun secara spiritual.

Mereka juga rata-rata agak memedulikan penampilan, dan sangat memperhatikan apa-apa saja yang terjadi pada pasangannya. Biasanya mereka melakukan hubungan sesama jenis melalui seks oral atau seks anal. Hubungan melalui anal seks disebut juga sodomi. Lesbian Lesbian adalah istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama perempuan atau disebut juga perempuan yang mencintai perempuan baik secara fisik, seksual, emosional atau secara spiritual.

homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa

Istilah ini dapat digunakan sebagai kata benda jika merujuk pada perempuan yang menyukai sesama jenis, atau sebagai kata sifat apabila bermakna ciri objek atau aktivitas yang terkait dengan hubungan sesama jenis antar perempuan. Selain itu menurut Coleman, dkk (1980) dalam Supraptiknya (1990) menggolongkan homoseksualitas ke dalam beberapa jenis yakni: • Homoseksual tulen yaitu gambaran streotiptik popular tentang laki-laki yang keperempuan-perempuanan atau sebaliknya perempuan yang kelelaki-lakian.

• Homoseksual malu-malu yaitu kaum laki-laki yang suka mendatangi WC-WC umum atau tempat-tempat mandi uap terdorong oleh hasrat homoseksual namun tidak mampu dan tidak berani menjalin hubungan personal yang cukup intim dengan orang lain untuk mempraktikkan homoseksualitas.

• Homoseksual tersembunyi yaitu kelompok ini biasanya berasal dari kelas menengah dan memiliki status sosial yang mereka rasa perlu dengan menyembunyikan homoseksualitas mereka. Homoseksualitas mereka biasanya hanya diketahui oleh sahabat-sahabat karib, kekasih mereka, atau orang lain tertentu yang jumlahnya sangat terbatas. • Homoseksual situasional yaitu Terdapat aneka jenis situasi yang dapat mendorong orang mempraktikkan homoseksualitas tanpa disertai komitmen yang mendalam, misalnya penjara dan medan perang.

Akibatnya, biasanya mereka kembali mempraktikkan heteroseksualitas sesudah keluar dari situasi tersebut • Biseksual yaitu orang yang mempraktikkan baik homoseksualitas maupun heteroseksualitas sekaligus. • Homoseksual mapan yaitu sebagian besar kaum homoseksual menerima homoseksualitas mereka, memenuhi aneka peran kemasyarakatan secara bertangggung jawab dan mengikatkan diri dengan komunitas homoseksual setempat.

Secara keseluruhan, kaum homoseksual tidak menunjukkan gejala gangguan kepribadian yang lebih di bandingkan kaum heteroseksual.

Banyak kaum homoseksual menjalin hubngan intim yang stabil dengan seorang pasangan, khususnya dikalangan homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa lesbian.

Ada kecenderungan bahwa kaum lesbian lebih mengutamakan hubungan mereka, bukan pada aspek-aspek seksualnya, sedangkan kaum homoseksual lelaki cenderung mengutamakan aspek-aspek seksual dalam hubungan mereka Ciri – Ciri gay: Tatapan Seorang pria akan menatap pria lain lebih lama dari pria biasa. Biasanya lebih dari 3 detik, dan itu dilakukan berulang-ulang. Tentunya hal ini akan dilakukan terhadap pria yang memang disukainya. Bahkan tatapan ini akan diakhiri dengan senyuman. Bagi sebagian gay mengaku, tatapan mata seorang gay terhadap pria itu sangat dalam dan terasa “menusuk”.

Wangi Parfum lebih mencolok daripada wanita. Dan parfum yang digunakan biasanya branded. Cara berpakaian Lebih dandy, modis, matching dan update. Motif yang dipakai biasanya garis garis lurus dan warnanya tidak terlalu eye-catching. Namun beberapa ada juga yang suka tampil dengan warna-warna mencolok dan ngejreng.

Bahkan untuk kaos, lebih disukai yang ketat, sehingga memperlihatkan lekuk tubuh lebih jelas. Termasuk kemeja juga dipilih ukuran yang lebih ngepas biar kelihatan bentuk tubuhnya, apalagi jika didapatkan dari hasil fitnes.

Tata rambut yang lebih klimis dan trendy. Selain penampilan, baju, dan wajah. Tak kalah pentingnya adalah tatanan rambutnya, biasanya pria gay lebih klimis dibanding pria heteroseksual. Umumnya mereka suka memakai produk rambut jenis gel yang membuat lebih wet look dan terlihat fresh.

Cara bicara yang lebih sopan. Umumnya tata bahasa yang dipakai lebih ditata. Bahkan pada kebanyakan gay, cara mereka bicara lebih kental huruf ‘s’ nya, dan parahnya lagi kebanyakan suaranya cempreng. Hal ini akan sangat nampak pada gay yang tingkat femininnya lebih tinggi.

Gesture dan sikap. Pria gayumumnya lebih menjaga sikap seperti cara berdiri, cara duduk hingga cara berjalan. Ketika duduk, dapat dengan mudah dikenali bagaimana pria gay menaruh tangan dan memposisikan atau menyilangkan kaki dengan anggun. Pria gay lebih berani dalam menunjukan sikap dan ketertarikan. Jika dia merasa tertarik dengan anda, maka dia takkan ragu untuk mendekat menghampiri anda dan mengajak kenalan. Ciri – Homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa Lesbi: Selera fashion Lesbian biasanya memiliki selera fashion yang berbeda dengan wanita normal.

Bisa dilihat dari gaya rambut yang biasanya populer di kalangan lesbian adalah gaya undercut, rambut pendek gaya militer yang diberi banyak gel (80% dari mereka yang melakukan ini adalah lesbian), atau rambut pendek dengan poni shaggy yang meniru artis tertentu.

homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa

Menurut penelitian yang melihat sejarah lesbian dari dahulu kala, mereka biasanya bergaya tomboy dan suka berpakaian seperti laki-laki. Gerak – gerik Biasanya mereka suka melebarkan kaki saat duduk, mereka berjalan seperti laki-laki, dan saat berjalan bahu mereka membungkuk seolah berusaha menyembunyikan dada, langkah kakinya cepat dan setengah memantul.

Senyumnya genit dan agak tertahan, suka melakukan kontak mata yang lama, sambil memiringkan kepala. Beberapa yang bisa dilihat dari lesbian adalah saat berbicara sering menjilat bibir berlebihan, menyentuh tangan dan duduk terlalu dekat dengan lawan bicara, sering juga menyentuh hidung.

Jari kuku yang pendek Katanya hal ini cukup jelas dikalangan lesbian, bahwa mereka selalu memangkas jari kuku dengan pendek dan rapi supaya tidak menyakiti pasangan mereka. Gaya hidup Beberapa lesbian punya karakter polos dan ramah, tapi, kebanyakan meraka mudah bergaul. Biasanya mereka lebih suka hang out berkelompok atau berpasangan. Mereka menyukai hal-hal yang berhubungan dengan lesbian atau penyuka sesama jenis.

Pembicaraan Mereka akan senang membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan lesbian atau penyuka sesama jenis. Cara bicaranya akan cenderung pro persamaan gender. 2.4 Pencegahan dan Pengobatan Penyimpangan Homoseksualitas 2.4.1 Usaha Pencegahan Penyimpangan Homoseksualitas Sikap dan Pengertian Homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa Tua Pencegahan abnormalitas masturbasi sesungguhnya bisa secara optimal diperankan oleh orang tua.

Sikap dan reaksi yang tepat dari orang tua terhadap anaknya yang melakukan masturbasi sangat penting. Di samping itu, orang tua perlu memperhatikan kesehatan umum dari anak-anaknya juga kebersihan di sekitar daerah genitalia mereka.

Orangb tua perlu mengawasi secara bijaksana hal-hal yang bersifat pornografis dan pornoaksi yang terpapar pada anak. Menekankan kebiasaan masturbasi sebagai sebuah dosa dan pemberian hukuman hanya akan menyebabkan anak putus asa dan menghentikan usaha untuk mencontohnya.

Sedangkan pengawasan yang bersifat terang-terangan akan menyebabkan sang anak lebih memusatkan perhatiannya pada kebiasaan ini dan kebiasaan ini bisa jadi akan menetap.

Orang tua perlu memberikan penjelasan seksual secara jujur, sederhana, dan terus terang kepada anaknya pada saat-saat yang tepat berhubungan dengan perubahan-perubahan fisiologik seperti adanya ereksi, mulai adanya haid dan fenomena sexual secunder lainnya. Secara khusus, biasanya anak remaja melakukan masturbasi jika punya kesempatan melakukannya. Kesempatan itulah sebenarnya yang jadi persoalan utama. Agar tidak bermasturbasi, hendaklah dia (anak) jangan diberi kesempatan untuk melakukannya.

Kalau bisa, hilangkan kesempatan itu. Masturbasi biasanya dilakukan di tempat-tempat yang sunyi, sepi, dan menyendiri. Homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa, jangan biarkan anak untuk mendapatkan kesempatan menyepi sendiri.

Usahakan agar dia tidak seorang diri dan tidak kesepian. Beri dia kesibukan dan pekerjaan menarik yang menyita seluruh perhatiannya, sehingga ia tidak teringat untuk pergi ke tempat sunyi dan melakukan masturbasi.

Selain itu, menciptakan suasana rumah tangga yang dapat mengangkat harga diri anak, hingga ia dapat merasakan harga dirinya. Hindarkan anak dari melihat, mendengar dan membaca buku-buku dan gambar-gambar porno. Suruhlah anak-anak berolah raga, khususnya olah raga bela diri, yang akan menyalurkan kelebihan energi tubuhnya. Atau membiasakan mereka aktif dalam organisasi kepemudaan dan keolahragaan. Pendidikan Seks Sex education (pendidikan seks) sangat berguna dalam mencegah remaja pada kebiasaan masturbasi.

Pendidikan seks dimaksudkan sebagai suatu proses yang seharusnya terus-menerus dilakukan sejak anak masih kecil. Pada permulaan sekolah homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa sex information dengan cara terintegrasi dengan pelajaran-pelajaran lainnya, dimana diberikan penjelasan-penjelasan seksual yang sederhana dan informatif. Pada tahap selanjutnya dapat dilanjutkan dengan diskusi-diskusi yag lebih bebas dan dipimpin oleh orang-orang yang bertanggung jawab dan menguasai bidangnya.

Hal penting yang ingin dicapai dengan pendidikan seks adalah supaya anak ketika sampai pada usia adolescent telah mempunyai sikap yang tepat dan wajar terhadap seks.

2.4.2 Pengobatan Akibat Penyimpangan Homoseksualitas Biasanya anak-anak dengan kebiasaan masturbasi jarang dibawa ke dokter, kecuali kebiasaan ini sangat berlebihan. Masturbasi memerlukan pengobatan hanya apabila sudah ada gejala-gejala abnormal, bisa berupa sikap yang tidak tepat dari orang tua yang telah banyak menimbulkan kecemasan, kegelisahan, ketakutan, perasaan bersalah/dosa, menarik diri atau adanya gangguan jiwa yang mendasari, seperti gangguan kepriadian neurosa, perversi maupun psikosa.

Farmakoterapi: Pengobatan dengan estrogen (eastration) Estrogen dapat mengontrol dorongan-dorongan seksual yang tadinya tidak terkontrol menjadi lebih terkontrol. Arah keinginan seksual tidak diubah.

Diberikan peroral. Efek samping tersering adalah ginecomasti. Pengobatan dengan neuroleptik • Phenothizine Memperkecil dorongan seksual dan mengurangi kecemasan. Diberikan peroral. • Fluphenazine enanthate Preparat modifikasi Phenothiazine. Dapat mengurangi dorongan sexual lebih dari dua-pertiga kasus dan efeknya sangat cepat. Diberikan IM dosis 1cc 25 mg. Efektif untuk jangka waktu 2 pekan.

Pengobatan dengan tr a nsquilizer Diazepam dan Lorazepam berguna untuk mengurangi gejala-gejalan kecemasan dan rasa takut. Perlu diberikan secara hati-hati karena dalam dosis besar dapat menghambat fungsi sexual secara menyeluruh.

Pada umumnya obat-obat neuroleptik dan transquilizer berguna sebagai terapi adjuvant untuk pendekatan psikologik. Psikoterapi Psikoterapi pada kebiasaan masturbasi mesti dilakukan dengan pendekatan yang cukup bijaksana, dapat menerima dengan tenang dan dengan sikap yang penuh pengertian terhadap keluhan penderita.

homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa

Menciptakan suasana dimana penderita dapat menumpahkan semua masalahnya tanpa ditutup-tutupi merupakan tujuan awal psikoterapi. Pada penderita yang datang hanya dengan keluhan masturbasi dan adanya sedikit kecemasan, tindakan yang diperlukan hanyalah meyakinkan penederita pada kenyataan yag sebenarnya dari masturbasi.

Pad kasus-kasus adolescent, kadang-kadang psikoterapi lebih kompleks dan memungkinkan dilakukan semacam interview sex education. Psikotherapi dapat pula dilakukan dengan pendekatan keagamaan dan keyakinan penderita. Hypnoterapi Self-hypnosis ( auto-hypnosis) dapat diterapkan pada penderita dengan masturbasi kompulsif, yaitu dengan mengekspose pikiran bawah sadar penderita dengan anjuran-anjuran mencegah masturbasi.

Genital Mutilation (Sunnat) Ini merupakan pendekatan yang tidak lazim dan jarang dianjurkan secara medis. Pada beberapa daerah dengan kebudayaan tertentu, dengan tujuan mengurangi/membatasi/meniadakan hasrat seksual seseorang, dilakukan mutilasi genital dengan model yang beraneka macam.

Menikah Bagi remaja/ adolescent yang sudah memiliki kesiapan untuk menikah dianjurkan untuk menyegerakan menikah untuk menghindari/mencegah terjadinya kebiasaan masturbasi. BAB III PENUTUPAN 3.1 KESIMPULAN Pada dasarnya, homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa diciptakan berpasang-pasangan; laki-laki dan perempuan.

Namun sekarang ini, banyak sekali ditemukan penyimpangan pada kodrat manusia. Homoseksualitas adalah salah satu contoh dari penyimpangan seksual. Penyimpangan adalah tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam sistem sosial. Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya.

Penyimpangan seksual dapat juga diartikan sebagai bentuk perbuatan yang mengabaikan nilai dan norma. Yang melanggar, bertentangan, atau menyimpang dari aturan-aturan hukum. Homoseksualitas adalah rasa ketertarikan romantis, seksual atau perilaku antara individu berjenis kelamin atau gender yang sama. Ketertarikan sesama gender antara pria dengan pria biasa disebut gay, sedangkan wanita dengan wanita disebut lesbian. Homoseksualitas kini semakin meluas, dibeberapa negara ada yang sudah melazimkan perilaku homoseksualitas ini.

Perilaku ini disebabkan oleh beberapa faktor; keluarga, lingkungan dan pergaulan, genetik, akhlak dan moral, dan kurangnya pengetahuan tentang agama. 3.2 SARAN Sebagaimana telah kita ketahui bahaya akan penyimpangan homoseksualitas, penulis ingin memberikan saran, diantaranya adalah: Pertama kita harus bersyukur dengan apa yang diberi Tuhan pada saat ini, dengan seperti itu kita akan lebih menerima diri kita sendiri, jika kita seorang laki-laki maka sudah kodratnya memiliki ketertarikan dengan perempuan, begitu pula sebaliknya.

Dari beberapa faktor penyebab homoseksual yang sudah diketahui, kita dapat mencegah diri kita agar tidak terbawa perilaku menyimpang itu, seperti kita harus mendalami pengetahuan agama, sikap dan pengertian orang tua juga penting sebagai pencegahan, ada juga pendidikan seks, pendidikan seks sangat berguna dalam mencegah remaja pada kebiasaan masturbasi dengan dipimpin oleh orang-orang yang bertanggung jawab dan mengusai bidangnya. Adapun pengobatan untuk seseorang yang sudah mengalami homoseksual, seperti farmakoterapi, psikoterapi, hypnoterapi, genital mutilation (sunnat), dan menikah bagi seseorang yang sudah memiliki kesiapan dalam menikah dan itu juga bisa mencegah perilaku penyimpangan ini.

DAFTAR PUSTAKA • http://www.oocities.org/hijrah_web/html/pcc02.htm • http://catatancalvinnainggolan.blogspot.co.id/2016/02/faktor-penyebab-seseorang-berubah-menjadi-homoseksual.html • http://cintalia.com/kehidupan/penyebab-lgbt • https://himikaung.wordpress.com/2011/03/22/pencegahan-dan-pengobatan-penyimpangan-seksual/ • http://annida-online.com/beberapa-ciriciri-lesbian-waspada.html • http://reminatarigan.blogspot.co.id/2014/11makalah-sosial-homoseksualitas_10.html • http://www.psychologymania.com/2012/09/pengertian-penyimpangan-seksual.html • https://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas#Psikologi • https://www.plengdut.com/sebab-sebab-terjadinya-perilaku-menyimpang-dan-sikap-antisosial/334/ Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya.

Biasanya, cara yang digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar. Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti pengalaman sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik. Berikut ini macam-macam bentuk penyimpangan seksual: 1.Homoseksual Homoseksual merupakan kelainan seksual berupa disorientasi pasangan seksualnya.

Disebut gay bila penderitanya laki-laki dan lesbi untuk penderita perempuan. Hal yang homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa disini adalah kaitan yang erat antara homoseksual dengan peningkatan risiko AIDS. Pernyataan ini homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa dalam jurnal kedokteran Amerika (JAMA tahun 2000), kaum homoseksual yang “mencari” pasangannya melalui internet, terpapar risiko penyakit menular seksual (termasuk AIDS) lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak.

2.Sadomasokisme Sadisme seksual termasuk kelainan seksual. Dalam hal ini kepuasan seksual diperoleh bila mereka melakukan hubungan seksual dengan terlebih dahulu menyakiti atau menyiksa pasangannya. Sedangkan masokisme seksual merupakan kebalikan dari sadisme seksual.

Seseorang dengan sengaja membiarkan dirinya disakiti atau disiksa untuk memperoleh kepuasan seksual. 3.Ekshibisionisme Penderita ekshibisionisme akan memperoleh kepuasan seksualnya dengan memperlihatkan alat kelamin mereka kepada orang lain yang sesuai dengan kehendaknya.

Bila korban terkejut, jijik dan menjerit ketakutan, ia akan semakin terangsang. Kondisi begini sering diderita pria, dengan memperlihatkan penisnya yang dilanjutkan dengan masturbasi hingga ejakulasi. 4.Voyeurisme Istilah voyeurisme (disebut juga scoptophilia) berasal dari bahasa Prancis yakni vayeur yang artinya mengintip.

Penderita kelainan ini akan memperoleh kepuasan seksual dengan cara mengintip atau melihat orang lain yang sedang telanjang, mandi atau bahkan berhubungan seksual. Setelah melakukan kegiatan mengintipnya, penderita tidak melakukan tindakan lebih lanjut terhadap korban yang diintip. Dia hanya mengintip atau melihat, tidak lebih. Ejakuasinya dilakukan dengan cara bermasturbasi setelah atau selama mengintip atau melihat korbannya.

homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa

Dengan kata lain, kegiatan mengintip atau melihat tadi merupakan rangsangan seksual bagi penderita untuk memperoleh kepuasan seksual. Yang jelas, para penderita perilaku seksual menyimpang sering membutuhkan bimbingan atau konseling kejiwaan, disamping dukungan orang-orang terdekatnya agar dapat membantu mengatasi keadaan mereka.

5.Fetishisme Fatishi berarti sesuatu yang dipuja. Jadi pada penderita fetishisme, aktivitas seksualnya disalurkan melalui bermasturbasi dengan BH (breast holder), celana dalam, kaos kaki, atau benda lain yang dapat meningkatkan hasrat atau dorongan seksual. Sehingga, orang tersebut mengalami ejakulasi dan mendapatkan kepuasan. Namun, ada juga penderita yang meminta pasangannya untuk mengenakan benda-benda favoritnya, kemudian melakukan hubungan seksual yang sebenarnya dengan pasangannya tersebut.

6.

homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa

Pedophilia / Pedophil / Pedofilia / Pedofil Adalah orang dewasa yang yang suka melakukan hubungan seks / kontak fisik yang merangsang dengan anak di bawah umur. 7.Bestially Bestially adalah manusia yang suka melakukan hubungan seks dengan binatang seperti kambing, kerbau, sapi, kuda, ayam, bebek, anjing, kucing, dan lain sebagainya.

8.Incest Adalah hubungan seks dengan sesama anggota keluarga sendiri non suami istri seperti antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengna anak cowok 9.Necrophilia/Necrofil Adalah orang yang suka melakukan hubungan seks dengan orang yang sudah menjadi mayat / orang mati.

10.Zoophilia Zoofilia adalah orang yang senang dan terangsang melihat hewan melakukan hubungan seks dengan hewan. 11.Sodomi Sodomi adalah pria yang suka berhubungan seks melalui dubur pasangan seks baik pasangan sesama jenis (homo) maupun dengan pasangan perempuan. 12.Frotteurisme/Frotteuris Yaitu suatu bentuk kelainan sexual di mana seseorang laki-laki mendapatkan kepuasan seks dengan jalan menggesek-gesek / menggosok-gosok alat kelaminnya ke tubuh perempuan di tempat publik / umum seperti di kereta, pesawat, bis, dll.

13.Gerontopilia adalah suatu perilaku penyimpangan seksual dimana sang pelaku jatuh cinta dan mencari kepuasan seksual kepada orang yang sudah berusia lanjut (nenek-nenek atau kakek-kakek). Gerontopilia termasuk dalam salah satu diagnosis gangguan seksual, dari sekian banyak gangguan seksual seperti voyurisme, exhibisionisme, sadisme, masochisme, pedopilia, brestilia, homoseksual, fetisisme, frotteurisme, dan lain sebagainya. Keluhan awalnya adalah merasa impoten bila menghadapi istri/suami sebagai pasangan hidupnya, karena merasa tidak tertarik lagi.

Semakin ia didesak oleh pasangannya maka ia semakin tidak berkutik, bahkan menjadi cemas. Gairah seksualnya kepada pasangan yang sebenarnya justru bisa bangkit lagi jika ia telah bertemu dengan idamannya (kakek/nenek). Manusia itu diciptakan Tuhan sebagai makhkluk sempurna, sehingga mampu mencintai dirinya (autoerotik), mencintai orang lain beda jenis (heteroseksual) namun juga yang sejenis (homoseksual) bahkan dapat jatuh cinta makhluk lain ataupun benda, sehingga kemungkinan terjadi perilaku menyimpang dalam perilaku seksual amat banyak.

Manusia walaupun diciptakanNya sempurna namun ada keterbatasan, misalnya manusia itu satu-satunya makhluk yang mulut dan hidungnya tidak mampu menyentuh genetalianya; seandainya dapat dilakukan mungkin manusia sangat mencintai dirinya secara menyimpang pula. Hal itu sangat berbeda dengan hewan, hampir semua hewan mampu mencium dan menjilat genetalianya, kecuali Barnobus (sejenis Gorilla) yang sulit mencium genetalianya.

Barnobus satu-satunya jenis apes (monyet) yang bila bercinta menatap muka pasangannya, sama dengan manusia. Hewanpun juga banyak yang memiliki penyimpangan perilaku seksual seperti pada manusia, hanya saja mungkin variasinya lebih sedikit, misalnya ada hewan yang homoseksual, sadisme, dan sebagainya. Kasus Gerontopilia mungkin jarang terdapat dalam masyarakat karena umumnya si pelaku malu untuk berkonsultasi ke ahli, dan tidak jarang mereka adalah anggota masyarakat biasa yang juga memiliki keluarga (anak & istri/suami) serta dapat menjalankan tugas-tugas hidupnya secara normal bahkan kadang-kadang mereka dikenal sebagai orang-orang yang berhasil/sukses dalam karirnya.

Meski jarang ditemukan, tidaklah berarti bahwa kasus tersebut tidak ada dalam masyarakat Indonesia.
Secara sosiologis homoseksual dapat diartikan sebagai perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dalam sudut pandang masyarakat luas maupun masyarakat tempat pelaku penyimpangan berada.

Homoseksual dan lesbian dikatakan menyimpang karena fenomena tersebut tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku dalam banyak kelompok masyarakat. Homoseksual dianggap sebagai sebuah media yang tidak wajar demi mendapatkan kepuasan seksual.
Oleh: Dr. Dinar Dewi Kania ABAD ke-21 merupakan abad ‘kemenangan’ kaum homoseksual di Barat. Agama Kristen—yang menjadi agama mayoritas masyarakat Barat—tak mampu membendung sepak terjang aktivis gerakan pendukung homoseksual.

Perilaku homoseksual di negara-negara Barat tidak homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa dikategorikan sebagai perilaku abnormal sejak Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) mengeluarkan homoseksual dari daftar penyakit mental atau Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) pada tahun 1973. Saat ini, siapa saja yang menentang homoseksual justru dituduh sebagai homophobia yaitu mereka memiliki ketakutan dan kebencian terhadap aktivitas homoseksual.

Eksistensi kaum homo semakin menjadi sorotan dunia ketika putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat pada 26 Juni 2015 melegalkan pernikahan sesama jenis.

Meskipun Belanda menjadi negara pionir yang mengakui pernikahan pasangan homo sejak tahun 2001, namun dengan legalisasi negara yang dianggap superpower seperti Amerika, membuat kelompok pendukung kaum homo di berbagai negara mengalami euforia termasuk di Indonesia. Istilah homoseksual atau homosexual sendiri secara literal berasal dari homo dalam Bahasa Yunani yang berarti sama (sejenis) dan sex dari Bahasa Latin yang berarti seks.

Istilah homoseksual pertama kali muncul pada tahun 1896 dalam Bahasa Jerman pada pamflet yang ditulis oleh Karl-Maria Kertbeny, berisi advokasi untuk menghapuskan Prussia’s Sodomy Law[The Prussian Sodomy Law baru benar-benar dihapuskan pada tahun 1994.]. Ia memunculkan istilah homoseksual sebagai pengganti istilah sodomite atau pederast yang bersifat merendahkan, dan waktu itu lazim digunakan secara luas di kalangan masyarakat berbahasa Jerman dan Prancis.

Prussia adalah negara Jerman pertama yang menghapuskan hukuman mati bagi pelaku sodomi pada tahun 1794.[ Brent L. Pickett. 2009. The Historical Dictionary of Homosexuality. Maryland : The Scarecrow Press. hlm. 78] Kaum Homo Homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa di Muka Bumi Aktivitas homoseksual pertama dalam sejarah dapat ditelusuri dalam kitab-kitab suci, baik agama Kristen (Injil) maupun dalam agama Islam (Al-Qur’an).

Namun karena kitab Injil bermasalah dalam keotentikan teks dan interpretasinya, maka kitab suci al-Qur’an merupakan kitab yang paling otoritatif dalam menjelaskan perilaku homoseksual pertama di muka bumi.

Al-Qur’an mengabarkan perilaku homoseksual pertama kali dilakukan oleh kaum Sadum (Sodom). Allah SWTtelah mengutus Nabi Luth bin Haran bin Azar, anak saudara Nabi Ibrahim kepada penduduk Sadum dan negeri-negeri sekitarnya untuk menyeru kepada kebenaran.[ Ahmad Al-Usairy.2003. Sejarah Islam. Jakarta : Akbar Media Eka Sarana. hlm. 34] Nabi Luth hidup sezaman dengan Nabi Ibrahim. Menurut al Attas, jarak antara masa sekarang dengan masa nabi Ibrahim sekitar 4215 tahun.[ Syed Muhammad Naquib Al-Attas.

2015. On Justice and the Nature of Man. Kuala Lumpur : IBFIM.

homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa

hlm. 57] Allah SWT berfirman di Surat Al-A’raaf (7) ayat 80 dan 81 bahwa kaum Sadum telah melakukan perbuat haram fahisyah, yang belum pernah seorang manusia pun pernah melakukannya. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa fahisyah adalah laki-laki menggauli laki-laki lainnya dan bukan wanita, padahal Allah SWT menciptakan wanita untuk laki-laki.

Hal tersebut menurut Ibn Katsir, merupakan perbuatan yang melampaui batas karena Kaum Sadum telah menempati sesuatu bukan pada tempat semestinya. Dalam Surat Hud ayat 79 diceritakan dalih mereka melakukan perbuatan homoseksual karena tidak menyukai wanita. Para Mufasir mengatakan maksud ayat tersebut adalah ketika kaum laki-laki merasa cukup dengan laki-laki dan kaum wanita tidak lagi memerlukan kaum laki-laki.[ Muhammad Nasib Ar-Rifai. 1999. Ringkasan Tafsir Ibn Katsir. Jilid 2. Depok : Gema Insani Press.

hlm. 392 – 393] Akhirnya dalam Surat Hudd ayat 82-83, Kaum Sadum yang melampaui batas, dihancurkan oleh Allah SWT dengan membalikkan negeri tempat tinggal mereka ke dalam tanah dan menghujaninya dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Yunani Kuno dan Mitos Homoseksual Praktik Homoseksual dijumpai dalam peradaban Yunani Kuno. Plato (427-347 M) dalam dialognya yang berjudul Symposium menceritakan acara pesta minuman khusus pria pada masa itu.

Tema percakapan dalam dialog tersebut adalah tentang Eros, yang menyinggung perilaku homoseksual atau pedofil lebih tepatnya. Seorang tokohnya, Pausanias, mengutarakan tentang nafsu pria dewasa untuk mencari kesenangan pada anak lelaki. Sedangkan Aristophanes menceritakan sebuah mitologi Yunani bahwa kemanusiaan (humanity) pada awalnya adalah manusia dengan 4 (empat) kaki dan 4 (empat) tangan. Manusia terdiri tiga jenis kelamin yaitu hermaphrodite (kelamin ganda), pria, dan wanita.

Namun dewa yunani, Zeus, merasa terancam oleh kekuatan manusia, sehingga ia memotong tubuh manusia-manusia tersebut menjadi dua bagian. Manusia akhirnya memiliki dua tangan dan dua kaki sehingga yang dulu berjenis kelamin hermafrodit akan merindukan pasangannya yang berbeda jenis kelamin (heteroseksual).

homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa

Sedangkan Manusia yang awalnya berjenis kelamin laki-laki akan merindukan pasangan lelakinya (homoseksual). Begitu pula yang berjenis kelamin wanita, akan merindukan pasangan wanitanya.

Manusia yang terbelah tersebut akan merindukan the other half atau pasangan jiwanya masing-masing. Namun Plato dalam karya-karyanya yang terakhir (Phaedrus, Republic, dan The Law), bersikap negatif tentang hubungan sejenis. Menurut Plato hubungan sejenis adalah hubungan yang tidak alami atau bertentangan dengan hukum alam (natural law).

Plato berargumen bahwa tidak ditemukan binatang yang melakukan tindakan homoseksual. Selain itu, menurut Platohubungan homoseksual juga memperlemah kekuatan militer karena pria akan kehilangan sifat kelaki-lakiannya ketika menempatkan diri dalam peran wanita. [Louis Crompton.2003. Homosexuality and Civilizations, Cambridge : The Belknap Press of Harvard University Press.

hlm. 62] Fenomena homoseksualitas menurut banyak penelitian memang ditemukan pada peradaban Yunani. Namun menurut Adonis dalam bukunya Homosexuality in ancient Greece, perilaku homoseksual bukan perilaku yang diterima oleh masyarakat umum. Banyak penulis Barat yang mencitrakan peradaban Yunani merupakan contoh toleransi terhadap kaum homoseksual dan cermin dari kebebasan seksual.

Padahal hal tersebut tidak benar. Adonis berpendapat bahwa mereka yang menganggap perilaku homoseksual diterima dalam masyarakat Yunani adalah karena adanya praktik seksual lelaki dewasa terhadap anak laki-laki (pederasty), yang bahkan untuk ukuran pada zaman ini merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

Homosexuality existed in ancient Greece but was not socially approved. This reality, despite the impressions some people try to create, is undeniable and no author doubts it.

Those who tend to present homosexuality as approved by ancient Greeks specify that they are talking about sex homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa boys, pederasty, and only under certain conditions, rather severe, if not intolerable by modern standards.[ donis Ath. Giorgiades.2004. Homosexuality in Ancient Greece : The Myth is Collapsing. Athens: Georgiades. hlm 197-198] Terdapat banyak bukti bahwa Masyarakat Yunani di Kota Athena memiliki hukuman yang tegas terhadap pelaku homoseksual.

Secara sosial dan politik, pelaku homoseksual tidak diperkenankan untuk menempati posisi-posisi di masyarakat, tidak boleh masuk ke area publik yang dianggap suci, dan tidak diperkenankan mengikuti acara keagamaan. Mereka tidak dianggap lagi sebagai bagian dari penduduk Athena. Bahkan lebih dari itu, dalam beberapa kasus apabila mereka melanggar aturan tersebut terbukti mereka sudah tidak suci (berhubungan homoseksual) maka pelakunya akan diganjar dengan hukuman mati.

Hal tersebut dijelaskan dalam Aeschines, Against Timarchus 2 I: If an Athenian turns out to be unchaste [that is, if he is involved in a homosexual relationship], he is not allowed to become one of the nine archons; or to become a priest; or to be prosecutor in a public trial; or to have any office, within the boundaries of the Athenian republic or beyond them, whether he is appointed by lot or after an election; or to serve as a public messenger or judge other public messengers; or to enter public sacred places, to participate in [religious ceremonies of] wearing of wreath, to be in the parts of the market-place sprinkled with lustral water.

But, if he breaks the law and does any of the above, once he is found guilty of being unchaste, his sentence must be death.[ix] Peneliti INSISTS dan Direktur The Center for Gender Studies (CGS) Rep: Admin Hidcom Editor: Cholis AkbarSambungan artikel PERTAMA Oleh: Dr. Dinar Dewi Kania Romawi dan Misteri Kota Pompeii Secara umum,penerimaan masyarakat Romawi terhadap homoseksualitas masih menjadi perdebatan para sejarawan Barat. Namun, terdapat bukti-bukti pelarangan perbuatan homoseksual dalammiliter Romawi dengan ancaman hukuman mati.

[Dynes.1990. Encyclopedia of Homosexuality Vol 1, Garland Publishing. hlm 1144][ Beert C. Verstraete. 1980. “ Slavery and The Social Dynamics of Male Homosexual Relations in Ancient Rome”. Journal of Homosexuality. Volume 5 Issue 3. Published online 26 Oct 2008.] Apalagi ketika kekaisaran Romawi menjadikan Kristen sebagai agama resmi kekaisaran, maka pelaku homoseksual di tengah masyarakat akan dikenakan hukuman mati atau diusir dari tempat homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa Dynes.1990.

Encyclopedia of Homosexuality Vol 1, Garland Publishing. Hlm 406] Salah satu kota Romawi yang masyarakatnya dianggap memiliki toleransi tinggi terhadap aktivitas homoseksual adalah Pompeii. Kota Pompeii berada dekat kota Napoli di wilayah Campiana, Italia. Kota tersebut diguncang gempa pada tahun 63M dan tertutup oleh abu vulkanik sejak tahun 79M akibat letusan gunung Vesuvius.[ Ingrid D.

Rowland. 2014. From Pompeii : the afterlife of a Roman town. Cambridge : The Belknap Press of Harvard University Press. hlm. 1] Kemudianditemukan kembali pada tahun 1748M. Sebelum kehancurannya, Pompeii merupakan kota tua Romawi yang telah dihuni dari generasi ke generasi oleh orang dari berbagai tempat. Kota ini bukan sebuah kota besar, namun pada awal abad ke-2 SM keluarga kaya Oscan Paricians membangun rumah-rumah atau vila mewah di kawasan ini.

[ Paul Zanker.

homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa

1998. Pompeii : Public and Private Life. Cambridge : Harvard University Press.hlm. 3] Penelitian arkeologi menyimpulkan bahwa secara umum penduduk kota Pompeii menjelang kehancurannya adalah orang-orang menengah keatas. Banyak grafiti ditemukan di reruntuhan kota Pompeii menggambarkan perilaku biseksual dan homoseksual. Menurut para arkeolog, grafiti tersebut nampak mengindikasikan tidak ada ketakutan para pelaku homoseksual terhadap sanksi sosial di tengah masyarakat.

Ditemukan banyak grafiti yang menampilkan gambaran penetrasi laki-laki terhadap anak laki-laki. Hal tersebut menunjukkan adanya perilaku pedofil di wilayah Pompeii dan penerimaan masyarakatnya. Oleh karena itu tidak heran apabila kota Pompeii akhirnya mengalami nasib serupa dengan Negeri Sadum. Meskipun banyak sejarawan Barat modern yang mencitrakan kota Pompeii sebagai salah satu puncak kemegahan dan ketinggian peradaban Romawi, namun tidak bisa dibuktikan bahwa penerimaan masyarakat Pompeii terhadap aktivitas homoseksual dan pedofil juga berlaku di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi.

Bizantium dan Anti-Sodomy Laws Dengan jatuhnya Kekaisaran Romawi (Barat) dikuasai oleh raja-raja dari suku asli Eropa, menurut Pickett, toleransi terhadap homoseksual semakin tinggi, kecuali di Spanyol yang dikuasai Visigothic. Setelah kerajaan- kerajaan tersebut menerima agama Kristen, pandangan gereja terhadap perilaku homoseksual diberlakukan di kawasan tersebut. Pada tahun 527 M Kaisar Justinian diangkat menjadi Kaisar Romawi Timur (Bizantium). Ia memiliki komitmen penuh untuk memerintah berdasarkan ajaran Kristen.

Sehingga pada tahun 1533, Kaisar Justinian mengeluarkan kode atau aturan yang mengenakan sanksi hukuman mati bagi para pelaku homoseksual. Pelarangan tindakan homoseksual ini bertujuan homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa menghindari kemurkaan Tuhan dan kehancuran kota-kota Romawi.

Rezim Justinian mengkompilasi dan memformalkan aturan-aturan tersebut yang kemudian dikenal dengan Code of Justinian. Hukum tersebut telah digunakan sebagai hukum dasar kekaisaran Romawi Timur selama ratusan tahun. Kerajaan Inggris dan Act of 25 Henry VIII Pada tahun 1533 M Parlemen Inggris mengeluarkan Undang-Undang yang dikenal dengan Act of 25 Henry VIII yang memberikan hukuman gantung kepada pasangan homoseksual termasuk pasangan heteroseksual yang melalukan persetubuhan melalui dubur (anal intercourse).

Undang-undang yang merupakan cerminan dari Code of Justinian, telah diberlakukan selama berabad-abad. Pada tahun 1861, pemerintah Inggris meringankan hukuman gantung tersebut menjadi hukuman seumur hidup.

Undang-undang tersebut juga diberlakukan di seluruh kekaisaran Inggris dan menjadi dasar bagi anti-sodomy law di negara-negara yang berbahasa Inggris, termasuk di Nigeria, Kenya, India, Malaysia, danlain-lain. Pada tahun 1967, Pemerintah Inggris mengganti Undang-Undang ini dengan Sexual Offences Act yang mendekriminalisasi perilaku homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa.

homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa

Namun jauh sebelum itu sebelum itu, pada abad pencerahan,upaya penghapusan anti-sodomy law telah dilakukan di Prancis. Pada tahun 1801,kaisar Prancis Napoleon Bonaparte mengeluarkan aturan yang disebut The Code of Napoleon yang mendekriminalisasi perilaku sodomi. Aturan tersebut mulai diberlakukan pada tahun 1804 kemudian diadopsi oleh negara-negara Eropa yang saat itu menjadi jajahan Prancis, termasuk Belanda yang saat itu sedang menguasai negara Indonesia.

Abad 20 : Homo Politics Gerakan homoseksual modern muncul pada akhir abad 19 dan awal abad 20 di Eropa. Pusat intelektualnya berada di Jerman, namun Inggris juga memiliki peranan penting dalam gerakan ini. Tokoh gerakan homoseksual di Jerman pada saat itu diantaranya Magnus Hirschfeld (1868 – 1935) dan Richard Linsert (1899-1933). Setelah Homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa Dunia ke-2, beberapa organisasi homoseksual bermunculan di berbagai negara Barat yang dikenal dengan Homophile movements.

Pada akhir abad ke 19 gerakan ini mulai menggunakan media ilmiah seperti diskusi-diskusi dalam bidang medis. Di Kota-kota besar Amerika tempat berkumpulnya para lelaki seperti New York dan San Fransisco, mulai bermunculan bar-bar dan diskotik khusus kaum homo. Gerakan pendukung hak-hak kaum homoseksual kemudian membentuk homoseksual adalah penyimpangan perilaku yang berupa the Scientific-Humanitarian League yang memiliki cabang di berbagai negara.

Ada juga organisasi pendukung homoseksual seperti World League for Sexual Reform yang memiliki keanggotaan internasional. Gerakan tersebut terus berlanjut dan semakin bertambah setelah Stonewall Riots di tahun 1969. Saat ini eksistensi kelompok seperti the International Lesbian and Gay Association (ILGA) bekerja untuk memperjuangkan hak-hak kelompok homoseksual di negara-negara berkembang. Gerakan pendukung homoseksual di Barat semakin gencar di era 1960 dan 1970-an seiring dengan penghapusan anti-sodomy law yang selama ribuan tahun telah mengkriminalisasi aktivitas homoseksual dan dianggap sebagai sumber perlakuan diskriminatif terhadap kaum pencinta sejenis tersebut.

Penutup Dalam catatan sejarah, aktivitas kaum homoseksual muncul di setiap zaman dan di berbagai belahan dunia. Keberadaan kaum homo tersebut tidak berarti menunjukkan penerimaan masyarakat secara sosiologis maupun kultural. Di masa lalu, homoseksual identik dengan pedofilia karena menyasar anak dan remaja laki-laki. Eksistensi kaum homo di setiap zaman, juga tidak dapat menjadi legitimasi bahwa orientasi seksual adalah ‘given’ dan tak bisa diubah.

Orang bijak mengatakan, kebenaran harus dinyatakan dan bukan justru membenarkan kenyataan padahal kenyataan tersebut menyimpang dari kebenaran. Perilaku homoseksual sejak kemunculannya telah dianggap sebagai penyimpangan seksual karena bertentangan dengan moralitas dan agama.

Namun sayangnya, di zaman modern ini moralitas dan agama dipaksa tunduk pada argumentasi pseudo-science dan homo politics dipropagandakan secara luas ke seluruh dunia.* Peneliti INSISTS dan Direktur The Center for Gender Studies (CGS) Rep: Admin Hidcom Editor: -

#FaktaAlkitab




2022 www.videocon.com