Candi tikus

candi tikus

Candi Tikus candi tikus Hallo sahabat Matakaca.com sebagai penggemar sejarah, dan pengamat kerajaan zaman dulu di indonesia pastinya telinga kita tidak asing lagi dengan kata “Candi Tikus” kali ini kita akan berbagi informasi yang belum kalian ketahui tentang misteri candi tikus.

Indonesia mempunyai banyak kekayaan baik budaya maupun sejarah, dalam sejarah banyak kerajaan-kerajaan yang belum diungkap dan bersifat mistis. Sepertihalnya dengan sejarah candi tikus yang berada di kota Mojokerto banyak misteri-mesteri yang belum diungkap, tentang sejarah, awal di temukan, bangunan dan lain sebagainya.

Sejarah Candi Candi tikus By : www.berberita.com Sejarah candi tikus, candi tikus merupakan candi yang terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Candi Tikus ini diperkirakan sudah ada pada abad ke-13 atau abad ke-14. Candi Tikus merupakan sebuah candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang terletak di kompleks Trowulan, Kabupaten Mojokerto, di Trowulan.

Bangunan Candi Tikus berupa tempat ritual mandi (petirtaan) di kompleks pusat pemerintahan Majapahit. Kenapa candi ini disebut Candi Tikus, sebab pada waktu ditemukan, candi ini merupakan tempat bersarangnya tikus yang memangsa padi petani. Terdapat empat buah miniatur candi kecil di tengah candi tikus, yang dianggap melambangkan Gunung Mahameru.

Sebagai tempat para dewa bersemayam dan sumber segala kehidupan, yang diwujudkan dalam bentuk air mengalir dari pancuran-pancuran atau jaladwara yang terdapat di sepanjang kaki candi. Pada tahun 1914, candi ini ditemukan oleh Bupati Mojokerto, RAA Kromojoyo Adinegoro. Bupati Mojokerto mendengar keluh kesah warga Desa Temon yang kalang kabut karena serbuan hama tikus di sawah mereka. Kromojoyo memerintah aparat desa untuk memobilisasi massa dan menyatakan perang pada tikus.

Anehnya, saat terjadi pengejaran, tikus-tikus itu selalu lari dan masuk dalam lobang dalam sebuah gundukan besar. By : kisahwali9.blogspot.com Petirtaan Tikus diresmikan pada tanggal 21 September 1989 oleh Dirjenbud Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Pada awalnya petirtaan ini ditemukan secara tidak sengaja, hal ini terlihat dari niat awal para petani desa disekitarnya untuk memusnahkan hama tikus yang menyebabkan kegagalan panen.

Melihat seringnya tikus keluar masuk dari sebuah gundukan tanah, secara masal masyarakat melakukan penggalian terhadap gundukan tanah tersebut. Setelah dibongkar ternyata masyarakat mendapati sebuah candi tikus candi yang terbuat dari bahan bata merah dengan denah persegi empat. Hal tersebut kemudian dilaporkan kepada Bupati Mojokerto yang bernama R.A.A Kromodjojo Adinegoro. Berdasarkan latar belakang penemuan tersebut, kemudian masyarakat lebih mengenal situs petirtaan tersebut dengan nama Petirtaan Tikus.

Petirtaan Tikus mengalami pemugaran pertama kali pada masa Hindia-Belanda dan dilakukan pemugaran oleh Pemerintah Indonesia melalui Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Bekas Kota Majapahit pada tahun 1984/1985-1988/1989.

Dalam pemugaran ini berhasil disikap sisi tenggara bangunan Petirtaan Tikus. Dalam pemugaran ini pemerintah juga memperluas areal tanah, sehingga halaman desekitar petirtaan semakin luas.

Tidak adanya sumber sejarah tertulis yang menjelaskan keberadaan Petirtaan Tikusbukan berarti tidak diperoleh sumber informasi mengenai pembangunan petirtaan ini. Berdasarkan kajian arsitektural, diperoleh gambaran yang dapat ditujukan guna mencari dan menentukan saat dibangunnya petirtaan ini.

Air ini dianggap sebagai air suci Amarta sumber segala kehidupan. Bangunan Candi Tikus By : kisahwali9.blogspot.com Arsitektur bangunan melambangkan kesucian Gunung Mahameru sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Menurut kepercayaan Hindu, Gunung Mahameru merupakan tempat sumber air Tirta Amerta atau air kehidupan, yang dipercaya mempunyai kekuatan magis dan dapat memberikan kesejahteraan, dari mitos air yang mengalir di Candi Tikus dianggap bersumber dari Gunung Mahameru.

Tahap Pembangunan By : sangcaraka.blogspot.com Bentuk bangunan ini makin ke atas makin kecil dan dikelilingi oleh delapan menara yang lebih kecil bagaikan puncak gunung yang dikelilingi delapan puncak yang lebih kecil.

Bangunan induk luasnya 7,65 x 8,75 meter dengan tinggi 5,20 meter. Secara horizontal bangunan induk dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: kaki, tubuh dan atap.

Kaki bangunan berbentuk segi empat dengan profil berpelipit. Pada lantai atas kaki bangunan terdapat saluran air dengan ukuran 17 cm dan tinggi 54 cm serta mengelilingi tubuh. Sedangkan, pada sisi luar terdapat jaladwara. Selain itu, terdapat pula menara-menara yang disebut menara kaki bangunan karena adanya bagian kaki bangunan. Ukurannya 80×80 cm.

Pada lantai atas kaki bangunan ini berdiri tubuh bangunan dengan denah segi empat, sedangkan di bawah susunan batanya terdapat pula kaki tubuh tempat tiap berdiri menara yang disebut menara tubuh. Selain itu, di setiap bagian dinding tubuh terdapat bangunan menara yang lebih besar dan berukuran 100×140 cm, tinggi 2,78 meter. Kolam By sejarahmajapahitlengkap.blogspot.com Di sebelah timur laut dan barat laut bangunan induk terletak dua bangunan yang berbentuk kolam dan disebut “kolam barat” dan “kolam timur”.

Kolam yang berada candi tikus kanan dan kiri tangga masuk ini masing-masing berukuran panjang 3,50 meter, lebar 2 meter, tinggi, 1,50 meter dan candi tikus dinding 0,80 meter. Pada sisi utara dinding kolam bagian dalam terdapat tiga jaladwara dengan ketinggian kurang lebih 80 cm dari lantai kolam.

Bagian luar kolam (sisi selatan) terdapat tangga masuk ke bilik kolam yang lebar 1,20 meter. Di bagian dalamnya terdapat semacam pelipit setebal 3,50 cm. Kemudian, di candi tikus dan bawah tangga masuk sisi candi tikus ada dua saluran air.

Dinding Teras By : sejarahmajapahitlengkap.blogspot.com Bangunan dinding ini terdiri atas tiga teras yang mengelilingi bangunan induk dan kolam. Fungsi teras sebagai penahan desakan air dari sekitarnya, karena bangunan ada di bawah permukaan tanah.

Selain itu, juga sebagai penahan longsor. Dinding teras pertama pada candi tikus berukuran 13,50 x 15,50 meter, sedangkan lebar lantai teras 1,89 meter. Pada kaki terasnya yang berpelipit ada pancuran air yang berbentuk padma dan makara. Sedangkan, di bawah lantai teras terdapat saluran air berukuran 0,20 meter dan tinggi 0,46 meter.

Saluran ini berhubungan dengan saluran yang ada pada bangunan induk dan diperkirakan saluran tersebut dipergunakan untuk mengalirkan air yang berasal dari bangunan induk tersebut (keluar melalui pancuran yang terdapat di bagian dalam dinding kolam sisi utara). Dinding teras tingkat dua berukuran 17,75×19,50 meter.

Lebar lantai 1,50 meter dan tingginya 1,42 meter serta tebal dinding teras tersebut sebanyak 17 candi tikus bata. Sementara, dinding teras tingkat tiga mempunyai ukuran 21,25x 22,75 meter dengan lebar lantai 1,30 meter, tinggi dinding 1,24 meter, dan tebal dinding 10 lapis bata.

Tangga Utama By candi tikus septiyanindramuqlison.student.umm.ac.id Tangga utama candi tikus merupakan tangga menuju ke bangunan induk dan bilik kolam. Lebar tangga 3,50 meter dan tinggi 3,50 meter dan panjang tangga 9,50 meter, candi tikus.

Sebagai catatan, candi tikus sisi timur dan barat tangga teras satu candi tikus teras dua terdapat pipi tangga yang menutupi jalan masuk ke teras satu dan dua. Lantai Dasar By : seberkassejarah2.blogspot.com Lantai dasar terdiri dari susunan bata yang mempunyai permukaan atau bidang datar di bagian atasnya. Lantai tersebut tersusun dari dua lapis bata candi tikus luasnya kurang lebih 100 meter persegi.

Lantai ini berfungsi sebagai tempat berdirinya bangunan induk, kolam, dinding candi tikus, dan tangga utama. Pagar Tembok Luar By : lelungan.net Pagar tembok berada di sisi utara, berjarak kurang lebih 0,80 meter dari dinding teras tiga, dan menjadi satu dengan pintu gerbang yang terdapat di tangga masuk. ARTI FILOSOFIS BAGIAN BANGUNAN PETIRTAAN TIKUS Trowulan merupakan salah satu situs yang banyak dikaji oleh para sejarawan dan arkeolog.

Penelitian itu menghasilkan rekonstruksi tata kota Majapahit. Salah satu dasar yang rupanya digunakan dalam menentukan tata ruang dan letak bangunan di Majapahit dan di Jawa pada waktu itu adalah orientasi pada alam sekitarnya seperti gunung, dataran, dan laut. Gunung disimbolkan sebagai tempat suci. Bangunan air di kota Majapahit juga sudah tertata. Pengairan atau irigasi yang teratur sudah dikenal di Majapahit.

Hal ini dapat dilihat dari bangunan-bangunan tadah air, dan petirtaan, seperti kolam Segaran, Petirtaan Tikus, dan sisa peninggalan-peninggalan saluran air. Petirtaan Tikus terletak di Dusun Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Bangunan petirtaan didominasi oleh batu bata merah, sedangkan batu andesit digunakan untuk jaladwara (pancuran air). Pada dinding luar masing-masing kolam, berjajar tiga buah pancuran berbentuk padma (teratai) yang terbuat dari batu andesit. Seluruh pancuran dahulu mendapatkan air melalui saluran yang terdapat di bagian selatan, yaitu belakang candi induk, sementara saluran pembuangan terletak di lantai dasar.

Bangunan induk terletak di bagian tengah, kakinya menempel pada teras bawah dinding selatan dengan struktur bangunan induk terdiri dari kaki, tubuh dan atap.

Kaki candi berbentuk sebuah bangunan persegi empat dengan ukuran panjang 7,75 m, lebar 7,65 m dan tinggi 1,5 m. Bangunan ini dianggap sebagai bangunan utama dari Petirtaan Tikus.

Di atas bangunan ini terdapat sebuah menara berukuran 1X1,04 m berbentuk Meru dengan pucak datar. Menara bagian tengah ini dikelilingi oleh 8 menara sejenis dengan ukuran yang lebih kecil. Puncak menara-menara itu telah hilang sehingga tidak dapat diketahui dengan pasti bentuk awalnnya. Di sekeliling dinding kaki bangunan, berjajar 17 pancuran berbentuk bunga teratai dan makara.

Susunan menara yang demikian menarik perhatian seorang Belanda yang bernama A.J Bernet Kempers. A.J Bernet Kempers mengaitkan bentuk menara dengan konsepsi religi yang terdapat dalam bukunya yang berjudul Ancient Indonesia Art.

Orang inilah yang banyak berjasa dalam menyikap masa pengaruh agama Candi tikus di Indonesia lewat kajian candi-candi. Sejarawan inilah yang mengatakan bahwa Petirtaan Tikus merupakan replika dari gunung Meru. Arsitektur bangunannya melambangkan kesucian Gunung Mahameru sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Gunung Mahameru merupakan tempat sumber Tirta Amerta (air kehidupan) yang dipercaya mempunyai kekuatan magis dan dapat memberikan kesejahteraan itu semua menurut kepercayaan Hindu.

Sehingga air yang mengalir di Petirtaan Tikus dianggap bersumber dari Gunung Mahameru. Selain itu, Petirtaan Tikus yang dianggap sebagai replika Gunung Meru yang merupakan gunung suci sebagai pusat alam semesta yang mempunyai suatu landasan kosmogoni yaitu kepercayaan yang mengharuskan adanya keserasian antara dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos).

Berdasarkan landasan kosmogoni tersebut, maka setiap air yang keluar dari bangunan induk ini dipercaya sebagai air suci (amerta). Alam semesta ini terdiri atas suatu pusat benua yang bernama Jambudwipa yang dikelilingi oleh tujuh lautan dan tujuh daratan dan semuanya dibatasi oleh suatu pegunungan tinggi itu candi tikus kepercayaan dalam konsepsi Hindu. Keunikan Candi Tikus Sudah candi tikus rahasia lagi dikalangan penduduk mojokerto bila mendengar nama candi.

Benak kita lantas tertuju pada suatu bangunan (terbuat dari batu atau bata merah) yang berasal dari masa silam yang berfungsi sebagai sarana pemujaan. Candi tikus memang benar adanya dan tidak keliru, karena memang candi berfungsi sebagai sarana untuk melakukan suatu ritual pemujaan.

Memiliki Kekuatan Magis By : conspiracydailyupdate.com Tanpa usaha yang telah dilakukan oleh H. Maclaine Pont, mungkin nama Trowulan tidak akan mencuat ke permukaan dalam panggung sejarah Indonesia.

Dialah yang pertama kali menyatakan bahwa Trowulan merupakan bekas Ibukota kerajaan Majapahit. Kitap Nagarakertagama sebagai sumber H. Maclaine Pont yang berhasil merekonstruksi (bina ulang) ibukota kerajaan Majapahit. Dari peta kota hasil rekonstruksi Maclaine Pont pada tahun 1926 tersebut, tampak bahwa candi tikus Tikus terletak di luar kota Majapahit.

Sejak zaman Prasejarah, air memang memiliki peranan penting dalam kehidupan spiritual manusia. Air dipercaya memiliki daya magis utnuk membersihkan, mensucikan dan menyuburkan. Tak heran, bila kemudian air yang keluar dari candi Tikus juga dipercaya memiliki kekuatan magis untuk memenuhi harapan rakyat agar hasil pertanian mereka berlipat ganda dan terhindar dari kesulitan-kesulitan yang merugikan. Itulah beberapa informasi dari “Sejarah Candi Tikus” yang berhasil dirangkum pada kesempatan kali ini.

Terimakasih telah mengunjungi Matakaca.com ( Singgah di sudut pandang mata dunia ), semoga dapat bermanfaat. Jika ada saran dan lain-lain silahkan komen ya…. Biar bisa sharing bareng.

Wassalamu’alaikum. Pengertian Candi Tikus • Gambar: id.wikipedia.org Candi Tikus merupakan candi peninggalan dari Kerajaan Majapahit. Candi berada di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Bangunan pada candi ini konon merupakan tempat petirtaan yang berada di kompleks pusat Majapahit. Nama candi ini diberikan oleh masyarakat sekitar karena saat dilakukan penggalian pada situs ini merupakan sarang tikus.

Kemudian candi ini diberi nama dengan Candi Tikus. Menurut Drs. IG. Bagus L. Arnawa, jika dilihat dari bahan dasarnya, pembangunan pada candi dilakukan dengan dua tahapan. Adapun bahan dasar pada candi ini adalah menggunakan batu merah besar dan batu merah kecil. Sementara itu, menurut N.J Krom, tahap pertama pembangunan pada candi ini masih sangat sederhana dan kaku.

Kemudian, peningkatan pembangunan terjadi pada pembangunan tahap kedua. Ciri-Ciri Candi Tikus • Berbentuk Kolam Arsitektur pada candi ini tergolong unik. Candi Tikus memiliki bentuk seperti kolam dengan posisi candi berada di tengah kolam.

Candi ini memiliki ukuran 29,5 x 28,25 meter dilengkapi dengan undakan selasar yang semakin ke dalam memiliki ukuran semakin kecil. Candi ini berada pada posisi menjorok ke bawah dengan memiliki kedalaman sekitar 3 meter di bawah permukaan tanah. 2. Berbentuk Bujur Sangkar Candi utama pada Candi Tikus berada di tengah kolam dengan menghadap ke candi tikus utara lengkap dengan tangga yang memanjang menuju dasar kolam.

Candi utama ini memiliki bentuk bujur sangkar dengan memiliki ukuran 7, 65 m2. Pada bagian kiri dan kanan tangga ada 2 buah kolam kecil. Selain itu, terdapat pula 3 buah pancuran yang berbentuk bunga teratai dan berbahan dasar batu andesit.

Pancuran ini terdapat pada dinding 2 kolam kecil tersebut. 3. Menara Pada candi ini terdapat 8 buah menara kecil. Menara ini mengelilingi candi utama dan berbentuk gunung meru. Pada bagian atap dan ujung atapnya berbentuk datar. Sementara itu, pada bagian tengah candi utama terdapat miniatur menara dengan tinggi sekitar 2 meter.

Menara tersebut memiliki bentuk yang sama dengan 8 menari tadi. Sedangkan pada bagian dinding luar bangunan utama, terdapat 17 pancuran dengan bentuk kalamakara dan dikelilingi bunga teratai pada bangunan utama candi. Sejarah Candi Tikus Candi Tikus diperkirakan dibangu sekitar abad ke-13 dan abad ke-14. Keberadaan candi ini dikaitkan dengan keterangan pada kitab Nagarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Di mana pada masa kerajaan Majapahit terdapat tempat pemandian untuk raja dan dilakukannya upacara tertenu.

Tempat itu diduga adalah Candi Tikus. Penamaan candi diberikan oleh warga sekitar karena saat ditemukan dulu candi ini menjadi tempat bersarangnya tikus. Tikus tersebut kerap memangsa padi para petani. Arsitektur pada candi Tikus melambangkan kesucian dari Gunung Mahameru yang menjadi tempat bersemayam para dewa. Selain itu, di bagian tengah candi terdapat 4 miniatur candi kecil yang masih melambangkan Gunung Mahameru. Pelambangan ini dikarenakan gunung Mahameru menurut kepercayaan Hindu merupakan tempat sumber air Tirta Amerta atau air kehidupan.

Air ini dipercaya memiliki kekuatan magis dapat memberikan kesejahteraan. Selain itu, air yang ada di candi ini diduga berasal dari Gunung Mahameru.

Pada tahun 1914, atas perintah Bupati, Situs candi ini digali dan banyak ditemukan tikus pada sekitar penggalian. Hal inilah yang kemudian membuat candi ini dikenal dengan sebutan Candi Tikus.

Pada tahun 1985-1989, candi Tikus baru dilakukan pemugaran. Pemugaran ini dilakukan secara bertahap pada masa kemerdekaan. Pemugaran dilakukan dengan hati-hati agar tak menghilangkan bentuk asli bangunan ini.

Hasilnya, dapat dilihat sekarang ini. Fungsi Candi Tikus Sebenarnya tak ada yang tahu pasti untuk apa Candi ini didirikan. Namun, jika meruntut pada sejarah, maka dapat disimpulkan bahwa candi ini merupakan sebuah kolam pemandian raja. Selain itu, candi ini digunakan pula untuk ritual-ritual upacara penting kerajaan. Konon juga, bangunan inilah yang menjadi pengatur debit air diMajapahit pada masa itu. Makanya, banyak para sejarah yang meragukan situs ini merupakan sebuah candi yang identik sebagai tempat pemujaan.

Hal candi tikus dikarenakan fungsi dari bangunan ini yang tak sesuai dengan kebanyakan fungsi candi. Relief Candi Tikus Candi tikus memiliki relief bunga padma atau kuncup. Bunga ini ini candi tikus teratai yang sering ada di air sehingga cocok dengan candi ini yang merupakan bangunan pentirtaan.

Ada juga relief mekar yang diikuti benang sari pada bagian kiri dan kanan dan kepala makara. Kepala makara ini dipercaya dapat menjaga candi ini. Fakta Candi tikus Tikus Candi Tikus memiliki sejumlah candi tikus yang belum banyak mengetahuinya. Apa saja fakta itu, selengkapnya dibahas di bawah ini • Simbol Gunung Mahameru Menuri Bernet Kempers, Candi ini merupakan simbol dari Gunung Mahameru. Hal ini dikarenakan konsep yang melatarbelakangi pembangunan pada candi ini.

Candi ini memiliki model bangunan yang di mana semakin ke atas maka semakin mengecil. Selain itu, pada bangunan induknya terdapat delapan puncak yang lebih kecil. Hal inilah yang kemudian menurut Berner memiliki kesamaan dengan bentuk utuh dari Gunung Mahameru. Sementara itu, secara mitologi Gunung Mahameru kerap disandingkan dengan air kehidupan.

Di mana masyarakat bahwa hal tersebut memiliki kekuatan magis yang dapat menghidupi seluruh makhluk hidu. Kepercayaan akan hal ini sudah ada pada konsep Hindu Buddha yang kemudian diwujudkan dalam bentuk candi.

Salah satunya yakni candi Tikus yang memiliki konsep bangunan pentirtaan. 2. Bentuk Unik Seperti yang sudah dijelaskan bahwa arsitektur pada candi ini tergolong unik.

Candi ini berada di tengah kolam dan memiliki beberapa pancuran air pada setiap dinding kolam. Selain itu, pasa candi juga terdapat beberapa menara. Jika dilihat dari bentuknya, tentu candi ini berbeda dari candi lain yang ada di Indonesia. Maka dari itu, para ahli sejarah masih terus meneliti apakah situs ini termasuk ke dalam candi. Hal ini dikarena fungsi bangunan ini yang tak sesuai dengan fungsi candi pada umumnya. 3. Mitos Tikus Nama Candi ini rupanya memiliki sejarah tersendiri.

Candi ini dinamakan dengan Candi Tikus karena pada saat penggalian ditemukan sarang tikus pada reruntuhan situs ini. Dari penggalian inilah mendorong munculnya beberapa mitos dan cerita terkait tikus tersebut. Salah satu mitosnya adalah yang dirasakan oleh RAA Kromojoyo yang merupakan Bupati Mojokerto pada saat itu. Setelah mendengar keluhan warga mengenai tikus yang menggangu petani, ia langsung memerintahkan aparat desa untuk menyerang dan membasmi tikus tersebut. Namun, saat dilakukan pengejaran, tikus itu akan lari dan masuk ke dalam gundukan besar.

Sebab, rasa ingin membasmi tersebut, maka dirinya memerintahkan untuk membongkar gundukan tersebut. Ternyata, di dalam gundukan tersebut ada sebuah candi. Candi inilah yang dinamakan dengan Candi Tikus. Kesimpulan Candi Tikus candi tikus Candi yang berada di Trowulan, Mojokerto. Konon, candi ini tadinya merupakan ritual pemandian raja yang berada di kompleks pusat pemerintahan Majapahit. Berdasarkan keterangan dalam Kitab Nagarakertagama, candi inu merupakan tempat mandi raja dan ritual upacara tertentu.

Candi ini diperkirakan dibangun sekitar abad ke-13 dan abad ke-14. Bangunan utama pada candi ini terdiri dari dua tingkat. Candi utama berada di tengah kolam. Pada candi ini terdapat 8 buah menara kecil dan dua pancuran air pada dinding kolam.

candi tikus

Selain itu, di bagian tengah terdapat miniatur menara yang bentuknya mirip dengan menara kecil tersebut. Keberadaan Candi Tikus ini kerap disandingkan dengan Gunung Mahameru. Hal ini dikarenakan bentuk bangunan tersebut mirip dengan Gunung Mahameru. Selain itu, konon air yang berada di candi ini berasal dari sana. Itulah sederet informasi mengenai Candi Tikus. Jangan lupa, untuk mengunjunginya jika berkunjung ke Mojokerto.
foto: https://www.instagram.com/adam.septiansyah/ Candi Tikus menjadi salah satu destinasi wisata murah di Mojokerto yang populer dengan spot instagenic menakjubkan.

Bangunan artistik dari Candi Tikus merupakan peninggalan kerajaan Jawa dimasalalu yang masih berdiri dengan kokoh. Meskipun dimakan usia ratusan tahun, namun bangunan candi di Mojokerto satu ini menawarkan struktur utuh. Tempat wisata murah di Mojokerto satu ini cocok untuk anda kunjungi bersama teman maupun keluarga ketika ingin berlibur. Nikmati spot terbaiknya untuk aktivitas hunting fotografi dan dapatkan gambar anti mainstream untuk liburan di Mojokerto tak terlupakan.

Jawa Timur memang menjadi salah satu daerah dengan pusat kebudayaan dan sejarah panjang peradaban. Sehingga tidak heran, banyak peninggalan menarik berupa candi yang bisa anda jumpai ketika berwisata di Jawa Timur. Ketika anda berencana explore destinasi wisata Candi Tikus Mojokerto dan sedang mencari informasi menarik didalamnya. Simak artikel wisata Mojokerto satu ini untuk referensi perjalanan libur akhir pekan anda menuju Candi Tikus. foto: https://www.instagram.com/msofyanaffandy/ Menghabiskan hari libur di Kabupaten Mojokerto, banyak destinasi wisata murah meriah untuk dikunjungi.

Wisata candi tikus kantong menjadi salah satu daya tarik destinasi Indonesia, jadi jangan khawatir dompet akan kekeringan. Ketika anda berencana menghabiskan hari libur di Candi Tikus, harga candi tikus masuknya yaitu Rp.3.000/orang.

candi tikus

Sangat ramah kantong bukan? Wisata candi di Mojokerto satu ini rekomended untuk anda explore saat akhir pekan tiba. (HTM obyek wisata Candi Tikus Kabupaten Mojokerto Candi tikus Timur bisa berubah setiap waktu tanpa pemberitahuan).

Destinasi wisata Mojokerto satu ini bisa anda kunjungi setiap hari kapan saja bersama keluarga tercinta. Operasional Candi Tikus Mojokerto Jawa Timur buka setiap hari mulai dari jam 08.00 – 16.00 WIB. Sehingga para wisatawan bisa puas explore keindahan dan spot terbaik yang disuguhkan destinasi Mojokerto satu ini. Alamat dan Rute Lokasi foto: https://www.instagram.com/ratuvictoria/ Menjadi salah satu objek wisata populer di Kab. Mojokerjo Jawa Timur, destinasi Candi Tikus bisa anda kunjungi dengan mudah.

Akses jalan yang baik akan memanjakan aktivitas libur akhir pekan anda menuju wisata murah Mojokerto satu ini. Destinasi Candi Mojokerto sendiri berlokasi di Jatirejo, Temon, Kec. Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Nikmati keseruan libur akhir pekan bersama keluarga dengan mengunjungi tempat wisata Mojokerto untuk pengalaman tak terlupakan.

Ketika anda mengunjungi Candi Tikus menggunakan kendaraan, jarak yang harus ditempuh kurang lebih 17 Km. Untuk mempermudah perjalanan libur akhir pekan anda dan keluarga menuju wisata Candi Tikus Mojokerto Jawa Timur. Dapatkan rute perjalanan terbaik menuju wisata Mojokerto satu ini dengan mengakses peta lokasi destinasi dibawah ini.

 Datang juga ke –> Candi Jolotundo cocok untuk candi tikus bersama keluarga. Fasilitas foto: https://www.instagram.com/maliobowo/ Tempat wisata Mojokerto satu ini akan memanjakan siapa saja yang menghabiskan hari liburnya dengan explore Candi Tikus.

Terdapat beberapa fasilitas menarik yang bisa anda nikmati ketika berlibur di Candi Tikus Mojokerto Jawa Timur: • Area parkir kendaraan wisatawan luas • Pusat informasi • Loket masuk destinasi candi • Toilet • Tempat ibadah • Rumah makan • Spot foto instagenic • Tempat duduk wisatawan • Gazebo • Pusat cenderamata Dapatkan perjalanan liburan menyenangkan di Candi Tikus Mojokerto dengan explore sudut terbaik didalamnya.

Kunjungi juga –> Air Terjun Coban Canggu cocok untuk libur akhir pekan bersama keluarga. Spot Wisata di Candi Tikus foto: https://www.instagram.com/sub_papakilo/ Ketika anda menghabiskan hari libur akhir pekan di objek wisata alam Candi tikus ini, banyak spot anti mainstream. Selain berkeliling menikmati bangunan instagenic dengan suasana mendamaikan dari candi ini, jangan lewatkan aktivitas terbaiknya. Yaitu hunting foto instagenic dengan jelajah sudut kece yang disuguhkan obyek wisata Candi Mojokerto satu ini.

Dapatkan foto menarik untuk mengisi feed media sosial maupun galeri ponsel agar liburan anda tak terlupakan. Bagi yang cinta sejarah, anda bisa belajar tentang cerita masa lalu yang disuguhkan Candi Mojokerto Jawa Timur. Review sebelumnya –> Fresh Green Trawas menarik dengan wahana dan spot kece.

Tips Berkunjung foto: https://www.instagram.com/achoopic/ Guna menghabiskan hari libur akhir pekan yang menyenangkan candi tikus explore Candi Tikus, persiapkan perjalanan dengan baik.

Berikut beberapa tips explore candi tikus Mojokerto murah satu ini untuk pengalaman dan perjalanan liburan semakin berkualitas: • Waktu paling rekomended untuk jelajah sudut instagenic dan spot anti mainstream Candi Tikus yaitu di pagi hari.

candi tikus

• Jangan lupa siapkan kamera untuk berburu foto instagramable dan gunakan outfit terbaik anda. • Selalu jaga sikap, kebersihan dan kelestarian bangunan candi ini ketika mengunjunginya. Masih banyak destinasi wisata Mojokerto yang tak kalah menarik untuk anda explore ketika menghabiskan hari libur. Candi Tikus yang terletak di Dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, bagi sebagian penduduk sekitar dipercayai memiliki unsur magis dan dapat memberikan kesejahteraan.

Cerita ini bermula dari seorang petani di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto yang gelisah karena serbuan tikus sawah. Hasil tani yang biasanya cukup untuk menghidupi seluruh anggota keluarga, kini nyaris tak tersisa. Tak tahan menghadapi serbuan tikus, dia memohon pada Sang Pencipta. Lalu suatu malam, Si Petani mendapat wangsit agar mengambil air di kawasan Candi Tikus lalu menyiramkan air itu ke empat sudut sawah. Sebuah keajaiban terjadi, tikus-tikus yang biasanya kerap beraksi di malam hari hilang begitu saja.

Tanah sawah juga mendadak jadi subur. Si Petani tak kuasa menahan kegembiraannya dan bercerita pada warga desa. Namun lain lagi yang dialami oleh saudagar kaya mendengar kabar tentang khasiat air Candi Tikus. Dengan rakus, sang saudagar mencari jalan pintas untuk menambah kekayaannya. Suatu malam, dia mencuri batu candi dan meletakkannya di sudut-sudut sawah. Lagi-lagi sebuah kejaiban terjadi. Tapi kali ini, tikus-tikus malah datang candi tikus menghabisi padi di sawah.

Fenomena ini membuat candi tikus desa sadar, bahwa mereka tak bisa berharap lebih. "Kami hanya bisa memanfaatkan air di Candi Tikus, tapi bukan batu-batu candi," kata mereka. Dan mitos ini, ternyata masih dipercaya hingga kini. Bahkan Raden Timbal saudara kandung Raden Patah diyakini pernah melakukan tapa di candi ini.

Di sisi lain, ada mitos lain yang berkembang kebalikannya. Pada tahun 1914, candi ini ditemukan oleh Bupati Mojokerto RAA Kromojoyo Adinegoro. Sebelumnya, dia mendengar candi tikus kesah warga Desa Temon yang kalang kabut karena serbuan hama tikus di sawah mereka.

Tanpa pikir panjang, Kromojoyo memerintahkan aparat desa agar memobilisasi massa dan menyatakan perang pada tikus. Anehnya, saat terjadi pengejaran, tikus-tikus itu selalu lari dan masuk dalam lubang sebuah gundukan besar. Karena ingin membersihkan tikus sampai habis, Kromojoyo meminta agar gundukan itu dibongkar. Ternyata, di dalam gundukan terdapat sebuah candi. Sehingga Kromojoyo memberi nama Candi Tikus. Menurut Mpu Prapanca dalam kitab Nagarakertagama, candi yang diperkirakan dibangun pada abad ke XIII atau abad ke-XIV ini merupakan tempat untuk mandi raja dan upacara-upacara tertentu yang dilaksanakan di kolam-kolamnya.
Candi Tikus terletak di Dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

R.A.A. Kromojo Adinegoro pada tahun 1914 melaporkan bahwa ditemukan sebuah miniatur candi di lokasi pemakaman. Dari laporan ini kemudian dikembangkan dan ditemukan adanya situs candi. Pemugaran candi ini dilakukan pada 1984 hingga 1985. Penamaan “Candi Tikus” sebenarnya diberikan oleh masyarakat sekitar karena ketika dilakukan penggalian, lokasi situs ini adalah sarang tikus.

Dari hal inilah kemudian candi ini disebut Candi Tikus. Hingga saat ini belum diketahui kapan candi ini dibangun serta fungsi dari Candi Tikus ini. Bahkan penamaan candi pun masih menggunakan penamaan masyarakat sekitar. Namun, para arkeolog menduga bahwa candi ini dibangun pada masa Kerajaan Majapahit yaitu pada abad ke 13 hingga abad ke 14.

Candi Tikus ketika pertama kali ditemukan Pendapat Para Ahli • Drs. IG. Bagus L. Arnawa Menurut Drs. IG. Bagus L.

Arnawa pembangunan candi tikus melalui 2 tahap apabila dilihat dari bahan dasar batuannya. Candi ini menggunakan 2 jenis batu merah yaitu batu merah berukuran besar dan batu merah berukuran kecil. • N.J.Krom Dalam bukunya berjudul Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kunst II atau Pengantar Kesenian Hindu Jawa II, ia berpendapat bahwa tahap pertama pembangunan Candi Tikus arsitekturnya masih sangat kaku dan sederhana. Kemudian dilanjutkan di tahap ke dua menggunakan batu andesit.

Pada tahap ini arsitekturnya mengalami peningkatan dan terlihat lebih bagus dan modern. • A.J. Bernet Kempers Dalam bukunya yang berjudul Ancient Indonesia Art ia menuliskan adanya susunan miniatur menara di Candi Tikus yang dianggapnya memiliki hubungan dengan candi tikus religi. Menurutnya, bentuk dari Candi Tikus merupakan perwujudan dari Gunung Meru. Gunung Meru atau Mahameru merupakan tempat yang dianggap suci, tempat para candi tikus dan pusat kosmos dunia bagi umat Hindu dan Buddha.

Bentuk pancuran pada candi ini candi tikus pengatur debit air pada masa Majapahit. Sedangkan tempatnya yang berada di pinggiran kota Trowulan diperkirakan bahwa fungsi candi ini adalah tempat penyucian air atau tirta yang akan mengaliri seluruh kota Trowulan. Arsitektur Candi Tikus Berbeda dengan candi – candi lain, Candi Tikus berbentuk kolam dengan candi berada di tengah kolam tersebut. Bahan utama candi ini adalah batu bata merah dan batu andesit.

Bangunan ini menjorok kebawah dengan kedalaman 3 meter dibawah permukaan tanah. Ukuran kolam Candi Tikus yaitu 29,5 x 28,25 meter yang dilengkapi dengan undakan berbentuk selasar yang semakin kedalam semakin kecil. Selasar pertama memiliki lebar 0,75 meter yang mengelilingi kolam dan kemudian selasar kedua berada di bawahnya dan berukuran lebih lebar. Candi utama berada di tengah kolam yang berdiri menghadap ke arah utara, yang dilengkapi dengan sebuah tangga selebar 3,5 meter memanjang dari atas kolam menuju ke dasar kolam.

Disisi kiri dan kanan tangga utama terdapat 2 buah kolam kecil. Kedalaman dari dua kolam kecil ini adalah 1,5 meter dengan ukuran 2×3,5 meter. Terdapat 3 buah pancuran di masing – masing dinding 2 kolam kecil tersebut yang berbahan dasar batu andesit berbentuk bunga teratai. Candi utama berbentuk bujur sangkar yang berukurann 7,65 m2.

candi tikus

Terdapat 8 buah menara kecil pada sekeliling candi utama dengan bentuk Gunung Meru pada atap dan ujung atap berbentuk datar. Sedangkan pada bagian tengah bangunan candi utama terdapat sebuah miniatur menara setinggi 2 meter yang memiliki bentuk serupa dengan 8 menara di sekelilingnya.

candi tikus

Pada sisi dinding luar bangunan utama candi terdapat 17 pancuran yang memiliki bentuk kalamakara dan bunga teratai yang mengelilingi bangunan utama candi.

Hi, Idsejarah membuka donasi di saweria bagi kamu yang merasa terbantu dengan hasil karya idsejarah. Yuk donasi ke idsejarah agar kami bisa mengembangkan konten tentang sejarah lebih banyak dan lebih bermanfaat bagi banyak orang.

Berikut adalah link saweria yang dapat diakses https://saweria.co/idsejarah
Candi Tikus terletak di di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, sekitar 13 km di sebelah tenggara kota Mojokerto. Dari jalan raya Mojokerto-Jombang, di perempatan Trowulan, membelok ke timur, melewati Kolam Segaran dan Candi Bajangratu yang terletak di sebelah kiri jalan.

Candi Tikus juga terletak di sisi kiri jalan, sekitar 600 m dari Candi Bajangratu. Candi Tikus yang semula telah terkubur dalam tanah ditemukan kembali pada tahun 1914. Penggalian situs dilakukan berdasarkan laporan Bupati Mojokerto, R.A.A.

Kromojoyo Adinegoro, tentang ditemukannya miniatur candi di sebuah pekuburan rakyat. Pemugaran secara menyeluruh dilakukan pada tahun 1984 sampai dengan 1985. Nama 'Tikus' hanya merupakan sebutan yang digunakan masyarakat setempat. Konon, pada saat ditemukan, tempat candi tersebut berada merupakan sarang tikus. Belum didapatkan sumber candi tikus tertulis yang menerangkan secara jelas tentang kapan, untuk apa, dan oleh siapa Candi Tikus dibangun.

Akan tetapi dengan adanya miniatur menara diperkirakan candi ini dibangun antara abad 13 sampai 14 M, karena miniatur menara merupakan ciri arsitektur pada masa itu. Bentuk Candi Tikus yang mirip sebuah petirtaan mengundang perdebatan di kalangan candi tikus sejarah dan arkeologi mengenai fungsinya. Sebagian pakar berpendapat bahwa candi ini merupakan petirtaan, tempat mandi keluarga raja, namun sebagian pakar ada yang berpendapat bahwa bangunan tersebut merupakan tempat penampungan dan penyaluran air untuk keperluan penduduk Trowulan.

Namun, menaranya yang berbentuk meru menimbulkan dugaan bahwa bangunan candi ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaan. Bangunan Candi Tikus menyerupai sebuah petirtaan atau pemandian, yaitu sebuah kolam dengan beberapa bangunan di dalamnya. Hampir seluruh bangunan berbentuk persegi empat dengan ukuran 29,5 m x 28,25 m ini terbuat dari batu bata merah. Yang menarik, adalah letaknya yang lebih rendah sekitar 3,5 m dari permukaan tanah sekitarnya.

Di permukaan paling atas terdapat selasar selebar sekitar 75 cm yang mengelilingi bangunan. Di sisi dalam, turun sekitar 1 m, terdapat selasar yang lebih lebar mengelilingi tepi kolam.

Pintu masuk ke candi terdapat di sisi utara, berupa tangga selebar 3,5 m menuju ke dasar kolam. Tepat menghadap ke anak tangga, agak masuk ke sisi selatan, terdapat sebuah bangunan persegi empat dengan ukuran 7,65 m x 7,65 m. Di atas bangunan ini terdapat sebuah 'menara' setinggi sekitar 2 m dengan atap berbentuk meru dengan puncak datar. Menara yang terletak di tengah bangunan ini dikelilingi oleh 8 menara sejenis yang berukuran lebih kecil.

Di sekeliling dinding kaki bangunan berjajar 17 pancuran berbentuk bunga teratai dan makara. Hal lain yang menarik ialah adanya dua jenis batu bata dengan ukuran yang berbeda yang digunakan dalam pembangunan candi tikus ini.

candi tikus

Kaki candi terdiri atas susunan bata merah berukuran besar yang ditutup dengan susunan bata merah yang berukuran lebih kecil. Selain kaki bangunan, pancuran air yang terdapat di candi inipun ada dua jenis, yang terbuat dari bata dan yang terbuat dari batu andesit. Perbedaan bahan bangunan yang digunakan tersebut menimbulkan dugaan bahwa Candi Tikus dibangun melalui tahap.

Dalam candi tikus kaki candi tahap pertama digunakan batu bata merah berukuran besar, sedangkan dalam tahap kedua digunakan bata merah berukuran lebih kecil. Dengan kata lain, bata merah yang berukuran lebih besar usianya lebih tua dibandingkan dengan candi tikus yang lebih kecil.

Pancuran air yang terbuat dari bata merah diperkirakan dibuat dalam tahap pertama, karena bentuknya yang masih kaku. Pancuran dari batu andesit yang lebih halus pahatannya diperkirakan dibuat dalam tahap kedua. Walaupun demikian, tidak diketahui secara pasti kapan kedua tahap pembangunan tersebut dilaksanakan.Search for: Recent Posts • CANDI TIKUS: STRUKTUR, ARSITEKTUR DAN FUNGSI • Candi Tikus • Pemanasan Global • Macam-Macam Modem • fasilitas dan contoh search engine Recent Comments Mr WordPress on Hello world!

Archives • January 2017 • March 2011 • December 2010 • November 2010 Categories • Uncategorized Meta • Register • Log in • Entries feed • Comments feed • WordPress.com CANDI TIKUS: STRUKTUR, ARSITEKTUR DAN FUNGSI Terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan. Dari Candi tikus Bajangratu ke arah tenggara sekitar 500 m.

Candi Tikus adalah sebuah candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang terletak di kompleks Trowulan, Kabupaten Mojokerto, di Trowulan. Bangunan Candi Tikus berupa tempat ritual mandi (petirtaan) di kompleks pusat pemerintahan Majapahit.

candi tikus

Bangunan utamanya terdiri dari dua tingkat. Candi Tikus diperkirakan dibangun pada abad ke-13 atau abad ke-14. Candi ini dihubungkan dengan keterangan Mpu Prapanca dalam kitab Nagarakretagama, bahwa ada tempat untuk mandi raja dan upacara-upacara tertentu yang dilaksanakan di kolam-kolamnya.

Arsitektur bangunan melambangkan kesucian Gunung Mahameru sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Menurut kepercayaan Hindu, Gunung Mahameru merupakan tempat sumber air Tirta Amerta atau air kehidupan, yang dipercaya mempunyai kekuatan magis dan dapat memberikan kesejahteraan, dari mitos air yang mengalir di Candi Tikus dianggap bersumber dari Gunung Mahameru.

Candi ini disebut Candi Tikus karena sewaktu ditemukan merupakan tempat bersarangnya tikus yang memangsa padi petani. Di tengah Candi Tikus terdapat miniatur empat buah candi kecil yang dianggap melambangkan Gunung Mahameru tempat para dewa bersemayam dan sumber segala kehidupan yang diwujudkan dalam bentuk air mengalir dari pancuran-pancuran/jaladwara yang terdapat di sepanjang kaki candi.

Air ini dianggap sebagai air suci amrta, yaitu sumber segala kehidupan. Situs candi ini digali pada tahun 1914 atas perintah Bupati MojokertoKromodjojo Adinegoro.

Karena banyak dijumpai tikus pada sekitar reruntuhannya, situs ini kemudian dinamai Candi Tikus. Candi Tikus baru dipugar pada tahun 1985-1989. Dulu, ada petani dari Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto gelisah karena serbuan tikus sawah. Hasil tani yang biasanya cukup untuk menghidupi seluruh anggota keluarga, kini nyaris tak tersisa. Tak tahan menghadapi serbuan tikus, ia memohon pada Sang Pencipta.

Suatu malam, Si Petani mendapat wisik (wangsit,) agar mengambil air di kawasan Candi Tikus lalu menyiramkan air itu ke empat sudut sawah. Sebuah keajaiban terjadi. Tikus-tikus yang biasanya kerap beraksi di malam hari hilang begitu saja.

Tanah sawah juga mendadak jadi subur. Si Petani tak kuasa menahan kegembiraannya dan candi tikus pada warga desa. Beberapa saat kemudian, ada saudagar kaya mendengar kabar tentang khasiat air Candi Tikus.

Dengan rakus, ia mencari jalan pintas untuk menambah kekayaannya. Suatu malam, ia mencuri batu candi dan meletakkannya di sudut-sudut sawah. Lagi-lagi sebuah kejaiban terjadi. Tapi kali ini, tikus-tikus malah datang dan menghabisi padi di sawah.

Fenomena ini membuat warga desa sadar, bahwa mereka tak bisa berharap lebih. “Kami hanya bisa memanfaatkan air di Candi Tikus, tapi bukan batu-batu candi,” candi tikus mereka. Dan mitos ini, ternyata masih dipercaya hingga kini. Di sisi lain, ada mitos lain yang berkembang kebalikannya. Pada tahun 1914, candi ini ditemukan oleh Bupati Mojokerto, RAA Kromojoyo Adinegoro.Sebelumnya, ia mendengar keluh kesah warga Desa Temon yang kalang kabut karena serbuan hama tikus di sawah mereka.

Tanpa pikir panjang, Kromojoyo memerintah aparat desa agar memobilisasi massa dan menyatakan perang pada tikus. Anehnya, saat terjadi pengejaran, tikus-tikus itu candi tikus lari dan masuk dalam lobang dalam sebuah gundukan besar. Karena ingin membersihkan tikus sampai habis, Kromojoyo memilnta agar gundukan itu dibongkar. Ternyata, di dalam gundukan terdapat sebuah candi. Melihat sejarah penemuannya, Kromojoyo memberi nama Candi Tikus. candi tikus Purbakala Trowulan, 1998 : 44) 1.

Struktur Candi Tikus Candi Tikus merupakan salah satu dari kumpulan situs bersejarah yang ada di Trowulan, Mojokerto. Tepatnya, candi ini berlokasi di desa Temon, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Wujud candi Tikus adalah petirtaan berbentuk persegi dengan ukuran 22,5 x 22,5 meter dan luas 5,29 m2. Bagian candi ini terdiri dari miniature candi yang dikelilingi pancuran, kolam utama, dua kolam pemandian, serta dinding candi yang bertingkat-tingkat.

Pemugaran candi dilakukan dua kali. Pemugaran pertama pada tahun1984-1985. Kemudian pemugaran yang terakhir tahun 1988-1989. (Anandita Ayudya, 2002 : 187) Gambaran secara umum tentang struktur candi tikus adalah sebagai berikut. Ketika dilakukan pemugaran pada tahun 1984/1985, berhasil disingkap sisi tenggara bangunan candi Tikus. Kaki bangunan yang terdapat di sisi tersebut, menunjukan perbedaan ukuran bata merah yang dipergunakan sebagai bahan bakunya.

Hal ini semakin memperkuat dugaan mengenai dua tahap pembangunan candi tikus tersebut. Kaki bangunan tahap pertama yang tersusun dari bata merah yang berukuran besar, tampak ditutup oleh kaki bangunan tahap kedua yang tersusun dari bata merah yang berukuran lebih kecil.

Kapan secara pasti pembangunan tahap pertama dan kedua ini dilakukan,belum jelas benar. Adanya tangga yang menurun di sebelah utara, memberi kesan bahwa bangunan candi Tikus ini memang sengaja dibuat dibawah permukaan tanah. Tangga menurun disebelah utara itu, sekaligus merupakan petunjuk bahwa bangunan memiliki arah hadap ke utara. Dua buah kolam berbentuk persegi empat yang berukuran 3,5 x, 2 m dengan kedalaman 1,5 m, mengapit tangga masuk. Masing-masing kolam tersebut dilengkapi dengan tiga buah pancuran air yang berbentuk bunga padma (teratai) dan terbuat dari bahan batu andesit.

(KPRI Purbakala Trowulan, 1998 : 44) Struktur candi akan kami bahas mulai dari bagian yang terluar, yakni dinding candi. Kemudian ke bawah menuju pintu masuk petirtaan, kolam pemandian, sampai yang terkahir yaitu miniatur candi. 1) Dinding Candi Dinding candi Tikus terdiri dari 3 tingkat.

Tinggi dinding candi adalah5.20 meter, Bahan bangunan yang di pakai di dominasi oleh batu bata sedng batu andesitnya di gunakan untuk pancurannya. diukur dari dinding terluar atau teratas. Dinding candi yang dibuat berteras atau berundak ini memiliki candi tikus untuk menahan tanah di sekitarnya agar tidak longsor.

Pada dinding bagian bawah serta batur candi inilah terdapan 46 buah pancuran namun kini tinggal 19 buah saja, sedangkan yang lainnya masih tersimpan di museum Trowulan. (Ahmad Islamy Jamil, 2012 : 12) 2) Pintu Masuk Untuk masuk ke petirtaan ini, ada sebuah pintu masuk berupa tangga yang dimulai dari dinding terluar candi.

Anak tangga pertama berjumlah tujuh buah, kemudian terus kebawah jumlahnya bertambah. Orientasi candi Tikus adalah menghadap utara dengan azimut 200. 3) Kolam Pemandian Kolam pemandian candi Tikus berjumlah dua buah, yang terletak di sisi kanan dan kiri petirtaan. Kedua kolam itu berukuran sama yaitu panjang 3,5 m, lebar 2 m dan tinggi candi tikus m. Pintu masuk kolam tersebut mempunyai tangga yang terletak di sebelah selatan berukuran 1,2 m.

Dinding utara kolam terdapat pancuran masing-masing berjumlah 3 buah. Kolam pemandian ini mengapit pintu masuk. Di zaman dulu, kolam disebelah kanan digunakan oleh pria, dan yang di sebelah kiri untuk wanita. Kolam pemandian ini berbentuk persegi, dan di kedua kolam terdapat celah sebagai pintu masuk.

(Ahmad Islamy Jamil, 2012 : 12). 4) Miniatur Candi Bangunan induk petirtaan memiliki miniature candi yang terletak lurus dari pintu masuk. Miniature candi ini sudah bercorak Hindu. Bagian utama dari miniature candi berupa gapura. Gapura ini memiliki hiasan berupa kala makara.Miniature candi ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaaan.

Bangunan induk terletak di tengah, kakinya menempel pada teras bawah dinding selatan. Struktur bangunan induk terdiri dari kaki tubuh atap. Kaki candi candi tikus segi empat dengan ukuran panjang 7,75 m, lebar 7,65 m dan tinggi candi tikus meter.

Pada bagian kaki ini terdapat saluran air tertutup mengelilingi kaki, lebar 17 cm dan kedalaman 54 cm, berguna untuk memasok air ke pancuran. Tubuh candi berdenah bujur sangkar berukuran 4,8×4,8 m.

Di sisi barat, utara dan timur menempel pada bagian luar tubuh candi terdapat menara semu masing-masing berjumlah 5 buah. Keseluruhan bangunan candi Tikus terbuat dari batu bata besar yang kemudian ditimpa dengan batu bata yang lebih kecil. Sebagian dari pancuran ada yang terbuat dari batu andesit. Pasokan air di petirtaan ini diperoleh dari saluran yang ada di bagian selatan dari pegunungan.

Sedangkan untuk saluran pembuangannya terdapat di lantai dasar kolam. (Ahmad Islamy Jamil, 2012 : 12) 1. Seni Candi tikus Candi Tikus Candi Tikus merupakan salah satu bangunan yang mempunyai nilai eksotisme tersendiri.

Selain memiliki arsitektur yang cukup unik dengan ornamen pada bangunan induk yang dihiasi pancuran air berbentuk makara dan padma, candi tersebut juga memiliki dua kolam dan saluran-saluran air yang mengandung struktur petirtaan. Adanya pancuran air di Candi Tikus (jaladwara) yang berbentuk makara dan padma, makara merupakan perubahan bentuk tunas-tunas yang keluar dari bonggol teratai, sedangkan padma merupakan teratai itu sendiri. Secara keseluruhan candi itu dapat dikategorikan sebagai bangunan petirtaan.

Mengenai keterangan akar kronologis tentang Candi Tikus dapat dikaitkan dengan uraian dalam kitab Nagarakartagama yang ditulis oleh Prapanca (1385 M). Dalam kitab tersebut pada pupuh 27 dan 29 menyebutkan adanya tempat pemandian (petirtaan) raja yang dikunjungi Hayam Wuruk dan keterangan yang menyebutkan adanya upacara-upacara tertentu yang dirayakan di kolam-kolam. Meskipun dalam kitab tersebut Prapanca candi tikus menyebutkan secara eksplisit mengenai nama Candi Tikus, namun diyakini oleh sebagian besar pengamat situs kebudayaan purbakala, salah satu tempat pemandian yang dimaksudkan dalam kitab Nagarakartagama adalah Candi Tikus, terkait dengan letak bangunan yang masih berada di kawasan Kerajaan Majapahit.

Di sisi lain, menara-menara (bangunan miniatur yang mengelilingi bangunan induk) merupakan bagian terpenting dari gubahan arsitektur abad ke XIII-XIV.

candi tikus

Secara tidak langsung bangunan candi itu dapat diyakini didirikan pada abad ke XIII-XIV, premis ini semakin memperuncing kebenaran bahwa yang dimaksud dalam kitab Nagarakartagama mengenai petirtaan yang dikunjungi oleh Hayam Wuruk dan kolam-kolam yang dijadikan sebagai tempat untuk mengadakan prosesi upacara-upacara tertentu, salah satunya adalah Candi Tikus.

2. Sebagai Perlambang Gunung Mahameru Menurut Bernet Kempers, (1954 : 210) Arsitektur bangunannya melambangkan kesucian Gunung Mahameru sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Menurut kepercayaan Hindu, Gunung Mahameru merupakan tempat sumber Tirta Amerta (air kehidupan) yang dipercaya mempunyai kekuatan magis dan dapat memberikan kesejahteraan. Sehingga air yang mengalir di Petirtaan Tikus dianggap bersumber dari Gunung Mahameru. Candi tikus lanjut lagi, Candi Tikus merupakan replica atau simbolis Gunung Meru.

Candi tikus itu terkait dengan konsep religi yang melatarbelakangi candi, disamping itu model bangunan Candi Tikus yang makin ke atas candi tikus mengecil dan pada bangunan induk seakan-akan terdapat puncak utama yang dikelilingi oleh delapan puncak yang lebih kecil. Selain itu, Petirtaan Tikus yang dianggap sebagai replika Gunung Meru yang merupakan gunung suci sebagai pusat alam semesta yang mempunyai suatu landasan kosmogoni yaitu kepercayaan yang mengharuskan adanya keserasian antara dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos).

Berdasarkan landasan kosmogoni tersebut, maka setiap air yang keluar dari bangunan induk ini dipercaya sebagai air suci (amerta). Dalam konsepsi Hindu, alam semesta ini terdiri atas suatu benua pusat yang bernama Jambudwipa yang dikelilingi oleh tujuh lautan dan tujuh daratan dan semuanya dibatasi oleh suatu pegunungan tinggi. (KPRI Purbakala Trowulan, 1998 : 45) Simbol-simbol semacam itu sebenarnya mempertegas manusia merupakan makhluk yang penuh dengan lambang, baginya realitas lebih dari sekadar tumpukan fakta-fakta.

Ada semacam simbiosis-mutualisme antara makhluk hidup dengan alam yang ada di sekitarnya karena pada dasarnya setiap makhluk hidup sangat dipengaruhi lingkungan sekitar yang menghidupi keberadaan dirinya.

Konsep semacam ini dapat ditemukan dalam konsep triloka yang dibangun dari kepercayaan agama Hindu-Buddha dengan menempatkan semesta pada dua versi antara jagad gedhe (makrokosmos) dan jagat cilik (mikro-kosmos). Penempatan Candi Tikus sebagai simbol keagungan Gunung Meru, secara tidak langsung telah menisbahkan adanya suatu keterkaitan yang erat antara manusia dengan alam yang ada di sekitarnya.

Keyakinan semacam itu sebenarnya tumbuh dari pembacaan awal manusia terhadap gejala alam dengan menggunakan logika dasar. Namun, tidak bisa dinafikan pembacaan semacam itu yang termanefestasikan dalam model bangunan Candi Tikus merupakan salah satu pijakan yang membantu terbentuknya pola pemikiran manusia masyarakat Jawa tradisionalis dan peletak pertama dasar-dasar pemikiran masyarakat Jawa secara general.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para arkeolog, terbukti bahwa bata merah yang berukuran lebih besar berusia lebih tua dibandingkan dengan bata merah yang berukuran lebih kecil.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selama masa berdiri dan berfungsinya, candi Tikus pernah mengalami dua tahap pembangunan. Selain itu, menurut Krom,tahap pertama, saluran airnya terbuat dari bata merah dan memperlihatkan bentuknya yang kaku. Sedangkan tahap kedua saluran airnya terbuat dari batu andesit dan memperlihatkan bentuknya yang lebih dinamis serta dibuat pada masa keemasan Majapahit. Ini berarti pula bahwa menurut Krom, candi Tikus telah berdiri sebelum kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasannya, yaitu pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 – 1380).

Selain memiliki arsitektur yang cukup unik dengan ornamen pada bangunan induk yang dihiasi pancuran air berbentuk makara dan padma, candi tersebut juga memiliki dua kolam dan saluran-saluran air yang mengandung struktur petirtaan. Adanya pancuran air di Candi Tikus (jaladwara) yang berbentuk makara dan padma, makara merupakan perubahan bentuk tunas-tunas yang keluar dari bonggol teratai, sedangkan padma merupakan teratai itu sendiri.

2. Sebagai Pengatur Debit Air Majapahit Dalam sumber yang diterbitkan KPRI Purbakala Trowulan (1998 : 45), Berbeda dengan bangunan candi yang lain, candi tikus letaknya berada di bawah permukaan tanah. Candi ini memiliki banyak pancuran air.

Menurut catatan hasil penelitian yang candi tikus dilakukan H. Maclaine Pont pada tahun 1926, setidaknya terdapat 18 buah waduk besar yang diduga kuat dibangun pada masa Majapahit (letaknya kini tersebar diseluruh kabupaten Mojokerto, Jawa Candi tikus. Dari 18 buah waduk besar itu 4 buah diantaranya terletak di daerah Trowulan.

Yaitu di Desa Baureno, Kumitir, Domas dan Temon. Waduk-waduk besar ini berfungsi sebagai tempat penampungan air pertama untuk selanjutnya dialirkan ke tempat-tempat lain. Dari ke-empat waduk besar yang terletak di daerah Trowulan, waduk Baureno diduga merupakan sumber dari air yang masuk ke candi Tikus. Untuk selanjutnya air dari candi Tikus ini didistribusikan ka arah kota. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh alm. Didiek Samsu W.T. selama tahun 1986/1987, diketahui bahwa debit air rata-rata dari pancuran-pancuran air cukup besar, dan mampu untuk melakukan candi tikus air keseluruh kota.

Itulah sebabnya candi tikus mempunyai peranan yang sangat penting pada zamannya. Candi tikus candi Tikus juga bisa dijadikan patokan musim kemarau dan musim penghujan.Pada musim kemarau, debit air rata-rata setiap pancuran pancuran lebih kurang 400 kubik. Sedangkan jika lantai dasar candi Tikus mulai tergenang dan pancuran air memancarkan air lebih jauh, dapat diartikan bahwa musim hujan telah menjelang. Ini berarti pula bahwa pada musim hujan debit air di candi Tikus akan naik, sehingga bisa jadi patokan untuk membuka atau menutup pintu air di waduk atau bendungan.

Daftar Pustaka Ahmad Islamy Jamil. Jelajah : Sisa Kota Kuno Majapahit. Republika.Jakarta : 2012. Candi tikus Made Kusumajaya, dkk. Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan.Mojokerto. Koperasi Pegawai Republik Indonesia Purbakala. Mojokerto : 2012. Tim Kelompok Kerja BPA. Mengenal Majapahit Melalui Peninggalannya di Balai Penyelamatan Arca Trowulan dan Sekitarnya. Koperasi Pegawai Republik Indonesia Purbakala. Mojokerto : 1998. Anandita Ayudya dan Anastashia RY.

99 Tempat Liburan Akhir Pekan di Pulau Jawa dan Madura. PT. Gramedia. Jakarta : 2002. (e-book ini diakses pada 2 Juni 2014 pukul 11.45 WIB) http://tembi.net/bale-dokumentasi-resensi-buku/pemugaran-candi-tikus (diakses pada 2 Juni 2014 pukul 12.30 WIB) http://pendidikan4sejarah.blogspot.com/2011/07/candi-tikus.html (diakses pada 2 Juni 2014 pukul 12.35 WIB)
Daftar isi • Apa itu Candi Tikus?

• Sejarah Candi Tikus • Ciri-ciri Candi Tikus • Bentuk Bangunan Candi Tikus • Ukuran Candi Tikus • Fungsi Candi Tikus • Fakta Tentang Candi Tikus Majapahit hinga sekarang memang masih terus diteliti oleh sejumlah arkeolog dan ilmuwan. Jejak-jejak sejarah tersebut yang dapat dilihat salah satunya adalah peninggalan candi kerajaan Majapahit yang berada di Kecamatan Trowulan, Mojokerto.

Yap, candi itu adalah Candi Tikus. Apa itu Candi Tikus? Candi Tikus merupakan salah satu peninggalan khas dari kerajaan yang bercorak hindu. Candi peningalan ini terletak di Kompleks Trowulan, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Nama “Tikus” tersebut hanyalah sebutan dari masyarakat setempat. Hal itu konont katanya ketika ditemukan, candi ini merupakan sarang atau tempat tikus.

Candi Tikus berlokasi di Jl. Dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Jika dari Kota Mojokerto, candi ini berjarak sekitar 13 kilometer ke arah tenggara.

Adapun patokan dalam perjalanannya yaitu dari jalan raya Mojokerto – Jombang tepat di perempatan Trowulan kemudian belok ke arah timur. Setelah itu, akan melewati Kolam Segaran dan berjarak sekitar 600 meter dari Candi Bajangratu di sebelah kiri jalan. Sejarah Candi Tikus Candi Tikus ini ditemukan oleh masyarakat setempat berada di bawah permukaan tanah. Mulanya sejumlah masyarakat merasa terganggu karena banyaknya hama tikus yang sering merusak pertanian sehingga menyebabkan hasil tani menjadi menurun secara drastis.

Sampai pada tahun 1914, Bupati Mojokerto kala itu yakni RAA Kromojoyo memerintahan apparat desa untuk menghilangkat tikus-tikus yang ada. Ketika itu, salah satu dari mereka melihat tikus-tikus tersebut masuk kedalam lubang yang ada di bawah gundukan tanah. Sehingga bupati Kromojoyo memerintahkan supaya gundukan itu dibongkar dan ditemukan sebuah candi yang diberi nama dengan Candi Tikus.

Hal itu dikarenakan candi candi tikus adalah menjadi sarang tikus. Menurut beberapa penelitian, Candi Tikus ini diperkirakan telah dibangun sejak abad ke 13 atau abad ke 14. Dalam Kitab Nagarakertagama, Mpu Prapanca mengemukakan bahwa dulunya candi ini dipakai sebagai tempat pentirtaan atau pemandian dan candi tikus upacara raja-raja terdahulu.

Ciri-ciri Candi Tikus Bentuk Bangunan Candi Tikus Dengan kata lain, bentuknya seperti sebuah kolam dengan beberapa bangunan ada di dalamnya. Di dalam candi ini terdapat dua jenis batu bata yang berukuran berbeda. Batu-batu tersebut adalah bahan dalam pembangunan Candi Tikus. Pada kaki candi terdapat susunan-susunan bata merah yang berukuran besar yang ditutup dengan susunan bata merah berukuran lebih kecil. Dasar kolam candi berada di bawah permukaan tanah yang dikelilingi oleh tembuk yang disusun berteras-teras.

Teras-teras itu dibuat semakin ke dalam semakin turun. Sementara tangga masuknya berada di sisi utara. Selain kaki bangunan dan kolam, terdapat pula pancuran air sebanyak dua jenis. Ada pancuran air yang terbuat dari bata dan ada juga pancuran yang terbuat dari batu andesit. Perbedaan bahan bangunan yang dipakai itulah akhirnya menimbulkan persepsi bahwa Candi Tikus ini dibangun secara bertahap.

candi tikus

Untuk pembangunan kaki candi candi tikus pertama menggunakan batu bata merah yang berukuran besar. Sementara untuk tahap keduanya menggunakan batu merah yang berukuran lebih kecil. Dengan arti lain, bata merah yang ukurannya lebih besar itu memiliki usia yang jauh lebih tua daripada bata merah kecil dengan usianya yang lebih kecil.

Dan pancuran air dari bata merah tersebut diperkirakan dibuat saat tahap pertama pembangunannya. Hal itu dikarenakan bentuknya yang terlihat masih kaku. Sementara pancuran air yang terbuat dari batu andesit yang lebih halus pahatannya itu diperkirakan dibuat saat tahap kedua. Meskipun demikian, hal itu tidak diketahui secara pasti kapan tahap pembangunan tersebut dilakukan. Jumlah keseluruhan dari pancuran air sebanyak 46 buah, namun hingga kini hanya terdapat kurang lebih 19 pancuran air saja.

Hal itu dikarenakan beberapa pancuran lainnya sudah disimpan di Balai Penyelamatan Arca Trowulan. Ukuran Candi Tikus Hampir seluruh bangunan dari Candi Tikus ini berbentuk persegi empat dengan ukurannya sekitar 29,5 meter x 28,25 meter.

Salah satu hal yang menarik yakni letak dari candi ini berada lebih rendah yakni sekitar 3,5 meter dari permukaan tanah sekitarnya. Pada permukaan paling atas candi terdapat selasar yang memiliki lebar sekitar 75 centimeter yang mengelilingi bangunan.

Sementara di sisi dalam, turun sekitar 1 meter itu akan terlihat selasar yang lebih lebar di mana mengelilingi tepi kolam. Pintu masuk kedalam candi ada di sisi utara yakni berupa tangga selebar 3,5 meter menuju ke dasar kolam. Tidak hanya itu di sisi kanan dan kiri kaki tangga terdapat sebuah kolam persegi empat yang berukuran 3,5 meter x 2 meter dengan kedalamannya setinggi 1,5 meter.

Jika kita menghadap ke anak tangga dan agak masuk ke sisi selatan, ada sebuah bangunan persegi empat yang berukuran 7,65 meter x 7,65 meter.

Di atas bangunan candi ada sebuah menara setinggi 2 meter dengan atap yang berbentuk meru dengan puncak datar. Candi tikus Candi Tikus Bentuk bangunan dari Candi Tikus ini hampir mirip dengan sebuah pentirtaan yang mengundang perdebatan di kalangan para pakar sejarah dan arkeolog terkait fungsinya. Adapun fungsi Candi Tikus berdasarkan pendapat para ahli sebagai berikut: • Sebagian pakar sejarah dan arkeologi berpendapat bahwa Candi Tikus berfungsi sebagai tempat mandi keluarga raja.

• Sebagian pakar lain juga berpendapat bahwa candi tersebut adalah tempat penampungan dan penyaluran air untuk keperluan masyarakat Trwoulat. • Jika dilihat dari letak menara yang berbentuk meru itu menimbulkan dugaan bahwa Candi Tikus ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaan dewa-dewi hindu.

• Selain sebagai tempat sakral, kini Candi Tikus lebih difungsikan sebagai tempat wisata budaya dan sejarah khususnya bagi kalangan pelajar.

Fakta Tentang Candi Tikus Dari sejarah, ciri dan fungsinya, tentu kita dapat menemukan beberapa fakta unik dari Candi Tikus ini. nah, berikut beberapa fakta dari candi ini antara lain: • Seperti namanya, Candi Tikus adalah penamaan dari masyarakat setempat karena dulunya adalah sarang tikus. • Salah satu candi yang dikelilingi oleh kolam kecil. • Candi yang berdiri di bawah permukaan tanah. • Jika dilihat dari jauh, candi ini tidak seperti candi pada umumnya.

Namun lebih terlihat sebagai pemandian atau pentirtaan. Bahkan konon katanya, dulu pernah menjadi tempat pemandian Raja beserta keluarganya. • Apabila ditinjau dari sudut arsitekturnya, bentuk Candi Tikus terlihat seperti replika dari Gunung Mahameru yang ada di India. Pada puncak gunungnya ada terdapat tempat bagi para dewa untuk bersemayam dan air yang mengalir dari Mahameru tersebut dianggap sebagai air suci.

Dapat kita simpulkan bahwa, Candi Tikus merupakan salah satu candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang bercorak hindu. Candi ini memiliki keunikan tersendiri mulai dari bangunannya candi tikus berada di bawah permukaan tanah, sejarah penamaan candi tersebut hingga arca-arca yang ada di dalamnya.

Hingga kini, candi ini masih terjaga dan terawat kelestariannya bahkan banyak para pengunjung dari kaum pelajar yang mendatangi Candi Tikus. Related Posts • Peristiwa Bandung Lautan Api: Candi tikus Belakang – Kronologi dan Dampaknya • Biografi Candi tikus Feynman, Seorang Ilmuwan Hebat Penemu Elektrodinamika • Biografi Zainuddin Abdul Madjid Singkat • 6 Peristiwa Penting Selama Perang Dingin yang Perlu diketahui • Sejarah Kerajaan Melayu – Raja dan Peninggalannya
Lokasi di Jawa Informasi umum Gaya arsitektur Candi Jawa Timuran Kota Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Negara Indonesia Selesai abad ke13-14 Informasi teknis Ukuran 29,5 m x 28,25 m Candi Tikus adalah sebuah peninggalan dari kerajaan yang bercorak hindu yang terletak di Kompleks Trowulan, tepatnya di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Nama ‘Tikus’ hanya merupakan sebutan yang digunakan masyarakat setempat. Konon, pada saat ditemukan, tempat Candi tersebut berada merupakan sarang tikus.

Daftar isi • 1 Lokasi Candi • 2 Fungsi Candi • 3 Galeri • 4 Rujukan Lokasi Candi [ sunting - sunting sumber ] Mengunjungi Candi Tikus ini, jauhnya sekitar 13 km di sebelah tenggara kota Mojokerto. Patokannya dari jalan raya Mojokerto-Jombang, candi tikus di perempatan Trowulan, membelok ke timur, melewati Kolam Segaran dan sekitar 600 m dari Candi Bajangratu di sebelah kiri jalan.

Candi Tikus yang semula telah terkubur dalam tanah ditemukan kembali pada tahun 1914. Penggalian situs dilakukan berdasarkan laporan bupati Mojokerto, R.A.A. Kromojoyo Adinegoro, tentang ditemukannya miniatur candi di sebuah pekuburan rakyat. Pemugaran secara menyeluruh dilakukan pada tahun 1984 sampai dengan 1985. [1] Belum didapatkan sumber informasi tertulis yang menerangkan secara jelas tentang kapan, untuk apa, dan oleh siapa Candi Tikus dibangun.

Akan tetapi dengan adanya miniatur menara diperkirakan candi ini dibangun antara abad ke-13 sampai ke-14 M, karena miniatur menara merupakan ciri arsitektur pada masa itu. Fungsi Candi [ sunting - sunting sumber ] Bentuk Candi Candi tikus yang mirip sebuah petirtaan mengundang perdebatan di kalangan pakar sejarah dan arkeologi mengenai fungsinya.

Sebagian pakar berpendapat bahwa candi ini merupakan petirtaan (tempat pemandian keluarga raja), tetapi sebagian pakar yang lain berpendapat bahwa bangunan tersebut merupakan tempat penampungan dan penyaluran air untuk keperluan penduduk Trowulan. Namun, menaranya yang berbentuk meru menimbulkan dugaan bahwa bangunan Candi ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaan. Bangunan Candi Tikus menyerupai sebuah petirtaan berupa sebuah kolam dengan beberapa bangunan di dalamnya.

Hampir seluruh bangunan berbentuk persegi empat dengan ukuran 29,5 m x 28,25 m ini terbuat dari batu bata merah. Yang menarik, adalah letaknya yang lebih rendah sekitar 3,5 m dari permukaan tanah sekitarnya. Di permukaan paling atas terdapat selasar selebar sekitar 75 cm yang mengelilingi bangunan.

Di sisi dalam, turun sekitar 1 m, terdapat selasar yang lebih lebar mengelilingi tepi kolam. Pintu masuk ke Candi tikus terdapat di sisi utara, berupa tangga selebar 3,5 m menuju ke dasar kolam. Di kiri dan kanan kaki tangga terdapat kolam berbentuk persegi empat yang berukuran 3,5 m x 2 m dengan kedalaman 1,5 m.

Pada dinding luar, masing-masing kolam berjajar tiga buah pancuran berbentuk padma (teratai) yang terbuat dari batu andesit. Tepat menghadap ke anak tangga, agak masuk ke sisi selatan, terdapat sebuah bangunan persegi empat dengan ukuran 7,65 m x 7,65 m. Di atas bangunan ini terdapat sebuah ‘menara’ setinggi sekitar 2 m dengan atap berbentuk meru dengan puncak datar.

Menara yang terletak di tengah bangunan ini dikelilingi oleh 8 menara sejenis yang berukuran lebih kecil. Di sekeliling dinding kaki bangunan berjajar 17 pancuran ( jaladwara) berbentuk bunga teratai dan makara. Hal candi tikus yang menarik ialah adanya dua jenis batu bata dengan ukuran yang berbeda yang digunakan dalam pembangunan Candi ini.

candi tikus

Kaki Candi terdiri atas susunan bata merah berukuran besar yang ditutup dengan susunan bata merah yang berukuran lebih kecil. Selain kaki bangunan, pancuran air yang terdapat di Candi ini pun ada dua jenis, yang terbuat dari bata dan yang terbuat dari batu andesit. Perbedaan bahan bangunan yang digunakan tersebut menimbulkan dugaan bahwa Candi Tikus dibangun melalui beberapa tahap.

Dalam pembangunan kaki candi tikus tahap pertama digunakan batu bata merah berukuran besar, sedangkan dalam tahap kedua digunakan bata merah berukuran lebih kecil. Dengan kata lain, bata merah yang berukuran lebih besar usianya lebih tua dibandingkan dengan usia yang lebih kecil. Adapun Pancuran air dari bata merah diperkirakan dibuat pada tahap pertama candi tikus karena bentuknya yang masih kaku, sedangkan Pancuran air dari batu andesit yang lebih halus pahatannya diperkirakan dibuat pada tahap kedua.

Walaupun demikian, tidak diketahui secara pasti kapan kedua tahap pembangunan tersebut dilaksanakan. [2] Galeri [ sunting - sunting sumber ] • Candi Abang · Candi Asu · Situs Adan-Adan · Candi Banjarsari · Candi Barong · Candi Bojongmenje · Candi Cangkuang · Candi Ceto · Candi Dawangsari · Kompleks Candi Dieng ( Candi Arjuna · Candi Bima) · Candi Gambar Wetan · Candi Gatotkaca · Candi Gebang · Candi Gedong Songo · Candi Gemekan/Candi Masahar · Candi Gunungsari · Candi Gunung Gangsir candi tikus Candi Gunung Wukir · Candi Ijo · Candi Jawi · Candi Kadisoka · Candi Keblak · Candi Kedaton · Candi Kedulan · Candi Kethek · Candi Kidal · Candi Kimpulan · Kompleks Kepurbakalaan Liyangan · Candi Losari · Situs Mantup · Situs Menggung · Candi Merak · Candi Morangan · Candi Miri · Candi Mirigambar · Candi Ngempon · Candi Ngetos · Candi Pandegong · Candi Penataran · Cagar Budaya Gunung Penanggungan ( Petirtaan Belahan · Petirtaan Jalatunda · Gapura Jedong · Candi Kendalisodo · Candi Selokelir) · Candi Plumbangan · Candi Prambanan · Candi Pringapus · Candi Rimbi · Candi Sambisari · Candi Sawentar · Candi Simping · Candi Singasari · Candi Sirih · Candi Srigading · Petirtaan Sumberbeji · Candi Surawana · Candi Sukuh · Trowulan · Candi Watu Gudhig Pulau Bali • Halaman ini terakhir diubah pada 16 Juli 2021, pukul 07.46.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Candi tikus privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •

VIRAL !! PENEMUAN CANDI MEGAH DALAM SARANG RIBUAN TIKUS - ERA KERAJAAN MAJAPAHIT




2022 www.videocon.com