Menyembah berhala merupakan perbuatan

menyembah berhala merupakan perbuatan

Menu • HOME • RAMADHAN • Kabar Ramadhan • Puasa Nabi • Tips Puasa • Kuliner • Fiqih Ramadhan • Hikmah Ramadhan • Video • Infografis • NEWS • Politik • Hukum • Pendidikan • Umum • News Analysis • UMM • UBSI • Telko Highlight • NUSANTARA • Jabodetabek • banten • Jawa Barat • Jawa Tengah & DIY • Jawa Timur • kalimantan • Sulawesi • Sumatra • Bali Nusa Tenggara • Papua Maluku • KHAZANAH • Indonesia • Dunia • Filantropi • Hikmah • Mualaf • Rumah Zakat • Sang Pencerah • Ihram • Alquran Digital • ISLAM DIGEST • Nabi Muhammad • Muslimah • Kisah • Fatwa • Mozaik • INTERNASIONAL • Timur tengah • Palestina • Eropa • Amerika • Asia • Afrika • Jejak Waktu • Australia Plus • DW • EKONOMI • Digital • Syariah • Bisnis • Finansial • Migas • pertanian • Global • Energi • REPUBLIKBOLA • Klasemen • Bola Nasional • Liga Inggris • Liga Spanyol • Liga Italia • Liga Dunia • Internasional • Free kick • Arena • Sea Games 2021 • SEAGAMES 2021 • Berita • Histori • Pernik • Profil • LEISURE • Gaya Hidup • travelling • kuliner • Parenting • Health • Senggang • Republikopi • tips • TEKNOLOGI • Internet • elektronika • gadget • aplikasi • fun science & math • review • sains • tips • KOLOM • Resonansi • Analisis • Fokus • Selarung • Sastra • konsultasi • Kalam • INFOGRAFIS • Breaking • sport • tips • komik • karikatur • agama • JURNAL-HAJI • video • haji-umrah • journey • halal • tips • ihrampedia • REPUBLIKA TV • ENGLISH • General • National • Economy • Speak Out • KONSULTASI • keuangan • fikih muamalah • agama islam • zakat • IN PICTURES • Nasional • Jabodetabek • Internasional • Olahraga • Rana • PILKADA 2020 • berita pilkada • foto pilkada • video pilkada • KPU Bawaslu • SASTRA • cerpen • syair • resensi-buku • RETIZEN • Info Warga • video warga • teh anget • INDEKS • LAINNYA • In pictures • infografis • Pilkada 2020 • Sastra • Retizen • indeks Manusia memiliki dalih saat menyembah berhala.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Pada masa jahiliyah, orang-orang musyrik menyembah patung dan berhala yang mereka letakkan di Kabah. Mereka bangga dengan penyembahan seperti itu.

Mereka merasa menemukan kesenangan di dalamnya. Beberapa di antara mereka yang memiliki sedikit ilmu berdalih bahwa mereka menyembah berhala demi mendekatkan diri kepada Allah.

Dalih orang-orang musyrik jahiliyah itu pun diabadikan dalam Al Quran. Baca Juga • Ketua Komisi Fatwa MUI: Islam Bolehkan Aksi Demonstrasi • Sikap Muslim Saat Ditinggal Orang yang Terkasih • Syirik Akbar Bisa Gugurkan Seluruh Amalan Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya".

Menyembah berhala merupakan perbuatan Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (Al Quran surat Az Zumar ayat 3). Cendikiawan Muslim Turki, Muhammad Fethullah Gulen menjelaskan pada masa jahiliyah, naluri untuk beribadah yang bersemayam di dalam fitrah manusia sebagai amanat Tuhan telah dikhianati dan disalahgunakan. "Bagaimana mungkin manusia yang mulia menyembah batu, pohon, abu, matahari, bulan atau bintang?

Bahkan ada di antara kaum jahiliyah yang menyembah makanan yang mereka buat sendiri dari bahan manisan dan keju, yang setelah disembah, tuhan itu pun dimakan oleh para penyembahnya," jelas Fethullah Gulen dalam bukunya berjudul Cahaya Abadi Muhammad SAW Kebanggaan Umat Manusia Pada ayat lainnya, Al Quran menerangkan tentang perilaku dan jalan pemikiran orang-orang jahiliyah. وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah".

Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu). (Al Quran surat Yunus ayat 18). Terdapat satu dalih lagi yang sering dilontarkan kaum jahiliyah untuk membela keyakinan mereka yang sesat.

Yakni orang-orang jahiliyah mengatakan bahwa perbuatan mereka menyembah berhala dilakukan begitu saja karena mewarisi keyakinan tersebut dari nenek moyangnya. Sebagaimana firman Allah: menyembah berhala merupakan perbuatan قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ بَلْ نَتَّبِعُ مَآ أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۗ أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْـًٔا وَلَا يَهْتَدُونَ Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami".

"(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" Menyembah berhala secara umum berarti mendirikan patung dalam berbagai bentuk yang dipuja sebagai Tuhan.

Mereka (pemeluknya) berdoa, menyembah, memberi persembahan dan memohon kemurahannya, mencari berkah, perlindungan, berkah kemewahan, kesehatan dan kekayaan, bahkan memohon kepada patung tersebut untuk memenuhi bermacam kekuasaan pribadi walaupun kekuasaan itu diperoleh dengan cara yang salah.

Mereka juga berdoa agar dosa mereka diampuni. Disetiap Vihara, bila kita perhatikan, memang banyak perlengkapan sembahyang yang ada di altar, ada banyak Rupang (gambar / patung) para Buddha dan Bodhisattva dari ukuran yang kecil sampai yang maha besar dan para umat bernamaskara atau bersujud kepada patung tersebut, sehingga banyak orang salah paham dan menganggap umat Buddha sebagai penyembah berhala. Kesalahpahaman ini disebabkan oleh kurang nya pengetahuan tentang ajaran Buddha serta adat istiadat dan tradisi Buddhis atau memang mereka dengan sengaja mengemukakan pernyataan yang keliru demi kepentingan kelompoknya.

Seperti kita ketahui, bahwa Sang Menyembah berhala merupakan perbuatan tidak pernah mengatakan bahwa Dia adalah Tuhan, anak Tuhan, atau Utusan Tuhan. Dia adalah seorang manusia yang telah menyempurnakan dirinya sendiri dan mengajar kan bahwa jika kita mengikuti teladan-Nya, kita juga dapat menyempurnakan diri kita sendiri. Umat Buddha-pun tidak menganggap Sang Buddha sebagai Tuhan, bagaimana mungkin seseorang bisa percaya bahwa sepotong kayu, keramik atau logam, maupun gambar adalah Tuhan ?

Penghormatan itu tidak ada bedanya dengan saat kita menunjukkan rasa hormat kepada seseorang atau sesuatu yang kita hargai. Ketika guru memasuki ruang kelas, kita berdiri.

Ketika kita bersua dengan orang terhormat, kita mengangguk dan berjabat tangan. Ketika Bendera merah-putih dikibarkan dan lagu kebangsaan dinyanyikan, kita berdiri tegap dan memberi hormat. Semuanya ini adalah sikap hormat dan pemujaan yang menunjukkan rasa salut kita terhadap suatu pribadi atau lambang. Inilah jenis pemujaan yang dipraktekkan oleh umat Buddha.

Bagi seorang Buddhis,meskipun ada atau tidak adanya rupang tersebut sama sekali tidaklah pentingrupang- rupang tersebut hanya merupakan suatu tanda, simbol yang membantunya mengingat ajaran-ajaran kebenaran dari Sang Buddha.

Mereka merenung dan bermeditasi untuk mendapatkan inspirasi dari kepribadian mulia Sang Buddha. Dalam agama Islam, agama yang sangat mengharamkan adanya objek-objek pemujaan, mempunyai sebuah objek lambang-suci merekamenyembah berhala merupakan perbuatan Ka’bah, atau rumah-Tuhan. Menurut sejarahnya, di dalam Ka’bah dulunya terdapat tiga ratus enam puluh (360 ) patung, dan sudah disingkirkan semuanya oleh Nabi Muhammad SAW.

Diluar Ka’bah terdapat Batu Hajar Aswatyang dipercaya sebagai batu bertuah dari surga. Hingga kini, ummat Islam sedunia, bila sholatdan juga saat-saat berdoa, memohon suatu berkah, selalu menghadap Kiblatyaitu arah menuju rumah-Tuhan itu, Ka’bah- di Mekah di tanah-Arab.

Selain itu, juga terdapat seni Kaligrafi yang menggambarkan religiusitas mereka, dan seni ini sangat terkenal dan digemari karena keelokannya. Dalam Agama Taosimbol yin-yang dipakai untuk melambangkan keharmonisan antara hal-hal yang berlawanan sifat, demikian pula terdapat patung-patung Dewa, seperti Dewa Bumi, Dewa Langit, Dewa Naga, Dewa Kekayaan, Dewa Kesehatan, dan lain-lain patung Dewa, yang kesemuanya berfungsi sebagai sarana untuk mengajukan permohonan kepadanya.

Dalam Kejawenterdapat Keris-Keris, batu-batu bertuah, jimat-jimat, beberapa jenis patung, lukisan-lukisan Dewa tertentu, seperti Semar, Ratu Kidul, dan lain-lain.

Ummat Kejawen, juga melakukan doa-doa serta ritual-ritual kepada Tuhantak jarang melalui media-media tersebut diatas, baik secara langsung maupun tidak langsung ( Misal, dengan doa-doa seperti, “Duh Gusti Ingkang Maha Agung, Ingkang Murbeng Dumadi, Ingkang Maha Kuwaos…, Kula Nyuwun Gunging Pangapunten, Gunging Pangaksami…Nyuwun Sih Pitulungan Panjenenganduh Gusti Pengeran…dst.” ).

Sedangkan dalam agama Buddha, patung Buddha digunakan untuk melambangkan kesempunaan manusia. Patung Buddha juga mengingatkan kita pada dimensi manusia dalam ajaran Buddha, bahwasanya ajaran Buddha bersifat Humanosentris ( Berpusat pada manusia), bukannya Theosentris ( berpusat pada Tuhan), kita hendaknya “ melihat ke dalam” untuk mencapai kebijaksanaan dan kesempurnaan. Jadi mengatakan bahwa umat Buddha menyembah berhala adalah tidak benar.

Sikap saling tuding bahwa agama yang dianut oleh orang lain adalah penyembah berhala adalah sikap yang tidak bijaksana dan sangat menyakitkan pihak yang lain dan sekaligus menunjukkan sikap ‘ke-egoisan’nya sendiri dengan beranggapan bahwa hanya agamanyalah yang paling benar dan agama yang lain adalah sesat. Tindakan memberi penghormatan kepada seorang yang mulia seperti Sang Buddha, bukanlah suatu perbuatan yang dilakukan atas dasar rasa takut atau perbuatan menyembah berhala merupakan perbuatan memohon kebahagiaan duniawi.

Umat Buddha percaya bahwa mereka sendiri yang bertang-gung jawab atas keselamatan diri mereka sendiri dan tidak harus bergantung kepada pihak ketiga. Hal ini dengan jelas dikatakan oleh Sang Buddha dalam sabdanya: Ketika menyembah berhala merupakan perbuatan mempelajari ajaran Sang Buddha, kita dapat memahami bahwa Sang Buddha hanyalah seorang guru yang telah menunjukkan jalan yang benar untuk keselamatan dan berpulang kembali kepada penganutnya untuk menjalani kehidupan beragama dan menyucikan pikiran mereka untuk mendapatkan keselamatan tanpa bergantung kepada guru agama mereka.

Menurut Sang Buddha, tidak ada Tuhan atau guru agama manapun yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga atau neraka. Manusia menciptakan surga dan nerakanya sendiri melalui pikiran, perbuatan serta perkataan mereka sendiri. Oleh karena itu, berdoa kepada pihak ketiga untuk keselamatan diri tanpa menyingkirkan pikiran jahat merupakan satu perbuatan yang sia-sia. Walaupun demikian, ada beberapa orang termasuk umat Buddha masih melakukan sembahyang tradisonal di hadapan rupang sembari mencurahkan masalah-masalah mereka, nasib malang yang dialami serta kesulitan yang dihadapi dan memohon pertolongan Sang Buddha untuk membantu mereka menyelesaikan masalah-masalah tsb.

Walaupun perbuatan tersebut bukan suatu praktik Buddhis yang sebenarnya ,tetapi perbuatan demikian dapat mengurangi ketegangan emosi, memberi inspirasi kepada pemohon untuk mendapatkan keberanian dan ketetapan hati untuk menyelesaikan masalah yang mere menyembah berhala merupakan perbuatan hadapi. Hal ini juga umum dilakukan dibeberapa agama lain. Menyembah berhala merupakan perbuatan bagi mereka yang dapat memahami sebenarnya penyebab dasar dari permasalahan mereka, mereka tidak membutuhkan tindakan seperti itu.

Ketika umat Buddha menghormati Sang Buddha, mereka menghormatiNya dengan melafalkan kalimat-kalimat yang memuliakan kebajikan murniNya. Kalimat-kalimat ini bukanlah doa-doa yang meminta kepada Tuhan atau Dewa untuk menghapus dosa mereka.

Kalimat-kalimat ini hanya bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada seorang Guru Agung yang telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menunjukkan cara hidup yang benar untuk kebaikan manusia.Umat Buddha menghormati guru agama mereka atas dasar rasa berterima kasih sedangkan penganut agama lain berdoa dan membuat permohonan untuk mendapatkan keun tungan dan manfaat bagi diri mereka sendiri. Sang Buddha juga menasihati kita untuk “menghormati mereka yang pantas dihormati.” Oleh karena itu, seorang Buddhis boleh mengakui dan menghormati guru agama manapun yang pantas dan layak dihormati.

Di tempat puja bakti, umat Buddha melaksanakan meditasi untuk melatih pikiran dan disiplin diri.Untuk tujuan meditasi, sebuah objek diperlukan; tanpa suatu objek untuk dipegang, tidaklah mudah untuk berkonsen trasi.

Umat Buddha kadangkala menggunakan rupang Sang Buddha sebagai objek dimana mereka dapat berkonsentrasi dan mengontrol pikiran mereka.

Di antara banyak objek meditasi, objek visual (yang bisa dilihat dengan nyata) memiliki efek yang lebih baik dalam pikiran.

Di antara lima panca-indera, objek yang kita tangkap melalui kesadaran penglihatan (mata) memiliki pengaruh lebih besar pada pikiran dibanding dengan objek-objek yang ditangkap melalui kesadaran indera lainnya. Indera penglihatan dapat mempengaruhi pikiran lebih dari indera lainnya. Oleh karena itu, objek yang dapat ditangkap oleh mata membantu pikiran untuk konsentrasi secara lebih mudah dan lebih baik.

Gambar atau bentuk adalah bahasa bawah sadar (sub-conscious). Rupang Sang Buddha terefleksikan dalam pikiran seseorang sebagai penjelmaan seorang yang sempurna, refleksi ini akan menembus pikiran bawah sadar seseorang dan jika cukup kuat, secara otomatis akan bertindak sebagai pengerem keinginan jahat.

Sebagai suatu objek visual, rupang Buddha mempunyai dampak yang baik dalam pikiran; perenungan akan pen capaian dari Sang Buddha dapat menghasilkan kegem biraan, kesegaran pikiran dan menghilangkan kete gangan, keresahan dan frustasi di dalam diri seseorang.

Salah satu tujuan dalam meditasi “Buddha-nussati” (Perenungan Terhadap Buddha), yaitu untuk mencipta kan rasa bakti dan keyakinan terhadap Sang Buddha dengan menyadari dan menghargai keagungan Beliau. Oleh karena itu, “menyembah” rupang (gambar/patung) Sang Buddha, dimana tidak terdapat doa permohonan, sumpah-sumpah atau ritual tidak bisa dianggap sebagai menyembah berhala, tetapi sebagai suatu bentuk peng hormatan menyembah berhala merupakan perbuatan ideal.

Pada suatu hari, Mara, si penggoda, merasa iri hati dengan kemasyhuran Yang Mulia Upagupta. Mara mengeta hui bahwa kemasyhuran Upagupta membantu penyebar an ajaran Sang Buddha. Mara tidak menyukai melihat perkataan Sang Buddha memenuhi pikiran dan hati banyak orang. Mara membuat rencana untuk menghentikan orang-orang orang mendengarkan ceramah-ceramah Upagupta. Suatu hari, ketika Upagupta memulai ceramahnya, Mara mengadakan suatu pertunjukan bersebelahan dengan tempat dimana Upagupta berkotbah.Sebuah pentas yang indah muncul dengan tiba-tiba.

Terdapat gadis-gadis pe nari yang cantik dan musisi yang lincah. Orang-orang segera melupakan ceramah Upagupta dan beralih ke pertunjukkan untuk menikmati penampilannya. Upagupta memperhatikan orang-orang perlahan-lahan meninggalkannya. Kemudian Beliau juga memutuskan untuk bergabung dalam kerumunan. Setelah itu ia memutuskan untuk memberikan pelajaran kepada Mara. Ketika pertunjukkan itu berakhir, Upagupta menghadiah kan sebuah kalung bunga kepada Mara.

“Kau telah menyusun suatu pertunjukan yang luar biasa,“ kata Yang Mulia Upagupta. Mara tentu saja merasa senang dan bangga dengan pencapaiannya. Dengan sukacitanyaMenyembah berhala merupakan perbuatan menerima kalung bunga dari Upagupta dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.

menyembah berhala merupakan perbuatan

Tiba-tiba kalung bunga itu berubah menjadi lilitan menyerupai ular. Perlahan-lahan lilitan itu menjadi semakin ketat dan mencekik leher Mara. Lilitan itu mencengkram lehernya begitu kuatnya, sehingga ia mencoba menarik lilitan itu agar putus.

Walau seberapa kuat Mara menariknya, ia tidak bisa melepaskan lilitan itu dari lehernya. Ia pergi mencari Sakka untu membuka lilitan itu. Sakka juga tidak bisa melepasnya. “Aku tidak dapat melepaskan lilitan ini,” kata Sakka.

“Pergilah dan temui Maha Brahma yang paling kuat.” Lalu, Mara pun pergi menemui Maha Brahma dan meminta pertolongannya; tapi Maha Brahma juga tidak bisa berbuat apapun. “Aku tidak dapat melepaskan lilitan ini, satu-satunya orang yang dapat melepaskan lilitan ini adalah orang yang memakaikannya kepadamu" kata Maha Brahma.

Lalu, Mara terpaksa kembali ke Yang Mulia Upagupta. “Baiklah, aku akan melakukannya tetapi dengan dua syarat,” kata Upagupta. “Syarat pertama yaitu; kau harus berjanji untuk tidak mengganggu para penganut ku di masa depan. Syarat kedua yaitu; kau harus menunjukkan kepadaku wujud Sang Buddha yang sebenarnya. Karena aku tahu engkau pernah melihat Sang Buddha dalam beberapa kesempatan, tapi aku tidak pernah melihatNya.

Aku ingin melihat wujud sebenarnya dari Sang Buddha sama persisdengan 32 tanda istimewa yang terdapat pada fisikNya.” Berdasarkan kisah ini, kita dapat memahami mengapa rupang (gambar /patung)Sang Buddha penting untuk memberi inspirasi kepada kita dan mengingat kemuliaan Sang Buddha dalam pikiran kita sehingga menyembah berhala merupakan perbuatan dapat memuliakannya.

Kita sebagai Buddhis tidak menyembah simbol material atau wujud yang hanya mewakili Sang Buddha. Tetapi kita memberi penghormatan kepada Sang Buddha. Sang Buddha telah mangkat dan mencapai Nibbana Sang Buddha tidak memerlukan penghormatan atau persembahan ,tetapi hasil dari penghormatan akan mengikuti kita dan orang-orang akan mendapatkan manfaat dengan mengikuti teladanNya serta merefleksi kan melalui pengorbanan tertinggi dan kualitas agung Nya.

Ketika beberapa umat Buddhis melihat rupang Sang Buddha, rasa bakti dan kebahagiaan muncul dalam pikirannya. Rasa bakti atau kebahagiaan ini merupakan suatu objek yang menciptakan pikiran luhur di dalam pikiran seorang Buddhis yang berbakti. Rupang Sang Buddha ini juga membantu orang untuk melupakan kerisauan mereka, kekecewaan dan masalah-masalah serta membantu mereka mengontrol pikiran mereka.

Beberapa filosof terkenal dunia, para sejarahwan dan sarjana menyimpan rupang Sang Buddha di atas meja di dalam ruang baca mereka untuk mendapatkan inspirasi kehidupan dan pemikiran yang lebih tinggi. Kebanyakan dari mereka adalah non-Buddhis. Banyak orang menghormati kedua orang tua mereka yang telah meninggal, guru, para pahlawan besar, para raja dan ratu, pemimpin nasional dan politik serta orang-orang lain yang disayangi dengan menyimpan gambar-gambar untuk menghargai memori mereka.

Mereka mempersembahkan bunga untuk menyatakan perasaan kasih, terima kasih, menyembah berhala merupakan perbuatan, penghormatan dan bakti mereka. Mereka menyembah berhala merupakan perbuatan kembali kualitas mulia dan meng ingatnya dengan bangga atas pengorbanan dan pelayan an yang diberikan oleh para tokoh ketika mereka masih hidup.

Orang-orang juga mendirikan patung untuk mengenang beberapa tokoh pemimpin politik tertentu yang telah membantai berjuta nyawa yang tidak bersalah. Karena kejahatan dan ketamakan mereka untuk mendapatkan kekuasaan, mereka menjajah negara-negara yang miskin dan menciptakan penderitaan, kekejaman dan kesengsa raan yang tak terkira dengan tindakan perampasan.

Namun, mereka masih dianggap sebagai pahlawan besar; dan peringatan tanda jasa diselenggara kan untuk menghormati mereka, dan memberikan bunga-bunga di atas makam mereka.

menyembah berhala merupakan perbuatan

Jika perbuatan tersebut dapat menyembah berhala merupakan perbuatan narkan menyembah berhala merupakan perbuatan sebagian orang mengejek umat Buddha sebagai pemuja berhala ketika mereka memberikan penghormatan kepada guru agama mereka yang telah melayani umat manusia tanpa merugikan yang lain dan yang telah menaklukan seluruh dunia melalui kasih sayang, belas kasih dan kebijaksanaanNya! Apabila sebuah rupang sama menyembah berhala merupakan perbuatan tidak penting bagi manusia dalam menjalankan agama maka simbol-simbol agama tertentu dan tempat-tempat beribadat juga tidak diperlukan.

Umat Buddha dikecam oleh beberapa orang sebagai penyembah batu. Tetapi menyembah batu tidak berbahaya dan lebih terhormat dibandingkan dengan umat agama lain yang melakukan pelemparan batu.

Bagaimanapun juga, untuk mempraktekkan ajaran-ajaran Sang Buddha, keberadaan rupang Sang Buddha bukanlah suatu keharusan. Seorang Buddhis dapat mem praktekkan agama mereka tanpa rupang Sang Buddha; mereka bisa melakukan hal ini karena Sang Buddha tidak menganjurkan manusia untuk mengembangkan pengkultusan individu ,dimana menurut ajaran Sang Buddha, seorang Buddhis tidak sepatutnya bergantung kepada orang lain bahkan kepada Sang Buddha sendiri untuk keselamatan dirinya.

Semasa kehidupan Sang Buddha, ada seorang bhikkhu bernama Wakkali. Bhikkhu ini selalu duduk di hadapan Sang Buddha dan mengagumi keindahan ciri-ciri fisik Sang Buddha. Wakkali mengatakan bahwa ia mendapat kebahagiaan dan inspirasi yang besar dengan mengagumi keindahan Sang Buddha. Sang Buddha menjawab, “Engkau tidak dapat melihat Buddha yang sebenarnya dengan hanya melihat tubuh fisiknya saja.

Mereka yang melihat ajaranku maka melihat Aku”. Aspek yang paling penting sekali dalam Buddhisme adalah mempraktekkan nasihat-nasihat yang diberikan oleh Sang Buddha. Di dalam hal ini, tidak ada bedanya antara seorang Buddhis yang memberi penghormatan kepada Sang Buddha dengan yang tidak. Tetapi bagi beberapa umat, penghormatan ini sangat penting. Bagaimanapun juga, Sang Buddha tidak pernah menga takan bahwa Beliau mengharapkan penghormatan. Juga dalam kotbah terakhirNya, Maha Parinibana Sutta, Sang Buddha menasihati para siswa-Nya bahwa jika mereka ingin menghormati Sang Buddha setelah Ia tiada, mereka boleh membangun pagoda-pagoda untuk menyimpan relik tubuhNya.

Nasihat ini sesuai dengan kebiasaan di India pada masa itu,kebiasaan membangun pagoda-pagoda untuk menyimpan relik orang-orang yang suci. Relik ini disimpan sebagai suatu kenangan, sebagai tanda penghormatan kepada orang-orang suci.

Pada saat yang sama, Sang Buddha sendiri tidak menganjurkan dan juga tidak melarang para siswaNya untuk mendirikan Rupang-Nya setelah Ia meninggal dunia. Ide untuk menciptakan Rupang Buddha datang dari pengikut-pengikutNya yang ingin memuja pemim pin terkasih mereka dan bertujuan mendapat inspirasi dari pribadi Sang Buddha yang luhur.

Mereka juga menggunakannya untuk menyimpan sebagian dari relik Sang Buddha di dalam Rupang tersebut setelah didirikan. Fa-hsien, yang mengunjungi India pada akhir abad keempat menyebutkan dalam catatannya bagaimana rupang Sang Buddha yang pertama didirikan. Bagaima napun, kitab-kitab suci Buddhis tidak menyebut apa-apa tentang pengamatan Fa-hsien tsb. Meskipun demikian, mitologi mencatat sbb: Pada suatu ketika, Sang Buddha menghabiskan waktu selama tiga bulan di surga menga jarkan Abhidhamma atau Dhamma Yang Tertinggi.

Selama kepergian Beliau, orang-orang yang pergi ke vihara merasa sangat tidak gembira kerena mereka tidak dapat melihat Sang Buddha. Mereka mulai mengeluh. Siswa Utama, Yang Mulia Sariputta, pergi menemui dan melaporkan situasi itu kepada Sang Buddha.

Sang Buddha menasehati Beliau untuk mencari seseorang yang dapat membuat rupang yang sama persis dengan diri Sang Buddha. Sariputta pun kembali dan menemui raja untuk meminta kebaikannya untuk menolong mencari seseorang yang dapat membuat tiruan Sang Buddha.

Tidak lama kemudian, orang yang dicari ditemukan; dia mengukir rupang dari kayu cendana. Setelah rupang itu diletakkan di vihara, orang-orang menjadi sangat gembira.

Sejak saat itu, selanjut nya, menurut Fa-hsien, orang-orang mulai meniru replika Sang Buddha tersebut. Tetapi hal yang sukar untuk menemukan bukti didalam literatur Buddhis dan sejarah untuk mendukung kebera daan Rupang Sang Buddha di India sampai hampir 500 tahun setelah Sang Buddha mangkat. Pada masa itu, para umat biasanya menghormati Sang Buddha dengan menyimpan bunga teratai atau gambar telapak kaki Sang Buddha.

Nampaknya, pada awalnya, beberapa umat Buddha tidak menyukai membuat rupang Sang Buddha, mengingat memungkinkan terjadinya penyimpangan terhadap ciri-ciri penting Sang Buddha.

Banyak para sejarahwan mengklaim bahwa rupang Sang Buddha dibuat pertama kali di India pada masa pendudukan bangsa Yunani. Orang-orang Yunani membantu dan menganjurkan orang-orang India dalam seni membangun rupang Sang Buddha.

Sejak saat itu, orang-orang di berbagai negara mulai mendirikan rupang Sang Buddha. Rupang-rupang di berbagai negara diukir dan dibentuk mengikut gaya dan seni yang menggambarkan ciri-ciri fisik orang-orang di negara tersebut. Di dalam negara Buddhis itu sendiri, gaya dari rupang Buddha-pun berkembang menjadi beragam bentuk dan gaya disesuaikan dengan perubahan jaman dan sejarah.

“MataNya tertutup, tetapi ada suatu kekuatan spiritual yang keluar dari matanya dan energi vital memenuhi strukturnya.

Banyak jaman bergulir,dan nampaknya Sang Buddha tidak pergi terlalu menyembah berhala merupakan perbuatan suaraNya berbisik di telinga kita dan memberitahu kita supaya jangan lari dari perjuangantetapi menghadapinya dengan pandangan tenang, dan melihat peluangpeluang besar dalam hidup untuk terus berkembang dan maju.” Semasa Perang Dunia Kedua, General Ian Hamilton menemukan sebuah rupang Buddha di dalam sebuah reruntuhan vihara di Burma.

Ia mengirim rupang tersebut ke Winston Churchill, yang pada waktu itu menjadi Perdana Menteri Inggris dengan satu pesan: “Ketika anda khawatir, lihatlah rupang yang wajahnya begitu tenang dan tersenyumlah kepada kekhawatiran anda.” Ketenangan dan ketentraman rupang Sang Buddha telah menjadi konsep umum kecantikan dari keindahan yang ideal.

Rupang Sang Buddha merupakan sesuatu yang sangat berharga, aset kebudayaan Asia yang paling berharga dan dipunyai oleh banyak orang. Tanpa rupang Buddha, Asia hanya akan dikenali sebagai suatu kawasan geografi saja mespikun semakmur apapun. Umat Buddhis menghormati patung Sang Buddha sebagai monumen keagungan, kebijaksanaan, yang paling sempurna, dan penuh belas kasih dari seorang guru agama yang pernah hidup di dunia ini.

Rupang ini diperlukan untuk mengingat kembali Sang Buddha dan kualitas agungNya yang memberikan inspirasi kepada jutaan manusia dari generasi ke generasi dalam dunia yang berbudaya. Rupang ini menolong mereka berkonsentrasi kepada Buddha. Mereka merasakan kehadiran Sang Guru di dalam pikiran mereka, dan dengan demikian menjadikan penghormatan mereka lebih jelas dan bermakna. Ketika anda memberi penghormatan kepada Sang Buddha, anda akan mendapat banyak manfaat apabila anda bermeditasi beberapa saat dengan memfokuskan pikiran anda pada kualitas agung dan mulia Sang Buddha.

Jika anda memikirkan Guru Agung, anda dapat menyempurnakan diri anda melalui bimbingan-Nya. Oleh karena itu, bukan hal yang tidak wajar penghormatan ini terekspresikan di dalam bentuk seni dan pahatan yang terbaik dan terindah di dunia. “Kita juga perlu memberi penghormatan meskipun pemujaan itu diarahkan bukan untuk seseorang, karena sebenarnya semua personalitas merupakan mimpi, tetapi pemujaan itu diarahkan kepada kesesuaian hati kita.

Dengan itu, kita dapat menemui kekuatan baru menyembah berhala merupakan perbuatan membangun mahligai kehidupan kita sendiri, membersihkan hati kita sampai layak untuk membawa rupang tersebut di dalam tempat perlindungan kasih sayang yang mendalam. Di atas altarnya, kita semua perlu mempersembahkan hadiah bukan cahaya yang padam, bunga-bunga yang layu, menyembah berhala merupakan perbuatan tindakan kasih sayang, pengorbanan dan tanpa keakuan terhadap semua yang berada di sekeliling kita.” Anatol Francedi dalam autobiografinya menulis, “Di awal bulan Mei, 1890, kesempatan membawaku untuk mengunjungi sebuah musium di Paris.

Di sana berdiri dewa-dewa Asia dalam kesunyian dan kesederhanaan, pandanganku jatuh pada patung Sang Buddha yang memberi isyarat kepada penderitaan manusia untuk mengembangkan pemahaman dan belas kasih. Jika ada Tuhan yang pernah berjalan di atas muka bumi ini, saya merasakan Beliaulah (Buddha) orangnya.

menyembah berhala merupakan perbuatan

Saya merasa seperti berlutut dan berdoa kepadaNya seperti kepada Tuhan.” “Rupang Buddha ini merupakan suatu bagian seni yang sungguh istimewa. Saya tidak mengetahui hasil karya seni lainnya yang sejajar dengan rupang Buddha dengan mata dari batu safir, dimana sepengetahuan saya tidak ada karya seni yang dapat mengekspresikan dengan sempurna ide suatu agama, seperti wajah rupang Buddha yang mengekspresikan ide Buddhisme.” Selanjutnya ia berkata, ”Tidak perlu membaca banyak buku tentang Buddhisme atau berjalan bersama dengan para professor yang mempelajari agama-agama Timur atau belajar dengan para Bhikkhu.

Seseorang harus datang ke sini, berdiri di hadapan rupang Buddha ini dan biarkan pancaran mata birunya menembus kehidupannya, dan dia akan memahami apa itu Buddhisme.” Apakah yang membuat pesan-pesan Sang Buddha begitu diminati oleh orang yang telah mengembangkan intelektual mereka? Jawabannya mungkin terlihat pada ketentraman rupang Sang Buddha.

Bukan hanya dalam warna dan garis, manusia mengekspresikan keyakinannya terhadap Sang Buddha dan ajaranNya. Tangan manusia menempa logam dan batu memproduksi rupang Buddha yang merupakan salah satu menyembah berhala merupakan perbuatan terbesar dari kejeniusan manusia. Jika umat Buddha benar-benar ingin melihat kehadiranSang Buddha dalam segala keagungan dan keindahanNya, mereka harus menerjemahkan ajaran-ajaranNya ke dalam tindakan dan situasi praktis pada kehidupan sehari-hari mereka.

Dengan mempraktekkan ajaran-ajaranNya mereka dapat mendekatkan diri dan merasakan pancaran yang luar biasa dari kebijaksanaan dan belas kasihNya yang tidak kunjung padam. KehidupanNya begitu indah, hatiNya begitu suci dan baik, pikiranNya begitu dalam dan tercerahkan, kepribadianNya begitu menginspirasikan dan tanpa ke-“aku’’-an ,kehidupan yang sangat sempurna, hati yang sangat berbelas kasih, pikiran yang sangat tenang, kepribadian yang sangat tentram yang patut di hormati, layak diberi penghormatan dan layak diberi persembahan.

Sang Buddha yang merupakan kesempurnaan tertinggi dari umat manusia, dan keindahan dari kemanusiaan. • Album Gambar (6) • Artikel Buddhis (261) • Artikel Umum (23) • Asal-mula (12) • Buddha Dhamma (193) • BUKU PINTAR AGAMA BUDDHA (31) • CERITA DARI TIONGKOK (14) • Dhammapada Atthakatha (268) • Emoticon and Smileys (14) • FILSAFAT/FILOSOFI (28) • HUMOR BUDDHIS (11) • Kata-kata Bijak Buddhisme (10) • Kisah-kisah Buddhisme (46) • Kisah-Kisah Motivasi/Inspirasi (50) • KITAB SUCI TIPITAKA (2) • Kumpulan Syair Sutta Pilihan (5) • Meditasi (5) • Paritta (18) • Renungan (77) • Riwayat Para Buddha dan para siswa-siswinya (4) • Serba-serbi (8) • SUTTA (42) • SYAIR (5) • Tipitaka : menyembah berhala merupakan perbuatan Digha Nikaya (1) • Tipitaka : - Majjhima Nikaya (1) • Video (3) • Wallpaper dan Poster Buddhis (133) • ZEN (39) • ► 2020 (9) • ► Juni (1) • ► Mei (8) • ► 2019 (16) • ► Agustus (7) • ► April (4) • ► Maret (5) • ► 2018 (5) • ► Februari (5) • ► 2016 (5) • ► Oktober (5) • ► 2015 (45) • ► Juni (6) • ► Mei (4) • ► April (26) • ► Januari (9) • ► 2014 (146) • ► Desember (17) • ► Oktober (19) • ► September (16) • ► Agustus (6) • ► Juli (12) • ► Mei (19) • ► April (7) • ► Maret (29) • ► Februari (1) • ► Januari (20) • ► 2013 (248) • ► Desember (19) • ► November (4) • ► Oktober (6) • ► September (30) • ► Agustus (27) • ► Juli (40) • ► Juni (24) • ► Mei (1) • ► Maret (15) • ► Februari (2) • ► Januari (80) • ▼ 2012 (398) • ► Desember (50) • ► November (42) • ► Oktober (31) • ► September (41) • ► Agustus (50) • ► Juli (38) • ► Juni (3) • ► Mei (49) • ► April (8) • ▼ Maret (30) • Manfaat Memiliki Buddha Rupang di Rumah • Rupang Sang Buddha • Arti Kata Boddhisattva • Monoteisme • Teisme • Skeptisisme • Panteisme • Paganisme • Nihilisme • Nonteisme • Mistisisme • Misoteisme • Monastisisme • Metafisika • Gnostikisme • Fatalisme • Dinamisme • Atheisme • Antiteisme • Agnostikisme • Penyembah Berhala Dalam Pandangan Agama Buddha • Menghargai Kehidupan Makhluk Lain • Dimendi Alam Kehidupan Yang Berbeda • Kemelekatan • Kemelekatan (Jubah dan Kutu) • Jangan meremehkan perbuatan yang salah • Asal-usul jubah bhikkhu • Ego menjadi sang pembatas • Ajaran yang dapat menghantar makhluknya ke tingkat.

• Renungan tentang kematian • ► Februari (28) • ► Januari menyembah berhala merupakan perbuatan • ► 2011 (323) • ► Desember (28) • ► Oktober (54) • ► September (41) • ► Agustus (4) • ► Juli (5) • ► Juni (16) • ► Mei (46) • ► April (63) • ► Maret (33) • ► Februari (4) • ► Januari (29) • ► 2010 (89) • ► Desember (1) • ► November (14) • ► Oktober (1) • ► Juli (27) • ► Juni (5) • ► Mei (11) • ► April (23) • ► Maret (2) • ► Februari (2) • ► Januari (3) • ► 2009 (34) • ► Desember (2) • ► Oktober (4) • ► September (28)
SEBELUM Rasulullah SAW hadir di muka bumi, jazirah Arab berada dalam kondisi kemusyrikan.

menyembah berhala merupakan perbuatan

Kebanyakan orang menyembah berhala. Hingga kemudian, Allah SWT mengutus Rasulullah SAW dan memberikan balabantuan dengan pasukan-nya. Sehingga tegaklah agama Islam dan hancurnya berhala-berhala yang sebelumnya jadi sesembahan. Akan tetapi, bersamaan dengan semakin dekatnya hari kiamat, dan semakin jatuhnya manusia dari agama serta ilmu pengetahuan, sebagian umt manusia ada yang kembali menyembah berhala.

Fenomena ini merupakan salah satu tanda kiamat. Mengutip buku Kiamat Sudah Dekat? Karya Dr. Muhammad Al-‘Areifi, Abu Hurairah RA menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hari kiamat belum akan terjadi hingga bokong wanita-wanita suku Daus bergoyang di hadapan berhala Dzul Khlashah.” Maksud hadis ini adalah bahwa kelak menjelang hari kiamat, para wanita suku Daus akan bergoyang-goyang mengelilingi berhala Dzul Khalashah.

Mereka kembali kafir dan menyembah berhala-berhala. Asalnya, wilayah domisili suku Daus terletak di arah Barat laut Jazirah Arab. Lalu apa alasan atau latar belakang manusia bisa menyembah berhala yang secara logika tidak bisa berbuat apa-apa? Mengutip laman Republika, dalam tafsir Surat Al-An’am ayat 100 dijelaskan bahwa orang-orang musyrik yang menyembah berhala karena mereka mengikuti bisikan jin dan setan.

Padahal mereka sudah mengetahui jin adalah ciptaan Allah SWT, maka seharusnya mereka sadar hanya Allah yang wajib disembah dan diikuti perintah-Nya. وَجَعَلُوْا لِلّٰهِ شُرَكَاۤءَ الْجِنَّ وَخَلَقَهُمْ وَخَرَقُوْا لَهٗ بَنِيْنَ وَبَنٰتٍۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يَصِفُوْنَ ࣖ Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin sekutu-sekutu Allah, padahal Dia yang menciptakannya (jin-jin itu), dan menyembah berhala merupakan perbuatan berbohong (dengan mengatakan), “Allah mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan,” tanpa (dasar) pengetahuan.

Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka gambarkan. (QS Al-An’am: 100). Ayat ini dalam penjelasan Tafsir Kementerian Agama menerangkan, Allah menjelaskan orang-orang musyrik menjadikan jin sekutu bagi Allah. Dikatakan demikian karena orang-orang musyrik itu meskipun kenyataannya menyembah berhala-berhala, namun pada hakikatnya mereka berbuat demikian karena mengikuti bisikan jin dan setan.

Allah berfirman, “Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah inatsan (berhala), dan mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka, yang dilaknati Allah, dan (setan) itu mengatakan, ‘Aku pasti akan mengambil bagian tertentu dari hamba-hamba-Mu, dan pasti kusesatkan mereka, dan akan kubangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan kusuruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak, Loading.

(lalu mereka benar-benar memotongnya), dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah, (lalu mereka benar-benar mengubahnya)’. Barang siapa menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sungguh, dia menderita kerugian yang nyata.” (QS An-Nisa: 117-119) Penyebab Manusia Menyembah Berhala Foto: Mexperience Allah menjelaskan kesalahan perbuatan mereka karena mereka sebenarnya telah mengetahui bahwa yang menciptakan jin-jin itu adalah Allah. Itulah sebabnya perbuatan mereka dicela. Celaan Allah terhadap mereka itu adalah seperti celaan Nabi Ibrahim terhadap kaumnya.

Allah berfirman, “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS As-Shaffat: 95-96) Allah mencela pula perbuatan mereka, karena mereka telah berbohong dengan mengatakan bahwa Allah mempunyai anak laki-laki dan anak-anak perempuan. Tuduhan mereka bahwa Allah mempunyai anak laki-laki adalah seperti tuduhan orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang Yahudi berkata, Uzair putra Allah, dan orang-orang Nasrani berkata, Al-Masih putra Allah.” (QS At-Taubah: 30) Penyebab Manusia Menyembah Berhala Ilustrasi foto: Cyber Tauhid BACA JUGA: Berikut Ayat-ayat Al-Quran tentang Hari Kiamat Sedangkan tuduhan mereka bahwa Allah mempunyai anak perempuan diterangkan dalam firman Allah, “Maka tanyakanlah (Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Makah), ‘Apakah anak-anak perempuan itu untuk Tuhanmu sedangkan untuk mereka anak-anak laki-laki?

Atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan sedangkan mereka menyaksikan(nya)?’ Ingatlah, sesungguhnya di antara kebohongan mereka mengatakan, ‘Allah mempunyai anak.’ Dan sungguh mereka benar-benar pendusta.” (QS As-Shaffat: 149-152) Mereka melemparkan tuduhan itu menyembah berhala merupakan perbuatan tidak mempunyai alasan sedikit pun.

Bahkan perkataan mereka menunjukkan kebodohan mereka sendiri atau semata-mata menuruti hawa nafsu. Di akhir ayat ini Allah membersihkan diri-Nya dari tuduhan-tuduhan mereka, bahwa Dia Maha Suci dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan, yaitu bahwa Allah tidak mempunyai serikat dan tidak mempunyai anak.

Wallahu a’lam. [] Jawaban Menurut sudut pandang Kristen, penyembah berhala adalah mereka yang terlibat dalam upacara agama, tindakan, atau praktek di luar agama Kristen. Sama-halnya, umat Yahudi dan Muslim pun menggunakan istilah penyembah berhala dalam merujuk kepada umat beragama lainnya. Adapun mereka yang menggunakan istilah penyembah berhala sebagai keyakinan-keyakinan lainnya di luar agama Buddha, Hindu, Yudaisme, dan Kristen; adapun mereka yang memiliki paham bahwa paganisme adalah orang yang tidak mempunyai agama sama sekali.

Paganisme dapat merujuk kepada politeisme atau penyembahan lebih dari satu allah, sebagaimana kasusnya kerajaan Romawi jaman dahulu. Seorang pemeluk paganisme dapat dianggap sebagai orang yang, dalam kelakuannya, tidak beragama dan menikmati hedonisme dan keduniawian; seseorang yang menikmati kesenangan sensual; seseorang yang memuaskan hasrat pribadinya. Istilah modern lain yang ditemui, yakni neo-paganisme, merujuk kepada bentuk paganisme kontemporer seperti Wicca, Druid, dan Gwyddon. Praktek paganisme modern tidak begitu berbeda dengan paganisme yang lampau karena mereka berpusat pada hedonisme - gratifikasi sensual dan pemuasan diri dan pencarian kesenangan dan kepuasan di atas segalanya.

Pada masa lampau, upacara seksual merupakan bagian terbesar dalam kepercayaan paganisme. Perjanjian Lama membahas agama menyimpang ini dalam ayat Ulangan 23:17, Amos 2:7-8, dan Yesaya 57:7-8. Meskipun cukup ragam dan bervariasi dalam kepercayaan dan prakteknya, pemeluk paganisme sering sepakat dalam beberapa keyakinan pokok.

Sebagai contoh: • Dunia jasmani ini tempat yang baik, tempat yang harus dinikmati oleh semua orang. • Semua orang dianggap sebagai bagian dari Ibu Pertiwi. • Keilahian mengungkapkan dirinya dalam setiap sisi dunia.

• Setiap makhluk, baik manusia atau binatang, berasal dari Sang Khalik. Oleh karena itu, semua orang itu dewa dan dewi. • Sebagian besar keyakinan paganisme tidak mempunyai sosok guru atau mesias.

• Doktrin digantikan oleh tanggung-jawab pribadi seseorang. • Siklus matahari dan bulan penting dalam penjadwalan penyembahan paganisme. Bentuk paganisme apapun adalah doktrin yang palsu. Paulus membahas penyimpangan kebenaran ini dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Roma 1:22-27). Orang yang disindir oleh Paulus bersifat duniawi dan mementingkan materi, bukan menyembah Sang Pencipta melainkan hal-hal yang diciptakan.

Mereka menyembah pohon, binatang, dan batu, bahkan juga menodai tubuhnya dengan praktik seksual menyimpang demi mengejar kepuasan. Paulus kemudian menceritakan alasan mengapa mereka melakukan hal ini, serta akibat yang akan ditanggung: "Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas" (Roma 1:28).

Sebagian besar pemuja paganisme mengklaim mereka tidak percaya pada Setan. Akan tetapi, tidak dapat disangkal bahwa Setan mempengaruhi dan mengendalikan mereka. Meskipun dibantah, mereka menyembah dia melalui praktek duniawi dan kedagingan mereka.

Paulus menjelaskan secara sederhana bagaimana Setan berkarya dalam kehidupan orang-orang yang tidak mempunyai hubungan yang benar dengan Allah, melalui kuasa, pertanda, dusta, dan tipu muslihatnya: "Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.

Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan" (2 Tesalonika 2:9-12).

Setan itu sangat hidup dan sangat nyata dalam tindakan keyakinan paganisme. Kenyataan ini jelas pada gereja di abad pertama, dan juga pada dunia kita masa kini. Bagi umat percaya yang setia kepada Tuhan, penyembahan berhala akan jelas sebagaimana adanya - kuasa dan tipu muslihat raja dunia ini, Setan (1 Yohanes 5:19), yang "berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya" (1 Petrus 5:8).

Oleh karena itu, paganisme harus dihindari. English Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia Apakah paganisme? Apakah penyembah berhala? Bagikan halaman ini:
Daftar Isi • Definisi Menyembah Berhala Menurut Agama Kristen • Menyembah Berhala dalam Iman Kristen • 1.

Tidak Menghormati Allah • 2. Tidak Mempercayai Tuhan Allah Sendiri • 3. Tidak Peduli Kepada Allah • 4. Hanya Butuh Kekuasaan Definisi Menyembah Berhala Menurut Agama Kristen Bersamakristus.org – Arti menyembah berhala merupakan perbuatan berhala dalam iman Kristen. Berhala merupakan sebuah objek atau benda mati yang bentuknya menyerupai makhluk hidup.

Benda ini didewakan, disembah, dan dipuja. Pada zaman dahulu, berhala dianggap sebagai objek yang mampu memenuhi keinginan manusia. Zaman tersebut dikenal dengan nama zaman kebodohan dan terjadi di Timur Tengah pada masa lampau. Sebagai orang percaya tentu saja kita tidak boleh menyembah berhala apalagi menggantikan Tuhan Yesus dengan benda mati tersebut.

Sebab, Tuhan Yesus lebih besar dibanding apapun yang ada di dunia ini. Seperti yang telah kami ulas pada renungan kristen tentang berkat tuhan, menyembah berhala merupakan perbuatan bahwa hanya Tuhan yang memiliki kuasa untuk menjadikan apapun yang mustahil menjadi mungkin di dunia ini. Tapi pada kenyataannya, mungkin masih banyak orang yang mendewakan sebuah benda meski bentuknya tidak mirip makhluk hidup.

Di sini, kami akan mengulas arti penyembahan berhala dalam iman Kristen secara lebih detail. Menyembah Berhala dalam Iman Kristen Di bawah ini merupakan beberapa arti penyembahan berhala dalam iman Kristen yang dirangkum menyembah berhala merupakan perbuatan berbagai sumber. 1. Tidak Menghormati Allah Dalam Alkitab, berhala merupakan patung dewa-dewi, binatang, dan semacamnya yang disembah.

Alkitab menyebutkan penyembahan berhala menunjukkan seseorang mempercayai sosok selain Allah, mempersembahkan korban manusia, mengucurkan darah ke tanah demi dewa-dewi tersebut, bahkan lacur merupakan bakti untuk menghormati dewi Ishtar (1Raj 14:24; 18:28; Yer 19:3-5; Hos 4:13, 14; Am 2:8). Baca juga pengertian kafir menurut Kristen. 2. Tidak Mempercayai Tuhan Allah Sendiri Orang yang sudah memeluk agama Kristen dan mempercayai Allah Bapa tetap masih mempersembahkan makanan dan minuman serta berdoa kepada nenek moyang.

Mereka juga sering memanggil roh-roh orang yang sudahm eninggal dan meminta pertolongan kepada dukun, yang jelas-jelas meminta pertolongan kepada roh-roh lain selain Tuhan. Perbuatan tersebut juga termasuk penyembahan berhala, karena seseorang yang melakukan hal ini jauh lebih mempercayai kekuatan roh nenek moyang daripada Roh Kudus atau Tuhan yang nyata.

Hal ini cenderung sulit dihilangkan dalam beberapa menyembah berhala merupakan perbuatan istiadat suku tertentu, karena mereka sudah mempraktekkan hal ini jauh sebelum memeluk ajaran Kristen.

3. Tidak Peduli Kepada Allah Dengki dan iri hati yang menyembah berhala merupakan perbuatan dengan ingin memiliki kepunyaan orang lain juga termasuk dalam penyembahan berhala, karena keinginannya tersebut telah melebihi keinginan untuk memuliakan Menyembah berhala merupakan perbuatan dan menjadikan Tuhan sebagai tujuan utama dalam hidup (Kol 3:5).

Intinya, melakukan menyembah berhala merupakan perbuatan berhala dalam iman Kristen segala sesuatu demi keinginan daging dan menjadikan keinginan itu lebih penting dibandingkan Tuhan adalah penyembahan berhala. 4. Hanya Butuh Kekuasaan Manusia di masa hidup ini kerap hanya mementingkan kekuasaan saja menyembah berhala merupakan perbuatan mementingkan Tuhan. Mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan kekuasaan tersebut, dan mereka terkadang melupakan bahwa semuanya berasal dari Tuhan.

Ingat, penyembahan berhala belum tentu bisa menikmati janji Tuhan kepada orang percaya, karena mereka sendiri cenderung kurang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

Dalam Kristen juga tidak ada arti penyembahan berhala. Seluruh patung yang ada di gereja merupakan nilai seni, bukan untuk disembah layaknya Allah.

Patung-patung dan ukiran-ukiran berhala tersebut dibuat untuk memperindah bait Allah, bukan untuk disembah. Contoh yang dapat kita lihat di Alkitab adalah patung kerub dalam bait Allah yang dibangun oleh Raja Salomo (1 Raj 6:23, 28, 29). Akhir Kata Mungkin cukup sampai di sini pembahasan mengenai menyembah berhala dalam iman kristen. Semoga dangan adanya ulasan tersebut kita bisa berhati-hati dengan hal tersebut apalagi jika diajak oleh orang yang tak dikenal.

Baca: • Contoh Undangan Pernikahan Agama Kristen • Lirik Lagu Rohani Kristen Bahasa Batak • Ayat Alkitab Tentang Tidur Pun Diberkati Terbaru • Ajaran Saksi Yehuwa • Cara Beribadah Agama Katolik • Ciri Ciri Saksi Yehuwa • Cara Hidup Bahagia Kristen • Ayat Alkitab Tentang Makanan • Tanggung Jawab Ayah dalam Keluarga Kristen • Makanan yang Dilarang Advent • Tata Ibadah Gereja Toraja • Ciri Ciri Agama Kristen Protestan • Pengampunan Dosa dalam Kristen
nonePenghormatan Terhadap Objek Dalam setiap agama pasti terdapat objek-objek atau simbol-simbol yang ditujukan untuk penghormatan.

Dalam Buddhisme terdapat tiga objek agama yang utama untuk tujuan tersebut, yaitu: • Saririka atau relik-relik jasmani Sang Buddha; • Uddesika atau simbol-simbol agama seperti rupang (patung, gambar) Sang Buddha dan cetiya atau pagoda; • Paribhogika atau barang-barang pribadi yang pernah digunakan oleh Sang Buddha. Sudah menjadi hal yang biasa bagi semua umat Buddha di seluruh dunia untuk memberikan penghormatan kepada objek-objek di atas.

Dan juga merupakan tradisi umat Buddha untuk membangun rupang Sang Buddha, cetiya atau pagoda pagoda serta menanam pohon Bodhi di setiap Vihara sebagai objek penghormatan keagamaan. Banyak orang salah paham dan menggangap umat Buddha sebagai penyembah berhala. Kesalahpahaman ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang ajaran Buddha serta adat istiadat dan tradisi Buddhis. Penyembahan berhala secara umum berarti mendirikan patung dewa-dewi di beberapa agama theistik dalam berbagai bentuk oleh pemeluknya untuk disembah, mencari berkah dan perlindungan serta untuk berkah kemewahan, kesehatan dan kekayaan para pemohon.

Beberapa pemohon bahkan memohon kepada patung untuk memenuhi menyembah berhala merupakan perbuatan kekuasaan pribadi walaupun kekuasaan itu diperolehi dengan cara yang salah. Mereka juga berdoa agar dosa mereka diampuni. Pemujaan terhadap rupang (gambar/patung) Sang Buddha sebenarnya berbeda dengan aspek yang diterangkan di atas. Bahkan istilah “menyembah” ini sendiri tidak sesuai dengan sudut pandang Buddhis.

“Memberi penghormatan” merupakan istilah yang lebih tepat. Umat Buddha tidak berdoa kepada patung atau berhala; apa yang mereka lakukan adalah memberi penghormatan kepada seorang guru agama yang agung yang layak diberi penghormatan.

Rupang-rupang didirikan sebagai tanda penghormatan dan penghargaan untuk pencapaian tertinggi dari Pencerahan dan kesempurnaan yang dicapai oleh seorang menyembah berhala merupakan perbuatan agama yang luar biasa. Bagi seseorang Buddhis, rupang (gambar/patung) Sang Buddha hanya merupakan suatu tanda, simbol yang membantunya mengingat Sang Buddha.

Umat Buddha berlutut dan memberi hormat kepada rupang (gambar/patung) sebenarnya memberi hormat kepada apa yang diwakili dari rupang (gambar/patung) itu. Mereka mencari keinginan duniawi dari rupang (gambar/patung) tersebut. Mereka merenung dan bermeditasi untuk mendapatkan inspirasi dari kepribadian mulia Sang Buddha.

Mereka berusaha menyamakan kesempurnaanNya dengan mengikuti ajaran-ajaran mulia Sang Buddha. Umat Buddha menghormati kebajikan dan kesucian guru agamanya yang diwakili oleh rupang (gambar/patung) tersebut. Faktanya semua penganut agama menciptakan rupang (gambar/patung) yang mewakili guru agama mereka baik dalam bentuk visual atau dalam bentuk penggambaran secara pikiran untuk penghormatan. Oleh karena itu, tidak tepat dan tidak adil untuk mengkritik dan menyatakan bahwa umat Buddha adalah penyembah berhala.

Tindakan memberi penghormatan kepada seorang yang mulia, Sang Buddha, bukanlah suatu perbuatan yang dilakukan atas dasar rasa takut atau perbuatan untuk memohon kebahagiaan duniawi.

Umat Buddha percaya bahwa perbuatan menghargai dan menghormati ciri-ciri suci yang dimiliki oleh guru agama mereka merupakan suatu perbuatan yang berpahala dan membawa berkah. Umat Buddha juga percaya bahwa mereka sendiri yang bertanggungjawab atas keselamatan diri mereka sendiri dan tidak harus bergantung kepada pihak ketiga.

Meskipun demikian, ada pihak lain yang percaya bahwa mereka bisa mendapat keselamatan mereka melalui perantaran pihak ketiga dan mereka inilah yang mengkritik umat Buddha menyembah berhala merupakan perbuatan penyembah rupang (gambar/patung) seorang yang sudah tiada lagi di dunia. Fisik seseorang bisa mengalami disintegrasi dan terurai menjadi empat unsur tetapi kebajikannya akan kekal selamanya. Seorang Buddhis menghargai dan menghormati sifat-sifat mulia ini. Oleh itu, tuduhan terus mmenerus terhadap umat Buddha sanagt disayangkan, sama sekali salah serta tidak berdasar.

Ketika kita mempelajari ajaran Sang Buddha, kita dapat memahami Sang Bhagava telah mengatakan bahwa Sang Buddha hanyalah seorang guru yang telah menunjukkan jalan yang benar untuk keselamatan dan berpulang kembali kepada penganutnya untuk menjalani kehidupan beragama dan menyucikan pikiran mereka untuk mendapatkan keselamatan tanpa bergantung kepada guru agama mereka. Menurut Sang Buddha, tidak ada tuhan atau guru agama manapun yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga atau neraka.

Manusia menciptakan surga dan nerakanya sendiri melalui pikiran, tindak-tanduk serta perkataan mereka sendiri. Oleh karena itu, berdoa kepada pihak ketiga untuk keselamatan diri tanpa menyingkirkan pikiran jahat merupakan satu perbuatan yang sia-sia. Namun begitu, ada beberapa orang termasuk umat Buddha dalam menyembah berhala merupakan perbuatan sembahyang tradisonal di hadapan rupang (gambar/patung) akan mencurahkan masalah-masalah mereka, nasib malang yang dialami serta kesulitan yang dihadapi dan memohon pertolongan Sang Buddha untuk membantu mereka menyelesaikan masalah-masalah tersebut.

Walaupun perbuatan tersebut bukan menyembah berhala merupakan perbuatan praktik Buddhis yang sebenar, tetapi perbuatan demikian dapat mengurangi ketegangan emosi, memberi inspirasi kepada pemohon untuk mendapatkan keberanian dan ketetapan hati untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.

Hal ini juga umum dilakukan dibeberapa agama lain. Tetapi bagi mereka yang dapat memahami sebenarnya penyebab dasar dari permasalahan mereka, mereka tidak membutuhkan tindakan seperti itu. Ketika umat Buddha menghormati Sang Buddha, mereka menghormatiNya dengan malafalkan kalimat-kalimat yang memuliakan kebajikan murniNya. Kalimat-kalimat ini bukanlah doa-doa dalam hal meminta kepada tuhan atau dewa untuk menghapus dosa mereka.

Kalimat-kalimat ini hanya bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada seorang Guru Agung yang telah mencapai Pencerahan dan menunjukkan cara hidup yang benar untuk kebaikan manusia. Umat Buddha menghormati guru agama mereka atas dasar rasa berterima kasih sedangkan penganut agama lain berdoa dan membuat permohonan untuk mendapatkan keuntungan dan manfaat bagi mereka. Sang Buddha juga menasihati kita untuk “menghormati mereka yang pantas dihormati.” Oleh karena itu, seorang Buddhis boleh mengakui dan menghormati guru agama manapun yang pantas dan layak dihormati.

Di tempat puja bakti, umat Buddha melaksanakan meditasi untuk melatih pikiran dan disiplin diri. Untuk tujuan meditasi, sebuah objek diperlukan; tanpa suatu objek untuk dipegang, tidaklah mudah untuk berkonsentrasi. Umat Buddha kadangkala menggunakan rupang (gambar/patung) Sang Buddha sebagai objek dimana mereka dapat berkonsentrasi dan mengontrol pikiran mereka.

Di antara banyak objek meditasi, objek visual (yang bisa dilihat dengan nyata) memiliki efek yang lebih baik dalam pikiran. Di antara lima panca-indera, objek yang kita tangkap melalui kesadaran penglihatan (mata) memiliki pengaruh lebih besar pada pikiran dibanding dengan objek-objek yang ditangkap melalui kesadaran indera lainnya.

Indera penglihatan dapat mempengaruhi pikiran lebih dari indera lainnya. Oleh karena itu, objek yang dapat ditangkap oleh mata membantu pikiran untuk konsentrasi secara lebih mudah dan lebih baik. Gambar atau bentuk adalah bahasa bawah sadar ( sub-conscious). Jika demikian, rupang (gambar/patung) Sang Buddha tereflesikan dalam pikiran seseorang sebagai penjelmaan seorang yang sempurna, refleksi ini akan menembus pikiran bawah sadar seseorang dan jika cukup kuat, secara otomatis akan bertidak sebagai pengerem keinginan jahat.

Sebagai suatu objek visual, rupang (gambar/patung) Buddha mempunyai dampak yang baik dalam pikiran; perenungan akan pencapaian dari Sang Buddha dapat menghasilkan kegembiraan, kesegaran pikiran dan menghilangkan ketegangan, keresahan dan frutasi di dalam diri seseorang. Salah satu tujuan dalam meditasi “ Buddha – nussati” (Perenungan Terhadap Buddha), menyembah berhala merupakan perbuatan untuk menciptakan rasa bakti dan keyakinan terhadap Sang Buddha dengan menyadari dan menghargai keagungan Beliau.

Oleh karena itu, “menyembah” rupang (gambar/patung) Sang Buddha, dimana tidak terdapat doa permohonan, sumpah-sumpah atau ritual tidak bisa dianggap sebagai menyembah berhala, tetapi sebagai suatu bentuk penghormatan yang ideal. Penghormatan Beberapa kalimat yang dibacakan oleh umat Buddha untuk mengenang Guru Agung mereka sebagai tanda penghormatan dalam rasa terima kasih dan dalam pujian kepada Sang Buddha berbunyi seperti berikut: Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa Terpujilah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Pencerahan Sempurna.

Selanjutnya mereka membaca kalimat yang menjelaskan ciri-ciri agung dan kebajikan Sang Buddha seperti berikut: “Iti pi so Bhagava Araham Samma sambuddho vijja carana–sampanno Sugato Lokavidu Anuttaro Purisa dammasarathi Sattha Devamanussanam Buddho Bhagava ti” Keseluruhan kalimat ini di dalam bahasa Pali. Jika anda tidak terbiasa dengan bahasa ini, anda dapat melafalkan kalimat tersebut dalam berbagai bahasa yang anda ketahui. Terjemahannya di dalam bahasa Indonesia seperti menyembah berhala merupakan perbuatan “Demikianlah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna: Sempurna pengetahuan serta tindak–tandukNya, Sempurna menempuh Sang Jalan (ke Nibbana), Pengenal segenap alam, Pembimbing yang tiada taranya, Guru para dewa menyembah berhala merupakan perbuatan manusia, Yang SadarYang Patut Dimuliakan” Beberapa kalimat yang dibacakan oleh umat Buddha untuk mengenang Guru Agung mereka sebagai tanda penghormatan dalam rasa terima menyembah berhala merupakan perbuatan dan dalam pujian kepada Sang Buddha berbunyi seperti berikut: Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa Terpujilah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Pencerahan Sempurna.

Selanjutnya mereka membaca kalimat yang menjelaskan ciri-ciri agung dan kebajikan Sang Buddha seperti berikut: Keseluruhan kalimat ini di dalam bahasa Pali. Jika anda tidak terbiasa dengan bahasa ini, anda d melafalkan kalimat menyembah berhala merupakan perbuatan dalam berbagai bahasa yang anda ketahui. Terjemahannya di dalam bahasa Indonesia seperti berikut: Sebuah Kisah Buddhis Ada sebuah kisah yang akan membantu kita memahami mengapa rupang (gambar/patung) Sang Buddha penting untuk memberi inspirasi pikiran kita serta mengenang Sang Buddha dalam pikiran kita.

Kisah ini terdapat di dalam kitab suci Buddhis tetapi tidak di dalam Tipitaka Pali. Beberapa ratus tahun setelah Sang Buddha mangkat, ada seorang bhikkhu yang taat di India bernama Upagupta.

Beliau adalah penyebar agama yang paling popular pada masa itu. Setiap kali Beliau menyampaikan ceramah Dhamma, beribu–ribu orang akan datang mendengarkan ceramah Dhamma yang disampaikannya. Pada menyembah berhala merupakan perbuatan hari, Mara, si penggoda, merasa iri hati dengan kemasyhuran Yang Mulia Upagupta. Mara mengetahui bahwa kemasyhuran Upagupta membantu penyebaran ajaran Sang Buddha. Mara tidak menyukai melihat perkataan Sang Buddha memenuhi pikiran dan hati banyak orang.

Mara membuat rencana untuk menghentikan orang-orang orang mendengarkan ceramah-ceramah Upagupta. Suatu hari, ketika Upagupta memulai ceramahnya, Mara mengadakan suatu pertunjukan bersebelahan dengan tempat dimana Upagupta berkotbah. Sebuah pentas yang indah muncul dengan tiba–tiba. Terdapat gadis-gadis penari yang cantik dan musisi yang lincah. Orang-orang segera melupakan ceramah Upagupta dan beralih ke pertunjukkan untuk menikmati pernampilannya.

Upagupta memperhatikan orang-orang perlahan-lahan meninggalkannya. Kemudian Beliau juga memutuskan untuk bergabung dalam kerumunan. Setelah itu ia memutuskan untuk memberikan pelajaran kepada Mara. Ketika pertunjukkan itu berakhir, Upagupta menghadiahkan sebuah kalung bunga kepada Mara.

“Kau telah menyusun suatu pertunjukkan yang luar biasa,“ kata Yang Mulia Upagupta. Mara tentu saja merasa senang dan bangga dengan pencapaiannya. Dengan sukacitanya, Mara menerima kalung bunga dari Upagupta dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Tiba–tiba kalung bunga itu berubah menjadi lilitan menyerupai ular. Perlahan-lahan lilitan itu menjadi semakin ketat dan mencekik leher Mara. Lilitan itu mencengkram lehernya begitu sakitnya, sehingga ia mencoba menarik lilitan itu hingga putus. Walau seberapa kuat Mara menariknya, ia tidak bisa melepaskan lilitan itu dari lehernya.

Ia pergi mencari Sakka untu membuka lilitan itu. Sakka juga tidak bisa melepasnya. “Saya tidak dapat melepaskan lilitan ini,” kata Sakka. “Pergilah dan temui Maha Brahma yang paling kuat.” Lalu, Mara pun pergi menemui Maha Brahma dan meminta pertolongannya; tapi Maha Brahma juga tidak bisa berbuat apapun. “Saya tidak dapat melepaskan lilitan ini, satu-satunya orang yang dapat melepaskan lilitan ini adalah orang yang memakaikannya kepadamu,” kata Maha Brahma.

Lalu, Mara terpaksa kembali ke Yang Mulia Upagupta. “Tolong bukakan lilitan ini; ini sangat menyakitkan,” Mara memohon. “Baiklah, saya akan melakukannya tetapi dengan dua kondisi,” kata Upagupta.

“Kondisi pertama yaitu kau harus berjanji untuk tidak mengganggu para penganut di masa depan. Kondisi kedua yaitu kau harus menunjukkan kepadaku wujud Sang Buddha yang sebenarnya. Karena saya tahu engkau pernah melihat Sang Buddha dalam beberapa kesempatan, tapi saya tidak pernah melihatNya.

Saya ingin melihat wujud sebenarnya dari Sang Buddha sama persis, dengan 32 tanda istimewa yang terdapat pada fisikNya.” Mara merasa sangat gembira. Ia setuju dengan Upagupta. “Tapi satu hal”, pinta Mara. “Jika saya merubah diri saya menjadi rupa Sang Buddha, kau harus berjanji untuk tidak akan menyembah saya kerena saya bukan orang suci sepertimu.” “Saya tidak akan menyembahmu,” janji Upagupta. Tiba-tiba Mara merubah dirinya menjadi rupa yang terlihat persis sama seperti Sang Buddha.

Ketika Upagupta melihat rupa itu, pikirannya dipenuhi dengan inspirasi besar; rasa baktinya muncul dari dalam hatinya. Dengan tangan beranjali, dengan segera Beliau menyembah figur Buddha itu. “Kau telah melanggar janjimu,” teriak Mara. “Engkau berjanji tidak akan menyembah saya. Sekarang, kenapa kau menyembah saya?” “Saya tidak menyembahmu. Kau harus memahami saya sedang menyembah Sang Buddha,” kata Yang Mulia Upagupta. Berdasarkan kisah ini, kita dapat memahami mengapa rupang (gambar/patung) Sang Buddha penting untuk memberi inspirasi kepada kita dan mengingat kemuliaan Sang Buddha dalam pikiran kita sehingga kita dapat memuliakannya.

Kita sebagai Buddhis tidak menyembah simbol material atau wujud yang hanya mewakili Sang Buddha. Tetapi kita memberi penghormatan kepada Sang Buddha. Inspirasi dari Rupa Sang Buddha Sang Buddha telah mangkat dan mencapai Nibbana. Sang Buddha tidak memerlukan penghormatan atau persembahan ,tetapi hasil dari penghormatan akan mengikuti kita dan orang-orang akan mendapatkan manfaat dengan mengikuti teladanNya serta merefleksikan melalui pengorbanan tertinggi dan kualitas agungNya.

Seorang Buddhis tidak melakukan pengorbanan binatang atas nama Sang Buddha. Ketika beberapa Buddhis melihat rupang (gambar/patung) Sang Buddha, rasa bakti dan kebahagiaan muncul dalam pikirannya. Rasa bakti atau kebahagiaan ini merupakan suatu objek yang menciptakan pikiran luhur di dalam pikiran seorang Buddhis yang berbakti. Rupang (gambar/patung) Sang Buddha ini juga membantu orang untuk melupakan kerisauan mereka, kekecewaan dan masalah-masalah serta membantu mereka mengontrol pikiran mereka.

Beberapa filosof terkenal dunia, para sejarahwan dan sarjana menyimpan rupang (gambar/patung) Sang Buddha di atas meja di dalam ruang baca mereka untuk mendapatkan inspirasi kehidupan dan pemikiran yang lebih tinggi. Kebanyakan dari mereka adalah non-Buddhis. Banyak orang menghormati kedua orang tua mereka yang telah meninggal, guru, para pahlawan besar, para raja dan ratu, pemimpin nasional dan politik serta orang-orang lain yang disayangi dengan menyimpan gambar-gambar untuk menghargai memori mereka.

Mereka mempersembahkan bunga untuk menyatakan perasaan kasih, terima kasih, penghargaan, penghormatan dan bakti mereka. Mereka mengenang kembali kualitas mulia dan mengingatnya dengan bangga atas pengorbanan dan pelayanan yang diberikan oleh para tokoh ketika mereka masih hidup. Orang-orang juga mendirikan patung untuk mengenang beberapa tokoh pemimpin politik tertentu yang telah membantai berjuta nyawa yang tidak bersalah.

Karena kejahatan dan ketamakan mereka untuk mendapatkan kekuasaan, mereka menjajah negara-negara yang miski dan menciptakan penderitaan, kekejaman, dan kesengsaraan yang tak terkira dengan tindakan perampasan mereka. Namun, mereka masih dianggap sebagai pahlawan besar; dan peringatan tanda jasa diselenggarakan untuk menghormati mereka, dan memberikan bunga-bunga di atas makam dan kuburan mereka.

Jika perbuatan tersebut dapat dibenarkan mengapa sebagian orang mengejek umat Buddha sebagai pemuja berhala ketika mereka memberikan penghormatan kepada guru agama mereka yang telah melayani umat manusia tanpa merugikan yang lain dan yang telah menaklukkan seluruh dunia melalui kasih sayang, belas kasih dan kebijaksanaanNya?

Bisakah seseorang dengan pikiran sehat mengatakan bahwa menghormati rupang (gambar/patung) Sang Buddha sebagai sesuatu yang tidak berbudaya, tidak bermoral atau tindakan yang merugikan seperti mengganggu kedamaian dan kebahagiaan orang lain?

Menyembah berhala merupakan perbuatan sebuah rupang (gambar/patung) sama sekali tidak penting bagi manusia dalam menjalankan agama maka simbol-simbol agama tertentu dan tempat-tempat beribadat juga tidak diperlukan. Umat Buddha dikecam oleh beberapa orang sebagai penyembah batu. Tetapi menyembah batu tidak berbahaya dan lebih terhormat dibandingkan dengan umat agama lain yang melakukan pelemparan batu.

Pentingnya Praktek Bagaimanapun juga, untuk mempraktekkan ajaran-ajaran Sang Buddha, keberadaan rupang (gambar/patung) Sang Buddha bukanlah suatu keharusan. Seorang Buddhis dapat mempraktekkan agama mereka tanpa rupang (gambar/patung) Sang Buddha; mereka bisa melakukan hal ini kerena Sang Buddha tidak menganjurkan manusia untuk mengembangkan pengkultusan individu, dimana menurut ajaran Sang Buddha, seorang Buddhis tidak sepatutnya bergantung kepada orang lain bahkan kepada Sang Buddha sendiri untuk keselamatan dirinya.

Semasa kehidupan Sang Buddha, ada seorang bhikkhu bernama Wakkali. Bhikkhu ini selalu duduk di hadapan Sang Buddha dan mengagumi keindahan ciri-ciri fisik Sang Buddha.

menyembah berhala merupakan perbuatan

Wakkali mengatakan bahwa ia mendapat kebahagiaan dan inspirasi yang besar dengan mengagumi keindahan Sang Buddha. Sang Buddha menjawab, “Engkau tidak dapat melihat Buddha yang sebenarnya dengan hanya melihat tubuh fisiknya saja.

Mereka yang melihat ajaran saya maka melihat saya”. Aspek yang paling penting sekali dalam Buddhisme adalah mempraktekkan nasihat-nasihat yang diberikan oleh Sang Buddha. Di dalam hal ini, tidak ada bedanya antara seorang Buddhis yang memberi penghormatan kepada Sang Buddha dengan yang tidak. Tetapi bagi beberapa umat, penghormatan ini sangat penting. Bagaimanapun juga, Sang Buddha tidak mengatakan bahwa Beliau mengharapkan penghormatan.

Asal Muasal Rupang Buddha Lalu, Bagaimanakah rupang (gambar/patung) Buddha bermula? Sukar untuk mengetahui apakah ide ini diberikan oleh Sang Buddha atau tidak. Tidak ada satupun dalam kitab suci Buddhis bahwa Sang Buddha meminta untuk membuat rupang (gambar/patung) Nya. Namun, Sang Buddha memberikan ijin untuk menyimpan relik-relik Beliau. Suatu ketika Yang Mulia Ananda pernah ingin mengetahui mengetahui apakah diijinkan mendirikan pagoda (cetiya) untuk mengenang Sang Buddha sebagai cara menghormati Beliau.

Kemudian Yang Mulia Ananda bertanya kepada Sang Buddha, ”Apakah layak, Yang Mulia, untuk membangun sebuah pagoda ketika Sang Bhagava masih hidup?” Sang Buddha menjawab, “Tidak, adalah tidak layak ketika Saya masih hidup. Engkau bisa membangun objek penghormatan ini hanya setelah Saya tiada.” Juga dalam kotbah terakhirNya, Maha Parinibbana Sutta, Sang Buddha menasihati para siswaNya bahwa jika mereka ingin menghormati Sang Buddha setelah Ia tiada, mereka boleh membangun pagoda-pagoda untuk menyimpan relik tubuhNya.

Nasihat ini sesuai dengan kebiasaan di India pada masa itu: kebiasaan membangun pagoda-pagoda untuk menyimpan relik orang–orang yang suci. Relik ini disimpan sebagai suatu kenangan sebagai tanda penghormatan kepada orang-orang suci. Pada saat yang sama, Sang Buddha sendiri tidak menganjurkan dan juga tidak melarang para siswaNya untuk mendirikan rupang (gambar/patung)Nya setelah Ia meninggal dunia.

Idea untuk menciptakan rupang (gambar/patung) Buddha datang dari pengikut-pengikutNya yang ingin memuja pemimpin terkasih mereka dan bertujuan mendapat inspirasi dari pribadi Sang Buddha yang luhur.

Mereka juga menggunakannya untuk menyimpan sebagian dari relik Sang Buddha di dalam rupang (gambar/patung) tersebut setelah didirikan. Fa-hsien, yang mengunjungi India pada akhir abad keempat menyebutkan dalam catatannya bagaimana rupang (gambar/patung) Sang Buddha yang pertama didirikan.

Bagaimanapun, kitab-kitab suci Buddhis tidak menyebut apa-apa tentang pengamatan Fa-hsien tersebut. Meskipun demikian, mitologi mencatat sebagai berikut: Pada suatu ketika, Sang Buddha menghabiskan waktu selama tiga bulan di surga mengajarkan Abhidhamma atau Dhamma Yang Tertinggi. Selama kepergian Beliau, orang-orang yang pergi ke vihara merasa sangat tidak gembira kerena mereka tidak dapat melihat Sang Buddha.

Mereka mulai mengeluh. Siswa Utama, Yang Mulia Sariputta, pergi menemui dan melaporkan situasi itu kepada Sang Buddha. Sang Buddha menasihati Beliau untuk mencari seseorang yang dapat membuat rupang (gambar/patung) yang sama menyembah berhala merupakan perbuatan dengan diri Sang Buddha; kemudian orang-orang akan menjadi gembira melihat rupang Sang Buddha.

Sariputta pun kembali dan menemui raja untuk meminta kebaikannya untuk menolong mencari seseorang yang dapat membuat tiruan Sang Buddha. Tidak lama kemudian, orang yang dicari ditemukan; dia mengukir rupang dari kayu cedana. Setelah rupang itu diletakkan di vihara, orang-orang menjadi sangat gembira. Sejak saat itu, selanjutnya, menurut Fa-hsien, orang-orang mulai meniru replika Sang Buddha tersebut.

Tetapi hal yang sukar untuk menemukan bukti di dalam literatur Buddhis dan sejarah untuk mendukung keberadaan Rupang Sang Buddha di India sampai hampir 500 tahun setelah Sang Buddha mangkat. Pada masa itu, para umat biasanya menghormati Sang Buddha dengan menyimpan bunga teratai atau gambar telapak kaki Sang Buddha.

Nampaknya, pada permulaan beberapa umat Buddha tidak menyukai membuat rupang Sang Buddha, mengingat memungkinkan terjadinya penyimpangan terhadap ciri-ciri penting Sang Buddha. Banyak para sejarahwan mengklaim bahwa rupang (gambar/patung) Sang Buddha dibuat pertama kali di India pada masa pendudukan bangsa Yunani. Orang–orang Yunani membantu dan menyembah berhala merupakan perbuatan orang–orang India dalam seni membangun rupang Sang Buddha. Sejak saat itu, orang-orang di berbagai negara mulai mendirikan rupang Sang Buddha.

Rupang-rupang di berbagai negara diukir dan dibentuk mengikut gaya dan seni yang menggambarkan ciri–ciri fisik orang–orang di negara tersebut. Di dalanm negara Buddhis itu sendiri, gaya dari Rupang Sang Buddha pun berkembang menjadi beragam bentuk menyembah berhala merupakan perbuatan gaya disesuaikan dengan perubahan jaman dan sejarah.

Pendapat Para Intelektual Mengenai Rupang Buddha Pendit Nehru, mantan Perdana Menteri India, mengulas tentang rupang (gambar/patung) Buddha seperti berikut: “MataNya tertutup, tetapi ada suatu kekuatan spiritual yang keluar dari matanya dan energi vital memenuhi strukturnya. Banyak jaman bergulir, dan nampaknya Sang Buddha tidak pergi terlalu jauh; suaranNya berbisik di telinga kita dan memberitahu kita supaya jangan lari dari perjuangan tetapi, menghadapinya dengan pandangan tenang, dan melihat peluang–peluang besar dalam hidup untuk terus berkembang dan maju.” Nehru juga pernah berkata, “Semasa saya berada di dalam penjara, saya sentiasa memikirkan tentang rupang (gambar/patung) Buddha yang merupakan sumber inspirasi yang luar biasa untuk saya.” Semasa Perang Dunia Kedua, General Ian Hamilton menemukan sebuah rupang Buddha di dalam sebuah reruntuhan vihara di Burma.

Ia mengirim rupang tersebut ke Winston Churchill yang pada waktu itu menjadi Perdana Menteri Inggris dengan satu pesanan: “Ketika anda khawatir, lihatlah rupang yang wajahnya begitu tenang dan tersenyumlah kepada kekhawatiran anda.” Count Keyserling, seorang filosof berkata: “Saya tidak mengetahui hal lain yang lebih agung di dunia ini selain dari figur seorang Buddha; yang merupakan suatu penjelmaan spiritual yang sungguh sempurna di dalam dunia nyata (visible domain)” Sarjana lain berkata: “Rupang (gambar/patung) Buddha yang kita lihat merupakan suatu simbol yang mewakili kualitas.

Pujian dan penghormatan kepada Sang Buddha tidak lain merupakan suatu simbol penghargaan atas keagungan dan kebahagian yang kita ketemui melalui ajaranNya.” Ketenangan dan ketentraman rupang Sang Buddha telah menjadi konsep umum kecantikan dari keindahan yang ideal. Rupang Sang Buddha merupakan sesuatu yang sangat berharga, aset kebudayaan Asia yang paling berharga dan dipunyai oleh banyak orang. Tanpa rupang Buddha, Asia hanya akan dikenali sebagai suatu kawasan geografi saja mespikun semakmur apapun.

Umat Buddhis menghormati patung Sang Buddha sebagai monumen keagungan, kebijaksanaan, yang paling sempurna, dan penuh belas kasih dari seorang guru agama yang pernah hidup di dunia ini. Rupang ini diperlukan untuk mengingat kembali Sang Buddha dan kualitas agungNya yang memberikan menyembah berhala merupakan perbuatan kepada jutaan manusia dari generasi ke generasi dalam dunia yang berbudaya.

Rupang ini menolong mereka berkonsentrasi kepada Buddha. Mereka merasakan kehadiran Sang Guru di dalam pikiran mereka, dan dengan demikian menjadikan penghormatan mereka lebih jelas dan bermakna. Sebagai seorang Buddhis, akan sangat tepat sekiranya untuk anda mempunyai rupang atau gambar Buddha di dalam rumah anda.

Simpanlah rupang atau gambar ini bukan sebagai pajangan yang dipamerkan tetapi sebagai objek puja, penghormatan, dan inspirasi. Ketentraman rupang Buddha merupakan satu simbol yang memancarkan kasih sayang, kesucian dan kesempurnaan yang menjadi sumber penghibur dan inspirasi dalam membantu anda mengatasi berbagai permasalahan dan kekhawatiran yang harus anda hadapi dalam akitivitas keseharian di dunia yang bermasalah ini.

Ketika anda memberi penghormatan kepada Sang Buddha, anda akan mendapat banyak manfaat apabila anda bermeditasi beberapa saat dengan memfokuskuskan pikiran anda pada kualitas agung dan mulia Sang Buddha.

Jika anda memikirkan Guru Agung, anda dapat menyempurnakan diri anda melalui bimbinganNya. Oleh karena itu, bukan hal yang tidak wajar penghormatan ini terekspresikan menyembah berhala merupakan perbuatan dalam bentuk seni dan pahatan yang terbaik dan terindah di dunia. Seorang penulis terkenal lainnya mengatakan di dalam bahasa filsafatnya mengenai arti sebenarnya di dalam memberi penghormatan kepada Sang Buddha, seperti berikut: “Kita juga perlu memberi penghormatan meskipun pemujaan itu diarahkan bukan untuk seorang-karena sebenarnya semua personalitas merupakan mimpi, tetapi pemujaan itu diarahkan kepada kesesuaian hati kita.

Dengan itu, kita dapat menemui kekuatan baru dan membangun mahligai kehidupan kita sendiri, membersihkan hati kita sampai layak untuk membawa rupang tersebut di dalam tempat perlindungan kasih sayang yang mendalam.

Di atas altarnya, kita semua perlu mempersembahkan hadiah bukan cahaya yang padam, bunga-bunga yang layu, tetapi tindakan kasih sayang, pengorbanan dan tanpa keakuan terhadap semua yang berada di sekeliling kita.” Anatol France, di dalam autobiografinya menulis, “Di awal bulan Mei, 1890, kesempatan membawaku untuk mengunjungi sebuah musium di Paris.

Di sana berdiri dewa-dewa Asia dalam kesunyian dan kesederhanaan, pandanganku jatuh pada patung Sang Buddha yang memberi isyarat kepada penderitaan manusia untuk mengembangkan pemahaman dan belas kasih. Jika ada tuhan yang pernah berjalan di atas muka bumi ini, saya merasakan Beliaulah (Buddha) orangnya. Saya merasa seperti berlutut dan berdoa kepadaNya seperti kepada Tuhan.” Mr. Ouspensky, seorang penulis Barat lainnya, mengekspresikan perasaannya terhadap rupang Buddha yang ia temukan di Sri Lanka.

Ia berkata, “Rupang Buddha ini merupakan suatu bagian seni yang sungguh istimewa. Saya tidak mengetahui hasil karya seni lainnya yang sejajar dengan rupang Buddha dengan mata dari batu safir, dimana sepengetahuan saya tidak ada karya seni yang dapat mengekspresikan dengan sempurna idea suatu agama seperti wajah rupang Buddha yang mengekspresikan ide Buddhisme.” Selanjutnya ia berkata, ”Tidak perlu membaca banyak buku tentang Buddhisme atau berjalan bersama dengan para professor yang mempelajari agama–agama Timur atau belajar dengan para bhikkhu.

Seseorang harus datang ke sini, berdiri di hadapan rupang Buddha ini dan biarkan pancaran mata birunya menembus kehidupannya, dan dia akan memahami apa itu Buddhisme.” Kesenian Buddhis yang indah dari membangun rupang, menciptakan lukisan dinding tentang beragam kisah Buddhis telah memberikan inspirasi yang sangat besar pada kekayaan seni dan budaya di hampir setiap negara Asia lebih dari 2000 tahun.

Apakah yang membuat pesan-pesan Sang Buddha begitu diminati oleh orang yang telah mengembangkan intelektual mereka? Jawabannya mungkin terlihat pada ketentraman rupang Sang Buddha.

Bukan hanya dalam warna dan garis manusia mengekspresikan keyakinannya terhadap Sang Buddha dan ajaranNya. Tangan manusia menempa logam dan batu memproduksi rupang Buddha yang merupakan salah satu ciptaan terbesar dari kejeniusan manusia.

Jika umat Buddha benar–benar ingin melihat kehadiran Sang Buddha dalam segala keagungan dan keindahanNya, mereka harus menerjemahkan ajaran-ajaranNya ke dalam tindakan dan situasi praktis pada kehidupan sehari-hari mereka.

Dengan mempraktekkan ajaran-ajaranNya mereka dapat mendekatkan diri dan merasakan pancaran yang luar biasa dari kebijaksanaan dan belas kasihNya yang menyembah berhala merupakan perbuatan kunjung padam. Hanya menghormati rupang Sang Buddha tanpa mengikuti ajaran muliaNya bukannya cara untuk menemukan keselamatan. KehidupanNya begitu indah, hatiNya begitu suci dan baik, pikiranNya begitu dalam dan tercerahkan, kepribadianNya begitu menginspirasikan dan tanpa ke-aku-an – kehidupan yang sangat sempurna, hati yang sangat berbelas kasih, pikiran yang sangat tenang, kepribadian yang sangat tentram yang patut di hormati, layak diberi menyembah berhala merupakan perbuatan dan layak diberi persembahan.

Sang Buddha yang merupakan kesempurnaan tertinggi dari umat manusia, dan keindahan dari kemanusiaan. Sir Edwin Arnold menjelaskan sifat alami Kebuddhaan di dalam bukunya ” Light of Asia” (Cahaya Asia) seperti berikut: “Ini adalah bunga dari pohon manusia kita yang berkembang dalam beribu–ribu tahun.

Takkala berkembang, mengisi dunia dengan harum kebijaksanaan dan menjatuhkan madu kasih sayang.” Seorang penyair terkemuka India, Rabindranath Tagore menyebutkan hal penting dari penampilan Sang Buddha dalam bahasa puitisnya dengan cara berikut: Semua makhluk menangis atas kelahiran baru mereka. Oh, Engkau yang hidup tanpa batas Selamatkanlah mereka, bangkitkanlah suara harapan abadiMu Biarkan teratai cinta dengan harta madu yang tak terhingga itu, membuka kelopaknya dalam cahayanya.

Oh Kedamaian, Oh Kebebasan, Di dalam belas kasih dan kebaikanMu yang tidak terukur, Singkirkanlah semua noda gelap dari hati dunia ini.

Namo Buddhaya – Terpujilah Sang Buddha. -Evam- Judul Asli: Are Buddhist Idol – Worshippers? Oleh: Y. M. K. Sri Dhammananda Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com
• العربية • مصرى • Asturianu • Български • বাংলা • Català • کوردی • Čeština • Deutsch • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Frysk • हिन्दी • Hrvatski • Հայերեն • Interlingua • Italiano • 日本語 • ಕನ್ನಡ • 한국어 • Latina • Lietuvių • Latviešu • Malagasy • Македонски • മലയാളം • मराठी • Bahasa Melayu • Nederlands • Norsk bokmål • Polski • Português • Română • Русский • Simple English • Slovenščina • Српски / srpski • Svenska • தமிழ் • Türkçe • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt • ייִדיש • 中文 • 粵語 Moses Indignant at the Golden Calf, lukisan oleh William Blake, 1799–1800 Penyembahan berhala adalah istilah merendahkan untuk pemujaan berhala, benda fisik seperti gambar kultus, sebagai dewa, [1] atau praktik diyakini hampir pada ibadah, seperti memberikan kehormatan yang tidak semestinya dan memperhatikan bentuk membuat selain Tuhan.

[2] Dalam agama Abrahamik semua penyembahan berhala adalah sangat dilarang, meskipun dilihat sebagai apa yang merupakan penyembahan berhala mungkin berbeda di dalam dan di antara mereka. Dalam agama-agama lain penggunaan gambar kultus diterima, meskipun istilah "penyembahan berhala" tidak mungkin digunakan dalam agama, yang pada dasarnya tidak setuju. Gambar, ide, dan objek merupakan penyembahan berhala sering kali menjadi masalah perdebatan yang cukup besar, dan di dalam semua agama Abrahamik istilah ini dapat digunakan dalam pengertian yang sangat luas, dengan tidak ada implikasi bahwa perilaku menentang untuk benar-benar merupakan dari penyembahan religius dari objek fisik.

Artikel utama: Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun Larangan menyembah berhala di dalam agama Yahudi disebutkan dalam kitab keluaran pasal 20 ayat 4–5 dan termasuk sepuluh perintah Allah 20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Allah, tuhanmu, adalah tuhan yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku.

Artikel utama: Gambar religius dalam teologi Kristen menyembah berhala merupakan perbuatan Anikonisme dalam Kekristenan Gagasan-gagasan di dalam agama Kristen berkenaan dengan larangan menyembah berhala dilandaskan pada perintah pertama Dasatitah yang berbunyi: Jangan ada padamu ilah lain di hadapan-Ku.

[3] Perintah ini dijabarkan di dalam Alkitab, yakni di dalam ayat ke-3 dari bab 20 Kitab Keluaran, ayat ke-10 dari bab 4 Injil Matius, ayat ke-8 dari bab 4 Injil Lukas, dan banyak lagi ayat lain, misalnya: [3] Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.

Kamu harus memelihara hari-hari Sabat-Ku dan menghormati tempat kudus-Ku, Akulah TUHAN. — Imamat 26:1-2 [4] Alkitab memberikan konsepsi bahwa penyembahan berhala merupakan perbuatan yang pelakunya harus diberi hukuman mati. Kitab Ulangan 17:2–7 membahas tentang hukuman mati untuk penyembah berhala. [5] Pandangan Kristen mengenai larangan menyembah berhala secara umum dapat dibedakan menyembah berhala merupakan perbuatan dua kategori besar, yakni pandangan Kristen Katolik dan Kristen Ortodoks yang menghalalkan citra-citra religius, [6] dan pandangan banyak jemaat Kristen Protestan yang mengharamkannya.

Meskipun demikian, banyak umat Kristen Protestan yang memanfaatkan citra salib sebagai lambang. [7] [8] Kristen Katolik [ sunting - sunting sumber ] Penghormatan terhadap Santa Perawan Maria, Yesus Kristus, dan Madonna Hitam adalah amalan-amalan yang lumrah di dalam Gereja Katolik. Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks dari generasi ke generasi membela pemanfaatan ikon.

Perdebatan mengenai apa yang disiratkan citra-citra dan apakah penghormatan dengan bantuan ikon-ikon di dalam gereja setara dengan dilarang menyembah berhala sudah berlangsung berabad-abad lamanya, teristimewa sejak abad ke-7 sampai dengan Reformasi Protestan pada abad ke-16.

[9] Perdebatan-perdebatan ini mendukung penyertaan ikon-ikon Yesus Kristus, Santa Perawan Maria, dan para Rasul, yakni ikonografi yang diungkapkan dalam bentuk karya seni kaca patri, santo-santa daerah, dan berbagai macam lambang iman Kristen lainnya. Perdebatan-perdebatan tersebut juga mendukung amalan-amalan seperti misa Katolik, penyalaan lilin di depan gambar-gambar, hiasan-hiasan dan perayaan-perayaan Natal, serta pawai-pawai sukaria maupun pawai-pawai peringatan dengan mengusung patung tokoh-tokoh penting dalam agama Kristen.

[9] [10] [11] Di dalam makalahnya, Ihwal Citra Suci, Santo Yuhana Addimasyqi membela pemanfaatan ikon-ikon dan citra-citra untuk menanggapi gerakan ikonoklasme Bizantium yang memprakarsai penghancuran citra-citra religius secara besar-besaran pada abad ke-8 dengan dukungan dari Kaisar Leo III maupun penggantinya, Kaisar Konstantinus V, saat berlangsungnya perang agama melawan Khilafah Bani Umayyah.

[12] "Saya berani menggambar citra Allah yang tidak kasatmata, bukan dalam keadaan-Nya yang tidak kasatmata, melainkan dalam keadaan-Nya sesudah menjadi menyembah berhala merupakan perbuatan demi kita melalui daging dan darah," ungkap Santo Yuhana Addimasyqi dalam tulisannya. Ia menambahkan pula bahwa citra-citra adalah ungkapan-ungkapan "kenangan akan mukjizat, kehormatan, kenistaan, kebajikan, maupun kejahatan", dan bahwasanya buku juga merupakan citra yang tersurat dalam bentuk lain.

[13] [14] Ia membela pemanfaatan citra-citra dalam kegiatan-kegiatan religius atas dasar doktrin Kristen tentang Yesus sebagai inkarnasi Firman Allah. [15] Pernyataan Santo Yohanes Penginjil bahwa "Firman itu telah menjadi manusia" ( Yohanes 1:14) mengisyaratkan bahwa Allah yang tidak kasatmata menjadi kasatmata, bahwasanya kemuliaan Allah mengejawantah dalam diri Putra Tunggal-Nya, Yesus Kristus, dan oleh karena itu Allah memilih untuk membuat yang tidak kasat mata menjadi wujud yang kasatmata, yang rohani berinkarnasi menjadi wujud jasmani.

[16] [17] Paus Pius V berdoa menggunakan krusifiks, lukisan karya August Kraus Pembelaan terdahulu terhadap pemanfaatan citra-citra mencakup eksegesis Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Bukti pemanfaatan citra-citra religius didapati di dalam seni rupa dan peninggalan-peninggalan tertulis Kristen purba. Sebagai contoh, penghormatan terhadap makam-makam dan patung-patung para martir adalah perbuatan yang jamak dilakukan komunitas-komunitas Kristen purba.

Pada tahun 397, Santo Agustinus dari Hipo, di dalam Confessiones bagian 6.2.2, bercerita tentang kebiasaan ibunya menyiapkan persembahan untuk patung-patung dan makam-makam para martir. [18] Citra-citra berfungsi sebagai Alkitab bagi tunaaksara, serta menggugah orang untuk beramal saleh dan berbuat kebajikan. — Paus Gregorius I, abad ke-7 [19] Pembelaan Kristen Katolik mengungkit bukti-bukti tekstual dari laku penghormatan lahiriah terhadap ikon-ikon, dengan berargumen bahwa ada "bermacam-macam bentuk ibadat" dan bahwasanya penghormatan yang ditunjukkan terhadap ikon-ikon sama sekali berbeda dari pemujaan terhadap Allah.

Sembari mengutip ayat-ayat Perjanjian Lama, argumen-argumen ini menyajikan contoh bentuk-bentuk "penghormatan" seperti dalam ayat ke-3 dari bab 33 Kitab Kejadian, dengan alasan bahwa "pemujaan adalah satu hal tersendiri, lain halnya dengan pemujaan yang dilakukan demi menghormati sesuatu yang luar biasa". Argumen-argumen ini menegaskan bahwa "penghormatan yang diberikan kepada citra tertentu sesungguhnya teralihkan kepada purwarupanya", dan bahwasanya tindakan menghormati sebuah citra Kristus tidak terhenti pada citra itu sendiri – materi menyembah berhala merupakan perbuatan itu sendiri bukanlah objek penyembahan – tetapi melampaui citra tersebut, sampai kepada purwarupanya.

[20] [19] [21] Menurut Katekismus Gereja Katolik, "menyembah berhala tidak sekadar mengacu kepada ibadat pagan yang batil. Orang menyembah berhala kapan saja ia menghormati dan memuliakan sesuatu yang lain sebagai ganti Allah, baik berupa dewa-dewi maupun roh-roh jahat (misalnya setanisme), kekuasaan, kesenangan, ras, nenek moyang, negara, uang, dsb." [22] Pembuatan citra-citra Yesus Kristus, Santa Perawan Maria, dan para aulia Kristen bersama dengan doa-doa yang ditujukan kepada mereka sudah menyebar luas di kalangan umat Kristen Katolik.

[23] Kristen Ortodoks [ sunting - sunting sumber ] Gereja Ortodoks Timur membedakan latria dari dulia. Latria adalah menyembah Allah, dan latria terhadap segala sesuatu selain Allah diharamkan dalam ajaran Gereja Ortodoks. Di lain pihak, menyembah berhala merupakan perbuatan, yang didefinisikan sebagai penghormatan terhadap citra-citra, patung-patung atau ikon-ikon religius, tidak saja diperbolehkan tetapi juga diwajibkan.

[24] Perbedaan antara latria dan dulia dijabarkan Tomas Aquinas di dalam Summa Theologiae bagian 3.25. [25] Penghormatan terhadap citra-citra Maria, yang disebut devosi kepada Bunda Maria, adalah amalan yang dipermasalahkan sebagian besar umat Kristen Protestan.

[26] [27] Di dalam kesusastraan apologetis ortodoks, pemanfaatan maupun penyalahgunaan citra-citra dibahas secara panjang lebar. Kesusastraan eksegesis Ortodoks merujuk kepada ikon-ikon dan patung ular tembaga yang dibuat Musa (atas perintah Allah) di dalam ayat ke-9 dari bab 21 Kitab Bilangan, yakni patung yang mengandung rahmat dan kuasa Allah untuk menyembuhkan orang-orang yang digigit ular-ular sungguhan.

Demikian pula Tabut Perjanjian dikedepankan sebagai bukti dari benda ritual yang di atasnya Yahweh hadir. [28] [29] Penghormatan terhadap ikon-ikon melalui laku proskinesis diundangkan pada tahun 787 Masehi oleh Konsili Ekumene yang ke-7. [30] [31] Keputusan tersebut dipicu oleh kontroversi ikonoklasme Bizantium yang mencuat sesudah meletusnya perang-perang Kristen-Muslim dan munculnya gerakan ikonoklasme di Asia Barat.

[30] [32] Pembelaan terhadap citra-citra maupun sumbangsih sarjana Kristen asal Suriah, Yuhana Addimasyqi, benar-benar penting pada zaman itu. Gereja Ortodoks Timur sejak saat itu memuliakan penggunaan ikon-ikon dan citra-citra. Gereja-Gereja Katolik Timur juga menerima kehadiran ikon-ikon di dalam perayaan Liturgi Suci mereka.

[33] Kristen Protestan [ sunting - sunting sumber ] Perdebatan seputar menyembah berhala sudah menjadi salah satu faktor pembeda ajaran Kristen Katolik yang pro paus dari ajaran Kristen Protestan yang anti paus. [34] Penulis-penulis yang anti paus mempertanyakan amalan-amalan peribadatan dan citra-citra yang didukung umat Kristen Katolik. Banyak sarjana Protestan menggolongkan amalan-amalan peribadatan dan citra-citra Katolik sebagai "kekeliruan yang lebih besar daripada semua kekeliruan lain dalam kehidupan beragama." Amalan-amalan Kristen Katolik yang dinilai keliru oleh umat Kristen Protestan mencakup penghormatan terhadap Santa Perawan Maria, misa Katolik, meminta syafaat orang-orang kudus, serta penghormatan yang diharapkan maupun yang ditunjukkan terhadap Sri Paus.

[34] Tudingan penyembahan berhala terhadap umat Kristen Katolik dilontarkan oleh berbagai macam golongan umat Kristen Protestan, mulai dari Gereja Inggris sampai Yohanes Kalvin di Jenewa. [34] [35] Alkitab dan krusifiks di atas altar sebuah gereja Protestan yang berhaluan Lutheran Umat Kristen Protestan tidak meninggalkan semua ikon dan lambang agama Kristen.

Dalam segala macam konteks penghormatan, mereka biasanya menghindari pemanfaatan citra-citra, kecuali citra salib. Salib tetap menjadi ikon utama mereka. [7] [8] Menurut Carlos Eire, seorang profesor kajian dan sejarah agama, secara teknis, cabang-cabang utama agama Kristen memiliki ikon mereka masing-masing, tetapi maknanya berbeda-beda dari satu cabang ke cabang lain, dan "apa yang dianggap devosi oleh yang satu merupakan penyembahan berhala bagi yang lain".

[36] Carlos Eire menegaskan bahwa hal ini tidak saja terbukti dalam debat antar-Kristen, tetapi juga dalam tindakan para prajurit raja-raja Katolik menggantikan "berhala-berhala Aztek yang menyeramkan" di daerah-daerah jajahan mereka di Benua Amerika dengan "salib-salib dan citra-citra Maria serta orang-orang kudus yang indah-indah".

[36] Umat Kristen Protestan kerap menuduh umat Kristen Katolik menyembah berhala, menyembah ikon, bahkan menganut kepercayaan pagan. Tuduhan semacam ini sudah lumrah diwacanakan semua golongan Kristen Protestan pada zaman Reformasi Protestan. Dalam kasus-kasus tertentu, misalnya kasus Kaum Puritan di Inggris, segala macam benda religius diharamkan, baik yang berwujud tiga dimensi maupun yang berwujud dua dimensi, termasuk salib.

[37] Citra tubuh Kristus pada salib adalah lambang kuno yang digunakan di gereja-gereja Katolik, Ortodoks, Anglikan, dan Lutheran, berbeda dari sejumlah jemaat Kristen Protestan yang hanya menggunakan salib polos. Dalam agama Yahudi, penghormatan terhadap ikon Kristus dalam bentuk salib dipandang sebagai menyembah berhala. [38] Meskipun demikian, sejumlah sarjana Yahudi tidak berpandangan demikian. Menurut mereka, agama Kristen berdiri di atas landasan keyakinan agama Yahudi, dan sesungguhnya bukan penyembahan berhala.

[39] Islam [ sunting - sunting sumber ] • ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-07-14. Diakses tanggal 2011-06-07. • ^ Menyembah berhala merupakan perbuatan of The Catholic Church, passage 2113, pp.460, Geoffrey Chapman, 1999 • ^ a b T. J. Wray (2011). What the Bible Really Tells Us: The Essential Guide menyembah berhala merupakan perbuatan Biblical Literacy. Rowman & Littlefield Publishers. hlm. 164–165. ISBN 978-1-4422-1293-0. • ^ Terrance Shaw (2010).

The Shaw's Revised King James Holy Bible. Penerbit Trafford. hlm. 74. ISBN 978-1-4251-1667-5. • ^ Husaini, Adian (2005). Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler Liberal. Jakarta: Gema Insani. hlm. 46. ISBN 978-602-250-517-4. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Frank K. Flinn (2007). Encyclopedia of Catholicism. Penerbit Infobase. hlm. 358–359.

ISBN 978-0-8160-7565-2. • ^ a b Leora Batnitzky (2009). Idolatry and Representation: The Philosophy of Franz Rosenzweig Reconsidered. Lembaga Pers Universitas Princeton. hlm. 147–156. ISBN 978-1-4008-2358-1. • ^ a b Ryan K. Smith (2011). Gothic Arches, Latin Crosses: Anti-Catholicism and American Church Designs in the Nineteenth Century.

Lembaga Pers Universitas Carolina Utara. hlm. 79–81. ISBN 978-0-8078-7728-9. • ^ a b Moshe Halbertal; Avishai Margalit; Naomi Goldblum (1992). Idolatry. Lembaga Pers Universitas Harvard. hlm. 39–40, 102–103, 116–119.

ISBN 978-0-674-44313-6. • ^ L. A. Craighen (1914). The Practice of Idolatry. Taylor & Taylor. hlm. 21–26, 30–31. • ^ William L. Vance (1989). America's Rome: Catholic and contemporary Rome. Lembaga Pers Universitas Yale. hlm. 5–8, 12, 17–18. ISBN 978-0-300-04453-9. • ^ Stephen Gero (1973). Byzantine Iconoclasm During the Reign of Leo III: With Particular Attention to the Oriental Sources.

Corpus scriptorum Christianorum Orientalium: Subsidia. hlm. 1–7, menyembah berhala merupakan perbuatan. • ^ Saint John (of Damascus) (1898). St. John Damascene on Holy Images: (pros Tous Diaballontas Tas Agias Eikonas). T. Baker. hlm. 5–6, 12–17. • ^ Hans J. Hillerbrand (2012). A New History of Christianity. Abingdon. hlm. 131–133, 367. ISBN 978-1-4267-1914-1. • ^ Benedict Groschel (2010). I Am with You Always: A Study of the History and Meaning of Personal Devotion to Jesus Christ for Catholic, Orthodox, and Protestant Christians.

Ignatius. hlm. 58–60. ISBN 978-1-58617-257-2. • ^ Jeffrey F. Hamburger (2002). St. John the Divine: The Deified Evangelist in Medieval Art and Theology. Lembaga Pers Universitas California. hlm. 3, 18–24, 30–31. ISBN 978-0-520-22877-1. • ^ Ronald P. Byars (2002). The Future of Protestant Worship: Beyond the Worship Wars. Westminster John Knox Press. hlm. 43–44. ISBN 978-0-664-22572-8. • ^ Kenelm Henry Digby (1841).

Mores Catholici : Or Ages of Faith. Catholic Society. hlm. 408–410. • ^ a b Natasha T. Seaman; Hendrik Terbrugghen (2012). The Religious Paintings of Hendrick Ter Brugghen: Reinventing Christian Painting After the Reformation in Utrecht. Ashgate. hlm. 23–29. ISBN 978-1-4094-3495-5. • ^ Horst Woldemar Janson; Anthony F. Janson (2003). History of Art: The Western Tradition. Prentice Hall. hlm. 386. ISBN 978-0-13-182895-7. • ^ Henry Ede Eze (2011).

Images in Catholicism .idolatry?: Discourse on the First Commandment With Biblical Citations. St. Paul Press. hlm. 11–14. ISBN 978-0-9827966-9-6. • ^ Catechism of The Catholic Church, passage 2113, hlm.

460, Geoffrey Chapman, 1999 • ^ Thomas W. L. Jones (1898). The Queen of Heaven: Màmma Schiavona (the Black Mother), the Madonna of the Pignasecea: a Delineation of the Great Idolatry. hlm. 1–2. • ^ Kathleen M. Ashley; Robert L. A. Clark (2001). Medieval Conduct. University of Minnesota Press. hlm. 211–212. ISBN 978-0-8166-3576-4. • ^ Bernard Lonergan (2016). The Incarnate Word: The Collected Works of Bernard Lonergan, Volume 8.

University of Toronto Press. hlm. 310–314. ISBN 978-1-4426-3111-3. • ^ Rev. Robert William Dibdin (1851). England warned and counselled; 4 lectures on popery and tractarianism. James Nisbet. hlm. 20. • ^ Gary Waller (2013). Walsingham and the English Imagination.

Ashgate. hlm. 153. ISBN 978-1-4094-7860-7. • menyembah berhala merupakan perbuatan Sebastian Dabovich (1898). The Holy Orthodox Church: Or, The Ritual, Services and Sacraments of the Eastern Apostolic (Greek-Russian) Church. American Review of Eastern Orthodoxy. hlm. 21–22. • ^ Ulrich Broich; Theo Stemmler; Gerd Stratmann (1984). Functions of Literature.

Niemeyer. hlm. 120–121. ISBN 978-3-484-40106-8. • ^ a b Ambrosios Giakalis (2005). Images of the Divine: The Theology of Icons at the Seventh Ecumenical Council. Brill Academic. hlm. viii–ix, 1–3. ISBN 978-90-04-14328-9. • ^ Gabriel Balima (2008). Satanic Christianity and the Creation of the Seventh Day.

Dorrance. hlm. 72–73. ISBN 978-1-4349-9280-2. • ^ Patricia Crone (1980), Islam, Judeo-Christianity and Byzantine Iconoclasm, Jerusalem Studies in Arabic and Islam, Jld. 2, Hlmn. 59–95 • ^ James Leslie Houlden (2003). Jesus in History, Thought, and Culture: An Encyclopedia. ABC-CLIO. hlm. 369–370. ISBN 978-1-57607-856-3. • ^ a b c Anthony Milton (2002). Catholic and Reformed: The Roman and Protestant Churches in English Protestant Thought.

Cambridge University Press. hlm. 186–195. ISBN 978-0-521-89329-9. • ^ James Noyes (2013). The Politics of Iconoclasm: Religion, Violence and the Culture of Image-Breaking in Christianity and Islam. Tauris. hlm. 31–37. ISBN 978-0-85772-288-1.

• ^ a b Carlos M. N. Eire (1989). War Against the Idols: The Reformation of Worship from Erasmus to Calvin. Cambridge University Press. hlm. 5–7. ISBN 978-0-521-37984-7. • ^ Richardson, R. C.

(1972). Puritanism in north-west England: a regional study of the diocese of Chester to 1642. Manchester, England: Manchester University Press. hlm. 26. ISBN 978-0-7190-0477-3. • ^ Leora Faye Batnitzky (2000). Idolatry and Representation: The Philosophy of Franz Rosenzweig Reconsidered. Princeton University Press. hlm. menyembah berhala merupakan perbuatan. ISBN 978-0-691-04850-5. • ^ Steinsaltz, Rabbi Adin. "Introduction - Masechet Avodah Zarah". The Coming Week's Daf Yomi. Diakses tanggal 31 Mei 2013.Quote: "Over time, however, new religions developed whose basis is in Jewish belief – such as Christianity and Islam – which are based on belief in the Creator and whose adherents follow commandments that are similar to some Torah laws (see the uncensored Rambam in his Mishneh Torah, Hilkhot Melakhim 11:4).

All of the rishonim agree that adherents of these religions are not idol worshippers and should not be treated as the pagans described in the Torah." Wikimedia Commons memiliki media mengenai Idolatry.

menyembah berhala merupakan perbuatan

• Halaman ini terakhir diubah pada 1 Mei 2022, pukul 14.40. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

• Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Penghormatan Terhadap Objek Dalam setiap agama pasti terdapat objek-objek atau simbol-simbol yang ditujukan untuk penghormatan. Dalam Buddhisme terdapat tiga objek agama yang utama untuk tujuan tersebut, yaitu: • Saririka atau relik-relik jasmani Sang Buddha; • Uddesika atau simbol-simbol agama seperti rupang (patung, gambar) Sang Buddha dan cetiya atau pagoda; • Paribhogika atau barang-barang pribadi yang pernah digunakan oleh Buddha.

Sudah menjadi hal yang biasa bagi semua umat Buddha di seluruh dunia untuk memberikan penghormatan kepada objek-objek di atas. Dan juga merupakan tradisi umat Buddha untuk membangun rupang Sang Buddha, cetiya atau pagoda pagoda serta menanam pohon Bodhi di setiap Vihara sebagai objek penghormatan keagamaan.

Banyak orang salah paham dan menggangap umat Menyembah berhala merupakan perbuatan sebagai penyembah menyembah berhala merupakan perbuatan. Kesalahpahaman ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang ajaran Buddha serta adat istiadat dan tradisi Buddhis. Penyembahan berhala secara umum berarti mendirikan patung dewa-dewi di beberapa agama theistik dalam berbagai bentuk oleh pemeluknya untuk disembah, mencari berkah dan perlindungan serta untuk berkah kemewahan, kesehatan dan kekayaan para pemohon.

Beberapa pemohon bahkan memohon kepada patung untuk memenuhi bermacam kekuasaan pribadi walaupun kekuasaan itu diperolehi dengan cara yang salah. Mereka juga berdoa agar dosa mereka diampuni. Pemujaan terhadap rupang (gambar/patung) Sang Buddha sebenarnya berbeda dengan aspek yang diterangkan diatas.

Bahkan istilah “menyembah” ini sendiri tidak sesuai dengan sudut pandang Buddhis. “Memberi penghormatan” merupakan istilah yang lebih tepat. Umat Buddha tidak berdoa kepada patung atau berhala; apa yang mereka lakukan adalah memberi penghormatan kepada seorang guru agama yang agung yang layak diberi penghormatan.

Rupang-rupang didirikan sebagai tanda penghormatan dan penghargaan untuk pencapaian tertinggi dari Pencerahan dan kesempurnaan yang dicapai oleh seorang guru agama yang luar biasa.

Bagi seseorang Buddhis, rupang (gambar/patung) Sang Buddha hanya merupakan suatu tanda, simbol yang membantunya mengingat Sang Buddha. Umat Buddha berlutut dan memberi hormat kepada rupang (gambar/patung) sebenarnya memberi hormat kepada apa yang di wakili dari rupang (gambar/patung) itu. Mereka mencari keinginan duniawi dari rupang (gambar/patung) tersebut.

menyembah berhala merupakan perbuatan

Mereka merenung dan bermeditasi untuk mendapatkan inspirasi dari kepribadian mulia Sang Buddha. Mereka berusaha menyamakan kesempurnaanNya dengan mengikuti ajaran-ajaran mulia Sang Buddha.

menyembah berhala merupakan perbuatan

Umat Buddha menghormati kebajikan dan kesucian guru agamanya yang diwakili oleh rupang (gambar/patung) tersebut. Faktanya semua penganut agama menciptakan rupang (gambar/patung) yang mewakili guru agama mereka baik dalam bentuk visual atau dalam bentuk penggambaran secara pikiran untuk penghormatan.

Oleh karena itu, tidak tepat dan tidak adil untuk mengkritik dan menyatakan bahwa umat Buddha adalah penyembah berhala. Tindakan menyembah berhala merupakan perbuatan penghormatan kepada seorang yang mulia, Sang Buddha, bukanlah suatu perbuatan yang dilakukan atas dasar rasa takut atau perbuatan untuk memohon kebahagiaan duniawi. Umat Buddha percaya bahwa perbuatan menghargai dan menghormati ciri-ciri suci yang dimiliki oleh guru agama mereka merupakan suatu perbuatan yang berpahala dan membawa berkah.

Umat Buddha juga percaya bahwa mereka sendiri yang bertanggungjawab atas keselamatan diri mereka sendiri dan tidak harus bergantung kepada pihak ketiga.

Meskipun demikian, ada pihak lain yang percaya bahwa mereka bisa mendapat keselamatan mereka melalui perantaran pihak ketiga dan mereka inilah yang mengkritik umat Buddha sebagai penyembah rupang (gambar/patung) seorang yang sudah tiada lagi di dunia.

Fisik seseorang bisa mengalami disintegrasi dan terurai menjadi empat unsur tetapi kebajikannya akan kekal selamanya. Seorang Buddhis menghargai dan menghormati sifat-sifat mulia ini. Oleh itu, tuduhan terus mmenerus terhadap umat Buddha sanagt disayangkan, sama sekali salah serta tidak berdasar. Ketika kita mempelajari ajaran Sang Buddha, kita dapat memahami Sang Bhagava telah mengatakan bahwa Sang Buddha hanyalah seorang guru yang telah menunjukkan jalan yang benar untuk keselamatan dan berpulang kembali kepada penganutnya untuk menjalani kehidupan beragama dan menyucikan pikiran mereka untuk mendapatkan keselamatan tanpa bergantung kepada guru agama mereka.

Menurut Sang Buddha, tidak ada tuhan menyembah berhala merupakan perbuatan guru agama manapun yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga atau neraka. Manusia menciptakan surga dan nerakanya sendiri melalui pikiran, tindak-tanduk serta perkataan mereka sendiri.

Oleh karena itu, berdoa kepada pihak ketiga untuk keselamatan diri tanpa menyingkirkan pikiran jahat merupakan satu perbuatan yang sia-sia. Namun begitu, ada beberapa orang termasuk umat Buddha dalam melakukan sembahyang tradisonal di hadapan rupang (gambar/patung) akan mencurahkan masalah-masalah mereka, nasib malang yang dialami serta kesulitan yang dihadapi dan memohon pertolongan Sang Buddha untuk membantu mereka menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Walaupun perbuatan tersebut bukan suatu praktik Buddhis menyembah berhala merupakan perbuatan sebenar, tetapi perbuatan demikian dapat mengurangi ketegangan emosi, memberi inspirasi kepada pemohon untuk mendapatkan keberanian dan ketetapan hati untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.

Hal ini juga umum dilakukan dibeberapa agama lain. Tetapi bagi mereka yang dapat memahami sebenarnya penyebab dasar dari permasalahan mereka, mereka tidak membutuhkan tindakan seperti itu. Ketika umat Buddha menghormati Sang Buddha, mereka menghormatiNya dengan malafalkan kalimat-kalimat yang memuliakan kebajikan murniNya. Kalimat-kalimat ini bukanlah doa-doa dalam hal meminta kepada tuhan atau dewa untuk menghapus dosa mereka.

Kalimat-kalimat ini hanya bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada seorang Guru Agung yang telah mencapai Pencerahan dan menunjukkan cara hidup yang benar untuk kebaikan manusia. Umat Buddha menghormati guru agama mereka atas dasar rasa berterima kasih sedangkan penganut agama lain berdoa dan membuat permohonan untuk mendapatkan keuntungan dan manfaat bagi mereka.

Sang Buddha juga menasihati kita untuk “menghormati mereka yang menyembah berhala merupakan perbuatan dihormati.” Oleh karena itu, seorang Buddhis boleh mengakui dan menghormati guru agama manapun yang pantas dan layak dihormati. Di tempat puja bakti, umat Buddha melaksanakan meditasi untuk melatih pikiran dan disiplin diri.

Untuk tujuan meditasi, sebuah objek diperlukan; tanpa suatu objek untuk dipegang, tidaklah mudah untuk berkonsentrasi. Umat Buddha kadangkala menggunakan rupang (gambar/patung) Sang Buddha sebagai objek dimana mereka dapat berkonsentrasi dan mengontrol pikiran mereka. Di antara banyak objek meditasi, menyembah berhala merupakan perbuatan visual (yang bisa dilihat dengan nyata) memiliki efek yang lebih baik dalam pikiran. Di antara lima pancaindera, objek yang kita tangkap melalui kesadaran penglihatan (mata) memiliki pengaruh lebih besar pada pikiran dibanding dengan objek-objek yang ditangkap melalui kesadaran indera lainnya.

Indera penglihatan dapat mempengaruhi pikiran lebih dari indera lainnya. Oleh karena itu, objek yang dapat ditangkap oleh mata membantu pikiran untuk konsentrasi secara lebih mudah dan lebih baik. Gambar atau bentuk adalah bahasa bawah sadar (sub-conscious). Jika demikian, rupang (gambar/patung) Sang Buddha tereflesikan dalam pikiran seseorang sebagai penjelmaan seorang yang sempurna, refleksi ini akan menembus pikiran bawah sadar seseorang dan jika cukup kuat, secara otomatis akan bertidak sebagai pengerem keinginan jahat.

Sebagai suatu objek visual, rupang (gambar/patung) Buddha mempunyai dampak yang baik dalam pikiran; perenungan akan pencapaian dari Sang Buddha dapat menghasilkan kegembiraan, kesegaran pikiran dan menghilangkan ketegangan, keresahan dan frutasi di dalam diri seseorang. Salah satu tujuan dalam meditasi “Buddha – nussati” (Perenungan Terhadap Buddha), yaitu untuk menciptakan rasa bakti dan keyakinan terhadap Sang Buddha dengan menyadari dan menghargai keagungan Beliau. Oleh karena itu, “menyembah” rupang (gambar/patung) Sang Buddha, dimana tidak terdapat doa permohonan, sumpah-sumpah atau ritual tidak bisa dianggap sebagai menyembah berhala, tetapi sebagai suatu bentuk penghormatan yang ideal.

Penghormatan Beberapa kalimat yang dibacakan oleh umat Buddha untuk mengenang Guru Agung mereka sebagai tanda penghormatan dalam rasa terima kasih dan dalam pujian kepada Sang Buddha berbunyi seperti berikut: Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa Terpujilah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Pencerahan Sempurna. Selanjutnya mereka membaca kalimat yang menjelaskan ciri-ciri agung dan kebajikan Sang Buddha seperti berikut: “Iti pi so Bhagava Araham Samma sambuddho vijja carana–sampanno Sugato Lokavidu Anuttaro Purisa dammasarathi Sattha Devamanussanam Buddho Bhagava ti” Keseluruhan kalimat ini di dalam bahasa Pali.

Jika anda tidak terbiasa dengan bahasa ini, anda dapat melafalkan kalimat tersebut dalam berbagai bahasa yang anda ketahui.

Terjemahannya di dalam bahasa Indonesia seperti berikut: “Demikianlah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna: Sempurna pengetahuan serta tindak–tandukNya, Sempurna menempuh Sang Jalan (ke Nibbana), Pengenal segenap alam, Pembimbing yang tiada taranya, Guru menyembah berhala merupakan perbuatan dewa dan manusia, Yang SadarYang Patut Dimuliakan” Beberapa kalimat yang dibacakan oleh umat Buddha untuk mengenang Guru Agung mereka sebagai tanda penghormatan dalam rasa terima kasih dan dalam pujian kepada Sang Buddha berbunyi seperti berikut: Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa Terpujilah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Pencerahan Sempurna.

Selanjutnya mereka membaca kalimat yang menjelaskan ciri-ciri agung dan kebajikan Sang Buddha seperti berikut:Keseluruhan kalimat ini di dalam bahasa Pali. Jika anda tidak terbiasa dengan bahasa ini, anda d melafalkan kalimat tersebut dalam berbagai bahasa yang anda ketahui. Terjemahannya di dalam bahasa Indonesia seperti berikut: Sebuah Kisah Buddhis Ada sebuah kisah yang akan membantu kita memahami mengapa rupang (gambar/patung) Sang Buddha penting untuk memberi inspirasi pikiran kita serta mengenang Sang Buddha dalam pikiran kita.

Kisah ini terdapat di dalam kitab suci Buddhis tetapi tidak di dalam Tipitaka Pali. Beberapa ratus tahun setelah Sang Buddha mangkat, ada seorang bhikkhu yang taat di India bernama Upagupta. Beliau adalah penyebar agama yang paling popular pada masa itu.

Setiap kali Beliau menyampaikan ceramah Dhamma, beribu–ribu orang akan datang mendengarkan ceramah Dhamma yang disampaikannya. Pada suatu hari, Mara, si penggoda, merasa iri hati dengan kemasyhuran Yang Mulia Upagupta. Mara mengetahui bahwa kemasyhuran Upagupta membantu penyebaran ajaran Sang Buddha.

Mara tidak menyukai melihat perkataan Sang Buddha memenuhi pikiran dan hati banyak orang. Mara membuat rencana untuk menghentikan orang-orang orang mendengarkan ceramah-ceramah Upagupta. Suatu hari, ketika Upagupta memulai ceramahnya, Mara mengadakan suatu pertunjukan bersebelahan dengan tempat dimana Upagupta berkotbah. Sebuah pentas yang indah muncul dengan tiba–tiba. Terdapat gadis-gadis penari yang cantik dan musisi yang lincah. Orang-orang segera melupakan ceramah Upagupta dan beralih ke pertunjukkan untuk menikmati pernampilannya.

Upagupta memperhatikan orang-orang perlahan-lahan meninggalkannya. Kemudian Beliau juga memutuskan untuk bergabung dalam kerumunan. Setelah itu ia memutuskan untuk memberikan pelajaran kepada Mara. Ketika pertunjukkan itu berakhir, Upagupta menghadiahkan sebuah kalung bunga kepada Mara. “Kau telah menyusun suatu pertunjukkan yang luar biasa,“ kata Yang Mulia Upagupta. Mara tentu saja merasa senang dan bangga dengan pencapaiannya.

Dengan sukacitanya, Mara menerima kalung bunga dari Upagupta dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Tiba–tiba kalung bunga itu berubah menjadi lilitan menyerupai ular.

Perlahan-lahan lilitan itu menjadi semakin ketat dan mencekik leher Mara. Lilitan itu mencengkram lehernya begitu sakitnya, sehingga ia mencoba menarik lilitan itu hingga putus. Walau seberapa kuat Mara menariknya, ia tidak bisa melepaskan lilitan itu dari lehernya. Ia pergi mencari Sakka untu membuka lilitan itu. Sakka juga tidak bisa melepasnya. “Saya tidak dapat melepaskan lilitan ini,”kata Sakka.

“Pergilah dan temui Maha Brahma yang paling kuat.” Lalu, Mara pun pergi menemui Maha Brahma dan meminta pertolongannya; tapi Maha Brahma juga tidak bisa berbuat apapun. “Saya tidak dapat melepaskan lilitan ini, satu-satunya orang yang dapat melepaskan lilitan ini adalah orang yang memakaikannya kepadamu,” kata Maha Brahma.

Lalu, Mara terpaksa kembali ke Yang Mulia Upagupta. “Tolong bukakan lilitan ini; ia sangat menyakitkan,” Mara memohon. “Baiklah, saya akan melakukannya tetapi dengan dua kondisi,” kata Upagupta. “Kondisi pertama yaitu kau harus berjanji untuk tidak mengganggu para penganut di masa depan.

Kondisi kedua yaitu kau harus menunjukkan kepadaku wujud Sang Buddha yang sebenarnya. Karena saya tahu engkau pernah melihat Sang Buddha dalam beberapa kesempatan, tapi saya tidak pernah melihatNya.

Saya ingin melihat wujud sebenarnya dari Sang Buddha sama persis, dengan 32 tanda istimewa yang terdapat pada fisikNya.” Mara merasa sangat gembira. Ia setuju dengan Upagupta. “Tapi satu hal”, pinta Mara. “Jika saya merubah diri saya menjadi rupa Sang Buddha, kau harus berjanji untuk tidak akan menyembah saya kerena saya bukan orang suci sepertimu.” “Saya tidak akan menyembahmu,” janji Upagupta. Tiba-tiba Mara merubah dirinya menjadi rupa yang terlihat persis sama seperti Sang Buddha.

Ketika Upagupta melihat rupa itu, pikirannya dipenuhi dengan inspirasi besar; rasa baktinya muncul dari dalam hatinya. Dengan tangan beranjali, dengan segera Beliau menyembah figur Buddha itu. “Kau telah melanggar janjimu,” teriak Mara. “Engkau berjanji tidak akan menyembah saya. Sekarang, kenapa kau menyembah saya?” “Saya tidak menyembahmu. Kau harus memahami saya sedang menyembah Sang Buddha,” kata Yang Mulia Upagupta.

Berdasarkan kisah ini, kita dapat memahami mengapa rupang (gambar/patung) Sang Buddha penting untuk memberi menyembah berhala merupakan perbuatan kepada kita dan mengingat kemuliaan Sang Buddha dalam pikiran kita sehingga menyembah berhala merupakan perbuatan dapat memuliakannya.

Kita sebagai Buddhis tidak menyembah simbol material atau wujud yang hanya mewakili Sang Buddha. Tetapi kita memberi penghormatan kepada Sang Buddha. Inspirasi dari Rupa Sang Buddha Sang Buddha telah mangkat dan mencapai Nibbana.

Sang Buddha tidak memerlukan penghormatan atau persembahan ,tetapi hasil dari penghormatan akan mengikuti kita dan orang-orang akan mendapatkan manfaat dengan mengikuti teladanNya serta merefleksikan melalui pengorbanan tertinggi dan kualitas agungNya.

Seorang Buddhis tidak melakukan pengorbanan binatang atas nama Sang Buddha. Ketika beberapa Buddhis melihat rupang (gambar/patung) Sang Buddha, rasa bakti dan kebahagiaan muncul dalam pikirannya.

Rasa bakti atau kebahagiaan ini merupakan suatu objek yang menciptakan pikiran luhur di dalam pikiran seorang Buddhis yang berbakti. Rupang (gambar/patung) Sang Buddha ini juga membantu orang untuk melupakan kerisauan mereka, kekecewaan dan masalah-masalah serta membantu mereka mengontrol pikiran mereka.

Beberapa filosof terkenal dunia, para sejarahwan dan sarjana menyimpan rupang (gambar/patung) Sang Buddha di atas meja di dalam ruang baca mereka untuk mendapatkan inspirasi kehidupan dan pemikiran yang lebih tinggi. Kebanyakan dari mereka adalah non-Buddhis.

Banyak orang menghormati kedua orang tua mereka yang telah meninggal, guru, para pahlawan besar, para raja dan ratu, pemimpin nasional dan politik serta orang-orang lain yang disayangi dengan menyimpan gambar-gambar untuk menghargai memori mereka. Mereka mempersembahkan bunga untuk menyatakan perasaan kasih, terima kasih, penghargaan, penghormatan dan bakti mereka.

Mereka mengenang kembali kualitas mulia dan mengingatnya dengan bangga atas pengorbanan dan pelayanan yang diberikan oleh para tokoh ketika mereka masih hidup.

menyembah berhala merupakan perbuatan

Orang-orang juga mendirikan patung untuk mengenang beberapa tokoh pemimpin politik tertentu yang telah membantai berjuta nyawa yang tidak bersalah. Karena kejahatan dan ketamakan mereka untuk mendapatkan kekuasaan, mereka menjajah negara-negara yang miski dan menciptakan penderitaan, kekejaman, dan kesengsaraan yang tak terkira dengan tindakan perampasan mereka.

Namun, mereka masih dianggap sebagai pahlawan besar; dan peringatan tanda jasa diselenggarakan untuk menghormati mereka, dan memberikan bunga-bunga di atas makam dan kuburan mereka. Jika perbuatan tersebut dapat dibenarkan mengapa sebagian orang mengejek umat Buddha sebagai pemuja berhala ketika mereka memberikan penghormatan kepada guru agama mereka yang telah melayani umat manusia tanpa merugikan yang lain dan yang telah menaklukkan seluruh dunia melalui kasih sayang, belas kasih dan kebijaksanaanNya?

Bisakah seseorang dengan pikiran sehat mengatakan bahwa menghormati rupang (gambar/patung) Sang Buddha sebagai sesuatu yang tidak berbudaya, tidak bermoral atau tindakan yang merugikan seperti mengganggu kedamaian dan kebahagiaan orang lain? Apabila sebuah rupang (gambar/patung) sama sekali tidak penting bagi manusia dalam menjalankan agama maka simbol-simbol agama tertentu dan tempat-tempat beribadat juga tidak diperlukan.

Umat Buddha dikecam oleh beberapa orang sebagai penyembah batu. Tetapi menyembah batu tidak berbahaya dan lebih terhormat dibandingkan dengan umat agama lain yang melakukan pelemparan batu. Pentingnya Praktek Bagaimanapun juga, untuk mempraktekkan ajaran-ajaran Sang Buddha, keberadaan rupang (gambar/patung) Sang Buddha bukanlah suatu keharusan.

Seorang Buddhis dapat mempraktekkan agama mereka tanpa rupang (gambar/patung) Sang Buddha; mereka bisa melakukan hal ini kerena Sang Buddha tidak menganjurkan manusia untuk mengembangkan pengkultusan individu, dimana menurut ajaran Sang Buddha, seorang Buddhis tidak sepatutnya bergantung kepada menyembah berhala merupakan perbuatan lain bahkan kepada Sang Buddha sendiri untuk keselamatan dirinya.

Semasa kehidupan Sang Buddha, ada seorang bhikkhu bernama Wakkali. Bhikkhu ini selalu duduk di hadapan Sang Buddha dan mengagumi keindahan ciri-ciri fisik Sang Buddha. Wakkali mengatakan bahwa ia mendapat kebahagiaan dan inspirasi yang besar dengan mengagumi keindahan Sang Buddha.

Sang Buddha menjawab, “Engkau tidak dapat melihat Buddha yang sebenarnya dengan hanya melihat tubuh fisiknya saja. Mereka yang melihat ajaran saya maka melihat saya”. Aspek yang paling penting sekali dalam Buddhisme adalah mempraktekkan nasihat-nasihat yang diberikan oleh Sang Buddha. Di dalam hal ini, tidak ada bedanya antara seorang Buddhis yang memberi penghormatan kepada Sang Buddha dengan yang tidak.

Tetapi bagi beberapa umat, penghormatan ini sangat penting. Bagaimanapun juga, Sang Buddha tidak mengatakan bahwa Beliau mengharapkan penghormatan.

menyembah berhala merupakan perbuatan

Asal Muasal Rupang Buddha Lalu, Bagaimanakah rupang (gambar/patung) Buddha bermula? Sukar untuk mengetahui apakah ide ini diberikan oleh Sang Buddha atau tidak.

Tidak ada satupun dalam kitab suci Buddhis bahwa Sang Buddha meminta untuk membuat rupang (gambar/patung) Nya. Namun, Sang Buddha memberikan ijin untuk menyimpan relik-relik Beliau. Suatu ketika Yang Mulia Ananda pernah ingin mengetahui mengetahui apakah diijinkan mendirikan pagoda (cetiya) untuk mengenang Sang Buddha sebagai cara menghormati Beliau.

Kemudian Yang Mulia Ananda bertanya kepada Sang Buddha, ”Apakah layak, Yang Mulia, untuk membangun sebuah pagoda ketika Sang Bhagava masih hidup?” Sang Buddha menjawab, “Tidak, adalah tidak layak ketika Saya masih hidup.

Engkau bisa membangun objek penghormatan ini hanya setelah Saya tiada.” Juga dalam kotbah terakhirNya, Maha Parinibbana Sutta, Sang Buddha menasihati para siswaNya bahwa jika mereka ingin menghormati Sang Buddha setelah Ia tiada, mereka boleh membangun pagoda-pagoda untuk menyimpan relik tubuhNya. Nasihat ini sesuai dengan kebiasaan di India pada masa itu: kebiasaan membangun pagoda-pagoda untuk menyimpan relik orang–orang yang suci.

Relik ini disimpan sebagai suatu kenangan sebagai tanda penghormatan menyembah berhala merupakan perbuatan orang-orang suci. Pada saat yang sama, Sang Buddha sendiri tidak menganjurkan dan juga tidak melarang para siswaNya untuk mendirikan rupang (gambar/patung)Nya setelah Ia meninggal dunia.

Idea untuk menciptakan rupang (gambar/patung) Buddha datang dari pengikut-pengikutNya yang ingin memuja pemimpin terkasih mereka dan bertujuan mendapat inspirasi dari pribadi Sang Buddha yang luhur. Mereka juga menggunakannya untuk menyimpan sebagian dari relik Sang Buddha di dalam rupang (gambar/patung) tersebut setelah didirikan. Fa-hsien, yang mengunjungi India pada akhir abad keempat menyebutkan dalam catatannya bagaimana rupang (gambar/patung) Sang Buddha yang pertama didirikan.

Bagaimanapun, kitab-kitab suci Buddhis tidak menyebut apa-apa tentang pengamatan Fa-hsien tersebut. Meskipun demikian, mitologi mencatat sebagai berikut: Pada suatu ketika, Sang Buddha menghabiskan waktu selama tiga bulan di surga mengajarkan Abhidhamma atau Dhamma Yang Tertinggi. Selama kepergian Beliau, orang-orang yang pergi ke vihara merasa sangat tidak gembira kerena mereka tidak dapat melihat Sang Buddha.

Mereka mulai mengeluh. Siswa Utama, Yang Mulia Sariputta, pergi menemui dan melaporkan situasi itu kepada Sang Buddha. Sang Buddha menasihati Beliau untuk mencari seseorang yang dapat membuat rupang (gambar/patung) yang sama persis dengan diri Sang Buddha; kemudian orang-orang akan menjadi gembira melihat rupang Sang Buddha.

Sariputta pun kembali dan menemui raja untuk meminta menyembah berhala merupakan perbuatan untuk menolong mencari seseorang yang dapat membuat tiruan Sang Buddha. Tidak lama kemudian, orang yang dicari ditemukan; dia mengukir rupang dari kayu cedana. Setelah rupang itu diletakkan di vihara, orang-orang menjadi sangat gembira. Sejak saat itu, selanjutnya, menurut Fa-hsien, orang-orang mulai meniru replika Sang Buddha tersebut.

Tetapi hal yang sukar untuk menemukan bukti di dalam literatur Buddhis dan sejarah untuk mendukung keberadaan Rupang Sang Buddha di India sampai hampir 500 tahun setelah Sang Buddha mangkat. Pada masa itu, para umat biasanya menghormati Sang Buddha dengan menyimpan bunga teratai atau gambar telapak kaki Sang Buddha. Nampaknya, pada permulaan beberapa umat Buddha tidak menyukai membuat rupang Sang Buddha, mengingat memungkinkan terjadinya penyimpangan terhadap ciri-ciri penting Sang Buddha.

Banyak para sejarahwan mengklaim bahwa rupang (gambar/patung) Sang Buddha dibuat pertama kali di India pada masa pendudukan bangsa Yunani. Orang–orang Yunani membantu dan menganjurkan orang–orang India dalam seni membangun rupang Sang Buddha. Sejak saat itu, orang-orang di berbagai negara mulai mendirikan rupang Sang Buddha. Rupang-rupang di berbagai negara diukir dan dibentuk mengikut gaya dan seni yang menggambarkan ciri–ciri fisik orang–orang di negara tersebut.

Di dalanm negara Buddhis itu sendiri, gaya dari Rupang Sang Buddha pun berkembang menjadi beragam bentuk dan gaya disesuaikan dengan perubahan jaman dan sejarah.

Pendapat Para Intelektual Mengenai Rupang Buddha Pendit Nehru, mantan Perdana Menteri India, menyembah berhala merupakan perbuatan tentang rupang (gambar/patung) Buddha seperti berikut: “MataNya tertutup, tetapi ada suatu kekuatan spiritual yang keluar dari matanya dan energi vital memenuhi strukturnya.

Banyak jaman bergulir, dan nampaknya Sang Buddha tidak pergi terlalu jauh; suaranNya berbisik di telinga kita dan memberitahu kita supaya jangan lari dari perjuangan tetapi, menghadapinya dengan pandangan tenang, dan melihat peluang–peluang besar dalam hidup untuk terus berkembang dan maju.” Nehru juga pernah berkata, “Semasa saya berada di dalam penjara, saya sentiasa memikirkan tentang rupang (gambar/patung) Buddha yang merupakan sumber inspirasi yang luar biasa untuk saya.” Semasa Perang Dunia Kedua, General Ian Hamilton menemukan sebuah rupang Menyembah berhala merupakan perbuatan di dalam sebuah reruntuhan vihara di Burma.

Ia mengirim rupang tersebut ke Winston Churchill yang pada waktu itu menjadi Perdana Menteri Inggris dengan satu pesanan: “Ketika anda khawatir, lihatlah rupang yang wajahnya begitu tenang dan tersenyumlah kepada kekhawatiran anda.” Count Keyserling, seorang filosof berkata: “Saya tidak mengetahui hal lain yang lebih agung di dunia ini selain dari figur seorang Buddha; yang merupakan suatu penjelmaan spiritual yang sungguh sempurna di dalam dunia nyata (visible domain)” Sarjana lain berkata: “Rupang (gambar/patung) Buddha yang kita lihat merupakan suatu simbol yang mewakili kualitas.

menyembah berhala merupakan perbuatan

Pujian dan penghormatan kepada Menyembah berhala merupakan perbuatan Buddha tidak lain merupakan suatu simbol penghargaan atas keagungan dan kebahagian yang kita ketemui melalui ajaranNya.” Ketenangan dan ketentraman rupang Sang Buddha telah menjadi konsep umum kecantikan dari keindahan yang ideal. Rupang Sang Buddha merupakan sesuatu yang sangat berharga, aset kebudayaan Asia yang paling berharga dan dipunyai oleh banyak orang.

Tanpa rupang Buddha, Asia hanya akan dikenali sebagai suatu kawasan geografi saja mespikun semakmur apapun. Umat Buddhis menghormati patung Sang Buddha sebagai monumen keagungan, kebijaksanaan, yang paling sempurna, dan penuh belas kasih dari seorang guru agama yang pernah hidup di dunia ini.

Rupang ini diperlukan untuk mengingat kembali Sang Buddha dan kualitas agungNya yang memberikan inspirasi kepada jutaan manusia dari generasi ke generasi dalam dunia yang berbudaya. Rupang ini menolong mereka berkonsentrasi kepada Buddha.

Mereka merasakan kehadiran Sang Guru di dalam pikiran mereka, dan dengan demikian menjadikan penghormatan mereka lebih jelas dan bermakna. Sebagai seorang Buddhis, akan sangat tepat sekiranya untuk anda mempunyai menyembah berhala merupakan perbuatan atau gambar Buddha di dalam rumah anda.

Simpanlah rupang atau gambar ini bukan sebagai pajangan yang dipamerkan tetapi sebagai objek puja, penghormatan, dan inspirasi. Ketentraman rupang Buddha merupakan satu simbol yang memancarkan kasih sayang, kesucian dan kesempurnaan yang menjadi sumber penghibur dan inspirasi dalam membantu anda mengatasi berbagai permasalahan dan kekhawatiran yang harus anda hadapi dalam akitivitas keseharian di dunia yang bermasalah ini.

Ketika anda memberi penghormatan kepada Sang Buddha, anda akan mendapat menyembah berhala merupakan perbuatan manfaat apabila anda bermeditasi beberapa saat dengan memfokuskuskan pikiran anda pada kualitas agung dan mulia Sang Buddha.

Jika anda memikirkan Guru Agung, anda dapat menyempurnakan diri anda melalui bimbinganNya. Oleh karena itu, bukan hal yang tidak wajar penghormatan ini terekspresikan di dalam bentuk seni dan pahatan yang terbaik dan terindah di dunia. Seorang penulis terkenal lainnya mengatakan di dalam bahasa filsafatnya mengenai arti sebenarnya di dalam memberi penghormatan kepada Sang Buddha, seperti berikut: “Kita juga perlu memberi penghormatan meskipun pemujaan itu diarahkan bukan untuk seorang-karena sebenarnya semua personalitas merupakan mimpi, tetapi pemujaan itu diarahkan kepada kesesuaian hati kita.

Dengan itu, kita dapat menemui kekuatan baru dan membangun mahligai kehidupan kita sendiri, membersihkan hati kita sampai layak untuk membawa rupang tersebut di dalam tempat perlindungan kasih sayang yang mendalam. Di atas altarnya, kita semua perlu mempersembahkan hadiah bukan cahaya yang padam, bunga-bunga yang layu, tetapi tindakan kasih sayang, pengorbanan dan tanpa keakuan terhadap semua yang berada di sekeliling kita.” Anatol France, di dalam autobiografinya menulis, “Di awal bulan Mei, 1890, kesempatan membawaku untuk mengunjungi sebuah musium di Paris.

Di sana berdiri dewa-dewa Asia dalam kesunyian dan kesederhanaan, pandanganku jatuh pada patung Sang Buddha yang memberi isyarat kepada penderitaan manusia untuk mengembangkan pemahaman dan belas kasih. Jika ada tuhan yang pernah berjalan di atas muka bumi ini, saya merasakan Beliaulah (Buddha) menyembah berhala merupakan perbuatan.

Saya merasa seperti berlutut dan berdoa kepadaNya seperti kepada Tuhan.” Mr. Ouspensky, seorang penulis Barat lainnya, mengekspresikan perasaannya terhadap rupang Buddha yang ia temukan di Sri Lanka.

Ia berkata, “Rupang Buddha ini merupakan suatu bagian seni yang sungguh istimewa. Saya tidak mengetahui hasil karya seni lainnya yang sejajar dengan rupang Buddha dengan mata dari batu safir, dimana sepengetahuan saya tidak ada karya seni yang dapat mengekspresikan dengan sempurna idea suatu agama seperti wajah rupang Buddha yang mengekspresikan ide Buddhisme.” Selanjutnya ia berkata, ”Tidak perlu membaca banyak buku tentang Buddhisme atau berjalan bersama dengan para professor yang mempelajari agama–agama Timur atau belajar dengan para bhikkhu.

Seseorang harus datang ke sini, berdiri di hadapan rupang Buddha ini dan biarkan pancaran mata birunya menembus kehidupannya, dan dia akan memahami apa itu Buddhisme.” Kesenian Buddhis yang indah dari membangun rupang, menciptakan lukisan dinding tentang beragam kisah Buddhis telah memberikan inspirasi yang sangat besar pada kekayaan seni dan budaya di hampir setiap negara Asia lebih dari 2000 tahun.

Apakah yang membuat pesan-pesan Sang Buddha begitu diminati oleh orang yang telah mengembangkan intelektual mereka? Jawabannya mungkin terlihat pada ketentraman rupang Sang Buddha. Bukan hanya dalam warna dan garis manusia mengekspresikan keyakinannya terhadap Sang Buddha dan ajaranNya. Tangan manusia menempa logam dan batu memproduksi rupang Buddha yang merupakan salah satu ciptaan terbesar dari kejeniusan manusia.

Jika umat Buddha benar–benar ingin melihat kehadiran Sang Buddha dalam segala keagungan dan keindahanNya, mereka harus menerjemahkan ajaran-ajaranNya ke dalam tindakan dan situasi praktis pada kehidupan sehari-hari mereka. Dengan mempraktekkan ajaran-ajaranNya mereka dapat mendekatkan diri dan merasakan pancaran yang luar biasa dari kebijaksanaan dan belas kasihNya yang tidak kunjung padam.

Hanya menghormati rupang Sang Buddha tanpa mengikuti ajaran muliaNya bukannya cara untuk menemukan keselamatan. KehidupanNya begitu indah, hatiNya begitu suci dan baik, pikiranNya begitu dalam dan tercerahkan, kepribadianNya begitu menginspirasikan dan tanpa ke-aku-an – kehidupan yang sangat sempurna, hati yang sangat berbelas kasih, pikiran yang sangat tenang, kepribadian yang sangat tentram yang patut di hormati, layak diberi penghormatan dan layak diberi persembahan.

Sang Buddha yang merupakan kesempurnaan tertinggi dari umat manusia, dan keindahan dari kemanusiaan. Sir Edwin Arnold menjelaskan sifat alami Kebuddhaan di dalam bukunya ”Light of Asia” (Cahaya Asia) seperti berikut: “Ini adalah bunga dari pohon manusia kita yang berkembang dalam beribu–ribu tahun.

Takkala berkembang, mengisi dunia dengan harum kebijaksanaan dan menjatuhkan madu kasih sayang.” Seorang penyair terkemuka India, Rabindranath Tagore menyebutkan hal penting dari penampilan Sang Buddha dalam bahasa puitisnya dengan cara berikut: Semua makhluk menangis atas kelahiran baru mereka. Oh, Engkau yang hidup tanpa batas Selamatkanlah mereka, bangkitkanlah suara harapan abadiMu Biarkan teratai cinta dengan harta madu yang tak terhingga itu, membuka kelopaknya dalam cahayanya.

Oh Kedamaian, Oh Kebebasan, Di dalam belas kasih dan kebaikanMu yang tidak terukur, Singkirkanlah semua noda gelap dari hati dunia ini. Namo Buddhaya – Terpujilah Sang Buddha. -end- Judul Asli: Are Buddhist Idol – Worshippers? Oleh: Ven. K. Sri Dhammananda Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com sugata “Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Kenapa Arab Jahiliyyah dulu menyembah berhala ?




2022 www.videocon.com