Tugas brimob

tugas brimob

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa Polisi dan Brimob merupakan dua profesi dalam dua naungan yang berbeda. Oleh karena itu, tidak jarang jika kita menemui pertanyaan tentang apa saja perbedaan Polisi dan Brimob. Untuk mencari tahu jawaban yang tepat, maka kita bisa mengulasnya bersama dalam artikel tugas brimob ini.

Polisi secara umum memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menjaga keamanan, menegakan hukum, dan mengayomi masyarakat. Sedangkan Brimob merupakan elit Polri yang bertugas dalam menanggulangi ancaman ketertiban masyarakat yang berintensitas tinggi.

Berdasarkan keterangan tersebut, maka Polisi dan Brimob pada dasarnya sama-sama berada dalam naungan kepolisian Indonesia atau Polri hanya saja tugas dan tanggung jawabnya sedikit berbeda. Misalnya saja tugas yang menjadi tanggungjawab Brimob ialah mewujudkan keamanan dari ancaman teroris bersenjata, tindak kejahatan penyanderaan, dan ancaman berintensitas tinggi lainnya.

Dengan besarnya resiko kerja tinggi yang harus diemban anggota Brimob, maka posisi ini dikenal sebagai satuan elit Polri. Sebagai satuan elit Polri, maka secara struktural posisi anggota Brimob tersebut berada dibawah jabatan Kapolri.

Adapun tugas Brimob secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni Brimob Resimen Gegana, dan resimen Pelopor. Agar bisa lebih tahu tentang tugas resimen tersebut, maka berikut adalah penjelasan singkatnya: Berdasarkan tugas dan tanggung jawabnya tersebut, maka kita bisa memahami bahwa perbedaaan polisi dan brimod terletak pada kewenangan tugasnya masing-masing.

Karena memiliki sebutan dan tugas yang berbeda, maka seragam dinas polisi biasa dan Brimob juga tentunya berbeda, kemudian atributnya juga berbeda karena Tugas brimob memiliki peran paramiliter. (HAI) oleh ARHAM GUSDIAR AKADEMI KEPOLISIAN WIRATAMA BHAYANGKARA BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Polri merupakan institusi pemrintah yang bertujuan menjamin harkamtibmas, dalam perkeembangannya polri melakukan manufer-manufer untuk membangun polri terutama dalam pelayanan dan membangun kepercayaan dari masyarakat.

Perpolisian masyarakat atau biasa disebut polmas merupakan salah satu manufer Polri, dengan Polmas ini polri mengalami perkembangan yang signifikan, polmas merupakan program polri yang lebih menekankan kedekatan anggota polri dengan masyarakat.

Polmas diemban oleh seluruh tugas brimob polri tanpa terkecuali termasuk anggota satuan brimob.

tugas brimob

Brimob menjalankan peran polmas dengan cara yang sdikit berbeda dengan anggota polri lainnya karena perlu di =ingat brimob merupakan satuan tugas khusus yang dimiliki polri. Dlam makalah ini akan di jelaskan bagaiman peranan brimob dalam perkembangan polmas 2.

MAKSUD DAN TUJUAN Menyadari bahwa taruna akademi kepolisian merupakan calon perwira polri yang diharapkan dapat menguasai semua unsure dari polri maka dipandang perlu dibuat makalah ini untuk menambah pengetahuan taruna tentang polri terutama polmas dalam satuan brimob 3.

RUANG LINGKUP Makalah tugas brimob terbatas pada lingkungan polri pada umumnya terkhusus pengetahuan taruna Akpol pada Polmas dalam satuan brimob dengan memperhatikan unsur-unsur pembantu dalam kgiatan polmas dalam satuan brimob. BAB II ISI 1. SATUAN BRIMOB POLRI Brigade Mobil (Brimob) adalah Korps tertua didalam Kepolisian Negara Republik Indonesia karena dibentuk pada tanggal 14 Nopember 1945 bersamaan dengan hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Korps ini dikenal sebagai Korps Baret Biru. Brimob termasuk Satuan elit dalam jajaran Kepolisian Republik Indonesia, Brimob juga tergolong kedalam Satuan / Unit Para Militer ditinjau dari tugas dan tanggung jawab dalam lingkup tugas Kepolisian.

Brigade Mobil awalnya dikenal dengan sebutan Mobile Brigade (Mobrig). Mobile Brigade adalah cikal bakal dari Polisi Istimewa dan di dalam keberhasilan-keberhasilan tugas Kepolisian yaitu berjuang bersama-sama dengan rakyat merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia dan salah satu bukti daripada keberhasilan tersebut adalah Lahirnya hari Pahlawan 10 Nopember 1945, Atas pengabdian dan kesetiaan Mobile Brigade kepada bangsa dan negara sebagai Satuan elite Kepolisian sehingga Presiden Republik Indonesia I Ir.Soekarno memberikan penghargaan tertinggi kala itu yaitu Nugraha Cakanti Yana Utama pada perayaan HUT Mobrig ke-16 tanggal 14 Nopember 1961 bersamaan dengan itu pulalah diresmikan perubahan nama dari Mobile Brigade menjadi Brigade Mobile dengan tugas pokok adalah menanggulangi kriminalitas yang berintensitas tinggi antara lain lawan teror, penjinakan bahan peledak/Jibom, tugas brimob massa, kelompok terorganisir yang bersenjata, separatisme tugas brimob tugas Kepolisian lainnya.

2. POLMAS DALAM INSTANSI POLRI Kebersamaan menjanjikan kekuatan yang luar biasa, tugas brimob sesuatu yang besar hanya dapat diraih melalui kebersamaan. Semangat kebersamaan di Indonesia untuk mencapai mewujudkan suatu negara yang merdeka dan berdaulat.

Fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Untuk mencapai hasil yang maksimal dari fungsi ini dibutuhkan kebersamaan antara polisi dan masyarakat, sehingga satu dengan yang lainnya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Polisi tidak akan dapat menciptakan situasi yang tertib dan aman dalam suatu lingkungan masyarakat tanpa adanya kemauan dan kesadaran dari masyarakat itu sendiri, akan pentingnya suasana yang aman dan tertib.

Sebagai ujung tombak dalam menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat, Polri harus mampu beradaptasi dengan segala perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Seiring dengan bergulirnya era reformasi yang telah menggugah kesadaran seluruh komponen bangsa untuk melakukan pembenahan dan pembaharuan atas berbagai ketimpangan, kinerja dan hal-hal tugas brimob dianggap tidak profesional serta proporsional menuju masyarakat sipil yang demokratis.

Polri pun tidak lepas dari wacana besar perubahan ini. Karena kepolisian merupakan cerminan dari tuntutan dan harapan masyarakat akan adanya rasa aman, keamanan, ketertiban dan ketentraman, yang mendukung produktifitas yang mensejahterakan warga masyarakat. Salah satu tantangan utama Tugas brimob ke depan adalah menciptakan polisi masa depan, yang mampu secara terus-menerus beradaptasi dengan perkembangan sosial, budaya, ekonomi dan politik masyarakat.

Polisi harus dapat menjadi mitra. Memahami atau cocok dengan masyarakat, menjadi figur yang dipercaya sebagai pelindung, pengayom dan penegak hukum. Di samping itu tugas brimob pribadi dapat dijadikan panutan masyarakat dan mampu membangun simpati dan kemitraan dengan masyarakat. Polri dalam hal ini harus membangun interaksi sosial yang erat dan mesra dengan masyarakat, yaitu keberadaannya menjadi simbol persahabatan antara warga masyarakat dengan polisi dengan mengedepankan dan memahami kebutuhan adanya rasa aman warga masyarakat, yang lebih mengedepankan tindakan pencegahan kejahatan (crime prevention).

Paradigma baru Polri tersebut menjadi kerangka dalam mewujudkan jati diri, profesionalisme dan modernisasi Polri sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat, berada dekat masyarakat dan membaur bersamanya.

Inilah paradigma yang dikenal sebagai community policing. Model community policing ini telah diatur dalam Surat Keputusan Kapolri No.Pol: Skep/737/X/2005 tanggal 13 Oktober 2005 tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Model Perpolisian Masyarakat dalam Penyelenggaraan Tugas Polri.

Community Policing adalah bentuk polisi sipil untuk menciptakan dan menjaga keamanan dan ketertiban dalam masyarakat yang dilakukan dengan tindakan-tindakan : (1) Polisi bersama-sama dengan masyarakat untuk mencari jalan keluar atau menyelesaikan masalah sosial (terutama masalah keamanan) yang terjadi dalam masyarakat. (2) Polisi senantiasa berupaya untuk mengurangi rasa ketakutan masyarakan akan adanya gangguan kriminalitas (3) Polisi lebih mengutamakan pencegahan kriminalitas (crime prevention), (4) Polisi senantiasa berupaya meningkatkan tugas brimob hidup masyarakat.

Penerapannya dengan mengedepankan untuk senantiasa memperbaiki dan menjaga hubungan antara polisi dengan warga komuniti sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. Hubungan polisi dengan warga komuniti dibangun melalui komunikasi dimana polisi bisa menggunakan dengan kata hati dan pikirannya untuk memahami berbagai masalah sosial yang terjadi maupun dalam membahas masalah yang bersifat lokal tugas brimob adat istiadat masyarakat sukubangsa setempat.

Model community policing dapat dianalogikan bagwa posisi polisi adalah dapat berpindah secara fleksibel yaitu ; 1) Posisi setara antara polisi dengan warga komuniti dalam membangun kemitraan dimana polisi bersama-sama dengan warga dalam upaya untuk mencari solusi dalam menangani berbagai masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat. 2) Posisi di bawah adalah polisi berada di bawah masyarakat yaitu polisi dapat memahami kebutuhan rasa aman warga komuniti yang dilayaninya, dan 3) posisi polisi di atas yaitu polisi dapat bertindak sebagai aparat penegak hukum yang dipercaya oleh warga masyarakat dan perilakunya dapat dijadikan panutan oleh warga yang dilayaninya.

Tugas Polisi yang mencakup tugas perlindungan, pengayoman dan pelayanan disamping tugasnya sebagai alat negara penegak hukum membuka format yang lebih luas kearah pemberdayaan masyarakat. Namun demikian dalam operasional Polmas adalah dalam lingkup wilayah yang kecil (Kelurahan atau RW) dengan tetap menitik beratkan kepada orientasi pada masyarakat yang dilayaninya (polisi cocok dengan masyarakat).

Dalam penyelenggaraan tugas Polri community policing akan dikenal dengan istilah Polmas (Perpolisian Masyarakat). Paradigma baru ini didasari oleh kenyataan bahwa sumber daya manusia kepolisian yang terbatas tidak mungkin mengamankan masyarakat secara solitair atau seorang diri. Polisi membutuhkan peran serta masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

Syarat utama dari paradigma baru ini adalah terjalinnya kedekatan hubungan antara polisi dan masyarakat. Tepatnya, kemitraan yang harmonis dan upaya – upaya untuk menyelesaikan berbagai masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat khususnya yang berkaitan dengan keamanan dan rasa aman warga masyarakat. Melalui konsep Polmas, kemitraan yang terjalin antara anggota Polri digaris depan dengan masyarakat yang berada dalam kawasan tugasnya, akan sangat mendukung dan memberikan kontribusi bagi keberhasilan anggota Polri tersebut menyelesaikan setiap tugas brimob sejak dini.

Namun begitu, penerapan Community Policing atau perpolisian masyarakat ini tidak bisa diterapkan dengan sistem baku, yaitu sistem yang sama untuk semua provinsi di Indonesia.

Karena, Bangsa Indonesia bersifat multicultural.

tugas brimob

Dimana keragaman budaya, adat istiadat dan bahasa, menjadi rmasalahan untuk menerapkan polmas secara baku. Keberagaman Indonesia ini menjadi tantangan tersendiri bagi kepolisian dalam mengimplementasikan polmas secara menyeluruh.

Berbagai perbedaan disetiap daerah merupakan situasi yang harus dipikirkan Polri. Apalagi ditambah dengan kondisi tingkat ekonomi, pendidikan dan strata yang ada dalam masyarakat, implementasi polmas sudah harus melihat sisi kedaerahan atau kondisi lokal. Karena, apabila salah penangan polmas tidak akan bisa diterima oleh masyarakat yang masih kental akan adat istiadatnya. Dengan melihat keanekaragaman ini, kepolisian dapat mencari solusi setiap permasalahan yang terjadi dalam masyarakat, sehingga berbagai kemungkinan dan isu-isu negatif, kemungkinan–kemungkinan terjadinya konflik, dapat diketahui dan dicari solusinya untuk kepentingan bersama, khususnya dalam hal mewujudkan partnership building dan mendukung Kamdagri.

Dalam upaya Kepolisian Negara Republik Indonesia membangun kepercayaan (trust building) masyarakat maka perlu diterapkan suatu perpolisian yang memasyarakat, membumi, demokratis, dan sarat dengan nilai-nilai budaya bangsa. Namun pelaksanaan polmas ini hendaknya dapat melihat pada karakteristik suatu daerah, budaya, agama dan pranata sosial setempat.

menurut Endang Poerwanti, nilai-nilai budaya sebagai manifestasi dinamika kebudayaan tidak selamanya berjalan secara mulus. Permasalahan silang budaya dalam masyarakat majemuk (heterogen) dan jamak (pluralistis) seringkali bersumber dari masalah komunikasi, kesenjangan tingkat pengetahuan, status tugas brimob, geografis, adat kebiasaan dapat merupakan kendala. Karena itu, pelaksanaan polmas dengan kearifan lokal mutlak diperlukan karena akan menjadi formulasi yang baik.

Formulasi yang dihasilkan akan memberi gambaran dan pemahaman kepada kepolisian tentang kondisi daerah setempat sehingga Kamdagri yang telah dicanangkan kepolisian dapat terealisasi dengan baik.

3. PERPOLISIAN MASYARAKAT YANG DIEMBAN BRIMOB POLRI Sejalan dengan reformasi di tubuh Polri, Brimob Polri terus melakukan perubahan-perubahan melalui beberapa tahapan, yakni jangka pendek, jangka sedang dan pemantapan. Perubahan-perubahan tersebut meliputi tiga aspek, yaitu aspek struktural, aspek instrumental dan aspek kultural melalui aktualisasi motto pengabdian “Jiwa Ragaku Demi Kemanusiaan”.

Melalui motto pengabdian ini diharapkan anggota Brimob Polri dapat memahami tugas-tugas yang diembannya serta terpatri dalam dirinya nilai-nilai kemanusiaan untuk diinternalisasikan dan diimplementasikan sebagai pedoman hidup dalam rangka pengabdiannya kepada bangsa dan negara.

Oleh karenanya, dalam setiap penugasan Brimob, arahnya semata-mata untuk kepentingan masyarakat dan dapat dipertanggungjawabkan di depan hukum.Dengan demikian, diharapkan kedepan Brimob Polri lebih tugas brimob diri kepada masyarakat, lebih dipercaya serta dicintai masyarakat, mengutamakan melayani dan menolong, bukannya menjadi musuh masyarakat serta peka terhadap permasalahan-permasalahan kemasyarakatan.

Perpolisian Masyarakat merupakan salah satu cara yang sedang dikembangkan Polri tugas brimob menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Perpolisian Tugas brimob itu sendiri merupakan suatu model perpolisian yang tugas brimob kemitraan yang sejajar antara petugas Polmas dengan masyarakat dalam menyelesaikan dan mengatasi setiap permasalahan sosial yang mengancam tugas brimob dan ketertiban masyarakat serta ketentraman kehidupan masyarakat setempat.

Hal ini juga dilakukan di Korbrimob dengan melaksanakan pelatihan-pelatihan perpolisian masyarakat terhadap anggota Brimob Polri serta secara langsung menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Sementara itu, Brimob Polri sebagai fungsi teknis kepolisian bantuan taktis operasional back up satuan kewilayahan terdepan terhadap gangguan Kamtibmas berkadar tinggi, utamanya kerusuhan massa, kejahatan terorganisir menggunakan senjata api dan atau bahan peledak, melaksanakan penerapan Perpolisian Masyarakat di wilayah-wilayah tertentu dalam rangka pendataan dan identifikasi permasalahan, menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat serta menciptakan rasa aman, tenteram dan damai dalam kehidupan masyarakat setempat secara bersama-sama.

Dan berdasarkan data yang diperoleh Teratai dari satuan-satuan yang ada di Korps Brimob Polri, dalam kurun waktu satu tahun kegiatan perpolmas yang telah dilakukan meliputi : Puslat Korps Brimob Polri 1. 14 Januari 2008, Puslat bekerjasama dengan Stasiun TV Trans7 melaksanakan sosialisasi pembuatan perahu galon dan pelampung dari botol air mineral bekas di wilayah Mampang Jakarta Selatan, dengan tujuan untuk mengantisipasi terjadinya banjir yang akan terjadi di wilayah tersebut.

Sat Il/Pelopo R 1.10 Januari 2008, Sat Il/Pelopor mengadakan khitanan massal dan pemberian santunan kepada anak Yatim Piatu dalam rangka mem peri ngati 1 Muharam 1429 H. 2. 17-18 Mei 2008, sebanyak 15 personil Kompi 2 Detasemen D Satuan Il/Pelopor dipimpin oleh Iptu Ridwan R.

Soplanit melaksanakan tugas Operasi Bersih Kali Baru Cibinong Bogor, kegiatan berjalan dengan lancar dan arus air mulai dari pintu air kompleks Yon Bekang Kostrad sampai pintu air Carrefur sejauh 3,5 km menjadi lancar kembali. 3. 05 Agustus 2008, sebanyak 10 personil team Delta SAR Detasemen D Satuan Il/Pelopor dipimpin Iptu Ridwan R.

Soplanit melaksanakan tugas Operasi Bersih Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Cibodas Cianjur-Bogor. Sat Ill/Pelopor 1.14-23 Maret 2008, anggota Den C Sat Ill/Pelopor melakukan perpolmas ke wilayah Tasik Malaya dan sekitarnya berupa Ta’lim dan Mudzakaroh, shalat berjamaah dengan mengajak masyarakat untuk bersama-sama shalat berjmaah di mesjid serta silaturahmi ke rumah-rumah penduduk.

Dengan kegiatan ini terjalin hubungan yang baik antara anggota Brimob Polri dengan anggota kepolisian umum khususnya wilayah Tasik Malaya serta anggota Brimob dapat membaur dan bergabung dengan masyarakat sehingga bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap Brimob pada khususnya dan Polri pada umumnya.

2.Tahun 2008, Detasemen C Sat Ill/Pelopor rutin mengadakan kegiatan sosial donor Darah di minggu kedua setiap bulannya. 3. Tahun 2008, anggota Sat Ill/Pelopor melakukan corvey di lingkungan masyarakat sekitar Ksatrian Amjiattak dan sepanjang jalan raya Margonda Depok.

Bentuk Kepedulian Kepada Masyarakat Maksud dan Tujuan Polmas oleh Sat Brimob. Sat Brimob dalam Perpolisian masyarakat melalui pendekatan proaktip berbagai macam kegiatan Sat Brimob untuk mengkondisikan masyarakat guna menumbuhkan peran tugas brimob masyarakat agar membantu tugas-tugas Kepolisian sampai pada pemecahaan tugas brimob sosial. Masalah sosial menjadi target Perpolisian masyarakat oleh Satuan Tugas Fungsi Brimob adalah masalah sosial yang apabila dibiarkan akan berkembang menjadi Gangguan Kamtibmas, khususnya tugas brimob sosial yang berpotensi menjadi tantangan tugas Fungsi Brimob, seperti kerusuhan massa, terorisme, kejahatan terorganisir bersenjata api dan bahan peledak, separatisme dan kondisi yang mengharuskan Tim SAR Brimob turun ke lapangan dalam rangka bantuan Kemanusiaan.

2.Sarana dan Prasarana Kesatuan untuk mendukung kegiatan Polmas dalam masyarakat Sat Brimob dalam menumbuhkan rasa simpati masyarakat melakukan pembenahan kedalam yaitu suatu upaya untuk menumbuhkan rasa percaya masyarakat kepada Satuan Tugas Fungsi Brimob.

Upaya tersebut adalah pembenahan kedalam yang meliputi pada : a.Penampilan Kesatuan. Penampilan Kesatuan adalah stigma yang terbentuk pada masyarakat tentang gambaran Satuan Brimob yang tercermin dari Penampilan Insan Anggota Brimob yang terlepas dari Gaya ala Militer namun tetap memperhatikan Prilaku dan etika tugas brimob masyarakat.

b.Konsisten dan serius pada tugas. Konsisten pada tugas adalah sikap anggota Brimob pada saat melaksanakan tugas betul-betul menunjukan sikap serius, pada saat kegiatan tugas brimob betul-betul melakukan setiap gerakan dengan baik, apabila sedang upacara betul-betul serius dan khidmat, sehingga masyarakat menilai bahwa Satuan Tugas brimob adalah satuan yang patut dihargai dan disegani.

Keseriusan anggota pada setiap kegiatan melaksanakan tugas, berdampak pada penilaian masyarakat terhadap nama baik kesatuan, misalnya apabila pasukan upacara dari Satuan Brimob tertib, rapih dan barisannya baik, maka masyarakat akan lebih menghargai satuan kita, apabila anggota Brimob melakukan pengamanan dengan serius dan tertib maka akan mendapatkan simpati dari masyarakat.

c.Penampilan Operasional. Penampilan Operasional adalah kesiapan kesatuan Brimob dalam memberikan tugas brimob kepada satuan wilayah atau masyarakat dengan kemampuan kesatuan atau perorangan, kelengkapan peralatan, cepat mendatangi lokasi yang harus didatangi, tuntas pada pelaksanaan tugas dan tidak merugikan masyarakat. Pada dasarnya penampilan kesatuan adalah pelayanan Kesatuan Brimob untuk membantu masyarakat yang memerlukan kehadiran Kesatuan Brimob, yang perlu diperhatikan pada Penampilan operasional adalah : 1).Pasukan terlatih dan terkodinir.

Selain kemampuan perorangan anggota Brimob yang menguasai keterampilan bidang tugasnya, juga kemampuan ikatan regu, peleton, kompi dan Kesatuan Brimob apabila melaksanakan tugas dalam ikatan tersebut, masing-masing anggota mengerti akan tugas dan peran masing-masing, sehingga akan terlihat betul bahwa pasukan Brimob adalah pasukan yang terlatih dengan prosedur-prosedur petunjuk cara bertindak di lapangan, sehingga Satuan Brimob dalam pelaksanaan tugasnya diterima oleh masyarakat dan tidak menimbulkan kobran masyarakat yang tidak seharusnya akibat anggota Brimob tidak profesional.

Kesiapan operasional harus ditunjang dengan berlatih terus, mengikuti trend teknologi dan perkembangan ancaman Gangguan Kamtibmas, khususnya kejahatan yang menggunakan teknologi, karena pada hakekatnya petugas keamanan harus memiliki kemampuan diatas Ancaman Gangguan Kamtibmas.

2).Cepat tanggap mendatangi lokasi Cepat mendatangi lokasi yang dimaksud adalah apabila ada permintaan kehadiran satuan brimob di suatu lokasi, masyarakat yang membutuhkan tidak lama menunggu, karena apabila satuan wilayah atau masyarakat minta datang satuan brimob, biasanya situasi di lapangan sudah tidak terkendali oleh aparat kemanan yang ada di lokasi tersebut.Dengan tugas brimob satuan Brimob yang cepat mendatangi lokasi maka akan cepat memberikan rasa aman, akan memberikan harapan pada masyarakat yang minta bantuan, akan menumbuhkan rasa percaya pada masyarakat.

3).Siap peralatan dan kelengkapan. Kehadiran satuan brimob di tengah-tengah masyarakat haruslah didukung dengan peralatan yang memadai, karena dengan peralatan yang lengkap akan memberikan rasa yakin pada masyarakat bahwa satuan brimob serius pada pelaksanaan tugasnya. Peralatan yang dimiliki haruslah betul-betul dikuasai tentang penggunaannya, perawatannya dan penyimpanannya.

4).Tidak melanggar HAM dan merugikan masyarakat. Anggota brimob yang bertugas melakukan penindakan pada pelaku kerusuhan, pelaku penjarahan, pelaku teroris, pelaku kejahatan atau pelaku kelompok bersenjata tidaklah brutal membabibuta sehingga menimbulkan korban dari pihak tugas brimob yang tidak perlu, tugas brimob ini sangatlah meyakiti hati masyarakat.

Yang harus dilakukan oleh anggota brimob pada waktu melakukan penindakan adalah dengan melakukan tindakan sesuai prosedur, keras terukur, bisa dipertanggungjawabkan secara hukum apabila melakukan overmacht atau diskresi.

Anggota brimob setiap melaksanakan tugas tidak boleh merugikan harta benda milik masyrakat apabila terjadi kerusakan akibat pelaksanaan tugasnya maka anggota tersebut haruslah minta maaf dan harus memberikan kompensasi sebagai tanggungjawabnya, bahwa anggota brimob tidak bisa seenaknya merugikan masyarakat. 3.Kemitraan Polmas. Mitra Sat Brimob pada perpolisian masyarakat adalah seluruh masyarakat, namuan karena keterbatasan kesatuan, maka harus menentukan Mitra utama yaitu masyarakat secara prioritas dipilih untuk menjadi Mitra tugas pada pelaksanaan perpolisian masyarakat dengan skala Prioritas berdasarkan Karakteristik tertentu.

di suatu area yang di dalamnya terdapat suatu komunitas (community) masyarakat yang memerlukan tugas brimob anggota brimob sebagai mitra dalam perpolisian masyarakat dengan tolok ukur tertentu. Standar tolak ukur adalah Kerawanan yang ada pada masyarakat yang apabila dibiarkan akan menjadi tantangan tugas Satuan Brimob.Tolak ukur adalah Indikator atau Gejala-gejala yang timbul pada masyarakat yang menunjukan adanya ketidakseimbangan sosial.

Kondisi ketidak seimbangan sosial ini akan berkembang menjadi Konflik tertutup atau rasa antipati antara satu atau kedua belah pihak. Kondisi konflik tertutup ini adalah kondisi yang rawan tinggal menunggu Saat tertentu (moment triger) untuk menjadi Konflik terbuka. Adapun masyarakat yang menjadi mitra pada prioritas pelaksanaan Perpolisian Masyarakat oleh Sat Brimob adalah : a.Kondisi sosial Masyarakat Kelompok masyarakat yang menjadi Mitra Perpolisian masyarakat oleh Satuan Brimob adalah masyarakat yang memiliki masalah sosial dan aktivitas pada kondisi aman yang apabila dibiarkan akan menjadi tantangan tugas Brimob.

b.Kawasan atau daerah Kawasan atau daerah yang menjadi tempat penerapan perpolisian masyarakat adalah seluruh wilayah hukum secara selektip dipilih adalah daerah-daerah yang sulit dijangkau atau daerah yang tingkat kerawanan gangguan Kamtibmasnya tinggi, adapun prioritas adalah Kawasan yang akan diterapkan pada tahap awal. c.Tokoh yang berpengaruh pada Kelompoknya. Masyarakat berpengaruh adalah Seseorang yang bisa mempengaruhi kelompoknya untuk ikut melaksanakan Perpolisian masyarakat.

Orang tersebut bisa diajak kersama sebagai mitra untuk menjadi pelopor dan penggerak untuk mengajak masyarakat lainnya berperan serta dalam kegiatan perpolisian masyarakat.

d.Permasalahan yang menjadi potensi konflik dan menjadi skala prioritas utama, seperti : 1).Sengketa masalah Kepemilikian tanah 2).Perebutan Lahan tambang 3).Perebutan Sarang burung walet 4).Perkelahian antar kampung. 5).Konflik etnis antar suku 6).Konflik Agama.

7). Daerah rawan Konflik Vertikal (antar Pemerintah dengan masyarakat Dengan wujub sikap dan usaha anggota satuan brimob yang nyata dilapangan dalam mengemban fungsi Polmas yang merupakan kewajiban seluruh anggota Polri, diharapkan dapat membantu peran Polri dalam tugas pokoknya sebagai ‘pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat’.

Tugas brimob III PENUTUP 1. KESIMPULAN Sat Brimob dalam Perpolisian masyarakat melalui pendekatan proaktip berbagai macam kegiatan Sat Brimob untuk mengkondisikan masyarakat guna menumbuhkan peran serta masyarakat agar membantu tugas-tugas Kepolisian sampai pada pemecahaan masalah-masalah sosial.

Masalah sosial menjadi target Perpolisian masyarakat oleh Satuan Tugas Fungsi Brimob adalah masalah sosial yang apabila dibiarkan akan berkembang menjadi Gangguan Kamtibmas, khususnya masalah sosial yang berpotensi menjadi tantangan tugas Fungsi Brimob, seperti kerusuhan massa, terorisme, kejahatan terorganisir bersenjata api dan bahan peledak, separatisme dan kondisi yang mengharuskan Tim SAR Brimob turun ke lapangan dalam rangka bantuan Kemanusiaan.

Sehinggah dalam wujud polmas dapat mempermudah tugas polri lebih khususnya bagi anggota brimob. 2. SARAN Dalam penyusunan makalah ini kami menyarankan agar dalam penyusunan makalah diberi waktu yang tepat sehingga dalam menyusun tugas brimob kelak nantinya dapat lebih maksimal baik dari isi kwantitas dan kwalitasnya Semarang, 14 Februari 2011 Penyusun DAFTAR PUSTAKA Kadarmanta, 2007, Membangun Kultur Kepolisian, PT.

Forum Media Utama, Jakarta. Erlinus Thahar, 2008, Polmas, Mewujdukan Sinergitas Polisi dan Masyarakat. Peraturan Kapolri No. Pol. : 7 Tahun 2008 tentang Pedoman Dasar Strategi dan Implementasi Pemolisian Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri. Surat Keputusan Kapolri No. Pol. : Skep / 737 / X / 2005 tanggal 13 Oktober 2005 tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Model Perpolisian Tugas brimob dalam Penyelenggaraan Tugas Polmas.

Buku Panduan Pelatihan Perpolisian Masyarakat Untuk Anggota Polri, Jakarta, 2006. Joelisman stefanus sinaga, 2009, Kegiatan Polmas Dalam Tugas Fungsi BrimobJakarta. Cari untuk: • Tulisan Terakhir • LOGO WIRATAMA BHAYANGKARA • APAKAH UNJUK RASA / DEMONSTRASI BISA DIBUBARKAN ? • ADAKAH PERLINDUNGAN HAM BAGI ANGGOTA POLRI ? • Jurnal Ilmiah • Logo WB 44 wiratama bhayangkara • PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI DAN SURAT EDARAN MAHKAMAH AGUNG TENTANG ATURAN MENGENAI PENINJAUAN KEMBALI (PK) • DIVERSI TERHADAP PERKARA ANAK DIBAWAH UMUR • TULUS BUKAN SYARAT • VISI, MISI DAN TUGAS FUNGSI SAT.

RESKRIM POLSEK TAMALATE • TUGAS POKOK POLSEK TAMALATE • Arsip Arsip • Kategori • Uncategorized • Meta • Daftar • Masuk • Feed entri • Feed Komentar • WordPress.com • • my tweet Kesalahan: Pastikan akun Twitter Anda publik.
Melaksanakan dan mengerahkan kekuatan tugas brimob polri guna menanggulangi gangguan kamtibmas berintensitas tinggi, kerusuhan massa, kejahatan terorganisir senjata api, bom, bahan kimia dan radioaktif dengan unsur pelaksana kepolisian lainnya guna mewujudkan tertib hukum dan ketentraman di seluruh yuridis Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ).

FUNGSI BRIMOB Sebagai satuan pamungkas POLRI yg memiliki kemampuan spesifik Kemampuan Dasar Kepolisian, Penanggulangan Huru Hara, Reserse Mobile, Wanteror, Penjinakan Bom, Search and Rescue, Kimia Tugas brimob Radioaktif dalam rangka penanggulangan keamanan kamdagri dan penyelamatan Masyarakat dengan memiliki kepemimpinan yang solid, didukung personil yang terlatih, peralatan dan perlengkapan dengan tekhnologi modern.

Daftar Isi • Sejarah singkat Brimob • Fungsi dan Tugas Korbrimob • Kualifikasi Anggota Brimob • Logo Korbrimob • Struktur Organisasi Korbrimob Sejarah singkat Brimob Brimob pertama-tama terbentuk dengan nama Tokubetsu Keisatsutai atau Pasukan Polisi Istimewa. Kesatuan ini pada mulanya diberikan tugas untuk melucuti senjata tentara Jepang, melindungi kepala negara, dan mempertahankan ibukota.

Di bawah pimpinan Inspektur Polisi I Mohammad Yasin, pasukan ini ikut terlibat dalam pertempuran 10 November 1945 melawan Tentara Sekutu. Pasukan ini juga yang pertama kali mendapat penghargaan dari Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno yaitu Sakanti Yano Utama. Pada 14 November 1946 Perdana Menteri Sutan Sjahrir membentuk Mobile Brigade (Mobrig) sebagai ganti Pasukan Polisi Istimewa. Tanggal ini ditetapkan sebagai hari jadi Korps Baret Biru.

Fungsi dan Tugas Korbrimob Korbrimob bertugas menyelenggarakan fungsi pembinaan keamanan khususnya yang berkenaan dengan penanganan gangguan keamanan yang berintensitas tinggi, dalam rangka penegakan keamanan dalam negeri.

Korps ini dipimpin oleh seorang Inspektur Tugas brimob (Irjen). Peranan Brimob di dalam Polri adalah sebagai berikut: • Peran untuk membantu fungsi polisi lainnya, • Peran untuk melengkapi operasi kepolisian kewilayahan yang dilakukan bersamaan dengan fungsi polisi lainnya, • Peran untuk Melindungi anggota unit Polisi lainnya serta warga sipil yang berada di bawah ancaman, • Peranan untuk memperkuat fungsi kepolisian lainnya dalam pelaksanaan tugas operasional daerah, • Melayani untuk menggantikan dan menangani tugas-tugas Kepolisian kewilayahan apabila situasi atau sasaran sudah mengarah ke kejahatan berkadar tinggi.

Kualifikasi Anggota Brimob Tiap-tiap anggota Brimob wajib memiliki kualifikasi-kualifikasi berikut ini: • Kemampuan dasar tugas brimob Peta dan Kompas. • Intelijen. • Anti Teror. • Pengendali Huru-Hara. • Perang Gerilya, Taktik Perang Jarak Dekat / Urban. • Penjinakan Bahan Peledak (disingkat Jihandak). • Menangani kejahatan berintensitas tinggi bersenjata. • Mampu Mengoperasikan Komputer. • Surveillance, Penyamaran dan Pembuntutan.

• Kemampuan Perorangan dan Satuan. Logo Korbrimob Struktur Organisasi Korbrimob Korps Brimob terdiri dari 2 (dua) cabang yaitu Gegana dan Pelopor. Gegana bertugas untuk melaksanakan tugas-tugas operasi kepolisian khusus yang lebih spesifik seperti: Penjinakan Bomb (Bomb Disposal), Penanganan KBR (Kimia, Biologi, dan Tugas brimob, Anti-Terror (Counter Terrorism), dan Inteligensi.

Pelopor bertugas untuk melaksanakan tugas-tugas operasi kepolisian khusus yang lebih luas dan bersifat Paramiliter seperti: Penanganan Kerusuhan/Huru-Hara (Riot control), Pencarian dan Penyelamatan (SAR), Pengamanan instalasi vital, dan operasi Gerilya serta pertempuran hutan terbatas. Pada umumnya, kedua cabang ini sama-sama mempunyai kemampuan taktikal sebagai unit kepolisian khusus, diantaranya; kemampuan dalam tugas-tugas pembebasan sandera di area-area perkotaan (urban setting), Penggerebekan kepada kriminal bersenjata seperti terroris atau seperatis, dan operasi-operasi lainya yang mendukung kinerja kesatuan-kesatuan kepolisian umum.

Setiap Polda di Indonesia mempunyai kesatuan Brimob masing-masing. Brimob tergolong sebagai “Unit Taktis Polisi” (Police Tactical Unit – PTU) dan secara operasional bersifat kesatuan Senjata dan Taktik Khusus (SWAT) polisi. Korps Brimob Polri di pimpin oleh pejabat Perwira Tinggi Polri berbintang dua (Irjen Pol).
Tugas Pokok dan Fungsi Brimob – Korps Brimob Polri memiliki kepanjangan Krops Brigade Mobil Kepolisian Republik Indonesia.

Ini merupakan kesatuan operasi khusus dari Polri yang memiliki sifat paramiliter. Korps Brimob ini sendiri namanya cukup disegani oleh setiap lapisan masyarakat di Indonesia. Tidak lain karena tugas yang dibebankan kepada mereka terbilang ekstim dan berisiko mengancam jiwa mereka. Tugasnya tersebut sering juga bersamaan dengan operasi militer. Bagi masyarakat awam mungkin mengira Korps Brimob Polri sama saja dengan kesatuan polisi lainnya.

Jangan salah, Korps Brimob ini punya fungsi dan tugasnya sendiri yang mungkin tidak banyak diketahui orang-orang. Untuk Anda yang masih belum tahu, berikut ini tugas pokok dan fungsi Brimob di dalam Polri selengkapnya. 5 Tugas Pokok dan Fungsi Brimob di Polri Di lansir dari situs Wikipedia, Korps Brimob Polri punya tugas yang cukup berat dan bersifat paramiliter.

Beberapa tugas utama dari Brimob ini sendiri seperti, menangani kasus terorisme, menangani kerusahan, menegakkan hukum yang berisiko tinggi, pembebasan sandera, melakukan pencarian dan penyelamatan, hingga melakukan penjinakan BOM. Selain tugas utama yang sudah disebutkan di atas, ada fungsi dan tugas pokok khusus bagi Korps Brimob Polri tersebut. Adapun tugas pokok dan fungsi Brimob di dalam Polri selengkapnya, sebagai berikut: • Korps Brimob memiliki peran untuk membantu fungsi dari polisi lainnya.

• Korps Brimob memiliki peran sebagai pelengkap operasi kepolisian kewilayahan. Di mana tugas ini juga dilakukan dilakukan bersamaan dengan fungsi polisi lainnya. • Korps Brimob berperan untuk menjadi penambah kekuatan fungsi polisi dalam urusan melaksanakan tugas operasional daerah. • Korps Brimob berkewajiban untuk melindungi semua orang yang ada di daerah yang sedang terancam, baik itu anggota unit polisi lainnya ataupun warga sipil.

• Jika terjadi kejahatan yang berisiko tinggi, Korps Brimod harus dan wajib menggantikan dan menangani tugas dari kepolisian kewilayahan tersebut. Melihat tugas pokok dan fungsi dari Korps Brimob di Kepolian Republik Indonesia di atas, tentunya anggota Brimob harus punya mental serta fisik yang kuat. Mereka juga dituntut untuk memiliki pengetahuan luas agar bisa menyelesaikan berbagai tugas yang dibebankan kepadanya.

Kualifikasi Anggota Korps Brimon Polri Polri memiliki ketentuan kualifikasi tersendiri untuk perekrutan anggota Korps Brimob ini. Calon anggota harus memiliki dan sesuai dengan kualifikasi yang sudah ditentukan tersebut, antara lain: • Anti teror. • Memiliki kemampuan intelijen. • Memiliki kemampuan dasar navigasi peta dan kompas. • Bisa menerapkan taktik perang jarak dekat atau Urban dan Perang Gerilya.

• Mampu melakukan penjinakan bahan peledak (Jihandak), seperti Bom atau yang semacamnya. • Bisa mengoperasikan komputer. • Berani dan mampu menangani berbagai kejahatan, bahkan yang berintensitas tinggi bersenjata. • Lihai melakukan penyamaran, pembuntutan/pengintaian, dan surveillance. • Kemampuan perorangan atau satuan. Sekedar informasi tambahan, Korps Brimob tidak langsung memiliki nama tersebut. Pertama kali Brimob memiliki nama Tokubetsu Keisatsutai atau yang berarti Pasukan Polisi Istimewa.

Tugas utamanya yakni untuk melindungi dan mempertahankan ibu kota, melindungi kepala negara dan juga berperan untuk melucuti senjata dari tentara Jepang kala itu. Kemudian namanya berganti menjadi Mobrig atau Mobile Brigade oleh Perdana Mentri Sutan Sjahrir pada tanggal 14 November 1946.

Dan terakhir pada tanggal 14 November 1961, Mobrig diganti lagi namanya menjadi Korps Brimob dan bertahan hingga sekarang ini. Itulah tadi beberapa syarat pokok dan fungsi Brimob di dalam Kepolisian Republik Indonesia perlu Anda tahu. Semoga informasi di atas bermanfaat.
tirto.id - Setiap ada demonstrasi maupun aksi teror, Korps Brigade Mobil (Brimob) selalu hadir. Berseragam hitam dan bersenjata lengkap, Brimob bertugas untuk mengurai kerusuhan yang terjadi.

Salah satunya adalah ketika demonstrasi mahasiswa di depan kantor DPR/MPR September lalu. Tugas dan Fungsi Brimob Sebagai salah satu kesatuan yang berada di bawah naungan Polri, Brimob turut bertugas untuk menjaga keamanan dan ketertiban sipil. Brimob merupakan satuan elit di tubuh Polri. Satuan ini memiliki ciri khusus, yaitu menggunakan baret biru, sehingga kerap disebut sebagai korps baret biru.

tugas brimob

Brimob didirikan pada 14 November 1946, yang membuatnya menjadi satuan elit tertua di tubuh Polri. Brimob melaksanakan pencegahan gangguan keamanan dan ketertiban (kamtibmas) genting yang tidak dapat dilaksanakan oleh polisi biasa.

Dalam praktiknya, Brimob memiliki dua sub unit utama, yaitu resimen Gegana dan Pelopor. Resimen Gegana biasa dikenal dengan Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) memiliki tugas untuk mengatasi ancaman bom, termasuk menjinakkan dan mendetonasi bom. Sementara itu, Resimen Pelopor merupakan satuan khusus yang bersifat paramiliter. Tugas brimob ini memiliki tugas untuk mengurai huru-hara, penanganan SAR, dan operasi penyerbuan. Meski tugas brimob, keduanya memiliki keahlian taktis untuk melakukan penyerbuan dan penggerebekan kriminal maupun teroris.

Gegana dan Pelopor diberi kelengkapan khusus senjata api yang tidak dimiliki polisi biasa. Brimob juga diberi keahlian untuk mengoperasikan kendaraan anti huru-hara seperti water cannon dan kendaraan lapis baja. Tugas dan Fungsi Samapta Selain itu, di tugas brimob Polri, ada direktorat kewilayahan yang memiliki fungsi pengendalian masyarakat, yaitu Samapta.

Direktorat ini dibentuk di daerah, di bawah naungan Kepolisian Daerah (Polda). Samapta berasal dari bahasa sankerta yang berarti keadaan siap sedia, waspada.

Hampir serupa dengan Brimob, satuan Samapta juga memiliki tugas untuk menjaga kamtibmas. Namun, terdapat beberapa perbedaan yang mencolok di antara kedua satuan tersebut. Tidak seperti Brimob yang bersifat paramiliter, Samapta tidak dilatih untuk melakukan pertempuran di lapangan. Samapta menjalankan fungsi kepolisian secara umum, yaitu penjagaan, pengawalan, dan tindakan pertama TKP. Selain tugas polisi secara umum, Samapta memiliki tugas khusus, yaitu kendali satwa anjing pelacak dan satwa kuda.

tugas brimob

Tugas ini diemban oleh sub unit K-9 di dalam tubuh Samapta. Tugas khusus lain yang diemban oleh satuan ini yaitu bantuan SAR, penindakan terhadap Tindak Pidana Ringan (tipiring), dan tugas negosiasi. Brimob melakukan pengendalian massa dengan cara-cara represif, sedangkan Samapta mengutamakan langkah-langkah preventif. Samapta diberi tugas brimob untuk melakukan patroli ke wilayah-wilayah yang potensial memicu tindakan kriminal.

Hal ini sesuai dengan salah satu tugas pokok Samapta, yaitu meniadakan kesempatan atau peluang bagi masyarakat yang berniat melakukan pelanggaran hukum.Lambang Korps Brimob Aktif 14 November 1945 Negara Indonesia Jumlah personel Rahasia Bagian dari Kepolisian Republik Indonesia Markas Cimanggis, Depok, Jawa Barat Moto Jiwaragaku Demi Kemanusiaan Baret BIRU GELAP Pertempuran • Perang Kemerdekaan Indonesia • Operasi Trikora • Konfrontasi Indonesia-Malaysia • Operasi Seroja • Konflik Aceh • Konflik Ambon • Operasi Madago Raya • Konflik Papua Situs web korbrimob.polri.go.id Tokoh Komandan Inspektur Jenderal Pol.

Drs. Anang Revandoko Wakil Komandan Brigadir Jenderal Pol. Drs. Setyo Boedi Moempoeni Harso, S.H., M.Hum. Komandan Pasukan Pelopor Brigadir Jenderal Pol.

Drs. Imam Widodo, M.Han. Komandan Pasukan Gegana Brigadir Jenderal Pol. Reza Arief Dewanto, S.I.K. Korps Brigade Mobil atau sering disingkat Korps Brimob adalah kesatuan operasi khusus yang bersifat paramiliter milik Polri. Korps Brimob juga dikenal sebagai salah satu unit tertua yang tugas brimob di dalam organisasi Polri. Beberapa tugas utamanya adalah penanganan terrorisme domestik, penanganan kerusuhan, penegakan hukum berisiko tinggi, pencarian dan penyelamatan (SAR), penyelamatan sandera, dan penjinakan bom ( EOD).

Korps Brigade Mobil juga bersifat sebagai komponen besar didalam Polri yang dilatih untuk melaksanakan tugas-tugas anti-separatis dan anti-pemberontakan, sering kali bersamaan dengan operasi militer. [1] Korps Brimob tergolong sebagai "Unit Taktis Polisi" ( Police Tactical Unit - PTU) dan secara operasional bersifat kesatuan Senjata dan Taktik Khusus (SWAT) polisi (termasuk Densus 88 dan Gegana Brimob). Korps Brimob terdiri dari 2 (dua) cabang tugas brimob Gegana dan Pelopor.

Gegana bertugas untuk melaksanakan tugas-tugas operasi kepolisian khusus yang lebih spesifik seperti: Penjinakan Bomb ( Bomb Disposal), Penanganan KBR (Kimia, Biologi, dan Radioaktif), Anti-Terror ( Counter Terrorism), dan Inteligensi. Sementara, Pelopor bertugas untuk melaksanakan tugas-tugas operasi kepolisian khusus yang lebih luas dan bersifat Paramiliter seperti: Penanganan Kerusuhan/Huru-Hara ( Riot control), Pencarian dan Penyelamatan (SAR), Pengamanan instalasi vital, dan operasi Gerilya serta pertempuran hutan terbatas.

Pada umumnya, kedua cabang ini sama-sama mempunyai kemampuan taktikal sebagai unit kepolisian khusus, diantaranya; kemampuan dalam tugas-tugas pembebasan sandera di area-area perkotaan ( urban setting), Penggerebekan kepada kriminal bersenjata seperti terroris atau seperatis, dan operasi-operasi lainya yang mendukung kinerja kesatuan-kesatuan kepolisian umum. Setiap Polda di Indonesia mempunyai kesatuan Brimob masing-masing.

Daftar isi • 1 Sejarah • 1.1 Menghadapi gerakan separatis • 1.2 Beralih menjadi Mobrig • 1.3 Berganti nama menjadi Brimob • 2 Kualifikasi dan Peran • 2.1 Kualifikasi • 2.2 Peran • 3 Peristiwa • 3.1 Pendaratan di Irian Barat • 3.2 Peristiwa G-30-S/PKI • 3.3 Timor Timur • 3.4 Peristiwa Binjai • 4 Pelopor • 5 Gegana • 5.1 Latar Belakang • 6 Komandan • 7 Pembagian Satuan • 7.1 Pusat • 7.2 Daerah • 8 Tugas brimob juga • 9 Referensi • 10 Pranala luar Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Brimob pertama-tama terbentuk dengan nama Tokubetsu Keisatsutai ( 特別警察隊) atau Pasukan Polisi Istimewa.

Kesatuan ini pada mulanya diberikan tugas untuk melucuti senjata tentara Jepang, melindungi kepala negara, dan mempertahankan ibu kota. Brimob turut berjuang tugas brimob pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Di bawah pimpinan Inspektur Polisi I Mochammad Jasin, Pasukan Polisi Istimewa ini ikut terlibat dalam pertempuran 10 November 1945 melawan Tentara Sekutu, pada masa penjajahan Jepang Brimob dikenal dengan sebutan Tokubetsu Keisatsutai.

Pasukan ini yang pertama kali mendapat penghargaan dari Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno yaitu Sakanti Yano Utama Menghadapi gerakan separatis [ sunting - sunting sumber tugas brimob Prajurit Pelopor Brimob adalah kesatuan yang memiliki tugas pokok untuk melakukan tugas-tugas operasional bersifat Paramiliter guna untuk mengatasi gangguan Kamtibmas berkadar tinggi Pada 1 Agustus 1947, Mobrig dijadikan satuan militer.

Dalam kapasitasnya ini, Mobrig terlibat dalam menghadapi berbagai gejolak di dalam negeri.

tugas brimob

Pada tahun 1948, di bawah pimpinan Moehammad Jasin dan Inspektur Polisi II Imam Bachri bersama pasukan TNI berhasil menumpas pelaku Peristiwa Madiun di Madiun dan Blitar Selatan dalam Operasi Trisula. Mobrig juga dikerahkan dalam menghadapi gerakan separatis DI/TII di Jawa Barat yang dipimpin oleh S.M. Kartosuwiryo dan di Sulawesi Selatan dan Aceh yang dipimpin oleh Kahar Muzakar dan Daud Beureueh. Pada awal tahun 1950 pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dipimpin Kapten Raymond Westerling menyerbu kota Bandung.

Untuk menghadapinya, empat kompi Mobrig dikirim untuk menumpasnya.

tugas brimob

Mobrig bersama pasukan TNI juga dikerahkan pada April 1950 ketika Andi Azis beserta pengikutnya dinyatakan sebagai pemberontak di Sulawesi Selatan. Kemudian ketika Dr. Soumokil memproklamirkan berdirinya RMS pada 23 April 1950, kompi-kompi tempur Mobrig kembali ditugasi menumpasnya. Pada tahun 1953, Mobrig juga dikerahkan di Kalimantan Selatan untuk memadamkan pemberontakan rakyat yang dipimpin oleh Ibnu Hajar.

Ketika Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia ( PRRI) diumumkan pada 15 Februari 1958 dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai tokohnya, pemerintah pusat menggelar Operasi Tegas, Operasi Saptamarga dan Operasi 17 Agustus dengan mengerahkan Mobrig dan melalui pasukan-pasukan tempurnya yang lain.

Batalyon Mobrig bersama pasukan-pasukan TNI berhasil mengatasi gerakan koreksi PRRI di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Timur, Riau dan Bengkulu. Dalam Operasi Mena pada 11 Maret 1958 beberapa kompi tempur Mobrig melakukan serangan ke kubu-kubu pertahanan Permesta di Sulawesi Tengah dan Maluku. Beralih menjadi Mobrig [ sunting tugas brimob sunting tugas brimob ] Pada 14 November 1946 Perdana Menteri Sutan Sjahrir membentuk Mobile Brigade (Mobrig) sebagai ganti Pasukan Polisi Istimewa.

Tanggal ini ditetapkan sebagai hari jadi Korps Baret Biru. Pembentukan Mobrig ini dimaksudkan Sjahrir sebagai perangkat politik untuk menghadapi tekanan politik dari tentara dan sebagai pelindung terhadap kudeta yang melibatkan satuan-satuan militer.

Di kemudian hari korps ini menjadi rebutan antara pihak polisi dan militer. Berganti nama menjadi Brimob [ sunting - sunting sumber ] Brimob - Unit Penyergap Bermotor Pada 14 November 1961 bersamaan dengan diterimanya Pataka Nugraha Sakanti Yana Utama, satuan Mobrig berubah menjadi Korps Brigade Mobil (Korps Brimob).

Brimob pernah terlibat tugas brimob beberapa peristiwa penting seperti Konfrontasi dengan Malaysia tahun 1963 dan aneksasi Timor Timur tahun 1975. Brimob sampai sekarang ini kira-kira berkekuatan 30.000 personel, ditempatkan di bawah kewenangan Kepolisian Daerah masing-masing provinsi.

Pada tahun 1981 Brimob membentuk sub unit baru yang disebut unit Penjinak Bahan Peledak (Jihandak). Semenjak tahun 1992 Brimob pada dasarnya adalah organisasi yang dilatih dan diorganisasikan dalam kesatuan-kesatuan. Brimob memiliki kekuatan sekitar 12.000 personel. Brigade ini fungsi utamanya adalah sebagai korps untuk menanggulangi situasi darurat, yakni membantu tugas kepolisian kewilayahan dan menangani kejahatan dengan tingkat intensitas tinggi yang menggunakan senjata api dan bahan peledak tugas brimob operasi yang membutuhkan aksi yang cepat.

Mereka diterjunkan dalam operasi pertahanan dan keamanan domestik, dan telah dilengkapi dengan perlengkapan anti huru-hara khusus. Mereka tugas brimob dilatih khusus untuk menangani demonstrasi massa. Semenjak huru-hara yang terjadi pada bulan Mei 1998, Pasukan Anti Huru-Hara (PHH) kini telah menerima latihan anti huru-hara khusus.Dan terus menerus melakukan pembaharuan dalam bidang materi pelaksanaan Pasukan Huru-Hara(PHH).

Beberapa elemen dari Brimob juga telah dilatih untuk melakukan operasi lintas udara. Dan juga sekarang sudah melakukan pelatihan SAR(Search And Rescue) Kualifikasi dan Peran [ sunting - sunting sumber ] Badge Korps Brimob Polri Kualifikasi [ sunting - sunting sumber ] Kualifikasi setiap anggota Brimob adalah: • Kemampuan dasar navigasi Peta dan Kompas. • Intelijen.

tugas brimob

• Anti Teror. • Pengendali Huru-Hara. • Perang Gerilya, Taktik Perang Jarak Dekat / Urban. • Penjinakan Bahan Peledak (disingkat Jihandak). • Menangani kejahatan berintensitas tinggi bersenjata. • Mampu Mengoperasikan Komputer. • Survailen, Penyamaran dan Pembuntutan. • Kemampuan Perorangan dan Satuan. [2] Peran [ sunting - sunting sumber ] • Peran untuk membantu fungsi polisi lainnya, • Peran untuk melengkapi operasi kepolisian kewilayahan yang dilakukan bersamaan dengan fungsi polisi lainnya, • Peran untuk Melindungi anggota unit Polisi lainnya serta warga sipil yang berada di bawah ancaman, • Peranan untuk memperkuat fungsi kepolisian lainnya dalam pelaksanaan tugas operasional daerah, • Melayani untuk menggantikan dan menangani tugas-tugas Kepolisian kewilayahan apabila situasi atau sasaran tugas brimob mengarah ke kejahatan berkadar tinggi.

[3] Peristiwa [ sunting - sunting sumber ] Personil Brimob Pendaratan di Irian Barat [ sunting - sunting sumber ] Korps Brimob Tugas brimob mempesiapkan sejumlah Resimen Tim Pertempuran (RTP) di pulau-pulau di Provinsi Maluku yang terdekat dengan Irian Barat sebagai respon atas perintah Presiden Soekarno untuk merebut Irian Tugas brimob dari tangan Belanda. Perintah Bung Karno itu dikenal sebagai Tri Komando Rakyat (Trikora).

Dalam operasi ini Korps Brimob bergabung dalam Komando Mandala pimpinan Mayjen Soeharto. Satu tim Brimob pimpinan Hudaya Sumarya berhasil mendarat di Fak-Fak Irian Barat menggunakan sebuah speedboat. Dari Fak-Fak pasukan ini menusuk masuk ke pedalaman Irian Barat untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih.

Pada masa olah Yudha sebelum pendaratan di Papua, Brimob sempat dimasukkan kedalam daftar unit untuk operasi Naga, tetapi kemudian di batalkan mengingat terbatasnya kualitas Parasut yang dimiliki anggota Brimob saat itu. Operasi Naga akhirnya dilakukan oleh RPKAD di bawah komando Kapten Inf.

Benny Moerdani yang kemudian mendapatkan penghargaan Bintang Sakti dari Presiden Soekarno. Peristiwa G-30-S/PKI [ sunting - sunting sumber ] Pada hari-hari setelah peristiwa G-30-S, Brimob tetap netral.

Hal ini membingungkan banyak pihak, karena pada September 1965 Brimob adalah unsur yang sangat dekat dengan Amerika. Karena sikap ini, sebagian pengamat menganggap Brimob sebagai unsur yang setia kepada Presiden Soekarno. Timor Timur [ sunting - sunting sumber ] Pada pembebasan Timor Timur tahun 1975 Brimob membentuk satu detasemen khusus untuk bergabung dalam Operasi Seroja, bergabungan dengan pasukan ABRI lainnya.

Detesemen khusus ini diberinama Detasemen Khusus (Densus) Alap-alap. Personil Densus Alap-alap terdiri dari mantan anggota Menpor (Resimen Pelopor).

Resimen Pelopor merupakan kesatuan khusus Brimob, yang berkualifikasi Ranger. Resimen ini dibubarkan oleh Kapolri tahun 1974 setelah ikut malang melintang dalam beberapa operasi pertempuran, di antaranya dalam Operasi Trikora di Irian Barat dan Dwikora atau Ganyang Malaysia. Densus Alap-alap bertugas sebagai pasukan pembantu (supporting) untuk memperkuat posisi yang direbut oleh pasukan ujung tombak yaitu RPKAD.

Densus Alap-alap ini dibagi dalam tim-tim kecil yang merupakan tim gabungan ABRI. Peristiwa Binjai [ sunting - sunting sumber ] Semenjak Polri dipisahkan dari Tentara Nasional Indonesia, peristiwa bentrok antara Polri dan TNI (terutama TNI-AD) kerap terjadi. Satu peristiwa bentrok TNI-AD dan Polri dalam hal ini Brimob adalah peristiwa Binjai pada tanggal 30 September 2002.

Insiden ini melibatkan unit infanteri Lintas Udara 100/Prajurit Setia dengan korps Brimob Polda Sumut yang sama-sama bermarkas di Binjai. Banyak pihak merasa kejadian bentrok TNI-POLRI adalah manifestasi politik adu domba yang dilakukan pihak asing untuk memperlemah kesatuan dan persatuan lembaga kepemerintahan RI.

Melihat gelagat tersebut, Bapak Jenderal Polisi Soetanto telah mengusulkan kemungkinan penyatuan kembali matrikulasi akademi tugas brimob dan kepolisian. Hal ini diharapkan agar dapat meningkatkan persaudaraan dan kohesifnes daripada undur aset unsur bersenjata NKRI. Dalam insiden dini hari tersebut pertama hanya dipicu oleh keributan kecil antara oknum prajurit Yonif Linud 100/PS dengan oknum kesatuan Polres Langkat.

Namun kemudian, insiden pecah menjadi bentrok senjata antara Polres Langkat ditambah Brimob melawan Yonif Linud 100/PS. Pelopor [ sunting - sunting sumber ] Pasukan Pelopor Brimob Keuntungan utama membentuk pasukan pada masa konflik adalah pasukan bisa langsung diuji coba di medan pertempuran sebenarnya. Pasukan Brimob Rangers ini menjalani test mission di kawasan Cibeber, Ciawi dan Cikatomas perbatasan Tasikmalaya-Garut Jawa Barat pada tahun 1959. Dalam penugasan ini mereka sering menghadapi penghadangan oleh gerombolan DI/TII dalam jumlah besar.

Teknik bertempur anti gerilya teruji dalam test mission ini.

tugas brimob

Namun demikian, dalam test mission ini akhirnya ada juga anggota Rangers yang tugas brimob siap mental dalam bertempur dan mereka akhirnya harus keluar dari pasukan. Penugasan tugas brimob operasi militer Brimob Rangers adalah dalam Gerakan Operasi Militer IV di kawasan Sumatra Selatan, Sumatra Barat dan Sumatra Utara.

Dalam GOM IV ini pasukan Brimob Rangers menjadi bagian dari Batalyon Infanteri Bangka-Belitung pimpinan Letkol (Inf) Dani Effendi. Penugasan ke Sumatra ini dalam supervisi langsung dari Letjen Ahmad Yani. Pasukan Rangers mempunyai tugas khusus menangkap sisa-sisa pasukan PRRI yang masih bergerilya di hutan Sumatra pimpinan Mayor Malik. Pasukan Brimob Rangers ini kemudian mengalami perubahan nama menjadi Pelopor pada tahun 1961 pada masa Kapolri Soekarno Djoyonegoro.

Hal ini sesuai dengan keinginan Presiden Soekarno yang menghendaki nama Indonesia bagi satuan-satuan TNI/Polri. Pada masa ini pula, Rangers/Pelopor menerima senjata yang menjadi trade mark mereka yaitu AR-15. Penugasan selanjutnya dari pasukan ini adalah menyusup ke Irian Barat/Papua dalam rangka menjadi bagian dari Komando Trikora. Pasukan ini berhasil mendarat di Fak-fak pada bulan Mei 1962 dan terlibat dalam pertempuran dengan Angkatan Darat Belanda.

Pasukan ini juga terlibat dalam konfrontasi dengan Malaysia pada tahun 1964. Pada tahun 1972 pasukan ini secara resmi dibubarkan karena perubahan kebijakan politik tugas brimob waktu itu nama pasukan ini pada waktu itu adalah Resimen Pelopor (Menpor) dengan markas di Kelapa Dua Cimanggis. Pada saat persiapan Operasi Seroja tahun 1975, pasukan ini dimobilisasi dan dimasukkan dalam pasukan khusus Detasemen Khusus Alap-alap. Namun, karena sebagian besar anggota Menpor yang masuk dalam Densus Alap-alap sudah bertugas sebagai polisi umum dan tidak pernah lagi berlatih sebagai Tugas brimob, maka insting Brimob mereka jauh berkurang.

Akibatnya banyak anggota Menpor yang gugur dalam pertempuran di Timor-Timur saat Operasi Seroja. Sayangnya pada masa inilah pasukan ini dikenang, sehingga kejayaan mereka saat menumpas DI/TII dan PRRI-Permesta, serta penyusupan ke Papua dan Malaysia seolah hilang sama sekali. Oleh karena itu, Brimob Ranger/Resimen Pelopor seolah terlupakan dari sejarah polisi Indonesia. Padahal salah satu mantan Komandan Resimen Pelopor adalah Kapolri yang populer yaitu almarhum Jenderal (Pol) Anton Soedjarwo.

Gegana [ sunting - sunting sumber ] Latar Belakang [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Gegana Gegana adalah bagian dari Kepolisian Indonesia (Polri). Pasukan tugas brimob mulai muncul sejak dibubarkannya Resimen Pelopor mulai 1972 dan dibentuklah Sat Gegana di Komdak Jakarta 14 November 1974, meski tugas brimob itu baru berupa detasemen. Baru pada tahun 1995, dengan adanya pengembangan validasi Brimob bahwa kesatuan ini harus memiliki resimen, Detasemen Gegana lalu ditingkatkan menjadi satu resimen tersendiri, yakni Resimen II Brimob yang sekarang berubah nama Sat I Gegana(2003).

Tugas utama Gegana ada tiga: mengatasi teror, SAR dan jihandak (penjinakan bahan peledak). Secara umum, hampir semua anggota Gegana mampu melaksanakan ketiga tugas utama tersebut. Namun, kemampuan khusus yang lebih tinggi hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Gegana tidak memiliki Batalyon ataupun Kompi. Kesatuan yang lebih kecil dari resimen adalah detasemen. Setelah itu subden dan yang paling kecil adalah unit. Satu unit biasanya terdiri dari 10 orang. Satu subden 40 orang, dan satu detasemen beranggotakan 280-an orang.

Satu operasi biasanya dilakukan oleh satu unit. Karena itu, dari sepuluh personel dalam satu unit tersebut, harus ada enam orang yang memiliki kemampuan khusus. Masing-masing: dua orang memiliki kemampuan khusus yang lebih tinggi di tugas brimob jihandak, dua orang di bidang SAR dan dua lagi ahli teror.

Kedua orang itu disebut operator satu dan operator dua. Yang lainnya mendukung. Misalnya untuk teror: operatornya harus memiliki keahlian menembak jitu, harus memiliki kemampuan negosiasi, ahli dalam penggebrekan dan penangkapan. Namun semuanya tidak untuk mematikan. Sebab setiap operasi Gegana pertama-tama adalah berusaha untuk menangkap tersangka dan menyeretnya ke pengadilan.

Kecuali dalam keadaan tugas brimob, yang mengancam jiwa orang yang diteror, barulah terpaksa ada penembakan. Sementara untuk SAR, dituntut memiliki kemampuan dasar seperti menyelam, repling, jumping, menembak, juga P3K.

Demikian pula, operator jihandak harus memiliki keahlian khusus di bidangnya. Setiap anggota Gegana secara umum memang sudah diperkenalkan terhadap bom. Ada prosedur-prosedur tertentu yang berbeda untuk menangani setiap jenis bom, termasuk waktu yang dibutuhkan. Kepada anggota Gegana jenis-jenis bom tersebut dan cara-cara menjinakkannya, termasuk risiko-risikonya, sudah dijelaskan. Gegana baru punya tiga kendaraan taktis EOD ( explosive ordinance disposal) yang sudah lengkap dengan alat peralatan.

Selain di Gegana, kendaraan EOD masing-masing satu unit ada di Polda Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Jadi se-Indonesia baru ada enam unit. Gegana juga bekerjasama dengan pihak luar seperti Amerika Serikat dalam bidang anti terror. Dapat dilihat di periode 2003-2008, teknik dan takti dari Densus-88 semakin mirip dengan teknik dan taktik FBI HRT (Hostage rescue team) Selain itu peralatan yg digunakan oleh Densus-88 juga sama dengan pasukan FBI. Contoh peralatan yang sama adalah senapan serbu AR-15 dengan M-68 sight optik dan kolapsible stock (tipe CQB) Ladder entry teknik, kevlar helmet dll.

Sampai saat ini Densus-88 berkonsentrasi untuk pengejaran dan penangkapan terroris yang relatif berkemampuan tempur tugas brimob, sementara pertempuran spesial seperti Pembajakan pesawat dan pembebasan presiden dari penyanderaan masih ditangani oleh unsur TNI. Adapun topik pemberantasan teroris di Indonesia telah menjadi salah satu topik pembicaraan hangat di Trunojoyo III dan Cilangkap mengenai pembagian tugas di dalam pelaksanaan counter terror.

POLRI memang telah mendapatkan mandat UU untuk memerangin teror di dalam negeri, tetapi para banyak kalangan merasa POLRI belum dapat beroperasi secara independent untuk memerangi teroris tanpa bantuan unsur luar sehingga para pengamat merasa sangat lebih baik bila POLRI berkerjasama dengan TNI daripada dengan pihak luar. Komandan [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Daftar Komandan Korps Brimob Korps Brimob Polri di pimpin oleh pejabat Perwira Tinggi Polri berbintang dua (Irjen Pol).

tugas brimob

Sebelumnya panggilan untuk pimpinan korps Brimob adalah kepala, namun pada Februari 2017, berdasarkan Kepres No.

5 Tahun 2017 dan telegram rahasia Kapolri nomor ST/261/II/2017 bahwa ada perubahan nomenklatur dan beberapa perubahan di tubuh Kepolisian Republik Indonesia tugas brimob satunya penyebutan untuk pimpinan korps brimob dari Kepala Korps menjadi Komandan Korps.

[4] Saat ini Komadan Korps Brimob adalah Irjen Pol Anang Revandoko dia menggantikan Komandan Korps Brimob sebelumnya, Irjen Pol Ilham Salahudin. Berikut ini adalah Tugas brimob Korps Brimob dari masa ke masa: [5] Tokubetsu Keisatsutai 1. Kombes. Pol. Raden Soemarto (1945—1950) Pasukan Polisi Istimewa 2.

Kombes. Pol. Mohammad Jasin (1950—1959) 3. Kombes. Pol. Soetjipto Joedodihardjo (1959—1963) Komandan Mobrig Polisi Pusat 4.

Kombes. Pol. Soetjipto Danoekoesoemo (1963—1965) 5. Brigjen. Pol. Daryono Wasito (1965—1972) 6. Brigjen. Pol. Benny Hassan (1973—1974) 7. Kolonel Pol.

Anton Soedjarwo (1974—1975) 8. Brigjen. Pol. K.E. Lumi (1975—1978) 9. Kolonel Pol. Sadiman (1978—1981) 10. Brigjen. Pol. Yusuf Chusen Saputra (1981—1982) 11. Brigjen. Pol. Soetrisno Ilham (1982—1983) 12.

Brigjen. Pol. Soekardi (1983—1986) 13. Kolonel Pol. Pranoto (1986—1989) 14. Kolonel Pol. R. Suprapto (1989—1990) 15. Kolonel Pol. Tugas brimob (1990—1993) 16. Brigjen. Pol. Drs. Sutiyono (1993—1998) Kepala Korps Brimob 17. Brigjen. Pol. Drs. Sylvanus Yulian Wenas (1998—1999) 18. Brigjen. Pol. Firman Gani (1999—2000) 19. Brigjen. Pol. Nurudin Usman (2000—2001) 20.

tugas brimob

Brigjen. Pol. Jusuf Manggabarani (2001—2002) tugas brimob. Irjen. Pol. Drs. S.Y. Wenas (2002—2009) 22. Irjen. Pol. Drs. Imam Sudjarwo, M.Si. (2009—2010) 23. Irjen. Pol. Drs. Syafei Aksal (2010—2012) 24. Irjen. Pol. Drs. Unggung Cahyono (2012—2013) 25. Irjen. Pol. Drs. M. Rum Murkal (2013—2014) 26. Irjen. Pol. Drs. Robby Kaligis (2014—2016) Komandan Korps Brimob 27. Irjen. Pol. Drs. Murad Ismail (2016—2018) 28. Irjen. Pol.

Drs. Rudy Sufahriadi (2018—2019) 29. Irjen. Pol. Drs. Ilham Salahudin, S.H., M.Hum. (2019) 30. Irjen. Pol. Drs. Anang Revandoko (2019—Sekarang) Pembagian Satuan [ sunting - sunting sumber ] Pusat [ sunting - sunting sumber ] Komando tertinggi setiap operasi Gegana langsung berada di bawah Kapolri yang dilaksanakan oleh Asop Kapolri.

• Pasukan Gegana Korps Brimob [6] • Satuan Jibom • Satuan Wanteror • Satuan Bantek • Satuan KBR • Pasukan Pelopor Korps Brimob [7] • Resimen Tugas brimob Pasukan Pelopor • Resimen II Pasukan Pelopor • Resimen III Pasukan Pelopor • Resimen IV Pasukan Pelopor • Satuan Latihan Korps Brimob • Satuan Intel Korps Brimob • Pusat Pendidikan Korps Brimob Daerah [ sunting - sunting sumber ] • Sat Brimob Polda Aceh • Sat Brimob Polda Sumatra Utara • Sat Brimob Polda Sumatra Barat • Tugas brimob Brimob Polda Riau • Sat Brimob Polda Kepulauan Riau • Sat Brimob Polda Jambi • Sat Brimob Polda Bengkulu • Sat Brimob Polda Sumatra Selatan • Sat Brimob Polda Kepulauan Bangka Belitung • Sat Brimob Polda Lampung • Sat Brimob Polda Metro Jaya • Sat Brimob Polda Banten • Sat Brimob Polda Jawa Barat • Sat Brimob Polda Jawa Tengah • Sat Brimob Tugas brimob Daerah Istimewa Yogyakarta • Sat Brimob Polda Jawa Timur • Sat Brimob Polda Bali • Sat Brimob Polda Nusa Tenggara Barat • Sat Brimob Polda Nusa Tengggara Timur • Sat Brimob Polda Kalimantan Barat • Sat Brimob Polda Kalimantan Tengah • Sat Brimob Polda Kalimantan Selatan • Sat Brimob Polda Kalimantan Timur • Sat Brimob Polda Kalimantan Utara • Sat Brimob Polda Gorontalo • Sat Brimob Polda Sulawesi Utara • Sat Brimob Polda Sulawesi Tengah • Sat Brimob Polda Sulawesi Barat • Sat Brimob Polda Sulawesi Selatan • Sat Brimob Polda Sulawesi Tenggara • Sat Brimob Polda Maluku Utara • Sat Brimob Polda Maluku • Sat Brimob Polda Papua Barat • Sat Brimob Polda Papua Lihat juga [ sunting - sunting sumber ] • Militerisasi Kepolisian Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ Publikasi Bisnis Internasional Amerika Serikat, Buku Pegangan Hubungan Diplomatik dan Politik AS-Indonesia, 2008 • ^ Motto Brimob, Brimob Polridiakses tanggal 6 May 2017 • ^ Tugas Pokok, Fungsi dan Peranan Brimob, POLDA BABELdiakses tanggal 6 May 2017 [ pranala nonaktif permanen] • ^ Nomenklatur Diubah, Kepala Densus 88 Diganti Kompas • ^ "Daftar Dankorbrimob dari Masa ke Masa" • ^ Pasukan Gegana • ^ Pasukan Pelopor Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] • (Indonesia) 51 Tahun Si Baret Biru Diarsipkan 2009-05-07 di Wayback Machine.

• (Inggris) February 1962 – Summer 1963: In to Action • Inspektorat Pengawasan Umum • Asisten Kapolri • Bidang Operasi • Perencanaan Umum dan Anggaran • Sumber Daya Manusia • Logistik • Divisi tugas brimob Hubungan Masyarakat • Hukum • Hubungan Internasional • Profesi dan Pengamanan • Teknologi Informasi dan Komunikasi • Pelayanan Markas • Staf Pribadi Pimpinan • Sekretariat Umum Pelaksana Tugas Pokok • Halaman ini terakhir diubah pada 7 Mei 2022, pukul 13.21.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
none
Melaksanakan dan mengerahkan kekuatan Brimob Polri guna menanggulangi gangguan keamanan dalam negeri berintensitas tinggi, utamanya kerusuhan massa, kejahatan terorganisir bersenjata api, bom, bahan kimia, biologi dan radioaktif, serta bersama unsur pelaksana operasional kepolisian lainnya untuk mewujudkan rasa aman dan tentram masyarakat di seluruh wilayah yurisdiksi nasional RI.

Di turunkan ke wilayah tugas baik konflik bersenjata ataupun medan tugas lainnya contohnya adalah tugas SAR, dan perpolisian masyarakat. Dalam penugasaan SAR Brimob mampu melaksanakan baik darat dan laut, sedangkan perpolisian masyarakat Brimob berperan tugas brimob bersama masyrakat menjalin komunikasi yang aktif dan bersahabat guna menciptakan situasi lingkungan yang aman, tertib dan bersahabat.

Brimob juga aktif dalam kegiatan masyarakat contohnya dalam pelaksanaan giat bakti sosial di lingkungan mereka, salah satu contoh pembersihan sungai, dan bakti amal terhadap korban bencana.

PERBEDAAN BRIMOB vs SABHARA SAMAPTA




2022 www.videocon.com