Kunci gitar manis di bibir memutar kata

kunci gitar manis di bibir memutar kata

MASMUR PAGI Kata-kata masmur ini timbul dari asap dapur yang mengepul ke sorga dan di atas tungku dapur itu istriku merebus susu - rahmat-Mu yang pertama. Kata-kata masmur ini kunci gitar manis di bibir memutar kata ke lembah-lembah dan di tepi cakrawala mereka kawini sepi yang lama menantinya. Lembu-lembu masuk ke air mengacau air yang jernih menentang senja dan hari kiamat.

Maka di udara yang segar bersebaranlah bau minyak wangi dari jubah malaekat, Tubuh-Mu yang indah Kaubaringkan di gunung yang tinggi dan nampaklah dari bawah bagai awan mandi cahaya. Bebek-bebek pun bertelor kerna Kaujamah dengan tangan-Mu.

Ikan-ikan jumpalitan dalam air dan padi melambai-lambai menegur-Mu. Pohon-pohon cemara di gunung menggelitiki tapak kaki-Mu dengan cara yang jenaka. Kau pun lalu bangkit pindah ke lain cakrawala menggeliat dan bersenam indah lalu melangkah menaiki matahari, mendaki, mendaki, mengeringkan celana dan bajuku yang dicuci oleh istriku.

DOA MALAM Allah di sorga. Dari rumah bambu sempitku di malam yang dingin tanganku yang rapuh menggapai sorga-Mu. Aku akan tidur di mata-Mu yang mengandung bianglala dan lembah kasur beledu.

Ketika angin menyapu rambut-Mu yang ikal dan panjang aku akan berlutut di pintu telinga-Mu dan mengucapkan doaku. Doa adalah impian dan segala harapan insan. Di dalam doa aku bisikkan impianku. Apakah Kau tertawa lucu?

Anakku yang kecil memanjat jubah-Mu dan tidur di dalam saku-Mu. Sedang bulan di atas pundak-Mu istriku masuk ke dalam darah-Mu.

Ketika Engkau mengucapkan selamat malam bunga-bunga kertas aneka warna berhamburan dari mulut-Mu. Dan untuk anakku. Kausediakan balonan biru. Bintang-bintang bertepuk tangan dan serangga malam riuh tertawa semua mengagumi-Mu: Tukang Sulapan Tak Bertara. Lalu Kauangkat tangan-Mu berpospor gemerlapan, tinggi-tinggi, gemerlapan. Dan itu berarti: selamat tidur sampai ketemu esok hari dengan sulapan yang lain dan baru.

HONGKONG Di Hongkong kita tersenyum, menegursapa, tapi mereka memandang kita dengan curiga. Bagai si pandir atau si gila dihina. Di kota ini setiap orang jadi serdadu kerna setiap jengkal tanah adalah medan laga. Di jalan yang ramai dan di mana-mana tulisan Tionghoa para pelacur menggedel dan menawarkan bencana.

Tuhan dan penghianatan mempunyai wajah yang sama. Tak ada mimpi kecuali yang dahsyat dan mutlak mimpi berkilat-kilat serta nyaring bagai tembaga terbayang dalam dada atau pun wajah kuli yang suka bengkelai Tak ada orang asing di sini. Setiap orang adalah asing sejak mula pertama. Orang-orang seperti naga. Tanpa sanak, tanpa keluarga.

Setiap orang bersiap dengan kukunya. Kita bebas untuk pembunuhan tapi tidak untuk kepercayaan. Orang di sini sukar diduga Bagai kanak-kanak suka uang dan manisan. Bagai perempuan suka berlian dan pujian. Bagai orang tua suka candu dan batu dadu. Dan bagai rumah terkunci pintunya. Sukar dibuka. Tapi sekali dijumpa kuncinya terbukalah pintu hati manusia biasa. GEREJA OSTANKINO, MOSKWA Menaranya cukup tinggi tapi menggapai sia-sia. Pintunya mulut sepi rapat terkunci derita lumat dikunyahnya.

SRETENSKI BOULEVARD Di sepanjang Sretenski Boulevard kuseret langkahku dan kebosananku. Di bawah naungan pepohonan rindang di sepajang jalan bersih dengan bunga-bungaan kucekik kebosananku dalam langkah-langkah yang lamban. Di Sretenski Boulevard di bangku panjang di antara pasangan berciuman dan orang tua membaca buku kuhenyakkan tubuhku yang lesu kuhenyakkan kebosananku. Maka sambil diseling memandang pasangan yang lewat bergandengan dan ibu mendorong bayi dalam kereta kupandang pula di depanku kelesuanku dan kejemuanku.

Terang bukan soal kesepian di tengah berpuluh teman dan wanita untuk berkencan. Masing-masing orang punya perkelahian. Masing-masing waktu punya perkelahian. Dan kadang-kadang kita ingin sepi serta sendiri. Kerna, wahai, setanku yang satu bernama kebosanan! Di sepanjang Sretenski Boulevard di sepanjang Sretenski Boulevard di tempat yang khusus untuk ini kuseret langkahku dan kebosananku.

Lalu kulindas di bawah sepatu. SEBUAH RESTORAN, MOSKWA Melalui caviar dan vodka kami langgar sepuluh dosa. Di atas kain meja yang putih terbarut tindakan yang sia-sia. Botol-botol anggur yang angkuh dan teman wanita yang muda adalah hiasan malam yang terasa tua. Hari-hari yang nampak koyak-moyak disulam dengan manis oleh wajahnya. Dalarn kepalsuan kami berdua bertatapan.

Bahunya yang halus berkilau biru oleh cahaya lilin dan lampu. Pintu-pintu berpolitur dengan tirai untaian merjan. Sementara musik berbunyi jam berapa kami tak tahu. Di atas kursi Prancis kami bertukar senyum dan tahu masing-masing saling menipu. Dengan gelas-gelas yang tinggi kita membunuh waktu dalam dosa.

Bila begini: Manusia sama saja dengan cerutu bistik atau pun whiski-soda berhadapan dengan waktu jadi tak berdaya. SUNGAI MOSKWA Di hari Minggu Valya tertawa dan rambutnya yang pirang terberai. Di atas biduk yang kecil merah kami tempuh air melewatkan jam-jam yang kosong.

Berpuluh pohonan tumbuh di dua tepi sungai bagai jumlahnya dosa kami. Semua daun berubah warna. Musim gugur sudah tiba. Di atas air yang hijau kami meluncur diikuti bayang-bayang yang kabur. Melewati lengkungan jembatan.

bagai melewati lengkungan kekosongan. Musim gugur sudah tiba. Valya tertawa dadanya terguncang di dalam sweaternya. Musim gugur sudah tiba. SANATORIUM CHAKHALINAGARA, MOSKWA Hatiku terbaring telanjang di meja di atas piring di samping pisau, senduk, dan garpu, selagi aku duduk di kursi putih dengan koran tak bisa dibaca di pangkuanku.

Pintu balkon yang terbuka menampakkan terali yang hitam serta langit yang tua renta. Bayangan gelas dan teko porselin dipantulkan kaca pintu. Kemudian nampak pula diriku; Wajahku yang sepi setelah dicuci, hatiku yang rewel dan manja. Siapa pula aku tunggu? Siapa atau apa? Perawat datang dengan wajah yang heran. Ia menggelengkan kepala: "Kamerad tak makan?

"Lyuda, aku tak bisa makan. Tak bisa kumakan wajah kekasih tak bisa kuminum ibuku bersama susu dan tak bisa kuusap mata adik dengan mentega!" Ia mengangkat bahu dan bertanya. Ah, ia toh tak tahu bahasa rindu!

Apabila ia lenyap dart pintu dengan langkah lunak di atas permadani ia tak akan tahu bahwa waktu pernah beku dan berhenti segala bunyi dan warna tanpa makna dan bahkan bagi mimpi, duka, derita, maupun kebahagiaan tak ada pintu yang membuka.

MORANBONG, PYONGYANG Aku akan tidur di rumputan di tepi kolam. Sementara undan dan belibis berenangan. Lihatlah, aku berdosa. Aku akan tidur di bawah pohon liu yang rindang. Dalam waktu yang mewah tapi hampa aku berjalan dalam taman mengintip pasangan bersembunyi di dalam hutan.

Sambil makan jagung bakar dan apel Korea mendengarkan lagu rakyat dinyanyikan orang. Kantongku pun penuh dosa. Lalu kupilihlah tempat ini. tempat tidurku di rumputan dekat tembok pagar yang tua memandang kuil beratap merah dan angin lewat untuk pergi ke kunci gitar manis di bibir memutar kata yang jauh. Mencuri dosa. Aku akan tidur di tepi kolam di bawah pohon liu yang rindang. Aku payah oleh dosa.

HOTEL INTERNASIONAL, PYONGYANG Di malam yang larut itu dengan jari-jari yang rusuh kubuka pintu balkon dan lalu bergumullah diriku dengan sepi. Malam musim gugur yang tidak ramah mengusir orang dari jalanan.

Dan pohon-pohon seperti janda yang tua. Kecuali angin tak ada lagi yang bernyawa Di dalam sepi orang menatap diri sendiri menghadap diri sendiri dan telanjang dalam jiwa. Angin Pyongyang mengacau rambutku dan bertanya: "Lelaki kurus dengan rambut kusutmasai engkau gerangan putra siapa?" Lalu kulihatlah wajahku yang tegang, diriku yang guyah, serta hatiku yang gelisah.

Aku mencoba ramah dan menegur diriku: "Hallo! - Ada apa?" Malam yang larut itu gemetar dan kelabu. Kesepian menghadap padaku bagai kaca. "Ayolah, buyung! Kau toh bukan kakek yang tua! Lalu aku pun tersipu meskipun tahu itu tak perlu MANCURIA Di padang-padang yang luas kuda-kuda liar berpacu Rindu dan tuju selalu berpacu Di rumput-rumput yang tinggi angin menggosokkan punggungnya yang gatal Di padang yang luas aku ditantang Hujan turun di atas padang Wahai, badai dan hujan di atas padang!

Dan di cakrawala, di dalam hujan kulihat diriku yang dulu hilang KUPANGGIL NAMAMU Sambil menyeberangi sepi kupanggil namamu, wanitaku Apakah kau tak mendengarku? Malam yang berkeluh kesah memeluk jiwaku yang payah yang resah kerna memberontak terhadap rumah memberontak terhadap adat yang latah dan akhirnya tergoda cakrawala. Sia-sia kucari pancaran sinar matamu.

Ingin kuingat lagi bau tubuhmu yang kini sudah kulupa. Sia-sia Tak ada yang bisa kujangkau Sempurnalah kesepianku. Angin pemberontakan menyerang langit dan bumi. Dan dua belas ekor serigala muncul dari masa silam merobek-robek hatiku yang celaka. Berulang kali kupanggil namamu Di manakah engkau, wanitaku? Apakah engkau juga menjadi masa silamku?

Kupanggil namamu. Kupanggil namamu. Kerna engkau rumah di lembah. Dan Tuhan ? Tuhan adalah seniman tak terduga yang selalu sebagai sediakala hanya memperdulikan hal yang besar saja. Seribu jari dari masa silam menuding kepadaku. Tidak Aku tak bisa kembali. Sambil terus memanggil namamu amarah pemberontakanku yang suci bangkit dengan perkasa malam ini dan menghamburkan diri ke cakrawala yang sebagai gadis telanjang membukakan diri padaku Penuh.

Dan Prawan. Keheningan sesudah itu sebagai telaga besar yang beku dan aku pun beku di tepinya. Wajahku. Lihatlah, wajahku. Terkaca di keheningan. Berdarah dan luka-luka dicakar masa silamku. KENANGAN DAN KESEPIAN Rumah tua dan pagar batu. Langit di desa sawah dan bambu. Berkenalan dengan sepi pada kejemuan disandarkan dirinya. Jalanan berdebu tak berhati lewat nasib menatapnya.

Cinta yang datang burung tak tergenggam. Batang baja waktu lengang dari belakang menikam. Rumah tua dan pagar batu. Kenangan lama dan sepi yang syahdu. CILIWUNG Ciliwung kurengkuh dalam nyanyi kerna punya coklat kali Solo. Mama yang bermukim dalam cinta dan berulang kusebut dalam sajak wajahnya tipis terapung daun jati yang tembaga.

Hanyutlah mantra-mantra dari dukun hati menemu segala yang hilang. Keharuan adalah tonggak setiap ujung dan air tertumpah dari mata-mata di langit. Kali coklat menggeliat dan menggeliat. Wajahnya penuh lingkaran-lingkaran bunda! Katakanlah dari hulu mana mengalir wajah-wajah gadis rumah tua di tanah ibu ketapang yang kembang, kembang jambu berbulu dan bibir kekasih yang kukunyah dulu. Katakanlah, Paman Doblang, katakanlah dari hulu mana mereka datang: manisnya madu, manisnya kenang.

Dan pada hati punya biru bunga telang pulanglah segala yang hilang. REMANG-REMANG Di jalan remang-remang ada bayangan remang-remang aku bimbang apa kabut apa orang. DI langit remang-remang ada satu mata kelabu aku bimbang apa cinta apa dendam menungguku. Di padang remang-remang ada kesunyian tanpa hati aku bimbang malam ini siapa bakal mati. DI udara remang-remang ada pengkhianatan membayang selalu.

Wahai, betapa remang-remangnya jalan panjang di hatiku. TAK BISA KULUPAKAN Tak bisa kulupakan hutan, tak bisa kulupakan sedapnya daun gugur, lembutnya lumut cendawan. Tak bisa kulupakan hutan, tak bisa kulupakan muramnya kasih gugur, lembutnya kecup penghabisan. Tak bisa kulupakan hutan, tak bisa kulupakan muramnya senyum hancur, lembutnya kubur ketiduran.

Tak bisa kulupakan hutan, tak bisa kulupakan meski ditikam dalam-dalam, tak bisa kulupakan. TAMU Dari mula hadir dan semerbak aku percaya bukan racun dupa dan sedap malam - duka lembut yang datang dari luka tersibak: kenangan yang menang kerna diri terbenam. (Kenangan malam, tak bisa ku tidur bila kau datang!) Ah, candu kenikmatan dari luka!

Duka itu bagai orang tua yang tenang berkata: "Willy sedang nulis Malam Kunci gitar manis di bibir memutar kata BURUNG TERBAKAR Ada burung terbang dengan sayap terbakar dan terbang dengan dendam dan sakit hati. Gulita pada mata serta nafsu pada cakar. Mengalir arus pedih yang cuma berakhir di mati. Wahai, sayap terbakar dan gulita pada mata. Orang buangan tak bisa lunak oleh kata. Dengan sayap terbakar dan sakit hati tak terduga si burung yang malang terbang di sini: di dada!

MATA ANJING Mata anjing penuh sinar nafsu maling. Bila malam jahat di langit penuh mata anjing. Sorot mata penuh duga dan cedera maksud-maksud dalam kedok dan kata bermakna dua. Mata anjing muncul di malam tak terelakkan. Mata anjing menatap dengan rahasia tanpa ungkapan. Wahai, Gadis yang tak kucinta dan menangis berguling dalam ciuman kulihat padamu dua sorot mata anjing. RUMPUN ALANG-ALANG Engkaulah perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, Kunci gitar manis di bibir memutar kata.

Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang. Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal. Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal. Gelap dan bergoyang ia dan ia pun berbunga dosa. Engkau tetap yang punya tapi alang-alang tumbuh di dada. TERPISAH Racun kunci gitar manis di bibir memutar kata duka merambat di kelengangan malam kota.

Lampu jalanan dipingsankan hujan. Berbaringan rumah-rumah wajahmu di temboknya. Kesepian seperti sepatu besi. Menekur semua menekur dikhianati bulan. Engkau bulan lelap tidur di hatiku. Oleh sepi diriku dirampas jalan raya. Semua didindingi kelam dan kedinginan. Maut atau ribamu di ujung jalan itu. Digenangi air adalah racun duka adalah wajahmu. MALAM JAHAT Malam dengan langit tanpa buahan dan suara itu bukanlah angin puputan tersebar ratapan perempuan sial bagai merayap di atas jalan yang kekal.

Lelaki keluar ambang sendirian kunci gitar manis di bibir memutar kata hitam banyak hinggapan sekali melangkah kakinya besi dituruti jalan sangsi yang abadi.

kunci gitar manis di bibir memutar kata

SPADA He, kakak yang berjalan ke timur itu palingkan kepalamu bongkah batu kerna dalam gelap yang menelanmu aku bimbang apa kau lakiku! Ada khianat dan angkuh antara kita tertahan ku ngejar, bisaku cuma nyapa. Spada! Hai! Teriak angin di dada: Spada! Bila kau lelakiku yang serong, berpalinglah kiranya. PEREMPUAN YANG MENUNGGU Orang yang menunggu dan mengarungi waktu hati padang tanpa bunga udara dan batu sekali dikandungnya.

Sepi terbaring pada malam dan pagi menyiksa racun jemu yang abadi. la duduk di atas luka berbelai dengan hawa ia berkata: Saya sudah tua, dan disuruh saya: Duduk saja di sana! Dan menanti! SETELAH PENGAKUAN DOSA Telah putih tangan-tangan jiwaku berdebu kausiram air mawar dari lukamu.

Burung malam lari dari subuh. Kijang yang lumpish butuh berteduh. Di langit tangan-tangan tembaga terulur memanjang barat-timur bukit-bukit kapur. Tuhan adalah bunga-bunga mawar yang ramah. Tuhan adalah burung kecil berhati merah. TANPA GARAM Aku telah berjalan antara orang-orang tak berdosa jemari lembut awan, airmata susu bunda. Telah datang anak putri langit tak berdosa lenggang gentayang putri lesi tanpa manja.

Ah, kina dalam kuwe manisan! Kayumanis dan panili pengkhianatan! Lewatlah yang pucat, kuhindarkan cekikan. Kata alam tersekat dan menekan pingsan. WAKTU Waktu seperti burung tanpa hinggapan melewati hari-hari rubuh tanpa ratapan sayap-sayap mu'jizat terkebar dengan cekatan Waktu seperti butir-butir air dengan nyanyi dan tangis angin silir berpejam mata dan pelesir tanpa akhir.

Dan waktu juga seperti pawang tua menunjuk arah cinta dan arah keranda. IA TELAH PERGI la telah pergi lewat jalannya kali. la telah pergi searah dengan mentari. Semua lelaki ninggalkan ibu dan ia masuk serdadu.

Kemudian ia kembang di perang; dan tertelentang. Bagi lain orang. BUMI HANGUS Di bumi yang hangus hati selalu bertanya apa lagi kita punya? Berapakah harga cinta? Di bumi yang hangus hati selalu bertanya Kita harus pergi ke mana, di mana rumah kita?

Di bumi yang hangus hati selalu bertanya bimbang kalbu oleh cedera Di bumi yang hangus hati selalu bertanya hari ini maut giliran siapa? KANGEN Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku menghadapi kemerdekaan tanpa cinta kau tak akan mengerti segala lukaku kerna cinta telah sembunyikan pisaunya. Kunci gitar manis di bibir memutar kata wajahmu adalah siksa.

Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan. Engkau telah menjadi racun bagi darahku. Apabila aku dalam kangen dan sepi itulah berarti aku tungku tanpa api. IBUNDA Engkau adalah bumi, Mama aku adalah angin yang kembara. Engkau adalah kesuburan atau restu atau kerbau bantaian.

Kuciumi wajahmu wangi kopi dan juga kuinjaki sambil pergi kerna wajah bunda adalah bumi. Cinta dan korban tak bisa dibagi. DONGENG PAHLAWAN Pahlawan telah berperang dengan panji-panji berkuda terbang dan menangkan putri. Pahlawan kita adalah lembu jantan melindungi padang dan kaum perempuan. Pahlawan melangkah dengan baju-baju sutra. Malam tiba, angin tiba, ia pun tiba. Adikku lanang, senyumlah bila bangun pagi-pagi kerna pahlawan telah berkunjung di tiap hati.

TIDURLAH INTAN Si gadis menyanyi "Tidurlah Intan" dan padanya ada yang ditimang di pangkuan. "Burung yang manis kunci gitar manis di bibir memutar kata tualang minumlah air rinduku sayang. Mata cerlang aduan rindu dan dendam mata air yang meminta diri tenggelam" Adapun yang tergolek di pangkuan bukan apa selain kenangan. STANZA Ada burung dua, jantan dan betina hinggap di dahan.

Ada daun dua, tidak jantan tidak betina gugur dari dahan. Ada angin dan kapuk gugur, dua-dua sudah tua pergi ke selatan. Ada burung, daun, kapuk, angin, dan mungkin juga debu mengendap dalam nyanyiku. LAGU SERDADU Kami masuk serdadu dan dapat senapang ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang. Yoho, darah kami campur arak! Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak! Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali.

Wahai, tanah yang baik untuk mati! Dan kalau ku telentang dengan pelor timah cukillah ia bagi putraku di rumah. LAGU IBU Angin kencang datang tak terduga. Angin kencang mengandung pedas mrica. Bagai kawanan lembu langit tanpa perempuan. Kawanan arus sedih dalam pusaran. Ditumbukinya padas dan batu-batuan. Tahu kefanaan, ia pergi tanpa tinggalan. Angin kencang adalah birahi, sepi dan malapetaka.

Betapa kencang serupa putraku yang jauh tak terduga. LAGU ANGIN Jika aku pergi ke timur arahku jauh, ya, ke timur. Jika aku masuk ke hutan aku disayang, ya, di hutan. Aku pergi dan kakiku adalah hatiku.

Sekali pergi menolak rindu. Ada duka, pedih dan airmata biru tapi aku menolak rindu. LAGU SANGSI Hati lelaki yang terbagi adalah daging dibajak sangsi. Hati yang hidup untuk dua bunga adalah kali tersobek dua. Kali yang terbagi menjulur ke barat dan ke timur betapa lembut ia ngluncur tanpa tidur. Ah, kali hitam tanpa buih dan sinar begitu tohor tapi tak berdasar. LAGU DUKA la datang tanpa mengetuk lalu merangkulku adapun ia yang licik bernama duka.

Ia bulan jingga neraka langit dadaku adapun ia yang laknat bernama duka. Ia keranda cendana dan bunga-bunga sutra ungu adapun ia yang manis bernama duka.

la tinggal lelucon setelah ciuman panjang adapun ia yang malang bernama duka. BURUNG HITAM Burung hitam manis dari hatiku betapa cekatan dan rindu sepi syahdu.

Burung hitam adalah buah pohonan. Burung hitam di dada adalah bebungaan. Ia minum pada kali yang disayang ia tidur di daunan bergoyang. la bukanlah dari duka meski is burung hitam Burung hitam adalah cintaku padamu yang terpendam. MATA HITAM Dua mata hitam adalah matahati yang biru dua mata hitam sangat kenal bahasa rindu. Rindu bukanlah milik perempuan melulu dan keduanya sama tahu, dan keduanya tanpa malu.

kunci gitar manis di bibir memutar kata

Dua mata hitam terbenam di daging yang wangi kecantikan tanpa sutra, tanpa pelangi. Dua mata hitam adalah rumah yang temaram secangkir kopi sore hari dan kenangan yang terpendam.

BATU HITAM Batu hitam di kali berdiri tanpa mimpi arus merintih oleh anak tak berhati. Betapa tegar tanpa rindu dan damba. Betapa sukar hancur anak tak berbunda. Angin Agustus tiba dan bulan senyum padanya tapi anak tak berhati tak berjantung pula. Angkuh dan dingin si batu hitam. Beku dan lumutan dendamnya terpendam. KALI HITAM Kali hitam lewat dengan keluh kesah kawanan air dari tanah tak bernama Kali hitam lewat di tanah rendah Kali hitam beralur di dasar dada.

Mengalir ia. Mengalir. Entah dari mana. Rahasia pertapa dan nestapa. Sunyi yang lahir dari tanya. Betapa menjalar ia, lidah yang berbisa! SURAT KEPADA BUNDA Tentang Calon Menantunya Mamma yang tercinta, akhirnya kutemukan juga jodohku seseorang yang bagai kau: sederhana dalam tingkah dan bicara serta sangat menyayangiku.

Terpupuslah sudah masa-masa sepiku. Hendaknya berhenti gemetar rusuh hatimu yang baik itu yang selalu mencintaiku. Kerna kapal yang berlayar telah berlabuh dan ditambatkan. Dan sepatu yang berat serta nakal yang dulu biasa menempuh jalan-jalan yang mengkhawatirkan dalam hidup lelaki yang kasar dan sengsara, kini telah aku lepaskan dan berganti dengan sandal rumah yang tenteram, jinak dan sederhana.

Mamma, Burung dara jantan yang nakal yang sejak dulu kaupiara kini terbang dan telah menemu jodohnya. la telah meninggalkan kandang yang kaubuatkan dan tiada akan pulang buat selama-lamanya. Ibuku, Aku telah menemukan jodohku. Janganlah kau cemburu. Hendaknya hatimu yang baik itu mengerti: pada waktunya, aku mesti kaulepaskan pergi.

Begitu kata alam. Begitu kau mengerti: Bagai dulu bundamu melepas kau kawin dengan ayahku. Dan bagai bunda ayahku melepaskannya untuk mengawinimu. Tentu sangatlah berat. Tetapi itu harus, Mamma! Dan akhirnya tak akan begitu berat apabila telah dimengerti apabila telah disadari. Hari Sabtu yang akan datang aku akan membawanya kepadamu. Ciumlah kedua pipinya berilah tanda salib di dahinya dan panggillah ia dengan kata: Anakku! Bila malam telah datang kisahkan padanya riwayat para leluhur kita yang ternama dan perkasa.

Dan biarkan ia nanti tidur di sampingmu. la pun anakmu. Sekali waktu nanti ia akan melahirkan cucu-cucumu. Mereka akan sehat-sehat dan lucu-lucu. Dan kepada mereka ibunya akan bercerita riwayat yang baik tentang nenek mereka: bunda-bapak mereka. Ciuman abadi dari anak lelakimu yang jauh, Willy. SERENADA MERAH PADAM Sekawan kucing berpasang-pasangan mengeyong di kegelapan.

Sekawan kucing mengeyong dengan bising mengeyong dengan panas di kegelapan. Manisku! Manisku! Sekawan kucing berpasang-pasang saling menggosokkan tubuhnya di kegelapan. Seekor kucing jantan menyapukan kumisnya yang keras ke bulu perut betinanya.

Maka yang betina berguling-guling di atas debu tanah. Menggeliat dan berguling-guling tak terang pandang matanya. Serta dari mulutnya keluar suara panjang, kerna telah dilemahkan seluruh kunci gitar manis di bibir memutar kata badannya.

Manisku! Manisku! Dengarlah bunyi kucing mengganas di kegelapan. Seekor kucing jantan menggeram dengan dalam di leher betinanya.

Maka selagi sang betina kecapaian ia pun menyeringai di kegelapan. SERENADA KELABU 1 Bagai daun yang melayang. Bagai burung dalam angin. Bagai ikan dalam pusaran. Ingin kudengar beritamu! 2 Ketika melewati kali terbayang gelakmu. Ketika melewati rumputan terbayang segala kenangan. Awan lewat indah sekali.

kunci gitar manis di bibir memutar kata

Angin datang lembut sekali. Gambar-gambar di rumah penuh arti. Pintu pun kubuka lebar-lebar. Ketika aku duduk makan kuingin benar bersama dirimu. SERENADA HITAM 1 Aku akan masuk ke dalam hutan.

Lari ke dalam hutan. Menangis ke dalam hutan. Kerna mereka telah memisahkan kami: aku dan Panjiku: Akan kuurai sanggul rambutku tergerai bagai ratap tangis dan dukaku. Nasib telah menikam diriku dari belakar Nasib telah memeras mataku. Dan menjalar kuman-kuman yang gatal di kedua susuku. Wahai, mereka telah mengungkai sebuah dada yang bidang dari pelukanku!

Panji adalah pelita gemerlap bersinar dalam puriku. Kini betapa gelap puriku tiada lagi berlampu. Aku akan masuk ke dalam hutan. Lari ke dalam hutan. Mengapa mereka rintangi cinta yang tak'kan terpisahkan? Mengapa mereka bendungi derasnya arus air kali? Wahai, betapa gelap puriku tiada lagi berlampu. Aku akan masuk ke dalam hutan. Lari ke dalam hutan.

Menangis ke dalam hutan. Akan kutempuh ujung pisau pengkhianatan. Akan kutantang kuburan kedengkian. Karena puriku tiada lagi berlampu. 2 Kemari; Kemarilah, Manisku! Tengadahlah memandang mataku dan kuciumi seluruh wajahmu. Diamlah, Candra Kirana, Kekasihku! Cinta tak bisa dipisahkan api tak terpadamkan. Akan kutantang segala rintangan tanpa lari ke dalam hutan. Bangkitlah dari ratap tangismu.

Akan kupeluk di tempat lapang. Kubimbing tanganmu di bawah langit dan terang. Cinta yang tidur dalam kesedihan, ketika bangkit menemu mentari yang gemilang. Marilah, Candra Kirana! Kita rampas kemenangan dan kita tepiskan kematian. 0, betapa kubenci kehancuran dan kuyakin hari yang gemilang.

Kemarilah, Candra Kirana! Lelakimu di sini: pohon pautan tempat berpegang. Keluarlah dari hutan! Di sini kita kawin.

Di sini kita berpelukan. DI bawah mentari. Di bawah langit siang. 3 Kami tak dapat dipisahkan: Caedra Kirana dan Panji. Kami cantik, tampan dan remaja. Mentari adalah hakim percintaan. Cinta yang berjalan dalam duka cita tetap menatap ke muka dan akan menemu perumahan yang aman. Menepislah pengkhianatan. Menepislah kematian. Kami akan gigih biar karatan.

Dan percaya akan kemenangan biarpun di atas kuburan. Tak ada maut bagi cinta. Tak ada kelayuan bagi bunga kehidupan. SERENADA PUTIH Kesepiannya mengurung jerit hatinya. Pandangnya yang dirahasiakan terasa juga oleh lelaki itu. DI jalan orang memetik gitar cecak di tembok dan rindu di hatinya: bagai bayang-bayangnya yang gelap. Ketika terdengar bunyi lonceng tembok lelaki itu memandangnya. la pun menunduk. Tergerai rambutnya bagai malam. Gadis yang sangsi pada diri memendam segala rasa dalam berpura.

Terkunci mulutnya. Menunduk matanya. Semakin berpura semakin panas ia. Rindunya murni bagai permata belum diasah bagai rahasia belum disingkapkan. Cecak berbunyi dalam kantuknya dan gemetarlah sepi di kamar itu. Lelaki itu menjamahnya dan membisikkan kata-kata dengan napas yang melemaskan. Angin menumbuki kaca jendela. Sepatu terantuk kaki meja. Maka: dalam pelukan gemetar pertukaran napas ganas menemu kuncinya.

Lalu: cium pertamanya. Kemudian: dikatakanlah segalanya. DI BAWAH BULAN Ketika sebuah suara memanggil namanya ia hentikan langkahnya. Rumpun pohonan remang-remang mahkota cahaya di pucuk daunnya. la tak lihat orangnya tapi suara dikenalnya. Ketika bulan menjenguknya tampak pipinya bagai kelopak angsoka kerna darah naik ke muka dan bulu kuduknya.

Terdengar cengkerik berpacaran pucuk-pucuk cemara bergeseran. Ketika sebuah suara memanggil namanya ia pun tahu siapa menunggunya.

Cahaya lembut memabukkan angin meniup tepi kainnya. Ketika sebuah tangan kuat meraba pundaknya menyerahlah ia. SERENADA VIOLET Lalu terdengarlah suara di balik semak itu sedang bulan merah mabuk dan angin dari selatan.

Lalu terbawa bauan sedap bersama desahan lembut sedang serangga bersiuran di dalam bayangan gelap. Tujuh pasang mata peri terpejam di pohonan.

Dengan suara-suara lembut aneh dan bau sedap dari jauhan datanglah fantasi malam. Lalu terdengarlah suara di balik semak itu pucuk rumput bergetaran kali mengalir tanpa sadar. Sebuah pasangan telah dikawinkan bulan.

SERENADA BIRU 1 Alang-alang dan rumputan bulan mabuk diatasnya. Alang-alang dan rumputan angin membawa bau rambutnya 2 Mega putih selalu berubah rupa membayangkan rupa yang datang derita. 3 Ketika hujan datang malamnya sudah tua: angin sangat garang dinginnya tak terkira Aku bangkit dari tidurku dan menatap langit kelabu. Wahai, janganlah angin itu menyingkap selimut kekasihku! SURAT CINTA Kutulis surat ini kala hujan gerimis bagai bunyi tambur mainan anak-anak peri dunia yang gaib.

Dan angin mendesah mengeluh dan mendesah. Wahai, Dik Narti, aku cinta kepadamu! Kutulis surat ini kala langit menangis dan dua ekor belibis bercintaan dalam kolam bagai dua anak nakal jenaka dan manis m engibaskan ekor serta menggetarkan bulu-bulunya.

Wahai, Dik Narti, kupinang kau menjadi istriku! Kaki-kaki hujan yang runcing menyentuhkan ujungnya di bumi. Kaki-kaki cinta yang tegas bagai logam berat gemerlapan menempuh ke muka dan tak'kan kunjung diundurkan. Selusin malaikat telah turun di kala hujan gerimis. DI muka kaca jendela mereka berkaca dan mencuci rambutnya untuk ke pesta. Wahai, Dik Narti, dengan pakaian pengantin yang anggun bunga-bunga serta keris keramat aku ingin membimbingmu ke altar untuk dikawinkan. Aku melamarmu.

Kau tahu dari dulu: tiada lebih buruk dan tiada lebih baik daripada yang lain . kunci gitar manis di bibir memutar kata dari kehidupan sehari-hari, orang yang bermula dari kata kata yang bermula dari kehidupan, pikir dan rasa. Semangat kehidupan yang kuat bagai berjuta-juta jarum alit menusuki kulit langit: kantong rejeki dan restu wingit. Lalu tumpahlah gerimis. Angin dan cinta mendesah dalam gerimis.

Semangat cintaku yang kuat bagai seribu tangan gaib menyebarkan seribu jaring menyergap hatimu yang selalu tersenyum padaku. Engkau adalah putri duyung tawananku. Putri duyung dengan suara merdu lembut bagai angin laut, mendesahlah bagiku! Angin mendesah selalu mendesah dengan ratapnya yang merdu. Engkau adalah putri duyung tergolek lemas mengejap-ngejapkan matanya yang indah dalam jaringku.

Wahai, Putri Duyung, aku menjaringmu aku melamarmu. Kutulis surat ini kala hujan gerimis kerna langit gadis manja dan manis menangis minta mainan. Dua anak lelaki nakal bersenda-gurau dalam selokan dan langit iri melihatnya. Wahai, Dik Narti, kuingin dikau menjadi ibu anak-anakku! EPISODE Kami duduk berdua di bangku halaman rumahnya pohon jambu di halaman itu berbuah dengan lebatnya dan kami senang memandangnya. Angin yang lewat memainkan daun yang berguguran. Tiba-tiba ia bertanya: "Mengapa sebuah kancing bajumu lepas terbuka?" Aku hanya tertawa.

lau ia sematkan dengan mesra sebuah peniti menutup bajuku. Sementara itu aku bersihkan guguran bunga jambu yang mengotori rambutnya. SERENADA HIJAU Kupacu kudaku. Kupacu kudaku menujumu. Bila bulan menegurkan salam dan syahdu malam kunci gitar manis di bibir memutar kata di dahan-dahan.

Menyusuri kali kenangan yang berkata tentang rindu dan terdengar keluhan dari batu yang terendam Kupacu kudaku. Kupacu kudaku menujumu. Dan kubayangkan sedang kautunggu daku sambil kaujalin rambutmu yang panjang. SAJAK DOA DI JAKARTA Tuhan yang Maha Esa, alangkah tegangnya melihat hidup yang tergadai, fikiran yang dipabrikkan, dan masyarakat yang diternakkan.

Malam rebah dalam udara yang kotor. Di manakah harapan akan dikaitkan bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?

Dendam diasah di kolong yang basah siap untuk terseret dalam gelombang edan. Perkelahian dalam hidup sehari-hari telah menjadi kewajaran. Pepatah dan petitih tak akan menyelesaikan masalah bagi hidup yang bosan, terpenjara, tanpa jendela. Tuhan yang Maha Faham, alangkah tak masuk akal jarak selangkah yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh, yang memisahkan sebuah halaman bertaman tanaman hias dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.

Hati manusia telah menjadi acuh, panser yang angkuh, traktor yang dendam. Tuhan yang Maha Rahman, ketika air mata menjadi gombal, dan kata-kata menjadi lumpur becek, aku menoleh ke utara dan ke selatan - di manakah Kamu? Di manakah tabungan keramik untuk wang logam? Di manakah catatan belanja harian? Di manakah peradaban? Ya, Tuhan yang Maha Hakim, harapan kosong, optimisme hampa.

Hanya akal sihat dan daya hidup menjadi peganganku yang nyata. Ibumu mempunyai hak yang sekiranya kamu mengetahui tentu itu besar sekali Kebaikanmu yang banyak ini Sungguh di sisi-Nya masih sedikit Berapa banyak malam yang ia gunakan mengaduh karena menanggung bebanmu Dalam pelayanannya ia menanggung rintih dan nafas panjang Ketika melahirkan andai kamu mengetahui keletihan yang ditanggungnya Dari balik sumbatan kerongkongannya hatinya terbang Berapa banyak ia membasuh sakitmu dengan tangannya Pangkuannya bagimu adalah sebuah ranjang Sesuatu yang kamu keluhkan selalu ditebusnya dengan dirinya Dari susunya keluarlah minuman yang sangat enak buatmu Berapa kali ia lapar dan ia memberikan makanannya kepadamu Dengan belas kasih dan kasih sayang saat kamu masih kecil Aneh orang yang berakal tapi masih mengikuti hawa nafsunya Aneh orang yang buta mata hatinya sementara matanya melihat Wujudkan cintaimu dengan memberikan doamu yang setulusnya pada ibumu Karena kamu sangat membutuhkan doanya padamu BERSATULAH PELACUR-PELACUR KOTA JAKARTA Pelacur-pelacur Kota Jakarta Dari kelas tinggi dan kelas rendah Telah diganyang Telah haru-biru Mereka kecut Keder Terhina dan tersipu-sipu Sesalkan mana yang mesti kausesalkan Tapi jangan kau lewat putus asa Dan kaurelakan dirimu dibikin korban Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta Sekarang bangkitlah Sanggul kembali rambutmu Karena setelah menyesal Datanglah kini giliranmu Bukan untuk membela diri melulu Tapi untuk lancarkan serangan Karena Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan Tapi jangan kaurela dibikin korban Sarinah Katakan kepada mereka Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu Tentang perjuangan nusa bangsa Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal Ia sebut kau inspirasi revolusi Sambil ia buka kutangmu Dan kau Dasima Khabarkan pada rakyat Bagaimana para pemimpin revolusi Secara bergiliran memelukmu Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi Sambil celananya basah Dan tubuhnya lemas Terkapai disampingmu Ototnya keburu tak berdaya Politisi dan pegawai tinggi Adalah caluk yang rapi Kongres-kongres dan konferensi Tak pernah berjalan tanpa kalian Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’ Lantaran kelaparan yang menakutkan Kemiskinan yang mengekang Dan telah lama sia-sia cari kerja Ijazah sekolah tanpa guna Para kepala jawatan Akan membuka kesempatan Kalau kau membuka kesempatan Kalau kau membuka paha Sedang diluar pemerintahan Perusahaan-perusahaan macet Lapangan kerja tak ada Revolusi para pemimpin Adalah revolusi dewa-dewa Mereka berjuang untuk syurga Dan tidak untuk bumi Revolusi dewa-dewa Tak pernah menghasilkan Lebih banyak lapangan kerja Bagi rakyatnya Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan Namun Sesalkan mana yang kau kausesalkan Tapi jangan kau lewat putus asa Dan kau rela dibikin korban Pelacur-pelacur kota Jakarta Berhentilah tersipu-sipu Ketika kubaca di koran Bagaimana badut-badut mengganyang kalian Menuduh kalian sumber bencana negara Aku jadi murka Kalian adalah temanku Ini tak bisa dibiarkan Astaga Mulut-mulut badut Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan Saudari-saudariku Membubarkan kalian Tidak semudah membubarkan partai politik Mereka harus beri kalian kerja Mereka harus pulihkan darjat kalian Mereka harus ikut memikul kesalahan Saudari-saudariku.

Bersatulah Ambillah galah Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya Araklah keliling kota Sebagai panji yang telah mereka nodai Kinilah giliranmu menuntut Katakanlah kepada mereka Menganjurkan mengganyang pelacuran Tanpa menganjurkan Mengahwini para bekas pelacur Adalah omong kosong Pelacur-pelacur kota Jakarta Saudari-saudariku Jangan melulur keder pada lelaki Dengan mudah Kalian bisa telanjangi kaum palsu Naikkan tarifmu dua kali Dan mereka akan klabakan Mogoklah satu bulan Dan mereka akan puyeng Lalu mereka akan berzina Dengan isteri saudaranya.

SAJAK PESAN PENCOPET KEPADA PACARNYA Sitti, kini aku makin ngerti keadaanmu Tak ‘kan lagi aku membujukmu untuk nikah padaku dan lari dari lelaki yang miaramu Nasibmu sudah lumayan Dari kunci gitar manis di bibir memutar kata dari selir kepala jawatan Apalagi?

Nikah padaku merusak keberuntungan Masa kunci gitar manis di bibir memutar kata terang repot Sebagai copet nasibku untung-untungan Ini bukan ngesah Tapi aku memang bukan bapak yang baik untuk bayi yang lagi kau kandung Cintamu padaku tak pernah kusangsikan Tapi cinta cuma nomor dua Nomor satu carilah keslametan Hati kita mesti ikhlas berjuang untuk masa depan anakmu Janganlah tangguh-tangguh menipu lelakimu Kuraslah hartanya Supaya hidupmu nanti sentosa Sebagai kepala jawatan lelakimu normal suka disogok dan suka korupsi Bila ia ganti kau tipu itu sudah jamaknya Maling menipu maling itu biasa Lagi pula di masyarakat maling kehormatan cuma gincu Yang utama kelicinan Nomor dua keberanian Nomor tiga keuletan Nomor empat kunci gitar manis di bibir memutar kata, biarpun dalam berdusta Inilah ilmu hidup masyarakat maling Jadi janganlah ragu-ragu Rakyat kecil tak bisa ngalah melulu Usahakan selalu menanjak kedudukanmu Usahakan kenal satu menteri dan usahakan jadi selirnya Sambil jadi selir menteri tetaplah jadi selir lelaki yang lama Kalau ia menolak kau rangkap sebagaimana ia telah merangkapmu dengan isterinya itu berarti ia tak tahu diri Lalu depak saja dia Jangan kecil hati lantaran kurang pendidikan asal kau bernafsu dan susumu tetap baik bentuknya Ini selalu menarik seorang menteri Ngomongmu ngawur tak jadi apa asal bersemangat, tegas, dan penuh keyakinan Kerna begitulah cermin seorang menteri Akhirnya aku berharap untuk anakmu nanti Siang malam jagalah ia Kemungkinan besar dia lelaki Ajarlah berkelahi dan jangan boleh ragu-ragu memukul dari belakang Jangan boleh menilai orang dari wataknya Sebab hanya ada dua nilai: kawan atau lawan Kawan bisa baik sementara Sedang lawan selamanya jahat nilainya Ia harus diganyang sampai sirna Inilah hakikat ilmu selamat Ajarlah anakmu mencapai kedudukan tinggi Jangan boleh ia nanti jadi propesor atau guru itu celaka, uangnya tak ada Kalau bisa ia nanti jadi polisi atau tentara supaya tak usah beli beras kerna dapat dari negara Dan dengan pakaian seragam dinas atau tak dinas haknya selalu utama Bila ia nanti fasih merayu seperti kamu dan wataknya licik seperti saya–nah!

Ini kombinasi sempurna Artinya ia berbakat masuk politik Siapa tahu ia bakal jadi anggota parlemen Atau bahkan jadi menteri Paling tidak hidupnya bakal sukses di Jakarta SAJAK DOA ORANG LAPAR Kelaparan adalah burung gagak yang licik dan hitam jutaan burung-burung gagak bagai awan yang hitam Allah !

burung gagak menakutkan dan kelaparan adalah burung gagak selalu menakutkan kelaparan adalah pemberontakan adalah penggerak gaib dari pisau-pisau pembunuhan yang diayunkan kunci gitar manis di bibir memutar kata tangan-tangan orang miskin Kelaparan adalah batu-batu karang di bawah wajah laut yang tidur adalah mata air penipuan adalah pengkhianatan kehormatan Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu melihat bagaimana tangannya sendiri meletakkan kehormatannya di tanah karena kelaparan kelaparan adalah iblis kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran Allah !

kelaparan adalah tangan-tangan hitam yang memasukkan segenggam tawas ke dalam perut para miskin Allah ! kami berlutut mata kami adalah mata Mu ini juga mulut Mu ini juga hati Mu dan ini juga perut Mu perut Mu lapar, ya Allah perut Mu menggenggam tawas dan pecahan-pecahan gelas kaca Allah ! betapa indahnya sepiring nasi panas semangkuk sop dan segelas kopi hitam Allah ! kelaparan adalah burung gagak jutaan burung gagak bagai awan yang hitam menghalang pandangku ke sorga Mu KUPANGGIL NAMAMU Sambil menyeberangi sepi, Kupanggili namamu, wanitaku Apakah kau tak mendengar?

Malam yang berkeluh kesah Memeluk jiwaku yang payah Yang resah Karena memberontak terhadap rumah Memberontak terhadap adat yang latah dan akhirnya tergoda cakrawala Sia-sia kucari pancaran matamu Ingin kuingat lagi bau tubuhmu yang kini sudah kulupa Sia-sia Tak ada yang bisa kucamkan Sempurnalah kesepianku Angin pemberontakan menyerang langit dan bumi Dan duabelas ekor serigala Muncul dari masa silamku Merobek-robek hatiku yang celaka Berulangkali kupanggil namamu Dimanakah engkau wanitaku?

Apakah engkau sudah menjadi masa silamku? PUISI TERAKHIR WS RENDRA: TUHAN, AKU CINTA PADAMU Aku lemas Tapi berdaya Aku tidak sambat rasa sakit atau gatal Aku pengin makan tajin Aku tidak pernah sesak nafas Tapi tubuhku tidak memuaskan untuk punya posisi yang ideal dan wajar Aku pengin membersihkan tubuhku dari racun kimiawi Aku ingin kembali pada jalan alam Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah Tuhan, aku cinta padamu Rendra 31 July 2009 Mitra Keluarga NYANYIAN ANGSA Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya: “Sudah dua minggu kamu berbaring.

Sakitmu makin menjadi. Kamu tak lagi hasilkan uang. Malahan kapadaku kamu berhutang. Ini beaya melulu. Aku tak kuat lagi. Hari ini kamu harus pergi.” (Malaikat penjaga Firdaus. Wajahnya tegas dan dengki dengan pedang yang menyala menuding kepadaku.

Maka darahku terus beku. Maria Zaitun namaku. Pelacur yang sengsara. Kurang cantik dan agak tua). Jam dua-belas siang hari. Matahari terik di tengah langit. Tak ada angin. Tak mega.

Maria Zaitun ke luar rumah pelacuran. Tanpa koper. Tak ada lagi miliknya. Teman-temannya membuang muka. Sempoyongan ia berjalan.

Badannya demam. Sipilis membakar tubuhnya. Penuh borok di klangkang di leher, di ketiak, dan di susunya. Matanya merah.

Bibirnya kering. Gusinya berdarah. Sakit jantungnya kambuh pula. Ia pergi kepada dokter. Banyak pasien lebih dulu menunggu. Ia duduk di antara mereka. Tiba-tiba orang-orang menyingkir dan menutup hidung mereka.

Ia meledak marah tapi buru-buru jururawat menariknya. Ia diberi giliran lebih dulu dan tak ada orang memprotesnya. “Maria Zaitun, utangmu sudah banyak padaku,” kata dokter.

“Ya,” jawabnya. “Sekarang uangmu brapa?” “Tak ada.” Dokter geleng kepala dan menyuruhnya telanjang. Ia kesakitan waktu membuka baju sebab bajunya lekat di borok ketiaknya. “Cukup,” kata dokter.

Dan ia tak jadi mriksa. Lalu ia berbisik kunci gitar manis di bibir memutar kata jururawat: “Kasih ia injeksi vitamin C.” Dengan kaget jururawat berbisik kembali: “Vitamin C?

Dokter, paling tidak ia perlu Salvarzan.” “Untuk apa? Ia tak bisa bayar. Dan lagi sudah jelas ia hampir mati. Kenapa mesti dikasih obat mahal yang diimport dari luar negri?” (Malaikat penjaga Firdaus. Wajahnya iri dan dengki dengan pedang yang menyala menuding kepadaku.

Aku gemetar ketakutan. Hilang rasa. Hilang pikirku. Maria Zaitun namaku. Pelacur yang takut dan celaka.) Jam satu siang. Matahari masih dipuncak. Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu. Dan aspal jalan yang jelek mutunya lumer di bawah kakinya.

Ia berjalan menuju gereja. Pintu gereja telah dikunci. Karna kuatir akan pencuri. Ia menuju pastoran dan menekan bel pintu.

Koster ke luar dan berkata: “Kamu mau apa? Pastor sedang makan siang. Dan ini bukan jam bicara.” “Maaf. Saya sakit. Ini perlu.” Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau. Lalu berkata: “Asal tinggal di luar, kamu boleh tunggu. Aku lihat apa pastor mau terima kamu.” Lalu koster pergi menutup pintu. Ia menunggu sambil blingsatan dan kepanasan. Ada satu jam baru pastor datang kepadanya.

Setelah mengorek sisa makanan dari giginya ia nyalakan crutu, lalu bertanya: “Kamu perlu apa?” Bau anggur dari mulutnya. Selopnya dari kulit buaya. Maria Zaitun menjawabnya: “Mau mengaku dosa.” “Tapi ini bukan jam bicara. Ini waktu saya untuk berdo’a.” “Saya mau mati.” “Kamu sakit?” “Ya.

Saya kena rajasinga.” Mendengar ini pastor mundur dua tindak. Mukanya mungkret. Akhirnya agak keder ia kembali bersuara: “Apa kamu – mm – kupu-kupu malam?” “Saya pelacur. Ya.” “Santo Petrus! Tapi kamu Katolik!” “Ya.” “Santo Petrus!” Tiga detik tanpa suara.

Matahari terus menyala. Lalu pastor kembali bersuara: “Kamu telah tergoda dosa.” “Tidak tergoda. Tapi melulu berdosa.” “Kamu telah terbujuk setan.” “Tidak. Saya terdesak kemiskinan. Dan gagal mencari kerja.” “Santo Petrus!” “Santo Petrus! Pater, dengarkan saya. Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya. Yang nyata hidup saya sudah gagal.

Jiwa saya kalut. Dan saya mau mati. Sekarang saya takut sekali. Saya perlu Tuhan atau apa saja untuk menemani saya.” Dan muka pastor menjadi merah padam. Ia menuding Maria Zaitun. “Kamu galak seperti macan betina. Barangkali kamu akan gila. Tapi tak akan mati. Kamu tak perlu pastor. Kamu perlu dokter jiwa.” (Malaekat penjaga firdaus wajahnya sombong dan dengki dengan pedang yang menyala menuding kepadaku.

Aku lesu tak berdaya. Tak bisa nangis. Tak bisa bersuara. Maria Zaitun namaku. Pelacur yang lapar dan dahaga.) Jam tiga siang. Matahari terus menyala. Dan angin tetap tak ada. Maria Zaitun bersijingkat di atas jalan yang terbakar. Tiba-tiba ketika nyebrang jalan ia kepleset kotoran anjing. Ia tak jatuh tapi darah keluar dari borok di klangkangnya dan meleleh ke kakinya.

Seperti sapi tengah melahirkan ia berjalan sambil mengangkang. Di dekat pasar ia berhenti. Pandangnya berkunang-kunang. Napasnya pendek-pendek. Ia merasa lapar. Orang-orang pergi menghindar. Lalu ia berjalan ke belakang satu retoran. Dari tong sampah ia kumpulkan sisa makanan.

Kemudian kunci gitar manis di bibir memutar kata bungkus hati-hati dengan daun pisang. Lalu berjalan menuju ke luar kota. (Malaekat penjaga firdaus wajahnya dingin dan dengki dengan pedang yang menyala menuding kepadaku. Yang Mulya, dengarkanlah aku. Maria Zaitun namaku. Pelacur lemah, gemetar ketakutan.) Jam empat siang. Seperti siput ia berjalan. Bungkusan sisa makanan masih di tangan belum lagi dimakan.

Keringatnya bercucuran. Rambutnya jadi tipis. Mukanya kurus dan hijau seperti jeruk yang kering. Lalu jam lima. Ia sampai di luar kota. Jalan tak lagi beraspal tapi debu melulu.

Ia memandang matahari dan pelan berkata: “Bedebah.” Sesudah berjalan satu kilo lagi ia tinggalkan jalan raya dan berbelok masuk sawah berjalan di pematang. (Malaekat penjaga firdaus wajahnya tampan dan dengki dengan pedang yang menyala mengusirku pergi. Dan dengan rasa jijik ia tusukkan pedangnya perkasa di antara kelangkangku.

Dengarkan, Yang Mulya. Maria Zaitun namaku. Pelacur yang kalah. Pelacur terhina). Jam enam sore. Maria Zaitun sampai ke kali. Angin bertiup. Matahari turun. Haripun senja. Dengan lega ia rebah di pinggir kali. Ia basuh kaki, tangan, dan mukanya. Lalu ia makan pelan-pelan. Baru sedikit ia berhenti. Badannya masih lemas tapi nafsu makannya tak ada lagi. Lalu ia minum air kali. (Malaekat penjaga firdaus tak kau rasakah bahwa senja telah tiba angin turun dari gunung dan hari merebahkan badannya?

Malaekat penjaga firdaus dengan tegas mengusirku. Bagai patung ia berdiri. Dan pedangnya menyala.) Jam tujuh. Dan malam tiba. Serangga bersuiran. Air kali terantuk batu-batu. Pohon-pohon dan semak-semak di dua tepi kali nampak tenang dan mengkilat di bawah sinar bulan. Maria Zaitun tak takut lagi. Ia teringat masa kanak-kanak dan remajanya.

Mandi di kali dengan ibunya. Memanjat pohonan. Dan memancing ikan dengan pacarnya. Ia tak lagi merasa sepi. Dan takutnya pergi. Ia merasa bertemu sobat lama. Tapi lalu ia pingin lebih jauh cerita tentang hidupnya. Lantaran itu ia sadar lagi kegagalan hidupnya. Ia jadi berduka. Dan mengadu pada sobatnya sembari menangis tersedu-sedu. Ini tak baik buat penyakit jantungnya. (Malaekat penjaga firdaus wajahnya dingin dan dengki. Ia tak mau mendengar jawabku.

Ia tak mau melihat mataku. Sia-sia mencoba bicara padanya. Dengan angkuh ia berdiri. Dan pedangnya menyala.) Waktu. Bulan. Pohonan. Kali. Borok. Sipilis. Perempuan. Bagai kaca kali memantul cahaya gemilang. Rumput ilalang berkilatan. Bulan. Seorang lelaki datang di seberang kali. Ia berseru: “Maria Zaitun, engkaukah itu?” “Ya,” jawab Maria Zaitun keheranan. Lelaki itu menyeberang kali. Ia tegap dan elok wajahnya. Rambutnya ikal dan matanya lebar. Maria Zaitun berdebar hatinya. Ia seperti pernah kenal lelaki itu.

Entah di mana. Yang terang tidak di kunci gitar manis di bibir memutar kata. Itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia. “Jadi kita ketemu di sini,” kata lelaki itu. Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya. Sedang sementara ia keheranan lelaki itu membungkuk mencium mulutnya. Ia merasa seperti minum air kelapa. Belum pernah ia merasa ciuman seperti itu. Lalu lelaki itu membuka kutangnya. Ia tak berdaya dan memang suka. Ia menyerah. Dengan mata terpejam ia merasa berlayar ke samudra yang belum pernah dikenalnya.

Dan setelah selesai ia berkata kasmaran: “Semula kusangka hanya impian bahwa hal ini bisa kualami. Semula tak berani kunci gitar manis di bibir memutar kata bahwa lelaki tampan seperti kau bakal lewat dalam hidupku.” Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya.

Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar. “Siapakah namamu?” Maria Zaitun bertanya. “Mempelai,” jawabnya. “Lihatlah. Engkau melucu.” Dan sambil berkata begitu Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu. Tiba-tiba ia terhenti. Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya.

Di lambung kiri. Di dua tapak tangan. Di dua tapak kaki. Maria Zaitun pelan berkata: “Aku tahu siapa kamu.” Lalu menebak lelaki itu dengan pandang matanya. Lelaki itu menganggukkan kepala: “Betul. Ya.” (Malaekat penjaga firdaus wajahnya jahat dan dengki dengan pedang yang menyala tak bisa apa-apa. Dengan kaku ia beku. Tak berani lagi menuding padaku.

Aku tak takut lagi. Sepi dan duka telah sirna. Sambil menari kumasuki taman firdaus dan kumakan apel sepuasku. Maria Zaitun namaku. Pelacur dan pengantin adalah saya.) PAMAN DOBLANG Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kamu ke dalam sel yang gelap. Tanpa lampu. Tanpa lubang cahaya. Pengap. Ada hawa. Tak ada angkasa. Terkucil. Temanmu beratus-ratus nyamuk semata.

Terkunci. Tak tahu di mana berada. Paman Doblang! Paman Doblang! Apa katamu? Ketika haus aku minum dari kaleng karatan. Sambil bersila aku mengharungi waktu lepas dari jam, hari dan bulan Aku dipeluk oleh wibawa tidak berbentuk tidak berupa, tidak bernama. Aku istirah di sini. Tenaga ghaib memupuk jiwaku. Paman Doblang! Paman Doblang!

Di setiap jalan mengadang mastodon dan serigala. Kamu terkurung dalam lingkaran. Para pengeran meludahi kamu dari kereta kencana. Kaki kamu dirantai ke batang karang.

Kamu dikutuk dan disalahkan. Tanpa pengadilan. Paman Doblang! Paman Doblang! Bubur di piring timah didorong dengan kaki kunci gitar manis di bibir memutar kata depanmu Paman Doblang, apa katamu? Kesedaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakerawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. (Depok, 22 April 1984) NYANYIAN SUTO UNTUK FATIMA Dua puluh tiga matahari bangkit dari pundakmu. Tubuhmu menguapkan bau tanah dan menyalalah sukmaku.

Langit bagai kain tetiron yang biru terbentang berkilat dan berkilauan menantang jendela kalbu yang berdukacita. Rohku dan rohmu bagaikan proton dan elektron bergolak bergolak Di bawah dua puluh tiga matahari. Dua puluh tiga matahari membakar dukacitaku. Nyanyian Fatima untuk Suto Kelambu ranjangku tersingkap di bantal berenda tergolek nasibku.

Apabila firmanmu terucap masuklah kalbuku ke dalam kalbumu. Sedu-sedan mengetuk tingkapku dari bumi di bawah rumpun mawar. Waktu lahir kau telanjang dan tak tahu tapi hidup bukanlah tawar-menawar. MAKNA SEBUAH TITIPAN Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa : sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Allah bahwa rumahku hanya titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan Nya, tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku? Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya? Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku. Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih. Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku, Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah… “ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja” RUMPUN ALANG-ALANG Engkaulah perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, sayang Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal Gelap dan bergoyang ia dan ia pun berbunga dosa Engkau tetap yang punya tapi alang-alang tumbuh di dada KELELAWAR Silau oleh sinar lampu lalulintas Aku menunduk memandang sepatuku.

Aku gentayangan bagai kelelawar. Tidak gembira, tidak sedih. Terapung dalam waktu. Ma, aku melihatmu di setiap ujung jalan. Sungguh tidak menyangka Begitu penuh kamu mengisi buku alamat batinku. Sekarang aku kembali berjalan. Apakah aku akan menelefon teman? Apakah aku akan makan udang gapit di restoran? Aku sebel terhadap cendikiawan yang menolak menjadi saksi.

Masalah sosial dipoles gincu menjadi ######fizika. Sikap jiwa dianggap maya dibanding mobil berlapis baja. Hanya kamu yang enak diajak bicara. Kakiku melangkah melewati sampah-sampah. Akan menulis sajak-sajak lagi. Rasa berdaya tidak bisa mati begitu saja.

Ke sini, Ma, masuklah ke dalam saku bajuku. Daya hidup menjadi kamu, menjadi harapan. RAJAWALI Sebuah sangkar besi tidak bisa mengubah rajawali menjadi seekor burung nuri Rajawali adalah pacar langit dan di dalam sangkar besi rajawali merasa pasti bahwa langit akan selalu menanti Langit tanpa rajawali adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma tujuh langit, tujuh rajawali tujuh cakrawala, tujuh pengembara Rajawali terbang tinggi memasuki sepi memandang dunia rajawali di sangkar besi duduk bertapa mengolah hidupnya Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan yang terjadi dari keringat matahari tanpa kemantapan hati rajawali mata kita hanya melihat matamorgana Rajawali terbang tinggi membela langit dengan setia dan ia akan mematuk kedua matamu wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka 1997 BAHWA KITA DITANTANG SERATUS DEWA Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu Sementara engkau kenangkan encokmu kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang Dan juga masa depan kita yang hampir rampung dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri dan terasing dengan nasib kita Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan. Suka duka kita bukanlah istimewa kerana setiap orang mengalaminya Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh Hidup adalah untuk mengolah hidup bekerja membalik tanah memasuki rahsia langit dan samodra serta mencipta dan mengukir dunia.

Kita menyandang tugas, kerna tugas adalah tugas. Bukannya demi sorga atau neraka. tetapi demi kehormatan seorang manusia. kerana sesungguhnya kita bukanlah debu meski kita telah reyot,tua renta dan kelabu.

Kita adalah kepribadian dan harga kita adalah kehormatan kita. Tolehlah lagi ke belakang ke masa silam yang tak seorang pun berkuasa menghapusnya. Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna. Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita. sembilan puluh tahun yang selalu bangkit melewatkan tahun-tahun lama yang porak peranda. Dan kenangkanlah pula bagaimana dahulu kita tersenyum senantiasa menghadapi langit dan bumi,dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerana bersandiwara. Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok. Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap. Sikap kita untuk Tuhan,manusia sesama,nasib dan kehidupan. Lihatlah! sembilan puluh tahun penuh warna Kenangkanlah bahawa kita telah selalu menolak menjadi koma. Kita menjadi goyah dan bongkok kerna usia nampaknya lebih kuat dr kita tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu Sementara kau kenangkan encokmu kenangkanlah pula bahwa hidup kita ditatang seratus dewa.

1972 NINA BOBOK BAGI PENGANTIN Awan bergoyang, pohonan bergoyang antara pohonan bergoyang malaikat membayang dari jauh bunyi merdu loceng loyang Sepi, syahdu, rindu candu rindu, ghairah kelabu rebahlah, sayang, rebahlah wajahmu ke dadaku Langit lembayung, pucuk-pucuk daun lembayung antara daunan lembayung bergantung hati yang ruyung dalam hawa bergulung mantera dan tenung Mimpi remaja, bulan kenangan duka cinta, duka berkilauan rebahlah sayang, rebahkan mimpimu ke dadaku Bumi berangkat tidur duka berangkat hancur aku tampung kau dalam pelukan tangan rindu Sepi dan tidur, tidur dan sepi sepi tanpa mati, tidur tanpa mati rebahlah sayang, rebahkan dukamu ke dadaku.

SAJAK GADIS DAN MAJIKAN Janganlah tuan seenaknya memelukku. Ke mana arahnya, sudah cukup aku tahu. Aku bukan ahli ilmu menduga, tetapi jelas sudah kutahu pelukan ini apa artinya…. Siallah pendidikan yang aku terima. Diajar aku berhitung, mengetik, bahasa asing, kerapian, dan tatacara, Tetapi lupa diajarkan : bila dipeluk majikan dari belakang, lalu sikapku bagaimana !

kunci gitar manis di bibir memutar kata

Janganlah tuan seenaknya memelukku. Sedangkan pacarku tak berani selangsung itu. Apakah tujuan tuan, sudah cukup aku tahu, Ketika tuan siku teteku, sudah kutahu apa artinya…… Mereka ajarkan aku membenci dosa tetapi lupa mereka ajarkan bagaimana mencari kerja. Mereka ajarkan aku gaya hidup yang peralatannya tidak berasal dari lingkungan.

Diajarkan aku membutuhkan peralatan yang dihasilkan majikan, dan dikuasai para majikan. Alat-alat rias, mesin pendingin, vitamin sintetis, tonikum, segala macam soda, dan ijazah sekolah. Pendidikan membuatku terikat pada pasar mereka, pada modal mereka. Dan kini, setelah aku dewasa. Kemana lagi aku ‘kan lari, bila tidak ke dunia majikan ?

Jangnlah tuan seenaknya memelukku. Aku bukan cendekiawan tetapi aku cukup tahu semua kerja di mejaku akan ke sana arahnya. Jangan tuan, jangan ! Jangan seenaknya memelukku. Ah, Wah. Uang yang tuan selipkan ke behaku adalah ijazah pendidikanku Ah, Ya.

Begitulah. Dengan yakin tuan memelukku. Perut tuan yang buncit menekan perutku. Mulut tuan yang buruk mencium mulutku. Sebagai suatu kewajaran semuanya tuan lakukan. Seluruh anggota masyarakat membantu tuan. Mereka pegang kedua kakiku. Mereka tarik pahaku mengangkang. Sementara tuan naik ke atas tubuhku. Yogya, 10 Juli 1975 SAJAK BURUNG-BURUNG KONDOR Angin gunung turun merembes ke hutan, lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas, dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau.

Kemudian hatinya pilu melihat jejak-jejak sedih para petani - buruh yang terpacak di atas tanah gembur namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya. Para tani - buruh bekerja, berumah di gubug-gubug tanpa jendela, menanam bibit di tanah yang subur, memanen hasil yang berlimpah dan makmur namun hidup mereka sendiri sengsara.

Mereka memanen untuk tuan tanah yang mempunyai istana indah. Keringat mereka menjadi emas yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa. Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan, para ahli ekonomi membetulkan letak dasi, dan menjawab dengan mengirim kondom.

Penderitaan mengalir dari parit-parit wajah rakyatku. Dari pagi sampai sore, rakyat negeriku bergerak dengan lunglai, menggapai-gapai, menoleh ke kiri, menoleh ke kanan, di dalam usaha tak menentu.

Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah, dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai, dan sukmanya berubah menjadi burung kondor. Beribu-ribu burung kondor, berjuta-juta burung kondor, bergerak menuju ke gunung tinggi, dan disana mendapat hiburan dari sepi. Karena hanya sepi mampu menghisap dendam dan sakit hati.

Burung-burung kondor menjerit. Di dalam marah menjerit, bergema di tempat-tempat yang sepi. Burung-burung kondor menjerit di batu-batu gunung menjerit bergema di tempat-tempat yang sepi Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu, mematuki batu-batu, mematuki udara, dan di kota orang-orang bersiap menembaknya. Yogya, 1973 SAJAK BULAN PURNAMA Bulan terbit dari lautan.

Rambutnya yang tergerai ia kibaskan. Dan menjelang malam, wajahnya yang bundar, menyinari gubug-gubug kaum gelandangan kota Jakarta. Langit sangat cerah. Para pencuri bermain gitar.

dan kaum pelacur naik penghasilannya. Malam yang permai anugerah bagi sopir taksi. Pertanda nasib baik bagi tukang kopi di kaki lima.

Bulan purnama duduk di sanggul babu. Dan cahayanya yang kemilau membuat tuannya gemetaran. “kemari, kamu !” kata tuannya “Tidak, tuan, aku takut nyonya !” Karena sudah penasaran, oleh cahaya rembulan, maka tuannya bertindak masuk dapur dan langsung menerkamnya Bulan purnama raya masuk ke perut babu.

Lalu naik ke ubun-ubun menjadi mimpi yang gemilang. Menjelang pukul dua, rembulan turun di jalan raya, dengan rok satin putih, dan parfum yang tajam baunya.

Ia disambar petugas keamanan, lalu disuguhkan pada tamu negara yang haus akan hiburan. Yogya, 22 Oktober 1976 SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja. Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan. Amarah merajalela tanpa alamat. Ketakutan muncul dari sampah kehidupan. Pikiran kusut membentuk simpul-simpul sejarah. O, jaman edan ! O, malam kelam pikiran insan ! Koyak-moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan.

Kitab undang-undang tergeletak di selokan Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan. O, tatawarna fatamorgana kekuasaan ! O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja ! Dari sejak jaman Ibrahim dan Musa Allah selalu mengingatkan bahwa hukum harus lebih tinggi dari keinginan para politisi, raja-raja, dan tentara. O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan !

O, rasa putus asa yang terbentur sangkur ! Berhentilah mencari ratu adil ! Ratu adil itu tidak ada. Ratu adil itu tipu daya ! Apa yang harus kita tegakkan bersama adalah Hukum Adil. Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara. Bau anyir darah yag kini memenuhi udara menjadi saksi yang akan berkata : Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat, apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa, apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan, maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa, lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya.

Wahai, penguasa dunia yang fana ! Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta ! Apakah masih buta dan tuli di dalam hati ? Apakah masih akan menipu diri sendiri ? Apabila saran akal sehat kamu remehkan berarti pintu untuk pikiran-pikiran gelap yang akan muncul dari sudut-sudut gelap telah kamu bukakan ! Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi Airmata mengalir dari sajakku ini. Catatan : Sajak ini dibuat di Jakarta pada 17 Mei 1998 dan dibacakan Rendra di DPR SAJAK ANAK MUDA Kita adalah angkatan gagap yang diperanakkan oleh angkatan takabur.

Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal keadilan, karena tidak diajarkan berpolitik, dan tidak diajar dasar ilmu hukum Kita melihat kabur pribadi orang, karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa. Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus, karena tidak diajar filsafat atau logika. Apakah kita tidak dimaksud untuk mengerti itu semua ? Apakah kita hanya dipersiapkan untuk menjadi alat saja ? inilah gambaran rata-rata pemuda tamatan SLA, pemuda menjelang dewasa.

Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan. Bukan pertukaran pikiran. Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan, dan bukan ilmu latihan menguraikan. Dasar keadilan di dalam pergaulan, serta pengetahuan akan kelakuan manusia, sebagai kelompok atau sebagai pribadi, tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji. Kenyataan di dunia menjadi remang-remang. Gejala-gejala yang muncul lalu lalang, tidak bisa kita hubung-hubungkan.

Kita marah pada diri sendiri Kita sebal terhadap masa depan. Lalu akhirnya, menikmati masa bodoh dan santai. Di dalam kegagapan, kita hanya bisa membeli dan memakai tanpa bisa mencipta. Kunci gitar manis di bibir memutar kata tidak bisa memimpin, tetapi hanya bisa berkuasa, persis seperti bapak-bapak kita. Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat. Di sana anak-anak memang disiapkan Untuk menjadi alat dari industri. Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti. Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa ?

Kita hanya menjadi alat birokrasi ! Dan birokrasi menjadi berlebihan tanpa kegunaan - menjadi benalu di dahan. Gelap. Pandanganku gelap. Pendidikan tidak memberi pencerahan. Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan Gelap. Keluh kesahku gelap. Orang yang hidup di dalam pengangguran. Apakah yang terjadi di sekitarku ini ?

Karena tidak bisa kita tafsirkan, lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja. Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini ?

Apakah ini ? Apakah ini ? Ah, di dalam kemabukan, wajah berdarah akan terlihat sebagai bulan. Mengapa harus kita terima hidup begini ? Seseorang berhak diberi ijazah dokter, dianggap sebagai orang terpelajar, tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan. Dan bila ada ada tirani merajalela, ia diam tidak bicara, kerjanya cuma menyuntik saja. Bagaimana ? Apakah kita akan terus diam saja. Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum dianggap sebagi bendera-bendera upacara, sementara hukum dikhianati berulang kali.

Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi dianggap bunga plastik, sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi. Kita berada di dalam pusaran tatawarna yang ajaib dan tidak terbaca. Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan. Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan. Dan bila luput, kita memukul dan kunci gitar manis di bibir memutar kata ke arah udara Kita adalah angkatan gagap. Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar.

Daya hidup telah diganti oleh nafsu. Pencerahan telah diganti oleh pembatasan. Kita adalah angkatan yang berbahaya. Pejambon, Jakarta, 23 Juni 1977 PAMPLET CINTA Ma, nyamperin matahari dari satu sisi. Memandang wajahmu dari segenap jurusan. Aku menyaksikan zaman berjalan kalangkabutan. Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku. Aku merindukan wajahmu, dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa. Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.

Kata-kata telah dilawan dengan senjata. Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini. Kenapa keamanan justru menciptakan ketakutan dan ketegangan Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sehat. Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan Suatu malam aku mandi di lautan.

Sepi menjdai kaca. Bunga-bunga yang ajaib bermekaran di langit. Aku inginkan kamu, tapi kamu tidak ada. Sepi menjadi kaca. Apa yang bisa dilakukan oleh penyair bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan ? Udara penuh rasa curiga. Tegur sapa tanpa jaminan. Kunci gitar manis di bibir memutar kata lautan berkilat-kilat.

Suara lautan adalah suara kesepian. Dan lalu muncul wajahmu. Kamu menjadi makna Makna menjadi harapan. ……. Sebenarnya apakah harapan ? Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu. Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.

Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu. Aku tertawa, Ma ! Angin menyapu rambutku. Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi. Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur. Pantatku karatan aku seret dari warung ke warung. Perutku sobek di jalan raya yang lengang……. Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian. Aku menulis sajak di bordes kereta api. Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.

Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar, aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu. Lalu muncullah kamu, nongol dari perut matahari bunting, jam duabelas seperempat siang. Aku terkesima. Aku disergap kejadian tak terduga. Rahmat turun bagai hujan membuatku segar, tapi juga menggigil bertanya-tanya. Aku jadi bego, Ma ! YaaahMa, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih. Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku, dan sedih karena kita sering berpisah.

Ketegangan menjadi pupuk cinta kita. Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih ? Bahagia karena napas mengalir dan jantung berdetak. Sedih karena pikiran diliputi bayang-bayang.

Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan. Ma, nyamperin matahari dari satu sisi, memandang wajahmu dari segenap jurusan. Pejambon, Jakarta, 28 April 1978 ORANG-ORANG MISKIN Orang-orang miskin di jalan, yang tinggal di dalam selokan, yang kalah di dalam pergulatan, yang diledek oleh impian, janganlah mereka ditinggalkan. Angin membawa bau baju mereka. Rambut mereka melekat di bulan purnama. Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala, mengandung buah jalan raya. Orang-orang miskin.

Orang-orang berdosa. Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya. Tak bisa kamu abaikan. Bila kamu remehkan mereka, di jalan kamu akan diburu bayangan. Tidurmu akan penuh igauan, dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka. Jangan kamu bilang negara ini kaya karena orang-orang berkembang di kota dan di desa. Jangan kamu bilang dirimu kaya bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya. Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu. Dan perlu diusulkan agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.

Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa. Orang-orang miskin di jalan masuk ke dalam tidur malammu. Perempuan-perempuan bunga raya menyuapi putra-putramu. Tangan-tangan kotor dari jalanan meraba-raba kaca jendelamu. Mereka tak bisa kamu biarkan. Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol. Mereka akan menjadi pertanyaan yang mencegat ideologimu.

Gigi mereka yang kuning akan meringis di muka agamamu. Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap akan hinggap di gorden presidenan dan buku programma gedung kesenian. Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah, bagai udara panas yang selalu ada, bagai gerimis kunci gitar manis di bibir memutar kata selalu membayang. Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau tertuju ke dada kita, atau ke dada mereka sendiri. O, kenangkanlah : orang-orang miskin juga berasal dari kemah Ibrahim Yogya, 4 Pebruari 1978 NOTA BENE : AKU KANGEN Lunglai - ganas karena bahagia dan sedih, indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.

Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit, dan anak kita akan lahir di cakrawala. Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.

Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan untukmu hidupku terbuka. Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku. Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.

Jakarta, Kotabumi, 24 Maret 1978 LAGU SERDADU Kami masuk serdadu dan dapat senapang ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang Yoho, darah kami campur arak!

Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali Wahai, tanah yang baik untuk mati Dan kalau ku telentang dengan pelor timah cukilah ia bagi puteraku di rumah HAI, KAMU ! Luka-luka di dalam lembaga, intaian keangkuhan kekerdilan jiwa, noda di dalam pergaulan antar manusia, duduk di dalam kemacetan angan-angan. Aku berontak dengan memandang cakrawala. Jari-jari waktu menggamitku. Aku menyimak kepada arus kali.

Lagu margasatwa agak mereda. Indahnya ketenangan turun ke hatiku. Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku. Jakarta, 29 Pebruari 1978 GUGUR Ia merangkak di atas bumi yang dicintainya Tiada kuasa lagi menegak Telah ia lepaskan dengan gemilang pelor terakhir dari bedilnya Ke dada musuh yang merebut kotanya Ia merangkak di atas bumi yang dicintainya Ia sudah tua luka-luka di badannya Bagai harimau tua susah payah maut menjeratnya Matanya bagai saga menatap musuh pergi dari kotanya Sesudah pertempuran yang gemilang itu lima pemuda mengangkatnya di antaranya anaknya Ia menolak dan tetap merangkak menuju kota kesayangannya Ia merangkak di atas bumi yang dicintainya Belumlagi selusin tindak mautpun menghadangnya.

Ketika anaknya memegang tangannya ia berkata : " Yang berasal dari tanah kembali rebah pada tanah. Dan aku pun berasal dari tanah tanah Ambarawa yang kucinta Kita bukanlah anak jadah Kerna kita punya bumi kecintaan. Bumi yang menyusui kita dengan mata airnya.

Bumi kita adalah tempat pautan yang sah. Bumi kita adalah kehormatan. Bumi kita adalah juwa dari jiwa. Ia adalah bumi nenek moyang. Ia adalah bumi waris yang sekarang. Ia adalah bumi waris yang akan datang." Hari pun berangkat malam Bumi berpeluh dan terbakar Kerna api menyala di kota Ambarawa Orang tua itu kembali berkata : "Lihatlah, hari telah fajar !

kunci gitar manis di bibir memutar kata

Wahai bumi yang indah, kita akan berpelukan buat selama-lamanya ! Nanti sekali waktu seorang cucuku akan menacapkan bajak di bumi tempatku berkubur kemudian akan ditanamnya benih dan tumbuh dengan subur Maka ia pun berkata : -Alangkah gemburnya tanah di sini!" Hari pun lengkap malam ketika menutup matanya GERILYA Tubuh biru tatapan mata biru lelaki berguling di jalan Angin tergantung terkecap pahitnya tembakau bendungan keluh dan bencana Tubuh biru tatapan mata biru lelaki berguling dijalan Dengan tujuh lubang pelor diketuk gerbang langit dan menyala mentari muda melepas kesumatnya Gadis berjalan di subuh merah dengan sayur-mayur di punggung melihatnya pertama Ia beri jeritan manis dan duka daun wortel Tubuh biru tatapan mata biru lelaki berguling dijalan Orang-orang kampung mengenalnya anak janda berambut ombak ditimba air bergantang-gantang disiram atas tubuhnya Tubuh biru tatapan mata biru lelaki berguling dijalan Lewat gardu Belanda dengan berani berlindung warna malam sendiri masuk kota ingin ikut ngubur ibunya DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG Tuhanku, WajahMu membayang di kota terbakar dan firmanMu terguris di atas ribuan kuburan yang dangkal Anak menangis kehilangan bapa Tanah sepi kehilangan lelakinya Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia Apabila malam turun nanti sempurnalah sudah warna dosa dan mesiu kembali lagi bicara Waktu itu, Tuhanku, perkenankan aku membunuh perkenankan aku menusukkan sangkurku Malam dan wajahku adalah satu warna Dosa dan nafasku adalah satu udara.

Tak ada lagi pilihan kecuali menyadari -biarpun bersama penyesalan- Apa yang bisa diucapkan oleh bibirku yang terjajah ? Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai mendekap bumi yang mengkhianatiMu Tuhanku Erat-erat kugenggam senapanku Perkenankan aku membunuh Perkenankan aku menusukkan sangkurku AKU TULIS PAMPLET INI Aku tulis pamplet ini karena lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk, dan ungkapan diri ditekan menjadi peng - iya - an Apa yang terpegang hari ini bisa luput besok pagi Ketidakpastian merajalela.

Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki menjadi marabahaya menjadi isi kebon binatang Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan. Tidak mengandung perdebatan Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan Aku tulis pamplet ini karena pamplet bukan tabu bagi penyair Aku inginkan merpati pos. Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan kenapa harus diam tertekan dan termangu. Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar. Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju. Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ? Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan. Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api. Rembulan memberi mimpi pada dendam. Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah yang teronggok bagai sampah Kegamangan. Kecurigaan. Ketakutan. Kelesuan. Aku tulis pamplet ini karena kawan dan lawan adalah saudara Di dalam alam masih ada cahaya.

Matahari yang tenggelam diganti rembulan. Lalu besok pagi pasti terbit kembali. Dan di dalam air lumpur kehidupan, aku melihat bagai terkaca : ternyata kita, toh, manusia ! Pejambon Jakarta 27 April 1978 JANGAN TAKUT IBU Matahari musti terbit. Matahari musti terbenam. Melewati hari-hari yang fana ada kanker payudara, ada encok, dan ada uban. Ada gubernur sarapan bangkai buruh pabrik, Bupati mengunyah aspal, Anak-anak sekolah dijadikan bonsai. Jangan takut, Ibu!

Kita harus bertahan. Karena ketakutan meningkatkan penindasan. Manusia musti lahir. Manusia musti mati. Di antara kelahiran dan kematian bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, serdadu-serdadu Jepang memanggal kepala patriot-patriot Asia, Ku Klux Klan membakar gereja orang Negro, Terotis Amerika meledakkan bom di Oklahoma Memanggang orangtua, ibu-ibu dan bayi-bayi, di Miami turis Eropa dirampok dan dibunuh, serdadu Inggris membantai para pemuda di Irlandia, orang Irlandia meledakkan bom di London yang tidak aman.

Jangan takut, Ibu! Jangan mau gigertak. Jangan mau diancam. Karena ketakutan meningkatkan penjajahan. Sungai waktu menghanyutkan keluh-kesah mimpi yang meranggas. Keringat bumi yang menyangga peradaban insane Menjadi uranium dan mercury. Tetapi jangan takut, ibu!

Bulan bagai alis mata terbit di ulu hati. Rasi Bima Sakti berzikir di dahi. Aku cium tanganmu, Ibu! Rahim dan susumu adalah persemaian harapan.

Kekuatan ajaib insan Dari zaman ke zaman. Hamburg, 30 September 2003 BARANGKALI KARENA BULAN Bulan menyebarkan aroma berahi dari tubuhnya. Yang lalu melekat di daun-daun pohon tanjung yang kunci gitar manis di bibir memutar kata. Seekor kucing jantan mengerang dengan suara ajaib. Mengucapkan puisi yang tak bisa ia tuliskan. Dan, Ma, aku meraih susumu yang jauh dari jangkauanku. Aku tulis kunci gitar manis di bibir memutar kata cintaku ini Karena tak bisa kubisikkan kepadamu.

Rindu mengarungi Senin, Selasa, Rabu, Dan seluruh minggu. Menetas bagaikan air liur langit Yang menjadi bintang-bintang. Kristal-kristal harapan dan keinginan berkilat-kilat hanyut di air kali.

kunci gitar manis di bibir memutar kata

Membentur batu-batu yang tidur. Gairah kerja di siang hari di malam purnama menjadi gelora asmara. Kerna bintang-bintang, pohon tanjung, Angin, dan serangga malam. Ma, tubuhmu yang lelap tidur terbaring di atas perahu layar hanyut di langit Mengarungi angkasa raya.

Warangan, Juli 2003 PERTEMUAN MALAM Setelah mereguk getah rembulan tanggal pertama Aku berjalan tanpa tujuan di dalam hutan.

Kemudian bau gandasuli membuat aku tertegun, berdiri kaku di tengah semak belukar, menghentikan nyanyian serangga malam. Terpancang seperti si Gale-gale Tanpa pikiran dan perasaan. Banyak masalah datang bersama tanpa sebab dan akibat. Kemurungan menyelimuti diriku. Seperti kabut menghalang pemandangan. Itupun tanpa makna. Tanpa keterangan.

Tanpa hubungan. Bau gandasuli memenuhi kunci gitar manis di bibir memutar kata. Membanjir ke dalam urat-urat darah. Bahkan lalu menjadi daging. Ya, Allah, apakah aku mati sambil berdiri? Cahaya bulan dan bintang-bintang Jatuh ke pohon-pohon yang sekedar pohon. Serangga malam kembali bersuara sekedar suara. Tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa. Tidak mengapa. Tidak bagaimana. Sedetik dan seabad apa bedanya. Tiba-tiba Dari kegelapan rumpun pohon-pohon jati emas menyebar bau tembakau yang wangi.

Lalu aku lihat kilatan kacamata. Lalu kilatan senyum dengan gigi-gigi putih. Dan kemudian muncul dari kegelapan sosok tubuh yang gagah berpici hitam dan mantel malam berwarna coklat tua. Ayahandaku, paduka muncul tak terduga! Apakah arti kehadiran anda ini? Apakah batas antara hidup dan mati menjadi tipis karena cahaya rembulan? Aku tidak mengharapkan pertemuan ini.

Aku ikhlaskan anda istirah di ranjang buaian kematian anda. Kini, apakah yang akan anda katakan? Tanpa harapan. Tanpa keinginan. Aku berdiri terpaku di bumi. Apakah sebenarnya aku sudah mati? Dan kini menjadi sebatang gandasuli? Anda hanya tersenyum Tanpa berkata sepatah kata. Kemudian anda melangkah sedikit ke depan disertai beribu kunang-kunang yang menerangi pohon-pohon di hutan.

Dan mengiring di belakang anda kerumunan orang yang berbaju compang-camping. Para pemulung dan perempuan bunga malam. Semua tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku. Ternyata ada juga diantara mereka Atmo Karpo sang penyamun, dan Joko Pandan, anaknya yang membunuhnya. Lalu Fatima yang dizinahi oleh Kasan, serta Maria Zaitun yang dimakan rajasinga. Malahan Suto yang selalu mengembara Sepanjang masa juga ada. Wahai, ilalang kehidupan setiap jaman! Wahai, lumut dan kecoak setiap metropolitan!

Wahai, para patriot dunia ketiga yang bersimbah darah! Semuanya tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku. Di tengah kemeriahan tanpa suara itu tercurah hujan air emas dari langit. Hawa hangat merasuki ubun-ubunku menjalar ke seluruh badan. Aku menengadah. Nampak ibunda turun dari langit berdiri di puncak pohon yang paling tinggi. Bau kulit susu dan kulit kuduknya memenuhi dadaku. Aku berlutut. Mengharap ayahanda dan ibunda mencium keningku.

Tapi itu tidak terjadi. Hujan air emas makin deras tercurah. Mataku silau. Matakui silau. Lalu ibunda melambaikan tangan memanggil ayahanda. Dalam sekejap mata saja rasanya. Ayahanda dan segenap barisan orang-orang tercinta membumbung ke langit mengikuti ibunda. Lenyap ke angkasa raya. Perlahan-lahan aku bangkit berdiri. Keluar dari semak belukar. Aku dengar dengung lebah. Ayam jantan berkokok. Asap keluar dari dapur-dapur di desa. Fajar tiba.

Perempuan terkasih yang gelisah menunggu di rumah! Anak-anakku yang sedang mengusap mata! Cucu-cucuku yang sedang bermain air di kamar mandi! Aku pulang. Setelah mati di dalam hutan dan hidup kembali. Rumah Sakit Cinere, 5 November 2003 PEREMPUAN YANG TERGUSUR Hujan lebat turun di hulu subuh disertai angin gemuruh yang menerbangkan mimpi yang lalu tersangkut di ranting pohon. Aku terjaga dan termangu menatap rak buku-buku mendengar hujan menghajar dinding rumah kayuku.

Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi dan lalu terbanglah wajahmu, wahai, perempuan yang tergusur! Tanpa pilihan ibumu mati ketika kamu bayi dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu. Kamu diasuh nenekmu yang miskin di desa. Umur enam belas kamu dibawa ke kota oleh sopir taxi yang mengawinimu. Karena suka berjudi ia menambah penghasilan sebagai germo. Ia paksa kamu jadi primadona pelacurnya. Bila kamu ragu dan murung, lalu kurang setoran kamu berikan, ia memukul kamu babak belur.

Tapi kemudian ia mati ditembak tentara ketika ikut demonstrasi politik sebagai demonstran bayaran. Sebagai janda yang pelacur kamu tinggal di gubuk di tepi kali di batas kota.

Gubernur dan para anggota DPRD menggolongkan kamu sebagai tikus got yang mengganggu peradaban. Di dalam hukum positif tempatmu tidak ada.

jadi kamu digusur. Di dalam hujan kunci gitar manis di bibir memutar kata pagi ini apakah kamu lagi berjalan tanpa tujuan sambil memeluk kantong plastik yang berisi sisa hartamu? Ataukah berteduh di bawah jembatan?

Impian dan usaha bagai tata riasa yang luntur oleh hujan mengotori wajahmu. Kamu tidak merdeka. Kamu adalah korban tenung keadaan. Keadilan terletak di seberang high-way yang berbahaya yang tak mungkin kamu seberangi.

kunci gitar manis di bibir memutar kata

Aku tak tahu cara seketika untuk membelamu. Tetapi aku memihak kepadamu. Dengan sajak ini bolehkah aku menyusut keringat dingin dari jidatmu? O, cendawan peradaban! O, teka-teki keadilan! Waktu berjalan satu arah saja. Tetapi ia bukan garis lurus. Ia penuh kelokan yang mengejutkan, gunung dan jurang yang mengecilkan hati, Setiap kali kamu lewati kelokan yang berbahaya, puncak penderitaan yang menyakitkan hati, atau tiba di dasar jurang yang berlimbah lelah, selalu kamu dapati kedudukan yang tak berubah, ialah kedudukan kaum terhina.

Tapi aku kagum pada daya tahanmu, pada caramu menikmati setiap kesempatan, pada kemampuanmu berdamai dengan dunia, pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri, dan caramu merawat selimut dengan hati-hati. Ternyata di gurun pasir kehidupan yang penuh bencana semak yang berduri bisa juga berbunga. Menyaksikan kamu tertawa karena melihat ada kelucuan dalam ironi, diam-diam aku memuja kamu di hati ini.

Cipayung Jaya, 3 Desember 2003 MEGATRUH BANDUNG Bulan berdarah dalam prasasti sejarah. Ilalang bergoyang Lagu malam hutan Priangan. Pisau kiriman angin. Selendang sutra alam gaib. Mama! Bau lembut yang dalam dari kulit kudukmu. Merah jambu puting susu dari nyanyian sepanjang masa.

Bandung, 19 Februari 2000 TAHANAN Atas ranjang batu tubuhnya panjang bukit barisan tanpa bulan kabur dan liat dengan mata sepikan terali Di lorong-lorong jantung matanya para pemuda bertangan merah serdadu-serdadu Belanda rebah Di mulutnya menetes lewat mimpi darah di cawan tembikar dijelmakan satu senyum barat di perut gunung (Para pemuda bertangan merah adik lelaki neruskan dendam) Dini hari bernyanyi di luar dirinya Anak lonceng menggeliat enam kali di perut ibunya Mendadak dipejamkan matanya Sipir memutar kunci selnya dan berkata -He, pemberontak hari yang berikut bukan milikmu !

Diseret di muka peleton algojo ia meludah tapi tak dikatakannya -Semalam kucicip sudah betapa lezatnya madu darah. Dan tak pernah didengarnya enam pucuk senapan meletus bersama SAJAK WIDURI UNTUK JOKI TOBING debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir.

Kemarahan mengendon di dalam kalbu purba. Orang-orang miskin menentang kemelaratan. Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu, kerna wajahmu muncul dalam mimpiku.

Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu karena terlibat aku di dalam napasmu. Dari bis kota ke bis kota kamu memburuku. Kita duduk bersandingan, menyaksikan hidup yang kumal. Dan perlahan tersirap darah kita, melihat sekuntum bunga telah mekar, dari puingan masa yang putus asa. Nusantara Film, Jakarta, 9 Mei 1977 SAJAK TANGAN Inilah tangan seorang mahasiswa, tingkat sarjana muda.

Tanganku. Astaga. Tanganku menggapai, yang terpegang anderox hostes berumbai, Aku bego. Tanganku lunglai. Tanganku mengetuk pintu, tak ada jawaban.

Aku tendang pintu, pintu terbuka. Di balik pintu ada lagi pintu. Dan selalu : ada tulisan jam bicara yang singkat batasnya. Aku masukkan tangan-tanganku ke celana dan aku keluar mengembara. Aku ditelan Indonesia Raya. Tangan di dalam kehidupan muncul di depanku. Tanganku aku sodorkan. Nampak asing di antara tangan beribu. Aku bimbang akan masa depanku. Tangan petani yang berlumpur, tangan nelayan yang bergaram, aku jabat dalam tanganku. Tangan mereka penuh pergulatan Tangan-tangan yang menghasilkan.

Tanganku yang gamang tidak memecahkan persoalan. Tangan cukong, tangan pejabat, gemuk, luwes, dan sangat kuat. Tanganku yang gamang dicurigai, disikat. Tanganku mengepal. Ketika terbuka menjadi cakar. Aku meraih ke arah delapan penjuru. Di setiap meja kantor bercokol tentara atau orang tua. Di desa-desa para petani hanya buruh tuan tanah. Di pantai-pantai para nelayan tidak punya kapal. Perdagangan berjalan tanpa swadaya. Politik hanya mengabdi pada cuaca….

Tanganku mengepal. Tetapi tembok batu didepanku. Hidupku tanpa masa depan. Kini aku kantongi tanganku. Aku berjalan mengembara. Aku akan menulis kata-kata kotor di meja rektor TIM, 3 Juli 1977 SAJAK SLA Murid-murid mengobel klentit ibu gurunya Bagaimana itu mungkin ? Itu mungkin. Karena tidak ada patokan untuk apa saja. Semua boleh. Semua tidak boleh. Tergantung pada cuaca. Tergantung pada amarah dan girangnya sang raja.

Tergantung pada kuku-kuku garuda dalam mengatur kata-kata. Ibu guru perlu sepeda motor dari Jepang. Ibu guru ingin hiburan dan cahaya. Ibu guru ingin atap rumahnya tidak bocor. Dan juga ingin jaminan pil penenang, tonikum-tonikum dan obat perangsang yang dianjurkan oleh dokter.

Maka berkatalah ia Kepada orang tua murid-muridnya : “Kita bisa mengubah keadaan. Anak-anak akan lulus ujian kelasnya, terpandang di antara tetangga, boleh dibanggakan pada kakak mereka.

Soalnya adalah kerjasama antara kita. Jangan sampai kerjaku terganggu, karna kunci gitar manis di bibir memutar kata bocor.” Dan papa-papa semua senang. Di pegang-pegang tangan ibu guru, dimasukan uang ke dalam genggaman, serta sambil lalu, di dalam suasana persahabatan, teteknya disinggung dengan siku.

Demikianlah murid-murid mengintip semua ini. Inilah ajaran tentang perundingan, perdamaian, dan santainya kehidupan. Ibu guru berkata : “Kemajuan akan berjalan dengan lancar. Kita harus menguasai mesin industri. Kita harus maju seperti Jerman, Jepang, Amerika. Sekarang, keluarkanlah daftar logaritma.” Murid-murid tertawa, dan mengeluarkan rokok mereka.

“Karena mengingat kesopanan, jangan kalian merokok. Kelas adalah ruangbelajar. Dan sekarang : daftar logaritma !” Murid-murid tertawa dan berkata : “Kami tidak suka daftar logaritma. Tidak ada gunanya !” “kalian tidak ingin maju ?” “Kemajuan bukan soal logaritma.

Kemajuan adalah soal perundingan.” “Jadi apa yang kaian inginkan ?” “Kami tidak ingin apa-apa. Kami sudah punya semuanya.” “Kalian mengacau !” “Kami tidak mengacau. Kami tidak berpolitik. Kami merokok dengan santai. Sperti ayah-ayah kami di kantor mereka : santai, tanpa politik berunding dengan Cina berunding dengan Jepang menciptakan suasana girang. Dan di saat ada pemilu, kami membantu keamanan, meredakan partai-partai.” Murid-murid tertawa.

Mereka menguasai perundingan. Ahli lobbying. Faham akan gelagat. Pandai mengikuti keadaan. Mereka duduk di kantin, minum sitrun, menghindari ulangan sejarah. Mereka tertidur di bangku kelas, yang telah mereka bayar sama mahal seperti sewa kamar di hotel.

Sekolah kunci gitar manis di bibir memutar kata pergaulan, yang ditentukan oleh mode, dijiwai oleh impian kemajuan menurut iklan. Dan bila ibu guru berkata : “Keluarkan daftar logaritma !” Murid-murid tertawa. Dan di dalam suasana persahabatan, mereka mengobel ibu guru mereka. Yogya, 22 Juni 1977. Potret Pembangunan dalam Puisi SAJAK SEORANG TUA TENTANG BANDUNG LAUTAN API Bagaimana mungkin kita bernegara Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya Bagaimana mungkin kita berbangsa Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup bersama ?

Itulah sebabnya Kami tidak ikhlas menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu sehingga menjadi lautan api Kini batinku kembali mengenang udara panas yang bergetar dan menggelombang, bau asap, bau keringat suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki langit berwarna kesumba Kami berlaga memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.

Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata yang bisa dialami dengan nyata Mana mungkin itu bisa terjadi di dalam penindasan dan penjajahan Manusia mana Akan membiarkan keturunannya hidup tanpa jaminan kepastian ? Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah Hidup yang diperkembangkan dan hidup yang dipertahankan Itulah sebabnya kami melawan penindasan Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan bangsa tetap terjaga Kini aku sudah tua Aku terjaga dari tidurku di tengah malam di pegunungan Bau apakah yang tercium kunci gitar manis di bibir memutar kata ?

Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu yang dibawa oleh mimpi kepadaku ? Ataukah ini bau kunci gitar manis di bibir memutar kata pencemaran ? Gemuruh apakah yang aku dengar ini ? Apakah ini deru perjuangan masa silam di tanah periangan ?

kunci gitar manis di bibir memutar kata

Ataukah gaduh hidup yang rusuh karena dikhianati dewa keadilan. Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku dibangunkan oleh mimpi ? Apakah aku tersentak Oleh satu isyarat kehidupan ?

Di dalam kesunyian malam Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku ! Apakah yang terjadi ? Darah teman-temanku Telah tumpah di Sukakarsa Di Dayeuh Kolot Di Kiara Condong Di setiap jejak medan laga. Kini Kami tersentak, Terbangun bersama. Putera-puteriku, apakah yang terjadi? Apakah kamu kunci gitar manis di bibir memutar kata menjawab pertanyaan kami ? Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu, Apakah kita masih sama-sama setia Membela keadilan hidup bersama Manusia dari setiap angkatan bangsa Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi Dan menghadapi pertanyaan jaman : Apakah yang terjadi ?

Apakah yang telah kamu lakukan ? Apakah yang sedang kamu lakukan ? Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna Dari jawaban yang kita berikan. SAJAK SEORANG TUA DI BAWAH POHON Inilah sajakku, seorang kunci gitar manis di bibir memutar kata yang berdiri di bawah pohon meranggas, dengan kedua tangan kugendong di belakang, dan rokok kretek yang padam di mulutku.

Aku memandang zaman. Kunci gitar manis di bibir memutar kata melihat gambaran ekonomi di etalase toko yang penuh merk asing, dan jalan-jalan bobrok antar desa yang tidak memungkinkan pergaulan. Aku melihat penggarongan dan pembusukan. Aku meludah di atas tanah. Aku berdiri di muka kantor polisi. Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran. Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang. Dan sebatang jalan panjang, punuh debu, penuh kucing-kucing liar, penuh anak-anak berkudis, penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.

Aku berjalan menempuh matahari, menyusuri jalan sejarah pembangunan, yang kotor dan penuh penipuan. Aku mendengar orang berkata : "Hak asasi manusia tidak sama dimana-mana. Di sini, demi iklim pembangunan yang baik, kemerdekaan berpolitik harus dibatasi. Mengatasi kemiskinan meminta pengorbanan sedikit hak asasi" Astaga, tahi kerbo apa ini ! Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan ? Di negeri ini hak asasi dikurangi, justru untuk membela yang mapan dan kaya. Buruh, tani, nelayan, wartawan, dan mahasiswa, dibikin tak berdaya.

O, kepalsuan yang diberhalakan, berapa jauh akan bisa kaulawan kenyataan kehidupan. Aku mendengar bising kendaraan. Aku mendengar pengadilan sandiwara. Aku mendengar warta berita. Ada gerilya kota merajalela di Eropa. Seorang cukong bekas kaki tangan fasis, seorang yang gigih, melawan buruh, telah diculik dan dibunuh, oleh golongan orang-orang yang marah.

Aku menatap senjakala di pelabuhan. Kakiku ngilu, dan rokok di mulutku padam lagi. Aku melihat darah di langit. Ya ! Ya ! Kekerasan mulai mempesona orang. Yang kuasa serba menekan. Yang marah mulai mengeluarkan senjata. Bajingan dilawan secara bajingan. Ya ! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang.

Bila pengadilan tidak menindak bajingan resmi, maka bajingan jalanan yang akan diadili. Lalu apa kata nurani kemanusiaan ? Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini ? Apakah orang harus meneladan tingkah laku bajingan resmi ?

Bila tidak, kenapa bajingan resmi tidak ditindak ? Apakah kata nurani kemanusiaan ? O, Senjakala yang menyala ! Singkat tapi menggetarkan hati ! Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang ! O, gambaran-gambaran yang fana ! Kerna langit di badan yang tidak berhawa, dan langit di luar dilabur bias senjakala, maka nurani dibius tipudaya. Ya ! Ya ! Akulah seorang tua ! Yang capek tapi belum menyerah pada mati.

Kini aku berdiri di perempatan jalan. Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing. Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak. Sebagai seorang manusia. Pejambon, 23 Oktober 1977 SAJAK SEBOTOL BIR Menenggak bir sebotol, menatap dunia, dan melihat orang-orang kelaparan. Membakar dupa, mencium bumi, dan mendengar derap huru-hara. Hiburan kota besar dalam semalam, sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa ! Peradaban apakah yang kita pertahankan ? Mengapa kita membangun kota metropolitan ?

dan alpa terhadap peradaban di desa ? Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan, dan tidak kepada pengedaran ? Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri, Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam Kota metropolitan di sini, adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika, Australia, dan negara industri lainnya.

Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ? Yang neghubungkan desa-desa dengan desa-desa ? Kini telah terlantarkan. Menjadi selokan atau kubangan. Jalanlalu lintas masa kini, mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu, adalah alat penyaluran barang-barang asing dari pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan. Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus, tidak untuk petani, tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.

Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai. Di mana kita hanya mampu berak dan makan, tanpa ada daya untuk menciptakan. Apakah kita akan berhenti saampai di sini ? Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri ? Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan……. harus senantiasa menghasilkan…. Dan akhirnya memaksa negara lain untuk menjadi pasaran barang-barang kita ? …………………………….

Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata ? Apakah pemikiran ekonomi kita hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme ? Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira ?

Apakah kita akan hanyut saja di dalam kekuatan penumpukan yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ? ………………………………. Kita telah dikuasai satu mimpi untuk menjadi orang lain. Kita telah menjadi asing di tanah leluhur sendiri. Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi, dan menghamba ke Jakarta. Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi dan menghamba kepada Jepang, Eropa, atau Amerika. Pejambon, 23 Juni 1977 SAJAK PULAU BALI Sebab percaya akan keampuhan industri dan yakin bisa memupuk modal nasional dari kesenian dan keindahan alam, maka Bali menjadi obyek pariwisata.

Betapapun : tanpa basa-basi keyakinan seperti itu, Bali harus dibuka untuk pariwisata. Sebab : pesawat-pesawat terbang jet sudah dibikin, dan maskapai penerbangan harus berjalan. Harus ada orang-orang untuk diangkut. Harus diciptakan tempat tujuan untuk dijual.

Dan waktu senggang manusia, serta masa berlibur untuk keluarga, harus bisa direbut oleh maskapai untuk diindustrikan. Dan Bali, dengan segenap kesenian, kebudayaan, dan alamnya, harus bisa diringkaskan, untuk dibungkus dalam kertas kado, dan disuguhkan pada pelancong. Pesawat terbang jet di tepi rimba Brazilia, di muka perkemahan kaum Badui, di sisi mana pun yang tak terduga, lebih mendadak dari mimpi, merupakan kejutan kebudayaan.

Inilah satu kekuasaan baru. Begitu cepat hingga kita terkesiap. Begitu lihai sehingga kita terkesima. Dan sementara kita bengong, pesawat terbang jet yang muncul dari mimipi, membawa bentuk kekuatan modalnya : lapangan terbang.

“hotel - bistik - dan - coca cola”, jalan raya, dan para pelancong. “Oh, look, honey - dear ! Lihat orang-orang pribumi itu! Mereka memanjat pohon kelapa seperti kera. Fantastic ! Kita harus memotretnya ! . Awas ! Jangan dijabat tangannya ! senyum saja and say hello. You see, tangannya kotor Siapa tahu ada telor cacing di situ. …………………….

My God, alangkah murninya mereka. Ia tidak menutupi teteknya ! Look, John, ini benar-benar tetek. Lihat yang ini ! O, sempurna ! Mereka bebas dan spontan. Aku ingin seperti mereka…. Eh, maksudku…. Okey ! Okey !….Ini hanya pengandaian saja. Aku tahu kamu melarang aku tanpa beha. Look, now, John, jangan cemberut ! Berdirilah di sampingnya, aku potret di sini. Ah ! Fabolous !” Dan Bank Dunia selalu tertarik membantu negara miskin untuk membuat proyek raksasa.

Artinya : yang 90 % dari bahannya harus diimpor. Dan kemajuan kita adalah kemajuan budak atau kemajuan penyalur dan pemakai. Maka di Bali hotel-hotel pribumi bangkrut digencet oleh packaged tour. Kebudayaan rakyat ternoda digencet standar dagang internasional. Tari-tarian bukan lagi satu mantra, tetapi hanya sekedar tontonan hiburan. Pahatan dan ukiran bukan lagi ungkapan jiwa, tetapi hanya sekedar kerajinan tangan.

Hidup dikuasai kehendak manusia, tanpa menyimak jalannya alam. Kekuasaan kemauan manusia, yang dilembagakan dengan kuat, tidak mengacuhkan naluri ginjal, hati, empedu, sungai, dan hutan.

Di Bali : pantai, gunung, tempat tidur dan pura, telah dicemarkan Pejambon, 23 Juni 1977. SAJAK POTRET KELUARGA Tanggal lima belas tahun rembulan. Wajah molek bersolek di angkasa. Kemarau dingin jalan berdebu. Ular yang lewat dipagut naga. Burung tekukur terpisah dari sarangnya.

kunci gitar manis di bibir memutar kata

Kepada rekannya berkatalah suami itu : “Semuanya akan beres. Pasti beres. Mengeluhkan keadaan tak ada gunanya. Kesukaran selalu ada. Itulah namanya kehidupan. Apa yang kita punya sudah lumayan. Asal keluarga sudah terjaga, rumah dan mobil juga ada, apa palgi yang diruwetkan ?

Anak-anak dengan tertib aku sekolahkan. Yang putri di SLA, yang putra mahasiswa. Kunci gitar manis di bibir memutar kata rumah ada TV, anggrek, air conditioning, dan juga agama. Inilah kesejahteraan yang harus dibina. Kita mesti santai. Hanya orang edan sengaja mencari kesukaran. Memprotes keadaaan, tidak membawa perubahan. Salah-salah malah hilang jabatan.” ……… Tanggal lima belas tahun rembulan Angin kemarau tergantung di blimbing berkembang. Malam disambut suara halus dalam rumputan.

Anjing menjenguk keranjang sampah. Kucing berjalan di bubungan atap. Kunci gitar manis di bibir memutar kata ketonggeng menunggu di bawah batu. Isri itu duduk di muka kaca dan berkata : “Hari-hari mengalir seperti sungai arak.

Udara penuh asap candu. Tak ada yang jelas di dalam kehidupan. Peristiwa melayang-layang bagaikan bayangan. Tak ada yang bisa diambil pegangan. Suamiku asyik dengan mobilnya padahal hidupnya penuh utang. Semakin kaya semakin banyak pula utangnya.

Uang sekolah anak-anak selalu lambat dibayar. Ya, Tuhan, apa yang terjadi pada anak-anakku. Apakah jaminan pendidikannya ? Ah, Suamiku ! Dahulu ketika remaja hidupnya sederhana, pikirannya jelas pula. Kunci gitar manis di bibir memutar kata kini serba tidak kebenaran. Setiap barang membuatnya berengsek. Padahal harganya mahal semua. TV Selalu dibongkar.

Gambar yang sudah jelas juga masih dibenar-benarkan. Akhirnya tertidur……. Sementara TV-nya membuat kegaduhan. Tak ada lagi yang bisa menghiburnya. Gampang marah soal mobil Gampang pula kambuh bludreknya Makanan dengan cermat dijaga malahan kena sakit gula. Akulah yang selalu kena luapan. Ia marah karena tak berdaya. Ia menyembunyikan kegagalam. Ia hanyut di dalam kemajuan zaman. Tidak gagah. Tidak berdaya melawannya !” …. Tanggal lima belas tahun rembulan.

Tujuh unggas tidur di pohon nangka Sedang di tanah ular mencari mangsa. Berdesir-desir bunyi kali dikejauhan. Di tebing yang landai tidurlah buaya. Di antara batu-batu dua ketam bersenggama. Sang Putri yang di SLA, berkata : “Kawinilah aku. Buat aku mengandung. Bawalah aku pergi. Jadikanlah aku babu. Aku membenci duniaku ini. Semuanya serba salah, setiap orang gampang marah. Ayah gampang marah lantaran mobil dan TV Ibu gampang marah lantaran tak berani marah kepada ayah.

Suasana tegang di dalam rumah meskipun rapi perabotannya. Aku yakin keluargaku mencintaiku. Tetapi semuanya ini untuk apa ? Untuk apa hidup keluargaku ini ? Apakah ayah hidup untuk mobil dan TV ? Apakah ibu hidup karena tak punya pilihan ? Dan aku ?

Apa jadinya aku nanti ? Tiga belas tahun aku belajar di sekolah. Tetapi belum juga mampu berdiri sendiri. Untuk apakah kehidupan kami ini ? Untuk makan ? Untuk baca komik ? Untuk apa ? Akhirnya mendorong untuk tidak berbuat apa-apa ! Kemacetan mencengkeram hidup kami. Kakasihku, temanilah aku merampok Bank. Pujaanku, suntikkan morpin ini ke urat darah di tetekku “ ……….

Tanggal lima belas tahun rembulan. Atap-atap rumah nampak jelas bentuknya di bawah cahaya bulan. Sumur yang sunyi menonjol di bawah dahan. Akar bambu bercahaya pospor. Keleawar terbang menyambar-nyambar. Seekor kadal menangkap belalang. Sang Putra, yang mahasiswa, menulis surat dimejanya : “ Ayah dan ibu yang terhormat, aku pergi meninggalkan rumah ini. Cinta kasih cukup aku dapatkan. Tetapi aku menolak cara hidup ayah dan ibu. Ya, aku menolak untuk mendewakan harta.

Aku menolak untuk mengejar kemewahan, tetapi kehilangan kesejahteraan. Bahkan kemewahan yang ayah punya tidak juga berarti kemakmuran. Ayah berkata : “santai, santai ! “ tetapi sebenarnya ayah hanyut dibawa arus jorok keadaan Ayah hanya punya kelas, tetapi tidak punya kehormatan. Kenapa ayah berhak mendapatkan kemewahan yang sekarang ayah miliki ini? Hasil dari bekerja ?

Bekerja apa ? Apakh produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi ? Seorang petani lebih produktip daripada ayah. Seorang buruh lebih punya jasa yang nyata. Ayah hanya bisa membuat peraturan. Ayah hanya bisa tunduk pada atasan. Ayah hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan rakyat dari penguasa.

Ayah tidak produktip melainkan destruktip. Namun toh ayah mendapat gaji besar ! Apakah ayah pernah memprotes ketidakadilan ? tidak pernah, bukan ? Terlalu beresiko, bukan ? Apakah aku harus mencontoh ayah ? Sikap hidup ayah adalah pendidikan buruk bagi jiwaku. Ayah dan ibu, selamat tinggal. Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya. “ Yogya, 10 Juli 1975. SAJAK PEPERANGAN ABIMANYU (Untuk puteraku, Isaias Sadewa) Ketika maut mencegatnya di delapan penjuru.

Sang ksatria berdiri dengan mata bercahaya. Hatinya damai, di dalam dadanya yang bedah dan berdarah, karena ia telah lunas menjalani kewjiban dan kewajarannya. Setelah ia wafat apakah petani-petani akan tetap menderita, dan para wanita kampung tetap membanjiri rumah pelacuran di kota ?

Itulah pertanyaan untuk kita yang hidup. Tetapi bukan itu yang terlintas di kepalanya ketika ia tegak dengan tubuh yang penuh luka-luka. Saat itu ia mendengar nyanyian angin dan air yang turun dari gunung.

Perjuangan adalah satu pelaksanaan cita dan rasa. Perjuangan adalah pelunasan kesimpulan penghayatan. Di saat badan berlumur darah, jiwa duduk di atas teratai.

Ketika ibu-ibu meratap dan mengurap rambut mereka dengan debu, roh ksatria bersetubuh dengan cakrawala untuk menanam benih agar nanti terlahir para pembela rakyat tertindas - dari zaman ke zaman SAJAK ORANG KEPANASAN Karena kami makan akar dan terigu menumpuk di gudangmu Karena kami hidup berhimpitan dan ruangmu berlebihan maka kami bukan sekutu Karena kami kucel dan kamu gemerlapan Karena kami sumpek dan kamu mengunci pintu maka kami mencurigaimu Karena kami telantar dijalan dan kamu memiliki semua keteduhan Karena kami kebanjiran dan kamu berpesta di kapal pesiar maka kami tidak menyukaimu Karena kami dibungkam dan kamu nyerocos bicara Karena kami diancam dan kamu memaksakan kekuasaan maka kami bilang : Kunci gitar manis di bibir memutar kata kepadamu Karena kami tidak boleh memilih dan kamu bebas berencana Karena kami semua bersandal dan kamu bebas memakai senapan Karena kami harus sopan dan kamu punya penjara maka TIDAK dan TIDAK kepadamu Karena kami arus kali dan kamu batu tanpa hati maka air akan mengikis batu SAJAK MATAHARI Matahari bangkit dari sanubariku.

Menyentuh permukaan samodra raya. Matahari keluar dari mulutku, menjadi pelangi di cakrawala. Wajahmu keluar dari jidatku, wahai kamu, wanita miskin ! kakimu terbenam di dalam lumpur. Kamu harapkan beras seperempat gantang, dan di tengah sawah tuan tanah menanammu ! Satu juta lelaki gundul keluar dari hutan belantara, tubuh mereka terbalut lumpur dan kepala mereka berkilatan memantulkan cahaya matahari.

Mata mereka menyala tubuh mereka menjadi bara dan mereka membakar dunia. Matahri adalah cakra jingga yang dilepas tangan Sang Krishna. Ia menjadi rahmat dan kutukanmu, ya, umat manusia ! Yogya, 5 Maret 1976 SAJAK MATA-MATA Ada suara bising di bawah tanah. Ada suara gaduh di atas tanah. Ada ucapan-ucapan kacau di antara rumah-rumah. Kunci gitar manis di bibir memutar kata tangis tak menentu di tengah sawah.

Dan, lho, ini di belakang saya ada tentara marah-marah. Apa saja yang terjadi ? Aku tak tahu. Aku melihat kilatan-kilatan api berkobar.

Aku melihat isyarat-isyarat. Semua tidak jelas maknanya. Raut wajah yang sengsara, tak bisa bicara, menggangu pemandanganku. Apa saja yang terjadi ? Aku tak tahu. Pendengaran dan penglihatan menyesakkan perasaan, membuat keresahan - Ini terjadi karena apa-apa yang terjadi terjadi tanpa kutahu telah terjadi. Aku tak tahu. Kamu tak tahu. Tak ada yang tahu. Betapa kita akan tahu, kalau koran-koran ditekan sensor, dan mimbar-mimbar yang bebas telah dikontrol. Koran-koran adalah penerusan mata kita.

Kini sudah diganti mata yang resmi. Kita tidak lagi melihat kenyataan yang beragam. Kita hanya diberi gambara model keadaan yang sudah dijahit oleh penjahit resmi. Mata rakyat sudah dicabut. Rakyat meraba-raba di dalam kasak-kusuk.

Mata pemerintah juga diancam bencana. Mata pemerintah memakai kacamata hitam. Terasing di belakang meja kekuasaan. Mata pemerintah yang sejati sudah diganti mata-mata. Barisan mata-mata mahal biayanya.

Banyak makannya. Sukar diaturnya. Sedangkan laporannya mirp pandangan mata kuda kereta yang dibatasi tudung mata. Dalam pandangan yang kabur, semua orang marah-marah. Rakyat marah, pemerinta marah, semua marah lantara tidak punya mata. Semua mata sudah disabotir. Mata yang bebas beredar hanyalah mata-mata. Hospital Rancabadak, Bandung, 28 Januari 1978 SAJAK KENALAN LAMAMU Kini kita saling berpandangan saudara.

Kunci gitar manis di bibir memutar kata apa pula, kita memang pernah berjumpa. Sambil berdiri di ambang pintu kereta api, tergencet oleh penumpang berjubel, Dari Yogya ke Jakarta, aku melihat kamu tidur di kolong bangku, dengan alas kertas koran, sambil memeluk satu anakmu, sementara istrimu meneteki bayinya, terbaring di sebelahmu.

Pernah pula kita satu truk, duduk di atas kobis-kobis berbau sampah, sambil meremasi tetek tengkulak sayur, dan lalu sama-sama kaget, ketika truk tiba-tiba terhenti kerna distop oleh polisi, yang menarik pungutan tidak resmi.

Ya, saudara, kita sudah sering berjumpa, kerna sama-sama anak jalan raya. …………………. Hidup macam apa ini ! Orang-orang dipindah kesana ke mari. Bukan dari tujuan ke tujuan. Tapi dari keadaan ke keadaan yang tanpa perubahan. …………. Kini kita bersandingan, saudara. Kamu kenal bau bajuku.

Jangan kamu ragu-ragu, kita memang pernah bertemu. Waktu itu hujan rinai. Aku menarik sehelai plastik dari tong sampah tepat pada waktu kamu juga menariknya. Kita saling berpandangan. Kamu menggendong anak kecil di punggungmu. Aku membuka mulut, hendak berkata sesuatu…… Tak sempat ! Lebih dulu tinjumu melayang ke daguku…. Dalam pandangan mata berkunang-kunang, aku melihat kamu membawa helaian plastik itu ke satu gubuk karton.

Kamu lapiskan ke atap gubugmu, dan lalu kamu masuk dengan anakmu…. Sebungkus nasi yang dicuri, itulah santapan. Kolong kios buku di terminal itulah peraduan. Ya, saudara-saudara, kita sama-sama kenal ini, karena kita anak jadah bangsa yang mulia. …………. Hidup macam apa hidup ini.

Di taman yang gelap orang menjual badan, agar mulutnya tersumpal makan. Di hotel yang mewah istri guru menjual badan agar pantatnya diganjal sedan.

……. Duabelas pasang payudara gemerlapan, bertatahkan intan permata di sekitar putingnya. Dan di bawah semuanya, celana dalam sutera warna kesumba. Ya, saudara, Kita sama-sama tertawa mengenang ini semua. Ragu-ragu apa pula kita memang pernah berjumpa. Kita telah menyaksikan, betapa para pembesar menjilati selangkang wanita, sambil kepalanya diguyur anggur. Ya, kita sama-sama germo, yang menjahitkan jas di Singapura mencat rambut di pangkuan bintang film, main golf, main mahyong, dan makan kepiting saus tiram di restoran terhormat.

……. Hidup dalam khayalan, hidup dalam kenyataan…… tak ada bedanya. Kerna khayalan dinyatakan, dan kenyataan dikhayalkan, di dalam peradaban fatamorgana. ………. Ayo, jangan lagi sangsi, kamu kenal suara batukku. Kamu lihat lagi gayaku meludah di trotoar. Ya, memang aku. Temanmu dulu. Kita telah sama-sama mencuri mobil ayahmu bergiliran meniduri gula-gulanya, dan mengintip ibumu main serong dengan ajudan ayahmu.

Kita telah sama-sama beli morphin dari guru kita. Menenggak valium yang disediakan oleh dokter untuk ibumu, dan akhirnya menggeletak di emper tiko, di samping kere di Malioboro.

Kita alami semua ini, kerna kita putra-putra dewa di dalam masyarakat kita. …. Hidup melayang-layang. Selangit, melayang-layang. Kekuasaan mendukung kita serupa ganja…. meninggi…. Ke awan…… Peraturan dan hukuman, kitalah yang empunya. Kita tulis dengan keringat di ketiak, di atas sol sepatu kita. Kitalah gelandangan kaya, yang perlu meyakinkan diri dengan pembunuhan. …. Saudara-saudara, kita sekarang berjabatan.

Kini kita bertemu lagi. Ya, jangan kamu ragu-ragu, kita memang pernah bertemu. Bukankah tadi telah kamu kenal betapa derap langkahku ? Kita dulu pernah menyetop lalu lintas, membakari mobil-mobil, melambaikan poster-poster, dan berderap maju, berdemonstrasi. Kita telah sama-sama merancang strategi di panti pijit dan restoran. Dengan arloji emas, secara teliti kita susun jadwal waktu. Bergadang, berunding di larut kelam, sambil mendekap hostess di kelab malam. Kerna begitulah gaya pemuda harapan bangsa.

Politik adalah cara merampok dunia. Politk adalah cara menggulingkan kekuasaan, untuk menikmati giliran berkuasa. Politik adalah tangga naiknya tingkat kehidupan. dari becak ke taksi, dari taksi ke sedan pribadi lalu ke mobil sport, lalu : helikopter ! Politik adalah festival dan pekan olah raga. Politik adalah wadah kegiatan kesenian. Dan bila ada orang banyak bacot, kita cap ia sok pahlawan. …. Dimanakah kunang-kunag di malam hari ? Dimanakah trompah kayu di muka pintu ?

Di hari-hari yang berat, aku cari kacamataku, dan tidak ketemu. ……. Ya, inilah aku ini ! Jangan lagi sangsi ! Inilah bau ketiakku. Inilah suara batukku. Kamu telah menjamahku, jangan lagi kamu ragau. Kita telah sama-sama berdiri di sini, melihat bianglala berubah menjadi lidah-lidah api, gunung yang kelabu membara, kapal terbang pribadi di antara mega-mega meneteskan air mani di putar blue-film di dalamnya.

………………… Kekayaan melimpah. Kemiskinan melimpah. Darah melimpah. Ludah menyembur dan melimpah. Waktu melanda dan melimpah. Lalu muncullah banjir suara. Suara-suara di kolong meja.

Suara-suara di dalam lacu. Suara-suara di dalam pici. Dan akhirnya dunia terbakar oleh tatawarna, Warna-warna nilon dan plastik. Warna-warna seribu warna. Tidak luntur semuanya. Ya, kita telah sama-sama menjadi saksi dari suatu kejadian, yang kita tidak tahu apa-apa, namun lahir dari perbuatan kita. Yogyakarta, 21 Juni 1977 SAJAK SEONGGOK JAGUNG Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda yang kurang sekolahan. Memandang jagung itu, sang pemuda melihat ladang; ia melihat petani; ia melihat panen; dan suatu hari subuh, para wanita dengan gendongan pergi ke pasar ……….

Dan ia juga melihat suatu pagi hari di dekat sumur gadis-gadis bercanda sambil menumbuk jagung menjadi maisena. Sedang di dalam dapur tungku-tungku menyala. Di dalam udara murni tercium kuwe jagung Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda. Ia siap menggarap jagung Ia melihat kemungkinan otak dan tangan siap bekerja Tetapi ini : Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda tamat SLA Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.

Hanya ada seonggok jagung di kamarnya. Ia memandang jagung itu dan ia melihat dirinya terlunta-lunta. Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.

Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase. Ia melihat saingannya naik sepeda motor. Ia melihat nomor-nomor lotre. Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal. Seonggok jagung di kamar tidak menyangkut pada akal, tidak akan menolongnya. Seonggok jagung di kamar tak akan menolong seorang pemuda yang pandangan hidupnya berasal dari buku, dan tidak dari kehidupan.

Yang tidak terlatih dalam metode, dan hanya penuh hafalan kesimpulan, yang hanya terlatih sebagai pemakai, tetapi kurang latihan bebas berkarya. Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan. Aku bertanya : Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya ? Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibukota kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kunci gitar manis di bibir memutar kata, atau apa saja, bila pada akhirnya, ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata : “ Di sini aku merasa asing dan sepi !” Tim, 12 Juli 1975 SAJAK SEBATANG LISONG Menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya, mendengar 130 juta rakyat, dan di langit dua tiga cukong mengangkang, berak di atas kepala mereka Matahari terbit. Fajar tiba. Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan.

Aku bertanya, tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang macet, dan papantulis-papantulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan. Delapan juta kanak-kanak menghadapi satu jalan panjang, tanpa pilihan, tanpa pepohonan, tanpa dangau persinggahan, tanpa ada bayangan ujungnya.

………………… Menghisap udara yang disemprot deodorant, aku melihat sarjana-sarjana menganggur berpeluh di jalan raya; aku melihat wanita bunting antri uang pensiun. Dan di langit; para tekhnokrat berkata : bahwa bangsa kita adalah malas, bahwa bangsa mesti dibangun; mesti di-up-grade disesuaikan dengan teknologi yang diimpor Gunung-gunung menjulang. Langit pesta warna di dalam senjakala Dan aku melihat protes-protes yang terpendam, terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya, tetapi pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon, yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan berkunang-kunang pandang matanya, di bawah iklan berlampu neon, Berjuta-juta harapan ibu dan bapak menjadi gemalau suara yang kacau, menjadi karang di bawah muka samodra. ……………… Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing. Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan. Kita mesti keluar ke jalan raya, keluar ke desa-desa, mencatat sendiri semua gejala, dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku Pamplet masa darurat. Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan. 19 Agustus 1977 SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA Matahari terbit pagi ini mencium bau kencing orok di kaki langit, melihat kali coklat menjalar ke lautan, dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.

Lalu kini ia dua penggalah tingginya. Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini memeriksa keadaan. Kita bertanya : Kenapa maksud baik tidak selalu berguna. Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.

Orang berkata “ Kami ada maksud baik “ Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?” Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina Ada yang bersenjata, ada yang terluka. Ada yang duduk, ada yang diduduki. Ada yang berlimpah, ada yang terkuras. Dan kita di sini bertanya : “Maksud baik saudara untuk siapa ?

Saudara berdiri di pihak yang mana ?” Kenapa maksud baik dilakukan tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya. Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota. Perkebunan yang luas hanya menguntungkan segolongan kunci gitar manis di bibir memutar kata saja.

Alat-alat kemajuan yang diimpor tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya. Tentu kita bertanya : “Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?” Sekarang matahari, semakin tinggi. Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala. Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya : Kita ini dididik untuk memihak yang mana ? Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini akan menjadi alat pembebasan, ataukah alat penindasan ? Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Malam akan tiba. Cicak-cicak berbunyi di tembok.

Dan rembulan akan berlayar. Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda. Akan hidup di dalam bermimpi. Akan tumbuh di kebon belakang. Dan esok hari matahari akan terbit kembali. Sementara hari baru menjelma. Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan. Atau masuk ke sungai menjadi ombak di samodra. Di bawah matahari ini kita bertanya : Ada yang menangis, ada yang mendera. Ada yang habis, ada yang mengikis. Dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana ! Jakarta 1 Desember 1977

Kunci Gitar Mencari Alasan - Exist ( Malaysia ) Tutorial Untuk Pemula By DE Kunta




2022 www.videocon.com