Berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah

berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah

Oleh: Nenny Litania, Guru SD Muhammadiyah 019 Bangkinang, Kampar, Riau KOMPAS.com - Pancasila merupakan dasar negara Republik Indonesia. Nilai-nilai dalam sila Pancasila menjadi rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tidak hanya diterapkan dalam interaksi sesama manusia, tetapi juga dalam hal mengelola lingkungan. Dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, diharapkan rakyat Indonesia dapat hidup secara rukun, damai, dan sejahtera.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makna adalah arti atau maksud, sedangkan nilai adalah sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Jadi, makna dan nilai-nilai Pancasila adalah arti atau maksud tiap bunyi sila-sila Pancasila serta hal-hal penting yang berguna bagi manusia untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal penting tersebut terkandung dalam sila pertama sampai sila kelima Pancasila.

Baca juga: Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan IPTEK Makna dan nilai-nilai Pancasila Berikut makna dan nilai-nilai dalam Pancasila, yaitu: Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung makna bahwa bangsa Indonesia bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Nilai-nilai yang terkandung dalam sila pertama Pancasila: • Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, • Mensyukuri segala yang ada di alam semesta yang merupakan anugerah Tuhan, • Mengakui kebebasan memeluk agama dan menjalankan ibadah masing masing, serta • Menghormati dan saling menjaga kerukunan antar pemeluk agama.

Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Mengandung makna adanya pengakuan terhadap persamaan derajat antarsesama manusia dan bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban. Nilai-nilai yang terkandung dalam sila kedua Pancasila: • Mengakui persamaan derajat antar sesama manusia, • Mengakui persamaan hak dan kewajiban, • Mengembangkan sikap tenggang rasa, • Saling menyayangi sesama manusia, serta • Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

Baca juga: Penerapan Pancasila dari Masa ke Masa Halo Sahabat Ahzaa selamat datang kembali di blog kami. Tanpa terasa saat ini sudah menginjak ke semester kedua (genap) ya. Pada post kali ini kita akan berlatih soal yaitu mapel PPKn dalam materi Keberagaman Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Materi ini terdapat pada kelas 7 bab 4 semester kedua (genap). • Menghormati keberagaman norma- norma, suku, agama, ras dan antar golongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika sebagai sesama ciptaan Tuhan. • Menghargai keberagaman suku, agama, ras dan antar golongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika • Mengidentifikasi keberagaman suku, agama, ras dan antar golongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika • Mendemonstrasikan hasil identifikasi suku, agama, ras dan antar golongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
This writing is motivated by the attitude that is seen about the appreciation of the values of Pancasila which began to dissapear.

Writing is based on today’s life where people, especially millenials, began to shift the life guidelines from Pancasila. The results seen in the current life environment, shifts in the application of Pancasila values have long occurred and gradually increasingly alarming in line with the progress of science and technology.

Individual attitudes are more visible than social with others. But there are also some who still socialize with others through joint discussions in a forum. The purpose of writing this scientific journal is to re-apply the values contained in Pancasila in the current millenial life. . In each Pancasila principle, there are societal values that are the Indonesian nation's great work with philosophical reflections (According to Kaelan, 2000: 13 in (2).

Therefore, creating a country unifying tool that is commonly called is used as a source of value in life and becomes benchmarks regarding the actions and behavior of the Indonesian people (3).

. Pancasila is taken from the noble values that exist and are well-grown in the life of Indonesian society. It shows that the position of Pancasila itself is the source of all sources of law. This research aims to find out the effect of Pancasila values on the attitudes of the younger generations attitude in this era. Whether the changing period can cause the understanding of Pancasila values has changed during the current development, and it affecting the millennial lifestyle and attitude.

This study uses a literature review method by collecting and analyzing articles related to the effect of understanding the values of Pancasila on the millennial generation. The article criteria that will be used are articles published in the year 2019-2021. Based on the article that has been collected, it is found that a person’s understanding of the values of Pancasila dramatically affects the way a person behaves.

The more a person understands the values contained in Pancasila, the attitudes and lifestyle shown reflect the good Indonesian culture as taught by ancestors and religion.

On the other hand, if the understanding is lacking, someone will tend to be more open to habits from foreign cultures that do not match our ancestors’ teachings. . Untuk menghadapi globalisasi dan perubahan yang semakin pesat dibutuhkan peranan pemuda dalam perencanaan menjadi kelompok inovatif, kreatif, kompetitif, mandiri serta mempunyai ketangguhan untuk tetap bertahan pada persaingan dengan dunia luar.

Sebenarnya perlu dibangun oleh bangsa Indonesia adalah kualitas SDM, dimana kekuatan terbesar SDM terletak pada generasi muda (Anggraini, 2020). Munculnya berbagai penyimpangan-penyimpangan yang menghilangkan karakter masyarakat Majasetra dinilai menjadi permasalahan yang perlu diperhatikan. Menurut (Anggraini et al., 2020) Nilai Pancasila pada dasarnya adalah nilai-nilai yang mendasar di mana nilai-nilai ini dijadikan aturan dan dasar pada norma-norma yang berlaku di Indonesia. Dewasa ini, perlu penegasan akan nilai-nilai Pancasila dalam membangun karakter bangsa.

. Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia yang di jadikan pedomanan hidup dalam berbangsa dan bernegara, pesatnya arus globalisasi menunjukan pengikisan karakter masyarakat di Desa Majasetra Kecamatan Majalaya.

Hal ini dapat ditunjukan dengan maraknya kekerasan di lingkungan tersebut, selain itu kasus pembunuhan sopir delman yang tragis menunjukan bagaimana karakter di Desa Majasetra belum sepenuhnya mencerminkan karakter bangsa Indonesia yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Metode yang digunakan dalam penelitian berupa studi kasus dimana peneliti melakukan pengamatan di Desa Majasetra peneliti menyelidiki secara cermat suatu peristiwa, aktivitas, dan proses sekelompok individu yang dibatasi oleh waktu dan peristiwa.

Dari penelitian yang sudah dilakukan Penjabaran Nilai-nilai yang ada pada setiap sila Pancasila dapat dijadikan pondasi dalam membangun karakter masyarakat di Desa Majasetra agar dapat menunjukan karakter warga negara yang baik. Nilai-nilai Pancasila itu antara lain nilai religius, nilai kejujuran, nilai toleran, nilai disiplin, nilai mandiri, nilai demokratis, rasa ingin tahu, nilai semangat kebangsaan, nilai cinta damai, nilai peduli terhadap lingkungan, dan nilai peduli sosial.

Penjabaran dari nilai-nilai pancasila tersebut dapat ditumbuhkan dan ditanamkan pada masyarakat Majasetra untuk membangun karakter masyarakat Majasetra yang sesuai dengan karakter warga negara Indonesia sehingga dapat meminimalisir penyimpangan-penyimpangan akibat yang diakibatkan dengan adanya perubahan yang di bawa arus globalisasi saat ini.

The dynamics of the global regional and national strategic environment have an impact on the emergence of various threats, both actual and potential. The country must prepare for all the possibilities that occur, including preparing for a total war involving all human resources. Pancasila as the Indonesian ideology is one of the most important resources in binding the spirit of the struggle of the Indonesian people in organizing the Total War, so that Pancasila as the state ideology is deemed necessary to always be maintained, maintained and continuously optimized.

The purpose of this study was to analyze the "Total War Strategy through Optimizing the Values of Pancasila." The research method used is descriptive qualitative method using secondary data sources in the form of previous research journals, books, documentation, news, internet and others. Based on the results of the study, it can be concluded that the total war strategy includes including all levels of society in state defense activities in accordance with the practice of the 4th precept of Pancasila.

Providing information about defending the state, and providing equal treatment to protect and provide security for all Indonesian people in accordance with the 2nd principle. The TNI together with the Government jointly provide protection for the community based on the principles of democracy, human rights and non-discrimination which is in accordance with the value of the 5th principle. Therefore, the values of Pancasila must be maintained and berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah to create a country that is safe and peaceful, a society that lives peacefully and is berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah prosperous.

Pemimpin organisasi di Indonesia apapun jenisnya harus dilandasi pada nilai-nilai pancasila sebagai landasan falsafah negera. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengkaji kepemimpinan berdasarkan nilai-nilai luhur pancasila. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi literatur dengan menganalisis dan menggali data dari berbagai sumber relevan. Nilai pancasila jika dikaitkan dengan organisasi harus didasarkan pada (1) nilai dasar, (2) nilai instrumental, dan (3) nilai praktis.

Nilai kepemimpinan juga dapat dilakukan pada lembaga dengan mengembangkan nilai (1) transendensi, (2) humanisasi, (3) kebhinekaan, liberasi, dan (5) keadilan. Kelima pilar nilai pancasila tersebut sejatinya dapat menjadi ruh kepemimipinan yang ditampilkan oleh ketua suatu organisasi dalam memimpin. Kata Kunci: Kepemimpinan, Nilai, Multikultural Mirzaqon. (2018). Studi Kepustakaan Mengenai Landasan Teori Dan Praktik Konseling Expressive Writing Library Research of the Basic Theory and Practice of Expressive Writing Counseling.

Jurnal BK UNESA, 8(1), 1-8. Retrieved from https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-bkunesa/article/view/22037 In the conclusions of his article on the implications of science and technology for international institutions Eugene B. Skolnikoff advances three provocative propositions: 1) Existing international institutions and governmental attitudes are inadequate to meet the requirements imposed by foreseeable technological developments. 2) These requirements may be better met by creating new international .

[Show full abstract] institutions rather than by adding to the functions of those already in existence, especially the United Nations. 3) States with advanced technological development may have to reserve to themselves substantial if not exclusive power in international institutions concerned with technology. With these propositions as guidelines he issues a plea for creative planning for the 1970s and the even more distant future. Read more Developing students‟ attitudes toward science is an important issue because societies need individuals who can contribute to scientific and technological developments.

That‟s why using various and different instructional tools in science education may have an impact on students‟ attitudes towards science positively. Within this respect, the goal of the study is to investigate the effects of .

[Show full abstract] serious games on primary school students‟ (fifth-grade) science achievement related to the topic of light and sound, and attitudes towards science.

A quasi-experimental research design was used in the study. Fifth-grade students from two different classes were the participants in the current study. The data was gathered by the science achievement test and the attitude scale. The findings revealed that whereas students in the experimental group, who were taught by serious games, developed their attitudes towards science significantly positive, their counterparts did not.

There was no significant effect of serious game on students‟ achievement. This result showed that serious games as a different instructional tool may have crucial impacts on primary students‟ attitudes toward science. View full-text • Acèh • Адыгабзэ • Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • Pangcah • Aragonés • Ænglisc • العربية • الدارجة • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • अवधी • Aymar aru • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Basa Bali • Boarisch • Žemaitėška • Bikol Central • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • Bislama • Banjar • বাংলা • བོད་ཡིག • বিষ্ণুপ্রিয়া মণিপুরী • Brezhoneg • Bosanski • ᨅᨔ ᨕᨘᨁᨗ • Буряад • Català • Chavacano de Zamboanga • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • Нохчийн • Cebuano • Chamoru • ᏣᎳᎩ • Tsetsêhestâhese • کوردی • Corsu • Qırımtatarca • Čeština • Kaszëbsczi • Словѣньскъ / ⰔⰎⰑⰂⰡⰐⰠⰔⰍⰟ • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Zazaki • Dolnoserbski • डोटेली • ދިވެހިބަސް • Eʋegbe • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • Estremeñu • فارسی • Fulfulde • Suomi • Võro • Na Vosa Vakaviti • Føroyskt • Français • Arpetan • Nordfriisk • Frysk • Gaeilge • Gagauz • 贛語 • Kriyòl gwiyannen • Gàidhlig • Galego • گیلکی • Avañe'ẽ • गोंयची कोंकणी / Gõychi Konknni • Bahasa Hulontalo • ગુજરાતી • Gaelg • Hausa • 客家語/Hak-kâ-ngî • Hawaiʻi • עברית • हिन्दी • Fiji Hindi • Hrvatski • Hornjoserbsce • Kreyòl ayisyen • Magyar • Հայերեն • Արեւմտահայերէն • Interlingua • Interlingue • Iñupiak • Ilokano • ГӀалгӀай • Ido • Íslenska • Italiano • ᐃᓄᒃᑎᑐᑦ/inuktitut • 日本語 • Patois • La .lojban.

• Jawa • ქართული • Qaraqalpaqsha • Taqbaylit • Адыгэбзэ • Kabɩyɛ • Kongo • Gĩkũyũ • Қазақша • ភាសាខ្មែរ • ಕನ್ನಡ • 한국어 • कॉशुर / کٲشُر • Ripoarisch • Kurdî • Коми • Kernowek • Кыргызча • Latina • Lëtzebuergesch • Лезги • Lingua Franca Nova • Limburgs • Ligure • Ladin • Lombard • Lingála • ລາວ • Lietuvių • Latviešu • Madhurâ • मैथिली • Basa Banyumasan • Malagasy • Олык марий • Māori • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • ꯃꯤꯇꯩ ꯂꯣꯟ • मराठी • Кырык мары • Bahasa Melayu • Malti • Mirandés • မြန်မာဘာသာ • Эрзянь • مازِرونی • Dorerin Naoero • Napulitano • Plattdüütsch • Nedersaksies • नेपाली • नेपाल भाषा • Li Niha • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Novial • ߒߞߏ • Diné bizaad • Chi-Chewa • Occitan • Livvinkarjala • Oromoo • ଓଡ଼ିଆ • Ирон • ਪੰਜਾਬੀ • Pangasinan • Kapampangan • Papiamentu • Picard • पालि • Norfuk / Pitkern • Polski • Piemontèis • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Română • Tarandíne • Русский • Русиньскый • Ikinyarwanda • संस्कृतम् • Саха тыла • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sardu • Sicilianu • Scots • سنڌي • Davvisámegiella • Sängö • Srpskohrvatski / српскохрватски • ၽႃႇသႃႇတႆး • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Gagana Samoa • Anarâškielâ • ChiShona • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • Sranantongo • SiSwati • Seeltersk • Sunda • Svenska • Kiswahili • Ślůnski • Sakizaya • தமிழ் • Tayal • తెలుగు • Tetun • Тоҷикӣ • ไทย • Türkmençe • Tagalog • Tok Pisin • Türkçe • Seediq • Xitsonga • Татарча/tatarça • ChiTumbuka • Twi • Удмурт • berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah / Uyghurche • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vèneto • Vepsän kel’ • Tiếng Việt • West-Vlams • Volapük • Walon • Winaray • Wolof • 吴语 • Хальмг • მარგალური • ייִדיש • Yorùbá • Vahcuengh • Zeêuws • 中文 • 文言 • Bân-lâm-gú • 粵語 • IsiZulu Penyuntingan Artikel oleh pengguna baru atau anonim untuk saat ini tidak diizinkan.

Lihat kebijakan pelindungan dan log pelindungan untuk informasi selengkapnya. Jika Anda tidak dapat menyunting Artikel ini dan Anda ingin melakukannya, Anda dapat memohon permintaan penyuntingan, diskusikan perubahan yang berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah dilakukan di halaman pembicaraan, memohon untuk melepaskan pelindungan, masuk, atau buatlah sebuah akun.

- Per kapita $4.691 [12] ( ke-116) Gini ( 2021) ▲ 37,3 [13] sedang IPM (2021) 0,722 [14] [15] tinggi · ke-107 Mata uang Rupiah (Rp) ( IDR) Zona waktu beragam ( UTC +7 sampai +9) Format tanggal DD/MM/YYYY Lajur kemudi kiri Kode telepon +62 Kode ISO 3166 ID Ranah Internet .id Indonesia ( pengucapan bahasa Indonesia: [in.ˈdo.nɛ.sja]), dengan nama resmi Republik Indonesia ( RI) atau lengkapnya Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI), adalah sebuah negara kepulauan di Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara daratan benua Asia dan Oseania, serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

Indonesia merupakan negara terbesar ke-14 sekaligus negara kepulauan terbesar di dunia,Mengalahkan Filipina Dan Jepang dengan luas wilayah sebesar 1.904.569 km 2, [8] serta negara dengan pulau terbanyak keenam di dunia, dengan jumlah 17.504 pulau.

[16] Nama alternatif yang umum dipakai untuk merujuk pada "Kepulauan Indonesia" tersebut adalah Nusantara. [17] Selain itu, Indonesia juga menjadi negara berpenduduk terbanyak keempat di dunia dengan populasi mencapai 270.203.917 jiwa pada tahun 2020, [18] serta negara berpenduduk Muslim terbanyak dan terbesar di dunia, dengan penganut lebih dari 230 juta jiwa.

[19] [20] Indonesia adalah salah satu negara multiras, multietnik, dan multikultural di dunia, seperti halnya Amerika Serikat. [21] Indonesia berbatasan dengan sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara, Benua Australia, dan Oseania. Indonesia berbatasan darat dengan Malaysia di Pulau Kalimantan dan Pulau Sebatik, dengan Papua Nugini di Pulau Papua, dan dengan Timor Leste di Pulau Timor.

Negara tetangga yang hanya berbatasan laut dengan Indonesia adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India. Indonesia adalah negara kesatuan dengan bentuk pemerintahan republik berdasarkan konstitusi Indonesia yang sah, yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). [22] Berdasarkan UUD 1945 pula, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Presiden dipilih secara langsung oleh rakyat.

Ibu kota negara Indonesia saat ini ialah Jakarta, lengkapnya Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Pemindahan ibu kota telah diusulkan oleh Pemerintah Indonesia sejak tahun 2019. Pada tanggal 18 Januari 2022, pemerintah menetapkan Ibu Kota Nusantara, yang menempati wilayah Penajam Paser Utara, untuk menggantikan Jakarta sebagai ibu kota negara.

[23] Hingga saat ini, proses peralihan ibu kota masih sementara berlangsung Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa-bangsa pendatang. Kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting sejak abad ke-7, yaitu sejak berdirinya Kedatuan Sriwijaya, sebuah kemaharajaan Hindu– Buddha yang berpusat di Palembang.

Negara Sriwijaya ini menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan bangsa Tionghoa, India, dan juga Arab. Agama dan kebudayaan Hindu– Buddha tumbuh, berkembang, dan berasimilasi di wilayah Kepulauan Indonesia pada awal abad ke-4 hingga abad ke-13 M.

Setelah itu, para pedagang dan ulama dari Jazirah Arab yang membawa agama dan kebudayaan Islam sekitar abad ke-8 hingga abad ke-16. Pada akhir abad ke-15, bangsa Eropa datang ke Kepulauan Indonesia dan saling bertempur untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku semasa era penjelajahan samudra.

Setelah berada di bawah penjajahan Belanda untuk selebih-lebihnya hampir 3 abad, Indonesia, yang saat itu bernama Hindia Belanda, menyatakan kemerdekaannya di akhir Perang Dunia II, tepatnya berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah 17 Agustus 1945. Selanjutnya, Indonesia mendapat berbagai tantangan dan persoalan berat, mulai dari bencana alam, praktik korupsi yang masif, konflik sosial, gerakan separatisme, proses demokratisasi, dan periode pembangunan, perubahan dan perkembangan sosial– ekonomi– politik, serta modernisasi yang pesat.

Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, dan agama. Berdasarkan rumpun bangsa (ras), Indonesia terdiri atas bangsa asli pribumi yakni Mongoloid Selatan/ Austronesia dan Melanesia di mana bangsa Austronesia yang terbesar jumlahnya dan lebih banyak mendiami Indonesia bagian barat.

Dengan suku Jawa dan suku Sunda membentuk kelompok suku bangsa terbesar dengan populasi mencapai 57% dari seluruh penduduk Indonesia. [24] Semboyan nasional Indonesia, " Bhinneka Tunggal Ika" (Berbeda-beda namun tetap satu), bermakna keberagaman sosial-budaya yang membentuk satu kesatuan/negara. Selain memiliki populasi penduduk yang padat dan wilayah yang luas, Indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah hayati terbesar kedua di dunia.

Indonesia adalah anggota dari Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) dan satu-satunya anggota yang pernah keluar dari PBB, yaitu pada tanggal 7 Januari 1965, dan bergabung kembali pada tanggal 28 September 1966. Indonesia tetap dinyatakan sebagai anggota yang ke-60, keanggotaan yang sama sejak bergabungnya Indonesia pada tanggal 28 September 1950. Selain PBB, Indonesia juga negara anggota dari organisasi ASEAN, KAA, APEC, OKI, G-20 dan sebentar lagi akan menjadi anggota OECD.

Daftar isi • 1 Etimologi • 2 Sejarah • 2.1 Periode prasejarah • 2.2 Periode klasik • 2.3 Periode pertengahan • 2.4 Kolonialisme • 2.5 Kemerdekaan Indonesia • 3 Geografi • 3.1 Iklim • 3.2 Geologi • 3.3 Lingkungan hidup • 4 Politik dan pemerintahan • 4.1 Sistem pemerintahan • 4.2 Hubungan luar negeri • 4.3 Militer • 4.4 Pembagian administratif • 5 Ekonomi • 5.1 Peringkat internasional • 6 Demografi • 6.1 Kependudukan • 6.2 Suku bangsa • 6.3 Bahasa • 6.4 Agama • 6.5 Pendidikan dan kesehatan • 6.6 Indeks Pembangunan Manusia • 7 Berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah • 7.1 Pertunjukan • 7.2 Busana • 7.3 Arsitektur • 7.4 Olahraga • 7.5 Seni musik berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah 7.6 Kuliner • 7.7 Perfilman • 7.8 Kesusastraan • 7.9 Kebebasan pers dan media publik • 8 Lihat pula • 9 Catatan • 10 Referensi • 11 Kepustakaan • 12 Pranala luar Etimologi Lihat pula: Sejarah nama Indonesia Kata "Indonesia" berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu Indus yang merujuk kepada sungai Indus di India dan nesos yang berarti "pulau".

[25] Jadi, kata Indonesia berarti wilayah "kepulauan India", atau kepulauan yang berada di wilayah Hindia; ini merujuk kepada persamaan antara dua bangsa tersebut (India dan Indonesia).

[26] Pada tahun 1850, George Windsor Earl, seorang etnolog berkebangsaan Inggris, awalnya mengusulkan istilah Indunesia dan Malayunesia untuk penduduk "Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu". [27] Murid Earl, James Richardson Logan, menggunakan kata Indonesia sebagai sinonim dari Kepulauan India. [28] [29] Namun, penulisan akademik Belanda di media Hindia Belanda tidak menggunakan kata Indonesia, tetapi istilah Kepulauan Melayu ( Maleische Archipel); Hindia Timur Belanda ( Nederlandsch Oost Indië), atau Hindia ( Indië); Timur ( de Oost); dan bahkan Insulinde (istilah ini diperkenalkan tahun 1860 dalam novel Max Havelaar (1859) yang ditulis oleh Multatuli mengenai kritik terhadap kolonialisme Belanda).

[17] Sejak tahun 1900, nama Indonesia menjadi lebih umum pada lingkungan akademik di luar Belanda, dan golongan nasionalis Indonesia menggunakannya untuk ekspresi politik. [17] Adolf Bastian dari Universitas Berlin memasyarakatkan nama ini melalui buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884–1894.

Pelajar Indonesia pertama yang menggunakannya ialah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), ketika ia mendirikan kantor berita di Belanda yang bernama Indonesisch Pers Bureau pada tahun 1913. [26] Sejarah Artikel utama: Sejarah Indonesia dan Sejarah Nusantara Sejarah Indonesia terdiri dari banyak tahapan/periode.

Secara garis besar, sejarah Indonesia terdiri dari periode prasejarah, periode kuno/klasik, periode pertengahan, periode kolonialisme, periode awal kemerdekaan, dan periode modern. Periode prasejarah Fosil-fosil manusia purba seperti Homo erectus, yang oleh antropolog juga dijuluki " Manusia Jawa", menimbulkan dugaan bahwa kepulauan Indonesia telah mulai berpenghuni pada antara dua juta sampai 500.000 tahun yang lalu.

Namun kebenaran tentang hal ini banyak diperdebatkan. [30] Hingga tahun 75000 Sebelum Masehi, daratan Nusantara bagian barat (kira-kira kepulauan sebelah barat termasuk Sumatra, Jawa, dan Kalimantan sekarang) masih menyatu dengan daratan utama Asia. Pada abad ini pula terjadi erupsi Gunung Toba, yang disebut-sebut sebagai salah satu letusan gunung api terbesar sepanjang sejarah yang menyebabkan perubahan iklim yang dikatakan hampir memusnahkan populasi manusia modern saat itu.

Umat manusia sendiri sebenarnya belum sampai ke Sumatra, gelombang migrasi dari Afrika ikut terhenti untuk sementara akibat erupsi ini. Gunung Toba kemudian tenggelam dan kalderanya membentuk sebuah danau besar dengan nama yang sama. Sekitar 25000 SM, gelombang migrasi pertama manusia modern sampai di dataran Nusantara. Peradaban awal dan kebudayaan awal mulai terbentuk saat zaman Holosen (10.000 tahun Sebelum Masehi) menandai berakhirnya zaman es dan dataran ini mulai terpisah dari daratan utama Asia lalu terpecah hingga membentuk kepulauan Nusantara seperti sekarang.

Sejak saat itu, bangsa Melanesia yang merupakan bangsa manusia modern pertama di Nusantara membentuk kebudayaan-kebudayaan awal. Kedatangan bangsa Austronesia dari daratan Taiwan yang mulai tiba di Nusantara sekitar 2000 tahun SM menyebabkan bangsa Melanesia yang telah ada lebih dahulu di sana terdesak ke wilayah-wilayah yang jauh di timur kepulauan, meskipun ada sebagian yang berasimilasi/akulturasi dengan pendatang tersebut.

[31] Dengan kondisi tanah vulkanis yang subur, melimpahnya keanekaragaman hayati, ditambah dengan kemampuan bercocok tanam yang dimiliki manusia saat itu menyebabkan kegiatan pertanian dan pemukiman mulai terbentuk dan berkembang pesat.

[32] Peradaban-peradaban maju seperti Proto-Melayu dan Deutro-Melayu mulai berkembang pada abad ini. Periode klasik Kerajaan-kerajaan kecil mulai bermunculan sejak awal abad Masehi. Kerajaan Kandis diduga adalah kerajaan tertua yang berada di pulau Sumatra, kira-kira di daerah Riau sekarang.

Namun, keberadaan kerajaan Kandis tidak meninggalkan bukti artefak, dan belum dikorfirmasikan oleh para ahli sejarah. Di Pulau Jawa, berdiri kerajaan Salakanegara, kerajaan Hindu pertama di Nusantara yang terletak di daerah sekitar Cianjur, Jawa Barat, yang diduga mulai berdiri pada tahun 130 Masehi, kemudian berkembang menjadi kerajaan Tarumanegara pada tahun 358 Masehi. Keberadaan kerajaan Salakanegara juga masih diperdebatkan di kalangan ahli.

Sesuai bukti-bukti yang telah diakui para ahli, dua kerajaan tertua adalah Kerajaan Kutai dan kerajaan Tarumanegara pada abad ke-4 Masehi. Kutai berdiri di Kalimantan Timur, diikuti berdirinya dua kerajaan lain di Kalimantan Selatan, yaitu kerajaan Tanjungpuri dan kerajaan Nan Sarunai pada tahun 525 M.

Tarumanegara berdiri di wilayah Barat pulau Jawa. Kerajaan-kerajaan penting lainnya di Sumatra adalah kerajaan Melayu Kuno atau kerajaan Jambi Kuno.

Di Sulawesi juga berdiri kerajaan-kerajaan kecil, di antaranya kerajaan Luwu di Sulawesi Tengah pada tahun 900 Masehi. Kerajaan-kerajaan awal lainnya adalah kerajaan Siang di Sulawesi Selatan dan kerajaan Suwawa di daerah Gorontalo. Pada abad ke-7 Masehi, berdiri Kerajaan Hindu-Buddha Sriwijaya di Sumatra Selatan yang kemudian berkembang menjadi kemaharajaan terbesar dengan masa berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah terlama di Asia Tenggara hingga awal abad ke-11.

Kerajaan ini menguasai sebagian besar Sumatra, Semenanjung Malaya, Jawa, hingga pantai barat dan barat daya Kalimantan. [33] Kerajaan ini juga mengendalikan aktivitas pelayaran dan perdagangan di Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan maritim utama antara India dengan Tiongkok.

Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Sejak saat itu, sejarah Indonesia juga banyak dipengaruhi oleh bangsa-bangsa lain hingga masa-masa berikutnya. Periode pertengahan Pada masa kerajaan Sriwijaya, Dinasti Hindu- Buddha Sanjaya dan Syailendra dari kerajaan Sriwijaya juga mendirikan kerajaan-kerajaan perintis di pulau Jawa bagian tengah.

Kerajaan-kerajaan ini kemudian berkembang menjadi kerajaan-kerajaan besar, yang terdiri dari kerajaan Panjalu/Daha/Kediri (1045–1222), kerajaan Tumapel/Singosari (1222–1292), hingga kerajaan Majapahit (1293–1527). Kerajaan Majapahit selanjutnya berkembang menjadi kemaharajaan terbesar di Nusantara dengan wilayah kekuasaan yang luas meliputi Sumatra bagian tengah dan selatan, semenanjung Malaya, pesisir dan dataran rendah Kalimantan, ujung selatan dan timur Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga ujung barat Papua.

Setelah Majapahit runtuh, kerajaan-kerajaan Islam mulai berkembang pesat di Indonesia. [34] Islam sebenarnya sudah memasuki Indonesia pada abad ke-7 Masehi, namun penyebarannya belum signifikan seperti hanya yang terjadi pada abad ke-15 hingga ke-16.

Agama Islam memasuki Indonesia pertama kali melalui para pedagang dan ulama Arab, dan selanjutnya melalui pedagang Persia dan India (Gujarat). Para pedagang dan pelaut dari Tiongkok beragama muslim di bawah pimpinan Laksamana Cheng Ho juga ikut serta dalam menyebarkan Islam di Indonesia.

[35] Kerajaan Islam pertama (atau disebut kesultanan) yang diketahui adalah Kerajaan Jeumpa yang berdiri di Aceh pada tahun 777 Masehi. Kesultanan ini terletak di daerah pantai utara di sebelah timur Banda Aceh sekarang.

Kesultanan-kesultanan lain yang juga mulai berdiri di Aceh yaitu kesultanan Perlak ( 840–1292) dan kesultanan Lamuri ( 851–1514). Sejak saat itu, Islam mulai memengaruhi kebudayaan Aceh dan daerah Nusantara lainnya pada masa-masa selanjutnya.

[ butuh rujukan] Di Semenanjung Malaya berdiri kesultanan Malaka pada tahun 1405 Masehi. Kesultanan ini kemudian memperluas wilayahnya hingga pesisir Riau. Kesultanan-kesultanan lain di Sumatra juga mulai berdiri dan berkembang seperti kesultanan Samudera Pasai (1267–1521), Kesultanan Pagaruyung (1347–1825), kesultanan Aceh (1507–1903), kesultanan Jambi (1615–1903), dan kesultanan Siak (1723–1945). Kesultanan Aceh adalah kesultanan terkuat di Sumatra. Kesultanan ini berdiri selama 4 abad dan sempat menguasai seluruh Sumatra bagian utara dan tengah (kecuali tanah Batak) dan semenanjung Malaya.

Bahkan Penjajah Belanda sampai kewalahan menghadapi kesultanan ini. Kesultanan pertama di pulau Jawa adalah kesultanan Demak yang berdiri tahun 1475 Masehi. Namun apakah benar bahwa kesultanan Demak adalah kesultanan pertama di Jawa sampai saat ini masih diperdebatkan. Ada yang menyebut bahwa kesultanan pertama di Jawa adalah kerajaan Lumajang, yang berdiri di daerah Lumajang, Jawa Timur pada tahun 1295 Masehi.

Dikatakan pula bahwa kerajaan Lumajang waktu itu sudah mengadopsi Islam. Kerajaan Demak sendiri pada masanya meliputi wilayah seluruh Jawa (kecuali Banten selatan yang merupakan pusat kerajaan Pajajaran yang beragama Hindu), Madura, Sumatra (Jambi, Bengkulu, Palembang, dan Bangka-Belitung), dan pesisir Kalimantan (kecuali pesisir utara yang dikuasai kesultanan Brunei).

Setelah kesultanan Demak, beberapa kesultanan yang berdiri di pulau Jawa yaitu Kerajaan Djipang (1470–1554) kesultanan Banten (1526–1813), kerajaan Pajang (1560–1585), dan kesultanan Mataram (1588–1755). [36] Di Kalimantan, terdapat dua kesultanan besar yang mulai berdiri pada abad ke-14 dan abad ke-16, yaitu Kesultanan Banjar di pesisir selatan dan kesultanan Brunei di pesisir utara.

Kesultanan Banjar sendiri sebelumnya menjadi bawahan kesultanan Demak, dan selama menjadi bawahan Demak pula, kesultanan ini memperluas wilayah pemerintahannya hingga mencakup seluruh pesisir Kalimantan, kecuali pesisir utara yang di bawah pemerintahan Brunei.

Sekitar tahun 1569 hingga 1800-an, kesultanan Banjar terpecah menjadi beberapa kesultanan yang independen. Kesultanan-kesultanan tersebut di antaranya adalah kesultanan Sambas (1671–1950), kesultanan Kutai Kartanegara (1300 — sekarang), kesultanan Landak (1472 – Sekarang), dan kesultanan Bulungan (1731–1964).

[36] Di Sulawesi dan Maluku, terdapat tiga kesultanan besar, yaitu kesultanan Luwu di Sulawesi Selatan, serta kesultanan Ternate dan Tidore di Maluku Utara. Wilayah kesultanan Gowa mencakup Sulawesi bagian selatan dan tengah, sedangkan Sulawesi bagian utara dan timur waktu itu di bawah kesultanan Ternate. Kesultanan Gowa juga meliputi wilayah pulau Lombok dan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat. Kesultanan Ternate sempat memiliki wilayah yang luas meliputi kepulauan Maluku Selatan, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur.

Akan tetapi, Maluku Selatan dan Nusa Tenggara Timur jatuh ke tangan pendatang Spanyol dan Portugis yang berdatangan pada awal abad ke-17. Sementara kesultanan Tidore meliputi Maluku Utara bagian timur hingga pesisir barat dan utara Papua. Sejak abad ke-15 hingga abad ke-19, satu-persatu kerajaan dan kesultanan yang tersisa di Nusantara mulai dikuasai oleh aliansi Uni-Iberia ( Spanyol- Portugis), kemudian VOC, Inggris, dan selanjutnya dikuasai Hindia Belanda selama sekitar tiga abad.

[ butuh rujukan] Kolonialisme Lukisan kekaisaran Belanda yang menggambarkan Hindia Belanda sebagai "Permata kami yang paling berharga". (1916) Indonesia juga merupakan negara yang dijajah oleh banyak negara Eropa dan juga Asia, karena sejak zaman dahulu Indonesia merupakan negara yang kaya akan hasil alamnya yang berlimpah, hingga membuat negara-negara Eropa tergiur untuk menjajah dan bermaksud menguasai sumber daya alam untuk pemasukan bagi negaranya, Negara-negara yang pernah menjajah Indonesia antara lain: • Portugis pada tahun 1509, hanya Maluku, lalu berhasil diusir pada pada tahun 1595.

[ butuh rujukan] • Spanyol pada tahun 1521, hanya Sulawesi Utara, tetapi berhasil diusir pada tahun 1692. [ butuh rujukan] • Belanda pada tahun 1602, sebagian besar wilayah Indonesia. [ butuh rujukan] • Prancis (1795–1811). Prancis menaklukkan Republik Belanda pada 1795 dalam Perang Revolusi Prancis, dan Prancis mendirikan Republik Batavia (1795–1806) dan Kerajaan Hollandia (1806–1810) yang berstatus sebagai negara bawahan Prancis.

Dengan demikian, secara tidak langsung Prancis adalah penguasa tertinggi Hindia Belanda. Pada 1810 Kerajaan Hollandia dileburkan dalam Kekaisaran Pertama Prancis, sehingga wilayah Hindia Belanda menjadi jajahan Prancis secara langsung.

Meskipun demikian pemerintahan dan pertahanan tetap dipegang oleh warga Belanda (termasuk Herman Willem Daendels yang berkuasa 1908–1811 dan dikenal pro-Prancis) Kekuasaan Prancis berakhir pada tahun 1811 ketika Britania mengalahkan kekuatan Belanda-Prancis di pulau Jawa.

[ butuh rujukan] • Britania Raya pada tahun 1811, sejak ditandatanganinya Kapitulasi Tuntang yang salah satunya berisi penyerahan Pulau Jawa dari Belanda kepada Britania, Pada tahun 1814 dilakukanlah Konvensi London yang isinya pemerintah Belanda berkuasa kembali atas wilayah jajahan Britania di Indonesia.

Lalu baru pada tahun 1816, pemerintahan Britania di Indonesia secara resmi berakhir. [ butuh rujukan] • Jepang pada tahun 1942 dan berakhir pada tahun 1945, oleh karena kekalahan Jepang kepada pasukan Sekutu. [ butuh rujukan] Ketika orang-orang Eropa datang pada awal abad ke-16, mereka menemukan beberapa kerajaan yang dengan mudah dapat mereka kuasai demi mendominasi perdagangan rempah-rempah. Portugis pertama kali mendarat di dua pelabuhan Kerajaan Sunda yaitu Banten dan Sunda Kelapa, tetapi dapat diusir dan bergerak ke arah timur dan menguasai Maluku.

Pada abad ke-17, Belanda muncul sebagai yang terkuat di antara negara-negara Eropa lainnya, mengalahkan Britania Raya dan Portugal (kecuali untuk koloni mereka, Timor Portugis). Belanda menguasai Indonesia sebagai koloni hingga Perang Dunia II, awalnya melalui VOC, dan kemudian langsung oleh pemerintah Belanda sejak awal abad ke-19. Di bawah sistem Cultuurstelsel ( Sistem Penanaman) pada abad ke-19, perkebunan besar dan penanaman paksa dilaksanakan di Jawa, akhirnya menghasilkan keuntungan bagi Belanda yang tidak dapat dihasilkan VOC.

Pada masa pemerintahan kolonial yang lebih bebas setelah 1870, sistem ini dihapus. Setelah 1901 pihak Belanda memperkenalkan Kebijakan Beretika, yang termasuk reformasi politik yang terbatas dan investasi yang lebih besar di Hindia Belanda. [36] Pada masa Perang Dunia II, sewaktu Belanda dijajah oleh Jerman, Jepang menguasai Indonesia. Setelah mendapatkan Indonesia pada tahun 1942, Jepang melihat bahwa para pejuang Indonesia merupakan rekan perdagangan yang kooperatif dan bersedia mengerahkan prajurit bila diperlukan.

Soekarno, Mohammad Hatta, KH. Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara diberikan penghargaan oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943. [ butuh rujukan] Kemerdekaan Indonesia Soekarno, presiden pertama Indonesia. Pada Maret 1945 Jepang membentuk sebuah komite untuk kemerdekaan Indonesia. Setelah Perang Pasifik berakhir pada tahun 1945, di bawah tekanan organisasi pemuda, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang pada saat itu sedang bulan Ramadhan.

Setelah kemerdekaan, tiga pendiri bangsa yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir masing-masing menjabat sebagai presiden, wakil presiden, dan perdana menteri. Dalam usaha untuk menguasai kembali Indonesia, Belanda mengirimkan pasukan mereka.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Usaha-usaha berdarah untuk meredam pergerakan kemerdekaan ini kemudian dikenal oleh orang Belanda sebagai 'aksi kepolisian' (politionele actie), atau dikenal oleh orang Indonesia sebagai Agresi Militer.

[37] Belanda akhirnya menerima hak Indonesia untuk merdeka pada 27 Desember 1949 sebagai negara federal yang disebut Republik Indonesia Serikat setelah mendapat tekanan yang kuat dari kalangan internasional, terutama Amerika Serikat. Mosi Integral Natsir pada tanggal 17 Agustus 1950, menyerukan kembalinya negara kesatuan Republik Indonesia dan membubarkan Republik Indonesia Serikat. Soekarno kembali menjadi presiden dengan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden dan Mohammad Natsir sebagai perdana menteri.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pemerintahan Soekarno mulai mengikuti sekaligus merintis gerakan non-blok pada awalnya, kemudian menjadi lebih dekat dengan blok sosialis, misalnya Republik Rakyat Tiongkok dan Yugoslavia. Tahun 1960-an menjadi saksi terjadinya konfrontasi militer terhadap negara tetangga, Malaysia (" Konfrontasi"), [38] dan ketidakpuasan terhadap kesulitan ekonomi yang semakin besar. Selanjutnya pada tahun 1965 meletus kejadian G30S berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah menyebabkan kematian 6 orang jenderal dan sejumlah perwira menengah lainnya.

Muncul kekuatan baru yang menyebut dirinya Orde Baru yang segera menuduh Partai Komunis Indonesia sebagai otak di belakang kejadian ini dan bermaksud menggulingkan pemerintahan yang sah serta mengganti ideologi nasional menjadi berdasarkan paham sosialis- komunis. Tuduhan ini sekaligus dijadikan alasan untuk menggantikan pemerintahan lama di bawah Presiden Soekarno. Jenderal Soeharto menjadi Pejabat Presiden pada tahun 1967 dengan alasan untuk mengamankan negara dari ancaman komunisme.

Sementara itu kondisi fisik Soekarno sendiri semakin melemah. Setelah Soeharto berkuasa, ratusan ribu warga Indonesia yang dicurigai terlibat pihak komunis dibunuh, sementara masih banyak lagi warga Indonesia yang sedang berada di luar negeri, tidak berani kembali ke tanah air, dan akhirnya dicabut kewarganegaraannya.

Tiga puluh dua tahun masa kekuasaan Soeharto dinamakan Orde Baru, sementara masa pemerintahan Soekarno disebut Orde Lama. Soeharto menerapkan ekonomi neoliberal dan berhasil mendatangkan investasi luar negeri yang besar untuk masuk ke Indonesia dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar, meski tidak merata. Pada awal rezim Orde Baru kebijakan ekonomi Indonesia disusun oleh sekelompok ekonom lulusan Departemen Ekonomi Universitas California, Berkeley, yang dipanggil " Mafia Berkeley".

[39] Namun, Soeharto menambah kekayaannya dan keluarganya melalui praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang meluas dan dia akhirnya dipaksa turun dari jabatannya setelah aksi demonstrasi besar-besaran dan kondisi ekonomi negara yang memburuk pada tahun 1998. Masa Peralihan Orde Reformasi atau Era Reformasi berlangsung dari tahun 1998 hingga 2001, ketika terdapat tiga masa presiden: Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati Sukarnoputri.

Pada tahun 2004, diselenggarakan Pemilihan Umum satu hari terbesar di dunia [40] yang dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai presiden terpilih secara langsung oleh rakyat, yang menjabat selama dua periode. Pada tahun 2014, Joko Widodo, yang lebih akrab disapa Jokowi, terpilih sebagai presiden ke-7.

Indonesia kini sedang mengalami masalah-masalah ekonomi, politik dan pertikaian bernuansa agama di dalam negeri, dan beberapa daerah berusaha untuk melepaskan diri dari naungan NKRI, terutama Papua. [ butuh rujukan] Timor Timur secara resmi memisahkan diri pada tahun 1999 setelah 24 tahun bersatu dengan Indonesia dan 3 tahun di bawah administrasi PBB menjadi negara Timor Leste.

Pada Desember 2004 dan Maret 2005, Aceh dan Nias dilanda dua gempa bumi besar yang totalnya menewaskan ratusan ribu jiwa. (Lihat Gempa bumi Samudra Hindia 2004 dan Gempa bumi Sumatra Maret 2005.) Kejadian ini disusul oleh gempa bumi di Yogyakarta dan tsunami yang menghantam Pantai Pangandaran dan sekitarnya, serta banjir lumpur di Sidoarjo pada 2006 yang tidak kunjung terpecahkan.

Geografi Berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah hujan di Taman Nasional Gunung Palung, Provinsi Kalimantan Barat Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang berada di Asia Tenggara, [41] dan terletak di antara benua Asia dan benua Australia/ Oseania, serta di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

Negara ini memiliki 17.504 pulau yang menyebar di sekitar khatulistiwa; sebanyak 16.056 pulau telah dibakukan namanya, [42] dan sekitar 6.000 pulau tidak berpenghuni.

[43] [44] Pulau-pulau besar di Indonesia yaitu Sumatra, Jawa, Kalimantan (berbagi dengan Malaysia dan Brunei Darussalam), Sulawesi, dan Papua (berbagi dengan Papua Nugini). Indonesia berada pada koordinat antara 6° LU – 11° LS dan 95° – 141° BT, [a] serta membentang sepanjang 5.120 kilometer (3.181 mil) dari timur ke barat serta 1.760 kilometer (1.094 mil) dari utara ke selatan. [46] Luas daratan Indonesia adalah 1.916.906,77 km², [47] sementara luas perairannya sekitar 3.110.000 km² dengan garis pantai sepanjang 108 ribu km.

[48] Batas wilayah Indonesia diukur dari kepulauan dengan menggunakan teritorial laut 12 mil laut serta zona ekonomi eksklusif 200 mil laut, [49] searah penjuru mata angin, yaitu: Utara Negara Malaysia dengan perbatasan sepanjang 1.782 km, [43] Singapura, Filipina, dan Laut Tiongkok Selatan Timur Negara Papua Nugini dengan perbatasan sepanjang 820 km, [43] Timor Leste, dan Samudra Pasifik Selatan Negara Australia, Timor Leste, dan Samudra Indonesia Barat Samudra Indonesia Titik tertinggi di Indonesia yaitu Puncak Jaya (4.884 mdpl) di Papua.

[50] Danau Toba di Sumatra Utara merupakan danau terluas di Indonesia sekaligus danau kaldera terbesar di dunia, [51] sedangkan sungai terpanjang di Indonesia yaitu Sungai Kapuas yang berada di Kalimantan Barat. [52] Iklim Peta klasifikasi Iklim Köppen Indonesia.

Secara umum, Indonesia beriklim tropis (kelompok A dalam klasifikasi iklim Köppen; meskipun ada wilayah dengan tipe iklim yang berbeda). [53] [54] Perairan yang hangat di wilayah Indonesia sangat berperan dalam menjaga suhu di darat tetap konstan, dengan rerata suhu di wilayah pesisir sebesar 28 °C, di wilayah pedalaman dan dataran tinggi sebesar 26 °Cserta di wilayah pegunungan sebesar 23 °C.

Kelembapan berkisar antara 70 hingga 90%. [55] Faktor utama yang memengaruhi iklim Indonesia bukanlah suhu udara ataupun tekanan udara, melainkan curah hujan.

Variasi musim di Indonesia, yaitu musim hujan dan musim kemarau, berkaitan dengan pergerakan angin muson. Angin muson barat yang bertiup dari Asia ke Australia melalui Indonesia pada bulan Oktober hingga Februari mengakibatkan curah hujan yang tinggi, terutama di Indonesia bagian barat. Sementara itu, angin muson timur yang bergerak ke arah sebaliknya pada bulan April hingga Agustus tidak banyak membawa uap air dan menurunkan hujan. Selain itu, ada pula musim peralihan ketika matahari melintasi khatulistiwa yang mengakibatkan angin bertiup lemah dan bergerak tak menentu.

[56] [57] Meskipun demikian, tidak semua wilayah Indonesia memiliki pola curah hujan yang sama. Selain daerah musonal, ada pula daerah ekuatorial yang dipengaruhi daerah pertemuan angin antartropis, serta daerah lokal yang polanya berkebalikan dengan pola musonal. [58] [59] Beberapa penelitian memproyeksikan Indonesia terdampak perubahan iklim. [60] Dampak buruk yang ditimbulkan di antaranya kenaikan suhu rata-rata sekitar 1 °C pada pertengahan abad ini akibat emisi yang tidak berkurang, [61] [62] peningkatan frekuensi kekeringan dan kekurangan pangan (akibat perubahan curah hujan dan pola musim yang memengaruhi pertanian), serta berbagai penyakit dan kebakaran hutan.

[62] Naiknya permukaan air laut juga mengancam sebagian besar penduduk Indonesia yang tinggal di daerah pesisir.

[62] [63] [64] Penduduk prasejahtera mungkin merupakan kelompok yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim. [65] Geologi Gunung berapi utama di Indonesia, yang merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik Secara tektonik, sebagian besar wilayah Indonesia sangat tidak stabil karena lokasinya menjadi pertemuan dari beberapa lempeng tektonik, seperti lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Eurasia. Negara ini terletak di Cincin Api Pasifik sehingga memiliki banyak gunung berapi dan sering mengalami gempa bumi.

[66] Busur vulkanik berjajar mulai dari Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, dan kemudian ke Kepulauan Banda di Maluku hingga ke timur laut Sulawesi. [67] Dari sekitar 400 gunung berapi, kurang lebih 130 di antaranya masih aktif. [66] Sebuah letusan supervulkan pada sekitar 77.000 SM yang membentuk Danau Toba dipercaya mengakibatkan musim dingin vulkanik dan penurunan suhu dunia selama bertahun-tahun.

[68] Letusan Tambora pada tahun 1815 dan letusan Krakatau pada 1883 juga termasuk letusan gunung terbesar yang tercatat sepanjang sejarah. [69] [70] Gempa bumi berdorongan besar yang berdampak ke Indonesia dan terjadi belum lama ini adalah gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004. [71] Lingkungan hidup Speses yang endemik di Indonesia. Searah jarum jam dari kiri atas: Padma raksasa, orang utan, cenderawasih kuning-besar, dan komodo. Wilayah Indonesia memiliki keanekaragaman makhluk hidup yang tinggi sehingga dikelompokkan sebagai salah satu dari 17 negara megadiversitas oleh Conservation International.

[72] [73] Dari sudut pandang wilayah biogeografi, Indonesia termasuk dalam wilayah Malesia. Flora dan faunanya merupakan campuran dari spesies khas Asia dan Australasia.

Alfred Russel Wallace, seorang ahli sejarah alam, menghipotesiskan sebuah garis pemisah (yang kemudian disebut garis Wallace) untuk membedakan organisme yang berasal dari Asia ( Paparan Sunda) dan Australia ( Paparan Sahul). Kawasan biogeografi yang menjadi zona transisi di antara kedua paparan ini disebut Wallacea. [74] Selain itu, garis Weber dan garis Lydekker juga digunakan untuk menetapkan batas biogeografi Indonesia. [75] Indonesia memiliki sekitar 10% dari seluruh spesies tumbuhan berbunga di Bumi (sebanyak 25.000 spesies, 55% di antaranya endemik di Indonesia).

Negara ini juga memiliki sekitar 12% spesies mamalia di Bumi (515 spesies) sehingga menempati peringkat kedua pada keanekaragaman mamalia setelah Brasil. Indonesia menempati peringkat keempat pada keanekaragaman spesies reptil (781 spesies) dan primata (35 spesies), peringkat kelima pada keanekaragaman spesies burung (1.592 spesies), serta peringkat keenam pada keanekaragaman spesies amfibi (270 spesies).

[76] Visibilitas yang rendah di Bukittinggi, Sumatra Barat, akibat kabut asap terkait deforestasi. Meskipun demikian, populasi penduduk Indonesia yang besar dan terus meningkat serta industrialisasi yang pesat memunculkan masalah lingkungan hidup yang serius, di antaranya perusakan lahan gambut, deforestasi ilegal berskala besar (yang mengakibatkan kabut asap di beberapa bagian Asia Tenggara), eksploitasi sumber daya laut yang berlebihan, polusi udara, pengelolaan sampah, hingga penyediaan air dan sanitasi yang memadai.

[77] Isu-isu tersebut berkontribusi pada rendahnya peringkat Indonesia (nomor 116 dari 180 negara) dalam Indeks Kinerja Lingkungan 2020. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa kinerja Indonesia secara umum di bawah rata-rata, baik dalam konteks regional maupun global.

[78] Pada tahun 2018, sekitar 49,7% dari luas daratan Indonesia ditutupi oleh hutan, [79] turun dari angka 87% yang dihitung pada tahun 1950. [80] Sejak dasawarsa 1970-an hingga saat ini, produksi kayu bulat serta berbagai tanaman perkebunan dan pertanian bertanggung jawab atas sebagian besar deforestasi di Indonesia. [80] Belakangan ini, deforestasi didorong oleh industri kelapa sawit.

Meskipun dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, industri ini dapat merusak ekosistem dan menimbulkan masalah sosial. [81] Situasi ini menjadikan Indonesia sebagai penghasil emisi gas rumah kaca berbasis hutan terbesar di dunia, [82] serta mengancam kelangsungan hidup spesies asli dan endemik. Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mengidentifikasi sejumlah spesies yang terancam kritis, termasuk jalak bali, [83] orang utan sumatra, [84] dan badak jawa.

[85] Politik dan pemerintahan Istana Negara, salah satu dari enam Istana Kepresidenan di Indonesia Sistem pemerintahan Indonesia merupakan negara kesatuan yang menjalankan pemerintahan republik presidensial multipartai yang demokratis. Konstitusi Indonesia adalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) yang pada era reformasi mengalami empat kali amendemen sehingga membawa perubahan besar pada kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

[86] Salah satu perubahan utama adalah pendelegasian kekuasaan dan wewenang kepada berbagai entitas regional sambil tetap menjadi negara kesatuan. [87] [88] Kekuasaan eksekutif dipegang oleh presiden yang dibantu oleh wakil presiden dan kabinet. Presiden Indonesia merupakan kepala negara dan kepala pemerintahan, sekaligus panglima tertinggi Tentara Nasional Indonesia. Presiden dan wakil presiden dapat menjabat selama lima tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk satu kali masa jabatan.

[89] Joko Widodo dan Ma'ruf Amin adalah pasangan presiden dan wakil presiden yang terpilih untuk masa jabatan 2019–2024. Mereka memimpin Kabinet Indonesia Maju yang terdiri atas 34 menteri dan sejumlah pejabat setingkat menteri.

[90] Lembaga perwakilan tertinggi yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), yang berwenang mengubah dan menetapkan konstitusi, serta melantik dan memberhentikan presiden dan/atau wakil presiden.

[91] Lembaga ini berbentuk bikameral yang terdiri dari 575 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang berasal dari partai politik, ditambah dengan 136 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang merupakan wakil provinsi dari jalur independen. [92] Anggota DPR dan DPD dipilih melalui pemilihan umum dengan masa jabatan lima tahun. Fungsi yang dijalankan oleh DPR yaitu legislasi (membentuk undang-undang), anggaran (membahas dan menyetujui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), dan pengawasan (mengawasi kinerja pemerintah), [93] [94] sedangkan DPD merupakan lembaga legislatif yang lebih dikhususkan pada pengelolaan daerah.

[95] [96] Saat ini, MPR diketuai oleh Bambang Soesatyo, [97] DPR diketuai oleh Puan Maharani, [98] sedangkan DPD diketuai oleh La Nyalla Mattalitti. [99] Kekuasaan kehakiman dijalankan oleh Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK). [100] Sementara itu, Komisi Yudisial mengawasi kinerja para hakim. [101] Hubungan luar negeri Mantan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dengan Barack Obama, Mantan Presiden Amerika Serikat, dalam sebuah acara penyambutan tamu negara di Istana Merdeka pada 2010.

Obama terkenal di Indonesia, karena menghabiskan masa kecilnya di Jakarta. [102] Indonesia memiliki 132 perwakilan diplomatik di luar negeri, termasuk 95 kedutaan. [103] Negara ini memiliki kebijakan politik luar negeri "bebas dan aktif", yang berarti bahwa Indonesia tidak berpihak pada blok-blok kekuatan dan persekutuan militer di dunia, sekaligus bersikap aktif dalam menjaga ketertiban dunia, sebagaimana dinyatakan dalam Pembukaan UUD 1945.

[104] Berlawanan dengan Sukarno yang anti-Imperialisme, antipati terhadap kekuatan barat, dan bersitegang dengan Malaysia, hubungan luar negeri sejak "Orde baru"-nya Suharto didasarkan pada ekonomi dan kerja sama politik dengan negara-negara barat.

[105] Indonesia menjaga hubungan baik dengan tetangga-tetangganya di Asia, dan Indonesia adalah pendiri ASEAN dan East Asia Summit. Indonesia menjalin hubungan kembali dengan Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1990, padahal sebelumnya melakukan pembekuan hubungan sehubungan dengan gejolak anti-komunis di awal kepemerintahan Berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah.

Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-bangsa sejak tahun 1950, [106] dan pendiri Gerakan Non Blok dan Organisasi Kelompok Islam yang sekarang telah menjadi Organisasi Kerjasama Islam. Indonesia telah menandatangani perjanjian ASEAN Free Trade Area, Cairns Group, dan World Trade Organization, dan pernah menjadi anggota OPEC, meskipun Indonesia menarik diri pada tahun 2008 sehubungan Indonesia bukan lagi pengekspor minyak mentah bersih.

Indonesia telah menerima bantuan kemanusiaan dan pembangunan sejak tahun 1966, terutama dari Amerika Serikat, negara-negara Eropa Barat, Australia, dan Jepang. Pemerintah Indonesia telah bekerja sama dengan dunia internasional sehubungan dengan pengeboman yang dilakukan oleh militan Islam dan Al-Qaeda. [107] Pemboman besar menimbulkan korban 202 orang tewas (termasuk 164 turis mancanegara) di Kuta, Bali pada tahun 2012.

[108] Serangan tersebut dan peringatan perjalanan (travel warnings) yang dikeluarkan oleh negara-negara lain, menimbulkan dampak yang berat bagi industri jasa perjalanan/turis dan juga prospek investasi asing. [109] Tetapi beruntung ekonomi Indonesia secara keseluruhan tidak terlalu dipengaruhi oleh hal-hal tersebut di atas, karena Indonesia adalah negara yang ekonomi domestiknya cukup kuat dan dominan. [ butuh rujukan] Militer Artikel utama: Tentara Nasional Indonesia Tentara Nasional Indonesia terdiri dari TNI–AD, TNI-AL (termasuk Marinir) dan TNI-AU.

[110] Berkekuatan 400.000 prajurit aktif, memiliki anggaran 4% dari GDP pada tahun 2006, tetapi terdapat kontroversi bahwa ada sumber-sumber dana dari kepentingan-kepentingan komersial dan yayasan-yayasan yang dilindungi oleh militer. [111] Satu hal baik dari reformasi sejalan dengan mundurnya Suharto adalah mundurnya TNI dari parlemen setelah bubarnya Dwi Fungsi ABRI, walaupun pengaruh militer dalam bernegara masih tetap kuat.

[112] Gerakan separatis di sebagian daerah Aceh dan Papua telah menimbulkan konflik bersenjata, dan terjadi pelanggaran HAM serta kebrutalan yang dilakukan oleh kedua belah pihak. [113] [114] Setelah 30 tahun perseteruan sporadis antara Gerakan Aceh Merdeka dan militer Indonesia, maka persetujuan gencatan senjata terjadi pada tahun 2005. [115] Di Papua, telah terjadi kemajuan yang mencolok, walaupun masih terjadi kekurangan-kekurangan, dengan diterapkannya otonomi, dengan akibat berkurangnya pelanggaran HAM.

[116] Pembagian administratif Papua Saat ini, Indonesia terdiri atas 34 provinsi, 416 kabupaten dan 98 kota, 7.024 daerah setingkat kecamatan, [117] atau 81.626 daerah setingkat desa/ kelurahan.

[118] Di antara ke-34 provinsi tersebut, lima di antaranya memiliki status daerah khusus dan/atau daerah istimewa. Daerah-daerah tersebut ialah Aceh, Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua Barat, Papua, dan Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Provinsi Aceh, Daerah Istimewa Yogyakarta, Provinsi Papua Barat, dan Papua memiliki hak istimewa legislatur yang lebih besar dan tingkat otonomi yang lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya. • Aceh berhak membentuk sistem legal sendiri; dan pada tahun 2003, Aceh mulai menetapkan hukum Syariah. [119] • Yogyakarta mendapatkan status Daerah Istimewa sebagai pengakuan terhadap peran penting Yogyakarta dalam mendukung Indonesia selama Revolusi. [120] • Dan akhirnya " Provinsi Papua" (menurut Undang-Undang tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua), sebelumnya disebut Irian Jaya, mendapat status otonomi khusus tahun 2001.

[121] • Sementara itu, DKI Jakarta adalah daerah khusus ibu kota negara yang menjadi tempat Pemerintah Pusat Indonesia berkedudukan. Wilayah Timor Portugis sempat bergabung ke dalam wilayah Indonesia dan menjadi provinsi Timor Timur pada 1976–1999, yang kemudian memisahkan diri melalui referendum menjadi Negara Timor Leste.

[122] Indonesia memperbolehkan penamaan lokal/khusus untuk digunakan pada daerah-daerah administratif di bawah tingkat kabupaten/kota, sesuai dengan Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah. Beberapa contoh di antaranya ialah kalurahan, kapanewon, kemantren, gampong, kampung, nagari, pekon, dan distrik. Tiap provinsi memiliki DPRD Provinsi dan gubernur; sementara kabupaten memiliki DPRD Kabupaten dan bupati; kemudian kota memiliki DPRD Kota dan wali kota; semuanya dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilu dan Pilkada.

Bagaimanapun di Jakarta tidak terdapat DPR Kabupaten atau Kota, karena Kabupaten Administrasi dan Kota Administrasi di Jakarta bukanlah daerah otonom.Provinsi di Indonesia dan ibu kotanya Berikut ini merupakan provinsi di Indonesia beserta ibu kotanya.

Sumatra • Aceh – Banda Aceh • Sumatra Utara (Sumut) – Medan • Sumatra Barat (Sumbar) – Padang • Riau – Pekanbaru • Kepulauan Riau (Kepri) – Tanjungpinang • Jambi – Jambi • Sumatra Selatan (Sumsel) – Palembang • Kepulauan Bangka Belitung (Babel) – Pangkal Pinang • Bengkulu – Bengkulu • Lampung – Bandar Lampung Jawa • Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) – Jakarta • Banten – Serang • Jawa Barat (Jabar) – Bandung • Jawa Tengah (Jateng) – Semarang • Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) – Yogyakarta [123] • Jawa Timur (Jatim) – Surabaya Kepulauan Nusa Tenggara • Bali – Denpasar • Nusa Tenggara Barat (NTB) – Mataram • Nusa Tenggara Timur (NTT) – Kupang Kalimantan • Kalimantan Barat (Kalbar) – Pontianak • Kalimantan Tengah (Kalteng) – Palangka Raya • Kalimantan Selatan (Kalsel) – Banjarmasin • Kalimantan Timur (Kaltim) – Samarinda • Kalimantan Utara (Kaltara) – Tanjung Selor Sulawesi • Sulawesi Utara (Sulut) – Manado • Gorontalo – Gorontalo • Sulawesi Tengah (Sulteng) – Palu • Sulawesi Barat (Sulbar) – Mamuju • Sulawesi Selatan (Sulsel) – Makassar • Sulawesi Tenggara (Sultra) – Kendari Kepulauan Maluku • Maluku – Ambon • Maluku Utara (Malut) – Sofifi Papua • Papua Barat (PB) – Manokwari • Papua – Jayapura Ekonomi Kurang dari Rp5 juta Sistem ekonomi Indonesia awalnya didukung dengan diluncurkannya Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) pada tanggal 30 Oktober 1946 yang menjadi mata uang pertama Republik Indonesia, yang selanjutnya berganti menjadi Rupiah.

Pada masa pemerintahan Orde Lama, Indonesia tidak seutuhnya mengadaptasi sistem ekonomi kapitalis, namun juga memadukannya dengan nasionalisme ekonomi. Pemerintah yang belum berpengalaman, masih ikut campur tangan ke dalam beberapa kegiatan produksi yang berpengaruh bagi masyarakat banyak. Hal tersebut, ditambah pula kemelut politik, mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan pada ekonomi negara. [124] Uang rupiah. Pemerintahan Orde Baru segera menerapkan disiplin ekonomi yang bertujuan menekan inflasi, menstabilkan mata uang, penjadwalan ulang hutang luar negeri, dan berusaha menarik bantuan dan investasi asing.

[124] Pada era tahun 1970-an harga minyak bumi yang meningkat menyebabkan melonjaknya nilai ekspor, dan memicu tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata yang tinggi sebesar 7% antara tahun 1968 sampai 1981.

[124] Reformasi ekonomi lebih lanjut menjelang akhir tahun 1980-an, antara lain berupa deregulasi sektor keuangan dan pelemahan nilai rupiah yang terkendali, [124] selanjutnya mengalirkan investasi asing ke Indonesia khususnya pada industri-industri berorientasi ekspor pada antara tahun 1989 sampai 1997 [125] Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu, [126] yang disertai pula berakhirnya masa Orde Baru dengan pengunduran diri Presiden Soeharto tanggal 21 Mei 1998.

Saat ini ekonomi Indonesia telah cukup stabil. Pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2004 dan 2005 melebihi 5% dan diperkirakan akan terus berlanjut. [127] Namun, dampak pertumbuhan itu belum cukup besar dalam memengaruhi tingkat pengangguran, yaitu sebesar 9,75%.

[128] [129] Perkiraan tahun 2006, sebanyak 17,8% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan, dan terdapat 49,0% masyarakat yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$ 2 per hari. [130] Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar di luar Jawa, termasuk minyak mentah, gas alam, timah, tembaga, dan emas. Indonesia pengekspor gas alam terbesar kelima [131] di dunia, meski akhir-akhir ini ia telah mulai menjadi pengimpor bersih minyak mentah. Hasil pertanian yang utama termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah, dan karet.

[132] Sektor jasa adalah penyumbang terbesar PDB, yang mencapai 45,3% untuk PDB 2005. Sedangkan sektor industri menyumbang 40,7%, dan sektor pertanian menyumbang 14,0%. [133] Meskipun demikian, sektor pertanian mempekerjakan lebih banyak orang daripada sektor-sektor lainnya, yaitu 44,3% dari 95 juta orang tenaga kerja. Sektor jasa mempekerjakan 36,9%, dan sisanya sektor industri sebesar 18,8%. [134] Rekan perdagangan terbesar Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara jirannya yaitu Malaysia, Singapura dan Australia.

Meski kaya akan sumber daya alam dan manusia, Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam bidang kemiskinan yang sebagian besar disebabkan oleh korupsi yang merajalela dalam pemerintahan. Lembaga Transparency International menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke-143 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi, yang dikeluarkannya pada tahun 2007. [135] Peringkat internasional Organisasi Nama Survei Peringkat Heritage Foundation/ The Wall Street Journal Indeks Kebebasan Ekonomi 69 dari 180 [136] The Economist Indeks Kualitas Hidup 71 dari 111 [137] Reporters Without Borders Indeks Kebebasan Pers 103 dari 168 [138] Transparency International Indeks Persepsi Korupsi 98 dari 180 [139] United Nations Development Programme Indeks Pembangunan Manusia 111 dari 189 [140] Forum Ekonomi Dunia Laporan Daya Saing Global 45 dari 140 [141] Central Connecticut State University Peringkat Literasi Membaca 60 dari 61 [142] Demografi Kependudukan Artikel utama: Demografi Indonesia Menurut sensus 2020, jumlah penduduk Indonesia yaitu 270,20 juta jiwa, yang menjadikannya negara berpenduduk terbanyak keempat di dunia, [143] dengan kepadatan penduduk sebanyak 141 jiwa per km 2 dan rerata laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,25%.

[144] Sebanyak 56,1% penduduk (151,59 juta jiwa) tinggal di Pulau Jawa yang merupakan pulau berpenduduk terbanyak di dunia. [145] Pada tahun 1961, sensus pertama setelah Indonesia merdeka mencatat 97 juta penduduk. [146] Populasi diperkirakan mungkin tumbuh menjadi sekitar 295 juta pada tahun 2030 dan 321 juta pada tahun 2050. [147] Indonesia diperkirakan memiliki usia median 31,1 tahun, [148] dan mulai mengalami bonus demografi, yaitu masa ketika jumlah penduduk usia produktif jauh melebihi penduduk usia nonproduktif.

[149] Sebaran penduduk Indonesia tidak merata, dengan tingkat perkembangan yang bervariasi, mulai dari megakota Jakarta hingga suku-suku tak terjamah di Papua. [150] Pada 2017, sekitar 54,7% populasi tinggal di kawasan perkotaan. [151] Sekitar 8 juta orang Indonesia tinggal di luar negeri; sebagian besar dari mereka menetap di Malaysia, Belanda, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Hong Kong, Singapura, Amerika Serikat, dan Australia.

[152] Secara legal, status kewarganegaraan diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006. Warga Negara Indonesia (WNI) diberikan kartu identitas berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang mendaftarkan seseorang di suatu wilayah administratif tertentu.

Status kewarganegaraan Indonesia dapat diperoleh malalui kelahiran, adopsi, perkawinan, atau pewarganegaraan. [153] • l • b • s Kota-kota besar di Indonesia Kota Provinsi Populasi Kota Provinsi Populasi 1 Jakarta Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10.562.088 Indonesia 7 Makassar Sulawesi Selatan 1.423.877 2 Surabaya Jawa Timur 2.874.314 8 Batam Kepulauan Riau 1.196.396 3 Bandung Jawa Barat 2.444.160 9 Bandar Lampung Lampung 1.166.066 4 Medan Sumatra Utara 2.435.252 10 Pekanbaru Riau 983.356 5 Semarang Jawa Tengah 1.729.428 11 Padang Sumatra Barat 909.040 6 Palembang Sumatera Selatan 1.668.848 12 Malang Jawa Timur 843.810 Sumber: Sensus Penduduk BPS, 2020.

Catatan: Tidak termasuk Kota satelit. Peta suku bangsa di Indonesia Indonesia merupakan negara yang kaya akan kelompok etnik, dengan sekitar 1.340 suku bangsa. [154] Sebagian besar penduduk Indonesia merupakan keturunan Bangsa Austronesia, [155] dan terdapat juga kelompok-kelompok suku Melanesia, serta kemungkinan Polinesia dan Mikronesia, terutama di Indonesia bagian timur. [156] Banyak penduduk Indonesia yang mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya Suku Jawa, Sunda, Melayu, Batak, Madura, dan lainnya.

[157] Menurut sensus 2010, sekitar 40-42% penduduk merupakan suku Jawa yang menghuni hampir seluruh wilayah Indonesia sebagai akibat program transmigrasi. [158] Meskipun demikian, rasa kebangsaan Indonesia dipegang oleh warga negara Indonesia bersama dengan identitas regional yang kuat.

[159] Istilah bumiputra dan pribumi pernah digunakan untuk menyebut kelompok orang yang berbagi warisan sosial budaya yang sama dan dianggap sebagai penduduk asli Indonesia. [160] Pada tahun 1998, Presiden B.J. Habibie menginstruksikan untuk menghentikan penggunaan istilah pribumi dan nonpribumi dalam kehidupan bernegara. [161] [162] Sejumlah etnis Asia daratan, seperti etnis Tionghoa, Arab, dan India, sudah lama datang ke Nusantara dan kemudian menetap dan berasimilasi menjadi bagian dari Nusantara.

Sensus 2010 mencatat ada sekitar 5 juta WNI yang dikelompokkan sebagai etnis Tionghoa yang tersebar merata di hampir seluruh wilayah di Indonesia ( terutama perkotaan) dan 3 juta jiwa dikelompokkan sebagai etnis Arab yang khususnya berada di pulau Jawa, Sumatera, sebagian Kalimantan dan sebagian Sulawesi. Sedangkan untuk orang keturunan India populasinya hanya sekitar ratusan ribu saja yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia seperti: Medan, Jakarta, Pekanbaru, dan Banda Aceh.

Di beberapa tempat khususnya di kota Medan, terdapat wilayah dengan orang beretnis/keturunan India yang cukup signifikan yakni di little India & kampung madhras. [163] Bahasa Gedung Pusat Bahasa, lembaga yang menjadi pusat perbendaharaan bahasa di Indonesia. Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, [164] [165] yang berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah umum dipertuturkan oleh mayoritas penduduk Indonesia sebagai bahasa ibu dan bahasa sehari-hari. [166] Sebagian besar bahasa daerah tersebut termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia, dan di samping itu, ada lebih dari 270 bahasa Papua yang digunakan di Indonesia bagian timur.

berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah

{INSERTKEYS} [167] Menurut jumlah penuturnya, bahasa daerah yang paling banyak digunakan sehari-hari secara berturut-turut adalah Jawa, Sunda, Melayu, Madura, Batak, Minangkabau, Bugis, Betawi, dan Banjar. [168] Bahasa resmi negara ini adalah bahasa Indonesia, yang merupakan salah satu dari banyak varietas bahasa Melayu. [169] Bahasa Indonesia diajukan sebagai bahasa persatuan sejak masa pergerakan kemerdekaan Indonesia melalui Sumpah Pemuda dan ditetapkan oleh konstitusi pada 1945.

[170] Campur tangan negara terhadap bahasa nasional diselenggarakan melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. [171] Beberapa bahasa asing diajarkan dalam pendidikan formal. Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional telah diperkenalkan kepada para pelajar mulai jenjang pendidikan dasar. [172] Bahasa asing lainnya, seperti bahasa Jerman, Prancis, dan Jepang, diajarkan di sejumlah sekolah sebagai pelengkap pada jenjang sekolah menengah atas.

[173] Bagi penganut agama Islam yang menjadi kaum mayoritas di Indonesia, [174] bahasa Arab adalah bahasa asing yang memiliki kedudukan khusus karena harus dipraktikkan dalam ibadah harian tertentu, misalnya salat, [175] dan diajarkan di madrasah ibtidaiah dan jenjang selanjutnya. [176] Meskipun demikian, bahasa Arab tidak menjadi bahasa pergaulan umum sejak periode awal keberadaannya di Indonesia. [177] Agama Artikel utama: Agama di Indonesia Meskipun menjamin kebebasan beragama dalam konstitusi, [178] pemerintah hanya mengakui enam agama resmi: Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu: sementara itu, penganut agama tradisional ataupun agama-agama lainnya hanya mendapatkan pengakuan terbatas sebagai "penghayat kepercayaan".

[179] [180] Dengan 231 juta penganut pada tahun 2018, Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia. Sebanyak sekitar hampir 30 juta penduduk Indonesia atau lebih tepatnya 28,6 juta jiwa menganut agama Kristen, dimana 20,2 juta penduduk merupakan penganut aliran Kristen Protestan sedangkan 8,3 juta penganut Kristen Katolik, 4,7 juta penganut Hindu, 2 juta penganut Buddha, 81 ribu penganut Konghucu, dan 108 ribu penganut aliran kepercayaan lainnya ( terutama agama tradisional/lokal).

[174] Agama Islam dipeluk oleh hampir seluruh warga Indonesia (sekitar 86,70%), Agama Kristen (Protestan & Katolik) kebanyakkan dipeluk oleh beberapa suku, yakni: Batak, Toraja, Dayak, Nias, Minahasa, Ambon, dan lainnya. Kebanyakan pemeluk Hindu adalah Suku Bali dan Orang keturunan India di Indonesia [181] serta kebanyakan pemeluk Buddha dan Konghucu adalah orang Tionghoa-Indonesia.

[182] Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, sebuah kuil Hindu yang didedikasikan untuk Prabu Siliwangi. Agama Hindu memberikan warisan seni dan budaya Indonesia. Penduduk asli Indonesia pada awalnya mempraktikkan animisme, paganisme dan dinamisme lokal, yang merupakan kepercayaan umum bangsa Austronesia. Mereka menyembah roh leluhur dan percaya bahwa roh gaib ( hyang) mungkin menghuni tempat-tempat tertentu, seperti pohon besar, batu, hutan, gunung, atau tempat keramat.

[183] Contoh kepercayaan asli Indonesia di antaranya Sunda Wiwitan, Kaharingan, dan Kejawen. Mereka memberikan dampak yang signifikan pada penerapan agama-agama lain, seperti abangan Jawa, Hindu Bali, dan Kristen Dayak, yang dipraktikkan sebagai bentuk agama yang kurang ortodoks dan sinkretis. [184] [185] Pengaruh agama Hindu mencapai Nusantara pada awal abad pertama Masehi.

[186] Kerajaan Salakanagara di Jawa Barat sekitar tahun 130 merupakan kerajaan terkait India Raya pertama yang tercatat dalam sejarah Nusantara. [187] Agama Buddha tiba sekitar abad ke-6, [188] dan sejarahnya di Indonesia berhubungan erat dengan agama Hindu karena kedua agama ini dianut oleh beberapa kerajaan pada periode yang sama. Nusantara mengalami kebangkitan dan kejatuhan kerajaan Hindu dan Buddha yang kuat dan berpengaruh, seperti Majapahit, Sailendra, Sriwijaya, dan Medang.

Meski tidak lagi menjadi mayoritas, agama Hindu dan Buddha tetap memiliki pengaruh besar pada budaya Indonesia. [189] [190] Agama Islam diperkenalkan oleh para pedagang Suni dari mazhab Syafi'i serta para pedagang Sufi dari anak benua India dan Arab Selatan pada awal abad ke-8 M.

[191] [192] Pada sebagian besar perkembangannya, Islam mengalami pencampuran dan saling memengaruhi budaya yang ada sehingga menghasilkan bentuk Islam dengan ciri tersendiri, seperti adanya pesantren. [193] [194] Perdagangan dan aktivitas dakwah seperti yang dilakukan oleh Wali Songo dan penjelajah Tiongkok Cheng Ho, serta kampanye militer oleh beberapa kesultanan membantu mempercepat penyebaran Islam.

[195] [192] Ibadah misa umat Katolik di Gereja Katedral Jakarta Agama Katolik dibawa oleh para pedagang dan misionaris Portugis seperti Yesuit Fransiskus Xaverius, yang mengunjungi dan membaptis beberapa ribu penduduk setempat. [196] [197] Penyebarannya menghadapi kesulitan karena kebijakan Perusahaan Hindia Timur Belanda yang melarang agama dan permusuhan oleh Belanda sebagai akibat dari Perang Delapan Puluh Tahun melawan pemerintahan Katolik Spanyol. Protestantisme, sebagian besar, merupakan hasil dari upaya misionaris Calvinis dan Lutheran selama era kolonial Belanda.

[198] [199] [200] Meskipun keduanya merupakan cabang Kekristenan yang paling umum, ada banyak denominasi lain di negara ini. [201] Jumlah penganut agama Yahudi cukup besar di Nusantara setidaknya sampai tahun 1945, yang kebanyakan merupakan orang Belanda dan orang Yahudi Baghdadi. Sebagian besar di antara mereka meninggalkan Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan dan agama Yahudi tidak pernah mendapatkan status resmi.

Saat ini hanya sejumlah kecil orang Yahudi di Indonesia, yang kebanyakan berada di Jakarta dan Surabaya. [202] Pada tingkat nasional dan regional, kepemimpinan dalam politik dan kelompok masyarakat sipil di Indonesia telah memainkan peran penting dalam hubungan antaragama, baik secara positif maupun negatif.

Sila pertama Pancasila yang merupakan landasan filosofis Indonesia, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, sering menjadi pengingat toleransi beragama, [203] meskipun kasus-kasus intoleransi juga telah terjadi.

[204] Sebagian besar orang Indonesia menganggap agama sebagai hal yang esensial dan bagian integral dari kehidupan. [205] [206] Pendidikan dan kesehatan Artikel utama: Pendidikan di Indonesia dan Kesehatan di Indonesia Sesuai dengan konstitusi yang berlaku, [207] serta Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pemerintah Indonesia baik pusat maupun daerah wajib mengalokasikan anggaran untuk pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD di luar gaji pendidik dan biaya kedinasan.

Semua penduduk wajib mengikuti program wajib belajar sembilan tahun, yang meliputi enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah menengah pertama. [208] Pada 2018, tingkat partisipasi penduduk sebesar 93% untuk pendidikan dasar, 79% untuk pendidikan menengah, dan 36% untuk pendidikan tinggi, sementara tingkat melek huruf adalah 96%.

[209] Pemerintah menghabiskan sekitar 3,6% dari PDB atau 20,5% dari anggaran negara (2015) untuk pendidikan. [209] Pada tahun 2018, terdapat lebih dari 4.500 perguruan tinggi di Indonesia, [210] dengan universitas terkemuka (seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, dan lainnya) berlokasi di Pulau Jawa. [211] Anggaran pemerintah untuk sektor kesehatan adalah sekitar 3,3% dari PDB pada tahun 2016.

[212] Sebagai bagian dari upaya mencapai cakupan kesehatan semesta, pemerintah meluncurkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada tahun 2014. [213] Meskipun ada peningkatan yang luar biasa dalam beberapa dekade terakhir seperti meningkatnya angka harapan hidup (dari 62,3 tahun pada tahun 1990 menjadi 71,7 tahun pada tahun 2019) [214] dan penurunan kematian anak (dari 84 kematian per 1.000 kelahiran pada tahun 1990 menjadi 25,4 kematian pada tahun 2017), [215] Indonesia terus-menerus menghadapi berbagai tantangan, seperti kesehatan ibu dan anak, kualitas udara yang rendah, kurang gizi, tingginya tingkat merokok, dan penyakit menular.

[216] Indeks Pembangunan Manusia Artikel utama: Indeks Pembangunan Manusia Indonesia Menurut UNDP, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia mencapai angka 0,707 [140] pada Laporan Pembangunan Manusia 2019 untuk perkiraan IPM tahun 2018 dan menempati status tinggi, sedangkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS), IPM Indonesia tahun 2020 telah mencapai angka 71,94 (0,719) [217] dan menempati status tinggi pada tahun 2016. Perbedaan IPM yang dilaporkan UNDP melalui Human Development Report (HDR) dengan BPS terletak pada besarnya angka IPM dan perincian.

Selama ini, memang perbedaan angka IPM sudah dianggap lazim. Namun, sejak sekitar tahun 2011, perbedaan angka IPM UNDP dan BPS meningkat secara signifikan. Dalam perihal perincian, karena UNDP melaporkan dalam tingkat internasional, laporan IPM Indonesia tidak dilaporkan hingga tingkat yang lebih rendah. Sebaliknya, karena BPS hanya melaporkan di tingkat nasional, BPS lebih memerinci, bahkan hingga IPM di tingkat kota/kabupaten dalam laporan beberapa tahun (laporan IPM hingga tingkat kota/kabupaten jarang).

Namun, yang selalu dilaporkan di bawah tingkat nasional tentunya adalah laporan IPM di tingkat provinsi/daerah. Berikut ini adalah daftar provinsi Indonesia menurut IPM tahun 2020 dibandingkan tahun 2019 menurut BPS. [217] Peringkat Provinsi IPM Perubahan (%) Pembangunan Manusia Sangat Tinggi 1 Daerah Khusus Ibukota Jakarta 80,77 (0,808) 0,01 (0,01%) Pembangunan Manusia Tinggi 2 Daerah Istimewa Yogyakarta 79,97 (0,800) -0,02 (-0,03%) 3 Kalimantan Timur 76,24 (0,762) -0,37 (-0,48%) 4 Kepulauan Riau 75,59 (0,756) 0,11 (0,15%) 5 Bali 75,5 (0,755) 0,12 (0,16%) 6 (1) Sulawesi Utara 72,93 (0,729) -0,06 (-0,08%) 7 (1) Riau 72,71 (0,727) -0,29 (-0,40%) 8 Banten 72,45 (0,725) 0,01 (0,01%) 9 Sumatera Barat 72,38 (0,724) -0,01 (-0,01%) 10 Jawa Barat 72,09 (0,721) 0,06 (0,08%) 11 Aceh 71,99 (0,720) 0,09 (0,13%) Indonesia 71,94 (0,719) 0,02 (0,03%) 12 (2) Sulawesi Selatan 71,93 (0,719) 0,27 (0,38%) 13 Jawa Tengah 71,87 (0,719) 0,14 (0,20%) 14 (2) Sumatera Utara 71,77 (0,718) 0,03 (0,04%) 15 Jawa Timur 71,71 (0,717) 0,21 (0,29%) 16 Kepulauan Bangka Belitung 71,47 (0,715) 0,17 (0,24%) 17 (2) Sulawesi Tenggara 71,45 (0,715) 0,25 (0,35%) 18 Bengkulu 71,4 (0,714) 0,19 (0,27%) 19 (2) Jambi 71,29 (0,713) 0,03 (0,04%) 20 (1) Kalimantan Tengah 71,05 (0,711) 0,14 (0,20%) 21 (1) Kalimantan Selatan 70,91 (0,709) 0,19 (0,27%) 22 (2) Kalimantan Utara 70,63 (0,706) -0,52 (-0,73%) 23 Sumatera Selatan 70,01 (0,700) -0,01 (-0,01%) Pembangunan Manusia Sedang 24 Lampung 69,69 (0,697) 0,12 (0,17%) 25 Sulawesi Tengah 69,55 (0,696) 0,05 (0,07%) 26 Maluku 69,49 (0,695) 0,04 (0,06%) 27 (1) Gorontalo 68,68 (0,687) 0,19 (0,28%) 28 (1) Maluku Utara 68,49 (0,685) -0,21 (-0,31%) 29 Nusa Tenggara Barat 68,25 (0,683) 0,11 (0,16%) 30 Kalimantan Barat 67,66 (0,677) 0,01 (0,01%) 31 Sulawesi Barat 66,11 (0,661) 0,38 (0,58%) 32 Nusa Tenggara Timur 65,19 (0,652) -0,04 (-0,06%) 33 Papua Barat 65,09 (0,651) 0,39 (0,60%) 34 Papua 60,44 (0,604) -0,40 (-0,66%) Budaya Wayang Kulit warisan budaya Jawa.

Indonesia memiliki sekitar 300 kelompok etnis, tiap etnis memiliki warisan budaya yang berkembang selama berabad-abad, dipengaruhi oleh kebudayaan India, Arab, Tiongkok, Eropa, dan termasuk kebudayaan sendiri yaitu Melayu. Contohnya tarian Jawa dan Bali tradisional memiliki aspek budaya dan mitologi Hindu, seperti Wayang Kulit yang menampilkan kisah-kisah tentang kejadian mitologis Hindu Ramayana dan Baratayuda. Banyak juga seni tari yang berisikan nilai-nilai Islam.

Beberapa di antaranya dapat ditemukan di daerah Sumatra seperti tari Ratéb Meuseukat, Tari Saman, dan tari Seudati dari Aceh. Seni pantun, gurindam, dan sebagainya dari pelbagai daerah seperti pantun Melayu, dan pantun-pantun lainnya acapkali dipergunakan dalam acara-acara tertentu yaitu perhelatan, pentas seni, dan lain-lain. Busana Seorang gadis Palembang tengah mengenakan Songket, salah satu busana tradisional Indonesia. Di bidang busana warisan budaya yang terkenal di seluruh dunia adalah kerajinan Batik.

Beberapa daerah yang terkenal akan industri Batik meliputi Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Pandeglang, Garut, Tasikmalaya dan juga Pekalongan. Kerajinan Batik ini pun diklaim oleh negara lain dengan industri Batiknya.

[218] Busana asli Indonesia dari Sabang sampai Merauke lainnya dapat dikenali dari ciri-cirinya yang dikenakan di setiap daerah antara lain baju Kurung dengan Songketnya dari Sumatra Barat ( Minangkabau), kain Ulos dari Sumatra Utara ( Batak), busana Kebaya, busana khas Dayak di Kalimantan, baju Bodo dari Sulawesi Selatan, busana Koteka dari Papua dan sebagainya.

Arsitektur Lukisan Candi Prambanan yang berasal dari masa pemerintahan Raffles. Arsitektur Indonesia mencerminkan keanekaragaman budaya, sejarah, dan geografi yang membentuk Indonesia seutuhnya. Kaum penyerang, penjajah, penyebar agama, pedagang, dan saudagar membawa perubahan budaya dengan memberi dampak pada gaya dan teknik bangunan.

Tradisionalnya, pengaruh arsitektur asing yang paling kuat adalah dari India. Tetapi, Tiongkok, Arab, dan sejak abad ke-19 pengaruh Eropa menjadi cukup dominan. Ciri khas arsitektur Indonesia kuno masih dapat dilihat melalui rumah-rumah adat dan/atau istana-istana kerajaan dari tiap-tiap provinsi. Taman Mini Indonesia Indah, salah satu objek wisata di Jakarta yang menjadi miniatur Indonesia, menampilkan keanekaragaman arsitektur Indonesia itu.

Beberapa bangunan khas Indonesia misalnya Rumah Gadang, Monumen Nasional, dan Bangunan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan di Institut Teknologi Bandung. Olahraga Maria Kristin Yulianti (merah), peraih medali perunggu pada Olimpiade Beijing 2008. Olahraga yang paling populer di Indonesia adalah sepak bola dan bulu tangkis. [ butuh rujukan] Gojek Traveloka Liga 1 adalah liga klub sepak bola utama di Indonesia.

[ butuh rujukan] Olahraga tradisional Indonesia termasuk sepak takraw dan karapan sapi. Di wilayah dengan sejarah perang antar suku, kontes pertarungan diadakan, seperti caci di Flores, dan pasola di Sumba. Pencak silat adalah seni bela diri yang unik yang berasal dari wilayah Indonesia.

Seni bela diri ini kadang-kadang ditampilkan pada acara-acara pertunjukkan yang biasanya diikuti dengan musik tradisional Indonesia berupa Gamelan dan seni musik tradisional lainnya sesuai dengan daerah asalnya. Olahraga di Indonesia biasanya berorientasi pada pria dan olahraga spektator sering berhubungan dengan judi yang ilegal di Indonesia.

[219] Di ajang kompetisi multi cabang, prestasi atlet-atlet Indonesia tidak terlalu mengesankan. Di Olimpiade, prestasi terbaik Indonesia diraih pada saat Olimpiade 1992, di mana Indonesia menduduki peringkat 24 dengan meraih 2 emas 2 perak dan 1 perunggu, kelima medali tersebut diraih melalui cabang bulu tangkis. Pada era 1960 hingga 2000, Indonesia merajai bulu tangkis. Atlet-atlet putra Indonesia seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ricky Subagja, dan Rexy Mainaky merajai kejuaraan-kejuaraan dunia.

Rudi Hartono yang dianggap sebagai maestro bulu tangkis dunia, menjadi juara All England terbanyak sepanjang sejarah perbulu tangkisan Indonesia. Ia meraih 8 gelar juara, dengan 7 gelar diraihnya secara berturut-turut. Selain bulu tangkis, atlet-atlet tinju Indonesia juga mampu meraih gelar juara dunia, seperti Elyas Pical, Nico Thomas, [220] dan Chris John. [221] dalam ajang sepak bola internasional, Timnas Indonesia (Hindia Belanda) merupakan tim Asia pertama yang berpartisipasi di Piala Dunia pada tahun 1938 di Prancis.

[222] Seni musik Artikel utama: Musik Indonesia Seni musik di Indonesia, baik tradisional maupun modern sangat banyak terbentang dari Sabang hingga Merauke. Setiap provinsi di Indonesia memiliki musik tradisional dengan ciri khasnya tersendiri. Musik tradisional termasuk juga Keroncong yang berasal dari keturunan Portugis di daerah Tugu, Jakarta, [223] yang dikenal oleh semua rakyat Indonesia bahkan hingga ke mancanegara. Ada juga musik yang merakyat di Indonesia yang dikenal dengan nama dangdut yaitu musik beraliran Melayu modern yang dipengaruhi oleh musik India sehingga musik dangdut ini sangat berbeda dengan musik tradisional Melayu yang sebenarnya, seperti musik Melayu Deli, Melayu Riau, dan sebagainya.

Seperangkat Gamelan Alat musik tradisional yang merupakan alat musik khas Indonesia memiliki banyak ragam dari pelbagai daerah di Indonesia, namun banyak pula alat musik tradisional Indonesia yang diklaim oleh negara lain [224] untuk kepentingan penambahan budaya dan seni musiknya sendiri dengan mematenkan hak cipta seni dan warisan budaya Indonesia ke lembaga Internasional UNESCO.

Alat musik tradisional Indonesia antara lain meliputi: • Angklung • Bende • Calung • Dermenan • Gamelan • Gandang Tabuik • Gendang Bali • Gendang Karo • Gondang Batak • Gondang (musik Sunda) • Gong Kemada • Gong Lambus • Jidor • Kecapi Suling • Kecapi Batak • Kendang Jawa • Kenong • Kulintang • Rebab • Rebana • Saluang • Saron • Sasando • Serunai • Seurune Kale • Suling Lembang • Suling Batak • Suling Sunda • Talempong • Tanggetong • Tifa, dan sebagainya Kuliner Beberapa makanan Indonesia: soto ayam, sate kerang, telor pindang, perkedel dan es teh manis.

Masakan Indonesia bervariasi bergantung pada wilayahnya. [225] Nasi adalah makanan pokok dan dihidangkan dengan lauk daging dan sayur.

Bumbu (terutama cabai), santan, ikan, dan ayam adalah bahan yang penting. [226] Sepanjang sejarah, Indonesia telah menjadi tempat perdagangan antara dua benua. Ini menyebabkan terbawanya banyak bumbu, bahan makanan dan teknik memasak dari bangsa Melayu sendiri, India, Timur tengah, Tionghoa, dan Eropa. Semua ini bercampur dengan ciri khas makanan Indonesia tradisional, menghasilkan banyak keanekaragaman yang tidak ditemukan di daerah lain.

Bahkan bangsa Spanyol dan Portugis, telah mendahului bangsa Belanda dengan membawa banyak produk dari dunia baru ke Indonesia. [ butuh rujukan] Sambal, sate, bakso, soto, dan nasi goreng merupakan beberapa contoh makanan yang biasa dimakan masyarakat Indonesia setiap hari.

[227] Selain disajikan di warung atau restoran, terdapat pula aneka makanan khas Indonesia yang dijual oleh para pedagang keliling menggunakan gerobak atau pikulan. Pedagang ini menyajikan bubur ayam, mie ayam, mi bakso, mi goreng, nasi goreng, aneka macam soto, siomay, sate, nasi uduk, dan lain-lain. Rumah makan Padang yang menyajikan nasi Padang, yaitu nasi disajikan bersama aneka lauk-pauk Masakan Padang, mudah ditemui di berbagai kota di Indonesia.

[ butuh rujukan] Selain itu Warung Tegal yang menyajikan masakan Jawa khas Tegal dengan harga yang terjangkau juga tersebar luas. [ butuh rujukan] Nasi rames atau nasi campur yang berisi nasi beserta lauk atau sayur pilihan dijual di warung nasi di tempat-tempat umum, seperti stasiun kereta api, pasar, dan terminal bus.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya dikenal nasi kucing sebagai nasi rames yang berukuran kecil dengan harga murah, nasi kucing sering dijual di atas angkringan, sejenis warung kaki lima. Penganan kecil semisal kue-kue banyak dijual di pasar tradisional. Kue-kue tersebut biasanya berbahan dasar beras, ketan, ubi kayu, ubi jalar, terigu, atau sagu.

Perfilman Artikel utama: Perfilman Indonesia Film pertama yang diproduksi pertama kalinya di nusantara adalah film bisu tahun 1926 yang berjudul Loetoeng Kasaroeng dan dibuat oleh sutradara Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp pada zaman Hindia Belanda.

[ butuh rujukan] Film ini dibuat dengan aktor lokal oleh Perusahaan Film Jawa NV di Bandung dan muncul pertama kalinya pada tanggal 31 Desember, 1926 di teater Elite and Majestic, Bandung. Setelah itu, lebih dari 2.200 film diproduksi. Pada masa awal kemerdekaan, sineas-sineas Indonesia belum banyak bermunculan. Di antara sineas yang ada, Usmar Ismail merupakan salah satu sutradara paling produktif, dengan film pertamanya Harta Karun (1949).

[ butuh rujukan] Namun kemudian film pertama yang secara resmi diakui sebagai film pertama Indonesia sebagai negara berkedaulatan adalah film Darah dan Doa (1950) yang disutradarai Usmar Ismail.

Dekade 1970 hingga 2000-an, Arizal muncul sebagai sutradara film paling produktif. Tak kurang dari 52 buah film dan 8 judul sinetron dengan 1.196 episode telah dihasilkannya. [ butuh rujukan] Popularitas industri film Indonesia memuncak pada tahun 1980-an dan mendominasi bioskop di Indonesia, [228] meskipun kepopulerannya berkurang pada awal tahun 1990-an.

Antara tahun 2000 hingga 2005, jumlah film Indonesia yang dirilis setiap tahun meningkat. [228] Film Laskar Pelangi (2008) yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata menjadi film terlaris Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah perfilman Indonesia hingga tahun 2016. [229] Kesusastraan Artikel utama: Sastra Indonesia Bukti tulisan tertua di Indonesia adalah berbagai prasasti berbahasa Sanskerta pada abad ke-5 Masehi.

[ butuh rujukan] Figur penting dalam sastra modern Indonesia termasuk: pengarang Belanda Multatuli yang mengkritik perlakuan Belanda terhadap Indonesia selama zaman penjajahan Belanda; Muhammad Yamin dan Hamka yang merupakan penulis dan politikus pra-kemerdekaan; [230] dan Pramoedya Ananta Toer, pembuat novel Indonesia yang paling terkenal.

[231] Selain novel, sastra tulis Indonesia juga berupa puisi, pantun, dan sajak. Chairil Anwar merupakan penulis puisi Indonesia yang paling ternama. Banyak orang Indonesia memiliki tradisi lisan yang kuat, yang membantu mendefinisikan dan memelihara identitas budaya mereka. [232] Kebebasan pers dan media publik Artikel utama: Kebebasan pers di Indonesia Kebebasan pers di Indonesia meningkat setelah berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto. Jaringan televisi publik TVRI bersaing dengan jaringan televisi swasta nasional dan stasiun daerah; begitu pula dengan jaringan radio publik RRI yang bersaing dengan jaringan radio swasta yang menyiarkan berita dan hiburan.

Dilaporkan terdapat 20 juta pengguna internet di Indonesia pada tahun 2007. [233] Hingga tahun 2014, Jumlah pengguna internet bertambah pesat menjadi 83,7 juta orang atau terbanyak keenam di dunia.

[234] • ^ "Pancasila" (dalam bahasa Inggris). Perpustakaan Kongres Amerika Serikat. 3 Februari 2017. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 Februari 2017 . Diakses tanggal 5 Februari 2017. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Vickers 2005, hlm.

117. • ^ Simons, Gary F.; Fennig, Charles D. "Ethnologue: Languages of the World, Twenty-first edition" (dalam bahasa Inggris). SIL International . Diakses tanggal 20 September 2018. • ^ Na'im, Akhsan; Syaputra, Hendry (Agustus 2010). "Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia" (PDF). Badan Pusat Statistik (BPS). Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 23 September 2015 . Diakses tanggal 23 September 2015.

• ^ "Mengulik Data Suku di Indonesia". Badan Pusat Statistik. 18 November 2015 . Diakses tanggal 1 Januari 2021. • ^ "Statistik Umat Menurut Agama di Indonesia". Kementerian Agama Republik Indonesia. 15 Mei 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 September 2020 . Diakses tanggal 24 September 2020. • ^ "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut Indonesia".

BPS. 15 Mei 2010 . Diakses tanggal 29 September 2020. • ^ a b "UN Statistics" (PDF) (dalam bahasa Inggris). Perserikatan Bangsa-Bangsa. 2005. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 31 Oktober 2007 . Diakses tanggal 31 Oktober 2007. • ^ " "World Population prospects – Population Division "". population.un.org (dalam bahasa Inggris). Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa, Divisi Kependudukan. 2019 . Diakses tanggal 9 November 2019.

• ^ " "Overall total population" – World Population Prospects: The 2019 Revision" (xslx). population.un.org (Data khusus yang diperoleh melalui situs web) (dalam bahasa Inggris). Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa, Divisi Kependudukan. 2019 . Diakses tanggal 9 November 2019. • ^ . Januari 2021 https://dukcapil.kemendagri.go.id/berita/baca/1032/273-juta-penduduk-indonesia-terupdate-versi-kemendagri2021 . Diakses tanggal 21 Januari 2021.

Tidak memiliki atau tanpa -title= ( bantuan) • ^ a b c d "World Economic Outlook Database" (dalam bahasa Inggris). International Monetary Fund. 19 April 2022 . Diakses tanggal 4 Mei 2022. • ^ "GINI index (World Bank estimate) - Indonesia" (dalam bahasa Inggris). Bank Dunia. 2021 . Diakses tanggal 4 Mei 2022. • ^ "Indeks Pembangunan Manusia Menurut Provinsi 2019-2021". www.bps.go.id . Diakses tanggal 26 November 2021.

• ^ Human Development Report 2020 The Next Frontier: Human Development and the Anthropocene (PDF) (dalam bahasa Inggris). Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa. 15 Desember 2020. hlm. 343–346. ISBN 978-92-1-126442-5. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 15 Desember 2020 . Diakses tanggal 16 Desember 2020. • ^ "Which Countries Have The Most Islands?". World Atlas (dalam bahasa Inggris). 2020-10-05 .

Diakses tanggal 2022-04-23. • ^ a b c Justus M. van der Kroef (1951). "The Term Indonesia: Its Origin and Usage". Journal of the American Oriental Society. 71 (3): 166–171. doi: 10.2307/595186. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 April 2020 . Diakses tanggal 2 Agustus 2008. • ^ "Hasil Sensus Penduduk 2020". Badan Pusat Statistik. 21 Januari 2021. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 Januari 2021 . Diakses tanggal 21 Januari 2021. • ^ "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut".

Jakarta: Badan Pusat Statistik. 15 Mei 2010. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-12-03 . Diakses tanggal 28-02-2019. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • ^ Ricklefs 2001, hlm. 379. • ^ "eJournal UM – Portal Jurnal Elektronik Universitas Negeri Malang" (dalam bahasa Inggris) . Diakses tanggal 2022-02-27. • ^ Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Satu Naskah.

• ^ "RUU Ibu Kota Negara Sah Jadi Undang-Undang". Republika. 18 Januari 2022 . Diakses tanggal 18 Januari 2022. • ^ Leo Suryadinata, Evi Nurvidya Arifin, Aris Ananta; Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape; Institute of Southeast Asian Studies, 2003 • ^ Tomascik, T.; Mah, A.J. (1997). The Ecology of the Indonesian Seas – Part One.

Hong Kong: Periplus Editions Ltd. ISBN 962-593-078-7. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Anshory, Irfan (16 Agustus 2004).

"Asal Usul Nama Indonesia". Pikiran Rakyat. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 Desember 2006 . Diakses tanggal 5 Oktober 2006. • ^ Earl, George S.W. (1850). "On The Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations". Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA): 119. • ^ Logan, James Richardson (1850). "The Ethnology of the Indian Archipelago: Embracing Enquiries into the Continental Relations of the Indo-Pacific Islanders". Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA): 4, 252–347.

• ^ Earl, George S.W. (1850). "On The Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations". Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA): 254, 277–278. • ^ Pope (1988). "Recent advances in far eastern paleoanthropology". Annual Review of Anthropology. 17: 43–77. doi: 10.1146/annurev.an.17.100188.000355. cited in Whitten, T (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hlm. 309–312.

Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Pope, G ( 15 Agustus, 1983). "Evidence on the Age of the Asian Hominidae". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 80 (16): 4,988–4992. doi: 10.1073/pnas.80.16.4988. PMID 6410399. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-11-21.

Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) cited in Whitten, T (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hlm. 309. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); de Vos, J.P. ( 9 Desember 1994). "Dating hominid sites in Indonesia" (PDF). Science Magazine. 266 (16): 4, 988–4992.

doi: 10.1126/science.7992059. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2009-09-29. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) cited in Whitten, T (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hlm. 309. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ Taylor (2003), pp.

{/INSERTKEYS}

berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah

5–7 • ^ Taylor (2003), pp. 8-9 • ^ Taylor (2003), pp. 22–26; Ricklefs (1991), pp. 3 • ^ Peter Lewis (1982). "The next great empire". Futures. 14 (1): 47–61. doi: 10.1016/0016-3287(82)90071-4. • ^ *Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. Diarsipkan 2008-12-07 di Wayback Machine. Penyunting: HM. Hembing Wijayakusuma. Pustaka Populer Obor, Oktober 2000, xliv + 299 halaman • ^ a b c Ricklefs 2001.

• ^ ZWEERS, L. (1995). Agressi II: Operatie Kraai. De vergeten beelden van de tweede politionele actie. Den Haag: SDU uitgevers. • ^ van der Bijl, Nick. Confrontation, The War with Indonesia 1962–1966, (London, 2007) ISBN 978-1-84415-595-8 • ^ Wibowo, Sigit, Sjarifuddin. Ekonomi Indonesia Gagal karena Mafia Berkeley Diarsipkan 2008-06-16 di Wayback Machine., Harian Umum Sore Sinar Harapan. Copyright © Sinar Harapan 2003. Diakses: Selasa, 6 Agustus 2008.

• ^ Laporan dari Carter Center. The Carter Center 2004 Indonesia Election Report (PDF). Siaran pers. Diakses pada 29 Juli 2008. • ^ Morgan, Sally (2007). Indonesia. London: Wayland. ISBN 978-0-7502-4747-4. OCLC 123798216. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "PBB Verifikasi 16.056 Nama Pulau Indonesia". Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. 19 Agustus 2017. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Agustus 2021.

Diakses tanggal 10 Agustus 2021.

berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah

• ^ a b c International Monetary Fund (April 2006). Estimate World Economic Outlook Database. Siaran pers. Diakses pada 5 Oktober 2006. • ^ "Indonesia Regions". Indonesia Business Directory. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 Desember 2005. Diakses tanggal 24 April 2007. Parameter -first1= tanpa -last1= di Authors list ( bantuan) • ^ BPS 2021, hlm. 5. • ^ Frederick, William H.; Worden, Robert L. (1993).

berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah

Indonesia: A Country Study. Area Handbook Series (dalam bahasa Inggris). 550. Washington, D.C.: Federal Research Division, Library of Congress. hlm. 98. ISBN 9780844407906. • ^ BPS 2020, hlm. 3. • ^ "Menko Maritim Luncurkan Data Rujukan Wilayah Kelautan Indonesia".

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. 10 Agustus 2018. Diakses tanggal 10 Agustus 2021. • ^ Article 55 Diarsipkan 2008-03-16 di Wayback Machine., 1982 UN Convention on the Law of The Sea. • ^ Hope, G.S.; Peterson, J.A., ed. (1976). The Equatorial Glaciers of New Guinea.

Rotterdam: A.A. Balkema. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Foster, Nigel (2021). Heart of Toba: Batak Life Beside the World's Largest Caldera Lake. Amazon Digital Services.

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Geografis". Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.

Diakses tanggal 11 Agustus 2021. • ^ Beck, Hylke E.; Zimmermann, Niklaus E.; McVicar, Tim R.; Vergopolan, Noemi; Berg, Alexis; Wood, Eric F. (2018). "Present and future Köppen-Geiger climate classification maps at 1-km resolution". Scientific Data. 5 (1): 180214. berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah 10.1038/sdata.2018.214.

ISSN 2052-4463. PMC 6207062. PMID 30375988. Pemeliharaan CS1: Format PMC ( link) • ^ Beck, Hylke E.; Zimmermann, Niklaus E.; McVicar, Tim R.; Vergopolan, Noemi; Berg, Alexis; Wood, Eric F. (2020). "Publisher Correction: Present and future Köppen-Geiger climate classification maps at 1-km resolution".

Scientific Data. 7 (1): 274. doi: 10.1038/s41597-020-00616-w. ISSN 2052-4463. PMC 7431407. PMID 32807783. Pemeliharaan CS1: Format PMC ( link) • ^ "Climate of the World: Indonesia". Weather Online. Diakses tanggal 10 Agustus 2021. • ^ Yananto, Ardila; Sibarani, Rini Mariana (2016). "Analisis Kejadian El Nino dan Pengaruhnya terhadap Intensitas Curah Hujan di Wilayah Jabodetabek (Studi Kasus: Periode Puncak Musim Hujan Tahun 2015/2016)".

Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca. 17 (2): 65. doi: 10.29122/jstmc.v17i2.541. ISSN 2549-1121. • ^ Wyrtki, Klaus (1961). Physical oceanography of the Southeast Asian waters (PDF). La Jolla, Calif.: Scripps Institution of Oceanography. OCLC 5116526. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Aldrian, E.; Karmini, M.; Budiman (2011). Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim di Indonesia (PDF).

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. hlm. 19–21. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Aldrian, Edvin; Dwi Susanto, R. (2003). "Identification of three dominant rainfall regions within Indonesia and their relationship to sea surface temperature". International Journal of Climatology. 23 (12): 1435–1452. berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah 10.1002/joc.950.

ISSN 0899-8418. • ^ Overland, Indra (2017). Impact of Climate Change on ASEAN International Affairs: Risk and Opportunity Multiplier. Norwegian Institute of International Affairs (NUPI) dan Myanmar Institute of International and Strategic Studies (MISIS).

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Climate Impact Map". Climate Impact Lab. Diakses tanggal 18 November 2018. • ^ a b c Case, M.; Ardiansyah, F.; Spector, E. (14 November 2007). "Climate Change in Indonesia: Implications for Humans and Nature" (PDF). World Wide Fund for Nature.

Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 19 Februari 2018. Diakses tanggal 18 November 2018. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Report: Flooded Future: Global vulnerability to sea level rise worse than previously understood". Climate Central. 29 Oktober 2019. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 November 2019.

Diakses tanggal 5 November 2019. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Lin, Mayuri Mei; Hidayat, Rafki (13 Agustus 2018).

"Jakarta, the fastest-sinking city in the world". BBC. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 Oktober 2018. Diakses tanggal 19 November 2018. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Indonesia: Climate Risk and Adaptation Country Profile" (PDF). World Bank. April 2011. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 6 Desember 2017.

Diakses tanggal 18 November 2018. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b "Indonesia: Volcano nation". BBC. 5 November 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 November 2017. Diakses tanggal 28 November 2017. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Witton 2003, hlm. 38. • ^ Bressan, David (11 Agustus 2017).

"Early Humans May Have Lived Through A Supervolcano Eruption". Forbes. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 Agustus 2017. Diakses tanggal 11 Oktober 2017. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Tambora". Volcano Discovery. 29 Mei 2016. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 Desember 2016. Diakses tanggal 20 December 2016.

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Bressan, David (31 Agustus 2016). "The Eruption of Krakatoa Was the First Global Catastrophe". Forbes. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 September 2016. Diakses tanggal 2 September 2017. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Analysis of the Sumatra-Andaman Earthquake Reveals Longest Fault Rupture Ever".

National Science Foundation. 19 Mei 2005. Diakses tanggal 15 Desember 2016. • ^ "The World's 17 Megadiverse Countries". Biodiversity A-Z. Diakses tanggal 11 Berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah 2021. • ^ Mittermeier, Russell A.; Mittermeier, Cristina Goettsch; Gil, Patricio Robles; Wilson, Edward O. (1997). Megadiversity: earth's biologically wealthiest nations. México, D.F.: CEMEX. ISBN 978-968-6397-50-5. OCLC 38584598. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ New, T.R.

(2002). "Neuroptera of Wallacea: a transitional fauna between major geographical regions" (PDF). Acta Zoologica Academiae Scientiarum Hungaricae. 48 (2): 217–227. • ^ Simpson, George Gaylord (1977). "Too Many Lines; The Limits of the Oriental and Australian Zoogeographic Regions". Proceedings of the American Philosophical Society. 21 (2): 107–120. • ^ "Indonesia: Main Details". Convention on Biological Diversity.

Diakses tanggal 19 Agustus 2021. • ^ Miller, Jason R. (14 Agustus 2007). "Deforestation in Indonesia and the Orangutan Population". TED Case Studies. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 Agustus 2007. Diakses tanggal 11 Agustus 2007.

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "2020 Environmental Performance Index" (PDF). Yale University. 2020. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 9 Juni 2020. Diakses tanggal 9 Juni 2020. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Forest area (% of land area) – Indoneisa".

World Bank. Diakses tanggal 14 Juni 2021. • ^ a b Tsujino, Riyou; Yumoto, Takakazu; Kitamura, Shumpei; Djamaluddin, Ibrahim; Darnaedi, Dedy (2016). "History of forest loss and degradation in Indonesia". Land Use Policy. 57: 335–347. doi: 10.1016/j.landusepol.2016.05.034. • ^ Colchester, Marcus; Jiwan, Normal; Andiko, Martua Sirait; Firdaus, Asup Y.; Surambo, A.; Pane, Herbert (26 Maret 2012). "Palm Oil and Land Acquisition in Indonesia: Implications for Local Communities and Indigenous People" (PDF).

Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 31 Mei 2012. Diakses tanggal 31 Mei 2012. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Chrysolite, Hanny; Juliane, Reidinar; Chitra, Josefhine; Ge, Mengpin (4 Oktober 2017).

"Evaluating Indonesia's Progress on its Climate Commitments". World Resources Institute. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 Oktober 2017. Diakses tanggal 26 Agustus 2018. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ BirdLife International (2018). "Leucopsar rothschildi". The IUCN Red List of Threatened Species 2018.

e.T22710912A129874226. doi: 10.2305/iucn.uk.2018-2.rlts.t22710912a129874226.en. • ^ Singleton, I; Wich, S.A.; Nowak, M.; Usher, G.; Utami-Atmoko, S.S. (2017). "Pongo abelii". The IUCN Red List of Threatened Species 2017.

e.T121097935A123797627. doi: 10.2305/iucn.uk.2017-3.rlts.t121097935a115575085.en. • ^ Elis, S.; Talukdar, B. (2020). "Rhinoceros sondaicus". The IUCN Red List of Threatened Species 2020. e.T19495A18493900. doi: 10.2305/iucn.uk.2020-2.rlts.t19495a18493900.en.

• ^ Harijanti, Susi Dwi; Lindsey, Tim (1 Januari 2006). "Indonesia: General elections test the amended Constitution and the new Constitutional Court". International Journal of Constitutional Law. 4 (1): 138–150. doi: 10.1093/icon/moi055. ISSN 1474-2659. • ^ Ardiansyah, F.; Marthen, A.A.; Amalia, N. (2015). Forest and land-use governance in a decentralized Indonesia: A legal and policy review. Center for International Forestry Research (CIFOR).

doi: 10.17528/cifor/005695. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Setyorini, Ika (2019). "Kewenangan Pemerintah Daerah di Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945". Literasi Hukum. 3 (1): 26–38. • ^ UUD 1945, Pasal 7. • ^ "Kabinet Pemerintahan Indonesia". Sekretariat Kabinet Republik Indonesia.

Diakses tanggal 24 Agustus 2021. • ^ UUD 1945, Pasal 3. • ^ Evans, Kevin (2019). "Guide to the 2019 Indonesian Elections" (PDF). Australia-Indonesia Centre. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 17 April 2019.

Diakses tanggal 30 Juli 2019. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ UUD 1945, Pasal 20A. • ^ "Tugas dan Wewenang". Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Diakses tanggal 25 Agustus 2021. • ^ UUD 1945, Pasal 22D. • ^ "Fungsi, Tugas, dan Wewenang". Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-09-20. Diakses tanggal 25 Agustus 2021. • ^ "Pimpinan MPR RI". Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Diakses tanggal 25 Agustus 2021. • ^ "Pimpinan DPR RI".

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Diakses tanggal 25 Agustus 2021. • ^ "Pimpinan DPD". Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-09-20. Diakses tanggal 25 Agustus 2021. • ^ UUD 1945, Pasal 24. • ^ "Wewenang dan Tugas". Komisi Yudisial Republik Indonesia. Diakses tanggal 25 Agustus 2021. • ^ Wong, Kristina (23 July 2009). "abc NEWS Poll: Obama's Popularity Lifts U.S. Global Image". USA: ABC. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-01-13.

Diakses tanggal 23 October 2011. • ^ "Kedutaan/Konsulat". Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Diakses tanggal 29 Agustus 2021. • ^ Haryanto, Agus (Desember 2014). "Prinsip Bebas Aktif dalam Kebijakan Luar Negeri Indonesia: Perspektif Teori Peran". Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi. IV (II): 17–27. • ^ "Indonesia – Foreign Policy". U.S. Library of Congress. U.S. Library of Congress. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-09-27. Diakses tanggal 5 May 2007. • ^ Indonesia temporarily withdrew from the UN on 20 January 1965 in response to the fact that Malaysia was elected as a non-permanent member of the Security Council.

It announced its intention to "resume full cooperation with the United Nations and to resume participation in its activities" on 19 September 1966, and was invited to re-join the UN on 28 September 1966. • ^ Chris Wilson (11 October 2001). "Indonesia and Transnational Terrorism". Foreign Affairs, Defense and Trade Group. Parliament of Australia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-11-06. Diakses tanggal 15 October 2006. ; Reyko Huang (23 May 2002). "Priority Dilemmas: U.S.

– Indonesia Military Relations in the Anti Terror War". Terrorism Project. Center for Defense Information. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-10-12. Diakses tanggal 2015-02-14. • ^ "Commemoration of 3rd anniversary of bombings". Melbourne: The Age Newspaper. AAP.

10 December 2006. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-04-01. Diakses tanggal 2015-02-14. • ^ US Embassy, Jakarta (10 May 2005). Travel Warning: Indonesia. Siaran pers. Diakses pada 26 December 2006. • ^ Chew, Amy (7 July 2002). "Indonesia military regains ground". CNN Asia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-11-14. Diakses tanggal 24 April 2007.

• ^ Witular, Rendi A. (19 May 2005). "Susilo Approves Additional Military Funding". The Jakarta Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-11-14. Diakses tanggal 24 April 2007. • ^ Friend (2003), pp.

473–475, 484 • ^ Friend (2003), pp. 270–273, 477–480 • ^ "Indonesia flashpoints: Aceh". BBC News. BBC. 29 December 2005. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-05-02. Diakses tanggal 20 May 2007. • ^ "Indonesia agrees Aceh peace deal".

BBC News. BBC. 17 July 2005. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-11-14. Diakses tanggal 20 May 2007. ; Harvey, Rachel (18 September 2005). "Indonesia starts Aceh withdrawal". BBC News. BBC. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-05-02. Diakses tanggal 20 May 2007.

• ^ Lateline TV Current Affairs (20 April 2006). "Sidney Jones on South East Asian conflicts" (PDF). TV Program transcript, Interview with South East Asia director of the International Crisis Group. Australian Broadcasting Commission (ABC). Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 September 2006. ; International Crisis Group (5 September 2006).

"Papua: Answer to Frequently Asked Questions" (PDF). Update Briefing. International Crisis Group (53): 1. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 18 September 2006.

Diakses tanggal 17 September 2006. • ^ "2014BPS". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-11-13. Diakses tanggal 2015-10-04.

• ^ "BPS". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-11-13. Diakses tanggal 2015-10-04. • ^ Michelle Ann Miller (2004). "The Aceh law: a serious response to Acehnese separatism?". Asian Ethnicity. 5 (3): 333–351. doi: 10.1080/1463136042000259789. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-10-01. Diakses tanggal 2008-08-02. • ^ Dewan Perwakilan Rakyat (1999). Bab XIV Other Provisions, Pasal 122; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah PDF (146 ).

Presiden Indonesia (1974). Bab VII Aturan Peralihan, Pasal 91 • ^ Dursin, Richel ( 18 November 2004). "Another Fine Mess in Papua". Editorial. The Jakarta Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-01-15. Diakses tanggal 5 Oktober 2006. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -accessdate=, -date= ( bantuan); "Papua Chronology Confusing Signals from Jakarta".

The Jakarta Post. 18 November 2004. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-01-15. Diakses tanggal 5 Oktober 2006. Periksa nilai tanggal di: -accessdate=, -date= ( bantuan) • ^ Burr, W. (2001-12-06). "Ford and Kissinger Gave Green Light to Indonesia's Invasion of East Timor, 1975: New Documents Detail Conversations with Suharto". National Security Archive Electronic Briefing Book No. 62. National Security Archieve, Universitas George Washington, Washington, D.C.

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-08-21. Diakses tanggal 2006-09-17. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ "USD".

www.usd.ac.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-01-29. Diakses tanggal 26-06-2017. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • ^ a b c d Schwarz, A. (1994). A Nation in Waiting: Indonesia in the 1990s. Westview Press.

ISBN 1-86373-635-2, pp. 52–57. • ^ "Indonesia: Country Brief". Indonesia:Key Development Data & Statistics. Bank Dunia. 2006. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-11-01. Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Poverty in Indonesia: Always with them".

The Economist. 2006-09-14. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-11-28. Diakses tanggal 2006-12-26. • ^ "Indonesia: Forecast". Country Briefings. The Economist. 2006-10-03. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-08-04. • ^ Badan Pusat Statistik Indonesia (2008-12-02). Beberapa Indikator Penting Mengenai Indonesia (PDF) (dalam Bahasa Indonesia). Siaran pers. Diakses pada 2008-03-18. • ^ Ridwan Max Sijabat ( 23 Maret 2007). "Unemployment still blighting the Indonesian landscape". The Jakarta Post.

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-05-01. Diakses tanggal 2008-08-07. Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Bank Dunia. Making the New Indonesia Work for the Poor – Overview (PDF). Siaran pers. Diakses pada 26 Desember 2006.

• ^ "Salinan arsip" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2016-04-22. Diakses tanggal 2016-03-01.

• ^ berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah (IDN) Exports, Imports, and Trade Partners - OEC". OEC - The Observatory of Economic Complexity (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-19. • ^ "Official Statistics and its Development in Indonesia" (PDF). Sub Committee on Statistics: First Session 18–20 February, 2004. Economic and Social Commission for Asia & the Pacific. hlm. 19. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2009-09-29.

Diakses tanggal 2008-08-07. • ^ "Indonesia at a Glance" (PDF). Indonesia Development Indicators and Data.

Bank Dunia. 2006-08-13. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2009-12-23. Diakses tanggal 2008-08-07. • ^ "Indeks Persepsi Korupsi". Transparency International. 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-04-28. Diakses tanggal 2007-09-28. • ^ "Index of Economic Freedom". The Heritage Foundation & The Wall Street Journal. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-12-08. Diakses tanggal 2018-12-08. • ^ "The Economist Intelligence Unit's Quality-of-Life Index" (PDF).

The Economist. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2012-07-23. Diakses tanggal 2007-09-12. • ^ "Worldwide Press Freedom Index 2006" (PDF). Reporters Without Borders. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2008-06-24. Diakses tanggal 2008-06-31. Periksa nilai tanggal di: -accessdate= ( bantuan) • ^ "cpi 2017 table".

Transparency International. 2018-02-21. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-12-23. Diakses tanggal 2008-06-31. Periksa nilai tanggal di: -accessdate= ( bantuan) • ^ a b "Human Development Reports: Indonesia". United Nations Development Programme. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-07-01.

Diakses tanggal 2019-12-09. • ^ "Global Competitiveness Index rankings 2018" (PDF). World Economic Forum. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-12-08. Diakses tanggal 2018-12-08.

• ^ "Most Literred Nation in the World 2016" (PDF). Central Connecticut State University. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-11. Diakses tanggal 2016-01-29. • ^ "Countries in the world by population (2021)". World-O-Meter. Diakses tanggal 7 Agustus 2021. • ^ Badan Pusat Statistik (21 Januari 2021), Hasil Sensus Penduduk 2020 (PDF), Jakarta: Badan Pusat Statistik, diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 22 Januari 2021 • ^ Migiro, Geoffrey (6 Mei 2019).

"Most Populated Islands in the World". World Atlas (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 20 April 2021. • ^ Badan Pusat Statistik (1962). Sensus Penduduk 1961 Republik Indonesia. Jakarta: Biro Pusat Statistik. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "World Population Prospect: 2017 Revision" (PDF). United Nations Department of Economics and Social Affairs – Population Division. 21 Juni 2017. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 20 Desember 2017.

Diakses tanggal 20 Desember 2017. • ^ "Indonesia - The World Factbook". CIA. Diakses tanggal 8 Agustus 2021. • ^ Maryati, Sri (2015). "Dinamika Pengangguran Terdidik: Tantangan Menuju Bonus Demografi di Indonesia".

economica. 3 (2): 124–136. doi: 10.22202/economica.2015.v3.i2.249. • ^ "BBC: First contact with isolated tribes?". Survival International. 25 Januari 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 Juli 2017. Diakses tanggal 30 Juli 2017. Parameter -url-status= yang tidak diketahui berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah diabaikan ( bantuan) • ^ "Share of people living in urban areas, 2017".

Our World in Data. 2017. Diakses tanggal 5 September 2020. • ^ Krisetya, Beltsazar (14 September 2016). "Tapping the Indonesian Diaspora Potential". Forum for International Studies. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 Desember 2017.

Diakses tanggal 20 Desember 2017. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Harijanti, Susi Dwi (Februari 2017). "Report On Citizenship Law: Indonesia" (PDF). Badia Fiesolana: European University Institute. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 15 November 2020.

Diakses tanggal 11 Mei 2021. • ^ Na'im & Syaputra 2010, hlm. 6. • ^ Tanudirjo, Daud Aris (2017). "Mempertanyakan Austronesia, Meneguhkan Identitas Indonesia". Dalam Harry, Widianto. Jejak Austronesia di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm. 11–12. ISBN 978-602-386-158-3. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Ridgell, Reilly (1995).

Pacific Nations and Territories: The Islands of Micronesia, Melanesia, and Polynesia. Pacific Region Educational Laboratory (edisi ke-3, edisi revisi). Honolulu, Hawaii: Bess Press. hlm. 22–25. ISBN 1-57306-001-1. OCLC 33941689. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Ananta, Aris; Arifin, Evi Nurvidya; Hasbullah, M. Sairi; Handayani, Nur Budi; Pramono, Agus (2015).

berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah

Demography of Indonesia's Ethnicity. SG: Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 978-981-4519-88-5. OCLC 1011165696. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Na'im & Syaputra 2010, hlm. 5. • ^ Ricklefs 1991, hlm. 256. • ^ La Ode, M.D. (2018). Trilogi pribumisme: resolusi konflik pribumi dengan non pribumi di berbagai belahan dunia.

Jakarta: Komunitas Ilmu Pertahanan Indonesia. ISBN 978-602-52288-0-3. OCLC 1091891011. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Pemerintah indonesia (1998). "Instruksi Presiden Nomor 26 Tahun 1998 tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Non Pribumi" (PDF). Badan Pembinaan Hukum Nasional, Kemenkumham.

• ^ "Dasar Hukum yang Melarang Penggunaan Istilah "Pribumi "". Hukum Online. 17 Oktober 2017. Diakses tanggal 8 Agustus 2021. • ^ Na'im & Syaputra 2010, hlm. 28. • ^ "Bahasa Daerah Di Indonesia".

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Diakses tanggal 8 Agustus 2021. • ^ "Asian Linguistic Maps: Indonesia & Brunei". Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 Desember 2015.

Diakses tanggal 23 Desember 2012. • ^ Na'im & Syaputra 2010, hlm. 11. • ^ Simons, Gary F.; Fennig, Charles D. "Ethnologue: Languages of the World, Twenty-first edition".

SIL International. Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 Juni 2019. Diakses tanggal 20 September 2018. • ^ Na'im & Syaputra 2010, hlm. 47. • ^ Kridalaksana, H. (1991). "Pengantar tentang Pendekatan Historis dalam Kajian Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia". Dalam Kridalaksana, H.

Masa Lampau bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai (PDF). Yogyakarta: Kanisius. ISBN 979-413-476-7. • ^ UUD 1945, Pasal 36. • ^ "Tugas dan Fungsi". Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Diarsipkan dari versi asli tanggal 31 Juli 2020. Diakses tanggal 9 Agustus 2021. • ^ Jazuly, Ahmad (2016).

"Peran Bahasa Inggris pada Anak Usia Dini". Jurnal Pendidikan Dompet Dhuafa. 6 (1): 33–40. • ^ Santoso, Iman (1 April 2014). "Pembelajaran Bahasa Asing di Indonesia: Antara Globalisasi dan Hegemoni". Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra. 14 (1): 1. doi: 10.17509/bs_jpbsp.v14i1.696. ISSN 2527-8312. • ^ a b "Data Umat Berdasar Jumlah Pemeluk Agama Menurut Agama".

Kementerian Agama. 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 September 2020. Diakses tanggal 9 Agustus 2021. • ^ Eid, Haya Muhammad (2019). Learning My Salah: The Second Pillar. Ahlan Foundation. hlm.

66. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Muradi, Ahmad (2013). "Tujuan Pembelajaran Bahasa Asing (Arab) di Indonesia". Al-Maqayis. 1 (1): 128–137. • ^ Chaqoqo, S.G.N.

(1 Juni 2012). "Pembelajaran Bahasa Arab Sepanjang Sejarah". STAIN Salatiga. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 Maret 2013. Diakses tanggal 2 Januari 2013. • ^ UUD 1945, Pasal 29 ayat (2). • ^ Marshall, Paul (2018). "The Ambiguities of Religious Freedom in Indonesia".

The Review of Faith & International Affairs. 16 (1): 85–96. doi: 10.1080/15570274.2018.1433588. ISSN 1557-0274. • ^ Siregar, Rospita Adelina (2018). "Kebijakan Publik bila Mencantumkan Aliran Kepercayaan dalam Admininistrasi Kependudukan sebagai Bentuk Revitalisasi Pancasila" (PDF).

Dalam Dr. Lamhot Naibaho; Demsy Jura. Seminar Nasional "Revitalisasi Indonesia melalui Identitas Kemajemukan Berdasarkan Pancasila", diselenggarakan oleh Pusat Sudi Lintas Agama dan Budaya — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia. Jakarta, 22 November 2018.

Jakarta: UKI Press. hlm. 173–177. ISBN 978-979-8148-96-5. • ^ Oey, Eric (1995). Bali. Periplus. ISBN 962-593-028-0. OCLC 60286689. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Suryadinata, Leo, ed. (2008). Ethnic Chinese in Contemporary Indonesia. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 9789812308351. OCLC 469069147. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Gin, Ooi Keat, ed.

(2004). Southeast Asia: A historical encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor (3 volume set). Santa Barbara, Calif.: ABC-CLIO.

hlm. 177. ISBN 978-1-57607-770-2. OCLC 54528945. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Magnis-Suseno, Franz (1997).

Javanese Ethics and World-View: The Javanese Idea of the Good Life. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBN 979-605-406-X. OCLC 38466385. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "2003 International Religious Freedom Report: Indonesia". U.S. Department of State. 2003. Diakses tanggal 13 Januari 2012. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • ^ Gonda, Jan (1975).

"The Indian Religions in Pre-Islamic Indonesia and their survival in Bali". Handbook of Oriental Studies. Section 3 Southeast Asia, Religions. Brill. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Darsa, Undang A. 2004. "Kropak 406; Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan", Makalah disampaikan dalam Kegiatan Bedah Naskah Kuna yang diselenggarakan oleh Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga.

Bandung-Jatinangor: Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran: hlm. 1–23. • ^ "Buddhism in Indonesia". Buddha Dharma Education Association. 2005. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Mei 2019. Diakses tanggal 3 Oktober 2006. • ^ Rahman, Taufiq (2013). " 'Indianization' of Indonesia in an Historical Sketch". International Journal of Nusantara Islam. 1 (2): 56–64. doi: 10.15575/ijni.v1i2.26. ISSN 2355-651X. • ^ Sedyawati, Edi (19 Desember 2014). "Influence of Hinduism and Buddhism on Indonesian culture".

Sanskriti Magazine. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 April 2017. Diakses tanggal 6 Desember 2020. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Martin, Richard C.

(2004). Encyclopedia of Islam and the Muslim World. Vol. 2: M–Z. New York: Macmillan Reference USA. ISBN 0-02-865603-2. OCLC 52178942. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Böwering, Gerhard; Crone, Patricia; Mirza, Mahan (2013). The Princeton Encyclopedia of Islamic Political Berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah.

Princeton, N.J.: Princeton University Press. ISBN 1-4008-3855-X. OCLC 820631887. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Ricklefs 1991, hlm. 12–14. • ^ "Indonesia – Bhineka Tunggal Ika". Centre Universitaire d'Informatique. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 September 2006. Diakses tanggal 20 Oktober 2006. • ^ Tanasaldy, Taufiq (2012). Regime Change and Ethnic Politics in Indonesia: Dayak Politics of West Kalimantan. Leiden: KITLV Press.

ISBN 978-90-04-25348-3. OCLC berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Ricklefs 1991, hlm.

25, 26, 28. • ^ "About St Francis Xavier". Catholic Archdiocese of Sydney. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 November 2012. Diakses tanggal 5 Juli 2018. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Ricklefs 1991, hlm. 28, 62. • ^ Vickers 2005, hlm.

22. • ^ Goh, Robbie B.H. (2005). Christianity in Southeast Asia. Institute of Southeast Asian Studies. hlm.

80. ISBN 978-981-230-297-7. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Indonesia". Reformed Online. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 Desember 2006. Diakses tanggal 5 Desember 2006. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Klemperer-Markman, Ayala.

"The Jewish Community in Indonesia". Beit Hatfutsot. Diterjemahkan oleh Julie Ann Levy. Diarsipkan dari versi asli tanggal 4 Agustus 2019. Diakses tanggal 12 Maret 2020. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Madjid, Nurcholish (1994). "Islamic Roots of Modern Pluralism: Indonesian Experience".

Studia Islamika. 1 (1). doi: 10.15408/sdi.v1i1.866. ISSN 2355-6145. • ^ Harsono, Andreas (Mei 2019). Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia. Monash University Publishing. ISBN 978-1-925835-09-0. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "How religious commitment varies by country among people of all ages".

Pew Research Center. 13 Juni 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 Agustus 2018. Diakses tanggal 23 November 2018. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Pearce, Jonathan M.S.

(28 Oktober 2018). "Religion in Indonesia: An Insight". Patheos. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 Oktober 2018. Diakses tanggal 23 November 2018.

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ UUD 1945, Pasal 31 ayat (4). • ^ Al-Samarrai, Samer; Cerdan-Infantes, Pedro (9 Maret 2013). "Awakening Indonesia's Golden Generation: Extending Compulsory Education from 9 to 12 Years". The World Bank Blog. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Oktober 2017. Diakses tanggal 10 Oktober 2017. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b "Indonesia".

UNESCO Institute for Statistics. 27 November 2016. Diakses tanggal 5 September 2020. • ^ "Is Indonesia Ready for International Branch Campuses?". Inside Higher Ed. 29 Mei 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 Mei 2018. Diakses tanggal 18 November 2018. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Indonesia's Unequal Higher Education".

Asia Sentinel. 4 Mei 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 September 2020. Diakses tanggal 3 Desember 2020. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "2018 Health SDG Profile: Indonesia" (PDF).

Organisasi Kesehatan Dunia. Juli 2018. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 6 Desember 2018. Diakses tanggal 10 Desember 2018.

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Thabrany, Hasbullah (2 Januari 2014). "Birth of Indonesia's 'Medicare': Fasten your seatbelts".

The Jakarta Post. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Januari 2014. Diakses tanggal 26 Agustus 2018. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Life expectancy". Our World in Data. Diakses tanggal 6 September 2020. • ^ "Child mortality rate". Our World in Data. Diakses tanggal 5 September 2020.

• ^ Mboi, Nafsiah; Surbakti, Indra Murty; Trihandini, Indang; Elyazar, Iqbal; Smith, Karen Houston; Bahjuri Ali, Pungkas; Kosen, Soewarta; Flemons, Kristin; Ray, Sarah E.

(2018). "On the road to universal health care in Indonesia, 1990–2016: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2016".

The Lancet (dalam bahasa Inggris). 392 (10147): 581–591. doi: 10.1016/S0140-6736(18)30595-6. PMC 6099123. PMID 29961639. Pemeliharaan CS1: Format PMC ( link) • ^ a b Badan Pusat Statistik (15 Desember 2020). "Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun 2020". Berita Resmi Statistik (No.97/12/Th.XXIII). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-01-29. Diakses tanggal 2021-01-22. • ^ "PENGERAJIN BATIK TAK PERLU RESAH". Majalah Hukum & HAM Online.

30 September 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-09-26. Diakses tanggal 14 Agustus 2008. Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Witton, Patrick (2003). Indonesia. Melbourne: Lonely Planet. hlm. 103. ISBN 1-74059-154-2. • ^ Elyas Pical Dapat Penghargaan [ pranala nonaktif permanen]. Surya, 27 Maret 2009. Diakses pada 10 September 2010. • ^ Afriatni, Ami. Petinju Chris John Sukses Pertahankan Gelar Juara Dunia Diarsipkan 2008-12-10 di Wayback Machine.

Tempo, 19 Agustus 2007. Diakses pada 10 September 2010. • ^ "Jejak Bersejarah Hindia Belanda di Piala Dunia 1938". CNN Indonesia. 23 April 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-02-16. Diakses tanggal 21 Februari 2020. • ^ "Kampung Tugu, Menyimpan Kenangan Sejarah". Kompas. Rabu, 28 April 2004. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-12-11.

Diakses tanggal 14 Agustus 2008. Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Radhar Panca Dahana (Kamis, 6 Desember 2007). "Perspektif: Mencuri Klaim, Itu Biasa". Gatra.Com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-12-08. Diakses tanggal 14 Agustus 2008.

Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Witton, Patrick (2002). World Food: Indonesia. Melbourne: Lonely Planet. ISBN 1-74059-009-0. • ^ Brissendon, Rosemary (2003). South East Asian Food. Melbourne: Hardie Grant Books. ISBN 1-74066-013-7. • ^ http://www.cnngo.com/explorations/eat/40-foods-indonesians-cant-live-without-327106 Diarsipkan 2011-10-25 di Wayback Machine. 40 of Indonesia's best dishes.

Diakses pada 5 Desember 2011. • ^ a b Kristianto, JB ( 2 Juli 2005). "Sepuluh Tahun Terakhir Perfilman Indonesia". Kompas. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-01-13. Diakses tanggal 5 Oktober 2006. Periksa nilai tanggal di: -accessdate=, -date= ( bantuan) • ^ "Menengok 10 Film Indonesia Terlaris Dalam 10 Tahun Terakhir".

kumparan. 30 Maret 2017. Diakses tanggal 2022-01-15. • ^ Taylor (2003), pp. 299–301 • ^ Vickers (2005) pp. 3-7; Friend (2003), pp. 74, 180 • ^ Czermak, Karen.

" "Preserving Intangible Cultural Heritage in Indonesia "" (PDF). SIL International. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2007-07-09. Diakses tanggal 2007-07-04. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ "Internet World Stats".

Asia Internet Usage, Population Statistics and Information. Miniwatts Marketing Group. 2006. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-04-30. Diakses tanggal 2007-08-13. • ^ Suprapto (November 24, 2014). "Inilah Data Peringkat Negara Pengguna Internet". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-07-19. Diakses tanggal 2015-08-21. Kepustakaan • Badan Pusat Statistik (2020). Statistik Indonesia 2020.

Jakarta: Badan Pusat Statistik. • Badan Pusat Statistik (2021). Statistik Indonesia 2021. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Agustus 2021. • Frederick, William H.; Worden, Robert L., ed. (2011). Indonesia: A Country Study (dalam bahasa Inggris) (edisi ke-6). Washington, D.C.: Library of Congress, Federal Research Division. ISBN 978-0-8444-0790-6. • Friend, T. (2003). Indonesian Destinies (dalam bahasa Inggris).

Harvard University Press. ISBN 0-674-01137-6. • Na'im, Akhsan; Syaputra, Hendry (2010). "Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia" (PDF). Badan Pusat Statistik (BPS). Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 23 September 2015. Diakses tanggal 23 September 2015. • Ricklefs, Merle Calvin (2001). A history of modern Indonesia since c. 1200 (dalam bahasa Inggris) (edisi ke-3).

Basingstoke; Stanford, CA: Palgrave; Stanford University Press. ISBN 978-0-8047-4480-5. • Ricklefs, Merle Calvin (2008). A History of Modern Indonesia since c. 1200 (E-Book version) (edisi ke-4).

New York: Palgrave Macmillan. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Pemerintah Indonesia (1945), Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 • Schwarz, A. (1994). A Nation in Waiting: Indonesia in the 1990s (dalam bahasa Inggris). Westview Press. ISBN 1-86373-635-2. • Taylor, Jean Gelman (2003). Indonesia: Peoples and Histories (dalam bahasa Inggris). New Haven and London: Yale University Press.

ISBN 0-300-10518-5. • Vickers, Adrian (2005). A History of Modern Indonesia (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 0-521-54262-6. Pranala luar Portal Indonesia Cari tahu mengenai Indonesia pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: Definisi dan terjemahan dari Wiktionary Gambar dan media dari Berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah Berita dari Wikinews Kutipan dari Wikiquote Teks sumber dari Wikisource Buku dari Wikibuku Wikimedia Commons memiliki media mengenai Indonesia.

• Peta Indonesia di Wikimedia Atlas • Data geografis Indonesia di OpenStreetMap Wikivoyage memiliki panduan wisata Indonesia. • (Indonesia) Situs web resmi pemerintah Republik Indonesia • (Indonesia) Kantor Berita Antara • (Indonesia) Pemilu Indonesia Diarsipkan 2016-02-05 di Wayback Machine. • (Indonesia) Peringatan Kebangkitan Nasional Indonesia Diarsipkan 2015-06-24 di Wayback Machine.

• (Indonesia) Data Kependudukan Resmi Indonesia • (Inggris) Pariwisata Indonesia • (Inggris) Indonesia di Encyclopædia Britannica • (Inggris) Indonesia: Country Studies 1993 • (Inggris) Presentasi tentang Indonesia Diarsipkan 2013-01-18 berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah Wayback Machine.

• Seni • Film • Tari • Sastra • Musik • Lagu • Masakan • Mitologi • Pendidikan • Olahraga • Permainan tradisional • Busana daerah • Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia • Arsitektur • Bandar udara • Pelabuhan • Stasiun kereta api • Terminal • Pembangkit listrik • Warisan budaya • Wayang • Batik • Keris • Angklung • Tari Saman • Noken Simbol • Afganistan • Arab Saudi • Armenia • Azerbaijan • Bahrain • Bangladesh • Bhutan • Brunei Darussalam • Filipina • Georgia • India • Irak • Iran • Israel • Jepang • Kamboja • Kazakhstan • Kirgizstan • Korea Selatan • Korea Utara • Kuwait • Laos • Lebanon • Maladewa • Malaysia • Mongolia • Myanmar • Nepal • Oman • Pakistan • Palestina • Qatar • Singapura • Sri Lanka • Suriah • Taiwan • Tajikistan • Thailand • Timor Leste • Tiongkok • Turki • Turkmenistan • Uni Emirat Arab • Uzbekistan • Vietnam • Yaman • Yordania Eropa • Albania • Austria • Belanda • Belarus • Belgia • Bosnia dan Herzegovina • Britania Raya • Bulgaria • Ceko • Denmark • Estonia • Finlandia • Hongaria • Islandia • Italia • Jerman • Kroasia • Latvia • Lituania • Luksemburg • Malta • Moldova • Montenegro • Norwegia • Polandia • Portugal • Prancis • Republik Irlandia • Rumania • Rusia • Serbia • Siprus • Slovenia • Slowakia • Spanyol • Swedia • Swiss • Takhta Suci • Ukraina • Yunani Oseania • Afganistan • Arab Saudi • Armenia 1 • Azerbaijan 1 • Bahrain • Bangladesh • Bhutan • Brunei • Filipina • Georgia 1 • India • Indonesia • Irak • Iran • Israel • Jepang • Kamboja • Kazakhstan 3 • Kirgizstan • Korea Selatan • Korea Utara • Kuwait • Laos • Lebanon • Maladewa • Malaysia • Mesir 3 • Mongolia • Myanmar • Nepal • Oman • Pakistan • Qatar • Rusia 3 • Singapura • Siprus 1 • Sri Lanka • Suriah • Tajikistan • Thailand • Timor Leste 2 • Tiongkok • Turki 3 • Turkmenistan • Uni Emirat Arab • Uzbekistan • Vietnam • Yaman • Yordania Negara dengan pengakuan terbatas • Sungai Naf ( Bangladesh, Myanmar) • Tepi Macclesfield ( RRT, RT, Vietnam) • Kepulauan Paracel ( RRT, RT, Vietnam) • Kepulauan Pratas ( RRT, RT) • Sabah ( Malaysia, Filipina) • Beting Scarborough ( Filipina, RRT, RT) • Kepulauan Spratly ( Brunei, Malaysia, Filipina, RRT, RT, Vietnam) Gerakan separatis • General Agreement on Tariffs and Trade • Agriculture • Sanitary and Phytosanitary Measures • Technical Barriers to Trade • Trade Related Investment Measures • Trade in Services • Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights • Government Procurement • Information Technology • Perjanjian Marrakech • Deklarasi Doha Konferensi Menteri 1.

Ke-28 negara anggota Uni Eropa juga merupakan anggota WTO dengan hak sendiri: • Austria • Belgia • Bulgaria • Kroasia • Siprus • Republik Ceko • Denmark • Estonia • Finlandia • Prancis • Jerman • Yunani • Hongaria • Irlandia • Italia • Latvia • Lituania • Luksemburg • Malta • Belanda • Polandia • Portugal • Rumania • Slovakia • Slovenia • Spanyol • Swedia • Britania Raya 2.

Wilayah administratif khusus Republik Rakyat Tiongkok, terdaftar dengan nama "Hong Kong, Tiongkok" dan "Makau,Tiongkok". 3. Secara resmi Republik Tiongkok, terdaftar dengan nama " Separate Customs Territory of Taiwan, Penghu, Kinmen and Matsu" Afganistan · Afrika Selatan · Republik Afrika Tengah · Aljazair · Angola · Antigua dan Barbuda · Arab Saudi · Bahama · Bahrain · Bangladesh · Barbados · Belarus · Belize · Benin · Bhutan · Bolivia · Botswana · Brunei · Burkina Faso · Burundi · Chad · Chili · Djibouti · Dominika · Republik Dominika · Ekuador · Mesir · Guinea Khatulistiwa · Eritrea · Eswatini · Ethiopia · Filipina · Gabon · Gambia · Ghana · Grenada · Guatemala · Guinea · Guinea-Bissau · Guyana · Honduras · India · Indonesia · Iran · Jamaika · Kamboja · Kamerun · Kenya · Kolombia · Komoro · Republik Kongo · Republik Demokratik Kongo · Korea Utara · Kuba · Kuwait · Laos · Lebanon · Lesotho · Liberia · Libya · Madagaskar · Maladewa · Malawi · Malaysia · Mali · Mauritania · Mauritius · Mongolia · Maroko · Mozambik · Myanmar · Namibia · Nepal · Nikaragua · Niger · Nigeria · Oman · Pakistan · Palestina · Panama · Pantai Gading · Papua Nugini · Peru · Qatar · Rwanda · Saint Lucia · Saint Vincent dan Grenadines · Sao Tome dan Principe · Senegal · Seychelles · Sierra Leone · Singapura · Somalia · Sri Lanka · Sudan · Suriname · Suriah · Tanjung Verde · Tanzania · Thailand · Timor Leste · Togo · Trinidad dan Tobago · Tunisia · Turkmenistan · Uganda · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Vanuatu · Venezuela · Vietnam · Yaman · Yordania · Zambia · Zimbabwe Negara pemantau Afganistan · Albania · Aljazair · Arab Saudi · Azerbaijan · Bahrain · Bangladesh · Benin berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah Brunei · Burkina Faso · Chad · Gabon · Gambia · Guinea · Guinea Bissau · Guyana · Indonesia · Irak · Iran · Jibuti · Kamerun · Kazakhstan · Komoro · Kirgizstan · Kuwait · Lebanon · Libya · Maladewa · Malaysia · Mali · Maroko · Mauritania · Mesir · Mozambik · Niger · Nigeria · Oman · Pakistan · Palestina · Pantai Gading · Qatar · Senegal · Sierra Leone · Somalia · Sudan · Suriah · Suriname · Tajikistan berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah Togo · Tunisia · Turki · Turkmenistan · Uganda · Uni Emirat Arab · Uzbekistan · Yaman · Yordania Pengamat Kategori tersembunyi: • Halaman dengan argumen ganda di pemanggilan templat • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Halaman dengan rujukan yang tidak memiliki judul • Halaman dengan rujukan yang memiliki URL kosong • Galat CS1: tanggal • Templat webarchive tautan wayback • Galat CS1: tidak memiliki penulis atau penyunting • Pemeliharaan CS1: Format PMC • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • Halaman yang menggunakan pranala magis ISBN • Halaman Wikipedia yang berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah sebagian tanpa batas waktu • Pages using infobox country or infobox former country with the symbol caption or type parameters • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan • Halaman yang menggunakan multiple image dengan pengubahan ukuran gambar otomatis • Pranala Commons ada di Wikidata • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda ISNI • Artikel Wikipedia dengan penanda VIAF • Artikel Wikipedia dengan penanda BNF • Artikel Wikipedia dengan penanda EMU • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda NDL • Artikel Wikipedia dengan penanda NKC • Artikel Wikipedia dengan penanda NLI • Artikel Wikipedia dengan penanda FAST • Artikel Wikipedia dengan penanda HDS • Artikel Wikipedia dengan penanda MusicBrainz area • Artikel Wikipedia dengan penanda NARA • Artikel Wikipedia dengan penanda SUDOC • Artikel Wikipedia dengan penanda TDVİA • Artikel Wikipedia dengan penanda WORLDCATID • Halaman ini terakhir diubah pada 8 Mei 2022, pukul 04.06.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Konten Terkait • Rusia dan Negara-negara Barat, Bolehkan Anda Pakai Dana Perangmu untuk Bantu Negara-negara Miskin?

• Negara Peradaban dalam Keabadian • Urgensi Vs Tantangan Pendidikan Informal • Mengenal Negara-negara dari Ikonnya • Bertemunya Kejutan dan Tantangan • Perlindungan Data Pribadi sebagai Hak Asasi Manusia Sebuah Tantangan dan Kritis Kebangsaan Indonesia Maju Pengertian Pancasila Sebagai Ideologi Negara Pancasila sebagai ideologi negara artinya seluruh warga negara Indonesia menjadikan pancasila sebagai dasar sistem kenegaraan.

Nilai-nilai yang ada pada setiap butir pancasila harus dijadikan sebagai pedoman dasar dalam melangsungkan kehidupan bernegara. Selain itu, pancasila sebagai ideologi negara juga bermakna menjadikan pancasila sebagai cita-cita atau visi. Hal ini tentunya berlaku untuk pemerintah dan seluruh warga negara. Pada hakikatnya pancasila sebagai ideologi negara memiliki tiga dimensi sebagai berikut: • Dimensi realitas;  mengandung  makna  bahwa  nilai-nilai  dasar  yang terkandung dalam dirinya bersumber dari nilai-nilai real yang hidup dalam masyarakatnya.

• Dimensi idealitas;  mengandung  cita-cita  yang  ingin  dicapai  dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa,dan bernegara. • Dimensi  fleksibilitas;  mengandung  relevansi  atau  kekuatan  yang merangsang masyarakat untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran baru  tentang  nilai-nilai  dasar  yang  terkandung  di  dalamnya. Pacasila sebagai ideologi negara memiliki peran yang konkret sebagai berikut: • Sebagai  penuntun  warga  negara,  artinya  setiap  perilaku warga negara harus didasarkan pada preskripsi moral.

• Sebagai penolakan terhadap nilai-nilai yang tidak sesuai dengan sila-sila Pancasila. Pentingnya  Pancasila sebagai  ideologi Negara adalah untuk  memperlihatkan peran ideologi  sebagai penuntun moral  dalam  kehidupan  berbangsa  dan  bernegara  sehingga ancaman-ancaman  yang  datang  untuk  negeri  ini  dapat dicegah  dengan  cepat.

 Sebab  Pancasila  merupakakan  Ideologi  yang  terbuka  bagi  seluruh  perkembangan  zaman. Sehigga  apapun  yang  terjadi  dalam  perkembangan  zaman  harus  sesuai  dengan  kaedah-kaedah  yang  berlaku atas dasar  Pancasila. Tantangan Pancasila Sebagai Ideologi Negara Pancasila  sebagai  ideologi negara  dalam  masa pemerintahan Presiden Soekarno, ideologi Pancasila mengalami pasang surut karena dicampur dengan ideologi komunisme dalam konsep Nasakom.

Pancasila  sebagai  ideologi  dalam  masa  pemerintahan Presiden  Soeharto, ideologi Pancasila menjadi  asas  tunggal  bagi  semua  organisasi  politik  (Orpol)  dan organisasi masyarakat (Ormas).

Pada  masa  era  reformasi, Pancasila sebagai  ideologi  negara mengalami pasang  surut  dengan  ditandai  beberapa  hal, seperti:  enggannya  para penyelenggara  negara  mewacanakan  tentang  Pancasila,  bahkan  berujung pada hilangnya Pancasila dari kurikulum nasional, meskipun pada akhirnya timbul  kesadaran  penyelenggara  negara  tentang  pentingnya  pendidikan Pancasila di perguruan tinggi.

Di tengah perubahan zaman, persoalan yang perlu diwaspadai adalah ketika masyarakat, khususnya generasi muda, tidak lagi memandang Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara. Dan pada era globalisasi tantangan pancasila sebagai ideologi negara adalah banyaknya ideologi alternatif melalui media informasi yang mudah dijangkau oleh seluruh anak bangsa seperti radikalisme, ekstremisme, konsumerisme. Hal tersebut juga membuat masyarakat mengalami penurunan intensitas pembelajaran Pancasila dan juga kurangnya efektivitas serta daya tarik pembelajaran Pancasila.

Kemudian tantangan selanjutnya adalah eksklusivisme sosial yang terkait derasnya arus globalisasi yang mengarah kepada menguatnya kecenderungan politisasi identitas, gejala polarisasi dan fragmentasi sosial yang berbasis SARA.

Bonus demografi yang akan segera dinikmati Bangsa Indonesia juga menjadi tantangan tersendiri untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda di tengah arus globalisasi. Unsur-unsur yang memengaruhi tantangan terhadap Pancasila sebagai  ideologi negara  meliputi  faktor  eksternal dan  internal.

Adapun faktor eksternal meliputi hal-hal berikut: • Pertarungan ideologis antara negara-negara super powerantara Amerika Serikat dan Uni Soviet antara 1945 sampai 1990 yang berakhir dengan bubarnya negara Soviet sehingga Amerika menjadi satu-satunya negara super power. • Menguatnya  isu  kebudayaan  global  yang  ditandai  dengan  masuknya berbagai ideologiasing dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena keterbukaan informasi.

• Meningkatnya kebutuhan dunia sebagai akibat pertambahan penduduk dan  kemajuan  teknologi  sehingga  terjadi  eksploitasi  terhadap  sumber daya alam secara masif. Dampak konkritnya adalah kerusakan lingkungan,seperti banjir, kebakaran hutan. Adapun faktor internal sebagai berikut: • Pergantian  rezim  yang  berkuasa  melahirkan  kebijakan  politik  yang berorientasi pada kepentingan kelompok atau partai sehingga ideologi Pancasilasering terabaikan.

• Penyalahgunaan  kekuasaan  (korupsi)  mengakibatkan  rendahnya kepercayaan  masyarakat  terhadap  rezim  yang  berkuasa  sehingga kepercayaan  terhadap  ideologi  menurun  drastis. Dengan tantangan pancasila yang semakin berat, generasi bangsa diharapakan mampu menjaga dan mempertahankan Pancasila sebagi ideologi negara. Generasi bangsa dapat mempertahankan ideologi Pancasila dengan cara konsisten mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dapat diwujudkan dengan toleransi terhadap orang lain yang memiliki keyakinan yang berbeda. Kemanusiaan yang adil dan beradab dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku saling menghargai martabat sesama manusia dan tidak melakukan diskriminasi. Sila Persatuan Indonesia tercermin dalam sikap gotong royong dan usaha untuk menciptakan kerukunan.

Sedangkan sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dapat Anda amalkan misalnya dengan menyelesaikan masalah melalui musyawarah. Sementara itu, sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku menghargai hak orang lain serta melaksanakan kewajiban. KESIMPULANÂ
• Аԥсшәа • Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • Aragonés • Ænglisc • العربية • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • अवधी • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Basa Bali • Boarisch • Žemaitėška • Bikol Central • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • বাংলা • བོད་ཡིག • বিষ্ণুপ্রিয়া মণিপুরী • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • Нохчийн • Cebuano • کوردی • Qırımtatarca • Čeština • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Zazaki • डोटेली • ދިވެހިބަސް • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Nordfriisk • Frysk • Gaeilge • 贛語 • Galego • Avañe'ẽ • गोंयची कोंकणी / Gõychi Konknni • 𐌲𐌿𐍄𐌹𐍃𐌺 • ગુજરાતી • 客家語/Hak-kâ-ngî • עברית • हिन्दी • Fiji Hindi • Hrvatski • Magyar • Հայերեն • Interlingua • Ilokano • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • Patois • Jawa • ქართული • Адыгэбзэ • Kabɩyɛ • Қазақша • ភាសាខ្មែរ • ಕನ್ನಡ • 한국어 • कॉशुर / کٲشُر • Kurdî • Коми • Kernowek • Кыргызча • Latina • Лезги • Lingua Franca Nova • Berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah • Ligure • Lombard • ລາວ • Lietuvių • Latviešu • मैथिली • Malagasy • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • ꯃꯤꯇꯩ ꯂꯣꯟ • मराठी • Bahasa Melayu • မြန်မာဘာသာ • Эрзянь • Nāhuatl • Plattdüütsch • नेपाली • नेपाल भाषा • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Occitan • ଓଡ଼ିଆ • ਪੰਜਾਬੀ • Kapampangan • पालि • Polski • Piemontèis • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Română • Tarandíne • Русский • Русиньскый • Ikinyarwanda • संस्कृतम् • Саха тыла • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sardu • Sicilianu • Scots • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • سرائیکی • Slovenščina • Shqip • Berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah / srpski • Sunda • Svenska • Kiswahili • Ślůnski • தமிழ் • ತುಳು • తెలుగు • ไทย • Tagalog • Türkçe • Татарча/tatarça • Тыва дыл • Удмурт • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vepsän kel’ • Tiếng Việt • Volapük • Winaray • 吴语 • Хальмг • მარგალური • ייִדיש • Vahcuengh • 中文 • 文言 • Bân-lâm-gú • 粵語 India ( Bahasa Jadwal Kedelapan) Kode bahasa ISO 639-1 sa ISO 639-2 san ISO 639-3 san Bahasa Sanskerta (ejaan tidak baku: Sansekerta, Sangsekerta, Sanskrit, [4] aksara Dewanagari: संस्कृतम्, saṃskṛtam [5]) adalah bahasa kuno Asia Selatan yang merupakan cabang Indo-Arya dari rumpun bahasa Indo-Eropa.

[6] [7] [8] Bahasa ini berkembang di Asia Selatan setelah moyangnya mengalami difusi trans-budaya di wilayah barat laut Asia Selatan pada Zaman Perunggu. [9] [10] Bahasa Sanskerta adalah bahasa suci umat Hindu, Buddha, dan Jain. Bahasa ini merupakan basantara Asia Selatan pada zaman kuno dan pertengahan, dan menjadi bahasa agama, kebudayaan, dan politik yang tersebar di sejumlah wilayah di Asia Tenggara, dan Tengah. [11] [12] Bahasa ini memberikan banyak pengaruh bahasa di Asia Selatan, Tenggara, dan Timur, khususnya melalui kosakata yang dipelajari.

[13] Bahasa Sanskerta masih mempertahankan ciri-ciri bahasa Indo-Arya kuno. [14] [15] Bentuk arkaisnya adalah bahasa Weda yang ditemukan dalam Regweda, kumpulan 1.028 himne yang disusun oleh masyarakat suku Indo-Arya yang bermigrasi di wilayah yang kini Afganistan hingga Pakistan dan kemudian India Utara. [16] [17] Bahasa Weda ini berakulturasi dengan bahasa kuno yang telah ada di anak benua India, menyerap kosakata yang berkaitan dengan nama-nama hewan dan tumbuhan; dan tambahannya, rumpun bahasa Dravida kuno mempengaruhi fonologi dan sintaksis Sanskerta.

[18] "Sanskerta" dapat juga merujuk pada bahasa Sanskerta klasik yang tata bahasanya dibakukan pada pertengahan milenium pertama SM secara sangat lengkap, [b] yang termuat dalam kitab Aṣṭādhyāyī ("Delapan Bab") karya Pāṇini.

[20] Pujangga dan dramawan besar Kalidasa menulis menggunakan bahasa Sanskerta klasik, dan dasar-dasar aritmetika klasik pertama kalinya dideskripsikan dalam bahasa Sanskerta klasik.

[c] [21] Dua wiracarita besar Mahabharata dan Ramayana, disusun menggunakan gaya bahasa cerita lisan yang digunakan di India Utara antara 400 SM dan 300 SM, dan kira-kira sezaman dengan bahasa Sanskerta klasik. [22] Pada abad-abad berikutnya bahasa Sanskerta mulai terikat tradisi, berhenti dipelajari sebagai bahasa ibu, dan akhirnya berhenti berkembang sebagai bahasa yang hidup.

[23] Nyanyian Regweda sangat mirip dengan puisi arkais berbahasa Iran dan Yunani, Gathas dalam bahasa Avesta dan Illiad karya Homeros. [24] Karena Regweda mengalir dari mulut ke mulut dengan cara rajin menghafal, [25] [26] dan dianggap sebagai sebuah teks tunggal tanpa varian apa pun, [27] Regweda melestarikan morfologi dan sintaksis yang mendorong rekonstruksi moyang dari bahasa tersebut, bahasa Proto-Indo-Eropa.

[24] Bahasa Sanskerta tidak memiliki sistem tulisan yang spesifik: sekitar peralihan milenium pertama Masehi, bahasa ini ditulis dalam aksara-aksara berumpun Brahmi dan saat ini menggunakan aksara Dewanagari. [a] [2] [3] Status, fungsi, dan penempatan bahasa Sanskerta sebagai warisan sejarah dan budaya India diakui dalam bahasa resmi di Jadwal Kedelapan dari Konstitusi India. [28] [29] Namun, di luar kebangkitannya, [30] [31] tidak ada masyarakat yang mengakui bahasa ini sebagai bahasa ibu di India.

[31] [32] [33] Pada sensus terakhir di India, sekitar ribuan warga negara India mengakui bahasa Sanskerta sebagai bahasa ibu mereka, [d] dan angka itu dianggap menandakan harapan penyelarasan dengan prestise berbahasa. [31] [35] Bahasa Sanskerta diajarkan di gurukula sejak zaman kuno; dan kini diajarkan pada sekolah menengah pertama. Sekolah modern bahasa Sanskerta tertua adalah Sampurnanand Sanskrit Vishwavidyalaya, didirikan pada 1791 pada masa pemerintahan Perusahaan Hindia Timur Britania.

[36] Bahasa Sanskerta menjadi bahasa liturgi bagi umat Hindu dan Buddha, digunakan untuk membacakan nyanyian dan mantra. Daftar isi • 1 Etimologi dan penamaan • 2 Sejarah • 2.1 Asal usul dan perkembangan • 2.2 Bahasa Weda • 2.3 Bahasa Sanskerta Klasik • 2.4 Bahasa Sanskerta dan Prakerta • 2.5 Pengaruh rumpun Dravida • 3 Distribusi geografis • 3.1 Status resmi • 4 Penelitian oleh bangsa Eropa • 5 Beberapa ciri-ciri • 5.1 Kasus • 5.1.1 Skema dasar tasrifan (deklensi) sufiks untuk kata-kata benda dan sifat • 5.1.2 Pokok-a • 5.1.3 Pokok -i dan -u • 5.1.4 Pokok vokal panjang • 5.2 Hukum sandhi • 6 Pembentukan kata majemuk • 7 Bahasa Sanskerta di Indonesia • 8 Bahasa Sanskerta dalam beberapa aksara • 9 Lihat pula • 10 Catatan kaki • 11 Referensi • 11.1 Daftar pustaka • 12 Daftar pustaka Etimologi dan penamaan [ sunting - sunting sumber ] Manuskrip Sanskerta kuno: kitab suci keagamaan (atas), dan teks pengobatan (bawah) Dalam bahasa Sanskerta ajektiva verbal sáṃskṛta- adalah kata majemuk yang tersusun dari sam (berbudaya, bagus, baik, sempurna) dan krta- (tersusun).

[37] [38] Maksudnya adalah suatu bahasa yang "tersusun dengan baik, murni, sempurna, suci, dan berbudaya". [39] [40] [41] Menurut Biderman, kesempurnaan yang dimaksud dari etimologi tersebut cenderung memiliki kualitas tonal bukannya semantik. Tradisi lisan dianggap berharga di India Kuno, dan resi-resinya menyusun alfabet, struktur kata, dan tata bahasanya menjadi "sebuah kumpulan suara, semacam cetakan musikal yang bernilai luhur", sebagaimana yang disebut Biderman, sebagai sebuah bahasa yang disebut Sanskerta.

[38] Dari akhir periode Weda, sebagaimana yang disebut Annette Wilke dan Oliver Moebus, landasan resonansi dan musikalnya membangun "literatur linguistik, filosofis, dan religius dengan jumlah yang sangat besar" di India. Suara-suara itu divisualisiasikan "meliputi seluruh ciptaan", representasi lain dari dunia itu sendiri; sebuah "magna misterius" dari pemikiran Hindu. Pencarian kesempurnaan dalam pemikiran dan tujuan kebebasan berada di antara dimensi suara sakral, benang merah itu merangkai semua ide dan inspirasi menjadi apa yang diyakini masyarakat India kuno sebagai bahasa yang sempurna, sehingga terciptalah "epistema fonosentris" bahasa Sanskerta.

[42] [43] Bahasa ini dianggap sebagai lawan dari bahasa-bahasa rakyat ( prākṛta-). Kata prakrta secara literal berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah "asli, alami, normal, tak berseni", menurut Franklin Southworth.

[44] Keterkaitan antara bahasa Prakerta dan Sanskerta ditemukan dalam naskah India berangka milenium pertama Masehi. Patañjali mengakui bahasa Prakerta sebagai bahasa pertama, yang secara naluriah diadopsi oleh anak-anak yang berujung pada masalah interpretasi dan kesalahpahaman.

Pemurnian struktur bahasa Sanskerta menghapus ketidaksempurnaan itu. Tatabahasawan Sanskerta awal Daṇḍin menyatakan, sebagai contoh, banyak kata bahasa Prakerta berasal dari Sanskerta, tetapi memunculkan "kehilangan suara" dan penyalahgunaan makna yang merupakan hasil dari "pengabaian tata bahasa". Daṇḍin mengakui ada kata-kata dan struktur membingungkan dari bahasa Prakerta yang lepas dari bahasa Sanskerta. Pandangan ini tampak pada gaya penulisan Bharata Muni yang mengarang naskah Natyasastra.

Namisādhu, salah satu cendekiawan Jaina, mengakui berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah perbedaan tersebut, tetapi tidak setuju kalau bahasa Prakerta adalah hasil penyalahgunaan makna dari Sanskerta. Namisādhu menyatakan bahwa bahasa Prakerta bersifat pūrvam (alamiah) bagi anak-anak, dan Sanskerta adalah penyempurnaan bahasa Prakerta melalui sebuah "pemurnian tata bahasa". [45] Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Asal usul dan perkembangan [ sunting - sunting sumber ] Kiri: Hipotesis Kurgan yang berkaitan dengan migrasi Indo-Eropa antara 4000–1000 SM.

Kanan: sebaran berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah rumpun bahasa Indo-Eropa dengan Sanskerta di Asia Selatan. Bahasa Sanskerta termasuk dalam rumpun bahasa Indo-Eropa. Bahasa ini menjadi salah satu dari tiga bahasa Indo-Eropa tertua yang didokumentasikan serta lahir dari suatu bahasa purba yang direkonstruksi yaitu bahasa Proto-Indo-Eropa: [7] [8] [46] • Bahasa Weda ( ca. 1500–500 SM). • Bahasa Yunani Mikenai ( ca. 1450 SM) [47] dan Yunani Kuno ( ca. 750–400 SM).

• Bahasa Het ( ca. 1750–1200 SM). Bahasa Indo-Eropa lainnya yang berhubungan dengan Sanskerta antara lain bahasa Latin arkais dan klasik ( ca. 600 SM–100 M, Italia zaman kuno), bahasa Gotik ( bahasa Jermanik arkais, ca. 350 SM), bahasa Norse Kuno ( ca. 200 SM ke atas), bahasa Avesta Kuno ( ca.

akhir milenium ke-2 SM [48]), dan bahasa Avesta Muda ( ca. 900 SM). [7] [8] Bahasa kuno terdekat dengan bahasa Weda adalah rumpun Nuristan yang ditemukan di wilayah Hindu Kush, timur laut Afganistan dan barat laut Himalaya, [8] [49] [50] serta bahasa Avesta dan Persia Kuno yang punah — keduanya berumpun Iran.

[51] [52] [53] Bahasa Sanskerta adalah kelompok bahasa satem Indo-Eropa. Sejumlah sarjana zaman kolonial yang menguasai bahasa Berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah dan Yunani terkejut dengan kemiripan bahasa-bahasa klasik Eropa dengan Sanskerta, baik dari kosakata dan tata bahasanya.

Dalam The Oxford Introduction to Proto-Indo-European and the Proto-Indo-European World, Mallory dan Adams menjelaskan kemiripan tersebut dalam beberapa contoh berikut: [54] Inggris Latin Yunani Sanskerta mother māter mētēr mātár- father pater pater pitár- brother frāter phreter bhrātar- sister soror eor svásar- son fīlius huius sūnú- daughter fīlia thugátēr duhitár- cow bōs bous gáu- house domus do dām- Kedekatan kosakata tersebut menunjukkan adanya sebuah akar kata, serta kaitan historis antara sejumlah bahasa-bahasa kuno besar di dunia.

[e] Teori migrasi Indo-Arya menjelaskan bagaimana bahasa Sanskerta dan bahasa Indo-Eropa lainnya saling berkaitan serta menyatakan bahwa penutur asli bahasa yang kelak menjadi Sanskerta tiba di Asia Selatan dari asalnya, kemungkinan barat laut wilayah Indus pada awal milenium ke-2 SM.

Bukti sejarah yang ada dalam teori berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah adalah kedekatan antara bahasa Indo-Iran dengan rumpun bahasa Baltik dan Slavik, pertukaran dengan kosakata non-Indo-Eropa seperti rumpun bahasa Ural, dan kosakata Indo-Eropa yang berkaitan dengan flora-fauna.

[56] Masa prasejarah rumpun bahasa Indo-Arya sebagai moyang bahasa Sanskerta tidak jelas dan hipotesisnya diajukan dalam batas yang cukup luas. Menurut Thomas Burrow, dengan menghubungkannya dengan bahasa rumpun Indo Eropa, asal usul bahasa tersebut mungkin bermula dari Eropa Tengah atau Timur, dan rumpun Indo-Iran muncul dari Rusia Tengah.

[57] Cabang rumpun bahasa Indo-Iran, Indo-Arya dan Iran, berpisah. Bahasa Sanskerta adalah cabang Indo-Arya yang berpindah menuju Iran timur, kemudian mengarah ke Asia Selatan pada paruh pertama milenium ke-2 SM. Begitu permulaan India Kuno, bahasa Indo-Arya mengalami perubahan lingustik dan terciptalah bahasa Weda. [58] Bahasa Weda [ sunting - sunting sumber ] Regweda ditulis dalam aksara Dewanagari, awal abad ke-19. Garis merah horizontal dan vertikal mewakili tangga nada rendah dan tinggi dalam pembacaannya.

Bentuk praklasik bahasa Sanskerta adalah bahasa Weda. Naskah tertulis paling awal yang menggunakan bahasa Sanskerta adalah salah satu dari kitab suci umat Hindu yang empat, Regweda, ditulis pada pertengahan hingga akhir abad ke-2 SM. Tak ada catatan tertulis dari masa-masa awal yang dilestarikan, bahkan jika ada, sejumlah sarjana percaya bahwa Regweda turun-temurun secara lisan: teks tersebut adalah teks upacara keagamaan, dengan ekspresi fonetis yang pasti dan pelestariannya menjadi bagian dari tradisi.

berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah

{INSERTKEYS} [59] [60] [61] Regweda adalah kumpulan kitab suci yang dibuat oleh banyak pengarang secara terpisah di wilayah India kuno. Penulis-penulisnya berada pada generasi yang berbeda-beda: Mandala 2 hingga 7 adalah yang tertua, sedangkan mandala 1 dan 10 adalah yang termuda. [62] [63] Namun bahasa Weda dalam kitab-kitab Rigveda "hampir tidak menyajikan keragaman dialektika", menurut Louis Renou — seorang Indolog yang dikenal karena penelitiannya tentang sastra Sanskerta dan khususnya Rigveda.

Menurut Renou, ini menunjukkan bahwa bahasa Weda memiliki "pola linguistik yang teratur" pada paruh kedua milenium ke-2 SM. [64] Setelah Regweda, Weda lainnya yang bertahan adalah Samaweda, Yajurweda, dan Atharwaweda, bersama naskah-naskah lain seperti Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad. [59] Dokumen Weda merefleksikan dialek bahasa Sanskerta pada sejumlah wilayah barat laut, utara, dan timur anak benua India. [65] [66] (hlm. 9) Bahasa Weda adalah bahasa lisan sekaligus tertulis pada zaman India Kuno.

Menurut Michael Witzel, bahasa Weda adalah bahasa lisan suku seminomaden Arya yang kelak bertempat tinggal di satu tempat dan tetap memelihara kebiasaan sehari-hari mereka seperti beternak sapi, bertani terbatas, dan menjalankan gerobak yang disebut grama. [66] (hlm. 16–17) [67] Bahasa Weda atau varian Indo-Eropa terdekatnya diakui di seluruh wilayah India Kuno yang dibuktikan dengan "Traktat Mitanni" antara bangsa Het dan Mitanni, dipahat pada batu, di suatu wilayah yang kini menjadi Suriah dan Turki.

[68] [f] Bagian dari traktat tersebut seperti nama-nama pangeran Mitanni dan istilah teknis yang berhubungan dengan perkudaan, dengan alasan yang tak dipahami, ditulis dalam bentuk awal bahasa Weda. Traktat ini juga memuat Dewa Baruna, Mitra, Indra, dan Nasatya yang ditemukan dalam lapisan awal literatur Weda. [68] [70] Bahasa Weda yang ada dalam Regweda lebih arkais daripada Weda-Weda lainnya, dan dalam banyak hal, gaya bahasa Regweda diketahui lebih mirip dengan salah satu kitab umat Majusi Gathas dan juga Iliad dan Odisseia karya Homeros.

[71] Menurut Stephanie W. Jamison dan Joel P. Brereton — Indolog yang dikenal karena penerjemahan Regweda — literatur Weda "telah jelas diwariskan" dari struktur sosial zaman Indo-Iran dan Indo-Eropa seperti peranan penyair dan pendeta, ekonomi patronasi, kemiripan frasa, dan sejumlah metrum puisi. [72] [g] Meski ada kemiripan, menurut Jamison dan Brereton, ada perbedaan antara sastra Weda, Avesta Kuno, dan Yunani Mikenai.

Misalnya, tak seperti penggunaan majas simile dalam Regweda, teks Gathas tak memiliki simile, dan jarang digunakan pada versi bahasa yang kemudian. Bahasa Yunani Homeros, seperti Sanskerta Regweda, banyak menggunakan simile, tetapi secara struktural sangat berbeda. [74] Bahasa Sanskerta Klasik [ sunting - sunting sumber ] Naskah tata bahasa Sanskerta Pāṇini abad ke-17 dari Kashmir Bentuk bahasa Weda kurang homogen, dan kemudian berevolusi menjadi bahasa yang lebih terstruktur dan homogen, yang disebut bahasa Sanskerta Klasik pada pertengahan milenium pertama SM.

Menurut Richard Gombrich—Indolog dan sarjana bahasa Sanskerta, Pāli, dan studi agama Buddha—bahasa Weda yang arkais dalam Regweda sudah berevolusi pada periode Weda, seperti dibuktikan dalam karya sastra Weda berikutnya.

Bahasa dalam Upanisad Hindu awal dan karya sastra Weda berikutnya menggunakan bahasa Sanskerta Klasik, sedangkan bahasa Weda yang arkais pada zaman Buddha menjadi tak bisa dipahami oleh semua orang kecuali para Resi, menurut Gombrich. [75] Orang yang dikredit berjasa dalam formalisasi bahasa Sanskerta adalah Pāṇini, juga Mahabhasya karya Patanjali serta komentar Katyayana yang mendahului karya Patanjali.

[76] Panini menyusun kitab Aṣṭādhyāyī ("Delapan Bab Tata Bahasa Sanskerta"). Masa hidupnya sering diperdebatkan, tetapi umumnya disepakati bahwa karyanya dibuat antara abad ke-6 hingga ke-4 SM.

[77] [78] [79] Aṣṭādhyāyī bukanlah karya pertama yang mendeskripsikan tata bahasa Sanskerta, tetapi merupakan karya paling awal yang masih bisa dilestarikan secara utuh. Pāṇini mengutip sepuluh orang resi terkait aspek tata bahasa dan fonologi Sanskerta sebelumnya, serta varian penggunaan bahasa Sanskerta di wilayah India yang berbeda.

[80] Ia mengutip sepuluh orang resi yaitu Apisali, Kasyapa, Gargya, Galawa, Cakrawarmana, Bharadwaja, Sakatayana, Sakalya, Senaka, dan Sphotayana.

[81] Aṣṭādhyāyī menjadi peletak dasar salah satu Wedangga, Wyakarana, . [82] Dalam Aṣṭādhyāyī, bahasa dipandang dengan cara yang tidak sejalan dengan tatabahasawan Yunani atau Latin. Tata bahasa Pāṇini, menurut Renou dan Filliozat, mendefinisikan ekspresi linguistik dan klasika yang menjadi acuan dari bahasa Sanskerta. [83] Pāṇini menggunakan metabahasa teknis, seperti sintaksis, morfologi, dan leksikon. Metabahasa ini terorganisasi menurut deret aturan-meta, beberapa di antaranya dijelaskan langsung, sedangkan lainnya dapat disimpulkan sendiri.

[84] Teori komprehensif dan ilmiah tata bahasa Pāṇini kelak menjadi awal permulaan bahasa Sanskerta Klasik. [85] Risalahnya yang sistematis mengilhami dan menjadikan bahasa Sanskerta sebagai bahasa utama dalam pembelajaraan dan sastra India selama dua milenium. [86] Tak jelas apakah Pāṇini menulisnya sendiri, atau memberikan penjelasannya kepada murid-muridnya secara turun temurun. Sejumlah sarjana menyetujui bahwa ia sudah mengenal penulisan, berdasarkan rujukan kata lipi ("aksara") atau lipikara ("penulis") pada subbab 3.2 Aṣṭādhyāyī.

[87] [88] [89] [h] Bahasa Sanskerta Klasik yang diformalkan oleh Pāṇini, menurut Renou, "bukan bahasa yang dimiskinkan", melainkan "bahasa yang diatur dan ditata dengan mengabaikan arkaisme dan alternatif formal yang tidak perlu". [96] Bentuk klasik Sanskerta menyederhanakan hukum sandhi tetapi tetap mempertahankan ciri-ciri bahasa Weda, serta menambahkan ketelitian dan fleksibilitas, sehingga memiliki ruang yang cukup untuk mengekspresikan pikiran serta "mampu menjawab tuntutan literatur yang beragam di masa mendatang", menurut Renou.

Pāṇini juga membuat "aturan pilihan" di luar kerangka kerja bahasa Weda bahulam, untuk menghargai kebebasan dan kreativitas sehingga para penulis yang berada di wilayah geografis atau waktu yang berbeda dapat bebas mengekspresikan fakta dan pandangannya sendiri. [97] Perbedaan fonetika bahasa Weda dan Sanskerta Klasik dapat diabaikan, bila dibandingkan dengan perubahan yang terjadi pada masa pra-Weda antara bahasa Indo-Arya dan bahasa Weda.

[98] Yang membuat bahasa Weda dan Sanskerta klasik berbeda adalah tata bahasa dan kategori gramatikal yang diperluas, serta perbedaan aksen, semantik, dan sintaksis. [99] Ada juga perbedaan bagaimana akhir dari kata benda dan kata kerja, serta juga hukum sandhi, baik internal maupun eksternal. [99] Banyak sekali kata dalam bahasa Weda tidak ditemukan dalam literatur bahasa Weda akhir atau Sanskerta Klasik, sedangkan ada kata Sanskerta Klasik yang maknanya berbeda dan baru jika dibandingkan dengan literatur bahasa Weda.

[99] Arthur Macdonell adalah salah satu sarjana zaman kolonial yang telah merangkum sejumlah perbedaan bahasa Weda dan Sanskerta Klasik. [99] [100] Publikasi berbahasa Prancis kary Louis Renou tahun 1956, berisi pembahasan yang lebih rinci terkait kemiripan, perbedaan, dan evolusi bahasa Weda pada periode Weda dengan bahasa Sanskerta Klasik beserta pandangan pribadinya.

Karyanya kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Jagbans Balbir. [101] Bahasa Sanskerta dan Prakerta [ sunting - sunting sumber ] Kata Saṃskṛta dalam aksara Gupta: Saṃ-skṛ-ta Prasasti Mandsaur, 532 M.

[102] Kata Saṃskṛta sebagai sebuah bahasa, ditemukan dalam ayat 5.28.17–19 kitab Ramayana. [103] Di luar bahasa Sanskerta yang tertulis dan dipelajari, sejumlah bahasa rakyat ( Prakerta) muncul. Bahasa Sanskerta hadir bersama Prakerta pada zaman India kuno. Bahasa Prakerta memiliki akar bahasa Sanskerta yang disebut Apabhramsa, artinya "bahasa yang mengabaikan tata bahasa". [104] [105] Weda memiliki kata-kata yang ekuivalensi fonetiknya tidak ditemukan dalam bahasa Indo-Eropa lain tetapi ditemukan dalam bahasa Prakerta, yang menandai mulainya interaksi berbagi kata dan gagasan pada sejarah awal India.

Semenjak pemikiran bangsa India terdiversifikasi dan ajaran awal Hindu mengalami tantangan, khususnya lahirnya agama Buddha dan Jain, bahasa Prakerta seperti Pali yang dipertuturkan umat Buddha Theravāda dan Ardhamagadhi yang dipertuturkan umat Jain bersaing dengan bahasa Sanskerta pada zaman kuno.

[106] [107] [108] Namun, menurut Paul Dundas, sarjana Jaina, bahasa-bahasa Prakerta kuno "dikira-kira memiliki hubungan yang dekat dengan Sanskerta, sama seperti halnya bahasa Italia pertengahan dengan Latin." [108] Tradisi India mengakui bahwa Buddha dan Mahawira memilih bahasa Prakerta sehingga siapa pun dapat memahaminya.

Namun, sarjana seperti Dundas mempertanyakan hipotesis ini. Mereka mengaku tidak ada bukti dan bahkan jika ada buktinya pada awal masa itu, orang-orang sulit mempelajari bahasa Prakerta kuno seperti Ardhamagadhi kecuali para biksu atau rahib.

[108] [i] Sarjana era kolonial mempertanyakan apakah Sanskerta itu bahasa lisan, atau hanya bahasa sastra. [110] Salah satu aliran menyebut bahwa Sanskerta tak pernah sebagai bahasa lisan, sedangkan yang lain dan kebanyakan sarjana India justru tidak setuju. [111] Mereka yang menegaskan Sanskerta adalah bahasa daerah menyatakan bahwa bahasa ini dahulu adalah bahasa lisan yang dilestarikan dalam naskah-naskah tertulis Sanskerta di India kuno.

Selain itu, bukti tekstual karya Yaksa, Panini, dan Patanajali menyatakan bahwa bahasa Sanskerta Klasik pada masa itu adalah bahasa yang dituturkan oleh orang terpelajar dan berbudaya. Sejumlah sutras menguraikan bentuk-bentuk bahasa Sanskerta lisan dan tertulis. [111] Biksu pelancong abad ke-7 Xuanzang menulis dalam memoarnya bahwa perdebatan filosofis resmi di India adalah bahasa Sanskerta, bukan bahasa daerah di wilayah itu.

[111] Pakar linguistik Madhav Deshpande menyatakan bahwa bahasa Sanskerta adalah bahasa lisan sehari-hari pada pertengahan milenium pertama SM yang berdampingan dengan bahasa Sanskerta sastra yang lebih formal dan tertata.

[112] Menurut Deshpande, dibenarkan bahwa bahasa modern juga memiliki bahasa sehari-hari dan dialek yang dipertuturkan dan dipahami, bersama dengan bentuk tertulis yang "tertata, lengkap, dan akurat dari segi tata bahasa".

[112] Tradisi India, menurut Moriz Winternitz, adalah belajar dan menggunakan bermacam-macam bahasa sejak zaman dahulu. Bahasa Sanskerta adalah bahasa kaum terpelajar dan terpandang, tetapi juga bahasa yang harus dipahami dalam lingkungan sosial yang lebih luas karena wiracarita yang populer seperti Ramayana, Mahabharata, Bhagawatapurana, Pancatantra, dan teks lainnya juga ditulis dalam bahasa Sanskerta.

[113] Bahasa Sanskerta dengan tata bahasanya yang ada, menjadi bahasa kaum terpelajar India, dan yang lainnya berkomunikasi dengan bahasa sehari-hari yang dapat saja mengabaikan tata bahasa. [112] Bahasa Sanskerta sebagai bahasa yang terpelajar, hadir bersama bahasa daerah Prakerta. [112] Seni drama berbahasa Sanskerta juga mengindikasikan bahasa itu berdampingan dengan Prakerta.

Benares, Paithan, Pune, dan Kanchipuram adalah pusat studi dan debat publik bahasa Sanskerta hingga awal mula kolonialisme di India. [114] Menurut Étienne Lamotte, Indolog dan sarjana ilmu agama Buddha, bahasa Sanskerta menjadi dominan sebagai bahasa resmi tertulis karena presisi komunikasinya. Menurut Lamotte, bahasa ini adalah instrumen yang cukup ideal untuk menampilkan gagasan serta pengetahuan sehingga menjadi tersebar dan berpengaruh.

[115] Bahasa Sanskerta dianggap sebagai sarana gagasan yang berkebudayaan, artistik, dan mendalam. Pollock tidak setuju Lamotte, tetapi yakin bahwa pengaruh bahasa Sanskerta bertumbuh menjadi sebuah "kosmopolis" yang mencakup seluruh wilayah Asia Selatan dan sebagian besar Asia Tenggara. Kosmopolis tersebut berkembang pesat di luar India antara 300 dan 1300 M. [116] Pengaruh rumpun Dravida [ sunting - sunting sumber ] Reinöhl menyebut rumpun bahasa Dravida tidak hanya menyerap kosakata Sanskerta, tetapi juga mempengaruhi bahasa Sanskerta berkaitan strukturnya, "misalnya asal usul fonologi retrofleks Indo-Arya, dikaitkan dengan pengaruh rumpun bahasa Dravida".

[117] Hock et al. mengutip George Hart yang menyatakan bahwa ada pengaruh bahasa Tamil Kuno dalam bahasa Sanskerta. [118] Hart membandingkan bahasa Tamil Kuno dan Sanskerta Klasik dan menyimpulkan bahwa ada bahasa Prakerta yang diturunkan dari kedua-duanya – "baik Tamil dan Sanskerta mendapatkan kaidah, metrum, dan teknik yang dibagi rata dari satu sumber, serta jelas tidak ada yang langsung diserap dari bahasa lainnya." [119] Reinöhl menyatakan bahwa ada keterkaitan secara simetris antara bahasa berumpun Dravida seperti bahasa Kannada atau Tamil dengan bahasa Indo-Arya seperti Bengali atau Hindi, dibandingkan dengan bahasa Persia atau Inggris terhadap bahasa berumpun non-Indo-Arya.

Dikutip dari Reinöhl – "Kalimat dalam bahasa rumpun Dravida seperti Tamil atau Kannada dapat diubah menjadi bahasa Bengali atau Hindi dengan mengganti kosakata Bengali atau Hindi yang ekuivalen dengan kata dan bentuk Dravida, tanpa mengubah urutan kata, tetapi hal yang sama tidak bisa digunakan untuk mengubah kalimat bahasa Persia atau Inggris menjadi bahasa non-Indo-Arya".

[117] Shulman menyebutkan, "Bentuk kata kerja nonfinit Dravida (disebut juga vinaiyeccam dalam bahasa Tamil) mempengaruhi kata kerja nonfinit Sanskerta (aslinya berasal dari bentuk infleksi kata benda perbuatan dalam Weda). Kasus yang sangat menonjol dari pengaruh bahasa Dravida dalam bahasa Sanskerta hanyalah satu dari banyaknya asimilasi sintaktis, tak terkecuali repertoar yang besar dari aspek dan modalitas morfologis yang, jika diamati teliti, dapat ditemukan di mana saja dalam bahasa Sanskerta klasik dan pascaklasik".

[120] Distribusi geografis [ sunting - sunting sumber ] Sebaran historis bahasa Sanskerta yang dituturkan di banyak negara. Bukti-buktinya antara lain manuskrip dan prasasti yang ditemukan di Asia Selatan, Tenggara, dan Tengah.

Bukti-bukti tersebut bertanggal antara 300 hingga 1800 M. Kehadiran bahasa Sanskerta secara historis telah terbukti dalam lingkup geografi yang luas di Asia Selatan. Prasasti dan karya-karya sastra menunjukkan bahwa bahasa Sanskerta telah digunakan di Asia Tenggara dan Tengah pada milenium pertama SM, melalui para brahmana, peziarah, dan pedagang. [121] [122] [123] Asia Selatan merupakan daerah yang kaya akan manuskrip dan prasasti berbahasa Sanskerta pada zaman kuno hingga sebelum abad ke-18.

[124] Di luar wilayah India Kuno, manuskrip dan prasasti berbahasa Sanskerta telah ditemukan di Tiongkok (terutama di Tibet), [125] [126] Myanmar, [127] Indonesia, [128] Kamboja, [129] Laos, [130] Vietnam, [131] Thailand, [132] dan Malaysia.

[130] Prasati dan manuskrip Sanskerta, maupun pecahan-pecahannya, termasuk sejumlah teks tertulis berbahasa Sanskerta tertua yang diketahui, telah ditemukan di gurun-gurun kering dan pegunungan seperti di Nepal, [133] [134] [j] Tibet, [126] [135] Afganistan, [136] [137] Mongolia, [138] Uzbekistan, [139] Turkmenistan, Tajikistan, [139] dan Kazakhstan.

[140] Sejumlah teks berbahasa Sanskerta juga ditemukan di kuil-kuil Jepang dan Korea. [141] [142] [143] Status resmi [ sunting - sunting sumber ] Di India, bahasa Sanskerta diakui sebagai 22 bahasa resmi yang ada dalam Jadwal Kedelapan Konstitusi India. [144] Pada 2010, Uttarakhand menjadi negara bagian India pertama yang menetapkan bahasa Sanskerta sebagai bahasa resmi kedua.

[145] Selanjutnya sejak 2019, Himachal Pradesh menjadi negara bagian kedua yang menetapkan bahasa tersebut sebagai bahasa resmi kedua. [146] Penelitian oleh bangsa Eropa [ sunting - sunting sumber ] Penelitian bahasa Sanskerta oleh bangsa Eropa dimulai oleh Heinrich Roth (1620–1668) dan Johann Ernst Hanxleden (1681–1731), dan dilanjutkan dengan proposal rumpun bahasa Indo-Eropa oleh Sir William Jones. Hal ini memainkan peranan penting pada perkembangan ilmu perbandingan bahasa di Dunia Barat.

Sir William Jones, pada kesempatan berceramah kepada Asiatick Society of Bengal di Calcutta, 2 Februari 1786, berkata: “ "Bahasa Sanskerta, bagaimanapun kekunoannya, memiliki struktur yang menakjubkan; lebih sempurna daripada bahasa Yunani, lebih luas daripada bahasa Latin dan lebih halus dan berbudaya daripada keduanya, tetapi memiliki keterkaitan yang lebih erat pada keduanya, baik dalam bentuk akar kata-kata kerja maupun bentuk tata bahasa, yang tak mungkin terjadi hanya secara kebetulan; sangat eratlah keterkaitan ini sehingga tak ada seorang ahli bahasa yang bisa meneliti ketiganya, tanpa percaya bahwa mereka muncul dari sumber yang sama, yang kemungkinan sudah tidak ada." ” Memang ilmu linguistik (bersama dengan fonologi, dsb.) pertama kali muncul di antara para tata bahasawan India kuno yang berusaha menetapkan hukum-hukum bahasa Sanskerta.

Ilmu linguistik modern banyak berhutang kepada mereka dan saat ini banyak istilah-istilah kunci seperti bahuvrihi dan suarabakti diambil dari bahasa Sanskerta. Beberapa ciri-ciri [ sunting - sunting sumber ] Kasus [ sunting - sunting sumber ] Salah satu ciri-ciri utama bahasa Sanskerta ialah adanya kasus dalam bahasa ini, yang berjumlah 8.

Dalam bahasa Latin yang masih serumpun hanya ada 5 kasus. Selain itu ada tiga jenis kelamin dalam bahasa Sanskerta, maskulin, feminin dan netral dan tiga modus jumlah, singular, dualis dan jamak: • kasus nominatif • kasus vokatif • kasus akusatif • kasus instrumentalis • kasus datif • kasus ablatif • kasus genetif • kasus lokatif Contoh tulisan Sanskerta.

Di bawah ini disajikan sebuah contoh semua kasus sebuah kata maskulin singular deva (Dewa, Tuhan atau Raja). Singular: • nom. devas arti: "Dewa" • vok. (he) deva arti: "Wahai Dewa" • ak. devam arti: "ke Dewa" dsb. • inst. devena arti: "dengan Dewa" dsb. • dat. devāya arti: "kepada Dewa" • ab. devāt arti: "dari Dewa" • gen. devasya arti: "milik Dewa" • lok. deve arti: "di Dewa" Dualis: • nva devau • ida devābhyām • gl devayos Jamak: • nv devās • a devān • i devais • da devebhyas • g devānām • l deveṣu Lalu di bawah ini disajikan dalam bentuk tabel.

Skema dasar tasrifan (deklensi) sufiks untuk kata-kata benda dan sifat [ sunting - sunting sumber ] Skema dasar tasrifan bahasa Sanskerta untuk kata-kata benda dan sifat disajikan di bawah ini. Skema ini berlaku untuk sebagian besar kata-kata.

Tunggal Dualis Jamak Nominatif -s (-m) -au (-ī) -as (-i) Akusatif -am (-m) -au (-ī) -as (-i) Instrumentalis -ā -bhyām -bhis Datif -e -bhyām -bhyas Ablatif -as -bhyām -bhyas Genitif -as -os -ām Lokatif -i -os -su Vokatif -s (-) -au ( -ī) -as (-i) Pokok-a [ sunting - sunting sumber ] Pokok-a ( /ə/ or /ɑː/) mencakup kelas akhiran kata benda yang terbesar. Biasanya kata-kata yang berakhir dengan -a pendek berkelamin maskulin atau netral.

Kata-kata benda yang berakhirkan -a panjang ( /ɑː/) hampir selalu feminin. Kelas ini sangatlah besar karena juga mencakup akhiran -o dari bahasa proto-Indo-Eropa.

Maskulin ( kā́ma- 'cinta') Netral ( āsya- 'mulut') Feminin ( kānta- 'tersayang') Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Nominatif kā́mas kā́māu kā́mās āsyàm āsyè āsyā̀ni kāntā kānte kāntās Akusatif kā́mam kā́māu kā́mān āsyàm āsyè āsyā̀ni kāntām kānte kāntās Instrumentalis kā́mena kā́mābhyām kā́māis āsyèna āsyā̀bhyām āsyāìs kāntayā kāntābhyām kāntābhis Datif kā́māya kā́mābhyām kā́mebhyas āsyā̀ya āsyā̀bhyām āsyèbhyas kāntāyai kāntābhyām kāntābhyās Ablatif kā́māt kā́mābhyām kā́mebhyas āsyā̀t āsyā̀bhyām āsyèbhyas kāntāyās kāntābhyām kāntābhyās Genitif kā́masya kā́mayos kā́mānām āsyàsya āsyàyos āsyā̀nām kāntāyās kāntayos kāntānām Lokatif kā́me kā́mayos kā́me ṣu āsyè āsyàyos āsyè ṣu kāntāyām kāntayos kāntāsu Vokatif kā́ma kā́mau kā́mās ā́sya āsyè āsyā̀ni kānte kānte kāntās Pokok -i dan -u [ sunting - sunting sumber ] pokok-i Mas.

dan Fem. ( gáti- 'kepergian') Netral ( vā́ri- 'air') Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Nominatif gátis gátī gátayas vā́ri vā́ri ṇī vā́rī ṇi Akusatif gátim gátī gátīs vā́ri vā́ri ṇī vā́rī ṇi Instrumentalis gátyā gátibhyām gátibhis vā́ri ṇā vā́ribhyām vā́ribhis Datif gátaye, gátyāi gátibhyām gátibhyas vā́ri ṇe vā́ribhyām vā́ribhyas Ablatif gátes, gátyās gátibhyām gátibhyas vā́ri ṇas vā́ribhyām vā́ribhyas Genitif gátes, gátyās gátyos gátīnām vā́ri ṇas vā́ri ṇos vā́ri ṇām Lokatif gátāu, gátyām gátyos gáti ṣu vā́ri ṇi vā́ri ṇos vā́ri ṣu Vokatif gáte gátī gátayas vā́ri, vā́re vā́ri ṇī vā́rī ṇi pokok-u Mas.

dan Fem. ( śátru- 'seteru, musuh') Netral ( mádhu- 'madu') Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Nominatif śátrus śátrū śátravas mádhu mádhunī mádhūni Akusatif śátrum śátrū śátrūn mádhu mádhunī mádhūni Instrumentalis śátru ṇā śátrubhyām śátrubhis mádhunā mádhubhyām mádhubhis Datif śátrave śátrubhyām śátrubhyas mádhune mádhubhyām mádhubhyas Ablatif śátros śátrubhyām śátrubhyas mádhunas mádhubhyām mádhubhyas Genitif śátros śátrvos śátrū ṇām mádhunas mádhunos mádhūnām Lokatif śátrāu śátrvos śátru ṣu mádhuni mádhunos mádhuṣu Vokatif śátro śátrū śátravas mádhu mádhunī mádhūni Pokok vokal panjang [ sunting - sunting sumber ] Pokok ā ( jā- 'kepandaian') Pokok ī ( dhī- 'pikiran') Pokok ū ( bhū- 'bumi') Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Nominatif jā́s jāú jā́s dhī́s dhíyāu dhíyas bhū́s bhúvāu bhúvas Akusatif jā́m jāú jā́s, jás dhíyam dhíyāu dhíyas bhúvam bhúvāu bhúvas Instrumentalis jā́ jā́bhyām jā́bhis dhiyā́ dhībhyā́m dhībhís bhuvā́ bhūbhyā́m bhūbhís Datif jé jā́bhyām jā́bhyas dhiyé, dhiyāí dhībhyā́m dhībhyás bhuvé, bhuvāí bhūbhyā́m bhūbhyás Ablatif jás jā́bhyām jā́bhyas dhiyás, dhiyā́s dhībhyā́m dhībhyás bhuvás, bhuvā́s bhūbhyā́m bhūbhyás Genitif jás jós jā́nām, jā́m dhiyás, dhiyā́s dhiyós dhiyā́m, dhīnā́m bhuvás, bhuvā́s bhuvós bhuvā́m, bhūnā́m Lokatif jí jós jā́su dhiyí, dhiyā́m dhiyós dhīṣú bhuví, bhuvā́m bhuvós bhūṣú Vokatif jā́s jāú jā́s dhī́s dhiyāu dhíyas bhū́s bhuvāu bhúvas Hukum sandhi [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Kata majemuk dalam bahasa Sanskerta Kata-kata majemuk dalam bahasa Sanskerta sangat banyak digunakan, terutama menyangkut kata-kata benda.

Kata-kata ini bisa menjadi sangat panjang (lebih dari 10 kata). Nominal majemuk terjadi dengan beberapa bentuk, tetapi secara morfologis mereka sejatinya sama. Setiap kata benda (atau kata sifat) terdapat dalam bentuk akarnya (bentuk lemah), dengan unsur terakhir saja yang ditasrifkan sesuai kasusnya.

Beberapa contoh kata benda atau nominal majemuk termasuk kategori-kategori yang diperikan di bawah ini. • Avyayibhāva • Tatpuruṣa • Karmadhāraya • Dvigu • Dvandva • Bahuvrīhi Bahasa Sanskerta di Indonesia [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Nama Indonesia § Nama India dan Sansekerta Bahasa Sanskerta telah lama hadir di Nusantara sejak ribuan tahun lalu, bahkan banyak nama orang Indonesia yang menggunakan nama-nama India atau Hindu (Sanskerta), meskipun tidak berarti bahwa mereka beragama Hindu.

Ini karena pengaruh budaya India yang datang ke Nusantara sejak ribuan tahun yang lalu selama pengindiaan kerajaan-kerajaan Asia Tenggara (Hindu-Buddha), dan sejak itu, budaya India ini dilihat sebagai bagian dari budaya Indonesia, terutama dalam budaya Jawa, Bali, dan beberapa bagian dari Nusantara lainya. Dengan demikian, budaya Hindu atau India yang terkait di Indonesia hadir tidak hanya sebagai bagian dari agama, tetapi juga budaya.

Akibatnya, adalah umum untuk menemukan orang-orang Indonesia muslim atau Kristen dengan nama-nama yang bernuansa India atau Sanskerta. Tidak seperti nama-nama yang berasal dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Thai dan Khmer, pengucapan nama-nama Sanskerta dalam bahasa Jawa atau Indonesia mirip dengan pelafalan India asli, kecuali bahwa "v" diubah menjadi "w", contoh: "Vishnu" di India berubah menjadi "Wisnu" jika di Indonesia. Di kawasan Nusantara khususnya di Indonesia, Bahasa Sanskerta sangat berpengaruh penting dan sangat memiliki peran tinggi di dalam perbahasaan di Indonesia.

Bahasa Sanskerta yang masuk ke Indonesia sejak ribuan tahun lalu (masa kerajaan Hindu-Buddha) datang dari India ke Indonesia melalui para kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha pada masa kuno ribuan tahun yang lalu di bumi Nusantara. Sangat banyak kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang diserap dari Bahasa Sanskerta, contohnya dari kata "bahasa" भाषा ( bhāṣa) itu sendiri berasal dari bahasa sanskerta berarti: "logat bicara".

Bahkan, banyak nama-nama lembaga, istilah, moto, dan semboyan di pemerintahan Indonesia menggunakan bahasa Sanskerta, seperti pangkat jenderal di Angkatan Laut Indonesia (TNI AL), menggunakan kata "Laksamana" (dari tokoh Ramayana yang merupakan adik dari Rama).

" Penghargaan Adipura" yang merupakan penghargaan yang diberikan kepada kota-kota di seluruh Indonesia dari pemerintah pusat untuk kebersihan dan pengelolaan lingkungan juga menggunakan bahasa Sanskerta yaitu dari kata Adi (yang berarti "panutan") dan Pura (yang berarti "kota), menjadikan arti: "Kota Panutan" atau "kota yang layak menjadi contoh". Ada juga banyak moto lembaga-lembaga Indonesia yang menggunakan bahasa Sanskerta, seperti moto Akademi Militer Indonesia yang berbunyi "Adhitakarya Mahatvavirya Nagarabhakti" ( अधिकाऱ्या महत्व विर्य नगरभक्ति), dan beberapa istilah-istilah lain dalam TNI juga menggunakan bahasa Sanskerta, contoh: "Adhi Makayasa", "Chandradimuka", "Tri Dharma Eka Karma", dll.

Bahasa Sanskerta dalam beberapa aksara [ sunting - sunting sumber ] Kalimat Semoga Batara Siwa meraksa para penggemar bahasa Dewata. ( Kalidasa) dalam bahasa Sanskerta menggunakan beberapa aksara turunan Brahmi. Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Bahasa Weda • Romanisasi bahasa Sanskerta • Kata-kata serapan dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia Modern • Daftar kata serapan dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Indonesia • Daftar nama yang mengandung unsur Sanskerta Catatan kaki [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b "In conclusion, there are strong systemic and paleographic indications that the Brahmi script derived from a Semitic prototype, which, mainly on historical grounds, is most likely to have been Aramaic.

However, the details of this problem remain to be worked out, and in any case, it is unlikely that a complete letter-by-letter derivation will ever be possible; for Brahmi may have been more of an adaptation and remodeling, rather than a direct derivation, of the presumptive Semitic prototype, perhaps under the influence of a preexisting Indian tradition of phonetic analysis.

However, the Semitic hypothesis 1s not so strong as to rule out the remote possibility that further discoveries could drastically change the picture. In particular, a relationship of some kind, probably partial or indirect, with the protohistoric Indus Valley script should not be considered entirely out of the question." Salomon 1998, hlm.

30 • ^ Meski semua capaian itu dikerdilkan oleh tradisi linguistik Sanskerta yang berpuncak pada tata bahasa terkenal dari Panini, yang berjudul Astadhyayi. Keanggunan dan kelengkapan arsitektur (tata bahasanya) belum bisa dilampaui oleh bahasa manapun, dan metode cerdasnya dalam mengelompokkan pemakaian dan penyebutannya, bahasa dan metabahasanya, dan teorema dan metateoremanya, mengungguli penemuan-penemuan penting dalam filsafat Barat selama beribu-ribu tahun.

[19] • ^ Tradisi gramatikal Sanskerta juga merupakan asal-usul ditemukannya angka "nol", yang begitu diadopsi sebagai sistem angka Arab, memungkinkan kita untuk melampaui notasi rumit aritmetika Romawi. [19] • ^ Orang India yang melaporkan bahasa Sanskerta sebagai bahasa ibu mereka sebanyak 6.106 pada 1981, 49.736 pada 1991, 14.135 pada 2001, dan 24.821 pada 2011. [34] • ^ William Jones (1786), dikutip oleh Thomas Burrow dalam The Sanskrit Language: [55] Bahasa Sanskerta, di samping kekunoannya, memiliki struktur yang menarik; lebih sempurna daripada Yunani, lebih lengkap daripada Yunani, lebih halus daripada keduanya, tetapi kedekatannya kuat, baik dalam akar kata kerja dan tata bahasanya, daripada yang dihasilkan secara kebetulan, sehingga tidak ada filolog yang mampu menguji ketiganya, sebelum meyakini bahwa ketiganya berasal dari "satu sumber yang sama", yang mungkin sudah tiada lagi.

Ada alasan yang mirip, meski tak dipaksakan, untuk menganggap bahwa bahasa Got dan Kelt, meski berpadu dengan idiom berbeda, memiliki asal yang sama dengan Sanskerta dan Persia Kuno mungkin bisa dimasukkan dalam rumpun yang sama." • ^ Traktat Mitanni diduga berangka abad ke-16 SM, tetapi masih diperdebatkan. [69] • ^ Contoh kemiripan kosakata yang disorot dalam Weda adalah kata Dyaus Pita dalam bahasa Weda yang bermakna "Bapak Langit".

Ekuivalen dengan bahasa Yunani Mikenai Zeus Pater, yang berevolusi menjadi Jupiter dalam Latin. Kesamaan frasa "Bapak Langit" juga ditemukan dalam bahasa Indo-Eropa lainnya. [73] • ^ Pāṇini's use of the term lipi has been a source of scholarly disagreements. Harry Falk in his 1993 overview states that ancient Indians neither knew nor used writing script, and Pāṇini's mention is likely a reference to Semitic and Greek scripts.

[90] In his 1995 review, Salomon questions Falk's arguments and writes it is "speculative at best and hardly constitutes firm grounds for a late date for Kharoṣṭhī. The stronger argument for this position is that we have no specimen of the script before the time of Ashoka, nor any direct evidence of intermediate stages in its development; but of course this does not mean that such earlier forms did not exist, only that, if they did exist, they have not survived, presumably because they were not employed for monumental purposes before Ashoka".

[91] According to Hartmut Scharfe, Lipi of Pāṇini may be borrowed from the Old Persian Dipi, in turn derived from Sumerian Dup. Scharfe adds that the best evidence, at the time of his review, is that no script was used in India, aside from the Northwest Indian subcontinent, before around 300 BCE because Indian tradition "at every occasion stresses the orality of the cultural and literary heritage." [92] Kenneth Norman states writing scripts in ancient India evolved over the long period of time like other cultures, that it is unlikely that ancient Indians developed a single complete writing system at one and the same time in the Maurya era.

It is even less likely, states Norman, that a writing script was invented during Ashoka's rule, starting from nothing, for the specific purpose of writing his inscriptions and then it was understood all over South Asia where the Ashoka pillars are found. [93] Jack Goody states that ancient India likely had a "very old culture of writing" along with its oral tradition of composing and transmitting knowledge, because the Vedic literature is too vast, consistent and complex to have been entirely created, memorized, accurately preserved and spread without a written system.

[94] Falk disagrees with Goody, and suggests that it is a Western presumption and inability to imagine that remarkably early scientific achievements such as Pāṇini's grammar (5th to 4th century BCE), and the creation, preservation and wide distribution of the large corpus of the Brahmanic Vedic literature and the Buddhist canonical literature, without any writing scripts.

Johannes Bronkhorst disagrees with Falk, and states, "Falk goes too far. It is fair to expect that we believe that Vedic memorisation—though without parallel in any other human society—has been able to preserve very long texts for many centuries without losing a syllable. [...] However, the oral composition of a work as complex as Pāṇini's grammar is not only without parallel in other human cultures, it is without parallel in India itself.

[...] It just will not do to state that our difficulty in conceiving any such thing is our problem". [95] • ^ Pali is also an extinct language. [109] • ^ The oldest surviving Sanskrit inscription in the Kathmandu valley is dated to 464 CE. [134] Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ Uta Reinöhl (2016). Grammaticalization and the Rise of Configurationality in Indo-Aryan. Oxford University Press. hlm. xiv, 1–16. ISBN 978-0-19-873666-0.

• ^ a b Jain, Dhanesh (2007). "Sociolinguistics of the Indo-Aryan languages". Dalam George Cardona; Dhanesh Jain. The Indo-Aryan Languages. Routledge. hlm. 47–66, 51. ISBN 978-1-135-79711-9. In the history of Indo-Aryan, writing was a later development and its adoption has been slow even in modern times.

The first written word comes to us through Asokan inscriptions dating back to the third century BC. Originally, Brahmi was used to write Prakrit (MIA); for Sanskrit (OIA) it was used only four centuries later (Masica 1991: 135). The MIA traditions of Buddhist and Jain texts show greater regard for the written word than the OIA Brahminical tradition, though writing was available to Old Indo-Aryans.

• ^ a b Salomon, Richard (2007). "The Writing Systems of the Indo-Aryan Languages". Dalam George Cardona; Dhanesh Jain. The Indo-Aryan Languages. Routledge. hlm. 67–102. ISBN 978-1-135-79711-9. Although in modern usage Sanskrit is most commonly written or printed in Nagari, in theory, it can be represented by virtually any of the main Brahmi-based scripts, and in practice it often is. Thus scripts such as Gujarati, Bangla, and Oriya, as well as the major south Indian scripts, traditionally have been and often still are used in their proper territories for writing Sanskrit.

Sanskrit, in other words, is not inherently linked to any particular script, although it does have a special historical connection with Nagari. • ^ Sanskerta di Kamus Besar Bahasa Indonesia • ^ Apte, Vaman Shivaram (1957).

Revised and enlarged edition of Prin. V.S. Apte's The practical Sanskrit-English Dictionary . Poona: Prasad Prakashan. hlm. 1596. from संस्कृत saṃskṛitə past passive participle: Made perfect, refined, polished, cultivated. -तः -tah A word formed regularly according to the rules of grammar, a regular derivative.

-तम् -tam Refined or highly polished speech, the Sanskṛit language; संस्कृतं नाम दैवी वागन्वाख्याता महर्षिभिः ("named sanskritam the divine language elaborated by the sages") from Kāvyadarśa.1. 33. of Daṇḍin • ^ Roger D. Woodard (2008). The Ancient Languages of Asia and the Americas. Cambridge University Press. hlm. 1–2. ISBN 978-0-521-68494-1. The earliest form of this 'oldest' language, Sanskrit, is the one found in the ancient Brahmanic text called the Rigveda, composed c.

1500 BC. The date makes Sanskrit one of the three earliest of the well-documented languages of the Indo-European family – the other two being Old Hittite and Myceanaean Greek – and, in keeping with its early appearance, Sanskrit has been a cornerstone in the reconstruction of the parent language of the Indo-European family – Proto-Indo-European.

• ^ a b c Bauer, Brigitte L.M. (2017). Nominal Apposition in Indo-European: Its forms and functions, and its evolution in Latin-romance. De Gruyter.

hlm. 90–92. ISBN 978-3-11-046175-6. for detailed comparison of the languages, see pages 90–126 • ^ a b c d Ramat, Anna Giacalone; Ramat, Paolo (2015). The Indo-European Languages.

Routledge. hlm. 26–31. ISBN 978-1-134-92187-4. • ^ Dyson, Tim (2018). A Population History of India: From the First Modern People to the Present Day. Oxford University Press. hlm. 14–15. ISBN 978-0-19-882905-8. Although the collapse of the Indus valley civilization is no longer believed to have been due to an ‘Aryan invasion’ it is widely thought that, at roughly the same time, or perhaps a few centuries later, new Indo-Aryan-speaking people and influences began to enter the subcontinent from the north-west.

Detailed evidence is lacking. Nevertheless, a predecessor of the language that would eventually be called Sanskrit was probably introduced into the north-west sometime between 3,900 and 3,000 years ago. This language was related to one then spoken in eastern Iran; and both of these languages belonged to the Indo-European language family. • ^ Pinkney, Andrea Marion (2014). "Revealing the Vedas in 'Hinduism': Foundations and issues of interpretation of religions in South Asian Hindu traditions".

Dalam Bryan S. Turner; Oscar Salemink. Routledge Handbook of Religions in Asia. Routledge. hlm. 38–. ISBN 978-1-317-63646-5. According to Asko Parpola, the Proto-Indo-Aryan civilization was influenced by two external waves of migrations.

The first group originated from the southern Urals (c. 2100 BCE) and mixed with the peoples of the Bactria-Margiana Archaeological Complex (BMAC); this group then proceeded to South Asia, arriving around 1900 BCE. The second wave arrived in northern South Asia around 1750 BCE and mixed with the formerly arrived group, producing the Mitanni Aryans (c. 1500 BCE), a precursor to the peoples of the Ṛgveda.

Michael Witzel has assigned an approximate chronology to the strata of Vedic languages, arguing that the language of the Ṛgveda changed through the beginning of the Iron Age in South Asia, which started in the Northwest (Punjab) around 1000 BCE. On the basis of comparative philological evidence, Witzel has suggested a five-stage periodization of Vedic civilization, beginning with the Ṛgveda. On the basis of internal evidence, the Ṛgveda is dated as a late Bronze Age text composed by pastoral migrants with limited settlements, probably between 1350 and 1150 BCE in the Punjab region.

• ^ Michael C. Howard 2012, hlm. 21 • ^ Pollock, Sheldon (2006). The Language of the Gods in the World of Men: Sanskrit, Culture, and Power in Premodern India. University of California Press. hlm. 14.

ISBN 978-0-520-24500-6. Once Sanskrit emerged from the sacerdotal environment ... it became the sole medium by which ruling elites expressed their power ... Sanskrit probably never functioned as an everyday medium of communication anywhere in the cosmopolis—not in South Asia itself, let alone Southeast Asia ...

The work Sanskrit did do ... was directed above all toward articulating a form of ... politics ... as celebration of aesthetic power. • ^ Burrow (1973), hlm. 62–64. • ^ Cardona, George; Luraghi, Silvia (2018).

"Sanskrit". Dalam Bernard Comrie. The World's Major Languages. Taylor & Francis. hlm. 497–. ISBN 978-1-317-29049-0. Sanskrit (samskrita- 'adorned, purified') refers to several varieties of Old Indo-Aryan whose most archaic forms are found in Vedic texts: the Rigveda (Ṛgveda), Yajurveda, Sāmveda, Atharvaveda, with various branches.

• ^ Alfred C. Woolner (1986). Introduction to Prakrit. Motilal Banarsidass. hlm. 3–4. ISBN 978-81-208-0189-9. If in 'Sanskrit' we include the Vedic language and all dialects of the Old Indian period, then it is true to say that all the Prakrits are derived from Sanskrit. If on the other hand 'Sanskrit' is used more strictly of the Panini-Patanjali language or 'Classical Sanskrit,' then it is untrue to say that any Prakrit is derived from Sanskrit, except that Sauraseni, the Midland Prakrit, is derived from the Old Indian dialect of the Madhyadesa on which Classical Sanskrit was mainly based.

• ^ Lowe, John J. (2015). Participles in Rigvedic Sanskrit: The syntax and semantics of adjectival verb forms. Oxford University Press. hlm. 1–2. ISBN 978-0-19-100505-3. It consists of 1,028 hymns (suktas), highly crafted poetic compositions originally intended for recital during rituals and for the invocation of and communication with the Indo-Aryan gods.

Modern scholarly opinion largely agrees that these hymns were composed between around 1500 BCE and 1200 BCE, during the eastward migration of the Indo-Aryan tribes from the mountains of what is today northern Afghanistan across the Punjab into north India. • ^ Witzel, Michael (2006). "Early Loan Words in Western Central Asia: Indicators of Substrate Populations, Migrations, and Trade Relations". Dalam Victor H. Mair. Contact And Exchange in the Ancient World. University of Hawaii Press. hlm. 158–190, 160.

ISBN 978-0-8248-2884-4. The Vedas were composed (roughly between 1500-1200 and 500 BCE) in parts of present-day Afghanistan, northern Pakistan, and northern India. The oldest text at our disposal is the Rgveda (RV); it is composed in archaic Indo-Aryan (Vedic Sanskrit). • ^ Shulman, David (2016). Tamil. Harvard University Press. hlm. 17–19. ISBN 978-0-674-97465-4. (p. 17) Similarly, we find a large number of other items relating to flora and fauna, grains, pulses, and spices—that is, words that we might expect to have made their way into Sanskrit from the linguistic environment of prehistoric or early-historic India.

... (p. 18) Dravidian certainly influenced Sanskrit phonology and syntax from early on ... (p 19) Vedic Sanskrit was in contact, from very ancient times, with speakers of Dravidian languages, and that the two language families profoundly influenced one another. • ^ a b Evans, Nicholas (2009). Dying Words: Endangered languages and what they have to tell us. John Wiley & Sons. hlm. 27–. ISBN 978-0-631-23305-3. • ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Evans-20092 • ^ Glenn Van Brummelen (2014).

"Arithmetic". Dalam Thomas F. Glick; Steven Livesey; Faith Wallis. Medieval Science, Technology, and Medicine: An Encyclopedia. Routledge. hlm. 46–48.

ISBN 978-1-135-45932-1. The story of the growth of arithmetic from the ancient inheritance to the wealth passed on to the Renaissance is dramatic and passes through several cultures. The most groundbreaking achievement was the evolution of a positional number system, in which the position of a digit within a number determines its value according to powers (usually) of ten (e.g., in 3,285, the "2" refers to hundreds).

Its extension to include decimal fractions and the procedures that were made possible by its adoption transformed the abilities of all who calculated, with an effect comparable to the modern invention of the electronic computer. Roughly speaking, this began in India, was transmitted to Islam, and then to the Latin West. • ^ Lowe, John J.

(2017). Transitive Nouns and Adjectives: Evidence from Early Indo-Aryan. Oxford University Press. hlm. 58. ISBN 978-0-19-879357-1. The term ‘Epic Sanskrit’ refers to the language of the two great Sanskrit epics, the Mahabharata and the Ramayana. ... It is likely, therefore, that the epic-like elements found in Vedic sources and the two epics that we have are not directly related, but that both drew on the same source, an oral tradition of storytelling that existed before, throughout, and after the Vedic period.

• ^ Lowe, John J. (2017). Transitive Nouns and Adjectives: Evidence from Early Indo-Aryan. Oxford University Press. hlm. 53. ISBN 978-0-19-879357-1. The desire to preserve understanding and knowledge of Sanskrit in the face of ongoing linguistic change drove the development of an indigenous grammatical tradition, which culminated in the composition of the Astadhyayi, attributed to the grammarian Panini, no later than the early fourth century BCE.

In subsequent centuries, Sanskrit ceased to be learnt as a native language, and eventually ceased to develop as living languages do, becoming increasingly fixed according to the prescriptions of the grammatical tradition. • ^ a b Lowe, John J. (2015). Participles in Rigvedic Sanskrit: The Syntax and Semantics of Adjectival Verb Forms. Oxford University Press. hlm. 2–.

ISBN 978-0-19-100505-3. The importance of the Rigveda for the study of early Indo-Aryan historical linguistics cannot be underestimated. ... its language is ... notably similar in many respects to the most archaic poetic texts of related language families, the Old Avestan Gathas and Homer's Iliad and Odyssey, respectively the earliest poetic representatives of the Iranian and Greek language families.

Moreover, its manner of preservation, by a system of oral transmission which has preserved the hymns almost without change for 3,000 years, makes it a very trustworthy witness to the Indo-Aryan language of North India in the second millennium BC. Its importance for the reconstruction of Proto-Indo-European, particularly in respect of the archaic morphology and syntax it preserves, ... is considerable. Any linguistic investigation into Old Indo-Aryan, Indo-Iranian, or Proto-Indo-European cannot avoid treating the evidence of the Rigveda as of vital importance.

• ^ Staal 1986. • ^ Filliozat 2004, hlm. 360–375. • ^ Filliozat 2004, hlm. 139. • ^ Gazzola, Michele; Wickström, Bengt-Arne (2016). The Economics of Language Policy. MIT Press. hlm. 469–. ISBN 978-0-262-03470-8. The Eighth Schedule recognizes India's national languages as including the major regional languages as well as others, such as Sanskrit and Urdu, which contribute to India's cultural heritage.

... The original list of fourteen languages in the Eighth Schedule at the time of the adoption of the Constitution in 1949 has now grown to twenty-two. • ^ Groff, Cynthia (2017). The Ecology of Language in Multilingual India: Voices of Women and Educators in the Himalayan Foothills.

Palgrave Macmillan UK. hlm. 58–. ISBN 978-1-137-51961-0. As Mahapatra says: “It is generally believed that the significance for the Eighth Schedule lies in providing a list of languages from which Hindi is directed to draw the appropriate forms, style and expressions for its enrichment” ...

Being recognized in the Constitution, however, has had significant relevance for a language's status and functions. • ^ "Indian village where people speak in Sanskrit". BBC News (dalam bahasa Inggris). 22 December 2014 . Diakses tanggal 30 September 2020.

• ^ a b c Sreevastan, Ajai (10 August 2014). Where are the Sanskrit speakers?. Chennai: The Hindu . Diakses tanggal 11 October 2020. Sanskrit is also the only scheduled language that shows wide fluctuations — rising from 6,106 speakers in 1981 to 49,736 in 1991 and then falling dramatically to 14,135 speakers in 2001. “This fluctuation is not necessarily an error of the Census method.

People often switch language loyalties depending on the immediate political climate,” says Prof. Ganesh Devy of the People's Linguistic Survey of India. ... Because some people “fictitiously” indicate Sanskrit as their mother tongue owing to its high prestige and Constitutional mandate, the Census captures the persisting memory of an ancient language that is no longer anyone's real mother tongue, says B.

Mallikarjun of the Center for Classical Language. Hence, the numbers fluctuate in each Census. ... “Sanskrit has influence without presence,” says Devy. “We all feel in some corner of the country, Sanskrit is spoken.” But even in Karnataka's Mattur, which is often referred to as India's Sanskrit village, hardly a handful indicated Sanskrit as their mother tongue.

• ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Ruppel2017 • ^ Annamalai, E. (2008). "Contexts of multilingualism". Dalam Braj B. Kachru; Yamuna Kachru; S. N. Sridhar. Language in South Asia. Cambridge University Press. hlm. 223–. ISBN 978-1-139-46550-2.

Some of the migrated languages ... such as Sanskrit and English, remained primarily as a second language, even though their native speakers were lost. Some native languages like the language of the Indus valley were lost with their speakers, while some linguistic communities shifted their language to one or other of the migrants’ languages. • ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama sreevastan-thehindu-sanskrit • ^ Distribution of the 22 Scheduled Languages – India / States / Union Territories – Sanskrit (PDF), Census of India, 2011, hlm.

30 , diakses tanggal 4 October 2020 • ^ Seth, Sanjay (2007). Subject Lessons: The Western Education of Colonial India. Duke University Press. hlm. 171–. ISBN 978-0-8223-4105-5. • ^ Angus Stevenson & Maurice Waite 2011, hlm. 1275 • ^ a b Shlomo Biderman 2008, hlm. 90. • ^ Will Durant 1963, hlm. 406. • ^ Sir Monier Monier-Williams (2005).

A Sanskrit-English Dictionary: Etymologically and Philologically Arranged with Special Reference to Cognate Indo-European Languages. Motilal Banarsidass. hlm. 1120. ISBN 978-81-208-3105-6. • ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, hlm. 1-2. • ^ Annette Wilke & Oliver Moebus 2011, hlm. 62–66 with footnotes. • ^ Guy L. Beck 2006, hlm. 117–123. • ^ Southworth, Franklin (2004), Linguistic Archaeology of South Asia, Routledge, hlm.

45, ISBN 978-1-134-31777-6 • ^ Jared Klein; Brian Joseph; Matthias Fritz (2017). Handbook of Comparative and Historical Indo-European Linguistics: An International Handbook. Walter De Gruyter.

hlm. 318–320. ISBN 978-3-11-026128-8. • ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Woodard12 • ^ "Ancient tablet found: Oldest readable writing in Europe". National Geographic.

1 April 2011. • ^ Rose, Jenny (18 August 2011). Zoroastrianism: A guide for the perplexed. Bloomsbury Publishing. hlm. 75–76. ISBN 978-1-4411-2236-0. • ^ Dani, Ahmad Hasan; Masson, Vadim Mikhaĭlovich (1999). History of Civilizations of Central Asia. Motilal Banarsidass. hlm. 357–358. ISBN 978-81-208-1407-3.

• ^ Colin P. Masica 1993, hlm. 34. • ^ Levin, Saul (24 October 2002). Semitic and Indo-European. Current Issues in Linguistic Theory #226. II: Comparative morphology, syntax, and phonetics. John Benjamins Publishing Company. hlm. 431. ISBN 9781588112224. OCLC 32590410.

ISBN 1588112225 • ^ Bryant, Edwin Francis; Patton, Laurie L. The Indo-Aryan Controversy: Evidence and inference in Indian history.

Psychology Press. hlm. 208. • ^ Robins, R.H. (2014). General Linguistics. Routledge. hlm. 346–347. ISBN 978-1-317-88763-8. • ^ J. P. Mallory & D. Q. Adams 2006, hlm. 6. • ^ Burrow 1973, hlm. 6. • ^ Colin P. Masica 1993, hlm. 36-38. • ^ Burrow 1973, hlm. 30–32. • ^ Burrow 1973, hlm. 30–34. • ^ a b Meier-Brügger, Michael (2003). Indo-European Linguistics.

Walter de Gruyter. hlm. 20. ISBN 978-3-11-017433-5. • ^ MacDonell 2004. • ^ Keith, A. Berriedale (1993). A History of Sanskrit Literature. Motilal Banarsidass. hlm. 4. ISBN 978-81-208-1100-3. • ^ Barbara A. Holdrege 2012, hlm. 229–230. • ^ Bryant 2001, hlm. 66–67. • ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, hlm. 5–6. • ^ Cardona, George (2012).

Sanskrit Language. Encyclopaedia Britannica. • ^ a b Witzel, M. (1997). Inside the Texts, Beyond the Texts: New approaches to the study of the Vedas (PDF). Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press . Diakses tanggal 17 July 2018. • ^ Harold G. Coward 1990, hlm. 3–12, 36–47, 111–112, Note: Sanskrit was both a literary and spoken language in ancient India.. • ^ a b Cohen, Signe (2017). The Upanisads: A complete guide. Taylor & Francis.

hlm. 11–17. ISBN 978-1-317-63696-0. • ^ Bryant 2001, hlm. 249. • ^ Robinson, Andrew (2014). India: A Short History. Thames & Hudson. hlm. 56–57. ISBN 978-0-500-77195-2. • ^ Lowe, John Jeffrey (2015). Participles in Rigvedic Sanskrit: The syntax and semantics of adjectival verb forms.

Oxford University Press. hlm. 2–3. ISBN 978-0-19-870136-1. • ^ Stephanie W. Jamison & Joel P. Brereton 2014, hlm. 10–11, 72. • ^ Stephanie W. Jamison & Joel P. Brereton 2014, hlm. 50. • ^ Stephanie W. Jamison & Joel P. Brereton 2014, hlm. 66–67. • ^ Richard Gombrich (2006). Theravada Buddhism: A Social History from Ancient Benares to Modern Colombo.

Routledge. hlm. 24–25. ISBN 978-1-134-90352-8. • ^ Gérard Huet; Amba Kulkarni; Peter Scharf (2009). Sanskrit Computational Linguistics: First and Second International Symposia Rocquencourt, France, October 29–31, 2007 Providence, RI, USA, May 15–17, 2008, Revised Selected Papers. Springer. hlm. v–vi. ISBN 978-3-642-00154-3. • ^ Cardona, George (1998), Pāṇini: A Survey of Research, Motilal Banarsidass, hlm.

268, ISBN 978-81-208-1494-3 • ^ The Editors of Encyclopaedia Britannica (2013). Ashtadhyayi, Work by Panini. Encyclopædia Britannica . Diakses tanggal 23 October 2017. Ashtadhyayi, Sanskrit Aṣṭādhyāyī ("Eight Chapters"), Sanskrit treatise on grammar written in the 6th to 5th century BCE by the Indian grammarian Panini.

• ^ Staal, Frits (April 1965). "Euclid and Pāṇini". Philosophy East and West. 15 (2): 99–116. • ^ Harold G. Coward 1990, hlm. 13–14, 111. • ^ Pāṇini; Sumitra Mangesh Katre (1989). Aṣṭādhyāyī of Pāṇini. Motilal Banarsidass. hlm. xix–xxi. ISBN 978-81-208-0521-7. • ^ Harold G. Coward 1990, hlm. 13-14, 111. • ^ Louis Renou & Jean Filliozat. L'Inde Classique, manuel des etudes indiennes, vol.II pp.86–90, École française d'Extrême-Orient, 1953, reprinted 2000.

ISBN 2-85539-903-3. • ^ Angot, Michel. L'Inde Classique, pp.213–215. Les Belles Lettres, Paris, 2001. ISBN 2-251-41015-5 • ^ Yuji Kawaguchi; Makoto Minegishi; Wolfgang Viereck (2011). Corpus-based Analysis and Diachronic Linguistics. John Benjamins Publishing Company. hlm. 223–224. ISBN 978-90-272-7215-7.

• ^ John Bowman (2005). Columbia Chronologies of Asian History and Culture. Columbia University Press. hlm. 728. ISBN 978-0-231-50004-3. • ^ Salomon 1998, hlm. 11. • ^ Juhyung Rhi (2009). "On the Peripheries of Civilizations: The Evolution of a Visual Tradition in Gandhāra". Journal of Central Eurasian Studies. 1: 5, 1–13. • ^ Rita Sherma; Arvind Sharma (2008).

Hermeneutics and Hindu Thought: Toward a Fusion of Horizons. Springer. hlm. 235. ISBN 978-1-4020-8192-7. • ^ Falk, Harry (1993). Schrift im alten Indien: ein Forschungsbericht mit Anmerkungen (dalam bahasa German). Gunter Narr Verlag. hlm. 109–167. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui ( link) • ^ Salomon, Richard (1995). "Review: On the Origin of the Early Indian Scripts". Journal of the American Oriental Society.

115 (2): 271–278. doi: 10.2307/604670. JSTOR 604670. • ^ Scharfe, Hartmut (2002), Education in Ancient India, Handbook of Oriental Studies, Leiden, Netherlands: Brill, hlm. 10–12 • ^ Oskar von Hinüber (1989). Der Beginn der Schrift und frühe Schriftlichkeit in Indien. Akademie der Wissenschaften und der Literatur. hlm. 241–245. ISBN 9783515056274. OCLC 22195130. • ^ Jack Goody (1987). The Interface Between the Written and the Oral . Cambridge University Press. hlm. 110–124. ISBN 978-0-521-33794-6.

• ^ Johannes Bronkhorst (2002), Literacy and Rationality in Ancient India, Asiatische Studien / Études Asiatiques, 56(4), pages 803–804, 797–831 • ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, hlm. 53. • ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, hlm. 53–54. • ^ Burrow 1973, hlm. 33–34. • ^ a b c d A. M. Ruppel 2017, hlm. 378–383. • ^ Arthur Anthony Macdonell (1997). A Sanskrit Grammar for Students. Motilal Banarsidass. hlm. 236–244.

ISBN 978-81-208-0505-7. • ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, hlm. 1–59. • ^ Fleet, John Faithfull (1907). Corpus Inscriptionum Indicarum Vol 3 (1970)ac 4616. hlm. 153, Line 14 of the inscription. • ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama wright-sanskrit-first • ^ Alfred C. Woolner (1986). Introduction to Prakrit. Motilal Banarsidass. hlm. 6, context: 1–10. ISBN 978-81-208-0189-9. • ^ Clarence Maloney (1978). Language and Civilization Change in South Asia.

Brill Academic. hlm. 111–114. ISBN 978-90-04-05741-8. • ^ Shastri, Gaurinath Bhattacharyya (1987). A Concise History of Classical Sanskrit Literature. Motilal Banarsidass. hlm. 18–19. ISBN 978-81-208-0027-4. • ^ Johansson, Rune Edvin Anders (1981). Pali Buddhist Texts: Explained to the beginner. Psychology Press. hlm. 7. ISBN 978-0-7007-1068-3. Pali is known mainly as the language of Theravada Buddhism. ... Very little is known about its origin.

We do not know where it was spoken or if it originally was a spoken language at all. The ancient Ceylonese tradition says that the Buddha himself spoke Magadhi and that this language was identical to Pali. • ^ a b c Dundas, Paul (2003). The Jains. Routledge. hlm. 69–70. ISBN 978-0-415-26606-2.

• ^ "Ethnologue report for language code: pli". Ethnologue . Diakses tanggal 20 July 2018. • ^ P.S. Krishnavarma (1881). Sanskrit as a living language in India: Journal of the National Indian Association. Henry S. King & Company. hlm. 737–745. • ^ a b c Gaurinath Bhattacharyya Shastri (1987). A Concise History of Classical Sanskrit Literature.

Motilal Banarsidass. hlm. 20–23. ISBN 978-81-208-0027-4. • ^ a b c d Deshpande 2011, hlm. 218–220. • ^ Moriz Winternitz (1996).

A History of Indian Literature. Motilal Banarsidass. hlm. 42–46. ISBN 978-81-208-0264-3. • ^ Deshpande 2011, hlm. 222–223. • ^ Etinne Lamotte (1976), Histoire du buddhisme indien, des origines à l'ère saka, Tijdschrift Voor Filosofie 21 (3):539–541, Louvain-la-Neuve: Université de Louvain, Institut orientaliste • ^ Sheldon Pollock (1996).

"The Sanskrit Cosmopolis, A.D. 300–1300: Transculturation, Vernacularization, and the Question of Ideology". Dalam Jan Houben. Ideology and Status of Sanskrit: Contributions to the history of the Sanskrit language. Leiden New York: E.J. Brill. hlm. 197–199; for context and details, please see 197–239. ISBN 978-90-04-10613-0. • ^ a b Reinöhl, Uta (2016). Grammaticalization and the rise of configurationality in Indo-Aryan. Oxford University Press.

hlm. 120–121. • ^ Hock, Hans Henrich; Bashir, E.; Subbarao, K.V. (2016). The languages and linguistics of South Asia a comprehensive guide. Berlin de Gruyter Mouton. hlm. 94–95. • ^ Hart, George (1976). The relation between Tamil and classical Sanskrit literature. Wiesbaden: O. Harrassowitz. hlm.

317–320. ISBN 3447017856. • ^ Shulman, David Dean (2016). Tamil : a biography. London, UK: The Belknap Press Of Harvard University Press. hlm. 12–14, 20. • ^ Sheldon Pollock (1996). Jan E. M. Houben, ed. Ideology and Status of Sanskrit. BRILL Academic. hlm. 197–223 with footnotes. ISBN 978-90-04-10613-0. • ^ William S.-Y. Wang; Chaofen Sun (2015).

The Oxford Handbook of Chinese Linguistics. Oxford University Press. hlm. 6–19, 203–212, 236–245. ISBN 978-0-19-985633-6. • ^ Burrow 1973, hlm. 63-66. • ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama scharf233 • ^ Jinah Kim (2013). Receptacle of the Sacred: Illustrated Manuscripts and the Buddhist Book Cult in South Asia.

University of California Press. hlm. 8, 13–15, 49. ISBN 978-0-520-27386-3. • ^ a b Pieter C. Verhagen (1994). A History of Sanskrit Grammatical Literature in Tibet. BRILL. hlm. 159–160. ISBN 978-90-04-09839-8. • ^ Salomon 1998, hlm. 154-155. • ^ Salomon 1998, hlm. 158-159. • ^ Salomon 1998, hlm. 155-157. • ^ a b Salomon 1998, hlm. 158. • ^ Salomon 1998, hlm. 157. • ^ Salomon 1998, hlm. 155. • ^ William M. Johnston (2013). Encyclopedia of Monasticism. Routledge. hlm. 926. ISBN 978-1-136-78716-4.

• ^ a b Todd T. Lewis; Subarna Man Tuladhar (2009). Sugata Saurabha An Epic Poem from Nepal on the Life of the Buddha by Chittadhar Hridaya. Oxford University Press. hlm. 343–344. ISBN 978-0-19-988775-0. • ^ Salomon 1998, hlm. 159-160. • ^ Patrick Olivelle (2006). Between the Empires: Society in India 300 BCE to 400 CE. Oxford University Press. hlm. 356. ISBN 978-0-19-977507-1. • ^ Salomon 1998, hlm. 152-153. • ^ Rewi Alley (1957). Journey to Outer Mongolia: a diary with poems.

Caxton Press. hlm. 27–28. • ^ a b Salomon 1998, hlm. 153–154. • ^ Gian Luca Bonora; Niccolò Pianciola; Paolo Sartori (2009). Kazakhstan: Religions and Society in the History of Central Eurasia. U. Allemandi. hlm. 65, 140. ISBN 978-88-42217-558. • ^ Bjarke Frellesvig (2010). A History of the Japanese Language. Cambridge University Press. hlm. 164–165, 183. ISBN 978-1-139-48880-8. • ^ Donald S. Lopez Jr. (2017). Hyecho's Journey: The World of Buddhism.

University of Chicago Press. hlm. 16–22, 33–42. ISBN 978-0-226-51806-0. • ^ Salomon 1998, hlm. 160 with footnote 134.

• ^ Cynthia Groff (2013). Jo Arthur Shoba and Feliciano Chimbutane, ed. Bilingual Education and Language Policy in the Global South. Routledge. hlm. 178. ISBN 978-1-135-06885-1. • ^ "Sanskrit second official language of Uttarakhand". The Hindu. 21 January 2010. ISSN 0971-751X . Diakses tanggal 2 October 2018. • ^ "HP Assy clears three Bills, Sanskrit becomes second official language".

Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] • H. W. Bailey (1955). "Buddhist Sanskrit". The Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland. Cambridge University Press. 87 (1/2): 13–24. doi: 10.1017/S0035869X00106975. JSTOR 25581326.

• Banerji, Sures (1989). A Companion to Sanskrit Literature: Spanning a period of over three thousand years, containing brief accounts of authors, works, characters, technical terms, geographical names, myths, legends, and several appendices. Delhi: Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-0063-2. • Guy L. Beck (1995). Sonic Theology: Hinduism and Sacred Sound.

Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-1261-1. • Guy L. Beck (2006). Sacred Sound: Experiencing Music in World Religions. Wilfrid Laurier Univ. Press. ISBN 978-0-88920-421-8. • Robert S.P. Beekes (2011). Comparative Indo-European Linguistics: An introduction (edisi ke-2nd). John Benjamins Publishing. ISBN 978-90-272-8500-3. • Benware, Wilbur (1974). The Study of Indo-European Vocalism in the 19th Century: From the Beginnings to Whitney and Scherer: A Critical-Historical Account.

Benjamins. ISBN 978-90-272-0894-1. • Shlomo Biderman (2008). Crossing Horizons: World, Self, and Language in Indian and Western Thought. Columbia University Press. ISBN 978-0-231-51159-9. • Claire Bowern; Bethwyn Evans (2015). The Routledge Handbook of Historical Linguistics. Routledge. ISBN 978-1-317-74324-8. • John L. Brockington (1998). The Sanskrit Epics.

BRILL Academic. ISBN 978-90-04-10260-6. • Johannes Bronkhorst (1993). "Buddhist Hybrid Sanskrit: The Original Language". Aspects of Buddhist Sanskrit: Proceedings of the International Symposium on the Language of Sanskrit Buddhist Texts, 1–5 Oct. 1991. Sarnath. hlm. 396–423. ISBN 978-81-900149-1-5. • Bryant, Edwin (2001). {/INSERTKEYS}

berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah

The Quest for the Origins of Vedic Culture: The Indo-Aryan Migration Debate. Oxford, UK: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-513777-4. • Edwin Francis Bryant; Laurie L.

Patton (2005). The Indo-Aryan Berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah Evidence and Inference in Indian History. Psychology Press. ISBN 978-0-7007-1463-6. • Burrow, Thomas (1973). The Sanskrit Language (edisi ke-3rd, revised).

London: Faber & Faber. • Robert E. Buswell Jr.; Donald S. Lopez Jr. (2013). The Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton University Press. ISBN 978-1-4008-4805-8.

• George Cardona (2012). Sanskrit Language. Encyclopaedia Britannica. • James Clackson (18 October 2007). Indo-European Linguistics: An Introduction. Cambridge University Press. ISBN 978-1-139-46734-6. • Coulson, Michael (1992).

Richard Gombrich; James Benson, ed. Sanskrit : an introduction to the classical language (edisi ke-2nd, revised by Gombrich and Benson). Random House. ISBN 978-0-340-56867-5.

OCLC 26550827. • Michael Coulson; Richard Gombrich; James Benson (2011). Complete Sanskrit: A Teach Yourself Guide. Mcgraw-Hill. ISBN 978-0-07-175266-4. • Harold G. Coward (1990). Karl Potter, ed.

The Philosophy of the Grammarians, in Encyclopedia of Indian Philosophies. 5. Princeton University Press. ISBN 978-81-208-0426-5. • Suniti Kumar Chatterji (1957). "Indianism and Sanskrit". Annals of the Bhandarkar Oriental Research Institute.

Bhandarkar Oriental Research Institute. 38 (1/2): 1–33. JSTOR 44082791. • Peter T. Daniels (1996). The World's Writing Systems. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-507993-7.

• Deshpande, Madhav (2011). "Efforts to vernacularize Sanskrit: Degree of success and failure". Dalam Joshua Fishman; Ofelia Garcia. Handbook of Language and Ethnic Identity: The success-failure continuum in language and ethnic identity efforts. 2. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-983799-1. • Will Durant (1963). Our oriental heritage. Simon & Schuster. ISBN 978-1567310122. • Eltschinger, Vincent (2017). "Why Did the Buddhists Adopt Sanskrit?". Open Linguistics. 3 (1). doi: 10.1515/opli-2017-0015.

ISSN 2300-9969. • J. Filliozat (1955). "Sanskrit as Language of Communication". Annals of the Bhandarkar Oriental Research Institute. Bhandarkar Oriental Research Institute. 36 (3/4): 179–189. JSTOR 44082954. • Filliozat, Pierre-Sylvain (2004), "Ancient Sanskrit Mathematics: An Oral Tradition and a Written Literature", dalam Chemla, Karine; Cohen, Robert S.; Renn, Jürgen; et al., History of Science, History of Text (Boston Series in the Philosophy of Science), Dordrecht: Springer Netherlands, hlm.

360–375, doi: 10.1007/1-4020-2321-9_7, ISBN 978-1-4020-2320-0 • Pierre-Sylvain Filliozat (2000). The Sanskrit Language: An Overview : History and Structure, Linguistic and Philosophical Representations, Uses and Users. Indica. ISBN 978-81-86569-17-7. • Benjamin W. Fortson, IV (2011). Indo-European Language and Culture: An Introduction. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-4443-5968-8. • Robert P.

Goldman; Sally J Sutherland Goldman (2002). Devavāṇīpraveśikā: An Introduction to the Sanskrit Language. Center for South Asia Studies, University of California Press. • Thomas V. Gamkrelidze; Vjaceslav V. Ivanov (2010). Indo-European and the Indo-Europeans: A Reconstruction and Historical Analysis of a Proto-Language and Proto-Culture. Part I: The Text. Part II: Bibliography, Indexes. Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-081503-0.

• Thomas V. Gamkrelidze; V. V. Ivanov (1990). "The Early History of Indo-European Languages". Scientific American. Nature America. 262 (3): 110–117. Bibcode: 1990SciAm.262c.110G. doi: 10.1038/scientificamerican0390-110. JSTOR 24996796. • Jack Goody (1987). The Interface Between the Written and the Oral. Cambridge University Press.

ISBN 978-0-521-33794-6. • Reinhold Grünendahl (2001). South Indian Scripts in Sanskrit Manuscripts and Prints: Grantha Tamil, Malayalam, Telugu, Kannada, Nandinagari. Otto Harrassowitz Verlag. ISBN 978-3-447-04504-9. • Houben, Jan (1996). Ideology and status of Sanskrit: contributions to the history of the Sanskrit language. Brill. ISBN 978-90-04-10613-0. • Hanneder, J. (2002). "On 'The Death of Sanskrit '".

Indo-Iranian Journal. Brill Academic Publishers. 45 (4): 293–310. doi: 10.1023/a:1021366131934. Parameter -s2cid= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Hock, Hans Henrich (1983). Kachru, Braj B, ed. "Language-death phenomena in Sanskrit: grammatical evidence for attrition in contemporary spoken Sanskrit".

Studies in the Linguistic Sciences. 13:2. • Barbara A. Holdrege (2012). Veda and Torah: Transcending the Textuality of Scripture. State University of New York Press. ISBN 978-1-4384-0695-4. • Michael C. Howard (2012). Transnationalism in Ancient and Medieval Societies: The Role of Cross-Border Trade and Travel.

McFarland. ISBN 978-0-7864-9033-2. • Dhanesh Jain; George Cardona (2007). The Indo-Aryan Languages. Routledge. ISBN 978-1-135-79711-9. • Stephanie W. Jamison; Joel P. Brereton (2014). The Rigveda: 3-Volume Set, Volume I. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-972078-1. • A. Berriedale Keith (1993). A history of Sanskrit literature. Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-1100-3. • Damien Keown; Charles S. Prebish (2013). Encyclopedia of Buddhism. Taylor & Francis. ISBN 978-1-136-98595-9.

• Anne Kessler-Persaud (2009). Knut A. Jacobsen; et al., ed. Brill's Encyclopedia of Hinduism: Sacred texts, ritual traditions, arts, concepts. Brill Academic. ISBN 978-90-04-17893-9. • Jared Klein; Brian Joseph; Matthias Fritz (2017).

Handbook of Comparative and Historical Indo-European Linguistics: An International Handbook. Walter De Gruyter. ISBN 978-3-11-026128-8. • Dalai Lama (1979). "Sanskrit in Tibetan Literature". The Tibet Journal. 4 (2): 3–5. JSTOR 43299940. • Winfred Philipp Lehmann (1996).

Theoretical Bases of Indo-European Linguistics. Psychology Press. ISBN 978-0-415-13850-5. • Donald S. Lopez Jr. (1995). "Authority and Orality in the Mahāyāna" (PDF). Numen. Brill Academic. 42 (1): 21–47. doi: 10.1163/1568527952598800. hdl: 2027.42/43799. JSTOR 3270278. • Mahadevan, Iravatham (2003).

Early Tamil Epigraphy from the Earliest Times to the Sixth Century A.D. Harvard University Press. ISBN 978-0-674-01227-1. • Malhotra, Rajiv (2016). The Battle for Sanskrit: Is Sanskrit Political or Sacred, Oppressive or Liberating, Dead or Alive?. Harper Collins. ISBN 978-9351775386. • J. P. Mallory; Douglas Q. Adams (1997). Encyclopedia of Indo-European Culture. Taylor & Francis. ISBN 978-1-884964-98-5. • Mallory, J.

P. (1992). "In Search of the Indo-Europeans / Language, Archaeology and Myth". Praehistorische Zeitschrift. Walter de Gruyter GmbH. 67 (1). doi: 10.1515/pz-1992-0118. ISSN 1613-0804. Parameter -s2cid= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Colin P.

Masica (1993). The Indo-Aryan Languages. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-29944-2. • Michael Meier-Brügger (2003). Indo-European Linguistics. Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-017433-5. • Michael Meier-Brügger (2013). Indo-European Linguistics. Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-089514-8. • Matilal, Bimal (2015). The word and the world : India's contribution to the study of language. New Delhi, India Oxford: Oxford University Press.

ISBN 978-0-19-565512-4. OCLC 59319758. • Maurer, Walter (2001). The Sanskrit language: an introductory grammar and reader. Surrey, England: Curzon. ISBN 978-0-7007-1382-0. • J.

P. Mallory; D. Q. Adams (2006). The Oxford Introduction to Proto-Indo-European and the Proto-Indo-European World. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-928791-8. • V. RAGHAVAN (1965). "Sanskrit". Indian Literature. Sahitya Akademi. 8 (2): 110–115. JSTOR 23329146.

• MacDonell, Arthur (2004). A History Of Sanskrit Literature. Kessinger Publishing. ISBN 978-1-4179-0619-2. • Sir Monier Monier-Williams (2005). A Sanskrit-English Dictionary: Etymologically and Philologically Arranged with Special Reference to Cognate Berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah Languages.

Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-3105-6. • Tim Murray (2007). Milestones in Archaeology: A Chronological Encyclopedia. ABC-CLIO. ISBN 978-1-57607-186-1. • Ramesh Chandra Majumdar (1974). Study of Sanskrit in South-East Asia. Sanskrit College. • Nedi︠a︡lkov, V.

P. (2007). Reciprocal constructions. Amsterdam Philadelphia: J. Benjamins Pub. Co. ISBN 978-90-272-2983-0. • Oberlies, Thomas (2003). A Grammar of Epic Sanskrit. Berlin New York: Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-014448-2. • Petersen, Walter (1912). "Vedic, Sanskrit, and Prakrit". Journal of the American Oriental Society. American Oriental Society.

32 (4): 414–428. doi: 10.2307/3087594. ISSN 0003-0279. JSTOR 3087594. • Sheldon Pollock (2009). The Language of the Gods in the World of Men: Sanskrit, Culture, and Power in Premodern India. University of California Press. ISBN 978-0-520-26003-0. • Pollock, Sheldon (2001). "The Death of Sanskrit". Comparative Studies in Society and History. Cambridge University Press. 43 (2): 392–426. doi: 10.1017/s001041750100353x.

JSTOR 2696659.

berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah

Parameter -s2cid= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • V. RAGHAVAN (1968). "Sanskrit: Flow of Studies". Indian Literature. Sahitya Akademi. 11 (4): 82–87. JSTOR 24157111. • Colin Renfrew (1990). Archaeology and Language: The Puzzle of Indo-European Origins. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-38675-3. • Louis Renou; Jagbans Kishore Balbir (2004). A history of Sanskrit language. Ajanta. ISBN 978-8-1202-05291. • A. M. Ruppel (2017). The Cambridge Introduction to Sanskrit.

Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-08828-3. • Salomon, Richard (1998). Indian Epigraphy: A Guide to the Study of Inscriptions in Sanskrit, Prakrit, and the other Indo-Aryan Languages.

Oxford University Press. ISBN 978-0-19-535666-3. • Salomon, Richard (1995). "On the Origin of the Early Indian Scripts". Journal of the American Oriental Society. 115 (2): 271–279. doi: 10.2307/604670. JSTOR 604670.

• Salomon, Richard (1995). "On the Origin of the Early Indian Scripts". Journal of the American Oriental Society. 115 (2): 271–279. doi: 10.2307/604670. JSTOR 604670. • Malati J. Shendge (1997). The Language of the Harappans: From Akkadian to Sanskrit. Abhinav Publications. ISBN berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah.

• Seth, Sanjay (2007). Subject lessons: the Western education of colonial India. Durham, NC: Duke University Press. ISBN 978-0-8223-4105-5. • Staal, Frits (1986), The Fidelity of Oral Tradition and the Origins of Science, Mededelingen der Koninklijke Nederlandse Akademie von Wetenschappen, Amsterdam: North Holland Publishing Company • Staal, J.

F. (1963). "Sanskrit and Sanskritization". The Journal of Asian Studies. Cambridge University Press. 22 (3): 261–275. doi: 10.2307/2050186.

JSTOR 2050186. • Angus Stevenson; Maurice Waite (2011). Concise Oxford English Dictionary. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-960110-3. • Southworth, Franklin (2004). Linguistic Archaeology of South Asia. Routledge. ISBN 978-1-134-31777-6. • Philipp Strazny (2013). Encyclopedia of Linguistics. Routledge. ISBN 978-1-135-45522-4. • Paul Thieme (1958). "The Indo-European Language".

Scientific American. 199 (4): 63–78. Bibcode: 1958SciAm.199d.63T. doi: 10.1038/scientificamerican1058-63. JSTOR 24944793. • Peter van der Veer (2008). "Does Sanskrit Knowledge Exist?". Journal of Indian Philosophy. Springer. 36 (5/6): 633–641. doi: 10.1007/s10781-008-9038-8.

JSTOR 23497502. Parameter -s2cid= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Umāsvāti, Umaswami (1994). That Which Is. Diterjemahkan oleh Nathmal Tatia. Rowman & Littlefield. ISBN 978-0-06-068985-8. • Wayman, Alex (1965). "The Buddhism and the Sanskrit of Buddhist Hybrid Sanskrit". Journal of the American Oriental Society.

85 (1): 111–115. doi: 10.2307/597713. JSTOR 597713. • Annette Wilke; Oliver Moebus berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah. Sound and Communication: An Aesthetic Cultural History berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah Sanskrit Hinduism.

Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-024003-0. • Whitney, W.D. (1885). "The Roots of the Sanskrit Language". Transactions of the American Philological Association. JSTOR. 16: 5–29. doi: 10.2307/2935779. ISSN 0271-4442. JSTOR 2935779. • Witzel, M. (1997). Inside the texts, beyond the texts: New approaches to the study of the Vedas (PDF). Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.

• Jamison, Stephanie (2008). Roger D. Woodard, ed. The Ancient Languages of Asia and the Americas. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-68494-1. Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] • Jan Gonda.

1952. Sanskrit in Indonesia, New Delhi: International Academy of Indian Culture. • Jan Gonda. 1963. Kurze Elementar-Grammatik der Sanskrit-Sprache, Leiden: E.J. Brill • Jan Gonda.

1966. A Concise Elementary Grammar of the Sanskrit Language, Tuscaloosa and London. Translated from the German by Gordon B. Ford Jr. • Haryati Soebadio. 1983. Tata Bahasa Sanskerta Ringkas. Jakarta: Djambatan. Kategori tersembunyi: • Halaman dengan kesalahan referensi • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui • Artikel bahasa dengan kode ISO 639-2 • Artikel bahasa dengan kode ISO 639-1 • Artikel bahasa tanpa referensi • Artikel bahasa tanpa kode Glottolog • Semua artikel bahasa • Artikel bahasa dengan field infobox yang tidak didukung • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda BNF • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda NDL • Artikel Wikipedia dengan penanda MA • Halaman ini terakhir diubah pada 1 Mei 2022, pukul 02.43.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

• Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) Fungsi Ideologi – Pengertian, Unsur, Ciri, Pancasila, Macam, Contoh : Nama ideologi berasal dari kata ideas dan logos.

Ideas berarti gagasan, konsep, sedangkan logos berarti ilmu. Pengertian ideologi secara umum adalah sekumpulan ide, gagasan, keyakinan, kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan keagamaan. 4.11. Sebarkan ini: Nama ideologi berasal dari kata ideas dan logos. Ideas berarti gagasan, konsep, sedangkan logos berarti ilmu. Pengertian ideologi secara umum adalah sekumpulan ide, gagasan, keyakinan, kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan keagamaan.

Ideologi harus dimiliki oleh setiap bangsa karena ideologi digunakan sebagai cita-cita negara atau cita-cita yang menjadi basis bagi suatu teori atau sistem kenegaraan untuk seluruh rakyat dalam suatu bangsa, serta menjadi tujuan hidup berbangsa dan bernegara. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Lahirnya Pancasila Sebagai Ideologi Dan Dasar Negara Dengan adanya ideologi ini setiap bangsa memiliki suatu landasan dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Landasan ini diperlukan agar dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, suatu bangsa tidak terpengaruh oleh bangsa lain sehingga menyimpang dari yang telah disepakati sebelumnya dan tetap menjalankan kehidupan sesuai dengan landasan yang telah dianut. Ideologi juga dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu, secara umum dan beberapa arah filosofis, atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat.

Tujuan utama dibalik ideologi adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normatif. Ideologi adalah sistem pemikiran abstrak yang diterapkan pada masalah publik sehingga membuat konsep ini menjadi inti politik. Secara implisit setiap pemikiran politik mengikuti sebuah ideologi walaupun tidak diletakkan sebagai sistem berpikir yang eksplisit.

Definisi Ideologi Dalam istilah ideologi merupakan gabungan dari dua kata yaitu idea dan logos yang berasal dari bahasa Yunani. Idea berarti ide atau gagasan dan logos berarti ilmu. Secara sederhana, ideologi dapat diartikan sebagai tentang ide-ide, keyakinan atau gagasan.

Berdasarkan uraian tersebut, dalam konsep ideologi mengandung prinsip hidup, dasar kehidupan dan arah serta tujuan berbangsa dan bernegara. Menurut Moerdiono, ideologi dipandang secara harfiah sebagai a system of idea. Menurut Soerjanto Poespowardojo, ideologi ialah sebagai kompleks pengetahuan dan nilai. Dalam bidang politik, ideologi diartikan secara khas yakni sebagai nilai yang terpadu, berkenaan dengan kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Artinya gagasan-gagasan politik yang timbul dalam hidup bermasayarakat, berbangsa dan bernegara ditata secara sistematis menjadi satu kesatuan yang utuh.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Fungsi Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia Fungsi Ideologi Ideologi tidak hanya sekedar pengetahuan teoritis belaka, tetapi menjadi suatu yang diyakini menjadi suatu keyakinan, ideologi memiliki fungsi yaitu: • Struktur kognitif yaitu keseluruhan pengetahuan yang dapat merupakan landasan untuk memahami dan menafsirkan dunia dan kejadian alam sekitarnya.

• Orientasi dasar dengan membuka wawasan dan memberikan makna serta menunjukkan tujuan dalam kehidupan manusia. • Norma-norma yang menjadi pedoman dan pegangan bagi seseorang untuk melangkah dan bertindak. • Bekal dan jalan bagi seseorang untuk menemukan identitasnya. • Kekuatan yang mampu menyemangati dan mendorong seseorang untuk menjalankan kegiatan dan mencapai tujuan. • Pendidikan bagi seseorang atau masyarakat untuk memahami, menghayati, serta melakukan tingkah lakunya sesuai dengan orientasi dan norma-norma yang terkandung di dalamnya.

Unsur-Unsur Ideologi Adapun unsur-unsur yang ada dalam ideologi seperti dibawah ini. • Seperangkat gagasan yang disusun secara sistematis. • Pedoman tentang cara hidup. • Tatanan yang hendak dituju oleh suatu kelompok. • Dipegang teguh oleh kelompok yang meyakininya. Untuk hal demikian ini apabila kita amati, ideologi memiliki banyak pengertian, namun jika ditarik sebuah kesimpulan bisa dilihat bahwa ideologi memiliki kesamaan-kesamaan yakni ideologi ialah prinsip, dasar, arah dan tujuan dalam kehidupan.

Selain mengetahui pengertian ideologi kita juga harus mengetahui fungsi ideologi. Ideologi berfungsi mendasari kehidupan masyarakat sehingga mampu menjadi lasdasan, pedoman dan bekal serta jalan bagi suatu kelompok, masyarakat, bangsa dan negara. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Perbedaan Ideologi terbuka dan Ideologi Tertutup Ciri-ciri Ideologi • Mempunyai derajat yang tertinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan.

• Oleh karena itu, mewujudkan suatu asas kerohanian, pandanagn dunia, pandangan hidup, pedoman hidup, pegangan hidup yang dipelihara diamalkan dilestarikan kepada generasi berikutnya, diperjuangkan dan dipertahankan dengan kesediaan berkorban. Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah Pancasila sebagai cita-cita negara atau cita-cita yang menjadi basis bagi suatu teori atau sistem kenegaraan untuk seluruh rakyat dan bangsa Indonesia, serta menjadi tujuan hidup berbangsa dan bernegara Indonesia.

Berdasarkan Tap. MPR No. XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Ketetapan MPR tentang P4, ditegaskan bahwa Pancasila adalah dasar NKRI yang harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ciri-ciri Ideologi Terbuka Dan Ideologi Tertutup • Ideologi Terbuka a. merupakan cita-cita yang sudah hidup dalam masyarakat. b. Berupa nilai-nilai dan cita-cita yang berasal dari dalam masyarakat sendiri. c. Hasil musyawarah dan konsensus masyarakat.

d. Bersifat dinamis dan reformis. • Ideologi Tetutup a. Bukan merupakan cita-cita yang sudah hidup dalam masyarakat. b. Bukan berupa nilai dan cita-cita. c. Kepercayaan dan kesetiaan ideologis yang kaku. d. Terdiri atas tuntutan konkret dan operasional yang diajukan secara mutlak. Macam – Macam Ideologi Liberalisme Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu.

Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas. Mengenai konsep liberalisme, dapat kita tarik beberapa pokok pemikiran yang terkandung di dalamnya, sebagai berikut: 1. inti pemikiran : kebebasan individu 2. berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah : berkembang sebagai respons terhadap pola kekuasaan negara yang absolut, pada tumbuhnya negara otoriter yang disertai dengan pembatasan ketat melalui berbagai undang-undang dan peraturan terhadap warganegara 3.

landasan pemikirannya adalah bahwa menusia pada hakikatnya adalah baik dan berbudi-pekerti, tanpa harus diadakannya pola-pola pengaturan yang ketat dan bersifat memaksa terhadapnya. 4. system pemerintahan (harus): demokrasi Konservatisme Konservatisme adalah sebuah filsafat politik yang mendukung nilai-nilai tradisional. Istilah ini berasal dari kata dalam bahasa Latin, conservāre, melestarikan; “menjaga, memelihara, mengamalkan”.

Karena berbagai budaya memiliki nilai-nilai yang mapan dan berbeda-beda, kaum konservatif di berbagai kebudayaan mempunyai tujuan yang berbeda-beda pula. Sebagian pihak konservatif berusaha melestarikan status quo, sementara yang lainnya berusaha kembali kepada nilai-nilai dari zaman yang lampau, the status quo ante.

Samuel Francis mendefinisikan konservatisme yang otentik sebagai “bertahannya dan penguatan orang-orang tertentu dan ungkapan-ungkapan kebudayaannya yang dilembagakan.” Roger Scruton menyebutnya sebagai “pelestarian ekologi sosial” dan “politik penundaan, yang tujuannya adalah mempertahankan, selama mungkin, keberadaan sebagai kehidupan dan kesehatan dari suatu organisme social.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Hal atau unsure yang terkandung di dalamnya, antara lain: 1. inti pemikiran : memelihara kondisi yang ada, mempertahankan kestabilan, baik berupa kestabilan yang dinamis maupun kestabilan yang statis. Tidak jarang pula bahwa pola pemikiran ini dilandasi oleh kenangan manis mengenai kondisi kini dan masa lampau 2.

filsafatnya adalah bahwa perubahan tidak selalu berarti kemajuan.

berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah

Oleh karena itu, sebaiknya perubahan berlangsung tahap demi tahap, tanpa menggoncang struktur social politik dalam negara atau masyarakat yang bersangkutan. 3. landasan pemikirannya adalah bahwa pada dasarnya manusia lemah dan terdapat “evil instinct and desires” dalam dirinya. oleh karena itu perlu pola-pola pengendalian melalui peraturan yang ketat 4.

system pemerintahan (boleh): demokrasi, otoriter Komunisme Komunisme adalah ideologi politik dan struktur sosio ekonomi yang menggalakkan penubuhan masyarakat yang egalitarian, tanpa kelas, dan tanpa negara berdasarkan pemilikan dan kawalan sama ke atas faktor pengeluaran dan harta secara umumnya.

Karl Marx menganjurkan komunisme sebagai peringkat akhir dalam masyarakat manusia, yang boleh dicapai melalui revolusi golongan proletariat. “Komunisme tulen” menurut Marx merujuk kepada masyarakat tanpa kelas, tanpa negara dan bebas penindasan di mana keputusan tentang pengeluaran dan dasar yang dibuat secara demokratik bermakna membenarkan setiap ahli masyarakat mengambil bahagian dalam proses membuat keputusan dari segi ekonomi, politik dan sosial.

Marxisme Marxisme, dalam batas-batas tertentu bisa dipandang sebagai jembatan antara revolusi Prancis dan revolusi Proletar Rusia tahun 1917. Untuk memahami Marxisme sebagai satu ajaran filsafat dan doktrin revolusioner, serta kaitannya dengan gerakan komunisme di Uni Soviet maupun di bagian dunia lainnya, barangkali perlu mengetahui terlebih dahulu kerangka histories Marxisme itu sendiri.

Berbicara masalah Marxisme, memang tidak bisa lepas dari nama-nama tokoh seperti Karl Marx (1818-1883) dan Friedrich Engels (1820-1895). Kedua tokoh inilah yang mulai mengembangkan akar-akar komunisme dalam pengertiannya yang sekarang ini. Transisi dari kondisi masyarakat agraris ke arah industrialisasi menjadi landasan kedua tokoh diatas dalam mengembangkan pemikirannya.

Dimana eropa barat telah menjdai pusat ekonomi dunia, dan adanya kenyataan di mana Inggris Raya berhasil menciptakan model perkembangan ekonomi dan demokrasi politik. Tiga hal yang merupakan komponen dasar dari Marxisme adalah : 1. filsafat dialectical and historical materialism 2. sikap terhadap masyarakat kapitalis yang bertumpu pada teori nilai tenaga kerja dari David Ricardo (1772) dan Adam Smith (1723-1790) 3.

menyangkut teori negara dan teori revolusi yang dikembangkan atas dasar konsep perjuangan kelas. Konsep ini dipandang mampu membawa masyarakat ke arah komunitas kelas. Dalam teori yang dikembangkannya, Marx memang meminjam metode dialektika Hegel. Menurut metode tersebut, perubahan-perubahan dalam pemikiran, sifat dan bahkan perubahan masyarakat itu sendiri berlangsung melalui tiga tahap, yaitu tesis (affirmation), antitesis (negation), dan sintesisI (unification).

Dalam hubungan ini Marx cendrung mendasarkan pemikiran kepada argumentasi Hegel yang menandaskan bahwa kontradiksi dan konflik dari berbagai hal yang saling berlawanan satu sama lain sebenarnya bisa membawa pergeseran kehidupan social-politik dari tingkat yang sebelumnya ke tingkat yang lebih tinggi. Selain dari itu, suatu tingkat kemajuan akan bisa dicapai dengan jalan menghancurkan hal-hal yang lama dan sekaligus memunculkan hal-hal yang baru. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Pancasila Menurut Para Ahli Sosialisme Sosialisme sebagai ideologi, telah lama berkembang sejak ratusan tahun yang lalu.

Sosialisme sendiri berasal dari bahasa Latin yakni socius (teman). Jadi sosialisme merujuk kepada pengaturan atas dasar prinsip pengendalian modal, produksi dan kekayaan oleh kelompok. Istilah sosialisme pertama kali dipakai di Prancis pada tahun 1831 dalam sebuah artikel tanpa judul oleh Alexander Vinet. Pada masa ini istilah sosialisme digunakan untuk pembedaan dengan indvidualisme, terutama oleh pengikut-pengikut Saint-Simon, bapak pendiri sosialisme Prancis.

Saint-Simon lah yang menganjurkan pembaruan pemerintahan yang bermaksud mengembalikan harmoni pada masyarakat. Pada akhir abad ke-19, Karl Marx dan Friedrich Engels mencetuskan apa yang disebut sebagai sosialisme ilmiah. Ini untuk membedakan diri dengan sosialisme yang berkembang sebelumnya. Marx dan Engels menyebut sosialisme tersebut dengan sosialisme utopia, artinya sosialisme yang hanya didasari impian belaka tanpa kerangka rasional untuk menjalankan dan mencapai apa yang disebut sosialisme.

Oleh karena itu Marx dan Engels mengembangkan beberapa tesis untuk membedakan antara sosialisme dan komunisme. Menurut mereka, sosialisme adalah tahap yang harus dilalui masyarakat untuk mencapai komunisme.

Dengan demikian komunisme atau masyarakat tanpa kelas adalah tujuan akhir sejarah. Konsekwensinya, tahap sosialisme adalah tahap kediktatoran rakyat untuk mencapai komunisme, seperti halnya pendapat Lenin yang mengatakan bahwa Uni Sovyet berada dalam tahap sosialisme. Hal-hal pokok yang terkandung dalam Sosialisme, adalah: 1.

inti pemikiran : kolektifitas (kebersamaan) (gotong royong) 2. filsafatnya : pemerataan dan kesederajatan bahwa pengaturan agar setiap orang diperlakukan sama dan berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah pemerataan dalm berbagai hal (pemerataan kesempatan kerja, pemerataan kesempatan berusaha,dll) 3.

landasan pemikiran : bahwa masyarakat dan juga negara adalah suatu pola kehidupan bersama. Manusia tidak bisa hidup sendiri-sendiri, dan manusia akan lebih baik serta layak kehidupannya jika ada kerja sama melalui fungsi yang dilaksakan oleh negara 4.

system pemerintahan (boleh): demokrasi, otoriter Fasisme Fasisme adalah suatu paham yang mengedepankan bangsa sendiri dan memandang rendah bangsa lain. Dengan kata lain, fasisme adalah suatu sikap nasionalisme yang berlebihan.

Semboyan fasisme, adalah “Crediere, Obediere, Combattere” (yakinlah, tunduklah, berjuanglah). Berkembang di Italia, antara tahun 1992-1943. setelah Benito Musolini terbunuh tahun 1943, fasisme di Italia berakhir. Demikian pula Nazisme di Jerman. Namun, sebagai suatu bentuk ideology, fasisme tetap ada. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Norma Hukum Dan Sosial Fasisme banyak kemiripannya dengan teori pemikiran Machiavelistis dari Niccolo Machiavelli, yang menegaskan bahwa negara dan pemerintah perelu bertindak keras agar “ditakuti” oleh rakyat.

fasisme di Italis (=Nazisme di Jerman), sebagai system pemerintahan otoriter dictator memang berhasil menyelamatkan Italia pada masa itu (1922-1943) dari anarkisme dan dari komunism. Walaupun begitu, kenyataannya adalah, bahwa fasisme telah menginjak-nginjak demokrasi dan hak asasi. 1.Inti pemikiran : negara diperlukan untuk mengatur masyarakat 2. filsafat : rakyat diperintah dengan cara-cara yang membuat mereka takut dan dengan demikian patuh kepada pemerintah.

Lalu, pemerintah yang mengatur segalanya mengenai apa yang diperlukan dan apa yang tidak diperlukan oleh rakyat 3. landasan pemikiran : suatu bangsa perlu mempunyai pemerintahan yang kuat dan berwibawa sepenuhnya atas berbagai kepentingan rakyat dan dalam hubungannya dengan bangsa-bangsa lain.

oleh karena itu, kekuasaan negara perlu dipergang koalisi sipil dengan militer yaitu partai yang berkuasa (fasis di Italia, Nazi di Jerman, Peronista di Argentina) bersama-sama pihak angkatan bersenjata 4.system pemerintahan (harus) : otoriter Kapitalisme Kapitalisme adalah suatu ideologi yang mengagungkan kapital milik perorangan atau milik sekelompok kecil masyarakat sebagai alat penggerak kesejahteraan manusia.

Kepemilikan kapital perorangan atau kepemilikan kapital oleh sekelompok kecil masyarakat adalah dewa di atas segala dewa, artinya semua yang ada di dunia ini harus dijadikan kapital perorangan atau kelompok kecil orang untuk memperoleh keuntungan melalui sistem kerja upahan, di mana kaum pekerja (buruh) sebagai produsen diperas, ditindas, dan dihisap oleh kaum kapitalis.

Kapitalisme adalah bentuk system perokonomian 1. inti pemikiran : perkonomian individu 2. fisafat : negara tidak boleh mencampuri kegiatan-kegiatan perekonomian, khususnya menyangkut kegiatan perekonomian perseorangan 3.

landasan pemikiran : kebebasan ekonomi yang bersifat perseorangan pada instansi terakhir akan mampu mengangkat kemajuan perekonomian seluruh masyarakat 4. system pemerintahan : demokrasi. Demokrasi Demokrasi artinya hukum dari, oleh rakyat dan untk rakyat. kata ini merupakan himpunan dari dua kata : demos yang berarti rakyat, dan kratos berarti kekuasaan. Jadi artinya kekuasaan ditangan rakyat. Sebenarnya pemikiran untuk melibatkan rakyat dalam kekuasaan sudah muncul sejak zaman dahulu.

Di beberapa kota Yunani didapatkan bukti nyata yang menguatkan hal ini, seperti di Athena dan Sparta. Hal ini pernah diungkapkan Plato, bahwa sumber kepemimpinan ialah kehendak yang bersatu milik rakyat. dalam suatu kesempatan Aristoteles menjelaskan macam-macam pemerintahan, dengan berkata,“ada tiga mcam pemerintahan: kerajaan, aristokrasi, republik, atau rakyat memagang sendiri kendali urusannya.” 1.inti pemikiran: kedaulatan ditangan rakyat 2.

filsafat : menurut Dr. M. Kamil Lailah menetapkan tiga macam justifikasi ilmiah dari prinsip demokrasi, yaitu: a. ditilik dari pangkal tolak dan perimabngan yang benar, bahwa system ini dimaksudkan untuk kepentingan social dan bukan untuk kepentingan individu, b. unjustifikasi berbagai macam teori yang bersebrangan dengan prinsip demokrasi, c. opini umum dan pengaruhnya 3.

landasan pemikiran. Rakyat membuat ketetapan hukum bagi dirinya sendiri lewat dewan perwakilan, yang kemudian dilaksanakan oleh pihak pemerintah atau eksekutif. 4. system pemerintahan (harus) : domokrasi Neoliberalisme Neoliberalisme yang juga dikenal sebagai paham ekonomi neoliberaal mengacu pada filosofi ekonomi-politik akhir-abad keduapuluhan, sebenarnya merupakan redefinisi dan kelanjutan dari liberalisme klasik yang dipengaruhi oleh teori perekonomian neoklasik yang mengurangi atau menolak penghambatan oleh pemerintah dalam ekonomi domestik karena akan mengarah pada penciptaan Distorsi dan High Cost Economy yang kemudian akan berujung pada tindakan koruptif.

Paham ini memfokuskan pada pasar bebas dan perdagangan bebas merobohkan hambatan untuk perdagangan internasional dan investasi agar semua negara bisa mendapatkan keuntungan dari meningkatkan standar hidup masyarakat atau rakyat sebuah negara dan modernisasi melalui peningkatan efisiensi perdagangan dan mengalirnya investasi. Neoliberalisme ( neoliberalism) merupakan sekumpulan kebijakan ekonomi yang merujuk kepada pemikiran bapak ekonomi Kapitalis Adam Smith Ruh pemikiran ekonomi Adam Smith adalah perekonomian yang berjalan tanpa campur tangan pemerintah.

Model pemikiran Adam Smith ini disebut Laissez Faire. Adam Smith memandang produksi dan perdagangan sebagai kunci untuk membuka kemakmuran. Agar produksi dan perdagangan maksimal dan menghasilkan kekayaan universal, Smith menganjurkan pemerintah memberikan kebebasan ekonomi kepada rakyat dalam bingkai perdagangan bebas baik dalam ruang lingkup domestik maupun internasional.

1.Inti pemikiran : mengembalikan kebebasan individu 2. filsafat : sebagai perkembangan dari liberalisme 3. landasan pemikiran : setiap manusia pada hakikatnya baik dan berbudi pekerti 4. system pemerintahan : demokrasi Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pancasila Sebagai Dasar Negara Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Kewarganegaraan, SMA, SMK Ditag #pengertian norma, arti penting peraturan perundang undangan, arti penting proklamasi bagi bangsa indonesia, bagian bagian yang ada dalam sebuah ideologi, ciri ciri ideologi, ciri ciri ideologi terbuka dan tertutup, contoh fungsi ideologi, contoh ideologi, contoh penerapan norma, contoh penerapan sila pancasila, fungsi ideologi, fungsi ideologi bagi suatu bangsa, fungsi ideologi bagi suatu negara ditunjukkan dalam pernyataan pernyataan nomor, fungsi ideologi brainly, fungsi ideologi pancasila, fungsi ideologi pkn, fungsi ideologi secara umum, fungsi pancasila sebagai ideologi terbuka, ideologi berasal dari kata, ideologi pancasila, ideologi pancasila adalah, jelaskan ciri-ciri ideologi tertutup, jelaskan fungsi ideologi, kedudukan dan fungsi pancasila dalam nkri, macam macam ideologi, manfaat ideologi, menyimpulkan fungsi ideologi negara, Pengertian Ideologi, pengertian ideologi menurut para ahli, pengertian ideologi secara umum, peranan ideologi, peranan ideologi bagi bangsa dan negara, perilaku penerapan norma, sebutkan manfaat ideologi bagi suatu bangsa, sifat nilai-nilai pancasila sebagai ideologi, tujuan ideologi, yang bukan merupakan fungsi ideologi adalah Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah Sistem Regulasi Pada Manusia Beserta Macam-Macamnya • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh • Higgs domino apk versi 1.80 Terbaru 2022 • Pengertian Gizi – Sejarah, Perkembangan, Pengelompokan, Makro, Mikro, Ruang Lingkup, Cabang Ilmu, Para Ahli • Proses Pembentukan Urine – Faktor, Filtrasi, Reabsorbsi, Augmentasi, Nefron, zat Sisa • Peranan Tumbuhan – Pengertian, Manfaat, Obat, Membersihkan, Melindungi, Bahan Baku, Pemanasan Global • Diksi ( Pilihan Kata ) Pengertian Dan ( Fungsi – Syarat – Contoh ) • Penjelasan Sistem Ekskresi Pada Manusia Secara Lengkap • Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah berikut ini perilaku yang mengamalkan sila pertama pancasila adalah Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com




2022 www.videocon.com