Kampung naga disebut kampung adat lantaran

kampung naga disebut kampung adat lantaran

2.8 / 5 ( 27 votes ) Kampung Naga adalah sebuah kampung adat yang terletak di desa Neglasari Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Masyarakatnya masih memegang kuat adat istiadat yang diwariskan oleh leluhur mereka dimana mereka hidup dalam tatanan yang diliputi suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat. Karena keunikannya kampung ini kerap dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun mancanagara, serta dijadikan sebagai tempat studi tentang kehidupan masyarakat pedesaan Sunda pada masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju pengaruh Islam di Jawa Barat.

Berikut kami tuliskan 7 fakta unik tentang mereka yang dijamin akan membuat Anda tambah penasaran.

kampung naga disebut kampung adat lantaran

Yuk! Daftar Isi • Sejarah Kampung Naga • Lokasi Kampung Naga • Masyarakat Kampung Naga • Sistem Religi • Tradisi Kampung Naga • Menyepi • Hajat Sasih • Kawinan • Wisata Kampung Naga • Tiket Masuk Kampung Naga Garut Sejarah Kampung Naga Asal-usul kampung adat ini tidak begitu jelas.

Tidak diketahui dengan terang kapan, siapa yang mendirikan serta bagaimana kampung ini berdiri. Hal ini konon disebabkan manuskrip-manuskrip peninggalan leuhur yang bisa menceritakan sejarah kampung terbakar pada saat pemberontakaan DI/TII tahun 1956. Gerombolan pemberontak yang tidak senang karena masyarakat kampung tidak mendukung perjuangan mereka, membumihanguskan kampung termasuk tempat penyimpanan pusaka.

Penamaan Naga sendiri cukup aneh, karena sebagaimana diketahui naga adalah ciri khas budaya Tiongkok. Sedangkan kampung tersebut bisa dikatakan jauh dari pengaruh itu. Tidak terdapat ornamen-ornamen atau pun gambaran tentang hewan naga di Kampung Naga. Ada yang mengatakan, nama Naga berasal dari “Na Gawir”, yatu bahasa sunda yang artinya “berada jurang.” Ini karena kampung ini berada pada lereng lembah sungai Ciwulan. Mengenai asal-usul terbentuknya kampung, konon berasal dari seorang tokoh bernama Sembah Dalem Eyang Singaparana.

Beliau adalah murid dari Sunan Gunung Jati yang ditugaskan menyebarkan agama Islam ke barat. Dalam perjalanannya, beliau singgah di desa Neglasari, saat ini menjadi bagian dari kecamatan Salawu Tasikmalaya. Dari desa tersebut, Singaparana bersama murid-muridnya kemudian membuka tempat yang saat ini menjadi Kampung Naga. Makam Sembah Dalem Singaparana terletak di hutan di sebelah barat kampung dan dikeramatkan oleh warga.

Lokasi Kampung Naga Kampung Naga terletak pada sebuah lembah yang subur seluas kurang lebih 1,5 hektar. Topografinya berbukit dan sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan dan kolam.

Selebihnya digunakan untuk lahan pertanian berupa sawah yang dapat dipanen 2 kali dalam setahun. Di sebelah barat dibatasi oleh hutan keramat, sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk serta di sebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari gunung Cikuray, Garut. Secara administratif, kampung ini berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Lokasi kampung tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya.

Dari kota Tasikmalaya kampung ini berjarak sekitar 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut sekitar 26 kilometer atau kira-kira bisa ditempuh kira-kira kurang dalam satu jam. Patokannya adalah koordinat S7.36440 E107.99470. Untuk memudahkan, klik kampung naga maps. Bila menggunakan kendaraan pribadi, dari Jakarta rutenya adalah: Tol Jakarta – Cikampek -> Tol Purbaleunyi -> Gerbang Tol Cileunyi -> Nagreg -> arah Garut Kota -> Cilawu -> Lokasi.

Sedang dari Bandung mengambil rute: Cileunyi -> Rancaekek -> Nagreg -> Leles dan Garut Kota -> Cilawu -> Lokasi. Apabila menggunakan kendaraan umum, dari Jakarta naik bus jurusan Kampung Rambutan – Garut – Singaparna turunkan di Lokasi.

Sedang dari Bandung menggunaka bus jurusan Bandunng – Garut – Tasikmalaya (Singaparna) di terminal Cicaheum, lalu berhenti di Kampung Naga. Bila telah sampai, dari pinggir jalan raya Garut-Tasikmalaya (tempat parkir) untuk menuju kampung kita harus menuruni tangga (sunda: sengked) yang sudah ditembok sampai ke tepi sungai Ciwulan sejauh 500 meter dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Tandanya adalah sebuah tugu kujang raksasa. Dari tugu ini kita harus berjalan kaki menyusuri tangga berbatu yang menurun ke Kampung Naga.

Sebuah perjalanan yang sangat indah yang dikelilingi keindahan panorama sawah yang menghijau. Masyarakat Kampung Naga Menurut catatan yang ada di Desa Neglasari Kecamatan Salawu, tahun 2010 jumlah penduduk kampung adat ini berjumlah 312 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga 108 Kepala Keluarga (KK). Sedangkan jumlah bangunan 113 buah bangunan 55 rumah termasuk bangunan khusus yaitu satu balai pertemuan, satu mesjid dan satu bumi ageung.

Namun sebenarnya jumlah masyarakat Naga yang termasuk adat ”SaNaga” masih banyak. Yaitu mereka yang tinggal di luar kampung. Bahkan ada juga orang Naga yang bertempat tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Kampung naga disebut kampung adat lantaran, Tasikmalaya dan lain-lain.

Mereka yang bertempat di luar kampung, masih tetap terikat oleh adat Naga dan setiap penyelenggaraan upacara adat mereka datang ke kampung untuk berziarah ke makam keramat. Namun mereka tidak terikat lagi oleh ketentuan adat seperti membuat rumah panggung dan aturan lainnya.

Untuk kelangsungan hidupnya, masyarakat kampung memiliki sumber mata pencaharian dari pertanian sawah dan ladang. Baik sebagai pemilik, penggarap, maupun buruh. Sebagai mata pencaharian tambahan, sebagian masyarakatnya membuat barang anyaman atau kerajinan tangan dari bambu. Sistem Religi Masyarakat Naga mengaku beragama Islam. Walau demikian mereka juga amat taat memegang adat-istiadat serta keyakinan nenek moyangnya.

Dalam kata lain, meskipun kampung naga disebut kampung adat lantaran menyebutkan memeluk agama Islam, namun syariat yang mereka lakukan agak berbeda dengan pemeluk Islam yang lain. Contohnya, salat lima waktu hanya dilakukan pada hari Jumat, sedang hari-hari biasa tidak. Pengajaran mengaji untuk anak-anak di kampung ini dilakukan pada malam Senin dan malam Kamis.

Sementara untuk orang tua pada malam jumat. Menunaikan ibadah haji, mereka berasumsi tak perlu jauh-jauh pergi Mekkah, cukup melaksanakan upacara hajat sasih yang waktunya bertepatan dengan Idul Adha 10 Rayagung (Dzulhijjah). Tradisi Kampung Naga Masyarakat Kampung Naga sangat menghormati tradisi leluhur. Mereka menolak segala hal yang tidak berasal dari ajaran nenek moyang. Mereka mempercayai keberadaan mahluk halus, seperti jurig cai, ririwa dan kunti anak yang tinggal di tempat-tempat angker dan jarang disinggahi manusia.

Mereka juga memiliki banyak pantangan yang harus dipatuhi oleh seluruh penghuni kampung. Misalnya dalam tata cara membangun rumah, bentuk, letak dan arah rumah, pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya.

Tradisi lain yang dimiliki oleh komunitas tersebut adalah berbagai upacara adat yang sering dilaksanakan. Yaitu diantaranya: Menyepi Dilakukan pada hari Selasa, Rabu, dan Sabt, upacara ini wajib dilaksanakan oleh semua penduduk kampung dan bersifat individual.

Tujuannya menghindari pembicaraan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat. Hajat Sasih Upacara ini diikuti oleh seluruh warga adat Sa-Naga, baik yang bertempat tinggal di kampung maupun di luar. Waktu pelaksanaannya biasanya bertepatan dengan hari-hari besar agama Islam. Upacara Hajat Sasih dilakukan dengan ziarah dan membersihkan makam leluhur.

Tujuannya memohon berkah dan keselamatan serta menyatakan rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang telah diberikan kepada seluruh warga.

Kawinan Upacara ini dilakukan setelah selesainya akad nikah. Dilaksanakan dengan sangat sakral, mulai dari penentuan tanggal baik untuk perayaan sampai dengan resepsi berakhir. Tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut: upacara sawer, nincak endog, buka pintu, ngariung, ngampar, dan diakhiri dengan munjungan.

Wisata Kampung Naga Dengan daya tarik sebagai mana disebutkan di atas, maka kampung ini menjadi magnet bagi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Setiap hari sekitar 20-an orang asing berkunjung ke kampung ini. Memang tidak ada atraksi khusus untuk menyambut atau menghibur para wisatawan. Kalau pun ada bukanlah diperuntukkan bagi para pengunjung melainkan sebagai bentuk pertunjukkan warga lokal saja.

Masyarakat Naga menolak kampung mereka disebut sebagai obyek wisata. Alasannya: mereka tidak ingin dijadikan tontonan, sebaliknya mereka ingin agar dijadikan tuntunan. Kampung naga disebut kampung adat lantaran Masuk Kampung Naga Garut Untuk berwisata ke kampung tidak dipungut biaya sepeser pun. Tapi, kita masih dapat berkontribusi dengan membeli cinderamata dan menyewa jasa pemandu. Selama musim liburan, Kampung naga disebut kampung adat lantaran akan semakin ramai oleh para pelancong.

Biasanya wisatawan yang mampir dari Jakarta atau Bandung. Ini dikarenakan lokasinya yang mudah dicapai, hanya beberapa ratus meter dari jalan raya. Meskipun hanya singgah, para wisatawan dapat merasakan kedamaian sejenak ketika berada di Kampung Naga.

Kampung Naga disebut kampung adat lantaran eta kampung teh masih kukuh nyekel kana adat kabiasaan urang Sunda. Masarakat anu aya di Kampung Naga teh masih nyekel pageuh kana adat istiadat karuhun Sunda.

Masarakat anu aya di Kampung Naga teh nolak kana pangaruh ti luar umpama eta pangaruh luar ngarusak kana kalestarian Kampung Naga. Asalna Kampung Naga teh henteu pati jelas, henteu aya kajelasan sajarah, iraha jeung saha sarta naon anu jadi kasang tukang ayana kampung eta, kukituna aya sababaraha versi ngeunaan sajarah Kampung Naga. Kuayana kondisi henteu jelas ngeunaan sejarah eta, masarakat Kampung Naga nyebutna "Pareum Obor".

Saperti pakampungan adat lianna, saperti anu aya di masarakat Badui, Banten, Kampung Naga oge sering dijadikeun tempat atawa objek panalungtikan antropologi ngeunaan kahirupan masarakat padesaan Sunda dina masa peralihan tina pangaruh Hindu kana pangaruh Islam di Jawa Barat. Kategori Soal : Bahasa Sunda - Adat Di Palemburan Kelas : IX (3 SMP) Kata Kunci : Kampung Naga, kampung adat Nama : .

Kelas : . Hari/tgl : Sen … in, 09 Mei 2022 Soal latihan Sautin pitakén ring sor antuk pesaut sané patut! 1. Tegarang tulis 4 sané rumasuk soroh penganggé ardasuara!

2. Tegarang salin kruna ring sor antuk aksara Bali! a. Puseh b. Pucung c. Bangku d. Cah-cah 3. Tegarang tulis 2 conto ané dadi orahang abungkul ! 4. Tegarang tulis 2 conto kruna sané nganggé tengenan bisah !

5. I Mémé meli biu aijas aji setiman. Kruna setiman yang tulis baan angka! Bacalah cerita berikut! Pada suatu hari yang cerah ada seekor semut berjalan-jalan di taman. Ia sangat bahagia karena bisa berjalan-jalan melihat tama … n yang indah.

Semut berkeliling taman sambil menyapa binatang-binatang yang berada di taman itu. Ia melihat sebuah Kepompong di atas pohon. Semut mengejek bentuk kepompong yang jelek dan tidak bisa pergi ke mana-mana. "Hei, Kepompong alangkah jelek nasibmu. Kamu hanya bisa menggantung di ranting itu. Ayo, jalan-jalan, lihat dunia yang luas ini! Bagaimana nasibmu jika ranting itu patah?" Sang Semut selalu membanggakan dirinya yang bisa pergi ke tempat ia suka.

Semut kuat mengangkat beban yang lebih besar dari tubuhnya. Semut merasa bahwa dirinya adalah binatang yang paling hebat. Si Kepompong hanya diam saja mendengar ejekan itu. Tuliskan isi yang tersirat dalam cerita tersebut!​
Merdeka.com - Kampung Naga merupakan sebuah kampung adat Sunda yang cukup terkenal di Jawa Barat.

Lokasi kampung adat naga sendiri berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, tepatnya berada pinggiran Sungai Ciwulan dan di antara lembah yang subur di perbukitan Neglasari. Kampung Naga sendiri merupakan salah satu kampung adat yang masih menerapkan prinsip ketradisionalan yang kuat serta tingkat pamali yang cukup tinggi. Masyarakat Kampung Naga Patuh akan Pesan Leluhur Menurut Endut Suganda selaku sesepuh kampung naga, masyarakat di sini merupakan keturunan suku Sunda asli.

Endut Suganda juga menjelaskan bahwa seluruh masyarakat Kampung Naga masih sangat patuh terhadap pesan leluhur mereka, mulai dari soal kesederhanaan, hidup rukun dengan memegang teguh adat tradisi dalam menjaga alam, termasuk soal hubungannya dengan lingkungan sekitar pemberi kehidupan.

Menghormati Alam Sekitar Masyarakat Kampung Adat Naga pun masih tetap menjaga keaslian budaya mereka tanpa terpengaruh oleh kemajuan teknologi dan informasi di era sekarang. Mereka masih setia terhadap tradisi nenek moyang. Mereka juga tetap menjaga dan menghormati hutan yang dianggap terlarang oleh masyarakat sekitar tersebut.

"Di kami itu ada yang namanya leuweung (hutan) larangan, dari dulu sampai sekarang dan seterusnya tidak boleh ada yang mengganggu, biarkan begitu saja," ujarnya. Terdapat Tugu Kujang Sebagai Simbol Khas Sunda Di Kampung Naga sendiri terdapat tugu Kujang raksasa (Senjata Tradisional khas Sunda) yang merupakan ikon baru di wilayah Kampung Naga. Menurut Endut, tugu tersebut memiliki nilai filosofis dengan masyarakat yaitu nilai kesundaan yang kuat dari bangunan setinggi 5,5 meter tersebut.

Menurut Endut, Tugu tersebut dibangun oleh mantan Kapolda Jabar Anton Charliyan. Saat itu Anton yang memiliki hobi mengoleksi banyak benda pusaka, memiliki ide untuk mendirikan sebuah bangunan yang bisa dijadikan sebagai ciri khas dari Kampung Naga. Struktur Kujang yang terdapat pada bangunan tersebut terdiri dari 999 keris.

Benda pusaka dan benda logam bertuah lainnya, yang dileburkan menjadi satu benda kujang raksasa. Memiliki Sejarah Kerajaan di Kampung Adat Naga Diceritan oleh Endut, Kampung Naga memiliki sejarah panjang seputar kerajaan tanah sunda. Salah satunya adalah Raja Dipuntang yang merupakan sesepuh awal di kampung Naga dan menurunkan Pangeran Singaparana yang menjadi Panglima Kerajaan Timbang Anten dengan Rajanya pada saat itu adalah Wangsadikarya yang kelak menjadi pemimping di Kampung Naga yang arif dan bijaksana.

BACA JUGA: Bacaan Doa untuk Orang Menikah, Berikut Arti dan Keutamaannya Sonny Septian Akui Perlakukan King Faaz Seperti Anak Sendiri, Intip Potret Kompaknya "Nah, Pangeran Singaparana inilah yang menjadi eyangnya warga adat Kampung Naga," ujarnya.

Selama menjadi pemimpin rakyat saat itu, sang pangeran dikenal arif dan bijaksana, hingga diberi amanat Piagam Tembaga Raja Wangsadikarya untuk melakukan tindakan yang tepat, saat keadaan menunjukkan sebuah ancaman. Mempertahankan Kesenian Leluhur Dilansir dari Antara, masyarakat Kampung Adat Naga hingga saat ini masih memiliki kesenian tradisional yang hingga saat ini masih dipertahankan sebagai identitas setempat, yakni Terbang Gembrung, Terbang Sejak, dan Angklung yang seringkali ditampilkan pada momentum khusus di kampung adat itu.

"Ada tiga kesenian yang sering tampil di Kampung Naga yaitu Terbang Gembrung, Terbang Sejak dan Angkluing," kata Juru Pelihara juga Sesepuh Kampung Naga, Ucu Suherlan di Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Kawalu, Kabupaten Tasikmalaya. Bentuk Sinergisitas dengan Islam Ucu Suherlan yang juga sebagai sesepuh Kampung Adat Naga menuturkan bahwa adat di kampung naga tersebut memiliki pengaruh kampung naga disebut kampung adat lantaran cukup kuat dengan agama Islam, instrumentasi dalam kesenian musik seperti Terbang Gembrung dapat dimainkan oleh banyak orang yang selalu ditampilkan pada saat hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, Ramadhan, maupun Maulud Nabi.

"Untuk Terbang Gembrung semua warga ikut, yang biasa ditampilkan saat maulud, idul fitri, semua warga bersalawat, yang bisa digelar semalaman, dari jam 8 malam sampai jam tiga (dini hari)," katanya. Sedangkan permainan tradisi kesenian Terbang Sejak dapat dilaksanakan dalam momentum kapan saja, dengan melibatkan pemain sebanyak enam orang dengan alat musik seperti rebana.

kampung naga disebut kampung adat lantaran

BACA JUGA: Dibongkar Sang Adik, Arafah Rianti Ternyata Hampir ke Psikolog Gara-Gara Ini Khitbah Nikah adalah Prosesi Lamaran, Berikut Syarat dan Tata Caranya Menurut Islam Tujuannya adalah ketika manusia bisa hidup berdampingan dengan kesederhanaan manusia akan sadar bahwa dengan hidup secara beriringan bisa menghindarkan manusia dari berbuat kerusakan yang bisa merugikan.

Makna kesederhanaan tersebut seakan sudah melekat dengan masyarakat kampung adat naga sebagai pedoman hidup. "Tentunya kesenian di Kampung Naga ada petuah, isinya petuah dari alam, ada pesan moral," katanya. Mimpi Masyarakat Kampung Adat Naga Liputan6.com 2020 Merdeka.com Atas dasar banyaknya potensi Kampung Naga tersebut lah masyarakat Tasikmalaya memiliki harapan yang besar terhadap penetapan kampung adat tersebut agar menjadi sebuah desa adat bertaraf nasional, sehingga kedepannya bisa menjadi magnet baru sebagai destinasi wisata unggulan, di kawasan tatar sunda bagian selatan Jawa tersebut.

"Di Bali saja sudah ada desa adat, nah kenapa Kampung Naga tidak menjadi sebuah desa adat, ujar Anton Charliyan.

kampung naga disebut kampung adat lantaran

Menurutnya, pengusungan Kampung Naga sebagai desa adat tersendiri dianggap tepat. Eksotisme wilayah, dengan ragam kekayaan adat budaya, menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjung yang datang. [nrd] 1 4 Cara Mudah untuk Mengawali Hari dengan Lebih Bugar dan Bertenaga 2 Oplas Dinilai Berhasil, 5 Potret Lucinta Luna di Malaysia Dipuji Bak Boneka Barbie 3 Cantik dan Menggemaskan Salima Anak Wishnutama & Gista Putri Liburan di Luar Negeri kampung naga disebut kampung adat lantaran Selamat!

Jessica Iskandar Melahirkan Anak Kedua, Wajah Sang Bayi Bikin Penasaran 5 Cantik Klasik Khas Sageuk, 10 Aktris Korea Ini Jadi Sering Main Drama Sejarah Selengkapnya Tasikmalaya, Giwangkara.com -- Kampung naga téh mangrupa salah sahiji kampung adat di tatar Sunda. Pernahna di Désa Néglasari, Kacamatan Salawu, Kabupatén Tasikmalaya. Béda jeung umuna kampung adat, kampung naga mah kawilang gampang didongkangna, lantaran tempatna heunteu jauh ti jalan gedé antara Garut jeung Tasikmalaya. Disebut kampung adat lantaran kabiasaan pandudukna anu masih kénéh pageuh nyekel adat kabiasaann karuhunna.

Maranéhna pantranng ngarempak adat kabiasaan anu geus digiratkeun ku karuhun. Nurutkeun kapercayaanna, ngarempak adat téh sarua hartina jeung henteu ngahargaan ka karuhun. Wewengkon Kampung Naga legana lima héktar.

Ari anu dijadikeun pakampungan aya 1,5 héktar ngawengku paimahan, pakarangan, balong jeung pasawahan panduduk. Sésana mangrupa leuweung, anu disebut leuweung karamat, lantaran di éta leuweung téh aya makam karuhun masarakat Kampung Naga.

Baca Juga: Mantan Kades di Bandung Jadi Tersangka Mafia Tanah Senilai Rp 3.3 Miliar Pakampunganana aya dina léngkob anu kawilang subur. Belah kulon diwatesan ku leuweung karamat, belah kalér jeung wétan diwatesan ku walungan ciwulan.

Belah kidul mangrupa lawang asup ka lingkungan pakampungan. Upama urang dék asup ka jero pakampunganana kudu ngaliwatan jalan nurugtug, mangrupa séséngked, tapi geus ditembok jeung dibalay ku batu témplék. Sasatna mah kudu ngaliwatan gawir. Malah aya nu nyebutkeun, sesebutan kampung Naga téh, asalna mah Kampung Na Gawir, terus robah jadi kampung naga. Wangun imah di kampung naga kudu imah panggung, anu dijieunna tina kai jeung awi. Hateupna wangun julang ngapak kudu tina injuk, eurih atawa kiray.

Teu meunang aya nu maké kenténg. Teu meunang ditémbok deuih, sanajam mampuh ogé yieun imah tembok atawa gedong. Sakabéh imah kudu nyanghareup ka kidul atawa kalér. Teu meunang di cét, iwal dikapur atawa dimeni. Baca Juga: Tersangka Kasus Mutilasi di Bekasi, Akhirnya Ditangkap Setelah Sempat Menjadi Buronan Panto imahna, teu meunang aya panto anu pahareup-hareup dina saimah.

Anu matak panto tepas jeung panto dapur téh, sajajar aya dihareup. Lantaran nurutkeun kapercayaanana sangkan rejeki anu asup ka imah téh henteu bangblas, kaluar deui ngaliwatan panto dapur.

Pipinding tepas atawa tengah imah ku bilik anu buni, ari pipinding dapur mah kudu aya anyaman sasag anu carang. Ieu ogé aya alesanana. Ambéh babari kanyahoan ku tatangga lamun kampung naga disebut kampung adat lantaran henteu ngebul, hartina henteu masak, upamana baé lantaran teu boga béas, jeung sajabana.

dijero imah teu meunang maké paparabotan, saperti korsi, méja jeung ranjang. Teu meunang maké listrik deuih. Cukup dicaangan ku cempor baé. Di kampung naga aya 113 wangunan, 110 wangunan diantarana mangrupa imah. Baca Juga: Ini Dia Perbedaan Gejala Covid-19 Varian Delta dan Omicron Wangunan séjénna nyaéta bumi ageung, balé patemon, jeung masjid.

Bumi ageung tempat neundeun barang-barang pusaka, balé patemon tempat ngayakeun kumpulan warga jeung narima sémah, ari masjid tempat ibadah warga jeung ngayakeun upacara kaagamaan. Ti baheula jumlah wangunan téh teu leuwih tisakitu sarta teu bisa ditambahan deui. Jadi upama aya warga kampung naga anu hayang nyieun imah anyar téh, lantaran anggota kulawargana nambahan, upamana, nya kapaksa wé kudu diluareun kampung naga.

Di kampung naga teu meunang naggap kasenian anu datang ti luar, saperti wayang golék, dangdut, kendang penca sarta kasenian lianna anu maké goong. Ari lalajo mah meunang orang dinya ogé, asal ulah dijero kampung naga. Kasenian anu meunang ditanggap di kampung naga nyaéta terebang, beluk jeung rengkong. Kasenian anu dianggap mangrupa warisan turun-tumurun ti karuhunna.

Baca Juga: Ini Cara Mencegah dan Menangani Fenomena Burnout Dikalangan Mahasiswa Orang kampung naga ogé pantrang nyaritakueun negunaan lembur katut sajarahna dina poé salasa, rebo jeung sabtu. Komo nyaritakeun luluhurna atawa karuhnna mah, dipahing pisan.

kampung naga disebut kampung adat lantaran

Ari sababna poé salasa, rebo jeung sabtu téh mangrupa poéan nyepi. Kampung naga téh diadegkeun ku sembah dalem Singaparna, anu dianggap karuhun urang kampung naga, ratusan taun katukang. Sembah dalem singaparna téh salah saurang anu nyebarkeun agama islam. Anu matak urang kampung naga mah kabéhanana ogé nganggem kampung naga disebut kampung adat lantaran islam.

Ngan dina prak-prakan ibadahna siluyukeun jeung adat-cahara katut kabiasaan karuhunna.
Paimahan di Kampung Naga Kampung Naga di Tasikmalaya Jawa Barat nyaéta kampung anu dicicingan ku sagolongan masarakat anu kuat pisan dina nyekel adat karuhun, dina hal ieu adat Sunda. Kawas padumukan Baduy, Kampung Naga jadi objék kajian antropologi kahirupan kampung naga disebut kampung adat lantaran padésaan Sunda dina mangsa transisi tina pangaruh Hindu kana pangaruh Islam di Jawa Barat.

Eusi • 1 Sajarah • 2 Lokasi jeung topografi • 3 Agama jeung sistem pangaweruh • 4 Adat • 5 Rupa wangunan • 6 Dicutat tina Sajarah [ édit - édit sumber ] Kampung Naga téh kampung adat anu masih lestari. Masarakatna masih nyekel kana tradisi karuhunna, nolak intervensi ti pihak luar lamun ngaganggu jeung ngaruksak kalestarian désa.

Sanajan kitu, asal-usul kampung ieu teu pati jelas. Teu aya kajelasan sajarah: iraha, saha pendirina jeung naon alesan dibentukna ieu kampung téh. Warga Kampung Naga sorangan nyebut sajarah kampungna ku istilah "Pareum Obor". Pareum upama ditarjamahkeun kana basa Indonesia mah hartina paéh, poék. Obor hartina katerangan atawa lampu. Maksud na mah ieu patali jeung sajarah Kampung Naga. Masarakat Kampung Naga ngalaporkeun yén ieu téh dibalukarkeun ku didurukna arsip sajarah dina waktu kajadian DI/TII.

Kampung Naga nu harita leuwih ngadukung Soekarno jeung kurang simpati kana maksud DI/TII anu ngakibatkeun Kampung Naga diduruk dina taun 1956. Aya sababaraha vérsi sajarah pakait jeung Kampung Naga.

Salah sahiji na nyaéta dina mangsa kawalian Syékh Syarif Hidayatullah atawa Sunan Gunung Jati, aya jalma nu ngaranna Singaparna ditugaskeun pikeun nyebarkeun agama Islam ka Kulon. Singaparna datang ka wewengkon Néglasari anu ayeuna jadi Désa Néglasari, Kecamatan Salawu, Kabupatén Tasikmalaya. Di éta tempat Singaparna ku masarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Hiji poé manéhna narima ilapat atawa paréntah pikeun tapa. Dina tapana, Singaparna meunang pangingetan yén manéhna kudu nyicingan hiji tempat anu ayeuna disebut Kampung Naga.

Tapi, masarakat Kampung Naga sorangan henteu percaya kana bebeneran vérsi sajarahna, lantaran "pareumeun obor " tea. Lokasi jeung topografi [ édit - édit sumber ] Désa ieu sacara administratif aya di wewengkon Désa Neglasari, Kacamatan Salawu, Kabupatén Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat.

kampung naga disebut kampung adat lantaran

Lokasi Kampung Naga teu jauh ti jalan raya anu ngahubungkeun Kota Garut jeung Kota Tasikmalaya. Ieu kampung ayana di lebak anu subur. Di beulah kulon Kampung Naga diwatesan ku leuweung nu dianggap karamat lantaran di jero leuweung aya kuburan karuhun masarakat Kampung Naga.

Beulah kidul wawatesan jeung pasawahan masarakat satempat, beulah kalér jeung wétan wawatesan jeung Ci Wulan anu sumber caina ti Gunung Cikuray di wewengkon Garut. Jarak ti Kota Tasikmalaya ka Kampung Naga kurang leuwih 30 kilométer, sedengkeun ti Kota Garut jarakna 26 kilométer.

Pikeun nepi ka Kampung Naga ti arah jalan raya Garut-Tasikmalaya kudu turun tangga anu geus aya sengked tepi ka walungan Ciwulan anu lampingna kira-kira 45 derajat kalayan jarakna ampir 500 méter.

kampung naga disebut kampung adat lantaran

Saterusna ngaliwatan jalur sapanjang walungan Ciwulan nepi ka Kampung Naga. Nurutkeun data ti Désa Neglasari, wangun lahan di Kampung Naga téh mangrupa pagunungan kalayan produktivitas taneuh anu subur.

Legana lahan Kampung Naga anu aya salega satengah héktar, lolobana dipaké pikeun perumahan, pakarangan, balong, jeung sésa-sésa keur tatanén paré anu dipanén dua kali sataun. Agama jeung sistem pangaweruh [ édit - édit sumber ] Warga Kampung Naga kabeh ngaku Islam. Pangajaran Al-Qur'an pikeun barudak di Kampung Naga dilaksanakeun dina malem Senén jeung Kemis, sedengkeun pangajaran Al-Qur'an kampung naga disebut kampung adat lantaran kolot dilaksanakeun dina malem Jumaah.

Dina ngalaksanakeun rukun Islam anu kalima atawa ibadah haji, maranéhna nganggap teu kudu jauh-jauh ka Tanah Suci Mekah, tapi cukup ku ngalaksanakeun upacara Hajat Sasih anu bareng jeung Poé Haji, nyaéta unggal tanggal 10 Rayagung (Dzulhijjah). Upacara Hajat Sasih nurutkeun kapercayaan masarakat Kampung Naga sarua jeung Idul Adha jeung Idul Fitri.

Nurutkeun kapercayaan masarakat Kampung Naga, ku ngalaksanakeun adat-istiadat warisan karuhun hartina ngajénan karuhun. Sagala rupa nu asalna tina ajaran karuhun Kampung Naga, jeung naon-naon nu teu dipilampah ku karuhun dianggap tabu. Upama hal-hal ieu dilakukeun ku masarakat Kampung Naga, hartina ngalanggar adat, teu ngahargaan karuhun, tangtu bakal nimbulkeun musibah. Kayakinan masarakat Kampung Naga kana arwah masih kénéh dicekel pageuh.

Kapercayaan kana ayana jurig cai, nyaéta roh-roh anu nyicingan cai atawa walungan, utamana bagian jero walungan ("leuwi"). Saterusna “ririwa” nyaéta roh-roh anu resep ngaganggu atawa nyingsieunan manusa dina peuting, aya ogé anu disebut “kunti anak” nyaéta roh-roh anu asalna ti awéwé reuneuh anu maot, manéhna resep ngaganggu awéwé anu keur atawa rék ngalahirkeun.

Samentara éta, tempat-tempat anu dicicingan ku masarakat Kampung Naga disebut tempat angker. Kitu deui tempat-tempat saperti makam Eyang Singaparana, Bumi ageung jeung masjid-masjid mangrupa tempat anu dianggap sakral pikeun masarakat Kampung Naga. Pantangan atawa pamali pikeun masarakat Kampung Naga tetep dilaksanakeun kalawan taat, kampung naga disebut kampung adat lantaran dina kahirupan sapopoé.

Upamana tata cara ngawangun jeung wangun imah, lokasi, arah imah, pakean upacara, kasenian, jeung sajabana.

kampung naga disebut kampung adat lantaran

Wangun imah masarakat Kampung Naga kudu dina tihang, bahan imahna awi jeung kai. Hateup imah kudu dijieun tina daun lontar, serat, atawa alang-alang, lanté imah kudu dijieun tina awi atawa papan kai. Imah kudu nyanghareup ka kalér atawa kidul ku cara ngalegaan kulon-wétan. Tembok imah dijieunna tina bilik atawa anyaman awi kalayan anyaman sasag.

Imah teu kudu dicét, kecuali dilapis. Bahan imah teu bisa maké témbok, sanajan mampu nyieun imah témbok atawa wangunan (gedong). Imah teu kudu dilengkepan ku parabot, sapertos korsi, méja, sareng ranjang. Imah teu kudu make panto ti dua arah, sabab nurutkeun pamadegan masarakat Kampung Naga, rezeki anu asup ka imah ngaliwatan panto hareup moal kaluar ngaliwatan panto tukang.

Ku sabab kitu, dina masang panto, masarakat Kampung Naga teu meunang masang panto paralél dina garis lempeng. Dina kasenian, masarakat Kampung Naga miboga pantangan atawa pamali kana kasenian pintonan ti luar Kampung Naga, saperti wayang golék, dangdut, pencak silat, jeung kasenian séjénna anu ngagunakeun waditra goong. Sedengkeun kasenian anu jadi warisan karuhun masarakat Kampung Naga nyaéta ngalayang, angklung, beluk, jeung rengkong. Kasenian beluk ayeuna geus jarang dilakukeun, sedengkeun kasenian rengkong geus teu dipikawanoh, utamana di kalangan generasi ngora.

Najan kitu, pikeun masarakat Kampung Naga anu rék lalajo kasenian wayang, pencak silat, jeung sajabana, diijinkeun pikeun ngalaksanakeun kasenian ieu di luar wewengkon Kampung Naga.

Aya pantangan atawa pamali séjénna, nyaéta dina poé Salasa, Rebo, jeung Saptu, masarakat Kampung Naga kampung naga disebut kampung adat lantaran nyarita ngeunaan adat jeung asal-usul Kampung Naga. Masarakat Kampung Naga kacida ngajénan ka Embah Singaparna anu mangrupa cikal bakal masarakat Kampung Naga.

kampung naga disebut kampung adat lantaran

Di Tasikmalaya aya hiji tempat anu disebut Singaparna. Ku masarakat Kampung Naga disebut Galunggung, sabab kecap Singaparna teh ngaran karuhun masarakat Kampung Naga. Sistem kapercayaan masarakat Kampung Naga diwujudkeun dina kapercayaan yén rohangan atawa tempat anu wates-watesna tangtu dikawasa ku kakuatan-kakuatan anu tangtu. Patempatan atawa wewengkon anu miboga wates jeung katégori anu béda-béda saperti wates walungan, wates antara pakarangan hareup imah jeung jalan, tempat antara sawah jeung solokan, tempat cai mimiti asup atawa disebut huluwotan, pagunungan, tempat antara désa jeung leuweung, jeung saterusna, mangrupakeun tempat dicicingan ku kakuatan nu tangtu.

Wewengkon anu ngabogaan wates-wates anu tangtu dicicingan ku roh-roh sarta dianggap angker. Éta sababna di éta wewengkon masarakat Kampung Naga resep ngajaga “sasajen”. Kayakinan masarakat Kampung Naga dina mangsana diwujudkeun tina kapercayaanana kana anu disebut palintangan.

Dina waktu-waktu nu tangtu aya bulan atawa waktu nu dianggap goréng, pantangan atawa pamali pikeun ngalaksanakeun pagawéan nu kacida pentingna saperti ngawangun imah, ngawinkeun, hitanan, jeung upacara adat. Waktu anu dianggap tabu disebut larangan bulan. Larangan bulan ragrag dina bulan Sapar jeung Ramadhan. Dina bulan-bulan ieu dicaram atawa pamali pikeun ngayakeun upacara panggih jeung upacara undur-undur. Sajaba ti éta, itungan nangtukeun poé nguntungkeun dumasar kana poé sial dina unggal bulan, sakumaha dibéréndélkeun di handap: • Muharam (Muharram) Saptu-Minggu 11,14 • Sapar (Safar) Saptu-Minggu 1.20 • Poe Maulud (Rabiul Tsani) Saptu-Minggu 1,15 • Silih Mulud (Rabi'ul Tsani) Senén-Selasa 10.14 • Jumaah Awal (Jumadil Awwal) Senén-Salasa 10,20 • Jumaah ahir (Jumadil Tsani) Senén-Salasa 10.14 • Poé Rajab (Rajab) Rebo-Kemis 12,13 • Poé Rewah (Sya'ban) Rebo-Kemis 19.20 • Puasa/Ramadhan (Ramadhan) Rebo-Kemis 9.11 • Syawal (Syawal) Jumaah 10.11 • Hapit (Dzulqaidah) Jumaah 2,12 • Rayagung (Dzulhijjah) Jumaah 6,20 Dina poé jeung tanggal éta téh pamali pikeun ngayakeun pésta atawa upacara ngawinkeun, atawa hitanan.

Upacara akad nikah kampung naga disebut kampung adat lantaran dilaksanakeun saluyu sareng poe upacara undur-undur.

Salian ti itungan pikeun nangtukeun poé-poé anu hadé pikeun ngamimitian pagawéan saperti upacara ngawinkeun, hitanan, ngawangun imah, jeung sajabana, dumasar kana poé sial anu lumangsung unggal bulan. Adat [ édit - édit sumber ] Di antara upacara adat nu dilaksanakeun di Kampung Naga nyaéta: • Upacara poé-poé Islam • Mulud atawa Alif ku ngayakeun Pedaran (macakeun sajarah karuhun) nu dimimitian ku mandi di walungan Ciwulan.

Rupa wangunan [ édit - édit sumber ] Wangunan di Kampung Naga boh imah, masjid, balé patemon, atawa leuit bentukna sarua. Luhurna ditutupan ku hateup jeung injuk (tutup wuwung). Pindingna tina bilik sedengkeun pantona tina serat hoé, kabéhanana nyanghareup ka kalér atawa kidul.

kampung naga disebut kampung adat lantaran

{INSERTKEYS} [1] [1] Kampung Naga mangrupa salah sahiji objék wisata di Tatar Sunda nu loba dijugjug ku wisatawan jero jeung luar negri, rata-rata kana 40 rébuan urang per taun. [2] [1] Dicutat tina [ édit - édit sumber ] • ↑ a b c Widiyanto, Sigit; Siti Maria, Rosyadi, Dewi Indrawati, Renggo Astuti (1995), Sistem Keyakinan Pada Masyarakat Kampung Naga dalam Mengelola Lingkungan Hidup (Studi Tentang Pantangan dan Larangan), Direktorat Jenderal Kebudayaan, ISBN - Check -isbn= value ( bantuan) Cite uses deprecated parameter -coauthors= ( bantuan) • ↑ Astuti, Dewi; Risma Rismawati (2009), Adat Istiadat: Masyarakat Jawa Barat, Jakarta: Pt Sarana Panca Karya Nusa, p.

3 - 5, ISBN 9789797883607 Cite uses deprecated parameter -coauthors= ( bantuan) Artikel ngeunaan Sunda ieu mangrupa taratas, perlu disampurnakeun. Upami sadérék uninga langkung paos perkawis ieu, dihaturan kanggo ngalengkepan. Édit tutumbu • Kaca ieu panungtungan diédit 25 Pébruari 2022, jam 12.56.

• Téks ditangtayungan ku Creative Commons Attribution-ShareAlike License; katangtuan tambahan lianna bisa dilarapkeun ogé. Baca Katangtuan Pamakéan pikeun leuwih lengkep. • Kawijakan privasi • Ngeunaan Wikipedia • Bantahan • Pidangan sélulér • Pamekar • Statistik • Pernyataan kuki • •
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya.

Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Kampung Naga" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR ( Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) Pemandangan Kampung Naga. Kampung Naga ( aksara Sunda: ᮊᮙ᮪ᮕᮥᮀ ᮔᮍ) adalah sebuah perkampungan tradisional yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Kampung ini merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya, dalam hal ini adalah adat Sunda.

Seperti permukiman Badui, Kampung Naga menjadi objek kajian antropologi mengenai kehidupan masyarakat pedesaan Sunda pada masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju pengaruh Islam di Jawa Barat.

Daftar isi • 1 Sejarah • 2 Lokasi dan topografi • 3 Religi dan sistem pengetahuan • 4 Aksesibilitas • 5 Lihat pula • 6 Pranala luar Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Kampung Naga merupakan sebuah kampung adat yang masih lestari.

Masyarakatnya masih memegang adat tradisi nenek moyang mereka. Mereka menolak intervensi dari pihak luar jika hal itu mencampuri dan merusak kelestarian kampung tersebut. Namun, asal mula kampung ini sendiri tidak memiliki titik terang. Tak ada kejelasan sejarah, kapan dan siapa pendiri serta apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung dengan budaya yang masih kuat ini. Warga kampung Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah bahasa Sunda: ᮕ ( pa ) ᮛᮩ ( reu ) ᮙ᮪ ( m ) ᮇ ( o ) ᮘᮧᮁ ( bor ), translit.

pareum obor . Pareum jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu mati, gelap. Dan obor itu sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Jika diterjemahkan secara singkat yaitu, Matinya penerangan. Hal ini berkaitan dengan sejarah kampung naga itu sendiri. Mereka tidak mengetahui asal usul kampungnya. Masyarakat kampung naga menceritakan bahwa hal ini disebabkan oleh terbakarnya arsip/sejarah mereka pada saat pembakaran kampung naga oleh Organisasi DI/TII Kartosoewiryo.

Pada saat itu, DI/TII menginginkan terciptanya negara Islam di Indonesia. Kampung Naga yang saat itu lebih mendukung Soekarno dan kurang simpatik dengan niat Organisasi tersebut.

Oleh karena itu, DI/TII yang tidak mendapatkan simpati warga Kampung Naga membumihanguskan perkampungan tersebut pada tahun 1956. Adapun beberapa versi sejarah yang diceritakan oleh beberapa sumber diantaranya, pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat.

Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi.

Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga. Namun masyarakat kampung Naga sendiri tidak meyakini kebenaran versi sejarah tersebut, sebab karena adanya "pareumeun obor" tadi.

Lokasi dan topografi [ sunting - sunting sumber ] Kampung ini secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga.

Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Ci Wulan (Kali Wulan) yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut. Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26 kilometer.

Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok ( Sunda: sengked) sampai ke tepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai kedalam Kampung Naga.

Menurut data dari Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektare setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali.

Religi dan sistem pengetahuan [ sunting - sunting sumber ] Penduduk Kampung Naga semuanya mengaku beragama Islam. Pengajaran mengaji bagi anak-anak di Kampung Naga dilaksanakan pada malam Senin dan malam Kamis, sedangkan pengajian bagi orang tua dilaksanakan pada malam Jumat.

Dalam menunaikan rukun Islam yang kelima atau ibadah Haji, mereka beranggapan tidak perlu jauh-jauh pergi ke Tanah Suci Mekkah, tetapi cukup dengan menjalankan upacara Hajat Sasih yang waktunya bertepatan dengan Hari Raya Haji yaitu setiap tanggal 10 Rayagung ( Dzulhijjah). Upacara Hajat Sasih ini menurut kepercayaan masyarakat Kampung Naga sama dengan Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri.

Menurut kepercayaan masyarakat Kampung Naga, dengan menjalankan adat-istiadat warisan nenek moyang berarti menghormati para leluhur atau karuhun.

Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun Kampung Naga, dan sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya dianggap sesuatu yang tabu. Apabila hal-hal tersebut dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga berarti melanggar adat, tidak menghormati karuhun, hal ini pasti akan menimbulkan malapetaka. Kepercayaan masyarakat Kampung Naga kepada mahluk halus masih dipegang kuat. Percaya adanya jurig cai, yaitu mahluk halus yang menempati air atau sungai terutama bagian sungai yang dalam ( "leuwi").

Kemudian "ririwa" yaitu mahluk halus yang senang mengganggu atau menakut-nakuti manusia pada malam hari, ada pula yang disebut "kunti anak" yaitu mahluk halus yang berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia, ia suka mengganggu wanita yang sedang atau akan melahirkan.

Sedangkan tempat-tempat yang dijadikan tempat tinggal mahluk halus tersebut oleh masyarakat Kampung Naga disebut sebagai tempat yang angker atau sanget. Demikian juga tempat-tempat seperti makam Sembah Eyang Singaparna, Bumi ageung dan masjid merupakan tempat yang dipandang suci bagi masyarakat Kampung Naga.

Tabu, pantangan atau pamali bagi masyarakat Kampung Naga masih dilaksanakan dengan patuh khususnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkenaan dengan aktivitas kehidupannya.pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis yang mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap orang. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah,pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya.

Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah harus menghadap kesebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni.

Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedung ( gedong). Rumah tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, misalnya kursi, meja, dan tempat tidur. Rumah tidak boleh mempunyai daun pintu di dua arah berlawanan. {/INSERTKEYS}

kampung naga disebut kampung adat lantaran

Karena menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rizki yang masuk kedalam rumah melaui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang daun pintu, mereka selalu menghindari memasang daun pintu yang sejajar dalam satu kampung naga disebut kampung adat lantaran lurus.

Di bidang kesenian masyarakat Kampung Naga mempunyai pantangan atau tabu mengadakan pertunjukan jenis kesenian dari luar Kampung Naga seperti wayang golek, dangdut, pencak silat, dan kesenian yang lain yang mempergunakan waditra goong. Sedangkan kesenian yang merupakan warisan leluhur masyarakat Kampung Naga adalah terbangan, angklung, beluk, dan rengkong.

Kesenian beluk kini sudah jarang dilakukan, sedangkan kesenian rengkong sudah tidak dikenal lagi terutama oleh kalangan generasi muda. Namun bagi masyarakat Kampung Naga yang hendak menonton kesenian wayang, pencak silat, dan sebagainya diperbolehkan kesenian tersebut dipertunjukan di luar wilayah Kampung Naga. Adapu pantangan atau tabu kampung naga disebut kampung adat lantaran lainnya yaitu pada hari Selasa, Rabu, dan Sabtu. Masyarakat kampung Naga dilarang membicarakan soal adat-istiadat dan asal usul kampung Naga.

Masyarakat Kampung Naga sangat menghormati Eyang Sembah Singaparna yang merupakan cikal bakal masyarakat Kampung Naga. Sementara itu, di Tasikmalaya ada sebuah tempat yang bernama Singaparna, Masyarakat Kampung Naga menyebutnya nama tersebut Galunggung, karena kata Singaparna berdekatan dengan Singaparna nama leluhur masyarakat Kampung Naga. Sistem kepercayaan masyarakat Kampung Naga terhadap ruang terwujud pada kepercayaan bahwa ruang atau tempat-tempat yang memiliki batas-batas tertentu dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tertentu pula.

Tempat atau daerah yang mempunyai batas dengan kategori yang berbeda seperti batas sungai, batas antara pekarangan rumah bagian depan dengan jalan, tempat antara pesawahan dengan selokan, tempat air mulai masuk atau disebut dengan huluwotan, tempat-tempat lereng bukit, tempat antara perkampungan dengan hutan, dan sebagainya, merupakan tempat-tempat yang didiami oleh kekuatan-kekuatan tertentu.

Daerah yang memiliki batas-batas tertentu tersebut didiami mahluk-mahluk halus dan dianggap angker atau sanget. Itulah sebabnya di daerah itu masyarakat Kampung Naga suka menyimpan "sasajen" (sesaji). Kepercayaan masyarakat Kampung Naga terhadap waktu terwujud pada kepercayaan mereka akan apa yang disebut palintangan. Pada saat-saat tertentu ada bulan atau waktu yang dianggap buruk, pantangan atau tabu untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang amat penting seperti membangun rumah, perkawinan, hitanan, dan upacara adat.

Waktu yang dianggap tabu tersebut disebut larangan bulan. Larangan bulan jatuhnya pada bulan sapar dan bulan Rhamadhan. Pada bulan-bulan tersebut dilarang atau tabu mengadakan upacara karena hal itu bertepatan dengan upacara menyepi. Selain itu perhitungan menentukan hari baik didasarkan pada hari-hari naas yang ada dalam setiap bulannya, seperti yang tercantum dibawah ini: • Muharam (Muharram) hari Sabtu-Minggu tanggal 11,14 • Sapar (Safar) hari Sabtu-Minggu tanggal 1,20 • Maulud hari (Rabiul Tsani)Sabtu-Minggu tanggal 1,15 • Silih Mulud (Rabi'ul Tsani) hari Senin-Selasa tanggal 10,14 • Jumalid Awal (Jumadil Awwal)hari Senin-Selasa tanggal 10,20 • Jumalid Akhir (Jumadil Tsani)hari Senin-Selasa tanggal 10,14 • Rajab hari (Rajab) Rabu-Kamis tanggal 12,13 • Rewah hari (Sya'ban) Rabu-Kamis tanggal 19,20 • Puasa/Ramadhan (Ramadhan)hari Rabu-Kamis tanggal 9,11 • Syawal (Syawal) hari Jumat tanggal 10,11 • Hapit (Dzulqaidah) hari Jumat tanggal 2,12 • Rayagung (Dzulhijjah) hari Jumat tanggal 6,20 Pada hari-hari dan tanggal-tanggal tersebut tabu menyelenggarakan pesta atau upacara-upacara perkawinan, atau khitanan.

Upacara perkawinan boleh dilaksanakan bertepatan dengan hari-hari dilaksanakannya upacara menyepi. Selain perhitungan untuk menentukan hari baik untuk memulai suatu pekerjaan seperti upacara perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, dan lain-lain, didasarkan pada hari-hari naas yang terdapat pada setiap bulannya.

Aksesibilitas [ sunting - sunting sumber ] • Kendaraan pribadi: Dari Jakarta ke Kampung Naga rutenya adalah Tol Jakarta - Cikampek -> Tol Purbaleunyi -> Gerbang Tol Cileunyi -> Nagreg -> arah Garut Kota -> Cilawu -> Lokasi Kampung Naga. Dari Bandung ke Kampung Naga rutenya adalah Cileunyi -> Rancaekek -> Nagreg > - Leles dan Garut Kota -> Cilawu -> Lokasi Kampung Naga.

• Kendaraan umum: Dari Jakarta naik bus jurusan Kampung Rambutan - Garut - Singaparna turunkan di Lokasi Kampung Naga. Dari Bandung menggunakan bus Diana Prima di Terminal Cicaheum jurusan Bandung - Garut - Tasikmalaya (singaparna), lalu berhenti di Kampung Naga.

Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Upacara Adat di Kampung Naga Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] • (Indonesia) Cara ke Kampung Naga Diarsipkan 2014-03-20 di Wayback Machine. • (Indonesia) Wisata Kampung Naga Diarsipkan 2015-04-03 di Wayback Machine. Wikimedia Commons memiliki media mengenai Kampung Naga.

• Halaman ini terakhir diubah pada 23 April 2022, pukul 12.15. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •Tasikmalaya, IDN Times - Kampung Naga adalah salah satu kampung adat yang terletak di sekitar desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Keragaman Kampung Naga membuat lokasi ini menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan lokal dan asing. Jadi, jika ingin berkunjung ke kampung adat tersebut maka kalian wajib menyimak sepuluh fakta menarik tentang kampung Naga di bawah ini. IDN Times / Yudi Rohmansyah Kampung Naga menjadi salah satu destinasi wisata di Jawa Barat yang menarik untuk dikunjungi. Selain suasana alamnya yang masih terjaga, tradisi dan budaya yang ada di kampung Naga pun cukup menarik untuk ditelusuri.

Masyarakat kampung Naga sendiri pada dasarnya merupakan tempat tinggal bagi Suku Sunda yang menempati wilayah terpencil di Tasikmalaya. Masyarakat kampung Naga sendiri dikenal sangat teguh memegang amat tradisi yang diwariskan leluhur. Hal tersebut dapat langsung dilihat dari kehidupan mereka yang memiliki banyak pantangan dan tradisi unik yang masih bisa di lihat hingga saat ini. IDN Times / Yudi Rohmansyah Salah satu yang membuat kampung ini cukup menarik dan terus diminati para turis adalah nilai sejarah yang menyelimuti desa tersebut.

Kampung Naga dikenal memiliki hubungan erat dengan salah satu kerajaan yang ada di Tanah Pasundan. Bahkan, tokoh adat Kampung Naga meyakini keturunan mereka berkaitan erat dengan Pangeran Singaparana yang menjadi Panglima Kerajaan Timbang Anten dengan rajanya saat itu Wangsadikarya.

Raja Wangsadikarya sendiri adalah keturunan Raja Pajajaran dari Raja Surawisesa. Pangeran Singaparna inilah yang menjadi leluhur bagi warga yang ada di Kampung Naga. Pangeran Singaparna sendiri dikenal sebagai sosok arif dan bijaksana.

Hal itu diketahui dari beberapa peninggalan kerajaan yang ada di kampung Naga seperti piagam Tembaga Raja Wangsadikarya, yang sempat disimpan di Rumah Ageung.

IDN Times / Yudi Rohmansyah Seperti yang di ketahui hampir sebagian besar penduduk yang ada di Tanah Pasundan menganut agama Islam. Meskipun mayoritas penduduk kampung naga beragama Islam, namun masyarakat kampung naga sendiri dikenal masih tetap menjaga tradisi dan mematuhi pesan leluhur yang diwariskan pada mereka.

Selain melaksanakan ajaran agama Islam, masyarakat Kampung Naga juga masih mengikuti tradisi dan budaya yang diajarkan nenek moyang mereka terdahulu. Salah satunya adalah dengan adanya upacara Hajat Sasih, yang biasanya diadakan bertepatan dengan Hari haji tanggal 10 Dzulhijjah. Upacara Hajat Sasih sendiri dipercaya hampir dengan upacara besar Islam seperti Idul Adha dan Idul Fitri. IDN Times / Yudi Rohmansyah Nah, salah satu hal yang harus kamu ketahui juga mengenai Kampung Naga adalah cara kampung naga disebut kampung adat lantaran menjalani kehidupan di tengah suasana alam yang jauh dari perkotaan.

Masyarakat Kampung Naga sendiri diketahui memanfaatkan pencahayaan dari api kampung naga disebut kampung adat lantaran pada damar dan oncor.

Meskipun pemerintah sempat memberi penawaran untuk pengadaan sumber energi listrik di kampung tersebut, namun hal tersebut ditolak oleh sebagian besar masyarakat Kampung Naga.

Alasannya karena mereka sendiri masih tetap ingin menjaga kelestarian budaya leluhur dan kesetaraan sosial di masyarakat. IDN Times / Yudi Rohmansyah Salah satu hal yang paling menarik ada di sekitar Kampung Naga adalah keberadaan Rumah Ageung, yaitu sebuah rumah yang dianggap memiliki keistimewaan oleh masyarakat Kampung Naga.

Beberapa peninggalan sejarah yang juga menceritakan mengenai asal-usul kampung tersebut masih tersimpan rapih disuatu rumah yakni disebut dengan nama Rumah Ageung. Meskipun ukuran bangunan dari rumah ini kecil dan terbuat dari bahan-bahan alami seadanya. Rumah Ageung sendiri diketahui mampu menampung sekitar seribu orang.

Keberadaan rumah ini juga sangat dilindungi oleh masyarakat yang ada di Kampung Naga. Rumah Ageung sendiri dikelilingi oleh pagar yang terbuat barang bambu. Pagar tersebut diketahui tidak pernah dibuka kecuali pada bulan Robiul awal. IDN Times / Yudi Rohmansyah Kampung Naga diketahui hanya memiliki 113 rumah.

kampung naga disebut kampung adat lantaran

Jenis rumah yang ada di sana sebagian besar berjenis panggung. Sebagian besar material yang digunakan untuk membangun rumah berasal dari bahan alam. Rumah tersebut dibangun dengan mengikuti kontur tanah dengan tiang-tiang kayu sebagai penyangga.

Pada bagian bawah tiang kayu terdapat sebuah batu penyangga yang berfungsi sebagai pondasi. Rumah yang ada di Kampung Naga sendiri memiliki bentuk khas yang dikenal dengan atap cagak gunting. Selain memiliki bentuk yang unik, rumah adat yang ada di Kampung Naga juga memiliki filosofi tersendiri. IDN Times / Yudi Rohmansyah Kebiasaan yang dimiliki oleh seluruh masyarakat Kampung Naga adalah suka bergotong-royong.

Masyarakat Kampung Naga dikenal memiliki solidaritas yang cukup tinggi antara warganya. Hal tersebut dapat dilihat ketika warga sedang melakukan perbaikan rumah. Nah, ketika salah seorang penduduk sedang memperbaiki rumah, maka seluruh masyarakat yang ada di kampung Naga biasanya ikut membantu untuk melakukan perbaikan rumah tanpa pamrih.

Kebersamaan seperti itu yang biasanya kita temukan di Kampung Naga. IDN Times / Yudi Rohmansyah Selain teguh menjaga tradisi yang diwariskan oleh leluhur, masyarakat Kampung Naga juga dikenal sangat taat dalam menjalani pantangan.

Masyarakat Kampung Naga sendiri diketahui masih menjalankan pantangan atau ketentuan hukum tidak tertulis yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Masyarakat Kampung Naga sendiri percaya bila pantangan tersebut dilanggar dapat menimbulkan malapetaka atau kerugian bagi kampung naga disebut kampung adat lantaran mereka.

Pantangan yang ada di kampung Naga sendiri biasanya meliputi tata cara membangun rumah, mulai dari bentuk, posisi, arah, pakaian upacara, kesenian, dan masih banyak lagi.

IDN Times / Yudi Rohmansyah Hal lainnya yang cukup menarik ada di kampung Naga adalah keberadaan Tugu Kujang.

Bangunan Tugu Kujang raksasa tersebut merupakan simbol kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat suku Sunda yang ada di Jawa Barat. Kujang sendiri merupakan senjata yang digunakan oleh masyarakat suku Sunda untuk memperkuat pertahanan diri ketika terjadi peperangan.

Kujang raksasa yang ada di Kampung Naga diketahui terbuat dari leburan senjata pusaka yang dimiliki 999 kerajaan yang tersebar ada di nusantara. Proses pembuatan sendiri diketahui melibatkan puluhan empu yang biasa membuat kujang. IDN Times / Yudi Rohmansyah Untuk urusan kesenian, masyarakat Kampung Naga sendiri memiliki pantangan untuk mengadakan pertunjukan di luar dari kesenian yang ada di Kampung Naga.

Beberapa kesenian tersebut antara lain wayang golek, dangdut, pencak silat, dan kesenian yang menggunakan waditra goong. Sementara untuk jenis kesenian yang biasa ditampilkan di kampung Naga antara lain Terbang Gembrung, Terbang Sejak dan Angklung.

kampung naga disebut kampung adat lantaran

Biasanya kesenian Terbang Gambrung ditampilkan pada saat hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, bulan Ramadhan, dan Maulud Nabi. Sementara Terbang Sejak biasa dilakukan kapan saja tanpa menunggu waktu khusus. Nah, untuk angklung sendiri adalah kesenian yang sering ditampilkan dalam setiap pagelaran adat di kampung tersebut seperti ritual khusus, hajatan, nikahan, atau sunatan. Demikianlah 10 Fakta Kampung Naga yang berhasil di rangkum IDN Times bahas untuk kalian yang hendak berkunjung ke kampung Naga.

Hal tersebut tentu menjadi sesuatu yang patut untuk ditiru. Baca Juga: 5 Destinasi Wisata Tasikmalaya ini Cocok untuk Acara Munggahan TRENDING • Disindir Ridwan Kamil, Yana Mulyana Pastikan Masalah GBLA Selesai • Waspada Kemacetan! Hampir 50 Persen Pemudik Belum Kembali ke Jakarta • Tak Ditemukan, Tim SAR Hentikan Pencarian Korban Tenggelam di Subang • Jalur Arteri Padat Imbas One Way di Tol, Menhub: Prioritaskan Pemudik • Prakiraan Cuaca Hari Ini 8 Mei 2022, Sebagian Tasikmalaya Bakal Berawan • Prakiraan Cuaca Hari Ini 8 Mei 2022, Sebagian Kota Bandung Bakal Berawan • Cuaca Hari Ini 8 Mei 2022: Kabupaten Bandung Berawan Siang dan Sore Hari • Cuaca Hari Ini 9 Mei 2022: Kabupaten Bandung Berawan Sepanjang Hari

Film dokumenter Kampung Naga (Kampung adat budaya lestari sunda)




2022 www.videocon.com