Suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan

suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan

Akhlak dalam konsepsi Al Ghazali tidak hanya terbatas yang dikenal dengan “teori menengah” dalam keutamaan seperti yang disebut oleh Aristoteles, dan pada sejumlah sifat keutamaan yang bersifat pribadi, tetapi juga menjangkau sejumlah sifat keutamaan akali dan amali, perorangan dan masyarakat.

Semua sifat ini bekerja dalam suatu kerangka umum yang mengarah kepada suatu sasaran dan tujuah yang telah ditentukan. • Dimensi diri, yaitu orang dengan dirinya dengan Tuhan, seperti ibadah dan shalat. • Dimensi sosial, yaitu masyarakat, pemerintah dan pergaulan dengan sesamanya. • Dimensi metafisi, yaitu aqidah dan pegangan dasar.

Dari dimensi-dimensi tersebut dapat difahami bahwa akhlak adalahsifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan bila mana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar. Akhlak mempunyai empat syarat : • Perbuatan baik dan buruk • Kesanggupan melakukannya • Mengetahuinya • Sikap mental yang membuat jiwa cenderung kepada salah satu dan sifat tersebut, sehingga mudah melakukan yang baik atau yang buruk.

Tetapi Ahmad Amin menyebutkan bahwa “akhlak sebagai kehendak yang dibiasakan”. Berarti bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu maka kebiasaannya itu disebut Akhlak. Pada dasarnya hakekat Akhlak bisa dibina dan dibentuk sebagaimana ucapan Al Ghazali yang dikutip oleh Abudin Nata dalam bukunya : “bahwa kepribadian itu pada dasarnya dapat menerima segala usaha pembentukan dan pembiasaan.” Pengajaran Akhlak berarti pengajaran tentang bentuk batin seseorang yang kelihatan pada tindak-tanduknya (tingkah lakunya).

Dalam pelaksanaannya, pengajaran ini berarti proses kegiatan belajar-mengajar dalam mencapai tujuan supaya yang diajar berakhlak baik. Untuk itu tentu dalam pengajaran akhlak yang dilihat adalah pemahaman ajaran agamanya. Sasaran pengajaran akhlak, sebenarnya ialah keadaan jiwa, tempat berkumpul segala rasa, pusat yang melahirkan berbagai karsa, dari sana kepribadian terwujud, disana iman terhunjam. Iman dan akhlak berada dalam hati, keduanya dapat bersatu mewujudkan tindakan, bila iman yang kuat mendorong, kelihatanlah gejala iman; bila Akhlak yang kuat mendorong, maka kelihatanlah gejala Akhlak.

Dengan demikian tidak salah kalau pada sekolah rendah, kedua bidang pembahasan ini dijadikan satu bidang studi yang dinamai bidang studi “Aqidah Akhlak”. Jadi “Aqidah dan “Akhlak” dapat diketahui bahwa keduanya mempunyai hubungan yang erat, karena aqidah atau iman dan akhlak berada dalam hati. Dengan demikian tidak salah kalau pada sekolah tingkat Madrasah Aliyah kedua bidang bahasan ini masih dijadikan satu mata pelajaran yaitu “Aqidah Akhlak.” Jadi mata pelajaran Aqidah Akhlak mengandung arti pengajaran yang membicarakan tentang keyakinan dari suatu kepercayaan dan nilai suatu perbuatan baik atau buruk, yang dengannya diharapkan tumbuh suatu keyakinan yang tidak dicampuri keragu-raguan serta perbuatannya dapat dikontrol oleh ajaran agama.

Adapun pengertian mata pelajaran Aqidah Akhlak sebagaimana yang terdapat dalam Kurikulum Madrasah 2004 adalah : Mata pelajaran Aqidah Akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengimani Allah SWT, serta merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman, keteladanan dan pembiasaan.

Dalam kehidupan masyarakat yang mejemuk dalam bidang keagamaan, pendidikan ini diarahkan pada peneguhan aqidah di satu sisi dan peningkatan toleransi serta kesatuan dan persatuan bangsa. Mata pelajaran Aqidah Akhlak merupakan salah satu rumpun mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang terliput dalam lingkup : AlQur’an dan Hadits, Keimanan atau Aqidah, Akhlak, Fiqih dan Tarikh.

Hal ini sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup Pendidikan Agama Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan kesimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya, maupun lingkungannya (Hablun Minallah Wa Hablun Minannas).

Adapun tujuan pembelajaran Aqidah Akhlak secara umum dan pendidikan agama islam secara adalah untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melaui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengalaman, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaan kepada Allah SWT.

Serta berakhlak mulia dam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan bernegara serta untuk melajutkan pada pendidikan. Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa mata pelajaran Aqidah Akhlak dengan mata pelajaran yang lainnya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan bahkan saling membantu dan menunjang, karena mata pelajaran lainnya secara keseluruhan berfungsi menyempurnakan tujuan pendidikan.

Namun demikian bahwa tuntunan mata pelajaran aqidah akhlak berbeda dengan yang lain, sebab materinya bukan saja untuk diketahui, dihayati, dan dihafalkan, melainkan juga harus diamalkan oleh para siswa dalam kehidupan sehari-hari.

MENU • Home • SMP • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Kewarganegaraan • IPS • IPA • Penjas • SMA • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Akuntansi • Matematika • Kewarganegaraan • IPA • Fisika • Biologi • Kimia • IPS • Sejarah • Geografi • Ekonomi • Sosiologi • Penjas • SMK • Penjas • S1 • Agama • IMK • Pengantar Teknologi Informasi • Uji Kualitas Perangkat Lunak • Sistem Operasi • E-Bisnis • Database • Pancasila • Kewarganegaraan • Akuntansi • Bahasa Indonesia • S2 • Umum • About Me Akhlak Adalah – Pengertian, Macam, Ruang Lingkup Dan Contohnya – DosenPendidikan.Com – Kata “akhlak” berasal dari bahasa arab yakni “Al-Khulk” yang berarti tabeat, perangai, tingkah laku, kebiasaan, kelakukan.

Menurut istilahnya, akhlak merupakan sifat yang tertanam di dalam diri seorang manusia yang bisa mengeluarkan sesuatu dengan senang dan mudah tanpa adanya suatu pemikiran dan paksaan. Sedangkan menurut para ahli, pengertian akhlak ialah sebagai berikut: • Keutamaan Akhlak Mahmudah Perbuatan yang baik merupakan akhlaq karimah yang wajib dikerjakan. Akhlaq karimah berarti tingkah laku yang terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah.

Akhlaq al karimah dilahirkan berdasarkan sifat-sifat yang terpuji. Akhlak yang baik disebut juga dengan akhlak mahmudah. Pandangan al-Ghazali tentang akhlak yang baik hampir senada dengan pendapat Plato yang mengatakan, bahwa orang adalah orang yang dapat melihat kepada Tuhannya secara terus-menerus. Al-Ghazali memandang orang yang dekat kepada Allah adalah orang yang mendekati ajaran-ajaran Rasulullah yang memiliki akhlak sempurna.

Pengertian Akhlak Mazmumah Akhalak mazmumah ialah perangai atau tingkah laku yang tercermin pada diri manusia yang cenderung melekat dalam bentuk yang tidak menyenangkan orang lain. Dalam beberapa kamus dan ensiklopedia di himpun pengertian “buruk” sebagai berikut: • Rusak atau tudak baik, jahat, tidak menyenangkan, tidak elok, jelek. • Perbuuatan yang tidak sopan, kurang ajar, jahat, tidak menyenangkan. • Segala yang tercela, lawan baik, lawan pantas, lawan bagus, perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma atau agama, adat istiadat, dan masyarakat yang berlaku.

Macam-Macam Akhlak Mahmudah dan Akhlak Mazmumah • Macam-macam akhlak mahmudah : • Bersifat baik • Bersifat benar • Bersifat amanah • Bersifat adil • Bersifat kasih sayang • Bersifat hormat • Bersifat berani • Bersifat kuat • Bersifat malu • Menjaga kesucian diri • Menepati janji • Macam-macam Akhlak Madzmumah • Ananiyah (egois) Manusia hidup tidaklah menyendiri, tetapi berada di tengah-tengah masyarakat yang heterogen.

Ia harus yakin jika hasil perbuatan baik, masyarakat turut mengecap hasilnya, tetapi jika akibat perbuatannya buruk masyarakatpun turut menderita. Sebaliknya orang tiada patut hanya bekerja untuk dirinya, tanpa memerhatikan tuntutan masyarakat, sebab kebutuhan-kebutuhan manusia tidak dapat dihasilkan sendiri. • Al- Buhtan (dusta) Maksud sifat dusta ialah mengada-ada sesuatu yang sebenarnya tidak ada, dengan maksud untuk merendahkan seseorang. Kadang-kadang ia sendiri yang sengaja berdusta.

Dikatakannya orang lain yang menjadi pelaku, juga ada kalanya secara brutal ia bertindak, yaitu mengadakan kejelekan terhadap orang yang sebenarnya tidak bersalah. Orang yang seperti ini perkataannya tidak dipercayai orang lain. Di dunia ia akan memperoleh derita dan di akhirat ia akan menerima siksa. • Al- Ghadlab (Pemarah) Marah atau disebut juga sifat pemarah terjadi karena darah mendidih di dalam hati untuk menuntut pembalasan.

Pembalasan ini merupakan bentuk kekuatan untuk memberikan kelezatan dan tidak akan reda kecuali dengan pembalasan. Amarah merupakan bagian dari karakter yang selalu ada pada diri manusia. Barang siapa marah dan selalu mengikuti kemarahannya hingga mengikuti perbuatan yang jelek, maka hal tersebut merupakan kemarahan yang tercela sesuai perbuatan yang dulakukannya.

• Al- Hasad (dengki) Dengki ialah suatu keadaan pikiran, yang membuat dirinya merasa sakit jika orang lain mendapat suatu kesenangan dan ia ingin agar kesenangan itu diambil dari orang itu meskipun ia sendiri tidak akan mendapat keuntungan apapun dengan hilangnya kesenangan itu.

Ini mengarah kepada kekejian, merasa gembira jika orang lain bernasib buruk. Semua yang baik yang dimiliki manusia adalah karunia Allah dan setiap keinginan orang lain agar ini dihapuskan menunjukkan bahwa: ketidak senangannya dengan putusan Allah, dan keserakahan yang keterlampauan.

• Al- Istikbar (sombong) Sombong yaitu menganggap dirinya lebih dari yang lain sehingga ia berusaha menutupi dan tidak mau mengakui kekurangan dirinya, selalu merasa lebih besar, labih kaya, lebih pintar, lebih dihormati, lebih mulia, dan lebih beruntung dari yang lain. Maka biasanya orang seperti itu memandang orang lain lebih buruklebih rendah dan tidak mau mengakui kelebihan orang tersebut, sebab tindakan itu menurutnya sama dengan merendahkan dan menghinakan dirinya sendiri.

• Al- Ishraf (berlebihan) Al- Ishraf ialah menyianyiakan sesuatu tanpa manfaat, melebihi batas disetiap perbuatan, misalnya menyianyiakan harta, ini dilarang oleh agama dan merupakan penyakit hati, mengeluarkan harta tanpa faidah, umpama makan dan minum dikala belum lapar dan belum haus atau makan minum yang berlebih-lebihan, berpakaian yang terlalu menyolok secara keterlaluan.

• Al- Ifsad (berbuat kerusakan) Orang yang berbuat kerusakan jiwanya seperti jiwa serigala yaitu selalu berusaha bagaimana caranya menganiaya orang lain, dan yang ada difikirannya hanya bagaimana cara merusak orang lain. Dapat juga dikatakan seperti jiwa tikus yaitu tidak dengan moncong mulutnya, dengan ekornya dia mencuri, selain itu kerjanya hanya merusak saja.

• Al- Namimah (mengadu domba) Menyampaikan perkataan seseorang atau menceritakan keadaan seseorang atau mengabarkan pekerjaan seseorang kepada orang lain dengan maksud mengadu domba antara keduanya atau merusakkan hubungan baik antara mereka.

Keadaan ini mengakibatkan timbulnya kejahatan antara orang dengan orang atau memutuskan silaturrahmi anttara keluarga dan sahabat, menceraikan hubungan orang dan sebenarnya hal ini berarti memperbanyak jumlah lawan. • Al- Sikhriyyah (berolok-olok) Al- Sikhriyyah adalah menghina ke’aiban atau kekurangan orang dengan menertawakannya, dengan memperkatakannya, atau dengan meniru perbuatannya dengan isyarat.

Janganlah menghina atau memperolok-olokkan orang, boleh jadi orang tersebut lebih baik dari engkau sendiri. Orang yang selalu berolok-olok adalah orang yang berjiwa kera, senangnya hanya mengejek perbuatan orang lain. Baca Juga : Ijtihad : Pengertian, Fungsi, Tujuan, Syarat, Macam Dan Contoh Pengertian Akhlak Membicarakan soal akhlak takkan pernah habis, karena dalam kehidupan sehari-hari, baik mulai dari diri sendiri, dalam keluarga, masyarakat, dan bersosialisasi dengan siapapun pasti tidak terlepas dari akhlak.

Apa yang dilakukan sudahkah pantas dan sesuai dengan syariat Islam. Tentu dalam semua agamapun mengajarkan tentang perilaku yang baik-baik, apalagi dalam agama Islam, semua hal dari yang kecil sampai hal terbesar telah dijelaskan dan ada ajarannya secara jelas, gamblang dan dicontohkan langsung oleh nabi Muhammad.

Kata “akhlak” berasal dari bahasa arab yaitu ” Al-Khulk ” yang berarti tabeat, perangai, tingkah laku, kebiasaan, kelakuan. Menurut istilahnya, akhlak ialah sifat yang tertanam di dalam diri seorang manusia yang bisa mengeluarkan sesuatu dengan senang dan mudah tanpa adanya suatu pemikiran dan paksaan.

Dalam KBBI, akhlak berarti budi pekerti atau kelakuan. Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak adalah bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.

Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja.

Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat.

Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak. Dalam Encyclopedia Brittanica akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilaibaik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebaginya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafatmoral. Pengertian Akhlak Menurut Para Ahli Adapun pengertian akhlak menurut para ahli yang diantaranya yaitu: Menurut Ibnu Maskawaih Menurutnya akhlak ialah “hal li nnafsi daa’iyatun lahaa ila af’aaliha min ghoiri fikrin walaa ruwiyatin” yakni sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Menurut Abu Hamid Al Ghazali Akhlak adalah sifat yang terpatri dalam jiwa manusia yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan senang dan mudah tanpa memikirkan dirinya serta tanpa adanya renungan terlebih dahulu. Menurut Ahmad Bin Mushthafa Akhlak ialah sebuah ilmu yang darinya dapat diketahui jenis-jenis keutamaan, dimana keutamaan itu ialah terwujudnya keseimbangan antara tiga kekuatan yakni kekuatan berpikir, marah dan syahwat atau nafsu.

Menurut Muhammad Bin Ali Asy Syariif Al Jurjani Akhlak ialah sesuatu yang sifatnya (baik atau buruk) tertanam kuat dalam diri manusia yang darinyalah terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan tanpa berpikir dan direnungkan.

Menurut Nurcholish Madjid Bahwa istilah akhlak atau khuluq merupakan satu akar kata dengan khalq atau penciptaan, khaliq (pencipta) dan makhluq (ciptaan), yang semuanya mengacu pada pandangan dasar Islam mengenai penciptaan manusia, bahwasanya manusia diciptakan dalam kebaikan, kesucian dan kemulian sebagai “sebaik baiknya ciptaan (ahsanu taqwim).

Menurut Imam Al-Ghazali Dalam kitabnya Ihya Ulum al din mengatakan bahwa akhlak ialah; sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanp memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Menurut Ibrahim Anas Yang mengatakan akhlak ialah ilmu yang objeknya membahas nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia, dapat disifatkan dengan baik dan buruknya. Baca Juga : Panduan Lengkap Tata Cara Tayammum Menurut Ahmad Amin Mengatakan bahwa akhlak ialah kebiasaan baik dan buruk. Contohnya apabila kebiasaan memberi sesuatu yang baik, maka disebut akhlakul karimah dan bila perbuatan itu tidak baik disebut akhlaqul madzmumah.

Menurut KBBI Akhlak berarti budi pekerti atau kelakuan. Menurut Etimologi Akhlak berasal dari bahasa arab “akhlaq” yang mempunyai arti budi pekerti, persamaan atau nama lain akhlak ini biasa disebut dengan etika atau kebiasaan.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Qolam ayat 4 dikatakan bahwa “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berada diatas budi pekerti yang agung”. Dan dalam sebuah haditspun dikatakan bahwa ” Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Sehingga jelas bagi umat Islam diseluruh alam berpatokan pada akhlaknya nabi Muhammad SAW. Akhlak terpuji yang ada dalam diri Rasulullah SAW patut kita jadikan contoh dan suri tauladan yang baik.

Ada dua sumber yang harus dijadikan sebagai pegangan hidup yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah yang keduanyapun dijadikan sumber akhlak islamiyah. Jika manusia telah berakhlakul karimah atau akhlak yang baik, mulia, terpuji InsyaAllah hidupnya akan jauh lebih baik.

Tujuan Akhlak Akhlak bertujuan untuk menjadikan manusia sebagai makhluk yang lebih tinggi dan sempurna, dan membedakannya dari makhluk-makhluk yang lainnya. Menjadi suatu hal yang harus dimiliki oleh manusia agar lebih baik dalam berhubungan baik sesama manusia apalagi kepada Allah sebagai pencipta.Sedangkan pelajaran akhlak atau ilmu akhlak bertujuan mengetahui perbedaan-perbedaan perangai manusia yang baik dan buruk, agar manusia dapat memegang dengan perangai-perangai yang baik dan menjauhkan diri dari perangai-perangai yang jahat, sehingga terciptalah tata tertib dalam pergaulan masyarakat.

Yang hendak dikendalikan oleh akhlak ialah tindakan lahir manusia, tetapi karena tindakan lahir itu tidak akan terjadi jika tidak didahului oleh gerak-gerik bathin, yaitu tindakan hati, maka tindakan bathin dan gerak-gerik hati pun termasuk lapangan yang diatur oleh akhlak manusia.

Jika setiap orang dapat menguasai tindakan bathinnya, maka dapatlah ia menjadi orang yang berakhlak baik. Tegasnya baik-buruk itu tergantung kepada tindakan hatinya. Dalam hadits Arba’in An Nawawi dituliskan bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Dan ketahuilah bahwasannya, didalam tubuh itu ada segumpal daging yang apabila baik, maka baik pula amalnya, dan apabila buruk, maka buruk pula amalnya, dan ketahuilah bahwa ia adalah hati”.

Hadits ini dengan jelas menerangkan, bahwa hati adalah bagian terpenting dari tubuh manusia, sehingga apapun yang direncanakan oleh hati sejatinya akan sangat berpengaruh pada perbuatan yang akan dilakukan oleh pemiliknya.

Dalam hal ini dapatlah diibaratkan bahwa jasad itu bagaikan pemerintahan dalam diri kita, sedangkan hati menjadi pusat pemerintahan.Seseorang yang mempunyai hati dan pendirian yang kuat, meskipun badannya tidak sekuat hatinya, lebih diharapkan akan memperoleh hasil pekerjaannya daripada seseorang yang berbadan kuat tetapi hatinya lemah. Jenis-Jenis Akhlak • Akhlak Baik (Al-Hamidah) • Jujur (Ash-Shidqu) adalah suatu tingkah laku yang didorong oleh keinginan (niat) yang baik dengan tujuan tidak mendatangkan kerugian bagi dirinya maupun oranglain.

• Berprilaku baik (Husnul Khuluqi) adalah suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya dengan cara yang terpuji. • Malu (Al-Haya’) adalah akhlak (perangai) seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk dan tercela,sehingga mampu menghalangi seseorang untuk melakukan dosa dan maksiat serta dapat mencegah seseorang untuk melalaikan hak orang lain.

• Rendah hati (At-Tawadlu’)Washiyatul mushtofa adalah sifat pribadi yang bijak oleh seseoarang yang dapat memposisikan dirinya sederajat dengan orang lain dan suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan merasa lebih tinggi dari orang lain.

• Murah hati (Al-Hilmu) adalah suka (mudah) memberi kepada sesama tanpa merasa pamrih atau sekadar pamer. • Sabar (Ash-Shobr) adalah menahan atau mengekang segala sesuatu yang menimpa diri kita(hawa nafsu). • Akhlak Buruk (Adz-Dzamimah) • Mencuri/mengambil bukan haknya • Iri hati • Membicarakan kejelekan orang lain (bergosip) • Membunuh • Segala bentuk tindakan yang tercela dan merugikan orang lain ( mahluk lain) Baca Juga : Sejarah Penyebaran Islam Di Indonesia Menurut Sejarawan Ruang Lingkup Akhlak • Akhlak Pribadi Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi.

Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan. • Akhlak Berkeluarga Akhlak ini meliputi kewajiban orang tua, suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan, dan karib kerabat.

Kewajiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan pendidik untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna, dengan ajaran –ajaran yang bijak, setiap agama telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai tanggung jawab untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu untuk memiliki akhlak yang luhur, suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan lemah lembut dan perlakuan kasih sayang.

Sehingga anak akan tumbuh secara sabar, terdidik untuk berani berdiri sendiri, kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga diri, kehormatan dan kemuliaan.Seorang anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih berhak dari segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati dan hormati.

Karena keduanya memelihara,mengasuh, dan mendidik, menyekolahkan engkau, mencintai dengan ikhlas agar engkau menjadi seseorang yang baik, berguna dalam masyarakat, berbahagia dunia dan akhirat. Dan coba ketahuilah bahwa saudaramu laki-laki dan permpuan adalah putera ayah dan ibumu yang juga cinta kepada engkau, menolong ayah dan ibumu dalam mendidikmu, mereka gembira bilamana engkau gembira dan membelamu bilamana perlu. Pamanmu, bibimu dan anak-anaknya mereka sayang kepadamu dan ingin agar engkau selamat dan berbahagia, karena mereka mencintai ayah dan ibumu dan menolong keduanya disetiap keperluan.

• Akhlak Bermasyarakat Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika orang tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan dan menolak kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib atasmu mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat pada tetangga. Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul di dalam masyarakat. Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat.

Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri–sendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat. Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma- norma kesusilaan yang berlaku.

• Akhlak Bernegara Mereka yang sebangsa denganmu adalah warga masyarakat yang berbahasa yang sama denganmu, tidak segan berkorban untuk kemuliaan tanah airmu, engkau hidup bersama mereka dengan nasib dan penanggungan yang sama. Dan suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan bahwa engkau adalah salah seorang dari mereka dan engkau timbul tenggelam bersama mereka.

• Akhlak Beragama Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk Tuhan. Faktor Faktor Yang Mempengruhi Akhlak Untuk menjelaskan faktor yang mempengaruhi akhlak pada khususnya, dan pendidikan pada umumnya, ada tiga aliran yang sudah amat populer, yaitu aliran Nativisme, aliran Empirisme, dan aliran konvergensi : • Aliran Nativisme Bahwa perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir; pembawaan yang telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah yang menentukan hasil perkembangannya.Menurut aliran ini, faktor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah faktor pembawaan dari dalam yang bentuknya dapat berupa kecenderungan, bakat, akal, dan lain-lain.

suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan

Jika seseorang sudah memiliki pembawaan atau kecenderungan kepada yang baik, maka dengan sendirinya orang tersebut menjadi baik. Baca Juga : Nama-Nama Hari Akhir • Aliran Empirisme Bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah faktor luar, yaitu lingkungan sosial, termasuk pembinaan dan pendidikan yang diberikan. Jika pendidikan dan pembinaan yang diberikan kepada anak baik, maka baiklah anak itu.

Demikian juga sebaliknya. Aliran ini begitu percaya kepada peranan yang dilakukan oleh dunia pendidikan dan pengajaran. Menurut aliran ini, manusia-manusia dapat dididik menjadi apa saja (ke arah yang baik maupun ke arah yang buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidikannya. Dalam pendidikan, pendapat kaum empiris ini terkenal dengan nama optimisme pedagogis. • Aliran Konvergensier Bahwa pembentukan akhlak dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu pembawan si anak, dan faktor luar yaitu pendidikan dan pembinaan yang dibuat secara khusus, atau melalui interaksi dalam lingkungan sosial.

Fitrah dan kecenderungan ke arah yang baik yang ada dalam diri manusia dibina secara intensif melalui berbagai metode. Aliran yang ketiga ini, tampak sesuai dengan ajaran Islam. hal ini dapat dipahami dari ayat dan hadits di bawah ini: وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِّنْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ شَيْأً وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَاْلأَبْصَارَ وَاْلأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (Depag RI, 1989 : 413) Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa manusia memiliki potensi untuk dididik, yaitu penglihatan, pendengaran dan hati sanubari.

Potensi tersebut harus disyukuri dengan cara mengisinya dengan ajara dan pendidikan. Kesesuaian teori konvergensi tersebut di atas, juga sejalan dengan dengan Hadits Nabi saw. yang berbunyi: (كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.

(رواه البخارى “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka ayah dan ibunyalah yang akan menjadikan dia seorang yahudi atu nasrani“. (Sahih Bukhari, Jilid 3, 1995 : 177). Ayat dan hadits tesebut di atas, selain menggambarkan adanya teori konvergensi juga menunjukkan dengan jelas bahwa pelaksana utama dalam pendidikan adalah kedua orang tua. Itulah sebabnya kedua orang tua, khususnya ibu mendapat gelar sebagai madrasah, yakni tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan (Abudin Nata, 2006:169).

Dengan merujuk kepada aliran konvergensi di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi akhlak manusia, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Menurut Shailun A. Nashir (1992:42) faktor intern yang mempengaruhi akhlak terdiri atas instink, akal dan nafsu. Sedangkan menurut Rahmat Djatnika (1992:72) faktor dari dalam diri manusia itu adalah instink dan akalnya, adat, kepercayaan, keinginan-keinginan, hawa nafsu (passion) dan hati nurani atau wijdan.

Selain itu, faktor intern yang dapat mempengaruhi akhlak juga terdapat dalam diri individu yang bersangkutan, seperti malas, tidak mau bekerja, adanya cacat fisik, cacat psikis dan lainnya. Baca Juga : Nabi Ayyub a.s. Dalam Qishashul Anbiya Adapun faktor yang berasal dari luar dirinya secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, semua yang sampai kepadanya merupakan unsur-unsur yang membentuk akhlak. Faktor-faktor tersebut adalah: • Keturunan • Lingungan • Rumah Tangga • Sekolah • Pergaulan kawan / Persahabatan • Penguasa, Pemimpin Lingkungan merupakan salah satu faktor dari luar yang besar pengaruhnya tehadap tingkah laku seseorang.

Lingkungan ini bisa berupa lingkungan keluarga, masyarakat, pendidikan, juga lingkungan alam. Dalam hal ini, Hamzah Ya’qub (1996:71) membagi lingkungan atas dua bagian, yaitu: • Lingkungan Alam yang Bersifat Kebendaan : Lingkungan alam yang besifat kebendaan merupakan faktor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku manusia.

Lingkungan alam ini dapat mematahkan dan mematangkan pertumbuhan bakat seseorang, namun jika kondisi alamnya jelek akan menjadi perintang dalam mematangkan bakat seseorang. Oleh karena itu, kondisi alam ini ikut mencetak manusia-manusia yang dipangkunya. Misalnya, orang yang hidupnya di pantai akan berbeda kehidupan dan perilakunya dengan orang yang hidup di pegunungan. • Lingkungan Pergaulan yang Bersifat Rohaniah Lingkungan pergaulan sesama manusia sangat mempengaruhi terjadinya perbuatan manusia, karena antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya saling mempengaruhi dalam pikiran sifat, dan tingkah laku.

Lingkungan pergaulan ini dapat dibagi kepada beberapa kategori: • Lingkungan dalam rumah tangga • Lingkungan sekolah • Lingkungan pekerjaan • Lingkungan organisasi atau jamaah • Lingkungan yang bersifat umum dan bebas Dengan demikian, dapat diketahui bahwa akhlak yang menghiasi seseorang tidak terlepas dari pengaruh yang terdapat dalam dirinya, berupa potensi-potensi yang dibawanya sejak lahir, dan pengaruh yang datang dari luar, yaitu berupa lingkungan dan pendidikan yang diterimanya.

• Akhlak dalam Kehidupan Berkeluarga : Keluarga adalah jiwa masyarakat. Sejahtera atau tidaknya suatu bangsa, kemajuan atau keterbelakangannya, pintar atau bodohnya adalah cerminan dari keadaan keluarga yang hidup pada masyarakat atau suatu bangsa.

Hakikat tersebut adalah kesimpulan pandangan seluruh pakar dari berbagai disiplin ilmu, termasuk pakar-pakar agama Islam. Oleh sebab itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pembinaan keluarga. Baca Juga : Sikap Dan Toleransi Antar Umat Beragama Di Indonesia Indikasinya bisa dilihat dari banyaknya ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang berbicara tentang hakikat tersebut.

Allah SWT menganjurkan agar kehidupan keluarga menjadi bahan pemikiran setiap manusia sehingga darinya bisa ditarik pelajaran yang amat berharga. Menurut al-Qur’an, kehidupan keluarga, di samping menjadi salah satu tanda dari sekian banyak tanda-tanda kebesaran Ilahi, juga merupakan nikmat yang harus dapat dimanfaatkan serta disyukuri.

Allah SWT berfirman yang artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Ar-Rum: 21). Dalam ayat tersebut jelas sekali bahwa tujuan dari pembentukan keluarga adalah terciptanya rasa aman, tentram, serta munculnya kasih sayang.

Untuk mewujudkannya tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, diperlukan sebuah pengaturan yang bisa dipahami dan disepakati oleh semua anggota keluarga serta dibutuhkan konsistensi dari semua anggota keluarga untuk menjalankan aturan yang diberlakukan sehingga lahirlah keluarga yang dibingkai dengan keteraturan dan keseimbangan seperti yang diharapkan ajaran islam.

Akhlak Karimah dalam Kaitannya dengan Fungsi Hidup Akhlakul yang baik (al-akhlaqu al-mahmudah) sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, karena dengan akhlak tersebut bisa menyeimbangkan antara antara akhlak yang baik dengan akhlak yang buruk pada perbuatan manusia, maka ukuran dan karakternya selalu dinamis, sulit dipecahkan. Islam menginginkan suatu masyarakat yang berakhlak mulia. Akhlak mulia ini sangat ditekankan karena di samping akan membawa kebahagiaan bagi individu, juga sekaligus membawa kebahagiaan bagi masyarakat pada umumnya.

Dengan kata lain bahwa akhlak utama yang ditampilkan seseorang, tujuannya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat (Abudin Nata, 2000:169-170). Allah Swt. menggambarkan dalam al-Quran tentang janji-Nya terhadap orang yang senantiasa berakhlak baik, di antaranya Q.S. an-Nahl:97 مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.Orang yang selalu melaksanakan akhlak mulia, mereka akan senantiasa memperoleh kehidupan yang baik, mendapatkan pahala berlipat ganda di akhirat dan akan dimasukkan ke dalam sorga.

Dengan demikian, orang yang berakhlak mulia akan mendapatkan keberuntungan hidup di dunia dan di akhirat. Kenyataan sosial membuktikan bahwa orang yang berakhlak baik akan disukai oleh masyarakat, kesulitan dan penderitaannya akan dibantu untuk dipecahkan, walau mereka tidak mengharapkannya.

Peluang, kepercayaan dan kesempatan datang silih berganti kepadanya. Kenyataan juga menunjukkan bahwa orang yang banyak menyumbang, bersedekah, berzakat, tidak akan menjadi miskin, tetapi malah bertambah hartanya.Akhlak karimah merupakan suatu pengamalan yang bersifat ibadah di mana seseorang dalam perilakunya dituntut untuk berbuat baik terhadap Allah swt.

dan berbuat baik terhadap manusia, juga terhadap dirinya sendiri, juga terhadap makhluk Allah yang lainnya. • Cara untuk menumbuhkan akhlak terpuji : Dalam mewujudkan akhlak yang mulia sebagaimana sifat-sifat terpuji yang telah dijelaskan diatas, menurut Buya Hamka ada beberapa kewajiban yang harus ditunaikan antara lain: • Membersihkan hati serta mensucikan hubungan dengan Allah SWT • Memperhatikan seluruh perintah dan larangan agama • Belajar melawan kehendak diri dan menaklukkannya kepada kehendak Allah • Menegakkan persaudaraan di suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan islam Menjadikan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan dalam setiap bertingkah laku.

Baca Juga : 2 Jenis Ujian Dalam Hidup Manusia Di Dunia Beserta Contohnya Akhlak, Moral Dan Etika • Akhlak Sikap atau prilaku baik dan buruk yang dilakukan secara berulang-ulang dan diperankan oleh seseorang tanpa disengaja atau melakukan pertimbangan terlebih dahulu. • Moral Suatu hal yang berkenaan dengan baik dan buruk dengan ukuran tradisi dan budaya yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang. • Etika Suatu ilmu yang mengkaji tentang persoalan baik dan buruk berdasarkan akal pikiran manusia.

(Daud Ali, 2008) Sedangkan moral adalah suatu hal yang berkenaan dengan baik dan buruk dengan ukuran tradisi dan budaya yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang.

Berbeda dengan etika dan moral. Perbedaan Akhlak, Etika dan Moral Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa akhlak berbeda dengan etika dan moral. Kalau akhlak lebih bersifat transcendental karena berasal dan bersumber dari Allah, maka etika dan moral bersifat relatif, dinamis, dan nisbi karena merupakan pemahaman dan pemaknaan manusia melalui elaborasi ijtihadnya terhadap persoalan baik dan buruk demi kesejahteraan hidup manusia di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat.

Berdasarkan perbedaan sumber ini maka etika dan moral senantiasa bersifat dinamis, berobah-obah sesuai dengan perkembangan kondisi, situasi dan tuntutan manusia. Etika sebagai aturan baik dan buruk yang ditentukan oleh akal pikiran manusia bertujuan untuk menciptakan keharmonisan.

suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan

Begitu juga moral sebagai aturan baik buruk yang didasarkan kepada tradisi, adat budaya yang dianut oleh sekelompok masyarakat juga bertujuan untuk terciptanya keselarasan hidupmanusia. Etika, moral dan akhlak merupakan salah satu cara untuk menciptakan keharmonisan dalam hubungan antara sesama manusia (habl minannas) dan hubungan vertikal dengan khaliq (habl minallah).

Baca Juga : Pengertian, Peran Dan Fungsi Pranata Agama Dalam Kehidupan Sosial Syarat-Syarat Akhlak Karena akhlak merupakan suatu keadaan yang melekat pada diri seseorang, maka suatu perbuatan itu baru disebut akhlak kalau terpenuhi beberapa syarat, adapun syarat-syarat agar dapat disebut sebagai akhlak sebagai berikut: • Perbuatan itu dilakukan berulang-ulang, kalau suatu perbuatan itu hanya dilakukan sekali saja, maka tidak dapat disebut sebagai akhlak.

• Perbuatan itu timbul dengan mudah tanpa dipikirkan atau diteliti lebih dahulu, sehingga benar-benar ialah suatu kebiasaan. Namun jika perbuatan itu timbul karena terpaksa atau karena ada motif dari orang lain atau karena setelah dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang, maka tidak dapat disebut sebagai akhlak. Rasulullah Muhammad SAW memiliki akhlak yang mulia, karena sikap dan perilaku beliau ialah kebaikan dan kemulian.

Kebaikan dan kemulian itu sudah menjadi kebiasaan dalam perjalanan hidup sehari-harinya. Akhlak Rasulullah itu biasa disebut dengan akhlak Islam, karena akhlak ini bersumber dari Alquran dan Alquran datangnya dari Allah AWT, maka akhlak Islam memiliki ciri tertentu yang membedakannya dengan akhlak Wad’iyah (ciptaan manusia). Ciri-Ciri Akhlak Dalam Islam Adapun ciri-ciri akhlak dalam islam yang diantaranya yaitu: • Kebaikannya itu bersifat mutlak yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak islam merupakan akhlak yang murni, baik untuk individu maupun untuk masyarakat di dalam lingkungan, keadaan, waktu dan tempat apapun.

• Kebaikannya itu bersifat menyeluruh yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya merupakan kebaikan untuk seluruh umat manusia di segala zaman dan di semua tempat.

• Tetap dan mantap yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya bersifat tetap, tidak berubah oleh waktu dan tempat atau perubahan kehidupan masyarakat. • Kewajiban tersebut harus dipatuhi yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak islam merupakan hukum yang harus dilaksanakan, sehingga ada sanksi hukum tertentu bagi orang-orang yang tidak melaksanakannya. • Pengawasan yang menyeluruh, karena akhlak islam bersumber dari Tuhan, maka pengaruhnya lebih kuat bagi yang melanggar akhlak ini kecuali setelah ragu-ragu dan kemudian akan menyesali perbuatannya untuk selanjutnya bertobat dengan sungguh-sungguh dan tidak melakukan perbuatannya yang salah lagi.

Hal tersebut terjadi karena agama merupakan pengawas yang kuat, pengawas yang lainnya ialah hati nurani yang hidup didasarkan pada agama dan akal sehat yang dibimbing oleh agama serta diberi petunjuk. Demikianlah pembahasan mengenai Akhlak Adalah – Pengertian, Macam, Ruang Lingkup Dan Contohnya semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.

Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Agama Ditag 10 hadits tentang akhlak terpuji, adab islam dalam kehidupan sehari-hari, buku akhlak pdf, ciri ciri akhlak, ciri ciri akhlak yg baik, contoh akhlak, contoh akhlak mulia, dalil tentang akhlak, etika dalam islam pdf, firman allah tentang akhlak, hadits tentang akhlak pdf, hadits tentang akhlak tercela, hadits tentang menyempurnakan akhlak, jelaskan pengertian akhlak brainly, jurnal akhlak mahmudah dan madzmumah, jurnal etika moral dan akhlak pdf, macam macam adab, macam macam akhlak, makalah akhlak, makalah akhlak kepada allah pdf, materi akhlak, materi akhlak pdf, moral dalam islam, pandangan islam terhadap kerusakan alam, pembagian akhlak, pengertian adab dan akhlak menurut islam, pengertian adab menurut islam, pengertian akhlak baik, pengertian akhlak dalam islam, pengertian akhlak dan dalilnya, pengertian akhlak dan hadisnya, pengertian akhlak menurut ahmad amin, pengertian akhlak menurut al ghazali, pengertian akhlak menurut bahasa dan istilah, pengertian akhlak menurut ibnu maskawaih, pengertian akhlak menurut para ahli, pengertian akhlak menurut para ulama, pengertian akhlak mulia, pengertian akhlak secara etimologi dan terminologi, pengertian ilmu akhlak, pengertian moral dan amoral, perbedaan adab dan akhlak, perbedaan akhlak etika dan moral, ruang lingkup akhlak, ruang lingkup akhlak islami, tujuan akhlak Navigasi pos • Contoh Teks Editorial • Contoh Teks Laporan Hasil Observasi • Teks Negosiasi • Teks Deskripsi • Contoh Kata Pengantar • Kinemaster Pro • WhatsApp GB • Contoh Diksi • Contoh Teks Eksplanasi • Contoh Teks Berita • Contoh Teks Negosiasi • Contoh Teks Ulasan • Contoh Teks Eksposisi • Alight Motion Pro • Contoh Alat Musik Ritmis • Contoh Alat Musik Melodis • Contoh Teks Cerita Ulang • Contoh Teks Prosedur Sederhana, Kompleks dan Protokol • Contoh Karangan Eksposisi • Contoh Pamflet • Pameran Seni Suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan • Contoh Seni Rupa Murni • Contoh Paragraf Campuran • Contoh Seni Rupa Terapan • Contoh Karangan Deskripsi • Contoh Paragraf Persuasi • Contoh Paragraf Eksposisi • Contoh Paragraf Narasi • Contoh Karangan Narasi • Teks Prosedur • Contoh Karangan Persuasi • Contoh Karangan Argumentasi • Proposal • Contoh Cerpen • Pantun Nasehat • Cerita Fantasi • Memphisthemusical.Com
Pengertian Akhlak Menurut Para Ahli – Kata “akhlak” berasal dari bahasa arab yakni “Al-Khulk” yang berarti tabeat, perangai, tingkah laku, kebiasaan, kelakukan.

Menurut istilahnya, akhlak merupakan sifat yang tertanam di dalam diri seorang manusia yang bisa mengeluarkan sesuatu dengan senang dan mudah tanpa adanya suatu pemikiran dan paksaan. Sedangkan menurut para ahli, pengertian akhlak ialah sebagai berikut: Daftar isi • Akhlak Mahmudah Dan Madzmumah • Pengertian Akhlak Mahmudah • Keutamaan Akhlak Mahmudah • Pengertian Akhlak Mazmumah • Macam-Macam Akhlak Mahmudah dan Akhlak Mazmumah • Macam-macam akhlak mahmudah : • Macam-macam Akhlak Madzmumah • Pengertian Akhlak • Pengertian Akhlak Menurut Para Ahli • Menurut Ibnu Maskawaih • Menurut Abu Hamid Al Ghazali • Menurut Ahmad Bin Mushthafa • Menurut Muhammad Bin Ali Asy Syariif Al Jurjani • Menurut Nurcholish Madjid • Menurut Imam Al-Ghazali • Menurut Ibrahim Anas • Menurut Ahmad Amin • Menurut KBBI • Menurut Etimologi • Tujuan Akhlak • Jenis-Jenis Akhlak • Akhlak Baik (Al-Hamidah) • Akhlak Buruk (Adz-Dzamimah) • Ruang Lingkup Akhlak • Akhlak Pribadi • Akhlak Berkeluarga • Akhlak Bermasyarakat • Akhlak Bernegara • Akhlak Beragama • Faktor Faktor Yang Mempengruhi Akhlak • Aliran Nativisme • Aliran Empirisme • Aliran Konvergensier • Akhlak Karimah dalam Kaitannya dengan Fungsi Hidup • Akhlak, Moral Dan Etika • Perbedaan Akhlak, Etika dan Moral • Syarat-Syarat Akhlak • Ciri-Ciri Akhlak Dalam Islam Akhlak Mahmudah Dan Madzmumah Pengertian Akhlak Mahmudah Akhlak mahmudah adalah segala tingkah laku yang terpuji, dapat disebut juga dengan akhlak fadhilah, akhlak yang utama.

Keutamaan Akhlak Mahmudah Perbuatan yang baik merupakan akhlaq karimah yang wajib dikerjakan. Akhlaq karimah berarti tingkah laku yang terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah. Akhlaq al karimah dilahirkan berdasarkan sifat-sifat yang terpuji. Akhlak yang baik disebut juga dengan akhlak mahmudah. Pandangan al-Ghazali tentang akhlak yang baik hampir senada dengan pendapat Plato yang mengatakan, bahwa orang adalah orang yang dapat melihat kepada Tuhannya secara terus-menerus.

Al-Ghazali memandang orang yang dekat kepada Allah adalah orang yang mendekati ajaran-ajaran Rasulullah yang memiliki akhlak sempurna. Pengertian Akhlak Mazmumah Akhalak mazmumah ialah perangai atau tingkah laku yang tercermin pada diri manusia yang cenderung melekat dalam bentuk yang tidak menyenangkan orang lain.

Dalam beberapa kamus dan ensiklopedia di himpun pengertian “buruk” sebagai berikut: • Rusak atau tudak baik, jahat, tidak menyenangkan, tidak elok, jelek. • Perbuuatan yang tidak sopan, kurang ajar, jahat, tidak menyenangkan. • Segala yang tercela, lawan baik, lawan pantas, lawan bagus, perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma atau agama, adat istiadat, dan masyarakat yang berlaku. Baca juga: Apa Saja Doa Setelah Sholat Fardhu? Suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan Akhlak Mahmudah dan Akhlak Mazmumah Macam-macam akhlak mahmudah : • Bersifat baik • Bersifat benar • Bersifat amanah • Bersifat adil • Bersifat kasih sayang • Bersifat hormat • Bersifat berani • Bersifat kuat • Bersifat malu • Menjaga kesucian diri • Menepati janji Macam-macam Akhlak Madzmumah • Ananiyah (egois) Manusia hidup tidaklah menyendiri, tetapi berada di tengah-tengah masyarakat yang heterogen.

Ia harus yakin jika hasil perbuatan baik, masyarakat turut mengecap hasilnya, tetapi jika akibat perbuatannya buruk masyarakatpun turut menderita. Sebaliknya orang tiada patut hanya bekerja untuk dirinya, tanpa memerhatikan tuntutan masyarakat, sebab kebutuhan-kebutuhan manusia tidak dapat dihasilkan sendiri. • Al- Buhtan (dusta) Maksud sifat dusta ialah mengada-ada sesuatu yang sebenarnya tidak ada, dengan maksud untuk merendahkan seseorang. Kadang-kadang ia sendiri yang sengaja berdusta.

Dikatakannya orang lain yang menjadi pelaku, juga ada kalanya secara brutal ia bertindak, yaitu mengadakan kejelekan terhadap orang yang sebenarnya tidak bersalah. Orang yang seperti ini perkataannya tidak dipercayai orang lain. Di dunia ia akan memperoleh derita dan di akhirat ia akan menerima siksa.

• Al- Ghadlab (Pemarah) Marah atau disebut juga sifat pemarah terjadi karena darah mendidih di dalam hati untuk menuntut pembalasan. Pembalasan ini merupakan bentuk kekuatan untuk memberikan kelezatan dan tidak akan reda kecuali dengan pembalasan. Amarah merupakan bagian dari karakter yang selalu ada pada diri manusia. Barang siapa marah dan selalu mengikuti kemarahannya hingga mengikuti perbuatan yang jelek, maka hal tersebut merupakan kemarahan yang tercela sesuai perbuatan yang dulakukannya.

• Al- Hasad (dengki) Dengki ialah suatu keadaan pikiran, yang membuat dirinya merasa sakit jika orang lain mendapat suatu kesenangan dan ia ingin agar kesenangan itu diambil dari orang itu meskipun ia sendiri tidak akan mendapat keuntungan apapun dengan hilangnya kesenangan itu.

Ini mengarah kepada kekejian, merasa gembira jika orang lain bernasib buruk. Semua yang baik yang dimiliki manusia adalah karunia Allah dan setiap keinginan orang lain agar ini dihapuskan menunjukkan bahwa: ketidak senangannya dengan putusan Allah, dan keserakahan yang keterlampauan. • Al- Istikbar (sombong) Sombong yaitu menganggap dirinya lebih dari yang lain sehingga ia berusaha menutupi dan tidak mau mengakui kekurangan dirinya, selalu merasa lebih besar, labih kaya, lebih pintar, lebih dihormati, lebih mulia, dan lebih beruntung dari yang lain.

Maka biasanya orang seperti itu memandang orang lain lebih buruklebih rendah dan tidak mau mengakui kelebihan orang tersebut, sebab tindakan itu menurutnya sama dengan merendahkan dan menghinakan dirinya sendiri. • Al- Ishraf (berlebihan) Al- Ishraf ialah menyianyiakan sesuatu tanpa manfaat, melebihi batas disetiap perbuatan, misalnya menyianyiakan harta, ini dilarang oleh agama dan merupakan penyakit hati, mengeluarkan harta tanpa faidah, umpama makan dan minum dikala belum lapar dan belum haus atau makan minum yang berlebih-lebihan, berpakaian yang terlalu menyolok secara keterlaluan.

• Al- Ifsad (berbuat kerusakan) Orang yang berbuat kerusakan jiwanya seperti jiwa serigala yaitu selalu berusaha bagaimana caranya menganiaya orang lain, dan yang ada difikirannya hanya bagaimana cara merusak orang lain. Dapat juga dikatakan seperti jiwa tikus yaitu tidak dengan moncong mulutnya, dengan ekornya dia mencuri, selain itu kerjanya hanya merusak saja. • Al- Namimah (mengadu domba) Menyampaikan perkataan seseorang atau menceritakan keadaan seseorang atau mengabarkan pekerjaan seseorang kepada orang lain dengan maksud mengadu domba antara keduanya atau merusakkan hubungan baik antara mereka.

suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan

Keadaan ini mengakibatkan timbulnya kejahatan antara orang dengan orang atau memutuskan silaturrahmi anttara keluarga dan sahabat, menceraikan hubungan orang dan sebenarnya hal ini berarti memperbanyak jumlah lawan.

• Al- Sikhriyyah (berolok-olok) Al- Sikhriyyah adalah menghina ke’aiban atau kekurangan orang dengan menertawakannya, dengan memperkatakannya, atau dengan meniru perbuatannya dengan isyarat. Janganlah menghina atau memperolok-olokkan orang, boleh jadi orang tersebut lebih baik dari engkau sendiri. Orang yang selalu berolok-olok adalah orang yang berjiwa kera, senangnya hanya mengejek perbuatan orang lain.

Pengertian Akhlak Membicarakan soal akhlak takkan pernah habis, karena dalam kehidupan sehari-hari, baik mulai dari diri sendiri, dalam keluarga, masyarakat, dan bersosialisasi dengan siapapun pasti tidak terlepas dari akhlak. Apa yang dilakukan sudahkah pantas dan sesuai dengan syariat Islam. Tentu dalam semua agamapun mengajarkan tentang perilaku yang baik-baik, apalagi dalam agama Islam, semua hal dari yang kecil sampai hal terbesar telah dijelaskan dan ada ajarannya secara jelas, gamblang dan dicontohkan langsung oleh nabi Muhammad.

Kata “akhlak” berasal dari bahasa arab yaitu ” Al-Khulk ” yang berarti tabeat, perangai, tingkah laku, kebiasaan, kelakuan. Menurut istilahnya, akhlak ialah sifat yang tertanam di dalam diri seorang manusia yang bisa mengeluarkan sesuatu dengan senang dan mudah tanpa adanya suatu pemikiran dan paksaan.

Dalam KBBI, akhlak berarti budi pekerti atau kelakuan. Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak adalah bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.

Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja.

Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak. Dalam Encyclopedia Brittanica akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilaibaik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebaginya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafatmoral.

Pengertian Akhlak Menurut Para Ahli Adapun pengertian akhlak menurut para ahli yang diantaranya yaitu: Menurut Ibnu Maskawaih Menurutnya akhlak ialah “hal li nnafsi daa’iyatun lahaa ila af’aaliha min ghoiri fikrin walaa ruwiyatin” yakni sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Menurut Abu Hamid Al Ghazali Akhlak adalah sifat yang terpatri dalam jiwa manusia yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan senang dan mudah tanpa memikirkan dirinya serta tanpa adanya renungan terlebih dahulu. Menurut Ahmad Bin Mushthafa Akhlak ialah sebuah ilmu yang darinya dapat diketahui jenis-jenis keutamaan, dimana keutamaan itu ialah terwujudnya keseimbangan antara tiga kekuatan yakni kekuatan berpikir, marah dan syahwat atau nafsu.

Menurut Muhammad Bin Ali Asy Syariif Al Jurjani Akhlak ialah sesuatu yang sifatnya (baik atau buruk) tertanam kuat dalam diri manusia yang darinyalah terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan tanpa berpikir dan direnungkan. Menurut Nurcholish Madjid Bahwa istilah akhlak atau khuluq merupakan satu akar kata dengan khalq atau penciptaan, khaliq (pencipta) dan makhluq (ciptaan), yang semuanya mengacu pada pandangan dasar Islam mengenai penciptaan manusia, bahwasanya manusia diciptakan dalam kebaikan, kesucian dan kemulian sebagai “sebaik baiknya ciptaan (ahsanu taqwim).

Menurut Imam Al-Ghazali Dalam kitabnya Ihya Ulum al din mengatakan bahwa akhlak ialah; sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanp memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Menurut Ibrahim Anas Yang mengatakan akhlak ialah ilmu yang objeknya membahas nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia, dapat disifatkan dengan baik dan buruknya. Menurut Ahmad Amin Mengatakan bahwa akhlak ialah kebiasaan baik dan buruk. Contohnya apabila kebiasaan memberi sesuatu yang baik, maka disebut akhlakul karimah dan bila perbuatan itu tidak baik disebut akhlaqul madzmumah. Menurut KBBI Akhlak berarti budi pekerti atau kelakuan.

Menurut Etimologi Akhlak berasal dari bahasa arab “akhlaq” yang mempunyai arti budi pekerti, persamaan atau nama lain akhlak ini biasa disebut dengan etika atau kebiasaan. Dalam Al-Qur’an surat Al-Qolam ayat 4 dikatakan bahwa “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berada diatas budi pekerti yang agung”. Dan dalam sebuah haditspun dikatakan bahwa ” Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Sehingga jelas bagi umat Islam diseluruh alam berpatokan pada akhlaknya nabi Muhammad SAW.

Akhlak terpuji yang ada dalam diri Rasulullah SAW patut kita jadikan contoh dan suri tauladan yang baik. Ada dua sumber yang harus dijadikan sebagai pegangan hidup yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah yang keduanyapun dijadikan sumber akhlak islamiyah. Jika manusia telah berakhlakul karimah atau akhlak yang baik, mulia, terpuji InsyaAllah hidupnya akan jauh lebih baik.

Baca juga: Hukum Pernikahan Menurut Agama Islam Tujuan Akhlak Akhlak bertujuan untuk menjadikan manusia sebagai makhluk yang lebih tinggi dan sempurna, dan membedakannya dari makhluk-makhluk yang lainnya. Menjadi suatu hal yang harus dimiliki oleh manusia agar lebih baik dalam berhubungan baik sesama manusia apalagi kepada Allah sebagai pencipta.Sedangkan pelajaran akhlak atau ilmu akhlak bertujuan mengetahui perbedaan-perbedaan perangai manusia yang baik dan buruk, agar manusia dapat memegang dengan perangai-perangai yang baik dan menjauhkan diri dari perangai-perangai yang jahat, sehingga terciptalah tata tertib dalam pergaulan masyarakat.

Yang hendak dikendalikan oleh akhlak ialah tindakan lahir manusia, tetapi karena tindakan lahir itu tidak akan terjadi jika tidak didahului oleh gerak-gerik bathin, yaitu tindakan hati, maka tindakan bathin dan gerak-gerik hati pun termasuk lapangan yang diatur oleh akhlak manusia.

Jika setiap orang dapat menguasai tindakan bathinnya, maka dapatlah ia menjadi orang yang berakhlak baik. Tegasnya baik-buruk itu tergantung kepada tindakan hatinya.

Dalam hadits Arba’in An Nawawi dituliskan bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Dan ketahuilah bahwasannya, didalam tubuh itu ada segumpal daging yang apabila baik, maka baik pula amalnya, dan apabila buruk, maka buruk pula amalnya, dan ketahuilah bahwa ia adalah hati”.

Hadits ini dengan jelas menerangkan, bahwa hati adalah bagian terpenting dari tubuh manusia, sehingga apapun yang direncanakan oleh hati sejatinya akan sangat berpengaruh pada perbuatan yang akan dilakukan oleh pemiliknya.

Dalam hal ini dapatlah diibaratkan bahwa jasad itu bagaikan pemerintahan dalam diri kita, sedangkan hati menjadi pusat pemerintahan.Seseorang yang mempunyai hati dan pendirian yang kuat, meskipun badannya tidak sekuat hatinya, lebih diharapkan akan memperoleh hasil pekerjaannya daripada seseorang yang berbadan kuat tetapi hatinya lemah. Jenis-Jenis Akhlak Akhlak Baik (Al-Hamidah) • Jujur (Ash-Shidqu) adalah suatu tingkah laku yang didorong oleh keinginan (niat) yang baik dengan tujuan tidak mendatangkan kerugian bagi dirinya maupun oranglain.

• Berprilaku baik (Husnul Khuluqi) adalah suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya dengan cara yang terpuji. • Malu (Al-Haya’) adalah akhlak (perangai) seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk dan tercela,sehingga mampu menghalangi seseorang untuk melakukan dosa dan maksiat serta dapat mencegah seseorang untuk melalaikan hak orang lain. • Rendah hati (At-Tawadlu’)Washiyatul mushtofa adalah sifat pribadi yang bijak oleh seseoarang yang dapat memposisikan dirinya sederajat dengan orang lain dan tidak merasa lebih tinggi dari orang lain.

• Murah hati (Al-Hilmu) adalah suka (mudah) memberi kepada sesama tanpa merasa pamrih suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan sekadar pamer. • Sabar (Ash-Shobr) adalah menahan atau mengekang segala sesuatu yang menimpa diri kita(hawa nafsu). Akhlak Buruk (Adz-Dzamimah) • Mencuri/mengambil bukan haknya • Iri hati • Membicarakan kejelekan orang lain (bergosip) • Membunuh • Segala bentuk tindakan yang tercela dan merugikan orang lain ( mahluk lain) Ruang Lingkup Akhlak Akhlak Pribadi Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi.

Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan.

Akhlak Berkeluarga Akhlak ini meliputi kewajiban orang tua, anak, dan karib kerabat. Kewajiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan pendidik untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna, dengan ajaran –ajaran yang bijak, setiap agama telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai tanggung jawab untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu untuk memiliki akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih sayang. Sehingga anak akan tumbuh secara sabar, terdidik untuk berani berdiri sendiri, kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga diri, kehormatan dan kemuliaan.Seorang anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih berhak dari segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati dan hormati.

Karena keduanya memelihara,mengasuh, dan mendidik, menyekolahkan engkau, mencintai dengan ikhlas agar engkau menjadi seseorang yang baik, berguna dalam masyarakat, berbahagia dunia dan akhirat. Dan coba ketahuilah bahwa saudaramu laki-laki dan permpuan adalah putera ayah dan ibumu yang juga cinta kepada engkau, menolong ayah dan ibumu dalam mendidikmu, mereka gembira bilamana engkau gembira dan membelamu bilamana perlu.

Pamanmu, bibimu dan anak-anaknya mereka sayang kepadamu dan ingin agar engkau selamat dan berbahagia, karena mereka mencintai suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan dan ibumu dan menolong keduanya disetiap keperluan.

Akhlak Bermasyarakat Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika orang tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan dan menolak kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib atasmu mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat pada tetangga.

Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul di dalam masyarakat. Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat.

suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan

Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri–sendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat. Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma- norma kesusilaan yang berlaku.

Akhlak Bernegara Mereka yang sebangsa denganmu adalah warga masyarakat yang berbahasa yang sama denganmu, tidak segan berkorban untuk kemuliaan tanah airmu, engkau hidup bersama mereka dengan nasib dan penanggungan yang sama. Dan ketahuilah bahwa engkau adalah salah seorang dari mereka dan engkau timbul tenggelam bersama mereka.

Akhlak Beragama Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk Tuhan.

Faktor Faktor Yang Mempengruhi Akhlak Untuk menjelaskan faktor yang mempengaruhi akhlak pada khususnya, dan pendidikan pada umumnya, ada tiga aliran yang sudah amat populer, yaitu aliran Nativisme, aliran Empirisme, dan aliran konvergensi : Aliran Nativisme Bahwa perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir; pembawaan yang telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah yang menentukan hasil perkembangannya.Menurut aliran ini, faktor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah faktor pembawaan dari dalam yang bentuknya dapat berupa kecenderungan, bakat, akal, dan lain-lain.

Jika seseorang sudah memiliki pembawaan atau kecenderungan kepada yang baik, maka dengan sendirinya orang tersebut menjadi baik. Aliran Empirisme Bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah faktor luar, yaitu lingkungan sosial, termasuk pembinaan dan pendidikan yang diberikan.

Jika pendidikan dan pembinaan yang diberikan kepada anak baik, maka baiklah anak itu. Demikian juga sebaliknya. Aliran ini begitu percaya kepada peranan yang dilakukan oleh dunia pendidikan dan pengajaran. Menurut aliran ini, manusia-manusia dapat dididik menjadi apa saja (ke arah yang baik maupun ke arah yang buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidikannya.

Dalam pendidikan, pendapat kaum empiris ini terkenal dengan nama optimisme pedagogis. Aliran Konvergensier Bahwa pembentukan akhlak dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu pembawan si anak, dan faktor luar yaitu pendidikan dan pembinaan yang dibuat secara khusus, atau melalui interaksi dalam lingkungan sosial. Fitrah dan kecenderungan ke arah yang baik yang ada dalam diri manusia dibina secara intensif melalui berbagai metode.

Aliran yang ketiga ini, tampak sesuai dengan ajaran Islam. hal ini dapat dipahami dari ayat dan hadits di bawah ini: وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِّنْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ شَيْأً وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَاْلأَبْصَارَ وَاْلأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (Depag RI, 1989 : 413) Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa manusia memiliki potensi untuk dididik, yaitu penglihatan, pendengaran dan hati sanubari.

suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan

Potensi tersebut harus disyukuri dengan cara mengisinya dengan ajara dan pendidikan. Kesesuaian teori konvergensi tersebut di atas, juga sejalan dengan dengan Hadits Nabi saw. yang berbunyi: (كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. (رواه البخارى “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka ayah dan ibunyalah yang akan menjadikan dia seorang yahudi atu nasrani“. (Sahih Bukhari, Jilid 3, 1995 : 177).

Ayat dan hadits tesebut di atas, selain menggambarkan adanya teori konvergensi juga menunjukkan dengan jelas bahwa pelaksana utama dalam pendidikan adalah kedua orang tua. Itulah sebabnya kedua orang tua, khususnya ibu mendapat gelar sebagai madrasah, yakni tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan (Abudin Nata, 2006:169).

Dengan merujuk kepada aliran konvergensi di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi akhlak manusia, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Menurut Shailun A. Nashir (1992:42) faktor intern yang mempengaruhi akhlak terdiri atas instink, akal dan nafsu.

Sedangkan menurut Rahmat Djatnika (1992:72) faktor dari dalam diri manusia itu adalah instink dan akalnya, adat, kepercayaan, keinginan-keinginan, hawa nafsu (passion) dan hati nurani atau wijdan.

Selain itu, faktor intern yang dapat mempengaruhi akhlak juga terdapat dalam diri individu yang bersangkutan, seperti malas, tidak mau bekerja, adanya cacat fisik, cacat psikis dan lainnya.

Adapun faktor yang berasal dari luar dirinya secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, semua yang sampai kepadanya merupakan unsur-unsur yang membentuk akhlak. Faktor-faktor tersebut adalah: • Keturunan • Lingungan • Rumah Tangga • Sekolah • Pergaulan kawan / Persahabatan • Penguasa, Pemimpin Lingkungan merupakan salah satu faktor dari luar yang besar pengaruhnya tehadap tingkah laku seseorang. Lingkungan ini bisa berupa lingkungan keluarga, masyarakat, pendidikan, juga lingkungan alam.

Dalam hal ini, Hamzah Ya’qub (1996:71) membagi lingkungan atas dua bagian, yaitu: • Lingkungan Alam yang Bersifat Kebendaan : Lingkungan alam yang besifat kebendaan merupakan faktor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku manusia.

Lingkungan alam ini dapat mematahkan dan mematangkan pertumbuhan bakat seseorang, namun jika kondisi alamnya jelek akan menjadi perintang dalam mematangkan bakat seseorang. Oleh karena itu, kondisi alam ini ikut mencetak manusia-manusia yang dipangkunya.

Misalnya, orang yang hidupnya di pantai akan berbeda kehidupan dan perilakunya dengan orang yang hidup di pegunungan. • Lingkungan Pergaulan yang Bersifat Rohaniah Lingkungan pergaulan sesama manusia sangat mempengaruhi terjadinya perbuatan manusia, karena antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya saling mempengaruhi dalam pikiran sifat, dan tingkah laku.

suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan

Lingkungan pergaulan ini dapat dibagi kepada beberapa kategori: • Lingkungan dalam rumah tangga • Lingkungan sekolah • Lingkungan pekerjaan • Lingkungan organisasi atau jamaah • Lingkungan yang bersifat umum dan bebas Dengan demikian, dapat diketahui bahwa akhlak yang menghiasi seseorang tidak terlepas dari pengaruh yang terdapat dalam dirinya, berupa potensi-potensi yang dibawanya sejak lahir, dan pengaruh yang datang dari luar, yaitu berupa lingkungan dan pendidikan yang diterimanya.

• Akhlak dalam Kehidupan Berkeluarga : Keluarga adalah jiwa masyarakat. Sejahtera atau tidaknya suatu bangsa, kemajuan atau keterbelakangannya, pintar atau bodohnya adalah cerminan dari keadaan keluarga yang hidup pada masyarakat atau suatu bangsa.

Hakikat tersebut adalah kesimpulan pandangan seluruh pakar dari berbagai disiplin ilmu, termasuk pakar-pakar agama Islam. Oleh sebab itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pembinaan keluarga. Indikasinya bisa dilihat dari banyaknya ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang berbicara tentang hakikat tersebut. Allah SWT menganjurkan agar kehidupan keluarga menjadi bahan pemikiran setiap manusia sehingga darinya bisa ditarik pelajaran yang amat berharga.

Menurut al-Qur’an, kehidupan keluarga, di samping menjadi salah satu tanda dari sekian banyak tanda-tanda kebesaran Ilahi, juga merupakan nikmat yang harus dapat dimanfaatkan serta disyukuri. Allah SWT berfirman yang artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S.

suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan

Ar-Rum: 21). Dalam ayat tersebut jelas sekali bahwa tujuan dari pembentukan keluarga adalah terciptanya rasa aman, tentram, serta munculnya kasih sayang.

Untuk mewujudkannya tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, diperlukan sebuah pengaturan yang bisa dipahami dan disepakati oleh semua anggota keluarga serta dibutuhkan konsistensi dari semua anggota keluarga untuk menjalankan aturan yang diberlakukan sehingga lahirlah keluarga yang dibingkai dengan keteraturan dan keseimbangan seperti yang diharapkan ajaran islam. Baca juga: Pengertian Ijtihad Menurut Agama Islam Akhlak Karimah dalam Kaitannya dengan Fungsi Hidup Akhlakul yang baik (al-akhlaqu al-mahmudah) sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, karena dengan akhlak tersebut bisa menyeimbangkan antara antara akhlak yang baik dengan akhlak yang buruk pada perbuatan manusia, maka ukuran dan karakternya selalu dinamis, sulit dipecahkan.

Islam menginginkan suatu masyarakat yang berakhlak mulia. Akhlak mulia ini sangat ditekankan karena di samping akan membawa kebahagiaan bagi individu, juga sekaligus membawa kebahagiaan bagi masyarakat pada umumnya.

Dengan kata lain bahwa akhlak utama yang ditampilkan seseorang, tujuannya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat (Abudin Nata, 2000:169-170). Allah Swt. menggambarkan dalam al-Quran tentang janji-Nya terhadap orang yang senantiasa berakhlak baik, di antaranya Q.S.

an-Nahl:97 مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.Orang yang selalu melaksanakan akhlak mulia, mereka akan senantiasa memperoleh kehidupan yang baik, mendapatkan pahala berlipat ganda di akhirat dan akan dimasukkan ke dalam sorga.

Dengan demikian, orang yang berakhlak mulia akan mendapatkan keberuntungan hidup di dunia dan di akhirat. Kenyataan sosial membuktikan bahwa orang yang berakhlak baik akan disukai oleh masyarakat, kesulitan dan penderitaannya akan dibantu untuk dipecahkan, walau mereka tidak mengharapkannya. Peluang, kepercayaan dan kesempatan datang silih berganti kepadanya. Kenyataan juga menunjukkan bahwa orang yang banyak menyumbang, bersedekah, berzakat, tidak akan menjadi miskin, tetapi malah bertambah hartanya.Akhlak karimah merupakan suatu pengamalan yang bersifat ibadah di mana seseorang dalam perilakunya dituntut untuk berbuat baik terhadap Allah swt.

dan berbuat baik terhadap manusia, juga terhadap dirinya sendiri, juga terhadap makhluk Allah yang lainnya. • Cara untuk menumbuhkan akhlak terpuji : Dalam mewujudkan akhlak yang mulia sebagaimana sifat-sifat terpuji yang telah dijelaskan diatas, menurut Buya Hamka ada beberapa kewajiban yang harus ditunaikan antara lain: • Membersihkan hati serta mensucikan hubungan dengan Allah SWT • Memperhatikan seluruh perintah dan larangan agama • Belajar melawan kehendak diri dan menaklukkannya kepada kehendak Allah • Menegakkan persaudaraan suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan dalam islam Menjadikan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan dalam setiap bertingkah laku.

Akhlak, Moral Dan Etika • Akhlak Sikap atau prilaku baik dan buruk yang dilakukan secara berulang-ulang dan diperankan oleh seseorang tanpa disengaja atau melakukan pertimbangan terlebih dahulu. • Moral Suatu hal yang berkenaan dengan baik dan buruk dengan ukuran tradisi dan budaya yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang.

• Etika Suatu ilmu yang mengkaji tentang persoalan baik dan buruk berdasarkan akal pikiran manusia. (Daud Ali, 2008) Sedangkan moral adalah suatu hal yang berkenaan dengan baik dan buruk dengan ukuran tradisi dan budaya yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang. Berbeda dengan etika dan moral. Perbedaan Akhlak, Etika dan Moral Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa akhlak berbeda dengan etika dan moral.

Kalau akhlak lebih bersifat transcendental karena berasal dan bersumber dari Allah, maka etika dan moral bersifat relatif, dinamis, dan nisbi karena merupakan pemahaman dan pemaknaan manusia melalui elaborasi ijtihadnya terhadap persoalan baik dan buruk demi kesejahteraan hidup manusia di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat.

Berdasarkan perbedaan sumber ini maka etika dan moral senantiasa bersifat dinamis, berobah-obah sesuai dengan perkembangan kondisi, situasi dan tuntutan manusia. Etika sebagai aturan baik dan buruk yang ditentukan oleh akal pikiran manusia bertujuan untuk menciptakan keharmonisan.

Begitu juga moral sebagai aturan baik buruk yang didasarkan kepada tradisi, adat budaya yang dianut oleh sekelompok masyarakat juga bertujuan untuk terciptanya keselarasan hidupmanusia. Etika, moral dan akhlak merupakan salah satu cara untuk menciptakan keharmonisan dalam hubungan antara sesama manusia (habl minannas) dan hubungan vertikal dengan khaliq (habl minallah).

Syarat-Syarat Akhlak Karena akhlak merupakan suatu keadaan yang melekat pada diri seseorang, maka suatu perbuatan itu baru disebut akhlak kalau terpenuhi beberapa syarat, adapun syarat-syarat agar dapat disebut sebagai akhlak sebagai berikut: • Perbuatan itu dilakukan berulang-ulang, kalau suatu perbuatan itu hanya dilakukan sekali saja, maka tidak dapat disebut sebagai akhlak.

• Perbuatan itu timbul dengan mudah tanpa dipikirkan atau diteliti lebih dahulu, sehingga benar-benar ialah suatu kebiasaan. Namun jika perbuatan itu timbul karena terpaksa atau karena ada motif dari orang lain atau karena setelah dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang, maka tidak dapat disebut sebagai akhlak. Rasulullah Muhammad SAW memiliki akhlak yang mulia, karena sikap dan perilaku beliau ialah kebaikan dan kemulian.

Kebaikan dan kemulian itu sudah menjadi kebiasaan dalam perjalanan hidup sehari-harinya. Akhlak Rasulullah itu biasa disebut dengan akhlak Islam, karena akhlak ini bersumber dari Alquran dan Alquran datangnya dari Allah AWT, maka akhlak Islam memiliki ciri tertentu yang membedakannya dengan akhlak Wad’iyah (ciptaan manusia).

Ciri-Ciri Akhlak Dalam Islam Adapun ciri-ciri akhlak dalam islam yang diantaranya yaitu: • Kebaikannya itu bersifat mutlak yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak islam merupakan akhlak yang murni, baik untuk individu maupun untuk masyarakat di dalam lingkungan, keadaan, waktu dan tempat apapun.

• Kebaikannya itu bersifat menyeluruh yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya merupakan kebaikan untuk seluruh umat manusia di segala zaman dan di semua tempat. • Tetap dan mantap yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya bersifat tetap, tidak berubah oleh waktu dan tempat atau perubahan kehidupan masyarakat. • Kewajiban tersebut harus dipatuhi yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak islam merupakan hukum yang harus dilaksanakan, sehingga ada sanksi hukum tertentu bagi orang-orang yang tidak melaksanakannya.

• Pengawasan yang menyeluruh, karena akhlak islam bersumber dari Tuhan, maka pengaruhnya lebih kuat bagi yang melanggar akhlak ini kecuali setelah ragu-ragu dan kemudian akan menyesali perbuatannya untuk selanjutnya bertobat dengan sungguh-sungguh dan tidak melakukan perbuatannya yang salah lagi.

Hal tersebut terjadi karena agama merupakan pengawas yang kuat, pengawas yang lainnya ialah hati nurani yang hidup didasarkan pada agama dan akal sehat yang dibimbing oleh agama serta diberi petunjuk. Cari untuk: Pos-pos Terbaru • Pengertian Teks Prosedur dan Contohnya • Pengertian Present Perfect Continuous Tense • Pengertian Syirik Dengan Penjelasan Lengkap • Bola Voli: Pengertian, Peraturan dan Teknik Dasar • Mengenal Potensi Diri dan Macam-macamnya Komentar Terbaru • suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan pada Cara Mempercepat Loading Website • Quintin Tims pada Cara Mempercepat Loading Website • berita nasional update hari ini pada Sejarah Ki Hajar Dewantara Lengkap • berita nasional 2021 pada Demokrasi Liberal: Pengertian dan Sejarah Lengkap • alfatah pada Fungsi dan Cara Penggunaan Sensor Accelerometer Arsip • April 2022 • Januari 2022 • Desember 2021 • November 2021 • Oktober 2021 • September 2021 • Agustus 2021 • Juli 2021 • Juni 2021 • Mei 2021 • April 2021 • Maret 2021 • Februari 2021 • Januari 2021 • Desember 2020 • November 2020 • Oktober 2020 • September 2020 Kategori • Agama • Bahasa Indonesia • Bahasa Inggris • Biologi • Ekonomi • Fisika • Geografi • IMK • Jaringan Komputer • Kimia • Matematika • Pengetahuan • Penjas • PPKN • PTI • Sejarah • Sistem Operasi • Sosiologi • Tips • Tutorial MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) Kata “akhlak” berasal dari bahasa arab yaitu ” Al-Khulk ” yang berarti tabeat, perangai, tingkah laku, kebiasaan, kelakuan.

Menurut istilahnya, akhlak ialah sifat yang tertanam di dalam diri seorang manusia yang bisa mengeluarkan sesuatu dengan senang dan mudah tanpa adanya suatu pemikiran dan paksaan. 10.1. Sebarkan ini: Menurut istilahnya, akhlak adalah sifat yang tertanam di dalam diri seorang manusia yang bisa mengeluarkan sesuatu dengan senang dan mudah tanpa adanya suatu pemikiran dan paksaan. Dalam KBBI, akhlak berarti budi pekerti atau kelakuan.

Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak adalah bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.

Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja.

Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.Dalam Encyclopedia Brittanica akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebaginya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafat moral.

Menurutnya akhlak ialah “ hal li nnafsi daa’iyatun lahaa ila af’aaliha min ghoiri fikrin walaa ruwiyatin” yaitu sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. • Menurut Abu Hamid Al Ghazali : Akhlak ialah sifat yang terpatri dalam jiwa manusia yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan senang dan mudah tanpa memikirkan dirinya serta tanpa adanya renungan terlebih dahulu.

• Menurut Ahmad bin Mushthafa : Akhlak merupakan sebuah ilmu yang darinya dapat diketahui jenis-jenis keutamaan, dimana keutamaan itu ialah terwujudnya keseimbangan antara tiga kekuatan yakni kekuatan berpikir, marah dan syahwat atau nafsu.

• Menurut Muhammad bin Ali Asy Syariif Al Jurjani : Akhlak merupakan sesuatu yang sifatnya (baik atau buruk) tertanam kuat dalam diri manusia yang darinyalah terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan tanpa berpikir dan direnungkan. Dalam Al-Qur’an surat Al-Qolam ayat 4 dikatakan bahwa “ Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berada diatas budi pekerti yang agung“.

Dan dalam sebuah haditspun dikatakan bahwa ” Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia“. Sehingga jelas bagi umat Islam diseluruh alam berpatokan pada akhlaknya nabi Muhammad SAW.

Akhlak terpuji yang ada dalam diri Rasulullah SAW patut kita jadikan contoh dan suri tauladan yang baik. Ada dua sumber yang harus dijadikan sebagai pegangan hidup yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah yang keduanyapun dijadikan sumber akhlak islamiyah. Jika manusia telah berakhlakul karimah atau akhlak yang baik, mulia, terpuji InsyaAllah hidupnya akan jauh lebih baik.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 9 Fungsi Lembaga Keluarga : Pengertian Dan 4 Tahapannya ( LENGKAP ) Tujuan Akhlak Akhlak bertujuan untuk menjadikan manusia sebagai makhluk yang lebih tinggi dan sempurna, dan membedakannya dari makhluk-makhluk yang lainnya. Menjadi suatu hal yang harus dimiliki oleh manusia agar lebih baik dalam berhubungan baik sesama manusia apalagi kepada Allah sebagai pencipta. Sedangkan pelajaran akhlak atau ilmu akhlak bertujuan mengetahui perbedaan-perbedaan perangai manusia yang baik dan buruk, agar manusia dapat memegang dengan perangai-perangai yang baik dan menjauhkan diri dari perangai-perangai yang jahat, sehingga terciptalah tata tertib dalam pergaulan masyarakat.

Yang hendak dikendalikan oleh akhlak ialah tindakan lahir manusia, tetapi karena tindakan lahir itu tidak akan terjadi jika tidak didahului oleh gerak-gerik bathin, yaitu tindakan hati, maka tindakan bathin dan gerak-gerik hati pun termasuk lapangan yang diatur oleh akhlak manusia. Jika setiap orang dapat menguasai tindakan bathinnya, maka dapatlah ia menjadi orang yang berakhlak baik.

Tegasnya baik-buruk itu tergantung kepada tindakan hatinya. Dalam hadits Arba’in An Nawawi dituliskan bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Dan ketahuilah bahwasannya, didalam tubuh itu ada segumpal daging yang apabila baik, maka baik pula amalnya, dan apabila buruk, maka buruk pula amalnya, dan ketahuilah bahwa ia adalah hati”.

Hadits ini dengan jelas menerangkan, bahwa hati adalah bagian terpenting dari tubuh manusia, sehingga apapun yang direncanakan oleh hati sejatinya akan sangat berpengaruh pada perbuatan yang akan dilakukan oleh pemiliknya. Dalam hal ini dapatlah diibaratkan bahwa jasad itu bagaikan pemerintahan dalam diri kita, sedangkan hati menjadi pusat pemerintahan. Seseorang yang mempunyai hati dan pendirian yang kuat, meskipun badannya tidak sekuat hatinya, lebih diharapkan akan memperoleh hasil pekerjaannya daripada seseorang yang berbadan kuat tetapi hatinya lemah.

Baca Juga Kajian Penting Tentang : Rukun Sholat : Pengertian, Syarat, Manfaat Dan Makna Sholat Macam Macam Akhlak • Akhlak terpuji (al-akhlaaqul mahmuudah) Yaitu perbuatan baik terhadap Allah, sesama manusia, dan makhluk-makhluk yang lain. Berikut ini contoh akhlak terpuji : • Berbakti kepada kedua orang tua (برّالوالدين) • Menghormati tetanggga dan tamu ( اكرام الجار والضّيف) • Berusaha menimbulkan rasa kasih sayang serta menarik simpati orang lain (كسب الموالدة واستمالة قلو ب النّاس) • Memberikan sumbangan yang bersifat meringankan beban hidup orang-orang yang berhak menerimanya (بذل الصّدقة لمن يستحقها) • Membantu memudahkan urusan sesama manusia bagi yang berkemampuan (تسير امر عسير على اخ عند ذى سلطان) • Akhlak tercela (al-akhlaaqul madzmuumah) Yaitu, perbuatan buruk terhadap Allah, sesama manusia, dan makhluk-makhluk yang lain.

Nerikut ini contoh-contoh akhlak tercela : • Berdusta (الكذب) • Mengumpat (الغيبة) • Mengadu domba (النّميمة) • Iri hati/dengki (الحسد) • Congkak (الأصغر) Ruang Lingkup Akhlak • Akhlak Pribadi Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi.

Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sifat Wajib Dan Mustahil Bagi Nabi & Rosul Serta Dalil Naqlinya • Akhlak Berkeluarga Akhlak ini meliputi kewajiban orang tua, anak, dan karib kerabat.

Kewajiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan pendidik untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna, dengan ajaran –ajaran yang bijak, setiap agama telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai tanggung jawab untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu untuk memiliki akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih sayang.

Sehingga anak akan tumbuh secara sabar, terdidik untuk berani berdiri sendiri, kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga diri, kehormatan dan kemuliaan. Seorang anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih berhak dari segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati dan hormati.

Karena keduanya memelihara,mengasuh, dan mendidik, menyekolahkan engkau, mencintai dengan ikhlas agar engkau menjadi seseorang yang baik, berguna dalam masyarakat, berbahagia dunia dan akhirat. Dan coba ketahuilah bahwa saudaramu laki-laki dan permpuan adalah putera ayah dan ibumu yang juga cinta kepada engkau, menolong ayah dan ibumu dalam mendidikmu, mereka gembira bilamana engkau gembira dan membelamu bilamana perlu.

Pamanmu, bibimu dan anak-anaknya mereka sayang kepadamu dan ingin agar engkau selamat dan berbahagia, karena mereka mencintai ayah dan ibumu dan menolong keduanya disetiap keperluan. • Akhlak Bermasyarakat Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika orang tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan dan menolak kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib atasmu mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat pada tetangga.

Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul di dalam masyarakat. Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri–sendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat.

Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma- norma kesusilaan yang berlaku. • Akhlak Bernegara Mereka yang sebangsa denganmu adalah warga masyarakat yang berbahasa yang sama denganmu, tidak segan berkorban untuk kemuliaan tanah airmu, engkau hidup bersama mereka dengan nasib dan penanggungan yang sama. Dan ketahuilah bahwa engkau adalah salah seorang dari mereka dan engkau timbul tenggelam bersama mereka.

• Akhlak Beragama Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk Tuhan.

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Akhlak Untuk menjelaskan faktor yang mempengaruhi akhlak pada khususnya, dan pendidikan pada umumnya, ada tiga aliran yang sudah amat populer, yaitu aliran Nativisme, aliran Empirisme, dan aliran konvergensi : • Aliran Nativisme Bahwa perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir; pembawaan yang telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah yang menentukan hasil perkembangannya.

Menurut aliran ini, faktor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah faktor pembawaan dari dalam yang bentuknya dapat berupa kecenderungan, bakat, akal, dan lain-lain. Jika seseorang sudah memiliki pembawaan atau kecenderungan kepada yang baik, maka dengan sendirinya orang tersebut menjadi baik.

• Aliran Empirisme Bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pembentukan diri seseorang adalah faktor luar, yaitu lingkungan sosial, termasuk pembinaan dan pendidikan yang diberikan. Jika pendidikan dan pembinaan yang diberikan kepada anak baik, maka baiklah anak itu. Demikian juga sebaliknya. Aliran ini begitu percaya kepada peranan yang dilakukan oleh dunia pendidikan dan pengajaran. Menurut aliran ini, manusia-manusia dapat dididik menjadi apa saja (ke arah yang baik maupun ke arah yang buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidikannya.

Dalam pendidikan, pendapat kaum empiris ini terkenal dengan nama optimisme pedagogis. • Aliran Konvergensier Bahwa pembentukan akhlak dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu pembawan si anak, dan faktor luar yaitu pendidikan dan pembinaan yang dibuat secara khusus, atau melalui interaksi dalam lingkungan sosial. Fitrah dan kecenderungan ke arah yang baik yang ada dalam diri manusia dibina secara intensif melalui berbagai metode. Aliran yang ketiga ini, tampak sesuai dengan ajaran Islam.

hal ini dapat dipahami dari ayat dan hadits di bawah ini: Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Akhlakul Karimah Adalah : Dalil, Pengertian, Jenis, Dan Contohnya وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِّنْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ شَيْأً وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَاْلأَبْصَارَ وَاْلأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (Depag RI, 1989 : 413) Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa manusia memiliki potensi untuk dididik, yaitu penglihatan, pendengaran dan hati sanubari.

Potensi tersebut harus disyukuri dengan cara mengisinya dengan ajara dan pendidikan. Kesesuaian teori konvergensi tersebut di atas, juga sejalan dengan dengan Hadits Nabi saw.

yang berbunyi: كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. (رواه البخارى) Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka ayah dan ibunyalah yang akan menjadikan dia seorang yahudi atu nasrani“.(Sahih Bukhari, Jilid 3, 1995 : 177). Ayat dan hadits tesebut di atas, selain menggambarkan adanya teori konvergensi juga menunjukkan dengan jelas bahwa pelaksana utama dalam pendidikan adalah kedua orang tua. Itulah sebabnya kedua orang tua, khususnya ibu mendapat gelar sebagai madrasah, yakni tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan (Abudin Nata, 2006:169).

Dengan merujuk kepada aliran konvergensi di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi akhlak manusia, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

Menurut Shailun A. Nashir (1992:42) faktor intern yang mempengaruhi akhlak terdiri atas instink, akal dan nafsu. Sedangkan menurut Rahmat Djatnika (1992:72) faktor dari dalam diri manusia itu adalah instink dan akalnya, adat, kepercayaan, keinginan-keinginan, hawa nafsu (passion) dan hati nurani atau wijdan.

Selain itu, faktor intern yang dapat mempengaruhi akhlak juga terdapat dalam diri individu yang bersangkutan, seperti malas, tidak mau bekerja, adanya cacat fisik, cacat psikis dan lainnya. Faktor-faktor berasal dari luar dirinya Adapun faktor yang berasal dari luar dirinya secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, semua yang sampai kepadanya merupakan unsur-unsur yang membentuk akhlak. Faktor-faktor tersebut adalah : • Keturunan • Lingungan • Rumah Tangga • Sekolah • Pergaulan kawan / Persahabatan • Penguasa, Pemimpin Akhlakul Karimah dalam Kaitannya dengan Fungsi Hidup Akhlakul yang baik (al-akhlaqu al-mahmudah) sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, karena dengan akhlak tersebut bisa menyeimbangkan antara antara akhlak yang baik dengan akhlak yang buruk pada perbuatan manusia, maka ukuran dan karakternya selalu dinamis, sulit dipecahkan.

Islam menginginkan suatu masyarakat yang berakhlak mulia. Akhlak mulia ini sangat ditekankan karena di samping akan membawa kebahagiaan bagi individu, juga sekaligus membawa kebahagiaan bagi masyarakat pada umumnya. Dengan kata lain bahwa akhlak utama yang ditampilkan seseorang, tujuannya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat (Abudin Nata, 2000:169-170). Allah Swt. menggambarkan dalam al-Quran tentang janji-Nya terhadap orang yang senantiasa berakhlak baik, di antaranya Q.S.

an-Nahl:97 مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ (النحل:97) Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Orang yang selalu melaksanakan akhlak mulia, mereka akan senantiasa memperoleh kehidupan yang baik, mendapatkan pahala berlipat ganda di akhirat dan akan dimasukkan ke dalam sorga. Dengan demikian, orang yang berakhlak mulia akan mendapatkan keberuntungan hidup di dunia dan di akhirat. Kenyataan sosial membuktikan bahwa orang yang berakhlak baik akan disukai oleh masyarakat, kesulitan dan penderitaannya akan dibantu untuk dipecahkan, walau mereka tidak mengharapkannya.

Peluang, kepercayaan dan kesempatan datang silih berganti kepadanya. Kenyataan juga menunjukkan bahwa orang yang banyak menyumbang, bersedekah, berzakat, tidak akan menjadi miskin, tetapi malah bertambah hartanya. Akhlak karimah merupakan suatu pengamalan yang bersifat ibadah di mana seseorang dalam perilakunya dituntut untuk berbuat baik terhadap Allah swt.

dan berbuat baik terhadap manusia, juga terhadap dirinya sendiri, juga terhadap makhluk Allah yang lainnya. Cara Untuk Menumbuhkan Akhlak Terpuji : Dalam mewujudkan akhlak yang mulia sebagaimana sifat-sifat terpuji yang telah dijelaskan diatas, menurut Buya Hamka ada beberapa kewajiban yang harus ditunaikan antara lain: • Membersihkan hati serta mensucikan hubungan dengan Allah SWT • Memperhatikan seluruh perintah dan larangan agama • Belajar melawan kehendak diri dan menaklukkannya kepada kehendak Allah • Menegakkan persaudaraan di dalam islam Menjadikan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan setiap bertingkah suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan.

Akhlak, Moral, Dan Etika Akhlak Sikap atau prilaku baik dan buruk yang dilakukan secara berulang-ulang dan diperankan oleh seseorang tanpa disengaja atau melakukan pertimbangan terlebih dahulu. Moral Suatu hal yang berkenaan dengan baik dan buruk dengan ukuran tradisi dan budaya yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang.

Etika Suatu ilmu yang mengkaji tentang persoalan baik dan buruk berdasarkan akal pikiran manusia. (Daud Ali, 2008) Sedangkan moral adalah suatu hal yang berkenaan dengan baik dan buruk dengan ukuran tradisi dan budaya yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang.

Berbeda dengan etika dan moral. Perbedaan Akhlak, Etika dan Moral Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa akhlak berbeda dengan etika dan moral.

suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan

Kalau akhlak lebih bersifat transcendental karena berasal dan bersumber dari Allah, maka etika dan moral bersifat relatif, dinamis, dan nisbi karena merupakan pemahaman dan pemaknaan manusia melalui elaborasi ijtihadnya terhadap persoalan baik dan buruk demi kesejahteraan hidup manusia di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat. Berdasarkan perbedaan sumber ini maka etika dan moral senantiasa bersifat dinamis, berobah-obah sesuai dengan perkembangan kondisi, situasi dan tuntutan manusia.

Etika sebagai aturan baik dan buruk yang ditentukan oleh akal pikiran manusia bertujuan untuk menciptakan keharmonisan. Begitu juga moral sebagai aturan baik buruk yang didasarkan kepada tradisi, adat budaya yang dianut oleh sekelompok masyarakat juga bertujuan untuk terciptanya keselarasan hidup manusia.

Etika, moral dan akhlak merupakan salah satu cara untuk menciptakan keharmonisan dalam hubungan antara sesama manusia (habl minannas) dan hubungan vertikal dengan khaliq (habl minallah). Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Agama, Kewarganegaraan, S1, SMA, SMK Ditag 15 pengertian akhlak menurut para ahli, akhlak adalah brainly, akhlak adalah perbuatan yang tertanam dalam diri seseorang sehingga, akhlak kbbi, akhlak terhadap sesama manusia.

pdf, buku akhlak pdf, ciri ciri akhlak, ciri perbuatan akhlak, contoh akhlak, dalil tentang akhlak, dasar dasar akhlak, dasar hukum akhlak, definisi akhlak menurut yusuf qardhawi, etika moral dan akhlak dalam islam ppt, hubungan etika akhlak dan moral, jelaskan pengertian akhlak brainly, jelaskan pengertian wahyu, jurnal akhlak mahmudah dan madzmumah, jurnal tentang akhlak pdf, macam macam adab, macam macam akhlak menurut para ahli, macam-macam akhlak, makalah akhlak, makalah akhlak islamiyah, makalah akhlak kepada allah pdf, makalah pengertian akhlak, materi akhlak, materi akhlak pdf, pembagian akhlak, pengertian adab dan akhlak menurut islam, Pengertian Akhlak, pengertian akhlak baik, pengertian akhlak dalam islam, pengertian akhlak dan dalilnya, pengertian akhlak dan pembagiannya, Pengertian Akhlak Menurut Bahasa Dan Istilah, pengertian akhlak menurut imam al ghazali, pengertian akhlak menurut para ahli, pengertian akhlak menurut para ahli pdf, pengertian akhlak menurut ulama salaf, pengertian akhlak mulia, pengertian akhlak secara etimologi dan terminologi, pengertian akhlak secara luas, pengertian akidah akhlak menurut para ahli, pengertian ilmu akhlak, perbedaan adab dan akhlak, perbedaan adab dan etika, perbedaan akhlak etika dan moral, persamaan akhlak etika dan moral, persamaan akhlak etika moral dan budi pekerti, ruang lingkup akhlak, sebutkan 5 contoh akhlak mahmudah, syarat akhlak, tujuan akhlak, unsur unsur akhlak Navigasi pos Pos-pos Terbaru • “Panjang Usus” Definisi & ( Jenis – Fungsi – Menjaga ) • Pengertian Mahasiswa Menurut Para Ahli Beserta Peran Dan Fungsinya • “Masa Demokrasi Terpimpin” Sejarah Dan ( Latar Belakang – Pelaksanaan ) • Pengertian Sistem Regulasi Pada Manusia Beserta Macam-Macamnya • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh • Higgs domino apk versi 1.80 Terbaru 2022 • Pengertian Gizi – Sejarah, Perkembangan, Pengelompokan, Makro, Mikro, Ruang Lingkup, Cabang Ilmu, Para Ahli • Proses Pembentukan Urine – Faktor, Filtrasi, Reabsorbsi, Augmentasi, Nefron, zat Sisa • Peranan Tumbuhan – Pengertian, Manfaat, Obat, Membersihkan, Melindungi, Bahan Baku, Pemanasan Global • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com
a) Menurut Ibnu Maskawih (941-1030 M) Akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu.

Keadaan ini terbagi dua, ada yang berasal dari tabiat aslinya, ada pula yang diperoleh dari kebiasaan yang berulang-ulang. Boleh jadi, pada mulanya tindakan itu melalui pikiran dan pertimbangan, kemudian dilakukan terus-menerus, maka jadilah suatu bakat dan akhlak.” c) Muhyidin Ibnu Arabi (1165-1240 M) menyatakan Akhlak adalah Keadaan jiwa seseorang yang mendorong manusia untuk berbuat tanpa melalui pertimbangan dan pilihan terlebih dahulu. Keadaan tersebut pada seseorang boleh jadi merupakan tabiat atau bawaan, dan boleh jadi juga merupakan kebiasaan melalui latihan dan perjuangan.

Semua pengertian diatas memberi pengertian gambaran bahwa tingkah laku merupakan bentuk kepribadian seseorang tanpa dibuat-buat atau spontan atau tanpa ada dorongan dari luar. Jika baik menurut pandangan akal dan agama, tindakan suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan itu dinamakan akhlak yang baik ( al-akhlakul karimah/al-akhlakul mahmudah), sebaliknya jika tindakan spontan itu buruk disebut al-akhlakul madzmudah.Sebagian ulama member defenisi mengenai akhlak,yaitu: a) Perbuatan itu dilakukan berulang-ulang.

Kalau perbuatan itu dilakukan hanya sesekali saja, maka tidak dapat disebut akhlak. Misalnya, pada saat orang yang jarang berderma tiba-tiba memberikan uang kepada orang lain karena alasan tertentu. Tindakan seperti ini tidak bisa disebut murah hati berakhlak dermawan karena hal itu tidak melekat di dalam jiwanya.

Kemudian, secara etimologi istilah tasawuf, menurut Amin Syukur adalah istilah yang baru di dunia islam. Istilah tersebut belum ada pada zaman Rasulullah Saw, juga pada zaman para sahabat, namun prakteknya sudah dijalankan pada masa itu. Bahkan, tasawuf sendiri tidak ditemukan dalam Al-Quran. Tasawuf adalah sebutan untuk mistisisme Islam. Dalam pandangan etimologi kata sufi mempunyai pengertian yang berbeda. c) Ibn Khaldun mendefenisikan tasawuf adalah semacam ilmu syar’iyah yang timbul kemudian dalam agama.

Asalnya ialah bertekun ibadah dan memutuskan pertalian dengan segala selain Allah, hanya menghadap kepada Allah semata. Menolak hiasan-hiasan dunia, serta membenci perkara-perkara yang selalu memperdaya orang banyak, kelezatan harta benda, dan kemegahan.

Dan menyendiri menuju jalan Tuhan dalam khalwat dan ibadah. Pokok pokok yang dibahas dalam ilmu akhlak adalah intinya perbuatan manusia. Perbuatan tersebut di tentukan kriterianya apakah baik atau buruk manusia, dan mempunyai ciri ciri perbuatan yang dilakukan atas kehendak dan kemauan, telah dilakukan secara berlanjut sehingga menjadi tradisi dalam kehidupannya.

3. Psikologi, yaitu masalah yang berhubungan dengan jiwa. Psikologi dalam pandangan tasawuf sangat berbeda dengan psikologi modern. Psikologi modern ditujukan untuk menyelidiki manusia bagi orang lain, yakni jiwa orang lain yang diselidikinya.

Sedangkan psikologi dalam tasawuf memfokuskan penyelidikan terhadap diri sendiri, yakni diarahkan terhadap penyadaran diri sendiri dan menyadari kelemahan dan kekurangan dirinya untuk kemudian memperbaiki menuju kesempurnaan nilai pribadi yang mulia.

Tasawuf bertujuan untuk memperoleh suatu hubungan khusus langsung dari Tuhan. Hubungan yang dimaksud mempunyai makna dengan penuh kesadaran, bahwa manusia sedang berada di hadirat Tuhan. Kesadaran tersebut akan menuju kontak komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan Tuhan. Keberadaannya yang dekat dengan Tuhan akan berbentuk “ijtihad” (bersatu) dengan Tuhan.

Tasawuf atau mistisisme dalam islam beresensi pada hidup dan berkembang mulai dari bentuk hidup “kezuhudan”. Tujuan tasawuf untuk bisa berhubungan langsung dengan Tuhan. Dengan maksud ada perasaan benar-benar berada di hadirat Tuhan. Dengan demikian, maka tampaklah jelas bahwa ruang lingkup ilmu tasawuf itu adalah hal yang berkenaan dengan upaya-upaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang bertujuan untuk memperoleh suatu hubungan khusus secara langsung dari Tuhan. Pada dasarnya, tujuan pokok akhlak adalah agar setiap muslim berbudi pekerti, bertingkah laku, berperangai atau beradat-istiadat yang baik sesuai dengan ajaran islam.

Kalau diperhatikan, ibadah-ibadah inti dalam Islam memiliki tujuan pembinaan akhlak mulia. Shalat bertujuan mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tercela; zakat di samping bertujuan menyucikan harta juga bertujuan menyucikan diri dengan memupuk kepribadian mulia dengan cara membantu sesama; puasa bertujuan mendidik diri untuk menahan diri dari berbagai syahwat; haji bertujuan diantaranya memunculkan tenggang rasa dan kebersamaan dengan sesama.

Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”(Qs.Al Araf [7]: 33).

Kemudian, tujuan mempelajari tasawuf adalah ma’rifatullah (mengenal Allah secara mutlak dan lebih jelas). Tasawuf memiliki tujuan yang baik yaitu kebersihan diri dan taqarrub kepada Allah.

Namun tasawuf tidak boleh melanggar apa-apa yang telah secara jelas diatur oleh Al-Quran dan As-Sunnah, baik dalam aqidah, pemahaman ataupun tata cara yang dilakukan.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Etika, moral, susila dan ilmu akhlak. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah tersebut, namun banyak dari kita yang sering keliru mengartikan ke-empat hal tersebut.

Etika adalah ilmu yang mempelajari tentang baik atau buruk suatu perbuatan yang harus dilakukan oleh manusia. Moral adalah perbuatan atau tingkah laku yang digunakan oleh manusia dalam bertindak yang didalamnya terdapat batasan-batasan yang terbentuk oleh adat istiadat suatu daerah. Sedangkan susila adalah upaya untuk membimbing suatu masyarakat sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

Dan ilmu akhlak sendiri adalah ilmu yang mempelajari sifat-sifat manusia sejak lahir. Sekilas menurut pengertian dari ke-empat hal tersebut adalah sama, namun sebenarnya bila dikaji lebih dalam akan menimbulkan persamaan bahkan perbedaan dalam ke-empat hal tersebut.

Untuk lebih memahami persamaan dan perbedaan ke-empat hal tersebut makan akan dikaji lebih dalam dalam bab berikutnya. 1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas, dapat ditarik beberapa rumusan masalah sebagai berikut: • Bagaimana Pengertian Etika?

suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan

• Bagaimana Pengertian Moral? • Bagaimana Pengetian Susila? • Bagaimana Pengertian Ilmu Akhlak? • Bagaimana Persamaan Etika, Moral, Susila dengan Ilmu Akhlak?

• Bagaimana Persamaan Etika, Moral, Susila dengan Ilmu Akhlak? 1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut: • Untuk mengetahui secara mendalam mengenai etika. • Untuk mengetahui secara mendalam mengenai moral. • Untuk mengetahui secara mendalam mengenai susila.

• Untuk mengetahui secara mendalam mengenai ilmu akhlak. • Untuk mengetahui secara mendalam mengenai persamaan etika, moral, susila dengan ilmu akhlak. • Untuk mengetahui secara mendalam mengenai perbedaan etika, moral, susila dengan ilmu akhlak. BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Etika Secara etimologis, etika berasal dari bahasa latin, etos, yang berarti kebiasaan. Berasal dari bahasa yunani, yaitu ethos yang memiliki pengertian adat istiadat (kebiasaan), perasaan batin kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan.

Dalam kajian filsafat, etika merupakan bagian dari filsafat yang mencakup meta fisika, kosmologi, psikologi, logika, hukum, sosiologi, ilmu sejarah dan estetika. Dari pandangan filosofis Epikuros, dapat di ambil suatu pemahaman tentang arti etika, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan nilai-nilai tindakan manusia yang menurut ukuran rasio dinyatakan dan diakui sebagai sesuatu yang subtansinya paling benar.

Kaidah-kaidah kebenaran dari tindakan digali oleh akal sehat manusia dan distandardisasi menurut ukuran yang rasional, seperti sumber kebenaran adalah jiwa, nilai kebenaran jiwa itu kekal, segala yang tidak kekal pada dasarnya bukan kebenaran subtansial.

Pandangan yang berhubungan dengan pengertian etika di atas, dapat diambil sebagai suatu pemahaman bahwa etika adalah cara pandang manusia tentang tingklah laku yang baik dan benar, dan dari cara pandang itu dapat digali dari beberapa sumber, kemudian dijadikan sebagai tolak ukur bagi suatu tindakan dengan pendekatan yang rasional dan filosofis. Dari bebearapa definisi etika tersebut, dapat diketahui bahwa etika berhubungan dengan 4 hal sebagai berikut • Dari segi objek pembahasannya, etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan oleh manusia.

• Dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat. • Dari segi fungsinya etika berfungsi sebagai penilai, penentu, dan penetap terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia.

• Dari segi sifatnya, etika bersifat relatif yakni sesuai dengan tuntutan zaman. 2.2 Pengertian Moral Kata moral berasal dari bahasa latin “ mores” kata jama’ dari “ mos” berarti adat kebiasaan. Dalam bahasa indonesia, moral diterjemahkan dengan arti tata susila. Moral adalah perbuatan baik dan buruk yang didasarkan pada kesepakatan masyarakat.

Moral merupakan istilah tentang perilaku atau akhlak yang diterapkan kepada manusia sebagai individu maupun sebagai sosial. Sidi Gazalba mengatakan, moral ialah sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan yang wajar. Untuk itu dia, menyimpulkan bahwa moral itu adalah suatu tindakan yang sesuai dengan ukuran tindakan yang umum diterima oleh kesatuan sosial atau lingkungan tertentu. Fran Magnis Suseno menjelaskan bahwa kata moral selalu mengacu kepada baik buruknya sebagai seorang manusia.

Bidang moral adalah kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. 2.3 Pengertian Susila Susila atau juga sering disebut kesusilaan, berasal dari kata susila yang berasal dari bahasa sansekerta, yaitu “ su” yang berarti baik dan “ sila” yang berarti dasar, prinsip peraturan hidup atau norma. Kata susila selanjutnya digunakan untuk arti sebagai aturan hidup yang lebih baik.

Orang yang susila adalah orang yang berkelakuan baik, sedangkan orang yang asusila adalah orang yang berkelakuan buruk. Susila dapat pula berarti sopan, beradap, baik budi bahasanya. Dan kesusilaan suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan dengan kesopanan. Kesusilaan menggambarkan keadaan dimana orang selalu menerapkan nilai-nilai yang dipandang baik.

2.4 Pengertian Ilmu Akhlak Menurut pendekatan etimologi, perkataan “akhlaq” berasal dari bahasa arab jama’ dari bentuk mufrodnya خلق yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Menurut ibnu athir dalam bukunya an-nihayah menerangkan bahwa hakikat makna khuluq ialah gambaran batin manusia yang tepat (yaitu jiwa dan sifat-sifatnya), sedangkan khalqu merupakan gambaran bentuk luarnya (yaitu yang berhubungan dengan jasad/badan).

Menurut abd. Hamid Yunus akhlaq adalah الاخلاق هي صفاة الانسان الادابية “ akhlaq ialah segala sifat manusia yang mendidik.” Adapun untuk definisi akhlak secara istilah adalah sebagai berikut • Menurut ibnu miskawaih, yang dimaksud dengan akhlaq adalah حال للنفس داعية لها الى افعالها من غير فكر ولاروية “Keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu.” • Menurut Imam Al-Ghazali, yang dimaksud dengan akhlaq adalah فالخلق عبارة عن هيئة في النفس راسخة عنها تصدر الافعال بسهولة ويسر من غير حاجة الى فكر ورؤية “Akhlaq ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebih dulu).” • Menurut Prof.

Dr. Ahmad Amin, yang dimaksud dengan akhlaq adalah عرف بعضهم الخلق بأنه عادة الارادة يعنى ان الارادة اذا اعتادت شيئا فعادتها هي المسماة الحق “Sementara orang mengetahui bahwa yang disebut akhlaq ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya, kehendak itu bila membiasakan sesuatu, kebiasaan itu dinamakan akhlaq.” Menurut beberapa pengertian di atas, ilmu akhlaq itu mengandung unsur-unsur sebagai berikut: • Menjelaskan baik dan buruk. • Menerangkan apa yang seharusnya dilakukan seseorang serta bagaimana cara kita bersikap antar sesama.

• Mmenjelaskan mana yang patut kita perbuat. • Menunjukkan jalan lurus yang hendak kita lewati. Dari beberapa pengertian di atas juga dapat disimpulkan bahwa terdapat 5 ciri-ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak, yaitu: • Perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga telah menjadi kepribbadiannya • Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran.

• Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. • Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena sandiwara. • Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas ssemata-mata karena Allah.

Berdasarkan beberapa bahasan yang berkaitan dengan ilmu akhlaq, maka dapat dipahami bahwa objek (lapangan/sasaran) pembahasan ilmu akhlaq itu ialah tindakan-tindakan seseorang yang dapat di berikan nilai baik atau buruknya, yaitu perkataan dan perbuatan yang termasuk ke dalam kategori perbuatan akhlaq.

2.5 Persamaan Etika, Moral, Susila dengan Ilmu Akhlak • Persamaan ketiganya terletak pada fungsi dan peran, yaitu menentukan hukumatau nilai dari suatu perbuatan manusia untuk ditetapkan baik atau buruk. • Secara rinci persamaan tersebut terdapat dalam tiga hal: Objek: yaitu perbuatan manusia 2.

Ukuran: yaitu baik dan buruk 3. Tujuan: membentuk kepribadian manusia 2.6 Perbedaan Etika, Moral, Susila dengan Ilmu Akhlak Peredaan antara akhlak, etika, moral dan susila adalah terletak pada sumber yang dijadikan patokan untuk menentukan baik dan buruk.

Jika dalam etika penilaian baik buruk berdasarkan pendapat akal pikiran, dan pada moran dan susila berdasarkan kebiasaan yang berlaku secara umum dimasyarakat, maka pada akhlak ukuran yang digunakan untuk menentukan baik dan buruk itu adalah berdasarkan al-Qur’an dan al Hadits.

Perbedaan lain antara etika, moral, dan susila terlihat pula pada sifat dan kawasan pembahasannya. Jika etika lebih banyak bersifat teoritis, maka pada moral dan susila lebih banyak bersifat praktis.

Etika memandang tingkah laku manusia secara umum, sedangkan moral dan susila menyatakan ukuran tersebut dalam bentuk perbuatan. Namun demikian akhlak, etika, moral dan susila tetap saling berhubungan dan membutuhkan. Etika, moral dan susila berasal dari manusia, sedangkan akhlak berasal dari Tuhan. Pada sisi lain akhlak juga berperan untuk memberikan batas-batas umum, agar apa yang dijabarkan dalam etika, moral dan susila tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang luhur dan tidak membawa manusia menjadi sesat.

Dengan kata lain penjabaran etika, moral dan susila akan tetap sejalan apabila tetap mengedepankan akhlak. BAB 3 PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Dari pemapaparan pembahasan diatas mengenai etika, susila, moral dan ilmu akhlak maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. • ETIKA Secara etimologis, etika berasal dari bahasa latin, etos, yang berarti kebiasaan.

Berasal dari bahasa yunani, yaitu ethos yang memiliki pengertian adat istiadat (kebiasaan), perasaan batin kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan. Dari pandangan filosofis Epikuros, dapat di ambil suatu pemahaman tentang arti etika, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan nilai-nilai tindakan manusia yang menurut ukuran rasio dinyatakan dan diakui sebagai sesuatu yang subtansinya paling benar. Pandangan yang berhubungan dengan pengertian etika di atas, dapat diambil sebagai suatu pemahaman bahwa etika adalah cara pandang manusia tentang tingklah laku yang baik dan benar, dan dari cara pandang itu dapat digali dari beberapa sumber, kemudian dijadikan sebagai tolak ukur bagi suatu tindakan dengan pendekatan yang rasional dan filosofis.

Dari bebearapa definisi etika tersebut, dapat diketahui bahwa etika berhubungan dengan 4 hal sebagai berikut • Dari segi objek pembahasannya, etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan oleh manusia. • Dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat.

• Dari segi fungsinya etika berfungsi sebagai penilai, penentu, dan penetap terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia. • Dari segi sifatnya, etika bersifat relatif yakni sesuai dengan tuntutan zaman. • MORAL Kata moral berasal dari bahasa latin “ mores” kata jama’ dari “ mos” berarti adat kebiasaan.

Dalam bahasa indonesia, moral diterjemahkan dengan arti tata susila. Moral adalah perbuatan baik dan buruk yang didasarkan pada kesepakatan masyarakat. Moral merupakan istilah tentang perilaku atau akhlak yang diterapkan kepada manusia sebagai individu maupun sebagai sosial. • SUSILA Susila atau juga sering disebut kesusilaan, berasal dari kata susila yang berasal dari bahasa sansekerta, yaitu “ su” yang berarti baik dan “ sila” yang berarti dasar, prinsip peraturan hidup atau norma.

Susila dapat pula berarti sopan, beradap, baik budi bahasanya. Dan kesusilaan sama dengan kesopanan. Kesusilaan menggambarkan keadaan dimana orang selalu menerapkan nilai-nilai yang dipandang baik. • ILMU AKHLAK Menurut pendekatan etimologi, perkataan “akhlaq” berasal dari bahasa arab jama’ dari bentuk mufrodnya خلق yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Ilmu akhlaq itu suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan unsur-unsur sebagai berikut: • Menjelaskan baik dan buruk.

• Menerangkan apa yang seharusnya dilakukan seseorang serta bagaimana cara kita bersikap antar sesama. • Mmenjelaskan mana yang patut kita perbuat. • Menunjukkan jalan lurus yang hendak kita lewati. • Dari beberapa pengertian di atas juga dapat disimpulkan bahwa terdapat 5 ciri-ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak, yaitu: • Perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga telah menjadi kepribbadiannya • Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran.

• Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. • Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena sandiwara. • Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas ssemata-mata karena Allah.

• Persamaan Etika, Moral, Susila dengan Ilmu Akhlak Persamaan ketiganya terletak pada fungsi dan peran, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan manusia untuk ditetapkan baik atau buruk. Secara rinci persamaan tersebut terdapat dalam tiga hal: A.

Objek: yaitu perbuatan manusia B. Ukuran: yaitu baik dan buruk C. Tujuan: membentuk kepribadian manusia • Perbedaan Etika, Moral, Susila dengan Ilmu Akhlak Peredaan antara akhlak, etika, moral dan susila adalah terletak pada sumber yang dijadikan patokan untuk menentukan baik dan buruk. Jika dalam etika penilaian baik buruk berdasarkan pendapat akal pikiran, dan pada moran dan susila berdasarkan kebiasaan yang berlaku secara umum dimasyarakat, maka pada akhlak ukuran yang digunakan untuk menentukan baik dan buruk itu adalah berdasarkan al-Qur’an dan al Hadits.

Perbedaan lain antara etika, moral, dan susila terlihat pula pada sifat dan kawasan pembahasannya. Jika etika lebih banyak bersifat teoritis, maka pada moral dan susila lebih banyak bersifat praktis.

Etika memandang tingkah laku manusia secara umum, sedangkan moral dan susila menyatakan ukuran tersebut dalam bentuk perbuatan. Namun demikian akhlak, etika, moral dan susila tetap saling berhubungan dan membutuhkan. Etika, moral dan susila berasal dari manusia, sedangkan akhlak berasal dari Tuhan. Pada sisi lain akhlak juga berperan untuk memberikan batas-batas umum, agar apa yang dijabarkan dalam etika, moral dan susila tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang luhur dan tidak membawa manusia menjadi sesat.

Dengan kata lain penjabaran etika, moral dan susila akan tetap sejalan apabila tetap mengedepankan akhlak. DAFTAR PUSTAKA AR, Drs. Zahrudin. M.M.Si dan Hasanuddin S. 2004. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta : PT. Raja Grafindo. Haris, Dr. Abd. 2010. Etika Hamka. Yogyakarta : PT. LkiS Printing Cemerlang.

Mustofa, Drs. H. A. 2007. Akhlak Tasawuf. Bandung : CV Pustaka Setia. Nata, Prof. Dr. H. Abiddin, M.A. 2009. Akhlak Tasawuf.

suatu keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan disebut dengan

Jakarta : PT Rajagrafindo Persada. Saebani, Drs. Beni A., M.Si. 2010. Ilmu Akhlak. Bandung : CV Pustaka Setia. http://jawharie.blogspot.co.id/2010/11/etika-moral-susila-dan-akhlak.html http://wavekuliahonline.blogspot.co.id/2014/05/perbedaan-antara-akhlaq-etika-moral-dan.html

Pengantar Sosiologi




2022 www.videocon.com