Air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses

air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses

DAFTAR ISI: β€’ Definisi Hidrologi (Siklus Air) β€’ Proses Terjadinya Hujan β€’ Istilah dalam Siklus Hidrologi β€’ Neraca Air β€’ Presipitasi β€’ Evaporasi dan Transpirasi β€’ lnfiltrasi/Perkolasi Definisi Hidrologi (Siklus Air) Hidrologi adalah suatu ilmu yang menelaah tentang masalah masalah teknis keairan, berkenaan dengan persediaan dan peredaran atau sirkulasinya. Objek telaah hidrologi meliputi aspek aspek presipitasi, evaporasi, dan transpirasi, aliran permukaan dan air tanah.

Air selalu berada dalam daur hidrologi, sehingga jumlahnya relatif tetap. Jumlah penyebaran air di dunia dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel distribusi air di dunia Lokasi Volume (km3) persentase (%) Samudra 1.323.000.000 97,2 Laut danau asin 104.000 0,008 Es glasir 30.500.000 2,15 Air tanah 8.350.000 0,61 Air permukaan 67.000 0,05 Danau air tawar 125.000 0,009 Sungai (volume rata-rata) 1.670 0,0001 Atmosfer 12.900 0,001 Lain-lain 375.000 0,028 TOTAL 1.362.000.000 100,000 Tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar air di dunia ini ditemukan dalam bentuk air asin (97,208).

Air tawar hanya 2,700 yang terdiri dari air atmosfer, air permukaan, air tanah, dan air salju atau es. Selanjutnya yang dimaksud dengan air adalah air tawar yang tidak ter masuk salju dan es.

Di Indonesia jumlah dan pemakaian air bersumber pada air tanah, air permukaan dan air atmosfer, yang ketersediaannya sangat ditentukan oleh air atmosfer atau sering dikenal dengan air hujan. Siklus hidrologi merupakan suatu fenomena alam. Secara umum, pergerakan air di alam terdiri dari berbagai peristiwa, yaitu: β€’ Penguapan air (evaporasi) β€’ Pembentukan awan (kondensasi) β€’ Peristiwa jatuhnya air ke bumi/hujan (presipitasi) β€’ Aliran air pada permukaan bumi dan di dalam tanah Lingkungan air disebut juga hidrosfer.

Lingkungan ini sangat erat berlangsung hanya bila kebutuhan air secara kualitatif dan kuantitatif dapat dipenuhi. Sekalipun air jumlahnya relatif konstan, tetapi air tidak diam, melainkan bersikulasi akibat pengaruh cuaca, sehingga terjadi suatu siklus yang disebut siklus hidrologi. Proses Terjadinya Hujan Secara umum, Siklus Air dan Daur Hidrologi dapat diterangkan sebagai berikut; Siklus hidrologi Air di bumi mengalami sirkulasi yang terus-menerus sepanjang masa.

Menguap, mengembun, dan mengalir. Air menguap ke udara dari permukaan bumi berubah menjadi awan sesudah melalui beberapa proses, kemudian jatuh kembali ke permukaan bumi dalam bentuk hujan, baik hujan air ataupun hujan es atau salju. Sebelum tiba di permukaan bumi, sebagian langsung menguap kembali ke udara dan sebagian sisanya tiba di permukaan bumi, yakni ke daratan (termasuk sungai dan danau) dan ke laut.

Baca juga: HIV: Gejala, Penyebab dan Pengobatan Dari bagian yang tidak langsung menguap kembali ke udara tadi, tidak semuanya pula benar benar mencapai tanah, melainkan sebagian tertahan oleh tumbuh-tumbuhan. Air yang tertahan oleh tetumbuhan ini sebagian akan menguap ke udara, sebagian sisanya jatuh atau mengalir melalui dahan dahan ke permukaan tanah. Air hujan yang tiba di permukaan bumi, sebagian masuk menyusup ke dalam tanah, bagian lainnya masuk mengisi lekuk-lekuk permukaan tanah, mengalir ke daerah-daerah yang rendah dan kemudian masuk ke sungai untuk akhirnya bermuara ke laut.

Sebagian air yang masuk ke dalam tanah segera kembali keluar memasuki sungai sungai dan akhirnya pun ke laut. Akan tetapi, sebagian besar tersimpan di dalam tanah sebagai air tanah, kemudian dalam jangka waktu yang lama keluar sedikit demi sedikit ke daerah daerah yang rendah di permukaan tanah. Sementara itu butir-butir air yang mengalir di permukaan tanah, yakni yang tidak sampai masuk ke dalam tanah, tidak seluruhnya sampai ke laut.

Dalam perjalanannya menuju laut sebagian menguap kembali ke udara. Uap uap air yang naik ke atmosfer bumi kembali terbentuk menjadi awan dan kelak pun akan jatuh kembali berupa hujan. Kegiatan ini berlangsung terus menerus sepanjang masa tanpa pernah berhenti.

Istilah dalam Siklus Hidrologi Proses mengembunnya uap air menjadi hujan dan jatuh menuju bumi dinamakan presipitasi ( precipitation). Proses menguapnya air dari daratan dan lautan menuju atmosfer bumi dinamakan evaporasi ( evaporation), sedangkan proses menguapnya air dari tanaman disebut transpirasi (transpiration), keduanya secara bersama-sama disebut evapotranspirasi. Adapun proses masuknya air ke dalam tanah yang menyusup melalui pori-pori tanah dinamakan infiltrasi ( infiltration) atau perkolasi ( percolation).

Aliran air di permukaan bumi dari daratan ke sungai kemudian akhirnya ke laut dinamakan aliran permukaan ( surface stream flow). Aliran air yang masuk ke dalam tanah tapi kemudian segera kembali keluar dan menuju sungai disebut aliran intra ( inter flow). Air yang tersimpan di dalam tanah atau di antara lapisan-lapisan tanah dinamakan air tanah ( ground water). Secara keseluruhan, sirkulasi air yang berlangsung di bumi ini mencakup semua proses tadi dan disebut daur hidrologi ( hidrological cycle).

Siklus hidrologi merupakan aspek penting untuk yang menyuplai daerah daratan dengan air. Selain itu juga siklus hidrologi merupakan salah satu proses alami untuk membersihkan air dari pencemar, dengan syarat bahwa kualitas sudah cukup bersih. Baca juga: 5 Mitos dan Fakta Seputar Kafein Neraca Air Tak seorang pun dapat menduga dengan tepat berapa jumlah air yang berevaporasi dan berpresipitasi pada suatu titik waktu tertentu.

Akan tetapi, ada suatu konsensus di kalangan para ahli mengenai volume tahunan evaporasi dan presipitasi dalam daur hidrologi. Konsensus tersebut menyepakati bahwa setiap tahunnya diperkirakan sebanyak 500 Tm3 atau 5.10.17 liter air berevaporasi dan berpresipitasi.

Selain itu tabel di bawah ini juga menjelaskan bahwa setiap tahun terdapat kelebihan presipitasi di daratan sekitar (120 – 80 =) 40 Tm3, sementara pada saat yang sama terjadi kelebihan presipitasi di daratan inilah bersama sama dengan air tanah yang dipompakan keluar yang merupakan air yang digunakan sehari hari. Perkiraan volume tahunan air yang berevaporasi dan berpresipitasi (dalam terameter kubik, 10.15 liter) Evaporasi Presipitasi Dari laut 420 Tm3 Ke laut 380 Tm3 Dari darat 80 Tm3 Ke darat 120 Tm3 Jumlah air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses Jumlah 500 Tm3 Angka-angka yang tertera di atas bukanlah angka-angka yang konstan, melainkan merupakan perkiraan rata-rata.

Sirkulasi air yang sesungguhnya tidak merata, tidak selalu sama jumlahnya. S ering kali bahkan terjadi perbedaan besar antara tahun yang satu dan tahun lainnya, dari satu musim ke musim berikutnya, juga antara wilayah yang satu dan wilayah lainnya. Sirkulasi tersebut dipengaruhi oleh kondisi kondisi meteorologis dan kondisi-kondisi topografis, tetapi kondisi meteorologis relatif lebih menentukan.

Perbedaan sirkulasi inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan tingkat ketersediaan air antara satu tempat dan tempat lain, antara satu saat dan saat lain, sehingga timbul berbagai macam kesulitan. Jika terjadi sirkulasi yang berlebihan, maka terjadi banjir, sehingga diperlukan usaha pengendaliannya.

Akan tetapi jika terjadi sirkulasi yang kurang, maka diperlukan upaya pengadaan air dari sumber lain atau peningkatan efisiensi penggunaannya. Dalam proses sirkulasi air di suatu wilayah untuk suatu periode tertentu, terdapat hubungan keseimbangan antara air yang masuk ke dalam dan keluar dari wilayah tersebut. Hubungan keseimbangan antara aliran ke dalam dan aliran keluar ini dinamakan neraca air, antara lain; Presipitasi Baca juga: Manfaat Wortel Bagi Kesehatan (Plus Resep Jus Wortel Yang Patut Kamu Coba) Biasanya diukur dalam jangka waktu dua jam.

Intensitas curah hujan sekaligus juga mencerminkan derajat hujan yang bersangkutan, hubungannya berbanding lurus. Dengan demikian, semakin besar angka intensitasnya semakin tinggi derajat hujan tersebut.

Intensitas curah hujan juga mencerminkan sifat hujannya, hubungannya pun berbanding lurus. Akan tetapi, derajat hujan dan sifat hujan mempunyai pola hubungan yang sama terhadap intensitas curah hujan.

Evaporasi dan Transpirasi Evaporasi adalah proses menguapnya air dari permukaan daratan dan permukaan lautan menuju atmosfer bumi.

air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses

Adapun transpirasi adalah proses menguapnya air dari tanaman menuju atmosfer bumi. Besar kecilnya evaporasi dipengaruhi oleh faktor-faktor suhu, air, suhu udara, kelembapan tanah, kecepatan angin, tekanan udara, dan sinar matahari berbanding luas dengan besarnya evaporasi. Sementara kelembapan tanah, kecepatan angin dan tekanan udara berbanding terbalik dengan besarnya evaporasi. Perhitungan besarnya evaporasi dinyatakan dalam satuan mm/hari. Perhitungan besarnya transpirasi biasanya juga dinyatakan dalam satuan mm/hari.

Besar kecilnya transpirasi dipengaruhi oleh faktor-faktor kadar kelembapan tanah dan jenis tanamannya. Evapotranspirasi/evaporasi dan transpirasi merupakan faktor dasar yang penting untuk menentukan kebutuhan air dalam suatu rencana irigasi. Perhitungan evapotranspirasi dapat dilakukan dengan menggunakan suatu alat yang dinamakan Lysimeter. lnfiltrasi/Perkolasi Jika curah hujan tiba di permukaan tanah, maka sebagian akan terserap masuk ke dalam tanah dan sebagian lagi akan bergerak mengalir di permukaan tanah.

Air yang masuk ke dalam tanah sebagian akan segera kembali keluar menjadi aliran intra ( interflow), sedangkan sebagian lainnya masuk lebih dalam mengisi celah-celah atau lapisan tanah menjadi air tanah ( groundwater). Sementara itu, curah hujan yang tidak masuk ke dalam tanah, yang langsung bergerak mengalir di permukaan tanah, akan menjadi limpasan permukaan ( surface runoff).

Proses masuknya air ke dalam tanah dinamakan infiltrasi atau perkolasi. Kapasitas infiltrasi air atau curah hujan berbeda beda antara satu tempat dan tempat lain, tergantung pada kondisi tanahnya. Apabila tanahnya cukup permeabel, cukup mudah ditembus air, maka laju infiltrasinya akan tinggi. Semakin tinggi tingkat permeabilitas tanah semakin tinggi pula laju infiltrasiya.

Secara terinci, faktor-faktor yang memengaruhi infiltrasi adalah sebagai berikut: β€’ Dalamnya genangan di atas permukaan tanah dan tebalnya lapisan yang jenuh β€’ Kelembapan tanah pada lapisan atas (top soil) β€’ Pemampatan oleh curah hujan β€’ Penyumbatan oleh bahan-bahan halus β€’ Pemampatan oleh manusia dan hewan β€’ Struktur tanah β€’ Tumbuh tumbuhan β€’ Udara yang terdapat di dalam tanah. Pustaka: Sumantri, Arif. 2010. Kesehatan Lingkungan Edisi Keempat. Jakarta: Kencana. MENU β€’ Home β€’ SMP β€’ Matematika β€’ Agama β€’ Bahasa Indonesia β€’ Pancasila β€’ Biologi β€’ Kewarganegaraan β€’ IPS β€’ IPA β€’ Penjas β€’ SMA β€’ Matematika β€’ Agama β€’ Bahasa Indonesia β€’ Pancasila β€’ Biologi β€’ Akuntansi β€’ Matematika β€’ Kewarganegaraan β€’ IPA β€’ Fisika β€’ Biologi β€’ Kimia β€’ IPS β€’ Sejarah β€’ Geografi β€’ Ekonomi β€’ Sosiologi β€’ Penjas β€’ SMK β€’ Penjas β€’ S1 β€’ Agama β€’ IMK β€’ Pengantar Teknologi Informasi β€’ Uji Kualitas Perangkat Lunak β€’ Sistem Operasi β€’ E-Bisnis β€’ Database β€’ Pancasila β€’ Kewarganegaraan β€’ Akuntansi β€’ Bahasa Indonesia β€’ S2 β€’ Umum β€’ About Me Siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah stop dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi.

Pemanasan air laut oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berlangsung secara terus menerus. Air flow berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan es serta salju (sleet), hujan gerimis atau kabut. Pengertian Siklus Hidrologi Menurut Para Ahli Berikut ini terdapat beberapa pengertian siklus hidrologi menurut para ahli, diantaranya adalah: Siklus hidrologi menurut Air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses (1987) adalah gerakan air laut ke udara, yang kemudian jatuh ke permukaan tanah lagi sebagai hujan atau bentuk presipitasi lain, dan akhirnya mengalir ke laut kembali.

Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu. Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Pengertian, Jenis Dan Dampak Ekploitasi Sungai Tahapan Siklus Air ( Siklus Hidrologi ) Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi akibat tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak alamenurut, kontinu dalam tiga teknik yang berbeda : 1.

Evaporasi / Transpirasi Air yang terdapat di laut, pada daratan, di sungai, dalam tanaman, dsb. kemudian jadi menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan jadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) tersebut akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, hujan es.

2. Infiltrasi / Perkolasi Ke Dalam Tanah Air bergerak ke dalam tanah melampaui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah.

Air meraih bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau side to side dibawah permukaan tanah sehingga air tersebut memasuki balik sistem air permukaan.

3. Air Permukaan Air bergerak tadinya permukaan tanah dekat dengan aliran utama lalu danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar.

Aliran permukaan tanah dapat dilihat pada umumnya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama yang lain dan membentuk sungai primer yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah haluan sungai menuju laut.

Air Permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan segenap air bawah permukaan jadi terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses perjalanan air di daratan itu timbul dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk sistem Kota Aliran Sungai (DAS). Total air di bumi sebagaiselaku, ala, menurut, keseluruhan relatif tetap, yang berubah adalah wujud kemudian tempatnya.

Tempat terbesar timbul di laut. Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Pengertian, Penyebab Dan Dampak Polusi Air Lengkap Dengan Cara Penanggulangannya Proses Terjadinya Siklus Air Siklus hidrologi adalah perputaran air dengan perubahan berbagai bentuk dan kembali pada bentuk awal. Hal ini menunjukkan bahwa volume air di permukaan bumi sifatnya tetap. Meskipun tetap dengan perubahan iklim dan cuaca, letak mengakibatkan volume dalam bentuk tertentu berubah, tetapi secara keseluruhan air tetap.

Siklus air secara alami berlangsung cukup panjang dan cukup lama. Sulit untuk menghitung secara tepat berapa lama air menjalani siklusnya, karena sangat tergantung pada kondisi geografis, pemanfaatan oleh manusia dan sejumlah faktor lain.

Siklus air atau siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Sama seperti proses fotosintesis pada siklus karbon, matahari juga berperan penting dalam siklus hidrologi. Matahari merupakan sumber energi yang mendorong siklus air, memanaskan air dalam samudra dan laut.

Akibat pemanasan ini, air menguap sebagai uap air ke udara. 90 % air yang menguap berasal dari lautan. Es dan salju juga dapat menyublim dan langsung menjadi uap air. Selain itu semua, juga terjadi evapotranspirasi air terjadi dari tanaman dan menguap dari tanah yang menambah jumlah air yang memasuki atmosfer.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Mineral Adalah Setelah air tadi menjadi uap air, Arus udara naik mengambil uap air agar bergerak naik sampai ke atmosfir.

air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses

Semakin tinggi suatu tempat, suhu udaranya akan semakin rendah. Nantinya suhu dingin di atmosfer menyebabkan uap air mengembun menjadi awan. Untuk kasus tertentu, uap air berkondensasi di permukaan bumi dan membentuk kabut. Arus udara (angin) membawa uap air bergerak di seluruh dunia.

Banyak proses meteorologi terjadi pada bagian ini. Partikel awan bertabrakan, tumbuh, dan air jatuh dari langit sebagai presipitasi. Beberapa presipitasi jatuh sebagai salju atau hail, sleet, dan dapat terakumulasi sebagai es dan gletser, yang dapat menyimpan air beku untuk ribuan tahun.

Snowpack (salju padat) dapat mencair dan meleleh, dan air mencair mengalir di atas tanah sebagai snowmelt (salju yang mencair). Sebagian besar air jatuh ke permukaan dan kembali ke laut atau ke tanah sebagai hujan, dimana air mengalir di atas tanah sebagai limpasan permukaan. Sebagian dari limpasan masuk sungai, got, kali, lembah, dan lain-lain. Semua aliran itu bergerak menuju lautan.

sebagian limpasan menjadi air tanah disimpan sebagai air tawar di danau. Tidak air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses limpasan mengalir ke sungai, banyak yang meresap ke dalam tanah sebagai infiltrasi. Infiltrat air jauh ke dalam tanah dan mengisi ulang akuifer, yang merupakan toko air tawar untuk jangka waktu yang lama.

Sebagian infiltrasi tetap dekat dengan permukaan tanah dan bisa merembes kembali ke permukaan badan air (dan laut) sebagai debit air tanah.

Beberapa tanah menemukan bukaan di permukaan tanah dan keluar sebagai mata air air tawar. Seiring waktu, air kembali ke laut, di mana siklus hidrologi kita mulai. Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Energi Biomassa Jenis-Jenis Siklus Hidrologi ( Siklus Air ) Siklus hidrologi dibedakan ke dalam tiga jenis yaitu: 1.

Siklus Pendek Air laut menguap kemudian melalui proses kondensasi berubah menjadi butir-butir air yang halus atau awan dan selanjutnya hujan langsung jatuh ke laut dan akan kembali berulang.

2. Siklus Sedang Air laut menguap lalu dibawa oleh angin menuju daratan dan melalui proses kondensasi berubah menjadi awan lalu jatuh sebagai hujan di daratan dan selanjutnya meresap ke dalam tanah lalu kembali ke laut melalui sungai-sungai atau saluran-saluran air. 3. Siklus Panjang Air laut menguap, setelah menjadi awan melalui proses kondensasi, lalu terbawa oleh angin ke tempat yang lebih tinggi di daratan dan terjadilah hujan salju atau es di pegunungan-pegunungan yang tinggi.

Bongkah-bongkah es mengendap di puncak gunung dan karena gaya beratnya meluncur ke tempat yang lebih rendah, mencair terbentuk gletser lalu mengalir melalui sungai-sungai kembali ke laut. Unsur Unsur Dalam Siklus Hidrologi Berikut ini terdapat beberapa unsur-unsur dalam siklus hidrologi, diantaranya adalah: β€’ Presipitasi Uap air yang jatuh ke permukaan bumi. Sebagian besar presipitasi terjadi sebagai hujan, tetapi di samping itu, presipitasi juga menjadi salju, hujan es (hail), kabut menetes (fog drip), graupel, dan hujan es (sleet).

β€’ Canopy intersepsi Pengendapan yang dicegat oleh dedaunan tanaman dan akhirnya menguap kembali ke atmosfer daripada jatuh ke tanah. β€’ Pencairan salju Limpasan yang dihasilkan oleh salju mencair. β€’ Limpasan (runoff) Berbagai cara dengan mana air bergerak di seluruh negeri. Ini mencakup baik limpasan permukaan (surface runoff) dan limpasan saluran (channel runoff). Karena mengalir, air dapat merembes ke dalam tanah, menguap ke udara, menjadi disimpan di danau atau waduk, atau diekstraksi untuk keperluan manusia pertanian atau lainnya.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Materi Bakteri Kelas 10 Lengkap β€’ Infiltrasi Aliran air dari permukaan tanah ke dalam tanah. Setelah disusupi, air menjadi kelembaban tanah (soil moisture) atau air tanah (groundwater).

β€’ Arus Bawah Permukaan Aliran air bawah tanah, di zona Vadose dan akuifer. Air bawah permukaan dapat kembali ke permukaan (misalnya sebagai pegas atau dipompa) atau akhirnya meresap ke dalam lautan. Air kembali ke permukaan tanah pada elevasi lebih rendah dari tempat itu disusupi, di bawah tekanan gaya gravitasi atau gravitasi diinduksi. Tanah cenderung bergerak lambat, dan diisi kembali perlahan-lahan, sehingga dapat tetap dalam akuifer selama ribuan tahun.

β€’ Penguapan Transformasi air dari cair ke fase gas ketika bergerak dari tanah atau badan air ke atmosfer atasnya. Sumber energi untuk penguapan terutama radiasi matahari.

air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses

Penguapan banyak yang implisit meliputi transpirasi dari tanaman, meskipun bersama-sama mereka secara khusus disebut sebagai evapotranspirasi. β€’ Sublimasi Perubahan wujud secara langsung dari air padat (salju atau es) menjadi uap air. β€’ Adveksi Gerakan air – dalam wujud padat, cair, atau uap – melalui atmosfer.

Tanpa adveksi, air yang menguap dari lautan tidak bisa jatuh sebagai presipitasi di atas tanah. β€’ Kondensasi Transformasi uap air untuk tetesan air cair di udara, awan dan kabut adalah wujudnya. β€’ Transpirasi Pelepasan uap air dari tanaman dan tanah ke udara. Uap air adalah gas yang tidak dapat dilihat. Manfaat Siklus Hidrologi Siklus hidrologi ini merupakan siklus alami yang banyak mengandung manfaat.

Manfaat siklus hidrologi diantaranya : β€’ Wash Biosfer Biosfer merupakan tempat hidup makhluk hidup tumbuhan, hewan termasuk manusia. Biosfer terdiri dari litosfer (batuan/daratan), hidrosfer (air), dan atmosfer (udara). Dalam perjalanannya siklus hidrologi melewati ke tiga tempat tersebut, yaitu litosfer, hidrosfer, dan atmosfer.

Air merupakan pelarut universal yang sangat baik, apa yang apa yang dilalui akan dilarut oleh air, kecuali cairan seperti minyak. Baca Juga Artikel yang Mungkin Berkaitan : Kulit Bumi (Litosfer) – Pengertian, Teori, Struktur dan Manfaat Pada saat pertama kali air mengalami siklus hidrologi, air sungai, laut, danau, dsb mengalami penguapan. Hasil penguapan merupakan air yang relatif bersih.

Air bersih ini sebagai bahan dasar untuk mencuci biosfer. Ketika perjalanan ke atmosfer, air akan melarut partikel debu, gas (NOx, SOx), aerosol, fume, fog dsb, demikian juga ketika air menjadi titik air awan ataupun presipitasi. Semua yang ada di atmosfer dilarutkan dan diikat oleh air untuk dibawa ke permukaan bumi, sehingga atmosfera menjadi bersih alami. Awan di atmosfer merupakan air yang bermuatan listrik sehingga pertemuan awan yang satu dengan lainnya menimbulkan kilat maupun petir.

Petir sangat bermanfaat untuk terjadinya fiksasi sehingga terbentuk N 2 yang berguna pada siklus Nitrogen. Sebelum mencapai permukaan tanah air hujan sebagian mengenai dedaunan yang telah tertutup debu atau partikel Pb pada tanaman di jalan raya, debu kapur pada daerah industri kapur, semen, dsb akan terbersihkan, sehingga daun dapat melalukan fotosintesis dengan sempurna, stomata daun akan terbuka, penguapan daun menjadi tidak terganggu.

Demikian juga perlakukan terhadap atap rumah. Bentuk dan posisi daun beraneka ragam, sangat mempengaruhi jatuhnya air hujan ke tanah. Air hujan yang jatuh ke bumi dengan kekuatan gravitasi tertentu akan membuka sebagian tipis lapisan topsoil. Air yang jatuh di daratan sebagian mengalami perkolasi masuk dalam tanah sebagai air tanah dan sebagian lagi sebagai air permukaan (run off).

Pada air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses mengalir, air akan melarutkan unsur-unsur mineral yang terdapat pada batuan tanah. Air di permukaan akan melarutkan unsur hara pada permukaan tanah, termasuk sisa atau kelebihan kegiatan pertanian, permukiman air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses industri.

Ketika air sungai masuk daerah permukiman, air akan melarutkan limbah domestic, misalnya detergen, minyak, ekskreta, sampah, dll. Ketika memasuki daerah pertanian sisa-sisa pupuk dilarutkan, pestisida, dsb. Masuk daerah industri akan melarutkan limbah industri, misalnya minyak, pewarna, amoniak, dsb. Sedangkan air tanah baik air tanah bebas ataupun air tanah tertekan mengalir menuju lautan dengan melarutkan mineral batuan yang ada pada tanah. Semua aliran air akhirnya terhenti pada danau atau laut.

Endapan-endapan mineral yang berlebihan menimbulkan air laut penuh dengan unsur-unsur mineral, salah satunya garam-garaman yang menyebabkan air laut menjadi asin. Bahan bawaan air lainnya akan diendapkan secara berlahan di dasar laut. Unsur-unsur hara batuan tanah akan di dorong dengan gelombang laut menuju pantai sehingga terbentuk delta daratan yang subur.

Bahan-bahan unsur pencemaran yang terbawa air secara alaminya akan terdegradasi dengan sendiri selama tidak melebihi ambang batas kemampuan air atau air akan melakukan mekanisme pencucuian dirinya sendiri. β€’ Water Move Position Jumlah air di bumi relatif stabil, tidak bertambah tidak berkurang, hanya posisi / tempat dan kualitasnya yang berubah.

Air secara keseluruhan yang ada di dunia sebanyak 1.362.000.000 km 3, yang terdiri samudra (97,2%), es/gleser (2,15%), air tanah (0,61%), air permukaan (0,05%), danau air tawar (0,009%), laut / danau asin (0,008%), sungau, atmosfera, dll (0,073%) (Lamb James C dalam Juli Soemirat, 1996, 79). Jadi air yang dapat dimanfaatkan langsung sekitar 2,8% air di dunia.

Secara teoritis semua air di bumi kondisinya statis, oleh karena panas matahari, panas bumi, tinggi rendah permukaan bumi, sehingga air bergerak mengikuti hokum siklus hidrologi.

Secara langsung siklus hidrologi memutar atau memindahkan air dari berbagai tempat. Semula di daratan, di lautan, dipindahkan ke udara, ke tanah dsb. Pada masing-masing tempat / posisi air memiliki kemanfaatan yang berbeda-beda, tergantung dari kemampuan manusia mendayagunakan. Menurut Lamb James C (Juli Soemirat, 1996, 79), air yang ikut sirkulasi siklus hidrologi hanya 521.000 km 3/th(0,038% total keseluruhan air).

Sirkulasi air dalam proses siklus hidrologi pada evaporasi/penguapan sebanyak 521.000 km 3 /th yang berasal dari 84% evaporasi lautan dan 14% evaporasi daratan, namun ketika presipitasi yang jatuh ke lautan 80% dan 20% jatuh ke daratan. Dibanding antara proporsi evaporasi dan presipitasi di daratan ada beda 6% atau sekitar 31.260 km 3/th. Keadaan tersebut dikarenakan di daratan terdapat gunung-gunung dan bukit-bukit dataran tinggi yang dapat menahan awan dan terjadi kondesasi serta presipitasi di daerah pegunungan, sehingga air akan mengaliri sungai dan air bawah tanah menuju dataran rendah sampai ke laut.

Di dataran rendah yang datar dan lautan secara acak adalah seimbang antara evaporasi dan presipitasi. Kondisi kelebihan presipitasi dari evaporasi tersebut seimbang dengan air sungai atau air bawah yang mengalir sampai menuju atau masuk ke laut (Juli Soemirat, 1996, 79).

β€’ Water Suply Air yang ikut sirkulasi siklus hidrologi hanya 521.000 km 3/th, yang berarti 1,427.10 15 liter/hari. Bila penduduk bumi 6 milyar dan kebutuhan air 200 liter/hari, maka akan membutuhkan air 1,2.10 12 liter/hari, sedangkan air yang ikut sirkulasi sebesar 1,427.10 15 liter/hari.

Jadi masih ada kelebihan air yang dimanfaatkan oleh tumbuhan dan hewan lainnya yang tidak akan mengganggu kondisi air yang sedang mengalir di sungai, air bawah tanah, danau, dan keberadaan laut. Dalam sirkulasi hidrologi, air melalui berbagai tempat.

Terutama di daratan baik yang melalui permukaan atau bawah tanah. Berdasarkan hitungan di atas jumlah air sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan manusia, hewan ataupun tumbuhan.

Namun memang tiap daerah berbeda-beda kualitas dan kauntitasnya, ada kekurangan, kecukupan dan kelebihan, tetapi secara total masih sangat mencukupi. Penduduk pegunungan tidak perlu menuju laut untuk memenuhi kebutuhan airnya, cukup menanti hujan atau aliran permukaan atau mengambil di pancuran atau di telaga. Pendudukan perkotaan yang datar, cukup mengambil air dari air bawah tanah atau menjernihkan dari air permukaan. Semua kebutuhan air tercukupi baik dari segi jumlah maupun tempatnya.

β€’ Resource Life Air merupakan kebutuhan mutlak setiap makluk hidup. Tanpa ada air mustahil ada kehidupan. Setelah bumi terbentuk, kemudian mendingin mengkerut, mulai terbentuk air yang mengisi keriput-keriput bumi. Titik air baru terbentuk sebagai aktifitas gunung berapi.

Air saat itu masih tawar dan belum ada kehidupan. Kemudian karena adanya panas matahari, panas bumi dan sifat air mulailah terbentuk penguapan, awan, hujan, air tanah, sungai danau, dan laut, sehingga sempurnalah siklus hidrologi. Kehidupan pertama kali terbentuk dari adanya petir dari pertemuan dua awan, yang mengenai permukaan air tawar, sinar ultra violet, panas dan sinar radiasi (Hendro Darmodjo, 1984/1985, 4). Saat itu mulailah terbentuk unsur-unsur kehidupan dan akhirnya terbentuk mahkluk sederhana di dasar air tawar.

Kemudian secara evolusi terjadilah makhluk seperti sekarang ini.Sampai sekarang air merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari suatu makhluk hidup atau kehidupan. Suatu mikroorganisme, bijian kurang dapat berkembang atau tidak aktif dalam kondisi kering tidak ada air, ketika air ada bijian mulai tumbuh, mikroorganisme mulai aktif. Bahkan pada litosfer yang kering kerontang, hampir dapat dipastikan kehidupan di sana berjalan lamban, kurang beraktifitas, lambat berkembang, namun begitu ada air semua kehidupan menunjukkan jati dirinya sebagai makhluk hidup.

β€’ Resource Energy Siklus hidrologi memungkin air hujan jatuh di pegunungan atau dataran tinggi. Oleh karena gravitasi air mengalir menuju tempat yang rendah. Perbedaan ketinggian daratan yang dilalui air akan mengakibatkan kekuatan air untuk mengalir lebih kuat, semakin tinggi menuju ke rendah semakin kuat kekuatan air.

Kekuatan air tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Pada kekuatan yang cukup oleh penduduk dimanfaatkan untuk memutar kincir, menumbuk, sedangkan pada kekuatan yang besar dapat digunakan untuk memutar turbin penghasil listrik yang dapat dinikmati di rumah kita saat ini. β€’ Obyek Wisata Kabut di pegunungan, air terjun, awan yang tebal, hujan gerimis, danau, aliran sungai, sungai bawah tanah, stalaktit, stalakmit, mata air, sumur artesis, gelombang laut, semuanya merupakan bagian dari siklus hidrologi.

Keadaan itu semua terbentuk oleh adanya siklus hidrologi ribuan tahun, dan sekarang keindahannya dapat dijadikan obyek wisata yang menarik. Dapat dibayangkan bila air tidak mengalir mengikuti siklus hidrologi, semua keadaan tersebut di atas tidak akan ada. Dampak Kegiatan Manusia terhadap Siklus Hidrologi Dampak negatif aktivitas manusia terhadap siklus air β€’ Penebangan hutan Penebangan hutan secara berlebihan yang mengakibatkan pengaruh terhadap resapan air ke dalam tanah.

Hutan yang gundul tidak akan dapat menyerap air sehingga ketika hujan turun air akan mengalir langsung ke laut. Karena tidak ada resapan yang terjadi karena hutan gundul, akibatnya lapisan atas tanah dan humus terkikis oleh air yang mengalir.

Terbukanya permukaan tanah menyebabkan kapasitas intersepsi hujan menurun drastis, hujan yang jatuh langsung memukul permukaan tanah dan memecahkan matriks tanah menjadi partikel tanah yang kecil‐kecil. Sebagian dari partikel tanah menutup pori tanah dan memadatkan permukaan tanah, sehingga menurunkan kapasitas infiltrasi.

Dengan menurunnya kapasitas infiltrasi maka jumlah aliran permukaan meningkat dan jumlah aliran air yang menuju ke bawah permukaan untuk mengisi air tanah berkurang. Aliran permukaan menjadi energi yang dapat menggerus partikel tanah di permukaan dan mengangkutnya ke tempat lain sebagai bagian dari proses erosi. β€’ Pembangunan pemukiman Pembangunan pemukiman yang tidak memperhatikan aspek lahan serapan air, akibatnya lahan yang seharusnya menjadi tempat serapan air menjadi tertutupi pemukiman, dimana dipastikan sebagian besar halaman pemukiman di tutup oleh jalanan, semen/beton.

β€’ Manipulasi manusia skala besar Skala besar manipulasi manusia terhadap air secara signifikan mengubah pola global debit sungai.

air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses

Perubahan yang dihasilkan di permukaan laut, salinitas laut, dan dalam sifat biofisik dari permukaan tanah pada akhirnya dapat menghasilkan umpan balik iklim.Regulasi manusia dari aliran sungai dan vegetasi kering telah mengurangi limpasan sungai sekitar 324 km/tahun.

Penurunan tahunan di limpasan sesuai dengan menurunkan permukaan laut sebesar 0,8 mm /tahun. Angka ini mewakili fraksi yang signifikan dari kenaikan permukaan laut yang diamati dari 1-2 mm / tahun, tetapi berlawanan arah. Jadi, kalau bukan karena pengalihan manusia dari limpasan, permukaan laut akan naik lebih cepat dari sebenarnya.

β€’ Mayoritas manusia yang mempengaruhi proses siklus air di darat Penyimpanan air di waduk, pertambangan air tanah, irigasi, urbanisasi, pembakaran, deforestasi, pemanfaatan lahan basah.

Penurunan tahunan di limpasan sesuai dengan menurunkan permukaan laut, kalau bukan karena pengalihan manusia dari limpasan, permukaan laut akan naik lebih cepat dari sebenarnya. β€’ Pembukaan lahan Untuk keuntungan dalam hal bisnis, ekonomi, dan sosialisasi masyarakat hutan-hutan banyak di tebangi dan lahan-lahan baru yang telah terbuka di alihfungsikan menjadi lahan industri, perumahan, atau lahan pertanian.

Akibatnya daerah resapan air menjadi berkurang. β€’ Pemakaian Berbagai Zat Kimia Berbagai zat kimia yang dilepaskan ke udara maupun lingkungan sebagai akibat aktivitas manusia juga mempengaruhi kandungan air hujan yang turun ke bumi. Berbagai kandungan zat kimia tersebut akan terakumulasi dengan air hujan yang membahayakan bagi air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses yang terjadi saat ini.

DAFTAR PUSTAKA: β€’ Chow, VT., Maidment, DR., and Mays, LW. 1988. Applied Hydrology. McGraw-Hills. New York. β€’ Kodoatie, RJ dan Sjarief, R. 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Penerbit Andi. Yogyakarta. β€’ Linsley RK., Kohler, MA., and Paulhus, JLH. 1982. Hydrology for Engineers. McGraw- Hills. New York. β€’ Viessman, W., Lewis, GL., and Knapp, JW.

1989. Introduction to Hydrology. Harper Collins Pub. New York. Demikian Pembahasan Tentang Siklus Hidrologi (Daur Air) – Proses, Jenis dan Gambar Semoga Dapat Bermanfaat Bagi Para Pembaca DosenPendidikan.Com Aminnn … πŸ˜€ Sebarkan ini: β€’ β€’ β€’ β€’ β€’ Posting pada Biologi Ditag air yang keluar dari permukaan tanah disebut, apa yang dimaksud dengan air tanah, apa yang dimaksud dengan daur air, apa yang dimaksud hujan, arti infiltrasi pada daur air, artikel tentang hidrologi, awan yang terbentuk semakin banyak, bagaimana proses terjadinya penguapan dalam siklus air, bagan siklus air, contoh siklus hidrologi, daur air juga disebut juga sebagai siklus, daur air kelas 5, daur oksigen dan karbondioksida, Definisi siklus hidrologi, faktor penyebab presipitasi, faktor yang mempengaruhi siklus hidrologi, gambar daur air kelas 5, gambar daur air yang mudah digambar, gambar kondensasi, gambar poster siklus air, gambar siklus air, gambar siklus air dan bencana kekeringan, gambar siklus air dan penjelasannya, gambar siklus air pendek, gambar siklus air yang mudah di gambar, gambar siklus hidrologi panjang, gambar siklus hidrologi pendek, gambar siklus karbon, istilah dalam siklus hidrologi, jelaskan yang dimaksud air permukaan, komponen siklus hidrologi, kualitas air di siklus hidrologi, macam macam siklus hidrologi, makalah siklus air, materi ipa tentang siklus air, materi kuliah siklus hidrologi, mengapa uap air dapat mengalami kondensasi, mengidentifikasi jenis sungai, nama lain dari daur air adalah, pengertian daur air dan gambarnya, pengertian daur fosfor, pengertian daur nitrogen, pengertian hidrologi, pengertian siklus hidrologi panjang, perairan darat, peta konsep siklus air, presentasi daur air, Proses Siklus Hidrologi, proses terjadinya air tanah, proses terjadinya siklus hidrologi brainly, rangkuman siklus hidrologi, rumus siklus hidrologi, siklus air dimulai dari, siklus air kelas 5, siklus air ruang guru, siklus air tanah, siklus air terlengkap, siklus hidrologi pdf, siklus hidrologi tertutup, siklus hidrosfer, tahap tahap daur air, tahapan daur air yang terganggu, tempat terbesarnya proses siklus air adalah, transpirasi pada daur air, tujuan siklus hidrologi, uap air menjadi awan disebut, urutan siklus air yang tepat adalah Navigasi pos β€’ Contoh Teks Editorial β€’ Air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses Teks Laporan Hasil Observasi β€’ Teks Negosiasi β€’ Teks Deskripsi β€’ Contoh Kata Pengantar β€’ Kinemaster Pro β€’ WhatsApp GB β€’ Contoh Diksi β€’ Contoh Teks Eksplanasi β€’ Contoh Teks Berita β€’ Contoh Teks Negosiasi β€’ Contoh Teks Ulasan β€’ Contoh Teks Eksposisi β€’ Alight Motion Pro β€’ Contoh Alat Musik Ritmis β€’ Contoh Alat Musik Melodis β€’ Contoh Teks Cerita Ulang β€’ Contoh Teks Prosedur Sederhana, Kompleks dan Protokol β€’ Contoh Karangan Eksposisi β€’ Contoh Pamflet β€’ Pameran Seni Rupa β€’ Contoh Seni Rupa Murni β€’ Contoh Paragraf Campuran β€’ Contoh Seni Rupa Terapan β€’ Contoh Karangan Deskripsi β€’ Contoh Paragraf Persuasi β€’ Contoh Paragraf Eksposisi β€’ Contoh Paragraf Narasi β€’ Contoh Karangan Narasi β€’ Teks Prosedur β€’ Contoh Karangan Persuasi β€’ Contoh Karangan Argumentasi β€’ Proposal β€’ Contoh Cerpen β€’ Pantun Nasehat β€’ Cerita Fantasi β€’ Memphisthemusical.Com
Proses Terjadinya Hujan – Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis yang memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau.

Musim hujan biasanya terjadi pada bulan Oktober sampai Maret, sementara musim kemarau terjadi pada bulan April sampai September. Saat musim hujan tiba, hujan biasanya turun setiap saat mulai pagi, siang, sore, bahkan sampai malam.

Sementara itu, intensitas hujan yang turun di musim ini juga berbeda-beda, ada yang berlangsung sangat deras dan ada pula yang sekadar gerimis. Daftar Isi β€’ Pengertian Hujan β€’ Beberapa Proses Terbentuknya Hujan β€’ 1. Evaporasi β€’ Anda Mungkin Juga Menyukai β€’ 2. Kondensasi β€’ 3. Presipitasi β€’ Jenis-Jenis Hujan β€’ 1.

Hujan Konvektif β€’ 2. Hujan Orografis atau Relief β€’ 3. Hujan Frontal β€’ 4. Hujan Muson β€’ Manfaat Air Hujan β€’ Bisa Menjadi Cadangan Saat Musim Kemarau β€’ Air Hujan Dapat Dipanen β€’ Kategori Ilmu Biologi β€’ Materi IPA Pengertian Hujan Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan merupakan bentuk presipitasi atau endapan dari cairan atau zat padat.

Hal itu berasal dari kondensasi yang jatuh dari awan menuju permukaan bumi. Pada dasarnya, kehidupan semua makhluk sangat bergantung pada keberadaan air, salah satunya bersumber dari hujan. Sebab, hujan akan menjadi sumber air yang penting apabila kita tidak bisa mengakses sumber air lainnya, seperti sungai, danau, ataupun sumur. Selain itu, air hujan juga memiliki banyak manfaat. Misalnya, untuk mengairi lahan pertanian, kepentingan industri, dan pembangkit listrik.

Hujan menjadi sumber air bersih utama di sebagian besar wilayah di dunia. Sebab, air yang dihasilkan oleh hujan tersebut dapat membantu berbagai ekosistem. Tak kalah penting, fenomena hujan adalah bagian dari proses terbentuknya air. Saat air itu jatuh ke permukaan bumi, saat itulah disebut sebagai hujan. Sebab, tidak semua air yang jatuh dapat mencapai bumi. Banyak di antaranya yang menguap begitu saja. Kondisi tersebut kerap terjadi di daerah panas dan kering seperti padang gurun. Bebragai fenomena perubahan iklim global beserta implikasi lainnya juga bisa Grameds pelajari dan temukan pada buku Sains Perubahan Iklim yang terdiri dari 6 bab dan masing-masing membahas fenomena yang berbeda.

Sains Perubahan Iklim Beberapa Proses Terbentuknya Hujan Penyerapan air hujan ke tanah bisa melalui celah-celah, pori-pori tanah, maupun melalui batuan. Air yang masuk ke dalam tanah tersebut akan menjadi sumber air atau air cadangan. Oleh sebab itu, penting untuk menyediakan daerah resapan air agar ada air cadangan.

Biasanya, daerah resapan air tersedia di hutan-hutan dengan kondisi vegetasi yang masih rapat. Pohon-pohon yang ada di hutan mampu menguatkan struktur tanah sehingga ketika hujan turun air tidak langsung hanyut begitu saja. Air akan terserap dan tersimpan di dalam tanah. Dengan demikian, air yang tersimpan akan menjadi air tanah. Peran tumbuhan pun sangat penting untuk memudahkan penyerapan air ke tanah, terutama pada bagian akar tumbuhan.

Air dan akar di dalam tanah mampu membuat struktur tanah menjadi kokoh dan tidak mudah longsor. Namun demikian, turunnya air hujan tidak sesederhana air yang turun dari langit. Terjadinya hujan melewati beberapa proses siklus air.

Secara umum, tahapan terjadinya hujan dibagi menjadi tiga, yaitu evaporasi, kondensasi, dan presipitasi. Rp 67.000 1. Evaporasi Tahapan pertama yang dilalui adalah evaporasi, yaitu proses penguapan air. Panasnya suhu bumi dari matahari akan membuat air sungai, danau, dan laut menguap menjadi butiran atau uap air. Uap air tersebut akan naik ke atmosfer, lantas menggumpal menjadi awan. Apabila suhu udara semakin panas maka semakin banyak pula air yang akan menguap ke udara.

Hal itu akan menyebabkan terjadinya hujan semakin deras. Coba perhatikan saat kamu tak sengaja menumpahkan segelas air di suatu tempat, misalnya, di lantai atau di jalanan. Dalam beberapa jam, air tersebut akan hilang. Bagaimana bisa? Ya, hal itu dapat terjadi karena air yang tumpah tersebut telah mengalami proses penguapan. Proses penguapan bisa menjadi lebih cepat apabila terjadi saat suhu di suatu tempat panas akibat teriknya sinar matahari.

Evaporasi menjadi tahapan awal dari serangkaian proses terjadinya hujan. Energi panas matahari membuat air yang berada di laut, sungai, danau, dan banyak sumber air di permukaan bumi mengalami penguapan. Apabila panas matahari semakin tinggi, maka akan semakin banyak pula air yang menguap dan naik ke atmosfer bumi. 2. Kondensasi Tahapan selanjutnya adalah kondensasi. Uap air hasil proses penguapan atau evaporasi akan naik ke atmosfer, kemudian mengalami kondensasi atau pengembunan.

Pada proses tersebut, uap air akan berubah menjadi partikel-partikel es yang sangat kecil. Partikel es yang terbentuk dari uap air tersebut akan mendekati satu sama lain, kemudian membentuk gumpalan putih yang biasa disebut awan. Proses partikel es yang saling mendekat dan membentuk awan itu disebut koalesensi.

Pada tahapan itu, partikel es memiliki jari-jari sekitar 5-20 mm. Dalam ukuran tersebut air akan jatuh dengan kecepatan 0,01 – 5 cm/s. Sementara, kecepatan aliran udara yang lebih tinggi akan membuat partikel itu tidak jatuh ke bumi. Perubahan uap air menjadi es tersebut dipengaruhi oleh perbedaan suhu pada perbedaan ketinggian awan di udara. Apabila semakin tinggi awan yang terbentuk, suhu akan semakin dingin.

Pada proses kondensasi, uap air akan naik ke atas lantaran terkena panas dari matahari. Setelah uap air naik cukup tinggi, terjadilah pengembunan yang berubah menjadi tetesan air.

air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses

Apabila kamu pernah melihat segelas air dingin di atas meja, uap air yang berada di gelas tersebut akan mengembun, lalu menjadi tetesan air. Hal yang sama juga terjadi ketika uap air naik ke langit lalu menjadi cairan. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua air yang mengembun akan membentuk awan. Hal itu karena sebagian mengembun di dekat tanah, sebagian naik menjadi kabut, dan sebagian lagi akan naik ke langit membentuk awan.

3. Presipitasi Proses yang ketiga adalah presipitasi. Presipitasi merupakan proses mencairnya butiran es di awan, kemudian turun menjadi titik-titik hujan ke bumi. Awan yang telah terbentuk pada proses sebelumnya barangkali tertiup angin dan terbawa sehingga menjadi turun hujan di tempat lain dari proses sebelumnya. Awan yang sudah terlalu padat dengan uap air dan tidak bisa lagi menahan beban air akan jatuh ke daratan, kemudian menjadi titik-titik hujan. Ukuran titik-titik hujan bervariasi mulai dari 0,5 milimeter atau lebih besar.

Sementara, hujan gerimis berukuran kurang dari 0,5 millimeter. Ukuran tersebut biasanya bervariasi tergantung lokasi awan yang menurunkan hujan. Gerimis diturunkan oleh awan dangkal, sementara hujan deras diturunkan oleh awan dengan tinggi menengah atau sangat tinggi.

air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses

Lantaran posisi hujan yang sangat tinggi, udara di tempat awan berada sangat dingin, kemudian biasanya hujan akan jatuh sebagai salju ataupun es. Semakin menurun mendekati daratan, es itu akan mencair menjadi air hujan. Semakin mendekati daratan, suhu akan semakin menghangat, kemudian mencairkan titik-titik es.

Perlu diketahui, setiap belahan bumi memiliki curah hujan berbeda-beda. Misalnya di wilayah padang pasir curah hujannya hanya kurang dari 10 milimeter hujan per tahun. Berbeda halnya dengan negara tropis seperti Indonesia yang rata-rata memiliki curah hujan 2.000-3.000 milimeter per tahun. Hal yang perlu diwaspadai adalah hujan asam, yaitu awan yang terdiri dari gumpalan uap air, juga mengandung partikel lain seperti debu, garam, asap, dan polutan.

Apabila awan mengandung senyawa sulfur dioksida dan nitrogen oksida, kemudian kedua zat itu berinteraksi dengan air, maka akan menjadi hujan asam. Hujan asam sangat berbahaya bagi tanaman, binatang, tanaman laut, dan tanah. Senyawa sulfur dioksida dan nitrogen dioksida sebenarnya terkandung di dalam udara normal. Namun, pada beberapa kondisi, kadar kedua senyawa tersebut meningkat di udara.

Kondisi yang bisa menyebabkan kedua zat tersebut meningkat misalnya erupsi gunung berapi dan asap pembakaran bahan bakar fosil. Jenis-Jenis Hujan Ada beberapa jenis hujan yang jatuh ke bumi. Pasti di antaranya pernah kamu lihat secara langsung. Hujan dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu hujan konvektif, hujan orografis atau relief, hujan frontal, dan hujan muson. 1. Hujan Konvektif Hujan konvektif adalah proses yang terjadi akibat perbedaan panas di lapisan udara dan permukaan tanah.

Semakin tinggi naik ke atmosfer, udara panas akan menjadi dingin, hingga akhirnya uap air yang mengembun mulai membentuk awan cumulonimbus yang turun menjadi hujan. Namun demikian, jenis hujan ini terjadi tidak pada seluruh wilayah, melainkan hanya pada cakupan wilayah yang kecil sehingga sering kali kamu bisa melihat di daerah tertentu hujan turun dengan deras, tetapi sekitarnya tidak hujan.

Cerita tentang Hujan dan Matahari 2. Hujan Orografis atau Relief Hujan orografis pada umumnya terjadi pada perbukitan atau pegunungan karena proses terjadinya diakibatkan angin yang datang mendorong udara yang mengarah pada bukit maupun pegunungan ataupun hutan hujan tropis dimana tempat berbagai fauna tinggal, seperti halnya yang dibahas pada buku Seri Mengenal Habitat Hewan: Hutan Hujan Tropis.

Kemudian, udara yang mencapai bukit mulai menjadi lebih dingin. Ketika mencapai kelembaban, ia akan perlahan-lahan mengembun menjadi awan lalu turun ke bawah menjadi tetesan hujan di permukaan bumi.

3. Hujan Frontal Hujan frontal dapat terjadi saat pertemuan udara dingin dan hangat. Bayangkan ketika kamu mendaki sebuah bukit. Semakin tinggi kamu naik, maka akan semakin dingin pula suasana yang terasa di atas. Hal ini juga berlaku pada hujan tersebut saat udara panas naik menuju atmosfer kemudian menabrak udara dingin di atas. Udara yang mulai dingin itu akan menjadi awan stratus, kemudian turun ke permukaan bumi sebagai hujan. Hujan jenis ini juga bisa disertai dengan badai petir dan kilat.

Selain itu, hujan frontal juga dapat terjadi hingga beberapa jam. 4. Hujan Muson Hujan muson diakibatkan oleh angin muson atau yang lebih dikenal sebagai angin yang menyebabkan musim hujan dan kemarau. Angin muson juga berhembus dari benua asia ke australia seiring dengan perubahan musim yang ada. Saate angin ini melewati berbagai samudera, akan ada banyak uap air yang berakibat pada terjadinya hujan.

Sering kali hujan ini turun wilayah di India, Asia Tenggara, dan beberapa kawasan lainnya. Manfaat Air Hujan Air hujan akan turun di darat, di laut, dan juga di tanah. Air hujan yang jatuh di air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses akan meresap menjadi air tanah, lantas akan keluar melalui sumur. Selain itu, air hujan juga akan merembes ke danau atau sungai.

Sementara, air hujan yang jatuh ke perairan seperti sungai dan danau akan menambah jumlah air di tempat itu. Kemudian, air akan mengalir ke laut. Meski demikian, sebagian air di tempat perairan akan menguap kembali.

air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses

Proses penguapan tersebut akan membentuk awan yang juga berasal dari tumbuhan. Proses siklus air itu akan terus berulang, hanya saja wujud dan tempatnya berubah.

Seri Sains untuk Balita : Hujan Bisa Menjadi Cadangan Saat Musim Kemarau Berdasarkan informasi dari laman resmi Institut Teknologi Bandung, air hujan bisa dimanfaatkan dengan cara menyimpannya. Cara tersebut dapat berguna untuk mengatasi kekeringan di kala musim kemarau tiba.

Secara umum, cara penyimpanan air hujan bisa dilakukan melalui dua teknik. Pertama, simpan air sejak di hulu sungai. Air dapat disimpan di bagian Daerah Aliran Sungai (DAS) sungai maupun hilir sungai. Penyimpanan itu bisa dilakukan di atas permukaan tanah maupun di bawah permukaan tanah. Cara kedua, yakni melakukan rekayasa. Rekayasa tersebut bisa dimulai dengan cara melakukan revitalisasi atau penghidupan situ kembali di hulu sungai, kemudian membuat embung sungai.

Jika aliran sungainya besar dan panjang seperti kali Citarum, pada bagian tengah aliran sungai bisa dibuat waduk. Waduk yang sudah ada misalnya Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur. Why? Weather – Cuaca Air Hujan Dapat Dipanen Bukan hanya tanaman, air hujan pun dapat dimanfaatkan dengan cara β€œdipanen”. Hal itu bisa dilakukan dengan memakai bak penampungan atau mengalirkannya ke sumur. Air hujan dari atap bisa dialirkan melalui pipa ke sumur atau melalui bak penampung.

Selain itu, hujan juga bisa disaring dengan alat sederhana seperti kain dan kaos agar terbebas dari debu. Tak hanya itu, para petani juga dapat memanen air hujan dengan membuat sumur atau kolam di sekitar lahan pertanian.

Apabila musim kemarau tiba, air yang ditampung tersebut dapat menjadi alternatif untuk pengairan. Air hujan juga dapat dimanfaatkan untuk perikanan. Tak banyak orang tahu, air hujan di Indonesia juga masih layak untuk dikonsumsi. Tingkat keasaman air hujan di berbagai daerah pernah diteliti, di antaranya Jogja, Bali, Bogor dan Jakarta. Penelitian itu menyimpulkan rata-rata tingkat pH (potential hydrogen) air hujan di sejumlah daerah itu adalah 7,2 sampai 7,4. Artinya, secara kualitas air hujan di Indonesia masih layak diminum oleh manusia.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga telah mengembangkan dua bentuk sistem pemanfaatan dan pengolahan air hujan untuk air minum, yaitu Sistem Pemanfaatan Air Hujan (SPAH) dan Pengolahan Air Siap Minum (ARSINUM).

Selain itu, cara pengolahan air dengan metode lebih sederhana juga pernah dikembangkan sejumlah komunitas pemanen air hujan di sekitar Magelang, Klaten, Jogja dan daerah lainnya. Misalnya, cara pengolahan air hujan menjadi air siap minum yang dilakukan oleh Komunitas Banyu Bening di Sleman (DI Yogyakarta) serta Komunitas Kandang Udan di Desa Bunder, Klaten (Jawa Tengah). Itulah penjelasan mengenai pengertian, proses, jenis, dan manfaat air hujan.

Untuk menambah wawasan kalian mengenai hujan ataupun perubahan cuaca lainnya, Gramedia sebagai #SahabatTanpaBatas akan senantiasa menghadirkan buku-buku berkualitas dan bermanfaat, salah satunya buku di bawah ini. Kategori β€’ Administrasi 5 β€’ Agama Islam 126 β€’ Akuntansi 37 β€’ Bahasa Indonesia 95 β€’ Bahasa Inggris 59 β€’ Bahasa Jawa 1 β€’ Biografi 31 β€’ Biologi 101 β€’ Blog 23 β€’ Business 20 β€’ CPNS 8 β€’ Desain 14 β€’ Design / Branding 2 β€’ Ekonomi 152 β€’ Environment 10 β€’ Event 15 β€’ Feature 12 β€’ Fisika 30 β€’ Food 3 β€’ Geografi 62 β€’ Hubungan Internasional 9 β€’ Hukum 20 β€’ IPA 82 β€’ Kesehatan 18 β€’ Kesenian 10 β€’ Kewirausahaan 9 β€’ Kimia 19 β€’ Komunikasi 5 β€’ Kuliah 21 β€’ Lifestyle 9 β€’ Manajemen 29 β€’ Marketing 17 β€’ Matematika 20 β€’ Music 9 β€’ Opini 3 β€’ Pendidikan 35 β€’ Pendidikan Jasmani 32 β€’ Penelitian 5 β€’ Pkn 69 β€’ Politik Ekonomi 15 β€’ Profesi 12 β€’ Psikologi 31 β€’ Sains dan Teknologi 30 β€’ Sastra 32 β€’ SBMPTN 1 β€’ Sejarah 84 β€’ Sosial Budaya 98 β€’ Sosiologi 53 β€’ Statistik 6 β€’ Technology 26 β€’ Teori 6 β€’ Tips dan Trik 57 β€’ Tokoh 59 β€’ Uncategorized 31 β€’ UTBK 1 tirto.id - Hujan merupakan curahan butiran air yang berasal dari atmosfer dan turun ke permukaan bumi.

Curahan tersebut dapat berbentuk cair (es) maupun padat (salju). Mengutip modul Geografi terbitan Kemdikbud, berjudul Udara dan Air Sumber Kehidupan, proses penggabungan antara partikel uap air dapat melalui inti kondensasi, dan penurunan suhu sampai titik embun atau titik beku.

Dari proses penggabungan itu, maka akan terbentuk butiran air. Curah hujan selama ini diukur oleh lembaga yang bertugas di bidang prakiraan cuaca dan iklim, seperti Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. Adapun alat pengukur curah hujan disebut ombrometer.

Pengukuran dengan ombrometer tersebut dilakukan, misalnya, untuk menentukan bahwa suatu kota mengalami curah hujan sebanyak 2 ribu mm per tahun. Ukuran itu berarti apabila air hujan itu ditampung dengan tidak meresap, mengalir, atau menguap maka tingginya akan mencapai 2 ribu meter atau sama dengan 2 air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses.

Sehingga, apabila kota itu datar maka akan mengalami banjir setinggi 2 meter. Proses Terjadinya Hujan dan Tahapannya Tersedianya air di bumi disebabkan karena air selalu mengalami sirkulasi atau perputaran secara terus-menerus dari bumi ke atmosfer, kemudian, kembali lagi ke bumi.

Siklus tersebut, dimulai dari tahap proses penguapan, pengendapan, dan pengembunan. Proses penguapan biasa terjadi pada air laut, sungai, dan danau akibat paparan panas dari sinar matahari disebut evaporasi.

Begitu juga dengan tumbuhan, yang mengeluarkan uap air ke udara. Uap air tersebut, berasal dari permukaan bumi yang naik, dan berkumpul di udara. Lama-lama, udara tidak dapat lagi menampung uap air (jenuh). Proses ini disebut dengan presipitasi atau pengendapan.

air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses

Kemudian, saat suhu udara turun, maka uap air akan berubah menjadi titik-titik air. Baca juga: Proses Siklus Air: Tahapan & Penjelasan Soal Siklus Pendek-Panjang Titik-titik air itulah yang akhirnya menjadi awan. Proses tersebut, dinamakan dengan kondensasi atau pengembunan. Selanjutnya, titik-titik air di awan akan turun menjadi hujan. Air hujan akan turun di darat, di laut, dan di tanah. Air hujan yang jatuh di tanah akan meresap menjadi air tanah. Kemudian, air tanah akan keluar melalui sumur.

Tidak hanya itu, air hujan juga akan merembes ke danau atau sungai. Sementara air hujan yang jatuh ke perairan (sungai atau danau) akan menambah jumlah air di tempat tersebut.

Setelah itu, air akan mengalir ke laut. Meski begitu, sebagian air di tempat perairan akan menguap kembali. Proses penguapan itu akan membentuk awan yang juga berasal dari tumbuhan.

Proses siklus air akan terus berulang. Hanya wujud dan tempatnya saja yang berubah. Manfaat Air Hujan Menurut Guru Besar Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, Prof. Ir. Indratmo, M.Sc, Ph.D., dalam laman resmi Institut Teknologi Bandung, air hujan dapat dimanfaatkan dengan cara menyimpannya.

air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses

Cara ini dapat berguna untuk mengatasi kekeringan saat musim kemarau tiba. Cara penyimpanan air hujan dapat dilakukan dengan dua teknik. Pertama, menyimpan air sejak di hulu sungai. Air bisa disimpan di bagian Daerah Aliran Sungai (DAS) sungai, maupun hilir sungai. Penyimpanan tersebut dapat dilakukan di atas permukaan tanah maupun di bawah permukaan tanah. Baca juga: Cara Memanfaatkan Air Hujan, Memanen dan Mengolah Jadi Air Minum Kedua, dengan cara rekayasa.

Rekayasa ini, bisa dimulai dengan cara melakukan revitalisasi atau penghidupan situ kembali di hulu sungai, dan pembuatan embung sungai. Apabila aliran sungainya besar dan panjang seperti kali Citarum maka pada bagian tengah aliran sungai dapat dibuat waduk. Waduk yang sudah ada di antaranya, Waduk Cirata, dan Waduk Jatiluhur. Pemanfaatan air hujan juga bisa dengan cara "memanennya." Pakar hidrologi Fakultas Teknik UGM Agus Maryono pernah menjelaskan memanen air hujan bisa dengan memakai bak penampungan atau mengalirkannya ke sumur.

Air hujan dari atap dapat dialirkan melalui pipa ke sumur atau bak penampung. Agar bersih dari debu, air hujan bisa disaring dengan alat sederhana, seperti kain dan kaos. Para petani juga bisa memanen air hujan dengan membuat sumur atau kolam di sekitar lahan pertanian.

Saat musim kemarau, air yang ditampung itu dapat menjadi alternatif untuk pengairan. Air hujan bisa dimanfaatkan untuk perikanan. Menurut Agus, air hujan di Indonesia juga masih sangat layak untuk dikonsumsi. Dia pernah 20-an kali meneliti tingkat keasaman air hujan di berbagai daerah, termasuk Jogja, Bali, Bogor dan Jakarta.

Riset itu menyimpulkan rata-rata tingkat pH (potential hydrogen) air hujan di sejumlah daerah tersebut adalah 7,2 sampai 7,4. Artinya, secara kualitas, air hujan di Indonesia masih layak diminum manusia. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah mengembangkan dua bentuk sistem pemanfaatan dan pengolahan air hujan untuk air minum. Keduanya bernama Sistem Pemanfaatan Air Hujan (SPAH) dan Pengolahan Air Siap Minum (ARSINUM). Cara pengolahan air dengan metode lebih sederhana juga dikembangkan sejumlah komunitas pemanen air hujan di sekitar Magelang, Klaten dan Jogja dan sejumlah daerah lain.

Misalnya ialah cara pengolahan air hujan menjadi air siap minum yang dilakukan oleh Komunitas Banyu Bening di Sleman (DI Yogyakarta) dan Komunitas Kandang Udan di Desa Bunder, Klaten (Jawa Tengah).

Proses Penyerapan Air Hujan ke Dalam Tanah Mengutip modul tema 8 berjudul Lingkungan Sahabat Kita terbitan Kemdikbudpenyerapan air hujan ke tanah dapat melalui celah-celah, pori-pori tanah, maupun melalui batuan. Air yang masuk ke dalam tanah, akan menjadi sumber air atau air cadangan.

air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses

Oleh karenanya, penting menyediakan daerah resapan air agar ada air cadangan. Biasanya, daerah resapan air tersedia di hutan-hutan dengan vegetasi yang masih rapat. Pepohonan yang ada di hutan, mampu menguatkan struktur tanah.

Ketika hujan turun, air tidak langsung hanyut begitu saja, tapi air akan terserap, dan tersimpan di dalam tanah. Dengan begitu, air yang tersimpan akan menjadi air tanah. Peran tumbuhan sangat penting untuk memudahkan penyerapan air ke tanah, terutama pada bagian akar tumbuhan. Air dan akar di dalam tanah mampu membuat struktur tanah menjadi kukuh, dan tidak mudah longsor.
Hai, Quipperian! Kamu tentu sudah tahu kalau Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki musim kemarau dan musim hujan.

Kalau berbicara soal hujan, kamu pernah enggak bertanya-tanya bagaimana ya proses terjadinya hujan? Apalagi hujan yang turun bisa menyediakan air segar bagi kita yang hidup di bumi. Hujan juga memungkinkan kehidupan modern dengan menyediakan air bagi pertanian, industri, dan energi listrik.

Awan berwarna abu-abu kehitaman, suara gemuruh, dan angin yang sepoi-sepoi biasanya jadi pertanda akan turun hujan. Kalau dilihat dari fenomena alam yang luar biasa ini, proses terjadinya hujan ternyata enggak sesimpel itu lho, Quipperian. Hujan yang turun adalah bagian dari siklus hidrologi bumi, di mana proses ini dimulai dari air lautan lalu ke daratan dan akan kembali lagi ke laut.

Biar kamu enggak makin penasaran, kali ini Quipper Blog akan menjabarkan proses terjadinya hujan. Kuylangsung simak penjelasannya berikut ini, ya! Fakta Menarik Dibalik Proses Terjadinya Hujan Bagaimana Sih Proses Terjadinya Hujan? Mungkin kamu pernah menggantungkan handuk basah di bawah terik sinar matahari, lalu setelah kamu diamkan beberapa jam handuk itu sudah kering. Hmmkemana ya perginya air itu? Kok hilang secara misterius? Ternyata mereka itu enggak hilang, tapi mengalami yang namanya penguapan (evaporasi).

Proses penguapan adalah proses perubahan molekul atau benda cair menjadi gas. Artinya, air di handuk tersebut bukannya hilang, melainkan berubah bentuk menjadi gas dengan bantuan energi panas. Sama halnya dengan proses terjadinya hujan, permukaan air juga menguap karena terkena panas matahari.

Tapi, bukan hanya energi panas saja sih sebenarnya, ada beberapa faktor lainnya juga yang memengaruhi terjadinya penguapan seperti suhu, kelembapan, dan kecepatan angin. Penguapan juga bisa lho terjadi di tanah, salju, dan es. Tapi, bedanya salju dan es ini mengalami perubahan langsung dari padat menjadi uap yang dikenal dengan proses sublimasi. Pada tanaman, penguapan air juga terjadi melalui pori-pori kecil atau stomata mereka yang dikenal dengan proses transpirasi.

Setelah menguap, molekul air kemudian dibawa ke atmosfer. Setelah uap ini sampai ke atmosfer, mereka mulai mendingin dan membentuk tetes-tetesan air kecil dengan adanya proses pengembunan (kondensasi).

Proses ini merupakan perubahan wujud gas menjadi cairan ketika molekul air sudah mencapai temperatur atau titik embunnya. Kemudian pada proses terjadinya hujan, tetes-tetes air ini akan bergabung menjadi satu dan membesar, yang tentu saja massanya akan semakin berat.

Tetesan atau kristal yang mengumpul inilah yang sering disebut dengan awan. Karena adanya gravitasi dan udara juga sudah enggak mampu menahan berat air, tetes air akhirnya jatuh ke tanah sebagai hujan. Tapi, ada kalanya kristal yang turun ke bumi tadi melewati lapisan udara yang tetap dingin, sehingga pencairan enggak bisa terjadi.

Mereka akan mengumpul bahkan membentuk batu es. Nah, fenomena inilah yang kita kenal dengan hujan es, di mana hal ini juga pernah terjadi di Indonesia.

Apa yang Terjadi Ketika Hujan Turun? Hujan yang jatuh ke bumi didistribusikan ke dalam empat cara, yaitu sebagian dikembalikan ke atmosfer melalui penguapan, ada yang dicegah oleh vegetasi yang kemudian diuapkan dari permukaan daun, sebagian lagi meresap ke dalam tanah, dan sisanya mengalir langsung ke permukaan laut.

Hujan yang jatuh ke daratan nantinya akan mengalir kembali ke sungai, laut, danau, dan samudra. Quipperian, kalau kita melihat proses terjadinya hujan tadi, selama air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses air yang kita gunakan adalah hasil dari siklus bumi itu sendiri.

Hal ini diperkirakan bahkan sudah air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses sejak 3,8 miliar tahun yang lalu ketika bumi kondisinya masih mendingin. Energi dari matahari membantu menggerakan terjadinya siklus air dan gravitasi bumi mencegah air di atmosfer meninggalkan bumi. Jenis-Jenis Hujan Setelah tadi kamu sudah mengetahui proses terjadinya hujan, rupanya pembentukan hujan juga bermacam-macam lho tergantung dari wilayah tempat terjadinya.

Ada 4 jenis hujan yang dikenal dan berikut ini ulasannya buat kamu. 1. Hujan Konvektif Hujan ini terjadi ketika adanya perbedaan panas yang diterima lapisan udara di atas permukaan tanah dengan panas yang diterima permukaan tanah.

Udara ini lebih hangat daripada udara di sekitarnya, sehingga naik ke atmosfer. Semakin tinggi ke atmosfer, maka udara panas tadi mulai mendingin. Akibatnya, uap air mengembun menjadi air yang kemudian membentuk awan cumulonimbus sebelum akhirnya turun menjadi hujan. Jenis hujan ini terjadi pada cakupan wilayah yang lebih kecil, sehingga seringkali kita menemukan di wilayah tertentu turun hujan tetapi di sekitarnya enggak terjadi hujan.

Insentisitasnya juga cukup tinggi dan terjadi relatif cepat. 2. Hujan Orografi atau Relief Jenis hujan yang satu ini sering terjadi di daerah pegunungan atau perbukitan. Proses terjadinya hujan diakibatkan angin yang mendorong udara ke arah bukit atau gunung.

Kemudian, udara dipaksa naik karena enggak bisa masuk ke dalam bukit atau gunung tersebut. Ketika mencapai puncak dari bukit, udara mulai mendingin. Lalu, jika sudah mencapai cukup kelembapan, ia akan mengembun dan membentuk awan hingga akhirnya jatuh sebagai tetesan hujan. Kalau suhunya cukup dingin, jenis hujan ini bisa membentuk bola-bola salju. 3. Hujan Frontal Hujan ini terjadi ketika adanya pertemuan udara dingin dengan udara hangat.

Udara hangat naik ke atmosfer yang kemudian menabrak udara dingin.

air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses

Namun, seperti saat kamu mendaki bukit, semakin tinggi naik ke atmosfer, semakin dingin pula suasananya. Udara hangat yang naik tadi juga mulai mendingin dan membentuk awan stratus, sebelum akhirnya menjadi hujan. Hujan frontal biasanya disertai badai petir, lengkap dengan kilat yang sering terjadi.

Fenomena ini bisa berlangsung hingga beberapa menit bahkan beberapa jam. 4. Hujan Muson Seperti namanya, hujan yang satu ini memang diakibatkan oleh angin muson. Angin ini merupakan angin yang menyebabkan musim hujan dan musim kemarau.

Sepanjang tahun, angin ini berhembus dari benua Asia ke Australia dengan perubahan arah seiring musim. Karena melewati banyak samudera, angin ini menciptakan banyak uap air yang mengakibatkan proses terjadinya hujan. Hujan muson sendiri turun di India, Asia Tenggara, dan tempat lainnya. Fakta Menarik Dibalik Proses Terjadinya Hujan Pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana ya bentuk hujan? Apakah semua tetesan air hujan itu jatuh ke bumi? Ternyata, dibalik proses terjadinya hujan, ada banyak fakta menarik lho yang bisa bikin kita tercengang.

Quipperian, berikut adalah beberapa fakta menarik tentang hujan: β€’ Ada air hujan yang bertahan di beberapa tempat lebih lama dari yang lainnya. Setetes air mungkin bisa menghabiskan lebih dari 3.000 tahun di lautan sebelum akhirnya berpindah ke tempat lainnya. β€’ Antartika adalah benua terkering di bumi.

β€’ Tetesan hujan rata-rata jatuh dengan kecepatan 1 hingga 18 mph, tapi mereka bisa jatuh lebih cepat saat ada angin. β€’ Bentuk hujan bukan hanya berupa air, melainkan mereka bisa berwujud debu, serangga, kotoran, rumput, atau bahkan bahan kimia.

β€’ Setetes air hujan membutuhkan rata-rata 8 hari di atmosfer sebelum akhirnya jatuh ke bumi. β€’ Jumlah curah hujan tertinggi terjadi di Cherrapunji, India. β€’ Hujan dengan kadar asam yang tinggi (pH rendah) yang disebut hujan asam disebabkan oleh pelepasan sulfur dioksida dan nitrogen oksida ke udara. Hujan ini bisa berbahaya lho untuk tumbuhan dan hewan. β€’ Ketika tetesan hujan jatuh ke tanah liat atau tanah berdebu, mereka akan memerangkap gelembung udara kecil di permukaan yang naik ke atas dan meledak keluar dari tetesan tersebut.

Hal ini kemudian menghasilkan kantong-kantong bau ke udara yang kemudian dibawa oleh angin. Untuk itu, bau hujan identik dengan bau tanah. Quipperian, itulah tadi penjelasan mengenai proses terjadinya hujan. Seru banget kan mengetahui bagaimana prosesnya? Semoga ulasan di atas bisa membantu untuk menghapus rasa penasaran dan kebingungan kamu ya tentang hujan. Jangan lupa ikuti dan cek terus pembahasan seru lainnya di Quipper Blog. Kamu juga bisa lho subscribe Quipper Video karena di sana akan ada banyak banget materi pembelajaran yang seru buat kamu.

[spoiler title=SUMBER] β€’ sciencing.com/ β€’ coolkidfacts.com/ β€’ weather.com/ β€’ britannica.com/ β€’ sciencing.com/ [/spoiler] Angin : Proses, Manfaat & Jenisnya- Geografi Kelas. Januari 29, 2021 El Nino : Pengertian Proses & Dampak –. Januari 29, 2021 Cuaca dan Iklim – Unsur Utama, Unsur Pelengkap.

Januari 29, 2021 Kabut : Pengertian, Proses & Jenisnya – Geografi. Januari 27, 2021 Embun – Geografi Kelas 10 Januari 27, 2021 Kepadatan Penduduk – Geografi Kelas 11 Desember 29, 2020
Hujan menjadi berkah bagi setiap makhluk hidup, karena melalui hujan air turun ke bumi. Air merupakan material yang penting dan mendukung proses kehidupan makhluk hidup. Air menjadi salah satu material penyusun tubuh makhluk hidup dan juga berperan dalam aktivitas-aktivitas manusia, seperti mencuci, membersihkan diri, dan lain-lain.

Uap air akan bergerak menuju atmosfer dan berubah menjadi awan. Kondensasi merupakan proses perubahan bentuk dari gas menjadi air. Proses kondensasi bergantung pada tingkat kejenuhan uap air di udara dan besarnya penurunan suhu. Namun, kondensasi juga memerlukan condensation nuclei atau benih hujan supaya proses kondensasi tetap dapat terjadi air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses atmosfer. Condensation nuclei merupakan partikel atau butiran kristal garam kecil yang berasal dari garam yang teruapkan dari laut.

Awan akan bergerak ke tempat bertekanan rendah dan jatuh ke permukaan bumi dalam bentuk air. Air hujan turun akan sampai ke permukaan bumi dan meresap melalui pori-pori tanah dan sebagian lagi mengalir di atas permukaan bumi di parit atau sungai lalu mengalir ke laut. Sebagian hujan (kurang lebih 80%) jatuh di laut, sedangkan sisanya (sekitar 20%) jatuh di daratan.Aku Pintar Masuk β€’ Halaman Utama β€’ Media Sosial Aku Pintar β€’ Layanan Siswa β€’ Layanan Konselor β€’ Layanan Universitas β€’ Layanan Guru β€’ Layanan Sekolah β€’ Tentang Kami β€’ Syarat dan Ketentuan β€’ Kebijakan Privasi β€’ Community Guidelines β€’ Bantuan β€’ Blog β€’ Info Pintar β€’ Cari Kampus β€’ Cari Jurusan β€’ Cari Sekolah β€’ Belajar Pintar Materi SMP, SMA, SMK β€’ Tes Kepribadian β€’ Tes Jurusan Kuliah β€’ Tes Kemampuan β€’ Tes Gaya Belajar β€’ Kursus Pintar β€’ Ruang Pintar β€’ Karir β€’ Bugs Bounty β€’ Beasiswa Pintar β€’ Other Page β€’ Register Expo AkuPintar β€’ Syarat dan Ketentuan Teman Pintar β€’ apkampus-syarat-dan-ketentuan β€’ Pendaftaran Kampus UPH β€’ Blog Pendidikan Siklus Air: Definisi, Proses, dan Jenis Siklus Hidrologi β€’ beranda β€’ blog β€’ layanan β€’ layanan siswa β€’ Cari Kampus β€’ Cari Jurusan β€’ Cari Sekolah β€’ Belajar Pintar β€’ Kursus Pintar β€’ Ruang Pintar β€’ Pendaftaran Kampus β€’ selengkapnya β€’ layanan konselor β€’ Ajakan kolaborasi dalam konseling pendidikan anak β€’ selengkapnya β€’ layanan universitas β€’ Anda adalah pihak kampus yang membutuhkan transformasi digital untuk menjaring calon mahasiswa/i?

β€’ selengkapnya β€’ tentang kami β€’ faq β€’ Follow Us β€’ Login Sobat Pintar pernah tidak berpikir apakah air yang ada di bumi dapat habis jika kita pakai terus menerus?

Coba kita hitung dan bayangkan, saat ini Indonesia memiliki jumlah penduduk sekitar 270 juta. Setiap harinya mereka membutuhkan air bersih untuk minum rata-rata 3 liter per orang. Berarti per hari dibutuhkan 810 juta liter air bersih hanya untuk minum, belum untuk kegiatan yang lain seperti mencuci, mandi, dan memasak. Bisa Sobat Pintar bayangkan berapa banyak air bersih yang dibutuhkan dalam waktu satu bulan hanya untuk penduduk Indonesia saja?

Dari mana air sebanyak itu bisa kita dapatkan setiap harinya? Sobat Pintar dapat menemukan jawabannya dengan memahami apa itu siklus air atau siklus hidrologi yang akan kita bahas pada artikel kali ini. Eits. untuk kelengkapan sub lainnya dan evaluasi akhir ada di fitur Belajar Pintar bab Ekologi di aplikasi Aku Pintar ya, Sobat. Pengertian dan Tahapan Siklus Air Siklus hidrologi atau daur air yang dikenal juga dengan istilah siklus air adalah sirkulasi air yang menggambarkan pergerakan molekul air (H2O) dari atmosfer ke bumi dan sebaliknya, yang tidak pernah berhenti sehingga membentuk rangkaian melingkar perjalanan molekul air di bumi yang disebut siklus.

Berikut tiga proses utama siklus air atau siklus hidrologi yang perlu Sobat Pintar ketahui. 1. Evaporasi/Transpirasi Istilah evaporasi digunakan untuk menunjukkan proses penguapan air yang berasal dari laut, sungai, danau, dan badan air lainnya.

Sedangkan transpirasi merupakan pelepasan molekul air sebagai hasil metabolisme dari tumbuh-tumbuhan. Pada prinsipnya keduanya sama karena merupakan proses perubahan zat cair menjadi gas yang akan berkumpul di atmosfer. 2. Kondensasi Kondensasi adalah proses perubahan air dari gas menjadi cair, atau kita kenal dengan istilah pengembunan, yang merupakan kebalikan dari evaporasi atau penguapan.

Pada siklus hidrologi, kondensasi terjadi di atmosfer akibat perubahan suhu dan tekanan. Akibat adanya kondensasi, air akan berkumpul membentuk awan hitam yang siap turun sebagai hujan ketika mencapai titik jenuh.

3. Presipitasi Presipitasi merupakan produk dari kondensasi. Presipitasi dapat terjadi karena adanya pendinginan dan penambahan uap air, sehingga air yang membentuk awan mencapai titik jenuh. Semakin banyak uap air yang terbentuk di atmosfer, maka tetesan air yang air hujan yang jatuh ke bumi sebagian masuk ke dalam tanah melalui proses di awan akan semakin banyak dan semakin berat.

Ketika awan tidak mampu menampung banyaknya air yang terbentuk, maka air tersebut akan dikeluarkan dalam bentuk hujan. Air akan turun dalam bentuk salju ketika suhu berada di bawah titik beku (0 derajat Celcius atau 32 derajat Fahrenheit).

Karena rendahnya suhu ketika musim dingin, uap air di atmosfer akan terkondensasi menjadi es yang padat tanpa melalui tahap cair. Kristal es yang terbentuk akan menyerap dan membekukan uap air tambahan dari udara disekitarnya menjadi kristal salju yang kemudian jatuh ke bumi.

Selain ketiga istilah yang menggambarkan proses daur air yang telah kita bahas di atas, ada beberapa istilah lain yang perlu Sobat Pintar ketahui untuk lebih memahami proses yang terkait dengan siklus hidrologi yaitu: - Intersepsi, air hujan terjebak di atas tanaman kemudian menguap sebelum mencapai tanah.

- Adveksi, awan bergerak menuju tempat lain karena bantuan angin. - Run off, air bergerak di darat dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. - Infiltrasi, air meresap ke dalam pori-pori tanah. Nah Sobat, proses dan tahapan tersebut akan berulang terus-menerus sehingga air yang ada di bumi akan berputar dan tidak akan habis.

Macam-Macam Siklus Air Siklus air atau siklus hujan dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan panjang dan lama proses pergerakan molekul air. Siklus pendek Siklus air pendek diawali dari evaporasi air laut ke atmosfer.

Pada ketinggian tertentu, uap air akan mengalami kondensasi yang akan membentuk awan. Awan yang tak mampu menahan beban air akan mengalami presipitasi dan terjadi hujan sehingga air jatuh kembali ke laut. Siklus sedang Seperti yang terjadi pada siklus pendek, siklus sedang terjadi ketika air laut menguap. Yang membedakan adalah uap air akan terbawa oleh angin menuju daratan. Di ketinggian tertentu, uap air mengalami proses kondensasi menjadi awan.

Awan kemudian menjadi hujan yang jatuh di daratan, meresap ke dalam tanah, sebagian akan diserap oleh akar tumbuhan, sebagian lagi akan terbawa aliran air permukaan seperti sungai dan parit. Air akan melewati berbagai macam saluran-saluran air yang akan membawanya kembali berakhir ke laut.

Siklus panjang Siklus panjang diawali dengan evaporasi dan kondensasi air laut. Awan yang terbentuk dibawa oleh angin ke tempat yang lebih tinggi di area daratan. Nah, awan yang terbentuk tadi bergabung dengan uap air yang berasal dari evaporasi danau dan sungai, serta transpirasi tumbuhan. Karena dipengaruhi ketinggian tempat, uap air mengenai lapisan udara dingin dan berubah menjadi salju sehingga terjadilah hujan salju saat musim dingin dan juga membentuk bongkahan es di pegunungan tinggi.

Bongkahan es di pegunungan akan meluncur ke tempat lebih rendah akibat gaya gravitasi. Bongkahan es yang meluncur karena gaya gravitasi ini disebut gletser.

Gletser yang terkena suhu tinggi kemudian mencair dan mengalir melalui perairan darat yang akan kembali ke laut. Krisis Air Bersih Jika Sobat Pintar mengamati permukaan bumi di peta, terlihat sebagian besar bumi tertutupi oleh air. Hal tersebut membuat kita berpikir seakan-akan sumber air di dunia ini sangat melimpah. Namun pada kenyataannya, 97.5% air di bumi adalah air laut dan air payau yang tidak dapat dikonsumsi.

Sisanya hanya 2.5% adalah air tawar yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari 2.5% sumber air tawar tersebut, yang dapat dipakai manusia hanyalah 0.003% saja karena sebagian besar air tawar di bumi tersimpan dalam bentuk es dan gletser atau endapan salju.

Sehingga, cadangan air bersih terbagi secara tidak merata di permukaan bumi. Hal tersebut dapat menyebabkan krisis air bersih di daerah-daerah tertentu. Banyak faktor yang dapat memicu terjadinya krisis air bersih. Faktor utama pemicu kelangkaan air bersih adalah overpopulasi yang diiringi dengan meningkatnya pertumbuhan industri. Akibatnya, ekosistem air berubah seperti yang terjadi di beberapa wilayah, misalnya di Surabaya, Jawa Timur, dan Jakarta.

Faktor lain yang dapat menyebabkan kelangkaan air bersih adalah konflik yang berkepanjangan, seperti yang terjadi di Palestina dan Pakistan. Konflik perebutan lahan dan peperangan dapat menyebabkan polusi air yang diakibatkan oleh bahan-bahan kimia berbahaya. Selain itu, kekeringan yang terjadi di wilayah dengan curah hujan rendah juga dapat mengakibatkan krisis air bersih. Demikian pula dengan aktivitas manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan, seperti eksploitasi hutan berlebihan tanpa diimbangi dengan reboisasi.

Akibatnya, terjadilah perubahan iklim yang tidak menentu sehingga dapat menyebabkan bencana kekeringan di berbagai wilayah. Writer: Zakiyathun Nuha Editor: Deni Purbowati, Qorin R

Kerusakan Lingkungan dan Upaya Mengatasinya




2022 www.videocon.com