Pendidikan luar sekolah adalah

pendidikan luar sekolah adalah

BERBAGAI PENGARTIAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH MENURUT PARA AHLI • Philip H.Coombs Philip H.Coombs berpendapat bahwa pendidikan luar sekolah adalah semua kegiatan pendidikan yang terorganisasi, sistematis dan dilaksanakan di luar sistem pendidikan formal, yang menghasilkan tipe-tipe belajar yang dikehendaki oleh kelompok orang dewasa maupun anak-anak. • Russel Kleis Russel Kleis,dalam bukunya Non-formal Education mengemukakan bahwa pendidikan luar sekolah adalah usaha pendidikan yang dilakukan secara sengaja dan sistematis.

Biasanya pendidikan ini berbeda dengan pendidikan tradisional terutama yang menyangkut waktu, materi, isi dan media. Pendidikan luar sekolah dilaksanakan dengan sukarela dan selektif sesuai dengan keinginan serta kebutuhan peserta didik yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh. • Axinn Axinn mengemukakan bahwa pendidikan luar sekolah merupakan kegiatan yang ditandai dengan kesengajaan dari kedua belah pihak, yaitu pendidik yang sengaja membelajarkan peserta didik, dan peserta didik yang sengaja untuk belajar.Suzanna Kindervatter mengemukakan definisi pendidikan luar sekolah sebagai berikut: pendidikan luar sekolah sebagai suatu metoda penerapan kebutuhan, minat orang dewasa dan pemuda putus sekolah di negara berkembang, membantu dan memotivasi mereka untuk mendapatkan pendidikan luar sekolah adalah guna menyesuaikan pola tingkah laku dan aktivitas yang akan meningkatkan produktivitas dan meningkatkan standar hidup.

Suzanna Kindervatter mengusulkan pendidikan luar sekolah sebagai “empowering process”.Empoweringprocessadalah pendekatan yang bertujuan untuk memberikan pengertian dan kesadaran kepada seseorangatau kelompok guna memahami dan mengontrol kekuatan sosial ekonomi dan politik sehingga dapat memperbaiki kedudukannya dalam pendidikan luar sekolah adalah.

Program pembelajaran dalam empowering process dirancang untuk memberi kesempatan kepada para anak putus sekolah, dengan menganalisis keadaan kehidupan mereka guna, mengembangkan keterampilan yang dikehendaki agar dapat merubah keadaan kehidupan mereka. • Adikusumo Adikusumo (1986: 57) dalam bukunya Pendidikan Kemasyarakatan mengemukakan pengertian pendidikan luar sekolah sebagai berikut pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah, dimana seseorang memperoleh informasi-informasi pengetahuan, latihan ataupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya dengan tujuan mengembangkan tingkat kerterampilan, sikap-sikap peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga bahkan masyarakat dan negaranya.

• Sudjana Sudjana, mengemukakan pengertian pendidikan luar sekolah sebagai berikut: “Pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan belajar membelajarkan, diselenggara-kan luar jalur pendidikan sekolah dengan tujuan untuk membantu peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi diri berupa pengetahuan, sikap, keterampilan, dan aspirasi yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, pendidikan luar sekolah adalah, bangsa, dan negara • Santoso S.

Hamodjojo Prof. Santoso S. Hamodjojo (1998) strategi PLS adalah untuk meletakkan sistem yang tangguh untuk menangani pendidikan sepanjang hidup, dengan jalur insidental, informal, nonformal dan formal bagi semua warga negara untuk menggalang masyarakat gemar belajar yang beradab dan demokratis (madani). • Dr.H. Sutaryat Trisnamansyah PLS menurut Prof. Dr.H. Sutaryat Trisnamansyah (1997) adalah konsep pendidikan sepanjang hayat yang mengandung karakteristik, bahwa pendidikan tidak berakhir pada saat pendidikan sekolah selesai ditempuh oleh seorang individu, melainkan suatu proses sepanjang hayat, mencakup keseluruhan kurun waktu hidup seorang individu sejak lahir sampai mati.

• Suparjo Adikusumo Menurut Suparjo Adikusumo dalam Yoyoh (2000:) mengatakan bahwa: Pendidikan Luar Sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah, dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan ataupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya dengan tujuan untuk mengembangkan tingkat keterampilan, sikap-sikap dan nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarganya bahkan masyarakat dan warganya.

DAFTAR PUSTAKA Santoso, R.A. (1956). Pendidikan Masyarakat I, II, III. Bandung : Ganaco,NV Sudjana, Djudju, (2004); Pendidikan Non Formal, Fallah Production, Bandung Sudjana, D. (2000). Pendidikan Luar Sekolah; Wawasan, Sejarah Perkembangan, Falsafat, Teori Pendukung, Azas. Bandung : Falah Production Sujana, S HD. 2005. Strategi kegiatan Belajar Mengajar dalam Pendidikan Luar Sekolah, Penerbit Falah Production, Bandung.

Suprayogi. 2005. Pengembangan Model Program pendidikan Luar Sekolah dalam Memperdayakan kelompok Masyarakat Lanjut Usia Mencapai Kemandirian, Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung Trisnamansyah, S. 1986 Pengantar Pendidikan Luar Sekolah, Kurnia Universitas Terbuka, Jakarta Trisnamansyah, S, (2004), Filsafat, Teori dan Konsep Pendidikan Luar Sekolah, Handout Perkuliahan, Program PLS PPS UPI, Bandung.

pendidikan luar sekolah adalah

Sumber http://sahabat-pendidikanku.blogspot.sg/2014/11/pengartian-pendidikan-luar-sekolah.html Artikel Selanjutnya Pendidikan Luar Sekolah Contoh dan Prospek Kerjanya Lengkap Wajib Tahu. Kalau Kamu memiliki kemampuan dalam bidang kesekretariatan kearsipan dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan administrasi Kamu bisa melamar kerja sebagai tenaga administrasi di PNFI. Mengenal Beberapa Mata Kuliah Pendidikan Luar Sekolah Jenjang S1 Pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan belajar membelajarkan diselenggarakan di luar jalur pendidikan sekolah dengan tujuan untuk membantu peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi diri berupa pengetahuan sikap keterampilan dan aspirasi yang bermanfaat bagi dirinya keluarga masyarakat lembaga bangsa dan negara.

Pendidikan luar sekolah jadi apa. Mengenal Apa Itu Pendidikan Luar Sekolah PLS dan Fungsinya. Sunday August 09 2020. Dengan profesi yang satu ini ternyata Anda bisa mendapatkan gaji kisaran 25 jutaan setiap.

Pendidikan luar sekolah PLS sesungguhnya bukan merupakan hal yang baru dalam kehidupan manusia Faure 1981. Penyelenggaraan pendidikan bagi masyarakat di Di tengah geliat dinamika peningkatan dan pendidikan luar sekolah adalah kapasitas masyarakat baik individu maupun komunal. Pendidikan luar sekolah merupakan lahan serta sarana baru dengan efektivitas waktu tinggi. Sunday August 09 2020.

Tujuan dari program studi ini adalah mempersiapkan para lulusan yang bisa berkompetisi dalam bidang pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Pendidikan luar sekolah berjalan sesuai dengan peradaban manusia yang diwujudkan melalui berbagai kegiatan manusia untuk. Di mana seorang tutor ini akan melatih anak dalam meluaskan cara pandang terhadap berbagai permasalahan hidup. Jadi apa kependekan dari NPSN Mengapa NPSN menjadi sangat penting sekarang. Sehingga dapat mengembangkan bakat dan minat tanpa harus mengenyam studi formal yang dikenal memiliki disiplinitas sangat ketat.

Dapat dicontohkan seperti mengenai sikap toleransi yang bersifat tidak sederhana. Dalam beberapa kasus banyak siswa. Sekolah tentu yang paling banyak mengurusnya adalah pemerintah.

Sebenarnya pendidikan oleh orang tua kepada anaknya itu juga pendidikan luar sekolah lho pendidikan ini merupakan kategori pendidikan informal. Bahkan ada kalanya seorang lulusan sekolah yang ingin mendaftar kuliah juga membutuhkan NPSN dari sekolah asal. Melalui artikel ini diulas peluang kerja dari prodi pendidikan luar biasa PLB antara lain sebagai berikut. Pendidikan luar sekolah juga lebih dikenal sebagai pendidikan non formal atau pendidikan masyarakat.

Pendidikan luar sekolah jadi apa. Para lulusan IPDN tersebut bisa ditempatkan. Peluang kerja selanjutnya yang bisa Anda dapatkan dari jurusan Pendidikan Luar Sekolah adalah menjadi laboran PNFI. Jadi dengan pendidikan luar sekolah telah terkandung semua unsur yang disyaratkan oleh suatu sistem seperti anak didik pendidik waktu materi dan tujuan Dengan sistem pendidikan luar sekolah berarti adanya suatu pola tertentu untuk melakukan pekerjaanfungsi yakni mendidik pekerjaanfungsi mana pendidikan luar sekolah adalah dengan perjalananfungsi sistem pendidikan formal.

Pendidikan formal yang dilaksanakan selama 9 tahun lamanya dengan atau tanpa tambahan perkuliahan selama 3-4 tahun. Mereka yang menjadi sasaran program pendidikan ini akan dilatih secara telaten untuk mengembangkan bakat serta minat. Jadi pendidikan luar sekolah adalah pendidikan dimana setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah diluar sekolah dan seseorang memperoleh informasipengetahuanlatihanatau bimbingan sesuai dengan kebutuhan hidup.

Mengenyam pendidikan formal merupakan hak setiap warga negara. Pendidikan itu berlangsung seumur hidup dari kita lahir hingga kita wafat kita sangat memerlukan pendidikan jadi bukan hanya pada saat kita sekolah. 5 PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH Pendidikan luar pendidikan luar sekolah adalah sebenarnya sudah ada sebelum pendidikan formal lahir. Anda bisa ditempatkan di beberapa instasi kepemerintahan baik ada yang di pusat maupun di daerah. Peluang atau prospek kerja pendidikan luar sekolah berikutnya adalah menjadi administrasi PNFI.

pendidikan luar sekolah adalah

Program studi Pendidikan Luar Sekolah ini memberikan peluang yang lebih besar kepada para lulusan untuk. Apabila dilihat dari sisi anggaran perhatian pemerintah pada jalur pendidikan luar sekolah dirasakan masih amat kurang Umberto Sihombing 2000 walaupun dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989. Pendidikan Masyarakat di Luar Sekolah Apa Kabar. Dalam pendidikan luar sekolah anak juga akan diajarkan mengenai ilmu pengetahuan baru yang belum di dapatkan di bangku sekolah.

Pendidikan luar sekolah apa. Bahkan malah pendidikan di luar sekolah itulah yang katanya paling mewarnai seseorang dan menentukan kesuksesan seseorang. Lulusan pendidikan luar sekolah jadi apa.

Nah kalau di sekolah ada kurikulum pendidikannya kalau di luar sekolah kurikulumnya seperti apa ya. Jadi di sini Anda tidak hanya bisa menjadi pengelola dan penyelenggara PNFI saja namun juga bisa menjadi laboran PNFI. Kata Kang Dadang pendidikan itu tidak harus di sekolah.

pendidikan luar sekolah adalah

Cari tahu informasi tentang jurusan Pendidikan Luar Sekolah di tahun 2021. Latar Belakang Indonesia memiliki masalah-masalah kependidikan yang memprihatinkan. Makalah Pendidikan Luar Sekolah Makalah Pendidikan Luar Sekolah Makalah Pendidikan Luar Sekolah Pdf Faktor Faktor Penting Dalam Merancang Program Pendidikan Luar Sekolah Untuk Anak Jalanan Dan Pekerja Anak Pernah Dengar Soal Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Simak Peluang Karirnya Satukanal Com 10 Peluang Atau Prospek Kerja Pendidikan Luar Sekolah Dan Gajinya Makalah Pendidikan Luar Sekolah Yuk Kenalan Dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Makalah Pendidikan Luar Sekolah Kategori wallpaper Tag luar, pendidikan, sekolah Navigasi Tulisan
Pendidikan luar sekolah ( bahasa Inggris: Out of school education) adalah pendidikan yang dirancang untuk membelajarkan warga belajar agar mempunyai jenis keterampilan dan atau pengetahuan serta pengalaman yang dilaksanakan pendidikan luar sekolah adalah luar jalur pendidikan formal (persekolahan).

Pendidikan luar sekolah mempunyai semboyan atau moto yaitu menyiapkan sumber daya manusia yang cerdas, terampil dan mandiri. Karakteristik pendidikan luar sekolah [ sunting - sunting sumber ] • Pendidikan Luar Sekolah sebagai Subtitute dari pendidikan sekolah. Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dapat menggantikan pendidikan jalur sekolah yang karena beberapa hal masyarakat tidak dapat mengikuti pendidikan di jalur persekolahan (formal).

Contohnya: Kejar Paket A, B dan C • Pendidikan Luar Sekolah sebagai Supplement pendidikan sekolah. Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dilaksanakan untuk menambah pengetahuan, keterampilan yang kurang didapatkan dari pendidikan sekolah. Contohnya: Les Privat, training • Pendidikan Luar Sekolah sebagai Complement dari pendidikan sekolah.

Artinya, bahwa pendidikan luar sekolah dilaksanakan untuk melengkapi pengetahuan dan keterampilan yang kurang atau tidak dapat diperoleh di dalam pendidikan sekolah. Contohnya: Kursus, try out, pelatihan dll • Halaman ini terakhir diubah pada 6 Juli 2019, pukul 08.25.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

• Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • pengertian dan ciri-ciri pendidikan luar sekolah Pendidikan luar sekolah ( PLS) sebenarnya sudah ada sebelum pendidikan formal lahir. PLS sesungguhnya bukan merupakan hal yang baru dalam kehidupan manusia. PLS berjalan sesuai dengan pendidikan luar sekolah adalah manusia yang diwujudkan melalui berbagai kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Berikut ini beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian pendidikan luar sekolah. Pengertian Pendidikan Luar Sekolah (PLS) 1. P. H. Coombs P. H. Coombs menyatakan bahwa pendidikan luar sekolah ( PLS) adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisasi, sistematis dan dilaksanakan di luar sistem pendidikan formal, dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting dari kegiatan yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk memberikan pelayanan kepada sasaran didik dalam mencapai tujuan belajarnya.

2. Kindervatter Kindervatter mengemukakan bahwa pendidikan luar sekolah ( PLS) sebagai suatu metode penerapan kebutuhan, minat orang dewasa dan pemuda putus sekolah di negara berkembang, membantu dan memotivasi mereka untuk mendapatkan keterampilan guna menyesuikan pola tingkah laku dan aktivitas yang akan meningkatkan produktivitas dan meningkatkan standar hidup.

3. Komunikasi Pembaharuan Nasional Pendidikan Pendidikan luar sekolah ( PLS) adalah setiap kesempatan yang ditandai adanya komunikasi yang teratur dan terarah, di luar sekolah dengan tujuan memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan kehidupan, untuk mengembangkan keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta-peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya.

Berdasarkan pendapat-pendapat yang dikemukakan dapat disimpulkan bahwa pendidikan luar sekolah ( PLS) yaitu semua kegiatan pendidikan yang terorganisasi, sistematis dan dilaksanakan di luar sistem pendidikan formal, guna menyesuaikan pola tingkah laku dan aktivitas yang akan meningkatkan prosuktivitas dan meningkatkan standar hidup sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Ciri-ciri Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Berdasarkan sejarah perkembangan dan banyaknya aktivitas yang dilaksanakan, menurut Joesoef ciri-ciri pendidikan luar sekolah ( PLS) adalah sebagai berikut: • macam bentuk PLS tergantung macam tujuan pendidikan • keterbatasan PLS yang dipandang sebagai pendidikan formal dan dipandang sebagai pelengkap bentuk-bentuk pendidikan formal • tanggungjawab penyelenggaraan PLS dibagi oleh pengawasan umum/masyarakat, pengawasan pribadi atau kombinasi keduanya • beberapa lembaga PLS didisiplinkan secara ketat terkait hal waktu pengajaran, teknologi modern, kelengkapan dan buku-buku bacaan • metode pengajaran bermacam-macam dari tatap muka atau guru dan kelompok-kelompok belajar sampai penggunaan audio televisi, unit latihan keliling, demonstrasi, kursus-kursus korespondensi maupun alat-alat bantu visual • penekanan pendidikan luar sekolah adalah PLS terkait penyebaran program teori dan praktek secara relatif • tingkat/jenjang sistem PLS terbatas pada kredensial, yaitu proses pembentukan kualifikasi profesional yang berlisensi, yang diberikan kepada anggota atau organisasi, dengan menilai latar belakang dan legitimasi • guru-guru dilatih secara khusus untuk tugas tertentu atau hanya mempunyai kualifikasi profesional dan tetap bukan termasuk identitas guru • pencatatan terkait pemasukan murid, guru dan kredensial pimpinan, kesuksesan latihan dan pengaruh PLS terhadap peningkatan produksi ekonomi, peningkatan kesejahteraan dan pendapatan peserta • pemantapan bentuk PLS mempunyai dampak pada produksi ekonomi dan perubahan sosial dalam waktu singkat daripada kasus pendidikan formal sekolah • sebagian besar program PLS dilaksanakan oleh remaja dan orang-orang dewasa secara terbatas pada kehidupan dan pekerjaan • peranan PLS mencakup pengetahuan, keterampilan, dan pengaruh pada nilai-nilai program dalam rangka menuju pembangunan nasional.

Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa untuk dapat menjelaskan karakteristik dari pendidikan luar sekolah ( PLS), terlebih dahulu Anda harus memahami definisi dari pendidikan sekolah beserta cirinya dan kemudian membandingkannya dengan PLS.
Berita Populer • 7 Prinsip Etika Bisnis untuk Menjadi Wirausahawan Sukses • 4 Cara Membuat Sekolah Belanja SIPLah di Toko Anda • Buat Orang Tua, Ini 7 Rekomendasi Tempat Bimbingan Belajar Online Terbaik untuk Anak Anda • Pilihan Media Belajar Online Gratis untuk Sekolah, Hemat Lho!

• Lagi Cari Beasiswa Kuliah? Coba Kunjungi 7 Situs Web Berikut • Solusi Education Embedded Financing dari Pintek Jawab Tantangan Pendidikan saat Pandemi • Liputan Media tentang Pintek di Bulan Februari 2022 • Bisa Jadi Alternatif, Inilah Plus Minus Kuliah Pendidikan Vokasi • 8 Langkah Membawa Bisnis Offline Anda ke Sistem Online • Sedang Membuat Perencanaan Usaha? Ketahui Dulu Poin-poin Pentingnya \Mungkin anda belum tahu apa itu pendidikan luar sekolah.

Beberapa perguruan tinggi di Indonesia memiliki program studi pendidikan luar sekolah. Namun, banyak orang yang tidak mengetahui apa itu pendidikan di luar sekolah. Lalu bagaimana prospek kerja lulusan pendidikan pendidikan luar sekolah adalah sekolah. Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dengan pendidikan luar sekolah ini diharapkan para pendidik mampu menciptakan kemajuan bangsa dengan mencerdaskan masyarakat yang terbatas ilmunya.

Bentuk satuan PLS sebagaimana diundangkan dalam UUSPN 1989 pasal 9:3 meliputi pendidikan keluarga, kelompok belajar, kursus dan satuan pendidikan yang sejenis. Program studi pendidikan luar sekolah dibentuk karena beberapa alasan.

Di Indonesia masih banyak masyarakat yang kurang pengetahuan karena tidak mengenyam pendidikan. Tentu ada faktor yang mendasari mengapa mereka tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Faktor yang paling umum adalah keterbatasan ekonomi. Faktor ekonomi di kalangan masyarakat miskin tentu menjadi kendala bagi mereka untuk mau melanjutkan pendidikan.

Akibatnya mereka bekerja apa adanya dengan pendidikan yang terbatas. Baca Juga : Apa Itu NPSN Sekolah dan Cara Mengeceknya? Berikut Penjelasan Lengkapnya Bahkan ada yang masih menganggur. Inilah tugas pendidik dari pendidikan luar sekolah. Dapat mendidik dan membantu mereka untuk belajar. Tidak hanya anak-anak, orang tua yang buta huruf juga harus ikut belajar. Di sinilah pendidikan di luar sekolah memegang peranan penting. Di Indonesia, kasus anak putus sekolah merajalela.

Ada berbagai alasan di balik kasus ini, seperti kurangnya perhatian dari orang tua, lingkungan, dan teman. Pendidik dari pendidikan luar sekolah dapat berperan di sini. Membantu mereka yang putus sekolah untuk kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Misalnya paket belajar kelompok A untuk SD, paket B untuk SMP dan paket C untuk SMA. Banyak dijumpai saat ini di lembaga bimbingan belajar (Bimbel) dan Homeschooling di Indonesia. Home schooling, les, dan les privat juga merupakan peluang kerja bagi lulusan pendidikan luar sekolah. Pemberdayaan perempuan, kursus pelatihan dan lembaga bimbingan lainnya merupakan prospek kerja yang baik bagi lulusan pendidikan luar sekolah karena sesuai dengan apa yang dipelajari.

Mulai dari anak-anak dan orang tua juga akan diajarkan di program studi pendidikan luar sekolah ini. Baca Juga : Beragam Jurusan SMK Lengkap dan Perbedaannya Dengan SMA Lulusan pendidikan luar sekolah juga bisa bekerja di instansi pemerintah nantinya, jadi tidak perlu khawatir atau salah jurusan jika mengambil program studi pendidikan luar sekolah. Dengan pendidikan di luar sekolah ini, kita diajarkan untuk melayani dan melindungi masyarakat. Pendidikan luar sekolah siswa tentunya akan memiliki jiwa solidaritas dan jiwa sosial yang tinggi.

Dan menjadi pendidikan luar sekolah adalah yang berguna bagi masyarakat sekitar adalah suatu kebanggaan. Banyak orang sukses mengambil jurusan pendidikan di luar sekolah. Dengan usaha dan ketekunan setiap orang pasti akan berhasil. Ada yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil, ada yang membangun sekolah, sanggar, kursus, les, dan sebagainya.

Nah sekarang sudah ada gambaran, pendidikan di luar sekolah dan prospek kerja seperti apa. Fungsi Pendidikan Luar Sekolah Pendidikan di luar sekolah mempunyai fungsi yang sangat penting bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk dapat mengenyam pendidikan di jalur pendidikan sekolah (pendidikan formal), keberadaan pendidikan di luar sekolah juga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang tidak didapatkan pendidikan luar sekolah adalah pendidikan formal.

• Fungsi PLS sebagai pengganti pendidikan sekolah Materi pelajaran yang diberikan sama dengan yang diberikan dalam pendidikan sekolah. Contoh: Pendidikan Kesetaraan, yaitu Paket A setara SD untuk anak usia 7-17 tahun, Paket B setara anak usia 13-15 tahun, dan Paket C setara SMP untuk remaja usia SMA.

Setelah siswa menyelesaikan studi dan lulus ujian akhir, mereka mendapatkan ijazah setara SD, SMP, dan SMA. • Fungsi PLS sebagai pelengkap pendidikan sekolah Pendidikan di luar sekolah sebagai pelengkap adalah pendidikan yang materinya melengkapi apa yang diperoleh di sekolah. Ada beberapa alasan mengapa materi pendidikan sekolah harus diselesaikan dalam PLS.

Pertama, karena tidak semua yang dibutuhkan siswa dalam perkembangan fisik dan psikisnya dapat dituangkan dalam kurikulum sekolah. Dengan demikian, jalur PLS merupakan kendaraan yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kedua, ada kegiatan atau pengalaman belajar tertentu yang biasanya tidak diajarkan di sekolah. Misalnya prestasi olahraga, belajar bahasa asing di sekolah dasar, dan lain sebagainya.

pendidikan luar sekolah adalah

Untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran tersebut, PLS adalah saluran yang tepat. • Fungsi PLS sebagai pelengkap pendidikan sekolah Mengapa mereka membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap tertentu selain pendidikan yang tidak diperoleh di sekolah. Pertama, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat cepat, sehingga kurikulum sekolah sering tertinggal.

Hal ini dapat dicapai dengan melakukannya melalui PLS. Oleh karena itu, para lulusan tersebut perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang dituntut dunia kerja melalui PLS.

Ketiga, proses belajar itu sendiri berlangsung seumur hidup. Meskipun telah menyelesaikan pendidikan sekolah hingga jenjang tertinggi, seseorang tetap perlu belajar untuk menjaga kehidupannya selaras dengan perkembangan dan tuntutan lingkungannya. Apa Tujuan Pendidikan Luar Sekolah?

pendidikan luar sekolah adalah

• Tujuan Pendidikan Luar Sekolah Tujuan pendidikan luar sekolah sebagaimana diuraikan dalam PP RI Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah BAB II Tujuan Pasal 2 adalah: Menurut Santoso S.

Hamijoyo (1973) menyatakan bahwa tujuan pendidikan di pendidikan luar sekolah adalah sekolah adalah untuk membantu memecahkan masalah terlantarnya pendidikan, baik bagi mereka yang belum pernah sekolah maupun yang gagal (drop out) maupun yang putus sekolah.

Lalu Bagaimana Dengan Contohnya? Satuan Pendidikan Pendidikan luar sekolah adalah Formal dan Contohnya Jalur pendidikan luar sekolah dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain: Lembaga Kursus dan Pelatihan Contoh; • Pendidikan luar sekolah adalah kursus komputer • Lembaga kursus bahasa asing • Lembaga kursus seni musik • Lembaga kursus kerajinan tangan • Dan lain-lain Majelis Ta’lim Contoh; • Kelompok Yasinan • Kelompok pengajian • Pengajian kitab kuning • Salafiah • Dan lain-lain Satuan Pendidikan Sejenis Contoh; • Pra sekolah (kelompok bermain, penitipan anak) pendidikan luar sekolah adalah Balai latihan dan penyuluhan • kepramukaan • Padepokan pencak silat • Sanggar kesenian Dan lain-lain Anda pendidikan luar sekolah adalah bisa membaca alasan mengapa anak berkebutuhan khusus perlu bersekolah sejak usia dini.

Cari tahu informasi tentang jurusan pendidikan luar sekolah pada tahun 2021. Bagaimana Anda cocok dengan jurusan ini, prospek pekerjaan, dan cerita dari siswa dan alumni. Anda dibutuhkan oleh pemerintah dalam hal menganalisis hubungan antara manusia dan lingkungannya.

Itulah kelebihan dan alasan memilih jurusan geografi yang akan membuat masa depan Anda lebih cerah jika Anda memilih kursus ini. Prospek kerja lulusan pendidikan luar sekolah atau kesempatan kerja bagi lulusan pendidikan luar sekolah. Jurusan ini masih merupakan bagian dari fakultas keguruan.

Setelah lulus, Anda bisa menjadi guru di sekolah luar biasa (SLB) dan sekolah yang telah menerapkan program inklusi. Pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus kini mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Oleh karena itu juga, Itulah jawaban mengapa Anda memilih program studi pendidikan luar biasa (PLB).

Demikian penjelasan dari saya tentang pendidikan Luar Sekolah semoga bermanfaat, terima kasih. Pintek merupakan perusahaan teknologi finansial ( Peer-to-Peer Lending ) yang memiliki misi mendorong transformasi pendidikan melalui inovasi layanan keuangan. Terdaftar dan diawasi oleh OJK sejak tahun 2018. Pintek menyediakan akses dana untuk pelajar / orang tua murid untuk biaya belajar ( uang pangkal, uang semester, SPP, uang kursus, dsb.

), serta lembaga pendidikan dalam pengembangan fasilitas, pengadaan buku, alat peraga, dsb. Dengan layanan ini, Pintek berkomitmen untuk menjadi roda penggerak perkembangan pendidikan Indonesia.
Pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan di luar sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar.

Pendidikan luar sekolah memiliki fungsi dalam kaitan dengan kegiatan pendidikan sekolah, kaitan dengan dunia kerja dan kehidupan.

Dalam kaitan dengan pendidikan sekolah, fungsi PLS (pendidikan luar sekolah) adalah sebagai substitusi, komplemen, dan suplemen.

Kaitannya dengan dunia kerja, PLS mempunyai fungsi sebagai kegiatan yang menjembatani seseorang masuk ke dunia kerja. Sedangkan dalam kaitan dengan kehidupan, PLS berfungsi sebagai wahana untuk bertahan hidup dan mengembangkan kehidupan seseorang.

Substitusi atau pengganti mengandung arti bahwa PLS sepenuhnya menggantikan pendidikan sekolah bagi peserta didik yang karena berbagai alasan tidak bisa menempuh pendidikan sekolah. Materi pelajaran yang diberikan adalah sama dengan yang diberikan di pendidikan persekolahan.

Contoh: pendidikan kesetaraan yaitu Paket A setara SD untuk anak usia 7-17 tahun, Paket B setara SLTP bagi anak usia 13-15 tahun, dan Paket C setara SLTA bagi remaja usia SLTA. Setelah peserta didik menamatkan studinya dan lulus ujian akhir, mereka memperoleh ijazah yang setara SD, SLTP dan SLTA.

2.Fungsi PLS sebagai komplemen pendidikan sekolah Pendidikan luar sekolah sebagai komplemen adalah pendidikan yang materinya melengkapi apa yang diperoleh di bangku sekolah. Ada beberapa pendidikan luar sekolah adalah sehingga materi pendidikan persekolahan harus dilengkapi pada PLS. Pertama, karena tidak semua hal yang dibutuhkan peserta didik dalam menempuh perkembangan fisik dan psikisnya dapat dituangkan dalam kurikulum sekolah. Dengan demikian, jalur PLS merupakan wahana paling pendidikan luar sekolah adalah untuk mengisi kebutuhan mereka.

Kedua, memang ada kegiatan-kegiatan atau pengalaman belajar tertentu yang tidak biasa diajarkan di sekolah. Misalnya olah raga prestasi, belajar bahasa asing di SD, dan sebagainya.

Pendidikan luar sekolah adalah pemenuhan kebutuhan belajar macam itu PLS merupakan saluran yang tepat. Bentuk-bentuk PLS yang berfungsi sebagai komplemen pendidikan sekolah dapat berupa kegiatan yang dilakukan d sekolah, seperti kegiatan ekstra kurikuler (pramuka, latihan drama, seni suara, PMR) atau kegiatan yang dilakukan di luar sekolah. Kegiatan terakhir ini dilakukan oleh lembaga-lembaga PLS yang diselenggarakan masyarakat dalam bentuk kursus, kelompok belajar dan sebagainya.

3.Fungsi PLS sebagai suplemen pendidikan sekolah Pendidikan luar sekolah sebagai suplemen berarti kegiatan pendidikan yang materinya memberikan tambahan terhadap materi yang dipelajari di sekolah.

Sasaran populasi PLS sebagai suplemen adalah anak-anak, remaja, pemuda atau orang dewasa, yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan sekolah tertentu (SD sampai PT). Mengapa mereka membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap tertentu sebagai tambahan pendidikan yang tidak diperoleh di sekolah? Pertama, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat cepat,sehingga kurikulum sekolah sering ketinggalan.

Oleh karena itu, lulusan pendidikan sekolah perlu menyesuaikan pengetahuan dan keterampilannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Hal itu dapat ditempuh dengan melakukannya melalui PLS. Kedua, pada umumnya lulusan pendidikan sekolah belum sepenuhnya siap terjun ke dunia kerja. Oleh karena itu, lulusan tersebut perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang diminta oleh dunia kerja melalui PLS. Ketiga, proses belajar itu sendiri berlangsung seumur hidup.

Walaupun telah menamatkan pendidikan sekolah sampai jenjang tertinggi, seseorang masih perlu belajar untuk tetap menyelaraskan hidupnya dengan perkembangan dan tuntutan lingkungannya. 4.Fungsi PLS sebagai jembatan memasuki dunia kerja Pendidikan luar sekolah berfungsi sebagai suplemen bagi lulusan pendidikan sekolah untuk memasuki dunia kerja.

Lepas kaitannya dengan pendidikan sekolah, PLS berfungsi sebagai jembatan bagi seseorang memasuki dunia kerja. Apakah orang tersebut memiliki iazah pendidikan sekolah atau tidak. Seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan keaksaraannya di jalur PLS dan ia belum memiliki pekerjaan, dia memerlukan jenis pendidikan luar sekolah yang bisa membawa ke dunia pekerjaan. 5.Fungsi PLS sebagai wahana untuk bertahan hidup dan mengembangkan kehidupan Bertahan hidup (survival) harus melalui pembelajaran.

Tidaklah mungkin seseorang bisa mempertahankan hidupnya tanpa belajar mempertahankan hidup. Demikian pula untuk mengembangkan mutu kehidupannya,seseorang harus melakukan proses pembelajaran.

Belajar sepanjang hayat merupakan wujud pertahanan hidup dan pengembangan kehidupan. Pendidikan luar sekolah merupakan bagian dari sistem pendidikan dan belajar sepanjang hayat yang amat strategis untuk pengembangan kehidupan seseorang. Dapat dikatakan bahwa pendidikan luar sekolah adalah adalah kehidupan itu sendiri. Lihat juga : Pendidikan Nasional Sekolah adalah lembaga dengan organisasi yang tersusun rapih dan segala aktifitasnya direncanakan dengan sengaja yang disebut kurikulum hal ini bertujuan agar membantu lingkungan keluarga untuk mendidik dan mengajar, memperbaiki dan memperdalam/memperluas, tingkah laku anak/peserta didik yang dibawa dari keluarga serta membantu pengembangan bakat.

2.Pendidikan non formal Lembaga pendidikan non formal atau Pendidikan Luar Sekolah (PLS) ialah semua bentuk pendidikan yang diselenggarakan dengan sengaja, tertib dan berencana, diluar kegiatan proses persekolahan. Komponen yang diperlukan harus disesuaikan dengan keadaan anak/peserta didik agar memperoleh hasil yang memuaskan, antara lain: Pendidikan ini dapat berlangsung diluar sekolah, misalnya didalam keluarga atau masyarakat, tetapi jg dapat pendidikan luar sekolah adalah saat didalam suasana pendidikan formal/sekolah, misalnya saja waktu istirahat sekolah, waktu jajan dikantin atau pada waktu saat pemberian pelajaran tentang keadaan sikap guru mengajar, atau saat guru memberikan tindakan tertentu kepada anak.

• ► 2017 (56) • ► Agustus (33) • ► Maret (14) • ► Februari (6) • ► Januari (3) • ► 2016 (169) • ► Desember (21) • ► November (49) • ► Oktober (6) • ► September (10) • ► Agustus (3) • ► Juli (21) • ► Juni (42) • ► Mei (8) • ► April (2) • ► Februari (4) • ► Januari (3) • ▼ 2015 (27) • ► Desember (7) • ► November (1) • ▼ Oktober (19) • PLH Air dan Udara Dalam al-Qur`an • Penghijauan Dalam al-Qur'an • Ideologi Pendidikan • Nama Nenek Nabi dan Kisah Cinta Abdullah • Tahap Perkembangan Psikologi Anak • Teori-Teori Pendidikan (Klasik, Personal dan Inter.

• PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup) Perhatian Islam . • Filsafat pendidikan, Ontologi, Epistemologi dan A. • Pendidikan Lingkungan Hidup: Duduk, Diam, dan Berc. • Kemuliaan Wanita Dalam Islam • Emansipasi Wanita pendidikan luar sekolah adalah Pandangan Islam • Pengertian, Sejarah dan Sistem Pendidikan Pesantren • Pendidikan Luar Sekolah • Pendidikan Agama Untuk Pendidikan luar sekolah adalah usia Dini • Pengertian Pendidikan • Anak Cacat Mental dan Anak Sehat Mental • Pendidikan Karakter Anak Usia Dini • Pendidikan Anak Usia Dini • Pendidikan Nasional• Home • Tentang Kami • Pengertian • artikel ekonomi • Artikel Biologi • Pendidikan kewarganegaraan ( PKN ) • Artikel Agama • sejarah • Bahasa Indonesia • Artikel Sosiologi • Artikel Seni • Kontak Kami • Privacy Policy • Covid-19 Home » Pengertian » Pendidikan Luar Sekolah dan Prospek Kerjanya di Dunia Kerja Pendidikan Luar Sekolah – Pengertian pendidikan luar sekolah adalah suatu pendidikan yang dirancang untuk dapat membelajarkan warga belajar supaya memiliki jenis keterampilan dan atau pengetahuan serta pengalaman yang diadakan di luar dari jalur pendidikan formal (persekolahan).

Dalam hal ini mesti diketahui bahwa Pendidikan Luar Sekolah (PLS) merupakan suatu pendidikan yang sangatlah diminati oleh banyak orang. Sehingga dalam hal ini pendidikan luar sekolah termasuk pendidikan jurusan yang bertujuan supaya bisa mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan juga sebuah keterampilan, pengelaman pengetahuan yang sudah dilakukan di luar dari ranah formal daripada pembelajaran tersebut. Daftar Isi • 1 Jurusan Pendidikan Luar Sekolah • 1.1 Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Sekolah • 1.1.1 Prospek Kerja Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Pada jurusan ini, warga yang belajar adalah seseorang yang bertugas menjadi objek dimana dijadikan sebagai pembelajaran di luar sekolah tersebut dan yang akan dilakukan oleh seorang yang memang belajar pada bidang tersebut yaitu sebagai salah satunya semisal kursus, tryout dan masih banyak lagi yang lainnya bisa kita jadikan sebagai metode pembelajaran yang paling efektif untuk melakukan pembelajaran.

Dalam hal ini seseorang yang sudah mengambil jurusan pendidikan luar sekolah tentu saja seseorang tersebut akan mempelajari berbagai macam hal pembelajaran untuk jenjang yang lebih memprioritaskan kepada masyarakat umum.

Oleh karena itu, seseorang yang sudah lulus dari jurusan pendidikan luar sekolah tersebut maka diharapkan bisa menjadikan sebuah prospek kerja yang sangatlah menguntungkan untuk diri sendiri dan orang lain. Sehingga jurusan ini bisa menjadi pekerjaan yang sangat begitu menguntungkan untuk diri sendiri. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Mesti diketahui bahwa selain seorang mahasiswa yang sudah mengambil jurusan pendidikan luar sekolah, selain harus mempunyai bakat yang tergolong cukup, seseorang tersebut juga mesti bisa mempunyai kompetensi yang luas dalam bidang teknologi.

Karena seorang tersebut mesti bisa mempunyai keahlian dalam mengelola lembaga baik itu format maupun non format. Sehingga mesti diketahui bahwa seorang yang sudah ahli dalam jurusan ini mempunyai peran yang teramat sulit dan susah untuk jurusan ini. Sehingga seseorang memang memilih jurusan pendidikan luar sekolah ini diharapkan bisa menyampaikan ilmu yang sudah dia peroleh tersebut selama mengemban pendidikan pada jurusan pendidikan luar sekolah secara sebaik-baiknya supaya masyarakat juga bisa megnetahui ilmu pengetahuan yang luas dari yang sebelumnya sudah diketahui tersebut.

Dalam hal ini untuk prospek kerja yang sudah dimiliki oleh seseorang yang lulus dari pendidikan luar sekolah itu sebenarnya selain sebagai pegawai negeri sipil juga bisa bekerja pada bagian yang lainnya. Yang dikiranya menguntungkan untuk diri tersebut. Seperti dalam hal yang sudah dijelaskan oleh seseorang yang sudah lulus daripada jurusan pendidikan luar sekolah. Sehingga dalam hal ini, seorang yang memang ahli pada bidang tersebut sangat memungkinkan untuk bisa melanjutkan pekerjaannya tersebut menjadi seesorang yang ahli pada bidangnya.

Prospek Kerja Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) ADapun untuk prospek pekerjaan yang bisa dijadikan sebagai peluang pekerjaan yang diperoleh untuk seseorang yang berasal dari jurusan pendidikan luar sekolah yaitu bisa kita lihat di bawah ini: – Prospek kerja jurusan pendidikan luar sekolah bisa menjadi DIRJEN PAUD dan DIKMAS Kemendikbud. – Prospek kerja jurusan pendidikan luar sekolah bisa menjadi Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah di Depdiknas.

– Prospek kerja jurusan pendidikan luar sekolah bisa menjadi pegawai pusat pengembangan pendidikan anak usia dini non formal dan in formal (PP-PAUDNI).

– Prospek kerja jurusan pendidikan luar sekolah bisa menjadi pamong belajar atau birokrasi pada pusat pengembangan pendidikan non formal dan in formal (P2-Pnfi).

– Prospek kerja jurusan pendidikan luar sekolah bisa menjadi tenaga lapangan Dikmas (Tld) pada berbagai wilayah yang terdapat di Indonesia. – Prospek kerja jurusan pendidikan luar sekolah bisa menjadi fasilitator, pengelola dan guru pendidikan anak usia dini (Pud) yang terbesar dan ada di pelosok wilayah Indonesia. – Prospek kerja jurusan pendidikan luar sekolah bisa menjadi fasilitator desa intensif.

– Prospek kerja jurusan pendidikan luar sekolah bisa menjadi instruktur teknis pnfi. – Prospek kerja jurusan pendidikan luar sekolah bisa menjadi tenaga lapangan pendidikan masyarakat (Dikmas). – Prospek kerja jurusan pendidikan luar sekolah bisa menjadi pengelola dan penyelenggara pnfi.

– Prospek kerja jurusan pendidikan luar sekolah bisa menjadi administrasi pnfi. – Prospek kerja jurusan pendidikan luar sekolah bisa menjadi laboran Pnfi. – Prospek kerja jurusan pendidikan luar sekolah dapat bekerja sebagai badan pemberdaya masyarakat (BAPERMAS).

– Prospek kerja jurusan pendidikan luar sekolah dapat bekerja atau mengisi pekerjaan di lembaga-lembaga ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. – Prospek kerja jurusan pendidikan luar sekolah bisa bekerja menjadi penilik pendidikan masyarakat baik untuk tingkat kecamatan maupun kabupaten ataupun kota.

Jurusan pendidikan luar sekolah itu pada dasarnya mempunyai jumlah tenaga pengajar yang berjumlah sekitar 21 orang dengan rata-rata guru besar tersebut sebanyak 5 orang. Sehingga dalam hal ini jurusan pendidikan luar sekolah memang termasuk jurusan yang sangatlah dibutuhkan oleh masyarakat pada umumnya. Sehingganya memang terdapat banyak sekali orang yang memang ingin melakukan dan ingin masuk belajar di pendidikan luar sekolah. Karena pada dasarnya seseorang yang ingin belajar pada jurusan pendidikan luar sekolah ini mempunyai bakat dan kemampuan dalam bidang tersebut sehingga dalam hal ini seseorang tersebut akan bisa menjadi orang yang bisa melakukan sosialisasi dengan orang banyak dan dapat membuat orang tersebut menjadi orang yang memang patut untuk dibanggakan oleh banyak orang.

Dalam hal ini seseorang yang memang sudah mempunyai keahlian pada bidang tersebut memanglah mesti ahli dan mesti mempunyai wawasan yang cukup banyak sekali. Seharusnya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal pendidikan formal di Indonesia semestinya bisa membantu warga dan masyarakat sekitarnya untuk bisa terus lanjut dan mengemban pendidikan pada berbagai macam pembelajaran.

pendidikan luar sekolah adalah

Sehingga dalam hal ini seseorang yang mempunyai kemampuan dan kemauan dalam bidang ini mesti ahli dan mesti mempunyai kecerdasan yang lebih sehingga diharapkan bisa menghilangkan ketidaktahuan masyarakat yang ada di sekitarnya. Membuat masyarakat yang lebih sehingga masyarakat tersebut tidak dianggap sebagai masyarakat yang bodoh. Dalam hal ini dengan munculnya jurusan pendidikan luar sekolah tersebut berasal dari seorang warga yang melihat bahwa warga yang tau semakin tau dan masyarakat yang bodoh akan bertambah bodoh sehingga terinspirasi untuk mengikuti hal yang seperti dicontohkan tersebut dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dilakukan pada daerah tersebut.

Akan tetapi adanya suatu pembelajaran tersebut itu bukanlah menjadi suatu daya saing yang cukup tinggi untuk perguruan tinggi yang lainnya. Dan tak akan menimbulkan suatu permasalahan yang berarti karena pada jurusan pendidikan luar sekolah yakni pendidikan luar sekolah adalah ilmu luar sekolah yang sudah mempunyai ciri khas tersendiri yang bisa kita jadikan sebagai suatu pembelajaran yang berarti dan juga menjadi pedoman ilmu yang mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri yang dapat membuat orang akan bisa tertarik dan berminat untuk bisa masuk dalam jurusan pendidikan luar sekolah.

Sehingga banyak yang sudahd memilih untuk bisa masuk pada jurusan pendidikan luar sekolah adalah. Kemudian, pada jurusan ini nantinya setelah lulus dan selanjutnya akan bisa melanjutkan kembali di jenjang S2 begitupun selanjutnya. Sama seperti perguruan tinggi yang lainnya. Oleh karena itu dengan adanya pendidikan luar sekolah tersebut bisa diharapkan menjadi sebuah prospek pembelajaran yang sangatlah luas dan bisa dijadikan sebagai pondasi sehingga tingkat kebodohan yang dimilik oleh orang Indonesia akan mengalami pengurangan atau bisa habis.

Dan juga seseorang tersebut akan semakin mejnadi orang yang mampu menyebarkan ilmu pembelajaran yang sesuai dengan yang sudah ditentukan oleh seseorang tersebut dalam artian pengabdian seseorang yang sudah lulus dari jurusan pendidikan luar sekolah terhadap masyarakat. Akan tetapi. seseorang yang sudah lulus dari kuliah pendidikan luar sekolah dapat bekerja di berbagai macam aspek pendidikan sehingga tidak mesti selalu bekerja dalam nonformal saja. Akan tetapi dalam pendidikan yang lainnya pun juga dibutuhkan.

Sehingga pendidikan luar sekolah bisa menjadi wadah dan peluang yang dapat mendukung orang-orang yang ada di pendidikan luar sekolah. Dalam hal menjadi seorang pendidik, supaya dapat menyebarkan ilmu yang sudah diperolehnya tersebut kepada orang lainnya.

pendidikan luar sekolah adalah

Nah demikianlah informasi tentang pengertian pendidikan luar sekolah dan prospek kerjanya. Semoga informasi ini dapat memberikan manfaat kepada anda yang sedang ingin masuk kuliah di pendidikan luar sekolah. Recent Posts • Pengertian Kimia, Fungsi, Cabang Ilmu, Manfaat, & Kimia Menurut Para Ahli • Pengertian Kronologi, Fungsi, dan Contoh Kronologi Dalam Sejarah • Pengertian Presipitasi, Fungsi, Arti Presipitasi Menurut Para Ahli dan Kimia, Biologi • Pengertian Periodisasi, Tujuan, Komponen & Contoh Periodisasi • Pengertian Perusahaan Manufaktur, Karakteristik/Ciri, & Fungsi Perusahaan Manufaktur
BAHAN AJAR PRESENTASI “KONSEP DASAR PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH” A.

Definisi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Pendidikan luar sekolah merupakan sistem baru dalam dunia pendidikan yang bentuk dan pelaksanaannya berbeda dengan sistem sekolah yang ada. Menurut Komunikasi Pembaruan Nasional Pendidikan (KPNP): Pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan kehidupan, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta-peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat pendidikan luar sekolah adalah negaranya.

PHILLIPS H. COMBS, mengungkapkan bahwa pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan di luar sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar.

Jadi, pendidikan luar sekolah adalah pendidikan dimana setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah diluar sekolah dan seseorang memperoleh informasi,pengetahuan,latihanatau bimbingan sesuai dengan kebutuhan hidup.

B. Latar Belakang Indonesia pendidikan luar sekolah adalah masalah-masalah kependidikan yang memprihatinkan. Masalah ini terjadi sebelum Indonesia merdeka hingga sekarang. Secara terperinci dapat diungkapkan alasan-alasan timbulnya pendidikan luar sekolah adalah: 1. Aspek Pelestarian Budaya. Pendidikan pendidikan luar sekolah adalah pertama dan utama adalah pendidikan yang terjadi dan berlangsung di lingkungan keluarga dimana (melalui berbagai perintah, tindakan dan perkataan) ayah dan ibunya bertindak sebagai pendidik.

Dengan demikian pendidikan luar sekolah pada permulaan kehadirannya sangat dipengaruhi oleh pendidikan atau kegiatan yang berlangsung di dalam keluarga. Di dalam keluarga terjadi interaksi antara orang tua dengan anak, atau antar anak dengan anak. Pola-pola transmisi pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai dan kebiasaan melalui asuhan, suruhan, larangan dan pembimbingan.

Pada dasarnya semua bentuk kegiatan ini menjadi akar untuk tumbuhnya perbuatan mendidik. Semua bentuk kegiatan yang berlangsung di lingkungan keluarga dilakukan untuk melestarikan dan mewariskan kebudayaan secara turun temurun. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan praktis di masyarakat dan untuk meneruskan warisan budaya yang meliputi kemampuan, cara kerja dan teknologi yang dimiliki oleh masyarakat dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Jadi dalam keluarga pun sebenarnya telah terjadi proses-proses pendidikan, walaupun sistem yang berlaku berbeda dengan sistem pendidikan sekolah.

Kegiatan belajar-membelajarkan yang asli inilah yang termasuk ke dalam kategori pendidikan tradisional yang kemudian menjadi pendidikan luar sekolah. 2. Aspek Teoritis. Salah satu dasar pijakan teoritis keberadaan PLS adalah teori yang diketengahkan Philip Pendidikan luar sekolah adalah. Cooms (1973:10), tidak satupun lembaga pendidikan: formal, informal maupun nonformal yang mampu secara sendiri-sendiri memenuhi semua kebutuhan belajar minimum yang esensial.

Atas dasar teori di atas dapat dikemukakan bahwa, keberadaan pendidikan tidak hanya penting bagi segelintir masyarakat tapi mutlak diperlukan keberadaannya bagi masyarakat lemah (yang tidak mampu memasukan anak-anaknya ke lembaga pendidikan sekolah) dalam upaya pemerataan kesempatan belajar, meningkatkan kualitas hasil belajar pendidikan luar sekolah adalah mencapai tujuan pembelajaran yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Uraian di atas cukup untuk dijadikan gambaran bahwa PLS merupakan lembaga pendidikan yang berorientasi kepada bagaimana menempatkan kedudukan, harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang memiliki kemauan, harapan, cita-cita dan akal pikiran. 3. Dasar Pijakan. Ada tiga dasar pijakan bagi PLS sehingga memperoleh legitimasi dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yaitu: UUD 1945, Undang-Undang RI Nomor 2 tahun 1989 dan peraturan pemerintah RI No.73 tahun 1991 tentang pendidikan luar sekolah.

Melalui ketiga dasar di atas dapat dikemukakan bahwa, PLS adalah kumpulan individu yang menghimpun diri dalam kelompok dan memiliki ikatan satu sama lain untuk mengikuti program pendidikan yang diselenggarkan di luar sekolah dalam rangka mencapai tujuan belajar. Adapun bentuk-bentuk satuan PLS, sebagaimana diundangkan di dalam UUSPN tahun 1989 pasal 9:3 meliputi: pendidikan keluarga, kelompok belajar, kursus dan satuan pendidikan sejenis. Satuan PLS sejenis dapat dibentuk kelompok bermain, penitipan anak, padepokan persilatan dan pondok pesantren tradisional.

4. Aspek Kebutuhan Terhadap Pendidikan. Kesadaran masyarakat terhadap pendidikan tidak hanya pada masyarakat daerah perkotaan, melainkan masyarakat daerah pedesaan juga semakin meluas. Kesadaran ini timbul terutama karena perkembangan ekonomi, kemajuan iptek dan perkembangan politik.

Kesadaran juga tumbuh pada seseorang yang merasa tertekan akibat kebodohan, keterbelakangan atau kekalahan dari kompetisi pergaulan dunia yang menghendaki suatu keterampilan dan keahlian tertentu. Atas dasar kesadaran dan kebutuhan inilah sehingga terwujudlah bentuk-bentuk kegiatan kependidikan baik yang bersifat persekolahan ataupun di luar persekolahan. 5. Keterbatasan Lembaga Pendidikan Sekolah. Lembaga pendidikan sekolah yang jumlahnya semakin banyak bersifat formal atau resmi yang dibatasi oleh ruang dan waktu serta kurikulum yang baku dan kaku serta berbagai keterbatasan lainnya.

Sehingga tidak semua lembaga pendidikan sekolah yang ada di daerah terpencil pun yang mampu memenuhi semua harapan masyarakat setempat, apalagi memenuhi semua harapan masyarakat daerah lain.

Akibat dari kekurangan atau pendidikan luar sekolah adalah itulah yang memungkinkan suatu kegiatan kependidikan yang bersifat informal atau nonformal diselenggarakan, sehingga melalui kedua bentuk pendidikan itu kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. C. Tujuan Ada tiga dasar pijakan bagi PLS sehingga memperoleh legitimasi dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yaitu: 1. UUD 1945,Undang-Undang RI Nomor 2 tahun 1989 dan peraturan pemerintah RI No.73 tahun1991tentang pendidikan luar sekolah.

Melalui ketiga dasar di atas dapat dikemukakan bahwa, PLS adalah kumpulan individu yang menghimpun dari dalam kelompok dan memiliki ikatan satu sama lain untuk mengikuti program pendidikan yang diselenggarkan di luar sekolah dalam rangka mencapai tujuan belajar. Adapun bentuk-bentuk satuan PLS., sebagaimana diundangkan di dalam UUSPN tahun 1989 pasal 9:3 meliputi: pendidikan keluarga, kelompok belajar, kursus dan satuan pendidikan sejenis.

Satuan PLS sejenis dapat dibentuk kelompok bermain, penitipan anak, padepokan persilatan dan pondok pesantren tradisional. 2. Aspek kebutuhan terhadap pendidikan Kesadaran masyarakat terhadap pendidikan tidak hanya pada masyarakat daerah perkotaan, melainkan masyarakat daerah pedesaan juga semakin meluas.

Kesadaran ini timbul terutama karena perkembangan ekonomi, kemajuan iptek dan perkembangan politik. Kesadaran juga tumbuh pada seseorang yang merasa tertekan akibat kebodohan, keterbelakangan atau kekalahan dari kompetisi pergaulan dunia yang menghendaki suatu keterampilan dan keahlian tertentu. Atas pendidikan luar sekolah adalah kesadaran dan kebutuhan inilah sehingga terwujudlah bentuk-bentuk kegiatan kependidikan baik yang bersifat persekolahan ataupun di luar persekolahan.

3. Keterbatasan lembaga pendidikan sekolah Lembaga pendidikan sekolah yang jumlahnya semakin banyak bersifat formal atau resmi yang dibatasi oleh ruang dan waktu serta kurikulum yang baku dan kaku serta berbagai keterbatasan lainnya.

Sehingga tidak semua lembaga pendidikan sekolah yang ada di daerah terpencilpun yang mampu memenuhi semua harapan masyarakat setempat, apalagi memenuhi semua harapan masyarakat daerah lain. Akibat dari kekurangan atau keterbatasan itulah yang memungkinkan suatu kegiatan kependidikan yang bersifat informal atau nonformal diselenggarakan, sehingga melalui kedua bentuk pendidikan itu kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

D. PLS untuk Orang Dewasa Pendidikan ini timbul karena : 1. Orang –orang dewasa tertarik terhadap profesi kerja. 2. Orang dewasa tertarik terhadap keahlian. Dalam rangka memperoleh pendidikan di atas dapat ditempuh melalui : 1.

Kursus- kursus pendek. 2. In service – training. 3. Surat menyurat. Suatu ilustrasi bahwa untuk : 1. Para petani memperoleh program pemberantasan buta-huruf. 2. Para ibu-ibu memperoleh kesehatan, sanitasi, dan perawatan anak.

Lebih lanjut, sesuai dengan rancangan peraturan pemerintah maka sasaran pendidikan luar sekolah dapat meliputi : 1. Ditinjau dari segi sasaran pelayanan, berupa : a).

Usia pra-sekolah (0-6 tahun). Dikota-kota besar terdapat tempat untuk penyelenggaraan pendidikan luar sekolah seperti : tempat penitipan anak dan kelompok sepermainan. Fungsi lembaga ini mempersiapkan anak-anak menjelang mereka pergi ke sekolah (pendidikan formal) sehingga mereka telah terbiasa untuk hidup dalam situasi yang berbeda dengan lingkungan keluarga.

b). Usia pendidikan dasar (7-12 tahun). Dengan adanya program wajib belajar, maka pendidikan luar sekolah mempunyai peranan untuk ikut menampung pendidikan anak-anak usia tersebut walaupun dengan sistem pendidikan yang berbeda. Usaha ini dilaksanakan dengan penyelenggaraan program kejar paket A dan kepramukaan yang diselenggarakan secara bersama dan terpadu. c). Usia pendidikan menengah (13-18 tahun).

Penyelenggaraan pendidikan luar sekolah untuk usia semacam ini diarahkan untuk pengganti pendidikan, sebagai pelengkap dan sebagai penambah program pendidikan bagi mereka. d). Usia pendidikan tinggi (19-24 tahun). Mereka yang tidak tertampung pada perguruan tinggi menempuh jumlah yang besar dan dilain pihak memang mereka ada yang sengaja ingin bekerja lebih dahulu.

Oleh karena itu pendidikan luar sekolah menyiapkan mereka untuk siap bekerja melalui pemberian berbagai ketrampilan sehingga meeka menjadi tenaga yang produktif, siap kerja dan siap untuk usaha mandiri. 2. Ditinjau dari jenis kelamin Program ini secara tegas diarahkan pada kaum wanita oleh karena jumlah mereka yang besar dan partisipasinya kurang dalam rangka produktivitas dan efisiensi kerja. Pendidikan luar sekolah dapat membantu mereka melalui program-program PKK, program KB dan lain-lain seperti Program Peningkatan Gizi Keluarga, perawatan bayi, pengetahuan rumah dan penjaggan lingkungan sehat.

3. Berdasarkan lingkungan sosial budaya. Sasaran pendidikan luar sekolah dapat berupa : a). Masyarakat pedesaan. Masyarakat ini meliputi sebagian besar masyarakat Indonesia dan program diarahkan pada program-program mata pencaharian dan program pendayagunaan sumber-sumber alam.

pendidikan luar sekolah adalah

b). Masyarakat perkotaan. masyarakat perkotaan yang cepat terkena perkembangan ilmu dan teknologi sehingga masyarakat perlu memperoleh tambahan tersebut melalui pemberian informasi dan kursus-kursus kilat. c). Masyarakat terpencil. Ada sementara masyarakat yang tinggal di daerah-daerah terpencil dan terasing dari masyarakat sekitarnya, yang seringkali menyambut demikian lebih maju dari yang lain.

Untuk itu masyarakat terpencil perlu ditolong melalui pendidikan luar pendidikan luar sekolah adalah yang mereka dapat mengikuti perkembangan dan kemajuan nasional. 4. Berdasarkan kekhususan sasaran pelajaran. a). Peserta didik yang dapat digolongkan terlantar, seperti anak yatim piatu. b). Peserta didik yang mengalami perkembangan sosial dan emosional seperti anak nakal, korban narkotika dan wanita tuna susila.

c). Peserta yang mengalami cacat mental dan cacat tubuh seperti tuna netra, tuna rungu, tuna mental. d). Peserta didik yang karena beberapa sebab sosial, tidak dapat mengikuti program pendidikan persekolahan.

5. Berdasarkan pranata. Dalam pendidikan luar sekolah memiliki pranata yang bermacam-macam seperti : pendidikan keluarga, pendidikan perluasan wawasan desa dan pendidikan ketrampilan. Oleh karena itu pendidikan luar sekolah meliputi : a). Pendidikan keluarga, mengembangkan peserta didik untuk ketakwaan kepada Tuhan, nilai moral, pandangan dan sikap hidup, ketrampilan dan kreativitas.

b). Pendidikan perluasan wawasan dalam rangka peningkatan kemampuan berpikir, menambah pengetahuan, dan memperluas cakrawala tentang kehidupan berbangsa dan berkeluarga. c). Pendidikan ketrampilan dalam rangka mengembangkan profesionalisme pekerjaan sehingga dapat menghasilkan barang/jasa guna meningkatkan taraf hidup. 6. Bedasarkan sistem pengajaran. Sistem pengajaran dalam proses penyelenggaraan dan pelaksanaan program pendidikan luar sekolah dapat bermacam-macam sehingga sasaran pendidikan luar sekolah meliputi: a).

Kelompok, organisasi, dan lembaga. b). Mekanisme sosial budaya seperti perlombaan dan pertandingan. c). Kesenian pendidikan luar sekolah adalah, seperti wayang, ludruk, ataupun teknologi modern seperti televisi, radio, film, dan sebagainya.

d). Prasarana dan sarana seperti balai desa, masjid, gereja, sekolah dan alat-alat perlengkapan kerja. 7. Berdasarkan segi pelembagaan program. Pelembagaan program yang dimaksud keseluruhan proses pengintegrasian antara program pendidikan luar sekolah dan pembangunan masyarakat. a). Program antar sektoral dan swadaya masyarakat seperti PKK, PKN, dan P2WKSS. b). Koordinasi perencanaan desa atau pelaksanaa progarm pembangunan. c). Tenaga pengarahn ditingkat pusat, propinsi, kabupaten, kecamatan dan desa.

E. Filsafat Pendidikan Idealisme dan Realisme dalam PLS. Pendidikan Luar Sekolah (PLS) adalah kegiatan terorganisasi dan sistematis diluar sistem persekolahan yang mapan, dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting kegiatan yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta didik tertentu dalam mencapai tujuan belajarnya. Untuk mengefektifkan pencapaian tujuan PLS tersebut maka aliran filsafat pendidikan idealisme dan realisme dapat digunakan sebagai landasar teoretis maupun praktis.

Berikut ini akan dikemukakan implikasi filsafat pendidikan idealisme dan pendidikan luar sekolah adalah dalam penyelenggaraan PLS dalam menetapkan tujuan, kurikulum, metode, serta peran peserta didi dan pendidik. 1. Pendidikan Idealisme dalam PLS Dengan memperhatikan implikasi filsafat pendidikan realisme maka penyelenggaraan pendidikan luar sekolah dapat dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: Pertama: tujuan program PLS pertama-tama harus difokuskan pada pembentukan karakter atau kepribadian peserta didik.

Pada tahap selanjutnya program pendidikan tertuju kepada pengembangan bakat dan kebaikan sosial. Peserta didik digali potensinya untuk tampil sebagai individu berbakat/berkemampuan yang akan memiliki nilai guna bagi kepentingan masyarakat. Kedua, kurikulum pendidikan PLS dikembangkan dengan memadukan pendidikan umum dan pendidikan praktis. Kurikulum diarahkan pada upaya pengembangan kemampuan berpikir melalui pendidikan umum. Di samping itu kurikulum juga dikembangkan untuk mempersiapkan keterampilan bekerja untuk keperluan memperoleh mata pencaharian melalui pendidikan praktis.

Ketiga, metode pendidikan dalam program PLS disusun menggunakan metode pendidikan dialektis.

pendidikan luar sekolah adalah

Meskipun demikian setiap metode yang dianggap efektif mendorong belajar dapat pula digunakan. Pelaksanaan pendidikan cenderung mengabaikan dasar-dasar fisiologis dalam belajar. Keempat, peserta didik bebas mengembangkan bakat dan kepribadiannya. Pendidikan bekerjasama dengan alam dengan proses pengembangan kemampuan ilmiah.

Oleh karena itu tugas utama tenaga pendidik adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan efisien dan efektif. 2. Pendidikan Realisme dalam PLS Dengan memperhatikan implikasi filsafat pendidikan idealisme maka penyelenggaraan pendidikan luar sekolah dapat dikembangkan dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: Pertama, tujuan program pendidikan PLS terfokus agar peserta didik dapat menyesuaikan diri secara tepat dalam hidup.

Disamping itu, peserta didik diharapkan dapat melaksanakan tanggung jawab sosial dalam hidup bermasyarakat. Kedua, kurikulum komprehensif yang berisi semua pengetahuan yang berguna dalam penyesuaian diri dalam hidup dan tanggung jawab sosial.

Kurikulum berisi unsur-unsur pendidikan umum untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan pendidikan praktis untuk kepentingan bekerja. Ketiga, semua kegiatan belajar berdasarkan pengalaman baik langsung maupun tidak langsung. Metode mengajar hendaknya bersifat logis, bertahap dan berurutan. Pembiasaan (pengkondisian) merupakan sebuah metode pokok yang dapat dipergunakan dengan baik untuk mencapai tujuan pendidikan.

Keempat, Dalam hubungannnya dengan pengajaran, peranan peserta didik adalah penguasaan pendidikan luar sekolah adalah yang handal sehingga mampu mengikuti perkembangan Iptek. Dalam hubungannya dengan disiplin, tatacara yang baik sangat penting dalam belajar.

Artinya belajar dilakukan secara terpola berdasarkan pada suatu pedoman. Peserta didik perlu mempunyai disiplin mental dan moral untuk setiap tingkat kebaikkan. Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan, keterampilan teknik-teknik pendidikan dengan kewenangan untuk mencapai hasil pendidikan yang dibebankan kepadanya. F. Perkembangan Konsep dari Pedagogik hingga Andragogik. Pendidikan luar sekolah adalah merupakan pendekatan belajar yang digunakan untuk peserta didik belum masuk kategori dewasa, sehingga proses belajar betul-betul dilakukan dengan proses mengisi atau memang dianggap belum tahu.

Andragogik merupakan pendekatan belajar yang ditujukan untuk orang dewasa, dimana peserta didik dianalogikan sebagai gelas yang tidak lagi kosong, telah memiliki air, bahkan ada yang telah terisi penuh, sehingga proses yang dilakukan lebih kepada sharing, diskusi.

Ilmu pedagogik. Ilmu pedagogik adalah ilmu yang membicarakan masalah atau persoalan-persoalan dalam pendidikan dan kegiatan-kegiatan mendidik, antara lain seperti tujuan pendidikan, alat pendidikan, cara melaksanakan pendidikan, anak didik, pendidik dan sebagainya.

Pedagogik termasuk ilmu yang sifatnya teoritis dan praktis. Oleh karena itu pedagogik banyak berhubungan dengan ilmu-ilmu lain seperti: ilmu sosial, ilmu psikologi, psikologi belajar, metodologi pengajaran, sosiologi, filsafat dan lainya.

Kompetensi merupakan kebulatan penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan melalui unjuk kerja. Kepmendiknas No. 045/U/2002 menyebutkan kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu.

Kompetensi guru dapat dimaknai sebagai kebulatan pengetahuan,keterampilan, dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab dalam melaksanakan tugas. Undang-undang guru dan dosen No. 14 pendidikan luar sekolah adalah 2005, dan PP No 19/2005 menyatakan kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, pedagogik, professional, dan sosial. Bertitik tolak dari apa yang penulis kemukakan di atas, dengan terdapatnya empat kompetensi guru yang perlu dibahas, dalam hal ini mengingat luasnya cakupan kompetensi tersebut sehingga memakan waktu yang panjang, mengingat singkatnya waktu dan kurang sumber, untuk itu penulis akan menguraikan beberapa kompetensi yang harus dimilik guru antara lain: kompetensi pedagogik dan kompetensi sosial.

a. Kemampuan Mengelola Pembelajaran. Mulyasa (2006) Secara pedagogik, kompetensi guru-guru dalam mengelola pembelajaran perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini penting karena pendidikan di Indonesia dinyatakan kurang berhasil oleh sebagian masyarakat, dinilai kering dari aspek pedagodik, dan sekolah nampak lebih mekanis sehingga peserta didik cendrung kerdil karena tidak mempunyai dunianya sendiri.

Sehubungan dengan itu guru dituntut untuk pendidikan luar sekolah adalah kompetensi yang memadai dalam mengelola pembelajaran. Secara operasional kemampuan mengelola pembelajaran menyangkut tiga fungsi manajerial, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian.

1. Perencanaan menyangkut penetapan tujuan, dan kompetensi, pendidikan luar sekolah adalah memperkirakan cara pencapaiannya. Perencanaan merupakan fungsi sentral dari manajemen pembelajaran dan harus berorientasi kemasa depan. Guru sebagai manajer pembelajaran harus mampu mengambil keputusan yang tepat untuk mengelola berbagai sumber.

2. Pelaksanaan adalah proses yang memberikan kepastian bahwa proses belajar mengajar telah memiliki sumber daya manusia dan sarana prasarana yang diperlukan, sehingga dapat membentuk kompetensi dan mencapai tujuan yang diinginkan. 3. Pengendalian atau evaluasi bertujuan untuk menjamin kinerja yang dicapai sesuai dengan rencana atau tujuan yang telah ditetapkan.

Guru diharapkan membimbing dan mengarahkan pengembangan kurikulum dan pembelajaran secara efektif, serta memerlukan pengawasan dalam pelaksanaannya. Guru merupakan seorang manajer dalam pembelajaran, yang bertanggung jawab terhadap perencanaan,pelaksanaan, dan penilaian perubahan atau perbaikan program pembelajaran. Untuk menjamin efektifitas pengembangan kurikulum dan sistem pembelajaran, guru sebagai pengelola pembelajaran bersama tenaga pendidik lainnya harus menjabarkan isi kurikulum secara lebih rinci dan operasional kedalam program pembelajaran.

Oleh karena itu, perlu dilakukan pembagian tugas tenaga kependidikan, penyusunan kalender pendidikan dan jadwal pembelajaran, pembagian waktu yang digunakan, penetapan pelaksanaan evaluasi belajar, penetapan penilaian, penetapan norma kenaikan kelas, pencatatan kemajuan belajar peserta didik, serta peningkatan perbaikan pembelajaran dan pengisian waktu jam kosong.

Sehubungan dengan itu, kemampuan mengelola pembelajaran sebagaimana telah dikemukan diatas, dapat dianalisis ke dalam beberapa kompetensi yang mencakup pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi dan hasil belajar. b. Pemahaman terhadap Peserta Didik Pemahaman terhadap peserta didik merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru.

Sedikitnya terdapat empat hal yang harus dipahami guru dari peserta didiknya, yaitu tingkat kecerdasan, kreativitas, cacat pisik, dan perkembangan kognitif.

1) Tingkat kecerdasan Orang yang berjasa menemukan tes intelengensi pertama sekali adalah seorang dokter berkebangsaan Perancis: Alfred Binet dan pembantunya Simon, tes ini pertama sekali diumumkan antara 1908–1911 yang diberi nama skala pengukur kecerdasan. Purwanto (1996) Tes Binet Simon terdiri dari sekumpulan pertanyaan-pertanyaan yang telah dikelompok-kelompokan menurut umur (untuk anak-anak umur 3–5 tahun) yang tidak berhubungan dengan pelajaran di sekolah, seperti: a.

Mengulang kalimat-kalimat yang pendek atau panjang. b. Mengulang deretan angka-angka c. Memperbandingkan berat timbangan d. Menceritakan isi gambar-gambar e. Menyebutkan nama bermacam-macam warna f. Menyebutkan harga mata uang g. Dan sebagainya Dengan tes semacam inilah usia kecerdasan seseorang diukur/ditentukan. Dari tes itu ternyata tidak tentu bahwa usia kecerdasan tidak sama dengan usia sebenarnya. Sehingga dengan demikian kita dapat melihat adanya perbedaan-perbedaan I.Q (Inteligentie Quotient) pada tiap-tiap orang/anak.

2) Kreatifitas Kreativitas bisa dikembangkan dengan penciptaan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengembangkan kreativitasnya. Secara umum guru diharapkan menciptakan kondisi yang baik, yang memungkinkan setiap peserta didik dapat mengembangkan kreativitasnya, antara lain dengan teknik kerja kelompok kecil, penugasan dan mensponsori pelaksanaan proyek. Anak yang kreativ belum tentu pandai, dan sebaliknya.

Proses pembelajaran pada hakikatnya untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik, melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Namun dalam pelaksanaannya seringkali kita tidak sadar, bahwa masih banyak kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan justru menghambat aktivitas dan kreativitas peserta didik.

Hal ini dapat dilihat dalam proses belajar mengajar di kelas yang pada umunya lebih menekankan pada aspek kognitif. Gibbs dalam Mulyasa (2006).

Berdasarkan penelitiannya menyimpulkan bahwa kreativitas dapat dikembangkan dengan memberi kepercayaan, komunikasi yang bebas, pengarahan diri, dan pengawasan yang tidak terlalu ketat.

3).Kondisi Fisik Kondisi fisik antara lain berkaitan dengan penglihatan, pendengaran, kemampuan bicara, pincang, dan lumpuh karena kerusakan otak. Terhadap peserta didik yang memiliki kelainan fisik diperlukan sikap dan layanan yang berbeda dalam rangka membantu perkembangan pribadi mereka. Ornstein dan Levine dalam mulyasa (2006) membuat pernyataan sebagai berikut: Orang yang mengalami hambatan, bagaimanapun hebatnya ketidakmapuan mereka, harus diberikan kebebasan dan pendidikan yang cocok.

Penilaian terhadap mereka harus adil dan menyeluruh. Orang tua / wali mereka harus adil, dan boleh memprotes keputusan yang dibuat kepala sekolah. Rencana pendidikan individual, yang meliputi pendidikan jangka panjang, dan jangka pendek harus diberikan, dan meninjau kembali tujuan dan metode yang dipilih Layanan pendidikan diberikan dalam lingkungan yang terbatas untuk memberikan layanan yang tepat.

4) Pertumbuhan dan Perkembangan Kognitif Pertumbuhan dan perkembangan dapat diklasifikasikan atas kognitif, psikologis, dan fisik. Pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan struktur dan fungsi karakteristik manusia. Perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam kemajuan yang mantap, dan merupakan suatu proses kematangan.

Piaget dalam Mulyasa (2006). Terdapat empat tahap perkembangan mental manusia sebagai berikut: Tahap sensorimotorik (sejak lahir hingga usia dua tahun). Anak mengalami kemajuan dalam operasi-operasi reflek dan belum mampu membedakan apa yang ada disekitarnya hingga ke aktifitas sensorimotorik yang komplek, sehingga terjadi formulasi baru terhadap organisasi pola-pola lingkungan.

Tahap pendidikan luar sekolah adalah (2-7 tahun). Pada tahap ini objek-objek dan peristiwa mulai menerima arti secara simbolis. Tahap operasi nyata (7-11 tahun).

Anak mulai mengatur data ke dalam hubungan-hubungan logis dan mendapatkan kemudahan dalam manipulasi data dalam situasi pemecahan masalah. Tahap operasi formal (usia 11 dan seterusnya). Tahap ini ditandai oleh perkembangan kegiatan-kegiatan operasi berfikir formal dan abstrak. Teori Piaget dalam Mulyasa (2006). Sesuai dengan dengan tugas guru dalam memahami dan menetapkan kegiatan kognitif yang harus ditampilkan pada tahap-tahap fungsi intelektual yang berbeda.

Banyak hal yang menentukan kualitas hasil belajar peserta didik yang secara dikotomi diklasifikasikan atas faktor endogen dan eksogen. Dari dua unsur tersebut lahir salah satu hal yang amat dikenal dalam belajar, yakni kesiapan (readiness), yaitu suatu kemampuan untuk berformasi dalam melaksanakan tugas tertentu sesuai dengan tuntutan situasi yang dihadapi.

Sedikitnya terdapat tiga unsur dalam kesiapan tersebut yaitu: a. Kesiapan fisik, antara lain urat-urat saraf dan otot; b. Kejiwaan, antara lain bebas dari konflik emosional c. Pengalaman, berhubungan dengan keterampilan-keterampilan yang dipelajari sebelumnya. Perbedaan individu sebagaimana diuraikan di atas perlu dipahami oleh para pengembang kurikulum, guru, calon guru dan kepala sekolah agar dapat melaksanakan pembelajaran secara efektif.

Memahami karakteristik individu sabagaimana diuraikan di atas, dalam pembelajaran peserta didik dapat diklasifikasikan pendidikan luar sekolah adalah tiga kelompok yaitu: a. Kelompok normal Mengembangkan pemahan tentang prinsip dan praktik aplikasi.

Mengembangkan kemampuan praktik akademik yang berhubungan dengan pekerjaan. b. Kelompok sedang Mengembangkan kemahiran berkomunikasi, kemahiran menggali potensi diri, dan aplikasi praktikal. Mengembangkan kemahiran akademik dan kemahiran praktikal sehubungan dengan perkembangan dunia kerja maupun melanjutkan program pendidikan professional.

c. Kelompok tinggi Mengembangkan pemahaman tentang prinsip, teori, dan aplikasi Mengembangkan kemampuan akademik untuk memasuki pendidikan tinggi. Pengelompokan peserta didik ini perlu dijadikan bahan pertimbangan dan diperhatikan dalam menyusun kurikulum dan pengembangan pembelajaran. c. Perancangan pembelajaran Perancangan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru, yang bermuara pada pelaksanaan pembelajaran.

Perancangan pembelajaran sedikitnya mencakup tiga kegiatan, yaitu identifikasi kebutuhan, perumusan kompetensi dasar, dan penyusunan program pembelajaran. 1. Identifikasi Kebutuhan Kebutuhan merupakan kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan kondisi yang sebenarnya, atau sesuatu yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini, sebaiknya guru melibatkan peserta didik untuk mengenali, menyatakan dan merumuskan pendidikan luar sekolah adalah belajar, sumber-sumber yang tersedia dan hambatan yang mungkin dihadapi dalam kegiatan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar.

Identifikasi kebutuhan bertujuan antara lain untuk melibatkan dan memotivasi peserta didik agar kegiatan belajar dirasakan sebagai bagian dari kehidupan dan mereka merasa memilikinya. Hal ini dapat dilakukan sebagai berikut: a. Peserta didik didorong untuk menyatakan kebutuhan belajar berupa kompetensi tertentu yang ingin mereka miliki dan diperoleh melalui kegiatan pembelajaran.

pendidikan luar sekolah adalah

pendidikan luar sekolah adalah. Peserta didik didorong untuk mengenali dan mendayagunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk memenuhi kebututhan belajar. c. Peserta didik dibantu untuk mengenali dan menyatakan kemungkinan adanya hambatan dalam upaya memenuhi kebutuhan belajar, baik yang datang dari dalam maupun dari luar Berdasarkan identifikasi terhadap kebutuhan belajar bagi pembentukan kompetensi peserta didik, baik secara kelompok maupun perorangan, kemudian diidentifikasi sejumlah kompetensi untuk dijadikan bahan pembelajaran.

2. Identifikasi Kompetensi Kompetensi merupakan suatu yang ingin dimiliki oleh peserta didik, dan merupakan komponen utama yang harus dirumuskan dalam pembelajaran. Kompetensi yang jelas akan memberi petunjuk yang jelas pula terhadap materi yang harus dipelajari, penetapan metoda dan media pembelajaran, serta memberi petunjuk terhadap penilaian.

Oleh sebab itu setiap kompetensi harus merupakan panduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. dari uraian di atas pembentukan kompetensi melibatkan intelegensi question (IQ), emosional intelegensi (EI), creativity intelegensi (CI), yang secara keseluruhan harus tertuju pada pembentukan spiritual intelegensi (SI).

Penilaian pencapaian kompetensi perlu dilakukan secara objektif, berdasarkan kinerja peserta didik, dengan bukti penguasaan mereka terhadap suatu kompetensi sebagai hasil belajar. 3. Penyusunan Program Pembelajaran Penyusunan program pembelajaran akan bermuara pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), sebagai produk program pembelajaran jangka pendek, yang mencakup komponen program kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program.

Komponen program mencakup kompetensi dasar, materi standar, metode dan teknik, media dan sumber belajar, waktu belajar dan daya dukung lainnya. Rencana pelaksanaan pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatui sistem, yang terdiri atas komponen-komponen yang saling berhubungan serta berinteraksi satu sama lain, dan memuat langkah-langkah pelaksanaanya untuk membentuk kompetensi.

d. Pelaksanaan Pembelajaran yang Mendidik dan Dialogis Mulyasa (2006) kegagalan pelaksanaan pembelajaran sebagian besar disebabkan oleh penerapan metode pendidikan konvensional, anti dialog, proses penjinakan, pewarisan pengetahuan, dan tidak bersumber pada realitas masyarakat. Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik.

Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor eksternal maupun faktor internal, Dalam pembelajaran, tugas guru pendidikan luar sekolah adalah paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku pembentukan kompetensi peserta didik. Umumnya pembelajaran menyangkut tiga hal: pre tes, proses, dan post tessebagai berikut: 1.

Pre tes (tes awal) Pre tes memegang peranan penting dalam proses pembelajaran, yang berfungsi antara lain: untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar, dengan pre tes maka pikiran mereka terfokus pada soal yang harus dikerjakan.

Untuk mengetahui kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan, dengan cara membandingkan hasil pre tes dengan post tes. Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik mengenai kompetensi dasar yang akan dijadikan topic dalam proses pembelajaran 2. Proses Proses adalah sebagai kegiatan ini dari pelaksanaan pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik. Proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi dikatakan efektif apabila seluruh pesera didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik Maupun sosial.

Kualitas pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik dapat dilihat dari segi proses dan hasil. Dari segi proses, pembelajaran dan pembentukan kompetensi dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran disamping menunjukkan gairah belajar yang tinggi, nafsu belajar yang besar dan tumbuhnya rasa percaya diri.

Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi dan prilaku yang positif pada diri peserta didik seluruhnya setidak-tidaknya sebagian besar (75%). Proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi dikatakan berhasil apabila masukan merata, menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan, perkembangan masyarakat dan pembangunan.

3. Post Test Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran diakhiri dengan post test, post test memiliki banyak kegunaan terutama dalam melihat keberhasilan pembelajaran. Fungsi post test antara lain : – Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditentukan, baik secara individu maupun kelompok.

– Untuk mengetahui kompetensi dasar dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai anak didik dan tujuan-tujuan yang belum dikuasai anak didik. Bagi anak yang belum menguasai tujuan pembelajaran perlu diberikan pengulangan (remedial teaching) – Untuk mengetahui peserta didik yang perlu mengikuti kegiatan remedial maupun yang perlu diberikan pengayaan. – Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik yang telah dilaksanakan.

e. Pemanfaatan Teknologi Pembelajaran Fasilitas pendidikan pada umunya mencakup sumber belajar, sarana dan prasarana sehingga peningkatan fasilitas pendidikan harus ditekankan pada peningkatan sumber-sumber belajar, baik kuantitas maupun kualitasnya, sejalan dengan perkembangan teknologi pendidikan dewasa ini.

Sehubungan dengan itu, peningkatan fasilitas laboratorium, perpustakaan, atau ruang-ruang belajar khusus seperti ruangan komputer, sanggar seni, ruang audio dan video seyogianya semakin menjadi faktor-faktor yang diperhatikan dalam peningkatan fasilitas pembelajaran.

Bagaimana mendidik peserta didik adalah mengembangkan potensi kemanusiaannya, sehingga mampu berbuat sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, seperti nilai keagamaan, keindahan, ekonomi, pengetahuan, teknologi, sosial dan kecerdasan. Teknologi pembelajaran merupakan sarana pendukung untuk membantu memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran dan pembentukan kompetensi, memudahkan penyajian data, informasi materi pembelajaran, dan variasi budaya.

Dalam hal ini guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengorganisir, menganalisis dan memilih informasi yang paling tepat dan berkaitan langsung dengan pembentukan kompetensi peserta didik serta tujuan pembelajaran. Dengan penguasaan guru terhadap standar kompetensi dalam bidang teknologi pembelajaran dapat dijadikan salah satu indicator standar dan sertifikasi kompetensi guru.

f. Evaluasi Hasil Belajar Evaluasi hasil belajar dilakukan untuk mengetahui perubahan dan pembentukan kompetensi peserta didikyang dapat dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar pendidikan luar sekolah adalah akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, serta penilaian program. 1. Penilaian kelas Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum, dan uian akhir. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses pembelajaran dalam satuan bahasan atau kompetensi tertentu.

Ulangan umum dilaksanakan setiap akhir semester dengan bahan yang disajikan sebagai berikut. a. Ulangan umum semester pertama soalnya diambil dari materi semester pertama, b. Ulangan umum semester kedua soalnya merupakan gabungan dari semester pertama dan kedua dengan penekanan pada materi semester kedua. Ujian akhir dilakukan pada akhir program pendidikan.

Bahan-bahan yang diujikan meliputi seluruh materi pembelajaran yang telah diberikan, dengan penekanan pada bahan-bahan yang diberikan pada kelas tinggi. Penilaian kelas dilakukan oleh guru untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, memberikan umpan balik, mempengaruhi proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi pesrta didik, mendiaknosa kesulitan belajar dan pembentukan kompetensi pesrta didik.

2. Tes kemampuan dasar Tes kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca, menulis, dan berhitung yang diperlukan dalam rangka memperbaiki program pembelajaran. 3. Penilaian Akhir Satuan Pendidikan dan Sertifikasi Pada setiap akhir semester dan tahun pelajaran diselenggarakan kegiatan penilaian guna mendapatkan gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai ketuntasan belajar peserta didik dalam satuan waktu tertentu.

Untuk keperluan sertifikasi, kinerja, dan hasil belajar yang dicantumkan dalam Pendidikan luar sekolah adalah Tanda Tamat Belajar tidak semata-semata didasarkan atas hasil penilaian pada akhir jenjang sekolah 4. Benchmarking Benchmarking merupakan suatu standar untuk mengukur kinerja yang sedang berjalan, proses, dan hasil untuk mencapai suatu keunggulan yang memuaskan. Ukuran keunggulan dapat ditentukan di tingkat sekolah, daerah atau nasional.

Penilaian dilaksanakan secara berkesinabungan sehingga peserta didik dapat mencapai satuan tahap keunggulan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan usaha dan keuletannya. Untuk dapat memperoleh data dan informasi tentang pencapaian bechmarking tertentu dapat diadakan penilaian secara nasional dilaksanakan pada akhir satuan pendidikan.

Hasil penilaian tersebut dapat dipakai untuk memberikan peringkat kelas dan tidak dapat untuk memberikan nilai akhir peserta didik. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu dasar pembinaan guru dan kinerja sekolah. 5. Penilaian Program Penilaian program dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional, dan dinas pendidikan secara pendidikan luar sekolah adalah dan berkesinabungan.

Penilaian program dilakukan untuk mengetahui kesesuaian kurikulum dengan dasarfungsi, dan tujuan pendidikan nasional, serta kesesuaiannya dengan tuntutan perkembangan masyarakat, dan kemajuan zaman. g. Pengembangan Peserta Didik Pengembangan peserta didik merupakan bagian dari kompetensi pedagogig yang harus dimiliki guru, untuk mengaktualisasikan berbagi potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik.

Pengembangan peserta didik dapat dilakukan oleh guru melalui berbagai cara, antara lain kegiatan ekstrakurikuler, pendidikan luar sekolah adalah dan remedial, serta bimbingan konseling (BK).

1. Kegiatan Ekstra Kurikuler Kegiatan ekstrakurikuler yang juga sering disebut ekskul, merupakan kegiatan tambahan di suatu lembaga pendidikan, yang dilaksaanakan di luar kegiatan kurikuler, kegiatan ini banyak ragam dan kegiatannya, antara lain kesenian, olah raga, kepramukaan, keagamaan dan sebagainya.

Kegiatan ekskul ini dikembangkan disekolah sesuai dengam kemampuan dan keadaan sekolah itu sendiri. Disamping membentuk bakat ekskul juga dapat membentuk watak dan kepribadian anak didik, mengurangi kenakalan remaja, dapat saling mengenal satu sama lain antara anak didik dalam suatu kelas dengan kelas lainnya. Agar ekskulini dapat berhasil dan berdaya guna dapat dibina sesuaio denga visi dan misi sekolah yang bersangkutan. 2.

Pengayaan dan Remedial Program ini merupakan, pelengkap dan penjabaran dari program mingguan dan harian. Berdasarkan analisis terhadap kegiatan belajar, dan terhadap tugas-tugas, hasil tes dan ulangan dapat diperoleh tingkat kemampuan belajar setiap peserta didik. Program ini juga pendidikan luar sekolah adalah materi yang perlu diulang, peserta didik yang wajib mengikuti remedial, dan yang mengikuti program pengayaan. 3. Bimbingan dan Konseling Pendidikan Sekolah berkewajiban memberikan bimbingan dan konseling kepada peserta didik yang menyangkut pribadi, sosial, belajar dan karier.

Dalam SNP pasal 28 ayat (3) butir d, kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyartakat sekitar.

Lebih lanjut diuraikan RPP kompetensi sosial merupakan kemampuan guru memiliki kompetensi untuk : a. berkomunikasi secara lisan, tulisan dan isyarat b.

menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional c. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta pendidikan luar sekolah adalah d.

bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar Dari uaraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru adalah makhluk sosial, yang dalam kehidupannya tidak bisa terlepas dari kehidupan sosial masyarakat, dan lingkungannya.

pendidikan luar sekolah adalah

G. Perbedaan Pendidikan Sekolah dengan Pendidikan Luar Sekolah. Secara prinsip, satu-satunya perbedaan antara pendidikan luar sekolah dengan pendidikan sekolah adalah legitimasi atau formalisasi penyelenggaraan pendidikan.

Tentang perbedaan penyelenggaraan ini, secara institusional, tercantum pada Undang-Undang RI nomor 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 10:2-3. selanjutnya, perbedaan secara operasional, Umberto Sihombing melalui bukunya Pendidikan Luar Sekolah: Manajemen Strategi (2000:40-46) menuliskan secara khusus dan sistematis tentang perbedaan antara Pendidikan Luar Pendidikan luar sekolah adalah dengan Pendidikan Sekolah. Kotak D mengambarkan peristiwa belajar yang terjadi secara kebetulan, tanpa disengaja oleh kedua belah pihak.

Sebagai contoh ialah suatu peristiwa tabrakan kereta api dengan sebuah mobil. Beberapa menit setelah tabrakan terjadi, kereta api itu berhenti. Para petugas kereta apa segera menyingkirkanmobil yang telah rusak berat dan mereka mengeluarkan mayat para penumpang dari dalam mobil tersebut. Seseorang atau sekelompok penumpang kereta api itu ikut menolong mengeluarkan korban.

Didapat informasi bahwa penyebab kecelakaan itu ialah karena kelalaian pengemudi yang tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas pada lintasan kereta api yang telah dilengkapi palang pintu. Walaupun kereta api sudah mendekat, pengemudi itu terus menjalankan kendaraanya. Peristiwa belajar yang terjadi saat itu ialah pihak yang belajar adalah seorang atau sekelompok penumpang kereta ap. Sumber belajar ialah tertabraknya mobil itu sehingga menewaskan semua penumpangnya.

Faktor penyebabnya ialah pengemudi mobil yang tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Proses belajar yang terjadi ialah seorang atau sekelompok Penumpang kereta api mengetahui faktor penyebab kecelakan itu. Dengan pengalaman itu timbul sikap tentang pentingnya mematuhi peraturan lalu lintas, khususnya apabila ia atau mereka mengemudikan kendaraan pada waktu melintasi jalan kereta api.

Proses belajar dalam peristiwa tersebut disebut belajar secara kebetulan (incidental learning). Kotak B pendidikan luar sekolah adalah kegiatan belajar yang mengajar diorganisasi oleh seseorang atau suatu lembaga penyelengaraan program pendidikan, sedangkan dipihak lain, seseorang atau kelompok orang hanya secara kebetulan saja mengikuti program tersebut.

Sebagai contoh, seorang petani yang secara kebetulan bangun diwaktu subuh, sejam lebih awal darikebiasanya. Setiap bangun tidur, biasanya ia langsung menyetel radio untuk mendengarkan warta berita. Tetapi, pada pagi itu siaran yang terdengar dari pesawat radio adalah acara penyuluhan pertanian yang sedang membahas program serta usaha tani, khususnya cara pemupukan padi di sawah.

Karena ia seorang petani maka pesan-pesan dalam acara penyuluhan itu terus diikuti secara serius. Dalam kegiatan ini, dapat diketahui bahwa pendidikan adalah seseorang atau lembaga yang sengaja menyiarkan acara penyuluhan pertanian kepada masyarakat, khususnya pada taruna tani. Peserta didik ialah seorang petani yang kebetulan bangun pagi sejam lebih awal dari kebiasaanya.

Sedangkan kegiatan belajar ialah petani tersebut yang pendidikan luar sekolah adalah pesan-pesan tentang cara pemupukan keduabelah pihak, baik pendidikan maupun peserta didik. Sebagai contoh, pendidikan yang sengaja mengajar siswa dan siswa pun sengaja untuk belajar dari pendidik (guru) tersebut diligkungan pendidikan sekolah. Dalam program pendidikan luar sekolah, kesengajaan ini datang dari pihak pendidik (fasilitator, sumber belajar ) yang membelajarkan para peserta didik (warga belajar) untuk membantu mereka melakukan kegiatan belajar, sedangkan peserta didik pun sengaja untuk mengikuti kegiatan belajar.

Dengan demikian adanya kesengajaan dari dua pihak dalam proses pembelajaran merupakan ciri utama pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Berdasarkan urain diatas, jelaslah bahwa pendidikan luar sekolah dan pendidikan sekolah mempunyai ciri umum yang sama, yaitu adanya kegioatan yang disengaja, terorganisasi, sistemik, dan keduanya merupakan sub sistem dari sistem pendidikan bangsa.

Setelah membahas beberapa pengertian pendidikan di atas maka pertanyaan yang timbul kemudian apakah perbedaan antara pendidik luar sekolah dan pendidikan sekolah itu. cara yang paling umum dilakukan ialah dengan membandingkan rincian karakteristik pendidikan sekolah terhadap karakteristik pendidikan luar sekolah (Ryan, 1972: 11).

Sebagai ilustrasi, disatu pihak, pendidikan sekolah mempunyai program yang berurutan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan dan dapat diterapkan secara seragam disemua tempat yang memiliki kondisi sama.

Dipihak lain, pendidikan luar sekolah mempunyai program yang tidak selalu tetap dan tidak selalu berjenjang walaupun dapat berurutan, dan dalam penyelengaran programnya maka kebutuhan belajar dan kondisi setempat lebih diperhatikan.

Program pendidikan sekolah mempunyai tigkat keseragaman yang ketat, sedangkan program pendidikan luar sekolah pendidikan luar sekolah adalah berfariasi dan luas. Namun, karakteristik pendidikan sekolah lebih mudak untuk di identifikasi dibandingkan dengan karakteristik pendidikan luar sekolah.

• Recent entries • AMDAL • KEBIASAAN TAK SEHAT ORANG SAAT PUASA • Maag • MASALAH PENELITIAN (Metodologi Penelitian) • ILMU DAN PENGETAHUAN • Allah,aku mau curhat :'( • Pengaruh ekstrak rhizoma alang-alang terhadap perkecambahan • Praktikum Perkecambahan Biji Saga • . • MANFAAT WUDHU DAN SHALAT • Browse popular tags Agama Islam Curhatku untuk Allah gastritis gejala maag Indahnya Islam Islam Kekuatan Islam maag pantangan maag penyakit maag Puasa Puisi untuk Allah • Meta • Register • Log in • Entries RSS • Comments RSS

Pendidikan Luar Sekolah Katanya Jurusan Yang Punya Jiwa Sosial Tinggi ?




2022 www.videocon.com