Kepanjangan dari hiv adalah

kepanjangan dari hiv adalah

Jakarta - Hari AIDS Sedunia selalu diperingati setiap 1 Kepanjangan dari hiv adalah. Tapi ngomong-ngomong sudah tahu belum, kepanjangan dari HIV dan AIDS? Yuk diingat-ingat bersama. Dalam peringatan Hari AIDS Sedunia 2021 dengan tema 'Akhiri Ketimpangan Akhiri AIDS', Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dari Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi, MEpid, menjelaskan jumlah infeksi HIV baru di dunia pada 2020 terhitung menurun hingga 26 persen dibanding tahun lalu.

"Kalau kita lihat kurang lebih 37,7 orang di dunia hidup dengan HIV pada 2020, dan kurang lebih 1,5 juta infeksi baru HIV terjadi pada 2020. Ada 680 ribu orang meninggal karena penyakit AIDS pada 2020," terang dr Nadia dalam konferensi pers Hari AIDS Sedunia 2021, Senin (29/11/2021). Baca juga: Hari AIDS Sedunia, Ini Gejala HIV Mulai dari Awal Hingga Berkembang Menjadi AIDS Lantas, apa kepanjangan dari HIV?

Biar makin paham di Hari AIDS Sedunia 2021, begini paparan dr Nadia: 1. Apa kepanjangan dari HIV? dr Nadia menjelaskan, HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Kepanjangan dari HIV adalah Human Immunodeficiency virus. 2. Apa bedanya HIV dengan AIDS? AIDS adalah singkatan dari (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Jika HIV adalah virus, AIDS adalah kondisi di mana tingkat keparahan orang yang terinfeksi HIV sudah bertambah berat dan muncul kumpulan gejala.

"AIDS bukan suatu penyakit, tetapi kondisi di mana kalau kita sakit HIV kemudian bertambah berat tingkat keparahannya, kita akan sampai kondisi yang kita sebut AIDS. Jadi ada kumpulan-kumpulan gejala dan tanda yang merupakan tanda fisik atau terjadinya infeksi oportunistik," jelas dr Nadia. "Dia memanfaatkan kondisi tubuh yang lemah, kemudian menimbulkan penyakit-penyakitnya. Ini yang menjadi kewaspadaan kita," sambungnya dalam acara Hari AIDS Sedunia.

Berita Terkait • 4 Cara Penularan Virus HIV, Pakai Toilet Bersama Termasuk? Begini Faktanya • Geger Pasien Positif COVID-19 Selama 505 Hari, Kok Bisa? Begini Temuan Pakar • Imbas Perang, Ratusan Ribu Pengidap HIV di Ukraina Terancam Kehabisan Obat • Waspada, Ciri HIV Mirip dengan Flu Biasa! • WHO Sorot Penanganan Penyakit di Ukraina Imbas Invasi Rusia, COVID Apa Kabar?

• Fakta-fakta Wanita Pertama di Dunia yang Sembuh dari HIV • Varian Baru HIV Bukti Virus Tak Selalu Bermutasi Jadi Lebih Jinak • Berkat Transplantasi Sel Punca, Wanita Ini Berhasil Sembuh dari HIV MOST POPULAR • 1 4 Anak RI Meninggal Diduga Hepatitis Misterius, Ini Status Vaksin COVID-nya • 2 Anak di Jatim Meninggal Diduga karena Hepatitis Misterius, Ini Gejala Awalnya • 3 Caisar Diduga Nyabu Saat Live TikTok, Begini Ciri-ciri Pemakai Sabu • 4 Ciri-ciri Hepatitis Akut pada Anak, Orangtua Wajib Tahu!

• 5 Kemenkes Buka Suara Kasus Anak Jatim Meninggal Diduga Hepatitis Misterius • 6 Eks Bos WHO Bicara soal Potensi Hepatitis 'Misterius' Jadi Pandemi • 7 Pemerintah Pastikan Biaya Perawatan Pasien Hepatitis Ditanggung BPJS Kesehatan • 8 Hasil Kolonoskopi Diungkap, Begini Kondisi Raja Salman Usai Masuk RS • 9 Dijalani Raja Salman, Apa Itu Kolonoskopi yang Bisa Deteksi Kanker Usus Besar? • 10 Benarkah Long COVID 'Biang Kerok' Hepatitis Misterius? Ini Penjelasan Pakar IDI • SELENGKAPNYA none
tirto.id - HIV ( Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit.

Sementara itu, AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah stadium akhir dari infeksi virus HIV. Virus HIV merusak sistem kekebalan tubuh dengan cara menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, maka semakin lemah sistem kekebalan tubuh. Dengan demikian penderita menjadi rentan terserang berbagai penyakit. Dikutip dari situs Red Line Indonesia, infeksi HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome).

Pada tahap kepanjangan dari hiv adalah, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi telah hilang sepenuhnya. Penularan HIV dan AIDS Dikutip dari laman Kemensos, HIV/AIDS dapat ditularkan melalui berbagai hal berikut: • Penularan dapat terjadi saat tranfusi darah yang mengandung HIV, ataupun penggunaan narkoba suntik secara bergantian • Cairan sperma dan vagina, yakni ditularkan melalui berhubungan seks beresiko atau tidak aman.

• Ibu penderita HIV kepada sang kepanjangan dari hiv adalah pada saat kehamilan, persalinan, dan menyusui (MTCT = Mother To Child Transmission).

Kemensos melalui laman resmi mereka juga membagikan berbagai informasi terkait prinsip penularan HIV, yang dikenal dengan istilah ESSE. Prinsip ini memandang kemungkinan terjadi penularan HIV antar individu, dan berikut penjabarannya: • Exit, yaitu jalan keluar cairan tubuh yang mengandung HIV dari dalam tubuh keluar tubuh.

• Survive, yaitu cairan tubuh yang keluar harus mengandung virus yang tetap bertahan hidup. • Sufficient, yaitu jumlah virus yang cukup untuk menularkan/menginkubasi ke tubuh seseorang. • Enter, yakni alur masuk di tubuh manusia yang memungkinkan kontak dengan cairan tubuh yang mengandung HIV. Lalu, apakah semua cairan tubuh dapat menularkan HIV/AIDS? Jadwabnya tidak. Berikut beberapa cairan tubuh yang tidak mengandung HIV meski berasal dari para penderita.

• Cairan air liur atau saliva atau air ludah • Feses atau kotoran atau BAB atau tinja • Air mata • Air keringat • Urine atau kepanjangan dari hiv adalah seni atau air kencing atau air pipis Baca juga: • Mengapa Vaksin HIV Sulit Ditemukan? • Perbedaan HIV dan AIDS: Ciri-Ciri, Gejala, Cara Pencegahannya Gejala dan Stadium Terkait HIV & AIDS Indikasi awal manifestasi HIV ditandai dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Akan tetapi hal itu tidak lantas menunjukkan seseorang terinfeksi HIV.

Perlu dicurigai adanya infeksi HIV jika muncul penyakit kepanjangan dari hiv adalah sering kambuh dan sulit diobati, atau ada perilaku lain yang beresiko. Mengutip laman Kemensos, stadium klinis HIV (WHO) terbagi ke dalam 4 (empat) stadium, yakni: • Kepanjangan dari hiv adalah I, pada stadium ini belum timbul gejala dan adanya pembesaran kelenjar limfa.

• Stadium II, pada stadium ini ditandai dengan berat badan (BB) menurun, adanya infeksi saluran nafas, herpes zooster ulkus mulut, ruam kulit, dan infeksi jamur kuku. • Stadium III, stadium ini ditandai dengan turunnya berat badan, diare kronis lebih dari sebulan, demam menetap, TB paru, kandidiasis, dan anemia.

• Stadium IV, ditandai dengan adanya wasting syndrome, toksoplasmosis otak, kandidiasis esofagus, herpes simplek, sarkoma kaposi, TB extra paru, meningitis kriptokokus, encefalopati HIV, dll. Hingga saat ini belum ditemukan obat untuk menangani infeksi virus HIV maupun AIDS. Akan tetapi, untuk memperlambat perkembangan penyakit serta meningkatkan harapan hidup penderita sudah tersedia berbagai obat.

Baca juga: Berbagai Kesulitan Hidup Pasien HIV/AIDS saat Pandemi COVID-19 Pencegahan HIV/AIDS Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan dalam upaya pencegahan HIV dan AIDS. Pencegahan ini dikenal dengan prinsip ABCDE, dan bisa dijabarkan sebagai berikut: • Abstinensia, yaitu puasa seks bagi yang belum menikah. • Be faithfull, yaitu prinsip untuk saling setia pada pasangan bagi yang sudah menikah.

• Condom, seperti namanya prinsip ini menganjurkan untuk menggunakan kondom bagi yang berhubungan seks beresiko. • Dont drug, artinya jangan gunakan narkoba suntik ataupun sejenisnya.

• Education, yaitu dengan cara mengedukasi orang sekitar terkait informasi HIV yang benar. Baca juga: • Syarat Penyuntikan Vaksin Covid-19 untuk Orang dengan HIV/AIDS • Syarat Vaksin COVID-19 untuk Pasien HIV, Apa Saja?

HIV dan AIDS di Indonesia Dikutip dari laman Red Line Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, selama tahun 2016 terdapat lebih dari 40 ribu kasus infeksi HIV di Indonesia. Dari jumlah tersebut, HIV paling sering terjadi pada pria dan wanita, diikuti lelaki seks lelaki (LSL), dan pengguna NAPZA suntik (penasun).

Pada tahun yang sama, lebih dari 7000 orang menderita AIDS, dengan jumlah kematian lebih dari 800 orang. Data terakhir Kemenkes RI menunjukkan, pada rentang Januari hingga Maret 2017 telah tercatat lebih dari 10.000 laporan infeksi HIV, dan tidak kurang dari 650 kasus AIDS di Indonesia. • Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • العربية • مصرى • Asturianu • Azərbaycanca • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • বাংলা • Bosanski • Буряад • Català • کوردی • Čeština • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Zazaki • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Võro • Français • Frysk • Gaeilge • Galego • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Magyar • Հայերեն • Ilokano • Ido • Íslenska • Italiano • ᐃᓄᒃᑎᑐᑦ/inuktitut • 日本語 • Қазақша • ಕನ್ನಡ • 한국어 • Kurdî • Кыргызча • Latina • Lombard • Lingála • Lietuvių • Latviešu • Олык марий • Македонски • മലയാളം • मराठी • Bahasa Melayu • नेपाली • Nederlands • Norsk bokmål • Occitan • ଓଡ଼ିଆ • ਪੰਜਾਬੀ • Polski • پښتو • Português • Română • Русский • Ikinyarwanda • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Shqip • Српски / srpski • Sunda • Svenska • Kiswahili • தமிழ் • Тоҷикӣ • ไทย • Türkmençe • Tagalog • Türkçe • Українська • Tiếng Việt • Winaray • 吴语 • მარგალური • Yorùbá • 中文 • Bân-lâm-gú • 粵語 Spesies • Human immunodeficiency virus 1 • Human immunodeficiency virus 2 HIV Frekuensi 0.6 to 0.9% Virus imunodefisiensi manusia [1] ( bahasa Inggris: human immunodeficiency virus; sering disingkat HIV) adalah dua spesies lentivirus penyebab AIDS.

[2] Virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Jika virus ini terus menyerang tubuh, sistem pertahanan tubuh kita akan semakin lemah. Tanpa pengobatan, seorang dengan HIV bisa bertahan hidup selama 9-11 tahun setelah terinfeksi, tergantung tipenya. Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan penurunan sistem imun.

[2] Penyaluran virus HIV bisa melalui penyaluran Semen (reproduksi), Darah, cairan vagina, dan ASI. HIV bekerja dengan membunuh sel-sel penting yang dibutuhkan oleh manusia, salah satunya adalah Sel T pembantu, Makrofaga, Sel dendritik.

Pada tahun 2014, the Joint United Nation Program on HIV/AIDS (UNAIDS) memberikan rapor merah kepada Indonesia sehubungan penanggulangan HIV/AIDS. Pasien baru meningkat 47 persen sejak 2005. Kematian akibat AIDS di Indonesia masih tinggi, karena hanya 8 persen Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) yang mendapatkan pengobatan obat antiretroviral (ARV). [3] Indonesia adalah negara ketiga di dunia yang memiliki penderita HIV terbanyak yaitu sebanyak 640.000 orang, setelah China dan India, karena ketiga negara ini memiliki jumlah penduduk yang banyak.

Hanya saja prevalensi di Indonesia hanya 0,43 persen atau masih di bawah tingkat epidemi sebesar satu persen. [4] Daftar isi • 1 Sejarah • 2 Klasifikasi • 3 Struktur dan materi genetik • 4 Siklus • 5 Deteksi HIV • 6 Penularan dan pencegahan • 6.1 Hubungan seksual • 6.2 Ibu ke anak (transmisi perinatal) • 6.3 Lain-lain • 7 Lihat pula • 8 Referensi • 9 Pranala luar Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Pada tahun 1983, Jean Claude Chermann dan Françoise Barré-Sinoussi dari Prancis berhasil mengisolasi HIV untuk pertama kalinya dari seorang penderita sindrom limfadenopati.

[5] Pada awalnya, virus itu disebut ALV ( lymphadenopathy-associated virus) [6] Bersama dengan Luc Montagnier, mereka membuktikan bahwa virus tersebut merupakan penyebab AIDS. [6] Pada awal tahun 1984, Robert Gallo dari Amerika Serikat juga meneliti tentang virus penyebab AIDS yang disebut HTLV-III. [5] [7] Setelah diteliti lebih lanjut, terbukti bahwa ALV dan HTLV-III merupakan virus yang sama dan pada tahun 1986, istilah yang digunakan untuk menyebut virus tersebut adalah HIV, atau lebih spesifik lagi disebut HIV-1.

[8] Tidak lama setelah HIV-1 ditemukan, suatu subtipe baru ditemukan di Portugal dari pasien yang berasal dari Afrika Barat dan kemudian disebut HIV-2. [5] Melalui kloning dan analisis sekuens (susunan genetik), HIV-2 memiliki perbedaan sebesar 55% dari HIV-1 dan secara antigenik berbeda. [5] Perbedaan terbesar lainnya antara kedua strain (galur) virus tersebut terletak pada glikoprotein selubung. [5] Penelitian lanjutan memperkirakan bahwa HIV-2 berasal dari SIV (retrovirus yang menginfeksi primata) karena adanya kemiripan sekuens dan reaksi silang antara antibodi terhadap kedua jenis virus tersebut.

[5] Klasifikasi [ sunting - sunting sumber ] Pohon kekerabatan (filogenetik) yang menunjukkan kedekatan SIV dan HIV. Kedua spesies HIV yang menginfeksi manusia (HIV-1 dan -2) pada mulanya berasal dari Afrika barat dan tengah, berpindah dari primata ke manusia dalam sebuah proses yang dikenal sebagai zoonosis. [9] HIV-1 merupakan hasil evolusi dari simian immunodeficiency virus (SIVcpz) yang ditemukan dalam subspesies simpanse, Pan troglodyte troglodyte.

Sedangkan, HIV-2 merupakan spesies virus hasil evolusi strain SIV yang berbeda (SIVsmm), ditemukan pada Sooty mangabey, monyet dunia lama Guinea-Bissau. [9] Sebagian besar infeksi HIV di dunia disebabkan oleh HIV-1 karena spesies virus ini lebih virulen dan lebih mudah menular dibandingkan HIV-2. [9] Sedangkan, HIV-2 kebanyakan masih terkurung di Afrika barat.

kepanjangan dari hiv adalah

{INSERTKEYS} [9] Berdasarkan susunan genetiknya, HIV-1 dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu M, N, dan O. [10] Kelompok HIV-1 M terdiri dari 16 subtipe yang berbeda. [10] Sementara pada kelompok N dan O belum diketahui secara jelas jumlah subtipe virus yang tergabung di dalamnya.

[10] Namun, kedua kelompok tersebut memiliki kekerabatan dengan SIV dari simpanse. [10] HIV-2 memiliki 8 jenis subtipe yang diduga berasal dari Sooty mangabey yang berbeda-beda.

[10] Apabila beberapa virus HIV dengan subtipe yang berbeda menginfeksi satu individu yang sama, maka akan terjadi bentuk rekombinan sirkulasi (circulating recombinant forms-CRF) [11] ( bahasa Inggris: circulating recombinant form, CRF).

Bagian dari genom beberapa subtipe HIV yang berbeda akan bergabung dan membentuk satu genom utuh yang baru. [12] Bentuk rekombinan yang pertama kali ditemukan adalah rekombinan AG dari Afrika tengah dan barat, kemudian rekombinan AGI dari Yunani dan Siprus, kemudian rekombinan AB dari Rusia dan AE dari Asia tenggara. [12] Dari seluruh infeksi HIV yang terjadi di dunia, sebanyak 47% kasus disebabkan oleh subtipe C, 27% berupa CRF02_AG, 12,3% berupa subtipe B, 5.3% adalah subtipe D dan 3.2% merupakan CRF AE, sedangkan sisanya berasal dari subtipe dan CRF lain.

[12] Struktur dan materi genetik [ sunting - sunting sumber ] HIV memiliki diameter 100-150 nm dan berbentuk sferis ( spherical) hingga oval karena bentuk selubung yang menyelimuti partikel virus ( virion).

[13] Selubung virus berasal dari membran sel inang yang sebagian besar tersusun dari lipida. [13] Di dalam selubung terdapat bagian yang disebut protein matriks. [13] Bagian internal dari HIV terdiri dari dua komponen utama, yaitu genom dan kapsid. [14] Genom adalah materi genetik pada bagian inti virus yang berupa dua kopi utas tunggal RNA. [14] Sedangkan, kapsid adalah protein yang membungkus dan melindungi genom.

[14] Berbeda dengan sebagian besar retrovirus yang hanya memiliki tiga gen ( gag, pol, dan env), HIV memiliki enam gen tambahan ( vif, vpu, vpr, tat, ref, dan nef). [15] Gen-gen tersebut disandikan oleh RNA virus yang berukuran 9 kb.

[13] Kesembilan gen tersebut dikelompokkan menjadi tiga kategori berdasarkan fungsinya, yaitu gen penyandi protein struktural (Gag, Pol, Env), protein regulator (Tat, Rev), dan gen aksesoris (Vpu hanya pada HIV-1, Vpx hanya pada HIV-2; Vpr, Vif, Nef). [14] Nama Gen dan Protein yang disandikan Ukuran Lokalisasi Fungsi Tat (trans-aktivator transkripsi) 86 asam amino (AA), 2 ekson, 14 kDalton nukleus, nukleolus, protein awal Penting untuk replikasi; Trans-aktivasi ekspresi mRNA virus, mengatur ekspresi sitokin dan reseptor.

[16] Rev (regulator ekspresi protein virus) 116 AA, 2 ekson, 19 kDalton nukleus, di antara sitoplasma dan nukleolus Penting untuk replikasi; mengatur transkripsi dan ekspresi protein Gag, Pol, Env, Vif, Vpu, dan Vpr.

[16] Vif (faktor infektivitas virus) 192 AA, 23 kDalton sitoplasma, beberapa molekul yang terbungkus dalam virion dewasa Penting untuk infektivitas dan replikasi pada sel primer; berperan dalam tahap awal replikasi HIV [16] Vpr (Protein R virus) 96-106 AA, 10-15 kDalton komponen dari inti virus dan kompleks membran Mediasi replikasi di sel yang tidak membelah [16] Vpx (Protein X virus) 112 AA, 12-16 kDalton komponen virion Berfungsi seperti Vpr [16] Vpu (Protein U virus) 81 AA (terfosforilasi), 9,2 & 16 kDalton retikulum endoplasma, protein transmembran Degradasi CD4; meningkatkan pelepasan HIV; pembentukan membran protein integral; regulasi ekpresi permukaan sel terhadap MHC I [16] Nef (Faktor Negatif) 206 AA, 27 kDalton virion, sitoplasma, nukleus Meningkatkan produksi HIV di tahap akhir; mengatur ekspresi MHC I dan CD4 [16] Siklus [ sunting - sunting sumber ] Struktur HIV.

Seperti virus lain pada umumnya, HIV hanya dapat bereplikasi dengan memanfaatkan sel inang. Siklus HIV diawali dengan penempelan partikel virus ( virion) dengan reseptor pada permukaan sel inang, di antaranya adalah CD4, CXCR5, dan CXCR5.

Sel-sel yang menjadi target HIV adalah sel dendritik, sel T, dan makrofaga. {/INSERTKEYS}

kepanjangan dari hiv adalah

{INSERTKEYS} [14] Sel-sel tersebut terdapat pada permukaan lapisan kulit dalam ( mukosa) penis, vagina, dan oral yang biasanya menjadi tempat awal infeksi HIV. [14] Selain itu, HIV juga dapat langsung masuk ke aliran darah dan masuk serta bereplikasi di noda limpa. [14] Setelah menempel, selubung virus akan melebur (fusi) dengan membran sel sehingga isi partikel virus akan terlepas di dalam sel.

[17] Selanjutnya, enzim transkriptase balik yang dimiliki HIV akan mengubah genom virus yang berupa RNA menjadi DNA. [17] Kemudian, DNA virus akan dibawa ke inti sel manusia sehingga dapat menyisip atau terintegrasi dengan DNA manusia. [17] DNA virus yang menyisip di DNA manusia disebut sebagai provirus dan dapat bertahan cukup lama di dalam sel.

[17] Saat sel teraktivasi, enzim-enzim tertentu yang dimiliki sel inang akan memproses provirus sama dengan DNA manusia, yaitu diubah menjadi mRNA. [17] Kemudian, mRNA akan dibawa keluar dari inti sel dan menjadi cetakan untuk membuat protein dan enzim HIV. [17] Sebagian RNA dari provirus yang merupakan genom RNA virus.

[17] Bagian genom RNA tersebut akan dirakit dengan protein dan enzim hingga menjadi virus utuh. [17] Pada tahap perakitan ini, enzim HIV protease virus berperan penting untuk memotong protein panjang menjadi bagian pendek yang menyusun inti virus. [17] Apabila HIV utuh telah matang, maka virus tersebut dapat keluar dari sel inang dan menginfeksi sel berikutnya. [18] Proses pengeluaran virus tersebut melalui pertunasan (budding), di mana virus akan mendapatkan selubung dari membran permukaan sel inang.

[18] Seorang wanita sedang menggunakan alat tes HIV. Pada saat paling awalpun deteksi HIV dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah, walaupun tidak ada gejala apapun. Pada tahap kedua telah ada gejala klinis, misalnya kulitnya jelek, gatal-gatal dan batuk pilek seperti flu biasa.

Pada tahap ketiga akan mengalami penurunan berat badan dan terkena TBC. Dan pada tahap keempat telah mengalami komplikasi, sulit disembuhkan dan biasanya diikuti dengan kematian. [19] Umumnya, ada tiga tipe deteksi HIV, yaitu tes PCR, tes antibodi HIV, dan tes antigen HIV. [20] Tes reaksi berantai polimerase (PCR) merupakan teknik deteksi berbasis asam nukleat (DNA dan RNA) yang dapat mendeteksi keberadaan materi genetik HIV di dalam tubuh manusia. [21] Tes ini sering pula dikenal sebagai tes beban virus atau tes amplifikasi asam nukleat (HIV NAAT).

[20] PCR DNA biasa merupakan metode kualitatif yang hanya bisa mendeteksi ada atau tidaknya DNA virus. [22] Sedangkan, untuk deteksi RNA virus dapat dilakukan dengan metode real-time PCR yang merupakan metode kuantitatif. [22] Deteksi asam nukleat ini dapat mendeteksi keberadaan HIV pada 11-16 hari sejak awal infeksi terjadi. [10] Tes ini biasanya digunakan untuk mendeteksi HIV pada bayi yang baru lahir, namun jarang digunakan pada individu dewasa karena biaya tes PCR yang mahal dan tingkat kesulitan mengelola dan menafsirkan hasil tes ini lebih tinggi bila dibandingkan tes lainnya.

[20] Untuk mendeteksi HIV pada orang dewasa, lebih sering digunakan tes antibodi HIV yang murah dan akurat. [20] Seseorang yang terinfeksi HIV akan menghasilkan antibodi untuk melawan infeksi tersebut. [20] Tes antibodi HIV akan mendeteksi antibodi yang terbentuk di darah, saliva (liur), dan urin. [20] Sejak tahun 2002, telah dikembangkan suatu penguji cepat ( rapid test) untuk mendeteksi antibodi HIV dari tetesan darah ataupun sampel liur (saliva) manusia.

[23] Sampel dari tubuh pasien tersebut akan dicampur dengan larutan tertentu. Kemudian, kepingan alat uji ( test strip) dimasukkan dan apabila menunjukkan hasil positif maka akan muncul dua pita berwarna ungu kemerahan.

[23] Tingkat akurasi dari alat uji ini mencapai 99.6%, namun semua hasil positif harus dikonfirmasi kembali dengan ELISA. [23] Selain ELISA, tes antibodi HIV lain yang dapat digunakan untuk pemeriksaan lanjut adalah Western blot. [21] Tes antigen dapat mendeteksi antigen (protein P24) pada HIV yang memicu respon antibodi. [20] Pada tahap awal infeksi HIV, P24 diproduksi dalam jumlah tinggi dan dapat ditemukan dalam serum darah.

[20] Tes antibodi dan tes antigen digunakan secara berkesinambungan untuk memberikan hasil deteksi yang lebih akurat dan lebih awal. [20] Tes ini jarang digunakan sendiri karena sensitivitasnya yang rendah dan hanya bisa bekerja sebelum antibodi terhadap HIV terbentuk. [20] Kesemua cara di atas mendeteksi virusnya, tetapi cara paling murah adalah tes CD4 yang hanya Rp 100,000 lebih di RS Kanker.

CD4 tidak mengetes kehadiran virus HIVnya, atau antibodi spesifik yang melawan HIV, CD4 mengukur sistem imunitas pasien. Sebelumnya jika CD4 belum mencapai nilai tertentu, walaupun diketahui keberadaan virus HIV, maka belum dilakukan pengobatan apapun, tetapi sekarang ini jika sudah diketahui keberadaan virus HIV, maka berapapun nilai CD4 harus dilakukan pengobatan.Di Indonesia, dimana masalah dana menjadi kendala, maka tes CD4 sudah cukup memadai untuk deteksi awal kemungkinan keberadaan virus HIV.

Dan perlu diingat bahwa HIV belum tentu menjadi AIDS dengan pengobatan yang adekuat. CD4 juga berguna sebagai indikasi awal keberadaan kanker atau segala hal yang berhubungan dengan sistem imunitas pasien. Jika CD4 telah mencapai nilai tertentu, maka perlu dilakukan tes CD8. Penularan dan pencegahan [ sunting - sunting sumber ] HIV dapat ditularkan melalui injeksi langsung ke aliran darah, serta kontak membran mukosa atau jaringan yang terlukan dengan cairan tubuh tertentu yang berasal dari penderita HIV.

[24] Cairan tertentu itu meliputi darah, semen, sekresi vagina, dan ASI. [24] Beberapa jalur penularan HIV yang telah diketahui adalah melalui hubungan seksual, dari ibu ke anak (perinatal), penggunaan obat-obatan intravena, transfusi dan transplantasi, serta paparan pekerjaan. [25] Tetapi untuk tiap satu kali tindakan, maka yang paling berisiko adalah transfusi darah dari donor darah penderita HIV dimana kemungkinan resipien terkena HIV mencapai 90 persen, sedangkan ibu hamil penderita HIV yang melahirkan dan menyusuinya kemungkinan akan menularkan pada bayinya HIV sebesar 25 persen, tetapi dengan pemberian obat-obatan dan penanganan yang tepat pada saat kelahiran dan sesudahnya, maka angka ini dapat ditekan menjadi 1 sampai 2 persen saja.Sekarang ini semua darah dari donor mengalami penapisan HIV, sehingga kasus penularan melalui transfusi darah boleh dikatakan sudah tidak ada lagi.

Hubungan seksual [ sunting - sunting sumber ] Menurut data WHO, pada tahun 1983-1995, sebanyak 70-80% penularan HIV dilakukan melalui hubungan heteroseksual, sedangkan 5-10% terjadi melalui hubungan homoseksual. Kontak seksual melalui vagina dan anal memiliki risiko yang lebih besar untuk menularkan HIV dibandingkan dengan kontak seks secara oral. [26] Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko penularan melalui hubungan seksual adalah kehadiran penyakit menular seksual, kuantitas beban virus, penggunaan douche.

Seseorang yang menderita penyakit menular seksual lain (contohnya: sifilis, herpes genitali, kencing nanah, dsb.) akan lebih mudah menerima dan menularkan HIV kepada orang lain yang berhubungan seksual dengannya. [27] [28] Beban virus merupakan jumlah virus aktif yang ada di dalam tubuh. Penularah HIV tertinggi terjadi selama masa awal dan akhir infeksi HIV karena beban virus paling tinggi pada waku tersebut. [28] Pada rentan waktu tersebut, beberapa orang hanya menimbulkan sedikit gejala atau bahkan tidak sama sekali.

[28] Penggunaan douche dapat meningkatkan risiko penularan HIV karena menghancurkan bakteri baik di sekitar vagina dan anus yang memiliki fungsi proteksi. [28] Selain itu, penggunaan douche setelah berhubungan seksual dapat menekan bakteri penyebab penyakit masuk ke dalam tubuh dan mengakibatkan infeksi. [28] Pencegahan HIV melalui hubungan seksual dapat dilakukan dengan tidak berganti-ganti pasangan dan menggunakan kondom.

[25] Cara pencegahan lainnya adalah dengan melakukan hubungan seks tanpa menimbulkan paparan cairan tubuh. [27] Untuk menurunkan beban virus di dalam saluran kelamin dan darah, dapat digunakan terapi anti-retroviral. [28] Ibu ke anak (transmisi perinatal) [ sunting - sunting sumber ] Penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui infeksi in utero, saat proses persalinan, dan melalui pemberian ASI. [25] Beberapa faktor maternal dan eksternal lainnya dapat mempengaruhi transmisi HIV ke bayi, di antaranya banyaknya virus dan sel imun pada trisemester pertama, kelahiran prematur, dan lain-lain.

[25] Penurunan sel imun (CD4+) pada ibu dan tingginya RNA virus dapat meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke anak. Selain itu, sebuah studi pada wanita hamil di Malawi dan AS juga menyebutkan bahwa kekurangan vitamin A dapat meningkatkan risiko infeksi HIV. Risiko penularan perinatal dapat dilakukan dengan persalinan secara caesar, tidak memberikan ASI, dan pemberian AZT pada masa akhir kehamilan dan setelah kelahiran bayi.

[25] Di sebagian negara berkembang, pencegahan pemberian ASI dari penderita HIV/AIDS kepada bayi menghadapi kesulitan karena harga susu formula sebagai pengganti relatif mahal. [29] Selain itu, para ibu juga harus memiliki akses ke air bersih dan memahami cara mempersiapan susu formula yang tepat. [29] Lain-lain [ sunting - sunting sumber ] Cara efektif lain untuk penyebaran virus ini adalah melalui penggunaan jarum atau alat suntik yang terkontaminasi, terutama di negara-negara yang kesulitan dalam sterilisasi alat kesehatan.

[25] Bagi pengguna obat intravena (dimasukkan melalui pembuluh darah), HIV dapat dicegah dengan menggunakan jarum dan alat suntik yang bersih. [25] Penularan HIV melalui transplantasi dan transfusi hanya menjadi penyebab sebagian kecil kasus HIV di dunia (3-5%).

[25] Hal ini pun dapat dicegah dengan melakukan pemeriksaan produk darah dan transplan sebelum didonorkan dan menghindari donor yang memiliki risiko tinggi terinfeksi HIV. [25] Penularan dari pasien ke petugas kesehatan yang merawatnya juga sangat jarang terjadi (< 0.0001% dari keseluruhan kasus di dunia).

[25] Hal ini dicegah dengan memeberikan pengajaran atau edukasi kepada petugas kesehatan, pemakaian pakaian pelindung, sarung tangan, dan pembuangan alat dan bahan yang telah terkontaminasi sesuai dengan prosedur. [25] Pada tahun 2005, sempat diusulkan untuk melakukan sunat dalam rangka pencegahan HIV. Namun menurut WHO, tindakan pencegahan tersebut masih terlalu awal untuk direkomendasikan.

[30] Ada beberapa jalur penularan yang ditakutkan dapat menyebarkan HIV, yaitu melalui ludah, gigitan nyamuk, dan kontak sehari-hari (berjabat tangan, terekspos batuk dan bersin dari penderita HIV, menggunakan toilet dan alat makan bersama, berpelukan). [24] Namun, CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) menyatakan bahwa aktivitas tersebut tidak mengakibatkan penularan HIV. [24] Beberapa aktivitas lain yang sangat jarang menyebabkan penularan HIV adalah melalui gigitan manusia dan beberapa tipe ciuman tertentu.

[24] Sub-Sahara Afrika tetap merupakan daerah yang paling parah terkena HIV di antara kaum perempuan hamil pada usia 15-24 tahun di sejumlah negara di sana.

Ini diduga disebabkan oleh banyaknya penyakit kelamin, praktik menoreh tubuh, transfusi darah, dan buruknya tingkat kesehatan dan gizi di sana. [31] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • ARV • Faktor NE • Penularan kriminal HIV • Orang HIV positif • Tes HIV • Post-exposure prophylaxis Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ Kateglo- virus imunodifisiensi manusia [ pranala nonaktif permanen] • ^ a b Jenny Page, Maylani Louw, Delene Pakkiri, Monica Jacobs. 2006.

Working with HIV/AIDS. Cape Town: Juta Legal and Academic Publishers • ^ Muhammad Ridho (July 19, 2014). "Memprihatinkan, Indonesia Sumbang Empat Persen Infeksi Baru HIV di Dunia". • ^ "Cho Kah Sin: Indonesia's HIV prevention should be an example".

19 Agustus 2014. • ^ a b c d e f Jay A. Levy. 2007. HIV and the pathogenesis of AIDS. ASM Press. • ^ a b Barré-Sinoussi, F., Chermann, J. C., Rey, F., Nugeyre, M. T., Chamaret, S., Gruest, J., Dauguet, C., Axler-Blin, C., Vezinet-Brun, F., Rouzioux, C., Rozenbaum, W.

and Montagnier, L. (1983) Isolation of a T-lymphotropic retrovirus from a patient at risk for acquired immune deficiency syndrome (AIDS) Science 220, 868-871 PMID 6189183 • ^ Popovic, M., Sarngadharan, M. G., Read, E. and Gallo, R. C. (1984) Detection, isolation, and continuous production of cytopathic retroviruses (HTLV-III) from patients with AIDS and pre-AIDS. Science 224, 497-500 PMID 6200935 • ^ Coffin, J., Haase, A., Levy, J. A., Montagnier, L., Oroszlan, S., Teich, N., Temin, H., Toyoshima, K., Varmus, H., Vogt, P.

and Weiss, R. A. (1986) What to call the AIDS virus? Nature 321, 10. PMID 3010128. • ^ a b c d Reeves, J. D. and Doms, R. W. (2002) Human immunodeficiency virus type 2. J. Gen. Virol. 83, 1253-1265 PMID 12029140 • ^ a b c d e f Microbiology Australia The Australian Society for Microbiology. Volume 22. {/INSERTKEYS}

kepanjangan dari hiv adalah

Number 1. Maret 2010. Page 17-20. • ^ (Inggris) "The Circulating Recombinant Forms (CRFs)". Los Alamos National Laboratory. Diakses tanggal 2010-04-02. • ^ a b c MetaPathogen.com Diarsipkan 2011-06-03 di Wayback Machine.

Human Immunodeficiency Virus 1 (HIV-1). Diakses pada 19 Juni 2011. • ^ a b c d (Inggris) B. D. Schoub. 1999. AIDS and HIV in Perspective: A Guide to Understanding the Virus and its Consequences. Cambridge University Press Page. 57-59. • ^ a b c d e f g (Inggris) Felissa R. Lashley, Jerry D. Durham. 2009. The person with HIV/AIDS: nursing perspectives. Springer Publishing Company.

• ^ Mary Ropka, Ann Williams. 1998. HIV nursing and symptom management. Jones & Bartlett. Page. 4 • ^ a b c d e f g Andreas Holzenburg, Elke Bogner. 2002. Structure-function relationships of human pathogenic viruses. New York: Kluwer Academic/Plenum Publisher. Page. 303 • ^ a b c d e f g h i Avert.org HIV Structure and Life Cycle. • ^ a b (Inggris) About.com Mark Cichocki, R.N.

The HIV Life Cycle: Understanding HIV replication. Diakses 29 Mei kepanjangan dari hiv adalah. • ^ "Kenali Empat Stadium HIV". 26 Nopember 2014. Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ a b c d e f g h i j AVERT.org.

HIV Testing: The different types of HIV test. Diakses 18 Juni 2011. • ^ a b (Inggris) David Mahan Knipe, Peter M. Howley. Fields virology, Volume 1. 2001.

kepanjangan dari hiv adalah

Lippincott William & Wilkins. Page 596-598. • ^ a b World Health Organization Early detection of HIV infection in infants and children. • ^ a b c Hung Fan, Ross F. Conner, Luis P. Villarreal. 2010. AIDS: Science and Society. Jones & Bartlett Publishers. Page.150-151. • ^ a b c d e Center for Disease Control and Prevention:HIV Transmission • ^ a b c d e f g h i j k Trace: Tennessee Research and Creative Exchange Jonathan Richard Hughes.

2002. HIV: Structure, Life Cycle, and Pathogenecity. • ^ CDC HIV/AIDS Facts, Oral Sex and HIV Risk. Juni 2009. • ^ a b HIVInfo.us: An HIV Information Site & HIV Educational Resource Site (HIS & HERS), Prevention for Positives: HIV & STD Transmission Issues.

Diakeses pada 12 Juni 2011. • ^ a b c d e f Public Health - Seattle & King County Diarsipkan 2011-05-22 di Wayback Machine., Update on Sexual Transmission of HIV - March 2002. Diakses pada 17 Juni 2011. • ^ a b RAND Health Michael A. Stoto, Ann S. Goldman. 2003. Preventing Perinatal Transmission of HIV. • ^ (Inggris) WHO:UNAIDS statement on South African trial findings regarding male circumcision and HIV • ^ (Inggris)Bentwich, Z., Kalinkovich., A.

and Weisman, Z. (1995) Immune activation is a dominant factor in the pathogenesis of African AIDS. Immunol. Today 16, 187-191 PMID 7734046 Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] • AIDS/HIV Education • Continuing medical education about HIV for healthcare providers • Declaration of Commitment on HIV/AIDS UN 2001 • FightAIDS@Home Diarsipkan 2019-10-08 di Wayback Machine.

• HIV/AIDS Treatment Information Service Diarsipkan 2020-10-28 di Wayback Machine. • Genome (HIV-1) • Genome (HIV-2) • HIV/AIDS Education in Teacher Preparation Programs • HIV InSite Diarsipkan 2005-08-09 di Wayback Machine. • How Aids Works (with animation) • Medecins Sans Frontieres/Doctors Without Borders HIV/AIDS Pages • NIH/NIAD/DAIDS • "The Molecules of HIV" information resource • Unsafe Health Care and the HIV/AIDS Pandemic Diarsipkan 2006-05-15 di Wayback Machine.

2003 • (Inggris) Innate Immune System Damage in Human Immunodeficiency Virus Type 1 Infection, Immunobiology Unit, MRC Centre for Inflammation, and Departments of Pathology and Chemistry, Edinburgh University, SARAH HOWIE, ROBERT RAMAGE, and TIM HEWSON • (Inggris) Binding of serum immunoglobulins to collagens in IgA nephropathy and HIV infection • Bukrinsky M, Adzhubei A.

(1999) Viral protein R of HIV-1. Rev Med Virol 9, 39-49 PMID 10371671 • Campbell GR, Pasquier E, Watkins J, Bourgarel-Rey V, Peyrot V, Esquieu D, Kepanjangan dari hiv adalah P, de Mareuil J, Braguer D, Kaleebu P, Yirrell DL, Loret EP.

(2004) The glutamine-rich region of the HIV-1 Tat protein is involved in T-cell apoptosis. J. Biol. Chem. 279, 48197-48204 PMID 15331610 • Carr, J. K., Foley, B.

T., Kepanjangan dari hiv adalah, T., Salminen, M., Korber, B. and McCutchan, F. (1998) Reference Sequences Representing the Principal Genetic Diversity of HIV-1 in the Pandemic.

In: Los Alamos National Laboratory (Ed) HIV Sequence Compendium, pp. 10–19 • Chan, D. C. and Kim, P. S. (1998) HIV entry and its inhibition. Cell 93, 681-684 PMID 9630213 • Coakley, E., Petropoulos, C. J. and Whitcomb, J.

M. (2005) Assessing chemokine co-receptor usage in HIV. Curr Opin Infect Dis. 18, 9-15. PMID 15647694 • Dybul, M., Fauci, A. S., Bartlett, J. G., Kaplan, J. E., Pau, A. K., and the Panel on Clinical Practices for Treatment of HIV. (2002) Guidelines for using antiretroviral agents among HIV-infected adults and adolescents. Ann Intern Med 137, 381-433 PMID 12617573. • Gao, F., Bailes, E., Robertson, D. L., Chen, Y., Rodenburg, C.

M., Michael, S. F., Cummins, L. B., Arthur, L. O., Peeters, M., Shaw, G. M., Sharp, P. M. and Hahn, B. H. (1999) Origin of HIV-1 in the chimpanzee Pantroglodytes troglodytes. Nature 397, 436-441 PMID 9989410 • Gelderblom, H. R. (1997) Fine structure of HIV and SIV. In: Los Alamos National Laboratory (Ed) HIV Sequence Compendium, 31-44.

• Kahn, J. O. and Walker, B. D. (1998) Acute Human Immunodeficiency Virus type 1 infection. N Engl J Med 331, 33-39 PMID 9647878. • Kim JB, Sharp PA. (2001) Positive transcription elongation factor B phosphorylates hSPT5 and RNA polymerase II carboxyl-terminal domain independently of cyclin-dependent kinase-activating kinase. J. Biol. Chem. 276, 12317-12323 PMID 11145967 • Knight, S. C., Macatonia, S.

E. and Patterson, S. (1990) HIV I infection of dendritic cells. Int Rev Immunol. 6,163-75 PMID 2152500 • Learmont JC, Geczy AF, Mills J, Ashton LJ, Raynes-Greenow CH, Garsia RJ, Dyer WB, McIntyre L, Oelrichs RB, Rhodes DI, Deacon NJ, Sullivan JS. (1999) Immunologic and virologic status after 14 to 18 years of infection with an attenuated strain of HIV-1. A report from the Sydney Blood Bank Cohort. N Engl J Med 340, 1715-1722 PMID 10352163 • Osmanov, S., Pattou, C., Walker, N., Schwardlander, B., Esparza, J.

and the WHO-UNAIDS Network for HIV Isolation and Characterization. (2002) Estimated global distribution and regional spread of HIV-1 genetic subtypes in the year 2000. J. Acquir. Immune. Defic. Syndr. 29, 184-190 PMID 11832690 • Pollard, V. W. and Malim, M. H. (1998) The HIV-1 Rev protein. Kepanjangan dari hiv adalah Rev Microbiol. 52, 491-532 PMID 9891806 • Strebel, K (2003) Virus-host interactions: role of HIV proteins Vif, Tat, and Rev.

AIDS 17 Suppl 4, S25-S34 PMID 15080177 • Thomson, M. M., Perez-Alvarez, L. and Najera, R. (2002) Molecular epidemiology of HIV-1 genetic forms and its significance for vaccine development and therapy. Lancet Infect Dis. 2, 461-71 PMID 12150845 • Xiao, H., Neuveut, C., Tiffany, H.

L., Benkirane, M., Rich, E. A., Murphy, P. M. and Jeang, K. T. (2000) Selective CXCR4 antagonism by Tat: implications for in vivo expansion of coreceptor use by HIV-1.

kepanjangan dari hiv adalah

Proc. Natl. Acad. Sci. U. S. A. 97, 11466-11471 PMID 11027346 • Wyatt, R. and Sodroski, J. (1998) The HIV-1 envelope glycoproteins: fusogens, antigens, and immunogens. Science 280, 1884-1888 PMID 9632381 • Zheng, Y.

H., Lovsin, N. and Peterlin, B. M. (2005) Newly identified host factors modulate HIV replication. Immunol Lett. 97, 225-234 PMID 15752562 • Halaman ini terakhir diubah pada 26 Januari 2022, pukul 05.47.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Virus ini secara spesifik menyerang sel CD4 yang menjadi bagian penting dalam perlawanan infeksi.

Hilangnya sel CD4 akan melemahkan fungsi sistem imun tubuh manusia secara drastis. Akibatnya, HIV akan membuat tubuh Anda rentan mengalami berbagai penyakit infeksi dari bakteri, virus, jamur, parasit, dan patogen merugikan lainnya. Sering dikira sebagai satu kesatuan, HIV dan AIDS adalah kondisi berbeda. Meski begitu, keduanya memang saling berhubungan. AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah suatu kumpulan gejala yang muncul ketika stadium infeksi HIV sudah sangat parah.

Biasanya, kondisi ini ditandai dengan munculnya penyakit kronis lain, seperti kanker dan berbagai infeksi oportunistik yang muncul seiring dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Sederhananya, infeksi HIV adalah kondisi yang bisa menyebabkan penyakit AIDS. Jika infeksi virus ini dalam jangka panjang tidak diobati dengan tepat, Anda akan berisiko lebih tinggi mengalami AIDS. Seberapa umumkah HIV dan AIDS? Menurut laporan UN AIDSpada akhir 2019 ada sekitar 38 juta orang di dunia yang hidup dengan penyakit HIV/AIDS alias ODHA.

Sebanyak 4% kasus di antaranya di alami oleh anak-anak. Di tahun yang sama, sekitar 690.000 orang meninggal akibat penyakit yang muncul sebagai komplikasi AIDS. Dari total populasi itu, 19% orang sebelumnya tidak menyadari dirinya terinfeksi. Tanda-tanda dan gejala HIV/AIDS Infeksi penyakit ini pada umumnya tidak menampakkan wujud yang jelas di awal masa infeksi.

Kebanyakan ODHA tidak menunjukkan tanda atau gejala HIV/AIDS yang khas dalam beberapa tahun pertama saat terinfeksi. Jika mengalami gejala, kemungkinan gangguan yang dirasakan tidak begitu berat.

Gejala yang muncul kerap disalahpahami sebagai penyakit lain yang lebih umum. Namun, Anda patut waspada jika mengalami gejala-gejala yang berkaitan dengan melemahnya kondisi sistem imun tubuh. Gejala awal penyakit HIV umumnya mirip dengan infeksi virus lainnya, yaitu: • Demam HIV. • Sakit kepala. • Kelelahan. • Nyeri otot. • Kehilangan berat badan secara perlahan.

• Pembengkakan kelenjar getah bening di tenggorokan, ketiak, atau pangkal paha. Infeksi virus HIV umumnya memakan waktu sekitar 2-15 tahun hingga menimbulkan gejala.

Infeksi virus ini memang tidak akan langsung merusak organ tubuh Anda. Virus tersebut perlahan menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkannya secara bertahap sampai kemudian tubuh Anda menjadi rentan diserang penyakit, terutama infeksi. Jika infeksi virus HIV dibiarkan berkembang, kondisi ini bisa berubah semakin parah menjadi AIDS. Berikut ini adalah kepanjangan dari hiv adalah gejala penyakit AIDS yang dapat muncul: • Sariawan kepanjangan dari hiv adalah ditandai dengan adanya lapisan keputihan dan kepanjangan dari hiv adalah pada lidah atau mulut.

kepanjangan dari hiv adalah

• Infeksi jamur vagina yang parah atau berulang. • Penyakit radang panggul kronis. • Infeksi parah dan sering mengalami kelelahan ekstrem yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya (mungkin muncul bersamaan dengan sakit kepala dan atau pusing).

• Turunnya berat badan lebih dari 5 kg yang bukan disebabkan karena olahraga atau diet. • Lebih kepanjangan dari hiv adalah mengalami memar.

• Diare yang lebih sering. • Sering demam dan berkeringat di malam hari. • Pembengkakan atau mengerasnya kelenjar getah bening yang terletak di tenggorokan, ketiak, atau pangkal paha. • Batuk kering yang terus menerus. • Sering mengalami sesak napas. • Perdarahan pada kulit, mulut, hidung, anus, atau vagina tanpa penyebab yang pasti. • Ruam kulit yang sering atau tidak biasa. • Mati rasa parah atau kepanjangan dari hiv adalah pada tangan atau kaki.

• Hilangnya kendali otot dan refleks, kelumpuhan, atau hilangnya kekuatan otot. • Kebingungan, perubahan kepribadian, atau penurunan kemampuan mental. Ada juga kemungkinan bahwa Anda akan mengalami berbagai gejala di luar yang telah disebutkan. Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda menunjukkan gejala seperti yang telah disebutkan di atas atau termasuk orang yang berisiko terinfeksi, segera periksakan diri ke dokter. Kondisi tubuh masing-­masing orang berbeda. Setiap orang mungkin menunjukkan tanda-tanda yang berbeda. Anda mungkin juga sudah terinfeksi tetapi masih terlihat sehat, bugar, dan bisa berkegiatan normal selayaknya orang sehat lainnya. Meski begitu, Anda masih dapat menularkan virus HIV ke orang lain.

Anda tidak dapat mengetahui secara pasti apakah benar terjangkit penyakit HIV/AIDS sampai melakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh. Penyebab HIV/AIDS HIV adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh h uman immunodeficiency virus. Adapun AIDS adalah kondisi yang terdiri dari kumpulan gejala terkait melemahnya sistem imun. ADIS terjadi ketika infeksi HIV sudah berkembang parah dan tidak ditangani dengan baik.

Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), penularan virus HIV dari orang yang terinfeksi hanya bisa diperantarai oleh cairan tubuh seperti: • Darah • Air mani • Cairan pra-ejakulasi • Cairan rektal (anus) • Cairan vagina • ASI yang berkontak langsung dengan luka terbuka di selaput lendir, jaringan lunak, atau luka terbuka di kulit luar tubuh orang sehat.

1. Hubungan seksual Jalur penularan virus umumnya terjadi dari hubungan seks tanpa kondom (penetrasi vaginal, seks oral, dan anal). Ingat, penularan hanya bisa terjadi dengan syarat, Anda sebagai orang yang sehat memiliki luka terbuka atau lecet di organ seksual, mulut, atau kulit. Biasanya, perempuan remaja cenderung lebih berisiko terinfeksi HIV karena selaput vagina tipis sehingga rentan lecet dan terluka dibandingkan wanita dewasa. Penularan lewat seks anal juga termasuk lebih rentan karena jaringan anus tidak memiliki lapisan pelindung layaknya vagina sehingga lebih mudah sobek akibat gesekan.

2. Penggunaan jarum suntik yang tidak steril Selain dari paparan antar cairan dengan luka lewat aktivitas seks, penularan HIV juga dapat terjadi jika cairan terinfeksi tersebut disuntikkan langsung ke pembuluh darah, misalnya dari: • Pemakaian jarum suntik secara bergantian dengan orang yang terkontaminasi dengan h uman immunodeficiency virus.

• Menggunakan peralatan tato (termasuk tinta) dan tindik ( body piercing) yang tidak disterilkan dan pernah dipakai oleh orang dengan kondisi ini. • Memiliki penyakit menular seksual (PMS) lainnya seperti klamidia atau gonore. Virus HIV akan sangat mudah masuk saat sistem kekebalan tubuh lemah. • Ibu hamil pengidap HIV/AIDS dapat menularkan virus aktif kepada bayinya (sebelum atau selama kelahiran) dan saat menyusui.

Namun, jangan salah sangka. Anda TIDAK dapat tertular virus HIV melalui kontak sehari-hari seperti: • Bersentuhan • Berjabat tangan • Bergandengan • Berpelukan • Cipika-cipiki • Batuk dan bersin • Mendonorkan darah ke orang yang terinfeksi lewat jalur yang aman • Menggunakan kolam renang atau dudukan toilet yang sama • Berbagi sprei • Berbagi peralatan makan atau makanan yang sama • Dari hewan, nyamuk, atau serangga lainnya Faktor risiko HIV/AIDS Setiap orang, terlepas dari usia, jenis kelamin, dan orientasi seksualnya bisa terinfeksi HIV.

Namun, beberapa orang lebih berisiko untuk terjangkit penyakit ini apabila memiliki faktor seperti: • Melakukan hubungan intim yang berisiko menyebabkan paparan penyakit menular seksual, seperti seks tanpa kondom atau seks anal. • Memiliki lebih dari satu atau berganti-ganti pasangan seksual. • Menggunakan obat-obatan terlarang melalui jarum suntik yang digunakan secara bergantian dengan orang lain.

• Melakukan prosedur STI yakni pemeriksaan pada organ intim. Komplikasi HIV/AIDS Komplikasi dari infeksi virus human immunodeficiency virus adalah penyakit AIDS. Artinya, AIDS menjadi kondisi lanjut dari infeksi HIV. Infeksi virus ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga bisa menyebabkan berbagai infeksi lainnya. Jika Anda juga memiliki AIDS, Anda mungkin memiliki beberapa komplikasi kondisi yang cukup parah, seperti: 1.

Kanker Orang yang mengalami AIDS juga bisa terkena penyakit kanker dengan mudah. Jenis kanker yang biasanya muncul yaitu kanker paru-paruginjal, limfoma, dan sarkoma Kaposi. 2. Tuberkulosis (TBC) Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi paling umum yang muncul saat seseorang mengidap HIV.

Pasalnya, orang dengan HIV/AIDS tubuhnya sangat rentan terkena virus. Oleh sebab itu, tuberkulosis menjadi penyebab utama kematian di antara orang dengan HIV/AIDS. 3. Sitomegalovirus Sitomegalovirus adalah virus herpes yang biasanya ditularkan dalam bentuk cairan tubuh seperti air liur, darah, urin, air mani, dan air susu ibu.

Sistem kekebalan tubuh yang sehat akan membuat virus tidak aktif. Namun, jika sistem kekebalan tubuh melemah karena Anda mengidap penyakit HIV dan AIDS, virus dapat dengan mudah menjadi aktif. Sitomegalovirus dapat menyebabkan kerusakan pada mata, saluran pencernaan, paru-paru, atau organ lain. 4. Candidiasis Candidiasis adalah infeksi yang juga sering terjadi akibat HIV/AIDS.

Kondisi ini menyebabkan peradangan dan menyebabkan lapisan putih dan tebal pada selaput lendir mulut, lidah, kerongkongan, atau vagina. 5. Kriptokokus meningitis Meningitis adalah peradangan pada selaput dan cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (meninges). Meningitis kriptokokal adalah infeksi sistem saraf umum pusat yang bisa didapat oleh orang dengan penyakit HIV/AIDS. Kriptokokus yang disebabkan oleh jamur di dalam tanah.

6. Toksoplasmosis Infeksi yang mematikan ini disebabkan oleh Toxoplasma gondii, parasit yang menyebar terutama melalui kucing. Kucing yang terinfeksi biasanya memiliki parasit di dalam tinjanya. Tanpa disadari, parasit ini kemudian dapat kepanjangan dari hiv adalah ke hewan lain dan manusia. Jika orang dengan HIV/AIDS mengalami toksoplasmosis dan tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan infeksi otak serius seperti ensefalitis. 7. Cryptosporidiosis Infeksi ini terjadi disebabkan oleh parasit usus yang umum ditemukan pada hewan.

Biasanya, seseorang bisa terkena parasit ini cryptosporidiosis ketika Anda menelan makanan atau air yang terkontaminasi. Nantinya, parasit akan tumbuh di usus Anda dan saluran empedu, menyebabkan diare parah kronis pada orang dengan AIDS. Selain infeksi, Anda juga berisiko mengalami masalah neurologis dan masalah ginjal jika memiliki penyakit AIDS.

Diagnosis HIV/AIDS Mendiagnosis penyakit ini biasanya akan dilakukan dengan tes darah. Ini adalah cara yang paling memungkinkan untuk dokter memeriksa sekaligus menentukan apakah Anda terinfeksi HIV atau tidak. Keakuratan tes tergantung pada waktu paparan terakhir HIV, misalnya kapan terakhir kali berhubungan seks tanpa kondom atau berbagi jarum suntik dengan orang yang terinfeksi. Jika Anda pernah melakukan berbagai tindakan berisiko, Anda bisa saja terinfeksi.

Meski begitu, butuh waktu sekitar 3 bulan setelah paparan pertama untuk antibodi h uman immunodeficiency virus bisa terdeteksi dalam pemeriksaan.

Oleh karena itu, lebih baik melakukan tes HIV untuk mengetahui kondisi kesehatan Anda secara pasti. Jika hasil tes Anda positif (reaktif), tandanya Anda memiliki antibodi HIV dan memiliki infeksi penyakit tersebut. Meski kepanjangan dari hiv adalah HIV, kepanjangan dari hiv adalah belum berarti Anda juga memiliki AIDS. Tidak ada yang tahu pasti kapan seseorang terinfeksi virus HIV akan mengalami AIDS. Jika hasil tes HIV negatifartinya di dalam tubuh Anda tidak memiliki antibodi h uman immunodeficiency virus.

Pengobatan HIV/AIDS Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda. Hingga saat ini belum ada obat yang dapat menghilangkan sepenuhnya infeksi virus HIV dari dalam tubuh. Namun, gejala penyakit bisa dikendalikan dan sistem imun bisa ditingkatkan dengan pemberian terapi antiretoviral (ARV).

Terapi ARV tidak dapat membasmi virus seluruhnya, tetapi bisa membantu orang dengan HIV hidup lebih lama dan lebih sehat. Setiap pengidap HIV bisa hidup sehat dan menjalani aktivitas secara normal selama menjalani pengobatan antiretroviral. Selain itu, mengikuti pengobatan juga membantu mengurangi risiko penularan terutama pada orang-orang terdekat.

Terapi ARV terdiri dari penggunaan sekumpulan obat antiviral yang dapat mengurangi jumlah virus HIV di dalam tubuh dengan menghambat virus memperbanyak diri. Berkurangnya virus memberi kesempatan bagi sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus yang menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh.

Dengan begitu, jumlah virus di dalam tubuh dapat terkendali dan infeksinya tidak menimbulkan gejala. Di samping itu, jumlah virus yang rendah membuat kemungkinan risiko penularan ke orang lain pun semakin berkurang. Anda biasanya diminta untuk menjalani pengobatan ARV sesegera mungkin setelah terinfeksi HIV, terlebih jika sedang dalam kondisi berikut: • Hamil • Memiliki infeksi oportunistik (infeksi penyakit lain bersamaan dengan HIV) • Memiliki gejala yang parah • Jumlah sel CD4 di bawah 350 • Memiliki penyakit ginjal akibat HIV kepanjangan dari hiv adalah Sedang dirawat karena hepatitis B atau C Dalam terapi ART, ada banyak obat untuk HIV yang biasanya dikombinasikan sesuai dengan kegunaannya.

Beberapa jenis obat antiretroviral adalah: • Lopinavir • Ritonavir • Zidovudine • Lamivudine Pemilihan jenis pengobatan akan berbeda untuk setiap orang karena perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien. Dokterlah yang akan menentukan rejimen yang tepat untuk Anda. Pengobatan di rumah Selain terapi antiretroviral, berikut gaya hidup sehat yang perlu dilakukan ODHA untuk menjaga kesehatan: • ODHA harus makan makanan dengan gizi seimbang dan memperbanyak sayur, buah, biji-bijian, dan protein tanpa lemak.

• Cukup istirahat.

kepanjangan dari hiv adalah

• Rutin berolahraga. • Menghindari obat-obatan terlarang termasuk alkohol. • Berhenti merokok. • Melakukan berbagai cara untuk mengelola stres seperti meditasi atau yoga. • Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun setiap habis memegang hewan peliharaan. • Menghindari daging mentah, telur mentah, susu yang tidak dipasteurisasi, dan makanan laut mentah. • Melakukan vaksin yang tepat untuk mencegah infeksi seperti radang paru dan flu.

Pencegahan HIV/AIDS Jika Anda atau pasangan positif terinfeksi HIV/AIDSAnda dapat menularkan virus ke orang lain, meski tubuh tidak menunjukkan gejala apapun. Untuk itu, lindungi orang-orang di sekitar Anda dengan mencegah penyebaran HIV/AIDS seperti: • Selalu menggunakan kondom saat berhubungan seks vagina, oral, atau anal. • Tidak berbagi jarum atau peralatan obat lainnya. Jika Anda hamil dan terinfeksi HIVberkonsultasilah dengan dokter yang memiliki pengalaman tentang pengobatan penyakit HIV.

Tanpa pengobatan, sekitar 25 dari 100 bayi yang lahir dari ibu juga bisa terinfeksi. Jika memiliki pertanyaan, silakan berkonsultasi dengan dokter demi lebih memahami solusi terbaik untuk Anda. Maartens, G., Celum, C., & Lewin, S. (2014). HIV infection: epidemiology, pathogenesis, treatment, and prevention. The Lancet384(9939), 258-271. https://www.doi.org/10.1016/s0140-6736(14)60164-1 Günthard, H.

F., Saag, M. S., Benson, C. A., del Rio, C., Eron, J. J., Gallant, J. E., Hoy, J. F., Mugavero, M. J., Sax, P. E., Thompson, M. A., Gandhi, R. T., Landovitz, R. J., Smith, D. M., Jacobsen, D. M., & Volberding, P. A. (2016). Antiretroviral Drugs for Treatment and Prevention of HIV Infection in Adults: 2016 Recommendations of the International Antiviral Kepanjangan dari hiv adalah Panel.

JAMA316(2), 191–210. https://doi.org/10.1001/jama.2016.8900 UN AIDS. (2021). Global HIV & AIDS statistics — 2020 fact sheet. Retrieved 14 January 2021, from https://www.unaids.org/en/resources/fact-sheet National Institute of Health.

kepanjangan dari hiv adalah

(2021). HIV Treatment: The Basics. Retrieved 14 January 2021, from https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-treatment-basics HIV gov. (2020). What Are HIV and AIDS?. Retrieved 14 January 2021, from https://www.hiv.gov/hiv-basics/overview/about-hiv-and-aids/what-are-hiv-and-aids WHO.

(2020). HIV/AIDS. Retrieved 14 January 2021, from https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids WHO. (2021). HIV data and statistics. Retrieved 14 January 2021, kepanjangan dari hiv adalah https://www.who.int/teams/global-hiv-hepatitis-and-stis-programmes/data-use/hiv-data-and-statistics
HIV/AIDS adalah suatu masalah besar yang sedang di hadapi dunia saat ini.Daftar korbannya terus menunjukkan grafik yang tajam dan meningkat dengan cepat setiap kepanjangan dari hiv adalah.

Dan ini menyebabkan kesehatan masyarakat dunia akan terancam oleh virus yang mematikan tersebut. Sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang dapat menyembuhkan penyakit AIDS ini.

Oleh karena itu, pencegahan merupakan langkah tepat untuk menjaga kelestarian hidup manusia dari segala ancaman virus yang mematikan tersebut. Pemerintah dan masyarakat dunia terus mengupayakan dengan mensosialisasikan tentang penyakit mematikan ini ke seluruh dunia.

Tentunya kita sebagai masyarakat jangan hanya tinggal diam melihat upaya pemerintah tetapi terus menjalankan dan menaati cara-cara pencegahan yang baik dan benar agar kita bisa terhindar dari penyakit AIDS tersebut. Penyebaran virus HIV/AIDS sudah sangat tersebar dengan cepat. Di Indonesia saja sudah hampir ratusan ribu kasus HIV/AIDS dan memiliki ribuan korban penderita HIV/AIDS di seluruh Indonesia. Dan ini sungguh menjadi masalah besar yang harus di hadapi dunia khususnya Indonesia.

Karena para penderita HIV/AIDS bisa memberikan dampak terhadap Indonesia. Contohnya seperti dampak terhadap ekonomi nasional.Kita telah mengetahui bahwa penderita terbanyak HIV/AIDS merupakan usia produktif kerja sehingga sangat mempengaruhi angka tenaga kerja Indonesia dan otomatis mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.Makanya, pencegahan menjadi langkah tepat dalam menekan angka penderita HIV/AIDS karena penyakit ini belum ditemukan obatnya sampai sekarang.

Apa Kepanjangan dari HIV dan AIDS HIV : Human Immunodeficiency Virus AIDS : Acquired Immune Deficiency Syndrome Pengertian HIV dan AIDS Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain). Aids didefinisikan sebagai jumlah sel CD4 di bawah 200 atau terjadinya satu atau lebih infeksi oportunistik tertentu.Istilah AIDS terutama dipakai untuk kepentingan masyarakat sebagai patokan untuk laporan kasus.

Sekali kita dianggap AIDS berdasarkan gejala dan atau status kekebalan kita dimasukkan pada statistik sebagai kasus dan status ini tidak diubah walau kita menjadi sehat kembali.Oleh karena itu,istilah AIDS tidak penting buat kita sebagai individu.

kepanjangan dari hiv adalah

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. HIV hanya menular antar manusia. Ada virus yang serupa yang menyerang hewan tetapi virus ini tidak dapat menular pada manusia dan HIV tidak dapat menular hewan.

HIV menyerang sistem kekebalan tubuh yaitu sistem yang melindungi tubuh terhadap infeksi. Sejarah HIV dan AIDS Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara.Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Kepanjangan dari hiv adalah 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian kepanjangan dari hiv adalah dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981.

Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana.

Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.HIV ( human immunodeficiency virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4.

Jika makin banyak sel CD4 yang hancur, daya tahan tubuh akan makin melemah sehingga rentan diserang berbagai penyakit. HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS ( acquired immunodeficiency syndrome). AIDS adalah stadium akhir dari infeksi HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya. Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, serta Kepanjangan dari hiv adalah.

Perlu diketahui, HIV tidak menular melalui udara, air, keringat, air mata, air liur, gigitan nyamuk, atau kepanjangan dari hiv adalah fisik. HIV adalah penyakit seumur hidup. Dengan kata lain, virus HIV akan menetap di dalam tubuh penderita seumur hidupnya.

Meski belum ada metode pengobatan untuk mengatasi HIV, tetapi ada obat yang bisa memperlambat perkembangan penyakit ini dan dapat meningkatkan harapan hidup penderita. HIV dan AIDS di Indonesia Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2019, terdapat lebih dari 50.000 kasus infeksi HIV di Indonesia. Dari jumlah tersebut, kasus HIV paling sering terjadi pada heteroseksual, diikuti lelaki seks lelaki (LSL) atau homoseksual, pengguna NAPZA suntik (penasun), dan pekerja seks. Sementara itu, jumlah penderita AIDS di Indonesia cenderung meningkat.

Di tahun 2019, tercatat ada lebih dari 7.000 penderita AIDS dengan angka kematian mencapai lebih dari 600 orang. Akan tetapi, dari tahun 2005 hingga 2019, angka kematian akibat AIDS di Indonesia terus mengalami penurunan. Hal ini menandakan pengobatan di Indonesia berhasil menurunkan angka kematian akibat AIDS.

Gejala HIV dan AIDS Kebanyakan penderita mengalami flu ringan pada 2–6 minggu setelah terinfeksi HIV. Flu bisa disertai dengan gejala lain dan dapat bertahan selama 1–2 minggu. Setelah flu membaik, gejala lain mungkin tidak akan terlihat selama bertahun-tahun meski virus HIV terus merusak kekebalan tubuh penderitanya, sampai HIV berkembang ke stadium lanjut menjadi AIDS.

Pada kebanyakan kasus, seseorang baru mengetahui bahwa dirinya terserang HIV setelah memeriksakan diri ke dokter akibat terkena penyakit parah yang disebabkan oleh melemahnya daya tahan tubuh. Penyakit parah yang dimaksud antara lain diare kronis, pneumonia, atau toksoplasmosis otak. Penyebab dan Faktor Risiko HIV dan AIDS Penyakit HIV disebabkan oleh human immunodeficiency virus atau HIV, sesuai dengan nama penyakitnya.

Bila tidak diobati, HIV dapat makin memburuk dan berkembang menjadi AIDS. Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seks vaginal atau anal, penggunaan jarum suntik, dan transfusi darah. Meskipun jarang, HIV juga dapat menular dari ibu ke anak selama masa kehamilan, melahirkan, dan menyusui.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan adalah sebagai berikut: • Berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan dan tanpa menggunakan pengaman • Menggunakan jarum suntik bersama-sama • Melakukan pekerjaan yang melibatkan kontak dengan cairan tubuh manusia tanpa menggunakan alat pengaman diri yang cukup Lakukan konsultasi ke dokter bila Anda menduga telah terpapar HIV melalui cara-cara di atas, terutama jika mengalami gejala flu dalam kurun waktu 2–6 minggu setelahnya.

Pengobatan HIV dan AIDS Penderita yang telah terdiagnosis HIV harus segera mendapatkan pengobatan berupa terapi antiretroviral (ARV). ARV bekerja mencegah virus HIV bertambah banyak sehingga tidak menyerang sistem kekebalan tubuh.

Pencegahan HIV dan AIDS Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari dan meminimalkan penularan HIV: • Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah • Tidak berganti-ganti pasangan seksual • Menggunakan kondom saat berhubungan seksual • Menghindari penggunaan narkoba, terutama jenis suntik • Mendapatkan informasi yang benar terkait HIV, cara penularan, pencegahan, dan pengobatannya, terutama bagi anak remaja
HIV adalah singkatan dari Human Immuno Deficiency Virus.

Itu termasuk ke dalam kelompok Retrovirus yang terdiri dari RNA untai tunggal positif. HIV pertama kali diisolasi dari kelenjar getah bening pasien oleh Montagnier dan Barre Sinoussi yang memenangkan hadiah Nobel pada tahun 2008.

Simetri ubuh HIV adalah ikosahedral. Virus Human Immuno Deficiency diselimuti dan diploid. HIV termasuk dalam keluarga Retroviridae dan genus Lentivirus.

kepanjangan dari hiv adalah

Ini adalah virus mematikan yang dapat menyebabkan efek seumur hidup dengan merusak sel-sel imunogenik seperti sel-T, makrofag, sel dendritik. Di antara sel-sel imunogenik, sel-sel yang paling terpengaruh oleh kepanjangan dari hiv adalah Human Immuno Deficiency adalah sel CD4.

Human Immuno Deficiency merusak sistem kekebalan tubuh dengan kerusakan berturut-turut pada sel CD4. HIV adalah lentivirus yang berarti “virus lambat” yang membutuhkan waktu untuk membuat seseorang sakit dan menginfeksi sel dalam tiga tahap yaitu tahap akut, tahap latensi kronis dan AIDS. Ada interval panjang antara infeksi primer dan timbulnya AID. Pengertian HIV Human Immuno Deficiency virus dapat didefinisikan sebagai virus yang melemahkan sistem kekebalan yang merusak sel CD4 yang merupakan jenis sel-T efektor, yang melindungi tubuh terhadap benda asing dan menyebabkan berbagai jenis infeksi dan penyakit.

Struktur HIV Human Immuno Deficiency virus adalah retrovirus yang mengandung RNA sebagai bahan genetik dan memiliki struktur yang sangat kompleks dan terdiri dari komponen struktural berikut: • Amplop luar: Lapisan luar terdiri dari membran bilayer lipid yang mengelilingi matriks, kapsid protein dan bahan inti virus.

kepanjangan dari hiv adalah

Ini tertanam dengan banyak protein sel inang selama proses tunas. • Nukleokapsid: Bentuk nukleokapsid kepanjangan dari hiv adalah kerucut. Nukleokapsid sangat padat dan terdiri dari 2.000 salinan protein virus p24. • Matriks: Terdiri dari protein virus p17 dan mengelilingi nukleokapsid. • Materi genetik: Materi genetik HIV mengandung dua salinan RNA sebagai materi genetik. RNA HIV terdampar secara positif.

Ini terikat erat dengan enzim Kepanjangan dari hiv adalah transcriptase, Integrase, Ribonuclease dan protease yang melakukan fungsi yang berbeda pada berbagai tahap infeksi virus. • Paku: Ini adalah struktur seperti filamen yang muncul dari amplop oleh enzim ENV. Paku terdiri dari topi yang terdiri dari tiga molekul gp120 dan tiga molekul gp41. Organisasi genom HIV Ukuran genom HIV adalah 9,8 Kb. Ada tiga gen struktural dan enam regulator yang ditemukan dalam genom HIV.

Gen struktural Fungsi utama HIV adalah untuk melakukan sintesis struktural virus baru. Ada tiga gen struktural yaitu Gag, Env dan Pol. • Gag: Ini singkatan dari “Group-specific antigen” dan terdiri dari enzim p-7, p-17 dan p-24.

• Env: Singkatan dari “Envelope” yang terdiri dari protein gp-160 yang terurai menjadi gp-120 dan gp-41. Oleh karena itu, ada dua subtipe dari Env yaitu gp-120 dan gp-41. • Gp-120: Ini adalah protein ekstraseluler yang membantu dalam pengikatan dengan sel CD4. • Gp-41: Ini adalah protein transmembran yang membantu dalam fusi membran seluler dan virus.

• Pol: Ini adalah singkatan dari “Polymerase” yang meliputi enzim reverse transcriptase, integrase dan protease.

kepanjangan dari hiv adalah

Gen pengatur Ada enam gen pengatur yang mengatur banyak fungsi pada saat infeksi inang seperti replikasi, biosintesis, faktor virulensi dll. Dari enam gen pengatur, dua terlibat dalam proses replikasi RNA seperti: • Tat: Ini membantu dalam transkripsi RNA retroviral. • Rev: Ini membantu dalam pengangkutan mRNA akhir dari inti ke sitoplasma. Selain gen Tat dan Rev, yang lain terlibat dalam menyediakan virulensi terhadap virus, biosintesis, dan pelepasan virus.

Ini termasuk gen berikut: • Nef: Ini mengurangi ekspresi sel CD4. • VIF: Ini meningkatkan virulensi. • Vpr: Mengangkut inti virus dari sitoplasma ke nukleus. • Vpu: Ini meningkatkan pelepasan kepanjangan dari hiv adalah dari sel. Siklus Hidup virus HIV Patogenisitas HIV, Termasuk langkah-langkah berikut: • Pengenalan reseptor yang sesuai: Ketika HIV memasuki tubuh kita. Pertama-tama mengenali reseptor dan koreseptor yang hadir pada permukaan sel-sel CD4. CCR-5 dan CXCR-4 masing-masing adalah reseptor dan coreceptor yang hadir pada permukaan sel sel CD4.

Oleh karena itu virus membungkus protein yang menyusun kontak gp-120 dan gp-41 dengan reseptor sel CD4. • Penempelan: Setelah pengenalan situs pengikatan tertentu, gp-120 mengikat dengan reseptor CD4. Ini mendorong pengikatan lebih lanjut dengan ko-reseptor.

• Perubahan konformasional: Pengikatan gp-120 ke protein reseptor menciptakan perubahan konformasi pada gp-120. Hal ini memungkinkan gp-41 untuk membuka dan memasukkan ujung hidrofobiknya pada permukaan sel inang.

• Fusi: Gp-41 kemudian terlipat kembali dengan sendirinya yang menarik virus ke arah sel dan menghasilkan perpaduan dua selaput yaitu selubung virus dan selaput sel sel CD4. • Uncoating: Tahap ini juga disebut sebagai “Penyisipan” atau “Penetrasi”. Setelah fusi virus dan membran sel inang, nukleokapsid virus masuk ke dalam sitoplasma sel inang.

Nukleokapsid mengandung untai RNA bersama dengan tiga enzim replikasi penting yaitu enzim restriksi, integrase dan protease. • Reverse transcription: Ini adalah proses konversi RNA virus menjadi DNA oleh reverse transcriptase. Enzim reverse transcriptase mengandung dua domain katalitik yaitu situs aktif H-aktif Ribonuklease dan situs aktif Polymerase.

Dari situs aktif kepanjangan dari hiv adalah, ss-RNA mentranskripsi menjadi heliks ganda RNA-DNA. Kemudian, situs aktif H-ribonuclease memecah RNA. • Replikasi: Setelah itu, situs aktif polimerase melengkapi ss-DNA oleh aktivitas polimerisasi dan kepanjangan dari hiv adalah untai komplementer DNA untuk membentuk heliks ds-DNA. • Integrasi: Pada langkah ini, virus ds-DNA masuk ke dalam genom sel inang dengan bantuan integrase. Integrase bertindak, yang memotong di-nukleotida dari ujung DNA H3 ‘dari kedua ujungnya dengan menghasilkan ujung yang lengket.

Kemudian enzim integrase mentransfer DNA ke sel nuklease dan memfasilitasi integrasi DNA virus ke dalam genom sel inang. Proses ini terjadi di dalam inti sel inang. • Transkripsi: Sel kemudian mengandung DNA virus yang mengalami transkripsi untuk membentuk m-RNA. M-RNA ini kemudian bergerak dari nukleus ke sitoplasma sel. • Translasi: m-RNA kemudian mengalami terjemahan yang mulai mensintesis pembentukan blok bangunan atau protein virus untuk virus baru. • Pemrosesan: Ini melibatkan pemrosesan protein virus oleh protease yang memecah protein yang lebih panjang menjadi protein inti yang lebih kecil.

• Rekonstruksi: Pada tahap ini, untaian RNA, enzim transkriptase balik, integrase, dan protease berkumpul bersama dan protein inti mengelilingi kapsid. • Tunas: Partikel virus yang belum matang keluar dari sel melalui proses tunas, yang memperoleh selubung baru dari protein virus. Virus itu sekali lagi mengalami pematangan dan menginfeksi sel-sel lain. HIV bereplikasi miliaran kali dengan mempengaruhi sel CD4 dan secara progresif merusak sistem kekebalan yang membuat orang itu rentan terhadap banyak infeksi.

Ternyata ini tanda gejala HIV & AIDS 😱




2022 www.videocon.com