Sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut

sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut

Haruskah Saya Bercerai? Coba Diagnosa Mandiri untuk membantu membuat keputusan cerai, gratis ! Diagnosa Mandiri Pertanyaan Saya masih bingung pengertian talak itu apa dan perbedaan talak 1, 2, dan 3. Boleh tolong jelaskan perbedaan ketiganya? Sebelumnya terima kasih. Pengertian Talak Menurut Hukum Islam Pengertian Talak adalah ikrar suami di hadapan Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan.

Pengertian ini terdapat di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Secara rinci, berdasarkan Pasal 129, Pasal 130, dan Pasal 131 Kompilasi Hukum Islam (KHI) pengertian talak adalah permohonan secara lisan maupun tertulis suami kepada Pengadilan Agama. Jadi, talak yang diakui secara hukum negara adalah yang dilakukan suami di Pengadilan Agama. Talak yang dilakukan diluar Pengadilan Agama hanya sah menurut hukum agama saja seperti halnya hukum suami menawarkan cerai, tetapi tidak sah menurut hukum yang berlaku di negara Indonesia.

Maka ikatan perkawinan antara suami-istri tersebut belum putus secara hukum. Pengertian Talak Satu Dan Talak Dua Talak satu dan Talak dua atau biasa juga di kenal dengan Sayuti Thalib memiliki pengertian yang berbeda dengan talak tiga. Dalam beberapa catatan khususnya yang terdapat dalam buku Hukum Kekeluargaan Indonesia (hal.

100) talak satu dan dua merupakan talak yang masih di perbolehkan untuk pasangan suami istri tersebut untuk rujuk kembali tanpa harus melalui pernikahan ulang. Dengan begitu, apabila suami tidak tahu hukum talak atau suami telah secara sengaja maupun tidak sengaja menjatuhkan talak satu atau talak dua, maka antara suami dan stri tersebut masih memiliki cara rujuk talak 1 atau kawin kembali dengan cara-cara tertentu.

Untuk itu, talak satu dan dua juga kerap di sebut dengan sebutan talaq raj’i atau talak ruj’i, dimana pengertian dalam hal ini adalah talaq yang masih diperbolehkan untuk rujuk kembali. Untuk aturan dan pengertian talak satu atau dua ini juga bisa di jumpai dalam peraturan yang di tata pada pasal 118 Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam (“KHI”).

Dalam pasal tersebut juga menyatakan jika Talak raj’i adalah talak kesatu atau kedua, dimana suami berhak rujuk dengan istri atau pasangan selama masih dalam masa iddah.

Untuk itu, talak satu dan talak dua tidak bisa membuat hubungan pernikahan di antara keduanya menjadi berakhir demikian begitu saja. Pengertian Talak Tiga Pengertian talak tiga adalah sebagai talak terakhir yang bisa menyebabkan seorang istri atau perempuan yang dijatuhkan talak 3 tersebut tidak halal lagi untuk di kawini sebelum wanita tersebut menikah dengan laki laki lain. Pengertian talak 3 ini juga tercantum dalam Al Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 230. Lebih lanjut lagi, dalam menjatuhkan talak 3 kepada istri maka suami harus siap untuk pisah secara agama dengan istri tersebut.

Pasangan suami istri juga tidak boleh tinggal serumah setelah talak 3 karena telah jatuh talak. Pasalnya, syarat rujuk setelah talak 3 diperlukan muhallil demi membuat istri yang telah di talak 3 sebelumnya dapat rujuk kembali sebagai istri sah suami tersebut. Muhallil sendiri merupakan orang lain yang menghalalkan istri tersebut dan menikahkannya secara sah dan melakukan persyaratan serta rukun rukun dalam pernikahan. Setelah wanita tersebut bercerai dengan muhallil, barulan Anda sebagai suami terdahulunya bisa menikahkannya kembali sesuai syariat agama.

Talak 3 sendiri biasa disebut dengan talak ba’in kubra. Sebagai kesimpulan, talak tiga merupakan talak yang dapat membuat pasangan suami istri tidak dapat rujuk kembali kecuali terjadi pernikahan istri tersebut dengan muhallil yang di pilih. Bagaimana jika talak 3 sekaligus? Jika talak satu dan talak dua telah dijatuhkan, maka suami istri tersebut diperintahkan untuk masih tinggal dalam satu rumah.

Harapannya adalah supaya suami istri tersebut kemudian mempertimbangkan kembali proses perceraian. Namun, jika talak tiga sudah dijatuhkan, maka tidak boleh rujuk kembali kecuali perempuan tersebut menikah terlebih dahulu dengan laki-laki lain dan ditalak (minimal talak 1).

Terdapat perbedaan pendapat mengenai urutan talak. Dalam QS. Al Baqarah: 229, talak 3 hanya boleh dilakukan setelah dilakukan 2 kali talak (talak 1 dan talak 2) dan juga 2 kali rujuk. Jadi, tidak bisa langsung menjatuhkan cerai talak 3 sekaligus karena akan tetap dihitung talak 1.Sementara pendapat yang memperbolehkan adalah HR.

Muslim No. 147 yang mana diperbolehkan suami menjatuhkan cerai talak 3 sekaligus. Namun perbuatan tersebut tidak dianjurkan karena dianggap tergesa-gesa dan belum melalui pertimbangan yang matang. Apakah Talak 3 Bisa Dibatalkan? Anda tidak perlu khawatir jika ingin kembali rujuk dengan istri setelah menjatuhkan talak 3.

Namun hal tersebut memang akan sulit untuk anda jalankan. Pertanyaan mengenai apakah talak 3 bisa dibatalkan merupakan pertanyaan yang sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut ditanyakan banyak orang.

Untuk itu jawaban dari justika kali ini dapat anda jadikan sebagai referensi. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Pada dasarnya pertanyaan mengenai apakah talak 3 bisa dibatalkan masih bisa menemui titik terang. Dalam kata lain, seorang lelaki dapat kembali rujuk dengan istri.

Namun rujuk kembali tersebut harus melalui proses pernikahan terlebih dahulu sang istri dengan pria lainnya. Nantinya, Jika rumah tangga yang dijalankan mantan istri Anda tersebut tidak sesuai dan kembali berujung dengan perpisahan, Maka wanita mantan istri anda tersebut bisa menikah kembali dengan suami terdahulunya atau Anda.

Walau demikian, pernikahan yang sudah dilakukan si istri tidak boleh melalui proses perencanaan atau settingan. Dalam artian, Anda secara sengaja untuk membayar lelaki lain guna menikah dengan mantan istrinya anda tersebut agar Anda dapat berbaikan kembali dengan sah.

Hal yang satu ini juga wajib anda perhatikan sebagai jawaban dari pertanyaan apakah talak 3 bisa dibatalkan? Selain itu, dalam ketetapan cerai juga terdapat yang dikatakan sebagai periode iddah. Secara harfiah, iddah mempunyai makna ‘waktu tunggu’. Pengertian iddah sendiri bisa diartikan sebagai waktu tunggu yang digunakan oleh seorang istri diputus perkawinannya oleh si suami.

Maka bila suami dalam pertanyaan apakah talak 3 bisa dibatalkan? Tentu bisa, Namun harus melalui pernikahan mantan istri sebelumnya dengan seorang muhallil. Sesudah menikah dengan muhallil, lalu sang istri yang dijatuhkan cerai tiga itu pisah ba’da al dukhul dan harus melalui periode iddahnya. Kemudian, sang istri dapat dinikahkan kembali oleh suami pertama kali yang jatuhkan cerai tiga padanya. Tata Cara Suami Melakukan Talak Satu dan Dua Apabila suami yang ingin menceraikan istrinya dapat melakukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal istri disertai dengan alasan.

Setelah itu suami dapat meminta agar diadakan sidang. Pengertian talak satu dan dua berbeda dengan talak tiga. Talak satu atau talak dua ini disebut juga talak raj’i atau talak ruj’i, yaitu talak yang masih bisa dirujuk.

Dalam syariat Islam, talak raj’i terdiri dari beberapa bentuk, antara lain: • Talak satu atau talak dua dengan menggunakan pembayaran/tebusan (iwadl). • Talak satu, talak dua dengan tidak menggunakan iwadl juga bila istri belum digauli. Apabila talak ini dilakukan oleh suami maka ia dan istri yang ditalaknya masih bisa rujuk atau kawin kembali dengan cara-cara tertentu selama masa iddah (masa tunggu).

Masa iddah adalah waktu yang berlaku bagi seorang istri yang putus perkawinannya dari bekas suaminya. Selama masa ini istri tidak boleh menikah dengan laki-laki lain. Waktu tunggu bagi seorang janda ditentukan sebagai berikut: • Apabila perkawinan putus karena kematian, walaupun qabla al dukhul (belum pernah melakukan hubungan suami dan istri), waktu tunggu ditetapkan 130 (seratus tiga puluh) hari.

• Apabila perkawinan putus karena perceraian waktu tunggunya selama 90 (sembilan puluh) hari. • Apabila perkawinan putus karena perceraian ketika janda sedang hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan. • Apabila perkawinan putus karena kematianketika janda sedang hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan. Rujuk kembali yaitu adanya hubungan suami istri lagi antara seorang suami yang telah menjatuhkan talak kepada istrinya.

Caranya dengan mengucapkan saja “saya kembali kepadamu” oleh si suami di hadapan dua orang saksi laki-laki yang adil. Sedangkan arti kawin kembali ialah kedua bekas suami dan istri memenuhi ketentuan seperti perkawinan biasa, yaitu ada akad nikah, saksi, dan lain-lainnya untuk menjadi suami istri kembali. Baca Juga: • Cara Rujuk, Pengertian, Rukun Hingga Syarat Di Dalamnya • Masa Iddah Berapa Lama?

Ini Jawabannya Tata Cara Suami Melakukan Talak Tiga Talak tiga membuat mantan istri menjadi tidak halal lagi bagi suami untuk dirujuk.

Berdasarkan Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 230, apabila seorang suami telah menjatuhkan talak yang ketiga kepada istrinya, maka perempuan itu tidak halal lagi baginya untuk mengawininya sebelum perempuan itu kawin dengan laki-laki lain. Selengkapnya bunyi Surat Al-Baqarah ayat 230: “Jika dia menceraikan perempuannya (sesudah talak dua kali), maka tiadalah halal perempuan itu baginya, kecuali jika perempuan itu telah kawin dengan lelaki yang lain.

Dan jika diceraikan pula oleh lelaki lain itu, tiada berdosa keduanya kalau keduanya rujuk kembali, jika keduanya menduga akan menegakkan batas-batas Allah.

Demikian itulah batas-batas Allah, diterangkannya kepada kaum yang akan mengetahuinya.” Hal ini menjelaskan bahwa setelah talak tiga, perlu orang yang menghalalkan (muhallil) untuk membolehkan kawin kembali antara pasangan suami isteri pertama.

Hal ini berarti si istri harus kawin dahulu dengan seorang laki-laki lain dan telah melakukan persetubuhan dengan suaminya sebagai suatu hal yang merupakan inti perkawinan. Laki-laki lain itulah yang disebut muhallil.

Jika pasangan suami istri ini bercerai pula, maka barulah pasangan suami istri semula dapat kawin kembali. Talak tiga ini disebut juga dengan talak ba’in kubraa yang pengaturannya berdasarkan Pasal 120 KHI yang berbunyi: “Talak ba’in kubraa adalah talak yang terjadi untuk ketiga kalinya.

Talak jenis ini tidak dapat dirujuk dan tidak dapat dinikahkan kembali kecuali apabila pernikahan itu dilakukan setelah bekas istri menikah dengan orang lain dan kemudian terjadi perceraian ba’da al dukhul dan habis masa iddahnya.” Bila mantan istri bercerai dengan suaminya lalu masa iddahnya selesai, maka mantan suami yang pertama dapat menikahi mantan istri kembali meskipun setelah talak tiga.

Dalam syari’at Islam, tidak dibenarkan seorang mantan suami yang telah mentalak tiga istrinya membayar orang untuk menikahi lalu menceraikan mantan istrinya hanya agar istri kembali halal untuk dinikahi lagi. Talak satu, dua, dan tiga dapat dijatuhkan secara berututan ataupun langsung talak tiga dalam satu kali pernyataan talak.

Mengenai pernyataan talak yang langsung talak tiga, hingga kini masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Contoh Kata-Kata Talak 1. Talak Tegas Dengan Makna Langsung Jenis kata kata talak atau contoh ucapan talak suami ini biasanya di ucapkan dengan tegas tanpa adanya arti atau makna kiasan di dalamnya. Contoh kata talak berikut seperti: • “Kamu saya ceraikan.” • “Saya talak kamu.” • “Detik ini kamu bukanlah istriku lagi.” • “Mungkin Rumah tangga kita berakhir sampai di sini Saja”.

2. Talak Tersirat Dengan Kiasan Umumnya kalimat yang digunakan untuk menalak istri seperti ini memiliki dua arti atau ambigu. Namun dalam islam, jika suami mengucapkan kalimat talak walau dengan multi tafsir tetap sah talak yang dijatuhkannya.

Contoh kata kata talak kiasan dalam ucapan talak adalah: • “Kamu dapat Pulang Ke Rumah Orang Tua Mu” • “Tinggal Kan Aku Sebagai Suamimu” Jika ucapan talak yang sah di atas telah di sebutkan oleh seorang suami, maka status pernikahan antara Anda dan suami sudah tergolong sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut masa talak.

3. Ucapan talak dengan sandaran waktu Talak mudhaf adalah contoh kata talak yang terjadi ketika ada waktu yang disandarkan terlalui. Misalnya “Saya menceraikanmu setelah bulan Ramadhan”. Hati-hati kata ini bisa berarti cerai karena sang suami sudah menceraikan Anda sampai batas waktu tertentu.

Dalam hal ini ketika bulan Ramadhan berakhir, maka Anda sudah resmi bercerai. 4. Ucapan talak yang langsung terputus Contoh kata kata talak yang satu ini adalah talak mu’ajjal yang jika diucapkan pada waktu itu, maka secara langsung akan terputus hubungan suami istri.

“Kamu sudah tertalak” “Kamu sudah saya talak” 5. Ucapan talak dengan syarat Contoh kata kata talak yang terakhir adalah talak dengan syarat yang juga dinamakan dengan talak ta’liq. Talak ini biasanya mengandung syarat didalamnya, seperti “apabila”, “jika”, “kapanpun” dan lainnya. “Jika kamu masih berhubungan dengan dia maka akan aku ceraikan” “Pernikahan ini selesai apabila kamu keluar dari rumah” “Kapanpun kamu menemuinya lagi, maka akan aku ceraikan” Demikian adalah beberapa contoh kata kata talak yang bisa menjadi informasi bagi Anda jika suami mengatakan kata-kata berpisah.

Macam Macam Talak Macam-macam Talak Menurut Hukum Islam 1. Talak Raj’i Talak Raj’i termasuk ke dalam macam-macam talak yang masih bisa rujuk kembali tanpa harus mengulangi akad nikah.

Talak 1 dan talak 2 termasuk ke dalam talak raj’i. Syarat melakukan rujuk yaitu apabila sang istri masih berada dalam masa iddah, sehingga rujuk bisa dilakukan dengan segera. 2. Talak Bain Talak bain adalah perceraian yang tidak dapat dibatalkan atau rujuk. Talak ini dijatuhkan dengan cara mengucapkan tiga talak dalam selang waktu yang sebentar, atau berurutan, atau bersama-sama sekaligus.

Apakah talak bisa dibatalkan? Talak bain tidak bisa dibatalkan. Macam-macam talak yang tidak dapat rujuk kembali seperti talak bain berarti bahwa perkawinan berakhir tanpa ada kemungkinan bagi pasangan yang sama untuk menikah lagi, kecuali setelah mantan istri secara sah menikah lagi dengan orang lain dan kemudian diceraikan oleh suami barunya.

Macam-Macam Talak Menurut Penyampaiannya 1. Talak Kinayah Talak kinayah adalah talak yang di definisikan sebagai ucapan yang ambigu mengenai tujuannya untuk menunjukkan perceraian. Contoh talak kinayah adalah: "Kembalilah ke orang tuamu." “Kamu boleh menikah dengan orang lain.” “Aku tidak punya keinginan padamu lagi.” Jenis ucapan ini dapat diartikan lain selain perceraian dan maknanya tergantung pada niat suami saat mengucapkannya.

2. Talak Sharih Talak sharih diartikan sebagai ucapan talak yang jelas dalam tujuannya untuk melakukan perceraian. Tidak perlu memeriksa niat suami ketika membuat pernyataan untuk mengetahui maksud dari pernyataan tersebut, karena secara harfiah sudah jelas apa yang ingin disampaikan. Contoh talak sarih seperti yang disebutkan di atas: “Aku menjatuhkan talak kepadamu.” 3.

Talak Tafwidh Talak tafwid adalah macam-macam talak yang dilakukan oleh istri pada dirinya sendiri setelah suaminya mendelegasikan wewenang untuk mengucapkan talak padanya dan istri menerima delegasi untuk pengucapan cerai dari sang suami. Hal ini dilakukan dengan mengatakan: “Saya menerima izin yang diberikan oleh suami saya untuk menceraikan diri saya sendiri.

sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut

Dengan ini saya menceraikan diri saya dari suami saya dengan satu talak.” Macam Macam Talak Dari Keadaan Istri 1. Talak Bid’i Jenis talak yang diucapkan sang suami kepada istri yang digauli saat haid dan dalam keadaan suci. 2. Talak Sunny Macam-macam talak sunny adalah ketika seorang suami menjatuhkan talak pertama dengan ucapan tiga kali cerai atau menceraikan istrinya yang sedang haid atau nifas atau menceraikan istrinya dalam keadaan suci dan telah digaulinya.

Sementara, kondisi kehamilan perempuan itu belum jelas. 3. Talak La Sunny Wala Bid’i Ini adalah talak yang dijatuhkan oleh suami dalam keadaan istri belum digauli dan belum pernah haid (belum baligh ataupun telah menopause).

Cara Suami Menyampaikan Talak Bagi suami, macam-macam talak dan cara untuk menyampaikannya ada berbagai macam. 1. Talak Dengan Ucapan Suami bisa menjatuhkan talak mengucapkan kata-kata talak. Kalimat yang diucapkan suami bisa berupa implisit (kinayah) maupun eksplisit (sarih).

Kalimat talak kinayah misalnya adalah ‘kembalilah kepada orangtuamu’. Sedangkan kalimat talak sarih dengan jelas menjatuh kan talak seperti ‘aku menceraikanmu’. 2. Talak Dengan Tulisan Tulisan suami yang menjatuhkan talak sah secara agama bila dapat dibuktikan bahwa tulisan itu adalah tulisan suaminya.

Artinya, talak menggunakan surat dapat menjadi sah talaknya. 3. Talak Dengan Utusan Suami bisa mendelegasikan talaknya kepada orang lain. Hal ini utamanya jika istri dan suami tinggal di tempat yang jauh. Namun, perlu dibuktikan bahwa utusan adalah benar dari suami dan bukan orang yang mengaku-aku.

Syarat Talak Jika Anda adalah seorang suami dan ingin melakukan perceraian, Anda hanya perlu mengucapkan talak dan kemudian Anda dapat mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Syarat untuk menjatuhkan macam-macam talak bagi laki-laki adalah Anda harus sehat secara jiwa dan telah baligh pada saat mengucapkan talak.

Jika Anda seorang istri dan ingin bercerai, Anda tidak dapat mengucapkan talak terhadap suami Anda. Namun, seperti yang telah dijelaskan di atas, Anda dapat mengucapkan talak pada diri sendiri sesuai dengan talak tafwidh. Bagaimana jika istri memaksa untuk di talak? Seorang wanita yang ingin bercerai harus membuktikan setidaknya satu dari syarat ini: 1. Khuluk Khuluk adalah macam-macam talak dengan tebusan. Contohnya jika suami berkata kepada istri “aku jatuhkan talak padamu dengan bayaran sekian” atau istri mengucapkan kepada suami “aku menebus talak ke atas diriku dengan bayaran sekian banyak.” 2.

Ila Ila’ adalah sumpah yang diucapkan suami bahwa dia tidak akan mencampuri istrinya. Ini merupakan tradisi Arab jahiliyah. Setelah Islam datang, Ila’ dibatasi waktu paling lama empat bulan, dan setelah empat bulan suami harus menentukan untuk rujuk atau talak. Apabila yang dipilih rujuk, maka suami harus membayar kafarat. Namun, jika yang dipilih talak, akan jatuh talak. 3. Lian Li’an berarti suami menuduh istrinya telah berbuat zina. Pada tuduhan yang kelima ia mengucapkan “laknat Allah kepadaku kalau aku berdusta dalam tuduhanku.” Lalu, istri bisa menolak bahwa tuduhan tadi tidak benar.

Kemudian, pada sumpah yang kelima ia mengucapkan kata-kata, “Laknat Allah ke atas diriku kalau tuduhan itu benar.” 4. Dzihar Kata-kata yang dilontarkan oleh seorang suami kepada istrinya yang mempersamakan istri dengan ibunya atau keluarga suami yang mahram, dan menyebabkan suami untuk bercerai.

Misalnya, zihar dilakukan oleh suami dengan mengatakan kepada istrinya: “Kamu tak boleh aku sentuh sama seperti punggung ibuku.” 5. Cerai Taklik Dalam pernikahan, terdapat janji yang diucapkan suami tentang tanggung jawabnya sebagaimana terdapat dalam bagian belakang Buku Nikah: "Sesudah akad nikah saya (nama pengantin laki-laki) berjanjian dengan sepenuh hati, akan mempergauli istri saya (nama pengantin perempuan) dengan baik menurut ajaran Islam. Kepada istri saya tersebut, saya menyatakan sighat taklik sebagai berikut: Apabila saya: • Meninggalkan istri saya selama 2 tahun berturut-turut; • Tidak memberikan nafkah wajib padanya selama 3 bulan; • Menyakiti badan atau jasmani istri saya atau; • Membiarkan atau tidak memperdulikan istri saya selama 6 bulan atau lebih dan karena tindakan saya tersebut istri saya tidak ridho dan mengajukan cerai ke pengadilan agama, maka jika gugatannya diterima, kemudian istri saya membayar Rp 10.000 sebagai iwadh kepada saya, jatuhlah talak saya satu padanya.

Perlu diketahui bahwa suami yang tidak menafkahi istri selama 3 bulan atau lebih bukan berarti jatuh talak. Suami yang tidak menafkahi istri selama 3 bulan atau lebih dan istri tidak rela akan hal tersebut bisa dijadikan alasan istri mengajukan gugatan cerai ke pengadilan karena telah melanggar salah satu janji dalam sighat taklik talak. 6. Fasakh Fasakh adalah pemutusan pernikahan dengan keputusan pengadilan. Singkatnya, pengadilan mengabulkan perceraian karena berdasarkan bukti yang kuat, ada alasan bagi pasangan untuk bercerai.

Perceraian dengan fasakh tidak mengharuskan suami untuk mengucapkan talak. Ada beberapa alasan untuk perceraian dengan fasakh.

Salah satu contohnya adalah ketika dalam pernikahan poligami, suami menghabiskan seluruh waktu dan uangnya untuk istri yang lain, dan gagal menjaga istri yang menuntut cerai serta anak-anaknya secara adil dan setara.

Perbedaan antara khuluk dan talak tafwidh adalah di bawah khuluk, Anda harus memberi kompensasi kepada suami Anda untuk mengakhiri pernikahan. Pembayaran ini merupakan penebusan dan perceraian hanya sah jika kompensasi dibayarkan oleh istri kepada suami.

Itulah tadi penjelasan mengenai macam-macam talak. Anda tidak boleh sembarangan mengucapkan kata-kata talak karena dalam agama Islam, kalimat talak bermakna serius meskipun diucapkan dengan tidak sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut.

Permohonan Talak dengan Layanan Online di Justika Di dalam pengaplikasian talak, Anda perlu mewaspadai syarat sah talak agar dapat terhindar dari kekeliruan dan proses permohonan dapat berjalan lancar. Untuk itu, Anda disarankan menggunakan layanan hukum yang menyediakan jasa permohonan talak, salah satunya melalui Justika.

Dengan menggunakan layanan talak melalui Justika, Anda akan dituntun menyampaikan alasan perceraian disertai dasar hukum agar dapat memberikan gambaran kepada hakim. Justika juga memiliki layanan pembuatan Surat Gugatan Cerai yang cukup terjangkau mulai dari Rp 1.500.000 saja.

Dengan menggunakan layanan pembuatan surat gugatan cerai melalui Justika, Anda bisa lebih mudah mendapatkan surat gugatan cerai tanpa bingung ketika mengurusnya sendiri. Empat langkah mudah menggunakan layanan permohonan talak atau pembuatan surat gugatan cerai di Justika sebagai berikut: • Buka layanan Pembuatan Surat Gugatan Cerai dari web brower Anda • Klik tombol “Pesan Dokumen” • Anda akan diarahkan menuju Whatsapp dan Admin kami akan membantu Anda untuk proses selanjutnya • Setelah proses administrasi selesai, Mitra Advokat Justika akan mulai membantu permohonan talak Anda Permohonan talak melalui layanan Justika akan memerlukan waktu 5 hari kerja dengan detail pengerjaan: • Hari ke-1 Konsultasi Telepon dengan konsultan hukum, untuk menyampaikan kebutuhan Anda • Hari ke-3 Dokumen draf pertama • Hari ke-4 Masa pembahasan dokumen • Hari ke-5 Dokumen draf final Dengan ruang lingkup layanan: • Tiga kali maksimal pembuatan surat gugatan cerai dalam Bahasa Indonesia • Dua konsultasi telepon selama 15 menit • Pemeriksaan dan meneliti kembali seluruh dokumen yang terkait dengan perkara Anda • Mempersiapkan seluruh dokumen yang berkaitan dengan proses penanganan dan penyelesaian perkara Konsultasi Chat Anda dapat berkonsultasi di Justika dengan mudah dan terjangkau menggunakan layanan Konsultasi via Chat dengan advokat berpengalaman hanya mulai dari Rp 30.000 saja.

Dengan harga tersebut Anda sudah bisa mendapatkan solusi permasalahan hukum Anda dengan cara menceritakan permasalahan yang dihadapi sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut kolom chat. Nantinya sistem akan mencari advokat guna membantu menyelesaikan permasalahan Anda. Empat langkah mudah konsultasi via chat di Justika, sebagai berikut: • Masuk ke layanan Konsultasi via Chat justika.com • Ceritakan permasalahanan pernikahan Anda di kolom chat • Lakukan pembayaran sesuai instruksi yang tersedia • Dan, dalam 5 menit sistem akan mencarikan konsultan hukum yang sesuai dengan permasalahan pernikahan Anda Dengan begitu, Anda akan mendapat gambaran apakah talak itu diperlukan atau masih ada langkah hukum lain yang dapat dilakukan.

Artikel ini merupakan kerja sama Hukumonline dengan Justika. Seluruh informasi hukum yang ada di artikel ini disiapkan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan konsultan hukum berpengalaman dengan klik tombol konsultasi di bawah ini. Sebelum Anda melanjutkan membaca pastikan Anda sudah melihat Contoh Soal PAI Kelas 12 Semester 1 Beserta Jawaban [Part-18].

Baiklah daripada lama-lama ini dia soal Sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut Agama Islam (PAI) lanjutan dari sebelumnya. Contoh Soal PAI Kelas 12 Semester 1 Beserta Jawaban [Part-19] 181. Apabila seseorang belum pantas untuk menikah, belum perbekalan belum ada, maka hukum nikah baginya adalah ….

a. sunah b. wajib c. makruh d. mubah e. haram Jawaban: c 182. Nikah mut’ah adalah …. a. perkawinan untuk masa selamanya b. perkawinan sampai tua c. perkawinan sampai mati d. perkawinan untuk masa yang ditentukan (kawin kontrak) e. perkawinan pada anak yang masih kecil Jawaban: d 183. Berikut ini wanita yang tidak boleh dinikahi adalah …. a. wanita musyrik b. wanita yang sudah selesai masa iddahnya c.

wanita yang pernah ditalak tiga kemudian pernah nikah dengan orang lain d. wanita perawan e. wanita janda Jawaban: a 184. Menantu tidak boleh dinikahi karena …. a. ada hubungan perkawinan b. ada hubungan susuan c. hubungan darah d. teman e. baik dan perhatian Jawaban: a 185. Talak yang menyebabkan suami tidak boleh lagi rujuk kepada istri …. a. talak raj’iyah b. talak tebus c. hadanah d. talak bain e. fasakh Jawaban: d Pembahasan: talak ba’in yaitu talak yang suaminya tidak boleh rujuk kembali, melainkan dengan akad nikah baru.

186. Pernyataan pernikahan dari pihak calon istri kepada calon suami disebut …. a. ijab b. kabul c. mahar d. janji e. sumpah Jawaban: a 187.

Sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut …. a. zihar b. li’an c.

ila’ d. fasakh e. khuluk Jawaban: c 188. Putusnya akad nikah dari suami atau pengadilan dengan kata talak atau yang sejenisnya, merupakan pengertian …. a. rujuk b.

talak c. iddah d. fasakh e. khuluk Jawaban: b 189. Menyamakan istri dengan ibunya disebut …. a. nusyuz b. syiqaq c. li’an d. zihar e. fasakh Jawaban: d 190. Dimanakah calon pasangan suami-istri dapat mengurus segala keperluan mengenai surat-surat nikah….

a. Departemen Sosial b. Koperasi c. Pengadilan Agama d. Kecamatan e. Kantor Urusan Agama Jawaban: e Lanjut ke soal nomor 191-200 >> Contoh Soal PAI Kelas 12 Semester 1 Beserta Jawaban [Part-20] Mungkin itu saja artikel kali ini tentang Contoh Soal PAI Kelas 12 Semester 1 Beserta Jawaban.

Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan tinggalkan di kolam komentar dibawah. Jika ingin request artikel atau memberikan saran & kritik silahkan hubungi admin di Kontak, dan jangan lupa LIKE fanspage Facebook GenkeID agar tidak ketinggalan informasi menarik lainnya.
TANYA: Jika suami bersumpah tidak mau menyentuh atau berhubungan badan dengan istrinya, apakah sudah jatuh cerai?

JAWAB: Kami kutip dari konsultasisyariah.com, dalam al-Quran, Allah telah menyebutkan tentang hukum sumpah suami untuk tidak menggauli istri. Sumpah ini disebut ilaa’ [الايلاء]. Allah berfirman, لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ Kepada orang-orang yang meng-ilaa’ isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya).

Kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Baqarah: 226) Yang dimaksud ilaa’ adalah sumpah suami – yang masih normal – dengan menyebut nama Allah untuk tidak melakukan hubungan badan dengan istrinya selamanya atau selama lebih dari 4 bulan. BACA JUGA: Berapa Kali dalam Sepekan Suami Istri Berhubungan?

Berdasarkan definisi di atas, kita bisa memahami bahwa pernyataan suami disebut ilaa’ jika memenuhi 5 keadaan: [1] Suami memungkinkan untuk melakukan hubungan badan [2] Bersumpah atas nama Allah atau dengan menyebut salah satu sifat Allah [3] Sumpahnya berisi menghindari hubungan badan di kemaluan, bukan di dubur [4] Tidak mau jimak selama 4 bulan atau lebih [5] Istri memungkinkan untuk diajak hubungan badan Dalam kajian tentang ilaa’ ada 2 fokus pembahasan: Pertama, Pembahasan mengenai sumpah Orang yang bersumpah untuk tidak berhubungan badan dengan istrinya berarti telah bersumpah untuk meninggalkan yang wajib.

Karena itulah, sebagian ulama menyebutkan bahwa sumpah ini statusnya maksiat. Dan suami berdosa. Seperti orang yang bersumpah, “Demi Allah, saya akan minum khamr.” Sumpah semacam ini, meskipun tujuannya untuk maksiat, statusnya sah sebagai sumpah. Konsekuensi sebagai sumpah yang sah adalah jika dia langgar, maka dia harus membayar kaffarah sumpah. Sementara isi sumpah tidak boleh dia laksanakan, karena itu maksiat.

Sehingga wajib bagi dia untuk melanggarnya. Loading. Kedua, Pembahasan mengenai tekad suami untuk tidak menggauli istrinya Para suami yang bersumpah untuk tidak menggauli istrinya selama lebih dari 4 bulan atau tanpa batas, diberi pilihan oleh Allah, [1] dia batalkan sumpahnya selama rentang 4 bulan Artinya, dia harus menggauli istrinya di rentang 4 bulan. Yang itu berarti dia harus membatalkan sumpahnya. Dan sebagai konsekuensinya, dia harus bayar kaffarah sumpah.

BACA JUGA: Di 2 Waktu Ini, Hubungan Suami Istri Diutamakan [2] dia ceraikan istrinya Jika sampai 4 bulan dia belum mau menggauli istrinya, maka dia diperintahkan untuk menceraikan istrinya, jika istrinya menuntut.

Dan jika dia menceraikan istrinya, bararti tidak melanggar sumpah. (al-Mulakhas al-Fiqhi, 2/403). Imam Bukhari membawakan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, إِذَا مَضَتْ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ يُوقَفُ حَتَّى يُطَلِّقَ ، وَلاَ يَقَعُ عَلَيْهِ الطَّلاَقُ حَتَّى يُطَلِّقَ Jika sudah berlalu selama 4 bulan, maka suami yang melakukan ilaa’ ditahan, sampai dia menceraikan. Dan tidak jatuh cerai sampai suami menceraikan istrinya. (HR. Bukhari 5291) Yang dimaksud ditahan di sini adalah ditahan oleh hakim, dan diminta untuk menentukan, kembali ke istrinya dan melakukan hubungan atau menceraikan istrinya.

Ini menunjukkan bahwa bersumpah untuk tidak melakukan hubungan badan selamanya, tidak langsung talak. Perceraian baru terjadi, jika suami menyatakan kalimat talak, atau kalimat cerai kepada istrinya. Allahu a’lam.

sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com) Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG Dan karena salah satu diantara keduanya berdusta, maka ia menjadi mal`un (yang dikutuk). Arti menurut syarak ialah suatu ungkapan kata-kata tertentu yang dijadikan alasan bagi orang yang terpaksa menuduh karena tikarnya dikotori, menyusul malu yang akan dialaminya. Sedangkan menurut al Hamdani, li`an adalah sumpah seorang suami apabila ia menuduh istrinya berbuat zina. Sumpah itu diucapkan empat kali bahwa tuduhannya itu benar dan pada sumpah yang kelima itu ia meminta kutukan kepada Allah swt jika ia berdusta.

Pihak istri juga bersumpah empat kali bahwa dirinya tidak berbuat sebagaimana yang dituduhkan suaminya, pada sumpah yang kelima ia bersedia menerima kutukan Allah swt jika ternyata tuduhan suaminya itu benar. Dan dalam ensiklopedia islam disebutkan, li`an dalam istilah fiqh ialah kesaksian atau sumpah yang diucapkan suami yang menuduh istrinya berbuat zina. Tuduhan dan Sanggahan dalam Li’an Apabila suami menuduh istri berbuat zina dan istrinya menyangkal tuduhan, wajib bagi suami untuk membuktikan dengan empat orang sebagai saksi.

Bila dia tidak mampu membuktikan dengan empat orang saksi, suami diancam dengan hukuman dera delapan puluh kali, lantaran berani menuduh istri berbuat zina secara qadzaf atau tanpa alat bukti.

Baca Juga: Bolehkan Ada Dua Shalat Jumat Dalam Satu Desa? Cuma untuk menghindari hukuman dera tersebut, hukum memberi jalan keluar melalui upaya li`an sebagai pengganti qadzaf. Begitu pula pihak istri, untuk menghindari diri dari ancaman hukuman dera (rajam) dibenarkan hukum melakukan li`an sebagai pengganti bukti atas penyanggahannya terhadap tuduhan zina.

Namun sekiranya istri mengaku, suami terbebas dari beban menghadirkan empat orang saksi atau jika dalam keadaan qadzaf, suami tidak perlu dibebani melakukan li`an apabila istri mengakui tuduhan perbuatan zina.

Suami yang menuduh istrinya berzina tanpa dapat menghadirkan empat orang saksi, haruslah ia bersumpah empat kali yang menyatakan bahwa ia benar. Pada kali yang kelima ia mengucapkan bahwa ia akan dilaknat oleh Allah kalau tuduhannya itu dusta. Istri yang menyanggah tuduhan tersebut lalu bersumpah juga empat kali bahwa suaminya telah berdusta.

Pada kali yang kelima ia mengucapkan bahwa ia akan dilaknat Allah kalau ternyata ucapan suaminya itu benar. Dasar hukum pengaturan li`an bagi suami yang menuduh istrinya berzina ialah firman Allah SWT dalam QS. an-Nur ayat 6-7 yang artinya: “Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.

Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.” Terhadap tuduhan suami itu, istri dapat menyangkalnya dengan sumpah kesaksian sebanyak empat kali bahwa suami itu berdusta dalam sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut, dan pada sumpah kesaksiannya yang kelima disertai pernyataan bahwa ia bersedia menerima marah dari Allah swt jika suami benar dalam tuduhannya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. an-Nur ayat 8-9 yang artinya: Baca Juga: Begini Bacaan Shalat Jenazah Sesuai Sunnah yang Wajib Setiap Muslim Tahu “Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah Sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta.

Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.” Dengan terjadinya sumpah li`an ini maka terjadilah perceraian antara suami istri tersebut dan diantara keduanya tidak boleh terjadi perkawinan kembali untuk selama-lamanya. Hikmah Li’an Menurut al-Jurjawi dalam sumpah li`an terkandung beberapa hikmah antara lain : • Suatu pernikahan dan fungsi wanita sebagai istri bagi suami tidak akan sempurna kecuali dengan adanya keserasian dan saling menyayangi antara keduanya.

Tetapi apabila sudah terdapat tuduhan zina dan melukai istri dengan kekejian, maka dada mereka akan sempit dan hilanglah kepercayaan dari istri sehingga mereka berdua hidup dalam kedengkian yang tentu akan membawa akibat jelek. • Melarang dan memperingatkan suami istri agar jangan melakukan perlakuan buruk yang akan mengurangi kemuliaan itu.

• Menjaga kehormatannya dari kehinaan pelacuran yang tidak pernah hilang pengaruhnya siang dan malam. Baca Juga: Zakat Buah, Apakah Mencakup Semua Jenis? Ini Penjelasan Ulama Fiqih Apabila laki-laki menuduh istrinya berzina, maka wajib atas laki-laki dihukum qadzaf, kecuali ia dapat mendatangkan saksi atau ber li`an. Begitupula pihak istri, untuk menghindarkan diri dari ancaman dera dibenarkan hukum melakukan upaya li`an, sebagai bukti penyanggahannya atas tuduhan zina.

Namun, sekiranya istri mengaku, suami/laki-laki terbebas dari beban menghadirkan bukti 4 orang saksi atau jika dalam keadaan qadzaf, suami tidak perlu dibebani melakukan li`an apabila istri mengakui tuduhan perbuatan zina.

Ash-Shawabu Minallah
LANGIT7.ID, Jakarta - Kafarat diberlakukan kepada umat Islam yang melanggar kewajiban dan ketentuan ibadah. Salah satunya ketika seorang muslim berjimak di siang hari saat Ramadhan. Dilansir zakat.or.id, kafarat berasal dari kata "kafran" yang berarti "menutupi". Artinya, kafarat secara harfiah berarti menutupi dosa. Dengan kata lain, kafarat merupakan tindakan untuk menutupi dan meleburkan dosa agar mendapat keringanan hukum, baik di dunia maupun akhirat.

Kafarat sendiri ibarat denda yang harus ditebus umat akibat kelalaian ataupun kesengajaan ketika melanggar hukum syariat. Tidak hanya itu, kafarat menjadi upaya untuk refleksi diri agar manusia serius bertaubat dari dosa yang telah diperbuatnya. Baca Juga: Bolehkah Berhubungan Suami Istri Saat Lebaran?

Ini Kata Buya Yahya Jenis kafarat Kafarat sendiri terdiri dari enam jenis, di antaranya yakni: 1. Pembunuhan 2. Zihar, menurut bahasa adalah punggung, seperti ucapan menyamakan punggung ibu dengan punggung istri. Istilah ini ketika seorang muslim menyamakan istrinya atau anggota tubuhnya dengan wanita yang diharamkan untuk dinikahi. Walaupun kelihatannya sepele, Islam melarang suami mengucapkan kalimat tersebut, yakni menyamakan istri dengan ibu kandung sang suami.

Ungkapan tersebut seperti menggauli ibu sendiri dan itu termasuk tindakan haram; 3. Jimak di bulan Ramadhan, yaitu berhubungan biologis; 4. Melanggar sumpah atas nama Allah; 5. Ila’, yaitu sumpah suami untuk tidak menafkahi istri secara batin dalam waktu tertentu; 6.

Membunuh binatang buruan saat ihram. Hadits kafarat Berdasarkan hadits Abu Hurairah: Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW lantas berkata, “Celakalah aku! Aku mencampuri istriku (siang hari) di bulan Ramadhan.” Rasul SAW bersabda, "Merdekakanlah seorang hamba sahaya perempuan." Dijawab oleh laki-laki itu, 'Aku tidak mampu.' Beliau kembali bersabda, "Berpuasalah selama dua bulan berturut-turut." Dijawab lagi oleh laki-laki itu, 'Aku tak mampu.' Beliau kembali bersabda, "Berikanlah makanan kepada enam puluh orang miskin." (HR.

Al-Bukhari) Hadits ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang memberikan kemudahan bagi umatnya. Sebab, jika umat merasa tidak sanggup memerdekakan hamba sahaya, maka dia berpuasa dua bulan berturut-turut.

Jika tidak mampu, maka boleh memberi makan 60 orang fakir miskin. Kafarat di bulan Ramadhan Muslim yang sengaja merusak puasanya di bulan Ramadhan dengan berjimak atau bersenggama (hubungan seksual), wajib menjalankan kifarah ‘udhma (kafarat besar).

Kafarat hubungan badan siang hari sama seperti kafarat zhihar, yakni memerdekakan hamba sahaya perempuan yang beriman, berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, memberi makanan kepada 60 orang miskin, masing-masing sebanyak satu mud.

Kafarat jimak saat berpuasa Ramadhan, di antaranya yakni 1. Kafarat dalam bentuk berpuasa dua bulan berturut-turut tanpa putus. Namun bila tidak mampu, maka membayarnya dengan menyajikan hidangan kepada orang miskin.

2. Membayar kafarat dengan memberi makan 60 orang miskin, terutama yang ada di lingkungan kita. Apabila tidak mampu, dalam arti tidak mampu mendata dan mencari 60 orang tersebut, maka dapat diwakilkan kepada pihak kedua yang mampu mencarikan. Sedangkan untuk kadar kafarat memberi makan ini untuk masing-masing orang adalah sebanyak 1 mud makanan pokok, seperti beras.

Berdasarkan madzhab Syafi'i, sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut mud sekitar 750 gram, artinya beras yang digunakan sebanyak 45 kilogram.
‎Dalam berkehidupan masyarakat, terkadang ada kasus yang menimpa saudara muslim dengan isterinya. Salah satu kasus yag terjadi adalah ucapan sumpah dari lisan suami untuk tidak menyetubuhi isterinya dalam jangka waktu tertentu.

Hal ini dapat terjadi karena suami marah terhadap isterinya, dan ia tidak bisa menjaga emosinya sehingga lisannya terlalu mudah mengucapkan ila’ namun terkadang ila’ yang dilakukan suami untu mendidik isteri juga sebagai salah satu alternatif bentuk hukuman di saat melihat kesalahan isteri.

Dengan dijatuhkan ilaa’ isteri akan merasakan beban psikis karena kebutuhan biologisnya tidak terpenuhi, sehingga diharapkan isteri akan menyadari kesalahannya kepada suami dan meminta maaf. Sedangkan si suamipun terhindar dari pemberian hukuman yang dzalim, seperti memukul keras yang menimbulkan bekas atau menampar wajah. Meskipun demikian, efektif tidaknya ila’ sebagai bentuk didikan, harus disertai dengan pemahaman yang baik suami terhadap kondisi rumah tangganya dan sifat-sifat isterinya.

Hal ini karena sifat wanita satu terkadang berbeda dengan sifat wanita yang lain. Konsekuensinya, jenis hukuman pun hendaknya disesuaikan dengan sifat-sifat wanita, sebagaimana yang dapat kita ketahui dalam buku-buku fiqih. Akan tetapi yang akan dikaji dalam makalah ini adalah tentang ila’.

Atha’ mengatakan ilaa’ berarti bersumpah dengan nama Allah untuk tidak mencampuri isterinya selama empat bulan atau lebih. Jika tidak di iringi dengan sumpah maka tidak dikatakan dengan ila’’. Menurut An-Nakhai jika suami memurkai, mencelakai dan mengharamkan isterinya atau tidak lagi hidup bersama maka yang demikian itu telah termasuk ila’’ Menurut Hakim dalam bukunya hukum perkawinan islam ( 2000 : 180 ) ila adalah sumpah suami untuk tidak melakukan hubungan seksual dengan istrinya.

Perbuatan ini adalah kebiasaan jaman jahiliyah untuk menyusahkan istrinya selama satu tahun atau dua tahun. Perbuatan ini tentu akan menyiksa istrinya dan menjadikan statusnya menjadi tidak jelas, yaitu hidup tanpa suami, namun juga tidak dicerai.

Apabila seorang suami bersumpah sebagaimana sumpah tersebut, hendaklah ditunggu selama empat bulan. Kalau dia kembali baik kepada istrinya, sebelum sampai empat bulan, dia diwajibkan membayar denda sumpah ( kaparat ) saja. Tetapi sampai empat bulan dia tidak kembali baik dengan istrinya, hakim berhak menyuruhnya memilih dua perkara, yaitu membayar kaparat sumpah serta berbuat baik pada istrinya, atau menalak istrinya.

Kalau suami itu tidak mau menjalani salah satu dari kedua perkara tersebut, hakim berhak menceraikan mereka secara terpaksa. “ Kepada orang-orang yang mengila’ istrinya diberi tangguh empat bulan ( lamanya ) kemudian jika mereka kembali ( kepada istrinya ), maka sesungguhnya Allah SWT maha pengampun lagi maha penyayang. Dan jika mereka berazam ( bertetap hari untuk ) talak, maka sesungguhnya Allah SWT maha mendengar lagi maha mengetahui. Allah SWT bwrmaksud menghapuskan hukum yang berlaku pada kebiasaan orang-orang jahiliyah, dimana seorang suami bersumpah untuk tidak mencampuri istrinya selama satu atau dua tahun, bahkan lebih Kemudian Allah SWT menjadikannya empat bulan saja.

Waktu empat bulan telah ditetapkan Allah SWT dijadikan sebagai masa penangguhan bagi suami untuk merenungkan diri dan memikirkan, mungkin ia akan membatalkan sumpahnya dan kembali kepada istrinya atau menthalaqnya. “Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia.

Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha MengetahuiAllah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. al-Baqarah : 224-225) لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَـكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ الأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُواْ أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak.

Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). (QS. al-Maidah : 89) Abu Sya'sya' mengatakan: Jika seorang suami berkata sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut istrinya "Kamu haram bagiku, atau Kamu seperti ibuku sendiri atau Telah aku Thalak jika aku mendekatimu.

Maka kesemuanya itu trmasuk Ila'.Jika seseorang bersumpah untuk Thalak, memerdekakan budak, menunaikan haji atau umrah atau puasa, maka kesemuanya itu telah di sebut dengan Ila'. Sedang apabila bersumpah nazar mengerjakan sholat atau Tawaf selama satu minggu atau bertasbih sebanyak seratus kali, maka yang demikian itu bukan termasuk Ila'." Atha' pernah di tanya mengenai seseorang yang bersumpah untuk tidak mendekati istrinya selama satu bulan dan ternyata ia tidak mendekatinya selama lima bulan, maka ia pun menjawab yang demikian itu sudah termasuk Ila'.

dan jika lebih dari empat bulan sebagaimana yang di firmankan Allah maka berarti ia bermaksud menthalaknya. Menurut Qathadah seorang suami yang bersumpah tidak akan mendekati istrinya selama sepuluh hari, lalu ia meninggalkannya selama empat bulan, maka yang demikian itu termasuk Ila'.

Adapun Hasan Basri mengatakan Jika seorang suami berkata " Demi Allah, aku tidak akan mendekati istriku selama satu malam, kemudian ia meninggalkannya selama empat bulan dan itu dimaksudkan sebagai sumpahnya, maka hal itu termasuk sebagai Ila'." Imam Malik dan Imam Syafi'i, Abu Tsaur, Imam Ahmad dan sahabat-sahabat mereka berpendapat Sumpah yang menyatakan tidak akan mendekati istri selama empat bulan atau kurang dari itu bukan di sebut sebagai Ila' karena Ila' itu berlaku sebagai sumpah yang menyatakan tidaka akan mendekati istri selama lebih dari empat bulan.

Ali Bin Abi Thalib mengatakan jika seorang suami mengila' istrinya tepat selama empat bulan, maka ia harus berhenti dari ila'nya dan selanjutnya ia harus memilih untuk kembali kepada istrinya atau menceraikannya. dalam hal ini ia harus di paksa. Sedangkan menurut Ibnu Umar seorang suami yang mengila' istrinya lalu diberhentikan setelah empat bulan maka selanjutnya ia boleh kembali kepada istrinya atau menceraikannya.

Sulaiman Bin Yasar mengatakan "aku pernah mendengar sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut laki-laki dari sahabat Rasulullah mengatakan bahwa Ila' itu dapat diberhentikan. Demikian ini juga menjadi pendapat Said Bin Musayyab, Thawus, Mujahid, Qasim Bin Muhammad Bin Abi Bakar, dimana mereka semua menyatakan bahwa Ila' seseorang itu diberhentikan dan selanjutnya diberi pilihan mau kembali atau menthalak istrinya.

Dari Umar Bin Abdul Aziz, Urwah Bin Zubair, Abu Mujalas, dan Muhammad Bin ka'ab mereka mengatakan: "Ila' seseorang itu dapat diberhentikan." Sulaiman Bin Yasar mengatakan Aku pernah melihat sekumpulan orang menhentikan orang yang mengila' istrinya setelah lebih dari empat bulan. Selanjutnya ia boleh kembali kepadanya atau menceraikannya.

Ini juga merupakan pendapat Imam Malik, Imam Syafi'i Abu Tsaur, Abu Ubaid,Ahmad, Ishak, Abu Sulaiman dan sahabat-sahabat mereka. Namun demikian Imam Malik dan Syafi'i dalam salah satu pernyataannya mengatakan Jika suami tersebut menolaknya, maka Hakim yang akan menceraikannya. Keduanya memang berbeda pendapat, dimana Imam Syafi'i mengatakan Suami tersebut boleh kembali kepada istrinya selama masih dalam masa iddahnya.

Jika ia mencampurinyamaka yang demikian itu telah menggugurkan Ila'nya. Sedang apabila ia tidak mencampurinya maka Ila'nya harus dihentikan dan selanjutnya ia boleh memilih kembali kepadanya atau diceraikan oleh hakim, kemudian ia boleh rujuk lagi kepadanya, jika ia mencampurinya maka ila'nya tersebut gugur dan jika tidak mencampurinya maka ila'nya itu harus dihentikan setelah empat bulan, dan selanjutnya diceraikan oleh hakim. Setelah itu diharamkan bagi suaminya kembali kepada istrinya tersebut kecuali setelah istrinya menikah dengan laki-laki lain.

Adapun jika suami bersumpah tidak akan menyetubuhi istrinya selama-lamanya, atau dengan mengucapkan waktu tertentu yang lebih dari empat bulan, sang suami bisa membatalkan sumpahnya, memnayar kaffarah, setelah itu boleh kembali menyetubuhi istrinya. Namun, jika ia tidak membatalkan sumpahnya, istri menunggu sampai waktu ila’ habis hingga empat bulan. Setelah itu, istri meminta atau memberikan dua pilihan kepada suami untuk (1) menyetubuhinya atau (2) menceraikan dirinya saja. “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja.

Maka, kaffarahnya (denda pelanggaran sumpah) adalah memberikan makanan kepada sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian, atau memerdekakan seorang budak.

Barangsiapa tidak mampu melakukannya, berpuasalah tiga hari.

sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut

Itulah kafarah sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kemu bersyukur (kepada-Nya). Menurut Abu Hanifah thalak yang terjadi karena Ila' merupakan thalak Ba'in. Karena jika Thalak itu Raj'i maka dimungkinkan bagi suami untuk untuk memaksanya ruju', sebab hal itu merupakan haknya. Dan demikian itu menghilangkan kepentingan istri dan dimana sang istri tidak dapat menghindarkan dari dari bahaya. Imam Malik, Imam Syafi'iSaid Bin Musayyab dan abu Bakar Bin Abdirrahman mengatakan bahwa ila'itu merupakan thalak Raj'i karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa ila' itu thalak Ba'in.

Sedangkan mengenai ayat setelahnya, al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 228 pun masih memiliki keterkaitan dengan ayat sebelumnya, ayat 227 yang merupakan penyelesaian perkaraila’ setelah empat bulan dengan memilih jalan talaq, sehingga kemudian dilanjutkan dengan pembahasan perihal talaq, mulai dari ayat 228 sampai ayat 232.

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوَءٍ وَلاَ يَحِلُّ لَهُنَّ أَن يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِن كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُواْ إِصْلاَحاً وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكُيمٌ “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.

Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.

Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. al-Baqarah : 228) الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ وَلاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَأْخُذُواْ مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئاً إِلاَّ أَن يَخَافَا أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللّهِ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَعْتَدُوهَا وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللّهِ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali.

Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.

Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.”(QS. al-Baqarah : 229) Firman Allah SWT surat al-Baqarah ayat 226-227 ini bermaksud untuk menghapuskan hukum yang berlaku pada kebiasaan orang – orang jahiliyah, dimana seorang suami bersumpah untuk tidak mencampuri isterinya selama satu atau dua tahun, bahkan lebih.

Kemudian Allah Swt menjadikan empat bulan saja untuk waktu maksimalnya, dalam waktu tersebut adalah waktu dijadikanya sebagai masa penangguhan bagi suami untuk merenungkan diri dan memikirkan, mungkin ia akan membatalkan sumpahnya dan kembali kepada istrinya atau mentalaknya. Adanya ila’ sesungguhnya mempersulit seorang wanita, dengan membiarkan ia sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut katung dalam kehidupan rumah tangganya yang posisinya adalah menjadi istri atau sebagai ibu rumah tangga, dalam kondisi ila’ akan mencekam pula kedudukan istri tersebut dimana wanita tersebut adalah sebagai istri namun juga tidak seperti wanita yang diceraikan dan bebas untuk menikah kembali dengan orang lain.

Kemudian setelah adanya islam datang, hal ini diperbolehkan asal sebelum empat bulan berlalu, sang suami berhak mersetubuh kembali atau istilah mengatakan adalah rujuk kepada sang istri, dan ketika suami bersih keras untuk meneruskan ila’nya, maka sang istripun juga harus bersabar demi kemaslakhatan bersama.

Namun jika empat bulan telah berlalu, maka hendaknya sang suami membuat keputusan yaitu tetap atau kembali ruju’ pada sang istri atau menceraikanya. Pada masa ila’ isteri tidak boleh meminta untuk berjima’ dan mesti bersabar sampai waktu yang dietntukan. Dan apabila waktu ila’ itu telah tiba dalam artian ila’ masa ila’ sudah habis maka isteri boleh untuk meminta kembali kepada suaminya dan apabila suami menolak hal demikian maka si isteri boleh mengajukan kepada qadhi dan qadhi berhak untuk menjatuhkan talak.

Ila’ adalah sumpah yang dialakukan seorang suami untuk tidak mencampuri istrinya, yang oleh pendapat jumhur ulama, sumpah itu adalah sumpah untuk tidak menyetubuhinya selama-lamanya, sehingga berdasarkan ayat ini maka seorang isteri berhak menyanyakan keputusan suaminya setelah menunggu selama empat bulan untuk merujuknya kembali atau memilih untuk men-talaqisterinya tersebut. • ► 2022 (15) • ► April (3) • ► Maret (1) • ► Februari (6) • ► Januari (5) • ► 2021 (65) • ► Desember (1) • ► November (6) • ► Oktober (2) • ► September (3) • ► Agustus (4) • ► Juli (1) • ► Juni (6) • ► Maret (16) • ► Februari (21) • ► Januari (5) • ► 2020 (70) • ► Desember (6) • ► Oktober (3) • ► September (4) • ► Agustus (6) • ► Juli (1) • ► Juni (7) • ► Mei (10) • ► April (7) • ► Maret (5) • ► Februari (5) • ► Januari (16) • ► 2019 (132) • ► Desember (9) • ► November (7) • ► Oktober (8) • ► September (9) • ► Agustus (11) • ► Juli (11) • ► Juni (4) • ► Mei (20) • ► April (7) • ► Maret (12) • ► Februari (17) • ► Januari (17) • ► 2018 (260) • ► Desember (6) • ► November (12) • ► Oktober (28) • ► September (33) • ► Agustus (20) • ► Juli (28) • ► Juni (17) • ► Mei (11) • ► April (30) • ► Maret (29) • ► Februari (43) • ► Januari (3) • ► 2017 (417) • ► Desember (12) • ► November (13) • ► Oktober (1) • ► September (24) • ► Agustus (6) • ► Juli (20) • ► Juni (20) • ► Mei (36) • ► April (36) • ► Maret (136) • ► Februari (22) • ► Januari (91) • ▼ 2016 (807) • ► Desember (77) • ► November (42) • ► Oktober (33) • ► September (66) • ► Agustus (94) • ► Juli (84) • ► Juni (136) • ► Mei (66) • ► April (45) • ▼ Maret (49) • Penjelasan Hadits Tsaqolain (Dua Pusaka) Rosulullo.

• Penjelasan Tentang Hak Asuh Anak (Hadhonah) • Penjelasan Hukum Li'an (Suami Menuduh Istri Bersel. • Penjelasan Hukum Ila' (Sumpah Suami Pada Istri) • Ucapan Suami Pada Istri Bisa Jatuh Pada Hukum Dhihar • Penjelasan Bahayanya Narkoba,Miras Dan Judi • Penjelasan Tentang Hukum Bughot (Pemberontak) Pada.

• Penjelasan Tentang Hirobah • Penjelasan Tentang Dzikir Fida' • Penjelasan Dzikir Ma'rifat untuk Memahami Jiwa • Penjelasan Tentang Talqin Mayit Serta Contoh Talqi. • Penjelasan Hukum Tahlilan • Alloh Mengangkat Ilmu Dengan Wafatnya Ulama • Hikmah Dan Manfaat Dalam Gerakan Sholat Bagi Keseh. • Habib Hasyim (Datuk Tunggang Parangan) Penyebar Is.

sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut

• Karaeng Pattingalloang Intelektual Abad 17 Dari Gowa • Kepahlawanan Arung Palakka • Ngayogjokarto Hadiningrat Dalam Sejarah NKRI • Kembang Wijoyo Kusumo • Penjelasan Hukum Koruptor • Penjelasan Hukum Bagi Pencuri • Penjelasan Tentang Hukum Rajam Bagi Pezina • Kebohongan Dalam Riwayat Kholifah Umar Menghukum A. • Penjelasan Hukum Bagi Murtad • Penjelasan Hukum LGBT • Penjelasan Hukum Banci Dalam Pandangan Islam • Penjelasan Hukum Khitan Bagi Wanita • Penjelasan Kriteria Mencari Pasangan Hidup • Penjelasan Hukum Puasa Bagi Wanita Hamil Dan Menyusui • Penjelasan Hukum Keluarnya Darah Wanita Saat Berpuasa • Penjelasan Sholat Muthlaq Nisfu Sya'ban • Penjelasan Tentang Puasa Sya'ban • Penjelasan Tentang Bulan Sya'ban • Penjelasan Tentang Keutamaan Ber-Istighfar • Penjelasan Tentang Kemuliaan Bulan Haram • Penjelasan Tentang Tiadanya Amalan Khusus Bulan Rojab • Penjelasan Tentang Sholat Witir • Penjelasan Hukum Sholat Di Dekat Pekuburan • Penjelasan Tentang Keutamaan Sholat Jenazah • Penjelasan Tentang Sholat Isyroq • Penjelasan Tentang Sholat Tasbih • Penjelasan Tentang Sholat Hajat • Penjelasan Tentang Godaan Dalam Sholat Dan Hukum M.

• Penjelasan Hukum MengQodho Sholat • Penjelasan Tatacara Sholat Gerhana • Jangan Pernah Melupakan ALLOH • Penjelasan Tentang Lupa Dan Paksaan • Hukum Seputar Barang Temuan • Tujuh Butir Impian JOKOWI Untuk Indonesia • ► Februari (32) • ► Januari (83) • ► 2015 (855) • ► Desember (96) • ► November sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut • ► Oktober (129) • ► September (24) • ► Agustus (30) • ► Juli (68) • ► Juni (20) • ► Mei (45) • ► April (99) • ► Maret (94) • ► Februari (86) • ► Januari (82) • ► 2014 (33) • ► Desember (20) • ► November (13)PERNIKAHAN DALAM ISLAM Semenjak tercipta Nabi Adam a.s, naluri cinta pada dasarnya bersemayam dalam lubuk hati setiap anak manusia.

Cinta mengandung makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan dan kerinduan, di samping persiapan untuk menempuh kehidupan di kala suka dan duka serta lapang dan sempit.

Kata pujangga, “hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga”. Bagaimana seandainya manusia tak memiliki hasrat cinta? Pada dasarnya cinta adalah anugerah dan bukanlah sesuatu yang yang buruk. Cinta mejadi kotor atau sebaliknya menjadi suci adalah ditentukan oleh bingkainya. Ada bingkai suci dan halal dan ada bingkai kotor dan haram. Bingkai yang suci dan halal adalah perkawinan yang sah secara agama dan hukum negara. Sedangkan bingkai yang kotor dan haram adalah perzinahan (free sex), cinta sesama jenis (homosexual) yang dilakukan kaum Gay dan Lesbian.

Pernikahan telah menjadi kebiasaan para nabi, wali, ulama, dan para orang saleh untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Pernikahan dalam ajaran Islam dinilai sebagai aktivitas peribadatan yang penuh kenikmatan sekaligus memperoleh ganjaran. Islam mengajarkan demikian sebab sebagai agama fi trah Islam tidaklah membelenggu perasaan manusia. FIRMAN ALLAH SWT TERKAIT PERNIKAHAN Silahkan buka terjemahannya di QS An Nisa: 22-23 dan QS Ar Rum : 21.

PENGERTIAN PERNIKAHAN Kata nikah berasal dari bahasa Arab yang berarti (al-jam’u) atau ”bertemu, berkumpul”. Menurut istilah, nikah ialah suatu ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama dalam suatu rumah tangga melalui akad yang dilakukan menurut hukum syariat Islam. Menurut kompilasi hukum Islam (KHI) dijelaskan bahwa perkawinan adalah pernikahan, yaitu akad yang kuat atau mitsaqan ghalizhan untuk mentaati perintah Allah Swt.

dan melaksanakannya merupakan ritual ibadah. Sementara itu, menurut Undang-undang No.1 Tahun 1974, tentang Perkawinan Pasal 1 dijelaskan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga yang kekal dan bahagia berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa Rasulullah SAW bersabda: Artinya : ”Dari Abdullah bin Mas’ud RA Rasulullah Saw berkata kepada kami. Hai para pemuda, barangsiapa diantara kamu telah sanggup menikah, maka nikahlah.

Karena nikah itu dapat menundukkan mata dan memelihara faraj (kelamin) dan barang siapa tidak sanggup maka hendaklah berpuasa karena puasa itu menjadi perisai (dapat melemahkan sahwat)”.

(HR.

sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut

Bukhari Muslim) Hukum Menikah Menurut sebagian besar ulama, hukum asal nikah adalah mubah dalam artian boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan. Meskipun demikian ditinjau dari segi kondisi orang yang akan melakukan pernikahan, hukum nikah dapat berubah menjadi wajib, sunah, makruh, dan haram.

Adapun penjelasannya adalah sebagi berikut : • Jaiz atau mubah, artinya dibolehkan dan inilah yang menjadi dasar hukum nikah. • Wajib, yaitu orang yang telah mampu/sanggup menikah.

sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut

Bila tidak menikah, khawatir ia akan terjerumus ke dalam perzinaan. • Sunat, yaitu orang yang sudah mampu menikah, tetapi masih sanggup mengendalikan dirinya dari godaan yang menjurus kepada perzinaan. • Makruh, yaitu orang yang akan melakukan pernikahan dan telah memiliki keinginan atau hasrat, tetapi ia belum mempunyai bekal untuk memberikan nafkah tanggungannya.

• Haram, yaitu orang yang akan melakukan pernikahan, tetapi ia mempunyai niat yang buruk, seperti niat menyakiti perempuan atau niat buruk lainnya Tujuan Menikah Secara umum tujuan pernikahan menurut Islam adalah untuk memenuhi hajat manusia (pria terhadap wanita atau sebaliknya) dalam rangka mewujudkan rumah tangga yang bahagia, sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama Islam.

Secara umum tujuan pernikahan dalam Islam dapat diuraikan sebagai berikut: • Untuk memperoleh kebahagiaan dan ketenangan hidup (sakinah). Ketentraman dan kebahagiaan adalah idaman setiap orang. Nikah merupakan salah satu cara supaya hidup menjadi bahagia dan tentram. • Untuk membina rasa cinta dan kasih sayang. Nikah merupakan salah satu cara untuk membina kasih sayang antara suami, istri, dan anak. ( lihat Q.S. ar- Rum/ 30: 21) • Untuk memenuhi kebutuhan seksual yang sah dan diridhai Allah Swt.

• Untuk melaksanakan Perintah Allah Swt. menikah merupakan pelaksanan perintah Allah Swt. Oleh karena itu menikah akan dicatat sebagai ibadah. • Mengikuti Sunah Rasulullah • Untuk Memperoleh Keturunan yang Sah.

Sebelum pernikahan berlangsung, dalam agama Islam tidak dikenal istilah pacaran tetapi dikenal dengan nama “khitbah”. Khitbah atau peminangan adalah penyampaian maksud atau permintaan dari seorang pria terhadap seorang wanita untuk dijadikan istrinya, baik secara langsung oleh si peminang maupun oleh orang lain yang mewakilinya. Yang diperbolehkan selama khitbah adalah seorang pria hanya dapat melihat muka dan telapak tangan.

Wanita yang dipinang berhak menerima pinangan itu dan berhak pula menolaknya. Apabila pinangan diterima, berarti antara yang dipinang dengan yang meminang telah terjadi ikatan janji untuk melakukan pernikahan. Semenjak diterimanya pinangan sampai dengan berlangsungnya pernikahan disebut dengan masa sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut. Pada masa pertunangan ini biasanya seorang peminang atau calon suami memberikan suatu barang kepada yang dipinang (calon istri) sebagai tanda ikatan cinta.

Hal yang perlu disadari oleh pihakpihak yang bertunangan adalah selama masa pertunangan, mereka tidak boleh bergaul sebagaimana suami istri karena mereka belum sah dan belum terikat oleh tali pernikahan. Larangan-larangan agama yang berlaku dalam hubungan pria dan wanita yang bukan muhrim berlaku pula bagi mereka yang berada dalam masa pertunangan.

Wanita-wanita yang haram dipinang ada dua kelolmpok yaitu : • Yang haram dipinang dengan cara sindiran atau terus terang adalah wanita yang termasuk muhrim, wanita yang masih bersuami,wanita yang berada dalam masa ‘Iddah talak roj’i dan wanita yang sudah bertunangan.

• Yang haram dipinang dengan cara terus terang, tetapi dengan cara sindiran adalah wanita yang berada dalam ‘Iddah (menunggu) wafat dan wanita yang dalam Iddah talak bain (talak tiga).

Rukun Nikah silahkan lihat tabel berikut ini : Saksi Nikah harus benar-benar adil. Rasulullah Saw. bersabda : Mahram Mahram adalah yang diharamkan, maksudnya disini adalah orang-orang yang diharamkan untuk dinikahi. Penyebab wanita yang haram dinikahi ada empat macam yaitu: a. Wanita yang haram dinikahi karena keturunan 1.) Ibu kandung dan seterusnya ke atas (nenek dari ibu dan nenek dari ayah) 2.) anak perempuan kandung dan seterusnya ke bawah (cucu dan seterusnya) 3.) saudara perempuan sekandung, sebapak, atau seibu 4.) saudara perempuan dari bapak 5.) saudara perempuan dari ibu 6.) anak perempuan dari saudara laki-laki dan seterusnya ke bawah 7.) anak perempuan dari saudara perempuan dan seterusnya ke bawah b.

Wanita yang haram dinikahi karena hubungan sesusuan: 1.) ibu yang menyusui. 2.) saudara perempuan sesusuan c. Wanita yang haram dinikahi karena perkawainan 1.) ibu dari istri (mertua) 2.) anak tiri (anak dari istri dengan suami lain) apabila suami sudah kumpul dengan ibunya.

3.) ibu tiri (istri dari ayah), baik sudah dicerai atau belum 4.) Menantu (istri dari anak laki-laki), baik sudah dicerai maupun belum.

sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut

5.) Wanita yang haram dinikahi karena mempunyai pertalian muhrim dengan istri. Wali Nikah Wali nikah dalam satu pernikahan dibagi menjadi dua: • Wali nasab yaitu wali yang mempunyai pertalian darah dengan mempelai wanita yang akan dinikahkan. Adapun susunan urutan wali nasab adalah sebagai berikut: 1.) ayah kandung, (ayah tiri tidak sah jadi wali) 2.) kakek (ayah dari ayah mempelai perempuan) dan seterusnya ke atas 3.) saudara laki-laki sekandung 4.) saudara laki-laki seayah 5.) anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung 6.) anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah 7.) saudara laki-laki ayah yang seayah dengan ayah 8.) anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah yang sekandung dengan ayah 9.) anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah yang seayah dengan ayah • Wali hakim, yaitu seorang kepala negara yang beragama Islam.

Di Indonesia, wewenang Presiden sebagai wali hakim dilimpahkan kepada pembantunya, yaitu menteri agama. Kemudian Menteri Agama mengangkat pembantunya untuk bertindak sebagai wali hakim, yaitu Kepala Kantor Urusan Agama Islam yang berada di setiap kecamatan. Wali hakim bertindak sebagai wali nikah apabila memenuhi kondisi sebagai berikut. • Wali nasab benar-benar tidak ada. • Wali yang lebih dekat (aqrab) tidak memenuhi syarat dan wali yang lebih jauh (ab’ad) tidak ada.

• Wali aqrab bepergian jauh dan tidak memberi kuasa kepada wali nasab urutan berikutnya untuk berindak sebagai wali nikah. • Wali nasab sedang berikhram haji atau umroh. • Wali nasab menolak bertindak sebagi wali nikah. • Wali yang lebih dekat masuk penjara sehingga tidak dapat berintak sebagai wali nikah. • Wali yang lebih dekat hilang sehingga tidak diketahui tempat tinggalnya.

• Wali hakim berhak untuk bertindak sebagai wali nikah, Kewajiban Suami dan Istri Kewajiban suami yang terpenting adalah: • memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal kepada istri dan anak-anaknya sesuai dengan kemampuan yang diusahakan, • menggauli istri secara makruf, yaitu dengan cara yang layak dan patut misalnya dengan kasih sayang, menghargai, memperhatikan dan sebagainya. • memimpin keluarga, dengan cara membimbing, memelihara semua anggota keluarga dengan penuh tanggung jawab.

• membantu istri dalam tugas sehari-hari, terutama dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang saleh. Kewajiban Istri yang terpenting adalah: • patuh dan taat pada suami dalam batas yang sesuai dengan ajaran Islam. perintah suami yang bertentangan dengan ajaran islam tidak wajib ditaati oleh seorang istri.

• memelihara dan menjaga kehormatan diri dan keluarga serta harta benda suami. • mengatur rumah tangga dengan baik sesuai dengan fungsi ibu sebagai kepala rumah tangga, • memelihara dan mendidik anak terutama pendidikan agama. • Bersikap hemat, cermat, ridha dan syukur serta bijaksana pada suami. Hak Suami atas istri adalah: • ditaati dalam seluruh perkara kecuali maksiat.

Sabda Rasulullah Saw: “Hanyalah ketaatan itu dalam perkara yang ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim). • dimintai izin oleh istri yang hendak keluar rumah. Istri tidak boleh keluar rumah kecuali seizin suami. c. istri tidak boleh puasa sunnah kecuali dengan izin suaminya. Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak boleh seorang istri puasa (sunnah) sementara suaminya ada di tempat kecuali dengan izin suaminya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

• mendapatkan pelayanan dari istrinya. • disyukuri kebaikan yang diberikannya. Istri harus mensyukuri atas setiap pemberian suaminya. Hak istri atas Suami adalah: • mendapat mahar dari suaminya; • mendapat perlakuan yang patut dari suaminya.

Rasulullah Saw. pun telah bersabda: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR.

At-Tirmidzi) • mendapatkan nafkahpakaian, dan tempat tinggal dari suaminya. • mendapat perlakuan adil, jika suami memiliki lebih dari satu istri. “Siapa yang memiliki dua istri lalu ia condong (melebihkan secara lahiriah) kepada salah satunya maka ia akan datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan satu sisi tubuhnya miring/lumpuh.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud); • mendapatkan bimbingan dari suaminya agar selalu taat kepada Allah Swt.

Hikmah pernikahan • Pernikahan merupakan jalan keluar yang paling baik untuk memenuhi kebutuhan seksual. • Pernikahan merupakan jalan terbaik untuk memuliakan anak, memperbanyak keturunan, melestarikan hidup manusia, serta memelihara nasab. • Pernikahan menumbuhkan naluri kebapakan dan keibuan yang menumbuhkan pula perasaan cinta dan kasih sayang. • Pernikahan menimbulkan sikap rajin dan sungguh-sungguh dalam bekerja karena adanya rasa tanggung jawab terhadap keluarganya. • Pernikahan akan mempererat tali kekeluargaan yang dilandasi rasa saling menyayangi sebagai modal kehidupan masyarakat yang aman dan sejahtera.

TALAK Menurut bahasa talak berarti melepaskan ikatan. Menurut istilah talak ialah lepasnya ikatan pernikahan dengan lafal talak. Asal hukum talak adalah makruh karena talak merupakan perbuatan halal tetapi sangat dibenci oleh Allah Swt. Nabi Muhammad Saw, bersabda : Hal-hal yang harus dipenuhi dalam talak ( rukun talak) ada tiga macam, yaitu sebagai berikut.

• Yang menjatuhkan talak adalah suami. Syaratnya baligh, berakal, dan kehendak sendiri. • Yang dijatuhi talak adalah istrinya. • Ada dua macam cara menjatuhkan talak, yaitu (1) dengan cara sharih (tegas) maupun dengan cara kinayah (sindiran).

Cara sharih, misalnya “Saya talak engkau!” atau “Saya cerai engkau!”. Ucapan talak dengan cara sharih tidak memerlukan niat. Jadi kalau suami mentalak istrinya dengan cara sharih, jatuhlah talaknya walupun tidak berniat mentalaknya.

(2) Cara kinayah, misalnya “Pulanglah engkau pada orang tuamu!”, atau “Kawinlah engkau dengan orang sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut, saya sudah tidak butuh lagi kepadamu!”, Ucapan talak memerlukan niat. Jadi kalau suami mentalak istrinya dengan cara kinayah, padahal sebenarnya tidak berniat mentalaknya, talaknya tidak jatuh.

Lafal dan Bilangan Talak Lafal talak dapat diucapkan/dituliskan dengan kata-kata yang jelas atau dengan kata-kata sindiran. Adapun bilangan talak maksimal tiga kali talak satu dan talak dua masih boleh rujuk (kembali) sebelum habis masa Iddahnya dan apabila masa Iddahnya telah habis harus dilakukan akad nikah lagi.

(baca Al-Baqarah/2 : 229). Pada talak tiga suami tidak boleh rujuk dan tidak boleh nikah lagi sebelum istrinya itu menikah dengan laki-laki lain dan sudah digauli serta telah ditalak oleh suami keduanya itu”.

Macam-Macam Talak Talak dibagi menjadi dua macam yaitu : • Talak Raj’i, yaitu talak ketika suami boleh rujuk tanpa harus dengan akad nikah lagi. Talak raj’i ini dijatuhkan suami kepada istrinya untuk pertama kalinya atau kedua kalinya dan suami boleh rujuk kepada istri yang telah ditalaknya selama masih dalam masa Iddah.

• Talak Bain. Talak bain dibagi menjadi dua macam yaitu talak bain sughra dan talak bain kubra. Talak bain sughra yaitu talak yang dijatuhkan kepada istri yang belum dicampuri dan talak khuluk (karena permintaan istri). Suami istri boleh rujuk dengan cara akad nikah lagi, baik masih dalam masa Iddah maupun sudah habis masa Iddahnya. Talak bain kubro, yaitu talak yang dijatuhkan suami sebanyak tiga kali (talak tiga) dalam waktu yang berbeda.

Dalam talak ini suami tidak boleh rujuk atau menikah dengan bekas istri kecuali dengan syarat : • Bekas istri telah menikah lagi dengan laki-laki lain; • Bekas istri telah dicampuri oleh suami yang baru; • Bekas istri telah dicerai oleh suami yang baru.

• Bekas istri telah selesai masa Iddahnya setelah dicerai suami yang baru. Alasan jatuh talak. • Ila’ yaitu sumpah seorang suami bahwa ia tidak akan mencampuri istrinya.

Ila’ merupakan adat Arab jahiliyah.

sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut

Masa tunggunya adalah empat bulan. Jika sebelum empat bulan sudah kembali maka suami harus menbayar denda sumpah. Bila sampai empat bulan/lebih hakim berhak memutuskan untuk memilih membayar sumpah atau mentalaknya. • Lian, yaitu sumpah seorang suami yang menuduh istrinya berbuat zina.

Sumpah itu diucapkan empat kali dan yang kelima dinyatakan dengan kata-kata : ”Laknat Allah Swt. atas diriku jika tuduhanku itu dusta”. Istri juga dapat menolak dengan sumpah empat kali dan yang kelima dengan kata-kata: ”Murka Allah Swt. atas diriku bila tuduhan itu benar”.

• Dzihar, yaitu ucapan suami kepada istrinya yang berisi penyerupaan istrinya dengan ibunya seperti:”Engkau seperti punggung ibuku”. Ucapan ini mengandung pengertian ketidaktertarikan lagi dari suami kepada istri. Adapun jika suami memanggil istrinya dengan sebutan ”Mama atau Ibu” dengan niat suami mengutarakan rasa sayang kepada istri bukanlah disebut Dzihar. Dzihar merupakan adat jahiliyah yang dilarang Islam sebab dianggap salah satu cara menceraikan istri.

• Khulu’ (talak tebus) yaitu talak yang diucapkan oleh suami dengan cara istri membayar kepada suami. Talak tebus biasanya atas kemauan istri. Penyebab talak antara lain : • istri sangat benci kepada suami; • suami tidak dapat memberi nafkah; • suami tidak dapat membahagiakan istri.

• Fasakh, ialah rusaknya ikatan perkawinan karena sebab-sebab tertentu yaitu : Karena rusaknya akad nikah seperti : • diketahui bahwa istri adalah mahram suami; • salah seorang suami / istri keluar dari agama Islam; • semula suami/istri musyrik kemudian salah satunya masuk Islam.

Karena rusaknya tujuan pernikahan, seperti : (1) terdapat unsur penipuan, misalnya mengaku laki-laki baik ternyata penjahat; (2) suami/istri mengidap penyakit yang dapat mengganggu hubungan rumah tangga; (3) suami dinyatakan hilang. (4) suami dihukum penjara 5 tahun/lebih.

• Hadhanah berarti mengasuh dan mendidik anak yang masih kecil. Jika suami/istri bercerai yang berhak mengasuh anaknya adalah : • ketika masih kecil adalah ibunya dan biaya tanggungan ayahnya; • jika si ibu telah menikah lagi hak mengasuh anak adalah ayahnya.

IDDAH Menurut pengertian secara kebahasaan Iddah berarti ketentuan bilangan. Menurut istilah, Iddah ialah masa sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut bagi seorang wanita yang sudah dicerai suaminya sebelum ia menikah dengan laki-laki lain.

Masa Iddah dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada bekas suaminya apakah dia akan rujuk atau tidak. A. Lamanya Masa Iddah • Wanita yang sedang hamil masa iddahnya sampai melahirkan anaknya.

(Lihat QS. at-Talaq/65 :4) • Wanita yang tidak hamil, sedang ia ditinggal mati suaminya maka masa iddahnya 4 bulan 10 hari. (lihat Q.S. al-Baqarah/2 ; 234) • Wanita yang dicerai suaminya sedang ia dalam keadaan haid maka masa iddahnya 3 kali quru’ (tiga kali suci). (lihat Q.S. alBaqarah/2 : 228) • Wanita yang tidak haid atau belum haid masa iddahnya selama tiga bulan. (Lihat at-Talaq/65:4 ) • Wanita yang dicerai sebelum dicampuri suaminya maka baginya tidak ada masa Iddah.

(Lihat QS. al-Ahzab/33 : 49) B. Hak Masa Iddah • Perempuan yang taat dalam Iddah raj’iyyah (dapat rujuk) berhak mendapat pemberian dari suami yang mentalaknya berupa tempat tinggal, pakaian, uang belanja. Sementara itu wanita yang durhaka tidak berhak menerima apa-apa. • Wanita dalam Iddah bain (Iddah talak 3 atau khuluk) hanya berhak atas tempat tinggal saja.

(Lihat Q.S. at-Talaq/65: 6) • Wanita dalam Iddah wafat tidak mempunyai hak apapun, tetapi ia dan anaknya berhak mendapat harta waris suaminya.

sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut

RUJUK Rujuk artinya adalah kembali. Jadi yang dimaksud dengan rujuk adalah kembalinya suami istri pada ikatan perkawinan setelah terjadi talak raj’i dan masih dalam masa Iddah. Dasar hukum rujuk adalah Q.S. AlBaqarah/2: 229, yang artinya sebagai berikut: ”Dan sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki rujuk”.

A. Hukum Rujuk • hukum asal rujuk ini adalah mubah (boleh). • Haram apabila si istri dirugikan serta lebih menderita dibandingkan dengan sebelum rujuk.

• Makruh bila diketahui meneruskan perceraian lebih bermanfaat. • Sunat bila diketahui rujuk lebih bermanfaat dibandingkan meneruskan perceraian. • Wajib khusus bagi laki-laki, jika ditakutkan tidak dapat menahan hawa nafsunya, sedangkan dia masih memiliki hak rujuk dalam masa Iddah istri.

B. Rukun Rujuk • Istri, dengan syarat pernah digauli, talaknya talak raj’i dan masih dalam masa Iddah. • Suami, dengan syarat Islam, berakal sehat, dan tidak terpaksa.

• Sighat (lafal rujuk). • Saksi, yaitu 2 orang laki-laki yang adil. PERNIKAHAN MENURUT UU NO.1 TAHUN 1974 Garis besar Isi UU No 1 tahun 1974 junto UU No 16 tahun 2019 tentang Perkawinan terdiri dari 14 Bab dan 67 Pasal. • Pencatatan Perkawinan Dalam pasal 2 ayat 2 dinyatakan bahwa : ”Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

Ketentuan tentang pelaksanaan pencatatan perkawinan ini tercantun dalam PP. No. 9 Tahun 1975 Bab II pasal 2 sampai 9. • Sahnya Perkawinan Dalam pasal 2 ayat (1) ditegaskan bahwa : “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya itu”.

• Tujuan Pekawinan Dalam Bab 1 Pasal 1 dijelaskan bahwa tujuan perkawina adalah untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

• Talak. Dalam Bab VIII Pasal 29 ayat (1) dijelaskan bahwa : “Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. • Batas usia minimal perkawinan perempuan disamakan dengan usia minimal laki-laki yaitu 19 tahun. ——————————–SELAMAT BELAJAR —————————————– Mei 2022 S S R K J S M 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 « Agu • My BLOG • AL QUR’AN HADITS • 1.

Menjalin Ukhuwah dan Husnudzan • 2. Larangan mendekati Zina • 3. Etos Kerja Islami • 4. Toleran Cermin Keshalehan • Aqidah • Kehidupan Manusia di Hari Kiamat • MENELADANI ASMAUL HUSNA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI • Materi Fiqh • FIQH 1: SUMBER HUKUM ISLAM • Fiqh 2: HAJI, ZAKAT, WAKAF • FIQH 3: PENGURUSAN JENAZAH MUSLIM • FIQH 4: KHUTBAH, TABLIGH DAN DAKWAH • FIQH 5: TRANSAKSI EKONOMI DALAM ISLAM • FIQH 6: MUNAKAHAT • SEPUTAR RAMADHAN • Blogroll • Dinas Pendidikan Bengkayang • Kanwil Kemenag Kalbar • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan • MAN Model Singkawang • Pendis.

Kementerian Agama RI • SMA Negeri 3 Bengkayang • UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta • WordPress.com • WordPress.org • my friends • awaludin • indro dwi haryono • Statistik Blog • 8.849 hit
Banyak kasus pertengkaran yang terjadi sampai di ambang batas kesabaran.

sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut

Kemudian, sang suami marah besar lalu memutuskan untuk meng-ilaa' istrinya. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan ilaa'? Kondisi rumah tangga tidak selamanya tenang. Ada kalanya, suami istri terlibat pertengkaran karena masalah tertentu. Banyak kasus pertengkaran yang terjadi sampai di ambang batas kesabaran.

Kemudian, sang suami marah besar lalu memutuskan untuk meng-ilaa' istrinya. Sang istri akan merasa serba salah ketika suami sudah menyatakan ilaa'. Dalam kondisi seperti ini, sang suami tidak memperlakukan istri sebagaimana istrinya. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan ilaa'?Seperti yang dilansir dari dream.co.id, Dalam bahasa Arab, istilah ilaa' bermakna kelebihan.

Tetapi, dalam kajian fikih, ilaa' adalah sumpah seorang suami untuk tidak menggauli istrinya. Ilaa' memang dibolehkan dalam Islam. Tetapi, ada batasan sampai kapan ilaa' berlaku, seperti dijelaskan dalam Surat Al Baqarah ayat 226. Kepada orang-orang yang meng-ilaa' istrinya diberi tangguh empat bulan, kemudian dia kembali kepada istrinya, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Saat ilaa' dijatuhkan suami, maka istri tidak bisa disetubuhi tetapi tidak diceraikan.

Kondisi ini bisa membuat istri menderita sumpah dari suami kepada istri bahwa suami tidak akan mencampuri istrinya selama empat bulan disebut berjalan terlalu lama. Jika suami bersumpah tidak mau berhubungan badan dengan istrinya, apakah sudah jatuh cerai?Dalam al-Quran, Allah telah menyebutkan tentang hukum sumpah suami untuk tidak menggauli istri.

Sumpah ini disebut ilaa’ [الايلاء]. Allah berfirman, Kepada orang-orang yang meng-ilaa’ isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(QS. al-Baqarah: 226) Yang dimaksud ilaa’ adalah sumpah suami – yang masih normal – dengan menyebut nama Allah untuk tidak melakukan hubungan badan dengan istrinya selamanya atau selama lebih dari 4 bulan.

Dikutip dari konsultasisyariah.com, Berdadarkan definisi di atas, kita bisa memahami bahwa pernyataan suami disebut ilaa’ jika memenuhi 5 keadaan: [1] Suami memungkinkan untuk melakukan hubungan badan [2] Bersumpah atas nama Allah atau dengan menyebut salah satu sifat Allah [3] Sumpahnya berisi menghindari hubungan badan di kemaluan, bukan di dubur [4] Tidak mau jimak selama 4 bulan atau lebih [5] Istri memungkinkan untuk diajak hubungan badan Dalam kajian tentang ilaa’ ada 2 fokus pembahasan: Pertama, Pembahasan mengenai sumpah Orang yang bersumpah untuk tidak berhubungan badan dengan istrinya berarti telah bersumpah untuk meninggalkan yang wajib.

Karena itulah, sebagian ulama menyebutkan bahwa sumpah ini statusnya maksiat. Dan suami berdosa. Seperti orang yang bersumpah, “Demi Allah, saya akan minum khamr.” Sumpah semacam ini, meskipun tujuannya untuk maksiat, statusnya sah sebagai sumpah. Konsekuensi sebagai sumpah yang sah adalah jika dia langgar, maka dia harus membayar kaffarah sumpah. Sementara isi sumpah tidak boleh dia laksanakan, karena itu maksiat.

Sehingga wajib bagi dia untuk melanggarnya. Kedua, Pembahasan mengenai tekad suami untuk tidak menggauli istrinya Para suami yang bersumpah untuk tidak menggauli istrinya selama lebih dari 4 bulan atau tanpa batas, diberi pilihan oleh Allah, [1] dia batalkan sumpahnya selama rentang 4 bulan Artinya, dia harus menggauli istrinya di rentang 4 bulan.

Yang itu berarti dia harus membatalkan sumpahnya. Dan sebagai konsekuensinya, dia harus bayar kaffarah sumpah. [2] dia ceraikan istrinya Jika sampai 4 bulan dia belum mau menggauli istrinya, maka dia diperintahkan untuk menceraikan istrinya, jika istrinya menuntut.

Dan jika dia menceraikan istrinya, bararti tidak melanggar sumpah. (al-Mulakhas al-Fiqhi, 2/403). Imam Bukhari membawakan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Jika sudah berlalu selama 4 bulan, maka suami yang melakukan ilaa’ ditahan, sampai dia menceraikan.

Dan tidak jatuh cerai sampai suami menceraikan istrinya. (HR. Bukhari 5291) Yang dimaksud ditahan di sini adalah ditahan oleh hakim, dan diminta untuk menentukan, kembali ke istrinya dan melakukan hubungan atau menceraikan istrinya. Ini menunjukkan bahwa bersumpah untuk tidak melakukan hubungan badan selamanya, tidak langsung talak. Perceraian baru terjadi, jika suami menyatakan kalimat talak, atau kalimat cerai kepada istrinya.

Demikian, Allahu a’lam

4 Kebiasaan SUAMI yang disukai ISTRI




2022 www.videocon.com