Habib hasan baharun

habib hasan baharun

Jum'at, 28 Mei 2021 Faktakini.info HB HASAN BIN AHMAD BAHARUN Habib hasan baharun PONPES DALWA BANGIL SEBAGAI PENYELAMAT AQIDAH PARA PEMUDA AL BA'ALAWI. Ketika Hb Anis bin Alwi Al Habsyi Solo datang ke kota Bangil dalam rangka ta'ziyah atas meninggalnya Hb Hasan bin Ahmad Baharun di ponpes DALWA Bangil, beliau singgah ke rumah Hb Jadid bin Hasan Asegaf di desa kersikan Bangil.

Hb Anis bin Alwi Al Habsyi Solo berkata bahwa ; Hb Hasan bin Ahmad Baharun Bangil ketika di masa hidupnya sebagai Ulama' penyelamat aqidah para pemuda Al Ba'alawi, di mana saat itu Hb Hasan Baharun menyaksikan sendiri, banyak di antara para pemuda Al Ba'alawi yang di kirim ke negara Majusi Iran, untuk di jadikan misionaris Syiah.

Hal itu membuat hati Hb Hasan bin Ahmad Baharun menjadi resah, sehingga beliau bermusyawarah dengan banyak tokoh Ulama' Habaib di jawa, di antaranya dengan Hb Anis bin Alwi Al Habsyi Solo. Kemudian Hb Anis bin Alwi Al Habsyi Solo memberi saran kepada Hb Hasan bin Ahmad Baharun untuk menemui Hb Abdul Qadir bin Ahmad Asegaf di Jedah Saudi Arabia. setelah sampai ke Hb Abdul Qadir bin Ahmad Jedah, maka Hb Hasan bin Ahmad Baharun di pertemukan dengan Hb Umar bin Hafidz dari Hadramaut di Jedah Saudi Arabiyah.

Dari hasil pertemuan tersebut terjadilah kesepakatan hubungan kedua Ulama', antara Ulama' Bangil dengan Ulama' Hadramaut Yaman.

habib hasan baharun

Sehingga terjadilah pengiriman pertama 50 santri dari ponpes DALWA ke Hadra maut guna melanjutkan belajar menuntut ilmu di negeri Al Ba'alawi sebagai pusat Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Berikutnya terus terjadi pengiriman para santri dari Indonesia ke negeri Yaman Hadramaut, sehingga banyak melahirkan Ulama' muda Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang tersebar di bumi Indonesia, dan kepulangan para santri pertama di antar sendiri oleh Hb Umar bin Hafidz.

Dengan demikian Hb Hasan bin Ahmad Baharun di sebut oleh Hb Anis bin Alwi bin Ali Al Habsyi Solo sebagai penyelamat Aqidah para pemuda Al Ba'alawi dan sebagai pembuka hubungan Hadramaut ke dua yang selama ini terputus, akibat pengaruh poitik dalam negeri Yaman. Semoga cahaya Ulama' dari Bangil terus menerangi bumi Ahlu Sunnah Wal Jamaah ke seluruh Indonesia.Aaamiin. Tempat Lahir Habib Hasan BaharunDilansir dari Buletin Islam, Habib Hasan bin Ahmad Baharun, adalah seorang Ulama yang lahir di Pulau Kecil Madura, tepatnya di Sumenep pada 11 Juni 1934.

Beliau dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah yang terletak di Desa Raci, Bangil, Pasuruan Jawa Timur. Habib Hasan bin Ahmad Baharun merupakan putra pertama dari empat bersaudara dari pasangan Habib Ahmad bin Husein bin Thohir bin Umar Baharun dengan Fathmah binti Bakhabazi.

Sejak masih kecil, Beliau sudah ditanamkan kedisiplinan dan kesederhanaan oleh kedua orang tuanya hingga mengantarkan Habib Hasan menjadi sosok yang berakhlaq tinggi dan pribadinya dipenuhi sifat-sifat terpuji.

Sejarah Pendidikan Habib Hasan BaharunSelain mendapat didikan langsung dari kedua orangtuanya, Habib Hasan juga menempuh pendidikan dasar di Madrasah Makarimal Akhlaq, Sumenep. Beliau juga berguru pada sang kakek, yaitu Ustadz Ahmad bin Muhammad Bakhabazi. Habib Hasan juga menimba ilmu dari paman-pamannya sendiri seperti, Ustadz Ustman bin Ahmad Bakhabazi dan Umar bin Ahmad Bakhabazi. Selepas menamatkan Madrasah, Habib Hasan melanjutkan pendidikan ke PGA di Sumenep, namun hanya sampai kelas 4.

Beliau kemudian melanjutkan sekolah menengah (SMEA) di Surabaya. Sepak Terjang Dakwah Habib Hasan BaharunSetamat dari SMEA, Beliau mengikuti ayahnya berdakwah habib hasan baharun sembari berdagang ke Pulau Masalembu. Keluarga ustadz Hasan Baharun dikenal sebagai keluarga yang ramah dan suka membantu siapa saja.

Apabila ada orang yang tidak mampu membayar hutangnya, maka disuruh membayar semampunya, bahkan tak jarang dibebaskan dari habib hasan baharun hutang-hutangnya. Tahun 1966, Beliau merantau ke Pontianak dan mulai berdakwah dari satu desa ke desa yang lainnya. Uniknya, selama berdakwah ia selalu membawa seperangkat habib hasan baharun suara agar tidak merepotkan masyarakat dan kebetulan saat itu alat pengeras suara masih sangat langka. Ia juga membawa tabir (kain pemisah) untuk menghindari terjadinya ikhtilat (pencampuran) antara laki-laki dan perempuan dalam setiap pertemuan yang ia selenggarakan.

Selain berdakwah, Habib Hasan aktif di partai Nahdlatul Ulama. Ia dikenal sebagai juru kampanye (jurkam) yang berani dan tegas dalam menyampaikan kebenaran. Sehingga, ia sempat diperiksa dan ditahan oleh aparat keamanan. Pada saat itu, masyarakat akan melakukan demostrasi besar-besaran apabila tidak dikeluarkan.

Atas jaminan dan bantuan salah satu pamannya, akhirnya Habib Hasan dibebaskan. Sekitar tahun 1970, atas permintaan dan perintah dari ibunya ia pulang ke Madura. Namun, ia masih sempat berdakwah ke Pontianak dan mengajar bahasa arab di Pesantren Gondanglegi (Malang). Selain itu, ia juga mengajar di pondok pesantren Sidogiri (Pasuruan), Salafiyah Asy-Syafi’iyah (Asembagus, Situbondo), Langitan (Tuban) dan lain-lain.

Karya Tulis Habib Hasan Bahrun Tentang Bahasa ArabHabib Hasan bin Ahmad Baharun dari masa mudanya telah memiliki rasa cinta untuk menyebarluaskan bahasa Arab Niat beliau tidak lain adalah kecintaan dan menjalankan perintah Nabi Muhammad saw sebagaimana sabdanya, ”Belajarlah kalian bahasa Arab dan ajarkanlah kepada umat manusia.” Baca Juga : Dalil Muslim, Kitab Wirid dan Doa Susunan Habib Hasan Baharun Sumbangsih Habib Hasan terhadap dunia Bahasa Arab bisa kita lihat dalam karya–karya tulisnya, antara lain: • Kamus Al-‘Ashriyah (Kamus Modern), • Kitab Muhawarah I, • Kitab Muhawarah II, Al-Af’al Al-Yaumiyyah • Al-Asma Ál-Yaumiyyah.

• Koleksi Doa habib hasan baharun Wirid, Dalil Muslim Sejarah Singkat Pesantren DalwaDari Kecintaan Habib Hasan Baharun terhadap Bahasa Arab akhirnya Habib Hasan bin Ahmad Baharun mendirikan pesantren tepatnya pada tahun 1982.

Awalnya ada 6 orang santri yang belajar di rumah sewa di Kota Bangil, Kabupaten Pasuruan. Dengan sarana dan prasarana yang sangat sederhana para santri tersebut dibina langsung olehnya dan Habib Ahmad As-Saqqaf. Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1983 membuka atau menerima santri putri yang berjumlah 16 orang yang bertempat di daerah yang sama.

Keadaan (tempat pondok pesantren) terus berpindah-pindah tempat dan sampai 11 kali kontrak rumah hingga tahun 1984. Dengan jumlah santri yang terus berkembang serta tempat (rumah sewa) tidak dapat menampung jumlah santri, maka pada tahun 1985 Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah pindah ke sebuah desa yang masih jarang penduduknya dan belum ada sarana listrik, tepatnya di Desa Raci, Kecamatan Bangil.

Jumlah santri pada waktu itu sebanyak 186 orang santri yang terdiri dari 142 orang santri putra dan 48 orang santri putri (sekarang sekitar 7500 Santri & santriwati pada tahun 2017).

Setelah Ustad Hasan bin Ahmad Baharun wafat pada 8 Shafar 1420 H atau 23 Mei 1999, pondok ini kemudian disasuh oleh salah satu anaknya, yakni Habib Zain bin Hasan bin Ahmad Baharun yang merupakan murid asuhan Almarhum Buya Habib Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki.

Hingga saat ini lahan yang ada telah mencapai kurang lebih 4 Ha dan telah hampir terisi penuh oleh bangunan sarana pendidikan dan asrama santri dengan jumlah santri sekitar 1500 yang berasal dari 30 propinsi di Indonesia, negara-negara Asia Tenggara dan Saudi Arabia. Santri-santri dibina oleh tidak kurang 100 orang guru dengan lulusan/alumni dalam dan luar negeri. Ditambah dengan pembantu yang diikutkan belajar sebanyak sekitar 95 orang. Sebelum Habib Hasan Baharun Wafat, beliau juga selalu menasehati santri-santrinya untuk selalu berbicara bahasa arab dengan niat mengikuti (ittiba’) dan meneruskan bahasa yang keluar dari mulut Nabi Muhammad SAW.

Karena bahasa arab adalah bahasa Al-Qur’an yang suci dan bahasa ahli surga. Semangatnya dalam mensyiarkan bahasa Arab tertanam sejak berusia muda. Ia selalu berpindah-pindah dari pesantren ke pesantren lain, dari madrasah ke madrasah lain.

Beliau selalu memperkenalkan kepada para pelajar cara belajar bahasa arab dengan mudah dan habib hasan baharun di mengerti serta di pahami terutama bagi para pemula. Dalam pengajaran nya beliau selalu memperkenalkan yang habib hasan baharun kali adalah: isim, fiil dan huruf. Beliau selalu berkata,” Bahwa bahasa arab tidak keluar dari tiga unsur diatas, itu semua dilakukan agar orang-orang gemar dan tidak merasa sulit dalam belajar bahasa Arab.” “Semoga kita bisa mengambil Hikmah dari Profil singkat Habib Hasan Baharun, Amin – Ayo Santri”
Berkat tempaan sang ayah dan guru gurunya, ia kini dikenal sebagai seorang ulama muda yang produktif, pendidik yang bijak, sekaligus tempat banyak orang bertanya masalah masalah fiqih, khususnya fiqhun nisa’, fiqih wanita.

habib hasan baharun

Sejak lama banyak orang mendengar nama besar Pondok Pesantren Darul-Lughah wad-Da’wah, Bangil, Jawa Timur yang populer dengan sebutan Pesantren Dalwa. Pondok pesantren dengan ribuan santri itu didirikan oleh seorang tokoh ulama besar, Al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun.

Kini Habib Hasan Baharun sudah tiada. Namun sebelum wafat, lewat pendidikan yang terbaik ia telah menyiapkan putra-putranya agar dapat menggantikannya setelah ia tiada. Putra Habib Hasan yang bernama Habib Zen bin Hasan Baharun kini memimpin Pondok Putra. Putra lainnya, Habib Segaf bin Hasan Baharun, menjadi pengasuh Pondok Putri, dibawah kepemimpinan ibunda Habib Segaf sendiri. Sementara putra yang lainnya lagi, Habib Ali dan Habib Husen, diamanahkan untuk mengurus Pondok I’dadi, jenjang persiapan dasar memasuki pendidikan dasar untuk memasuki pendidikan pesantren tingkat selanjutnya.

Jumlah santri pun semakin meningkat dari waktu ke waktu. Selain ketiga putranya di atas, Habib Hasan Baharun juga memiliki beberapa anak lagi yang saat ini semuanya bergerak di dunia dakwah, meneruskan perjuangan sang ayah. Habib Segaf, selain dikenal sebagai pengasuh Pondok Putri, juga seorang ulama muda yang produktif. Tercatat, sudah tujuh judul buku hasil karyanya telah diterbitkan.

Saat ini ia tengah menyusun empat buku barunya. Seluruh buku hasil karya Habib Segaf, yang telah lama menekuni ilmu fiqih, berbicara tentang masalah fiqih sehari hari.

Lewat gaya bahasa yang ringan dan mudah dicerna, buku buku hasil karyanya cukup diminati para pembaca. Diantara karyanya itu, ternyata yang paling populer adalah buku buku yang terkait dengan masalah fiqih kewanitaan. Mungkin karena itu pula hingga saat ini ia kerap menjadi tempat bertanya banyak orang dalam masalah tersebut. Dalam satu pekan, tidak kurang dari 30 SMS masuk ke ponsel pribadinya. Belum lagi yang bertanya secara langsung atau via e-mail.

Dan hampir seluruh mereka yang bertanya adalah kaum wanita. Selain seorang ulama, habib hasan baharun berarti adalah pewaris Nabi, ketika melayani umat ia selalu sigap dalam menjawab pertanyaan. Bahkan ia berniat akan membuka blog sendiri di internet sebagai media konsultasi antara publik dan dirinya pada masalah masalah fiqih kewanitaan.

Keberkahan Orangtua Habib Segaf adalah putra kedua pasangan Allâh yarham (semoga Allah mengasihi) Al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun dan Syarifah Khadijah binti Muhammad Al-Hinduan.

Habib Segaf yang lahir pada tanggal 7 Juni 1974 di kota Malang ini, mempunyai istri bernama Syarifah Fauziah binti Abdullah bin Yahya yang dinikahinya pada tahun 1998, dan saat ini telah dikaruniai empat orang anak laki laki, yaitu Muhammad Alwi, Ahmad Hasan, Muhammad Umar, dan Muhammad Husein. Habib Segaf menuntut habib hasan baharun secara intensif sejak masih sangat kecil.

Saat ia tengah duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 2 di SD Islamiyah Bangil, ayahnya memindahkannya ke Pondok yang baru dirintisnya itu. Waktu itu Habib Segaf baru berusia tujuh tahun, santri yang paling kecil, dan termasuk santri Habib Hasan Baharun generasi pertama.

Semenjak itu, ia harus hidup berpisah dengan orangtua, kecuali pada hari libur mingguan, yaitu setiap hari jum’at. Itupun terbatas sekali waktunya, dari pagi hari hingga waktu sholat Jum’at. Setelah itu ia harus masuk ke lingkungan pondok pesantren lagi, berkutat dengan pelajaran ilmu ilmu agama.

Sekalipun pondok itu adalah pondok milik ayahnya, jangan harap Habib Segaf, dan anak anak Habib Hasan lainnya, mendapatkan perlakuan istimewa. Tidak sedikitpun ada kebijakan, baik resmi maupun tidak, habib hasan baharun memperlakukan keluarga Habib Hasan menjadi berbeda dengan santri santri lainnya. Semua peraturan dan tugas tugas yang ditetapkan di pondok, dari mulai piket kamar, membersihkan kamar mandi, sampai pekerjaan pekerjaan ketertiban pondok lainnya, berlaku pula bagi Habib Segaf.

Sikap disiplin yang ditanamkan sang ayah tidak cukup sampai disitu. Terkadang, jika ada santri lain yang membantu pekerjaan piket yang ditugaskan kepada Habib Segaf, sang habib hasan baharun akan sangat marah, baik kepada Habib Segaf sendiri maupun kepada santri yang membantunya itu. Ia juga akan marah bila dalam hal hal keseharian di pondok ada yang mengistimewakan Habib Segaf ataupun putra putra Habib Hasan lainnya.

Habib Hasan dengan tegas memberi hukuman bila ada santri yang melanggar aturan. Bahkan jika Habib Segaf sendiri yang kebetulan melakukan pelanggaran, hukumannya lebih keras. Sesungguhnya, itu semua dikarenakan Habib Hasan berharap agar para santri, terlebih lagi putra putranya sendiri, dapat semaksimal mungkin memanfaatkan waktu usia produktif yang masih mereka miliki.

Dalam kaitan itu, Habib Hasan mengatakan, “Sebagaimana para orangtua santri itu memiliki harapan besar terhadap anak anak mereka, harapan saya lebih besar lagi kepada anak anak saya. Sebab anak anak saya inilah yang kelak menggantikan saya.” Disiplin keras yang diterapkan orangtuanya inilah yang menjadi kunci keberhasilan pendidikan dirinya dan juga saudara saudaranya yang lain. Saat ini pun, mereka habib hasan baharun mengikuti langkah orangtua mereka dalam berdakwah dan menyebarluaskan ilmu ilmu agama, terutama lewat media pondok pesantren yang ditinggalkan sang ayah.

Disamping berkat didikan sang ayah, keberhasilannya juga tak terlepas dari peran ibunda, Syarifah Khadijah binti Muhammad Al-Hinduan. Diantara teladan yang dicontohkan sang ibu adalah kebiasaan dalam membaca Al-Quran. Hampir setiap tengah malam Syarifah Khadijah Al-Hinduan selalu bangun dari mulai sekitar pukul dua dini hari untuk menunaikan sholat Tahajjud, kemudian ia membaca Al-Quran hingga terbit fajar.

Setelah habib hasan baharun shubuh, ia kembali membaca kitab suci itu. Tidak cukup dengan hanya membaca Al-Quran, berbagai wirid pun habib hasan baharun. Pembacaan wirid dan tilawah Al-Quran itu baru selesai dikerjakannya pada pukul delapan pagi.

Sehingga, hampir dalam setiap tiga hari ibunda Habib Segaf mengkhatamkan Al-Quran. Selesai berdzikir, ia melanjutkannya dengan mengajar di Pondok Putri. Aktivitas harian Syarifah Khadijah Al-Hinduan itu telah menjadi teladan bagi Habib Segaf dan saudara-saudaranya. Menuntut Ilmu di Tanah Suci Setelah selesai menjalani pendidikan di pondok hingga tingkatan aliyah diniyah dan muadalahnya, Habib Segaf diperbantukan untuk ikut mengajar di pondok pesantren ayahnya.

Ketika itu, di usia 17 tahun, ia sudah menulis karya pertamanya, buku yang berjudul Problematika Haid & Permasalahan Wanita. Saat mengetahui besarnya minat dan semangat belajar Habib Segaf, terutama dalam ilmu fiqih, Habib Hasan memberangkatkannya ke kota Madinah untuk melanjutkan pendidikan.

Di kota itu, ia masuk ke lembaga Rubath Al-Madinah, yang diasuh Al-Allamah Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith. Di kota suci itu ia juga menyempatkan diri menimba ilmu kepada seorang ulama besar lainnya, yaitu Al-Allamah Al-Habib Muhammad bin Abdullah Al-Hadar, yang tidak lain adalah mertua Habib Zain bin Smith. Saat Al-Allamah Alhabib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri datang ke Madinah, yang terkadang tinggal hingga beberapa bulan lamanya, Habib Segaf juga sempat belajar kepadanya.

Selama empat tahun bermukim di kota Madinah, Habib Segaf juga berguru kepada Al-Allamah As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki bila ia berkesempatan pergi ke kota Mekkah. Ia sendiri bila berada di kota Mekkah selalu tinggal dikediaman Sayyid Muhammad Al-Maliki. Begitupun bilâ Sayyid Muhammad Al-Maliki berada di kota Madinah, ia segera dihubungi via telepon agar datang ke tempat dimana Sayyid Muhammad Al-Maliki berada.

Gigitan Al-Maliki Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki memang memiliki kedekatan tersendiri dengan Habib Hasan Baharun, ayah Habib Segaf, sampai-sampai ia menganggap anak anak Habib Hasan Baharun seperti anaknya sendiri. Sehingga semua kebutuhan sehari hari Habib Segaf dan saudara saudaranya ditanggung olehnya. Bersama Sayyid Muhammad Al-Maliki, Habib Segaf mendapat banyak pelajaran berharga dan penuh kesan hingga saat ini. Di antara yang ditanamkan oleh Al-Maliki kepadanya adalah sikap percaya diri saat tampil dimuka orang banyak.

Terkadang pada sejumlah pertemuan yang dihadiri para tamu besar Al-Maliki, seperti menteri dari negara negara Arab, Al-Maliki menyuruhnya untuk menjadi imâm, sementara Al-Maliki sendiri dan sejumlah tamu besar yang hadir menjadi makmumnya.

habib hasan baharun

Suatu waktu, dikala menunaikan ibadah haji, dalam suatu majelis besar yang dihadiri sekitar lima ribu orang, ia datang terlambat. Tiba tiba Al-Maliki mengambil mikrofon dan menyebut namanya seraya menyampaikan salam kepadanya.

Hal hal seperti itu dirasakan Habib Segaf sebagai dorongan mental yang luarbiasa hingga membesarkan hatinya dan membuat dirinya menjadi tidak minder untuk berhadapan dengan siapapun. Saat Habib Segaf menemui Sayyid Muhammad Al-Maliki untuk berpamitan pulang ke tanah air, Al-Maliki memanggilnya seraya mengembangkan tangannya seperti orang yang hendak memeluknya. Maka segera ia menghampiri Al-Maliki dan memeluknya.

Setelah saling berdekatan, tiba tiba Al-Maliki mengigit bibirnya hingga mengeluarkan darah. Atas kejadian itu, sang ayah, Habib Hasan Baharun, mengatakan, habib hasan baharun gigitan itu, insyâ Allâh, Abuya (panggilan akrab Al-Maliki-Red) akan memberikan sir-nya kepadamu, dan insyâ Allâh kamu akan menjadi seorang ahli khutbah.” Benar saja, diantara putra putra Habib Hasan yang tengah mengasuh pondok peninggalannya saat ini, Habib Segaf lah yang paling sering didaulat untuk berceramah pada tiap kali diselenggarakannya acara acara keagamaan.

Mujahadah yang Terbesar Habib Zain bin Smith, guru tempat Habib Segaf menimba ilmu selama empat tahun di Madinah, pernah memberikan pesan kepadanya, “Setelah kamu pulang nanti, tetaplah belajar kepada para guru. Jangan pernah kamu merasa cukup dengan ilmu yang kamu miliki. Karena yang namanya orang alim, semakin bertambah alim semakin merasa kurang ilmunya.” Selain pesan dari sang guru, ia juga selalu teringat akan pesan ayahnya, “Selalulah belajar dari pengalaman orang lain, karena pengalaman itu sangat berharga dan mahal harganya.” Sepulang dari menuntut ilmu di Tanah Suci, Habib Segaf meeneruskan pendidikan formal, hingga tahun 2006 ia berhasil meraih gelar sarjana.

Semangat yang ada pada dirinya dalam mengembangkan wawasan ilmu keagamaannya terus terjaga hingga sekarang. Saat ini, ia tengah berada dalam jenjang pendidikan pascasarjana untuk mengambil gelar S2 jurusan syariah. Ditengah tengah kesibukannya mengasuh Pondok Dalwa Putri, bilâ tidak berbenturan waktunya dengan jadwal mengajar, ia aktif pula berceramah disekitar wilayah Jawa Timur ataupun diluar Jawa Timur, terutama saat pesantren sedang libur.

Ia juga menjadi khatib tetap di Masjid Jami’ Bangil sekaligus mengasuh majelis pengajian rutin di masjid tersebut. Beberapa majelis asuhannya juga terdapat di daerah sekitar pondok pesantren. Habib Segaf memang seorang pengajar yang lebih mendahulukan santri santrinya, yang telah dititipkan orangtua mereka kepadanya, dibanding hal hal lain.

Menurutnya, jika telah berhasil menyelesaikan pelajaran di pondok dengan baik dan sudah pulang kembali ke rumah, merekalah yang menjadi ujung tombak dakwah ditempat mereka masing masing. Belajar dan mengajar adalah mujahadah yang khas dalam diri Habib Segaf, yang akan terus dijalani hingga akhir hayatnya.

Ia kembali teringat pesan gurunya, Habib Zain bin Smith, “Selama kamu masih hidup, selama itu pula kamu harus tetap bermujahadah. Sampai kelak akhirnya kamu menghadapi mujahadah yang terbesar, yaitu meraih husnul khatimah.” Kini, semua yang telah didapat dari para guru, juga dari kedua orangtuanya, diterapkan pula terhadap anak anaknya.

Dalam rumah tangga, ia menerapkan pola yang dicontohkan oleh Habib Hasan Baharun, yaitu pola pendidikan berada diantara sifat keras dan lembut. Ia ingat, dulu ayahnya sering menghardik bahkan memukul dirinya.

Tapi setelah dipukul, ia diiberi uang. Ternyata efek dari pola pendidikan semacam itu secara psikologis telah menimbulkan rasa takut sekaligus cinta kepada sang ayah. Demikianlah sekilas perjalanan panjang seorang ulama muda nan produktif ini.

Bagi Habib Segaf, semua apa yang telah dicapai dirinya dan saudara saudaranya saat ini, tak terlepas dari disiplin keras yang ditanamkan sang ayah dan teladan terbaik yang dicontohkan sang ibu. Sebagaimana yang dituturkannya kepada alKisah, Habib Segaf berharap bahwa ia dapat meniru teladan kedua orang tuanya, dalam hal ibadah maupun dalam hal mendidik anak anaknya. *** Sumber: Majalah alKisah desember 2008 Artikel baru baru ini • Muhammad – Wāheshnā (Maher Zain) • Ya Habibal Qolbi • Roqqot ‘Ainaya (Assalamu ‘Alaika) • Assalamu ‘Alaik فى مولد شرف الأنام • THOLA’AL BADRU ‘ALAINA • Thoriq Khoiril Waro • Tanaqqolta Fii Ashlabi (Maulid Syaroful Anam Bagian 4) • Qouluhû Habib hasan baharun Ya Ayyuhannabiyyu (Maulid Syaroful Anam Bagian 3) • Bisyahri Robii’in Qod Badaa (Maulid Syaroful Anam Bagian 2) • Alhamdulillahilladzii Syarrofal Anama (Maulid Syaroful Anam Bagian 1) • Qosidah Man Ana • Ya Rosulallah Ya Ahlal Wafa • Qomarun Sidnan Nabi • Sekilas Profil Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Habsyi; dari Yang Muda Yang Berdakwah • Ashsholatu ‘Alal Mudhollal Setiap bulan Ramadhan tiba, Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah, Raci, Pasuruan selalu mengadakan program belajar kilat Bahasa Arab.

Kesempatan untuk mempelajari bahasa Arab ini mengundang ratusan peminat tidak saja dari kalangan santri, namun juga diikuti oleh mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai universitas yang ada di Jawa Timur, seperti dari Surabaya, Malang, Madura dan lain-lain. Memang Bahasa Arab di Indonesia sampai sekarang dianggap sebagai bahasa yang sulit, dan walaupun mayoritas orang Indonesia tidak bisa berbicara dengan menggunakan bahasa Arab.

Dengan mengikuti program belajar kilat, setiap santri mempelajari bahasa Arab dengan metode khusus dari awal bulan sampai akhir Ramadhan. Dalam waktu yang singkat setiap santri mampu berkomunikasi bahasa arab yang benar (fushah).

Dia dikenal sebagai seorang ahli bahasa Arab. Ustadz Hasan bin Ahmad Baharun dari masa mudanya telah diilhami oleh rasa cinta untuk menyebarluaskan bahasa Arab. Niat beliau tiada lain adalah kecintaan dan menjalankan perintah baginda Nabi Muhammad saw sebagaimana sabdanya, ”Belajarlah kalian bahasa Arab dan ajarkanlah kepada umat manusia.” Sumbangsih Habib Hasan terhadap dunia Bahasa Arab bisa kita lihat dalam karya–karya tulisnya, antara lain Kamus Al-‘Ashriyah (Kamus Modern), Kitab Muhawarah I, Kitab Muhawarah II, Al-Af’al Al-Yaumiyyah dan Al-Asma Ál-Yaumiyyah.

Kitab-kitab yang dikarangnya itu merupakan kitab-kitab yang cukup populer di dunia pesantren dan perguruan tinggi Islam. Ia selalu menasehati kepada santri-santrinya untuk selalu berbicara bahasa arab dengan niat mengikuti (ittiba’) dan meneruskan bahasa yang keluar dari mulut Nabi Muhammad SAW.

Karena bahasa arab adalah bahasa Al-Qur’an yang suci dan bahasa ahli surga. Semangatnya dalam mensyiarkan bahasa Arab tertanam sejak berusia muda. Ia selalu berpindah-pindah dari pesantren ke pesantren lain, dari madrasah ke madrasah lain. Beliau selalu memperkenalkan kepada para pelajar cara belajar bahasa arab dengan mudah dan gampang di mengerti serta di pahami terutama bagi para pemula.

Pendidikan agama selain diperoleh dari bimbingan kedua orang tuanya ia dapatkan dari Madrasah Makarimul Akhlaq Sumenep dan dari kakeknya yang dikenal sebagai ulama besar dan disegani di Kabupaten Sumenep yaitu Ustadz Achmad bin Muhammad Bachabazy. Setelah kakeknya meninggal dunia beliau menimba ilmu agama dari paman-pamannya sendiri yaitu Ust. Usman bin Ahmad Bachabazy dan Ust. Umar bin Ahmad Bachabazy. Semangat belajar Ust. Hasan Baharun sejak kecil memang dikenal rajin dan ulet, bahkan habib hasan baharun bulan Ramadhan tiba beliau belajar semalam suntuk, mulai sehabis tadarrus sampai menjelang shubuh.

Beliau belajar dan mendalami ilmu-ilmu agama khususnya ilmu fiqih serta menjadi murid kesayangan Al-Faqih Al-Habib Umar Ba’aqil Surabaya. Setamat dari SMEA, ia mengikuti ayahnya berdakwah dan sembari berdagang ke Pulau Masalembu. Keluarga ustadz Hasan Baharun dikenal sebagai keluarga yang ramah dan suka membantu siapa saja. Apabila ada orang yang tidak mampu membayar hutangnya, maka disuruh membayar semampunya, bahkan tak jarang dibebaskan dari seluruh hutang-hutangnya.

Tahun 1966, ia merantau ke Pontianak dan mulai berdakwah dari satu desa ke desa yang lainnya. Uniknya, selama berdakwah ia selalu membawa seperangkat pengeras suara agar tidak merepotkan masyarakat dan kebetulan saat itu alat pengeras suara masih sangat langka.

Ia juga membawa tabir (kain pemisah) untuk menghindari terjadinya ikhtilat (pencampuran) antara laki-laki dan perempuan dalam setiap pertemuan yang ia selenggarakan. Semasa remaja beliau senang berorganisasi baik Remaja Masjid ataupun organisasi lainnya seperti Persatuan Pelajar Islam (PII) bahkan beliau pernah diutus untuk mengikuti Muktamar I PII se-Indonesia yang diselenggarakan di Semarang.

Dan pernah menjabat Ketua Pandu Fatah Al Islam di Sumenep. beliau aktif pula di partai politik yaitu Partai NU (Nahdlatul Ulama) dan menjadi jurkam yang dikenal berani dan tegas menyampaikan kebenaran.

Dan di Pasuruan menjabat sebagai Ketua Majlis Ulama Indonesia ( MUI ) sampai akhir hayat beliau. Setelah menamatkan sekolah beliau sering mengikuti ayahnya ke Masalembu untuk berda’wah sambil membawa barang dagangan. Keluarga Ustadz Hasan pada saat itu dikenal ramah dan ringan tangan, apabila ada orang yang tidak mampu membayar hutangnya disuruh membayar semampunya bahkan dibebaskan.

Sifat-sifat inilah yang diwarisi beliau yang dikenal apabila berdagang tidak pernah membawa untung karena senantiasa membebaskan orang-orang yang tidak mampu membayarnya. Pada tahun 1966 beliau merantau ke Pontianak berda’wah keluar masuk dari satu desa ke desa yang lainnya dan melewati hutan belantara yang penuh lumpur dan rawa-rawa namun dengan penuh kesabaran dan ketabahan semua itu tidak dianggapnya sebagai rintangan.

Dengan penuh kearifan dan bijaksana dikenalkannya dakwah Islam kepada orang-orang yang masih awam terhadap Islam. Habib hasan baharun alhamdulillah dakwah yang beliau lakukan mendapat sambutan yang cukup baik dari masyarakat ataupun tokoh-tokoh lainnya. Di setiap daerah yang beliau masuki untuk berdakwah beliau senantiasa bersilaturahmi terlebih dajhulu kepada tokoh masyarakat dan ulama/kyai setepat untuk memberitahu sekaligus minta izin untuk berdakwah di daerah tersebut sehingga dengan budi pekerti, akhlaq dan sifat-sifat yang terpuji itulah masyarakat beserta tokohnya banyak yang simpati dan mendukung terhadap dakwah yang beliau lakukan.

Pada waktu melakukan dakwah beliau senantiasa membawa seperangkat peralatan pengeras suara (Loadspeaker/Sound System) yang pada saat itu memang masih langka di Pontianak sehingga dengan hal itu tidak merepotkan yang punya hajat/mengundangnya untuk mencari sewaan pengeras suara. Dan tak lupa pula beliau membawa satir/tabir untuk menghindari terjadinya ikhtilat (percampuran) antara laki-laki dan perempuan dan perbuatan maksiat/dosa lainnya yang akan menghalang-halangi masuknya hidayah Allah SWT., sedangklan pahala dakwah yang beliau lakukan belum tentu diterima Allah SWT.

Berdagang yang beliau lakukan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan dijadikan sarana pendekatan untuk berdakwah kepada masyarakat. Kedermawanan dan belas kasihnya kepada orang yang tidak mampu menyebabkan dagangannya tidak pernah berkembang karena keuntungannya diberikan kepada masyarakat yang tidak mampu serta membebaskan orang yang tidak mampu membayarnya.

Selain itu pula beliau mempunyai keahlian memotret dan cuci cetak film yang beliau gunakan pula sebagai daya tarik dan mengumpulkan massa untuk didakwahi, karena pengambilan hasil potretan yang beliau lakukan sudah ditentukan waktunya, sehingga aabila mereka sudah berkumpul sambil menunggu cuci cetak selesai waktu menunggu tersebut diisi dengan ceramah dan tanya jawab masalah agama.

Selain berdakwah beliau aktif pula di partai politik yaitu Partai NU (Nahdlatul Ulama) dan menjadi jurkam yang dikenal berani dan tegas di dalam menyampaikan kebenaran sehingga pada saat itu sempat diperiksa dan ditahan. Namun pada saat itu masyarakat akan melakukan demonstrasi besar-besaran apabila beliau tidak segera dikeluarkan dan atas bantuan pamannya sendiri yang saat itu aktif di Golkar membebaskan beliau dari tahanan.

Dan tak lama setelah kejadian tersebut, sekitar tahun 1970 atas permintaan dan perintah dari ibundanya, habib hasan baharun pulang ke Madura dan disuruh untuk berdakwah di Madura atau di Pulau Jawa saja. Namun karena kegigihan beliau selama 2 tahun masih tetap aktif datang ke Pontianak untuk berdakwah walaupun telah menetap di Jawa Timur.

Ma’had ini didirikan pada tahun 1981 di Bangil dengan menempati sebuah rumah kontrakan. Dengan penuh ketelatenan dan kesabaran Ust. Hasan Baharunn mengasuh dan mendidik para santrinya, sehingga mendapat kepercayaan dari masyarakat dan dalam waktu yang relative singkat jumlah santri berkembang dengan pesat. Kesuksesan Ust. Hasan Baharun dalam berdakwah dan membangun Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah tidak lepas dari peran besar dari seorang wanita sholihah yang sudah terdidik dan terlatih habib hasan baharun, kegigihan serta ketegarannya dalam menghadapi kehidupan oleh ayahandanya Al-Habib Muhammad Al-Hinduan, beliau adalah Syarifah Khodijah binti Muhammad Al-Hinduan, istri tercinta yang senantiasa dengan penuh ketabahan dan kesabaran mendampingi pahit getirnya perjuangan serta senantiasa memberikan semangat bagi sang suami.

Bahkan jiwa besar dan perjuangannya ditunjukkan oleh ustadzah ketika Ust. Hasan membutuhkan dana untuk pondok maka ustadzah dengan senang hati menjual seluruh barang-barang berharga dan semua perhiasan yang dimilikinya bahkan yang mengandung kenangan dan sejarah dijualnya pula.

Dalam mendidik putra-putranya beliau sangat disiplin dan memperlakukan putra-putranya seperti santri-santri pada umumnya. Putra-putra beliau disuruh tinggal di asrma/kamar santri, peraturan yang berlaku untuk santri juga diberlakukan untuk putra-putra beliau, seperti piket menyapu, mengepel, membersihkan kamar mandi dan lain sebagainya.

Dan apabila ketahuan ada santri memberi hadiah - uang atau membantu / menggantikan piketnya maka putra beliau dan santri yang membantu tersebut akan diberikan sanksi.

Apabila putra beliau melanggar peraturan pondok habib hasan baharun menerima sanksi 2 kali lipat. Sehingga dengan kedisiplinan, kesederhanaan serta kemandirian yang ditanamkan oleh beliau alhamdulillah putra-putra beliau berhasil mengikuti jejak beliau menjadi ahli ilmu dan terjun di dunia pendidikan dan dakwah.

Bahkan untuk mengikat dan memberikan motivasi, beliau mengatakan kepada putra-putranya bahwa mereka tidak berhak menggunakan fasilitas pondok apabila tidakturut serta membantu pondok. o Apabila seorang kyai sudah mendirikan pondok maka dia harus rela meninggalkan semua aktifitas dan hobinya yang ada diluar pondok yang dapat mengganggu konsentrasinya dalam membina santrinya.

Beliau mengibaratkan seorang pengasuh pondok pesantren sebagai induk ayam yang sedang mengerami telur, maka apabila sering meninggalkan sarangnya kemungkinan besar telur tesebut tidak jadi menetas, dan telur tersebut akan busuk. o Untuk mendirikan pondok pesantren harus dijiwai dengan ikhlas dan guru-guru yang akan mengajar harus diseleksi tingkat keikhlasannya, sehingga tidak akan menularkan kepada santrinya ilmu yang tidak ikhlas dan seterusnya.

“Dan apabila diniati dengan hati yang ikhlas maka pondok pesantren tidak usah khawatir akan datangnya murid sebab Allah akan memproklamasikan/ mengumumkan kepada para malaikat untuk menanamkan kemantapan pada kaum muslimin.” Begitu jawaban Ust Hasan ketika ditanya sistem promosi apa yang dipakai pondok sehingga sangat cepat perkembangan santrinya dan berasal dari berbagai propinsi bahkan dari beberapa negara tetangga. - Putra aghniya, yang dengan masuknya putra mereka di pondok dengan beberapa pertimbangan diantaranya diharapkan perhatiannya terhadap Islam/pondok pesantren lebih besar dan sebagai wasilah masuknya dakwah kepada orang tua mereka, menyelamatkan harta mereka serta sebagai bentuk subsidi silang terhadap santri yang tidak mampu.

Abuya Ust Hasan Baharun dikenal sangat supel dan luwes dalam menjalin hubungan dengan semua kalangan. Beliau mampu menjalin hubungan dan memelihara hubungan tersebut dengan baik hal ini terlihat bahwa beliau mampu melibatkan berbagai elemen masyarakat dalam perjuangan dan dakwah Islam serta mengajak mereka berpartisipasi dalam perintisan dan pembangunan pondok pesantren, baik itu tokoh masyarakat dari kalangan NU maupun tokoh-tokoh Muhammadiyah.

Dan di Pasuruan beliau secara aklamasi di tunjuk sebagai ketua MUI walaupun beliau memberikan syarat kalau pertemuan MUI harus habib hasan baharun Pondok Darullughah Wdda’wah, hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Ust. dikalangan para Ulama Pasuruan. Hal ini sangat wajar karena beliau juga selain hubungan pribadi juga beliau meluangkan waktunya untuk membantu mengajar bahasa Arab di berbagai pondok besar mulai dari Banyuwangi sampai ke Jawa Tengah.

Adapun hubungan beliau dengan ulama-ulama luar negeri, terutama dengan ulama besar Timur Tengah sekilas dapat kami unkapkan sebagai berikut: Hubungan Abuya Ust. Hasan Baharun dengan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki bermula sejak beliau ditunjuk untuk menjadi penerjemah ceramah dalam kunjungan dan silaturrahmi Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur.

Abuya Sayyid Muhammad sangat tertarik dengan kemampuan Bahasa Arab dan Kepribadian Ust. Hasan Baharun sehingga setiap kunjungan ke Jawa Timur beliau menjadi langganan sebagai penerjemahnya. Bahkan Abuya Ust. Hasan dipercaya untuk mengajar Bahasa Arab istri Abuya Sayyid Muhammad sebelum diajak ke Makkah Al-Mukarromah.

Dengan pandangan hati Abuya memerintah Ust. Hasan untuk membuka pondok pesantren serta setelah perkembangan pondok cukup pesat beliau pula yang menyuruh agar pondok yang asalnya mengontrak rumah di Bangil agar pindah ke lokasi di Desa Raci Kecamatan Bangil (lokasi pondok sekarang) dan memberi dana pertama untuk membangun pondok Raci.

Selanjutnya Abuya Ust Hasan sering ke Mekkah berziarah ke kediaman beliau dan sekaligus untuk mencari dana. Sambutan yang luar biasa diberikan oleh Sayyid Muhammad dan beliau sendiri yang menulis surat kepada para aghniya/memberikan memo agar membantu pembangunan pondok Dalwa. Menurut penuturan Abuya Ust. Hasan Baharun habib hasan baharun apabila beliau ke Makkah beliau memperlakukan dirinya sebagai santri Abuya Sayyid Muhammad dan mengakui bahwa Sayyid Muhammad adalah guru beliau di samping Al-Habib Abdul Qodir Bin Ahmad Assegaff.

Walaupun demikian Abuya Sayyid Muhammad memberikan penghormatan kepada Ust. Hasan sebagai ulama bahkan beliau diberi ruang khusus serta dilengkapi dengan telepon untuk memudahkan urusan. Dan untuk mempererat hubungan yang telah terjalin Abuya Ust Hasan mengirim putranya Al-Habib Zain Bin Hasan Baharun dan beberapa santri Dalwa untuk belajar pada Abuya Sayyid Muhammad serta beberapa Alumni Sayyid Muhammad yang di Jawa Timur oleh Ust Hasan diminta untuk mengajar di Ma’had Dalwa seperti Ust.

Ihya Ulumuddin, Ust Ahmad Bin Husin Assegaff, Ust. Abdul Hadi Surabaya, Ust. Sholeh Al-Idrus, Ust Muhammad Al-Haddad, Ust. Abdullah Mulahelah (Malang), Ust. Hilmi, Ust. Amir Syarifudin, Ust. Abdullah Umar, dan lain sebagainya. Demikian pula Abuya Sayyid Muhammad mempunyai perhatian yang besar terhadap ma’had Dalwa selain para santrinya yang berasal dari kawasan Jawa Timur (Probolinggo, Pasuruan, Malang Sidoarjo, Surabaya dan Gresik) dianjurkan untuk mengajar di Ma’had Dalwa, beliau juga senantiasa memberikan bantuan dan mengawasi perkembangannya.

Hubungan Ustadz Hasan Baharun dengan ulama Hadromaut bermula ketika beliau berziarah ke Hadromaut dan bertemu dengan para ulama disana. Melihat tradisi salaf dan keilmuan yang ada di Hadramaut maka beliau tertarik untuk mengirimkan santri-santrinya ke beberapa ribath (pondok) yang dipimpin para masyayikh di sana. Sehingga hubungan antara Ust. Hasan dengan para ulama Hadramaut Yaman semakin baik sampai kewafatan beliau bahkan diteruskan oleh penerusnya (Ust.

Zain Hasan Baharun) sampai sekarang. Hubungan Ust. Hasan dengan para pejabat dilatar belakangi karena urusan lembaga pendidikan, sebab sebuah lembaga tidak akan bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan instansi dan pihak lain terutama dengan instansi pemerintah. Oleh karena itu beliau menjalin kerjasama dengan pemerintah dalam kerangka kepentingan pondok dan kepentingan dakwah serta perjuangan bukan termotivasi atas kepentingan pribadi.

Beliau mampu menempatkan diri sebagai ulama yang harus dalam posisi terhormat, berwibawa, perlu dimintai fatwa dan ditaati sarannya sehingga beliau tetap mulia habib hasan baharun ada tudingan miring yang diarahkan kepada beliau namun beliau dapat menunjukkan kedekatan dengan para pejabat semata-mata dalam rangka dakwah, hal ini terbukti bahwa posisinya sebagai ketua MUI sangat diperhitungkan. Setiap Acara di Kabupaten Pasuruan layaknya kegiatan di pesantren, dan ada pemisahan antara putra-dan putri, serta acara di pendopo tidak akan dimulai kecuali beliau sudah datang ketempat acara.

Bahkan ada yang bilang bahwa “Bupati Pasuruan adalah Bupatinya Ust. Hasan”. Sebuah contoh keberhasilan dakwah beliau di kalangan pejabat adalah mereka senantiasa berkonsultasi dan minta pendapat beliau apabila ada permasalahan di masyarakat.

Dan juga beliau mampu menciptakan kegiatan-kegiatan keagamaan di beberapa instansi strategis misalnya dengan secara rutin mengadakan acara pengajian di Kantor Kodim, Sholat taubat/tasbih secara rutin dengan pihak Kapolres yang melibatkan seluruh anggota Kapolsek se-Kabupaten Pasuruan.

Disela-sela kesibukan yang sangat padat Ust. Hasan Baharun sangat perhatian dengan masyarakat umum, terutama tokoh-tokoh masyarakat, apabila ada waktu beliau senantiasa menyempatkan diri bersilaturrahmi walaupun hanya sebentar dan beliau siap menerima segala keluhan masyarakat selama dua puluh empat jam bahkan seluruh lapisan masyarakat sangat mudah menemui beliau di kantor pondok karena sepanjang hari mulai pukul 02.00 malam sampai pukul 10 malam berada dikantor untuk melayani kepentingan santri, wali murid dan masyarakat umum.

Hal ini terbukti setiap hari dan setiap saat banyak masyarakat yang datang bersilaturrrahmi mulai yang datang untuk bertanya masalah hukum agama, minta barokah do’a, minta bantuan biaya sekolah, bantuan pembangunan masjid dan lembaga pendidikan dan sosial, minta biaya pengobatan bahkan ada beberapa yang secara rutin disuruh datang untuk mengambil jatah kebutuhan yang ditanggung oleh beliau. Ust. Hasan Baharun mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap habib hasan baharun dan pengembangan Bahasa Arab.

habib hasan baharun

Selain Beliau banyak mengarang kita-kitab yang berhubungan dengan Bahasa Arab seperti Kamus Bahasa Dunia Al ‘Ashriyyah, Muhawarah Jilid I dan II, Qawa’idul I’rab, Kalimatul Asma’ Al Yaumiyyah dan Kalimatul Af’al Al Yaumiyyah, 40 Kaidah-kaidah Nahwu (Pengantar Ilmu Nahwu) serta beliau mewajibkan seluruh santri dan para guru untuk senantiasa menggunakan Bahasa Arab.

Disamping mengembangkan Bahasa Arab di pondok pesantren beliau sendiri, juga mengajar secara rutin di beberapa pondok pesantren, seperti di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus Sukorejo Situbondo, Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pondok Pesantren Langitan Tuban, dan di beberapa pondok pesantren lainnya mulai dari Banyuwangi sampai ke Jawa Tengah.

Beberapa bulan sebelum beliau wafat sering mengungkapkan cita-cita besar beliau yaitu ingin membuat organisasi yang dapat menyatukan Ummat Islam. Karena beliau berpendapat bahwa dengan persatuan Ummat Islam banyak hal yang bisa dilakukan.

Bahkan ketika ada perrtemuan Ulama di Jakarta dan beliau berhalangan hadir beliau menitip surat kepada Ust Qosim Baharun yang mewakilinya habib hasan baharun membacakan surat tersebut sebagai usulan dari beliau yaitu agar para ulama menggagas Organisasi Persatuan Habaib, Ulama, Kiyai, Santri dan para simpatisan dalam ikatan satu wadah non politik yang tujuannya murni untuk kepentingan Ummat Islam.

Bahkan beliau berjanji sanggup meninggalkan pondok dan menyerahkan urusan pondok kepada putranya Al-Habib Zain Baharun sedangkan beliau sendiri ingin bersilaturrrahmi ke para Ulama di seluruh nusantara untuk mensosialisasikan ide besar dan mulia tersebut. Beberapa sifat yang menonjol Ust. Hasan yang sudah sangat makruf di kalangan santri, dan guru-guru, kalangan habaib dan masyarakat yang sering berkomunikasi dengan beliau sebagai seorang figur ulama sebagai pewaris nabi betul-betul beliau mewarisi sifat-sifat sikap dan perjuangan Datuknya Al-Musthofa Nabi Muhammad SAW.

Dan Agar kita lebih jelas akan dipaparkan sifat-sifat tersebut serta contoh-contoh sebagian peristiwa serta kehidupan beliau sehingga kita dapat meniru sifat dan sikap keteladanan beliau yang juga senantiasa ditanamkan bagi santri-santrinya adalah sebagai berikut ; Adapun salah satu sifat yang menonjol pada diri beliau adalah sifat sabar.

Kesabaran Ust Hasan sangat dikenal oleh semua kalangan baik santri, dewan guru, pejabat dan orang-orang yang mengenal beliau, Sifat kesabarannya sangat luar biasa sebagaimana kesaksian dan cerita yang dilukiskan oleh Ayahandanya sendiri Al-Habib Ahmad bin Husein Baharun: “Hasan itu sangat sabar, kalau saya marahi walaupun dia tidak salah tidak pernah menjawab dan apabila difitnah dan diganggu orang tidak pernah membalas dan hanya kepada saya dia menceritakan agar didoakan sehingga diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan dan fitnahan tersebut.“ Begitu menurut penuturan Hb.

Ahmad Baharun pada waktu Ust. Hasan menghadap ilahi. Kesabaran beliau sulit dilukiskan baik dalam membina dan membimbing santri serta menghadapi kenakalan santri dan orang-orang yang mengganggu pondok. Sifat Istiqomah Ust Hasan Baharun sudah tidak diragukan salah satu tanda dari sifat tersebut tercermin pada aktifitas beliau sehari-hari karena beliau bangun setiap pukul 02.00 malam kemudian Qiyamullail dan membangunkan habib hasan baharun dan Asatidzah pada pukul tiga malam bahkan untuk menjaga keistiqomahan tersebut mewajibkan santri yang menjaga malam di pintu gerbang untuk membangunkan tepat pukul dua malam dan di pos jaga tesebut tertulis diantara tugas/kewajiban penjaga malam wajib membangunkan Ust.

Hasan tepat pada pukul 02. 00 ( tidak boleh lebih atau kurang ). Suatu ketika beliau datang dari Makkah / Timur Tengah namun masih mampir di Jakarta karena masih ada urusan yang harus diselesaikan dan bermalam di salah satu rumah wali santri di Bekasi (di rumah Haji Yusuf) dan tampak tanda-tanda bahwa beliau dalam keadaan sangat lelah, maka untuk menjaga agar beliau tidak terlambat bangun beliau berpesan kepada H. Yusuf untuk membangunkannya pada pukul 02.00 dan juga menelpon ke santri yang menjaga maktab agar mengingatkan Haji Yusuf supaya membangunkan tepat pukul 02.00 malam dan tidak cukup itu saja beliau masih memberi tahu ke pos jaga agar juga mengingatkan H.

Yusuf sebelum jam 02.00 untuk membangunkan Ust. Hasan. Begitulah salah satu contoh kesungguhan beliau dalam menjaga keistiqomahan tersebut. Abuya Ust. Hasan mempunyai jiwa tawakkal yang luar biasa sebagai suatu gambaran dari sifat ketawakkalan beliau adalah bahwa ketika beliau mempunyai rencana untuk membangun gedung asrama santri berlantai tiga pada waktu awal-awal terjadinya krisis moneter dengan dana awal sekitar lima juta rupiah dan ketika sahabat beliau datang ke maktab mengungkapkan rencana tersebut barangkali bisa membantu, namun orang tersebut justru bertanya dengan nada terheran-heran: “Ya Ustadz, bagaimana dengan dana yang sedikit itu antum akan membangun bangunan sebesar itu?

Apalagi sekarang Indonesia dalam krisis moneter!” Kemudian apa kata beliau, “Ya Ustadz, habib hasan baharun krisis itu kan Indonesia, negara lain khan tidak! Apalagi Allah, apakah Allah kenal krisis moneter?” Sebuah umpan balik dan argumen yang luar biasa, kemudian beliau melanjutkan kata-katanya, “Kalau kita punya rencana maka kita jangan sekali-kali mengukur dengan kemampuan kita, apabila kitamengukur dengan kemampuan kita maka hasilnyapun Allah akan memberikan sesuai dengan kemampuan kita, tetapi apabila kita mengukur dengan kemampuan Allah maka kemampunnya tiada habib hasan baharun dan yakinlah bahwa selama kita berniat memperjuangkan Agama Allah bahwa Allah itu akan menolong kita,” Inilah diplomasi yang menggambarkan betapa tingginya tingkat ketawakkalan beliau.

Bahkan apabila mau membangun beliau justru menghabiskan segala uang yang tersisa dan membagikan kepada fakir miskin sebagi pancingan datangnya rahmat dan pemberian Allah dan beliau mengibaratkan orang mancing maka apabila pancing dan umpannya besar maka akan memperoleh ikan yang besar pula.

Hal ini sering diungkapkan pula ketika ada panitia pembangunan masjid dan Lembaga Pendidikan Islam bahwa apabila berniat ingin membangun maka disarankan tidak perlu khawatir pembangunan tersebut tidak selesai dan menyuruhnya membongkar/ memulai pembangunan tersebut tanpa menunggu terkumpulnya dana untuk pembangunan karena menurut beliau bahwa pembangunan masjid dan LPI tersebut merupakan proyek Allah SWT.

dan Insya-Allah pasti selesai tinggal menata niat panitia serta berusaha semaksimal mungkin sebagai sunnatullah dan harus disertai dengan banyak berdo’a.” Begitulah saran-saran beliau kepada para takmir dan panitia yang datang minta saran dan sumbangan kepada beliau.

Kedermawanan yang ada pada beliau tumbuh dan berkembang sejak beliau karena hal tersebut sudah ditanamkam oleh aba dan kakeknya sebagaimana kisah-kisah sebelumya sehingga beliau tumbuh dan berkembang mempunyai jiwa sosial terutama memiliki kepedulian kepada para ffakir-miskin dan anak yatim. Bentuk kepedulian terhadap mereka diantaranya adalah bahwa kebiasaan belia membagikan hadiah pakaian hari raya, beras dan kebutuhan sehari-hari, membagikan daging kurban kepada para tetangga pondok, famili beliau yang tidak mampu, serta kepada orang-orang yang datang minta bantuan, mulai pengobatan sampai pada biaya sekolah anak-anak mereka kepada orang yang tak mampu.

Habib hasan baharun sering diungkapkan oleh beliau dalam menasehati para santri dan para guru agar senantiasa menata niat dalam setiap tindakan dan amal yang akan dilakukan.

Hal ini merupakan cerminan dari kepribadian beliau yang senantiasa menjadikan keikhlasan sebagai pondasi dari setiap amaliah yang beliau laksanakan, termasuk pendirian pondok. Sebagai sebuah bukti dari keikhlasan beliau ketika ada guru-guru yang mengusulkan agar membuat papan nama pondok di tepi jalan beliau tidak langsung mengabulkan permintaan tersebut.

Namun karena beberapa kali guru-guru tetap mengusulkan dengan alasan banyak wali santri yang tidak tahu lokasi pondok dan sering kesasar dan bingung mencari alamat pondok, baru tersebut dikabulkan tiga tahun sebelum beliau wafat. Demikian pula beliau dalam rekrutmen/seleksi guru-guru, maka yang pertama kali dilihat adalah keikhlasannya.

Para guru baru yang mau mengajar di pondok, diuji tingkat keikhlasannya, bahkan beliau tidak memperhatikan selama satu tahun. Karena beliau berpendapat bahwa apabila gurunya tidak ikhlas akan menularkan ilmu yang tidak ikhlas pula. Walaupun beliau sebagai ulama besar yang dihormati dan disegani, baik habib hasan baharun dalam maupun di luar negeri, dan kebesaran beliau diakui oleh Sayyid Muhammad sehingga pada saat beliau datang ke Mekkah di majlis ta’lim Sayyid Muhammad diberikan kesempatan untuk memberikan sambutan / taujihat pada jamaah haji dan para ulama sedunia yang berkumpul di majlis tersebut, dan juga dalam acara haul Nabiyullah Nuh AS di Yaman beliau senantiasa mengelak ketika diminta untuk memberikan sambutan, tetapi pada kunjungan yang terakhir beliau mau memberikan sambutan namun tetap dengan sikap tawadlu’ beliau mengatakan bahwa tidak bermaksud memberikan nasehat kepada yang hadir yang kebanyakan terdiri dari para ulama dan auliya’, tetapi nasehat tersebut ditujukan untuk santri-santri beliau habib hasan baharun belajar di sana.

Beliau senantiasa menunjukkan sikap tawadlu’ dalam kehidupan sehari-hari dan sama sekali tidak menunjukkan bahwa beliau adalah orang besar. Siapapun tamu yang datang dilayani dengan ramah bahkan apabila menyajikan makanan beliau sering mengangkat sendiri sajian makanan dari dapur dan menyuguhkannya kepada para tamu. Apabila orang bertemu dengan Ust. Hasan Baharun dan orang tersebut sebelumnya belum mengenal beliau maka orang tersebut tidak akan menyangka bahwa ust Hasan adalah Ulama besar yang sangat dihormati dan disegani karena beliau memang mempunyai habib hasan baharun yang sangat sederhana, pakaian yang dipakai sehari-hari di dalam pondok dan habib hasan baharun keluar pondok biasa-bisa saja yaitu memakai gamis dan kopyah putih tanpa imamah dan rihda kecuali apabila beliau akan menyampaikan ceramah atau menghadiri majlispertemuan yang harus menampilkan sebagai sosok untuk menjaga kehormatan dan kebesaran serta kewibawaan Ulama.

Maka beliau akan berpakain lengkap dengan jubah kebesarannnya. Selain kesederhanaan dalam berpakaian beliau juga memiliki kesederhanaan dalam pola kehidupan sehari-hari, banyak orang yang tertarik dan menaruh simpati kepada beliau ketika membandingkan fasilitas pondok yang serba lengkap dan baik dengan rumah beliau yang atapnya rusak dan sering bocor karena tidak sempat untuk diperbaiki serta perabot rumah tangga yang semuanya serba biasa-biasa saja, hal ini sudsah menjadi pilihan beliau yang lebih terkonsentrasi memikirkan bagaimana memenuhi fasilitas santri.

“Ustadz Hasan adalah habib hasan baharun pertama yang membuka kembali hubungan antara Yaman dan Indonesia setelah terputus puluhan tahun lamanya dan beliau yang mulai mengirimkan santrinya untuk belajar di Yaman sehingga semua pahala orang yang belajar ke Yaman akan kembali pahalanya kepada Al-Alim Al-Allamah Adda’i Ilallah Al-Ustadz Hasan Baharun.” Demikian penuturan Habib Umar Bin hafidz di depan para santri dan ulama dalam ziarohnya di Pondok Raci 2 tahun setelah wafatnya Ust.

Hasan Selain berdakwah, Habib Hasan aktif di partai Nahdlatul Ulama. Ia dikenal sebagai juru kampanye (jurkam) yang berani dan tegas dalam menyampaikan kebenaran. Sehingga, ia sempat diperiksa dan ditahan oleh aparat keamanan. Pada saat itu, masyarakat akan melakukan demostrasi besar-besaran apabila tidak dikeluarkan. Atas jaminan dan bantuan salah satu pamannya, akhirnya Habib Hasan dibebaskan. Sekitar tahun 1970, atas permintaan dan perintah dari ibunya ia pulang ke Madura.

Namun, ia masih sempat berdakwah ke Pontianak dan mengajar bahasa arab di Pesantren Gondanglegi (Malang). Selain itu, ia juga mengajar di pondok pesantren Sidogiri (Pasuruan), Salafiyah Asy-Syafi’iyah (Asembagus, Situbondo), Langitan (Tuban) dan lain-lain.

habib hasan baharun

Dengan sarana dan prasarana yang sangat sederhana para santri tersebut dibina langsung olehnya dan Habib Ahmad As-Saqqaf. Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1983 membuka atau menerima santri putri yang berjumlah 16 orang yang bertempat di daerah yang sama. Keadaan (tempat pondok pesantren) terus berpindah-pindah tempat dan sampai 11 kali kontrak rumah hingga tahun 1984.

Dengan jumlah santri yang terus berkembang serta tempat (rumah sewa) tidak dapat menampung jumlah santri, maka pada tahun 1985 Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah pindah ke sebuah desa yang masih jarang penduduknya dan belum ada sarana listrik, tepatnya di Desa Raci, Kecamatan Bangil. Jumlah santri pada waktu itu sebanyak 186 orang santri yang terdiri dari 142 orang santri putra dan 48 orang santri putri.

Hingga saat ini lahan yang ada telah mencapai kurang lebih 4 Ha dan telah hampir terisi penuh oleh bangunan sarana pendidikan dan asrama santri dengan jumlah santri sekitar 1500 yang berasal dari 30 propinsi di Indonesia, negara-negara Asia Tenggara dan Saudi Arabia.

Santri-santri dibina oleh tidak kurang 100 orang guru dengan lulusan/alumni dalam dan luar negeri. Ditambah dengan pembantu yang diikutkan belajar sebanyak sekitar 95 orang. Sholawat dari Habib Hasan Ahmad Baharun” semoga sholawat ini bermaafaat untuk dunia dan akhirat bagi sang pengamal. Tawasul kepada: Rasulullah, Nabi Sulaiman, Nabi khidir, Khulafaurrasidin Abu Bakar – Umar – Ustman – Ali, Malaikat Muqorobin jibril – mikail – Isroil – Habib hasan baharun, syekh abdul qodir al jailani, syekh abil hasan asy-syadziliy, syekh ahmad ali al bunni, habib ali bin habib hasan baharun as sakran, habib hasan baharun alwi haddad, Habib Hasan Ahmad Baharun, sunan kalijogo, sunan bonang, sunan gunung jati, org tua kita, Man ajazani Artinya: Ya Allah Ya Tuhanku, Limpahkanlah sholawat ta’dhzimMu Atas Junjungan Maulana Muhammad Sebaik-baik makhluk ciptaanMu Sholawat yang dengan keberkatannya Engkau selamat sejahterakan kami Juga ahli keluarga kami, anak-anak kami Kaum kerabat kami, orang yang kami cintai Guru-guru kami, murid-murid kami Rekan handai taulan kami, tetangga kami Engkau selamat sejahterakan Segala rumah kediaman kami, masjid kami Ma’had kami, madrasah kami, Ladang kami, pejabat tempat kerja kami, Sekalian tempat kami dan segala harta-benda kami, Dari bahaya gempa bumi dan pergerakannya Dari bahaya hujan, angin, petir dan sebagainya Dari bahaya kereta, kapal terbang, kapal laut dan lain kenderaan Dari bahaya wabah, bala bencana, malapetaka dan seumpamanya Dari bahaya jin, manusia, hewan, thoghut, syaitan dan tipuannya Dari bahaya jatuh, binasa, terbakar, tenggelam dan segala musibah.

Dari bala` pada urusan agama, dunia dan akhirat Kabulkanlah Yaa Ilahi Demi tuah Junjungan Nabi Pilihan al-Musthofa Limpahkanlah juga sholawat Ke atas ahli keluarga dan para sahabat baginda Bersama-sama salam kesejahteraan yang sempurna Mudah-mudahan sholawat ini dijadikan wasilah untuk mengajukan permohonan bagi kesejahteraan diri, ahli keluarga, harta benda dan kaum muslimin sekaliannya dari segala bala bencana, malapetaka, kemalangan, wabak penyakit, kezaliman bahaya hujan dan sebagainya.
“Ustadz Hasan adalah orang pertama yang membuka kembali hubungan antara Yaman dan Indonesia setelah terputus puluhan tahun lamanya dan beliau yang mulai mengirimkan santrinya untuk belajar di Yaman sehingga semua pahala orang yang belajar keYaman akan kembali pahalanya kepada Al-Alim Al-Allamah Adda’i Ilallah Al-Ustadz Hasan Baharun.” Demikian penuturan Habib Umar Bin hafidz di depan para santri dan ulama dalam ziarohnya di Pondok Raci 2 tahun setelah wafatnya Habib Hasan Baharun.

Al Habib Hasan Baharun lahir di Sumenep pada tanggal 11 Juni 1934 dan merupakan putra pertama dari empat bersaudara dari Al Habib Ahmad bin Husein dengan Fathmah binti Ahmad Bachabazy. Adapun silsilah dzahabiyah yang mulia dari beliau adalah Al Habib Hasan Bin Ahmad bin Husein bin Thohir bin Umar Bin Baharun. Sejak kecil kedisiplinan dan kesederhanaan telah ditanamkan oleh kedua orang tua beliau sehingga mengantarkannya tumbuh menjadi sosok pribadi yang mempunyai akhlaq dan sifat yang terpuji.

Sejarah Pendidikan Ust. Hasan Baharun Pendidikan agama selain diperoleh dari bimbingan kedua orang tuanya ia dapatkan dari Madrasah Makarimul Akhlaq Sumenep dan dari kakeknya yang dikenal sebagai ulama besar dan disegani di Kabupaten Sumenep yaitu Ustadz Achmad bin Muhammad Bachabazy.

Setelah kakeknya meninggal dunia beliau menimba ilmu agama dari paman-pamannya sendiri yaitu Ust. Usman bin Ahmad Bachabazy dan Ust. Umar habib hasan baharun Ahmad Bachabazy. Semangat belajar Ust. Hasan Baharun sejak kecil memang dikenal rajin dan habib hasan baharun, bahkan apabila bulan Ramadhan tiba beliau belajar semalam suntuk, mulai sehabis tadarrus sampai menjelang shubuh.

Beliau belajar habib hasan baharun mendalami ilmu-ilmu agama khususnya ilmu fiqih serta menjadi murid kesayangan Al-Faqih Al-Habib Umar Ba’aqil Surabaya. Disamping pendidikan agama beliau juga menuntut pendidikan ilmu umum mulai dari Sekolah Rakyat (SR / setingkat SD), Pendidikan Guru Agama (PGA) 6 tahun dan hanya sampai di kelas 4 karena pindah dan melanjutkan ke SMEA di Surabaya. Masa Remaja dan Pengalaman Organisasi Ust.

Hasan Baharun Semasa remaja beliau senang berorganisasi baik Remaja Masjid ataupun organisasi lainnya seperti Persatuan Pelajar Islam (PII) bahkan beliau pernah diutus untuk mengikuti Muktamar I PII se-Indonesia yang diselenggarakan di Semarang. Dan pernah menjabat Ketua Pandu Fatah Al Islam di Sumenep.

beliau aktif pula di partai politik yaitu Partai NU (Nahdlatul Ulama) dan menjadi jurkam yang dikenal berani dan tegas menyampaikan kebenaran.

Dan di Pasuruan menjabat sebagai Ketua Majlis Ulama Indonesia ( MUI ) sampai akhir hayat beliau. Perjalanan dan Konsep Dakwah Ust. Hasan Baharun Setelah menamatkan sekolah beliau sering mengikuti ayahnya ke Masalembu untuk berda’wah sambil membawa barang dagangan.

Keluarga Ustadz Hasan pada saat itu dikenal ramah dan ringan tangan, apabila ada orang yang tidak mampu membayar hutangnya disuruh membayar semampunya bahkan dibebaskan. Sifat-sifat inilah yang diwarisi beliau yang dikenal apabila berdagang tidak pernah membawa untung karena senantiasa membebaskan orang-orang yang tidak mampu membayarnya.

habib hasan baharun

Dan pada waktu berkeliling menjajakan dagangan beliau dikenal suka membantu menyelesaikan permasalahan dan konflik yang terjadi dimasyarakat serta senantiasa berusaha mendamaikan orang dan tokoh-tokoh masyarakat yang bermusuhan. Pada tahun 1966 beliau merantau ke Pontianak berda’wah keluar masuk dari satu desa ke desa yang lainnya dan melewati hutan belantara yang penuh lumpur dan rawa-rawa namun dengan penuh kesabaran dan ketabahan semua itu tidak dianggapnya sebagai rintangan.

Dengan penuh kearifan dan bijaksana dikenalkannya dakwah Islam kepada orang-orang yang masih awam terhadap Islam. Dan alhamdulillah dakwah yang beliau lakukan mendapat sambutan yang cukup baik dari masyarakat ataupun tokoh-tokoh lainnya. Di setiap daerah yang beliau masuki untuk berdakwah beliau senantiasa bersilaturahmi terlebih dajhulu kepada tokoh masyarakat dan ulama/kyai setepat untuk memberitahu sekaligus minta izin untuk berdakwah di daerah tersebut sehingga dengan budi pekerti, akhlaq dan sifat-sifat yang terpuji itulah masyarakat beserta tokohnya banyak yang simpati dan mendukung terhadap dakwah yang beliau lakukan.

Pada waktu melakukan dakwah beliau senantiasa membawa seperangkat peralatan pengeras suara (Loadspeaker/Sound System) yang pada saat itu memang masih langka di Pontianak sehingga dengan hal itu tidak merepotkan yang punya hajat/mengundangnya untuk mencari sewaan pengeras suara. Dan tak lupa pula beliau membawa satir/tabir untuk menghindari terjadinya ikhtilat (percampuran) antara laki-laki dan perempuan dan perbuatan maksiat/dosa lainnya yang akan menghalang-halangi masuknya hidayah Allah SWT., sedangklan pahala dakwah yang beliau lakukan belum tentu diterima Allah SWT.

Berdagang yang beliau lakukan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan dijadikan sarana pendekatan untuk berdakwah kepada masyarakat. Kedermawanan dan belas kasihnya kepada orang yang tidak mampu menyebabkan dagangannya tidak pernah berkembang karena keuntungannya diberikan kepada masyarakat yang tidak mampu serta membebaskan orang yang tidak mampu membayarnya. Selain itu pula beliau mempunyai keahlian memotret dan cuci cetak film yang beliau gunakan pula sebagai daya tarik dan mengumpulkan massa untuk didakwahi, karena pengambilan hasil potretan yang beliau lakukan sudah ditentukan waktunya, sehingga aabila mereka sudah berkumpul sambil menunggu cuci cetak selesai waktu menunggu tersebut diisi dengan ceramah dan tanya jawab masalah agama.

Selain berdakwah beliau aktif pula di partai politik yaitu Partai NU (Nahdlatul Ulama) dan menjadi jurkam yang dikenal berani dan tegas di dalam menyampaikan kebenaran sehingga pada saat itu sempat diperiksa dan ditahan. Namun pada saat itu masyarakat akan melakukan demonstrasi besar-besaran apabila beliau tidak segera dikeluarkan dan atas bantuan pamannya sendiri yang saat itu aktif di Golkar membebaskan beliau dari tahanan.

Dan tak lama setelah kejadian tersebut, sekitar tahun 1970 atas permintaan dan perintah dari ibundanya, beliau pulang ke Madura dan disuruh untuk berdakwah di Madura atau di Pulau Jawa saja. Namun karena kegigihan beliau selama 2 tahun masih tetap aktif datang ke Pontianak untuk berdakwah walaupun telah menetap di Jawa Timur. Pada tahun 1972 beliau mengajar di Pondok Pesantren Gondanglegi Malang mengembangkan Bahasa Arab, sehingga pondok Gondanglegi pada saat itu terkenal maju dalam bidang Bahasa Arabnya.

Sejarah Pendirian Pondok dan Perkembangannya Ma’had ini didirikan pada tahun 1981 di Bangil dengan menempati sebuah rumah kontrakan. Dengan penuh ketelatenan dan kesabaran Ust. Hasan Baharunn mengasuh dan mendidik para santrinya, sehingga mendapat kepercayaan dari masyarakat dan dalam waktu yang relative singkat jumlah santri berkembang dengan pesat.

Selain membina santri putra, pada tahun 1983 pondok ini menerima santri putri yang berjumlah 16 orang yang bertempat di daerah yang sama. Dan pada tahun 1984 lokal pemondokan santri menempati sampai habib hasan baharun 13 rumah kontrakan.

Atas petunjuk Musyrif Ma’had Darullughah Wadda’wah Abuya Sy. Muhammad Alwi Al-Maliki Al-Hasani, pada tahun 1985 Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah dipindah ke Desa Raci. Kesuksesan Ust. Hasan Baharun dalam berdakwah dan membangun Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah tidak lepas dari peran besar dari seorang wanita sholihah yang sudah terdidik dan terlatih kesabaran, kegigihan serta ketegarannya dalam menghadapi kehidupan oleh ayahandanya Al-Habib Muhammad Al-Hinduan, beliau adalah Syarifah Khodijah binti Muhammad Al-Hinduan, istri tercinta yang senantiasa dengan penuh ketabahan dan kesabaran mendampingi pahit getirnya perjuangan serta senantiasa memberikan semangat bagi sang suami.

Bahkan jiwa besar dan perjuangannya ditunjukkan oleh ustadzah ketika Ust. Hasan membutuhkan dana untuk pondok maka ustadzah dengan senang hati menjual seluruh barang-barang berharga dan semua perhiasan yang dimilikinya bahkan yang mengandung kenangan dan sejarah dijualnya pula.

Pada tanggal 23 Mei 1999 M bertepatan tanggal 8 Shafar 1420 H beliau berpulang ke rahmatullah, kemudianestafet kepemimpinan dilanjutkan oleh putra beliau Al Ustadz Ali Zainal Abidin bin Hasan Baharun. Pada tahun 2006 dibuka Pondok Pesantren II Darullughah Wadda’wah yang berlokasi di Desa Pandean Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan yang sekarang ditempati 334 santri putra untuk tingkat i’dadiyah dan kelas I dan II ibtida’iyah.

Dalam mendidik putra-putranya beliau sangat disiplin dan memperlakukan putra-putranya seperti santri-santri pada umumnya. Putra-putra beliau disuruh tinggal di asrma/kamar santri, peraturan yang berlaku untuk santri juga diberlakukan untuk putra-putra beliau, seperti piket menyapu, mengepel, membersihkan kamar mandi dan lain sebagainya.

Dan apabila ketahuan ada santri memberi hadiah – uang atau membantu / menggantikan piketnya maka putra beliau dan santri yang membantu tersebut akan diberikan sanksi. Apabila putra beliau melanggar peraturan pondok akan menerima sanksi 2 kali lipat. Sehingga dengan kedisiplinan, kesederhanaan serta kemandirian yang ditanamkan oleh beliau alhamdulillah putra-putra beliau berhasil mengikuti jejak beliau menjadi ahli ilmu dan terjun di dunia pendidikan dan dakwah.

Bahkan untuk mengikat dan memberikan motivasi, beliau mengatakan kepada putra-putranya bahwa mereka tidak berhak menggunakan fasilitas pondok apabila tidakturut serta membantu pondok. – Apabila seorang kyai sudah mendirikan pondok maka dia harus rela meninggalkan semua aktifitas dan hobinya yang ada diluar pondok yang dapat mengganggu konsentrasinya dalam membina santrinya.

Beliau mengibaratkan seorang pengasuh pondok pesantren sebagai induk ayam yang sedang mengerami telur, maka apabila sering meninggalkan sarangnya kemungkinan besar telur tesebut tidak jadi menetas, dan telur tersebut akan busuk. – Untuk mendirikan pondok pesantren harus dijiwai dengan ikhlas dan guru-guru yang akan mengajar harus diseleksi tingkat keikhlasannya, sehingga tidak akan menularkan kepada santrinya ilmu yang tidak ikhlas dan seterusnya.

“Dan apabila diniati dengan hati yang ikhlas maka pondok pesantren tidak usah khawatir akan datangnya murid sebab Allah akan memproklamasikan/ mengumumkan kepada para malaikat untuk menanamkan kemantapan pada kaum muslimin.” Begitu jawaban Ust Hasan ketika ditanya sistem promosi apa yang dipakai pondok sehingga sangat cepat perkembangan santrinya dan berasal dari berbagai propinsi bahkan dari beberapa negara tetangga.

• – Putra para kyai dan para habaib khususnya yang memmpunyai pondok pesantren dan majlis ta’lim, hal ini dilakukan karena mereka sudah jelas ditunggu oleh ummat dan sebagai proses pengkaderan agar mereka bisa menjadi penerus orang tua mereka memimpin pondok pesantren.

– • • Putra-putra daerah yang disana jarang ada ulama/kyai/ustadz, sehingga diharapkan nanti bisa pulang kembali untuk berdakwah menyebarkan Islam dan merintis lembaga pendidikan/majlis ta’lim.

• • Putra aghniya, yang dengan masuknya putra mereka di pondok dengan beberapa pertimbangan diantaranya diharapkan perhatiannya terhadap Islam/pondok pesantren lebih besar dan sebagai wasilah masuknya dakwah kepada orang tua mereka, menyelamatkan harta mereka serta sebagai bentuk subsidi silang terhadap santri yang tidak mampu.

• • Putra-putri dari orang-orang yang pernah berjasa dalam perintisan pondok. Abuya Ust Hasan Baharun dikenal sangat supel dan luwes dalam menjalin hubungan dengan semua kalangan. Beliau mampu menjalin hubungan dan memelihara hubungan tersebut dengan baik hal ini terlihat bahwa beliau mampu melibatkan berbagai elemen masyarakat dalam perjuangan dan dakwah Islam serta mengajak mereka berpartisipasi dalam perintisan dan pembangunan pondok pesantren, baik habib hasan baharun tokoh masyarakat dari habib hasan baharun NU maupun tokoh-tokoh Muhammadiyah.

Dan di Pasuruan beliau secara aklamasi di tunjuk sebagai ketua MUI walaupun beliau memberikan syarat kalau pertemuan MUI harus di Pondok Darullughah Wdda’wah, hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Ust.

dikalangan para Ulama Pasuruan. Hal ini sangat wajar karena beliau juga selain hubungan pribadi juga beliau meluangkan waktunya untuk membantu mengajar bahasa Arab di berbagai pondok besar mulai dari Banyuwangi sampai ke Habib hasan baharun Tengah.

Adapun hubungan beliau dengan ulama-ulama luar negeri, terutama dengan ulama besar Timur Tengah sekilas dapat kami unkapkan sebagai berikut: • Hubungan dengan Abuya Sy. Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani Hubungan Abuya Ust. Hasan Baharun dengan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki bermula sejak beliau ditunjuk untuk menjadi penerjemah ceramah dalam kunjungan dan silaturrahmi Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur.

Abuya Sayyid Muhammad sangat tertarik dengan kemampuan Bahasa Arab dan Kepribadian Ust. Hasan Baharun sehingga setiap kunjungan ke Jawa Timur beliau menjadi langganan sebagai penerjemahnya.

Bahkan Abuya Ust. Hasan dipercaya untuk mengajar Bahasa Arab istri Abuya Sayyid Muhammad sebelum diajak ke Makkah Al-Mukarromah. Dengan pandangan hati Abuya memerintah Ust. Hasan untuk membuka pondok pesantren serta setelah perkembangan pondok cukup pesat beliau pula yang menyuruh habib hasan baharun pondok yang asalnya mengontrak rumah di Bangil agar pindah ke lokasi di Desa Raci Kecamatan Bangil (lokasi pondok sekarang) dan memberi dana pertama untuk membangun pondok Raci.

Selanjutnya Abuya Ust Hasan sering ke Mekkah berziarah ke kediaman beliau dan sekaligus untuk mencari dana. Sambutan yang luar biasa diberikan oleh Sayyid Muhammad dan beliau sendiri yang menulis surat kepada para aghniya/memberikan memo agar membantu pembangunan pondok Dalwa.

Menurut penuturan Abuya Ust. Hasan Baharun bahwa apabila beliau ke Makkah beliau memperlakukan dirinya sebagai santri Abuya Sayyid Muhammad dan mengakui bahwa Sayyid Muhammad adalah guru beliau di samping Al-Habib Abdul Qodir Bin Ahmad Assegaff.

Walaupun demikian Abuya Sayyid Muhammad memberikan penghormatan kepada Ust. Hasan sebagai ulama bahkan beliau diberi ruang khusus habib hasan baharun dilengkapi dengan telepon untuk memudahkan urusan. Dan untuk mempererat hubungan yang telah terjalin Abuya Ust Hasan mengirim putranya Al-Habib Zain Bin Hasan Baharun dan beberapa santri Dalwa untuk belajar pada Abuya Sayyid Muhammad serta beberapa Alumni Sayyid Muhammad yang di Jawa Timur oleh Ust Hasan diminta untuk mengajar di Ma’had Dalwa seperti Ust.

Ihya Ulumuddin, Ust Ahmad Bin Husin Assegaff, Ust. Abdul Hadi Surabaya, Ust. Sholeh Habib hasan baharun, Ust Muhammad Al-Haddad, Ust. Abdullah Mulahelah (Malang), Ust. Hilmi, Ust. Amir Syarifudin, Ust. Abdullah Habib hasan baharun, dan lain sebagainya. Demikian pula Abuya Sayyid Muhammad habib hasan baharun perhatian yang besar terhadap ma’had Dalwa selain para santrinya yang berasal dari kawasan Jawa Timur (Probolinggo, Pasuruan, Malang Sidoarjo, Surabaya dan Gresik) dianjurkan untuk mengajar di Ma’had Dalwa, beliau juga senantiasa memberikan bantuan dan mengawasi perkembangannya.

• Hubungan dengan Ulama Hadromaut Hubungan Ustadz Hasan Baharun dengan ulama Hadromaut bermula ketika beliau berziarah ke Hadromaut dan bertemu dengan para ulama disana. Melihat tradisi salaf dan keilmuan yang ada di Hadramaut maka beliau tertarik untuk mengirimkan santri-santrinya ke beberapa ribath (pondok) yang habib hasan baharun para masyayikh di sana.

Sehingga hubungan antara Ust. Hasan dengan para ulama Hadramaut Yaman semakin baik sampai kewafatan beliau bahkan diteruskan oleh penerusnya (Ust. Zain Hasan Baharun) sampai sekarang. Hubungan dengan Para Pejabat / Pemerintah Hubungan Ust. Hasan dengan para pejabat dilatar belakangi karena urusan lembaga pendidikan, sebab sebuah lembaga tidak akan bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan instansi dan pihak lain terutama dengan instansi pemerintah.

Oleh karena itu beliau menjalin kerjasama dengan pemerintah dalam kerangka kepentingan habib hasan baharun dan kepentingan dakwah serta perjuangan bukan termotivasi atas kepentingan pribadi.

Beliau mampu menempatkan diri sebagai ulama yang harus dalam posisi terhormat, berwibawa, perlu dimintai fatwa dan ditaati sarannya sehingga beliau tetap mulia walaupun ada tudingan miring yang diarahkan kepada beliau namun beliau dapat menunjukkan kedekatan dengan para pejabat semata-mata dalam rangka dakwah, hal ini terbukti bahwa posisinya sebagai ketua MUI sangat diperhitungkan.

Setiap Acara di Kabupaten Pasuruan layaknya kegiatan di pesantren, dan ada pemisahan antara putra-dan putri, serta acara di pendopo tidak akan dimulai kecuali beliau sudah datang ketempat acara. Bahkan ada yang bilang bahwa “Bupati Habib hasan baharun adalah Bupatinya Ust.

Hasan”. Sebuah contoh keberhasilan dakwah beliau di kalangan pejabat adalah mereka senantiasa berkonsultasi dan minta pendapat beliau apabila ada permasalahan di masyarakat. Dan juga beliau mampu menciptakan kegiatan-kegiatan keagamaan di beberapa instansi strategis misalnya dengan secara rutin mengadakan acara pengajian di Kantor Kodim, Habib hasan baharun taubat/tasbih secara rutin dengan pihak Kapolres yang melibatkan seluruh anggota Kapolsek se-Kabupaten Pasuruan.

Beliau dapat pula mengontrol setiap kebijakan publik yang ditetapkan pemerintah walaupun sulitnya bersikap, karena saat itu dominasi dan kuatnya pengaruh pemerintahan orde baru, namun Al-hamdulillah beliau mampu berkiprah semaksimal mungkin untuk kepentingan masyarakat dan kaum muslimin. Hubungan dengan Masyarakat Umum Disela-sela kesibukan yang sangat padat Ust.

Hasan Baharun sangat perhatian dengan masyarakat umum, terutama tokoh-tokoh masyarakat, apabila ada waktu beliau senantiasa menyempatkan diri bersilaturrahmi walaupun hanya sebentar dan beliau siap menerima segala keluhan masyarakat selama dua puluh empat jam bahkan seluruh lapisan masyarakat sangat mudah menemui beliau di kantor pondok karena sepanjang hari mulai pukul 02.00 malam sampai pukul 10 malam berada dikantor untuk melayani kepentingan santri, wali murid dan masyarakat umum.

Hal ini terbukti setiap hari dan setiap saat banyak masyarakat yang datang bersilaturrrahmi mulai yang datang untuk bertanya masalah hukum agama, minta barokah do’a, minta bantuan biaya sekolah, bantuan pembangunan masjid dan lembaga pendidikan dan sosial, minta biaya pengobatan bahkan ada beberapa yang secara rutin disuruh datang untuk mengambil jatah habib hasan baharun yang ditanggung oleh beliau.

habib hasan baharun

Perhatian Ust. Hasan Baharun terhadap Pengembangan dan Penyebaran Bahasa Arab Ust. Hasan Baharun mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap pengembangan dan pengembangan Bahasa Arab. Selain Beliau banyak mengarang kita-kitab yang berhubungan habib hasan baharun Bahasa Arab seperti Kamus Bahasa Dunia Al ‘Ashriyyah, Muhawarah Jilid I dan II, Qawa’idul I’rab, Kalimatul Asma’ Al Yaumiyyah dan Kalimatul Af’al Al Yaumiyyah, 40 Kaidah-kaidah Nahwu (Pengantar Ilmu Nahwu) serta beliau mewajibkan seluruh santri dan para guru untuk senantiasa menggunakan Bahasa Arab.

Disamping mengembangkan Bahasa Arab di pondok pesantren beliau sendiri, juga mengajar secara rutin di beberapa pondok pesantren, seperti di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus Sukorejo Situbondo, Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pondok Pesantren Langitan Tuban, dan di beberapa pondok pesantren lainnya mulai dari Banyuwangi sampai ke Jawa Tengah. Adapun bentuk perhatian beliau terhadap Bahasa Arab :antara Lain • Beliau sering mengisi seminar-seminar di berbagai perguruan tinggi dan pondok pesantren serta berbagai lembaga pendidikan untuk menjelaskan pentingnya Bahasa Arab.

• Mengirim beberapa guru dan santri untuk mengajar khusus Bahasa Arab di beberapa lembaga pendidikan Islam dan pondok pesantren. • Menerima dan mengadakan kursus Bahasa Arab secara gratis di Pondok Pesantren Darullughah yang terbuka untuk umum serta beliau menangani sendiri setiap ada rombongan kursus dari pondok-pondok dan perguruan tinggi.

• Senantiasa memberikan motivasi kepada para ulama/kyai untuk membiasakan berbahasa Arab.

habib hasan baharun

Dan menyarankan agar mewajibkan santrinya berbahasa Arab. • Senantiasa menyuruh guru-guru untuk mengarang hal-hal yang berhubungan dengan bahasa Arab. • Mengawasi guru-guru agar menerangkan pelajaran dengan bahasa Arab dan menegurnya apabila diketahui menjelaskan pelajaran di kelas dengan menggunakan bahasa selainnya. Cita – Cita Besar Ust. Hasan Baharun Beberapa bulan sebelum beliau wafat sering mengungkapkan habib hasan baharun besar beliau yaitu ingin membuat organisasi yang dapat menyatukan Ummat Islam.

Karena beliau berpendapat bahwa dengan persatuan Ummat Islam banyak hal yang bisa dilakukan. Bahkan ketika ada perrtemuan Ulama di Jakarta dan beliau berhalangan hadir beliau menitip surat kepada Ust Qosim Baharun yang mewakilinya untuk membacakan surat tersebut sebagai usulan dari beliau yaitu agar para ulama menggagas Organisasi Persatuan Habaib, Ulama, Kiyai, Santri dan para simpatisan dalam ikatan satu wadah non politik yang tujuannya murni untuk kepentingan Ummat Islam.

Bahkan beliau berjanji sanggup meninggalkan pondok dan menyerahkan urusan pondok kepada putranya Al-Habib Zain Baharun sedangkan beliau sendiri ingin bersilaturrrahmi ke para Ulama di seluruh nusantara untuk mensosialisasikan ide besar dan mulia tersebut. Sifat-Sifat Dan Kisah-Kisah Keteladanan Abuya Ust.

Hasan Baharun Beberapa sifat yang menonjol Ust. Hasan yang sudah sangat makruf di kalangan santri, dan guru-guru, kalangan habaib dan masyarakat yang sering berkomunikasi dengan beliau sebagai seorang figur ulama sebagai pewaris nabi betul-betul beliau mewarisi sifat-sifat sikap dan perjuangan Datuknya Al-Musthofa Nabi Muhammad SAW.

Dan Agar kita lebih jelas akan dipaparkan sifat-sifat tersebut serta contoh-contoh sebagian peristiwa serta kehidupan beliau sehingga kita dapat meniru sifat dan sikap keteladanan beliau yang juga senantiasa ditanamkan bagi santri-santrinya adalah sebagai berikut ; • Sabar Adapun salah satu sifat yang menonjol pada diri beliau adalah sifat sabar. Kesabaran Ust Hasan sangat dikenal oleh semua kalangan baik santri, dewan guru, pejabat dan orang-orang yang mengenal beliau, Sifat kesabarannya sangat luar biasa sebagaimana kesaksian dan cerita yang dilukiskan oleh Ayahandanya sendiri Al-Habib Ahmad bin Husein Baharun: “Hasan itu sangat sabar, kalau saya marahi walaupun dia tidak salah tidak pernah menjawab dan apabila difitnah dan diganggu orang tidak pernah membalas dan hanya kepada saya dia habib hasan baharun agar didoakan sehingga habib hasan baharun kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan dan fitnahan tersebut.“ Begitu menurut penuturan Hb.

Ahmad Baharun pada waktu Ust. Hasan menghadap ilahi. Kesabaran beliau sulit habib hasan baharun baik dalam membina dan membimbing santri serta menghadapi kenakalan santri dan orang-orang yang mengganggu pondok. Ust. Hasan dalam menghadapi orang-orang yang memfitnah dan mengganggu pondok justru mereka diberi hadiah dan berulang kali bahkan membantu urusan mereka seakan-akan beliau tidak tahu bahwa orang tersebut mengganggunya.

Suatu kisah pada waktu zaman reformasi ada orang datang memberi tahu kepada beliau bahwa dia akan membawa orang sebanyak 2-3 truk untuk menghancurkan dan membumi hanguskan rumah orang yang mengganggu pondok namun beliau malah mencegahnya karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah SAW. Adapun cerita-cerita tentang kesabaran Ust Hasan banyak sekali sehingga tidak mungkin untuk diungkapkan disini.

• Istiqomah Sifat Istiqomah Ust Hasan Baharun sudah tidak diragukan salah satu tanda dari sifat tersebut tercermin pada aktifitas beliau sehari-hari karena beliau bangun setiap pukul 02.00 malam kemudian Qiyamullail dan membangunkan santri dan Asatidzah pada pukul tiga malam bahkan untuk menjaga keistiqomahan tersebut mewajibkan santri yang menjaga malam di pintu gerbang untuk membangunkan tepat pukul dua malam dan di pos jaga tesebut tertulis diantara tugas/kewajiban penjaga malam wajib membangunkan Ust.

Hasan tepat pada pukul 02. 00 ( tidak boleh lebih atau kurang ). Suatu ketika beliau datang dari Makkah / Timur Tengah namun masih mampir di Jakarta karena masih ada urusan yang harus diselesaikan dan bermalam di salah satu rumah wali santri di Bekasi (di rumah Haji Yusuf) dan tampak tanda-tanda bahwa beliau dalam keadaan sangat lelah, maka untuk menjaga agar beliau tidak terlambat bangun beliau berpesan kepada H.

Yusuf untuk membangunkannya pada pukul 02.00 dan juga menelpon ke santri yang menjaga maktab agar mengingatkan Haji Yusuf supaya membangunkan tepat pukul 02.00 malam dan tidak cukup itu saja beliau masih memberi tahu ke pos jaga agar juga mengingatkan H.

Yusuf sebelum jam 02.00 untuk membangunkan Ust. Hasan. Begitulah salah satu contoh kesungguhan beliau dalam menjaga keistiqomahan tersebut. • Tawakkal Abuya Ust. Hasan mempunyai jiwa tawakkal yang luar biasa sebagai suatu gambaran dari sifat ketawakkalan beliau adalah bahwa ketika beliau mempunyai rencana untuk membangun gedung asrama santri berlantai tiga pada waktu awal-awal terjadinya krisis moneter dengan dana awal sekitar lima juta rupiah dan ketika sahabat beliau datang ke maktab mengungkapkan rencana tersebut barangkali bisa membantu, namun orang tersebut justru bertanya dengan nada terheran-heran: “Ya Ustadz, bagaimana dengan dana yang sedikit itu antum akan membangun bangunan sebesar itu?

Apalagi sekarang Indonesia dalam krisis moneter!” Kemudian apa kata beliau, “Ya Ustadz, yang krisis itu kan Indonesia, negara lain khan tidak! Apalagi Allah, apakah Allah kenal krisis moneter?” Sebuah umpan balik dan argumen yang luar biasa, kemudian beliau melanjutkan kata-katanya, “Kalau kita punya rencana maka kita jangan sekali-kali mengukur dengan kemampuan kita, apabila kitamengukur dengan kemampuan kita maka hasilnyapun Allah akan memberikan sesuai dengan kemampuan kita, tetapi apabila kita mengukur dengan kemampuan Allah maka kemampunnya tiada terbatas dan yakinlah bahwa selama kita berniat memperjuangkan Agama Allah bahwa Allah itu akan menolong kita,” Inilah diplomasi yang menggambarkan betapa tingginya tingkat ketawakkalan beliau.

Bahkan apabila mau membangun beliau justru menghabiskan segala uang yang tersisa dan membagikan kepada fakir miskin sebagi pancingan datangnya rahmat dan pemberian Allah dan beliau mengibaratkan orang mancing maka apabila pancing dan umpannya besar maka akan memperoleh ikan yang besar pula. Hal ini sering diungkapkan pula ketika ada panitia pembangunan masjid dan Lembaga Pendidikan Islam bahwa apabila berniat ingin membangun maka disarankan tidak perlu khawatir pembangunan tersebut tidak selesai dan menyuruhnya membongkar/ memulai pembangunan tersebut tanpa menunggu terkumpulnya dana untuk pembangunan karena menurut beliau bahwa pembangunan masjid dan LPI tersebut merupakan proyek Allah SWT.

dan Insya-Allah pasti selesai tinggal menata niat panitia serta berusaha semaksimal mungkin sebagai sunnatullah dan harus disertai dengan banyak berdo’a.” Begitulah saran-saran beliau kepada para takmir dan panitia yang datang minta saran dan sumbangan kepada beliau. • Dermawan dan Sangat Perhatian terhadap Fakir Miskin dan Anak Yatim Kedermawanan yang ada pada beliau tumbuh dan berkembang sejak beliau karena hal tersebut sudah ditanamkam oleh aba dan kakeknya sebagaimana kisah-kisah sebelumya sehingga beliau tumbuh dan berkembang mempunyai jiwa sosial terutama memiliki kepedulian kepada para ffakir-miskin dan anak yatim.

Bentuk kepedulian terhadap mereka diantaranya adalah bahwa kebiasaan belia habib hasan baharun hadiah pakaian hari raya, beras dan kebutuhan sehari-hari, membagikan daging kurban kepada para tetangga pondok, famili beliau yang tidak mampu, serta kepada orang-orang yang datang minta bantuan, mulai pengobatan sampai pada biaya sekolah anak-anak mereka kepada orang yang tak mampu.

• Ikhlas Sebagaimana sering diungkapkan oleh beliau dalam menasehati para santri dan para guru agar senantiasa menata niat dalam setiap tindakan dan amal yang akan dilakukan. Hal ini merupakan cerminan dari kepribadian beliau yang senantiasa menjadikan keikhlasan sebagai pondasi dari setiap amaliah yang beliau laksanakan, termasuk pendirian pondok. Sebagai sebuah bukti dari keikhlasan beliau ketika ada guru-guru yang mengusulkan agar membuat papan nama pondok di tepi jalan beliau tidak langsung mengabulkan permintaan tersebut.

Namun karena beberapa kali guru-guru tetap mengusulkan dengan alasan banyak wali santri yang tidak tahu lokasi pondok dan sering kesasar dan bingung mencari alamat pondok, baru tersebut dikabulkan tiga tahun sebelum beliau wafat.

Demikian pula beliau dalam rekrutmen/seleksi guru-guru, maka yang pertama kali dilihat adalah keikhlasannya. Para guru baru yang mau mengajar di pondok, diuji tingkat keikhlasannya, bahkan beliau tidak memperhatikan selama satu tahun.

Karena beliau berpendapat bahwa apabila gurunya tidak ikhlas akan menularkan ilmu yang tidak ikhlas pula. • Tawadlu’ Walaupun beliau sebagai ulama besar yang dihormati dan disegani, baik di dalam maupun di luar negeri, dan kebesaran beliau diakui oleh Sayyid Muhammad sehingga pada saat beliau datang ke Mekkah di majlis ta’lim Sayyid Muhammad diberikan kesempatan untuk memberikan sambutan / taujihat pada jamaah haji dan para ulama sedunia yang berkumpul di majlis tersebut, dan juga dalam acara haul Nabiyullah Nuh AS di Yaman beliau senantiasa mengelak ketika diminta untuk memberikan sambutan, tetapi pada kunjungan yang terakhir beliau mau memberikan sambutan namun tetap dengan sikap tawadlu’ beliau mengatakan bahwa tidak bermaksud memberikan nasehat kepada yang hadir yang kebanyakan terdiri dari para ulama dan auliya’, tetapi nasehat tersebut ditujukan untuk santri-santri beliau yang belajar di sana.

Beliau senantiasa menunjukkan sikap tawadlu’ dalam kehidupan sehari-hari dan sama sekali tidak menunjukkan bahwa beliau adalah orang besar. Siapapun tamu yang datang dilayani dengan ramah bahkan apabila menyajikan makanan beliau sering mengangkat sendiri sajian makanan dari dapur dan menyuguhkannya kepada para tamu. Diantara doa yang menunjukkan sikap dan sifat tawadlu’nya tersebut dengan senantiasa memanjatkan do’a agar beliau dan putra-putra serta murid-muridnya dijadikan orang-orang yang memiliki kebesaran tetapi tersembunyi ( minal masturiin).

• Kesederhanaan Pribadi Ust. Hasan Apabila orang bertemu dengan Ust. Hasan Baharun dan orang tersebut sebelumnya belum mengenal beliau maka orang tersebut tidak akan menyangka bahwa ust Hasan adalah Ulama besar yang sangat dihormati dan disegani karena beliau memang mempunyai penampilan yang sangat sederhana, pakaian yang dipakai sehari-hari di dalam pondok dan ketika keluar pondok biasa-bisa saja yaitu memakai gamis dan kopyah putih tanpa imamah dan rihda kecuali apabila beliau akan menyampaikan ceramah atau menghadiri majlispertemuan yang harus menampilkan sebagai sosok untuk menjaga kehormatan dan kebesaran serta kewibawaan Ulama.

Maka beliau akan berpakain lengkap dengan jubah kebesarannnya. Selain kesederhanaan dalam berpakaian beliau juga memiliki kesederhanaan dalam pola kehidupan sehari-hari, banyak orang yang tertarik dan menaruh simpati kepada beliau ketika membandingkan fasilitas pondok yang serba lengkap dan baik dengan rumah beliau yang atapnya rusak dan sering bocor karena tidak sempat untuk diperbaiki serta perabot rumah tangga yang semuanya serba biasa-biasa saja, hal ini sudsah menjadi pilihan beliau yang lebih terkonsentrasi memikirkan bagaimana memenuhi fasilitas santri.

habib hasan baharun. Kesaksian Habib Umar Bin Habib hasan baharun Hadhromaut Yaman “Ustadz Hasan adalah orang pertama yang membuka kembali hubungan habib hasan baharun Yaman dan Indonesia setelah terputus puluhan tahun lamanya dan beliau yang mulai mengirimkan santrinya untuk belajar di Yaman sehingga semua pahala orang yang belajar keYaman akan kembali pahalanya kepada Al-Alim Al-Allamah Adda’i Ilallah Al-Ustadz Hasan Baharun.” Demikian penuturan Habib Umar Bin hafidz di depan para santri dan ulama dalam ziarohnya di Pondok Raci 2 tahun setelah wafatnya Ust.

Hasan 5. Kesaksian Bupati Pasuruan (Bpk Dade Angga) “Walaupun Saya baru kenal terhadap Ust. Hasan seakan-akan sudah lama mengenalnya beliau itu ibarat, Saudara, teman, Orang tua dan Guru saya yang senatiasa menegur dan senantiasa memberikan nasihat yang sangat berharga.” Sumber: Ma’had Darullughah wadda’wah Artikel baru baru ini • Muhammad – Wāheshnā (Maher Zain) • Ya Habibal Qolbi • Roqqot ‘Ainaya (Assalamu ‘Alaika) • Assalamu ‘Alaik فى مولد شرف الأنام • THOLA’AL BADRU ‘ALAINA • Thoriq Khoiril Waro • Tanaqqolta Fii Ashlabi (Maulid Syaroful Anam Bagian 4) • Qouluhû Ta’ala Ya Ayyuhannabiyyu (Maulid Syaroful Anam Bagian 3) • Bisyahri Robii’in Qod Badaa (Maulid Syaroful Anam Bagian 2) • Alhamdulillahilladzii Syarrofal Anama (Maulid Syaroful Anam Bagian 1) • Qosidah Man Ana • Ya Rosulallah Ya Ahlal Wafa • Qomarun Sidnan Nabi • Sekilas Profil Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Habsyi; dari Yang Muda Yang Berdakwah • Ashsholatu ‘Alal Mudhollal
Habib Hasan Baharun Habib Hasan bin Ahmad Baharun, adalah seorang Ulama yang lahir di Pulau Kecil Madura, tepatnya di Sumenep pada 11 Juni 1934.

Beliau dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah yang terletak di Desa Raci, Bangil, Pasuruan Jawa Timur. Habib Hasan bin Ahmad Baharun merupakan putra pertama dari empat bersaudara dari pasangan Habib Ahmad habib hasan baharun Husein bin Thohir bin Umar Baharun dengan Fathmah binti Bakhabazi. Sejak masih kecil, Beliau sudah ditanamkan kedisiplinan dan kesederhanaan habib hasan baharun kedua orang tuanya hingga mengantarkan Habib Hasan menjadi sosok yang berakhlaq tinggi dan pribadinya dipenuhi sifat-sifat terpuji.

Pendidikan Habib Hasan Baharun Selain mendapat didikan langsung dari kedua orangtuanya, Habib Hasan juga menempuh pendidikan dasar di Madrasah Makarimal Akhlaq, Sumenep. Beliau juga berguru pada sang kakek, yaitu Ustadz Ahmad bin Muhammad Bakhabazi.

Habib Hasan juga menimba ilmu dari paman-pamannya sendiri seperti, Ustadz Ustman bin Ahmad Bakhabazi dan Umar bin Ahmad Bakhabazi. Selepas menamatkan Madrasah, Habib Hasan melanjutkan pendidikan ke PGA di Sumenep, namun hanya sampai kelas 4. Beliau kemudian melanjutkan sekolah menengah (SMEA) di Surabaya. Di kota pahlawan itu, Beliau juga berguru pada Habib Umar Ba’agil. Selain belajar ilmu agama, Habib Hasan sejak usia remaja telah menjadi seorang aktivis gerakan keislaman.

Beliau aktif di Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) dan Pandu Fatah Al-Islam di Sumenep. Da’wah Habib Hasan Baharun Setamat dari SMEA, Beliau mengikuti ayahnya berdakwah dan sembari berdagang ke Pulau Masalembu.

Keluarga ustadz Hasan Baharun dikenal sebagai keluarga yang ramah dan suka membantu siapa saja. Apabila ada orang yang tidak mampu membayar hutangnya, maka disuruh membayar semampunya, bahkan tak jarang dibebaskan dari seluruh hutang-hutangnya. Tahun 1966, Beliau merantau ke Pontianak dan mulai berdakwah dari satu desa ke desa yang lainnya. Uniknya, selama berdakwah ia selalu membawa seperangkat pengeras suara agar tidak merepotkan masyarakat dan kebetulan saat itu alat pengeras suara masih sangat langka.

Ia juga membawa tabir (kain pemisah) untuk menghindari terjadinya ikhtilat (pencampuran) antara laki-laki dan perempuan dalam setiap pertemuan yang ia selenggarakan.

Selain berdakwah, Habib Hasan aktif di partai Nahdlatul Ulama. Ia dikenal sebagai juru kampanye (jurkam) yang berani dan tegas dalam menyampaikan kebenaran. Sehingga, ia sempat diperiksa dan ditahan oleh aparat keamanan. Pada saat itu, masyarakat akan melakukan demostrasi besar-besaran apabila tidak dikeluarkan.

Atas jaminan dan bantuan salah satu habib hasan baharun, akhirnya Habib Hasan dibebaskan. Sekitar tahun 1970, atas permintaan dan perintah dari ibunya ia pulang ke Madura. Namun, ia masih sempat berdakwah ke Pontianak dan mengajar bahasa arab di Pesantren Gondanglegi (Malang).

habib hasan baharun

Selain itu, habib hasan baharun juga mengajar di pondok pesantren Sidogiri (Pasuruan), Salafiyah Asy-Syafi’iyah (Asembagus, Situbondo), Langitan (Tuban) dan lain-lain. Kecintaan Habib Hasan Bahrun terhadap Bahasa Arab Habib Hasan bin Ahmad Baharun dari masa mudanya telah memiliki rasa cinta untuk menyebarluaskan bahasa Arab.

Niat beliau tidak lain adalah kecintaan dan menjalankan perintah Nabi Muhammad saw sebagaimana sabdanya, ”Belajarlah kalian bahasa Arab dan ajarkanlah kepada umat manusia.” Sumbangsih Habib Hasan terhadap dunia Bahasa Arab bisa kita lihat dalam karya–karya tulisnya, antara lain Kamus Al-‘Ashriyah (Kamus Modern), Kitab Muhawarah I, Kitab Muhawarah II, Al-Af’al Al-Yaumiyyah dan Al-Asma Ál-Yaumiyyah.

Kitab-kitab yang dikarangnya itu merupakan kitab-kitab yang cukup populer di dunia pesantren dan perguruan tinggi Islam. Dari Kecintaan Habib Hasan Baharun terhadap Bahasa Arab akhirnya Habib Hasan bin Ahmad Baharun mendirikan pesantren tepatnya pada tahun 1982.

Awalnya ada 6 orang santri habib hasan baharun belajar di rumah sewa di Kota Bangil, Kabupaten Pasuruan. Dengan sarana dan prasarana yang sangat sederhana para santri tersebut dibina langsung olehnya dan Habib Ahmad As-Saqqaf.

Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1983 membuka atau menerima santri putri yang berjumlah 16 orang yang bertempat di daerah yang sama. Keadaan (tempat pondok pesantren) terus berpindah-pindah tempat dan sampai 11 kali kontrak rumah hingga tahun 1984. Dengan jumlah santri yang terus berkembang serta tempat (rumah sewa) tidak dapat menampung jumlah santri, maka pada tahun 1985 Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah pindah ke sebuah desa yang masih jarang penduduknya dan belum ada sarana listrik, tepatnya di Desa Raci, Kecamatan Bangil.

Jumlah santri pada waktu itu sebanyak 186 orang santri yang terdiri dari 142 orang santri putra dan 48 orang santri putri (sekarang sekitar 7500 Santri & santriwati pada tahun 2017).

Setelah Ustad Hasan bin Ahmad Baharun wafat pada 8 Shafar 1420 H atau 23 Mei 1999, pondok ini kemudian disasuh oleh salah satu anaknya, yakni Habib Zain bin Hasan bin Ahmad Baharun yang merupakan murid asuhan Almarhum Buya Habib Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki.

Hingga saat ini lahan yang ada telah mencapai kurang lebih 4 Ha dan telah hampir terisi penuh oleh bangunan sarana pendidikan dan asrama santri dengan jumlah santri sekitar 1500 yang berasal dari 30 propinsi di Indonesia, negara-negara Asia Tenggara dan Saudi Arabia. Santri-santri dibina oleh tidak kurang 100 orang guru dengan lulusan/alumni dalam dan luar negeri.

Ditambah dengan pembantu yang diikutkan belajar sebanyak sekitar 95 orang. Sebelum Habib Hasan Baharun Wafat, beliau juga selalu menasehati santri-santrinya untuk selalu berbicara bahasa arab dengan niat mengikuti (ittiba’) dan meneruskan bahasa yang keluar dari mulut Nabi Muhammad SAW.

Karena bahasa arab adalah bahasa Al-Qur’an yang suci dan bahasa ahli surga. Semangatnya dalam mensyiarkan bahasa Arab tertanam sejak berusia muda. Ia selalu berpindah-pindah dari pesantren ke pesantren lain, dari madrasah ke madrasah lain. Beliau selalu memperkenalkan kepada para pelajar cara belajar bahasa arab dengan mudah dan gampang di mengerti serta di pahami terutama bagi para pemula. Dalam pengajaran nya beliau selalu memperkenalkan yang pertama kali habib hasan baharun isim, fiil dan huruf.

Beliau selalu berkata,” Bahwa bahasa arab tidak keluar dari tiga unsur diatas, itu semua dilakukan agar orang-orang gemar dan tidak merasa sulit dalam belajar bahasa Arab.” “Semoga kita bisa mengambil Hikmah dari Profil singkat Habib Hasan BaharunAmin – Ayo Santri” Dikutip dari alhabibsegafbaharun.com (red/ Zaini Makki) • Click to share on Twitter (Opens in new window) • Click to share on Facebook (Opens in new window) • Click to share on WhatsApp (Opens in habib hasan baharun window) • Click to share on Telegram (Opens in new window) • Posted in Artikel, Dalwa Dalwa Habib Hasan Baharun Habib Segaf Baharun Habib Zein Baharun Profil Habib Hasan Baharun Post navigationKonten Spesial Tak Tayang di TV, Ini Link Nonton Streaming Atletico vs Madrid LaLiga LIVE beIN Sport Link Nonton Streaming Atletico Madrid vs Madrid LIVE LaLiga Di beIN Sports Senin 9 Mei dini hari Cara Nonton Arsenal vs Leeds Link LIVE Streaming LIGA INGGRIS Di HP Via MolaTV Malam ini CEK Habib hasan baharun Streaming LIGA INGGRIS Man City vs Newcastle LIVE MolaTV Malam ini, Minggu 8 Mei 2022 Cara Nonton Streaming Liverpool vs Tottenham LIGA INGGRIS Di HP, Ada 3 Link LIVE GRATIS Darullughah Waddakwah, nama pesantren yang didirkan oleh Habib hasan bin Ahmad Baharun, sosok ulama kharismatik yang kini memiliki ribuan pesantren dari seluruh penjuru nusantara.

Siapakah sosok Habib hasan Baharun? berikut ini kami bagikan profil beliau. Tempat Lahir Habib Hasan Baharun Habib Hasan bin Ahmad Baharun, adalah seorang Ulama yang lahir di Pulau Kecil Madura, tepatnya di Sumenep pada 11 Juni 1934.

Beliau dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah yang terletak di Desa Raci, Bangil, Pasuruan Jawa Timur. Habib Hasan bin Ahmad Baharun merupakan putra pertama dari empat bersaudara dari pasangan Habib Ahmad bin Husein bin Thohir bin Umar Baharun dengan Fathmah binti Bakhabazi.

Sejak masih kecil, Beliau sudah ditanamkan kedisiplinan dan kesederhanaan oleh kedua orang tuanya hingga mengantarkan Habib Hasan menjadi sosok yang berakhlaq tinggi dan pribadinya dipenuhi sifat-sifat terpuji. Jejak Pendidikan Habib Hasan Baharun Selain mendapat didikan langsung dari kedua orangtuanya, Habib Hasan juga menempuh pendidikan dasar di Madrasah Makarimal Akhlaq, Sumenep. Beliau juga berguru pada sang kakek, yaitu Ustadz Ahmad bin Muhammad Bakhabazi.

Habib Hasan juga menimba ilmu dari paman-pamannya sendiri seperti, Ustadz Ustman bin Ahmad Bakhabazi dan Umar bin Ahmad Bakhabazi. Selepas menamatkan Madrasah, Habib Hasan melanjutkan pendidikan ke PGA di Sumenep, namun hanya sampai kelas 4. Beliau kemudian melanjutkan sekolah menengah (SMEA) di Surabaya. Di kota pahlawan itu, Beliau juga berguru pada Habib Umar Ba’agil. Selain belajar ilmu agama, Habib Hasan sejak usia remaja telah menjadi seorang aktivis gerakan keislaman.

Beliau aktif di Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) dan Pandu Fatah Al-Islam di Sumenep. Perjalanan Da’wah Habib Hasan Baharun Setamat dari SMEA, Beliau mengikuti ayahnya berdakwah dan sembari berdagang ke Pulau Masalembu. Keluarga ustadz Hasan Baharun dikenal sebagai keluarga yang ramah dan suka membantu siapa saja. Apabila ada orang yang tidak mampu membayar hutangnya, maka disuruh membayar semampunya, bahkan tak jarang dibebaskan dari seluruh hutang-hutangnya.

Tahun 1966, Beliau merantau ke Pontianak dan mulai berdakwah dari satu desa ke desa yang lainnya. Uniknya, selama berdakwah ia selalu membawa seperangkat pengeras suara agar tidak merepotkan masyarakat dan kebetulan saat itu alat pengeras suara masih sangat langka.

Ia juga membawa tabir (kain pemisah) untuk menghindari terjadinya ikhtilat (pencampuran) antara laki-laki dan perempuan dalam setiap pertemuan yang ia selenggarakan.

Selain berdakwah, Habib Hasan aktif di partai Nahdlatul Ulama. Ia dikenal sebagai juru kampanye (jurkam) yang berani dan tegas dalam menyampaikan kebenaran.

Sehingga, ia sempat diperiksa dan ditahan oleh aparat keamanan. Pada saat itu, masyarakat akan melakukan demostrasi besar-besaran apabila tidak dikeluarkan. Atas jaminan dan bantuan salah satu pamannya, akhirnya Habib Hasan dibebaskan.

Sekitar tahun 1970, atas permintaan dan perintah dari ibunya ia pulang ke Madura. Namun, ia masih sempat berdakwah ke Pontianak dan mengajar bahasa arab di Pesantren Gondanglegi (Malang).

Selain itu, ia juga mengajar di pondok pesantren Sidogiri (Pasuruan), Salafiyah Asy-Syafi’iyah (Asembagus, Situbondo), Langitan (Tuban) dan lain-lain. Karya Habib Hasan Bahrun Tentang Bahasa Arab Habib Hasan bin Ahmad Baharun dari masa mudanya telah memiliki rasa cinta untuk menyebarluaskan bahasa Arab Niat beliau tidak lain adalah kecintaan dan menjalankan perintah Nabi Muhammad saw sebagaimana sabdanya, ”Belajarlah kalian bahasa Arab dan ajarkanlah kepada umat manusia.” Baca Juga : Dalil Muslim, Kitab Wirid dan Doa Susunan Habib Hasan Baharun Sumbangsih Habib Hasan terhadap dunia Bahasa Arab bisa kita lihat dalam karya–karya tulisnya, antara lain: • Kamus Al-‘Ashriyah (Kamus Modern), • Kitab Muhawarah I, • Kitab Muhawarah II, Al-Af’al Al-Yaumiyyah • Al-Asma Ál-Yaumiyyah.

Kitab-kitab yang dikarangnya itu merupakan kitab-kitab yang cukup populer di dunia pesantren dan perguruan tinggi Islam.

Sejarah Singkat Pendirian Pesantren Dalwa Dari Kecintaan Habib Hasan Baharun terhadap Bahasa Arab akhirnya Habib Hasan bin Ahmad Baharun mendirikan pesantren tepatnya pada tahun 1982. Maktab PP Dalwa, Foto; Istimewa Awalnya ada 6 orang santri yang belajar di rumah sewa di Kota Bangil, Kabupaten Pasuruan. Dengan sarana dan prasarana yang sangat sederhana para santri tersebut dibina langsung olehnya dan Habib Ahmad As-Saqqaf. Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1983 membuka atau menerima santri putri yang berjumlah 16 orang yang bertempat di daerah yang sama.

Keadaan (tempat pondok pesantren) terus berpindah-pindah tempat dan sampai 11 kali kontrak rumah hingga tahun 1984. Dengan jumlah santri yang terus berkembang serta tempat (rumah sewa) tidak dapat menampung jumlah santri, maka pada tahun 1985 Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah pindah ke sebuah desa yang masih jarang penduduknya dan belum ada sarana listrik, tepatnya di Desa Raci, Kecamatan Bangil.

Jumlah santri pada waktu itu sebanyak 186 orang habib hasan baharun yang terdiri dari 142 orang santri putra dan 48 orang santri putri (sekarang sekitar 7500 Santri & santriwati pada tahun 2017).

Setelah Ustad Hasan bin Ahmad Baharun wafat pada 8 Shafar 1420 H atau 23 Mei 1999, pondok ini kemudian disasuh oleh salah satu anaknya, yakni Habib Zain bin Hasan bin Ahmad Baharun yang merupakan murid asuhan Almarhum Buya Habib Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki. Hingga saat ini lahan yang ada telah mencapai kurang lebih 4 Ha dan telah hampir terisi penuh oleh bangunan sarana pendidikan dan asrama santri dengan jumlah santri sekitar 1500 yang berasal dari 30 propinsi di Indonesia, negara-negara Asia Tenggara dan Saudi Arabia.

Santri-santri dibina oleh tidak kurang 100 orang guru dengan lulusan/alumni dalam dan luar negeri. Ditambah dengan pembantu yang diikutkan belajar sebanyak sekitar 95 orang. Sebelum Habib Hasan Baharun Wafat, beliau juga selalu menasehati santri-santrinya untuk selalu berbicara bahasa arab dengan niat mengikuti (ittiba’) dan meneruskan bahasa yang keluar dari mulut Nabi Muhammad SAW.

Karena bahasa arab adalah bahasa Al-Qur’an yang suci dan bahasa ahli surga. Semangatnya dalam mensyiarkan bahasa Arab tertanam sejak berusia muda. Ia selalu berpindah-pindah dari pesantren ke pesantren lain, dari madrasah ke madrasah lain. Beliau selalu memperkenalkan kepada para pelajar cara belajar bahasa arab dengan mudah dan gampang di mengerti serta di pahami terutama bagi para pemula.

Dalam pengajaran nya beliau selalu memperkenalkan yang pertama kali adalah: isim, fiil dan huruf. Beliau selalu berkata,” Bahwa bahasa arab tidak keluar dari tiga unsur diatas, itu semua dilakukan agar orang-orang gemar dan tidak merasa sulit dalam belajar bahasa Arab.” “Semoga kita bisa mengambil Hikmah dari Profil singkat Habib Hasan Baharun, Amin – Ayo Santri” Membaca sejarah para ulama, termasuk Sejarah Habib hasan Baharun ini diharapkan dapat kita jadikan teladan, khususnya di masa yang krisis dengan keteladanan ini.

semoga bermanfaat. Disarikan dari alhabibsegafbaharun.com
• Sholawat Busyro, Teks dan. Salah satu putra Habib Hasan Baharun mendapatkan ijazah. 688 views - by Admin • Buku Buku Karya Tulis Dr. Buku Buku Karya Tulis Dr. Habib Segaf Baharun Beriku. 368 views - by Admin • Biografi Dr. KH. Habib Se. ini adalah Biografi Dr. KH. Habib Segaf bin Hasan bin A. 329 views - by Admin • Dr Habib Segaf Baharun be. Habib hasan baharun Habib Segaf Baharun Berucap "Foto kenangan yg san.

202 views - by Admin • Unsur Unsur Sifat Manusia Unsur Unsur Sifat Manusia 183 views - by Admin

Habib Hasan Baharun & Semangat Dakwah beliau




2022 www.videocon.com