Bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial

bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial

Bertema.com – Indikator Penilaian Sikap Spiritual dan Sikap Sosial dalam kurikulum 2013. Penilaian sikap merupakan kegiatan untuk mengetahui kecenderungan perilaku spiritual dan sosial peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Penilaian tersebut dilakukan baik di dalam maupun di luar kelas sebagai hasil pendidikan. Adapun tujuannya adalah untuk mengetahui capaian/perkembangan sikap peserta didik dan memfasilitasi tumbuhnya perilaku peserta didik. Perilkau tersebut sesuai dengan butir-butir nilai sikap dari KI-1 dan KI-2. Dalam pelaksanaannya penilaian sikap dilakukan dengan teknik observasi atau teknik lainnya yang relevan.

Teknik penilaian observasi dapat menggunakan instrumen berupa lembar observasi, atau buku jurnal. Indikator Penilaian Sikap Spiritual dan Sikap Sosial dalam Kurikulum 2013. Selain itu teknik penilaian lain yang dapat digunakan adalah penilaian diri dan penilaian antarteman. Penilaian diri dan penilaian antarteman dapat dilakukan dalam rangka pembinaan dan pembentukan karakter peserta didik. Hasil penilaian diri dan penilaian antarteman digunakan sebagai salah satu data konfirmasi dari hasil penilaian sikap oleh pendidik.

Penilaian sikap tidak hanya menjadi tanggung jawab guru mata pelajaran Pendidikan Agama Budi Pekerti (PABP) dan PPKn saja. Melainkan semua guru mata pelajaran wajib melakukan penilaian sikap terhadap perkembangan sikap spiritual dan sosial peserta didik. Langkah yang harus ditempuh dalam penilaian sikap adalah melakukan perencanaan. Perencanaan diawali dengan mengidentifikasi sikap yang ada pada KI-1 dan KI-2 serta sikap yang diharapkan sesuai yang tercantum dalam KTSP.

Sikap spiritual dan sikap sosial yang dinilai guru mata pelajaran selain PABP dan PPKn adalah sikap yang muncul secara alami. Baca Juga: • Teknik Observasi dalam Penilaian Sikap Kurikulum 2013 • Prinsip-Prinsip Penilaian dalam Kurikulum 2013 • Penilaian Kelas dalam Implementasi Kurikulum 2013 • Pendekatan Penilaian dalam Kurikulum 2013 • Cara memberi Nilai Hasil Remedial Berikut ini adalah contoh sikap spiritual yang dapat digunakan dan dinilai pada semua mata pelajaran: a) berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan.

b) menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya. c) memberi salam pada saat awal dan akhir kegiatan. d) bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa. e) mensyukuri kemampuan manusia dalam mengendalikan diri. f) bersyukur ketika berhasil mengerjakan sesuatu. g) berserah diri (tawakal) kepada Tuhan setelah berusaha.

h) memelihara hubungan baik sesama umat ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. i) bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai bangsa Indonesia.

bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial

j) menghormati orang lain yang menjalankan ibadah sesuai agamanya. Berikut ini adalah contoh indikator sikap sosial untuk semua mata pelajaran: a) Jujur, merupakan perilaku dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, misalnya: • tidak menyontek dalam mengerjakan ujian atu ulangan.

• tidak menjadi plagiat. • mengungkapkan perasaan apa adanya. • menyerahkan barang yang ditemukan kepada yang berwenang.

• membuat laporan berdasarkan data. • mengakui kesalahan atau kekurangannya. b) Disiplin, merupakan tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan, misalnya: • datang tepat waktu. • patuh terhadap tata tertib sekolah; • mengumpulkan tugas sesuai tepat waktu.

c) Tanggung jawab, merupakan sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajiban yang seharusnya dilakukan. Baik terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, negara dan Tuhan Yang Maha Esa, misalnya: • melaksanakan tugas individu dengan baik.

• menerima resiko dari tindakan yang dilakukan. • tidak menyalahkan/menuduh orang lain tanpa bukti. • mengembalikan barang yang dipinjam. • mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan. • menepati janji. • tidak menyalahkan orang lain. • melaksanakan apa yang pernah dikatakan. Indikator Penilaian Sikap Spiritual dan Sikap Sosial dalam kurikulum 2013 d) Santun, merupakan sikap baik dalam pergaulan maupun bertingkah laku, misalnya: • menghormati orang yang lebih tua.

• tidak berkata-kata kotor, kasar, dan takabur. • bersikap 3 S (salam, senyum, sapa). • tidak menyela pembicaraan orang lain. • mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan orang lain. • tidak meludah di sembarang tempat. • meminta ijin ketika akan memasuki ruangan orang lain atau menggunakan barang milik orang lain.

• memperlakukan orang lain dengan santun. e) Percaya diri, merupakan keyakinan atas kemampuannya sendiri untuk melakukan kegiatan atau tindakan, misalnya: • berpendapat atau melakukan kegiatan tanpa ragu. • mampu membuat keputusan dengan tepat. • tidak mudah putus asa. • tidak canggung dalam bertindak. • berani presentasi di depan kelas. • berani berpendapat, bertanya, atau menjawab pertanyaan. f) Peduli, merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah dan memperbaiki penyimpangan, misalnya: • membantu orang yang memerlukan.

• tidak melakukan aktivitas yang mengganggu orang lain. • melakukan aktivitas sosial untuk membantu orang lain. • memelihara lingkungan sekolah. • membuang sampah pada tempatnya. • mematikan kran air. • mematikan lampu yang tidak digunakan. • tidak merusak tanaman di lingkungan sekolah Sekolah dapat mengembangkan indikator untuk setiap butir sikap dapat dikembangkan sesuai keperluan satuan pendidikan.

Penentuan teknik penilaian sikap harus diikuti dengan penentuan instrumen penilaian. Pendidik dapat memilih jurnal sebagai instrumen penilaian atau instrumen lain yang relevan. Demikianlah ulasan Indikator Penilaian Sikap Spiritual dan Sikap Sosial dalam kurikulum 2013, yang admin sarikan dari Modul Implementasi Kurikulum 2013. MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) 8.3.

Sebarkan ini: Keterampilan berbahasa mencakup empat kegiatan yang meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan menulis dan keterampilan membaca. Salah satu kegiatan yang paling penting namun sering ditinggalkan ialah kegiatan keterampilan menyimak.

Kegiatan menyimak saling berhubungan dengan satu sama lain. Menyimak adalah kegiatan meresepsi, mengolah serta menginterpretasi suatu permsalahan dengan melibatkan pancaindera seseorang. Menyimak berhubungan dan bermanfaat dengan menyimak dan berbicara, menyimak dan membaca, berbicara dan membaca serta ekspresi lisan dan ekspresi tulis.

Pengertian Menyimak Menurut Para Ahli Berikut ini terdapat beberapa pengertian menyimak yang dikemukakan oleh para ahli yang diantaranya yaitu: • Menurut H.

G. Tarigan Menyimak ialah suatu bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh infomasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.

• Menurut Anderson Menyimak sebagai proses besar mendengarkan, mengenak serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan. • Menurut Russel & Russel 1959 Menyimak bermakna mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian serta apresiasi. • Menurut Drs. Hanapi Natasasmita Menyimak ialah mendengar secara khusu dan terpusat pada objek yang disimak. • Menurut Djago Tarigan Menyimak dapat didefinisikan sebagai suatu aktifitas yang mencakup kegiatan mendengar dari bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilik dan mereaksi atas makna yang terkandung dalam bahan simakan.

Fungsi Menyimak Berikut ini terdapat beberapa fungsi dalam melaksanakan kegiatan menyimak yang diantaranya yaitu: • Membuat hubungan antar pribadi lebih efektif. • Memperoleh informasi yang ada hubungan atau sangkut pautnya dengan pekerjaan atau profesi. • Dapat memberikan respon yang tepat. • Mengumpulkan data agar dapat membuat keputusan-keputusan yang masuk akal. Tujuan Menyimak • Menyimak untuk belajar • Menyimak untuk menikmati bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial audial • Menyimak untuk mengevaluasi • Menyimak untuk mengapresiasi materi simakan • Menyimak untuk mengkomunikasikan ide-ide • Menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi • Menyimak untuk memecahkan masalah • Menyimak untuk meyakinkan Adapun menurut Bunga Ayesha dalam modul hakikat menyimak ialah: • Mendapat fakta • Mengevaluasi fakta • Menganalisis fakta • Mendapatkan inspirasi • Menghibur diri • Meningkatkan kemampuan berbicara Jadi, tujuan menyimak secara umum, sebagai berikut: • Menyimak untuk belajar dimana orang tersebut bertujan agar ia dapat memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran sang pembicara.

• Menyimak untuk menikmati dimana orang yang menyimak dengan penekanan pada penikmatan terhadap sesuatu dari materi yang diujarkan atau diperdengarkan atau dipagelarkan (teruatama sekali dalam bidang seni) • Menyimak untuk mengevaluasi dimana orang menyimak dengan maksud agar ia dapat menilai apa-apa yang dia simak (baik-buruk, indah-jelek, tepat-ngawur, logis-tidak logis, dan lain-lain) • Menyimak untuk mengapresiasi dimana orang yang menyimak dapat menikmati seta menghargai apa-apa yang disimaknya itu (misalnya: pembacaan berita, puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi panel, dan pendebatan) • Menyimak untuk mengkomunikasikan ide-ide dimana orang yang menyimak bermaksud agar ia dapat menkomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, maupun perasaan-perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat.

• Menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi dimana orang yang menyimak bermaksud agar dia dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat; mana bunyi yang membedaskan arti (distingtif), mana bunyi yang tidak membedakan arti; biasanya ini terlihat pada seseorang yang sedang belajar bahasa asing yang asik mendengarkan ujaran pembicara asli (native speaker) • Menyimak untuk memecahkan masalah dimana orang yang menyimak bermaksud agar dia dapat bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial masalah secara kreatif dan analisis, sebab dari sang pembicara dia mungkin memperoleh banyak masukan berharga.

• Menyimak untuk meyakinkan dimana orang yang menyimak untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang selama ini dia ragukan. Jenis-Jenis Menyimak Berikut ini terdapat beberapa jenis-jenis menyimak, sebagai berikut: Jenis – Jenis Menyimak Adapun jenis-jenis menyimak dalam pembelajaran Bahasa Indonesia (Sutari, 1998: 47) adalah sebagai berikut: • Menyimak ekstensif ( extensive listening) Menyimak ekstensif ( extensive listening)adalah sejenis kegiatan menyimak yang berhubungan dengan hal-hal lebih umum dan lebih bebasterhadap sesuatu bahasa, tidak perlu di bawah bimbingan langsung seorang guru.

Penggunaan yang paling mendasar ialah untuk menyajikan kembali bahan yang telah diketahui dalam suatu lingkungan baru dengan cara yang baru. Selain itu, dapat pula murid dibiarkan mendengar butir-butir kosakata dan struktur-struktur yang baru bagi murid yang terdapat dalam arus bahasa yang ada dalam kapasitasnya untuk menanganinya.Pada umumnya, sumber yang paling baik untuk menyimak ekstensif adalah rekaman yang dibuat guru sendiri, misalnya rekaman yang bersumber dari siaran radio, televisi, dan sebagainya.

• Menyimak intensif ( intensive listening) Menyimak intensif adalah menyimak yang diarahkan pada suatu yang jauh lebih diawasi, dikontrol, terhadap suatu hal tertentu.Dalam hal ini harus diadakan suatu pembagian penting yaitu diarahkan pada butir-butir bahasa sebagai bagian dari program pengajaran bahasa atau pada pemahaman serta pengertian umum.Jelas bahwa dalam kasus yang kedua ini maka bahasa secara umum sudah diketahui oleh para murid.

• Menyimak sosial ( social listening Menyimak sosial ( social listening)atau menyimak konversasional ( conversational listening) ataupun menyimak sopan ( courtens listening) biasanya berlangsung dalam situasi-situasi sosial tempat orang mengobrol mengenai hal-hal yang mrenarik perhatian semua orang dan saling mendengarkan satu sama lain untuk membuat respons-repons yang pantas, mengikuti detail-detail yang menarik, dan memerhatikan perhatian yang wajar terhadap apa-apa yang dikemukakan, dikatakan oleh seorang rekan.Dengan perkataan lain dapat dikemukakan bahwa menyimak sosial paling sedikit mencakup dua hal, yaitu perkataan menyimak secara sopan santun dengan penuh perhatian percakapan atau konversasi dalam situasi-situasi sosial dengan suatu maksud.

Dan kedua mengerti serta memahami peranan-peranan pembicara dan menyimak dalam proses komunikasi tersebut. • Menyimak sekunder ( secondary listening) Menyimak sekunder ( secondary listening)adalah sejenis kegiatan menyimak secara kebetulan dan secara ekstensif ( casual listening dan extensive listening) misalnya, menyimak pada musik yang mengirimi tarian-tarian rakyat terdengar secara sayup-sayup sementara kita menulis surat pada teman di rumah atau menikmati musik sementara ikut berpartisipasi dalam kegiatan tertentu di sekolah seperti menulis, pekerjaan tangan dengan tanah liat, membuat sketsa dan latihan menulis dengan tulisan tangan.

• Menyimak estetik ( aesthetic listening) Menyimak estetik ( aesthetic listening)disebut juga menyimak apresiatif ( apreciational listening) adalah fase terakhir dari kegiatan menyimak secara kebetulan dan termasuk ke dalam menyimak ekstensif, mencakup dua hal yaitu pertama menyimak musik, puisi, membaca bersama, atau drama yang terdengar pada radio atau rekaman-rekaman.

Kedua menikmati cerita-cerita, puisi, teka-teki, dan lakon-lakon yang diceritakan oleh guru atau murid-murid. • Menyimak kritis ( critical listening) Menyimak kritis ( critical listening)adalah sejenis kegiatan menyimak yang di dalamnya sudah terlihat kurangnya atau tiadanya keaslian ataupun kehadiran prasangka serta ketidaktelitian yang akan diamati. Murid-murid perlu banyak belajar mendengarkan, menyimak secara kritis untuk memperoleh kebenaran.

• Menyimak konsentratif ( consentrative listening) Menyimak konsentratif ( consentrative listening) sering juga disebut study-type listening atau menyimak yang merupakan jenis telaah. Kegiatan-kegiatan tercakup dalam menyimak konsentratif antara lain: menyimak untuk mengikuti petunjuk-petunjuk serta menyimak urutan-urutan ide, fakta-fakta penting, dan sebab akibat. • Menyimak kreatif ( Creative listening) Menyimak kreatif ( Creative listening)adalah jenis menyimak yang mengakibatkan dalam pembentukan atau rekonstruksi seorang anak secara imaginatif kesenangan-kesenangan akan bunyi, visual atau penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarankan oleh apa-apa didengarnya.

• Menyimak introgatif ( introgative listening) Menyimak introgatif ( introgative listening)adalah sejenis menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian dan pemilihan, karena si penyimak harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Dalam kegiatan menyimak interogatif ini si penyimak mempersempit serta mengarahkan perhatiannya pada pemerolehan informasi atau mengenai jalur khusus. • Menyimak penyelidikan ( exploratory listening) Menyimak penyelidikan ( exploratory listening)adalah sejenis menyimak intensif dengan maksud dan yang agak lebih singkat.Dalam kegiatan menyimak seperti ini si penyimak menyiagakan perhatiannya untuk menemukan hal-hal baru yang menarik perhatian dan informasi tambahan mengenai suatu topik atau suatu pergunjingan yang menarik.

• Menyimak pasif ( passive listening) Menyimak pasif ( passive listening)adalah penyerapan suatu bahasa tanpa upaya sadar yang biasa menandai upaya-upaya kita saat belajar dengan teliti, belajar tergesa-gesa, menghapal luar kepala, berlatih serta menguasai sesuatu bahasa.Salah satu contoh menyimak pasif adalah penduduk pribumi yang tidak bersekolah lancar berbahasa asing.Hal ini dimungkinkan karena mereka hidup langsung di daerah bahasa tersebut beberapa lama dan memberikan kesempatan yang cukup bagi otak mereka menyimak bahasa itu.

• Menyimak selektif ( selective listening) Menyimak selektif ( selective listening)berhubungan erat dengan menyimak pasif.Betapapun efektifnya menyimak pasif itu tetapi biasanya tidak dianggap sebagai kegiatan yang memuaskan.Oleh karena itu menyimak sangat dibutuhkan.Namun demikian, menyimak selektif hendaknya tidak menggantikan menyimak pasif, tetapi justru melengkapinya.Penyimak harus memanfaatkan kedua teknik tersebut.Dengan demikian, berarti mengimbangi isolasi kultural kita dari masyarakat bahasa asing itu dan tendensi kita untuk menginterpretasikan.

Peran Menyimak Adapun peran menyimak diantaranya yaitu: • Landasan belajar berbahas • Penunjang keterampilan berbicara, membaca dan menulis • Pelancar komunikasi lisan • Penambah informasi Proses Menyimak Adapun proses menyimak diantaranya yaitu: • Tahap mendengar “hearing” • Tahap memahami “understanding” • Tahap menginterpretasi “interpreting” • Tahap mengevaluasi “evaluating” • Tahap menanggapi “responding” Ciri-Ciri Menyimak Berdasarkan pendapat dapat disimpulkan penyimak yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut: • Siap fisik mental (kondisi stabil) • Konsentrasi • Motivasi yang penuh • Tidak mudah terganggu • menghargai pembicara • Bersikap objektif • Bersikap kritis • Memiliki kemampuan merangkum • Memiliki kemampuan menilai • Siap menanggapi pembicaraan • Bertujuan dalam menyimak • Mempunyai kemampuan linguistic • Berpengalaman dan berpengetahuan sehingga mudah menerima, mencerna, dan memahami isi bacaan atau bahan simakan.

Tahap-Tahap Menyimak • Isolasi : Pada tahap ini sang penyimak mencatat aspek-aspek individual kata lisan dan memisah-memisahkan atau mengisolasikan bunyi-bunyi, ide-ide, fakta-fakta, organisasi-organisasi khusus, begitu pula stimulus-stimulus lainnya. • Identifikasi : Sekali stimulus tertentu telah dapat dikenal maka suatu makna, atau identifikasi pun diberikan kepada setiap butir yang berdikari itu.

• Integrasi : Kita mengintegrasikan atau menyatupadukan apa yang kita dengar informasi lain yang telah kita simpan dan rekam dalam otak kita. Oleh karena itulah maka pengetahuan umum sangat penting dalam tahap ini. Karena kalau proses menyimak berlangsung, kita harus terlebih dahulu harus mempunyai beberapa latar belakang atau pemahaman mengenai bidang pokok pesan tertentu.

Kalau kita tidak memiliki bahan penunjang yang dapat dipergunakan untuk mengintegrasikan informasi yang baru itu, maka jelas kegiatan menyimak itu akan menemui kesulitan atau kendala. • Inspeksi : Pada tahap ini, informasi baru yang telah kita terima dikontraskan dan dibandingkan dengan segala informasi yang telah kita miliki mengenai hal tersebut. Proses ini akan menjadi paling mudah berlangsung kalau informasi baru justru menunjang prasangka atau atau prakonsepsi kita. Akan tetapi, kalau informasi baru itu bertentangan dengan ide-ide kita sebelumnya mengenai sesuatu, maka kita harus mencari serta memilih hal-hal mana dari informasi itu yang lebih mendekati kebenaran.

• Interprestasi : Pada tahap ini, kita secara aktif mengevaluasi apa-apa yang kita dengar dan menelusuri dari mana datangnya semua itu. Kita pun mulailah menolak dan menyetujui, mengakui dan mempertimbangkan informasi tersebut berikut sumber-sumbernya. Teknik Pembelajaran Menyimak Teknik pembelajaran menyimak dapat dilakukan dengan cara: • Simak-ulang ucap (memperkenalkan bunyi bahasa dengan cara mengucapkannya).

Model ucapan yang diperdengarkan, disimak, dan ditiru oleh siswa.Model ucapan dapat berupa ucapan fonem, kata, kalimat, ungkapan, peribahasa, puisi pendek, kata-kata mutiara, semboyan dan sebagainya. Contoh: Kata-kata mutiara. Guru : Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.

Siswa : Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan. • Dengar dan Kerjakan Model ucapan berisi perintah diperdengarkan.Siswa menyimak dan memberikan reaksi dalam bentuk tindakan.

Contoh: Guru : Bacalah artikel berikut dengan saksama! Siswa : (membaca artikel dengan saksama). • Menyelesaikan Cerita Kelas dibagi atas beberapa kelompok.Satu kelompok beranggotakan empat orang.Orang pertama dalam satu kelompok bercerita, tetapi ceritanya beru sebagian; dilanjutkan dengan oleh anggota kedua, dan ketiga, kemudian disudahi oleh siswa terakhir. Contoh. Siswa 1 : Saya pulang sekolah. Waktu itu cuaca cerah.Dalam perjalanan saya melihat jalan-jalan dan pohon-pohon basah semua.Pekarangan pun tampak becek.Bahkan di sana-sini air kecoklatan tampak menggenang.

Air kali…. Siswa 2 : Melanjutkan cerita itu… • Budaya daerah yang beraneka ragam merupakan kekayaan bangsa. Keanekaragaman budaya memang wajar karena kebudayaan itu masing-masing dikembangkan sesuai tuntutan lingkungan dan kebutuhan individual.

(4) Keanekaragaman itu akhirnya menuju pada kesatuan karena pada dasarnya bangsa Indonesia adalah satu. • Merangkum Menyimak bahan simakan yang relatif panjang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu diantaranya dengan cara menyingkat atau merangkum isinya dalam beberapa kalimat. Merangkum berarti membuat bahan simakan yang panjang menjadi sedikit mungkin. Namun, yang sedikit itu dapat mewakili yang panjang.

• Parafrase (Guru memperdengarkan puisi, siswa menceritakan isi puisi) Suatu cara yang biasa digunakan untuk memahami isi puisi ialah dengan cara mengutarakan isi puisi itu dengan kata-kata sendiri dalam bentuk prosa. Puisi yang sudah direkam atau dibacakan guru diperdengarkan kepada siswa.Mereka menyimak isinya dan mengutarakan kembali dalam bentuk prosa. • Menjawab Pertanyaan Cara lain untuk mengajarkan cara menyimak yang efektif ialah melalui latihan menjawab pertanyaan apa, siapa, mengapa, di mana, dan bilamana.

Pertanyaa-pertanyaan itu diajukan atas dengan mengacu pada bahan simakan yang telah diperdengarkan kepada siswa. Faktor yang Mempengaruhi dalam Menyimak • Faktor Fisik Kondisi fisik dan lingkungan fisik penyimak merupakan faktor yang penting dalam menentukan keefektifan serta kualitas keaktifannya dalam menyimak.

• Faktor Psikologis Faktor psikologis melibatkan sikap-sikap dan sifat-sifat pribadi, yaitu faktor-faktor psikologis dalam menyimak.

Faktor-faktor ini antara lain mencakup masalah-masalah: • Prasangka dan kurangnyasimpati terhadap para pembicara dengan aneka sebab dan alas an • Keegosentrisan dan keasyikan terhdap minat pribadi serta masalah pribadi serta masalah pribadi • Kepicikan yang menyebabkan pandangan yang kurang luas • Kebosanan dan kejenuhan yang menyebabkan tiadanya perhatian sama sekali pada pokok pembicaraan • Sikap yang tidak layak terhadap sekolah, terhadap guru, terhadap pokok pembicaraan, atau terhadap sang pembicara.

Sebagian atau semua faktor tersebut diatas dapat mempengaruhi kegiatan menyimak kearah yang merugikan yang tidak kita ingini, dan hal ini mempunyai akibat yang buruk bagi sebagian atau seluruh kegiatan belajar para siswa.Dalam hal-hal seperti inilah para guru harus menampilkan fungsi bimbingan dan penyuluhan serta mencoba memperbaiki kondisi-kondisi yang merugikan tersebut.

Guru juga harus mempertinggi serta memperkuat sifat ketanpaprasangkaan, kewajaran yang tidak berat sebelah, serta sifat yang tidak mementingkan diri sendiri; dan mencoba untuk memberikanserta mengadakan suatu latar belakang yang bersifat merangsang minat yang akan bertindak sebagai suatu keadaan yang menguntungkan bagi menyimak responsif. Sebaliknya faktor-faktor psikologis ini pun mungkin pula sangat menguntungkan bagi kegiatan menyimak dengan penuh perhatian, misalnya; pengalaman-pengalaman masa lalu yang sangat menyenangkan, yang telah menentukan minat-minat dan pilihan-pilihan, kepandaian yang beranekaragam dan lain- lainnya, kalau dihubungkan dengan suatu bidang diskusi jelas merupakan pengaruh-pengaruh baik bagi kegiatan menyimak yang mengasyikan, yang memukau dan menarik hati.

Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Bahasa Indonesia, SMA, SMK, SMP, Umum Ditag 10 perbedaan mendengarkan dan menyimak, 6 tujuan menyimak, apa itu menyimak video, apa saja manfaat menyimak, apa yang dimaksud dengan menyimak, bagaimana proses menyimak, berbicara adalah, berbicara menurut para ahli, cara menyimak, ciri-ciri menyimak, contoh berbicara, contoh dialog menyimak apresiatif, contoh hakikat keterampilan membaca literal, contoh mendengarkan, contoh menyimak, contoh menyimak apresiatif, contoh menyimak dan berbicara, contoh menyimak dengan perhatian dangkal, contoh menyimak ekstensif, contoh bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial intensif, contoh menyimak komprehensif, contoh menyimak kritis, contoh menyimak lanjutan, contoh menyimak lompat tiga, contoh menyimak pasif, contoh menyimak sosial, contoh pembelajaran menyimak dan berbicara, contoh soal menyimak, faktor menyimak, fungsi menyimak, fungsi menyimak bagi anak sd, fungsi menyimak bagi anak usia dini, hakikat menyimak, hambatan hambatan dalam menyimak, jelaskan hakikat berbicara, jelaskan jenis-jenis menyimak, jelaskan tujuan menyimak dalam membaca cerpen, jelaskan yang dimaksud menyimak, jenis jenis menyimak, jenis-jenis menyimak pdf, jurnal menyimak pdf, kemampuan menyimak, keterampilan berbahasa berbicara, keterampilan menyimak adalah, keterampilan menyimak pdf, makalah keterampilan menyimak, makalah menyimak, makalah menyimak apresiatif, manfaat menyimak, menyimak adalah brainly, menyimak artinya apa, menyimak inspeksi, menyimak intensif, menyimak intensif adalah, menyimak kritis, menyimak lanjutan, menyimak sosial adalah mendengar yang, pembelajaran menyimak di kelas bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial, pembelajaran menyimak di kelas tinggi, pengertian berbicara, pengertian keterampilan menyimak, pengertian mendengar, pengertian menyimak brainly, pengertian menyimak dan berbicara, pengertian menyimak menurut para ahli, pengertian menyimak menurut para ahli pdf, pengertian menyimak pdf, pengertian menyimak secara umum, pengertian menyimak tingkat lanjut, pengertian menyimak untuk belajar, peranan menyimak, perbedaan menyimak aktif dan pasif, pertanyaan tentang menyimak, ppt jenis-jenis menyimak, proses apakah yang terdapat dalam menyimak, proses menyimak, ruang lingkup menyimak, ruang lingkup pembahasan menyimak, soal essay tentang menyimak, strategi menyimak permulaan, tahap tahap menyimak, tahap-tahap menyimak pdf, tahapan menyimak menurut hunt, teknik menyimak, teori menyimak, tujuan dari menyimak, tujuan menyimak, tujuan menyimak adalah, tujuan menyimak komprehensif, tujuan menyimak menurut tarigan, tuliskan proses menyimak, unsur-unsur menyimak Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Pengertian Gerakan Antagonistic – Macam, Sinergis, Tingkat, Anatomi, Struktur, Contoh • Pengertian Dinoflagellata – Ciri, Klasifikasi, Toksisitas, Macam, Fenomena, Contoh, Para Ahli • Pengertian Myxomycota – Ciri, Siklus, Klasifikasi, Susunan Tubuh, Daur Hidup, Contoh • “Panjang Usus” Definisi & ( Jenis – Fungsi – Menjaga ) • Pengertian Mahasiswa Menurut Para Ahli Beserta Peran Dan Fungsinya • “Masa Demokrasi Terpimpin” Sejarah Dan ( Latar Belakang – Pelaksanaan ) • Pengertian Sistem Regulasi Pada Manusia Beserta Macam-Macamnya • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh • Higgs domino apk versi 1.80 Terbaru 2022 • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com
A.

Pendahuluan Dalam kehidupan sehari-hari manusia dihadapkan pada kegiatan menyimak. Namun, terkadang mereka tidak menyadarinya. Hal tersebut dapat kita lihat dari berbagai percakapan, baik itu percakapan di lingkungan keluarga, antaranak, antarorang tua, anak dengan orang tua. Kegiatan menyimak lainnya meliputi seminar, pidato, dialog, diskusi, dalam membicarakan suatu permasalahan. Implementasi dari kegiatan menyimak ini terdiri dari mendengarkan lambang-lambang lisan, memahami maksud yang ingin disampaikan pembicara melalui ujaran, dan menangkap isi atau pesan yang hendak disampaikan seseorang.

Oleh karena itu, seseorang dituntut harus terampil menyimak dalam percakapan sehari-hari. Keterampilan menyimak sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, makam setiap orang harus terampil dalam menyimak. Bercakap-cakap, seminar, diskusi dalam mengikuti pelajaran sekolah atau pun kuliah sebagai bentuk penyampaian suatu penjelasan pada dunia pendidikan dan pengajaran menuntut seseorang harus mahir dalam menyimak.

Seseorang tidak hanya dituntut untuk terampil menyimak, namun juga harus dapat menguasainya dengan baik. Demikian juga dalam menangkap pesan melalui telepon, radio, dan televisi memerlukan kemahiran menyimak (Tarigan, 1986: bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial.

Dalam praktik pengajaran di sekolah, tentu tidak terlepas dari kegiatan menyimak, karena kegiatan menyimak sudah menjadi suatu bagian dalam dunia pengajaran, terlebih lagi bagi pengajaran bahasa.

Namun kenyataannya, keterampilan menyimak siswa masih rendah. Purwadi dan Swandono (2000: 4) menyebutkan dalam bukunya Menyimak Bahasa Indonesia, bahwa keterampilan menyimak akan dikuasai dengan sendirinya oleh anak didik jika pengajaran keterampilan berbahasa lainnya sudah berjalan dengan baik.

Oleh karena itu, dampaknya dalam pengkajian, penelaahan, dan penelitian mengenai keterampilan menyimak pun menjadi jarang dilakukan. Itulah salah satu faktor penyebab keterampilan menyimak siswa masih rendah.

Secara garis besar, materi pembelajaran dan bahan ajar mencakupi pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau nilai yang harus dipelajari siswa. Materi pelajaran bahasa Indonesia terdiri atas komponen kemampuan berbahasa dan bersastra yang meliputi aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis (Zulaeha dan Rahman 2009). Aspek menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang dikuasai anak di awal perkembangannya sehingga menyimak perlu mendapat perhatian lebih, terutama dalam dunia pendidikan.

Kegiatan menyimak harus dikuasai oleh setiap orang karena keterampilan menyimak sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Berkomunikasi lisan dengan teman, mengikuti kuliah, diskusi, dan seminar menuntut kemahiran seseorang untuk menyimak.

Demikian juga menangkap pesan lewat telepon, radio, televisi memerlukan kemahiran menyimak (Tarigan 1986: 2.1) Faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa yang rendah adalah penyajian materi dan pembelajaran yang masih terpusat pada guru.

Selain itu, pembelajaran yang searah menjadikan siswa kurang mampu mengeksplorasi dirinya. Faktor lain kurang berminatnya siswa mengikuti pembelajaran menyimak di sekolah adalah guru belum dapat mengelola pembelajaran dengan baik. Dalam pembelajaran menyimak, guru masih menggunakan materi yang disampaikan dengan dibacakan kepada siswa. Materi yang ada juga kurang menyajikan muatan yang menarik siswa untuk turut serta aktif dalam pembelajaran.

Permasalahan dalam pembelajaran menyimak informasi disebabkan yang pertama bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial faktor siswa, yaitu (1) pada umumnya siswa kurang antusias dalam pembelajaran menyimak karena materi yang disampaikan dianggap sulit untuk dipahami; (2) tingkat pemahaman, konsentrasi, dan daya analisis siswa yang masih relatif rendah; (3) siswa tidak terbiasa menyimak informasi, dan (4) siswa menganggap pembelajaran menyimak tidak penting.

Kedua adalah faktor guru, yaitu (1) kurangnya kreativitas guru dalam menyajikan dan mengembangkan materi pembelajaran menyimak, (2) guru masih bertindak sebagai sumber utama pemberi informasi tanpa mengajak siswa untuk berusaha mencari informasi sendiri, dan (3) soal-soal yang digunakan dalam evaluasi pembelajaran menyimak cenderung teoretis, padahal untuk mengetahui kemampuan keterampilan menyimak dibutuhkan alat evaluasi yang sesuai dengan kompetensi yang diajarkan.

Tavil (2010) dalam penelitiannya yang berjudul Integrating Listening and Speaking Skills to Facilitate English Language Learners’ Communicative Competence menyimpulkan bahwa kelompok berlatih keterampilan dalam integrasi menjadi lebih sukses daripada kelompok berlatih keterampilan secara terpisah.

Aslanoglu (2009) dalam penelitiannya yang berjudul Factors Affecting The Listening Skill menghasilkan bahwa sejumlah buku anak di rumah, jumlah buku di rumah, waktu yang dihabiskan membaca buku, waktu yang dihabiskan membaca koran, dan waktu yang dihabiskan mendengarkan radio berpengaruh signifikan pada keberhasilan siswa dalam upaya mereka mendengarkan. Penelitian lain mengenai menyimak dilakukan oleh Yildirim (2012) yang berjudul The Factors that Predict The Frequency of Activities Developing Students’ Listening Comprehension Skills.

Hasil penelitian tersebut adalah menulis ringkasan tentang membaca teks di dalam kelas, memberikan pekerjaan rumah terkait dengan membaca teks, memberikan waktu membaca gratis untuk siswa, dan frekuensi siswa menggunakan radio, mp3, CD player, dan komputer memiliki peran penting pada pengembangan siswa dalam mendengarkan pemahaman.

Berangkat dari kondisi yang demikian, maka tujuan dari pembelajaran bahasa Indonesia belum dapat terpenuhi terutama mengenai kemampuan siswa menggunakan bahasa Indonesia untuk kemampuan intelektual dan kematangan emosi sosial. Selain itu, kemampuan siswa dalam menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khasanah budaya Indonesia menjadi kurang maksimal karena keterampilan menyimak siswa masih rendah. B. Pembelajaran Menyimak 1.

Hakikat Pembelajaran Menyimak Keterampilan menyimak sangat berperan dalam kehidupan manusia di lingkungan masyarakat. Peran penting penguasaan keterampilan menyimak sangat tampak di lingkungan sekolah. Siswa mempergunakan sebagaian besar waktunya untuk menyimak pelajaran yang disampaikan oleh guru.

bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial

Keberhasilan dalam memahami serta menguasai pelajaran diawali oleh kemampuan menyimak yang baik. Kemampuan seseorang dalam menyimak dapat dilihat dari latar belakangnya. Latar belakang masing-masing orang mempunyai perbedaan, baik psikologis, sosiologis, maupun pendidikannya.

Menurut Rahminah (2005), menyimak dapat diartikan sebagai koordinasi berbagai komponen-komponen keterampilan baik keterampilan mempersepsi, menganalisis, mampu menyintensis. Apabila seseorang dalam menyimak mampu mengintegrasikan komponen-komponen tersebut maka dapat dikatakan berhasil dalam kegiatan menyimak. Subyantoro dan Hartono (2003: 1-2) menyatakan bahwa mendengar adalah peristiwa tertangkapnya rangsangan bunyi oleh panca indra pendengar yang terjadi pada waktu kita dalam keadaan sadar akan adanya rangsangan tersebut, sedangkan mendengarkan adalah kegiatan mendengar yang dilakukan dengan sengaja penuh perhatian terhadap apa yang didengar, sementara itu menyimak intensitas perhatiannya terhadap apa yang disimak.

Tarigan (1994: 28) menyatakan bahwa menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.

Anderson (dalam Tarigan, 1994: 28) menyatakan bahwa menyimak adalah proses besar mendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan.

Namun, menyimak menurut Akhadiat (dalam Sutari, dkk. 1998: 19) adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasikan, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya.

Semi (dalam Duiqchoey 2009) Menyimak merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang bersifat represif. Menyimak yaitu mendengarkan baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang. Menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterprestasi, menilai dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya.

Menyimak melibatkan pendengaran, penglihatan, penghayatan, ingatan, pengertian. Bahkan situasi yang menyertai bunyi bahasa yang dsimak pun harus diperhitungkan dalam menentukan maknanya (Zuhayya, 2010).

Menyimak adalah proses memahami ucapan dalam bahasa asal atau bahasa kedua (Helgesen and Brown 2007: 32). Selanjutnya Howatt dan Dakin seperti dikutip oleh Saricoban (2006) menyatakan bahwa menyimak adalah kemampuan untuk mengenali dan memahami apa yang orang lain katakan. Nunan (2005: 3) menyatakan bahwa menyimak adalah proses aktif dan berarti dalam memaknai apa yang kita dengar.

Menurut Rubin (1995: 7) menyimak diartikan sebagai sebuah proses aktif para pendengar memilih dan menafsirkan informasi yang berasal dari keterangan audio dan visual untuk memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang diungkapkan oleh pembicara.

Menurut Rost (2002: 279) menyimak ialah proses mental dalam menafsirkan makna dari input lisan. Richard and Schmidt (2002: 313) menyatakan bahwa menyimak pemahaman adalah proses memahami ucapan dalam bahasa asal atau bahasa kedua. Studi dari pemahaman menyimak dalam pembelajaran bahasa kedua memusatkan pada peran dari masing-masing unit kebahasaan (contohnya fonem, kata, struktur bahasa) dan juga peran dari pendengar harapan situasi dan konteks, pengetahuan dasar dan topik.

Berbeda dengan pendapat Nurhadi (1995: 339) yang membagi pengertian menyimak menjadi dua yaitu pertama menyimak dalam arti sempit mengacu pada proses mental pendengar yang menerima bunyi yang dirangsangkan oleh pembicara dan kemudian menyusun penafsiran apa yang disimaknya, kedua menyimak dalam arti luas mengacu pada proses bahwa si penyimak tidak hanya mengerti dan membuat penafsiran tentang apa yang disimaknya, tetapi lebih dari itu ia berusaha melakukan apa yang diinformasikan oleh materi yang disimaknya.

Menyimak mempunyai arti yang sama dengan mendengarkan. Menyimak dapat pula bermakna mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian serta apresiasi (Russel & Russel; Anderson dalam Tarigan, 1994: 28).

Mendengarkan menurut Subyantoro dan Hartono (2003: 1-2) adalah kegiatan mendengar yang dilakukan dengan sengaja, penuh perhatian terhadap apa yang didengar. Dalam hal ini rangsangan bunyi yang dimaksud untuk didengar adalah bunyi-bunyi bahasa yang diucapkan diucapkan oleh seseorang dalam suatu peristiwa komunitas. Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan menyimak adalah kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dilakukan dengan sengaja, penuh perhatian disertai pemahaman, apresiasi dan interprestasi untuk memperoleh pesan, informasi, memahami makna komunikasi, dan merespon yang terkandung dalam lambang lisan yang disimak.

Menyimak juga merupakan kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dilakukan dengan sengaja, penuh perhatian disertai pemahaman, apresiasi dan interprestasi untuk memperoleh pesan, informasi, memahami makna komunikasi, dan merespon yang terkandung dalam tuturan lisan. 2. Tujuan Menyimak Secara umum, tujuan menyimak adalah memperoleh pengalaman dan pengetahuan.

Sedangkan secara khususnya, tujuan menyimak adalah (1) untuk memperoleh informasi, (2) untuk menganalisis fakta, (3) untuk mendapatkan inspirasi, (4) untuk mendapatkan hiburan, (5) untuk memperbaiki kemampuan berbicara, dan (6) untuk membentuk kepribadian. Soenardji (dalam Dananjaja, 2002: 10).

Tujuan menyimak menurut Logan (dalam Tarigan, 1994:56) adalah sebagai berikut. a. Menyimak untuk belajar, yaitu memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran sang pembicara.

b. Menyimak menikmati keindahan audial, yaitu menyimak dengan penekanan pada penikmatan terhdap sesuatu dari materi yang diujarkan atau diperdengarkan atau dipagelarkan.

c. Menyimak untuk mengevaluasi, yaitu menyimak dengan maksud agar dapat menilai apa-apa yang disimak (baik-buruk, indah-jelek, logis tak logis dan lain-lain). d. Menyimak untuk mengapreasiasikan materi simakan. Orang menyimak agar dapat menikmati serta menghargai apa-apa yang dinikmati itu (misalnya pembacaan cerita, pembacaan puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi panel, perdebatan).

e. Menyimak untuk mengkomunikasikan ide-ide sendiri. Orang menyimak dengan maksud agar dapat mengkomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, maupun perasaan-perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat.

Banyak contoh dan ide yang dapat diperoleh dari sang pembicara dan semua merupakan bahan yang penting dalam menujang. f. Menyimak menbedakan bunyi-bunyi dengan tepat. Orang menyimak dengan maksud agar dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat, dimana bunyi yang membedakan arti, mana bunyi yang tidak membedakan arti, biasa hanya terlihat seseorang yang sedang belajar bahasa asing yang asyik mendengarkan ujaran pembicara asli ( native speaker).

g. Menyimak untuk memecahkan masalah secara kreatif dan analisis. Dengan menyimak dari seorang pembicara, seseorang mungkin memperoleh banyak masukan berharga untuk memecahkan masalahnya. h. Menyimak untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang diragukan dengan perkataan lain, menyimak secara persuasif. Dengan menyimak seseorang dapat menyerap informasi atau pengetahuan yang disimaknya. Menyimak juga mempelancar keterampilan berbicara dan menulis. Semakin baik daya simak seseorang maka akan semakin baik pula daya serap informasi atau pengetahuan yang disimaknya.

Setiawan (dalam Rahmawati, 2007: 18-19) menjelaskan bahwa tujuan pokok menyimak adalah sebagai berikut. a. Untuk mendapatkan fakta. Banyak cara yang dilakukan oleh orang untuk mendapatkan fakta yaitu pertama, dengan mengadakan eksperimen, penelitian, membaca buku, membaca surat kabar, membaca majalah, dan sebagainya.

Cara yang kedua, untuk mendapatkan fakta sebagian orang melakukannya dengan mendengarkan radio, melihat televisi, berdiskusi dengan sesama, dan lain sebagainya. Dari cara yang kedua tersebut maka menyimak merupakan media untuk mendapatkan fakta atau informasi.

b. Untuk menganalisis fakta dan bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial. Setelah mendapatkan fakta atau data, penyimak kemudian melakukan analisis terhadap fakta atau ide tersebut dengan mempertimbangkan hasil simakan dengan pengetahuan dan pengalamannya. c. Untuk mengevaluasi fakta atau ide. Dalam mengevaluasi fakta, penyimak perlu mempertimbangkan sesuatu yang disimak dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamannya.

Berdasarkan evaluasi di atas penyimak boleh berpendapat; (1) Fakta yang disimak tersebut benar atau tidak, masuk akal atau tidak sehingga penyimak akan menyetujui atau mungkin menolak apa yang disampaikan oleh pembicara. (2) Fakta yang disampaikan berbeda dengan fakta yang bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial penyimak terima atau berbeda dengan pengalaman penyimak.

Dari uraian tersebut, setelah dilakukan evaluasi dapat disimpulkan bahwa penyimak dapat; pertama mengemukakan pendapat, kedua menolak pendapat, ketiga meragukan fakta yang diterima, keempat mempertimbangkan fakta yang diterima, kelima menyimpulkan ide pokok, dan keenam menilai kebenaran fakta yang diterima.

d. Untuk mendapatkan inspirasi. Kita sering dihadapkan pada beberapa masalah. Masalah-masalah tersebut belum tentu segera dapat kita selesaikan atau kita pecahkan. Untuk keperluan inilah kadang-kadang kita segera melibatkan kegiatan menyimak, baik menyimak pembicaraan seseorang, menyimak pidato seseorang dalam pertemuan, maupun menyimak cerita seseorang tamu tentang pengalaman hidupnya. Dengan demikian, penyimak bertujuan mendapat sesuatu inspirasi untuk memecahkan atau menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

e. Untuk memperoleh hiburan. Dalam kenyataan, kita senantiasa dihadapkan pada beberapa kesibukan dan beberapa masalah. Setelah pemikiran kita jenuh karena terlalu lelah, kita membutuhkan hiburan. Untuk memperoleh hiburan antara lain dapat kita lakukan dengan menyimak (1) nyanyian-nyanyian langgam Jawa lewat radio, (2) tayangan-tayangan televisi, dan (3) pertunjukan-pertunjukan secara langsung. f. Untuk memperbaiki kemampuan berbicara.

Perlu dipahami bahwa berbicara itu tidak mudah. Oleh karena itu, untuk memperlancar atau tingkatan kemampuan berbicara, antara lain dapat ditempuh lewat menyimak pembicaraan orang lain.

Menyimak adalah suatu proses kegiatan menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interprestasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Menguatkan pendapat-pendapat Setiawan di atas, menurut Sutari (1998:21) tujuan menyimak dapat disusun sebagai berikut. a. Mendapatkan Fakta Kegiatan menyimak dengan tujuan memperoleh fakta di antaranya melalui kegiatan membaca, baik melalui majalah, koran, maupun buku-buku.

Selain itu, mendapatkan fakta secara lisan dapat diperoleh melalui mendengarkan siaran radio, televisi, hadir dalam pertemuan, menyimak ceramah-ceramah, mengikuti rapat-rapat, dan sebagainya b. Menganalisis Fakta Tujuan lain lain menyimak adalah menganalisis fakta, yaitu proses menaksir fakta-fakta atau informasi sampai pada tingkat unsur-unsurnya, menaksir sebab akibat yang terkandung dalam fakta-fakta itu. Tujuan ini lahir biasanya, karena fakta yang diterima oleh pendengar ingin dipahami maknanya.

Maka tujuan menyimak pun menjadi lebih jauh bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial hanya menerima fakta-fakta tetapi bertujuan memahami secara mendalam makna yang terkandung dalam fakta-fakta itu melalui analisis. c. Mengevaluasi Fakta Dalam mengevaluasi fakta, penyimak harus mempertimbangkan apakah fakta yang diterima sudah cukup dinilai akurat dan relavan dengan pengetahuan dan pengalamannya, berarti fakta itu dapat diterima.

Namun, apabila kata yang diterima tidak bermutu, tidak akurat, bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial kurang relavan dengan pengetahuan dan pengalaman penyimak, maka penyimak akan menolak fakta tersebut.

Akhirnya penyimak memutuskan untuk menerima atau menolak materi simakan tersebut. Akhirnya penyimak akan memutuskan untuk menerima atau menolak materi simakannya itu. Selanjutnya penyimak diharapkan dapat memperoleh inspirasi yang dibutuhkannya. d. Mendapatkan Inspirasi Penyimak bertujuan mendpatkan inspirasi biasanya menulis fakta baru. Mereka perlu dorongan, gairah, semangat, untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya.

bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial

Mereka mengharapkan dengan menyimak berbagai hal yang berhubungan dengan profesinya itu mereka mampu mendapatkan inspirasi disamping memelihara pengetahuannya. e. Mendapatkan Hiburan Hiburan merupakan kebutuhan manusia yang cukup mendasar. Dalam berbagai kehidupan yang serba kompleks ini, kita perlu melepaskan diri dari berbagai tekanan, ketegangan dan kejenuhan.

Untuk mendapatkan hiburan tersebut kita biasanya menyimak radio, televisi, film untuk kesenangan batin. f. Memperbaiki Kemampuan Berbicara Dengan menyimak pembicara terpilih dapat memperbaiki kemampuan bicara pembicara.

Karena berbicara adalah suatu hal yang tidak mudah. Misalnya seseorang yang belajar bahasa asing, mereka akan menyimak sambil memperbaiki kemampuan berbicaranya. Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa tujuan menyimak yaitu menyimak untuk belajar, menyimak untuk memperoleh keindahan audial, menyimak untuk mengevaluasi, menyimak untuk mengapresiasikan simakan, menyimak untuk mengkomunikasikan ide-idenya sendiri, menyimak untuk meyakinkan, mendapatkan fakta, menganalisis fakta, mengevaluasi fakta, mendapatkan inspirasi, dan mendapatkan hiburan.

3. Manfaat Menyimak Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak dapat terlepas dari individu yang lain. Secara kodrat manusia akan selalu hidup bersama. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi dan komunikasi baik dengan alam lingkungan dengan sesamanya maupun dengan Tuhannya.

Dalam komunikasi lisan secara timbal balik antara pembicara dengan pendengar terdapat proses menyimak pembicaraan satu sama lain Setiawan (dalam Rahmawati 2007: 20-21) menyatakan bahwa manfaat menyimak sebagai berikut a. Menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang berharga bagi kemanusiaan sebab menyimak memiliki nilai informatif yaitu memberikan masukan-masukan tertentu yang menjadikan kita lebih berpengalaman.

b. Meningkatkan intelektualitas serta memperdalam penghayatan keilmuan dan khasanah ilmu. c. Memperkaya kosakata, menambah perbendaharaan ungkapan yang tepat, bermutu dan puitis.

d. Memperluas wawasan, meningkatkan penghayatan hidup serta membina sifat terbuka dan objektif. e. Meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial. f. Meningkatkan citra artistik jika yang disimak merupakan bahan simakan yang isi dan bahasanya halus.

g. Menggugah kreativitas dan semangat cipta untuk menghasilkan ujaran-ujaran dan tulisan-tulisan yang berjati diri. Jika banyak menyimak, kita akan mendapatkan ide-ide yang cemerlang dan segar, pengalaman hidup yang berharga. Semua itu akan mendorong kita untuk giat berkarya dan kreatif.

Dalam tulisan ini manfaat utama yang ingin diperoleh adalah memperluas wawasan, meningkatkan penghayatan hidup, serta membina sifat terbuka dan objektif. Hal ini dikarenakan menyimak yang dilaksanakan dalam tulisan ini adalah menyimak informasi yang di dalamnya terdapat ide-ide yang cemerlang serta pengalaman hidup yang berharga, sehingga akan mendorong kita untuk lebih kreatif dan inovatif dalam berkarya. 4.

Ragam Menyimak Menyimak ada berbagai macam jenis. Namun beberapa jenis tersebut dibedakan berdasarkan kriteria tertentu, yakni berdasarkan suber suara, berdasarkan bahan bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial, dan berdasarkan pada titik pandang aktivitas menyimak. Ragam menyimak menurut Tarigan (1994: 35-49) sebagai berikut.

a. Menyimak ekstensif ( extensive listening) Menyimak ekstensif adalah sejenis kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran, tidak perlu di bawah bimbingan langsung dari seorang guru. Jenis-jenis menyimak ekstensif, antara lain sebagai berikut. 1) Menyimak Sosial ( social listening), atau menyimak percakapan ( conversational listening) atau menyimak sopan ( courteous listening) biasanya berlangsung dalam situasi–situasi sosial tempat orang-orang bercengkerama mengenai hal-hal yang menarik perhatian semua orang yang hadir dan saling mendengarkan satu sama lain untuk membuat responsi-responsi yang wajar, mengikuti hal-hal yang menarik, dan memperlihatkan perhatian yang wajar terhadap apa-apa yang dikemukakan, dikatakan oleh seorang rekan (Dawson dalam Tarigan 1994: 153).

Menyimak sosial dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan sosial, seperti di pasar, terminal, stasiun, kantor pos, dan sebagainya. Kegiatan menyimak ini lebih menekankan pada faktor status sosial, unsur sopan santun.

dan tingkatan dalam masyarakat. Misalnya: Seorang anak jawa menyimak nasihat neneknya dengan sikap dan bahasa yang santun. Dalam hal ini, nenek memiliki peran yang lebih utama, sedang anak merupakan peran sasaran. 2) Menyimak Sekunder ( secondary listening) adalah sejenis kegiatan menyimak secara kebetulan (casual listening) dan secara ekstensif ( extensive listening).

Menyimak sekunder terjadi secara kebetulan. Misalnya, jika seorang pembelajar sedang membaca di kamar, ia juga dapat mendengarkan percakapan orng lain, suara siaran radio, suara televisi, dan sebagainya. Suara tersebut sempat terdengar oleh pembelajar tersebut, namun ia tidak terganggu oleh suara tersebut.

3) Menyimak Estetik ( aesthetic listening) ataupun yang disebut menyimak apresiatif ( appreciation listening) adalah fase terakhir dari kegiatan menyimak kebetulan dan termasuk dalam bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial ekstensif.

Menyimak estetika sering disebut menyimak apresiatif. Menyimak estetika ialah kegiatan menyimak untuk menikmati dan menghayati sesuatu. Misalnya, menyimak pembacaan puisi, rekaman drama, cerita, syair lagu, dan sebagainya. Kegiatan menyimak itu lebih menekankan aspek emosional penyimak seperti dalam menghayati dan memahami sebuah pembacaan puisi. Dalam hal ini, emosi penyimak akan tergugah, sehingga timbul rasa senang terhadap puisi tersebut.

Demikian pula pembacaan cerita pendek. Hal ini pernah dilakukan oleh seorang pengarang terkenal Gunawan Mohammad yang sering membacakan cerpen-cerpennya melalui radio. Banyak remaja mendengarkan pembacaan tersebut.

Para remaja tampaknya dapat menikmati dan menghayati cerpen yang dibacakan tersebut. 4) Menyimak Pasif, adalah penyerapan suatu ujaran tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya-upaya kita pada saat belajar dengan kurang teliti, tergesa-gesa, menghafal luar kepala, berlatih santai, serta menguasai suatu bahasa.

Menyimak pasif ialah menyimak suatu bahasan yang dilakukan tanpa upaya sadar. Misalnya, dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mendengarkan bahasa daerah, setelah itu dalam masa dua atau tiga tahun ia sudah mahir memahami pesan dalam bahasa daerah tersebut. Kemudian, dia mahir pula menggunakan bahasa daerah tersebut. Kemahiran menggunakan bahasa daerah tersebut dilakukan sebagai hasil menyimak pasif.

Namun, pada akhirnya, orang itu dapat menggunakan bahasa daerah dengan baik. Kegiatan menyimak pasif banyak dilakukan oleh masyarakat awam dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pendidikan di sekolah tidak dikenal istilah menyimak pasif. Pada umumnya, menyimak pasif terjadi karena kebetulan dan ketidaksengajaan. b.

bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial

Menyimak intensif ( intensive listening) Menyimak intensif merupakan kegiatan menyimak yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dengan tingkat konsentrasi yang tinggi untuk menangkap makna yang dikehendaki.

Menyimak intensif merupakan kebalikan dari menyimak ekstensif. Jika menyimak ekstensif diarahkan pada kegiatan menyimak secara lebih bebas dan lebih umum serta tidak perlu di bawah bimbingan langsung para guru, maka menyimak intensif diarahkan pada suatu kegiatan jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap suatu hal tertentu. Jenis-jenis menyimak intensif antara lain sebagai berikut.

1) Menyimak Kritis ( critical listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang berupa kegiatan untuk mencari kesalahan atau kekeliruan bahkan juga butir-butir yang baik dan benar dari ujaran seorang pembicara dengan alasan-alasan yang kuat dan dapat diterima oleh akal sehat.

Menyimak kritis ialah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan sungguhsungguh untuk memberikan penilain secara objektif, menentukan keaslian, kebenaran. dan kelebihan, serta kekurangan-kekurangannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyimak kritis adalah (a) mengamati tepat tidak ujaran pembicara, (b) mencari jawaban atas pertanyaan mengapa menyimak, dapatkah penyimak membedakan antara fakta dan opini dalam menyimak.

dapatkah penyimak mengambil simpulan dari hasil menyimak? dapatkah penyimak menafsirkan makna idium, ungkapan, dan majas dalam kegiatan menyimak” (Kamidjan, 2001:22). 2) Menyimak Konsentrasif ( concebtrative listening). Kegiatan menyimak ini sejenis menyimak telaah. Menyimak konsentratif ialah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memperoleh pemahaman yang baik terhadap informasi yang disimak.

Kegiatan menyimak konsentratif bertujuan untuk (a) mengikuti petunjuk-petunjuk, (b) mencari hubungan antarunsur dalam menyimak. (c) mencari hubungan kuantitas dan kualitas dalam suatu komponen. (d) mencari butir-butir informasi penting dalam kegiatan menyimak, (e) mencari urutan penyajian dalam bahan menyimak, dan (f) mencari gagasan utama dari bahan yang telah disimak (Kamidjan, 2001:23).

3) Bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial Kreatif ( creative listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang dapat mengakibatkan kesenangan rekonstruksi imajinatif para penyimak terhadap bunyi, penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarankan atau dirangsang oleh apa-apa yang disimaknya.

Menyimak kreatif ialah kegiatan menyimak yang bertujuan untuk mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas pembelajar. Kreativitas penyimak dapat dilakukan dengan cara (a) menirukan lafal atau bunyi bahasa asing atau bahasa daerah, misalnya bahasa Inggris, bahasa Belanda. bahasa Jerman.

dan sebagainya, (b) mengemukakan gagasan yang sama dengan pembicara. namun menggunakan struktur dan pilihan kata yang berbeda, (c) merekonstruksi pesan yang telah disampaikan penyimak, (d) menyusun petunjuk-petunjuk atau nasihat berdasar materi yang telah disimak. 4) Menyimak Eksploratif ( exploratory listening) adalah sejenis kegiatan menyimak intensif dengan maksud menyelidiki sesuatu yang lebih terarah dan lebih sempit.

Menyimak eksploratif ialah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk mendapatkan informasi baru. Pada akhir kegiatan, seorang penyimak eksploratif akan (a) menemukan gagasan baru. (b) menemukan informasi baru dan informasi tambahan dari bidang tertentu, (c) menemukan topik-topik baru yang dapat dikembang pada masa yang akan datang. (d) menemukan unsur-unsur bahasa yang bersifat baru. 5) Menyimak Interogatif ( interrogative listening) adalah sejenis kegiatan menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian dan pemilihan butir-butir dari ujaran sang pembicara.

Dalam kegiatan menyimak ini penyimak akan mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya kepada sang pembicara. Menyimak interogratif ialah kegiatan menyimak yang bertujuan memperoleh informasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang diarahkan kepada pemerolehan informasi tersebut.

Kegiatan menyimak interogratif bertujuan untuk (a) mendapatkan fakta-fakta dari pembicara, (b) mendapatkan gagasan baru yang dapat dikembangkan menjadi sebuah wacana yang menarik, (c) mendapatkan informasi apakah bahan yang telah disimak itu asli atau tidak. 6) Menyimak Selektif ( selective listening) bertujuan untuk melengkapi menyimak pasif. Menyimak selektif ialah kegiatan menyimak yang dilakukan secara selektif dan terfokus untuk mengenal, bunyi-bunyi asing, nada dan suara, bunyi-bunyi homogen, kata-kata, frase-frase, kalimat-kalimat, dan bentuk-bentuk, bahasa yang sedang dipelajarinya.

Menyimak selektif memiliki ciri tertentu sebagai pembeda dengan kegiatan menyimak yang lain. Adapun ciri menyimak selektif ialah: (a) menyimak dengan saksama untuk menentukan pilihan pada bagian tertentu yang diinginkan, (b) menyimak dengan memperhatikan topik-topik tertentu, (c) menyimak dengan bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial pada tema-tema tertentu. Dalam tulisan ini ragam menyimak yang diterapkan adalah menyimak kritis, ( critical listening) yang bertujuan untuk mencari kesalahan atau kekeliruan bahkan juga butir-butir yang baik dan benar dari ujaran seorang pembicara sehingga dapat dijadikan teladan.

5. Faktor yang Mempengaruhi Menyimak Beberapa pakar atau ahli mengemukakan beberapa jenis faktor yang mempengaruhi menyimak. Menurut Hunt (dalam Tarigan, 1994: 97) ada lima faktor yang mempengaruhi menyimak, yaitu sikap, motivasi, pribadi, situasi, kehidupan, dan peranan dalam masyarakat, sedangkan Webb (dalam Tarigan, 1994: 98) mengemukakan empat faktor, yaitu lingkungan, fisik, psikologis, dan pengalaman.

Dari persamaan dan perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi menyimak oleh tiga ahli di atas, Tarigan (1994: 99-107) menyimpulkan ada delapan faktor yang mempengaruhi menyimak sebagai berikut.

a. Kondisi fisik seorang penyimak merupakan faktor yang penting dalam menentukan keefektifan serta kualitas menyimak. Kesehatan dan kesejahteraan fisik merupakan suatu modal penting yang turut menentukan bagi setiap penyimak. b. Faktor psikologis juga mempengaruhi proses menyimak. Faktor psikologis dibedakan menjadi dua, yaitu faktor psikologis yang positif memberi pengaruh yang baik, dan faktor psikologis yang negatif memberi pengaruh yang buruk terhadap kegiatan menyimak.

c. Faktor pengalaman, kurangnya minat merupakan akibat dari pengalaman yang kurang atau tidak ada sama sekali pengalaman dalam bidang yang disimak. Sikap antagonis adalah sikap yang menentang pada permusuhan yang timbul dari pengalaman yang tidak menyenangkan. d. Faktor sikap, sikap seseorang akan berpengaruh dalam kegiatan menyimak karena pada dasarnya manusia memiliki dua sikap yaitu menerima dan menolak.

Kedua sikap tersebut memberi dampak dalam menyimak, yaitu dampak bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial dan dampak negatif. e. Faktor motivasi, merupakan salah satu penentu keberhasilan seseorang. Jika motivasi kuat, maka dapat dipastikan orang itu akan berhasil mencapai tujuannya. Motivasi berkaitan dengan pribadi atau personalitas seseorang. Kalau kita yakin dan percaya bahwa pribadi kita mempunyai sifat kooperatif, tenggang hati, dan analitis, kita akan menjadi penyimak yang lebih baik dan unggul daripada berpikir bahwa diri kita malas, bersifat argumentatif, dan egosentris.

f. Faktor jenis kelamin, Julian Silverman menemukan fakta-fakta bahwa gaya menyimak pria pada umumnya bersifat objektif, aktif, keras hati, analitik, rasional, keras kepala atau tidak mau mundur, menetralkan, intrunsif (bersifat mengganggu), berdikari atau mandiri, sanggup mencukupi kebutuhan sendiri (swasembada), dapat menguasai dan mengendalikan emosi; sedangkan gaya menyimak wanita cenderung lebih subjektif, pasif, ramah atau simpatik, difusif (menyebar), sensitif, mudah dipengaruhi, mudah mengalah, reseptif, bergantung (tidak mandiri), dan emosional.

g. Faktor lingkungan, berupa lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik menyangkut pengaturan dan penataan ruang kelas serta sarana dalam pembelajaran menyimak. Lingkungan sosial mencakup suasana yang mendorong anak-anak untuk mengalami, mengekspresikan, serta mengevaluasi ide-ide. h. Faktor peranan dalam masyarakat, kemampuan menyimak kita dapat juga dipengaruhi oleh peranan kita dalam masyarakat.

Sebagai guru dan pendidik, maka kita ingin sekali menyimak ceramah, kuliah, atau siaran-siaran radio dan televisi yang berhubungan dengan masalah pendidikan dan pengajaran di tanah air kita atau luar negeri. Perkembangan pesat yang terdapat dalam bidang keahlian kita menuntut kita untuk mengembangkan suatu teknik menyimak yang baik.

Jadi, dari beberapa pendapat para ahli yang mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi menyimak dapat disimpulkan bahwa kegiatan menyimak dipengaruhi oleh faktor fisik, faktor psikologis, faktor pengalaman, faktor sikap, faktor motivasi, faktor jenis kelamin, faktor lingkungan, dan faktor peranan dalam masyarakat. 6. Unsur-unsur Menyimak Kegiatan menyimak merupakan kegiatan yang cukup kompleks karena sangat bergantung kepada berbagai unsur yang mendukung.

Yang dimaksudkan dengan unsur dasar ialah unsur pokok yang menyebabkan timbulnya komunikasi dalam menyimak. Setiap unsur merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan unsur yang lain. Unsur-unsur dasar menyimak ialah (1) pembicara, (2) penyimak, (3) bahan simakan, dan (4) bahasa lisan yang digunakan. Berikut ini adalah penjelasan masingmasing unsur itu.

a. Pembicara Yang dimaksudkan dengan pembicara ialah orang yang menyampaikan pesan yang. berupa informasi yang dibutuhkan oleh penyimak.

Dalam komunikasi lisan, pembicara ialah narasumber pembawa pesan, sedang lawan bicara ialah orang yang menerima pesan (penyimak). Dalam aktivitasnya, seorang penyimak sering melakukan. kegiatan menulis dengan mencatat hal-hal penting selama melakukan kegiatan menyimak.

Catatan tersebut merupakan pokok-pokok pesan yang disampaikan pembicara kepada penyimak. Fungsi catatan tersebut ialah sebagai berikut. 1) Meninjau kembali bahan simakan ( review). Kegiatan meninjau kembali bahan simakan merupakan salah satu ciri penyimak kritis. Pada kegiatan ini, penyimak mencermati kembali bahan simakan yang telah diterima melalui catatan seperti: topik, bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial, dan gagasan bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial yang menunjang pesan yang disampaikan pembicara.

Di samping itu penyimak dapat memprediksi berdasarkan pesan-pesan yang telah disampaikan pembicara. 2) Menganalisis bahan simakan. Pada dasarnya menyimak ialah menerima pesan namun dalam kenyataannya seorang penyimak tidak hanya menerima pesan begitu saja, ia juga berusaha untuk menganalisis pesan yang telah diterimanya itu. Kegiatan analisis ini dilakukan untuk membedakan ide pokok, ide bawahan, dan ide penunjang.

3) Mengevaluasi bahan simakan. Pada tahap akhir kegiatan menyimak ialah mengevaluasi hasil simakan. Langkah ini dapat dilakukan dengan cara: (a) Kekuatan Bukti. Untuk membenarkan pernyataan pembicara, penyimak harus mengevaluasi buktibukti yang dikatakan pembicara. Jika bukti-bukti itu cukup kuat, apa yang dikatakan pembicara itu benar.

(b) Validitas Alasan. Jika pernyataan pembicara diikuti. dengan alasan-alasan yang kuat, terpercaya, dan logis, dapat dikatakan bahwa alasan itu validitasnya tinggi. (c) Kebenaran Tujuan. Penyimak harus mampu menemukan tujuan pembicara. Di samping itu, ia juga harus mampu membedakan penjelasan dengan keterangan inti, sikap subjektif dengan sikap objektif.

Setelah itu ia akan mampu mencari tujuan pembicaraan (berupa pesan). b. Penyimak Penyimak yang baik ialah penyimak yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dan luas. Jika penyimak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang banyak dan luas, ia dapat melakukan kegiatan menyimak dengan baik. Selain itu, penyimak yang baik ialah penyimak yang dapat melakukan kegiatan menyimak dengan intensif.

Penyimak seperti itu akan selalu mendapatkan pesan pembicara secara tepat. Hal itu akan lebih sempurna jika ia ditunjang oleh, pengetahuan dan pengalamannya. Kamidjan (2001: 6) rnenyatakan bahwa penyimak yang baik ialah penyimak yang memiliki dua sikap, bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial sikap objektif dan sikap kooperatif.

1) Sikap objektif. Yang dimaksudkan dengan sikap objektif ialah pandangan penyimak terhadap bahan simakan. Jika bahan simakan itu baik, ia akan menyatakan baik, demikian pula sebaliknya. Penyimak sebaiknya tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal di luar kegiatan manyimak, seperti pribadi pembicara, ruang, suasana, sarana dan prasarana. 2) Sikap kooperatif. Sikap kooperatif ialah sikap penyimak yang siap bekerjasama dengan pembicara untuk keberhasilan komunikasi tersebut. Sikap yang bermusuhan atau bertentangan dengan pembicara akan menimbulkan kegagalan dalam menyimak.

Jika hal itu yang terjadi, maka penyimak tidak akan mendapatkan pesan dari pembicara. Sikap yang baik ialah sikap berkoperatif dengan pembicara. c. Bahan simakan Bahan simakan merupakan unsu terpenting dalam komunikasi lisan, terutama dalam menyimak.

Yang dimaksudkan dengan bahan simakan ialah pesan yang disampaikan pembicara kepada penyimak. Bahan simakan itu dapat berupa konsep, gagasan, atau informasi. Jika pembicara tidak dapat menyampaikan bahan simakan dengan baik, pesan itu tidak dapat diserap oleh penyimak yang mengakibatkan terjadinya kegagalan dalam komunikasi.

Untuk menghindari kegagalan, perlu dikaji ulang bahan simakan dengan cara berikut. 1) Menyimak tujuan pembicara. Langkah pertama si penyimak dalam melakukan kegiatan menyimak ialah mencari tujuan pembicara. Jika hal itu telah dicapai, ia akan lebih gampang untuk mendapatkan pesan pembicara.

Jika hal itu tidak ditemukan, ia .akan mengalami kesulitan. Tujuan yang akan dicapai penyimak ialah untuk mendapatkan fakta, mendapatkan inspirasi, menganalisis gagasan pembicara, mengevaluasi, dan mencari hiburan. 2) Menyimak urutan. Pembicaraan Seorang penyimak harus berusaha mencari urutan pembicaraan. Hal itu dilakukan untuk memudahkan penyimak mencari pesan pembicara.

Walaupun pembicara berkata agak cepat, penyimak dapat mengikuti dengan hati-hati agar mendapatkan gambaran tentang urutan penyajian bahan. Urutan penyajian terdiri atasa tiga komponen, yaitu pembukaan, isi, dan penutup.

Pada bagian pembukaan lingkup permasalahan yang akan dibahas. Bagian isi terdiri atas uraian panjang lebar permasalahan yang dikemukakan pada bagian pendahuluan. Pada bagian penutup berisi simpulan hasil pembahasan.

3) Menyimak topik utama Pembicaraan. Topik utama ialah topik yang selalu dibicarakan, dibahas, dianalisis saat pembicaraan berlangsung. Dengan mengetahui topik utama, penyimak memprediksi apa saja yang akan dibicarakan dalam komunikasi tersebut. penyimak satu profesi dengan pembicara, tidak akan kesulitan untuk menerima topik utama. Sebuah topik utama memiliki ciri-ciri: menarik perhatian) bermanfaat bagi penyimak, dan akrab dengan penyimak.

4) Menyimak topik bawahan. Setelah penyimak menemukan topik utama, langkah selanjutnya ialah mencari topik-topik bawahan. Umumnya pembicara akan membagi topik utama itu menjadi beberapa topik bawahan. Hal itu dilakukan agar pesan yang disampaikan dapat dengan mudah dicerna oleh penyimak. Penyimak dapat mengasosiasikan topik utama itu dengan sebuah pohon besar, topik bawahan ialah dahan dan ranting pohon tersebut.

Dengan demikian penyimak yang telah mengetahui topik utama, dengan mudah akan mengetahui topik-topik bawahannya. 5) Menyimak akhir pembicaraan. Akhir pembicaraan biasanya terdiri atas: simpulan, himbauan, dan saran-saran. Jika pembicara menyampaikan rangkuman, maka tugas penyimak ialah mencermati rangkuman yang telah disampaikan pembicara tersebut. Jika pem bicara menyampaikan simpulan, maka penyimak mcncocokkan catatannya dengan simpulan yang disampaikan pembicara.

Dalam hal itu perlu dicermati juga tentang simpulan. yang tidak sama, yaitu simpulan yang dibuat pembicara dan penyimak. Jika pembicara hanya menyampaikan himbauan, penyimak harus memperhatikan himbuan itu secara cermat dan teliti. Kegiatan menyimak merupakan kegiatan yang cukup kompleks karena sangat bergantung kepada berhagai unsur dasar yang mendukung. Yang dimaksudkan dengan unsur dasar ialah unsur pokok yang menyebabkan tirnbulnya komunikasi dalam menyimak. Setiap unsur merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan unsur yang lain.

Unsur-unsur dasar menyimak ialah pembicara, penyimak, bahan simakan, dan bahasa lisan yang digunakan. 7. Kendala Menyimak Dalam proses menyimak ada beberapa kendala yang sering ditemui para penyimak. Russel dan Black (dalam Marlina 2007:27-30) menyatakan ada tujuh kendala dalam menyimak sebagai berikut.

a. Keegosentrisan, yaitu sifat mementingkan diri sendiri (egois) mungkin saja merupakan cara hidup sebagian orang. Dia lebih senang didengar orang daripada mendengarkan pendapat orang lain. Sifat seperti ini merupakan kendala dalam menyimak. b. Keengganan untuk terlibat. Keengganan menanggung resiko, jelas menghalangi kegiatan menyimak karena menyimak adalah salah satu kegiatan yang harus melibatkan diri dengan sang pembicara.

c. Ketakutan dan perubahan. Apabila ingin menjadi penyimak yang baik, harus rela mengubah pendapat bahkan bila perlu harus berani mengubah dan menukar pendapat sendiri kalau memang ada pendapat atau gagasan yang lebih diandalkan dari orang lain. d. Keinginan untuk menghindari pertanyaan, dengan alasan jawaban yang diberikan akan memalukan, hal ini merupakan kendala dalam diskusi, kegiatan berbicara, dan menyimak.

e. Puas terhadap penampilan eksternal. Apabila merasa puas dengan tanda simpatik itu maka kita akan gagal menyimak lebih intensif lagi untuk melihat kalau pengertian itu benar-benar wajar. Orang yang merasa cepat puas karena telah mengetahui maksud pembicara berarti tergolong penyimak yang tidak baik.

f. Pertimbangan yang prematur, apabila ada sesuatu yang prematur, maka itu merupakan sesuatu yang tidak wajar. Hal itu merupakan contoh penyimak yang jelek, dan sifat seperti itu justru menghalanginya menjadi penyimak yang efektif. g. Kebingungan semantik. Makna suatu kata tergantung kepada individu yang memakainya dalam situasi tertentu dan waktu tertentu.

Seseorang yang ingin menjadi penyimak yang efektif harus mempunyai kosakata yang memadai. Jadi, dalam kegiatan menyimak terdapat kendala yang ditemui oleh penyimak. Kendala tersebut, yaitu keegosentrisan, keenganan ikut terlibat, ketakutan akan perubahan, keinginan menghindari pertanyaan, puas terhadap penampilan eksternal, pertimbangan yang prematur, dan kebingungan semantik.

8. Tahap-tahap Menyimak Menyimak adalah suatu preoses kegiatan mendengarkan dengan penuh perhatian dan pemahaman untuk memperoleh suatu informasi dan menangkap isi atau pesan dari objek tertentu, maka dapat diperoleh simpulan bahwa menyimak adalah suatu proses.

Tarigan (1991: 15) mengemukakan proses menyimak berdasarkan beberapa para ahli diantaranya, yaitu menurut Logan proses menyimak terbagi atas tiga tahap, yaitu pemahaman, penginterpretasian, dan penilaian, sedangkan menurut Logan dan Greene, membagi proses menyimak atas empat tahap yaitu mendengarkan, memahami, mengevaluasi, dan menanggapi.

Menurut Welker membagi proses menyimak itu atas lima tahap, yaitu mendengar, memperhatikan, mempersepsi, menilai, dan menanggapi. Dari beberapa pendapat ahli yang saling melengkapi tersebut, maka proses menyimak dapat mencakup enam tahap sebagai berikut. a. Tahap Mendengar Dalam tahap mendengar, penyimak berusaha menangkap pesan pembicara yang sudah diterjemahkan dalam bentuk bahasa. Untuk menangkap bunyi bahasa itu diperlukan telinga yang peka dan perhatian yang terpusat.

Dalam tahap ini baru mendengar segala sesuatu yang dikemukakan sang pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya, jadi kita masih berada dalam tahap hearing. b. Tahap Memahami Bunyi yang sudah ditangkap perlu diidentifikasi, dikenali, dan dikelompokkan menjadi suku kata, kata, kelompok kata, kalimat, paragraf, dan wacana. Setelah mendengar, tentunya ada keinginan bagi kita untuk mengerti atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang disampaikan oleh pembicara, sampailah kita pada tahap understanding.

c. Tahap Menginterpretasi Penyimak yang baik, cermat dan teliti, belum puas kalau hanya mendengar dan memahami isi ujaran pembicara, dia pasti ingin menafsirkan atau meginterpretasi isi, butir-butir pendapat yang terdapat dan tersirat dalam ujaran pembicara. Dengan demikian penyimak telah tiba pada tahap interpreting.

d.

bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial

Tahap Mengevaluasi Setelah memahami serta dapat menafsir atau menginterpretasikan isi pembicaraan, penyimak mulai menilai atau mengevaluasi pendapat serta gagasan pembicara, keunggulan dan kelemahan, serta kebaikan dan kekurangan. Penyimak sudah sampai pada tahap evaluating. e. Tahap Menanggapi Setelah semua tahap dilewati, penyimak menyambut, mencamkan, menyerap serta menerima gagasan atau ide yang dikemukakan pembicara dalam ujarannya. Penyimak sampai pada tahap akhir yakni tahap responding.

Akhir pembicaraan biasanya terdiri atas: simpulan, himbauan, dan saran-saran. Jika pembicara menyampaikan rangkuman, maka tugas penyimak ialah mencermati rangkuman yang telah disampaikan pembicara tersebut. Jika pem bicara menyampaikan simpulan, maka penyimak mcncocokkan catatannya dengan simpulan yang disampaikan pembicara.

Dalam hal itu perlu dicermati juga tentang simpulan. yang tidak sama, yaitu simpulan yang dibuat pembicara dan penyimak. Jika pembicara hanya menyampaikan himbauan, penyimak harus memperhatikan himbuan itu secara cermat dan teliti.Berdasarkan tahap-tahap menyimak di atas, maka tahap menyimak yang dilaksanakan dalam tulisan ini adalah tahap menginterpretasi. 9. Teknik Menyimak Efektif Untuk dapat menyimak dengan baik, perlu mengetahui syarat menyimak efektif. Adapun syarat tersebut ialah: (1) menyimak dengan berkonsentrasi(2) menelaah materi simaka, (3) menyimak dengan kritis, dan (4) membuat catatan.

(Universitas Terbuka, 1985: 35). Berikut ini adalah masing-masing hal itu. a. Menyimak dengan Berkonsentrasi Yang dimaksud dengan menyimak berkonsentrasi ialah memusatkan pikiran perasaan, dan perhatian terhadap bahan simakan yang disampaikan pembicara.

Untuk dapat memusatkan perhatian terhadap bahan simakan yang disampaikan pembicara dengan baik, penyimak harus dapat menghindari gangguan menyimak, baik yang berasal dari dirinya sendiri ataupun yang berasal dari luar.

Beberapa faktor luar yang dimaksudkan di antaranya adalah sebagai berikut. 1) Orang yang datang terlambat. Pada prinsipnya orang yang datang terlambat ke tempat ceramah akan mengganggu penyimak yang sedang berkonsentrasi terhadap bahan simakan. 2) Keanehan-keanehan yang terjadi di antara pembicara dan penyimak. Jika terjadi ketidakselarasan antara pembicara dan penyimak, akan terjadi gangguan pada diri penyimak. 3) Metode pembicara yang tidak tepat.

Dalam situasi komunikasi metode yang tidak tepat, akan berakibat gagalnya alur komunikasi pembicaradan penyimak. 4) Pakaian pembicara, Pembicara yang memakai pakaian yang berlebihan akan mengganggu konsentrasi penyimak. 5) Pembicara yang tidak menarik. b. Menelaah Materi Simakan Untuk menelaah materi simakan, penyimak dapat melakukan hal-hal sebagai berikut: 1) mencari arah dan tujuan pembicaraan, 2) mencoba membuat penggalan-penggalan pembicaraan dari awal sampai akhir, 3) menemukan tema sentral (pokok pembicaraan.

4) mengamati dan memahami alat peraga (media) sebagai penegas materi simakan. 5) memperhatikan rangkuman (jika pembicara membuat rangkuman) yang disampaikan pembicara. c. Menyimak dengan Kritis Yang dimaksudkan dengan menyimak kritis ialah aktivitas menyimak yang para penyimaknya tidak dapat langsung menerima gagasan yang disampaikan pembicara sehingga mereka meminta argumentasi pembicara. Pada dasarnya penyimak kritis memiliki ciri-ciri: 1) dapat menghubungkan yang dikaitakan pembicara dengan pengetahuan dan pengalamannya, 2) dapat menyusun bahan yang telah disimak dengan baik (reproduksi), 3) dapat menguraikan (menelaskan) apa saja yang telah disampaikan pembicara.

dan 4) dapat melakukan evaluasi terhadap bahan yang telah disimak. d. Membuat Catatan Kegiatan menyimak yang baik ialah kegiatan menyimak yang diikuti dengan kegiatan mencatat.

Yang perlu dicatat dalam kegiatan menyimak ialah hal-hal. yang dianggap penting bagi penyimak. Catatan itu merupakan langkah awal dalam memahami bahan simakan. Hal-hal penting yang perlu diketahui penyimak dalam mencatat ialah: 1) catatan boleh menggunakan tanda-tanda yang bersifat informal. 2) bentuk catatan yang benar ialah singkat, padat, dan jelas. 3) catatan yang baik ialah catatan yang benar artinya catatan itu tidak akan menimbulkan keraguan, 4) catatan yang diberi tanda-tanda tertentu, akan mempermudah penyimak membaca ulang, 5) catatan perlu direviu secara periodik.

Selanjutnva. dalam pencatatan, ada beberapa metode yang dapat diterapkan, di antaranya ialah metode kerangka garis besar, metode precis, metode bukti-prinsip, metode pemetaan Kegiatan menyimak yang baik ialah kegiatan menyimak bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial diikuti dengan kegiatan mencatat.

Yang perlu dicatat dalam kegiatan menyimak ialah hal-hal. yang dianggap penting bagi penyimak. Catatan itu merupakan langkah awal dalam memahami bahan simakan. Hal-hal penting yang perlu diketahui penyimak dalam mencatat ialah: (a) catatan boleh menggunakan tanda-tanda yang bersifat informal.

(b) bentuk catatan yang benar ialah singkat, padat, dan jelas. (c) catatan yang baik ialah catatan yang benar artinya catatan itu tidak akan menimbulkan keraguan, (d) catatan yang diberi tanda-tanda tertentu, akan mempermudah penyimak membaca ulang, (e) catatan perlu direviu secara periodik. Selanjutnva. dalam pencatatan, ada beberapa metode yang dapat diterapkan, di antaranya ialah metode kerangka saris bestir, metode precis, metode bukti-prinsip, metode pemetaan.

10. Teknik Peningkatan Daya Simak Telah disebutkan di atas bahwa pada saat menyimak. Anda perlu berkonsentrasi terhadap apa bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial Anda simak. Selain konsentrasi, faktor lain yang juga beperan besar dalam kegiatan menyimak adalah penguasan kosakata. Hal ini terjadi karena penangkapan makna merupakan bagian integral dari poses menyimak.

Orang dewasa dikatakan memiliki kosakata minimum apabila ia hanya memiliki rata-rata kosakata sekitar 20.000 kata. Selajutnya. untuk meningkatkan daya simak Anda. ada beberapa teknik yang dapat dilakukan. di antaranya adalah teknik loci, teknik penggabungan, dan teknik fonetik (Sutari dkk. bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial 67-70). Berikut ini adalah peniciasan teknik-teknik tersebut. a. Teknik Loci ( Loci System) Teknik loci merupakan salah satu teknik mengingat yang paling tradisional.

Teknik ini pada dasamva merupakan teknik mengingat dengan cara memvisualisasikan materi yang harus diingat dalam ingatan Anda. Teknik ini dapat dilakukan dengan cara mempelajari urutan informasi dengan informasi lain yang serupa, dan mencocokan hal-hal yang akan diingat dengan lokasi tersebut.

b. Teknik Penggabungan Teknik penggabungan merupakan teknik mengingat dengan cara menghubungkan (menggabungkan) pesan pertama yang akan Anda ingat secara berantai dengan pesan kedua, ketiga.

dan seterusnva. Pesan berantai itu dihubungkan pula dengan imaji-imaji tertentu yang perlu divisualkan secara jelas dalam pikiran Untuk mencegah terjadinya kelupaan pada pesan pertama (pesan yang akan dimatarantaikan), pesan pertama perlu dihubungkan tersebut dengan lokasi yang akan mengingatkan Anda pada item tadi.

c. Teknik Fonetik Teknik fonetik melibatkan penggabungan angka-angka, bunyi-bunvi fonetis, dan kata-kata yang mewakili bilangan-bilangan itu dengan pesan yang akan diingat. Teknik ini dapat membentuk imaji visual yang kuat untuk masing-masing kata yang berhubungan dengan bilangan; dan membentuk penggabungan visual antara masing-masing pesan yang akan diingat secara berurutan dengan masing-masing kata yang terbentuk dari kata-kata yang divisualisasikan. Penyimak yang baik apabila individu mampu menggunakan waktu ekstra untuk mengaktifkan pikiran pada saat menyimak.

Ketika para siswa menyimak, perhatiannya tertuju pada objek bahan simakan. Pada saat itulah akan didapatkan proses menyimak yang efektif, menyimak yang lemah, dan menyimak yang kuat 11. Pemilihan Materi Simakan Bahan simakan merupakan unsur terpenting dalam komunikasi lisan, terutama dalam menyima.

Yang dimaksud dengan bahan simakan adalah pesan yang disampaikan pembicara kepada penyimak. Bahan simakan itu dapat berupa konsep, gagasan, atau informasi. Jika pembicara tidak dapat menyampaikan bahan simakan dengan baik, maka pesdan itu tidak dapat diserap oleh penyimak yang mengakibatkan terjadinya kegagalan dalam berkomunikasi. Subyantoro dan Hartono (2003: 5-7) menyatakan bahwa bahan pembelajaran menyimak harus menarik minat dan dekat dengan kebutuhan siswa, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: a.

Keluasan Materi Ajar Materi ajar menyimak dapat diambil dari berbagai sumber. Materi ajar hendaknya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Materi yang sesuai, cocok dengan kemampuan siswa akan menghasilkan proses belajar mengajar yang memuaskan dan menyenangkan, baik bagi siswa maupun guru. Materi menyimak memiliki beberapa tujuan yaitu: 1) materi yang bertujuan untuk mendapatkan respons penyimak berupa bunyi-bunyian, baik berupa suara, suku kata, kata, frasa, klausa, maupun kalimat, 2) materi yang memerlukan pemusatan perhatian, yakni menentukan gagasan pokok pembicaraan dan gagasan penunjang, 3) materi yang bertujuan membandingkan atau mempertentangkan dengan pengalaman atau pengetahuan menyimak, 4) materi yang bertujuan untuk menuntut penyimak berpikir kritis, yakni melalaui proses analisis, 5) materi yang bertujuan untuk menghibur bersifat santai, 6) materi yang bertujuan untuk informatif, dan 7) materi yang bertujuan untuk deskriminatif yakni penyimak setelah mendapat pesan dapat memberikan reaksi yang sesuai dengan keinginan pembicara (Sutari dkk.

1997: 120). b. Keterbatasan Waktu Dalam pembelajaran, guru dituntut untuk dapat menyesuaikan waktu yang tersedia dengan bahan yang akan diajarkan. c. Perbedaan Karakteristik Pembelajar Perbedaan karakteristik pembelajar ditentukan oleh berbagai faktor antara lain minat, bakat, intelegensi, dan sikap.

Hal itu merupakan pertimbangan khusus bagi guru untuk memilih bahan simakan yang selaras dengan bakat, minat, dan sikap pembelajar. d. Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni Pada dasarnya, bahan pembelajaran menyimak harus menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Bahan pembelajaran menyimak harus menarik, selaras, dan autentik. Menarik yang dimaksud adalah agar siswa tertarik untuk menerima bahan simakan dengan perhatian yang sungguh-sungguh.

Selaras, merupakan syarat utama dalam proses pembelajaran menyimak. Kegagalan pembelajaran menyimak lebih banyak disebabkan oleh ketidakmampuan pembelajar terhadap makna, baik makna gramatikal, klasikal maupun kultural dalam bahan ajar. Terakhir adalah autentik (asli), keautentikan bahan menyimak dapat ditemukan di lingkungan sekitar siswa.

Berbagai macam kriteria yang dapat digunakan sebagai patokan dalam memilih bahan simakan. Semakin memenuhi butir-butir di bawah ini maka semakin baiklah bahan simakan tersebut. Kriteria bahan simakan yang baik adalah sebagai berikut. Tema harus up to date. Bahan-bahan mutakhir yang terbaru, yang muncul dalam kehidupan biasanya menarik perhatian. Oleh sebab itu sang pembicara harus pandai memilih salah satu topik masalah yang masih menjadi buah pembicaraan dalam masyarakat.

Kalau hal ini dapat diseleksi dengan baik, tentu pembicaraan yang disajikan pasti menarik perhatian, sebab semua orang ingin tahu akan masalah itu dan bagaimana cara pemecahannya atau penyelesaiannya. Tema terarah dan sederhana.

Tema pembicaraan jangan terlalu luas.

bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial

Cakupan pembicaraan yang terlalu luas takkan terjangkau oleh para penyimak. Pilihlah salah satu topik yang sederhana, jangan terlalu rumit dan sukar, yang muncul dari kehidupan sehari-hari. Bahan pembicaraan yang terlalu mengambang serta rumit tidak akan menarik perhatian, malahan membosankan dan membingungkan para penyimak.

Harus diingat bahwa yang sederhana tidak harus diidentikkan dengan jelek dan tidak berguna. Tema dapat menambah pengalaman dan pemahaman. Dari pembicaraan seseorang, biasanya kita mengharapkan adanya hal-hal yang dapat menambah pengetahuan.

Topik atau tema yang disajikan dapat memperkaya pengalaman dan mempertajam pemahaman serta penguasaan para penyimak akan masalah itu. Nah, baik topik, maupun cara penyajiannya harus mampu memenuhi tuntutan itu. Siapa yang mau membuang-buang waktu dan tenaga justru untuk menyimak hal-hal yang tidak berguna, bukan? Tema bersifat sugestif dan evaluatif. Tema atau topik pembicarran haruslah dipilih sedemikian rupa sehingga merangsang penyimak untuk berbuat dengan tepat serta dapat memberi penilaian tepat tidaknya, baik buruknya tindakan yang akan dilaksanakan.

Pokok pembicaraan harus dapat menggugah serta merangsang para penyimak untuk berbuat, bertindak, dan berkata dalam hatinya: Sayapun pasti dapat dan berhasil mengerjakan hal serupa itu. Tema bersifat motivatif. Topik atau tema pembicaraan seyogyanya dapat memberikan dorongan kuat untuk berbuat lebih giat dan lebih baik. Dapat memotivasi par apenyimak untuk bekerja lebih tekun untuk mencapai hasil yang lebih baik.

Tentunya sang pembicara tidak mengharapkan kurangnya motivasi berbuat dan bertindak para penyimak setelah menyimak ceramah atau ujarannya. Pembicara harus dapat menghibur. Manusia hidup membutuhkan hiburan, apalagi setelah bekerja berat seharian. Dengan menyimak sesuatu, maunya orang bisa melupakan kesusahan atau masalah hidup, paling sedikit buat sementara, pada saat menyimak itu.

Oleh sebab itu sang pembicara harus pandai berkelakar, membuat humor yang dapat membuat para penyimak tertawa, kalau perlu sampai terbahak-bahak. Bahasa sederhana mudah dimengerti. Banyak orang beranggapan bahwa suatu ceramah, kuliah, atau pembicaraan yang bermutu harus diiringi oleh kata-kata yang pelik, istilah-istilah baru, dan kalimat-kalimat yang panjang serta rumit.

Anggapan itu keliru.

bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial

Dengan bahsa yang “sederhana” pun pesan dapat disampaikan kepada para penyimak. Justru dengan bahasa yang sederhana, tema atau topik pembicaraan lebih bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial dipahami, lebih cepat dimengerti, komunikasi berjalan lasncar tanpa kendala kebahsaan. Oleh karena itu sang pembicara harus dapat mempergunakan bahasa yang sederhana, yang mudah dimengerti, serta diselang-seling dengan humor dan petatah-petitih.

Komunikasi dua arah. Alangkah baiknya jika suatu ceramah memberi kesempatan bertanya atau mengemukakan pendapat kepada para penyimak. Jadikanlah forum komunikasi itu menjadi komunikasi dua arah. Sang pembicara harus mengusahakan timbulnya dialog dia dengan partisipan, walaupun hal ini menuntut pengetahuan umum yang luas. Komunikasi itu jangan dibicarakan menjadi ajang duolog melulu, yang membuat perhatian penyimak pudar atau hilang sama sekali.

Beri kesempatan berbicara juga kepada penyimak, saling berganti agar komunikasi hidup, bersifat dua arah, merupakan dialog 12. Penilaian Keterampilan Menyimak Penilaian keterampilan menyimak dilakukan terhadap proses dan penilaian hasil. Penilaian hasil hanya merujuk pada hasil simakan siswa yang berupa respon atau jawaban-jawaban terhadap pertanyaan, sedangkan penilaian pada proses dilakukan dengan menggunakan model instrumen penilaian yang dirancang guru. Nurgiyantoro (1988:218) menyatakan bahwa evaluasi kemampuan menyimak dilaksanakan dengan teknik tes dan nontes.

Tes keterampilan menyimak dimaksudkan untuk mengukur kemampuan siswa menangkap dan memahami informasi yang terkandung di dalam wacana yang diterima melalui saluran pendengaran.

Untuk tes kemampuan menyimak, pemilihan bahan tes lebih ditekankan pada keadaan wacana, baik dilihat dari segi tingkat kesulitan, isi dan cakupan, maupun jenis-jenis wacana. a. Tes Kemampuan Menyimak Tingkat Ingatan Tes kemampuan menyimak pada tingkat ini sekadar menuntut siswa untuk mengingat fakta atau menyatukan kembali fakta-fakta yang terdapat di dalam wacana bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial telah diperdengarkan. Fakta dalam wacana dapat berupa tanggal, tahun, peristiwa dan sebagainya.

Bentuk tes yang dipergunakan dapat berupa bentuk tes objektif, isian singkat, ataupun bentuk pilihan ganda.

b. Tes Kemampuan Menyimak Tingkat Pemahaman Tes keterampilan menyimak pada tingkat pemahaman menuntut siswa untuk dapat memahami wacana yang dipergunakan. Pemahaman yang dimaksud adalah pemahaman terhadap isi wacana, hubungan antar kejadian, hubungan antar ide, hubungan sebab akibat, dan sebagainya. Pemahaman pada tingkat ini belum benar-benar kompleks (belum menuntut kerja kognitif yang tinggi). Bentuk tes yang digunakan esai ataupun bentuk objektif. c. Tes Kemampuan Menyimak Tingkat Penerapan Diharapkan siswa dapat menerapkan konsep atau masalah tertentu pada situasi yang baru.

Misalnya, diperdengarkan beberapa buah wacana dengan gambar yang sesuai. d. Tes Kemampuan Menyimak Tingkat Analisis Tes keterampilan menyimak pada tingkat analisis menuntut siswa untuk melakukan kerja analisis, untuk memilih alternatif jawaban yang tepat. Analisis yang dilakukan berupa analisis detil-detil informasi, mempertimbangkan bentuk dan aspek kebahasaan tertentu, menemukan hubungan kelogisan, sebab-akibat dan lain-lain. Jawaban terhadap pertanyaan dapat dinilai berdasarkan tepat tidaknya jawaban dengan melakukan penskoran berdasarkan jumlah soal dan bobot soal, sedangkan hasil simakan siswa yang berupa respon dinilai berdasarkan tepat tidaknya respon itu dengan apa yang akan diungkapkan atau diperintahkan dalam bahan simakan (Subyantoro & Hartono, 2003: 14).

Aspek-aspek penilaian ditentukan berdasarkan indikator pencapaian hasil belajar. Penilaian proses dapat dilakukan dengan menggunakan model instrumen yang dirancang oleh guru. Dari beberapa kemungkinan tes yang digunakan untuk mengukur keterampialan siswa dalam menyimak informasi melalui tuturan langsung pada tulisan ini termasuk ke dalam tes keterampilan menyimak tingkat analisis.

Tes keterampilan menyimak tingkat analisis digunakan pada tulisan ini karena tes ini menuntut siswa untuk melakukan kerja analisis, untuk memilih alternatif jawaban yang tepat. Analisis yang dilakukan berupa analisis detil-detil informasi, mempertimbangkan bentuk dan aspek kebahasaan tertentu, menemukan hubungan kelogisan, sebab-akibat, dan simpulan dari informasi yang didengar.

13. Pembelajaran Menyimak Dalam proes pembelajaran di kelas, sebagian besar waktu yang digunakan oleh siswa adalah untuk kegiatan mendengar atau menyimak. Akan tetapi, kegiatan tersebut bukanlah merupakan pengertian kegiatan menyimak dalam proses pembelajaran keterampilan menyimak yang sedang difokuskan.

Purwo (dalam Depdiknas 2003:3) menjelaskan bahwa dalam pembelajaran menyimak yang sedang difokuskan perlu mempertimbangkan hal-hal berikut. Pertama, pembelajaran menyimak perlu diwujudkan ke dalam kegiatan tertentu, misalnya mendengarkan kaset berupa pidato atau ceramah, musik atau dialog, radio atau menyimak seseorang yang membaca teks, bercerita atau menjelaskan sesuatu secara lisan. Jika teks yang dibacakan ada di dalam buku yang dimiliki siswa, maka buku harus ditutup dulu.

Macam yang didengar dapat dilakukan secara bervariasi. Kedua, kegiatan tersebut perlu dibatasi waktunya, misalnya 10-15 menit.

bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial

Hal ini mengingat menyimak membutuhkan konsentrasi yang penuh, sehingga tidak mungkin berlama-lama tanpa batas waktu. Ketiga, kegiatan menyimak harus mempunyai tujuan yang jelas dan terarah, misalnya untuk bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial pemahaman siswa.

Selesai kegiatan menyimak, siswa diuji dengan menjawab pertanyaan (lisan maupun tulis), mengungkapkan kembali (lisan atau tulis), atau mendaftar butir-butir pokok dari teks yang disimak. Menyimak bisa juga bertujuan untuk mencari istilah tertentu, misalnya istilah-istilah yang terkait dengan tema olahraga, kependudukan, lingkungan, dan sebagainya.

Tujuan menyimak sebaiknya sudah disampaikan terlebih dahulu kepada siswa, sebelum kegiatan menyimak dilakukan. Selain itu, materi dalam pembelajaran menyimak juga harus sesuai dengan kelayakan dan kebutuhan siswa. Adapun materi pembelajaran menyimak yang sesuai dan layak sebagai berikut. Pertama, materi pembelajaran menyimak yang disajikan dalam bentuk media cetak. Materi pembelajaran menyimak jenis ini akan membuat pembelajaran tidak kondusif. Hal ini disebabkan proses menyimak yang siswa lakukan berasal dari materi yang dibacakan oleh guru atau siswa lainnya.

Kedua, materi yang berupa CD interaktif. Materi pembelajaran jenis ini akan mengajak siswa untuk bersama-sama melihat secara langsung audio visual dalam pembelajaran menyimak. Materi pembelajaran menyimak jenis ini akan membuat siswa senantiasa fokus pada pembelajaran. Namun, siswa akan mengalami kejenuhan apabila dihadapkan pada layar monitor selama pembelajaran berlangsung.

Selain itu, guru juga kurang dapat berperan dalam pembelajaran. Ketiga, materi pembelajaran menyimak yang disajikan dalam bentuk cetak dan CD. Materi pembelajaran jenis ini akan membuat siswa belajar dua arah, yaitu belajar pada media cetak dan media audio visual yang telah disediakan. Hal ini diharapkan dapat membuat siswa semakin aktif untuk mengeksplorasi dirinya. Selain itu, guru memiliki peran penting untuk tetap menjadi fasilitator siswa selama pembelajaran.

Daftar Pustaka Aslanoglu, Aslihan Erman dan Omer Kutlu. 2009. Factors Affecting The Listening Skill. Jurnal disampaikan pada World Conference on Educational Sciences 2009.

Dananjaja, James. 2002. Foklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Keterampilan Menyimak. Jakarta: Depdiknas. Duiqchoey. 2009. Keterampilan Menyimak. http://duiqchoey.blogspot.com. Nunan, David. 2005. Practical English Language Teaching. Singapore: MCGraw Hill Companies, Inc. Nurgiantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.

Purwadi dan Swandono. 2000. BPK Menyimak Bahasa Indonesia. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Surakarta. Richards, Terry George. 1962. Office Management and Control, Fourth Edition. Homewood: Richard D. Irwin Inc. Subyantoro dan Bambang Hartono. 2003. Pengembangan Kemampuan Berbahasa Pembelajaran Keterampilan Mendengarkan, Berbicara, Membaca, dan Menulis.

Makalah Disampaikan pada Pelatihan Terintegrasi Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi Tahun 2003. Sutari, Ice, Tiem Kartimi, dan Vismaia. 1997. Menyimak. Jakarta. Depdikbud. Tarigan, Henry Guntur. 1986.

Menyimak sebagai Suatu Keterampilan berbahasa. Bandung: Angkasa. Tarigan, Djago. 1991. Metodologi Pengajaran Bahasa.

Bandung: Angkasa. Tarigan, Djago. 1994. Menyimak sebagai Suatu Pengantar Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Tavil, Zekiye Muge. 2010. Integrating Listening and Speaking Skills to Facilitate English Language Learners’ Communicative Competence. WCLTA 2010. Yildirim, Ozen, Safiye Bilican dan Omer Kutlu. 2012. ” The Factors That Predict The Frequency of Activities Developing Students Listening Comprehension Skills”.

WCES 2012 Zualaeha, Ida dan Fathur Rahman. 2009. Pengembangan Inovasi Pembelajaran dan Materi Ajar Bahasa Berbasis Information Communication Technology (ICT) yang Berorientasi pada Kebutuhan Kompetensi Komunikatis Siswa.

Semarang: Unnes. Zuhayya. 2010. Menyimak. http://zujayya.blogspot.com. • Blogroll • Documentation 0 • Plugins 0 • Suggest Ideas 0 • Support Forum 0 • Themes 0 • WordPress Blog 0 • WordPress Planet 0 • Serat Panginggil • Proses Morfofonemik dan Morfologis • Model Pembelajaran Berbasis Portofolio • Kohesi dan Koherensi dalam Wacana • Penilaian, Pengukuran, dan Evaluasi • Variasi Bahasa • Teori Resepsi Sastra dan Penerapannya • Pembelajaran Keterampilan Menyimak • Pembelajaran Terpadu • Hubungan Bahasa dengan Kebudayaan • Kompetensi Kepribadian • Tulisan Terakhir • Pendekatan dalam Resepsi Sastra • BABAD GALUH II • BABAD GALUH I • Sejarah Lisan • Memahami Karakter Dasar Siswa • Photos Cermatilah kalimat-kalimat acak berikut!1) Hal itu karena Pulau Komodo dihuni oleh hewan langka.2) Dengan luas 399 km², pulau tersebut dihuni lebih da … ri 13.000 ekor komodo.3) Keberadaan hewan langka itu menjadi pemicu wisatawan lokal/asing berkunjung.4) Pulau Komodo menjadi salah satu dari keajaiban dunia.5) Sampai kini Pulau Komodo tetap menarik untuk dijadikan tempat tujuan wisata.Susunlah kalimat-kalimat tersebut agar menjadi logis!

2. Bacalah teks berikut! Hingga saat ini bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial masih mengeluhkan kelangkaan minyak goreng satu harga yang dibanderol Rp14.000,00 per liter. Banya … k masyarakat yang belum mendapatkan bagian, padahal program ini sudah berlangsung seminggu.

Langkanya minyak goreng Rp14.000,00 per liter di pasar lantaran adanya pembelian yang berlebihan akibat kepanikan (panic buying) dari masyarakat. Pihak produsen minyak goreng sudah cukup dalam memproduksi dan mengedarkan minyak goreng.

Hanya saja, adanya panic buying membuat stok minyak goreng tetap terasa kurang. Tujuan penulisan teks tersebut adalah . A. memberitahukan bahwa stok minyak goreng sudah mencukupi di pasaran B. menyampaikan keluhan masyarakat akibat mahalnya harga minyak goreng & menginformasikan kelangkaan minyak goreng di pasaran akibat panic buying D. mengajak masyarakat sebagai konsumen untuk tidak melakukan panic buying​ 2. Bacalah teks berikut!

Hingga saat ini masyarakat masih mengeluhkan kelangkaan minyak goreng satu harga yang dibanderol Rp14.000,00 per liter. Banya … k masyarakat yang belum mendapatkan bagian, padahal program ini sudah berlangsung seminggu. Langkanya minyak goreng Rp14.000,00 per liter di pasar lantaran adanya pembelian yang berlebihan akibat kepanikan (panic buying) dari masyarakat. Pihak produsen minyak goreng sudah cukup dalam memproduksi dan mengedarkan minyak goreng.

Hanya saja, adanya panic buying membuat stok minyak goreng tetap terasa kurang. Tujuan penulisan teks tersebut adalah . A. memberitahukan bahwa stok minyak goreng sudah mencukupi di pasaran B. menyampaikan keluhan masyarakat akibat mahalnya harga minyak goreng & menginformasikan kelangkaan minyak goreng di pasaran akibat panic buying D. mengajak masyarakat sebagai konsumen untuk tidak melakukan panic buying​
Betapa penting peran menyimak dalam kehidupan sehari-hari, kiranya tidak perlu diragukan lagi.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu dihadapkan pada berbagai kesibukan menyimak. Apalagi dalam era globalisasi seperti saat ini, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat dituntut untuk mampu menyimak berbagai informasi dengan cepat dan tepat, baik melalui berbagai media, seperti radio, televisi, telepon, dan internet, maupun melalui tatap muka secara langsung. Berbagai lembaga, baik di lingkungan pemerintah maupun swasta, sering mendatangkan para pakar yang sesuai dengan bidang informasi yang dibutuhkannya untuk memecahkan masalah yang dihadapi melalui kegiatan rapat, ceramah, seminar, diskusi, debat, simposium, dan sebagainya.

Dalam kegiatan semacam itu, peserta dituntut untuk memiliki keterampilan menyimak yang memadai. Mengingat betapa penting peran menyimak dalam kehidupan manusia, pembelajaran menyimak sebagai bagian dari pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMA/MA sudah selayaknya mendapat perhatian yang sama dengan bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial keterampilan berbahasa yang lain. Pembelajaran menyimak perlu dilaksanakan secara sungguh-sungguh sebagaimana pembelajaran keterampilan berbahasa yang lain.

Di dalam makalah ini berturut-turut ini diuraikan secara singkat beberapa hal yang berkaitan dengan pengembangan keterampilan menyimak, yaitu konsep menyimak, aspek kemampuan menyimak di dalam kurikulum, beberapa teknik pembelajaran menyimak, contoh model pembelajaran menyimak, penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran menyimak, contoh penilaian pembelajaran menyimak, dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran menyimak.

Menyimak merupakan suatu proses. Sebagai sebuah proses, peristiwa menyimak diawali dengan kegiatan mendengarkan bunyi bahasa secara langsung atau tidak langsung. Bunyi bahasa yang ditangkap oleh telinga diidentifikasi jenis dan pengelompokannya menjadi suku kata, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Jeda dan intonasi juga ikut diperhatikan oleh penyimak. Bunyi bahasa yang diterima kemudian ditafsirkan maknanya dan dinilai kebenarannya agar dapat diputuskan diterima tidaknya. Dengan kata lain, menyimak merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menafsirkan, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalam wacana lisan.

Secara garis besar menyimak dibagi menjadi dua jenis, yakni menyimak ekstensif dan menyimak intensif (Tarigan, 1990). Akan tetapi, ada juga yang menyatakan menyimak ditinjau dari sumber suara, terdiri dari menyimak intra personal dan menyimak antar personal. Semua jenis menyimak ini memiliki kelebihan dan kekurangan sesuai dengan konteks kebutuhan penyimak. Jenis-jenis menyimak ekstensif (S2AP) meliputi (1) menyimak sekunder, yaitu menyimak yang terjadi secara kebetulan, misalnya, sambil memasak mendengarkan siaran berita, (2) menyimak sosial, yaitu menyimak yang berlangsung dalam situasi-situasi sosial seperti di pasar atau terminal, (3) menyimak apresiatif, yaitu menyimak untuk menghayati dan menikmati sesuatu, misalnya menyimak pembacaan puisi, atau menyimak drama, dan (4) menyimak pasif, yaitu menyimak yang dilakukan tanpa upaya sadar Jenis-jenis menyimak ini lebih banyak digunakan secara alamiah.

Jenis-jenis menyimak intensif (K3EIS) adalah (1) menyimak kritis, yaitu kegiatan menyimak untuk memberikan penilaian secara objektif mengenai kebenaran informasi yang disimak; (2) menyimak konsentratif, yaitu menyimak dengan dengan penuh perhatian untuk memperoleh pemahaman yang baik tentang informasi yang disimak; (3) menyimak eksploratif, yaitu kegiatan menyimak yang dilakukan untuk menemukan informasi baru; (4) menyimak kreatif, yaitu kegiatan menyimak yang bertujuan mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas penyimak, misalnya dengan cara mengemukakan kembali gagasan pembicara; (5) menyimak interogatif, yaitu kegiatan menyimak yang bertujuan memperoleh informasi dengan cara mengajukan pertanyaan yang diarahkan kepada pemerolehan informasi tersebut; (6) menyimak selektif, yaitu kegiatan menyimak yang memusatkan perhatian pada hal tertentu yang sudah dipilih.

Agar dapat menyimak secara efektif, penyimak harus menyimak dengan penuh konsentrasi, menelaah materi simakan, menyimak dengan kritis, dan apabila bahan simakan cukup panjang dapat diikuti dengan kegiatan mencatat.

Di samping itu, penyimak hendaknya siap fisik dan mental, bermotivasi, objektif, menyeluruh, selektif, tidak mudah terganggu, menghargai pembicara, cepat menyesuaikan diri, tidak mudah emosi, kontak dengan pembicara, dan responsif. Pada saat menyimak, perlu dihindari beberapa kebiasaan yang kurang menguntungkan, antara lain keegosentrisan, keengganan ikut terlibat, ketakutan akan perubahan, keinginan menghindari pertanyaan, puas terhadap penampilan eksternal, menghindari penjelasan yang sulit, penolakan terhadap pembicara, mengritik penampilan/cara berbicara pembicara, perhatian pura-pura, mencatat detil pembicaraan, dan menyerah pada gangguan.

Teknik simak-ulang ucap biasanya digunakan untuk memperkenalkan bunyi bahasa dengan pengucapan atau lafal yang tepat dan jelas. Guru dapat mengucapkan atau memutar rekaman bunyi bahasa tertentu seperti fonem, kata, kalimat, ungkapan, semboyan, kata mutiara dengan lafal dan intonasi yang tepat.

Setelah itu, siswa menirukan ucapan guru. Pengucapan ulang bunyi bahasa tersebut dapat dilakukan secara klasikal, kelompok, atau individual. Untuk menyimak kalimat yang panjang, siswa perlu mencari kalimat intinya. Kalimat inti dapat dicari melalui beberapa kata kunci. Kata kunci itulah yang mewakili pengertioan kalimat. Guru menyiapkan kalimat panjang dan disampaikan secara lisan. Setelah menyimak, siswa harus menentukan beberapa kata kunci yang mewakili pengertian kalimat.

Melalui teknik ini siswa dilatih untuk memahami isi bahan simakan. Setelah menyimak, siswa diminta menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan isi wacana yang diperdengarkan. Pertanyaan yang harus dijawab siswa tentu saja dikembangkan sesuai dengan bahan simakan. Adapun bahan simakan dapat berupa wacana nonsastra maupun wacana sastra.

Guru atau salah seorang siswa diminta menceritakan sebuah kisah yang sudah dipersiapkan, sedangkan siswa lain mendengarkan cerita tersebut. Setelah guru/siswa mengisahkan sebagian cerita, siswa lain diminta meneruskan cerita tersebut. Demikian seterusnya secara bergiliran siswa diminta melanjutkan cerita temannya sampai cerita itu berakhir.

Dengan cara demikian, siswa harus menyimak jalan cerita yang disampaikan sebab pada giliran berikutnya setiap siswa mungkin ditunjuk guru untuk melanjutkan cerita. Guru membisikkan suatu pesan kepada seorang siswa. Siswa tersebut membisikkan pesan itu kepada siswa kedua. Siswa kedua membisikkan pesan kepada siswa ketiga.

Begitu seterusnya. Siswa terakhir menyebutkan pesan itu dengan suara keras dan jelas di depan kelas. Guru memeriksa apakah pesan itu benar-benar sampai kepada siswa terakhir atau tidak. Demikianlah sebagian dari beberapa teknik pembelajaran yang dapat dipilih dalam pembelajaran kemampuan mendengarkan.

Tentu saja, dalam pelaksanaannya teknik-teknik tersebut dapat dimodifikasi, divariasi, digabungkan, ditambah, atau dikurangi sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Di samping itu, teknik pembelajaran mendengarkan juga dapat dikembangkan sendiri oleh guru sesuai dengan keperluan. Di dalam KTSP SMA/MA 2006 disebutkan bahwa ada 12 standar kompetensi (SK) yang harus dikuasai siswa dalam kemampuan berbahasa dan bersastra subaspek kemampuan menyimak dengan rincian 6 SK kemampuan menyimak aspek kemampuan berbahasa dan 6 SK kemampuan menyimak aspek kemampuan bersastra.

Enam SK kemampuan menyimak aspek kemampuan berbahasa dikembangkan menjadi 24 kompetensi dasar (KD), sedangkan 6 SK kemampuan menyimak aspek kemampuan bersastra dikembangkan ke dalam 24 KD. Kompetensi dasar: • Menanggapi siaran atau informasi dari media elektronik (berita dan nonberita).

• Mengidentifikasi unsur sastra (intrinsik dan ekstrinsik) suatu cerita yang disampaikan secara langsung/melalui rekaman.

• Mengidentifikasi unsur-unsur bentuk suatu puisi yang disampaikans ecara langsung ataupun melalui rekaman. • Mengungkapkan isi suatu puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman. Kompetensi dasar: • Menyimpulkan isi informasi yang disampaikan melalui tuturan langsung. • Menyimpulkan isi informasi yang didengar melalui tuturan tidak langsung (rekaman atau teks yang dibacakan). • Menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat yang disampaikan secara langsung dan bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial melalui rekaman.

• Menjelaskan hal-hal yang menarik tentang latar cerita rakyat yang disampaikan secara langsung dan atau melalui rekaman. Kompetensi Dasar: • Membedakan antara fakta dan opini dari berbagai laporan lisan.

• mengomentari berbagai laporan lisan dengan memberikan kritik dan saran. • Menanggapi pembacaan penggalan novel dari segi vokal, intonasi, dan penghayatan. • Menjelaskan unsur-unsur intrinsik dari pembacaan penggalan novel. Kompetensi Dasar: • Mengajukan saran perbaikan tentang informasi yang disampaikan secara langsung.

• Mengajukan saran perbaikan tentang informasi yang disampaikan melalui radio/televisi. • Menemukan unsur-unsur intrinsik teks drama yang didengar melalui pembacaan. • Menyimpulkan isi drama melalui pembacaan teks drama. Berkaitan dengan pencapaian dua belas KD tersebut, guru perlu menyiapkan bahan pembelajaran berupa (1) pembacaan wacana nonberita dan wacana berita, (2) pembacaan cerita, (3) pembacaan puisi, (4) tuturan langsung/tidak langsung, (5) pembacaan cerita rakyat, (6) pembacaan sambutan/khotbah, (7) wawancara/rekaman wawancara, (8) pementasan drama, (9) diskusi/seminar (10) pembacaan cerpen, (11) laporan lisan, (12) pembacaan penggalan novel, (13) rekaman informasi dari radio/TV, dan (14) pembacaan teks drama.

Dalam kaitannya dengan pembelajaran menyimak, kompetensi yang akan dicapai melalui pembelajaran menyimak berita adalah agar siswa mampu mendengarkan siaran atau informasi dari media elektronika atau pembacaan teks dan memberikan tanggapan.

Indikator pencapaiannya adalah siswa mampu (1) mencatat pokok-pokok isi berita, (2) mengajukan pertanyaan tentang isi berita, (3) menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan isi berita, dan (4) mengungkapkan kembali isi berita yang didengar dalam beberapa kalimat secara runtut. Kompetensi dasar yang akan dicapai melalui pembelajaran menyimak khotbah adalah siswa mampu menyimak khotbah dengan indikator pencapaian kompetensi siswa mampu (1) mencatat pokok-pokok isi khotbah yang didengarkan, (2) menuliskan pokok-pokok isi khotbah dalam beberapa kalimat, dan (3) menyampaikan secara lisan ringkasan isi khotbah.

Ada banyak hal yang dapat diperoleh ketika seseorang mendengarkan pembacaan puisi. Dengan mendengarkan puisi rasa keindahan bertambah tajam, sikap berempati dan bersimpati berkembang, pengetahuan dan pengalaman bertambah luas, dan pembaca dapat merefleksikan hasil pembacaan itu dalam berbagai bentuk, seperti menghayati dan mengamalkan nilai-nilai yang ada di dalam puisi. Berikut dipaparkan salah satu model pembelajaran mendengarkan puisi untuk mencapai kompetensi dasar mendengarkan puisi yang disampaikan secara langsung dan mengungkapkan unsur-unsur di dalamnya yang indikator pencapaiannya adalah siswa mampu: (1) menentukan tema puisi yang dibacakan, (2) mengungkapkan makna yang terkandung dalam puisi yang dibacakan, dan (3) mengungkapkan pesan dalam puisi yang dibacakan.

Adapun tujuan pembelajaran menyimak cerita rakyat adalah: siswa mampu mendengarkan cerita rakyat yang disampaikan secara langsung dan mengungkapkan unsur-unsur di dalamnya. Ketercapaian tujuan tersebut ditandai oleh indikator: siswa mampu (1) menentukan isi atau amanat yang terdapat di dalam cerita, dan (2) mengutarakan secara lisan amanat dalam cerita rakyat dengan memperhatikan pelafalan kata dan kalimat yang tepat Sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2004, penilaian pembelajaran menyimak mengacu pada penilaian berbasis kelas Penilaian berbasis kelas dalam arti penilaian sebagai assessment merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasi tentang hasil belajar siswa pada tingkat kelas selama dan setelah kegiatan belajar mengajar (KBM).

Sebagaimana dikemukakan pada bagian awal tulisan ini, pembelajaran menyimak merupakan salah satu bagian dari pembelajaran kemampuan berbahasa yang sama pentingnya dengan aspek kemampuan berbahasa yang lain, yaitu berbicara, membaca, dan menulis. Oleh sebab itu, guru hendaknya dapat mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran menyimak dengan sebaik-baiknya agar pembelajaran dapat betul-betul bermakna.

Bagaimanapun, kunci sukses pembelajaran berada di tangan guru. Untuk mendapatkan informasi tentang peristiwa-peristiwa aktual, kita dapat melakukan berbagai aktivitas, salah satunya adalah dengan mendengarkan berita yang disiarkan melalui media radio maupun televisi.

Untuk dapat memperoleh informsi yang lengkap mengenai berita tersebut, kita dituntut untuk menjadi penyimak berita yang baik. Agar dapat menjadi penyimak berita yang baik, kita perlu banyak berlatih. Sekarang, Anda sudah mengetahui jalan cerita cerpen yang Anda simak. Selanjutnya, agar pemahaman terhadap cerita yang Anda simak menjadi lebih baik, kerjakan tugas-tugas di bawah ini. • Siapakah tokoh utama cerita yang Anda simak? Bagaimana ciri-cirinya? • Apa konflik yang dihadapinya? • Bagaimana pengarang menyelesaikan konflik itu?

• Lukiskankanlah latar cerpen tersebut. • Bagaimana pengaruh latar terhadap unsur cerita yang lain? • Apa yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita tersebut? Ingat-ingatlah kembali dialog antara Sukidi dengan isterinya ketika mempersoalkan nama bagi calon anaknya.

Sekarang, bentuklah pasangan-pasangan yang berperan sebagai Sukidi dan isterinya.

bagaimana cara menilai hasil siswa dalam kegiatan menyimak sosial

• Rencanakan dialog antara Sukidi dan isterinya dengan bahasa Anda sendiri. • Peragakanlah dialog itu di hadapan peserta. Banyak sekali pengalaman menarik yang dapat kita peroleh dari menikmati karya sastra. Bahkan tidak jarang, kita dapat memperoleh pengalaman baru yang mungkin tidak kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk dapat menikmati puisi, kita dapat membaca sendiri puisi tersebut, atau bisa juga dengan menyimak pembacaan puisi oleh orang lain.

Kali ini kita akan berlatih menyimak puisi. Ikutilah langkah di bawah ini. Tema dalam puisi merupakan hasil pemikiran dan perasaan penyair.

Ia bisa merupakan hasil tanggapan atau perenungan dari situasi yang dirasakan, dihayati, dan dialami penyair. Apakah puisi yang Anda dengarkan tadi juga mencerminkan hal itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, silakan Anda menjawab pertanyaan berikut.

5E_Juanawati_E1E019168




2022 www.videocon.com