Mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda

mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda

MENU MENU • Home • About • Profil Usaha • Sejarah • Contact • Service • Daftar Menerbitkan Buku • Kirim Naskah • Kerjasama Net Promoter • Jasa Pengurusan HAKI • Konsultasi Menulis • Cek Progess Buku • Testimony • Kerjasama Workshop • Program Reseller • Artikel • Informasi • Dasar Menulis • Cara Menerbitkan Buku • Inspirasi • Memasarkan Buku • Tutorial • Teknik Menulis • Writing Advice • Writing Tools • Free Ebook • Ebook Panduan Buku Ajar (Versi Cepat Paham) • Ebook Premium Gratis • Ebook Menulis Buku Monograf • Ebook Menulis Buku Referensi • Ebook Rahasia Menulis Buku Ajar • Ebook Panduan Menulis Tanpa Plagiarisme • Ebook Self Publishing • FAQ • Promo • Karir Menu • Mulai Dari Sini • Motivasi Menulis • Dasar Menulis • Cara Menulis Buku • Cara Menerbitkan Buku • Panduan Menulis • Menulis Buku • Buku Pendidikan • Buku Ajar • Menulis Karya Ilmiah • Buku Referensi • Buku Teks • Novel • Inspirasi • Writing Advice • Writing Tools • Book Marketing • Succes Story • Toko Buku Menu • Home • About • Profil Usaha • Profil An Nur Budi Utama • Sejarah • Karir • Service • Menerbitkan Buku • Kirim Naskah • Jasa Pengurusan Haki • Konsultasi Menulis • Pengadaan Buku • Kerjasama Workshop • Program Reseller • Kerjasama Net Promoter • Promo • Contact Us • FAQ • Artikel • Panduan Menulis • Inspirasi • Writing Advice • Writing Tools • Succes Story • Book Marketing • Toko Buku Daftar Isi • Apa Itu Karakter Tokoh?

• Jenis-Jenis Karakter Tokoh • 1. Protagonis • 2. Antagonis • 3. Tritagonis • 4. Skeptic • 5. Sidekick • 6. Contagonist • 7. Guardian • 8. Reason • 9. Emotion • 10. Deutragonis • 11. Foil • 12. Figuran Dalam sebuah novel, cerita pendek atau cerpen, cerita bersambung atau cerbung, drama, dan karya sastra lain tentu kita mengenal karakter tokoh. Tapi kita kadang belum memahami kira-kira apa jenis-jenis karakter tokoh yang ada di dalam cerita tersebut.

Oleh sebab itu, sebagai penulis tentu saja Anda harus memahami jenis-jenis karakter tokoh. Sebelum membahas mengenai jenis-jenis karakter tokoh, tentu Anda sebagai pembaca atau penulis selama ini mengetahui bahwa tokoh adalah subjek atau orang yang mengalami kejadian atau terlibat di dalam jalannya cerita.

Di dalam sebuah cerita, tokoh biasanya terdiri dari dua orang atau lebih, kecuali pada monolog. Tokoh-tokoh tersebut tentu saja memiliki sifat, watak, sikap, dan karakteristik yang berbeda-beda, seperti manusia pada umumnya. Oleh sebab itu, di bawah ini akan dijelaskan mengenai berbagai hal mengenai karakter tokoh, mulai dari pengertian karakter tokoh hingga berbagai jenis-jenis karakter tokoh.

Apa Itu Karakter Tokoh? Menurut Wikipedia, karakter atau watak adalah sifat batin yang memengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya. Sementara tokoh adalah manusia atau orang dengan sebaran populasi paling besar atau paling luas. Di dalam sebuah karya sastra, karakter tokoh ini merupakan seorang yang mengambil peran atau terlibat di dalam kejadian yang ada di dalam jalannya cerita.

Karakter tokoh sering dipergunakan pada istilah untuk menyebut perwatakan atau watak, karakter atau karakteristik yang menunjukkan bagaimana dimiliki oleh tokoh di dalam cerita tersebut.

Istilah tokoh dalam cerita merujuk pada orangnya atau pelaku di dalam cerita tersebut. Sehingga karakter tokoh adalah watak, karakter, atau sifat yang dimiliki oleh tokoh yang memerankan atau terlibat di dalam jalannya cerita. Dengan adanya karakter tokoh, maka jalan cerita bisa dibangun berdasarkan bagaimana watak dan sifat yang ditunjukkan oleh tokoh di dalamnya.

Karakter atau sifat dari seorang tokoh juga disebut sebagai penokohan. Tujuan diciptakannya karakter atau sifat pada tokoh tersebut untuk menghidupkan jalan cerita dari tokoh atau pelaku yang terlibat di dalam jalannya sebuah cerita. Sehingga penulis naskah perlu mengembangkan atau menemukan teknik yang sesuai untuk menciptakan karakter tokoh. Oleh sebab itu, penulis atau pengarang memperlihatkan penokohan atau karakter pada tokoh dengan bagaimana penulis atau pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam suatu cerita, sehingga penonton atau pembaca mampu mengetahui bagaimana karakter atau sifat dari para tokoh yang ada di dalam cerita tersebut.

Jenis-jenis karakter tokoh yang diciptakan di dalam sebuah cerita biasanya diciptakan oleh penulis dengan berdasarkan dari berbagai imajinasi atau pengalaman penulis itu sendiri. Jenis-jenis karakter tokoh yang diciptakan juga harus realistis sehingga dekat dengan pembaca dan tidak terkesan mengada-ada. Karakter tokoh atau penokohan ini juga termasuk ke dalam unsur intrinsik dalam suatu karya sastra. Maka, terciptanya karakter tokoh tersebut harus mampu membangkitkan alur cerita dengan baik dan juga menarik penonton atau pembaca karya sastra tersebut.

Karakter tokoh atau penokohan tersebut tentu tidak hanya ada satu macam. Ada beberapa jenis-jenis karakter tokoh yang biasa digunakan penulis atau pengarang untuk menggambarkan tokoh atau pelaku yang terlibat di dalam jalannya cerita. Ada beberapa pengertian mengenai karakter tokoh menurut beberapa ahli. Menurut Kosasih (2012:67), pengertian karakter tokoh adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita.

Menurut Zaidan (2004:206), karakter tokoh adalah proses penampilan tokoh dengan pemberian watak, sifat, atau kebiasaan tokoh pemeran suatu cerita. Selanjutnya, Sugiarti (2007:94) memiliki pandangan bahwa perwatakan atau karakter tokoh adalah pemberian sifat baik lahir maupun batin pada seorang pelaku atau tokoh yang terdapat pada cerita.

Selain itu, Nurgiantoro (2012:165) mengungkapkan bahwa karakter tokoh adalah pelukisan atau gambar yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.

Minderop (2005:2) menggambarkan karakter tokoh adalah pelukisan watak tokoh yang terdapat dalam suatu karya fiksi. Dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2014:1476) memaparkan pengertian karakter atau tokoh atau penokohan sebagai penciptaan citra mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda dalam karya sastra.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa karakter tokoh adalah pelukisan karakter diri seorang tokoh atau pelaku di dalam jalannya cerita yang digambarkan oleh pengarang dalam sebuah karya sastra. Baca Juga: Unsur Instrinsik dan Ekstrinsik Novel,Cerpen,Puisi,dan Drama Pengertian Fabel,Ciri-Ciri,Unsur, dan Contoh Lengkap Pengertian Alur Cerita, Jenis-Jenis dan Contoh Lengkap 12 Tips Membuat Alur Cerita yang Menarik Jenis-Jenis Karakter Tokoh Setelah memahami apa itu karakter tokoh, kini akan dipelajari mengenai apa saja jenis-jenis karakter tokoh yang ada di dalam cerita.

Untuk dapat menggambarkan sifat atau watak dari seorang tokoh di dalam cerita, pengarang atau penulis tentu menciptakan penokohan berdasarkan jenis-jenis karakter tokoh. Berikut ini adalah beberapa jenis-jenis karakter tokoh mulai yang membedakan watak atau penokohan tokoh yang satu dan tokoh yang lainnya.

1. Protagonis Protagonis adalah jenis-jenis karakter tokoh yang paling disoroti di dalam jalannya atau alur cerita. Biasanya tokoh protagonis ini digambarkan memiliki watak dan sifat yang baik dan juga bersifat positif. Sehingga tokoh protagonis ini banyak disukai oleh penonton atau pembaca karya sastra. Selain itu, tokoh protagonis juga biasanya digambarkan memiliki sifat yang rendah hati, sabar, tidak sombong, jujur, setia, suka menolong, dan sifat baik lainnya.

Biasanya, tokoh protagonis ini menjadi tokoh utama sehingga menjadi perhatian di dalam jalannya cerita tersebut. Tak heran jika tokoh protagonis ini berhasil menyita empati dan perhatian dari para pembaca.

Hal ini karena pembaca ajakan diajak mengikuti kisah tokoh protagonis untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Masalah yang dihadapi tokoh protagonis ini bisa datang dari siapa saja, bahkan dari tokoh lain. Sehingga bisa dibilang bila tokoh protagonis ini akan menentukan bagaimana jalannya cerita dan segala keputusan yang terjadi dan menjadi penentu di dalam alur cerita yang berjalan.

2. Antagonis Selain tokoh protagonis, jenis-jenis karakter tokoh yang selanjutnya adalah karakter antagonis. Tokoh antagonis ini adalah tokoh yang kontras dengan tokoh protagonis. Di mana tokoh antagonis ini digambarkan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda tokoh yang memiliki watak atau sifat yang buruk dan biasanya menjadi musuh atau memusuhi tokoh protagonis. Tokoh antagonis juga bisa disebut sebagai tokoh yang menentang cerita karena tokoh antagonis ini sering digambarkan sebagai sosok tokoh yang memiliki sifat negatif, yaitu memiliki dendam, pembohong, jahat, sombong, penipu, kasar, tidak bersahabat, suka membuat masalah, dan berbagai sikap buruk lainnya.

Tokoh antagonis ini biasanya dibenci oleh penonton atau pembaca cerita karena sifatnya yang dinilai merugikan atau menyebalkan. Meski demikian, biasanya penulis sengaja memberikan porsi yang cukup banyak bagi tokoh antagonis ini sehingga semakin membuat pembaca atau penonton jengkel tetapi tetap menyita perhatian penonton atau pembaca. Dengan adanya sifat buruk pada tokoh antagonis tersebut, masalah di mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda cerita atau konflik biasanya semakin memanas.

Konflik di dalam cerita yang digambarkan di dalam alur juga biasanya muncul karena peran atau perilaku yang dilakukan tokoh antagonis.

3. Tritagonis Tokoh selanjutnya yang biasa muncul di dalam karakter tokoh atau penokohan adalah tokoh tritagonis. Tokoh tritagonis ini biasanya muncul di dalam cerita sebagai tokoh yang mampu menjadi penengah antara pertikaian atau konflik yang hadir di antara tokoh antagonis dan tokoh protagonis.

Karena tokoh tritagonis ini diciptakan sebagai tokoh penengah, maka watak yang dimiliki tokoh tritagonis biasanya bijak dan berwibawa. Hal ini karena tokoh tritagonis digambarkan harus mampu menjadi pendamai atau jembatan atas penyelesaian konflik yang muncul di dalam jalannya cerita.

Selain menjadi penengah, tritagonis juga bisa memberikan pendapat dan memberi nasihat bagi tokoh protagonis dan tokoh antagonis yang berkonflik. Sehingga jika disimpulkan, kehadiran tokoh tritagonis di dalam cerita atau karya sastra adalah menjadi tokoh yang mencari jalan keluar terbaik dari permasalahan yang terjadi antara tokoh antagonis dan tokoh protagonis. Baca Juga; Mudah, Cara Membuat Novel Kisah Sendiri yang Banyak Diminati Mengenal Bagaimana Pentingnya Novelty Dalam Tulisan Ilmiah Tips Menulis Novel yang Menarik Bagi Pembaca Cara Mengirim Naskah Novel ke Penerbit 4.

Skeptic Secara umum, pembagian jenis-jenis karakter tokoh yang terkenal memang hanya ada tiga yang dijelaskan di atas yakni tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis. Namun ada pula jenis-jenis karakter tokoh lain yang mewarnai jalannya alur di dalam sebuah cerita. Salah satunya adalah tokoh skeptic. Mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda skeptic ini biasa dikenal sebagai tokoh yang memusuhi karakter baik. Artinya, tokoh skeptic ini merupakan tokoh yang mendukung tokoh antagonis dalam cerita.

Berbeda dengan tokoh antagonis, tokoh skeptic ini merupakan tokoh pendukung yang tidak terlalu sering muncul di dalam cerita. Meski hanya jadi tokoh pendukung, tokoh skeptic ini biasanya menjadi pelengkap munculnya konflik.

Tokoh skeptic ini juga bisa berperan menghidupkan alur atau jalan cerita agar jalan cerita tidak terkesan datar dan monoton. 5. Sidekick Selain tokoh skeptic, karakter tokoh yang juga mendukung jalannya cerita selain tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis adalah tokoh sidekick.

Tokoh sidekick ini biasanya tokoh yang muncul atau dimunculkan sebagai penyeimbang munculnya tokoh skeptic. Konsep tokoh sidekick yang menyeimbangkan tokoh skeptic ini hampir sama dengan peran tokoh protagonis dan tokoh antagonis, namun bedanya tokoh sidekick ini merupakan tokoh pendukung.

Tokoh sidekick ini tokoh yang menjadi pendukung tokoh protagonis atau pendukung tokoh yang berperilaku baik. Hadirnya tokoh sidekick ini menjadi pendukung yang berperan menghidupkan alur cerita atau jalan cerita agar tidak monoton dan konflik yang terjadi juga semakin menarik dan berkembang.

Baca Juga: 9 Cara Menulis Cerpen Untuk Pemula dan Strukturnya Menulis Buku Novel: Syarat Mengembangkan Penokohan Novel Sejarah Laris di Pasaran Buku Novel Terbaru Anda Pasti Laris-Begini Caranya 6. Contagonist Selanjutnya adalah tokoh contagonist. Meski tidak terlalu familiar dibandingkan tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis, tokoh contagonist ini juga berperan baik dalam mengembangkan atau mendukung jalannya cerita atau alur di dalam cerita dan mendukung para pemeran di dalamnya.

Tokoh contagonist ini adalah tokoh yang mendukung atau tokoh pendukung dengan karakter yang berseberangan dengan tokoh protagonis. Biasanya, tokoh contagonist ini muncul di tengah-tengah jalannya cerita. Mengapa demikian? Penulis atau pengarang memang biasanya memunculkan tokoh contagonist di tengah cerita.

Hal ini karena sifat dari tokoh contagonist ini hanya menjadi pendukung konflik yang muncul, sehingga konflik atau jalannya cerita yang terjadi atau berlangsung lebih hidup dan lebih menarik lagi. 7. Guardian Selanjutnya, muncul tokoh guardian. Sama dengan peran seperti namanya, tokoh guardian ini muncul sebagai pelindung dari peran utama. Tokoh guardian ini biasanya muncul setelah hadirnya tokoh contagonist. Tokoh guardian akan muncul sebagai penyeimbang para tokoh yang muncul sebelumnya.

Karena tokoh guardian ini berperan sebagai pelindung pemeran utama, tokoh guardian ini biasanya digambarkan sebagai seorang tokoh yang memiliki sifat yang bijak dan baik hati sehingga mampu menjadi pelindung bagi pemeran utama di dalam cerita yang berlangsung.

8. Reason Selain itu, jenis-jenis karakter tokoh yang muncul lainnya adalah tokoh reason. Tokoh reason ini juga merupakan tokoh pendukung. Yang mana meskipun tidak berperan sebagai pemeran utama, namun perannya akan menjadi penentu dan menjadi warna bagi alur cerita yang berlangsung. Tokoh reason ini digambarkan sebagai tokoh yang memiliki karakter yang tenang dan selalu berpikiran logis serta sabar.

Oleh sebab itu, tokoh reason ini akan membantu menyelesaikan masalah dengan cara membantu tokoh utama dalam penyelesaian masalah atau konflik yang dihadapi. 9. Emotion Selanjutnya muncul juga tokoh pendukung lain yakni tokoh emotion.

Meski merupakan tokoh pendukung, namun tokoh emotion ini juga memiliki peran yang cukup penting dalam jalannya sebuah alur cerita, yang mana tokoh ini akan mampu jadi tokoh yang memicu konflik di dalam sebuah cerita sehingga jalan cerita jadi semakin menarik. Tokoh emotion ini memiliki sikap atau sifat yakni tidak bisa berpikir tenang. Tokoh mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda ini digambarkan sebagai tokoh yang tidak bisa mengendalikan perasaannya dan tidak bisa berpikir tenang.

Oleh sebab itu, kehadiran tokoh emotion ini menambah bumbu di dalam jalannya sebuah cerita. Tokoh emotion ini bisa muncul dan memicu adanya konflik baru atau memicu konflik besar yang akan terjadi di dalam rangkaian cerita sehingga cerita semakin panjang dan juga semakin menarik.

10. Deutragonis Selanjutnya, ada jenis-jenis karakter tokoh lain yakni tokoh deutragonis. Sama dengan tokoh sidekick, tokoh pendukung yakni tokoh deutragonis ini menjadi teman setia bagi tokoh protagonis yang akan selalu menemani dan mendukung para tokoh utama, yakni tokoh protagonis.

Tokoh deutragonis ini digambarkan sebagai sosok tokoh yang menjadi teman, baik tempat curhat atau sosok yang selalu ada bagi tokoh protagonis dan membantu tokoh protagonis menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

11. Foil Selanjutnya adalah tokoh pendukung yang sama dengan tokoh pendukung skeptic. Tokoh pendukung foil yang memiliki peran sama dengan tokoh skeptic ini merupakan tokoh yang akan selalu menemani dan mendukung peran dari tokoh utama dalam hal ini adalah tokoh antagonis.

Tokoh foil ini nanti akan berperan sebagai tokoh yang membantu tokoh antagonis dalam menyelesaikan masalah atau memenangkan konflik di dalam cerita atau alur cerita yang disajikan. 12. Figuran Jenis-jenis karakteristik tokoh yang selanjutnya adalah tokoh figuran. Seperti yang kita ketahui bersama, tokoh figuran yang ada di dalam jalannya cerita adalah sebagai karakter yang melengkapi jalannya sebuah cerita. Tokoh figuran di dalam cerita ini tidak terlalu sering muncul seperti pemeran utama.

Namun meski demikian, peran dari tokoh figuran ini tidak kalah penting dari tokoh utama. Tokoh figuran ini bahkan biasanya menjadi pemanis dan membuat jalan cerita akan lebih menarik. Hal ini karena tokoh figuran biasanya digambarkan sebagai sosok yang memiliki sifat unik sehingga menjadi warna dalam jalannya cerita.

Tokoh figuran seringkali memiliki sifat yang lucu dan menyenangkan, sehingga bisa menjadi penghibur bagi tokoh utama dan juga mampu menyeimbangkan jalannya cerita sehingga bisa diterima pembaca atau penonton dengan baik.

Artikel Terkait: Unsur Instrinsik dan Ekstrinsik Novel,Cerpen,Puisi,dan Drama Pengertian Fabel,Ciri-Ciri,Unsur, dan Contoh Lengkap Pengertian Alur Cerita, Jenis-Jenis dan Contoh Lengkap 12 Tips Membuat Alur Cerita yang Menarik Istilah “kritik seni” dalam bahasa Indonesia sering juga disebut dengan istilah “ulas seni”, “kupas seni”, “bahas seni” atau “bincang seni”.

Hal ini disebabkan istilah “kritik” bagi sebagian orang sering mempunyai konotasi negatif yang berarti kecaman, celaan, gugatan, hujatan, dan lain-lain (lihat Kamus Purwadarminta). Dalam Kamus Inggris-Indonesia disebutkan kata critic adalah kata benda yang artinya pengecam, pengeritik, pengupas, pembahas.

(John M. Echols dan Hassan Shadily, 1984 : 155) Istilah critic dalam bahasa Inggris sudah ada sejak tahun 1588, secara etymology berasal dari bahasa Latin criticus, bahasa Junani kritikos yang erat hubungannya dengan krinein yang berarti memisahkan, mengamati, menilai, dan menghakimi ( Merriam Webster's Collegiate Dictionary). Lebih lanjut dalam Merriam Webster's Collegiate Dictionary disebutkan bahwa arti kritik adalah : 1 a : one who expresses a reasoned opinion on any matter especially involving a judgment of its value, truth, righteousness, beauty, or technique b : one who engages often professionally in the analysis, evaluation, or appreciation of works of art or artistic performances 2 : one given to harsh or captious judgment Dalam rumusan Webster’s tersebut disebutkan bahwa maksud kritik adalah orang yang menyampaikan pendapatnya dengan alasan tertentu terhadap berbagai hal, terutama mengenai nilainya, kebenarannya, kebajikannya, kecantikannya atau tekniknya.

Berikutnya dinyatakan bahwa arti kritik adalah orang yang melibatkan diri secara profesi dalam menganalisa, mengevaluasi atau memberi penghargaan kepada karya seni atas pencapaian artistiknya.

Terakhir dinyatakan bahwa maksud kritik adalah seseorang yang memberikan pelilaian dengan cerdik atau tajam. Sedangkan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda criticism adalah : 1 a : the act of criticizing usually unfavorably b : a critical observation or remark c : critique 2 : the art of evaluating or analyzing works of art or literature 3 : the scientific investigation of literary documents (as the Bible) in regard to such matters as origin, text, composition, or history Menurut penjelasan pertama di atas, tindakan mengkritik dalam kehidupan sehari-hari umumnya tidak mendukung atau menguntungkan bagi yang dikritik; suatu pengamatan yang kritis atau teguran.

Padanan kata critique dalam batasan di atas berarti kupasan atau tinjauan. Dalam seni mengkritik berarti mengevaluasi atau meneliti karya seni atau literatur. Berikutnya mengkritik diartikan sebuah penyelidikan yang ilmiah dari naskah atau dokumen yang terkait dengan kesusateraan dalam hubungan dengan berbagai hal seperti keasliannya, teks, komposisi, atau sejarahnya. Berdasarkan pengertian tersebut di atas, istilah “kritik” dalam bahasa Indonesia dapat dianalogikan dengan istilah critic, criticism dan critique dalam bahasa Inggris.

Pada umumnya istilah “kritik seni” terkait dengan masalah seni, dan bertujuan mendiskripsikan, menganalisis, mengintepretasi, dan menilai karya seni. Tujuan dan Fungsi Kritik Seni Tujuan dari kritik seni adalah pemahaman pada karya seni, dan ingin menemukan suatu cara guna mengetahui apa yang melatar belakangi suatu karya seni dihasilkan serta memahami apa yang ingin disampaikan oleh pembuatnya, sehingga hasil kritik seni benar-benar maksimal, dan secara nyata dapat menyatakan baik buruknya sebuah karya.

Akhir tujuan dari kritik seni adalah supaya orang yang melihat karya seni memperoleh informasi dan pemahaman yang berkaitan dengan mutu suatu karya seni, dan menumbuhkan apresiasi serta tanggapan terhadap karya seni.

(Feldman, 1967 : 448) Kritik seni berfungsi sebagai jembatan atau mediator antara pencipta karya seni dengan penikmat karya seni, serta antara karya seni itu sendiri dengan penikmatnya. Fungsi sebagai jembatan ini sangat penting dan strategis, karena tidak semua orang penikmat karya seni dapat mengetahui dengan pasti apa yang ingin disampaikan dan dikomunikasikan oleh pencipta karya seni dengan wujud karya yang dihadirkan.

Pada sisi yang lain, kritik seni juga dapat dimanfaatkan oleh pencipta mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda seni untuk mengevaluasi diri, sejauh mana karya seninya dapat ditangkap dan dimengerti oleh orang lain, sejauh mana prestasi kerjanya dapat dipahami manusia di luar dirinya.

Kesemuanya merupakan umpan balik yang sangat berharga bagi pencipta karya seni untuk memperbaiki karya-karya seninya dimasa-masa mendatang. • Dalam kesenian sering disebutkan bahwa karya yang dihasilkan tersebut dapat dikategorikan sebagai karya seni tradisional, konvensional atau klasik, kemudian dapat dikelompokkan sebagai karya seni moderen, dan terakhir dalam pembagian klasifikasi adalah karya seni post-modern atau kontemporer.

Masing-masing kategori tentunya mempunyai ciri-ciri khusus yang membedakannya dengan kategori yang lain. Terkait dengan relasi pertandaan pra-modernisme, modernisme, dan post-modernisme, terlihat perbedaan relasi pertandaan yang sangat mencolok dalam bidang seni rupa dan desain. Pada masa mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda atau pra-modernisme, seni berfungsi menyampaikan pesan-pesan ideologis atau spiritual yang sudah mapan secara konvensional.

Pada abad pertengahan, seni lebih banyak diwarnai upaya penyampaian tanda tentang wahyu, ajaran, atau kebenaran lewat ikon-ikon. Hal ini secara umum dapat digambarkan dalam sebuah prinsip: form follows meaning, yang artinya bentuk selalu bermuara pada makna-makna ideologis atau spiritual. Pada masa moderen, seni berusaha menolak keterkaitannya dengan makna-makna ideologis atau spiritual, dan berupaya menolak makna-makna yang berasal dari luar seni itu sendiri.

Seni moderen berusaha melepaskan diri dari perangkap mitos, tradisi, kepercayaan, dan konvensi sosial. Sebagai gantinya, modernisme mengajukan prinsip: form follows function, yang artinya bahwa setiap ungkapan bentuk pada akhirnya akan menyandarkan maknanya pada aspek fungsi dari suatu obyek.

Dalam seni murni, aspek fungsi dapat dijelaskan dengan istilah formalisme, yang maksudnya sebuah bentuk dikatakan bermakna bukan berdasarkan relasi strukturalnya dengan realitas di luar bentuk tersebut, tetapi relasi formal di antara elemen-elemen seni rupa seperti: garis, bidang, ruang, warna, dan tekstur, yang membangun bentuk tersebut, dan sekaligus menentukan fungsinya.

Pada seni post-modernisme, relasi pertandaan lebih bersifat ironis dengan menolak acuan penanda pada makna ideologis yang konvensional, sekaligus juga menolak fungsi sebagai referensi dominan dalam pertandaan sebagaimana prisip seni moderen. Post-modernisme meminjam dan mengambil tanda-tanda dari periode klasik dan moderen, bukan untuk menjunjung tinggi makna-makna ideologis dan spiritualnya, tetapi untuk menciptakan satu mata rantai pertandaan yang baru dengan menanggalkan makna-makna konvensional, dan meleburkan diri dalam ajang permainan bebas penanda-penanda dan petanda-petanda, sebagaimana dikemukakan Derrida dan Baudrillard.

Post-modernisme mengajukan satu prinsip baru pertandaan: form follows fun, yang maksudnya dalam post-modernisme bukan makna-makna ideologis yang ingin dicapai, tetapi justru kegairahan dalam bermain dengan penanda. (lihat Piliang, 1999 : 121 – 124) Kritik seni merupakan pembicaraan mengenai karya seni, sedangkan kritik seni rupa adalah pembicaraan mengenai karya seni rupa.

Guna mewujudkan tujuan tersebut, maka diperlukan cara pertimbangan penilaian yang akan mempermudah dalam memahami karya seni rupa dengan segala aspeknya, baik faktor intraestetik maupun ekstraestetik. Kreasi dan apresiasi merupakan tindakan penciptaan karya seni oleh pencipta karya seni atau seniman dan pemanfaatan / penghargaan oleh pemakai seni ( user) untuk memenuhi kebutuhan estetik sesuai dengan pedoman pada model pengetahuan yang ada dalam kesenian yang didukungnya, dan berpegang pada tradisi yang berlaku.

Penciptaan atau kreasi karya seni dipengaruhi faktor ekstraestetik, yaitu faktor-faktor di luar bentuk fisik karya seni seperti faktor sosial, budaya, ekonomi, teknologi, religi, dan pendidikan dari seniman dan pemakai seni mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda user.

Pendekatan intraestetik, yaitu faktor yang semata-mata memandang nilai estetik yang terkandung dalam bentuk fisik karya seni (unsur struktur, bentuk, dll.) dengan kriteria yang ditetapkan universal oleh para ahli seni. ( bandingkan H. G. Blocker, 1979 : 22–24 ; M. Dufrenne, 1979 : 301-329; T. Munro, 1969 : 358 - 360) Faktor intraestetik sering juga disebut dengan penilaian formalisme yang menempatkan unsur-unsur estetika dalam suatu karya seni merupakan tinjauan utamanya.

Melalui penilaian formalisme, maka kritik lebih bersifat mementingkan bentuk-bentuk visualnya. Penilaian formalisme menempatkan mutu artistik pada suatu kualitas yang terintegrasi dalam pengorganisasian secara formal dari suatu karya seni rupa. Menurut Edmund Burke Feldman, seorang formalis adalah yang melihat hubungan antara perencanaan dan perhitungan menjadi sesuatu yang jelas dan benar-benar sama bobotnya.

Karya-karya Mondrian dianggap lebih jelas bagi kaum formalis karena dalam karyanya cenderung mengurangi suatu akibat yang bersifat kebetulan. (lihat Feldman, 1967 : 459) Pendekatan formalisme dalam menelaah karya seni rupa dengan cara memandang obyek utamanya atau karakteristik materialnya, sehingga masalah kecakapan dalam mengolah bentuk dan keterampilan teknis dari pembuat karya seni dalam mewujudkan karya seninya yang kasat mata merupakan pokok perhatian utama pendekatan ini.

Penilaian formalisme dapat dilakukan dengan cara mengurai secara obyektif seluruh tampilan visual dengan pendekatan kontruktif dan struktural pada formalitas bentuknya. Pengorganisasian dari elemen-elemen visual merupakan bagian terpenting dalam penilaian mewujudkan sebuah karya seni. Formalisme sebagai suatu teori dalam kritik seni cenderung mengkesampingkan atau mengabaikan faktor ekstraestetik atau faktor-faktor di luar karya seni yang dinilai, seperti faktor nilai-nilai estetika yang berhubungan dengan latar belakang pencipta karya, faktor sosial, budaya, ekonomi, teknologi, pendidikan, dan religi.

Berlawanan dengan penilaian formalisme, penilaian ekspresifisme lebih tertarik dengan memperhatikan faktor perasaan dan emosi seniman dalam menghasilkan karyanya. Hal ini disebabkan dalam pendekatan ekspresifisme, faktor unsur-unsur pribadi dalam diri pencipta karya secara disadari atau tidak disadari akan hadir dalam karya-karya yang dihasilkannya. Pendekatan ekspresifisme lebih tertarik kepada karya seni rupa yang diwujudkan melalui proses pengungkapan perasaan dan gagasan-gagasan yang ada dalam diri seniman.

Pendekatan ekspresifisme merupakan kombinasi dari pendekatan faktor intraestetik dan ekstraestetik dalam batas-batas tertentu. Faktor ekstraestetik, yaitu faktor-faktor di luar bentuk fisik karya seni seperti faktor sosial, budaya, ekonomi, teknologi, religi, dan pendidikan dari seniman menjadi pertimbangan penilaian karya seni yang dihasilkannya. Faktor ekstra-estetik ini disebut juga dengan penilaian instrumentalisme, karena tidak hanya mengkaji ungkapan perasaan atau emosi pencipta karya seni seperti pendekatan ekspresifisme, tetapi suatu kajian yang berkaitan dengan hal-hal yang melatar belakangi kehidupan seniman.

Pendekatan instrumentalisme merupakan teori pendekatan karya seni rupa yang mencoba mengkaji kaitan antara karya seni yang dihasilkan dengan latar belakang penciptanya. Pendekatan ini sering digunakan untuk menilai karya seni rupa kontemporer, karena pendekatan ini mencurahkan perhatiannya kepada tema, narasi dan kontekstual gagasan dari karya seni kontemporer yang dihasilkan.

Penilaian instrumentalisme cenderung memandang karya seni rupa sebagai tekstual yang dikaitkan dengan kontektual karya tersebut, dan menyadari bahwa karya seni sebagai bentuk “pengabdian” untuk menjalankan beberapa pesan dan tujuan di luar dirinya. Mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda beberapa uraian penilaian di atas, tampaknya karya yang disajikan oleh seniman dapat mewakili ekspresi yang bermatra individual, sosial, maupun budaya, dari masing-masing seniman yang bermuatan isi sebagai substansi ekspresi yang merujuk pada berbagai tema, interpretasi, atau pengalaman hidupnya.

Karya seni cenderung berbeda dalam corak dan ungkapan, dan mempunyai ciri khas masing-masing yang unik, seperti dalam seni kontemporer relasi pertandaan cenderung menolak acuan penanda pada makna ideologis yang konvensional, dan juga menolak fungsi sebagai referensi dominan dalam pertandaan sebagaimana prisip seni moderen. Seni kontemporer menciptakan satu mata rantai pertandaan yang baru, dan menghanyutkan diri dalam arena permainan bebas penanda-penanda dan petanda-petanda, dan setiap orang dibebaskan untuk menginterpreatsikan serta memaknai karya seni kontemporer secara terbuka sesuai dengan latar belakang sosial budaya dan pengalamannya.

• Dalam melaksanakan kritik seni secara verbal maupun tulisan, biasanya terdapat unsur deskripsi karya seni, kemudian analisis formal karya seni, yang dilanjutkan dengan interpretasi, dan terakhir tahap evaluasi atau penilaian akan mutu yang dihasilkan dalam karya seni yang dikritik. Unsur-unsur kritik seni tersebut di atas sistematikanya dapat dilakukan secara berurutan atau secara acak, tergantung tujuan kritik seni itu dilakukan. Pada kritik jurnalistik, karena keterbatasan kolom, maka uraian kritik seni biasanya disesuaikan dengan gaya selera penulisan media massanya.

Kritik seni awalnya merupakan kebutuhan untuk menjelaskan makna seni, dan kemudian beranjak kepada kebutuhan memperoleh kesenangan dari kegiatan berbincangbincang tentang seni, maka pada tahapan akhirnya akan dicoba dan dirumuskan pendapat atau tanggapan yang nantinya dapat difungsikan sebagai standar kriteria atau tolok ukur bagi kegiatan mencipta dan mengapresiasi seni.

1. Deskripsi Deskripsi dalam kritik seni adalah suatu penggambaran atau pelukisan dengan katakata apa-apa saja yang tersaji dalam karya seni rupa yang ditampilkan. Uraian ini berupa penjelasan dasar tentang hal-hal apa saja yang tampak secara visual, dan diharapkan dalam penjelasan tersebut dapat membangun bayangan atau image bagi pembaca deskripsi tersebut mengenai karya seni yang disajikan.

Deskripsi bukan dimaksudkan untuk menggantikan karya itu sendiri, tetapi diharapkan dapat memberi penjelasan mengenai gambaran visual mengenai citra yang ditampilkan secara jelas dan gamblang. Pada tahapan deskripsi ini, penilaian atau keputusan mengenai karya seni dapat ditangguhkan terlebih dahulu, karena kritik harus mendahulukan penjelasan-penjelasan dasar berupa suatu gambaran yang lengkap. Selain itu, uraian deskripsi juga tidak mengindahkan interpretasi atau tafsiran awal sebelum bukti-bukti, dan data-data, serta fakta konsep berkarya berhasil dikumpulkan.

Uraian deskripsi biasanya ditulis sesuai dengan keadaan karya sebagaimana apa adanya, dan juga berusaha menelusuri gagasan, tema, teknis, mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda, dan cara pengungkapannya. Uraian deskripsi meliputi uraian mengenai hal-hal yang diwujudkan pada karya secara kasat mata mengenai garis, bidang, warna, tekstur dan lain-lain, tanpa mencoba memberikan interpretasi dan penilaian, sehingga uraian deskripsi menjelaskan secara umum apa-apa saja yang terlihat dalam pandangan mata, tanpa harus memancing perbedaan pendapat atau berusaha memperkecil perbedaan penafsiran.

2. Analisis Formal Anilis formal merupakan tahapan berikutnya sebagaimana deskripsi, yaitu mencoba menjelaskan obyek yang dikritik dengan dukungan beberapa data yang tampak secara visual. Proses ini dapat dimulai dengan cara menganalisis obyek secara keseluruhan mengenai kualitas unsur-unsur visual dan kemudian dianalisis bagian demi bagian seperti menjelaskan tata cara pengorganisasian unsur-unsur elementer kesenirupaan seperti kualitas garis, bidang, warna dan tekstur, serta menjelaskan bagaimana komposisi karya secara keseluruhan dengan masalah keseimbangan, irama, pusat perhatian, unsur kontras, dan kesatuan.

Analisis formal dapat dimulai dari hal ihwal gagasan hingga kepada bagaimana tatacara proses pewujudan karya beserta urutannya. Pada saat persoalan komposisi mulai dibicarakan, maka mulai diuraikan perkara tatacara pengukurannya yang disesuaikan dengan rancangan dan kandungan maknanya. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda analisis formal adalah semiotika, karena semiotika merupakan ilmu tanda yang dapat menata pencerapan manusia dalam melihat berbagai gagasan, abstraksi, pendirian, pertimbangan, hasrat, kepercayaan, serta pengalaman tertentu dalam bentuk yang dapat dihayati dan dimengerti secara bersama.

Perbandinganperbandingan mulai dapat dilakukan sebagai suatu cara untuk mencapai intensitas perubahan pemikiran dalam sebuah proses pengubahan karya. Analisis formal tetap berangkat dari wujud nyata dalam karya dengan langkah kajian yang lebih bersifat menganalisis kualitas tanda, sehingga sampai pada proses ini pernyataan atau ungkapan seniman belum diperlukan sebagai sebuah data, kecuali jika diperlukan catatan-catatan yang berbeda dengan realitas karya yang disajikan.

Tahapan ini telah menjelaskan karya secara obyektif mengenai kualitas tanda-tanda yang ada pada karya, dan dimulai telaah ke arah bagaimana menafsirkan bentuk. • Interpretasi Intepretasi adalah menafsirkan hal-hal yang terdapat di balik sebuah karya, dan menafsirkan makna, pesan, atau nilai yang dikandungnya. Setiap penafsiran justru dapat mengungkap hal-hal yang berhubungan dengan pernyataan dibalik struktur bentuk, misalnya unsur psikologis pencipta karya, latar belakang sosial budayanya, gagasan, abstraksi, pendirian, pertimbangan, hasrat, kepercayaan, serta pengalaman tertentu senimannya.

Penafsiran merupakan salah satu cara untuk menjernihkan pesan, makna, dan nilai yang dikandung dalam sebuah karya, dengan cara mengungkapkan setiap detail proses intepretasi dengan bahasa yang tepat. Guna menjelaskan secara tepat, maka seseorang yang melakukan penafsiran harus berbekal pengetahuan tentang proses pengubahan karya. (lihat Feldman, 1967 : 479) Sebuah karya seni membutuhkan penafsiran yang tepat jika dimaksudkan untuk membuat suatu penilaian yang kritis. Pada umumnya penguraian berdasarkan metode yang ilmiah tentang struktur bentuk karya, dan hubungan setiap elemen unsur rupa sangat bermanfaat untuk melandasi interpretasi.

Bentuk penilaian pada karya seni rupa merupakan gabungan antara pribadi seniman dengan gagasan atau ide yang dijadikan konsep dalam berkarya, adanya permasalahan yang akan dikemukakan oleh seniman serta seberapa jauh masalah tersebut dapat diselesaikan, tema yang akan digarap dan bagaimana penggarapannya, materi yang dipilih untuk mewujudkan karya, teknik yang digunakan, serta pengalaman dan latar belakang seniman, kesemuanya saling terkait dan berhubungan untuk menunjang sebuah interpretasi yang tepat.

Penilaian Sebuah penilaian berdasarkan atas deskripsi, analisis formal, dan intepretasi sebuah karya seni dengan data-data visual maupun penjelasan-penjelasan tambahan dari seniman. Penilaian dalam kritik seni, bukanlah seperti penilaian akhir anak sekolah seusai tes hasil belajar dengan skor angka puluhan dengan nilai 100 untuk hasil yang sempurna tanpa kesalahan, rentang angka 85 – 95 untuk kategori dianggap baik, rentang angka 70 – 84 dianggap cukup, dan 55 – 69 dikategorikan kurang, sedangkan skor 54 kebawah dianggap tidak berhasil atau tidak lulus tes.

Penilaian kritik seni juga bukan dengan huruf A untuk hasil yang sangat baik, B untuk hasil yang baik, C untuk hasil yang cukup, D untuk hasil yang kurang, dan E untuk yang tidak lulus. Dalam kritik seni ukuran penilaiannya bisa secara generalisasi atau non generalisasi yang menganggap bahwa karya seni itu adalah sesuatu yang unik dan tidak bisa digeneralisasikan begitu saja.

Kelompok pertama disebut sebagai kelompok analisa menganggap bahwa dalam menilai sebuah karya seni rupa adalah berdasarkan analisa unsurunsur dalam karya mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda rupa tersebut secara terpisah-pisah, misalnya yang dinilai adalah komposisi, proporsi, perspektif, garis, warna, anatomi, gelap terang, dan sebagainya.

Masingmasing nilai dijumlahkan kemudian dibagi banyaknya unsur yang dinilai. Kelompok kedua disebut sebagai kelompok non generalisasi cenderung menilai karya seni tidak bagian demi bagian secara terpisah, tetapi menganggap karya seni sebagai satu kesatuan yang tidak mungkin dianalisa atas unsur demi unsur dan menilai terpisah, tanpa kehilangan makna dan nilai sebagai karya seni rupa yang utuh dan bulat. Pada sisi yang lain, ada anggapan penilaian dalam karya seni dapat dilihat dari tingkat keberhasilan karya tersebut dalam menyampaikan pesan sesuai keinginan seniman penciptanya.

Tahap evaluasi atau penilaian ini pada dasarnya merupakan proses menetapkan derajat karya seni rupa bila dibandingkan dengan karya seni rupa lainnya yang sejenis. Tingkat penilaiannya ditetapkan berdasarkan nilai estetiknya secara relatif dan kontekstual. Dalam menilai sebuah karya seni rupa sedapat mungkin mengkaitkan karya yang ditelaah dengan sebanyak mungkin karya seni rupa yang sejenis dengan maksud mencari ciri-ciri khususnya, kemudian menetapkan tujuan atau fungsi karya yang sedang ditelaah, menetapkan sampai seberapa jauh karya yang sedang ditelaah tersebut berbeda dari yang telah ada sebelumnya dan mencari karakteristiknya, dan terakhir menelaah karya yang dimaksud dari segi kebutuhan khusus dan sudut pandang tertentu yang melatarbelakanginya • Sebuah karya seni dibuat atau diciptakan bukan sekedar untuk ditampilkan untuk dilihat dan didengar saja, tetapi penuh dengan gagasan, abstraksi, pendirian, pertimbangan, hasrat, kepercayaan, serta pengalaman tertentu yang hendak dikomunikasikan penciptanya.

Di samping itu, penciptaan karya seni juga diharapkan dapat merespon ruang dan waktu di mana dia diciptakan. Di sini aspek ide atau gagasan, tema, teknik pengolahan material, prinsip-prinsip penyusunan atau pengorganisasian dalam mengelola kaidah-kaidah estetis, keunikan bentuk, gaya perseorangan, kreatifitas dan inovasi, turut dipertimbangkan.

Para kritikus seni diharapkan mampu mengkomunikasikan serbaneka aspek-aspek tersebut di atas beserta nilainya kepada masyarakat. Suatu karya seni yang baik, bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba atau suatu manifestasi sembarangan, dan mencipta asal jadi. Penciptaan karya seni yang baik membutuhkan pemikiran dan perenungan yang dalam, serta adanya dorongan menyeluruh yang kuat dari berbagai aspek. Pada saat ide atau gagasan muncul dan hendak diwujudkan dalam sebuah karya seni, seniman tentunya mulai mempertimbangkan bahan dan teknik yang bagaimana yan sesuai untuk mewujudkan ide atau gagasan tersebut.

Falsafah hidup merupakan salah satu aspek yang mendasari penampilan suatu karya seni menjadi baik. Hal ini bukan berarti seorang seniman harus menjadi filsuf seperti Emanuel Kant, Georg Wilhelm Friederich Hegel, dan sebagainya terlebih dahulu sebelum menjadi seniman. Jika seorang seniman dituntut menguasai filsafat seperti filsuf dengan melahirkan sistem filsafat baru yang lengkap, maka gagalah seniman tersebut dalam berkarya seni, dan akhirnya justru menjadi filsuf baru serta batal menjadi seniman.

Falsafah seorang seniman cukuplah falsafah seni yang dijadikan titik pangkal dalam konsep dan pangkal artistiknya. Jika dalam sejarah seni rupa moderen dikenal Piet Mondrian, Filippo Tornasso Marinetti, Ozenfant, Andre Bretton yang berurutan dikenal sebagai pelopor neo plastisisme, futurisme, purisme dan surealisme, karena mereka adalah seniman kreatif sekaligus pelopor yang selalu berfikir, merenung, menghakekati fenomena dengan pertanyaan apa, mengapa, bagaimana, ke mana, sejauh mana, dan sebagainya.

Singkat kata Piet Mondrian berpendapat “We want to penetrate nature in such a way that the inner construction of reality is revealed us”. Baginya, alam selalu berubah dapat disiasati sampai pengalaman bentuk tertentu. Seni mempunyai pengertian yang intuitif dan matematis yang merupakan representasi fundamental dari alam kosmos.

Bentuk matematik ini sebagai sesuatu yang universal. Berdasarkan pandangan filosofis tersebut diketahui siapa sesungguhnya Piet Pondrian. Pandangan semacam ini pada masanya merupakan hal baru dan masih segar dalam perkembangan seni rupa, sehingga sangat berharga karena kreatif. Landasan filosofis gerakan futurisme kutipannya sebagai berikut: “A new beauty … a rearing motorcar, which runs like a machine gun is more beautyful than the winged victory of Samothrace … we wish to glorifi, war …” (lihat Sudarmaji, 1979 : 26) Keseimbangan pada rangkaian bunga di Cina menggunakan paradok Taoisme yang dikenal dengan istilah Yin Yang (Im Yang), yaitu mencari jalan tengah antara unsur positif dan negatif.

Jika kedua unsur yang tampaknya saling bertentangan itu dalam keadaan imyang, maka dapat dikatakan dalam keadaan selaras dan produktif. Apabila rangkaian bunga terdiri hanya salah satu unsur saja, positif atau negatif, maka dikatakan disharmonis atau berkeseimbangan kuno yang simetris. Bangsa Cina melihat keseimbangan dan harmoni dengan belajar kepada alam.

Bukankah keseimbangan tampak pada sesuatu yang kelihatannya bertentangan seperti pria dan wanita yang merupakan sepasang pengantin? Hal ini serupa dengan konsepsi seni dan sistem simbolisme Jawa yang melihat keseimbangan atau keselarasan berdasarkan klasifikasi simbolis dua kategori.

Sistem yang didasarkan pada dua kategori, oleh orang Jawa dikaitkan pada hal-hal yang berlawanan, bertentangan, bermusuhan, atau justru yang saling membutuhkan. Positif – negatif, baik – buruk, tinggi – rendah, panas – dingin, halus – kasar, kanan – kiri, siang – malam, dan lain-lain merupakan perbedaan yang mendasari sistem klasifikasi dua kategori. Konsep klasifikasi dua kategori ini seperti gula Jawa atau gula kelapa yang wujudnya setengah lingkaran karena dicetak menggunakan bathok kelapa.

Gula Jawa dalam wujud dan ukurannya dikenal dengan istilah lirang dan tangkep. Meskipun lirang wujudnya setengah dari tangkep (setengah lingkaran), lirang itu sendiri memiliki pengertian yang utuh. Ia tidak lazim disebut setengah tangkep. Selirang ditambah selirang menjadi dua lirang, tetapi dua lirang yang disatukan menjadi setangkep atau satu tangkep. (lihat Bahari, 2004) Keutuhan wujud itu memang setangkep, meskipun lirang itu sendiri juga utuh sebagai kesatuan.

Ringkasnya hal ini memberi pelajaran tentang prinsip satu ditambah satu sama dengan satu, walaupun dua juga. Klasifikasi dua kategori ini sering juga disebut sebagai dwitunggal atau dua menjadi satu. Dwitunggal ini juga merupakan simbol dari konsep jumbuhing kawulo-Gusti, yaitu suatu tingkat pencapaian tertinggi dalam perjalanan spiritual manusia. Pada tingkat mutakhir terjadi manunggal Subyek – Obyek, sehingga diperoleh pengetahuan mutlak atau kawicaksanan, kawruh sangkan paran dalam mencapai kesempurnaan.

Simbolisasi dua kategori ini secara visual juga sering diwujudkan dalam bentuk lingga dan yoni. Dalam alam pikiran orang Jawa ada kecenderungan kedudukan yang tinggi sering dikaitkan dengan hal-hal yang asing, formal, kanan, suci, dan halus. Sebaliknya kedudukan yang rendah dikaitkan dengan hal-hal yang dekat, informal, kiri, profan, dan kasar. Orang Jawa berdasarkan kategori “kanan” dan “kiri” mewujudkannya dalam sopan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda dengan menganggap melakukan sesuatu dengan tangan kanan lebih baik, halus, dan beradab; sebaliknya melakukan sesuatu dengan tangan kiri dianggap tidak sopan, kurang ajar, dan biadab.

Sejak masih kecil, anak-anak orang Jawa sudah diajarkan untuk makan menggunakan tangan kanan. Dalam pertunjukan wayang kulit, tokoh-tokoh yang jahat disusun berjajar di sebelah kiri dalang; sedangkan tokoh-tokoh yang baik dan pihak yang benar disusun di sebelah kanan dalang. Dalam legenda Jawa, setelah Allah SWT menciptakan dunia, keturunan Nabi Adam dipisahkan menjadi dua garis, yaitu alur panengen atau keturunan kanan yang di dalamnya termasuk Nabi Muhammad SAW, tokoh-tokoh suci agama Islam, dan para Wali di Jawa yang menurunkan dinasti-dinasti “kanan” raja-raja Jawa.

Garis keturunan kiri atau alur pangiwa meliputi para dewa Hindu, para pahlawan ceritera-ceritera Mahabharata dan Ramayana, yang menurunkan dinasti-dinasti “kiri” raja-raja Jawa.

(Pigeaud, 1967 : 151) Hal ini mungkin sengaja diciptakan oleh pujangga kraton untuk mensyahkan proses integrasi unsur agama dan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda Islam ke dalam krebudayaan kraton pada paruh kedua abad ke 18 hingga awal berikutnya. (lihat Koentjaraningrat, 1994 : 431) Secara psikologis, langkah pertama lahirnya karya seni ialah pengamatan.

Ilmu jiwa fenomenologi memberikan pelajaran kepada kita bahwa peristiwa mengamati itu sesungguhnya bukan peristiwa lepas yang berdiri sendiri sebagaimana pandangan yang pernah dianut ilmu jiwa unsur. Terhadap stimulus yang datang, seseorang akan menenangkap makna yang personal sesuai dengan pengalamannya.

Arti stimulus jelas berbeda bagi setiap individu karena dalam rangkaian pengalamannya yang disimpan dalam memorinya ketika menjalani masa lalu. Sebaliknya bisa berbeda lagi lantaran endapan cita-citanya ke masa depan. Sebagai contoh ketika seseorang mendapatkan stimulus bunga anyelir, orang tersebut seketika berseri wajahnya karena teringat pengalaman masa lampau yang menggembirakan dan tak terlupakan ketika ketemu Si Manis dengan anyelir yang mencuri hatinya, dan telah menjadi kekasihnya yang sangat dicintainya hingga sekarang.

Sebaliknya bagi orang lain ketika menerima stimulus bunga anyelir justru langsung jatuh pingsan, karena dengan anyelir didekapan anaknya yang bungsu menjadi berkeping-keping digilas truk gandengan sewaktu aanak tersebut tertatih-tatih menyeberang jalan raya.

(lihat Sudarmaji, 1979 : 26) Tanggapan orang terhadap bunga anyelir seperti contoh di atas berbeda-beda, dan terbentuk suatu keadaan jiwa atau suasana hati (mood) yang berbeda.

Seandainya harus mengungkapkan keluar ekspresi ini, yang melihat akan mendapatkan manifestasi yang sangat lain. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa manifestasi karya seni adalah manifestasi perseorangan, sehingga dalam mengevaluasi sebuah karya seni tidak boleh terlalu kaku berpegang pada kriteria yang umum sifatnya atau justru apriori terlebih dahulu karena sudah mempunyai atau mempersiapkan kriteria sebelumnya.

Kondisi pribadi seseorang dan juga latar belakangnya mempengaruhi persepsi yang diterimanya. Setiap orang memberikan respon atau tanggapan kepada stimulus berdasarkan pengalaman atau cita-citanya. Sudah menjadi kodratnya bahwa setiap manusia berbeda dengan watak serta temperamentalnya. Banyak ahli ilmu jiwa yang mempelajari dan meneliti secara khusus watak manusia yang dinamakan karakterologi, seperti Ludwig Klages, Carl Gustav Jung, Heymans, Kretchmer, dan sebagainya.

Sebagai contoh, Carl Gustav Jung secara garis besar membagi manusia menjadi dua tipe, yang pertama adalah seseorang yang jiwanya selalu menoleh keluar atau exstrovert, dan tipe kedua justru kebalikannya yang jiwanya selalu menoleh ke dalam disebut introvert. Tipe extrovert mempunyai kecenderungan dengan mudah menanggapi peristiwa di luar dirinya.

Wataknya riang gembira, terbuka dan tidak pendendam, suka meniru, dan suka bercanda atau tidak serius. Tipe introvert kebalikannya, cenderung tafakur dan punya hati tertutup.

Kuat imajinasi dan fantasinya daripada mengamati dengan teliti. Teori watak Jung ini bersesuaian dengan hasil penelitian Viktor Lowenfeld, seorang sarjana Amerika berasal dari Austria yang berulangkali meneliti dan menyelidiki seni rupa anak. Berdasarkan hasil penelitiannya, Lowenfeld menggolongkan gambar anak menjadi dua kelompok, pertama yang menunjukkan adanya pengamatan yang kuat sehingga menghasilkan karya yang cenderung realistis disebutnya dengan anak tipe visual; kedua adalah kelompok anak yang imajinasinya kuat, dan menghasilkan karya yang cenderung non visual.

Secara psikologi manusia menangkap gejala di sekelilingnya secara pribadi atau personal terutamam dalam hubungan dengan penciptaan kesenian. Selain itu secara psikoanalis diketahui bahwa di samping dikendalikan oleh kesadarannya, manusia juga dikendalikan oleh alam bawah sadarnya.

Bahkan pernah dikemukakan oleh Sigmund Freud, antara kesadaran dan ketidak sadaran manusia dapat diibaratkan berbanding sebagai gunung es di tengah lautan, atau satu berbanding sembilan. 1. Gaya Perseorangan / pribadi Berhubung pribadi manusia yang terbentuk kokoh dan kuat, serta dibina oleh unsur dari dalam (internal), sekaligus juga unsur yang datang dari luar (eksternal), atau dengan kata lain unsur subyektif dan obyektif, maka para seniman yang bermutu akan menghasilkan karyakarya yang mempunyai ciri khas pribadi dengan simbol-simbol yang pribadi dalam perambahannya di dunia kesenirupaan.

Dalam proses kelahiran karya seninya, terbuka peluang bagi pengembangan pribadi dalam karyanya, yang hasilnya terus diuji berulang-ulang melalui simbol-simbol dalam sistem pemberian makna bersama. Inilah yang menyebabkan timbulnya berbagai gaya individual dalam ciptaan atau tampilan seni. Dalam kerangka ini, dapat dikatakan bahwa fungsi dari seni itu beroperasi dalam konteks situasi yang berbeda-beda, dan ekspresi gaya berkaitan dengannya.

Orang yang hidup dalam suatu lingkungan kebudayaan akan memberi pedoman untuk bertindak dalam suatu kerangka pola bagi kelakuan, yang terwujud dalam bentuk kebiasaan, kesepakatan, dan berbagai cara penanggulangan yang dipranatakan dalam kehidupan sosialnya, di mana perwujudan karya seni yang mencerminkan suatu kelompok juga menjadi ciri-ciri umum yang mendasari ciri-ciri pribadi.

Pengertian ini menunjukkan meskipun gaya individual sangat menonjol dalam karya seni tersebut, akan diterima secara sosial jika terdapat asas-asas di dalamnya yang dapat dipahami secara bersama. Perwujudan kesenian senantiasa terkait dengan penggunaan kaidah dan simbol.

Penggunaan simbol dalam seni, sebagaimana dalam bahasa, menyiratkan suatu bentuk pemahaman bersama di antara warga masyarakat pendukungnya. Perwujudan seni, sebagai suatu kesatuan karya, dapat merupakan ekspresi yang bermatra individual, sosial, maupun budaya, yang bermuatan isi sebagai substansi ekspresi yang merujuk pada berbagai tema, interpretasi, atau pengalaman hidup penciptanya.

Pertama, karya seni berisikan pesan dalam idiom komunikasi, dan kedua merangsang semacam perasaan misteri; yaitu sebuah perasaan yang lebih dalam dan kompleks daripada apa yang tampak dari luar karya tersebut. 2. Tema Tema merupakan gagasan yang hendak dikomunikasikan pencipta karya seni kepada khalayak. Tema yang hadir dalam sebuah karya seni, misalnya tema-tema sosial, budaya, religi, pendidikan, politik, pembangunan, dan sebagainya. Aspek yang dapat dikritisi dalam hal ini adalah sejauhmana tema tersebut dapat menyentuh penikmat karya seni pada nilai-nilai tertentu dalam kehidupannya sehari-hari atau mengingatkan pada hal-hal tertentu.

3. Kreatifitas Pengertian orang kreatif adalah orang yang selalu berkreasi, sedangkan pengertian berkreasi adalah membuat sesuatu yang belum ada sebelumnya menjadi ada. Prinsip dasar dari kreatifitas, dan inovasi adalah memberi nilai tambah pada benda-benda, cara kerja, cara hidup dan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda, agar senantiasa muncul produk baru dan lebih baik dari produk yang sudah ada sebelumnya.

Penciptaan sebuah karya seni mengandung pengertian mewujudkan suatu karya seni yang mempunyai arti dan nilai baru. Misalnya untuk membuat sebuah patung, seniman memanfaatkan batu sebagai media karyanya dengan cara memahatnya, sehingga menghasilkan sebuah patung yang tidak berwujud sebuah batu alam yang utuh lagi. Ketika batu alam untuk pertamakali dimanfaatkan sebagai media patung, maka orang yang pertamakali melakukannya dapat disebut sebagai orang yang kreatif dan inovatif.

Bagaimana dengan orang berikutnya yang ingin membuat patung dengan memanfaatkan batu alam? Apakah masih bisa disebut sebagai mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda yang kreatif atau sekedar peniru saja?

Meskipun masih menggunakan media batu alam yang sama, masih terbuka lagi kemungkinan kreatifitas dengan penggunaan bahan batu alam menjadi patung. Kreatifitas lain dapat muncul dari hal-hal seperti cara memahatnya, cara membentuknya, dan wujud akhir patung yang dihasilkan, mungkin secara prinsip sangat lain dari yang sudah diciptakan pematung sebelumnya.

Seniman kreatif adalah orang yang selalu mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk membuat sesuatu yang baru dan asli. Guna mewujudkan keinginannya yang kreatif, maka harus sering melakukan percobaan-percobaan dengan menghubungkan beberapa hal menjadi sesuatu yang baru dan lebih berarti. Kreatifitas di sini sangat erat kaitannya dengan gaya perseorangan, karena proses penciptaan karya seni merupakan perpaduan faktor internal dan eksternal.

Dalam tinjauan psikologi telah disebutkan bahwa setelah persepsi akan memunculkan personalisasi, dan ditambah dengan kekayaan visi serta falsafah hidup yang hakiki, merupakan landasan dasar perseorangan yang berbeda dengan orang lainnya.

Hal inilah yang menyebabkan karya Paul Klee menjadi khas, berbeda dengan rusli, tidak sama dengan Diego Rivera atau Jackson Pollock. 4. Teknik mewujudkan karya Ketika seniman mempunyai gagasan, maka dipikirkannya bagaimana tata cara mewujudkan idenya tersebut, atau dengan kata lain bagaimana cara mentransformir wujud yang idiil menjadi sensuil sehingga bernilai sebuah karya seni yang bermutu tinggi.

Teknik untuk mewujudkan karya antara lain teknik dalam mengolah bahan untuk mewujudkannya dengan cara-cara khusus seperti teknik cor, teknik kerok, teknik tempel, dan teknik tuang untuk seni patung; teknik dusel dan teknik arsir untuk gambar; teknik kuas kasar, teknik palet, teknik transparan, dan teknik pointilis untuk seni lukis; teknik cetak tinggi, cetak dalam, dan cetak sdaring untuk seni grafis; dan teknik-teknik lainnya.

Setiap bahan dan alat dapat digunakan untuk diolah guna menghasilkan efek-efek yang diinginkan sesuai dengan gagasan senimannya. Aspek yang dinilai dalam hal ini adalah sejauhmana penggunaan teknik-teknik tersebut dapat menghasilkan efek-efek visual yang estetis dan khas, dan seberapa jauh teknik tersebut dapat memenuhi atau mewakili keinginan senimannya dalam mewujudkan karyanya.

Sumber: Buku Kritik Seni, Wacana Apresiasi dan Kreasi, karya Nooryan Bahari, Penerbit: Pustaka PelajarEdisi kedua 2017 • Soal-soal 1. Apa yang dimaksud dengan kritik seni? 2. Jelaskan tujuan dan fungsi kritik seni! 3. Apa pengertian dari unsur-unsur kritik seni? 4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan istilah deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan penilaian dalam kritik seni! 5. Uraikan aspek- aspek yang dikritik dalam kritik seni meliputi gaya perseorangan / pribadi, tema, kreatifitas, dan teknik dalam mewujudkan karya seni!

• Seni dikenal dalam berbagai wujud dan penampilannya. Secara umum seni dibedakan menurut indra pencerapannya yaitu seni audio, seni visual, dan seni-seni audio visual. Seni audio adalah seni-seni yang dicerap melalui indra pendengaran.

Termasuk di dalamnya seni musik atau suara, drama radio, puisi di radio dan lain-lain yang berhubungan dengan indra pendengaran.

Seni visual adalah seni yang dicerap melalui indra penglihatan. Umumnya dikenal dengan sebutan seni rupa. Sedangkan seni-seni audio visual, adalah seni yang sekaligus dicerap baik dengan indra penglihatan maupun dengan indra pendengaran seperti seni tari, drama, film dan lain-lain. Di samping itu ada lagi seni lain yang tidak ditekankan pada jenis indra pencerapannya yaitu seni sastra. Termasuk dalam seni sastra adalah seni yang berbentuk prosa seperti roman, novel, cerpen, essay dan lain;.

dan seni yang berbentuk puisi seperti syair, pantun, gurindan, talibun dan puisi-puisi dalam bentuk bebas lainnya. Ciri umum dari prosa adalah deskripsi keadaan atau imajinasi secara mendetail, sedangkan cirri umum dan puisi adalah ungkapan inti atau hakiki dari suatu pengalaman maupun imajinasi estetis.

Untuk lebih mengenal prihal tentang batasan-batasan masing-masing seni ini, di sini dikemukakan beberapa prinsip tentang aneka seni yang dimaksud. Seni Rupa Seni Rupa yang berarti suatu keindahan ciptaan manusia yang dicerap dengan indra penglihatan. Misalnya seni lukis, seni pahat, seni patung, seni grafis, seni lingkungan ( environmental art) seni instalasi, seni pertunjukan ( performing art) dan sebagainya. Rasa senang ditimbulkan oleh adanya keterpaduan dari unsur-unsur bentuk yang menunjang wujud utuh dari karya tersebut seperti aneka warnanya, selang seling garis dan aneka bentuk bidang-bidangnya, kemiripan obyek bentuk yang dilukiskannya dengan lukisanya, aspek tematik yang diungkapkannya, keunikannya, teksturnya, dan lain-lain.

Sedangkan keindahan, dalam pengertian sederhananya adalah sesuatu yang memberikan rasa senang tanpa pamrih pada orang yang melihatnya. Kesenangan yang ditimbulkannya muncul serta merta karena keindahan karya itu sendiri, bukan karena ada kepntingan lain yang membuatnya merasa senang. Seni Musik Seni musik atau seni suara adalah seni yang dicerap melalui indra pendengaran.

Rangkaian bunyi- yang didengar dapat memberikan rasa senang dan rasa puas bagi yang mendengarnya karena adanya keserasian susunan dari rangkaian tangga nada, bunyi-bunyi tersebut. Secara garis besar ada dua jenis seni musik yaitu musik vokal dan musik instrumental. Musik vokal adalah musik yang hanya mengandalkan suara manusia saja, sedangkan musik instrumental adalah musik yang diperoleh dari memainkan alat-alat musik.

Seni Tari Seni tari juga adalah seni yang dicerap melalui indra penglihatan. Tetapi kekhusuannya adalah keindahan yang dinikmati adalah keindahan gerakan-gerakan yang tubuh, terutama gerakan kaki dan tangan, dengan ritme-ritme teratur, biasanya memgikuti irama musik.

Seni tari juga tidak terlepas dari seni rupa karena gerak-gerak yang diperlihatkan diserap dengan indra penglihatan. Di Indonesia banyak tari daerah yag sangat terkenal seperti Serampang Dua belas di daerah etis Melayu, Seudati di Aceh, Jaipongan di Sunda Jawa barat, tari Cak di Bali, Tari Bedaya Srimpi dan gambyong di Jawa dan taritari daerah lainnya seperti tari-tari Selang, tari Ronggeng dan tari Tayub yang masih hidup doi lingkungan rakyat pedesaan di Indonesia.

Di dunia Internasional ada beberapa jenis tari yang sangat dikenal seperti Balet, Waltz, Tango dan lain-lain. Secara garis besar ada perbedaan antara tari daerah satu dan daeerah lainnya di Indonesia.

Menurut pengamatan Mudji Sutrisno (1993 : 101), Pada tari jawa, gerak tubuh terkontrol dengan baik, torso teap tegak (Yogya lurus,Solo condong ke depan)., siku tidak boleh lebih tinggi dari pinggang. Tari Bali : tumpuan tidak ke satu sisi, siku tinggi di atas panggung. Tari minang dasarnya adalah silat, melindungi bagian-bagian tubuh yang vital, sedangkan pada tari Melayu sangat terpengarh kebudayaan Islam.

Sikap kaki tidak “turn out”, lutut sangat dekat satu sama lain. Dewasa ini tari-tari tradisional kedaerahan banyak yang sudah domodifikasi dengan melepskannya dari keterkaitan tradisi.

Tokoh-tokohnya antara lain Sardono W Kusumo, Seni Drama (Theater) Seni drama adalah seni sastra yang dilakonkan yang umumnya di atas panggung. Maka, jika dilihat dari tempat di mana dimainkan, seni drama sering juga disebut seni teater. Dalam kamus Webster New World Dictionary (1978 : 440) kata drama diartikan sebagai : Suatu komposisi mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda yang merupakan teks ceritera, umumnya konflik kemanusiaan, yang disampaikan melalui dialog dan aksi, yang dipertunjukkan di atas pentas oleh para pemain; (2) suatu seni atau profesi menulis, aksi, atau menghasilkan permainan-permainan ; institusi teater (3) ber,main secara bersama-sama) { (1) “a literary composition that teks the story, ususualy human conflict, by means of dialogue and action, to be performed on the stage by actors; (2) the art or profession of writing, acting, or producing plays: institution of teater.

(3) plays collectively. } Secara umum seni drama diartikan sebaga seni peran atau lakon yang dimainkan di atas panggung. Seni ini dinikmati sekaligus dengan indra penglihatan dan indra pendengaran. Dalam ungkapan lain, seni drama disebut juga dengan seni “teater” (panggung). Secara umum merupakan gambaran sebuah peristiwa duniawi yang digambarkan kembali di atas pangung. Keindahan seni drama terletak pada ketepatan alur cerita yang diperankan diperankan opeh para pemain di atas panggung.

Saini KM dalam bukunya peristiwa Teater (1996), “seni teater adalah seni dunia ambangyaitu ambang untuk menoleh kepada yang indrawi dari pengalaman sehari-hari dan menoleh juga kepada dunia nilai”. Seni Sastra Seni sastra adalah seni yang dikemukakan melalui susunan rangkaian bahasa yang dapat menimbulkan rasa senang tanpa pamrih bagi orang yang membacanya. Secara mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda besar seni sastra dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori besar yaitu prosa dan puisi.

Prosa adalah seni sastra yang berusaha mendeskripsikan keadaan, keinginan, atau imajinasi secara mendetil. Sedangkan puisi adalah seni yang cenderung menyederhanakan deskripsi dengan menangkap inti permasalahan yang ingin diungkapkan, dinyatakan dicitacitakan dan sebagainya. Termasuk dalam kategori prosa adalah karya sastra yang berbentuk novel, cerita bersambung, cerita pendek, dan esai-esai yang mengemukakan kritik dan pemikiran-pemikiran budaya.

Sedangkan yang termasuk dalam kategori puisi adalah, pantun, syair, dan puisi-puisi lain dalam berbagai bentuknya. Setelah macam-macam arti seni dikemukakan pada babdi atas, masalah pengenalan seni masih jauh dari jelas dan lengkap. Dalam kehidupan sehari-hari banyak produk yang disebut sebagai seni walau tujuan penciptaannya berbeda-beda.

Ada seni yang diperuntukkan demi tujuan ekspresii belaka, tanpa terkait dengan tujuan praktis lainnya. Ada juga produk yang disebut seni, tetapi dugunakan untuk kepentingan menyampaikan suatu pesan, atau memperindah suatu produk lainnya. Dalam telaah teori seni, kedua jenis tujuan seni ditempatkan dalam kategori masing-masing yaitu kategori seni murni ( fine art) dan kategori seni terapan ( applied Art). Cabang-cabang seni demikian banyaknya, dan telaah terhadap masing-masing seni membutuhkan waktu dan pengetahuan lintas sektoral seni, maka dalam kesempatan ini yang dibahas dibatasi dalam bidang seni rupa saja.

Pengetahuan tentang peggolongan dan uraian mengenai cabang-cabang pada masing-masing golongan perlu diketahui agar dapat membedakannya satu sama lain, Materi yang akan dibahas antara lain adalah : Golongan atau kelompok seni murni beserta cabang-cabangnya dan golongan yang termasuk dengan seni terapan serta cabang-cabangnya.

Seni Murni ( fine art) Seni murni adalah seni yang diciptakan khusus untuk megkomunikasikan nilai estetis dari seni itu sendiri tanpa tujuan lain di luar karya seni itu sendiri Seni murni, yang dalam istilah lain disebut seni eskpresif, atau seperti disebut Immanuel Kant sebagai seni estetis, adalah seni yang fungsi utamanya mengkomunikasikan pengalaman estetis seniman penciptanya kepada pemerhati seni agar para pemerhati memperoleh pengalaman yang sama dengannya tanpa mengindahkan fungsi ekonomi dan fungsi kegunaan praktis yang diperoleh darinya.

Gagasan tentang seni murni ini pertama dikemukakan Immanuel Kant dan lam bukunya “Kritik Pertimbangan Citarasa” ( Critique Estetical Judment) pada abad ke-18 dengan istilah seni estetis yang dibedakannya dengan seni mekanis Pada seni mekanis kesenangan muncul bersamaan dengan representasi yang diakibatkan oleh sensasi-sensasi.

Sedangkan dalam seni estetis kesenangan muncul dari ekspresi. Seni estetis disebutnya juga sebagai seni murni. Suatu mode representasi yang secara intrinsik final.

Seni ini dibuat tanpa tujuan lain di luar tujuan penciptaan karya seni itu sendiri. Dapat dikomunikasikan tanpa didasarkan pada konsep-konsep tertentu. Finalitas dalam bentuknya muncul secara bebas tanpa rintangan aturan-aturan tertentu.

Dalam konteks ini ia berpendapat bahwa “seni murni adalah seni para jenius”. Kejeniusan di sini diartikannya sebagai “bakat alam” ( natural endowment), yang memberikan aturan-aturan sendiri dalam proses berkarya. Kant membedakan seni murni dalam tiga jenis yaitu, seni percakapan, seni formatif dan seni permainan sensasi-sensasi. Walaupun tidak dengan batasan yang sangat ketat, dalam kategorisasi akademis, seni-seni yang umum tergolong ke dalam jenis seni ini antara lain, musik, seni lukis, seni grafis, seni patung, seni instalasi, seni pertunjukan dan seni-seni lain yang tujuan penciptaannya semata-mata demi pengembangan nilai-nilai estetis seni itu sendiri.

Seni Lukis Seni Lukis adalah seni rupa dua dimensional yang menampilkan citra visual melalui unsure warnabidang dan garis. Sebagai karya seni murni, seni lukis merupakan bahasa ungkapan pengalaman artistic maupun ideologis dengan medium warna dan garis Seni Gambar (Drawing) Seni gambar, yang dalam bahasa Ingris disebut Drawing, adalah cabang seni rupa dua dimensional yang produk akhirnya berupa gambar-gambar yang unsur-unsur bentuknya didominasi titik, garis dan bidang-bidang yang tidak berwarna (biasanya hanya hitam putih).

Seni gambar biasanya menggambarkan suatu figur-figur alamiah atau bentuk-bentuk geometeris, relatif sama dengan wujud obyeknya, dan tidak menonjolkan ekspresi maupun ungkapan nilai-nilai ekstrinsik dari wujud bentuk yang digambarkan. Secara garis besar, fungsi gambar dapat dilihat dari 3 jenis kegunaan yaitu, sebagai notasi tentang benda atau situasi pada saat tertentu yang dianggap menarik oleh si penggambar, gambar hadir dan memuktikan dirinya seagai karya utuh yang bediri sendiri, dan gambar yang berfungsi sebagai media studi untuik karya-karya berikutnya sepertilukisan, patung, bangunan, mesin-mesin, dan produk-produklainnya.

Seni Patung ( Sculpture) Seni patung adalah bagian seni rupa yang yang merupakan pengucapan pengalaman artistik dalam bentuk tiga dimensional atau tri matra. Merupakan massa padat yang ditempatkan di dalam ruang. Walaupun ada juga yang bersifat seni pakaipada umumnya seni patung adalah seni murni. Pengindraannya karya seni patung dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang, muka, belakang, samping kiri, samping kanan, atas, dan variasi sudut pandang tertentu sebagaimana yang mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda pengindranya.

Pada mulanya, seni patung adalah seni rupa tiga dimensional yang merepresentasikan bentuk-bentuk makhluk hidup ke dalam medium tiga dimensional. Tetapi dalam perkembangan dewasa ini, seni patung dapat saja tidak merepresentasikan bentuk dari wujud yang sudah ada sebelumnya, tetapi mempresentaskan wujud unik tanpa kaitannya dengan wujud-wujud benda atau apa saja yang pernah ada di alam ini.

Grafis Sama dengan seni lukis, seni grafis juga adalah seni rupa dua dimensional. Perbedaaannya terletak pada hasil jadinya yang diperoleh melalui pencetakan. Satu pola gambar atau lukisan karya seni grafis dapat diperbanyak sampai jumlah tertentu, tanpa menghilangkan keasliannya karena pada umumnya seniman grafis ikut terlibat memperoses karyanya pada setiap cetakan yang dibuat, dan setiap hasil mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda ditandatangani oleh senimannya, demi menjaga eksklusivitasnya.

Berbeda dengan produk-produk grafis lain, pada seni grafis hal yang diutamakan adalah nilai-nilai estetis dan keasliannya, dan bukan kecepatan perolehan jumlah cetakannya.tampilannya. Sesuai dengan proses dan teknik cetaknya, karya-karya seni grafis digolongkan dengan karya grafis cetak tinggi, cetak dalam, cetak datar atai lithografi dan offset, cetak tembus (sablon).

Cetak Tinggi Proses cetak tinggi adalah proses mencetak dengan menggunakan klise yang dicukil dengan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda cukil tertentu sehingga permukaan bahan yang dijadikan klise tersebut mempunyai perbedaan bagian tinggi dan bagian yang rendah.

Pada permukaan bakan klise yang telah dicukil diberi tinta dengan alat peninta khusus yang biasanya berupa roll yang terbuat dari karet. Setelah permukaan bahan klise diberi tinta secara merata, maka permukaan bahan cetakan, biasanya kertas ataupun kain, dilekatkan ke permukaan klise yang telah diberi tinta agar bahan pewarna (cat) yang ada pada bahan klise, berpindah ke bahan cetakan sesuai dengan pola gambar yang diinginkan. Demikian dilakukan berulang-ulang sampai diperoleh jumlah hasil cetakan yang diinginkan.

Cetak dalam Proses cetak dalam adalah proses mencetak dengan memindahkan tinta yang telah dimasukkan ke dalam parit-parit cetakan ke permukaan bahan cetak (kertas). Cetakan terbuat dari bahan logam yang digores dengan dua cara yaitu : 1. Dry Point.: Menggores dengan benda tajam sesuai dengan pola gambar yang diinginkan.(Dry Point). 2. Etsa : Mengores bahan cetakan yang terbuat dari bahan logam dengan bahan kimia, misalnya (Hno3).

Agar tidak semua permukaan klise dari baghan logam terkena bahan kimia tersebut, maka terlebih dahulu ditutup dengan bahan yang tahan terhadap pengaruh bahan kimia sejenis (Hno3). Goresan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda benda yajam hanya sampai pada bahan pelapis saja sampai mengenai permukakaan bahan logam klise, agar bahan kimia penggores/penggigit (HNO3) dapat masuk ke dalam ceruk-ceruk bahan pelapis sampai ke permukaaan bahan klise loga, dan “menggigit” atau “merusaknya” secara kimiawi.

Setelah bahan logam tergigit oleh bahan kimia tersebut sesuai dengan pola gambar yang diinginkan, maka proses selajutnya adalah memasukkan tinta ke dalam parit-parit pada klise. Tahap berikutnya dilakukan proses pencetakan dengan menggunakan alat press.

Dalam alat press, tinta yang masuk ke dalam parit-parit klise dapat dipindahkan ke bahan cetakan atau kertas, melalui teknik “penekanan} atau “pressing”. Hasil cetakan dengan alat press ini berkesan cetakan timbul, karena bahan cetakan seperti kertas yang direncanakan menerima tinta dari bahan klise, ikut masuk ke dalam parit-parit klise cetakan sehingga setelah terlepas dari cetakan menunjukkan bekas-bekasnya yang menonjol ke luar (timbul) Cetak Datar ( Lithografi dan offset) Cetak datar (lithografi) adalah proses cetak pada bahan sejenis batu berpermukaan datar yang berpori-pori sehingga dapat menyerap benda cair yang ada pada permukaannya.

Pada bahan tersebut dioles atau dikuaskan bahan berbasis minyak sama dengan bahan tinta yang digunakan ( basis minyak) untuk mencetak pola gambarnya. Setelah pola gambar selesai, maka bahan cetakan tersebut disiram air sampai basah dan dapat mencegah melekatnya bahan berbesis minyak pada permukaannya., bahan pewarna berbasis minyak tetap melekat pada pola gambar yang dioleh dengan bahan mengandung minyak.

Dengan terus menyiram dengan bahan air, maka pada waktunya bahan warna yang tertinggal pada bahan batu yang datar tersebut tinggal pada bagian-bagian yang terkena bahan yang dipakai membuat pola gambar. Setelah pola gambarnya kelihatan rapi dan bbenar-benar terpisah dengan bagian klise yang tidak terkena pola gambar, maka bahan cetakan (kertas) yang direncanakan menerima bahan pewarna pada cetakan dilekatkan pada permukaan cetakan.

Dengan menggosok-gosokkannya sedemmikian rupa, atau dengan menggunakan alat press, bahan pewarna pada permukaan klise berpindah ke bahan cetakan (kertas) sesuai dengasn pola yang digambar pada bahan klise tersebut. Hal demikian dapat dilakukan berulang-ulang sebelum klise tersebut rusak karena terkeda gesekan berulang-ulang.

Dengan teknologi lebih maju, prinsip cetak datar ini juga dikembangkan dalam teknologi cetak offset. Pada teknologi ini, bahan klise dibuat dari bahan logam (biasanya seng) yang telah telah diberi emulsi. Prinsip cetak ini adalah proses pemisahan minyak dengan air. Cetak Saring / Serigrafi Cetak saring, yang dikenal dalam masyarakat luas dengan sebutan cetak sablon, adalah proses cetak di mana pemindahan bahan pewarna ke bahan cetakan (kertas, seng, plastik dan sebagainya) dilakukan melalui pori-pori bahan klise cetakan yang terbuat dari sejenis kain yang alot dan kuat serta licin, seperti kain sutra, monyl, serat logam dan bahan lain sejenisnya.

Untuk mencetak gambar dengan pola seperti yang diinginkan, maka kain monil yang direncanakan tidak akan mengantar bahan pewarna ke bahan cetakan, ditutup dengan sejenis bahan perekat yang tidak bersenyawa dengan bahan pewarna yang digunakan. Bahan yang sering digunakan adalah bahan chromatine yang berupakan campuran dari bahan gelatine dan chroom. Dengan demikian, terjadi pemisahan antara bagian kain yang sudah tertutup pori-porinya dan bagian yang proi-porinya masih terbuka.

Selanjutnya, bahan pewarna dipindah ke bahan cetakan (kertas atau bahan lainnya) melalui pori-pori kain monil yang terbuka.

Untuk membagi permukaan klise monil menjadi bagian tertutup dan terbuka sesuai dengan pola gambar yang diinginkan, dapat dilakukan dengan mengoles langsung bahan penutup (biasanya gelatin), dan dapat juga dilakukan dengan teknik penyinaran.

Bahan gelatin dan sejenisnya yang yang masih berupa cairan yang biasa digunakan adalah bahan peka cahaya. Jika terkena cahaya, bahan tersebut akan mengering dan melekat secara permanen pada permukaan dan pori-pori bahan monyl.

Bagian yang tidak terkena cahaya akan mudah terlepas jika terkena air. Agar bagian yang tidak terkena cahaya dapat sesuai dengan pola gambar yang diinginkan, pola gambar tersebut terlebih dahulu dibuat pada sejenis bahan bahan tembus cahaya.

Pada bahan tembus cahaya, pola gambar yang diinginkan tercetak rapi diberi bahan pelindung cahaya agar cahaya tidak tembus lagi pada bagian tersebut jika dihadapkan pada sinar pada proses penyinaran.

Setelah proses pembuatan pelindung cahaya pada bahan tembus cahaya selesai dilakukan, maka bahan tersebut di tempelkan pada klise monyl yang sudah dibubuhi bahan gelatin atau chromatin di dalam ruang yang terlindung dari cahaya langsung. Bahan cetakan diletakkan di bawah alat cetak saring yang sudah dibuatkan frame sedemikian rupa. Lalu diatas alat cetak tersebut di bubuhkan tinta. Dengan menyaput tinta tersebut dengan alat khusus yang biasanya disebut Rakel, maka sebagian tinta di atas permukaan alat cetak saringan, berpindah ke bahan cetakan yang berada di bawahnya.

Fotografi Fotografi adalah salah satu cabang seni rupa, dalam hal ini seni grafis, yang hasil jadinya diperoleh dengan bantuan alat yaitu kamera. Ditinjau dari arti katanya, fotografi mengandung arti “melukis atau menggambar dengan dengan sinar.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebuah kamera pada umumnya digungsinkan untuk merekam gambar-gambar orang atau benda, atau pemandangan yang diportret. Gambar-gambar tersebut dapat dijadikan sebagai bahan dokumentasi, tanda pengenal, hiasan dinding dan sebagainya. Dengan pesatnya kemajuan mekanisme alat kamera, banyak kemungkinan manipulasi gambar yang dapat direkam dengan alat-alat fotografi. Kemungkinan-kemungkinan manupulatip tersebut merangsang seni rupawan untuk melahirkan karya-karya yang khas dan unik, tidak sekedar merekam suatu peristiwa, bentuk umum dari obyek yang difotonya.

Dengan alat fotografi mereka kemudian meereka membuat karya-karya yang unik dan mengekspresikan selera estetisnya. Maka dewasa ini dalam banyak kesempatan, dapat disaksikan karya-karya foto yang bernilai seni sangat tinggi, baik dinilai dari pengelolaan unsure-unsur rupa, prinsip-prisnsip desain, menghadirkan cita visual yang unik, dan sebagainya, tanpa kehendak menerangkan suatu fakta informatip dari gambar-gambar hasil karyanya.

Gambar-gambar yang duihasilkan melulu dihadirkan sebagai karya seni yang mengandung nilai estetika murni. Demikian juga dalam bidang desain grafis, gambar-gambar yang dihadirkan melalui alat kamera bukan lagi gambar-gambar yang sekedar merekam citra bentuk visual dari obyeknya, tetapi memaniopulasi citra bentuk tersebut menjadi suatu gambar yang berada dalam suasana lain, menarik, menakjubkan dan unik.

Kompugrafi Dalam arti umumnya, istilah kompugrafi adalah singkatan dari frasa komputer grafis. Artinya, suatu kegiatan menghasilkan karya seni rupa dengan medium komputer. Sejalan dengan perkembangan teknologionya, medium komputerpun dewasa ini sudah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan karya-karya seni rupa yang menakjuibkan, dan memiliki daya pikat yang kuat seperti karya-karya seni rupa lainnya seperti lukisan, patung dan sebagainya.

Walaupun proses pembuatan karya seni rupa melalui medium komputer sangat banyak dibantu oleh kecanggihan alat-alat yang tersedia dalam komputer, untuk menghasilkan karya yang menakjubkan tentunya sipembuat sudah memiliki selera estetis yang tinggi, sehingga dapat menghasilkan karya kompugrafi yang cukup mempersonakan pemirsanya yang juga berselera tinggi dalam hal mata seni rupa. Seni Multi Media Seni multi media adalah seni yang tidak terikat pada batasan-batasan seni sesuai dengan penggolongan umumnya, tetapi memadukan berbagai kemungkinan medium mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda baik audio maupun visual, dan mengikinkan juga memaduklan berbagai caban-cabang seni, sehingga tidk dapat dikategorikan pada stu cabang seni tertentu.

Seni Instalasi Seni instalasi belum memiliki kesepakatan arti yang mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda baik bagi pengamat maupun bagi pelaku seni. Secara teknis seni instalasi lahir dari perkembanga lebih lanjut dari salah satu teknik dala seni rupa (patung) yaitu teknik “memasang” ( assembling).

Hal penting dari seni instalasi adalah di mana proses berkarya merupakan kesatuan unit penilaian yang turut menentukan ukuran dan nilai seni. Unsur “peristiwa” atau tepatnya proses kejadian suatu peristiwa telah dianggap sebagai representasi, sehingga di sini secara otomatis akan terjadi kontrak antara obyek dan penonton. Secara kebentukan instalasi masih merupakan seuah seni yang mengalami banyak perkembanganmulai dari ekspresi yang dilahirkan hingga pada tingkat praksisnya, seperti penggunaaan efek teknologi multi media, gerakan (kinetis), mesin, lampu (laser), musik (bunyi), tari (gerak) dan vodeo sampai pada respon terhadap alam yang dibentuk dalam efek sebuah “pemasangan” ( assembling).

Seni instalasi berkembang pada tahun 1970-an, baik di Amerika maupun di Eropah. Tokoh-tokoh jenis seni ini antara lain : Nan June paik, Christo, Josep Beuys, Richard Long GENERA IDEA (Canada( Terry Allen, Judy Pfat, dan lain-lain.

Sesuai dengan namanya, seni instalasi adalah sejenis seni yang diciptakan dengan semangat instalasi (pasang-memasang) benda-bendavusual dua dan tiga dimensional yang dikombinasikan dengan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda menimbulkan daya tarik tersendiri dan memberui kepuatan estetis bagi yang melihat atau mendengarnya. Seni Lingkungan ( envinronmental art). Seni lingkungan atau envinronmental art.

adalah seni yang diekspresikan berdasarkan semangat mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda yang menempatkan pengindranya ikut sebagai bagian dari karya seni itu sendiri.

Seni seperti ini biasanya dilakukan di luar ruangan. Setting wilayah operasional kegiatan seninya tidak memiliki batasan yang tegas dengan benda-benda lingnygan yang terdapat disekitarnya, sejauh mata memandang. Seni Rupa Pertunjukan ( performance art) Seni Rupa pertunjukan adalah seni yang merupakan gabungan seni rupa dengan seni pertunjukan (teater, tari, musik, dan lain-lain), tetapi cenderung tidak terikat lagi dengan aturan-aturan baku yang umumnya ada pada masing-masing seni tersebut.

Seni ini umumnya lebih dikenal dengan pengutamaan unsure-unsur improvisasi yang tinggi, yng umumnya dilakukan menanggapi fenomena social politik dan situasi dan kondisi yang berlangsung saat itu. Seno pertunjukan merupakan salah satu gejala mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda seni kontemporer dewasa ini. Tokoh-tokoh seni pertunjukan ini antara lain, John Cage, Robert Wilson, dan Pina Bausch.

Mereka secara luas memuka peluang media pertunjukan dengan menggunakan materi seni teater untuk menjaring banyak penonton. Dalam pertunjukan seni ini, batas-batas antara pemain dan penonton menjadi kabur.

Happening Art (Seni Lingkungan) Happening art adalah perpaduan antara seni rupa dan seni pertunjukan. Allan Karpov (1959) memberi defenisi happening sebagai : memasang kejadian-kejadian yang dipertujukkan atau dipersepsikan pada lebih satu tempat dan waktu.

( assembling of events performed or perceived in more than one time and place). “Happenning art” tidak berlangsung di satu tempat saja, tetapi dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dan merespon lingkungan di mana dia sedang berada. Dalam pertunjukannya terjadi pergumulan antara lingkungan, seniman yang aktif dan penonton. Tokoh utamanya adalah Allan Karpov dan kemudian diikuti tokoh-tokoh-tokoh lain seperti Jim Dine, Red Grooms, dan Al Hansen.

Seni Terapan/Desain / Minor Art Seni terapan yang dewasa ini disebut desain adalah seni yang digunakan untuk mendukung suatu gagasan atau kepentingan di luar gagasan atau kepentingan untuk menciptakan karya itu sendiri. Misalnya seni musik untuk sebuah gagasan pemasaran dalam bentuk iklan di media audio, media visual, media audio visual; seni rupa yang digunakan untuk menghias atau menerangkan sutau manuskrip atau teks-teks verbal, desain grafis yang digunakan untuk menghias sampul buku, desain interior yang digunakan untuk memperindah sebuah ruangan, desain eksterior yang berfugsi sebagai penghias ruang luar bangunan, dan seni-seni terapan lainnya.seni.

Desain Komunikasi Visual Desain komunikasi visual, adalah rancangan visual untukmempromosikan suatu gagasan, barang dan maksud-maksud lain di luar gagasan estetiknya sendiri.

Gagasan yang dikemukakan dapat berupa pemasaran barang-barang produksi, pesan-pesan sosial, iklan dan sebagainya. Desain komunikasi visual dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu komunikasi grafis dan komunikasi mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda ruang ( out door). Desain Grafis Seni terapan komunikasi grafis atau desain grafis adalah medium komunikasi visual yang disampaikan melalui teknologi grafis atau cetak mencetak.

Termasuk di dalamnya seperti, iklan surat kabar dan majalah, sampul buku, brosur, poster grafis, dan lain sebagainya yang dibuat dengan bantuan teknologi cetak mencetak Seni Ilustrasi Seni ilustrasi juga pada umumnya adalah seni rupa dua dimensional.

Wujud fisiknya tidak jauh berbeda dengan seni lukis bila menggunakan warna penuh, dan seni gambar jika terdiri dari hanya garis-garis dan bidang yang tidak berwarna. Seni lustrasi dibedakan dengan seni lukis dan seni gambar, adalah karena fungsi yang diembannya yaitu fungsi perjelasan, penerangan suatu tulisan atau penghias halaman karya-karya berwujud tulisan seperti cerita pendek, buku pelajaran, majalah, komik, dan lain-lainnya.

Luar Ruang (Out Door) Seni terapan komunikasi luar ruang (out door) atau desain komunikasi visual luar ruang adalah desain dan produk alat komunikasi yang ditempatkan di luar ruangan seperti Bill Board, papan reklame, iklan mobil, neon sign, neon box, dan medium-medium lain yang mungkin dilakukan. Desain Produk Desain produk adalah suatu rancangan visual tentang suatu produk pabrikasi, seperti alat-alat rumah tangga, furniture, mobil, motor dan benda-benda peralatan lainnya.

Desain Interior Desain interior adalah desain visual yang digunakan untuk menciptakan atau menyusun materi-materi interior (ruang) pada bangunan, agar ruang tersebut tampak indah, praktis dan menyenangkan untuk dihuni (untuk rumah tinggal) dan mengajak orang untuk betah tinggal lebih lama memperhatikan isi ruangan (untuk rumah usaha : took, bar, dan sebagainya).

Desain interior merupakan bagian dari seni bangunan (arsitektur), yaitu khusus tata hias atau tata desain ruangannnya. Sebagai bagian dari arsitektur, maka prinsip-prinsip membuat desain interior tidak telepas dari prinsip-prinsip dalam ilmu dan seni arsitektur. Desain Eksterior Desain eskterior adalah desain visual yang dibuat sebagai gambar rencana pembangunan elemen-elemen estetis pada luar ruang seperti taman-taman, halaman rumah dan sebagainya.

Desain Busana Desain busana adalah gambar-gambar rancangan untuk membuat model-model busana. Desain tekstil Desain tekstil adalah cabang seni rupa terapan berupa pola gambar yang dipersiapkan untuk menentukan corak, tekstur kain dan kegunaan khusus produk tekstil yang akan diproduksi oleh pabrik tekstil Kerajinan dan Kriya Kerajinan adalah cabang seni rupa yang perwujudan hasil jadinya sangat memerlukan kekeriyaan ( craftsmanship) yang tinggi. Seni kerajinan juga sering diartikan sebagai seni “pekerjaan tangan” ( Handicraft).

Dalam bahasa Inggrisapa yang di Indonesia sering disebut kerajinan, disebut “craft”. Kata “craft” mengandung arti : keahlian, keprigelan, keterampilan khusus ( special skill), seni ( art), dan ketangkasan atau kecekatan ( dexterity). Lebih jauh, kata “craft” juga berarti: keterampilan di dalam mengolah atau merencanakan dengan tangan ( Skill indeceiving or underhanded planning ); tipu muslihat ( guile); kelihaian ( slyness).

Juga diartikan sebagai pekerjaan atau kesibukan yang membutuhkan keahlian atau keterampilan khusus; khususnyabeberapa seni-seni kerjinan tangan. ( An occupation requiring special skill; especiallyany of manual arts ). Dari penjelasan di atas, yang dimaksudkan dengan seni kerajinan adalah : seni yang di dalam pembuatannya lebih mengutamakan keterampilan tangan. Seorang pembuat kerajinan, atau perajin, disebut craftman, mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda, a skllied workman, an artis.

Pembuatan karya kerajinan membutuhkan keahlian yang tinggi sehinga ampir-hampir si seniman tidak sempat menyisihkan perhatiannya untuk berekpresi.

Pada mulanya, hampir semua karya yang sekarang dikategorikan dalam seni rupa adalah seni kerajinan atau kriya. Seni ini termasuk dalam seni terapan, karena produk-produk yang dihasilkannya umkumnya berfungsi sebagai barang keperluaan sehari-hari sepeti belanga, periuk, piring, jambangambunga dan benda-benda keperluan rumah tangga lainnya.

Tetapi dalam perkembangannya deasa ini, seni kriya yang benar-benar seni kriya, dan merupakan seni terapan pun, karena desakan kemajuan industri banyak berpindah fungsi dari seni terapan ke seni murni.

Misalnya seni keramik. Pada jaman dulu seni ini adlah terapan. Orang membuatnya untuk kebutuhan sehari-hari. Tetapi, karena sekarang banyak benda-benda untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dibuat oleh mesin, para perajin keramik, demikian juga para perajin dengan bahan lainnya, memanfaatkan keahlian dan keterampilan khususnya mengolah bahan-bahan untuk membuat karya yang tidak lagi mementingkan fungsi praktisnya, tetapi lebih mengutamakan berekspresi dan mengeksporasi nilai estetisnya. Dilihat dari bahan yang digunakan, seni kerajinan atau kriya, dapat dikenal sebagai kerajinan kayu, logam, keramik, bambu, rotan dan bahan-bahan baku lainnya.

Dan jika dilihat dari teknik perwujudan produknya, jenis-jenis kerajinan dikenal antara lain sebagai kerajinan ukir, kerajinan anyam, kerajinan tenun dan kerajinan membentuk (pada seni keramik).Sumber : Buku Ajar Wawasan Seni oleh Dermawan Sembiring • Dasar kesenirupaan yang diperlukan dalam kritik seni adalah pengetahuan mengenai medium seni dalam pengertian luas yang meliputi isi dan tema karya seni, dan dalam pengertian terbatas mencakup bahan baku yang digunakan mengungkap isi dengan kelebihan dan kekurangan bahan tersebut dalam mengungkapkannnya.

Kepiawaian kritikus dalam menyelami isi dan tema yang disampaikan seorang pencipta karya seni harus dilatih dan diasah dengan sering mengamati dan menghayati karya seni. Pemilihan tema seorang seniman akan menunjukkan visi dan misi tertentu dari mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda, dan juga turut mempengaruhi kualitas karyanya.

Sebagai contoh tema lukisan Basuki Abdullah adalah wanita-wanita cantik, meskipun model yang diambil adalah gadis petani dengan kesederhanaan dan pergumulannya dengan lumpur di sawah, akan hadir dalam karyanya dalam wujud wanita cantik jelita tanpa penderitaan sama sekali. Berbeda dengan S. Soedjojono dan Affandi lebih menunjukkan visi kerakyatannya.

Rakyat bukan dijadikan sekedat obyek melulu, tetapi karena hidupnya benar-benar menyatu dengan rakyat, karena ia berasal dari kalangan mereka, maka suka duka rakyat terhayati sepenuhnya. Seniman yang menyatu dengan penderitaan dan kegembiraan rakyat, menjiwai seperti sedarah sedaging.

Tidak mengherankan sudah seperti melekat pada ujung-ujung jari dan kuasnya sehingga terasa dalam goresan, pewarnaan, ritme, dan suasana secara menyeluruh. Hal semacam ini tidak mungkin diperoleh dari Basuki Abdullah dengan visi seorang turis. Latar belakang budaya dan sejarah merupakan modal dasar yang diperlukan dalam kritik seni, karena dalam pertumbuhan seni rupa banyak sekali gejala baru yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari pertumbuhan yang mendahuluinya.

Jika seorang kritikus tidak tahu hubungan sebab akibat yang berlangsung dari gejala sebelumnya, besar kemungkinan penilaian atau kesimpulan yang disampaikan bersalahan. Ketidaktahuannya akan sejarah, seorang seniman bisa saja mengira telah menemukan suatu corak atau teknik baru, padahal orang lain telah mendapatkannya beberapa abad yang lalu.

Begitu juga seorang kritikus menganggap telah menemukan seniman pembaru, padahal apa yang dilakukan seniman tersebut sudah dilakukan sebelumnya oleh seniman lain. Sebaliknya karena tidak mengenal sejarah seni rupa bangsanya jauh ke masa silam, bahkan ke masa pra sejarah, seseorang yang diketahui melukis abstrak tahun enampuluhan di Indonesia ini, serta merta saja dihubungkan dengan W. Kandindky atau Malevich. Padahal latar belakang tradisi di Indonesia sudah kaya akan seni abstrak dan simbolis.

Jangan heran jika di antara calon seniman yang datang daerah yang kaya akan seni abstrak dan simbolis itu, ketika belajar melukis diperguruan tinggi seni sudah menghasilkan karya abstrak yang sering mendapat predikat moderen, tanpa harus melewati naturalisme. Melalui pengenalan sejarah, seorang kritikus akan mengetahui bermacam-ragam cara mengungkapkan batin dengan media kesenirupaan.

Mengetahui berbagai cara pengungkapan ini, di samping memperoleh pengetahuan yang siap digunakan untuk menilai, juga mempunyai wawasan atau perhitungan perkembangan karya seni ke depan.

Pendekatan terhadap karya seni dapat dilihat dalam buku Approaches to Art in Education tulisan Laura H. Chapman (1978) yang mencoba melihat karya seni beserta unsur-unsurnya se bagai berikut : 1. Bentuk dan dimensinya Berdasarkan bentuk dan dimensinya terlihat adanya karya seni yang berdimensi dua dan berdimensi tiga.

Pada karya seni dua dimensi yang bersifat datar, ada juga kesan-kesan volume, kedalaman, dan ruang, namun kesemuanya itu hanya merupakan tipuan pandang … Menurut asal katanya, “keindahan” dalam bahasa Inggris disebut beautiful dan bahasa Perancis beau, sedang Italia dan Spanyol bello yang berasal dari kata Latin bellum. Akar katanya adalah bonum yang berarti kebaikan, kemudian mempunyai bentuk pengecilan menjadi bonellum dan terakhir dipendekkan sehingga ditulis bellum.

Menurut cakupannya orang harus membedakan antara keindahan sebagai suatu kwalita abstrak dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah. Untuk perbedaan ini dalam bahasa Inggris sering dipergunakan istilah beauty (keindahan) dan the beautifull (benda atau hal yang indah).

Dalam pembahasan filsafat, kedua pengertian itu kadang-kadang dicampuradukkan saja. Selain itu terdapat pula perbedaan menurut luasnya pengertian yaitu: a) Keindahan dalam arti yang luas; b) Keindahan dalam arti estetis murni; c) Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan. Keindahan dalam arti yang luas, merupakan pengertian semula dari bangsa Yunani, yang didalamnya tercakup pula ide kebaikan.

Plato misalnya menyebut tentang watak yang indah dan hukum yang indah, sedang Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang selain baik juga menyenangkan. Plotinus menulis tentang ilmu yang indah dan kebajikan yang indah.

Orang Yunani dulu berbicara pula mengenai buah pikiran yang indah dan adat kebiasaan yang indah. Tapi bangsa Yunani juga mengenal pengertian keindahan dalam arti estetis yang disebutnya symmetria untuk keindahan berdasarkan penglihatan (misalnya pada karya pahat dan arsitektur) dan ‘harmonia’ untuk keindahan berdasarkan pendengaran (musik). Jadi pengertian keindahan yang seluas-luasnya meliputi: - keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, keindahan intelektual. Keindahan dalam arti estetika murni, menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang dicerapnya.

Sedang keindahan dalam arti terbatas, lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dicerap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan dari bentuk dan warna secara kasat mata.

mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda

Pembagian dan pembedaan terhadap keindahan tersebut di atas, masih belum menjelaskan apakah sesungguhnya keindahan itu? Ini memang merupakan suatu persoalan fisafati yang jawabannya beranekaragam. Salah satu jawaban mencari ciri-ciri umum yang pada semua benda yang dianggap indah dan kemudian menyamakan ciri-ciri atau kwalita hakiki itu dengan pengertian keindahan.

Jadi keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualita pokok tertentu yang terdapat pada sesuatu hal. Kualita yang paling sering disebut adalah kesatuan ( unity), keselarasan ( harmony), kesetangkupan ( symmetry), keseimbangan ( balance) dan perlawanan ( contrast). Ciri-ciri pokok tersebut oleh ahli pikir yang menyatakan bahwa keindahan tersusun dari pelbagai keselarasan dan perlawanan dari garis, warna, bentuk, nada dan kata-kata.

Ada pula yang berpendapat bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan diantara benda itu dengan si pengamat. Herbert Read dalam The Meaning of Art merumuskan definisi bahwa keindahan adalah kesatuan dari hubungan-hubungan bentuk yang terdapat diantara pencerapan-pencerapan inderawi kita ( beauty is unity of formal relations among our sense-perceptions).

Sebagian filsuf lain menghubungkan pengertian keindahan dengan ide kesenangan ( pleasure). Misalnya kaum Sofis di Athena (abad 5 sebelum Masehi) memberikan batasan keindahan sebgai sesuatu yang menyenangkan terhadap penglihatan atau pendengaran ( that which is pleasant to sight or hearing).

Sedang filsuf Abad Tengah yang terkenal Thomas Aquinas (1225-1274) merumuskan keindahan sebagai id quod visum placet (sesuatu yang menyenangkan bila dilihat).

Masih banyak definisi-definisi lainnya yang dapt dikemukakan, tapi tampaknya takkan memperdalam pemahaman orang tentang keindahan, karena berlain-lainannya perumusan yang diberikan oleh masing-masing filsuf. Kini para ahli estetik umumnya berpendapat bahwa membuat batasan dari istilah seperti ‘keindahan’ atau ‘indah’ itu merupakan problem semantik modern yang tiada satu jawaban yang benar.

Dalam estetik modern orang lebih banyak berbicara tentang seni dan pengalaman estetis, karena ini bukan pengertian abstrak melainkan gejala sesuatu yang konkrit yang dapat ditelaah dengan pengamatan secara empiris dan penguraian yang sistematis. Oleh karena itu mulai abad 18 mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda keindahan kehilangan kedudukannya. Bahkan menurut ahli estetik Polandia Wladyslaw Tatarkiewicz, orang jarang menemukan konsepsi tentang keindahan dalam tulisan-tulisan estetik dari abad 20 ini.

Susunan karya seni sebenarnya lebih komplek dari setiap kesan yang ditangkap dari setiap deskripsi, sebab kesatuan itu bukan hanya ada diantara unsur saja, melainkan juga di antara dua aspek pada setiap unsur dan secara keseluruhan bentuk dan isi.

Kesatuan diantara mendium, pikiran dan perasaan apapun yang menjelma padanya inilah kesatuan pokok dalam segala macam ungkapan. Kesatuan di antara kata dan artinya, nada musik dan rasanya, warna dan kekuatannya, bentuk dan yang disajikan mereka. Jika seniman menggunakan unsur-unsur medium sebagai penjelmaan gagasan, maka ia harus memilih, bukan hanya sekedar mengantarkan sesuatu arti, melainkan juga untuk menyampaikan suasana rasa.

Supaya pilihan itu sesuai, maka nada rasa dari bentuk itu harus identik dengan nada rasa dan isi didalamnya yang dituangkan oleh seniman. Mendium sendiri masih harus mampu mengungkapkan lagi isi dan melalui hal itu akan lebih memperkuat nilai didalamnya. Inilah yang disebut dengan harmoni, yang berbeda dan tidak sekedar kesatuan belaka dari bentuk dan isi.

Secara tersirat kesatuan atau harmoni merupakan prinsip dasar dan cerminan bentuk estetis, terutama yang terkandung dalam karya seni. Kajian tentang bentuk estetis dalam karya seni Parker membagi dalam enam asas. 1. The principle of Organic unity (asas kesatuan/utuh) Asas ini berarti bahwa setiap unsur dalam sesuatu karya seni adalah perlu bagi nilai karya itu dan karyanya tersebut tidak memuat unsur-unsur yang tidak perlu dan sebaliknya mengandung semua yang diperlukan.

Nilai dari suatu karya sebagai keseluruhan tergantung pada hubungan timbal-balik dari unsur-unsurnya, yakni setiap unsur memerlukan, menanggapi dan menuntut setiap unsur lainnya. Pada masa yang lampau asas ini disebut kesatuan dalam keanekaan (unity in variety). Ini merupakan asas induk yang membawakan asas-asas lainnya.

2. The principle of theme (Asas tema) Dalam setiap karya seni terdapat satu (atau beberapa) ide induk atau peranan yang unggul berupa apa saja (bentuk, warna, pola irama, tokoh atau makna) yang menjadi titik pemusatan dari nilai keseluruhan karya mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda.

Ini menjadi kunci bagi penghargaan dan pemahaman orang terdapat pada karya seni itu. 3. The principle of thematic variation (Asas variasi menurut tema).

Tema dari suatu karya seni harus disempurnakan dan diperbagus dengan terus-menerus mengumandangkannya. Agar tidak menimbulkan kebosanan pengungkapan tema yang harus tetap sama itu perlu dilakukan dalam pelbagai variasi.

4. The principle of balance (Asas keseimbangan) Keseimbangan adalah kesamaan dari unsur-unsur yang berlawanan atau bertentangan. Dalam karya seni walaupun unsur-unsurnya tampaknya bertentangan tapi sesungguhnya saliang memerlukan karena bersama-sama mereka menciptakan suatu kebulatan. Unsur-unsur yang saling berlawanan itu tidak perlu hal yang sama karena ini lalu menjadi kesetangkupan, melainkan yang utama ialah kesamaan dalam nilai.

Dengan kesamaan dari nila-nilai yang saling bertentangan terdapatlah keseimbangan secara estetis. 5. The principle of evolution (Asas perkembangan) Dengan asas ini dimaksudkan oleh Parker yaitu proses yang bagian-bagian awalnya menentukan bagian-bagian selanjutnya dan bersama-sama menciptakan suatu makna yang menyeluruh.

Jadi misalnya dalam sebuah cerita hendaknya terdapat suatu hubungan sebab dan akibat atau rantai tali-temali yang perlu yang ciri pokoknya berupa pertumbuhan dari makna keseluruhan. 6. The principle of hierarchy (Asas tata jenjang) Kalau asas-asas variasi menurut tema, keseimbangan dan perkembangan mendukung asas utama kesatuan utuh, maka asas yang terakhir ini merupakan penyususnan khusus dari unsur-unsur dalam asas-asas tersebut.

Dalam karya seni yang rumit kadang-kadang terdapat satu unsur yang memegang kedudukan memimpin yang penting. Unsur ini mendukung secara tegas tema yang bersangkutan dan mempunya kepentingan yang jauh lebih besar daripada unsur-unsur lainnya. Demikianlah ke-enam asas diatas menurut Parker diharapkan menjadi unsur-unsur dari apa yang dapat dinamakan suatu logika tentang bentuk estetis ( a logic of aesthetic form).

Di samping itu, persoalan teknik dan wujud juga turut mempengaruhi karya seni yang dihasilkan. Maksud persoalan teknik adalah persoalan bagaimana cara seseorang mentransformir wujud yang idiil menjadi sensuil sehingga ia bernilai. Ini terjadi dengan penggunaan media kesenirupaan.

Unsur yang cukup penting adalah garis, warna, tekstur atau barik, ruang dan volume. Berdasarkan unsur tersebut orang kemudian memperoleh efek psikologis yang lebih kompleks lagi, misalnya dengan garis tertentu dapat menimbulkan irama, warna dengan nada tertentu juga menumbuhkan ritme juga.

Selanjutnya keseimbangan, suasana, harmoni, dominasi,kontras, pusat perhatian, unity atau kesatuan, dan sebagainya. Unsur-unsur tersebut tidak merupakan sesuatu yang lepas atau berdiri sendiri, malainkan bagian dari kesatuan yang utuh sebuah karya seni. Unsur tersebut selayaknya simbol-simbol yang lain mengandung makna, baik karena perjanjian manusia, maupun sifatnya yang kodrati.

Guna memahami setiap unsur tersebut, di bawah ini akan diuraikan unsur-unsur dalam karya seni. 1. Garis Garis mempunyai dimensi memanjang dan punya arah mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda. Ia bisa pendek, panjang, halus, tebal berombak, lurus, melengkung, dan barangkali masih ada sifat yang lain.

Di antara unsur seni rupa yang banyak, garis sangat dominan, apalagi di dunia timur. Garis hanya dapat disejajari warna. Garis sebuah unsur rupa yang diciptakan manusia dan berumur sangat tua, semenjak dunia mengenal seni lukis di gua beribu tahun yang lampau.

Garis di tangan yang mahir, merupakan prinsip ekonomis dalam seni lukis. Artinya dengan sedikit goresan, dapat menghasilkan banyak.

Pelukis timur pada umumnya sangat terpesona olah kekuatan garis dan memberikan kedudukan istimewa. Perhatikanlah karya-karya seniman Cina, Jepang, India, dan Indonesia. Garis yang diketemukan dalam kebudayaan manusia ini benar-benar dieksploitir semaksimal mungkin untuk menyampaikan pikiran dan perasaan.

mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda

Lukisan Cina klasik yang bersifat grafis memberikan kesan puitis, lembut, penuh irama yang terkendali, serta menimbulkan kesan perasaan tenteram. Sebaliknya pelukis Vincent van Gogh yang menggunakan garis pendek, patah-patah menimbulkan kesan yang keras dan tegar. Ada kesan ledakan dan pemberontakan.

Jika garis semacam itu ditunjang juga oleh warna keras menyala, sempurnalah kesan kekerasan dan pemberontakan itu. (lihat Sudarmaji, 1979 : 30) Di dunia barat, Hanry Matisse, Pablo Picasso, Paul Klee, Roul Dufi, merupakan tokoh-tokoh yang kuat dalam penggunaan garis. Jika garis digoreskan dengan jujur mengikuti kata batin, akan ditemukan identitas seseorang. Ia menjadi bersifat personal. Melalui garis dapat lahir bentuk, tapi sekaligus juga mengesankan tekstur, nada dan nuansa, ruang dan volume, kesemuanya melahirkan katakter khusus atau perwatakan dari seseorang.

2. Bidang Bidang ( shape) adalah suatu bentuk yang sekelilingnya dibatasi oleh garis. Secara umum dikenal dua jenis bidang yaitu bidang geometris seperti lingkaran atau bulatan, segi empat, segi tiga dan segi-segi lainnya, sementara bidang dengan bentuk bebas terdiri dari aneka macam bentuk yang tidak terbatas. 3. Warna Mempelajari penggunaan warna, diperoleh kesan, dan pengertian yang berbeda dari seorang pelukis ke pelukis lainnya. Bahkan pada masa yang lalu dengan mudah menunjuk bangsa yang satu berbeda dari yang lainnya berkat kecenderungan penggunaan warnanya.

Warna adalah gelombang mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda dengan frekuensi berbeda yang mempengaruhi penglihatan kita. Warna memiliki tiga dimensi dasar yaitu hue, nilai ( value), dan intensitas ( intensity). Hue adalah gelombang khusus dari spektrum dan warna. Misalnya, intensitas spektrum warna merah disebut hue merah.

Nilai ( value) adalah kecerahan dan kegelapan relatif dari warna, sedangkan intensitas adalah kemurnian dari hue warna. Sehubungan dengan seni rupa, dalam teori warna dikenal beberapa jenis kombinasi harmonis yaitu kombinasi monokromatis, analogus, komplementer, split komplementer, dan kombinasi warna triadik. Secara garis besar dapat ditandai adanya tiga fungsi warna. Dalam ilmu semiotik, pertama secara qualisign adalah tanda yang menjadi tanda berdasarkan sifatnya.

Misalnya sifat warna merah adalah qualisign, karena dapat dipakai tanda untuk menunjukkan cinta, bahaya, atau larangan. Kedua merupakan lambang atau simbol yang menjadi tanda berdasarkan kesepakatan bersama atau konsensus, misalnya bendera berwarna putih menandakan menyerah kepada musuh.

Ketiga merupakan tanda ikon, karena mewakili acuannya, misalnya warna merah untuk darah, dan warna hijau untuk menggambarkan dedaunan. Pada masa pra moderen, warna-warna itu tidak pernah mewakili dirinya sendiri, biasanya ia menjadi simbol atau lambang sesuatu. Seniman pada waktu itupun terikat ketentuan umum dalam hal penggunaan warna. Pemilihan warna pada seorang seniman dapat merupakan mediuim ke arah penemuan jati dirinya sendiri, sehingga bersifat khas dan punya nilai tersendiri.

Misalnya lukisan rembrandt, pastilah coklat gelap dengan bersitan sinar di sana sini, sebaliknya lukisan Affandi cenderung hijau kusam dengan bersitan merah dan kuning di sekitarnya. Warna erotis milik Titziano, warna yang ringan-ringan milik J.A. Watteau, dan lain sebagainya. 4. Tekstur atau Barik Tekstur adalah kesan halus dan kasarnya suatu permukaan lukisan atau gambar, atau ada perbedaan tinggi rendah permukaan suatu lukisan atau gambar.

Tekstur juga merupakan rona visual yang menegaskan karakter suatu benda yang dilukis atau digambar. Ada dua macam jenis tekstur atau barik. Pertama adalah tekstur nyata, yaitu nilai permukaannya nyata atau cocok antara bagaimana tampaknya dengan nilai rabanya.

Misalnya sebuah lukisan menampakkan tekstur yang kasar, ketika lukisan tersebut diraba, maka yang dirasakan adalah rasa kasar sesuai tekstur lukisan tersebut. Sebaliknya tekstur semu memberikan kesan kasar karena penguasaan teknik gelap terang pelukisnya, ketika diraba maka rasa kasarnya tidak kelihatan, atau justru sangat halus.

Teksture yang dihadirkan pada lukisan Affandi merupakan kombinasi teksture kasar, karena teknik pelototan cat dari tube, dan sekaligus tekstur semu ketika hasil pelototan tersebut diratakan dengan tangannya atau kuas yang halus. Lukisan Ozenfat, Jan Vermer, patung Barbara Hepworth dan C. Brancussi, menunjukkan suatu cara penampilan teknis tekstur berbanding Affandi, Aming Prayitno, A.

Rodin A. Bourdelle, dan sebagainya. Melalui teknik-teknik tertentu dalam membuat tekstur beserta variasi dan perkembangannya yang meningkat dapat dihasilkan karya yang baik. 5. Ruang dan Volume Ruang dan volume merupakan unsur pokok dalam seni tiga dimensi seperti seni patung dan arsitektur. Patung pra moderen cenderung menggunakan bentuk-bentuk volumetrik yang masif seperti patung-patung Budha di candi Borobudur dan patung-patung pra moderen di seluruh dunia umumnya.

Dalam arsitektur yang tujuannya utamanya memang menciptakan ruang, otomatis unsur keruangan sangat dominan. Namun semenjak kaum konstrutifisme lahir, seperti Alexander Rodchenko, Naum Gabo, Antgoin Pevsner, dan kemudian Pablo Picasso, Henry Moore dan lain-lain, ruang dalam seni patung memegang peranan besar sekali. Patung-patung non obyektif atau non figuratif boleh dikatakan kekuatannya pada susunan-susunan ruang dan volume di samping penguasaan tekstur secara artistik.

Dalam seni lukis, ruang dan volume dimanfaatkan secara ilusif karena teknik penggarisan yang perspektifis atau adanya tone (nada) dalam pewarnaan yang bertingkat dan berbeda-beda.

Pada lukisan Piet Mondrian yang neo plastisis tidak diketemukan ruang, kecuali bidang-bidang datar. Berbeda dengan karya kubisme Fernand Leger yang volumetrik dan monumental. 6. Cahaya dan bayang-bayang Sama halnya dengan ruang, citra cahayapun dalam seni rupa terdiri dari dua jenis yaitu cahaya nyata dan cahaya semu.

Cahaya nyata dalam karya seni rupa tiga dimensional menerangi benda-benda karya secara alamiah, dan memisahkan efek visual dari benda-benda tersebut menjadi bagian-bagian yang terang dan bagian-bagian yang gelap. Sementara citra cahaya pada karya-karya dua dimensional adalah ilusi terang yang diakibatkan oleh pembubuhan warna terang pada bagian tertentu dari subyek gambar atau lukisan yang membedakannya dengan warna gelap pada bagian lain secara bergradasi.

7. Sosok Gumpal Sosok gumpal adalah bentuk-bentuk yang ada di dalam ruang baik ruang nyata pada seni rupa tiga dimensional, dan ruang nyata dalam seni rupa dua dimensional. Dalam seni rupa dua dimensional misalnya, sosok gumpal adalah semua bentuk-bentuk yang merespon ruang dalam bidang gambar. Sedangkan dalam seni rupa tiga dimensional, massa adalah kepejalan benda-benda seni rupa yang merespon ruang nyata. Hal lain seperti irama, proporsi, keseimbangan, dominasi, kesatuan, dan lain-lain adalah prinsip pengorganisasian dalam memanfaatkan unsur-unsur seni rupa tersebut di atas secara tertentu.

Kesan ritmis diperoleh karena kecakapan memperlakukan warna dan garis secara khusus sehingga lukisan serasa bergerak-gerak bergelombang. Lukisan masa Manerisme menunjukkan kesan betapa cakapnya para seniman mengeksploitir sifat garis dan sapuan kuas seperti pada Tintoretto.

Masa-masa terakhir dapat dilihat pada karya Vincen van Gogh, Jackson Pollock dan Willem de Kooning yang mengesankan kelincahan goresan dan gerak. Proporsi adalah perbandingan yang lahir karena ketepatan luas atau isi antara bagian satu dengan bagian yang lain. Balance atau keseimbangan dapat dibedakan yang simetris, asimetris, radial, dan occult balance. Adanya balance suatu hasil karya seni menjadi terasa stabil. Dominasi adalah tekanan-tekanan yang dapat menghilangkan kesan monoton.

Mengenai unity atau kesatuan merupakan kriteria kunci dari pengorganisasian keseluruhan, karena sebuah karya seni rupa yang baik ialah jika unsur-unsurnya tidak terlepas sendiri-sendiri. Herbert Read menyatakan : “In a perfect world of art, all the element are interrelated; they cohere to form a unity which has a value greater than more sum of these element”.

Dalam bukunya Art Form (1985 : 100-114), dijelaskan 8 jenis prinsip desain yakni : Skala, proporsi, kesatuan di dalam keberagaman, pengulangan bentuk dan irama, keseimbangan, kekuatan arah, keutamaan dan penunjang, dan kontras. Sedangkan dalam buku Dasar desain (1991 : 17-22) mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda pengertian desain sebagai, (1) bentuk rumusan dari suatu proses pemikiran, (2) dituangkan dalam bentuk gambar dan merupakan pengalihan gagasan konkret dari perancang kepada orang lain, dan (3) setiap benda buatan mengungkapkan penampilan desain.

Jika dalam Art Form dikemukakan 8 prinsip desain. Dalam Dasar Desain dikemukakan hanya 5 prinsip desain yakni : Kesederhanaan, keselarasan, irama, kesatuan yang terpadu, dan keseimbangan.

Dari dua sumber di atas tampak persamaan dalam hal, irama, kesatuan, dan keseimbangan. 1. Skala Dalam konteks seni, desain adalah proses menyusun bentuk visual dan produk dari proses tersebut. Karya desain dipersepsikan sebaik dengan hasil yang akan diciptakan.

Dalam hal ini ukuran sebuah gambar desain tidak selalu sama dengan produk yang akan dihasilkan. Maka dalam pembuatan gambar desain, diperlukan prinsip-prinsip penskalaan.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan skala, adalah perbandingan ukuran antara obyek yang digambarkan dan gambar desain yang dibuat.

Misalnya, sebuah bangunan yang tingginya 25 meter dengan lebar 5 meter, digambar dalam kertas dengan ukuran tinggi 25 cm dan lebar 5 cm, maka skala antara bangunan dengan gambar bangunan adalah 100 : 1. Prinsip skala banyak digunakan dalam menggambar teknik. Perhitungan skala tidak hanya mencakup ukuran totalnya saja, tetapi juga bagian-bagiannya. 2. Proporsi Jika skala adalah perbandingan ukuran antara obyek yang didesain dengan gambar desainnya, Proporsi adalah perbandingan ukuran dari bagian-bagian bentuk dengan bentuk keseluruhannya atau antara bentuk yang satu dengan yang lain.

Pada gambar manusia, ada perbandingan yang lazim dan khusus antara ukuran panjang dan lebar bentuk kepala. Misalnya 5 (tinggi) dan 3 atau 3,5 lebar, perbandingan antara ukuran bentuk kepala dengan tinggi keseluruhan tubuh orang dewasa 1 : 8, perbandingan ukuran kaki dan tangan, perbandingan ukuran tinggi dan lebar hidung dengan bentuk kepala, dan perbandingan satu unsur bentuk dengan unsur bentuk lainnya. Perbandingan yang lazim, selalu terdapat pada bentuk-bentuk yang bercitra alamiah.

Perbandingan seperti ini disebut ideal. Tetapi pada karya-karya kreatip, perbandingan yang umum tidak selalu digunakan, misalnya dengan membesarkan ukuran unsur yang satu dengan mengecilkan unsur yang lain seperti yang sering ditemui pada gambar-gambar kartun, atau gambar-gambar deformatip lainnya. Pelanggaran kaidah proporsi umum dalam hal ini ditujukan untuk menciptakan karakteristik tersendiri dari karya yang dibuat, baik agar tampak lucu, seram, aneh dan sebagainya.

3. Kesatuan dalam perbedaan Konsistensi dari suatu konsep menyebabkan aneka elemen di dalam karya muncul sebagai bagian yang disatukan bentuk. Para senirupawan membangun citarasa desain sebagai bagian dari cara pribadi di dalam melihat. Setiap karya seni memperoleh bentuk kesatuannya di dalam gagasan yang dioperasikan di dalamnya. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa semua karya seni mesti memiliki gagasan intelektual di belakangnya. Kesatuan atau kepaduan muncul di dalam ketunggalan.

Kesatuan terdiri dari keanekaragaman karakteristik visual di dalam desain, sementara keanekaan dioperoleh dari elemen-elemen yang tidak mirip satu dengan yang lainnya. Keseimbangan antara kualitas-kualitas yang mirip dengan yang tidak mirip memberikan daya tarik dan vitalitas baik kepada seni maupun kepada kehidupan. 4. Pengulangan dan irama Repetisi adalah pengulangan bentuk, sedangkan ritme adalah irama dari pengulangan bentuk-bentuk tersebut.

Misalnya ada yang rapat, agak renggang, rapat lagi, semakin jarang dan sebagainya. Arus balik dari elemen-elemen desain menghasilkan kesinambungan dan penekanan dramatis. Repetisi ada yang eksak, yang membangun irama konstan ( regular beat), dan ada juga yang beragam-ragam.

Secara sederhana ritme dapat saja berupa pengulangan bentuk. Ritme dapat memberikan aneka pilihan pada basis tema atau mengindikasikan perkembangan progresif. 5. Keseimbangan Arti keseimbangan adalah tidak berat sebelah.

Keseimbangan adalah hubungan antara kekuatan-kekuatan yang bertentangan. Secara umum dikenal dua tipe keseimbangan yaitu : simetris dan a simetris. Keseimbangan simetris adalah adalah keseimbangan “keduaan” ( the two).

Adanya kesamaan bentuk tempat antara bagian-bagian yang berlawanan. Bentuk pada bagian bawah dan atas, bagian kiri dan kanan, dan sisi-sisi dan sudut-sudut berlawaban lainnya. Keseimbangan seperti ini dicapai melalui kesamaan distribusi yang identik atau bagian-bagian yang sangat mirip pada sisi lain dari sumbu mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda.

Suatu variasi dari keseimbangan simetris adalah keseimbangan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda (radial balans). Kekuatannya berotasi keliling, radiasi dari, atau berkonvergensi pada hal yang aktual; atau termasuk titik sentral.

Berbeda dengan keseimbangan simetris, keseimbangan a simeris dicapai dengan perbedaan bentuk dan ukuran bentuk bagian-bagian yang dipiosah pada sumbu sentralnya.

Bentuk yang besar pada satu bagian diimbangi dengan beberapa bentuk pada bagian berlawanan darinya. Bentuk besar yang relatip statis, diimbangi dengan bentuk-bentuk kecil yang relatif dinamis, dan seterusnya. 6. Kekuatan Arah Garis-garis aktual menghasilkan arah garis atau kekuatan arah yang sangat menentukan pada struktur dasar karya.

Karya seni rupa atau obyek yang didesain memuat arah garis yang secara besama tampak dalam komposisi yang terpadu.

Garis-garis dengan kekuatan arah ini lebih menggundang perasaan dari pada sekedar untuk dilihat. Garis-garis vertikal dan horisontal mengesankan pengalaman manusia yang berdiri dan rebah. Garis horisontal memberi perasaan tenang. Kadang-kadang berfungsi sebagai latar datar bagi garis-garis vertikal. Garis vertikal, di samping juga mengesankan ketenangan, juga memberikan rasa seimbang.

Gabungan garis horizontal dan garis vertikal lebih menghasilkan perasaan ketenangan ( composure). Baik garis semu maupun garis nyata, secara relatif bersifat statis atau tanpa kesan gerak. Berbeda dengan garis-garis horizontalgaris-garis diagonal mengesankan ketegangan dan menggangu perasaan keseimbangan pelihatnya.

“Ketegangan” dinamik garis diagonal dirasakan karena arah garis tersebut mengidentifikasikan apa yang secara umum bergerak. Format atau basis bentuk gambar dan arah dominan dari gerak mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda di dalam desain merupakan sumber dari suasana hati atau sumber dari isi yang diekspresikan.

mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda

7. Utama dan penunjang Dengan menekankan ciri-ciri tertentu di dalam karya dan mensubbordinasikannya dengan yang lain, seniman membangun pusat perhatian pada karyanya untuk mengundang perhatian pengamat kepada citra yang ditonjolkannya pada karyanya. Dengan cara ini komunikasi dari muatan-muatan seninya yang semakin kuat.

Jika muatan tersebut diekspresikan dengan pengulangan yang monoton, semua elemen karya secara relatif akan memberikan kesamaan bobotmaka penekanan prinsip desain menjadi tidak aktif. Oleh karena itu, pada karya seni selalu ada bagian atau bentuk yang lebih ditonjolkan dari pada bentuk-bentuk lainnya. 8. Kontras dan nuansa Kontras adalah interaksi dari elemen-elemen yang mengekpresikan pertentangan antara “keduaan”.

Misalnya, kecil dan yang besar, kasar dengan halus statis dan dinamis, gelap dengan terang dan sebagainya. Penekanan suatu elemen-elemen visual, dan ungkapan isi dapat dicapai melalui kontrastik dan nuansa. Kontras antara dua garis adalah kontras antara tebal tipis dari goresan kuas tunggal. Kontras bidang adalah kontras antara bidang geometrik teratur dan bidang-bidang organik yang tidak teratur. Kontras nilai warna terdapat antara area gelap terang warna pada permukaan karya.

Kontras warna dapat juga dilihat dari berbagai cara termasuk kontras “corak warna” ( hue), kontras komplemen, kontras antara redup dan cerah, atau kontras temperatur antara kualitas warna hangat dan dingin. Di samping itu kontrastik dan nuansa dapat juga terjadi antara massa padat dan massa kosong pada permukaan lukisan atau gambar. 9. Bentuk total Bentuk total adalah paduan dari unsur-unsur bentuk dan pengelolaan prinsip-prinsip desain menjadi suatu bentuk yang dilihat secara menyeluruh dengan mengabaikan unsur-unsur bentuk yang mendukungnya.

Paduan unsur-unsur bentuk total tersebut diapresiasi secara total sebagai suatu kesatuan karya Isi Pada umumnya karya seni dihadirkan tidak sekedar sebagai permainan unsur-unsur bentuk mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda dikelola dengan teori-prinsip-prinsip desain.

Bentuk-bentuk dihadirkan dengan penyampaian suatu gagasan atau pesan kepada pemerhatinya. Seperti apa yang dikemukakan Leo Tolstoy pada bab sebelumnya bahwa “seni adalah sarana komunikasi gagasan dan perasaan’. Gagasan dan perasaan tersebut adalah gagasan-gagasan yang mengandung nilai-nilai tertentu. Sedangkan nilai adalah sesuatu yang menimbulkan penghargaan bagi kehidupan. Dalam filsafat nilai-nilai, dikenal empat nilai utama yaitu nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan dan kekudusan.

Di samping nilai-nilai utama tersebut, dalam kehidupan sehari-hari dikenal beberapa konsep nilai yaitu nilai -nilai sosial, religi, sejarah, dan juga nilai-nilai ekonomi. Nilai-nilai seperi inilah yang dikemukakan pada karya seni, sehingga karya tersebut dapat dikatakan karya yang bernilai.

1. Nilai Keindahan Seniman mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda mengkomunikasikan kepada masyarakat tentang gagasan-gagasan keindahan secara murni, terlepas dari tujuan-tujuan mengungkapkan pikiran, perasaan dan apresiasinya tentang kehidupan melalui karya seninya.

Gagasan estetik murni ini dikomunikasikannya setelah dia tidak tertarik lagi pada gagasan-gagasan estetika sebelumnya, karena gagasan-gagasan masa lalu tersebut dianggapnya tidak lagi dapat “memagari” imajinasi-imajinasi dan spiritnya untuk menciptakan karya seni yang benar-benar orisinal, baik dari segi gaya, teknik, medium yang digunakan, serta aspek-aspek estetika lainnya. Gagasan estetik murni seperti ini dapat dilihat pada lukisan-lukisan ekspresionisme Van Gogh dan Affandi, Kubisme Picasso, Surrealisme Salvador Dali, dan karya-karya besar dari pelukis-pelukis besar lainnya.

2. Nilai kebaikan Seniman sebagai manusia dan anggota masyarakat ingin mengkomunikasikan misi kebaikan dan kebajikan yang dianutnya kepada masyarakat, atau mengingatkan kembali masyarakat tentang nilai-nilai yang dianut bersama melalui ungkapan simbolik untuk mengajak masyarakat senantiasa berbuat kebaikan dan kebajikanmaupun mengutarakan sikap kritis terhadap situasi moralitas masyarakat yang diamatinya.

Dalam hal ini seni di samping mengkomunikaikan nilai-nilai estetis, juga bersifat paedagogis. 3. Nilai Kebenaran Nilai kebenaran berhubungan dengan pengetahuan dan pembiktian pendapat-pendapat dan dugaan-dugaan tentang segala hal.

Dalam hal ini, seniman mengkomunikasikan gagasan-gagasannya tentang kebenaran dalam prilaku kehidupan, dan menjauhkan tindakan-tindakan yang bersifat kepalsuan, melalui simbol-simbol baik yang sudah dikenal masyarakat, atau simbol-simbol khusus yang ingin dikenalkan di dalam masyarakat.

4. Nilai religi Seniman berupaya melalui karyanya mengkonunikasikan nilai—nilai kekudusan yang mengarah kepada nilai-nilai kepercayaan kepada Tuhan yang maha Esa, atau mengekspresikan keimanannya melalui karya-karyanya. Misalnya relief-relief perjalanan Sidharta Gautama pada Borobudur, relief dewa-dewi pada karya-karya seni rupa di dunia timur dan barat, lukisan-lukisan riwayat kehidupan Jesus Kristus pada langit-langit rumah ibadah di Italia, lukisan-lukisan kaligrafi yang mengkomunikasikan ayat-ayat suci di dunia Islam dan sebagainya.

5. Nilai Sosial Seniman ingin mengkomunikasikan gagasan-gagasan sosialnya kepada masyarakat melalui karyanya, dengan memberi contoh-contoh yang dianggapnya cocok untuk dilaksanakan masyarakat, mencela gambaran kehidupan yang lebih mementingkan kehidupan individual yang merugikan masyarakat banyak. 6. Nilai Ekonomi Seniman mengkomunikasikan prinsip-prinsip hidup yang efisien dan efektip dan mengemukakan citra kesederhanaan, dan menjauhkan sikap hidup mewah dan mubajir.

• Menurut P.A. van Gastel kritik yang pertama dituliskan di dunia ini bentuknya sangat berlainan. Kebanyakan kritik berhubungan dengan seni sastera dan kadang-kadang dituliskan dalam sebuah ceritera, dimana pembaca yang cerdas dapat menangkap isi kritik terhadap karya lain, meski tidak diketemukan secara langsung.

Beda antara macam-macam kritik terletak pada cara menimbang yang dipakai. Aristoteles adalah contoh seorang kritikus yang dalam beberapa hal meletakkan dasar bagi kritik klasik. Baginya harus ada sebuah timbangan yang dapat menimbang sampai di mana suatu karya seni itu dapat dikatakan berhasil atau tidak berhasil. Hal semacam ini yang dilakukan dalam kritik klasik.

Ukuran yang pasti ditentukan, dan diukur karya seni tersebut tingkatan nilainya dibandingkan dengan ukuran standar yang telah ditetapkan. Melalui cara ini ditentukan apakah karya seni yang dikritik tersebut dapat dikategorikan sangat baik, baik, kurang baik, atau buruk. Tata cara menimbang yang klasik semacam itu tampak obyektif, tetapi juga amat canggung. Ukuran-ukuran yang sudah ditentukan menolak perubahan dan perkembangan baru. Berhubung pada dasarnya manusia itu hidup, dan terus mengembangkan diri dengan karya-karyanya, tata cara menimbang yang klasik terasa seolah-olah tidak mau melihat kemajuan dan pembaruan dalam ukuran timbangannya.

Hal ini membuat tata cara menimbang klasik dianggap sangat tidak relevan lagi dan tidak dapat dipertahankan tata caranya. Pada akhirnya timbul reaksi terhadap cara menimbang yang klasik dan obyektif itu, yaitu tata cara kritik romantis. Nama romantis digunakan, karena pada saat kemunculannya pada waktu peradaban di Eropa menginjak masa romantis.

Kritik romantis menolak hukum timbangan seni yang ortodoks dan tidak dapat diubah. Kritikus romantis menimbang karya seni dengan mengingat daya kreatif yang ada dalam karya itu.

Kritikus tidak boleh mengukur karya seni dengan ukuran yang sama sekali tidak dicoba untuk ditepati. Kritik romantis menolak metode yang hanya membanding-bandingkan karya seni pada efek atau akibat yang dapat ditimbulkan kepada pecinta seni. Kritik semacam ini akan membela sepenuhnya sang seniman.

Dalam bentuknya yang negatif kemerdekaan itu bisa berubah menjadi kekejian, keonaran, dan kekacauan. Jika mau melaksanakan pendirian kritisi romantis dengan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda segala konsekuensinya, maka harus diberikan kebebasan sepenuhnya kepada seniman untuk melaksanakan apa saja yang timbul di benaknya, asal saja dapat mencapai efek yang dimaksudkan atas publik.

Bentuk timbangan seni semacam ini lupa bahwa semua di dunia ini, termasuk seni, terikat pada dalil kuno yang timbul dengan cara wajar. Berikutnya cara kritik impresionis. Nama ini timbul dari adanya suatu paham pendapat yang muncul di Perancis, kemudian menyebar ke seluruh dunia. Menimbang seni secara impresionis dalam banyak hal merupakan cara yang moderen pada masanya, dan banyak dipakai para kritisi.

Kritikus seni impresionis, tidak memperdalam ukuran seni. Bahkan menimbang karya seni bukanlah tujuan utama. Kritikus seni impresionis sadar dan merasa yakin bahwa kedudukan istimewanya menjadikan sebagai perantara atau penghubung karya seni dengan masyarakat yang kurang memahami seluk beluk seni moderen.

Seorang impresionis memakai impresi yang didapatkan untuk menghidupkan dan menjelaskan karya seni dihadapan masyarakat. Bentuk terburuk dari kritik semacam ini adalah kritikus impresionis terlalu banyak menuruti perasaan pribadinya dan tinjauannya menjadi subyektif, sehingga pembicaraannya tidak dapat diikuti lagi, atau justru berbeda pendapat.

Bahaya dari kritik mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda terlalu bersifat perseorangan, sering menjadi meleset dari tujuan sebenarnya. Selain itu masih ada yang disebut dengan istilah kritik moril. Ketiga tipe kritik di atas meliputi nilai artistic sebuah karya seni, sedangkan dalam kritik moril tumbuh suatu anggapan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah sebagai karya seni yang merupakan bagian dari moril.

Kritik moril pernah mempunyai pengaruh yang hebat di dunia ini. Dalam peradaban Barat kritik moril sudah tidak dipakai lagi. Bisa dikatakan bahwa kritik moril masih dapat dijumpai dalam penerbitan buku yang khusus religius atau sosial. Masyarakat Timur perkembangannya berbeda dengan Barat. Bagi masyarakat Timur seni bukan sebagai suatu pernyataan jiwa manusia bebas yang dapat dinikmati dan peninjauannya lepas dari faktor moral kemasyarakatan.

Masyarakat Timur lebih erat ikatannya daripada masyarakat Barat. Cara berfikir orang Timur merupakan kesatuan dari berbagai faktor dan fa#ktor-faktor tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan karena semuanya saling berhubungan erat, baik harmonis maupun tidak.

Pemisahan antara seni dan moral bagi masyarakat Timur kurang dapat diterima dan dirasakan dengan cara Barat. Kritik moril di Timur jauh lebih berpengaruh daripada Barat. Melalui landasan yang berbeda Edmund Burke Feldman merumuskan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda kritik seni secara lain. Uraian di atas mendasarkan kritik seni dalam mencari letak ukuran karya seni, sedangkan Feldman cenderung pada oleh dan untuk siapa kritik seni tersebut ditulis atau diberlakukan, sehingga kritik seni dibedakan oleh Feldman sebagai berikut : 1.

Kritik Jurnalistik Sesuai dengan namanya, kritik tipe ini disajikan kepada pembaca koran dan majalah. Sudah diketahui bersama, pembaca koran atau majalah adalah masyarakat yang heterogen, mulai pelajar, mahasiswa, pedagang, pegawai negeri, pengusaha, pejabat pemerintah, hingga rakyat jelata.

Selain kondisi semacam ini, kritik jurnalistik bagi Koran yang terbit harian atau mingguan akan cepat hadir dan juga dibatasi deadline yang ketat beserta jumlah kolom yang sangat terbatas. Kritik jurnalistik untuk Koran juga harus dipandang sebagai berita, sehingga dengan keterbatasan kolom yang tersedia menjadikan pembahasannya tidak dapat meluas dan mendalam, serta gaya bahasanya menjadi singkat dan padat. Kritik jurnalistik bagi majalah umum yang terbit bulanan, mingguan atau dua mingguan, pengaruh deadline tidak seketat koran, demikian juga dengan jumlah kolom lebih leluasa, namun isi tulisan beserta gaya bahasa yang digunakan masih bersifat umum dan pupoler karena dibatasi komunitas pembacanya, kecuali majalah khusus seni rupa yang tentunya memberi porsi yang lebih besar bagi ulasan atau bahasan tentang seni rupa.

2. Kritik Pedagogik Kritik pedagogik dimaksudkan untuk meningkatkan kematangan estetik dan artistik para pelajar. Bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Rupa yang nantinya diharapkan menjadi guru seni rupa ditingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, atau Sekolah Menengah Umum, kritik pedagogik ini sangat penting digunakan untuk memberikan dorongan dan bimbingan kepada anak muridnya. Kritik pedagogik dapat dilakukan secara verbal dengan cara mendiskripsikan karya dari siswa, kemudian menganalisis unsur-unsur yang ada pada karya, menafsirkan dan mengevaluasi karya siswa dengan menjelaskan bagian-bagian mana yang menjadi kelebihan atau yang menarik dari karya untuk dibahas lebih lanjut.

Kriteria yang digunakan tidak boleh terlalu kaku dan keras, yang terpenting dari kritik tersebut dapat mendorong siswa supaya lebih kreatif, dan dapat berfikir secara visual atau spatial. 3. Kritik Ilmiah Kritik ilmiah berbeda dengan kritik jurnalsistik dan pedagogic seperti yang telah diuraikan di atas, karena sepenuhnya bersifat keilmuan.

Pada kritik ilmiah, karya-karya yang dikritik atau dibahas memerlukan data-data yang akurat, kemudian dideskripsikan secara tepat, dianalisa secara cermat menggunakan landasan teori yang dibutuhkan, diinteprestasikan dan penilaian karya secara bertanggung jawab sesuai kaidah-kaidah sebuah penulisan karya ilmiah.

Kritik semacam ini dapat dijadikan sebuah penelitian ilmiah yang berwujud skripsi, thesis, bahkan disertasi dengan cara mengikuti metode atau prosedur penelitian ilmiah, dengan tingkat kedalaman pembahasan yang disesuaikan stratanya. Pada masa lalu kritik ilmiah banyak dimusuhi seniman Indonesia yang berlatar belakan otodidak atau non akademik, karena dianggap kritik tersebut menyimpang dari kodrat seni dengan sifat unity.

Karya seni bagi mereka bukan seperti mayat yang diotopsi, boleh dibedah, dicincang, dan diperinci setiap unsur beserta anatominya, karena karya seni merupakan sebuah kebulatan nilai yang harus dihayati secara utuh.

4. Kritik Populer Seperti namanya, kritik popular harus bersifat popular, dan dapat dikerjakan oleh orang awam yang tidak pernah belajar atau mengambil spesialisasi dalam bidang seni.

mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda

Hasil sebuah kritik popular mempunyai tingkat kedalaman yang berbeda-beda, sesuai dengan latar belakang sosial budaya, tingkat pendidikan, pengalaman, dan kepekaannya dalam menanggapi sebuah karya seni. • Follow us • • • • • Fasilitator • • Basori, S.Pd, M.Pd (HP.0813.2909.5029) • Dr.

Daru Wahyuningsih, S.Si., M.Pd (HP.0813-2912-2438) • Ngadimin, M.Kom (HP.081.56789.1976) • Sakroni, S.Kom, M.Pd (HP.0812-2745-0456) • Download • • Sk Rektor tentang Spada • Format RPS • Video Tutorial • • 1.

Login Dosen dan Mahasiswa • 2. Login dan Update Profile • 3. Membuat Kelas Spada • 4. Self Enrolment Student • 5. Membuat Kelas Paralel • 6. Mengundang Dosen • 7. Unggah RPS di Spada • 8. Cara Masuk ke Kelas Spada • 9. Cara Memasukkan Materi • 10. Cara Membuat Activity • Teks Tutorial • • 1. Modul Spada • 2. Messaging Notification • 3. Enrolment MK 1 Kelas • 4. Enrolment MK banyak Kelas • 5. Menghapus Course / MK • 6.

Membuat Penugasan / Assignment / MK • 7. Membuat Quiz • 8. Backup dan Duplikasi Course • FAQ
Berikut ini Soal PAT Tema 9 Kelas 6 Semester 2 K13 Terbaru Tahun Ajaran 2021/2022 yang terdiri dari soal PPKn, Bahasa Indonesia, IPS, IPA, dan SBdP. Semoga kumpulan soal PAT Tema 9 kelas 6 semester 2 ini dapat dijadikan referensi belajar khususnya adik-adik kelas 6 sebagai bekal untuk menghadapi UAS/PAS/ US (Ujian Sekolah) Berikut ini adalah contoh latihan Soal Tematik Kelas 6 Tema 9 Mapel SBdP T.A 2021/2022 lengkap dengan kunci jawaban.

Semoga Soal Tematik Kelas 6 Tema 9 Muatan Pelajaran SBdP ini dapat dijadikan referensi belajar khususnya adik-adik kelas 6 untuk persiapan menghadapi UAS/PAS/PAT [Ujian Sekolah] Soal Tematik Kelas 6 Tema 9 Berikut ini adalah contoh latihan Soal Mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda Kelas 6 Tema 9 Mapel PPKn T.A 2021/2022 lengkap dengan kunci jawaban.

Semoga Soal Tematik Kelas 6 Tema 9 Muatan Pelajaran PPKn ini dapat dijadikan referensi belajar khususnya adik-adik kelas 6 untuk persiapan menghadapi UAS/PAS/PAT [Ujian Sekolah] Soal Tematik Kelas 6 Tema 9 Berikut ini adalah contoh latihan Soal Tematik Kelas 6 Tema 9 Mapel IPS T.A 2021/2022 lengkap dengan kunci jawaban.

Semoga Soal Tematik Kelas 6 Tema 9 Muatan Pelajaran IPS ini dapat dijadikan referensi belajar khususnya adik-adik kelas 6 untuk persiapan menghadapi UAS/PAS/PAT/Ujian Sekolah.

Soal Tematik Kelas 6 Tema 9 Berikut ini adalah contoh latihan Soal Tematik Kelas 6 Tema 9 Mapel IPA T.A 2021/2022 lengkap dengan kunci jawaban. Semoga Soal Tematik Kelas 6 Tema 9 Muatan Pelajaran IPA ini dapat dijadikan referensi belajar khususnya adik-adik kelas 6 untuk persiapan menghadapi UAS/PAS/PAT/Ujian Sekolah.

Soal Tematik Kelas 6 Tema 9 Menu • Home • Islami • Artikel Islami • Kisah Islami • Konsultasi Islam • Kumpulan Doa • Akidah • Ahlak • Kisah Malaikat • Tokoh Islam • Peradaban Islam • Rasulullah • Kisah Rasulullah • Kisah 25 Nabi • Kisah Sahabat • Hadis Rasulullah • Ahli Hadis • Al Quran • Pendidikan • Pemikiran Islam • Materi Pendidikan • Info Campus • Biologi • Kimia • Teknik Mesin • Metodologi • Teknik Elektro • Teknik Sipil • Geologi • Berita • Berita Dunia • Berita Nasional • Berita Riau • Berita Kuansing • Pacu Jalur • Info • Sejarah Indonesia • Tokoh Nasional • Pergerakan Indonesia • Astronomi • Naruto • Tips Kesehatan • Teknologi • Bisnis • Lowongan Kerja • Android • Blogger • Tutorial Blog • Template Blog • Lomba Blog • Tukar Link • Kode Warna • Wisata • Wisata Indonesia • Wisata Batam • Wisata Bogor • Wisata Aceh • Wisata Yogyakarta • Wisata Bali • Wisata Bandung • Wisata Ambon Salah satu prinsip dasar yang harus senantiasa diperhatikan dan dipegangi dalam rangka evaluasi hasil belajar adalah prinsip kebulatan, dengan prinsip evaluator dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar dituntut untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap peserta didik, baik dari segi pemahamannya terhadap materi atau bahan pelajaran yang telah diberikan (aspek kognitif), maupun dari segi penghayatan (aspek afektif), dan pengamalannya (aspek psikomotor).

Ketiga aspek atau ranah kejiwaan itu erat sekali dan bahkan tidak mungkin dapat dilepaskan dari kegiatan atau proses evaluasi hasil belajar. Benjamin S. Bloom dan kawan-kawannya itu berpendapat bahwa pengelompokkan tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik, yaitu: Dalam konteks evaluasi hasil belajar, maka ketiga domain atau ranah itulah yang harus dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi hasil belajar.

Ketiga ranah tersebut menjadi obyek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran. Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).

Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi.

Keenam jenjang atau aspek yang dimaksud adalah : Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Seseorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.

Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya. Jenjang analisis adalah setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang aplikasi. Adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis.

Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau bebrbentuk pola baru. Jenjang sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada jenjang analisis. Salah satu jasil belajar kognitif dari jenjang sintesis ini adalah: peserta didik dapat menulis karangan tentang pentingnya kedisiplinan sebagiamana telah diajarkan oleh islam.

Adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif dalam taksonomi Bloom. Penilian/evaluasi disini merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, nilai atau ide, misalkan jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik sesuai dengan patokan-patokan atau kriteria yang ada.

Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir termasuk di dalamnya kemampuan memahami, menghafal, mengaplikasi, menganalisis, mensistesis dan kemampuan mengevaluasi. Menurut Taksonomi Bloom (Sax 1980), kemampuan kognitif adalah kemampuan berfikir secara hirarki yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Pada tingkat pengetahuan, peserta didik menjawab pertanyaan berdasarkan hafalan saja.

Pada tingkat pemahaman peserta didik dituntut juntuk menyatakan masalah dengan kata-katanya sendiri, memberi contoh suatu konsep atau prinsip.

Pada tingkat aplikasi, peserta didik dituntut untuk menerapkan prinsip dan konsep dalam situasi yang baru. Pada tingkat analisis, peserta didik diminta untuk untuk menguraikan informasi ke dalam beberapa bagian, menemukan asumsi, membedakan fakta dan pendapat serta menemukan hubungan sebab—akibat.

Pada tingkat sintesis, peserta didik dituntut untuk menghasilkan suatu cerita, komposisi, hipotesis atau teorinya sendiri dan mensintesiskan pengetahuannya. Pada tingkat evaluasi, peserta didik mengevaluasi informasi seperti bukti, sejarah, editorial, teori-teori yang termasuk di dalamnya judgement terhadap hasil analisis untuk membuat kebijakan. Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut.

Dengan demikian aspek kognitif adalah sub-taksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi. Aspek kognitif terdiri atas enam tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda.

Keenam tingkat tersebut yaitu: 2. Tingkat pemahaman (comprehension), pada tahap ini kategori pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri. Pada tahap ini peserta didik diharapkan menerjemahkan atau menyebutkan kembali yang telah didengar dengan kata-kata sendiri. 4. Tingkat analisis (analysis), analisis merupakan kemampuan mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi, hipotesa atau kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada atau tidaknya kontradiksi.

Dalam tingkat ini peserta didik diharapkan menunjukkan hubungan di antara berbagai gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar, prinsip atau prosedur yang telah dipelajari. Apabila melihat kenyataan yang ada dalam sistem pendidikan yang diselenggarakan, pada umumnya baru menerapkan beberapa aspek kognitif tingkat rendah, seperti pengetahuan, pemahaman dan sedikit penerapan.

Sedangkan tingkat analisis, sintesis dan evaluasi jarang sekali diterapkan. Apabila semua tingkat kognitif diterapkan secara merata dan terus-menerus maka hasil pendidikan akan lebih baik. Pengukuran hasil belajar ranah kognitif dilakukan dengan tes tertulis. Bentuk tes kognitif diantaranya; Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai.

Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Receiving atau attending ( menerima atua memperhatikan), adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain.

Termasuk dalam jenjang ini misalnya adalah: kesadaran dan keinginan untuk menerima stimulus, mengontrol dan menyeleksi gejala-gejala atau rangsangan yang datang dari luar. Receiving atau attenting juga sering di beri pengertian sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek.

Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai atau nilai-nilai yang di ajarkan kepada mereka, dan mereka mau menggabungkan diri kedalam nilai itu atau meng-identifikasikan diri dengan nilai itu. Contah hasil belajar afektif jenjang receivingmisalnya: peserta didik bahwa disiplin wajib di tegakkan, sifat malas dan tidak di siplin harus disingkirkan jauh-jauh.

Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”. Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya salah satu cara. Jenjang ini lebih tinggi daripada jenjang receiving. Contoh hasil belajar ranah afektif responding adalah peserta didik tumbuh hasratnya untuk mempelajarinya lebih jauh atau menggeli lebih dalam lagi, ajaran-ajaran Islam tentang kedisiplinan.

Valuing (menilai/menghargai). Menilai atau menghargai artinya mem-berikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Valuing adalah merupakan tingkat afektif yang lebih tinggi lagi daripada receiving dan responding. Dalam kaitan dalam proses belajar mengajar, peserta didik disini tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena, yaitu baik atau buruk.

Bila suatu ajaran yang telah mampu mereka nilai dan mampu untuk mengatakan “itu adalah baik”, maka ini berarti bahwa peserta didik telah menjalani proses penilaian. Nilai itu mulai di camkan (internalized) dalam dirinya. Dengan demikian nilai tersebut telah stabil dalam peserta didik. Contoh hasil belajar efektif jenjang valuing adalah tumbuhnya kemampuan yang kuat pada diri peseta didik untuk berlaku disiplin, baik disekolah, dirumah maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Organization (mengatur atau mengorganisasikan), artinya memper-temukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa pada perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya hubungan satu nilai denagan nilai lain., pemantapan dan perioritas nilai yang telah dimilikinya. Characterization by evalue or calue complex (karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai), yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki oleh seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.

Disini proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalal suatu hirarki nilai. Nilai itu telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya. Ini adalah merupakan tingkat efektif tertinggi, karena sikap batin peserta didik telah benar-benar bijaksana. Ia telah memiliki phyloshopphy of life yang mapan. Jadi pada jenjang ini peserta didik telah memiliki sistem nilai yang telah mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang lama, sehingga membentu karakteristik “pola hidup” tingkah lakunya menetap, konsisten dan dapat diramalkan.

Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: Menerima (memperhatikan), Merespon, Menghargai, Mengorganisasi, dan Karakteristik suatu nilai. Skala yang digunakan untuk mengukur ranah afektif seseorang terhadap kegiatan suatu objek diantaranya skala sikap. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral.

Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang. Ada tiga komponen sikap, yakni kognisi, afeksi, dan konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek yang dihadapinya. Afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut. Oleh sebab itu, sikap selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek tertentu.

Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah pernyataan itu didukung atau ditolaknya, melalui rentangan nilai tertentu. Oleh sebab itu, pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua kategori, yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif.

Salah satu skala sikap yang sering digunakan adalah skala Likert. Dalam skala Likert, pernyataan-pernyataan yang diajukan, baik pernyataan positif maupun negatif, dinilai oleh subjek dengan sangat setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak setuju, sangat tidak setuju. Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Andersen, 1981:4).

Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua, perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda perasaan lebih kuat dari yang lain, misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka.

Sebagian orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk.

Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran.

Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif. Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian.

Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi. Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda dan kelemahan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda dimiliki.

Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.

Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut: Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk.

Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan.

mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda

Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7), yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan.

Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat. Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang per-kembangan moral anak. Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral.

Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak.

Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu.

Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku).

Hasi belajar kognitif dan hasil belajar afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan ranah afektif.

Dari penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik. Penilaian psikomotorik dapat dilakukan dengan menggunakan observasi atau pengamatan. Observasi sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan.

Dengan kata lain, observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar atau psikomotorik. Misalnya tingkah laku peserta didik ketika praktik, kegiatan diskusi peserta didik, partisipasi peserta didik dalam simulasi, dan penggunaan alins ketika belajar.

Observasi dilakukan pada saat proses kegiatan itu berlangsung. Pengamat terlebih dahulu harus menetapkan kisi-kisi tingkah laku apa yang hendak diobservasinya, lalu dibuat pedoman agar memudahkan dalam pengisian observasi. Pengisian hasil observasi dalam pedoman yang dibuat sebenarnya bisa diisi secara bebas dalam bentuk uraian mengenai tingkah laku yang tampak untuk diobservasi, bisa pula dalam bentuk memberi tanda cek (√) pada kolom jawaban hasil observasi./susila-besmart • ► 2022 (48) • ► Mei (1) • ► April (5) • ► Maret (32) • ► Februari (8) • ► Januari (2) • ► 2021 (33) • ► Desember (9) • ► November (4) • ► September (2) • ► Agustus (4) • ► Juli (2) • ► Juni (2) • ► Mei (5) • ► April (1) • ► Maret (2) • ► Februari (2) • ► 2020 (31) • ► Desember (4) • ► November (3) • ► Oktober (2) • ► September (4) • ► Agustus (1) • ► Juli (1) • ► Mei (2) • ► April (6) • ► Maret (3) • ► Februari (2) • ► Januari (3) • ► 2019 (59) • ► Desember (4) • ► November (6) • ► Oktober (3) • ► September (4) • ► Agustus (7) • ► Juli (4) • ► Juni (4) • ► Mei (11) • ► April (2) • ► Maret (7) • ► Februari (4) • ► Januari (3) • ► 2018 (125) • ► Desember (11) • ► November (16) • ► Oktober (9) • ► September (18) • ► Agustus (10) • ► Juli (7) • ► Juni (7) • ► Mei (15) • ► April (10) • ► Maret (8) • ► Mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda (4) • ► Januari (10) • ► 2017 (481) • ► Desember (15) • ► November (17) • ► Oktober (9) • ► September (24) • ► Agustus (46) • ► Juli (39) • ► Juni (11) • ► Mei (32) • ► April (185) • ► Maret (16) • ► Februari (39) • ► Januari (48) • ► 2016 (2251) • ► Desember (381) • ► November (365) • ► Oktober (311) • ► September (274) • ► Agustus (105) • ► Juli (26) • ► Juni (109) • ► Mei (216) • ► April (74) • ► Maret (135) • ► Februari (109) • ► Januari (146) • ▼ 2015 (1672) • ▼ Desember (248) • Sejarah Islam Di Andalusia • GOOGLE CEO – SUNDAR PICHAI • Alhamdulillah, RS Indonesia di Gaza Resmi Beroperasi • Favicon Terbaru Web AfdhalIlahi.Com Terbaru • An update on Google Friend Connect • Template Super Seo dan Cepat 2016 • Cara Verifikasi Blog Ke Yandex • Mengatasi H1: Zero, that is Really Bad di Chkme.com • SEJARAH HADITS PADA MASA RUSULULLAH • Sejarah Hadits Pada Masa Sahabat dan Tabi'in • Delapan Kejadian Penting di Penjuru Dunia Sepanjan.

• Sejarah Perkembangan Islam Di Masa Bani Umayyah • DINASTI ABBASIYAH • SEJARAH PERKEMBANGAN HADIST MASA PRA KODIFIKASI • PEMBAGIAN ILMU HADITS DAN CABANG-CABANGNYA • PEMBAGIAN HADITS DARI SEGI KUANTITAS DAN KUALITAS .

• Tips Memilih Nama Blog • Memasang tampilan persentase scroll di Blogger • Template Blog Responsive Gratis dan SEO Friendly T. • Cara Menghapus Akun Facebook Secara Permanen • Cara Agar Tulisan Tak Bisa Di Copy Paste • Cara Membuat Widget Agar Melekat/Sticky Di Sidebar.

• KEPAHLAWANAN DAN KEBERANIAN RASULULLAH ï·º • 10 PEMIMPIN BESAR DALAM SEJARAH ISLAM (2) • 10 PEMIMPIN BESAR DALAM SEJARAH ISLAM (1) • Al Jazari Tokoh Muslim yang Mengenalkan Robot pada. • PENDIDIKAN ISLAM DALAM KELUARGA • Pendeta Senior Masuk Islam • Injil Berusia 1.500 Tahun Ini Tegaskan Bukan Yesus. • Inilah Mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda Yesus (yang diserupakan) Yang Diangga.

• Selamat Untuk Danang Sebagai Juara D Academy Asia • Buya Yahya: "Islam Nusantara Digunakan Untuk Tujua. • Nabi Isa (Yesus) Akan Turun Untuk Membunuh Dajjal . • Hadirilah tabligh akbar dengan tema: "NEGERIKU BER. • Keutamaan Ayat Kursi mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda Shalat Tahajud dan Hikmahnya • Mengapa Doa Kita Belum Dikabulkan.?? • Barbarosa, Si Jenggot Merah, Pejuang Muslim di Lautan • Bukan Hanya di Jakarta, Pada Hari yang Sama Dedi M.

• Mengenal Sosok Dajjal • Pasukan Utama Dajjal Adalah Kaum Yahudi • Fatwa Syiah: Ulama Syiah Boleh Memperkosa Wanita S. • Cara Menambah Kapasitas RAM Android Terbaru • 7 Kebiasaan Blogger Sukses • Cara Mengetahui Duplikat Konten (Duplicate Content) • Tidurnya Nabi Muhammad • Kasih Sayang Nabi Muhammad Kepada Pembantunya • Wasiat Rasulullah Saw • Kelembutan Rasulullah Pada Anak-Anak • Kecerdasan Seseorang Bisa Dinilai dari Suara • Sejarah Awal Munculnya ISIS & Deklarasi Khilafah • Direktur Al-Aqsa: Bendera Israel Tidak Akan Pernah.

• Ucapkan Salam Agar Kamu Sehat • Masjid Berkubah Emas Di Dunia • Jawaban Dr. Zakir Naik Kepada Wanita Ateis yang Be. • Dr. Zakir Naik Membuat Orang Kristen Kagum • Keberanian Rasulullah dalam Berdakwah • Naruto Shippuden Episode 443 Subtitle Indonesia • Dr.

Zakir Naik Menghancurkan Argumen Mahasiswi Kri. • PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT MUHAMMAD ABDUH • KONSEP PENDIDIKAN ISLAM K.H. AHMAD DAHLAN (1868-19. • TOKOH PEMBAHARUAN ISLAM NURCHOLIS MAJID, DAN PEMIK. • KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT SYED MUHAMMAD NAQU. • Konsep Pendidikan Islam Menurut al Farabi • Dr. Zakir Naik Menghancurkan Tipuan Pemuda Kristen • Kisah Taubatnya Ayatullah Syi’ah Syeikh Husein Al . • Jika Natal Tiba, Tanyakan Hal Ini kepada Umat Kristen • Innalillahi, Iran akan mengeksekusi 27 Muslim • Cara Setting Menu Pos dan komentar di Blogger • Cara Membuat Website Toko Online 100% Gratis • Game Android Yang Paling Populer Saat Ini • Konsep Pendidikan Menurut Imam Al Ghazali • Konsep Pendidikan Islam Menurut Al-Qur’an • Konsep Pendidikan Ibnu Miskawaih • Konsep Pendidikan Menurut Ki Hajar Dewantara • Konsep Pendidikan Islam Menurut Buya HAMKA • Konsep Pendidikan Islam Dalam Pemikiran Ibn Taimiyah • Konsep Pendidikan Islam Menurut Ibn Khaldun • Konsep Pendidikan Menurut Ibnu Sina • Konsep Pendidikan Menurut Islam • Pemerintah Somalia Larang Perayaan Natal dan Tahun.

• Malaysia Mulai Operasikan Maskapai Islam Pertamanya • CARA MUDAH MENDAPATKAN BACKLINK GRATIS • Cara Mendaftar Google Analytics dan Memasang Kode . mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda Meneladani Rasulullah dalam Membela Mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda Ora. • Cara Merubah Password Gmail Terbaru 2016 • Cara Memasang Kotak Pencarian Keren di Sidebar Blog • Membuat Widget Recent Post, Next dan Previous Ala .

• Istri-istri Rasulullah • Nabi Muhammad SAW Juga Bercanda • Selamat Hari Ibu • Cara Memasang Widget Alexa Rank di Blog Terbaru • TASAWUF DAN ILMU PENGETAHUAN • Cara Mengganti Background Twitter Terbaru • Cara Membuat Akun Windows Live Mail • Cara Mengganti Nama dan Password Akun Twitter • Cara Mengganti Nama, Email, Password Facebook • Cara Membuat Widget Artikel Terbaru Berdasarkan Label • INILAH 8 GAME ONLINE YANG MELECEHKAN SIMBOL SIMBOL.

• SYEIKH ABDUL QADIR JAILANI,TENTANG AKIDAH DAN KARA. • ► November (66) • ► Oktober (198) • ► September (226) • ► Agustus (106) • ► Juli (127) • ► Juni (90) • ► Mei (329) • ► April (188) • ► Maret (57) • ► Februari (15) • ► Januari (22) • ► 2014 (109) • ► Desember (32) • ► November (17) • ► Oktober (5) • ► Juni (4) • ► Mei (10) • ► April (33) • ► Maret (8) • ► 2013 (52) • ► Agustus (3) • ► Juli (2) • ► Juni (5) • ► Mei (5) • ► April (3) • ► Maret (22) • ► Februari (1) • ► Januari (11) • ► 2012 (1) • ► Desember (1)
Program Sekolah Penggerak berbeda dengan program sekolah model atau sekolah rujukan.

Perbedaannya adalah, Program Sekolah Penggerak: • Merupakan program kolaborasi antara Kemdikbud dengan Pemerintah Daerah • Terdiri dari 5 jenis intervensi yang terintegrasi berupa pendampingan konsultatif dan asimetris kepada Pemerintah Daerah, pelatihan dan pendampingan kepala sekolah dan guru, pembelajaran dengan paradigma baru, perencanaan berbasis data, dan digitalisasi sekolah • Memiliki ruang lingkup untuk jenjang PAUD, SD, SMP, SMA dan SLB, baik sekolah negeri dan swasta mencakup seluruh kondisi • Dilakukan secara berkelanjutan, hingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi Sekolah Penggerak Program Sekolah Model atau Sekolah Rujukan merupakan program Pusat dengan intervensi parsial, berupa: • Bimtek • Bantuan Pemerintah • Ruang lingkup tidak mencakup seluruh kondisi sekolah Banyak keuntungan yang akan didapat bagi sekolah yang melaksanakan Program Sekolah Penggerak, yaitu: • Peningkatan mutu hasil belajardalam kurun waktu 3 tahun • Peningkatan kompetensi kepala sekolah dan guru • Percepatan digitalisasi sekolah • Kesempatan menjadi katalis perubahan bagi satuan pendidikan lain • Percepatan pencapaian profil pelajar Pancasila • Mendapatkan pendampingan intensif • Memperoleh tambahan anggaran untuk pembelian buku bagi pembelajaran dengan paradigma baru Selaras dengan kebijakan Standar Pelayanan Minimal serta target SDG, jenjang PAUD perlu dimaknai sebagai fondasi dari jenjang pendidikan dasar.

Sehingga fokus Sekolah Penggerak untuk PAUD adalah penguatan kapasitas satuan PAUD untuk dapat memberikan layanan berkualitas agar anak secara holistik siap bersekolah (siap secara sosial emosional dan kognitif) dengan didampingi oleh keluarga dan ekosistem pendidikan di daerahnya.

Fokus pada penguatan kapasitas satuan PAUD, diharapkan akan mengimbas kualitas layanan juga ke peserta didik usia di bawah 5 tahun yang ada di satuan tersebut. Sekolah Penggerak adalah sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik dengan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang mencakup kompetensi kognitif (literasi dan numerasi) serta nonkognitif (karakter) yang diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru).

Kepala sekolah dan guru dari Sekolah Penggerak melakukan pengimbasan kepada satuan pendidikan lain Center of Excellence atau Pusat Keunggulan adalah upaya pengembangan SMK dengan program keahlian tertentu agar mengalami peningkatan kualitas dan kinerja, yang diperkuat melalui kemitraan dan penyelarasan dengan DUDI, serta menjadi SMK rujukan dan pusat peningkatan kualitas dan kinerja SMK lainnya dengan insentif bantuan fisik dan non fisik.

Perbedaan terdapat pada mekanisme penentuan sekolah dan adanya kerja sama dengan industri. Program Guru Penggerak adalah program peningkatan kompetensi di bidang kepemimpinan bagi guru-guru yang terpilih melalui proses seleksi.

Sedangkan Program Sekolah Penggerak adalah program peningkatan kualitas pendidikan di sekolah dengan intervensi menyeluruh baik kepada Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah dan Guru. Pemilihan Sekolah Penggerak dilakukan melalui seleksi Kepala Sekolah dan ditetapkan bersama antara Kemendikbud dan pemerintah daerah.

Program Sekolah Penggerak menyasar sekolah yang memiliki kondisi awal berbeda-beda. Melalui intervensi yang dilakukan, diharapkan setiap sekolah akan bergerak ke arah yang lebih baik. Indikator keberhasilan adalah progres, yaitu bagaimana sekolah tersebut dapat menggerakkan dirinya dan pada akhirnya menggerakan sekolah lain dan bukanlah kondisi akhir dari sekolah itu sendiri. Komunitas Penggerak fokus kepada peningkatan kapasitas individu (GTK) dan khusus untuk kompetensi tertentu dan dilakukan oleh organisasi mitra.

Program Sekolah Penggerak fokus pada peningkatan mutu hasil belajar siswa dengan melakukan 5 intervensi secara menyeluruh dan dilakukan oleh Kemendikbud bersama pemerintah daerah.

Kriteria kepala satuan pendidikan yang dapat mengikuti seleksi program sekolah penggerak adalah sebagai berikut: • Merupakan kepala sekolah definitif (plt. Kepala Sekolah tidak boleh daftar PSP angkatan 3) • Memiliki sisa masa tugas sebagai kepala satuan pendidikan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali masa tugas. Satu kali masa tugas dimaksud adalah selama 4 (empat) tahun; • Terdaftar dalam data pokok pendidikan; • Melampirkan surat pernyataan dukungan yang menerangkan bahwa kepala satuan pendidikan yang bersangkutan diizinkan untuk mengikuti proses seleksi dan melaksanakan tugas sebagai kepala sekolah definitif pelaksana Program Sekolah Penggerak yang ditandatangani oleh: • Kepala dinas pendidikan atau pejabat yang ditunjuk bagi kepala satuan pendidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah; atau • Kepala dinas pendidikan atau pejabat yang ditunjuk dan diketahui oleh ketua yayasan/badan perkumpulan di wilayahnya atau pejabat yang ditunjuk bagi kepala satuan pendidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat.

• Melampirkan pakta integritas; • Melampirkan surat keterangan sehat dari dokter puskesmas/rumah sakit yang ditandatangani dokter dan diberikan cap (stempel) puskesmas/rumah sakit tersebut yang wajib dilengkapi setelah peserta seleksi yang bersangkutan telah dinyatakan lulus pada pengumuman seleksi tahap II; • Tidak sedang menjalani hukuman disiplin sedang dan/atau berat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan • Tidak sedang menjalani proses hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

• Tidak sedang menjadi asesor di Program Sekolah Penggerak/Program Guru Penggerak, tidak sedang menjadi pengajar praktik dan fasilitator ataupun sedang mengikuti proses seleksi menjadi pengajar praktik dan fasilitator di Program Guru Penggerak, tidak sedang menjadi pelatih ahli/fasilitator sekolah penggerak di Program Sekolah Penggerak.

• Kepala Sekolah yang bisa mendaftar kelahiran maks tahun 1967 (per tahun 2022 usia maksimal 55 tahun) Dalam proses seleksi calon kepala sekolah penggerak, akan dilakukan penilaian terhadap kriteria khusus sebagai berikut: • Memiliki visi, misi, dan tujuan; • Mampu mengambil keputusan strategis’ • Mampu memimpin perubahan; • Memiliki kemampuan melaksanakan pelatihan dan pembimbingan; • Mampu membangun hubungan kerja sama; • Memiliki orientasi pembelajar; • Memiliki daya juang/resiliensi; • Memiliki kematangan beretika; • Mampu memimpin implementasi program sekolah; dan • Mampu mendorong inovasi.

Sekolah yang telah didampingi Organisasi Penggerak belum bisa ikut Program Sekolah Penggerak Angkatan 1 dan 2 agar tidak mencampurbaurkan program yang berbeda di satu sekolah. Namun pada Program Sekolah Angkatan 3, sekolah yang menjadi sasaran Program Organisasi Penggerak dapat mengikuti pendaftaran. Terdapat 7 tahap dalam menetapkan sekolah menjadi sekolah penggerak: 1. Penentuan daerah sasaran oleh Kemdikbud 2. Pembuatan nota kesepahaman (MOU) Kemdikbud dengan Pemda 3.

Registrasi kepala PAUD, SD, SMP, SMA, SLB melalui laman sekolah penggerak 4. Seleksi tahap 1: Esai, CV, dan tes bakat skolastik 5. Seleksi tahap 2: Simulasi mengajar dan wawancara 6. Pleno kelulusan oleh tim panel Kemdikbud dan Pemda 7. Pengumuman dan penetapan sekolah sebagai pelaksana Program Sekolah Penggerak oleh Kemdikbud dan Pemda Yang dimaksud dengan kriteria tersebut adalah kepala sekolah tidak dapat dipilih apabila masa tugasnya kurang dari 4 tahun seperti: - Kepala sekolah usia 57, 58, 59, 60 tahun - Kepala sekolah yang baru diangkat (masa tugas pertama/kedua) pada usia 56 tahun Selain itu yang tidak dapat dipilih adalah: - Kepala sekolah jenjang SMK (karena SMK nanti bukan PSP, namun program SMK Pusat Keunggulan (COE)).

Dua asesor saat simulasi mengajar dan wawancara disediakan dari Kemendikbud dan sudah tersertifikasi asesor. Dalam seleksi, Pemda akan terlibat saat pleno keputusan penetapan sekolah berdasarkan hasil seleksi tahap 1 dan tahap 2. Kemendikbud dan Pemda akan bersama-sama menetapkan sekolah pelaksana program sekolah penggerak. Anggaran daerah dapat meliputi, tapi tidak terbatas, • Buku terkait pembelajaran dengan paradigma baru • Fasilitas sanitasi • Dukungan akses untuk platform teknologi pendidikan (termasuk dan tidak terbatas pada akses, jaringan) • Peralatan TIK • Pertemuan yang berhubungan dengan Program Sekolah Penggerak • Perangkat ajar Bagi daerah yang telah memiliki perencanaan program peningkatan mutu 2021 dapat diintegrasikan ke dalam Program Sekolah Penggerak.

Namun apabila di tahun 2021 belum teranggarkan untuk program tertentu yang dapat diintegrasikan dimaksud maka Program Sekolah Penggerak dapat secara khusus dianggarkan pada tahun 2022 Melalui produk Perangkat Ajar, Guru dapat melakukan beberapa hal terhadap perangkat ajar, yaitu: • Mengunduh perangkat ajar ke gawai atau smartphone masing-masing.

• Membagikan tautan perangkat ajar melalui Whatsapp atau kanal lainnya • Memberikan rekomendasi jika perangkat ajar tersebut membantu proses mengajar dengan klik ?

• Mendapatkan informasi seberapa tinggi perangkat ajar direkomendasikan guru lain melalui jumlah "Likes" dan jumlah "Telah Diunduh" Khusus untuk Modul Ajar/RPP+, Guru dapat menyimpannya ke dalam folder dengan fitur "Tandai" Perangkat ajar dalam bentuk modul ajar dapat diakses secara luring (offline) melalui dua cara: • Mengunduh dokumen yang ada di masing-masing laman modul ajar • Menandai modul ajar, mengorganisasikan ke dalam folder, dan mengaktifkan Akses Offline di dalam folder tersebut.

Anda kemudian dapat mengakses kembali laman modul ajar yang sudah ditandai ketika tidak terkoneksi ke jaringan internet Pemerintah menyediakan perangkat ajar untuk membantu pendidik yang membutuhkan bahan atau inspirasi dalam pengajaran. Pendidik memiliki kemerdekaan untuk memilih dan memodifikasi perangkat ajar yang tersedia, ataupun membuat sendiri sesuai dengan kebutuhan, konteks, dan karakteristik peserta didik. Perangkat Ajar adalah berbagai modul ajar, buku teks pelajaran, video pembelajaran, modul projek, dan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda lainnya yang digunakan pendidik dalam upaya untuk mencapai profil pelajar Pancasila dan Capaian Pembelajaran.

Perangkat ajar merupakan berbagai materi pengajaran yang dapat digunakan guru untuk mendukung kegiatan belajar mengajarnya. Perangkat ajar dilengkapi dengan alur dan capaian pembelajaran, yang disusun sesuai domain dan fase tertentu. Perangkat ajar bisa berupa bahan ajar, modul ajar, modul proyek, atau buku teks.

Pihak sekolah yang akan memperoleh manfaat adalah: 1. Platform Merdeka Mengajar Digunakan oleh Guru untuk memudahkan kegiatan mengajar, belajar, dan berkarya agar menunjang profesinya 2. Platform Sumber Daya Sekolah Digunakan oleh Kepala Sekolah, Bendahar, dan Pengawas untuk mengelola sumber daya sekolah leih cepat dan tepat 3.

Dasbor Rapor Pendidikan Digunakan oleh Kepala Sekolah dan Pengawas untuk menyusun program peningkatan mutu yang lebih tepat sasaran • Platform teknologi dari Kemendikbud akan memfasilitasi penyediaan konten yang bersifat offline (luring) untuk melayani sekolah dengan akses terbatas. • Untuk keperluan akses platform teknologi, sekolah dapat memaksimalkan penggunaan dana BOS.

Selain itu, sekolah dapat berkonsultasi dengan pemerintah daerah untuk memperoleh dukungan penyelenggaraan platform teknologi • Sedapat mungkin platform teknologi dirancang untuk dapat diakses dan digunakan dengan mudah oleh pihak sekolah. • Kemendikbud akan menylenggarakan pelatihan literasi teknologi maupun pendamping teknologi yang berperan untuk membantu sekolah dalam beradaptasi dan memanfaatkan platform teknologi, termasuk dalam aspek dasar pengoperasian perangkat TIK.

• Kemendikbud juga menyediakan situs yang memuat panduan penggunaan platform yang dapat diakses kapan saja. Untuk mengetahui hal tersebut, silakan lakukan pemeriksaan secara berkala di Playstore dengan cara berikut: • Buka Playstore • Cari aplikasi “ Merdeka Mengajar Kemendikbudristek”, lalu klik “ Update” Perhatikan, apabila yang muncul bukan “Update”, tetapi “Uninstall”, artinya platform sudah menggunakan versi terbaru dan tidak perlu melakukan pembaruan versi.

Platform teknologi bertujuan untuk mendukung implementasi kebijakan pendidikan yang akan diterapkan pada Sekolah Penggerak dalam proses pembelajaran, pengembangan kompetensi guru, dan tata kelola sumber daya sekolah. Platform teknologi akan terdiri dari: • Platform Merdeka Mengajar • Platform Sumber Daya Sekolah • Dashboard Rapor Pendidikan Pelaksanaan kegiatan Pelatihan Komite Pembelajaran diselenggarakan satu kali pada tahun pertama sekolah penggerak ditetapkan.

Anda akan belajar mandiri pada platform Merdeka Mengajar serta mendapatkan pendampingan oleh Fasilitator Sekolah penggerak dengan jadwal yang akan diinformasikan oleh PPPPTK/LPPKSPS Panduan terkait platform merdeka mengajar: https://sites.google.com/wartek.belajar.id/faqgurumerdekamengajar/beranda?authuser=0 Buku saku PMM: https://drive.google.com/file/d/1ZMqJqvx34z6Z5ug9EyeSo_JPheb_PWnh/view?usp=sharing Bagaimana jika saya tidak bisa hadir dalam pelatihan karena ada alasan mendesak dan tidak bisa ditinggalkan?

Jika ada sesuatu yang mendesak dan tidak bisa ditinggalkan dengan memberikan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda pernyataan yang disampaikan kepada narasumber ,kami memberikan toleransi ketidakhadiran 10% dari total keseluruhan rangkaian bimtek Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah akan mendapatkan pelatihan dan pendampingan terkait: • Pengembangan diri dan warga sekolah secara berkelanjutan • Kepemimpinan Pembelajaran • Pengelolaan dan Pengembangan Sekolah • Penggunaan platform digital Guru-guru akan mendapatkan pelatihan dan pendampingan terkait: • Pengembangan diri dan karier • Praktik pembelajaran profesional • Penggunaan platform digital Peningkatan kompetensi Guru dan Kepala Sekolah dilakukan dengan dua tahap, yaitu pelatihan dan pendampingan.

Program pelatihan untuk Komite Pembelajaran akan dilakukan di tingkat Kabupaten/Kota, sedangkan untuk guru akan dilakukan di tingkat sekolah. Pendampingan dari pengawas dan pelatih ahli akan dilakukan di tingkat sekolah. Komite Pembelajaran dari satuan pendidikan pelaksana program sekolah penggerak terdiri dari: PAUD: Penilik, Kepala Sekolah, pendidik PAUD yang malayani peseta didik usia 5 sampai dengan 6 tahun. SD: Pengawas, Kepala Sekolah, Guru kelas 1 dan 4, guru Pendidikan Agama, dan guru PJOK SMP dan SMA: Pengawas, Kepala Sekolah, 10 guru mata pelajaran, 1 guru BK SMK: Pengawas, Kepala Sekolah, Wakakur, guru 8 mata pelajaran umum, guru IPAS, Informatika, dan 2 Program Keahlian.

Mekanisme penentuan sasaran sebagai berikut; Kepala satuan pendidikan pelaksana Program Sekolah Penggerak mengusulkan data perwakilan guru dari satuan pendidikannya ke Dinas Pendidikan sesuai kewenangannya; Dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota sesuai kewenangannya melakukan verifikasi data peserta pelatihan untuk setiap jenjang pendidikan; Dinas pendidikan mengajukan data peserta pelatihan ke UPT (PPPPTK dan LPPKSPS) sesuai wilayah binaannya; Selanjutnya UPT mengirimkan undangan Pelatihan Pembelajaran bagi Kepala Satuan Pendidikan, Guru, Pendidik PAUD, dan Pengawas Sekolah/Penilik Melalui Dinas Pendidikan sesuai kewenangannya; Dinas Pendidikan sesuai kewenangannya menerbitkan Surat Tugas bagi peserta untuk mengikuti pelatihan.

Pelatihan Komite Pembelajaran dilakukan selama 74 JP (@45 menit) di tingkat nasional, dengan materi sebagai berikut: 1.

mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda

Kebijakan program sekolah penggerak; 2. orientasi pelatihan; 3. pendidikan yang memerdekakan; 4. kerangka kurikulum; 5.

capaian pembelajaran; 6. perangkat ajar; 7. asesmen; 8. kurikulum operasional di satuan pendidikan; 9.

pelaksanaan in house training di satuan pendidikan; 10. pengenalan literasi digital; 11. tes awal dan tes akhir; dan 12. evaluasi penyelenggaraan.

Pelatihan bagi Komite Pembelajaran meliputi: • Pelatihan Implementasi Pembelajaran bagi perwakilan guru dan pendidik PAUD pada setiap satuan pendidikan pelaksana Program Sekolah Penggerak. • Pelatihan Kepemimpinan dan Implementasi Pembelajaran bagi Kepala Satuan Pendidikan dan Pengawas Sekolah/Penilik pelaksana Program Sekolah Penggerak. Penyelenggara pelatihan ini adalah Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) dan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah (LPPKSPS), yang berperan untuk: • Melakukan koordinasi dengan Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Ditjen GTK berkenaan dengan agenda, sasaran dan lokasi pelaksanaan pelatihan; • Mengidentifikasi peserta pelatihan sesuai dengan satuan sekolah penyelenggara program sekolah penggerak di wilayah binaan; • Mengidentifikasi instruktur yang dapat berperan pada pelatihan komite pembelajaran sesuai wilayah binaan; • Menyiapkan perangkat penyelenggara pelatihan; • Melaksanakan pelatihan komite pembelajaran pada program sekolah penggerak; • Melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan pelatihan komite pembelajaran pada program sekolah penggerak; • Menerbitkan Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPP) kepada peserta pelatihan.

Peserta Pelatihan 1. Mengikuti seluruh materi sesuai jadwal yang ditentukan; 2. Melaksanakan pembelajaran secara aktif dan kolaboratif; 3. Mengerjakan tes awal dan tes akhir; 4. Menyelesaikan dan mengumpulkan seluruh tugas dan tagihan. Instruktur Pelatihan 1. Memonitor keaktifan peserta dalam pembelajaran daring; 2.

Memfasilitasi proses belajar peserta; 3. Memberikan umpan balik terhadap tugas yang diunggah peserta; 4. Memberikan nilai sikap dan keterampilan peserta; 5. Mengolah nilai akhir peserta; dan 6. Memberikan rekomendasi terhadap kelulusan peserta. Admin LMS 1. Melakukan rekapitulasi terhadap keaktifan peserta; 2.

Membantu pengajar memfasilitasi pelaksanaan diskusi di LMS sesuai dengan waktu yang ditetapkan; 3. Memberikan solusi terhadap permasalahaan teknis yang dihadapi oleh pengajar & peserta. Aspek Evaluasi: 1) Evaluasi pengetahuan, dilakukan melalui tes awal dan akhir; 2) Evaluasi keterampilan dilakukan melaluipenugasan; 3) Evaluasi sikap, dilakukan melalui pengamatan komitmen peserta dalam kehadiran, kerjasama dan tanggung jawab dalam melaksanakan penugasan, serta keaktifan dalam diskusi.

Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen berupa lembar pengamatan dengan unsur-unsur yang dinilai meliputi: • Sistematika penyajian; • Kemampuan menyajikan; • Kesesuaian materi yang disampaikan dengan tujuan pelatihan; • Ketepatan waktu dan kehadiran; • Penggunaan metode dan alat bantu pembelajaran; • Sikap dan perilaku; • Cara menjawab pertanyaan dari peserta (sistematika dan rasionalitas jawaban); • Penggunaan bahasa; • Pemberian motivasi kepada peserta; dan • Kerapian berpakaian.

1. Pelaksanaan pendampingan IHT secara daring dilakukan melalui pertemuan virtual bagi 2-4 sekolah pada jenjang yang sama dengan pertimbangan jumlah peserta. 2. Durasi pertemuan virtual untuk pendampingan IHT secara daring adalah 135 menit atau setara dengan 3JP untuk satu kali pendampingan. 3. Dalam pendampingan secara daring, setiap IN akan diberikan komponen uang saku dari uang harian perjadin sebesar 75.000/JP. 4. Bagi satuan Pendidikan yang tidak melaksanakan IHT, dikarenakan sudah tidak ada sasaran guru kelas/guru BK yang sama, akan tetap mendapatkan pendampingan secara daring melalui tatap muka virtual.

5. Seluruh unsur yang terlibat dalam pelaksanaan pendampingan secara daring (peserta dan instruktur) diberikan bantuan biaya koneksi sebesar 100.000 per kegiatan. 6. Penyediaan fasilitas pertemuan virtual menjadi tanggung jawab PPPPTK/LPPKS-PS. Tujuan In House Training agar peserta dapat: • Merefleksikan nilai dan filosofi Ki Hajar Dewantara dengan perannya sebagai guru/pendidik PAUD dan merumuskan strategi pembelajaran yang sesuai dengan nilai dan filosofi Ki Hajar Dewantara; • Mengidenfikasi komponen kerangka kurikulum dan peranan pemangku kepentigan dari tingkat pusat sampai satuan pendidikan dalam menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid; • Mengidentifikasi rasional, tujuan dan elemen mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda pembelajaran pada berbagai mata pelajaran yang diampu, mengaitkan peranan capaian pembelajaran sesuai dengan tingkat pencapaian siswa (kebutuhan, kecepatan, dan gaya belajar sesuai dengan fase perkembangan anak); • Mengidentifikasi keterkaitan antara profil lulusan dengan visi dan misi sekolah, program dan pembelajaran di kelas, menginvestigasi sumber daya dan tantangan wilayahnya untuk merancang projek penguatan profil pelajar Pancasila pada satuan pendidikan; • Menerapkan prinsip penyusunan alur tujuan pembelajaran (ATP) dan modul ajar dalam pengembangan ATP dan modul ajar serta sumber belajar yang dibutuhkan untuk mendukung penerapannya; • Menggunakan TIK dalam bidang pendidikan dan pembelajaran, cara mengakses platform digital, platform sumber daya sekolah, platform guru, dan platform rapor pendidikan.

• Pelatihan awal akan diselenggarakan oleh Kemendikbud antara 15 Mei - 30 Juni untuk kepala sekolah dan guru-guru yang dipilih. Kemendikbud juga akan mendukung sekolah-sekolah sepanjang tahun dengan bimbingan terus menerus setiap 2 - 4 minggu. • Kepala sekolah dan guru-guru yang dipilih yang mengikuti pelatihan tersebut diharapkan melakukan pelatihan di sekolah dan bimbingan terus menerus untuk guru-guru lainnya.

• Kemendikbud juga akan menyediakan sumber daya pelatihan daring dalam Guru Belajar dan akan meluncurkan aplikasi microlearning untuk mendukung guru-guru dalam mengakses materi-materi dan praktik baik dalam kepemimpinan dan pedagogi.

Peserta In House Training adalah guru/pendidik PAUD di Sekolah Penggerak, berasal dari kelas yang menjadi sasaran implementasi kurikulum Sekolah Penggerak tahun 2021, yaitu: • Jenjang TK: guru atau pendidik PAUD kelompok A dan B • Jenjang SD: guru kelas 1, kelas 4, mata pelajaran Pendidikan Agama, dan PJOK • Jenjang SMP: guru kelas 7 mata pelajaran Agama, PPKn, Bahasa Indonesia, Matemaka, Bahasa Inggris, IPA terpadu, IPS terpadu, PJOK, Informaka, Seni, dan Bimbingan dan Konseling • Jenjang SMA: guru kelas 10 mata pelajaran Agama, PPKn, Bahasa Indonesia, Matemaka, Bahasa Inggris, IPA terpadu, IPS terpadu, PJOK, Informaka, seni, dan Bimbingan dan Konseling • Jenjang SLB: guru ketunaan sesuai dengan jenis ketunaan di satuan pendidikan Selain sasaran di atas, guru lainnya pada sekolah penggerak juga dapat memberikan informasi tentang program sekolah penggerak dan implementasi pembelajaran di sekolah penggerak melalui kegiatan sosialisasi.

In House Training dilakukan secara daring dan/atau luring sesuai kondisi satuan pendidikan masing-masing. Jika dilakukan secara daring, maka satuan pendidikan memilih platform yang sesuai kondisi dan sarana prasarana di satuan pendidikan masing-masing Jika dilakukan secara luring, maka satuan pendidikan dapat mengatur waktu pelaksanaan pelatihan.

Ditjen GTK 1. Membuat NSPK 2. Membuat panduan In House Training 3. Melakukan kegiatan Penjaminan Mutu 4. Mengkoordinasikan In House Training dengan para pemangku kebijakan terkait4.

capaian pembelajaran; PPPPTK dan LPPKSPS 1. Mengkoordinasikan penyelenggaraan In House Training dengan satuan Pendidikan dan dinas Pendidikan, terkait: a. Waktu pelaksanaan In House Training b. Mekanisme pelaksanaan In House Training di satuan Pendidikan c. Rencana anggaran untuk pelaksanaan In House Training 2. Mengkoordinasikan pendampingan In House Training a. Tugas Pendamping: Manajemen, Instruktur, dan admin.

b. Waktu Pendampingan c. Jadwal pendampingan terpadu 3. Menerima dan melakukan reviu laporan pelaksanaan In House Training a. Template laporan In House Training: sesuai dengan panduan b. Mekanisme pelaporan c. Template laporan pendampingan Dinas Pendidikan 1.

Mengkoordinasikan pelaksanaan In House Training dengan satuan pendidikan terkait 2. Menerima dan melakukan reviu laporan pelaksanaan In House Training 1. orientasi pelatihan; Pengawas Sekolah 1. Menjadi bagian dari komite pembelajaran serta menjalankan tugasnya sesuai dengan rencana implementasi pelaksanaan In House Training yang telah ditentukan satuan pendidikan; 2. Memonitor pelaksanaan In House Training dengan cara mengisi lembar evaluasi yang tersedia Pengajar In House Training (Komite pembelajaran) 1.

Memonitor keaktifan peserta dalam pembelajaran 2. Memfasilitasi proses belajar peserta 3. Memberikan umpan balik terhadap tugas peserta 4. Memberikan nilai sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta 5. Mengolah nilai akhir peserta 6. Melaporkan hasil pelaksanaan In House Training kepada UPT dan Dinas Pendidikan Instruktur Nasional dan Narasumber Bimtek 1. Menjadi tempat bertanya bagi komite pembelajaran terkait materi kunci dalam In House Training 2.

Mendukung pelaksanaan In House Training dengan membagikan sumber belajar dan strategi fasilitasi yang efektifPeserta dapat: Koordinator Pelatih Ahli 1. Melakukan monitoring pelaksanaan In House Training 2. Melakukan pelaporan evaluasi pelaksanaan In House Training melalui jalur yang dijelaskan pada alur pelaporan Peserta In House Training 1. Mengikuti seluruh materi sesuai jadwal yang ditentukan 2. Melaksanakan pembelajaran secara aktif dan kolaboratif 3.

Mengerjakan tes awal dan tes akhir 4. Menyelesaikan dan mengumpulkan seluruh tugas dan tagihan 5. Mengisi instrumen evaluasi pengajar dan pelaksanaan In House Training. 1. Peserta In House Training yang mendapatkan bantuan konsumsi adalah guru kelas 1, 4, 7, 10, semua mapel, 5 ketunaan, dan pendidik PAUD 2.

Bagi sekolah yang tidak memiliki sasaran In House Training dapat langsung melaksanakan workshop penyusunan kurikulum operasional sekolah, dan tidak mendapatkan bantuan konsumsi. Mekasnisme pelaporan dilakukan secara berkala: 1. Pada laporan tahap 1 (awal), hari ke-1 In House Training, setelah tes awal, dilaporkan data kehadiran peserta, narasumber, pejabat pembuka, pemaparan kebijakan dan komitmen bersama, hasil pengolahan hasil tes awal.

2. Pada laporan tahap ke 2 (tengah), hari ke-4 atau ke-5, dilaporkan data kehadiran peserta, narasumber, hal baik dan kendala yang dihadapi baik akademis dan non akademis serta kendala yang dihadapi. 3. Pada laporan tahap ke 3 (akhir), dilakukan 2 minggu setelah In House Training dilaksanakan, 4. Proses pelaporan akan dilakukan di SIMPKB Waktu Pendampingan 1. Manajemen melakukan pendampingan In House Training. Satu pendamping manajeman untuk satu kabupaten melakukan pendampingan sampling sekolah.

2. Instruktur melakukan pendampingan di pertengahan atau akhir kegiatan In House Training. Satu pendamping instruktur melakukan pendampingan pada 3-5 sekolah. Dalam satu hari instruktur melakukan pendampingan pada 1 sekolah. 3. Admin melakukan pendampingan diakhir kegiatan. Satu pendamping admin melakukan pendampingan pada 2-4 sekolah. Dalam satu hari admin melakukan pendampingan pada 1-2 sekolah. Tugas Pendamping In House Training Manajemen 1. Berkoordinasi dengan dinas pendidikan dan komite pembelajaran 2.

Mereviu keterlakasanaan In House Training 3. Memberikan solusi terkait permasalahan yang dihadapi selama pelaksanaan IH Instruktur 1. Berkoordinasi dengan komite pembelajaran terkait proses pembelajaran 2. Melakukan identifikasi permasalahan selama In House Training dan jika luring dilengkapi dengan observasi langsung pelaksanaan In House Training. 3. Melakukan refleksi berdasarkan hasil observasi 4. Memberikan umpan balik terhadap hasil refleksi Admin 1. Berkoordinasi dengan panitia In House Training 2.

Melakukan pengecekan dan penegasan kembali terkait dokumen keuangan In House Training Secara peraturan, jika kepala sekolah masih mendapatkan kesempatan menjadi kepala sekolah untuk periode keempat, maka kepala sekolah harus lulus uji kompetensi. Jika kepala sekolah sudah lulus seleksi menjadi penyelenggara Program Sekolah Penggerak (PSP), dan sudah menjalankan PSP selama 3 tahun serta masih punya kesempatan menjadi keala sekolah pada periode keempat, maka kepala sekolah tidak perlu lagi mengikuti uji kompetensi.

Pengalaman lulus seleksi dan melaksanakan PSP dapat menjadi pengganti uji kompetensi kepala sekolah untuk melanjutkan periode keempat. Unsur dalam Komite Pembelajaran berdasarkan jenjang adalah sebagai berikut: 1. PAUD: Kepala satuan pendidikan, pengawas/ penilik, dan 2 pendidik 2. SD: Kepala sekolah, pengawas, 2 guru mewakili kelas rendah dan kelas tinggi, dan dan perwakilan 1 guru/mapel 3.

SMP: Kepala sekolah, pengawas, dan perwakilan 1 guru/mapel 4. SMA: Kepala sekolah, pengawas dan perwakilan 1 guru/mapel 5.

SLB : Kepala sekolah, pengawas, dan perwakilan 1 guru/guru kelas kekhususan (SD) atau 1 guru/ mapel dan program kekhususan (SMPLB dan SMALB) Akan tersedia laporan yang memotret kondisi mutu pendidikan yang dikumpulkan dari berbagai sumber data dan akan dirujuk oleh seluruh pemangku kepentingan untuk evaluasi dan perencanaan.

Laporan ini dapat digunakan oleh satuan pendidikan dan pemda sebagai instrumen refleksi diri utk identifikasi area perbaikan sehingga dapat merancang kegiatan perbaikan yang tepat. Target utama projek ini adalah penguatan profil Pelajar Pancasila sebagai tujuan jangka panjang pembelajaran. Oleh karena itu tujuan projek ini tidak berkaitan langsung dengan konten/capaian pembelajaran dari mapel yang sedang dipelajari.

Dalam implementasinya, guru kelas dan guru mapel berkolaborasi dan fokus pada pencapaian dimensi profil Pelajar Pancasila dalam perencanaan dan fasilitasi kegiatan projek ini. Dalam rangkaian kegiatannya siswa akan menggali pemahaman dan mencari solusi mengenai isu-isu yang dikemas dalam tujuh tema berdasarkan SDG. Berbagai macam keterampilan dan pengetahuan akan dikembangkan untuk pendalaman isu, penyelesaian masalah dan tidak dipisah-pisah dalam mata pelajaran.

Guru menganalisis kompetensi yang ada di CP per fase lalu menurunkannya pada kompetensi yang dicapai siswa di kelas yang diajarnya. Kompetensi ini disusun secara berjenjang dari awal tahun hingga akhir tahun. Guru kemudian menurunkan kompetensi ini dalam indikator capaian kompetensi untuk diukur dalam asesmen (bisa dalam bentuk lembar amatan atau bentuk asesmen yang lain) Secara intensif, transparan dan personal, Guru juga berkomunikasi dengan siswa dan orangtua selama proses pembelajaran terkait dengan hasil assesmen diagnostic, formatif dan sumatif.

Selanjutnya, guru bekerjasama dengan Guru BK untuk mengidentifikasi potensi siswa dan strategi untuk memfasilitasi pengembangan potensi tersebut. Teaching at the Right Level adalah salah satu semangat di merdeka belajar, dimana pengajaran pada peserta didik disesuaikan dengan tingkat capaian atau kemampuan awalnya. Guru melakukan asesmen terhadap level pembelajaran peserta didik, mengelompokkannya sesuai dengan yang memiliki tingkat capaian dan kemampuan yang serupa, dan memberikan intervensi pengajaran dan beragam aktivitas pembelajaran sesuai dari level pembelajarannya tersebut, bukan hanya melihat dari usia dan kelasnya.

Mengajarkan kemampuan dasar yang perlu dimiliki peserta didik dan menelusuri kemajuannya. Jika anak berada di kelas 4 SD mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda kemampuan dasar yang dimiliki belum sampai ke level yang diharapkan pada level kelas tersebut, maka guru perlu memberikan intervensi yang sesuai dengan kemampuan peserta didik saat itu, menuntaskan kebutuhan belajarnya, dan tidak memaksakan pengajaran yang ada di level kelas 4.

Sebuah penyederhanaan agar siswa memiliki waktu yang memadai untuk menguasai kompetensi, guru dan sekolah bisa lebih leluasa untuk menyesuaikan pembelajarannya sesuai dengan kondisi siswa.

Peserta didik memiliki kesempatan untuk belajar sesuai dengan tingkat pencapaian ( Teaching at The Right Level), kebutuhan, kecepatan, dan gaya belajarnya karena CP dibuat dengan memperhatikan fase-fase perkembangan anak. Untuk peserta didik sampai pada kompetensi dan karakter yg ada di profil pelajar Pancasila, perlu penguatan selain di intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan program lainnya dengan melatih peserta didik untuk menggali isu nyata di lingkungan sekitar dan berkolaborasi untuk memecahkan masalah tersebut.

Dengan demikian untuk memastikan ini berjalan, maka diberikan alokasi waktu tersendiri. Ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari dalam projek adalah hal-hal yang kontekstual dan umum. Meskipun dalam intrakurikuler belum dipelajari, namun peserta didik berkesempatan untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan dan keterampilan tersebut melalui projek.

Dengan demikian, saat didiskusikan dalam intrakurikuler mereka sudah memiliki pengetahuan awal dan lebih siap untuk mempelajarinya lebih jauh. Modul ajar pada dasarnya adalah perencanaan pembelajaran secara lengkap disusun berdasarkan topik dalam lingkup kelas. Sementara ATP merupakan perencanaan pembelajaran untuk jangka waktu lebih panjang dalam lingkup sekolah. Silabus dapat dikembangkan dengan menggunakan atau mengadaptasi ATP yang disediakan oleh Pemerintah maupun ATP yang dikembangkan secara mandiri.

Modul ajar dapat dianggap sebagai RPP, sehingga guru yang menggunakan modul ajar yang disediakan oleh Pemerintah ataupun mengembangkan secara mandiri, tidak perlu lagi membuat RPP secara terpisah.

Guru dapat mengembangkan modul ajar melalui adaptasi modul ajar dari Pemerintah agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan konteks satuan pendidikan. Perangkat ajar dapat diakses melalui media cetak dan secara daring. Media Cetak Buku teks akan disediakan Kemendikbud secara daring dan cetak dengan prosedur distribusi sesuai peraturan berlaku.

Daring Modul ajar dapat diakses dan digunakan pada platform perangkat ajar mengikuti langkah-langkah petunjuk. Perangkat ajar terdiri dari buku teks dan modul ajar, yang digunakan untuk membantu guru dalam mengimplementasikan pembelajaran paradigma baru. Melalui perangkat ajar, diharapkan guru dapat menyelenggarakan proses belajar yang bermakna sesuai dengan prinsip bahwa siswa perlu belajar sesuai dengan tahapan dan kebutuhannya.

Tidak ada perubahan total jam pelajaran, hanya saja JP (jam pelajaran) untuk setiap mata pelajaran dialokasikan untuk 2 kegiatan pembelajaran: 1) pembelajaran intrakurikuler, dan 2) projek penguatan profil Pelajar Pancasila Jadi jika dihitung JP kegiatan belajar rutin di kelas (intrakurikuler) saja, memang seolah-olah JP-nya berkurang dibandingkan dengan K13.

Namun selisih jam pelajaran tersebut dialokasikan untuk projek penguatan profil Pelajar Pancasila. Kurikulum terdiri dari kegiatan intrakurikuler dan projek penguatan profil Pelajar Pancasila. Alokasi jam pelajaran pada struktur kurikulum dituliskan secara total dalam satu tahun dan dilengkapi dengan saran alokasi jam pelajaran jika disampaikan secara reguler/mingguan.

Selain itu, terdapat penyesuaian dalam pengaturan mata pelajaran yang secara terperinci dijelaskan dalam FAQ per jenjang Dalam penyusunannya, Profil Pelajar Pancasila sudah memetakan/merujuk PPK sehingga dalam implementasinya, tidak akan bertentangan. Dengan penyesuaian sesuai dengan kemampuan sekolah, sekolah yang menggunakan Kurikulum 2013 boleh menerapkan pembelajaran berbasis projek untuk penguatan Profil Pelajar Pancasila seperti yang dilakukan oleh Sekolah Penggerak atau SMK/PK.

Dalam Program Sekolah Penggerak dan SMK PK, implementasi pembelajaran dengan paradigma baru hanya salah satu intervensinya. Intervensi yang lain adalah pendampingan konsultatif dan asimetris kepada Pemerintah Daerah, pelatihan dan pendampingan kepala sekolah dan guru, perencanaan berbasis data, dan digitalisasi sekolah. Pembelajaran dengan paradigma baru adalah pembelajaran intrakurikuler yang terdiferensiasi dimana konten akan lebih optimal agar siswa memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi.

Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat siswa.

Proyek kokurikuler lintas mata pelajaran yang berorientasi pada pengembangan karakter dan kompetensi umum. Di sekolah, profil Pelajar Pancasila perlu dikembangkan melalui berbagai strategi yang saling melengkapi dan menguatkan, yaitu budaya sekolah, kegiatan pembelajaran, dan kegiatan kokurikuler berupa pembelajaran melalui projek.

Dengan demikian, projek ini bukan satu-satunya metode melainkan penguatan upaya mengembangkan profil Pelajar Pancasila. Projek penguatan Profil Pelajar Pancasila diajarkan secara kolaboratif (team teaching) oleh guru mata pelajaran dan guru kelas.

Karena projek ini memiliki target utama pengembangan profil Pelajar Pancasila maka semua guru, baik guru mata pelajaran maupun guru kelas perlu terlibat dalam perencanaan, pengajaran dan asesmen. Projek Profil Pelajar Pancasila memiliki rapor tersendiri yang akan membantu rekam jejak ketercapaian profil Pelajar Pancasila.

Profil Pelajar Pancasila merupakan tujuan akhir dari hasil pendidikan, sehingga satuan pendidikan juga perlu tidak terburu-buru dalam mengukur ketercapaian profil, melainkan membangun kompetensi dan karakter tersebut secara konsisten dan melihat perkembangannya melalui penilaian projek. Implementasi Profil Pelajar Pancasila dilakukan dengan melaksanakan kegiatan (pembelajaran, program, projek, dsb) yang tujuannya adalah ketercapaian Profil Pelajar Pancasila.

Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan pelaku pendidikan lainnya juga diharapkan untuk memiliki profil ini, dengan kerjasama antara satuan pendidikan, orangtua, dan masyarakat serta didukung oleh para pemangku kepentingan dan pemangku kebijakan.

PPK tetap dapat berjalan sesuai kebutuhan dan pembiasaan di sekolah masing-masing yang terintegrasi dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Program PPK adalah usaha dan amanat kebijakan dari UU Sisdiknas dalam mengembangkan peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (pasal 3).

PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olahraga.

Pentingnya Pendidikan Karakter ditunjukkan dan dikuatkan dalam profil Pelajar Pancasila dengan menjadikannya sebagai arah karakter yang dituju dalam pendidikan Indonesia. Setiap mata pelajaran, program, dan kegiatan di sekolah diharapkan mendukung ketercapaian profil Pelajar Pancasila dengan memasukkannya dalam pembelajaran. Profil Pelajar Pancasila juga akan diperkuat dengan pembelajaran berbasis proyek dengan tema yang mendukung perkembangan kompetensi dan karakter yang dituju.

Pengaruh langsung dari profil Pelajar Pancasila: adanya projek penguatan profil Pelajar Pancasila sejak jenjang PAUD sampai dengan SMA dan SMK, juga di SLB. Pengaruh tidak langsung kepada sekolah adalah adanya Asesmen Nasional, khususnya survei lingkungan belajar dan survei karakter merupakan metode untuk memantau lingkungan belajar yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.

Dimensi profil Pelajar Pancasila adalah karakter dan kompetensi fondasi yang perlu dikembangkan satuan pendidikan untuk peserta didik. Dimensi-dimensi Profil Pelajar Pancasila adalah (1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, (2) berkebinekaan global, (3) bergotong-royong, (4) mandiri, (5) bernalar kritis, (6) kreatif.

Sebagai contoh, mampu mengelola waktu belajar dan merancang strategi yang sesuai untuk mencapai tujuan belajar adalah sikap yang terbangun sebagai hasil dari perkembangan dimensi Mandiri.

Profil Pelajar Pancasila berguna sebagai kompas bagi pendidik dan Pelajar Indonesia. Profil Pelajar Pancasila menjabarkan tujuan Pendidikan Nasional secara lebih rinci terkait cita-cita, visi misi, dan tujuan pendidikan ke peserta didik dan seluruh komponen satuan pendidikan.

Profil Pelajar Pancasila memberikan gambaran yang ingin dituju mengenai karakter dan kemampuan Pelajar Indonesia. Segala pembelajaran, program, dan kegiatan di satuan pendidikan bertujuan akhir ke profil pelajar Indonesia, sehingga pendidik dan pelajar mengetahui apa harapan negara terhadap hasil pendidikan dan berusaha mewujudkannya bersama. Mapel keterampilan untuk ABK memiliki poris paling besar karena proyeksi pendidikan untuk ABK adalah kemandirian sehingga melalui mapel ketrampilan anak disiapkan pula untuk siap kerja dan mampu berwirausaha, terlebih CP-CP mapel ketrampilan didasarkan pada SK3PD (standar kompetensi kerja khusus bagi penyadang disabilitas) yang setara dengan SKKNI CP-CP pendidikan khusus dibuat berdasarkan CP reguler yang telah dimodifikasi sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan ABK, sifat CP-CP pun fleksibel karena dibuat global dan berlaku untuk semua ketunaan dengan patokan kondisi anak berhambatan intelektual, karena jika tidak memiliki hambatan intelektual dapat menggunakan CP-CP di sekolah reguler.

Penggunaan CP yang setara dengan KI KD pada K 13, kompetensi pada kelas 1 K-13 pendidikan khusus sama dengan kelas 1 di sekolah umum ( usia kronologis), sedangkan untuk CP pijakan awal untuk kelas 1 SDLB dengan usia mental (≤ 6-8 tahun), pada K 13 KI KD disusun untuk perketunaan, untuk pembelajaran paradigma baru hanya menggunakan 1 CP untuk semua ketunaan. Pembelajaran muatan lokal dapat dilakukan melalui tiga pilihan cara berikut ini.

a. Mengintegrasikan muatan lokal ke dalam mata pelajaran lain: Satuan pendidikan dan/atau Pemerintah Daerah dapat menentukan capaian pembelajaran untuk muatan lokal, kemudian memetakannya ke dalam mata pelajaran lain. Sebagai contoh, muatan tentang batik diintegrasikan dalam mata pelajaran Seni Rupa, muatan sejarah mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda suatu daerah diintegrasikan ke dalam mata pelajaran IPS, dan sebagainya. b. Mengintegrasikan muatan lokal ke dalam tema projek penguatan profil Pelajar Pancasila: Satuan pendidikan dan/atau Pemerintah Daerah dapat mengintegrasikan muatan lokal ke dalam tema projek penguatan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda Pelajar Pancasila.

Sebagai contoh, projek terkait dengan tema wirausaha dilakukan dengan mengeksplorasi potensi kerajinan lokal, projek dengan tema perubahan iklim dikaitkan dengan isu-isu lingkungan di wilayah tersebut, dan sebagainya. c. Mengembangkan mata pelajaran khusus muatan lokal yang berdiri sendiri sebagai bagian dari program intrakurikuler: Satuan pendidikan dan/atau Pemerintah Daerah dapat mengembangkan mata pelajaran khusus muatan lokal yang berdiri sendiri sebagai bagian dari program intrakurikuler.

Sebagai contoh, mata pelajaran bahasa dan budaya daerah, kemaritiman, kepariwisataan, dan sebagainya sesuai dengan potensi masing-masing daerah. Dalam hal satuan pendidikan membuka mata pelajaran khusus muatan lokal, beban belajarnya maksimum 72 JP pertahun atau 2 JP perminggu. Berbeda dengan kurikulum sebelumnya yang dapat memilih 2 jenis keterampilan, pemilihan 1 jenis ketrampilan agar ABK lebih fokus mendalami 1 skill secara utuh sehingga siap kerja. Pemfokusan 1 jenis ketrampilan dilaksanakan di kelas 8.

Sedangkan saat di kelas 7 siswa dapat masih dapat memilih 2 jenis ketrampilan dari 20 jenis ketrampilan yang ada. Prinsip penyusunan ATP sama dengan sekolah reguler, pembedanya adalah untuk anak dengan hambatan intelektual, ATP yang diturunkan dari CP pendidikan khusus berlaku untuk sama untuk semua ketunaan sehingga tujuan pembelajaran yang disusun berlaku sama dengan pembeda pada pendekatan yang disesuaikan dengan masing-masing karakteristik ketunaan.

Saat ini Indonesia memiliki 4.700 perguruan tinggi dengan lulusan SMA dan SMK rata-rata sekitar 2-3 juta setiap tahunnya, namun yang diserap oleh perguruan tinggi baru sekitar 38 persen dari rata-rata tadi. Oleh sebab itu sekolah perlu mempersiapkan siswa dengan keterampilan yang memampukan siswa untuk bekerja bila tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi.

STTPA tetap menjadi standar dalam kurikulum PAUD, CP merupakan kendaraan yang dirancang pemerintah untuk mencapai lebih optimalnya perkembangan anak seperti yang tercantum di STTPA dan juga menekankan kemampuan yang perlu dimiliki anak sebagai respon dari perubahan yang terjadi di lingkungan baik lokal, nasional,maupun global.

Di satuan PAUD yang dikenalkan adalah kegiatan pra membaca, pra matematika, dan pra menulis dengan menggunakan pendekatan bermain.Tidak ada pelarangan untuk mengajarkan calistung, yang perlu diperhatikan adalah metode pengajarannya. Pengajaran calistung dikembalikan kepada kebutuhan dan minat anak, kemudian dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari dan bermakna, bukan dengan drilling atau hanya dengan pengisian lembar kerja.

Pusat Kurikulum dan Perbukuan menerbitkan buku panduan guru terkait kerangka kurikulum dan merdeka bermain serta keterkaitannya dengan Profil Pelajar Pancasila dan Capaian Pembelajaran. Buku lainnya menjelaskan tentang kegiatan pembelajaran berbasis buku dan projek Profil Pelajar Pancasila. Selain itu, pemerintah juga menyediakan modul ajar. Ya, STPPA adalah rujukan utama Kemendikbud dalam merancang CP.

STPPA juga dapat digunakan guru untuk memantau tumbuh kembang anak dari tahun ke tahun. CP tidak dirancang untuk memantau perkembangan dari tahun ke tahun, karena CP merupakan tujuan dari program pembelajaran di PAUD yang dicapai di akhir program PAUD sebelum anak melanjutkan ke jenjang SD.

Tidak ada jam pelajaran khusus BK di kelas, namun Guru BK memegang peranan penting dalam memimpin proses penelusuran minat dan bakat siswa bersama wali kelas dan atau guru lain, serta berdiskusi dengan setiap individu siswa dan orangtua/wali. Waktu pelaksanaan kegiatan ini ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Tidak ada lagi penjurusan seperti yang dikenal pada K13, namun siswa memilih mata pelajaran sesuai dengan minat, bakan dan rencana masa depannya.

Diantara pilihan tersebut terdapat pula mata pelajaran kewirausahaan, untuk membekali siswa dengan keterampilan hidup, terutama bila siswa tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. Tidak ada peminatan di kelas 10 karena; 1.

siswa perlu menguatkan kembali kompetensi dasar/fondasi sebelum mereka mengambil keputusan tentang arah minat dan bakat akademik yang ingin mereka kembangkan. 2. keputusan untuk menentukan pilihan akademik sebaiknya dilakukan saat anak sudah lebih matang secara psikologis, ketika mereka sudah di SMA, bukan di SMP.

3. siswa dapat menggunakan 1 tahun masa belajar di SMA untuk mengenal pilihan-pilihan yang disediakan sekolah tersebut, sebelum mengambil keputusan terkait pelajaran yang ingin mereka dalami. 4. memberikan kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk berdiskusi dengan Orangtua/wali dan Guru BK tentang minat dan bakatnya serta rencana masa depan. Kelas 10 K13: Kelas 10 mulai masuk program peminatan (IPA, IPS, atau Bahasa dan Budaya); Pembelajaran paradigma baru di Sekolah Penggerak: di kelas 10 siswa mempelajari seluruh mata pelajaran yang sama dengan di kelas 9 Peminatan K13: Peminatan berupa program yang tersekat: IPA, IPS, dan Bahasa & Budaya, dimulai sejak kelas 10 Pembelajaran paradigma baru di Sekolah Penggerak: Peminatan berupa mata pelajaran pilihan, dimulai sejak kelas 11.

Projek penguatan profil Pelajar Pancasila Lihat halaman "Umum" tentang projek penguatan profil Pelajar Pancasila Murid mengejar ketertinggalan dengan cara guru menentukan strategi pembelajaran yang tepat berdasarkan hasil asesmen. Asesmen merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, memfasilitasi pembelajaran, dan menyediakan informasi yang holistik sebagai umpan balik untuk guru, peserta didik, dan orang tua agar dapat memandu mereka dalam menentukan strategi pembelajaran selanjutnya.

Murid SD dapat menyelesaikan seluruh capaian pembelajaran dalam 6 tahun. CP dibuat per fase (2 tahun) agar ada lebih banyak waktu untuk mencapainya. guru perlu melakukan asesmen untuk melihat pencapaian siswa terhadap CP dan jika asesmen menunjukkan bahwa murid harus mengulang suatu konsep atau topik, guru perlu mengajarkannya dengan menggunakan pendekatan yang sesuai.

Asesmen tersebut, dengan demikian, perlu dilakukan secara berkala agar bisa dilakukan intervensi sesuai kebutuhan agar siswa bisa mencapai CP di akhir tahun dengan proses optimal. Jika jaringan internet atau listrik dapat digunakan kembali pada saat TBS masih berlangsung, maka Anda masih bisa melanjutkan pengerjaan TBS dengan waktu yang tersisa. Jika jaringan internet atau listrik dapat digunakan kembali saat pelaksanaan TBS telah selesai, maka Anda akan diberikan kesempatan untuk mengulangi Tes Bakat Skolastik di jadwal yang kedua.

Sangat diharapkan agar dapat dipersiapkan sambungan internet cadangan untuk mendukung kelancaran mengikuti TBS. Informasi jadwal pelaksanaan TBS bagi masing-masing peserta akan disampaikan melalui aplikasi seleksi/akun SIM PKB masing-masing. Menu seleksi TBS akan terbuka sesuai dengan waktu yang ditentukan untuk masing-masing kandidat. Fasilitator akan berperan untuk: • Mendorong kolaborasi seluruh ekosistem pendidikan sekolah dan pemangku kepentingan di kabupaten • Mengembangkan Komunitas Praktisi Kepala Sekolah, Guru / Pendidik PAUD dan Pengawas Sekolah / Penilik PAUD • Melakukan monitoring kemajuan pembelajaran Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah/ Penilik, dan Guru/ Pendidik PAUD • Mengembangkan kompetensi Kepala Sekolah, Guru / Pendidik PAUD dan Kepala Sekolah/ Penilik PAUD Keuntungan menjadi Fasilitator adalah: • Berkontribusi dalam upaya gotong-royong untuk transformasi pendidikan Indonesia • Mendapatkan pengalaman mendampingi para pengawas sekolah, kepala sekolah, dan guru di daerah sasaran Program Sekolah Penggerak • Selama menjalankan tugas mendapatkan apresiasi kerja profesional, biaya transportasi, konsumsi, dan akomodasi jika diperlukan untuk pelaksanaan Lokakarya maupun site visit di daerah sasaran Program Sekolah Penggerak (sesuai kebutuhan) • Mendapatkan sertifikat bimbingan teknis Fasilitator • Kunjungan kerja 4-6 kali dalam satu tahun di sekolah yang didampingi Fasilitator akan mendapatkan bimbingan teknis selama 144JP yang akan dilakukan secara daring.

Adapun materi bimbingan teknis meliputi kebijakan Program Sekolah Penggerak, kurikulum dan pembelajaran dan asesmen, proyek profil pelajar pancasila, karakteristik jenjang satuan pendidikan sekolah penggerak serta keterampilan untuk pendampingan pada sekolah penggerak. RPP yang dimaksud di sini adalah Satuan Acara Pelatihan (SAP) yang lingkup materinya ditentukan terkait dengan topik materi kepemimpinan pembelajaran, implementasi pembelajaran, dan supervisi akademik sesuai kebutuhan simulasi melatih dalam proses seleksi sebagai Pelatih Ahli.

SAP untuk kebutuhan simulasi melatih berdurasi 10 menit dan dijadikan acuan calon Pelatih Ahli untuk simulasi melatih. Bagi widyaiswara: jumlah jam saat melakukan kegiatan pembimbingan dan pendampingan dapat diajukan penilaiannya sebagai salah satu unsur angka kredit utama pada unsur Dikjartih PNS, sub unsur Pelaksanaan Dikjartih PNS pada kegiatan: • Melaksanakan pembimbingan • Melaksanakan pendampingan OL/ PKL/ Benchmarking • Melaksanakan pendampingan Penulisan Kertas Kerja/ Proyek Perubahan Bagi dosen: jumlah jam saat melakukan pendampingan dapat diajukan penilaiannya sebagai salah satu unsur angka kredit melalui unsur pengabdian masyarakat Tugas Fasilitator memiliki fleksibilitas dari sisi pendampingan daring sehingga bisa menyesuaikan jadwal pekerjaan utama.

Namun untuk pendampingan luring (mendampingi pengawas mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda coaching ke kepala sekolah, refleksi dan penguatan pengawas sekolah, menghadiri Forum pemangku kepentingan, dan penguatan komite pembelajaran) harus sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Langkah-langkah dan alur pendaftaran calon Fasilitator Program Sekolah Penggerak adalah: • Calon Pelatih Ahli (PA) mendaftarkan diri melalui laman sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/programsekolahpenggerak • Mengikuti seleksi tahap 1, yakni pengisian biodata diri (CV), pengisian esai, dan unggah dokumen • Jika lulus seleksi tahap 1, maka akan mengikuti seleksi tahap 2 yakni simulasi melatih dan wawancara • Jika dinyatakan lulus seleksi tahap 2: mengunggah surat keterangan sehat jasmani dan rohani • Mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Fasilitator • Jika dinyatakan lulus, akan mendapatkan surat kelulusan Bimtek PA • Mendapatkan SK Penugasan sebagai Fasilitator • Menjalankan tugas pendampingan sebagai Fasilitator • Mengikuti kegiatan pengembangan Fasilitator (upgrading) secara berkala • Melakukan refleksi akhir program selama 1 tahun penugasan • Selesai bertugas di tahun pertama Kriteria umum yang harus dipenuhi oleh fasilitator Sekolah Penggera yaitu: a.

warga negara Indonesia; a. sehat jasmani rohani dengan melampirkan surat keterangan sehat dari dokter puskesmas/rumah sakit yang ditanda tangani dokter dan diberikan cap (stempel) puskesmas/rumah sakit tersebut; b. berusia 30 (tiga puluh) tahun sampai dengan 65 (enam puluh lima) tahun pada saat mendaftar; c.

memiliki pengalaman melakukan pendampingan peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah paling sedikit 2 (dua) tahun; d. terbiasa menggunakan teknologi, internet, dan aplikasi; - 16 - e.

memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik secara lisan dan tulisan; f. memiliki komitmen, semangat perbaikan berkelanjutan, jiwa kolaborasi dan terbuka pada hal-hal baru; g. bersedia melakukan kunjungan lapangan; h. tidak memiliki peran sebagai: 1) pengajar praktik Program Guru Penggerak; 2) fasilitator Program Guru Penggerak; 3) pendaftar calon guru penggerak; 4) asesor Program Guru Penggerak; dan 5) asesor Program Sekolah Penggerak, i.

mengisi pakta integritas dan surat izin atasan; dan j. mengunggah surat keterangan sehat dari dokter puskesmas/rumah sakit yang ditandatangani dokter dan diberikan cap (stempel) puskesmas/rumah sakit tersebut. Kalangan masyarakat yang bisa mendaftar menjadi Pelatih Ahli Program Sekolah Penggerak adalah: • Akademisi (Dosen) • Pengawas Sekolah di Daerah Sasaran Program Sekolah Penggerak angkatan 1 (111 Kab/Kota) • Kepala sekolah dan wakil kepala sekolah, manajemen sekolah, dan guru dari sekolah yang mengembangkan kurikulum satuan pendidikan secara mandiri dan atau menggunakan kurikulum internasional • Widyaiswara aktif • Praktisi dan konsultan pendidikan • Pensiunan kepala sekolah, pengawas sekolah/penilik, guru/pendidik PAUD, widyaiswara Dalam proses pendampingan ke Sekolah Penggerak dampingannya, Fasilitator akan bekerja secara berkelompok untuk kegiatan yang dilaksanakan di lingkup kabupaten/kota.

Namun, Fasilitator juga akan melakukan tugasnya secara individu seperti pada saat melakukan coaching one on one kepada Kepala Sekolah Penggerak dampingannya. Lulusan Pendidikan Guru Penggerak baik dari Pengajar Praktik atau Guru Penggerak bisa mendaftarkan diri asal memenuhi kriteria sebagai berikut • Mempunyai kualifikasi akademik pendidikan minimal S1/ D4 • Berasal dari sekolah yang mengembangkan kurikulum satuan pendidikan secara mandiri dan atau menggunakan kurikulum internasional • Memiliki pengalaman mengajar minimum 5 tahun • Mendapatkan izin dan direkomendasikan oleh pimpinan sekolah/yayasan • Memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam mengorganisasikan pelaksanaan program dan kegiatan antar sekolah dan pemerintah Fasilitator akan mendampingi 3-5 sekolah selama minimal 1 (satu) tahun.

Beban kerja setiap Fasilitator tergantung dari jumlah sekolah yang didampingi dan frekuensi kunjungan lapangan yang dilakukan. Berikut simulasi perhitungan beban kerja Fasilitator : Wilayah Jumlah Satuan Pendidikan Frekuensi Kunjungan Lapangan/tahun Jumlah JP dalam 1 tahun Rata-rata beban kerja (dalam JP)/bulan Non-3T 3 4 kali 424 35 4 4 kali 448 37 5 mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda kali 472 39 3T 3 6 kali 484 40 4 6 kali 508 42 5 6 kali 532 44 Fasilitator tidak boleh memilih lokasi penugasan dan jenjang sekolah.

Lokasi dan jenjang satuan pendidikan yang akan didampingi Fasilitator ditentukan oleh Kemendikbudristek. Penentuan lokasi pendampingan akan ditentukan berdasarkan letak kedekatan domisili Fasilitator dengan daerah sasaran. Jika tidak terpenuhi akan dilihat dari ketersediaan Fasilitator dari daerah lain. Fasilitator akan mendapatkan SK penetapan dari Direktur Jenderal GTK, Kemendikbudristek. Selanjutnya Fasilitator akan ditugaskan ke Kabupaten/Kota yang menjadi wilayah sasaran Program Sekolah Penggerak melalui penugasan dari masing-masing PPPPTK/LPPKSPS.

Fasilitator akan berkoordinasi dengan koordinator Fasilitator yang telah ditunjuk di setiap PPPPTK/LPPKSPS.

Fasilitator di setiap bulannya harus menyerahkan laporan kegiatan ke PPPPTK/LPPKSPS. Koordinator Fasilitator akan melakukan pengecekan laporan kegiatan setiap bulan. Koordinator Fasilitator bertanggung jawab memberikan umpan balik terkait kinerjaFasilitator secara berkala.

Dalam persiapan kunjungan lapangan, Koordinator Fasilitator bekerja sama dengan komite pembelajaran dalam mempersiapkan teknis penyelenggaraan sebelum kedatangan Fasilitator ke lokasi. Setiap kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh Fasilitator secara daring ataupun luring akan dipantau oleh Dinas Pendidikan (melalui pengawas sekolah/staf yang ditunjuk) dan oleh Koordinator Fasilitator dari PPPPTK/LPPKSPS.

Fasilitator mendampingi satuan pendidikan pelaksana program sekolah penggerak dengan mekanisme: • Secara daring • Mendampingi Pengawas Sekolah (lokakarya pengawas sekolah) • Memfasilitasi Workshop bulanan dengan perwakilan komite pembelajaran • Melakukan coaching kepada Kepada Kepala Sekolah • Secara tatap muka langsung (luring) atau kunjungan lapang ke satuan pendidikan di kab/kota yang menjadi binaan • Mendampingi Pengawas Sekolah coaching ke Kepala Sekolah.

• Memfasilitasi Refleksi dan Pelatihan Penguatan Pengawas Sekolah • Memfasilitasi Forum Pemangku Kepentingan • Memfasilitasi Penguatan Komite Pembelajaran Periode pengalaman berbeda-beda untuk masing-masing isian riwayat hidup/CV, batasan waktu yang bisa dimasukkan ke dalam CV diatur sebagai berikut: • Pengalaman melakukan Pendampingan & Pembimbingan : 1995 - 2021.

• Pengalaman berorganisasi : 2010 - 2021. • Pengalaman mengikuti pelatihan pelaksanaan pendampingan: 2015 - 2021. • Prestasi : 2016 - 2021. Cara yang efektif adalah dengan menyediakan cukup waktu dalam mengerjakan setiap kelompok soal (total 8 kelompok soal). Pastikan menekan tombol SIMPAN, setiap selesai mengerjakan satu kelompok soal. Sebelum menekan tombol SIMPAN pastikan semua isian sudah benar. Pastikan isian esai semua terkait dengan pengalaman pribadi dan bukan isian dalam bentuk plagiarisme.

Ya, bisa. Pengisian CV dan Esai dapat disimpan untuk setiap bagiannya. Untuk CV setelah kandidat mengisi dan simpan setiap isian bisa ditambah atau diedit kembali sebelum dikirimkan. Khusus untuk pengisian esai yang terdiri dari 8 (delapan) kelompok soal setiap kali kandidat Fasilitator selesai mengisi 1 kelompok soal maka isiannya dapat disimpan dengan menekan tombol SIMPAN.

Kandidat diharap memastikan bahwa semua isian sudah lengkap sebelum menekan tombol SIMPAN karena isian tidak akan bisa diedit setelah disimpan. Fasilitator mendampingi 3 (tiga) sampai 5 (lima) sekolah dalam 1 (satu) kabupaten, selama minimal 1 (satu) tahun. Namun bisa diperpanjang sampai 3 tahun sesuai dengan periode Sekolah Penggerak selama 3 tahun.

Hal ini disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan Fasilitator di sekolah atau wilayah tersebut. Learning Management System atau LMS merupakan platform belajar daring yang digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran pada bimtek calon instruktur dan Pelatihan Komite Pembelajaran. Fasilitator (narasumber atau instruktur) dan peserta akan diberikan akses ke Learning Management System untuk kemudian terlibat pada kegiatan pembelajaran yang sudah dirancang sesuai dengan perannya masing-masing.

Panitia akan meminta informasi kepada narasumber yang meliputi: nama lengkap, nomor telepon seluler,email aktif, tempat dan tanggal lahir Langkah selanjutnya, panitia akan meneruskan data/informasi tersebut kepada tim SIMPKB. Setelah akun SIMPKB dibuat, narasumber akan mendapatkan username dan password yang bisa digunakan untuk mengakses Learning Management System.

Jika pengguna akun SIMPKB lupa password, pengguna dapat minta ke admin SIMPKB di dinas masing-masing. Jika pengguna berasal dari P4TK/balai/upt pusat bisa minta resetkan di operator SIMPKB pada satker masing masing.

Jika pengguna berasal dari umum, dapat menggunakan email untuk langsung reset password di laman gtk.belajar.kemdikbud.go.id pada login akun admin/personal, klik lupa kata sandi, kemudian masukan email yg digunakan untuk login SIMPKB. Pencairan honor bimtek dilakukan oleh bendahara dari masing-masing penanggungjawab. Bagi narasumber kelas Kepala/Pengawas Sekolah, pencairan honor dilakukan oleh tim keuangan PPPGTK. Bagi narasumber kelas guru, pencairan honor dilakukan oleh penanggung jawab berdasarkan jenjang kelas yang diampu narasumber.

GTK PAUD untuk jenjang PAUD, DIKDAS untuk SD dan SMP, dan DIMKENDIKSUS untuk SMA dan SLB. Apabila sesi sinkronus tidak bisa dilaksanakan pada jadwal yang sudah ditentukan, narasumber dan peserta diperbolehkan untuk membuat penjadwalan ulang berdasarkan kesepakatan antara narasumber, peserta, dan admin Learning Management System.

Adapun penjadwalan ulang hanya bisa dilakukan di hari yang sama dengan jadwal yang sudah ditentukan. Narasumber dan peserta hanya diperbolehkan mengganti jam sesi sinkronus, bukan hari. Pada sesi asinkronus, narasumber memiliki kewajiban untuk memantau dan memberi umpan balik terhadap pertanyaan-pertanyaan, komentar-komentar, jawaban-jawaban, dan tugas-tugas yang dikerjakan oleh calon instruktur secara menyeluruh.

Narasumber juga memiliki kewajiban untuk mengisi lembar observasi yang sudah disediakan di Learning Management System. Aktivitas narasumber pada sesi asinkronus akan direkam dan dijadikan salah satu acuan untuk pemberian hak narasumber. • Nilai akhir calon instruktur di bawah 80 karena ia mendapatkan tes akhir yang sangat rendah yang diakibatkan oleh adanya kendala jaringan atau teknis.

Berdasarkan nilai penugasan (rencana fasilitasi dan video simulasi fasilitasi) dan keaktifan di sesi sinkronus dan asinkronus, calon instruktur ini sebenarnya layak mendapatkan predikat lulus.

Pada situasi seperti ini, apa yang perlu dilakukan narasumber? Narasumber pertama-tama perlu mengidentifikasi apa yang menjadi penyebab nilai akhir yang didapatkan oleh calon instruktur tidak maksimal. Apabila alasannya bisa diterima narasumber, narasumber bisa mengagendakan penjadwalan tes ulang. Apabila hal di atas tidak memungkinkan, narasumber diperbolehkan untuk merevisi skor pada kriteria keterampilan.

Rubrik yang ada di setiap unit modul tidak akan diakumulasikan menjadi nilai akhir. Rubrik penilaian di setiap unit modul hanya dibuat sebagai alat yang dapat membantu narasumber memberikan umpan balik untuk tugas-tugas yang dikerjakan oleh calon instruktur. Nilai akhir diambil dari rubrik gabungan dan mencerminkan 3 kriteria (keterampilan dengan bobot 70%, pengetahuan dengan bobot 15%, dan kehadiran dengan bobot 15%).

Platform teknologi bertujuan untuk mendukung implementasi kebijakan pendidikan yang akan diterapkan pada Sekolah Penggerak dalam proses pembelajaran, pengembangan kompetensi guru, dan tata kelola sumber daya sekolah. Platform teknologi akan terdiri dari: • Platform Merdeka Mengajar • Platform Sumber Daya Sekolah • Dashboard Rapor Pendidikan Untuk mengetahui hal tersebut, silakan lakukan pemeriksaan secara berkala di Playstore dengan cara berikut: • Buka Playstore • Cari aplikasi “Merdeka Mengajar Kemendikbudristek”, lalu klik “Update”.

Perhatikan, apabila yang muncul bukan “Update”, tetapi “Uninstall”, artinya platform sudah menggunakan versi terbaru dan tidak perlu melakukan pembaruan versi.

1. Platform Merdeka Mengajar Digunakan oleh Guru untuk memudahkan kegiatan mengajar, belajar, dan berkarya agar menunjang profesinya 2. Platform Sumber Daya Sekolah Digunakan oleh Kepala Sekolah, Bendahar, dan Pengawas untuk mengelola sumber daya sekolah leih cepat dan tepat 3. Dasbor Rapor Pendidikan Digunakan oleh Kepala Sekolah dan Pengawas untuk menyusun program peningkatan mutu yang lebih tepat sasaran Platform teknologi dari Kemendikbud akan memfasilitasi penyediaan konten yang bersifat offline (luring) untuk melayani sekolah dengan akses terbatas.

Untuk keperluan akses platform teknologi, sekolah dapat memaksimalkan penggunaan dana BOS. Selain itu, sekolah dapat berkonsultasi dengan pemerintah daerah untuk memperoleh dukungan penyelenggaraan platform teknologi. Sedapat mungkin platform teknologi dirancang untuk dapat diakses dan digunakan dengan mudah oleh pihak sekolah.

Kemendikbud akan menyelenggarakan pelatihan literasi teknologi maupun pendamping teknologi yang berperan untuk membantu sekolah dalam beradaptasi dan memanfaatkan platform teknologi, termasuk dalam aspek dasar pengoperasian perangkat TIK. Kemendikbud juga menyediakan situs yang memuat panduan penggunaan platform yang dapat diakses kapan saja. Pemerintah menyediakan perangkat ajar untuk membantu pendidik yang membutuhkan bahan atau inspirasi dalam pengajaran.

Pendidik memiliki kemerdekaan untuk memilih dan memodifikasi perangkat ajar yang tersedia, ataupun membuat sendiri sesuai dengan kebutuhan, konteks, dan karakteristik peserta didik. Mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda Ajar adalah berbagai modul ajar, buku teks pelajaran, video pembelajaran, modul projek, dan bahan lainnya yang digunakan pendidik dalam upaya untuk mencapai profil pelajar Pancasila dan Capaian Pembelajaran.

Melalui produk Perangkat Ajar, Guru dapat melakukan beberapa hal terhadap perangkat ajar, yaitu: • Mengunduh perangkat ajar ke gawai atau smartphone masing-masing. • Membagikan tautan perangkat ajar melalui Whatsapp atau kanal lainnya • Memberikan rekomendasi jika perangkat ajar tersebut membantu proses mengajar dengan klik Suka • Mendapatkan informasi seberapa tinggi perangkat ajar direkomendasikan guru lain melalui jumlah "Likes" dan jumlah "Telah Diunduh" Khusus untuk Modul Ajar/RPP+, Guru dapat menyimpannya ke dalam folder dengan fitur "Tandai" Perangkat ajar dalam bentuk modul ajar dapat diakses secara luring (offline) melalui dua cara: • Mengunduh dokumen yang ada di masing-masing laman modul ajar • Menandai modul ajar, mengorganisasikan ke dalam folder, dan mengaktifkan Akses Offline di dalam folder tersebut.

Anda kemudian dapat mengakses kembali laman modul ajar yang sudah ditandai ketika tidak terkoneksi ke jaringan internet Perangkat ajar merupakan berbagai materi pengajaran yang dapat digunakan guru untuk mendukung kegiatan belajar mengajarnya.

Perangkat ajar dilengkapi dengan alur dan capaian pembelajaran, yang disusun sesuai domain dan fase tertentu. Perangkat mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda bisa berupa bahan ajar, modul ajar, modul proyek, atau buku teks.

Asesmen bisa dipilih berdasarkan mata pelajaran dan fase pembelajaran murid. Berikut adalah langkah-langkahnya: • Buka produk Asesmen Murid di platform Merdeka Mengajar • Pilih fase dan mata pelajaran.

• Pilih asesmen yang sesuai. Klik untuk melihat detail dan daftar soalnya. • Jika asesmen dirasa sesuai, klik Gunakan Asesmen Ini. • Bagikan asesmen kepada murid, secara daring (online) atau luring (offline). Asesmen dapat dibagikan kepada murid secara daring maupun luring. - Untuk asesmen daring, Anda dapat membagikan tautan yang berbeda untuk masing-masing kelas melalu media komunikasi online seperti whatsapp maupun lainnya.

- Untuk asesmen luring, Anda dapat mengunduh dokumen asesmen, print dokumen lalu membagikannya langsung dikelas ke murid Perbedaan penilaian asesmen: Online: 1.

Guru dapat memeriksa hasil asesmen secara otomatis di dalam platform 2. Hasil penilaian individu dan kelas dapat dilihat pada platform Offline: 1. Guru perlu menilai hasil asesmen secara manual menggunakan kunci jawaban yang diunduh terlebih dahulu.

2. Hasil penilaian tidak dapat ditampilkan di platform Batas pengumpulan asesmen bebas sesuai kesepakatan antara murid dan guru. Namun, perlu diketahui bahwa tautan pengerjaan asesmen akan kedaluwarsa 3x24 jam setelah asesmen dibuat. Karena itu, meskipun murid masih bisa mengakses soal asesmen setelah waktu tersebut, jawaban yang dikumpulkan tidak akan disimpan dan tidak akan terekam di halaman Hasil Asesmen. Aksi Nyata merupakan bentuk praktik pemahaman Anda terhadap topik yang dipelajari dalam Pelatihan Mandiri.

Aksi Nyata juga merupakan aktivitas terakhir untuk menyelesaikan satu topik Pelatihan Mandiri. Setelah melakukan Aksi Nyata, Anda perlu mendokumentasikannya ke dalam dokumen tertulis dan melengkapi Lembar Aksi Nyata di platform Merdeka Mengajar. Berikut adalah langkah untuk melakukan Aksi Nyata: 1.

Pilih Aksi Nyata di halaman salah satu topik Pelatihan Mandiri yang telah Anda pelajari semua modulnya. 2. Klik salah satu pilihan Aksi Nyata yang telah disiapkan untuk menentukan Aksi Nyata yang ingin Anda lakukan. 3. Klik tombol Selanjutnya. 4. Praktikkan Aksi Nyata yang dipilih. 5. Tuangkan aktivitas Aksi Nyata yang Anda lakukan ke dokumen tertulis dalam format PDF (maks.

10 MB). 6. Lengkapi Lembar Aksi Nyata di platform Merdeka Mengajar. Tidak, Anda tidak bisa membuat dokumen Aksi Nyata langsung di platform Merdeka Mengajar. Anda hanya bisa mengunggah dokumen Aksi Nyata dalam bentuk PDF. Artinya, Anda harus membuat dokumen tersebut di luar platform Merdeka Mengajar dengan memanfaatkan beberapa aplikasi seperti Google Workspace (Google Docs, Google Slide, dll), aplikasi word-processing (Word, Pages, dll.), atau aplikasi lain di perangkat komputer Anda.

Kemudian, pastikan Anda mengubah dokumen tersebut ke dalam format PDF sebelum mengunggahnya ke Lembar Aksi Nyata. Berikut langkah untuk mulai melengkapi Lembar Aksi Nyata: 1. Masuk ke laman salah satu topik Pelatihan Mandiri yang telah Anda pelajari semua modulnya.

2. Buka Aksi Nyata yang ada di halaman topik tersebut. 3. Klik tombol Mulai di bagian Lengkapi Lembar Aksi Nyata agar Anda dapat diarahkan ke halaman konfirmasi 4. Klik tombol Aksi Nyata sudah dilakukan untuk mengonfirmasi bahwa Anda benar-benar telah melakukan Aksi Nyata dan menuangkannya ke dokumen tertulis berbentuk PDF. 5.

Klik tombol Ya, Lanjut. 6. Anda akan diarahkan untuk mengisi lembar Aksi Mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda dengan rincian sebagai berikut: - Unggah dokumen bukti Aksi Nyata Anda dalam format PDF dengan ukuran maks. 10 MB. - Masukkan Judul Aksi Nyata.

- Ceritakan secara singkat Aksi Nyata yang Anda lakukan. - Ceritakan pembelajaran yang Anda dapatkan saat melakukan Aksi Nyata. 7. Setelah selesai, klik tombol Kumpulkan. Catatan: Anda dapat melengkapi Lembar Aksi Nyata secara bertahap. Pastikan Anda mengklik tombol Simpan di kanan atas untuk menyimpan rincian yang telah dilengkapi sebagai draf. Untuk menyelesaikan satu topik Pelatihan Mandiri, ada beberapa tahapan yang harus Anda lakukan: • Pelajari semua modul yang ada dalam topik tersebut. Setiap modul memiliki materi, aktivitas, serta post test yang perlu dipelajari dan dikerjakan.

• Laksanakan aksi nyata untuk mendemonstrasikan pemahaman dari semua modul yang Anda pelajari dalam satu topik. Pelatihan Mandiri memiliki beberapa keunggulan berikut: • Materi dirancang oleh para ahli sesuai dengan kebutuhan Anda • Materi dirancang agar mudah diterapkan, dan relevan dengan tantangan yang Anda hadapi dalam kegiatan belajar-mengajar • Materi dapat membantu Anda dalam meningkatkan kompetensi profesional sebagai pendidik Bukti Karya merupakan bagian dari platform Merdeka Mengajar yang berfungsi sebagai tempat dokumentasi karya tenaga pendidik.

Karya ini menggambarkan kinerja, kompetensi, serta prestasi yang dicapai selama menjalankan profesi guru maupun kepala sekolah. Anda dapat menemukan berbagai karya rekan pendidik maupun menambahkan karya pribadi Anda di Bukti Karya.

Karya yang terdokumentasikan dalam Bukti Karya juga dapat dibagikan ke rekan sejawat untuk saling belajar dan menginspirasi. Di dalam produk Bukti Karya, terdapat 2 menu dengan fungsi sebagai berikut: 1. Eksplorasi Anda dapat menemukan berbagai karya dari rekan pendidik dari seluruh Indonesia yang dapat dijadikan inspirasi untuk meningkatkan kompetensi. Karya-karya tersebut juga dapat diberikan umpan balik agar Anda dapat saling mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda dan belajar bersama rekan sejawat.

2. Karya Saya Anda dapat menambahkan karya pribadi Anda di sini. Anda juga dapat mengatur apakah karya Anda dapat dilihat oleh rekan sejawat atau oleh Anda sendiri. Karya yang dapat dilihat rekan sejawat dapat dipilih oleh sistem untuk ditampilkan pada menu Eksplor dan dapat diberikan umpan balik oleh rekan sejawat.

Semua karya yang Anda hasilkan dapat disimpan di dalam Bukti Karya, baik karya terkait proses pembelajaran, pengembangan profesi, maupun prestasi yang dicapai. Berikut contohnya: 1. Video rekaman pembelajaran di kelas 2.

Simulasi mengajar 3. RPP 4. Modul ajar 5. Materi ajar 6. Lembar kerja peserta didik 7. Rencana asesmen 8. Contoh hasil kerja peserta didik 9. Refleksi guru terhadap proses pembelajaran 10. Refleksi murid terhadap pembelajaran di kelas 11. Bukti terlibat dalam kegiatan organisasi profesi (misal: foto, sertifikat, surat keanggotaan) 12. Refleksi kegiatan yang diikuti saat pelatihan dan aktivitas lainnya 13.

Dokumen karya guru 14. Karya tulis 15. Dokumen rencana pengembangan diri dan refleksi kompetensi diri 16. Berbagai sertifikat (misal: sertifikat pendidik, sertifikat kegiatan, SK pengangkatan) Saat ini, ada 2 jenis video yang dapat dibuat dan ditambahkan ke Karya Saya: 1. Praktik Pembelajaran, yang merupakan video rekaman kegiatan belajar mengajar baik secara tatap muka maupun jarak jauh.

Durasi: 7-15 menit. Contoh video: Membuat Penyaringan Air Sederhana Arti dari Gambar Lambang Pancasila Expressing Congratulation 2. Materi Ajar, yang merupakan video berisi topik pembelajaran yang diminati oleh murid dan/atau sulit dipahami oleh murid, sehingga bisa membantu murid untuk belajar secara mandiri.

Durasi: 7-15 menit. Contoh video: Menemukan Rumus Kubus dan Balok Membandingkan Watak Tokoh Cerita Fiksi Materi Penyajian Data Tunggal Ke depannya, berbagai jenis video lainnya seperti Praktik Baik dan Simulasi Mengajar juga dapat ditambahkan ke Bukti Karya. Untuk info lebih lengkap tentang masing-masing jenis video dan panduan pembuatannya, silakan buka juga Cara Mengunggah dan Mengimpor Video dan Prinsip Pembuatan Video.

Prinsip utama dalam pembuatan video untuk ditambahkan ke karya saya: 1. Gambar dan suara di dalam video dapat terlihat dan terdengar dengan jelas. 2. Apabila video direkam menggunakan ponsel, pastikan video diambil dengan bentuk portrait (vertikal). 3. Video yang menampilkan wajah dan identitas murid WAJIB mendapatkan surat persetujuan dari wali murid terkait. Prinsip ini didasarkan pada perlindungan anak dalam media sebagaimana tertulis di Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

4. Isi dari video tidak memuat unsur SARA, pornografi, ujaran kebencian, dan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. 5. Video bukan merupakan hasil plagiasi karya orang lain; cantumkan kredit pada video apabila menggunakan musik atau gambar karya pihak lain. Lihat contoh cara mencantumkan kredit di sini. Berikut cara mengunggah dan mengimpor video ke Karya Saya pada produk Bukti Karya: 1. Rekam video pembelajaran Pastikan video pembelajaran yang akan direkam termasuk dalam kategori berikut: * Praktik Pembelajaran Video rekaman kegiatan belajar mengajar baik secara tatap muka maupun jarak jauh.

Durasi: 7-15 menit. Berikut beberapa contoh video: * Membuat Penyaringan Air Sederhana * Arti dari Gambar Lambang Pancasila * Expressing Congratulation *Materi Ajar Video yang berisi topik pembelajaran yang diminati oleh murid dan/atau sulit dipahami oleh murid.

Durasi: 7-15 menit. Berikut beberapa contoh video: * Menemukan Rumus Kubus dan Balok * Membandingkan Watak Tokoh Cerita Fiksi * Materi Penyajian Data Tunggal 2. Unggah video ke channel YouTube Anda Unggah video yang telah direkam ke channel YouTube Anda.

Saat ini, Anda hanya dapat mengimpor video ke Bukti Karya melalui YouTube. 3. Kembali ke platform Merdeka Mengajar Buka kembali platform Merdeka Mengajar dan masuk ke Bukti Karya. Di halaman Bukti Karya, klik tombol Tambah Karya Anda dan Anda akan diminta untuk masuk ke akun YouTube agar dapat langsung mengakses video yang ingin ditambahkan. 4. Pilih video yang akan ditambah Silakan pilih video yang ingin ditambahkan ke platform Merdeka Mengajar dan ikuti petunjuk yang ada di layar.

Perlu diketahui, Anda tidak dapat menambah lebih dari satu video sekaligus. 5. Simpan video Setelah memilih video, Anda akan diarahkan ke halaman Rincian Video.

Pastikan Anda melengkapi rincian video seperti judul, deskripsi, dan lainnya sebelum mengklik tombol Simpan Video. Video yang ingin diimpor ke Bukti Karya harus terlebih dahulu diunggah ke channel Youtube Anda. Berikut bentuk video yang didukung: * MOV * .MPEG-1 * .MPEG-2 * .MPEG4 * .MP4 * .MPG * .AVI * .WMV * .MPEGPS * .FLV * 3GPP * WebM * DNxHR * ProRes * CineForm * HEVC (h265) Untuk info lebih lengkap, silakan baca artikel Format Video Yang Didukung oleh Youtube.

Dengan memberikan umpan balik, Anda tidak hanya bisa saling belajar dari sesama rekan guru ataupun kepala sekolah, tapi juga bisa membantu mereka terus bertumbuh. Masukan dan tanggapan yang konstruktif dapat membantu mereka mengetahui hal yang perlu ditingkatkan atau dipertahankan, baik saat melakukan kegiatan belajar mengajar maupun dalam mengembangkan diri sebagai guru.

Tidak ada batasan dalam menerima maupun memberikan umpan balik. Bahkan, semakin banyak umpan balik yang diterima, semakin Anda dapat mengembangkan diri melalui diskusi dan masukan dari rekan sejawat. Namun perlu diingat, Anda tidak dapat memberikan umpan balik lebih dari sekali untuk karya yang sama. Berikut langkah-langkah untuk memberikan umpan balik terhadap suatu karya: • Pastikan Anda memiliki tautan ke karya tersebut, baik dari pemilik karya maupun rekan sejawat lain.

• Lihat dan pelajari karya rekan sejawat hingga selesai. • Cari tombol Isi Kuesioner dan Saran pada halaman karya untuk dapat memberikan umpan balik terhadap karya tersebut.

• Isi kuesioner dan tulis saran Anda untuk pemilik karya. Jika menerima atau menemukan umpan balik yang memuat kata-kata yang kurang pantas dan/atau pelanggaran lainnya, Anda dapat melaporkannya ke tim Merdeka Mengajar. Berikut cara melaporkan umpan balik: • Di bagian kanan atas umpan balik yang ingin dilaporkan, klik menu titik tiga (â‹®). • Klik tombol Laporkan. • Ikuti instruksi yang muncul pada layar.

Anda perlu menambahkan karya ke Bukti Karya Saya di platform Merdeka Mengajar terlebih dahulu, lalu bagikan tautan ke karya tersebut ke rekan sejawat. Semua guru dan kepala sekolah yang memiliki akses ke platform Merdeka Mengajar dapat memberikan umpan balik selama mereka memiliki tautan ke karya Anda. Berikut cara melaporkan kendala atau masalah teknis pada karya Anda: 1. Buka Karya Saya dan masuk ke halaman karya yang ingin Anda laporkan. 2. Pada bagian kanan atas halaman karya, temukan dan klik menu yang berbentuk titik tiga.

3. Klik tombol Laporkan Kendala dan Anda akan masuk ke halaman untuk memilih masalah yang ingin dilaporkan 4. Ikuti instruksi yang muncul di layar. Dengan memiliki Akun Pembelajaran, Anda dapat: • Lebih mudah dan efektif dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar (konferensi video, dokumen daring, pengarsipan kelas, dan lain-lain) • Mengakses berbagai platform Kemendikbudristek menggunakan akun belajar.id • Menyimpan data secara daring dengan lebih aman • Mengakses dan menggunakan Chromebook • Menerima informasi resmi dari Kemendikbudristek 1.

Peserta didik, meliputi: • Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) • Sekolah Dasar (SD) dan Program Paket A kelas 6 • Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Program Paket B kelas 7–9 • Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Program Paket C kelas 10–12 • Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kelas 10–13 • Sekolah Luar Biasa (SLB) kelas 5–12 2.

Pendidik pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah 3. Tenaga kependidikan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, meliputi: • Kepala Satuan Pendidikan (Kepala Sekolah) • Operator Satuan Pendidikan (Operator Sekolah) yang terdata di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) 4. Dinas Pendidikan, meliputi: • Kepala Dinas Pedidikan • Kepala Bidang pada Dinas Pendidikan • Pengawas Sekolah • Penilik Sekolah • Pamong Belajar Akun Pembelajaran, berupa nama akun ( User ID) dan kata sandi ( password), bisa didapatkan secara mandiri melalui langkah berikut: 1.

Buka halaman https://belajar.id/ 2. Masukkan data-data berikut: • Nama Lengkap • Nama Ibu Kandung • Tipe Pengguna • Tanggal Lahir • Nomor Pokok Satuan Pendidikan Nasional (NPSN) 3. Kirim detail akun ke email pribadi apabila belum pernah mendapatkan password. 4. Cek akun ( User ID) dan kata sandi ( password) pada email pribadi yang Anda daftarkan. Selain itu, Akun Pembelajaran juga bisa didapatkan melalui Operator Satuan Pendidikan (Operator Sekolah) di sekolah Mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda.

Anda dapat melakukan pengecekan di laman https://belajar.id/ dengan cara: 1. Periksa ketersediaan akun dengan memasukkan data-data berikut:Â • Nama Lengkap • Nama Ibu Kandung • Tipe Pengguna • Tanggal Lahir • Nomor Pokok Satuan Pendidikan Nasional (NPSN) 2.

Anda akan mendapatkan informasi apakah Akun Pembelajaran sudah tersedia atau belum. • Apabila akun sudah tersedia, Anda dapat mengirimkan detail informasi ke email pribadi Anda. • Apabila akun belum tersedia, silakan klik tombol Butuh Bantuan di kanan bawah laman belajar.id Selain itu, Anda juga dapat menanyakan kepada Operator Satuan Pendidikan (Operator Sekolah) di sekolah Anda untuk mengetahui status dan ketersediaan Akun Pembelajaran.

Setelah mendapatkan akun, Anda perlu melakukan aktivasi sesuai langkah berikut: • Buka halaman https://mail.google.com/ • Masuk atau log in menggunakan nama akun ( User ID) dan kata sandi ( password) Anda. • Setujui syarat dan ketentuan penggunaan Akun Pembelajaran.

• Lakukan penggantian kata sandi ( password) Akun Pembelajaran.
MENU • Home • SMP • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Kewarganegaraan • IPS • IPA • Penjas • SMA • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Akuntansi • Matematika • Kewarganegaraan • IPA • Fisika • Biologi • Kimia • IPS • Sejarah • Geografi • Ekonomi • Sosiologi • Penjas • SMK • Penjas • S1 • Agama • IMK • Pengantar Teknologi Informasi • Uji Kualitas Perangkat Lunak • Sistem Operasi • E-Bisnis • Database • Pancasila • Kewarganegaraan • Akuntansi • Bahasa Indonesia • S2 • Umum • About Me 6.2.

Sebarkan ini: Musik adalah serangkaian nada – nada dan suara yang biasa digunakan untuk mengekspresikan emosi manusia yang dibentuk sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan suara. Saat ini, seiring berkembangnya zaman, telah lahir beragam jenis musik diantaranya adalah blues, jass, klasik, pop, dan musik rock. Berikut ini penjelasan lebih lanjut tentang sejarah berkembangnya musik di dunia.

Pengertian Musik Menurut Para Ahli • Jamalus (1988, 1) Perpendapat bahwa musik adalah suatu hasil karya seni bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi musik yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-unsur musik yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk dan struktur lagu dan ekspresi sebagai satu kesatuan.

• Menurut Banoe (2003 : 288) musik yang berasal dari kata muse yaitu salah satu dewa dalam mitologi Yunani kuno bagi cabang seni dan ilmu; dewa seni dan ilmu pengetahuan. Selain itu, beliau juga berpendapat bahwa musik merupakan cabang seni yang membahas dan menetapkan berbagai suara ke dalam pola-pola yang dapat dimengerti dan dipahami oleh manusia. • Menurut Jamalus (1988 : 1) musik adalah suatu hasil karya seni berupa bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-unsur pokok musik yaitu irama, melodi, harmoni, dan bentuk atau struktur lagu serta ekspresi sebagai suatu kesatuan.

• Menurut Sylado (1983 : 12) mengatakan, bahwa musik adalah waktu yang memang untuk didengar. Musik merupakan wujud waktu yang hidup, yang merupakan kumpulan ilusi dan alunan suara. Alunan musik yang berisi rangkaian nada yang berjiwa akan mampu menggerakkan hati para pendengarnya.

• Menurut ahli perkamusan (lexicographer) Musik ialah: ”Ilmu dan seni dari kombinasi ritmis nada-nada, vokal maupun instrumental, yang melibatkan melodi dan harmoni untuk pengekspresikan apa saja yang memungkinkan, namun khususnya bersifat emosional. • Goethe Goethe berpendapat bahwa musik mengangkat dan memuliakan apa saja yang iekspresikannya.

Mendelssohn meyakini bahwa musik dapat mencapai suatu wilayah yang kata-kata tidak anggup mengikutinya, • Tchaikovsky Tchaikovsky berkata bahwa musik adalah ilham yang menurunkan kepada kita keindahan yang tiada taranya.

Musik adalah logika bunyi yang tidak mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda sebuah buku teks atau sebuah pendapat. Ia merupakan suatu susunan vitalitas, suatu mimpi yang kaya akan bunyi, yang terorganisasi dan terkristalisasi. • Herbert Spencer seorang filsuf Inggris mempertimbangkan musik sebagai seni murni tertinggi yang terhormat. Dengan demikian musik adalah pengalaman estetis yang tidak mudah dibandingkan pada setiap orang. • (Ewen 1963, vii-viii) Dari perspektif interpretasi atau penikmatannya, musik juga dapat dipahami sebagai bahasa karena ia memiliki beberapa karakteristik yang mirip dengan bahasa.

• Machlis (1963, 4) memahami musik sebagai bahasa emosi-emosi yang tujuannya sama seperti bahasa pada umumnya, yaitu untuk mengkomunikasikan pemahaman. Sebagai bahasa musik juga memiliki tata bahasa, sintaksis, dan retorika, namun tentunya musik merupakan bahasa yang berbeda. Perkembangan Musik Dunia • Musik Pada Zaman Purbakala Sejarah musik mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda dimulai dari zaman purbakala.

Meski tidak ada informasi yang cukup dan jelas, musik primitif ini tidak memiliki tujuan tersendiri. Fungsinya hanyalai sebagai alat atau bahan dalam ritual penyembahan dalam upacara adat kepercayaan mereka.

• Musik Pada Zaman Yunani Kuno Orang Yunani kuno menyukai musik, sehingga mereka menjadikan musik sebagai bagin penting dalam hidup mereka. Mereka memainkan musik untuk memuja dewa – dewi mereka. Walau tidak diketahui ciri khas bunyi musik mereka, saat ini telah diketahui beberapa alat musik Yunani kuno, diantaranya adalah pipa, lira, drum, dan simbal.

• Musik Pada Abad Pertengahan Musik pada abad pertengahan dimulai mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda jatuhnya kerajaan Romawi, yaitu pada 476 M sampai dengan “Zaman Reformasi” agama Kristen oleh Marthen Luther, 1572 M. Pada zaman ini, musik tidak hanya digunakan sebagai sarana keagamaan, tetapi juga sebagai sarana hiburan. Berikut ciri – ciri musik abad pertengahan: • Peranan paduan suara semakin berkembang • Ditemukannya not dan pencatatan nada • Masuknya musik duniawi bersuara satu • Berkembangnya musik bersuara banya • Berkembangnya nyanyian keagamaan dan untuk pertama kalinya nama – nama komponis mucul dalam sejarah.

Pada zaman ini pula terdapat beragam jenis alat musik yang dipakai. Diantaranya adalah seruling, triangle, simbal, drum, tamborin, harpa, dan terompet. • Musik Pada Zaman Renaissans Era musik pada zaman ini adalah musik yang ada diantara tahun 1400 – 1600. Genre musik pada era ini sangatlah bervariasi. Genre yang terkenal dam era ini adalah mass, motet, madrigal spirituale, dan laude. Selain itu ada juga genre – genre seperti toccata, canzone, dan intabulation yang membuat musik era renaissans menjeadi lebih semarak dan meriah.

Instrumen musik yang digunakan pada era ini sangatlah bervariasi dan beberapa masih dipakai hingga saat ini. Diantaranya adalah recorder, perkusi, hornpipe, irish harp, lyre, dan cornett.

mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda

• Musik Pada Zaman Klasik Zaman Klasik adalah sejarah musik Barat yang berlangsung selama abad ke -18 sampai dengan awal abad ke -19. Komponis yang paling terkenal pada zaman ini adalah Wolfgang Amadeus Mozart dan Ludwig van Beethoven. Berikut ciri – ciri zaman musik klasik: • Penggunaan dinamika dari keras menjadi lembut (Crassendo dan Decrasscendo) • Perubahan tempo dari cepat menjadi lambat (Accelarando dan Ritarteando) • Pemakaian improvisasi dibatasi • Menggunakan accord tiga nada Baca Juga : “Alat Musik Ritmis” Pengertian & ( Contoh – Gambar ) • Musik Pada Zaman Romantik Musik era Romantik dimulai pada tahun 1815 dan berakhir pada tahun 1910.

Walaupun dinamakan era romantik, bukan berarti musik yang berisi tentang cinta. Sebenarnya disebut demikian karena dapat menggambarkan adanya ekspresi pada komposisi musik tersebut. Karya – karya musik pada era ini lebih mengutamakan pada garapan emosional dan dramatis.

Instrumen yang dipakai pada era musik ini adalah harpsichord, piano, biola, brass, dan cello. • Musik Pada Zaman Modern Era musik ini dimulai sejak tahun 1900 sampai sekarang. Musik pada zaman ini tidak menggunakan hukum – hukum atau peraturan. Pada masa ini orang – orang dapat mengungkapkan ekspresi mereka dengan bebas menggunakan musik. Fungsi Musik Sebagai bagian dari kesenian yang merupakan salah satu dari tujuh unsur kebudayaan universal, musik memiliki fungsi sosial yang secara universal umumnya dapat ditemukan di setiap kebudayaan suku bangsa manapun di seluruh dunia.

Fungsi Ekspresi Emosional Pada berbagai kebudayaan, musik memiliki fungsi sebagai kendaraan dalam mengekspresikan ide-ide dan emosi. Di Barat musik digunakan untuk menstimulasi perilaku sehingga dalam masyarakat mereka ada lagu-lagu untuk menghadirkan ketenangan. Para pencipta musik dari waktu ke waktu telah menunjukkan kebebasannya mengungkapkan ekspresi emosinya yang dikaitkan dengan berbagai objek cerapan seperti alam, cinta, suka-duka, amarah, pikiran, dan bahkan mereka telah mulai dengan cara-cara mengotak-atik nada-nada sesuai dengan suasana hatinya.

Fungsi Penikmatan Estetis Pada dasarnya setiap orang telah dikaruniai oleh Tuhan Allah dengan berbagai kemampuan belajar (ability to learn) dan bakat (talent) tentang apa saja. Selain bisa belajar dari lingkungan alam dan sosialnya, orang juga bisa belajar dari pengalamannya sendiri. Setiap orang memiliki kemampuan dan kecepatan berbeda-beda dalam hal mencerap atau memahami keindahan tentang apa saja termasuk pula keindahan musik. Untuk menikmati rasa indah (estetis), maka orang perlu belajar dengan cara membiasakan diri mendengarkan musik-musik kesukaannya sendiri.

Kemudian ia bisa mulai mencoba endengarkan musik-musik jenis lain yang baru didengarnya dan kemudian akan menyukainya. Setiap jenis musik memiliki keunikan melodis, ritmis, dan harmonis; maupun terkait dengan komposisi dan instrumentasinya.

Fungsi Hiburan Hiburan (entertainment) adalah suatu kegiatan yang menyenangkan hati bagi seseorang atau publik. Musik sebagai salahsatu cabang seni juga memiliki fungsi menyenangkan hati, membuat rasa puas akan irama, bahasa melodi, atau keteraturan dari harmoninya.

Seseorang bisa saja tidak memahami teks musik, tetapi ia cukup terpuaskan atau terhibur hatinya dengan pola-pola melodi, atau pola-pola ritme dalam irama musik tertentu. Jika para penikmat musik klasik sangat senang dengan kompleksitas bangun musik dan orkestrasinya, maka pencinta musik pop lebih terhibur dengan teks syair, melodi yang menyentuh kalbu, atraksi panggung, atau bahkan hanya popularitas penyanyinya saja.

Kini musik bahkan ditengarai lebih berfungsi hiburan karena industri musik berkembang dengan sangat cepat. Fungsi Komunikasi Musik sudah sejak dahulu digunakan untuk alat komunikasi baik dalam keadaan damai maupun perang.

Komunikasi bunyi yang menggunakan sangkakala (sejenis trumpet), trumpet kerang juga digunakan dalam suku-suku bangsa pesisir pantai, kentongan juga digunakan sebagai alat komunikasi keamanan di Jawa, dan teriakanteriakan pun dikenal dalam suku-suku asli yang hidup baik di pegunungan maupun di hutan-hutan. Bunyi-bunyi teratur, berpola-pola ritmik, dan menggunakan aluralur melodi itu menandakan adanya fungsi komunikasi dalam musik.

Komunikasi elektronik yang menggunakan telepon semakin hari semakin banyak menggunakan bunyi-bunyi musikal. Fungsi Representasi Simbolik Dalam berbagai budaya bangsa, suku-suku, atau daerah-daerah yang masih mempertahankan tradisi nenek-moyang mereka; musik digunakan sebagai sarana mewujudkan simbol-simbol dari nilai-nilai tradisi dan budaya setempat.

Kesenangan, kesedihan, kesetiaan, kepatuhan, penghormatan, rasa bangga, dan rasa memiliki, atau perasaan-perasaan khas mereka disimbolkan melalui musik baik secara sendiri maupun menjadi bagian dari tarian, syair-syair, dan upacar aupacara. Fungsi Respon Sosial Para pencipta lagu nasional Indonesia sangat peka terhadap adanya kondisi sosial, tingkat kesejahteraan rakyat, dan kegelisahan masyarakat.

Mereka menciptakan lagu-lagu populer yang menggunakan syair-syair menyentuh perhatian publik seperti yang dilakukan oleh Bimbo, Ebiet G.

Ade, Iwan Fals, Harry Roesli, Gombloh, Ully Sigar Rusady, dan masih banyak lagi. Pada umumnya para pencipta lagu itu melakukan kritik sosial dan bahkan protes keras terutama ditujukan kepada pemerintah. Para pengamen jalanan juga tak kalah seru mengumandangkan lagu-lagu protes sosialnya, misalnya lagu yang bertema PNS, penderitaan anak jalanan, generasi muda yang tanpa arah, dan lain sebagainya.

Fungsi Pendidikan Norma Sosial Musik banyak pula digunakan sebagai media untuk mengajarkan norma-norma, aturan-aturan yang sekalipun tidak tertulis namun berlaku di tengah masyarakat. Para pencipta lagu anak seperti Bu Kasur, Pak Kasur, Pak Daljono, AT Mahmud, Ibu Sud-semua berupaya mengajarkan anak-anak berperilaku sopan, halus, hormat kepada orangtua, cinta keindahan, sayangi tanaman dan binatang, patuh pada guru, dan lain sebagainya.

Keindahan alam, kesejahteraan sosial, kenyamanan hidup, dan semua norma-norma kehidupan bermasyarakat telah mendapatkan perhatian yang sangat penting dari para pencipta lagu tersebut.

Fungsi Pelestari Kebudayaan Lagu-lagu daerah banyak sekali berfungsi sebagai pelestari budayanya, mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda tema-tema dan cerita di dalam syair menggambarkan budaya secara jelas.

Syair-syair lagu sering juga berasal dari pantunpantun yang biasa dilantunkan oleh masyarakat adat dan daerah-daerah di Indonesia. Budaya Minangkabau dapat dipertahankan keberadaannya dengan berbagai cara, tetapi musik Minang sangat jelas karakteristiknya yang mudah mewakili daya tarik terhadap tempat berkembangnya budaya itu ialah Propinsi Sumatera Barat dan sekitarnya. Lagu-lagu Jawa, mulai dari yang klasik hingga kini yang berwarna populer seperti musik campursari, digemari masyarakat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melengkapi musik kroncong yang lebih dahulu berkembang.

Ada budaya Jawa yang dilestarikan melalui syairsyair berbasa Jawa, melodi-melodi yang bernuansa Jawa dari karawitan. Musik Sunda dan sekitarnya di Propinsi Jawa Barat memiliki rasa yang sangat khas adalah bagian dari upacara-upacara sosial dan keagamaan masyarakatnya.

Indonesia memiliki kekayaan budaya dan terutama musiknya seperti termasuk yang paling dikenal dunia seperti Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan bahkan Papua. Fungsi Pemersatu Bangsa Setiap bangsa memiliki lagu kebangsaan (national anthem) yang mewakili citarasa estetik, semangat kebangsaan, dan watak dari budaya masing-masing.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Soepratman adalah lagu atau musik yang diciptakan untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang mendiami daerah-daerah di wilayah Nusantara yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil. Keaneka-ragaman budaya yang sangat banyak jumlahnya harus dirangkum dalam satu kesatuan budaya nasional tanpa meninggalkan budaya-budaya lokal.

Dalam kesatuan tanah-air, bangsa, dan bahasa; Indonesia diperkenalkan kepada dunia melalui Indonesia Raya. Tetapi, lagu-lagu nasional Indonesia juga tidak sedikit yang bisa berfungsi sebagai pemersatu bangsa sekalipun bukan sebagai lagu kebangsaan, contohnya antara lain Berkibarlah Benderaku, Bangun Pemudi-Pemuda, Bagimu Negeri, Satu Nusa Satu Bangsa, Indonesia Pusaka, Hari Merdeka, Rayuan Pulau Kelapa, Mars Pancasila, Halo-Halo Bandung, dan Syukur.

Fungsi Promosi Dagang Musik yang dikreasi untuk kepentingan promosi dagang kini banyak berkembang seiring dengan laju pertumbuhan iklan yang disiarkan melalui radio-radio siaran dan televisi-televisi swasta terutama di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Musik-musik iklan bisa saja dirancang oleh penciptanya secara baru, tetapi juga ada yang berbentuk penggalan lagu yang sudah ada, sudah populer, dan digemari segmen pasar yang dituju.

Baca Juga : “Alat Musik Melodis” Pengertian & ( Contoh – Gambar ) Manfaat Musik Dari perspektif filsafat, musik diartikan sebagai bahasa nurani yang menghubungkan memahaman dan pengertian antar manusia pada sudut-sudut ruang dan waktu, di mana pun kita berada.

Oleh karena itu Nietzsche, seorang filsuf Jerman, meyakini bahwa musik tidak diragukan dapat memberikan kontribusi yang positif bagi kehidupan manusia. Sehubungan dengan itu ia mengatakan: “Without music, life would be an error.” Dalam kenyataannya musik memang memiliki fungsi atau peran yang sangat penting sehingga tidak satupun manusia yang bisa lepas dari keberadaan musik. Musik Sebagai Hiburan Aristoteles, filsuf Yunani yang lahir di Stagira pada tahun 384 SM, mengatakan bahwa musik mempunyai kemampuan untuk mendamaikan hati yang gundah.

Sehubungan dengan itu musik memiliki efek terapi yang rekreatif dan lebih jauh lagi dapat menumbuhkan jiwa patriotisme. Pandangan Aristoteles ini setidaknya memberikan gambaran kepada kita bahwa dalam mengarungi bahtera kehidupannya, manusia tidak selalu menjumpai hal-hal yang menyenangkan. Suatu ketika ia bisa mengalami peristiwa yang menyedihkan, memilukan, atau bahkan menyakitkan, sedangkan di lain waktu, bisa juga mengalami peristiwa yang sungguh menyenangkan.

Musik dapat mempengaruhi hidup seseorang, hanya dengan musik, suasana ruang batin seseorang dapat dipengaruhi. Entah apakah itu suasana bahagia ataupun sedih, bergantung pada pendengar itu sendiri. Yang pasti, musik dapat memberi semangat pada jiwa yang lelah, resah dan lesu.

Apalagi bagi seseorang yang sedang jatuh cinta, musik seakan-akan dapat menjadi kekuatan untuk menyemangati perjalanan cinta seseorang. Sebagai hiburan, musik dapat memberikan rasa santai dan nyaman atau penyegaran pada pendengarnya.

Terkadang ada saat pikiran kita lagi risau, serba buntu, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan; dengan mendengarkan musik, segala pikiran bisa kembali segar. Hasilnya, kita bersemangat kembali mengerjakan sesuatu yang tertunda. Di samping itu sebagai hiburan, musik juga dapat menyembuhkan depresi, musik terbukti dapat menurunkan denyut jantung.

Ini membantu menenangkan dan merangsang bagian otak yang terkait ke aktivitas emosi dan tidur. Peneliti dari Science University of Tokyo menunjukkan bahwa musik dapat membantu menurunkan tingkat stres dan gelisah. Penelitian menunjukkan bahwa mendengarkan musik klasik adalah cara terbaik untuk membantu mengatasi depresi.

Musik dan Terapi Kesehatan Musik dapat berfungsi sebagai alat terapi kesehatan. Ketikasese orang mendengarkan musik, elombang listrik yang ada di otaknya dapat diperlambat atau dipercepat dan pada saat yang ama kinerja sistem tubuh pun mengalami perubahan.

Bahkan, musik mampu mengatur hormon- hormon yang mempengaruhi stres seseorang, serta mampu meningkatkan daya ingat. Musik dan kesehatan memiliki kaitan erat, dan tidak diragukan bahwa dengan mendengarkan musik kesukaannya seseorang akan mampu terbawa ke dalam suasana hati yang baik dalam waktu singkat.

Musik juga memiliki kekuatan memengaruhi denyut jantung dan tekanan darah sesuai dengan frekuensi, tempo, dan volumenya. Makin lambat tempo musik, denyut jantung semakin lambat dan tekanan darah menurun. Akhirnya, pendengar pun terbawa dalam suasana santai, baik itu pada pikiran maupun tubuh. Oleh karena itu, sejumlah rumah sakit di luar negeri mulai menerapkan terapi musik pada pasiennya yang mengalami rawat inap.

Musik dapat menyembuhkan sakit punggung kronis, ia bekerja pada sistem syaraf otonom yaitu bagian sistem syaraf yang bertanggung jawab mengontrol tekanan darah, denyut jantung, dan fungsi otak—yang mengontrol perasaan dan emosi.

Menurut penelitian, kedua sistem tersebut bereaksi sensitif terhadap musik. Ketika kita merasa sakit, kita menjadi takut, frustasi dan marah yang membuat kita menegangkanratusan otot dalam punggung.

Mendengarkan musik secara teratur membantu tubuh santai secara fisik dan mental sehingga membantu menyembuhkan dan mencegah sakit punggung.

Para ahli yakin setiap jenis musik klasik seperti Mozart atau Beethoven dapat membantu sakit otot. Fungsi kesehatan lain ialah untuk membantu kelahiran. Dengan memperdengarkan musik, ibu hamil akan terbantu dalam menghadapi rasa sakit saat melahirkan. Bentuk ekspresi melalui musik dapat menyembuhkan sakit dalam tubuh dan membantu otot menjadi relaks. Dokter menganjurkan jenis musik klasik atau musik masa kini tetapi mendengarkan musik pilihan sendiri juga baik.

Telah terbukti bahwa musik juga sangat membantu anak sebelum menjalani operasi. Mendengarkan musik bagi anak yang tengah menunggu operasi dapat membantu menyembuhkan ketakutan dan gelisah karena musik membantu menenangkan ketegangan otot. Meskipun tidak ada musik khusus, musik-musik yang akrab bagi anakanak jelas yang terbaik. Musik dan Kecerdasan Musik memiliki pengaruh terhadap peningkatan kecerdasan manusia. Salah satu istilah untuk sebuah efek yang bisa dihasilkan sebuah musik yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan intelegensia seseorang, yaitu Efek Mendengarkan Musik Mozart.

Hal ini sudah terbukti, ketika seorang ibu yang sedang hamil duduk tenang, seakan terbuai alunan musik tadi yang juga ia perdengarkan di perutnya. Hal ini dimaksudkan agar kelak si bayi akan memiliki tingkat intelegensia yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang dibesarkan tanpa diperkenalkan pada musik.

Dengan cara tertentu, otak pun akan distimulasi untuk “belajar” segala sesuatu lewat nada-nada musik. Selain itu, musik-musik yang berirama klasik adalah jenis musik yang dianjurkan banyak pakar buat ibu hamil dan si bayi, yaitu bisa mencerdaskan bayi dan juga bisa memberi ketenangan buat ibu yang sedang hamil.

Sehubungan dengan itu mencegah kehilangan daya ingat. Bagi banyak orang yang mengalami kehilangan daya ingat dimana berbicara dengan bahasa menjadi tidak berguna.

Musik dapat membantu pasien mengingat nada atau lagu dan berkomunikasi mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda sejarah mereka. Ini karena bagian otak yang memproses musik terletak sebelah memori. Para peneliti menunjukkan bahwa orang dengan kehilangan daya ingat merespon lebih baik terhadap jenis musik pilihannya.

Musik dan Kepribadian Musik diyakini dapat meningkatkan motivasi seseorang. Bagi orang yang berolahraga musik dapat meningkatkan motivasi untuk melakukan olahraga yang lebih baik. Untuk selanjutnya pada saat berolahraga musik membantu olahragawan untuk meningkatkan daya tahan, meningkatkan mood dan mengalihkan olahragawan dari setiap pengalaman yang tidak nyaman selama olahraga.

Jenis musik terbaik untuk olah raga adalah musik dengan musik tempo tinggi seperti hip-hop atau musik dansa. Motivasi adalah hal yang hanya bisa dilahirkan dengan perasaan dan suasana hati tertentu. Apabila ada motivasi, semangat pun akan muncul dan segala kegiatan bisa dilakukan.

Begitu juga sebaliknya, jika motivasi terbelenggu, maka semangat pun menjadi luruh, lemas, tak ada tenaga untuk beraktivitas. Coba saja diingat saat upacara bendera setiap Senin pagi yang di dalam upacara tersebut kita diwajibkan menyanyikan lagu wajib nasional itu, semata-mata kan hanya untuk menimbulkan motivasi mencintai negeri, mengenang jasa pahlawan, dan memberi semangat baru pada pesertanya.

Hal ini seharusnya berlaku juga pada irama mars yang merupakan irama untuk mengobarkan semangat perjuangan. Perkembangan kepribadian seseorang juga mempengaruhi dan dipengaruhi oleh jenis musik yang didengar. Sewaktu kecil ita suka mendengarkan lagu-lagu anak, setelah dewasa kita pun akan memilih sendiri jenis musik yang kita sukai.

Pemilihan jenis musik yang disukai bisa dibilang membantu kita untuk memberikan nuansa hidup yang kita butuhkan. Baca Juga : “Musik Tradisional” Pengertian & ( Sejarah – Fungsi – Jenis – Contoh ) Unsur-Unsur Musik Nah berikut ini unsur-unsur yang membentuk sebuah lagu yaitu: Melodi Merupakan suatu kesatuan frase yang tersusun dari nada-nada dengan urutan, interval dan tinggi rendah yang teratur, melodi menjadi daya tarik dari suatu musik.

Irama Merupakan pergantian panjang pendek tinggi rendah dan keras lembut nada atau bunyi dalam suatu rangkaian musik, irama ialah penentu ketukan dalam musik. Birama Merupakan unsur seni yang berupa ketukan atau ayunan berulang-ulang yang hadir secara teratur di waktu yang bersamaan, birama yang nilai penyebutnya genap disebut birama bainar, sedangkan birama yang penyebutnya ganjil disebut birama tenair.

Harmoni Merupakan sekumpulan nada yang apabila dimainkan bersama-sama akan menghadirkan sebuah bunyi yang enak dinikmati “didengar”, selain itu harmoni bisa diartikan dengan suatu rangkaian mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda yang disusun selaras dan dimainkan sebagai iringan musik.

Tangga Nada Merupakan deret nada yang disusun bertingkat ada 2 jenis tangga nada yaitu tangga nada diatonis dan pentatonis. Tangga nada diatonis tersusun dari 7 buah nada dengan 2 jarak “1/2 dan 1” sedangkan pentatonis tersusun dari 5 buah nada dengan jarak tertentu. Tempo Merupakan ukuran kecepatan birama lagu, semakin cepat sebuah lagu dimainkan semakin besar juga nilai tempo dari lagu tersebut, ada 8 kategori tempo yaitu: • Largo “lambat sekali” • Lento “lebih lambat” • Adagio “lambat” • Andante”sedang” • Moderato “sedang agak cepat” • Allegro “cepat” • Vivace “lebih cepat” • Presto “cepat sekali” Dinamika Merupakan tanda untuk memainkan nada dengan volume mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda atau keras, dinamika penting karena dapat menunjukan nuansa sebuah lagu “sedih, senang, riang, agresif, datar, dll”.

Timbre Merupakan kualitas atau warna bunyi, keberadaan timbre sangat dipengaruhi oleh sumber bunyi dan cara bergetarnya. Timbre yang dihasilkan alat musik tiup akan berbeda dengan alat musik petik, meskipun dimainkan di nada yang sama. Ekspresi Ungkapan perasaan dari dalam hati bisa ditunjukkan melalui ekspresi, apakah gembira, sedih, romantis dan lainnya. Karena itu penyanyi harus bernyanyi secara total agar pendengar terbawa suasana. Baca Juga : “Musik Modern” Pengertian & ( Jenis – Contoh ) Jenis-Jenis Musik Adapun jenis-jenis musik yang diantaranya yaitu: • Pop “Populer” Merupakan bentuk modern dari rock and roll, terbentuk tahun 1950-an, jenis musik ini menjadi genre paling populer.

• RnB RnB singkatan dari “rhythm” & blues” ialah genre yang cukup populer yang berasal dari musik Afrika-Amerika pada tahun 1940-an, satu band RnB biasanya terdiri dari pianis satu atau dua gitaris, vokalis, bass, drum dan saxophone. • Rock Merupakan musik populer yang berasal dari musik rock and roll di AS tahun 1950-an, musik ini mendapat pengaruh dari blues, jazz, klasik, dll, musik rock fokus pada gitar listrik, grup band rock didominasi oleh lelaki.

• Dangdut Merupakan genre musik andalan di tanah air kita, bentuk musik ini berpusat dari musik Melayu pada tahun 1940-an, penyanyi yang paling terkenal dengan ratusan lagunya yakni raja dangdut Rhoma Irama. • Blues Berasal dari Afrika-Amerika dan muncul pada abad ke 19, ciri musik blues ialah lirik awalnya yang terdiri dari 1 baris yang diulang 4 kali.

• Country Jenis musik ini berasal dari AS selatan di Atlanta dan Georgia tahun 1920, ciri khas musik country ialah sebagai besar menggunakan instrumen string. Musik ini juga identik dengan konoi, musik ini enak didengar saat melakukan perjalanan jauh dan mengawali hari, Taylor Swift merupakan salah satu contoh artis populer jenis musik ini. • Electronic Musik yang sepenuhnya menggunakan teknologi elektronik, contoh alat musiknya ialah gitar listrik, telharmonium dan organ hammond.

• Hip Hop Merupakan jenis musik yang terdiri dari musik berirama dan bergaya yang biasanya rap mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda vokal ritmis, vokalis biasanya membaca lirik lagu seperti membaca biasa namun dengan ritme tertentu.

• Jazz Aliran musik yang bersal dari Afrika-Amerika di akhir abad ke-19 musik ini dikenal memiliki alunan yang merdu, Jazz mendapatkan pengaruh besar dari budaya Afrika Barat dan Eropa. • Klasik Jenis musik yang berakar pada tradisi musik Barat dan sudah ada sejak abad ke-11, tokoh musik klasik mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda terkenal seperti Beethoven dan Johann Sebastian Bach. • Reggae Genre musik ini berasal dari Jamaika di akhir tahun 1960-an, Reggae terpengaruh oleh Jazz Amerika dan Rnb, salah satu elemen yang paling mudah dikenali dari musik reggae ialah ritme offbeat yang berasal dari gitar atau piano.

Peranan Musik Dalam Kehidupan Apa peranan seni dalam kehidupan kita ?? Jawabnya adalah hanya sebagai penghibur jiwa dan pikiran kita. Banyak orang tidak menyadari peranan seni dalam hidup kita adalah sangat penting dan semua orang pasti mengetahui apa itu seni, baik seni rupa, seni musik, seni tari dsb. Seni adalah bahagian dari sebuah budaya… Budaya tanpa adanya seni itu adalah 0 ( nol ) atau kosong, tak berarti dan tidak bermakna.

Di Indonesia banyak sekali kita temukan macam-macam seni. Tapi anehnya dalam Seni musik. Masih banyak kejadian perkelahian dalam acara Pagelaran Musik atau Festival Musik mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda Acara-acara yang berkaitan dengan musik. Musik itu bentuknya Universal… dan digunakan untuk mempersatukan hati dan jiwa kita.

Bukan sebaliknya memecah-belah kita. Demikianlah pembahasan mengenai Musik Adalah – Pengertian, Fungsi, Sejarah, Jenis Dan Unsurnya semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.

🙂 🙂 🙂 Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Seni Budaya Ditag 10 manfaat musik, 400, 5, buku seni musik pdf, ciri ciri musik, contoh melodi, contoh seni musik, definisi musik, definisi musik menurut para ahli pdf, definisi musik secara bahasa, doremifasolasido termasuk nada, fungsi musik, fungsi musik barat, fungsi seni musik, jelaskan fungsi musik melodi, jelaskan pengertian musik, jelaskan perbedaan nada dinamik dan tempo, jenis atau genre musik, jenis genre musik, jenis seni musik, jurnal pengertian musik pdf, lagu adalah, macam macam notasi musik, macam macam seni musik, manfaat mendengarkan musik, manfaat musik, manfaat musik secara umum, musik barat, musik dangdut, musik dangdut koplo, musik dj, musik indonesia, musik pop, musik sebagai simbol, pengertian genre musik, pengertian musik, pengertian musik barat, pengertian musik barat menurut ahli, pengertian musik barat secara umum, pengertian musik brainly, pengertian musik dan manfaatnya, pengertian musik dan unsur unsurnya, pengertian musik kontemporer dan ciri cirinya, pengertian musik menurut para ahli, pengertian musik secara umum, pengertian musik tradisional, pengertian musik tradisional menurut para ahli, pengertian seni musik, pengertian seni musik barat, pengertian seni musik brainly, pengertian seni musik dan contohnya, pengertian seni musik menurut para ahli, pengertian seni musik secara khusus, pengertian seni musik secara umum, pengertian seni musik tradisional, pengertian seni teater, pengertian unsur musik, permainan musik, sejarah musik, sejarah seni musik, seni musik adalah, simbol musik dan nilai estetis, suara dapat dibedakan atas, suara tinggi pada laki-laki disebut, teknik bermain musik tradisional, teori musik pdf, teori seni musik, teori tentang musik menurut para ahli, tujuan musik, unsur bentuk musik, unsur unsur musik dan pengertian, unsur unsur musik pdf, unsur unsur pokok yang terdapat di dalam musik adalah, unsur unsur seni musik, unsur-unsur lagu adalah, untuk menyusun harmoni sebuah lagu digunakan Navigasi pos • Contoh Teks Editorial • Contoh Teks Laporan Hasil Observasi • Teks Negosiasi • Teks Deskripsi • Contoh Kata Pengantar • Kinemaster Pro • WhatsApp GB • Contoh Diksi • Contoh Teks Eksplanasi • Contoh Teks Berita • Contoh Teks Negosiasi • Contoh Teks Ulasan • Contoh Teks Eksposisi • Alight Motion Pro • Contoh Alat Musik Ritmis • Contoh Alat Musik Melodis • Contoh Teks Cerita Ulang • Contoh Teks Prosedur Sederhana, Kompleks dan Protokol • Contoh Karangan Eksposisi • Contoh Pamflet • Pameran Seni Rupa • Contoh Seni Rupa Murni • Contoh Paragraf Campuran • Contoh Seni Rupa Terapan • Contoh Karangan Deskripsi • Contoh Paragraf Persuasi • Contoh Paragraf Eksposisi • Contoh Paragraf Narasi • Contoh Karangan Narasi • Teks Prosedur • Contoh Karangan Persuasi • Contoh Karangan Argumentasi • Proposal • Contoh Cerpen • Pantun Nasehat • Cerita Fantasi • Memphisthemusical.ComMENU • Home • SMP • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Kewarganegaraan • IPS • IPA • Penjas • SMA • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Akuntansi • Matematika • Kewarganegaraan • IPA • Fisika • Biologi • Kimia • IPS • Sejarah • Geografi • Ekonomi • Sosiologi • Penjas • SMK • Penjas • S1 • Agama • IMK • Pengantar Teknologi Informasi • Uji Kualitas Perangkat Lunak • Sistem Operasi • E-Bisnis • Database • Pancasila • Kewarganegaraan • Akuntansi • Bahasa Indonesia • S2 • Umum • About Me 16 Fungsi dan Kedudukan Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Nasional dan Negara – Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai Bahasa Indonesia yang dimana dalam hal ini meliputi fungsi, kedudukan, pengertian dan awal mula, nah agar lebih dapat memahami dan dimengerti simak ulasan selengkapnya di bawah ini.

5.5. Sebarkan ini: Bahasa indonesia adalah bahasa sebagai alat komunikasi sekaligus bahasa resmi republik indonesia dan juga sebagai bahasa persatuan bangsa indonesia yang sudah diresmikan stelah dilakukanya konggres pemuda I yang di laksanakan selama dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta) suatu hasil yang berbunyi : • Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia. • Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

• Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Awal Mula Bahasa Indonesia Cikal bakal bahasa Indonesia adalah bahasa melayu, yang terbentuk dari bahasa Arab, Persia, Sansekerta dan bahasa-bahasa Eropa.

Bahas melayu sejak zaman kerajaan Sriwijaya pada abad ke-tujuh telah di gunakan sebagai bahasa perdagangan dan perluasan agama budha di Nusantara. Lalu bahasa Melayu pun bsemakin berkembang dan meluas di seluruh Nusantara. Pada awal zaman kolonial bahasa Melayu bukan saja sangat bagus namanya, tetapi juga merupakan bahasa negeri Timur yang di hormati. Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Isi Trikora – Tujuan, Latar Belakang, Tokoh dan Dampak Pada zaman pergerakan nasional bahas Indonesia lahir pertama mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda.

Pada waktu itu para tokoh pergerakan mencari bahasa yang dapat dipahami dan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda dipakai oleh segenap lapisan suku bangsa yang ada. Perkembangan bahasa di Melayu di wilayah nusantaramempengaruhi dan mendorong tumbuhnnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Pada 1918 dari hasil pemikiran para tokoh pergeakan dan dewan rakyat, akhirnya dipilih bahasa Melayu dengan pertimbangan bahwa bahasa telah dipakai hampir sebagian rakyat Indonesia waktu itu.

Komunikasi antarperkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu. Dan pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam Kerapatan Pemuda dan beikrar, yang kemudian dikenal dengan Sumpah Pemuda. Proklamasi kemerdekaan republik Indonesia, 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara.

Dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945 karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Bahasa negara ialah bahasa Indonesia. Kini bahasa Indonesia dipakai oleh berbabagai lapisan masyarakat Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Sebagai Bahasa Nasional Berikut ini terdapat beberapa sebagai bahasa nasional, terdiri atas: • Lambang kebanggaan nasional Sebagai lambang kebanggaan nasional, bahasa indonesia ‘memancarkan’ nilai-nilai sosial budaya luhur bangsa Indonesia. Dengan keluhuran nilai yang dicerminkan bangsa Indonesia,kita harus bangga denganya; kita harus menjunjungnya;dan kita harus mempertahankannya. Kita harus bangga memakainya dengan memelihara dan mengembangkannya tanpa ada rasa rendah diri, malu, dan acuh tak acuh.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : “Teks Laporan Hasil Observasi” Pengertian, 11 Contohnya, Ciri Dan Tujuan • Lambang identitas Nasional Bahasa Indonesia merupakan ‘lambang’ bangsa Indonesia.

mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda

Berarti, dengan bahasa Indonesia dapat diketahui siapa kita, yaitu sifat, perangai, dan watak kita sebagai bangsa Indonesia. • Alat pemersatu berbagai ragam masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budaya dan bahasanya Dengan bahasa Indonesia, bangasa Indonesia merasa aman dan serasi hidupnya, sebab mereka tidak merasa bersaing dan tidak lagi merasa ‘dijajah’ oleh masyarakat suku lain.kedudukan dan fungsi bahasa daerah masih tegar dan tidak bergoyah sedikit pun.

Bahkan, bahasa daerah diharapkan dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia. • Alat perhubungan antar budaya daerah Dengan bahasa Indonesia kita dapat saling berhubungan untuk segala aspek kehidupan. Kta dapat saling berkomunikasi, bertukar pikiran, dan informasi dengan suku lain yang berlatar belakang bahasa yang berbeda. Bagi pemerintah, segala kebijakan dan strategi yang berhubungan dengan ipoleksosbudhankam mudah di informasikan kepada warganya.

Sebagai bahasa Resmi/Negara Berikut ini terdapat beberapa sebagai resmi atau negara, terdiri atas: • Bahasa resmi kenegaraan Keputusan-keputusan, dokumen-dokumen, dan surat-surat resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah dan lembaga-lembaganya dituliskan dalam bahasa Indonesia.

Pidato-pidato mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda nama pemerintah atau dalam rangka menuaikan tugas pemerintahan diucapkan dan dituliskan dalam bahasa Indonesia. • Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan Bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi.

Konsekuensi pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di lembaga pendidikan tersebut, maka materi pelajaran yang berbentuk media cetak hendaknya juga berbahasa Indonesia, khususnya di perguruan tinggi. • Alat penghubung pada tingkat nasional serta kepentingan pemerintah Bahasa Indonesia dipakai dalam hubungan antarbadan pemerintah dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat, untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah.

Degan mengadakan penyeragaman sistem administrasi dan mutu media komunikasi massa, tujuannya agar isi atau pesan yang di sampaikan dapat dengan cepat dan tepat diterima oleh kedua belah pihak (masyarakat).

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda Tugas Dan Fungsi MPR • Alat pengembang kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi Kebudayaan nasional Indonesia yang beragam, berasal dari masyarakat Indonesia yang beragam pula, hampir tidak mungkin dapat disebarluaskan kepada dan dinikmati oleh masyarakat Indonesia lain tanpa bahasa indonesia.

Agar jangkauannya lebih luas, penyebaran ilmu dan teknologi, baik melalui buku-buku pelajaran, buku-buku populer, majalah-majalah ilmiah, hendaknya menggunakan bahasa Indonesia. Apabila arus informasi kita menngkat berarti akan mempercepat pengetahuan kita, apabila pengetahuan kita meningkat berarti tujuan pembangunan akan cepat tercapai.

Dan mungkin pada saat mendatangbahasa Indonesia berkembang sebagai bahasa iptek yang sejajar dengan bahasa Inggris. Fungsi Bahasa Indonesia Fungsi Bahasa Indonesia Dalam Kedudukan Sebagai Bahasa Nasional Meliputi 4 Aspek yaitu : • Bahasa Indonesia Sebagai Lambang Kebanggaan Nasional.

• Bahasa Indonesia Sebagai Lambang identitas Nasional. • Bahasa Indonesia Sebagai Alat pemersatu seluruh Bangsa Indonesia. • Bahasa Indonesia Sebagai Alat penghubung antar Budaya dan antar Daerah.

Berikut Penjelasanya : 1. Bahasa Indonesia Sebagai Lambang Kebanggaan Nasional Bahasa Indonesia Sebagai lambang kebanggaan Nasional adalah bahasa Indonesia yang mempunyai nilai-nilai sosial, budaya luhur bangsa.

mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda

Dengan nilai yang dimiliki merupakan cermin bangsa Indonesia, untuk itu kita sebagai warga negara Indonesia harus bangga, menjunjung tinggi dan mempertahankan nilai-nilai yang terkadung di dalamnya serta mengamalkan sesuai dengan isi nilai sosial dan budaya luhur bangsa.

Sebagai wujud rasa bangga terhadap bahasa Indonesia, kita harus menggunakan bahasa Indonesia setiap hari terutama di lingkungan sekolah dan tanpa ada rasa rendah diri, dan acuh tak acuh. untuk itu sebagai warga negara Indonesia yang baik kita harus menjaga bahasa sesuai dengan isi sumpah pemuda tersebut diatas.

2. Bahasa Indonesia Sebagai Lambang identitas Nasional Bahasa Indonesia Sebagai lambang identitas Nasional Berarti bahwa bahasa Indonesia dapat mengetahui identitas kewarganegaraan seseorang dan juga dapat membedakan antar negara lain, yaitu karakter, kpribadian, dan watak sebagai bangsa Indonesia. Harus di wujudkan dan dijaga jangan sampai kepribadian tersebut diatas tidak tercermin di dalamnya. 3. Bahasa Indonesia Sebagai Alat pemersatu seluruh Bangsa Indonesia Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu seluruh Bangsa Indonesia ini masyarakat Indonesia yang beragam latar belakang sosial budaya dan berbeda-beda bahasanya, dapat disatukan melalui bahasa Indonesia bersatu dalam satu kebangsaan, dan mempunyai cita-cita, rasa senasib dan sepenangungan yang sama.

Dengan bahasa Indonesia, bangsa ini dapat merasa harmonis dan serasi, karena diantara kita tidak lagi merasa ada persaingan dan tidak merasa lagi ‘dijajah’ oleh masyarakat suku lain, identitas suku dan nilai-nilai sosial budaya daerah masih dapat kita lihat dan masih tercermin didalam bahasa daerah masing-masing yang masih kental.

dan bahasa daerah dapat memperkaya aneka ragam bahasa daerah yang dimiliki Bangsa Indonesia. Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Lambang Negara Indonesia Burung Garuda 4. Bahasa Indonesia Sebagai Alat penghubung antar Budaya dan antar Daerah Bahasa Indonesia sebagai alat penghubung antar Budaya dan antar Daerah. dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa Indonesia kita dapat saling berinteraksi untuk segala bidang kehidupan. Baik pemerintah, interaksi segala kebijakan dan strategi yang berkaitan dengan idiologi, politik, sosial, ekonomi, budaya, pertahanan, dan kemanan dengan mudah dapat disampaikan kepada seluruh masyarakat Indonesia.

jika laju pertumbuhan komunikasi antarmanusia meningkat berarti akan mempercepat tingkat wawasan dan pengetahuan manusia. dan jika semakin cepat pengetahuan meningkat maka akan mempermudah perkembangan kehidupan bangsa. B. Kedudukan Bahasa Indonesia Berikut ini terdapat beberapa kedudukan bahasa indonesia, terdiri atas: 1.

Sebagai Bahasa Nasional Tanggal 28 Oktober 1928, pada hari “Sumpah Pemuda” lebih tepatnya, Dinyatakan Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut : • Bahasa Indonesia sebagai Identitas Nasional. • Bahasa Indonesia sebagai Kebanggaan Bangsa.

• Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. • Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa yang berbeda Suku, Agama, Ras, Adat Istiadat, dan Budaya. Adapun penjelasanya : • Bahasa Indonesia sebagai Identitas Nasional Kedudukan pertama dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dibuktikan dengan digunakannya bahasa Indonesia dalam bulir-bulir Sumpah Pemuda.

• Bahasa Indonesia sebagai Kebanggaan Bangsa Kedudukan kedua dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dibuktikan dengan masih digunakannya Bahasa Indonesia sampai sekarang ini.

Berbeda dengan negara-negara lain yang terjajah, mereka harus belajar dan menggunakan bahasa negara persemakmurannya. Contohnya saja India, Malaysia, dll yang harus bisa menggunakan Bahasa Inggris. • Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi Kedudukan ketiga dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional dibuktikan dengan digunakannya Bahasa Indonesia dalam berbagai macam media komunikasi. Misalnya saja Buku, Koran, Acara Pertelevisian, Siaran Radio, Website, dll. Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Demokrasi – Pengertian, Macam, Prinsip, Ciri, Sejarah Dan Contohnya • Bahasa Indonesia sebagai Alat pemersatu Bangsa yang berbeda Suku, Agama, Ras, Adat, dan Budaya Karena Indonesia adalah negara yang memiliki beragam bahasa dan budaya, maka harus ada bahasa pemersatu diantara semua itu.

Hal mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda masuk dengan kedudukan keempat dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional sebagai Alat pemersatu Mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda yang berbeda Suku, Agama, Ras, Adat Istiadat, dan Budaya.

2. Sebagai Bahasa Negara Dalam UUD 1945 bab XV, pasal 36, telah ditetapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara. Dengan demikian, selain berkedudukan sebagai bahasa Nasional, bahasa Indonesia juga berkedudukan sebagai bahasa negara. Berikut merupakan fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara hasil perumusan seminar politik bahasa Nasional yang diselenggarakan di Jakarta, pada tanggal 25-28 Februari 1975, yaitu : • Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan.

• Bahasa Indonesia sebagai alat pengantar dalam dunia pendidikan. • Bahasa Indonesia sebagai penghubung pada tingkat Nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah.

• Bahasa Indonesia Sebagai pengembangan kebudayaan Nasional, Ilmu dan Teknologi. mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda penjelasanya : • Bahasa resmi kenegaraan Dalam kaitannya dengan fungsi ini bahasa Indonesia dipergunakan dalam adminstrasi kenegaraan, upacara atau peristiwa kenegaraan baik secara lisan maupun dalam bentuk tulisan, komunikasi timbal-balik antara pemerintah dengan masyarakat. Dokumen-dokumen dan keputusankeputusan serta surat-menyurat yang dikeluarkan oleh pemeritah dan badanbadan kenegaraan lain seperti DPR dan MPR ditulis di dalam bahasa Indonesia.

Pidato-pidato, terutama pidato kenegaraan, ditulis dan diucapkan di dalam bahasa Indonesia. Demikian halnya dengan pemakaian bahasa Indonesia oleh warga masyarakat kita di dalam hubungannya dengan upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan. Suhendar dan Supinah (1997) menyatakan bahwa untuk melaksanakan fungsinya sebagai bahasa resmi kenegaraan dengan sebaikbaiknya, pemakaian bahasa Indonesia di dalam pelaksanaan adminstrasi pemerintahan perlu senantiasa dibina dan dikembangkan, penguasaan bahasa Indonesia perlu dijadikan salah satu faktor yang menentukan di dalam pengembangan ketenagaan seperti penerimaan karyawan baru, kenaikan pangkat baik sipil maupun militer, dan pemberian tugas-khusus baik di dalam maupun di luar negeri.

• Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan Sebagai bahasa pengantar, bahasa Indonesia dipergunakan dilembaga-lembaga pendidikan baik formal atau nonformal, dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.

Masalah pemakaian bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa pengantar di segala jenis dan tingkat pendidikan di seluruh Indonesia, menurut Suhendar dan Supinah (1997), masih merupakan masalah yang meminta perhatian.

• Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah Dalam hubungannya dengan fungsi ini, bahasa Indonesia tidak hanya dipakai sebagai alat komunikasi timbal-balik antara pemerintah dengan masyarakat luas atau antar suku, tetapi juga sebagai alat perhubungan di dalam masyarakat yang keadaan sosial budaya dan bahasanya sama.

Baca Juga Artikel yang Mungkin Terkait : Contoh HAK : Macam, Pengertian Umum dan Menurut Para Ahli • Alat pengembangan Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Dalam kaitan ini, bahasa Indonesia adalah satu-satunya alat yang memungkinkan kita membina serta mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memiliki identitasnya sendiri, yang membedakannya dengan bahasa daerah. Dalam pada itu untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, baik dalam bentuk penyajian pelajaran, penulisan buku atau penerjemahan, dilakukan dalam bahasa Indonesia.

Dengan demikian masyarakat bangsa kita tidak tergantung sepenuhnya kepada bangsa-bangsa asing di dalam usahanya untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta untuk ikut serta dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Terkait dengan hal itu, Suhendar dan Supinah (1997) mengemukakan bahwa bahasa Indonesia adalah atu-satunya alat yang memungkinkan kita membina serta mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memiliki ciri-ciri dan identitasnya sendiri, yang membedakannya dari kebudayaan daerah.

Fungsi Bahasa Secara Khusus Berikut ini terdapat beberapa fungsi bahasa secara khusus, terdiri atas: 1. Mewujudkan hubungan dalam Interaksi Dalam Kehidupan sehari-hari Manusia adalah makhluk sosial yang tidak pernah lepas dari hubungan komunikasi dan interaksi dengan makhluk sosialnya.

mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda

Komunikasi yang dugunakan dapat menggunakan bahasa formal atau non formal. 2. Mewujudkan Seni (Sastra) Bahasa juga dapat dipakai untuk mengungkapkan perasaan melalui media seni, seperti syair, puisi, prosa, Cerpen dll. kadang-kadang bahasa yang dipakai juga memiliki makna konotasi dan makna denotasi. Dalam hal ini, dibutuhkan pemahaman yang yang lebih dalam agar dapat mengetahui makna yang ingin disampaikan Penulis atau peraga seni.

3. Mempelajari bahasa-bahasa kuno Dengan mempelajari bahasa kuno, akan dapat mengetahui peristiwa dimasa lalu. Untuk mengantisipasi dan mencegah kejadian yang lalu untuk tidak terjadi kembali dimasa depan, atau untuk menambah wawasan tentang asal dari suatu budaya yang dapat ditelusuri melalui naskah kuno atau penemuan prasasti-prasasti 4.

Memahami IPTEK Dengan akal dan pikiran yang sudah anugrahkan Tuhan kepada manusia, maka manusia akan selalu mengembangkan ilmu pengetahuan dalam berbagai hal dalam bidang IPTEK dan untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik.

Pengetahuan yang dimiliki oleh manusia akan selalu mengabadikan agar manusia lainnya juga dapat mempergunakan dan lebih mgembangkanya lagi demi masadepan manusia itu. Demikianlah pembahasan mengenai 16 Fungsi dan Kedudukan Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Nasional dan Negara semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.

🙂 🙂 🙂 Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Bahasa Indonesia Ditag 13 fungsi bahasa indonesia, 3 fungsi bahasa, 4 fungsi bahasa, apakah bahasa daerah, bahasa indonesia baku adalah, bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan, bahasa yang lugas dalam genre makro, esai kedudukan bahasa indonesia, fungsi bahasa indonesia brainly, fungsi bahasa indonesia dan contohnya, fungsi bahasa indonesia menurut para ahli, fungsi bahasa indonesia mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda, fungsi bahasa indonesia sebagai bahasa nasional, fungsi bahasa indonesia secara umum, fungsi bahasa menurut para ahli, fungsi bahasa sebagai ekspresi diri, fungsi dan guna bahasa indonesia, fungsi dan kedudukan bahasa indonesia pdf, fungsi fungsi bahasa indonesia sebagai bahasa negara, jelaskan kedudukan bahasa indonesia brainly, jelaskan pengertian dialek dan fungsiolek, jelaskan pengertian ragam bahasa, jelaskan peranan dan fungsi bahasa daerah, kedudukan bahasa daerah, Kedudukan Bahasa Indonesia, kedudukan bahasa indonesia brainly, kedudukan bahasa indonesia di mata dunia, kedudukan bahasa indonesia pdf, kedudukan bahasa indonesia saat ini, kedudukan bahasa indonesia sebagai alat pemersatu masyarakat, kedudukan bahasa indonesia sebagai bahasa nasional, kedudukan bahasa indonesia sebagai identitas bangsa, kedudukan dan fungsi bahasa daerah, kedudukan dan fungsi bahasa indonesia, kedudukan dan fungsi bahasa indonesia brainly, kedudukan dan fungsi bahasa indonesia pdf, kedudukan sastra indonesia, kita menjunjung bahasa nasional karena, kriteria penggunaan bahasa yang baik, macam macam fungsi bahasa, makalah fungsi bahasa indonesia, makalah fungsi dan kedudukan bahasa indonesia, makalah kedudukan bahasa indonesia, makalah kedudukan dan fungsi bahasa indonesia, makalah peran dan fungsi bahasa indonesia, mengapa terjadi ragam bahasa, penerapan fungsi bahasa indonesia, pengertian dan sejarah bahasa indonesia, pengertian kedudukan bahasa indonesia, peran bahasa indonesia, peran bahasa indonesia brainly, peran bahasa sebagai alat komunikasi, perbedaan bahasa nasional dan bahasa negara, perbedaan ragam tulisan dan lisan, pergeseran bahasa indonesia, perkembangan dan kedudukan bahasa indonesia, pertanyaan fungsi dan kedudukan bahasa indonesia, pertanyaan kedudukan bahasa indonesia, rangkuman sejarah kedudukan dan fungsi bahasa indonesia, sejarah fungsi dan kedudukan bahasa indonesia, sejarah lahirnya bahasa indonesia, seminar politik bahasa nasional 1975, tujuan bahasa Navigasi pos • Contoh Teks Editorial • Contoh Teks Laporan Hasil Observasi • Teks Negosiasi • Teks Deskripsi • Contoh Kata Pengantar • Kinemaster Pro • WhatsApp GB • Contoh Diksi • Contoh Teks Eksplanasi • Contoh Teks Berita • Contoh Teks Negosiasi • Contoh Teks Ulasan • Contoh Teks Eksposisi • Alight Motion Pro • Contoh Alat Musik Ritmis • Contoh Alat Musik Melodis • Contoh Teks Cerita Ulang • Contoh Teks Prosedur Sederhana, Kompleks dan Protokol • Contoh Karangan Eksposisi • Contoh Pamflet • Pameran Seni Rupa • Contoh Seni Rupa Murni • Contoh Paragraf Campuran • Contoh Seni Rupa Terapan • Contoh Karangan Deskripsi • Contoh Paragraf Persuasi • Contoh Paragraf Eksposisi • Contoh Paragraf Narasi • Contoh Karangan Narasi • Teks Prosedur • Contoh Karangan Persuasi • Contoh Karangan Argumentasi • Proposal • Contoh Cerpen • Pantun Nasehat • Cerita Fantasi • Memphisthemusical.Com
• Acèh • Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • Aragonés • العربية • ܐܪܡܝܐ • الدارجة • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • Авар • अवधी • Aymar aru • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Boarisch • Žemaitėška • Bikol Central • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • Banjar • বাংলা • བོད་ཡིག • Brezhoneg • Mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda • Буряад • Català • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • Нохчийн • Cebuano • کوردی • Corsu • Čeština • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Zazaki • डोटेली • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Võro • Føroyskt • Français • Nordfriisk • Furlan • Frysk • Gaeilge mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda 贛語 • Kriyòl gwiyannen • Gàidhlig • Galego • گیلکی • Avañe'ẽ • ગુજરાતી • Hausa • 客家語/Hak-kâ-ngî • עברית • हिन्दी • Fiji Hindi • Hrvatski • Kreyòl ayisyen • Magyar • Հայերեն • Igbo • Ilokano • ГӀалгӀай • Ido • Íslenska • ᐃᓄᒃᑎᑐᑦ/inuktitut • 日本語 • Patois • La .lojban.

• Jawa • ქართული • Taqbaylit • Kongo • Қазақша • ភាសាខ្មែរ • ಕನ್ನಡ • 한국어 • Перем коми • कॉशुर / کٲشُر • Ripoarisch • Kurdî • Коми • Kernowek • Кыргызча • Latina • Лакку • Лезги • Lingua Franca Nova • Luganda • Limburgs • Ligure • Ladin • Lingála • ລາວ • Lietuvių • Latgaļu • Latviešu • मैथिली • Basa Banyumasan • Мокшень • Malagasy • Олык марий • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • मराठी • Bahasa Melayu • Malti • Mirandés • မြန်မာဘာသာ • Эрзянь • Nāhuatl • Nedersaksies • नेपाली • नेपाल भाषा • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Occitan • ଓଡ଼ିଆ • Ирон • ਪੰਜਾਬੀ • Kapampangan • Papiamentu • पालि • Norfuk / Pitkern • Polski • Piemontèis • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Rumantsch • Romani čhib • Română • Armãneashti • Русский • संस्कृतम् • Саха тыла • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sicilianu • Scots • سنڌي • Davvisámegiella • Srpskohrvatski / српскохрватски • Taclḥit • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • ChiShona • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • Sunda • Svenska • Kiswahili • Ślůnski • Sakizaya • தமிழ் • Tayal • తెలుగు • Тоҷикӣ • ไทย • Tagalog • Türkçe • Xitsonga • Татарча/tatarça • ChiTumbuka • ئۇيغۇرچە / Uyghurche • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vepsän mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda • Tiếng Việt • West-Vlams • Walon • Winaray • 吴语 • IsiXhosa • მარგალური • ייִדיש • Yorùbá • Vahcuengh • 中文 • 文言 • Bân-lâm-gú • 粵語 • IsiZulu Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan.

Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Manusia" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR ( Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) Manusia [1] Manusia dewasa pria (kiri) dan wanita (kanan) dari suku Akha, Thailand Utara Data Cara bergerak bipedalisme Mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda kehamilan 280 hari Sumber dari Air susu ibu, Kulit manusia dan Rambut kepala Status konservasi Risiko rendah IUCN 136584 Taksonomi Kerajaan Animalia Filum Chordata Kelas Mammalia Ordo Primates Famili Hominidae Genus Homo Spesies Homo sapiens Linnaeus, 1758 Sinonim spesies [1] • aethiopicus Bory de St.

Vincent, 1825 • americanus Bory de St. Vincent, 1825 • arabicus Bory de St. Vincent, 1825 • aurignacensis Klaatsch & Hauser, 1910 • australasicus Bory de St. Vincent, 1825 • cafer Bory de St. Vincent, 1825 • capensis Broom, 1917 • columbicus Bory de St. Vincent, 1825 • cro-magnonensis Gregory, 1921 • drennani Kleinschmidt, 1931 • eurafricanus (Sergi, 1911) • grimaldiensis Gregory, 1921 • grimaldii Lapouge, 1906 • hottentotus Bory de St.

Vincent, 1825 • hyperboreus Bory de St. Vincent, 1825 • indicus Bory de St. Vincent, 1825 • japeticus Bory de St. Vincent, 1825 • melaninus Bory de St. Vincent, 1825 • monstrosus Linnaeus, 1758 • neptunianus Bory de St. Vincent, 1825 • palestinus McCown & Keith, 1932 • patagonus Bory de St. Vincent, 1825 • priscus Lapouge, 1899 • proto-aethiopicus Giuffrida-Ruggeri, 1915 • scythicus Bory de St.

Vincent, 1825 • sinicus Bory de St. Vincent, 1825 • spelaeus Lapouge, 1899 • troglodytes Linnaeus, 1758 • wadjakensis Dubois, 1921 Subspesies • † Homo sapiens idaltu White et al., 2003 • Homo sapiens sapiens Distribusi Dua bocah cilik. Manusia atau orang ( Homo sapiens, bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu") adalah spesies primata dengan populasi yang terbesar, persebaran yang paling luas, dan dicirikan dengan kemampuannya untuk berjalan di atas dua kaki serta otak yang kompleks yang mampu membuat peralatan, budaya, dan bahasa yang rumit.

Kebanyakan manusia hidup dalam struktur sosial yang terdiri atas kelompok-kelompok tertentu yang pada gilirannya dapat bersaing atau membantu satu sama lain mulai dari kelompok keluarga kecil dengan hubungan kekerabatan hingga kelompok politik yang besar atau negara. Interaksi sosial antarmanusia membuat keberagaman nilai, norma, dan ritual di dalam masyarakat manusia.

Keinginan manusia untuk tahu dan memengaruhi lingkungan sekitarnya memunculkan perkembangan dalam filsafat, ilmu, mitologi, dan agama. Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balik, pemuda/i, dewasa, dan (orang) tua. Selain itu masih banyak penggolongan-penggolongan yang lainnya, berdasarkan ciri-ciri fisik (warna kulit, rambut, mata; bentuk hidung; tinggi badan), afiliasi sosio-politik-agama (penganut agama/kepercayaan XYZ, warga negara XYZ, anggota partai XYZ), hubungan kekerabatan (keluarga: keluarga dekat, keluarga jauh, keluarga tiri, keluarga angkat, keluarga asuh; teman; musuh), dan lain sebagainya.

Tokoh adalah istilah untuk orang yang tenar dan berpengaruh misalnya 'tokoh politik', 'tokoh yang tampil dalam film', 'tokoh yang menerima penghargaan', dan lain-lain. Daftar isi • 1 Biologi • 1.1 Ciri-ciri fisik • 1.2 Ciri-ciri mental • 1.3 Habitat • 1.4 Populasi • 1.5 Asal Mula • 2 Kerohanian dan Agama • 2.1 Animisme • 2.2 Mistikme • 2.3 Politheisme • 2.4 Monotheisme • 3 Sang Individu • 3.1 Hati dan kesadaran • 3.2 Emosi • 3.3 Seksualitas • 3.4 Tubuh • 3.5 Kelahiran dan kematian • 4 Masyarakat • 4.1 Bahasa • 4.2 Agama • 4.3 Keluarga dan teman sepergaulan • 4.4 Suku, bangsa dan negara bagian • 4.5 Kebudayaan dan peradaban • 5 Renungan diri • 6 Lihat pula • 7 Referensi • 8 Pustaka • 9 Pranala luar Biologi [ sunting - sunting sumber ] Ciri-ciri fisik [ sunting - sunting sumber ] Dalam biologi, manusia biasanya dipelajari sebagai salah satu dari berbagai spesies di muka Bumi.

Pembelajaran biologi manusia kadang juga diperluas ke aspek psikologis serta ragawinya, tetapi biasanya tidak ke kerohanian atau keagamaan. Secara biologi, manusia diartikan sebagai hominid dari spesies Homo sapiens. Satu-satunya subspesies yang tersisa dari Homo Sapiens ini adalah Homo sapiens sapiens. Mereka biasanya dianggap sebagai satu-satunya spesies yang dapat bertahan hidup dalam genus Homo. Manusia menggunakan daya penggerak bipedalnya (dua kaki) yang sempurna.

Dengan adanya kedua kaki untuk menggerakkan badan, kedua tungkai depan dapat digunakan untuk memanipulasi objek menggunakan jari jempol (ibu jari). Rata-rata tinggi badan perempuan dewasa Amerika adalah 162 cm (64 inci) dan rata-rata berat 62 kg (137 pound). Pria umumnya lebih besar: 175 cm (69 inci) dan 78 kilogram (172 pound). Tentu saja angka tersebut hanya rata rata, bentuk fisik manusia sangat bervariasi, tergantung pada faktor tempat, dan sejarah.

Meskipun ukuran tubuh umumnya dipengaruhi faktor keturunan, faktor lingkungan dan kebudayaan juga dapat memengaruhinya, seperti gizi makanan.

Anak manusia lahir setelah sembilan bulan dalam masa kandungan, dengan berat pada umumnya 3-4 kilogram (6-9 pound) dan 50-60 sentimeter (20-24 inci) tingginya. Tak berdaya saat kelahiran, mereka terus bertumbuh selama beberapa tahun, umumnya mencapai kematangan seksual pada sekitar umur 12-15 tahun. Anak laki-laki masih akan terus tumbuh selama beberapa tahun setelah ini, biasanya pertumbuhan tersebut akan berhenti pada umur sekitar 18 tahun. Sebuah kerangka manusia.

Warna kulit manusia bervariasi dari hampir hitam hingga putih kemerahan. Secara umum, orang dengan nenek moyang yang berasal dari daerah yang terik mempunyai kulit lebih hitam dibandingkan dengan orang yang bernenek-moyang dari daerah yang hanya mendapat sedikit sinar matahari. (Namun, hal ini tentu saja bukan patokan mutlak, ada orang yang mempunyai nenek moyang yang berasal dari daerah terik, dan kurang terik; dan orang-orang tersebut dapat memiliki warna kulit berbeda dalam lingkup spektrumnya).

Rata-rata, wanita memiliki kulit yang sedikit lebih terang daripada pria. Perkiraan panjang umur manusia pada kelahiran mendekati 80 tahun di negara-negara makmur, hal ini bisa tercapai berkat bantuan ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Jumlah orang yang berumur seratus tahun ke atas di dunia diperkirakan berjumlah [1] Diarsipkan 2006-06-19 di Wayback Machine. sekitar 50,000 pada tahun 2003. Rentang hidup maksimal manusia diperhitungkan sekitar 120 tahun. Sementara banyak spesies lain yang punah, Manusia dapat tetap eksis, dan berkembang sampai sekarang.

Keberhasilan mereka disebabkan oleh daya intelektualnya yang tinggi, tetapi mereka juga mempunyai kekurangan fisik. Manusia cenderung menderita obesitas lebih dari primata lainnya. Hal ini sebagian besar disebabkan karena manusia mampu memproduksi lemak tubuh lebih banyak daripada keluarga primata lain. Karena manusia merupakan bipedal semata (hanya wajar menggunakan dua kaki untuk berjalan), daerah pinggul, dan tulang punggung juga cenderung menjadi rapuh, menyebabkan kesulitan dalam bergerak pada usia lanjut.

Juga, manusia perempuan menderita kerumitan melahirkan anak yang relatif (kesakitan karena melahirkan hingga 24 jam tidaklah umum). Sebelum abad ke-20, melahirkan merupakan siksaan berbahaya bagi beberapa wanita, dan masih terjadi di beberapa lokasi terpencil atau daerah yang tak berkembang di dunia saat ini. Ciri-ciri mental [ sunting - sunting sumber ] Banyak manusia menganggap dirinya organisme terpintar di antara makhluk lainnya, meski ada perdebatan apakah cetacea seperti lumba-lumba dapat saja mempunyai intelektual sebanding.

Tentunya, manusia adalah satu-satunya makhluk yang terbukti berteknologi tinggi. Manusia memiliki perbandingan massa otak dengan tubuh terbesar di antara semua makhluk besar ( Lumba-lumba memiliki yang kedua terbesar hiu memiliki yang terbesar untuk ikan dan gurita memiliki yang tertinggi untuk invertebrata). Meski bukanlah pengukuran mutlak (sebab massa otak minimum penting untuk fungsi "berumah tangga" tertentu), perbandingan massa otak dengan tubuh memang memberikan petunjuk baik dari intelektual relatif.

( Carl Sagan, The Dragons of Eden, 38) Kemampuan manusia untuk mengenali bayangannya dalam cermin, merupakan salah satu hal yang jarang ditemui di antara makhluk lainnya.

Manusia adalah satu dari empat spesies yang lulus tes cermin untuk pengenalan pantulan diri yang lainnya adalah simpanse, orang utan, dan lumba-lumba. Pengujian membuktikan bahwa sebuah simpanse yang sudah bertumbuh sempurna memiliki kemampuan yang hampir sama dengan seorang anak manusia berumur empat tahun untuk mengenali bayangannya di cermin.

Pengenalan pola (mengenali susunan gambar, dan warna serta meneladani sifat) merupakan bukti lain bahwa manusia mempunyai mental yang baik.

Kemampuan mental manusia, dan kepandaiannya, membuat mereka, menurut Pascal, makhluk tersedih di antara semua makhluk. Kemampuan memiliki perasaan, seperti kesedihan atau kebahagiaan, membedakan mereka dari organisme lain, walaupun pernyataan ini sukar dibuktikan menggunakan tes.

Keberadaan manusia, menurut sebagian besar ahli filsafat, membentuk dirinya sebagai sumber kebahagiaan. Lihat pula Berpikir, IQ, Ingatan, Penemuan, IPA, Filsafat, Pengetahuan, Pendidikan, Kesadaran. Habitat [ sunting - sunting sumber ] Pandangan konvensional dari evolusi manusia menyatakan bahwa manusia berevolusi di lingkungan dataran sabana di Afrika. (lihat Evolusi manusia). Teknologi yang disalurkan melalui kebudayaan telah memungkinkan manusia untuk mendiami semua benua dan beradaptasi dengan semua iklim.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, manusia telah dapat mendiami sementara benua Antartika, mendiami kedalaman samudera, dan ruang angkasa, meskipun pendiaman jangka panjang di lingkungan tersebut belum termasuk sesuatu yang hemat. Manusia, dengan populasi kurang lebih enam miliar jiwa, adalah salah satu dari mamalia terbanyak di dunia. Sebagian besar manusia (61%) berkediaman di daerah Asia. Mayoritas sisanya berada di Amerika (14%), Afrika (13%) dan Eropa (12%), dengan hanya 0.3% di Australia.

Gaya hidup asli manusia adalah pemburu, dan pengumpul, yang diadaptasikan ke sabana, adegan yang disarankan dalam evolusi manusia. Gaya hidup manusia lainnya adalah nomadisme (berpindah tempat; kadang-kadang dihubungkan dengan kumpulan hewan) dan perkampungan menetap yang dimungkinkan oleh pertanian yang baik.

Manusia mempunyai daya tahan yang baik untuk memindahkan habitat mereka dengan berbagai alasan, seperti pertanian, pengairan, urbanisasi dan pembangunan, serta kegiatan tambahan untuk hal-hal tersebut, seperti pengangkutan dan produksi barang. Perkampungan manusia menetap bergantung pada kedekatannya dengan sumber air dan, bergantung pada gaya hidup, sumber daya alam lainnya seperti lahan subur untuk menanam hasil panen, dan menggembalakan ternak atau, sesuai dengan musim tersedianya mangsa/makanan.

Dengan datangnya infrastruktur perdagangan, dan pengangkutan skala besar, kedekatan lokasi dengan sumber daya tersebut telah menjadi tak terlalu penting, dan di banyak tempat faktor ini tak lagi merupakan daya pendorong bertambah atau berkurangnya populasi.

Habitat manusia dalam sistem ekologi tertutup di lingkungan yang tidak akrab dengannya ( Antartika, angkasa luar) sangatlah mahal, dan umumnya mereka tak dapat tinggal lama, dan hanya untuk tujuan ilmiah, militer, atau ekspedisi industri. Kehidupan di angkasa sangatlah sporadis, dengan maksimal tiga belas manusia di ruang angkasa pada waktu tertentu.

Ini adalah akibat langsung dari kerentanan manusia terhadap radiasi ionisasi. Sebelum penerbangan angkasa Yuri Gagarin tahun 1961, semua manusia 'terkurung' di Bumi. Di antara tahun 1969 dan 1974, telah ada dua manusia sekaligus yang menghabiskan waktu singkatnya di Bulan. Sampai tahun 2004, tak ada benda angkasa lain telah dikunjungi manusia.

Sampai tahun 2004, telah ada banyak keberadaan manusia di ruang angkasa berkelanjutan sejak peluncuran kru perdana untuk meninggali Stasiun Luar Angkasa Internasional, pada 31 Oktober 2000. Populasi [ sunting - sunting sumber ] Dalam kurun waktu 200 tahun dari 1800 sampai 2000, populasi dunia telah bertambah pesat dari satu hingga enam milyar. Diperkirakan mencapai puncaknya kira-kira sepuluh miliar selama abad ke-21.

Sampai 2004, sebuah minoritas yang cukup besar — sekitar 2.5 dari jumlah 6.3 miliar jiwa — tinggal di sekeliling daerah perkotaan. Urbanisasi diperkirakan akan melonjak drastis selama abad ke-21. Polusi, kriminal dan kemiskinan hanyalah beberapa contoh dari masalah yang dihadapi oleh manusia yang tinggal di kota dan permukiman pinggiran kota. Asal Mula [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Evolusi manusia Hewan terdekat dengan manusia yang masih bertahan hidup adalah simpanse; kedua terdekat adalah gorila dan ketiga adalah orang utan.

Sangat penting untuk diingat, namun, bahwa manusia hanya mempunyai persamaan populasi nenek moyang dengan hewan ini, dan tidak diturunkan langsung dari mereka. Ahli biologi telah membandingkan serantaian pasangan dasar DNA antara manusia, dan simpanse, dan memperkirakan perbedaan genetik keseluruhan kurang dari 5% Divergence between samples of chimpanzee and human DNA sequences is 5%, counting indels.

Telah diperkirakan bahwa garis silsilah manusia bercabang dari simpanse sekitar 5 juta tahun lalu, dan dari gorila sekitar 8 juta tahun lalu. Namun, laporan berita terbaru dari tengkorak hominid berumur kira-kira 7 juta tahun sudah menunjukkan percabangan dari garis silsilah kera, membuat gagasan kuat adanya percabangan awal silsilah tersebut. Berikut beberapa gejala penting dalam evolusi manusia: • perluasan rongga otak dan otak itu sendiri, yang umumnya sekitar 1,400 cm³ dalam ukuran volumnya, dua kali lipat perluasan otak simpanse, dan gorila.

Beberapa ahli antropologi, namun, mengatakan bahwa alih-alih perluasan otak, penyusunan ulang struktur otak lebih berpengaruh pada bertambahnya kecerdasan. • pengurangan gigi taring. • penggerak bipedal (dua kaki) • perbaikan laring/pangkal tenggorokan (yang memungkinkan penghasilan bunyi kompleks atau dikenal sebagai bahasa vokal). Bagaimana gejala-gejala ini berhubungan, dengan cara apa mereka telah menyesuaikan diri, dan apa peran mereka dalam evolusi organisasi sosial, dan kebudayaan kompleks, merupakan hal-hal penting dalam perdebatan yang berlangsung di antara para ahli antropologi ragawi saat ini.

Selama tahun 1990an, variasi dalam DNA mitochondria manusia diakui sebagai sumber berharga untuk membangun ulang silsilah manusia, dan untuk melacak perpindahan manusia awal. Berdasarkan perhitungan-perhitungan ini, nenek moyang terakhir yang serupa manusia modern diperkirakan hidup sekitar 150 milenium lalu, dan telah berkembang di luar Africa kurang dari 100.000 tahun lalu. Australia dijelajahi relatif awal, sekitar 70.000 tahun lalu, Eropa +/- 40.000 tahun lalu, dan Amerika pertama didiami secara kasarnya 30.000 tahun lalu, serta kolonisasi kedua di sepanjang Pasifik +/- 15.000 tahun lalu (lihat Perpindahan manusia).

Baru-baru ini, beberapa penelitian pada tahun 2019 dan 2020 dari "Central South University" (CSU; 中南 大学), telah menyajikan bukti kuat untuk asal muasal multiregional manusia.

Bukti genetik menunjukkan bahwa populasi terkait Asia Timur (orang Asia Timur, orang Siberia, orang Asia Tengah, orang Asia Tenggara, orang Polinesia, dan orang Amerika Pribumi) secara genetik berbeda dari orang Eropa atau Afrika.

Mereka selanjutnya menyarankan bahwa bukti ini bertentangan dengan migrasi keluar dari Afrika. Mereka menyimpulkan bahwa populasi terkait Asia Timur (juga dikenal sebagai ras Mongoloid) berasal dari suatu tempat di Asia Timur (Tiongkok selatan). [3] [4] Macam-macam kelompok agama telah menyatakan keberatan atas teori evolusi umat manusia dari sebuah nenek moyang bersama dengan hominoid lainnya.

Alhasil, muncullah berbagai perbedaan pendapat, percekcokan, dan kontroversi. Lihat penciptaan, argumen evolusi, dan desain kepandaian untuk melihat pola pikir yang berlawanan.

Kerohanian dan Agama [ sunting - sunting sumber ] Bagi kebanyakan manusia, kerohanian, dan agama memainkan peran utama dalam kehidupan mereka. Sering dalam konteks ini, manusia tersebut dianggap sebagai "orang manusia" terdiri dari sebuah tubuh, pikiran, dan juga sebuah roh atau jiwa yang kadang memiliki arti lebih daripada tubuh itu sendiri, dan bahkan kematian. Seperti juga sering dikatakan bahwa jiwa (bukan otak ragawi) adalah letak sebenarnya dari kesadaran (meski tak ada perdebatan bahwa otak memiliki pengaruh penting terhadap kesadaran).

Keberadaan jiwa manusia tak dibuktikan ataupun ditegaskan; konsep tersebut disetujui oleh sebagian orang, dan ditolak oleh lainnya. Juga, yang menjadi perdebatan di antara organisasi agama adalah mengenai benar/tidaknya hewan memiliki jiwa; beberapa percaya mereka memilikinya, sementara lainnya percaya bahwa jiwa semata-mata hanya milik manusia, serta ada juga yang percaya akan jiwa kelompok yang diadakan oleh komunitas hewani, dan bukanlah individu.

Bagian ini akan merincikan bagaimana manusia diartikan dalam istilah kerohanian, serta beberapa cara bagaimana definisi ini dicerminkan melalui ritual dan agama. Animisme [ sunting - sunting sumber ] Animisme adalah kepercayaan bahwa objek, dan gagasan termasuk hewan, perkakas, dan fenomena alam mempunyai atau merupakan ekspresi roh hidup. Dalam beberapa pandangan dunia animisme yang ditemukan di kebudayaan pemburu, dan pengumpul, manusia sering dianggap (secara kasarnya) sama dengan hewan, tumbuhan, dan kekuatan alam.

Sehingga, sikap memperlakukan benda-benda tersebut secara hormat dianggap suatu kewajiban moral. Dalam pandangan dunia ini, manusia dianggap sebagai penghuni, atau bagian, dari alam, bukan sebagai yang lebih unggul atau yang terpisah darinya.

Dalam kemasyarakatan ini, ritual/upacara agama dianggap penting untuk kelangsungan hidup, karena dapat memenangkan kemurahan hati roh-roh sumber makanan tertentu, roh tempat bermukim, dan kesuburan serta menangkis roh berhati dengki. Dalam ajaran animisme yang berkembang, seperti Shinto, ada sebuah makna yang lebih mendalam bahwa manusia adalah sebuah tokoh istimewa yang memisahkan mereka dari segenap benda, dan hewan, sementara masih pula menyisakan pentingnya ritual untuk menjamin keberuntungan, panen yang memuaskan, dan sebagainya.

Kebanyakan sistem kepercayaan animisme mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda erat konsep roh abadi setelah kematian fisik. Dalam beberapa sistem, roh tersebut dipercaya telah beralih ke suatu dunia yang penuh dengan kesenangan, dengan panen yang terus-menerus berkelimpahan atau bahkan permainan yang berlebih-lebih.

Sementara di sistem lain ( misal: agama Nawajo), roh tinggal di bumi sebagai hantu, sering kali yang berwatak buruk. Kemudian tersisa sistem lain yang menyatukan kedua unsur ini, mempercayai bahwa roh tersebut harus berjalan ke suatu dunia roh tanpa tersesat, dan menggeluyur sebagai hantu.

Upacara pemakaman, berkabung dan penyembahan nenek moyang diselenggarakan oleh sanak yang masih hidup, keturunannya, sering dianggap perlu untuk keberhasilan penyelesaian perjalanan tersebut. Ritual dalam kebudayaan animisme sering dipentaskan oleh dukun atau imam ( cenayang), yang biasanya tampak kesurupan tenaga roh, lebih dari atau di luar pengalaman manusia biasa. Pemraktikan tradisi penyusutan kepala sebagaimana ditemukan di beberapa kebudayaan, berasal dari sebuah kepercayaan animisme bahwa seorang musuh perang, jika rohnya tak terperangkap di kepala, dapat meloloskan diri dari tubuhnya dan, setelah roh itu berpindah ke tubuh lain, mengambil bentuk hewan pemangsa, dan pembalasan setimpal.

mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda

Mistikme [ sunting - sunting sumber ] Barangkali merupakan praktik kerohanian, dan pengalaman, tetapi tidak harus bercampur dengan theisme atau lembaga agama lain yang ada di berbagai masyarakat. Pada dasarnya gerakan mistik termasuk Vedanta, Yoga, Buddhisme awal (lihat pula Kerajaan manusia), tradisi memuja Eleusis, perintah mistik Kristiani, dan pengkhotbah seperti Meister Eckhart, dan keislaman Sufisme.

Mereka memusatkan pada pengalaman tak terlukiskan, dan kesatuan dengan supranatural (lihat pencerahan, kekekalan). Dalam mistikme monotheis, pengalaman mistik memfokuskan kesatuan dengan Tuhan. Politheisme [ sunting - sunting sumber ] Konsep dewa sebagai makhluk yang sangat kuat kepandaiannya atau supernatural, kebanyakan dikhayalkan sebagai anthropomorfik atau zoomorfik, yang ingin disembah atau ditentramkan oleh manusia, dan ada sejak permulaan sejarah, dan kemungkinan digambarkan pada kesenian Zaman Batu pula.

Dalam masa sejarah, tatacara pengorbanan berevolusi menjadi adat agama berhala dipimpin oleh mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda (misal: agama Vedik, (pemraktekan kependetaan berkelanjutan dalam Hinduisme, yang namun telah mengembangkan teologi monotheis, seperti penyembahan berhala theisme monistik, Mesir, Yunani, Romawi dan Jerman).

Dalam agama tersebut, manusia umumnya diciri-cirikan dengan kerendahan mutunya kepada dewa-dewa, kadang-kadang dicerminkan dalam masyarakat berhierarki diperintah yang oleh dinasti-dinasti yang menyatakan keturunan sifat ketuhanan/kedewaan. Dalam agama yang mempercayai reinkarnasi, terutama Hinduisme, tak ada batasan yang kedap di antara hewan, manusia, dan dewa, karena jiwa dapat berpindah di seputar spesies yang berbeda tanpa kehilangan identitasnya.

Monotheisme [ sunting - sunting sumber ] Gagasan dari suatu Tuhan tunggal yang menggabungkan, dan melampaui semua dewa-dewa kecil tampak berdiri sendiri dalam beberapa kebudayaan, kemungkinan terwujud pertama kali dalam bida’ah/klenik Akhenaten (lebih dikenal sebagai Henotheisme, tahap umum dalam kemunculan Monotheisme). Konsep dari kebaikan, dan kejahatan dalam sebuah pengertian moral timbul sebagai sebuah konsekuensi Tuhan tunggal sebagai otoritas mutlak.

Dalam agama Yahudi, Tuhan adalah pusat dalam pemilihan orang Yahudi sebagai rakyat, dan dalam Kitab Suci Yahudi, takdir komunitas, dan hubungannya dengan Tuhan mempunyai hak istimewa yang jelas (harus diutamakan) di atas takdir individu.

Kekristenan bertumbuh keluar dari agama Yahudi dengan menekankan takdir individual, khususnya setelah kematian, dan campur tangan pribadi Tuhan dengan adanya inkarnasi, yaitu dengan menjadi manusia selama sementara. Islam, walaupun menolak kepercayaan kristiani untuk Tritunggal dan inkarnasi ketuhanan, islam dalam melihat manusia sebagai Khalifah (Pemimpin) dari segala makhluk Tuhan yang memiliki keutamaan dari segala makhluk, dan satu-satunya makhluk yang memiliki akal dan nafsu.

Julukan yang diberikan kepada manusia dalam Islam adalah Bani Adam. Dalam semua agama Abrahamik, manusia adalah penguasa, atau pengurus, di atas seluruh muka Bumi, dan semua makhluk lain, dan memiliki moral hati nurani yang unik.

Hinduisme, juga belakangan mengembangkan teologi monotheis seperti theisme monistik, yang berbeda dari pikiran Barat mengenai monotheis. Agama monotheistik mempunyai kemiripan dalam kepercayaan bahwa umat manusia diciptakan oleh Tuhan, diikat oleh kewajiban kasih sayang, dan dirawat oleh pemeliharaan baik kaum/pihak ayah.

Sang Individu [ sunting - sunting sumber ] Manusia individu adalah subjek yang mengalami kondisi manusia. Ini diikatkan dengan lingkungannya melalui indra mereka, dan dengan masyarakat melalui kepribadian mereka, jenis kelamin mereka serta status sosial.

Selama kehidupannya, ia berhasil melalui tahap bayi, kanak-kanak, remaja, kematangan dan usia lanjut. Deklarasi universal untuk hak asasi diadakan untuk melindungi hak masing-masing individu. Hati dan kesadaran [ sunting - sunting sumber ] Pengalaman subjektif dari seorang individu berpusat di sekitar kesadarannya, kesadaran-diri atau pikiran, memperbolehkan adanya persepsi eksistensinya sendiri, dan dari perjalanan waktu.

Kesadaran memberikan naiknya persepsi akan kehendak bebas, meskipun beberapa percaya bahwa kehendak bebas sempurna adalah khayalan yang menyesatkan, dibatasi atau dilenyapkan oleh penentuan takdir atau sosial atau biologis. Hati manusia diperluas mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda luar kesadaran, mencakup total aspek mental, dan emosional individu.

Ilmu pengetahuan psikologi mempelajari hati manusia (psike), khususnya alam bawah sadar ( tak sadar). Praktik psikoanalisis yang dirancang oleh Sigmund Freud mencoba menyingkap bagian dari alam bawah sadar. Freud menyusun diri manusia menjadi Ego, Superego, dan Id.

Carl Gustav Jung memperkenalkan pemikiran alam bawah sadar kolektif/bersama, dan sebuah proses pengindividuan, menuangkan keragu-raguan untuk ketepatan pendefinisian individu ‘yang dapat diartikan’.

Emosi [ sunting - sunting sumber ] Individu manusia terbuka terhadap emosi yang besar memengaruhi keputusan serta tingkah laku mereka. Emosi menyenangkan seperti cinta atau sukacita bertentangan dengan emosi tak menyenangkan seperti kebencian, cemburu, iri hati atau sakit hati. Seksualitas [ sunting - sunting sumber ] Seksualitas manusia, di samping menjamin reproduksi, mempunyai fungsi mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda penting, membuat ikatan/pertalian, dan hierarki di antara individu.

Hasrat seksual dialami sebagai sebuah dorongan/keinginan badani, sering disertai dengan emosi kuat positif (seperti cinta atau luapan kegembiraan) dan negatif (seperti kecemburuan/ iri hati atau kebencian). Tubuh [ sunting - sunting sumber ] penampilan fisik tubuh manusia adalah pusat kebudayaan dan kesenian. Dalam setiap kebudayaan manusia, orang gemar memperindah tubuhnya, dengan tato, kosmetik, pakaian, perhiasan atau ornamen serupa.

Model rambut juga mempunyai pengertian kebudayaan penting. Kecantikan atau keburukan rupa adalah kesan kuat subjektif dari penampilan seseorang.

Kebutuhan individu terhadap makanan dan minuman teratur secara jelas tercermin dalam kebudayaan manusia (lihat pula ilmu makanan). Kegagalan mendapatkan makanan secara teratur akan berakibat rasa lapar dan pada akhirnya kelaparan (lihat juga malagizi).

Rata-rata waktu tidur (dengan nilai minimal) adalah 8 jam per hari untuk dewasa, dan 10 jam untuk anak-anak. Orang yang lebih tua biasanya tidur selama 6 jam. Sudah umum, namun dalam masyarakat modern bagi orang-orang untuk mendapat waktu tidur kurang dari yang mereka butuhkan.

Tubuh manusia akan mengalami proses penuaan dan penyakit. Ilmu pengobatan adalah ilmu pengetahuan yang menelusuri metode penjagaan kesehatan tubuh.

Kelahiran dan kematian [ sunting - sunting sumber ] Kehidupan subjektif individu berawal pada kelahirannya, atau dalam fase kehamilan terdahulu, selama janin berkembang di dalam tubuh ibu.

Kemudian kehidupan berakhir dengan kematian individu. Kelahiran, dan kematian sebagai peristiwa luar biasa yang membatasi kehidupan manusia, dapat mempunyai pengaruh hebat terhadap individu tersebut.

Kesulitan selama melahirkan dapat berakibat trauma dan kemungkinan kematian dapat menyebabkan rasa keberatan (tak mudah) atau ketakutan (lihat pula pengalaman hampir meninggal).

Upacara penguburan adalah ciri-ciri umum masyarakat manusia, sering diinspirasikan oleh kepercayaan akan adanya kehidupan setelah kematian. Adat kebiasaan warisan atau penyembahan nenek moyang dapat memperluas kehadiran sang individu di luar rentang usia fisiknya. (lihat kekekalan) Masyarakat [ sunting - sunting sumber ] Meskipun banyak spesies berprinsip sosial, membentuk kelompok berdasarkan ikatan/pertalian genetik, perlindungan-diri, atau membagi pengumpulan makanan, dan penyalurannya, manusia dibedakan dengan rupa-rupa, dan kemajemukan dari adat kebiasaan yang mereka bentuk entah untuk kelangsungan hidup individu atau kelompok, dan untuk pengabadian, dan perkembangan teknologi, pengetahuan, serta kepercayaan.

Identitas kelompok, penerimaan, dan dukungan dapat mendesak pengaruh kuat pada tingkah laku individu, tetapi manusia juga unik dalam kemampuannya untuk membentuk, dan beradaptasi ke kelompok baru. Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang menjelaskan interaksi antar manusia.

Bahasa [ sunting - sunting sumber ] Kecakapan ber pidato adalah sebuah unsur pendefinisian umat manusia, mungkin mendahului pemisahan populasi modern filogenetik (lihat Asal usul bahasa). Bahasa adalah pusat dari komunikasi antar manusia. Kata Yahudi untuk "binatang" ( behemah) berarti "bisu", menggambarkan manusia sebagai "binatang berbicara" ( kepandaian bercakap hewani). Bahasa adalah pusat dari sentuhan identitas ‘khas’ berbagai kebudayaan atau kesukuan dan sering diceritakan mempunyai status atau kekuatan supernatural (lihat Sihir/ Gaib, Mantra, Vac).

Penemuan sistem penulisan sekitar 5000 tahun lalu, yang memungkinkan pengabadian ucapan, merupakan langkah utama dalam evolusi kebudayaan. Ilmu pengetahuan Linguistik ( ilmu bahasa) menjelaskan susunan bahasa, dan keterkaitan antara bahasa-bahasa berbeda.

Diperkirakan ada 6000 bahasa yang diucapkan manusia saat ini. Manusia yang kekurangan kemampuan berkomunikasi melalui ucapan, umumnya bercakap-cakap menggunakan Bahasa Isyarat. Agama [ sunting - sunting sumber ] Dalam setiap kebudayaan manusia, kerohanian dan ritual mendapat ekspresi dalam bentuk tertentu. Elemen-elemen ini dapat menggabungkan secara penting pengalaman pribadi dengan pengalaman penyatuan, dan komunal, sering kali membangkitkan emosi yang sangat kuat, dan bahkan luapan kegembiraan.

Kekuatan pengikat yang kuat dari pengalaman tertentu dapat kadang-kadang menimbulkan kefanatikan atau agresi kepada manusia lain yang tidak termasuk dalam kelompok agamanya, berakibat perpecahan atau bahkan perang.

mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda

Teokrasi adalah masyarakat yang dibentuk secara dominan oleh agama, diperintah oleh pemimpin suci atau oleh seorang pemuka agama. Agama dapat pula berperilaku sebagai alat penyaluran, dan pengaruh dari norma budaya dunia, dan tingkah laku yang wajar dilakukan manusia.

Keluarga dan teman se pergaulan [ sunting - sunting sumber ] Saudara kandung Individu manusia dibiasakan untuk bertumbuh menjadi seorang pelengkap yang berjiwa kuat ke dalam suatu kelompok kecil, umumnya termasuk keluarga biologis terdekatnya, ibu, ayah dan saudara kandung.

Sebagai seorang pelengkap berjiwa kuat yang serupa dapat dikelirukan dengan suatu kelompok kecil yang sama, yaitu teman sepergaulan sebaya sang individu, umumnya berukuran antara sepuluh hingga dua puluh individu, kemungkinan berkaitan dengan ukuran optimal untuk gerombolan pemburu. Dinamika kelompok dan tekanan dari teman dapat memengaruhi tingkah laku anggotanya. Seorang individu akan mengembangkan perasaan kesetiaan yang kuat kepada kelompok tertentu.

Kelakuan manusia yang wajar termasuk seringnya hubungan sosial, dinyatakan dalam obrolan/percakapan, dansa, menyanyi atau cerita (dikenal dengan curhat).

Suku, bangsa dan negara bagian [ sunting - sunting sumber ] Kelompok manusia yang lebih besar dapat disatukan dengan gagasan kesamaan nenek moyang ( suku, etnis) atau kesamaan fokus budaya atau materi ( bangsa atau negara bagian), sering dibagi lebih lanjut menurut struktur kelas sosial dan hierarki. Sebuah suku dapat terdiri dari beberapa ratus individu, sementara negara bagian modern terbesar berisi lebih dari semilyar.

Konflik kekerasan di antara kelompok-kelompok besar disebut peperangan. Kesetiaan/pengabdian untuk kelompok yang besar seperti ini disebut nasionalisme atau patriotisme. Dalam keekstreman, perasaan pengabdian terhadap sebuah lembaga atau kewenangan dapat mencapai keekstreman pathologi, yang berakibat hysteria massa (gangguan saraf) atau fasisme.

Antropologi budaya menjelaskan masyarakat manusia yang berbeda-beda, dan sejarah mencatat interaksi mereka berikut kesuksesan yang dialami. Organisasi, dan pemerintahan bentuk modern dijelaskan oleh Ilmu Politik dan Ekonomi.

Kebudayaan dan peradaban [ sunting - sunting sumber ] Sebuah peradaban adalah sebuah masyarakat yang telah mencapai tingkat kerumitan tertentu, umumnya termasuk perkotaan dan pemerintahan berlembaga, agama, iptek, sastra, serta filsafat. Perkotaan paling awal mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda dunia ditemukan di dekat rute perdagangan penting kira-kira 10.000 tahun lalu ( Yeriko, Çatalhöyük). Kebudayaan manusia, dan ekspresi seni mendahului peradaban, dan dapat dilacak sampai ke palaeolithik ( lukisan goa, arca Venus, tembikar/pecah belah dari tanah).

Kemajuan pertanian memungkinkan transisi dari masyarakat pemburu dan pengumpul atau nomadik menjadi perkampungan menetap sejak Milenium ke-9 SM.

Penjinakan hewan menjadi bagian penting dari kebudayaan manusia ( anjing, domba, kambing, lembu). Dalam masa sejarah ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang bahkan lebih pesat (lihat Sejarah iptek). Renungan diri [ sunting - sunting sumber ] Umat manusia selalu mempunyai perhatian yang hebat akan dirinya sendiri. Kecakapan manusia untuk mengintrospeksi diri, keinginan individu untuk menjelajahi lebih mengenai intisari diri mereka, tanpa terkecuali menghasilkan berbagai penyelidikan mengenai kondisi manusia merupakan pokok jenis manusia secara keseluruhan.

Renungan diri adalah dasar dari filsafat dan telah ada sejak awal pencatatan sejarah. Artikel ini misalnya, karena ditulis oleh manusia, dengan sendirinya tak dapat luput dari contoh refleksi diri. Manusia kerap menganggap dirinya sebagai spesies dominan di Bumi, dan yang paling maju dalam kepandaian, dan kemampuannya mengelola lingkungan.

Kepercayaan ini khususnya sangat kuat dalam kebudayaan Barat, dan berasal dari bagian dalam cerita penciptaan di Alkitab yang mana Adam secara khusus diberikan kekuasaan atas Bumi, dan semua makhluk. Berdampingan dengan anggapan kekuasaan manusia, kita sering menganggap ini agak radikal karena kelemahan, dan singkatnya kehidupan manusia (Dalam Kitab Suci Yahudi, misalnya, kekuasaan manusia dijanjikan dalam Kejadian 1:28, tetapi pengarang kitab Pengkhotbah meratapi kesia-siaan semua usaha manusia).

Ahli filsafat Yahudi, Protagoras telah membuat pernyataan terkenal bahwa "Manusia adalah ukuran dari segalanya; apa yang benar, benarlah itu; apa yang tidak, tidaklah itu". Aristotle mendeskripsikan manusia sebagai "hewan komunal" (ζωον πολιτικον), yaitu menekankan pembangunan masyarakat sebagai pusat pembawaan alam manusia, dan "hewan dengan sapien" (ζωον λογον εχων, dasar rasionil hewan), istilah yang juga menginspirasikan taksonomi spesies, Homo sapiens.

Pandangan dunia dominan pada abad pertengahan Eropa berupa keberadaan manusia yang diciri-cirikan oleh dosa, dan tujuan hidupnya adalah untuk mempersiapkan diri terhadap pengadilan akhir setelah kematian. Pencerahan/pewahyuan digerakkan oleh keyakinan baru, bahwa, dalam perkataan Immanuel Kant, "Manusia dibedakan di atas semua hewan dengan kesadaran-dirinya, yang mana ia adalah 'hewan rasionil'". Pada awal abad ke-20, Sigmund Freud melancarkan serangan serius kepada positivisme mendalilkan bahwa kelakuan manusia mengarah kepada suatu bagian besar yang dikendalikan oleh pikiran bawah sadar.

Dari titik pandang ilmiah, Homo sapiens memang berada di antara spesies yang paling tersama-ratakan di Bumi, dan hanya ada sejumlah kecil spesies tunggal yang menduduki lingkungan beraneka-ragam sebanyak manusia. Rupa-rupa usaha telah dibuat untuk mengidentifikasikan sebuah ciri-ciri kelakuan tunggal yang membedakan manusia dari semua hewan lain, misal: Kemampuan untuk membuat, dan mempergunakan perkakas, kemampuan untuk mengubah lingkungan, bahasa, dan perkembangan struktur sosial majemuk.

Beberapa ahli antropologi berpikiran bahwa ciri-ciri yang siap diamati ini (pembuatan-perkakas, dan bahasa) didasarkan pada kurang mudahnya mengamati proses mental yang kemungkinan unik di antara manusia: kemampuan berpikir secara simbolik, dalam hal abstrak atau secara logika. Adalah susah, namun, untuk tiba pada suatu kelompok atribut yang termasuk semua manusia, dan hanya manusia, dan harapan untuk menemukan ciri-ciri unik manusia yang adalah masalah dari renungan-diri manusia lebih daripada suatu masalah zoologi.

Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Antropologi • Homo, Humanoid • Rakyat • Ras manusia • Bologi manusia • Evolusi manusia • Populasi dunia • Tuhan • Jiwa • Atman • Karma • Mistik • Ritual • Kegembiraan meluap • Pengorbanan • Korban • Keselamatan • Kebangkitan • Inkarnasi • Reinkarnasi • Doa • Pemujaan • Moralitas • Hati nurani Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b Groves, C.P.

(2005). Wilson, D.E.; Reeder, D.M., ed. Mammal Species of the World: A Taxonomic and Geographic Reference (edisi ke-3). Baltimore: Johns Hopkins University Press. ISBN 0-801-88221-4. OCLC 62265494. • ^ Global Mammal Assessment Team (2008). " Homo sapiens". The IUCN Red List of Threatened Species. 2008: e.T136584A4313662. doi: 10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T136584A4313662.en. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 December 2017.

Diakses tanggal 12 May 2020. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Yuan, Dejian; Lei, Xiaoyun; Gui, Yuanyuan; Wang, Mingrui; Zhang, Ye; Zhu, Zuobin; Wang, Dapeng; Yu, Jun; Huang, Shi (2019-06-09). "Modern human origins: multiregional evolution of autosomes and East Asia origin of Y and mtDNA". bioRxiv (dalam bahasa Inggris): 101410. doi: 10.1101/101410. • ^ Chen, Hongyao; Zhang, Ye; Huang, Shi (2020-03-11).

"Ancient Y chromosomes confirm origin of modern human paternal lineages in Asia rather than Africa". bioRxiv (dalam bahasa Inggris): 2020.03.10.986042. doi: 10.1101/2020.03.10.986042. Pustaka [ sunting - sunting sumber ] • Jablonski, N.G. & Chaplin, G. "Evolusi pewarnaan kulit manusia." Catatan Teratur Evolusi Manusia 39 (2000) 57-106. ( dalam bentuk pdf Diarsipkan 2012-01-14 di Wayback Machine.) • Robins, A.H. Perspektif Biologis pada Pigmentasi Manusia. Cambridge: Cambridge University Press, 1991.

Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Manusia. Wikispecies mempunyai informasi mengenai Homo sapiens.

• Sekilas Asal Mula Manusia Modern • Pohon Kehidupan • Nicholas Wade. " Mengapa Manusia Terpisah Dengan Bulunya." New York Times (Science Times), 19 Agustus 2003. Ringkasan petunjuk untuk hikayat di mana manusia berevolusi hingga luput dari rambutnya, dan harus menyesuaikan, termasuk perubahan dari kulit putih ke kulit hitam, bersama dengan perkiraan waktu ketika manusia menemukan pakaian. • W. Gitt. Keinginan Manusia Diarsipkan 2007-10-01 di Wayback Machine. (1999) Sebuah buku yang mendukung pandangan penciptaan Kristiani dari biologi manusia.

( PDF, 9 MB) • Wikidata: Q15978631 • Wikispecies: Homo sapiens • ADW: Homo_sapiens • BOLD: 12439 • EoL: 327955 • EPPO: HOMXSA • Fossilworks: 83088 • GBIF: 2436436 • iNaturalist: 43584 • IRMNG: 10857762 • ITIS: 180092 • IUCN: 136584 • MSW: 12100795 • NBN: NHMSYS0000376773 • NCBI: 9606 • NZOR: d83185ac-1aa6-4f59-8645-fe8c040857b3 • TSA: 8319 • uBio: 109086 • WoRMS: 1455977 • ZooBank: 58D31D52-713D-44B4-9FE9-CB2D9249C422 Mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda tersembunyi: • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Artikel yang membutuhkan referensi tambahan April 2022 • Semua artikel yang membutuhkan referensi tambahan • Infobox mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda menggunakan parameter tidak dikenal • Templat webarchive tautan wayback • Pranala Commons ditentukan secara lokal • Taxonbar pada halaman yang kemungkinan non-takson • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda BNF • Artikel Wikipedia dengan mengapa tokoh dalam cerita memiliki watak yang berbeda-beda EMU • Artikel Wikipedia dengan penanda NLI • Artikel Wikipedia dengan penanda NARA • Artikel Wikipedia dengan penanda TDVİA • Halaman ini terakhir diubah pada 5 April 2022, pukul 08.02.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •

B INDO TEMA 8 SUBTEMA 2




2022 www.videocon.com