Gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh

gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh

Perkembangan Gerak Anak Kecil Perkembangan gerak anak usia TK dipengaruhi oleh perkembangan gerak yang terjadi pada masa bayi. Semakin bayi diberikan kesempatan untuk melakukan berbagai hal sederhana, maka semakin pesat perkembangan geraknya di usia TK. Pengertian Motor dan Movement Dalam terjemahan Bahasa Indonesia umum, keduanya berarti sama yaitu sebuah gerak atau gerakan.

Namun secara khusus, sebenarnya keduanya memiliki arti yang berbeda. Motor adalah gerakan internal, konstan, dan sukar diamati Movement adalah gerakan eksternal dan mudah diamati 2 • Company About Us Scholarships Sitemap Q&A Archive Standardized Tests Education Summit • Get Course Hero iOS Android Chrome Extension Educators Tutors • Careers Leadership Careers Campus Rep Program • Help Contact Us FAQ Feedback • Legal Copyright Policy Academic Integrity Our Honor Code Privacy Policy Terms of Use Attributions • Connect with Us College Life Facebook Twitter LinkedIn YouTube Instagram KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGAveryl Baline Mattahati (13), saat berlatih secara daring melalui aplikasi di rumahnya di Lengkong Gudang Timur, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten, Jumat (26/5/2020).

Di tengah Pandemi Covid-19, atlet Averyl Baline Mattahati yang tergabung dengan Gavrila Gymnastics Club Jakarta tetap berlatih secara daring untuk menjaga kebugaran tubuh. KOMPAS.com - Olahraga selalu identik dengan kegiatan penuh gerakan. Gerakan juga bisa menunjukkan kemampuan seseorang terkait levelnya. Namun, pada umumnya ada tiga dasar dalam keterampilan atau kemampuan gerak.

Tiga keterampilan dasar inilah yang selanjutnya bisa menjadi patokan seseorang, khususnya anak usia dini, untuk melanjutkan ke spesialisasinya masing-masing. Dalam materi buku Pendidikan Jasmani Untuk Sekolah Dasar, tiga keterampilan dasar tersebut meliputi: • Gerakan Lokomotor Gerak lokomotor adalah kegiatan di mana bagian tubuh tertentu bergerak atau berpindah tempat.

Sebagai contoh, gerak berjalan dan melompat disebut gerak lokomotor karena berpindah tempat. Baca juga: Rangkaian Gerak Sikap Lilin dalam Senam Lantai • Gerakan Nonlokomotor Jenis gerakan ini berbanding terbalik dengan gerak lokomotor karena gerakan nonlokomotor adalah gerakan yang tidak berpindah tempat. Artinya, sebagian anggota tubuh tertentu saja yang digerakkan. Contohnya yaitu menari, mendorong, memutar, hingga menekuk.

• Gerakan Manipulatif Adapun gerakan manipulatif adalah gerakan yang melibatkan tindakan mengontrol suatu objek khususnya dengan tangan dan kaki. Sebagai contoh, melempar bola kasti ke arah sasaran termasuk gerak manipulatif. Baca juga: 4 Teknik Dasar Renang Gaya Dada Keterampilan dari gerakan manipulatif dibedakan menjadi tiga bagian, di antaranya: • Menjauhkan obyek: memukul, menendang, melempar.

• Menaikkan kemampuan: menangkap, mengambil, memetik bola di udara • Bergerak bersama: membawa, men-dribble bola Dari tiga keterampilan dasar tersebut, bisa saja seseorang melakukan variasi dua atau tiga gerakan. Misalnya dalam sepak bola, yakni variasi antara gerak nonlokomotor dengan kombinasi gerak dasar manipulatif adalah menarik dan mengayun kaki dengan menendang bola.

Baca juga: PRSI: Induk Olahraga Renang Indonesia Menarik dan mengayun kaki adalah gerakan nonlokomotor atau tidak berpindah, sementara menendang bola adalah gerakan manipulatif. Hasil Piala Menpora Persikabo Vs PSIS, Kado Indah untuk Panser Biru https://bola.kompas.com/read/2021/03/25/17173778/hasil-piala-menpora-persikabo-vs-psis-kado-indah-untuk-panser-biru https://asset.kompas.com/crops/z0Xg0PMI4iEnIhgDX28t5ZyOobc=/0x0:1280x853/195x98/data/photo/2021/03/21/60573a45e66c6.jpeg
• Pengertian Gerak Manipulatif • Menurut para ahli gerak manipulatif yaitu : • 1.

Menurut Pramono Dkk (2019 : 9) • 2. Menurut Sujiono (2007 : 12.4) • Contoh gerak gerakmanipulatif • Related Posts Assalamu’alaikum kali ini Penaindo.com akan membahas tentang contoh gerakan manipulatif dan pengertian dari manipulatif. Berikut penjelasannya Pengertian Gerak Manipulatif Apa pengertian gerak manifulatif?

Gerak manipulatif yaitu gerak dengan memakai perlengkapan yang geraknya dibesarkan kala anak tengah memahami berbagai objek. Dimana gerak gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh artinya gerak yang lebih banyak mengkaitkan dengan kaki. Atau dalam pengertian lain gerak manipulatif merupakan gerakan yang mengontrol suatu objek khususnya dengan tangan dan kaki.

Gerak gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh terbagi atas 2 keterampilan yaitu reseptif dan propulsif. Dimana keterampilan reseptif yaitu menerima suatu objek contoh menangkap, sedangkan propulsif memiliki ciri pengesahan gaya atau kekuatan terhadap suatu objek, contoh memukul, memantul, melempar.

Menurut para ahli gerak manipulatif yaitu : 1. Menurut Pramono Dkk (2019 : 9) Yaitu gerak manipulatif merupakan gerak memainkan benda atau alat tertentu contoh bola, raket, pemukul atau kayu.

Misal melempar, menggiring, menendang, menangkap, memantul – mantulkan bola, melambungkan. 2. Menurut Sujiono (2007 : 12.4) Yaitu gerak manipulatif merupakan aktifitas yang dilakukan tubuh dengan bantuan alat.

gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh

Baca juga : Perbedaan Gaya dan Gerak Contoh gerak gerakmanipulatif Terdapat contoh yang termasuk kedalam gerak manipulatif. Berikut ini contoh gerakan manipulatif : • Menendang Menendang merupakan gerak manipulatif yang memakai kaki buat memukul objek.

Gerakan menendang bisa dicoba dalam 2 wujud, yaitu menendang obyek yang terdapat ditanah serta menendang obyek yang terdapat di hawa • Melempar Melempar merupakan sesuatu keahlian manipulatif dimana satu ataupun 2 tangan digunakan untuk melontarkan sesuatu objek untuk menghindari badan ke ruang tertentu. • Menggiring Menggiring merupakan gerakan bawa obyek dari satu tempat ke tempat lain dengan memakai tangan ataupun kaki. Gerakan ini memerlukan koordinasi yang baik antara mata dengan kaki ataupun mata dengan tangan • Menangkap Menangkap merupakan gerakan menghentikan momentum sesuatu obyek dengan memakai tangan.

Gerakan tersebut dipengaruhi oleh keahlian visual buat menjajaki gerakan obyek • Menggelinding Menggelinding merupakan obyek dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain dengan metode digelindingkan di tanah ataupun dilantai ke arah tertentu. Obyek yang kerap digunakan umumnya gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh bundaran, ban, bola, cakram dll. Keahlian manipulatif terbagi 3 bagian yaitu : • Menjauhkan obyek : Melontarkan, menendang, memukul • Bergerak bersama : Memantul – mantulkan (dribbling), bawa • Menaikkan kemampuan : menangkap, mengambil, mengumpulkan Pertumbuhan gerak manipulatif adalah sesuatu keahlian memanipulasi obyek dengan sembari bergerak.

Keahlian melontarkan serta menangkap jadi salah satu keahlian manipulatif sangat dibutuhkan pada masa pertumbuhan. Demikian artikel dari penaindo.com tentang pengertian dan contoh gerak manipulatif semoga bermanfaat untuk penulis dan pembaca. Terima kasih telah berkunjung dan jangan lupa untuk membaca artikel lainnya. Wassalamu’alaikum MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) 15.1.

Sebarkan ini: Pengertian Fisiologi Fisiologi adalah cabang biologi yang mempelajari tentang berlansungnya sistem kehidupan. Istilah fisiologi dipinjam dari bahasa Belanda, physiologie, yang terdiri dua kata Yunani Kuna physis yang berarti “kajian”. Istilah “faal” diambil dari bahsa Arab, berarti ” logia, yang mempunayi arti (kajian). Dalam istilah “faal” di ambil dari bahasa Arab, dengan arti”pertanda”, “fungsi”, “kerja”. Fisiologi memakai bermacam metode untuk mempelajari biomolekul, jaringan, sel, organ, organisme dan sistem organ dengan secara keseluruhan mejalankan fungsi kimiawi dan fisiknya untuk mendukung kehidupan.

gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh

Fisikologi ialah salah satu bidang ilmu yang menjadi suatu objek pemberian Perhargaan Nobel (Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran). Fisiologi Hewan Fisiologi heawan dari motode serta peralatan yang dipakai untuk mempelajari fisiologi manusia yang kemudia meluas pada spesies hewan kecuali manusia.

Fisiologi tumbuhan banyak memakai teknik dari kedua bidang tersebut. Yang mencakup fisiologi hewan yakni seluruh makhluk hidup. Banyaknya subjek yang mengakibatkan penelitian pada bidang fisiologi pada hewan lebih mengarah pada pemahaman bagaimana ciri fisiologi berubah sepanjang sejarah evolusi hewan. Sejarah Singkat Ilmu fisiologi manusia diawali sekitar tahun 420sm sampai pada zaman Hipokrates, yang juda dikenal sebagai bapak kedokteran. Hasil pemikiran yang keritis dari Aristoteles serta perhatiannya pada hubungan antara setruktur serta fungsi menandai dimulainya ilmu fisiologi pada Yunani Kuno.

Jean Fernel, seseorang peneliti berkewarganegaraan Prancis memperkenalkan istilah “fisiologi” pada tahun 1525. Namun fisiologi eksperimental baru diawali pada abad ke-17, saat ahli anatomi William Harvey menjelaskan adanya sirkulasi darah.

Heran Boerhaave sering disebut sebagai bapak fisiologi sebab karyanya berupa buka teks berjudul Institusiones Medicae (1708) serta cara manjarnya yang cemerlang di Leiden. Fisiologi Manusia Berdasarkan objek suatu kajiannya dikenal fisiologi manusia, fisiologi hewan, dan tumbuhan, walaupun prinsip fisiologi bersifat universal, tidak bergantung pada jeni organisme yang dipelajari.

Misalnya apa yang dikaji pada fisiologi sel khamir bisa juga diterapkan pada seluruh sel manusia. Fisiologi manusia adalah ilmu mekanis, fisik, dan biokimia fungsi manusia yang sehat, organ-organ mereka, dan sel-sel yang mereka tersusun. Tingkat utama fokus dari fisiologi adalah pada tingkat organ dan sistem[1].

Sebagian besar aspek fisiologi manusia homolog erat dengan aspek-aspek terkait fisiologi hewan, dan hewan percobaan telah memberikan banyak dari dasar pengetahuan fisiologis. Anatomi dan gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh berhubungan erat dengan bidang studi: anatomi, studi tentang bentuk, dan fisiologi, mempelajari fungsi, secara intrinsik terikat dan dipelajari bersama-sama sebagai bagian dari kurikulum medis[1].

Studi tentang fisiologi manusia setidaknya kembali ke tanggal 420 SM dan juga pada zaman Hippocrates, bapak kedokteran [4]. Pemikiran kritis Aristoteles dan penekanannya pada hubungan antara struktur dan fungsi menandai perjalanan awal fisiologi di Yunani Kuno, sementara Claudius Galenus (126-199 M), dikenal sebagai Galen, adalah orang pertama yang menggunakan eksperimen untuk menyelidiki fungsi tubuh. Galen adalah pendiri fisiologi eksperimental [5] di dunia medis pindah dari Galenism hanya dengan penampilan Andreas Vesalius dan William Harvey.[6] Selama Abad Pertengahan, tradisi kuno medis Yunani dan India telah dikembangkan lebih lanjut oleh dokter Muslim.

Pekerjaan penting dalam periode ini dilakukan oleh Ibnu Sina (980-1037), penulis The Canon of Medicine, dan Ibn al-Nafis (1213-1288), antara lain. Setelah dari Abad Pertengahan, Masa Renaissance membawa peningkatan penelitian fisiologis di dunia Barat yang memicu studi modern anatomi dan fisiologi. Andreas Vesalius adalah seorang penulis dari salah satu buku yang paling berpengaruh pada anatomi manusia, De humani corporis fabrica [7].

Vesalius sering disebut sebagai pendiri anatomi manusia modern. [8] ahli anatomi William Harvey menjelaskan sistem peredaran darah dalam 17 abad, [9] menunjukkan kombinasi yang bermanfaat dari pengamatan dekat dan eksperimen berhati-hati untuk belajar tentang fungsi tubuh, yang fundamental bagi perkembangan fisiologi eksperimental. Herman Gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh kadang-kadang disebut sebagai bapak fisiologi karena menjadi pengajar yang berhasi di Leiden serta buku karena teksnya, Institutiones medicae (1708).

Pada abad ke-18, karya-karya penting di bidang ini dikembangkan dan diteliti oleh Pierre Cabanis, seorang dokter Perancis dan fisiologi. Pada abad ke-19, pengetahuan fisiologis mulai berkembang dengan kecepatan tinggi, khususnya dengan adanya 1.838 dari teori dari Matthias Schleiden dan Theodor Schwann. Hal ini secara radikal menyatakan bahwa organisme yang terdiri dari satuan yang disebut sel.

(1813-1878) Claude Bernard menemukan teori lebih lanjut, yang pada akhirnya menggagas konsepnya mengenai lingkungan interieur (lingkungan internal), yang kemudian akan diambil dan diperjuangkan sebagai “homeostasis” oleh American fisiolog Walter Cannon (1871-1945).

Pada abad ke-20, ahli biologi juga menjadi tertarik pada bagaimana organisme selain fungsi manusia, akhirnya pemijahan bidang fisiologi dan komparatif Ekofisiologi [10]. Tokoh utama dalam bidang ini termasuk Knut Schmidt-Nielsen dan George Bartholomew.

Baru-baru ini, fisiologi evolusi telah menjadi subdisiplin yang berbeda. [11] Dasar biologis studi fisiologi, integrasi mengacu pada tumpang tindih fungsi banyak sistem tubuh manusia, serta bentuk yang didampingi. Hal ini dicapai melalui komunikasi yang terjadi dalam berbagai cara, baik listrik dan kimia.

Dalam hal tubuh manusia, sistem endokrin dan saraf memainkan peran utama dalam penerimaan dan transmisi sinyal yang mengintegrasikan fungsi.

Homeostasis mer Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Rongga Udara Teratai – Definisi, Anatomi, Morfologi, Fisiologi, Habitat, Manfaat, Kelimpahan, Karakteristik Ruang Lingkup Fisiologi Hewan Setiap individu hams menyelenggarakan fungsi kehidupannya seperti makan, bernafas, bergerak dan bereproduksi.

Setiap fungsi kehidupan hams diatur dan dikendalikan dengan cara tertentu agar hewan dapat tetap hidup. Mekanisme kerja fungsi kehidupan dan segala sesuatu yang dilakukan hewan merupakan inti kajian dalam fisiologi hewan.

Dengan demikian fisiologi hewan adalah ilmu yang mempelajari fungsi normal tubuh dan berbagai gejala yang ada pada sistem hidup, serta pengaturan atas segala fungsi dalam sistem tersebut atau dengan kata lain ilmu yang mempelajari fungsi, mekanisme, dan cara kerja organ.

Atau fisiologi juga dapat didefinisikan menjadi: Ilmu yang mempelajari tentang proses-proses yang terjadi di dalam tubuh hewan, meliputi proses antara lain : • Pertumbuhan • Pergerakan/ berpindah tempat • Pertukaran Zat • Reproduksi • Reaksi terhadap rangsang • Pencernaan Makanan • Peredaran Darah/ cairan tubuh Dalam Fisiologi, dikaji lebih dalam tentang bagaimana mekanisme yang menggerakkan proses-proses kehidupan, mulai dari pengendalian dan proses terjadinya pada tataran molekuler.

Dengan pesatnya perkembangan instrumentasi, makin pesat pula perkembangan fisiologi, sehingga banyak masalah yang masih “misteri”, mekanismenya tidak jelas. Fisiologi merupakan bidang ilmu yang tidak dapat berdiri sendiri, mutlak membutuhkan bidang ilmu lain untuk memecahkan permasalahannya.

Bidang- bidang ilmu lain yang diperlukan antara lain: struktur dan perkembangna hewan dan biokimia. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Dan Contoh Adaptasi Fisiologi Pada Hewan, Tumbuhan, Dan Manusia Secara Lengkap Konsep Dasar Fisiologi Sebelum lebih jauh mengkaji tentang fungsi tubuh, terdapat beberapa konsep-konsep dasar dari fisiologi • Mekanisme: Hidup didasarkan pada material dan hukum-hukum yang berlaku di dunia fisik.

• Homeostasis: Usaha untuk mengatur dan mengendalikan reaksi-reaksi yang diakibatkan oleh perubahan-perubahan lingkungan. Keadaan lingkungan internal yang konstan dan yang bertanggung jawab atas keadaan konstan tersebut. • Regulator: Kelompok makhluk yang mampu mempertahankan kondisi lingkungan internal secara relatif terhadap lingkungan eksternal.

• Konfermer: Lingkungan internal berubah sejalan dengan perubahan lingkungan eksternal. • Homeokinesis: mekanisme mempertahankanlingkungan internal dengan menghindar dari lingkungan eksernal yang tidak sesuai. • Adaptasi: Tanggapan terhadap perubahan lingkungan dalam upaya untuk mempertahankan hidup makhluk. Dalam biologi secara khusus diberi istilah “kompensasi”. • Aklimasi: Penyesuaian terhadap kondisi-kondisi lingkungan laboratorium yang mempunyai variabel terkendali sangat terbatas.

• Aklimatisasi: Penyesuaian yang berlangsung dalam kondisi alami dengan multivariabel, sehingga lebih rumit untuk dianalisis. • Toleransi: Kemampuan organisme untuk melakukan regulasi dan konformasi terbatas pada suatu kisaran (range) kondisi tertentu.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Perbedaan Antara Anatomi Dan Fisiologi Struktru dan Fungsi Hewan Struktur dan fungsi tubuh hewan memiliki hubungan yang sangat erat, keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Untuk dapat mempelajari fungsi dari suatu sistem, terlebih dahulu kita akan mempelajari struktur organ atau jaringan dari suatu organ tersebut. Namun dalam tingkat organisasi kehidupan, sel menempati kedudukan yang khusus karena merupakan unit yang terendah dan terkecil.

Sel merupakan unit fungsional yang terkecil yang dapat berdiri sendiri sebagai suatu organisme. Berdasarkan jumlah sel yang dapat menyusun komponen hidup, terdapat organisme gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh satu (uniseluler) dan organisme bersel banyak (multiseluler). Protista merupakan salah satu organisme yang terendah (uniseluler) dimana dia mempunyai organel terspesialisasi yang melakukan pekerjaan tertentu dalam sebuah sel tunggalnya yaitu mencerna makanan, mendeteksi perubahan lingkungan, mensekresi hasil buangan dan bereproduksi.

Sedangkan untuk organisme bersel banyak, kumpulan dari sel-sel pada tempat tertentu akan membentuk jaringan yang merupakan struktur yang lebih tinggi dari sel. Selanjutnya jaringan akan berkelompok dan bekerja sama melaksanakan fungsi tertentu membentuk suatu organ.

Beberapa organ bekerja sama membentuk sistem organ. Inilah yang merupakan tingkat-tingkat organisasi yang struktural dalam membentuk suatu organisme hidup. Setelah kita mengenal sel dan organel-organelnya serta berbagai fungsinya dalam biologi sel, selanjutnya kita melanjutkan pemahaman kita tentang kumpulan-kumpulan sel yang disebut dengan jaringan, organ dan sistem organ.

Jaringan Jaringan adalah kumpulan sel-sel dengan struktur dan fungsi yang sama. Jenis jaringan yang berbeda memiliki struktur dan fungsi yang berbeda. Jaringan dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori yaitu jaringan epitelium, jaringan ikat, jaringan saraf dan jaringan otot.

• Jaringan Epitelium Jaringan epitelium berbentuk lapisan-lapisan sel yang terkemas dengan rapat yang berfungsi sebagai pelindung bagian luar tubuh, melapisi organ dan pelindung rongga dalam tubuh., selain itu jaringan epitelium juga berfungsi sebagai pelindung sel atas kerusakan mekanis, serangan mikroorganisme yang menyusup masuk dan melindungi agar tidak kehilangan cairan. • Jaringan Ikat Jaringan ikat berfungsi sebagai pengikat atau penyokong jaringan lainnya.

Serat jaringan ikat terbuat dari protein, terdiri dari 3 jenis yaitu serat berkolagen, serat elastis, dan serat retikuler. Serat kolagen terbuat dari kolagen yang merupakan protein yang paling berlimpah dalam kingdom hewan. Serat kolagen tidak elastis dan tidak mudah robek, serat inilah yang berfungsi menjaga daging tidak lepas dari tulang. Contohnya, ketika anda mencubit sebagian kulit belakang telapak tangan anda dan anda lepaskan kembali, maka kulit akan tetap menempel pada daging, ini adalah sebgian kecil contoh serat kolagen.

Serat elastis, untaian panjang yang terbuat dari protein (elastin), sifatnya seperti karet sehingga dapat melengkapi kekuatan serat kolagen yang tidak elastis. Seperti contoh diatas maka serat elastis akan dengan cepat memulihkan kulit anda ke bentuk semula. Serat retikuler tersusun atas kolagen yang merupakan penyambung atau penghubung jaringan ikat dengan yang lainya. Jaringan ikat yang paling banyak pada vertebrata adalah jaringan ikat longgar yang berfungsi sebagai bahan pengemas, yang menjaga agar organ tetap berada di tempatnya.

Pada gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh ini terdapat juga jaringan yang berperan dalam penyimpanan lemak yang disebut jaringan adiposa.

Setiap sel adiposa ini mengandung suatu butiran lemak besar yang membengkak, namun ketika lemak ini dipakai oleh tubuh maka selnya akan mengkerut.

Jaringan ikat berserat adalah jaringan ikat yang padat yang mengandung banyak serat kolagen yang berfungsi sebagai pengaturan yang memaksimalkan kekuatan jaringan yang nonelastis. Jaringan tulang rawan, terdiri dari serat kolagen yang melimpah yang berfungsi sebagai penyokong atau rangka tubuh pada awal embrio, menunjang jaringan yang lunak dan menunjang berbagai organ dalam. • Jaringan Saraf Unit fungsional jaringan saraf adalah neuron atau sel saraf.

Jaringan saraf berfungsi sebagai merasakan adanya stilmulus, menghantarkan sinyal dari satu bagian tubuh hewan ke bagian tubuh yang lain. Neuron terdiri dari badan sel, dendrit dan akson. Dendrit menghantarkan sinyal/inpuls dari ujung menuju bagian neuron yang lain, akson menghantarkan impuls menuju neuron ke efektor (BAB Sistem Saraf). • Jaringan Otot Merupakan serabut otot yang mampu berkontraksi ketika diransang oleh impuls saraf. Dalam tubuh vertebrata terdapat 3 jenis jaringan otot yaitu otot rangka yang bertanggung jawab atas pergerakan tubuh secara sadar.

Otot jantung yang bekerja di luar kehendak, kontraksi otonya otomatis, teratur, tidak pernah lelah dan bereaksi lambat. Dinamakan otot jantung karena hanya terdapat di jantung. Otot polos, ditemukan di dinding saluran pencernaan, kandung kemih, arteri dan organ lainya. Otot polos berkontraksi lebih lambat dari pada otot rangka, tetapi dapat berkontraksi dalam waktu lebih lama. Misalnya dalam sistem pencernaan, otot ini akan menggerakkan zat-zat disepanjang saluran pencernaan.

Selain itu otot ini juga mengerakkan pupil mata dan mengontrol diameter pembuluh darah. Organ dan Sistem Organ Organ adalah kumpulan beberapa jaringan untuk melaksanakan fungsi tertentu dalam tubuh.

Misalnya kulit, kulit tersusun atas berlapis-lapis jaringan. Jaringan pengikat, epitelium, otot, saraf dan jaringan pembuluh darah. Sedangkan tingkatan yang lebih tinggi lagi adalah sistem organ yang merupakan kumpulan dari beberapa organ yang bergabung untuk menjalankan fungsinya. Namun semua sistem organ yang ada harus dapat dikoordinasi supaya hewan tetap bertahan hidup. Berikut beberapa sistem organ, komponen dan fungsinya (tubuh hewan mamalia dan manusia: SISTEM ORGAN KOMPONEN UTAMA FUNGSI UTAMA Pencernaan Mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus, hati, pangkreas dan anus Pengolahan makana: penelanan, pencernaan, penyerapan, dan pembuangan Sirkulasi Jantung, pembuluh darah dan darah Distribusi internal bahan-bahan seperti, O 2 dan sari makanan ke sel tubuh dan mengangkut hasi metabolisme yang tidak berguna ke luar tubuh Respirasi Hidung, faring, laring, trakea, bronkus dan paru- paru Pertukaran gas (pengambilan O 2 dan mengeluarkan CO 2 Ekskresi Ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra Mengeluarkan hasil metabolisme yang tidak berguna ke luar tubuh dan mengatur keseimbangan osmotik darah Endokrin Pituitari (hipofisis), tiroid, pankreas, dan kelenjar penghasil hormon lainya Memperoduksihormon untuk mengatur metabolisme tubuh Saraf Otak, sumsum tulang belakang, simpuls saraf dan organ sensoris Deteksi stimulus dan penentuan respon terhadap stimulus Reproduksi Testis dan ovarium Perkembangbiakan Integumen Kulit dan derivatnya Pelindung tubuh Kerangka Kerangka, tulang belkang, Penyokong tubuh, pengerak tulang rusuk dan dada, bagian tubuh dan pelindung organ internal rangka penopang tulang bahu, tulang pinggul dan tulang anggota badan bagian atas dan bawah Otot Otot rangka, otot polos, Menentukan postur tubuh, otot j antung menyimpan glikogen, sebagai alat gerak Imunitas dan Susmsum tulang, nodus Pertahanan tubuh Limpatik limpa, timus, limpa, pembuluh limpa dan sel darah puitih Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Fungsi Lambung : Anatomi Dan Fisiologi Lambung Manusia Sistem Integumen pada Hewan Struktur dan fungsi umumnya saling berkaitan.

Dari melihat strukturnya dapat diperkirakan fungsinya demikian pula sebaliknya. Dengan memperhatikan fungsinya sebagai alat pelindung tubuh, maka lapisan kulit terluar harus tersusun dari sel-sel epithelium yang berkaitan erat satu sama lain melalui perekatinter selular.

Dengan memahami fungsi kulit tersebut gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh, maka struktur kulit Avertebrata dan Vertebrata mempunyai pola dasar sebagai berikut: Kulit Avertebrata tersusun dari : • Kultikula (lapisan nonselular) • Epidermis Kulit Vertebrata tersusun dari : • Epidermis • Dermis Kutikula pada Avertebrata dapat sangat tipis, misal pada Annelida tetapi dapat pula sangat tebal misal pada Arthropoda sehingga berfungsi sebagai eksoskeleton.Lapisan kultikula sendiri sebenarnya adalah suatu substansi yang disekresikan oleh sel-sel epidermis yang ada di bawahnya.

Ekdisis pada Avertebrata adalah Mengelupasan kutikula tersebut. Pada Tetrapoda: epidermis tersusun dan epithelium berlapis terbagi menjadi 3 lapisan (stratum) yaitu: berturut-turut dan dalam ke luar adalah: • Stratum germinativum, berbatasan dengan dermis • Stratum transitional, • Stratum corneum. Stratum germinativum: tersusun dari sel-sel embrional, aktif membelah membentuk sel-sel baru, sehingga sel-sel lama terdesak ke arah permukaan. Hal ini berlangsung terus menerus sehingga sel-sel yang jauh dari gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh akan kekurangan makanan dan O2 dan bentuknya menjadi memipih, dan terbentuklah stratum transitional yang tersusun dari sel-sel yang kekurangan O2 dari makanan tersebut.

Karena aktivitas stratum germinativum berjalan terus maka sel-sel pada stratum transitional akan makin terdesak keluar sehingga akhimya mati karena tidak memperoleh makanan dari O2 lagi. Stratum corneum tersusun dari sel-sel yang telah mati tersebut, yang mana bagian ini dapat mengelupas bila terdesak terus oleh lapisan di bawahnya dan ini disebut ekdisis pada Vertebrata.

Penyusun utama stratum corneum (lapisan tanduk) ini adalah keratin yaitu sustu jenis protein yang tidak larut dalam air. Dengan sifatnya yang gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh larut dalam air inilah maka kehilangan air dan tubuh dan masuknya air ke dalam tubuh dapat dicegah, sehingga air dalam tubuh tetap seimbang. Selain itu, keratin juga tahan terhadap bakteri sehingga dapat mencegah infeksi.

Dermis, tersusun dari jaringan pengikat kollagen/elastis, pembuluh darah, saraf, jaringan lemak, sel-sel otot, sel-sel kelenjar. Di bawah dermis terdapat jaringan subkutan, sel-sel pigmen dan lain-lain.

Embriologi kulit: Epidermis berasal dari lapisan ektoderm sedang dermis berasal dari lapisan mesoderm.

Pada kulit Vertebrata timbul bangunan yang merupakan derivat dan epidermis maupun derivat dan dermis. Derivat epidermal, ialah: sisik (squama) pada reptil, pada kaki burung, bulu pada burung dan rambut pada mamal, kuku dan tanduk adalah derivat stratum corneum epidermis.

Bulu terbentuk dengan cara evaginasi (penonjolan keluar) stratum coeneum diikuti oleh lapisan yang ada di bawahnya termasuk dermis. Sedangkan rambut terbentuk dengan cara yang sama, hanya kebalikannya ialah bangunan yang akan meniadi folikel rambut terbentuk dari invaginasi (penonjolan ke arah dalam) dari stratum corneum dan lapisan-lapisan yang ada di bawahnya termasuk dermis.

Kelenjar-kelenjar pada kulit, semuanya adalah modifikasi sel-sel epidermis, walaupun Ietaknya tertanam dalam dermis. Adapun derivat dari dermis adalah sisik pada ikan, tanduk pada rusa. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Karbon Monoksida: Pengertian, Struktur, Reaksi, Serta Peran Dalam Fisiologi Dan Makanan Sifat Fisik dan Kimia Protoplasma Organel sel yang paling menonjol adalah sitoplasma atau protoplasma, yaitu medium cair berupa koloid aktif yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya berbagai reaksi.

Secara kimiawi, komponen penyususn terbesar protoplasma adalah air. Dari jumlah keseluruhannya terdapat 30% zat-zat yang tersuspensi, diantaranya 60% protein, dan sisanya adalah karbohidrat, lemak dan bahan anorganik lainnya seperti garam, mineral dan bahan lainnya. Secara fisik, protoplasma mempunyai viskositas yang bervariasi, tergantung pada ukuran dan densitas partikel di dalamnya. Misalnya pada Ameba, bagian luar sitoplasma (ektoplasma) mempunyai viskositas yang lebih tinggi dari pada bagian dalam (endoplasma).

Hal ini yang memungkinkan Ameba dapat bergerak dengan kaki semu atau pseudopodia. Mengingat komponen utama dari protoplasma adalah air, maka sifatnya tidak jauh berbeda dari sifat air baik secara fisika dan kimia.

Yaitu meliputi: Kapasitas panas, Panas penguapan, Viskositas dan Molekul bipolar. • Kapasitas panas Kapasitas panas dapat didefinisikan sebagai banyaknya panas yang di perlukan untuk menaikkan suhu 1 gr air setinggi 1°C. Sehingga dari pernyataan ini di peroleh kesimpulan untuk menaikan suhu air diperlukan panas/kalor yang relatif besar dari lingkungan, sebaliknya untuk menurunkan suhu air diperlukan panas/kalor yang relatif besar yang akan dilepaskan ke lingkungan.

Sehingga kapasitas panas yang tinggi inilah menyebabkan air sulit mengalami gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh suhu. Sifat inilah yang dapat menjaga kesetabilan suhu tubuh hewan, khususnya hewan akuatik. • Panas penguapan Panas penguapan didefinisikan sebagai jumlah panas/energi yang diperlukan untuk mengubah cairan menjadi gas pada suhu gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh sama.

Sifat ini akan membantu hewan untuk menurunkan suhu melalui penguapan yaitu dengan mekanisme berkeringat. • Viskositas Viskositas dapat berarti kekentalan.

Disini dapat kita jelaskan dalam darah hewan. Kandungan air yang cukup tinggi dalam darah dapat menyebabkan aliran darah hewan dapat berlangsung lancar. • Molekul bipolar Air disebut molekul bipolar karena air memiliki 2 kutub elektro yaitu positif dan negatif. Keadaan yang seperti ini akan memberi peluang pada air untuk terjadinya tarik menarik antara kutub positif dari molekul air dan kutub negatif dari molekul air yang dinamakan ikatan hidrogen.

Kemampuan dua molekul yang sejenis untuk berikatan disebut daya kohesi. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Peran Makronutrien Di Dalam Tubuh Lengkap Integrasi, komunikasi dan Homeostasis Dasar biologis studi fisiologi, integrasi mengacu pada banyak tumpang tindih fungsi sistem tubuh manusia, serta sebagai bentuk disertai.

Hal ini dicapai melalui komunikasi yang terjadi dalam berbagai cara, baik listrik dan kimia. Dalam hal tubuh manusia, endokrin dan sistem saraf memainkan peranan besar dalam penerimaan dan pengiriman sinyal yang mengintegrasikan fungsi. Homeostasis adalah aspek utama berkaitan dengan interaksi dalam sebuah organisme, termasuk manusia.

Konsep Homeostatis Kata homeostasis merujuk pada pemeliharaan ketahanan secara keseluruhan dalam tubuh. Homeostasis menstabilkan tubuh dengan mengatur lingkungan internal.

Hal ini diperlukan tubuh untuk berfungsi sebagaiman mestinya. Proses homeostatik sangat penting untuk kelangsungan hidup setiap sistem sel, jaringan, dan tubuh[2]. Homeostasis dalam pengertian umum mengacu pada stabilitas, keseimbangan atau equilibrium. Pemeliharaan lingkungan internal yang stabil memerlukan pemantauan konstan, terutama oleh sistem otak dan saraf. Otak menerima informasi dari tubuh dan merespon dengan tepat melalui pelepasan berbagai zat seperti neurotransmiter, katekolamin, dan hormon[2].

Fisiologi organ individu lebih lanjut lagi berguna untuk memfasilitasi pemeliharaan homeostasis dari seluruh tubuh misalnya Pengaturan tekanan darah: pelepasan renin oleh ginjal yang memungkinkan tekanan darah akan stabil (Renin, Protein angiotensinogen, Sistem Aldosteron), meskipun otak membantu mengatur tekanan darah oleh hormon hipofisis dengan melepaskan Anti-diuretik (ADH).

Dengan demikian, homeostasis dipertahankan di dalam tubuh secara keseluruhan, tergantung pada bagian-bagiannya[2]. Sistem Organ Secara tradisional, disiplin akademik fisiologi memandang tubuh sebagai kumpulan sistem yang saling berinteraksi, masing-masing dengan kombinasi sendiri serta fungsi dan tujuan masing-masing.

Setiap sistem tubuh berkontribusi terhadap homeostasis sistem lain dari seluruh organisme. Tidak ada sistem tubuh bekerja sendiri, dan kesehatan orang tergantung pada kesehatan semua sistem tubuh berinteraksi Gambar Sistem Studi klinis Fisiologi Sistem saraf terdiri dari sistem saraf pusat (yang gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh otak dan sumsum tulang belakang) dan sistem saraf perifer.

Otak adalah organ pikiran, emosi, dan sensoris pengolahan, dan melayani banyak aspek komunikasi dan kontrol dari berbagai sistem dan fungsi-fungsi lainnya. Khusus terdiri dari indera penglihatan, pendengaran, rasa, dan bau. Mata, telinga, lidah, dan hidung mengumpulkan informasi tentang lingkungan tubuh. neuroscience, neurologi (penyakit), psikiatri (perilaku), ophthalmology (visi), Otolaringologi (pendengaran, rasa, bau neurophysiology Yang sistem muskuloskeletal terdiri dari kerangka manusia (termasuk tulang, ligamen, tendon, dan tulang rawan) dan otot-otot melekat.

Ini memberikan struktur dasar tubuh dan kemampuan untuk gerakan. Selain peran struktural mereka, tulang-tulang yang lebih besar dalam tubuh berisi sumsum tulang, tempat produksi sel darah. Juga, semua tulang adalah tempat penyimpanan utama untuk kalsium dan fosfat osteology (skeleton), orthopedics (bone disorders) cell physiology, musculoskeletal physiology Sistem sirkulasi terdiri dari jantung dan pembuluh darah (arteri, vena, pembuluh kapiler).

Jantung mendorong peredaran darah, yang berfungsi sebagai “sistem transportasi” untuk mentransfer oksigen, bahan bakar, nutrisi, produk-produk limbah, sel-sel kekebalan tubuh, dan isyarat molekul (yaitu, hormon) dari salah satu bagian tubuh yang lain.

Darah terdiri dari cairan yang membawa sel-sel dalam sirkulasi, termasuk beberapa yang bergerak dari jaringan ke pembuluh darah dan kembali, serta limpa dan sumsum tulang. cardiology (heart), hematology (blood) cardiovascular physiology Sistem pernapasan terdiri dari hidung, nasofaring, trakea, dan paru-paru. Ini membawa oksigen dari udara dan excretes karbon dioksida dan air kembali ke udara.

pulmonology respiratory physiology Sistem pencernaan terdiri dari mulut, kerongkongan, perut, usus (usus besar dan kecil), dan rektum, serta hati, pankreas, kantong empedu, dan kelenjar ludah. Ini dapat mengkonversi makanan menjadi kecil, gizi, tidak beracun molekul untuk distribusi oleh sirkulasi kepada semua jaringan tubuh, dan excretes residu yang tidak digunakan.

gastroenterology gastrointestinal physiology Yg menutupi sistem yang terdiri dari penutup tubuh (kulit), termasuk rambut dan kuku serta struktur penting fungsional lainnya seperti kelenjar keringat dan sebaceous kelenjar. Kulit menyediakan penahanan, struktur, dan perlindungan organ-organ lain, tetapi juga berfungsi sebagai indera utama antarmuka dengan dunia luar.

dermatology cell physiology, skin physiology Sistem saluran kemih terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. It menghilangkan air dari darah untuk menghasilkan urin, yang membawa berbagai molekul limbah dan kelebihan ion dan air keluar dari tubuh.

nephrology (function), urology (structural disease) renal physiology Sistem reproduksi terdiri dari gonad dan internal dan eksternal organ seks. Sistem reproduksi menghasilkan gamet dalam setiap jenis kelamin, sebuah mekanisme untuk kombinasi mereka, dan lingkungan perawatan untuk pertama 9 bulan perkembangan keturunan.

gynecology (women), andrology (men), sexology (behavioral aspects) embryology (developmental aspects) reproductive physiology Sistem kekebalan terdiri dari sel-sel darah putih, timus, kelenjar getah bening dan saluran getah bening, yang juga bagian dari sistem limfatik.

Sistem kekebalan memberikan mekanisme tubuh sendiri untuk membedakan sel dan jaringan dari sel-sel dan zat-zat asing dan untuk menetralisir atau menghancurkan yang terakhir dengan menggunakan protein khusus seperti antibodi, sitokin, dan tol-seperti reseptor, di antara banyak lainnya immunology immunology Sistem endokrin terdiri dari kelenjar endokrin utama: hipofisis, tiroid, adrenal, pankreas, parathyroids, dan organ reproduksi, tapi hampir semua organ dan jaringan endokrin memproduksi hormon tertentu juga.

Hormon endokrin berfungsi sebagai sinyal-sinyal dari satu sistem tubuh yang lain mengenai array yang sangat besar kondisi, dan mengakibatkan berbagai perubahan fungsi. endocrinology endocrinology Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Perbedaan Stimulasi Dan Respon Dalam Biologi Fungsi Fisiologi Manusia • Anatomi adalah ilmu yang mempelajari struktur dan hubungan antara bagian-bagian tubuh.

• Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi bagian-bagian tubuh dan tubuh secara keseluruhan. Beberapa pengkhususan di dalam setiap ilmu ini adalah sebagai berikut.

• Anatomi kotor(anatomi makroskopik) adalah ilmu yang mempelajari bagian-bagian tubuh yang bisa dilihat oleh mata telanjang,seperti jantung dan tulang. • Histology adalah ilmu yang mempelajari jaringan-jaringan dalam tingkat mikroskopik.

• Sitologi adalah ilmu yang mempelajari sel-sel dalam tingkat mikroskopik. • Neurofisiologi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana system saraf berfungsi. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Jaringan Meristem Organisasi dalam system Kehidupan • Sistem Kehidupan dapat didefinisikan dari berbagai sudut pandang,dari yang paling luas(memperhatikan seluruh bumi) sampai yang paling kecil(tingkat atom).

• Pada tingkat kimia,atom,molekul(gabungan atom),dan ikatan kimia diantara atom menyediakan kerangka kerja yang menjadi dasar bagi semua kegiatan kehidupan.

gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh

• Sel adalah unit terkecil dari kehidupan. Organela dalam sel adalah bagian-bagian tubuh yang dikhususkan untuk melakukan fungsi-fungsi sel khusus. Sel sendiri juga dapat bersifat khusus. Karenanya terdapat sel saraf,sel tulang,dan sel otot. • Jaringan adalah sekelompok yang mirip,yang melakukan fungsi-fungsi yang sama. • Organ adalah sekelompok jaringan yang berbeda,yang bekerja sama untuk melakukan suatu kegiatan tertentu.

Jantung adalah sebuah organ yang tediri atas jaringan otot,saraf,jaringan ikat,dan jaringan epitelum. • Sistem organ adalah dua atau lebih organ,yang bekerja sama untuk mengerjakan suatu tugas tertentu.

Contohnya, system pencernaan. • Organisme adalah sebuah system yang mempunyai ciri-ciri mahluk hidup, yaitu mampu memperoleh dan memproses energi,mampu menghadapi perubahan-perubahan lingkungan,dan mampu berkembang biak. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Perbedaan Koenzim Dan Kofaktor Dalam Biologi Sistem Integumen pada Manusia Kata integumen ini berasal dari bahasa Latin “ integumentum“, yang berarti “penutup”.

Sistem integumen atau biasa disebut kulit adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan manusia terhadap lingkungan sekitarnya dan merupakan organ yang paling luas, dimana orang dewasa luasnya mencapai lebih dari 19.000 cm 2. Sistem integumen meliputi kulit dan derivatnya. Kulit yang sebenarnya adalah lapisan penutup yang umumnya terdiri atas dua lapisan utama yang letaknya di sebelah luar jaringan ikat, kendur.

Sedangkan derivat integumen meliputi struktur struktur tertentu yang secara ontogeni berasal dari salah satu dari kedua lapisan utama pada kulit yang sesungguhnya yaitu epidermis dan dermis. Stuktur-struktur tersebut mencakup kulit, rambut, bulu, sisik, kuku, kelenjar keringat dan produknya (keringat atau lendir). Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Definisi Komponen Biotik Dalam Ekosistem Dan Contohnya Komponen Sistem Integumen Secara rinci, integumen dapat dibedakan atas: • Kulit Kulit adalah bagian terluar tubuh.

Beratnya ± 4,5 kg menutupi area seluas 18 kaki persegi dengan BB 75 kg. Dilihat dari strukturnya, kulit terdiri dari dua lapis, paling luar disebut epidermis tersusun atas epithelium, skuamosa bergaris, dan lapisan di bawahnya disebut dermis tersusun dari jaringan ikat tidak beraturan. Kedua lapisan tersebut berlekatan dengan erat. Tepat di bawah dermis terdapat lapisan hipodermis atau fasia superficial yang terutama tersusun dari jaringan adiposa yang bukan bagian dari kulit.

Lapisan ini banyak mengandung lemak. Lemak berfungsi sebagai cadangan makanan, pelindung tubuh terhadap benturan, dan menahan panas tubuh, mengikat kulit secara longgar dengan organ yang terdapat di bawahnya. Lapisan ini mengandung jumlah sel lemak yang beragam.

a. Epidermis Epidermis merupakan permukaan kulit paling luar dengan tebal ± 0,07 – 0,12 mm. Epidermis tersusun dari lapisan epitelium bergaris, mengandung sel-sel pigmen yang memberi warna pada kulit dan berfungsi melindungi kulit dari kerusakan oleh sinar matahari. Epidermis terdiri dari beberapa lapis sel. Lapis paling luar disebut stratum korneum, yang disebut juga lapisan bertanduk, karena lapisan ini tersusun dari sel-sel pipih berkeratin yang merupakan sel-sel mati.

Keratin adalah suatu protein yang bersifat tahan air, jadi lapisan ini merupakan “mantel” tubuh alami yang melindungi jaringan-jaringan yang lebih dalam dari kehilangan air. Lapisan ini secara terus menerus mengalami gesekan dan mengelupas, namun secara terus menerus pula selalu diganti oleh sel-sel yang lebih dalam.

Persis di bawah stratum korneum adalah stratum lusidium, yang nampak lebih terang disebabkan akumulasi dari molekul keratin. Di bawah stratum lusidium adalah stratum granulosum, merupakan daerah dimana sel-sel mulai mati karena terakumulasinya molekul bakal keratin yang memisahkan sel-sel ini dari daerah dermal. Lapisan epidermis yang berbatasan langsung dengan dermis adalah stratum germinativum, yang tersusun dari stratum spinosum dan stratum basal. Stratum germinativum tersusun dari sel-sel epidermal yang menerima nutrisi cukup dari dermis.

Sel-sel tersebut mengalami pembelahan dan menghasilkan berjuta-juta sel baru setiap hari. Sel-sel yang lebih tua akan terdesak keluar menjauhi sumber nutrisi, sehingga lambat laun akan mati gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh mengalami keratinisasi.

Sel utama kedua epidermis (setelah keratinosit) adalah melanosit, ditemukan dalam lapisan basal. Perbandingan sel-sel basalterhadap melanosit adalah 10 : 1. Di dalam melanosit disintesis granula-granula pigmen yang disebut melanosom. Melanosom mengandung biokroma coklat yang disebut melanin. Melanosom dihidrolisis oleh enzim dengan kecepatan yang berbeda-beda.

Jumlah melanin dalam keratinosit menentukan warna dari kulit. Melanin melindungi kulit dari pengaruh-pengaruh matahari yang merugikan. Sebaliknya, sinar matahari meningkatkan pembentukan melanosom dan melanin. Orang Afrika-Amerika maupun keturunan Kaukasia mempunyai jumlah melanosit yang sama.

Orang Afrika-Amerika mempunyai melanosom-melanosom besar yang tahan terhadap destruksi oleh enzim-enzim hidrolisis, sedangkan keturunan Kaukasia mempunyai melanosom yang kecil dan lebih mudah dihancurkan. Selain produksi melanin, warna kulit juga dipengaruhi oleh oksigenasi darah, darah dermal memasok warna merah melalui sel-sel lapisan lebih atas yang agak transparan, sehingga kulit berwarna merah.

Bila darah dermal kekurangan oksigen atau tidak bersirkulasi dengan baik, kulit akan menjadi kebiruan atau disebut sianotik. b. Dermis Dermis tersusun atas jaringan ikat, terdiri dari dua daerah utama, yaitu daerah papilar dan daerah retikular. Seperti pada epidermis, ketebalannya tidak merata, misalnya dermis pada telapak tangan dan telapak kaki lebih tebal daripada di bagian kulit yang lain. • Lapisan papilar Merupakan lapisan dermal paling atas, sangat tidak rata, bagian bawah papila ini nampak bergelombang.

Proyeksi seperti kerucut yang menjorok ke arah epidermis yang disebut papila dermal. Proyeksi tersebut diproyeksikan pada cap jari yang merupakan pola unik yang tidak berubah selama hidup. Jaringan kapiler yang banyak pada lapisan papilar menyediakan nutrien untuk lapisan epidermal dan memungkinkan panas merambat ke permukaan kulit.

Reseptor sentuhan juga terdapat dalam lapisan dermal. • Lapisan retikular Merupakan lapisan kulit paling dalam, mengandung banyak arteri dan vena, kelenjar keringat dan sebaseus, serta reseptor tekanan.

Baik lapisan papilar maupun lapisan retikuler banyak mengandung serabut kolagen dan serabut elastin. Adanya serabut elastis tersebut menyebabkan kuilt orang muda lebih elastis, sedangkan kulit orang tua menjadi keriput karena serabut elastis dan lapisan lemak subkutan menjadi sangat berkurang. Pada seluruh dermis juga mengandung fibroblas, sel-sel adiposa, berbagai jenis makrofag yang sangat penting bagi pertahanan tubuh dan berbagai jenis sel yang lain.

Dermis juga memiliki banyak pembuluh darah, yang memungkinkan berperan melakukan regulasi suhu tubuh. Bila suhu tubuh meningkat, arteriol dilatasi, dan kapiler-kapiler dermis menjadi terisi dengan darah yang panas.

Dengan demikan memungkinkan panas dipancarkan dari permukaan kulit ke udara. Bila suhu lingkungan dingin, maka panas tubuh harus disimpan, untuk itu kapiler dermal berkontriksi sehingga darah tidak banyak menuju permukaan kulit, dengan demikian sedikit panas tubuh dipancarkan keluar tubuh.

Dermis juga kaya akan pembuluh limfa dan serabut-serabut saraf. Banyak ujung saraf berakhir pada dermis berubah menjadi reseptor khusus, sehingga mampu mendeteksi perubahan perubahan yang terjadi di lingkungan yang kemudian disampakan ke otak. c. Derivat Kulit Rambut, kuku, dan kelenjar kulit merupakan derivat dari epidermis meskipun bearda dalam dermis, mereka berasal dari stratum germinativum yang tumbuh ke arah bawah ke bagian yang lebih dalam dari kulit.

d. Kelenjar kulit Kelenjar kulit dibedakan menjadi dua macam yaitu kelenjar sebasea (kelenjar minyak) dan kelenjar keringat. • Kelenjar minyak Terdapat hampir di semua permukaan kulit kecuali di daerah-daerah yang tidak berambut seperti telapak tangan dan telapak kaki. Saluran kelenjar minyak biasanya bermuara pada bagian atas folikel rambut, tetapi pada beberapa terbuka langsung ke permukaan kulit, seperti pada glans penis, glans klitoris, dan bibir.

Sekresi kelenjar minyak disebut sebum, merupakan campuran dari zat-zat berminyak dan pecahan-pecahan sel. Sebum berfungsi sebagai pelumas yang memelihara kulit tetap halus, serta rambut tetap kuat. Kelenjar minyak menjadi sangat aktif selama pubertas sehingga kulit cenderung berminyak selama periode ini.

Sering sebum mengumpul pada suatu tempat, mengering, dan kadang mengandung bakteri, membentuk gangguan kulit yang disebut “blackheads”. Kadang-kadang kelenjar minyak mengalami infeksi aktif membentuk “jerawat”. • Kelenjar keringat Merupakan kelenjar eksokrin yang ekskresinya dikeluarkan melalui pori-pori yang tersebar luas di seluruh permukaan kulit. Kelenjar keringat dibedakan menjadi dua macam berdasarkan sekresinya, yaitu: kelenjar ekrin dan kelenjar apokrin, kelenjar ekrin tersebar di seluruh permukaan tubuh memproduksi keringat jernih yang terutama mengandung air, NaCl, dan urea, sedangkan kelenjar apokrin dijumpai pada ketiak dan daerah genital.

Di samping mensekresikan air, NaCl, dan urea, kelenjar ini juga mensekresikan zat dari bahan dasar protein bersusu yang merupakan medium ideal untuk mikroorganisme yang berada dalam kulit. Kelenjar keringat berada di bawah pengendalian sistem saraf, merupakan bagian penting dari alat regulasi suhu tubuh. Bila suhu lingkungan cukup panas, maka kelenjar keringat akan mensekresikan keringat ke permukaan tubuh untuk kemudian diuapkan airnya.

Penguapan ini menggunakan panas tubuh, sehingga penguapan keringat berlaku sebagai sistem keadaan darurat untuk membebaskan panas apabila sistem pendingin kapiler tidak bekerja dengan baik untuk memelihara homeostatis.

Kedua jenis kelenjar ini tersusun atas sel mioepitel (dari bahasa Latin: myo = otot), sel epitel khusus yang terletak antara sel kelenjar dan lamina basalis di bawahnya. Kontraksi sel gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh memeras kelenjar dan melepaskan sekret yang sudah menumpuk. Aktivitas sekretorik sel kelenjar dan kontraksi sel mioepitel dikendalikan oleh sistem saraf otonom dan hormon yang beredar dalam tubuh.

• Rambut Rambut dijumpai di seluruh permukaan tubuh kecuali pada permukaan tangan, permukaan kaki, dan bibir. Rambut dibungkus oleh folikel rambut, yaitu suatu invaginasi epidermis yang terjadi selama periode pertumbuhan dengan suatu pelebaran ujung yang dinamakan bulbus rambut.

Bagian rambut yang berada di dalam folikel rambut disebut akar rambut. Rambut dibentuk oleh mitosis sel-sel epithelial germinal yang mengalami deferensiasi menjadi sel-sel yang membentuk medula rambut, korteks rambut, dan kutikula rambut.

Sel-sel yang lebih tua didesak menjauh dari daerah pertumbuhan ini, mereka mati dan mengalami keratinisasi, membentuk bagian membesar dari pangkal rambut. Suatu rambut terdiri dari tiga lapis, bagian pusat disebut medula, yang dikelilingi pertama-tama oleh korteks pelindung dan kemudian oleh kutikula. Luka pada kutikula menyebabkan ujung rambut terbelah. Folikel rambut dipisahkan dari dermis oleh membran hialin non seluler yang disebut membran glasi, yang merupakan penebalan dari membran basalis.

Warna rambut ditentukan oleh jumlah pigmen dalam korteks rambut. Bila struktur rambut diamati dengan cermat, akan nampak umumnya tertanam miring pada kulit. Di bagian dalam dermis terdapat pita kecil dari otot polos yang disebut pili arektor, gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh salah satu sisi folikel rambut ke lapisan papila dermis.

Bila otot ini berkontraksi pada saat dingin atau takut, maka batang rambut akan ditarik ke atas ke posisi yang lebih vertikal. Fenomena ini pada manusia sering disebut “tegak bulu roma”. Aktivitas otot pili arektor juga memberikan tekanan kepada kelenjar minyak di sekitar folikel, menyebabkan sejumlah kecil sebum dibebaskan. Data tentang rambut: • Kecepatan pertumbuhan sehelai rambut: rata-rata 0,3 mm/ hari. • Kedalaman rambut di bawah kulit kepala: 4mm.

• Diameter sehelai rambut: 45 mikron. • Dalam keadaan normal, sehelai rambut yang kering dapat diperpanjang 30%, sedang rambut basah dapat diperpanjang 50%. • Jumlah rambut yang gugur setiap hari yakni 50- 100 helai. • Daya tahan rata-rat sehelai rambut: 100 gram. • Di atas 1 cm² kulit kepala kira-kira terdapat 200 helai rambut. • Kuku Kuku merupakan derivat epidermis yang berupa lempeng-lempeng zat tanduk terdapat pada permukaan dorsal ujung jari tangan dan jari kaki.

Kuku terdiri dari bagian akar dan bagian badan. Dilihat dari atas, pada bagian proksimal badan kuku terdapat bagian putih berbentuk bulan sabit yang disebut lunula.

Warna putih lunula disebabkan epitel yang lebih tebal dari epitel kasar kuku dan kurang melekatnya epitel dibawahnya sehingga transmisi warna pembuluh darah kurang dipancarkan. Seperti halnya rambut, kuku tersusun atas zat-zat mati, yaitu lapisan kompak dari epitel yang mengalami pertandukan. Kuku tumbuh ke arah distal, meluncur di atas kulit dasar kuku yang dikenal sebagai hiponikium, yang melanjutkan diri ke epidermis yang gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh permukaan ventral jari-jari.

Perluasan epidermis berzat tanduk pada ujung proksimal lipatan kuku adalah eponikium atau kutikula. Kuku hampir tidak berwarna tetapi nampak kemerahan karena warna darah yang berada di dalam kapiler di bawah kuku. Bila seseorang mengalami sianotik karena kekurangan oksigen dalam darah menyebabkan kuku berwarna biru. Bagian-bagian kuku adalah: • Matriks kuku: merupakan pembentuk jaringan kuku yang baru. • Dinding kuku (nail wall) : merupakan lipatan-lipatan kulit yang menutupi bagian pinggir dan atas.

• Dasar kuku (nail bed): merupakan bagian kulit yang ditutupi kuku. • Alur kuku (nail groove) : merupakan celah antara dinding dan dasar kuku. • Akar kuku (nail root): merupakan bagian tengah kuku yang dikelilingi dinding kuku. • Lempeng kuku (nail plate) : merupakan bagian tengah kuku yang dikelilingi dinding kuku.

• Lunula : merupakan bagian lempeng kuku berwarna putih dekat akar kuku berbentuk bulan sabit, sering tertutup oleh • Eponikium : merupakan dinding kuku bagian proksimal, kulit arinya menutupi bagian permukaan lempeng kuku. • Hiponikium : merupakan dasar kuku, kulit ari di bawah kuku yang bebas (free edge) Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Serangga Beserta Jenis, Contoh Dan Gambarnya Fungsi Sistem Integumen Integumen dan derivatnya mempunyai fungsi yang sangat luas di dalam tubuh meliputi : • Pelindung atau proteksi terhadap mikroorganisme, penarikan, atau kehilangan cairan dan zat iritan kimia maupun mekanik.

• Eksterosepsi atau penerimaan stimuli dari lingkungan luar, misalnya gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh sakit, gatal, panas, dingin. • Ekskresi atau pembuangan sisa metabolisme melalui kelenjar, misalnya kelenjar keringat pada mamalia. • Thermoregulasi atau mengatur panas tubuh pada hewan hewan endoterm dan homoiterm ( mamalia dan aves) dibantu oleh adanya rambut dan bulu.

• Homeostatis atau mengatur kadar garam dan cairan tubuh (osmoregulasi). • Tempat menyimpan cadangan makanan seperti lemak di bawah kulit. • Tempat sintesis vitamin D. Sebarkan ini: • • • • • Posting pada IPA Ditag anatomi dan fisiologi hewan pdf, anatomi dan fisiologi tumbuhan dan hewan, anatomi fisiologi adalah, anatomi fisiologi keperawatan, anatomi fisiologi manusia pdf, contoh fisiologi, dosen biologi um, download buku anatomi hewan pdf, fisiologi hewan, fisiologi hewan dan tumbuhan, fisiologi hewan pdf, fisiologi manusia, fisiologi olahraga, fisiologi olahraga adalah, fisiologi tumbuhan, fisiologi tumbuhan adalah, fisiologis adalah, Fungsi Fisiologi Manusia, Fungsi Sistem Integumen, hubungan psikologi dengan fisiologi, Integrasi, istilah istilah fisiologi hewan air, jurnal ruang lingkup fisiologi, jurusan biologi ekologi, Komponen Sistem Integumen, komunikasi dan Homeostasis, konsep dasar fisiologi, makalah anatomi dan fisiologi hewan, makalah sistem peredaran darah pada hewan pdf, manfaat mempelajari fisiologi hewan, materi fisiologi, materi fisiologi hewan, materi kuliah fisiologi hewan, materi tentang tumbuhan dan hewan, mind mapping anatomi dan fisiologi tumbuhan, Organisasi dalam system Kehidupan, pendahuluan fisiologi hewan, pengertian anatomi fisiologi, pengertian anatomi hewan, pengertian farmakologi, Pengertian Fisiologi, pengertian fisiologi manusia, pengertian fisiologi manusia menurut para ahli, pengertian fisiologi menurut para ahli, pengertian fisiologi olahraga, pengertian fisiologi tumbuhan, pengertian fisiologis dan psikologis, pengertian fisiologis menurut para ahli, pengertian organologi, perbedaan fisiologi hewan dan tumbuhan pdf, peta konsep anatomi dan fisiologi hewan, psikologi faal adalah, psikologi faal pdf, Ruang Lingkup Fisiologi Hewan, Sejarah Fisiologi, Sifat Fisik dan Kimia Protoplasma, Sistem Integumen pada Hewan, Sistem Integumen pada Manusia, sistem sirkulasi pada hewan vertebrata, Struktru dan Fungsi Hewan, struktur perkembangan hewan dan tumbuhan, transpirasi pada hewan Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Organ Pernapasan Manusia – Pengertian, Jenis, Hidung, Tenggorokan, Bronkiolus, Alveolus, Diafragma, Paru-Paru • Sejarah Suku Tomini • Penjelasan Ciri-Ciri Clostridium Tetani Dalam Biologi • Penjelasan Ciri-Ciri Bacillus Anthracis Dalam Biologi • Penjelasan Ciri-Ciri Helicobacter Pylori Dalam Biologi • Pengertian Kata Berimbuhan • Pengertian Coelentarata – Ciri, Habitat, Reproduksi, Klasifikasi, Cara Hidup, Peranan • Pengertian Gerakan Antagonistic – Macam, Sinergis, Tingkat, Anatomi, Struktur, Contoh • Pengertian Dinoflagellata – Ciri, Klasifikasi, Toksisitas, Macam, Fenomena, Contoh, Para Ahli • Pengertian Myxomycota – Ciri, Siklus, Klasifikasi, Susunan Tubuh, Daur Hidup, Contoh • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com
Gerak Dasar Pengembangan gerak dasar adalah merupakan suatu proses untuk memperoleh gerak yang senantiasa berkembang berdasarkan : • Proses pengembangan syaraf dan otot yang juga dipengaruhi oleh keturunan.

• Akibat dari pengalaman gerak sebelumnya. • Pengalaman gerak saat ini. • Gerak yang digambarkan dalam kaitannya dengan pola gerak tertentu. Pola gerak dasar adalah bentuk gerakan-gerakan sederhana yang bisa dibagi kedalam tiga bentuk gerak sebagai berikut ; • Gerak lokomotor ( gerakan berpindah tempat ) dimana bagian tubuh tertentu bergerak atau berpindah tempat; misalnya jalan,lari,dan loncat.

• Gerak non-lokomotor ( gerakan tidak berpidah tempat ) dimana sebagian anggota tubuh tertentu saja yang digerakkan namun tidak berpindah tempat. • Manipulatif, dimana ada sesuatu yang digerakkan ,misalnya melempar, menangkap, menyepak, memukul, dan geraka lain yang berkaitan dengan lemparkan dan tangkapan sesuatu Gerakan Lokomotor Gerakan Lokomotor adalah gerakan berpindah tempat, dimana bagian tubuh tertentu bergerak gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh berpindah tempat.Gerakan lokomotor misalnya : jalan, lari, dan loncat.

• Berbaring Beberapavariasi gerakannya, sebagai berikut : • Berbaring terlentang • Berbaring telungkup • Berbaring miring ke kanan • Berbaring miring ke kiri • Berjalan Jalan adalah suatu gerakan melangkah ke segala arah yang dilakukan oleh siapa saja dan tidak mengenal usia. Namun demikian, gerakan yang tidak diperhatikan pada masa usia sekolah dasar dikhawatirkan akan mengakibatkan kelainan dalam berjalan di kemudian hari.

Untuk itu gerak berjalan maupun bentuk bentuk latihan dalam berjalan harus disosialisasikan dengan cara bermain, baik itu dalam kelompok kecil maupun besar. Pola perkembangan penguasaan gerakan berjalan adalah sebagai berikut : • Irama, gerakan yang cepat dan terkontrol. dengan kata lain anak bisa melakukan dengan irama lambat dan juga bisa cepat. • Bentuk gerakan kedua kaki yang melangkah • Tidak mengangkang mendekati garis lurus, sudut kedua telapak kaki menyempit.

• Ayunan langkah menjadi semakin otomatis, sudah mampu berjalan seperti gerakan berjalan orang dewasa pada umurnya. Anak sudah mampu berjalan dengan ayunan kaki dan berbelok ke arah yang dikehendaki dengan mudah.

• Secara teknis beberapa hal yang dapat kita perhatikan berikut ini ; • Togok Pada waktu bergerak maju ada kecenderungan untuk lebih condong badannya ke depan atau ke belakang. Oleh karena itu pertahankan badan sedemikian rupa sehingga tegak. Pundak jangan terangkat dan waktu lengan mengayun. Jika ini dilakukan maka akibatnya akan cepat melelahkan anggota badan bagian atas. • Kepala Pada saat berjalan, posisi kepala menatap ke depan, namun sesekali boleh saja menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, sebab gerakan demikian tidak mengganggu dari lajunya gerak jalan tersebut.

• Kaki Kaki melangkah lurus ke depan satu garis dengan garis khayal dari badan si pejalan/garis khayal diantara kedua ujung kaki ( jari-jari ) segaris, tidak ke luar atau ke dalam. Pada saat menumputumit harus menyentuh tanah lebih dahulu terus bergerak ke arah depan secara teratur. • Lengan dan Bahu Kondisi ini harus dipertahankan dan ditambah dengan mengayunkannya dengan rileks tanpa menggangu keseimbangan.

• Berlari Berlari bisa dimanfaatkan oleh guru sebagai dasar untuk memberikan olah tubuh kepada siswa secara teratur.Guru bisa memanfaatkan faktor-faktor gerakan, seperti tempat, waktu, dan kekuatan untuk menciptakan berbagai variasi berlari.

gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh

Variasi dapat juga diciptakan dengan menggunakan fungsi-fungsi tubuh dan anggota bagian tubuh. Berlari tidak banyak berbeda dengan berjalan, hanya saja akan lebih cepat sampai tujuan dan gerakannya suatu saat melayang di udara atau agak melompat. Gerakan berlari bisa digerakkan dengan berbagai kombinasi, misalnya : • berlari dengan menyepak pantat dengan tumit di belakang • lari dengan mengangkat paha tinggi dengan ayunan tangan, • lari dengan langkah tergantung di udara, • lari dengan langkah panjang dan sebagainya.

Berbagai kegiatan dalam berlari, diantaranya : • Lari dengan rintangan • Latihan reaksi dengan berlari • Dikejar Dikejar termasuk kegiatan lari yang dibutuhkan untuk meningkatkan kelincahan dan keberanian mengambil reesiko Lari maksudnya bukan lari disebabkan takut, tetapi bagaimana ia lari untuk memperdayakan temannya agar ia tidak tertangkap dari kejaran.

• Mengejar Latihan ini merupakan gabungan dari latihan jalan dan lari, disamping untuk mengetahui sejauh mana kemampuan seorang anak menandingi gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh anak lain. • Mendaki • Lari cepat (Pindah tempat,Berpindah tempat dengan kecepatan, Lari cepat dan berubah arah,Lari cepat,Permainan lari sambung,Lomba lari beranting (estafet) • Melompat Lompat adalah suatu gerakan mengangkat tubuh dari suatu titik ke titik lain yang lebih jauh atau tinggi dengan ancang-ancang lari cepat atau lambat dengan menumpu satu kaki dan mendarat dengan kaki atau anggota tubuh lainnya dengan keseimbangan yang baik.

Contoh pengembangan gerak lompat, misalnya lompat jauh. • Meloncat Loncat adalah suatu gerakan mengangkat tubuh dari suatu titik ke titik lain yang lebih jauh atau tinggi dengan ancang-ancang dari cepat atau lambat dengan menumpu dua kaki dan mendarat dengan kaki atau anggota tubuh lainnya dengan keseimbangan yang baik.

2. Melempar Melempar adalah gerakan mengarahkan satu benda yang dipegang dengan cara mengayunkan tangan ke arah tertentu.Gerakan ini dilakukan dengan menggunakan kekuatan tangan dan lengan serta memerlukan koordinasi beberapa unsur gerakan, misalnya lengan dengan jari yang harus melepaskan benda yang dipegang pada saat yang tepat. Gerakan Nonlokomotor Keterampilan yang bersifat nonlokomotor dapat diartikan juga sebagai keterampilan stabil, gerakan yang dilakukan tanpa atau hanya sedikit sekali bergerak dari daerah tumpuannya.

Gerakan stabilisasi ( nonlokomotor ) termasuk didalamnya, seperti : a.Dodging b.Stretching dan Bending c.Twisting dan Turning d.Swinging dan Swaying e.Pushing dan Pulling Stretching dan Bending, Stretching dapat diartikan sebagai penguluran otot atau sekelompok otot,pelurusan sendi atau persendian tubuh dengan tujuan membuat badan memanjang.

Gerakan penguluran umumnya selain untuk meningkatkan kelentukan atau keleluasaan gerak sendi yang harus dilakukan secara terkontrol. Bending dapat dikatakan membengkokan bagian tubuh pada setiap persendiannya, dimana stuktur sendi akan menentukan keleluasaan gerak setiap sendi yang dihasilkannya. Gerakan membengkokan digunakan selain untuk mempersiapkan gerakan, seperti pada lutut sebelum meloncat dan saat mendarat, juga pada saat menangkap bola dengan cara membengkokkan siku.

Gerakan Manipulatif Keterampilan manipulatif melibatkan tindakan mengontrol suatu objek khususnya dengan tangan dan kaki. Ada dua klasifikasi dari keterampilan manipulatif, yaitu reseptif dan propulsif.Keterampilan reseptif adalah menerima suatu objek seperti menangkap dan keterampilan propulsif memiliki ciri pengerahan gaya atau kekuatan terhadap suatu objek, seperti memukul, melempar, memantul atau menendang. Beberapa gerakan yang termasuk di dalam gerakan manipulatif adalah menggelindingkan bola atau sejenisnya, melempar dan menangkap, menahan atau trapping, memantul atau mendribbling,memukul.

• Menggelindingkan Bola, Menggelindingkan atau rolling meliputi pengarahan gaya atau tenaga terhadap suatu objek yang mempertahankan kontaknya dengan permukaan tempat benda tersebut bergerak. • Melempar Melempar merupakan keterampilan manipulatif yang rumit yang menggunakan satu atau dua tangan untuk melontarkan objek menjauhi badan ke udara Selain tergantung dari beberapa faktor (ukuran anak, ukuran objek, dan lain sebagainya ), lemparan dapat di lakukan di bawah tangandi atas kepala, di atas lengan atau di samping.

• Menangkap Menangkap merupakan gerakan dasar manipulasi yang melibatkan penghentian suatu objek yang terkontrol oleh satu atau kedua tangan. Pada tahap awal biasanya objek akan dihentikan dengan satu bagian atau beberapa bagia anggota tubuh.Penguasaan koordinasi mata tangan akan memudahkan bagi mereka untuk menangkap objek yang melayang ke hadapannya.

• Pushing dan Pulling, Pushing atau mendorong adalah usaha pengerahan gaya atau kekuatan dalam melawan suatu objek atau orang, apakah mendorong untuk menyingkirkan objek dari badan atau mendorong badan menjauhi objek.

Pulling di lain pihak diartikan sebagai tarikan, ini merupakan pengerahan tenaga yang mengakibatkan objek atau orang bergerak mendekati badan. Â Stimulasii Gerak Dasar Anak Perkembangan Motorik Stimulasi adalah adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya sejak di dalam kandungan) dilakukan setiap hari, untuk merangsang semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan).

Selain itu harus pula merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak berkomunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan bayi dan anak-anak. Stimulasi merupakan hal yang penting dalam tumbuh kembang anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang kurang kasih sayang dan kurang stimulasi akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya serta kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain. Stimulasi yang diberikan pada anak selama tiga tahun pertama ( golden age) akan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan otaknya dan menjadi dasar pembentuk kehidupan yang akan datang.

Semakin dini stimulasi yang diberikan, maka perkembangan anak akan semakin baik. Semakin banyak stimulasi yang diberikan maka pengetahuan anak akan menjadi luas sehingga perkembangan anak semakin optimal. Disebutkan juga bahwa jaringan otak anak yang banyak mendapat stimulasi akan berkembang mencapai 80% pada usia 3 tahun. Sebaliknya, jika anak tidak pernah diberi stimulasi maka jaringan otak akan mengecil sehingga fungsi otak akan menurun. Berbagai kegiatan yang dilakukan sehari-hari dalam mengurus dan merawat anak dapat menjadi sarana untuk memberikan beraneka jenis stimulasi untuk memicu perkembangan otaknya.

Stimulasi yang diberikan akan diterima oleh panca indera dan selanjutnya akan disampaikan ke otak. Bagi otak maupun panca indera anak yang belum mencapai tingkat perkembangan yang optimal, stimulasi tersebut merupakan pelajaran baru. Hal ini akan memicu otak belajar, menganalisa, memahami dan memberikan respon yang tepat terhadap stimulasi tersebut.

Kegiatan stimulasi meliputi berbagai kegiatan untuk merangsang perkembangan anak seperti melatih gerakan, bicara, berpikir, mandiri serta bergaul. Stimulasi dapat dilakukan oleh orang tua atau keluarga lainnya. Tujuan stimulasi yaitu membantu anak mencapai tingkat perkembangan yang optimal atau sesuai dengan yang diharapkan.

Tabel 2. Contoh Stimulasi Perkembangan Anak Berdasarkan Tahapan Usia I Bayi 0-1 bulan 1. Ketika bayi rewel dipeluk dengan kasih saying 2. Meletakan benda yang bergerak-gerak di atas bayi 3. Melatih menelungkupkan bayi 4. Mengajak bayi tersenyum II Bayi 1-4 bulan 1.

Bayi dipeluk, dicium, dinyanyikan lagu dan dibuainya 2. Bayi diajak bicara, menirukan gerak dan mimik bayi, diperdengarkan suara lainnya 3. Melatih bayi membalik badan (ditelungkupkan) 4.

Melatih bayi mengenggam III Bayi 4-6 bulan 1. Melatih bayi didudukan 2. Melatih bayi menggunakan kedua tangan memegang benda 3. Melatih bayi menirukan bunyi agar ditirukan 4. Melatih bayi menirukan bunyi (main ci-luk-ba, da-da) IV. Bayi 6-9 bulan 1. Melatih mengangkat bayi untuk berdiri 2. Melatih bayi memasukan/mengeluarkan benda dari suatu wadah 3.

Memperlihatkan gambar dan menyebutkan namanya 4. Mengajak bayi dengan cara/bentuk permainan bersama-sama V. Bayi 9-12 bulan 1. Melatih bayi berjalan berdiri 2. Melatih bayi menggelindingkan bola 3. Melatih bayi corat-coret menggambar 4.

Mengajak bayi makan bersama keluarga VI Bayi 12-18 bulan 1. Malatih anak naik turun tangga (rumah) 2. Bermain melempar dan menangkap bola 3. Melatih menunjuk dan menyebut bagian tubuh 4. Memberi kesempatan anak melepas baju VII Bayi 18-24 bulan 1. Melatih keseimbangan anak berdiri dengan satu kaki bergantian 2.

Melatih anak menggambar bulatan, segitiga 3. Melatih anak mau menceritakan apa yang dilihatnya 4. Melatih anak tentang kebersihan diri (buang air kecil/besar pada tempatnya) 5. Mengajak anak bermain bola dan melompatnya 6. Mengajak untuk ikut bernyanyi VIII Bayi 2-3 tahun 1, Melatih anak berdiri dengan satu kaki 2. Melatih anak menyusun balok 3. Melatih anak mengenal bentuk benda dan warnanya 4. Melatih anak tentang kebersihan diri seperti mencuci kaki, buang air kecil/besar di toilet 5.

Melatih anak dibaju sendiri 6. Sering mengajak anak keluar (tempat bermain, toko, kebun binatang, dll) Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa tahapan perkembangan anak berbeda-beda pada setiap tahapan umur sehingga jenis stimulasi yang diberikan juga berbeda-beda. Sebenarnya stimulasi pada anak sudah dapat dilakukan sejak bayi lahir bahkan sejak dalam kandungan. Menyusui ASI merupakan salah satu jenis stimulasi yang bisa diberikan pada bayi yang dapat merangsang indera pengecap bayi. Jenis stimulasi lain yang dapat merangsang indera pengecap bayi adalah pemberian makanan tambahan yang mulai diberikan pada usia 6 bulan.

Pada tabel dibawah ini disajikan contoh-contoh stimulasi yang harus dilakukan sesuai dengan tahapan umurnya. Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan anak. misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan, dan menjelang tidur. Semakin bervariasi rangsangan yang diterima maka semakin kompleks hubungan antar sel-sel otak.

Semakin sering dan teratur rangsangan yang diterima, maka semakin kuat hubungan antar sel-sel otak tersebut. Semakin kompleks dan kuat hubungan antar sel-sel otak, maka semakin tinggi dan bervariasi kecerdasan anak di kemudian hari, bila dikembangkan terus menerus, anak akan mempunyai banyak variasi kecerdasan (multiple inteligensia).

Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan kegembiraan antara pengasuh dan anak-anak. Gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh memberikan stimulasi dengan gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh, memaksakan kehendak pengasuh, tidak memperhatikan minat atau keinginan bayi/balita, atau bayi-balita sedang mengantuk, bosan atau ingin bermain yang lain.

Pengasuh yang sering marah, bosan, sebal, maka tanpa disadari akan memberikan rangsang emosional yang negatif. Karena pada prinsipnya semua ucapan, sikap dan perbuatan pengasuh adalah merupakan stimulasi yang direkam, diingat dan akan ditiru oleh anak. Berikut tahapan-tahapan perkembangan motorik: Usia 1-2 tahun Motorik Kasar Motorik Halus • merangkak • berdiri dan berjalan beberapa langkah • berjalan cepat • cepat-cepat duduk agar tidak jatuh • merangkak di tangga • berdiri di kursi tanpa pegangan • menarik dan mendorong benda-benda berat • melempar bola • mengambil benda kecil dengan ibu jari atau telunjuk • membuka 2-3 halaman buku secara bersamaan • menyusun menara dari balok • memindahkan air dari gelas ke gelas lain • belajar memakai kaus kaki sendiri • menyalakan TV dan bermain remote • belajar mengupas pisang Usia 2-3 tahun Motorik Kasar Motorik Halus • melompat-lompat • berjalan mundur dan jinjit • menendang bola • memanjat meja atau tempat tidur • naik tangga dan lompat di anak tangga terakhir • berdiri dengan 1 kaki • mencoret-coret dengan 1 tangan • menggambar garis tak beraturan • memegang pensil • belajar menggunting • mengancingkan baju • memakai baju sendiri Usia 3-4 tahun Motorik Kasar Motorik Halus • melompat dengan 1 kaki • berjalan menyusuri papan • menangkap bola besar • mengendarai sepeda • berdiri dengan 1 kaki • menggambar manusia • mencuci tangan sendiri • membentuk benda dari plastisin • membuat garis lurus dan lingkaran cukup rapi Usia 4-5 tahun TAHAPAN PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK Motorik Kasar Motorik Halus • menuruni tangga dengan cepat • seimbang saat berjalan mundur • melompati rintangan • melempar dan menangkap bola • melambungkan bola • menggunting dengan cukup baik • melipat amplop • membawa gelas tanpa menumpahkan isinya • memasikkan benang ke lubang besar Stimulasi Kecerdasan Anak Kecerdasan multipel ( multiple inteligensia) adalah berbagai jenis kecerdasan yang dapat dikembangkan pada anak, antara lain verbal-linguistic (kemampuan menguraikan pikiran dalam kalimat-kalimat, diskusi, tulisan), logical–mathematical (kemampuan menggunakan logika-matematik dalam memecahkan berbagai masalah), visual spatial (kemampuan berpikir tiga dimensi), bodily-kinesthetic (ketrampilan gerak, menari, olahraga), musical (kepekaan dan kemampuan berekspresi dengan bunyi, nada, melodi, irama), intrapersonal (kemampuan memahami dan mengendalikan diri sendiri), interpersonal (kemampuan memahami dan menyesuaikan diri dengan orang lain), naturalist (kemampuan memahami dan memanfaatkan lingkungan).

Tabel 2. Contoh Stimulasi Kecerdasan Multiple I Verbal-linguistic (kecerdasan berbahasa verbal) 1. Diajak bercakap-cakap 2. Dibacakan buku cerita berulang-ulang 3. Menyanyi lagu anak-anak 4. Dirangsang untuk berbicara dan bercerita II Logical–mathematical (kecerdasan logika-matematik) 1. Menyusun balok 2. Merangkai 3. Menghitung mainan 4. Main Puzzle 5. Permainan komputer III Visual spatial ( kecerdasan visual) 1. Mengamati gambar, foto 2.

Belajar melipat dan menggambar 3. Bermain rumah-rumahan 4. Diajak permainan komputer IV. Bodily-kinesthetic (kecerdasan gerak tubuh) 1. Belajar berdiri satu kaki 2. Melatih jongkok, membungkuk 3. Belajar melompat, berlari, melempar, menangkap, menari 4. Mengajak anak pada olah raga permainan V. Musical (kecerdasan musikal) 1. Mengajak anak mendengarkan musik 2. Mengajak anak bernyanyi 3. Memainkan alat musik 4. Melatih anak mengikuti nada dan irama VI Interpersonal (kecerdasan emosi inter-personal) 1.

Mengajak anak bermain bersama dengan anak yang lebih tua dan muda 2. Melatih anak untuk meminjamkan mainan 3.

gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh

Mengajak anak untuk bekerja sama membuat sesuatu VII Intrapersonal (kecerdasan emosi intra-personal) 1. Mengajak anak untuk menceritakan perasaannya 2. Melatih anak untuk belajar mengungkapkan keinginan 3. Mengajak ngobrol anak mengenai cita-cita VIII Naturalist (kecerdasan Naturalis) 1. Mengajak anak untuk memelihara tanaman di pot 2.

Memelihara binatang 3. Wisata ke hutan, pantai, sungai dan gunung 4. Mengamati bulan, langit dan bintang
Gerak Gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh adalah gerakan berpindah tempat, dimana bagian tubuh tertentu bergerak atau berpindah tempat. Gerak dasar lokomotor merupakan salah satu domain dari gerak dasar fundamental ( fundamental basic movement), Keterampilan lokomotor didefinisikan sebagai keterampilan berpindahnya individu dari satu tempat ke tempat yang lain.

Sebagian besar keterampilan lokomotor berkembang dari hasil dari tingkat kematangan tertentu, namun latihan dan gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh juga penting untuk mencapai kecakapan yang matang. Gerakan-gerakan lokomotor adalah gerakan-gerakan yang pergi ke mana saja.

Para ahli mendefinisikan gerakan lokomotor sebagai gerakan-gerakan yang menyebabkan tubuh berpindah tempat atau mengembara dalam berbagai ruang, sehingga dalam bahasa Inggris disebut juga Traveling. Ini tentunya merupakan kebalikan dari gerakan non-lokomotor, yang tidak menyebabkan tubuh berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Gerakan lokomotor merupakan dasar bagi perkembangan koordinasi gerakan yang melibatkan otot-otot besar ( gross-muscles), pertumbuhan otot, daya tahan dan stamina.

Gerakan non-lokomotor dapat diartikan juga sebagai keterampilan stabil, gerakan yang dilakukan tanpa atau hanya sedikit sekali bergerak dari daerah tumpuannya. Dapat juga didefinisikan sebagai gerakan-gerakan yang dilakukan dengan gerakan yang memerlukan dasar-dasar penyangga yang minimal atau tidak memerlukan penyangga sama sekali atau gerak tidak berpindah tempat. Gerakan stabilisasi (non-lokomotor) termasuk didalamnya, seperti : Stretching dan Bending, Twisting dan Turning, Swinging gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh Swaying, Pushing dan Pulling.

Gerak manipulatif melibatkan tindakan mengontrol suatu objek khususnya dengan tangan dan kaki. Ada dua klasifikasi keterampilan dari gerak manipulatif, yaitu reseptif dan propulsif. Keterampilan reseptif adalah menerima suatu objek seperti menangkap dan keterampilan propulsif memiliki ciri pengerahan gaya atau kekuatan terhadap suatu objek, seperti memukul, melempar, memantul atau menendang.

Walaupun sebagian besar keterampilan manipulatif menggunakan tangan dan kaki, tetapi bagian-bagian tubuh yang lain juga dapat digunakan. Manipulasi terhadap objek tertentu mengarah pada koordinasi mata-tangan dan mata-kaki yang lebih baik, terutama penting untuk gerakan-gerakan yang mengikuti jalan atau alur ( tracking) pada tempat terentu.

Keterampilan manipulatif merupakan dasar-dasar dari berbagai keterampilan permainan ( game skill). Gerakan yang memerlukan tenaga, seperti melempar, memukul, dan menendang dan gerakan menerima objek, seperti menangkap merupakan keterampilan yang penting yang dapat diajarkan dengan menggunakan berbagai jenis bola.

Gerakan melambungkan atau mengarahkan objek yang melayang, seperti bola voli merupakan bentuk keterampilan manipulatif lain yang sangat penting. Kontrol terhadap suatu objek yang dilakukan secara terus menerus, seperti menggunakan tongkat atau simpai juga merupakan aktivitas manipulatif. Unknown 15 July 2018 at 15:57 terimakasih infonya, Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Apakah Anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?

Jika ya, silahkan kunjungi website kami http://kbagi.com/ untuk info selengkapnya. Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, film dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :) Reply Delete 633DOMINO 26 December 2019 at 04:54 633DOMINO - AGENPOKER - CAPSA SUSUN - GAME ADU-Q - BANDAR-Q - - BANDAR POKER - - SAKONG ONLINE - - DOMINO - 633DOMINO situs poker domino dengan kartu yang sangat berkualitas !

Di jamin banyak menangnya dan juga banyak bonusnya �� Daftar & Dapatkan kemenangan besarnya sekarang juga bosku ^^ Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker online / domino online POKER ONLINE DOMINO99 ADUQ BANDARQ BANDAR POKER BANDAR66 CAPSA SUSUN SAKONG ONLINE NEW GAME (PERANG BACCARAT) Info Pendaftaran Hubungi kami - LiveChat : WWW.BANDAR633.COM (Online 24jam) - WA : +62 813-2548-7133 - LINE : 633domino -IG : 633dominoqq >>> DAFTAR SEKARANG <<< LINK ALTERNATIF : WWW.BANDAR633.COM Mau Jadi Bandar Disini Tempatnya !

Reply Delete • ► 2022 (1) • ► February (1) • ► 2021 (9) • ► December (1) • ► August (1) • ► May (1) • ► April (2) • ► February (1) • ► January (3) • ► 2020 (29) • ► December (1) • ► November (1) • ► October (1) • ► September (1) • ► August (1) • ► July (3) • ► June (1) • ► May (3) • gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh April (3) • ► March (2) • ► February (5) • ► January (7) • ► 2019 (21) • ► December (8) • ► November (4) • ► October (8) • ► September (1) • ► 2018 (8) • ► December (2) • ► August (1) • ► May (1) • ► April (1) • ► March (3) • ▼ 2017 (16) • ► December (1) • ► November (1) • ► September (1) • ► August (1) • ► July (3) • ► June (2) • ▼ May (5) • GERAK LOKOMOTOR, GERAK NON LOKOMOTOR, GERAK MANIPU.

• GULAT • PENGERTIAN PENDIDIKAN JASMANI • SILABUS DAN RPP PENJASORKES • ADMINISTRASI PERTANDINGAN • ► February (2) • ► 2016 (23) • ► December (1) • ► October (2) • ► September (2) • ► August (3) • ► July gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh • ► June (3) • ► May (7) • ► March (2) • ► January (1) • ► 2015 (2) • ► September (1) • ► May (1)Gerak Lokomotor adalah gerakan berpindah tempat, dimana bagian tubuh tertentu gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh atau berpindah tempat.

Gerak dasar lokomotor merupakan salah satu domain gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh gerak dasar fundamental ( fundamental basic movement), Keterampilan lokomotor didefinisikan sebagai keterampilan berpindahnya individu dari satu tempat ke tempat yang lain. Sebagian besar keterampilan lokomotor berkembang dari hasil dari tingkat kematangan tertentu, namun latihan dan pengalaman juga penting untuk mencapai kecakapan yang matang. Gerakan-gerakan lokomotor adalah gerakan-gerakan yang pergi ke mana saja.

Para ahli mendefinisikan gerakan lokomotor sebagai gerakan-gerakan yang menyebabkan tubuh berpindah tempat atau mengembara dalam berbagai ruang, sehingga dalam bahasa Inggris disebut juga Traveling. Ini tentunya merupakan kebalikan dari gerakan non-lokomotor, yang tidak menyebabkan tubuh berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Gerakan lokomotor merupakan dasar bagi perkembangan koordinasi gerakan yang melibatkan otot-otot besar ( gross-muscles), pertumbuhan otot, daya tahan dan stamina.

Gerakan non-lokomotor dapat diartikan juga sebagai keterampilan stabil, gerakan yang dilakukan tanpa atau hanya sedikit sekali bergerak dari daerah tumpuannya. Dapat juga didefinisikan sebagai gerakan-gerakan yang dilakukan dengan gerakan yang memerlukan dasar-dasar penyangga yang minimal atau tidak memerlukan penyangga sama sekali atau gerak tidak berpindah tempat.

Gerakan stabilisasi (non-lokomotor) termasuk didalamnya, seperti : Stretching dan Bending, Twisting dan Turning, Swinging dan Swaying, Pushing dan Pulling. Gerak manipulatif melibatkan tindakan mengontrol suatu objek khususnya dengan tangan dan kaki. Ada dua klasifikasi keterampilan dari gerak manipulatif, yaitu reseptif dan propulsif. Keterampilan reseptif adalah menerima suatu objek seperti menangkap dan keterampilan propulsif memiliki ciri pengerahan gaya atau kekuatan terhadap suatu objek, seperti memukul, melempar, memantul atau menendang.

Walaupun sebagian besar keterampilan manipulatif menggunakan tangan dan kaki, tetapi bagian-bagian tubuh yang lain juga dapat digunakan. Manipulasi terhadap objek tertentu mengarah pada koordinasi mata-tangan dan mata-kaki yang lebih baik, terutama penting untuk gerakan-gerakan yang mengikuti jalan atau alur ( tracking) pada tempat terentu.

Keterampilan manipulatif merupakan dasar-dasar dari berbagai keterampilan permainan ( game skill). Gerakan yang memerlukan tenaga, seperti melempar, memukul, dan menendang dan gerakan menerima objek, seperti menangkap merupakan keterampilan yang penting yang dapat diajarkan dengan menggunakan berbagai jenis bola. Gerakan melambungkan atau mengarahkan objek yang melayang, seperti bola voli merupakan bentuk keterampilan manipulatif lain yang sangat penting. Kontrol terhadap suatu objek yang dilakukan secara terus menerus, seperti menggunakan tongkat atau simpai juga merupakan aktivitas manipulatif.

Dalam tradisi barat, referensi untuk pertandingan gulat telah ditemukan dalam epik Gilgames bangsa Babilonia. Ini berarti bahwa gulat didunia barat dipengaruhi oleh bangsa timur dekat, bangsa Babilonia.

Dalam dokumen bangsa Babilonia diceritakan tentang kemenangan seorang pahlawan yang menumpas kejahatan. Dengan menganalisis dokumen tersebut, ternyata, diketahui bahwa mereka yang menjadi pahlawan dan pemenang itu telah mempraktekan teknik gulat untuk mengalahkan musuhnya.

Dalam sejarah yunani kuno, gulat menduduki tempat penting dalam legenda dan sastra. Gulat yang dikenal saat itu adalah gulat kompetisi, karena tidak dibentingi oleh peraturan. Namun demikian, gulat tetap menjadi olahraga olimpiade bangsa yunani. Bahkan, gulat yang dikembangkan oleh bangsa Romawi kuno banyak meminjam teknik gulat yunani. Di yunani banyak didirikan palaestra atau sekolah gulat, di sekolah ini anak laki-laki mempelajari aturan sederhana, tentang gulat yunani. Orang yunani bergulat dalam lubang pasir yang disebut skamma, dan kontestan masih tertutup oleh minyak dan dilapisi debu sebelum memasuki arena pertandingan.

Vases menggambarkan angka-angka dari Mitologi yunani, terutama Heracles dan Theseus ( penemu gulat ilmiah ), dengan menunjukan bahwa mereka dapat mengalahkan monster fantastik dengan menggunakan teknik gulat yang berlaku dengan standar.

Gambar pegulat pun muncul di koin Aspendosm Syracuse, dan Alexandria, dan sejumlah pertandingan gulat dapat ditemukan dalam tulisan Humer, Statius, dan Quintus dari Smirna. Bahkan Plato, seorang filsuf yang terkenal, pernah dieritakan mengikritik kompetisi dalam kejuaraan yang diadakan di Delphi dan Nemea.

Orang-orang yunani bersaing untuk mewakili kota kelahirannya dalam festival gulat yang waktu itu jumlahnya selalu meningkat di setiap tahun, pegulat profesional yang paling terkenal pada saat itu adalah Milo dari kota Croton. Milo mendapatkan pengakuan pada olimpiade masa yunani kuno di abad 540 SM.

Dan memenangkan lagi dalam enam olimpiade berturut-turut, milo tidak pernah berpartisipasi dalam gulat yang lebih brutal atau yang pada saat itu sering dikenal dengan istilah Pankration. Pankration jauh lebih brutal dari gulat profesional modern, kemenangan dicapai dengan memaksa lawan anda mengakui kekalahan. Selama abad pertengahan, gulat mencerminkan gaya hidup orang eropa. Gulat tidak membutuhka peralatan yang khusus dan semakin populer karena taruhan para penonton difasilitasi oleh pihak penyelenggara pertandingan.

Dalam tradisi Inggris, telah dikembangkan dan dimodifikasi pada saat periode Renaissance. Pembukaan pertandingan memerlukan berbagai gaya yang berbeda. Sebagai contoh, di Cumberland dan Westmorelend, dimulai dengan pertandingan dagu beristirahat di bahu lawan kemudian menjatuhkan lawan ke tanah untuk memenangkan pertandingan. Do cornwall, jenis jaket gulat menjadi bentuk yang lebih disukai, dengan melarang pemain memegang bagian dibawah pinggang.

Ilistratur berkebangsaan jerman, albrecht rer du, membuat lebih dari seratus gambar teknik memegang dalam gulat, dan fabian von auerwald’s rinferkunst (1539), membuat salah satu buku ilustrasi tentang teknik bergulat secara rinci.

Buku karya Elyot Thomas Governour (1531), merupakan karya pertama yang memfokuskan pada pendidikan jasmani, dan gulat di promosikan sebagai latihan sehat. Seabad kemudian seorang matematikawan, Sir Thomas Parkyns, menerbitkan The Inn-Play atau Cornish-Hugg Wrestler, sebuah karya yang tidak hanya menganjurkan olahraga tetapi juga menetapkan aturan untuk menghindari perilaku yang tidak sportif selama pertandingan.

Olahraga gulat dengan varian yang khas di setiap daerah sudah ada sejak jaman nenek moyang. Ketangkasan jasmani merupakan syarat mutlak untuk memelihara keuletan dan keutuhan. Pendidikan jasmani yang tidak disengaja ini telah dilakukan oleh nenek moyang kita, tapi belum didasari nilai dan manfaatnya. Bukti sejarah menunjukan bahwa “ gulat “ memang merupakan olahraga asli Indonesia, walau diluar negeri gulat juga ada dan tumbuh sejak keemasan Yunani dan Romawi Kuno.

• Di aceh gulad disebut Gedul-gedul • Di tapanuli gulat disebut Marsiranggut • Di jawa barat gulat disebut Benjang • Di jawa tengah gulat disebut Mbek-mbekan • Di rembang ( jawa tengah ) gulat disebut Pathol • Di jawa timur gulat disebut Pitingan • Di madura ( jawa timur ) gulat disebut Okol • Di nusa tenggara barat gulat disebut Paluru • Di sulawesi selatan gulat disebut Silotteng • Di ujung pandang gulat disebut Sinotto • Di kalimantan selatan gulat disebut Baguling Sebelum Perang Dunia II, Indonesia sudah mengenal gulat yang berkembang di dunia internsional.

Gulat dibawa oleh tentara belanda yang pada waktu itu menduduki wilayah Indonesia sebagai negara koloni. Tahun 1941-1945 sewaktu pendudukan tentara jepang, seni bela diri jepang seperti judo, sumo dan kempo masuk ke indonesia, sehingga gulat secara berangsung-angsur mulai dilupakan. Adanya kejuaraan di yokohama pada tahun 1961 membuat PGSI mengadakan seleksi nasional untuk menentukan tim Indonesia ke juaraan dunia yang berlangsung pada Juni tahun 1961 itu, empat pegulat terpilih pada waktu itu untuk mewakili Indonesia, yaitu Rachman Firdaus (kelas 68 kg, gaya bebas), Yosept Taliwongso (kelas 68 kg gaya Yunani-Romawi), Sudrajad (kelas 62 kg, gaya bebas), Elias margio (kelas 62 kg, gaya Yunani).

Mereka ini didampingi oleh Kapten Obos Purwono sebagai manajer tim da Balting Ong sebagai pelatih. Dalam PON V tahun 1961 di Bandung gulat termasuk salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan, dilaksanaka di bioskop Varia (sekarang nusantara). Tahun 1962, Asian Games IV berlangsung di Jakarta. Indonesia menurunkan pegulat secara fuel team, mulai dari kelas 52 kg – 87 kg. Indonesia hanya meraih dua medali perunggu melalui Mujari (kelas 52 kg) dan Rachman Firdaus (kelas 63 kg) yang keduanya menggunakan gaya Yunani-Romawi.

Tahun 1964, PB PGSI mengirim para pegulat ke RRC kan Korea Utara. Tahun 1965 menjelang PON VI di Jakarta muncul pegulat-pegulat yang penuh bakat, seperti Suparman Hamid, Tigor Siahaan, dan Johny Gozali. Dan semua acara ini gagal karena situasi politik. Tahun 1966 menjelang Asin Games V di Bangkok, PHSI mengadakan kejuaraan nasional di Bandung. Tahun 1967, diselenggarakan kejuaraan nasional di Surabaya. Tahun 1968, merupakan gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh yang sepi bagi PGSI karna tidak adanya kegiatan tingkat nasional.

Tahun 1969, diadaka PON VII di Surabaya, dimana para pegulat dari Sumatera Utara, DKI jaya, Gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh barat, Jawa tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa timur dan Sulawesi Selatan mengukur kekuatan dalam arena tersebut. Tahun 1970, PGSI mendapat kesempatan lagi untuk ambil bagian dalam Asian Games VI di Bangkok. Tahun 1971, untuk pertama kalinya dan merupakan terakhir kalinya gulat di pertandingkan di POM (Pekan Olahraga Mahasiswa) di palembang. Tahun 1972 menjelang PON VIII di Jakarta, terlebih dahulu diadakan babak kualifikasi bagi daerah-daerah yang akan ikut serta dalam PON.

Tahun 1973, PGSI juga kembali mengikuti kejuaraan gulat di Glanbator, Mongolia, tim indonesia diwakili oleh Tigor Siahaan, Syampurno, Johny Gozali, dan Darmanto. Selain itu kegiatan internasional yang di ikuti oleh pegulat kita adalah: • Tahn 1974 Asian Games VII di Teheran, PGSI mengirimkan pegulat tigor siahaah kelas 48 kg, dan Johny Gozali kelas 62 kg.

• Kejuaraan dunia tahun1978 di Mexico, PGSI menurunkan pegulat Suwrto kelas 57 kg, Alfan Sulaiman kelas 62 kg, Tahi sihombinf kelas 68 kg, dan Eddy santoso kelas 74 kg. • Tahun 1980, di Rumania PGSI mengirimkan pegulat Suwarto kelas 57 kg, Edison kelas 62 kg, dan Alfan Sulaiman kelas 68 kg.

• Tahun 1982, Asian Games IX di New Delhi, PGSI mengirimkan Rubianto Hadi kelas 48 kg, Rusdi kelas 57 kg, dan Alfan Sulaiman kelas 62 kg. Gulat adalah kontak fisik antara dua orang, di mana salah seorang pegulat harus menjatuhkan atau dapat mengontrol musuh mereka.

Olahraga gulat indentik dengan dua orang yang saling berhadapan dan berusaha untuk mengungguli lawanya dengan cara menarik, mendorong, membanting, menjegal, dan mengunci sampai punggung lawan menempel di atas matras.

Dalam gulat gaya bebas, pegulat dapat menggunakan kali dan boleh memegang lawan baik di atas maupun di bawah pinggang.

Olahraga gulat gaya bebas terdapat berbagai teknik serangan atas yaitu: tangkapan kaki, tangkapan satu kaki, tangkapan dua kaki, tarikan lengan, bantingan bahu, bantingan leher, bantingan lengan, kayang depan, kayang samping, kayang belakang ( zubless).

Batasan permainan untuk gaya bebas yaitu seorang pegulat diperbolehkan menangkap kaki lawan, mengkait kaki lawan, dan menggunakan kaki secara aktif untuk melakukan suatu gerakan atau menggunakan seluruh bagian anggota badan untuk melakukan serangan, dengan kata lain bahwa dalam gaya bebas, atlet diperbolehkan menggunakan seluruh anggota badan untuk melakukan serangan.

Teknik dan tangkapan dua kaki merupakan teknik dasar gulat gaya bebas yang sering digunakan dalam setiap latihan dan pertandingan, karena jika seorang pegulat berhasil melakukan teknik tangkapan dalam latihan atau pertandingan maka seorang pegulat dengan mudah untuk mengungguli lawanya, secara analisis gerak pada saat melakukan teknik tangkapan dua kaki, melangkah dengan cepat untuk menjangkau lawan dan lengan menangkap paha bagian belakang, posisi kepala tegak dan menempel di samping pinggang, disaat yang bersamaan kedua paha lawan ditarik sampai lawan terjatuh di atas matras.

Dalam Gulat Yunani-Romawi, yunani, seorang pegulat dilarang keras dibawah garis pinggang atau mengkait kaki lawan atau menggunakan kaki secara aktif untuk melakukan suatu gerakan. Gaya Greeco Roman tidak boleh menyerang bagian tungkai baik dengan menggunakan tangan maupun kaki. Demikian pula tidak boleh menggunakan tungkai secara aktif dalam melakukan gerakan atau teknik serangan,contohnya melakukan sapuan kaki seperti dalam olahraga judo. Pada gaya romawi yunani ( greeco roman) terdapat berbagai teknik serangan atas yaitu : bantingan pinggang, bantingan leher, bantingan lengan, bantingan sway, kayang depan, kayang samping, zubless dll.

Seorang pegulat harus menguasai teknik serangan, counter, dan bertahan baik untuk mengungguli lawannya, Untuk melakukan gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh diatas maka perlu di tunjang unsur-unsur kondisi fisik, peran komponen kondisi fisik terlihat sangat menonjol dalam olahraga gulat dan pada level pertandingan tertentu olahraga gulat berlangsung sangat dinamis. Seorang pegulat di level tersebut harus dapat menggunakan berbagai teknik pergumulan atau pergulatan dengan dukungan fisik yang prima, karena biasanya berlangsung dalam waktu yang relatif lama.

“Teknik dasar ialah semua gerakan yang mendasari permainan, dan dengan modal tersebut seseorang dapat bermain dengan atau berlatih secara terarah.” Dari pengertian tersebut tentunya para atlet harus mampu menguasai teknik-teknik yang menjadi dasar setiap cabang olahraganya terutama cabang olahraga gulat gaya bebas.

Sudradjat (2010). Berikut adalah teknik-teknik dalam gulat gaya: Teknik tangkapan : • Tangkapan kaki • Tangkapan satu kaki • Tangkapan kaki kiri • Tangkapan kaki kanan • Tangkapan dua kaki Teknik bantingan : • Bantingan kepala • Bantingan lengan • Bantingan ketiak • Bantingan pinggang • Sway • Kayang samping • Kayang depan • Kayang belakang Teknik bawah : (PARTERE) • Gulungan kepala • Gulungan lengan • Gulungan dada • Gulungan purut • Gulungan paha • Gulungan kaki satu • Gulungan kaki dua • Gulungan kaki silang Teknik gulungan : (POSISI BUAYA) • Gulungan kepala • Gulungan lengan • Gulungan dada • Gulungan perut • Gulungan kaki • Gulungan kaki satu • Gulungan dua kaki • Nelson • Double nelson 1 angka, teknik: • Bagi pegulat yang membawa lawannya ke bawah dan menguasainya dari belakang (kontak 3 titik dengan matras yakni 2 lengan dan 1 lutut atau 1 lengan dan 2 lutut) • Bagi pegulat yang bisa mengatasi tangkapan dan penguasaan lawannya dengan mengambil alih posisi dari belakang (over pass) • Semua tangkapan yang dieksekusikan pada posisi berdiri dengan tangkapan grand amplitude, sehingga membuat pegulat bertahan langsung berada dalam posisi danger • Eksekusi tangkapan kepada pegulat yang sedang berada pada posisi parterre diangkat dengan mengangkatnya sehingga terlepas dari matras dan kemudian dibanting dengan tangkapan grand amplitude yang mengakibatkan lawannya langsung berada pada posisi danger (tambahan 1 angka teknik karena dimulai dengan mengangkat lawan yang sedang berada dalam posisi parterre dari matras).

• Counture, R. Wrestling for fighting: Natural Way. Beijing; victory belt • FILA. 1990. Manual Of Basic Holds In Westling For Children. Novisad: forum • FILA. 2008. Peraturan Pertandinagn Gulat Internasianal. Paris, perancis. Diterjemahkan oleh PB PGSI, jakarta, 2009 • http://repository.upi.edu/operator/upload/s_pko_0700361_chapter2.pdf Pendidikan Jasmani Sama dengan konsep Pendidikan pada umumnya. Menurut Wolfgang (1992:40) Education is defined as those actions through which human beings attempt to produce lasting improvements in the structure of the psychic dispositions of other people, to retain components they consider positive or to prevent the formation of dispositions they regard as negative ( Pendidikan didefinisikan sebagai tindakan yang melaluinya manusia berusaha menghasilkan perbaikan yang bertahan lama dalam struktur disposisi psikis orang lain, mempertahankan gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh yang mereka anggap positif atau untuk mencegah pembentukan disposisi yang mereka anggap negatif ).

• Ateng (1993) mengemukakan bahwa: Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan melalui berbagai kegiatan jasmani yang bertujuan mengembangkan secara organik, neuromuskuler, intelektual, dan emosional. • Freeman (2001) menyatakan bahwa : “Physical education uses physical activity to produce holistic improvement in a pearson’s physical, mental, an emotional.” Artinya adalah pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang menggunakan aktivitas fisik untuk menghasilkan perkembangan secara menyeluruh terhadap peserta didik baik fisik, mental dan emosional.

• Mahendra (2003:4) bahwa “Pendidikan jasmani pada hakekatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental serta emosional.” • Winarno (2006:2) Konsep pendidikan jasmani yang dianut di Indonesia sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0413/U/1987, dinyatakan bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan keseluruhan.

Pendidikan jasmani bertujuan mengembangkan individu secara organis, neuromuskuler, intelektual, dan emosional. • Menurut Chandler, dkk. (2007:166) Essentially, physical education is the formal inculcation of knowledge and values through physical activity. A more wide-ranging definition of physical education would encompass instruction in the development and care of the body, from simple callisthenic exercises to training in hygiene, gymnastics, and the performance and management of athletic games.

Historically, it has focused on diet, exercise and hygiene, as well as musculo-skeletal and psycho-social development. Several areas constitute its sub-disciplines: these include biomechanics, exercise physiology, sports sociology, history, philosophy and psychology (Pada dasarnya, pendidikan jasmani adalah penanaman formal pengetahuan dan nilai-nilai melalui aktivitas fisik.

Definisi yang lebih luas dari pendidikan jasmani akan mencakup instruksi dalam pengembangan dan perawatan tubuh, dari latihan kalistenik sederhana hingga pelatihan kebersihan, senam, dan kinerja dan manajemen permainan atletik. Secara historis, ia telah berfokus pada diet, olahraga dan kebersihan, serta pengembangan otot-tengkorak dan psiko-sosial. Beberapa bidang merupakan sub-disiplin ilmu: bidang ini mencakup biomekanik, fisiologi olahraga, sosiologi olahraga, sejarah, filsafat, dan psikologi).

Kelima pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan melalui aktivitas jasmani, permainan atau olahraga yang terpilih untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengertian tersebut mengukuhkan bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian tak terpisahkan dari pendidikan umum. Tujuannya adalah untuk membantu peserta didik agar tumbuh dan berkembang secara wajar sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang sehat jasmani dan rohani.Jadi, pendidikan jasmani diartikan sebagai proses pendidikan melalui aktivitas jasmani atau olahraga.

Inti pengertiannya adalah mendidik peserta didik, dan yang membedakannya dengan mata pelajaran lain adalah alat yang digunakan adalah gerak insani, manusia yang bergerak secara sadar. Gerak itu dirancang secara sadar oleh guru dan diberikan dalam situasi yang tepat, agar dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan peserta didik secara totalitas.

Pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan melalui aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan secara totalitas dalam diri peserta didik, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional, dan bahkan pada spiritual.Pendidikan jasmani memberi tugas gerak kepada pesertadidik sebagai individu dengan satu kesatuan yang utuhantara jasmani dan rohani.

Oleh sebab itu pendidikan jasmani bukan hanya merupakan aktivitas pengembangan fisik secara terisolasi, akan tetapi harus berada dalam konteks pendidikan secara umum (general education). Tentunya proses tersebut dilakukan dengan sadar dan melibatkan interaksi sistematik antar pelakunya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Ternyata, Pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas dengan memfokuskan perhatiannya pada peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, Penjaorkes berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya dan hubungan dari perkembangan tubuh (fisik) dengan pikiran dan jiwanya. Intinya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia. Hal itulah yang menjadikan Pendidikan jasmani merupakan sesuatu yang unik dan lain dari bidang studi lainnya yang berkepentingan dengan perkembangan total pada manusia.

Namun sejauh ini pada kenyataannya masih banyak yang berpikiran bahwa pendidikan jasmani adalah pendidikan olahraga, menurut Whitehead, dkk, (2013:17) In general, PE is considered a compulsory component of the education of children. As a consequence, there has been a significant tradition in most democracies of advocating intrinsic values relating to the education of children.

However, the most dominant position with regard to PE has more often been to regard it as extrinsically valuable in relation to, for example, the dualistic training of bodies and the naturalization of competition.

Thus, given the hegemony of competitive sport, PE could be considered to be only partially egalitarian, and possibly to some degree coercive rather than inclusive. Further, the nature of its intrinsic value is contested, with the main contenders being either movement pleasure or moral value. (Secara umum, Pendidikan Jasmani dianggap sebagai komponen wajib pendidikan anak-anak. Sebagai akibatnya, ada tradisi yang signifikan di sebagian besar negara demokrasi yang mengadvokasi nilai-nilai intrinsik yang berkaitan dengan pendidikan anak-anak.

Namun, posisi yang paling dominan berkenaan dengan Pendidikan Jasmani lebih sering menganggapnya sebagai bernilai ekstrinsik dalam kaitannya dengan, misalnya, pelatihan dualistik tubuh dan naturalisasi persaingan. Dengan demikian, mengingat hegemoni olahraga kompetitif, PE dapat dianggap hanya sebagian egaliter, dan mungkin sedikit banyak bersifat paksaan daripada inklusif. Lebih lanjut, sifat dari nilai intrinsiknya diperebutkan, dengan pesaing utama adalah kenikmatan gerakan atau nilai moral).

Maka, berdasarkan kerancuan itu dalam kegiatan belajar ini akan dibahas lebih mendalam lagi tentang pengertian pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani merupakan bagian penting dari proses pendidikan. Artinya, Pendidikan jasmani bukan hanya sebagai mata pelajaran pelengkap pada program sekolah yang membuat peserta didik sibuk tanpa arah dan tujuan. Melalui Pendidikan jasmani yang diarahkan dengan baik, peserta didik akan mengembangkan keterampilan yang berguna, terlibat dalam aktivitas fisik yang kondusif untuk kebugaran fisik, hidup sehat, sosial, dan mentalnya.

Pengertian pendidikan jasmani sering dikaburkan dengan konsep lain, dimana pendidikan jasmani disamakan dengan setiap usaha atau kegiatan yang mengarah pada pengembangan organ-organ tubuh manusia (body building), kesegaran jasmani (physical fitness), kegiatan fisik (physical activities), dan pengembangan keterampilan (skill development).

Pengertian itu memberikan pandangan yang sempit dan menyesatkan arti pendidikan jasmani yang sebenarnya. Walaupun memang benar aktivitas fisik itu mempunyai tujuan tertentu, namun karena tidak dikaitkan dengan tujuan pendidikan, maka kegiatan itu tidak mengandung unsur-unsur pedagogi.

Semua kegiatan diatas berbeda dengan pendidikan jasmani, kegiatan-kegiatan tersebut sebagian besar hanya mengacu pada satu tujuan saja terutama perkembangan secara fisik, belum mencakup semua aspek seperti pada Pendidikan jasmani. Tidak semua guru Pendidikan jasmani menyadari hal tersebut, sehingga banyak anggapan bahwa Pendidikan jasmani boleh dilaksanakan oleh guru bidang studi lain.

Hal ini tercermin dari berbagai gambaran negatif tentang pembelajaran Pendidikan jasmani, mulai dari kelemahan proses, misalnya membiarkan peserta didik bermain sendiri hingga rendahnya mutu hasil pembelajaran, seperti kebugaran jasmani yang rendah.

Di kalangan guru Pendidikan jasmani sering ada anggapan bahwa pelajaran Pendidikan jasmani dapat dilaksanakan seadanya, sehingga pelaksanaannya cukup dengan cara menyuruh peserta didik pergi ke lapangan, menyediakan bola sepak untuk laki-laki dan bola voli untuk perempuan. Guru hanya mengawasi di pinggir lapangan.

Mengapa bisa terjadi demikian? Kelemahan ini berpangkal pada ketidakpahaman guru Pendidikan jasmani tentang konsep Pendidikan jasmani di sekolah. Seorang guru Pendidikan jasmani harus mengetahui dengan jelas tentang pengertian, prinsip-prinsip, dan fungsi serta peranan pendidikan jasmani yang sesungguhnya. Untuk memahami hal tersebut di atas Anda harus menyimak dan memahami konsep pendidikan jasmani itu sendiri. Tujuan Pendidikan Jasmani Tujuan pendidikan jasmani sudah tercakup dalam pemaparan di atas yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari berbagai kegiatan yang membina sekaligus mengembangkan potensi peserta didik, baik dalam aspek fisik, mental, sosial, emosional dan moral.

Pada aspek moral inilah sebagai ciri penerapan pendidikan berkarakter dalam pendidikan jasmani. Arti kata berkarakter dapat dipahami secara umum bahwa kualitas moral yang positif (Anwar, 2010 dalam Mutohir.,dkk. 2011:40). Hal tersebut diperkuat oleh Kemdiknas, 2010 dalam Mutohir, dkk.,2011, bahwa pendidikan berkarakter harus dimulai sejak usia Sekolah Dasar melalui menanamkan nilai-nilai budi pekerti, watak, dan moral yang positif yang bertujuan untuk memelihara kebaikan dan selalu mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pendidikan jasmani guru harus berupaya untuk merancang pembelajaran pendidikan jasmani yang dapat menanamkan sifat-sifat karakter tersebut, sesuai pilar karakter/nilai yakni; jujur, hormat, tanggungjawab, berprilaku adil, peduli, dan beradab (Maksum 2010, dalam Mutohir, dkk, 2011).

Misi pendidikan jasmani tercakup dalam tujuan pembelajaran yang meliputi domain kognitif, afektif dan psikomotor, serta kebugaran jasmani. Perkembangan pengetahuan atau sifat-sifat sosial bukan sekedar dampak pengiring yang menyertai keterampilan gerak. Tujuan itu harus masuk dalam perencanaan dan skenario pembelajaran. Kedudukannya sama dengan tujuan pembelajaran pengembangan domain psikomotor dan kebugaran jasmani.

Dalam hal ini, untuk mencapai tujuan tersebut, guru perlu membiasakan diri untuk gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh peserta didik tentang apa yang akan dipelajari berlandaskan pemahaman tentang prinsip-prinsip yang mendasarinya. Tujuan pendidikan jasmani pada hakekatnya merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan nasional seperti tertuang dalam tujuan kurikulum pendidikan jasmani di Sekolah Dasar tahun 2006, yakni; • Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas olahraga terpilih.

• Meningkatkan pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis yang lebih baik. • Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar. • Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan. • Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri, dan demokratis. • Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

• Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat, dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif. Aktivitas interaksi sosial yang terjadi dalam peranannya yang bersifat mendidik dimanfaatkan secara sengaja untuk menumbuhkan berbagai kesadaran emosional dan sosial peserta didik yang berkarakter. Dengan demikian peserta didik akan tumbuh dan berkembang secara totalitas, yang akan mendukung tercapainya aneka kemampuan.

Makna dari pendidikan fisik adalah pendidikan yang diberikan melalui aktivitas jasmani, namun tujuannya tetap mengacu kepada segala aspek kependidikan, termasuk di dalamnya ada aspek-aspek kejiwaan (pertumbuhan mental) dan sosial peserta didik.

Harapannya peserta didik dalam proses pembelajaran dapat meningkat kegiatan fisiknya, maka pertumbuhan mentalnya juga dapat berkembang. Dengan demikian pendidikan jasmani lebih bermakna dalam kehidupan nyatadi masyarakat secara berkesinambungan.Jadi nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan jasmani tidak berhenti setelah pembelajaran pendidikan jasmani selesai, namun diharapkan selalu berkembang sepanjang hayat dalam kehidupan di masyarakat.

Pemahaman tersebut di atas juga diperkuat oleh James A. Baley dan Gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh dalam Freeman, (2001) bahwa pendidikan fisik yang dimaksud adalah aktivitas jasmani yang membutuhkan upaya yang sungguh-sungguh.

Lebih lanjut kedua ahli ini menyebutkan bahwa: ‘Pendidikan jasmani adalah suatu proses terjadinya adaptasi dan pembelajaran secara organik, neuromuscular, intelektual, sosial,kultural, emosional, dan estetika yang dihasilkan dari proses pemilihan berbagai aktivitas jasmani.’ Aktivitas jasmani yang dipilih harus disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai.

Aktivitas fisik yang dipilih dan dilakukan, haruslah kegiatan yang wajar dan tidak dipaksakan, sehingga semua peserta didik dapat melakukannya.dengan gembira, tanpa ada tekanan dari guru, sehingga semua aspek yang menjadi target dalam pendidikan jasmani dapat tercapai. Selain pengertian pendidikan jasmani yang telah diungkap oleh para pakar di atas, kurikulum pendidikan dasar (2003 ; 1) lebih mengokohkan lagi tentang pengertian pendidikan jasmani, yakni; “Pendidikan jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematik yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neorumuscular, perseptual, kognitif dan emosional.” Berdasarkan beberapa rumusan diatas, dapat dikaji bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian dari pendidikan secara keseluruhan yang menggunakan aktivitas jasmani sebagai kegiatan pembelajarannya untuk meningkatkan kemampuan fisik dan nilai-nilai fungsional yang mencakup aspek kognitif, afektif, psikomotor, mental dan sosial, termasuk di dalamnya pola hidup sehat serta kebugaran jasmani.

Diharapkan melalui kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani yang teratur dan berkesinambungan, perkembangan hidup peserta didik akan semakin sempurna, bukan saja berkembang dan bertumbuh secara fisik saja, namun juga emosional dan sosial akan menjadi lebih baik karena mampu berinteraksi dengan baik pula.

Pernyataan tersebut didukung oleh pendapat Sukintaka (2004:21) bahwa pendidikan jasmani adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan melalui aktivitas jasmani yang disusun secara sistematis untuk menuju manusia Indonesia seutuhnya. Sebagai salah satu contoh, jika dalam pendidikan jasmani guru menugaskan peserta didik untuk bermain sepak bola, maka akan terbentuklah beberapa kelompok kecil. Dalam kelompok kecil tersebut akan terjalin hubungan yang kuat antar individunya, mereka akan bekerjasama dengan baik agar dapat mencapai suatu kemenangan.

Namun harus ditekankan juga bahwa dalam permainan, masing-masing individu haruslah bersikap sportif, menghargai kawan, lawan bahkan teman yang bertugas sebagai wasit. Pendidikan jasmani sebagai bagian integral dari proses pendidikan secara keseluruhan. Kiprah pendidikan jasmani dalam berupaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan berlandaskan pada Undang-undang RI No 20 Tahun 2003, pasal 1 ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa pendidikan gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh usaha sadar yang dilakukan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan pelatihan bagi peranannya di masa datang.

Dengan demikian pendidikan nasional merupakan suatu sistem kesatuan yang utuh dan terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan. Salah satu sistem kegiatan pendidikan nasional yang harus dilaksanakan adalah program pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (Pendidikan jasmani) sebagaimana tertuang dalam bab IX pasal 39 butir 3 k. tentang isi kurikulum bahan kajian pendidikan jasmani dan kesehatan, yang merupakan salah satu bahan kajian kurikulum pendidikan.

Hal tersebut berarti kajian pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan merupakan wahana untuk mencapai tujuan pendidikan secara keseluruhan dalam komponen sistem pendidikan nasional.Dengan demikian Pendidikan jasmani sebagai salah satu subsistem pendidikan yang wajib diajarkan di sekolah, hal tersebut dikarenakan memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkarakter. Dampak yang akan diperoleh dari hasil kegiatan pendidikan tersebut adalah berupa kemampuan baik secara fisik maupun pikiran bagi manusia untuk menyelesaikan dan menghadap tantangan kehidupan pada masa kini dan mendatang.

Reference: • Abdul Kadir Ateng. 1993. Pendidikan Olahraga. Jakarta: IKIP Jakarta • Agus Mahendra. 2003. Falsafah Pendidikan Jasmani. Jakarta: Direktorat Pendidikan Luar Biasa • Brezinka, Wolfgang. 1992. Philosophy of Educational Knowledge; An Introduction to the Foundations of Science of Education, Philosophy of Education and Practical Pedagogics. https://link.springer.com/content/pdf/bfm%3A978-94-011-2586-4%2F1.pdf (diakses Tanggal 21 January 2015) • Chandler, Timothy.

Mike Cronin and Wray Vamplew. 2007. Sport And Physical Education: The Key Concepts Second Edition. Halaman 166. Routledge Taylor & Francis Group: USA-Canada.

diakses tanggal 2 Oktober 2019 pada https://epdf.pub/sport-and-exercise-psychology-the-key-concepts-routledge-key-guides.html • Jean Whitehead, Hamish Telfer, and John Lambert. 2013.

Values in Youth Sport and Physical Education. page 17, London and New York: Routledge Taylor & Francis Group. • Toho Cholik Mutohir, dkk. 2011. Berkakter Dengan Olahraga Berolahraga Dengan Berkarakter, Olahraga Membangun Karakter Bangsa. Surabaya: PT Java Pustaka Group. • William H.

Freeman. 2001. Physical Education and Sport in a Changing Society, 6th Edition. Campbell University • Winarno, M.E. 2006. Dimensi Pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahrag. Laboratorium Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang.

Mahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (Penjaskesrek) dan khususnya Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes) tentu sudah tidak asing lagi dengan "Silabus dan RPP", karena hal ini merupakan sesuatu yang senantiasa mewarnai setiap kegiatan sehari-hari bagi guru Penjasorkes. Silabus dan RPP harus dibuat sebagai persiapan untuk mengajar atau melakukan proses pembelajaran dengan penuh perencanaan dan persiapan yang baik Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 20 dijelaskan: Masalahnya guys, masih ada sebagian besar guru Penjasorkes dalam kegiatan proses belajar mengajar, masih terkesan kurang persiapan atau dengan kata lain Silabus dan RPP yang telah ada dan di buat hanya sebagai pelengkap administrasi pembelajaran saja.

Kadangkala keduanya tidak difungsikan sebagaimana mestinya, sehingga proses pembelajaran tersebut terkesan tiba masa tiba akal. Mudah-mudah postingan kali ini dapat menepis kesan yang kurang baik tentang silabus dan RPP. Berbagi Referensi - Istilah silabus dapat didefinisikan sebagai "Garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran" (Salim, 1987: 98).

Istilah silabus digunakan untuk menyebut suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari SK dan KD yang ingin dicapai, dan materi pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai SK dan KD. Jadi, Silabus adalah sebagai acuan dalam penyusunan dan pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran. Silabus yang merupakan draf awal kumpulan materi yang akan diajarkan selama satu semester atau selama dua semester.

Silabus bermanfaat sebagai pedoman dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut, seperti pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran, dan pengembangan sistem penilaian.

Silabus merupakan sumber pokok dalam penyusunan rencana pembelajaran, baik rencana pembelajaran untuk satu SK maupun satu KD. Silabus juga bermanfaat sebagai pedoman untuk merencanakan pengelolaan kegiatan pembelajaran, misalnya kegiatan belajar secara klasikal, kelompok kecil, atau pembelajaran secara individual.

Demikian pula, silabus sangat bermanfaat untuk mengembangkan sistem penilaian. Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi sistem penilaian selalu mengacu pada SK, KD, dan indikator yang terdapat di dalam silabus. Pengembangan Silabus Pembelajaran dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendidikan.

Sebagai tenaga professional yang memiliki tangung jawab langsung terhadap kemajuan belajar peserta didik, seorang guru diharapkan mampu mengembangkan silabus sesuai dengan kompentensi mengajarnya secara mandiri. Di sisi lain guru lebih mengenal karakteristik peserta didik dan kondisi sekolah serta lingkungannya.

Dalam pengembangan Silabus pembelajaran ini baik sekolah, kelompok kerja guru, atau dinas pendidikan dapat meminta bimbingan teknis dari perguruan tinggi, LPMP, atau unit utama terkait yang ada di Departemen Pendidikan Nasional.

Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam menyusun Silabus, yaitu: • Konsisten, yaitu adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, kegiatan belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian. • Memadai, yaitu cakupan indikator, materi pokok, kegiatan belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

• Ilmiah, yaitu keseluruhan materi dan kegia¬tan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggung-jawabkan secara keilmuan. • Relevan, yaitu cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik.

• Sistematis, yaitu komponen-komponen sila¬bus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. • Aktual dan Kontekstual, yaitu cakupan indikator, materi pokok, kegiatan belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memper¬hatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

• Fleksibel, yaitu keseluruhan komponen si¬labus dapat mengakomodasi keragaman pe¬serta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di SD dan tuntutan masyarakat.

Pemilihan media, bahan ajar, dan kegiatan pembelajaran dapat mengakomodasi • Menyeluruh, yaitu komponen silabus men¬cakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, dan psikomotor). Langkah Penyusunan Silabus dengan Pendekatan Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan sesuai dengan struktur dan muatan kurikulum yang ditetapkan, pembelajaran di MI/SD menggunakan pendekatan mata pelajaran. Secara umum langkah penyusunan silabus dengan pendekatan mata pelajaran pendidikan jasmani gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh dan kesehatan sebagai berikut: Sebelum menyusun silabus, perlu dilakukan pengkajian komponen KTSP yang berkaitan dengan penyusunan silabus yaitu SK/KD dalam Standar Isi danstruktur dan muatan kurikulum.

Perlu analisis mendalam keseluruhan SK/KD dalam Standar Isi untuk memperoleh gambaran keseluruhan SK/KD dan hubungan serta kedalaman suatu SK/KD dalam mata pelajaran penjasorkes.

Setelah melihat hubungan dan kedalamannya penyusun silabus gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh pemetaan yang menunjukkan urutan penyajian/ pengelompokan SK/KD danalokasi waktu yang disediakan untuk SK/KD tertentu.

Alokasi waktu ini didistribusikan pada pemetaan berdasarkan pekan efektif. Langkah ketiga penyusunan silabus adalah menjabarkan komponen-komponen silabus yang mencakup standar kompetensi dan kompetensi dasar, kegiatan pembelajaran, materi pokok/pembelajaran indikator pencapaian kompetensi, penilaian, sumber, dan alokasi waktu belajar. Salah satu format penjabaran silabus dicontohkan berikut; Standar Kompetensi adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap tingkat dan atau semester untuk mata pelajaran tertentu.

Standar Kompetensi yang dipilih atau digunakan sesuai dengan yang terdapat dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran.

Sebelum menentukan atau memilih Standar Kompetensi, penyusun terlebih dahulu mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal berikut : • urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi; • keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran; • keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran.

• menuliskan Standar Kompetensi di dalam kolom matriks silabus yang tersedia. Indikator merupakan penanda/bukti pencapaian kompetensi dasar yang ditengarai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah, dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. Dengan kata lain indikator merupakan tingkah laku operasional yang menjadi bukti / tanda tercapainya kompetensi dasar.

Prinsip Penyusunan Indikator • Indikator dijabarkan sesuai karakteristik kompetensi dasar (bisa dengan penjabaran kata kerja pada KD, penjabaran lingkup materi pada KD, atau kedua-duanya) • Indikator disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan sekolah • Indikator dapat diamati dan diukur ketercapaiannya • Indikator menjadi acuan penyusunan penilaian • Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja operasional.

Menganalisis karakteristik kata kerja dan lingkup materi yang ada pada Kompetensi Dasar (termasuk kognitif, psikomotor,dan afektif). • Mempertanyakan perilaku apa yang dapat diamati/diukur sebagai bukti pencapaian kompetensi • Menjabarkan tingkat kompetensi (kata kerja pada KD) dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi • Menjabarkan materi pada KD • Merumuskan indikator yang sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat kompetensi dan materi untuk mencapai kompetensi.

Penjabaran indikator dari kompetensi dasar yang termasuk kategori kognitif dilakukan dengan mencermati kata kerja yang ada pada kompetensi dasar. Dasar rincian dapat menggunakan Taksonomi Bloom (C1 berupa ingatan, C2 = pemahamanC3 = penerapan, C4 = analisis, C5 = sintesis, dan C6 = evaluasi.

gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh

Prinsip penjabaran indikator adalah merinci kata kerja dan kata benda (isi) dalam kompetensi dasar. Kategori kognitif kata kerja operasional yang digunakan biasanya berupa kata: memahami, mengetahui, menjelaskan, dan lain-lain. Perumusan indikator kompetensi dasar yang berupa psikomotor dirumuskan dalam bentuk kata kerja operasional melakukan atau mempraktikkan dengan merinci materi dalam KD (kata kerja dalam KD tetap).

Pada KD dengan kategori psikomotor kata kerja yang digunakan biasanya berupa kata: melakukan, mempraktikkan, mendemonstrasikan, mensimulasikan dan sebagainya. Materi pada KD dirinci menjadi tahapn-tahapan kegiatan melakukan suatu keterampilan. Menganalisis karakteristik kata kerja dan lingkup materi yang ada pada KD.

Kata kerja dalam kelompok afektif dapat berupa kata kerja menyetujui, membiasakan, berperilaku, menghindari, menerapkan perilaku, menunjukkan perilaku dan sebagainya. Karena kata kerja operasional untuk kompetensi dasar afektif ada yang sulit dioperasionalkan, perlu proxy indicator yaitu indikator perantara yang menunjukkan tanda tercapainya indikator. Tujuan pembelajaran adalah hal yang akan dicapai dalam pembelajaran.Tujuan pembelajaran dirumuskan dan dijabarkan sesuai dengan karakteristik dan cakupan kompetensi dasar.

Tujuan bisa berupa jabaran tahapan logis dari KD (satu KD beberapa tujuan ) atau bisa juga sama dengan KD (satu KD satu tujuan pembelajaran).

Kedalaman tujuan disesuaikan dengan kondisi peserta didik. Prinsip penulisan tujuan (1) tujuan harus operasional, (2) tujuan dijabarkan dari KD (per tahap dalam mencapai KD). Misalnya; pada KD yang berupa keterampilan dijabarkan menjadi tujuan (a) mampu menjelaskan konsep/prinsip/prosedur yang berkaitan dengan cara melakukan keterampilan tertentu, dan (b) mampu melakukan keterampilan, dan (3) rumusan tujuan mencakup kata kerja operasional dan cakupan materi.

Penulisan secara sederhana untuk tujuan pembelajaran adalah menambahkan kata mampu atau dapat pada awal kalimat yang ada pada indikator capaian pembelajaran. Materi pembelajaran berupa fakta,konsep, prinsip,posedur, dan nilai-nilai.

Materi pembelajaran ditentukan dari kata benda yang terdapat pada kompetensi dasar. Prinsip pemilihan materi pokok diuraikan sebagai berikut: • Materi cukup memadai (kedalaman / keluasannya) untuk memfasilitasi peserta didik mencapai kompetensi dasar • Materi sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik; • Materi harus bermakna dan bermanfaat bagi peserta didik; • Kesesuaian materi dengan karakteristik kompetensi dasar • kompetensi dasar dengan karakteristik keterampilan berarti materi berupa prosedur dan praktik/ latihan-latihan • kompetensi dasar yang berfokus pada pemahaman konsep materi berupa jabaran konsep, prinsip, dan contoh penerapan konsep • kompetensi dasar yang berfokus pada pembentukan sikap berupa jabaran contoh-contoh penerapan sikap, manfaat / kerugian/ dampak suatu sikap, latihan menerapkan sikap Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar.

Pengalaman dasar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar juga mencakup kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran, penting bagi para penyusun silabus untuk memfokuskan pada jenis-jenis pengalaman belajar yang sesuai dan aktivitas pembelajaran yang akan membantu peserta didik mencapai hasil pembelajaran atau standar kompetensi yang telah ditetapkan.

Pada pengembangan kegiatan pembelajaran ini perhatian penyusun silabus harus ditekankan pada bagaimana cara belajar dan bukan apa yang dipelajari. Untuk itu, pada kolom kedua silabus dikembangkan indikator. Selain itu, ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut; • Kegiatan pembelajaran disusun berpusat pada peserta didik.

Hal ini sesuai dengan prinsip pelaksanaan kurikulum yang memusatkan kegiatan pembelajaran kepada peserta didik. • Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar. • Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran. • Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik, yaitu kegiatan peserta didik dan materi.

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian digunakan dengan menggunakan gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh dan nontes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, dan pengukuran sikap.

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Tips untuk menguji ketepatan alat Penilaian dalam silabus • Apakah alat asesmen sesuai dengan indikator gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh kompetensi dasar?

• Apakah metode pengukuran / Penilaian merupakan metode yang terbaik untuk mengukur indikator dari kompetensi dasar ini? Apakah Ada cara yang paling relevan untuk mengukur ketercapaian indikator? Guru perlu memutuskan cara yang paling tepat untuk mengukur kompetensi dan indikator yang sebenarnya untuk menunjukkan bahwa apa yang diharapkan telah berhasil dicapai.

Dalam penulisan silabus yang berhubungan dengan pengukuran peserta didik, terdapat dua prinsip penting yang harus dipertimbangkan oleh penyusun silabus. (i) Menggunakan berbagai alat penilaian • Guru membuat tes (pilihan guru, jawaban ringkas, Benar/salah, mencocokkan dan karangan. • Produk / contoh pekerjaan peserta didik (kerja praktek, karangan, bagan, model, proyek, tugas, melengkapi pekerjaan rumah, buku tugas, dan sebagainya.

gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh

• Pengamatan yang sistematis terhadap pekerjaan peserta didik di kelas (melaksanakan kerja praktek untuk IPA dan IPS, menyelesaikan soal-soal matematika, mengamati pekerjaan dan performa mereka dalam kelas drama).

• Skala penilaian dan daftar (misalnya performa peserta didik dalam debat atau drama, partisipasi dan kerja sama dalam diskusi kelompok dengan peserta didik lain, performa lisan dalam diskusi kelas dan penyelesaian tugas praktik). • Ujian lisan • Kinerja/ unjuk kerja atau kerja praktik yang berisi demonstrasi agar peserta didik menunjukkan pemahaman dan keterampilannya berkaiatan dengan kompetensi dasar.

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya. Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. Sesuai dengan prinsip pelaksanaan kurikulum yang ditetapkan sumber belajar yang dipilih diharapkan banyak memanfaatkan lingkungan sekitar.

Prinsip Alamtakambang hendaknya jadi acuan. Semua yang terkembang di alam semesta / di lingkungan sekitar menjadi alat pembelajaran. Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentinggan kompetensi dasar.

Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. Untuk itu, perlu dilhat kembali pemetaan hasil bedah KD yang telah dilakukan pada kegiatan sebelumnya. Alokasi waktu untuk satu jam pelajaran untuk SD adalah 35 menit. Simulasi dalam penyusunan silabus Penjasorkes, sesuai dengan struktur dan muatan kurikulum yang ditetapkan, pembelajaran di MI/SD menggunakan pendekatan mata pelajaran.

Pada bahagian ini akan diuraikan setiap kolom yang terdapat pada format silabus, secara umum langkah penyusunan silabus dengan pendekatan mata pelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, format yang akan diuraikan seperti dibawah ini; Tujuan bisa berupa jabaran tahapan logis dari KD (satu KD beberapa tujuan) atau bisa juga sama dengan KD (satu Gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh satu tujuan pembelajaran).

Prinsip penulisan tujuan (1) tujuan harus operasional, (2) tujuan dijabarkan dari KD (per tahap dalam mencapai KD), (3) ditambahkan kata mampu atau dapat pada kalimat yang ditulis di indikator. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar.

Dengan demikian kegiatan pembelajaran yang ditulis pada silabus, cukup menuliskan kegiatan yang akan dikembangkan pada bagian inti pembelajaran yang terdapat di RPP. Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian digunakan dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, dan pengukuran sikap.Untuk menilai indikator kognitif penilaiannya secara tertulis atau lisan, dan untuk menilai indikator psikomotor penilaiannya melalui unjuk kerja/kinerja, sedangkan untuk menilai indikator afektif penilaiannya melalui dengan observasi / pengamatan langsung selama proses pembelajaran.

Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. Sesuai dengan prinsip pelaksanaan kurikulum yang ditetapkan sumber belajar yang dipilih diharapkan banyak memanfaatkan lingkungan sekitarmenjadi alat pembelajaran.

Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.

Alokasi waktu untuk satu jam pelajaran untuk SD adalah 35 menit. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah sebagai acuan dalam penyusunan dan pengembangan proses pelaksanaan pembelajaran, sehingga memiliki posisi yang sangat penting dalam proses pembelajaran Penjasorkes. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD).

Setiap guru Penjasorkes pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru Penjasorkes merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.

Langkah-langkah minimal dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dimulai dari mencantumkan Identitas RPP, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian. Setiap komponen mempunyai arah pengembangan masing-masing, namun semua merupakan suatu kesatuan. Penjelasan tiap-tiap komponen adalah sebagai berikut; 1. Mencantumkan Identitas Hal yang perlu diperhatikan adalah : • RPP boleh disusun untuk satu Kompetensi Dasar.

• Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus. (Standar kompetensi – Kompetensi Dasar – Indikator adalah suatu alur pikir yang saling terkait tidak dapat dipisahkan, tidak boleh ditambah dan dikurangi kalimatnya, karena merupakan sesuatu yang telah dibakukan) • Indikator merupakan: • ciri perilaku (bukti terukur) yang dapat memberikan gambaran bahwa peserta didik telah mencapai kompetensi dasar. • penanda pencapaian kompetensi dasar berupa perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup pengetahuan, keterampilan dansikap.

• dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan potensi daerah. • rumusannya menggunakan kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi (diamati).

• digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. • Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar, dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan (contoh: 2 x 35/40/45 menit).

Karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada kompetensi dasarnya, untuk SD lama untuk 1 jam pelajaran sama dengan 35 menit.

Tujuan pembelajaran adalah hal yang akan dicapai dalam pembelajaran.Tujuan pembelajaran dirumuskan dan dijabarkan sesuai dengan karakteristik dan cakupan kompetensi dasar. Sebagai contoh :Kegiatan pembelajaran: ”Mendapat informasi tentang sistem peredaran darah pada manusia”. Maka tujuan pembelajaran, boleh salah satu atau keseluruhan tujuan pembelajaran, misalnya peserta didik dapat: • mendeskripsikan mekanisme peredaran darah pada manusia.

• menyebutkan bagian-bagian jantung. • merespon dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman sekelasnya. • mengulang kembali informasi tentang peredaran darah yang telah disampaikan oleh guru. 3. Menentukan Materi Pembelajaran • Untuk memudahkan penetapan materi pembelajaran, dapat mengacu pada indikator.

Contoh; Indikator : Peserta didik dapat menyebutkan ciri-ciri kehidupan. • Materi pembelajaran : • Ciri-Ciri Kehidupan : Nutrisi, bergerak, bereproduksi, transportasi, regulasi, iritabilitas, bernapas, dan ekskresi. 4. Menentukan Metode Pembelajaran Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.Karena itu pada bagian ini cantumkan pendekatan pembelajaran dan metode yang diintegrasikan dalam gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh kegiatan pembelajaran: • Pendekatan pembelajaran yang digunakan, misalnya: pendekatan proses, kontekstual, pembelajaran langsung, pemecahan masalah, dan sebagainya.

• Metode-metode yang digunakan, misalnya: ceramah, demonstrasi, inkuiri, observasi, tanya jawab, kooperativ learning, e-learning dan sebagainya. Dalam kegiatan pendahuluan, guru: • menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran; • mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; • menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; • menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus.

Dalam kegiatan eksplorasi, guru: • melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber; • menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar lain; • memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya; • melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan • memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio atau lapangan.

Dalam kegiatan elaborasi, guru: • membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna; • memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis; • memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut; • memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif; • memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar; • memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis secara individual maupun kelompok; • memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja secara individual maupun kelompok.

• memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan; • memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

Dalam kegiatan konfirmasi, guru: • memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik; • memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber; • memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan; • memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar: • berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar; • membantu menyelesaikan masalah; • memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi; • memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh; dan • memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

Dalam kegiatan penutup, guru: • bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran; • melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram; • memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; • merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; • menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

• Jawaban dibuktikan dengan melakukan observasi secara acak, hasil supervisi kepala sekolah/madrasah, dan kesesuaian RPP dengan pelaksanaan proses pembelajaran. Catatan: Gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh pembelajaran dimungkinkan disusun dalam bentuk seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model pembelajaran yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya.

Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan. Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan. Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat dan gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh.

Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional, dan bisa langsung dinyatakan bahan ajar apa yang digunakan. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referensi, dalam RPP harus dicantumkan bahan ajar yang sebenarnya. Menyusun sebuah perangkat pembelajaran berupa RPP, senantiasa guru Penjasorkes perlu memperhatikan hal-hal yang berikut ini, serta sekaligus dapat dijadikan sebuah pertanyaan, kenapa RPP tersebut tdk boleh sama dari segi uraian/isi antara guru Penjasorkes yang satu dengan yang lainnya, yakni; • Memperhatikan perbedaan individu peserta didik RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan individual gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh didik, jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.

• Mendorong partisipasi aktif peserta didik RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.

RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya. • Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran.

Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap (kognitif, psikomotor, dan afektif). Ranah Kognitif, ranah ini terdiri atas sasaran yang berkaitan dengan informasi atau pengetahuan dan pemikiran yaitu menamai, memecahkan, meramalkan, dan aspek berpikir lainnya.Taksonomi (metode klasifikasi urutan berdasarkan jenjang) ranah kognitif tersusun atas dua kelompok utama sebagai berikut: a) Hafalan sederhana mengenai informasi Urutan ranah kognitif dari yang paling sederhana sampai pada yang paling sulit adalah pengetahuan- pemahaman- penerapan- analisis- sintesis- dan evaluasi.

Contoh sasaran pengajaran pada setiap tingkat dari ke enam tingkat dalam ranah kognitif: • Materi pelajaran : Gerak Lokomotor (jalan, lari, dan lompat) • Pengetahuan : Sebutkan semua gerakan yang termasuk dalam kelompok gerak lokomotor. • Pemahaman : Jelaskan ciri masing-masing dari gerak dasar jalan, lari, dan lompat.

• Penerapan : Praktikkan gerakan jalan, lari, dan lompat. • Analisis : Hitunglah panjang jangkauan antara jalan, lari, dan lompat • Sintetis : Identifikasihal-hal yang dapat mendukung gerak dasar jalan, lari, dan lompat. • Evaluasi : Bandingkanlah gerak dasar antara jalan, lari, dan lompat. Ranah psikomotor, ranah ini membahas keterampilan yang membutuhkan penggunaan dan koordinasi otot tubuh, seperti dalam kegiatan jasmani dalam melaksanakan, mengolah, dan membangun.

Klasifikasi ranah psikomotor yang paling mudah dimengerti adalah membaginya ke dalam enam golongan utama mengenai tingkah laku jasmani sebagai berikut: • Gerakan refleks, reaksi otot secara tidak sadar terhadap rangsangan. Gerakan ini adalah gerakan naluri dan tidak dipelajari. Contoh: Menegangkan, meregangkan, membengkokkan, atau merentangkan tangan dan kaki. • Gerakan pokok mendasar, pola gerakan tubuh yang terbentuk waktu kecil.

Pola gerakan ini berdasarkan pada gerakan refleks dan merupakan landasan bagi semua kegiatan psikomotor normal. Contoh: merangkak, berjalan, berlari, meloncat, menggapai dan memegang. • Kemampuan menghayati, mengamati dan menafsirkan rangsangan dalam lingkungan tempat seseorang berhubungan dengan benda/makhluk lain, dan dengan demikian membutuhkan gerakan penyesuaian.

Penghayatan melibatkan kesadaran kinestetik, seperti perubahan keseimbangan badan, pembedaan pandangan atau pendengaran, pembedaan rasa rabaan atau sentuhan, dan koordinasi gerakan mata-tangan dan mata-kaki. Contoh: berputar, membungkuk, menyeimbangkan, menangkap benda, menyepak bola, mempertunjukkan tarian sederhana.

• Kemampuan jasmani, termasuk daya tahan, kekuatan, keluwesan dan kelincahan gerak. Contoh: membuat gerakan yang cepat, berhenti dan memulai kembali suatu gerakan, memindahkan benda yang berat. • Gerakan yang menunjukkan keterampilan, melakukan tindakan rumit secara efisien. Contoh: memainkan alat musik, menggunakan perkakas dengan tangan, merakit bagian-bagian dari suatu benda, mengemudikan kendaraan, dan memperbaiki mesin.

gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh

• Komunikasi berkesinambungan, gerakan jasmani yang bersifat refleks dan yang merupakan hasil belajar. Contoh: menarikan tari klasik, mengubah ekspresi wajah, serta ekspresi emosi atau perasaan secara jasmaniah.

Pengelompokkan lain yang meyangkut keterampilan psikomotor dikemukakan oleh Kibler dkk: • Gerakan kasar oleh tangan, bahu dan kaki. Contoh: melemparkan bola jauh-jauh. • Koordinasi gemulai antara gerakan tangan dan jari, tangan dan mata, tangan dan telinga, dan gerakan tangan, mata serta kaki. Contoh: merajut baju bayi, menggunakan mesin ketik. • Komunikasi dengan bahasa isyarat melalui ekspres wajah, isyarat tangan, gerakan tubuh.

Contoh: meninjukkan emosi melalui ekspresi wajah, menyampaikan pesan lewat pantomim. • Tingkah laku dalam mengeluarkan dan memproyeksikan bunyi, mengkoordinasikan suara dan isyarat tangan. Contoh: memberi pengarahan dalam bahasa asing, deklamasi karya sastra dengan isyarat tangan sebagai penekanan. Ranah afektif, ranah ini mencakup sasaran yang menyangkut sikap, penghargaan, nilai dan emosi-menikmati, memelihara, menghormati dan seterusnya.

Krathwohl dkk menyusun ranah afektif dalam 5 jenjang: • Menerima, mau memperhatikan suatu kejadian/kegiatan. Contoh: mendengarkan, menyadari, mengamati, hati-hati terhadap. • Menanggapi, mau bereaksi terhadap suatu kejadian dengan berperan serta. Contoh: menjawab, menanggapi, mengikuti, menyetujui. • Menilai, mau menerima atau menolak suatu kejadian melalui pernyataan sikap positif atau negatif. Contoh: menerima, memperoleh, mengandaikan, mendukung, ikut serta, mengabdikan diri. • Menyusun, menyusun berbagai nilai, menentukan hubungan antara berbagai nilai dan menerima bahwa ada nilai yang lebih tinggi daripada yang lainnya.

Contoh: menyusun, memilih, mempertimbangkan, membuat rencana, memutuskan. • Mengenali ciri karena kompleks nilai, konsistensi peserta didik dalam bertindak dan mengikuti nilai yang berlaku dan menganggapnya sebagai bagian dari kepribadiannya. Contoh: percaya akan, mempraktekkan, mengerjakan, bertindak menurut tata nilainya sendiri. Semua ranah afektif, sama seperti ranah kognitif membentuk kesinambungan tingkah laku yang menyatakan sikap.

Ini mencakup gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh yang sederhana dan sikap menerima sampai pada sikap menghayati sebagai sikap yang menjadi bagian dari tata nilai yang dilaksanakan.

Keterkaitan ketiganya, ranah kognitif, psikomotor, dan afektif mempunyai hubungan yang erat dalam dua hal: • Satu sasaran tunggal dapat mencakup kegiatan belajar dalam dua atau bahkan dalam tiga ranah tersebut. • Perkembangan persikapan bahkan dapat mendahului kegiatan belajar dalam ranah lainnya. Kognitif, merupakan kategori yang memberikan perhatian yang lebih dalam program pendidikan.

S.Bloom.dkk, sebuah taksonomi bagi kognitif. Dalam hal ini, dia (kognitif) dimulai dari pengetahuan sederhana sampai tingkat tertinggi yaitu: • Mengetahui, merupakan kemampuan untuk mengingat, mengulang kembali apa yang didapat dan lain sebagainya; • Memahami, merupakan kemampuan untuk menafsirkan informasi yang diperoleh; • Penerapan atau aplikasi, merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi, teori-teori, prinsip-prinsip/ hukum-hukum dari situasi baru; • Analisis, merupakan kemampuan untuk membagi pengetahuan yang rumit menjadi bagian-bagian yang terurai dan mengetahui hubungan tiap bagian; • Sintesis, merupakan kemampuan untuk menyatukan bagian-bagian yang terpisah menjadi bentuk baru; • Evaluasi, merupakan kemampuan untuk menilai berdasarkan pada pengetahuan / pemberian kriteria.

Kriteria yang kedua adalah psikomotor. Ini adalah kemampuan dalam menggunakan dan mengkoordinasi otot rangka dalam aktivitas fisik dan melakukan sesuatu. Psikomotor ini meliputi: • Persepsi; menafsirkan rangsangan, peka terhadap rangsangan, dan mendiskriminasikan. • Kesiapan; melakukan konsentrasi dan menyiapkan diri secara fisik.

• Peniruan/gerakan terbimbing; dasar permulaan dari penguasaan keterampilan, peniruan contoh. • Gerakan mekanis; berketerampilan dan pengulangan kembali urutan fenomena atau rangkaian gerakan sebagai bagian dari usaha sadar yang berpegang pada pola. • Gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh respons kompleks; berketerampilan secara luwes, supel, lancer, gesit, dan lincah.

• Penyesuaian pola gerak; penyempurnaan keterampilan, menyesuaikan gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh, melakukan gerakan variasi, meskipun pengembangan berikutnya masih memungkinkan untuk diubah.

Kategori yang ketiga adalah afektif. Ini meliputi sikap, penilaian atau penghargaan, nilai-nilai dan emosi seseorang.David R.Krathwohl.dkk membagi afektif dalam lima tingkatan: • Penerimaan, keinginan untuk memberikan perhatian pada sebuah aktivitas; • Menanggapi, keinginan untuk mereaksi sesuatu; • Penilaian, keinginan untuk menerima sesuatu melalui sikap yang positif; • Pengorganisasian, ketika menemukan situasi yang memiliki lebih dari satu penerapan, keinginan untuk mengorganisasi nilai dapat digunakan; • Penggambaran sebuah nilai yang kompleks.

Metode pembelajaran digunakan oleh guru Penjasorkesuntuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap materi mata pelajaranPenjasorkes. Pendekatan pembelajaran tematik digunakan untuk peserta didik kelas 1 sampai kelas 3 SD/MI.

Kegiatan pendahuluan juga diisi dengan aktivitas pemanasan (warming up), yang berguna untuk menaikkan suhu badan serta menyiapkan kelompok otot dan persendian dalam mendukung kegiatan inti pembelajaran agar peserta didik terhindar dari cidera.Melakukan aktivitas pemanasan ini khususnya pada tingkatan SD, kegiatan pemanasannya dirancang dalam bentuk permainan sehingga peserta didik-peserta didik tidak merasa bosan.

Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut, serta penutup juga harus dimanfaatkan untuk proses pengembalian suhu badan peserta didik, sama atau mendekati suhu badan mereka ketika baru akan memulai pelajaran.

Proses pengembalian suhu badan mendekati suhu badan seperti di awal pembelajaran dapat dilakukan dengan cara; • Melakukan gerakan stretching ringan untuk pelemasan otot • Menurunkan atau mengurangi intensitas aktivitas gerak • Mengatur pernapasan sambil melakukan aktivitas gerak-gerak ringan. • Melakukan aktivitas yang dapat membuat mereka senang (ketawa), misalnya melalui bermain sambil bernyanyi. Hal penting yang tidak boleh kita lupakan adalah media sumber belajar.

Hendaknya kita memilih media yang cocok dengan kondisi dan materi yang akan diberikan. Media yang baik dapat memotivasi peserta didik dan dapat menjelaskan materi secara efektif serta mengilustrasikan isi materi.

Media yang digunakan dapat bermacam – macam. Media yang digunakan dapat berupa media cetak, media audio, media visual, dan media audio visual yang terpenting media itu dapat menunjang kegiatan personal maupun kelompok. Daftar Pustaka: • Annarino, AA., Copwell, CC, dan Hazelton, H.W. 1980. Curriculum Theory in Physical Education.St. Louis: CV.

Mosby Co. • Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: BSNP. • Badan Standar Nasional Pendidikan.2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.Jakarta: BSNP. • Bucher, Charles.

A. 1980. Foundation of Physical Education.St. Louis: CV. Mosby Co. • --------. 1983. Foundation of Physical Education & Sport. Ninth Edition.St. Louis: Te CV. Mosby Company. • Freeman, W.H. 1987. Physical Education and Sport A Changing Society. New York, London: McMillan Publ. Co. • Samsuddin.2007.

gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh

Silabus Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan.Fakultas Ilmu Keolahragaan UNJ. • ---------. 2007. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan.Fakultas Ilmu Keolahragaan UNJ.

• Yoyo, B. 2004.Media Pendidikan Jasmani.Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. • ► 2022 (1) • ► February (1) • ► 2021 (9) • ► December (1) • ► August (1) • ► May (1) • ► April (2) • ► February (1) • ► January (3) • ► 2020 (29) • ► December (1) • ► November (1) • ► October (1) • ► September (1) • ► August (1) • ► July (3) • ► June (1) • ► May (3) • ► April (3) • ► March (2) • ► February (5) • ► January (7) • ► 2019 (21) • ► December (8) • ► November (4) • ► October (8) • ► September (1) • ► 2018 (8) • ► December (2) • ► August (1) • ► May (1) • ► April (1) • ► March (3) • ▼ 2017 (16) • ► December (1) • ► November (1) • ► September (1) • ► August (1) • ► July (3) • ► June (2) • ▼ May (5) • GERAK LOKOMOTOR, GERAK NON LOKOMOTOR, GERAK MANIPU.

• GULAT • PENGERTIAN PENDIDIKAN JASMANI • SILABUS DAN RPP PENJASORKES • ADMINISTRASI PERTANDINGAN • ► February (2) • ► 2016 (23) • ► December (1) • ► October (2) • ► September (2) • ► August (3) • ► July (2) • ► June (3) • ► May (7) • ► March (2) • ► January (1) • ► 2015 (2) • ► September (1) • ► May (1)
Penggalan Kisah Pergolakan Identitas di Sekitar Saya Semasa aktif kuliah dulu, saya tergabung dalam organisasi Islam ekstra kampus.

Organisasi yang dikenal moderat khususnya dengan alumni-alumni yang menghasilkan karya-karya intelektual yang mendukung kebhinekaan, keindonesiaan, pluraslisme bahkan sekularisme. Terdapat berbagai tingkatan perkaderan dalam organisasi tersebut. Tingkat paling mikro adalah komisariat yang terdiri dari kader-kader baru dan para pengurus yang menjalankan organisasi tingkat fakultas dalam jenjang strata satu. Dalam komisariat saya, hampir seluruh anggota perempuan menggunakan hijab termasuk saya.

Saya pribadi menggunakan hijab sejak kelas 5 Sekolah Dasar. Suatu kali, seorang kakak tingkat perempuan di organisasi tempat kami bergabung tersebut bercerita bahwa ia mendapat tekanan dari para pengurus untuk mengenakan hijab karena dia gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh pengurus organisasi.

Hingga pada suatu hari kakak tingkat saya menggunakan hijab saat kegiatan rekrutmen anggota baru organisasi. Saya merasa ada hal baru dari kakak tingkat saya tersebut, lalu saya bertanya, “Sudah nyaman, kak?”, kami yang sangat dekat membuatnya tidak canggung mengutarakan pikirannya kepada saya.

“karena tekanan lingkungan, Fatimah”. “Kak, kakak punya hak atas diri kakak sendiri” demikian tanggapan saya kepada kakak tingkat saya tersebut. Kisah yang hampir serupa terjadi pada pertengahan tahun 2016 lalu, saat saya mengikuti sebuah pelatihan selama dua minggu tentang Hak Asasi Manusia di Jakarta.

Pada akhir sesi pelatihan, salah satu teman dalam pelatihan tersebut bercerita bahwa selama dia berkuliah yakni di salah satu universitas negeri di Jakarta, ia mendapat tekanan dari teman-teman satu kelasnya di jurusan Sosiologi gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh hanya ia yang tidak mengenakan hijab. Teman saya mengungkapkan bahwa hal yang paling menyakitkan bagi dia adalah ketika teman-temannya melakukan stigma bahwa ia merupakan perempuan yang belum mendapatkan hidayah kejalan yang benar.

Bahkan ia sempat dijauhi dari pergaulan teman-teman sekelasnya lantaran ia tidak mengenakan hijab. Kisah lain yang saya alami sendiri masih pada tahun yang sama ketika saya berlibur dengan teman- teman saya di sebuah danau, dua orang ibu tengah berbincang-bincang di sebelah kami, tiba-tiba menunjuk-nunjuk ke rarah kami yang duduk di samping mereka.

Dua orang ibu tersebut mengatakan bahwa perempuan-perempuan muslim adalah perempuan-perempuan lemah yang posisinya rendah dibanding pria dalam segala hal terkait praktik dalam agama.

Dua orang ibu tersebut mengatakan bahwa poligami dan hak waris sebagai hal-hal menindas namun perempuan muslim tidak kuasa menolak akibat doktrin agama yang memposisikan diri perempuan-perempuan muslim lemah dan rendah. Di tempat tersebut hanya ada kami berempat, dua orang ibu tersebut, serta saya dan teman saya yang juga berkerudung. Saya ingin mendengarkan argumentasi ibu-ibu tersebut hingga mereka selesai berbicara.

Saya ingin mendengarnya dengan seksama agar saya tidak terbawa prasangka terkait argumentasi ibu-ibu tersebut. Namun, teman saya menarik tangan saya untuk segera pergi dari tempat tersebut sembari mengusap air matanya. Tak kuasa saya melihat teman saya menangis, saya menuruti teman saya agar tangisnya tidak semakin menjadi. Kami pergi meninggalkan tempat wisata tersebut. Kisah yang hampir serupa dengan kisah diatas dan saya alami sendiri terjadi pada bulan Oktober 2017 lalu, saat saya mengikuti salah satu camp internasional bagi para pegiat sosial yang diselenggarakan di Jogjakarta.

Dalam camp tersebut, saya bertemu dengan berbagai aktivis gerakan sosial yang berkonsentrasi pada peningkatan akuntabilitas, good governance, feminisme, keterbukaan informasi publik, hak asasi manusia hingga para wartawan di wilayah Asia.

gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh

Para peserta yang bukan hanya berasal dari Indonesia mencoba untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi sosial di Indonesia, salah satunya bagi teman-teman peserta yang bertato diharapkan oleh panitia yang juga berasal dari luar Indonesia untuk menutup tatonya jika berada di luar camp.

Peserta pun diharapkan menggunakan celana yang minimal panjangnya sampai lutut bahkan dianjurkan menggunakan celana panjang. Bagi perempuan diharapkan menggunakan kaos yang panjangnya minimal sampai bahu dan menutupi pusar. Fasilitator acara mengutarakan tentang kondisi sosial-politik di Indonesia yang masih rentan dengan kekeruhan politik identitas, serta ormas-ormas yang rentan melakukan aksi kekerasan atas nama agama.

Saya setuju terhadap argumentasi tersebut. Seketika itu pula muncul sebuah candaan dari peserta ditengah-tengah penjelasan oleh fasilitator tersebut. Candaan tersebut meliputi poligami dan aksi terorisme yang disampaikan secara sarkas oleh para peserta.

Dalam camp tersebut peserta yang menggunakan kerudung hanyalah saya. Ketika candaan sarkas tersebut muncul, para partisipan memandang lekat-lekat kearah saya hingga muncul pertanyaan dalam benak saya, apakah saya dan identitas keagamaan yakni hijab saya mewakili pendukung poligami atau teror kekerasan atas nama agama tersebut?

Atau apakah saya perlu untuk dikasihani lantaran atribut dan identitas saya adalah bentuk dari ketertindasan jenis kelamin perempuan di agama saya yang pada akhirnya mempengaruhi posisi gender di lingkungan saya? Sebagai seorang muslimah, saya pribadi sangat tidak setuju dan sangat tidak mendukung praktik-praktik menindas yang dilakukan atas nama agama, misalnya poligami yang bagi saya merupakan KDRT psikologis bagi seorang istri, aksi-aksi kekerasan atas nama agama serta politik identitas keagamaan yang mengorbankan hak-hak kelompok minoritas yang menjadi sasaran.

Bahkan memaksa atau menghakimi seorang perempuan atas pilihannya mengenakan, melepaskan atau tidak menggunakan hijab adalah masalah yang perlu diperhatikan. Bahwa setiap orang, khususnya perempuan memiliki hak atau otonomi atas tubuhnya. Pengendalian Atas Identitas dan Tubuh Perempuan Jauh sebelum munculnya berbagai berita dan tanggapan para pengguna internet terkait public figure (tokoh publik, red) yang memutuskan untuk melepaskan hijabnya, para perempuan di lingkungan saya banyak yang menjadi sasaran stigma dari masyarakat, yakni dengan masalah yang sama seputar otonomi perempuan atas tubuhnya, misalnya persoalan hijab.

Jika seorang perempuan mengalami stigma dan kekerasan verbal secara langsung karena keputusannya untuk menentukan ekspresi dan otonomi atas tubuhnya, misalnya persoalan hijab baik menggunakan, melepaskan atau tidak menggunakan hijab di lingkungan sosialnya, dengan munculnya media sosial yang digunakan untuk mengekspresikan penolakan dan stigma terhadap keputusan perempuan dalam menentukan ekspresi, simbol dan hal-hak yang berkaitan dengan otonomi tubuh namun bertentangan dengan pendapat dan ideologi umum, dampak tekanan psikologis yang dialami perempuan tersebut lebih besar.

Stigma dan tekanan sosial yang selama ini dianggap sebagai kontrol sosial misalnya belenggu terhadap hak-hak atau otonomi perempuan dalam mengatur tubuhnya semakin besar dampak kekerasannya di era media sosial kini. Media sosial menjadi sarana untuk melontarkan stigma dan penghakiman terhadap seorang perempuan agar patuh terhadap nilai dan ideologi yang sesungguhnya bertentangan dengan pilihannya, keinginannya, kebutuhannya, pengalamannya dan hak-haknya. Tokoh publik yang mengalami stigma dan penghakiman oleh pengguna jagad internet di akun media sosialnya karena melepas hijabnya merupakan salah satu indikator bahwa kebebasan otonomi atas tubuh perempuan sangat sulit diperoleh di Indonesia.

Dampak stigma, diskriminasi, prasangka dan ujaran kebencian, baik di dunia sosial keseharian maupun di jagad maya yang berujung pada persekusi langsung maupun persekusi di media sosial berdampak negatif bagi psikologis seseorang yang menjadi sasaran stigma, salah satunya dengan timbunan komentar negatif di akun media sosial pribadinya atau sosoknya menjadi viral karena diberitakan seakan-akan melakukan penyimpangan sosial yang fatal.

Jika kelompok-kelompok sosial di tengah masyarakat masih kerap memanfaatkan persoalan identitas sebagai alat kepentingan, alat pengendali dan alat politik, maka masalah identitas masih akan kerap terjadi. Baik identitas keagamaan berikut atribut dan simbolnya sebagai kontrol sosial misalnya hijab dalam lingkup kehidupan sosial dianggap sebagai simbol harga diri dan kualitas seorang perempuan sehingga perempuan yang tidak menggunakan hijab atau melepaskan hijabnya adalah sebentuk penyimpangan serta sebuah kesalahan besar lalu sah untuk dipersekusi misalnya di jagad maya karena ia seorang public figure atau mendapatkan stigma karena ia seorang perempuan di lingkungan sosialnya.

Begitu pula terkait kebebasan gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh menggunakan identitas keagamaan menjadi ternodai akibat sikap dan perilaku oknum yang mengatasnamakan agama untuk kekerasan.

gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh

Sehingga, orang yang berasal dari penganut atau identitas non-keagamaan tersebut memaknai praktik kelompok kekerasan tersebut adalah praktik dan ideologi yang dimiliki secara umum oleh seluruh penganut agama tersebut. Mengenai persoalan identitas, perempuan sebagai kelompok rentan kerap mengalami kekerasan berlapis. Pertama adalah kekerasan muncul akibat perempuan tidak dilibatkan dalam perumusan definisi, pembentukan nilai dan distribusi norma-norma, baik yang berkaitan dengan identitas keagamaan atau identitas kebudayaan.

Perempuan tidak memperoleh hak dan akses langsung terhadap pembentukan norma dan nilai padahal sangat berhubungan erat dengan kebutuhannya, mengakibatkan posisi gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh terombang-ambing oleh tekanan-tekanan identitas sosial dan kontrol atas tubuhnya.

Hal ini sebagaimana yang dialami oleh perempuan-perempuan di sekitar saya yang berhijab karena tertekan secara psikologis akibat stigma lingkungan masyarakat. Tak terkecuali dampaknya yang secara tidak langsung dialami pula oleh public figure yang dipersekusi di jagad maya oleh masyarakat penguna media sosial karena persoalan otonomi tubuh.

Kedua, karena akses pembentukan nilai-nilai yang sedari awal tidak melibatkan perempuan, terbukti dengan banyaknya nilai-nilai dan aturan keagamaan yang misoginis, kentalnya budaya patriarki hingga keputusan-keputusan politik yang maskulin, hak-hak perempuan untuk menetukan identitas individual serta otonomi atas pengaturan terhadap tubuhnya kerap di intervensi oleh individu hingga masyarakat yang merasa memiliki otoritas dalam menentukan dan mengontrol tubuh perempuan.

Kontrol tersebut muncul akibat diberikannya hak istimewa kepada individu atau kelompok tertentu yang merasa berwenang dalam menafsirkan, memaknai dan memerintahkan dengan dalih budaya atau keagamaan guna menentukan dan mengontrol kehidupan perempuan. Tentu saja dengan bias gender karena perempuan tidak dilibatkan dalam pembentukan dan penafsiran nilai serta norma. Hal ini rentan terjadi dalam kehidupan rumah tangga tradisional, yakni otoritas suami terhadap istri atau ayah kepada anak-anaknya.

Ketiga, perempuan yang mengenakan atribut keagamaannya rentan mengalami stigma akibat perilaku oknum kelompok atau individu yang melakukan kekerasan atas nama agama.

Perempuan yang mengenakan atribut keagamaan tersebut meski tidak terlibat dalam tindakan-tindakan kekerasan, namun dianggap mewakili kelompok keagamaan yang menggunakan maskulinitas untuk kekerasan karena identitas perempuan tersebut dianggap mewakili secara genaral perilaku-perilaku kekerasan atas nama identitas keagamaan yang ia kenakan.

Hal ini dialami oleh muslimah yang mengenakan hijab di negara-negara di mana muslim menjadi minoritas, ditengah meningkatnya kasus-kasus teror atas nama agama Islam. Perempuan hanya menjadi objek dari interpretasi dan implementasi nilai-nilai serta keputusan-keputusan yang dibuat oleh pihak-pihak yang merasa otoritatif dalam mengendalikan dan mengontrol kehidupan perempuan.

Otoritas tersebut eksis dalam pengendalian atas identitas dan tubuh perempuan. Pengendalian tersebut merupakan objektivikasi terhadap tubuh perempuan. Namun, kita punya banyak pilihan, yang di antaranya gerakan mengontrol objek khususnya dengan menggunakan bagian tubuh diam dan menjadi bagian dari sikap-sikap yang melakukan objektifikasi terhadap perempuan atau mengambil peran dengan tidak melakukan objektivikasi terhadap perempuan serta membuat langkah-langkah penyadaran terhadap sikap-sikap yang mengobjektivikasi perempuan.

Pola gerak anak. PPFM, agusti 18087217




2022 www.videocon.com