Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah

raja kerajaan aceh yang terkenal adalah

Daftar Isi • 1. Sultan Ali Mughayat Syah • 2. Salahudin • 3. Alaudin Riayat Syah Al-Kahar • 4. Sultan Iskandar Muda • 5. Sultan Iskandar Thani • Peta Wilayah Kerajaan Aceh 5 raja yang pernah memerintah Kerajaan Aceh – Kerajaan Aceh terletak di tepi Selat Malaka yang beribukota di Kutaraja, yang sekarang bernama banda Aceh, Kabupaten Pidie. Kerajaan Aceh Berdiri pada abad ke-16 Masehi.

Ada raja kerajaan aceh yang terkenal adalah raja yang pernah memerintah kerajaan Islam ini, adapun raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Aceh kami rangkum di bawah ini. 1. Sultan Ali Mughayat Syah Sultan Ali Mughayat Syah merupakan raja Aceh sekaligus pendiri Kerajaan Aceh yang memerintah dari tahun 1514 sampai 1528. Pada awalnya Aceh merupakan bagian dari kerajaan Pidie.

Namun, berkat kegigihannya Aceh mampu melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pidie. 2. Salahudin Salahudin merupakan raja Aceh pengganti Sultan Ali Mughayat Syah. Pada suatu waktu, Salahudin gagal menyerang, maka pada tahun 1537 Salahudin dijatuhkan oleh Alaudin Riayat Syah Al-Kahar. 3. Alaudin Riayat Syah Al-Kahar Alaudin Riayat Syah Al-Kahar adalah raja Aceh pengganti Salahudin yang pada suatu waktu menyerang wilayah Batak, Aru, Johor, dan Malaka. 4. Sultan Iskandar Muda Sultan Iskandar Muda adalah raja Aceh yang memerintah dari tahun 1607 sampai 1638.

5. Sultan Iskandar Thani Sultan Iskandar Thani adalah raja Aceh pengganti Sultan Iskandar Muda, yang memerintah dari tahun 1638 sampai 1641. Semasa pemerintahan Sultan Iskandar Thani, Kerajaan Aceh tidak mengalami kemajuan. Setelah beliau wafat, Aceh semakin Mundur. Kemunduran Aceh disebabkan oleh pertikaian dalam kerajaan itu sendiri. Pada saat itu Belanda berhasil menguasai Malaka dan Nusantara. Tokoh sejarah yang terkenal pada masa Kerajaan Aceh adalah Sultan Iskandar Muda.

Semasa pemerintahannya Aceh mampu memperluas wilayah hingga ke Semenanjung Malaya (Johor, Pahang, dan Kedah). Kekuatan utamanya terletak pada angkatan perang Kerajaan Aceh. Armada angkatan lautnya merupakan yang terkuat di masa itu. Pada masa ini, Kerajaan Aceh mencapai puncak kejayaannya, perdagangan berkembang pesat, sehingga menjadikan Aceh sebagai pelabuhan internasional. Aceh menjalin hubungan yang baik dengan Kerajaan Turki, Persia, Cina, dan India.

Peta Wilayah Kerajaan Aceh Jika ingin mencari referensi lain mengenai Kerajaan Aceh, anda bisa melanjutkannya pada tautan di bawah ini : • Kerajaan Islam Aceh • Perlawanan Aceh terhadap Portugis Pada masa raja kerajaan aceh yang terkenal adalah Sultan Iskandar Muda hidup seorang ulama terkenal yang bernama Syeh Abdurauf Singkil yang mampu menerjemahkan Al Qur’an dari Bahasa Arab ke Bahasa Melayu.

Bukan itu saja, pada saat itu hidup pula sastrawan terkenal yang bernama Hamzah Fansuri. Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai 5 raja yang pernah memerintah Kerajaan Aceh, semoga menjadi tambahan catatan sejarah nusantara. Jakarta - Kerajaan Aceh merupakan sejarah Kerajaan Islam di Indonesia yang berdiri di provinsi Aceh. Kerajaan Aceh disebut juga Kesultanan Aceh.

Kesultanan Aceh didirikan oleh Ali Mughayat pada 1496 M. Pada awalnya Kesultanan Aceh sudah ada lebih awal dari Samudera Pasai. Setelah mengambil alih Samudera Pasai pada 1524 M, Kesultanan Aceh menjadi penguasa baru di wilayah Aceh. Berikut ini 5 Fakta Kerajaan Aceh yang telah dirangkum detikTravel: Baca juga: Sejarah Kerajaan Kutai, Masa Kejayaan Hingga Peninggalannya 1.

Sejarah Kerajaan Aceh Awal mula berdirinya Kerajaan Aceh yaitu pada 1496 yang berdiri di wilayah Kerajaan Lamuri yang lebih dulu ada. Kemudian Kerajaan Aceh melakukan perluasan wilayah dengan menundukan beberapa wilayah di sekitar kerajaan, seperti wilayah Kerajaan Dayak, Kerajaan Pedir, Kerajaan Lidie, dan Kerajaan Nakur. Pada Kerajaan Aceh, pemimpin tertinggi berada pada penguasaan Sultan.

Namun pada saat itu Kerajaan Aceh banyak dikendalikan oleh orang kaya. Dalam cerita Aceh, disebutkan ada Sultan yang diturunkan dari jabatannya yang bernama Sultan Sri Alam pada 1579 karena perilakunya yang membagikan harta kerajaan pada pengikutnya.

Lalu digantikan oleh Sultan Zainal Abidin, namun Sultan Zainal terbunuh setelah beberapa bulan dinobatkan. Hal ini disebabkan karena sifatnya yang kejam dan memiliki kecanduan dalam hal berburu. Setelah peristiwa terbunuhnya Sultan Zainal, digantikan oleh Alaiddin Riayat. Namun pada kepemimpinanya ia melakukan penumpasan terhadap orang kaya yang berlawanan pada sistem kepemimpinannya.

Masa kejayaan Kesultanan Aceh terjadi pada kepemimpinan Sultan Iskandar Muda pada 1607-1636. Aceh berhasil menaklukan Wilayah Pahang, karena wilayah tersebut merupakan sumber utama timah. Selanjutnya pada 1629, Kesultanan Aceh melakukan perlawanan, dengan menyerang Portugis di wilayah Malaka. Upaya ini dilakukan untuk melakukan perluasan dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu, namun ekspedisi ini gagal.

2. Kondisi Perekonomian Kerajaan Aceh terletak di jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan Selat Malaka. Kerajaan Aceh fokus pada laju perkembangan ekonomi pada bidang perdagangan. Pada saat pemerintahan Sultan Alaudin Riayat, Aceh mengalami perkembangan menjadi Bandar utama di Asia bagi para pedagang mancanegara seperti, Belanda, Inggris, Arab, Persia dan Turki. Dagangan utama yang diperdagangkan dari Aceh yaitu lada, beras, barang tambang seperti, timah, perak, emas, lalu ada rempah-rempah yang berasal dari Maluku.

Serta di wilayah Aceh terdapat pedagang mancanegara yang menawarkan barang dagangan, dalam hal ini bisa disebut terjadi proses impor.

raja kerajaan aceh yang terkenal adalah

Misalnya produk porselin dan sutera yang dibawa dari Jepang dan China. 3. Kondisi Kehidupan Politik Akibat jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, banyak pedagang muslim yang kemudian mengalihkan kegiatan perdagangan ke Pelabuhan Aceh. Karena itu Aceh menjadi kerajaan besar yang ditunjang oleh kemampuan militer dan ekonomi yang kuat. Kondisi politik pemerintahan Kesultanan Aceh sering dilanda konflik di antara penguasa kesultanan itu sendiri.

Sultan Alauddin memerintah Aceh selama 15 tahun. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Aceh mencapai puncak kejayaan. Keberhasilan dalam pemerintah didukung oleh kekuatan militer, terutama angkatan laut. Kerajaan Aceh memiliki armada kapal besar yang dapat mengangkut 600-700 prajurit.

Baca juga: Dear Traveler, Aceh Lebih Indah Dilihat Langsung 4. Kondisi Sosial Meskipun Kesultanan Aceh merupakan kerajaan Islam, namun masyarakatnya tetap dikuasi oleh kaum bangsawan.

Dalam tatanan masyarakat, Aceh memiliki golongan bangsawan yang memiliki gelar teuku dan golongan ulama yang bergelar teungku. Kedua golongan ini sering bersaing raja kerajaan aceh yang terkenal adalah pengaruh dalam masyarakat. Adapun tokoh dalam aliran ini adalah Hamzah Fansuri dan dilanjutkan oleh Syamsuddin Passai. Setelah Sultan Iskandar Muda wafat, aliran ahlusunnah waljama'ah menjadi berkembang pesat, tokoh aliran ini adalah Nurruddin Ar Raniri, yang berhasil menuliskan sejarah Aceh dengan judul 'Bustanusalatin'.

Dalam bidang budaya ada bangunan masjid peninggalan Sultan Iskandar Muda. 5. Silsilah Kerajaan Aceh -Sultan Ali Mughayat Syah adalah raja pertama dalam sejarah Kerajaan Aceh yang memerintah pada 1514 hingga 1538 M.

-Sultan Salahudin menggantikan Sultan Ali, masa pemerintahannya pada 1530 hingga 1537. -Sultan Alaudin Syah menjadi pemimpin Aceh pada 1537 hingga 1568 M.

-Sultan Iskandar Muda mulai naik tahta pada awal abad ke-17. -Sultah Iskandar Thani, setelah masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda berakhir.

Penguasaan Kerajaan Aceh digantikan oleh Sultan Iskandar Thani. Sultan Aceh merupakan penguasa atau raja dari Kesultanan Aceh, dan perangkat pemerintah Sultan terkadang mengalami perbedaan tiap massanya. Itulah fakta mengenai Kerajaan AcehKerajaan Aceh yang berkuasa kurang lebih selama 4 abad.

raja kerajaan aceh yang terkenal adalah

Pada abad ke-20 mengalami kemunduran karena wilayahnya dikuasai oleh Belanda. Simak Video " Arsitektur Bangunan Makam Sunan Panandaran yang Sarat Makna, Klaten" [Gambas:Video 20detik] (nwy/nwy)
MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) Sebagaimana halnya Aceh yang dulunya merupakan negara Islam termasyhur di kawasan Asia Tenggara dengan julukan “Serambi Mekkah” bahkan dikenal pula sebagai salah satu negara yang makmur di antara lima negara terkuat di dunia, yaitu : Aceh, Aqra, Maroko, Istanbul, dan Isfahan (Persia).

Baca Juga : Kerajaan Banten : Sejarah, Raja, Dan Peninggalan, Beserta Masa Kejayaannya Secara Lengkap 6.10. Sebarkan ini: Aceh yang terletak di ujung pulau Sumatra sekarang merupakan salah satu provinsi dalam negara Indonesia yang disebut Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Aceh sebelum bergabung dengan Indonesia pada tahun 1945 merupakan wilayah kerajaan Islam yang beribukota Banda Aceh.

Asal nama Aceh juga terdapat cerita di dalam sebuah buku bangsa Pegu (Hindia Belakang) yang menceritakan perjalanan Budha ke Indo Cina dan kepulauan Melayu. Mereka melihat di atas gunung di pulau Sumatra. Sebuah pancaran cahaya beraneka ragam warna dari gunung itu, sehingga mereka berseru : “Acchera Bata (Atjaram Bata Bho = Alangkah indahnya) jadi dari kata itulah kemudian menjadi asal sebutan nama Aceh.

Gunung yang bercahaya itu di ceritakan terletak dekat pasai yang sekarang tidak ada lagi karena telah di tembak hancur dengan meriam oleh kapal perang Portugis. Kreemer dalam bukunya “Atjeh” (Leiden 1922) mengatakan bahwa kerajaan Aceh pasti belum tahun 1500 sudah berdiri dengan kuat dan megahnya, untuk mengetahui dari mana tepatnya asalnya mula orang Aceh belum di dapat data-data yang relatif akurat dalam sejarah kini mungkin seseorang menemukan di antara penduduk Pribumi Aceh orang dengan ciri-ciri bangsa Melayu, Pakistan, India, Cina dan bahkan dalam jumlah yang lebih kecil orang-orang dengan ciri-ciri Portugis, Turki, Arab, dan Parsi.

Peta Letak Kerajaan Aceh Letak Kerajaan Aceh yang strategis yaitu di Pulau Sumatera bagian utara dan dekat jalur pelayaran perdagangan internasional menyebabkan Kerajaan Aceh sebagai kerajaan Islam mengalami masa kejayaan.

Sejarah Kerajaan Aceh Kerajaan Aceh dirintis oleh Mudzaffar Syah. Ketika awal kedatangan Bangsa Portugis di Indonesia, tepatnya di Pulau Sumatra, terdapat dua pelabuhan dagang yang besar sebagai tempat transit para saudagar luar negeri, yakni Pasai dan Pedir. Pasai dan Pedir mulai berkembang pesat ketika kedatangan bangsa Portugis serta negara-negara Islam.

Namun disamping pelabuhan Pasai dan Pedir, Tome Pires menyebutkan adanya kekuatan ketiga, masih muda, yaitu “Regno dachei” (Kerajaan Aceh). Aceh berdiri sekitar abad ke-16, dimana saat itu jalur perdagangan lada yang semula melalui Laut Merah, Kairo, dan Laut Tengah diganti menjadi melewati sebuah Tanjung Harapan dan Sumatra. Hal ini membawa perubahan besar bagi perdagangan Samudra Hindia, khususnya Kerajaan Aceh.

Para pedagang yang rata-rata merupakan pemeluk agama Islam kini lebih suka berlayar melewati utara Sumatra dan Malaka.

Selain pertumbuhan ladanya yang subur, disini para pedagang mampu menjual hasil dagangannya dengan harga yang tinggi, terutama pada para saudagar dari Cina. Namun hal itu justru dimanfaatkan bangsa Portugis untuk menguasai Malaka dan sekitarnya.

Dari situlah pemberontakan rakyat pribumi mulai terjadi, khususnya wilayah Aceh (Denys Lombard: 2006, 61-63) Pada saat itu Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim, berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pedir pada tahun 1520. Dan pada tahun itu pula Kerajaan Aceh berhasil menguasai daerah Daya hingga berada dalam kekuasaannya. Dari situlah Kerajaan Aceh mulai melakukan peperangan dan penaklukan untuk memperluas wilayahnya serta berusaha melepaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa Portugis.

Sekitar tahun 1524, Kerajaan Aceh bersama pimpinanya Sultan Ali Mughayat Syah berhasil menaklukan Pedir dan Samudra Pasai. Kerajaan Aceh dibawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah tersebut juga mampu mengalahkan kapal Portugis yang dipimpin oleh Simao de Souza Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah di Bandar Aceh (Poesponegoro: 2010, 28).

Baca Juga : Kerajaan Sriwijaya : Sumber Sejarah, Raja, Peninggalan, Masa Kejayaan Dan Keruntuhannya Setelah memiliki kapal ini, Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim bersiap-siap untuk menyerang Malaka yang dikuasai oleh Bangsa Portugis. Namun rencana itu gagal. Ketika perjalanan menuju Malaka, awak kapal dari armada Kerajaan Aceh tersebut justru berhenti sejenak di sebuah kota. Disana mereka dijamu dan dihibur oleh rakyat sekitar, sehingga secara tak sengaja sang awak kapal membeberkan rencananya untuk menyerang Malaka yang dikuasai Portugis.

Hal tersebut didengar oleh rakyat Portugis raja kerajaan aceh yang terkenal adalah bermukim disana, sehingga ia pun melaporkan rencana tersebut kepada Gubernur daerah Portugis (William Marsden, 2008: 387) Selain itu sejarah juga mencatat, usaha Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim untuk terus-menerus memperluas dan mengusir penjajahan Portugis di Indonesia. Mereka terus berusaha menaklukan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di sekitar Aceh, dimana raja kerajaan aceh yang terkenal adalah tersebut merupakan kekuasaan Portugis, termasuk daerah Pasai.

Dari perlawanan tersebut akhirnya Kerajaan Aceh berhasil merebut benteng yang terletak di Pasai. Hingga akhirnya Sultan Ibrahim meninggal pada tahun 1528 karena diracun oleh salah seorang istrinya. Sang istri membalas perlakuan Sultan Ibrahim terhadap saudara laki-lakinya, Raja Daya.

Dan ia pun digantikan oleh Sultan Alauddin Syah (William Marsden, 2008: 387-388) Sultan Alauddin Syah atau disebut Salad ad-Din merupakan anak sulung dari Sultan Ibrahim. Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah menyerang Malaka pada tahun 1537, namun itu tidak berhasil. Ia mencoba menyerang Malaka hingga dua kali, yaitu tahun 1547 dan 1568, dan berhasil menaklukan Aru pada tahun 1564. Hingga akhirnya ia wafat 28 September 1571. Baca Juga : Kerajaan Demak : Sejarah, Raja, Dan Peninggalan, Beserta Masa Kejayaannya Secara Lengkap Sultan Ali Ri’ayat Syah atau Ali Ri’ayat Syah, yang merupakan anak bungsu dari Sultan Ibrahim menggantikan kedudukan Salad ad-Din.

Ia mencoba merebut Malaka sebanyak dua kali, sama seperti kakaknya, yaitu sekitar tahun 1573 dan 1575. Hingga akhirnya ia tewas 1579 (Denys Lombard: 2006, 65-66) Sejarah juga mencatat ketika masa pemerintahan Salad ad-Din, Aceh juga berusaha mengambangkan kekuatan angkatan perang, mengembangkan perdagangan, mengadakan hubungan internasional dengan kerajaan-kerajaan Islam di Timur Tengah, seperti Turki, Abysinia, dan Mesir.

Bahkan sekitar tahun 1563, ia mengirimkan utusannya ke Konstantinopel untuk meminta bantuannya kepada Turki dalam melakukan penyerangan terhadap Portugis yang menguasai wilayah Aceh dan sekitarnya. Mereka berhasil menguasai Batak, Aru dan Baros, dan menempatkan sanak saudaranya untuk memimpin daerah-daerah tersebut. Di bawah kekuasannya kendali kerajaan berjalan dengan aman, tentram dan lancar.

Terutama daerah-daerah pelabuhan yang menjadi titik utama perekonomian Kerajaan Aceh, dimulai dari pantai barat Sumatra hingga ke Timur, hingga Asahan yang terletak di sebelah selatan. Hal inilah yang menjadikan kerajaan ini menjadi kaya raya, rakyat makmur sejahtera, dan sebagai pusat pengetahuan yang menonjol di Asia Tenggara (Harry Kawilarang, 2008: 24). Baca Juga : Sejarah Kerajaan Melaka Dan Peninggalan Serta Pendirinya Silsilah Raja Pendiri Kerajaan Aceh Sepanjang riwayat dari awal berdiri hingga keruntuhannya, Kesultanan Aceh Darussalam tercatat telah berganti sultan hingga tigapuluh kali lebih.

Berikut ini silsilah para sultan/sultanah yang pernah berkuasa di Kesultanan Aceh Darussalam : • Sultan Ali Mughayat Syah Raja kerajaan Aceh pertama yang memerintah tahun 1514 – 1528 M. Di bawah kekuasaannya, Kerajaan Aceh melakukan perluasan ke beberapa daerah yang berada di daerah Daya dan Pasai. Bahkan melakukan serangan terhadap kedudukan bangsa Portugis di Malaka dan juga menyerang Kerajaan Aru. • Sultan Salahuddin Setelah Sultan Ali Mughayat Wafat, pemeintahan beralih kepada putranya yg bergelar Sultan Salahuddin.

Ia memerintah tahun 1528 – 1537 M, selama menduduki tahta kerajaan ia tidak memperdulikan pemerintahaan kerajaannya. Keadaan kerajaan mulai goyah dan mengalami kemerosostan yg tajam. Oleh karena itu, Sultan Salahuddin digantiakan saudaranya yg bernama Alauddin Riayat Syah al-Kahar.

• Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar Ia memerintah Aceh dari tahun 1537 – 1568 M. Ia melakukan berbagai bentuk perubahan dan perbaikan dalam segala bentuk pemeintahan Kerajaan Aceh.

Pada masa pemeintahannya, Kerajaan Aceh melakukan perluasaan wilayah kekuasaannya seperti melakukan serangan terhadap Kerajaan Malaka ( tetapi gagal ). Daerah Kerajaan Aru berhasil diduduki. Pada masa pemerintahaannya, Kerajaan Aceh mengalami masa suram. Pemberontakan dan perebutan kekuasaan sering terjadi. Baca Juga : 22 Konsep Geografi : Contoh, Prinsip, Dan Aspeknya [LENGKAP] • Sultan Iskandar Muda Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh tahun 1607 – 16 36 M.

Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Aceh mengalami kejayaan. Kerajaan Aceh tumbuh menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas perdagangan Islam, bahakn menjadi bandar transito yg dapat menghubungkan dgn pedagang Islam di dunia barat. Untuk mencapai kebesaran Kerajaan Aceh, Sultan Iskandar Muda meneruskan perjuangan Aceh dgn menyerang Portugis dan Kerajaan Johor di Semenanjung Malaya. Tujuannya adalah menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan menguasai daerah – daerah penghasil lada.

Sultan Iskandar Muda juga menolak permintaan Inggris dan Belanda untuk membeli lada di pesisir Sumatera bagian barat. Selain itu, Kerajaan Aceh melakukan pendudukan terhadap daerah – daerah seperti Aru, pahang, Kedah, Perlak, dan Indragiri, sehingga di bawah pemerintahannya Kerajaan aceh memiliki wilayah yang sangat luas.

Pada masa kekeuasaannya, terdapat 2 orang ahli tasawwuf yg terkenal di Aceh, yaitu Syech Syamsuddin bin Abdullah as-Samatrani dan Syech Ibrahim as-Syamsi. Setelah Sultam Iskandar Muda wafat tahta Kerajaan Aceh digantikan oleh menantunya, Sultan Iskandar Thani. • Sultan Iskandar Thani Ia memerinatah Aceh tahun 1636 – 1641 M. Dalam menjalankan pemerintahan, ia melanjutkan tradisi kekuasaan Sultan Iskandar Muda.

Pada masa pemerintahannya, muncul seorang ulama besar yg bernama Nuruddin ar-Raniri. Ia menulis buku sejarah Aceh berjudul Bustanu’ssalatin. Sebagai ulama besar, Nuruddin ar-Raniri sangat di hormati oleh Sultan Iskandar Thani dan keluarganya serta oleh rakyat Aceh. Setelah Sultan Iskandar Thani wafat, tahta kerjaan di pegang oleh permaisurinya ( putri Sultan Iskandar Thani ) dengan gelar Putri Sri Alam Permaisuri • Sultan Sri Alam (1575-1576) • Sultan Zain al-Abidin (1576-1577) • Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589) • Sultan Buyong (1589-1596) • Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604) • Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607) • Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636) • Iskandar Thani (1636-1641) • Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675) • Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678) • Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688) • Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699) • Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702) • Sultan Perkasa Alam Syarif Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah (1702-1703) • Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726) • Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726) • Sultan Syams al-Alam (1726-1727) • Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735) • Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760) • Sultan Mahmud Syah (1760-1781) • Sultan Badr al-Din (1781-1785) • Sultan Sulaiman Syah (1785-…) • Alauddin Muhammad Daud Syah • Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) dan (1818-1824) • Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818) • Sultan Muhammad Syah (1824-1838) • Sultan Sulaiman Syah (1838-1857) • Sultan Mansur Syah (1857-1870) • Sultan Mahmud Syah (1870-1874) • Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903) Baca Juga : Kerajaan Majapahit : Makalah Sejarah, Raja, Agama, Dan Peninggalan Masa Kejayaan Kerajaan Aceh Kerajaan Aceh menjalani masa keemasan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, yaitu sekitar tahun 1607 sampai tahun 1636.

Pada masa ini, kerajaan aceh mengalami banyak kemajuan di berbagai bidang, baik dalam hal wilayah kekuasaan, ekonomi, pendidikan, politik luar negeri, maupun kemiliteran kerajaan. Sultan Iskandar Muda memperluas wilayah teritorialnya dan terus meningkatkan perdagangan rempah-rempah menjadi suatu komoditi ekspor yang berpotensial bagi kemakmuran masyarakat Aceh.

Ia mampu menguasai Pahang tahun 1618, daerah Kedah tahun 1619, serta Perak pada tahun 1620, dimana daerah tersebut merupakan daerah penghasil timah. Bahkan dimasa kepemimpinannya Kerajaan Aceh mampu menyerang Johor dan Melayu hingga Singapura sekitar tahun 1613 dan 1615. Ia pun diberi gelar Iskandar Agung dari Timur.

Kemajuan dibidang politik luar negeri pada era Sultan Iskandar Muda, salah satunya yaitu Aceh yang bergaul dengan Turki, Inggris, Belanda raja kerajaan aceh yang terkenal adalah Perancis. Ia pernah mengirimkan utusannya ke Turki dengan memberikan sebuah hadiah lada sicupak atau lada sekarung, lalu dibalas dengan kesultanan Turki dengan memberikan sebuah meriam perang dan bala tentara, untuk membantu Kerajaan Aceh dalam peperangan.

Bahkan pemimpin Turki mengirimkan sebuah bintang jasa pada sultan Aceh. Dalam lapangan pembinaan kesusasteraan dan ilmu agama, Aceh telah melahirkan beberapa ulama ternama, yang karangan mereka menjadi rujukan utama dalam bidang masing-masing, seperti Hamzah Fansuri dalam bukunya Tabyan Fi Ma’rifati al-U Adyan, Syamsuddin al-Sumatrani dalam bukunya Mi’raj al-Muhakikin al-Iman, Nuruddin Al-Raniri dalam bukunya Sirat al-Mustaqim, dan Syekh Abdul Rauf Singkili dalam bukunya Mi’raj al-Tulabb Fi Fashil.

Dalam hubungan ekonomi-perdagangan dengan Mesir, Turki, Arab, juga dengan Perancis, Inggris, Afrika, India, Cina, dan Jepang. Komoditas-komoditas yang diimpor antara lain: beras, guci, gula (sakar), sakar lumat, anggur, kurma, timah putih dan hitam, besi, tekstil dari katun, kain batik mori, pinggan dan mangkuk, kipas, kertas, opium, air mawar, dan lain-lain yang disebut-sebut dalam Kitab Adat Aceh.

Komoditas yang diekspor dari Aceh sendiri antara lain kayu cendana, saapan, gandarukem (resin), damar, getah perca, obat-obatan. Di bawah kekuasannya kendali kerajaan berjalan dengan aman, tentram dan lancar.

Terutama daerah-daerah pelabuhan yang menjadi titik utama perekonomian Kerajaan Aceh, dimulai dari pantai barat Sumatra hingga ke Timur, hingga Asahan yang terletak di sebelah selatan. Hal inilah yang menjadikan kerajaan ini menjadi kaya raya, rakyat makmur sejahtera, dan sebagai pusat pengetahuan yang menonjol di Asia Tenggara. Aspek Kehidupan Kerajaan Aceh • Kehidupan Sosial Kerajaan Aceh Struktur sosial masyarakat Aceh terdiri atas empat golongan, yaitu golongan teuku (kaum bangsawan yang memegang kekuasaan pemerintahan sipil), golongan tengku (kaum ulama yang memegang peranan penting dalam keagamaan), hulubalang atau ulebalang (para prajurit), dan rakyat biasa.

Antara golongan Tengku dan Teuku sering terjadi persaingan yang kemudian melemahkan Aceh. Sejak kerajaan Perlak berkuasa (abad ke-12 M sampai dengan abad ke-13 M) telah terjadi permusuhan antara aliran Syi’ah dan Ahlusunnah wal jamaaah.

Namun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, aliran Syi’ah mendapat perlindungan dan berkembang ke daerah kekuasaan Aceh. Aliran itu diajarkan Hamzah Fansuri dan dilanjutkan oleh muridnya yang bernama Syamsuddin Pasai. Setelah Sultan Iskandar Muda wafat, aliran Ahlusunnah wal jamaah berkembang dengan pesat di Aceh. • Kehidupan Politik Kerajaan Aceh Pada tahun 1564 sultan Alauddin Al-Kahar (1537-1568) menyerang Johor dan berhasil menangkap sultan Johor yang kemudian dibawa ke Aceh.

Namun, Johor tetap berdiri sebagai kerajaan dan tetap menentang Aceh. Gagal merebut Johor, kerajaan Aceh meluaskan kerajaan atau wilayahnya ke Sumatra bagian tengah dan selatan. Kerajaan-kerajaan di Sumatra, seperti Deli (1612), Bintan (1614), Kampar perlamaan dan Minangkabau di taklukkannya.

Begitu juga kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malak, seperti peraka, dan pahang 91618), berada di kawasannya. Setelah meninggal Raja Ali Mughayat Syah (1528) kerajaan Aceh di pimpin oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636) yang pada masa pemerintahannya kerajaan Aceh mengalami puncak kejayaan, ia bercita-cita untuk menjadikan Aceh sebagai kerajaan yang kuat dan besar.

Kerajaan-kerajaan di Semenanjung harus di taklukan yakni : Pahang, Kedeh, Perlak Johor, dan sebagainya, Penggantian Sultan Iskandar Muda ialah Sultan Iskandar Thani (1636-1641) pada saat itu Aceh mengalami kemunduran. • Kehidupan Ekonomi Kerajaan Aceh Karena letaknya di jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan selat Malaka, kerjaan Aceh menitik beratkan perekonomiannnya pada bidang perdagangan.

Dibawah pemerintahan Sultan Alaudin Riayat Syah, Aceh berkembang menjadi Bandar utama di Asia bagi para pedagang mancanegara, bukan hanya bangsa Inggris dan Belanda yang berdagang di pelabuhan Aceh, melainkan juga bangsa asing lain seperti Mesir, Arab, Persia, Perancis, Inggris, Afrika, Turki, India, Syam, China, dan Jepang.

Barang yang diperdagangkan dari Aceh, antara lain lada, beras, timah, emas, perak, dan rempah-rempah (dari Maluku).

Orang yang berasal dari mancanegara (impor), antara lain dari Koromandel (India), Porselin dan sutera (Jepang dan Cina), dan minyak wangi dari (Eropa dan Timur Tengah). Selain itu, kapal pedagang Aceh aktif dalam melakukan perdagangan sampai ke laut merah. Komoditas-komoditas yang diimpor antara lain: beras, guci, gula (sakar), sakar lumat, anggur, kurma, timah putih dan hitam, besi, tekstil dari katun, kain batik mori, pinggan dan mangkuk, kipas, kertas, opium, air mawar, dan lain-lain yang disebut-sebut dalam Kitab Adat Aceh.

Komoditas yang diekspor dari Aceh sendiri antara lain kayu cendana, saapan, gandarukem (resin), damar, getah perca, obat-obatan (Poesponegoro: 2010, 31) Titik utama perekonomian Kerajaan Aceh, dimulai dari pantai barat Sumatra hingga ke Timur, hingga Asahan raja kerajaan aceh yang terkenal adalah terletak di sebelah selatan.

Hal inilah yang menjadikan kerajaan ini menjadi kaya raya, rakyat makmur sejahtera, dan sebagai pusat pengetahuan yang menonjol di Asia Tenggara.

Berikut ini, komoditas ekspor dan impor dari Aceh. Komoditas ekspor Komoditas impor Kayu yang tinggi nilainya Cendana Bahan makanan Beras Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah Mentega Jenis dammar Gendarukam Gula Dammar Anggur Teban Kurma Sari dan wangi-wangian Kemenyan putih Logam Timah Kemenyan hitam Besi Kamper Boraks[1][24] Akar pucuk Tekstil Bendela Minyak rasamala Kain tenun Kulit kayu masui Barang kerajinan Tembikar Rempah-rempah Lada Guci Campli puta Bahan perangsang Candu Bunga lawang Kopi Gading Teh Lilin (malam) Tembakau Tali temali Barang mewah Batu karang (pulam) Sutera Air mawar peti • Kehidupan Budaya Kerajaan Aceh Kehidupan budaya di kerajaan Aceh tidak banyak diketahui karena kerajaan Aceh tidak banyak meninggal banda hasil budaya.

Perkembangan kebudayaan di Aceh tidak terpusat perkembangan perekonomian. Perkembangan kebudayaan yang terlihat nyata adalah bangunan masjid Baiturrahman dan buku Bustanu’s Salatin yang ditulis oleh Nurrudin Ar-raniri yang berisi tentang sejarah raja-raja Aceh.

Aceh sering disebut sebagai Negeri Serambi Mekah, karena Islam masuk pertama kali ke Indonesia melalui kawasan paling barat pulau Sumatera ini. Orang Aceh mayoritas beragama Islam dan kehidupan mereka sehari-hari sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam ini. Oleh sebab itu, para ulama merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Aceh. Pengaruh Islam yang sangat kuat juga tampak dalam aspek bahasa dan sastra Aceh. Peninggalan Islam di Nusantara banyak di antaranya yang berasal dari Aceh, seperti Bustanussalatin dan Tibyan fi Ma‘rifatil Adyan karangan Nuruddin ar-Raniri pada awal abad ke-17: Kitab Tarjuman al-Mustafid yang merupakan tafsir Al Quran Melayu pertama karya Shaikh Abdurrauf Singkel tahun 1670-an; dan Tajussalatin karya Hamzah Fansuri.

Ini bukti bahwa Aceh sangat berperan dalam pembentukan tradisi intelektual Islam di Nusantara. Karya sastra lainnya, seperti Hikayat Prang Sabi, Hikayat Malem Diwa, Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, merupakan bukti lain kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat Aceh.

• Kehidupan Agama Kerajaan Aceh Dalam lapangan pembinaan kesusasteraan dan ilmu agama, Aceh telah melahirkan beberapa ulama ternama, yang karangan mereka menjadi rujukan utama dalam bidang masing-masing, seperti Hamzah Fansuri dalam bukunya Tabyan Fi Ma’rifati al-U Adyan, Syamsuddin al-Sumatrani dalam bukunya Mi’raj al-Muhakikin al-Iman, Nuruddin Al-Raniri dalam bukunya Sirat al-Mustaqim, dan Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah Abdul Rauf Singkili dalam bukunya Mi’raj al-Tulabb Fi Fashil.

Sistem Pemerintahan Kerajaan Aceh Saat Sultan Iskandar Muda me- merintah, bentuk teritorial yang terkecil dari susunan pemerintahan di Aceh adalah yang disebut dalam istilah Aceh Gampong atau dalam istilah Melayu Kampung. Sebuah Gampong terdiri atas kelompok-kelompok rumah yang letaknya berdekatan satu dengan yang lain.

Pimpinan gampong disebut Geucik atau Keuchik yang dibantu oleh seorang yang mahir dalam masalah keagamaan, dengan sebutan Teungku Meunasah. Selain itu, dalam sebuah dalam sebuah Gampong terdapat pula unsur-unsur pimpinan lainnya seperti yang dinamakan Waki (wakil) yang merupakan wakil dari Keuchik, serta juga yang disebut Ureung Tuha (orang tua).

Mereka yang tersebut terakhir adalah golongan orang-orang tua kampung yang disegani dan ber-pengalaman dalam kampungnya. Menurut tradisi jumlah mereka ada empat orang yang dinamakan Tuha Peut ada juga yang delapan orang yang disebut Tuha Lapan. Bentuk teritorial yang lebih besar lagi dari gampong yaitu Mukim. Mukim ini merupakan gabungan dari beberapa buah gampong yang letaknya berdekatan dan para penduduknya melakukan sembahyang bersama pada setiap hari Jumat di sebuah masjid.

Pimpinan Mukim disebut sebagai Imum Mukim. Perkataan Imum ini berasal dari bahasa Arab, artinya Imam (orang yang harus di-ikuti). Imum Mukim inilah yang bertindak sebagai pemimpin sembahyang pada setiap hari Jumat di sebuah masjid.

Dalam perkembangannya fungsi Imum Mukim menjadi kepala pemerintahan dari sebuah Mukim. Dialah yang mengkoordinir kepala-kepala kampung atau Keuchik-Keuchik. Dengan berubahnya fungsi Imum Mukim berubah pula nama panggilannya, yakni menjadi Kepala Mukim.

Untuk pengganti sebuah imam sembahyang pada setiap hari Jum’at di sebuah masjid, diserahkan kepada orang lain yang disebut Imuem Mesjid. Di wilayah Aceh Rayeuk (Kabupaten Aceh Besar sekarang), terdapat suatu bentuk pemerintahan yang agak unik, yaitu yang disebut dengan nama Sagoe atau Sagi. Keseluruhan wilayah Aceh Rayeuk tergabung ke dalam tiga buah Sagi yang dapat dikatakan sebagai tiga buah federasi. Ketiga buah sagoe atau Sagi tersebut masing-masing dinamakan : • Sagoe XXII Mukim, Kepala Sagoenya bergelar Sri Muda Perkasa Panglima Polem Wazirul Azmi.

Kecuali menjadi kepala wilayahnya, juga diangkat menjadi Wazirud Daulah (Menteri Negara). • Sagoe XXV Mukim, Kepala Sagoenya bergelar Sri Setia Ulama Kadli Malikul ‘Alam. Kecuali menjadi Kepala Wilayahnya, juga diangkat menjadi Ketua Majelis Ulama Kerajaan. • Sagoe XXVI Mukim, Kepala Sagoenya bergelar Sri Imeum Muda Panglima Wazirul Uzza.

Kecuali menjadi Kepala Wilayahnya, juga diangkat menjadi Wazirul Harb (Menteri Urusan Peperangan). Penamaan ini erat kaitannya dengan jumlah mukim yang terdapat pada masing-masing Sagi. Artinya pada setiap sagi jumlah mukim yang terdapat di bawahnya sesuai dengan nama Sagi yang bersangkutan. Misalnya, Sagi XXVI Mukim, ini berarti bahwa di bawah Sagi ini terdapat XXVI buah Mukim, demikian juga untuk kedua Sagi lainnya. Tiap-tiap Sagi di atas, diperintah oleh seorang yang disebut dengan Panglima Sagoe atau Panglima Sagi, secara turun-temurun.

Mereka juga diberi gelar Uleebalang. Mereka sangat berkuasa di daerahnya dan pengangkatannya sebagai Panglima Sagi disyahkan oleh Sultan Aceh dengan pemberian suatu sarakata yang dibubuhi cap stempel Kerajaan Aceh yang dikenal dengan nama Cap Sikureung (cap sembilan). Di luar dari ketiga Sagi atau federasi tersebut, di Aceh Rayeuk masih terdapat unit-unit pemerintahan yang berdiri sendiri yang disebut dengan Mukim-mukim yang diikuti nama di belakangnya (nama tempat).

Pimpinan pemerintahan di Mukim-mukim ini sebagaimana telah disebutkan di atas, yaitu Kepala Mukim yang derajat mereka juga sama dengan Uleebalang seperti Panglima Sagi. Namun luas wilayah teritorial mereka jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan Sagi.

Kepala pemerintahan Mukim ini berada langsung di bawah pengawasan Sultan Aceh, jadi tidak di bawah Panglima Sagi dari ketiga federasi yang telah disebutkan di atas. Adapun nama-nama dari Mukim-mukim Masjid Raya yang terletak di sebelah kiri Sungai Aceh, Mukim Lueng Bata, Mukim Pagar Aye, Mukim Lam Sayun, dan Mukim Meuraksa. Di luar dari mukim-mukim yang berdiri sendiri ini, di Aceh Rayeuk masih terdapat sejumlah Mukim, tetapi Kepala Mukimnya tunduk di bawah Kepala Sagi.

Jadi Mukim-mukim ini berada di bawah dari ketiga Sagi yang telah disebutkan di atas. Bentuk wilayah kerajaan lainnya yang terdapat di Aceh yaitu yang disebut Nangroe atau Negeri. Nangroe ini sebenarnya merupakan daerah takluk Kerajaan Aceh dan berlokasi di luar Aceh Inti atau Aceh Rayeuk. Jumlahnya diperkirakan melebihi seratus dan menyebar di seluruh wilayah Aceh (Propinsi Daerah Istimewa Aceh sekarang). Luas daerah dan jumlah penduduk serta potensi ekonomi dari masing-masing Nangroe tidak sama.

Pimpinan Nangroe disebut Uleebalang, yang ditetapkan oleh adat secara turun-temurun. Mereka menerima kekuasaan langsung dari Sultan Aceh, tetapi para Uleebalang ini merupakan Kepala Negeri atau raja-raja kecil raja kerajaan aceh yang terkenal adalah sangat berkuasa di daerah mereka masing-masing.

Namun sewaktu mereka memangku jabatan sebagai Uleebalang di daerahnya, mereka harus disyahkan pengangkatannya oleh Sultan Aceh. Surat Pengangkatan ini dinamakan Sarakata yang dibubuhi stempel Kerajaan Aceh, Cap Sikureung, seperti telah disebutkan di atas.

Surat pengangkatan, diberikan oleh Sultan Aceh kepada Uleebalang yang sanggup membayar dengan biaya yang jumlahnya di- tetapkan oleh Sultan. Setiap Uleebalang berusaha untuk mendapatkan Sarakata, karena ia merupakan status dari kekuasaannya. Tugas Uleebalang adalah memimpin Nangroenya dan mengkoordinir tenaga-tenaga tempur dari daerah kekuasaannya bila ada peperangan.

Selain itu juga menjalankan perintah-perintah atau instruksi dari Sultan; menyediakan tentara atau perbekalan perang bila dibutuhkan oleh Sultan dan membayar upeti kepada Sultan. Namun demikian mereka masih merupakan pemimpin-pemimpin yang memonopoli kekuasaan di daerahnya dan masih tetap sebagai pemimpin yang merdeka dan bebas melakukan apa saja terhadap kawula yang berada di wilayahnya.

Hak-hak ini sebenarnya dimaksudkan untuk mengurangi kesewenang-wenangan para Uleebalang, terutama yang berhubungan dengan pemberian hukuman terhadap seorang yang bersalah. Namun ketika kewibawaan Sultan sudah melemah, terutama pada abad ke XIX dan awal abad XX (sesudah kesultanan Aceh tidak ada lagi).

Yang menetapkan hukuman terhadap seseorang yang bersalah di Nangroe-nangroe adalah para Uleebalang. Dalam memimpin pemerintahan Nangroe, Uleebalang dibantu oleh pembantu-pembantunya seperti yang disebut dengan Banta, yaitu adik laki-laki atau saudara Uleebalang, yang kadang-kadang juga bertindak sebagai Uleebalang, bila yang bersangkutan berhalangan.

Pembantu yang lainnya adalah yang disebut Kadhi atau Kali, yang membantu dalam hukom, yaitu yang dipandang mengerti mengenai hukum Islam. Selain itu, ada yang disebut Rakan yaitu sebagai pengawal Uleebalang, yang dapat diperintahnya untuk bertindak dengan tangan besi. Para Rakan yang terbaik dalam perang diberi gelar Panglima Perang, sedangkan pimpinan-pimpinan pasukan kecil yang tidak begitu trampil dalam peperangan diberi gelar pang. Nangroe-nangroe tersebut di atas, pada umumnya berlokasi di pantai bagian timur dan pantai bagian barat Aceh.

Di awahnya terdapat pula sejumlah mukim yang terdiri atas beberapa buah gampong atau yang disebut pula dengan istilah meunasah. Tetapi tidak semua nangroe mengenal lembaga raja kerajaan aceh yang terkenal adalah. Di wilayah pantai timur dan di pantai barat, tidak terdapat apa yang disebut mukim. Di beberapa nangroe bagian pantai Timur dan sebagian wilayah Kabupaten Aceh Utara sekarang, terdapat apa yang disebut dengan istilah Ulebalang Cut (Uleebalang kecil).

Uleebalang Lapan (Uleebalang Delapan), dan Uleebalang Peut (Uleebalang Empat). Namun kedudukan dari bermacam jenis Uleebalang ini, berada di bawah. Tingkat tertinggi dalam struktur pemerintahan Kerajaan Aceh adalah pemerintah pusat yang berkedudukan di Ibukota kerajaan, yang dahulunya bernama Bandar Aceh Darussalam.

Kepala pemerintahan pusat adalah Sultan yang para kelompoknya bergelar Tuanku. Dalam mengendalikan pemerintahan Sultan dibantu oleh beberapa pembantu yang membawahi bidang masing-masing. Berdasarkan sebuah manuskrip (MS), susunan pemerintahan pusat Kerajaan Aceh terdiri atas 24 lembaga atau jabatan yang diumpamakan dengan kementrian pada masa sekarang.

Nama raja kerajaan aceh yang terkenal adalah masing-masing lembaga tersebut adalah sebagai berikut: • Keurukon Katibul Muluk atau Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah Raja • Rais Wazirat Addaulah atau Perdana Menteri • Wazirat Addaulah atau Menteri Negara • Wazirat al Akdham atau Menteri Agung • Wazirat al HArbiyah atau Menteri Peperangan • Wazirat al Haqqamiyah atau Menteri Kehakiman • Wazirat ad Daraham atau Menteri Keuangan • Wazirat ad Mizan atau Menteri Keadilan • Wazirat al Maarif atau Menteri Pendidikan • Wazirat al Khariziyah atau Menteri Luar Negeri • Wazirat ad Dakhilyyah atau Menteri Dalam Negeri • Wazirat al Auqaf atau Menteri Urusan Wakaf • Wazirat az Ziraaf atau Menteri Pertanian • Wazirat al Maliyyah atau Menteri urusan HArta • Wazirat al Muwashalat atau Menteri Perhubungan • Wazirat al asighal atau Menteri Urusan Kerja • As Syaikh al Islam Mufti Empat Syeik Kaabah • Qadli al Malik al Adil atau Qadi Raja Yang Adil • Wazir Tahakkum Muharrijlailan atau Ketua Pengurus Kesenian • Qadli Muadlam atau Qadhi/Jaksa Agung • Imam Bandar Darul Makmur Darussalam • Keuchik Muluk atau Keuchik Raja • Imam Muluk atau Imam Raja • Panglima Kenduri Muluk atau Ketua Urusan Kenduri Raja.

24 lembaga atau jabatan seperti disebutkan di atas, dipegang oleh oranga-orang tertentu yang di-angkat oleh Sultan Aceh. Selain jabatan-jabatan itu di Kerajaan Aceh, terdapat pula tiga buah badan atau lembaga lainnya yang fungsinya hampir dapat disamakan dengan lembaga legislatif sekarang.

Lembaga ini turut mendampingi Sultan dalam melaksanakan tugasnya. Ketiga Lembaga ini adalah : • Balairungsari, yaitu tempat bermufakat empat orang Uleebalang (Hulu Balang Empat) dan 7 orang alim ulama, serta menteri-menteri Kerajaan Aceh. • Bale Gadeng, yaitu Tempat mufakat dari delapan orang Uleebalang dan tujuh orang alim ulama serta menteri-menteri Kerajaan Aceh, dan • Balai Majlis Mahkamah Rakyat, yaitu sebagai tempat mufakat wakil rakyat sebanyak 73 orang yang datang dari tujuh puluh tiga mukim.

Jadi tiap-tiap mukim diwakili oleh satu orang. Selain ketiga lembaga di atas, dalam sebuah naskah yang bernama “ Kanun Meukuta Alam Sultan Iskandar Muda”, disebut pula ada Balai Laksamana yaitu semacam markas angkatan perang, yang dikepalai oleh seseorang yang disebut Laksamanayang tunduk atau berada di bawah Sultan. Selanjutnya ada pula yang disebut Balai Fardah, yang tugasnya memungut atau me-ngumpulkan Wase (Bea Cukai).

Balai ini tunduk pada perintah Perdana Menteri. Disebutkan pula, dalam pemerintahan kerajaan, Sultan Aceh tunduk kepada Kanun.

raja kerajaan aceh yang terkenal adalah

Demikian struktur Kerajaan Aceh hingga berdamainya Sultannya yang terakhir Sultan Mahmud Daud Syah dengan Belanda pada tahun 1903, yang merupakan awal berakhirnya Kerajaan Aceh. Karena setelah itu daerah ini diduduki oleh Belanda, hingga tahun 1942. Wilayah Kekuasaan Kerajaan Aceh Daerah-daerah yang menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam, dari masa awalnya hingga terutama berkat andil Sultan Iskandar Muda, mencakup antara lain hampir seluruh wilayah Aceh, termasuk Tamiang, Pedir, Meureudu, Samalanga, Peusangan, Lhokseumawe, Kuala Pase, serta Jambu Aye.

Selain itu, Kesultanan Aceh Darussalam juga berhasil menaklukkan seluruh negeri di sekitar Selat Malaka termasuk Johor dan Malaka, kendati kemudian kejayaan pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda mulai mengalami kemunduran pasca penyerangan ke Malaka pada 1629. Selain itu, negeri-negeri yang berada di sebelah timur Malaya, seperti Haru (Deli), Batu Bara, Natal, Paseman, Asahan, Tiku, Pariaman, Salida, Indrapura, Siak, Indragiri, Riau, Lingga, hingga Palembang dan Jambi.

Wilayah Kesultanan Aceh Darussalam masih meluas dan menguasai seluruh Pantai Barat Sumatra hingga Bengkulen (Bengkulu).

Tidak hanya itu, Kesultanan Aceh Darussalam bahkan mampu menaklukkan Pahang, Kedah, serta Patani. Pembagian wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam pada masa Sultan Iskandar Muda diuraikan sebagai berikut: • a) Wilayah Aceh Raja Dibagi dalam tiga Sagoi (ukuran wilayah administratif yang kira-kira setara dengan kecamatan) yang masing-masing dipimpin oleh seorang kepala dengan gelar Panglima Sagoe, yaitu: Sagoe XXII Mukim, Sagoe XXV Mukim Sagoe XXVI Mukim.

Di bawah tiap-tiap Panglima Sagoe terdapat beberapa Uleebalang dengan daerahnya yang terdiri dari beberapa Mukim (ukuran wilayah administratif yang kira-kira setara dengan kelurahan/desa). Di bawah Uleebalang terdapat beberapa Mukim yang dipimpin oleh seorang kepala yang bergelar Imeum. Mukim terdiri dari beberapa kampung yang masing-masing dipimpin oleh seorang kepala dengan gelar Keutjhi. • b) Daerah Luar Aceh Raja Daerah ini terbagi dalam daerah-daerah Uleebalang yang dipimpin oleh seorang kepala yang bergelar Uleebalang Keutjhi.

Wilayah-wilayah di bawahnya diatur sama dengan aturan wilayah yang berlaku di Daerah Aceh Raja. • c) Daerah yang Berdiri Sendiri Di dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam terdapat juga daerah-daerah yang tidak termasuk ke dalam lingkup Daerah Aceh Raja ataupun Daerah Luar Aceh Raja.

Daerah-daerah yang berdiri di perintahkan oleh uleebalang untuk tunduk kepada Sultan Aceh Darussalam (hasjmy, 1961:3) Masa Kemunduran/Keruntuhan Kerajaan Aceh Kesultanan Aceh Darussalam pernah pula dipimpin oleh seorang raja perempuan.

Ketika Sultan Iskandar Tsani mangkat, sebagai penggantinya adalah Taj`al-`Alam Tsafiatu`ddin alias Puteri Sri Alam, istri dari Sultan Iskandar Tsani yang juga anak perempuan Sultan Iskandar Muda.

Ratu yang dikenal juga dengan nama Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam ini memerintah Kesultanan Aceh Darussalam selama 34 tahun (1641-1675). Masa pemerintahan Sang Ratu diwarnai dengan cukup banyak upaya tipu daya dari pihak asing serta bahaya pengkhianatan dari orang dalam istana.

Masa pemerintahan Ratu Taj`al-`Alam Tsafiatu`ddin selama 34 tahun itu tidak akan bisa dilalui dengan selamat tanpa kebijaksanan dan keluarbiasaan yang dimiliki oleh Sang Ratu.

Dalam segi ini, Aceh Darussalam bisa membanggakan sejarahnya karena telah mempunyai tokoh wanita yang luar biasa di tengah rongrongan kolonialis Belanda yang semakin kuat.

Pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam sepeninggal Ratu Taj`al-`Alam Tsafiatu`ddin yang wafat pada 23 Oktober 1675 masih diteruskan oleh pemimpin perempuan hingga beberapa era berikutnya. Adalah Sri Paduka Putroe dengan gelar Sultanah Nurul Alam Nakiatuddin Syah yang menjadi pilihan para tokoh adat dan istana untuk memegang tampuk pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam yang selanjutnya. Konon, dipilihnya Ratu yang juga sering disebut dengan nama Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam ini dilakukan untuk mengatasi usaha-usaha perebutan kekuasaan oleh beberapa pihak yang merasa berhak.

Namun pemerintahan Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alamhanya bertahan selama 2 tahun sebelum akhirnya Sang Ratu menghembuskan nafas penghabisan pada 23 Januari 1678.

Dua pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam setelah Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam masih dilakoni kaum perempuan, yaitu Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688), dan kemudian Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din(1688-1699). Setelah era kebesaran Sultan Iskandar Muda berakhir, Belanda mencium peluang untuk kembali mengusik tanah Aceh. Memasuki paruh kedua abad ke-18, Aceh mulai terlibat konflik dengan Belanda dan Inggris.

Pada akhir abad ke-18, wilayah kekuasaan Aceh di Semenanjung Malaya, yaitu Kedah dan Pulau Pinang dirampas oleh Inggris.

Tahun 1871, Belanda mulai mengancam Aceh, dan pada 26 Maret 1873, Belanda secara resmi menyatakan perang terhadap Aceh. Dalam perang tersebut, Belanda gagal menaklukkan Aceh. Pada 1883, 1892 dan 1893, perang kembali meletus, namun, lagi-lagi Belanda gagal merebut Aceh. Memasuki abad ke-20, dilakukanlah berbagai cara untuk dapat menembus kokohnya dinding ideologi yang dianut bangsa Aceh, termasuk dengan menyusupkan seorang pakar budaya dan tokoh pendidikan Belanda, Dr.

Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah Hugronje, ke dalam masyarakat adat Aceh. Snouck Hugronje sangat serius menjalankan tugas ini, bahkan sarjana dariUniversitas Leiden ini sempat memeluk Islam untuk memperlancar misinya. Di dalaminya pengetahuan tentang agama Islam, demikian pula tentang bangsa-bangsa, bahasa, adat-istiadat di Indonesia dan perihal yang khusus mengenai pengaruh-pengaruhnya bagi jiwa dan raga penduduk (H.

Mohammad Said b, 1985:91). Snouck Hugronje menyarankan kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda agar mengubah fokus serangan yang selama ini selalu berkonsentrasi ke Sultan dan kaum bangsawan, beralih kepada kaum ulama. Menurut Snouck Hugronje, tulang punggung perlawanan rakyat Aceh adalah kaum ulama. Oleh sebab itu, untuk melumpuhkan perlawanan rakyat Aceh, maka serangan harus diarahkan kepada kaum ulama Aceh tersebut. Secara lebih detail, Snouck Hugronje menyimpulkan hal-hal yang harus dilakukan untuk dapat menguasai Aceh, antara lain : • Hentikan usaha mendekat Sultan dan orang besarnya.

• Jangan mencoba-coba mengadakan perundingan dengan musuh yang aktif, terutama jika mereka terdiri dari para ulama. • Rebut lagi Aceh Besar. • Untuk mencapai simpati rakyat Aceh, giatkan pertanian, kerajinan, dan perdagangan. • Membentuk biro informasi untuk staf-staf sipil, yang raja kerajaan aceh yang terkenal adalah memberi mereka penerangan dan mengumpulkan pengenalan mengenai hal ihwal rakyat dan negeri Aceh.

• Membentuk kader-kader pegawai negeri yang terdiri dari anak bangsawan Aceh dan membikin korps pangrehpraja senantiasa merasa diri kelas memerintah (Said b, 1985:97). Saran ini kemudian diikuti oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dengan menyerang basis-basis para ulama, sehingga banyak masjid dan madrasah yang dibakar Belanda. Saran Snouck Hugronje raja kerajaan aceh yang terkenal adalah hasil: Belanda akhirnya sukses menaklukkan Aceh.

Pada 1903, kekuatan Kesultanan Aceh Darussalam semakin melemah seiring dengan menyerahnya Sultan M. Dawud kepada Belanda. Setahun kemudian, tahun 1904, hampir seluruh wilayah Aceh berhasil dikuasai Belanda. Walaupun demikian, sebenarnya Aceh tidak pernah tunduk sepenuhnya terhadap penjajah. Perlawanan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh adat dan masyarakat tetap berlangsung. Aceh sendiri cukup banyak memiliki sosok pejuang yang bukan berasal dari kalangan kerajaan, sebut saja: Chik Di Tiro, Panglima Polim, Cut Nya` Dhien, Teuku Umar, Cut Meutia, dan lain-lainnya.

Akhir kalam, sepanjang riwayatnya, Kesultanan Aceh Darussalam telah dipimpin lebih dari tigapuluh sultan/ratu.

Jejak yang panjang ini merupakan pembuktian bahwa Kesultanan Aceh Darussalam pernah menjadi peradaban besar yang sangat berpengaruh terhadap riwayat kemajuan di bumi Melayu. Perang Aceh Perang Aceh dimulai sejak Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik, namun tidak berhasil merebut wilayah yang besar. Perang kembali berkobar pada tahun 1883, namun lagi-lagi gagal, dan pada 1892 dan 1893, pihak Belanda menganggap bahwa mereka telah gagal merebut Aceh.

Pada tahun 1896 Dr. Christiaan Snouck Hurgronje, seorang ahli Islam dari Universitas Leiden yang telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh, memberikan saran kepada Belanda agar merangkul para Ulèëbalang, dan melumatkan habis-habisan kaum ulama.

Saran ini baru terlaksanan pada masa Gubernur Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz. Pasukan Marsose dibentuk dan G.C.E. Van Daalen diutus mengejar habis-habisan pejuang Aceh hingga pedalaman.

Pada Januari tahun 1903 Sultan Muhammad Daud Syah akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda.

Panglima Polem Muhammad Daud, Tuanku Raja Keumala, dan Tuanku Mahmud menyusul pada tahun yang sama pada bulan September. Perjuangan di lanjutkan oleh ulama keturunan Tgk. Chik di Tiro dan berakhir ketika Tgk. Mahyidin di Tiro atau lebih dikenal Teungku Mayed tewas 1910 di Gunung Halimun. Peninggalan Kerajaan Aceh • Masjid Raya Baiturrahman Peninggalan Kerajaan Aceh yang pertama dan yang paling dikenal adalah Masjid Raya Baiturrahman.

Masjid yang dibangun Sultan Iskandar Muda pada sekitar tahun 1612 Masehi ini berada di pusat Kota Banda Aceh. Saat agresi militer Belanda II, masjid ini sempat dibakar. Masjid Raya Baiturrahman Namun pada selang 4 tahun setelahnya, Belanda membangunnya kembali untuk meredam amarah rakyat Aceh yang hendak berperang merebut syahid. Saat bencana Tsunami melanda Aceh pada 2004 lalu, masjid peninggalan sejarah Islam di Indonesia satu ini menjadi pelindung bagi sebagian masyarakat Aceh.

Kekokohan bangunannya tak bisa digentarkan oleh sapuan ombak laut yang kala itu meluluhlantahkan kota Banda Aceh. • Taman Sari Gunongan Taman Sari Gunongan merupakan salah satu peninngalan Kerajaan Aceh, setelah keraton (dalam) tidak terselamatkan karena Belanda menyerbu Aceh. Gunongan dibangun pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda yamg memerintah tahun 1607-1636. Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Malaka. Taman Sari Gunongan Putri boyongan dari Pahang yang sangat cantik parasnya dan halus budi bahasanya membuat Sultan Iskandar Muda jatuh cinta dan menjadikannya sebagai permaisuri.

Demi cintannya yang sangat besar, Sultan Iskandar Muda bersedia memenuhi permintaan permaisurinya untuk membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan Gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana pegunungan di tempat asalnya terpenuhi. • Masjid Tua Indrapuri Masjid Tua Indrapuri Mesjid Indrapuri adalah bangunan tua berbentuk segi empat sama sisi.

Bentuknya khas, mirip candi, karena di masa silam bangunan tersebut bekas benteng sekaligus candi kerajaan hindu yang lebih dahulu berkuasa di Aceh. Diperkirakan pada tahun 1.300 Masehi, pengaruh Islam di Aceh mulai menyebar, dan perlahan penduduk sekitar sudah mengenal Islam, akhirnya bangunan yang dulunya candi berubah fungsi menjadi mesjid. Dan sejarah juga mengatakan bangunan bekas candi tersebut dirubah menjadi mesjid di masa Sultan Iskandar Muda berkuasa dari tahun 1607-1637 Masehi.

• Benteng Indrapatra Benteng Indrapatra Peninggalan Kerajaan Aceh yang selanjutnya adalah Benteng Indrapatra. Benteng ini merupakan benteng pertahanan yang sebetulnya sudah mulai dibangun sejak masa kekuasaan Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu tertua di Aceh, tepatnya sejak abad ke 7 Masehi. Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah yang kini terletak di Desa Ladong, Kec. Masjid Raya, Kab. Aceh Besar ini pada masanya dulu memiliki peranan penting dalam raja kerajaan aceh yang terkenal adalah rakyat Aceh dari serangan meriam yang diluncurkan kapal perang Portugis.

• Makam Sultan Iskandar Muda Makam Sultan Iskandar Muda Peninggalan Kerajaan Aceh yang selanjutnya adalah Makam dari Raja Kerajaan Aceh yang paling ternama, Sultan Iskandar Muda. Makam yang terletak di Kelurahan Peuniti, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh ini sangat kental dengan nuansa Islami. Ukiran dan pahatan kaligrafi pada batu nisannya sangat indah dan menjadi salah satu bukti sejarah masuknya Islam di Indonesia.

• Uang Emas Kerajaan Aceh Uang Emas Kerajaan Aceh Aceh berada di jalur perdagangan dan pelayaran yang sangat strategis. Berbagai komoditas yang berasal dari penjuru Asia berkumpul di sana pada masa itu. Hal ini membuat kerajaan Aceh tertarik untuk membuat mata uangnya sendiri.

Uang logam yang terbuat dari 70% emas murni kemudian dicetak lengkap dengan nama-nama raja yang memerintah Aceh. Koin ini masih sering ditemukan dan menjadi harta karun yang sangat diburu oleh sebagian orang. Koin ini juga bisa dianggap sebagai salah satu peninggalan Kerajaan Aceh yang sempat berjaya pada masanya. • Meriam Kerajaan Aceh Kesultanan Aceh telah mampu membuat sarana persenjataannya sendiri. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan meriam-meriam tua yang kini berjajar di benteng Indraparta dan musium Aceh.

Awalnya meriam-meriam tersebut dianggap berasal dari pembelian ke Kerajaan Turki, namun setelah diteliti ulang, ternyata bukan. Teknisi-teknisi kerajaan Aceh-lah yang membuatnya berbekal ilmu yang mereka pelajari dari kerajaan Turki Ustmani. Peranan meriam-meriam ini sangat penting dalam perlawan dan perang terhadap para penjajah dan kapal-kapal perang musuh yang hendak menyandar ke dermaga tanah rencong. Meriam Kerajaan Aceh • Pinto Khop Pinto Khop berada di Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturahman, Kota Banda Aceh.

Tempat ini merupakan sejarah Aceh zaman dulu yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Selain itu, tempat ini juga merupakan pintu penghubung antara istana dan taman putroe phang. Pinto khop ini adalah pintu gerbang yang berbentuk kubah. Pinto Khop Pinto khop ini juga merupakan tempat beristirahat putri pahang jiksa sudah selesai berenang, posisinya tidak jauh dari gunongan.

Nah, di sanalah dayang-dayang membasuh rambut permaisuri. Selain itu, di sana juga terdapat sebuah kolam yang digunakan permaisuri untuk mandi bunga. • Hikayat Prang Sabi Hikayat Prang Sabi adalah suatu karya sastra dalam sastra Aceh yang berbentuk hikayat. Adapun isi dari hikayat ini adalah membicarakan tentang jihad.

Karya sastra ini ditulis oleh para ulama yang berisi ajakan, nasihat, dan seruan untuk terjun ke medan jihad untuk menegakkan agama Allah dari serangan kaum kafir. Bisa jadi, mungkin hikayat inilah yang membangkitkan semangat juang rakyat Aceh dulu untuk mengusir penjajah. Hikayat Prang Sabi • Kesimpulan Kerajaan Aceh di perkirakan berdiri pada tahun 1511 M, dengan raja pertamanya Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528). Pada masa pemerintahannya kerajaan Aceh berkembang selama empat abad, sampai Belanda mengalahkannya dalam perang Aceh (1873-1912).

Sultan Iskandar Muda (1607-1636) adalah pengganti Sultan Ali Mughayat Syah, yang pada masa pemerintahannya Aceh mengalami puncak kejayaannya. Ia berhasil menaklukkan Semenanjung Malaka Yakni : Pahang, Kedah, Perlak, Johor, dan sebagainya. Kehidupan ekonomi yang utama masyarakat Aceh pelayaran dan perdagangan.

Aceh juga penghasil Lada dan Timah, sehingga perdagangan-perdagangan Barat bisa membeli Lada dari Aceh. Salah satu masjid terindah di Indonesia adalah Mesjid Baiturrahman yang dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda.Mesjid ini pernah dibakar dan dikuasai oleh Belanda pada masa perang Aceh.

Namun dibangun kembali pada tahun 1875. Aliran Ahli Sunnah Waljama’ah adalah aliran agama terbesar dalam islam, mengaku sebagai pengikut tradisi Nabi Muhammad Saw.

Aliran Syiah adalah pengikut Ali Bin Ani Thalib, sekarang salah satu aliran besar dalam agama islam yang menyakini kepemimpinan (imamah) Ali dan keturunannya setelah Nabi.

• Saran Dari keberadaanya Kerajaan Aceh di nusantara pada masa yang lalu. Maka kita wajib mensyukurinya.

raja kerajaan aceh yang terkenal adalah

Rasa syukur tersebut dapat di wujudkan dalam sikap dan perilaku dengan hati yang raja kerajaan aceh yang terkenal adalah serta di dorong rasa tanggung jawab yang tinggi untuk melestarikan dan memelihara budaya nenek moyang kita. Jika kita ikut berpartisipasi dalam menjamin kelestariannya berarti kita ikut mengangkat derajat dan jati diri bangsa.

Oleh karena itu marilah kita bersama – sama menjaga dan memelihara peninggalan budaya bangsa yang menjadi kebanggaan kita semua DAFTAR PUSTAKA Ari L, Dwi, dan Leo Agung. 2004. Sejarah Untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Media Tama Heru P, Eko dkk. 2006. Sejarah Untuk SMA Kelas XI.

Jakarta : CV Sindhunata. Amiruddin M, Hasbi. 2006. Aceh dan Serambi Mekkah. Banda Aceh : Yayasan PeNA Tim Edukatif HTS, Modul Sejarah IPS, Surakarta, CV Hayati Tumbuh Subur http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Aceh http://awal-berdiri-kerajaan-aceh.blogspot.com/ http://niken11ips3-19.blogspot.com/2013/11/makalah-kerajaan-aceh_16.html http://kumpulanmakalah96.blogspot.com/2016/10/makalah-sejarah-kerajaan-aceh.html http://afnanidolasamalanga.blogspot.co.id/2016/11/makalah-kerajaan-aceh.html http://myblogkerubungsemut.blogspot.com/2017/05/makalah-sejarah-kesultanan-aceh.html Demikianlah pembahasan mengenai “Makalah Terlengkap Kerajaan Aceh ” Sejarah & ( Kejayaan – Keruntuhan – Peninggalan ) semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.

Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Sejarah Ditag kehidupan budaya kerajaan aceh darussalam, kehidupan politik kerajaan aceh, keruntuhan kerajaan aceh, masa kejayaan kerajaan aceh, pendiri kerajaan aceh, peninggalan kerajaan aceh, peninggalan kesultanan aceh darussalam, penjajahan di kerajaan aceh dilakukan oleh bangsa, raja kerajaan aceh, raja terkenal kerajaan aceh, sejarah kerajaan aceh lengkap, sejarah singkat kerajaan aceh, sultan ali mughayat syah, sumber sejarah kerajaan aceh, wilayah kekuasaan kerajaan aceh Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh • Higgs domino apk versi 1.80 Terbaru 2022 • Pengertian Gizi – Sejarah, Perkembangan, Pengelompokan, Makro, Mikro, Ruang Lingkup, Cabang Ilmu, Para Ahli • Proses Pembentukan Urine – Faktor, Filtrasi, Reabsorbsi, Augmentasi, Nefron, zat Sisa • Peranan Tumbuhan – Pengertian, Manfaat, Obat, Membersihkan, Melindungi, Bahan Baku, Pemanasan Global • Diksi ( Pilihan Kata ) Pengertian Dan ( Fungsi – Syarat – Contoh ) • Penjelasan Sistem Ekskresi Pada Manusia Secara Lengkap • Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan • Penjelasan Proses Pernapasan Pada Manusia Lengkap • Fungsi Asam Nukleat Dalam Tubuh Makhluk Hidup • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com none
KOMPAS.com - Kerajaan Aceh atau Kesultanan Aceh Darussalam adalah salah satu kerajaan Islam yang terletak di ujung Pulau Sumatera.

Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada 1496 masehi. Namun, Kesultanan Aceh baru menjadi penguasa setelah mengambil alih Samudera Pasai pada 1524 masehi. Kerajaan Aceh berkuasa mulai akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-20.

Dalam rentang empat abad tersebut, telah berkuasa 35 orang sultan dan sultanah. Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaannya pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Pada masa kepemimpinannya, Aceh menaklukkan Pahang yang merupakan sumber timah utama dan melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka dengan armada yang terdiri dari 500 kapal perang dan 60.000 tentara laut. Raja-Raja Kerajaan Aceh Sistem pergantian takhta di Kerajaan Aceh tidak selalu kepada putra laki-laki, akan tetapi bisa juga putri, kemenakan, ataupun istri raja yang wafat.

Oleh karena itu, seorang putri pun memungkinkan untuk memegang jabatan raja atau disebut sultanah. Baca juga: Raja-Raja Kerajaan Demak Berikut ini 35 sultan dan sultanah yang berkuasa menjadi raja Kerajaan Aceh.

• Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M) • Sultan Salahudin (1528-1537 M) • Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar (1537-1568 M) • Sultan Husein Ali Riayat Syah (1568-1575 M) • Sultan Muda (1575 M) • Sultan Sri Alam (1575 - 1576 M) • Sultan Zain al-Abidin (1576-1577 M) • Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589 M) • Sultan Buyong (1589-1596 M) • Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604 M) • Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607 M) • Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636 M) • Sultan Iskandar Thani (1636-1641 M) • Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675 M) • Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678 M) • Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688 M) • Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699 M) • Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702 M) • Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703 M) • Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726 M) • Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726 M) • Sultan Syams al-Alam (1726-1727 M) • Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735 M) • Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760 M) • Sultan Mahmud Syah (1760-1781 M) • Sultan Badr al-Din (1781-1785 M) • Sultan Sulaiman Syah (1785-…) • Alauddin Muhammad Daud Syah • Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815 M) dan (1818-1824 M) • Sultan Syarif Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah al-Alam (1815-1818 M) • Sultan Muhammad Syah (1824-1838 M) • Sultan Sulaiman Syah (1838-1857 M) • Sultan Mansur Syah (1857-1870 M) • Sultan Mahmud Syah (1870-1874 M) • Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903 M) Baca juga: Alauddin Riayat Syah al-Kahar
• BERANDA • PROFIL • SALEUEM • PROFIL PEJABAT • VISI & MISI • TUGAS & FUNGSI DINAS • STRUKTUR ORGANISASI • e-LHKPN • PRESTASI & PENGHARGAAN • PPID • PROFIL PPID • TUGAS & FUNGSI • VISI & MISI PPID • SK PPID • STRUKTUR PPID • SOP PPID • REGULASI PPID • MAKLUMAT PELAYANAN • PERMOHONAN INFORMASI • TATA CARA PERMOHONAN INFORMASI • TATA CARA PENGAJUAN KEBERATAN • PENGAJUAN SENGKETA KE KIA • LAPORAN AKSES INFORMASI PUBLIK • PERATURAN TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK • PERATURAN MENGIKAT PUBLIK • RANCANGAN REGULASI 2021 • BERITA • BLOG • UNDUH • FAQ • KONTAK Sultan Iskandar Muda merupakan raja Aceh yang terkenal karena di zamannya dari 1607 sampai 1636 Kerajaan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaannya.

Iskandar Muda adalah keturunan dari Raja Darul-Kamal, dan dari pihak leluhur ayah merupakan keturunan dari keluarga Raja Makota Alam. Darul-Kamal dan Makota Alam dahulunya merupakan dua tempat pemukiman bertetangga.

Ibunya bernama Putri Raja Indra Bangsa, adalah anak dari Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Aceh ke-10. Ketika Iskanda Muda berumur empat tahun, kakeknya memberinya gajah mas dan kuda mas untuk permainan, dua biri-biri yang dapat bertarung, lalu gasing dan panta (gatok) dari emas atau dari suasa. Ketika berumur lima tahun, kakeknya memberinya anak gajah bernama Indra Jaya sebagai teman bermain. Umur tujuh tahun, dia sudah berburu gajah liar. Saat itu, gajah liar diburu bukan untuk dibunuh kemudian diambil gadingnya, tetapi untuk dijinakkan.

Setelah jinak, gajah terbaik dan terbesar dijadikan gajah sultan, sedangkan sisanya untuk armada perang. Dan ketika Iskandar Muda sudah menjadi raja, dia memiliki kemampuan terbaik dalam menjinakkan dan memperlakukan gajah. Gajah pun menjadi tunggangan kebanggaan Sang Sultan. Jika sultan mengendarai gajah, bawahannya harus mengendarai kuda, begitu sebaliknya. Sejak kecil Iskandar Muda juga sudah diperdengarkan kegemilangan kisah hidup Iskandar Zulkarnain yang juga memiliki tentara bergajah oleh Laksamana Keumala Hayati panglima pasukan inong balee.

Tak heran di kemudian hari Raja Iskandar Muda mempunyai prajurit kavaleri bergajah yang jumlahnya mencapai 1.000 pasukan. Pasukan gajah ini digunakan untuk melengkapi infanteri, pasukan berkuda dan persenjataan artileri meriam yang dimiliki Sultan Iskandar Muda. Aceh Darussalam pada waktu itu merupakan satu-satunya kerajaan di Nusantara yang memiliki pasukan 1.000 gajah.

Gajah-gajah tersebut selain digunakan untuk armada perang juga untuk penyambutan tamu. Gajah-gajah tersebut juga digunakan Sultan Iskandar Muda untuk membentengi istananya.

Ratusan gajah-gajah tersebut dilatih untuk menghancurkan dan berperang sehingga tak takut suara senapan. Iskandar Muda yang sangat menyayangi binatang ini memberikan nama kepada masing-masing gajah. Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah juga sangat menghormati gajah yang menurutnya paling berani dan paling terlatih. Bahkan saking sayangnya dia dengan gajah, diceritakan pula ketika gajah-gajah itu berjalan-jalan di luar, dia akan memerintahkan anak buahnya untuk membawakan payung bagi mereka.

Gajah perang biasanya ditempatkan di tengah barisan, tempat mereka dimanfaatkan untuk menahan serangan musuh atau untuk melakukan serangan terhadap pasukan lawan. Ukurannya yang besar dan penampilannya yang menakutkan menjadikan gajah sebagai kavaleri berat yang cukup berguna. Di luar medan tempur, gajah berguna untuk membawa perlengkapan perang yang berat.

Serangan gajah bisa mencapai kecepatan sekitar 30 km/jam (20 mil/jam). Tidak seperti kavaleri kuda, gajah tidak dapat dihentikan dengan mudah oleh infantri. Serangan gajah dilakukan murni dengan kekuatan. Gajah menyerang barisan depan musuh dan menginjak-injak prajurit musuh sambil mengayun-ayunkan belalainya. Prajurit yang tak terinjak biasanya akan terlempar. Selain itu, gajah bisa memicu ketakutan pada pasukan yang tidak terbiasa bertempur melawan gajah.

raja kerajaan aceh yang terkenal adalah

Teror yang disebabkan oleh gajah akan membuat barisan pertahanan musuh menjadi pecah dan buyar. Kuda yang tidak terbiasa dengan bau gajah juga bisa langsung panik jika berhadapan dengan pasukan gajah. Selain untuk penyerangan, gajah juga menyediakan tempat yang aman dan stabil bagi pemanah untuk menembakkan panahnya di medan pertempuran. Gajah-gajah tersebut juga digunakan Sultan Iskandar Muda untuk menaklukan beberapa wilayah di Sumatera dan semenanjung Malaya.

Bahkan juga pernah digunakan untuk menggempur Portugis di Malaka. Hingga perang kemerdekaan pasukan bergajah di Aceh masih digunakan oleh pasukan KNIL.

Sekarang gambar gajah putih (Gajah Puteh) dijadikan simbol Kodam Iskandar Muda. Sumber: sindonews.com - Foto: tropenmuseum • BERANDA • PROFIL • SALEUEM • PROFIL PEJABAT • VISI & MISI • TUGAS & FUNGSI DINAS • STRUKTUR ORGANISASI • e-LHKPN • PRESTASI & PENGHARGAAN • PPID • PROFIL PPID • TUGAS & FUNGSI • VISI & MISI PPID • SK PPID • STRUKTUR PPID • SOP PPID • REGULASI PPID • MAKLUMAT PELAYANAN • Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah INFORMASI • TATA CARA PERMOHONAN INFORMASI • TATA CARA PENGAJUAN KEBERATAN • PENGAJUAN SENGKETA KE KIA • LAPORAN AKSES INFORMASI PUBLIK • PERATURAN TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK • PERATURAN MENGIKAT PUBLIK • RANCANGAN REGULASI 2021 • BERITA • BLOG • UNDUH • FAQ • KONTAKKamu sedang mencari informasi tentang silsilah raja-raja yang memimpin Kerajaan Aceh Darussalam?

Kalau iya, pas banget, nih, karena kamu bisa menyimak ulasan lengkapnya di sini. Daripada semakin penasaran, cek selengkapnya berikut ini. Kalau membicarakan tentang silsilah raja-raja dari Kerajaan Aceh Darussalam, kamu mungkin sudah tidak asing dengan Sultan Iskandar Muda. Ia adalah raja paling terkenal yang berhasil membawa kerajaan Aceh menuju puncak kejayaan. Nah, di sini nanti, kamu tidak hanya akan menyimak informasi mengenai Sultan Iskandar Muda saja.

Akan tetapi, ada juga ulasan mengenai pemimpin lain yang tidak boleh dilewatkan. Termasuk, juga di dalamnya tentang sultanah wanita yang berhasil memimpin kerajaan tersebut. Bagaimana? Apakah kamu sudah semakin tidak sabar ingin segera mengetahui silsilah raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Aceh Darussalam ini, kan?

Kalau begitu, langsung saja cek ulasannya berikut ini, yuk! Silsilah Raja-Raja Pemimpin Kerajaan Aceh Darussalam Di bawah ini adalah nama raja-raja yang menempati silsilah Kerajaan Aceh Darussalam. Adapun ulasannya adalah sebagai berikut: 1.

Sultan Ali Mughayat Syah Sumber: Kesbangpol Banda Aceh Kota Raja pertama sekaligus pendiri dari Kerajaan Aceh Darussalam adalah Sultan Ali Mughayat Syah. Ia dinobatkan menjadi raja pada tahun 1514 Masehi dan bergelar al-Malik as-Shalih.

Dirinya memilih pusat kota sebagai lokasi pendirian Kerajaan Aceh Darussalam. Ibu kotanya lalu diberi nama Bandar Aceh Darussalam. Menurut beberapa sumber sejarah, sang sultan sebenarnya adalah seorang pemimpin wilayah yang diangkat pada tahun 1507. Dulu, wilayahnya merupakan salah satu bawahan dari Kerajaan Lamuru yang bercorak Hindu. Salah satu agendanya ketika menjadi pemimpin adalah memimpin pasukannya untuk menaklukkan daerah-daerah lain di sekitarnya.

Sesudah itu, ia kemudian memutuskan untuk melepaskan wilayahnya dari Kerajaan Lamuru dan mendirikan kerajan sendiri. Peristiwa tersebut juga didorong oleh kedatangan Portugis pada tahun 1511 ke Aceh. Pada saat itu, Portugis dikenal tidak terlalu menyukai Islam dan membunuh umat muslim dengan kejam. Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah semangat yang membara, ia mengerahkan pasukannya untuk mengusir bangsa penjajah itu dari tanah leluhurnya.

Pada tahun 1520, Sultan Ali Mughayat Syah memulai kampanye militer guna menaklukkan wilayah-wilayah di Sumatra bagian utara.

Kegiatan ini sekaligus menjadi agenda penyebaran agama Islam karena di ketahui, di daerah itu belum mengenal Islam. Setelah misinya selesai, sang raja kemudian melakukan perluasan wilayah hingga ke pantai timur Sumatra. Diketahui, di situ memang dikenal sebagai penghasil emas dan rempah-rempah. Ia lalu mendirikan banyak sekali pelabuhan dan memperkuat militer laut untuk membuat perekonomian semakin maju. Pada masa kepemimpinannya, Sultan Ali Mughayat Syah memang pernah mengalahkan pasukan Portugis.

Ia bahkan berhasil merampas benda-benda berharga milik mereka seperti meriam, senapan, dan pedang. Namun, hal tersebut tidak benar-benar bisa mengusir Portugis dari wilayahnya. Karena pada tahun 1524, pasukannya dapat dipukul mundur oleh Portugis saat akan menaklukkan daerah Aru. Sultan Ali Mughayat Syah wafat pada tahun 1530 sebelum benar-benar mewujudkan cita-citanya untuk mengenyahkan Portugis. Baca juga: Ulasan tentang Raden Patah, Sang Pendiri Kerajaan Demak yang Masih Keturunan Ningrat 2.

Sultan Salahuddin Setelah wafatnya Sultan Ali Mughayat Syah, silsilah kepemimpinan Kerajaan Aceh Darussalan kemudian dilanjutkan anak laki-lakinya, yaitu Sultan Salahuddin.

Menurut catatan sejarah, ia resmi diangkat menjadi raja pada tahun 1530 Masehi. Namun sayang sekali, informasi mengenai pemimpin yang satu ini tidak banyak diketahui. Hanya saja, dirinya dinilai sebagai seorang raja yang begitu lemah. Berbeda sekali dengan sang ayah yang begitu gigih dan tangguh. Karena ketidakcakapannya dalam memimpin Kerajaan Aceh Darussalam, ia kemudian dikudeta oleh adiknya sendiri. Maka dari itu, kepemimpinannya pun tidak berlangsung lama. Sebenarnya, tidak ada catatan pasti mengenai kapan ia turun tahta.

Namun, diperkirakan ia menyudahi masa kepemimpinannya sekitar tahun 1537. 3. Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar Raja yang menempati daftar silsilah pemimin Kerajaan Aceh selanjutnya adalah Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar. Seperti yang telah kamu baca di atas, ia adalah adik laki-laki dari Salahuddin. Ia dinobatkan pada tahun 1537 Masehi. Di era pemerintahannya ini, situasi kerajaan bisa dibilang lebih baik dan kuat daripada sebelumnya.

Sultan Alauddin rupanya mewarisi semangat sang ayah untuk mengusir Portugis dari wilayahnya. Untuk memperkuat pertahanan, ia kemudian menjalin hubungan diplomatik dengan Kesultanan Turki Ottoman. Sultan Turki menyambut hal tersebut dengan baik. Ia kemudian mengirimkan prajurit ahli serta ahli pembuat senjata ke Aceh. Setelah semua persiapan matang, sang sultan kemudian berusaha menaklukkan Semenanjung Melayu.

Ia menyerang daerah tersebut karena merupakan wilayah kekuasaan Portugis. Daerah yang ditaklukkan tidak hanya di pesisir saja, tetapi juga pedalaman. Setelah itu, ia juga berhasil menaklukkan Kerajaan Aru. Pedalam Batak pun tidak lepas dari sasaran. Sultan Alauddin berusaha menaklukkan wilayah tersebut karena kebanyakan warganya pada saat itu memeluk agama Hindu. Ia ingin raja kerajaan aceh yang terkenal adalah pengaruh Islam semakin luas.

Wilayah Kerajaan Aceh Darussalam kian hari kian luas. Rakyatnya pun hidup dengan makmur. Karena kesuksesannya itu, Kerajaan Aceh menjadi semakin disegani. Raja ketiga tersebut bisa dibilang cukup lama memerintah, yaitu sekitar 30 tahun. Diketahui dari nisan yang ada di makamnya, ia meninggal pada tanggal 28 September 1571.

Baca juga: Ulasan Lengkap Mengenai Silsilah Raja-Raja yang Pernah Memimpin Kerajaan Kediri 4. Sultan-Sultan Sebelum Iskandar Muda Bagian I Kerajaan Aceh Darussalam bisa dibilang mengalami periode yang suram setelah ditinggal oleh Sultan Alauddin. Pada era tersebut, para keturunan saling menyerang satu sama lain untuk mendapatkan kekuasaan. Menurut catatan sejarah, setidaknya ada delapan raja yang berkuasa di periode tersebut. Pada tahun 1568–1575, silsilah raja-raja Kerajaan Aceh diteruskan oleh Sultan Husain Ali Riayat Syah.

Ia merupakan anak laki-laki dari Sultan Alauddin. Setelah itu, muncul nama Sultan Muda yang hanya menduduki tahta sangat singkat, bahkan tidak ada satu tahun. Hal tersebut dikarenakan ia dibunuh akibat raja kerajaan aceh yang terkenal adalah perebutan kekuasaan. Kemudian, yang menggantikannya sekaligus menjadi raja yang keenam adalah Sultan Sri Alam. Ia juga merupakan putra dari Sultan Alauddin. Sayang sekali, kekuasaan yang direbutnya secara kotor ini juga tidak bertahan lama.

Ia hanya memerintah dari tahun 1575–1576 saja. Di tahun 1576, Sultan Zainal Abidin kemudian meneruskan tampuk kepemimpinan. Ia adalah salah satu dari cucu Sultan Alauddin. Ia juga hanya memerintah selama satu tahun saja sebelum diterukan oleh Sultan Alauddin Mansur Syah.

Sang sultan menjadi raja kedelapan dan naik tahta pada tahun 1577. Ia kurang lebih memimpin selama 12 tahun sebelum akhirnya turun tahta, yaitu pada tahun 1589. Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Raden Wijaya, Sang Pendiri Kerajaan Majapahit 5. Sultan-Sultan Sebelum Iskandar Muda Bagian II Untuk selanjutnya, berikut adalah nama raja-raja yang mengisi daftar silsilah Kerajaan Aceh Darussalam.

Sultan Mansur Syah lalu digantikan oleh Sultan Buyong. Ia sebenarnya bukanlah keturunan asli dari Kerajaan Aceh. Asalnya dari Kerajaan Inderapura, Sumatera Barat. Laki-laki tersebut merupakan kakak dari Raja Dewi yang menikahi Sultan Sri Alam. Mengenai alasan diangkatnya pun tidak ada sumber yang mencatatnya dengan jelas. Para ahli sejarah berpedandapat bahwa mungkin pada saat itu tidak ada laki-laki dewasa yang dapat menggantikan sultan yang terbunuh.

Masa pemerintahannya pun tidak berlangsung lama. Ia meninggal karena dibunuh pada tahun 1589. Konon, yang mendalangi kejadian itu adalah kubu bangsawan sultan yang menghendaki pergantian pemimpin.

Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil lalu naik tahta untuk menggantikan Sultan Buyong pada tahun 1589. Pada masa pemerintahannya, terjadi sebuah peristiwa penting yaitu Belanda, Inggris, dan Perancis datang bersaaman di Selat Malaka. Situasi pada saat itu menjadi semakin rumit karena timbulnya perpecahan akibat salah sangka dan juga adu domba.

Pada tahun 1604 Masehi, ia digulingkan dari tahta kekuasaan karena sudah tua. Di tahun 1604, Sultan Ali Riayat Syah menggantikannya dan menjadi Raja Kerajaan Aceh kesebelas.

raja kerajaan aceh yang terkenal adalah

Masa kepemimpinannya begitu singkat dan penuh pergolakan politik. Ia hanya berkuasa selama tiga tahun saja. Baca juga: Informasi tentang Prasasti Bersejarah Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang Perlu Kamu Ketahui 5. Sultan Iskandar Muda Sumber: tengkuputeh Setelah mengalami periode yang cukup kelam selama beberapa puluh tahun, Kerajaan Aceh mulai bangkit dari keterpurukan.

Hal tersebut dikarenakan sosok Sultan Iskandar Muda yang begitu tangguh dan bijaksana dalam memimpin. Pada masa kepemimpinannya yang dimulai dari tahun 1607, sang sultan berhasil memperluas wilayah kerajaan. Ia tidak hanya dapat menyatukan kembali daerah-daerah yang sebelumnya melepaskan diri. Akan tetapi, ia juga berhasil menaklukkan wilayah Semenanjung Malaya.

Contohnya seperti Malaka, Pahang, Johor, Kedah, dan Perak. Selain itu, wilayah yang sekarang menjadi negara Thailand pun dikuasainya. Sementara itu, Sultan Iskandar Muda juga dapat memajukan perekonomian Kerajaan Aceh. Ia dapat menguasai dan mempertahankan pelabuhan-pelabuhan dagang penting. Ia juga membuat para pedagang asing untuk tunduk dengan peraturan-peraturan yang dibuatnya.

Di bidang pertahanan, sang sultan memperkuat armada perangnya. Terutama angkatan lautnya untuk melindungi pelabuhan dari serangan pihak-pihak asing. Dengan pasukannya yang sangat kuat, ia tidak segan-segan untuk menumpas siapa pun yang berani mengusik kedamaian wilayahnya.

Pada tahun 1615, Kerajaan Aceh menyerang Portugis di Malaka. Namun sayang, serangan tersebut dapat digagalkan. Dengan pantang menyerah, kerajaan tersebut menyerang untuk kedua kalinya pada tahun 1629. Sebenarnya serangan ini hampir berhasil, hanya saja Portugis kemudian mendapatkan bantuan dari kerajaan yang menjadi musuh Aceh Darussalam. Akhirnya, pasukan harus ditarik mundur dan kembali dengan tangan hampa. Setelah itu, sang raja memutuskan untuk lebih fokus pada masalah pemerintahan dan pendidikan agama.

Kehidupan Pribadi Hingga Wafatnya Sultan Iskandar Muda diperkirakan lahir sekitar tahun 1593 dengan nama Tun Pangkat Darmawangsa.

Ia adalah putra dari Sultan Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah Syah. Sang ayah merupakan cucu dari Sultan Aceh ke-3, yaitu Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar. Sementara itu, ibunya bernama Putri Raja Indra Bangsa yang merupakan anak dari Sultan Aceh kesepuluh, yaitu Sultan Alauddin Riayat Syah. Karena garis keturunannya ini, Sultan Iskandar Muda memang berhak mewarisi tahta kerajaan. Sejak kecil, ia memang dipersiapkan untuk menjadi seorang pemimpin.

Setelah dewasa, Sultan Iskandar Muda menikahi seorang putri asal Kesultanan Pahang.

raja kerajaan aceh yang terkenal adalah

Namanya adalah Putroe Phang. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang anak bernama Putri Sri Alam yang lahir pada tahun 1612. Menurut catatan beberapa sumber sejarah, Raja Kerajaan Aceh tersebut diketahui juga memiliki selir yang tidak disebutkan namanya. Dari selirnya ini, ia memiliki seorang anak laki-laki bernama Meurah Pupok. Pada awalnya, Meurah Pupok dipersiapkan oleh Sultan Iskandar Muda untuk menjadi penerusnya.

Namun karena putranya melakukan pelanggaran hukum yang berat, akhirnya harus mendapatkan hukuman yang setimpal, yaitu dirajam hingga meninggal.

raja kerajaan aceh yang terkenal adalah

Setelah hukuman dilakukan, fakta pun terkuak kalau itu semua hanyalah fitnah belaka. Nasi telah menjadi bubur, sang sultan memang tidak bisa menghidupkan putranya kembali.

Akan tetapi, ia memberi contoh kalau keadilan memang harus ditegakkan. Sultan Iskandar Muda cukup lama memerintah Kerajaan Aceh Darussalam, yaitu selama 29 tahun.

raja kerajaan aceh yang terkenal adalah

Ia meninggal karena sakit keras pada tanggal 27 Desember 1636. Kemudian pada tanggal 14 September 1993, sang sultan mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintah Indonesia. Namanya diabadikan di beberapa bangunan penting seperti bandara, udara, kapal, taman, yayasan, dan juga ruas jalan. Baca juga: Prasasti-Prasasti Peninggalan yang Menjadi Bukti Eksistensi Kerajaan Mataram Kuno 6. Sultan Iskandar Thani Yang mengisi daftar silsilah raja Kerajaan Aceh Darussalam selajutnya adalah Sultan Iskandar Thani.

Ia memiliki nama asli Iskandar Tsani Alauddin Mughayat Syah.

raja kerajaan aceh yang terkenal adalah

Raja Aceh ketigabelas ini sebenarnya bukanlah keturunan asli dari Aceh. Ia berasal dari Pahang yang kemudian menikah dengan putri Iskandar Muda, yaitu Putri Sri Alam.

raja kerajaan aceh yang terkenal adalah

Karena putra Sultan Iskandar Muda sudah wafat dan tidak memiliki keturunan laki-laki lain, akhirnya ialah yang naik tahta. Ia resmi dinobatkan menjadi pemimpin pada tahun 1636 Masehi.

Gaya kepemimpinan Sultan Iskandar Thani ini berbeda dengan pendahulunya. Daripada melakukan perluasan wilayah, ia lebih memilih fokus pada perkembangan dan pendidikan agama Islam.

Bahkan, ia menjadikan istana sebagai pusat pendidikan. Dirinya juga turut andil dalam penyebaran agama Islam di luar Aceh. Urusan politik tentu saja tetap dijalankan. Hanya saja, bisa dibilang lebih lunak jika dibandingkan pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda.

Masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani tidak berlangsung lama. Ia kurang lebih hanya memimpin selama lima tahun saja. Kebijakan-kebijakan yang diambilnya bakan belum berdampak besar terhadap kemajuan kerajaan. Pada tahun 1641, ia meninggal dunia. Usianya masih muda saat itu, yaitu 31 tahun aja. Perihal penyebab kematiannya masih menjadi misteri. Namun, upacara pemakamnnya dilangsungkan dengan mewah. Dikarenakan belum sempat memiliki keturunan, akhirnya tahta Kerajaan Aceh jatuh ke tangan Putri Sri Alam.

Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah juga: Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai yang Sarat Akan Nilai Sejarah 7. Sultanah Safiatuddin Sumber: Wikimedia Commons Putri Sri Alam resmi menjadi pemimpin Kerajaan Aceh Darussalam menggantikan suaminya pada tahun 1641.

Gelarnya adalah Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah. Ia menjadi pemimpin wanita pertama yang mengisi daftar silsilah raja-raja yang memimpin Kerajaan Aceh Darussalam.

Pada waktu itu, keadaannya memang sulit untuk mencari laki-laki yang masih memiliki hubungan darah untuk naik tahta. Pengangkatan tersebut tentu saja tidak berjalan mulus begitu saja. Pasalnya golongan ulama dan wujudiah tidak setuju jika dipimpin oleh seorang wanita.

Salah satu alasannya karena pada waktu itu pemimpin wanita memang tidaklah lazim. Terlebih lagi, ada yang mengatakan bahwa dipimpin oleh seorang perempuan bertentangan dengan hukum Islam.

Keadaan pun menjadi kisruh karena hal tersebut. Hingga akhirnya, sang ulama besar, yaitu Nuruddin ar-Raniri, turun tangan dan berhasil menengahi kericuhan yang terjadi. Keputusannya adalah Sultanah Safiatuddin tetap menduduki posisinya sebagai pemimpin kerajaan.

Masa Kepemimpinan Sultanah Safiatuddin Meskipun pada awalnya seperti diremehkan, sang sultanah mampu membuktikan kalau dirinya bisa memimpin kerajaan. Buktinya, perekonomian kerajaan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pada masa pemerintahannya, rakyat hidup dengan makmur dan sejahtera. Pada saat itu, makanan harganya murah dan mudah didapatkan. Selain perekonomian, bidang sastra dan budaya juga mengalami perkembangan yang baik.

Hal tersebut lantaran sang sultanah juga menyukai dunia tulis menulis. Beberapa karya yang lahir di era kepemimpinannya adalah Shiratul Mustaqim, Syaiful-Qutub, Bustanul Salathin fi Dzikrilawwalin wal-Akhirin, dan Mir’at al Tullab. Di zamannya pula, kedudukan wanita menjadi lebih diperhitungkan. Seperti pada tahun 1639 saat terjadinya Perang Malaka, ia membentuk pasukan khusus untuk menjaga benteng istana yang semuanya beranggotakan perempuan.

Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Sultanah Safiatuddin mampu mengantarkan menjadi pemimpin yang disegani dan dicintai oleh banyak orang. Maka dari itu, masa kepemimpinannya bisa cukup lama, yaitu selama 34 tahun. Ia meninggal dunia pada tahun 1675 Masehi. Baca juga: Informasi Lengkap tentang Ken Arok, Sang Pendiri Kerajaan Singasari yang Punya Masa Lalu Kelam 8. Raja-Raja yang Lain Seperti yang mungkin telah kamu baca sebelumnya, pernikahan Sultan Iskandar Tsani dan Sultanah Safiatuddin tidak mendapatkan keturunan.

Maka dari itu, sang sultanah mempersiapkan beberapa anak angkatnya untuk mewarisi tahta kerajaan. Mereka adalah Naqi Al-Din Raja kerajaan aceh yang terkenal adalah al-Alam, Zaqi al-Din Inayat Syah, dan Kamalat Syah Zinat al-Din. Ya, ketiganya adalah perempuan dan konon tidak memiliki hubungan darah dengan sultanah. Setelah Sultanah Safiatuddin wafat, singgasana Kerajaan Aceh Darussalam kemudian diteruskan oleh Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam.

Tidak banyak yang dapat dikulik dari pemerintahan sultanah yang satu ini. Hanya saja, ia cukup lama memerintah dari tahun 1675 sampai 1678. Dua periode kekuasaan selanjutnya juga masih dipegang oleh perempuan. Pada tahun 1678 hingga 1688, silsilah Kerajaan Aceh Darussalam diteruskan oleh Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah.

Setelah itu, baru Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din yang menjabat sebagai sultanah. Ia resmi menjadi ratu pada tahun 1688. Masa jabatannya cukup lama yaitu sampai 1699. Sepeninggal Sri Ratu Kamalat Syah, pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam jatuh ketangan Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din.

Ia memrintah pada tahun 1699 hingga 1702. Selanjutnya, masih ada tujuh belas raja lagi yang meneruskan tonggak kepemimpinan kerajaan tersebut. Baca juga: Informasi Lengkap Mengenai Silsilah Raja-Raja yang Memimpin Mataram Kuno 9. Sultan Daud Syah Sumber: Wikimedia Commons Sultan Daud Syah merupakan raja terakhir yang menempati daftar silsilah pewaris Kerajaan Aceh Darussalam.

Ia naik tahta pada tahun 1875. Pada waktu itu usianya masih sangat muda, yaitu tujuh tahun. Dirinya diangkat menjadi raja karena menggantikan Sultan Alaiddin Mahmudsyah yang terkena wabah kolera.

Apabila dibandingkan dengan raja-raja yang sebelumnya, kehidupan sang sultan bisa dibilang sangatlah miris. Tidak ada lagi kemewahan yang tersisa untuknya. Bahkan, ia dinobatkan menjadi raja di sebuah masjid.

Sebenarnya, ia bisa saja mendapatkan kemewahan apabila bekerja sama dengan Belanda, seperti kebanyakan bangsawan pada waktu itu. Namun, hal itu tidak dilakukannya.

Karena sampai kapan pun, ia tidak akan pernah tunduk kepada Belanda. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk mempertahankan kedaulatan Kerajaan Aceh Darussalam. Ia bergerilya di hutan-hutan untuk memimpin perlawanan terhadap penjajah. Namun kemudian, sekitar tahun 1903, Sultan Daud Syah ditangkap oleh Belanda dan dijadikan tahanan rumah. Penangkapan tersebut berdasarkan sikap sultan yang menolak kooperatif untuk menandatangi perjanjian damai.

Menjadi tahanan rumah tak menyurutkan semangatnya untuk melakukan perlawanan. Bersama beberapa tokoh Aceh lainnya, ia bahkan masih mengatur siasat menyerang Belanda. Kemudian pada tahun 1907, Sultan Daud Syah dibuang ke Pulau Jawa. Di tahun 1918, mereka kemudian dipindahkan ke Jakarta. Sang sultan meninggal pada tanggal 6 Februari 1939 dan dimakamkan di Pemakaman Umum, Rawamangun, Jakarta.

Tim Sejarah dan Budaya Aceh sebenarnya pernah mengusulkan sang sultan untuk diangkat menjadi pahlawan nasional. Sayangnya, belum mendapatkan tanggapan dari pemerintah. Baca juga: Peninggalan Bersejarah yang Membuktikan Keberadaan Kerajaan Pajajaran Sudah Puas Menyimak Informasi Lengkap tentang Silsilah Raja-Raja Pemimpin Kerajaan Aceh Ini?

Demikinalan ulasan lengkap mengenai silsilah raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Aceh Darussalam. Bagaimana? Semoga setelah membacanya kamu mendapatkan pengetahuan baru. Untuk yang mungkin juga mencari informasi serupa tentang kerajaan-kerajaan di nusantara, mending langsung saja cek artikel PosKata yang lainnya.

Kamu dapat menemukan informasi tentang sejarah, peninggalan-peninggalan berharga, hingga penyebab keruntuhan kerajaan-kerajaan seperti Majapahit, Samudra Pasai, Tarumanegara, dan masih banyak lagi.

Jangan sampai dilewatkan, ya! Editor Elsa Dewinta Elsa Dewinta raja kerajaan aceh yang terkenal adalah seorang editor di Praktis Media. Wanita yang memiliki passion di dunia content writing ini merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret jurusan Public Relations. Baginya, menulis bukanlah bakat, seseorang bisa menjadi penulis hebat karena terbiasa dan mau belajar.

Sejarah Kejayaan Kerajaan Aceh Dibawah Pimpinan Sultan Iskandar Tsani, Raja Penguasa Selat Malaka‼️




2022 www.videocon.com