Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh

pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh

• Beranda • Opini • Alam • Lingkungan • Flora • Fauna • Laut • Budaya • Masyarakat • Tradisi • Religi • Politik • Ekonomi • Seni • Sastra • Bahasa • Arsitektur • Kuliner • Sejarah • Nusantara • Indonesia Modern • Tokoh • Kegiatan • Publikasi • Diskusi • Resensi • Media • Infografis • Kartun • Video • Tentang Kami • Index • Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh • Opini • Alam • Lingkungan • Flora • Fauna • Laut • Budaya • Masyarakat • Tradisi • Religi • Politik • Ekonomi • Seni • Sastra • Bahasa • Arsitektur • Kuliner • Sejarah • Nusantara • Indonesia Modern • Tokoh • Kegiatan • Publikasi • Diskusi • Resensi • Media • Infografis • Kartun • Video • Tentang Kami • Index 1001indonesia.net – Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia.

Pertama kali didirikan di daerah pedesaan Jawa dan Madura oleh para kiai. Mereka menyediakan asrama atau pondok bagi para santri. Lembaga pendidikan sejenis juga terdapat di Sumatra Barat yang dikenal dengan nama surau, dan di Aceh disebut dayah. Jika kita merujuk pada Babad Demak, pertama kali pesantren didirikan oleh Raden Rahmat yang terkenal dengan nama Sunan Ampel di daerah Ampel Denta, Surabaya.

Setelahnya banyak bermunculan pesantren yang didirikan oleh para santrinya, di antaranya pondok pesantren Giri (Sunan Giri), pesantren Demak (Raden Patah), pesantren Tuban (Sunan Bonang). Pada fase awal ini, pesantren berfungsi sebagai sarana pengislaman dengan memadukan tiga unsur pendidikan, yakni ibadah untuk menanamkan iman, tablig untuk menyebarkan ilmu, dan amal untuk mewujudkan kegiatan kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari Kurikulum dasar sebagian besar pesantren tradisional terdiri atas pelajaran bahasa Arab dan pelajaran berjenjang tentang kitab kuning, fiqih, pendalaman al-Quran, tauhid, akhlak, dan tasawuf.

Selain itu juga dipelajari hadis, sunah, sejarah Islam, dan sastra Arab. Selama berabad-abad, pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan Islam bagi orang Jawa sampai masuknya pendidikan gaya Barat pada awal abad ke-20. Tidak mengherankan pesantren menjadi pelaku penting dalam pengislaman Jawa dan karena itu turut memengaruhi pula perkembangan kebudayaan Jawa pada umumnya. Berikut 2 contoh pondok pesantren besar yang ada di Indonesia: Pondok Pesantren Tebuireng Salah satu pesantren tertua dan terpenting di Indonesia adalah Pesantren Tebuireng yang terletak di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Pesantren ini didirikan oleh Kiai Haji Hasjim Asy’ari pada 3 Agustus 1899, setelah kepulangannya dari menuntut ilmu di Mekkah. Pendirian pondok pesantren ini tidak mudah. Gangguan datang dari para penjahat lokal yang tidak senang dengan pendirian pondok.

Berkat kegigihan Kiai Hasjim dan santri-santrinya, pesantren yang terkait erat dengan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) ini mampu bertahan, bahkan menjadi pesantren yang besar.

pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh

Banyak alumninya yang mendirikan pesantren baru. Salah satu alumninya bahkan menjabat sebagai presiden RI ke-4, yaitu Abdurrahman Wahid yang tidak lain merupakan cucu sang pendiri. Pondok Pesantren Modern Gontor Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor atau lebih dikenal dengan Pondok Modern Gontor terletak di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur. Pondok pesantren yang dikelola secara modern ini terkenal dengan penerapan disiplin yang ketat, penguasaan bahasa asing (Arab dan Inggris), serta kaderisasi dan jaringan alumni yang sangat kuat.

Sejak didirikan pada 10 April 1926, Pondok Gontor merupakan lembaga pendidikan yang tidak terikat dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan mana pun. Pendirian pesantren modern ini terinspirasi dari Sir Syed Ahmad Khan pendiri Aligarh Muslim University, India, yang pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh modernisasi pendidikan Islam.

Sistem yang dipakai di Pondok Modern Gontor berjalan dengan baik dan sangat sukses. Karena hal itu, saat ini banyak pesantren di Indonesia yang mencontoh sistem yang diterapkan oleh Pondok Gontor. Apalagi, ada ratusan pesantren tersebar di seluruh Indonesia yang didirikan oleh para alumni Gontor. Hampir bisa dipastikan, pesantren-pesantren ini menggunakan sistem pengajaran yang sama. Sumber: • James J Fox, Indonesian Heritage: Agama dan Upacara, Jakarta: Buku Antar Bangsa, 2002.

• Muhammad Wahyuni Nafis, Cak Nur Sang Guru Bangsa, Jakarta: Kompas, 2014. 1001 Indonesia adalah cerita tentang keragaman Indonesia dan sekaligus sebuah projek. Kita tidak pernah sanggup meringkus hakikat Indonesia karena akan selalu ada yang luput. Keragaman Indonesia adalah kekayaan dan keindahan yang harus kita syukuri. Di tanah nusantara, berbagai budaya diterima namun tumbuh dan berkembang dalam cita rasa nusantara.

Kita menerima dan mengolahnya menjadi lebih indah. Alamat: Graha STR, Jl. Ampera Raya No. 11, Jakarta Selatan 12550 [email protected] (021) 781 3911 Kirim Tulisan Kami mengundang para pembaca untuk menulis di 1001indonesia.net. Tulisan disajikan dengan ringan dan diharapkan dapat memberikan inspirasi positif bagi pembaca tentang kekayaan dan keberagaman Indonesia.

Meski ringan, isi tulisan tetap harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tulisan dikirim ke [email protected] Abstract Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia sampai sekarang tetap memberikan kontribusi penting di bidang sosial keagamaan.

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang memiliki akar kuat (indigenous) pada masyarakat muslim Indonesia, dalam perjalanannya mampu menjaga dan mempertahankan keberlangsungan dirinya (survival system) serta memiliki model pendidikan multi aspek. Berdasarkan bangunan fisik atau sarana pendidikan yang dimiliki, pesantren mempunyai lima tipe berdasarkan ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki pesantren itu sendiri.

Sedangkan berdasarkan kurikulum, pesantren terbagi tiga, yaitu pesantren tradisional (salafiyah), pesantren modern (khalaf atau asriyah) dan pesantren komprehensif (kombinasi). Pesantren memiliki lima unsur atau elemen, yaitu masjid, kyai, pondok, santri, dan pengajian kitab kuning (tafaqquh fi al-din).
• Asal Usul Pondok Pesantren Pondok pesantren sebagai lembaga Islam pertama kali didirikan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim (Syekh Maghribi) yang berasal dari Gujarat.

Beliau terkenal dengan julukan Spiritual Father atau bapak spiritual Walisongo. Syekh Maghribi disebut sebagai Sunan Gresik karena padepokan yang digunakan sebagai tempat tinggal dan sekaligus tempat mengajarkan ilmu agama Islam berada di wilayah Gresik, Jawa Timur.

Pondok pesantren didirikan oleh seorang kiai yang mendapatkan dukungan dari masyarakat. Biasanya pesantren berdiri ketika kehidupan masyarakatnya banyak bertentangan dengan syariat Islam. Oleh karena itu misi pesantren disamping membentuk santri agar menjadi orang yang berilmu dan berakhlakul karimah juga menyebarkan syiar agama Islam. • Dasar dan Tujuan Pondok Pesantren Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan didirikan atas dasar tafaqqohu fiddin yakni kepentingan umat islam untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama islam.

Dasar yang digunakan adalah Q.S. At Taubah : 122. (وَمَاكَانَ اْلمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَّةً فَلَوْلَانَفَرَمِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَارَجَعُوْ اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ (التوبة :١٢٢ Artinya : “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang).

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” Adapun tujuan pondok pesantren sebagai berikut: • Tujuan umum pondok pesantren yaitu membina warga Negara agar berkepribadian muslim dan menanamkan nilai keagamaan pada pada semua segi kehidupan serta menjadikannya sebagai orang yang berguna bagi agama, masyarakat dan Negara.

• Tujuan khusus pondok pesantren: • Mendidik santri untuk menjadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, keterampilan dan sehat lahir batin sebagai warga Negara yang berpancasila. • Mendidik santri agar menjadi kader-kader ulama dan mubaligh yang berjiwa ikhlas, tabah, tangguh, wiraswasta dan mengamalkan syariat Islam secara utuh dan dinamis. • Mendidik santri memperoleh jiwa sosial dan semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan bertanggung jawab kepada pembangunan bangsa dan Negara.

• Mendidik santri agar menjadi tenaga-tenaga yang cakap dalam berbagai sektor pembangunan, khususnya pembangunan material spiritual. • Mendidik santri agar dapat membantu meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat dalam rangka ikut membantu pembangunan bangsa.

• Prinsip-Prinsip Pendidikan Pondok Pesantren Ada beberapa elemen dan pola hidup santri yang merupakan prinsip-prinsip pendidikan pondok pesantren. Elemen pondok pesantren: • Kiai sebagai figur sentral, yaitu seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang tinggi, kiai bertugas membimbing dan mengajarkan ilmu agama kepada santri. Disamping itu kiai juga sebagai pemutus segala kebijakan dalam hal yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran bagi santri.

Kiai dalam melaksanakan tugasnya dibantu pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh khadamnya. • Masjid yang dipergunakan sebagai tempat ibadah umat islam dan para santrinya dan juga sebagai tempat pembelajaran para santri. • Santri, yaitu mereka sebagai anak didik yang menuntut ilmu pengetahuan agama kepada para kiainya dan mereka tinggal berdekatan dengan rumah kiai (asrama).

• Asrma, yaitu tempat tinggal para santri yang digunakan sebagai tempat melepas lelah setelah seharian melakukan kegiatan pembelajaran. • Kitab kuning, atau bisa disebut kitab klasik yang menjadi sumber pembelajaran para santri.

Pola hidup santri sehari-hari di pondok pesantren: • Santri dibiasakan hidup seadanya baik dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup maupun prasarana pembelajaran. • Santri hendaknya berjiwa ikhlas yaitu jiwa yang tidak didorong oleh ambisi apapun untuk memperoleh keuntungan tertentu tetapi semata-mata demi ibadah kepada Allah SWT.

• Santri harus berjiwa sederhana, dalam artian mempunyai kekuatan dan ketahanan hati, penguasaan diri dalam menghadapi segala kesulitan, harus berjiwa besar, berani maju terus dalam menghadapi perkembangan sosial.

pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh

• Santri harus berjiwa ukhuwah islamiyah, yaitu berjiwa demokratis yang tergambar dalam suatu dialogis dan akrab antarkomunitas pondok pesantren yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini akan mewujudkan suasana damai, sepenanggungan yang membantu dalam pembentukan dan pembangunan idealisme santri.

• Santri dididik untuk mandiri dalam rangka membentuk kondisi pondok pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang merdeka (tidak menggantungkan diri pada pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh pihak lain).

Jadi harus mampu berdiri atas kekuatan sendiri. • Santri berjiwa bebas dalam memilih alternatif jalan hidup untuk masa depannya dengan jiwa besar dan sikap optimisme dalam menghadapi segala problema hidup berdasarkan nilai-nilai Islam. • Tunduknya santri kepada kiai, semua perbuatan yang dilakukan setiap warga pesantren sangat tergantung pada restu kiai. • Kebiasaan untuk melakukan amal saleh, puasa dan takarub kepada Allah SWT (prihatin/tirakat).

• Kedisiplinan sangat ditekankan dalam kehidupan di pondok pesantren. Cari Artikel Search for: Recent Posts • Indonesia Emas 2045: Amanat yang Harus Diperjuangkan Recent Comments Archives • April 2020 • June 2018 • May 2018 • March 2018 • February 2018 • January 2018 • August 2016 • May 2016 • August 2015 Categories • Belajar • menulis • pramuka • sistem • Tak Berkategori Meta • Register • Log in • Entries feed • Comments feed • WordPress.com Sosial • View adnanscoutleader’s profile on Facebook Search for: Recent Posts • Indonesia Emas 2045: Amanat yang Harus Diperjuangkan Recent Comments Archives • April 2020 • June 2018 • May 2018 • March 2018 • February 2018 • January 2018 • August 2016 • May 2016 • August 2015 Categories • Belajar • menulis • pramuka • sistem • Tak Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh Meta • Register • Log in • Entries feed • Comments feed • WordPress.com Tidak banyak referensi dan penjelasan mendetail yang menjelaskan mengenai asal usul pesantren atau pondok pesantren, tentang kapan awal berdirinya bagaimana proses berdirinya di Indonesia.

Bahkan istilah-istilah yang ada dalam dunia pesantren pun seperti istilah kiai, santri yang menjadi unsur pesantren masih diperdebatkan. Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia Mengenai asal usul dan latar belakang berdirinya pesantren di Indonesia menurut Ensiklopedi Islam ada dua versi pendapat. Pendapat Pertama Pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri, yaitu tradisi tarekat. Karena pesantren mempunyai kaitan yang erat dengan tempat pendidikan yang khas bagi kaum sufi.

Pendapat ini didasarkan bahwa dalam awal penyiaran Agama Islam di Indonesia lebih dikenal dengan kegiatan tarekat, yang ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan zikir dan wirid tertentu. Pemimpin tarekat ini disebut kiai, yang dalam melaksanakan suluk dilakukan selama 40 hari tinggal bersama kiai di sebuah Masjid untuk dibimbing dalam melakukan ibadah-ibadah tertentu.

Di samping itu kiai juga biasanya menyediakan kamar-kamar kecil yang letaknya di kiri kanan Masjid untuk tempat penginapan dan memasak.

Sehingga dalam kesehariannya juga diajarkan kitab-kitab agama, yang kemudian aktifitas ini dinamakan pengajian. Dalam perkembangannya lembaga pengajian tarekat ini tumbuh dan berkembang menjadi lembaga pesantren. Pendapat Kedua Pesantren yang kita kenal sekarang merupakan pengambilalihan sistem pendidikan yang diadakan oleh orang-orang Hindu di Nusantara.

Pendapat ini didasarkan dengan adanya fakta bahwa sebelum Islam datang ke Indonesia telah dijumpai lembaga pendidikan yang sama dengan pesantren, Lembaga itu digunakan untuk mengajarkan ajaran agama Hindu dan tempat untuk membina kader-kader penyebar Hindu. Fakta lain, adalah bahwa sistem pendidikan semacam pesantren ini, tidak kita jumpai di negara-negara Islam, sementara justru lembaga yang hampir sama dengan pesantren, dapat kita jumpai di negara-negara Hindu dan Budha, seperti India, Thailand dan Myanmar.

Perkembangan Pondok Pesantren di Indonesia Deskripsi tentang perkembangan pesantren tidak bisa terlepas dengan penyebaran dan penyiaran Agama Islam di bumi Indonesia ini, sehingga dalam mengkaji perkembangan pesantren ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa fase, yaitu : • Fase masuknya Islam ke Indonesia • Fase penjajahan Belanda • Fase penjajahan Jepang • Fase Indonesia merdeka Untuk lebih mengetahui perkembangan pesantren di Indonesia, akan berikut penjelasan keadaan dan kondisi pesantren pada masing-masing fase tersebut.

1. Fase masuknya Islam ke Indonesia Berdirinya dan perkembangan pesantren, tidak dapat dipisahkan dengan zaman Walisongo, sehingga tidak berlebihan bila dikatakan pondok pesantren yang pertama kali adalah pondok pesantren yang didirikan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Syekh Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada 12 Rabi‟ul Awal 822 H bertepatan dengan 8 April 1419 M adalah orang pertama dari walisongo yang menyebarkan Agama Islam di Jawa, sehingga dapat disimpulkan bahwa lembaga pesantren itu sudah ada sejak abad ke-15.

Dalam perkembangan pesantren, tokoh yang dianggap berhasil mendirikan dan mengembangkan pesantren dalam arti yang sesungguhnya adalah Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang telah mendirikan pesantren di Kembang Kuning, kemudian pindah ke Ampel Denta, Surabaya, dan mendirikan pesantren di sana.

Misi keagamaan dan pendidikan yang didirikan mencapai sukses, sehingga setelahnya banyak bermunculan pesantren- pesantren yang didirikan oleh para santrinya, di antaranya adalah pondok pesantren Giri yang didirikan oleh Sunan Giri, pesantren Demak oleh Raden Fatah, pesantren Tuban oleh Sunan Bonang. Keadaan dan kondisi pesantren pada masa awal masuknya Islam tidak seperti yang kita lihat sekarang, fungsi dan kedudukannya pun tidak sekompleks sekarang, pada saat itu pesantren hanya berfungsi sebagai alat Islamisasi dan sekaligus memadukan tiga unsur pendidikan, yakni ibadah untuk menanamkan iman, tablig untuk menyebarkan ilmu dan amal untuk mewujudkan kegiatan kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Fase Penjajahan Belanda Penaklukan Belanda atas bangsa di Nusantara, telah menyebabkan adanya proses westernisasi di berbagai bidang, termasuk pula dalam bidang pendidikan, dengan berdalih pembaharuan mereka menyelinapkan misi kristenisasi untuk kepentingan Barat dan agama Nasrani.

Tujuan itulah yang kemudian memunculkan kebijakan-kebijakan yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan pesantren, dengan peraturan-peraturan yang dibuat, mereka berusaha untuk menyudutkan dan meminggirkan lembaga-lembaga pendidikan yang ada, khususnya pesantren.

Pemerintah Kolonial mengeluarkan kebijakan bahwa sekolah-sekolah gereja diwajibkan sebagai sekolah pemerintah dan tiap-tiap daerah karesidenan minimal harus ada satu sekolah yang mengajarkan agama Kristen, agar penduduk pribumi lebih mudah untuk menaati undang-undang dan hukum negara.

Pendidikan gereja ini didirikan oleh pemerintah Belanda dengan tujuan selain mempunyai misi kristenisasi juga untuk menandingi lembaga pendidikan yang sudah ada, seperti pesantren, madrasah-madrasah dan pengajian yang sangat melekat di hati rakyat, karena pemerintah Belanda menganggap pendidikan yang telah ada sudah tidak relevan dan tidak membantu pemerintah Belanda dalam misi kolonialisme. Pemerintah Belanda berusaha menyudutkan lembaga pendidikan Islam dengan membuat kebijakan-kebijakan yang melarang kiai untuk memberikan pengajaran agama kecuali ada izin dari pemerintah.

Pemerintah Belanda melakukan penutupan terhadap madrasah-madrasah dan pesantren-pesantren yang tidak memiliki izin dari pemerintah. Kebijakan ini ditekankan karena pemerintah Belanda melihat adanya kekhawatiran dengan menguatnya gerakan nasionalisme-islamisme dengan munculnya persatuan pondok-pondok pesantren dan lembaga organisasi pendidikan Islam, dan juga perkembangan agama Kristen yang selalu mendapat reaksi keras dari rakyat.

pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh

Kebijakan-kebijakan kolonial yang senantiasa berusaha untuk menghambat dan bahkan menghancurkan pendidikan Islam, telah menyebabkan kekhawatiran, kemarahan, kebencian dan pemberontakan kepada pemerintah Belanda yang oleh kalangan pesantren dimanifestasikan dalam tiga bentuk aksi, yaitu : a.

‘Uzlah, pengasingan diri, menyingkir ke desa-desa terpencil yang jauh dari jangkauan suasana kolonial. Hal ini dimaksudkan selain untuk menghindarkan dari kebijakan-kebijakan kolonial Belanda, juga untuk menjaga diri dari pengaruh moral dan kebudayaan yang destruktif.

b. Bersikap non kooperatif dan mengadakan perlawanan secara diam-diam, hal ini dilakukan oleh para kiai yang mengajarkan pendidikan keagamaan dengan menumbuhkan semangat jihad para santri-santrinya untuk membela Islam dan menentang penjajah. Dengan fatwa-fatwanya semacam membela negara dari ancaman penjajah, lebih lagi kafir adalah bagian dari iman, bahkan sampai fatwa yang mengharamkan segala sesuatu yang berasal dan berbau barat seperti, memakai celana, dasi, sepatu dan lainnya.

c. Berontak dan mengadakan perlawanan fisik terhadap Belanda, dengan silih berganti selama berabad-abad kalangan pesantren senantiasa berjuang mengusir penjajah dari bumi nusantara ini sehingga lahirlah nama-nama pejuang besar yang berlatar belakang santri seperti Imam Bonjol, Pangeran Antasari, Sultan Agung, Ahmad Lucy (Pattimura) dan lainnya.

Keadaan pesantren pada masa penjajahan Belanda banyak mengalami kemunduran disebabkan adanya tekanan yang dilakukan pemerintah Belanda terhadap pesantren. Sehingga pesantren menjadi terpinggirkan, dan pesantren tidak bisa konsentrasi penuh dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan, lembaga dakwah dan lembaga sosial, karena pesantren harus ikut berjuang dalam rangka memerangi kolonialisme Belanda dari bumi nusantara ini.

Namun di sisi lain, hal ini menunjukkan daya tahan pesantren. Walaupun pemerintah Belanda secara maksimal berusaha untuk membatasi gerak pesantren melalui tekanan, ancaman, dan kebijakan yang sangat merugikan pesantren ternyata pesantren masih tetap eksis di tengah-tengah gelora perjuangan melepaskan diri dari kekangan penjajah Barat (Belanda). Bahkan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, lahir kegairahan dan semangat baru dari kalangan muslim, pesantren berusaha keluar dari ketertinggalannya, dipelopori oleh para kiai muda yang baru menyelesaikan studinya di Mekah, berusaha membuka sistem pendidikan yang sebanding dengan sistem sekolah, yaitu sistem madrasah.

Dengan sistem ini pesantren dapat berkembang kembali dengan baik dan cepat, dan mampu menyaingi sekolah-sekolah Belanda seperti contoh pesantren Tebu Ireng yang memiliki lebih dari 1500 santri. Selain itu, kaum santri juga mengalami tumbuhnya kesadaran untuk bersatu dan mengatur dirinya secara baik, sehingga bermunculan organisasi-organisasi Islam, seperti Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh (Serikat Islam), Muhammadiyah dan NU. Organisasi-organisasi itu bertujuan untuk membela dan meningkatkan kualitas beragama, bermasyarakat dan bernegara.

3. Fase Penjajahan Jepang Jepang menjajah Indonesia setelah menguasai pemerintah Hindia Belanda dalam perang dunia II, mereka menguasai Indonesia pada tahun 1942, dengan membawa semboyan Asia Timur Raya untuk asia dan semboyan Asia Baru. Pada awalnya sikap pemerintahan Jepang menampakkan sikap yang sangat menguntungkan Islam, seakan-akan membela kepentingan Islam. Sikap tersebut ternyata hanyalah siasat Jepang untuk memanfaatkan kekuatan Islam dan nasionalis untuk kepentingan perang Asia Timur Raya yang dipimpin oleh Jepang, sehingga Jepang berusaha menarik simpati dari kalangan Islam dengan kebijakan-kebijakannya, di antaranya adalah: a.

Kantor urusan agama yang pada Zaman Belanda disebut kantor Voor Islamistiche Saken yang dipimpin oleh orang-orang orientalis Belanda, diubah oleh Jepang menjadi kantor Sumubi yang dipimpin oleh ulama Islam sendiri, yaitu KH. Hasyim Asy‟ari dan di daerah juga dibentuk Sumuka yang juga dipegang oleh kalangan Islam. b. Pondok pesantren yang besar seringkali mendapat kunjungan dan bantuan dari pembesar-pembesar Jepang.

c. Sekolah negeri diberi pelajaran Budi Pekerti yang isinya identik dengan ajaran agama. d. Umat Islam diizinkan meneruskan organisasi persatuan yang disebut Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang bersifat kemasyarakatan. Kebijakan-kebijakan Jepang sebagaimana tersebut di atas, sedikit memberikan ruang gerak bagi pertumbuhan pesantren dan pendidikan madrasah, Namun, pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh tidak berlangsung lama, karena setelah mendapat tekanan dari pihak sekutu, pemerintah Jepang bertindak sewenang-wenang dan bahkan lebih kasar dan kejam dari pada pemerintah Hindia Belanda.

Kegiatan sekolah diberhentikan diganti dengan kegiatan baris-berbaris dan latihan perang untuk membantu Jepang, sehingga para kiai banyak yang ditangkap akibat melakukan pembangkangan dan pemberontakan.

Demikian juga, pondok pesantren tidak boleh banyak bergerak meskipun pengawasan yang dilakukan bersifat wajar. Masa-masa ini tidak berlangsung lama karena pemerintah Jepang semakin terjepit akibat kalah perang dengan sekutu. Hingga akhirnya Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.

4. Fase Kemerdekaan Indonesia Setelah Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang, pemimpin bangsa Indonesia memulihkan kembali dan berusaha mengembangkan pendidikan di Indonesia sesuai dengan kebudayaan asli bangsa Indonesia.

Pondok-pondok pesantren yang pada masa penjajahan kurang mendapatkan kebebasan dan mengembangkan misinya, mulai bermunculan dan berusaha untuk senantiasa eksis dan berbenah diri untuk meningkatkan daya saingnya bersama lembaga-lembaga lain. Pondok pesantren pada masa ini yang merupakan lembaga pendidikan yang bersifat non formal mulai mengadakan perubahan- 34 perubahan guna menghasilkan generasi-generasi yang tangguh, yang berpengalaman luas, di antaranya dengan memasukkan mata pelajaran non agama ke dalam kurikulum pesantren, sebagian juga ada yang memasukkan pelajaran bahasa asing ke dalam kurikulum wajib di pondok pesantren.

Demikian pula pesantren mulai mengembangkan sayapnya dengan memperbaharui sistem klasikal dalam pengajarannya, mendirikan madrasah-madrasah, sekolah umum dan bahkan ada sebagian pondok pesantren yang memiliki perguruan tinggi. Pondok pesantren mulai membuka diri dari berbagai masukan dan kritikan yang bersifat membangun dan tidak menyimpang dari agama Islam, sehingga pembaharuan di sana sini terus dilakukan oleh pesantren. Hal ini akan merubah penafsiran bahwa pesantren itu identik dengan kekolotan, tradisional, bangunannya yang sempit, kumuh dan terisolasi di pedesaan kepada pandangan yang menilai bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang unggul dan dapat dibanggakan, yang bisa menjadi alternatif sistem pendidikan modern.

Kalau peneliti lihat alumni-alumni pondok pesantren saat sekarang ini sudah banyak yang sukses berkecimpung di berbagai bidang, mulai dari kalangan elite sampai di bawah.

Ini menunjukkan besarnya peranan pesantren dalam ikut andil menyukseskan pembangunan bangsa Indonesia. Pesantren pada masa orde baru mendapat perhatian yang besar dari pemerintah yang senantiasa mendorong agar pesantren dapat menjadi 35 salah satu agen perubahan dan pembangunan masyarakat. Pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan ini tidak lain bertujuan agar pesantren dalam masa ini mengarah pada pengembangan pandangan dunia dan substansi pendidikan pesantren agar lebih responsif terhadap kebutuhan tantangan zaman.

Di samping itu, juga diarahkan untuk fungsionalisasi pesantren sebagai salah satu pusat penting bagi pembangunan masyarakat secara keseluruhan. Sebagai pusat penyuluhan, pusat kesehatan, pusat pengembangan teknologi tepat guna, pusat pemberdayaan ekonomi dan lain sebagainya.

Oleh karena itu pesantren untuk masa sekarang dan yang akan datang harus dapat dijadikan wahana dalam melanjutkan perjuangan, yakni berjuang melalui pembangunan jasmani dan rohani, terutama di pedesaan yang merupakan tempat tinggal sebagian besar rakyat Indonesia.

Bahkan telah ditetapkan Hari Santri Nasional oleh pemerintah Indonesia. Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren di Indonesia Recent Posts • Membuat CV untuk Melamar Kerja Referensi • Mengenal Teknologi Mesin CNC Plasma Cutting Teknologi • Tips Menjadi Pengusaha Sukses Seperti Liwa Supriyanti Manasuka • Sekilas tentang Amandel dan Tonsilitis Biomedik • Asuransi Sinar Mas dan Garda Oto Serta Manfaat Polisnya Manasuka • Mau Banyak Cuan? Yuk, Gabung GoPlay Creator Fund!

pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh

Manasuka Arsip Arsip
• dunia islam • kuliah • Iman / Aqidah • Islam / Ibadah • Syahadat • Sholat • Zakat • Puasa • Haji • Bersuci / Thoharoh • Ihsan / Akhlaq • Akhlak • Muamalah • Tafsir Al-Qur’an • Hadits • khazanah • Do’a • Sejarah • Gusdurian • Fatwa • Herbal • Kolom • Cak Nun • Gusmus • Kyai Waidl • Mas Asyrof • Tanya Ustadz • Profil • Ulama Indonesia • Ulama Luar Negri • Tokoh • Pondok Pesantren • Yayasan • ilmu bisnis • Enterpreneurship • Marketing • Selling • Finance • Operation • Production • Human Resources • Cari untuk: Sejarah Berdirinya Pesantren Pertama Di Indonesia Sejarah Indonesia tidak bisa pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh dari peran dan perjuangan pesantren.

Sejak masa awal kedatangan Islam, terutama pada masa walisongo hingga masa penjajahan belanda,masa kemerdekan hingga kini, persantren telah menyumbang sejuta jasa yang tak ternilai harganya bagi Indonesia terutama kepada pengembangan agama Islam. Sebut saja Raden Fatah, Raja pertama Demak adalah salah satu santri di Pesantren asuhan Sunan Ampel.

Begitu pula Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus yang merupakan panglima perang kerajaan Demak adalah generasi awal santri Pesantren yang perannya dalam penyebaran agama Islam sangatlah besar.

Dalam masa penjajahan, di Jawa ada nama Pangeran Diponegoro, di Sumatera ada Tuanku Imam Bonjol yang dijuluki Harimau Nan Salapan, di Aceh ada Teuku Umar dan Teuku Cik Di Tiro, di Makasar ada Syeh Yusuf yang kesemuanya berjuang mengorbankan jiwa dan raga menentang penjajah Belanda. Pada kurun waktu tahun 1900-an, muncul pula nama-nama besar seperti KH. Hasyim Asyari, Hos Cokroaminoto pendiri SI (Sarekat Islam), KH Ahmad Dahlan, dan lain sebagainya. Pada masa kemerdekaan, muncul nama-nama seperti KH.

Wahab Hasbullah, M. Natsir, KH. Wahid Hasyim, Buya Hamka, KH. Saifuddin Zuhri. Dan pada masa sekarang terdapat sesepuh ulama seperti KH. Maemun Zubair, KH. Dimyati Rois dan lain-lain, dimana bisa kita lihat perannya dalam dunia politik maupun pengembangan agama Islam (Pesantren).

Ada pula ulama yang lebih muda seperti alm. Gus Dur, Hidayat Nur Wahid, Din Syamsyuddin, KH. Hasyim Muzadi, KH. Said Aqil Siroj dan masih banyak lagi. Maka dari itu, dalam hal ini kami akan membagi Pesantren menjadi empat Periode; Periode masa awal Islam di Indonesia, Periode penjajahan, Periode kemerdekaan, Periode reformasi sampai sekarang. Pendahuluan Pesantren atau Pondok Pesantren adalah sekolah/madrasah Islam yang berasrama atau diasramakan. Para pelajar Pesantren disebut santri.

Kata santri menurut Profesor Johns berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Sedang kata pondok berasal dari bahasa Arab funduq yang berarti hotel atau asrama. Dalam bukunya “Tradisi Pesantren” Zamakhsyari Dhofier menyatakan; “Pondok, Masjid, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik dan Kyai merupakan lima elemen dasar dari tradisi Pesantren”. Jadi bisa dibilang kelima hal tersebut adalah syarat atupun rukun berdirinya Pondok Pesantren.

Satu hal yang menarik adalah disebutkanya Masjid. Ya, sejak zaman Nabi Masjid memang menjadi pusat pendidikan Islam dan kedudukan ulama yangg menjadi pewaris para Nabi menuntut mereka untuk mewarisi sunnah Nabi tersebut.Dan sejarah pun membuktikan bahwa pembangunan Pondok selalu didahului dengan pembangunan Masjid dimana sang Kyai mengajar.

Kemudian ketika santri sudah cukup banyak sehingga memerlukan tempat penginapan barulah dibangun Pondok, seperti halnya yang terjadi pada Pesantren Tebuireng (Jombang) dan juga Pesantren al-Anwar (Rembang).

Tujuan didirikannya pesantren -menurut yg disebutkan Wiki Pedia- adalah untuk memperdalam pengetahuan tentang Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, dengan mempelajari bahasa Arab dan kaidah-kaidah tata bahasa bahasa Arab. Hal tersebut memang benar adanya, namun disamping itu menurut kami, tujuan didirikannya pesantren adalah sebagai pusat dakwah islamiyyah dalam rangka menyebarluaskan ajaran agama Islam dan meningkatkan iman dan ketakwaan kaum muslim.

Pesantren Di Masa Awal Islam Terdapat kesepakatan diantara ahli sejarah Islam yang menyatakan bahwa pendiri pesantren pertama adalah dari kalangan Walisongo, namun terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa dari mereka yg pertama kali mendirikannya.

Ada yg mengganggap bahwa Maulana Malik Ibrahim-lah pendiri pesantren pertama, adapula yg menganggap Sunan Ampel, bahkan ada pula yg menyatakan pendiri pesantren pertama adalah Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah. Akan tetapi pendapat terkuat adalah pendapat pertama. Sedang mengenai pendapat yang menyatakan pesantren paling tua adalah pesantren Tegalsari Ponorogo maka hal tersebut tidak sampai menafikan hal yg kami sebutkan diatas.

Karena yg dimaksud adalah pendirian dan pelembagaan pesantren pertama kali. Peran Wali Songo Peran dan pengaruh pesantren pada masa ini sangatlah kuat. Dimulai dengan Maulana Malik ibrahim, beliau mendirikan pesantren guna mempersiapkan kader-kader terdidik untuk melanjutkan perjuangan menyebarkan agama Islam. Kemudian datang Sunan Ampel atau Raden Rahmat ia mendirikan pesantren di daerah rawa-rawa pemberian Majapahit. Pesantren tersebut merupakan sentra pendidikan yg sangat berpengaruh di nusantara bahkan mancanegara.

Diantara murid-murid beliau adalah Sunan Giri yg mendirikan pesantren Giri Kedaton, beliau juga merupakan penasehat dan panglima militer ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit. Keahlian beliau dalam fiqh menyebabkan beliau diangkat menjadi mufti setanah jawa. Diantara murid beliau adalah Raden Patah raja pertama kerajaan demak yg juga putra raja terakhir Majapahit Prabu Brawijaya v.

Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa yg dibimbing oleh para Walisongo. Pada masa Raden Patah pula kerajaan Demak mengirimkan ekspedisi ke Malaka yang dipimpim Adipati Unus untuk merebut selat Malaka dari tangan Belanda. Dan jika kita teliti tentang silsilah ilmu para Walisongo, kita akan menemukan bahwa kebanyakan silsilahnya akan sampai pada Sunan Ampel. Sebut saja Sunan Kalijaga, belia adalah murid Sunan Bonang yang merupakan Putra Sunan Ampel.

Begitu pula Sunan Kudus yang banyak menuntut ilmu dari Sunan Kalijaga. Mereka semua ini punya jasa yg sangat dalam penyebaran agama Islam. Begitulah pesantren pada masa Walisongo, ia digunakan sebagai tempat menimba ilmu sekaligus untuk menempa para santri guna menyebarluaskan ajaran agama Islam, mendidik kader-kader pendakwah guna disebarkan keseluruh nusantara. Dan hasilnya bisa kita lihat sendiri, Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia dan bahkan bukan hanya itu jumlah pengikutnya adalah yg terbanyak di dunia.

Setelah itu muncul pula pesantren-pesantren lain yang mengajarkan ilmu agama diberbagai bidang berdasarkan kitab-kitab salaf. Pesantren Di Masa Penjajahan Pada masa penjajan belanda pesantren mengalami ujian dan cobaan dari Allah, pesantren harus berhadapan dengan dengan Belanda yang sangat membatasi ruang gerak pesantren dikarenakan kekuatiran Belanda akan hilangnya kekuasaan mereka.

Sejak perjanjian Giyanti, pendidikan dan perkembangan pesantren dibatasi oleh Belanda. Belanda bahkan menetapkan resolusi pada tahun 1825 yang membatasi jumlah jamaah haji. Selain itu belanda juga membatasi kontak atau hubungan orang islam indonesia dengan negara-negara islam yg lain. Hal-hal ini akhirnya membuat pertumbuhan dan pekembangan Islam menjadi tersendat. Perlu diketahui, bahwa walaupun Walisongo berhasil mengislamisai sebagian besar wilayah nusantara, namun banyak atau bahkan sebagian besar dari mereka keislamannya belum sempurna.

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh ini dapat dibuktikan dalam masa sekarangpun terdapat masyarakat yg rajin sholat puasa dan sebagainya akan tetapi mereka masih mempercayai kepercayaan mistik animisme warisan nenek moyang mereka. Sebagian lagi dari mereka cuma mengenal islam melalui sholat puasa, larangan memakan daging babi, tradisi sunat saja tanpa mengenal yg lainnya. Dan pada masa penjajahan belanda proses kelanjutan dari pengislaman ini terhambat dan tersendat oleh ulah penjajah Belanda.

Sebagai respon atas penindasan Belanda, kaum santri pun mengadakan perlawanan. Menurut Clifford Geertz, antara tahun 1820-1880, telah terjadi pemberontakan besar kaum santri di indonesia yaitu : • Pemberontakan kaum Paderi di Sumatera dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol • Pemberontakan Pangeran Diponegoro di Jawa • Pemberontakan Banten akibat aksi tanam paksa yang dilakukan Kolonial Belanda • Pemberontakan di Aceh yang dipimpin antara lain oleh Teuku Umar dan Teuku Cik Ditiro Pada akhir abad ke-19 segera setelah Belanda mencabut resolusi yang membatasi jamaah haji, jumlah peserta jamaah haji pun membludak.

Hal ini menyebabkan tersedianya guru-guru pengajar Islam dalam jumlah yang berlipat-lipat yang dengan demikian ikut meningkatkan jumlah pesantren. Karena seperti hal yang kita ketahui, para jamaah haji pada waktu itu selain berniat untuk haji mereka juga sekalian untuk menuntut ilmu, dan ketika mereka kembali ke Indonesia mereka mengembangkan ilmunya dan menyebarluaskannya. Pada masa inilah banyak muncul ulama-ulama indonesia yang berkualitas internasional seperti Syaikh Ahmad Khatib Assambasi, Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Mahfudz At-Tarmisi, Syaikh Abdul Karim dan lain-lain.

Dan kepada merekalah intisab (sanad) keilmuan kyai-kyai Indonesia bertemu. Kolonial Belanda Membuat Lembaga Pendidikan Ala Barat Awal abad ke-20 atas usul Snouck Hurgronje, Belanda membuka sekolah-sekolah bersistem pendidikan barat guna menyaingi pesantren. Tujuannya adalah untuk memperluas pengaruh pemerintahan Belanda dengan asumsi masa depan penjajahan Belanda bergantung pada penyatuan wilayah tersebut dengan kebudayaan Belanda. Sekolah-sekolah ini hanya diperuntukkan bagi kalangan ningrat dan priyayi saja dengan tujuan westernisasi kalangan ningrat dan priyayi secara umum.

Kelak sebagai akibat dari sekolah model Belanda ini adalah munculnya golongan nasionalis sekuler yang kebanyakan berasal dari kalangan priyayi. Sebagai respon atas usaha Belanda tersebut para kyai pun mendirikan sistem madrasah anyg diadopsi dari madrasah-madrasah yang mereka temukan ketika menuntut ilmu di makkah.

Selain itu pesantren juga mulai mengajarkan ilmu-ilmu umum seperti matematika, ilmu bumi, bahasa Indonesia, bahkan bahasa Belanda, yang dipelopori oleh Pesantren Tebu Ireng pada tahun 1920. Selain itu para kyai juga mulai membuka pesantren-pesantren khusus bagi kaum wanita. Hasilnya sungguh memuaskan pondok pesantren semakin diminati.

Dalam tahun 1920-1930 jumlah pesantren dan santri-santrinya melonjak berlipat ganda dari ratusan menjadi ribuan santri. Pada kurun waktu awal 1900-san inilah lahir organisasi-organisasi Islam yang didirikan kalangan santri. Sebut saja SI yang didirikan HOS. Cokroaminoto dan H. Samanhudi, NU yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari, Muhammadiyah yang didirikan oleh KH.

Ahmad Dahlan, PERSIS dan lain-lain. Yang kesemuanya berjuang menegakkan agama Islam dan berusaha membebaskan Indonesia dari cengkeraman Belanda. Pada masa penjajahan Jepang untuk menyatukan langkah, visi dan misi demi meraih tujuan, organisasi-organisasi tersebut melebur menjadi satu dengan nama Masyumi (majlis syuro muslimin indonesia). Pada masa Jepang ini pula kita saksikan perjuangan KH Hasyim Asy’ari beserta kalangan santri menentang kebijakan kufur Jepang yang memerintahkan setiap orang pada jam 07:00 untuk menghadap arah Tokyo menghormati kaisar Jepang yang dianggap keturunan dewa matahari sehingga beliau ditangkap dan dipenjara 8 bulan.

Menjelang kemerdekaan kaum santri pun terlibat dalam penyusunan undang-undang dan anggaran dasar relublik Indonesia yg diantaranya melahirkan piagam Jakarta.

Namun oleh golongan nasioalis sekuler piagam jakarta tersebut dihilangkan sehingga kandaslah impian mendirikan negara Islam Indonesia. Peran Pesantren Di Era Kemerdekaan Pada masa awal-awal kemerdekaan kalangan santri turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

KH Hasyim Asyari waktu itu mengeluarkan fatwa wajib hukumnya mempertahankan kemerdekaan. Fatwa tersebut disambut positif oleh umat Islam sehingga membuat arek-arek Surabaya dengan dikomandoi Bung Tomo dengan semboyan “Allahu Akbar!!

Merdeka atau Mati” tidak gentar menghadapi Inggris dengan segala persenjataanya pada tanggal 10 November. Deperkirakan 10000 orang tewas pada waktu itu namun hasilnya, Inggris gagal menduduki Surabaya. Setelah perang kemerdekaan pesantren mengalami ujian kembali dikarenakan pemerintahan sekuler Soekarno melakukan penyeragaman atau pemusatan pendidikan nasional yang tentu saja masih menganut sistem barat ala Snouck Hurgronje.

Akibatnya, pengaruh pesantren pun mulai menurun, jumlah pesantren berkurang, hanya pesantren besar yang mampu bertahan. Hal ini dikarenakan pemerintah mengembangkan sekolah umum sebanyak-banyaknya. Berbeda pada masa Belanda yang terkhusus untuk kalangan tertentu saja dan disamping itu jabatan-jabatan dalam administrasi modern hanya terbuka luas bagi orang-orang bersekolah di sekolah tersebut.

Pada masa Soekarno pula pesantren harus berhadapan dengan kaum komunis. Banyak sekali pertikain ditingkat bawah yg melibatkan kalangan santri dan kaum komunis. Sampai pada puncaknya setelah peristiwa G30s PKI, kalangan santri bersama TNI dan segenap komponen yg menentang komunisme memberangus habis komunisme di indonesia. Diperkirakan 500.000 ribu nyawa komunis melayang akibat peristiwa ini, kepala seorang komunis dipajang disepanjang rel kereta api malang.

Peristiwa ini bisa dibilang merupakan chaos paling berdarah di republik ini namun hasilnya komunisme akhirnya lenyap dari Indonesia. Biarpun demikian dengan jasa yang demikian besarnya pemerintahan Soeharto seolah tidak mengakui jasa pesantren. Soeharto masih meneruskan lakon pendahulunya yang tidak mengakui pendidikan ala pesantren. Kalangan santri dianggap manusia kelas dua yg tidak dapat melanjutkan pendidikannya keperguruan tinggi dan tidak bisa diterima menjadi pegawai-pegawai pemerintah.

Agaknya hal ini memang sengaja direncanakan secara sistematis untuk menjauhkan orang-orang islam dari struktur pemerintahan guna melanggengkan ideologi sekuler. Namun demikian pesantren pada kedua orde tersebut tetap mampu menelorkan orang-orang hebat yg menjadi orang-orang penting di negara kita seperti KH Wahid Hasyim, M Nastir, Buya Hamka, Mukti Ali, KH Saifuddin Zuhri dan lain-lain. Peran Pesantren Di Era Reformasi Sampai Sekarang Akibat kebijakan rusak Soeharto pemerintahan pun dipenuhi orang-orang abangan yang tidak tahu agama sehingga terjadilah korupsi, kolusi, dan berbagai macam bentuk kerusakan lainnya.

Selain itu politik “keseimbangan” yang diterapkannya menyebabkan pesantren yang kebanyakan milik NU kehilangan perannya di lingkungan pemerintahan. Pemerintah lebih suka memilih Muhammadiyah yang merupakan rival NU untuk menempati beberapa pos penting pemerintahan.

Pada era reformasi yang diantara diprakarsai oleh Gus Dur dan Amien Rais dari kalangan NU dan Muhammadiyah, kaum santri mulai bangkit.

Partai-partai yang berbasis santri pun bermunculan. NU yang tidak puas atas hegemoni orang luar NU di PPP mendirikan PKB.

Kalangan yang tidak puas dengan PKB mendirikan PKU, PNU sampai yg terakhir PKNU. Dari muhammdiyyah lahir PAN dan PBB.

Muncul pula PKS yang banyak terinspirasi gerakan dakwah Ikhwanul Muslimin yang belakangan mencuri perhatian. Namun sayangnya mengapa umat islam bisa dengan mudahnya terpecah belah.Pada masa ini pula muncul untuk pertama kalinya presiden dari alumni pesantren pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh Gus Dur. Namun karena kesekuleranya yg tak jauh beda dari pendahulunya serta sikapnya yg kontroversial menyebabkan ia ditinggalkan kyai-kyai yg mendukungnya.

Mulai banyak muncul pula dari alumni pesantren yg mempunyai posisi penting seperti Saefullah Yusuf, Hidayat Nur Wahid, Said Agil Siraj, dan tak lupa syaikhuna KH. Maemun Zubair. Pada masa ini pesantren kembali mengalami ujian berat. Ketika merebak isu terorisme, pesantren mendapat tuduhan sebagai sarang teroris. Pemerintah pun mulai menekan dan mengawasi pesantren dengan menyebar agen intelejennya. Seiring berlalunya waktu tuduhan itu pun mulai menguap lenyap.

Namun ujian yang paling berat dan berbahaya adalah dengan menjamurnya virus sipilis (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme) yang justru diusung dan digembar-gemborkan orang-orang dari pesantren sendiri. Akibatnya banyak pondok pesantren yang mulai tertular virus tersebut. Semoga Allah melindungi kita dari paham-paham sesat tersebut. Wallahu A’lam Sumber : http://saifurroyya.blogspot.com/2016/04/sejarah-berdirinya-pesantren-pertama-di.html
Dunia PGMI merupakan Website/Blog yang dikususkan untuk memberikan informasi mengenai ke-PGMI-an yang berkembang saat ini pada Pendidikan Guru di Madrasah Ibtidaiyah, hal ini agar mempermuda siapapun yang ingin mencari berbagai macam info serta pengetahuan tetang PGMI, harapannya dengan adanya Website/Blog semakin menambah khazanah informasi pendidikan dan pengetahuan.

pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh

Pesantren adalah sebuah pendidikan tradisional yang para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh sebutan kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Santri tersebut berada dalam kompleks yang juga menyediakan masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar, dan kegiatan keagamaan lainnya. Kompleks ini biasanya dikelilingi oleh tembok untuk dapat mengawasi keluar masuknya para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Pondok Pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian. Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana terbuat dari bambu. Di samping itu, kata pondok mungkin berasal dari Bahasa Arab Funduq yang berarti asrama atau hotel.

Di Jawa termasuk Sunda dan Madura umumnya digunakan istilah pondok dan pesantren, sedang di Aceh dikenal dengan Istilah dayah atau rangkang atau menuasa, sedangkan di Minangkabau disebut surau. Pesantren juga dapat dipahami sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikal, di mana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh Ulama Abad pertengahan, dan para santrinya biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut.

Arti pondok menurut Sugarda Poerbawakatja dalam Ensiklopedi Pendidikan adalah suatu tempat pemondokan bagi pemuda-pemudi yang mengikuti pelajaran-pelajaran agama Islam. Inti dan realitas pondok tersebut yakni kesederhanaan dan tempat tinggal sementara bagi para penuntut ilmu. Sedangkan istilah pesantren berasal dari kata santri kemudian diimbuhi awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti para penuntut ilmu.

Sedikitnya ada tiga pendapat berbeda mengenai asal-muasal kata pesantren. Pertama, kata santri tersebut terdapat dalam bahasa Tamil atau India “shastri”, yang artinya guru mengaji atau orang yang memahami (sarjana) buku-buku dalam agama Hindu.

Hal tersebut didukung oleh keterangan Yasmadi dalam buku Modernisasi Pesantren yang mengutip penjelasan Karel A. Steenbrink, bahwa Pondok pesantren dilihat dari segi bentuk dan sistemnya berasal dari India. Sebelum Islam masuk ke Indonesia sistem tersebut telah digunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama Hindu di Kawa.

Kemudian diambil oleh Islam. Dengan kata lain istilah pesantren bukan berasal dari Bahasa Arab melainkan dari India. (https://penjelasani.blogspot.com/2019/11/sejarah-munculnya-pondok-pesantren-di-nusantara.html) Pesantren, pondok pesantren, atau sering disingkat pondok atau ponpes, adalah sebuah asrama pendidikan tradisional, di mana para siswanya semua tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri.

Santri tersebut berada dalam kompleks yang juga menyediakan masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar, dan kegiatan keagamaan lainnya. Pondok Pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian. Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana terbuat dari bambu. Di samping itu, kata pondok mungkin berasal dari Bahasa Arab Funduq yang berarti asrama atau hotel. Di Jawa termasuk Sunda dan Madura umumnya digunakan istilah pondok dan pesantren, sedang di Aceh dikenal dengan Istilah dayah atau rangkang atau menuasa, sedangkan di Minangkabau disebut surau.

Ketiga, pesantren mempunyai asal kata dari bahasa Sankrit, yaitu sant dan tra. Sant artinya manusia baik dan tra adalah suka menolong, sehingga dari kedua kata tersebut terbentuklah suatu pengertian yaitu tempat pendidikan manusia agar menjadi baik.

Sementara secara terminologi, pesantren dimaknai sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, dimana kiai sebagai figur sentralnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam di bawah bimbingan kiai yang diikuti oleh santri sebagai kegiatan utamanya. Menurut Abdurrahman Wahid dalam buku Pesantren sebagai Subkultur, pesantren adalah sebuah kompleks dengan lokasi yang umumnya terpisah dari kehidupan di sekitarnya.

Dalam kompleks itu berdiri beberapa buah bangunan seperti rumah kediaman pengasuh (di daerah berbahasa Jawa disebut kiai, di daerah berbahasa Sunda ajengan, dan di daerah berbahasa Madura nun atau bendara, disingkat ra); sebuah surau atau masjid; tempat pengajaran diberikan (bahasa Arab madrasah, yang juga terlebih sering mengandung konotasi sekolah); dan asrama tempat tinggal para siswa pesantren. Di pesantren itulah santri digembleng dan dibimbing ke arah yang sempurna.

Nilai-nilai keIslaman wajib untuk dikembangkan seiring dengan perkembangan santri itu sendiri dan juga perkembangan di masyarakat. Para santri yang pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh resmi menjadi anggota pesantren, ia akan mengalami transisi psikologis, karena di tempat yang baru ini mereka dituntut menempuh kehidupan yang sederhana dan semua keperluan sehari-hari harus diatur sendiri.

Di sisi lain, Mastuhu dalam buku Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren mengartikan pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan Islam tradisional untuk mempelajari, memahami, menghayati, dan sekaligus mengamalkan ajaran agama Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.

Pendapat senada mengenai pesantren yang kita kenal sekarang ini pada mulanya merupakan pengambil alihan dari sistem pesantren yang diadakan oleh orang-orang Hindu di Nusantara.

Kesimpulan ini berdasarkan fakta bahwa jauh sebelum datangnya Islam ke Indonesia lembaga pesantren sudah ada di negeri ini. Pendirian pesantren pada masa itu dimaksudkan sebagai tempat mengajarkan agama Hindu dan tempat membina kader.

Anggapan lain mempercayai bahwa pesantren bukan berasal dari tradisi Islam alasannya adalah tidak ditemukannya lembaga pesantren di negara-negara Islam lainnya, sementara lembaga yang serupa dengan pesantern banyak ditemukan dalam masyarakat Hindu dan Budha, seperti di India, Myanmar dan Thailand. Pesantren di Indonesia baru diketahui keberadaan dan perkembangannya setelah abad ke 16. Pesantren-pesantren besar yang mengajarkan berbagai kitab Islam klasik dalam bidang fikih, teologi dan tasawuf.

Pesantren ini kemudian menjadi pusat-pusat penyiaran Islam seperti; Syamsu Huda di Jembrana (Bali), Tebu Ireng di Jombang, Al Kariyah di Banten, Tengku Haji Hasan di Aceh, Tanjung Singgayang di Medan, Nahdatul Watan di Lombok, Asadiyah di Wajo (Sulawesi) dan Syekh Muhamad Arsyad Al-Banjar di Matapawa (Kalimantan Selatan) dan banyak lainnya.

(https://darunnajah.com/sejarah-pesantren-di-indonesia) Pesantren juga dapat dipahami sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikal, di mana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab, dan para santrinya biasanya tinggal di pondok atau asrama dalam pesantren tersebut.

Umumnya, suatu pondok pesantren berawal dari adanya seorang kyai di suatu tempat, kemudian datang santri yang ingin belajar agama kepadanya. Setelah semakin hari semakin banyak santri yang datang, timbullah inisiatif untuk mendirikan pondok atau asrama di samping rumah kyai. Semakin banyak jumlah santri, semakin bertambah pula asrama yang didirikan.

Para santri selanjutnya memopulerkan keberadaan pondok pesantren tersebut, sehingga menjadi terkenal ke mana-mana, contohnya seperti pada pondok-pondok yang timbul pada zaman Walisongo. Pondok Pesantren di Indonesia memiliki peran yang sangat besar, baik bagi kemajuan Islam itu sendiri maupun bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Berdasarkan catatan yang ada, kegiatan pendidikan agama di Nusantara telah dimulai sejak tahun 1596.

Kegiatan agama inilah yang kemudian dikenal dengan nama Pondok Pesantren. Di dalam kehidupan pesantren, tercipta situasi yang komunikatif antara Kyai dan santri, maupun antara santri dengan santri. Para santri menganggap Kyai seolah-olah menjadi bapaknya sendiri, sedangkan santri dianggap Kyai sebagai titipan Tuhan yang harus senantiasa dilindungi.

Sikap timbal balik tersebut menimbulkan rasa kekeluargaan dan saling menyayangi satu sama lain, sehingga mudah bagi Kyai dan ustaz untuk membimbing dan mengawasi anak didiknya atau santri. Dalam sejarah pertumbuhannya, pondok pesantren telah mengalami beberapa fase perkembangan, termasuk dibukanya pondok khusus perempuan. Dengan perkembangan tersebut, terdapat pondok perempuan dan pondok laki-laki. Sehingga pesantren yang tergolong besar dapat menerima santri laki-laki dan santri perempuan, dengan memilahkan pondok-pondok berdasarkan jenis kelamin dengan peraturan yang ketat.

Setiap pesantren bisa dipastikan memiliki masjid. Masjid merupakan elemen yang tak dapat dipisahkan dengan pesantren dan dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri. Sistem pendidikan Islam yang berpusat di masjid ini sebenarnya sudah diterapkan sejak dulu oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam menjalani kehidupan di pesantren, pada umumnya para santri mengurus sendiri keperluan sehari-hari dan mereka mendapat fasilitas yang sama antara santri yang satu dengan lainnya.

Santri diwajibkan menaati peraturan yang ditetapkan di dalam pesantren tersebut dan apabila ada pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Dengan pola pendidikan seperti itu, maka akan membentuk santri-santri yang berkarakter dan berkepribadian kuat. Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan produk budaya Indonesia.

Dalam perkembangannya, pesantren tidak bisa lagi didakwa semata-mata sebagai lembaga keagamaan murni, tetapi juga sudah menjadi lembaga sosial yang hidup yang terus merespons carut marut persoalan masyarakat di sekitarnya. Sehingga dunia pesantren sebetulnya sudah banyak memiliki kontribusi yang luar biasa kepada Indonesia, dan tentu saja pesantren tidak dapat dipisahkan dari Indonesia.

Seiring perkembangan zaman, serta tuntutan masyarakat atas kebutuhan pendidikan umum, kini sudah banyak pesantren yang menyediakan menu pendidikan umum dalam pesantren. Jadi bagi yang takut masuk pesantren karena tidak akan mendapat pendidikan umum, sekarang jangan khawatir lagi. Dalam perjalanan sejarahnya sampai sekarang, pesantren telah banyak melahirkan tokoh-tokoh bangsa yang kontribusinya bagi Indonesia dan bahkan dunia sudah tidak diragukan lagi.

Jadi siapa bilang nyantri di pesantren tidak memiliki masa depan yang cerah?! Ini juga menepis anggapan bahwa pesantren identik dengan anak-anak nakal.

(http://radiounisia.com/2018/02/13/sejarah-pondok-pesantren/). Sedangkan menurut Abdurrahman Mas’ud dalam buku Ideologi Pendidikan Pesantren Pesantren yang dikutip oleh Ahmad Muthohar mengatakan bahwa pesantren adalah tempat dimana para santri mencurahkan sebagian besar waktunya untuk tinggal dan memperoleh pengetahuan.

Dalam peraturan Menteri Agama RI dijelaskan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan Islam berbasis masyarakat baik sebagai satuan pendidikan atau sebagai wadah penyelenggara pendidikan. Pesantren juga memiliki dua arti jika dilihat dari segi fisik dan pengertian kultural. Dari segi fisik, pesantren merupakan sebuah kompleks pendidikan yang terdiri dari susunan bangunan, dilengkapi dengan sarana prasarana sebagai pendukung penyelenggaraan pendidikan.

Sedangkan secara kultural, pesantren mencakup pengertian yang lebih luas mulai dari sistem nilai khas yang secara intrinsik melekat di dalam pola kehidupan komunitas santri, seperti kepatuhan pada kiai pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh tokoh sentral atau pemimpin, sikap ikhlas dan tawadhu, serta pewarisan tradisi keagamaan secara turun-temurun. Tradisi erat kaitannya dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti dalam bidang agama, sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan.

Kemungkinan adanya tradisi dalam bidang pendidikan adalah besar sekali mengingat aktifitas tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan setiap masyarakat, betapapun sederhananya corak pendidikan yang dimaksud.

Tradisi memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan, bahkan ia dapat menjadi demikian penting bagi masyarakat karena memberikan banyak makna bagi mereka, siapapun yang hidup dan ingin mengembangkan kehidupan maka dia harus punya tradisi. Ada pula yang mendefnisikan pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-sehari.

Adapun kiai sebagai pemimpin pesantren merupakan elemen yang paling esensial, karena dari pemimpin tersebut mengalirkan kekuasaan dan kewenangan dalam lingkungan dan penghidupan pesantren.

Pemimpin-pemimpin pesantren biasanya memiliki kelebihan-kelebihan baik di bidang ilmu pengetahuan, kedudukan sosial, maupun yang lainnya. Oleh karena itulah beliau sebagai simbol dinamika kehidupan agama.

Marwan Saridjo dkk. dalam buku Sejarah Pesantren di Indonesia yang dikutip Babun Suharto membedakan antara pondok pesantren dengan pesantren. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut diberikan dengan cara sorogan dan bandongan, dimana seorang kiai mengajar para santrinya berdasarkan kitab-kitab klasik (Kutub al-Muqaddimah) dalam bahasa Arab yang lazim disebut kitab kuning dan biasanya santri tinggal di pondok atau asrama pesantren tersebut.

Sementara itu, pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada dasarnya sama dengan pondok pesantren tersebut, hanya saja para santrinya tidak disediakan pondokan di komplek tersebut. Beberapa pengertian di atas memeberikan pemahaman yang hampir sama tentang definisi pesantren.

Ada tiga pengertian kunci yang dapat kita petik dari pengertian-pengertian tersebut, yaitu pertama tempat pembelajaran agama Islam, kedua tersedia asrama sebagai tempat tinggal dan ketiga adanya pengaruh relasi yang kuat dari kiai kepada santrinya. Jadi, pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam yang menyediakan asrama sebagai tempat tinggal pada santri dengan otoritas sangat kuat dari seorang kiai.

Pesantren menjadi lembaga pendidikan Islam yang sangat diminati pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh sampai pada era modern seperti sekarang ini. Dari masa awal sejarah berdirinya pesantren sampai sekarang, pesantren dapat bertahan dari gelombang perubahan zaman yang terjadi. Adapun penulis menyimpulkan bahwa pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam yang dijadikan tempat tinggal para santri untuk mendalami, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam (tafaqquh fiddin) dengan menekankan pentingnya moral agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari, yang di dalamnya terdapat lima elemen penting yaitu, kiai, asrama atau pondok, masjid, santri dan pengajian kitab kuning.

Berbedanya pengertian istilah pesantren di atas, disebabkan karena banyaknya kepentingan dan sudut pandang yang digunakan. Namun, jika ditarik sebuah kesimpulan, maka pesantren dimaknai sebagai lembaga pendidikan sederhana yang mengajarkan sekaligus menginternalisasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari agar anak didiknya (santri) menjadi orang yang baik sesuai dengan standar agama dan diterima oleh masyarakat luas.

Pesantren jika disandingkan dengan lembaga pendidikan yang ada di Indonesia lainnya merupakan sistem pendidikan tertua saat ini dan dianggap sebagai produk budaya Indonesia yang indigenous. Pendidikan ini semula adalah pendidikan agama Islam yang ditandai dengan munculnya Islam di Nusantara pada abad ke-13.

Beberapa abad kemudian penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur dengan didirikannya tempat-tempat pengajian. Bentuk tersebut kemudian berkembang dengan dibangunnya tempat menginap bagi para santri yang kemudian disebut pesantren. Meskipun bentuknya masih sederhana, namun pada saat itu pendidikan pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang terstruktur, sehingga pendidikan tersebut dianggap sangat kompeten.

Ditinjau dari sejarahnya, belum ditemukannya data pasti mengenai kapan pertama kali pesantren didirikan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pesantren telah tumbuh sejak awal masuknya Islam ke Indonesia, sementara yang lain membantah bahwa pesantren baru muncul pada masa wali songo dan Maulana Malik Ibrahim dipandang sebagai orang yang pertama kali mendirikan pesantren.

Namun berdasarkan penelusuran, setidaknya ditemukan tiga versi pendapat: Pertama, pondok pesantren berakar dari tradisi Islam sendiri, yaitu tradisi tarekat.

Pondok pesantren mempunyai kaitan erat dengan tempat pendidikan yang khas bagi kaum sufi. Pendapat ini berdasarkan pada fakta bahwa penyiaran Islam di Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat, hal ini ditandai dengan terbentuknya kelompok-kelompok organisasi tarekat yang melaksanakan amalan-amalan zikir dan wirid tertentu. Pemimpin terekat itu disebut kiai, yang mewajibkan melaksanakan suluk selama 40 hari dalam satu tahun dengan cara tinggal bersama sesama anggota tarekat di sebuah masjid untuk melakukan ibadah-ibadah berdasarkan bimbingan kiai.

Untuk keperluan suluk ini, para kiai menyediakan ruangan khusus untuk penginapan dan tempat memasak yang terdapat di bagian kiri dan kanan masjid. Di samping menjalankan amalan tarekat, para pengikut juga diajarkan kitab agama dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan agama Islam.

Dalam perkembangan selanjutnya lembaga pengkajian ini tumbuh dan berkembang menjadi lembaga pondok pesantren. Kedua, pondok pesantren yang kita kenal sekarang ini pada mulanya merupakan pengambilan alih pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh sistem pondok yang diadakan orang-orang Hindu di Nusantara, pendirian pondok ini dimaksudkan sebagai tempat mengajarkan ajaran-ajaran agama Hindu atau merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari praktik pendidikan pra-Islam atau masa kekuasaan Hindu Budha.

Fakta lain menunjukkan bahwa pondok pesantren bukan berasal dari tradisi Islam adalah tidak ditemukannya lembaga pondok pesantren di negara-negara Islam lainnya. Atau dengan kata lain pesantren memiliki hubungan historis dengan lembaga pendidikan pra-Islam yang sudah ada sejak masa kekuasaan Hindu Budha, lalu Islam melanjutkan dan meng-Islamkannya. Ketiga, berdirinya pondok pesantren bermula dari seorang kiai yang menetap (bermukim) di suatu tempat. Kemudian datanglah santri yang ingin belajar kepadanya dan turut pula bermukim di tempat itu.

Sedangkan biaya kehidupan dan pendidikan disediakan bersama-sama oleh para santri dengan dukungan masyarakat di sekitarnya. Hal ini memungkinkan kehidupan pesantren bisa berjalan stabil tanpa dipengaruhi oleh gejolak ekonomi luar. Pondok Pesantren dikenal di Indonesia sejak zaman Walisongo, karena itu Pondok pesantren adalah salah satu tempat berlangsungnya interaksi antara guru dan murid, kiai dan santri dalam intensitas yang relatif dalam rangka mentransfer ilmu-ilmu keIslaman dan pengalaman.

Ketika itu Sunan Ampel mendirikan sebuah padepokan di Ampel Surabaya dan menjadikannya pusat pendidikan di Jawa. Para santri yang berasal dari pulau Jawa datang untuk menuntut ilmu agama.

Bahkan di antara para santri ada yang berasal dari Gowa dan Tallo, Sulawesi. Pesantren Ampel yang didirikan oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim, merupakan cikal bakal berdirinya pesantren-pesantren di Tanah Air sebab para santri setelah menyelesaikan studinya merasa berkewajiban mengamalkan ilmunya di daerah masing-masing, maka didirikanlah pondok-pondok pesantren dengan mengikuti apa yang mereka pelajari selama pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh Pesantren Ampel.

pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh

Hal tersebut terbukti dengan adanya Pesantren Giri di Gresik bersama institusi sejenis di Samudra Pasai telah menjadi pusat penyebaran ke-Islaman dan peradaban ke berbagai wilayah Nusantara. Pesantren Ampel Denta menjadi tempat para wali yang mana kemudian dikenal dengan sebutan wali songo atau sembilan wali menempa diri.

Dari pesantren Giri, santri asal Minang, Datuk ri Bandang, membawa peradaban Islam ke Makassar dan Indonesia bagian Timur lainnya, lalu mengenalkan Syekh Yusuf, ulama besar dan tokoh pergerakan bangsa mulai dari Makassar, Banten, Srilanka hingga Afrika Selatan. Di lihat dari sejarahnya, pesantren memiliki usia yang sama tuanya dengan Islam di Indonesia. Syaikh Maulana Malik Ibrahim dapat dikatakan sebagai peletak dasar-dasar pendidikan pesantren di Indonesia.

Pesantren pada masa awal berdirinya merupakan media untuk menyebarkan ajaran agama Islam dan karenanya memiliki peran besar dalam perubahan sosial masyarakat Indonesia. Pada tahapan awal pembentukan pesantren, umumnya masjid menjadi pusat pendidikan bagi masyarakat. Di masjidlah kegiatan pembelajaran dilakukan.

Pada perkembangan selanjutnya pesantren dilengkapi dengan pondok atau tempat tinggal santri. Pembangunan fasilitas-fasilitas pesantren dipimpin oleh kiai, dengan bantuan masyarakat sekitarnya.

Masyarakat dengan sukarela mewakafkan tanahnya, menyumbangkan dana atau material yang diperlukan, bahkan tidak jarang yang menyumbangkan tenaga juga. Pada intinya masyarakat berusaha mendukung terselenggaranya pendidikan berbasis pesantren pada saat itu.

Hal semacam ini masih sering terjadi di pesantren-pesantren hingga sekarang. Di awal Abad 19, kiai Basari dari Pesantren Tegalrejo-Ponorogo mengambil peran besar. Pesantren ini menempa banyak tokoh besar seperti Pujangga Ronggowarsito. Pada akhir abad itu, posisi serupa diperankan oleh kiai Kholil, Bangkalan-Madura. Dialah yang mendorong dan merestui KH. Hasyim Asy’ari atau Hadratus Syeikh, santrinya dari pesantren Tebuireng-Jombang untuk membentuk Nahdlatul Ulama (NU).

NU (Nahdlatul Ulama) menjadi organisasi massa Islam terbesar dan paling berakar di Indonesia. Di jalur yang sedikit berbeda, rekan seperguruan Hadratus Syeikh di Makkah, KH. Ahmad Dahlan berperan dalam mempengaruhi kelahiran “pesantren modern” seperti Pondok Gontor-Ponorogo yang berdiri pada tahun 1926. Pondok ini selain memasukkan sejumlah mata pelajaran umum kedalam kurikulumnya, juga mendorong para santrinya untuk mempelajari bahasa Inggris selain bahasa Arab dan melaksanakan sejumlah ekstra kurikuler seperti olah raga, kesenian dan sebagainya.

Lokasi pesantren model dahulu tidaklah seperti yang ada kini. Ia lebih menyatu dengan masyarakat, tidak dibatasi pagar (komplek) dan para santri berbaur dengan masyarakat sekitar. Bentuk ini masih banyak ditemukan pada pesantren-pesantren kecil di desa-desa Banten, Madura dan sebagian Jawa Tengah dan Timur.

Pesantren dengan metode dan keadaan di atas kini telah mengalami reformasi, meski beberapa materi, metode dan sistem masih dipertahankan. Namun keadaan fisik bangunan dan masa studi telah terjadi pembenahan. Setelah Indonesia merdeka, pesantren banyak menyumbangkan tokoh-tokoh penting dalam pemerintahan Indonesia, sebut saja Mukti Ali yang dahulu pernah menjabat sebagai Menteri Agama, dan yang lebih terpenting lagi, dengan terpilihnya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presidan Indonesia yang keempat, adalah juga mewakili tokoh yang muncul dari kalangan pesantren.

Ketahanan yang ditampilkan pesantren dalam menghadapi laju perkembangan zaman, menunjukkan kiprahnya sebagai suatu lembaga pendidikan, pesantren mampu berdialog dengan zamannya, yang pada gilirannya hal tersebut dapat menumbuhkan harapan bagi masyarakat. Pesantren dapat dijadikan sebagai lembaga pendidikan alternatif pada saat ini dan masa depan.

Berdasarkan pemaparan di atas, penulis menyimpulkan bahwa pondok pesantren bagaimanapun asal mula terbentuknya, tetap menjadi lembaga pendidikan dan keagamaan Islam tertua di Indonesia. Walapun sulit diketahui kapan permulaan munculnya, tetapi banyak dugaan yang mengatakan bahwa lembaga pondok pesantren mulai berkembang tidak lama setelah masyarakat Islam terbentuk di Indonesia.

Karena Islam masuk dan berkembang di Indonesia melalui perdagangan interNasional yang pusatnya adalah kota-kota pelabuhan. Pembentukan masyarakat di kota ini tentunya mempengaruhi pembentukan lembaga pendidikan yang kebetulan belum terstruktur, sehingga kota-kota tersebut menjadi pusat studi Islam yang dikembangkan oleh para ulama yang berada di sana.

Kiai adalah tokoh sentral dalam satu pesantren, maju mundurnya pesantren ditentukan oleh wibawa dan kharisma sang kiai. Menurut asal usulnya, perkataan kiai dalam bahasa Jawa dipakai untuk tiga jenis gelar yang saling berbeda.

Pertama, sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat, misalnya Kiai Garuda Kencana dipakai sebutan Kereta Emas yang ada di Keraton Yogyakarta. Kedua, gelar kehormatan untuk orang-orang tua.

Ketiga, gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki pesantren dan mengajarkan kitab-kitab Islam Klasik kepada santrinya. Kiai dalam pembahasan ini mengacu kepada pengertian yang ketiga. Pondok merupakan tempat tinggal bersama antara kiai dengan para santrinya.

Di Pondok, seorang santri patuh dan taat terhadap peraturan-peraturan yang diadakan, ada kegiatan pada waktu tertentu yang mesti dilaksanakan oleh santri. Ada waktu belajar, sholat, makan, olah raga, tidur dan bahkan ronda malam. Pada awal perkembangannya, pondok bukanlah semata-mata dimaksudkan sebagai tempat tinggal atau asrama para santri, untuk mengikuti dengan baik pelajaran yang diberikan kiai, tetapi juga tempat training atau latihan bagi santri yang bersangkutan agar mampu hidup mandiri dalam masyarakat.

Para santri di bawah bimbingan kiai bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam situasi kekeluargaan dan bergotong royong sesama warga pesantren. Tetapi sekarang ini tampaknya lebih menonjol fungsinya sebagai tempat pemondokan atau asrama, dan setiap santri dikenakan semacam sewa untuk pemeliharaan pondok tersebut.

Di dunia pesantren sering terjadi tahap ketika seorang santri pindah dari suatu pesantren ke pesantren lain. Setelah seorang santri merasa sudah cukup lama di sauatu pesantren, maka dia pindah ke pesantren lain. Biasanya kepindahannya itu untuk menambah dan mendalami suatu ilmu pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh menjadi keahlian dari seorang kiai yang didatanginya itu.

Suatu pesantren mutlak memiliki masjid, sebab di situlah pada mulanya (sebelum pesantren mengenal sistem klasikal) dilaksanakan proses belajar mengajar, dan komunikasi antara kiai dengan santri.

Walaupun sekarang kebanyakan pesantren telah melaksanakan proses belajar-mengajar di dalam kelas, namun masjid tetap difungsikan sebagai tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Kiai masih sering mempergunakan masjid sebagai tempat membaca kitab-kitab klasik dengan metode wetonan dan sorogan. Pengajaran Kitab-Kitab Islam Klasik merupakan salah satu unsur dalam pesantren. Kitab-kitab Islam klasik yang lebih popular dengan sebutan kitab kuning ditulis oleh ulama-ulama Islam zaman pertengahan.

Kepintaran dan kemahiran seorang santri diukur dari kemampuannnya dalam hal membaca serta mensyarah (menjelaskan) isi kitab-kitab tersebut. Untuk tahu membaca sebuah kitab dengan benar, sorang santri dituntut untuk mahir dalam ilmu-ilmu bantu seperti nahwu, sharaf, balaghah, ma’ani, bayan dan sebagainya.

Seiring dengan laju perkembangan masyarakat, maka pendidikan pesantren baik tempat, bentuk hingga substansinya telah jauh mengalami perubahan. Pesantren tidak lagi sesederhana seperti apa yang digambarkan seseorang, akan tetapi pesantren dapat mengalami perubahan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan zaman. Ciri-ciri Pesantren secara global hampir sama, namun dalam realitasnya terdapat beberapa perbedaan terutama jika dilihat dari proses dan substansi yang diajarkan.

Adapun kategorisasi pondok pesantren terbagi menjadi dua kelompok, yaitu: Pesanten salafi adalah bentuk asli dari pesantren. Sejak pertama kali didirikan, format pendidikan pesantren ini adalah bersistem salaf.

Yang dimaksud pesantren salaf yaitu pesantren yang kurikulumnya murni mengajarkan bidang studi ilmu agama saja, baik melalui sistem Madrasah Diniyah maupun pengajian sorogan dan bandongan.

Di pesantren salaf, tidak ada pendidikan formalnya. Penggunaan kata salafi untuk pesantren hanya terjadi di Indonesia. Tetapi pesantren salafi cenderung digunakan untuk menyebut pesantren yang tidak menggunakan kurikulum modern, baik yang berasal dari pemerintah ataupun hasil inovasi ulama sekarang.

Kata salaf atau salafiyah itu sendiri diambil dari nomenklatur Arab salafiyun untuk sebutan sekelompok umat Islam yang ingin kembali kepada ajaran Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana praktik kehidupan generasi pertama Islam.

Pada waktu itu umat Islam sedang mengalami perpecahan dalam bentuk golongan mazhab tauhid hingga beberapa kelompok. Kelompok salafiyun ini mengaku lepas dari semua kelompok itu dan mengajak semua yang telah terkelompok-kelompok menyatu kembali kepada ajaran AlQur’an dan Assunnah. Penggunaan kata salaf juga dipakai untuk antonim kata salaf versus khalaf. Ungkapan ini dipakai untuk membedakan antara ulama salaf (tradisional) dan ulama khalaf (modern). Pengertian Tradisional menunjukkan bahwa lembaga ini hidup sejak ratusan tahun (300-400 tahun) yang lalu dan telah menjadi bagian yang mendalam dari sistem kehidupan sebagian besar umat Islam Indonesia yang merupakan golongan mayoritas bangsa Indonesia dan telah mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai dengan perjalanan umat pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh arti tetap tanpa mengalami penyesuaian.

Pesantren salafi pada umumnya dikenal dengan pesantren yang tidak menyelenggarakan pendidikan formal semacam madrasah ataupun sekolah. Kalaupun menyelenggarakan pendidikan keagaman dengan sistem berkelas kurikulumnya berbeda dari kurikulum model sekolah ataupun madrasah pada umumnya. Pesantren salafi sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia memiliki tradisi keilmuan yang berbeda dengan tradisi keilmuan yang ada pada lembaga pendidikan Islam lainnya, seperti madrasah.

Salah satu ciri utama pesantren yang membedakan dengan lembaga pendidikan Islam lainnya adalah adanya pengajaran kitab-kitab klasik (kitab kuning) sebagai kurikulumnya.

Kitab kuning dapat dikatakan menempati posisi yang istimewa dalam tubuh kurikulum di pesantren. Karena keberadaannya menjadi unsur utama dalam diri pesantren, maka sekaligus sebagai ciri pembeda pesantren dari pendidikan Islam lainnya. Keseluruhan kitab kuning yang diajarkan (kurikulum pesantren) di berbagai pesantren dapat dikelompokkan dalam delapan bidang kajian, yaitu nahwu dan saraf (gramatika dan morfologi), fikih, usul fikih, tasawuf, etika, tafsir, hadis, tauhid, dan cabang-cabang ilmu lainnya seperti tarikh (sejarah) dan balagah (sastra).

Di samping itu, kitab-kitab kuning yang beredar di pesantren-pesantren dapat juga digolongkan ke dalam tiga tingkat, yaitu kitab dasar, kitab tigkat menengah, dan kitab besar, yang dalam pengajarannya pun disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan kelasnya. Pesantren dan kitab kuning adalah dua sisi yang tak terpisahkan dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Sejak sejarah awal berdirinya, pesantren tidak dapat dipisahkan dari literatur kitab buah pemikiran para ulama salaf yang dimulai sekitar abad ke-9 itu.

Bahkan bisa dikatakan, tanpa keberadaan dan pengajaran kitab kuning, suatu lembaga pendidikan pesantren kurang absah disebut pesantren. Begitulah fakta yang terjadi di lapangan. Kenyataan yang nampak sejak lahirnya pesantren salafi sampai saat ini masih tetap menjadikan kitab kuning sebagai kurikulum dalam menjalankan sistem pembelajaran sebagai bagian dari pendidikan.

Hal tersebut dipertegas oleh Abdurrahman Wahid dalam buku Pergulatan Dunia Pesantren karya M. Dawam Rahardjo, konteks ini meneguhkan bahwa kitab kuning telah menjadi salah satu sistem nilai dalam kehidupan pesantren.

Adapun di era sekarang ini, kebanyakan pesantren telah memasukkan pengetahuan umum dan tidak hanya mempelajari kitab-kitab Islam klasik semata. Meskipun demikian, pengajaran kitab klasik tetap menjadi fokus utama. Pada umumnya, pelajaran kitab-kitan Islam klasik itu dimulai dari yang paling sederhana, kemudian dilanjutkan dengan kitab-kitab yang lebih mendalam. Sebuah pesantren dapat diketahui kualitasnya dari kitab-kitab Islam klasik yang diajarkan.

Seiring dengan perubahan teknologi, sistem pendidikan pesantren mengalami pergeseran-pergeseran baik dari kelembagaan pesantren, metodologi sampai pola hidup. Namun demikian, pesantren salafi sampai saat ini masih tetap bertahan dan eksis dengan pola lamanya tanpa mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi saat ini.

Salah satu aspek yang menarik dari fenomena pesantren salafi adalah kurikulumnya. Sebagaimana sudah diindikasikan sebelumnya, terdapat diskusi yang cukup intens berkenaan dengan kurikulum yang diajarkan di pesantren salafi. Kurikulum yang diajarkan di setiap pesantren salafi berbeda dengan pesantren salafi lainya, hal ini disesuaikan dengan kemampuan dan keilmuan yang dikuasai oleh kiai.

Sistem pendidikan di pesantren salafi tidak jauh berbeda dengan sistem pendidikan di Dayah, yakni para santri duduk membentuk lingkaran dan kiai menerangkan pelajaran. Dalam mengajarkan kitab-kitab klasik tersebut, seorang kiai menggunakan metode wetonan dan bandonga. Adapun metode wetonan dan bandongan yaitu metode kuliah dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk mengelilingi kiai.

Kiai membacakan kitab yang sedang dipelajari saat itu, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan. Kitab-kitab yang dipelajari itu diklasifikasikan berdasarkan tingkatan-tingkatan.

Ada tingkatan awal, menengah dan atas. Seorang santri pemula terlebih dahulu mempelajari kitab-kitab awal barulah kemudian diperkenankan mempelajari kitab-kitab tingkat berikutnya. Karena itulah, pesantren salafi tidak mengenal sistem kelas. Kemampuan santri tidak dilihat dari kelas berapa, tetapi dilihat dari kitab apa yang telah mampu dibacanya. Bahasa yang digunakan dalam mengajarkan materi pelajaran adalah bahasa daerah sesuai tempat kiai tersebut tinggal, sehingga diharuskan bagi para santri untuk menguasai bahasa yang digunakan.

Inti dari pesantren adalah pendidikan ilmu agama dan sikap beragama, karenanya mata pelajaran yang diajarkan semata-mata pelajaran agama.

Pada tingkat dasar anak didik baru diperkenalkan tentang dasar agama, dan AlQur’an al-Karim. Setelah berlangsung beberapa lama pada saat anak didik memiliki kecerdasan tertentu, maka mulailah diajarkan kitab-kitab klasik (kitab kuning). Pondok pesantren salafi memiliki prinsip-prinsip atau nilai yang membedakan dengan lembaga pendidikan lainnya, yaitu: Dari berbagai historisasi sejarah pendidikan Islam yang ada bagaimanapun juga pondok pesantren salafi adalah sebuah sistem yang khas.

Tidak hanya dalam pendekatan pembelajarannya, tetapi juga dalam pandangan hidup dan tata nilai yang dianut, cara hidup yang ditempuh, struktur pembagian kewenangan, dan semua aspek-aspek kependidikan dan kemasyarakatan lainnya.

Oleh sebab itu, tidak ada pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh yang dapat secara tepat mewakili seluruh pondok pesantren yang ada. Masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri. Meskipun demikian dalam hal-hal tertentu pondok pesantren memiliki persamaan-persamaan.

Persamaaan inilah yang lazim disebut sebagai ciri pondok pesantren, dan selama ini dianggap dapat mengimplikasi pondok pesantren secara kelembagaan. Materi yang diajarkan di pondok pesantren terdiri dari materi agama yang langsung digali dari kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Dengan sistem yang dinamakan pesantren, proses internalisasi ajaran Islam kepada santri bisa berjalan penuh, baik dengan pimpinan dan keteladanan para kiai atau pengelolaan yang khas akan tercipta suatu komunikasi tersendiri.

Di dalam sistem pengelolaan tersebut terdapat semua aspek kehidupan.

pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh

Kurikulum yang digunakan pondok pesantren salafi tidak sama dengan kurikulum yang dipergunakan lembaga pendidikan formal, bahkan antara satu pondok pesantren dengan pondok pesantren lainnya.

Pada umumnya kurikulum pondok pesantren salafi yang menjadi arah tertentu (manhaj), diwujudkan dalam bentuk penetapan kitab-kitab tertentu sesuai dengan tingkatan ilmu pengetahuan santri.

Sebenarnya model pembelajaran yang diberikan oleh pesantren kepada santrinya sejalan dengan salah satu prinsip pembelajaran modern, yang dikenal dengan pendekatan belajar tuntas (mastery learning), yaitu dengan mempelajari sampai tuntas kitab pegangan yang dijadikan rujukan utama untuk masing-masing bidang ilmu yang berbeda. Akhir pembelajaran dilakukan berdasarkan tamatnya kitab yang dipelajari. Pesantren salafi telah memperoleh penyetaraan melalui SKB 2 Menteri (Menag dan Mendiknas) No: 1/U/KB/2000 dan No.

MA/86/2000, tertanggal 30 Maret 2000 yang memberi kesempatan kepada pesantren salafi untuk ikut menyelenggarakan pendidikan dasar sebagai upaya mempercepat pelaksanaan program wajib belajar dengan persyaratan tambahan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA dalam kurikulumnya.

Dengan demikian SKB ini memiliki implikasi yang sangat besar untuk mempertahankan eksistensi pendidikan pesantren. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pondok pesantren salafi adalah lembaga pendidikan yang masih sederhana baik dari fisik bangunan maupun kurikulum.

Ditinjau dari segi fisik pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh merupakan lembaga pendidikan Islam yang masih bersifat sederhana dimana rumah kiai dan masjid merupakan tempat transformasi ilmu pengetahuan. Sedangkan jika ditinjau dari segi kurikulum yang diajarkan hanya ilmu-ilmu agama melalui bandongan dan sorogan yang bertujuan memperdalam ilmu agama.

Pesantren Khalafi adalah pesantren yang menerapkan sistem pengajaran klasikal (madrasah), memberikan ilmu umum dan ilmu agama, serta memberikan pendidikan keterampilan.

Sedangkan mengenai arti pesantren khalafiyah (modern) yaitu pesantren yang mengadopsi sistem madrasah atau sekolah dan memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum madrasah yang dikembangkan, atau pesantren yang menyelenggarakan tipe sekolah-sekolah umum seperti MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA/SMK dan bahkan PT dalam lingkungannya. Dengan demikian pesantren modern merupakan pendidikan pesantren yang diperbaharui atas pesantren salaf, sebagai institusi pendidikan asli Indonesia yang lebih tua dari Indonesia itu sendiri, adalah “legenda hidup” yang masih eksis hingga hari ini.

Pondok pesantren ini merupakan pengembangan tipe pesantren salaf karena orientasi belajarnya cenderung mengadopsi seluruh sistem belajar secara klasik dan meninggalkan sistem belajar tradisional. Penerapan sistem belajar modern ini terutama nampak pada penggunaan kelas-kelas belajar baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah.

Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum madrasah atau sekolah yang berlaku secara Nasional. Santrinya ada yang menetap dan ada pula yang tersebar di sekitar desa tempat pesantren khalafi tersebut. Kedudukan para kiai sebagai koordinator pelaksana proses belajar mengajar dan sebagai pengajar langsung di kelas. Figur kiai tidak lagi menjadi sentral setiap keputusan, setiap perkara yang menyangkut dengan pesantren harus di putuskan berdasarkan rapat antara para asatidz (staff pengajar) dengan yayasan.

Peserta didik atau santri juga harus membayar uang pendidikan, sistem belajar yang demokratis dan setiap santri yang sudah menyelesaikan studinya akan mendapatkan ijazah sebagai tanda kelulusan, ijazah ini bisa di gunakan sebagai salah satu syarat seandainya santri berniat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Tujuan proses modernisasi pondok pesantren adalah berusaha untuk menyempurnakan sistem pendidikan Islam yang ada di pesantren.

Akhir-akhir ini pondok pesantren mempunyai kecenderungan-kecenderungan baru dalam rangka renovasi terhadap sistem yang selama ini dipergunakan. Perubahan-perubahan itu bisa dilihat di pesantren modern dengan mulai akrabnya metodologi ilmiah modern, lebih terbuka atas perkembangan di luar dirinya, diversifikasi program dan kegiatan di pesantren makin terbuka dan luas, dan sudah dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat.

Berdasarkan penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa pesantren khalaf atau modern dapat diartikan sebagai pesantren yang berusaha menyeimbangkan pendidikan agama dengan pendidikan umum, metode yang digunakan tidak lagi seperti dulu, materi yang diajarkan juga lebih banyak dibanding pesantren salaf.

Selain mengajarkan pendidikan agama Islam pesantren ini juga mengajarkan ilmu-ilmu umum dan juga bahasa-bahasa asing yang dilakukan guna menghadapi perkembangan zaman yang semakin canggih seperti sekarang ini. Dan didirikan pula sekolah-sekolah diberbagai tingkat sebagai sarana prasarana pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh penunjang dalam sistem pembelajaran mereka.

Tujuan pesantren pada dasarnya adalah lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan banyak ilmu-ilmu agama yang bertujuan membentuk manusia bertaqwa, mampu untuk hidup mandiri, ikhlas dalam melakukan suatu perbuatan, berijtihad membela kebenaran Islam, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat sebagaimana kepribadian Nabi Muhammad (mengikuti Sunnah Nabi), mampu berdiri sendiri, bebas, dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat di tengah-tengah masyarakat dan mencintai ilmu pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh rangka mengembangkan kepribadian manusia.

Hingga sekarang, pesantren pada umumnya bertujuan untuk mengajarkan agama Islam dan mencetak pribadi muslim yang kaffah dalam melaksanakan ajaran agama Islam secara konsisten di kehidupan sehari-hari. Lahirnya sosok manusia yang paham akan jati dirinya sebagai manusia (khalifah fii al-ardl) yang sekaligus sebagai ‘abd Allah. Sedangkan tujuan pesantren secara khusus sangat tergantung pada pengasuh pesantrennya, seperti mencetak para penghafal (huffaz) Al-Qur’an, mencetak ahli fikih (fuqaha’), mencetak ahli bahasa Arab (nahw wa sharf) dan lain-lain.

• Tujuan khusus, yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat. • Tujuan umum yaitu membimbing anak didik menjadi manusia berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi muballigh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya. Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan pesantren yang pertama dan utama adalah pembentukan keyakinan kepada Allah yang diharapkan dapat melandasi sikap, tingkah laku dan kepribadian peserta didik.

Iman merupakan dasar dan realisasi dari ihsan, konsekuensi dari iman, Islam dan ihsan adalah takwa. Karena itu, tujuan pesantren adalah mengembangkan kepribadian muslim yang memahami agama (tafaqquh fi ad-din), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam pendirian, menyebarkan agama dan membentuk moralitas umat melalui pendidikannya.

Melihat dari tujuan tersebut, jelas sekali bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang berusaha menciptakan kader-kader muballigh yang diharapakan dapat meneruskan misinya dalam dakwah Islam, di samping itu juga diharapakan bahwa mereka yang berstudi di pesantren menguasai betul akan ilmu-ilmu keisalaman yang diajarkan oleh para kiai. (https://penjelasani.blogspot.com/2019/11/sejarah-munculnya-pondok-pesantren-di-nusantara.html)Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam pertama kali didirikan oleh ….

A. Syekh Maulana Malik Ibrahim B. Sunan Ampel C. Syarif Hidayatullah D. Mahdum Ibrahim E. Syekh Jumadil Kubra Pembahasan : Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam pertama kali didirikan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Jawaban: A
Sejarah Pondok Pesantren Pondok Pesantren pada dasarnya didirikan karena semata-mata sebagai tempat belajar agama.

Pondok Pesantren semacam ini biasanya berdiri dengan sendirinya, artinya tanpa ada maksud untuk mendirikan lembaga Pesantrentetapi karena santri yang belajar pada seorang Kyai atau pengasuh Pesantren semakin lama semakin bertambah banyak.

Pondok Pesantren semacam ini tidak memiliki nama lembaga dan kurikulum yang tetap. Jadi tidak ada penerapan administrasi apapun. Berbeda dengan kondisi pondok Pesantren sekarang yang sudah menggunakan kurikulum dan sistem administrasi yang baik.

kapan munculnya pondok pesantren di Indonesia? Lalu kapan munculnya Pondok Pesantren di Indonesia?

pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh

Beberapa pendapat menyatakan bahwa: • Pondok Pesantren pertama kali ada pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh di pulau Sumatera seiring dengan permulaan datang dan masuknya Islam di Indonesia muncullah Pondok Pesantren Dayah Cot Kala yang terdapat di Aceh. • Pondok Pesantren kali pertama muncul di Indonesia di daerah Jawa, tepatnya di desa Gapura, Gresik, Jawa Timur yang didirikan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Selanjutnya Sunan Ampel yaitu putra tertua dari Syekh Maulana Malik Ibrahim mendirikan Pondok Pesantren di Ampel Denta, dan beberapa Walisongo juga mulai mendirikan Pondok Pesantren di berbagai daerah. Misalnya, Sunan Giri di daerah Giri, Sunan Bonang di daerah Tuban, Sunan Derajat di daerah Lamongan dan Raden Patah di daerah Demak. Perkembangan Pondok Pesantren semakin lama semakin berkembang dan mulai menyebar di berbagai daerah. Di antara Pondok Pesantren yang terkenal adalah Pondok Pesantren Tebu Ireng, Tebuireng, Pondok Rejosari, Pondok Pesantren Denanyar dan pondok Pesantren Tambak Beras yang kesemuanya berada di daerah Jombang.

Pondok pesantren Ploso dan Pondok Pesantren Lirboyo di wilayah Kediri, Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong dan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton di wilayah Probolinggo, Pondok Pesantren Krapyak dan Mlangi di daerah Yogyakarta dan lain sebagainya. Pondok pesantren besar di Jawa Tengah yang masih berkembang diantaranya adalah pondok pesantren Watucongol dan Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati, Pondok Pesantren Al Hikmah Sirampog Brebes, Pondok Pesantren Al Anwar Sarang Rembang, Pondok pesan Yanbu'ul Qur'an, Pondok Pesantren Somalangu Kebumen, Pondok Pesantren Kaliwungu, Pondok Pesantren Al Itqon Semarang, Pondok Pesantren Roudlotul Tholibin Rembang dan masih banyak lagi.

Peran pondok pesantren terhadap lahirnya NU Tidak dapat dipungkiri peran Pondok pesantren sangatlah besar terhadap berdirinya NU. Pondok pesantren adalah tempat menanamkan nilai-nilai kemandirian dan membangun semangat dalam dakwah dan tempat peningkatan kualitas keilmuan agama.

Hasil pendidikan Pondok pesantren mampu menjadi pribadi yang mandiri kuat dan semangat dalam menegakkan dakwah Islam terutama dalam menegakkan akidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Baca juga : • Pengertian Pondok Pesantren Secara Bahasa dan Istilah • 5 Alasan Orang Tua Memasukkan Anak ke Pondok Pesantren • 5 Cara Penyebaran Islam di Indonesia Sebagai lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan berbagai pengetahuan berbasis paham Ahlussunnah Wal Jamaah, maka sudah sewajarnya jika Pondok pesantren menghasilkan alumni yang berkualitas terutama dalam pengetahuan dan Pengamalan ajaran agama Islam di Indonesia.

pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam pertama kali didirikan oleh

Bukti nyata peran Pondok pesantren terhadap lahirnya NU adalah bahwa pencetus dan dan pendiri NU lahir Dari ulama-ulama yang berasal dari Pondok Pesantren di antaranya adalah Kyai Haji Muhammad Kholil Bangkalan Kyai Haji Hasyim Asy'ari dari Tebuireng Jombang dan Kyai Haji Abdul Wahid dari Pondok Pesantren tambak beras Jombang. Itulah pembahasan mengenai sejarah pondok pesantren, semoga bermanfaat. Sumber : ASWAJA NU

Kata Santri Baru Saat Pertama Kali Masuk Pondok Pesantren




2022 www.videocon.com