Pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah

pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah

MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) Manusia berinteraksi dengan sesamanya dalam kehidupan untuk menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial.

Pergaulan hidup semacam itu baru akan terjadi apabila manusia dalam hal ini orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia bekerja sama, saling berbicara dan sebagainya untuk mencapai tujuan bersama mengadakan persaingan, pertikaian, dan lain-lain. Maka proses sosial, yang menunjuk pada hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Bentuk umum proses-proses sosial adalah interaksi sosial yang dapat juga dinamakan proses sosial, karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial.

Interaksi sosial merupakan hubungan – hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan orang perorangan dengan sekelompok manusia. Apabila dua orang bertemu interaksi sosial dimulai, pada saat itu mereka saling menegur, berjabat tangan, atau bahkan mungkin berkelahi. Aktivitas-aktivitas semacam itu merupakan bentuk interaksi sosial.

Pengertian Interaksi Sosial Menurut Para Ahli Interaksi adalah proses di mana orang-orang berkomunikasi saling memengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Seperti kita ketahui, bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain.

Ada beberapa pengertian interaksi sosial yang ada di lingkungan masyarakat, di antaranya : • Menurut H. Booner dalam bukunya, Social Psychology, memberikan rumusan interaksi sosial, bahwa: “interksi sosial adalah hubungan antara dua individu atau lebih, di mana kelakuan individu yang satu memengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.” • Menurut Gillin and Gillin (1954) yang menyatakan bahwainteraksi sosial adalah hubungan-hubungan antara orang-orang secara individual, antar kelompok orang, dan orang perorangan dengan kelompok.

• Interaksi sosial merupakan hubungan timbal balik antara individu dengan individu, antara kelompok dengan kelompok, antara individu dengan kelompok. • Menurut MacionisMenurut para ahli bernama Macionis bahwa Interaksi Sosial merupakan tindakan serta reaksi (Membalas aksi) yang di lakukan seseorang dalam melakukan komunikasi terhadap orang lain.

• Menurut Broom dan Selznic Kemudian ahli yang bernama Broom dan Selznic juga menyatakan bahwa Interaksi Sosial memiliki arti suatu proses tindakan yang didasarkan oleh kesadaran adanya orang lain, atau dengan kata lain yakni proses dalam menyesuaikan tindakan (Respon) sesuai dengan tindakan orang lain.

• Menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack Beliau menjelaskan bahwasanya Interaksi Sosial ialah hubungan social yang terjalin secara dinamis yang masih terkait hubungan antar Individu atau dengan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok lain.

• Menurut Soerjono Soekanto Beliau berpendapat Interaksi Sosial ialah dimana proses tentang cara komunikasi di lihat dari segi jika Individu dengan kelompok social saling bertemu kemudain melakukan penentuan system serta hubungan sosial. • Menurut Gilin Gilin mengungkapkan bahwa Interaksi Sosial adalah berbagai hubungan social yang secara dinamis terkait dengan hubungan antar Individu atau Kelompok terhadap kelompok lainnya. • Menurut Homans Homans menjelaskan mengenai Interaksi Sosial merupakan suatu keadaan dimana kegiatan yang di lakukan oleh seseorang terhadap Individu lainnya yang di berikan ganjaran atau sebuah hukuman dengan menggunakan suatu tindakan terhadap pasangannya.

• Interaksi Sosial Menurut Astrid. S. Susanti Ia juga mengungkapkan bahwa Interaksi Sosial adalah suatu hubungan manusia dengan manusia lainnya sehingga menciptakan hubungan yang tetap dan kemudian pada akhirnya terbentuk struktur sosial. Dari hasil interaksi tersebut tergantung berdasarkan Nilai dan arti serta interpretasi yang di dapatkan dari pihak lain yang masih terlibat dari Interaksi tersebut.

• Interaksi Sosial Menurut #Bonner Interaksi Sosial yakni suatu hubungan terhadap 2 Individu atau lebih yang saliang berpengaruh, mengubah atau memperbaiki sikap Individu lainnya atau sebaliknya. • Interaksi sosial Menurut Dr. Gerungan Interaksi adalah hubungan antara dua atau lebih individu dimana siafat individu yang satu dapat mempengaruhi, memperbaiki atau merubah sifat individu lain atau sebaliknya. Pengertian Interaksi Budaya Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.[1] Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.[1] Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.

Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.

Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina.

Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

• Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. • Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

• Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Agama Di Indonesia Yang Diakui Oleh Pemerintah Dan Hubungannya Ciri dan Syarat Interaksi Sosial Ciri-ciri Interaksi Sosial • Jumlah pelakunya lebih dari satu orang • Terjadinya komunikasi diantara pelaku melalui kontak sosial • Mempunyai maksud atau tujuan yang jelas • Dilaksanakan melalui suatu pola sistem sosial tertentu Syarat-Syarat Interaksi Sosial • Kontak sosial Suatu hubungan diantara satu pihak dengan pihak lain, juga merupakan awal terjadinya hubungan sosial dan masing-masing pihak saling bereaksi antara satu dengan yang lainnya walaupun tidak harus bersentuhan dalam benruk fisik.

• Komunikasi Bergaul atau berhubungan dengan orang lain secara lisan ataupun tulisan secara bergantian. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Pancasila Sebagai Etika Politik Dalam Berbangsa Dan Bernegara Lingkungan Sosial Budaya Manusia adalah makhluk hidup yang dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sebagai makhluk biologis dan makhluk sosial.

Sebagai makhluk biologis, makhluk manusia atau “homo sapiens”, sama seperti makhluk hidup lainnya yang mempunyai peran masing-masing dalam menunjang sistem kehidupan. Sebagai makhluk sosial, manusia merupakan bagian dari sistem sosial masyarakat secara berkelompok membentuk budaya. Ada perbedaan mendasar tentang asal mula manusia, kelompok evolusionis pengikut Darwin menyatakan bahwa manusia berasal dari kera yang berevolusi selama ratusan ribu tahun, berbeda dengan kelompok yang menyanggah teori evolusi melalui teori penciptaan, yang menyatakan bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah.

Pemahaman tentang hidup dan kehidupan, itu tidak mudah. Makin banyak hal yang Anda lihat tentang gejala adanya hidup dan kehidupan, makin nampak bahwa hidup itu sesuatu yang rumit.

Pada individu dengan organisasi yang kompleks, hidup ditandai dengan eksistensi vital, yaitu: dimulai dengan proses metabolisme, kemudian pertumbuhan, perkembangan, reproduksi, dan adaptasi internal, sampai berakhirnya segenap proses pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah bagi suatu “individu”.

Tetapi bagi “individu” lain seperti sel-sel, jaringan, organ-organ, dan sistem organisme yang termasuk dalam alam mikroskopis, batasan hidup adalah tidak jelas atau samar-samar. Kehidupan adalah fenomena atau perwujudan adanya hidup, yang didukung tidak saja oleh makhluk hidup (biotik), tetapi juga benda mati (abiotik), dan berlangsung dalam dinamikanya seluruh komponen kehidupan itu. Ada perpaduan erat antara yang hidup dengan yang mati dalam kehidupan. Mati adalah bagian dari daur kehidupan yang memungkinkan terciptanya kehidupan itu secara berlanjut.

Makhluk hidup bersel satu adalah makhluk yang pertama berkembang. Jutaan tahun kemudian kehidupan di laut mulai berkembang. Binatang kerang muncul, lalu ikan kemudian disusul amphibi. Lambat laun binatang daratan berkembang pula muncul reptil, burung dan binatang menyusui. Baru kira-kira 25 juta tahun yang lalu muncul manusia kemudian pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah berkelompok dalam suku-suku bangsa seperti saat ini, dan hampir di setiap sudut bumi ditempati manusia yang berkembang dengan cepat.

Lingkungan hidup adalah suatu konsep holistik yang berwujud di bumi ini dalam bentuk, susunan, dan fungsi interaktif antara semua pengada baik yang insani (biotik) maupun yang ragawi (abiotik).

Keduanya saling mempengaruhi dan menentukan, baik bentuk dan perwujudan bumi di mana berlangsungnya kehidupan yaitu biosfir maupun bentuk dan perwujudan dari kehidupan itu sendiri, seperti yang disebutkan dalam hipotesa Gaia.

Lingkungan hidup yang dimaksud tersebut tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, oleh karena itu yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah lingkungan hidup manusia. Permasalahan Lingkungan Hidup Belum ada definisi tentang lingkungan sosial budaya yang disepakati oleh para ahli sosial, karena perbedaan wawasan masing-masing dalam memandang konsep lingkungan sosial budaya. Untuk itu digunakan definisi kerja lingkungan sosial budaya, yaitu lingkungan antar manusia yang meliputi: pola-pola hubungan sosial serta kaidah pendukungnya yang berlaku dalam suatu lingkungan spasial (ruang); yang ruang lingkupnya ditentukan oleh keberlakuan pola-pola hubungan sosial tersebut (termasuk perilaku manusia di dalamnya); dan oleh tingkat rasa integrasi mereka yang berada di dalamnya.

Oleh karena itu, lingkungan sosial budaya terdiri dari pola interaksi antara budaya, teknologi dan organisasi sosial, termasuk di dalamnya jumlah penduduk dan perilakunya yang terdapat dalam lingkungan spasial tertentu. Lingkungan sosial budaya terbentuk mengikuti keberadaan manusia di muka bumi. Ini berarti bahwa lingkungan sosial budaya sudah ada sejak makhluk manusia atau homo sapiens ini ada atau diciptakan.

Lingkungan sosial budaya mengalami perubahan sejalan dengan peningkatan kemampuan adaptasi kultural manusia terhadap lingkungannya. Manusia lebih mengandalkan kemampuan adaptasi kulturalnya dibandingkan dengan kemampuan adaptasi biologis (fisiologis maupun morfologis) yang dimilikinya seperti organisme lain dalam melakukan interaksi dengan lingkungan hidup.

Karena Lingkungan hidup yang dimaksud tersebut tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, maka yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah lingkungan hidup manusia. Rambo menyebutkan ada dua kelompok sistem yang saling berinteraksi dalam lingkungan sosial budaya yaitu sosio sistem dan ekosistem. Sistem sosial tersebut meliputi: teknologi; pola eksploitasi sumber daya; pengetahuan; ideologi; sistem nilai; organisasi sosial; populasi; kesehatan; dan gizi.

Sedangkan ekosistem yang dimaksud meliputi tanah, air, udara, iklim, tumbuhan, hewan dan populasi manusia lain. Dan interaksi kedua sistem tersebut melalui proses seleksi dan adaptasi serta pertukaran aliran enerji, materi, dan informasi. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Adat Istiadat Dan Contohnya Bentuk Interaksi Sosial Budaya 1. Interaksi Sosial Asosiatif • Kerjasama (cooperation). Kerjasama adalah bentuk utama dari proses interaksi sosial, karena pada dasarnya, interaksi sosial yang dilakukan oleh seseorang bertujuan untuk memenuhi kepentingan atau kebutuhan bersama.

Sebagai contoh dalam kegiatan ekonomi, kita dapat mengamati berbagai kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi. Koperasi Sekolah, PT, dan CV, merupakan contoh kerjasama dalam interaksi asosiatif.

• Akomodasi (accommodation). Akomodasi adalah proses penyesuaian sosial dalam interaksi antar-individu dan antar-kelompok, untuk meredakan pertentangan 2. Akomodasi (accommodation) Akomodasi adalah proses penyesuaian sosial dalam interaksi antar-individu dan antar-kelompok, untuk meredakan pertentangan.

Bentuk-bentuk akomodasi, antara lain sebagai berikut. • Koersi (coercion), yaitu bentuk akomodasi yang terjadi karena adanya pelaksanaan dan pihak lain yang lebih kuat. CONTOH: perbudakan. • Kompromi (compromise), yaitu bentuk akomodasi di mana pihak yang mengalami perselisihan mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian.

CONTOH : perjanjian antar negara tentang batas wilayah perairan. • Arbitrasi (arbitration), yaitu bentuk akomodasi yang melibatkan pihak ketiga dalam menyelesaikan suatu konflik. Dalam hal ini pihak ketiga bersifat netral. CONTOH: konflik antara buruh dan pengusaha dengan bantuan suatu badan penyelesaian perburuan Depnaker sebagai pihak ketiga.

3. Asimilasi (assimilation) Asimilasi merupakan proses ke arah peleburan kebudayaan, sehingga masing-masing pihak merasakan adanya kebudayaan tunggal yang menjadi milik bersama. Asimilasi merupakan proses sosial yang ditandai adanya usaha-usaha untuk mengurangi perbedaan yang terdapat antara beberapa orang atau kelompok.

4. Akulturasi (acculturation) Akulturasi merupakan proses sosial yang timbul akibat suatu kebudayaan menerima unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri. Contohnya : • perpaduan musik Melayu dengan musik Spanyol melahirkan musik keroncong. • bakpao merupakan makanan tradisional khas masyarakat bangsa Tionghoa.

5. Persaingan (competition) Persaingan merupakan bentuk dari interaksi disosiatif yang banyak kita temukan di lingkungan kehidupan kita. Persaingan merupakan perjuangan yang dilakukan oleh individu atau kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah ancaman atau benturan fisik. Contohnya adalah pedagang di sentra industri kulit yang menjajakan barang dagangan sejenis 6.

Kontravensi Kontravensi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti : proses persaingan yang ditandai oleh gejala ketidakpastian mengenai pribadi seseorang dan perasaan tidak suka yang disembunyikan terhadap kepribadian seseorang.

Kontravensi adalah bentuk interaksi sosial yang berada diantara: persaingan dan pertentangan atau konflik. Dilihat dan prosesnya kontravensi mencakup lima sub proses berikut. • Proses yang umum, yakni adanya penolakan, keengganan, gangguan terhadap pihak lain, pengacauan terhadap rencana pihak lain, dan sebagainya. • Kontravensi sederhana, seperti memaki-maki, menyangkal pihak lain, mencerca, memfitnah, dan lain sebagainya.

• Kontravensi yang intensif, seperti penghasutan, penyebaran desas-desus, dan sebagainya. • Kontravensi yang bersifat rahasia, seperti mengumumkan rahasia pihak lain, berkhianat, dan sebagainya. • Kontravensi yang bersifat taktis, seperti intimidasi, provokasi, dan lain sebagainya.

7. Pertikaian Pertikaian merupakan proses sosial bentuk lanjut dan kontravensi. Artinya dalam pertikaian perselisihan sudah bersifat terbuka. Pertikaian terjadi karena semakin tajamnya perbedaan antara kalangan tertentu dalam masyarakat. Pertikaian dapat muncul apabila individu atau kelompok berusaha memenuhi kebutuhan atau tujuannya dengan jalan menentang pihak lain dengan cara ancaman atau kekerasan Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Kesenjangan Sosial : Pengertian, Contoh, Penyebab Dan Solusi Interaksi Antara Unsur Kebudayaan A.

Peralatan dan Perlengkapan Hidup (Teknologi) Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan. Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.

Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu: • valat-alat produktif • senjata • wadah • alat-alat menyalakan api • makanan • pakaian • tempat berlindung dan perumahan • alat-alat transportasi B.

Sistem Mata Pencaharian Hidup Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya: • berburu dan meramu • beternak • bercocok tanam di ladang • menangkap ikan • Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. Meyer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan.

Kekerabatan adalah unit-unit sosial pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan.

Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat.

Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral. Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara.

Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri. C. Bahasa Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain.

Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat. Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus.

Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

D. Kesenian Karya seni dari peradaban Mesir kuno. Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga.

Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks. E. Sistem Kepercayaan Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas.

Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya.

Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta.

Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (bahasa Inggris: Religion, yang berasar dari bahasa Latin religare, yang berarti “menambatkan”), adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Dictionary of Philosophy and Religion (Kamus Filosofi dan Agama) mendefinisikan Agama sebagai berikut: sebuah institusi dengan keanggotaan yang diakui dan biasa berkumpul bersama untuk beribadah, dan menerima sebuah paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap yang harus diambil oleh individu untuk mendapatkan kebahagiaan sejati.

Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti “10 Firman” dalam agama Kristen atau “5 rukun Islam” dalam agama Islam. Kadang-kadang agama dilibatkan dalam sistem pemerintahan, seperti misalnya dalam sistem teokrasi. Agama juga mempengaruhi kesenian. F. Agama Samawi Tiga agama besar, Yahudi, Kristen dan Islam, sering dikelompokkan sebagai agama Samawi atau agama Abrahamik.

Ketiga agama tersebut memiliki sejumlah tradisi yang sama namun juga perbedaan-perbedaan yang mendasar dalam inti ajarannya. Ketiganya telah memberikan pengaruh yang besar dalam kebudayaan manusia di berbagai belahan dunia. Yahudi adalah salah satu agama, yang jika tidak disebut sebagai yang pertama, adalah agama monotheistik dan pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah satu agama tertua yang masih ada sampai sekarang.

Terdapat nilai-nilai dan sejarah umat Yahudi yang juga direferensikan dalam agama Abrahamik lainnya, seperti Kristen dan Islam. Saat ini umat Yahudi berjumlah lebih dari 13 juta jiwa.

Kristen (Protestan dan Katolik) adalah agama yang banyak mengubah wajah kebudayaan Eropa dalam 1.700 tahun terakhir. Pemikiran para filsuf modern pun banyak terpengaruh oleh para filsuf Kristen semacam St. Thomas Aquinas dan Erasmus. Saat ini diperkirakan terdapat antara 1,5 s.d. 2,1 milyar pemeluk agama Kristen di seluruh dunia. Islam memiliki nilai-nilai dan norma agama yang banyak mempengaruhi kebudayaan Timur Tengah dan Afrika Utara, dan sebagian wilayah Asia Tenggara.

Saat ini terdapat lebih dari 1,5 milyar pemeluk agama Islam di dunia. G. Agama dan Filosofi dari Timur Agama dan filosofi seringkali saling terkait satu sama lain pada kebudayaan Asia. Agama dan filosofi di Asia kebanyakan berasal dari India dan China, dan menyebar di sepanjang benua Asia melalui difusi kebudayaan dan migrasi.

Hinduisme adalah sumber dari Buddhisme, cabang Mahāyāna yang menyebar di sepanjang utara dan timur India sampai Tibet, China, Mongolia, Jepang dan Korea dan China selatan sampai Vietnam. Theravāda Buddhisme menyebar di sekitar Asia Tenggara, termasuk Sri Lanka, bagian barat laut China, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Thailand.

Agama Hindu dari India, mengajarkan pentingnya elemen nonmateri sementara sebuah pemikiran India lainnya, Carvaka, menekankan untuk mencari kenikmatan di dunia. Konghucu dan Taoisme, dua filosofi yang berasal dari Cina, mempengaruhi baik religi, seni, politik, maupun tradisi filosofi di seluruh Asia.

pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah

Pada abad ke-20, di kedua negara berpenduduk paling padat se-Asia, dua aliran filosofi politik tercipta. Mahatma Gandhi memberikan pengertian baru tentang Ahimsa, inti dari kepercayaan Hindu maupun Jaina, dan memberikan definisi baru tentang konsep antikekerasan dan antiperang.

Pada periode yang sama, filosofi komunisme Mao Zedong menjadi sistem pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah sekuler yang sangat kuat di China. H. Agama Tradisional Agama tradisional, atau kadang-kadang disebut sebagai “agama nenek moyang”, dianut oleh sebagian suku pedalaman di Asia, Afrika, dan Amerika.

Pengaruh bereka cukup besar; mungkin bisa dianggap telah menyerap kedalam kebudayaan atau bahkan menjadi agama negara, seperti misalnya agama Shinto. Seperti kebanyakan agama lainnya, agama tradisional menjawab kebutuhan rohani manusia akan ketentraman hati di saat bermasalah, tertimpa musibah, tertimpa musibah dan menyediakan ritual yang ditujukan untuk kebahagiaan manusia itu sendiri.

“American Dream” American Dream, atau “mimpi orang Amerika” dalam bahasa Indonesia, adalah sebuah kepercayaan, yang dipercayai oleh banyak orang di Amerika Serikat. Mereka percaya, melalui kerja keras, pengorbanan, dan kebulatan tekad, tanpa memedulikan status sosial, seseorang dapat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Gagasan ini berakar dari sebuah keyakinan bahwa Amerika Serikat adalah sebuah “kota di atas bukit” (atau city upon a hill”), “cahaya untuk negara-negara” (“a light unto the nations”), yang memiliki nilai dan kekayaan yang telah ada sejak kedatangan para penjelajah Eropa sampai generasi berikutnya.

I. Pernikahan Agama sering kali mempengaruhi pernikahan dan perilaku seksual. Kebanyakan gereja Kristen memberikan pemberkatan kepada pasangan yang menikah; gereja biasanya memasukkan acara pengucapan janji pernikahan di hadapan tamu, sebagai bukti bahwa komunitas tersebut menerima pernikahan mereka.

Umat Kristen juga melihat hubungan antara Yesus Kristus dengan gerejanya. Gereja Katolik Roma mempercayai bahwa sebuah perceraian adalah salah, dan orang yang bercerai tidak dapat dinikahkan kembali di gereja. Sementara Agama Islam memandang pernikahan sebagai suatu kewajiban. Islam menganjurkan untuk tidak melakukan perceraian, namun memperbolehkannya. J. Sistem Ilmu dan Pengetahuan Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan.

Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error). Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi: • pengetahuan tentang alam • pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan di sekitarnya • pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang sifat dan tingkah laku sesama manusia • pengetahuan tentang ruang dan waktu Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Definisi Hubungan Struktur Sosial Dengan Mobilitas Sosial Fungsi dan Wujud Budaya Kata budaya sendiri berasal dari bahasa Sansekerta “budhayyah” yang berarti akal atau budi, atau segala hal yang memiliki hubungan dengan budi atau akal.

Menurut EB Taylor kebudayaan adalah sekumpulan yang mencangkup kesenian, pengetahuan, budaya, adat, moral, keniasaan serta kemampuan yang diperoleh oleh manusia sebagai kelompok masyarakat. Ilmu Antropologi kebudayaan adalah dari semua sistem gagsan, tindakan, maupun hasil karya manusia dalam hidup bermasyarakat.

Menurut Selo Sumarjan dan Soelaiman Sumarjan kebudayaan adalah semua karya, rasa, cipta dari hasil manusia. Fungsi Budaya Keperluan dari masyarakat sebagian besar di dominasi oleh kebudayaan yang bertitik pada masyarakat itu sendiri.

Pengaruh dari Individu oleh kebudayaan : Individu tidak bisa hidup sendiri namun bergaul dengan orang lain dan memerlukan orang lain, dan membuat saling mempengaruhi. Wujud Budaya • Sifatnya abstrak (IDEAS) Tidak bisa disentuh yang ada didalam pikiran warga masyarakat dimana warga itu tinggal.

• Tindakan terpola (ACTIVITIES) Tindakan terpola dari manusianya sendiri, aktivitas manusia setiap saat,setiap waktu saling berinteraksi, memiliki hubungan, memiliki pola pergaulan yang sesuai peraturan adat kelakuan. • Benda hasil karya (ARTIFACT) Tidak memerlukan penjelasan yang terlalu banyak sebab semua hasil dari kegiatan (fisik), karya, perbuatan manusia dalam sifat dan masyarakatnya (dapat diraba dan dilihat) Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Diferensiasi Sosial Faktor Pendorong Perubahan Sosial Budaya Terjadinya sebuah perubahan tidak selalu berjalan dengan lancar, meskipun perubahan tersebut diharapkan dan direncanakan.

Terdapat faktor yang mendorong sehingga mendukung perubahan, tetapi juga ada faktor penghambat sehingga perubahan tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Faktor pendorong merupakan alasan yang mendukung terjadinya perubahan. Menurut Soerjono Soekanto ada sembilan faktor yang mendorong terjadinya perubahan sosial, yaitu: • Terjadinya kontak atau sentuhan dengan kebudayaan lain.

Bertemunya budaya yang berbeda menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampu menghimpun berbagai penemuan yang telah dihasilkan, baik dari budaya asli maupun budaya asing, dan bahkan hasil perpaduannya. Hal ini dapat mendorong terjadinya perubahan dan tentu akan memperkaya kebudayaan yang ada. • Sistem pendidikan formal yang maju.

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang bisa mengukur tingkat kemajuan sebuah masyarakat. Pendidikan telah membuka pikiran dan membiasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif.

Hal ini akan memberikan kemampuan manusia untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya memenuhi perkembangan zaman, dan perlu sebuah perubahan atau tidak. • Sikap menghargai hasil karya orang dan keinginan untuk maju. Sebuah hasil karya bisa memotivasi seseorang untuk mengikuti jejak karya.

Orang yang berpikiran dan berkeinginan maju senantiasa termotivasi untuk mengembangkan diri. • Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang. Penyimpangan sosial sejauh tidak melanggar hukum atau merupakan tindak pidana, dapat merupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial budaya. Untuk itu, toleransi dapat diberikan agar semakin tercipta hal-hal baru yang kreatif. • Sistem terbuka dalam lapisan-lapisan masyarakat.

Open stratification atau sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal atau horizontal yang lebih luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat tidak lagi mempermasalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan sesamanya. Hal ini membuka kesempatan kepada para individu untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya. • Pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah yang heterogen. Masyarakat heterogen dengan latar belakang budaya, ras, dan ideologi yang berbeda akan mudah terjadi pertentangan yang dapat menimbulkan kegoncangan sosial.

Keadaan demikian merupakan pendorong terjadinya perubahan-perubahan baru dalam masyarakat untuk mencapai keselarasan sosial. • Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu Rasa tidak puas bisa menjadi sebab terjadinya perubahan. Ketidakpuasan menimbulkan reaksi berupa perlawanan, pertentangan, dan berbagai gerakan revolusi untuk mengubahnya. • Orientasi ke masa depan Kondisi yang senantiasa berubah merangsang orang mengikuti dan menyesusikan dengan perubahan.

Pemikiran yang selalu berorientasi ke masa depan akan membuat masyarakat selalu berpikir maju dan mendorong terciptanya penemuan-penemuan baru yang disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

• Nilai bahwa manusia harus selalu berusaha untuk perbaikan hidup. Usaha merupakan keharusan bagi manusia dalam upaya memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas.

Usaha-usaha ini merupakan faktor terjadinya perubahan. Banyak faktor yang menghambat sebuah proses pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah. Menurut Soerjono Soekanto, ada delapan buah faktor yang menghalangi terjadinya perubahan sosial, yaitu: 1.

Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain. 2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat. 3. Sikap masyarakat yang mengagungkan tradisi masa lampau dan cenderung konservatif. 4.

Adanya kepentingan pribadi dan kelompok yang sudah tertanam kuat (vested interest). 5. Rasa takut terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan dan menimbulkan perubahan pada aspek-aspek tertentu dalam masyarakat. 6. Prasangka terhadap hal-hal baru atau asing, terutama yang berasal dari Barat. 7. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis. 8. Adat dan kebiasaan tertentu dalam masyarakat yang cenderung sukar diubah.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Penelitian Sosial: Pengertian, Definisi, Metode, Tujuan, Ciri Dan Unsurnya Proses Pendorong Perubahan Sosial Budaya 1. Pola-pola Perubahan: Beberapa Pandangan Antropologi Dalam kalangan antroplogi ada tiga pola yang dianggap sangat penting antara lain Evolusi, Difusi, dan Akulturasi. Landasannya adalah penemuan atau Inovasi. Penemuan paling menentukan dalam pertumbuhan kebudayaan dalam arti penemuan sesuatu secara etimologi menerima sesuatau yang baru.

Menurut Kroeber, kebutuhan dan kebetulan kecil sekali peranannya dalam menghasilkan penemuan. Sumber terbesarnya adalah permainan dorongan hati (impulse). Penemuan di bidang ilmu dan kesenian adalah hasil peningkatan penelitian pancaindera dan aktivitas rasa keindahan orang dewasa, yang menyerupai permainan dalam kehidupan anak kecil atau binatang mamalia.

Bahasan lebih rinci mengenai penemuan, dikemukakan oleh Barnett. Ia membicarakan penemuan sebagai sesuatu yang lumrah di kalangan manusia. Setiap individu pada dasarnya adalah penemu, meskipun kecenderungan dan kemampuan individu untuk menyimpang dari batas-batas normal penyimpangan yang dapat diterima adalah berbeda bahan yang digunakan oleh penemu atau tercipta berasal dari dua sumber, yakni kebudayaannya sendiri dan aspek-aspek pengalamannya sendiri yang tak dibuat-buat seperti sifat dan cirri-ciri pisik dan mentalnya sendiri.

Jadi baik faktor internal maupun eksternal membantu menerangkan perbedaan di kalangan individu berkenaan dengan aktivitas penemuan. Barnett sendiri memberikan tekanan khusus pada aspek psikologi dari penemuan dan memperlakukan suasana kebudayaan sebagai kerangka tempat berlakunya faktor psikologis. Hal penting untuk tujuan bahasan kita adalah pendapat Barnett, bahwa penemuan adalah dasar bagi perubahan kebudayaan.

2. Penemuan Baru/ Invention Istilah penemuan (baru) mengacu pada penemuan cara kerja, alat, atau prinsip baru oleh seorang individu, yang kemudian diterima (conventional) oleh orang-orang lain, sehingga hal tersebut menjadi milik bersama masyarakat (Haviland, 1988: 253). Istilah “penemuan” (invention), pada prinsipnya, dapat dibagi menjadi dua ketegori, yaitu: penemuan primer (primary invention) dan penemuan sekunder (seondary invention).

Penemuan primer adalah penemuan yang biasanya diperoleh secara kebetulan dan baru pertama kalinya, sedangkan penemuan sekunder adalah proses perbaikan dengan menerapkan prinsip-prinsip yang sudah diketahui melalui pengalaman. Penemuan primer lebih asli sifatnya, karena langsung dari sumbernya, sedangkan penemuan sekunder cenderung mangalami perubahan, perbaikan dan penyesuaian dengan lingkungannya, sehingga keasliannya tidak terjamin lagi.

Sebagai contoh penemuan alat penetak (kapak bermata batu di beberapa suku Papua) pada zaman batu, yang kemudian mengalami proses perubahan menjadi alat-alat pemotong yang terbuat dari bahan lainnya, seperti tulang binatang dan besi. Penyempurnaan bentuk dan fungsinya dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat pemakainya. Contoh lain, adalah penemuan proses pembakaran tanah liat dari lembek menjadi keras dan seterusnya.

Sangat memungkinkan, bahwa pada zaman dahulu kala pernah terjadi pembakaran tanah liat secara tidak disengaja, yang digunakan sebagai wadah untuk memasak sesuatu. Perlu saya jelaskan di sini, bahwa tidak semua kejadian secara kebetulan itu dapat dianggap sebagai suatu penemuan (invention), selama penemunya tidak mengetahui manfaat atau fungsi dari penemuannya tersebut.

Kira-kira 25.000 tahun yang lalu, orang menemukan adanya penerapan sistem pembakaran tanah liat yang dilakukan oleh manusia purba, karena beberapa artefak patung-patung kecil yang terbuat dari tanah liat yang dibakar, dapat ditemukan. Akan tetapi, apakah penemuan yang sama dapat terjadi di beberapa tempat, seperti di Timur Tengah, jawabannya adalah tidak, karena penggunaan wadah seperti itu belum mengakar di sana.

Nanti sekitar tahun 7.000 dan tahun 6.500 sebelum masehi, barulah penerapan pembakaran tanah liat di Timur Tengah mulai dikenal melalui pembuatan wadah-wadah dan bejana memasak yang tebuat dari tanah liat — yang murah, awet, dan mudah dibuat — ditemukan. Sebuah penemuan, seperti halnya dengan alat pentak dan tembikar di atas dapat berubah dari penemuan primer menjadi sekunder. Banyak bukti yang dapat kita temukan dari perubahan bentuk penggunaan tanah liat menjadi bentuk kentongan untuk menyimpan air, kendi untuk menyimpan air minum, belanga untuk memasak, piring tanah untuk makan dan sebagainya, yang mengalami perubahan bentuk sesuai dengan fungsinya.

Kegiatan pembuatan grabah di Banyumulek di Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), misalnya, merupakan salah satu bukti riel perubahan tersebut. Kendi atau kentongan yang dulunya difungsikan sebagai alat memasak atau wadah penyimpanan air, saat ini dijadikan sebagai cendera mata khas Lombok dengan sentuhan-sentuhan seni assesorisnya. Kendi atau kentongan tersebut dibungkus dengan menggunakan anyaman rotan kecil atau kadang-kadang diukir dan dibuat menyerupai guci yang berasal dari negeri cina.

Selain perubahan bentuk dan fungsi di atas, perubahan dan efesiensi proses pembuatannya pun juga ikut terjadi. Barang tembikar, misalnya, yang dibuat oleh masyarakat purba dengan menggunakan tangan dan/atau alat sederhana lainnya, sejalan dengan perkembangan waktu mengalami perubahan yaitu dengan menggunakan alat-alat tepat guna.

Para pengrajin gerabah waktu lampau melakukan pekerjaannya dengan mengaduk-aduk atau menginjak-injak tanah liat untuk membuat adonan, saat ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat pengaduk yang menggunakan mesin atau dinamo pemutar.

Para pengrajin tembikar pada waktu silam membuat tembikarnya dengan tanpa wadah dan harus berputar dari salah satu ke sisi lain, ketika membuat tembikarnya, kini dapat dilakukan dengan menggunakan sebuah meja putar, sehingga pembuatnya tidak perlu lagi mengelilingi tembikar buatannya.

Perlu juga saya kemukakan di sini, bahwa tidak tertutup kemungkinan proses perubahan dari penemuan primer ke penemuan sekunder dapat menimbulkan penemuan baru lainnya. Pembuatan tungku pembakaran tanah liat di Timur Tengah, misalnya, yang juga diterapkan ke dalam proses-proses lainnya, seperti pembakaran batu cadas menjadi kapur, peleburan biji tambang (ore) menjadi logam dan lain sebagainya, merupakan salah satu bukti penemuan lain tersebut.

Ketika, misalnya, pembakaran tanah liat di Timur Tengah manusia dikagetkan oleh temuan baru berupa kapur atau biji logam, maka ia berusaha membuat percobaan-percobaan khusus dengan membakar batu cadas dan tanah tambang yang dianggap mengandung logam.

Penemuan primer dapat mengakibatkan perubahan kebudayaan yang cepat dan merangsang penemuan-penemuan lain, seperti tergambar dalam contoh di atas. Hal ini disebakan oleh adanya sifat dinamis yang dimiliki kebudayaan, yang memungkinkan terjadinya penemuan-penemuan. Darwin, misalnya, dengan teori evolusinya menemukan sebuah bukti, yang menurutnya dapat membuktikan, bahwa manusia itu dalam perkembangan evolusi fisiknya berasal dari kera.

Temuan ini akhirnya menjadi kontrovesial hingga saat ini, karena temuan tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai, pola kebutuhan dan tujuan-tujuan masyarakat. Oleh karena itu, tidak salah apabila Benedict (1934) mengatakan, bahwa peluang penemuan untuk diterima (oleh masyarakat) sangat kecil, kalau penemuan tersebut tidak berhasil menyesuaikan diri dengan pola kebutuhan, nilai dan tujuan-tujuan yang sudah mapan di dalam masyarakat.

Faktor lain yang dapat menghambat penerimaan sebuah temua adalah kebiasaan (habit) masyarakat penerimanya. Dengan demikian, manusia pada umumny akan tetap berpegang pada kebiasaannya dan cenderung enggang menerima sesuatu yang baru, yang menurutnya tidak terlalu adapatif dalam menghadapi lingkungannya. Jadi, peluang besar sebuah penemuan untuk dapat diterima, apabila penemuan tersebut lebih baik daripada apa yang digantikannya. Selain itu, prestise dan status si penemu juga menentukan diterima atau kurang berterimanya suatu temuan.

Apabila temuan itu didapat oleh orang-orang yang berprestise atau berpengaruh, maka temuan tersebut cenderung cepat diterima, dibandingkan dengan penemu biasa atau orang-orang yang tidak berpengaruh atau ahli dalam bidangnya. 3. Evolusi Pemikiran evolusi kuno menurut garis lurus ini mengalami kemunduran di awala abad 20.

Pemikiran ini mendapat serangan hamper disemua perkara. Sebagian besar kritikan itu menyangkut perbedaan antara teori dan pengetahuan yang terhimpun mengenai masyarakat primitif.

Jika tak seluruhnya, kebanyakan teori evolusi ini didsarkan atas data yang tak memadai dan tak cermat, dan teoritisinya sendiri umumnya tidak melakukan penielitian lapangan yang intensif. Begitu pula, teori evolusi kuno cenderung meremehkan peranan kebudayaan pinjaman, dan antropolog baru cenderung melihat pinjaman kebudayaan ini sangat penting artinya. Pemikiran evolusi menurut garis lurus memperkuat sikap etnosentrisme dan menjurus kearah penghinaan kebudayaan masyarakat yang “kurang maju” Pemikiran evolusi baru, yang muncul setelah yang lama hancur karena serangan kritik mematikan itu, mengurangi mitos perkembangan kebudayaan menurut garis lurus.

Pemikiran evolusi baru ini merupakan upaya untuk mentesiskan pemikiran ahli evolusi kuno dan pemikiran ahli difusi dan fungsional, yang muncul kemudian. Pemikiran ahli difusi, menekankan sifat mobilitas berbagai unsur kebudayaan dan mencoba mengetahui bagaimana cara berbagai unsur yang membentuk satu kebudayaan tertentu menyatu bersama.

Pemikiran ahli teori fungsional menekankan pada saling ketergantungan unsur kebudayaan, hubungan masing-masing unsur menjadi satu keseluruhan yang penuh makna. Seperti pandangan fungsionalisme sosiologis, pandangan ini pun ternyata tak mampu menerangkan masalah perubahan secara memadai. Pemikiran evolusionisme baru, mencakup berbagai ide.

Beberapa ahli antropolog kontemporer, menyamakan evolusi dengan perubahan. Sedangkan yang lain membanyangkan evolusi sebagai pertumbuhan, perkambangan atau kemajuan. Wolf membangayangkan evolusi dalam arti perkembangan kumulatif baik kuantitatif maupun kualitatif. Aspek kuantitatif secara tersirat menyatakan tingkatan evolusi menurut skala numeric. Dengan demikian, kebudayaan dapat dibedakan tingkatannya, umpamanya menurut jumlah energi yang digunakan atau menurut cirri demografis, atau menurut intensitas komunikasi.

Aspek kualitatif berarti kemunculan-kemunculan komponen kebudayaan baru, yang memasukkan dan menyatukan komponen yang ada menurut cara baru. Sebagian besar penemuan merupakan penyatuan bagian-bagian yang telah ada sebelumnya menurut cara baru.

Negara adalah sebuah penemuan sosial yang menghasilkan perubahan kualitatif dalam organisasi kebudayaan. Perubahan kualitatif utamanya adalah terjadinya perubahan dari bagian-bagian kebudayaan yang sebelumnya tidak terspesialisasi menjadi kebudayaan yang berfungsi atas dasar bagian-bagian yang terspesialisasi. Artinya, perubahan dari masyarakat pemburu dan pengumpul makanan ke bentuk masyarakat yang lebih rumpil. Kebudayaan adalah proses yang bersifat simbolis, berkelanjutan, kumulatif, dan maju (progresif).

Kebudayaan adalah proses simbolis dalam arti bahwa manusia adalah simbol binatang (terutama binatang yang meggunakan bahasa). Berkelanjutan karena sifat simbolis kebudayaan memungkinkannya pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah dengan mudah diteruskan dari seorang individu ke individu yang lain dan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Akumulatif dalam arti unsur bar uterus-menerus ditambahkan kepada kebudayaan yang ada. Kebudayaan bersifat progresif dalam arti mencapai control yang semakin meningkat terhadap alam dan semakin menjamin kehidupan yang semakin baik bagi manusia. Dengan kata lain kebudayaan adalah fenomena yang menghasilkan sendiri, mencakup kehidupan individu dan karena itu dapat menjelaskan seluruh perilaku manusia 4. Difusi Meskipun minat terhadap evolusi hidup kembali, pendekatan lebih umum atas perubahan kebudayaan dipusatkan pada proses difusi atau akulturasi.

Kedua hal ini akan dibahas berikut ini. Jika dalam teori evolusi menjelaskan perubahan atau perkembangan kebudayaan dari bawah ke atas, maka difusi menjelaskan “perkembangan kebudayaan secara mendatar”.

Ide pokok dari teori difusionisme dalam antropologi mengatakan bahwa “terdapat transmisi atau peralihan atau pergeseran atau perpindahan dari suatu kebudayaan apakah sifatnya material, atau sebaliknya dari suatu kebudayaan ke-kebudayaan yang lain, dari orang ke orang, dari suatu tempat ke tempat yang lain”.

Berbeda sekali dengan asumsi evolusi bahwa “dinamika atau perkembangan kebudayaan itu dari bawah ke atas secara pelan-pelan”. Terdapat pendugaan-pendugaan atau perposisi atau asumsi-asumsi pokok dalam difusi yang bersifat ekstrim. Dalam difusi ada yang menganut aliran ekstrim dan ada yang sedikit moderat.

Aliran ekstrim mengatakan bahwa “umat manusia itu tidak berdaya cipta”, jadi sesuatu itu, budaya maupun sosial, hanya diciptakan sekali saja kemudian ditransmisikan dari suatu masyarakat ke masyarakat yang lain yang biasa melampaui pola secara global.

Ini bisa disebabkan oleh suatu transmisi antara produk-produk yang stabil yang dibawah oleh masyarakat-masyarakat yang berperadaban yang tinggi. Evolusi klasik mengasumsikan bahwa manusia itu punya kreasi untuk menciptakan sesuatu yang sama dengan yang diciptakan oleh generasi berikutnya melalui peningkatan disetiap tempat yang berbeda-beda. Jadi walaupun berbeda tempat tetapi bisa sama yang diciptakan misalnya perahu, di mana-mana namun tempatnya berbeda, dan dianggap suatu kebetulan, tetapi sebetulnya merupakan suatu perkembangan dari bawah ke atas, tetapi masing-masing punya daya menciptakan seperti itu.

Bukan karena adanya perpindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Kita telah membahas difusi sebagai proses yang menyebarkan penemuan (inovasi) keseluruh lapisan satu masyarakat atau kadalam suatu bagian atau dari satu masyarakat ke masyarakat lain.

Menurut pendekatan antropologi, difusi mengacu pada penyebaran unsur-unsur atau ciri-ciri satu kebudayaan ke kebudayaan lain. Tetapi beberapa antropolog memperdebatkan hal ini. Malinowski menyatakan, difusi takkan dapat dipelajari kecuali bila kita mengambil system organanisasi atau institusi sebagai unit-unit yang disebarkan ketimpang cirri-ciri atau kompleks cirri-ciri kebudayaan.

Defenisi yang lebih umum menegaskan bahwa difusi adalah penyebaran aspek tertentu dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain. Teori difusi muncul sebagai alternative bagi teori evolusi. Teoritisi difusi kuno telah membuat pernyataan yang sama berlebih-lebihannyadengan yang dibuat teoritisi evolusi kuno. 5. Akulturasi Akulturasi mengacu pada pengaruh satu kebudayaan terhadap kebudayaan lain Atau saling mempengaruhi antara dua kebudayaan, yang mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan.

Sebagaimana difusi, tak ada defenisi akulturasi yang memuaskan setiap antropolog. Defenisi diatas serupa dengan defenisi antropolog klasik Redfield, Linton, dan herkovits akulturasi meliputi fenomena yang dihasilkan sejak dua kelompok yang berbeda kebudayaannya mulai melakukan kontak langsung, yang diikuti perubahan pola kebudayaan asli salah satu atau kedua kelompok itu menurut defenisi ini, akulturasi hanyalah satu aspek saja dari perubahan kebudayaan.

Sedangkan difusi hanyalah satu aspek dari akulturasi. Begitu pila, difusi selalu terjadi dalam akulturasi, tetapi tak dapat terjadi tanpa berkelanjutanya kontak langsung yang di perlukan bagi akulturasi. Defenisi yang menjadi standar dalam perubahan kebudayaan adalah yang dirumuskan tahun 1945. Akulturasi didefenisikan sebagai “perubahan kebudayaan yang dimulai dengan berhubungannya dua sistem kebudayaan atau lebih masing-masing otonom yang menjadi unit analisis adalah setiap kebudayaan yang dimiliki masyarakat tertentu.

Individu anggota masyarakat itu jelas adalah pendukung kebudayaan, dan karena itu menjadi perantara yang menyebarkan kebudayaannya kepada individuyang berasal dari masyrakat lain. Dalam analisis akulturasi, individu yang mengubah kebiasaan berperilaku dan keyakinan asing, namun dikatakan adapt masyarakatnyalah yang mengalami akulturasi.

Menurut Haviland (1988: 263), bahwa proses akulturasi mendapat perhatian khusus dari para antropolog. Akulturasi terjadi bila kelompok-kelompok individu yang memiliki kebudayaan yang berbeda saling berhubungan secara langsung dan intensif, dengan timbulnya kemudian perubahan-perubahan besar pada pola kebudayaan dari salah satu atau kedua kebudayaan yang bersangkutan.

Di antara variabel-variabelnya yang banyak itu, termasuk tingkat perbedaan kebudayaan, keadaan, intensitas, frekuensi, dan semangat persaudaraan dalam hubungan-nya, maka terjadi dua kubu yaitu yang dominan dan yang tunduk, serta kemungkinan ada atau tidaknya saling pengaruh secara timbal balik dari kedua kebudayaan atau lebih yang melakukan kontak. Perlu saya jelaskan di sini, bahwa istilah akulturasi dan difusi kebudayaan merupakan dua bentuk pemakaian istilah yang bertolak belakang.

Akulturasi menurut Koentjaraningrat (2003: 7) adalah proses dimana para individu warga suatu masyarakat dihadapkan dengan pengaruh kebudayaan lain dan asing. Dalam proses itu sebagian mengambil alih secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu dan sebagian pula berusaha menolak pengaruh itu.

Sedangkan difusi kebudayaan (Koentjaraningrat, 2003: 41), di pihak lain, adalah persebaran unsur-unsur kebudayaan di muka bumi. Kalau persebaran itu merupakan akibat pengaruh suku bangsa yang satu pada suku bangsa yang lain, proses difusi itu disebut difusi meransang (stimulus diffusion) yaitu proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan akibat pengaruh gagasan yang menimbulkan unsur-unsur itu. Akibatnya, sebuah kebudayaan dapat mengambil anasir dari kebudayaan lain tanpa melalui akulturasi sama sekali Sebagai akibat dari salah satu atau sejumlah proses tersebut, akulturasi dapat tumbuh melalui beberapa jalur (Haviland, 1988: 263).

Percampuran atau asimilasi unsur-unsur budaya (cultural assimilations) dapat terjadi bila dua kebudayaan kehilangan identitas masing-masing dan menjadi satu kebudayaan baru. Inkorporasi (incorporation) terjadi kalau sebuah kebudayaan kehilangan otonominya, tetapi tetap mempunyai identitas sebagai subkultur, seperti kasta, kelas atau kelompok. etnis, seperti yang terjadi di beberapa daerah taklukan, yang umumnya menjadi budak dari penguasanya. Ekstinksi (extinction) atau kepunahan adalah gejala di mana sebuah kebudayaan kehilangan orang-orang yang menjadi anggotanya, sehingga tidak berfungsi lagi, dan kepunahan anggotanya karena mati atau bergabung dengan kebudayaan lain.

Dalam adaptasi dapat tumbuh sebuah struktur baru dalam keseimbangan yang dinamis. Perlu juga saya jelskan di sini, bahwa perubahan sebuah kebudayaan dapat berjalan terus, akan tetapi bentuk pertumbuhan bersama biasanya agak lamban. Haviland (1988: 264) memberikan contoh masyarakat Indian di bagian utara New England pasca terjadinya invasi dan kolonialisasi oleh orang-orang Inggris. Dari luar memang tampak, bahwa orang-orang Indian umumya berperilaku mirip dengan para kolonisnya, yang juga hidup bersama-sama dengan mereka.

Mereka, misalnya, senang memakai pakaian gaya Eropa, menggunakan alat-alat besi dan bukan alat-alat batu lagi, bertempur dengan menggunakan senapan atau senjata pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah dan tidak lagi menggunakan busur dan anak panah, menekankan cara patrilineal dalam warisan harta benda mengakui adanya perbedaan kedudukan (laki-laki dan perempuan), umumnya lancar mengunakan salah satu bahasa Eropa (Perancis), dan bahkan memeluk agama Kristen (Katolik).

Kebiasaan-kebiasaan sesuai adat-sitiadat orang Indian, seperti; berburu, menangkap ikan, menanam jagung, buncis, dan gambas, menggunakan kano dan sepatu salju, serta menghisap rokok sudah lama dijadikan kebiasaan kaum kolonis, sehingga hal tersebut tidak lagi menjadi ciri khas orang Indian. Dengan demikian, perbedaan antara orang Indian dan bukan Indian hampir tidak terlihat lagi, meskipun mereka tetap memelihara inti nilai-nilai (value cores) dan tradisi (customs) khusus sebagai milik mereka sendiri, dan inilah yang akan menjadi ciri pembeda satu-satunya bagi mereka.

Menurut Smith (1990: 1), bahwa istilah akulturasi telah digunakan sejak abad ke-19 untuk menggambarkan proses akomodasi dan perubahan yang terjadi di dalam kontak budaya. Akan tetapi, selama tahun 1930-an penggunaannya semakin meningkat, terutama oleh para antopolog Amerika Serikat yang tertarik di dalam studi perubahan kebudayaan dan perubahan sosial, serta pada problematika kerancuan sosial dan kemunduran budaya.

Mereka mendefinisikan akulturasi sebagai “fenomena-fenomena yang dihasilkan ketika sekelompok manusia yang berasal dari latar kebudayaan berbeda berada dalam kontak langsung, yang mengakibatkan perubahan secara sufisien dari kedua belah pihak. Memulai dari sebuah pola dasar kebudayaan (culutral baseline) pre-kontak, studi akulturasi kemudian berusaha mempelajari, menggambar-kan dan menganalisa proses perubahan.

Dalam aplikasinya, mereka lebih mengkonsentrasikan diri pada kontak antara masyarakat industri dengan masyarakat bersahaja (native population), dengan menekankan pengaruh satu arah dari yang lama hingga selanjutnya, seperti yang terimplikasi di dalam antropologi terapan (Applied Anthropology).

Mereka dibesarkan oleh terpaan kritikan, karena keterbukaannya pada proses pengembangan dan latar belakang kelompok kebudayaan dominan dan perubahan yang muncul di dalamnya sebagai hasil dari situasi politik baru, ekonomi dan bentuk sosial. Studi khusus dalam perspektif akultarasi termasuk di dalamnya mekanisme perubahan dan resistensi dalam melakukan perubahan, dan kreasi tipologi dari hasil sebuah perubahan, seperti: Asimilasi, reinter-pretasi, sinkeretisme, revitalisasi dan sebagainya.

Studi akulturasi akhir-akhir ini cenderung menghindari pem-bahasan yang berkenaan dengan pola kebudayaaan (cultural pattern) dan latar belakang analisis struktur dominasi sosial, ekonomi dan politik atau interaksi etnik dan strategi penggunaan elemen kebudayaan (cultural elements) dalam kontak kebudayaan yang sedang berlangsung.

Sebarkan ini: • • • • • Posting pada IPS, SMA Ditag 10 contoh kasus sosial budaya, apa yang dimaksud dengan perubahan budaya, bentuk interaksi sosial, Bentuk Interaksi Sosial Budaya, bentuk interaksi sosial menurut para ahli, bentuk-bentuk perubahan sosial budaya, berita perubahan sosial, budaya sunda di purwakarta, ciri ciri interaksi sosial, ciri ciri perubahan sosial, ciri ciri sosial budaya, Ciri dan Syarat Interaksi Sosial, ciri khas sosial budaya indonesia, contoh berita alam, contoh berita ekonomi, contoh berita politik, contoh interaksi sosial, contoh kelangsungan interaksi sosial budaya, contoh perubahan sosial budaya, contoh sistem budaya, contoh sosial budaya, di sekolah adalah interaksi di bidang, dimana kita harus melakukan interaksi, faktor interaksi sosial, faktor pendorong perubahan sosial budaya, faktor penyebab perubahan sosial budaya, Fungsi dan Wujud Budaya, gambar perubahan sosial budaya, implementasi sistem sosial budaya indonesia, Interaksi Antara Unsur Kebudayaan, interaksi menurut para ahli, Interaksi Sosial Dan Budaya, interaksi sosial individu dengan individu, interaksi sosial menurut para ahli, jelaskan definisi interaksi sosial (setidaknya menurut dua orang ahli), jelaskan pengertian interaksi budaya, jurnal pengertian sosial budaya, jurnal sosial budaya indonesia, jurnal tentang sosial budaya masyarakat, kasus sistem sosial budaya indonesia, kebudayaan khas purwakarta, kehidupan sosial budaya asean, kehidupan sosial budaya indonesia brainly, kehidupan sosial budaya malaysia, kewilayahan budaya adalah, kliping interaksi sosial, kontak sosial, kontak sosial adalah, Lingkungan Sosial Budaya, makalah interaksi sosial, makalah sistem sosial budaya indonesia, makalah sosial budaya, masalah budaya di indonesia, masalah sosial di bidang hukum, materi debat tentang sosial budaya, materi interaksi sosial kelas 5 sd, materi kuliah sistem sosial budaya indonesia, mengapa kita harus berinteraksi sosial, Menurut Para Ahli, pemerintah kabupaten purwakarta, pengertian aspek aspek budaya, pengertian interaksi sosial dan contohnya, pengertian interaksi sosial menurut bintarto, pengertian interaksi sosial menurut gillin, pengertian interaksi sosial menurut para ahli, pengertian interaksi sosial menurut para ahli dan contohnya, pengertian interaksi sosial menurut para ahli pdf, pengertian interaksi sosial menurut selo soemardjan, pengertian perubahan sosial budaya brainly, pengertian sistem sosial budaya menurut para ahli, pengertian sosial budaya brainly, pengertian sosial budaya menurut kbbi, pengertian sosial budaya pdf, perkembangan sistem sosial budaya di indonesia, permasalahan di bidang politik, pertanyaan sosial budaya, pertanyaan tentang interaksi sosial, perubahan budaya adalah, portofolio interaksi sosial, Proses Pendorong Perubahan Sosial Budaya, resume interaksi sosial, sebab sebab interaksi sosial, sebutkan ciri-ciri interaksi sosial, sebutkan ciri-ciri perubahan secara evolusi, sebutkan dan jelaskan syarat hubungan sosial, sosial budaya malaysia, sosial budaya purwakarta, syarat syarat terjadinya interaksi sosial, tugas 1 sistem sosial budaya indonesia, tujuan interaksi sosial, tujuan sosial budaya, tuliskan macam-macam interaksi sosial, wisata rumah adat sunda Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Pengertian Sistem Regulasi Pada Manusia Beserta Macam-Macamnya • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh • Higgs domino apk versi 1.80 Terbaru 2022 • Pengertian Gizi – Sejarah, Perkembangan, Pengelompokan, Makro, Mikro, Ruang Lingkup, Cabang Ilmu, Para Ahli • Proses Pembentukan Urine – Faktor, Filtrasi, Reabsorbsi, Augmentasi, Nefron, zat Sisa • Peranan Tumbuhan – Pengertian, Manfaat, Obat, Membersihkan, Melindungi, Bahan Baku, Pemanasan Global • Diksi ( Pilihan Kata ) Pengertian Dan ( Fungsi – Syarat – Contoh ) • Penjelasan Sistem Ekskresi Pada Manusia Secara Lengkap • Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com Pelbagai Simbol untuk agama Agama ( Tulisan Jawi: اڬام) pada lazimnya bermakna kepercayaan kepada Tuhan, atau sesuatu kuasa yang ghaib dan sakti seperti Allah, dan juga amalan dan institusi yang berkait dengan kepercayaan tersebut.

Agama dan kepercayaan merupakan dua pekara yang sangat berkaitan. Tetapi Agama mempunyai makna yang lebih luas, yakni merujuk kepada satu sistem kepercayaan yang kohesif, dan kepercayaan ini adalah mengenai aspek ketuhanan. Kepercayaan yang hanya melibatkan seorang individu lazimnya tidak dianggap sebagai sebuah agama. Sebaliknya, agama haruslah melibatkan sebuah komuniti manusia. Daripada itu, Agama adalah fenomena masyarakat boleh dikesan melalui fenomena seperti yang berikut: • Perlakuan seperti sembahyang, membuat sajian, perayaan dan upacara.

• Sikap seperti sikap hormat, kasih ataupun takut kepada kuasa luar biasa dan anggapan suci dan bersih terhadap agama. • Pernyataan seperti jampi,mantera dan kalimat suci. • Benda-benda material yang zahir seperti bangunan.Contohnya masjid, gereja, azimat dan tangkal. Salah satu lagi ciri agama ialah ia berkaitan dengan tatasusila masyarakat. Ini bermakna agama bukan sahaja merupakan soal perhubungan antara manusia dengan tuhan, malah merupakan soal hubungan manusia dengan manusia.

Ciri-ciri ini lebih menonjol di dalam agama universal, daripada agama folk. "Lihat di dalam hak asasi manusia" Manusia tidak mempercayai adanya tuhan dan menolak semua kepercayaan beragama pula dipanggil ateism Isi kandungan • 1 Peristilahan dan pentakrifan • 2 Jenis agama • 2.1 Dari segi penyebaran • 2.2 Dari segi sumber rujukan • 2.3 Dari pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah tanggapan ketuhanan • 3 Fungsi Agama Kepada Manusia • 4 Senarai agama • 4.1 Jenis-jenis Kristian • 5 Lihat juga • 6 Rujukan Peristilahan dan pentakrifan [ sunting - sunting sumber ] Kata agama menyerap kata bahasa Sanskrit āgama (आगम) yang bererti "tradisi", [1] [2] ia pada dasarnya datang dari kata kerja dasar गम gāma bermaksud "pergi" ( to go) dan आ (ā-) "menuju" ( toward) lalu merujuk kepada "karya suci" [1] "yang diturunkan" ( that which has come down).

[3] Kamus Besar Bahasa Indonesia mentakrifkan "agama" adalah "sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya". Kamus Dewan pula mentakrifkan "agama" sebagai "kepercayaan pada Tuhan", "sifat-sifat serta kekuasaan"-Nya serta "penerimaan ajaran dan perintah-Nya". Jenis agama [ sunting - sunting sumber ] Agama boleh dibahagi kepada beberapa jenis menurut kategori tertentu.

Orang ramai biasanya menjeniskan agama kepada agama yang sahih dan agama sesat. Penjenisan mudah ini adalah subjektif, malah boleh mendatangkan perasaan tidak puas hati dalam masyarakat yang berbilang kaum dan agama. Dengan itu, agama haruslah dijeniskan berdasarkan kategori yang zahir. Dari segi penyebaran [ sunting - sunting sumber ] Dari segi penyebarannya,sesuatu agama boleh dibahagi kepada dua jenis iaitu: • Agama Sejagat merupakan agama-agama yang "besar" dan mempunyai minat untuk menyebarkan ajaran untuk keseluruhan umat Manusia.

Sasaran agama jenis ini adalah kesemua manusia tanpa mengira kaum dan bangsa. Contohnya: agama Islam, Kristian dan Buddha. • Agama Rakyat merupakan agama yang kecil dan tidak mempunyai sifat dakwah seperti agama sejagat. Amalannya hanya terhad kepada bangsa tertentu. Contohnya: Agama Rakyat China/ Taoisme dan agama Sikh.

Dari segi sumber rujukan [ sunting - sunting sumber ] Semua agama menganggap ajarannya kudus. Kekudusan itu berpunca daripada satu sumber yang kudus juga. Dari segi sumber, agama-agama di dunia boleh dibahagi kepada dua jenis: • Agama Bersumberkan wahyu. Merujukkan agama yang menuntut dirinya sebagai agama yang diturunkan daripada Tuhan sendiri. Penurunan ini biasanya melalui seorang Rasul. Daripada itu, agama yang berkenaan menganggap ajarannya adalah kebenaran yang muktamad.

Contohnya: agama Yahudi, Kristian dan Islam. • Agama Budaya. merujuk kepada agama yang tidak menuntut kepada sumber wahyu. Agama ini mengabsahkan dirinya dengan merujuk kepada pelbagai sumber seperti pembuktian, adat, falsafah dan sebagainya. Contohnya: agama Buddha dan Hindu. Dari segi tanggapan ketuhanan [ sunting - sunting sumber ] Agama-agama yang berbeza mempunyai pandangan yang berbeza mengenai Tuhan.

Perbezaan ini mungkin dari segi nama Tuhan dan sifat Tuhan. Secara amnya, agama menurut penjenisan ini dapat dibahagi kepada 2 jenis. • Agama Monoteisme merupakan agama yang menganggap Tuhan hanya satu, yakni mendukung konsep kewahidan Tuhan.

Contohnya, agama Islam. • Agama Politeisme merupakan agama yang menganggap bahawa Tuhan wujud secara berbilangan, yakni ada banyak Tuhan atau Tuhan boleh berpecah kepada banyak bentuk. Contohnya, agama Hindu, Agama Rakyat China.

Fungsi Agama Kepada Manusia [ sunting - sunting sumber ] Dari segi pragmatisme, seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan oleh fungsinya. Bagi kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk pelindung kebahagiaan hidup. Tetapi dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa yang dihuraikan di bawah: • Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia.

Agama dikatankan memberi pandangan dunia kepada manusia kerana ia sentiasanya memberi penerangan mengenai dunia(sebagai satu keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam dunia. Penerangan bagi pekara ini sebenarnya sukar dicapai melalui inderia manusia, melainkan sedikit penerangan daripada falsafah.

Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahawa dunia adalah ciptaan Allah(s.w.t) dan setiap manusia harus menaati Allah(s.w.t). • Menjawab pelbagai soalan yang tidak mampu dijawab oleh manusia.

Sesetangah soalan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan soalan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya soalan kehidupan selepas mati, matlamat hidup, soal nasib dan sebagainya. Bagi kebanyakan manusia, soalan-soalan ini adalah menarik dan untuk menjawabnya adalah perlu.

Maka, agama itulah digunakan untuk menjawab soalan-soalan ini. • Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia. Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia.

Ini adalah kerana sistem agama menimbulkan keseragaman bukan sahaja kepercayaan yang sama, malah tingkah laku, pandangan dunia dan nilai yang sama. • Bertugas sebagai kawalan rakyat. Kebanyakan agama di dunia adalah menyaran kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendiri sebenarnya telah menggariskan kod etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka ini dikatakan bahawa agama bertugas sebagai kawalan rakyat.

Senarai agama [ sunting - sunting sumber ] • Islam • Sunni • Syiah • Ahmadiyyah • Khawarij • Kesufian • Muslim non-denominasi • Quranisme • Muktazilah • Murjiah • Qadariyah • Jabariyah • Duruzi • Syahadatain • Hindu • Vaishnavisme • Saivisme • Shaktisme • Tradisi Smarta • Buddha • Buddha Theravada • Buddha Mahayana • Agama rakyat Cina • Agama tradisi Afrika • Sikhisme • Yahudi • Ayyavali • Agama Bahá'í • Jainisme • Animisme • Shinto Jenis-jenis Kristian [ sunting - pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah sumber ] • Kristian • Mormonisme • Gereja Jesus Christ Orang Suci Akhir Zaman • Saksi Jehovah • Anglikanisme • Methodisme • Presbyterianisme • Luteranisme • Baptis • Masehi Adven Hari Ketujuh • Kalvinisme • Gereja Anglikan Ortodoks • Gereja Anglikan di Amerika Utara • Gereja Episkopal Kristian • Gereja Katolik Anglikan • Kommunion Anglikan • Gereja Anglikan Amerika Tengah • Gereja Anglikan Australia • Gereja Anglikan Bermuda • Gereja Anglikan Burundi • Gereja Anglikan di Aotearoa, New Zealand dan Polynesia • Gereja Anglikan Jepun • Gereja Anglikan Kanada • Gereja Anglikan Kenya • Gereja Anglikan Kon Selatan Amerika • Gereja Anglikan Kongo • Gereja Anglikan Korea • Gereja Anglikan Mexico • Gereja Anglikan Papua New Guinea • Gereja Anglikan Rwanda • Gereja Anglikan Selatan Afrika • Gereja Anglikan Tanzania • Gereja Bebas Filipina • Gereja Ceylon • Gereja di Wilayah Hindia Barat • Gereja England • Gereja Episkopal (Amerika Syarikat) • Gereja Episkopal Anglikan Brazil • Gereja Episkopal Cuba • Gereja Episkopal di Baitul Maqdis dan Timur Tengah • Gereja Episkopal "Reformed" Sepanyol • Gereja Episkopal Scottish • Gereja Episkopal Sudan • Gereja Evangelikal Apostolik Katolik Lusitania • Gereja Ireland • Gereja Nigeria • Gereja Uganda • Gereja Wales • Gereja Wilayah Afrika Barat • Gereja Wilayah Afrika Tengah • Gereja Wilayah Asia Tenggara • Gereja Wilayah Lautan Hindi • Gereja Wilayah Melanesia • Gereja Wilayah Myanmar • Hong Kong Sheng Kung Hui • Misi-Misi Anglikan di Amerika • Perikatan Anglikan Kanada • Gereja Roman Katolik • Gereja Apostolik Baru • Gereja Roman Katolik • Aliran Albania • Aliran Armenia • Aliran Bulgaria • Aliran Croatia • Aliran Kaldani • Aliran Latin • Aliran Marouni • Aliran Melkite • Aliran Romania • Aliran Slovak • Aliran Syria • Aliran Ukraine • Aliran Yunani • Ordinari Untuk Pengikut Pelbagai Gereja-Gereja Katolik Timur • Katolik Lama • Gereja Katolik Kebangsaan Poland • Katolik Liberal • Gereja Katolik Liberal • Kristian Bebas • Kristian Zionis Afrika • Gereja Kristian Zion • Yahudi Pengikut Al Masih • Kesatuan Perhimpunan-Perhimpunan Nasrani Bani Israel • Kesatuan Perhimpunan-Perhimpunan Yahudi Pengikut Al Masih • Ministri Bangsa Pilihan Tuhan • Ministri Kalam Al Masih • Pakatan Yahudi Pengikut Al Masih Bersatu • Perhimpunan Yahudi Pengikut Al Masih Beth Shalom • Persatuan Perhimpunan-Perhimpunan Al Masih • Persatuan Saksi-Saksi Jesus Al Masih Sedunia • Persekutuan Antarabangsa Yahudi Pengikut Al Masih • Gereja Ortodoks Timur • Gereja Apostolik Armenia • Holy See di Cilicia • Mother See di Holy Etchmiadzin • Gereja Assyria Kuno Timur • Gereja Katolik Ortodoks Amerika • Gereja Kuno Timur • Gereja Ortodoks Abkhazia • Gereja Ortodoks Afrika • Gereja Ortodoks Arab • Gereja Ortodoks Yunani • Gereja Cyprus • Gereja Ortodoks Yunani di Antioch • Gereja Ortodoks Yunani di Baitul Maqdis • Gereja Ortodoks Yunani di Iskandariyah • Gereja Yunani • Patriarchate Ekumenikal Yunani Instanbul • Protestan • Adelphi • Christadelphian Ecclesias • Adventis • Gereja Adventis Hari Ketujuh • Gereja Janji Adventis • Gereja Reform Adventis Hari Ketujuh • Gereja Tuhan (Hari Ketujuh) • Persidangan Umum Gereja Adventis Hari Ketujuh • Baptis • Kalvinisme/ Presbiterian • Gereja Reform Perancis • Gereja Scotland Lihat juga [ sunting - sunting sumber ] • Agama mengikut negara • Ateisme • Makhluk halus • Kepercayaan • Senarai agama Rujukan [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b Monier-Williams, Monier (1981).

A Sanskrit-English Dictionary. Delhi, Varanasi, Patna: Motilal Banarsidass. m/s. 129. - melalui Edi Sedyawati dkk. (1994). Kosakata Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Melayu Masa Kini (PDF). Jakarta, Indonesia: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

m/s. 10. ISBN 979-459-416-4. [ pautan mati kekal] • ^ Menurut kamus Sanskerta-Inggeris Monier-Williams (cetakan pertama tahun 1899) pada entri āgama: .a traditional doctrine or precept, collection of such doctrines, sacred work [.]; anything handed down and fixed by tradition (as the reading of a text or a record, title deed, &c.) • ^ Grimes, John A.

(1996). A Concise Dictionary of Indian Philosophy: Sanskrit Terms Defined in English. State University of New York Press. ISBN 978-0-7914-3068-2. LCCN 96012383. pages 16–17 Kategori-kategori tersembunyi: • Semua rencana dengan pautan luar mati • Rencana dengan pautan luar mati dari Ogos 2021 • Rencana dengan pautan luar mati kekal • Rencana Wikipedia dengan pengenalan BNE • Rencana Wikipedia dengan pengenalan BNF • Rencana Wikipedia dengan pengenalan GND • Rencana Wikipedia dengan pengenalan LCCN • Rencana Wikipedia dengan pengenalan NARA • Rencana Wikipedia dengan pengenalan NDL • Acèh • Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • Аԥсшәа • العربية • Aragonés • ܐܪܡܝܐ • Armãneashti • Arpetan • অসমীয়া • Asturianu • Avañe'ẽ • Aymar aru • Azərbaycanca • تۆرکجه • Bahasa Indonesia • Bamanankan • বাংলা • Banjar • Bân-lâm-gú • Basa Banyumasan • Башҡортса • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Madhurâ • Bikol Central • Boarisch • བོད་ཡིག • Bosanski • Brezhoneg • Български • Буряад • Català • Cebuano • Чӑвашла • Čeština • ChiShona • Corsu • Cymraeg • Dansk • Deutsch • डोटेली • Eesti • Ελληνικά • English • Эрзянь • Español • Esperanto • Estremeñu • Euskara • فارسی • Fiji Hindi • Føroyskt • Français • Frysk • Furlan • Gaeilge • Gaelg • Gagauz • Gàidhlig • Galego • ГӀалгӀай • 贛語 • गोंयची कोंकणी / Gõychi Konknni • 客家語/Hak-kâ-ngî • 한국어 • Hausa • Հայերեն • हिन्दी • Hrvatski • Ido • Ilokano • বিষ্ণুপ্রিয়া মণিপুরী • Interlingua • Interlingue • Ирон • IsiZulu • Íslenska • Italiano • עברית • Jawa • Kalaallisut • ಕನ್ನಡ • Kapampangan • ქართული • कॉशुर / کٲشُر • Kaszëbsczi • Қазақша • Kernowek • Кыргызча • Kiswahili • Kongo • Kotava • Kreyòl ayisyen • Kriyòl gwiyannen • Kurdî • Ladin • Ladino • Лакку • ລາວ • Latina • Latviešu • Lëtzebuergesch • Лезги • Lietuvių • Ligure • Limburgs • Lingála • Lingua Franca Nova • Livvinkarjala • La .lojban.

• Lombard • Magyar • Македонски • Malagasy • മലയാളം • Malti • मराठी • მარგალური • مصرى • مازِرونی • Minangkabau • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • Mirandés • Монгол • မြန်မာဘာသာ • Nāhuatl • Nederlands pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah Nedersaksies • नेपाली • नेपाल भाषा • 日本語 • Napulitano • Нохчийн • Nordfriisk • Norfuk / Pitkern • Norsk bokmål • Norsk nynorsk • Nouormand • Novial • Occitan • ଓଡ଼ିଆ • Oromoo • Oʻzbekcha/ўзбекча • ਪੰਜਾਬੀ • पालि • پنجابی • Papiamentu • پښتو • Patois • ភាសាខ្មែរ • ဘာသာ မန် • Piemontèis • Plattdüütsch • Polski • Português • Qaraqalpaqsha • Qırımtatarca • Română • Rumantsch • Runa Simi • Русиньскый • Русский • Саха тыла • संस्कृतम् • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sardu • Scots • Seeltersk • Sesotho sa Leboa • Shqip • Sicilianu • සිංහල • Simple English • سنڌي • SiSwati • Slovenčina • Slovenščina • Ślůnski • Soomaaliga • کوردی • Српски / srpski • Srpskohrvatski / српскохрватски • Sunda • Suomi • Svenska • Tagalog • தமிழ் • Taclḥit • Taqbaylit • Татарча/tatarça • తెలుగు • ไทย • Tiếng Việt • ትግርኛ • Тоҷикӣ • Tok Pisin • Türkçe • Türkmençe • Українська • اردو • ئۇيغۇرچە / Uyghurche • Vèneto • Vepsän kel’ • Volapük • Võro • Walon • 文言 • Winaray • 吴语 • Xitsonga • ייִדיש • Yorùbá • 粵語 • Zazaki • Zeêuws • Žemaitėška • 中文 Sunting pautan • Laman ini kali terakhir disunting pada 11:19, 21 Mac 2022.

• Teks disediakan dengan Lesen Creative Commons Pengiktirafan/Perkongsian Serupa; terma tambahan mungkin digunakan. Lihat Terma Penggunaan untuk butiran lanjut.

• Dasar privasi • Perihal Wikipedia • Penafian • Paparan mudah alih • Pembangun • Statistik • Kenyataan kuki • •
MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) 8.3.

Sebarkan ini: Budaya merupakan cara hidup yang berkembang, serta dimiliki bersama oleh kelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya ini terbentuk dari berbagai unsur yang rumit, termasuk sitem agama dan politik, adat istiadat, perkakas, bahasa, bangunan, pakaian, serta karya seni. Bahasa sebagaimana juga sebuah budaya, adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dari manusia sehingga kebanyakan manusia lebih cenderung menganggap sebagai sebuah warisan secara genetis.

Saat orang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya, serta lebih menyesuaikan perbedaannya, dan membbuktikan bahwa budaya itu dapat dipelajari. Budaya merupakan pola hidup yang menyeluruh. budaya memiliki sifat yang kompleks, abstrak, serta luas. Bebagai budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur sosial-budaya ini tersebar, serta meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Baca Juga : Sosial Budaya Pengertian Budaya Menurut Para Ahli • Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski, mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.

Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. • Herskovits, memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. • Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah, tambahan lagi segala pernyataan intelektual, dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

• Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

• Menurut Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Bermacam definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan merupakan sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan, serta meliputi sistem ide atau sebuah gagasan yang ada dalam pikiran seorang manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

Sedangkan suatu perwujudan kebudayaan merupakan benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, yang berupa prilaku, serta benda-benda yang bersifat nyata, sebagai contoh pola perilaku, peralatan hidup, bahasa, organisasi sosial, seni, religi, dsb, yang semuanya yang keseluruhannya ditujukan untuk membantu manusiad dalam melangsungkan kehidupan dalam bermasyarakat.

Unsur-Unsur Budaya b. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi: • Sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya • Organisasi ekonomi • Alat-alat, dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama) • Organisasi kekuatan (politik) Baca Juga ; Pengertian Sistem Sosial Budaya Indonesia Menurut Para Ahli Budaya c.

C. Kluckhohn mengemukakan ada 7 unsur kebudayaan secara universal (universal categories of culture) yaitu: • Bahasa • Sistem pengetahuan • Sistem tekhnologi, dan peralatan • Sistem kesenian • Sistem mata pencarian hidup • Sistem religi • Sistem kekerabatan, dan organisasi kemasyarakatan Macam Macam Kebudayaan Di Indonesia Budaya Indonesia dalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan local, maupun kebudayaan asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945.

• Kebudayaan Nasional Definisi kebudayaan nasionalmenurut TAP MPR No.11 tahun 1998 yakni: “Kebudayaan nasional yang berdasarkan pancasila adalah perwujudan cipta,karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap kehidupan bangsa.

Dengan demikian pembangunan yang berbudaya.” Disebut juga pada pasal selanjutnya bahwa kebudayaan nasional juga mencerminkan nilai- nilai luhur bangsa. Tampaklah bahwa kebudayaan nasional yang dirumuskan oleh pemerintah berorientasi pada pembangunan nasional yang dilandasi oleh semangat pancasila.

• Kebudayaan Lokal Budaya local sering disebut juga sebagai kebudayaan daerah. Menurut parsudi suparlan ada 3 macam kebudayaan dalam Indonesia yang majemuk, yaitu : • Kebudayaan nasional Indonesia yang berlandasan pancasila dan UUD 1945. • Kebudayaan suku bangsa, terwujud pada kebudayaan suku bangsa dan menjadi unsur pendukung bagi lestarinya kebudayaan suku bangsa tesebut. • Kebudayaan umum likal yang berfungsi dalam pergaulan umum( ekonomi, politik, social, dan emosional ) yang berlaku dalam local local di daerah.

Jenis Budaya • Budaya kebendaan Budaya yang bersifat fizikal atau material yang boleh dilihat dengan jelas seperti bentuk rumah, jenis makanan, dan bentuk bangunan.

• Budaya bukan kebendaan Budaya jenis ini ialah idea, pandangan, kepercayaan, adat resam dan sebagainya. Budaya seperti ini tidak boleh dilihat dengan mata kasar. Ianya akan hanya difahami apabila berada di dalam masyarakat tersebut dalam satu jangka waktu yang panjang. Baca Juga : Pengertian Interaksi Sosial Dan Budaya Komponen Budaya • Melibatkan idea manusia yang lebih empirikal. • Segala jenis maklumat dan idea tentang persekitaran semulajadi dan persekitaran ciptaan manusia termasuk di bawah pengetahuan.

• Masyarakat memburu dan mengumpul misalnya memiliki segala jenis pengetahuan tentang alam semulajadi kerana ianya perlu untuk hidup. • Masyarakat pertanian pula memiliki segala jenis pengetahuan tentang pertanian kerana mereka hidup dengan pertanian. Pengaruh Faktor Budaya Dalam Berkomunikasi Komunikasi pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya masyarakat penuturnya karena selain merupakan fenomena sosial, komunikasi juga merupakan fenomena budaya.

pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah

Sebagai fenomena sosial, bahasa merupakan suatu bentuk perilaku sosial yang digunakan sebagai sarana komunikasi dengan melibatkan sekurang-kurangnya dua orang peserta. Oleh karena itu, berbagai faktor sosial yang berlaku dalam komunikasi, seperti hubungan peran di antara peserta komunikasi, tempat komunikasi berlangsung, tujuan komunikasi, situasi komunikasi, status sosial, pendidikan, usia, dan jenis kelamin peserta komunikasi, juga berpengaruh dalam penggunaan bahasa.

Sementara itu, sebagai fenomena budaya, komunikasi selain merupakan salah satu unsur budaya, juga merupakan sarana untuk mengekspresikan nilai-nilai budaya masyarakat penuturnya. Atas dasar itu, pemahaman terhadap unsur-unsur budaya suatu masyarakat–di samping terhadap berbagai unsur sosial yang telah disebutkan di atas–merupakan hal yang sangat penting dalam mempelajari suatu komunikasi.

Hal yang sama berlaku pula bagi komunikasin di Indonesia. Oleh karena itu, mempelajari bahasa Indonesia–lebih-lebih lagi bagi para penutur asing–berarti pula mempelajari dan menghayati perilaku dan tata nilai sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat Indonesia. Kenyataan tersebut mengisyaratkan bahwa dalam pengajaran komunikasi, sudah semestinya pengajar tidak terjebak pada pengutamaan materi yang berkenaan dengan aspek-aspek kebahasaan semata, tanpa melibatkan berbagai aspek sosial budaya yang melatari penggunaan bahasa.

Dalam hal ini, jika pengajaran bahasa itu hanya dititikberatkan pada penguasaan aspek-aspek kebahasaan semata, pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah tentu hanya akan melahirkan siswa yang mampu menguasai materi, tetapi tidak mampu berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya. Pengajaran bahasa yang demikian tentu tidak dapat dikatakan berhasil, lebih-lebih jika diukur dengan pendekatan komunikatif. Dengan perkataan lain, kemampuan berkomunikasi secara baik dan benar itu mensyaratkan adanya penguasaan terhadap aspek-aspek kebahasaan dan juga pengetahuan terhadap aspek-aspek sosial budaya yang menjadi konteks penggunaan komunikasi.

Baca Juga : Keanekaragaman Dan Perubahan Sosial Budaya Fungsi Faktor Budaya Dalam Berkomunikasi • Fungsi pribadi Fungsi pribadi adalah fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui komunikasi yang bersumber dari seorang individu, antara lain untuk : 1. Menyatakan identitas sosial Dalam komunikasi,budaya dapat menunjukkan beberapa perilaku komunikan yang digunakan untuk menyatakan identitas diri maupun identitas sosial.

2. Menyatakan integrasi sosial Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antar pribadi dan, antar kelompok namun tetap menghargai perbedaanperbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur.

perlu dipahami bahwa salah satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna yang sama atas pesan yang dibagi antara komunikator dan komunikan. 3. Menambah pengetahuan Sering kali komunikasia antar bribadi maupun antar budaya dapat menambah pengetahuan bersama ,dan adanya saling mempelajari kubudayaan masing masing antara komunikator dan komunikan.

4. Melepaskan diri / jalan keluar Hal yang sering kita lakukan dalam berkomunikasi dengan orang lain adalah untuk melepaskan diri atau mencari jalan keluar atas masalah yang sedang kita hadapi. • Fungsi sosial Fungsi sosial adalah fungsi-fungsi komunikasi yang bersumber dari faktor budaya yang ditunjukkan melalui prilaku komunikasi yang bersumber dari interaksi sosial,diantaranya berfunsi sebagai berikut : 1.

Pengawasan Praktek komunikasi antar budaya di antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antar budaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan “ perkembangan “ tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang menyebarluaskan secara rutin perkembangan peristiwa yang terjadi di sekitar kita meskipun peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks kebudayaan yang berbeda.

Akibatnya adalah kita turut mengawasi perkembangan sebuah peristiwa dan berusaha mawas diri seandainya peristiwa itu terjadi pula dalam lingkungan pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah. Baca juga : 2. Menjembatani Dalam proses komunikasi antar pribadi, termasuk komunikasi antar budaya ,maka fungsi komunikasi yang dilakukan antar dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan diantara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan.,keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama.

3. Sosialisasi nilai Fungsi sosialisasi merupkan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai nilai kebudayaan suatu masyarakat ke masyarakat lain. Dalam komunikasi antar budaya seringkali tampil perilaku non verbal yang kurang dipahami namun yang lebih penting daripadanya adalah bagaimana kita menangkap nilai yang terkandung dalam gerakan tubuh ,gerakan imaginer dari tarian tarian tersebut.

4. Menghibur Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses komunikasi antar budaya. American fun yang sering ditampilkan TVRI memberikan gambaran tentang bagaimana orang orang sibuk memanfaatkan waktu luang untuk mengunjungi teater dan menikmati suatu pertunjukan humor.

Demikianlah artikel dari gurupendidikan.co.id mengenai Pengertian Budaya : Definisi, Unsur, Macam, Jenis, Komponen, Pengaruh Beserta Fungsinya, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya. Sebarkan ini: • • • • • Posting pada IPS, Kewarganegaraan, S1, Sejarah, SMA Ditag 10 contoh kebudayaan, 10 fungsi budaya, 10 Pengertian Dan Tujuan Penelitian, 3 wujud kebudayaan dan contohnya, 7 unsur kebudayaan papua, apa itu seni budaya, aspek kebudayaan, berikut merupakan hakikat kebudayaan, budaya kbbi, budaya lokal umumnya bersifat, budaya meletakkan dirinya lewat simbol adalah, ciri ciri budaya, ciri khusus kebudayaan fisik adalah, ciri-ciri budaya indonesia, contoh budaya bahasa, contoh budaya dari segi difusi, contoh dari culture, contoh kebudayaan, contoh persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan, Definisi Budaya, definisi budaya menurut beberapa ahli, ekspresi seni dalam budaya masyarakat, ekspresi seni dalam kehidupan masyarakat, faktor budaya, fungsi budaya, fungsi budaya brainly, fungsi kebudayaan secara umum adalah, hakikat kebudayaan, jelaskan 7 ciri-ciri budaya, jelaskan fungsi kebudayaan dalam masyarakat, jelaskan maksud aktivitas dalam wujud budaya, jelaskan pengertian budaya menurut sansekerta, jelaskan perbedaan seni dengan budaya, jelaskan unsur budaya sistem bahasa, jelaskan wujud budaya, jenis jenis budaya, jurnal pengertian kebudayaan pdf, jurnal unsur-unsur kebudayaan, karakteristik kebudayaan, kebudayaan adl, ketiga wujud kebudayaan adalah, Keyword, konsep budaya, konsep budaya pdf, macam macam budaya, macam macam wujud dari budaya, macam-macam konsep budaya, makalah konsep kebudayaan, manfaat budaya, nilai budaya memiliki sifat yang, pengaruh budaya menurut para ahli, pengertian budaya, pengertian budaya brainly, pengertian budaya menurut cicero brainly, pengertian budaya menurut edward s casey, pengertian budaya menurut kbbi, pengertian budaya menurut ki hajar dewantara, Pengertian Budaya Menurut Para Ahli, pengertian budaya menurut para ahli brainly, pengertian budaya secara umum, pengertian kebudayaan brainly, pengertian kebudayaan menurut para ahli, pengertian seni budaya, pengertian unsur budaya, perbedaan budaya dan kebudayaan, pertanyaan tentang unsur kebudayaan, ragam budaya daerah, sebutkan 4 bidang seni yang ada di indonesia, sebutkan 4 contoh kebudayaan materi, sebutkan 4 unsur pokok kebudayaan, sebutkan 7 kebudayaan indonesia, sebutkan ciri-ciri kebudayaan daerah, sebutkan komponen-komponen kebudayaan, sebutkan teori kebudayaan, seni budaya adalah, sifat budaya adalah, sifat kebudayaan, sistem religi dikenal juga sebagai, soal tentang unsur-unsur kebudayaan, terangkan pengertian akulturasi, terjadinya budaya, tuliskan ciri pasar persaingan sempurna, tuliskan macam kebudayaan, tuliskan pengertian seni budaya, unsur budaya nama keterangan, unsur budaya nama keterangan tema 7 kelas 5, unsur kebudayaan menurut kluckhohn, unsur unsur budaya brainly, unsur unsur kebudayaan, Unsur-Unsur Budaya, unsur-unsur kebudayaan melayu, unsur-unsur kebudayaan menurut para ahli, unsur-unsur konsep seni, upacara adalah, wujud kebudayaan, wujud kebudayaan ada 3 sebutkan dan jelaskan, wujud kebudayaan terbagi Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Pengertian Sistem Regulasi Pada Manusia Beserta Macam-Macamnya • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh • Higgs domino apk versi 1.80 Terbaru 2022 • Pengertian Gizi – Sejarah, Perkembangan, Pengelompokan, Makro, Mikro, Ruang Lingkup, Cabang Ilmu, Para Ahli • Proses Pembentukan Urine – Faktor, Filtrasi, Reabsorbsi, Augmentasi, Nefron, zat Sisa • Peranan Tumbuhan – Pengertian, Manfaat, Obat, Membersihkan, Melindungi, Bahan Baku, Pemanasan Global • Diksi ( Pilihan Kata ) Pengertian Dan ( Fungsi – Syarat – Contoh ) • Penjelasan Sistem Ekskresi Pada Manusia Secara Lengkap • Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com BAB I PENDAHULUAN A.

Pengertian Ilmu Hukum dan Pengantar Ilmu Hukum 1. Pengertian Ilmu hukum Menurut Satjipto Rahardjo Ilmu hukum adalah ilmu pengetahuan yang berusaha menelaah hukum.

Ilmu hukum mencakup dan membicarakan segala hal yang berhubungan dengan hukum. Ilmu hukum objeknya hukum itu sendiri. Demikian luasnya masalah yang dicakup oleh ilmu ini, sehingga sempat memancing pendapat orang untuk mengatakan bahwa “batas-batasnya tidak bisa ditentukan” (Curzon, 1979 : v). Selanjutnya menurut J.B.

Daliyo Ilmu hukum adalah ilmu pengetahuan yang objeknya hukum. Dengan demikian maka ilmu hukum akan mempelajari semua seluk beluk mengenai hukum, misalnya mengenai asal mula, wujud, asas-asas, sistem, macam pembagian, sumber-sumber, perkembangan, fungsi dan kedudukan hukum di dalam masyarakat.

Ilmu hukum sebagai ilmu yang mempunyai objek hukum menelaah hukum sebagai suatu gejala atau fenomena kehidupan manusia dimanapun didunia ini dari masa kapanpun. Seorang yang berkeinginan mengetahui hukum secara mendalam sangat perlu mempelajari hukum itu dari lahir, tumbuh dan berkembangnya dari masa ke masa sehingga sejarah hukum besar perannya dalam hal tersebut. 2. Pengertian Pengantar ilmu hukum Pengantar Ilmu Hukum (PIH) kerapkali oleh dunia studi hukum dinamakan “Encyclopaedia Hukum”, yaitu mata kuliah dasar yang merupakan pengantar (introduction atau inleiding) dalam mempelajari ilmu hukum.

Dapat pula dikatakan bahwa PIH merupakan dasar untuk pelajaran lebih lanjut dalam studi hukum yang mempelajari pengertian-pengertian dasar, gambaran dasar tentang sendi-sendi utama ilmu hukum. B. Tujuan dan Kegunaan Pengantar Ilmu Hukum Tujuan Pengantar Imu Hukum adalah menjelaskan tentang keadaan, inti dan maksud tujuan dari bagian-bagian penting dari hukum, serta pertalian antara berbagai bagian tersebut dengan ilmu pengetahuan hukum.

Adapun kegunaannya adalah untuk dapat memahami bagian-bagian atau jenis-jenis ilmu hukum lainnya. C. Kedudukan dan Fungsi Pengantar Ilmu Hukum Kedudukan Pengantar Ilmu Hukum merupakan dasar bagi pelajaran lanjutan tentang ilmu pengetahuan dari berbagai bidang hukum. Sedangkan kedudukan dalam kurikulum fakultas hukum adalah sebagai mata kuliah keahlian dan keilmuan.

Oleh karena itu pengantar ilmu hukum berfungsi memberikan pengertian-pengertian dasar baik secara garis besar maupun secara mendalam mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan hukum.

Selain itu juga pengantar ilmu hukum juga berfungsi pedagogis yakni menumbuhkan sikap adil dan membangkitkan minat untuk denagan penuh kesungguhan mempelajari hukum. D. Ilmu Bantu Pengantar Ilmu Hukum • Sejarah hukum, yaitu suatu disiplin hukum yang mempelajari asal usul terbentuknya dan perkembangan suatu sistem hukum dalam suatu masyarakat tertentu dan memperbanding antara hukum yang berbeda karena dibatasi oleh perbedaan waktu • Sosiologi hukum, yaitu suatu cabang ilmu pengetahuan yang secara empiris dan analitis mempelajari hubungan timbal balik antara hukum sebagai gejala sosial dengan gejala sosial lain (Soerjono Soekanto) • Antropologi hukum, yakni suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari pola-pola sengketa dan penyelesaiannya pada masyarakat sederhana, maupun masyarakat yang sedang mengalami proses perkembangan dan pembangunan/proses modernisasi (Charles Winick).

• Perbandingan hukum, yakni suatu metode studi hukum yang mempelajari perbedaan sistem hukum antara negara yang satu dengan yang lain. Atau membanding-bandingkan sistem hukum positif dari bangsa yang satu dengan bangsa yang lain • Psikologi hukum, yakni suatu cabang pengetahuan yang mempelajari hukum sebagai suatu perwujudan perkembangan jiwa manusia (Purnadi Purbacaraka).

E. Metode Pendekatan Mempelajari Hukum • Metode Idealis ; bertitik tolak dari pandangan bahwa hukum sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu dalam masyarakat • Metode Normatif Analitis ; metode yg melihat hukum sebagai aturan yg abstrak. Metode ini melihat hukum sebagai lembaga otonom dan dapat dibicarakan sebagai subjek tersendiri terlepas dari hal2 lain yang berkaitan dengan peraturan2.

Bersifat abstrak artinya kata-kata yang digunakan di dalam setiap kalimat tidak mudah dipahami dan untuk dapat mengetahuinya perlu peraturan-peraturan hukum itu diwujudkan. Perwujudan ini dapat berupa perbuatan-perbuatan atau tulisan. Apabila ditulis, maka sangat penting adalah pilihan dan susunan kata-kata.

• Metode Sosiologis; metode yang bertitik tolak dari pandangan bahwa hukum sebagai alat untuk mengatur masyarakat. • Metode Historis ; metode yang mempelajari hukum dengan melihat sejarah pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah. • Metode sistematis; metode yang melihat hukum sebagai suatu sistem • Metode Komparatif; metode yang mempelajari hukum dengan membandingkan tata hukum dalam berbagai sistem hukum dan perbandingan hukum di berbagai negara. BAB II MANUSIA, MASYARAKAT DAN KAIDAH SOSIAL A.

Hubungan antara manusia, masyarakat dan kaidah sosial • Manusia sebagai makhluk monodualistik : Artinya adalah manusia selain sbg makhluk individu (perseorangan) mempunyai kehidupan jiwa yg menyendiri namun manusia juga sebagai makhluk sosial tidak dapat dipisahkan dari masyarakat.

Manusia lahir, hidup dan berkembang dan meninggal dunia di dalam masyarakat. • Menurut Aristoteles (Yunani, 384-322 SM), bahwa manusia itu adalah ZOON POLITICON artinya bahwa manusia itu sbg makhluk pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan sesama manusia lainnya, jadi makhluk yg suka bermasyarakat.

Dan oleh karena sifatnya suka bergaul satu sama lain, maka manusia disebut makhluk sosial. • Terjadilah hubungan satu sama lain yang didasari adanya kepentingan, dimana kepentingan tsb satu sama lain saling berhadapan atau berlawanan dan ini tidak menutup kemungkinan timbul kericuhan. Kepentingan adalah suatu tuntutan perorangan atau kelompok yang diharapkan untuk dipenuhi. Disinilah peran hukum mengatur kepetingan2 tersebut agar kepentingan masing-masing terlindungi, sehingga masing-masing mengetahui hak dan kewajiban.

Pada akhirnya dengan adanya hukum masyarakat akan hidup aman, tentram, damai, adil dan makmur. • Kesimpulan : dimana ada masyarakat disitu ada hukum (ubi societes ibi ius).

Hukum ada sejak masyarakat ada. Dapat dipahami disini bahwa hukum itu sesungguhnya adalah produk otentik dari masyarakat itu sendiri yang merupakan kristalisasi dari naluri, perasaan, kesadaran, sikap, perilaku, kebiasaan, adat, nilai, atau budaya yang hidup di masyarakat. Bagaimana corak dan warna hukum yang dikehendaki untuk mengatur seluk beluk kehidupan masyarakat yang bersangkutanlah yang menentukan sendiri. Suatu masyarakat yang menetapkan tata hukumnya bagi masyarakat itu sendiri dalam berlakunya tata hukum itu artinya artinya tunduk pada tata hukum hukum itu disebut masyrakat hukum.

Mengapa masyarakat mentaati hukum karena bermacam-macam sebab (Menurut Utrecht) : • Karena orang merasakan bahwa peraturan2 itu dirasakan sebagai hukum. Mereka benar-benar berkepentingan akan berlakunya peraturan tersebut • Karena ia harus menerimanya supaya ada rasa ketentraman. Ia menganggap peraturan hukum secara rasional (rationeele aanvaarding).

Penerimaan rasional ini sebagai akibat adanya sanksi hukum. Agar tidak mendapatkan kesukaran2 orang memilih untuk taat saja pada peraturan hukum karena melanggar hukum mendapat sanksi hukum.

B. Masyarakat dan Lembaga Kemasyarakatan (Kaidah Sosial) 1. Definisi masyarakat : • Menurut Ralph Linton, masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas. • Menurut Selo Soemarjan, masyarakat adalah orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan. • Menurut CST. Kansil, SH, masyarakat adalah persatuan manusia yang timbul dari kodrat yang sama.

Jadi masyarakat itu terbentuk apabila ada dua orang atau lebih hidup bersama sehingga dalam pergaulan hidup timbul berbagai hubungan yang mengakibatkan seorang dan orang lain saling kenal mengenal dan pengaruh mempengaruhi. Unsur masyarakat : – manusia yang hidup bersama – berkumpul dan bekerja sama untuk waktu lama – merupakan satu kesatuan – merupakan suatu sistem hidup bersama.

Dalam masyarakat terdapat pelbagai golongan dan aliran.

pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah

Namun walaupun golongan itu beraneka ragam dan masing-masing mempunyai kepentingan sendiri-sendiri akan tetapi kepentingan bersama mengharuskan adanya ketertiban dalam kehidupan masyarakat itu. Adapun yang memimpin kehidupan bersama, yang mengatur tingkah laku manusia dalam masyarakat ialah peraturan hidup. Agar supaya dapat memenuhi kebutuan-kebutuhannya dengan aman dan tentram dan damai tanpa gangguan, maka tidap manusia perlu adanya suatu tata (orde – ordnung). Tata itu berwjud aturan yang menjadi pedoman bagi segala tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup, sehingga kepentingan masing-masing dapat terpelihara dan terjamin.

Setiap anggota masyarakat mengetahui pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah dan kewajiban. Tata tersebut sering disebut kaidah atau norma. 2. Kaidah/norma Sosial : Adalah patokan-patokan atau pedoman-pedoman perihal tingkah laku dan perikelakuan yang diharapkan. Kaidah berasal dari bahasa Arab atau Norma berasal dari bahasa Latin Kaidah/Norma berisi : Perintah, yang merupakan keharusan bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena akibat2nya dipandang baik.

Larangan, yang merupakan keharusan bagi seseorang untuk tidak berbuat sesuatu oleh karena pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah dipandang tidak baik.

Guna kaidah/norma tersebut adalah untuk memberi petunjuk kepada manusia bagaimana seorang harus bertindak dalam masyarakat serta perbuatan-perbuatan mana yang harus dijalankan dan perbuatan-perbuatan mana pula yang harus dihindari. Kaidah sosial dibedakan menjadi : 1.

Kaidah yang mengatur kehidupan pribadi manusia yang dibagi lebih lanjut menjadi : a. Kaidah kepercayaan/agama, yang bertujuan untuk mencapai suatu kehidupan yang beriman (Purnadi Purbacaraka 1974 : 4). Kaidah ini ditujukan terhadap kewajiban manusia kepada Tuhan. Sumbernya adalah ajaran-ajaran kepercayaan/agama yang oleh pengikut-pengikutnya dianggap sebagai perintah Tuhan, misalnya : – Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (Al Isra’ : 32).

– Hormatilah orang tuamu agar supaya engkau selamat (Kitab Injil Perjanjian Lama : Hukum yang ke V). b.Kaidah kesusilaan, yang bertujuan agar manusia hidup berakhlak atau mempunyai hati nurani. Kaidah ini merupakan peraturan hidup yang dianggap sebagai suara hati nurani manusia (insan kamil).

Sumber kaidah ini adalah dari manusia sendiri, jadi bersifat otonom dan tidak ditujukan kepada sikap lahir tetapi ditujukan kepada sikap batin manusia juga, misalnya : – Hendaklah engkau berlaku jujur.

– Hendaklah engkau berbuat baik terhadap sesama manusia. Dalam kaidah kesusilaan tedapat juga peraturan-peraturan hidup seperti yang terdapat dalam norma agama misalnya : – Pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah orangtuamu agar engkau selamat diakhirat – Jangan engkau membunuh sesamamu 2.

Kaidah yang mengatur kehidupan antara manusia atau pribadi yang dibagi lebih lanjut menjadi : a.Kaidah kesopanan, bertujuan agar pergaulan hidup berlangsung dengan menyenangkan. Kaidah ini merupakan peraturan hidup yang timbul dari pergaulan segolongan manusia, misalnya : – Orang muda harus menghormati orang yang lebih tua – Janganlah meludah dilantai atau disembarang tempat. – Berilah tempat terlebih dahulu kepada wanita di dalam kereta api, bis dll (terutama wanita tua, hamil atau membawa bayi) b.

Kaidah hukum, bertujuan untuk mencapai kedamaian dalam pergaulan hidup antar manusia. Kaidah ini adalah peraturan-peraturan yang timbul dari norma hukum, dibuat oleh penguasa negara. Isinya mengikat setiap orang dan pelaksanaannya dapat dipertahankan dengan segala paksaan oleh alat-alat negara misalnya “Dilarang mengambil milik orang lain tanpa seizin yang punya”. Perbedaan antara kaidah hukum dengan kaidah sosial lainnya : 1. Perbedaan antara kaidah dengan kaidah agama dan kesusilaan dapat ditinjau dari berbagai segi sbb : • Ditinjau dari tujuannya, kaidah hukum bertujuan untuk menciptakan tata tertib masyarakat dan melindungi manusia beserta kepentingannya.

Sedangkan kaidah agama dan kesusilaan bertujuan untuk memperbaiki pribadi agar menjadi manusia ideal. • Ditinjau dari sasarannya : kaidah hukum mengatur tingkah laku manusia dan diberi sanksi bagi setiap pelanggarnya, sedangkan kaidah agama dan kaidah kesusilaan mengatur sikap batin manusia sebagai pribadi.

Kaidah hukum menghendaki tingkah laku manusia sesuai dengan aturan sedangkan kaidah agama dan kaidah kesusilaan menghendaki sikap batin setia pribadi itu baik. • Ditinjau dari sumber sanksinya, kaidah hukum dan kaidah agama sumber sanksinya berasal dari luar dan dipaksakan oleh kekuasaan dari luar diri manusia (heteronom), sedangkan kaidah kesusilaan sanksinya berasal dan dipaksakan oleh suara hati masing2 pelanggarnya (otonom).

• Ditinjau dari kekuatan mengikatnya, pelaksanaan kaidah hukum dipaksakan secara nyata oleh kekuasaan dari luar, sedangkan pelaksanaan kaidah agama dan kesusilaan pada asasnya tergantng pada yang bersangkutan. • Ditinjau dari isinya kaidah hukum memberikan hak dan kewajiban (atribut dan normatif) sedang kaidah agama dan kaidah kesusilaan hanya memberikan kewajiban saja (normatif). 2. Perbedaan antara kaidah hukum dengan kaidah kesopanan – Kaidah hukum memberi hak dan kewajiban, kaidah kesopanan hanya memberikan kewajiban saja.

– Sanksi kaidah hukum dipaksakan dari masyarakat secara resmi (negara), sanksi kaidah kesopanan dipaksakan oleh masyarakat secara tidak resmi. 3. Perbedaan antara kaidah kesopanan dengan kaidah agama dan kaidah kesusilaan – Asal kaidah kesopanan dasri luar diri manusia, kaidah agama dan kaidah kesusilaan berasal dari pribadi manusia – Kaidah kesopanan berisi aturan yang ditujukan kepada sikap lahir manusia, kaidah agama dan kaidah kesusilaan berisi aturan yang ditujukan kepada sikap batin manusia – Tujuan kaidah kesopanan menertibkan masyarakat agar tidak ada korban, kaidah agama dan kaidah kesusilaan bertujuan menyempurnakan manusia agar tidak menjadi manusia jahat.

Ciri-ciri kaidah hukum yang membedakan dengan kaidah lainnya : – Hukum bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara kepentingan – Hukum mengatur perbuatan manusia yang bersifat lahiriah – Hukum dijalankan oleh badan-badan yang diakui oleh masyarakat – Hukum mempunyai berbagai jenis sanksi yang tegas dan bertingkat – Hukum bertujuan untuk mencapai kedamaian (ketertiban dan ketentraman) Mengapa kaidah hukum masih diperlukan, sementara dalam kehidupan masyarakat sudah ada kaidah yang mengatur tingkah laku manusia dalam pergaulan hidupnya ?

Hal ini karena : – Masih banyak kepentingan-kepentingan lain dari manusia dalam pergaulan hidup yang memerlukan perlindungan karena belum mendapat perlindungan yang sepenuhnya dari kaidah agama, kesusilaan dan kaidah sopan santun, kebiasaan maupun adat. – Kepentingan-kepentingan manusia yang telah mendapat perlindungan dari kaidah-kaidah tersebut diatas, dirasa belum cukup terlindungi karena apabila terjadi pelanggaran terhadap kaidah tersebut akibat atau ancamannya dipandang belum cukup kuat.

BAB III PENGERTIAN, UNSUR DAN SIFAT-SIFAT HUKUM A. Aneka arti hukum 1. Hukum dalam arti ketentuan penguasa Disini hukum adalah perangkat-peraturan peraturan tertulis yang dibuat oleh pemerintah melalui badan-badan yang berwenang 2.

Hukum dalam arti para petugas Disini hukum adalah dibayangkan dalam wujud petugas yang berseragam dan bisa bertindak terhadap orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan warga masyarakat, seperti petugas Polisi patroli, Jaksa dan hakim dengan toganya. Disini hukum dilihat dalam arti wujud fisik yg ditampilkan dalam gambaran orang2 yang bertugas menegakkan hukum.

3. Hukum dalam arti sikap tindak Yaitu hukum sebagai perilaku yang ajeg atau sikap tindak yang teratur. Hukum ini tidak nampak seperti dalam arti petugas yang patroli, yang memeriksa orang yang mencuri atau hakim yang mengadili, melainkan menghidup bersama dengan perilaku individu terhadap yang lain secara terbiasa dan senantiasa terasa wajar serta rasional. Dalam hal ini sering disebut hukum sebagai suatu kebiasaan (hukum kebiasaan).

Contoh seorang mahasiswa “A” numpang sewa kamar kepada keluarga “Z”, ia tiap bulan bayar uang yg menjadi kewajibannya kepada “Z” sedangkan “Z” menerima haknya, disamping melakukan kewajibannya menyediakan segala sesuatu yang diperlukan “A”. Tiap pagi “A” ke kampus naik becak, tawar menawar, ia naik sampai ke tempat tujuan tanpa pikir ia membayarnya. Lama kelamaan “A” mengenal tukang becak dengan baik, maka untuk kuliah begitu melihat tukang becak segera naik tanpa pikir-pikir ia bayar, malahan kadang2 ia hanya berkata bayarnya nanti saja sekalian seminggu.

Ini dilihat dari “A” dan masyarakat sekelilingnya dan apabila pengalaman2 semacam ini digabungkan maka hubungan menjadi luas dan rumit, namun tetap terwujud keteraturan karena bekerjanya hukum yang mewarnai sikap tindak atau perilaku masing2 individu dalam masyarakat secara biasa.

Disini hukum bekerja mengatur sikap tindak warga masyarakat sedemikian rupa sehingga hukum terlihat sebagai sikap tindak yang tanpak di dalam pergaulan sehari2, ia merupakan suatu kebiasaan (Hukum kebiasaan). 4. Hukum dalam arti sistem kaidah adalah : a. Suatu tata kaidah hukum yang merupakan sistem kaidah-kaidah secara hirarkis b. Susunan kaidah-kaidah hukum yang sangat disederhanakan dari tingkat bawah ke atas meliputi : – Kaidah-kaidah individual dari badan2 pelaksana hukum terutama pengadilan – Kaidah-kaidah umum didalam UU hukum atau hukum kebiasaan – Kaidah-kaidah konstitusi c.

Sahnya kaidah2 hukum dari golongan tingkat yang lebih rendah tergantung atau ditentukan oleh kaidah2 yang termasuk golongan tingkat yang lebih tinggi. 5. Hukum dalam arti jalinan nilai Hukum dalam artian ini bertujuan mewujudkan keserasian dan kesinambungan antar faktor nilai obyektif dan subyektif dari hukum demi terwujudnya nilai-nilai keadilan dalam hubungan antara individu di tengah pergaulan hidupnya.

Nilai objektif tsb misalnya ttg baik buruk, patut dan tidak patut (umum), sedangkan nilai subjektif memberikan keputusan bagi keadilan sesuai keadaan pada suatu tempatwaktu dan budaya masyarakat (khusus). Inilah yg perlu diserasikan antara kepentingan publik, kepentingan privat dan dengan kepentingan individu. 6. Hukum dalam arti tata hukum Hukum disini adalah tata hukum atau kerapkali disebut sebagai hukum positif yaitu hukum yang berlaku disuatu tempat, pada saat tertentu (sekarang misalnya di Indonesia).

Hukum positif tsb misalnya hukum publik (HTN, HAN, Pidana, internasional publik), hukum privat (perdata, dagang, dll) 7. Hukum dalam ilmu hukum Disini hukum berarti ilmu tentang kaidah atau normwissenschaft atau sallenwissenschaft yaitu ilmu yang menelaah hukum sebagai kaidah atau sistem kaidah-kaidah, dengan dogmatik hukum dan sistematik hukum.

Dalam arti ini hukum dilihatnya sebagai ilmu pengetahuan atau science yang merupakan karya manusia yang berusaha mencari kebenaran tentang sesuatu yang memiliki ciri-ciri, sistimatis, logis, empiris, metodis, umum dan akumulatif. • Normwissenschaft adalah ilmu pengetahuan tentang kaidah/norma • Sollenwissenschaft adalah ilmu pengetahuan tentang seharusnya.

8. Hukum dalam arti disiplin hukum atau gejala sosial Dalam hal ini hukum sebagai gejala dan kenyataan yang ada ditengah masyarakat. Secara umum disiplin hukum menyangkut ilmu hukum ((ilmu pengertian, ilmu kaidah dan ilmu kenyataan), politik hukum dan filsafat hukum (ketiganya akan dibicarakan dimuka). Ilmu hukum adalah ilmu pengetahuan yang berusaha menelaah hukum.

Ilmu hukum mencakup dan membicarakan segala hal yang berhubungan dengan hukum. Ilmu hukum objeknya hukum itu sendiri. Politik hukum adalah mencakup kegiatan2 mencari dan memilih nilai2 dan menerapkan nilai2 tersebut bagi hukum dalam mencapai tujuannya. Filsafat hukum adalah perenungan dan perumusan nilai2, juga mencakup penyesuaian nilai2, misalnya penyerasian antara ketertiban dengan ketentraman, antara kebendaan dengan keakhlakan dan antara kelanggengan dan pembaharuan.

Ilmu tentang pengertian hukum (begriffeissenschaft) yg dibahas adalah : 1. Masyarakat hukum 2. Subyek hukum 3. Objek hukum 4. Hubungan hukum (peristiwa hukum) 5. Hak dan kewajiban Ilmu tentang kaidah (Normwiseenschaft) yg dibahas adalah 1. Perumusan norma/kaidah hukum 2. Apa yg dimaksud kaidah abstrak dan konkret 3. Isi dan sifat kaidah hukum 4. Esensialia kaidah hukum 5. Tugas dan kegunaan kaidah hukum 6. Pernyataan dan tanda pernyataan kaidah hukum 7. Penyimpangan terhadap kaidah hukum 8.

Berlakunya kaidah hukum Ilmu tentang kenyataan (taatsashenwissenschaft) hukum yang dibahasa adalah : 1. Sejarah hukum 2. Sosiologi hukum 3. Psikologi 4. Perbandingan hukum 5. Antropologi hukum Nilai2 dasar hukum (Radbruch) pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah 1. Keadilan 2.

Kemamfaatan/kegunaan 3. Kepastian hukum B. Berbagai Pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah Hukum : Begitu banyak definisi hukum dikemukakan oleh ilmuan hukum yang tentu saja sangat berguna dalam hal berikut : • Berguna sebagai pegangan awal bagi orang yang ingin mempelajari hukum, khususnya bagi kalangan pemula.

• Berguna bagi kalangan yang ingin lebih jauh memperdalam teori hukum, ilmu hukum, filsafat hukum dan sebagainya.

Arnold (Achmad Ali, 1996 : 27) salah seorang sosiolog, mengakui bahwa dalam kenyataan hukum memang tidak akan pernah dapat didefinisikan secara lengkap, jelas dan tegas.

Sehingga sampai sekarang ini tidaka da kesepakatan bersama tentang definisi hukum. Namun Arnold juga menyadari bahwa bagaimanapun para juris tetap akan terus berjuang mencari bagaimana hukum didefinisikan sebab definisi hukum merupakan bagian yang substansial dalam meberi arti keberadaan hukum sebagai ilmu. Hukum juga merupakan sesuatu yang rasional dan dimungkinkan untuk dibuatkan definisi sebagai penghormatan para juris terhadap eksistensi hukum.

Sebagai pegangan bagi mahasiswa atau bagi orang yang baru belajar hukum, perlu ada definisi hukum sebagai pegangan dalam mencoba mengetahui dan memahami hukum baik secara praktis maupun secara formil Berikut beberapa definisi hukum yang dikemukakan para ahli hukum (juris) berdasarkan aliran atau paham yang dianutnya : 1.

Van Apeldoorn, hukum itu banyak seginya dan demikian luasnya sehingga tidak mungkin menyatakanya dalam (satu) rumusan yang memuaskan. 2. I Kisch, oleh karena hukum itu tidak dapat ditangkap oleh panca indera maka sukarlah untuk membuat definisi tentang hukum yang memuaskan. 3. Lemaire, hukum yang banyak seginya dan meliputi segala macam hal itu menyebabkan tak mungkin orang membuat suatu definisi apapun hukum itu sebenarnya.

4. Grotius, hukum adalah aturan-aturan tingkah laku yang dibuat menjadi kewajiban melalui sanksi-sanksi yang djatuhkan terhadap setiap pelanggaran dan kejahatan melalui suatu otoritas pengendalian. 5. Aristoteles, hukum adalah sesuatu yang berbeda daripada sekadar mengatur dan mengekpresikan bentuk dari kontitusi dan hukum berfungsi untuk mengatur tingkah laku hakim dan putusannya di pengadilan untk menjatuhkan hukuman terhadap pelangggar.

6. Schapera, hukum adalah setiap aturan tingkah laku yang mungkin diselenggarakan oleh pengadilan. 7. Paul Bohannan, hukum adalah merupakan himpunan kewajiban yang telah dilembagakan kembali dalam pranata hukum. 8. Pospisil, hukum adalah aturan-aturan tingkah laku yang dibuat menjadi kewajiban melalui sanksi-sanksi yang dijatuhkan terhadap setiap pelanggaran dan kejahatan melalui suatuotoritas pengendalian.

9. Karl von savigny, hukum adalah aturan yang tebentuk melalui kebiasaan dan perasaan kerakyatan, yaitu melalui pengoperasian kekuasaan secara diam-diam. Hukum berakar pada sejarah manusia, dimana akarnya dihidupkan oleh pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah, keyakinan dan kebiasaan warga masyarakat. 10. Marxist, hukum adalah suatu pencerminan dari hubungan umum ekonomis dalam masyarakat pada suatu tahap perkembangan tertentu. 11. John Austin, melihat hukum sebagai perangkat perintah, baik langsung maupun tidak langsung dari pihak yang berkuasa kepada warga rakyatnya yang merupakan masyarakat politik yang independen, dimana otoritasnya (pihak yang berkuasa) meruipakan otoritas tertinggi.

Kelemahan pandangan John Austin sebagai berikut : 1. Hukum dilihat semata-mata sebagai kaidah bersanksi yang dibuat dan diberlakukan oleh negara, padahal di dalam kenyataannya kaidah tersebut belum tentu berlaku. 2. Undang-undang yang dibuat oleh negara, hanya salah satu sumber-sumber hukum 3. Hanya warga masyarakat yang dilihat sebagai subjek hukum, padahal dalam kenyataannya dikenal pula adanya hukum tata negara, hukum administrasi negara, dsb.

12. Hans Kelsen, hukum adalah suatu perintah terhadap tingkah laku manusia. Hukum adalah kaidah primer yang menetapkan sanksi-sanksi. 13 Paul 13. Scholten, hukum adalah suatu petunjuk tentang apa yang layak dilakukan dan apa yang tidak layak untuk dilakukan yang bersifat perintah.

14. van Kan, hukum adalah keseluruhan aturan hidup yang bersifat memaksa untuk melindungi kepentingan manusia di dalam masyarakat. 15. Eugen Ehrlich (Jerman), sesuatu yang berkaitan denagan fungsi kemasyarakatan dan memandang sumber hukum hanya dari legal history and jurisprudence dan living law (hukum yang hidup didalam masyarakat).

16. Bellefroid, hukum adalah kaidah hukum yang berlaku dimasyarakat yang mengatur tata tertib masyarakat dan didasarkan atas pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah yang ada di dalam masyarakat. 17. Holmes (HakimAmerika Serikat), hukum adalah apa yang dikerjakan dan diputuskan oleh pengadilan. 18. Salmond, hukum adalah kumpulan-kumpulan asas-asas yang diakui dan diterapkan oleh negara di dalam pengadilan.

19. Roscoe Pound, hukum itu dibedakan dalam arti : 1. Hukum dalam arti sebagai tata hukum, mempunyai pokok bahasan : – hubungan antara manusia denagan individu lainnya – tingkah laku para individu yang mempengaruhi individu lainnya. 2. Hukum dalam arti kumpulan dasar-dasar kewenangan dari putusan-putusan pengadilan dan tindakan administrasi.

Pandangan Roscoe Pound tergolong dalam aliran sosiologis dan realis. 20. Liwellyn, hukum adalah apa yang diputuskan oleh seorang hakim tentang suatu persengketaan adalah hukum itu sendiri. 21. Drs. E. Utrecht, SH, Hukum adalah himpunan peraturan-peraturan (perintah-perintah dan larangan-larangan) yang mengurus tata tertib suatu masyarakat dan karena itu harus ditaati oleh masyarakat itu.

22. SM. Amin, SH, Hukum adalah kumpulan peraturan-peraturan yang terdiri dari norma dan sanksi-sanksi. 23. J.C.T. Simorangkir, SH & Woerjono Sastroparnoto, Hukum adalah peraturan-peraturan yang bersifat memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib, pelanggaran mana terhadap peraturan-peraturan tadi berakibat diambilnya tindakan yaitu hukuman tertentu 24.

M.H. Tirtaatmidjaja, SH Hukum adalah semua aturan (norma yang harus diturut dalam tingkah laku tindakan-tindakan dalam pergaulan hidup dengan ancaman mesti mengganti kerugian —- jika melanggar aturan-aturan itu akan membahayakan diri sendiri atau harta, umpamanya orang akan kehilangan kemerdekaannya, di denda dsb. 25. Van Vollenhoven (Het adatrecht van Nederlandsche Indie), Hukum adalah suatu gejala dalam pergaulan hidup yang bergejolak terus menerus dalam keadaan bentur membentur tanpa henti-hentinya dengan gejala lainnya.

26. Wirjono Prodjodikoro, hukum adalah rangkaian peraturan2 mengenai tingkah laku orang-orang sebagai anggota suatu masyarakat. 27. Soerojo Wignjodipoero, hukum adalah himpunan peraturan2 hidup yang bersifat memaksa, berisikan suatu perintah, larangan atau perizinan untuk bebruat tidak bebruat sesuatu serta dengan maksud untuk mengatur tata tertib dalam kehidupan masyarakat.

C. Isi kaidah hukum : Ditinjau dari segi isinya kaidah hukum dapat dibagi menjadi tiga : 1. Berisi tentang perintah, artinya kaidah hukum tersebut mau tidak mau harus dijalankan atau ditaati, misalnya ketentuan syarat sahnya suatu perkawinan, ketentuan wajib pajak dsb.

2. Berisi larangan, yaitu ketentuan yang menghendaki suatu perbuatan tidak boleh dilakukan misalnya dilarang mengambil barang milik orang lain, dilarang bersetubuh dengan wanita yang belum dinikahi secara sah dsb. 3. Berisi perkenan, yaitu ketentuan yang tidak mengandung perintah dan larangan melainkan suatu pilihan boleh digunakan atau tidak, namun bila digunakan akan mengikat bagi yang menggunakannya, misalnya mengenai perjanjian perkawinan, pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan kedua belah pihak atas persetujuan bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan.

Ketentuan ini boleh dilakukan boleh juga tidak dilaksanakan. Unsur-unsur kaidah hukum : Dari beberapa perumusan tentang hukum yang diberikan para sarjana hukum Indonesia diatas, dapatlah disimpulkan bahwa kaidah hukum itu meliputi beberapa unsur yaitu : a.

Peraturan mengenai tingkah laku manusia dalam pergaulan masyarakat b. Peraturan itu diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib c. Peraturan itu bersifat memaksa d. Sanksi terhadap pelanggaran peraturan tersebut adalah tegas BAB IV TUJUAN, FUNGSI DAN SUMBER-SUMBER HUKUM A. Tujuan hukum menurut teori 1.

Teori etis (etische theorie) Teori ini mengajarkan bahwa hukum bertujuan semata-mata untuk mencapai keadilan. Menurut teori ini, isi hukum semata-mata harus ditentukan oleh kesadaran etis kita mengenai apa yang adil dan apa yang tidak adil.

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles filsuf Yunani dalam bukunya Ethica Nicomachea dan Rhetorica yang menyatakan ”hukum mempunyai tugas yang suci yaitu memberi kepada setiap orang yang berhak menerimanya”. Selanjutnya Aristoteles membagi keadilan dalam 2 jenis, yaitu : • Keadilan distributif, yaitu keadilan yang memberikan kepada setiap orang jatah menurut jasanya.

Artinya, keadilan ini tidak menuntut supaya setiap orang mendapat bagian yang sama banyaknya atau bukan persamaannya, melainkan kesebandingan berdasarkan prestasi dan jasa seseorang.

• Keadilan komutatif, yaitu keadilan yang memberikan kepada setiap orang jatah yang sama banyaknya tanpa mengingat jasa masing-masing. Artinya hukum menuntut adanya suatu persamaan dalam memperoleh prestasi atau sesuatu hal tanpa memperhitungkan jasa masing-masing.

Keadilan menurut Aristoteles bukan berarti penyamarataan atau tiap-tiap orang memperoleh bagian yg sama. 2. Teori utilitas (utiliteis theorie) Menurut teori ini, tujuan hukum ialah menjamin adanya kemamfaatan atau kebahagiaan sebanyak-banyaknya pada orang sebanyak-banyaknya.

Pencetus teori ini adalah Jeremy Betham. Dalam bukunya yang berjudul “introduction to the morals and legislation” berpendapat bahwa hukum bertujuan untuk mewujudkan semata-mata apa yang berfaedah/mamfaat bagi orang.

Apa yang dirumuskan oleh Betham tersebut diatas hanyalah memperhatikan hal-hal yang berfaedah dan tidak mempertimbangkan tentang hal-hal yang konkrit. Sulit bagi kita untuk menerima anggapan Betham ini sebagaimana yang telah dikemukakan diatas, bahwa apa yang berfaedah itu belum tentu memenuhi nilai keadilan atau dengan kata lain apabila yang berfaedah lebih ditonjolkan maka dia akan menggeser nilai keadilan kesamping, dan jika kepastian oleh karena hukum merupakan tujuan utama dari hukum itu, hal ini akan menggeser nilai kegunaan atau faedah dan nilai keadilan.

3. Teori campuran Teori ini dikemukakan oleh Muckhtar Kusmaatmadja bahwa tujuan pokok dan pertama dari hukum adalah ketertiban. Di samping itu tujuan lain dari hukum adalah tercapainya keadilan yang berbeda-beda isi dan ukurannya menurut masyarakat dan zamannya. 4. Teori normatif-dogmatif, tujuan hukum adalah semata-mata untuk menciptakan kepastian hukum (John Austin dan van Kan). Arti kepastian hukum pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah adalah adanya melegalkan kepastian hak dan kewajiban.

Van Kan berpendapat tujuan hukum adalah menjaga setiap kepentingan manusia agar tidak diganggu dan terjaminnya kepastiannya. 5. Teori Peace (damai sejahtera) Menurut teori ini dalam keadaan damai sejahtera (peace) terdapat kelimpahan, yang kuat tidak menindas yang lemah, yang berhak benar-benar mendapatkan haknya dan adanya perlindungan bagi rakyat. Hukum harus dapat menciptakan damai dan sejahtera bukan sekedar ketertiban.

B. Tujuan hukum menurut pendapat ahli : 1. Purnadi dan Soejono Soekanto, tujuan hukum adalah kedamaian hidup antar pribadi yang meliputi ketertiban ekstern antar pribadi dan ketenangan intern pribadi 2. van Apeldoorn, tujuan hukum adalah mengatur pergaulan hidup manusia secara damai. Hukum menghendaki perdamaian. Perdamain diantara manusia dipertahankan oleh hukum dengan melindungi kepentingan-kepentingan hukum manusia tertentu, kehormatan, kemerdekaan, jiwa, harta benda terhadap pihak yg merugikan.

3. R. Soebekti, tujuan hukum adalah bahwa hukum itu mengabdi kepada tujuan negara yaitu mendatangkan kemakmuran dan kebahagiaan para rakyatnya. Hukum melayani tujuan negara tersebut dengan menyelenggarakan “keadilan” dan “ketertiban”.

4.Aristoteles, hukum mempunyai tugas yang suci yaitu memberi kepada setiap orang yang ia berhak menerimanya. Anggapan ini berdasarkan etika dan berpendapat bahwa hukum bertugas hanya membuat adanya keadilan saja. 5. SM. Amin, SH tujuan hukum adalah mengadakan ketertiban dalam pergaulan manusia, sehingga keamanan dan ketertiban terpelihara.

6.Soejono Dirdjosisworo, tujuan hukum adalah melindungi individu dalam hubngannya dengan masyarakat, sehingga dengan demikian dapat diiharapkan terwujudnya keadaan aman, tertib dan adil 7. Roscoe Pound, hukum bertujuan untuk merekayasa masyarakat artinya hukum sebagai alat perubahan sosial (as a tool of social engeneering), Intinya adalah hukum disini sebagai sarana atau alat untuk mengubah masyarakat ke arah yang lebih baik, baik secara pribadi maupun dalam hidup masyarakat.

8.Bellefroid, tujuan hukum adalah menambah kesejahteraan umum atau kepentingan umum yaitu kesejahteraan atau kepentingan semua anggota2 suatu masyarakat. 9.Van Kant, hukum bertujuan menjaga kepentingan tiap2 manusia supaya kepentingan itu tidak dapat diganggu 10.Suharjo (mantan menteri kehakiman), tujuan hukum adalah untuk mengayomi manusia baik secara aktif maupun secara pasif.

Secara aktif dimaksudkan sebagai upaya untuk menciptakan suatu kondisi kemasyarakatan yang manusia dalam proses yang berlangsung secara wajar. Sedangkan yang dimaksud secara pasif adalah mengupayakan pencegahan atas upaya yang sewenang-wenang dan penyalahgunaan hak secara tidak adil. Usaha mewujudkan pengayoman ini termasuk di dalamnya diantaranya : – mewujudkan ketertiban dan keteraturan – mewujudkan kedamaian sejati – mewujudkan keadilan bagi seluruh masyarakat – mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat Kesimpulan Tujuan Hukum : 1.

Tujuan hukum itu sebenarnya menghendaki adanya keseimbangan kepentingan, ketertiban, keadilan, ketentraman, kebahagiaan,damani sejahtera setiap manusia. 2. Dengan demikian jelas bahwa yang dikehendaki oleh hukum adalah agar kepentingan setiap orang baik secara individual maupun kelompok tidak diganggu oleh orang atau kelompok lain yang selalu menonjolkan kepentingan pribadinya atau kepentingan kelompoknya.

3. Inti tujuan hukum adalah agar tercipta kebenaran dan keadilan C. Fungsi Hukum 1. Hukum berfungsi sebagai alat ketertiban dan keteraturan masyarakat. Hukum sbg petunjuk bertingkah laku untuk itu masyarakat harus menyadari adanya perintah dan larangan dalam hukum sehingga fungsi hukum sebagai alat ketertiban masyarakat dapat direalisir. 2. Hukum sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan sosial lahir batin.

Hukum yg bersifat mengikat, memaksa dan dipaksakan oleh alat negara yang berwenang membuat orang takut untuk melakukan pelanggaran karena ada ancaman hukumanya (penjara, dll) dan dapat diterapkan kepada siapa saja. Dengan demikian keadilan akan tercapai. 3. Hukum berfungsi sebagai alat penggerak pembangunan karena ia mempunyai daya mengikat dan memaksa dapat dimamfaatkan sebagai alat otoritas untuk mengarahkan masyarakat ke arah yg maju.

4. Hukum berfungsi sebagai alat kritik. Fungsi ini berarti bahwa hukum tidak hanya mengawasi masyarakat semata-mata tetapi berperan juga untuk mengawasi pejabat pemerintah, para penegak hukum, maupun aparatur pengawasan sendiri. Dengan demikian semuanya harus bertingkah laku menurut ketentuan yg berlaku dan masyarakt pun akan merasakan keadilan. 5. Hukum berfungsi sebagai sarana untuk menyelesaikan pertingkaian.

Contoh kasus tanah. D. Sumber-sumber hukum : 1.Pengertian sumber hukum Sumber hukum adalah segala apa saja (sesuatu) yang menimbulkan aturan-aturan yg mempunyai kekuatan mengikat dan bersifat memaksa, yakni aturan-aturan yang kalau dilanggar mengakibatkan sanksi yang tegas dan nyata bagi pelanggarnya. Yang dimaksud dengan segala apa saja (sesuatu) yakni faktor-faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya hukum, faktor-faktor yang merupakan sumber kekuatan berlakunya hukum secara formal, darimana hukum itu dapat ditemukan.

dsb. KansilSH sumber hukum adalah segala apa saja yang menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat memaksa yakni aturan2 yang kalau dilanggar mengakibatkan sanksi yang tegas dan nyata. Meskipun pengertian sumber hukum dipahami secara beragam, sejalan dengan pendekatan yang digunakan dan sesuaio dengan latar belakang dan pendidikannya, secara umum dapat disebutkan bahwa sumber hukum dipakai orang dalam dua arti.

Arti yang pertama untuk menjawab pertanyaan “mengapa hukum itu mengikat ?” Pertanyaan ini bisa juga dirumuskan “apa sumber (kekuatan) hukum hingga mengikat atau dipatuhi manusia”.

Pengertian sumber dalam arti ini dinamakan sumbe hukum dalam arti materiil. Kata sumber juga dipakai dalam arti lain, yaitu menjawab pertanyaan “dimanakah kita dapatkan atau temukakan aturan-aturan hukum yanmg mengatur kehidupan kita itu ?” Sumber dalam arti kata ini dinamakan sumber hukum dalam arti formal”.

Secara sederhana, sumbe rhukum adalah segala ssuatu yangd apat menimbulkan aturan hukum serta tempat ditemukakannya aturan-aturan hukum. 2. Macam-macam sumber hukum Sebagaimana diuraikan diatas ada 2 sumber hukum yatu sumber hukum dalam arti materil dan formil. a. Sumber hukum materiil Sumber hukum materiil adalah faktor yg turut serta menentukan isi hukum. Dapat ditinjau dari berbagai sudut misalnya sudut ekonomi, sejarah, sosiologi, filsafat, agama, dll. Dalam kata lain sumber hukum materil adalah faktor-faktor masyarakat yang mempengaruhi pembentukan hukum (pengaruh terhadap pembuat UU, pengaruh terhadap keputusan hakim, dsb).

Atau faktor yang ikut mempengaruhi materi (isi) dari aturan-aturan hukum, atau tempat darimana materi hukum tiu diambil. Sumber hukum materil ini merupakan faktor yang membantu pembentukan hukum.

Faktor tersebut adalah faktor idiil dan faktor kemasyarakatan. Faktor idiil adalah patokan-patokan yang tetap mengenai keadilan yang harus ditaati oleh para pembentuk UU ataupun para pembentuk hukum yang lain dalam melaksanakan tugasnya.

pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah

Faktor kemasyarakatan adalah hal-hal yang benar-benar hidup dalam masyarakat dan tunduk pada aturan-aturan yang berlaku sebagai petunjuk hidup masyarakat yang bersangkutan. Contohnya struktur ekonomi, kebiasaan, adat istiadat, dll Dalam berbagai kepustakan hukum ditemukan bahwa sumber hukum materil itu terdiri dari tiga jenis yaitu (van Apeldoorn) : 1) sumber hukum historis (rechtsbron in historischezin) yaitu tempat kita dapat menemukan hukumnya dalam sejarah atau dari segi historis.

Sumber hukum ini dibagi menjadi : a) Sumber hukum yg merupakan tempat dapat ditemukan atau dikenal hukum secara historis : dokumen-dokumen kuno, lontar, dll.

b) Sumber hukum yg merupakan tempat pembentuk UU mengambil hukumnya. 2) sumber hukum sosiologis (rechtsbron in sociologischezin) yaitu Sumber hukum dalam arti sosiologis yaitu merupakan faktor-faktor yang menentukan isi hukum positif, seperti misalnya keadaan agama, pandangan agama, kebudayaan dsb. 3) sumber hukum filosofis (rechtsbron in filosofischezin) sumber hukum ini dibagi lebih lanjut menjadi dua : a) Sumber isi hukum; disini dinyatakan isi hukum asalnya darimana.

Ada tiga pandangan yang mencoba menjawab pertanyaan ini yaitu : – pandangan theocratis, menurut pandangan ini hukum berasal dari Tuhan – pandangan hukum kodrat; menurut pandangan ini isi hukum berasal dari akal manusia – pandangan mazhab hostoris; menurut pandangan isi hukum berasal dari kesadaran hukum.

b). Sumber kekuatan mengikat dari hukum yaitu mengapa hukum mempuyai kekuatan mengikat, mengapa kita tunduk pada hukum b. Sumber hukum formal Sumber hukum formal adalah sumber hukum dengan bentuk tertentu yang merupakan dasar berlakunya hukum secara formal.

Jadi sumber hukum formal merupakan dasar kekuatan mengikatnya peraturan-peraturan agar ditaati oleh masyarakat maupun oleh penegak hukum. Apa beda antara undang-undang dengan peraturan perundang-undangan ? Undang-undang dibuat oleh DPR persetujuan presiden, sedangkan peraturan perundang-undangan dibuat berdasarkan wewenang masing-masing pembuatnya, seperti PP, dll atau Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum (Pasal 1 ayat 2 UU No.

10 tahun 2004) Macam-macam sumber hukum formal : A. Undang-undangyaitu suatu peraturan negara yang mempunyai kekuatan hukum yang mengikat diadakan dan dipelihara oleh penguasa negara Menurut Buys, Undang-Undang itu mempunyai 2 arti : • Dalam arti formil, yaitu setiap keputusan pemerintah yang merupakan UU karena cara pembuatannya (misalnya, dibuat oleh pemerintah bersama-sama dengan parlemen) • Dalam arti material, yaitu setiap keputusan pemerintah yang menurut isinya mengikat setiap penduduk.

Menurut UU No. 10 tahun 2004 yang dimaksud dengan UU adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh DPR dengan persetujuan bersama Presiden (pasal 1 angka 3) Syarat berlakunya ialah diundangkannya dalam lembaran negara (LN = staatsblad) dulu oleh Menteri/Sekretaris negara. Sekarang oleh Menkuhham (UU No. 10 tahun 2004). Tujuannya agar setiap orang dapat pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah UU tersebut (fictie=setiap orang dianggap tahu akan UU = iedereen wordt geacht de wet te kennen, nemo ius ignorare consetur= in dubio proreo, latin).

Konsekuensinya adalah ketika seseorang melanggar ketentuan hukum tidak boleh beralasan bahwa ketentuan hukum itu tidak diketahuinya. Artinya apabila suatu ketentuan perundang-undangan itu sudah diberlakukan (diundangkan) maka dianggap (difiksikan) bahwa semua orang telah mengetahuinya dan untuk itu harus ditaati. Berakhirnya/tidak berlaku lagi jika : a. Jangka waktu berlakunya telah ditentukan UU itu sudah lampau b.

Keadaan atau hal untuk mana UU itu diadakan sudah tidak ada lagi. c. UU itu dengan tegas dicabut oleh instansi yang membuat atau instansi yang lebih tinggi. d. Telah ada UU yang baru yang isinya bertentangan atau berlainan dgn UU yg dulu berlaku. Lembaran negara (LN) dan berita negara : LN adalah suatu lembaran (kertas) tempat mengundangkan (mengumumkan) semua peraturan negara dan pemerintah agar sah berlaku.

Penjelasan daripada suatu UU dimuat dlm tambahan LN, yg mempunyai nomor urut. LN diterbitkan oleh Menteri sekretaris negara, yg disebut dgn tahun penerbitannya dan nomor berurut, misalnya L.N tahun 1962 No. 1 (L.N.1962/1) Berita negara adalah suatu penerbitan resmi sekretariat negara yg memuat hal-hal yang berhubungan dengan peraturan-peraturan negara dan pemerintah dan memuat surat-surat yang dianggap perlu seperti : Akta pendirian PT, nama orang-orang yang dinaturalisasi menjadi WNI, dll, Catatan : Jika berkaitan dengan peraturan daerah diatur dalam lembaran daerah Kekuatan berlakunya undang-undang : • UU mengikat sejak diundangkan berarti sejak saat itu orang wajib mengakui eksistensinya UU.

• Sedangkan kekuatan berlakunya UU berarti sudah menyangkut berlakunya UU secara operasional. • Agar UU mempunyai kekuatan berlaku ahrus memenuhi persyaratan yaitu 1). Kekuatan berlaku yuridis, 2). Kekuatan berlaku sosiologis dan, 3) kekuatan berlaku fiolosofis.

• Hal ini akan dibahas pada bab selanjutnya. Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut (Pasal 7 UU No. 10/2004) : 1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; 3.

pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah

Peraturan Pemerintah; 4. Peraturan Presiden; 5. Peraturan Daerah (propinsi, kabupaten, desa) B. Kebiasaan (custom) Kebiasaan adalah perbuatan manusia yang tetap dilakukan berulang-ulang dalam hal yang sama. Apabila suatu kebiasaan tertentu diterima oleh masyarakat dan kebiasaan itu selalu berulang-ulang dilakukan sedemikan rupa, sehingga tindakan yang berlawanan dengan kebiasaan itu dirasakan sebagai pelanggaran perasaan hukum, maka dengan demikian timbullah suatu kebiasaan hukum, yang oleh pergaulan hidup dipandang sebagai hukum.

Contoh apabila seorang komisioner sekali menerima 10 % dari hsil penjualan atau pembelian sebagai upah dan hal ini terjadi berulang dan juga komisioner yg lainpun menerima upah yang sama yaitu 10 % maka oleh karena itu timbul suatu kebiasaan yg lambat laun berkembang menjadi hukum kebiasaan.

Namun demikian tdk semua kebiasaan itu pasti mengandung hukum yg baik dan adil oleh sebab itu belum tentu kebiasaan atau adat istiadat itu pasti menjadi sumber hukum formal.

Adat kebiasaan tertentu di daerah hukum adat tertentu yg justru sekarang ini dilarang untuk diberlakukan karena dirasakan pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah adil dan tidak berperikemanusiaan sehingga bertentangan denagan Pancasila yang merupakan sumber dari segala sumber hukum, misalnya jika berbuat susila/zinah, perlakunya ditelanjangi kekeliling kampung. Untuk timbulnya hukum kebiasaan diperlukan beberapa syarat : 1. Adanya perbuatan tertentu yg dilakukan berulang2 di dalam masyarakat tertentu (syarat materiil) 2.

Adanya keyakinan hukum dari masyarakat yang bersangkutan (opinio necessitatis = bahwa perbuatan tsb merupakan kewajiban hukum atau demikianlah seharusnya) = syarat intelektual 3. Adanya akibat hukum apabila kebiasaan itu dilanggar. Selanjutnya kebiasaan akan menjadi hukum kebiasaan karena kebiasaan tersebut dirumuskan hakim dalam putusannya. Selanjutnya berarti kebiasaan adalah sumber hukum.

Kebiasaan adalah bukan hukum apabila UU tidak menunjuknya (pasal 15 AB = (Algemene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesia = ketentuan2 umum tentang peraturan per UU an untuk Indonesia Disamping kebiasaan ada juga peraturan yang mengatur tata pergaulan masyarakat yaitu adat istiadat.

Adat istiadat adalah himpunan kaidah sosial yang sudah sejak lama ada dan merupakan tradisi serta lebih banyak berbau sakral, mengatur tata kehidupan masyarakat tertentu. Adat istiadat hidup dan berkembang di masyarakat tertentu dan dapat menjadi hukum adat jika mendapat dukungan sanksi hukum.

Contoh Perjanjian bagi hasil antara pemilik sawah dengan penggarapnya. Kebiasaan untuk hal itu ditempat atau wilayah hukum adat tertentu tidak sama dengan yang berlaku di masyarakat hukum adat yang lain. Kebiasaan dan adat istiadat itu kekuatan berlakunya terbatas pada masyarakat tertentu. C. Jurisprudensi (keputusan2 hakim) Adalah keputusan hakim yang terdahulu yag dijadikan dasar pada keputusan hakim lain sehingga kemudian keputusan ini menjelma menjadi keputusan hakim yang tetap terhadap persoalan/peristiwa hukum tertentu.

Seorang hakim mengkuti keputusan hakim yang terdahulu itu karena ia sependapat dgn isi keputusan tersebut dan lagi pula hanya dipakai sebagai pedoman dalam mengambil sesuatu keputusan mengenai suatu perkara yang sama.

Ada 2 jenis yurisprudensi : • Yurisprudensi tetap keputusan hakim yg terjadi karena rangkaian keputusan yang serupa dan dijadikan dasar atau patokanuntuk memutuskan suatu perkara (standart arresten) • Yurisprudensi tidak tetap, ialah keputusan hakim terdahulu yang bukan standart arresten. D.Traktat (treaty) Traktat adalah perjanjian yang diadakan oleh 2 negara atau lebih yang mengikat tidak saja kepada masing-masing negara itu melainkan mengikat pula warga negara-negara dari negara-negara yang berkepentingan.

Macam-macam Traktat : a. Traktat bilateral, yaitu traktat yang diadakan hanya oleh 2 negara, misalnya perjanjian internasional yang diadakan diadakan antara pemerintah RI dengan pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah RRC tentang “Dwikewarganegaraan”. b.Traktat multilateral, yaitu perjanjian internaisonal yang diikuti oleh beberapa negara, misalnya perjanjian tentang pertahanan negara bersama negara-negara Eropa (NATO) yang diikuti oleh beberapa negara Eropa.

E. Perjanjian (overeenkomst) adalah suatu peristiwa dimana dua orang atau lebih saling berjanji untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan tertentu. Para pihak yang telah saling sepakat mengenai hal-hal yang diperjanjikan, berkewajiban untuk mentaati dan melaksanakannya (asas (pact sunt servanda). F. Pendapat sarjana hukum (doktrin) Pendapat sarjanan hukum (doktrin) adalah pendapat seseorang atau beberapa orang sarjana hukum yang terkenal dalam ilmu pengetahuan hukum. Doktrin ini dapat menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusannya.

Sumber hukum menurut Algra : 1. Sumber materiil, yaitu tempat darimana materi hukum itu diambil. Sumber hukum materiil ini merupakan faktor yang membantu pembentukan hukum, misalnya hubungan sosial, hubungan kekuatan politik, situasi sosial ekonomi, kebudayaan, agama, keadaan geografis, dsb. 2. Sumber hukum formil, yaitu tempat atau sumber dari mana suatu peraturan memperoleh kekuatan hukum.

Ini berkaitan dengan bentuk atau cara yang menyebabkan peraturan hukum itu formal berlaku, misalnya UU, perjanjian antar negara, yurisprudensi dan kebiasaan. Sumber hukum menurut Ahmad Sanusi : 1. Sumber hukum normal : a.Sumber hukum normal yang langsung atas pengakuan UU yaitu, UU, perjanjian antar negara dan pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah. b. Sumber hukum normal yang tidak langsung atas pengakuan UU, yaitu perjanjian doktrin dan yurisprudensi.

2. Sumber hukum abnormal yaitu : a. Proklamasi b. Revolusi c. Coup d’etat Sumber hukum menurut van Apeldoorn : 1. Sumber hukum dalam arti historis, yaitu tempat kita dapat menemukan hukumnya dalam sejarah atau dari segi historis.

Sumber hukum ini dibagi menjadi : a. Sumber hukum yg merupakan tempat dapat ditemukan atau dikenal hukum secara historis : dokumen-dokumen kuno, lontar, dll. b. Sumber hukum yg merupakan tempat pembentuk UU mengambil hukumnya. 2. Sumber hukum dalam arti sosiologis yaitu merupakan faktor-faktor yang menentukan isi hukum positif, seperti misalnya keadaan agama, pandangan agama, kebudayaan dsb. 3. Sumber hukum dalam arti filosofis, sumber hukum ini dibagi lebih lanjut menjadi dua : a.

Sumber isi hukum; disini dinyatakan isi hukum asalnya darimana. Ada tiga pandangan yang mencoba menjawab pertanyaan ini yaitu : – pandangan theocratis, menurut pandangan ini hukum berasal dari Tuhan – pandangan hukum kodrat; menurut pandangan ini isi hukum berasal dari akal manusia – pandangan mazhab hostoris; menurut pandangan isi hukum berasal dari kesadaran hukum.

b. Sumber kekuatan mengikat dari hukum yaitu mengapa hukum mempuyai kekuatan mengikat, mengapa kita tunduk pada hukum 4. Sumber hukum dalam arti formil, yaitu sumber hukum dilihat dari cara terjadinya hukum positif merupakan fakta yang menimbulkan hukum yang berlaku yang mengikat hakim dan penduduk.

BAB V PENGERTIAN DASAR / KONSEP DALAM HUKUM A. Subyek hukum dan obyek hukum • Pengertian subyek hukum – segala sesuatu yang dapat mempunyai hak dan kewajiban menurut hukum – sesuatu pendukung hak/kewajiban, jadi memiliki wewenang hukum Pembagian subyek hukum : a.

Manusia (natuurlijke persoon) b. Badan hukum (rechtspersoon) Ad. 1. Manusia Manusia sebagai subyek hukum berarti manusia adalah pembawa hak dan kewajiban sehingga dapat melakukan sesuatu tindakan hukum; ia dapat mengadakan persetujuan-persetujuan, menikah, membuat wasiat, dan sebagainya.

Berlakunya manusia sebagai pembawa hak, mulai dari saat ia dilahirkan dan berakhir pada saat ia meningal dunia, malah seorang anak yang masih dalam kandungan ibunya dapat dianggap sebagai pembawa hak (dianggap telah lahir) jika kepentingannya memerlukan (untuk menjadi ahli waris).

Jadi pada hakikatnya setiap manusia sejak ia lahir mempeoleh hak dan kewajiban. Apabila ia meninggal dunia maka hak dan kewajibannya akan beralih kepada ahli warisnya. Bahkan oleh hukum anak yang ada dalam kandungan seorang pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah sudah mempunyai hak, karena dianggap telah dilahirkan dengan catatan jika kepentingannya menghendaki (hak waris). Hal diatur dalam pasal 2 ayat 1 KUHPerdata berbunyi “anak yg ada dalam kandungan seorang perempuan, dianggap sebagai telah dilahirkan, bilaman juga kepentingan si anak menghendakinya”.

Pada ayat 2 berbunyi “mati sewaktu dilahirkan dianggap ia tak pernah ada”. Ketentuan ini menegaskan bahwa hak dan kewajiban si anak baru dianggap ada jika ia dilahirkan hidup, apabila ia dilahirkan mati maka haknya dianggap tidak ada, misalnya kepentingan si anak untuk menjadi ahli waris dari orang tuanya, walaupun ia masih berada dalam kandungan ia dianggap telah dilahirkan dan oleh karena itu harus diperhitungkan hak-haknya sebagai ahli waris.

Tetapi jika ia dilahirkan mati maka hak si anak dianggap tidak pernah ada. Disamping itu juga berdasarkan undang-undang seseorang dianggap telah meninggal dunia jika hilang atau tidak diketahui dimana ia berada dan tidak ada kepastian apakah ia masih hidup dalam tenggang waktu setelah lewat 5 tahun sejak ia meninggalkan tempat kediamannya (Pasal 467, 468, 469 KUHPerdata).

Berdasarkan ketentuan undang-undang tersebut maka hak dan kewajiban orang yang telah dinyatakan menurut hukum meninggal dunia itu telah berakhir dan segala hak dan kewajibannya beralih kepada ahli warisnya Cakap dan tidak cakap cakap melakukan perbuatan hukum : Cakap melakukan perbuatan hukum artinya subyek itu dapat melakukan atau bertindak baik sendiri maupun bersama orang lain di dalam menjalankan hak dan kewajibannya.

Pada prinsipnya setiap orang tidak kecuali dapat memiliki dan melaksanakan hak-hak akan tetapi tidak semua orang dinyatakan cakap di dalam melaksanakan hak-haknya itu, namun untuk dapat dikatakan itu harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : • Orang tersebut telah mencapai usia 21 tahun atau telah menikah.

• Pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah tersebut mempunyai kewenangan untuk melaksanakan hak dan kewajiban (misalnya ia berwenang menjual barang, dimana barang dikakarenakan tersebut benar miliknya) • Orang tersebut harus memiliki jiwa dan akal yang sehat. Pengertian dewasa Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUPerdata) seseorang yang dikatakan sudah dewasa adalah saat berusia 21 tahun bagi laki-laki dan 19 tahun bagi wanita.

Sedangkan menurut Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, kedewasaan seseorang adalah saat berusia 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi wanita. Lain hal pula menurut hukum adat kedewasaan seseorang apabila sudah mampu bekerja atau mencari nafkah sendiri.

Lalu acuan apa yang kita pakai dalam hal ini. Acuan yang dipakai adalah berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata karena ketentuan ini masih berlaku secara umum. Sedangkan ketentuan lainnya hanaya berlaku secara khusus. Pentingnya arti kecakapan menurut hukum tentunya mempunyai 2 (dua) maksud, yaitu pertama maksud yang dilihat dari sudut keadilan yaitu perlunya orang yang membuat perjanjian mempunyai cukup kemampuan untuk menginsyafi/menyadari secara benar akan tanggung jawab yang dipikulnya dengan perbuatan tersebut.

Dan kedua, maksud yang dilihat dari sudut ketertiban hukum, yang berarti orang yang membuat perjanjian itu berarti mempertaruhkan kekayaannya. Tidak cakap melakukan perbuatan hukum, artinya subyek hukum sekalipun pendukung hak dan kewajiban, namun dinyatakan subyek tersebut dinyatakan tidak dapat bertindak sendiri di dalam melaksanakan hak dan kewajibannya dalam berbagai perbuatan-perbuatan hukum (handelingsonbekwaam).

Adapun orang tersebut adalah : • Orang yang masih dibawah umur (belum mencapai usia 21 tahun = belum dewasa) • Orang yang tidak sehat pikirannya (gila), pemabuk dan pemboros, mereka ditaruh dibawah pengampuan (curatele) • Orang yang dilarang oleh UU untuk melakukan perbuatan hukum tertentu, misalnya orang yang dinyatakan pailit (Pasal 1330 BW jo UU Kepailitan) Catatan : Dalam ketentuan KUHPerdata kecakapan adalah merupakan salah satu syarat untuk sahnya suatu perikatan/perjanjian yang berarti bahwa segala perikatan yg dilakukan oleh orang yang tidak cakap dapat dibatalkan atau diminta pembatalannya melalui hakim.

Tetapi sebaliknya dalam hal perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad, ketidakcakapan seseorang tidak mempengaruhi timbul atau tidaknya “akibat hukum” dari perbuatan itu. Ad. 2. Badan hukum Badan hukum adalah bukan orang tapi merupakan badan-badan (kumpulan manusia) yang oleh hukum diberi status “persoon” yang mempunyai hak dan kewajiban seperti manusia. Badan hukum sebagai pembawa hak dan tidak berjiwa dapat melakukan sebagai pembawa hak manusia, misalnya; dapat melakukan persetujuan-persetujuan, memiliki kekayaan yang sama sekali terlepas dari kekayaan anggota-anggotanya.

Badan hukum dapat dibagi menjadi : a. Badan hukum publik yaitu badan hukum yang didirikan oleh pemerintah/negara yang lapangan pekerjaannya adalah untuk kepentingan umum, misalnya negara RI, daerah tingkat I, II/kotamadya, Bank-Bank Negara dsb.

b. Badan hukum privat, yaitu badan hukum yang bentuk dan susunannya diatur oleh hukum privat dan menurut tujuannya yang dikejar dapat dibeda-bedakan dalam : a.

Perikatan dengan tujuan materiil (perkumpulan, mesjid, gereja) b. Perikatan dengan tujuan memperoleh laba (PT) c. Perikatan dengan tujuan memenuhi kebutuhan materil para anggotanya (Koperasi) Disamping penggolongan tersebut dapat pula dibagi-bagi badan hukum itu menjadi 2 jenis yaitu : 1) Korporasi ialah suatu gabungan orang yang dalam pergaulan hukum bertindak bersama-sama sebagai satu subyek hukum tersendiri (personifikasi), misalnya PT, Dati-Dati, Koperasi dsb.

2) Yayasan ialah tiap kekayaan yang tidak merupakan kekayaan orang atau kekayaan badan dan yang diberi tujuan tertentu, misalnya Yayasan Badan Wakaf UII dsb. 2. Pengertian Obyek Hukum : Obyek hukum adalah segala sesuatu yang berguna bagi subyek hukum (manusia atau badan hukum) dan yang dapat menjadi pokok (obyek) suatu hubungan hukum, karena hal itu dapat dikuasai oleh subyek hukum.

Biasanya obyek hukum disebut benda. Benda menurut Pasal 499 KUHPerdata ialah semua barang, semua hak yang dapat dimiliki subyek hukum. Macam-macam benda : Menurut pasal 503 KUHPerdata benda dibedakan antara : • Benda berwujud (bertubuh), yaitu yang dapat diraba oleh panca indera (buku, rumah, meja, dsb) • Benda tidak berwujud (tak bertubuh) yaitu segala macam hak, seperti hak cipta, hak mereka, paten, piutang, dll.

Menurut pasal 504 KUHPerdata membeda-bedakan benda : • Benda bergerak yang dibedakan sbb : 1) Menurut sifatnya dapat bergerak sendiri (hewan dsb) 2) Yang dapat dipindahkan (buku, meja, dsb) 3) Karena penetapan undang-undang (hak-hak atas benda 1 dan 2 diatas) • Benda tidak begerak, dibeda-bedakan sebagai berikut : 1) Karena sifatnya (tanah dan semua yang didirikan diatasnya seperti rumah dsb) dan yang ada di dalam tanah (kekayaan alam yang terpendam).

2) Karena maksud tujuan (yaitu benda-benda yang oleh pemilik dihubungkan dengan benda tersebut di (1) diatas), misalnya gambar-gambar atau kaca-kaca yang dipasang dalam gedung percetakan. 3) Karena penetapan undang-undang (hak-hak atas benda tersebut 1 dan 2 diatas), misalnya Hak Guna Usaha. B. Hak dan Kewajiban 1. Hak Hak adalah izin dan wewenang yang diberikan oleh hukum terhadap setiap subyek hukum. Hak itu dapat dibedakan antara : a.

Hak mutlak (hak absolut) dan, b. Hak nisbi (hak relatif) Hak mutlak (hak absolut) Hak mutlak ialah hak yang memberikan wewenang kepada seseorang untuk pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah sesuatu perbuatan, hak mana dapat dipertahankan terhadap siapapun juga, sebaiknya setiap orang juga harus menghormati hak tersebut. Hak mutlak dapat pula dibagi dalam 3 (tiga) golongan : a. Hak asasi manusia, misalnya hak seseorang untuk dengan bebas bergerak dan tinggal dalam suatu negara.

b. Hak publik mutlak, misalnya hak negara untuk memungut pajak dari rakyatnya c. Hak Keperdataan, misalnya : 1. Hak marital, yaitu hak seorang suami untuk menguasai istrinya dan harta benda istrinya 2. Hak/kekuasan orang tua (ouderlijke macht) 3. Hak perwalian (voogdij) & hak pengampuan (curatele) Hak Nisbi (hak relatif) Hak nisbi ialah hak yang memberikan wewenang kepada seorang tertentu atau beberapa orang tertentu untuk menuntut agar supaya seseorang atau beberapa orang lain tertentu memberikan sesuatu, melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.

Hak nisbi sebagian besar terdapat dalam hukum perikatan yang timbul berdasarkan persetujuan-persetujuan dari pihak-pihak yang bersangkutan. Contoh dari persetujuan jual beli terdapat hak nisbi/ralatif seperti : a. Hak penjual untuk menerima pembayaran dan kewajibannya untuk menyerahkan barang kepada pembeli. b. Hak pembeli untuk menerima barang dan kewajibannya untuk melakukan pembayaran kepada penjual. 2. Kewajiban: Kewajiban adalah suatu beban yang ditanggung oleh seseorang yang bersifat kontraktual (asas pact sunt servanda).

Hak dan kewajiban itu timbul apabila terjadi hubungan antara 2 pihak yang berdasarkan pada suatu kontrak atau perjanjian. Jadi selama hubungan hukum yang lahir dari perjanjian itu belum berakhir, maka pada salah satu pihak ada beban kontraktual, ada keharusan atau kewajiban untuk memenuhinya.

Kewajiban tidak selalu muncul sebagai akibat adanya kontrak, melainkan dapat pula muncul dari peraturan hukum yang ditentukan oleh lembaga yang berwenang. Kewajiban disini merupakan keharusan untuk mentaati hukum yang disebut wajib hukum (rechtsplicht) misalnya mempunyai sepeda motor wajib membayar pajak sepeda motor.

C. Peristiwa, Hubungan dan Akibat Hukum 1. Peristiwa hukum Peristiwa hukum yaitu peristiwa-peristiwa kemasyarakatan yang timbul dari hubungan-hubungan anggota masyarakat yang oleh hukum diberikan akibat-akibat hukum.

Peristiwa hukum dibedakan menjadi : a. Perbuatan subyek hukum (manusia dan badan hukum) b. Peristiwa hukum yang bukan perbuatan subyek hukum Perbuatan subyek hukum dapat pula dibedakan antara lain : a.

Perbuatan hukum yaitu segala perbuatan manusia yang secara sengaja dilakukan oleh seseorang untuk menimbulkan hak dan kewajiban-kewajiban. Suatu perbuatan merupakan perbuatan hukum kalau perbuatan itu oleh hukum diberi akibat (mempunyai akibat hukum) dan akibat itu dikehendaki oleh yang bertindak. Perbuatan hukum itu terdiri dari ; 1) Perbuatan hukum sepihak yaitu perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu pihak saja dan menimbulkan hak dan kewajiban pada satu pihak pula misalnya pembuatan surat wasiat, pemberian hadiah sesuatu benda (hibah), dsb.

2) Perbuatan hukum dua pihak ialah perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua pihak dan menimbulkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kedua belah pihak (timbal balik) misalnya membuat persetujuan jual beli, sewa menyewa, dll b. Perbuatan lain yang bukan perbuatan hukum dibedakan : 1) Zaakwaarneming, yaitu perbuatan memperhatikan (mengurus) kepentingan orang lain dengan tidak diminta oleh orang itu untuk memperhatikan kepentingannya.

Perbuatan yang akibatnya diatur oleh hukum, walaupun bagi hukum tidak perlu akibat tersebut dikehendaki oleh pihak yang melakukan perbuatan itu.

Jadi akibat yang tidak dikehendaki oleh yang melakukan perbuatan itu diatur oleh hukum tetapi perbuatan tersebut bukanlah perbuatan hukum.

Menurut Pasal 1354 KUHPerdata, pengertian Zaakwarneming adalah mengambil alih tanggung jawab dari sesorang sampai yang bersangkutan sanggup lagi untuk mengurus dirinya sendiri. Pasal 1354 KUHPerdata menyebutkan,” jika seseorang dengan sukarela, dengan tidak mendapat perintah untuk itu, mewakili orang lain dengan atau tanpa pengetahuan orang tersebut, maka dia secara diam-diam telah mengikatkan dirinya untuk meneruskan serta menyelesaikan urusan tersebut, hingga orang yang diwakili kepentingannya itu dapat mengerjakan sendiri urusan tersebut.

Ia diwajibkan pula mengerjakan segala kewajiban yang harus dipikulnya, seandainya ia dikuasakan dengan suatu pemberian kuasa yang dinyatakan dengan tegas. 2) Onrechtmatige daad (perbuatan yang bertentangan dengan hukum). Akibat suatu perbuatan yang bertentangan dengan hukum diatur juga oleh hukum, meskipun akibat itu itu memang tidak dikehendaki oleh yang melakukan perbuatan tersebut.

Dalam hal ini siapa yang melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan hukum harus mengganti kerugian yang diderita oleh yang dirugikan karena perbuatan itu. Jadi, karena suatu perbuatan bertentangan dengan hukum timbulah suatu perikatan untuk mengganti kerugian yang diderita oleh yang dirugikan.

Asas ini terdapat dalam Pasal 1365 KUHPerdata. Peristiwa hukum yang bukan perbuatan subyek hukum Peristiwa hukum yang bukan perbuatan subyek hukum atau peristiwa hukum lainnya yaitu peristiwa hukum yang terjadi dalam masyarakat yang tidak merupakan akibat dari perbuatan subyek hukum, misalnya kelahiran seorang bayi, kematian seseoranglewat waktu (kadaluarsa).

Kadaluarsa dibagi 2 yaitu : • Kadaluarsa aquisitief adalah kadaluarsa atau lewat waktu yang menimbulkan hak. • Kadaluarsa extincief adalah kadaluarsa yang melenyapkan kewajiban.

Kelahiran langsung menimbulkan hak anak yang dilahirkan untuk mendapat pemeliharaan dari roang tuanya dan menimbulkan kewajiban bagi orang tuanya untuk memelihara anaknya. Kematian juga merupakan peristiwa hukum karena dengan adanya kematian seseorang menimbulkan hak dan kewajiban para ahli warisnya.

Kemudian, lewat waktu dapat mengakibatkan seseorang memperoleh suatu hak (acquisitieve verjaring) atau dibebaskan dari suatu tanggung jawab/kewajiban (extinctieve verjaring) setelah habis masa tertentu dan syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang terpenuhi. D. Hubungan Hukum : Hubungan hukum adalah hubungan antara 2 subyek hukum atau lebih dimana hak dan kewajiban disatu pihak berhadapan dengan hak dan kewajiban dipihak yang lain.

Atau dalam kata lain isi adanya hubungan tersebut adalah hak dan kewajiban pihak-pihak. Hubungan tersebut diatur oleh hukum. Hubungan hukum memiliki 3 unsur : 1. Orang-orang yang berhak/kewajibannya saling berhadapan contohnya A menjual rumahnya kepada B, maka : – A wajib menyerahkan rumahnya kepada B, – A berhak meminta pembayaran kepada B – B wajib membayar kepada A – B berhak meminta rumah A setelah dibayar 2. Obyek terhadap nama hak/kewajiban diatas tadi berlaku (dalam contoh tersebut : terhadap rumah) 3.

Hubungan antara pemilik hak dan pengemban kewajiban atau hubungan terhadap obyek yang bersangkutan, contoh A dan B sewa menyewa rumah Tiap hubungan hukum mempunyai 2 segi yakni : kekuasaan/hak (bevoegheid) dan kewajiban (plicht).

Adanya hubungan hukum harus memenuhi syarat-syarat : • Adanya dasar hukumnya, yaitu peraturan hukum yang mengatur hubungan itu • Timbul Peristiwa hukum Contoh : – A dan B mengadakan peristiwa jual beli rumah – Diatur oleh Pasal 1474 dan 1513 KUHperdata (dasar hukumnya) – Terjadi peristiwa hukum (disebut perjanjian jual beli) Hubungan hukum dibagi 2 : • Hubungan hukum sepihak yaitu hubungan hukum yang menimbulkan hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak secara berlawanan.

Contoh kasus penghibahan atas tanah dari orang tua angkat kepada anak angkatnya. • Hubungan hukum timbal balik yaitu hubungan hukum yang dapat menimbulkan hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak yang bersangkutan.

Contoh perjanjian jual beli sebidang tanah Dalam hal ini timbul hak dan kewajiban bagi penjual dan pembeli tanah E. Akibat hukum Akibat hukum yaitu akibat sesuatu tindakan hukum.

Tindakan hukum adalah tindakan yang dilakukan guna memperoleh sesuatu akibat yang dikehendaki dan yang diatur oleh hukum. Atau akibat hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh peristiwa hukum Akibat hukum dapat berupa : a. Lahirnya — ubahnya atau lenyapnya sesuatu keadaan hukum Contoh : – Menjadi umur 21 tahun cakap untuk melakukan tindakan hukum – Dalam pengampuan jadi kehilangan kecakapan melakukan tindakan hukum diatas.

b. Lahirnya—ubahnya atau lenyapnya sesuatu hubungan hukum (hubungan antara dua subyek hukum atau lebih dimana hak dan kewajiban disatu pihak berhadapan dengan hak dan kewajiban dipihak yg lain.

Contoh A mengadakan perjanjian jual beli dengan B lahir hubungan hukum A/B. Sesudah dibayar lunas lenyap hubungan itu. c. Sanksi—apabila melakukan tindakan melawan hukum, Contoh A menabrak seseorang hingga berakibat luka berat, A harus mendapat sanksi berupa pidana penjara atau pidana denda F. Asas Hukum 1. Beberapa pendapat tentang asas hukum : a. Bellefroid, menyebutkan bahwa asas hukum adalah norma dasar yang dijabarkan dari hukum positif dan yang ilmu hukum tidak dianggap berasal dari aturan-aturan yang lebih umum.

Asas hukum itu merupakan pengendapan hukum positif dalam suatu masyarakat. b. Van Eikama Hommes, menyebutkan asas hukum itu tidak boleh dianggap sebagai norma-norma hukum yang konkrit akan tetapi perlu dipandang sebagai dasar-dasar atau petunjuk-petunjuk bagi hukum yang berlaku. Dengan kata lain asas hukum adalah dasar-dasar atau petunjuk arah dalam pembentukan hukum positif. c. P. Scholten, mengatakan bahwa asas hukum adalah kecendrungan-kecendrungan yang disyaratkan oleh pandangan kesusilaan kita pada hukum, merupakan sifat-sifat umum dengan segala keterbatasannya sebagai pembawaan yang umum itu tetapi yang tidak boleh tidak harus ada.

d. Sudikno Mertokusumo, menyimpulkan bahwa asas hukum atau prinsip hukum bukanlah peraturan hukum konkrit, melainkan merupakan pikiran dasar yang umum sifatnya atau merupakan latar belakang dari peraturan yang konkrit yang terdapat dalam dan dibelakang setiap sistem hukum yang menjelma dalam peraturan peraturan perundang-undangan dan putusan hakim yang merupakan hukum positif dan dapat diketemukan dengan mencari sifat-sifat umum dalam peraturan konkrit tersebut.

Kesimpulan asas hukum : Pada dasarnya apa yang disebut dengan asas hukum adalah dasar-dasar umum yang terkandung dalam peraturan hukum dan dasar-dasar umum tersebut adalah merupakan sesuatu yang mengandung nilai-nilai etis. Peraturan hukum adalah ketentuan konkrit tentang cara berperilaku di dalam masyarakat. Ia merupakan konkritisasi dari asas hukum.

Asas hukum bukanlah norma hukum konkrit karena asas hukum adalah jiwanya norma hukum itu. Norma hukum merupakan penjabaran secara konkrit dari asas hukum. Dikatakan asas hukum sebagai jiwanya norma hukum atau peraturan hukum karena ia merupakan dasar lahirnya peraturan hukum.

Asas hukum merupakan petunjuk arah arah bagi pembentuk hukum dan pengambil keputusan. Asas hukum tidak mempunyai sanksi sedangkan norma hukum mempunyai sanksi. Pada umumnya asas hukum tidak dituangkan dalam bentuk peraturan yang konkrit atau pasal-pasal misalnya asas fictie hukum, asas pact sunt servanda. Akan tetapi tidak jarang asas hukum itu dituangkan dalam peraturan konkrit seperti asas presumption of innocence, dll.

2. Pembagian asas hukum : a. Asas hukum umum, ialah asas yang berhubungan dengan bidang hukum dan berlaku untuk semua bidang hukum itu, seperti asas equality before the law, asas lex posteriore derogate legi priori, asas bahwa apa yang lahirnya tanpak benar, untuk sementara harus dianggap demikian sampai diputus (lain) oleh pengadilan.

Menurut P. Scholten ada 5 asas hukum umum, yaitu : 1) Asas kepribadian 2) Asas pesekutuan 3) Asas kesamaan 4) Asas kewibawaan, dan 5) Asas pemisahan antara baik dan buruk. Dalam asas kepribadian manusia menginginkan adanya kebebasan individu.

Dalam asas ini menunjuk pada pengakuan kepribadian manusia bahwa manusia adalah obyek hukum, penyandang hak dan kewajiban. Dalam asas persekutuan yang dikehendaki adalah persatuan, kesatuan dan cinta kasih, keutuhan masyarakat.

Asas kesamaan menghendaki adanya keadilan dalam arti setiap orang adalah sama di dalam hukum (equality before the law), setiap orang diperlakukan sama. Sedangkan asas kewibawaan memperlihatkan adanya ketidaksamaan. b.

Asas hukum khusus, ialah asas yang berfungsi dalam bidang yang lebih sempit seperti dalam bidang hukum perdata, hukum pidana dsb. 3. Fungsi asas hukum a. Fungsi dalam hukum, mendasarkan eksistensinya pada rumusan oleh pembentuk undang-undang dan hakim (ini merupakan fungsi yang bersifat mengesahkan) serta mempunyai pengaruh yang normatif dan mengikat para pihak.

b. Fungsi dalam pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah hukum, hanya bersifat mengatur dan eksplikatif (menjelaskan). Tujuan adalah memberi ikhtiar, tidak normatif sifatnya dan tidak termasuk dalam hukum positif Contoh asas-asas hukum : a. Asas legalitas “tiada suatu perbuatanpun dapat dihukum, kecuali pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah kekuatan undang-undang yang telah ada sebelum perbuatan itu dilakukan (Pasal 1 ayat 1 KUHPidana = asas undang-undang tidak berlaku surut) = Nullum delictum sine praevia lege poenali”Asas Presumption Of Innocence (asas praduga tidak bersalah), bahwa seseorang dianggap tidak bersalah sebelum ada keputusan hakim yang menyatakan bahwa ia bersalah dan keputusan tersebut telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap (inkracht) b.

Asas In Dubio Pro Reo ialah dalam keraguan diberlakukan ketentuan yang paling menguntungkan bagi si terdakwa. c. Asas Similia Similibus ialah bahwa perkara yang sama (sejenis) harus diputus sama (serupa). d. Asas Pact Sunt Servanda yaitu bahwa perjanjian yang sudah disepakati berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang bersangkutan.

e. Asas Geen Straft Zonder Schuld ialah asas tiada hukuman tanpa kesalahan. f. Asas Lex Posterior Derogat Legi Priori yaitu asas undang-undang yang berlaku kemudian membatalkan undnag-undang terdahulu, sejauh undnag-undang itu mengatur objek yang sama. g. Asas Lex Superior Derogat Legi Inferiori yakni suatu asas undang-undang dimana jika ada 2 undang-undang yang mengatur objek yang sama maka undang-undang yang lebih tinggi yang berlaku sedangaka undang-undang yang lebih rendah tidak mengikat.

h. Asas Lex Specialis Derogat Legi Generali yakni undang-undang yang khusus mengenyampingkan yang umum. Klasifikasi / Pembagian Hukum Pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah hukum menurut beberapa asas pembagian, sebagai berikut : A. Menurut sumbernya, hukum dapat dibagi : • Hukum Undang-Undang, yaitu hukum yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan. • Hukum kebiasaan (adat) yaitu hukum yang terletak di dalam peraturan-peraturan kebiasaan (adat).

• Hukum Traktat, yaitu hukum yang ditetapkan oleh negara-negara di dalam suatu perjanjian antara negara (rakyat) • Hukum jurisprudensi, yaitu hukum yang terbentuk karena keputusan hakim.B. Menurut bentuknya, hukum dapat dibagi dalam : • Hukum tertulis (Statute Law = Written Law), yaitu hukum yang dirumuskan secara tertulis di dalam berbagai peraturan perundang-undangan baik yang dikodifikasi maupun yang tidak dikodifikasi.

Kodifikasi ialah pembukuan jenis-jenis hukum tertentu dalam kitab undang-undang secara sistematis dan lengkap. Tujuan kodifikasi hukum tertulis adalah untuk memperoleh : – kepastian hukum – penyederhanaan hukum dan – kesatuan hukum. 2. Hukum tak tertulis (unstatutery law = unwritten law = hukum kebiasaan) yaitu hukum yang masih hidup dalam keyakinan masyarakat tetapi tidak tertulis namun berlakunya ditaati seperti suatu peraturan perundang-undangan).

C. Menurut tempat berlakunya dapat dibagi dalam : • Hukum Nasional, yaitu hukum yang berlaku dalam suatu negara. • Hukum Internasional, yaitu hukum yang mengatur hubungan hukum dalam dunia internasional.

• Hukum Asing, yaitu hukum yang berlaku dalam negara lain. • Hukum Gereja, yaitu kumpulan norma-norma yang ditetapkan oleh Gereja untuk para anggota-anggotanya D.

Menurut waktu berlakunya, pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah dapat dibagi dalam : • Ius Constitutum (hukum positif), yaitu hukum yang berlaku sekarang bagi suatu masyarakat tertentu dalam suatu daerah tertentu. Singkatnya : Hukum yang berlaku bagi suatu masyarakat pada suatu waktu tertentu, dalam suatu tempat tertentu.

Ada sarjana yang menamakan hukum positif itu “Tata Hukum”. • Ius Constituendum, yaitu hukum yang diharapkan berlaku pada waktu yang akan datang. • Hukum Asasi (hukum alam), yaitu hukum yang berlaku dimana-mana dalam segala waktu dan untuk segala bangsa didunia. Hukum ini tidak mengenal batas waktu melainkan berlaku untuk selama-lamanya (abadi) terhadap siapapun juga di seluruh tempat.

Ketiga macam hukum diatas adalah hukum duniawi. E. Menurut cara mempertahankannya, hukum dapat dibagi dalam : • Hukum material/materil, yaitu hukum yang memuat peraturan-peraturan yang mengatur kepentingan-kepentingan dan hubungan-hubungan yang berwujud perintah-perintah dan larangan-larangan. Contoh hukum pidana, hukum perdata, hukum dagang, dll.

• Hukum formal (hukum proses atau hukum acara) yaitu hukum yang memuat peraturan-peraturan yang mengatur bagaimana cara-cara melaksanakan dan mepertahankan hukum material atau peraturan-peraturan yang mengatur bagaimana cara-caranya mengajukan sesuatu perkara ke muka pengadilan dan bagaimana cara-caranya hakim memberi putusan.

Contoh Hukum Acara Pidana, Hukum Acara Perdata. F. Menurut sifatnya, hukum dapat dibagi dalam : • Hukum yang memaksa, yaitu hukum yang dalam keadaan bagaimanapun juga harus dan mempunyai paksaan paksaan. • Hukum yang mengatur, yaitu hukum yang dapat dikesampingkan apabila pihak-pihak yang bersangkutan telah membuat peraturan sendiri dalam suatu perjanjian.

G. Menurut wujudnya, hukum dibagi dalam : 1. Hukum objektif, yaitu dalam suatu negara yang berlaku umum hanya menyebut peraturan hukum saja yang mengatur hubungan-hubungan hukum antara dua orang atau lebih.

2. Hukum subyektif, yaitu hukum yang timbul dari hukum obyektif dan berlaku terhadap seorang tertentu atau lebih. Hukum subyektif disebut juga HAK. H. Menurut isinya, hukum dapat dibagi dalam : 1. Hukum sipil (hukum privat) yaitu hukum yang mengatur hubungan-hubungan antara orang yang satu dengan yang lain dengan menitikberatkan kepada kepentingan perseorangan. Hukum sipil terdiri dari : • Hukum sipil dalam arti luas yang meliputi : hukum perdata dan hukum dagang. • Hukum sipil dalam arti sempit yang meliputi hukum perdata saja.

2. Hukum publik (hukum negara) yaitu hukum yang mengatur hubungan antara negara dengan alat-alat perlengkapannya atau hubungan antara negara dengan perseorangan (warganegara). Hukum publik (hukum negara) terdiri dari : • Hukum tata negara, yaitu hukum yang mengatur bentuk dan susunan pemerintahan suatu hubungan antara negara (pemerintah pusat) dengan bagian-bagian negara (daerah-daerah). • Hukum administrasi negara (hukum tatausaha negara atau hukum tata pemerintahan yaitu hukum yang mengatur cara-cara menjalankan tugas (hak dan kewajiban) dari kekuasaan alat perlengkapan negara.

• Hukum pidana yaitu hukum yang mengatur perbuatan-perbuatan apa yang dilarang dan memberikan pidana kepada siapa yang melanggarnya serta mengatur bagaimana cara-cara mengajukan perkara-perkara ke muka pengadilan. • Hukum internasional, yang tediri dari : • Hukum perdata binternasional, yaitu hukum yang mengatur hubungan antara warganegara-warganegara suatu negara dengan warganegara-waraganegara dari negara lain dalam hubungan internasional.

• Hukum publik internasional (hukum antar negara) yaitu hukum yang mengatur hubungan antara negara yang satu dengan negara-negara yang lain dalam hubungan internasional. Jika orang berbicara tentang hukum internasional, maka hampir selalu yang dimaksudkannya ialah hukum publik internasional. DAFTAR BACAAN / LITERATUR – Kansil, SH, Drs “ Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia”, Balai Pustaka – Soerojo Wignjodipoero, SH. Dr. Prof “Pengantar Ilmu Hukum”, Alumni Bandung – Soedjono Dirdjosisworo, SH.

Dr. “Pengantar Ilmu Hukum” Rajagrafindo, Jakarta – Sudarsono, SH. Drs. “ Pengantar Ilmu Hukum”, Rineka Cipta, Jakarta – Riduan Syahrani, SH. “Rangkuman Intisari Ilmu Hukum” Citra Aditya Bakti, Bandung – Satjipto Rahardjo, SH.,Dr. Prof. “Ilmu Hukum”, Alumni Bandung.

– Peter Mahmud Marzuki, SH, MS, LLM, Dr, Prof, “Pengantar Ilmu Hukum”, Kencana Pranada Media Group, Jakarta – Van Apeldooren, Prof. Mr.L.j, “ Pengantar Ilmu Hukum”, Pradnya Paramita, Jakarta – Van Kan, Prof. Mr. J & Prof. Mr. J.H. Beckhuis, “Pengantar Ilmu Hukum”, PT Pembangunan, Jakarta – Sudikno Mertokusumo, SH, Dr. Prof. “Mengenal Hukum”, Liberty, Yogyakarta – Ramli Zein, SH., MS, “Pengantar Ilmu Hukum”, UIR Press, Pekanbaru – J.B.

Daliyo, SH, 2001, “Pengantar Ilmu Hukum : panduan untuk mahasiswa”, Prenhalindo, Jakarta – Marwan M as, SH, MH, Pengantar Ilmu Hukum, Ghalia Indonesi – Abdurraoef, Dr, SH, “Alquran dan Ilmu Hukum”, Bulan Bintang, Jakarta – Algra, Mr, N.E, en K. van Duyvendijk Mr, “Mula Hukum”, Binacipta – Subhi Mahmasani, Dr, 8”, Filsafat Hukum Dalam Islam”, PT Al Ma’arif, Bandung – Utrecht, Mr, E, “ Pengantar Dalam Hukum Indonesia”, Ichtiar, Jakarta – Burggink Mr, Drs, Alih Bahasa Arief Sidharta, SH, “Refleksi Tentang Hukum”, PT.

Aditya Bakti, Bandung, – HR. Otje Salman. S. SH, Dr. Prof dan Anton F. Susanto, SH., M.Hum “Teori Hukum”, Refika Aditama, Bandung – Chainur Arrasjid, SH, 1988, “Pengantar Ilmu Hukum”, Yani Coprporation, Medan – Yulies Triana Masriani, Pengantar Ilmu Hukum, Sinar grafika – Ishaq, SH, M.Hum, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Sinargrafika – As’ad Sungguh, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Sinargrafika – R.

Soroso, Pengantar Ilmu Hukum, Sinargrafika Dikatakan mempunyai landaan sosiologis bila ketentuan2nya sesuai dengan keyakinan umum atau kesadaran masyarakat.

Hal ini penting agar UU ditaati dan berlaku efektif dimasyarakat. landasan sosiologis Peraturan Perundang-undangan adalah dasar yang berkaitan dengan kondisi/kenyataan yang hidup dalam masyarakat berupa kebutuhan atau tuntutan yang dihadapi oleh masyarakat, kecenderungan dan harapan masyarakat.

Oleh karena itu Peraturan Perundang-undangan yang telah dibuat diharapkan dapat diterima oleh masyarakat dan mempunyai daya-laku secara efektif. Peraturan Perundang-undangan yang diterima oleh masyarakat secara wajar akan mempunyai daya laku yang efektif dan tidak begitu banyak memerlukan pengarahan institusional untuk melaksanakannya.


• Acèh • Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • Aragonés • العربية • ܐܪܡܝܐ • الدارجة • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • Авар • अवधी • Aymar aru • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Boarisch • Žemaitėška • Bikol Central • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • Banjar • বাংলা • བོད་ཡིག • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • Нохчийн • Cebuano • کوردی • Corsu • Čeština • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Zazaki • डोटेली • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Võro • Føroyskt • Français • Nordfriisk • Furlan • Frysk • Gaeilge • 贛語 • Kriyòl gwiyannen • Gàidhlig • Galego • گیلکی • Avañe'ẽ • ગુજરાતી • Hausa • 客家語/Hak-kâ-ngî • עברית • हिन्दी • Fiji Hindi • Hrvatski • Kreyòl ayisyen • Magyar • Հայերեն • Igbo • Ilokano • ГӀалгӀай • Ido • Íslenska • ᐃᓄᒃᑎᑐᑦ/inuktitut • 日本語 • Patois • La .lojban.

• Jawa • ქართული • Taqbaylit • Kongo • Қазақша • ភាសាខ្មែរ • ಕನ್ನಡ • 한국어 • Перем коми • कॉशुर / کٲشُر • Ripoarisch • Kurdî • Коми • Kernowek • Кыргызча • Latina • Лакку • Лезги • Lingua Franca Nova • Luganda • Limburgs • Ligure • Ladin • Lingála • ລາວ • Lietuvių • Latgaļu • Latviešu • मैथिली • Basa Banyumasan • Мокшень • Malagasy • Олык марий • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • मराठी • Bahasa Melayu • Malti • Mirandés • မြန်မာဘာသာ • Эрзянь • Nāhuatl • Nedersaksies • नेपाली • नेपाल भाषा • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Occitan • ଓଡ଼ିଆ • Ирон • ਪੰਜਾਬੀ • Kapampangan • Papiamentu • पालि • Norfuk / Pitkern • Polski • Piemontèis • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Rumantsch • Romani čhib • Română • Armãneashti • Русский • संस्कृतम् • Саха тыла • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sicilianu • Scots • سنڌي • Davvisámegiella • Srpskohrvatski / српскохрватски • Taclḥit • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • ChiShona • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • Sunda • Svenska • Kiswahili • Ślůnski • Sakizaya • தமிழ் • Tayal • తెలుగు • Тоҷикӣ • ไทย • Tagalog • Türkçe • Xitsonga • Татарча/tatarça • ChiTumbuka • ئۇيغۇرچە / Uyghurche • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vepsän kel’ • Tiếng Việt • West-Vlams • Walon • Winaray • 吴语 • IsiXhosa • მარგალური • ייִדיש • Yorùbá • Vahcuengh • 中文 • 文言 • Bân-lâm-gú • 粵語 • IsiZulu Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan.

Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Manusia" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR ( Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) Manusia [1] Manusia dewasa pria (kiri) dan wanita (kanan) dari suku Akha, Thailand Utara Data Cara bergerak bipedalisme Waktu kehamilan 280 hari Sumber dari Air susu ibu, Kulit manusia dan Rambut kepala Status konservasi Risiko rendah IUCN 136584 Taksonomi Kerajaan Animalia Filum Chordata Kelas Mammalia Ordo Primates Famili Hominidae Genus Homo Spesies Homo sapiens Linnaeus, 1758 Sinonim spesies [1] • aethiopicus Bory de St.

Vincent, 1825 • americanus Bory de St. Vincent, 1825 • arabicus Bory de St. Vincent, 1825 • aurignacensis Klaatsch & Hauser, 1910 • australasicus Bory de St. Vincent, 1825 • cafer Bory de St. Vincent, 1825 • capensis Broom, 1917 • columbicus Bory de St.

Vincent, 1825 • cro-magnonensis Gregory, 1921 • drennani Kleinschmidt, 1931 • eurafricanus (Sergi, 1911) • grimaldiensis Gregory, 1921 • grimaldii Lapouge, 1906 • hottentotus Bory de St. Vincent, 1825 • hyperboreus Bory de St. Vincent, 1825 • indicus Bory de St. Vincent, 1825 • japeticus Bory de St. Vincent, 1825 • melaninus Bory de St. Vincent, 1825 • monstrosus Linnaeus, 1758 • neptunianus Bory de St. Vincent, 1825 • palestinus McCown & Keith, 1932 • patagonus Bory de St.

Vincent, 1825 • priscus Lapouge, 1899 • proto-aethiopicus Giuffrida-Ruggeri, 1915 • scythicus Bory de St. Vincent, 1825 • sinicus Bory de St. Vincent, 1825 • spelaeus Lapouge, 1899 • troglodytes Linnaeus, 1758 • wadjakensis Dubois, 1921 Subspesies • † Homo sapiens idaltu White et al., 2003 • Homo sapiens sapiens Distribusi Dua bocah cilik.

Manusia atau orang ( Homo sapiens, bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu") adalah spesies primata dengan populasi yang terbesar, persebaran yang paling luas, dan dicirikan dengan kemampuannya untuk berjalan di atas dua kaki serta otak yang kompleks yang mampu membuat peralatan, budaya, dan bahasa yang rumit.

Kebanyakan manusia hidup dalam struktur sosial yang terdiri atas kelompok-kelompok tertentu yang pada gilirannya dapat bersaing atau membantu satu sama lain mulai dari kelompok keluarga kecil dengan hubungan kekerabatan hingga kelompok politik yang besar atau negara. Interaksi sosial antarmanusia membuat keberagaman nilai, norma, dan ritual di dalam masyarakat manusia. Keinginan manusia untuk tahu dan memengaruhi lingkungan sekitarnya memunculkan perkembangan dalam filsafat, ilmu, mitologi, dan agama.

Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balik, pemuda/i, dewasa, dan (orang) tua. Selain itu masih banyak penggolongan-penggolongan yang lainnya, berdasarkan ciri-ciri fisik (warna kulit, rambut, mata; bentuk hidung; tinggi badan), afiliasi sosio-politik-agama (penganut agama/kepercayaan XYZ, warga negara XYZ, anggota partai XYZ), hubungan kekerabatan (keluarga: keluarga dekat, keluarga jauh, keluarga tiri, keluarga angkat, keluarga asuh; teman; musuh), dan lain sebagainya.

Tokoh adalah istilah untuk orang yang tenar dan berpengaruh misalnya 'tokoh politik', 'tokoh yang tampil dalam film', 'tokoh yang menerima penghargaan', dan lain-lain. Daftar isi • 1 Biologi • 1.1 Ciri-ciri fisik • 1.2 Ciri-ciri mental • 1.3 Habitat • 1.4 Populasi • 1.5 Asal Mula • 2 Kerohanian dan Agama • 2.1 Animisme • 2.2 Mistikme • 2.3 Politheisme • 2.4 Monotheisme • 3 Sang Individu • 3.1 Hati dan kesadaran • 3.2 Emosi • 3.3 Seksualitas • 3.4 Tubuh • 3.5 Kelahiran dan kematian • 4 Masyarakat • 4.1 Bahasa • 4.2 Agama • 4.3 Keluarga dan teman sepergaulan • 4.4 Suku, bangsa dan negara bagian • 4.5 Kebudayaan dan peradaban • 5 Renungan diri • 6 Lihat pula • 7 Referensi • 8 Pustaka • 9 Pranala luar Biologi [ sunting - sunting sumber ] Ciri-ciri fisik [ sunting - sunting sumber ] Dalam biologi, manusia biasanya dipelajari sebagai salah satu dari berbagai spesies di muka Bumi.

Pembelajaran biologi manusia kadang juga diperluas ke aspek psikologis serta ragawinya, tetapi biasanya tidak ke kerohanian atau keagamaan. Secara biologi, manusia diartikan sebagai hominid dari spesies Homo sapiens. Satu-satunya subspesies yang tersisa dari Homo Sapiens ini adalah Homo sapiens sapiens. Mereka biasanya dianggap sebagai satu-satunya spesies yang dapat bertahan hidup dalam genus Homo. Manusia menggunakan daya penggerak bipedalnya (dua kaki) yang sempurna.

Dengan adanya kedua kaki untuk menggerakkan badan, kedua tungkai depan dapat digunakan untuk memanipulasi objek menggunakan jari jempol (ibu jari). Rata-rata tinggi badan perempuan dewasa Amerika adalah 162 cm (64 inci) dan rata-rata berat 62 kg (137 pound).

Pria umumnya lebih besar: 175 cm (69 inci) dan pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah kilogram (172 pound).

Tentu saja angka tersebut hanya rata rata, bentuk fisik manusia sangat bervariasi, tergantung pada faktor tempat, dan sejarah. Meskipun ukuran tubuh umumnya dipengaruhi faktor keturunan, faktor lingkungan dan kebudayaan juga dapat memengaruhinya, seperti gizi makanan. Anak manusia lahir setelah sembilan bulan dalam masa kandungan, dengan berat pada umumnya 3-4 kilogram (6-9 pound) dan 50-60 sentimeter (20-24 inci) tingginya.

Tak berdaya saat kelahiran, mereka terus bertumbuh selama beberapa tahun, umumnya mencapai kematangan seksual pada sekitar umur 12-15 tahun. Anak laki-laki masih akan terus tumbuh selama beberapa tahun setelah ini, biasanya pertumbuhan tersebut akan berhenti pada umur sekitar 18 tahun. Sebuah kerangka manusia. Warna kulit manusia bervariasi dari hampir hitam hingga putih kemerahan.

Secara umum, orang dengan nenek moyang yang berasal dari daerah yang terik mempunyai kulit lebih hitam dibandingkan dengan orang yang bernenek-moyang dari daerah yang hanya mendapat sedikit sinar matahari.

(Namun, hal ini tentu saja bukan patokan mutlak, ada orang yang mempunyai nenek moyang yang berasal dari daerah terik, dan kurang terik; dan orang-orang tersebut dapat memiliki warna kulit berbeda dalam lingkup spektrumnya). Rata-rata, wanita memiliki kulit yang sedikit lebih terang daripada pria. Perkiraan panjang umur manusia pada kelahiran mendekati 80 tahun di negara-negara makmur, hal ini bisa tercapai berkat bantuan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Jumlah orang yang berumur seratus tahun ke atas di dunia diperkirakan berjumlah [1] Diarsipkan 2006-06-19 di Wayback Machine.

sekitar 50,000 pada tahun 2003. Rentang hidup maksimal manusia diperhitungkan sekitar 120 tahun. Sementara banyak spesies lain yang punah, Manusia dapat tetap eksis, dan berkembang sampai sekarang. Keberhasilan mereka disebabkan oleh daya intelektualnya yang tinggi, tetapi mereka juga mempunyai kekurangan fisik. Manusia cenderung menderita obesitas lebih dari primata lainnya.

Hal ini sebagian besar disebabkan karena manusia mampu memproduksi lemak tubuh lebih banyak daripada keluarga primata lain. Karena manusia merupakan bipedal semata (hanya wajar menggunakan dua kaki untuk berjalan), daerah pinggul, dan tulang punggung juga cenderung menjadi rapuh, menyebabkan kesulitan dalam bergerak pada usia lanjut. Juga, manusia perempuan menderita kerumitan melahirkan anak yang relatif (kesakitan karena melahirkan hingga 24 jam tidaklah umum).

Sebelum abad ke-20, melahirkan merupakan siksaan berbahaya bagi beberapa wanita, dan pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah terjadi di beberapa lokasi terpencil atau daerah yang tak berkembang di dunia saat ini.

Ciri-ciri mental [ sunting - sunting sumber ] Banyak manusia menganggap dirinya organisme terpintar di antara makhluk lainnya, meski ada perdebatan apakah cetacea seperti lumba-lumba dapat saja mempunyai intelektual sebanding.

Tentunya, manusia adalah satu-satunya makhluk yang terbukti berteknologi tinggi. Manusia memiliki perbandingan massa otak dengan tubuh terbesar di antara semua makhluk besar ( Lumba-lumba memiliki yang kedua terbesar hiu memiliki yang terbesar untuk ikan dan gurita memiliki yang tertinggi untuk invertebrata).

Meski bukanlah pengukuran mutlak (sebab massa otak minimum penting untuk fungsi "berumah tangga" tertentu), perbandingan massa otak dengan tubuh memang memberikan petunjuk baik dari intelektual relatif. ( Carl Sagan, The Dragons of Eden, 38) Kemampuan manusia untuk mengenali bayangannya dalam cermin, merupakan salah satu hal yang jarang ditemui di antara makhluk lainnya.

Manusia adalah satu dari empat spesies yang lulus tes cermin untuk pengenalan pantulan diri yang lainnya adalah simpanse, orang utan, dan lumba-lumba. Pengujian membuktikan bahwa sebuah simpanse yang sudah bertumbuh sempurna memiliki kemampuan yang hampir sama dengan seorang anak manusia berumur empat tahun untuk mengenali bayangannya di cermin.

Pengenalan pola (mengenali susunan gambar, dan warna serta meneladani sifat) merupakan bukti lain bahwa manusia mempunyai mental yang baik. Kemampuan mental manusia, dan kepandaiannya, membuat mereka, menurut Pascal, makhluk tersedih di antara semua makhluk. Kemampuan memiliki perasaan, seperti kesedihan atau kebahagiaan, membedakan mereka dari organisme lain, walaupun pernyataan ini sukar dibuktikan menggunakan tes. Keberadaan manusia, menurut sebagian besar ahli filsafat, membentuk dirinya sebagai sumber pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah.

Lihat pula Berpikir, IQ, Ingatan, Penemuan, IPA, Filsafat, Pengetahuan, Pendidikan, Kesadaran. Habitat [ sunting - sunting sumber ] Pandangan konvensional dari evolusi manusia menyatakan bahwa manusia berevolusi di lingkungan dataran sabana di Afrika. (lihat Evolusi manusia). Teknologi yang disalurkan melalui kebudayaan telah memungkinkan manusia untuk mendiami semua benua dan beradaptasi dengan semua iklim.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, manusia telah dapat mendiami sementara benua Antartika, mendiami kedalaman samudera, dan ruang angkasa, meskipun pendiaman jangka panjang di lingkungan tersebut belum termasuk sesuatu yang hemat. Manusia, dengan populasi kurang lebih enam miliar jiwa, adalah salah satu dari mamalia terbanyak di dunia.

Sebagian besar manusia (61%) berkediaman di daerah Asia. Mayoritas sisanya berada di Amerika (14%), Afrika (13%) dan Eropa (12%), dengan hanya 0.3% di Australia. Gaya hidup asli manusia adalah pemburu, dan pengumpul, yang diadaptasikan ke sabana, adegan yang disarankan dalam evolusi manusia. Gaya hidup manusia lainnya adalah nomadisme (berpindah tempat; kadang-kadang dihubungkan dengan kumpulan hewan) dan perkampungan menetap yang dimungkinkan oleh pertanian yang baik.

Manusia mempunyai daya tahan yang baik untuk memindahkan habitat mereka dengan berbagai alasan, seperti pertanian, pengairan, urbanisasi dan pembangunan, serta kegiatan tambahan untuk hal-hal tersebut, seperti pengangkutan dan produksi barang. Perkampungan manusia menetap bergantung pada kedekatannya dengan sumber air dan, bergantung pada gaya hidup, sumber daya alam lainnya seperti lahan subur untuk menanam hasil panen, dan menggembalakan ternak atau, sesuai dengan musim tersedianya mangsa/makanan.

Dengan datangnya infrastruktur perdagangan, dan pengangkutan skala besar, kedekatan lokasi dengan sumber daya tersebut telah menjadi tak terlalu penting, dan di banyak tempat faktor ini tak lagi merupakan daya pendorong bertambah atau berkurangnya populasi. Habitat manusia dalam sistem ekologi tertutup di lingkungan yang tidak akrab dengannya ( Antartika, angkasa luar) sangatlah mahal, dan umumnya mereka tak dapat tinggal lama, dan hanya untuk tujuan ilmiah, militer, atau ekspedisi industri.

Kehidupan di angkasa sangatlah sporadis, dengan maksimal tiga belas manusia di ruang angkasa pada waktu tertentu. Ini adalah akibat langsung dari kerentanan manusia terhadap radiasi ionisasi. Sebelum penerbangan angkasa Yuri Gagarin tahun 1961, semua manusia 'terkurung' di Bumi. Di antara tahun 1969 dan 1974, telah ada dua manusia sekaligus yang menghabiskan waktu singkatnya di Bulan. Sampai tahun 2004, tak ada benda angkasa lain telah dikunjungi manusia. Sampai tahun 2004, telah ada banyak keberadaan manusia di ruang angkasa berkelanjutan sejak peluncuran kru perdana untuk meninggali Stasiun Luar Angkasa Internasional, pada 31 Oktober 2000.

Populasi [ sunting - sunting sumber ] Dalam kurun waktu 200 tahun dari 1800 sampai 2000, populasi dunia telah bertambah pesat dari satu hingga enam milyar. Diperkirakan mencapai puncaknya kira-kira sepuluh miliar selama abad ke-21. Sampai 2004, sebuah minoritas yang cukup besar — sekitar 2.5 dari jumlah 6.3 miliar jiwa — tinggal di sekeliling daerah perkotaan.

Urbanisasi diperkirakan akan melonjak drastis selama abad ke-21. Polusi, kriminal dan kemiskinan hanyalah beberapa contoh dari masalah yang dihadapi oleh manusia yang tinggal di kota dan permukiman pinggiran kota. Asal Mula [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Evolusi manusia Hewan terdekat dengan manusia yang masih bertahan hidup adalah simpanse; kedua terdekat adalah gorila dan ketiga adalah orang utan. Sangat penting untuk diingat, namun, bahwa manusia hanya mempunyai persamaan populasi nenek moyang dengan hewan ini, dan tidak diturunkan langsung dari mereka.

Ahli biologi telah membandingkan serantaian pasangan dasar DNA antara manusia, dan simpanse, dan memperkirakan perbedaan genetik keseluruhan kurang dari 5% Divergence between samples of chimpanzee and human DNA sequences is 5%, counting indels. Telah diperkirakan bahwa garis silsilah manusia bercabang dari simpanse sekitar 5 juta tahun lalu, dan dari gorila sekitar 8 juta tahun lalu.

Namun, laporan berita terbaru dari tengkorak hominid berumur kira-kira 7 juta tahun sudah menunjukkan percabangan dari garis silsilah kera, membuat gagasan kuat adanya percabangan awal silsilah tersebut.

Berikut beberapa gejala penting dalam evolusi manusia: • perluasan rongga otak dan otak itu sendiri, yang umumnya sekitar 1,400 cm³ dalam ukuran volumnya, dua kali lipat perluasan otak simpanse, dan gorila. Beberapa ahli antropologi, namun, mengatakan bahwa alih-alih perluasan otak, penyusunan ulang struktur otak lebih berpengaruh pada bertambahnya kecerdasan. • pengurangan gigi taring. • penggerak bipedal (dua kaki) • perbaikan laring/pangkal tenggorokan (yang memungkinkan penghasilan bunyi kompleks atau dikenal sebagai bahasa vokal).

Bagaimana gejala-gejala ini berhubungan, dengan cara apa mereka telah menyesuaikan diri, dan apa peran mereka dalam evolusi organisasi sosial, dan kebudayaan kompleks, merupakan hal-hal penting dalam perdebatan yang berlangsung di antara para ahli antropologi ragawi saat ini. Selama tahun 1990an, variasi dalam DNA mitochondria manusia diakui sebagai sumber berharga untuk membangun ulang silsilah manusia, dan untuk melacak perpindahan manusia awal.

Berdasarkan perhitungan-perhitungan ini, nenek moyang terakhir yang serupa manusia modern diperkirakan hidup sekitar 150 milenium lalu, dan telah berkembang di luar Africa kurang dari 100.000 tahun lalu. Australia dijelajahi relatif awal, sekitar 70.000 tahun lalu, Eropa +/- 40.000 tahun lalu, dan Amerika pertama didiami secara kasarnya 30.000 tahun lalu, serta kolonisasi kedua di sepanjang Pasifik +/- 15.000 tahun lalu (lihat Perpindahan manusia).

Baru-baru ini, beberapa penelitian pada tahun 2019 dan 2020 dari "Central South University" (CSU; 中南 大学), telah menyajikan bukti kuat untuk asal muasal multiregional manusia. Bukti genetik menunjukkan bahwa populasi terkait Asia Timur (orang Asia Timur, orang Siberia, orang Asia Tengah, orang Asia Tenggara, orang Polinesia, dan orang Amerika Pribumi) secara genetik berbeda dari orang Eropa atau Afrika. Mereka selanjutnya menyarankan bahwa bukti ini bertentangan dengan migrasi keluar dari Afrika.

Mereka menyimpulkan bahwa populasi terkait Asia Timur (juga dikenal sebagai ras Mongoloid) berasal dari suatu tempat di Asia Timur (Tiongkok selatan). [3] [4] Macam-macam kelompok agama telah menyatakan keberatan atas teori evolusi umat manusia dari sebuah nenek moyang bersama dengan hominoid lainnya.

Alhasil, muncullah berbagai perbedaan pendapat, percekcokan, dan kontroversi. Lihat penciptaan, argumen evolusi, dan desain kepandaian untuk melihat pola pikir yang berlawanan. Kerohanian dan Agama [ sunting - sunting sumber ] Bagi kebanyakan manusia, kerohanian, dan agama memainkan peran utama dalam kehidupan mereka.

Sering dalam konteks ini, manusia tersebut dianggap sebagai "orang manusia" terdiri dari sebuah tubuh, pikiran, dan juga sebuah roh atau jiwa yang kadang memiliki arti lebih daripada tubuh itu sendiri, dan bahkan kematian. Seperti juga sering dikatakan bahwa jiwa (bukan otak ragawi) adalah letak sebenarnya dari kesadaran (meski tak ada perdebatan bahwa otak memiliki pengaruh penting terhadap kesadaran).

pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah

Keberadaan jiwa manusia tak dibuktikan ataupun ditegaskan; konsep tersebut disetujui oleh sebagian orang, dan ditolak oleh lainnya. Juga, yang menjadi perdebatan di antara organisasi agama adalah mengenai benar/tidaknya hewan memiliki jiwa; beberapa percaya mereka memilikinya, sementara lainnya percaya bahwa jiwa semata-mata hanya milik manusia, serta ada juga yang percaya akan jiwa kelompok yang diadakan oleh komunitas hewani, dan bukanlah individu.

Bagian ini akan merincikan bagaimana manusia diartikan dalam istilah kerohanian, serta beberapa cara bagaimana definisi ini dicerminkan melalui ritual dan agama. Animisme [ sunting - sunting sumber ] Animisme adalah kepercayaan bahwa objek, dan gagasan termasuk hewan, perkakas, dan fenomena alam mempunyai atau merupakan ekspresi roh hidup.

Dalam beberapa pandangan dunia animisme yang ditemukan di kebudayaan pemburu, dan pengumpul, manusia sering dianggap (secara kasarnya) sama dengan hewan, tumbuhan, dan kekuatan alam.

Sehingga, sikap memperlakukan benda-benda tersebut secara hormat dianggap suatu kewajiban moral. Dalam pandangan dunia ini, manusia dianggap sebagai penghuni, atau bagian, dari alam, bukan sebagai yang lebih unggul atau yang terpisah darinya. Dalam kemasyarakatan ini, ritual/upacara agama dianggap penting untuk kelangsungan hidup, karena dapat memenangkan kemurahan hati roh-roh sumber makanan tertentu, roh tempat bermukim, dan kesuburan serta menangkis roh berhati dengki.

Dalam ajaran animisme yang berkembang, seperti Shinto, ada sebuah makna yang lebih mendalam bahwa manusia adalah sebuah tokoh istimewa yang memisahkan mereka dari segenap benda, dan hewan, sementara masih pula menyisakan pentingnya ritual untuk menjamin keberuntungan, panen yang memuaskan, dan sebagainya. Kebanyakan sistem kepercayaan animisme memegang erat konsep roh abadi setelah kematian fisik.

Dalam beberapa sistem, roh tersebut dipercaya telah beralih ke suatu dunia yang penuh dengan kesenangan, dengan panen yang terus-menerus berkelimpahan atau bahkan permainan yang berlebih-lebih. Sementara di sistem lain ( misal: agama Nawajo), roh tinggal di bumi sebagai hantu, sering kali yang berwatak buruk.

Kemudian tersisa sistem lain yang menyatukan kedua unsur ini, mempercayai bahwa roh tersebut harus berjalan ke suatu dunia roh tanpa tersesat, dan menggeluyur sebagai hantu. Upacara pemakaman, berkabung dan penyembahan nenek moyang diselenggarakan oleh sanak yang masih hidup, keturunannya, sering dianggap perlu untuk keberhasilan penyelesaian perjalanan tersebut. Ritual dalam kebudayaan animisme sering dipentaskan oleh dukun atau imam ( cenayang), yang biasanya tampak kesurupan tenaga roh, lebih dari atau di luar pengalaman manusia biasa.

Pemraktikan tradisi penyusutan kepala sebagaimana ditemukan di beberapa kebudayaan, berasal dari sebuah kepercayaan animisme bahwa seorang musuh perang, jika rohnya tak terperangkap di kepala, dapat meloloskan diri dari tubuhnya dan, setelah roh itu berpindah ke tubuh lain, mengambil bentuk hewan pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah, dan pembalasan setimpal.

Mistikme [ sunting - sunting sumber ] Barangkali merupakan praktik kerohanian, dan pengalaman, tetapi tidak harus bercampur dengan theisme atau lembaga agama lain yang ada di berbagai masyarakat. Pada dasarnya gerakan mistik termasuk Vedanta, Yoga, Buddhisme awal (lihat pula Kerajaan manusia), tradisi memuja Eleusis, perintah mistik Kristiani, dan pengkhotbah seperti Meister Eckhart, dan keislaman Sufisme. Mereka memusatkan pada pengalaman tak terlukiskan, dan kesatuan dengan supranatural (lihat pencerahan, kekekalan).

Dalam mistikme monotheis, pengalaman mistik memfokuskan kesatuan dengan Tuhan. Politheisme [ sunting - sunting sumber ] Konsep dewa sebagai makhluk yang sangat kuat kepandaiannya atau supernatural, kebanyakan dikhayalkan sebagai anthropomorfik atau zoomorfik, yang ingin disembah atau ditentramkan oleh manusia, dan ada sejak permulaan sejarah, dan kemungkinan digambarkan pada kesenian Zaman Batu pula. Dalam masa sejarah, tatacara pengorbanan berevolusi menjadi adat agama berhala dipimpin oleh kependetaan (misal: agama Vedik, (pemraktekan kependetaan berkelanjutan dalam Hinduisme, yang namun telah mengembangkan teologi monotheis, seperti penyembahan berhala theisme monistik, Mesir, Yunani, Romawi dan Jerman).

Dalam agama tersebut, manusia umumnya diciri-cirikan dengan kerendahan mutunya kepada dewa-dewa, kadang-kadang dicerminkan dalam masyarakat berhierarki diperintah yang oleh dinasti-dinasti yang menyatakan keturunan sifat ketuhanan/kedewaan.

Dalam agama yang mempercayai reinkarnasi, terutama Hinduisme, tak ada batasan yang kedap di antara hewan, manusia, dan dewa, karena jiwa dapat berpindah di seputar spesies yang berbeda tanpa kehilangan identitasnya.

Monotheisme pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah sunting - sunting sumber ] Gagasan dari suatu Tuhan tunggal yang menggabungkan, dan melampaui semua dewa-dewa kecil tampak berdiri sendiri dalam beberapa kebudayaan, kemungkinan terwujud pertama kali dalam bida’ah/klenik Akhenaten (lebih dikenal sebagai Henotheisme, tahap umum dalam kemunculan Monotheisme).

Konsep dari kebaikan, dan kejahatan dalam sebuah pengertian moral timbul sebagai sebuah konsekuensi Tuhan tunggal sebagai otoritas mutlak.

pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah

Dalam agama Yahudi, Tuhan adalah pusat dalam pemilihan orang Yahudi sebagai rakyat, dan dalam Kitab Suci Yahudi, takdir komunitas, dan hubungannya dengan Tuhan mempunyai hak istimewa yang jelas (harus diutamakan) di atas takdir individu.

Kekristenan bertumbuh keluar dari agama Yahudi dengan menekankan takdir individual, khususnya setelah kematian, dan campur tangan pribadi Tuhan dengan adanya inkarnasi, yaitu dengan menjadi manusia selama sementara. Islam, walaupun menolak kepercayaan kristiani untuk Tritunggal dan inkarnasi ketuhanan, islam dalam melihat manusia sebagai Khalifah (Pemimpin) dari segala makhluk Tuhan yang memiliki keutamaan dari segala makhluk, dan satu-satunya makhluk yang memiliki akal dan nafsu. Julukan yang diberikan kepada manusia dalam Islam adalah Bani Adam.

Dalam semua agama Abrahamik, manusia adalah penguasa, atau pengurus, di atas seluruh muka Bumi, dan semua makhluk lain, dan memiliki moral hati nurani yang unik. Hinduisme, juga belakangan mengembangkan teologi monotheis seperti theisme monistik, yang berbeda dari pikiran Barat mengenai monotheis.

Agama monotheistik mempunyai kemiripan dalam kepercayaan bahwa umat manusia diciptakan oleh Tuhan, diikat oleh kewajiban kasih sayang, dan dirawat oleh pemeliharaan baik kaum/pihak ayah. Sang Individu [ sunting pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah sunting sumber ] Manusia individu adalah subjek yang mengalami kondisi manusia.

Ini diikatkan dengan lingkungannya melalui indra mereka, dan dengan masyarakat melalui kepribadian mereka, jenis kelamin mereka serta status sosial. Selama kehidupannya, ia berhasil melalui tahap bayi, kanak-kanak, remaja, kematangan dan usia lanjut. Deklarasi universal untuk hak asasi diadakan untuk melindungi hak masing-masing individu. Hati dan kesadaran [ sunting - sunting sumber ] Pengalaman subjektif dari seorang individu berpusat di sekitar kesadarannya, kesadaran-diri atau pikiran, memperbolehkan adanya persepsi eksistensinya sendiri, dan dari perjalanan waktu.

Kesadaran memberikan naiknya persepsi akan kehendak bebas, meskipun beberapa percaya bahwa kehendak bebas sempurna adalah khayalan yang menyesatkan, dibatasi atau dilenyapkan oleh penentuan takdir atau sosial atau biologis.

Hati manusia diperluas ke luar kesadaran, mencakup total aspek mental, dan emosional individu. Ilmu pengetahuan psikologi mempelajari hati manusia (psike), khususnya alam bawah sadar ( tak sadar). Praktik psikoanalisis yang dirancang oleh Sigmund Freud mencoba menyingkap bagian dari alam bawah sadar.

Freud menyusun diri manusia menjadi Ego, Superego, dan Id. Carl Gustav Jung memperkenalkan pemikiran alam bawah sadar kolektif/bersama, dan sebuah proses pengindividuan, menuangkan keragu-raguan untuk ketepatan pendefinisian individu ‘yang dapat diartikan’.

Emosi [ sunting - sunting sumber ] Individu manusia terbuka terhadap emosi yang besar memengaruhi keputusan serta tingkah laku mereka. Emosi menyenangkan seperti cinta atau sukacita bertentangan dengan emosi tak menyenangkan seperti kebencian, cemburu, iri hati atau sakit hati. Seksualitas [ sunting - sunting sumber ] Seksualitas manusia, di samping menjamin reproduksi, mempunyai fungsi sosial penting, membuat ikatan/pertalian, dan hierarki di antara individu.

Hasrat seksual dialami sebagai sebuah dorongan/keinginan badani, sering disertai dengan emosi kuat positif (seperti cinta atau luapan kegembiraan) dan negatif (seperti kecemburuan/ iri hati atau kebencian). Tubuh [ sunting - sunting sumber ] penampilan fisik tubuh manusia adalah pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah kebudayaan dan kesenian.

Dalam setiap kebudayaan manusia, orang gemar memperindah tubuhnya, dengan tato, kosmetik, pakaian, perhiasan atau ornamen serupa. Model rambut juga mempunyai pengertian kebudayaan penting. Kecantikan atau keburukan rupa adalah kesan kuat subjektif dari penampilan seseorang.

Kebutuhan individu terhadap makanan dan minuman teratur secara jelas tercermin dalam kebudayaan manusia (lihat pula ilmu makanan). Kegagalan mendapatkan makanan secara teratur akan berakibat rasa lapar dan pada akhirnya kelaparan (lihat juga malagizi). Rata-rata waktu tidur (dengan nilai minimal) adalah 8 jam per hari untuk dewasa, dan 10 jam untuk anak-anak.

Orang yang lebih tua biasanya tidur selama 6 jam. Sudah umum, namun dalam masyarakat modern bagi orang-orang untuk mendapat waktu tidur kurang dari yang mereka butuhkan. Tubuh manusia akan mengalami proses penuaan dan penyakit. Ilmu pengobatan adalah ilmu pengetahuan yang menelusuri metode penjagaan kesehatan tubuh.

Kelahiran dan kematian [ sunting - sunting sumber ] Kehidupan subjektif individu berawal pada kelahirannya, atau dalam fase kehamilan terdahulu, selama janin berkembang di dalam tubuh ibu. Kemudian kehidupan berakhir dengan kematian individu. Kelahiran, dan kematian sebagai peristiwa luar biasa yang membatasi kehidupan manusia, dapat mempunyai pengaruh hebat terhadap individu tersebut. Kesulitan selama melahirkan dapat berakibat trauma dan kemungkinan kematian dapat menyebabkan rasa keberatan (tak mudah) atau ketakutan (lihat pula pengalaman hampir meninggal).

Upacara penguburan adalah ciri-ciri umum masyarakat manusia, sering diinspirasikan oleh kepercayaan akan adanya kehidupan setelah kematian. Adat kebiasaan warisan atau penyembahan nenek moyang dapat memperluas kehadiran sang individu di luar rentang usia fisiknya.

(lihat kekekalan) Masyarakat [ sunting - sunting sumber ] Meskipun banyak spesies berprinsip sosial, membentuk kelompok berdasarkan ikatan/pertalian genetik, perlindungan-diri, atau membagi pengumpulan makanan, dan penyalurannya, manusia dibedakan dengan rupa-rupa, dan kemajemukan dari adat kebiasaan yang mereka bentuk entah untuk kelangsungan hidup individu atau kelompok, dan untuk pengabadian, dan perkembangan teknologi, pengetahuan, serta kepercayaan.

Identitas kelompok, penerimaan, dan dukungan dapat mendesak pengaruh kuat pada tingkah laku individu, tetapi manusia juga unik dalam kemampuannya untuk membentuk, dan beradaptasi ke kelompok baru. Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang menjelaskan interaksi antar manusia. Bahasa [ sunting - sunting sumber ] Kecakapan ber pidato adalah sebuah unsur pendefinisian umat manusia, mungkin mendahului pemisahan populasi modern filogenetik (lihat Asal usul bahasa).

Bahasa adalah pusat dari komunikasi antar manusia. Kata Yahudi untuk "binatang" ( behemah) berarti "bisu", menggambarkan manusia sebagai "binatang berbicara" ( kepandaian bercakap hewani). Bahasa adalah pusat dari sentuhan identitas ‘khas’ berbagai kebudayaan atau kesukuan dan sering diceritakan mempunyai status atau kekuatan supernatural (lihat Sihir/ Gaib, Mantra, Vac).

Penemuan sistem penulisan sekitar 5000 tahun lalu, yang memungkinkan pengabadian ucapan, merupakan langkah utama dalam evolusi kebudayaan. Ilmu pengetahuan Linguistik ( ilmu bahasa) menjelaskan susunan bahasa, dan keterkaitan antara bahasa-bahasa berbeda. Diperkirakan ada 6000 bahasa yang diucapkan manusia saat ini. Manusia yang kekurangan kemampuan berkomunikasi melalui ucapan, umumnya bercakap-cakap menggunakan Bahasa Isyarat.

Agama [ sunting - sunting sumber ] Dalam setiap kebudayaan manusia, kerohanian dan ritual mendapat ekspresi dalam bentuk tertentu. Elemen-elemen ini dapat menggabungkan secara penting pengalaman pribadi dengan pengalaman penyatuan, dan komunal, sering kali membangkitkan emosi yang sangat kuat, dan bahkan luapan kegembiraan. Kekuatan pengikat yang kuat dari pengalaman tertentu dapat kadang-kadang menimbulkan kefanatikan atau agresi kepada manusia lain yang tidak termasuk dalam kelompok agamanya, berakibat perpecahan atau bahkan perang.

Teokrasi adalah masyarakat yang dibentuk secara dominan oleh agama, diperintah oleh pemimpin suci atau oleh seorang pemuka agama. Agama dapat pula berperilaku sebagai alat penyaluran, dan pengaruh dari norma budaya dunia, pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah tingkah laku yang wajar dilakukan manusia. Keluarga dan teman se pergaulan [ sunting - sunting sumber ] Saudara kandung Individu manusia dibiasakan untuk bertumbuh menjadi seorang pelengkap yang berjiwa kuat ke dalam suatu kelompok kecil, umumnya termasuk keluarga biologis terdekatnya, ibu, ayah dan saudara kandung.

Sebagai seorang pelengkap berjiwa kuat yang serupa dapat dikelirukan dengan suatu kelompok kecil yang sama, yaitu teman sepergaulan sebaya sang individu, umumnya berukuran antara sepuluh hingga dua puluh individu, kemungkinan berkaitan dengan ukuran optimal untuk gerombolan pemburu.

Dinamika kelompok dan tekanan dari teman dapat memengaruhi tingkah laku anggotanya. Seorang individu akan mengembangkan perasaan kesetiaan yang kuat kepada kelompok tertentu. Kelakuan manusia yang wajar termasuk seringnya hubungan sosial, dinyatakan dalam obrolan/percakapan, dansa, menyanyi atau cerita (dikenal dengan curhat).

Suku, bangsa dan negara bagian [ sunting - sunting sumber ] Kelompok manusia yang lebih besar dapat disatukan dengan gagasan kesamaan nenek moyang ( suku, etnis) atau kesamaan fokus budaya atau materi ( bangsa atau negara bagian), sering dibagi lebih lanjut menurut struktur kelas sosial dan hierarki.

Sebuah suku dapat terdiri dari beberapa ratus individu, sementara negara bagian modern terbesar berisi lebih dari semilyar. Konflik kekerasan di antara kelompok-kelompok besar disebut peperangan. Kesetiaan/pengabdian untuk kelompok yang besar seperti ini disebut nasionalisme atau patriotisme. Dalam keekstreman, perasaan pengabdian terhadap sebuah lembaga atau kewenangan dapat mencapai keekstreman pathologi, yang berakibat hysteria massa (gangguan saraf) atau fasisme.

Antropologi budaya menjelaskan masyarakat manusia yang berbeda-beda, dan sejarah mencatat interaksi mereka berikut kesuksesan yang dialami. Organisasi, dan pemerintahan bentuk modern dijelaskan oleh Ilmu Politik dan Ekonomi.

Kebudayaan dan peradaban [ sunting - sunting sumber ] Sebuah peradaban adalah sebuah masyarakat yang telah mencapai tingkat kerumitan tertentu, umumnya termasuk perkotaan dan pemerintahan berlembaga, agama, iptek, sastra, serta filsafat.

Perkotaan paling awal di dunia ditemukan di dekat rute perdagangan penting kira-kira 10.000 tahun lalu ( Yeriko, Çatalhöyük). Kebudayaan manusia, dan ekspresi seni mendahului peradaban, dan dapat dilacak sampai ke palaeolithik ( lukisan goa, arca Venus, tembikar/pecah belah dari tanah). Kemajuan pertanian memungkinkan transisi dari masyarakat pemburu dan pengumpul atau nomadik menjadi perkampungan menetap sejak Milenium ke-9 SM. Penjinakan hewan menjadi bagian penting dari kebudayaan manusia ( anjing, domba, kambing, lembu).

Dalam masa sejarah ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang bahkan lebih pesat (lihat Sejarah iptek). Renungan diri [ sunting - sunting sumber ] Umat manusia selalu mempunyai perhatian yang hebat akan dirinya sendiri. Kecakapan manusia untuk mengintrospeksi diri, keinginan individu untuk menjelajahi lebih mengenai intisari diri mereka, tanpa terkecuali menghasilkan pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah penyelidikan mengenai kondisi manusia merupakan pokok jenis manusia secara keseluruhan.

Renungan diri adalah dasar dari filsafat dan telah ada sejak awal pencatatan sejarah. Artikel ini misalnya, karena ditulis oleh manusia, dengan sendirinya tak dapat luput dari contoh refleksi diri.

Manusia kerap menganggap dirinya sebagai spesies dominan di Bumi, dan yang paling maju dalam kepandaian, dan kemampuannya mengelola lingkungan. Kepercayaan ini khususnya sangat kuat dalam kebudayaan Barat, dan berasal dari bagian dalam cerita penciptaan di Alkitab yang mana Adam secara khusus diberikan kekuasaan atas Bumi, dan semua makhluk.

Berdampingan dengan anggapan kekuasaan manusia, kita sering menganggap ini agak radikal karena kelemahan, dan singkatnya kehidupan manusia (Dalam Kitab Suci Yahudi, misalnya, kekuasaan manusia dijanjikan dalam Kejadian 1:28, tetapi pengarang kitab Pengkhotbah meratapi kesia-siaan semua usaha manusia). Ahli filsafat Yahudi, Protagoras telah membuat pernyataan terkenal bahwa "Manusia adalah ukuran dari segalanya; apa yang benar, benarlah itu; apa yang tidak, tidaklah itu".

Aristotle mendeskripsikan manusia sebagai "hewan komunal" (ζωον πολιτικον), yaitu menekankan pembangunan masyarakat sebagai pusat pembawaan alam manusia, dan "hewan dengan sapien" (ζωον λογον εχων, dasar rasionil hewan), istilah yang juga menginspirasikan taksonomi spesies, Homo sapiens.

Pandangan dunia dominan pada abad pertengahan Eropa berupa keberadaan manusia yang diciri-cirikan oleh dosa, dan tujuan hidupnya adalah untuk mempersiapkan diri terhadap pengadilan akhir setelah kematian.

Pencerahan/pewahyuan digerakkan oleh keyakinan baru, bahwa, dalam perkataan Immanuel Kant, "Manusia dibedakan di atas semua hewan dengan kesadaran-dirinya, yang mana ia adalah 'hewan rasionil'". Pada awal abad ke-20, Sigmund Freud melancarkan serangan serius kepada positivisme mendalilkan bahwa kelakuan manusia mengarah kepada suatu bagian besar yang dikendalikan oleh pikiran bawah sadar.

Dari titik pandang ilmiah, Homo sapiens memang berada di antara spesies yang paling tersama-ratakan di Bumi, dan hanya ada sejumlah kecil spesies tunggal yang menduduki lingkungan beraneka-ragam sebanyak manusia. Rupa-rupa usaha telah dibuat untuk mengidentifikasikan sebuah ciri-ciri kelakuan tunggal yang membedakan manusia dari semua hewan lain, misal: Kemampuan untuk membuat, dan mempergunakan perkakas, kemampuan untuk mengubah lingkungan, bahasa, dan perkembangan struktur sosial majemuk.

Beberapa ahli antropologi berpikiran bahwa ciri-ciri yang siap diamati ini (pembuatan-perkakas, dan bahasa) didasarkan pada kurang mudahnya mengamati proses mental yang kemungkinan unik di antara manusia: kemampuan berpikir secara simbolik, dalam hal abstrak atau secara logika.

Adalah susah, namun, untuk tiba pada suatu kelompok atribut yang termasuk semua manusia, dan hanya manusia, dan harapan untuk menemukan ciri-ciri unik manusia yang adalah masalah dari renungan-diri manusia lebih daripada suatu masalah zoologi. Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Antropologi • Homo, Humanoid • Rakyat • Ras manusia • Bologi manusia • Evolusi manusia • Populasi dunia • Tuhan • Jiwa • Atman • Karma • Mistik • Ritual • Kegembiraan meluap • Pengorbanan • Korban • Keselamatan • Kebangkitan • Inkarnasi • Reinkarnasi • Doa • Pemujaan • Moralitas • Hati nurani Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b Groves, C.P.

(2005). Wilson, D.E.; Reeder, D.M., ed. Mammal Species of the World: A Taxonomic and Geographic Reference (edisi ke-3). Baltimore: Johns Hopkins University Press. ISBN 0-801-88221-4. OCLC 62265494. • ^ Global Mammal Assessment Team (2008). " Homo sapiens". The IUCN Red List of Threatened Species.

2008: e.T136584A4313662. doi: 10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T136584A4313662.en. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 December 2017. Diakses tanggal 12 May 2020. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Yuan, Dejian; Lei, Xiaoyun; Gui, Yuanyuan; Wang, Mingrui; Zhang, Ye; Zhu, Zuobin; Wang, Dapeng; Yu, Jun; Huang, Shi (2019-06-09).

"Modern human origins: multiregional evolution of autosomes and East Asia origin of Y and mtDNA". bioRxiv (dalam bahasa Inggris): 101410. doi: 10.1101/101410. • ^ Chen, Hongyao; Zhang, Ye; Huang, Shi (2020-03-11). "Ancient Y chromosomes confirm origin of modern human paternal lineages in Asia rather than Africa".

bioRxiv (dalam bahasa Inggris): 2020.03.10.986042. doi: 10.1101/2020.03.10.986042. Pustaka [ sunting - sunting sumber ] • Jablonski, N.G. & Chaplin, G. "Evolusi pewarnaan kulit manusia." Catatan Teratur Evolusi Manusia 39 (2000) 57-106. ( dalam bentuk pdf Diarsipkan 2012-01-14 di Wayback Machine.) • Robins, A.H.

Perspektif Biologis pada Pigmentasi Manusia. Cambridge: Cambridge University Press, 1991. Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Manusia. Wikispecies mempunyai informasi mengenai Homo sapiens. • Sekilas Asal Mula Manusia Modern • Pohon Kehidupan • Nicholas Wade. " Mengapa Manusia Terpisah Dengan Bulunya." New York Times (Science Times), 19 Agustus 2003. Ringkasan petunjuk untuk hikayat di mana manusia berevolusi hingga luput dari rambutnya, dan harus menyesuaikan, termasuk perubahan dari kulit putih ke kulit hitam, bersama dengan perkiraan waktu ketika manusia menemukan pakaian.

• W. Gitt. Keinginan Manusia Diarsipkan 2007-10-01 di Wayback Machine. (1999) Sebuah buku yang mendukung pandangan penciptaan Kristiani dari biologi manusia. ( PDF, 9 MB) • Wikidata: Q15978631 • Wikispecies: Homo sapiens • ADW: Homo_sapiens • BOLD: 12439 • EoL: 327955 • EPPO: HOMXSA • Fossilworks: 83088 • GBIF: 2436436 • iNaturalist: 43584 • IRMNG: 10857762 • ITIS: 180092 • IUCN: 136584 • MSW: 12100795 • NBN: NHMSYS0000376773 pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah NCBI: 9606 • NZOR: d83185ac-1aa6-4f59-8645-fe8c040857b3 • TSA: 8319 • uBio: 109086 • WoRMS: 1455977 • ZooBank: 58D31D52-713D-44B4-9FE9-CB2D9249C422 Kategori tersembunyi: • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Artikel yang membutuhkan referensi tambahan April 2022 • Semua artikel yang membutuhkan referensi tambahan • Infobox yang menggunakan parameter tidak dikenal • Templat webarchive tautan wayback • Pranala Commons ditentukan secara lokal • Taxonbar pada halaman yang kemungkinan non-takson • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda BNF • Artikel Wikipedia dengan penanda EMU • Artikel Wikipedia dengan penanda NLI • Artikel Wikipedia dengan penanda NARA • Artikel Wikipedia dengan penanda TDVİA • Halaman ini terakhir diubah pada 5 April 2022, pukul 08.02.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
• Afrikaans • Akan • Alemannisch • Алтай тил • አማርኛ • Aragonés • Ænglisc • العربية • ܐܪܡܝܐ • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • Aymar aru • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Boarisch • Žemaitėška • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • Bislama • Banjar • বাংলা • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • Нохчийн • Cebuano • کوردی • Corsu • Čeština • Словѣньскъ / ⰔⰎⰑⰂⰡⰐⰠⰔⰍⰟ • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Dagbanli • Deutsch • Zazaki • Eʋegbe • Ελληνικά • Emiliàn e rumagnòl • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Võro • Français • Furlan • Frysk • Gaeilge • Kriyòl gwiyannen • Gàidhlig • Galego • Avañe'ẽ • गोंयची कोंकणी / Gõychi Konknni • Bahasa Hulontalo • 𐌲𐌿𐍄𐌹𐍃𐌺 • ગુજરાતી • Gaelg • Hausa • 客家語/Hak-kâ-ngî • עברית • हिन्दी • Fiji Hindi • Hrvatski • Kreyòl ayisyen • Magyar • Հայերեն • Interlingua • Ilokano • ГӀалгӀай • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • Jawa • ქართული • Taqbaylit • Адыгэбзэ • Kabɩyɛ • Қазақша • ភាសាខ្មែរ • 한국어 • Kurdî • Kernowek • Latina • Lëtzebuergesch • Lingua Franca Nova • Ligure • Ladin • Lombard • Lingála • Lietuvių • Latviešu • Malagasy • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • मराठी • Bahasa Melayu • Mirandés • မြန်မာဘာသာ • Эрзянь • مازِرونی • Plattdüütsch • Nedersaksies • नेपाली • नेपाल भाषा • Li Niha • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • ߒߞߏ • Nouormand • Sesotho sa Leboa • Occitan • Livvinkarjala • Oromoo • Ирон • ਪੰਜਾਬੀ • Picard • Norfuk / Pitkern • Polski • Piemontèis • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Rumantsch • Romani čhib • Română • Armãneashti • Русский • Русиньскый • संस्कृतम् • Саха тыла • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sicilianu • Scots • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • ChiShona • Shqip • Српски / srpski • SiSwati • Sesotho • Seeltersk • Svenska • Kiswahili • Ślůnski • தமிழ் • తెలుగు • Тоҷикӣ • ไทย • Tagalog • Tok Pisin • Türkçe • Xitsonga • Татарча/tatarça • Twi • ئۇيغۇرچە / Uyghurche • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vèneto • Vepsän kel’ • Tiếng Việt • West-Vlams • Volapük • Walon • Winaray • Wolof • 吴语 • IsiXhosa • მარგალური • ייִדיש • 中文 • Bân-lâm-gú • 粵語 • IsiZulu • l • b • s Tuhan dipahami sebagai Roh Mahakuasa dan asas dari suatu kepercayaan.

[1] Tidak ada kesepakatan bersama mengenai konsep ketuhanan, sehingga ada berbagai konsep ketuhanan meliputi teisme, deisme, panteisme, dan lain-lain. Dalam pandangan teisme, Tuhan merupakan pencipta sekaligus pengatur segala kejadian di alam semesta.

Menurut deisme, Tuhan merupakan pencipta alam semesta, tetapi tidak ikut campur dalam kejadian di alam semesta. Menurut panteisme, Tuhan merupakan alam semesta itu sendiri. Para cendekiawan menganggap berbagai sifat-sifat Tuhan berasal dari konsep ketuhanan yang berbeda-beda. Yang paling umum, di antaranya adalah Mahatahu (mengetahui segalanya), Mahakuasa (memiliki kekuasaan tak terbatas), Mahaada (hadir di mana pun), Mahamulia (mengandung segala sifat-sifat baik yang sempurna), tak ada yang setara dengan-Nya, serta bersifat kekal abadi.

Penganut monoteisme percaya bahwa Tuhan hanya ada satu, serta tidak berwujud (tanpa materi), memiliki pribadi, sumber segala kewajiban moral, dan "hal terbesar yang dapat direnungkan". [1] Banyak filsuf abad pertengahan dan modern terkemuka yang mengembangkan argumen untuk mendukung dan membantah keberadaan Tuhan. [2] Ada banyak nama untuk menyebut Tuhan, dan nama yang berbeda-beda melekat pada gagasan kultural tentang sosok Tuhan dan sifat-sifat apa yang dimiliki-Nya.

Atenisme pada zaman Mesir Kuno, kemungkinan besar merupakan agama monoteistis tertua yang pernah tercatat dalam sejarah yang mengajarkan Tuhan sejati dan pencipta alam semesta, [3] yang disebut Aten. [4] Kalimat " Aku adalah Aku" dalam Alkitab Ibrani, dan "Tetragrammaton" YHVH digunakan sebagai nama Tuhan, sedangkan Yahweh, dan Yehuwa kadang kala digunakan dalam agama Kristen sebagai hasil vokalisasi dari YHWH.

Dalam bahasa Arab, nama Allah digunakan, dan karena predominansi Islam di antara para penutur bahasa Arab, maka nama Allah memiliki konotasi dengan kepercayaan dan kebudayaan Islam. Umat muslim mengenal 99 nama suci bagi Allah, sedangkan umat Yahudi biasanya menyebut Tuhan dengan gelar Elohim atau Adonai (nama yang kedua dipercaya oleh sejumlah pakar berasal dari bahasa Mesir Kuno, Aten). [5] [6] [7] [8] [9] Dalam agama Hindu, Brahman biasanya dianggap sebagai Tuhan monistis.

[10] Agama-agama lainnya memiliki panggilan untuk Tuhan, di antaranya: Baha dalam agama Baha'i, [11] Waheguru dalam Sikhisme, [12] dan Ahura Mazda dalam Zoroastrianisme. [13] Banyaknya konsep tentang Tuhan dan pertentangan satu sama lain dalam hal sifat, maksud, dan tindakan Tuhan, telah mengarah pada munculnya pemikiran-pemikiran seperti omniteisme, pandeisme, [14] [15] atau filsafat Perennial, yang menganggap adanya satu kebenaran teologis yang mendasari segalanya, yang diamati oleh berbagai agama dalam sudut pandang yang berbeda-beda, maka sesungguhnya agama-agama di dunia menyembah satu Tuhan yang sama, tetapi melalui konsep dan pencitraan mental yang berbeda-beda mengenai-Nya.

[16] Daftar isi • 1 Etimologi dan terminologi • 2 Konsep tentang Tuhan • 2.1 Monoteisme dan henoteisme • 2.2 Teisme, deisme, dan panteisme • 2.3 Konsep ketuhanan lainnya • 3 Keberadaan Tuhan • 4 Tuhan dalam sudut pandang nonteistis • 4.1 Tuhan antropomorfis • 5 Persentase kepercayaan akan Tuhan • 6 Peran pada kemanusiaan • 7 Lihat pula • 8 Referensi • 9 Pranala luar Etimologi dan terminologi [ sunting - sunting sumber ] Kata Tuhan dalam bahasa Melayu berasal dari kata tuan.

Buku pertama yang memberi keterangan tentang hubungan kata tuan dan Tuhan adalah Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ (1976). Menurut buku tersebut, arti kata Tuhan ada hubungannya dengan kata Melayu tuan yang berarti atasan/penguasa/pemilik. [17] Kata "tuan" ditujukan kepada manusia, atau hal-hal lain yang memiliki sifat menguasai, memiliki, atau memelihara.

Digunakan pula untuk menyebut seseorang yang memiliki derajat yang lebih tinggi, atau seseorang yang dihormati. Penggunaannya lumrah digunakan bersama-sama dengan disertakan dengan kata lain mengikuti kata "tuan" itu sendiri, dimisalkan pada kata "tuan rumah" atau "tuan tanah" dan lain sebagainya (dalam bahasa Inggris: Lord).

Kata ini biasanya digunakan dalam konteks selain keagamaan yang bersifat ketuhanan. [18] Ahli bahasa Remy Sylado menemukan bahwa perubahan kata "tuan" yang bersifat insani, menjadi "Tuhan" yang bersifat ilahi, bermula dari terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu karya Melchior Leijdecker yang terbit pada tahun 1733.

[19] [20] Dalam terjemahan sebelumnya, yaitu kitab suci Nasrani bahasa Melayu beraksara Latin terjemahan Brouwerius yang muncul pada tahun 1668, kata yang dalam bahasa Yunaninya, Kyrios, dan sebutan yang diperuntukkan bagi Isa Almasih ini diterjemahkannya menjadi "tuan".

Kata yang diterjemahkan oleh Brouwerius sebagai "Tuan"—sama dengan bahasa Portugis Senhor, Prancis Seigneur, Inggris Lord, Belanda Heere—melalui Leijdecker berubah menjadi "Tuhan" dan kemudian, penerjemah Alkitab bahasa Melayu melanjutkan penemuan Leijdecker tersebut. Kini kata Tuhan yang awalnya ditemukan oleh Leijdecker untuk mewakili dua pengertian pelik insani dan ilahi dalam teologi Kristen atas sosok Isa Almasih akhirnya menjadi lema khas dalam bahasa Indonesia.

[19] Di dalam Alkitab Terjemahan Baru (1974), kata Tuhan (dan keluarga katanya, mis. Tuhanku) disebutkan sebanyak 7677 kali dalam 6510 ayat di seluruh protokanonika Perjanjian Lama (Ibrani) dan Perjanjian Baru (Yunani).

[21] Kata ini paling sering digunakan untuk menerjemahkan kata Kurios (Yunani) dan Adonai (Ibrani). Selain itu, khusus untuk menerjemahkan Tetragrammaton YHWH, penerjemah TB dalam edisi cetak menggunakan huruf kapital ( smallcaps) Tuhan, mengikuti tradisi terjemahan yang sudah ada, [22] misalnya dalam Kejadian 2:4, "Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan.

Ketika Tuhan Allah ( YHWH Elohim) menjadikan bumi dan langit, --". [23] (Namun untuk menulis "Adonai YHWH" digunakan "Tuhan Allah", misalnya dalam Yesaya 61:1, "Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara,") Dalam bahasa Indonesia modern, kata "Tuhan" pada umumnya dipakai untuk merujuk kepada suatu Dzat abadi dan supernatural.

Dalam konteks rumpun agama samawi, kata Tuhan (dengan huruf T besar) hampir selalu mengacu pada Allah, yang diyakini sebagai Dzat yang Maha sempurna, pemilik langit dan bumi yang disembah manusia. Dalam bahasa Arab kata ini sepadan dengan kata rabb. Menurut Ibnu Atsir, Tuhan dan tuan secara bahasa diartikan pemilik, penguasa, pengatur, pembina, pengurus dan pemberi nikmat. [24] Kata Tuhan disebutkan lebih dari 1.000 kali dalam Al-Qur'an, [25]. Dalam monoteisme, biasanya dikatakan bahwa Tuhan mengawasi dan memerintah manusia dan alam semesta atau jagat raya.

Hal ini bisa juga digunakan untuk merujuk kepada beberapa konsep-konsep yang mirip dengan ini, misalnya sebuah bentuk energi atau kesadaran yang merasuki seluruh alam semesta, yang keberadaan-Nya membuat alam semesta ada; sumber segala yang ada; kebajikan yang terbaik dan tertinggi dalam semua makhluk hidup; atau apa pun yang tak bisa dimengerti atau dijelaskan.

Di dalam bahasa Melayu atau bahasa Indonesia, dua konsep atau nama yang berhubungan dengan ketuhanan, yaitu: Tuhan sendiri, dan dewa. Penganut monoteisme biasanya menolak menggunakan kata dewa, karena merujuk kepada entitas-entitas dalam agama politeistis. Meskipun demikian, penggunaan kata dewa pernah digunakan sebelum penggunaan kata Tuhan.

Dalam Prasasti Trengganu, prasasti tertua di dalam bahasa Melayu yang ditulis menggunakan huruf Arab ( huruf Jawi) menyebut Sang Dewata Mulia Raya. Dewata yang dikenal orang Melayu berasal dari kata devata, sebagai hasil penyebaran agama Hindu-Buddha di Nusantara. Bagaimanapun, pada masa kini, pengertian istilah Tuhan digunakan untuk merujuk Tuhan yang tunggal, sementara dewa dianggap mengandung arti salah satu dari banyak Tuhan sehingga cenderung mengacu kepada politeisme.

Selain itu dalam teks terkadang juga digunakan kata "tuhan" dengan huruf kecil (mirip dengan kata "allah" dengan huruf kecil), terutama ketika memperbandingkan antara Tuhan Allah yang esa dengan tuhan (tuan) yang lain, misalnya dalam Ulangan 10: 17: "Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap; " 1 Korintus 8: 5, dan Mazmur 136: 3 Konsep tentang Tuhan [ sunting - sunting sumber ] Konsep ketuhanan telah dikenal sejak manusia ada di dunia.

Dasar dari konsep ketuhanan ini ialah adanya sesuatu yang maha gaib. Konsep ketuhanan yang paling awal ialah animisme dan dinamisme. Kedua konsep ini mulai ada sejak zaman manusia purba dan sifatnya sangat sederhana. Segala sesuatu yang sifatnya gaib dikatikan dengan keberadaan Tuhan. Kemudian, konsep ketuhanan berkembang seiring terbentuknya struktur masyarakat pada manusia.

Konsep Tuhan ikut berkembang dengan terbentuknya hierarki ketuhanan. Pada masa ini, terbenuklah politeisme yang meyakini bahwa Tuhan tidak tunggal. Dalam konsep ini, Tuhan memiliki keluarga atau masyarakat seperti pada masyarakat manusia.

Dari politeisme berkembang konsep ketuhanan lain, yaitu henoteisme. Dalam henotesime, Tuhan diyakini memiliki struktur pemerintahan dengan pemerintah tertinggi oleh Dewa. Perkembangan selanjutnya dari henoteisme memunculkan monoteisme dengan konsep bahwa Tuhan adalah sesuatu yang esa.

[26] Tidak ada kesepahaman mengenai konsep ketuhanan. Konsep ketuhanan dalam agama samawi meliputi definisi monoteistis tentang Tuhan dalam agama Yahudi, pandangan Kristen tentang Tritunggal, dan konsep Tuhan dalam Islam. Agama-agama dharma juga memiliki pandangan berbeda-beda mengenai Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Hindu tergantung pada wilayah, sekte, kasta, dan beragam, mulai dari panenteistis, monoteistis, politeistis, bahkan ateistis.

Keberadaan sosok ilahi juga diakui oleh Gautama Buddha, terutama Śakra dan Brahma. Monoteisme dan henoteisme [ sunting - sunting sumber ] Hubungan antara Allah Bapa, Allah Anak, dan Roh Kudus dalam Scutum Fidei, menjelaskan garis besar konsep Tritunggal.

Penganut monoteisme mengklaim bahwa Tuhan hanya ada satu, dan beberapa ajaran monoteistis mengklaim bahwa Tuhan sejati adalah Tuhan yang dipuja oleh semua agama dengan nama yang berbeda-beda. Pandangan bahwa seluruh pemuja Tuhan (dalam agama yang berbeda-beda) sesungguhnya memuja satu Tuhan yang sama—entah disadari atau tidak disadari oleh umat tersebut—terutama diajarkan dalam agama Hindu [27] dan Sikh. [28] Agama samawi atau dikenal juga sebagai rumpun agama abrahamis (karena meyakini Abraham/ Ibrahim sebagai nabi) atau agama langit dimaksudkan untuk menunjuk agama Yahudi, Kristen, dan Islam.

Agama-agama ini dikenal sebagai agama monoteistis karena hanya menekankan keberadaan satu Tuhan. Yahudi dan Islam bahkan menolak visualisasi Tuhan karena menurut mereka tidak ada sesuatu yang dapat menyerupai Tuhan. Meskipun serumpun, agama-agama ini menggunakan sebutan/panggilan yang berbeda yang disebabkan oleh perbedaan bahasa dan rentang sejarahnya.

Adapun nama yang sering disebutkan yaitu: Yahweh dalam agama Yahudi; Bapa atau Yesus dalam Kristen; Allah dalam Islam. Agama Kristen mengenal konsep Tritunggal, yang maksudnya Tuhan memiliki tiga pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Konsep ini terutama dipakai dalam Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks. Konsep ini merupakan paham monoteistis yang dipakai sejak Konsili Nicea I pada tahun 325 M. Kata "Tritunggal" sendiri tidak ada dalam Alkitab. Di dalam Ulangan 6:4 ditulis bahwa Tuhan itu Esa. Keesaan ini pada bahasa aslinya ( ekhad) adalah "kesatuan dari berbagai satuan".

Contohnya, pada Kejadian 2:24 ditulis "keduanya (manusia dan istrinya) menjadi satu ( ekhad) daging" berarti kesatuan dari 2 manusia. Di Kejadian 1:26 Allah menyebut diri-Nya dengan kata ganti "Kita", mengandung kejamakan dalam sifat Tuhan.

Pengertiannya adalah satu substansi ketuhanan, tetapi terdiri dari tiga pribadi. Di samping monoteisme yang menolak keberadaan dewa-dewi, ada ajaran henoteisme yang meyakini dan memuja satu Tuhan, tetapi juga meyakini keberadaan dewa-dewi lainnya dan bahkan dapat turut memuja mereka.

Variasi istilah tersebut adalah "monoteisme inklusif" dan "politeisme monarkis", dipakai untuk membedakan ragam dari fenomena tersebut. Henoteisme mirip namun kurang eksklusif daripada monolatri (pemujaan satu Tuhan) karena monolator hanya memuja satu Tuhan (menolak keberadaan dewa-dewi untuk disembah), sedangkan penganut henoteisme dapat memuja dewa-dewi dari panteon yang mereka yakini, tergantung keadaan, meskipun biasanya mereka hanya akan memuja satu Tuhan saja sepanjang hidup mereka (kecuali ada konversi tertentu).

Dalam beberapa agama, pemilihan Tuhan Mahakuasa dalam kerangka henoteistis dapat saja terjadi, tergantung alasan kultural, geografis, historis, bahkan politis. Teisme, deisme, dan panteisme [ sunting - sunting pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah ] Teisme pada umumnya mengajarkan bahwa Tuhan ada secara realistis, objektif, dan independen. Tuhan diyakini sebagai pencipta dan pengatur segala hal; mahakuasa dan kekal abadi; personal dan berinteraksi dengan alam semesta melalui pengalaman religius dan doa-doa umat-Nya.

[29] Teisme menegaskan bahwa Tuhan sukar dipahami oleh manusia sekaligus kekal selamanya; maka, Tuhan bersifat tak terbatas sekaligus ada untuk mengurus kejadian di dunia. [30] Meski demikian, tidak seluruh penganut teisme mengakui dalil tersebut. [29] Teologi Katolik menyatakan bahwa Tuhan Mahakuasa sehingga tidak akan terikat pada waktu. Banyak penganut teisme percaya bahwa Tuhan Mahakuasa, Mahatahu, dan Mahapenyayang, meskipun keyakinan ini memicu timbulnya pertanyaan mengenai tanggung jawab Tuhan terhadap adanya kejahatan dan penderitaan di dunia.

Beberapa penganut teisme menganggap Tuhan menahan diri meskipun memiliki kuasa, tahu apa yang akan terjadi, dan penuh kasih sayang. Sebaliknya, menurut teisme terbuka, karena adanya sifat asasi waktu, atribut Mahatahu tidak berarti bahwa Tuhan juga dapat memprediksikan masa depan. "Teisme" kadang kala digunakan untuk mengacu kepada kepercayaan terhadap adanya Tuhan dan dewa/dewi secara umum, contohnya monoteisme dan politeisme.

[31] [32] Deisme mengajarkan bahwa Tuhan sukar dipahami oleh akal manusia. Menurut penganut deisme, Tuhan itu ada, tetapi tidak ikut campur dalam urusan kejadian di dunia setelah Ia selesai menciptakan alam semesta. [30] Menurut pandangan ini, Tuhan tidak memiliki sifat-sifat kemanusiaan, tidak serta-merta menjawab doa umat-Nya dan tidak menunjukkan mukjizat.

Secara umum, deisme meyakini bahwa Tuhan memberi kebebasan kepada manusia dan tidak mau tahu mengenai apa yang diperbuat manusia. Dua cabang deisme, pandeisme dan panendeisme mengkombinasikan deisme dengan panteisme dan panenteisme. [15] [33] [34] Pandeisme dimaksudkan untuk menjelaskan mengapa Tuhan menciptakan alam semesta kemudian mengabaikannya, [35] sebagaimana panteisme menjelaskan asal mula dan maksud keberadaan alam semesta.

[35] [36] Panteisme mengajarkan bahwa Tuhan adalah alam semesta dan alam semesta itu Tuhan, sedangkan panenteisme menyatakan bahwa Tuhan meliputi alam semesta, tetapi alam semesta bukanlah Tuhan. Konsep ini merupakan pandangan dalam ajaran Gereja Katolik Liberal, Theosophy, beberapa mazhab agama Hindu, Sikhisme, beberapa divisi Neopaganisme dan Taoisme.

Kabbalah, mistisisme Yahudi, melukiskan pandangan Tuhan yang panteistis/panenteistis—yang diterima secara luas oleh aliran Yahudi Hasidik, khususnya dari pendiri mereka, Baal Shem Tov—namun hanya sebagai tambahan terhadap pandangan Yahudi mengenai Tuhan personal, tidak dalam pandangan panteistis murni yang menolak batas-batas persona Tuhan. Konsep ketuhanan lainnya [ sunting - sunting sumber ] Disteisme, yang terkait dengan teodisi, adalah bentuk teisme yang mengajarkan bahwa Tuhan tidak sepenuhnya baik namun juga tidak sepenuhnya jahat sebagai konsekuensi adanya masalah kejahatan.

Salah satu contoh aplikasi pandangan ini berasal dari kisah karya Dostoevsky, Karamazov Bersaudara. [37] Pada masa kini, beberapa konsep yang lebih abstrak telah dikembangkan, misalnya teologi proses dan teisme terbuka.

Filsuf Prancis kontemporer Michel Henry menyatakan suatu pendekatan fenomenologi dan pengertian Tuhan sebagai esensi fenomenologis dari kehidupan. [38] Tuhan juga diyakini sebagai zat yang tak berwujud, sesuatu yang berkepribadian, sumber segala kewajiban moral, dan "hal terbesar yang dapat direnungkan".

[1] Atribut-atribut tersebut diakui oleh teolog Yahudi, Kristen awal, dan muslim, yang terkemuka di antaranya adalah: Maimonides, [39] Agustinus dari Hippo, [39] dan Al-Ghazali.

[2] Keberadaan Tuhan [ sunting - sunting sumber ] Ada banyak persoalan filosofis mengenai keberadaan Tuhan. Beberapa definisi Tuhan tidak bersifat spesifik, sementara yang lainnya menguraikan sifat-sifat pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah saling bertentangan. Argumen tentang keberadaan Tuhan pada umumnya meliputi tipe metafisis, empiris, induktif, dan subjektif, sementara yang lainnya berkutat pada teori evolusioner, aturan, dan kompleksitas di dunia.

Pendapat yang menentang keberadaan Tuhan pada umumnya meliputi tipe empiris, deduktif, dan induktif. Ada banyak pendapat yang dikemukakan dalam usaha pembuktian keberadaan Tuhan. [40] Beberapa pendapat terkemuka adalah Quinque viae, argumen dari keinginan yang dikemukakan oleh C.S. Lewis, dan argumen ontologis yang dikemukakan oleh St.

Anselmus dan Descartes. [41] Bukti-bukti tersebut diperdebatkan dengan sengit, bahkan di antara para penganut teisme sekalipun. Beberapa di antaranya, misalnya argumen ontologis, masih sangat kontroversial di kalangan penganut teisme.

Aquinas menulis risalah tentang Tuhan untuk menyangkal bukti-bukti yang diajukan Anselmus. [42] Pendekatan yang dilakukan Anselmus adalah untuk mendefinisikan Tuhan sebagai "tidak ada yang lebih besar daripada-Nya untuk bisa direnungkan".

Filsuf panteis Baruch Spinoza membawa gagasan tersebut lebih ekstrem: "Melalui Tuhan aku memahami sesuatu yang mutlak tak terbatas, yaitu, suatu zat yang mengandung atribut-atribut tak terbatas, masing-masing menyiratkan esensi yang kekal dan tidak terbatas".

Bagi Spinoza, seluruh alam semesta terbuat dari satu zat, yaitu Tuhan, atau padanannya, yaitu alam.

[43] Bukti keberadaan Tuhan yang diajukannya merupakan variasi dari argumen ontologis. [44] Fisikawan kondang, Stephen Hawking, dan penulis Leonard Mlodinow menyatakan dalam buku mereka, The Grand Design, bahwa merupakan hal yang wajar untuk mencari tahu siapa atau apa yang membentuk alam semesta, tetapi bila jawabannya adalah Tuhan, maka pertanyaannya berbalik menjadi siapa atau apa yang menciptakan Tuhan. Terkait pertanyaan ini, lumrah terdengar bahwa ada sesuatu yang tidak diciptakan dan tidak perlu pencipta, dan sesuatu itu disebut Tuhan.

Hal ini dikenal sebagai argumen sebab pertama untuk mendukung keberadaan Tuhan. Akan tetapi, kedua penulis tersebut mengklaim bahwa pasti ada jawaban masuk akal secara ilmiah, tanpa mencampur keyakinan tentang hal-hal gaib. [45] Beberapa teolog, misalnya ilmuwan sekaligus teolog A.E.

McGrath, berpendapat bahwa keberadaan Tuhan bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab dengan metode ilmiah. [46] [47] Agnostik Stephen Jay Gould berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan agama tidak bertentangan dan tidak saling menjatuhkan. [48] Beberapa kesimpulan yang diperoleh dari berbagai argumen yang mendukung dan menentang keberadaan Tuhan adalah: "Tuhan tidak ada" ( ateisme kuat); "Tuhan hampir tidak ada" [49] ( ateisme de facto); "tidak jelas apakah Tuhan ada atau tidak" ( agnostisisme [50]); "Tuhan ada, tetapi tidak bisa dibuktikan atau dibantah ( teisme lemah); dan "Tuhan ada dan dapat dibuktikan" (teisme kuat).

Tuhan dalam sudut pandang nonteistis [ sunting - sunting sumber ] Menurut ajaran nonteisme, alam semesta dapat dijelaskan tanpa mengungkit hal-hal gaib atau sesuatu yang tak teramati. Beberapa nonteis menghindari konsep ketuhanan, sementara menurut yang lain, hal itu amat penting; nonteis lainnya memandang sosok Tuhan sebagai simbol nilai-nilai dan aspirasi manusia. Ateis asal Inggris, Charles Bradlaugh menyatakan bahwa ia menolak untuk berkata "Tuhan itu tidak ada", karena kata 'Tuhan' sendiri terdengar sebagai ungkapan untuk maksud yang tidak jelas atau tak nyata; secara lebih spesifik, ia berkata bahwa ia tidak meyakini Tuhan menurut agama Kristen.

[51] Stephen Jay Gould melakukan pendekatan dengan membagi dunia filosofi menjadi " non-overlapping magisteria" (NOMA). Menurut pandangan tersebut, pertanyaan seputar hal-hal gaib/ supernatural, seperti halnya keberadaan dan sifat-sifat Tuhan, bersifat non-empiris dan lebih layak diulas dalam bidang teologi.

Metode ilmiah seyogianya dipakai untuk menjawab pertanyaan mengenai dunia nyata, dan teologi dipakai untuk menjawab pertanyaan tentang tujuan sejati dan nilai-nilai moral. Menurut pandangan ini, kurangnya bukti empiris tentang kekuatan supernatural terhadap kejadian alam, menyebabkan ilmu pengetahuan menjadi pilihan pokok dalam menjelaskan fenomena di dunia.

[52] Menurut pandangan lainnya, yang dikembangkan oleh Richard Dawkins, dinyatakan bahwa keberadaan Tuhan adalah pertanyaan empiris, dengan alasan bahwa "alam semesta dengan tuhan akan sungguh berbeda dengan yang tanpa tuhan, dan itu tentu merupakan perbedaan ilmiah." [49] Carl Sagan berpendapat bahwa doktrin Pencipta Alam Semesta sulit dibuktikan maupun dibantahkan, dan penemuan ilmiah yang dapat menyangkal keberadaan Sang Pencipta tentu menjadi penemuan bahwa pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah alam semesta tidak terbatas.

[53] Tuhan antropomorfis [ sunting - sunting sumber ] Pascal Boyer berpendapat bahwa dalam dunia yang dipenuhi oleh berbagai konsep seputar hal gaib yang berbeda-beda, secara umum, makhluk gaib tersebut cenderung bertindak selayaknya manusia. Penggambaran dewa-dewi dan makhluk gaib lainnya selayaknya manusia adalah ciri yang mudah dikenali dari suatu agama. Sebagai contoh, mitologi Yunani, yang menurutnya cenderung menyerupai opera sabun masa kini daripada suatu sistem kepercayaan.

[54] Bertrand du Castel dan Timothy Jurgensen mendemonstrasikan melalui formalisasi bahwa penjelasan Boyer cocok dengan epistemologi fisika dalam memosisikan entitas yang diamati sebagai intermedian tidak secara langsung. [55] Antropolog Stewart Guthrie berpendapat bahwa masyarakat memproyeksikan ciri manusia kepada aspek-aspek non-manusia di dunia karena itu akan membuat aspek-aspek tersebut lebih familier.

Sigmund Freud juga menyatakan bahwa konsep ketuhanan adalah proyeksi sosok ayah bagi seseorang. [56] Émile Durkheim adalah salah seorang pertama yang menyatakan bahwa tuhan merepresentasikan ekstensi kehidupan sosial manusia untuk memasukkan unsur-unsur gaib.

Mengimbangi pernyataan tersebut, psikolog Matt Rossano berpendapat bahwa ketika manusia mulai hidup dalam kelompok-kelompok yang lebih besar, mereka menciptakan sosok tuhan sebagai penegakan atas moralitas.

Dalam kelompok yang lebih kecil, moralitas dapat dijaga dengan kekuatan sosial seperti penyebaran gosip atau penjagaan nama baik. Akan tetapi, lebih sulit untuk menjaga moralitas dalam kelompok besar dengan menggunakan kekuatan sosial. Rossano menyatakan bahwa dengan menambahkan kepercayaan akan tuhan dan makhluk gaib yang mahatahu, maka manusia menemukan strategi efektif untuk mengendalikan keegoisan dan membangun kelompok yang lebih kooperatif. [57] Persentase kepercayaan akan Tuhan [ sunting - sunting sumber ] Persentase populasi di negara-negara Eropa sebagai hasil survei tahun 2005 bahwa mereka "percaya akan Tuhan".

Negara mayoritas Katolik Roma (e.g.: Polandia, Portugal), Gereja Ortodoks Timur ( Yunani, Romania, Siprus) atau Muslim ( Turki) cenderung menunjukkan persentase tinggi. Sampai tahun 2000, sekitar 53% populasi dunia teridentifikasi sebagai penganut salah satu dari tiga agama samawi terbesar (33% Kristen, 20% Islam, <1% Yahudi), 6% Buddhis, 13% umat Hindu, 6% penganut kepercayaan tradisional Tionghoa, 7% penganut agama lainnya, dan kurang dari 15% mengaku tak beragama.

Kebanyakan agama yang dianut mengandung kepercayaan akan Tuhan, roh, dewa-dewi, dan makhluk gaib. [58] Agama samawi selain Kristen, Islam, dan Yahudi meliputi agama Baha'i, Samaritanisme, Gerakan Rastafari, Yazidisme, dan Gereja Unifikasi. Peran pada kemanusiaan [ sunting - sunting sumber ] Pemikiran mengenai peran Tuhan dalam keberadaan manusia di alam semesta telah dikembangkan oleh Giovanni Pico della Mirandola dan Marsilio Ficino.

Pico meyakini bahwa Tuhan telah memberikan kesadaran kepada manusia mengenai hakikat keberadaannya di alam semesta sebagai ketetapanNya.

Berdasarkan kesadaran ini, manusia memiliki tanggung jawab atas kehidupan yang diberikan kepadanya oleh Tuhan. Sedangkan Ficino berpendapat bahwa manusia merupakan makhluk rasional. Tuhan berperan membimbing manusia di dalam kehidupannya.

Tanpa keberadaan Tuhan, manusia tidak dapat melakukan perbaikan apapun pada dirinya sendiri.

pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah

{INSERTKEYS} [59] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] Portal Agama • Agama • Ateisme • Dewa • Mistisisme • Tuhan dalam agama Buddha • Lord • ^ a b c swinburne, R.G. (1995), "God", dalam Honderich, Ted, The Oxford Companion to Philosophy, Oxford: Oxford University Press • ^ a b Platinga, Alvin (2000), "God, Arguments for the Existence of", Routledge Encyclopedia of Philosophy, Routledge • ^ Lichtheim, M.

(1980), Ancient Egyptian Literature, 2, hlm. 96 • ^ Assmann, Jan (2005), Religion and Cultural Memory: Ten Studies, hlm. 59 Parameter -publiher= yang tidak diketahui mengabaikan ( -penerbit= yang disarankan) ( bantuan) • ^ Sigmund, Freud (1939), Moses and Monotheism: Three Essays • ^ Stent, Gunther Siegmund (2002), Paradoxes of Free Will, DIANE, hlm.

34–38, ISBN 0-87169-926-5 • ^ Assmann, Jan (1997), Moses the Egyptian: The Memory of Egypt in Western Monotheism, Harvard University Press, ISBN 0-674-58739-1 • ^ Shupak, N. (1995), The Monotheism of Moses and the Monotheism of Akhenaten, Sevivot • ^ Albright, William F.

(Mei 1973), The Biblical Archaeologist, 36, No. 2, hlm. 48–76, doi: 10.2307/3211050 • ^ Levine, Michael P. (2002), Pantheism: A Non-Theistic Concept of Deity, hlm. 136 • ^ Watanabe, Joyce (2006), "Baháʾuʾlláh", A Feast for the Soul: Meditations on the Attributes of God, hlm. x • ^ Duggal, Kartar Singh (1988), Philosophy and Faith of Sikhism, hlm. ix • ^ Kidder, David S.; Oppenheim, Noah D., The Intellectual Devotional: Revive Your Mind, Complete Your Education, and Roam Confidently With the Cultured Class, hlm.

364 • ^ Raphael Lataster (2013). There was no Jesus, there is no God: A Scholarly Examination of the Scientific, Historical, and Philosophical Evidence & Arguments for Monotheism.

hlm. 165. ISBN 1492234419. • ^ a b Alan H. Dawe (2011). The God Franchise: A Theory of Everything. hlm. 48. ISBN 0473201143. • ^ Hick, John; Hebblethwaite, Brian (1980), Christianity and Other Religions, hlm. 178 • ^ Heuken, Adolf (1976), Ensiklopedi Populer Gereja • ^ "Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan".

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-27 . Diakses tanggal 2013-08-15. • ^ a b Sylado, Remy, Asal kata Tuhan • ^ (Belanda) Luk 1:46 (Pujian Maria) terjemahan Leydekker/Leijdecker • ^ Tuhan, hasil pencarian alkitab.sabda.org • ^ Misalnya dalam bahasa Inggris Lord Holman Illustrated Bible Dictionary. Nashville, TN: Holman Bible Publishers. 2003. hlm. 1046. ISBN 0-8054-2836-4. • ^ Catatan Full Life Study Bible: Kejadian 2:4 • ^ 'Ar-Rabb, Yang Maha Mengatur dan Menguasai Alam Semesta, Muslim.Or.Id [ pranala nonaktif permanen] • ^ Tuhan, hasil pencarian www.dudung.net • ^ Kasno (2018).

Salsabila, Intan, ed. Filsafat Agama (PDF). Surabaya: Alpha. hlm. 33. ISBN 978-602-6681-18-8. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Bhaskarananda, Swami (2002), Essentials of Hinduism, Viveka Press, ISBN 1-884852-04-1 • ^ "Sri Guru Granth Sahib", Sri Granth, Srigranth.org , diakses tanggal 30 Juni 2011 • ^ a b Smart, Jack (2003).

Atheism and Theism. Blackwell Publishing. hlm. 8. ISBN 0-631-23259-1. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ a b Lemos, Ramon M. (2001). A Neomedieval Essay in Philosophical Theology. Lexington Books.

hlm. 34. ISBN 0-7391-0250-8. • ^ "Philosophy of Religion.info – Glossary – Theism, Atheism, and Agonisticism". Philosophy of Religion.info.

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-04-24 . Diakses tanggal 2008-07-16. • ^ "Theism – definition of theism by the Free Online Dictionary, Thesaurus and Encyclopedia".

TheFreeDictionary . Diakses tanggal 2008-07-16. • ^ Sean F. Johnston (2009). The History of Science: A Beginner's Guide. hlm. 90. ISBN 1-85168-681-9. • ^ Paul Bradley (2011). This Strange Eventful History: A Philosophy of Meaning. hlm. 156. ISBN 0875868762. • ^ a b Allan R.

Fuller (2010). Thought: The Only Reality. hlm. 79. ISBN 1608445909. • ^ Peter C. Rogers (2009). Ultimate Truth, Book 1. hlm. 121. ISBN 1438979681. • ^ Dostoyevsky, Fyodor, "The Brothers Karamazov", The Project Gutenberg EBook, Gutenberg.org, hlm. 259–261 • ^ Henry, Michel (2003). I Am the Truth. Toward a Philosophy of Christianity.

Translated by Susan Emanuel. Stanford University Press. ISBN 0-8047-3780-0. • ^ a b Edwards, Paul (1995), "God and the Philosophers", dalam Honderich, Ted, The Oxford Companion to Philosophy, Oxford University Press, ISBN 978-1-61592-446-2 • ^ Aquinas, Thomas (1990). Kreeft, Peter, ed.

Summa of the Summa. Ignatius Press. hlm. 63. • ^ Aquinas, Thomas (1990). Kreeft, Peter, ed. Summa of the Summa. Ignatius Press. hlm. 65–69. • ^ Aquinas, Thomas (1274). Summa Theologica. Part 1, Question 2, Article 3. • ^ Curley, Edwin M. (1985). {/INSERTKEYS}

pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah

The Collected Works of Spinoza. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-07222-7. • ^ Nadler, Steven, "Baruch Spinoza", dalam Edward N. Zalta, The Stanford Encyclopedia of Philosophy (edisi ke-Musim Gugur 2012) • ^ Stephen Hawking (2010). The Grand Design. Bantam Books. hlm. 172. ISBN 978-0-553-80537-6. Parameter -coauthor= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ Alister E. McGrath (2005).

Dawkins' God: genes, memes, and the meaning of life. Wiley-Blackwell. ISBN 978-1-4051-2539-0. • ^ Floyd H. Barackman (2001). Practical Christian Theology: Examining the Great Doctrines of the Faith. Kregel Academic. ISBN 978-0-8254-2380-2. • ^ Gould, Stephen J. (1998). Leonardo's Mountain of Clams and the Diet of Worms. Jonathan Cape. hlm. 274. ISBN 0-224-05043-5. • ^ a b Dawkins, Richard. "Why There Almost Certainly Is No God". The Huffington Post. Diakses tanggal 2007-01-10.

• ^ Dixon, Thomas (2008). Science and Religion: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press. hlm. 63. ISBN 978-0-19-929551-7. • ^ Iconoclast (1876), A Plea for Atheism, London: Austin & Co., hlm. 2 • ^ Dawkins, Richard (2006). The God Delusion. Pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah Britain: Bantam Press.

ISBN 0-618-68000-4. • ^ Sagan, Carl pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah. The Demon Haunted World p.278. New York: Ballantine Books. ISBN 0-345-40946-9. • ^ Boyer, Pascal (2001). Religion Explained. New York: Basic Books. hlm. 142–243. ISBN 0-465-00696-5. • ^ du Castel, Bertrand (2008). Computer Theology. Austin, Texas: Midori Press. hlm. 221–222. ISBN 0-9801821-1-5. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ Barrett, Justin (1996).

"Conceptualizing a Nonnatural Entity: Anthropomorphism in God Concepts" (PDF). • ^ Rossano, Matt (2007). "Supernaturalizing Social Life: Religion and the Evolution of Human Cooperation" (PDF). Diakses tanggal 2009-06-25. • ^ National Geographic Family Reference Atlas of the World p.

49 • ^ Faza, Abrar M. Dawud (2010). Harahap, Ahmad Gozali, ed. Perspektif Sufistik Ali Shariati dalam Puisi "One Followed by Eternity of Zeroes” (PDF). Medan: Penerbit Panjiaswaja Press. hlm. 6–7. ISBN 978-602-96654-2-0. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan: Tuhan.

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Tuhan. • (Inggris) Konsep Tuhan dalam agama Yahudi • (Inggris) Konsep Tuhan dalam Kekristenan • (Inggris) Konsep Tuhan dalam Islam Diarsipkan 2019-04-21 di Wayback Machine. • (Inggris) Konsep Tuhan dalam agama Hindu • (Inggris) Konsep Tuhan menurut agama Buddha klasik [ pranala nonaktif permanen] • (Inggris) Pandangan mistis tentang Tuhan • (Inggris) Hubungan antara Tuhan dengan jagat raya Abrahamisme · Akosmisme · Agnostisisme · Animisme · Antiagama · Ateisme · Dharmisme · Deisme · Dualisme · Esoterikisme · Teologi feminis · Gnostisisme · Henoteisme · Humanisme · Immanenke · Monisme · Monoteisme · Mistisisme · Naturalisme · Nondualisme · Pandeisme · Panteisme · Politeisme · Teologi Proses · Syamanisme · Taois · Teisme · Transenden · Zaman Baru Dewa ( Ketuhanan · Numen · Laki · Wanita) · Allah · Tuhan tunggal ( Eksistensi · Gender) · Binitarianisme · Deisme · Disteisme · Henoteisme · Kathenoteisme · Nonteisme · Monolatrisme · Monoteisme · Mistisisme · Panenteisme · Pandeisme · Panteisme · Polideisme · Politeisme · Spiritualisme · Teopanisme Kategori tersembunyi: • Halaman dengan argumen ganda di pemanggilan templat • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • Halaman yang menggunakan multiple image dengan pengubahan ukuran gambar otomatis • Pranala kategori Commons ada di Wikidata • Templat webarchive tautan wayback • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda BNF • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda MA • Halaman ini terakhir diubah pada 11 April 2022, pukul 10.00.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •Selamat datang di Dosen.co.id, web digital berbagi ilmu pengetahuan.

Kali ini PakDosen akan membahas tentang Hukum Adat? Mungkin anda pernah mendengar kata Hukum Adat? Disini PakDosen membahas secara rinci tentang pengertian, ciri, unsur, tujuan serta contohnya. Simak Penjelasan berikut secara seksama, jangan sampai ketinggalan.

Pengertian Hukum Adat Menurut Para Ahli Berikut ini terdapat beberapa pendapat dari para ahli mengenai hukum adat, yakni sebagai berikut: • Menurut Prof.

Mr. B. Terhaar Bzn Menurut Prof. Mr. B. Terhaar Bzn, Hukum adat ialah keseluruhan peraturan yang menjelma dalam keputusan-keputusan dari kepala-kepala adat dan berlaku secara spontan dalam masyarakat. • Menurut Prof. Mr. Cornelis van Vollen Hoven Menurut Prof. Mr.

Cornelis van Vollen Hoven, Hukum adat ialah keseluruhan aturan tingkah laku masyarakat yang berlaku dan mempunyai sanksi dan belum dikodifikasikan. • Menurut Dr. Sukanto, S.H. Menurut Dr. Sukanto, S.H., Hukum adat ialah kompleks adat-adat yang pada umumnya tidak dikitabkan, tidak dikodifikasikan dan bersifat paksaan, mempunyai sanksi jadi mempunyai akibat hukum.

• Menurut Mr. J.H.P. Bellefroit Menurut Mr. J.H.P. Bellefroit, Hukum adat sebagai peraturan-peraturan hidup yang meskipun tidak diundangkan oleh penguasa, tetapi tetap dihormati dan ditaati oleh rakyat dengan keyakinan bahwa peraturan-peraturan tersebut berlaku sebagai hukum. Baca Lainnya : Pengertian Emiten • Menurut Prof. M.M. Djojodigoeno, S.H. Menurut Prof. M.M. Djojodigoeno, S.H., Hukum adat ialah hukum yang tidak bersumber kepada peraturan peraturan.

• Menurut Prof. Dr. Hazairin Menurut Prof. Dr. Hazairin, Hukum adat ialah endapan kesusilaan dalam masyarakat yaitu kaidah kaidah kesusialaan yang kebenarannya telah mendapat pengakuan umum dalam masyarakat itu.

• Menurut Soeroyo Wignyodipuro, S.H. Menurut Soeroyo Wignyodipuro, S.H., Hukum adat ialah suatu ompleks norma-norma yang bersumber pada perasaan keadilan rakyat yang selalu berkembang serta meliputi peraturan peraturan tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat, sebagaian besar tidak tertulis, senantiasa ditaati dan dihormati oleh rakyat karena mempunyai akibat hukum ( sanksi ).

• Menurut Prof. Dr. Soepomo, S.H. Menurut Prof. Dr. Soepomo, S.H., Hukum adat ialah hukum tidak tertulis didalam peraturan tidak tertulis, meliputi peraturan-peraturan hidup yang meskipun tidak ditetapkan oleh yang berwajib tetapi ditaati dan didukung oleh rakyat berdasarkan atas keyakinan bahwasanya peraturan-peraturan tersebut mempunyai kekuatan hukum. Ciri-Ciri Hukum Adat Berikut ini terdapat beberapa ciri-ciri hukum adat, yakni sebagai berikut; • Lisan Lisan ialah tidak tertulis dalam bentuk Undang-Undang dan tidak dikategorikan.

• Tidak Sistematis Tidak berbentuk kitab maupun buku Undang-Undang. • Tidak Teratur Pengambilan keputusan tidak memakai evaluasi. Corak Hukum Adat Berikut adalah corak hukum adat antara pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah yakni: • Komunal artinya mempunyai ikatan kemasyarakatan yang kuat.

• Keagamaan (Magis-religeius); artinya perilaku hukum atau kaedah-kaedah hukumnya berkaitan dengan kepercayaan terhadap yanag gaib dan atau berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. • Kontan yang artinya yaitu setiap perbuatan harus sesuai dengan pernyataan.

• Visual yang artinya yaitu hubungan hukum dianggap terjadi bila diberi wujud suatu benda dapat terlihat, tanpak, terbuka, terang dan tunai. Ijab-kabul, jual beli serah terima bersamaan (samenval van momentum).

• Tradisional yang artinya bersifat turun menurun, berlaku dan dipertahankan oleh masyarakat bersangkutan. • Kebersamaan (Komunal) yang artinya ia lebih mengutamakan kepentingan bersama, sehingga kepentingan pribadi diliputi kepentingan bersama.

judnya rumah gadang, tanah pusaka (Minangkabau). Dudu sanak dudu kadang yang yen mati melu kelangan (Jawa). • Terbuka dan Sederhana. • Dapat berubah dan Menyesuaikan. • Tidak dikodifikasi • Musyawarah dan Mufakat.

Baca Lainnya : Pengertian Frasa Sumber-Sumber Hukum Adat Adapun sumber-sumber hukum adat antara lain sebagai berikut: • Merupakan adat-istiadat atau kebiasaan yang merupakan tradisi rakyat • Bentuk kebudayaan tradisionil rakyat • Ugeran/ Kaidah dari kebudayaan Indonesia asli • Perasaan keadilan yang hidup dalam masyarakat • Pepatah adat • Yurisprudensi adat • Dokumen-dokumen yang hidup pada waktu itu, yang memuat ketentuan – ketentuan hukum yang hidup. • Kitab-kitab hukum yang pernah dikeluarkan oelh Raja-Raja.

• Doktrin tentang hukum adat • Hasil-hasil penelitian tentang hukum adatNilai-nilai yang tumbuh dan berlaku dalam masyarakat. Unsur-Unsur Hukum Adat Berikut ini terdapat beberapa unsur-unsur hukum adat, yakni sebagai berikut: • Terdapat perilaku yang berlanjut dijalankan oleh masyarakat. Perilaku tersebut teratur dan sistematis serta mempunyai nilai suci.

• Diperoleh hasil kepala adat • Diperoleh sanksi hukum • Tidak tertulis • Berpegang teguh oleh masyarakat Tujuan Hukum Adat Berikut ini terdapat beberapa tujuan hukum adat, yakni sebagai berikut: • Sebagai pedoman dalam berperilaku • Fungsi pengawasan • Menumbuhkan hukum nasional • membina dan memulihkan kepribadian bangsa • menolong dalam penerapan peradilan • Menjadi sumber untuk pembentukan hukum positif Indonesia • Bisa dipakai menjadi lapangan hukum pedata Contoh Hukum Adat Hukum adat di salah satu berbagai provinsi di Indonesia yang dijalankan pada seseorang yang akan meninmbulkan seseorang meninggal dunia dalam kecelakaan ialah diminta ganti rugi dengan uang dan ternak hewan atau hal lain.

Jumlah yang diminta dalam ganti rugi relatif besar, sehingga bisa dipastikan akan memojokkan pelaku untuk membayar ganti rugi dalam bentuk kas dan juga ternak hewan. Pemberian Sesajen Untuk contoh hukum adat Jawa yang satu ini mungkin sudah cukup dikenal di masyarakat luas. Bahkan, mungkin saja ada hukum adat lain yang juga mensyaratkan adanya pemberian sesajen ketika akan melakukan kegiatan tertentu.

Pemberian sesajen ini dilakukan sebagai pelengkap setelah seseorang melakukan perhitungan kalender untuk menemukan hari baik sebelum melakukan sesuatu.

Pemberian sesajen ini biasa dilakukan dengan ritual pembacaan doa. Sesajen yang diberikan diartikan bukan untuk makhluk mistis, melainkan sebagai syarat untuk memasuki rumah atau memulai usaha. Sesajen itu sendiri adalah suatu benda yang disiapkan di suatu tempat tertentu dengan tujuan tertentu.

Misalnya, untuk keselamatan, keberuntungan dan lain sebagainya. Ritual yang dilakukan bisa juga disebut dengan istilah tasyakuran untuk acara memasuki rumah baru kali pertama. Biasanya, untuk ritual ini orang Jawa akan mempersiapkan nasi kotak untuk tetangga terdekat, tumpeng untuk selametan dan dilengkapi pula dengan jajanan pasar, bubur merah dan bubur putih juga masakan ayam yang baru disembelih.

Baca Lainnya : Khitan Adalah Tidak lupa pula, ritual yang dilakukan juga dilengkapi dengan ubo rampe, yang berupa tikar, lampu teplok, dan kuali, juga bumbu dan bahan masakan, yang semuanya ditata dengan aturan adat Jawa. Penataan sesuai adat Jawa tersebut yaitu dengan memasukkan beras satu kuali penuh dan bawang merah, bawang putih, cabe, garam dan gula dalam plastik yang terpisah untuk kemudian juga diletakkan di atas beras di dalam kuali. Sementara itu, alas tikar pandan dan lampu teplok yang telah dipersiapkan akan dinyalakan beserta kendi yang telah diisi air.

Semua persiapan ritual itu mengandung arti filosofis tertentu, yaitu adanya harapan agar penghuni rumah akan mendapat rezeki yang lancar, dapur yang terus mengepul dan kehidupan dalam rumah yang tenteram. Ibu Hamil Diasingkan Hukum aneh kali ini juga berasal dari Suku Naulu. Tidak dijangkau Pendidikan dan terisolasi dari dunia luar, membuat masyarakat Suku Naulu tetap mempraktikan adat istiadat yang sebenarnya tidak manusiawi.

Saat ini adat memberikan persembahan berupa kepala manusia mungkin sudah mulai ditinggalkan. Tapi masih ada adat lainya yang tak kalah memperihatinkan yaitu hukum mengasingkan diri bagi wanita yang hamil dan akan melahirkan. Para laki-laki akan membuatkan sebuah gubuk berukuran 2 x 3 meter di dalamnya juga dilengkapi dengan tempat tidur berukuran 1 x 2 meter.

Gubuk-Gubuk itu dinamakan gubuk Tikusune. Selain wanita hamil, wanita yang sedanng menstruasi juga diharuskan mengasingkan diri dalam gubuk ini.

Tujuanya sih baik yaitu untuk melindungi para ibu hamil, tapi mungkin caranya saja yang salah dan tidak manusiawi. Demikian Penjelasan Materi Tentang Hukum Adat: Pengertian, Ciri, Corak, Sumber, Unsur, Tujuan Serta Contohnya Semoga Materinya Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi dan Mahasiswa Sebarkan ini: • Facebook • Twit • WhatsApp Posting pada S1, SD, SMA, SMK, SMP Ditag ciri ciri hukum adat, contoh hukum adat, contoh hukum adat batak, contoh hukum adat bugis, contoh hukum adat di aceh, contoh hukum adat di bali, contoh hukum adat di indonesia, contoh hukum adat di papua, contoh hukum adat melayu, hubungan hukum adat dan hukum agama, hubungan hukum adat dengan antropologi, hubungan hukum adat dengan sosiologi hukum, hukum adat dalam islam, hukum adat di indonesia dan contohnya, hukum adat pdf, hukum adat ut, hukum kebiasaan di indonesia, macam macam hukum adat, makalah hukum adat, makalah hukum adat di indonesia, materi adat, materi hukum adat, pengertian hukum adat dan contohnya, pengertian hukum adat menurut para ahli, pengertian hukum adat menurut undang undang, proses terbentuknya hukum adat, sanksi hukum adat, sejarah hukum adat, sifat hukum adat, sumber hukum adat, teori hukum adat, tujuan hukum adat, unsur unsur hukum adat Pos-pos Terbaru • Higgs domino mod apk speeder tanpa iklan • Dataran adalah • Good Governance • Kenakalan Remaja • Siklus Krebs • Norma Kesopanan • Pernyataan berikut ini yang bukan merupakan ciri makhluk hidup adalah Adalah • Gotong Royong • Kulit adalah • Ras adalah • Pemasaran Jasa • Tujuan Pengembangan Komunikasi • Pengertian Berkarya Seni Rupa • Indikator adalah • Vakuola adalah

Ciri-ciri Makhluk Hidup




2022 www.videocon.com