Jlentrehna artinya

jlentrehna artinya

Jlentrehna Pathokane Tembang Pocung Jun 14, 2021 Tembang Pocung - PDF • apa kang dikarepake guru lagu ?2. Apa kang dikarepake pada iku ?3. Jlentrehna pathokane tembang - Brainly.co.id Biasa Bae: Pengertian, Watak, Pathokan dan Contoh Tembang Pocung PUPUH POCUNG.

 Serat anggitanipun KGPAA Mangkunegara IV  Ngandut piwulang luhur babagan paugeraning urip sesrawungan lan manembah mring Gusti  Wujude. - ppt download Web viewtembang. Pocung (Wedhatama) lisan maupun tulisan.

KD 4. 1. Setelah proses pembelajaran, siswa dapat menginterpretasi, memroduksi, menyunting, dan - [DOCX Document] √ 25+ Contoh Tembang Pocung [Pengertian, Watak, Aturan { Lengkap}] 1 RPP Xi GNJ 13 BR SK - PDF Mohon bantuannya jlentrehna artinya Terimakasih​ - Brainly.co.id Kumpulan Contoh Tembang Pucung, Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Serta Artinya - KEPOINDONESIA RPP Kelas X tembang kinanthi Tabel 1.

Hasil Analisis Program Semester/Pasangan KD Paugerane tembang macapat gambuh - Brainly.co.id Kumpulan Tembang Macapat Lengkap dengan Contoh dan Juga Penjelasannya RPP Kelas X tembang kinanthi UKBM Baja 3.1-4.1-3-1.1 - PDF Contoh Soal Bahasa Jawa Tembang Macapat Sinom Kelas X SMA/SMK/MA - ambarisna.com Paugeran Tembang Sinom – Lektur Indo SMK Bina Islam Mandiri - BISMA Kersana - Soal PKL Bahasa Jawa kelas XI - Facebook RENCANA aPELAKSANAAN PEMBELAJARAN Sekolah : SMA Negeri 3 Cilacap Mata Pelajaran : Bahasa Jawa Kelas/Semester : X/ Ge PUPUH POCUNG.

 Serat anggitanipun KGPAA Mangkunegara IV  Ngandut piwulang luhur babagan paugeraning urip sesrawungan lan manembah mring Gusti  Wujude. - ppt download Web viewtembang. Pocung (Wedhatama) lisan maupun tulisan.

KD 4. 1. Setelah proses pembelajaran, siswa dapat jlentrehna artinya, memroduksi, menyunting, dan Kumpulan Tembang Macapat Sesuai Urutan Lengkap Makna dan Contohnya - Seni Budayaku Tabel 1. Hasil Analisis Program Semester/Pasangan KD … RPP KD 1…¢ aksara Jawa dalam 2 (dua) paragraf Web viewtembang Gambuh.

dengan bahasa sendiri. I. ndik. ator. 1. … menghayati, dan mengamalkan anugerah Tuhan berupa bahasa Jawa dalam bentuk jlentrehna artinya. … membaca contoh - [DOCX Document] Tabel 1. Hasil Analisis Program Semester/Pasangan KD √ 37+ Contoh Tembang Pocung beserta Penjelasannya (LENGKAP) RPP Kelas X tembang kinanthi Web viewtembang. Pocung (Wedhatama) lisan maupun tulisan. KD 4. 1. Setelah proses pembelajaran, siswa dapat menginterpretasi, memroduksi, menyunting, dan - [DOCX Document] Web viewtembang.

Pocung (Wedhatama) lisan maupun tulisan. KD 4. 1. Setelah proses pembelajaran, siswa dapat menginterpretasi, memroduksi, menyunting, dan - [DOCX Document] Dokumen - PDF Soal dan Pembahasan Materi Bahasa Jawa – Tiga Serangkai Contoh Tembang Pocung : Watak, Aturan, Makna, Arti - Terlengkap ! √21+ Contoh Tembang Pucung Beserta Arti dan Penjelasannya 15 Contoh Tembang Pocung Bahasa Jawa dan Artinya - Seni Budayaku Materi Tembang Macapat Pocung - www.harrywidhiarto.com Paugeran Tembang Macapat - Sinau Bareng Tembang Pocung : Watak, Contoh beserta Artinya Lengkap - Gravity Cinta Tembang Macapat Pocung dan Contohnya – Kalih Ngopi RPP Kelas X tembang kinanthi Web viewdan menulis, serta menyajikan syair tembang Sinom dengan bahasa sendiri.

Kompetensi Dasar. dan Indikator Pencapaian Kompetensi. KD 1.1. … Nasihat - [DOCX Document] Njlentrehna opo Kang diarani wacana eksposisi iku​ Tembang Gambuh Serat Wedhatama dan Artinya » Synaoo.com Pathokane tembang pocung kang bener yaiku - Brainly.co.id Menganalisa tembang macapat dari pengertian, unsur, dan pathokan-pathokannya - Anythings School √ 37+ Contoh Tembang Pocung beserta Penjelasannya (LENGKAP) Kumpulan Contoh Tembang Macapat Lengkap dengan Penjelasannya - Rejeki Nomplok TEMBANG POCUNG Materi Basa Jawa Kelas 3 - YouTube Pengertian Tembang Pocung Lengkap Video & Contoh - CARAK US Tabel 1.

Hasil Analisis Program Semester/Pasangan KD … RPP KD 1…آ aksara Jawa dalam 2 (dua) paragraf - [PDF Document] DOC) Buku Guru Bahasa Jawa Kelas 11A - Astrid Wangsagirindra Pudjastawa - Academia.edu BANK SOAL XI IPS SEMESTER I TP 2021-2022-Flip eBook Pages 151 - 200- AnyFlip - AnyFlip √21+ Contoh Tembang Pucung Beserta Arti dan Penjelasannya Web viewdan menulis, serta menyajikan jlentrehna artinya tembang Sinom dengan bahasa sendiri.

Kompetensi Dasar. dan Indikator Pencapaian Kompetensi. KD 1.1. … Nasihat - [DOCX Document] Tembang Sinom Serat Wedhatama jlentrehna artinya dalam Bahasa Jawa LENGKAP) - by Andi Firmansyah - Medium RPP Kelas X tembang kinanthi BANK SOAL XI IPS Semester Gasal 2020-2021 Pages 201 - 250 - Flip PDF Download - FlipHTML5 Kumpulan Tembang Macapat Sesuai Urutan Lengkap Makna dan Contohnya jlentrehna artinya Seni Budayaku BANK SOAL XI IPS SEMESTER I TP 2021-2022-Flip eBook Pages 151 - 200- AnyFlip - AnyFlip TELAAH TEKS SERAT WEDHATAMA PUPUH PANGKUR PUPUH POCUNG.

 Serat anggitanipun KGPAA Mangkunegara IV  Ngandut piwulang luhur babagan paugeraning urip sesrawungan lan manembah mring Gusti  Wujude.

- ppt download Buku Bahasa Jawa Kelas X [5lwo59d368qj] Paugeran Tembang Sinom – Lektur Indo Materi 1 Jlentrehna artinya Pocung (3.1-4.1) - PDF Tabel 1. Hasil Analisis Program Semester/Pasangan KD Bahasa Jawa Kelas 3 - Cangkriman Tembang Pocung - YouTube √ 37+ Contoh Tembang Kinanthi [Pengertian, Watak dan Aturan {Lengkap}] Tembang Pocung tembang pocung – mergokahanan Contoh Macapat Pucung Beserta Artinya - Tumpi.id Serat Wedhatama Pupuh Kinanthi [Pengertian, Watak, Ajaran, dan Tembang beserta Terjemahannya] - UNTAIAN ABJAD Web viewtembang Gambuh.

dengan bahasa sendiri. I. ndik. ator. 1. … menghayati, dan mengamalkan anugerah Tuhan berupa bahasa Jawa dalam bentuk teks. … membaca contoh jlentrehna artinya [DOCX Document] Macapat - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas 11 Nama-nama Tembang Macapat LENGKAP dengan Pengertian dan Maknanya - Berita DIY Tembang Pocung : Watak, Contoh beserta Artinya Lengkap - Gravity Cinta Tembang Pocung Lengkap (Pengertian, Watak, & Aturan) BANK SOAL XI IPS Semester Gasal 2020-2021 Pages 201 - 250 - Flip PDF Download - FlipHTML5 07_LKS PKL B.

JAWA - XI SEL.pdf - LEMBAR KERJA SISWA PESERTA PRAKTIK KERJA LAPANGAN(PKL MATA PELAJARAN BAHASA JAWA KELAS XI SEMESTER GENAP TP 2019/2020 - Course Hero √+27 Contoh Tembang Pocung : Makna, Aturan, Watak dan Arti Lengkap BANK SOAL XI MIPA Semester Gasal 2020-2021 Flipbook PDF - DOKUMENT.PUB Contoh Tembang Pocung : Watak, Aturan, Makna, Arti - Terlengkap !

Maskumambang Sampai Pucung, Kisah Manusia Sampai Mati dalam Macapat - Regional Liputan6.com tembang pocung ing nduwur kalebu tembang​ - Brainly.co.id Pengertian, Watak, Paugeran dan Makna Tembang Kinanthi Serat Wedhatama - ambarisna.com Tembang Macapat Pocung dan Contohnya – Kalih Ngopi Tembang Macapat Iku Kaiket Paugeran – Beinyu.com Serat Wulangreh Pupuh Kinanthi - Dwija Gumilar Kumpulan Tembang Macapat Sesuai Urutan Lengkap Makna dan Contohnya - Seni Budayaku Buku Bahasa Jawa Kelas Jlentrehna artinya [5lwo59d368qj] 40 + Contoh Tembang Kinanthi [ Lengkap Dengan Watak, Guru Gatra & Wilangannya ] - yosefpedia.com Kumpulan Contoh Tembang Macapat Lengkap dengan Penjelasannya - Rejeki Nomplok LAPORAN INDIVIDU PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) UNY 2016 LOKASI SMP MUHAMMADIYAH 2 DEPOK Jalan Swadaya IV, Karangasem, Condon Apa Itu Guru Gatra, Guru Wilangan, dan Guru Lagu dalam Tembang Macapat Jawa?

- kumparan.com MENGENAL TEMBANG MACAPAT DHANDHANGGULA - Sinau Bareng 10+ Contoh Tembang Mijil Lengkap (Pengertian & Watak) - Prasstyle.com √ 32+ Contoh Tembang Kinanthi beserta Fungsi, Watak dan Artinya Silabus Kelas XI Tembang Jlentrehna artinya Tema Pendidikan - SILABUS BANK SOAL XI MIPA Semester Gasal 2020-2021 Flipbook PDF - DOKUMENT.PUB PUPUH POCUNG.

 Serat anggitanipun KGPAA Mangkunegara IV  Ngandut piwulang luhur babagan paugeraning urip sesrawungan lan manembah mring Gusti  Wujude. - ppt download Unit Kegiatan belajar Mandiri (UKBM) Manfaat Kebebasan Berpendapat Foto Biawak Terbesar Kunci Jawaban Tema 7 Kelas 3 Hal 162 Pembubaran Masyumi Arti Maksi Lirik Lagu Sayang Via Vallen Indonesia Gambar Trafo 200 000.00 Surah Al Maidah Ayat 3 Beserta Artinya Cara Mencari Adjoin Matriks TerjemahanSunda.com (terjemahan bahasa Jawa ke Indonesia) merupakan sebuah sistem terjemahan yang memungkinkan Anda menerjemahkan dari semua bahasa ke dalam banyak bahasa lainnya.

terjemahansunda.com juga mendukung anda dalam proses pembelajaran bahasa asing, terjemahansunda.com juga dapat memberikan Anda solusi praktis dan cepat jlentrehna artinya kebutuhan jlentrehna artinya yang Anda lakukan dalam hal pekerjaan dan pembelajaran di kehidupan Anda, hal Ini juga memungkinkan anda untuk menerjemahkan ke dalam banyak bahasa asing popular lainnya seperti bahasa Jawa dan Indonesia, serta Bahasa-bahasa daerah lainnya yang tidak banyak digunakan di dunia juga dapat terjangkau oleh terjemahansunda.com.

Cara termudah dan paling praktis untuk menerjemahkan teks online adalah dengan terjemahan Jawa-Indonesia. TerjemahanSunda.com - Bagaimana cara menggunakan terjemahan teks Jawa-Indonesia?

Semua terjemahan yang dibuat di dalam TerjemahanSunda.com disimpan ke dalam database. Data-data yang telah direkam di dalam database akan diposting di situs web secara terbuka dan anonim. Oleh sebab itu, kami mengingatkan Anda untuk tidak memasukkan informasi dan data pribadi ke dalam system translasi terjemahansunda.com.

anda dapat menemukan Konten yang berupa bahasa gaul, kata-kata tidak senonoh, hal-hal berbau seks, dan hal serupa jlentrehna artinya di dalam system translasi yang disebabkan oleh riwayat translasi dari pengguna lainnya.

Dikarenakan hasil terjemahan yang dibuat oleh system translasi terjemahansunda.com bisa jadi tidak sesuai pada beberapa orang dari segala usia dan pandangan Kami menyarankan agar Anda tidak menggunakan situs web kami dalam situasi yang tidak nyaman. Jika pada saat anda melakukan penerjemahan Anda menemukan isi terjemahan Anda termasuk kedalam hak cipta, atau bersifat jlentrehna artinya, maupun sesuatu yang bersifat serupa, Anda dapat menghubungi kami di → "Kontak" Kebijakan Privasi Vendor pihak ketiga, termasuk Google, menggunakan cookie untuk menayangkan iklan berdasarkan kunjungan sebelumnya yang dilakukan pengguna ke situs web Anda atau situs web lain.

Penggunaan cookie iklan oleh Google memungkinkan Google dan mitranya untuk menayangkan iklan kepada pengguna Anda berdasarkan kunjungan mereka ke situs Anda dan/atau situs lain di Internet. Pengguna dapat menyisih dari iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi Setelan Iklan. (Atau, Anda dapat mengarahkan pengguna untuk menyisih dari penggunaan cookie vendor pihak ketiga untuk iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi www.aboutads.info.)
[et_pb_section admin_label=”section”] [et_pb_row admin_label=”row”] [et_pb_column type=”4_4″][et_pb_text admin_label=”Text”] Dandhanggula Pada materi kali ini, Synaoo.com akan memberikan materi Bahasa Jawa kelas 12 yaitu Bab Serat Jlentrehna artinya Dhandanggula meliputi sejarah, pengertian, pupuh, tembang, dan pitutur luhur.

SERAT TRIPAMA DHANDANGGULA Berikut ini adalah pembahasan selengkapnya mengenai materi Serat Tripama Pupuh Dhandanggula. Sejarah Serat Tripama Dhandanggula Serat tripama minangka karya sastra budaya Jawa awujud tembang macapat dhandanggula, kang kasusun saka pitung bait. Serat Tripama pisanan muncul ing jaman Mangkunegaran, sing digawe Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (KGPAA Mangkunegara IV) ing Surakarta.

Serat tripama iki pisanan diterbitake ing koleksi gaweyan dening Mangkunegara IV, jilid III (1927). Serat Tripama, kalebu ngemot bab kaprawiran, kanthi ketelitian sing luwih tepat.

Serat tripama iki nerangake bab iki kanthi njupuk telung crita saka paraga ing carita wayang, yaiku Patih Suwanda, Kumbakarna, lan Basukarna. Serat tripama dhewe ditulis udakara taun 1860 lan digunakake minangka panutan lan sumber inspirasi sing bisa dadi panutan, iki ora mung ditrapake kanggo para prajurit, nanging uga kanggo para pimpinan lan jlentrehna artinya saiki supaya bisa nindakake tugas masing-masing kanthi bener lan bisa dipertanggungjawabake.

Pengertian Serat Tripama Tembang Dhandanggula Serat tripama (telung suri jlentrehna artinya miturut KGPAA Mangkunegara IV (1809-1881) ing Surakarta, ditulis nganggo tembang dhandhanggula, ana pitung baus lan nyritakake Patih Suwanda (Bambang Sumantri), Kumbakarna, lan Suryaputra (Adipati Karna).

Alesan milih telung tokoh ing ndhuwur yaiku duwe watak apik lan kesatria lan duwe semangat nasional lan patriotisme tumrap negarane masing-masing. Umume, serat tripama iki awujud pitutur/paribasan gegayutan karo nilai teladan sing apik saka telung tokoh kasebut.

Serat tipama awujud Dhandanggula kang cacahe 7 pada. Pada nemer siji lan nomer loro nyritakake Patih Suwanda, pada nomer telu lan papat nyritakake Kumbakarna, banjur pada kaping lima lan nomer enem nyritakake babagan Adipati Karna, lan duwe kesimpulan lan penutup ing bait kaping pitu.

Dahandang Gula saka tembung Dhandang (pengarep) lan Gula (kabecikan). Tembang Dhandanggula anduweni watak luwes, ngresepake, lan rasa kasraman. Baca Juga : Pupuh Kinanthi Beserta Artinya Tembang Dhandanggula Serat Tripama Serat Tripama KGPAA MANGKUNEGARA IV 1. yogyanira kang para prajurit, lamun bisa samya anulada, kadya nguni caritane, andelira sang Prabu, sasrabau ng Maespati, aran Patih Suwanda, lalabuhanipun, kang ginelung triperkara, guna kaya purunne kang denantepi, nuhoni trah utama.

becike para prajurit kabeh, bisa niru (nyontoa), kaya dongengan jaman kuna, andel-andele sang Prabu Sasrabau ing Maespati, asmane Patih Suwanda, lelabuhane (jasane), kang digelung ing 3 perkara, yaiku guna kaya purun kang diantepi, netepi trah wong utama.

2. lire lalabuhan tri prakawis, guna bisa saniskareng jlentrehna artinya, binudi dadi unggule, kaya sayektinipun, duk bantu jlentrehna artinya Manggada nagri, amboyong putri dhomas, katur ratunipun, purunne sampun tetela, aprang tandhing lan aditya Ngalengka aji, suwanda mati ngrana.

Tegese lelabuhan telung prakara, yaiku guna bisa mrantasi, gawe supaya jlentrehna artinya unggul, kaya nalika paprangan negara Manggada, bisa mboyong putri dhomas, diaturake marang ratu, purun kekendale wis jlentrehna artinya, nalika perang tandhing karo Dasamuka ratu negara Ngalengka, patih Suwanda gugur ing madyaning paprangan.

3. wonten malih tuladan prayogi, satriya gung nagari ngalengka, sang Kumbakarna namane, tur iku warna diyu, suprandene nggayuh utami, duk awit prang Ngalengka, dennya darbe atur, mring raka amrih raharja, dasamuka tan keguh ing atur yekti, de mung mungsuh wanara.

Ana maneh conto sing prayoga (becik), yaiku satriya agung ing negara Ngalengka, sing asmane Kumbakarna, Sanadyan wujude buta, parandene kepengin nggayuh kautaman, Nalika wiwit perang Ngalengka, dheweke nduwe atur, marang ingkang raka supaya Ngalengka tetep slamet (raharja), Dasamuka ora nggugu guneme Kumbakarna, jalaran mung mungsuh bala kethek.

4. Kumbakarna kinen mangsah jurit, mring kang raka sira tan lenggana, nglungguhi kasatriyane, ing tekad datan purun, anung cipta labih nagari, lan nolih yayahrena, myang leluhuripun, wus mukti aneng Ngalengka, mangke jlentrehna artinya rinusak ing bala kapi, punagi mati ngrana. Kumbakarna didhawuhi maju perang, ora mbantah jalaran nglungguhi, netepi watak satriyane, tekade ora gelem, mung mikir labuh negara, lan ngelingi bapak ibune, sarta leluhure, sing wis mukti ana ing Ngalengka, saiki arep dirusak bala kethek, luwih becik gugur ing paprangan.

5. wonten malih kinarya palupi, suryaputra Narpati Ngawangga, lan Pandhawa tur kadange, len yayah tunggil ibu, suwita mring Sri Kurupati, aneng nagri Ngastina, kinarya gul-agul, manggala golonganing prang, bratayuda ingadegken senapati, ngalaga ing Korawa. Ana maneh sing kena digawe patuladhan, yaiku R. Suryaputra ratu ing negara Ngawangga, karo Pandhawa isih sadulur, pada bapa tunggal ibu, ngabdi marang Prabu Kurupati, ing negara Ngastina, dadi kesayangan, didadekake manggalaning (panglima ) prajurit Ngastina, nalika ing perang Bratayuda, mbela ing Kurawa.

6. minungsuhken kadange pribadi, aprang tandhing lang sang Dananjaya, Sri karna suka manahe, dene sira pikantuk, marga dennya arsa males-sih, ira sang Duryudana, marmanta kalangkung, dennya ngetog kasudiran, aprang rame Karna mati jinemparing, sumbaga jlentrehna artinya. Dimungsuhake karo sedulure dhewe, yaiku R. Arjuna (Dananjaya), Prabu Karna seneng banget atine, jalaran oleh dalan kanggo males, kabecikane Prabu Duryudana, tekade temenanan banget, anggone ngetog kekendelan, wusanane Karna gugur kena panah, kondhang minangka prajurit kang utama.

7. katri mangka sudarsaning Jawi, pantes lamun sagung pra prawira, amirita sakadare, ing lalabuhanipun, aja kongsi mbuwang palupi, manawa tibeng nistha, ina esthinipun, sanadyan tekading jlentrehna artinya, tan prabeda budi panduming dumadi, marsudi ing kotaman.

Conto telu-telune mau minangka patuladhan tanah Jawa, Becik (pantes) yen sakabehe para perwira, nuladha sakadare (sakuwasane), ing lelabuhanipun, aja nganti mbuwang conto, jalaran yen tibaning apes dadi ina, sanadyan tekade buta, ora beda kalawan titah liya, nggolek kautaman.

Kesimpulan 1. Pada Kapisan lan Kaloro Pada pertama lan nomer loro nyritakake Bambang Sumantri sing jejuluk Patih Suwanda. Patih Suwanda minangka gubernur Prabu Maespati, yaiku Arjuna Sasrabahu. Dheweke dadi panutan sing setya lan mantep banget kanggo nindakake kewajiban sing diperintah nggawa Putri Citrangada lan 800 kanca. Saka pada kasebut, kita bisa nyimpulake yen telung sipat pahlawan Patih Suwanda kaya ing ngisor iki: Guna: ahli, pinter lan trampil lan ngabdi marang Bangsa lan jlentrehna artinya.

Kaya: Nalika Patih Suwanda diutus Prabu Arjuna Sasrabahu, dheweke bali nggawa barang rampasan perang. Barang jarahan kasebut ora digunakake kanggo kabutuhan pribadi, nanging kanggo kesejahteraan Bangsa lan Negara Maespati. Purun: gagah, Patih Suwanda mesthi wani ing kabeh perkara lan ing saben gelut.

2. Pada Katelu lan Papat Pada kaping telu lan nomer papat nyritakake babagan raksasa sing jenenge Kumbakarna sing adhine Prabu Alengka, Dasamuka (Rahwana). Kumbakarna jlentrehna artinya tokoh raksasa sing duweni watak kerajaan lan setya karo negarane.

Iki bertentangan karo watak sedulure sing sombong lan sembarangan. Nalika Alengka diserang dening tentara kethek, Kumbakarna terus perang kanthi ora sabar kanggo mbela adhine sing salah amarga nyulik Dewi Shinta, nanging minangka ksatria sing bisa ngorbanake awak lan jiwa kanggo negarane, uga warisan saka leluhure.

Pasukan kethek sing akeh banget akhire nggawe Kumbakarna guguur ing perang. 3. Pada Kaping Lima lan Nomer Enem Pada kaping lima lan nomer enem nyritakake Prabu Suryaputera utawa Raja Karna saka Anga. Amarga dheweke ngerti ora setya marang bapake, Prabu Salya, apamaneh nalika biyunge, Dewi Kunthi, njaluk bali menyang Pandawa, nulungi adhine-adhine ing perang Baratayudha.

Nalika semana Jlentrehna artinya nolak amarga dheweke wis janji janji bakal mbela mungsuh Pandhawa, yaiku Kaurawa. Sebabe amarga Duryudhana ngundhakake pangkat saka putra kreta dadi Raja Anga. Supaya kesetiaan dheweke bakal terus berjuang sajrone dheweke isih urip lan ambegan.

4. Pada Kapitu Bait kaping pitu nerangake manawa telung tokoh kasebut kudune ditiru, sing kudu ditiru yaiku pengabdian lan sipat teladan kanggo ngetokake watak utama lan luhur.

Pitutur Luhur • Serat tripama ngemot konsep pertahanan negara kanthi rinci ing lirik kasebut. • Piwulang babagan bab katresnan kanggo mbela bangsa lan negara. • Kepentingan bangsa lan negara kudu dadi prioritas tinimbang kepentingan jlentrehna artinya.

Sekian materi bab Serat Tripama Tembang Dhandanggula dari Synaoo.com. Semoga materi yang disajikan dapat bermanfaat bagi teman-teman. [/et_pb_text][/et_pb_column] [/et_pb_row] [/et_pb_section] Kula sarujuk dherekke kersane guru, ananging kedah dipun petani malih, ampun ngantos, “pleg sami” tuladha mbah GOOGLE, ra ketang ora pati apik, ananging nganggo basa lumrah ing lingkungane.

Isi lan tujuan tembang, mratelakake kahanan kauripane dhewe. Nuwun sewu bapa ibu guruing jaman samangke taksih kathah guru spesialisasi basa jawa ingkang taksih kirang pana babagan basa ngoko, ngoko madya, basa alus, basa kedhaton lsp. Lan ugi nyuwun pangapunten menawi paring dhawuh, dipun paringi wekdal ingkang radi longgar, kados wingenane, tugas damel sekar gambuh ingkang isinipun kawontenan pribadi siswa, kawiwitan tabuh 8, kedah dipun setoraken jam 9, ing mangka lare sapunika kathah ingkang kirang paham babagan jawi.

tegese tembung : yogyanira = becike, sebaiknya. prajurit = bala, tantra, saradhadhu, bala koswa, tentara. kadya = lir, pindha, kaya, seperti. jlentrehna artinya = jaman biyen, dahulu kala. andelira = andel-andeleandalan. lelabuhanipun = jasane, jasa. ginelung = diringkes, dipadukan. guna = kapinteran, kepandaian. kaya = bandha donya, kekayaan. purun = wani, gelem, keberanian. nuhoni = netepi, menepati. trah = turun, tedhak, keturunan utama = becik, apik, terbaik.

lir = kaya, teges, makna, arti. saneskareng = saneskara + ing = samubarang, sakabehe, sembarang. karya = gawe, kardi, pekerjaan. binudi = budi + in = diupayakake, diusahakan. sayekti = sayektos, temene, sesungguhnya. duk = nalika, ketika. dhomas = 800. samas = 400. tetela = cetha, terang, jelas. aprang tandhing = perang ijen lawan ijen, perang satu lawan satu.

ditya = buta, raseksa, diyu, wil, danawa, raksasa. ngrana = ing paprangan, palagan, pabaratan, medan perang. suprandene = parandene, sanajan mangkono, walaupun demikian. darbe = duwe, mempunyai. raka = kakang, kakak. raharja = slamet, wilujeng, rahayu, rahajeng, selamat, sejahtera.

de mung = dene mungjalaran mung, hanya karena. wanara = kethek, kapi, rewanda, kera. kinen = ken + in = dikongkon, diutus, diperintah. mangsah jurit = maju perang, menuju ke medan laga. sira = dheweke, piyambakipun, panjenenganipun, dia. lenggana = nolak, mbantah, menolak. datan = tan, ora, tidak. labuh = berjuang. yayah rena = bapak ibu, ayah jlentrehna artinya ibu. myang = lan, dan arsa = arep, ayun, apti, akan. punagi = sumpah. palupi = conto, sudarsana, tuladha, contoh.

narpati = ratu, raja, katong, narapati, naradipati, narendra, raja. kadang = sedulur, saudara. suwita = ngabdi, menghamba. kinarya = karya + in = digawe, dipakai. agul-agul = andel-andel, andalan. manggala = panglima senapati = pangedhene prajurit, pemimpin perang, panglima perang. manahe = atine, hatinya. pikantuk = oleh, mendapat. marmanta = marma + anta = sebabe, sebabnya. kasudiran = kekendelan, kasekten, kesaktian. jinemparing = jemparing + in = dipanah. sumbaga = kondhang, kaloka, kajanapriya, terkenal.

wirotama = wira + utama = prajurit pinunjul, prajurit yang hebat. katri = katelu, ketiga. sudarsaneng = sudarsana + ing = conto. amirita = nirua, ikutilah. kongsi = nganti, sampai. dumadi = titah, makhluk. marsudi = ngupaya, nggoleki, berusaha. kotaman = ka+ utama+ an = keutamaan. Apakah Sahabat pernah mendengar tentang istilah catur wedha? Istilah catur wedha dalam Bahasa Indonesia artinya adalah empat nasihat. Nasihat ini biasanya disampaikan oleh mertua (pria) yang ditujukan kepada calon menantu pria.

Penyampaian catur wedha ini dibacakan ketika malam midodareni yakni setelah wakil dari keluarga calon pengantin pria menghaturkan segala perlengkapan lamaran yang ditujukan kepada keluarga pengantin wanita. Adat Jawa Tentang Catur wedha Pembacaan catur wedha merupakan penyampaian empat wejangan atau nasihat untuk mengarungi bahtera rumah tangga calon pengantin nantinya. Wejangan atau nasihat ini disampaikan oleh ayah dan ibu dari pengantin wanita kepada calon pengantin pria.

Sesuai adat tradisi Jawa, wejangan ini dibacakan atau disampaikan dengan memakai bahasa Jawa Ngoko. Penggunaan bahasa Jawa Ngoko dikarenakan ini bentuk penyampaian perintah dari orang tua yang wajib dihormati oleh putranya. Apabila calon pengantin pria bukan berasal dari Jawa, wejangan atau nasihat ini bisa disampaikan dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Namun tidak boleh menggunakan bahasa asing meskipun calon pengantin pria berasal dari luar Indonesia. Sumber : budayajawa.id Isi Dari Catur Wedha Putraku (mempelai pria) kang sutresna, kanggo sangu ing madyaning bebrayan agung, kang Rama perlu ngaturi ular-ular kang diarani Catur wedha, sing unine kaya mangkene : Sepisan, Rehne slirahmu bakal dadi garwane putriku, tandang tandukmu kudu tansah dewasa, aja kaya nalika isih jaka.

Semono uga sisihanmu dalah momonganmu, kudu ngerteni yen wis ana sing ngemong. Kaping pindho, Lahir bathin kudu tansah sungkema marang maratuwamu kayadene wong tuwamu dhewe.

Kaping telu, Urip bebrayan agung mono, wajib kudu netepi angger-angger paugering praja. Tansah hambeg mring sasama dimen sinuyudan temah anjalari gancar ing saluwiring pambudi daya Kaping papat, Estokake dhawuhe Pangeran Gusti Allah Swt dalah Gusti Kang Makarya Jagad, lan adohana wewalere, warahing piandel utama agama sing kok anut lan tindakna saben dina supaya ayem tentrem lahir batin.Cinaketna ing jlentrehna artinya lan bisa murakabi marang nusa lan bangsa.

Isi catur wedha dalam Bahasa Indonesia: Pertama, Engkau sudah memantapkan diri untuk bisa hidup berkeluarga dengan putri kami. Oleh karena itu segala tingkah jlentrehna artinya harus disikapi dengan dewasa. Jangan seperti ketika masih perjaka. Jadikan istrimu mengerti bahwa istrimu telah ada yang melindungi sekarang ini yaitu kamu (mempelai pria).

Kedua, Hormatilah mertua kamu seperti layaknya orang tua kamu sendiri. Karena kami orang tua (mempelai wanita) juga telah menganggap engkau sebagai anak kami sendiri. Ketiga, Hiduplah dengan bermasyarakat, harus mematuhi hukum negara, harus menghormati dan mengasihi sesama makhluk agar bisa menemukan kebahagiaan dalam hidup.

Keempat, Bertakwalah kepada Allah SWT kepada Tuhan jlentrehna artinya alam semesta dan jauhilah semua yang menjadi larangan-Nya sesuai dengan agama dan kepercayaan yang engkau anut. Niscaya nantinya engkau menemukan kegembiraan, kesenangan dan kemuliaan serta bisa menjadi teladan kepada sesama demi jlentrehna artinya kejayaan nusa dan berbangsa. Makna Nasihat Catur Wedha yang Harus Dipatuhi Ada baiknya catur wedha jlentrehna artinya hanya dibacakan saja, namun juga ditulis rapi.

Apabila memungkinkan dituliskan dengan tulisan tangan kemudian dibingkai rapi dan diberikan langsung kepada calon menantu pria. Sesudah penyerahan catur wedha, umumnya dilanjutkan acara melihat atau menengok calon pengantin wanita yang sedang berada di kamar oleh perwakilan keluarga dari pengantin pria. Yang diperkenankan untuk melihat calon pengantin wanita hanya kaum wanita saja. Sesudah upacara midodareni selesai dan dari pihak keluarga pria sudah memohon pamit.

Bisa dilanjutkan dengan acara jagong atau melekan untuk persiapan acara pesta perkawinan di keesokan harinya. Pada jagong ini, tetangga dan kerabat datang ke tempat yang sudah disediakan di rumah mempelai wanita untuk sekadar berbincang jlentrehna artinya menghabiskan malam bersama-sama. Dikarenakan hal ini dianggap malam yang sakral, ada baiknya tidak dilakukan pemutaran musik hiburan kecuali musik karawitan yang nadanya tenang.

Nah, itu dia makna dan isi nasihat dari catur wedha, Sahabat. Catur wedha tersebut memang bukan sekadar nasihat saja, namun harus benar-benar dilakukan dan dipatuhi oleh mempelai pria. Pernikahan adat Jawa memang kental dengan upacara adat, hal ini bertujuan agar kehidupan berumah tangga dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Indonesia memang memiliki beragam adat yang berbeda, untuk itu terus pelajari dan lestarikan, ya Sahabat!
3.4 Tulisan terkait : Contoh Geguritan Singkat Gagrak Anyar dan Gagrak Lawas Keberadaan bahasa daerah di era modern saat ini mengalami pergeseran akibat semakin maraknya Westernisasi sehingga menuntut siswa untuk pandai berbahasa Inggris.

Sebenarnya hal tersebut merupakan hal yang positif karena dapat memajukan pendidikan dengan mengetahui bahasa Internasional. Namun disisi lain, akan berdampak negatif terhadap pelestarian budaya bahasa di Indonesia. Dampak negatifnya yaitu kurangnya rasa memiliki dan kebanggan terhadap bahasanya sendiri terutama bahasa daerah. Jika dibiarkan terus-menerus, maka akan menyebabkan eksistensi bahasa daerah menurun dan kasus ekstrimnya dapat menyebabkan kehilangan identitas bangsa.

Oleh sebab itu, di sekolah-sekolah saat ini telah ditambahkan mata pelajaran bahasa daerah untuk mendidik siswa mencintai bahasa daerah. Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa daerah yang terkenal di Indonesia. Jawa adalah salah satu dari 5 pulau terbesar di Indonesia. Bahasa jawa memiliki beragam istilah sehingga kosa katanya bersifat kaya. Penggunaan bahasa Jawa juga terdiri dari beberapa tingkatan dari bahasa Jawa halus hingga yang kasar sehingga dari bahasa tersebut jlentrehna artinya menghasilkan berbagai karya.

Karya sastra yang berasal dari bahasa Jawa banyak sekali macamnya. Salah satunya adalah geguritan. Pada artikel kali ini akan membahas terkait karya sastra geguritan, apa itu geguritan, langkah dalam membuat geguritan, dan contoh geguritan.

Baca juga : • Majas Asosiasi Beserta Artinya • Contoh Puisi Pendek Pengertian Geguritan jlentrehna kang sinebut puisi gagrag lawas lan gagrag anyar, banjur wenehana tuladhane kang gagrag anyar! Geguritan berdasarkan bahasanya yaitu berasal dari bahasa Jawa yang memiliki asal kata gurit yang berarti tatahan atau coretan. Geguritan berdasarkan istilah yaitu suatu bentuk karya sastra puisi yang memiliki bahasa yang indah. Geguritan saat ini lebih dikenal atau dapat juga diartikan (sinonim) dengan puisi bahasa Jawa gagrak anyar (modern) yang tidak terikat dengan aturan.

Bebas yang dimaksud dalam geguritan yaitu bebas jumlah larik, bait, dan tembang yang dilafalkan. Intinya dalam membuat geguritan adalah memiliki bahasa yang indah dan isinya menggunakan kata yang tepat dan pantas. Cara Membuat Geguritan Langkah yang pertama kali dilakukan dalam membuat geguritan yaitu penulis menetapkan tema karangan yang akan dibuat.

Tema ini adalah gagasan pokok yang nantinya dijabarkan menjadi kalimat puisi. Oleh sebab itu penentuan tema sangat penting untuk dijadikan wadah dalam karangan geguritan sehingga karangan yang dibuat tidak melenceng dari gagasan pokok yang ditetapkan.

Pembaca dapat menemukan tema dalam geguritan dengan membacanya berulang-ulang sehingga pengarang dapat mengoreksinya dan apakah geguritan yang telah dibuat mampu menyampaikan pesan dan menangkap tema dengan baik kepada pembaca Langkah selanjutnya dapat dilakukan dengan menentukan gaya bahasa. Gaya bahasa ini penting sebagai identitas dan ciri khas penulis.

Dalam membuat gaya bahasa juga perlu memperhatikan keterpaduan untaian kata dan rima yang ada dalam karangan geguritan. Cara menulis geguritan setelah menentukan jlentrehna artinya dan gaya bahasa yang tepat, kemudian rangkailah kata dan ungkapkan segala yang dirasakan oleh pengarang dalam bentuk tulisan. Bentuk tulisan dalam geguritan sebaiknya adalah ekspresi dalam hati dan pikiran pengarang. Dengan demikian, geguritan dipenuhi kata yang indah dan penuh makna. Langkah terakhir barulah membuat judul geguritan.

Dalam membuat judul sebenarnya boleh di awal, namun untuk lebih mudah mewakili keseluruhan isi geguritan, lebih baik di akhir saja. Judul yang dibuat hendaklah semenarik mungkin agar pembaca tertarik untuk membacanya.

Contoh Geguritan Singkat Berbagai Tema Pada soal ujian bahasa jawa, pasti Anda pernah mendapatkan pertanyaan “jlentrehna kang sinebut puisi gagrag lawas lan gagrag anyar, banjur wenehana tuladhane kang gagrag anyar!” Untuk lebih memahami contoh geguritan bahasa jawa, berikut adalah jenis dan berbagai contoh geguritan singkat beserta penjelasannya.

#1. Contoh Geguritan Gagrak Lawas Contoh Geguritan Bahasa Jawa Gagrak Lawas Pada dasarnya geguritan adalah karya sastra puisi berbahasa jawa yang digunakan oleh para pujangga pada zaman dulu dan terikat dengan aturan dalam karangannya yang disebut dengan gagrak lawas. Aturan yang dimaksud dalam geguritan gagrak lawas seperti rima, bait, hingga suku katanya. Geguritan gagrak lawas biasanya menggunakan bahasa jawa kuno dan memiliki pola tertentu. Puisi ini termasuk ke dalam tembang yang menggunakan rima jlentrehna artinya padu.

Biasanya pada zaman dulu, geguritan gagrak lawas merupakan karya sastra lisan dari mulut ke mulut bukan melalui tulisan di atas kertas. Baca juga : • Contoh Majas Paradoks jlentrehna artinya Majas Eufimisme • Majas Klimaks Ciri-Ciri Geguritan Gagrak Lawas Ciri-ciri dari geguritan gagrak lawas yaitu memiliki jumlah kata dalam satu baris sebenarnya jumlah katanya tidak harus konstan. Adanya jumlah baris dalam satu bait, kemudian minimal dalam satu bait terdapat 4 baris.

Tiap baris memiliki rima yang akhirannya dalam satu bait harus runtut sehingga menghasilkan intonasi yang indah. Berdasarkan ciri-ciri tersebut dapat Anda implementasikan pada contoh geguritan bahasa jawa seperti di bawah ini.

Berikut adalah contoh geguritan gagrak lawas tentang pahlawan dan contoh geguritan bahasa jawa tentang ibu dalam gagrak lawas. Pahlawan Sun gegurit Pahlawan.

Blumbang getih sing panjennengan kurban Mayuta-yuta kringet panjennengan Kanggo tanah diarep kabeh kalangan Abot tenan perjuanganmu Katresnanmu tak pedhot maringi wektu Nganti saiki kelingan bektimu Dungoku ngarep katenanganmu Maturnuwun pahlawanku Contoh jlentrehna artinya bahasa jawa tentang ibu (Gagrak Lawas) Ibu Sun gegurit Ibu. Tansah guyumu nentremke atiku Tansah mbayangmu ngancani sepiku Tansah wiwit cilik mulang lakuku Dungomu kanggo sukses aku Dungoku saterosna ngancani uripku Sing arep melu ngerasake bungahku Saiki kulo ngarep rasa senengmu Ibu bidadariku Penjelasan Contoh Geguritan Gagrak Lawas Berdasarkan contoh geguritan gagrak lawas di atas, ciri kahas dari geguritan ini dapat dilihat yaitu umumnya dan biasanya dimulai dengan kata sun geguritan.

Maksud dari sun geguritan ini adalah “aku mengarang” atau “membaca geguritan”. Pada geguritan contoh pertama yaitu tentang pahlawan, dapat dianalisis bahwa termasuk dalam gagrak lawas. Hal tersebut dikarenakan dalam satu baitnya memiliki 5 baris begitu pula pada bait kedua. Kemudian ciri lainnya jlentrehna artinya memiliki rima akhir yang sama yaitu pada bait pertama jlentrehna artinya “–an” dan pada bait kedua berakhiran “-u”. Makna yang terkandung dalam geguritan dengan judul pahlawan yaitu mengenai betapa besarnya jasa pahlawan untuk memperjuangkan negara kita.

Hal tersebut jlentrehna artinya pada baris 3 dan 4, bait pertama, yaitu “Blumbang getih sing panjennengan kurban”, “Mayuta-yuta nangis lan kringet panjennengan” yang artinya “Genangan darah yang kau korbankan”, “berjuta-juta tangisan dan keringat engkau”. Dari hal tersebut, akan mengena dalam hati para pembaca sehingga terkesan. Contoh kedua yaitu mengenai contoh geguritan bahasa jawa tentang ibu.

Contoh tersebut termasuk dalam gagrak lawas karena terikat dengan aturan. Dapat dilihat dar geguritan tersebut guru lagunya memakai guru suara. Hal tersebut dapat dilihat pada bait pertama dan kedua sama-sama berakhiran –u. Ciri lainnya yaitu pada puisi ibu tersebut memakai awalan “sun gegurit”. Suku kata pada baris satu dan baris lainnya sama, dapat dilihat pada bagian: “Tansah guyumu nentremke atiku”,”Tansah mbayangmu ngancani sepiku”,”Tansah wiwit cilik mulang lakuku”.

Dalam gagrak lawas di atas juga menggunakan majas perulangan. Hal tersebut menjadikan geguritan menjadi lebih padu serta memberikan penegasan pada pembaca sehingga dapat fokus dan menyerap makana yang dimaksud pengarang. Pembuatan contoh geguritan di atas baik yang bertema pahlawan atau bertema ibu, pengarang harus memiliki pengetahuan gambaran sosok pahlawan dan ibu sehingga relevan dengan pembaca dan bisa menjelaskan suatu peristiwa dan kondisi yang sebenar-benarnya. #2.

jlentrehna artinya

Contoh Geguritan Gagrak Anyar Contoh Geguritan Gagrak Anyar Singkat Sama halnya seperti yang di jelaskan sebelumnya, bahwa geguritan berdasarkan wikipedia pada masa kini adalah persamaan (sinonim) dari gagrak anyar. Hal tersebut karena geguritan yang dibuat bersifat bebas jlentrehna artinya tidak terikat aturan. Karya bebas ini akan membuat pengarang lebih kreatif untuk memainkan kata-kata geguritan sehingga bahasa yang digunakan menjadi indah dan merasuk kepada pembaca.

Adapun contoh geguritan gagrak anyar dapat dilihat sebagai berikut. Contoh 1: Contoh geguritan gagrak anyar tema ilmu Ilmu Saka langit biru kaya segara Nganti jlentrehna artinya ndhelik ing mega Lakuku terus mlaku Ora preduli dheweke kesel Mlaku ing akeh Sikilku mesthi leren ing papan sing padha Sekolah sing dakgali kanggo mbedhek mbesukku Ora ngganggu paningale jiwaku Aku nemokake sekolah kanggo sinau kabeh Amarga aku ngerti ana akeh sing nyilem Kaya macem-macem jinis iwak ing samodra Oh ilmu … Aku takon Gusti marang Sing sejatine nduweni ilmu wenehi ilmu sing jembar Banjur angkat aku menyang permukaan Supdhos pikiran peteng ora ngganggu paningale jiwaku Contoh 2: Contoh geguritan gagrak anyar tema Ibu Ibu Rembulan mekar lan srengenge layu Mripatku meneng kelingan sliramu Pasang tangan tengenmu ing bathukku Ngusap alon sirahku Melodi panjennengan mung kanggo aku Donga sore panjennengan nyebut jenengku Kaya udan sing tiba nalika pelangi katon Sanajan wis udan isih udan isih nandur tanduran Cahya ati iki Nalika sampeyan ngasuh baris tembung kangen Abot ati iki Esemmu mekar nalika atimu remuk Ayo kula dadi bukti kabecikan panjennengan Minangka saksi sadurunge Raja Wayah Ewonan jlentrehna artinya sampeyan kanggo mbayar eseman Dhuh, Pamilik Katresnan!

Katresnane tanpa wates sanajan ora bisa dibalekake Ibu, bidadariku Aku ora pengin kelangan tresnamu Sanajan bakal ana kanca ing sajroning uripku Contoh 3: Contoh geguritan gagrak anyar tema katresnan Pandeleng Pisanan Angin wengi mbrebes mili Menyapa marang praupan iki meksa mata aku nutup Seteg surup lagi nyedhak Aku mlaku ngrampungake kewajiban Sekolah sing dakgoleki Kanggo nuduhake citra universitas Aku ketemu panjennengan panjennengan teka tanpa alesan, ngenggoni papan atiku Otakku mikir, kowe mengko angin Cukup isi kenangan memori, Atiku nolak Dheweke bisik “Aku wis kenal suwe” Ati panjennengan ayu, esemamu manis Aku pengin ngerti luwih Aku ora preduli nalika mikir Nalika lintang katon padhang kaya mutiara Endah banget yen dideleng Jlentrehna artinya ninggalake, ora menetap panjennengan sapa Wektu ora bisa dingerteni Kepiye aku nari-nari ing kangen Contoh 4: Contoh geguritan gagrak anyar tema gadis kecil Cah Cilik Panjennengan jlentrehna artinya ora stabil, bocah wadon cilik Ati durung cukup angel Rame lan rame wis menehi warna urip Lambemu sing tipis mesem nalika wengi Aku terpesona karo aroganmu Dadi kembang mekar Hawane nggepuk nganti kelopak tiba Katon rapuh nanging mesthi ngencengi ranting Nalika wayahe mangsa garing Aku bakal ngomong kabeh Wit sing ditandur, wangi berkat panjennengan Oh cah cilik … Kapan panjennengan dadi permata alam semesta iki?

Amarga cakrawala panjennengan malih dadi abang Ing pesona surup Contoh 5: Contoh geguritan gagrak anyar tema katresnan (2) Ati Jangkar Pasuryan lan anget sing alus Aku cekel banget lan muga-muga bisa nggayuh atimu Monggo, ojo mbalik Amarga aku wedi yen ora bisa nyingkirake penjennengan Ing srengenge alus Aku narik napas dawa Banjur angin nggegirisi aku Aku mikir bisa mabur Nanging aku bisa uga rusak sadurunge tekan langit Rasane iki ora pengin cocog karo pikiranku Aku ora bisa ngucapake amarga ngerti Yen tembung kasebut ora langgeng Amarga ora kabeh ditulis Tansah mbukak ing antarane garis jlentrehna artinya Ora preduli aku nyingkir Atiku wis dilabuh menyang dermaga panjennengan Aku ora bisa nolak Kaya obyek tanpa isi Dheweke ora bisa dipengaruhi Contoh 6: Contoh geguritan gagrak anyar tema hewan Kunang-kunang Wengi liyane peteng Kasaput kabut Mega ireng nutupi langit Ora katon putri cahya Aku weruh saka kadohan Sithik cahya sing sumunar Sing madhangi bumi Saka petheng wengi Salah sawijine Nyedhak kaca omahku Kunang-kunang liyane Marani aku Padhangmu padhang banget Madhangi halamanku Saiki aku weruh kembang Wis turu turu tenan Contoh 7: Contoh geguritan gagrak anyar tema Tuhan Gusti Allah Panjennengan ana Panjennengan mesthi ana ing saben langkah gesang kawula ing saben napasku Panjennengan Maha apik tansah dakkarepake apa sing dakkarepake tansah kepengin ngrungokake saben pandonga matur nuwun Gusti gawe aku bocah sing apik bocah sing matur nuwun kanggo apa sing mesthi diwenehake matur nuwun Gusti Baca juga : • Contoh Iklan Media Cetak • Majas Sinekdoke • Ukuran Lapangan Sepak Bola Penjelasan Contoh Geguritan Gagrak Anyar Berdasarkan contoh geguritan gagrak anyar di atas sudah jelas bahwa setiap bait, jumlah suku kata, dan rimanya tidak harus sama dengan baris lainnya.

Hal tersebut jauh berbeda dengan geguritan gagrak lawas yang mengikat pada aturan rima, baris, dan baitnya. Namun, yang perlu diperhatikan adalah dengan menggunkan diksi yang tepat dan kata yang menarik. Isi dalam geguritan gagrak anyar juga tidak boleh keluar dari tema yang telah direncanakan. Geguritan gagrak anyar maupun gagrak lawas sama-sama memiliki struktur yang terdiri dari tema, rasa, nada, dan tujuan.

Panjang dan pendeknya isi dalam geguritan pasti memiliki tema. Tema inilah yang harus mengena pada pembaca. Rasa yang ada dalam geguritan dapat berupa perasaan romantis, melankolis, senang, sedih, atau marah. Dapat dilihat pada contoh geguritan di atas, pada puisi tema ibu memiliki rasa melankolis. Nada juga jlentrehna artinya kalah penting karena nada yang indah dalam geguritan akan menambah cita rasa karya sastra menjadi lebih kaya.

Nada dibuat dengan memperhatikan pemilihan diksi/kata yang tepat. Terakhir adalah tujuan dari membaut geguritan, haruslah jelas. Beragam maksud dan tujuan dari penulisan geguritan, seperti untuk ungkapan hati, sindiran/kritik terhadap kalangan tertentu, atau untuk memperkaya khasanah karya bagi penulis profesional. Dalam membuat geguritan bahasa jawa memerlukan keterampilan dan latihan terus-menerus agar dapat menggunakan kosa kata bahasa jawa yang sesuai. Oleh sebab itu, pemilihan kata dapat dicari dengan menggunakan kamus bahasa jawa, dengan memilih kata sinonim yang sesuai.

Selain itu, dapat juga menggunakan majas perumpamaan untuk mengibaratkan sesuatu sehingga memberikan penafsiran yang sama walau menggunakan benda/objek lain. Contohnya seperti di atas adalah “Dadi kembang mekar”. Makna tersebut mengganti kata seorang bocah yang sedang dalam masa perkembangan kemudian diganti dengan kata bunga jlentrehna artinya mekar memiliki makna yang sama.

Demikian artikel penjelasan geguritan beserta contohnya ini. Bila ada yang ingin ditanyakan, silakan sampaikan melalui kolom komentar di bawah ini. Semoga bermanfaat. Tulisan terkait : jlentrehna artinya 12+ Contoh Resensi Film, Jlentrehna artinya, dan Cara Membuatnya • Pengertian, Struktur, & Contoh Teks Laporan Hasil Observasi… • 12+ Contoh Susunan Acara Bisa Anda Peroleh Disini!

• Contoh Paragraf Induktif; Pengertian, Ciri, Jenis, dan… • 67+ Contoh Iklan Niaga dan Iklan Non Niaga, Pengertian,…
aba : préntah, pakon, dhawuh; ngabani : mréntah kanthi swara. abab : hawa saka cangkem; mung abab thok : mung swara thok, ora cucul dhuwit. abad : jaman sing suwéné satus taun. abadi : lana, langgeng, lestari. abah : abah-abah prabot, piranti; abah-abah tenun : prabot kanggo nenun; jarané diabah-abahi : di tropi lapak lan kendhali; jlentrehna artinya sak panunggalané; ora dadi abahan : ora kanggo gawé; kumureb ing abahan : pasrah pati urip.

abang : laka, lak, jingga, abrit; mung di enggo abang-abang lambé : tembung sing manis mung samudana; ngabangaké kuping : marakaké nesu; ngabang bironi : bingung anggoné golék butuh; rainé abang dluwang : rainé pucet banget; jajabang mawinga-winga : nesu banget. abar : aber, ngabar, suda; jagoné diabar : jagoné dikabrukaké; jagoné abar-abaran : kabruk-kabrukan.

abdi : réncang, réwang, batur; abdi dalem : baturing ratu, adalem, kawula, aku, kula, aben : adu, ngedu; aben-abenan : adon-adon. abiyasa : manuh, lumrah; begawan abiyasa : pendhito ing wukir retawu, bapaké prabu pandhu, éyangé para pandhawa. abikara : priyayi, priyantun.

abilasa : hawa nepsu, kamurkan; jagal abilawa : jenengé werkudara nalika ngéngér ing wiratha. abimana : umuk, kumingsun. abimantrana : berkah, donga, pangéstu, abinawa : anyar, énggal, enom, nggumunaké. abipraya : rukun, sayuk, rujuk, niyat, sedya; saabipraya : sayuk rukun, saéka kapti. abirama : éndah, ayu, bagus. abivada : pakurmatan, pangaji-aji; kaabiwada : dikurmati, diaji-aji. abu : bapa, bapak, rama, yayah, sudarma. abuh : péranganing awak mundhak dadi gedhé amarga lara.

abuk : ngabuk, ndhaku, ngepek, nggabrul. abul : diabul-abul, di udhal-udhal, disebar, diwratakaké. abur : mabur, ngambah ing awang-awang; diaburaké : diculaké jlentrehna artinya mabur; bangsaning abur-aburan : bangsané manuk. abon : daging disuwir-suwir, dibumboni terus digorèng; abon-abon : sarat, ubarampé, sarana; abon : tukang nglinting rokok. abor : kopyor abra : sumorot mawa cahya, padhang. abrag : bekakas, barang. acak : anyak, wiwit, lekas. acala : ancala, ardi, aldaka, arga, giri, arditi, parwata, prabata, méru, wukir, redi, gunung.

acara : kalakuan, watak; diacarani; dibagèkaké klawan hormat. aci : pathi. aclum : rainé katon pucet. acung : ngacung : awèh sasmito sarana ngangkat tangan tengen kanthi drijiné panuduh dicongataké; acung-acung : nenuduhaké; diacungi jempol : oléh pangalembana.

ada : panemu, réka; ada-ada : wiwit nindakaké apa-apa sing mauné durung ana; sugih ada : sugih panemu, sugih réka; lagi adané larang pangan : lagi mangsané larang pangan; diadani : diwiwiti nindakaké ada-ada; adaini : bayu gedhe; ngetokaké adaini : tumandang kanthi mempeng.

adama : asor, nistha, papa. adang : ngukus, ngliwet nganggo dandang. adangiyah : adawiyah, pandonga, pamuji utawa pakurmatan ing bebukaning layang.

adara : pangaji-aji, pakurmatan. adas : thethukulan wohé digawé jamu lan lenga; sembur-sembur adas : siram-siram bayem : awit pandongané, wong akèh muga-muga bisa kasembadan. adat : tata kang wis kalumrah wiwit biyèn mula adaté : adat sabené, lumrahé, kaya kang wis tumindak; owah adaté : édan.

adèn-adèn : dandanan kang digawé sarwa apik; diadèn-adèni : diaji-aji banget, digematèni, banget. adeg : kahanan apa-apa sing jejer jejeg; adeg-adeg : cagak loro kanggo uwat-uwat, tandha lekasan kanggo nulis nganggo aksara jawa, bebaku, pokok; adeg-adeging urip : piandelé urip; diadegaké : ditata ngadeg, dianakaké jlentrehna artinya pakumpulan, dijumenengaké, ditetepaké, diangkat; adeg-adegan : mung kanthi ngadeg, jumenengan, tetepan dadi. adhag : ngadhag-adhag : turu mlumah, negenthak-enthak ora ketutupan.

adhah : wadhah, diadhahi : diwadhahi. adhakan : gampang ketemuné, gampang golèk-golèkané; adhakané : lumrahé. adhang : ngadhang : ngendheg ing dalan; adhang-adhang : nunggu mbok menawa liwat; adhang-adhang tetesing embun : njagakaké barang mung sak olèhé. adhèhan : adhèyan : jaran mlaku nyirik-nyirik; diadhèhaké : dilakokaké nyirik. adhèk : adhik, adhi, rayi, antèn. adhèng : mari sedhih, mari susah, mari lara. adhem : asrep, anyep, sarèh, kurang sethithik; diadhemaké : digawé luwih adhem; atiné diadhemaké : dilelipur atiné, diarem-aremi; kahanan wis adhem : pulih tentrem sakuwisé ana gègèran; sega adhem-adheman : sega tumpeng lawuhé kuluban.

adhep : arep ; madhep : marep, majeng; adhep-adhepan : arep-arepan, ajeng-ajengan; adu adhep : adu jlentrehna artinya, aben ajeng. adhi : antèn, adhik, rayi, sedulur enom. adhuk : campur adhuk : campur bawur. adhul : diadhul-adhul : diabul-abul, diudhal-udhal.

adhum : édhum, éyub. adhong : piranti kanggo golek iwak ing kali. adi : linuwih, becik, apik, linangkung, utama, diadèkaké : dibecikaké; adibusana : sandhangan kang apik; ngadi busana : dandan, macak; adigang, adigung, adiguna : ngendelaké kadigdayané, kaluhurané lan kapinterané; adilaga : paprangan, payudan, pabaratan; adipati : ratu, raja, narèndra, narpati, narapati, naradipa, narpa, katong, aji, narèswara, nata, pamasa, paramèswara, sribupati; aditya : raditya, arka, surya, aruna, bagaskara, bagaspati, baskara, diwangkara, pratanggapati, radité, rawi; adiwignya : pinter banget, limpat, waskita.

adnyana : pangerti, akal, budi. adoh : tebih; adoh ing panggawé ala :ora dialani liyan; adoh ing payendhu : ora disendhuing liyan; pasedulurané wis adoh : bra raket. adol : sadé, dodol, mandé; adol ayu (bagus) : mamèraké ayuné (bagusé) supaya disenengi; adol awèh tuku arep : jlentrehna artinya bakul yèn dagangané ora larang; adol gawé : ngatonaké panggawéané supaya diarani sregep; adol gedhung : umuk/kumingsun; adol umuk : seneng sesongaran; kulak warta adol prungon : ngrungok-ngrungokaké kabar.

ados : woh sing bungker. adu : aben, gathuk, tepung, narungaké; adu tritis : tepung tritis; adu geger : gathuk gegeré; adu arep : adhep-adhepan, arep-arepan, aben ajeng; adu mancung : adu pojoking pekarangan; adu rasa : adu semu : padha déné pasang semu; adu sungut : padha déné pasang ulat; diadon-adoni : dijantoni, dibumboni. adul-adul : wadul, pradul, para wadul.

jlentrehna artinya

adus : siram; adus grujug : adus kanthi banyu saka ing timba digrujukaké awak sakojur; adus wuwung : adus kanthi jlentrehna artinya banyu kolah disiramaké awak sakojur; adus kringet : anggoné nyambut gawé kanthi rekasa; adus luh : jlentrehna artinya nggriyeng; adus getih : awaké tatu lan gubras getih.

aèng : anèh, élok, nylenèh. aèr : banyu, wé, tirta, hèr, jala, ranu, warih, tuban, udaka. aès : diaèsi jlentrehna artinya dipaèsi, didandani, dipacak. agak : diagagi : diagar-agari, diacungi. agal : kasar. agama : agami : keklumpukaning tata carané panembah lan piwulang kautaman.

agar : ngagar : gawé geni kanthi nggosokaké kayu karo kayu; ngagar metu kawul : nggegasah ora dipaèlu; kayu agaran : kayu sing kanggo ngagar. agé : énggal, rikat, cepet, agya, aglis. agel : serating papah nipah (gebang). ager-ager : tetuwuhan segara kang digawé gudir.

aglar : gelar, ditata gumelar. agni : geni, latu, brama, api, apyu, dahana, pawaka, mertyu, utawaka. agnya : pakon. agnyana : akal, pangerti.

aguk : anggak, gumedhé. agul-agul : gegedhuk, andel-andel. agung : gedhé, luhur, akèh banyuné. agop : ora kendhat, ora lowong, tanpa lèrèn. agor : swara gedhé semu erak; ngagor-agori : bocah lanang swarané wiwit maleh gedhé. agra : pucuk, pucak. agreng : alas agreng : alas gedhé. agring : gering, lara, sakit, gerah.

agrong : jurang agrong : jurang jero. agru : diagru-agru : dirusuhi, diganggu. ahengkara : angkara, kamurkan, srakah. ahli : wong kang pinter (putus) salah sijining kawruh. aib : gaib, winadi, ora kasat mata. ail : kesel anggoné cangkem. aja : sampun, ora kena; aja pisan-pisan : ora kena babar pisan; diajani : diojok-ojoki. ajag : asu ajag : asu lasan; diajagi : diselani tanduran liya, tumpang sari. ajak : ajak-ajak : ngajak, akon melu.

ajal : ngajal; mati, pejah, seda, lampus, léna, antaka, ngemasi, lalis layon, gugur, palastra, praléna, jlentrehna artinya donya, murud, pralaya, laya; ajalulihan : ajal mulihan : mulih marang asalé. ajang : piring, wadhah sega yèn pinuju mangan; lagi ajang-ajangan : lagi dhahar; ajang ing perang : paprangan, payudan, pabaratan, rananggana; ajang ing patemon : papan ing patemon; tunggal ajang : tunggal pegawéyan.

ajar : sinau, gladhèn, nggegulang; diajari : diwulang, disinaoni, diwuruki; diajar : dipilara, dipun pisakit; kurang ajar : murang tata clunthangan. ajat : kajat, kekarepan, kabutuhan.

ajer : cuwèr, luluh, ajur ; ajèr ulaté : sumeh, sumringah. ajeg : tetep ora owah, lestari; diajegaké : digawé ajeg; ajeg-ajegan : arep-arepan, adhep-adhepan. aji : rega, donga (rapal), sing bisa duwé kaluwihan (daya); beras seberuk ajiné pira : rega; aji lembu sekilan : rapal sing duwe kaluwihan (daya); diaji-aji : disuhun-suhun, dikurmati banget. aju : laju, enggal; aju : ajeng, maju : majeng. ajum : diajum : dirimuk, diglembuk, diejum. ajung : pembantu, rèh-rèhan, sor-soran.

ajur : mumur, remuk, rusak babar pisan. ajrih : wedi; ajrih ing getih : jirih. akal : pikiran, nalar, reka, daya; akal koja : pinter ngapusi; akal bakal : cikal bakal; akalpa : rerenggan, pasrén. akas : pera (tumraping sega) : cukat, trampil, trengginas (tumraping tandang gawé). akasa : awang-awang, langit, dirgantara, madya gantang, akasa, tawang, jumantara. akérat : jaman kalanggengan, loka baka, tepet suci. akik : watu mawa warna. aking : garing; awaké kuru aking : kuru banget.

akil balèg : diwasa. akrab : krabat, kulawarga, sanak sedulur, rumaket. akral : kiyeng, rosa, santosa. akram : gumebyar, sumorot, sumunar. aksa : akyan, nétra, nétya, soca, aksi, pandulu; pandeleng, mripat, mata. aksama : pangapura, pangapunten, aksami. ala : awon, èlèk; ala duluné : ora pantes dideleng liyan; ala nganggur : timbang nganggur. alad-alad : pacalang, kongkonan, utusan, duta; dialad-alad : dikandhani (diwènèhi weruh) sadurungé; ngalad-alad : murub mubyar-mubyar.

alam : jagat, donya, jlentrehna artinya dialami : wis dilakoni; alam-alaman : mangsa nalika. alamat : tandha bakal anané lelakon, papan dunung; alam akhir : jaman akhirat; alam arwah : alamé para sukma; alam mbok alam : wallahu alam : mung pangéran dhéwé sing pirsa; alam donya : jagat; alam kabir : alam donya; alam sahir : jaman kalanggengan.

alang : sisih sing cedhak (kosok baliné) : ujur; dialangaké : didokok malang; alangan : pambengan; dialangi : dipunpambengi, diélékaké, dicegah; alang-alang : kambengan, thukulan bangsané suket; alang ujuré sawah : ambalan dawané; alang ujuré wong tuwaku : pernahé anggoné mati.

alap : dialap : dipék, dijupuk, digunakaké; alap-alap : jinis manuk sing trincing lan banter maburé; alap-alapan : rebutan ngepèk bojo wong wadon; pengalapan : papan angker sok-sok ana sing kalap; alap ingalap : sedulur lanang wadon, olèh bojo sedulur lanang lan wadon. alas : wana, jlentrehna artinya, jenggala, sigreng; alas gung liwang-liwung : alas gedhé banget; alas greng : sigreng, alas gedhé lan rungkut banget.

aldaka : ancala, arga, ardi, giri, meru, parwata, prabata, wukir, gunung. alem : alembana; ngalem : ngalembana : nyebutaké kabecikané. alep : becik (ayu, bagus) banget. alesan : pawadan, dhasar, waton. ali-ali : sesupé, kalpika. alih : ngalih : pindhah, ganti enggon; alih lintang : ijolan enggon; karika silih pernah : lintang alian.

alim : jlentrehna artinya, jatmika, arang seneng pepadon. alin-alin : bangun alin-alin : susah, prihatin. aling : aling-aling : apa-apa sing dianggo tutup (tèdhèng) supaya ora katon.

alis : imba, rambut sakdhuwuré mripat; alis-alis : alès, prau, baita; ngalis-alisi galengan : gawé cengkorongan galeng. almenak : penanggalan, kalènder. alod : alot, wulet; jenang lot : jenang dodol, jenang kang diolah glepung, beras lan gula jawa; rapaté alot : rapaté mlaku seret. ama : sarupané kang mangan lan gawé rusaking tanduran, lelaraning tanduran. amad : batur ; amad dalem : juru kunci pasaréan.

amah : aluamah, tansah kepingin mangan. amal : amal kadonyan : bandha, barang, darbé, panggawé becik. aman : tentrem, jinem, anteng, ora rusuh. amanat : jejibahan, ayahan, kewajiban, sing dipercaya. amara : luput ing pati; amarah : kanepson, hawa jlentrehna artinya amaranggana : waranggana, hapsari, surapsari, widadari.

amarga : amargi, sabab, awit, jalaran, awit déné. amba : alang, wiyar, sisih kang cedhak; amba jangkahé : bisa ikhtiyar mrana mréné. ambak : mangambak-ambak : gilar-gilar, gumelar, ngilak-ilak; ambak-ambak : ambak-ambing, sanyatané, sabeneré; ambakna : ambakné, ambaknéa, sanadyana, sandyan mangkono ambal : undhak-undhakan munggah kapal, rambah, unton-unton andha; ambal-ambalan : bola-bali, rambah-rambah; diambali : dibaleni, dipunwangsuli.

amban : tamban, remben, rendhet. ambar : jasad sing gandané wangi; ngambar-ambar : ngganda (mambu) wangi. ambara : awang-awang; ngambara : ngambali awang-awang.

ambawang : pakèl, kwèni. ambek : watak, watek, duwé bebudèn, duwé ambek; ambek darma : seneng tetulung; ambek welas : welasan; ambek siya : wataké daksiya; ambek sura : kendel banget; ambekan : mlebu metuné hawa ing irung (kebuk). ambeng : ambengan : sega sak lawuhé sing di kondangaké; ngambengi : ngepung lan njaga. ambetan : duren. ambyah : mratah, akèh banget.

ambyar : buyar mrana-mrana, sumebar, bubar. ambyuk : teka bebarengan, nempuh bebarengan. ambyur : nyemplung ing banyu kanthi mencolot.

ambulung : wit nipah. ambuwaha : mendhung, ima, himawan. ambok : mbok manawa, mbok menawi, mbok bilih. ambra : ngambra-ambra : dadi mratah, nular-nular.

ambrah : ngambrah-ambrah : ngebaki jlentrehna artinya. ambrol : jebol, rusak, bedhah, ambruk : rubuh ing lemah, ora bisa nerusaké; wit gedhang ambruk : rubuh ing lemah; amarga kentèkan pawitan pabriké ambruk jlentrehna artinya ora bisa nerusaké. amé : mépé, mém; jlentrehna artinya : diamèkaké, tansah diucapaké; ngamé-amé : nglamong, dleming. amèk : amen, golek, luru, pados, njupuk. mundhut. amèn : jlentrehna artinya, tansah ; amen-amen : lunga mrana-nirana goiek pegawean; ngamen : mbebarang.

amèr : sega arep mambu, ngemu banyu ; diamer-amer : diarih-arih, ditanduld tembung manis. amem : meneng, ora sugih omong. ames : umos, ngember, ngemu banyu. amik-amikan : nyamikan, pacitan, adu wedang. aming : naming, mung, namung, nanging. amis : ganda kaya dené iwak loh. amit : kula nuwun, tembung kang diucapaké nalika ngrasa murang tata. amla : kecut. amlang : mbranang, sumringah, sumunar, sumorot. amlas asih : melas asih, melas rasa, ngasih-asab, memelas. amleng : ora ana kabare.sepi, judheg ; ngamleng-amleng : ngundhat-undhat, ngala-ala.

among : jlentrehna artinya, ngemong, nunggu; among-among : emong-emong, bancakan; among kisma : among tani, wong tani ; among dagang : sudagar ; among karsa : mituruti karepe ; among praja : pangreh nagara. amor : campur, tetunggaian, srawung. jlentrehna artinya : momot, bisa momot, sugih pangapura. : tanah ngare. jlentrehna artinya : jlentrehna artinya : hawa nepsu dicandhet. : pedhut ing pegunungan.

ampak-ampak : ampak-ampakan : dlidir wong miaku gegolongan pirang-pirang. ampal : bangsaning kwangwung. ampang : entheng, empeng, ora abot, ora ampeg tumraping tembako. ampar : jobin, jrambah; amparan : dhampar palenggahan, klasa; ngampar-ampar : bledbek nyamber-nyamber. ampas : turahan sakwise diperes. ampeg : seseg (rekasa tumrap ambegan), anteb (tumrap tembako). ampem : rempelu, rempela.

ampeyan : suku, sikil, pada; garwa ampeyan : garwa ampil, garwa selir. amping : diamping-ampingi : diayomi, dijampangi, dipitulungi, dimemanuki; ampingan : rampungan, aling-aling, ndhelik sakburiné ampingan. ampir : diampiri : ditekani terns dijak lunga; ampiran : papan sing diampiri; diampirake : dikon mampir; ampir-ampir : emper jaga satru.

amplok : ngamplok : nemplek lan ngethapel. amplos : diamplos : diganti. ampo : lempung digoreng sangan lan dipangan; kulak ampo : mati. ampret : ngampret : cupet banget. ampu : diampu-ampu : dipeksa, diprusa, dijiwat, disawiyah. ampuh : bisa ngetokaké daya kang ngluwihi; ampuhan : prahara campur udan (pedhut) ing pegunungan ampyak : ampyak-ampyakan : kabeh disrengeni sanadyan sing salah ora kabeh.

ampyang : panganan saka kacang dicampur gula. amreta : luput ing pati; tirta amreta : banyu panguripan. amrih : supaya, nurih, supados, kareben. amrik : ngganda (mambu) wangi banget. ana : wonten, wenten; ana dené : wondene, ewa dene; ana begjané ora ana daulate : arep oleh kabegjan nanging wurung; ana catur mungkur : ora maelu rerasané liyan; ana dina ana upa : ora nyumelangaké anggoné goiek pangan; ana geni ana kukus : jlentrehna artinya jalaran thukul kedadeyan. anak : yoga, putra, siwi, sunu, sunar, atmaja; tanaya, suta, weka; anak molah bapa kepradhah : anak kajibah ing perkarané bapaké sing wis mati; anak pupon : anak angkat, anak pek-pekan.

anakan : sareman, dhuwit minangka bathen dhuwit sing diutangake. anala : anila, agni, geni, latu, brama, mertyu, pawaka, utawaka, apyu, dahana, api. anamung : anapi, namung, nanging. anana : tutuk, cangkem, lisan. ananta : tanpa wasana, waran-warna, werna-werna, maneka warna. ananta kusuma : kembang warna-warna. anara wata : tanpa kendhat, ora lowong, lumintu, lumintir.

ancab : diancab : ditrambul kanthi kuwanen; ngancab : nyerang kanthi kuwanen. ancak : encek : anaman pring wangun pesagi kanggo wadhah ambengan. (sajen), gagang tundhunan gedhang.

jlentrehna artinya : pancal, kembang lumbu (tales). ancang-ancang : tata sakdurunge tumindak. ancar : diancar : dijojoh. ancas : enering sedya,sing dituju, sing diniyati. ancer : pokok, baku; ancer-ancer : tandha-tandha kanggo panuduh, rantaman sing arep dilakoni. ancik : ancik-ancik : apa-apa sing dianggo sanggan sikil nalika ngadeg; diancik : diambah, diliwati.

ngancik : ngambah, ngliwati; ancik-ancik pucuking eri : ana ing sajroning kahanan sing nguwatiarake. ancug : dolanan; ancug-ancug : mlaku semu jumbul-jumbul, pring, kayu dinggo tenger; rebut ancug : rebut unggul. ancur : remuk, rempu, lim pliket kanggo ngraketake; ngancur-ancuri : ngala-ala liyan supaya awaké diasihi; raket pindha den ancur : raket banget. andha : pring (kayu) loro nganggo ambal piranti kanggo menek; andha jagrak : andha jagang, andha penganten, andha sing nganggo tuwak. andhah : diandhahi : dislondhohi, dikalahi; diandhahke : direhake, dirimbag; andhahan : kareh-rehan, sor-soran.,tembung sing wis owah saka linggane; andhan-andhan : undhak-undhakan saka kayu; ngandhan-ngandhan : rambut sing ngombak banyu.

andhap : endhek, cendhek; andap asor : trapsila, ora gumbedhe; andhapan : wraha, celeng. andhar : ngandhar-andhar : nggladrah; diandharake : dicritakake. andhe : umpama, saandhe jlentrehna artinya saumpama. andhem : diandemi : diantebi, didhadha, diakoni. andheng : andheng-andheng : cuplak, plenik ireng ing kulit. andhih : endhih : diandhih : diendhih : dikalahake. andhil : timbangan candu, tanggul sapinggire dalan, dhuwit kanggo brandhon (bathon). andhok : manggon, dedunung, linggih, mandhek.

andhong : kreto, dhokar rodhané papat. andik : sereng banget, mencereng banget. andika : jengandika, ndika, panjenengan, kowe, sira, keng sira, sampeyan, panjenengan dalem.

aneh : atog, nyleneh, aneka warna : maneka wama, warna-warna, mawarna.-warna. anemer : tukang borong gawé wewangunan. angah : ngangah-angah : ngangsa-angsa, kunirangsang, kumudu memangan. angeb : ngaub, ngeyub, ngayom. anger : ngenteni, leren. angga : awak, badan, salira, sarira; jlentrehna artinya : kemangga.

anggada : gelang, kelat bau. anggak : angkuh, gumedhe, anggep. anggana : ijen, dhewe, piyambak; anggana raras : wong wadon ayu. anggang : anggang-anggang : kemangga saba ing banyu; dianggang-anggang : dicekel lirih ora di enetake. anggas : walang angge : anggo : dipunangge : dianggo; angge-angge : orong-orong sing saba ing sawah. jlentrehna artinya : anggel-anggel : anggelan, bendungan sing banyuné isih bisa mili ing sadhuwure. anggep : duwe rumangsa (gagasan) awaké luwih tinimbang liyane.

angger : saben, waton. angin : bayu, braja, jlentrehna artinya, pawana, samirana, prahara, sindhung, liwut; angin-angin : ngesis, nyelir, dalan jlentrehna artinya ing omah; oleh angin becik : oleh ungup-ungup bakal nampa kabegjan; sawah anginan : sawah kas.

anggit : gagasan, reka; dianggit : direka, dironce, dirumpaka, dikarang; anggitan : gathekan, sugih reka, karangan. angka : nomer, tulisan gambare cacah; angkaning taun : cacah kang mratelakaké pitungan taun; diangka-angka : dirantam, dirancang, diniyati. angker : panggonan kang ora kena diambah jalaran ana lelembute, gampang nesu.

angkin : sabuk, kemben. angkle : jlentrehna artinya, sayah, aras-arasen. angklung : tetabuhan saka bumbung direnteng. angkup : topihing kembang (woh) nalika isih kuncup. angling : ngucap, clathu, ngomong, guneman, kondho, ngendika. anglir : lir, kadya, kaya, ngemperi.

anglud : nututi, ngoyak, nurut, melu. anglo : keren sing perangan dhuwur ora bolong kanggo wadhah areng. anglong : saya tambah kuru jalaran sedhih; manglong-manglong : anguk-anguk ing cendhela. angluh : ngangluh : sambat, ngesah, lunkrah, nglumpruk.

anglung : manglung : tumiyung, tumelung; dianglungake : didhungklukaké mengarep. anguk : angur, aluwung; anguk-anguk : ungak-ungak saka jlentrehna artinya dianguk-anguki : dipapag ing dalan; angum : adus kungkum; angun-angun : bantheng, andaka, galak; angus : kukusing diyan; angut : methik, ngundhuh.

angob : mangap, ngetokaké napas. angok : banjire wis surut (suda). angon : anggen, ngawat-awati, ngulatake; angon angin : angon mangsa golek wektu sing becik; angon iriban : angon ulat, nyawang kahanan; angon kosok : angon mangsa; angon repo : nggathukaké surasa nalika maca; angon swara : nilingaké lagu lan larase swara. angrik : ngerik, nggero, mengingeh. angot : kumat, bali lara maneh, bali tamindak ala maneh. angrap : mlayui banther, mbandhang. angreb : katon akèh banget. angrob : rob, banjir, bena.

angrok : nyerang, nempuh, nrambul. angrong : ngerong, ngesong; angrong pasanakan : ndhemeni bojoné sedulur (kanca). angsa : banyak, turun, wangsa; ngangsa-angsa : murka. angsah : mangsah yuda, magut yuda, maju perang. angsang : piranti kanggo ambekan iwak, piranti saka kawat kanggo nggarang. angsar : dayané barang sing marakaké beja. angseg : diangseg : didhesek maju. angsung : asung, aweh, weweh, jlentrehna artinya, caos; angsung dhahar : sesaji marang papan pasejarahan. angsur : diangsuri : diempingi, diwenehi utang.

ani-ani : piranti kanggo ngundhuhi pari. aniaya : kaniaya, tindak siya, daksiya, sawiyah-wiyah. anih : lumuh. anis : ilang, ical, lunga, kesah, mentar aoliya : wong suci, wali. aor : krasa pait sebab kakehan jlentrehna artinya. aos : mentes, akèh isine, aji, ngemu surasaning mentes.

apa : punapa, punapi; apa dené : apa maneh, luwih-luwih; ora apa-apa : ora ana kekurangané (cacate). apah : banyu, ranu, tirta, tuban, warih, we, toya, udaka. apak : apang, apan, arsa, arep, nedya, bakal, badhe, ajeng.

apek : amet, amek, golek, luni, ngupaya, ngupadi, ngupados, ngulari; apek-apek : apen-apen, ethok-ethok, api-api, nambong. apen : diapen-apeni : dilagani, direwangi, dibiyantu. apes : ringkih, sekeng, nandhang kacilakan; dina apes : dina njalari cilaka; apes-apese : sethithik-sethithike; apesan : gampang nandang apes. apinta : linuwih, linangkung, pinunjul.

apit : diapit : didampingi kiwa tengen, tothan ditandingi tikel loro; sasi apit : sasi dulkangidah; mangsa apit : mangsa destha karo sadha; apitambuh : nambong, ethok-ethok ora ngerti. apor : krasa ora duwe kekuwatan jalaran kesel. apsara : jawata, dorandara, dewa, surapsara, dewata, basu. apsari : apsantun, surapsari, apsekar, apsinom, widadari. apu : enjet, jenang gamping; apuranta : apuranen. apus : tali abah-abah jaran, ora bisa gedhe tumrap sikil, goroh.

apyun : candu sing durung diolah. ara-ara : palemahan jembar lan bera. arad : jaring; diarad : digeret, digondhol lelembut, dipeksa nyambut gawé. jlentrehna artinya : angkah, jangka, sing dituju; diarah : diangkah, dijangka, dituju; diarah-arah : ditindakaké kanthi ngati-ati, arak : arek, arep, bakal, minuman keras; diarak : diteraké wong akèh bebarengan; arak-arakan : gegolongan pirang-pirang. aran : asma, nama, kekasih, jeneng, sesilih, jejuluk, sesirih, peparah, sinambat ing wangi.

arang : awis; utange arang wulu kucing : akèh banget. ara-uru : hera-heru, dahuru, ontran-ontran, gegeran. aras : diaras : diambung, digepok, digrayang; aras-arasen : ora duwe krekat (greget); petungan aras kembang : gampang dikasihi bendara.

arcana : mangarcana ; ngurmati, nyembah, ngabekti. arcapada : ngarcapada, marcapada, jagat, donya. arda : pangangsa-angsa, hawa nepsu, kamurkan; ardana : redana, yatra, arta, dhuwit; ardaya : wardaya, kalbu, tyas, nala, manah, ati; ardacandra : gaman, wangun, wulan tumanggal; arda walepa : ditakoni genta takon; arda walika : upacara pepetan naga. areh : godhongan santen kanil; pengareh nganten : kancané temanten sakdurunge ditemokake.

ares : gagang tundhunan pisang, bonggol pisang. argya : diargyani, pinahargya, diurmati, diaji-aji, disuhun-suhun arsaya : arsana, bungah, bingah, seneng, suka. artaka : pengurus kang nyimpen dhuwit.

artati : gula, gendhis, legi, manis, dhandhanggula. asa : susah, sedhih, sungkawa. asal : mula buka, asal-usul, kawitan, sala silah, silsilah. asana : sasana, enggon, panggonan, gedhong. asep : uwab, kukus, kebul, keluk. aseran : duren. asmara : sengsem, tresna; asmaratura : kedanan, kesengsem, kepencut; nyidra asmara; dhemeni. asu : sona, sregala, segawon; sedulur asu : sedulur tunggal ibu seje bapa; asu arebut balung : pepadon rebutan perkara sepele; asu munggah ing papahan : ngrabeni bojoné tilas sedulur sing wis mati; asu belang kalung wang : wong asor nanging sugih.

asup : mlebu, manjeng, mlebet, malbeng. asor : nistha, sudra, papa, kalah; andhap asor : lembah manah. asrah : pasrah, teluk, nungkul, kalah; asrah bongkokan : nungkul; asrah jiwa raga : pasrah pati urip asta : tangan, asta, bau, lengen.

astana : kuburan, pasarean. asti : liman, esthi, gajah, dwipangga, dwipara, dirada, dipa. asthabasu : golongané dewa. astralungijan : bebojoan, sesemahan, jlentrehna artinya : mangastungkara : memuji, dedonga.

astuti : pangestu, mangastuti : nyembah, memuji. atanapi : lan, lan maneh, utawa. atas : terang saka, wewenang saka; ngatas : munggah, miterang marang dhedhuwuran; atas-atasan : rebut unggul; atas angin : tanah tuking angin.

ati : manah, nala, driya, penggalih, kalbu, wardaya; dadi ati : tansah dipikir; satru ati : mungsuh mung ing batin; ati bengkong oleh oncong : duwe niyat ala oleh dalan; mambu ati : duwe pepinginan marang wong wadon (lanang); ulat madhep ati kareb : niyat sing wis manteb; dahwen ati open : nacad nanging arep dinelik; ati bagya : begja banget; ati bara : abot banget; ati bisana : galak banget; ati brata : utama banget; ati durta : julig banget; ati rodra : nggegirisi banget; atis : adhem banget; atisadu : lembah manah banget; atisaya : kaluwih-luwih banget.

atma : atmaka, nyawa, sukma. atmaja : anak, putra, yoga, weka, tanaya, suta, sunu, sunar. atul : kulina nindakake, betah mlaku, ora perdulen.

atut : atut runtut, rukun anggoné bebrayan. awak : badan, angga, salira, sarira; diawaki dhewe : ditandangi dhewe. awang : ngawang : ngawag : ngawur. awalepa : kibir, centhula, kurang ajar. awang-awang : langit, gegana, dirgantar, akasa; kasandhung ing rata kebentus ing awang : kena kacilakan sing ora dinyana babar pisan. awel-awel : ndremimil awer-awer : apa-apa sing kanggo tutup amrih ora wuda, tenger ora kena diambah.

awig : pinter, alus ngremit. awun-awun : grimis wayah sore. B babad : crita lelakon sing wis klakon; dibabadi : ditegori, jlentrehna artinya babadan : palemahan sing wis dibabadi babag : sababag tandhing gedhene, tandhing umur-umurane; babagan : perangan prau kanggo ngunggahaké lan ngudhunaké barang, bab, prakara.

babah : sebutané cina pranakan; babahan : bolongan ing tembok kanggo liwat maling, larikan sepisanan tumraping jagung sing wis dipripil; babahan hawa sanga : talingan (2), bolongan irung (2), mripat (2) perji, dubur, lisan. babak : mlecet kulite; babak bundhas : babak bunyak, tatu babak akèh banget; dibabak : wit diseset kulite, bolah digosok nganggo babakan kulit wit; babakan : pecehan klikané kulit wit, saandhegan unin gendhing saperangan tumraping crita; babak salu : bangsaning klabang.

babal : ucul (metu) saka kalangan adu-adu (kunjaran), pentil gori. babar : olah-olahan bisa dadi akèh, wiji kang tangkar dadi akèh; mbabar : nglairaké bayi (bayen), nuwuhake, nukulake; babar layar : arané gendhing; babar pisan : kabeh, banget; mbabar pisani : ngrampungi, jlentrehna artinya. babat : jerohané raja kaya.

babrag : mbrabag : jaka kanglagi nedhenge brai lan mempeng; babragan : paga, wadhah kwali, kendhil, lsp. babu : biyung, ibu, wibi, rena, embok, umi : batur wadon tukang momong. babuk : dibabuk, digudag, dibijig, disruduk. badhak : merak; lar badhak : lar merak. badhama : wadhuk, wangkil, pecok. badhar : badher, kajodheran, waning, gagal. badhawangan : bulus. badhe : arep, ajengbakal; mbadhe : mbatang, methek, mbethek; badhean : cangkriman, bethekan; badhe-badhe : papan nemokaké penganten.

badheg : legen, aren sing wis di bumboni (arak). badher : iwak kali sakemper grameh. badheg : kapok, mambu ora enak, kurang ajar, ala banget. badhel : mbadhel : sego kurang tanak isih rada mentah. badhigal : enthung uret; mbadigal : kurang ajar.

badhigas : pating badhigas : badhigasan, cenonongan, ora ngerti tata. badhik : cundrik. badhong : rerenggan sangisore udel tumrap sandhangan wayang wong. badhud : wong kang pagaweyané nglucu (ndhagel). baé : wae, kemawon; ora sabaené : ora salumrahe; baen-baen : entheng, sepele. baga : guwa garba, padharan, weteng; baga retna : pawadonan. bagas : waras, saras; bagas kwarasan : bagas kesarasan, waras-wiris; bagaskara : bagaspati, pratanggapati, surya, diwangkara, baskara, arka, radhitya, radhita, aruna, rawi bagawan : sesebutané pendhita.

bage : sukur bage sewu : begja banget dene; bagean : panduman, perangan; bagendha : sesebutané ratu bagna : rusak, sirna, lebur, rampung. bagol : mbagol : utang ngemplang; bagolan : jamu tamba lara weteng.

bagong : panakawan anaké semar sing ragil; basa bagongan : basa kedhaton. baha : benawi, jahnawi, bengawan, lepen, kali bahak : jinise manuk wulung. bahar : ernawa, jaladri, jalanidhi, tasik, samodra, seganten, segara.

bahmi : agni, geni, latu, brama, apyu, mertyu, pawaka. baita : palwa, jlentrehna artinya, banawa. bajag : jlentrehna artinya ing segara. bajang : cilik, kunthet; olehe nyambut gawebajang : wis rampung durung wayahe; bajangkerek : arané walang. bajing : kewan ana klapa kanthi mangan wohé. bajisan : jothakan, satron, memungsuhan.

bajul : baya; bajul bantung : wong sing seneng bedhangan; bajul dharat : bajingan. bajra : inten, tumbak landhepe lima, bledheg. baka : lana, langgen, jinise manuk cangak; mbaka telu : saben telu. bakda : bubar, sawise, sabubare, riyaya tanggal 1 syawal lan 10 besar; baken : baku.

baki : tepak. baku : baken, pokok, lajer bakul : wong sing dodolan. bakung : araning kembang. baksa : baksana, bakta pangan. bakti : bekti, pakurmatan, setya tuhu. bala : karosan, kakuwatah, prajurit; bala pecah : barang-barang sing jlentrehna artinya pecah; bala srewu : aji-aji sing bisa nganaké setan akèh; bala dhupak : mung dadi kongkonan.

balad : gugur gunung; baladika : pangareping prajurit. balang : apa-apa sing dianggo nyawat; nututi balang wis tiba : nututi rembug sing wis kewetu; nyawat abalang wohé : duwe pengarah, nganggo kongkonan sanak sedulure sing diarah. bale : omah, pandhapa, amben; kere mungah ing bale : wong asor didadekaké luhur; cekel longaning bale : jlentrehna artinya asor; bale desa : omah duweké desa kanggo patemoning warga; bale kambang : omah-omahan ing tengahing blumbang; bale mangu : pengadhilan ing kepatihan; bale omah : bale griya, omah lan pekarangan, bale pomahan, bale pemahan.

balela : balila, ngraman, bangkang marang prentah. baleman : geni mawa. balig : baleg, akil balig, dewasa.

jlentrehna artinya

balingan : balinguh, berag, bungah, mempeng. baluh : bandhul jaring, piranti golek iwak; mbebaluhi : ngrewangi (mbiyantu) anggoné padu, balung : tosan; balung piking : wong kang sekeng; madu balung tanpa isi : pepadon prekara sepele; ngumpulaké balung apisah : njodhoaké bocah lanang lan wadon sing isih kepernah sanak; mbalung usus : kekarepan kang kendho kenceng. balong : mbalong : ledhok lan banyuné agung. balowarti : baluwarti, pager bata, beteng kraton.

bam : ebam, untu mamah; bam wekas : bam kang keri dhewe. bamban : bali bamban, bali maneh, thethukulan sajenis glagah. bambang : satriya, nom-nomam, bambing : dalan miring pinggir jurang (kali). bana : ora ana, ora bakal ana; bebana : penjalukan saka calon temanten putri. bananten : bakal saka sutra. banar : papan tenggar, banarawa : sawah ing papan ledhok yen rendheng agung banyune.

bancak : dibancaki : dislameti sing ngepung bocah-bocah. bancana : bebaya, alangan, pekewuh. bancang : bancang loro : rong prakara di-tindakaké bareng. bancar : wetuné banyu susu akèh lan banter. bancer : blancer, jinising iwak kali. bancik : barang sing dianggo ancik-ancik.

banda : dibanda : ditaleni tangané loro kabeh; bandayuda : perang ijen-yen tanpa gaman; mbandakalani : wani nglawan; bandana : tali, tampir, pakewuh, bencana. bandawala : bandawala pati, perang tandhing nganti mati salah siji. bandawasa : karosan, kekuwatan. bandera : gendera. bandrek : laku bandrek : dhemenan karo bojoné liyan.

bandrengan : mbandreng, terus tanpa, leren. banjang : pathok ing segara. banjar : larikan, taman; banjar dawa : desa sing sambung karo desa liyane; banjar pekarangan : pomahan.

banjel : sesulih sawetara; dibanjeli : jlentrehna artinya sawetara. banjeng : mbanjeng : bebanjengan, larikan dawa. banjet : pambujuk, pangrimuk, tukan ajak-ajak. banjut : dipanjut : dijupuk nyawane. bandha : kasugihan, raja brana, bandu; dibandhani : diwragati, dipawiti; bandha bandhu : sugih bandha sugih sedulur; bandha bau : mung pawitan tenaga; bandha bea : wragat. bandhang : kranjang wadhah bibit tebu; banjir bandhang : banjir gedhe; lumbung bandhang : lumbung gedhe.

bandhat : tampar gedhe kanggo mikul kranjang. bandhawa : sanak sedulur. bandhil : tampar kanggo nyawataké watu; dibandhil : disawat nganggo bandhil; bandhilori jlentrehna artinya arané gendhing. bandhung : bareng, bebarengan; sumur bandhung : sumur gedhe; lumbung bandhung : lumbung gedhe. bandhot : wedhus lanang; bandhotan : arané ula baneh : beneh, seje.

banek : banen : aja banek-banek : aja banen-banen, aja bribin-bribin, aja kandha-kandha. bang : mbang : sisih; mbang wetan : sisih wetan; dibangbang : dijanjeni, diiming-imingi arep diwenehi; nyekel bang-bang pengalum-aluming praja : nanggung ala beciké negara; bangbangan : cakrik bathik sing nganggo warna abang. bangah : kembang suweg (walur).

bangen : serepan, tansah olehan, tansah beja. banger : ambu sing ora enak kaya dené ambuné peceren. banget : sanget; banget-banget : kebangeten, keladuk. bangga : nglawan, angel ditandhingi.

banggal : banggal, dhangkel. bangka : mogol, ora mentah ora mateng, mati bangkang : mbangkang : ora manut. bangkat : mbangkat, kuwat, keduga, nandangi, kuwawa. bangkit : bisa, bangkit, kaconggah, kuwagang. bangke : wangke, bathang, jisim sing ora kerumat. bangkek : mbangkek : cilik ing tengah; bangkekan : madya, pamekak, tengahing awak. bangkil : mbangkilaké : ngentekaké dagangan. banggal : banggal, dhangkel, tunggakan.

banggel : mbanggel : nggabigaké endhase karo nyathek, mangsuli madoni. banggi : bangga, baya; pinten banggi : pirang bara. bangi : pakan pancing. bangir : irung mbangir : lancip lan nglingir. bangun : tangi, gumregah; gagat bangun : bangun enjing, bangun esuk, esuk umun-umun; mbangun : yasa, gawé; ngedekaké (mligi bab omah); mbangun ningkah : ngayaraké paningkahan; mbangun tandha : ngowah prajanjen; mbangun turut : nggugu pitutur; mbangun tresno : wong bebojoan tresnané mundhak sabubare padu; mbangun wecana : nusuli gugat; bangun tulak : werna ireng ana putihe sithik.

bangus : dibebangus : diojok-ojoki, diajani ala. bangsa : gegolonganing manungsa kang tunggal jinis; kabangsan : kang gegayutan karo kaanan lan wasaking bangsa. bangsal : omah gedhe ing cepuri kraton. bangsa patra jlentrehna artinya godhong pring, araning tembang gedhe. bangsawan : dharah luhur, bangsi : suling. baon : pirang-pirang bau; sabau : 7096,5 m2. bapa : bapak, abu, rama, yayah, sudarmo kakung; bapa babu : bapa biyung, rama ibu, wong tuwa sak karone; bapa paman : sedulure lanang bapak (ibu) sing enom.

bapang : kayu palang isi tulisan jeneng desa; suweng bapangan : suweng kang wanguné jebebeh; layangan bapangan : layangan kaya nganggo swiwi; joged bapangan : joged kang nganggo tanjak bapang. bara : sabuk nganggo gombyok piranti kanggo golek iwak; pecruk tunggu bara : dipasrahi barang kesenengane. barak : jlentrehna artinya : nyolong raja kaya; raja kaya barakan : raja kaya colongan. barang : apa-apa kang maujud; mbebarang : mrana-mrana ngebaraké kabisané njoged (nembang); mbarang ngamuk : ngamuk, soroh amuk; mbacang gawé : duwe gawé; mbebarang wirang : ngeler wirang, mbukak wirang.

barata : sing nurunaké pendhawa lan kurawa; pabaratan : payudan, paprangan; baratan : sawah kas; tali barat : tali wuwungan diolehaké molo. bareh : pasangan bata sing ana selang-seling; mbareh-mbarehi : saya nemen larane; barehan : barakan, pantaran. bares : prasaja, lugu; bares kures : blaka suta, blak kotang, prasaja apa anane barebah : brebah, brubah, mungset, malih enggon. barep : mbarep, pambarep; mbajeng, pambajeng, jlentrehna artinya. baribin : bribin, kondho-kondho, omong-omong.

barikan : slametan bareng wong desa utawa luwih kanggo nulak pagebluk (bencana). baring : edan, bejijagan, jlentrehna artinya tata, kasar. baris : tata lelarikan; pacak baris : siyaga ing perang; baris pendhem : pacak baris kanthi dhedhemitan; baris kenjer : ngatonaké anggoné pacak baris.

bare : jenang baro-baro : jenang putih sing tengahi didokoki jenang abang, parutan kelapa lan gulajawa. baron : tanduran anyar tumraping kopi. barongan : dhapuran pring ori, tontonan nganggo topeng macan. barung : bareng; gender barung : gender gedhe; bonang barung : bonang gedhe. basa : mbasa : mbasan, bareng, nalikane; paribasan : unen-unen kang ajeg panganggoné mawa teges wantah; bebasan : unen-unen kang ajeg panganggoné mawa teges entar. basahan : panganggo keprabon kulukan lan dodokan.

basanta : candra, badra, sasadara, sitaresani, sitengsu, wulan, sasi. basen : cowokan nalika ngijolaké dhuwit; jlentrehna artinya : dianaki, direnteni. basin : banger. basir : waskitha, basma : basmi, kobar, kobong, besmi. basmara : kabasmaran, kasengsem. basmibata : kobong dadi awu, sirna. basu : golongan setengah dewa, cacahe wolu; basudara : basundari, bumi; basuki : slamet, rahayu.

baswara : sumorot, gumebyar. bata : banon, lemah dicithak lan diobong; bata bumi : pager bata ing pekarangan; mbata sarembag : tuiisan sing wangun pesagi; bata-bata diadu bata : nyambut gawé wragate dijupuk oleh olehane; mbata rubuh : rusak bebarengan, mantu anak bebarengan; uyah batan : uyah sing cithakan. batak : pambatak : pangarsa, pangarep, penggedhe. bathang : bangke, barang sing wis rusak; bathang lelaku : lelungan ijen; bathang ucap-ucap : lelungan mung wong loro; ngundang bathang bantheng : ndadekaké priyayi wong gedhe sing wis apes.

bathara : sesebutané dewa; asaca bathara : waskitha; binathara : sesebutané ratu kang sarira dewa. bathil : dibathili : dikethoki cendhak-cendhak. bathok : congkoking klapa; bathok bolu : bathok sing ana bolongané telu; bathok bolu isi madu : wong asor nanging sugih kaluwihan; tesmak bathok mata mlorok ora ndedelok : ora weruh. bawa : kaanan, sipat, swara; bawa swara : jlentrehna artinya kanggo mbukani gendhing; jlentrehna artinya dhewe : madeg dhewe; kacakra bawa : kena pangrayangan ala; mbawani : nguwasani, mengkoni; bawa laksana : bala leksana, netepi apa sing dai ujare; bawa rasa : rerembukan.

bawak : awak-awaking pacul. bawat : payung sing garané dawa. bawur : blawur, lamur. bebek : kewan jinise menthok; caping jlentrehna artinya : caping sing digawa saka blarak; bebek diwuruki nglangi : tumindak kang muspra; bebek mungsuh mliwis : wong pinter pasulayan tandhing wong pinter. bebel-bebel : bola-bali anggoné nuturi. bebet : turunan bejen : suweng kang ditretes inten. beji : blumbang kang gedhe, segaran.

jlentrehna artinya : dibedhung : digodha, dirigani. bedhar : landheping panah. beka : rewel. bema : bebaya, beka, nggegirisi; tundha bema : nambahi bebaya. bembreng : lejar, bingar. beneh : beda, aneh, geseh, seje.

bento : bodho, cubluk. bengkas : dibengkas : dirampungi, disirnakake. benggal : lelurahing begal (kecu). bengkek : lara pegel, didum turah. bengoren : lambené lidhas kakean injet kinang. berbudi : seneng weweh, loma banget.

beteh : pepadon mbelani panemuné (prakarane). bebadra : wiwit bebakal, babat alas, adeg sepisanan. bebana : pepanggil, pitukon, pamundhut, panjaluk. bebandan : pesakitan; bestan : dibestan : dibanda. bebara : lunga menyang liyan kutho golek pegaweyan. bebasan : tetembungan kang ajeg panganggone, mawa teges entar.

bebed : nyamping, jarit sing kanggo wong lanang. bebeg : mambeg, mbesesek, kandheg; wetenge bebeg : krasa sebah; atiné bebeg : atiné susah; dibebeg : dibendung, ditambak. beblek : mendhunge beblek : mendhunge nggameng, mendhunge nggaldhul, mendhunge mentiyung. bebles : ambles, mbledhes, jero. bebuden : kalakuan, watak, wewatakan. bebadok : pring apus dianam arang dilambari godhong gedhang kanggo wadhah beras majemukan.

bedaringan : pedaringan, genthong kanggo nyimpen beras. bebudan : bumbung carang kanggo nyerot candu. bebudung : mbedudung, wareg banget. bebondi : pradondi, sulaya, congkrah. bedhat : ucul saka wengku, arané gendhing. bedhag : mbebedag : mbeburu kewan alas, mbedhag pikat. bedhah : suwek, jebol, kalah perang; kathoké bedhah : kathoké suwek; bendungané bedhah : jebol; bedhah bumi : dhuwit kanggo opah gawé kuburan.

bedhaya : srimpi kraton. bedhal : mbedhal : mberot, mlayu. bedhama : wadhung pecok, wangkil. bedhami : bedhamen, prajajen, pasarujukan. bedhandho : mbedhandhoni : marakaké gojag-gajek. bedhati : pedhati, grobak. bedhes : kethek, lutung, munyuk. mbebedheg : wetenge krasa sebah; atiné mbebedheg : bungah sarta mongkok bedhel : mbedhel : methel, gampang pedhot bedhidhig : mangsa mbedhidhig bedhigal : mangsa adhem ing wektu bengi nalikané ketiga bedhigasan : mbedhigal : ugal-ugalan bedhiyang : kesusu lan gas-gasan mripate pendhirangan bebudhag : rambut (grajen) digawé geni kanggo api-api becik : jinismg ula mandi, ora gelem ngalih amarga kesed apik,sae; beciké : prayogane; dibeciki : digawé becik, direngkuh kelawan becik becici : gedhang sing wohé akèh cilik-cilik becicing : woh gadhung sing ana ndhuwur becus : godag, jegos, bisa, saged bedho : wurung, gagal, cabar bedhog : dibedhog : pitik nalika saba dicolong kanthi dicekel bedhol : bedhol : dicopot saka tancepan; bedhol jangkar : mangkat lelayaran; bedhol gendera : mangkat nglurug; mbedhol omah : ngelih omah begajagan : kelakuan ala tumraping wong wadon begandringan : rerembugan, pirembugan begja : lelakon kang maremaké ati; begja kemayangan : begja banget; begjan-begjan : adu begjan begenggeng : mbegenggeng : wis wiwit waras, rasa katon sugih begebluk : pageblug : unsum lelara begedud : mbegedud : wangkal, ngengkel begita-begitu jlentrehna artinya tandange kasar, jlentrehna artinya sereng jaralan muring beguguk : mbeguguk ngutha waton : mbangkang, ora nggugu prentah begupon : pagupon, kandhang dara bekakak : kewan (wong) dianggo tumbal (wadal); dibekakak : dipanggan wutuhan bekakas : abrag, piranti, grabot bekakrah : mbekakrah : akèh banget ora tumata bekakrakan : babon pitik muni petok-petok karo kiter, bingung mrana-mrené nggegoleki beker : jaran mbeker : nyuwara weru bekik : mbekik : nyuwara seru sarta ngeget bekikik : pitik turunan bekisar karo kampung bekiking : mbekikuki : jago cilik lekas kluruk, jinis keyong nanging cilik; mbekiking : kuru aking, kuru banget bekisar : pitik turunan ayam alas karo pitik lumrah bekuh : mbekuh : nggresah, sambat.

bekunung : mbekunung : mbregudung, wangkod; nggugu karepe dhewe. begkukung : kala kanggo masangi macao. bekakrak : mbekakrak : bubrah, ala banget. bekti : bektya, sembah bekti, pangabekti, pakurmatan.

belah : sigar; pambelah : juru misaya inina ing segara; belah banten : wanguné klambiné wong lanang; belah iwa : pawadonan; belah kedhaton : untu ngarep ing dhuwur renggang. belang : dlemok (blentong) putih ing kulit; belang buntal : belang bunteng, belang buntal, warna sing manunggal.

belik : sendhang jlentrehna artinya, tuk pinggir kali. beluk : keluk, kebul, kukus, ama pari; kokok beluk : arané manuk jinis guwek; beluk ananjak : nggugu karepe dhewe; dibeluk : diceluk, diundang, diaturi, dipuntimbali. belo : anak jaran.; belo metu seton : mung melu-melu ora ngerti karepe. bembeng : mbembeng : gedhe gilig tur wagu. bendana : saradan utawa watak ala tumraping jaran. bendu : deduka, nepsu, srengen. benjit : genjik. bendhalungan : guneman sing pra bener anggoné ngetrepaké unggah-ungguh.

bendhe : tetabuhan sejinis kethuk; bendhega : punggawa kapal; mbendheyot : mbreyot, kabotan gawan; bendhel : wong wadon sing juweh lan seneng padu.

bendho : bodhing, arit gedhe; bendhayat : sanak sedulur, brayat. benet : lemari cilik lan cendhek. benem : dibenem : digenem, dibakar. bentayangan : ngalang-ngeling amarga ngrasakaké lara, menyang ngendi wae perlu golek butuh. bentar : mlekah, nela, sigar, bengkah. bentel : kebak banget.

benting : sabuk angkin. bence : manuk gemak lanang. bencoleng : mbencoleng : ugal-ugalan. benyunyuk : benyunyak-benyunyuk jlentrehna artinya ora tata krama. benggang : renggang, pisah. bengi : wengi, ratri, dalu. bengis : wengis, ambeg siya banget bengkayang : mbengkayang :atos, kaku banget bengkeleng : sedina mbengkeleng : sedina muput, sedina kepecut benthet : rengat, jalaran dadi pecah bengah : sapi mbengah : nyuwara seru bengang : lara wadon bengen : bengen-bengenan : wengen-wengenan, dalon-dalonan bengep : rai katon kepu bengkerengan : kerengan, padu, bengkrik bengkung : setagen amba lan dawa kanggo para ibu yen mentas babaran bengkowang : besusu bengong : mlongo, katon plonga-plongo, ndlongop beras : wos, isining pari sakwise digiling (ditutu); dudu berase ditempuraké jlentrehna artinya ngudokaké rembug kang dudu mathuké ; beras kencur : jamu kang duambi sak beras lan kencur; beras kuning : beras jlentrehna artinya campur kunir kanggo sarat; beras melik : beras ireng berdangga : pradangga, gangsa, gamelan berdondi : pradonggi, cecongkrahan, pasulayan bergadag : tandur mbergadag : abang semu kuning bergada : golonganing prajurit, pepanthaning prajurit bergas : apik (becik) lan sigrak berod : mberod : oncad kanthi lumayu besalen : panggonané tukang pandhe makarya besiyar : mlaku-mlaku ngenggar-enggar ati besilat : kumbi besole : araning wit, angkup kluwih (sukun) besono-besono : mbesono, ora,weruh tata krama besturu : kabesturon : lena, ora prayitna, ora mulat bestru : araning wit lan wohé betah : kuwat nganti suwe, krasan, ora leren-leren betuwah : pusaka kang duwe kasekten, bituwah bethat : ora udan sakwetara dian sajroning mangsa rendheng betatung : set rupané ireng bethek : pager saka pring sigaran bethem : isi kluwih bethethet : sewengi bethethet : jlentrehna artinya natas bethik : arané iwak loh blabaran : cengkorongan; mblabar : mili mrana-mrana ; blabar kawat : glangang adu-adu blabur : mblabur : mbludag, banjir, rnblabar-mblabar bladhah : dibladhah : dibukakaling-alinge (singgetane).

bladheg : mbladheg : terusan, ora leren. bladher : mbladher : kebak endhut. bladho : kalen gedhe; lintang bladho : lintang panjer esuk. blaka : waleh, kandha sabenere; blaka suta : kandha sabenere, kandha santnane, ora ngapusi, ora goroh. bibis : arané kewan sabangsané coro sabané ing banyu; bibisan : arané thethukulan.

bibit : wiji, winih, turunan; bibit kawit : mula buka sal mula. bijang : dhadha, pundhak. bidhar : tembo, praucilik sakadeleging kayu. bidhung : dibidhung : dibedhung, digodha. biyas : pucet dadakan merga isin (kaget).

bikut : ribut sengkut tumandang. bilulung : pating bilulung : padha mlayu salang tunjang. bima : nggegirisi, medeni; bima : werkudara, panenggak pandhawa, bratasena, bayu putra, sena, abilawa. binandhung : dibandhung : dirangkepi, bintu : biru; bintulu : poteng biru.

bingar : katon padhang polatane. binggel : gelang sing manggon ing sikil. bingleng : ngengleng, meneng amarga kedanan. birawa : berawa, gagah, prakosa, nggegirisi. bisika : bisikan, bebisik, asma, nama, aran, sesilih, peparab, kekasih, sinambat ing wangi, jeneng.

biskucing : arané thethukulan sing godhonge yen kesenggol mingkub. biwada : dibiwada : diurmati, disungga-sungga, disubya-subya. biwara : pariwara, wara-wara, byawara. byantara : pasowanan; abyantara : sowan. byapara : kalakuan, bebuden, watak wantu. byoma : byamantara, akasa, awang-awang, tawang, dirgantara, gegana, wiyati, jumantara, antariksa, cakrawala; byuha : gelaring baris.

byuk-byuhan : wong akèh padha bebarengan teka. byung-byungan : padha bebarengan mabur (lunga). byor : abyor, sumorot padhang. C cabak : manuk saba bengi. cabar : ora dadi,wurung, gagal. cabuk : ampas lenga wijen. cadhok : panduluné ora waras. cagak : kayu (pring) ditrap ngadeg kanggo nyangga; cagak elek : apa-apa sing kanggo srana supaya betah melek; cagak urip : srananing urip caya : cahya, guwayaning polatan; dadya caya-murcaya : minangka tandhaning panuwun.

cakal bakal : wong sing miwiti gawe desa (negara). cakar : sikil sakukuné tumraping sati iwen; cakarwa : mliwis. cakut : cukat anggoné tumandang. cakra : gaman wangun kaya rodha mawa cringih-cringih; nyakra manggilingan : gilir gumanti; dicakra bawa : diangen-angen; cakrak : bagus branyak; cakrangga : bebek, kambangan; cakranggana : mliwis, cakrawaka; cakrawala : langit, tancebing langit; cakrawarti : kang ngubengaké jagat; nyakrawarti : ngratoni.

cakrik : rupa, wanguning rupa. cakruk : gerdu, omah pajagan. caksana : wicaksana, awas, waspada. caksu : caksuh, mripat, paningal, mata. caksusrawa : taksawa, sawer, ula. cak-cakan : carané nindakake. cala : cecala : aweh weruh sadurunge; mancala : obah, owah, malih; mancala putra mancala putri : bisa molah-malih; mancala warna : malih rupa; cala beka : prakara sing ana rubedane; cala ina : cacat mripate; calak cangkol : nglancangi gunem; calang : cecalang : cecawis sadurunge; cala pita : walang angkup, sendaren; calathu : wicanten, ngendikan, ngomong, mojar, guneman, kandha; cala-culu : clula-clulu; calawadi : nyalawadi, tumindak ora beres; calawentah : murang tata, ugal-ugalan.

calek : caket, cedhak, cendhak. calik : lelungan tanpa nginep. calita : obah, horeg, hoyag, gonjing. caluk : kudhi, gobang; cempaluk : pentil asem. calung : sikil jaran sangisore dhengkul, tetabuhan sabangsané angklung. camah : remeh; dicecamah : diremehake. caman : raup lan kemu. cambor : cambur, campur. camari : sona, segawon, srenggala, asu.

campaka : cempaka : kembang kanthil. canang : suruh canang : suruh kuning sing enak dipangan. candaka : cundaka, duta, kongkonan, utusan, telik. candra : rembula, sasi, wulan; dicandra : dicritakaké sarana pepindhan; candramawa : kucing ireng endhas lan sikile putih; candrasa : pedhang; candra sengkala : tetenger kang winadi angkaning taun; candra sengakala memet : candra sengakala arupa gambar.

candha : muring, nepsu; candha birawa : aji sing bisa ngetokaké setan sing akèh banget. candhak : candhaken : cekelen; candhake : teruse; candhakan : gathekan, gampang mangerti; sakecandhake : jlentrehna artinya, saolehe; candhak cekel : ngepek barang darbeké liyan pinangka panyaur utang. candhala : wong nistha, wong ala kalakuane; candhala gali : kalakuan ala. candhet : dicandhet, digondheli, dipekak. candhik : suruh sacandhik : suruh saunting; candhik ala : candhik kala : wayah sore nalika layung katon.

canila : kasut, selop bludru. cancala : obah, oyag, gonjing, kilat, thathit, ribet, rekasa; cancalan : sangsalan; cancalita : obah, kumelap. canthaka : cumanthaka, umuk, kumawani.

canthang : semut gedhe warnané ireng; canthang balung : abdi dalem lurahing tledhek. canthas : bregas lan gagah. canthek : cacuking prau ing ngarep lan buri. canthing : sawur, cidhuk banyu ing kolah, cidhuk cilik nganggo cucuk digawé saka tembaga piranti kanggo mbathik. canthuka : canthoka, kodhok; sasra canthoka warsa : kodhok sewu kodanan, padha ngorek, sasmitané gendhing kodhok ngorek. cangak : manuk jinise blekok.

canggeh : seneng cawe-cawe (maeka, cengkiling), seneng njejupuk. cangkring : wit-witan mawa eri. canguk : wong piniji dadi mata pita ngawasi musuh. cangungong : uniné merak.

capa : gendhewa. capang : brengos sing dawa nyenthang, caplang. caparu : panginangan, wadhah kinang. capet-capet : rada kelingan. capil : caping, tudhung. carakea : kongkonan, utusan, duta. carang : pang pring; carang buntala : gombyok lapak jaran; carang gantung : araning gendhingan; carang gesing : pipis tuban, gedhang karo santen dicampuri endhok lan gula terus didang; carang landhep : gaman landhep; carangan : lakon wayang sing mung karangan (anggitan); nglincipi carang papak : tumbak cucukan, adul-adul.

caru : sajen, kurban; dicaru : dikorbanake. carub : awor, campur; caruban : campuran; carob wor : campur dadi siji. carubak : crubuk : dhapuring keris. caruk : nyaruk : njupuk srana nggegem saolehe ora milih; caruk banyu : ora dipilihi, gedhe cilik padha. car-car : guneman mung waton muni; car-car kaya kurang janganan : ngomong mung sasenenge dhewe, waton muni. catra : payung, songsong, pangayoman. caca : rengat, benthet, cacad; caca netra : cacad mripat; caca upa : ngrenggangaké paseduluran sing raket.

cacah : wilangan akehe samubarang; dicacahake : dietung, diwilang; ora kecacah : ora kapetung; cacah jiwa : akehing wong sing dedunung sawijining negara; cacah eri : petungantumrap iwak loh; cacah wuwung : petungan kehing omah; cacah pathok : petungan kehing sawah; cacah sirah : petungan kehing wong. cacah cucah : olehe ngunek-unekaké sak katoge. cacak : coba, jajal; kalah cacak menang cacak : samubarang prakara iku arané kudu dicoba dhisik.

cathok gawel : seneng maoni, seneng cawe-cawe. cathok pelas : tangkeb pelas, jarit cupet yen kanggo tapihan. catho-catho : kurang awas pandulune, durung ngerti temenan. cawar : cabar, cebol, wurung tanpa woh. cawe-cawe : melu ngrembuk prekaraning liyan.

cawuh : dhumpyuk. cebol : cendhek dedeg piadege; cebol nggayuh lintang : wong sing duwe panjangka prakara sing mokal; cebol kepalang : yen ngadeg katon cendhek yen lungguh katon dhuwur. cebong : anak kodhok sing isih kaya iwak. cedan : cacad, dicedan : dicacad. cedhok : serok kanggo golek iwak; tukang cedhok : tukang golek iwak; cedhok-cedhok sembahe : nyembah bola-bali; nyembah sacedhokan : nyembah mung sepisan. cekel : murid (baturing) pendhita.

cekli : omah cekli : omah cilik sarta becik; ceklen : pasugatan prasaja. cekoh : dhokoh lan sengkut anggoné mangan; cekoh regoh : wis jompa lan ora bisa ngglawat. celeng : andhapan, wraha; celeng goteng : celeng cilik; celeng mogok : araning gendhing; cedhak celeng boloten : srawung karo jlentrehna artinya ala gampang ketularan.

celu : kumacelu : kacelu, kepingin banget, kumudu-kudu. celung : kecelung : kembang dhadhap. cempreing : cemprengan : remeh, ora aji, clemen. centhang : cawek cilik; dicenthangi : ditengeri tumrap tulisan; centhangan : cathetan, pengetan; centhang-centheng : tansah kena. cembeng : riyaya memetri kubur pendhak april tumrap bangsa cina; cembengan : riyaya karamean ngarepaké giling tumrap pabrik tebu.

cengeh : cengeh, cenges, lombok. cengeng : cingeng, gembeng, cewek gambreng, gampang nangis. ceples : jibles, jebles, trep.

ceplukan : araning tetuwuhan, araning manuk. cere : ceremende : kewan jinise coro cilik. cethek : cethek, ora jero; cethek budiné : ora muluk kabudene; cethek kawruhe : ora dhuwur kawruhe. ceblaka : cablaka, prasaja, baris, blaka.

cekak : ora landhung, cendhak; cekak aos : cekak cukup : cekak akèh surasane, mentes; cekak ambekané : ambekané ora landhung; cekak budiné : cugetan aten, nepson; cekake : ringkese rembug. celuluk : cluluk, alok, nguwuh, ngucap. celom : celong, aclum, (pucet) amarga mentas lara. cemani : pitik sing ilese ireng mulus. cemuru : kidang.

cemoe : wedang jae nganggo ampas. cempuling : tumbak nganggo ganthol piranti golek iwak. jlentrehna artinya : garan wayang saka sungu. centhe : saron cilik; centhe-centhe : guneme wong wadon seru.

centhula : murang tata, kurang ajar. cenggama : cenggami, drigama, dirgama, sangga runggi, kuwatir, sumelang. cengkah : duwa dinuwa, sulaya. cengkiling : seneng mara tangan. cengklung : cecengklungan : cengklungen, ngarep-arep banget, ngantu-antu banget. cenguk : anak kethek. cepon : wakul, cething. cerbak : ora tampikan apa-apa dipangan; cerbakan : wataké arepan. cethik : balung ngisor bangkekan, daden geni; geni wis mati dicethikaké maneh : nyungulaké prakara sing wis kasilep; kecethik : konangan alane.

ciblek : araning manuk wujude cilik. ciblon : gawé klagan srana ngeplaki banyu sing agung ing kali; gendhing diciblonake : gendhinge digawé irama rangkep. cina : cihna, tandha, bukti; cina : bangsa tionghwa; cina craki : gemi banget; cina diedoli edom : enggoné wong pinter diumuki kepinteran; kelebon cina gundhulan : kena ing apus; cinarita : cinatur, kocap, dicritakake; cinawi : rinengga ing kekembangan. cindhe : bakal sutra abang kekembangan; emban cindhe ban cinadan : pilih sih. cindhil : anak tikus; ditumpes sacindhile abang : ditumpes saanak turune.

cinitra : kagagas, katulis. cintaka : panggagas, pangangen-angen. cintraka : cilaka, sangsara, susah. citantya : cintya, ayu, endah. cintra : cedya, cacad, ciri. cincim : cincin, kalpika, sesupe, ali-ali. cincing : nyilakaké tapih (bebed) munggah; cincing-cincing teles : karepe mung sethithik wekasané malah dadi akèh.

cingak : ndengengek mandeng amarga gumun. cinggunggoling : manuk sikatan. cingkluk : njejaluk, ngemis. cipta : gagasan, pangangen-angen; saciptané dadi : apa sing gagas mesthi klakon. climut : clemer, culika, dhemen nyolong. clingus : isinan, ora wani patemon. cluluk : kandha, ngandhakake. clumpring : angkup ing ros pring ing jabané ana glugute. clunthang : araning gendhing; clunthangan : ugal-ugalan, kurang ajar.

cluring : dhuku, langsep. cluruit : tikus berit, tikus sing ambuné apek. craken : adon-adonané jamu. crema : walulang. cripu : sandhal nganggo japitan. crongoh : ora tampikan marang wong wadon. cubung : kecubung, thethukulan sing wohé mendemi.

cukit : sada sing digawé pring kanggo nyulit candu; cukit dulit : baturing maling. cumadhong : sumadya nampani (nindakake). cumeri-ceri : sengit, gething banget, ora sudi banget. cumpen : sediyané mung sacukupe. cuplak : lelara kulit njendhol atos. cucuk : cangkeming manuk; nyucuk ngiberaké : wis disuguh mulihe isih nggawa; tumbak cucukan : wong kang para wadulan; cucuk besi : manuk saba banyu, cathut gedhe.

cuwak : kakehan ragad amarga boros nganggone. cuwiri : careking bathikan lung-lungan ngremit. colong : nyolong : njupuk ora kawruhan sing duwe lan ora nembung; bab colong jupuk : prekara nyolong; tinggal glanggang colong playu : mlayu saka paprangan; nyolong laku : nindakaké kanthi sesidheman.

cowong : pucet lan kuru. D dadar : didadar : diteter, dileler; pandadaran : paneteran, paneleran; dadar leler : ganjaran pinangka piwalesing lelabuhan. daga : ndaga : mbadal prentah, mbangkang lan nglawan. dagda : widagda, wicaksana, pinter, daging : keklumpukaning serat-serat ing awak; isih kulit daging dhewe : isih sedulur dhewe; nitipaké dagingsaerep : maratuwa masrahaké anaké wadon marang mantune.

daha : kobar, kabesmi, kobong. dahwen : seneng nyaruwe liyan. daya : kekuatan; daya dinayan : bantu-binantu, tulung-tinulung. dayaka : wong kang melasi. dayinta : dayita, prameswari. dalan : margi, marga, dalanggung, gili; dalan gawat becik disingkiri : wong sing angel sratenané becik disingkiri; dadi dalan suthik ngambah : wis emoh tepung maneh; sarik dalan nyandhung watan : prakara sing angel lan mbebayani.

dalasan : dalah, kalian, kalih dalem : ing sajerone, wektu, saben, sesuluh pandarbe wong kapindho lan katelu tumraping ratu; abdi dalem : abdimu; wiyosan dalem : tingalanipun, wetone; daleman : sawah (pekarangan) kagungané ratu.

dalih : didalih : dikira, disengguh, dinyana, diterka, didakwa. dalu : bengi, wengi, wis mateng banget; kadaluwarsa : kasep, lungse, kliwat dama : asor, nistha, bodho; didama-dama : diugung, diuja; didaman : berdaman, diaji-aji banget. damar : dilak, diyan, lampu; damar sela : blendoking wit. damba : krenah, kajuligan.

dana : paweweh; dedana : aweh apa-apa kanggo kautaman; didanani :diwenehi dana; didanakaké : diwenehaké pinangka dana; kedanan : kepotangan kabecikan; dana bau jlentrehna artinya dedana sarana nyambut gawe tanpa pituwas; dana driyah : nindakaké kautaman sarana dedana; dana wira : wong kang seneng dedana; dana krama : ngerti ing tata krama. danar-danar : praené wong wadon sing kunirig ngresepaké danas : nanas.

danawa : ditya, raseksa, diyu, buta; yaksa, wil, danuja danu : maesa, kebo; danujwa : danuja, linuwih. danurdara : satria, sekti. danta : denta, untu, gadhing, sareh, lirih, alon danten : dara.

danti : gajah dapak : yen, manawa. dara : manuk bangsané dheruk lan puter, bumbung panderesan aren, bojo, prawan; dara dasih : kelakon apa sing katon ing impen; daraka : kukuh, jlentrehna artinya darana : drana, sabar, sentosa; darani : bumi; darapon : supaya.

darba : suket. darbe : duwe, gadhah, kagungan; darbekmu : duwekmu; darbeké adhi : duweké adhi dares : manuk saba bengi.

daridra : mlarat, kecingkrangan. darja : sarana, pikukuh, sentosa. darma : kewajiban, kautaman, panggawe becik; sadarmi : mung netepi wajib; didarmani : diwenehi darma. deres : nderes, golek legen krambil kanthi cara magas manggare nuli diwadhahi bumbung; dewan : wong nderes. derah : ndliya; ndira pati : nekad namaha marang pati. desa : dhusun; ndesani : kaku, ora lemes; padesan : padhusunan, wewengkoning desa; njajah desa milang kori : njajah menyang ngendi-endi; desa mawa cara negara mawa tata : saben panggonan duwe tata cara dewe-dewe.

dewa : jawata, dewata, surapsara : roh luhur sing nguwasani salah sawijining kodrat; didewa-dewa : dipundhi-pundhi; kadewan : padunungané para dewa; kendhit minang kadang dewa : luput ing bebaya; dewaji : nyebut marang ratu; dewalaya : kadewan, kahyangan; dewana : sorot, cahya, linuwih; dewananggana; dewanggana, widadari; dewangkara : srengenge.

dewi : dewa wadon, widadari, sebutaning putri. dedaman : berdaman, dhuit sing diemi etni jalaran wis ana tunggalan. dedeg : dhuwuring pawakan; sadedeg : dhuwure padha karo dedeg wong; ndedegi : njenengi, jagong nggoné wong duwe gawé; dedeg pangadeg : wanguning pawakan, dedeg piadeg; sadedeg sapangawe : dedege padha karo dedege wong lan tangan ngacung mendhwur jejeg.

deder : garan panah. dedreg : rame anggoné padu (perang). degsura : kurang ajar, ora ngerti tata krama. delahan : akhir tembe, akhirat.

delap : arepan, jalukan; delap-delape : teka dené arep (gelem). deleg : lajere, pokoke, bakune; deleging atur : bakuning atur; delegan tembako : gulungan tembako; tembakoné didelegi : digulungi. deles : tulen, murni, uceng-uceng diyan.

delik : mendelik : mentheleng; pendelikan : penthelengan. deling : pring, krungu; didelingake : ditilingake, dirungokaké temenan; dumuling : keprungu. demak : didemak : didekep. demang : lurahing jlentrehna artinya demang ngiras tangkilan : dhayoh ngiras dadi paladen.

demenakake : bocah sing ora rewel, ngiegakaké (nyenengake) ati. demimil : ndremimil, tansah guneman baé. demunung : ndremunung, grenengan, grundelan; dumunung : wis dunung, wis ngerti. demuwe : dumuwe : panggarape ngati-ati. denang : ndenangi : ngonangi; kadenang : konangan. denawa : danawa, buta. denta : danta, dhenta, gadhing; dentawyanjana : urut-urutané aksara jawa. depara : ndupara : mokal. derana : darana, drana, sabar. jlentrehna artinya : darapon, drapon, supaya.

derbala : sugih nderbala : saya mundhak sugih. dengki : drengki, srei derbombok : manuk sribombok. derdah : dredah, congkrah, pepadon, sulaya. dereng : adreng, kapidereng, kadereng, banget anggoné kepingin. derep : buruh ngeneni pari, opahe pari bawon; drep tinggal tumpukan : ninggalaké pagawean sing pancené oleh opah.

derganca : sulaya, benceng panemu. dergil : ndergil : sregep ing gawé, sugih akal sing ngasilake. derman : wong wadon sing sugih anak. dermis : ndermis, nderwis, seneng njejaluk. derwolo : nderwolo : ngengkel, nggugu karepe dhewe.

derwili : nderwili : ganti-ganti asile pepanen. destun : sabenere, malah, luwung, kebangeten. dhadha : jaja; ngilani dhadha jlentrehna artinya ngina marang liyan; didhadha : didhadhagi, diakoni, disanggemi; pandhadha : anak nomer telu; suku dhadha ateken janggut : rekasa banget; dhadha manuk : dhadha peksi, dhadha sing mungal; dhadha walang : lingiran kikis telu cacahe.

dhadhag : wani nanggung kanthi panggah; didhadhagi : diakoni klawan tatag. dhadhah : bulak, papan amba adoh saka desa. dhadhak : tlutuh kweni; dhadhakan : jalaraning prakara; dhadhakan nglayoni : rembug alesan ngereni mung amrih wurunge. dhadhap : tetuwuhan kang bisa gedhie lumrahe kanggo pager. dhadhuk : gegodhongan garing upamané rapak, damen, klaras.

dhadhung : tampar gedhe kanggo nyancang raja kaya. dhadhut : lemu weweg. dhaeng : sebutan dharah bugis, arané prajurit kraton ngayogjakarta. dhahat : dahat, banget. dhahyang : dhayang, dhanyang. jlentrehna artinya : bedhaya, medhek. dhayung : welah arupa enthong gedhe; didhayungi : diwelahi; dhayung oleh kedhung : oleh dalan (srana) sing prayoja anggoné arep tumindak ala; didhayungaké : dileremaké tumrap lemah garapan.

dhakah : gedhe tumraping wit; dhakah srakah : kumudu-kudu oleh akèh. dhakon : dolanan saka kayuwangun lesungan nganggo cluwukan kanggo wadhah kecik dhalang : wong sing panggaweyané nglakokaké lan nyritakaké wayang; dhalang mangsa kuranga lakon : ora bakal kentekan omongan; jlentrehna artinya kerubukan panggung : kandheg amarga kepedhotan omongane.

dhamang : mangerti temenan, terang pangertene. dhampa : lelara kulit sing wujude mruntus. dhampit : bocah kembar lanang wadon. dhamis : trep lan rapet tumraping sesambungan (lambe). dhama-dhini : kedhana-kedhini : anak mung loro lanang wadon. dhamplak : sungu dhamplak : sungu gedhe lan dawa. dhandhang : manuk gagak, piranti kanggo ndhongkeli watu; dhandhang diunekaké kontol : sing ala dikandhakaké becik. dhandher : ketela, kaspa. dhanu : ranu, tlaga. dhanyang : dhemit sing baureksa; abu dhanyang : sanggan, piranti kanggo jlentrehna artinya tembok.

dhangan : entheng, waras, penak; dhangan ing penggalih : seneng sarta lega lila. dhasulaya : jlentrehna artinya, daleming ratu. dhat nyeng : ora ajeg. dhawuk : ulesing jaran werna abang, ireng lan putih. dhedhak : kulit pari sing setengah lembut. dhedhet : erawati, guntur, gludhug. dhehem : nyuwara kanthi mingkem nglebokaké hawa menyang gurung. dhedhel : dhedhel-dhuwel : entek-entekan dhuwit lan sandhangane.

dhepe-dhepe : ngempek-empek. dhepok : padhepokan : padunungané pandhita; dhedhepok : dedunung, manggon. dherekan : kemiri. dhekeman : kedhele. dhengkul : jengku, sambungané pupu lan kenapol; atiné landhep dengkul : bodho, kethul banget; kendhangan dhengkul : mung kari seneng-seneng; didhengkul : disodhok nganggo dhengkul.

dhestha : mangsa dhestha : mangsa sewelas. dhesthar : iket. dhesthi : piala; guna dhesthi : sarat kanggo nggunani.

dhempel : perangané lawang sing dipasangi inep. dhidhis : nlisir sirah nganggo driji kanggo goiek tuma. dhimpil : araning sawijining kertu cina, kamar ing omah sisih kiwa. dhihin : dhikik, dhikin, dhisik. dhuwet : woh-wohan cilik-cilik rupané wungu rasané legi-legi kecut. dhuku : woh-wohan cilik-cilik isiné putih rasané legi. dhudha : wong lanang sing wis ora nduwe bojo; dhudha bangsong : dhudha tuwa tur sugih anak; dhudha bantas : araning jingklong; dhudha bocah : joko sing ditinggal mati kekasihe; dhudha kalung : dhudha sing nduwe anak wadon sing wis bisa ngingoni; dhudha kawuh : dhudha sing wis tuwa; dhudha kembang : dhudha enom durung duwe anak; dhudha calak : wong lanang sing purik.

dhugdheng : wong dhugdheng : wong kang menangan. dhukung : dhuwung, kadga, keris. dhukuh : dhekah, desa cilik; dhukuhan : pekarangan sing ditanduri. dhukun : tukang nenambani, wong wadon sing nulungi wong mbayi; kaya dhukun kurang tindhih : grenengan muring-muring.

dhukut : suket; dhukut kruwut : tetanduran ing pekarangan. dhumpyuk : gebyuk padha rupane, dhompo kapindhon ngetunge. dhuplak : piranti kanggo nocoh kinang. dhuwuran : kembang dhuwuran : kembang sing ditumpangaké tukon pasar. dibya : linuwih, panunjul; kadibyan : kaluwihan, kasekten. digdaya : digjaya : menangan, digwijaya. digsura : degsura, ora ngerti tata. krama, kurang ajar. dika : ndika : andika, jengandika, panjenengan, kowe, keng slira, slirane, sampeyan; ndikakaké : dikon, didhawuhi, diutus.

dilat : ndilat : namakaké ilat arep ngrasakake; idu didilat maneh : nyeled kasaguhane. dilem : tetuwuhan sing godhonge mambu sedhep. dilep : didilep, diunthet, dislewengake. dilir : ndilir, dlidir. dimen : kareben, supaya, amrih, cikben. dina : ri, hari, dinten; sadina-dina : saben dina; dinan : etungané sadina; ana dina ana upa : ora perlu nusahahké sing arep dipangan. dipa : dwipa, obor, ratu, gajah, pulo, dipaya.

dipara : dupara, mokal, nglengkara. dirga : dawa, panjang; masang dirgana : masang krenah; dirgamaya : dirgasana, dhampar; dirgantara : awang-awang; dirganca : sulaya, geseh panemu. dite : ngahat. diwangkara : diwasasri, srengenge. diweg : daweg, lagi. diwya : dibya, linuwih, pininjul. diya : diya-diniya : udur-uduran rebut bener. diyan : diyah, lampu, dumilah, dimar, damar. diyon : iyon, pepadon prekara anggoné arep nandangi pegawean.

dlame : ndlame, ndlameh, ngame, tansah guneman, dlamong : ndlamong, clemongan. dlanggu : dlanggung, dalan. dleder : ndleder, dlederan, mlaku karo pamer. dleya : ndleya, nglirwakaké wajib, sembrana, weya. dlereng : dlereng-dlereng : lorek-lorek; sadlerengan : sacleretan, satleraman, sakeplasan. dlera-dlera : plerak-plerok ngulataké wong lanang. dleka : kayu (pring) malang manut ambaning amben (lincak) kanggo tumpangan galar. dlering : janur aren; dluya : ndluya, banget anggoné nglirwakaké pitutur.

dlomok : ndlomok : keladuk guneme; ora ndlomok : temenan, ora goroh. dlongop : kembang cubung (duren). dodod jlentrehna artinya kampuh, jarit dawa lan amba agemaning priyayi yen pasowanan langrebeg. dodok : telik; dodok acung-acung : nuduhaké papan sing arep dimalingi.

dokan : manuk wulung. dom : jarum, wesi bunder lancip cilik kanggo dondom; dom sumurup ing banyu : laku samar kayu lakuné telik. jlentrehna artinya : wedhus gedhe; apen domba : apen gedhe; didombani : diawat-awati, dipanggedeni. dongang : kembang; ndongong : mung meneng wae ora tumandang, dora : goroh; doradasih : daradasih; doran : garan pacul; dorapala : panjaga lawang; dora sembodo : kapeksa goroh kanggo nylametaké liyan; dora cara : dura cara, goroh, gegorohan.

drajat : pangkat, kaluhuran. dragem : jragen, jaran ulese abang semu ireng. drastul : tandu. drawa : drawaya, ledeng, luluh, ajer; drawana : mili, luluh, ledeng; drawas : ndrawasi, mbebayani, mutawatiri; drawili : drawili, drewili, tanpa kendhat; drawina : kesugihan, kamulyan; andrawina : suka-suka mangan enak. drenges : kembang suruh; drengengesan : cengengesan. dredah : pepadon, udreg-udregan. dregang : dregang-dregang : jlentrehna artinya gedhe dhuwur.

dregil : ndregil, sregep lan sugihreka kang ngolehaké pametu. drema : sadrema : tumindak mung karana netepi wajib; dreman : sugih anak. dremba : akèh tadhahe. drenjet : ndrenjet, ndlejet, menyang ngedi;-endi amarga golek utangan. drengki : meri marang kabegjané liyan. drestanta : tuladha, tuladhan. drestha : dresthi, mata. drigama : drigamii, bebaya; pasang drigama : gawe gelar samedya ngapusi. driyah : dana; driyahi : ndanani, ndriyahake, ndanakake.

dringo : empon-empon kanggo tamba. drubiksa : bekasakan, buta alsan. druhaka : druwaka, duraka. dramas : mas. drona : jim, klenthing. duduk : nduduk : lelungan dilajo mruput esok supaya enggal tekan; diduduk : didadak, ora diantan-antani saduunge; kena ing duduk : kena lelara kaya udun ana ing gulu; duduk wuluh : tembang megatruh, duga : dugi, kira; nduga : ngira-ira, nyana; keduga : keconggah, kwagang, saguh tumandang, seneng atine; panduga : pangira, panyana; duga-duga : dipikir dhisik amrih apike; duga prayoga : pangangkah amrih apike; duga wilara : pamikir, pangira-ira, partemu; duga rumeksa : migatekake.

dugang : didugang, ditendhang; dugang wirowang : sekawit ngewangi wekasané dadi musuh. duging : anak walang. duhita : juwita, putri, endah. duhkata : kasusahan. duhkita : susah, sedhih, sungkawa. duk : tapasing aren; duk sandhing geni : wong lanang kumpul karo wong wadon gampang tumindak ala. duka dalem : duka sampeyan, embuh. duka cita : susah, sedhih, kasusahan. dak-duk : tumbak. dukut : suket. duksina : kidul. dumunang : sumeleh, manggon, sumerep, mangerti.

dunung : panggonan, prenah, dodok selehe prekara; durung dunung : durung mangerti cetha; didunungi : dipanggoni; didunung-dunungaké : diterangaké kareben ngerti; padunungan : panggonan; kadunungan : dienggoni, didokoki; dunung karas : dunung numpang, mondhok ing pomahané wong liya. duna dungkap : tuna dungkap, meh tekan. dungek : endhang baturing pendhita. dupa : menyan; dedupa : ngobong menyan; padupan : papan kanggo ngobong menyan. dupi : bareng, nalika. dura : adoh; duraka : dosa mbangkang prentah; durantara : adoh, nglengkara; duratma : wong ala, maling, duratmaka; duracara : doracara, goroh, apus-apus; durhaga : cilaka, nistha; durbala : ringkih, ora rosa; durdah : derdah, sulaya; durjana : wong ala, maling; durga : angker, bebaya, pakewuh sungil; durgana : bebaya, pakewuh; durjan : duren; durjasa : wirang, kawirangan; duryat : kabegjan; durlaba : angel; durlaksana : laku ala, ngalamat ala; durlaksmi : cilaka; durma : araning tembang macapat; durmanggala : ngalamat ala, kacilakan; durmata : ala kelakuane, bodho; durmeda : bodho; durna : lajering anyaman, pangayoman; durniti : pranatan ala, wong aia, mungsuh, satru; jlentrehna artinya : maling, kawentar alane; durwiweha : kurang ngati-ati, bodho; durwyasana : kurang ajar.

dwaja : tetenger, gendera. dwapara : jaman kang katelu. dwara : lawang, gapura; dwarapala, dwarapati : panjaga lawang. dwija : dwipati, pendhita, guru. dwipa : dwipaha, dwipangga, gajah.

E eba : endah, becik, gajah; ebakara : tlale, ebar : kebar, dikebarake, dikatonaké wong akèh. ebat : gumun, wedi, asih; ngebat-ebati : ngebat-ebatake, nggumunake. ebeg : lemeking lapak jaran kang rinengga-rengga; jaran ebeg : jaran kepang; ebeg-ebegan : nganggo ebeg. eber : ngeber, bakulan kanthi ngedolaké barang dagangan ora sarana kulak; dieberaké : diedol kanthi eberan.

ebek : kebekan : kebak, kebak gagasan, jibeg, sedhih banget. ebor : cidhuk banyu gedhené saember digarani dawa.

ebor : wurung, gagal, jugar, ora dadi. ebang : diebang-ebang, dijanjeni yen bisa nindakake. ebek : diebeki, dipek, diaku. ebuh : diebuhake, dibubuhake, dipasrahake. ebuk : kreteg cili ngisore dinggo dalan banyu; diebukaké : didol kamthi rega apa kulakane. ebrok : panggonan; diebroki : dijegi, dipanggoni. ecak : diecakake, ditindakake, ditanjakake. ecam : diecam, disuri banyu. edak : dak, ambeg sewenang-wenang marang liyan; ngedak-edakaké : ngedir-edirake; kalah dak : kalah kuwasa; edak edir : ambeg sawenang-wenang.

eduk : duk, tapas aren. edab : gumun; ngedab-edabi : nggumunake. edi : adi; edi peni : sarwa becik sarta arang anane. edhum : eyub, aub. edhag : didokok ora dipayoni. edhak : dipunnedhakaken : diudhunake. edheng : ngedheng, geblak ora ditutupi; diedheng-edhengaké : dikaton-katonake, ora digawé wadi. edheg : dipunedheg-edhegi, digawé supaya dheg-dhegan. edhem : diedhemake, disarehake, dililihake.

egak : diegak, diina, diremehake. egah-eguh : ngreka murih becik (tumata). egla : ngegla : katon cetha, katon makna. egla-egle : mung disangga kepenak. egong : diegongi, diganepi nabuh gong, rembuge diiyani.

egrang : pring (kayu) didokoki pancatan kanggo mlaku. egung : diegung, diileni banyu nganti agung; diegung-egungaké : digunggung, dialem. ejeg : ngejeg : mlaku cepet jangkahe (tumrap wong mikul). ejleg : mlaku rikat; ejlek eler : bola-bali mara. ejrah : petungan, rantaman; diejrah : dietung-etung. eka : siji; ekan : ijening cacah; dieka-eka : dipikir-pikir sadurunge; eka dasa : sewelas; diekadasa : digoleki ekané lan dasane, dipikir-pikir sadurunge; mangeka pada : semedi kanthi mungglaké sikil.

eklas : resik, murni, lega lila terusing batin; dieklasaké : dililakaké terusing ati. eklek : ora ngaso, tansah dikongkon mrana-mrana. ekral : ekrar : keterangan bab putusaning perkara; diekrarake : diundhangake.

eksi : mata. ekul : diekul, disepelekake, diina. elat : dielati, dilowongi. eleg : dieleg-elegi : dibebeda, diiming-imingi. elo : ukuran dawa, lelo = 0,688 m elok : nyebal saka kahanan salumrahe, kaelokan : prakara kang elok, mukjijat.

elmu : elmi, ngelmi, kawruh. eluh : luh, banyu kang metu saka mripat; sing dieluhaké : sing nandhang lara apa. eluk : luk, dieluk, digawé blengkuk ditekuk; dielukaké : ditekukake, diarih-arih, dipripih. elur : cacing sing saba sawah; dielur : dioyak, dibledig. ema : emas. emar : awak lemes tanpa daya; ngemar-emari ati : gawé rasa kuwatir. emas : mas, jene, rukma, rukmi, ema; diemas-emasi : digemateni. emba : embane : umpamane; memba-memba : mindha-mindha kaya; diemba : diemper kaya, ditiru.

emban : abdining ratu juru emong; diemban : digendhong ana ngarep nganggo slendhang; diemban ojong : diemban kanthi sikil dislonjorake; diemban pekeh : bocah sing diemban sikile ngethapel awaké sing ngemban; ngemban dhawuh : nglantarake, nekakaké dhawuh; embanan : gendhongan; emban cinde emban ciladan : ora adil pangrengkuhe. embat : kayu gedhe glagaring kreteg; diembat : dipenthang tumraping gedhewa, dientul-entul tumraping pikulan, dirembug bebarengan tumraping prakara; embatan : pikulan.

embek : uniné wedhus, trima ngalah; embek-embekan : gelut sing kalah muni embek lan gelute dipungkasi. embeng : pedhet (anak sapi). embeg-embeg : palemahan jejemblegan, bladheran; diembeg-embeg : dipilara; diembeg-embeg rembug : diunek-unekake. embel : rawa. embel-embel : wuwuhan sethithik bab keterangan; diembel-embeli : diwuwuhi sethithik jlentrehna artinya keterangan.

embes : ngembes, tambas metu banyune, lemah sing metu banyune; embes-embesan : banyu kang ngembes, pametu kang mirunggan. embuh : kilap, duka dalem, ora weruh, ora terang; diembuhi : diwangsuli embuh; embuh-embuhan : durung karuwan.

embun : diembun, disunggi, dipundhi tumraping dhawuh; embun-embunan : pasendhulan, jlentrehna artinya balung sadhuwuring bathuk. emel : donga, rapal, mantra; diemeli : didongani; diemel : diapusi kanthi rapal, dilapurake. emi : diemi-emi, dieman-eman banget, dirumat premati. emnon : emon-emon : panganan kang disimpen sedhian dhayoh, kulawarga sing jompo (lara) sing perlu dijaga kanthi premati.

emong : diemong : diladeni lan digawé seneng atiné tumrap bocah, dianut karepe aja nganti kagol atine; emong-emong : emong kething, bancakan. emeng : kemengan, bingung atine, kewuhan, sedhih. empan : makan, murub, tumanduk; potlot iki empané apik : yen kanggo nulis becik; pancinge diempani : pancinge dipakani; golek empan-empan : golek urub-urub; nganggo empan papan : mbedakaké papan lan kahanan.

empen : mempen, ora lunga-lunga saka ngomah, medekung. empir : ngempir-empira : weteng kang nglempreh amarga keluwen. empu : lajering empon-empon, wong kang ahli keris (sastra). empol : pucuking wit kambil; empol pinecok : gampang banget. emprit : manuk cilik jinise manuk glathik; emprit ganthil : manuk kedhasih. emu : embut amarga dipijet-pijet tumraping woh-wohan. emu : abor, kopyor, remuk njero amarga diantemi. enar-enir : tansah sumelang lan kuwatir.

endah : becik banget; endahneya : endahane, endahpuna, saeba bakal. endra : ratu; endrajala : pangapus, krenah, kajuligan; mangendrajala : naniakaké pangapus (kajuiigan); endralaya : indraloka, endrapada, kayangané bathara indra; endracapa : kluwung, gendhewané bathara indra; endrawila : inten biru. endhas : sirah, mustaka; endhas-endhasan : perangan kang ngarep dhewe; gedhe endhase : kegedhen endhas, keladuk panjangkane; endhas digawé sikil : nyambut gawe direwangi ngaya-aya banget; diulungaké endhase digontheli buntute : menehaké apa-apa laire lila batiné owel.

endhe : kanca; diendhe-endhe : direndhe-rendhe, disesuwe. endhem : diendhem, didhelikake, disimpen; endhem-endheman : Incim-inciman. endhih : diendhih, dikalahake, diasorake. jlentrehna artinya : tigan, antelu, antiga; endhog sapetarangan mati siji mati kabeh : padha patembayan nedya sabaya mati; njagakaké endhoge siblorok : njagakaké prakara sing durung karuwan ana; pendhita endhog : wong kang sumuci-suci.

enu : dalan. entek : entek entung, entek babar pisan. entar : dudu teges sing sabenere nanging silihan; mentar : lunga. entra : tetenger, pratandha; dientra-entra : digawé kaya, diwangun niru kaya; dientrani : ditengeri, dicireni; entran-entran : tetiron, pepethan. entrah : saentrah-entrahe, satingkah polahe, kabeh kang ditindakake. engga : saengga, kongsi, nganti; enggane : ing saupama.

enggak : nglangi ngadeg. enggar : seneng atine; ngenggar-enggar : nyenyeneng ati. engkrang : carané njoged; saengkrang-engkrange : sapari polahe, epek : setutan digawé saka bludru kanggo nyangkolaké timang. epeh : drengki, srei, me-ren. epok : wadhah kinang nalika siba rata. era-eru : dahuru, geger. eram : gumun banget; ngeram-eramaké : nggumunake; pangeram-eram : kaelokan. erang : tutup keyong, pepeling, pepacuh; dierang-erang : diemeni kanthi tembung pepoyok.

erawati : bledhek. erek : erek-erekan, padha mlaku nyedhak kanthi sumadya arep tarung. erem : biru erem : gosongkulite merga mentas diantemi. erep : pekarangan. ergeni : erkembang : araning inten. ergulo : regulo, mawar. ernawa : segara. ertali : ertambang, kali. esi : diesi-esi : dierang-erang dipoyoki.

esmu : semu, katoné kaya. esuk : ejing, wayah ngareping pletheking srengenge nganti jam sanga esuk; esuk-sore : araning kembang, jarit bathik sing separo lan separoné bathikané ora padha. estri : wadu, wadon, pawestri, jlentrehna artinya, putri, wedok; diestreni : ditunggoni lan dipangestoni. estha : esthane, rupamané kaya, saemper kaya; diestha : diwangun kaya, dipetha kaya. esthi : karep, sedya, niat, jangka, asli, gajah. eteran : klithikan; bakul eteran : bakul klithikan.

etel : atos, padhet; atiné etel : atiné tatag sarta kendel. etol-etol : laku sing rekasa amarga kabotan bokong. ewa : katon ora seneng marang liyan; diewani : ora disenengi; diewokake : digolongake; ngewak-ewakaké : solah tingkahe njalari ewa; dadi pangewan-ewan jlentrehna artinya dipilara kaya milara kewan; ewadené : wondene, ewasemana, ewa semanten. ewon : pirang-pirang ewu. ewuh : ewet : lagi tumandang gawe, duwe gawe; ewuh-pakewuh : ribet atine; ewuh-ewuh : duwe gawe; diewuh-ewuhi : diribeti, dialang-alangi, dingel-ngel; ewuh aya : pakewuh banget.

entol : dientol, ethok-ethok dlining oleh regané supaya diundhaki panganyange encung : terong. enthek-enthek : lemu kenceng; sedina enthek : sedina muput enthung : wujud uler arep dadi kupu, ana ing jero klunthungan godhong gedhang enges : nyenengake, nyengsemake enggih : inggih, iya; enggih beton : sumaur iya nanging ora ditandangi.

eri : cringih-cringih ing wit utawa pring ori, balung iwak loh sing lancip-lancip; ancik-ancik pucuking eri : nyambut gawe kang tansah ngandhut rasa kuwatir; nglincipi eri : ngubupi wong kang lagi nesu; ngeri gereh : tembunge nyerikake.

eru : serik atine, panah, ukuran jembar (1 eru = 14,19 m2). erob : agung luber, banjir rob erod : surud, suda. esur : sur, diesur, dipeksa dikon lunga arep ganti dienggoni; diesuri : diecuri G gabag : lelara cacar, gedheg anyamané kasar; nggabag : lungguh uyek-uyekan; gabagen : kena lelara gabag gabah : las-lasaning pari; kopi gabah : kopi sing durung dionceki; beras gabah arang : beras sing gabahe akèh; polahe kaya gabah diinteri : pating bilulung amarga bingung; gabah sinawur : jinising bathikan; digegabah : digegasah.

gabig : nggabig, ngobahaké endhas tumrap kebo, sapi. gabira : gambira, bungah, seneng. gabug : kopong, ora isi, ora bisa manak; gabug jlentrehna artinya : nyata lan orane; nggabugi : ngepengi, nusoni ora metu banyuné susu. gada : bindhi, kenthes; digada : digebug nganggo gada; weruh gada gitiké : weruh tandang grayange; ngedelaké gada gitike : ngendelaké panguwasane; gada rena : iguh pratikel.

gaduk : tekan pangranggehe; gaduk-gaduk tuna : rada gaduk. gadhag : tampar gedhe, dhadhung; nggadhag : nyolong telik sing lagi dipasang, gadhang : nggadhang, nggegadhang, ngarep-arep bisoa dadi; gadhangan : calonan, palemahan sing wis digarap kari nanduri. gadhing : siung gajah, pring lan klapa, kembang kanthil sadurunge mekar; asem gumadhing : asem sing isih kuning. gadho : nggadho, mangan lawuh tanpa sega; nggadho ati : tansah gawé susahing ati; gadho-gadho : sajinis pecel; gadhon : lawuh sing mung digadho; klenengan gadhon : gamelané mung sing perlu; sawah gadhon : sawah bisa ditanduri ketiga lan rendheng.

gadhu : sawah gadhu, sawah sing banyuné oncaran; gadhu walikan : sawah sing bisa ditanduri mangsa rendheng lan ketiga; panen gadhu walikan : oleh rejeki. gadhung : jinise uwi sing mendemi, araning jlentrehna artinya lan ula; tandur gumadhung : tandur sing ijo royo-royo; iket gadhung mlathi : iket sing warna ijo tengahe putih, utawa pinggire lintrik putih; jamu gadhung crobo : jamu godhongan diuyub; macan gadhungan : macan malihané wong; polisi gadhungan : polisi palsu; nggadhung : mendemi wong nganggo gadhung.

gael : digael-gael : dikemah-kemah. gaeng : tansah ngalup, tansah njaluk. gaga : pari gaga, pari sing ditandur ora mbutuhaké banyu agung; gaga rancah : gaga sing akèh lan cepet wohé. gagan-gagan : tetuwuhan sing kena dipangan; pagagan : tetuwuhan sejinis semanggi kena kanggo tamba.

gagah : pradhah, dhadhag, sarwa keduga; gagah prakosa : pawakan gedhe dhuwur lan sentosa; gumagah : ambeg gagah, ngedelaké kekuwatane; digagahi : ditanggung kanthi dhadhag; gagah kejibah mingkuh ketempuh : kepeksa kejibah wong mauné wis saguh. gagak : manuk wuluné ireng mangsa daging; nggagak : njupuk lan mangan sajen; uler gagak : uler cilik wuluné ireng, gagak lincak-lincak : ngolah-ngalih panggonan.

gagana : jumantara, awang-awang, dirgantara, tawang, akasa, madya gantang, langit, antariksa. gagan : garan, gantilan, tanganan; nggagang aking : kuru aking, kuru banget gagap : nggegrayangi, kira-kira, capet-capet; peteng nggagap : peteng ndhedhet; nggagap tuna nggayuh luput : kabeh sing dijangka ora kaleksanan; gagap gupukan : sarwa gugup.

gagar : gagal, wurung, cabar, ora dadi; gagar mayang : kembar mayang kanggo jaka utawa prawan sing mati. gagu : celad, cedhal. gaib : samar, wadi, winadi; kawruh gaib : kawruh kang winadi; gumaib : ambeg, umuk weruh ing gaib. gajah : liman, kewan sing duwe tlale lan gadhing; empyak gajah : empyak sing tengah; kupu gajah : kupu sing gedhe; semut ngadu gajah : wong cilik ngedu wong gedhe; gajah ngidak rapah : wong sing nerjang pepacuké dhewe; kodhok nguntal gajah : prakara sing mokal; setan nunggang gajah : wong sing goiek kepenaké dhewe; nggajah elar : sarwa gedhe kekarepane; gajah ngaling : araning sumping; gajah oya : negara astina; gajapati : gajendra, ratuning gajah.

galak : wani marang manungsa, doyan mangan kewan liya; nggegalak rapak : menangi kekarepan ala. galap : kliru; nggalap menang : goiek menange dhewe; galap gangsul : klera-kleru lan salah; nggalap nggampar : nggunakaké jenenge liyan. galar : pring dicacah kanggo lambaran klasa ing amben; nganti kraket galar : nganti mlarat banget.

galeng : jlentrehna artinya, tanggul cilik watesing sawah; sabuk galeng : wong sugih sawah; ngisor galeng dhuwur galeng : patembayan nedya bebarengan jroning bungah lan susah.

galing : tetuwuhan rumambat; sawung galing : upacara keprabon. galuga : wit sumba keling, gincu; galuga salusur sari : wis becik diwuwuhi becik maneh; nggaluga : abang sumringah. gaman : piranti kanggo nglawan, piranti jlentrehna artinya makarti. gamana : laku, srana, reka, budidaya. gamar : samar, sumelang, kuwatir. gamben : gegamben, gegedhug, sing pinunjul. gambir : tetuwuhan singgodhonge digawé gambir; kembang gambir : kembang sing ambuné wangi; dara gambir : dara sing ulese abang semu kuning; opak gambir jlentrehna artinya panganan semprongan sing leter; gambir sawit : araning gendhing; gambira laya : peranganing segara sing jero.

gambuh : wanuh, pundhuh, kulina, kerep nindakake, araning tembang macapat; nggambuhi : rukun banget; walang gambuh : walang sing lanang cilik sing wadon gedhe; malang nggambuhi : wong bebojoan sing lanang cilik sing wadon gedhe. gambul : nydhang lan sunguné digosok-gosokaké lemah (tumraping kebo); bantheng gambul : jenenge pacak gulu ing sawenehing joged. gambret : jinis kenes (lutung); gambret singgang mrekatak ora ana sing ngeneni : prawan kenes ora ana sing nakokake, kakehan swara ora ana nyatane.

gameng : nggameng, mendhung ireng lan peteng. games : nggames, tansah menangan. gamil : nggamil, ndremimil, tansah guneman. gamol : nggamol, daginge empuk lan memel. gampang : gampil, ora angel; gumampang : ora dijaga pakewuhe; nggegampang : nggampangake, nganggep gampang prekara sing wigati; wani ing gampang wedi ing kewuh : panjangkané ora bakal kelakon.

gampleng : digampleng, dikampleng, diantem; godhong gampleng : godhong kates. gana : gatra, maujud, anak tawon sing lagi netes; diganani : digatrani, diujudi; gana gini : bandha oleh-olehané wong lanang lan wong wadon sawise bebojoan; bathara gana : dewa sing asirah gajah.

ganda : ambu, ambet; aji panggandan : aji kanggo ngambu apa-apa sing arep digoleki; ganda kusuma : araning tembang gedhe; ganda pura : tetuwuhan sing godhonge kena digawé lenga; ganda riya : araning lurik lan gendhing; ganda rukem : damar dianggo nggegosok. gandewa : piranti kanggo nglepasaké panah. gandhik : watu diwangungilig kanggo mipis jamu; gandhikan : kucing sing lagi jejodhoan.

gandhor : pring jlentrehna artinya empuk lan moprol. gandhos : kenthos krambil, panganan sing digawé glepung beras. gandhowara : wanguning sumping. ganita : wilangan, petungan. ganithikundha : tesbeh. ganung : ganong, ati gori (nanas). ganol : kembang ketela. gantal : lintingan suruh ditaleni benang. gantang : kerekan manuk. gantar : genter. gangga : kali, banyu.

ganggam : ringa-ringa, kuwatir. gangsa : gamelan; lidhah gansa : ilat sapi; lambe gangsa : ilat sapi. gangsar : enggal katekan sing sinedya. gangsir : jangknk sing urip ing pekarangan; mungkur gangsir : ora melu cawe-cawe; digangsir : dibabah. gaota : nggaota, nyambut gawé, makarya. gapit : wilah utawa kayu sing dianggo njapit; lading gapit : lading sing bisa ditekuk lan dijejegake; lawang gapit : lawang nomer loro sawise lawang brajanaka; baladewa ilang gapite : ilang kaluhurané (panguwasane); gapit rempah : gapit wayang sing bisa diingar-inger; gapit cempurit : gapit wayang sing digawé saka sungu.

garang : gagah lan sarwa becik; arep garang nanging garing : garang garing; garangan : kewan seneng mangsa bebek; garang gati : kemangga gedhe. garba : nggarba, sesambungan, nggandheng tembung; gua garba : weteng. garbini : nggarbini, meteng. garbis : labu. garda : pepenginan. gardaba : kuldi.

gardaka : kurda, pangamuk. garis : corekan, nggaler, wates; nyimpang saka garising kautaman : nyimpang saka watesing kautaman; wis garise : takdire, pesthine; garis tengah : garis sing ngliwating pusering cakran. garu : piranti tetanen wujud kayu palangan nganggo unton-unton kanggo ngrata lemah; mrojol selaning garu : linuwih, ora ana sing madhani; digarokaké dilukokaké : dikon nyambut gawé abot; kayu garu : kayu wangi sajinis cendhana.

garudha : manuk bidho gedhe; manuk garudha : manuk titihané bethara wisnu; garudha mungkur : wanguné pepethan ing klat bau sandhangan wayang wong; garudha nglayang : gelaring baris.

gedheg : ngbahaké sirah tandha ora mathuk utawa nggumun; sigedheg lan sianthuk : wong-wong sing padha sekongkol. gegreg : jlentrehna artinya, rontog, badhol.

gembong : gegembong, gegedhug, jejenggul; macan gembong : macan lorek. gendheng : gendhing-ginendheng, tarik-tinarik, daya dinayan; nggendheng geret ceneng ceweng : genti genten menehi, tetulung genjah : nyimpang, sulaya; nggenjah budi : ora antepan, ora kena dipercaya; ngeping lara nggenjah pati : nemaha marang lara (pati). genjong : araning gendhing. gereng : nggereng nggenteng : ngajak njejaluk.

nggerong : nggerong, nambang mbarengi uniné gamelan; penggerong : wong sing nembang mbarengi uniné gamelan; gerong : arané waluh. get : ngeget-geti : jalari gawé kaget; ora get-geten : ora kagetan, ora gumunan. gethek : prau kang digawé saka kayu utawa debog sing ditali.

gebag : babag, meh padha; gebagan : grudugan. geder : udreg rame; gumeder : nyuwara rame. gedhah : kaca gedhah : kaca sing ora nganggo rasa; biru gedhah : biru enom. gedhang : pisang; kebang gedhang : araning lurik; gedhang pupus cindhe : kamelikan, kabegjan sing mokal kelakon; rubuh-rubuh gedhang : mung anut grubyug ora ngerti karepe; gedhang ayu : gedhang raja sing apik lan isih pepak kanggo sarat; gedhang salirang : omah sing mung saempyok.

gelar : nggelar, njereng, njembreng; alané gelar dening yekti : ora mung mandhek kabar nanging dinyatakake; wis sagelar sapapan :wis miranti (sumadya); kabeh sing gumelar ing bumi : kabeh sing ana ing bumi; nggelar pangawihan : nganakaké piwulang; gelaran : klasa; ing pagelaran jawi : ing paseban jawi. gelung : ukel, tatananing rambut sing diukel. gembala : gumbala, jenggot. gemblak : tukang gawé dandahan saka kuningan, gedul cilik.

gembring : tipis lan miniring; tembaga gembring : tembaga blebekan tipis; ora gembrong ora waring : miarat banget. gempal : cuwil gedhe; gempal atiné : entek pangarep-arepe. gempang : sirna, ilang, rusak. gemplung : suwung gemplung, suwung brung. gempung : rusak babar pisan; gempung atiné : mangkel, gemes. gemrayah : akèh banget. gemriming : resik gemriming, resik banget. genah : cetha, terang, tetela, tata; dheweké pancen ora ngenah : kurang ajar; wis genah wis pernah : anggoné jejodhohan wis kepeneran; nggenahake : mrenahake, nyatakake.

gendam : japa mantra; gendam pengasihan : japa mantra murih bisa disihi. gendra : rame amarga ana prekara sing gawé kaget. gendreh : apik sarta luwes, araning gendhing. genje : tetuwuhan sing gandané mendemi; mendem genje : gendheng. genjik : genjit, anak celeng. gedhewa : piranti kanggo nglepasaké panah; gendewa gadhing : candrané lengen sing becik; nggedhewa pinenthang : lengen sing sikute nekuk mlebu.

gendheng : rada edan, rada bodho, budheg. gedhila : rada edan, kurang ajar. gedhing : lelagoné gamelan, tukang gawé gamelan; pagendhingan : papané wong jlentrehna artinya amelan; angin gendhing : angin ing prabalinga; pupu gendhing jlentrehna artinya pupu menthong-enthonge. gendhulab : gedhulak-gendhutik, mangu-mangu, rangu-rangu. gendhung : gumendhung, adol gendhung, umuk, sumakean. gendhon : uret aren (salak); gedhon rukon : urip jejodhoan.

gendhang : kenthongan tandha ana maling; ora gendhang ora titir : ora wara-wara, ora kandha-kandha. geni : latu, sing murub nekakaké panas lan sorot; geni salah : geni tanpa sangkan; idu geni : sagunem-guneme jlentrehna artinya ngidak geni blubukan : nrajang pakewuh tanpa weweka; ora ana geni tanpa kukus : angger ana lelakon mesthi ana kabare; pati geni : nglakohi ora mangan, ora ngombe sarta ora metu saka senthong; geni cara : tapa mung mangan panganan mentah; geni raga : araning bakal lurik.

gentur : magentran, nyuwara gemludhug ambal-ambalan; gentur tapané : banter tapane. genthong : wadhah banyu saemper genuk; nggenthong umos : ora bisa nyimpen wadi. gepeng : sambel gepeng : sambel kacang tholo. gepok : nggepok, nyenggol, ndemok; gepok senggol : gandheng ceneng.

gerah : lara, gludhug, sumuk; gerah uyang : krasa lara panas sumer-sumer. gerang : wis gripis amarga lawas, wis tuwa; gerang gaplok jambul wancu : wis tuwa banget. germa : tukang mbeburu kewan, lurahing palanyahan. gerot : gumerot, nyuwara gerot-gerot; alas gerotan : alas sing akèh wit-witané gedhe; udan gegerotan : udan deres kaworan angin gedhe.

geseng : kobong, gosong amarga kobong; geseng atiné : susah atine getak : swara seru ngeget; ngetak wong angop : dhawuh sing ora nganggo antan-antan; getak gajah : tetuwuhan godhonge kena kanggo tamba. getap : gampang nesu, mutungan, gampang nggragap. getih : rah, ludira, marus; getih cinelung balung cinandhi : ana prakara raja pati; ngajak taker getih : wani nandhingi perang ; wani ing getih : kendel; wedi ing getih : jirih; tanah wutah getihe : tanah klarane; ora nggetihi : ora ndayani; getih mateng : getih ireng kenthel; getih urip : getih sing isih cuwer katon abang sumringah; getih putih : perangané getih sing werna putih.

gigrig : bodhol, suda; ora gigrig wuluné salamba : ora wedi, ora bakal mundur. gilang : gilap, sumorot; gilang-gilang : gumilang, sumorot, mawa cahya. gilap : resik mawa sorot; gemilap : sumorot gilap. gilar-gilar : katon resik padhang; gumilar : katon resik gilar-gilar. giling : ngiling, nggiles supaya metu banyuné utawa lebut; nyakra manggilingan : gilir gumanti. gilut : nggilut, marsudi, mamah kanthi suwe; digilut uler : dipangan uler.

ginda : ndhadhah, nujeti, ngurut. gindhala : tengara, tandha, titir. ginggang : renggang, benggang, pisah sethithik; nginggangaké : misahake, medhot; tan kena ginggang sarambut : ora bisa pisah. gingsir : mingset, owah, sumingkir; jlentrehna artinya bakal jlentrehna artinya : ora bakal sumingkir. girap : girap-girap, gundam-gundam, kuyam-kuyam.

giras : kesit, ringas, ora kena dicedhaki. giri : gunung, redi, ardi, girilaya; giri-giri : kesusu; digiri-giri : diweden-wedeni, diancam; kagiri-giri : nggegirisi, medeni; nggirekaké : ngiring. giris : wedi lan miris; girisa : arané tambang tengahan. gisik : pesisir. gita : gitaya, tembang, kidung; gita-gita : rerikatan, gegancangan, enggal-enggal; ginita : dianggit, dikarang; langen gita : araning gendhing ketawang gitik : gebug cilik.

githok : griwa, gulu ing buri sadhuwure cengel; ora ngilo githoké : ora ngelingi awaké dhewe. giwang : owah, gingsir, suweng; gumiwang : mleset; giwanging surga : lingsir; kagiwang : kepencut, ketarik, kedanan; giwangkara : diwangkara, srengenge. gladrah : nggaldrah, kakehan nyuwarehi tumraping wong sesorah; gladrahan : glasaran kanthi nandang tatu. gidri : gadri, emper ngarep.

gladhi : gladhen, ajar, sinau, nglelatih; panggladhi : pimpinan; gladhi resik : gladhen pungkasan sing ditindakaké wiwit lekasan nganti pungkasan. glaeng : ngglaeng, nggugu karepe dhewe. glagah : thethukulan sajinis tebu nanging luwih cilik atos ora enak, gagang kembang tebu. glagat : sasmita (tandha) bakal anané lelakon; tanggap ing glagat : ngerti yen bakal ana lelakon. glana : angluh, sedhih. glanuk : ngglanuk, ngglenuk, jenak banget. glanggang : kalangan utawa papan sing kanggo adu-adu; tinggal glanggang colong playu : ninggalaké pegaweyan sing durung rampung.

glarap : glarapan, glagapan. glathik : manuk sajinis emprit ulese biru enom; glathik sakurungan : wis padha nunggal karep; ngglathik mungup : mawa cucuk abang sethithik. glasah : ngglasah, padha sumeleh ing lemah, pating klemah; ngglasah kaya babadan pacing : akehing pepati (wong mati). glewa : glewa-glewa, bayi lemu waras-wiris. gleges : kambang tebu; glegas-gleges : ngguyu cilik. gledhem : gledham-gledhem, nyuwara lirih.

glendheh : lumaku alon sakepenake. glenik : glenik-glenik, guneman lirih. gleneh : ngglaneh, nganeh-anehi. glenes : ngglenes, lunga tanpa sabawa (pamitan). glidhig : ngglidhig, ora gelem meneng mung kumudu ngrerusak tumrap bocah; diglidhigake : diburuhake; glidhig-glidhig : gumlidhig, dalan gampang diambah. gligen : kayu wangun gilig piranti nenun; wesi gligen : wesi wangun gilig glinuk : glunak-glinuk, lemu lan wagu gliyak : gliyak-gliyak, nggliyak, nyambut gawé alon nanging tumandang terus.

glundhung : ngglundhung, nggluntung, gumlindhing. gluga : thethukulan sing kena kanggo cet abang; gluga salusur sari : wis becik diwuwuhi becik maneh. giudhug : gumuludhug, nyuwara gludhug-gludhug; kakehan gludhug kurang udan : akèh kesaguhané nanging ora ana nyatane.

giodhog : papan kanggo ngingu tawon. glonggong : gagange godhong kates, tetuwuhan sajinis glagah. gobab : goroh. gobog : taingan, kuping, kamo. gogor : anak macan. gogos : guget, tarung rame, perang rame. gobyog : nggejeg, nitir; kenthong gobyog : kenthong titir.

gobyos : gumobyos keringete. godhong : ron, taru, dhaun, inep cedhela (lawang); dadia godhong suthi nyuwek : wis emoh sapa aruh; lawas-lawas kawongan godhong : wong ngabdi lawas-lawas ora kanggo; ngandhut godhong jlentrehna artinya : omongané mencla-mencle. gombong : watu gombong, watu sing kropos; gedhe gombong : gedhe nanging ora rosa. gonah : ngerti (weruh) kalawan genah. gonas-ganes : wong wadon sing merak ati satindak-tanduke. gondar-gondir : tansah obah. gondhem : canthel. gonjang : gonjang-ganjing, tansah gonjing, nggolang-nggoling.

gondbang : taksu, telak, gorokan; gondhang kasih : anak loro sing ora padha pakulitané siji putih siji ireng. gones : wong wadon sing merak ati lan kenes. gonteng : rayap sing endhase gedhe; celeng gonteng : celeng cilik. gong : ngegong, nabuh gong; ngegongi : nabuh gong pas gendhiing suwuk, ngiyani omongané liyan; sagongan : wiwit jlentrehna artinya muni nganti tekan gong; gong lumaku ditabuh : wong sing njaluk (kumudu-kudu) dilakoni; gong muni sasele : mriksa wong sing pepadon lagi wong sing siji; gong bonjor : bumbung nganggo sebulan kanggo ngegongi gamelan angklung.

gopa : gopala, panjaga, pangon. gosa : gedhe, nggegirisi, medeni, emas, goraya. gorawa : ormat, ngejeni. goreh : ora tentrem, ora jenjem, ora jejeg. gosana : undhang, pawarta. gosita : pawarta, rembug, gunem. gotek : ujar, kandha; goteké : ujare, kandhane.

gotong : ngotong, nggowo bebarengan wong akèh; gotong mayit : lelungan ngambah dalan gawat mung wong telu; gotong jlentrehna artinya : tumabdang gawé bebarengan wong akèh. grabad : grabadan, bumbon lan kabutuhan pawon. grabah : piranti olah-olah sing digawé saka lemah. grad : geret-geretan kanggo masang baut, isih darahing ngaluhur. grageh : pucuking pang tetuwuhan mrambat; grageh-grageh : tangan grayak-grayak arep nyenyekel.

grago : urang cilik. graha : garwa, lintang, bojo. grahita : pangrahita, pangerti, panyaruwing batin. grama : geni; durung grama-grama : durung paja-paja. grameh : iwak sajinis sepat; nggrameh : nggarameh, murang tata, gramin : dagangan; gegramen : dedagangan; grami : dagang.

grana : irung. grandhaka : gora andhaka, bantheng galak. grantang : gamelan sajinis gambang; sambate kaya grantang : sesambat ngaru ara terus-terusan. grantii : pating grantil, gumeyong gantilan kaeh banget; emprit gantil : manuk sajinis emprit sabané bengi. grapyak : gapyak, seneng aruh-aruh. grawah : jurang grawah, jurang jero sing ana kaline.

grawira : senopati, lurahing prajurit. grenda : gurinda, watu pangasahan, kikis sisaning grenda = gaman. greteh : ora bosen-bosen anggoné nuturi; digretehi : dituturi kalawan tlaten.

gregret : grengseng kanthi gumreget arep tumandang; greget-greget suruh : kaya makantar-kantar arep jlentrehna artinya naging ora tegel; nggregetaké : ajalari gregeten; gregeten : alangkel banget; greget saut : grengseng anggoné tumandang.

grenjak : grenjek, grenjet, niat sing tekané dadakan. grenuk : pating grenuk, padha thethenguk omong-omongan. grengseng : gumreguting ati arep nindakaké apa-apa. grepak : grepok (gropak), rut-rutaning turun kaping wolu grigit : jamur.

grinting : arané suket. gringsing : araning bathikan. griwa : githok, cengel. gubah : langse, geber kanggo aling-aling; nggubah : ngarang, ngronce. gubug : omah cilik ana ing sawah kanggo tunggu; gubug penceng : araning lintang papat kang mangun pesagi menceng. gudel : anak kebo; kebo nusu gudel : Wong tuwa njaluk wulang marang wong enom; nggudel bingung : mung ela-elu baé, nikahaké temanten ora dietungi dhisik.

gudir : ager-ager sing wis diolah; gudir binendho : gampang banget. gudhe : wit wohé saemper kedhele digawé tempe utawa pelas. gugur : runtuh, jugrug, ambrol, batal; gugur gunung : nandangi gawean bebarengan karo wong akèh guha : guwa. guhya : winadi, gaib, sinamun. guyu : gujeng, wetuné rasa seneng sing kewetu ing tutuk; geguyon dadi tangisan : mauné mung sembranan dadi prekara gedhe.

gula : gendhis, memanis sing digawé saka kenthelaning kilang; ngalem legining gula : ngalem marang wong sugih (pinter); ngemut gula krasa legi : dipasrahi ngreksa apa-apa, bareng krasa enak banjur didhaku; semut marani gula : golek kamelikan ; ana gula ana semut : panggonan sing okeh rejekiné akèh wong sing padha mara; gula aren : gula sing digawé saka kilang aren; gula batu : gula tebu sing digawé prongkolan; gula drawa : gula jemek; gula jawa : gula sing digawé saka kilang klapa; gula geseng : gula jawa sing ropané abang ireng; gula pasir : gula tebu sing digawé lembut; gula klapa : gula lan krambil, warana abang lan pulih.

gulan : bedhengan, lemah diunthuk-unthuk arep ditanduri. gulang : nggegulang, ajar, nglelatih; gulang-gulang : prajurit sing kajibah jaga; gulang-gulung : tansah awor, tansah gulung.

gula wenthah : momong lan memuruki bocah. guling : turu, bantal gilig dawa, bronjong dawa diisi watu kanggo mbendung kali; gumuling : teturon gumlundhung, gumulung mubeng. gulung : nglundhung-ngglundhung ing lemah; ombak gegulungan : ombak sing katon kaya digulung; gulung koming : gulung mawali-wali, bingung banget.

guna : gina, paedah; gumuna : kuminter; nggunani : mangawe liyan sarana guna gawé; kagunan : kapinteran, kaluwihan; guna gawé : daya ngluwihi kodrat kanggo maeka liyan; guna kaya : pametuné wong magawe; gunawan : sugih kapinteran, pinter banget; gunah : genah, wis mangerti temenan.

gundam : gundam-gundam, bengok-bengok amarga kaget (gila). gundhu : thethukulan ing sawang sajinis wewehan; gumundha lemara : umur 0 umuran pan ngarepaké gumadhang.

gundhala : gundhala titir, kanthong titir, anting-anting. gundhul : ora ngingu rambut; alas gundhul : alas sing ditegori wit-witane; endhas gundhul dikepeti : wis kepenak dikepenakaké maneh. gunung : redi, ardi, hancala, prahala, giri, pepunthuk lemah sing gedhe lan dhuwur; sri gunung : rupa sing saka kadohan apik bareng dicedhaki ala; kerubuhan gunung : namu kasusahan gedhe; ketepan ngrangsang gunung : njangka prakara sing nglengkara; kejugrugan gunung meyan : namu kabegjan gedhe; ngontragaké gunung : wong asor (ringkih) bisa ngalahaké wong luhur (kuwasa); gunung geni : gunung kang ngetokaké kukus; gunung guntur : araning bakal lurik; gunung sepikul : wanguning ali-ali.

gupa : nggupa, ngupakara, ngopeni. gupala : reca gupala, reca panjaga gapura. gupita : anggitan, karangan, rumpakan. gupta : wadi, samar, ginupta, winadi, ginaib, gurawalan : gugup gita methukake. gurda : wit ringin. gurdi : unceg, bur. guru : dwija, wong sing mulang wurug ing pamulangan; maguru : nggeguru, golek kawruh kasampuman; digurokaké : disinaokaké marang guru, ditakokaké marang wongpinter; guru nglaras gamelan : dhasar nglaras gamelan; guru aleman : tansah golek alem; guru bakal : isih wujud bebakalan; guru dadi : wis wujud dadi sandhangan utawa pangan; guru dina : ala beciking dina; guru lagu : dhong-dhinging swaraing pungkasaning tembang.

guru nadi : guru; gurundala : manuk jinise manuk sriti. gutuk : balang, sawat; nggutuk api lamur : mialani liyan nuti api-api ora ngerti; nggutuk lor kena kidul : nyempni sawenehing wong ditibakaké wong liyane; gutuk api : granat, bom. guthaka : guwa, sumur. gutheng : ireng gutheng, ireng thuntheng, ireng banget.

guthul : celeng. H halep : endah, becik. haliman : gajah. haliwawar jlentrehna artinya prakara. haraka : kalung. harana : njupuk, nggawa. hari : dina, anga. harimong : macan. harina : kidang.

harsa : harsaya, harsuka, bungah, seneng. hawa nepsu : derengingati. hawani : bumi. her : banyu; hergeni : inten, mirah; hertali : hertambang, kali. helang : wulung. hina : ina, salju, mendhung. himalaya : gunung. I iba : iba-iba, saiba, bakal luwih; iba : gajah. ibah : paweweh. ibakara : ebakara, tlale. ibarat : pepindhan ngemut surasa piwulang; diibarataké : dipindhahaké kaya dene. ibengan : ubengan, kubeng. iben : idu iber : abur, nuber, mabur; layang iber-iber : layang kiriman; iber-iberan : bangsané kewan sing bisa mabur, ibing : idep, rambut jlentrehna artinya tlapukan; ngibing : njogedi tledhek.

ibra : ebra, wurung, ora dadi (tumraping prakara). ical : ilang, musna, sirna. icak : icek, idak; diicak-icak : diicek-icek, diidak-idak. icip : icip-icip, ngicipi, nyoba ngrasakake; diicipi : dikedhapi, dipunkedhapi, dicoba dirasakake; icir : wuwu dawa, piranti kanggo golek iwak; diicir-icir : diwetokaké saka sethitllik, diecer-ecer. icrit : diicirit-icrit, diincrit-incrit, diecer;-ecer.

icuk : diicuk-icuki, direrimuk supaya gelem tumindak ala, dibekucuki. idab : edab, gumun, eram. idah : wangenan sajroning satus dina tumraping wong pegatan; durung idah : durung kliwat satus dina. idep : rambut sapinggiring tlapukan; idep-idep : lawangan icir (telik). idi : idin, palilah saka panggedhe (wong tuwa); diidini : dililani, diparengake. idu : kecok, iben, banyuning cangkem; idu bacin : idu wayah esuk nalikané tangi turu; idu geni :apa sing dikandhakaké mesthi kelakon (digugu); idu didilat maneh : nyeled tembung sing wis kawetu; paidon : pakecohan, wadhah idu (dubang); idhep : rasaning ati, weruh, sumurup; idhep-idhep : kaya dene; midhep : mangerti; diidhepaké : diweruhake, dimangertekake.

idhum : edhum, aub, eyub. iga : balung wewilahan ragangané dhadha; iga landhung : iga dawa nganti tekan dhadha; iga wekas : iga cendhak sing ora tekan dhadha. igel : ngigel, merka, mekrokaké wulune, njoged. igir-igir : gegering gunung. igit : ngigit-igit, nesu banget, ngincim-incim. iguh : pratikel carané tumindak amrih apike; diiguhaké : ditindakaké kanthi pratikel supaya becik. ikhtiyar : setiyar, golek srana. ika : kae, punika; ora ika-iki : ora duwe rembug sing nyulayani.

ikayat : crita, layang crita. ikal : diikal, digulung kanthi diubet-ubetake; ngikal gada : ngobat-abitaké gada; ngikal basa : ngubed-ubedaké tembung amrih unggul anggoné pepadon. ikana : akanang, ikang, ika. iksamen : pandadaran kapinteran; diiksamen : didadar kapinterane.

iksu : tebu. ila-ila : pepacuh, wewaler. iladuni : ngelmu iladuni, ilmu gaib babagan pethek (weca). ilapat : ngalamat jlentrehna artinya anané lelakon. ilar : milar, nyirik, nyingkiri. ilat : lidhah; mati ilate : ora bisa ngrasakake; dawa ilate : seneng golek alem. iler : tetuwuhan sing godhonge kena kanggo tamba. ilmu : ngelmu, kawruh, sesurupan. ima : hima, imantaka, imalaya, mendhung. imba : alis, tetuwuhan godhonge kena kanggo tamba. imbar : diimbar, disumpah; ngrebi imbar supatané : wani netepi suoatane.

imbir : pinggir, tembing, bambing; diimbir-imbir : disuda saka sethithik, diwet-wet. imuk : diimuk-imuk, dibujuk, dirimuk. imul : ora duwe isin dhemen njejaluk imur : diimur, dilelipur, direrapu, dilipur. impi : jlentrehna artinya, supena; diimpi-impi : diangen-angen banget, diarep-arep banget; diimpekaké : katon sajroning ngimpi. impu : diimpu, diklumpukake. impur : sikil sing nyekekeh, dhengkule mlebu. ina : nistha, cacad, wuta; diina : diremehake, disepelekake; ina loka : padunungané wong ala; ina budi : bodho.

inah : wangenané wektu; diinahij : diwangeni wektune. indeng : saindenging jagat, salumahing jagat; diindengake : dilestarekake, dilangsungake. indung : biyung. indriya : driya, ati, karep. ingga : engga, saengga, inggane, nganti, kongsi. inggar : linggar enggar. inggita : solah tingkah, kelakuan. inggu : tetuwuhan sing ngetokaké blendok kena kanggo tamba. ingis : diingis-ingis, diengis-engis, diiwi-iwi, dicecamah amrih nepsu; diingisaké : dikatonake.

ingkud : diingkud, diciutake. ipak : ngipak-ipak, lembak-lembak, kambang-kambang. ipat-ipat : supata, pepacuh lan dikanteni supata; diipat-ipati : disupatani. jlentrehna artinya : seduluring bojo. ipil-ipil : keklumpuk saka sethithik. ipuk-ipuk : bakul barang rosokan, kranjang cilik kanggo masangi urang ing kali; dipuk-ipuk : diklumpukake, diunthuk-unthuk (tunarap lemah), didhedher ing pimihan, dirimuk, dibujuk. iradat : wiradat, pambudidaya. irawan : mendhung, mega, iri : diiri, dikon nandangi pegawean.

jlentrehna artinya : sairib, memperkaro; ngiribi : ngemperi kaya; angon iriban : ngulatake, mawas aten-aten sing arep dijak rembugan. irid : diirid, digeret karo mlaku,dieteraké menyang ing; irid-iridan : malku urut-urutan wong akèh. irim-irim : araning gendhing. irus : cidhuk jangan; ora mambu enthong irus : dudu sanak dudu kadaag. isarah : isarat, ngalamat, tandha; isarat : srana, sarat.

isbat : ibarat pepindhan ngelmu gaib. isin : lingsem, rasa rumangsa rikuh; isin ora isi : sing sapa isin era bakal oleh-olehan; diisin-isin : dipoyoki; digawé isin : dibukak wadine; isinan : gampang isin.

isis : krasa kepenak awaké jalaran kesiliran angin; ngisis : menyang jobo supaya kesiliran angin; ngisis siyung : ngetokaké siyung, nyekul lan namakaké gaman. iso : iwak ususe raja kaya. istingarah : prasasat meh, kena diarani yen. jlentrehna artinya : emper; diistha : dipetha kaya, diemper karo; isthaka : upama. isthi : esthi, karep, grenjeting karep.

iswara : ratu, bandara. ita : perlu, becik; ita-ita : ribut mloka-mlaku. itek-itek : blethok, lelethek. iti : mangkono kaya kang kasebut, titi tamat; itihasa : crita. itik : tuma; diitik-itik : digula wentah wiwit cilik; itikan : mata itik, bolongan benik; diitik-itiki : didokoki bolongan benik.

ithik-ithik : bola-bali lung teka. ithar-ithir : nggegawa saka sethithik. ithing : diithing-ithing, diething-ething; dieman : dilelithing, eman. iwat : diiwat, didhemeni lan dijak lunga. iwen : sakabehing kewan kang mawa swiwi. iwi : diiwi-iwi, disia-sia lan di cecengring. iwit : diiwit-iwit, diirit-irit olehe mangan. iwung : ngiwung, ngamuk, ngiwud. J jaba : jawi; abdi dalem njaba : abdi dalem sing kebawah kepatihan; njaban rangkah : wewengkon negara liya, manca negara; paseban njaba : paseban sing dipanggedheni patih.

jabang : bayi; jabang bayi : bayi sing nembe jlentrehna artinya jabangan : anak lele, jabrisan. jabirah : unthuking segara. jabung : blendok ireng kanggo lem ukiran; jabung kemalo : blendok wit sampang; jabung semut : blendok saka semut; dijabung : diraketaké nganggo jabung, diapusi; jinabung alus : diapusi kanthi alus.

jadham : jadhem, blendok wit ilat baya. jadhe : bethek, pethek, batang, badhe. jadhi : jedhi, kwali gedhe digawé saka tembaga. jadhug : gedhe rasa, gothot. jadhul : njegadul, peteng ilate. jae : empon-empon sing pedhes rasane; jaetun : tetuwuhan wit lan wohé kena kanggo minyak wangi. Jag : jag-jagan, lumaku ing amben, dlajigan ora tata. Jaga : jagi, rumeksa, nuggu; njagani : nyedhiyani, nyawisi; njagakake : ngendelake, mesthekake; jaga baya : polisi desa; jaga bela : singa negara, algojo; jaga karya : araning prajurit kraton surakarta; jaga kersa : punggawa polisi; jaga ratri : jaga bengi, jaga malem; jaga mungsuh : araning mathijaran; jaga praja : araning prajurit kraton surakarta; jaga pura : araning prajurit karton surakarta; jaga ripu : araning iwak kali; jaga runa : sedhiyan mbok menawa dibutuhake; jaga sura : araning prajurit kraton surakarta; jagawesthi : polisi; jaga satru : emper ngarep.

Jagat : bumi saisine, alam donya; jagat gedhe, jagat cilik : isbating donya karo badané manungsa; negara padhang jagate : negara ayem tentrem; rupak jagate : kentekan pasaban, kepaten pangupa jiwa; kaya jagat mung sagodhong kelor : isih bisa ngupa boga menyang ngendi-endi; jagat kamuksan : swarga; jagat karana : bethara guru; jagat nata : bethara guru; jagat pratengkah : bethara guru; jagat pramudita : kabungahaning jagat; jagat raya : donya, swarga lan neraka.

jangir : gadel lanang; njangir : mendongong. jagung : baga, tanduran palawija; prada jagung : prada kuning enom; saumur jagung : sedhela banget. jago : sawung, pitik lanang, wong sing diajokaké ing pilihan; jago adon : jago sing diedu; jago belehan : jago sing kanggo mung dibeleh; jago godhogan : wong jirih, wong becik; jago mlite : jago sing ora wani babon; jagoan : jago isih enom, tetironing jago. jagra : melek bengi. jaha : araning wit sing wohé kena kanggo pulas ireng.

jahanam : nraka, keparat. jahat : benthet, rengka, ala watake, culika, wog sing wis atu tumindak ala, wong sing nandang lara kumatan. jahidu : wong sing wis mungkur kadonyan. jahnawi : jenawi, janawi, bengawan, banyu, jahning. jail : seneng maeka liyan; jail mringkil : wong sing ala atine, jail methakil. jais : pesthi, takdir; kejais : wis pinesthi ing lelakone.

jaja : dhadha; jaja bang mawinga-winga : nepsu banget; jaja rumat : ngrungokaké warta nuli ditular-tularake. jajah : wis tau sumurup ngendi baé, akèh sesurupane; njajah : lelungan menyang ngendi-endi, mbawahaké wewengkon seje; ngrupak jajahaning rowang : nyahak panguripaning liyan.

jajal : coba; jajal-jajal : nyoba-nyoba, lagi wiwit ajar nindakake; jajal laknat : jajal lanat, setan, jajil. jajan : tetuku panganan; jajan pasar : tukon pasar, panganan tukon pasar; njajani : seneng jajan. jajang : pring. jaka : bocah lanang umur 17 taun mungguh sing durung rabi; jumaka : wayahe lagi jaka; jaka belek : araning lintang sing abang rupane; jaka blaro : araning manuk; jaka bolat : araning pari; jaka jebug : jaka tuwa; jaka kumala-kala : jaka cilik umurané 15 taun; jaka lara : jaka rara, bojo sing kawitan; jaka sawur : araning suket; jaka tuwa : araning manuk jinise bethet; jaka wuru : araning manuk jinising guwek.

jaksa : jeksa, juru ngadili prekara; jaksa pring sadhapur : jaksa sing isih sasedulur. jala : jambet, jaring singnganggo tampang, banyu; jala-jala : tali saka lulang kanggo menthang kelir wayang; jaladara : jaladha, jalanidhi, segara; jalantara : plumpung banyu sing ngliwati kalen (dalan); jalantarangga : ombak, alun; jalaga : wadhah. jalak : araning manuk; jlentrehna artinya jalak : kembang plasa; jalak mempan : nyambut gawé saka sethithik; jalak ampir : lelungan mampir-mampir; njalak jrinjing : candrané lakuné wong wadon; tunggang jalakan : githoking jaran (sapi); jalak ngare : dhapuring keris.

jalasa : linggih. jalen : bambu jalen, wilahan ing nam-naman. jali : tetuwuhan sajinis jagung; jali ketan : jali sing ora enak dipangan; jali watu : jali sing atos lari ora enak dipangan; njali : njiling, njalu mata; impen jali : impen sasmitaning pangeran. Jalidra : wong asor. Jalidri : kangkung dharatan. jaliger : araning iwak loh. Jaling : balung saburiné pilingan; jolang-jalingan : balung thothok ndhas kutuk.

Jalir : bedhangan. lalirih : thukulan lempuyang. Jalu : balung nyongat lancip ing cakar jago; njathak jalu watu : nunggoni nganti njegrus; jalu godhog : kapal jlentrehna artinya lancip; jalu lepek : jalusing papak; jalu mampang : aramng tetuwuhan bangsaning simbar menjangan. njaluk : nedha, nyuwun, mundhut; jalukan ora wewehan : gelem njaluk ora gelem genti menehi. jalan : wilah gapite went (atep). jamak : lumrah, kaprah; ora jamak : ora lumrah; wis jamaké : wis lumrahe; kejamak : kaprah ing akèh.

jamala : njamala, njemalani, nggitik, nggebug, nyerikake. jaman : wektu, mangsa sing suwe; dhekjamané : ing nalikane; ora jaman, ora makam : ora miturut kalumrahaning ngakeh, ora karuwan asal-usule. jambak : njambak, nguwel lan nyendhal rambut; jumambak manak, jumebeng meteng : kerep manak. jambal : daging kecampuran gajih, soga jarit pekalongan. jambangan : jembangan, jambaran. jambe : wohan, wohé pucang; sedulur jambe suruh : dudu sedulur nanging wis manjang dadi sedulur; kaya jambe sinigar : padha rupane; jamblang : woh dhuwet, araning bathikan jambu : jambet, araning woh.

jambuka : asu ajag. jambul : rambut moprok (mekrok) ing bun-bunan; kongsi jambul wanen : nganti tuwa banget. jambar : cambar, cacipuran. jamhur : pinunjul ing kawruh. jamu : jampi, loloh, tamba sing asale saka tetuwuhan; jejamu : migunanaké jamu. njamoni : namakejamu; mutah jamuné pepe : wonglanang sing ilang dayane. jamuga : jlentrehna artinya, kedadeyane. jamur : tetuwuhan tanpa godhong uripe migunanaké jasate barang liya; jamur tuwuh ing waton : sawenehing prekara kang mokal kelakone; arep jamure emoh watange : gelem kepenaké emoh rekasane; njamur : jamuren, tetuwuhan jamur.

jampang : araning suket rawa; njampangi : ngreksa saka kadohan; jejampangan : brandon dedagangan kanthi sesidheman. jampeng : budheg. jamprah : jamprak, wulu buntut sing dawa lan ketel. jamprit : gagah lan bregas. jamprong : jlamprong. jamrut : jamurut, watu inten warna ijo. janah : genah, terang, cetha. janaloka : janapada, jagat, panggonané menungsa.

janapriya : kajanapriya, misuwur, kondhang kaloka, ditresnani. jandika. : jengandika, panjenengan, andika. janjan : janjan kuning, ulese jaran kang rupané semu kuning. janji : jangji, prajanji, saguh arep netepi, kasaguhan; janjiné : anggere, watone, kasaguhane; tumeka ing janji : tekan wektu kasaguhane, mati.

janjras : rupa lan pawakan sarwa apik. jandhuma : jandhoma, jadhum, jagongan lungguh omong-omongan. jandhon : kalah nanging ora gelem mlayu, nglurug omong-omongan. jani : ujani, wejani, opah marang dhukun. janma : jalma, wong, manungsa; janma tak kena ingina : wong ora kena disepelekake; bisa tata janma : bisa guneman sacaraning manungsa; janma mati murka : nemu cilaka merga kamurkané dhewe; janma mara janma mati : wingit banget, ora kena diambah; majanma : nitis dadi manungsa.

jantaka : cilaka. jantar : jangkar, benthet, rengka. janten : jaro, eyub-eyub ing prau cilik. janti : araning tetuwuhan; kembang janti : araning ules jaran. janget : tali sing digawé lulang; kaya janget kinatelan : sentosa banget. jangga : gulu, gadhung. janggal : banggal, wangkal, ora nurutan. janggama : ngaurip, dhateng urip.

janggan : jejanggan, cantriké pendhita. janggar : jago cilik, jagoan. janggelan : araning suket. janggel : aten-aten jagung ontongan; janggelan : kalung buntut jaran. jangget : njangget, kraket, nemplek. Janggitan : araning memedi, dhemit. janggleng : wohjati; njangleng : ndedeleng kanthi ora obah-obah. janggut : kethikan, uwang sing ngisor; asaku jaja ateken janggut : nglari saweneh direwangi nganti tekan ngendi-endi.

janggol : kuli pancen ing kalurahan, wong sing wajib nyambut gawé gugur gunung. janggreng : njanggreng, njenggereng, katon gedhe, piranti kanggo gawé gambar wangun cakra (bunder), piranti kanggo ngrajang tembako, sedya, pangarah, pepesthining lelakon.

jangka : woh kapuk, jamang wangun wulan tumanggal. jlentrehna artinya : wesi cawangan kanggo nyencang kapal yen labuh; mbuwang jangkar : kapal labuh; bedhol jangkar : kapal mangkat ninggalaké pelabuhan. jangkar : araning manuk sajinis wulung, pawakan lencir, araning dhapur keris; njangkungi : njampangi, memanuki, ngreksa saka kadohan.

jangkung : kewan sajinis gangsir uripe ana sawah utawa tegalan; kaya jangkrik mambu kili : muring banget nganti waringuten; jangkrik genggong : araning gendhing. jangkrik : ora anteban, ora tlatenan, kewan raja kaya sing seneng mbladhak mangan tetanduran. jangla : benthet, rengka, enggal pisah anggoné memitran. janglar : njanggleng, mendongong. janggleng : njanguk, njinguk, thethenguk nganggur. janguk : njangur, njanggung, ngrakit balungan omah sadurunge diedekake, ngadeg njegreg. jangur : japi, mantra, rapal, donga; dijapani : didongani.

japana : godhong kanggo tamba entup-entupan. jara : tuwa, bur (unceg). jarak : tetuwuhan sing wohé kena digawé lenga; tunggal jarak mrajak, tunggal jati mati : turuné wong cilik dadi gedhe, turuné wong luhur dadi asor; ora karuwan jaraké : ora cetha alurané sedulur; entek jaraké : entek kasugihane; mati jaraké : mampet rejekine, turuné pada dadi wong cilik jaran : kapal, titihan, kuda, turangga; jaran kerubuhan empyak : kanji jalaran wis stu ngalami sangsara; kaya nunggang jaran ebek-ebekan : seneng banget; omah saduwuring jaran : ngraman; jejaranan : nunggang jaran; rarabi : udan ing wayah sore; jaran kepang : tetironing jaran sing digawé saka kepang; jaran panoleh : aji sing marakaké sugih.

jarat : kubur; jaratan : kuburan. jari : jariji, jarijwi, driji. jaring : piranti kanggo njaring iwak (manuk); jaringan : jeroan, usus. jarit : jarik, sinjang, nyamping; jarit lungset ing sampiran : kapinteran sing ora dipigunakaké mesthi ilang; jarit ciyut : slendhang, kemben.

jarnih : bening. jaroh : jaruh, wis wanuh banget; njarohi : ngrigeni. jasmani : jarwi, keterangan tegesing tembung kawi; layang jarwan : layang nganggo basa jawa lumrah; matur sajarwa : matur sabares; jarwa dhosok : jarwa suta, cambaran. jata : awak, badan, wadhag. jatarupa : geni. jati : emas. jatmika : sajati, sanyata, tulen, satemene; dijateni : diblakakne, dikandhani sanyatane; jati : jatos, wit sing kayuné kanggo dandanan; jati ketlusuba luyung : kelebon telik sandi, kebecikan sing kelebon piala; jati ngarang : naga sing rumeksa keblat (tumraping kapitayan).

jatu : kelakuan sing nengenaké tata trepsila. karma : jatukrama, jatukrami, bojo. jatha : rambut, siyung; pari jatha : cengkoké tembang sinom. jathadara : mertapa, mati raga. jawa : juwawut, jawi; durung jawa : durung ngerti genahe; ora ngerti jawané : ora ngerti karepe. jawal : rada edan, kurang ajar. Jawan : araning suket, rerengganing mendhak keris; kejawen : cara jawa.

Jejer : lelarikan jentrek-jentrek; jejer wayang : jejer kaya wayang disimping. Jegeg : gumun; njegeg : nggumunake. Jenggot : gumbala, rambut ing janggut; sambel jenggot : sambel krambil parutan; jenggot wesi : araning tetuwuhan.

jengke : mangkel sarta gregeten, nepsu, muring. jebeng : panyebut marang bocah. jebeng : gombyok lawe; lawung jebeng : tumbak nganggo gombyok. jedhidhig : rambut sing ora kopen, kembang mlandhingan.

jedhung : araning uler sajinis uler keket. jekining : njekining, apik lan resik; kuning njekining : kuning resik. jemala : gitik, gebug; dijemalani : digebug. jemamut : ora ana wong njemamut : ora ana wong sing ngetok. jembrang : abang njembrang, abang mbranang. jembrung : njembrung, reged akèh uwuhe utawa kethukulan suket. jlentrehna artinya : jatmika, tata susila, tata krama. jeminul : njeminul, minal-nunul, melar mingkup; jeminul kaya kenul : ndableg.

jemuk : njemuk, njukuk, njupuk. jemun : esuk jemun, esuk umun-umun, esuk uthuk-uthuk. jempalik : njempalik, malik, tiba sing ngisor dadai ana nduwur; jempalikan : mbalik-mbalik; direwangi nungsang njempalik : dilabuhi kanthi rekasa banget. jempana : joli, kremun, tandhu gedhe wujud omah-omahan.

jemparing : panah, warastra, jemperak : njemperak, ayu sarta sarwa apik pacakane. jempina : woh bangsané suweg, bayi lair durung mangsane. jempling : njempling, njerit; lombok jempling : lombok jemprit, lombok rawit.

jempo : jompo, tuwa banget lan seheng. jenak : tiaten, krasan. jenang : bubur; jenang dodol tiba ing wedhi : rembug wis banjur ana sing ngrerebedi. jenar : kuning. jenjem : ayem lan tentrem ora kakeyan mikir. jenu : arané wit sing oyote mawa racun; jenu tawa : tungkul. jentung : njentung, njetung, getun, thenger-thenger amarga kecuwan.

jenthik : driji sing cilik dhewe; njenthik : njaluk sethithik. jenthu : jenthut, pawakan kiyeng lan lemu. ranap : ngranapi, ngalami, wis tau nglakoni. jenger : njenger, kaget, dheleg-dheleg amarga gumun. jenggeret nong : kewan sajinis gareng pong. jenggul : jejenggul, gegedhug, sing pinunjul dhewe. jenguleng : pating jenguleng, ombak gegulungan.

jengkelang : njengkelang, tiba kejengkang, jomplang. jengku : dhengkul. jengongok : njengongok, ndengongok, guluné nglangak arep ngungak. jepaplem : njepaplem, njeplem, linggih mung meneng baé,ora melu-melu. jepilih : putih jepilih, putih semu reged. jepluk : njepluk, pokah, ceklek; sakesuk njepluk : sekesuk jepruk; sakesuk njeput : sasuwené wayah esuk. jepun : jepang; dluwang jepun : dluwang kanggo layangan; pitik jepun : pitik sing wuluné lembut-lembut; tembako jepun : tembako sing rajangané lembut-lembut.

jeprak : kembang jagung sing kembang lanang. jeram : jeruk. jerang : larangan, wewaler. jering : jengkol. jero : lebet; swarané jero : lirih lan rekasa; ditampa jero : ditampa tandhes batin; pari jero : pan sing awohe suwe; nandur pan jero : weweh sing ora ngarep-arep wewales; mikul dhuwur mendhem jero : gawé kuncarané wong tuwa; tinggal tapak jero : mblenjani janji (kesaguhan); ngelmuné jero tapak meri : kapinterané mung sethithik; jeroan : sing ana ing weteng, watak, aten-aten.

jibah : dijibahake, diwajibake, dipasrahi kewajiban; kejibah : kepapah, kepokok, kewajiban. Jibar-jibur : adus kanthi nyidhuk banyu sasenenge, nanjakaké dhuwit sasenenge, ora nganggo dietung-etung. Jibeg : jlentrehna artinya banget, judheg, susah banget, Jiber : congor babi.

Jibles : jebles, plek kaya, rupané padha plek. Jibung : jibungan, jadhuman, kekumpulan, bathon. Jidik : jidikan, gemblakan. Jidhar : digarisi tandha pangedum; jidharan : wis ana tandha pangedume.

Jedhur : jedhor, tambur gedhe. jiglok : rigol, gigol, runtah, tiba, jigol. jeguh : pakewuh, mawang, sangga runggi; dijiguhaké : dieguhake. jigung : njigung, njegung, nyrimpet; kejigung : kesrimpet. jigur : ampas wedang kopi; dijigur : diejogi. jigrang : bebed (sarung) sing kedhuwuren, kathok (lengenan klambi) sing kecendhaken; njigrang : nggluyur, ngluyur.

jiha : atma, yitma, nyawa, jiwa. jihma : cidra, goroh. jihnaga : taksaka, sawer, ula. jihmayuda : perang cidra, perang culika.

jihwa : ilat. jikik : dijikik, dijikat, dijikuk, dijikut, dijupuk. jilep : anyep njilep, anyep njejet. jim : bangsané alus sing duwe bebuden kaya manungsa; kajiman : alaming jim; kejiman : kesurupan jim. jimak : jamah; dijimak : dijamah, didemok, digepok, disenggol.

jimat : barang-barang sing dianggep duwe daya ngungkuli kodrat. jimakir : taun kawolu sajroning windu. jimawal : taun katelu sajroning windu. jimbit : jembit, kapok, jinja.

jimbun : pikun, tuwa banget, jompo. jimleng : meneng jimleng, meneng tanpa cemuwit. jimur : truma jimur : araning ula mandi. jimpe : ora daya tumrap tangan.

jimpo : gempo, kacu. jimrah : kaprah, lumrah ing akèh. jinada : tikus. jinah : sajinah, sepuluh; jinah kethek : kethekan. jinak : lulut. jinem : anteng, jatmika, samun; kajineman : polisi kapetengan, jlentrehna artinya sandi. jingga : jingga loka, abang tuwa; mirong akampuh jingga : mbalela, ngraman. jipang : araning woh sajinis jlentrehna artinya, panganan sing digawé saka brondong beras. jirak : araning tetuwuhan, araning dolanan nganggo kecik.

jirat : njirat, nggrejak ngetung-etung; raja kaya : kewan ingon-ingon sing bisa ngetokaké kaya. jiring : nglingir; njiring : ngiris, nyigar, ngedegake. jirna : ringkih, sekteg, rusak.

jitah : nanah. jiwa : nyawa, sukma, wong; anglong jiwa : pucet merga sedhih; lali jiwa : arané pelem; sudak jiwa : nglalu; padu jiwa dikenthongi : wong pinter padu; jiwaga : pucuking ilat; jiwana : urip; jiwandana : araning tembang gedhe, arané elar baris; jiwang : siji ewang, siji edhang; jiwangga : jiwa lan angga, jiwa raga; jiwaretna : arané tembang gedhe; jiwatma : jiwa lan atma, jiwita, urip lan sukma. jlaburan : jaburan, pacitan. jladren : jur-juran glepung arep digawé panganan.

jlajat : ngalamat bakal anané kacilakan, drajat, pangkat. jlagra : riyak, tukang natah watu. jlamprah : buntut dawa akèh wulune. jlamprang : kembang cepaka alasan. jlaprong : buntut merak, anak sing pethingan.

jlanah : njlanah, ngembrah ing ngendi-endi ana. jlantah : lenga jlantah : lenga sing wis kanggo nggoreng; kayu jlantah : areng; dadi jlantah : uripe dadi rekasa. jlaprat jlentrehna artinya njlaprat, crapang tumrap brengos. jlarang : bajing gedhe. jlarat : njlarat, njlonet. jlebrah : njlebrah, katon gedhe; timang jlebrah : timang direngga inten. Jlegor : godhong tela. jlembrak : pating jlembrak, pating krembyak, katon rambute dawa. Jlentreh : andharan sing rawa lan terang; dijlentrehake : diterangake.

Jlekethek : njlekethek, gampang banget ketemu. Jligur : jigur, ampas wedang kopi. Jlimet : njlimet, namataké klawan tliti banget. Jlinggring : njlinggring, katon dhuwur amarga dawa sikile. Jlitheng : ireng gelap. Jlomprong : njlomprongake, mblasukake, nyasarake; kejlomprong : keblasuk, kesasar, kapusan.

joblig jlentrehna artinya bangsat. jojo : araning tetuwuhan; jojo-jojo : coba-coba, idar-ider. jojoh : barang dawa lancip dianggo nyogok; dijojoh : dicocog nganggo jojoh; dijojoh ing ujar : disosok ing ujar, diujar-ujari, disrengeni. jodhang : wadhah saka kayu wangun pesagi biyen kanggo wadhah pangan saiki kanggo wadhah piring.

jodheh : ora pimpen anggoné nyimpen wadi; njodhehi : njodheri, ngonangi. jodhag : dhingklik cilik, ajug-ajug diyan. jog : anjog, ngganepi sing kurang; ngjogi : muwuhi apa-apa sing kurang; kajog : kacuwan, kagelan, mauné sugih dadi mlarat. jogi : tempaos, caos. joglo : wangun omah nganggo saka guru, brunjung lan tumpang.

jokal : araning lintang. jola : njola, njumbul amarga kaget, njomblak. jolen : joli, bangsané tandhu, kremun. jombor : jombok, jejembukan; suket jombor : suket sing urip ing jejembekan. jorang : jejarangan, sembranan. jorna : togna, jama, kareben. jorang : dijorangake, dijongarake.

jrabang : ules jangkrik warna abang. jragem : dragem, araning ules jaran. jrum : pitenah, paeka; anjrum : mitenah, maeka. jubriya : ujubriya, kibir, umuk. jujul : susuk dhuwit turahané mbayar, kedawan sing diwadhahi ketimbang wadhahe; njujul : nusul.

juwara : misuwur, kondhang, kaloka. K kaalpan : weya, sambrana, remeh. kaarsayan : kabungahan. laba-laba : sumelang, kawatir, ora tumemen. kabandaran : pabeyan, kampung ing pelabuhan.

kabelan : karem rasaning pangan. kabebakan : kabubukan, kabregan, kabagan, kepopoh. pruput : dipruput, ditekani (ditindakake) wayah esuk banget.

kabiyas : kabyas, kabuncang ing angin, katut ing angin. kabir : alam kabir, alam donya, alam kang kena ing pati. kablak : kekablak, ngebed-ngebedaké swiwi; dikablaki : ditantang. kableg jlentrehna artinya ketandheg akèh, ketambel akèh.

kablilan : kacublukan, kabodhon. kablong : keyok, keblong, kalah. kabubuhan : kabebakan, dibubuhi, dikudokaké nyangkul (nandangi). kabudayan : wadhar ing nalar lan pambudi nuwuhaké kagunan, kaendahan lan yeyasan.

kabuk : buk, ora bathi ora rugi. kabali : kebuli, gebuli, sega waduk. kabur : katut ing angin, ilang, muspra. kabong : wis tumek banget, wis jeleh banget. kaca : gedhah; kaca pangilon : kaca kanggo ngilo; kaca suryakantha : kaca kanggo nonton barang-barang sing lembut; kaca praksana : keker, mikroskop; kaca tingal : kaca mripat; kaca benggala : kaca pangilon gedhe, tuladha, conto (Altar); kaca buku : rai buku.

kacakan : kambah, kesrambah. kacang : tanduran sing awiji wigar; kacang mangsa tinggal lanjaran : wataké anak lumrahe turun wataké wong tuwane; dikacang : ditanduri kacang. Kacapa : bulus. kacapi : kecapi, siter. kacapuri : cepuri, pager bata. kacelung : kembang dhadhap, gendhon pring. kacipuhan : rada kagetan, rada pakewuh. kacor : sambuk, pecut, cemeti. kad : wates, wangenan; luwih saka ing kad : luwih saka ngekad, kaluwih-luwih.

kadanan : didanani, kepotangan kabecikan. kadang : sedulur, sanak; kadang katut : olehe dadi sedulur amarga sedulure dipek bojo; kadang konang : sing diaku sedulur mung sing sugih baé; kadang kadeyan : sanak sedulur; oleh kadang ing tingal : oleh bocah wadon kang dadi panujuning ati.

kadarbe : kadarbeh, kaduwe, wis diduweni, kadarman : kabecikan, panggawe becik. kadarpa : diwaning sih (bathara kamajaya), katresnan, kapengin. kade : kadi, kembang aren (manggar aren). kadek : kadi saka ing; kadekna : kadekneya, layak, pantes. kaden : jarit emban-emban. kadewatan : kadewan, jamané para dewa, panggonané para dewa.

kadereng : adreng banget, kaselak. kaderesan : kagrujugan. kadga jlentrehna artinya curiga, dhuwung, dhuhung, keris, suduk. kadagda : trengginas, rerikatan, gegancangan. kadi : badek; gula kadi : gula arto. kadibyan : kaluwihan, kasekten. kadigdayan : kaluwihan ing babagan perang. kadingalem : rada keladuk tindak tanduke, kadiparan : kepriye, kados pundi, geneya, kadi pundi.

kadiran : kibir, umuk, sumungah, sesongaran. kaduk : keladuk, kakehan, kaluwihan; kaduk ari bela tampa : salah tampa; kaduk wani kurang deduga : kumawani pra nganggo dipikir. kaduluran : kasembadan, kelakon, ketekan. kadung : cupet, tuna, ora kasembadan, durung marem.

kadut : bagor sing digawé saka agel. kadresan : kabluberan, kagrujugan, ablabah. kaelingan : kaengetan, kaelingan, kelingan. kaelokan : pangeram-eram. kaesi-esi : dicecamah, disiya-siya, diwirang-wirangake. kaet : lengket, raket banget, kenal banget. kaga : kukila, peksi, manuk. kagendra : kageswara, ratuning manuk. kaget : kagyat, rasaning ari kang owah dadakan; dikagetaké : digawé kaget; kaget sangkete : bangkekané kaku dadakan.

kagila-gila : kagiri-giri, keluwih-luwih. kagol : kandheg, ora bisa tutug, kepalang; kagol atiné : ora keturutan karepe.

kahabalang : kabuncang, kesingsal, kontal. kahantu : kantu, klenger, semaput. kahyun : kayun, karep, sedya, pangarep-arep, kailangan : kaicalan, kelangan, kecalan. kaindhakan : kawuwuhan, katambahan. prasasta : pinuji, dialembana, kait : sekait, wis sarembug nedya tumindak ala; kait cilik : kawit cilik, wiwit cilik.

kak : kakiki, nyata, wewenang, hak. kaka : raka, kakang, manuk gagak. kakal : atos kiyal tumraping daging; kakal-kakalan : padu eyel-eyelan. kakang : raka, sedulur lanang sing kepernsih tuwa; kakang embok : mbakyu kakap : arané iwak segara.

kakas : akas, atos. kakek moyang : embah lan embah buyut; kaken-kaken ninen-ninen : nganti tuwa banget anggoné jejodhoan. kaken : kaku; kakenan : kena ing. kaki : eyang kakung, mbah lanang. kala : pasangan kanggo nyekel manuk; dikala : dipasangi kala, dijiret; kalajengking : kewan entup-entupan; kala-kala : sok-sok, ora ajeg; kala bendu : bebendu, wewelak; kala desa : wektu kang prayoga; ngaladesa : nangguh wektu sing becik; kala duta : ngalamat ala; kalajana : wong ala; kalanjana : araning suket; kalkatha : yuyu, kepithing; kala lawang : kala pracik, kala rerentengan; kala mangga : kemangga; kala mangsa : kala-kala, sok-sok; kala menje : kewan sajinis coro nanging cilik; kala menjing : pungkasaning gurung sing katon nyendhal ing gulu; kala mentasan : teyenge keris; kala mudheng : petung carané nyekel maling; kalamtara : kemlandhingan; kalana : buta, wong alasan; kalandara : srengenge.

kalang : dikalang, dikepung, dikupengi; kalangan : papan kanggo adu-adu, bunderan kang ngubengi rembulan, dara mabur balapan, kepalangan; kalang kabut : kisruh ora karu-karuan.

kalap : digondhol lelembut ing papan sing angker, jlentrehna artinya ana ing kali utawa segara, dialap (dijupuk) gawene. kalapi : manuk merak. kalar : tampar, dhadhung; dikalar : diulur terus tampare, diuja sakatoke, bojo sing ora dipegat. kalas : kalas-kalas, lamat-lamat, tipis banget, sethithik; getih kalas : getih kang reget (getih nipas).

kalbu : ati, wardaya, nala, driya, manah, galih, tyas, panggalih, prana. kaldhu : kaldu, duduh iwak. kalik : janggelan, kasaguhan sing durung cetha isih nganggo prajanji. kalenan : weya, kurang prayitna, sembrana. kalesa : cacad, ciri, reged, cecamah.

kalengkan : inten; kalengkaning jlentrehna artinya : intening jagat. kalenglengan : kasmaran, kedanan, kepencut. kalimengan : jlentrehna artinya, kesaput ing pepeteng. kalimputan : kelalen, lali, kaling-kalingan pandelenge, ketutupan hawa nepsu.

kalindhih : kasoran, kalah. kalintang : kalintang-lintang, kaluwih-lugvih. kalingan : ketutupan, kalimputan; kalinganea : baya apa wigatine. kalingga murda : dipundhi-pundhi, ditampani kanthi urmat. kalingga warsa : kadalu warsa, wis lungse banget. kalingseman : kisinan, kewirangan. kalipah : kalipat, wakil, sesulih, penggedbening praja ngiras penggedhening agama islam; kalipatullah : sesulihing allah. kalir : sakalir, kabeh; sakalire : sakuwasane, sabisane; kaliren : keluwen, ngelih banget.

kalis : ora bisa teles, ora bisa campur, ora bisa tumma, ora bisa ketaman. kalok : kaloka, kondhang, misuwur. kaloren : ndhredheg, buyuten. kalot : tansah sangsara, tansah cilaka. kalpa : jaman; kalpa sastra : buku primbon; kalpataru : tandha pakurmatan saka negara tumrap wong sing kasil nglestarekaké wewengkon. kalpija : lambe.

kalpika : sesupe, ali-ali; porajana : kawulaning negara. kalwat : kluwat, jogangan kubur. kama : katresnan, wijining kakung; kamayan : aji ngetokaké kasekten; kamayaran : sudaning kagelan.

kamal : endhog diasin, kamalagi, asem; kamalalya : kesengsem, kedanan; kamandaka : tetembungan ngayawara; kamadalu : klenthing, jin; kamanungsan : sipate manungsa, konangan wong; kamantyan : banget, kaluwih-luwih; kamangkara : nglengkara, mokal; kamari : rembulan. kambang : kambang-kambang, kumambang, kemampul ing banyu; tresnané kambang-kambang : isih rangu-rangu durung mantep; kambangan : bebek. kambuh : angot maneh larane, kumat maneh tumindak sing ala.

kambon : kena ing ambu; ora kambon upa : ora mangan apa-apa. kamelikan : pepenginan arep nduweni. kamena : sadurunge. kamenangan : anggoné ngedum ana salah siji sing diluwhi akehe.

kamenyangan : kemayangan, begja banget. kami : aku kabeh; kamibacahen : kapilare, solah tingkahe kaya bocah; kamidelepen : lunga terus ora mulih-mulih; kamijara : sere; kamijijen : jijik banget; kamigigilen : ndhredheg banget; kamigila : gila banget; kamikakon : kebacut kaku; kamikekelen : kekel banget; kamilegan : kamilegen, kuwaregen; kamiluluten : lulut banget marang; kamilurusen : saya ngenes; kamipurun : kumawani; kamisandhanen : mrongkol ing susu; kamisasaten : mentheleng banget; kamiseselen : kamisiseten, padha siset kulite; kamisepuh : kami tuwa, sing dituwakake; kamisesegen : kesuwen olehe nangis nganti mingseg-mingseg; kamisosolen : groyok banget omongane; kamitegan : tega banget; kamitontonen : tansah katon ing pangangen-angen; kamiwelasen : welas banget.

kamla : amla, kecut. kamuk : diamuk; kamuka : sengsem; kamukten : enak kepenaké ngaurip. kamulan : asal, wiwitan, mula buka. kamulyan : kaluhuran. kamuratan : entek-entekan babar pisan. kamus jlentrehna artinya epek. kamodhitan : nandhang sedhih, kesusahan; kamoksan : oncat mring alam langgeng sajiwa ragane.

kampah : wadhung gedhe, grayak, garong. kampek : kajang, bantal; lumbung kampek : lumbung cilik. kamper : kapur barus. kampiyum : bregas, becik dhewe, pinunjul. kampil : kanthong sing digawé saka mendhong. kampita : oyag, oreg, kaget, kuwatir, susah. kampuh : kalah, kasoran, kalindhih, dodot. kampyak : katut diampyak-ampyak, dhompo.

kanaka : emas, kuku. kanang : ingkang, sing. kanca : rowang, mitra, rencang. kancana : emas, rukmi, rukma, hera. kancihan : diencihi, diambah, disurupi dhemit. kancil : kidang cilik; kancilen : ora bisa turu-turu. kancing : sindik, benik; kekancingan : layang katetapan saka panggedhe. kandara : ecis. kandarpa : katresnan, sih, sengsem.

kandel : kandel kanthonge, akèh dhuwite; kandel imané : teguh ngantebi agama; kandel kulite : kandel kupinge, ora rumangsan, ora duwe isin; kandelan : pendhok. kandonan : temahane, wusanane. kandri : arané wit. kanjar : kenjer, mukanjar, golok. kanjat : luwung, lumayan; ora kanjat : ora pati kuwat. kanji : wis ora wani maneh, kapok; pepindhan : tetiron.

kanjo : mogol, ora dadi. kandha : criyos, ngendika, ngomong, clathu, guneman; dikandha : digunem, dicatur; dikandhani : diwenehi weruh, dituturi. kandhah : kendhih, kalindhih, kasoran, kalah, kandhap. kandhang : omah (papan) kanggo kewan ingon-ingon; kandhang langit kemul mega : wong kang ora duwe jlentrehna artinya dunung. kandhas : nggepok dhasaring banyu, wis kentekan dhuwit (bandha). kandheg : kepeksa mandheg. kandhil : diyan, senthir, lampu, dilah, damar.

kandhohan : kandhukan, kemotan, kepetel; kandhuhan brangsa : kesengsem, kedanan. kandhut : dikandhut, digembol, disimpen, direndhem jroning ati; ngandhut : mbobot, meteng; kandhutan : apa-apa sing dikandhut, apa-apa sing disimpen. kaniaya : tindak sawenang-wenang, jlentrehna artinya. kanigara : kaniganten; kuluk kanigara : kuluk ireng mawa plisir emas. kanindhitan : kaluwihan; nindhita : linuwih. kanistha : kanisthan, asor, remeh. kanohan : kabegjan.

kantaka : kapidhara, klenger, semaput. kantar : makantar-kantar, murub mubyar-mubyar, grengsenge kuwat banget; kantaran bau : adu kaprigelan, mrawasa kanthi bau. kante : lawe, benang. kanten : kantos, sranta, bisa nyabarake.

kanteb : tiba kanthi bokonge dhisik sing natap lemah, nemahi cilaka kasusahan banget. kanten : kali; kantenan : karuhan. kanti : kantos, sranta, sabar, cahya, sorot, ujwala. kantu : kentekan awit tekané sing anyar, klenger, semaput, legeg-legeg awit sedhih. kantrak : klantrak, kunthing utawa lara-laranen awit ora kopen. kantha : gantha, wewujudan, blegering wujud; tanpa kantha tanpa kanthi jlentrehna artinya ora maujud, ora nganggo kanca, gulu. kanggek : kandhek, ora bisa terus; kanggek atiné : kagol atine, gela atine.

kangkam : pedhang. kangsek : kongsi, nganti. kangwong : kawong, wis wanuh, wis kulina, ora jiguh, ora pakewuh. kao : kau, ora luwes, sarwa wagu, buteng, ora sabaran. kaop : ora kaopan, ora perdulen, ora tampikan, apa-apa arep. kaot : kacek, luwih; kinaot : kinacek, linuwih, pinunjut. kapa : kakpa, lapak. kapah : kapah-kapah, kopoh-kopoh, teles banget. kapal : kapal api, prau gedhe, jaran, kepel; kapalen : tlapakan kulite kandel lan atos.

kapandhitan : kawicaksanan, tindak sing gegayutan karo pendhita; kapanujon : kapinujon, kebeneran; kapanuju ing ati : ndadekaké seneng ing ati. kapang : kangen, oneng; kapang-kapang : gita-gita, kesusu banget olehe mapagaké kanthi tangan ndhaplang. kapatedhan : diganjar, diparingi, diwewehi.

kapener : kabener, kaleres, kapernah. kapentowok : kapergok, kapengkok, katongkok. kapesan : nandhang apes, kacilakan. kapetek : dipetek, dientekake. kapetel : dipetelake, dipeksa. kapetengan : kasaput ing peteng, polisi jlentrehna artinya. kapi : wanara, pragosa, we, rewanda, palgawa, kapiwara, juris; kapiadreng : adreng banget, kumud-kudu; kapiandel : gampang ngandele; kapiandhem : banter banget playune; kapiasem : mesem (ngguyu) dhewekan; kapidereng : adreng banget; kapidulur : sumadulur, nyedulur banget; kapidhara : klenger, semaput; kapidhondhong : arané gendhing; kapieneng : meneng baé; kapilayu : kumud melu; kapilare : mbocahi; kapilengen : gumrah banget; kapikiran : kagagas; kapiluyu : kepencut, kedanan; kapinta : sedhih; kapinten : kapiran; kapinteran : kabisan; kapirangu : rangu-rangu, gandrung; kapirenan : seneng atine; kapiswara : kapindra, ratuning kethek; kapitemen : temen-temen, tumemen; kapitenggengen : ndeleng kanthi njenger; kapitunan : nandhang tuna.

persobatan : memitran, kekancan. kaplaksana : diukum, dikunjara. kapo : kabeh, padha. kapodhaag : kepodhang, arané manuk. kapok : wis ora wani maneh, wis ora gelem maneh; kapok lombok : kapoké jlentrehna artinya sedhela; kapok kawus : wis kapok banget. kaparan : kekeselen banget, kesayahen banget. kaprabon : keprabon, agemaning ratu, pangkating ratu.

kaprajuritan : agemaning prajurit, sesipataning prajurit. kaprah : lumrah, kelaku ing akèh. kapracundhang : kepracondhang, kalah, kabuncang. kaprawiran : kasudiran, kuwanen, kekendelan.

kapribaden : aten-aten, watak. kaprigelan : katrampilan, kawasisan, kapinteran. kapwa : kabeh, padha. kara : tangan, driji, tlale, tetuwuhan sing ruinambat wohé kaya kapri. karawistha : rerenggan, peparen. karaba : bledug, anak gajah. karad : kalap dening lelembut. karahatan : ketaton, kena. karan : jeneng pangaran-aran; karan anak : diarani manut jenenge anak. karana : sabab, jalaran, amarga. karandhang : tetuwuhan sajinis bengkuang.

karanta-ranta : karerantan, kelara-lara, kawlas arsa. karanten : karana, krana. karang : padhas, dhsaring segara, pekarangan, mulané mangkono; mangkarang : sedhih, kasengsem; karang abang : dirusak lan diobong; karang kitri : karang kirna, wit-witan ing pomahan kang awoh; karang kopek : karang kopen, wong desa sing mung duwe pekarangan ora duwe sawah; karang melok : kembang dironce diwangun bunder; karang ulu : bantal; dikarang ulu : dipek bojo wrandhaning sedulur.

karas : pomahan, pekarangan; wong karas : wong kang mung duwe pomahan. karasikan : jlentrehna artinya, sacumbana. karatala : epek-epek. kardi : karya, pagawean.

karejeken : oleh rejeki akèh. karenan : seneng atine, katuju ing prana. kareneng : ngetog kekuwatan. jlentrehna artinya : sacumbana, saresmi, sasulut. karing : kekaring, dolan-dolan ing jaban omah ing wayah bengi. karkasa : seru, banter. karkat : kerkat, krenteg, greget. karkatha : yuyu. karma : tindak kang dilakoni, tumindak.

kama : karni, talingan, kuping. karoban : kebanjiran, keleban, dikruyuk. karoh : karuh, wanuhan, tepungan. karohanen : babagan rohani, babagan batin. karon : sega kang lagi dikaro; karon asmara : karon lulut, karon sih, andon asmara, cumbana sanggama. karongrong : karongron, bebarengan suka-suka; sri karongron : araning gendhing. karosaa : kekuwatan, daya. karsa : kersa, arep, karep. karta : karti, kerta, tata tentrem.

kartiyasa : misuwur, kondhang, kaloka, kasusra, kajanapriya, kasub, kaswara, linuwih, limpat, pinter, lantip. kartika : taranggana, sasa, sudama, sitengsu, wintang, lintang, mangsa kapat. karti paja : punggawa negara. karti sampeka : kaprigelan lan reka daya jroning perang. kasa : mangsa kang kapisan. kasaban : kesasaban, ketutupan, kaling-kalingan. kasadha : mangsa kang kaping rolas. kasah : klasa, alus. kasaya : kasya, gurih.

kasak : rusak, dirusak, ditempuh; dikasak : digosok. kasakten : kasekten, kadigdayan, kanuragan, kasantikan, kasentikan. kasamektan : kasawegan, sarwa kecukupan. kasampurnan : bab sampurnaning urip. kasantosan : kateguhan kekuwatan. kasang : kanthong sing dicangking; kasang toya : impes. kasangsayan : kasangsaran, nandhang sengsara; saron peking : penacah, saron cilik.

kasarjanan : panemu kang adhedhasar kawruh. kasartan : dibarengi, diiringi. kasatmata : bisa dideleng, katon. kasatriyan : watak wantuné satriya, golongané satriya, daleme para satriya. kasek : kongsi, ngantek, nganti, kasi. kasekengan : kemlaratan, karingkihan. kasembukan : sembukan, tetuwuhan sing rumambat. kasedya : kaseja, dijarag, disengaja. kasekelan : kasusahan, kasedihan. kasembadan : kelakon, kaleksanan, sarwa-sarwi, sarwa kecukupan.

kasemekan : kemben. kasepuhan : golonganing para sepuh, bab kang gegayutan wong tuwa ; ngilmu kasepuhan : kawruh sangkan paraning dumadi. kasinungan : kadunungan, diwenehi. kaskaya : pametu, pakasilan. kasmaran : kedanan, keserigsem, kepencut. kasud : pamuji ala, meri ; kasudiran : kekendelan, kuwanen ; kasudarman : kautaman, katresnan ing sapada-pada. kasujanan : wewatakan sujana.

kasugihan : sakehing bandha lan barang darbe. kasuh : ora tahan, ora tegel, ora mentala. kasukon : seneng-seneng, main kertu. kasulayah : ambruk, rubuh, kalah. kasunyatan : bab kang nyata anane, ngelmu kasampurnan kang nyata lan luhur. kasusastran : kagunan adiluhung kang diwujudaké arupa crita gancaran, tembang, lsp, kasusilaa : tingkah laku kang becik. kasut : cripu, selop ; dikasut : diuyeg lan ditata.

kasutapan : babagan ulah tapa. kasucen : kasucian, sucining lair lan sucining batin. kasok : diesokaké ; kasok ing tresna : tresnané gedhe banget. kasot : sol, rungkad ; tebu kasol : arané tembang tengahan. kasongan : kayoman, kaubari, keyuban, kepadhangan utawa kesorot srengenge. kasoran : kalah. kaspa : kaspe, ketela pohung. kasrakat : kecingkrangan, kekurangan. kastawa : pakurmatan, sembali, pangaji-aji. kasturi : dhedhes, konyoh, wewangi. kaswargan : wewengkoning swarga.

kaswari : manuk swari. kaswasih : memelas, melas asih, melasarsa. katak : woh uwi (gembili), jenggot celeng. katalika : jlentrehna artinya, dumadakan. katam : wis tamat (rampung) anggoné maca qur’an. katar-katar : makantar-kantar, ngalad-alad, murub mubyar-mubyar. katatalan : ketatalan, lelakon kang dadi tuladha. katawurag : buyar sumebyar, ambyar, warata, pating bececer. katel : kemangga gedhe saba ing lemah, kulit diamakan cakar pitik, perangané sikil jaran samburiné tracak, oyot sing mbendhol ing poké wit uwi, ketel, yaiku sajinis teko.

katemper : ketemper, semaput, kaseser (kalah) perange. katepang : ketepang, jinis tetuwuhan bangsané krokot, ketepang grangsang gunung : kegedhen pengarah (panjangka). katedha : dipangan, nuwun ; katedha kalingga murdi : diaji-aji, dipepundhi. katekan : kadumugen, kasembadan, kaleksanan. katelah : karan, suwe-suwe banjur aran. katemenan : ditemeni, wewatakan temen. katemtuan : kang wis ditemtokake. katenta : isih nindakaké amarga wis kulina katengen : disenengi, dibutuhake, diperlokake.

katenggel : ditenggel, ditibani pas tengahe. katerak : ketrajang, katempuh, kaserang. katgada : trengginas, rerikatan, age-age, daya-daya.

katiga : kaping tiga, ketiga, ketigen, mangsa terang. katigubug : katak, woh uwi sing ana dhuwur. katilayu : klayu, araning wit. katimaha : kayu timaha. katimumul : araning kewan sajinis ampal rupané jlentrehna artinya, lelara kulit ing kuku.

katir : ora timbang, ora tandhing, ora babag, pring ditata kanggo timbanging prau, godhong ing ganthilaning woh. katirah : tetuwuhan mlambat godhonge abang ; ngatirah : mripate wong nesu sing abang kaya godhong katirah. katisan : katisen, kadhem katis, kadhemen. katitih : kelindhih, kalah, keseser, kasoran.

katon : katingal, kadulu, kawuryan, kadeleng, katon cepaka sawakul lagi disenengi ing akèh. katong : narendra, nata, ratu, dhatu, nareswara, srinata, raja. katoran : ngelak katoran, ngelak banget, ngorong banget, salit ; tandure katoran : kurang ilenan banyu ; pasang walat : ngetrapaké walate marang pulih. katrangan : srana (bukti) sing kanggo nerangake. katrap : katrap paukuman, ditrapi paukuman, diukum. katrem : krasan banget.

katresan atine : sedhih banget atine. katresnan : sing ditresnani, sing diasihi. katri : katelu ; katriwandhan : nemahi cilaka. kathak : yiyit ing telak iwak ; kathaken : reged banget, lethek. kathek : bung kathek, semen sing thukul ing wit (tumrap pring). kathuka : pedhes. kawadaka : konangan wadine. kawagang : kuwagang, kuwat. kawah : dalaning geni (wlahar) ing gunung jlentrehna artinya, papan paukuman ing nraka, banyu kang metu ngarepaké bayi lair ; kawahya : kelair, kewetu.

kawak : tuwa, lawas ; kawak awu : kawak uwi, tuwa banget, lawas banget ; kawakan : golonganing tuwa (lawas) ; asem kawak : asem sing wis lawas ; kawaktan : kacrita (saka lingga : waktan); kawal : ngawali, nangulangi, ndaga ; dikawali : ditanggulangi, didaga, dipadoni.

kawalahan : kuwalahen, ora tandhing, ora kaconggah. kawalat : kuwalat, kena ing walat, kesiku. kawalian : jlentrehna artinya, jaman para wali, turunaning wall.

kawanda : kuwanda, gembung, awak, bangke. kawangwang : kadulu, kawuryan, kawis tingal, katon. kawarna : kacrita, kocap, kawama, kocapa.

kawasa : kuwasa, kuwaos. kawasita : dicritakake, dikandhakake, wasita, crita. kawastara : kawistara, ketara, kacetha, kacihna. kawatgata : kapesan, kacilakan.

kawaca : klambi kere, kawaos, diwaca. kawawa : bisa, kaconggah, kuwagang. kaweh : aneh, aeng, arang anane. kawes : tawes, araning iwak loh. kawedaka : kawadaka, kecronan, konangan, kawenangan.

kaweden : diwedeni, dipunajrihi. kawedhengan : judheg, kodheg. kawekas : wekasan, sing pungkasan ; kawekasan : pungkasan, wekasan. kaweken : kewuhan atine, ewuh aya ing budi, kawel : celeng. kawelas asih : kawelas arsa, kawelas ayun, memelas, mesakake. kaweruhan : kasumerepan, kawanguran, diweruhi, dikonangi. kawes : kawus, kapok. kawi : pangarang, pujangga, tembung-tembung sing kanggo ing kapujanggan ora kaprah yen dinggo padinan, tembung jawa kuna ; kakawin : karangan, tembang ; kawibawan jlentrehna artinya kaluhuran, kamukten ; kawijil : kawetu, kelair ; kawijilan : kalairan, asal, pinangka ; kawigyan : kawasisan, kapinteran ; kawigayon : kangen, kesengsem ; kawilasan : kawelasan ; kawilet : ketut jlentrehna artinya ing tembung manis ; kawindra : pujangga pinunjul ; kawiraja : pujangga linuwih ; kawirangan : kisinan ; kawirasa : kekidunganing pujangga ; kawiryan : kawiryawan, kaluhuran.

kawis : karang ; prakawisan : prakaran ; kawismaya : gumun banget ; kawistara : ketara, kaaaton cetha ; kawiswara : pujangga pinunjul. kawit : wiwit, awit ; kawitan : sakawit, wiwitan ; bojo kawitan : bojo wiwitan, bojo jaka rara (lara) ; kawitana : kawiwara, pujangga pinunjul ; kawya : kidung, tembang, karangan. kawo : kopi kawogan : kepopoh, kawajiban, kejibah. kawong : wanuh, krasan, supeket banget. kawrat : kamot ; kawratan : kabotan. kawud : pating besasik, paling blengkrah.

kawuk : awak sing wis tuwa ; kawuk ora weruh slirané : nacad wong liya ora ngrumangsani yen awaké dhewe luwih ala tinimbang sing dicacad. kawul : glugut wit aren kena kanggo daden geni. kawula : batur, abdi, rewang, aku, ku, karerehan, rakyat ; dikawulani : dingengeri ; sun kawulani : dak ngengeri ; kawula warga : kulawarga, brayat ; kawula wisudha : dikawula wisudha, dijunjung pangkate.

parbata : prabata, giri, gunung kawuntat : kawuri, kepungkur, kepengker. kawung : godhong aren, arané bathikan. kawuryan : katon, ketingal. kawursita : kocap, kacarita. kawus : kapok, kalah. kebar : ngebarake, mitontonaké kapinterané ; dikebar : dilimbang-limbang temenan ; dikebaraké : dipitontonake.

kebekan : kebak banget. keblong : keyok, kawus, kalah. kedah : sedya, panjangka ; sakedah kerahe : sapari polahe. kedek : kidak, kepidak. keder : bingung, kisruh ; kederan : diubengi. kedher : kekedher, miaku-mialcu, nglencer, dolan-dolan.

kedheng : rada kera. kedhep : kedhepan, disungkemi, diurmati. kedhol : keblong, kalah. kegi : ewa banget, gregeten. keguh : kengguh, kegiwang, ketarik.

keket : raket banget srawunge. keklak : biblak, thethel kulite. keklek : mbrebes mripate awit kakehan melek. kekuk : kidhung, kewuhan. kekrek : dikekrek, disuwek nganggo lading ; kekrek aren : kanthi rekasa lan sumelang anggoné nindakake. keksi : katon, kadeleng. keles : kegiles, kepidak, kalah. kelu : katut melu. kelor : arané wit sing kena kanggo tamba ; keloren : ndhredheg, buyuten. kemar : kuldi.

kembet : katut kena ing dakwa.katut kena ing dosa. kemengan : judheg, susah banget, bingung atine. kempi : kepi, katon sajroning ngimpi. kenaken : kecanen, keladuk enake. kenangan : konangan. kenas : lunga, oncat, mendra. kenca : juruh. kendran : kelendran, ketilapan, ketriwal, ical, ilang. kendhang : keli, kentir, kabur ; dikendhangaké : diukum buwang. kendho : kewan sajinis kalong; kedho urang : bothok urang.

kenep : lunga nginep ora mulih-mulih. kenjer : kekenjer, mlaku-mlaku, mlancong, njhoged mubeng. kenjek : kedek, kidak, kepidak. kenjik : ora kenjik-kenjik, ora katon-katon teka. kentas : kabuncang ombak tekan pentasan, miesat bablas. kentar : kentir. kentasa : kentarsa, baé, wae. kento : kluwak enom, waloh enom. kenges : kiris, kepeges, keris. kenger : kepuntir, katut. kengis : rada katon sethithik awit kebiyak.

kengser : owah mingser, kesliyo, kecethit, keplayu, keplajeng, keplajar kepek : kemlandhingan durung ana isine, gedhang sing isih enom. kepel : sigaraning wiji sing bakal dadi godhong, godhong tembako singngisor. kepet : anggotané iwak sing kanggo nglangi. keple : pepes, sengkleh, thekle-thekle. keplek : tuwa banget ; dara keplekan : dara kanggo abur-aburan.

kepon : kepyan, kepyoh, judheg, bingung atine, kepwan. kerah : kera, patrap, tindak-tanduk, tandang ; sakerah-kerah : sakarep-karep, sagelem-gelem. keras : wadhah uyah kerata : germa, juru mbebedhag, tuwa buru, pamburu, asal-usule tegesing tembung ; dikerata : ditegesi manut asal-usule tembung ; kerata basa : negesi surasaning tembung wewaton asale temung kapirid saka wancahané dijupuk prayogane.

kerek : kari, bumbung cithakan gula jawa ; kerekan : rodha sing kanggo ngubengaké tali ; dikerek : diunggahaké utawa diudhunaké nganggo kerekan ; ngereki : patrape jago yen arep majangi babon. kerid : diirid, disowanake. kering : kiwa, dibarengi, diiringi ; dikeringake : dikiwakake, disisihaké ; ora kering : ora gelem, ora manut.

pantaka : pati, mati. kerud : katut keli, larut. kerup : kena imp, melu katut. keron : kemeron, kewuhan pamilihe. kesa : kesya, keswa, rema, rekma, rambut. kesi-esi : kesi-kesi, nandhang sengasara lan dicecamah. kesisan : kesisan wadya kentekan wadya bala. kesthi : kaesthi, diesthi, dipeleng. ketaka : ketaki, kintaka, nawala, serat, layang. ketang : ketung, rumangsa, eling. kete-kete : rekasa banget. ketel : jedhing mesin, ceret gedhe ; ketel-ketel : tansah kekinthil. ketes-ketes : padha netes banyune, pating glebyar (tumrap inten) ; anyar ketes-ketes : anyar banget.

ketol-ketol : jakuné wong kabotan bokong kecakan : kanyakan, kesrambah. kece : ece, kewan sajinis keyong cilik keceh-keceh : teles kebes, teles keproh, klebus kecel : kedhe, kidhung. keci : lawon (mori) sing tipis, jarit sing cendhak, sekoci, prau cilik. kecu : kampak, rampog, durjana sing bebarengan. kecok : dikecok, dicolong, diapusi kether : keri anggoné nandangi gawean. kebancen : klambi sing kecendaken. kebar : sakebar, salembar.

kebawah : diwengku, direhake. kebesturon : kabesturon, lena, kurang prayitna. kebetheng : kandheg lakuné jalaran udan. keblabag : mati keblabak, mati kelem ing banyu.

keblasak : keblasar, keblasuk, kesasar. keblebek : kelem ing banyu. keblegaa : ketiban, kerubuhan, kejugnigan. keblinger : keblithuk, kapusan. kebluk : dikebluk, diudhak lan dicampur ; kebluk mulur : kesed, mung sakepenake. keblondrok : keblondrong, kapusan, kelarangen anggoné tetuku.

kebu : kembu, bangsané tenggok. kebubuh : kejibah, kepopoh. kebo : maesa, arané kewan raja kaya ; kebo kabotan sungu : wong kang kakehan brayat ; kebo nusu gudel : wong tuwa njaluk wuruk wong enom ; kebo lumaku dipasangi : nemaha diwenehi penggawean abot ; kebo lumumpat ing palang : ngadili prekara ora nganggo wewaton ; kebo bule mati setra : wong pinter ora ana sing nganggokaké ; kebo mutung ing pasangan : nindakaké pegawean durung nganti rampung wis leren ; kebo ilang tombok kandhang : nemu kasusahan matumpa-tumpa ; kebo mulih ing kandhange : lunga bali maneh ora kanthi disengaja ; kebo rompong : wongwis tuwa banget ; pisah kebo : pepisahan nanging durung pegatan ; wanuh kebo : wis wanuh nanging durung ngerti jenenge ; kebo bukur : kewan sajinis undur-undur ; kebo njerom : dhapuring omah ; kebo giro : araning gendhing ; kebo kobong : kebo colongan sing ditahan polisi ; kebo lawung : maesa lawung, kebo sing ora dimegawekaké ; kebo mengguh : dhapuring kalung ; kebo pelen : kebo lanang sing wis gedhe, wongkang dhemen padu ; kebo dhungkul : kebo cendhek nyemplek.

kebrabeyan : seneng nyatur, senggoyoran. kebrebel : menehi sethithik-sethithik, melu tumandang sedhela-sedhela. kebrosot : mrucut, ucul. kecak : kenyak, kena ing, gupak ; kecakan : kenyakan, kesrambah. kecaket : cinaket, disihi. kecapu : tela kaspa, tela kaspe, bodin, pohung. kecapi : clempung, siter. kecara : wis dadi kelumrahan. kecacil : woh kesambi. keceh : kekeceh, dolanan ing banyu ; keceh dhuwit : sugih dhuwit.

kecelu : kumaelu, kesengsem banget marang, kepengin banget. kecelung : kembang dhadhap kecebur : kecegur, kecemplung. keceluk : kondhang, misuwur. kecenthok : kegepok, ketanggor, dumadakan ketemu. keceput : sedina keceput, sedina muput. kecethuk : kepethuk, ketemu.

kecik : isiné sawo. kecilakan : nandhang cilaka. kecindhilen masuk angin. kecingkrangan : kekurangan, kemlaratan kecipuhan : kewuhan banget, rekasa banget. keciren : wis dicireni alane. keclap : keclap-keclap, neram-neram, gebyar-gebyar. keclethot : kliru jlentrehna artinya, salah ngomong. kecodheran : kejodheran, konangan. kecokan : kacokan, kecampuran. kecomprengan : kekurangan.

keconongan : konangan, kecronang. keconthal jlentrehna artinya keconthalan, rekasa olehe nututi. keconggah : keduga nindakake, bisa nandangi.kecocok : kepangan ; kecocok pangan : kecenthok pangan,mangan pangan sing kudu disirik. kecu : biru kecu, biru semu ireng. kecubung : tetuwuhan sing wohé mendemi ; dikecubung : diendemi kecubung. kecukupan : kecekapan, sarwa cukup, sugih. kecumpon : cukup. kecupetan : kekurangan. kecurat-curut : malah akèh dhuwit sin tanpa tanja.

kecuresan : kecuresan turun, kentekan turun. kedal : kedaling lesan, kedaling gunem, wetuning gunem, basa tetembungan. kedalanan : kemergen, diliwati. kedalon : kematengen tumrap woh, kewengen. kedaman : kedaman-daman, didama-dama banget. kedarung : kedarung-darung, kedlarung-dlarung, kelantur-lantur. kedasat : kepangan, kanggo. kedhendheng : gumagak anggoné miaku.

kedikeng : tansah cilaka, tansah sengsara. kedenangan : kedengangan, konangan. kedereng : adreng banget. kedibal : gedibal, batur, abdi. kedlurung : kedlarung, kebanjur alane. keduli-duli : keluwih-luwih. kedumelan : grenengan. kedunyan : kadonyan, keduwen, sugih bandha. kedurus-durus : kebanjur-banjur ; kedurusan : kelakon sing dadi ujare. keduwung : getun sawise kelakon keduwung guntal wedhung : getun nanging wis kasep.

kedrajatan : ginanjar jlentrehna artinya pangkat gedhe. kedrawasan : ketiwasan, kecilakan. kedhali : arané manuk sajinis manuk sriti. kedhana : kedhana-kedhini, anak mung loro lanang lan wadon.

kedhangkalan : kedhakalan, kedhakaran, dhrakalan, kesusu olehe menek. kedhangkleh : pating kedhangkleh, katon padha dhengkleh-dhengkleh. kedhangklik : pating kedhangklik, padha gumantung obah-obah. kedhangkrang : ngedhangkrang, linggih ing papan kang dhuwur. kedhangsul : kedhele. kedhap : kelap, kedhep, kejep ; dipun kedhapi : dikedhepi, diicipi ; kedhep kilat : kedhep iring, kedhep ; angon kedhap : angon polataning wong ; sakedhap : sedhela ; sakedhap netra : sagebyaran, satleraman ; ngedhap : uwas, sumelang, nratap atine, layangan niyub mudhun.

kedhar : kekedhar, kekadhar, ngisis menyang njaba. kedharang : kedharang-dharang, ketula-tula tekan ngendi-endi kedhasih : manuk prit ganthil.

kedhaton : daleming ratu. kedhawangan : bedhawangan tetironing memedi. kedhep : melek mereming mripat, byar peting sorot lampu ; kedhep-kedhep : merem melek mripate, byar pet sorote lampu ; dikedhepi : disasmitani sarana kedhep ; kedhep tesmak : ora kedhep-kedhep panyawange.

kedher-kedher : pating kledher, isih durung disingkir-singkirake. kedhese : ketleyek, kuwalahen, kalah. kedhemek : mlaku alon-alon. kedhempalan : gedhempalan, teka kanthi kesusu lan gita-gita. kedheng : dikedhengake, diturokaké ; kedhengan : teturon. kedher : obah geter, rada ndhredheg. kedhesek : kedhesuk, kesuk, mingset merga didhesek. kedhi : wong wadon sing bisa nggarap sari, wong lanang sing kebiren. kendhindhing : arané manuk. kedhingaha sadhengaha, sapa baé. kedhung ulekaning kali kang jero, papan jlentrehna artinya paklumpukan ; kedhunging budaya : papan paklumpukaning budaya ; kedhung jero ora bisa dijajagi : ora bisa mangerteni isi atining wong liya.

kedhungsakan kedhungsangan, mara rerikatan lan kanthi rekasa. kedhokan kothakaning sawah, topeng ; sawah sakedhok : sawah sakothak mung dianggo kedhok. kedhuwitan : duwe dhuwit. kedhongdhong : jlentrehna artinya, araning wit. kedhol : wuled lan atos ; ngelmu kedholan : ngelmu katosan. kegembang : kegiwang, kepencut, kegimir.

kegendheng : kegeret, katut ketarik. kegila-gila : nggilani banget, ngedap-edapi banget. kejais : pinesthi. kajait atiné : kekenan banget atine. kejaler : ketumbuk, ketanggor ; ora tau kejaler : ora tau ketanggor.

kejalu : kejambet, kena ing jalu. kejamak : kelumrah, kelaku ing akèh. kejaul : kakehan pambayar. kejegan : dijegi, diesur enggone. kejegung : kesrimpet ing tali sikile. jlentrehna artinya : wesi wangun maju telu lancip ing pucuking wluku, empyak omah sing wangun maju telu.

Kejedhagan : kejedhagan udan, kekurangan udan. kejelir : keweleh. kejem : kejem atine, mentala, ora welasan. kejengkelang : kejengkang, njengkelang, tiba klumah.

kejengkelit : tiba njengkelit. kejengkelok : tiba kepleset sikile ketekuk. kejep : kejep, kedhep. kejibah : kepopoh, kena ing wajib. kejiman : disurupi jim, pinter banget. kejimrah : lumrah, kaprah. kejiungup : tiba mengarep ing papan jero (jurang). kejujur : kojur kejujur, tansah cilaka. kejudhegan : kentekan nalar, wis ora bisa mikir maneh. kejumutan : mlaku mek-mekan ing petengan. kejungkel : tiba njungkel, tiba mangarep kanthi sirahe dhisik.

kejurang : kesurang-surang, tansah cilaka. kejuwat-juwit : tansah obah lambene. kejodheran : konangan, kewiyak, kadenangan. kejodhi : kalah, kasoran. kejongor : tiba mengkureb.

kejot : kagyat, kaget. kekal : lestari, langgeng. keked : keket, kamed, gemi banget. keker : kerep sarta kenceng ; dikekeraké : dikerepake, disimpen ; kekeran : prakara kang winadi. kekes : adhem banget, wedi, miris, tansah sumelang. keket : raket banget anggoné srawung.

kekilapan : kliru, kelalen. kelab-kelab : lembak-lembak, ngombak-ombak (tumrap gendera). kelaban : keleban, keleban. keladuk : kelajuk, kakehan, rada banget, keluwih-luwih. kelagan : karo, lan, kelayan, kalayan. kelali : gugat ; dikelahaké : digugat. kelaya-laya : keraya-raya. kelak-keling : jenenge panganan, wesi nganggo slobokan driji kanggo gaman.

kelalen : kesupen, kalimengan. kalamun : kasaput ing peteng, yen, menawa ; klamun-klamun : ora cetha pandulune. kelan : njejangan, ngolah janganan.

kelangip : kelantih, kaliren, keluwen. kelangket : kuru banget. kelangso : kelangsu, kedaluwarsa, wis lungse, kliwat, kasep. kelauk : kelaut, kedaut, kebacut, kelantur, kelancur, kelacut. kelapan : kaliren, keluwen, ngelih. kelar : kuwawi, kuwat, bisa nindakake.

kelat : pring apus sigaran disambung sambung kanggo narik wit sing ditegor ; dikelat : ditarik nganggo kelat, dikeleti ; kelatan : sing wis dikelat ; kelat bau : gelang ing bau.

kelacak : kecandhak, kecekel. kelawun-lawun : enggal gelis gedhe. kele-kele : ditogaké ora kopen, lungguh ijen. keledhok : kliru pangetunge. kelehen : kelemen, kepriye, geneya. keleng : gentha kekeleng, gentha cilik tandha semedi jlentrehna artinya kupinge dikelengi : dikandhani, dituturi. keled : sakeledan, saemplokan, saulon. keleman : kelemon, arané panganan sajinis lemet. kelenggak : kalenggak, tiba kanthi lungguh.

kelimpe : kurang prayitna nganti ketaman nalika lali. kelimput : ilang saka pandeleng, kesaput ing jlentrehna artinya, ketutupan hawa nepsu. kelindhih : kasoran, kalah ; kelindhih pikire : kurang pinter. kelir : pager bata saburiné regol, lawon putih dikokohi pasren kanggo piranti mayang ; nganggo kelir : nganggo aling-aling, ora bares. keluh : dhadhung dilebokaké irung kebo utawa sapi kanggo ngendhaleni ; kaya sapi dikeluki : wong lanang sing manut banget marang bojone.

keluk : kukus, uwab, kebul. kelun : lakuning kebul ; dikelun : digulung, diklumpukaké lan dikuwasani ; kelun alané : wis misuwur alane. kelunta-lunta : keplantrang adoh kesasar-sasar, ketula-tula. keluning : kebacut-bacut tumindak ora becik. keluron : nglairaké jabang bayiné terus mati. kelojok : kakehan, keladuk. kelok : kalok, misuwur, kondhang. kelop : wilah kang werna putih kanggo wates paronan sawah ; kelop-kelop : lungguh ijen kanthi pikiran nglayut.

kelot : jago patahan, betah tarung. kemadha : cakriking bathikan minangka pinggiran ; dikemadhani : dibathik pinggire. kemadhuh : tetuwuhan sing wit lan godhonge nggateli ; tunggak kemadhuh : tilas maru (mungsuh).

kemaga : gela ; kemagang : gamelan cilik. kemaha : nemaha, njarag. kemalo : blendok kanggo ngecet pendhok ; dikemalo : dicet ing kemalo. kemalot : alot banget, wuled banget. kemamang : memedi arupa geni. kemampo : pelem sing lagi setengah mateng.

kemanak : jlentrehna artinya gamelan prunggu sing wanguné kaya gedhang. kemanden : kemandhen, lelara ing weteng. kemanjingan : kepanjingan, kesurupan. kemanjon : ora bisa turu maneh awit kagol. kemandhah : dikemadhake, dielih menyang panggonan liya (tumrap tentara).

kemanigan : kepeksa ngedol barang kanthi rega murah, kang disedya wurung. kemangga : kewan sajinis kemlandhingan. kemanggang : pitik durung gedhe temenan lagi enak-enaké diolah panggang. kemangi : tetuwuhan sing godhonge kanggo lalap ; lanang kemangi : wong lanang sing jirih. kemangsa : kedadak, durung tekan mangsane. kemara : kumandhang.

kemarang : tawon, wadhah sing digawé saka sada aren sing dienam. kamruk : umuk amarga duwe apa-apa sing mauné durung duwe, mangan akèh jalaran mentas lara. kemarung : eriné oyod gembili ; ngregem kemarung : ngomong wong sing angel wewatakane.

kemarogan : araning tetuwuhan. kemaron : kemeran, pikirané ora nyawiji ; kemaron : pengaron. kemasan : bakul mas inten tukang gawé dandanan saka mas. kemat : tenun, jengges, santhet. kamatus : lara watuk getih. kumba : cemplung, ora mantep, ora mempeng. kembang : sekar, puspita, puspa, kusuma, sari ; kembang api : mercon sing muncrat-muncrat ngetokaké geni ; kembang asem : ulese kucing werna abang semu kuning ; kembang duren : ulese jaran sing werna abang ; kembang dhuwuran : kembang boreh sing ditumpangaké tukon pasar ; kembang gula : permen ; kembang karang : tetuwuhan segara sing thukul ing karang ; kembang leson : kembang tlasih dicampur empon-empon kanggo ngedusi bocah sing mentas lara ; kembang lambe : dadi pocapan ; kembang paes : kembang kang sepisanan ; kembang pilangen : tanduran pari sing kena lelara godhonge katon kuning-kuning ; kembang setaman : kembang werna-werna sing dicemplungké banyu ing wadhah ; kembang telon : kembang werna telu yaiku kenanga, mlathi, kanthil ; kembang campur bawur : kembang campuran kanggo sajen ; kembang waru : arenge sumbu (uceng-uceng) diyan.

kembar : padha rupa ; anak kembar : anak loro laire bareng lanang kabeh utawa wedok kabeh ; kembar dhampit : anak kembar lanang karo wadon ; kembar gantung : bocah kembar sing siji laire let sawetara dina ; kembar mayang : rerangken saka janur lan gegodhongan kanggo sarat temanten ditemokake. kemben : kasemikan, jarit ciut kanggo tutup dhadha. kembong : kebak banyu, banyuné mambek ; dikembong : dikelep ing banyu, diuja pangane.

kemendho : krambil durung tuwa lagi enak-enaké kanggo ngendho urang kementheng : jarak, kepundhung. kemeng : swara cilik ampang. kemigilan : kamigilan, gila banget. kememping : kumemping, jlentrehna artinya sing durung tuwa. kemendhak : mendhak, alen-alen kanggo sanggan ukiran keris. kemedhing : araning tetuwuhan.

kemendhir : panggedhe (lelurahing) prajurit. kementhus : kumenthus, ambeg wani, ambeg pinter. kemeruk buntut : degan enom sing ana degané lagi sing bongkot. kemiri : wit sin wohé cilik-cilik kena kanggo bumbu, polok ing tiapakan sikil ; rebut kemiri kopong : pasulayan awit prekara kang sepele ; kutuk nggendhong kemiri : wong menganggo mrabot liwat dalan sing gawat.

kemit : tunggu (jaga) ing wayah bengi ; kemitan : jimat ; kemit bumi : abdi dalem sing pinatah reresik. kemladhakan : cempaluk, asem enom. kemladheyan : tetuwuhan sing uripe nemplek wit liya ; kemladheyang ngajak sempal : sanak sedulur sin gawé kerusakan kemlaka : araning tetuwuhan.

kemlakaren : kewaregen banget. kemlantahen : ora bisa mateng. kemlekeren : ora bisa netes. kemliya : kaya wong liya. kemlungi : araning tetuwuhan. kemlungkung : kumlungkung, ameg linuwih. kemlurusen : saya suwe saya kuru awit ngenes. kemlandho : clondho, jangkrik sing durung duwe lar. kemodhong : arané gula dhesthi ; gong kemodhong : gong wujud wilahan dudu gong gantung.

kemomosen : jeleh, bosen. kempar : arané iwak segara ; kempar-kempor : gembar-gembor. kemplang : araning panganan saka glepung ketan ; dikemplang : utang ora disauri. kemproh : crobo, ora resikan. kempros : sugih omong kang ora nyata. kemrunggi : araning tetuwuhan. kemrungsung : ora tentrem atine.

kenaka : kuku. kenanga : araning wit lan kembange. kenari : araning wit lan wohé, araning manuk oceh-ocehan. kenas : kethek, kidang. kenca : tampar sing kanggo nyipat, cengkorongan, rancangan. kencan : semayan, ajak-ajakan. kencana : emas. kencang : tali diolehaké sawi kanggo medeni manuk ing sawah.

kencar-kencar : padhang mubyar-mubyar. kencit : otot sikil sandhuwure tungkak, laku sing rada pincang. kenclung : rada gendheng. kencur : empon-empon sing kanggo jamu ; beras kencur : jamu uyub-uyub ; prawan kencur : prawan cilik.

kencong : dikencong, disosoh. kencot : luwe. kendhal : araning wit, kenthelaning lenga gajih. kendhali : praboting abah-abah jaran sing dipasang ing cangkem ; dikendhaleni : ditrapi kendhali, dikemudheni.

kendhak : nungkul, teluk, suda kuwanene, suda nakale. kendharah : pating kendharah, pating klembreh ; ngendharah : nglembreh. kendharat : dhadhung jlentrehna artinya nuntun raja kaya ; pandharat : paladen, sinoman. kendhat : pedhot, lowong, jugag, tendhag ; ngendhat : nglalu sarana nggantung. kendhela : bangsané kinjeng gedhe. kendheng : talining gendhewa ; gunung kendheng : gunung kang lelarikan dawa.

kendhi : lantingan, wadhah banyu sing digawé saka lemah. kendhih : kalah, kasoran, nungkul, teluk. kendheng : kumendheng, lelarikan jentrek-jentrek. kendhurak : keyong segara. kendhit : angkin sing dianggo sabukan, warna putih njleret ing weteng, watesing mega lan bumi; kendhit minang kadang dewa : luput ing pangrenah lan bebaya. kenes : bocah wadon sing solahe sigrak lan kemayu, inten sing sumorot.

keni : kena ; dikeni-keni : diemi-emi banget. kenikir : araning tetuwuhan sok diolah trancam utawa dikulub. kenil : kalah. keningar : manis jangan. kenir : engsel lawang. kenit : arak putih. kenol : ayot sing mbendhol, kenong : rericikaning gamelan gandhengané kethuk ; sega kenongan : sega sing dicithak wangun bunder.

kentrung : tetembangan dibarengi uniné trebang. kenthang : tetuwuhan sing wohé ana njero lemah ; ora ngerti kenthang kimpule : ora ngerti bab lakuning rembug. kenthi : araning salah sijining waluh. kenthiwiri jlentrehna artinya tansah wira-wiri. kenthus : kethus, kewan jinise kintel. kenthos : calon thukulan krambil, isi salak. kenya : prawan ; kenya puri : papané para putri ing kraton.

kenyar : sorot, kumenyar, sumorot ; kenyar-kenyar : anyar banget. kenyeh : sakenyeh, sakinang ; dikenyeh : dikinang. kenyer : sedulur kenyer-kenyer, sedulur temenan isih cetha alurané ; mitra kekenyer : mitra kang temenan. kenyung : anak kethek, rada gendheng. kengkeng : kaku kenceng, kukuh kenceng, puguh, cukeng ; dikengkengi : dikencengi, dikukuhi. kengulu : karangulu, bantal. kengungrungan : gendheng dening kahanan.

kepadhan : marenm awit ditimbangi tresnane. kepadhil : keparat. kepagol : ketanggor nganti mandheg. kepak : dikepak-kepak, dikemah-kemah. kepailan : bingung, lali, kesasar. kepalang : kepambeng. kepama : mukti, sarwa kacukupan.

kepanjingan : kesurupan. kepangkalan : kena ing alangan. kepaung : kesasar, ndluya, ala klakuane. kepara : rada ; jlentrehna artinya nyata : mula dhasar nyata ; kepara kepere : ora padha pangedume ; kepara-para : keparan-paran, nganti adoh anggoné mlaku keparag : ketrajang ama. keparak : abdi dalem kraton.

keparan tutuhan : dadi tutuhan, ditutuh. kepati brata : mempen banget. kepatah : kebanjur duwe pakulinan ala kepathak : kena ing pathak ; kepathak kelacak : ora bisa mukir jalaran ana buktine.

kepel : sakepel, gedhené sagegeman tangan ; dikepel : diina, disepelekaké ; kepel : arané wit lan wohé. kependhir : kepeksa nindakaké ijen. kepencil : kijenan, tanpa kanca. kepet : sajinis tepas kanggo nepasi awak ; endhas gundhul dikepeti : wis kepenak diwuwusi kepenak.

kepethatan udan : lagi ora udan sawetara dina ; pethat : bethat. kepik : tenggok cilik, kewan cilik bisa mabur ambuné ora enak ; ora kepik : ora kalong. kepileng : kebrebegen banget. kepinjal : pinjal, tuma asu. kepis : piranti kanggo wadhah welud utawa iwak sing digawé saka pring sing dianam ; pundhak kepis : pundhak brojol. keplarah : keplacas, keplathas, keplathus, keplantrang, keterusen anggoné mlaku.

kepleng : bunder kepleng, bunder jlentrehna artinya. keplok : nangkepaké epek-epek nganti mum plok-plok ; keplok ora tombok : melu bungah-bungah ora cucul ragat. kepundhung : arané wit lan wohé. kepuh : perangané lapak sing mbendhol, wiron tekukaning dodot ing geger, araning wit lan wohé. gantung kepuh : sandhangan dienggo terus jalaran ora duwe salin. kepung : kepang ; dikepung : diubengi sarta diadhepi ; dikepung wakul binaya mangap : dikupengi supaya ora bisa uwal.

kepodhang : arané manuk warna kuning. kepokok : kepopoh, kepeksa, kewajiban nindakake, keponthal : rekasa anggoné nututi. kepranggul : kepapag, kepethuk, ketemu. kerab : ngerab, katon akèh banget. keraban : kikiran kuningan (wesi). kerainan : rosa, kiyang. krana : karana, krana, keranten, sabab, jalaran, awit, amarga, amargi.

kerap : playu banter ; ngerap : mlayu banter ; jlentrehna artinya : diplayokaké banter ; kerapan : balapan sapi, kaliren, keluwen. keras : atos ; dhawuh keras : dhawuh sing kenceng tandange keras : jlentrehna artinya rikat (cukat) ; lara keras : lara banget ; inuman keras : inuman sing mendemi ; ora keras yen keris : senadyan ora sugih angger sembada wewatakane.

kerbin : man wiron lelunggan jlentrehna artinya (krendha). kerjik : kikrik, kudu trep banget. kere : gribig, klambi wesi praboting perang. kereh : kebawah, diereh ; kereh-kereh : bengok-bengok. keri : krasa griming-griming kaya diithik-ithik ; keri kupinge : rumangsa ora tahan awit kerep disrengeni ; keri tanpa pinecut : ora didakwa nyana didakwa.

kerig : padha lunga kabeh bebarengan perlu nandangi pegawean ; kerig lampit brungkal kimpul : kabeh lanang wadon padha lunga kabeh bebarengan perlu nandangi pegawean. keris : kadga, dhuwung, dhukung, wangkingan, gegaman landhep mawa wrangka lan ukiran; ora keris yen keras : senadyan ora sembada nanging duwe gelar. kerkas : wadhah pistui jlentrehna artinya digawé saka lulang. kerkasa : seru (banter) kanthi karotan.

kerkat : kerket, greget, kemempengan, niyat kang kenceng nedya tumandang. kerkop : kuburan bangsa eropah. kerlap : kerthap ; pating kerlap : katon sumorot gebyar-gebyar. kerlip : kerlop ; pating kerlip : katon sumorot kerlip-kerlip. kermi : lelara cacing ing weteng. kermun : kremun, jentana, joli, grimis.

kernik : kakehan kemik, kakehan pratingkah. keroban : kebanjiran, keleban ; keroban mungsuh : ketekan mungsuh pirang-pirang. kerpana : melas asih, melas arsa, memelas. kerpek : bangsané kranjang dianggo wewadhah. kerpu : bangsané kristal kanggo mata ali-ali utawa kanggo tesbeh. kerpus : wuwungan omah sing dilepa. kersil : cilik cekel-cekelane. kerta-kerti : sarwa tata, sarwa tentrem, ora rusuh.

kerta aji : diteksir, dikira-kira. kertan : kewerta, krungu kabar. kertarta : putus ing kawruh. kerta wadana : pangarsa, pangarep. kertiyasa : pinter, linuwih. kesabegan : tuwug, wareg kesaladan : kesanglad, kobong. kesaman : kepadhan, karenan. kesampar : disampar nanging ora dijarag ; kesampar kesandhung : kerep ketemu. kesandhang : dianggo, dilakoni, ditindakaké ; lara kesandhang : lara ngenes amarga kedanan ; kesandhangan iblis : kesurupan setan.

kesangsaya : kasangsara, kasangsaya, nandhang sangsara, nemahi sengsara. kesapah : tela kaspe, pohung, kesawe. kesaput : kelimputan, ketutupan, ketungka ; kesaput ing wengi : ketengka tekaning wengi. kesar-kesar : kumesar, sar-saran atiné trataban atine. kesaru : dumadakan ketekan, kedadak tekane. kesasaban : ketutupan. keserenan : kedunungan, kedokokan, oleh tinggalan. kesesek : cabar, wurung ; kesesek butuh : dioyak butuh. kesesi : cilaka, memelas. kesembet : kesembir, kembet, kesangkut ing prakaraning liyan.

kesembuh : kesembuh ing busana, wuwuh endahe awit dening panganggo. kesempet : ketut kegepok, ketut diarani ala. kesempyok : kekapyuk ing ombak, kesangkut ing prekaraning jlentrehna artinya. keseng : pethel, sregep. kesengsem : kedanan, kepencut, seneng banget marang. keseser : kapracondhang, keplayu, kalah.

kesilih : kelimpe, kapusan. kesingi : kebawah, kewengku. kesingsal : ketriwal, kontal adoh. kesiring : rada kena, rada ketaton. keslamur : kelipur, lali marang susahe. keslepah : keslepeh, wis ora ana wektune. keslubuk : keslobok, keblasuk. kesluru : kliru, kelalen.

kesmarna : kasmaran, kedanan, kesengsem. kesompok : keslepek, kesusu. kesosor : kasoran, kalah. kesukon : kakehan laku ; kesukon kesangon : kakehan laku lan sangu. kesunggah : kesenggan, sikile kena beling. kesur : disur, kedhesek. kesuwur : misuwur, kondhang. kesrakat : nandhang kemlaratan banget. kesrawo : ketawur. kesrumahan : kesurupan lelembut. jlentrehna artinya : prajurit mriyetnan. kestalan : gedhoganjaran.

ketail : nemahi cilaka. ketak-ketek : bengak-bengok. ketaliban : kliwatan, keletan ; ketaliban dina : keletan dina. ketaman : kena gaman, kena daya. ketandangan : ditandangi, dipilara.

katandha jlentrehna artinya katitik, kabukten. ketantilan : ketantingan, montang-mating rekasa. ketar-ketir : tansah kuwatir, ngandhut sumelang. ketas-ketis : ngomong ceplas-ceplos. ketawang : ketawang srengenge, kesorot srengenge, gegolonganing gendhing ketawur : kelangan lacak awit kecampur wong akèh. ketebang : katon mlaku saka kadohan. keteyeng : tansah nandang cilaka. keteleng : kapitunan amarga sembrana. ketemper : rada kalah perange, kesandhung alangan.

keten : geten, cancing, cukat, trampil. ketereng : ngolah-ngalih panggonan amarga kemlaratan. keteter : wis diteter, wis didadar. ketebon : tebon, wit jagung sagodhonge. keteg : obahing jejantung. ketekuk : nandhang cilaka ; ketekuk ilate : kalah anggoné bethekan. ketelah : banjur kaprah diarani. ketelep : katut dianggo. katemben : lagi sepisanan, lagi wiwitan. ketepu : katul kasar asale ndhas-ndhasan gabah.

ketib : punggawa mesjid karerekané pengulu. ketiban : kedhawahan, kena apa-apa kang tiba ; ketiban daru : oleh kabegjan ; ketiban dhenggeng : ketiban urak, oleh giliran ; ketiban tai baya : oleh pandakwa tumindak ala sanadyan ora nindakake.

ketlajuk : ketlajeng, kelacuten, keladuk. ketlampik : ora sengaja kena ing lelandhep. ketlendhon : remben (rendhet) banget.

ketlimunan : kasaput ing pepeteng. ketliweng : kliru dalane, rada kliru panemune. ketlusuban : keslusuban, kecocok barang cilik lan lancip tugel ana njero.

ketlompen : katalompen, kurang prayitna, kurang rikat. ketlarong : ketlarong srengenge, kena sorote srengenge ; ketlorong tumbak : kena tumbak ketuju : ketuju ing ngemu, nujukareping ati. ketuyung : ketula-tula. katumbar : salah sawijining bumbu wujude cilik-cilik. ketumpal : tansah kampul-kampul. katuntak : kasuntak, wuntah, nuntak, nyentak, ketungkul : lali apa-apa dening mempeng anggoné nindakaké apa-apa ketutugan : kedugen, keturudan sedyane. ketutuh : mentas cilaka kena kacilakan maneh.

ketuwon : sedhih banget. ketonjok : ketonjokan, kepergok.konangan, kepengkok. belok : wis kanggep, wis katon kapinterane. ketonto : kelunta-lunta. ketorang : keseselan. ketrenjel : ora timbang kaya samesthine. ketrimen : ilang awit pisah karo panunggalane. ketriwal : ngethawa, murka, kudu oleh akèh.

kethaka : kethakaran, kedhakaran, nekani kanthi rekasa. jlentrehna artinya : gula sing ora dadi, ampas lenga kacang, intiping lenga klentik. kethak : katon kelap-kelap ana kadohan. kethap-kethap : ngethapel, ngrangkul kanthi sikile pisan digubedake.

kethapel : kapi, wanara, pragosa, kapiwara, palwaya, rewanda, wre, juris, kewan sajinis karo munyuk ; kethek seranggon : kumpul karto wong ala mesthi katut ala ; tangan kethek : cengkre. kethek : swarané kether, swara sember ora kepenak dirungokake. kether : panganggo kang pating klembreh ; kethetheran : ora keconggah nandhingi. kethether : janggut. kethekan : kembang salak ; ngetheker : lungguh ijen ; kethekeran ketheker : tansah klithihan tumandang.

ketheng : cukeng, wangkod. ketheplik : sandhal digawé saka kayu sing entheng. kethuh : ngethuh, crobo, ora resikan. kethon : nganggo kethu. kethop : kelop-kelop. kethot : wuled, kothot, remben (tumrap lakuné jaran).

kethuk : ricikané gamelan gandhengané kempyang ; dikethuk : dithuthuk ; kethuk cupar : ora percaya sing wadon anggoné nyekel bale omah ; kethuk ungker : gelem njaluk ora gelem dijaluki. kethul : ora landhep, kurang gathikan ; dikethul : dimamah, kewahya : kawahya, kelair, kewetu.

kewahyon : oleh wahyu, oleh kanugrahan. keayon : kedaluwarsa, wis kelawasen. kewangkungan : kesuwen banget anggoné ngenteni. kewanguran : kecronan, konangan. kewanuhan : pawong mitra, tepungan, tepangan. kewangwang : katon ing pangangen-angen. kewarga : dianggep dadi sanak, manjing dadi sedulur, keweden : kajrihen, keladukwedi, wedi banget.

kewedhengan : judheg, kodheng. keweken : kewuhan. kewelas asih : kewelas arsa, kewelas ayun, memelas, mesakake. keweleh : konangan anggoné goroh, nandhang kaya sing dipoyoki. kewentar : kawentar, misuwur, kondhang. kawetu : kewijil, kewedal, kelair, metu ora dijarag, kewiyos. kewidhengan : bingung, kodheng. kewilang : kewilis, kepetung, kecacah.

kewowogen : kakehan banget. kibir : ngendel-endelaké banget keluwihane, mesthekaké banget prakara sing durung kasembadan. kidang : kewan bangsané menjangan ; kidang kencanan : wayang cilik-cilik ; lumpat kidang : plencat-plencat pengetunge ; mburu kidang lumayu : duwe milik barang kang nglengkara kelakone. kiden : oleh idi, oleh palilah. kideran : jlentrehna artinya, diideri. kidib : goroh, ngapusi, selak, kembi, mukir. kidih-kidih : kipa-kipa ngatonaké yen ora gelem, anggoné tumandang ora temenan.

kidung : tembang, rerepen, karangan kang arupa tembang ; ngidung : nembang, ngarang kidung. kidon : kena ing idu singora kejarag.

kijab : warana, kelir, tedheng. kijat : selak, mukir, kumbi. kijenan : kepiyambakan, tanpa kanca. kijing : kewan sajinis kece, watu diwangun dawa kanggo tutup kuburan.

kidhal : kidhe, kedhe. kidhung : ora prigel, ora trampil. kikid : cethil, gemi banget. kikir : piranti kanggo nglandhepi graji, piranti kanggo ngelus barang sakawesi ; dikikir : dilandhepaké nganggo kikir. kikis : wates, pinggir ; dikikis : diwatesi. kikrik : garapané sarwa becik, angel laden-ladenane. kilah-kidlah : banyu kesorotan srengenge katon bening.

kilang : kelang, godhogan legen. kilat : gebyaring thathit. kileng-kileng : katon nglenga gilap. kili : wulu kanggo ngureld kuping ; sunduk kili : pantek ing sanggan blandar ; dikileni : diureki nganggo kili. kilingan : kitiran. kilyan jlentrehna artinya kilen, kulon. kilung : mbodhoni, mitambuhi. kilusuh : alum, nglumpruk tanpa daya. kilong-kilong : katon miolo mripate.

kima : kece gedhe ing segara. kimapi : luwih-luwih, apa maneh. kimplah : kebak banyuné sarta bening kilah-kilah. kimpling : banyu ing gendul kangbening lan resik. kimpurusa : buta. kimpul : klimputan, klincutan, kisinan.

kinabekten : diajeni, diurmati, dibekteni kinajrihan : kinaweden, jlentrehna artinya. kinakadang : dianggep kadang, disanak.

kinalisaki : diluputaké saka. kinalulutan : diluluti. kinamaru : dimaru. kinamulen : dimulyakake. kinangaya : kaningaya, mesakaké teroeh. kinanten : kinaruh. kinanthen : dikanthi kinang : ganten, suruh, gambir lan apu dimamah kanggo ngabangaké lambe ; yen nginanga durung abang : mung sedhela. kinapenginan : dipengini. kinar : durung kinar, durungkaruwan. kinarilan : dirilani, dililani. kinaruhan : kinanten, kinawruhan, karuwan. kinasihan : dikasihi.

kinati-kati : disungga-sungga, diaeji banget kinawasa : kuwasa banget. kinca : juruh nganggo santen. kineringan : dieringi, diwedeni. kineban : kineban lawang, ora bisamlebu awit lawange mineb. kinepan : diinepi ing. kiner-kiner : empuk kaya gudir. kinersakake : dikon, dikarepake. kinira : kiniten, dikira, dianggep.

kinuswa : diambungi. kinon : kinen, dikon. kintaka : kinteki, nawala, serat, layang. kintel : kungkong, kethus, kodhok kebon, kongkang, pasah. kinyih : kinyis-kinyis, panganan katon nglenga enakbanget, wong wadon ayu banget kinyir-kinyir : iwak empuk lan nglenga.

kinggatan : koncatan, diianggati. kingkin : kangen banget, kesengsem banget, sedhih. kipa : pipa, panyambung rokok nalika udud ; kipa-kipa : emoh banget, ora gelem banget. kiprah : jingklak-jingklak jejogedan bungah banget.

kipu : kekipu, adus lemah blubukan, krasan banget. kirab : kekirab, ngebet-ebetaké sampur (rambut), diarak budhal bebarengan. kirana : sorot, cahya, kirad, kilat. kirata : kerata, germa, tukang mbebedhag kewan alasan.

kiring : krambil wis tuwa lan garing ; cengkir ketindhihan jlentrehna artinya : arep omah-omah kepalang sedulure tuwa durung omah-omah. kirna : sayuta-yuta, samilyar ; pala kirma : wohing wit-witan ing pekarangan. kirta : pagawean, panggawe ; makirta : makarya, magawe, nyambut gawé.

kisa : nam-naman blarak kanggo wadhah jago, kethek. kisapu : ngisapu, mangku. kisas : ukum kisas, ukum pati. kisi : ikal-ikalan lawe ing pengantikan ; ulakisi : ula cilik ; iwak kisi : iwak daging ing kempol sapi (kebo) ; randha kisi : randha sing duwe anak lanang. kisma : bantala, pratiwi, butala, basundara, basundari, bawana, pratala, mandhala, bumi, siti, lemah. kitir : godhong cilik ing ganthilaning woh, jlentrehna artinya surasané cekak. kitiran : ubengan sing mubeng yen keterak angin, manuk prekutut.

kitri : pusaka kang turun-temurun, wit-witan ing pekarangan ngetokaké woh. kithal : kurang lancar anggoné guneman, ora luwes tumrape pratingkah kittling : mlungker sarta dhempet tumrape driji. kithung : kidhung, kau. kiwal : kewal, ketaton gaman lahdhep. kiwat : kewat, dikiwat, bocah wadon kang dianggo dolanan bocahlanang. kiwi : kekiwi, lereb ing, dedunung ing, mapan ing. kiwul : ngiwul, males.nempuh, nanggulangi. klabang : gegremetan bangsané babak salu ; klabang nyandher : omah kampung dawa.

klabar : papan kang cethek ing segara. klalar : dhangkal, bolot ; pating klalar : nggremet mrana-mrana. klamuk-klamuk : klamun-klamun, katon samar-samar, ora cetha. klampok : arané jambu. klampra : nglampra, nglambrang, lunga saparan-paran. klandhing : woh gebang. klanthe : tali kanggo nggantung gong. klanthung : nglanthung, nganggur. klangenan : kesenengan, selir. klangket : kuru banget.

klangso : kasep, lungse. klarang : semut abang. klarap : cleret gombel. klaras : godhong gedhang garing, klobot. klari : blarak. klasa : gelaran ; klasa bangka : klasa kang kasar ; klasa pasir : klasa sing alus ; klasa pacar : klasa sing digambari ; nglungguhi klasa gumelar : mung kari nemu kepenaké baé.

klasir : mantri klasir, punggawa kang pinatah ngukur bumi. klathak : mlinjo digoreng sangan. klawung : rada jeleh awit nganggur. kledhang : katon teka mlaku saka kadohan. jlentrehna artinya : arané wit lan wohé. klengkam : bakal kang sinulam benang mas. klengkeng : arané wit lan wohé ; klengkengan : asu sing ngangkeng baé, nembang (ura-ura). klepetan : katut ketularan ala.

klepyan : kesupen, lali, kelalen. klerehan : karerehan, sor-soran, andhahan. klesa : kalisa, reged, ciri. kleca : arané wit lan wohé. klecam : klecam-klecem, pasemoning praen kang mesem ; mak klecem : sanalika mesem ; sakleceman : saeseman. klican : lali, kelalen. klecok : cocoh kinang ing dhuplak. klewang : pedhang cendhak. klebes : klebus, teles kebes. klebut : kayu cithakan blangkon. klegon : kajibah males kabecikan. klemak-klemek : guneman ora lancar, memangan sajak ora doyan.

klembak : tetuwuhan sing oyode kena kanggo jlentrehna artinya utawa bumbu rokok. klemer : ora sigrag, sarwa alon. Idemir : tipisbanget. klemuk : empluk gedhe. klendhah : alon-alonan anggoné miaku. kleneng jlentrehna artinya ngleneng, lakuné banyu alon. klenik : pating klenik, jlentrehna artinya prakara kang dianggo wadi. klentik : lenga klentik, buga krambil ; diklentik : digawé lenga klentik, dirimuk, diapusi. klentheng : isi randhu ; diklentheng : diapusi.

klenthing : jan jlentrehna artinya ; klenthing wadhah masin : isih katon kelakuané sing ora becik. klenthung : nglenthung, ora oleh-olehan. klilingan : jenthik manis. klinengan : klimunan, lali kelalen. klindhen : tali jantra pengantihan. klinthing : bel, gentha cilik, woh gadhung kang ana ing dhuwur ; diklinthingi : diwenehi sasmita klinthing ; pating klinthing : padha njengkerut tetekukan klingking : jenthik.

klisa : oyode wit rumambat sing enak dipangan. kliwa : kedhi. kliwon : dina pasaran kapisan, lurah desa. kluku : dikluku, diekum ing banyu, banyuné kanggo tamba ; banyu klukon : banyu tilas dikumi jimat. klumus : klebus, teles kabeh. klumpengan : kejudhegan. klunthangan : clunthangan, ugal-ugalan, kurang ajar.

klunthuh : klunuk-klunuk, lakuné ora gagah lan ora sigrag. kliswa : kolak sing ora nganggo santen. kluwak : woh pocung sing wis tuwa dianggo bumbu. kluwas : kluron. klobat : lembaran bunteling jagung. kloloden : klelegen brang empuk lan alot. klopod : reged, klumut. klowang : klowang-klawung, rasajeleh awit nganggur baé. kobak : misuwur, labak. kobet : jembar, isih turah papan, ism rupak. kocak : obah-obah. kodak : ora godag, ora bisa. kodal : kontal ; ora kodal : ora tumama, ora ndayani apa-apa.

kodo : bodho, durung ngerti tata krama, gampang nepsune. kodhe : ngodhe, beburuh ; kodhean : buruhan, panggawean. koen : kowe. kogel : ora wentala, ora tegel, ora tega. kogung : kulina digung. kohong : kowang, sepi. koja : sodagar bangsa indhu. kojat : kondhang, misuwur. kojong : beras sakojong, beras akehe lengen loro mlumah ; sajimpit sakojong : ora adil pengedume.

kokap : kebul, mega, dupa. kokila : kukila, manuk. kokoh : sega salawuhe ; ninggal kokohan : ninggal pegawean sing durung rampung ; tunggal kokohan : tunggal pegawean. kokosan : bangsané dhuku.

kokot : raket banget, kawat canthelan ; kokot bisu : jlentrehna artinya banget nganti nggeget-nggeget ; kokot boloten : akèh bolote. kolang-kaling : woh aren. koled : remben, rindhik, leled, suwe banget. kolik : manuk saba bengi. koma : koma-koma, nganggo tepa-tepa.

komala : kumala, alus, sareh. kombak : munggah mudhun katut ombak. kombang : jlentrehna artinya pitik. komplang : lowok, lowong ; komplang-komplang : kebak banyu agung.

konang : kewan saemper laler wetenge ana pelik-peliké ; konangen : kepyur-kepyur pandelenge ; konangan : kaweruhan, kewanguran ; kaonang-onang : misuwur, kondhang. konca : kunca, pojoking dodot sing nglembreh. konta : kunta, tumbak dawa. kontab : gaduk, tutug, tekan. kontit : kalah, ora timbang, kari banget. kontul : arané manuk bangsané cangak ulese putih ; kontul nglayang : gelaring baris. kondhor : ora bisa kenthel maneh ; kondhoren : ketedhun, puyuhané mudhun.

kongah : rekasa anggoné nemptokake. kongang : kelar, kuwat, bisa ; dikongangi : diidini. kongas : sumerbak ambune, inisuwur banget. kongkiren : jor-joran, rebut murah. kongkrus : adu kaluwihan. kongseb : tiba krungkeb, panguripané lagi rekasa. kongsul : kesliyo, kenger, wewakiling negara liya.

korah : sakorah, sakorap, sakorat, akèh banget. korud : kuru banget ; korud kamané : kemeton kamane. kosala : kusala.

kosaka : rereged, kang ala dhewe. kotaman : kautaman. kotbuta : muring banget. kotesan : anak kutuk. kowar : ora kawruhan sing duwe, ora terang bapake. kracan : arané dhapuring tumbak.

krahang : murka, ngangsa-angsa. kraka : godhong garing sing wis tiba. krama : tata pranata kangbecik, suba-sita ; kaum krama : wong cilik ; ngapus krama : ngapusi sarana alus ; nyangga krama : ngepenaki rembug ; ngungkak krama : nerak tata krama ; krama desa : tembung krama sing ora kaprah enggon-enggoné ; krama inggil : tembung krama kang urmat banget ; kramakala : sore, wengi ; kramaniti : tata krama, patrap kang becik.

kraman : wongkang mbalela marang panguwasa ; ngraman : jlentrehna artinya panguwasa. kramun : rada griniis. krana : jalaran, sabab ; krana alus : ora kanthi peksan ; krana allah : atas kersaning allah ; krana becik : kanthi becik. krandhah : krabat, sanak sedulur. krangkat : angot, kumat. krangkeng : kandhang kewan galak. kranglah : kecingkrangan. krasikan : arané panganan. krastala : kuwasa, sekti. krawitan : kagunan alus, gendhing-gendhing unining gamelan.

krengga : durung mateng wis gogrog, salah kedaden, ora dadi. krepo : asor banget, ala banget, tanpa karosan. krete : anak baya. kredan : kerdan, daging ing gulu.

kredyat : kejot, kaget. kredhek : rembulan, kredhek, rembulan ndhadhari wis lingsir wengi. krega : wadhah kang digawé saka lulang. kregen : kesel banget, sayah. krekalasa : kadhal, bunglon. kremah : tetuwuhan nlosor ing lemah. kremi : cacing jlentrehna artinya ing jero weteng ; kremin-kremin : swara lamat-lamat. krenya-krenya : ora ketel, arang-arang.

kremun : bangsané tandhu sing gumandhul ; kremun-kremun : grimis kepyur-kepyur. krendha : bandhosa, pethi mayit ; krendhawa : bebek. krepana : memelas, kecingkrangan, cilaka. kresna : ireng, wage ; kresna paksa : panglong. kreta : kerta, tata, tentrem ; kretayasa : misuwur ; kretayuga : jaman kang kapisan ; kretala : gegaman ; kretanjali : nyembah, mbebana ; kreta punya : begja banget ; kretapradana : linuwih.

kretarta : kelakon, kasembadan, putus ing ngelmu : kreti : kretya, panggawe, tindak, pratingkah. kridha : dolanan, seneng-seneng, ulah sacumbana, nggegulang. krimi : uler, cacing. kriya : pakaryan, panggawean, tukang ; tembung kriya : tembung mratelakaké solah jlentrehna artinya. kruhun : dhisik, biyen. krura : galak, bengis, nggegirisi banget.

krestin : pipa dalan kebul ing pabrik. kruwiin : arang-arang (tumrap rambut). kubandha : buta. kubang : blumbangan. kubul : planangan. kuda : jaran ; kuda-kuda : jagrag, kayu sanggan ander. kudus : suci. kujana : kunjana, wong ala, nepsu, muring.

kujang : kudhi. kujiwat : ngujiwat, mlerok, mbalang liring. kudhandhangan : kepengin (kangen) banget. kadhi : arit sing tengahe mblendhuk ; kudhi pacul singa landhepa : awit padha pintere, mung kari adu begja. kudhung : tutup, caping, tudhung ; kudhung indhing : wong lanang kalah karo sing wadon ; kudhung lulang macan : nganggo jenengae wong kang kuwasa. kundhup : kuncup, kembang nalika durung megar. kuhaka : durjana, wong ala.

kuihana : ora bares, cidra. kukama : para kukama, jlentrehna artinya ahli hukum, para hakim. kukang : kewan setengah kethek. kukap : kebul, mega, dupa. kukanna jlentrehna artinya tindak ala.

kuku : kanaka, tutuping pucuk driji tangan lan sikil ; sakuku ireng : sethithik banget. kuksi : weteng. kula : aku, ku, dak, tak, darah, trah, turun ; kulagatra : sanak sedulur ; kulaja : trah luhur ; kula kuli : manuh, kulina ; kula mitra : sanak lan kanca-kanca ; kula santana : kula wanda, kula mangsa, kula warga, sanak sedulur. kulak : jlentrehna artinya, takeran beras ; dikulak : dituku arep diedol maneh ; kulakan : tuku dagangan arep diedol maneh ; kulak warta adol prungon : ngrungok-ngrungokaké pekabaran kulala : kundhi.

kulkul : kenthongan kayu. kulkum : kala menjing. kulu : arané iwak loh, katut diulu ora dijarag ; kulu-kulu : kuluh-kuluh, reged banget. kuluk : makutha, panunggul, pegatan saka penjaluké sing wadon. kuluma : arané iwak loh.

kulung : pipa wesi dalan banyu ; kulung ati : pulung ati. kulwan : kulon. kumadama : api-api bodho (asor). kumakaruh : sumanak kaya wis wanuh banget. kumala : inten ; ngumala : kaya inten, sumorot, becik banget ; kumala-kala : jaka kumala-kala, bocah lanang sing umur-umurané 14-16 tahun ; kumalasa : watu kumalasa : watu sing alus banget.

kumampo jlentrehna artinya wis meh mateng (tumrap pelem). kumanel : gedhe pangandele, ngandel banget. kumara : bocah, jejaka, inten, jiwa, roh. kumatal : kematal, meh garing ana wit. kumawawa : kumawawi, ambeg kuwat, ambeg bisa. kumawi-kawi : duwe ambeg kaya pujangga. kumawula : setya banget anggoné ngabdi.

kumba : jun, klenthing, endhas ; diedu kumba : dikeprukaké endhas karo endhas. kumbakara : kundhi. kumbalai : rerenggan saka kembang, brengos. kumeron : kemeron, bingung anggoné milih. kumewah : kenes, pambekan. kumed : gemi banget, cethil ; kumed lambe : amem, ora seneng guneman ; kumed daging :ora bisa lemu. kumedhep : kedhep mripate ; kumedhep kasep : yen ora enggal-enggalan ora oleh gawe ; kumedhep kaca : menhelik pamandenge. kumel : sareh, ora sigrag, ora bingar, wis ngrantang.

kumelip : katon kelip-kelip ; kang kumelip : titah kang urip. kumenyar : sumorot kumenyut : kumenyut atine, kekenan atine, kepencut. kumepyur : kepyur-kepyur ; kumepyur atiné : sumelang, trataban. renggang gula kumepyur puhit : raket banget ora bisa pisah; kumerab : uyek-uyekan akèh banget kumerak : garing banget. kumerud : kumerug, gumruduk akèh banget. kumuruk : lagi kena dikeruk ; degan kumeruk buntut : degan sing lagi kena dikeruk bongkote.

kumetir : wong kang dikuwasakaké mriksa, lelurahing mandhor. kumethep : kumelip, tilah kang urip. kumilat : kilat, gumebyar kaya kilat. kumini : bocah wadon sing kuminter. kumitir : kumlebet geter ; kumitir atiné : ketar-ketir atine, kuwatir. kumlamar : sumamar, ora katon cetha. kumlambi : grimis kang wis kerep. kumyus : gumrobyos kringete. kumlancur : jagowiwit metu lancure.

kumlendheng : kebul nggembuleng ; ora ana gumlendheng : ora ana baneke. kumud : santen kanil ; kumud-kumud : klumud, reged.

kumuda : kembang sunjung putih, arané godhong kemladheyan yen kanggo tamba. kumukus : metu kukuse, bumbon craken, arané lintang. kumpe : wedang kumpe, wedang teh komboran. kumram : sumilak padhang, terang jlentrehna artinya, sumorot. kumrangga : wis meh umob (lenga sing arep kanggo nggoreng).

kumringsing : garing banget. kumrucuk : kumrujak, garing gopok, muring banget. kuna-makuna : jlentrehna artinya, wis wiwit jaman kuna kunapa : kunarpa, bangke, wangke, bathang; kunjana : sedhih, kesengsem ; kunjana papa : sedhih lankacingkrangan. jlentrehna artinya : tanpa kusur, tanpa pangrembug, tanpa pikiran, tanpa dunung. kusut : kusud, surem, sedhih, ruwed, isin, suda kaluhurane.

kusta : lara budheg. kutis : arané kewan bangsané kwangwung ireng, palanyahan, githok jaran. kutub : pungkasané indhengingjagat, pul ; kutub jambi : pul kidul ; kutub syamali : pul lor. kutuk : arané iwak loh ; kutuk marani sunduk : nemaha marani ing bebaya ; kutuk nggendhong jlentrehna artinya : nyandhang mompyor ngambah papangawat.

kutha : kitha, beteng, pager bata mubeng, negara, makutha ; kutha kithing : tanggul ing pinggir dalan ; kuthagara : gapura, regol ; kuthasaksi : saksi palsu, asendhen paturané saksi ; kuthawara : kutha gedhe kuthah : kekuthah, reged, gupak, gubras. kuthaka : tlethong, sesuker. kuthara : wadhung, kampak. kuthila : wungkuk, bengkong, ora bares, julig. kuthilem : ora bares, julig.

kuthu baru : tangkebaning klambi ing dhadha mawa benik. kuthumbi : bojo, laki ; kuthumbini : bojo, somah. kuwadean : bebakulan jlentrehna artinya. kuwadonan : pawestren, pawadonan, badhong. kuwadhe : palenggahaning temanten kang wis temokake. kuwaga : tangan kang cendhak semu bengkong. kuwaya : banyu peru ; dikuwayani : dikawekani.

kuwaka : wong ala. kuwanda : awak, bangke. kuwangkungen : rasa bosen awit kesuwen nganggur. kuwanguran : konangan. kunjara : gajah ; kunjaran : bluwen. kunjeng : bungkik, kunthing. kunjur : slonjor. kundha : rob nanging anteng (tumrap segara), anglo, padupan, wadhah ; kundhah : nglumpruk, tiba ngglasah ; kundhala : ula. kundhi : jun, kendhi, tukang gawé grabah ; kundhisi : ngombe inuman keras tandha pakurmatan kundhuh : woh gebang.

kungas : kongas, ngambar-ambar ambune, misuwur banget. kupa : sumur, sumber, belik. kupi : kopi, gendul gedhe awangun pesagi ; kupiya : conto, tuladha, layang turunan.

kupik : keplok. kupina : kathok, cawet. kura : bulus gedhe. kurakah : jlentrehna artinya. kuranti : dikurantem, dicandhet, dipenggak. kurantil : arané wuku kang kaping papat. kurda : kurdaka, nepsu banget. kurulut : kuruwelut, arané wuku kaping 17. kurung : apa-apa sing dienggo ngurungi ; damar kurung : ting, lentera ; klambi kurung : klambi sing ing bagiyan ngarep bedhahan.

kusa : suket ; dikusa : ditarik, dirangkul, diambung. kusala : becik, utama, pinter, waras, slamet. kusika : kulit. kusuma : kembang, endah banget, trah luhur ; kusumawicitra : kembang warna-warna, arané tembang gedhe.

L laba : kauntungan, kabegjan. labda : lebda, kaleksanan, katurutan, pinter ing sawijining prakara ; labda gati : kaleksanan kang disedya ; labda jaya : oleh kamenangan ; labda jiwa : urip maneh, arané tembang gedhe ; labda kraya : rampung ing gawé ; labda wara : oleh sih. labeh : labuh. labet : tipak, tilas, tatu, panggawe becik, marga saka, kagawa saka ; jawah labet : udan awu.

labu : woh bangsané bligo, tiba jugrug, rusak. labuh : tiba, mangsa, wiwit ; labuh jangkar : nibakaké jangkar ; labuh kapat : mangsa kapat ; labuh adang : wiwit adang ; dilabuh : dicemplungaké ing segara ; palabuhan : papan kanggo labuh kapal. laca-lucu : lelucon.

lacak : tilasaning tapak ; dilacak : digoleki nurut lacak, dilari ; kelacak : kecandhak lariné ; kepathak kelacak : wis cetha jlentrehna artinya kaluputané ora bisa mungkir. lacur : tansah cilaka, sebel banget, amdon ; palacuran : palanyahan.

lacut : keladuk, kebanjur ; kelacut : ketrucut tembunge. lad : anglad, ngiris,mapras. ladak : angkuh, pambekan ; diladaki jlentrehna artinya dipoyoki ; ladak kecingklak : wong ladak nemahi cilaka merga kelakuané ; ladak kewarisan : seneng ngepak liyan nanging tansah slamet.

ladan : luwih-luwih. ladat : mirasa, nikmat. laga : perang, muspra, ora absah ; malaga : alaga, lelawanan perang ; lelaga : solah tingkah, tandang tanduk ; dilelaga : dibebeda, dipepengin, diiming-iniingi.

lagang : walagang, gelis gedhe. lagar : nglagar, ngobong alang-alang ing alas, nunggang jaran tanpa lapak. lagehan : lagean, solah bawa kang dadi jlentrehna artinya. lagis : ora oleh imbuh (lanjar), legeh, ora nggegawa. lagna : legena, wuda. lagnyana : aksara legena, tembung pungkasan pada tembang sing aksarané legena.

lagu : cengkoking guneman (tembang, gendhing), banter, entheng lan cekak tumraping swara ing tembang gedhe ; guru lagu : pungkasaning tembung ing entek-entekané gatra tembang maca pat. laha : kere, sero ; dilaha : dialing-alingi kere ; nglaha : legeh, tanpa gawan, ngglondhang, suwung ; dina nglaha : dina ora ana karamean ; lahan : suwung ora ditanduri, bares, wantahan ; lahanan : lelahanan, ora nggegawa, tanpa mbayar ; lebar lahan : tanpa ana kedadeyane.

lahung : aluwung. lahru : mangsa ketiga ; kelahron : kesrakat. lahuyang : suwiwi. lai : lelai, saradan, lageyanala, nakal(tumrap jaran) ; ciri wanci lelai ginawa mati : kelakuan ala ora bisa mari.

lain : liya, seje, mokal, nglengkara. laip : ringkih, sekeng, mlarat ; kelaipan : kesrakat, kekurangan pangan, kaliren. laja : laos. lajim : slamet, tetep lestari, lebda, pinter, lumrah ing akèh.

lajita : wirang, isin. laka : langka,ora ana, warna abang ; linaka : dicet abang. lakar : dhasar nyata, mula nyata ; lakaran : cengkorongan, bebakalaning dandanan. laksa : tuju, ener, laku ; anglaksa : saleksa, sepuluh ewu ; laksana : ciri, tetenger, pratandha, ngalamat, laku.

laksita : laku, kalakuan, laku tapa ; lumaksita : lumaku.

jlentrehna artinya

laksamana : begja, kabegjan. laksmi : endah, ayu ; laksmi wati : jlentrehna artinya banget, endah banget, begja banget. lalalucu : sembrana, lelucon. lalaluya : jlentrehna artinya weweka. lalar : klalar, dhangkal sing lengket ing kulit ; jlentrehna artinya : pesakitan, wong ukuman.

lalasa : araning tetuwuhan. lalatha : bathuk, maesi bathuk. lalawara : remeh, tanpa teges, gunem sing awuran. later : kewan iberan sing dadi set ; laler mencok : brengso sing tengah tipis pucuk kiwa lan tengen kandel ; laler mungeng : araning gendhing ; laler wilis : laler gedhe warnané ijo ; cumbu laler : inggatan.

lali : supe, ora kelingan, ora eling ; kelalen : kesupen, kalimengan, kekilapan, ora kelingan ; melik nggendhong lali : awit gedhe meliké satemah lali kautaman ; lali jiwa : arané pelem.

lalim : bengis, ambek siya. lalis : lunga, ilang, mati ; welas temahan lalis kelantur dadi : welas tanpa alis, welas marang liyan temahan nandhang sangsara.

lalita : ayu, endah, bungah-bungah, seneng-seneng ; lalita wisama : arané tembang gedhe. lalu : liwat, anjur, terus, milalu, pilalu ; lalu mangsa : wis kasep. lama : lawas, suwe. lamba : ora rangkep, dudu camboran, bares, prasaja, wantah ; nglambani : mrasani, ngandhani bares ; lamban : ora rangkep, ora duwe bojo. lambang : pralambang, tetembungan (lelakon) sing ngemu surasa pitutur, ijol ; lambang gantung : kayu malang ngisore takir omah ; lambang jangka : jlentrehna artinya ngemot wewecan ; lambang sari : liron sih ; liru lambang : ijol-ijolan.

lambat : lawas ; lambat laun : suwe-suwe, selot-selote ; malambat : miyur, manatan. lambe : lathi, pinggiraning cangkem ; lambe dang : pinggiraning cangkir ; lambe gajah : peranganing keris sandhing kembang kacang ; lambe gangsa : congor sapi (kebo) ; tipis lambené : seneng nyatur liyan ; kanggo abang-abang lambe : kanggo lelamisan ; lambe satumang kari samerang : wong nuturi ora digugu.

lambung : sisih kiwa lan ing peranganing tengah tumrap awak (gunung) ; lambung lengis : likikan sadhuwuring bokong sangisore iga ; nglambung : nyudhuk (numbal) penenr lambung, nganggo keris mepe lambung, nrambul barisan saka ngiringan.

lamen : papahe godhong pari. lameng : pedhang cendhak wilahané amba. lamis : lelamisan, mung tembunge (laire) sing becik, nanging batiné ala ; nglamisi : tumanggap (guneman) lelamisan. lamlam jlentrehna artinya lamlamaning ati, senenging ati, gumun ing ati ; nglamlami : negsemaké nggumunaké ; lamlamen : kasengsem banget, sumlengeren awit gumun.

lamong : rada edan ; nglamong : ndleming, ngame. lampad : lampadan, rampadan. lampes : arané tetuwuhan. lampin : lampi, lambaran nyekel banrang panas. lampita : pralampita, pralambang, ngalamat, pepindhan.

lampar : miturut gugon tuhon lelembut sing bisa nggondhol wong. lampu : diyan ; dilampu : pilampu, nailampu, milaur, angar, aluwung. lampra : nglampra, lunga saparan-paran. lamprah : nglamprah, nglembreh klangsrah lemah. lana : lestari, ora owah gingsir, lalana, sdana.

lanang : jaler, kakung ; lanang kemangi : wong lanang sing jirih lanas : alum (garing) awii kena panas, lamtap (brangasan) tumrap wong wadon. lancana : cihna, tetenger, titikan. lancar cilik dawa (tumrap buntut), banter, rikat, gancang ; dilancari : dilepasi gegamari ; lelancaran : gegancangan ; lancaran : dhapuring gendhing, piring.

lancing : arané tawon cilik ; malam lancing : malame tawon lanceng ; madu lanceng : maduné tawon lanceng. lancing : loncang-lancing, isih legan, durung rabi. landang : batur, rewang ; palandang : juru laden ; malandang : mlandang, tansah sekolehan anggoné nyambut gawé.

landep : arané tetuwuhan, arané wuku sing kapindho. landheyan : garan tumbak (gendera), ukiran keris. landhep : ora kethul ; landhep pikire : gathekan, gampang ngerti ; landhep guneme : nyerikaké liyan guneme ; landhep dhengkul : bodho banget. langar : ladak, lantap. langen : seneng,endah, kasenengan, kaendahan ; lelangen : seneng-seneng, mangen suka ; kalangenan : apa-apa sing disenengi, selir ; langenarjan : klambi sikepan sing ngarep bukakan ; langendriyan : wayang wong sing critané damarwulan ; langen gita : arané gendhing ketawang ; langen gita sri narendra : gendhing ketawang kanggo kirab kanarendran ; langenjiwa : arané tembang gedhe.

langgala : nenggala, wluku, langgana : lenggana, ora miturut, ndaya, emoh nurut. langgat : nglanggati, nimbangi, nglayani, nanggapi wong njawat ; lelanggatan : lelawanan, lelayanan ; sanggar palanggatan : omah kanggo semedi (mejang).

langgi : sega langgi, sega sing lelawuhané garingan. langguh : umuk, gumedhe. langgula : buntut. langgung : langgeng. langit : awang-awang sing katon biru ; padhang langit : polatan bingar ; tekan langit sap pitu : dhuwur banget pangkate ; bisa njara langit : pinter banget.

langka : arang anane, nglengkara (mokal) anane. langkah : jangkah sing ngungkuli, ngliwati, nglancangi ; nglangkahi pundhak : wong matur marang dhedhuwuran sing luwih ora njaluk idin dhedhuwuran sing ngerehaké wong iku. langkap : gendhewa. langkas : cukat, trengginas, kewat. langkep : ganep, genep, jangkep. langking : ireng, lamus semu ireng. langun : langen lar : wuluning swiwi, swiwi kupu, rujining rodha ; ngelar : kaya dené elar ; ngelar bango : wanguné pedhang kaya lar bango ; ngelar gangsir : klobat sing serate gedhe-gedhe kaya lar gangsir ; ngelar kombang : untu sisigan ireng kaya lar kombang ; ngelar walang : wanguné pedhang kaya lar walang.

lara jlentrehna artinya sakit, gerah, nandang ora kepenak ing badané ; lelara : apa-apa sing njalari lara ; lara atiné : serik ; nglarakaké ati : nyerikaké ; lara ayu : lara cacar. lare angon : arané ula sing ora mandi. larih : dilarihi, diwenehi, diladeni jlentrehna artinya keras, disuduk, ditatoni. laron : kewan iberan kedadeyan saka rayap. laru : tatal nangka karo banyu enjet dicemplungaké ing legen supaya ora kecut.

larung : krendha, bandhosa ; nglarung : ngelekaké mayit menyang kali (segara). lasa : urub, padhang. lasem : arané lutik tumrap jarit larik, arané pathet tumrap gendhing lasir : dilasir, diukur lan diprinci tumrap palemahan. laskar : prajurit. lastantun : lastari, lestari. lastri : ratri, bengi. lasun : ora oleh-olehan, ora ana, kurang, lowong.

lat : kasep, telat. lata : tetuwuhan rumambat, godhong. latak : latik, blethok, endhut, endheg-endheging nila. lateng : tetuwuhan sing godhonge nggateli. latiyu : kayu sanggan tembak sadhuwuring lawang / cendhela. latip : ringkih. latuh : blethok, rereged, lumut segara. latung : lenga latung, lenga petroli, lenga tanah. latha : lekikan jlentrehna artinya janggut ; dilatha : dipaesi (tumrap penganten) ; latha-lithi : wira-wiri.

lathek : endheg-endheging lenga klentik. lathi : latya, lambe, sisig. lawad : tilik, tinjo. lawana : uyah, asin. lawang : konten, butulaning omah jlentrehna artinya kanggo mlabu lan metu.

lawang butulan : lawang ing kiwa, tengen utawa saburiné omah. lawang kori : lawang ing regol. lawang kupu tarung : lawang sing inepe loro.

lawang leregan : lawang sing inepe dileregake. lawang monyetan : lawang sing inepe paron ngisor lan dhuwur. lawang seketheng : lawang gapuraning desa / negara. lawang tangkeban : lawang sing inepe mung siji.

lawang tobat : laku kanggo golek pangapurané gusti allah. lawe : benang sing arep ditenun ; dilawe : digantung kanthi dijiret gulune. lawe mateng : lawe sing is diputih lan wis disekul. lawe mentah : lawe sing durung diputih lan disekul. lawe wenang : lawe sing kanggo sarat / srana.

lawer : lawas, suwe, kasep olehe awoh (manak). lawon : mori, mori mentah, mori sing durung diputih lan disekul. lawong : lelawongan, nywara seru tumlawung. lawun : lawun-lawun, awun-awun, ampak-ampak, pedhut. kalawun-lawun : kaluwih-luwih, gelis gedhe. lawung : tumbak ; panglawungan : piranti kanggo nyimpen tumbak / keris. duta panglawung : duta sing bali ngaturaké ketiwasan. ora canthuk lawung : ora sapa aruh, ora tepung babar pisan. ora tembung ora lawung : nyenyilih apa-apa ora nembung.

lecek : seneng memisuh, licik (tumrap jago). lecekan : gampang copot (tumrap anjing-anjingan), ora anteban pasuwitane. lecok : nglecok, nglocok (nyocoh) kinang ; leda : sembrana, kurang tememen ; leleda : lelewa, saradan. leding : lelek, meh luluh (tumrap malam). ledhang : leledhang, dolan-dolan, nglelejar ati. ledhek : tledhek ; ngleledhek : mbebeda. leger : ngleger, wuda. legong : legongan, enggok-enggokan, tikungan. leha-leha : lehah-lehah, ngenak-enak, anggur-angguran.

leheh-leheh : linggih sendhen ngenak-enak. lejem : karep, maksud ; dilejemi : disasmitani, disemoni. leker : enak kepenak, nikmat ; lekeran : mat-matan, ulah-resmi padha wadon. lekoh : campur adhuk (tumrap pangan), cremedan, rusuh. lela : mriyem cilik ; nglela : ngegia, cetha banget ; lela-lela : lagu pangeneng-eneng bocah ; dilela-lela : direngeng-rengengaké supaya turu.

leler : telaking jlentrehna artinya, kalakuan, ganjaran, dadaran ; dileler : digosok ing piranti uji bakal disumurupi ala becike. lembang : lumembang, miembang, rnlembar, alihan enggon liya ; dilembang : dilimbang, dikum ing banyuperlu dibuang sing kemampul.

lember : kenes. lembon : gampang (karem) turu ; nglembani : bocah kang umur-umurané lagi seneng turu ; kelembon : katuron, weya, kurang ngati-ati. lembong : bangsané kimpul. lemer : lemeran, ora antepan, gleca-glece, dhemen laku ngiwa. lempong : limpang, kasur. len : seje. lena : kurang weweka, klompen ; kelenan : ketiwasan awit kurang weweka.

lencer : jagoan ; nglencer : dolan-dolan, sanja. lencak : nglencak, ngliyer, ngalik. lender : sember lender, mbiadhak, dhemen laku ngiwa (tumrap wong wadon). lendhe : gumampang, ora kena dipercaya. lendhek : remben, rendhet lakune. lendhi : palanyahan. lendho : loh banget jlentrehna artinya sawah). leneng : mateng banget. leming : lantaran gocekan ing kretek, utang dhuwit, piutang. lentab : mremen. lentring : jlentrehna artinya kang mawa inten.

lenyam : lenyam-leneyem, mencla-mencle. lengah : lena, sembrana. lenge : lungguh ora obah amarga kewaregen. lenger : sembrana, gumampang. lengger : tledhek lanang. lenggot : liyat-liyut kaya wong ngantuk ; lenggot bawa : tledhek kadewan. lengkrengan : ngengrengan bathikan. lengoh : ndhemenakake. lengot : lali, lalen. lengser : tembor, watu kang atos, mundur saka pasowanan ; dilengser : diingset, dilorot. lepak-lepak : lopak-lopak, pethen saka mas kanggo wadhah kinang.

lepaka : jense, reged. jlentrehna artinya : kelepian, bingung, kuwur, lali. lepya : lepyan, lali. lep-lepan : kelap-kelap, gebyar-gebyar. lerab-lerab : katon bening gumebyar (tumrap banyu ing papan jembar). lerah-lerah : katon abang lan akèh (tumrap getih).

leraro : pangling. lere : mak lere, keterangan kepleset ; lere-lere : arané gendhing. lereh : sareh, lerem, leren, nginep, seleh ; dilerehi : disarehi, dielon-elon ; dilereh : dicopot anggoné cekel gawé ; kalerehan : bawah, wewengkon ; lereh-lereh : pating jlareh abang (tumrap getih). leres : mundur ngendhani (tumrap perang), mung lelamisan, mung dienggo gelar ; perang leres : perang sing agelar mundur. lerweh : lalen, kurang ngati-ati enggoné sesimpenan.

lesa : klesa, kalesa, rereged, ciri. leseng jlentrehna artinya madhas (tumrap lemah). lesiyum : parjurit. lewa : lallwa, patrap sing digawé-gawé murih nggegendhing ati. lewer : labok, lecek, seneng laku ngiwa. lebak : palemahan jembar lan wrata dumunung ing panggonan cendhek ; lebak ilining banyu : lurnrahe kaluputané panggedhe ditibakaké marang karerehane.

lebar : luwar, jugar, wis rampung, bakda, sawise ; lebar nglalahan : tanpa ana kawusanane. lebuh : ara-ara, palemahan suwung, dalan, papan pambuwangan rereged, bale desa ; ora weruh ing labuh : ora ndalan, ora ngerti tata krama. leceng : rikat, lenceng.

lecet : giras, kesit, julig, wong ala. lecit : mambu bacin (banyer). led : dieled, diulu, dieleg ; led-led : gurung ; led-ledan : apa-apa sing kanggo nggampangaké ngulu pil. ledheg : jeblok, mblethok. ledhis : mambu apek kaya ambuné sandhangan sing ora tau diwasuh, ludhes, entek babar pisan. ledhung : subur sarta akèh godhonge. lega : kobet, ora sesak ; lega lila : dhangan, lila banget jlentrehna artinya nglegani : agawe lega (marem) ; nglegakake : maremake, njalari lega legan : angguran, ora duwe anak lan bojo ; legan golek momongan : wong wis kepenak golek kangelan ; legandha : panganan saka ketan dibuntel janur.

legawa : loma, lila, terusing ati ; legeh : tanpa momotan (gawan), mlaku ora jlentrehna artinya apa-apa legen : banyu deresan manggar.

legese : nglegaso, teturon. legewa : duwe panyana awit ngerti pratingkahe liyan. legeg : dheleg-dheleg, meneng baé awit sedhih (judheg). legena : nglegena, wuda, bares, wantahan ; aksara legena : aksara jawa sing tanpa sandhangan ; sasi legena : sasi dulkangidah. legendar : panganan saka beras sing dibumboni bleng.

legenjong : lumaku amba jangkahe. legedan : watak, pepinginaning ati. legetan : arané tetuwuhan. leguta : ngleguta, manuh, matuh ; dilegutakaké : dimemanuh, dikulinakaké ; legutan : kemanuhan, pakulinan. leheng : luwung.

leka : weka. lekak : rasa kemramyas ing tenggorokan. lekek : cendhak (tumrap gulu). leken : wekel, sabar, sareh. lelara : kang njalari lara ; lelaran : sesakitan, pesakitan, wong ukuman. leled : rindhik nggalur (tumrap guneman), kesuwen pocapane, leleh : luluh, sedhih banget. lemah : siti, bumi, tanah ; lemahen : wis krasan banget ; palemahan : pasiten, kaananing lemah ; lemah teles : lemah sing rupané abang semukuning ; lemah pinendhem : andhap asor banget.

lemar : ulih-ulih marang dhukun sebab kasembadan karepe. lemara : gumunda lemara, wektu saumure pan. lembaga : pakulitan. lembah : palemahan cendhek ing saurute kali utawa anataraning pagunungan. lembak : lebak. lembara : lembwara, iwak gedhe ing segara. lembur : dhukuh, desa ; nglembur : nyambut gawé sanjabanejam dhines, nggunem, nyatur ; nglemburak : nggolco, ngendhuruk. lemen : rabuk, bosokan gegodhongan lsp. lemer : jemek, ngemu banyu.

lemet : lemet, panganan saka tela pohung sing diparut lan dikukus. lemeng : bumbungsing dienggo ngolah panganan ; nglemeng : olah-olah nganggo lemeng, ngimbu tembako ing bumbung, panas sing ora sumelet lan ajeg ; lemangan : dandang. lemon : rabuk tlethong. lemorog : lumorog, nayogyani banget. lempar : jumbar sarta wrata, sareh sarta ora cugetan aten.

lempara : nglempara, lunga saparan-paran kanthi kahanan rekasa, ngayawara, nglengkara. lempeng : bangkekan sing sisih mburi, besekdawa. lempog : lemu cendhek. lenipong : lebak, jurangan ; lupongan; sunglon, teluk. lempuyang : tetuwuhan sing dienggo jamu. jlentrehna artinya durung ilang pupuk lempuyange : isih bocah banget. lencir : pawakan dhuwur ; lencir kuning : pawakané dhuwur kulite kuning. lendhi : arané iwak loh ; lendhi sari : arané gendhing.

leng : leheng, aluwung ; mak leng : lung sanalika ; leng ing cipta : sing dipeleng, tujuaning ati, sing dituju. lenga : lisah, barang cuwer sing jlentrehna artinya saka pahataning tetuwuhan utawa kewan ; lenga bacin : lenga klentik sing pindhon ; lenga celeng : lenga turahan ing clupak ; lenga wangi : lenga pahataning kembang wangi ; adol lenga kari busiké : ngedum apa-apa awaké dhewe ora komanan ; kaya banyu karo lenga : seduluran sing kalis baé.

lenggana : langgana, suthik, emoh. lenggako : woh rembulung. lenggatro : nglenggatro, suntrut, njlekutrut, lenging : alenging, macak, dandan. lengis : alus, lunyu, renggang, mbenggang, rengka ; lambung lengis : lambung sangisore iga wekasan ; waru lungis : waru sing kayuné luwih dening/wuled. lengit : alus, lembut, saniar, ilang, musna. lengkara : nglengkara, mokal. lengkur : nglengkur, naleni nggubet, turu njingkrung ; gedhené salengkur : gedhe banget.

lengkeng : lengkungan, kesengsem, kedanan rada gendheng, ngengleng. lengus jlentrehna artinya nyenyengit, ora semanak, gampang nesu.

lepar : tan lepar, ora kendhat, tansah. lepeh : nglepeh, ngetokaké apa-apa sing dimamah, nampik, nyelaki singmauni disanggemi ; lepehan : apa-apa sing dilepeh ; mamah lepehan : nampani apa-apa sing ditampik liyan.

lepet : panganan saka ketan dibuntel janur nuli dikukus ; nglepet : olah lepet, lemu lan singset ; lepetan : lelagon dolanan. lerah : luru, wrata, gelar ; anglerah : nggelar, ngrata. leri : banyu pususan beras ; leri bungkak : leri kang sepisanan ; bening leri : buthek banget. lesah : lesu lan sayah, sayah, kesel, alum. lesama : laksana, leksana.

lesmi : laksmi, endah, kaendahan. lesming : tanpa wuwuhan apa-apa, tanpa oleh bathi, mulus, resik tanpa pikiran liya-liyane. leta : letak, lebak, tanah ledhok. leteng : ambu kaya ambuné lenga wayu, rasané jenang katui kakehan enjet. letuh : reged, buthek, wongala (lelethek) ketletuh. lewah : ewah, kali. lewar : luwar, lebar. leweng : luweng, anglo. libar : ndhadhari. licik : jirih, kalahan. licin : lunyu, alus limit. licit : klicit, alus dening lenga. lid : kareping crita (dongeng), warga ; liding dongeng : kareping dongeng.

lidhah : ilat, iwak ilat sapi (kebo), kilat, thathit ; lidhah sinambung : kabar kang timbal tumimbal. lidhas : tatu tumraping lambe (ilat) sing ora diwrangkani. ligar : gogrog, rontog ; tanpa ligaran : tanpa wilangan, akèh. ligeng : ligengan, ulekan, kedhung. lihat : liyat,lumihat, lumiyat, ndeleng. lika : tulis, linika, tinulis. likas : dilikas, diikal ; likasan : piranti kanggo ngikal lawe, lawe sing wis diikal.

liku : angliku, ngapusi, nasarake. lilang : alilang, rusik, bening, endah, ilang. liling : dililing, disawang kanthi satiti kanthisemu seneng ; kaliling sajroning ati : tansah katon ana ing ati. lilis : jungkatan sing alus banget. lilit : nglilit, mulet, muntir, nglinting ; lilit uwi : tali pring iratan sing wanguné kaya wit uwi. lilung : linglung, kesengsem, kedanan.

liman : gajah. limar : arané tenunan cindhe sutra ; godhong limaran : godhong kelor ; cikal atapas limar : kabegjan sing mokal. limas : daging kebo ing sampil ; limasan : wanguning payon omah. limbung : lelimbungan, uleng, tempuk perang. limo : jeruk. limpa : arané perangané jerowan sing tumempel wadhuk. limpad : putus mumpuni ing kawruh. limpah : wutah. limpeng : judheg limpung : tambah cendhak landhep loro ngiwa nengen, jangkrik sing suthange buri pruthel, ketela goreng.

limun : arané omben-omben, pedhut ; alimunan : lelimunan, peteng lelimengan ; aji limunan : aji panglimunan, aji sing marakaké bisa ngilang. limus : pakel. limut : pedhut, tutup, lali marga nesu (sengsem) ; dilimuti : dilimpati, ditutupi. lin : garis, ril sepur, pita, galengan sing luwih’dening gedhe. lina : ilang, sima, mati. lincad : pliket (tumrap lemah).

lincak : amben cilik kanggo lungguhan ; lincak gagak : mencolot cedhak-cedhakan ; linca-linci : bola-bali mara. lincat : cidra, ora netepi ; lincat ing janji : cidra ing janji. lincut : isin, rikuh. lindri : mripat ciyut endah nengsemake. linet : lendhut, walet. ling : pamikir, pangira, ucap, ujar ; angling : majar, clathu ; jlentrehna artinya : kocapa.

lingga : tetenger, reca, tugu, palanangan, pepundhen ; alingga bathara : wis dadi dewa ; kalingga : kapetha, kapundhi, kasalira, kaliyan ; kalingga ubaya : prakara sing wis kalingan janji ; kalingga warsa : prakara sing wis kalingan dina ; kalingga nata : prakara sing wis kalingan panggedhe.

linggar : luhya, lelungan, oncat ; dilinggari : dilungani, dioncati. linggi : cathiking prausing wanguné nylekanthuk. linglung : bingung atiné amarga kesengsem. lingsa : endhog tuma ; padha lingga : koma : nggoleki lingsa sumlempit : nggoleki kaluputaning liyan.

lingsang : kewan cilik pakanané iwak (yuyu). lingsen : pawadan, santolan. lingsem : isin, wirang. lingseng : bangsané lintah cilik.

lingsing : pawakan cilik lencir. lingsir : ngglewang, nlisih, ora ana tengah bener ; lingsir kulon : kurang luwih jam telu sore ; lingsir wengi : sabubare tengah wengi ; lingsir wetan : jam sanga esuk ; wis lingsir umure : wis luwih setengah tuwa. lipet : tekuk, tikel ; lipet loro : tikel loro. lipta : anglipta, nggepok, nggrayang. lipur : mari sedhih, lijar, lerem ; dilipur : dinapu supaya lipur. lipya : lipca, lali. lir : teges (kareping) tetembungan, kaanan kang sejati ; lir pendah : pindha, kaya dené ; lire : tegese, karepe ; lire mengkono : mulane, kang iku ; diliraké : dilirwakake, ora diopeni ; salire : salwire, sakabehe.

lira : u sentekan jlentrehna artinya tenunan ; lira liru : linta-lintu, gonta-ganti. lirah-lirah : katon abang kaya getih. lirang : perangané barang sing tiangkeban, wlirang.

lirih : ora nesu (tumrap swara), alon sareh (tumrap panggrayang), pupus lempuyang ; dilirihi : dialusi, ora dikasar, digusah (diuber) tumrap kewan. liris : riris, grimis.

lirna : lirna apa, genah banget ; lirna : liming. liron : linton, ijol-ijolan, genti genten ; liron patra : kirim-kiriman layang ; liron sari : liron sih, sacumbana ; jlentrehna artinya watang : liron lawung, tumbak-tumbakan.

liru : lintu, ijol, genti ; liru lambang : ijol-ijolan barang tanpa tombokan. lirwa : sembrana, kurang weweka ; dilirwakaké : ora digatekake, ora ditetepi. lis : kendhali, kendhasat, dilisi, dikendhaleni, plisiran ing kayu, cathetan unit-urutaning jeneng. listya : ayu, endah, bagus. lisuh : lesu, lesah, sayah. liswa : lisya, pawadan, lingsem.

liwung : mumbul terus, ngamuk punggung. loba : murka, ora nrima ing pandum, bathi. lohar : lega, kabet, turah-turah. lobis : kobis ; lobistha : murka banget. lobok : logro, ora seret ; lobokan : blaser, gampang anggoné tetepungan. lohong : kembang ceme, arané gendhing ; dilobang : dikalahi, dilulu. lod : segara ; dilod : jago dicoba supaya menangan.

lodaka : banyu. lodan : iwak gedhe in segara (klebu kewan nusoni). log : dilog, dileg, diuntal, diulu. loga-lagi : loncang-lancing, ijen thil. logat : swaraning tembung, basa, makna, tegesing tembung ; kitab logat : bausastra. loh : lemah sing akèh abnyuné lan subur ; iwak loh : iwak banyu (kali) ; loh jinawi : loh banget.

lohita : abang. lojok : nglojok, keladuk maju, luwih saka mesthine. loka : jagat ; aloka : pangalem, suwur ; kaloka : kaalem ing akèh, misuwur, kondhang ; lokabaka : alam kalanggengan ; lokamandhala : lumahing jagat ; lokananta : gamelan kayangan.

loke : luke, arané kara ; lokendra : loka endra, ratuning jagat ; lokeswara : loka iswara, ratuning jagat. lokika : kadonyan, wong donya.

lokita : lukita, tetembungan, karangan, rurnpekan. lola : wis ora duwe bapa biyung, obah, owah ; lola bapa : bapaké wis mati ; lola biyung : biyunge wis mati. lolita : lolya, obah, goreh, adreng banget. lom : pucet ngelob-elob, ngelih. loma : seneng weweh, ora cethil. lombo : kuthuk, tutut, busuk ; dilombo : diapusi. londhah : remben, sendhet. londho-londho : katon ringkih (busuk). londhok : londhog, alon, bunglon.

long : mercon gedhe ; dilongi : disuda, kalong, suda ; anglongjiwa : susah, sedhih, ngenes. longgar : gelis gedhe tumrap bocah, ngelak banget, ngorong ; dilonggori : dipilih tumrap pan sing arep kanggo wiji. lonjong : wangun bunder endhog ; lonjong mimis : lonjong botor, lonjong widara, pepindhané mlayu banter banget. lontar : ron tal, godhong tal ing jaman kuno jlentrehna artinya layang, layang buku lonyo : lonyo cangkeme, sawiyah-wiyah guneme. lonyok : lucu.

lonyot : lonyot cangkeme, dhemen guneman saru (cremedan). lopa : dilopa, diwenehi reruba, dibeseli. lopak-lopak : penthen mas (selaka) dianggo wadhah kinang. lopis : arané panganan sing digawé saka ketan. lorah : lorah-lorah, jurang.

loro : kalih ; ngloro : loro-loro, sapanduman loro ; loro-loro : arané gendhing ; loroblonyo : reca tetironé penganten. lota : rota, galak. lot lotan lawe : arané dolanan bocah, pitakon kang mbulet ora karuwan. luamah : pepinginaning ati.

lubar : lebar, luwar, rampung. lubdaka : germa. lucu : cucut, njalari gumuyu. ludhuk : dremba, akèh pamangane. ludira : rudira, getih. lugas : bares, tanpa rerenggan, nyenyandhang sarwa prasaja. luh : banyu sing metu saka mripat ; diluhaké : dirosakake, lara sing disandhang.

luhung : luhur, linuwih, luwung, angur. luhur : dhuwur, darahing ratu, utama tumrape bebuden ; bangsa luhur : wong sing isih darahe ratu ; leluhur : sing nurun-nurunaké ; kaluhuran : prakara sing luhur-luhur, kungkulan ; keluhuran dhawuh dalem : bener kandhamu ; luhur ngungkuli langit : luhur banget ; nggayuh ing ngaluhur : njangka prakara sing mokal ; kaluhuran sabda : kalah padune.

luju : piranti kanggo nyithak pendhok. liikan : banget, keliwat-liwat. lukita : tetembungan, karangan, rupakan ; dilukita : dicandra, dirumpaka, dikarang. lulmat : pepeteng. lulud : lulut, boreh, lulur. hilun : dilulun, digulung, diekum ; kalulun : katut, kentir, kalah, kandhih ; lulur : sajinis wedhak gandané wangi dienggo medhaki awak supaya katon resik lan kuning, iwak daging ing balung ula-ula.

lulut : tresna lan asili banget ; among lulut : amor lulut, salulut, sih-sihan, sacumbana ; sega lulut : beras dicampuri ketan lan didokoki kunir nuli diedang nganti mateng. lumadi : lumados, lumadya, kaladekake, lumayan. lumajar : lumayu, mlayu. lumaksana : miaku, lumaku, lumampah. lumantur : jago sing lagi wiwit jlentrehna artinya lancur. lumangkung : lumuwih, ambeg luwih, umuk. lumarap : nylorot mudhun.

lumaris : mlaku, leluangan. lumawan : wani nempuh, nglawan. lumbu : godhong kimpul (tales) ; enggok-enggok lumbu : wong sing manut ombyaking akèh. lumbung : omah (papan) sing kanggo nyimpen pari ; lumbung bandhung : lumbung gedhe ; lumbung desa : tandhon pangan ing padesan kanggo wong-wong ing desa iku. jlentrehna artinya : obah lembak-lembak. lumembar : lumembat, mlembar, mlembat. lumeng : jemek, ledeng.

lumenggang : oyag-oyag ing banyu. lumengket : raket bangetjulut banget. lumeket : raket. lumeng : murub kumutug. lumingsir : ngglewang nisih. lumintang : nglaih, alihan, kaya lintang. lumintir : lumintu, ajeg, tanpa kendhat, lumirap : lumirig. nurut, miturut, tut buri, lumut : amut, tut buri.

lumuh : sungkan (suhtik) tumandang, emoh miturut, kesed ; dilumuhi : dikalahi, disingkiri. lumung : mawa lung-lungan manglung. lumuntur : miorod mudhun ; lumuntur ing sih kawelasan : rumentah ing sih kawelasan.

lumra : lumrah, wrata, sumebar, sumrambah. lumrang : sumrambah, mratani. lun : ulun ; lun ala : misuwur ala. lundhu-lundhu : mbocahi, jlentrehna artinya bodho.

lung : wite tetuwuhan nimambat sing isih nom ; anglung : ngelung, kaya lung. lungayan : lungse, kasep ; lunggen : imbuh, luwihan ; dilunggeni : diwenehi imbuh, disumenekake, diwenehi ianh. lungid : landhep, muluk kawruhe, mangerti kang gaib ; lelungidan : prakar sing ngemu rasa nulak. lungse : wis kliwat ing mangsa, kasep ; lungsen : saleran mujur ing tenunan, rambut sadhuwuring bathuk.

lungsed : wis kanggo (ora anyar) tumrap sandhangan. lungsi : lusi, kalis, slamet saka bebaya ; pada lungsi : titiking ukara ing tulisan aksara jawa. lupa : marlupa, sayah banget, gogrog, lali. lupit : rupek, ora omber ; salupit : setengah bau. lupiya : jlentrehna artinya. lupta : luput, kliru, lali, ilang luput : ora pener, salah, kliru ; luput ing bebaya : kalis ing bebaya ; luput cinatur : ora susah digunem ; luput-luput kurangbegjané : yen ora kebeneran.

lurah : panggedhe, pangarep, kepala desa, jurang lengkehing gunung. lurak-lurak : mulak-mulak (tumrap ombak). luri : leluri, leluhur ; ngluri :niti priksa asal-usul ; ngleluri : nindakaké padatan tatacara kaya sing wis linakonan para luhur ; dilurekaké : dilestarekaké tumrap padatan sing wis kalumrah. luring : loreng-loreng ulese macan gembong. luruh : sareh, alon, jatmika (tumungkul) tumrap praen. lusi : kalis, slamet ing bebaya, luput ing, cacing.

lusuh : losoh, lawas, kendho. lutak : luntak, mutah. luteh : lutih, pucet. lutung : kethek ireng. luthu : luthuk, reged banget. luthung : lathung, lawung, lumayan. luwas : lawas lan lungset tumrap sandhangan ; luwas getih : wis mari nggarap banyu. luwuk : luwung, luwih becik ; pedhang luwuk jlentrehna artinya klewang ; alas luwung : alas gedhe. luwus : kluwus, reged. lra : lumra, sumebar, wrata. lwa : jembar, amba. lwah : loh, kali. lwang : long, kalong, suda, mati, rusak. lwat : alwat, a lot, kiyat, rosa.

lwir : rupa, wujud, kaya, padha karo ; lwirnya : kaya dene, tegese, lire ; salwiring : sarupaning, sakabehe. M mabang : abang. mabeni : madoni. mabluk : katon putih-putih, akèh uwane.

mabukuh : linggih tumungkul. mabul : sumebar mrana-mrana, kakehan enteké ora tuhianja. mabur : ngambah ing awang-awang. mabyar : menga byak, megar byar. mabyor : pating glebyar, sumorot. mabyur : cuwerbanget. maca : maos, ngunekaké surasané tulisan ; macapat : golonganing tembang ; maca udrasa : maca derawat, nangis. macak : nata, ngemot ing layang kabar, sarwa becik panganggone. macan : sima, sardula, kewan galak ; macan gadhungan : macan malihan wong ; macan gembong : macan sing ulese lurik-lurik ; macan puguh : pepindhané wong luhur senadyan ilang kuwasané meksa isih diwedeni ; macan kumbang : macan sing ulese ireng ; macan tutul : macan sing ulese kuning nganggo tutui ireng ; jlentrehna artinya wlulang macan : aling-aling jenenge wong kang duwekuwasa ; nguthik-uthik macan dhedhe : ngganggu gawé wong sing wis lilih jlentrehna artinya ; singidan nemu macan : nedya namur laku kepergok wong sing mangerti.

macangake : ndadekaké pacangan. macaki : nglarangi. macem : jinis, warna. macit : mangan pacitan. macokake : nyembranani njodhokake. mada jlentrehna artinya memada, nacad, maoni ; madan : rada. madak : anadak, ndadak.

madal : ngenetake, nampik, emoh nggugu ; madal pasilan : ninggalaké paseban ; madal sumbi : madal usada, wis ora kena ditambani. madana : madana raga, sih, sengsem, katresnan.

madani : moyoki, setengah mateng, mogol. madat : jlentrehna artinya, nyerot candu. made : mande, adol, bale, madya, tengah ; made kambang : bale kambang. madeg : jumeneng, ngadeg, ora rubuh, dadi ana, dadi utawa ngregem pangkat. mader : gawé galengan cilik ing tengah sawah. madu : banyuning kembang kang legi rasane, banyu ing tala tawon; asale saka madu kembang : kebanjiran segara madu : nemu kabegjan gedhe ; sirat-sirat madu : mung kanggo lamis baé ; madubrata : kembang ; madukara : tawon ; maduretna : araning tembang gedhe.

madon : setengah mateng tumrap endhog godhog, mojok, menyang padon, royal wong wadon. madya : tengah, sedhengan, bangkekan ; samadya : sacukup ; madya gantang : awang-awang ; madyantara : awang-awang ; madyapada : donya, jagat ; madya ratri : tengah wengi ; madyaning palagan : tengahing paprangan ; madyasta : ora pilih sih madha : nyami, agawe padha, padha karo ; madha rupa : nyami warni, rupané padha.

madhaharao : juru olah-olah. madhahi : nglebokaké ing wadhah. madhang : mangan sega madhangan : lawuh ; madhangi : gawé padhang. madhehi : njuwarehi, njelehi.

madheng : wis mari manak, wis sela ora ana pegawean. maedahi : migunani. maekani : ngapusi, nyilakani. maelu : nggatekake, ngrewes, nggugu. maenda : maendha, menda, wedhus.

maer : prigel, wasis, kulina nindakake, jlentrehna artinya nalikané njoget tayub, manganggo sarwa becik. maesa : kebo, mundhing. maesan : maejan, kayu ing dagan lan ulon-uloning kuburan. maetala : lemah, bumi. magak : ajeg, tetep, ora owah,manggon, ora mundhak gedhe. magang : magangi, ngadhang wong dodol liwat ; magang priyayi : calon dadi priyayi ; magang becak : calon ndarbeni becak ; magangan : pangadhangan, papan pasowanané para magang.

magas : ngiris sethithik, isih tiyas, tidha-tidha, rangu-rangu. magasesa : kagol, jlentrehna artinya. magawan : megawan, dadi begawan. magelang : mageleng, nekad, ndlarung, emoh nggugu.

magelaran : seba ing pagelaran. magempuran : padha rusak, bosah-baseh. magenturan : padha nywara gumludhug. magersari : magersantun, wong kang ngindhung ing pomahané para luhur. mager timun : lakuné mager timun, candrané jlentrehna artinya sing becik.

magut : magutjurit,magut pupuh, maju perang, methukaké mungsuh. maha : banget, linuwih, ditemaha, dijarag ; maha agung : luhur banget ; maha bala : sentosa banget ; maha bara : abot banget ; maha baya : mbebayani banget ; maha biwara : medeni banget ; maha birama : ayu banget ; maha bisana : nggegirisi banget ; maha dibya : sekti banget ; maha durgama : gawat banget ; jlentrehna artinya kuwasa : kuwasa banget ; maha kmsa : ambeg siya banget ; maha luhur : luhur banget ; maha make : maspadakaké ; maha mantri : patih ; mahambara : ora lumrah ; maha mulya : mulya banget ; maha muni : pandhita linuwih ; mahanani : nyasmitani, ndadekaké ; maha pawitra : suci banget ; maha prana : kanthi napas akèh ; maha raja : ratu gedhe ; maha suci : suci banget ; maha sura : kendel banget ; maha wikan : weruh ing samubarang prakara.

mahar : maskawin ; mahardikengrat : kang wicaksana sarta kuwasa ; maharja : reja, slamet ; maharesmi : rembulan ; maharsi : pendhita luhur. mahas : dolan-dolan ; mahas sing asepi : dedunung ing papan kang sepi, ninggal kadonyan. mahat : nderes, gawé lenga wangi. mahitala : maitala, bumi, lemah.

mahidhara : gunung. mahiman : kaluhuran. mahisa : maesa, maingsa, maisa, kebo. mahisi : prameswari. maho : bening, padhang ; mahodadi : segara gedhe ; mahojwala : pedhang banget. mahosada : mahosadi, tamba kang mandi banget.

mahoca : dhuwur banget. maiben : maido, ora ngandel. maidahi : maedahi, migunani. mail : jimat. main : ngabotohan nganggo jlentrehna artinya ; mainan : dolanan ; main wayang : mitontonaké wayang ; main api : kembang api ; main mata : nadukaké pamandeng kang ora bares ; main mubeng : mung tansah sangsalan ; main-main : sembrana. maiti : menehi pawitan. mak : mamak, embok, biyung ; mak dhe : embah lanang ; mak nyai : embah wadon ; mak gus : paman ; mak tuwa : uwa. makadi : kang dadi pangarep, kang dhisik.

makajangan : padha lirib ana alun-alun, tarub nalika ana karamean. jlentrehna artinya : mangkara, urang. makduin : ngulama. makeringi : njalari ering marang. makem kendhali : nggeget kendhali, ora uwal-uwal, ngelongi, ngunthet. makidhupuh : linggih tumungkul urmat banget. makiki : nyata ana temenan.

makirta : makirtya, gawé, yasa, ngarang, makmahan : mung mikir awaké dhewe. makna : wis terang, teges, keterangan ; dimaknani : ditegesi, diterangaké tegese. makung : sengsem, kedanan. makutha : kuluk, songkok agemaning ratu yen sinewaka. makrak : mangkrak, mbengok, njelih. makrup : misuwur. maksi : meksi, ndeleng, weruh. maksih : isih, taksih. maktal : araning wuku kang kaping selikur. mala : rereged, lelethek, dosa, eacad, kacilakan, kasangsaran ; memala : lelara kulit. malabukane : mulabukane, wiwitane.

malad-alad : maladi, murub mengangah, memepeng banget, dereng banget, kepengin banget ; memalad kung : memalad sih, ngrerepa, njaluk supaya disihi ; malad puja : semedi ; maladi ening : mempeng ngeningaké cipta. malahan : malaken, malah-malah, malah mandar, malah, malar ; malahi : ora miturut, wani mbangkang. malam : lilin, jasat saka tawon sing kanggo mbathik ; ati malam : gampang lilihe.

malandhi : jlentrehna artinya, rampung. malang : sumelehmiturute alange ; dina malang : jlentrehna artinya suci yaiku jemuah lan selasa kliwon ; malang ateni : njalari susah, mutawatiri ; malang gambuhi : bebojoan sing lanang luwih dlik tinimbang wadoné ; malang kadhak : methentheng sarta umuk ; malang kerik : tangan loro kabeh ana bangkekan ; malang megung : ora karuwan alang ujure ; malang sumirang : nggugu karepe dhewe, sawiyah marang liyan malati : ngetokaké walat.

malbeng : malbung, malbweng, mlebu, lumebu. malela : wesi malela, waja ireng. maler : tansah, pijer, isih ana baé ; maleri : jlentrehna artinya, matesi. malige : maligen, dhampar palinggihan.

malik : kang ana njero dadi ana njaba, mluku sing kapindho ; malik klambi : malik tingal ; malik monthok : ora tetep panemuné ; malik tingal : mbalik. malim : pinter, wasis, panuduh dalan, prau panuduh ; malimirma : ngeman, mesakake, melasi.

maling : pandung, durjana ; maling dhendheng : dhemeni wong wadon ; maling arep : nyenyilih emoh ngulihaké ; maling raras : nyidra asmara. maliweran : patingbleber, pating kliwer. maluya : mangsuli ; maluyakaké : marekake, mbenakake. mamah : nggilut, nglembutaké nganggo untu, ora nggugu pitutur, ditindakaké kalawan gampang ; mamah-mumuh : mubra-mubru, sarwa kacukupan.

mamak : bapak, embok ; mamak mumuk : mripate melek nanging ora weruh. mamang : semang-semang, tidha-tidha, durung cetha, mamar : sumamar, remeng-remeng. mamas : nekel. mambang : bangsané lelembut. mambeg : mandheg ora bisa mili, menangan tanpa tandhing. mambek : gumedhe, umuk. mambeng : malang ; mambengi : ngalang-alangi.

mambil : ngambil, njupuk. mambu : mambet, kena ing ambu : ngetokaké ambu ; ora mambu bocah wadoné : ora kaya patrape bocah wadon ; ora mambu enthong irus : dudu sanak dudu kadang. mamet : golek ; mamet prana : golek ati supaya disihi.

mampang : nepsu banget mampeh : sareh, nrima, rapih. mamprak : ndedel anggoné jlentrehna artinya. mamprang : sanalika nesu banget. mamprung : mabur (kabur) bablas. manirih : nyuprih, murih. mamring : sepi mamring, sepi samun, sepi nyenyet, sepi banget.

manaduganda : manadukara, njurungi, ngrujuki, nayogyani. manail : arané wuku kang kaping telu likur. manakawan : dadi panakawan, dadi abdi pendherek. manang : kliru, nepsu. manasati : njalari panas ati. manasija : tresna, sengsem, katresnan. manasika : roh, kaalusan, kabatinan. manasuka : sasenenge dhewe, ora kanthi peksan. manstapa : susah, sedhih. manawa silih : manawa, manawi. manawibawa : gumedhe, kibir, jubriya. manda : manda-manda, mandan, rada ; mandabagya : cilaka, sangsara.

mandahpuna : mendahpuna, saiba bakal. mandana : dedana, menehi. mandangan ; bareng mandaya : ngreka-ngreka supaya. mandar : malah ; mandara : macak, dandan. mande : marung, bebakulan ; mandekaken : murungaken ; mandean jlentrehna artinya mbok manawa iya ; mandekneya : suprandené ; mandere : mendah, iba. mandek : lengganan. mandeng : ngingetake, nyawang, ngulatake. mandi : akèh dayane, ampuh ; mandira : wit wringin.

manduk : kapanduk, kena ing. mandul-mandul : obah munggah mudhun tumrap susu. mandum : mbage, ngedum; mandumi : menehi panduman. mandung : memandgung, maling ; mandungi : menehi panduman. mandra : mendra, lungan, lelungan, lelana, kaluwih-luwih banget, lirih, alon ; mandragini : mandrakini ; gupit mandragini : gedhong paturon ; jlentrehna artinya : wasis (digdaya) banget, araning gendhing ; mandrawa : kadohan ; saking mandrawa : saka kadohan.

mandha : mondhah, sedhih, susah. mandhah : ngalih sawetara mangsa ; dimandhaké : dielih menyang papan liya sawetara wektu.

mandhak : mandar, malah ; mandhakaki : araning kembang ; mandhakiya : jlentrehna artinya, memuja ; bali mandhakiya : omah kanggo memuja.

mandhala : kubeng, wewengkon, tiatah, patapan, pasraman ; mandhal giri : lahir. mandhalika : araning tetuwuhan, tanah gadhuhan. mandhasiya : araning wuku kang kaping patbelas. mandhe : nggembleng wesi, nandangi pegawean pandhe ; mandhegani : dadi pandhega, dadi pangarep, mangarepi ; mandheng : madheng, wis rada suda, pengaron.

mandheg : kendel, leren, mari miaku (obah) ; mandheg mayong : miaku kanthi mampir-mampir, gojag-gajeg, rangu-rangu ; mandheg mangu : gojag-gajeg, rangu-rangu ; mandheg tumalih : gojag-gajeg kanthi rasa sumelang. mandhi : nggawa, nyandhak, manggul ; mandhi gada : nggawa gada.

mandhingi : mandhani, nandhingi ; mandhirengpribadi : madeg dhewi ; mandhiri : madeg ; mandhita : madeg pandhita. mandhok : manggon, dedunung, andhok ; mandhok atiné : gondhok atine, ora lega atine. mandher : lelurahing kuli nyambut gawé ; mandhoran : sumbangan.

mahdhuka : canthoka, kodhok. mandhukake : ngijolaké tanpa tobokan. mandheng : tandhon, wong kang mung duwe pomahan ; lawang mandhungan : lawang gapit kraton ; mandhung-mandhung : tumpuk-tumpukan akèh banget. manedya : ngarah, njarag.

manekung : mempeng anggoné muja semedi. manelahi : anelahi, madhangi, nyunari. mangada-ada : njegrak. mangah : katon abang banget. mangaksi : ndeleng, nonton. mangan : nedha, dhahar, mboga, nadhah, nedhi. mangan nginum : enak-enakan mangan ngombe. mangan turu : enak-enakan mangan lan turu.

mangang : menga amba, mangap amba, rada wegah. mangar-mangar : katon abang rainé awit kepanasen ; mangarsa : mangharep, maju ; mangarsa-arsa : ngarep-arep. mangas : dremba, murka ; mangastawa : mangastuti, memuji, nyembah ; mangastungkara : memuji, nayogyani. mangeksi : ndeleng, nonton, mirsani. mangel : sayah, kesel. mangeran : nganggep pangeran marang. mangestupada : ngabekti, sujud. mangesthi : mendeng marang, njangka marang, kepengin banget.

mangga : enya, mara, gelem, kemangga ; mangga manggu : mangga mara, gojag-gajeg ; mangga puliha : tan mangga puliha, ora bisa menang ; mangga sapira : ora sepiraa ; mangga sesa : cuwa, gela.

manggahi : ngukuhi, nggegegi. manggal : mbalang, mbandhem. manggala : begja, kabegjan, bebukaning semedi ; manggalaning perang : senapati, pangareping prajurit.

manggalya : sasmita mahanani kabegjan. manggan : tegelan, mentalan. manggar : kembang krambil. manggeng : lestari, ajeg, pancet. manggis : manggistha, araning woh-wohan. manggrahi : tansah nyulayani rembug.

mangguh : mangga, manggih, nemu. manggul : nggawa katumpangaké ing pundhak, araning jenang ; manggulan : midodareni. manggung : tansah ora kendhat, ngetokaké swara tumrap kutut ; manggung ketanggung : bedhaya sing ndherekaké ratu sinewaka mangka : minangka, kang dadi. mangkadi : makadi.

tur, lan uga. mangkak : atos, semu reged ; mangkakan : mangkakne, mangkaknea, mangkane, mangka. mangkali : ora nggugu, ndaga, madoni, wangkal. mangkana : makaten, mangkono, mangkene, kaya kae. mangkara : urang ; mangkarabyuha : araning gelar baris ; mangkara-kara : murub mubyar. mangkas : cukat, akas ; mangkas-angkas : kumudu-kudu guneman. mangkidi : ngangkidi, matesi. mangking : mengko, nyengkelit.

mangkir : ora teka, ora rnlebu, mlincur. mangkis : masang wlulang kendhang. mangkring : mencok ing pang, ngundhakaké rega. mangku : nyelehaké ing pangkon, ngadhepaké ; mangku gawé : ngajangi duwe gawé.

manglah : ngesah, nggresh, sambat. manglar : wis duwe lar (tumrap gangsir lsp). mangleng : ngeleng. mangli : arané tebu. mangling : angling, clathu, guneman, mojar ; manglingi : marakaké pangling. mangloh : mangluh, nutuh, ngendhat-endhat. mangenang : mamang, tidha-tidha, rada samar. mangohan : gera-gera, sesambat. mangol : nonong, bathuké mongol.

mangro : cawang loro, jlentrehna artinya ; mangro atiné : gojag-gajeg awit milih rong prekara ; mangro tingal : panemu rong prakara sing kosok balen. mangsa : wektu, ungsum, molah-malihing hawa.

mangsah : mangsah yuda, magut papuh, maju perang, mengsah, mungsuh. mangsan : ungsum-ungsuman, anané miturut mangsa ; memangsan : apa-apa kang dipangan.

mangsil : ikalan lawe ing kisi. mangsit : nekaké wangsit. manidhikara : nyidhikara, ndongani. manik : inten, sesotya, telenging niripat, kalamenjing ing gulu. manikem : mani, manik. manikya : mirah. manila : inten biru. maning : maneh.

manira : aku (tumrap ratu marangkawula). manis : legi, araning dina pasaran, becik, ngresepaké tumraping rupa ; jenthik manis : driji antarané pinunggul lanjenthikan ; memanis : apa-apa kang rnanis jlentrehna artinya dimemanis : ditanduki tembung manis ; manisan : woh-wohan kang dicencem ing gula ; manis jangan : araning wit sing kulite legi.

manobawa : tresna, sengsem, sih, ngatonaké senenge, nayogyani manojawa : banter banget, bablas. manohara : manuhara, endah nengsemake, memalad sih, jlentrehna artinya. manol : kali (buruh) nggawa barang. manon : hyang manon, kang maha wikan, gusti allah ; manoni : meruhi, nyipati dhewe ; manonbawa : sedhih, susah.

jlentrehna artinya : wong kang ora duwe padunungan. manpangat : piguna marang kaslametané badan. manrang : merang, nyerang, nrajang. mantahane : ayaké baé. mantah ewuh : bisa uga. mantak aji : matek aji, ngucapaké aji. mantangi : nglarangi, mangan sawenehing panganan. mantar : menter. manten : temanten, panganten.

manten jlentrehna artinya mana, mene, mono, mantan, tilasan, pocotan. mantep : kukuh lan setya marang pasuwitan, wis tetep temenan. manting : nggeblekaké kumbahan ing watu ; manting salira : nesu raga, mati raga. mantag : mentog, tekan ing, anjog ing. mantra : donga, tetembungan sing kanggo njapani ; dimantrani : dijapani, didongani ; mantra-mantra : sumamar, ora cetha ; ora mantra-mantra : ora memper karo mantri : nayaka, sesebutan priyayi negara kang nyangkul pegawean tinamtu.

mantyanta : banget, kaluwih-luwih. mantha garwa : ngepek bojo. mantha-mantha : ngedum, merang. manthang : ketela ; manthang-manthang : abuh lan abang ; manthang-manthangan : nepsu banget.

mantheng : kenceng anggoné narik, mempeng banget panyuwune. manther : mancur, sumorot. manub : nrajang, nyerang. manuh : tepang, kulina karo, kulina nindakake. manuk : peksi, sato iwen, kewan iber-iberan ; dijuju kaya manuk : diuja pangané ; mecel manuk miber : apa-apa keduga ; saur manuk : mangsuli bebarengan. manukara : miturut, manut, mulad. manekma : manusa, manuswa, manusia, manus, menus. manuspada : manustala, jagat, donya. manusmara jlentrehna artinya nyipta, muja. manca : negara manca, wewengkon negara liya ; manca kaki : wong kang tuwa.

mancahi : nacad, maoni, madoni, merangi, ora miturut. mancak : jlentrehna artinya, nadhahi, goiek walang. mancal : nyodhokaké sikil lan nggenjot, mangkat lelayaran tunirap kapal, wong wadon megat sing lanange ; mancal donya : mati ; mancala putra mancala putri : bisa malih apa-apa ; kanggo mancal kemul : menangan ing wayah bengi.

manca negara : negara manca ; manca rawat : manca udrasa, nangis ; manca pat : tangga desa ; manca wara : nggunani sarana mantra ; manca wama : wama-warna. manceni jlentrehna artinya mancahi, nacad, maoni, menehi pepancene, matesi.nganggeri. manced : netepaké regané ora kena kurang. mancer : ndeleng ora kedhep. mancudan : mancutan, nyongat nengah, wangun lancip, mancung : buntel (tlapukan) manggar ; adu mancung : adu pojok.

maoni : nacad, mancahi. mapag : methuk, mapagake, methukaké ; mapag tanggal : nggarap sari. mapah : mencok ing papah ; mapah gedhang : jlentrehna artinya papah gedhang. mapal : ngethoki dicendhakaké ; mapali : ndaga, mbangkang. mapari : ngrata, mapak. mapas : mapras, ngethok pucuke, njugag rembug. mapatih : patih. maphum : ngerti. maprah : kaprah, ngendi-endi ana, mamprah, akèh banget dagangane.

mar : cape, tanpa daya, krasa kaya gringgingen. mara : teka nyedhaki, merang, mbage, ngedum ; mara awak : maea bau, nyambut gawé ora nggawa piranti ; mara dagang : dedagangan ; mara desa : menyang padesan ; mara dina : nyambut gawé dinan ; mara dhayoh : merdhayoh ; marajeleh : jeleh ; mara karma : kacilakan, kasangsaran.

marag : nrajang, nrambul. marah : ngandhani, nuturi, mulang ; marahi : njalari ; marah muruk : muruki, mulang. marak : seba, ngadhep ; marakaké : murugaken, njalari ; marakeh : arané wuku kang kaping 18.

marana : pati, mati, lelara. marani : murugi, nyedhaki marang : dhateng, tumuju ; marangi : ngresiki nganggo banyu warangan. maras : miris, rada wedi, kuwatir ; marasi : ngilangi sepet klapa panggonan pucuk lan bongkot.

marbuk : sumerbak, ngambar. marbuka : mbukak, mbukani. marcapada : jagat, alam donya, madya pada. mardala : kendhang, teteg. mardawa : lemes, lembut, alus, sareh, nyenengaké ; mardawa basa : basa kang ngresepake, ulah karangan, ahli basa ; mardawa lagu : lelagon kang ngresepake, ahli tembang. mardi : murdi ; mardika : ora kawengku lan kaereh liyan ; mardikani : njarwani, nerangaké ; mardikengrat : kang kuwasa lan wicaksana. mareni : mantuni, leren enggone.

mareng : mangsa mareng, mangsa antarané mangsa rendheng arep ganti mangsa ketiga. maregake : nuwukaken, njalari wareg. mareki : mara, nyedhak, nyaketi. marem : wis lega atine. marengi : mbeneri, pinuju, nglilani, ngidini, marengake. marga : dalan, dedalanan, srana ; marga sangka : jalaran saka. margaina : guwa garba. margana : panah. margiyuh : giyuh, susah, sedhih. margupe : sayah, kesel. marhum : jenate. mari : manten, wis leren anggoné nindakake, waras pulih kaya mauné maridake : mulang marang, mejang, ngandhani.

jlentrehna artinya : linggih tumungkul urmat banget. marjan : merjan, kewan segara ing karang-karang. markata : jumerut, inten werna ijo. markis : kuncunging pendhapa kanggo ngeyubi kang mudhun saka kreta ; markisah : araning woh. marlesu : marlupa, kesel banget, sayah. marma : manni, marmitane, welas marang, duwe palimirma, marga saka iku, mulane.

marmut : marmot, araning kewan sajinis tikus werna putih. marna : marni, ngecet, nyungging, ngrumpaka, nyritakaké ; marnani : warna-warna ; marnakaké : mujudi, nganakake. maro : mbage dadi loro, nggarap lemahe wong liya kanthi cara pametuné didum loro karo sing duwe lemah.

maron : malihan, lemah sing digarap maro, pangaron ; memaron : duwe maru. marong : mengangah murub. marsudi : mersudi, ngudi, nggegulang supaya bisa.

marsase : serdhadhu landa kang pinilih. marta : lembah manah, sareh ; martabak : panganan saka trab ; martabat : pangkat, tataraning kajiwan ; martani : martosi, ngabari, njalari lipur. martobat : mertobat, tobat, kapok. martiwi : mertinjo, jlentrehna artinya, mara dhayoh. martyaloka : maracapada, martyapada, alam donya. marwata suta : gedhening bungahe kaya sagunung anakan. marwita : puruhita, meguru.

mas : jene, jenean, logam kang larang regané kanggo rerenggan ; mas enom : mas sing dicampuri logam liya wamané kuning. masah : ngelus kayu nganggo pasah, wisramasuk. masang : nata, ngetrapaké ; masang drigama : masang taji, nedyani mialani wongliya ; masang semu : masang ulat, nandukaké pasemoning praen. masbok : masbuk, nrambul melu mangan tanpa diundang. masbun : ati, pangrasaning ati. maselat : jimat. masem : wis rada lawas. masgul : mesgul, susah, sedhih, jlentrehna artinya, lara atine.

masi : masa, mangsa, mangsi, mokal jlentrehna artinya, senadyan ; masiya : senadyan. masiyati : masiyatake, ninggali wasiyat. masir : medhi, jlentrehna artinya wedhi (tumrap salak). maskentar : maskentir, tembang maskumambang mas-masan : barang-barang mas, tetironing mas, araning kewan swiwiné kaya mas ; kemasan : tukang gawé barang-barang mas. masmu : semu, katon kaya. masogi : ngejogi dagangan. masoh : masuh, ngumbah masoki : masokake, mbayaraké marang. maspasdakake : maspaosaken, namataké banget.

masra-musru : nepsu banget. masrut : srat masrut, srana, mejani (opahe dhukun). mastuti : ngalem, nyembah. mat : pener, trep pangincenge ; dimataké : diinceng temenan, dirasakaké temenan ; mat-matan : laras-larasan. mata : mripat, tingal, paningal, panca driya sing kanggo ndeleng ; micakaké mata melek : nganggep marang liyan yen ora weruh ; nyolok mata nampek rai : nglakoni piala dijarag ana sangareping sanak ; mata-mata kopen : werung nanging durung tamat ; mata dheruk : bolongan ing klambi kanggo liwat benik ; mata dhuwiten : kang dimelik mung dhuwit ; mata era : araning kranjang ; mata iwak : araning tetuwuhan banyu ; mata kopen : kaya-kaya ; mata lele : putih-putih ing mata gemak ; mata kucing : damar kanggo pernis ; mata loro : mangro tingal ; mata-mata : mata pita, telik sandi ; mata pitaya : wong kang piniji ngawas-awasi ; mata sapi : endhok diceplok ; mata walangen : kesel mripate awit kesuwen mandeng.

matag : ngatag, ngetag, akon, mrentah. matah : manggenah marang, miji pagawean marang. matal : wis tuwa banget. matang : numbak ; matang tuna numbak luput : kang dijangka ora katekan ; matang putung : kepeksa kandheg jlentrehna artinya matangnia : sabab, jalaran, amarga ; matang atus : siji-sijiné patang atus ; matangga : matengga, gajah.

matar : ngikir ; matarum : mataram. mateng : wis tanak, rampung pangolahe, wis tuwa lan enak dipangan, wis meh mecah (tumrap wudun) ; mateng ati : lagi mateng ingjero. mati : pejah, surud, seda, lena, pralaya, ngemasi, lampus, gugur, antaka matianta : banget keluwih-luwih ; mati branggah : mati utama banget ; mati kunduran : mati nalika nglairaké ; mati raga : nindakaké kasutapan ; mati sabil : mati merga perang sabil. matimbun : tumpuk-tumpuk.

matin : matosi, mutawatiri. matis jlentrehna artinya nyembeleh ; matistis : atis, adhem. matoh : matuh, kulina kepatuh. maton : gumathok, miturut pathokan, kena dipercaya.

matra : ukuran, sathithik, mantran ; matra kelasa : matra kilasa, ngatut. matrap : ngecakake, numrapaké ; matrapi : ngukum. matrasa : murka, ngangsa, men. matsya : matswa, iwak loh. matu : nyela, ndokold watu, atos kaya watu. matuk : nucuk, nothol, natah ; natuki : njalari lara watuk.

matung : melu, ngiloni ; patungan : bathon cuweken. matur : nunjuk, kandha kalawan unnat. mathak : mbalang nganggo barang atos, bakal kanggo gawé kuluk. mathar : sarwa tata lan becik. mathem : seneng banget, marem banget. mathet : narik kenceng, nukak, nyandhet. mathi : unyeng-unyengjaran, gawé pathi. mathis : trep banget, dhamis, cocog banget, becik lan bener pangetrape tembung. mathu : namakaké gangsingan marang gangsingan liya.

mawa : mawi,nganggo,kadunungan ; mawa-mawa : maturt kaanane. mawahi : nglawahi, ngeleti, mawak-mawak : menga (suwek) amba, nangis seru. mawal : pisah, uwal ; mawali : madoni, emoh nurut. mawalikan : molak-malik, mawali-wali : mawantu-wantu, bola-bali, kerep, tansah. mawanti-wanti : wanti-wanti, wali-wali, kanthi temen-temen.

mawang : nyawang, ndeleng, nganggo ngelingi kaanane. mawar : araning kembang ; mawari : ngirisi krambil digawé sawawar-wawar ; mawarna-warna : mawami-wami, wama-warna. mawas : ngawasake, namatake, gawé wawasan. mawat : maweh, aweh, menehi ; mawat gawé : mawat karya, gawé piala. mawelu : bureng, pucet. mawerdi : mundhak-mundhak. mawijah-wijah : seneng-seneng. mawuh : wawuh, tepung maneh. mebel : praboting omah. mebret : nganggo sandhangan apik lan anyar. mecak : mecak (midak) tumrap jaran.

meca : waleh, kandha blaka; ngandhakaké bakal ana lelakon, mecalang : mecambeng, dadi pacalang, prajurit kang ndhisiki laku. mecece : gumaib. mecenges : mecengis, katon mak pringis. mecing : njaluk pecingan, njaluk persen. mecithat : alis sing katon nyenthang njegrag, mripat kang katon amba mentheleng, umuk, gumaib.

mecohi : mecrohi, notholi, ngabruki, tansah ngajak padu. mecok : ngethok, mbacok. mecuk : melu ngrasakaké kepenak.

medahi : maedahi, migunani, piguna. medan : tegal, papanjembar, paprangan ; pamedan : palataran, alun-alun.

medem : durung megar tumrap kembang, durung mekar tumrap kawruh. medi : dubur medini : bumi ; mega : kumpulaning uwab ing awang-awang katon putih ; mega malang : mega sing malang (ing wayah esuk) ; mega mendhung : araning gendhing.

megan : ulesing dara sing rupané klawu semu biru. megantara : ulesingjaran wujude dhawuk semu ireng. megeg : megeg, ora obah, meneng baé. megeng : mentas lara.

meges : ngiris menceng. megin : egin, isih. megung : simpang saka enere, oyag, ganjing. meh : ndungkap, kurang sethithik ; mehak : melu ngrewangi, ngiloni.

mekala : lambung, bangkekan, amben. mekani : njaga (ngati-ati) sing sadurunge, ngrekani, ngapusi. mel : donga, rapal ; dimeli : didongani. melik : kepéngin nduweni, kepéngin ngepék ; melikan : gampang melik ; melik nggendhong lali : awit kepengin banget nganti wani nindakaké kang ora sabenere. melingi : ngelingake, ngelikake, menehi peling (imbuh).

melu : tumut, ndherek, tut buri ; melu-melu : melu ngiloni ; melu grubyug : manut ombyaking akèh ; melu payu : tuku regané manut sing tuku dhisik. melung : mbengkeluk, melot. memba : metu, ngemperi, madhani, niru ; memba warna : malih rupa.

mendah : supaya ; mendahané : mendahbaya, mendah gene, saiba bakal. mendes : mendres, kenes banget. mendra : lunga, lelungan. mene : mriki, mrené ; samené : samanten. meneng : abang banget. meiimen : amen-amen, mbarang, ngamen. mengas : mlengos, noleh.

mengeh : abang banget, anyar banget. mengeng : noleh, mengo, leren sedhela, ninggal kuwa. monger-menger : lambe kang abang ngresepake. menges : meges, ngiris. menggar : ngenggar-enggar. mengger : lelara cangkrang jinise lelara cacar.

mengkak : pratingkah nelakaké emoh. mengkal : jaran nyepak nganggosikil buri. mengkol : menggok, nyidhat dalan, nggiwar; mengkol-mengkol : kakehan pratingkah ; kinang mengkolan : kinang racikan gedhe. mengkrang : linggih ing papan dhuwur. mengleng : ndhungkluk nilingake. mengoh : katon ayu. mepeh : nggawe dandanan saka emas. mepes : nggawe pepes. mepi : kepi, ngimpi. mepu : susah (sedhih) banget. merad : merat, mekrad, minggat, nggeblas. merak : misah, megat ; perakan : pegatan.

merang : mbagi, ngdum, mara; merang-merang : mara-mara. mereh-mereh : abang sumringah kaya getih. merekake : meri marang, meren. mero-mero : kandel anggoné pupuran. meron : paningrat, panirat, emper. merong : nylonehi, nylorengi, ngregedi ; merong-merong : mero-mero.

meru : gunung ; meru pancaka : pangobongan mayit. mesa : maesa, mahisa, mindhing, kebo. mesan : maejan. mesi : ngemot, isi. mesih : isih. mester : guru, pamulang. gelar, ahli hukum, mestri. met : golek, njupuk, ngepek. metani : ngulik, nggoleki tuma, nlesih. metang : metung, nggrejali. metar : ngedrel nganggo mriyem. medamel : megawe, nyambut gawé, makardi, makarya. meded : mubeng ngganjret, mubeng nggaded, nggoleki menyang ngendi endi, ngendheg, pradandan sarwa becik.

mededeng : mbedhedheg, kenceng banget, mempeng banget. medelap : telung medelab, adoh banget. medel : nyelep, ngireng (mbiru) nganggo nila. medidang : pating prinding. medudung : mbedudung, weteng njembluk banget, wareg banget. medhadhag : medhagdhag, mbedhadhag, katon jin-ibar dhadhane. medhak : medhun, mudhun, mandhap ; medhaki : ngusari nganggo wedhak.

medhar : mbukak, mngudhar, njugar ; medharake : ngandharaké ; medhar sabda : sesorah. medhedhek : mbledheh, weteng mungal lan ora ketutupan. medhek : mudhun, mara, nyedhak. medheng : sedhengan, nedheng, mbeneri, kandheg ora bisa maju terus, dagangané ora payu. medhidbig : gumedhig, umuk, gumedhe. medhok : dadi gedhe lan empuk marga kaekum ing banyu ; medhok atiné : bungah, seneng.

medhot : ngethok, nugel ; gajah medhot saka wantilan : ucul ; medhot seduluran : man anggoné memitran ; medhot udud : leren anggoné karem udud ; medhot dalan : anggoné ngeteraké ora tekan nggon sing dituju ; medhot banyon : kandheg ora ditutugake. megani : ngebuli, meluki. megar : menga jumereng tumrap kembang ; megari : wong Rang rerewang ; megar rejekiné : sempulur anggoné goiek rejeki. megat : medhot, misah, menehi talak marang bojo. megatruh : araning tembang maca pat.

megeng : megeng napas, ngampet ambegan ; megeng bayi : nyapih bayi ; megengan : sedina ngarepaké pasa. megep : katon gagah, katon becik, semua. meger-meger : ngadeg njenjer tumra barang kang gedhe. megrak-megrik : ora kukuh, kerep laranen. meheng : muhung, mung, namung. mekak : narik kendhali supayajaran ora mbandhang. mekakat : mupakat ; ora mekakat : ora lumrah, ora memper, akèh banget.

mekan : makan, tumama, rumasuk. mekanjar : joged perang, nekad, mbrengkelo. mekar : megar, mundhak gedhe. mekca : walih, kandha sanyatane. mekeni : nuruti panjaluk, jlentrehna artinya panjaluk. mekenaki : ngepenaki, ngepenakake. mekek : mekak, mepeg. mekengkeng : merkengkeng, kenceng banget, ora kena dieluk. mekik : njerit, njelih. mejaji : mbejaji, murwat, pengaji, ana ajine. mejana : sedhengan, tanggung, rada lumayan ; dimejanani : diremehake. mejani : opahan marang dhukun ; dimejanani : diwenehi mejani.

mejang : mulang bab ngilmu kasampurnan. mejao : mejak, muntir. mejenmk : majemuk, bebakalan kanggo slametan temanten bubar ijab, mejenun : majenun, rada gendheng awit keladuk anggoné nglakoni mijing-mijing : nyuwek-nyuwek.

mejujag : mbejujag, kurang ajar. mela : jlentrehna artinya, memelas, sambat melas asih. melad : ngiris nganggo welad. melagake : ngalangake. melak : nggelak, katon cetha ; melak-melik : mripate kelap-kelip, ora jlentrehna artinya turu.

melang-melang : sumelang,kuwatir ; melang-melung : wong ura-ura swarané seru lan nggalur. melar jlentrehna artinya mundhak amba ; melar mingkus : ambegan sing rekasa. meled : kepengin banget, adreng banget. meka : nguja pangan. melek : nggelak, mulek. meleng : mendeng marang, ngener marang, nyawijekaké gagasan ; meleng puja : ngeningaké cipta ; meleng-meleng : gilap, meling-meling. melep : kebakmencep. meles jlentrehna artinya ireng gilap ; brebes meles : brebes mili.

melid : melit, medhit. melik : goiek lan ngresiki emas ; melik-melik : damar sing urube cilik. meling : akon nekakaké omongan, akon nukokaké durung menehi jlentrehna artinya. melok-melok : katon cetha banget. melong-melong : belong amba, buthak amba. melung : mbengok, njelih, nyuwara banter lan nggalur.

melur : jlentrehna artinya, gampang blengkuk, ndokoki pelur. membat : bisa mentul, ora kaku banget ; membat pikire : ora puguh, ora cukeng, bisa mulur pengrembuge ; membat mentul : mentul-mentul.

membik : mripate kabak luh arep nangis. membek : nangis luhe trocosan.e membek : nangis luhe kaca-kaca. memel : empuk ora alot (tumrap daging). memela : memelas, mesakake. memeng : awang-awangen, rada wegah. memes : empuk lemes ora kemrusak, ngresepake, nyenengake. memet : dhuwur banget, luhur banget, angel digayuh ; bunder memet : bunder kepleng ; gilig memet : gilig kepleng. memetri : ngopeni lan memundhi. mempen : ora metu-metu saka omah, wekel, ora seneng dolan-dolan.

memplak : putih memplak, putih banget. menang : unggul, bisa ngalahaké ; menangi : meningi, ngalami, nyipad ; menangaké : menehi wewenang marang. mencak : main pencak ; mencak-mencak : nepsu banget mencengah : praen kaag katon sumringah saras mencangul : ndugal, ora idhep isin.

menceb : kebak baaget. mencelat : miesat adob ; mencelat dhewe : menjila. mencening : katon becik lan resik ; kuning mencening : kuning resik.

mencereng : katon seneng pamandenge. mencilak : mripat kang meiek katon sereng. mencono : abuh gedhe, murang tata. mencorong : katon sumorot padhang. mencorot : padhang mawa cahya. mencureng : mencereng jlentrehna artinya marga nepsu. mendal-mendal : yen dienetaké mendat bali. mendap-mendip : wis men mati, kuwatir banget.

mendat : membat, mentul. mendeking : paceklik, larang pangan, pailan ; meteng medeking : mateng kang kaping 3, 5, 7 1sp. mendelem : wadhah banyu kang digawé saka bathok.

mendelo : mripat kang katon gedhe metu, gumunbanget nganti ora kedhep mendeng : melang, mindeng. mendirang : pendirangan, ngingetaké ngendi-endi. mendiring : krasa wedi, krasa miris. mendha : rada suda, ora banget-banget. mendhak : ndhungkluk tandha taklim ; mendhakmendulur : ora wrata, pating brenjul. mendhala giri : araning bakal lurik. mendhalungan : pranakan campuran, blasteran, jinis campuran.

meodhang : kulitberas sing lembut banget ; mendhang kebaratan : ora karuwan pandunungane. mendhapa : mendhapi, pendhapa ; mendhapan : mlaku mendhak-mendhak tandha urmat. mendhe : leren, mandheg ; mendhegani : mangarepi, nglurahi ; sumendhe : kakang wuragil.

mendheles : ora perdulen, kurang ajar, labeling. mendhesel : mendhisil, mencungul lan mbrenjul. mendhek : mendhak, ndhodhok, araning ama pan. mendhekel : mbiendhuk atos ; mendhekel atiné : mangkel, serik. mendhelis : mendhelus, katonmencungul ireng klimis.

mendhelong : kendho banjur nglembreh tumrap tali,mari mempeng. mendhem : ngubur, nglebokaké ing jogan banjur diurugi ; mendhem raga : nyamur laku, orangatonaké kaluhurane. mendhil : cemendhi, tai tikus.

mendhing : luwung, rada lumayan. mendho : gula krambilsing durung atos, bodho, rada gendheng ; mendhoan : tempe goreng weton banyumas. mendhot : mbiyetwohe. mendhuh : mbiyet banget wohé, akèh nganti turah-turah. mendhung : mega ireng pratandha arep udan ; mega mendhung : araning gendhing. meneb : endheg-endhege wis ana ing dhasar.

menesel : getun, kedhuwung. menig-menig : dheg-dhegan, kuwatir. menik : kembanglombok. meningi : menangi, meruhi.nyumurupi ; mening-mening : resikbecik. menir : tugelan beras kang lembut-lembut ; meniran : panganan sing digawé saka menir, araning tetuwuhan sing godhonge kena kanggo tamba ; meniren lambené : cangkeme kesel jalaran kakehan guneman.

menis-menis : katon klimis gilap tumrap barang kang bunder cilik. mentah : durung mateng, durung diolah ; dimentahi : rembug sing diendheg-endhegi. mental : mendal, mendat ; mentala : tegel ; mentalan : teglan. mentaos : araning tetuwuhansok kena kanggo bumbu rokok.

metereng : sandhangan paringané bendara. mentog : pantog, gadhog. mentrik : para nyai ing pratapan. menthalet : menthalit, sikile digubedake, mubeng minger guneme. menthangul : mencangul, ndugal, ora idhep isin. mentheyot : mbentheyot, rekasa lakuné awit kabotan gawan. menthek : araning jlentrehna artinya pari. manthelang : ndugal, kurang ajar. menthirake : nerangake, ngandharaké ; mentheraké ati : mbungahake.

menthel : mrenthel, bisanyelengi. menthelet : nglepet wetenge, rekasa nyambut gawé. mentheng : mlenthung (abuh) kenceng banget, katon mempeng banget. menthik : cilik ; cilikmenthik : cilik banget ; menthikan : genjah ; menthik wangi : arané pari. menga : mbukak, ora ketutup ; menga atiné : kena diajak rembugan, oleh yen dijejaluki ; mengani jlentrehna artinya ngengakake.

mengangah : katon abang murub tumraping geni, rainé katon abang. mengeng : mbrengengeng, judheg, ngengleng, durung ana putusan kang gumathok. menges : irengsemu gilap. menggah : mungguh ; menggah menggah : guneman pedhot-pedhot. menggak : nyandhet, ngelikake. menggaota : manggaota, nindakaké pegawean. menggel : nengkel-nengkel, ngethok-ngethok. menggep : katon pantes banget, katon jlentrehna artinya banget. mengger : dumunung ing papan kang dhuwur, katon gedhe dhuwur. menggos : krenggosan ambegane.

mengkab menga nglingkab. mengkak : mengkak atine, judheg, susah ; kuna mengkak : kuna banget ; mengkakna : mengkakene, mangka. mengkarag : mengkorog, njegrig wuluné marga wedi. mengkarek : rewel, nggugu karepe dhewe. mengkek : kukuh ora blendra-blendre, nyathok kenceng ora owah-owah. mengkelang : atos tumrap tinja, ora manut, wangkal, mbegugug. mengkeluk : mbengkeluk, mbiengkuk. mengkelung : miengkung, mentiyung nekuk. mengkik : menggik, tipis (cilik) ing tengah. mengkoni : masang wengku, nguwasani, ngereh, duwe sesanggan ngembat brayat.

mengkos : krenggosan, mengkis-mengkis banget. mengkuhi : ngukuhi, nyentosani. mengkurah : kayu amping-amping kuburan, pipitan jlentrehna artinya krambil. menyak : midak. menyambik : menyawak, kewan jlentrehna artinya rumangkang, menyan : bangsané blendok sing kanggo kutug ; menyan madu : menyan putih. menyar : miyuri, ora kukuh ; menyar-menyir atiné : miyur atine, ora tetep, gojag-gajeg. menyat : ngadeg saka palungguhan, lunga.

menyenyeng : ndugal. menyesel : getun kedhuwung. menyanyo : menyonyong, abuh ing bathuk amarga kejeglug. menyaro : anak menjangan. menyunyang : ndugal, kurang ajar, ora manutan. merak : manuk sing wuluné endah banget, nyedhak, mara.

merang : gaganging pan, mbacok, namakaké lelandhep ; merangi : nglawan. merbabak : mripat kaca-kaca arep nangis utawa muring. merbal : gawé palapuran. merbangbang : bang-bang wetan, wayah esuk.

merbebeng : merbeng-merbeng, abang raine. merbes : mbrebes ; merbes meles : susah banget ; merbes mili : ngetokaké luh. merbot : punggawa mesjid. merbuk : merbuk wangi, sumerbak wangi. merdagang : dedagangan. merdamel : magawe, makarya, nyambut gawé. merdangga : gangsa, gamelan. merdapa : trubus, semi. merdaya : maeka, ngapusi. jlentrehna artinya : njarwani, negesi, nerangake. merdesa : merdhusun, mara desa, menyang desa. merdeng jlentrehna artinya adreng banget, selak banget.

merdi : mulang muruk, nggegulang, ngudi, mersudi ; merdi desa : bersih desa. merdikani : merdeni. merdondi : perdondi, pradondi, padon, sulaya. merdu : mredu, alus, lemes, nyenengake. merdud : ora nrima, mbangkang. mere : kethek nywara, mbeker; merekake : ngupamakake. mereg : bereg raja kaya. merek : nyedhak. merepi : nyedhaki, jlentrehna artinya. merga : mergi, marga, dalan, jalaran. mergag : mergak, regag, ringa-ringa.

mergana : margana, panah. mergaya : ati daya, pirangbara; ora mergaya : ora sepiraa. mergil jlentrehna artinya njegil, misah, ndhewe. mergul : nglapis emas. jlentrehna artinya : anakbebek. merit : saya pucuk saya cilik, swara cilik dhuwur. merjaya : ngalahake, mateni. merjan : kewan ing karang segara. merjit : ngedum-edum. merkaki : mara kaki, tuwa paken, wong singwisjompo. merkasa : prakasa, meksa. merkata : inten, jumerut.

merkengkong : ngewuhake, rewel. merkeneng : kenceng tumrape otot. merkengkeng : kenceng kengkeng, cukeng, puguh. merki : sindap, tuma pitik. merkitik : nywara kritik-kritik tumrap geni, serik banget, nepsu ing batin merkasa : meksa, njiyat merkutuk : mocot, nglereni. merlik : kelip-kelip, gebyar-gebyar cilik. mermumuh : abuh ngemu nanah (tumrap gidhik).

mermomong : murub mengangah. murna : merni, ngecet, nyungging; mernani : memeni, nganani, mujudi. mreneng : katon becik panganggone. merpak : merpek, wis cepak. merpat : manca pat, manca desa, tangga desa.

merpeki : mrepeki, nyedhaki, mara. merpet : mak prepet, peteng amarga mendhung. mersabeni : persabu, aweh weruh. mersobat : nyanak, memitran karo. mersudi : marsudi, nggegulang, ngudi. mersul : mersut, ndugal, nakal.

mertal : nyalin ing basa liya. mertanggung : mertanggel, tanggung-tanggung, ora gedhe ora cilik, ora cukup mertelani : mertilakake, nerangaké marang. merdeni : ngopeni. mertobat : kapok, kedhuwung. mertongtong : njenger nyawang. mertowin : mertohin, ora patia. merwasa : mrawasa, milara, nyiksa. meta : napsu banget. metagihi : njalari ketagihan.

metabaken : mutuhake, ndadekaké wutuh. metak : mendhem, ngubur ; metaki : nggusah sarana nggetak. metara jlentrehna artinya metawis, ngira-ira. mententeng : ngewak-ewakake, gumaib pratingkahe. metek : ngenetaké seru, menet pegawean ; meteki : mijeti. metengan : wong wuta sing diopeni priyayi, polisi kepetengan. metha : metha. mangun, nggambar, mujudake. methak : mutih, nglakoni ora mangan uyah. methakil : sikile menthalit, sugih reka ala. methal : misah supaya pethal, pisah karo.

menthanthang : lungguh sikile dijenggarake. methangkus : methangkrus, mabeg kuwasa, nggugu karepe dhewe. methat : nyopot, mecat ; methataké sikil : mbegagah jlentrehna artinya methati : njungkati. methek : meca, mbedhek. methekol : methekel, lengen sing kiyeng kenceng. methit : namakaké pethit, ngelih tanduran ing taman.

methentheng : tangané dicapengaké ing bangkekan. methengkrak : lungguhsajak umuk (pambekan). methengkrang : lungguh sikile diunggahake. methengkreng : lungguh thg pinggir utawa ing papan kang dhuwur. methengsel : lungguh mbungkuk. mether : melaramab. methes : mulangmuruk kalawan kereng.

methesel : pawakan cilik nangingkiyeng. methethe : methethek, methentheng, pawakan cilik nangingpambekan. methetho : methethu, mongkok, bungah. methekul : pamangané sengkut karo tumungkul. methel : mbedhel, gampang pedhot ; metheli : sregepbanget. methentheng : katon kenceng otote. methengkreng : lungguh ora obah-obah.

methungkrus : lungguh ora tumandang apa-apa. methet : ngethok pucuke. methik : ngundhuh woh (kembang), mint. methil : medhot ganthilan. methithil : mbethithil, cethil banget.

methoki : nuthuki paju. methot : nyopot (narik) kanthi peksan, misah, megat, nyapih methunthang : ndugal, nakal.

methur : katon gedhe empuk tumrap srabi. mewahi : muwuhi. mewer : nggulung, nglinting, nglunthung. mewes : meksa, ngetog. miangkuhi jlentrehna artinya ngrengkuh kanthiangkuh. miber : mabur, mibur. midadareni : rembulan ndhadhari, slametan bengi ngarepaké ketemuné penganten. midana : ngukum, niksa. midir : mubeng, lungamenyang ngendi-endi. midereng : kumudu-kudu, nyrempeng. midid : angin sumribit alonlan ajeg. midih : ngenetake, menet, nglapis nganggo pidih. midik-midik : namat-namatake.

midosa : nganggep dosa marang. miduwung : keduwung. midhang : leledhang, lunga seneng-seneng, ngluwari ujar menyang papanj sing sok kanggo ngluwari ujar; pamidhangan : pundhak. midhe : nyambung nganggo anthok, tuku iwak daging ora mbeleh dhewe. midhet : turu. migag-migeg : obah-obah ora maju-maju. migag-migug. : mung obah-obah marga kelemon. migena : ngribedi, ngalang-alangi, mitenah. miguna : pinter; migunani : maedahi; migunakaké : nganggo. migung : nyimpang, nggiwar, nasar.

mihak : ngener ing, ngiloni sasisih. mijah : nggrejah, metung, niilang, iwak loh menyang pentasan. mijen : mung kanggo ratu, mirunggan; mijeni : nyebari winih, njalari mijekaké : nurun-nurunake.

mijer : ngurari nganggo pijer. miji : matah akon nindakaké sing mligi. mikalahi : mikawoni, ngalahi. mikara : miksa, ambeg siya mikat : golek manuk nganggo pikat. mikramakake : mbayangkare, ngomah-omahake. milah : nglulus kens kang dianggo ; milah-milah : merang-merang, nyilah-nyilahake. milala : ngajeni banget, ngemi-emi banget. milalah : milaur, aluwung. milalati : malati. milalu : milampu, aluwung, angur, milalah. milang : mical, ngetung, metung, mulang ; milang kori : takon-takon ; milang-miling : madik, nenamataké ngiwa nengen ; milang usuk : teturon mlumah.

milangoni : nengsemake, jlentrehna artinya, ngi-esepake. milar : minglar, mlumpat sisih, nyigar mujur. milara : misakit, niksa, gawé lara.

milasa : melasi, asih marang. mileg-mileg : kuwaregen banget. miling-miling : ndedelok arep dituku. milir : manut jlentrehna artinya banyu. milok : melok, melu. milulu : mlulu, ngemungake. miluta : ngarih-arih, narik ati. mimang : oyod wit ringin ; kendhit mimang kadang dewa : luput ing bebaya ; nglangkahi oyod mimang : bingung.

mimba : metu ; memba wama : ngemperi, ngemba-emba mimbuhi : mimbeti, ngimbuhi, ngundhaki. mimi : bangsané yuyu segara ; kaya mimi lan mintuna : tansah runtang-runtung ora pisah. mimik : bangsané mrutu. mimir : baya cilik, nglemir, tipis banget, mimring. mimrih : mamrih, murih. mina : iwak loh, wis mirunggan, turahan ; diminakaké : diturahaké kanggo mirunggan.

minak-minuk : lemu ginuk-ginuk. minantaka : juru misaya mina. minangsraya : mintasraya, njaluk pitulungan. minaraki : nglinggihi. minat : pantes, sedhengan; ora minat : ora majad, ora lumrah ; saminate : sakadare, sakuwasane. minda : menda, wedhus. mindaka : nedya, rnblela. mrengkang, nedya ngrusak. mindeng : meleng, mendeng marang ; sadina mindeng : sedina muput.

minder liring : tansah nyawang. mindi : araning wit, miothoti kapas. mindoni : ndokoki windu sumur. mindring : tetuku sarana nyicil ; dimindringaké : diedol sarana cicilan. mindhik : miaku alon jangkahe ciyut. mintar : mentar, lunga. mintokake : nyemantakake. mingrang : ora cak-cek panyekele, rada wedi. minggung : gonjing, horeg. mingid-mingid : mmgis-mingis, landhep banget. minging : ngambar wangi. mingit : ndhelikaké kanthi premati. mingkar : nisihi, nyimpangi mingkara : jlentrehna artinya, meksa; mingkarani bebaya : nanggulangi bebaya.

mingkuk : ngemohi jlentrehna artinya, nyingkiri kewajiban. mingkung : emoh, nampik. minglar : milar, mlumpat nisih. mingsa : mundhing, kbo. mingsel : katon lemu weweg. mipik : tuku jlentrehna artinya. mipil : methilijagung, nyidl. miradadi : goiek srana, nyranani. mirah : murah, inten abang. mirak : merak, megat. mire : nyisih, nyimpang, nggiwar. mirib : ngemperi,memper karo. mirid : miturut, nim. mirik : mindeng, nuju marang. miris : miris atine, wedi sarta kuwatir. mirma : welas marang ; mirmakaké : mrayogakake.

mirong : kemul kampuh, ora prasaja, gendhing sadurunge dadi ciblon. mirowong : mitulungi, ngrewangi. misanan : sedulur misanan, sedulur tunggal embah buyut. misata : lelungan wisata. jlentrehna artinya : kauntungan, panetu, pituwas. misudha : ngunggahaké pangkat, ngangkat. mitaya : mitados, pitaya marang ; mitayani : kena dipitaya. mitambuhi : mitambeti, ethok-ethok ora ngerti.

miterang : njaluk katrangan, takon. mitontonake : nuduhaké marang wong akèh. mitra : kanca raket ; memitran : kekancan, tetepungan; mitra darma : kanca kang becik banget. miwaha : mulyakaké panganten, mbawahi jlentrehna artinya. miwal : nulak, ngemohi, nampik, nedya uwal. mlagar : ngobar, ngobong. mlaha : lelahanan. mlana : lelana, leluangan. mlandang : nempuh, mengarepi, ngluirahi, sempulur anggoné dedagangan.

mlander : ngowahi, nyarek. mlanjer : planjeran, metu planjere. mlanji : mlandhi, cumawis, rampung. mlanggar : nerak, nrejang. mlanggeri : nglarangi, nganggur-angguri. mlangkring : manggon ing papan kang dhuwur, ngundhakaké rega.

mlapar : luber, banjir. mlapati : nyasmitani, ngalamati. mlatah : mratah, lumrah. mlatar : blater, pinter srawung. mlanthing : sarwa tumata becik. mlatuk : nyucuk, negor kayu. mleca : wong asor, ora tuhu, ora nuhoni.

mlegung : nyancang raja kaya. mlegrok : mencok, andhok, magrok. mlela : cetha, wela-wela; wesi mlela : waja ireng; wedhi mlela : wedhi lembut ireng. mleleh : leleh, luluh. mlambang jlentrehna artinya mlembar, mlembat, alihan panggonan. mlenang : abang banget, becik banget. mlendo : ora nutugaké panggarape, ora netepi kasaguhane. mlendhung : ngeyub, ngaub, mapan, panggonan amping-amping. mlendho : kendho rnlendho, kendho banget. mlentek : nrethek, tetakon mrana-mrana.

mierah : mlerek, abang kaya getih. miesdreng : katonbecik nyenengake. mleleng : plelang-pleleng, ora kedhep-kedhep. mlempem : wis ora kumripik, kendho, ora duwe daya. mlendek : miendreng, melendir, meksa akon nyambut gawé-abot. mleni : tani mieni, wong lanang sing wekel lan ora royal.

mlenik : mung sethithik. mlencing : rerikatan lunga. mlencut : tanduran pan wiwit merkatak. mlepak : mlupuh, nrima, ora mempeng; mlepak-mlepak : njejaluk ngasih-asih. rnlepes : apes, tanpa daya, rnbleber tumrap banyu, lungguh sila sarta tata lan andhap asor. mierak : mlerek, surem, ora padhang, mieruk. mlewa-mlewa : sarwa kecukupan, mubra-mubru. mliding : kuning mliding, kulit sing kuning alus.

mligi : tulen, ora kecampuran, ngemungake, ora ana liyane mlilik : mandeng ora kedhep-kedhep. mlincur : ora sregep, kerep pamit ora nriebu.

mlindhung : ngayom marang, ngungsi. mlingseng : ireng mlingseng, ireng banget. mlingsi : alus gilap. mliring : nyimpang; mliringi : nyimpangi. mlithit : sarwa singset lan becik. mliwis : bangsané bebek alasan. mloco : mieset, mlusut. mlodong : pakulitan sing kuning banget. mlondhan : anak jangkrik.

mlondho : clondho, anak jangkrik sing durung metu wuhine. mlosdrong : becik, ayu. mlosnong : wuda rnblejit.

mloto : sembrana, lucu, sugih umuk. mlowa : mulwa, woh-wohan sajinis surikaya. mobah : mobah mosik, obah. mobat-mabet : obah sumiyut ngiwa nengen. moblong : katon bunder putih. moceli : mipili jagung. mocok : mbanjeli nggarap pagawean. mocongi : naleni winih pari, ngulesi mayit. ‘ mocot : nyopot, mbukak, nglereni saka pegawean. modang jlentrehna artinya arané bathikan iket (kemben). moga : ada, panemu anyar.

mogak : moglak-maglik, ora kukuh arep copot. mogleng : panganggoné keris katon nyongat. mograg-magreg : kerep mandheg, gojag-gajeg. mohal : mokal. mohel : ala. mohita : susali, judheg, bingung. mojar : kandha, guneman, caturan. mojed : mojid, mati. mokal : nglengkara, ora bisa klakon, ora ketemu ing nalar.

mokcung : diemok cung, ora wrata. mokta : moktah, ilang,mati. mola : niru, nyonto, mulad. molah-molah : gonta-ganti.kerep malih. molang : bakul raja kaya. molo : penuwun, balungan omah sing dhuwur dhewe sing ketumpangan wuwung ; cacah molo : cacah wuwung, wilangan cacahingoniah.

molog : oleh kabegjan ; molog atiné : mantep lan bungah. momah-mumuh : mubra-mubru. momol : memel tumrap daging, wit jagung sing dianggo pakan raja kaya.

momor : amar karo, srawung karo ; dimomori : dicampuri ; momor sambu : nyamur laku. momot : amot akèh, ngemot. mompyor : panganggo kang gumebyar, kayata mas, inten. mona : meneng, mbisu ; monabrata : tapa mbisu. mondhah : mothah, rewel. mondhoh : nindhik, nyoblos godhoh kuping. mondhok : nginep, nunut manggon ; mondhog gamblok : mndhok glongsor ; jlentrehna artinya kringkel : mondhok ringkuk ; mondhok slusup : mondhok sempel ; mondhok slasar : mondhok tiasar, nunut manggon omahe liyan ; mondhok karang : ngindhung ing pekaranganing liyan.

mondreng : mandring, tiedhek. mones : mancasi prakara, mutus prakara. moneng : tansah kangen awit kesengsem. monrnon : panganan kang disimpen. mong : macan, emoh, moh ; jlentrehna artinya : dijaga lan diseseneng, direngkuh klawan becik; mongah : ngapusi ; mongah-mongah : martgah-mangah, panas banget. mongal-mangil : monga-mangu, mangu-mangu, gojag-gajeg. monggang : araning gendhing lancaran. mongkok : gedhe lanmantep atiné merga dialem. mopo : ora gelem nindakake, ora gelem jlentrehna artinya.

mopol : moprol, gapuk. morah : mothah, rewel. moreg : panerouné ora rengked, sik-sikan, kakehan polah. moros : morosi suruh, jlentrehna artinya suruh. morat : ngresiki luluhan emas moso-moso : ngoso-oso, nyentak-nyentak.

msra-masru : muring banget. mraba : sumorot ; mrabani : nyoroti, nyunari. mrabawani : ndayani marang. mrabot : wis pepak prabote mrabu : mraboni, gagah kaya ratu, pantes banget kaya jlentrehna artinya. mrabuk : ngambar arum, ngambar wangi. mrada : mraos, nyungging nganggo prada. mrapada : semi, tuwuh, thukul, trubus.

mradata : ngadili prakara. mradeksa : ngadeg, madeg ratu, ngerek. mradhah : ngukum srana didadekaké batur tukon. mradini : mratani. mradipta : sumorot, sumumu, sumunar. mragad : ngrampungi, nyembeleh; mragadi : menehi wragad. mragang gawé : sumagang gawé, tumandang gawé. mragas : magas, ngethok pucuk. mrajaya : merjaya, ngalahake, mateni. mrajak : enggal padha, tueuh (thukul). mrajaka : kongkonan, utusan.

mrakasa : meksa, mrakosa, ngroda peksa. mrakati : merak ati, polatan manis nyenengake. mralambangi : aweh pralambang marang. mraman : tumular, mrambat. mramanakake : mramanemake, namatake. mramong : marong-marong, mengangah. mramani : nrenyuhaké ati. mranata : nata, ngatur. mranteni : mrantasi, nyepaki, mraboti. mranta-mranta : miantur-miantur, ngalih-ngalih anggoné merdhayoh. mranggal : jago tarung nggitik ing endhas, munggal ing pucuk. mranggi : tukang gawé wrangka.

mranggu : mranggo, ora tetep, gojag-gajeg. mrangguhi : mrangguli, ketemu karo, kepethuk karo. mrangkang : mbrangkang, rumangkang. mrapit : barisan kang rapet banget. mrasabeni : aweh weruh marang, panut marang. mrastawakake : maspadakake. mratikelake : ngiguhake, aweh srana, aweh rembug.- mratok : nunggu. mracang : dodolan bumbon. mraceka : nganggit-anggit, ngathik-athik. mracik : pepak banget. mracondhang : ngenani, natoni, ngalahake mrawasa : nempuh, meksa, ngrusak, milara.

mrawata suta : gedhe atiné amarga bungah kaya gunung anakan. mraweda : mrawedani, ngarah, mindeng, jlentrehna artinya. mredeh : wangkod, ora jlentrehna artinya. mrema : ngeman marang ; dipremakaké : dieman. mrembet : mrambat, mraman, mremefa, tumular, nular. mrentek : nular-nular (tumrap gem). mrengkel : ngengkel, ngeyel, emoh ngalah, emohmanut. jlentrehna artinya : akèh banget, turah-turah.

mrebeng : mak prebeng, abang raine. mredangga : gamelan. mredeng : adreng banget. mrejit-mrejit : merang-merang, ngedum-edum. mrega : buron alas, kidang. mregalancana : rembulan. mreganata : macan. megedud : mbregundung, nggugu karepe dhewe. mregil : pisah, menjila, mencil.

mreki : kemreki, gurem, sindap. mreneng : katon becik-becik (tumrap sandhangan). mrengguk : rada mangkel, serik atine. mrengkang : ora manut, ndaga. mrengkeng : cukeng, wangkod, ora nggugu. mrep : nggitik, nempuh. mrepat : prepat, tangga desa. mresa : mresodita, goroh. mreta : merta, marta, lembah manah, sareh. mreti : mati, pati ; mreti desa : bersih desa.

mrecuti : mlencuti, tanduran pan wiwit merkatak. mretyu : pati, mati, bledheg. mrina : mrinah, melu ngrewangi marang sing dipialani, meri mrinci : milah-milah, ngetung-etung, wegahan yen dikongkon. mringin : yen turu mripate ora rapet mereme. mringkus : dhadha nmngkus, dhadha sing ciyut ; pawakan mringkus : pawakan sing cilik.

mripat : mata, soca, netra, paningal, pandulu, pandeleng, netya. mripih : ngrerapu, nglipur, mengku kalawan alus. mrobal : mrojol. mrogoli : mronggoli, ngethoki pang-pange. mrojok : mrojak, thukul, tuwuh. mrojol : mbrojol; mrojol ing akerep : linuwih, pinunjul. muaya : muayan, panemu kang wis kaprah. mubadir : ora dipigunakake, kapiran. mubal : dadi gedhe lan mumbul tumrap geni, endheg-endhege mumbul merga diobak tumrap banyu.

mubed : nggubed, pinter nyukupi kabutuhan. mublak-mublak : katon putih ngresepake. mubra-mubru : sarwa kacukupan, sarwa turah-turah. mubyar : murub mubyar, murub ngetokaké sorot. mucang : nginang, kaya wit pucang. mucap : ngucap, guneman, clathu. mucuk : tekan ing pucuk, kaya pucuk ; mucuk bung : wanguning driji kang ala ; mucuk ri : wanguning driji kang apik.

muda : bungah. modal : metu, tuke. mudaloh : ngakoni kaluputane. mudangkara : sirah. muded : muded saka, mubeng ngganjret.

mudgara : palu, gada. mudha : enom, bodho ; mudha dama : bodho lan asor ; mudha pangarsa : pangarsa kang nomer loro (kapindho). mudheng : mangerti, terang pangertine. mudhik : nungsung ilining banyu. mufangat : manpangat, munpangat, piguna, maedahi. mugag : nugel, ngethok, nyegeg ; mugag-mugeg : ora bisa maju-maju. mugen : mungkul nyambut gawé, wekel nyambut gawé, tansah ana ngomah, ora royal. muges : munthes, nyures. mugut : ngethok pucuke, derep. muhal : pulen. muhun : muwun, nangis.

muhung : muwung, mung. muja : semedi, ngabekti, muji, ndonga. mujangga : nganggto tembang, nganggit karangan. mujarab : mandi banget (tumrapejamu). mejijit : mukjijat, mijisat. mujung : turu mlumah awaké dikemuli kabeh. muka : rai, ngarep.

mukalapah : kakehan polah, ora lumrah. mukalid : lulut marang. mukara : pangarsa, pangarep, lelurah. muket : maleni, mbuntel, wis carub lan rumasuk, becik lan nyenengake. mukir : mungkir, selak, ora ngakoni. muksa : moksa, mukta, oncat saka ragane, mati Qasgsssagane. muksil jlentrehna artinya mung goiek kauntungan dhewe. mulwa : araning wit lan wohé. mumah : mumuh, mubra-mubru, sarwa kacukupan. mumuk : mamak, bodho. mumur : ajur mumur, jlentrehna artinya remuk babar pisan.

mumut : empuk banget awit digodhog. mumpal : banyu banjir kang mumbul-mumbul, wedang umob banyuné mumbul-mumbul. mumpang : mimpang, menang ; mumpang kara : wani ndaga, prentah, wani marang panggedhe ; mumpang-mumpung : tumindaké nggugu karepe dhewe. mumpet : ngumpet, ndhelik. mumpuni : ndarbeni, nguwasani, pinter sakabehing kawruh.

munageni : ngucapaké punagi marang. munah : ngrusak, nyimakake, mateni. munasika jlentrehna artinya nyikara, ngganggu gawé. muncang : nginang, mbuncang. muncar : gumebyar, sumorot. muncia : saya kurang ajar. mundrawa : nyembah. mundri : nyamati kuluk, penthil ; mundri-mundri : barang pangaji banget, kang kinasih. mundhing : kebo. mundhu : araning wit lan wohé. mundhung : kumundhung, kepundhung, araning won. mungal : maju metu (tumrap dhadha), saya gedhe urube, muni, nywara ; mungal-mungil : gojag-gajeg.

munger : mungit-mungit, nepsu banget. munggal : munggel. munggah : nunggah, mendhuwur, pangkate-oiundhak dhuwur ; munggah haji : ngibadah haji ; munggah papahan : ngepek bojo mbakyuné bojoné sing dipegat /mati. mungguh : manggon, dumunung, pantes banget; mungguha : menggah, yen tumrap (aku, kowe) ; mungguhané : ing saupama. munggul jlentrehna artinya mencungul mendhuwur. munggur : katon dhuwur, manggon ing dhuwur, ngethok, negor, araning wit.

munggut : metu mencungul (turnrap iwak loh). mungkab : menga mengkab. mungkad : obah lunga saka weteng (tumrap cacing), nepsu maneh sawise lilih.

mungkal : ngungkal, ngasah ing wungkal ; mungkal gerang : pipi kang legok. mungkar : mundhak akèh, wis omah-omah, ora prayoga, ala ; mungkar atiné : mantep banget ; lagi mungkar-mungkare : lagi ungsume. mungkur : ora ngarepake, ora ngadhepake, mengker, wis kliwat ; mungkur gangsir : wis emoh cawe-cawe, ora ngrembug babar pisan. mungkruk : methuthuk ; mungkruk atiné : mantep lan bungah. mungur : rainé abang merga lara panas, muring banget.

mungut : narikm njaluki. mungsahibat : musahibat, prakara sing isih peteng. mungseng : nggoleki menyang jlentrehna artinya. mungser : mungsret, mubeng ngganjret. mungsir : mundhung, ngoyak. mupadrawa : ngukum mupakara : ngupakara, ngopeni. mupu : ngepek anak; mupu sayembara : ngleboni sayembara. mupuh : nggebug ; mupuh perang : nggecak perang ; mupuhaké : netesaké ing mripat. mupulake : ngumpulake, nglumpukake. mupur : mipili jagung ; mupuri : nasibi, ngusari nganggo pupur.

mupus : ngurut jala, nrima marang kahanan lelakoné muput : kemput, ngentek ; sedina muput : sedina dheg, sedina bengkeleng. mura : lunga, ilang. murad : teges, maksud. murak : ngeleti raja kaya kang mati. murakati : maedahi, migunani. murang : ngarang (rontog godhonge), ora manut sing wis kalumrah ; murang kara : ndaga ing prentah ; murang krama : murang tata, ora tata krama ; murang marga : ora manut pranatan ; murang sarak : ora manut ing pitutur. murat : entek babar pisan, wewadi (planangan/pawadonan).

murba : ngerehake, nguwasani; murba wisesa : mengkoni lan nguwasani. murda : murdaka, sirah, pangarep; dimurdani : diwiwiti, didhisiki. murdaging : munnak daging, araning bumbu. murdrah jlentrehna artinya kodrah, sesorah. mureng : gemi empon ing jero, ngigit-igit, muring. murga : gawé maneh sanajan wis ana. muri : memuri, memetri, ngleluri. murina : mrima, ngrewangi marang kang dipialani.

muringring : muriring, ndhredheg, giris. muris jlentrehna artinya nguris, miayu marga wedi (isin). murit : ali-ali. musakat : mesakat, rnlarat, kecingkrangan. musala : gada, penthung. musana : karan, kaanané kang lugu. musanif : musanip, pangarang, pujangga. musara : musarani, naleni, mbanda. musawarat : musawarah, rembugan ; dimusawarataké : dijalukaké rembuge wong akèh.

musika : tikus. musna : ilang tanpa lari. musus : nggosokaké epek-epek karo epek-epek, mubeng ; mususi : ngumbah beras. muspra : tanpa tanja. jlentrehna artinya : mustakil, mokal, nglengkara. mustajab : mustijab, kaleksanan panuwune, mandi banget, sekti. musthika : watu kang ngetokaké kaluwihan, inten kang becik dhewe, tikus. mutabar : sumebar ing akèh, kawruhan ing akèh. mutamat : kang wis dianggep bener, waskitha, wis tamat, ngentek.

mutasawur : jumbuh, cawuh. mutatuli : ora perduli apa-apa, nekad banget. mutawatir : mutawatos, kuwatir, sumelang ; mutawatiri : nyumelangi, mbebayani. mutik : mutik atine, serik lan lara ati. mutus : netepake, mancasi. mutra : uyuh. muwa : muncul jlentrehna artinya ; muwa-muwa : rewel, beka.

muwal : mumel, empuk. muwara : sungapaning kali ing segara. muwaril : waril, alangan, larangan. muwung : masang wuwung, adus nyiram sirah, nrima saanane.

muyab : muyab atine, ora tentrem atine. muyar : muyar pikirane, bingung. muyi : muyen, jagong bayen, ngeleki bayi. N naas : dina naas, dina sirikan ora kena kanggo duwe gawé.

naba : nabastala, langit, awang-awang. nabda : clathu.guneman, caturan. nabet : ana tabete, ana tetilase, nyabet. nabiki : kurmat sarana tabik. nacah : ngrajang lembut, ngrikiti (tumrap tikus) ; nacahaké : milang pira cacahe.

nacak : nyacak, miwiti, nyoba. nada : swara, nywara, muni. nadamah : piduwung, keduwung, getun. nadar : kaul, kasaguhan kangh dilakoni samangsa kelakon sedyane. nadhah : mangan, kulina, payon sing kurang mayat. nadi : narmada, kali. nadpada : ngabekti, sungkem. naga : ula, ula gedhe, gajah ; naga dina : naga sing alihan papan saben dina ; naga pasaran : naga sing alihan papan saben dina pasaran ; naga rijalolah : naga siluman sing alihan papan saben dina ; naga sasi : alihan papan saben sasi ; naga banda : arané tembang gedhe ; naga gini : ula wadon, bojoné werkudara ; naga kusuma : arané tembang gedhe ; naga sari : arané wit, arané panganan, arané bathikan ; naga sasra : dhapuring kens luk telulas.

nagur : tiron, palsu. nahidi : nyekseni. nahwi : tuladha. jlentrehna artinya : turu. najam : naksatra, lintang. najin : gedhang wis entek caloné wohé ; najini : mbuwang tajiné liwet; najug : nakoni, ndakwa. naka jlentrehna artinya kanaka, kuku. nakadake : mbetahake. nak dulur : nak dherek, nak sanak, sedulur tunggal embah.

naker : ngukurnganggo takeran. nakir : gawetakir. nakjir : nibani paukuman. nakoda : sudagar pelayaran. nak kumanak : turun-tumurun, tangkar tumangkar.

nakur : ngeruki nganggo sikil. nala : ati, manah, pangrasaning ati. naladi : ngomberi wektune. nalar : panggagas, angen-angen,gagasan.paniikir. nalindra : narendra, ratu. naleraki : nuruttalere.

nales : sega kang pliket kaya tales ; nalesi : ndhasari. nalib : nekuk, nglempit. nalirah : katerangan jalaraning prakara. naluri : miturut kang uwis-uwis, darah, turun, leluhurkang nurunake.

namakaki : nandukake, ngecakake. namar : nyamar, nyamur. namaskara : panyembah, pangabekti. nambak jlentrehna artinya ndokoki tambak, mbendung. nambang : ngewer, ora ngomahi bojo nanging durung dipegat ; nambangi : nunggang prau ing kali ; nambangaké : nyabrangaké nganggo prau ; nambang aksi : sawang-sawangan ; sanambang : sewu.

nambarake : njalari dadi tambar, njalari ngabar. nambeng : mepeti ilining banyu, mbudheg, ngewuhake. nambi : mbalela ing ratu. nambong : ethok-ethok ora xxxuli (ngerti). nambuhi : ora nggape. namu : mbancaki bocah cilik ; namu-namu : ilang, suwuag, awang-awang. namudana : samudana, kalawan sumeh, namastu : mugi pinujia. nampol : negorkayu. nampu : araningtetuwuhan sing kanggo jamu. nana : cangkem, rai, warna-warna ; ora nana : ora ana. nandaka : handaka, bantheng. nandana : anak. nandhak : ngibing, njoged tiedhek.

nandhing : nadhahaké lan nimbang ; nandhing pacul : masang doran pacul. nandhu : mikul nganggo tandhu, nggadhe sawah. nanting : takon gelem lan orane, nimbang kanthi kadokok ing tangan loro. nanggap : nakoni, nganakaké tontonan ; pananggep : empering pandhapa. nanggenah : matah, masrahi pagawean. nanggung : nanggel, mung tengah-tengah, durung tutug ; nangung laras : nanggung wayah, ora kebeneran mangsané ; nanggung maras : sumelang, kuwatir. nangkarake : miyara supaya nak kumanak, ngepingake.

nangkil : seba, ngadhep. nangled : nagih, naker; nangledi : nakoni. napak : midak, tumapak ing ; napaki : miwiti, ngliwati ; napakaké : midakaké sikil, tapa kanggo wong Uya ; napak tilas : nglari, mulad kang wis dilakoni.

napsi-napsi : warna-warna, walak-walak, mawa-mawa. napsir : naksir, neksir, ngira-ira ; napsiri : nerangaké surasane.

napsu : hardaning ati, muring, nepsu. naptu : angkaning dina (sasi, taun) kanggo petungan. naraca : panah. naradipa : naradipati, naraji, ratu. narah : nyarah, sumarah marang. naraka : papan pasiksané sukma. narakusa : narakuswa, wong (lemah) kagungané ratu. narasiata : ratu. narapraja : punggawa nagara. narapwan : supaya. nararya : ratu. narawantah : linuwih. narawara : senapati, prajurit. narawata : sumebar anjrah, tanpa kendhat. narawita : sawah darbeking desa, sawah kas desa. narbukani : merdeni, nerangaké tegesing impeo.

narmada : kali. narpa : narpati, ratu. narukrama : tumindak murang tata. narya : nararya, ratu. naryama : senapati. nasa : nasika, grana, irung. nasab : turun ; nasabi jlentrehna artinya nutupi. nasag : nasak, nyasak, nrajang, nrajang ing tengah.

nasdikaki : nyatakake. nasib : begja cilaka, pepesthening lelakon. nastapa : susah, sedhih, prihatin, mertapa. nastha : rusak, ilang. nastijab : mustajab, mandi, tijab. nastika : wong sing ora ngrasuk agama. nata : ratu, ngrakit, masang. natas : medhot ; sewengi natas : sewengi muput. nati : pasaja, prasaja. nathala : nalika, rikala. natmata : mandeng ; natmata ing brangta : gawé leganing sengsem.

natpada : sumungkem. natya : pasemoning polatan. nawa : tawa, akon tuku. nawala : kintaka, serat, layang ; nawala patra : layang katrangan. nawar : nawarake, gawé supaya tawar, agawe supaya ngabar. nawengi : nglimputi, ngaling-alingi. nawung : nata, nganggit, ngumpulake, inangsuli ; nawung kridha : nanggapi krenteging liyan ; nawung rudatin : nawung turidha, nadhang susah. naya : pratingkah, kawicaksanan, pangreh praja ; nayaga : niyaga, tukang nabuh gamelan ; nayaka : panuduh, panuntun, pangarep; nayana : mripat, ulat, polatan ; nayawit : wasis, pinter.

nayogyani : mupakati, ngrujuki, ngrojongi, cocog. nayoh : nayuh, ngudi supaya diprimpeni. nayom : ngajak. nayub : njoged ngibing tiedhek.

nayum : tayumen, jamuren, gapuk. nayung : mayung, kaya payung. nayut : ngrangkul, mulct, nggubed ; nayudi : nyandhet nedheng : nyedheng, laku ngiwa (tumrap wong wadon) ; nedhengi : ngaling-alingi nganggo tedheng ; nedheng-nedheng : ngaton metu.

negen : egin, isih. nelad : nuladha, niru. nelak : mbukak kertu ; nelakake : nerangake, mratelakake. nempong : napukrai. nendra : turu. neple : asor banget, cilik banget. nepos : jlentrehna artinya bokong. neriti : kidul kulon. netya : pasemoning polatan, pasemoning praeri. neces : necis, sarwa becik, sarwa resik. nebaruk : nrambul, melu mangan. nebda : nabda, clathu, guneman.

nebu : ngrosan, nanduri tebu ; nebu sawyun : rukun banget. nenebu : netah, nglatih miaku (tumrap bocah cilik). nedha : njaluk, mangan, ayo ; nedhani : njaluki, makani, mangani, menehi ; nedha nrima : matur nuwun, kapatedhan : diparingi, diganjar.

necep : nesep, nucup, ngucap. necer : nyecr, neter. nedheng : mbeneri, lagi mangsane. negar : mlayu banter (tumrap jaran). neges : takon mungguh karepe, prihatin, nenuwun marang pangeran; negesi : njarwani, nerangaké tegese.

negi : negi lawang, ngineb lawang. neher : tumuli, banjur. nekdir : mesthekaké lelakon. nekek : wis tuwa banget, jlentrehna artinya mateng banget. nekerah : ngrekani, ngreka daya.

nekung : manekung, semadi, nenuwun, meleng, mindung nelahi : sumorot sumunar. nelih : bakul pitik. nelik : ndingkik. neluh : nggunagawe. nemah : njarag nempuh kacilakan ; nemahi : nandhang, wusanane; nemaha : njarag.

nemu : manggih, oleh apa-apa oradijarag, nghonangi ; nemu gawé : oleh kaributan ; nemu luput : keluputan ; nemu kelangan : oleh apa-apa pinangka gantiné kang ilang ; nemu kuwuk : nyandhak nalikané kepethuk. nemperong : napuk rai. nenangi : nggugah, nggrengsengake. nencen : nyancem, ngekum ing barang cuwer. nenep : ndhelik.

nenga : ndeleng, tumenga. nengarani : menehi tengara, menehi tandha. oenggala : gaman sajinis tumbak. nenggalani : nyegah, nandhingi, jlentrehna artinya, nanggulangi. nenggar : ngerek manuk ing kumngan. nengker : nengkel, ngethoki tetengkeran ; nengker ing woyati : mumbul ing awang-awang. nepa-nepa jlentrehna artinya nepakake, tepa-tepa, diukur tumrape awaké dhewe.

nepus : ngukur dawane. nerang : miterang, njaluk katerangan, nrajang, nempuh nyerang ; nerang udan : nulak udan.

nerbuka : narbuka, nerbuka ati, njalari mangerti ; nerbukani : njarwani, nerangake. nereg : neseg, ndheseg, meksa, nyereg. nereh : mili. nereng : nindakaké kalawan sereng. nerod : nyoyag. nerceb : tumrecep, rumesep. nercel : akèh banget anake. nerpa : narpa, narpati, ratu. nersandhani : mratandhani, mracihnani. nesdikake : nyatakake, mbuktekake. neser : mubeng nganjret ; neseraké : nglembatake, nggilirake, nestha : wangunkaya ; nestha wolu : maju wolu. nesthil : nesthip, nistha, remeh.

netah jlentrehna artinya nutuh, ngethoki pang-pang6 wit. netek : ngethok, mancas. netep : manjing keneng ; jlentrehna artinya : nuhoni.

netes : pecah lan metu anaké (tumrap endhog), kelakon temenan ; neteské : nyunataké bocah wadon, ngengremaké endhog. ngabad : ngambar wangi. ngabah-abahi : ngetrapi abah-abah, ngrampyang, nyrengeni. ngabang : ngabrit, ngecetabang ; ngabang bironi : rainé nganti semu biru merga sedhih ; ngabangaké kuping : njalari nepsu.

ngabar : ilang dayane, ngagagi arep ambruk ; ngabarake : martakake, mertakake. jlentrehna artinya : ngawag, ngawur. ngabili : njalari kabelan. ngabid : wekel anggoné nglakoni agama. ngabiwada : ngurmati, nyungga-nyungga. ngabor : goroh, sesongaran. ngabyantara : ngarsaning ratu. ngacaki : miwiti nindakake, ngambah, nyrambahi. ngacapara : guneman sembranan ngacar : ngancap, nrajang, numbuk, ngancang-ancangi, olah acar ; ngacarani : mbagekake.

ngacir : katon dhuwur mung siji (tumrap wit). ngaco : guneman tanpa teges, goroh. ngadang : nyanak, nganggep kadang. ngadani : jlentrehna artinya nindakake, gawé ada-ada, ngawat-awati, ngrogenaké pegawean, ngladeni.

ngadhal : kaya kadhal ; ngadhal meteng : mblendhuk tengah; ngadhal meled : sondher sing njero katon (tumrap tapihan).

ngadheni : ngganti anyar. ngadhemake : marakaké adhem, agawe adhem. ngadho : ngetrapake, masang, mranata. ngadi-adi : ugungan banget, ngaji-aji, ngemi-emi ; ngadi busana : ngadi sarira, ngadi warna, macak ; ngadi laga : paprangan. ngadon-adoni : njantoni, mbumboni, ngojok-ojoki. ngaen : ngaenake, mesthekake, nyatakake. ngaeng : ngaengake, nganggep aeng.

ngaes : ngaesi, maesi, ndandani. ngagak-agak : ora turn-turu jlentrehna artinya akèh sing dirasakake; lara ngagak-agak : lara ora bisa lunga saka papan paturon. ngagar : gawé genii kanthi ngsosokaké kayu ; ngagar-agari : ngagag-agagi, ngaeung-acungaké gegaman arep ditamakake. ngagia : ora nggegawa apa-apa. ngaglah : lungguh mepeti dalan, katon cetha. ngagal-agali : ngagul-agul, ngrustthi, mbebeda, ngganggu gawé.

ngah : rada wegah ; dingahi : diwenehi. ngahad : dina kang kapisan. ngait : ndudut, nyingkiraké ; ngaitaké rembug : jahji, semayan. ngajagi : nyeseli (nylundhing) tanduran liya. ngajang : gawé kajang jlentrehna artinya ngajangi : ngayahi, nandangi, nyedhiyani papan kanggo pakumpulan.

ngajap-ajap : ngarep arep, mujekaké supaya. ngaji : maca kitab al qur’an ; ngaji-aji : ngundhi-undhi, ngurmati banget ; ngaji pumpung : ngaji pupung, nguja karep. ngajun : ngejum, nata. ngakak : ula kang nywara kak-kak, ngguyu seru.

ngala : njiret nganggo kala ; ngala-ala : ngawon-awoni, ngrasani ala. ngalabi : ngelebi,mbanjiri. ngalam : donya, jagat ; ngalami : menangi, nglakoni dhewe. ngalang : ngepung, ngupengi ; ngalang sepisan : kaluputan kang sepisan ; ngalang-alangi : nyegah, nduwa ; ngalangi : nyelami. ngalap : njupuk, ngepek ; ngalap ati : ndemenakake, nyenengaké ; ngalap berkah : ngudi supaya oleh berkah ; ngalap gang : mbegal ; ngalap gawé : golek pagawean ; ngalap nyaur : njupuk dagangan mbayare sawise payu, praen kang pucet banget awit sedhih ; ngalap opah : gelem tumandang awit melik opah ; ngalap jlentrehna artinya : nedya males.

ngalasake : ndadekaké alas ; ngalasaké segara : mbalela. ngalek : mulek, ora lunga-lunga (tumrap ambu). ngalik-alik : galik-galik, swara cilik larase keprungu saka kadohan. ngalim : pinter, ahli kawruh ; ngaliman : aja dadi atimu ; ngalimi : ngapura.

ngaling : mukir, selak ; ngaling-alingi : nutupi. ngalisi : nyingkiri, nyimpangi ; ngalis-alisi galengan : gawé lakaran galengan. ngalo-alo : kepengin banget. ngalon-aloni : ditindakaké kanthi alon, nyicil pegawean. ngam : wong akèh, wong umum.

ngamah-amah : kepengin banget. ngamandaka : guneman gegorohan, umuk. ngamang : ngamang-amangi, ngagag-agagi, ngagar-agari. ngamasake : nyamatakake. ngamati : maedahi, migunani.‘ ngambak : ombak sing gegolongan (gegulungan). ngambar : sumerbak wangi, niisuwur banget jenenge ; ngambara : ngambah ing awang-awang, lunga mrana-mrana. ngambat : nyendhal, narik. ngamberi : ngepung, ngupengi, ngalangi. ngambil : njupuk, ngepek ; ngambili : ngabah-abahi, nglapaki.

ngambo : masang lan mbeber layar. ngame : tansha ngucapaké kang dipengini. ngamek : goiek, njupuk, ngepek. ngamer : terus lumintu ; ngamer-ameri : ngenaki gunem kanthi alus. jlentrehna artinya : ngemingake, ngemungake. ngamongi : nyugokaké geni. ngam pad : mayat, njlampar. ngampak : namakaké kampak, maling bebarengan. ngampangaki : njalari ampang, ngina, ngenthengake, ngremehake. ngamping : ngayomi, njaga yen ana pakewuh, ngiringaké kiwa tengen.

ngampo : gawé ampo, kaya jlentrehna artinya ampo. ngampreng : medhayoh mung sedhela. ngampu-ampu : meksa, nyawiyah. ngamput : ora ngamput-amputi, ora paja-paja memper.

ngancab : nyerang kanthi kuwanen. ngancang : cecawis duwe gawé ; ngancang-ancangi : natajangkah arep mlumpat. ngancar : njojoh nganggo tumbak ; ngancarani : ngacarani, mbagekaké dhayoh. ngacer : nganyer, ngajir, ngadeg jlentrehna artinya ; ngacer-anceri : menehi gambaran sawenehing papan. ngandik : mentheleng ; ngandik-andik : nangis ora meneng-meneng. ngadonake : ngajegake, nganggo padinan. ngandrawina : mangan enak. ngandul : nglinggihaké ing tiapakan karo sarta diuyun; ngandul-andul : swara kang ngombak.

ngandhan : rambut kang ngombak banyu ; ngandhani : nuturi, kandha marang. ngadhemi : ngantepi, ngakoni kalawan dhadhag. ngandhih : ngendhih, ngalahake. ngandhok : andhok ing, leren, manggon. ngandhong : nunggang andhong ; ngandhongi : mbanjeli, nyulihi. ngangah-angah : kapengin banget arep mangan ; ngangahi : ngenehi, menehi. ngangen- : nggagas marang ; ngangeni : marahi kangen.

angen : manasi supaya anget, anggoné nimbang rada diluwihi saka bobote timbangan. ngangeti : ngenthengaké momotan. nganggalake : nyekel ora dienetake nganggang : nggawa keris ing anggar, nyebrak, utang dhuwit sedhela, tuku ora jlentrehna artinya. nganggar : nglarangi, ora ngolehake. ngangger : ngronce kembang, ngreka-reka, nggagas, ngarang. nganggit : nggertak, ngancam. nganggrak : meneng baé. ngangreng : mandheg, leren, manggon. ngandhok : nunggang andhong ; ngandhongi : mbanjeli, nyulihi.

ngandhong : ngisis, ngrungok-ngrungokaké premata. ngangin-angin : ngangkah, ngarah. ngangka : mindeng, meleng, nggegadhang. ngangkas : nglarangi miebu. ngaogkeri : nganggarkeris. ngangkiek jlentrehna artinya ngganthol, ngecis. ngangkus : nilingake, ngrungokake. nganglengake : sesambat. ngangluh : murka, kumudu oleh akèh. ngangsa-angsa : kepengin banget males, kumudu-kudu males. nganta-anta : makantar-kantar, murub mubyar-mubyar.

ngantar-antar : nganti suwe. nganteg-anteg : nggantha, metha. ngantha : nganal, nalaku banter. nganthal : dadi anthek, dadi rewang ; nganthekaké : ndadekaké kanthi, nggamblokake.

nganthek : nganthor, nganger, ngadeg. nganther ngao : guneman ngoko. ngapen-apeni : rewang wong duwe gawé. ngapirani : ngapinteni, njalari kapiran. ngarab-arab : murub mubyar-mubyar. ngarad : ngangkah, mendeng, nyuprih, njangka ; ngarah-arah : ngati-ati ; ngarah apa : mangkono wis prayoga ; ngarah ora : gelem ora-ora ; ngarah pati : nedya mateni.

ngarak : ngeteraké bebarengan wong akèh. ngarang : ngawis, padha rontog godhonge, ngira-ira, nganggit ; ngarang-arangi : dadi arang ; ngarang ulu : ngepek tilas bojoné sedulur.

ngarih-arih : ngarak-arak kalawan alus supaya manut ; ngarihi : ngancani. ngaring-aring : dolan ngenggar-enggar ati ; ngaring-aringi : ngeneng-eneng bocah nangis.

ngaru : ngekelaké beras arep diedang ; ngaru ara : sambat nggrantes ; ngaru biru : ngrusuhi, ngganggu gawé ; ngaru napung : nindakaké pegawean bebarengan. ngaruhake : nggenahake, nyatakake. ngaruhara : njalari geger, sesambat. ngruh-aruhi : ngajak guneman. ngarusi : migunani, nindakaké kabecikan. ngartika : nggagas, ngunandika. ngasa : apek, goiek, ngepek.

ngasab : nggosok nganggo barang kasar ; ngasabi : ngasapi, nanduki kasar, ngomongi kasar ; ngasab pati : ngajap pati. ngasih-asih : ngrerepa kanthi tembung manis. ngasir-asir : ngambu-ambu. ngaskayani : menehi kaskaya; menehi guna kaya. ngasmarani : nengsemaké ngas-ngasan : gas-gasan, kemrangsang.

ngasrep : nglakoni ora mangan uyah ; ngasrepaken : ngadhemake. ngasta : nyekel ; ngastawa : ngastuti, ngalem, memuji, jlentrehna artinya. ngatag : ngakon supaya tumandang. ngatani : nyandhet, menggak ngatap : tetumpukan sarwa temata.

ngatas : nerang marang dhedhuwuran. ngatekaki : ngatogake, nutugaké nganti katog. ngathah-athah : ngathang-athang, turu mluinah. ngathar : miayu banter, nguyuh karo ngadeg. ngathe-athe : tumata becik.

ngathik : nganggo pakathik, ngrumpaka. ngatir : ora padha pangetrape, abot sisih tangkebe. ngatirah : katon abang (tumrap niripat). ngatur : nata, mranata ; ngaturi : ngundang kanthi urmat ; ngaturi priksa : ngaturi uninga, aweh weruh. ngawaki : nyarirani, nylirani, nandangi dhewe. ngawal : nyirig banter (tunarap jaran) ; ngawali : ndaga, nedya wani, nanggulangi, ngomberi, nindakake. ngawaril : pambegan, alangan. ngawekani : mrayitoani. ngawengi : ngubengi.

ngawer-aweri : ndokold awer-awer, ndokold tenger. ngawet : nggubet ; buntute ngawet : buntute ditekuk ing sela-selaning sikil buri ; lambené ngawet : lambené digeget awit nepsu. ngawi : ngarang tembang. ngawigaké : ngremitaké gegarapan ngawihani : nyumurupi, menihi. ngawu-awu : takon-takon asal-usule, nyebar wiji ing pandederan, sugih banget. ngawug : ngadhuk lemah ; ngawug gawar : ngawag, ngawur. ngawul-awul : jlentrehna artinya kapuk ; ngawula : ngabdi, ngenger ; ngawula wisudha : ngunggahaké pangkat.

ngawusake : ngapokake. ngebarake : ngedolaké barang anggoné mbayar yen barange wis payu. ngecak : nyidak, nggawe panganan saka thiwul. ngecok : ngapusi.

ngecu : maling bebarengan wong akèh kanthi peksan. ngecom : ngekum nganggo wedangjarang, guneman dhewe. ngedab-edabi : ngebat-ebati, nggunnmake. ngede-ede : ngiwi-iwi, ngece-ece. ngeded : geger kangsemu mulet. ngedek-edek : ngrengkuh kaya barang kangedi. ngederi : ngideri, ngubeogi. ngedheng : ngeblak, blaka. ngedhep. : teluk, sungkem. ngedhumi : ngeyubi, ngaubi ngekadasa : ngeka-eka, ngreka daya, ngathik-athik ngekel-ekel : nggegiro, medeni. ngeksi : ndeleng, nonton.

ngeleg-elegi : mbebeda, mbebengek, ngiming-iniingi. ngeler : ngeler, nggaringaké tembako kalawan dijembreng, ngeles : ngies, gidak. ngelmu : ngelmu, sesurupan (kawruh) sawijining bab, kawruh ksampurnan (kawicaksanan); ngelmu tuwa : ngelmu kasampurnan ring ngaurip. ngelok-eloki : nganeh-anehi. ngembali : ngopahi. ngembet-embet : ngatut-ngatutake. ngemel : karem banget, enak banget pamangane. ngemengi : njalari bingung. ngemper : madhak-madhakake; ngemperi : memper karo.

ngenak-enak : ngeca-eca, kalawan sakepenake; ngenaki sarak : nggampangaké pepacuking angger-angger. ngendahaké : ngurmati, nggatekake, nggugu.

ngendra wila : ngendra wilis, ireng gilap (tumrap rambut). ngendhangaké : ngukum buwang (nglungakake); ngendhangi : niliki, mriksa. ngendher : ngojahaké wadi, ngdhal-udahl wadi. ngengga-engga : ngentha-entha, ngangen-angen, nggagas marang.

ngenggar : dolan-dolan nyenyeneng ati. ngengko : nindakaké bebarengan brandon. ngengreng : mbathik sesisih, ngrancang.

ngengseraké : ngelih, ngingsed, nundhung. ngengsreng : tansah menganggo dandanan becik. ngepi-epi : ngimpi-impi. ngepon : njenger, njegreg. ngeram-erami : ngeram-eramake, nggumunaké banget. ngerang-erang : nyrengeni sarta mbukak wirang. ngeras : nembungaké kanthi tembung kerasan, nembungaké kanthi tembung pepindhan. ngerata : nyurasa tegese tembung. ngerepi : ering marang, ngerul : menceng. ngeses : sarwa becik (kepenak). ngesi-esi : nyiya-nyiya, nyawiyah. ngestu pada : ngestri pada, nyembah, ngabekti.

ngestreni : kaya wong wadon, madoni, nekani, nunggoni, njenengi. ngestha : metha, ngentha-entha. ngetheng : ngengkel, ngeyel, nggegegi panemuné ; ngentheng-entheng : katon cetha.

ngewal : ngingur keris, ngubengake. ngewas : ngener menceng. ngewer : ninggal sing wadon nanging ora dipegat, rerasan mrana-mrana. ngewrani : ngrigoni, ngribedi. ngebang : saguh bakal ngganjar (menehi); ngebangaké : nyimpen dhuwit ing bang. ngebas : ngresiki sarana dikebuti, dadi bas, nebas. ngebeki : ndhaku, nganggep duwe hak. jlentrehna artinya : nyeblakaké swiwi.

ngeblegi : nibani. ngebon : nenandur ing kebon; ngebonaké : nyingkiraké bojo. ngebreh : boros, seneng ngeceh-eceh dhuwit.

ngebregi : ngebregi, ngenggoni; ngebregi sapapané : tuku omah sapekarangane. ngebyah : ngembyah, ngendi-endi ana. ngecaki : miwiti nindakake, nyrambahi; ngecakaké : nindakake, rnblanjakake. ngecebres : jlentrehna artinya, guneman tanpa teges. ngecengi : nglangkahi, nglumpati.

ngecer : nabuh kecer, seneng njajani. ngecemil : tansah memangan. ngecemut : mesem rada ngguyu. ngecipris : ngeciwis, tansah guneman. ngecogmol : ndakwa ala tanpa nganggo dipepiringi. ngedabul : ngedablu, ngedebus, omong gegorohan. ngedendeng : mlaku solahe digawé-gawé.

ngeder-eder : adreng banget; panas ngeder-eder : panas sumelet (tumrap srengenge). ngedhap : nyiruk (nylorot) tumrap layangan, nggragap, rada wedi; ngedhapi : ngicipi. ngedharaki : medharake. ngedhasih : muni kaya manuk kedhasih. ngedhaton : mlebu ing kedhaton. ngedheng : ngedheng, ngeblak, ngedher. ngedhekes : linggih mlipis lan urmat. ngeker : ngeker wadi, nyimpe wadi; ngekeri : nambahi keker olehe nampar. ngekul : ngremehaké banget. ngela jlentrehna artinya ngolah ndadekaké jangan; ngela-ela : ngrerepa, namakaké tembung manis.

ngelah : nggugat. ngeled : ngulu. ngeleg : ngulu, mangan. ngeleng : medel jarit dadi kelengan, ngireng keris; ngelengaké pikiran : mindeng marang; ngelengaké wektu : nyelakaké wektu. ngelidaké : nerangaké surasané crita. ngeliraké : nglirwakake, ora nggatekake. ngelis : masang lis; ngelisi : ngendhaleni.

ngema-ema : nguthun-uthun, ngemi-emi banget. ngemal : ngentekaké bandhané liyan, mola, ngetung-etung, ngira-ira ngemanak : awangun kaya kemanak. nguwandhakaké : ngelih panggonan liya. ngemar-emari : agawe samar, nyumelangi, mbebayani. ngemat : nggendam, nenung, namakaké kemat; ngemataké : ngrasakaké temenan. ngembun : nyunggi, mundhi, nglantaraké dhawuh. ngembrah : ngendi-endi ana. ngemudheni : mranata lakuning prau nganggo kemudhi, ngereh. ngempani : makani. ngempir-empir : weteng cilik awit luwe.

ngemplep : ngepek darbeking liyan. ngemplang : nglanthang ing panasan, ora gelem nyaur utange, ngengakaké lawang amba. ngenca : matesi, ngrancang. ngenceng : mbayar kontan, ora utang. ngencebi : ngencepi, ngugemi. ngendhak : ngina, nyepelekake, ngremehake; ngendhakaké : menggak, nyandhet. ngendhal : ana kendhale (kendhal = kenthelan lenga gajih); ngendhaleni : jlentrehna artinya kendhali, ngereh, meper.

ngendhanu : mendhung sing peteng lan nggandhul. ngendharat : nyancang, mbanda, nlikung. ngendhari : ngandhani, nyritani, ngandhari. ngendhat : nglalu; ngendhat tali murda : nglalu sarana nggantung. ngendheh : ngendhih, ngalahake, ngasorake, ngundurake. ngendhem : nyimpen, ngampet ngendheng : gunung sing jejer-jejer dawa bebajengan; ngendheng-endheng : ngundhung-undhung, akèh banget.

ngendhil : growong awangun kaya kendhil, lele nglumpuk akèh. ngenes : susah (sedhih) banget. ngengis-engis : nyenyengring, nyerik-nyerikake. ngengkoki : ndhaku, ngaku, ngakoni, ngugemi, ngengkas : nggertak, nganggep ora niitayani. ngengleng : gendheng marga kedanan, owah pikirané awit kabotan ngelmu. ngengreng : katon becik nyenengake, ngenyah-enyah : nyawiyah-wiyah. ngenyak-enyak : ngidak-idak. ngenyu dhenta : kaya krambil gadhing (wanguning payudara).

ngepah : mamah disesep banyune. ngepak : ngremehake, nyepelekake, mbunteli, nebas, mborong kabeh. ngepes : nggarang nganggo dibuntelm ngina, nyepelekake. ngepluk : nggunakaké piranti pluk (pasah cilik), kesed, doyan turo.

ngepung : ngepang, linggih ngubengi ambengan; ngepung wakul : ngubengi rapet / pipit. ngepras : mapras, mancas, nacad liyan kanthi tembung pedhes.

ngeprek : entek kekuwatane. ngerad : ngrembug. ngerak : ketiga ngerak, ketiga sing garing banget. ngerap : mlayu banter; ngerapaké : mlayokaké banter; ngerapaké prajurit : ngerigaké prajurit, mbudhalaké prajurit; ngeres : yen digrayang / dimamah kaya ana wedhine; ngeres atiné : wedi sarta sedhih.

nges : ngresepake, nrenyuhake, nenarik. ngesah : nggresula, sesambat, ngasah, ngungkal. ngetab : ngebrak jaran nganggo tungkak. ngeteges : bisa tahan. ngetihaki : nerangake, miterang. ngeteki : ngetung. ngetipres : ngecepres, omong ora leren-leren. ngetepes : linggih sila mlipis. ngetepus : ngethuprus, omong tanpa teges.

ngeliging : mlaku banter. ngetipel : ngethipel, mlaku semu rekasa awit kelemon. ngetomakaké : manuhake, ngulinakake. ngetonggeng : ngetunggeng, awangun kaya ketonggeng. ngibarat : surasané pepindhan. ngibeki : ngebeki, ngebaki. ngibing : njoged. ngicir-icir : menehi mbaka sethithik. ngicuk-icuk : mbebujuk. ngideni : ngidini, nglilani. ngidham : kepengin mangan woh-wohan nalika meteng.

ngidhep : sumungkem marang, iinnat marang. ngigel : merak ngegrokaké buntute. ngigit-igit : muring banget sarta ngincim. ngigling : legeh, ora nggegawa, nganggur. ngihtiyaraké : nggolekaké jlentrehna artinya. ngiket : naleni, ngarang, ngrumpaka; ngiket-iketi : ndhesthari, ngenggoni iket. ngikibi : nyelaki, ora ngakoni. ngikidi : nggemeni. ngilak : ngulak; ngilak-ilak : jembar bawera. ngilapati : mratandhani, ngalamati. ngimba-imba : ngemba-emba, niru, mulad.

ngimbar : ngumbar, nyumpah. ngimbir : rada niru; ngimbir-imbir : ngambah pinggir; ngimbir-imbiri : ngelongi mbaka sethithik; ngimbir-imbiri tuwa : wis men tuwa. ngimuk : ngrimuk, ngglembuk. ngimur : nglipur, ngrerapu. ngincangké alis : ngobahaké alis. ngincik : melik banget marang darbeking liyan; ngincrit-incrit : nginthit-inthit, saka sethithik anggoné menehi. ngindel : nggodhog wedang. ngindhet : nyandhet, ngendhet. ngindhung : medhayoh, sanja, mondhok, nunut manggon.

nginggeng : nginjen, ngintip, ngenggeng. nginginaki : menginake. ngingisaké : ngantonaké untuné (siyunge). ngingkedi : nyingkiri, nyidrani, ora nuhoni. ngingkud : nyiyutake, ngringkes, ngebeki. ngingkusi : ngingkupaké sethithik. nginglari : nyelaki, ora ngakoni. nginglung : ngengleng, linglung.

ngipahi : ngepahi, ngopahi. ngipat-ipati : nyupatani, ngesotake. ngipik-ipik : ngirit-irit, nggemeni. ngipuk-ipuk : ngunthuk-unthuk, nguregi, ndhedher ing pawinihan. ngiponi : nunggoni. ngirabaké : ngebet-ebetaké wulu, ngopatake, nglembatake, mbudhalaké wadyabala. ngiras : nigas, nugel, nindakaké bebarengan, jajan dipangan ngenggon. ngiri-iri : mrentah akon tumadang. ngiribi : mirib, memper karo. ngirid : nggered, ngeteraké sowan panggedhe.

ngirih : nyepetaké iliné banyu. ngirik-iriki : ndhedheki arep ngepek. ngisab-isabaké : ngisin-isinake, mirangake. ngisas : ngukum pati. ngisat : ngesat, mlayu, nglungani. ngisataké : ngipatake, mbuncang.

ngisbataké : ngumpamakaké ing pepindhan. ngiteri : ngubengi, ngepung. ngithar : nginthar, mlayu banter. ngithing : kaya wong kithing; ngithing-ithing : ngugung banget. ribut tumandang.

ngithoni : ngopeni (nggulawenthah) wiwit cilik. ngitik-itik : nginthil, tut buri. ngiting : ngiwad-iwud, nyenyekel sakecandhake. ngiwad : ngewas, mlengos. ngiwas : ngewat, nggawa lunga wong wadon dudu bojone. ngiwat : ngamuk ora perduli apa-apa. ngiwung : ninggal tetilasan becik, gawé kaberikan marang, nglabuhi. nglabeti : nglantak, ngujar-ujari, milara, nanduki kasar. nglabrag : mbuwang panganggo utawa liyané menyang segara kanggo srana.

nglabuh : nglari, nggoleki kanthi nurut lacak. nglacak : mbanjurake, nerusake. nglancutaké : muwuhi, ngluwihi. ngladuki : nggluyur kaya palanyahan. ngladrag : ngldeni, mitulungi. nglagani : ngobar, ngobong, mbesmi, nunggangjaran tanpa lapak. nglagar : legeh, ora nggegawa; nglahan : ora oleh-oleh. nglaha. : babaran, manak, medharak6 (tembung, panemu). nglairaké : nglaju, menyang pagawean tulak, ora mondhok; nglajokaké : nglajengaken, mbanjurake, nerusake.

nglajo : krambil leren ora awoh. nglakani : mbakali ing bab gegawean. nglakari : ngela-ela, nanduki tembung manis. nglala : nyeseli paju. nglalahi : ngosoki supaya ilang bolote, niti priksa, rnlaku mrana-mrana. nglalar : tansah ngolah-ngalih; nglaler mencok : wanguné brengos sing apik.

nglaler : mateni. nglalisi nglalu : kentekan akal, ngendhat, njarag mati. nglamaki : madhani, mapaki; nglamakaké : mandhakake, ngremehake : nglamar : nakokaké wong wadon arep diepek bojo, njaluk supaya diwenehi pegawean; nglamari : ndokold jlentrehna artinya, mingit, nyidhem wadi. nglambangi : nglironi, ngijoli. nglambung : nyerang saka ngiringan. nglamisi : nanduki kanthi lamis. nglamlami : nggumunake, nyengsemake.

nglamong : ndleming, ngame. nglampet : mampet, nutup bendungan. nglampiri : ndokoki lampiran. nglampra : lunga saparan-paran; nglamprah : nglembreh. nglampus : mateni, ora oleh pangan. nglanangi : solan tingkahe kaya wong lanang. nglandeng : ora suda-suda kukuse, oleh begja terus, ora suda-suda kasugihane.

nglandhah : mbabah dawa gawé trowongan. nglandhehi : ndokoki landhehan nglangga : ngombe diecuraké saka kendhi ditadhahi cangkem, nyuduk weteng. nglanggati : nimbangi, ngladeni, nglayani.

nglangke : ora mengku wigati, mung melu-melu baé. nglanglang : nganglang, sambang. nglangut : adoh banget, sedhih banget.

nglangseng : ngukus nganggo langseng. nglangsir : nata sepur. nglanja : lunga sanja. nglanjak : nglojok, ngluwihi wangenan (watu). nglanjari : ndokoki lanjaran, munjuli marang sing tuku. nglanji : nyoba arep ngerteni trep lan orane. nglanjuk : ngranggeh, nglanjak nglanjrat : nglandrat, nggugat.

nglantak : nglarag, nglabrag. nglanteh : nglantik, nggegulang, ngulinakake. nglanting : nulungi kanthi nyekel tangan sing diacungake, nyekeli wong ajar nglangi. nglantra : nglantrah, dawa (rowa) banget critane. nglanthang : mepe ing panasan, rnlaku ora noleh-noleh.

nglanthung : nglenthung, ora oleh gawé; nglanthungi : nyulihi, mbanjeli. nglanyak : nranyak, ora urus. nglapali : ngrapali, ndongani nglarad : dhadhal, larud, bobol. nglarap : niyup, nylorot. nglaras : ngruntutaké larase gamelan, nyurasa kepenak; nglaras-laras : thenguk-thenguk angagas. nglari : nglacak, nglarah.

nglareg : nyarug-nyarug lemah, nggarap mung kasar-kasaran. nglarung : nglabuh mayit ana ing kali (segara). nglasah : nglacak, nglari. nglasir : netepaké pajek bumi. nglatha : maesi temanten. nglawad : layad. nglawehi : ngganjel keren, nulungi supaya bisa ngadeg. nglawed : nguled barang lembut nganggo banyu, mluku sing kapindho. nglawung : bosen, numbak; nglawungaké : ngingu kebo ora dimegawekake. nglibataké : ngliyeraké (ngijolake) pegawean.

nglecap : nglecek, nglethek kulite. nglecem : mesem. nglecum : ngapusi. nglecoh : nyocoh kinang. ngledhoni jlentrehna artinya njalari kledhon (kleru pangetunge).

ngleger : wuda. nglihem : linggih sakepenake. nglekek : nyembeleh. ngldah : ngleloh, nglentroh, peloh, tanpa kekuwatan. ngliled : aras-arasen merga luwe. ngleleh : teturon aras-arasen. nglembak : ngombak lembak-lembak. nglimbar : mlembar, nglembat, ngalih panggonan; nglembaraké : nglembatake, menehaké pegawean marang wong liya. ngleci : nglecis, tansah udud. nglecir : pating klecir, pating krencil.

ngledhir : pating kledher. nglegandir : gondar-gandir. nglegarang : nglegarong, njenggarong. nglegawani : menehi kanthi lila.

nglegeyeh : leyeh-leyeh, sendhen. nglegewa : duwe panyana, mangerti. nglegeg : njenger, ndheleleg. ngiegeser : mlaku alon-alonan. nglegeses : turu kepenak banget. nglegongsor : ngglosor, ngglungsar. nglegutakaké : memanuh, ngulinakake. ngleka : ana lekané (wekane). ngleker : ngruwel wangun bunder, turu ngringkel; ngleker-leker : nggubetake. nglelaga : ngimmg-imingi, memingm. ngldedhek : mbebeda. ngleleng : lunga tanpa pamit. ngleler : mlaku alon-alon, nglemer, orasigrag, krasa kleler ing awak.

ngleles : mlintir nganggo leles, mangan nganti entek, ngluluri. ngleluri : nindakaké tata cara kaya kang dilakoni para jlentrehna artinya. ngiembara : lunga saparan-paran. nglembiring : minggrang-minggring, wigah-wigih. nglembret : ora kaku, katon lawas.

nglemburah : pating blengkrah. jlentrehna artinya : nglemek, klemak-klemek guneme. nglemeng : ajeg panase (ora sumelet), banyu ora ngombak ora mili banter. nglampara : lunga saparan-paran, paring besasik, ngayawara, nglengkara. nglimpe : namakaké gaman nalika sing ditamani ora meruhi. jlentrehna artinya : nutupi, ngemuli. nglining : ngiris (nyigar) woh-wohan. ngling : clathu, guneman. nglingga : nata. nglinggari : nglungani.

nglingsemi : ngisin-isini, niemirang. nglelipur : ngrerapu supaya lipur atine. nglir : anglir, lir, kadya, kaya. ngliraké : ngelirake, nggatekake, ngeman-emanake. ngiirig : nggiring raja kaya mulih. nglirik : mandeng nyisih. ngliring : ngingetaké sakeplasan. nglirwakaké : ora ngenaen-emenake, nglalekake. nglisih : klisikan, ora anteng anggoné turu.

nglithik : kuru banget. nglithing : nglelithing, ngemi-emi, ndama-dama. ngliweng : bingung. ngliwer : ngliwed, ngaton sedhela. ngliyek : tansah lunga, tansab mlaku. ngliyep : turu sedhela. ngliyer : nggenti nggadhe, ngingser, ngelih. nglobong : ngalahi, nggsdhekaké ati. ngloco : nguwed-uwsd, cgasut kertu. nglocap : nglothok, nglenthek, mbeset. nglodhag : ngglodhag nglogati : nerangaké tegese.

ngtogog : nyogok. nglokro : ngloko, mari mempenge. nglolodi : nglelengi. ngtolos : nglulus, ngumus, nyopot, narik. ngtombo : ngapusi. nglombrot : nglembret, manganggo sandhangan sing lungset lan ora tumata kanthi becik.

nglomproh : nglombroh, panganggo sing kegedhen. nglontop : nyogok nganggo lontop. nglopa : menehi reruba, mbeseli. nglopak : nglubuk. nglopok : mbakar, ngobong. nglorehaké : njlentrehake, ngandharake. nglorapaké : mblasukaké marang kasangsaran. nglowong : pasa, ora mangan apa-apa; nglowongi : nglowoki, nyelani, ngothongi, nyengkorongi bathikan. nglowos : kothong, ora nggegawa. ngloyong : mlaku-mlaku, dolan-dolan ngloyop : ngantuk. ngludhang jlentrehna artinya ngentas wuwu.

nglugas : lugasan, manganggo sarwa prasaja. ngluhuri : ngungkuli; ngluhuraké : mulyakake. nglukat : ngruwat, mbadharake. nglukita : ngrumpaka, ngarang, nganggit, ngluluh : ngejer sarana dipanasi, gawejiadren lemah sing arep digawé bata. nglulun : ngelun, nggulung, nglumpukake. ngluiur : ngosoki awak nganggo lulur. nglomba : njola awit kaget. nglumuhi : ngalahi kanggo nyingkiri padu, nyingkiri bab-bab sing ora gawe senenge ati.

nglumur : nglemer, tumandange alon banget. nglumpruk : nglumbruk, rubuh tanpa daya. nglonasi : ngesahi utang, mateni. ngluntak : luntak, mutah. nglunthung : nggulung; nglunthung atiné : wis ora mempeng. nglunyat : kurang ajar. nglunyun : nglonyom, nglenyem, mbesut kulit.

nglung : kaya lung, ngelung. nglunggemi : menehi luwihan kanggo tambah, nyumenekake, menehi inah. nglungka : kaya lungka (prongkolan lemak), wangkod; nglurug : mangkat perang, marani panggonané mungsuh, ngiuruh : ngluruhi, ngaruh-aruhi. nglucut : nglocut, nglebus, rnlaku nalika udan. ngluthek : ora metu-metu saka omah. ngluwangi : mituturi migunakaké kupiya (conto). ngluya : medel jarit. ngluyug : nglugur, lunga nirana-mrana. ngubak : ngobak, ngubek, ngudhak, ngebur banyu. ngubal : mlintir; nyubalaké : nggedhekaké urube geni, mameraké kasektene.

ngubir : ngudak, ngoyak, ngudhak, ngobak. ngubin : nyumurupi cacahe saben sataker. ngububi : ngangini nganggo ububan. ngubut : tansah terus tumandang (mlaku); ngubuti : nutupi; ngubut-ubut : maling ing wanci esuk. ngubral-ubral : ngobral-obral, mbekecer, mbeboros. ngubreg : neter pitakon, mieter pitakon. ngubris : nglari, kucem (wirang). ngucik-ucik : ngelingaké lan njaluk sing wis dijanjekake. ngucing : melik banget, mijet lengen nganti metu kucingane.

ngucir : mlayu banter merga kalah; ngucira : ora sembada, nguciwani; nguciri : ndokoki kucir. nguconi : ngumbah mung saperangan panganggo. ngucut : nguthut, nglolos. nguda-uda : ngegurangi, nyunyuda, ngira-ira. ngudag-udag : ngoyak-oyak. ngudakara : ngudakawis, ngira-ira. ngudal-udal : ngetuk mudal. ngudamamah : kepenak diucapaké (ditembangake).

ngudansort : njejawah sonten, nglamar. ngudaneni : jlentrehna artinya, mangerti. ngudani : njawahi, ngrutug panah. ngudara : mabur ing awang-awang; ngudarasa : mikir, nggagas. ngudi : marsudi kanthi temen-temen, nakoni kanthi tleseh. ngudung : mangkel banget, wangkat, nggugu karepe dhewe ngudhet-udhet : nyoblos terus disuwek. ngudheng : nganggokaké iket.

ngudhi : namakaké kudhi; ngudhikaké : nglakokaké prau mudhik; ngudhik-udhiki : nyebar dhuwit kanggo dana, ngudhili : mikolehi, migunani. ngudbup : metu kudhupe, kaya kudhup. ngugem : meca nganggo layang primbon; ngugemi : nggegegi panemu (kasaguhan).

nguger : nyancang ing pathok; ngugeri : ngrungokaké katrangané seksi, nggawe layang prajanjen. ngugung : ngeman-eman lan nguja sapanjaluke. ngukih : ngungkih, ngundurake, ngalahake. ngukuhi : ngekahi, ngugemi, nggegegi. ngukuk : ngukung, gumuyu seru. ngula : nyawer, kaya ula; nguladara : ngulandara, lunga saparan-paran. ngulang : golek, tuku iwak segara menyang papan lelang, ngulari : golek, nggoleki; ngular-ulari : mawiti, menehi pitutur. ngulati : ngingetake, nyawang, nggoleki; ngulati ala : masang ulat ala; ngulat-ulataké : ngawasaké jlentrehna artinya polahe; ngulat-ngulet : tansah ngulet.

ngula wisudha : ngawula wisudha, ngunggahaké pangkat. ngulir : muter, ngubengake; ngukir budi : mikir, ngetog pikiran, golek reka. ngulu : ngeleg; ngulu ambegan : nguntal ambegan, nglalu ngampet ambegan; ngulu idu : kepengin banget.

ngulub : nggodhog janganan. jlentrehna artinya : ngumbulake; nguluk-uluki : aweh cecala; nguluki salam : aweh salam; nguluk nikah : megat. ngumadama : mbodhoni, api-api bodho. ngumala : sumorot kaya kumala (inten). nguman-uman : ngumbang-umbang, ngundhat-undhat, ngunek-unekake. ngumbal : nyewa raja kaya kanggo megawe. ngumbar : nguja sakarepe, nguculaké sakarepe. ngumbara : nglembara, lunga saparan-paran. ngumpak : ngompak, ngongrong, ngalem.

ngumpet : ndhelik, nyidhem. ngendha : ngumbulake, ngulukake, ngaburaké manuk nganggo dicencang, ngundhamana : nyrengeni kanthi ngundhat-undhat; ngundhageni. : pinter nggeguling; ngundha usuki : menehi tandhingan.

ngundher : ora ngalih-ngalih, ora metu-metu; nguni-uni : nguni, biyen. ngunir : jlentrehna artinya kaya kunir. nguniweh : luwih-luwih, semono uga. nguntapaké : ngeteraké nalika mangkat lunga; nguntapaké pati : mateni. ngutar-untar : murub mubyar, panas banget, muring-muring. nguntaraké : nitakake, nakyinake. nguntug-untug : ngontog-ontog, mangkel banget. nyakra : namakaké cakra, ngaku, ngira nduweni; nyakra panggilingan : mubeng kayajantra, timbal-tumimbal lair; nyakrabawa : ngira, nduga; nyakrawati : ngerihjagat, ratu agung.

nyalaki : nglancangi, ndhisiki, nyalangi : ndhisiki. nyalar : nembung, nyalawadi : nyalawados, nyalawedi, ora bares, ngandhut wadi. nyali : peru, rempelu. nyalokaké : ngumpamakaké nganggo saloka. nyamadi : ndayani becik. nyamah : ngala-ala, ngremehake.

jlentrehna artinya

nyaniantakaké : njalukaké rembug. nyambangi : ngrondhani, nganglangi. nyambik : kewan menyawak. nyambit : mbalang, nyawat, nyabet. nyambari : nyampuri. nyameh : menjep, mencep. nyamir : gawe samir; nyamiraké : nglapurake. nyamlang : umuk, sugih omong sesongaran. nyamleng : trep banget, cocog banget, ceples, enak banget. nyampahi : moyoki, maoni. nyampaki : mapaki, madhani, mregoki. nyampar jlentrehna artinya nyampe nganggo sikil, nyandhung nggasruh; nyampar banyu : nyewa sawah sing wis ditanduri.

nyampe : nyenggol nganggo tangan nalika mlaku; nyampekani : ngawekani kanthi kajuligan. nyamper : mampir. nyampeti : nyampegi, nyukubi kabutuhan. nyamping : bebed, tapih, jlentrehna artinya.

nyamplong : mbengkolang, mbalang. nyana : ngira, nggagas; ora nyana : ora dinipe (junpe), ora ngira babar pisan. nyandeyani : medeni.

nyandekaken : murungake. nyandhak : nyekel, bisa nututi. nyanepakaké : ngumpamakaké nganggo sanepa. nyantri : manggon ana ngomahe calon mara tuwa, mondhok ngaji. nyantrik : dadi cantriking peguron, meguru, lagean ala. nyangap : mbenggang, njangar. nyangeni : ngauli, nadari. nyanggehi : ngladaki, mbebeda. nyanggemi : nyaguhi, nyanggupi.

nyanggit : nyambung, nggawejejeran ora ngepasi pakem (tumrap dhalang). nyangrah : manggon, dedunung, mesanggrah, nyanggrek : nyanggrok, mandheg. nyangik : kuru banget (tumrap wong wadon).

jlentrehna artinya

nyangkal : madoni, mbadal; nyangkal putung : wanguné uwang sing becik. nyangkepi : nyamektani, nyawisi. nyangkin : mangkin, tansah, jlentrehna artinya. nyangklak : krasa ora kepenak (lara) ing cangklakan, nglairaké tembung sing marai muring.

nyangkleng : ngangkleng, kesuwen banget. nyangkul : macul, nindakaké pegaweaning liyan. nyangkramani : ndhemeni. nyangkrimani : nyangkrimi, mbedhek cangkriman. nyanten : ngadoni nganggo santen, nyatur, nggunem ala. nyantrok : nyantu, manggon ora lunga-lunga, lungguh ora ngadeg-ngadeg. nyanuk-nyanuk : muk-mukan, peteng ndhedhet. nyao : gawé cao, gampang banget, prasaja banget. nyapar : ngayod, slaroetan sasi sapar. nyape : mbadhe. nyaplok : mangan tanpa dimamah terus diulu. nyaprang : nyrapang, nyaprat, njlaprat (tumrap brengos).

nyarab : nyaplok pangan (tumrap iwak). nyarad : nyered, nglarak. nyarah : mentas saka banyu, mamjt sakarepe. nyarang : nyirik nyingkiri, nulak. nyarapi : nglemeki, menehi. sarapan. nyarawedi : nggosok inten. nyarirani : ngawaki. nyaraja : ngrangkep; nyarajani : nupaki.

nyatmata : namatake. nyatos : nyatu, nambani tatu sarana donga, manceni pangan. nyawa : kang njalari urip, sukma, jiwa, atma, kang dikasihi. nyawabi : mberkahi, ndayani. nyawadi : maoni. nyaweni : ndokoki sawi, meling sadurunge. nyawit : nganggo sandhangan sing bebed lan ikete padha bathikane.

nyebrataki : emoh ngaku anak. nyeda : nyacad; nyedani : mateni. nyedheng : laku ngiwa (tumrap wong wadon). nyeger : mencok, mapan. nyegog : menggok, ndhelik. nyegrok : mecok, mapan. nyelong : ngukum buwang. nyemet-nyemet : mung sethithik banget.

nyenapateni : mandhegani. nyengkok : nyangkok, niru, nulad, ngemperi. nyepa : mujudi. nyeplesi : ngatrepi, madhani. nyereni : mocot, nyelehi. nyetrakaké : mbuwang ana alas. nyethi : dadi, abdi wadon. nyewak : jlentrehna artinya, mrejit-mrejit. nyewati : jlentrehna artinya, nyrengeni.

nyebak : nebak, ndemak; nyebak gawé : nyambut gawé. nyebal : ora padha aro liyane. nyebawa : nyabawa, muni-muni. nyebit : nyuwek. nyebrak : nyuwek, utang dhuwit sawetara dina. nyedhahi : nyuruhi, ngulemi. nyedhekahaké : ndanakaké kanggo sedhekah. nyegele : ndhewe, menjila. nyegil : nyeglik, linggih dhewe. nyekabat : meguru, dadi muria. nyekait : sekuthon tumindak ngalani fiyan. nyelag : nyilih sedhela, nyebrak; nyelagi : nyulihi sedhela. nyelandri : awoh mbeneri durung mangsane.

nyeler : nyolong nglimpekake. nyelet : ngunthet, ora rnblakakake, ora netepijanji. nyembadani : nguwati, nyantosani, nedya nglawan, ngleksanani, nuruti. nyembet : nyempet, ngembet. nyemenekaké : nyumenekake, ngunduraké wektune. nyempala : nuthukaké cempala; nyempalani : milara. nyendhu : nyacad katakuaning liyan. nyeneni : nyoroti, madhangi. nyentana : ngabdi. nyenthulani : kurang ajar marang.

nyenyep : nyenyet, sepi maturing, sepi banget, bongkoting panah sing ditrap ing kendheng. nyengap : nyentak, nggetak. nyegara : ngaruh-aruhi kanthi alus; nyenggara macan : nggetak, meksa. nyenggata : nyugata, nyuguh. nyenggring : nyerik-nyerikake, nyiya-nyiya. nyengkal : mbenggang nganggo cengkal; nyengkali : ngubur palemahan.

nyengkalak : mbelok tangan ing geger; nyengkalani : nyireni taun. nyengkleng : beda banget, kadohen banget. nyengklong : nyuda, ngurangi, ngelongi. nyengungus : nyengongos, awaké kuru rainé aclum. nyengangang : merak nyuwara. nyepaplem : nyepaplo, meneng baé ora mangan ora guneman. nyepekaké : nyepenaken, nyuwungake, nyirik. nyepeketaké : ngraketaké pamitran, nyepuri : ngubengi pager bata.

nyeptani : ndoyani. nyerbaki : ora tampikan, apa-apa arep. jlentrehna artinya : jlentrehna artinya, nyusu-nyusu, akon enggal, nggiri-nggiri; nyereg prakara : ngelahake. nyereng : nyrempeng, ngepen, nepsoni. nyeri-nyeri : ora sudi banget, emoh banget. nyereti : njungkati nganggo serit, nyureni. nyerpepeh : linggih miepes ora tumungkul.

nyertani : nyartani, ngancani, mbarengi. nyertu : ngemohi, wis emoh lelayanan. nyerung : nyumpet, nutup. nyerweteh : aneh banget, beda karo sing lumrah, tansah elik-elik.

nyethak : nyethek, pait banget. nyibrataké : nyebratake, ngemohi, ora ngakoni. nyidhikaké : nitik,mriksa. nyidra : mateni kanthi laku cidra; nyidra asmara : ndhemeni; nyidrani janji : ora nuhoni. nyidhat : metu dalan kang luwih cendhek. nyigeni : nyupanani. nyigeg : medhot crita, ngendhekaké guneman. nyikakaki : nundhung, akon lunga. nyikara : ngganggu gawé, milara. nyiklu : nyiksu, linggih tumungkul, mempeng tumandang gawé. nyilakrama : nilakrama, takonkanthi urmat.

nyilibaké : ndhelikake, nylingkuhake. nyilih : nyambut, nganggo darbeking liyan kanthi nembung; jlentrehna artinya mata : ora meruhi dhewe. nyimbing : ngiling-ilingi, miling-miling, nyasmitani.

nyimik : nyimit-nyimit, amung sethithik. nyingebi : ngemuli. nyinglari : nglungani, nyingkiri, ngoncati. nyingluri : nglironi, ngejoli.

nyipta : nggantha ing pangangen-angen, nganakaké apa-apa kanthi cipta. nyiru : tambir, tampah. nyitra : nulis. nylabari : ngandhani, nglantari. jlentrehna artinya : nyakot, nggigit, nyerikake. nylumbat : ngonceki krambil nganggo slumbat.

nylundhing : ngganti, mbanjel. nyuba-nyuba : ngurmati banget. nyubaki : nyukupi. nyudara wedi : mitra becik nganti kaya sedulur. nyudhah : ndhudhah. nyudhung : gawé sudhung, manggon. nyugagi : njugag, nyuthel. nyugali : ngucapaké tembungsugal marang. nyugata : nyuguh. nyuhun : nyuwun, njaluk; nyuhun-nyuhun : ngaji-aji. nyukengi : ngukuhi emoh menehake. nyukeri : ngregeti, njalari susah; nyukerta : ngrigoni, ngalang-alangi. nyuki : gawé legokan kasur, nyumpi pangan. nyumbana : ngambung, nyanggama.

nyumenekake : ngenteni, ngundur wektu sedhela. jlentrehna artinya : inatesi ora kena luwih. nyundaka : kongkonan, akon, melik. nyungga : nyuba-nyuba. nyungging : nggambar, ngecet. nyupak : nabok, nggemeni, niru. nyupena : ngimpi, nyupreh : nyuprih, murih. nyurabi : nyarub, nyampur.

nyureng : mrengut peteng ulate. nyuryani : ngraupi. nyuwalani : nurangi, madoni. nyuwawa : nandhingi, nglawan. nyuwaweni : ngrujuki, mupakati. nyuwurake : ngandhakaké mrana-mrana. E obah : ebah, owah saka kahanan meneng; obah-obahan : ada-ada ngudi gegayuhan; obah osik : tuwuhmg gagasan, krenteging ati.

obar : diobar, diobong; obar-abir : cleret, thathit, kilat, wangun kaya gendera kang awarna abang, putih, biru. obat : tamba, jamu, isining niriyam kang dumadi saka campuran sendhawa lan wlirang; kramas obat : perang campuh; diobat-abitaké : diontang-antingake. obin : ubin jobin; diobin : diteksir. obor : blarak lan sapiturute disulet kanggo colok; kepaten obor : kelangan lacak alurané sedulur; gedhe obore : sakabehing prakara diranipungi kanthi adil; obor giring : pamarentah luhur.

ocal : olah. odor : ngodor, adreng, mredeng. ogleng : kerise dioglengake, disengkelit nyongat; kethek ogleng : joged nggambaraké solahe kethek. olang-olang : ulang-ulang, golek. olan-olan : keewan bangsané uret, ali-ali. oleh : angsal, kena; olehan : kerep oleh, kerep ngolehake; oleh aja : anggere ora; olehati : rada disihi; oleh gawé : bisa kaleksanan; oleh-oleh jlentrehna artinya apa-apa sing digawa mulih (medhayoh); oleh-olehan : kelakon sing dikarepke; oleh pepati : bisa gawé patining mungsuh.

olod : ngolod-olod, kepengin banget, kumudu mangan. omah : griya, dalem, yeyasan mawa payon kanggo dedunung; omah sadhuwuring jaran : sekuthon arep mbalela; ngedegaké omah ing pawedhen : pitaya marang wong kang ora kena diendel; omahan : gampang cumbu; omah-omah : gegriya, dedalem, dedunung; omah-omah : emah-emah, krama, palakrama.

ombal-ambil : diolok-olok. ombyak : ombyaking wong akèh, kalumrahané wong akèh. ompyong : diompyong-ompyong, disandhangi sarwa becik. onar : sumebar warata (tumrap pawarta); gawé onar : gawé gendra. oncat : lunga, luput; dioncati : dilungani, ditinggal; once : dionce, jlentrehna artinya, dikarang. oncek : dionceki, dionceti, diilangi kulite, diudal, disurasa isine. oncen-oncen : reroncening kembang kanggo rerenggan ukiran keris.

onceng : dionceng-onceng, dioyak-oyak wong akèh, digejek ing pitakon, dipleter tagihan utang. oncer : canthel; graji oncer : graji sing ora liganggo gawangan; dioncerake : diandharaké nglantrah. oncit : dioncit-oncit, dioyak-oyak, onclang : dionclangake, diuncalake, dilungaké adoh amarga luput, dipindhah ing papan adoh amarga luput.

onclong : kebayan desa, palanyahan; rondha onclong : rondha nganglang kampung; ngonclong : mlaku rikat; onclong-onclongen : lara mbebuwang. oncog : ngoncog, nguncluk, mlaku rikat ora noleh-noleh; dioncogi : ditekani, dijujug.

oncom : tempe sing digawé saka ampas tahu. oncor : colok saka bumbung mawa sumbu gedhe; dioncori : dipadhangi nganggo oncor, diacungi tumbak, diileni banyu, dijori; oncor-oncoran : jor-joran, onjo-onjonan. ondhal-andhil : anak ontang-anting, dedagangan pawitané nganggo dhuwite liyan. ondhan : madheng, sela ing pegawean, wektu leren (ngaso). ondhe-ondhe : ondhe, umpama, kaya, pepindhan, panganan saka glepung diglindhingaké ing wijen.

ondhok : ngondhok-ondhok, mangkel lan susah sing ora kawetu. oneng : kangen; oneng-onengan : kangen banget. onggal : unggal, saben. ongger : diongger, diunggar, diuja, disekarep. onggo : ngonggo-onggo, nangis lirih awit jibeg atine. onggok : atiné wit aren. onggreh : obah (mingsed) sethithik; dionggreh-onggreh : diowah-owah. onggrok : si kothok onggrog, sing ala dhewe; dionggrokaké : diselehaké tanpa diopeni.

ongkak : krasa kesel baune; diongka-ongkek : diengkak-engkuk. ongkang : linggih ing pinggir sikile gumantung; sawah ngongkang kali : sawah cedhak kali nanging dhuwur sawahe; atiné ngongkang : atiné gela banget. ongkek : pring (kayu) kanggo mikul nganggo sikilan papat; diongkak-ongkek : diogak-ogak supaya rubuh.

ongkleng : diongkleng-ongkleng, diengel-engel. opak : ganjel cagak; opak angin : panganan jinis lempeng ngolih dibakar geni blubukan; opak opem : opem; opak gambir : panganan saka glepung beras / ketan pangolahe dipan. opor : iwak pitik (bebek) sing diolah nganggo santen. opyan-opyan : ropyan-ropyan, seneng mangan enak. oreh : diorehake, dijlentrehake, diandharake; jlentrehna artinya : dingengreng; orehan : andharan.

oreg : horeg, buminé obah geter, geger, rame banget. orong : ngorong, ngelak banget; orong-orong : kewan jinise angge-angge sing sabané ngomah; orong-orong njunjung genthong : prakara sing mokal; kaya orong-orong kepidak : memeng sanalika.

osi : osen, kacang osen, kacang oncekan. oso jlentrehna artinya ngoso, santaka lan sereng wetuné gunem. ota-oto : gurapan sing groboh lan kesusu. otek : tanduran sajinis jumawut, jala cilik. onteng-onteng : oleng-oleng, kewan jinise uret. othe-othe : ote-ote, ora klamben, kewan jinise gareng pong. owel : eman; diowel : dieman. P pabaratan : jlentrehna artinya, paperangan. pabeyan : kantor kanggo mbayar bea ing pelabuhan.

pabongan : senthongan. paca : sida. pacak : pacakan, solah tingkah kang digawé-gawé; dipacak : diseleh tumata becik, dienggoni rerenggan, disebutaké in layang kabar; pacaké : semuné kaya. pacak baris : tata baris arep perang; pacak gulu : nglenggokaké gulu nalika njoged.

pacal : piranti bangsané patas, jinis iwak loh; jlentrehna artinya : prajurit kang ndhisiki laku. pacang : dipacang-pacang, digadhang-gadhang; dipacangaké : digadhang, dijodhokaké dadi bojo; pacangan : calon bojo.

pacar : tetuwuhan godhonge kena kanggo ngecet kuku. pacaton : sawah lungguh pamong desa. pace : tetuwuhan sing wohé kena kanggo tamba; dipace : diapusi, diblithuk. paceklak : paceklik, mangsa larang pangan. pacima : pracima, kulon. pacing : tetuwuhan sing ngenthik wite empuk lan dhuwur. pacitan : panganan nalika ngombe wedang; dianggo pacitan : dianggo samben omong. pacok : pacuk, congkog, tukang ngrembugaké wong kang dol tinuku. pacrabakan : pamulangan, padhepokan.

jlentrehna artinya

pacuh : dipacuhi, diwaleri, dilarangi; pepacuh : waleran, larangan. pacul : piranti kanggo ngedhuk lemah; pacul bawak : pacul kang wesiné nganggo sambungan kayu; pacul gowang : pacul kang sasisih growah, araning gendhing; pacul jejeg : lenceg, klenyem; pacul kalon : dhandhang, pecok; wong paculan : wong sing beburuh macul.

pacuri : pekarangan. pada jlentrehna artinya sikil, suku, sampeyan, entek-entekaning tembang (ukara); pada kathaka : gelang sikil (binggel); pada mandhala : jagat; pada wacana : pasemoning rai; padayantara : pit, sepedhah; durung pada : durung cetha (tumrap rembugan).

padagang : sudagar. padaka : inten. padal : penet; dipadal : dipenet; madal : menet; jlentrehna artinya pasilan : ninggalaké pasowanan; madal sumbi : ngrerendheti rembug; madal tamba : wis ora bisa ditambani; madal wicara : madoni rembug. padaleman : omahe wong luhur. padam : pandam, diyan, damar. padang : tukang adang; padangan : pawon.

padarakan : panggonan nyimpen beras, padgata : cilaka, cabar. padik : dipadik, ditamatake, dititik; oleh padihan : oleh titikan. padma : kembang trate; padmasana : dhampar. padmi : pademi, bojo jlentrehna artinya baku (dudu selir). padni : patni, bojo, semah. paduraksa : padureksa, pojoking omah ing perangan njaba.

padya : banyu wijikan. padyut : obor, colok, diyan. pae : beda, seje. paekan : krenah (rerekan) kanggo mialani; dipaeka : diapusi, dipialani sarana krenah.

paelan : pailan, paceklik, larang pangan. paelu : dipaelu, digatekake, diturut. paeran : padusan. paes : dandan, arané kembang; dipaesi : direngga, dikerik sinome lan alis terus dipidih; paesan : rerenggan ing dhuwur bathuk; kaca paesan : pangilon kanggo dandan. paestren : sawah ing tepining kali.

paethe : paceklik, larang pangan. paga : lincak kanggo wadhah grabah; pagajagan : kasar-kasaran, groboh; pagajih : palemahan saka waledan kali; pagadhean : papan golek utangan dhuwit srana nitipaké barang; pagagan : palemahan sing ditanduri gaga, tetuwuhan kaya semanggi sing kena kanggo tamba. pagak : pogokan pang. pagang : dipagang, diadhang. pagas : dipagas, dipancas, dikethok; pagas sarat : ngiris gulu kanggo tandha setya. pagemu : pagene, ya gene, sebab apa.

pagedhongan : crita sing dhalange ora mitontonaké wayang, pepakem, paugeran pegeh : panggah, kukuh, sentosa. pager : aling-aling, let-letaning pekarangan; pager gedheg : gedheg kanggo mbmkuti omah; pager bata : pager kang digawé saka bata; pager wayang : pager ing padesan; pager salira : ora pasah ing gegaroan; pager mangan tandur : dipercaya ngrumeksa malah ngrusak rereksane; ungak-ungak pager arang : njajagi kapinteran (kasugihan) liya; kepengkok pager suru : kena ing reribet; ngrusak pager ayu : ndhemeni bojoné liyan.

pagenng : pageblug. pagelaran : paseban ing sitinggil. pagir : gigiring gunung. pagulingan : paturon. pagupon : kandhang dara. paguron : papan kanggo sinau bela dhiri / ngilmu kasampumaning urip.

pagut : pethuk, tumpuk, tempuh. pagongan : papané gamelan nalikané ditabuh. pahal : pagawean, panguripan; pahala : piguna, paedah, ganjaran. paham : ngerti banget, panemu, pangerti; dipahamaké : dingertekaké temenan; pahambanan : angabdi, pangawula. paheman : pirembugan ; gegolongané sing padha pirembugan pahuman : sanggar palanggatan; pakumpulan paing jlentrehna artinya dina pasaran sing kalima; paingan : cetha banget, mesthi pait : rasa kaya rasané jamu; pait weweh : ora ioma, angel dijaluki; pait juruh : pait kelang, pait madumanis banget; pait getir : rekasa, kangelan pakah : lajer sing ngepang.

pakal : dhempul (kruwing) kanggo nambal prau. pakathik : batur tukang nuntun jaran. pakem : layang wewaton crita pedhalangan. paken : paku. pakena : piranti, sarana. pakenira : kowe (tumrap ratu marang kawula). pakiwen : pakuwon, palereban sawatara wektu.

pakudhung : sawah kas desa. pakundhen : papan gawé grabah. pakuncen : padunungané juru kunci. paksama : upaksama, pangapura; upaksa : weruh.

pal : ukuran dawa; dipal : dipethek nganggo piranti ramalan, dipethek mesthi ora bisa, diina. pala : arané wit lan woh sing kena kanggo bumbu, piguna, pakoleh, lelabuhan; dipala : dipilara, dicempalaiii; palabuhan : papan kanggo mandheg prau; pala gumantung : pala kima, woh-wohan kang gumandhul ing wite; palairan : cathetan bab lairing bocah; palakarta : rampung; pala kependhem : woh-wohan sing kependhem lemah; pala kerti jlentrehna artinya prabot-prabot, piranti; pala cidra : cidra, ora tuhu; pala kesimpar : woh-wohan jlentrehna artinya gumlundhung ing lemah; pala kitri : tanduran ing pekarang; pala kiyah : ngilmu palakiyah, ngilmu palintangan; pala krama : bebojoan, rabi, pakurmatan, taklim; pala marta : welas asih bebudene; pala wija : tanduran ing sawah sing dudu pari, pisungsun marang ratu arupa woh-wohan, abdi jlentrehna artinya ratu sing dumadi para wong kang cacad.

palana : lapak gajah. palandang : juru laden penganten. palang : pring (kayu) kang malang; palanggaran : babagan nerak anger-angger; palanggatan : senthong pamujan.

palar : dipalar, dijupuk, dijaluk; dipalari : dijaluki tulung; palar pinulir : tulung tinulung. palara-lara : abdi wadon jlentrehna artinya sing isih enom, selirsing duning diningkah; palarapan : bathuk; palarasan : lunga dhedhemitan. palastha : palestha, rampung, entek palastra : mati. paleler : paweweh marang batur arupa sandhangan. palen : bakul klithikan. paleng : lara ngelu.

paleson : papan kanggo ngaso (teturon). pali : pepali, pepacuh, larangan; jarit pali : slendhang lurik malang; palibaya : kisanak, kowe; palihara : jlentrehna artinya, disikara, diganggu; palimirma : palimarma, kawelasan; palikrama : pakunnatan, taklim; palimengan : pepeteng, papan sing peteng; palimunan : pangilangan, ora katon; palindhukan : pandhelikan; palindhungan : pangengsen, pangayoman; palintangan : ngilmu palintangan, kawruh bab lintang; paliwara : kongkonan, pawarta, pawongan; paliyas : panulak.

paloncengan : menara panggonan lonceng. palu : gandhen wesi, pukul besi; tapak paluning pandhe : gegaman. palud : jinise kayu gabus. palugon : perang, paperangan, araning tembang tengahan. paluh : blethokan, jeblogan; paluhan : lemah paledan ing pesisir. palupi : pola, tuladha, layang, tulisan. palupu : kidung, rerepen. paluruhan : pawuhan. paluwanu : palowanu, dhampar. palwa : prau. palwaga : kethek. pamade : panyade, pangedol, pamadya, panengah.

pamagangan : papan dol tinuku ing pinggir dalan, pasebaning para magang ing kraton. pamah : dipamah, digilut, dimamah. pamahyan : wetuning gunem. pamajegan : pamaosan, palemahan sing dipajegi (disewa). pamali : pepali, larangan. pamancak : jago (jaran) kang dipurih turune. pamancal : dhuwit sing wenehaké wong wadon nalika arep dipegat. pamancana : pangrencana, panggodha, pangronah. pamardi : pamerdi, enggoné merdi, enggoné nggulawenthah.

pamarsud : pangudi. pamasa : pamase, ratu. pamasaran : kuburan. pamawang : pamikir, pangira. pamawas : pandeleng, panemu. pambage : enggoné mbage, enggoné ngedum. pambagya : pambage, pakunnatan, enggoné mbagekake. pambadharan : pabeyan ing pelabuhan. pambaon : kayu palang panggantungan layaring kapat. pambekan : watak, bebuden, umuk, sengguh. pambelah : tukang melahi prau, tukang nyabrangake.

pambengan : alangan; dipun pambengi : dialang-alangi, dicandhet. pambudi : pangudi, pangerti. pambayan : pambarep, susu. pamedan : palataran, alun-alun. pamek : golek; kakehan pamek : kakehan panjaluk (lelewa). pametan : ilen-ilen banyu. pamekak : anggoné mekak, bangsané sabuk kanggo ningsataké bangkekan. pamekas : pameling, wekasan, welingan, kang wekasan (ken dhewe).

pamelengan : pamidikan, papan semadi (semedi). pamelikan : papan sing ngandhut barang pelikari. pamencana : pangrencana, panggodha. pamengku : kasabaran. pametara : pametawis, pangira-ira. pametengan : jaga malem, polisi. pamicara : tetembungan, gunem, enggoné pinter guneman. pamicis : mantri jlentrehna artinya, punggawa kang kajibah narik pajeg. pamidhangan : pundhak, papan kanggo midhang.

pamikara : tindak sawenang-wenang. pamilang : pamical, enggoné ngetung. pamiii : kulawarga, kadang. pamiluta : pambujuk, tembung manis. paminangkerti : cinthung, tenung. paminta : panjaluk. paminggir : klangenan, selir. pamirasa : pamiraos, enggoné nggathuk-nggathukaké surasa. pamirma jlentrehna artinya enggoné nggemateni. pamitran : tetepungan, kekancan, kanca. pamar : campuran, enggoné amar, wujude gegambaran warna-warna tumrape keris; pecah pamare : wis wiwit dewasa tumrap bocah.

pamarsita : pamuwus, gunem, tetembungan. pan : jir, rak, jlentrehna artinya, piranti panggawe roti; dipan : diolah ing pan. pana : ilang, entek, putus, uwal saka bandaning pancadriya, terang pangertine, putus pamawase.

panabda : pangandika, gunemrembug panagan : petung kang gandheng karo bab siluman naga panah : jemparing, gegaman kang mawa bedhor dilepasaké nganggo gendhewa; panahan : tetironing panah ; ulah jlentrehna artinya nggunakaké panah. panakawan : abdi pandherek panakrama : pakurmatan, pambage slamet panalika : pandeleng, pamandeng pananggap : jlentrehna artinya pandhapa, punggawa kang nampa pajeg panangkilan : palenggahaning ratu nalika sinewaka panasar : susurcanthing kanggo nembok bathikan panasbaran : panasbranan, brangasan, nepson, panasten panas perih : rekasa lan kangelan panasten : seneng manasi liyan marga meri panataran : undhak-undhakanunggah-unggahan, tlundhagan panatas tali : dhuwit seksi rampunging prakara panatus : lurah desa panawa : panawar, srana kanggo nawar wisa panawen : beras sakojong panca : lima; pancabakah, pancakara, pasulayan, perang; pancabaya : bebaya; pancadriya : piranti ing badané manungsa kanggo ngrasakake; pancanaka : kuku lima; pancaniti : panangkilan; pancaruba : pancawora, prahara, angin gedhe; pancasuda petung pasatuan; pancasona : aji-aji sing ndayani luput ing pati; pancawala bocah lelima; pancawara : mantra kanggo nyepetaké bayi lair pancah : dipancahi, diwancahi; diwada; diwaoni; dipaido pancak : dipancak, ditampani; ditadhahi; pancaka : pangobongan mayit; pancakan : anyaran; pancak suji : pager sing nganggo adeg-adeg pancal : dipancal, dijejakdipegat dening sing wadon; pancal donya : mati; pancal panggung : jaran (kebo) sing ing dhengkule warna putih pandarakan : padarakanwong asor jlentrehna artinya : anak sing nomer telu pandhalungan : guneman ora ana unggah-ungguhe pandhara : bendara pandhe : tukang gawé dandanan saka wesi; pandhega : lelurah, pangarep, panggedhe, panjak, antheking pandhe; pandhekar : wong kang pinter ulah gegaman (ulah bela dhiri) pandhes : pundhesdikethok tekan bongkot pandhi : dipandhi, dipandhe, dipikul sumendhe pandhiran : omong-omongan pandhita : wong sing putus ing kawruh kasampurnan; wong ahli tapa; pamonging kaum protestan; pandhita endhog, pandhita antelu ; wong kang sumuci-suci pandhoga : woh pandhan pandhuk : liron-lironan ora nganggo tombok pandika : pangandika, tembung ; gunem; rembug panduk : kapanduk, kataman, katempuh panduka, padukapanjenengan, sampeyan, kowe pandulu : pandelengpanonmripat pandung : pangkling, pangling ,maling pané : layah, lemper panen : ngundhuh; panen mata pailan ilat (pr.) : mung bisa ndeleng ora bisa ngrasak­aké panedha : panyuwun, panjaluk, paminta, pamangan panedya : sedya, niyat panegar : tukang ngajari jaran tunggangan panekar : kebayan ,kepala kampung panelah : jeneng, aran paneluhan : mantra kanggo jlentrehna artinya panembahan : pandhita, begawan panembrama : tembang kanggo ngurmati; dipanembrama : dibagekaké nganggo tembang manembrama, mbagekaké pangabaran : aji kanggo meper kadigdayané mungsuh pangaksama : pangapura pangalapan : papan angker sing ngalapaké wong utawa kewan pangalasan : pangkating abdi; jaka pangalasan : raden abimanyu pangangson : sumur (belik) sing diangsoni; sing dadi paran pitakonan panganjur : panggedhe, pangarep pangantyan : panganten, temanten pangapesan : sing njalarti apes pangaran : jeneng, aran; dadi pangaran-aran : akèh kang ngrasani ala pangaretan : lading pangaretan, lading cilik kanggo ngerik pangargya : pahargya, pakurmatan pangaribawa : daya, prabawa pangarih : pangareh, lelurah ,tetindhih pangarsa : pangarep, lelurah, tetindhih; pangarsa-arsa : pangarep-arep pangasih : pinggiran jarit sing tiba ing jero; pangasihan : mantra supaya disihi pangastawa : pangastuti, pamuji, pangestu pangawak : awak-awakané, mawa sipat jlentrehna artinya pangawak setan : mawa sipat wewatakané setan pangawikan : pangawruh, kawruhsesurupan pangawin : tumbak sing kanggo ngiring pangedhepan : aji kanggo nelukaké mungsuh pangeksi : pandeleng pangeban : pangayoman, pandhelikan pangebang : pangiming-iming supaya gelem pangela-ela : tetembungan manis manuhara pangelet : sewan panggah : panggeh, kukuh ,sentosa, ora owah gingsir panggraita : angen-angen, pikirangagasan panggresah : pasambat, pangresula, panglah pangiwal : pamancal pangkalan : alangan, sajinis palabuhan; dipangkali : dialang-alangi; pangkuk : mangkuk,ndhodhok panmglari : blandar, enggoné nggoleki pangkur : arané tembang macapat ,arané iwak segara pangkring : dipangkringake, diplangkringake, diundhakaké regané pangleleran : watu pangleleran, watu kanggo ngleler emas panglokita : gagasan, pangrasaning ati pangu : sapangu, sadhela; pangudakara : pangudakawispangira-ira; pangudarasa : pangudaraos, panglancita, pangudasmara; pangulu agama : imam, pangareping agama; pangulu landrat : pangareping pengadilan; pangungun : rasa gumun; pangungrum : tembung manis, memilutu; pangupabaga : pangupajiwa, panggawean, panggaotan; pangupaya : anggoné nggoleki; pangupakara : enggoné ngupakarani; pangupaksama : pangapura; panguparengga : pepasren lan rerenggan.

pang : cawanging wit; pang pel : pang sing gampang sempel; jlentrehna artinya : pang sing gopok. pangran : pangeran; pangrantunan : wektu ngaso jlentrehna artinya mangan, papan kanggo nata suguhan nalika pista.

pangrasa : pangraos, rasa rumangsa, enggoné ngrasakake, pangira,panemu; pangrasak : bebungah marang modin nalika manten ijab. pangreh : sing ngereh, sing mengarepi, cara enggoné ngereh; pangreh agung : pangreh kang baku; pangreh luhur : pamarentah negara; pangreh praja : pamong praja. pangrembe : kagungané ratu; bumi pangrembe : bumi kagungané ratu; abdi pangrembe : abdi dalem kraton; garwa pangrembe : selir, klangenan.

pangresaya : panjaluk tulung. pangrik : enggoné nywara ngerik. pangwasa : panguwasa. pani : trapong, piranti pangulur lawe ing tenunan, tangan; panibasampir : paweweh penganten lanang marang wadon; panida : apu, enjet; paniganan : wadhah kinang; panil : perangan saka lawang; panimpang : blumbang kanggo ngingu iwak; paningrat : panirat, emper; paningron : dina paringkelan kang kalima; paningset : sabuk, tenger saka calon penganten lanang marang calon penganten wadon; panitih : sing ana ndhuwur dhewe, sing nunggang; panitra : panitera, juru nyatheti, sekretads.

panja : jalu, kayu pucuk dilancipi kanggo gawé clowokan lemah; panjajap : prau cilik; panjak : anthek pandhe, niyaga. panjang : dawa; panjang giri : panjang putra, piring gedhe; panjang ilang : janur diwangun kaya piring ; panjangka : kang dijangka, sing dikarepake. panjarwa : sing njarwakake, sing negesake. panjatos : panjalin.

panjawar : wulu swiwi sing pinggir dhewe, prajurit ing barisan pinggir. panjer : dhuwit pakenceng tumrap wong tetuku / nyewa; dipanjer : ditancebaké (tumrap gendera); panjeran gendera : cagak gendera; panjer esuk : panjer rina, lintang sing jlentrehna artinya wayahesuk; panjer sore : Intang sing katon wayah sore. panji : sesebutan marang darahing ratu, lelurahing prajurit, gendera; panji klanthung : wong sing nganggur; panji wulung : layang anggitané mangkunegara; panji-panji : clana papak dhengkul nganggo benikan ing ngisor.

panjodhi : panjudhi, among, kang pinatah nampani tamu. panjorangan : ugal-ugalan. panlabung : jlentrehna artinya, pangabruk, enggoné niabung. panlakup : panblebed, enggoné niakupake. panlangsa : panalangsa, enggoné jlentrehna artinya panlening : pangedum, enggoné niening.

panlesili : pandhedhes, anggoné niesih. panlikung : pangrimpung, enggoné nlikung. panliti : pamriksa, enggoné nliti.

panlorong : panglepas, enggoné niorong. jlentrehna artinya : pamancad, enggoné nlundhak panlusur : panggrayang, enggoné nlusur. panodhi : pandadar, paneter. jlentrehna artinya : panulak, panduwa, pambalak. panoleh : pamengo, enggoné noleh; jaran panoleh : arané pasugihan.

panombok : panambah, enggoné nomboki. panon : pandeleng, panduiu, mripat, mata; panontonan : panggonan nonton. panongsong : abdi sing panggaweané mayungi para hAur. panonto : panyonto, panulad, paneadhak. panorog : panambah, panombak. panotog : panyodhok, pamantag. panowong jlentrehna artinya panglowong, enggoné nowongi. panrabas : panembus, panyasak, panyidhat, panegor. panraju : panimbang, jlentrehna artinya inraju. panrapti : pamarem, panyeneng, panata. panrawang : enggoné nrawana; tanpa kering : ora ana sing diwedeni lan diajeni.

pante : pasisir, pinggiring segara; panten : angger, thole, kowe; panteswara : bandhasa. panti : pantya, omah, panggonan; pantis : sob, surut (tumrap banyu). panuduh : sing nuduhake, enggoné nuduhake; driji panuduh : driji nomer loro sakajempol. panuhun : panarimna. panuju : enggoné nuju, cocoging ati, pinuju; panujuman : ngilmu pethek srana lintang. panuli : piranti kanggo nyungging. panunu : pangobar, pangobong, pambesmi. panunggul : kuluk, arané wilahan gamelan, inten sing ditrap ing tengah-tengahe ali-ali; driji panunggul : driji tengah.

panutan : kang dienut, kang diturut, pangarep, anak pek-pekan kanggo sarat bisa duwe anak. panutur : dedalan, sarana. panuwun : molo (tumrap omah), panjaluk, panarima. panyadranan : papan kang dienggo nyadran, kiriman kembang ing kuburan panyak : manyak, wiwit tumandang. panyamah : tetembungan kang ngasorake. pao-pao : kanthang wadhah dhuwit (tembako). paok : bodho, ora aji. paolan : palilah. paoman : sanggar pamujan.

paos : pajeg, pae, beda. papa : nistha, ala, cilaka, sangsara; ora papa : ora apa-apa. papah : gagange godhong gedhang (blarak); papahan : paga; asu ninggal ing papahan : ngepek bojo tilas bojoné sedulur. papaka : grema. papar : papak, wrata; dipapari : dirata. papas : dipapas, dipunggel, dikethok pucuke, dirusak, disirnakake; papasan : arané tetuwuhan, arané manuk. papeka : pepeka, sembrana, ora ngati-ati. papan : wadhah enjet ing pakinangan. papreman : pasarean, paturon.

papriman : ngemis.

jlentrehna artinya

par : peres; dadi panjang kidung : kondhang; pepara : lelungan mrana-mrana; kepara ngalah : rada ngalah; para lurah : lurah jlentrehna artinya paracampah : seneng nyenyamahi; paracidra : seneng laku cidra, ora netepijanji; parahita : tresna asih ing pepada; parajaya : kalah, kasoran; parakasah : pangrasah, bebungah marang pengulu nalika nikahake; parakrama : pakurmatan, palakrama, laid rabi; parakirma : palakinna; parama : kang pinunjul, kang linuwih; paramarta : ambeg welasan ing pepadha; paramasasra : kawruh linuwih, wewaton panulis lan pranataning tembung ing ukara; paramastuti : pamuji, panyembah; paramaresi : pandhita linuwih; paramean : kasenengan, kasukan; parameng basa : putus ing babagan basa; parameng kawi : parama kawi; parameswara : ratu; parameswari : ratu putri, garwaning ratu; paramesthi : dewa linuwih; paramita : kasampurnan; parampara : paran para, juru rembug; parapadu : pepadon, pasulayan; parapen : luweng geni pandhean (kemasan); parawanten : sajen.

paran : kepriye, purug, panggonan kang diparani, pangeran; paran baya : apa baya, gek apa ta; parandene : ewadene, suprandene; paran tutuhan : dadi tutuhané wong akèh. parang : karang padhas segara, bendho, bodhing; parang rusak : cakriking bathikan; parang muka : mungsuh; parang tritis : pesisir segara ing ngayogjakarta.

paras : cukur, padhas; diparasi : klapa diilangi kulite panggonan kecer; paras-paras : lading; parasdya : niyat, karep; parastra : paratra, pati, mati. parat : bangsané patri, keparat; ngawula : ngabdi, ngenger. pardi : dipardi, diperdi; pardika : aran, teges, makna; dipardikani : ditegesi, diterangké maknane. pare : tetuwuhan rumambat sajinis bestru; pare enom : sajinis gendera warna kuning lan ijo; pare karantan : gelungan sing pucuké rambut diklewerake; paresan : paukuman, pakunjaran; parewanan jlentrehna artinya tumandang ora kalawan temen-temen.

pareden : pagunungan. parek : cedhak, caket; parekan : abdi wadon ing kraton. para : bakul ngedolaké mas inten. parem : jlentrehna artinya beras diadoni kanggo wedhakan; paremas : sulaman benang emas.

parepat : abdi, abtur; parepat desa : tangga desa; parepatan : sarasehan, pakumpulan; parepotan : palapuran. pari : pantun, tetuwuhan sing wohé beras; pari jero : pan kang umure suwe; pari gaga : pari ing palemahan ora butuh dielepi banyu; pari genjah : pari kang umure luwih cendhak; paribasan : ukara sajinis saloka nanging tegese wantah; paribawa : prabawa, daya, pangamh; parikuta : panyawiyah, panyenyamah; paridan : kerekan layar; parigraha : bojo, jodho, nggepok, enggon; parihasa : cecamah, pepoyok; parijatha : aran6 cengkok jlentrehna artinya sinom; parikan : unen-unen dumadi saka rong tembung mawa purwakanthi utawa wangsalan; parikena : sembrana parikena, njaluk apa-apa panembunge kanthi sembranan; parikrama : kanthi tata krama, ngenggoni subasita; parikudu : parikedah, kumudu-kudukuedu; parimana : ukuran, takeran, wateswangenari; parimarma : parimirma, paliminna, kawelasan; paripadu : paripabenpepadon ; paripeksa : pameksa, kepeksa; paripih, diparipih : dipripih ,dilipursarana tembung manis; jimat paripih : jimat awujud mas; paripuja : pakurmatan, pangaji-aji; paripurna : wutuh, ganeprampung, mari; parisan : warisan, lading; paritustha : bungah banget, marem banget; paritrana : pitulungan, pangayonaan; paricara : batur; paricari : batur wadon; pariwada : pamada, panyamah, pamoyok; pariwara : wara-wara, pitutur, batur, pandherek; pariwisata : lunga mlancong paron : wesi landhesan nggembleng ing pandhean, palihan, sawise diparo; paron-paron : padha dené oleh separo parsada : prasada, candhi, gedhong, kedhaton, sin, kawelasan parsudi : prasudi, persudi, pangudi parswa : lambunge gunung partidesa : jlentrehna artinya desa partisara : piyagem, layang katerangan, diploma partiwa : ratu, mantri parwa : bab ing layang, perangan, paro; parwan : paron parwata : gunung jlentrehna artinya : papan kang kerep ditekani pasabrangan : papan kang dienggo nyabrang pasadon : regol,gapura pasaja : blaka, bares, tanpa rerenggan pasaksi : paseksen, tandha yekti, bukti katerangan; paseksi : dhuwit pituwase dadi seksi pasakitan : wong kang diukum, wong kena ing dakwa pasamiran : paturon pasamunan : papan kang sepi pasamuwan : paklumpukané wongsawatara, pista manganenak, kumpulan, sarasehan pasang : nata, ngetrap, rob, banjir; sapasang : sajodho; pasang aliman tabe : kurmat robagekaké (ing padhalangan); pasang angkuh : umuk, pambekan; pasang gendera : ngedegaké gendera, nedya ngraman; pasanggrahan : palerebaning ratu ing njaban kutha, omah panginepaning para luhur kang lagi niti priksa; pasang grahita : sumadhiya amrih mangerti; pasang lining : mbalang liring, nglirik pasang semu : pasang ulat, aweh sasmita kanthi pasemoning praen; pasang rakit; pasang wangun, tata pangrakite gegawean pasatan : jarit sing kanggo telesan nalika adus pasatowan : petungan kanggo nyumurupi begja cilakané wong arep jejodhoan paseba : pasowan, teka ngadhep marang; paseban : pasowanan, panggonan sing kanggo seba paset : gosokan paset : gosokan inten; pasetran : papan pambuwangan mayit pasemon : wanguning praeh (polatan),tetembung sing kanggo nyemoni pasepiran : pakunjaran pasingidan : pandhelikan pasisir : palemahan pinggir segara; pajang pasisiran = nindakaké jlentrehna artinya negara menyang njaban kutha paso : jembangan gedhe; pasobatan : pamitran, kekancan pasraman : patapan, pertapan, padunungané pendhita pasrangkara : guneman sareh lan sumeh patah : bocah wadon cilik-cilik sing sapantaran direngga-rengga pinangka kanthiné penganten; wis patahe : wis dhasare; dipatah : ditanggenah, dikongkon pataka : gendera, piala, duraka, bebaya, kacilakan pataksi : patakon, pitakon patala : pratala, burni patar : kikir gedhe; pataran : tataran; dipatar : digosok nganggo patar; patarana : palungguhan patatri : manuk, panah patehan : prabote ngombe wedang teh, papan kanggo nyawisaké wedang patembaya : semayan, kencan patembayatan : rerukunan patha : geber sing digambari pathak : sirah, endhas, cumplung; dipathak : dibalang sirahe pathakilan : pethakilan, tansah memenek pathek : lelara ing kulit; patheken : jlentrehna artinya lara pathek pathes : deres pathes, deres banget.

pathet : dhasar cendhek dhuwure swara gamelan; dipathet : dicandhet, dipenggak, dicendhakake. pathir : pothar-pathir, kether. pathok : kayu utawa pring sing ditancepaké kanggo jlentrehna artinya. paripolah : solah tingkah, tandang tanduk pathok bangkrong : tetep ora bisa owah, rega mati ora bisa dienyang.

pathola : cindhe, sutra alus. patron : dolanan gangsingan. pawadan : api-api, ethok-ethok, santholan. pawaka : geni (watak 3). pawana : angin (watak 5).

pawar : kebayan, desa; pawarsakan : pananggalan, almanak; pawarta : pawartos, warta, kabar. pawat : paweweh, paweh. pawiyatan : pamulangan, sekolahan.

pawira : prawira, kendel, tumbak. pawitra : suci, bening, resik. pawongan : batur wadon. pawong metra : kanca kang caket. peang : sirah peang, sirah mbendhol. pedah : paedah, gina, guna, piguna.

peges : dipeges, diiris menceng. pen : impesing puyuhan. pelad : celad, cedhal. pelog : becik, bagus, ayu. pencut : mencutake, njalari kesengsem, menginaké banget. peni : edi, becik lan arang anane. perak : slaka; diperak : dipisah, dipegat; perakan : pegatan. peca : dipeca, diweca, diweling. pecah : remuk, pisah-pisah; pecah nalare : bisa mikir kanthinalar becik; pecah pasedulurané : pedhot pasedulurane.

pecak : bumbu kanggo mbumboni iwak; pecak pisan : lagi wiwitan; ora dipecak : ora diambah. pecat : jlentrehna artinya, leren, rucat; dipecat : dilereni; mecati : sekarat arep mati; pecat nyawa : oncate nyawa ninggalaké raga; pecat sawed : wayah wisan gawé. peda : gereh iwak kembung. pekik : bagus. peking : arané manuk sajims emprit; Saron peking : penacah, saron cilik; peking abuntut merak : prekara cilik wekasané dadi gedhe.

peksa : panjiyat supaya mmandang; peksan : geleme merga kepeksa; peksa vani : kendel banget, arané gendhing, peksi : manuk, sindik sing tumanceb ing ukiran keris; peksi kuwung : arané gendhing. pelana : lapak gajah. peleg : kebak banget. pelek : dipelek, dipelak, digelak. pelang : esthi, enering pamikir; dipeleng : diesthi, diener. pelik : sorot; geni sapelik : geni mung sethithik; kembang sapelik : kembang sapethel; pelikan : apa-apa sing didhudhukjroning lemah, arané manuk.

pena : sampeyan, kowe. penatus : lurah desa. pencalang : pacalang, jaga baya. pencar : sumebar wrata; dipencaraké : diwratakake, ditandur diwratakake; pencar karang : wis gawé omah dhewe.

pendeng : peleng, pindeng; dipendeng : dipindeng. pendhalungan jlentrehna artinya guneman ora karuwan unggah-ungguhe. pendhega : entheking pandhe, punggawa kapal. pendhok : kandelan, srasah wrangka keris sing digawé emas utawa slaka; golek pendhok : golek alem; pendhok blewah : pendhok sing sigaran sairing; pendhok bunton : pendhok sing wutuhan.

pending : sabuk sing digawé saka emas utawa slaka. pendir : dipendir, dibubuhi pegawean abot. pened : becik, tata, endah. penet : dipenet, dipetek, dienetake. pentog : pantog, notog. penyak : dipenyak, dipidak. penyon : ora penyon, ora bisa. penyunyungan : ndugal, clinthisan. pepeka : sembrana, ora ngati-ati. peper : suda landhepe, sudakadigdayane; dipeper : dileremake. pepethan : tetiron, wewujudan nunangka gambaran. pera : akas ora pliket; pathokan : pangeran, wewaton; perak esuk : perak enjing, ngarepaké bangun esuk.

perang : bandayuda; perang ampyak : perange rampogan karo gunungan; perang dharat : perang amuk-amukan; perang dhemit : sesatron sing ora ketara; perang gagal : perang sing durung ana pepati; perang kembang : perange satriya karo buta; perang catur : beteh rembug adu titising wicara; perang laut : perang ana ing segara; perang leres : perang dhedhelikan sarana nglimpe; perang ngarep : perang adu arep ora nglimpe; perang sabil : perang mbelani agama, nglairaké bayi, manak; perang tandhing : perang ijen padha ijen.

perbatang : wit sing wis rubuh. perbang : perbang-perbeng, rainé abang arep nangis. perdikan : bumi sing ora ketarik pajeg. perdondi : bredondi, pepadon, sulaya. pereng : porong, geseng, gosong. perep : perek, cedhak. peres : diperes, diwenyet, dipuh; pikirané diperes : pikirané dipesu banget; tenagané diperes : tenagané diplinder; siram peres : adus wuwung; sapi peresan : sapi sing dijupuk puhane.

peguwa : gedhe dhuwur kaya buta. pergul : dipergul, disepuh emas (slaka). perlaya : pralaya, mati, pageblug. perlegen : ora perlegen, ora isin, ora wedi. permadani : prangwedani, babud. permana : pramana, cetha, tamat pandelenge. permati : kalawan becik, kanthi apik.

permili : sanak, sedulur, kadang. pernesan : tetembungan (pratingkah) digawé-gawé kanggo memencut, kumudu-kudu weruh. peron : arané tetuwuhan kang rumambat. perpek : diperpeki, diprepeki, dicedhaki, diparani. persaben : prasaben, kandha marang, aweh weruh, njaluk palilah. persah : presah, krasa ngeres. persandha jlentrehna artinya tersandha, pratandhe, titikan.

persapa : prasapa, supata, sumpah, niyat ora bakal nglakoni. persekot : empingan. persil : bumi kang disewa 75 taun; kapisa : abang nyawo mateng. pertal : dipertal, disalin nganggo basa liya; pertalan : salinan. perti : diperteni, diopeni kanthi becik; perti desa : bersih desa. perwasa : diperwasa, diprawasa, dikaniaya, dipilara. pesi : ancering lading, keris, arit lsp, peksi, manuk. pesing : ambu kaya dené ambuné uyuh; pepesing : paweweh penganten lanang marang embahe penganten wadon.

petak : pambengok, panggetak; metu petaké : ngetokaké kadigdayane; lindhu petak : lindhu sing nggenjot; dipetaki : dibengoki; dipun petak : dikubur. petha : gantha, wujud; pepethan : wewujudan; dipetha : diwangun, digambar. pethal : uwal, pisah; dipethal : dipisah ; dipethali : dipaculi pethar : dipetharaké : dijereng, diambakaké pethat : leren, pedhot, pisah; dipethat : dipedhot pethek : pambadhe, pambatang, pambedhek; nyolong pethek (pr) : ora cocog karo pangirané wong akèh.

pethel : wadung cilik; dipetheli : ditamani pethel pethes : dipethes dikerengi anggoné mulang muruk pethil : uwal saka gantilane, palu cilik ing kemasan; pethilan : sing wis uwal saka gantilane, wayang wong mung saperangan pethot : dipethot : diuwalaké kanthi peksan, disapih peksan (dadakan) pethuk : godhong turi; dipethukaké : dipapagake; dipethuk : dipapag, diwadhahi ules piagem : layang prajanjen piala : piawon, tindak kang ala; dipialani : dipaeka, digawé cilaka piandel : tanggungan, bab kang diendelaké pianggep : gagasan, panganggep piangkah : pangangkah, karep piangkuh : umuk, angkuh picis : redana, arta, dhuwit, perak : cedhak.

pidak : dipidak : diidak, dipidek; wong pidak pedarakan : wong asor pidana : siksa, paukuman dipidana : diukum pideksa : pawakan sing jlentrehna artinya lan dhuwure timbang pidikan : sanggar pamujan, sanggar palanggatan, papan kanggo semedi piduwung : keduwung, getun pigegel : tandha mata, tandha pangeling-eling pijana : ujana, taman, patamanan pikat : manuk kanggo pasangan jontrot, pasang kanggo ngala manuk; bedhag pikat : mbebedhag, mbeburu kewan alasan pikukuh : pikekah, layang pratandha bab sewan (dol tinuku, tetapan pang kat) pikun : tuwa pikun : jempo, tuwa banget jlentrehna artinya : dipikut : dicekel, dicandhak pilag : pelag, bagus, ayu pilala : dipilala : diaji-aji, digulawenthah kalawan temen-temen pilalah : aluwung, angur, pilampu, lampu, pilaur, pilalu pilalan : kang pinilih pilang-pilang : wilang-wilang, begja dené pilet : pilih, milet, milih; dipilih : dijupuk sing dadi panujune; pilihan : carané milih, sing wis dipilih, pinunjul tinimbang liyane; pilih asih : pilih kasih; pilih bobat : pilih tandhing; pilih lalah : kabeh padha baé; pilih-pilih jalma kang udani : arang-arang, ora saben; pilih-pilih tebu : yen ora pinter anggoné milih malah oleh sing ala pilula : dipilula, direrepa supaya diasihi; memiluta : ngrerepa supaya disihi pinangka : asal, sangkan; dipinangkani : dituruti pinaremas : direngga ing emas pinarigi : dipasangi tambak watu pmarsada : dicandhi, ditumpuk pmarwasa : diprawasa, dipeksa, dikalahake, dipilara pinasthika : kang pinunjul, kang linuwih pindeng jlentrehna artinya dipindeng, dipandeng, dipeleng pindha : memper, kaya, kadi; dipindha : diwangun kaya, diemper kaya; dikanji : dicelup ing banyu kanji pindhang : arané jlentrehna artinya pindhang wantah : duwe gawé mantu wis sumekta ora sida merga pengantené lanang ora teka pinet : diepek, dipurih pineksa : dipeksa, dijiyat, diruda peksa pinidana : dipidana, diukum pinitaya : pinitados, dipitaya, dipercaya pinituwa : pinisepuh, wong kang dianggep tuwa pinjal : tuma asu (kucing), cipratan banyu udan; pinjalan : tapihan sing poncode tapih kang dhuwur dilangkip munggah pinta : dipinta-pinta, dicawisi pinten : arané tetuwuhan dipintonake : dijalukaké panemu marang wong sing luwih ngerti pinggala : jlentrehna artinya tuwa, julig pingging : unggung, bodho pingit : dipingit, dikeker kanthi premati pingul : putih; dipinguli : kayu dandanan sing dipegosi pipilika : semut pipit : rapet tanpa sela pirabara : pirangbara, pinten banggi, luwih becik yen pirasat : wirasat, pratandha pirma : kawelasan; dipirmakaké : dieman piroga : lelara pirus : inten ijo pisaca : wong cebol pisila : daging pisuna : wisuna, panyamah, pangala-ala pistaraja : kasukan, mangan enak bebarengan wong akèh pita : kuning, bapa, jlentrehna artinya ciyut dawa; pitaya : pitados, ngandel; pitara : para leluhur pitawa : putusané para wong ahli angger-angger pitekur : ngeningaké cipta, semedi pithat : dipithat, dipilah, didhewekake; dipethati : dipilah sing becik; pithatan : pilihan pithi : tenggokcilikjamanbiyen kanggo taker beras piaga : palwaga, kethek, plawangga plaksana : diplaksana, diukum (dikaniaya) kanggo conto supaya liyane; diukum picis : diukum sarana diiris saka sethitik plaksiyu : dhokar rodhané nganggo ban.

plancoh : antru, pathok kanggo maticang prau. planca : amben. plandeng : diplandang, ditempuh, ditrajang. plangi : slendhang sutra kekembangan kanggo kemben. plangitan : epyan, ternit. plasa : witkayajati. platuk : blandhong, tukang negori wit-witan; diplatuk : dicucuk, ditegor; diplatuki : dijampangi, dimemanuki; platuk bawang : arané manuk. plebuhan : pawuhan. plekat : alun-alun, wara-wara, undhang-ndhang lendak-plendek : ora nyenengaké olehe mangan, ora kenceng kekarepane., plesta : palastha, rampung.

plupuh : galar, pring, disigar sairing dicacah-cacah kanggo sanggan ; klasa ing amben. pluruhan : pawuhan. plonco : pentil semangka, isih enom durung akèh pengalamane, gundhul plonthos. poak : buthak. podhang : kepodhang, arané manuk.

podhi : inten las-lasan. poel : ompong ganti untu (tunarap raja kaya),ompong, wis tuwa. pongeran : paugeran, waton, pathokan, dhasar. pogot : gothot, kiyeng. pohot : kelang tebu, tetes. pojar : gunem, ujar; pojaran : rasanan. pokok : wedang pokok, wedang srebat. pokal : anaké wit gedhang; pokal gawé : pratingkah kang ala. pokil : reka daya golek kauntungan. pokol : socané wit, dhangkel. pola : tuladha, wujudmg rai; jembar polatané : jembar wawasane, sugih kawruh.

polang : wohé cengkeh, jinise kacang kapri. poma-poma : pakon (pinding) sing banget. ponang : punang, kang, si. ponponané : wekasane, pungkasane, wusanane. popo : mopo, ora gelem nglakoni awit ora keconggah. pora : poran, kareben; porajana : kawulaning negara. posah-pasihan : lagi tresna-tinresnan. poso : diposos-poso, disentak-sentak, dioso-oso. posong : sajinis icir kanggo misaya iwak. potra : prau; potraka : putu. praba : sorot, cahya, sunar, sandhangan wayang wong manggoné ana ing geger.

prabayasa : prabayeksa, prabasuyasa, dalem gedhe ing kraton. prabakara : prabangkara, srengenge. prabancana : maruta, angin. prabaswara : sumorot banget. prabata : gunung, esuk. prabatang : wit gedhe sing wis rubuh. prabawa : kaluhuran, kasekten, panguwasa, daya. pracados : pracaya, pitados, pracaya, pitaya, ngandel. pracalalita : gelap, thathit.

pracandha : prahara, angin gedhe. pracara : laku ala, urakan. pracihna : pratandha, katerangan. pracima : kulon. pracodha : cemeti.

prada : bubukan slaka dianggo nyungging wayang; prada mas : bubukan emas; pradan : sing wis diprada. pradana : pangarep, panggedhe, darma, paweweh. pradanda : pradandos, dandos, dandan, mengagem, pradangga : gamelan; pradanggapati : srengenge.

pradapa : lung enom, pupusing godhong. pradata : pangadilan. pradhah : loma, dhadhag banget, dhemen nyenyuguh. pradikan : perdikan, bumi kang ora dikenakaké pajeg.

pradikes : pratingkes, pinter, trampil. pradin : rampung. pradipta : pepadhang, diyan. praduli : pradunten, perduli, melu migatekaké prakaraning liyan. praen : praean, jlentrehna artinya, wanguning rai. pragad : rampung; dipragad : dirampungake, disembeleh.

pragalba : galak, ambek wani, macan. pragen : wadhah bumbu, pantaran, wis mrabat. pragi : prabot, piranti; ora tumindak mangkono. praguyama : kawicaksanan, kawruh, pinter, waspada, ngati-ati. pragola ruket : perang ruket (gelut). praguwa : gedhe banget. prahara : angin gedhe awor udan deres; praharana : pambengkas, gegaman. prail : babagan ngedum warisan; diprail : dibage, diperang-perang, didum.

praja : kraton, krajan, negara, kedhaton. prajaya : diprajaya, dikalahake, dipateni, prajaka : kongkonan. prakampa : prakempa, prakampita, lindhu, oreg, gonjing. prakarana : bab, perangan. prakasa : prakasita, misuwur, kondhang. prakatha : suwara, pralampita, sasmita, pasemon. pralebda : lebda, pinter. pramada : weya, sembrana. pramana : keteging jantung, nywara; pramanen : terang (awas) pandulune. pramati : premati, becik dhewe, pethingan, temen-temen pangrumate.

prambayun : pambayun, susu. pramudita : bungah, begja; jagat pramudita : saindhengingjagat. pramugari : pangarep, panuntun. pramodha : bungah, kabungahan; jlentrehna artinya pramodheng uri : ratu. prana : ambegan, napas, dayaning urip, pangrasa; kepranana : ketarik katuju, atine.

jlentrehna artinya : palinggihan, klasa, lemek. pranaja : jaja, dhadha. prananta : pranantika, pati, mati. pranata : tumungkul, teluk, sembah, nyembah; dipranata : ditata miturut pepacak; pranata mangsa : petungan bab mangsa; pranatan : pepacak sing wis didhawuhake, tatanan, aturan.

pranawa : padhang, waspada, waskitha. prangkat : saprangkat, saanggon, sasetel. prangwadani : babut kang becik. prapanca : pangapus, alangan, bingung, orajenjem. prartana : panjaluk, pangarep-arep, kasaguhan. prasaben : prasadu, pamit, kandha marang, kandha sadurunge. prasada : candhi, gedhong, kedhaton, kawelasan. prasata : supata, sumpah ora arep nindakake. prasasta : pinuji, dialembana.

prasasti : layang kekancingan (piagem). prastawa : waspada, waskitha; diprastawakaké : diwaspadakake. prastha : geger, githok. prata : kaluwihan, kamisuwuran; pratala : bumi, lemah; pratama : kang kapisan, kang kawitan, jlentrehna artinya becik dhewe, kanglinuwih; pratandha : tetenger, ciri, mracihnani, nerangake; layang pratandha : jlentrehna artinya katerangan; pralangga : pratanggakara, pratanggapati, srengenge; pratapa : sorot, kaluhuran; pratapan : papan kanggo tapa.

pratela : aweh weruh marang; dipratelani : dikandhani, diwenehi weruh; dipratelakaké : disebutake. pratignya : prasetya, saguh bakal nindakake. pratihata : pratiyata, ora gingsir, sentosa, sekti. pratikel : srana dalaning pangudi, pituduh rekaningpanindak; dhendha pratikel : dhendha merga ora nekani pengadilan pratima : reca, golek.

pratinggi : lurah desa. pratingkah : solah tingkah, saradan. pratingkes : prigel, bebaya, alangan. pratipa : mrengkang, ndaga, prahara. pratisara : tali, tampar, diplomah, layang kekancingan. pratistha : dedunung, manggon, linggih. pratita : misuwur, kaloka. pratitis : patitis. pratiwa : pangareping prajurit, senapati; pratiwanda : pakewuh, bebaya, alangan; pratiwi : bumi, lemah.

pratyaksa : terang, cetha, pramana. pratyangga : badan, gegaman. pratyeka : wijang-wijangan. prawa : wayang prawa, wayang purwa; prawaka : banjir rob; jlentrehna artinya : ing sarehne; prawara : prajurit; prawasa : diprawasa, ditempuh, ditrajang, disiyasat, dipilara; prawata : gunung; prawatan : pasimpenan; pragiwaka : pamisah, jaksa.

praweda : diprawedani, dipindeng, diesthi. prawedyarini : dhukun bayi. prawira : kendel. prawita : wiwitan, jalaran, uhita, meguru, purohita. preh : arané wit bangsané ringin. prema jlentrehna artinya sin kawelasan, pangeman; diprema : dipinna, dieman. preceh : rembes. prewe : priwe, kepriye. premati : pramati, bedk panyimpené (panjagane). pretana : lajuran, larikan, barisan. priangga : pribadi, dhewe, ijen. pribumi : wong pribumi, wong asaltanah kono.

prigi : tanggul watu, belik, sendhang, tiik. prihambak : prihawak, dhewe, ijen. prikanca : kanca tunggal pagawean. priman : pepriman, ngemis. primbon : layang kang ngemot bab petungan, pethek lsp. pringga : bebaya, pakewuh; ngalang pringga : tansah ngawekani yen ana pakewuh; dipringgani : dikawekani, diprayitnani; dipringgakaké becik : dipirmakaké murih becike. pringgitan : omah antarané pendhapa karo omah buri (gedhe). pringkelan : paringkelan, petung bab apesing titah marengi ing dina.

pringkus : dhadha mnngkus, dhadha sing ciyut. pripean : ipené bojo. priti : bungah, seneng, rukun, mitra. probal : diprobalake, diprojolake, dibrojolake. prodong : nyrempeng, ngetog kamempengan, lunga karo nangis sesenggukan. prombeng : bakul barang-barang sing wis kanggo; prombengan : papan kanggo dodol prombengan, barang sing wis diprombengake. prugul : diprugul, dipnmggul, dirudapeksa. prugus : prigis, entek godhonge. prakah : duwe gawé gedhen, rowa banget. pmnan : plunan, pulunan, keponakan.

prunggu : campuran tembaga karo seng; tata prunggu : jlentrehna artinya. prunggul : diprunggul, dipronggol, dikethok, dipunggul, dipedhot, dipeksa. prungu : diprungoni, dikabari, dirungoni; prungon : pangrungu.

prungon : pangrungu. pruputan : carukan. prusa jlentrehna artinya diprusa, dipeksa, dijiyat, dityagah; prusan : peksan, jiyatan. pwangkulan : pwakulun, pukulun. pwakenira : pakenira, sira, kowe. pyang-pyangan : pyang-pyengan, tansah lunga baé. pyayama : matur, kandha. pyur-pyuran : dheg-dhegan atine. R rabasa : dirabasa, dinisak, direbut kanthi peksa; ngrabasa : ngrusak, nempuh, ngrebut. rabda : ngrabda, ngrebda, ndadi, mundhak. rab-rab : wrata, mratani racah : jembeg, embeg, rancah; racah-ricih : katerangan prakara kang dilari racak : kabeh meh padha; racak-racak : recek-recek, kabeh kawratan banyu nanging ora agung; racaké : lumrahe, sing akèh-akèh; nggalak racak (pr) : nenangi wong kang duwe niyat ala racek : kremi manggon ing weteng (roata).

racikan : driji. rad : keklumpukaning wong-wong sing kajibah aweh pamrayoga; rad agama : pengadilan babagan agama; rad kawula : keklumpukaning wakil-wakiling kawula (dpr). raden : sebutan kanggo darahing ratu; raden adipati : sebutan pepatih dalem, sebutan kaurmatan para bupati; raden ajeng : sebutan bocah wadon darahing ratu; raden ayu : sebutan darahing ratu sing wis omah-omah; raden bagus : sebutan darahing ratu sing durung rabi; raden ngabei : sebutan abdi dalem kraton.

radite : raditya, radiktya, srengenge. radon : ngradon, ngrebda. radosan : radinan, ratan. raga : awak, badan wadhag; amor raga : andhap asor, ngesoraké awak; ora raga : ora memper, ora wujud; ngreraga : macak, ndandani awak; diraga-raga : diandel (dipercaya) kaya awaké dhewe; prawatya : begja, berkah ; raga karana : jlentrehna artinya, njalari tresna asih; raga rago : gojag-gajeg, ragu-ragu; raga sukma : nguwalaké sukma saka bandaning badan; raga wanda : sabuk.

jlentrehna artinya : bungah. ragah : agahan, krangsangan. ragan-ragan : kewes lan kenes. ragas : ragangan balung awak (tumrap ula); kari ragas : miarat banget.

ragen ragi : cocog, mupakat, seneng. ragu : rada, parudan klapa dibumboni digoreng, adu kanggo gawé tape (tempe); ragi bali : cakrik bathikan; ragil : wuragil, pambontot (bontot). rah : araning olah-olahan iwak (daging); ragu-ragu : gojag-gajeg, mangu-mangu; ragulo : argulo, regulo, araning tetuwuhan; ragum : tali duk; diragum : diteleni nganggo duk; empyak raguman : empyak usuk pring rengked diteleni duk; diragum : dicatur, digunem.

rahaden : getih, wancahan tembung lurah, dirah, diarah. rakarja : rahadyan,raden. rahat : rahayu, reja. rahayu : sikara, tiwas, rusak, kena ing; karahatan : katiwasan, ketaton. rahu : slamet, begja, luput ing jlentrehna artinya. rahsa : araning wit; rahu-rahu : tenggok; rahuru : dahuru, jlentrehna artinya.

: rahasya, rahaswa, wadi, winadi, gaib, wijining won lanang, rasa. rai : pasuryan, perangané sirah sing ngarep, peranganing apa-apa sing ngarep; rai gedheg : ora duwe isin. rama : rainten, rina, rinten, wayah awan. raja : ratu; gedhang raja : gedhang sing piguna ing sadhengah kaperluan; sawah raja : sawah kasdesa; diraja-raja : dipepundhi kaya dené raja; raja amal : raja darbe, barang-barang sing didarbeki; raja brana : bandha lan barang-barang sing akèh pengajine; raja jamas : mantra kanggo srana negor kayu gedhe; raja kaya : kewan ingon-ingon sing bisa ngetokaké kaya; raja kaputron : sandhangan lan rerenggan kanggo temanten kakung; raja kaputren : sandhangan lan rerenggan kanggo temanten putri; raja manggala : arané gendhing; raja muka : petung kanggo ngerteni begja cilakané manungsa; raja niti : pangadilan, bab pangreh praja; raja panganggo : pangagemaning ratu; raja pati : prakara pepati; raja patmi : prameswari; raja peni : barang-barang sing edi peni; raja pundhut : bulu bekti saka kawula marang ratu; raja putra : putraning ratu; raja putri : putraning ratu; rajasinga : lelarajinisebengeng; raja siwi : anaking ratu; raja sunu : anaking ratu; raja swala : wektu kang prayoga, arané gendhing; raja tadi : raja peni; raja tatu : prakara tatu awit kerengan; raja weda : kurban slametaning ratu murihraharjariing praja; raja werdi : embananing inten; raja wisuna : jalarané pasulayan.

rajag : trocoh akèh banget. rajah : corek gegaleraning epek-epek, pepenginaning ati, hawa nepsu; rajah tamak : pepenginan lan kamurkaning ati. rajata : salaka. rajeg : pager sing digawé saka kayu (turus), ulesjaran sing awaké semu kuning sikile papat warna ireng; ngrajegi : mageri nganggo turus; rajeg wesi : pager kang digawé saka wesi; rajin : sregep, necis; karajinan : jlentrehna artinya, kagunan tangan.

rajug : ngrajug, kaget banget. rajun : araning tetuwuhan. rajungan : bangsané kepithing. rajwa : radiya, krajan. raka : kakang.

rakatha : rekatha, yuyu. rake : raid, reki, kowe. rakmi : batin, watak. raksa : ngraksa, ngreksa, njaga; raga ini : kembang. raksasa : raseksa, buta. raksasi : raseksi, buta wadon.

rakta : rekta abang. rakus : mangani, dhemen mangan, cluthak, nggragas. rakwa : reko, tumuli, nuli. rakyan : rakyana, rekejana, raden (sebutané patih). rama : ramak, bapak, bapa. ramal : ngelnau pethek.

ramat : rahmat, serating godhong (woh), klamat. rambah : ambal, ping, kaping; rambah-rambah : ambal-ambalan; ngrambahi : ngambali maneh, mindhoni.

rambak : wlulang sapi sing digawé krecek, oyod wit-witan sing ora nunjem lemah. rambana : ngrambana, nyrempeng, ngetog karosan. rambas : tambas, ngembes, mbrabat. rambeh : mili. rambet : ngrambet, matan.

rambit-rambit : tetuwuhan sing mawa eri. rambon : tembako sing alus lan sedhep; sagon rambon : panganan sagon sing nggawené dipan; sapi rambon : sapi turunan bantheng lan sapi. rameh : reged. ramelan : sasi ramelan, sasi ramadhan, sasi pasa. rami : tetuwuhan sing kulite kena kanggo tali (goni). ramon : bebanten, wong kang kekaniaya. rampa : ngrampa, ngrerampya, ndhabyang, nggotong wong semaput.

rampad : ngrampad, nata lelawuhan ing piring; rampadan : piring sing wis ditatani lelawuhan. rampe : pisuguh (panganan lsp); rerampen : uba rampe suguhan. rampek : rampung; ora dirampes : ora direwes.

rampid : rapet banget; ngrampit : nyerang mungsuh, ngepung beteng. ramping : pawakan cilik dawa alus lan becik, dalan sing rata, ahis, ora mbrenjel, ukara sing alus lan becik; rerampinging ngelmu : lelungidan, ngrawit; ngrampingaké : ngalusaké lan mbecikake. rana : mrana, wrana (aling-aling), perang, paprangan; rana-rana : mrana-mrana; ranangga : rananggana, perang, paprangan.

jengandika : ijengandika, andika, kowe. randeng : ngrandeng, nglandeng, ajeg ora suda-suda. randha : wong wadon sing ditinggal mati jlentrehna artinya karo bojone; randhan : apa-apa sing ora anajodhone; randha drengis : arané pan (saiki wis ora ana); randha keli : arané bathikan; randha kisi : randha sing duwe anak lanang bisa sangga dhewe; randha kembang : randha sin durung duwe anak; randha kuning : sawah sangar, sapa sing nanduri mati; randha menter : arané pan (saiki ora ana); randha nunut : arané gendhing; randha royal : arané panganan; randha semaya : arané bakal lurik; randha tanggung : randha sing isih enom.

randhat : rendhet, ora banter. randhi : bakal kembangan awarna abang, menjangan sing ulese tutul. randhu : randhya, wit sing wohé ngasilaké kapuk; randhu alas : randhu sing wite bisa gedhe; randhu kenthis : arané gendhing; randhu kuning : randhu sing kayuné kuning kena kanggo wrangka keris; randhu watang : kasatriyané antareja.

ranta : ngranta, jlentrehna artinya, sedhih marga tansah kelingan apa-apa sing nyedhihake; keranta-ranta : tansah nandhang rasa sedhih.

rantah : rantah-rantah, wrata ana ngendi-endi, rentep, lelarikan akèh banget. rantak : marantak, mrantak, miethek wiwit katon maneh. ranteng : bangsané wit aren. ranteb : panen ranteban, panen pungkasan sabubare mangsa rendheng. ranten : adhi. ranti : wit sing wohé cilik-cilik; suwe mijet wohing ranti : gampang banget. rancab : ngrancab, ngasah, nglandhepake, ngrangsang (nempuh) beteng.

rancag : pincang (tumrap jaran), gancang, gancar, enggal rampung. rancah : alas rancah, alas jejembegan ing pinggir pesisir; gaga rancah : gaga sing nandure mung disawurake; ngrancahi : gawé sawahi sing kawitan.

rancak : rencek kayu, tugelan kayu; ngrancak : ngethoki kayu; rancakan : wadhah (sanggan) gamelan nalika nedya ditabuh. rancaka : ngrancaka, sedhih, susah. rancana : ngrancana, nata, nganggit, ngarang; raksaka : pangreksa, panjaga; ngrancana : ngrencana, nggodha, maeka, nyusahake. rancang : ngrancang, nggathuk-nggathukaké lan nata, ngrantam; rancangan : rantaman, ngengrengan. raneh : wis entek ora ana maneh, ora aneh. rang : kruma sing njalari gatel ing jlentrehna artinya, undha usuking pangkat; rangen : gatel merga kena rang.

ranggah : branggah, sungu menjangan sing cecawangan. ranggen : ranggan, omah-omahan (gubug) kanggo numpuk (nyimpen) dami pakan kebo. rangin : tamen, dhadhap; beksa rangin : njoged wong papat padha nggawa tameng; gandha rangin : arané panganan; ngrerangin : lirih sarta kepenak dirungokaké (tumrap gamelan).

rangkad : lunga karo dhemenane; dirangkadaké : digawa lunga. rangkah : pager kang digawé saka eri, pager watesaning negara. rangkulu : karang ulu, bantal.

rangkung : ngrangkang, pawakan lendr cilik. rangsang : arané tembang tengahan; ngrangsang : ngranggeh, nggayuh sing ana ndhuwur; ngrangsang beteng : nempuh, nyerang. rangsehan : sarasehan, rembugan. rangseg : ngrangseg, ngangseg, nempuh, nyerang. raos : rasa; pisang raos : gedhang raja. rapah : gegodhongan lan pang sing wis ngglasah ana lemah. rapak : godhong tebu sing wis garing, wong wadon gugat menyang pengulu njaluk dipegataké karo bojone, ijab dhewe tanpa wali.

rapal : lapal, mantra. rapeh : rapih, rampung. rapen : suket sisané pakan raja kaya. rapet : ora ana selane, tumutup dhipet (tumrap mripat), ora ana sing borot (tumrap bendungan); ngrapetaké ing arenggang : mawuhaké wong mauné sulaya. rapu : jlentrehna artinya, aring; ngrapu : ngrerapu, nglipur, nglelejar, rigleremake. rapuh : rapoh, kesel, sayah, angluh, benthet; parem rapuhan : parem tamba kesel. rapwan : awit, menawa, yen. rara : kenya, prawan. rarab : runtuh, tiba; dirarabi : ditibani, dirantabi; jaran dhawuk : araning lintang, araning lurik warnané dhawuk.

rarah : rarahan, larahan, uwuh. raras : laras; diraras-raras : digagas-gagas; raras karasikan : kanikmataning ulah lambang sari; raras kawibawan : jlentrehna artinya lan kamulyan; raras rum : endali banget. rare : lare, bocah. rarem : sareh, lilih, lejar. rarai : rarita ari, adhi. rarayan : rerywan, leren. rasa : kaanan nalika apa-apa kang tumama ing ilat lan jlentrehna artinya upamane : rasa keri, rasa kasar, rasa alus, lsp; kaanan nalika apa-apa tumama ing ilat, upamané : rasa pedhes, rasa asin, rasa pait, rasa getir, lsp; banyu rasa : cuweran kanggo gawé kaca pengilon; bawa rasa : rerembugan arep nindakaké apa-apa; ngelmu rasa : kaweruh kang medharaké prakara sinamar; rasamala : arané wit sing dienggo gawé menyan; rasamulya : arané aji-aji, rasa pangrasa : raos pangraos, pangerti, rasaae ati; jlentrehna artinya risi : rasané ati sing jlentrehna artinya kepenak; rasa jlentrehna artinya : raos rumaos, rasa sing nemahi ati; rasatala : dhasaring bumi, bumi rasana : ilat rase : kewan galak sing nusoni anaké sing ngetokaké dhedhes raseh : dirasehaké jlentrehna artinya disemantakake, dipintokaké rasika : kebak ing rasa nikmat, marem, bungah raswa : rasa, raksa rat : jagat, bawana, buwana, rad, entek; rat jawa : tanah jawa rata : radin, ora ana sing mendhukul, mratah, kabeh wis keduman, kreta ratan : radinan, radosan, dalan gedhe ratangga : rodha, kreta rateng : mateng; diratengi : diolah supaya mateng; ratengan : olah-olahan swing wis mateng; bakul ratengan : bakul panganan mateng rati : ratih, rembulan ratri : bengi, wengi ratuh : latuh, letuh, reged, buthek, lelethek, wong ala ratum : trubusan tebu; rancana : bencana, panggodha.

ratus : campuraning menyan, kayu cendhana kanggo dedupa; diratus : dikutugi nganggo ratus ratya : ratu ; karatyan : kraton rawa : palemahan ledhok kendhong banyu, tlaga cilik rawan : arané wit sing dianggo gawé ganibang rawasa : rabasa, rusak rawat : ngrawat : ngrurnat, nyimpen; rawat duka : rawat pikir, tansah nandhang susah; rawat luh : kembeng-kembeng luh, nangis; rawat wadi : nyidhem wadi aja nganti kawedhar; rawat-rawat : lamat-lamat; dirawati : disinggahake, dfisimpen, dirumat; krungu tembung rawat-rawat (pr) : krungu kabar kang durung karuwan nyatané rawe : tetuwuhan rumambat sing godhonge nggateli; pancung rawe : pancing akèh sing dipasang ing tali sawiji; rawe-rawe : krembyah-krenbyah paling srawe; rawe-rawe rantas malang-malang putung (pr) : kabeh sing dadi pepalang disingkiraké rawek : rawik, rowak-rawek rawi : srengenge; rawikara : soroting srengenge rawis : brengos, sulur wit wringin sing kumrembyah, wulu jago sing cendhak-cendhak ing gulu, godhong susuh sing isih rada kuncup; rawisan : kinang sing suruhe enom, rajangan, warisan, lading; dirawis : dirajang rawon : olah-olahan jangan daging saemper brongkos rawun : gegodhongan, uwuh rebang : direbangi : direwangi rebel : gogrog, rontog; rebelan : gogrogan, rontogan rebyeg : ribet banget, kakehan laku regang : nam-naman pring kanggo mepe tembako; jodhang regang : jodhang sing digawé saka nam-naman pring tampah sing digawé saka sada aren rege : tampah sing digawé saka sada aren regel : rigol, tiba, njiglok reh : pratingkah, prakara, pranatan, wewengkon; direh : diprentah, diwengkoni, dibawahake; rehdené : rehne, rehning, sarehne, marga saka reh-rehan : bawahan, sor-soran rejeg : rajag, trocoh kabeh rejeng : padhas ing jurang rejog : bejog, pincang reka : akal, rerigen, cara, pratikel; reka-reka : ethok-ethok, api-api, duwe akal; ngreka : metha-metha, gawé tetiron; reka daya : rerigen, pratikel, srana amrih kaleksanan.

rema : rambut. remban : mari, waras. rembel : nggebel; utange rembel : utange akèh banget. remen : maremen, mremen, nular, mundhak ngambra-ambra.

rempo : rempoh, jimpo, tuwa lan sekeng. rempon : jompo lan ora bisa tumandang gawé, tebu turahan sawise dipilihi digawa menyang pabrik. rena : biyung, nglurug nyambut gawé (tumrap wong wadon). rendhel : urut-urutan akèh banget; utange rendhel : utange akèh banget. rendhon : rerendhonan, panggarape rendhet dhonan. reni : wong wadon. rentep : tarap, rantap, padhajejer-jejer akèh banget. reseh : jlentreh, teteh.

reston : jlentrehna artinya, turahan. reta : kreta. rete : krete. rewa : rewa-rewa, api-api, atindak kaya. rewah : enggal owah, ribet, alangan, repot. rewan : kagum, tontonen (tomtomen). rewanda : kethek. rewang : rencang, kanca kanthi, batur, tetulung, ari-ari; rewang-reweng : ditarik mrana-mrana. rebah : rubuh. rebasa : ngrebasa, ngrabasa, ngrusak. rebat : rebut; rebatang : perbatang, wit sing wis rungkad. rebda : ngrebda, mundhak-mundhak, saya akèh.

rebi : rempit, winadi. rebut : rebat, ngrebut, njupuk kanthi peksa; rebut bener : pepadon golek menang; rebut dhisik : banter-banteran golek dhisik; rebut dhucung : mlayu dhisik-dhisikan; rebut cukup : mung mburu cukup; rebut paran : mlayu ngungsi; rebut seneng : milih sing disenengi; rebut unggul : unggul-unggulan; rebut urip : ngungsi golek urip.

rebon : urang cilik-cilik. reca : pepethan sing digawé saka watu. recek : recekan, jlentrehna artinya, rosokan. redana : dhuwit. reden : gunungan, kerep duwe anak. redite jlentrehna artinya radite, srengenge, jlentrehna artinya ngahad. redi : redya, gunung. regag : rada ora wani (sudi).

regak : regak-regak, judheg. regancang : ngregancang, katon gedhe lan gagah. regas : getas. regejeg : regejegan, pepadon rame regejeg. regep : rumegep, nggatekaké kalawan temen-temen. rekak : mlekah, rnlethek, rengka; rumekah : mundhak akèh. rekat : karkat, krekat.

reké : reko, tumuli, nuli, banjur. reksa : rumeksa, njaga; reksa bumi : pangkat punggawa desa. reksaka : panjaga. reksiwara : resi linuwih. rekta : abang. rema : sarwa jlentrehna artinya suguhane. remak : remek, remuk; remak rempu : entek kakuwatane. rembaka : ngrembaka, ngrempayak akèh godhonge.

rembang : dirembang, ditegori (tumrap tebu). rembatan : pikulan, ngrembat, mikul. rembe : rumembe, ngrembe, semi, thukul, tuwuh. remben : rendhet, tamban, rindhik, gelem ora-ora. rembaya : prau cilik. rembayas : arané iwak loh. remih : ngremih, ngreremih, ngglembuk, ngungrum. reming-reming : sreming-sreming, rada wiwit mlaku (tumrap wong bebakulan) remit : primpen, rapet; ngremit : ngrawit, sarwa alus. remu : remu-remu, wiwit awama kuning (tumrap woh-wohan). rempak : remak, remuk, rempu, rusak; dirempak : dirusak.

rena : seneng, marem atine; direnani : disenengi; karenan : seneng atine, kepranan atine. rendhet : sendhet, randhat, ora gancar.

renek : jejembek, jurang. renep : aub, eyub. renes : akèh olehe rejeki, akèh suguhane. renik : renik-renik, ngrawit sarwa alus, glenik, pangapus; direnik : diapusi. rengat : benthe, rengka; rengating ati : pinggeting ati, seriking ati; rerengatan : cecongkrahan. rengga : direngga, dipajang, dipacak supaya katon endah, dicandra, dirumpaka; ngrenggani : manggon, dedunung; renggang : benggang, ora mepet, ora rapet; renggang gula kumepyur pulut : tansah raket anggoné paseduluran (memitran).

renggi : rerenggi, pangati-ati, uwas. rengit : bangsané laler cilik. rengka : negara ora tentrem merga ana kraman. rengkuh : direngkuh, dianggep kaya dene; direngkuh sedulur : dianggep kaya dené sedulur. rengkulu : rangkulu, karang ulu, kajang sirah, bantal.

rengu : nepsu, lara atine; direnggoni : dinepsoni, disrengeni. rengreng : ngengreng, katon winget, katon endah sarta gagah. repa : ngrerepa, ngasih-asih, njaluk kawelasan. repak : rumepak, ngrepak, ngrupak, nyerang lan nesek. repen : rerepen, kekidungan (ura-ura) pamalat sih, panyandra. repepeh : linggih ngedhekes andhap asor. repi : rerepi, kidungan, uran, layang; ngrepi : ngrerepi, ngidung nyandra.

repit : rempit, winadi, primpen. rereb : lereb, lerem, rerem; rereb-rereb : udan, grimis. reres : giris, miris. res : panulu mirunggan. resaya : diresaya, disambat, dijaluki tulung. resep : nyenengaké (kepenak) jlentrehna artinya pandeleng (pangrungu), suker, nggarap sari. resi : wong suei sing wis dadi dewa, pandhita tapa resmi : kaendahan (cahya) kang ngresepake.

resula : arané wit bangsané nipah; ngresula : nggresah, sesambat marga rekasa. respati : ngresepaké ati, pawakan sembada pideksa, kemis. reta : mani, rekta, abang, warta ; diretakaké : dikabarake.

retna : inten, sing endah dhewe, putri. retu : dahuru, geger; reretu : rerusuh. ribeng : putek, judheg. rebig : kabeh padha, rujuk,saeka karep. ricih : ngricih, nggrejih, tansah udan. riwa : riwa-riwa, api-api, ethok-ethok, atmdak kaya. rewil : angel laden-ladenane. ri wuse : ri wusning, ri wusnya, sawuse. sawise. riwut : prahara, nepsu banget, sarwa sereng tandange. ro : kalih, loro.

rob : mundhak geohe (tumrap banyu segara), banjir, eyub, ayom. robah : robah-robah, barang-barang sing gedhe ngebaki papan; dirobah : diowahi, diganti; robahan : owah-owahan. robaya : alen-alen kanggo rerenggan. rocoh : trocoh. rocak : dirocok, dikrocok. rod : surud (tumrap banjir). jlentrehna artinya : roda paripeksa, roda peksa, tindak panjiyat kanthi peksa; diroda peksa : dipeksa.

rodra : galak, nepsu banget, niemedeni. roga : lara, ragadi, lelara. rog-rog : runtuh, gogrog; udan rog-rog asem : udan sagrabayagan tlethiké gedhe.

roh : jiwa, badan alus, dat sing mawa budi nanging ora kena ginayuh ing pancadriya. roham-rohem : bubrah, rusak pating jlempah. rohani : roh. rohot : rusak, bubrah. rojah-rajeh : suwek, tatu kaya ajur. rojoh : dhuplak kinang. rok : tempuh ruket; mang rok : nrajang, nempuh, ngamuk.

rokel : dalan pating brenjul. nolak : tanggul jlentrehna artinya kanggo amping-amping. roma : rambut. rombang : rontang-ranting, pating sruwek. romes : ora diromes, ora direwes rompok : gubug cilik, pondhok, omah. ron : godhong, eru, congkrah, serik-serikan. rondhon : godhong, arané gendhing.

rontang : rontang-ranting, padha suwek paring sluwer; atiné rontang-ranting : atiné kelara-lara. rontek : gendera cilik ing landheyan tombak. ronyok : suweng ronyok, suweng tronyok, suweng mawa mata inten. ropeya : diropeya, digape, diopeni. ropyan jlentrehna artinya ropyan-ropyan, kasukan mangan enak. rota : galak, memederii. rowang : rewang, kanca. ru : serik, panah. ruba : reruba, paweweh sing mawa pamrih, besel; ruba gini : ngundhakaké rega ora samesthine.

rubes : ribut, riwut, geger, kuwur atiné rucat : uwal saka gandhengan, cucul panganggo, lereh, seleh pangkat ruci : ringas, gampang nepsu; rucira : sumorot, menceret, endah, nengsemaké rudah : rudatin, rudita, ruditya, susah atiné rudira : ludira, getih rugrag : oyag jugrug ruhara : oreg, geger, kuwur atiné ruhun : rumuhun, karuhun, dhisik dhewe rukem : tetuwuhan sing wohé enak dipangan rukma : rukmi, emas rukun : guyub, bali rujuk maneh, ora pasulayan; rukun desa : apa-apa sing wis jlentrehna artinya ing parepatan desa; rukun gawé : gugur gunung, gotong royong; rukun agawe santosa, crah agawe bubrah.

(pr) : karukunan ndadekaké santosa kosokbaliné cecongkrahan nuwuhaké karingkihan rukti : dirukti, dirumat, dipulasara rumab : lara panas, kumat, angot rumabasa : ngrabasa, nempuh, nyerang, nrajang riimagaiig : tumandang gawé rumangsang : nggayuh, ngranggeh, ngrangsang rumembe : semi, thukul rumentah : tumiba, runtuh rumpil : angel ambah-ambahané runa : rusak, pakewuh runah : rusak, pecah, putung, sedhih, susah rundah : sedhih, prihatin rungak-rungak : kaget njenger lan bingung campur wedi runggi : sangga runggi, sujana, ora pati percaya rungih : ngrungih, irung cilik mbangir rungkad : bedshol saoyode rungrum : diremremi nganggo tembung manis rungseb : angel ambah-ambahané rungsid : gawat, rumpil banget runtag : oreg, mawalikan, goreh, kuwur atiné runtah : larahan, uwur runya : karunya, welas, asih.

rupa : warni, warna, kaanan wujud sing dideleng, dhapur, wujud rupa candra : candra sangkala. rupak : rupek, ora omber, ora lega; rupak atiné : rupak budine; rupak segarané : ora gampang ngapura liyan; rupak jagate : judheg, kentekan pasaban. rupini : ayu, endah. rurah : rusak, bubrah; mangrurah : ngrusak. ruru : gogrog, rontok, runtuh; diruru : jlentrehna artinya, digoleki.

rus : kembang mawar abang, tatanan mata inten. rusiya : wewadi,wadi, gawé onar kanthi laku wadi. ruweda : rewida, rubeda, reribet. ruwet renteng : reretu, prakara sing gawé rentenging negara. ruwiya : crita, dongeng. S saambrah : saambreg, akèh banget lan ora tumata. sandhene : saupama, menawa. saantrah : sasolah tingkahe. sabaya : wedi, kaget; sabaya pati : sabaya pejah, sarujuk tumeka ing pati; sabaya mukti : jlentrehna artinya yen kepenak bareng ngrasakake.

saban : pasaban, papan kang disabani, saben, sasi ruwah. sabar : sareh enggoné nandhang, ora cepak nepsune; sabar drana : sabar banget; sabar sokuran : sokur bage. sabat : sakabat, murid, dina setu. sabawa : swara, uni. sabda : swara, gunem, tetembungan; kaluhuran sabda : kalah padune; sabda tama : pitutur luhur. sabrang : tepining kali (segara) ing sisih kana, lombok ; godhong sabrang : godhong lombok; sabrang gabus : ketela kaspe, pohung. jlentrehna artinya : sacleraman, satleraman, sagebyaran, sedhela banget.

sacumbana : awar turu. sad : nenem, nem. sadak : conthongan suruh; sadak gelung : susuk kondhe. sadana : sarana, dhuwit, bandha. sadara : unnat, andhap asor, sumeh, sumanak. sadarga : panyana, kira-kira. sadarpa : wani, kendel.

sadarum : kabeh. sadi : saka, sangka, rada. sadu : utama banget, wong suci; sesadu : guneman marang; disadoni : diwangsuli, diaruh-aruhi kanthi manis. sadpada : asikilnenem, bangsané tawon. sadrah : ora sadrah ing angin, ora mantra-mantra. sadresa : padha, cocog, patut. sadha : mangsa karolas (mei-juni). sadhegan : janggut, saeka apti : saeka praya, sarujuk, golong pikir. saemba : saemper, memper, kaya. saengga : nganti, kongsi; saenggané : saupama. sagara : saganten, kendhongan banyu asin sing jembar nasabi saperangané bumi; sagara muncar jlentrehna artinya suweng sing ditretes inten; sagara wedhi : palemahan jembar awujud wedhi; budi sagara : sugih pangapura, awatak momot; jembar sagarané : sabar, sugih pangapunten; rupak sagarané : ora sabar, nepson; uyah kecemplung sagara : weweh marang wong sugih; kebanjiran sagara madu : oleh jlentrehna artinya sing keluwih-luwih; disagarani : disabari, diwengku kanthi pangapura.

sagebyagan iki : sagebragan iki, sagedhagan iki, ing wektu iki. sagelar sapapan : wis miranti sana sumadhiya. saguna : utama, kautaman. sagung : sagunging, kabeh, sakabehe. sagatra : sagotrah, sakula warga. sah : pisah, pegat, pedhot; sah saking : lunga saka. sahab : sumahab, jejel, kebak banget, ngebeki, nglimputi. sahakarya : pitulungan. sahal : sakal, sanalika. saharsa : bungah. sahasa : peksan, kanthi peksan, ambek wani. sahasika : peksa, ambek wani, centhula.

saharsa : sasra, sewu. sahita : sahitya, binarengan, sarta. sah-sunah : wis sah babar pisan. sahya : becik, endha, sae. sairib : memper kaya, saemper. sait : disait, disendhal, ditarik. jlentrehna artinya : sejarah, sujarah. sajeng : legen sing wis digodhog, tuwak, berem. sajuga : sawiji, siji. saka : saking, mabaka, cagak sangganiog payon; saka guru : saka papat ing tengahe omah joglo; saka goco : cagaking biandar; saka pananggap : saka rawa, saka sakubenge, saka guru cacahe papat; adeg-adeg saka : mubeng seser nganti kaya ora obah; taun saka : petungan taun hindhu; saka desa : sesaka desa, pangreh warga desa; sakakala : taun saka; saka mantyan : banget; sakatambe : esuk umun-umun.

sakadi : kaya, mbok menawa. sakala : sanalika, dumadakan, kabeh, sakabehe; sakalaguna : sakabehing kautaman. sakalir : kabeh,sakabehe, sakehe. sakanti : sumorot. sakareng : sedhela. sakatha : kreta. sakedah kerahe : kabeh sing dikarepake. saksana : enggal, tumuli, sak serik : lara atine, serik. sakta : seneng marang, karem, doyan. sakti : sekti, duwe kaluwihan ngungkuli kodrat; saktika : kuwasa banget; saktiman : sekti banget.

sala : salah, kliru, omah gedhe; kasala mana : kliru tampa. salab : kesalaban, kelepetan ala, katut didakwa. salad : geni salad, geni wewewlak. salaga : slaga, angkupe kembang. salagewa : nglegewa. salah : ora salagewa : ora nglegewa, ora nggatekake; seleh, kliru, ora bener, kaluputan; salahasa : gela, cuwa, kliru tampa.

salah cipta : salah tampa, edan; salah dalih : kliru tampa; salah deleng : namatake; salah endah : ora pati becik; salah gawé : nindakaké sing dudu samesthine; salah gemen : dhawen, seneng nyruwee; salah graita : salah tampa; salah ilik : salah deleng; salah kapti : salah tampa; salah karya : salah jlentrehna artinya salah kardi : salah gawé; salah kedaden : lair ora lumrah irig akèh, ora kelakon sing dikarepake, kliru olehe ngetrapake; salah mangsa : ora mbeneri mangsane; salah pandeleng : pandelenge malih; salah rupa : malih dadi ala.

salah siji : yen ora siji ya sijine. salah seki : salah siji; salah surup : salah pandeleng; salah tampa : kliru panampane(pangertine); salah tonen : salah pandeleng; salah jlentrehna artinya : urate owah; salah wengweng : tumindak ora tumemen (disambi dolanan). salak : arané woh-wohan; salaka : logam warnané putih; salaki rabi : bebojoan; salaku jantra né : sapari polahe.

salam : slamet, tentrem, rahayu, tembung kanggo ngurmati, arané wit sing godhonge kanggo bumbu; salam pandonga : saka wong tuwa marang wong enom; salam pangestu : saka wong tuwa marang wong enom; salam jlentrehna artinya : saka wong enom marang wong tuwa; salam taklim : marang sapada-pada utawa sing luwih enom nanging kinurmat. salang : tali majupat dipasang ing pikulan, tali majupat kanggo nggandhulaké wadhah pangan mateng; balung salang : balung sangarepe pundhak gathuk baking dhadha; wong salang : kuli mikul; salang gumun : gumun jlentrehna artinya salang sebat : meh padha; salang sengguh : kliru surup, seling surup, salah tampa; salang siki : salah siji; salang suduk : genti nyuduk; salang surup : seling sump, salah tampa; salang tunjang : tunjang-tunjangan rebut ngarep.

salap : salah; dipun salap : diselehake; satus salap : satus kurang siji (99); salapan dina : 35 dina, salar : sesalar, aweh weruh; disalari : diwehi weruh, dikandhani.

sale : arané panganan; saleraman : satleraman; saleretan : sacleretan; salecun : akèh banget. saliku : banyu; asaliku : adus. salin : santun, ganti liya, malih kaanan (rupa); salin gagasan : tuhukul gagasan liya; salin slaga : kalakuan (panemune) malih.

salingkuh : slingkuh, jlentrehna artinya bares. salire : saliring, sakehe, sakabehe. salit : ngorong, ngelak banget. salok : salong, saperangan; saloka : tetembungan kaya paribasan nanging ngemu surasa pepindhan; saloka wedhar : undhi (sajinis dhadhu).

salu : amben, pendhapa; saluku tunggal : linggih semedi; salulut : sih-sihan, sacumbana. samad : sawab, daya sing ngolehaké berkah; samad-sinamadan : genti-genti menehi sawab, mong-kinemong; samadi : semadi, semedi; samadya : sedhengan, tengah-tengah. samagana : nunggal, awor, sacumbana. samaja : gajah. samakta : samekta, sumekta, samapta. samantara : tumuli, dumadakan, banjur. samangkin : samangke, samengko, saiki. samanya jlentrehna artinya lumrah.

samapta : rampung, sadhiya, samekta. jlentrehna artinya : perang, paprangan. samasta : kabeh, sakabehe samata : nyata, padha. sanibang : nganglang in wayah bengi, lelara sing tekané dadakan; sambang rimpung : sajinis ben-ben; sambang leles : nggrajag getih sabubare nglairaké bayi; sambang suwel : bajingan. sambarana : sandhangan, panganggo.

sambartaka : rusak, pangrusak, kiyamat. sambat : njaluk tulung, nggresah; sambatara : taun. sambega : adreng, pepenginan; sambegana : bagus, utama. sambekala : kacilakan, alangan. sambewara : sambiwara, dedagangan; bakul sambewara : bakul dagangan, bakul, sudagar. samber : jaring sing garané dawa; samberan : ayam, pitik; samber ilen : samber lilen, katimumul elare ijo gilap; samber mata : undur-undur. sambadana : ujar, tetembungan samek : semek, sarapan.

samepa : samipa, cedhak.saudhing, tepi, pinggir.

jlentrehna artinya

samir : godhong gedhang diwangun bunder dianggo lemek lelawuhan, bludru mawa gombyok kanggo kakung abdi kraton, gubah, jlentrehna artinya klambi kebayak sing ngarep, lapuran kemalingan; samirana : angin. samita : sasmita, ngalamat,tandha.

samoda : bungah; samodana : samudana, ujar manis, ujar kelamisan, pawadan, sengadi. samodra : segara. samoha : ngengreng, katon sarwa becik. sampad : srampad, talitrumpah(srandhal). sampar : disampar, disarug nganggo sikil, digepok sethithik ora disetitekaké (tumrap maca); samparan : klembrehan dodot utawajarit jlentrehna artinya dandan), sikil, sapu, kelud.

sampeka : paeka, julig; disampekani : dipaeka. samplong : disamplong, dibalang, disawat, dibentur. sampriti : mitra, kanea. samsu : srengenge.

sana : wit sing kayuné kena kanggo dandanan, papan, panggonan. sanagi : jlentrehna artinya, sanajan. sananta : rembaging tembung tanduk oleh ater-ater dak (daknulis). sancaya : keklumpukan, arané windy.’ sancurna : curna, lebur, rusak. sande : wurung, sarung, wade; sandeha : sandeya, gojag-gajegtidha-tidha, kuwatir, sumelang; sandeyan : ayake, mbok menawa; sandekala : sandyakala, sandyawela, wayah surup.

sandhang : panganggo; disandhang : dienggo, ditemah, dilakoni; sandhang lawe : manuk sajinis cangak ulese ireng; sandhang wlikat : papan keris sangisore kelek. sandhung : nyandhung, rnlaku sikile ketanggo apa-apa, jlentrehna artinya bebakulan oleh bathi; sandhungan : alangan, aral; sandhung lamur : daging raja kaya ing dhadha; sandhung watang : mbebayani (dina waril) ora kena diterak; kesandhung ing rata kebentus ing awang : kena bebaya sing kinira-kira.

sandi : sandik, rada, wadi, winadi, disamar, disamun; sandi asma : jeneng sing disamar ing tembang; sandi lata : tetuwuhan kena kanggo tamba; sandi sastra : tulisan (aksara) winadi; sandi upaya : paeka, krenah; sandiwara : tontonan sng dhapur crita.

sanega : sawega, siyaga. sanenggane : saninggane, menawa, saumpama. sanepa : tetembungan minangka pepindhan. sanga : wilangan 9; disanga : disangan, digoreng. sangadi : sengadi, santolan, pawadan.

sangahulun : panjenengan. sangar : nduweni daya marakaké cilaka (tumrap dina panggonan); sangara : sengara, mokal. sangaskara : nyucekake, mberkahi, ngubur. sangat : golongan peprincening wektu, wektu sing becik dhewe.

sangga : disangga, dipunsanggi, diduwa saka ngisor, ditumpangaké ingi epek-epek, disanggemi bakal dianakaké (tumrap pajeg); ora kena disangga miring : ora kena dianggo gampang; sangga buwana : kebo (sapi) sing congore putih, pitik ules klawu dhadhané putih; sangga krama : disangga krama, ditanggapi sakepenake; sangga langit : arané tetuwuhan, lenga sing sok kanggo sajen; sangga runggi : sujana, ora pati percaya; disangga runggeni : disujanani; sangga siti : kolongan wesi kanggo pancatan nunggangjaran; sangga wedhi : sangga weni, sangga siti; sangga uwang : tinggih tengané nyangga janggut; sanggama : salulut, sacumbana, awor turu.

sanggraha : cawisan, sesuguh, pasanggrahan. sanggrama : perang, paprangan. sanghara : rusak, lebur, kiyamat. sangharakalya : jaman kiyamat.

sangkrib : aling-aling; sesangkriban : aling-alingan. sanglad : sesanglad, wewelak. sangli : selen, ora sreg. sangsalan : santolan, pawadan. sangsam : menjangan. sangsang : sumangsang, temangsang; disangsangi : dikalungi, dicundhuki; sangsangan : sampiran, kalung, cundhuk, sangsara : cilaka, ketula-tula; sangsara desa : kas desa.

jlentrehna artinya : sakabehe, sakehe. sanityasa : tansah, pijer. sanmata : palilah, idin. santana : sentana, jlentrehna artinya sedulure priyayi gedhe, astana, pakuburan. santi : sareh, tentrem, rahayu; sesanti : donga, pepuji, kekidungan; sesanti jaya-jaya : memuji kamenangan (karahayon); santika : wasis ulah gegamaning perang.

santog : arané pelem, katog. santolan : sangsalan sing dianggo pawadan. santri : batur sing ngupakara raja kaya, murid sinau ngaji, wong kang temen-temen nglakoni agama islam; nyantri : mondhok sinau ngaji, ngenger nggoné calon mara tuwa.

saokah : landhep. saong : ora saong, ora sudi. saos : tungguk, sowan, casvis; disaosi : dicawisi, diwewehi. sapa : sinten, jlentrehna artinya pitakon nakokaké jeneng; disapa aruh : diaruh-aruhi; prasapa : supata. sumpah; sapadang sapanginang : sedhela. sapa sira sapa ingsun : ngendelaké kasugihane.

sapa temen tinemenan : sapa jujur bakal dibales jujur. sapa nandur bakale ngundhuh : wong bakal nampani apa sing ditindakake, sapa utang mesthi nyaur : kabeh wong nanggung pakartine.

sapandurat : sapangu, sakedhepan, sedhela. sapangat : supangat, pangestu, sawab. sapi : lembu, kewan raja kaya; sapi sapen : lembu sapen, sapi momotan; wong sapen : wong sing ngerekaké sapi momotan.

sapocapan : sapejagongan, bareng rembugan. sapu : piranti kanggo reresik uwuh; sapu ilang suhe : kelangan wong kang dadi paugeran; sapu dhendha : gebug, gitik, paukuman, siksa, bebendu; sapu kawat : sing dadi kekuwatan.

saput : disaputi, disasabi, ditutupi, diusap-usapi; saput dhengkul : tekan dhengkul; saput lemah : esuk repet-repet; saput pranti : uba rampe. sapta : pitu. sara : panah, blumbang, tiaga, pathi, galih; sarabuta : kusir, juru wuruk; saradula : sardula, macan; saradhadhu : prajurit; saranangga : tikus; sarasija : kembang jagung; sarasilah : salasilah, katerangan asal-usule keluarga; sarawedi : tukang adol (nggosok) inten; sarapuda : palaku, kongkonan, arané gendhing.

sarab : lelarané bocah; disarah : dicaplok. saraba : bangsané kidang. sarad : seredan kanggo nggawa kayu; saradan : pakulinan kang ora becik. sarah : uwuh, larahan, godhong lan carang sing keli ing banjir; sarahan : srah-srahan, paweweh saka panganten lanang marang panganten wadon.

sarak : angger pranataning agama; murang sarak : neral pepacuking agama, nakal; ngenaki sarak : tumindak sing sanenge dhewe. sarandu : saranduning awak, awak sakojur, badan kabeh. sarasa : tunggal rasa, tunggal laras. sardana : sugeh. sarem : uyah, sareman, dhuwit anakan. sari : asri, endah, kembang; rebut sari : rebut becik; timah sari : seng; nggantang sari : meteng; nggarap sari : metoni, luwar getih; asari : sareh, rindhik, lirih; tan asari : kesusu, enggal-enggalan; sari kuning : kembang adon-adon miabar; sari kurung : kembang magasari; sarilaya : tetuwuhan bangsané lompong; sari wose : woh nagasari.

sarika : dheweke, wong sing pinarcaya. sariki : iki, kiyi, kiye. sarilak : sedulur sarilak, sedulur tunggal suson. sarira : salira, slira, awak. sarkara : gula, tembang dhandhanggula. saroja : rangkep, bethek, kembang tunjung; disaroja : dirangkep. sarong : sarung, guthekan; nyarong : bening banget. sarpa : taksaka, ula. sarsana : saharsana, bungah.

sarwa : sarwi, kabeh, sakehe, wutuh; sarwa-sarwi : kabeh pepak. sarya : sarwa, sarwya, sarta. sasa : sahasa, peksa, truwelu. sasab : menang, tutup, larab; disasabi : ditutupi; nasabi dhengkul : mikolehaké sanak sedulur dhewe; kasaban tapih : wong lanang sing kalah karo bojone.

sasadara : sasangka, sasalancana, rembulan. sasmaya : becik, endah. sasmita : ngalamat, pratandha, polatané praen. sasra : sewu. sastra : layang, tulisan, kawmh, gegaman; sastra banyu : araning dhapur keris; sastra daksa : putus ing kawruh. sastrika : gegaman, pedhang.

sasti : sewidak. sata : tembako, jago, pitik, satus. satak : 100 dhuwit; satak sawe : 10 sen; satak sadhuwit : 9 dhuwit. satang : genterkanggo nglakokaké prau.

satapatra : kembang tunjung, merak. sateya : sumorot. satemah : ing wusanane, tundhone. sathekruk : akèh banget. sathek : sathek kliwer, kabeh, sakabehe, ngendi baé; sathekan : sapisan. satmaka : tunggal sukma,urip, nyawa. satmata : kasatmata, katon, kena dideleng. sato : kewan; sato kewan : sakehing kewan; satoan : kewan-kewan sing mitunani; saton : tetironing sato, cithakan, rimbagan.

satriya : wong luhur,prajurit luhur. satru : mungsuh, panganan saka glepung ketan (kacang ijo); disatroni : dimungsuh, dianggep satru; sesatron : memungsuhan; satru munggeng cangklakan : mungsuh isih sanak sedulur; nglelem satru : mbeciki mungsuh; satru ati : satru manak, memungsuhan batin; satru batin : satru bates, mungsuh sing ora ketara; satru bebuyutan : mungsh sing turun-tumurun; satru manengah : prakara sing dianggep memungsuhan; jaga satru : emper.

satu : saton, cithakan; lir saton mungging rimbagan : cocog banget. satungan : sathungan, rerukunan tumandang. satwa : sato, kewan, kasucian. satwika : utama, temen. satya : setya, temen, tuhu; satyawada : temen tembunge, netepi ujare. sawa : ula ora mandi, bangke. sawab : daya sing ngolehaké berkah. sawak : disawak, diundang, diceluk. sawala : suwala, bangga, nglawan, kereng.

sawan : lelarané bocah cilik; sawanen : nendhang lara sawan; sawana : reresik, adus; sawanan : banyu sawanan, banyu mentas kanggo.

sawangan : sungapaning kali ing segara, sajinis sempritan dipasang ing buntut dara. sawastu : sanyatane, satemene. sawatgata : sanalika, tumuli. sawawa : suwawa, timbang, tandhing. sawismaya : gumun. sayaga : siyaga, wis miranti, wis tata-tata.

sayaka : panah. sayarda : saya arda, saya ngangsa, saya banget. sayoga : sayogi, sayogya, prayoga, pantes; sayub : mambu wis rada ngilir. sebak : anjrah, katon akèh banget. sebet : sabet, plas, lap; sebetan : trep banget, kepenak anggone. sebok : slebok, cendhek lemu.

sebrat : disebratake, ora diakoni anak (sedulur). sedhangan : sidhangan tengasan, pencengan. sedheng : laku ngiwa (tumrap wong wadon). sedhet : pawakané wong wadon sing singset lan becik.

sedhok : sesedhokan, nyembah sesedhokan, nyembah bola-bali. sedhum : edhum, eyub. sedhung : prahara, angin gedhe. seg : rikat, enggal, gelis. segogan : enggok-enggokaning dalan. sekeng : ringkih, apes, rnlarat. sela : watu, menyan, inten, lapak; selakarang : busik (gudhik) tumrap jaran, rereged sing tumemplek kraket sirah; sela krama : tata krama. selog : bangsané uwi (gadhung) alasan. semog : lemu blengah-blengah.

sempol : sampil. sempor : grojogan. sena : prajurit, wadya bala; senapati : lelurahe prajurit. sendakpama : sendhaka, sendhakneya, manawa, saupama. sendhe : edol sendhe, adol nganggo prajanji kena dituku maneh; sendhe kala : layung, wayah surup. senor : rusak mripate. senthe : tetuwuhan bangsané kimpul (godhonge nggateli). sengar : glethak sengar, bares, pasaja, blaka.

senggun : sendha senggun, menawa, saupama. sepa : carik desa; diseper : dianggep kaya, digolongake. sepi : donya; sepi angin : arané aji-aji. serang : sawah serangan, sawah sedhiyan para luhur. sereng : sering, kera, kurang awas pandelenge, rada gendheng. sero : sajinis windhe kanggo golek iwak ing pesisir. sesa : sisa; tanpa sesa : tanpa turahan; sesa-sesa : walak-walak, gumantung marang.

sesi : sesining bumi, saisining bumi. seta : putih, bangsané ceplik. setra : tegal; pasetran : papan pambuangan bangke; disetrakaké : dibuang menyang alas.

sewak : disewak, dibagi-bagi (tumrap sawah). sewaka : juru leladi; sinewala : lenggah diadhep para kawula; pasewakan : paseban. sewang : siji edhing; sewang-sewangan : padha budhal ora padha sing dituju. sewa sogata : pandhita agama siwah (buda), ngulama. sewot : nepsu, muring; sewaten : waringuten. sebae : bok menawa, dak kira; sebaené : lumrah.

sebandar : panggedhené pelabuhan. sebara : samangsa, menawa. sebawa : swara; nyebawa : nywara. sebit : suwek; disebit : disuwek. sebrebetan : satleraman, dideleng sedhela katoh kaya. secang : arané wit. seda : sabda; disedakake : disabda. sega : sekul, beras sing wis mateng diedang (diliwet); sega adhem-adheman : sega sing lawuhe kuluban (gudhangan); sega gurih : sega wuduk, sega dicampur santen lan uyah; sega golong : sega diglindhingi gedhe kanggo slametan; sega kebuli : sega dicampuri iwak daging; sega langgi : sega lawuhané bangsané kering; sega lulut : sega dicampuri ketan; sega mas : sega punar, sega dikuning ing kunir; sega pondhoh : sega sing dijojoh kaya jadah; sega rames : sega sing lawuhe pepak; sega senenjong : sega karo lawuhe wis campur; seganu : wingenane.

sekabat : murid. sekatha : kreta seketheng : gapura sing anjoh ing negara (kutha). sekel : susah, sedhih. sekembu : sekuthon, tumandang bebarengan. seking : lading cilik.

sekung jlentrehna artinya adreng (kepengin) banget. sekongkel : sekaitan, sekuthon. selang : genti, silih; diselang : disilih; selang gumun : gumun banget; selang sebat : meh padha, mung geseh sethithik; selang-seling : gonta-ganti; selang silih : nyenyilih; selang surup : kliru tampa. selur : anglur selur, nggalur, urut-urutan dawa banget. sema : kuburan. semada : semadan, rada.

semagaran : kanthi temen-temen mempeng. semagi : lawuh sing digawé ampas jlentrehna artinya diwayokake. semakeyan : semangkeyan, sumakeyan, umuk, ngunggul-unggulaké pangkate.

semambu : teken penjalin. semangkhi : saiki, saya. semar : ismaya, badranaya, janggan, asmarasanta, dhudha manang-munung, panakawan sing tuwa dhewe; semar-semar : congkok maju pat kanggo cagak sing lagi dipasang; semara bumi : sing mbau reksa bumi; semar mendem : arané panganan sing digawé saka ketan karo iwak daging; semar mesem jlentrehna artinya arané bakal lurik, arané aji-aji; semar tinandhu : omah joglo tanpa saka guru; mbokong semar : sawah (pekarangan) sing saperangan pojoké wangun bunder.

sembari : kambi, karo. sembawa : macan. sembuh : disembuh, dianyaraké (tumrap jaritbathik); kasembuh : sinembuh, winuwuhan, wuwuh-wuwuh. sembung : arané tetuwuhan; disembung : disambung. jlentrehna artinya : wisaning ula sing disebulake, mamahan menyan sing disebulake; luput sembur : ora kena dipenggak karepe, kalis ing lelara; sembur-sembur adas : pandongané won gakeh mbok menawa njalari lan becike; ora uwur sembur : ora gelem ngrembug sethithik-sethithika.

semené : udan semeni, udan sinemeni, udan kamoran angin, semek : jeblok, jembek; semekan : kemben. sempana : arané dhapur keris.

sempulur : gangsar, tansah karejeken. semukirang : arané cakrik bathik semuruh : manutan senagia : senaja, senajan, senadyan, senasa, senaosa senag-senig : senig-senig, rasané ati sumelang sendhal : disendhal : ditarik ngeget; sendhal mayang : ditarik ngeget tumrap sukma; sendhal pancing : diulur terus disendhul sendhang : belik gedhe ing pagunungan; sendhang kapit pancuran : anak telu lanang loro wadon siji ana tengah; pancuran kait sendhang : anak telu wadon loro lanang siji ana tengah sendheng : kendheng, talining gendhewa sendhi : congkog, sikilan, ganjel sendhon : wironing jarit sing dumunung ingjero, tetembangan binarung ing gamelan; sendhon waon : wong sing seneng nyendhu lan maoni sendhu : swara santak; disendhu : diwaoni kalawan swara santak senengga : manawa, saupama senenjong : sinenjong, campur adhuk; sega senenjong : sega sing lawuhe campuran senen : sorot, cahya, endah, kaendahan; kasenenan : kasorotan senet : senetan : ndhelik, umpetan; pasenetan : pandhelikan sepala : sepele, remeh, tanpa aji sepana : arané dhapur keris sepasthika : pasthika, musthika sepat : srepet, jlentrehna artinya iwak loh serpet : rasané kaya rasané sawo mkentah, rasa mripat tebel kaya ngantuk, tabon, kulit klapa; sepet madu : legi banget, sumeh banget sepi : sepen, ora rame, suwung, ora ana; sepi ing pamrih rame ing gawé (pr) : tumandang gawé kanthi ora duwe melik.

sepiyun : mata-mata, mata pita septa : seta, sapta, sekta, doyan serada : seradan, rada. serap : surup, weruh, kelud; dipun serapi : dikeludi.

setabelan : prajurit sing nggawa mriyem. setal : kestalan, gedhogan. setana : astana, pakuburan. seteneya : witikneya, witikna. setijab : mustajab, mandi (tumrap tamba). seoti : padu, padudon, tukaran. sibar : tamba sing diusap-usapaké ing dhadha.

sidaguri : arané wit sing tlutuhe kanggo tamba wudun. sidarsi : pandhita mutus, dewa. sidekah : sedhekah, dana marang wong kecingkrangan, slametan sidi : sampurna, kelakon sing sinedya. sidik : nyata, sanyata, waskitha, weruh sadurunge winaruh; disidikaké : dinyatakake, dipriksa.

sidikara : sidhikara, disidikara, dipuja, didongani, ditibani mantra. sidhem : sirep tanpa sabawa; disidhem : digawé wadi, ora dikandhak-kandhakake; sesidheman : dhedhemitan, meneng-menengan tanpa pepayan; sidhem premanem : sepi nyenyet sigan-sigun : ora sigan-sogun, ora nganggo rikuh.

sigar : pecah maro; sigar jambe : wanguning lambe ndhuwur lan ngisor padha kandele lan tumangkep dhamis; sigar jantung : wanguné wilahan tumbak (dhapuring keris); sigar penjalin : gelang (ali-ali) sing wanguné kaya penjalin disigar; sigar semangka : diparo bener. sigra : waing (krama alus), rikat, enggal, banjur, nuli. sigreng : sigrong, katon mawa prabawa (wingit bener). sihung : siyung. sika : pucuk, ailu, kuncung. sila : linggih kanthi tata; sila panggang : sila dhengkule diunggahake; sila tumpang : sila sikile sing siji ditumpangaké pupu sikil sijine; silakrama : tata krama; nambut silaning akranu : palakrama, rabi, laki; silaturahmi : sanja; pasilan : pajagongan; madal pasilan : ninggalaké pajagongan.

sili : arané iwak loh. silib : sesiliban, slingkuh kanthi dhedhemitan, ora gedheng; disilibaké : dilimpekaké, dadhelikaké, diempetaké. silih : genti, ganti; sesilih : kekasih, peparab, jejuluk, jeneng; silih asih : pendhok werna loro ditunggalaké; silih ungkih : rebut deg rebut unggul.

silo : blereng, keblerengan, siluk, peteng awit rungkud. simbar : tetuwuh sajinis anggrek; simbar dhadha : rambut sing tuwuh ing dhadha. simping : bangsané kima (kece segara), sumping; disimping : wayang ditancebaké ing gedebog jejer-jejer.

sinang : abang sumunar; sinang jana : waskitha, sidik; sinangkalan : sinengkalan, ditengeri angkaning taun; sinangling : disangling, digosok; sinangsaya : nemahi sengsara. sinar : sorot, cahya; sinarawedi : sedulur sinarawedi, mitra sing wis kaya sedulur; sinaroja : dirangkep, sarwa turah-turah; sinartan : dibarengi, didokoki.

sinatmata : ditamatke. sinawung : dianggit, dikarang; sinawung ing kidung : dianggit ing timbang. sidhutan : pete sindu : sindu upaka, banyu, kali sindura : abang enom singa : kewan alasan bangsané macan; singa wonga : sadhengah wong, sapabae; singabarong : barongan rai singa; singanada : singa nabda, panggeroning singa; singanegara : tukang ngukum kisas (pati); singasana : singangsana, dhampar, palenggahan; singa-singa : arané gendhing; raja singa : arané lelara reged singat : sungu singen : sengiyen, biyene; disingeni : diajak, diundang singeb : kemul; singeban : kemulan singgel : iket; singgelan : iket-iketan singgih : iya, mula nyata, ngregem pangkat; masinggih : ngandel, manut; kasinggihan : mula bensr mangkono; sugih singgih : sugih tur ngregem pasngkat singkel : sekel, susah, sedhih singlar : nyimpang, sumingkir, mangsuli selak; disinglari : disingkiri, disimpangi, diselaki singlo : singlu, singluk, singup, wingit, peteng medeni singlon : sesinglon : dhedhemitan, winadi, jeneng singsinandi (sinamun) sing-sing : neka-neka, wama-warna sinipi : duka yayah sinipi : nepsu banget.

siniwi : diurmat, diseba, diadhep. sinom : pradapa, godhong asem enom, rambut pating clekenthik ing pilingan, emper omah limasan ing perangan njero, arané tembang maca pat, dhapuring keris; sang lir sinom : sang sinom, sang putri; sinoman : nom-noman jlentrehna artinya paladen.

sinrah : dipasrahake. sinrang : sinerang, diserang, ditrajang, ditempuh. sinta : wulu kangpisanan, ganvané prabu ramawijaya; sintren : tontonan arupa bocah wadon sing bisa njoget awit kesurupan. sintru : sepi, wingit sarta peteng. sinuba-suba : diurmati kanthi pesuguh. sinudarsana : tinulad, ditiru. sinukarta : diaji-aji, dipepetri. sinuhun : disungga-sungga; ingkang sinuhun : panjenengané ratu.

sinungga-sungga : diurmati banget. sipat : garis kenceng, tali diangus dianggo nglenceng, pener, lenceng; disipat : dipener, dilenceng; disipati : disumurupi dhewe; sipat banyu : wrata kaya lumahe banyu; sipat gantung : piranti tukang kanggo nyumurupi jejeg lan orane; sipat kuping : mlayu banter banget; jlentrehna artinya wong : angger wong; garis sipat : garis jejeg sing mangun pojok 90 sipi : tan sipi; banget, kaluwih-luwih sirap : gendheng sakakayu sirara : godhong aking sirat : pancuring sorot; sumirat : sumorot sireki : sireku, sira, kowe sirep : sareh, sidhem, mari murub, mari rame, mari geger; sirep bocah : sirep lare, wayah sore kira-kirajam wolu; sirepjalma : sirep wong, wayah bengi kira-kira jam sepuluh sirung : peteng singup sirsa : sirah, pucuk sirsak : sirsat, nangka sabrang slabar : kandha, kabar; dislabari : dikabari, dikandhani slaga : tetapihing kembang, angkuping kembang slaka wedhar dhadhu sluman-slumun : sluman-slumun,bludhas-bludhus menyang ngendi-endi tanpa reringa; sluman-slumun slamet (pr) : sanajan ugal-ugalan nanging tansah slamet.

slamet : wilujeng, sugeng, ora ana sakara-kara, luput ing bebaya,waras, kuwarasan slanggap : dislanggapi : diomongi, diajak guneman; slanggapan ujar : guneman, omong.

sotho : sluthu, slepen, wadhah udud so : wit mlinjo, godhong mlinjo sing enom sobrah : oyod sing pating srawe kaya gombyok, panganggo panganten sing dipasang ing sirah soca : inten, mata, mataning ali-ali, cacad, tilas panging kayu sogel : pari sogel : pari genjah soka : angsoka, arané wit, susah, prihatin solah : polah, obahing badan, pratingkah; disolahaké : diobahake; solah bawa : tandang tabduj,pratingkah; solah tenaga : solah tingkah; solah tingkah : tandang tabduk, kalakuan solo : suwala; sesolo : njaluk tulung solor : panging tetuwuhan sung ruimambat solot : mempeng, kendel soma : rembulan, senen somah : semah, bojo; rong somah : rong brayat; sesomahan jlentrehna artinya bebojoan sombeng : suwek sompil : bangsané kece; kupat sompil : kupat diwangun maju telu sona : asu sondhel : ora sondhel : ora butuh, ora sudi sondher : sampur kanggo njoged ditalekaké ing bangkekan ; sesondheran : nganggo sondher sondhong genter sing pucuké mawa tenggok cilik kanggo ngundhuh woh-wohan (endhog ngangrang) song : growongan pinggir kali, jurang, guwa, songsong, aub, payung songa : bolah sutra songar : sugih omong jlentrehna artinya nyata, umuk-umukan; sesongaran : tumindat umuk-umukan songgo : songgom, pring pucuké digawé sosok wadhah kendhi songkok : tudhung bludru ing perangan buri nganggo tebeng, tudhung pacul gowang sonya : sunya, suwung, sepi; sonya ruri : jagat suwung sopana : ambal, undhak-undhakan, dalan, dedalan sopi : arak, inuman keras, kopi (gendul wangun pesagi) sora : seru tumrap swara sorah : gegambaran, pepindhan, pasemon, kandha, andharaning crita soreng : komidhi soreng : tontonan sing ngebaraké kaprigelan (njengkelit, njungkir lsp.) sorog : kunci, sosi; layang sorogan : layang pepeling; jamu sorogan : jamu kanggo nggelisaké bayi lair; ngelmu sorogan : kawruh kanggo nyumurupi sing bakal klakon; wilahan sorogan : wilahaning gamelan laras pelog sing anggoné masang mung yen dibutuhaké sosog : nam-naman pring wangun krajang kanggo wadhah kendhi utawa dhekeroan pitik ngendhog (angrem); disosog : disogok nganggo sapu sada; disosog ing ujar : diunen-uneni nganggo tembung kasar sosot : disosot-sosotaké jlentrehna artinya dinek-unekake, dipisuhi sot : uwal, mrucut, ucul; disotaké : diuwalake, diuculake, disupatani, disebdakaké sota : sotaning manah : sotaning ati, gagasan, pangrasaning ati sotah : soter, sotir; ora jlentrehna artinya : ora soter, ora sotir, ora sudi, emoh sotene : soten, luwih-luwih, luwih maneh, mula pancen, kambi, sembari sotya : inten; sesotya : inten warna-warna; disotyani : dipatik ing inten sowangan : sawangan, sendaren, sempritan.

sowe : siyal, sebel, kojur, suwe. sraba : swara; tanpa sraba-sraba : tanpa nywara, tanpa nembung. srabat : donga panulak. srakah : kumudu-kudu oleh akèh, murka, dhuwit wragat ningkahan.

srania : paweweh marang ndhedhuwuran, patapan, padhepokan. srandhul : tontonan saemper kethoprak. srandu : sarandu, sranduning awak, awak sakojur; disrandu : dicecenggring, diewani. srati : tukang ngupakara gajah; disrateni : diemong kanthi dtturuti kekarepane; angel sraten-sratenané : angel laden-ladenane. sraton : galak, brangasan. srawana : mangsa kasa (kapisan). srengat : sarengat, angger-angger pranataningeagama; owah srengate : edan. sreda : ngandel, pitaya, sudi. sredu : sarju, kesdu, kasdu, sudi.

srenteg : pawakan wong wadon sing sedhengan dedeg piadege. srenti : ora bebarengan tekané (wetune). srengga : pucuk, puncak, sungu; srenggala : asu, asu ajag; srenggara : pangungrum, pamalat sih. srenggi : gunung, sapi. srengkara : ngalamating negara kang bakal rusak. sri : sorot, cahya, endah banget, kanggo sesebutan kang ateges minulya (luhur), ratu, sribombok : arané manuk saba ing banyu.

sridanta : sridenta, srigadhing, arané kembang. srigak : sarwa cukat tendang-tanduke. srigunting : arané manuk; sriguntingen : tulisan sing ora rampak.

srikaya : arané woh-wohan; ketan srikaya : ketan diadoni juruh; wedang srikaya : wedang dicampuri ketan. srikawin : paweweh temanten lanang marang temanten putri. srilak : sedulur srilak, sedulur tunggal suson. srilara : bangké sing sumeleh saenggon-enggon. srimanganti : srimenganti, regol sangarepe kraton. srimangepel : jaran sing sikile ngarep putih. srimpak : tlundhag lawang. srimpi : lelangen joged sing jlentrehna artinya wadon cacah 4 utawa 5. srinata : tembang sinom.

srota : sroti, kuping. srotiya : wong (pandhita) pinter. suba : endah, kaendahan, becik; disuba-suba : disubya-subya, disungga-sungga, diurmati banget subada : jlentrehna artinya, kukuh sentosa, mantep, setya subagya : begja banget subakastawa : arané gendhing subakti : subaktya, sungkem banget.

sudagnyana : alus bebudene. sudama : lintang, mendhung, sagara. sudana : loma banget, sugih banget. sudara : sedulur; sudarawedi : mitra becik, mitra kenthel. sudarma : loma banget, becik atine, bapa; sudarsana : tuladha, tetuladan. sudha : resik, tulus, suda, mega. sudhah : disudhah, didhudhah. sudhang : lodhong saka pring; disudhang : disundhang, dicoblos ing sungu. sudhiya : sadhiya, sedhiya, cecawis. sudhing : ora sudi, suthik, sungkan.

sudhung : grumbul omah celeng. omah (dianggo ngesorake). sudi : gelem, kalawan sarjuning ati; sudibya : luhur banget, sekti banget, pinunjul, linuwih; sudigawe : wuruk gawé, ngrerigoni, gawé rerusuh; sudira : kendel banget; sudiradraka : arané tembang gedhe. suduk : gegaman sing dicoblosake; pedhang suduk : pedhang sing landhepe sisih karopisan; suduken : krasa pating slengkring ing weteng; suduk jiwa : suduk slira, nglalu kanthi srana nyuduk awaké dhewe; suduk maru : lading sing landhepe loro sisih.

sugal : bengis (songol) tumrap tetembungan. sugata : suguh, pisuguh; disugata : disuguh. sugun-sugem : gupuh-gupuh enggoné nampani dhayoh; disugun-sugun : disungga-sungga, disubya-subya. suh : gelangan dienggo naleni sapu sada, syuh, lebur, rusak. suhud : pangibadah, nyingker kesenengan. suhul : mindang, ngesthi. suhun : disuhun, dusuwun, dijaluk. suka : bungah, aweh, oleh, nglilani; suka-suka : suka pari suka, bungah-bungah, seneng-seneng; suka lila : suka rila, kanthi ati seneng lan lila; suka nrima : suka sokur, suka panarimah, matur nuwun; sukara : celeng; suka pirena : bungah lan seneng; suka wibawa : bungah-bungah : sukan : sungkan, suthik.

sukarsa : bungah, seneng. sukarta : disukarta, diaru biru, disruwe, dibebecik, disungga-sungga. suker : ewuh, rekasa, angel, reged, jenes, tarab (nggarap sari), sedhih susah, suker sakit : kangelan lan lara. sukia : putih, bening, resik. sukma : sukmana, alus, lembut, roh, jiwaning manungsa.

sulak : kelud saka wulu pitik, semu, sorot sumamar. sulaksana : ngalamat becik. sulanjani : arané tembang gedhe. sulanjari : arané tembang gedhe. sulbi : pawadonan, guwa garba. suling : unen-unen sing digawé saka pring utawa plastik; glundhung suling : bocah lanang rabi ora nggegawaapa-apa.

sulistya jlentrehna artinya ayu banget. suma : kusuma, kembang. sumagaran : kanthi temen-temen, mempeng. sumahab jlentrehna artinya katon gegrombolan akèh. sumakeyan : sumangkeyan, ngunggul-unggulaké kaluhurané (kaluwihane), umuk. sumamar : samar, remeng-remeng, ora padhang. sumantali : srati, juru mulang.

sumapala : remeh, andhap asor. sumar : wrata ngebeki, ngambar. sumarma : sumarmi, welas marang, mulane. sumarsana : kembang cepaka. sumawana : apa dene, karo maneh. sumbang surung : pitulungan, urunan sawetara. sumbut : guluk, kunip. sumewa : seba, ngadhep marang. sumendhe : sumendhi, kakang ragil. sundari : wong wadon endah, sendaren. sundhul : nalika ngadeg sirahe nggepok apa-apa sing ana dhuwure; pasundhulan : embun-embunan; sundhul langit : kembang kenanga, arané lenga wangi; sundhul puyuh : diiyun nganti dhuwur.

sung : asung, aweh. sunga : bolah sutra. sungané : bok menawa. sungapan : pantoganing kali sing wutah menyang segara. sunge : kali. sungil : angel diambah, angker, gawat. sungku : disungku, dipeleng, diesthi. sungut : saemper rambut ing endhas piranti panggrayang; adu sungut : golek dhadahakné pades; tepung sungut : tepung nanging durung weruh rupane. sungsang : kewalik sing dhuwur ana ngisor sing ngisro ana ndhuwur; sungsang buwana balik : wolak-walikan song asor dadi luhur, sing luhur dadi asor.

sunthi : arané empon-empon; irung sunthi : irung cilik; prawan sunthi : prawan cilik (durung kel). sunu : sorot, cahya, anak; sesunu : anak-anak. sunya : suwung, sepi; sunyaruri : alam kaalusan, alame para roh. supada : kewan galak. supadi : supadya, supados, supaya, murih, amrih. supatmi : garwaning ratu. supenuh : kebak banget. supraba : sumorot,padhang banget. supranata : sungkem banget, nyembah.

sura : sasi kang kapisan, sarwa, kendel, wani, dewa, singa; asura : dudu dewa, buta; suraduhita : widadari; suradhadhu : prajurit; suraga : bantal; jlentrehna artinya : para dewa; surakarsa : prajurit ngayogjakarta; suralaya : suraloka, kadewan, kahyangan; suranata : ratuning dewa, abdi dalem mutihan ing kraton; suranggakara : kendel banget; suranggana : widadari; surapada : kadewan, kayangan; surapana : anak, sajeng, waragang; surasa : teges, maksud, nilonat, enak banget; surata : sanggama, kekendelan; surawadu : widadari; surawara : dewa linuwih.

surali : wangi, arum. surapsara : apsara, dewa. surapsari : apsari, widadari. surastri : widadari. surba : jenang surba, jenang dicampuri cacakan iwak daging. suren : arané wit sing kena kanggo balungan omah; surendra : ratuning dewa; sureng pati : wani mati, dhapuring samping; surengrana : kendel perang, aranin gendhing. suretna : inten linuwih, putri endah.

surti : ngati-ati lan setiti; disorteni : diompeni kanthi ngati-ati. suru : godhon gedhang sasuwek ditekuk kanggo sendhok, tetuwuhan bangsané ilat baya; kepengkok ing pager suru : nemu pakewuh.

suruh : sedhah, tetuwuhan rumambat godhonge dikinang; disuruhi : dipunsedhahi, diulemi, diundhang; greget-greget suruh : gregeten ora kawetu nepsune. susra : kasusra, misuwur, kawentar, kondhang, kalpka.

susrama : kendel, gagah. susrawa : misuwur. susrasa : mbangun miturut. susthu : temen, nyata, blaka. suta : anak, kusir; sesuta : anak-anak. sutapa : pandhita, wong kang ulah tapa; kasutapan : kapandhitan. suteja : sumunar, sumorot, endah banget. sutikna : sutiksna, landhep banget. suwah : suwap, besel, ruba. suwala : bangga, ora miturut, nglawan, kerengan; suwalapatra : layang.

suwanda : wandha, awak. suwandhagni : srengenge. suwangan : sungapaning kali. suwari : bangsané manuk unta.

suwarna : emas, endah banget. suwawa : babag, timbang, pantes, patut; disuwawa : dilawan, ditandhingi. suweda : racikan, driji. suweng : sengkang, rerenggan ing kuping; kasep lalu wong meteng sesuwengan : wis kasep banget.

suwignya : pinter banget. suyasa : omah, gedhong. suyud : asih, sumarah, lulut marang; disuyuti : disihi ing wong akèh. T tabah : betah, sabar atine; ditabahaké : dibetah-betahake, disabarake; ditabah : ditabuh. tabeni : sregep sarta tlaten; ditabereni : disregepi, ditlateni. tabet : tilas, lari; nabet : ninggal tilas sing angel ilange; tabet tatu : tilas tatu. tabik : salaman, mbagekaké kanthi urmat; ditabiki becik : diurmati kanthi becik. tabon : sepet bunteling klapa, sing tuwa dhewe; satabon padhukuhané : desa lan palemahan kukubane.

tadanantara : dumadakan, ora antara suwe. tadhah : nampani apa-apa sing tumiba, kehing pangan sing dianggo pepancen; sawah tadhahan : sawah sing oleh banyu yen pinuju udan; tadhah amin : ngamini wong ndonga; tadhaharsa : manuk kedhasih; tadhah duka : sumarah; tadhah eluh : mathining jaran sing unyeng-unyenge ana ngisor mata; tadhah jis : plangitan dhuwur paturon; tadhah kringet : klambi rangkeban; tadhah udan : sawah sing ora ilen, lirangan gedhang sing dhuwur dhewe; tadhah sirah : bantal; tadhah sodor : nggawa tumbak lancipe madhep mangisor.

taga : tagane, tundone, tumahane; taga : walangantaga. tagon : tagonan, pacangan; tetagon : bedhangan. taha : kira-kira, mbok menawa, ringa-ringa, rada wedi; tumaha : ngira-ira, gojag-gajeg; tan taha : kendel, tanpa ringa-ringa; ditaha : dieringi; ora taha-taha : ora wigih-wigih, ora ringa-ringa.

tahap : omben-omben; ditahap : diombe. tai : tinja, sesuker; tai besi : landhaning obong-obongan wesi, reregeding wesi kang diobong; tai burung : rabuk asal saka tai lawa (manuk); ketiban tai baya : kena ing pandakwa; dibeciki mbalang tai : dibeciki males ala.

tail : satail, 38,6 gram. tajem : jejeg tumrap timbangan, jlentrehna artinya kang anteng ora pendirangan, bebuden kang sareh sarta kukuh. taji : waja diwangun lancip sarta landhep dipasang ing sikil jago; taji batang : taji dipasang ing jalujago; taji sate : taji dipasang ing jenthikan; taji tetes : taji dipasang ing dhuwur jalu; masang jlentrehna artinya : didakwa males ndakwa.

tajin : banyu liwet nalikané umob. taju : makutha; ditaju : disigar nganggo paju. tajug : langgar (omah-omahan) sing awangun kaya ompak, mata inten sing wanguné kaya ompak. taka : antaka, mati. takabur : gumedhe, umuk. takad : kuwat nandhang lara. takdir : pepesthen saka kersaning allah; tinakdir : wis pinesthi ing allah. takjir : paukuman manut pancasaning hakim, ora miturut angger-angger. takelekan : kelek.

taker : ukuran isi; dudu takere : dudu tandhingane; taker ganja : nyuduk nganggo keris nganti tekan ing ukirane; taker ludira : taker maksud, perang nganti kuthah getih. taki : teki, mangun taki, mangun teki, mangun tapa; tetaki : tetekim teki-teki, temen-temen nglakoni tapa.

taksaka : ula. tal : arané wit bangsané siwalan; sebit ron tal : gelang tipis gepeng, ora sigar penjalin. tala : omah tawon, legokan (luwangan) lemah, asor; tumala : rame banget; katala : ketiwasan; talawengkar : wingka.

talad : isih talad, isih tamban, omber wektune, ora kesusu. talak : pegat; ditalak : dipegat. talakas : rosa. talang : ilen-lien saka seng kanggo ngilekaké banyu udan; ditalangi : dipasangi talang, ditombolo dhisik; talang catur : wong sin nglantaraké rembug; talang jiwa : talang pati, ngetohaké pati kanggo bebanten (tawur). taleh : mendem. taler : urut-urutan lajere crita, unit-urutaning sanak sedulur; isih ana talere : isih sanak. tales : tanduran bangsané kimpul; tetales : talesan, dhasar pandhemen, dhasaring wewaton, landhesaning panemu, pinggiran (wates) pekarangan.

tali : tangsul, tampar lsp sing dianggo naleni; katali : kesindhet, kesrimped, keceneang, nandhang cilaka; tali angin : tali barat, tali sing kanggo naleni molo (penuwun) karo empyak; tali api : upet, tamparan sepet lsp disulet kanggo sedhiyan geni; tali jlentrehna artinya : usus ganthilaning ari-ari; tali bandhang : tampar kanggo sabukan prajurit jejaranan; tali bungur : apusing jaran sadhuwure irung; tali goci : tali mligi kanggo layangan; tali murda : nglaiu sarana nggantung; tali monce : obah-obah jaran sing dipasang ing endhas; tali pati : naleni disindhet kaping pindho; tali puntir : naleni mung dipuntir ora disindhet; tali rasa : urat saraf; tali tapak dara : naleni katata mrapat; tali wanda : cancut tali wanda, cancut jarite kaubedaké ing bangkekan; tali wangsa : arané gendhing; tali wangsul : naleni sindhetané ana sing ditekuk gampang ngudhari; tali wareg : naleni kenceng disendhet dipuntir; katula-tula katali : tansah nadhang cilaka; katali mangsa : wis kasep; jodho tali mangsa : pepancené jejodhoan miturut golonga talu : uyon-uyon ngarepaké wayangjejer; katalu : kalah.

talub : mripat sing tiapukané kandel. tamah : pepetenging ati, derengin ati marang bab sing ala. tamar : tamatar, ora. tamara : gamelan. tamasa : pepeteng; katamasan : kalimput ing pepeteng. tambak : bendungan banyu kali, blumbang ing pesisir kanggo nginggu bandeng (urang); tambak baya : tetulaking bebaya; tambak umur : jamu ndawakaké umur.

tambal : suwekan sing kanggo nambal; tambal butuh : tambal butuh, apa-apa sing kanggo nyampeti butuh; tambal sulam : ndandani karusakan sing cilik-cilik; tambal tepung : pasdumbang arupa dhuwit utawa liané tambeng : apa-apa sing dianggo singgetan, tambak, bendungan; dittambeng : ditambak, dibendung; tambeng ndhendheng : ndableg, ndugal tambir : blabag (pring) sing dietrap ing kiwa tengené prau, tampah sing nam-namané rada agal lan wengkuné gilig,wuku kang kaping sangalas tambiring : balang ; ditambiring : dibalang tambuh : tambong, ora weruh, ora mangerti.ora mreduli, api-api ora we weruh (ngerti); tambuh-tambuh : ora karuwan, kaluwih-luwih; nambuh : tumambuh, api-api ora weruh; ditambuhi : ora digape, ora dipreduli; ketambuhan : kekilapan, pangling; numbak tambuh (pr) : api-api ora weruh (ora mangerti) tambung : samar, samun, tambuh; nambung : nyamar, nambong, nambuh; tambung laku (pr) : nyamun, api-api ora weruh.

tameng : piranti dianggo aling-aling (nadhahi, nangkis) tibaning gegaman; ditamengi : dialing-alingi, ditadhahi in tameng; tameng mata : tlapukan, aling-aling supaya ora weruh; tamenging kawruh : sing diandelaké mrantasi yen ora pakewuh tampar : tali sing digawé saka plintiran serat; nampar : gawé tampar; tamparen : kejeng ing daginge kempol; banyu tumampar : banyu ileri-ilen ing pegunungan.

tampel : tamplek, paluné tukang kemasan; nampel puluk : gawé wurunging wong sing arep oleh kabegjan. tampuhawang : nakoda. tamsil : tuladha becik; golek tamsil : golek kamelikan. tamsir : pedhang. tamtama : prajurit pilihan tanah : palemahan, tiatah, laladan, lemah, asal, asli, jinise; tanahe : tanahane, dhasare; wis genah, wis tanah : wis cetha yen wong becik sarta isih asli; tanah manca : manca negara.

tanasub : gegayutan karo. tan asari : ora sareh, tumuli. tanceb : peranganing apa-apa kang cumeblok lemah; tanceb kayon : wis rampung, wis tamat; tancebing langit : cakrawala. tandra : tandya, tumuli, nuli. tan pae : ora beda. tansaya : sangsaya. tanseng : tansah. tansil : tamsil, piguna, paedah, jasa.

tan sepi : banget. tan-tan tuman : bisa tahan marga wis kulina. tantra : panenangan, panggendaman; bala tantra : wadya bala, prajurit. tangadur : tengadur, aral, alangan, cegah. tangguh : tanggon, kena dipitaya, pangira-ira, nitik kaanan (lelakon) sing uwis, sesipataning keris manut jamané ernpu sing nggawe; ketuwan tangguh : wong enom sing tumuwa, kanthi rerembugan ngelmu tuwa; ketuwuhan tangguh : arep methek malah kepethek dhisik.

tanggwa jlentrehna artinya kukuh, tanggon. tanghulun : aku. tangkil : arané tetuwuhan mrambat wohé kaya mlinjo; nangkil : sawan, seba; tinangkil : sinewaka; panangkilan : paseban, pasowanan. tangkulak : tengkulak, endhong wadhali panah, blebed gendhewa sing dicekel, cangkem macan, bakul raja kaya utawa asil bumi. tangkur jaran : arané iwak segara. tangsi : sawah palungguh lurah desa, pamondhokan sardhadhu.

tangsil : tamsil, sanepa, pepadhan. tangsu : setangsu, rembulan. taoge : thokolan. tapa : tapa brata, maratapa, mratapa, mertapa, nglakoni mati raga sumingkir saka alam rame. tapak : tilasing sikil, tilas kagepok piranti; tapak paluning pandhe : gegaman; tapaking kikir : gegaman; napak tilas : nulad lakuning liyan; tapak asta : tapak tangan, tandha tangan, teken, lorodan (turahan panganan); tapak dara : sanggan gedebog sing kanggo mayang, wanguning talenan; tapak liman : arané tetuwuhan ken kanggo jamu.

tapas : blebding bongkok krambil; cikal tapas limar : kabegjan sing mokal. tapasa : tapaswi, wong tapa. tapasi : wong wadon tapa. tapih : nyamping, jarit sing dianggo wong wadon; gondhelan poncoding tapih : wong lanang sing tut buri wong wadon; kasasaban tapih : wong lanang sing sarwa kalah karo wong wadon. tapung : ndokok beras sing wis kekel menyang dandang (kukusan); ngaru napung : nepsu sing nggegirisi. tapsila : trapsila, tata kramaning solah tingkah.

tapwa : durung, nanging. taraguyana : taranjana, teluk panenungan. tarak : sesirih, mati raga, tapa; taraka : telenging mata, lintang kekasih; tarak brata : nglakoni tapa; taraksa : asu ajag. tarambuja : semangka, taranggana : gegolonganing lintang. tarantara : ora antara. tarmolah : manggon, dedunung. tarpana : sesaji, kurban amrih marem; tumarpana : marem, seneng.

tarsandha : tresandha, pratandha. tarwa : taru, wit, wit-witan. tarwelu : terwelu, wela-wela, cetha. tasdik : waskitha, bisa weruh sadurunge winarah. tasi : anasi, ngemis. taskara : maling, begal. tastemen : wasiyat, prajanjen. tata : beciking pasang rakit, mawa aturan kang becik, mrena mrenahake; tata basa : unggah-ungguhing panganggbining fetembungan; tata cara : padatan sing kalumrah; jlentrehna artinya : angin (watak 5); tatakrama : unggah-ungguhing gunem lan tindak tanduk; tata lair : miturut kaanané ing lair; tata prenah : paprenahaning sanak sedulur; tata prunggu : unggah-ungguhing pakunnatan; tata tentrem : ora ana rerusuh; tata titi : tamat, ketam.

tatag : teteg, ora duwe uwas sumelang. tatah : piranti tukang kayu arupa wilahan wesi sing landhep pucuke; tinatah mendat jinara menter : digdaya banget. tatal : cowilan kayu sing dipeceli; merangi tatal : mindhon gaweni. tatar : tataran, cawelan ing wit krambil kanggo pancadan menek, ambalan, undhak-undhakan; natar : munggah; panataran : unggah-unggahan, undhak-undhakan; tatarpa : tanpa. tatas : pedhot babar pisan; tatas titis : gunem sing trep ora ana sing kliwat; tatas enjing : byar rahina; sawengi natas : sawengi muput tekan esuk.

tatha : tepi, bambing, wates; tathaka : tlaga, blumbang. tatu : tilasaning kena ing gegaman, lsp; ketaton : kena ing gegaman; ketaton atiné : serik; ditatoni : ditamani gegaman nganti tatu; ditatoni atiné : diserikaké atine; milang tatu : ngetung lan jlentrehna artinya kapitunane.

tatwa : dat, kahanan sanyatane, crita. tatya : nyata, kanyatan. tawa : tawi, kandha apa-apa supaya dituku, kandh arep menehi apa-apa, ngandhakaké regané barang; tawa ing wisa : ora pasah ing wisa; banyu tawa : banyu wantah (ora asin); panawa : srana kanggo nawa wisa, lsp. tawan : tawanan, wong sing tumiba ing; tawan kanin : nandhang tatu; jlentrehna artinya tangis : teka karo nangis.

tawang : awang-awang, langit; ditawangaké : namataké apa-apa sing sumawang dipeneraké ing pepadhang; tawang-tawang : sepi ora ana apa-apa; nggayuh ing tawang : nggayuh prakara sing mokal kelakone. tawon : kewan jinise kombang, jinise werna-werna; tumawon : gumrenggeng rame (tumrap pasar); byung-byung tawon kambu : mungmelu-melu ombyaking tawan : tawon tawang : manawang : mbengok, nggero tebyan : tebyas, ora perdulen, tegan tedheng : apa-apa sing dianggo aling-aling; ditedhengi : ditutupi, dialing-alingi; ora tedheng aling-aling (pr) : nindakaké apa-apa katnthi ngeblak tega : wis ninggal kadonyan, pandhita tapa, ora duwe owel, tanpa uwas sumelang, tanpa welas ; tega larané ora tega patine (pr) : seduluran yen ana sangsarané meksa ora tega.

teh jlentrehna artinya tanduran sing godhonge digaringaké kanggo wedangan; patehan : teko wadhah wedang teh, papan kanggo leladi wed tekad : kaantepaning ati, sedya sing dikantheni kukuhing ati; nekad : tumindak kalawan ngukuhi panemuné dhewe; tekad-tekadan : nindakaké apa-apa ora nganggo digagas dawa; nekad praya (pr) : ora preduli apa-apa telad : tulad ; ditelad : ditiru, diemba, diconto tembo : prau cilik ; grubyug tembo (pr) : melu ombyaking akèh tembre : sepele, ora mingsra tempel : mondhok tempel : ngindhung ing pommahaning liyan tenge : mulat tenge (pr) : tansah krasa kangen tengsu : rembulan, sasi tebah : tebih, adoh ; satebah : ambané saepek-epek; tetebah : : ngresiki peturon; tebah jaja : tebah dhadha, dhodhog-dhodhog dhadha; jlentrehna artinya malang : saambané epek-epek wuwuh jempol dicong; tebah tembung : njejaluk kanthi kongkonan tebeng : aling-aling ing pnggiring payon, kayu palangan sadhuwure cendhela (lawang); tebeng-tebeng : sedhengan, lumayan; tetebengan : tebengan, klumpukan rembugan tebiyas : kentas, nasar tebiyat : tabiyat, watak, pakulinan tebu : rosan, tanduran sing wite dijupuk banyuné digawé gula pasir; tebu tuwuh socané (pr) : prakara sing wis becik dadijugar awis ana sing nyetani; milih-milih tebu (pr) : milih golek sing becik malah olehala; tebu kasol : arané tembang tengahan tegah : ditegah, dicegah, jlentrehna artinya tegar : tegaran, nunggang jaran diplayok-playokaké kanggo kasukan; negar : jaran mlayu banter; panegar : tukang ngajari jaran tunggangan tegayur : obah owah, molah-malih tegeg : tegel, tahan, mentala tegen : panggah, tiaten ora kemba,tegel tegeng : teguh, kukuh tegep : cukat, sigrak, kendel teger : kukuh, ora owah-owah, pener ora menggok ; tegerak : lemah ora loh akèh padhase; tegerang : kayu kanggo nguning jarit teges : makna, terang, cetha, patu cilik kanggo nggarap mas inten; neges : miterang, golek wangsit teguh : kukuh sentosa, panggah, kedhot ora pasah ing gegaman ; reguh timbul : digdaya sarta sugih aji-aji tehak : ditehak : disuduk teher : banjur, sanalika banjur; tineher : diterusaké tekabul : tekabul ngelmu : nampa wejangan ngelmu tekabur : ngunggul-unggulaké awake,kumlungkung, kibir, sesongaran tekap : tekan ing, nganti, dening, amarga tekek : bangsané cecak gedhe ulese bloro; tekek mati ing uloné (pr) : nemahi cilaka awit saka guneme dhewe teken : teteken, kayu utawa wesi kanggo congkog (cangkingan) mlaku suku jaja teken janggut (pr) : senajan rekasa meksa dilakoni tembalang : ditembalang : dibalang, dicecamah, ditrapi tembung kasar tembirang : dhadhung kanggo ngunggahaké utawa ngudhunaké layar, jlentrehna artinya, jaka, enom.

tembung : gitik, gebug, cemethi, wedharing karep sarana gunem; tembungan : bendungan; ora tembung ora lawung : njejaluk tanpa tembung tempaling : piranti kanggo golek walang sangit wujude kaya kukusan digarani; polahe kaya tempaling : kakehan polah. tempat : bisa tetulung; ditempati : dijaluki tulung; ditempataké : ditulungi. tenaya : tanaya, anak. tenga : tumenga, nenga, nyawang mendhuwur, ngarep-arep pitulungané wong sing luwih kuwasa; tengadur : alangan.

tengah : tengah-tengah, dumunung ana ing antarané papan (barang) loro, puseraning papan, paron-paron, ora ngrewangi sapa-sapa; karo tengah : siji luwih setengah; manengah : menyang ing tengah; wong setengah : edan; panengah : kang ana ing tengah, kang nengahi ; tengah umur : tengah tuwuh, kira-kira umur 35 taun ; tengah wengi : tengah dalu, kira-kira jam 12 bengi ; tengange : wayah tengah-tengahe awan.

tenget : matenget, nampik, nyegah, ngemohi, malangi. tenggak : gulu, angkaning taun ing panggonan puluhan.tungguk ; nenggak : ndangak, tumenga nglangak ; panenggak : panggulu. nenggak waspa : ngampet eluh, kembeng-kembeng. tenggalang : ditenggalangi, ditrenggalangi, ditanggulangi, diayomi. jlentrehna artinya : tunggon; patenggan : patunggon. tepa : ukur, apa-apa sing dianggo ukuran; tanpa tepa : tanpa ngukur (ngira) rekasaning liyan; tepa-tepa : nganggo duga-duga ing saupama ditrapaké ing awaké dhewe; tepa slira : diduga-duga ing saupama ditumrapaké awaké dhewe tepet : pener, ngener, trep; tepet loka : alam klanggengan; tepet suci : alam akir.

tepi : pinggir, bambing, pesisir, plisir; tanpa tepi : tanpa wates; tepi sliring : tepis iring, tepis wiring, tapel wates. tepus : apa-apa sing dianggo ngukur dawa; ditepus : diukur dawane. terag : telog, tendhag, kekurangan udan, tereg, kluron, gogrog; katerag : kaduwa, kaidak. terbis : jurang sing angel ambah-ambahane. terganca : sulaya, padudon.

terwaca : terwela, cetha, terang mungguhing pangrungu, pandeleng lan pangerti. tesdik : kesdik, waskitha, weruh sadurunge winarah. ditesdikaké : diwaspadakake, diyakinake. tesmak : kaca mata; tesmak bathok : mung mamak ora ndedeleng. tetes : tedhas, sunat, tindhik, trep, nyata plek, tetela, terang; netes : nyata klakon kaya sing jlentrehna artinya, pecah metu kuthuké tumrap endhog. tiba : dhawah, saka papan ing dhuwur lumarap mangisor.

tiba ing kasangsaran : nandhang. tiba kasur : oleh kepenak ora kejarag; patiba tamba : dhuwit leliru kanggo nambakaké wong sing ditatoni; patiba ules : dhuwit tetempuhe wong mateni wong sing ora kajarag. tibra : tikbra, susah, sedhih, prihatin.

tidha-tidha : semang-semang, mamang-maniang, samar, remeng-remeng gojag-gajeg. tidhem tigas : surem, sirep; tudhem premanem : sirep tanpa sabawa. tihang : tugel, pedhot; ditigas : dikethok, dipancas, dikethok gulune; ditigasi : dirampungi, diuwisi; tigasan : isih anyar durung dienggo, isih murni; tigas gagang : bubar dieni terus diedol; tugas kawuryan : anyar katon; tigas : pacing : dikethok mayat sepisan pedhot. tiharda : tiyang, cagak; tumihang : ngener, nyipat. tijab : banget, kaluwih-luwih.

tika : mustajab, mandi, mesthi, temtu. tikus : ika, kae; tetika : solah tingkah, kelakuan. tiksa : kewan ngrikiti saba ing omah (sawah); tikus mati ing elenge : kepaten pasaban. tikta : tiksna, tikswa, landhep, lelandhep. tila : pait, peru (duwe watak 6). tilam : wijen, lenga; tinila : disiram ing lenga. timah : kasur, lemek; tilam rum : tilam sari, paturon. timah putih : pelikan, digawé grenjeng; timah budheng : timbel; timah sari : seng; timah-timah : tatu sing wis meh mari; timaha : kayu mawa pelet dianggo wrangka.

timbang : padha bobote, tandhing, babag; ditimbang : dibobot, ditandhing, dipandhing; ditimbang-timbang : dilimbang-limbang, dipikir-pikir ala becike; katimbang : tinimbang, dipandhing karo; tanpa timbang : ora ana sing madhani; timbang nganggur : kepepet ora ana sing dipilih; timbang sih : sisih loro salaras (padha); bobot timbang : panglimbang; asor timbang (pr) : lelawanan karo sing dudu timbange timbreng : srengengené kesaput mendhung timbrung : ditimbrung : ditrambul timbul : mencungul, njedhul, ngaton,munggah, mumbul ; teguh timbul : digdaya, bisa nanggulangi bebaya ; ditimbul : dijapani supaya digdaya timun : tanduran rumambat wohé saemper krai; timun jinara (pr) : gampang banget ; timun wungkuk jaga imbuh (pr) : mung dianggo jaga-jaga yen ana kekurangané tinangkil : sinewaka tinda : cacad, piala ; ninda : nyacad, miala ; tininda : disrengeni, dicacad tinekan : kelakon, kaleksanan, kasembadan tingal : mata, mripat, enering pandeleng ; tumingal : ndeleng, nonton, katon ; tetingalan : tontonan, pangilon ; mangro tingal (pr) : mangro kasetyané ; malik tingal tingar : ditingar : dicolong tumrap raja kaya tinggal : tilar ; tinggal kamukten : mbuwang kamukten ; tinggal tata krama : ngemohi tata krama ; tinggal glanggang.

(pr) : lunga saka kalangan (paprangan) ; tinggal kokoh (pr) : ninggal pagawean sing durung rampung ; tinggal tapak jero (pr) : ora nuhoni janji tinggeng : tetep, panggeng, ora owah gingsir,nyenyet, semu peteng tingi : babakan sing kanggo ngadoni soga tingkas : terang, leren tumrap udan, cetha, mangerti ; kirang tingkas : kurang cetha, embuh tingkem : tenggok cilik mawa tutup jeplakan ; ningkem wadi : nyimpen wadi tinjo : mertinjo, tilik, merdhayoh ; ditinjoni : ditiliki, didhayohi tipar : tegal pagagan ; ditipar : dirata, diresiki tipor : apus, cidra ; ditipor : diapusi tira : tepi, pinggir tirah : turah, pinggir, tepi ; tetirah : wong lara ngatih menyang papan sing prayoga tirem : bangsané keyong segara tirep : surem, timbreng tirigan : lageyan, saradan tiris : krambil ; tirisan : glugu, wit krambil tirkah : warisan, tinggalan tirta : banyu suci, padusan suci, banyu ; matirta : adus (reresik) ing banyu suci ; tirtamarta : banyu panguripan ; tirtayatra : sujarah menyang padusan suci tisaya : banget, kaluwih-luwih tisna : trisna, tresna tita : kliwat, kepungkur ; wis tita : wis katog anggoné nyrantekaké titi : sarwa ngati-ati ora ana sing cicir, tlesih banget anggoné mriksa, nastiti, setiti ; titi mangsa : wektu, cirining tanggal, sasi, lan taun jlentrehna artinya dititi priksa : dipriksa, ditamataké kalawan titi ; sawah titisara : sawah kas desa sing pametuné kanggo kabutuhan desa titih : atos, padhet panggemblenge tumrap keris, tumpang, tindhih, unggul, menang ; dititihi : ditunggangi ; nitih : numpang, nunggang ; ketitih : kalah, kasoran ; titihan : tunggangan, jaran ; murba titih (pr) : numpangi gunem : titik : cecek, plenik cilik ; titikan : tandha sing mratelakake, tetenger, ciri ; dititik : ditamataké ciri-ciriné ; titik iyik : wis wiwit lair, wis wiwit biyen ; titik melik : cihnané barang sing dilari titir : tengara srana nabuh kenthongan nggejeg,ora kendhat, tansah dititir : digejeg ; titir pinajaraké (pr) : dhawuih (kabar) sing dilimbataké ; nglangkahi titir (pr) : nglari durjani ana ing bawahing liyan ora njaluk palilah titis : trep pener panujune, tritis, fetes, prentuling banyu ; nitis : manjalma, tumimbal lair, manjing ing badan liya ; panitisan : cithakan gulajawa ; ngelmu panitisan : ngelmu bab nitis tiwar : ketiwar-tiwar : ketlingsut, ora kopen tiwikrama : triwikrama, nepsu banget, nepsu banjur malih rupa nggegirisi tlabung : bangsané wadung ; ditlabung : ditladhung, dikabruk, diserang, ditempuh tladha : tuladha, conto tlajuk : ketlajuk : keladuk, kelajuk tlanakan : guwa garbaning ibu tlandhing : bumbung panderesan tlangkas : telangkas, cukat, sigrag.

tlangke : remben, rendhet, ora enggal ; nangke : aneh, nyele, metu dudumangsane. tlangsa : nlangsa, sedhih awit apesing awake.

tlangso : ora tiangso, ora ketlompen; ketlangso : kelajuk, keplantrang. tlasih : arané kembang tlatah : bawah, wewengkon, jajahan. tlawah : wadhah saka kayu kanggo ngekum beras. tlawungan : tlowongan, plawungan, andhan-andhan wadhah tumbak. timber : klelar-kleler, klemar-klemer, remben. tledhang : mlaku diedar-dieder. tlendho : mlendho, rendhet, tledhor. tleram : tlerap, gebyaring sorot; satleraman : sagebyaran.

tlembuk : palanyahan. tlempak : tumbak cendhak. tlengseng : nlengseng, nggolekimrana-mrana. tlika : ditlika, dititi priksa, ditelik. tlikur : ditlikuri, direksa, dijaga.

tlingus : wulu ing irung (kelek). tliwang : ora padha, ora trep. tliweng : kodheng, kelalen, kliru. tluka : tlukah; tetluka : teruka.

tluki : arané kembang, arané tenunan. tobat : keduwung ing dosane, kapok ora bakal nglakoni piala maneh, teluk, nungkul; tobat encit : wis kapok banget. togari : bengi, dalu, ratri, wengi, tonggari.

tohwalen : awet, tahan. tok iyik : bangsané kinjeng cilik. tokuh : kenur layangan. tolu : arané wuku kang kalima. tomah : ditomahake, dikulinakake, dimanuhake. tomara : tumbak, kenthes. tomtomen : tontonen, tansah impen-impenen apa-apa sing nggegilani. ton : tonton, tumon, deleng; salah tonen : kliru pandelenge. anon : ndeleng. tongkeng : arané tetuwuhan rumambat.

topong : kopyak, pepethan makutha ing penganggo wayang wong; dara topong : dara ulese ireng endhase putih; jaran topong : jaran ulese putih endhase abang. torana : gapura. torong : blek wangun conthong kanggo ngiling lenga, arané kembang kecubung. tosan : wesi, balung. towang : lowah, ora isi, sela. towong : lowok, lowong, kothong.

trah : turun ;ditrahake : diturunake; trahing kusuma : turuné wong luhur. trangga : tranggana, trenggana, seneng, marem tranggana : taranggana, lintang. trap : carané pangrakit (panata, pamasang); ditrapaké : ditata, dirakit, dipasang, diecakaké ; trapas : boros, enggal entek ; trapsila : tapsila, nganggo tata krama ; trap sirap : ditata sarwa becik ; trapti : marem, seneng, tata.

trasa : giris, miris, wedi. tratag : pason tambahan ; tratag rambat : tratag sangarep sitinggil. surak-surak seru. trawu : telu traya : jlentrehna artinya : telulas. trayali : bangsat. treg : tereg, terag, telag, tendhag ; tregal-tregel : grusa-grusu. trekah : reka ; ditrekah : direka, dipitenah. trebis : angel ambah-ambahane. trejung : jero sarta juleg (tumrap jurang). trembalo : ambalo, wit sing kayuné digawé wrangka. trembayak : manuk saba segara. trembayun : prembayun, pambayun, pambarep.

treinpas : isi kates. trena : suket. trenggalung : rase. trenggiling : kewan sikil papat yen ana bebaya ngringkel ; nrenggiling api mati : api-api ora mangerti rembug nanging sejatiné nggatekake.

trengginas : cukat lan trampil. trepta : : trepti, marem, seneng. tres : trasa, wedi, giris. tretep : kretep, ketep; tretepan : tritisan. tretil : cetha (terang) pamacane. tri : telu. tribaya : sapratelon. tribawana : tribuwana, jagat telu. tricig : trincing, trancaa. trigan : saradan, lageyan ala ; triganca : rikat, banter, sulaya, pasulayan, triguna : wewatakan telu (satwa, rajah, tamah). trikaya : kekuwatan tetelu (badan, gunem, pamikir). trikana : maju telu.

triloka : trilokaya, trilokya, jagat tetelu. trilocana : amripat telu (bathara siwah). trimurti : telu-teluning ngatunggal.

trinetra : trilocana. trincing : cilik alurus lan cukat (tumrap sikil). trisula : tumbak landhepe telu. troi : main dhadhu menang; nggitik troi : oleh kabegjan. trubus : thukul, tuwuh. trucuk : pathok jejer-jejer, arané jamur; nrucuk : urut-urutan padha dhuwure; trucukan : arané manuk. trucut : ketrucut, kebacut (tumrap tembung /janji).

truh : teruh, grimis. trula : trukah, tetruka, gawé desa srana babad alas ; trukan : papan sing dibabad arep didunungi. truksi : pranatan, dhawuh. truna : truni, taruna, enom, jaka, prawan. truntum : thukul, trubus, arané bathikan. truntun : tumruntun, urut-urutan tanpa elet; truntunan : ari-ari. trungku : kunjaran, ditrungku, dikunjara. trunyuk : trunyukan mlebu tanpa nganggo tata krama. trup : golongan. trutul : pating trutul, trutul-trutul, akèh tutule; nutuli : ngoyak rerikatan; ditrutuli : dioyak rerikatan.

trutus : ditrutus, digoleki mrana-mrana; trutusan : nggoleki mrana-mrana. truwilun : bodho. truwu : rusuh, ora tentrem, goreh ; ketruwu : kuwur dening dikisruhi. tub : katub, kadhesek, kaesuk, katrajang, katempuh. tuba : tubi, jeni ; dituba : diwisaya nganggo jenu ; tuban : banyu grojogan.

tubar : oyod sing tumumpang ing lemah; ditubar : diabang nganggo oyod kudhu. tubungan : cedhal, celad. tugur : ngenteni anan sawijining papan. njaga ana ing pajagan ; tuguran : njaga rina wengi ; dituguri : dijaga rina wengi. tugu : wewangun saka watu kanggo tetenger; ditugokaké : dianggep dudu wong ; kaya tugu sinukarta : njegreg tanpa obah, ora duwe nalar.

tuha : tuwa. tuhu : nyata, temen, setya, mantep lan temen ; satuhu : sanyata, temenan ; dituhoni : ditetepi, ora mblenjani. tuhuk : jlentrehna artinya, disuduk. tuhun : mula, nyata, senadyan, nanging. tukar : matukar, tukar padu. tukaran, padu, kerengan ; ditukar : diganti, diijoli, dilironi ; tukar maru : arané iwak loh. tukung : tanpa buntut (tumrap pitik) ; ditukung : diburu. tula : trajis, timbangan ; ketula-tula : tansah nandhang sengsara ; ketula-tula katali : tansah kacilakan.

tulak : lelungan ora nginep ; ditulak : dibalekake, ditanggulangi, ditampik, ora dituruti ; tulakan : bedhahan galengan menyang kalen kanggo ngilekaké banyu; tulak bara : bandhul kanggo momoti prau; tulak bilahi : tulak tanggul, srana kanggo mbalekaké lelara; tulak sawan : srana kanggo nulak lelarané bocah; pitik tulak : pitik ules ireng ana putihe sethithik ing buntu / swiwi; iket banyun tulak : iket ules ireng nganggo lintrik putih.

tulang : kotak kanggo wadhah adu jangkrik. tular : tular-tumular. lumembar tundha-tumundha. tulus : lestari salmet, tanpa sambekala, kelakon temenan, resik budine, utama; ditulusaké : dilestarekake, dibanjurake. tumama : kena ing, lumebu ing. tumambang : mlethek (ngaton) tumrap srengenge. tumambuh : ethok-ethok ora wemh (ngerti). tumanggal : rembulan tanggal enom. tumangkar : manak-manak akèh, mundhak-mundhak akèh.

tumaruna : enom tumrap jlentrehna artinya. tumat : mencok. tumblong : ditumblong, digudag, jlentrehna artinya. tumeja : sumunar, sumorot kaya teja.

tumedhak : tumurun, medhun. tumedhuh : peteng kesaput mendhung. tumeg : legi banget, katog anggoné memangan. tumeguh : ambeg teguh, kukuh, sentosa.

tumelung : tumiyung, bengkong, gedhe lan kepenak. tumembirang : mempeng sarta sigrak. tumenga : nyawang mendhuwur; idep tumengeng tawang : idep nyongat munggah. tuminah : teminah, sareh lan setiti. tumlawung : temlawung. tumlendho : tumlundho, cemlondho, gangsir sing durung duwe elar. tumundha : rambak-rambak, tundha-tundha. tumuntur : tumutur, tut buri.

tumpak : sabtu; numpak : nunggang; mantu tumpak punjen : mantu anak keri dhewe. tumpal : cariking bathikan gegambaran maju telu-telu big pinggiring sarung, sarah, larahan ; numpal keli : lelungan nunut-nunut, lelungan tanpa jujug. tumpang : sungsum, tetumpakan, bantalaning lapakjaran, kayu tetunpukan ngubengi plangitan omah joglo; numpang : nindhih dumunung sadhuwure, menang padune, nunut mondhok lan mangan kanthi mbayar; ditumpangi : tumpang so, tumpang suh, tumpang-tumpang ora tata, ruwet; tumpang sari : balok tetumpukan ing omah joglo, ditanduri jlentrehna artinya werna loro bebarengan, anggunge dheruk kang sum tumper : sisané kayu sing diobong lan isih wujud mawa; lumper cinawedan : bocah sing ora karuwan bapake.

tumpi : panganan bangsané opak, singgetan ing ros-rosing pring. tumpur : lebur tumpur, tumpes, rusak babar pisan; ditumpur : ditumpes, dilebur. tumragal : ngebyuki, ambyuk. tumrah : trah, turun-tumurun. tumrapta : prapta, teka, tekan.menyang. tunangan : pancangan. tunas : tunasan, iorotan, turahan, thukulan ; ditunasi : ditegor, didhongkeli. tundha : ambai, undhak-undhaka;4 sungsum, lelapisan, rangkep, unit ; tundha bema : salah tampa ; ditundha-tundha : dilantarake, dilembasaké ; tundhan lari : tundhan turutan, lembat-lembatan.

tung : tungan, pucuk, puncak. tungga : pucuk,puncak, pangarep, kang linuwih. tunggak : pogoganing wit sing ditegor; tunggak tengah : tunggak waru, ora melu-melu, ora ngiloni; nunggak basa : diwelingi ora ngandhakaké kabeh welinge.

tunggal : tunggil, iji, siji, awordadi siji, padhajinise; tunggal kokoh : tunggal pagawean; sedulur tunggal kringkel : sedulur tunggal bapa biyung; sedulur tungga welat : sedulur tunggal bapa biyung. tunggang : nunggang, numpak, nitih, linggih ing apa-apa sing lumaku; tunggang gunung : wayah sore srengenge mbeneri ing gegere gunung; tunggang taya jlentrehna artinya tunggeng taya, ditunggangtaya, disepelekake, disorake. tunggara : kidul wetan. tunggir : gigiring gunung. tungguk : caos, jaga ana ing daleme panggedhe, ngenteni.

tunggul : bendera ; tetunggul : kang pinunjul dhewe, pangarep ; lading tunggul : lading awangun memper arit ; panunggul : inten ing suweng sing tengah dhewe, drij tengah, gulu tumrap titi larasing gamelan ; tunggul panantang : layang panantang. tungkas : weling, pitungkas, piweling ; mitungkas : meling.

tungkul : bangsané jenu sing ora mawa racun ; nungkul : ora ndangak, ndhingkluk, teluk ; ditungkul : ditempuh sarana dilimpe ; ditungkuli : disipati, ditunggoni, ditindakaké kanthi mempeng ; ketungkul : kelimpe, keslamur, tansah nindakaké apa-apa nganti lali bab liyane.

tuntum : pulih gathuk, pulih (tumrap tatu) ; dituntumaké : dipulihake, dikumpulaké maneh. tuntung : pucuk, puncak, rada kecampuran rasa liya ; tuntung ing ati : kang diesthi, kang dijangka. tupiksa : ditupiksa, ditupiksaai, dipriksa, diwaca. tura : asih, kesengsem.

turaga : turangga, jaran, turanggi. turas : uyuh, nguyuh, turun, trah. turidha : susah, sedhih, kesengsem, kasmaran. turu : tilem, sare, mujung, nendra. turus : kethokaning pang wit sing ditancepaké kanggo pager; ngoyag-oyag turus ijo : ndhemeni bojoning liyan, ngaru biru wong sing ora papa.

turut : runtut ora ana sing gangsul, alon, sareh sarwa urut, manutan, ora bangga; swarané turut usuk : swarané becik lan banter; utange turut wulu : utange akéh banget. tus : mumi (deles) tumrap turun, turun, trah, tembung panyentak; ditus : dientekaké banyuné kanthi netesaké banyuné tusara : bumi tuskara : tawon tustha : tusthi, seneng, marem tutup : apa-apa sing dianggo nutupi, mineb, buntu, ora menga; tutup keyong : tutup antarané rong empyak ing omah kampung ; tutup kendhang : pasa ing pungkasané sasi pasa ; tutup mulut : tutup kuping, paweweh pinangka besel ; tutup liwet : silep tutus : irat-iratan pring apus tipis-tipis dienggo tali ; tutus kajang : dondoman tangan arang-arang tuwan : bendara; tuwan tanah : wong kang sugih lemah sing ditanduri tuwang : towang, kothong, lowong; tuwanggana : tetuwa, pinituwa tuwek : dituwek : disuduk ing dhadha; tuwek raga : suduk slira twang : atwang : matwang, ngaji-aji, ngurmati tyaga : tega, mungkur ing kadonyan tyagi : wong ulah tapa U ubag : ompak ubanggi : ubaya, janji, kasaguhan; dipunubanggeni : diubayani, disaguhi uba rampe : punjungan marang dhedhuwuran nalika duwe jlentrehna artinya, apa-apa sing kalebu prabot ubut-ubut : maling wayah esuk nriebuné ora mbabah ucap : wetuning gunem, ujar, rembug, kandha ; ngucap : clathu, guneman ; diucap-ucapi : diujar-ujari, diunek-unekaké ; dadi ucap : dadi pocapan, dirasani ing akèh ucarana : kandha, jlentrehna artinya, crita, rerenggan ; mangucarana : ngandhakake, nyritakake,ngrumpaka, ngrengga uceng : arané jlentrehna artinya loh; punggawa desa sing ngurus banyu, lurahing dhukuh, kembang mlinjo ; mburu uceng kelangan deleg (pr) : jlentrehna artinya barang sepele malah kelangan barang sing luwih pengaji udadi : segara udaka : banyu, tuk udama : adama, nistha, asor udara : awang-awang, weteng udasmara : panggagas, pamikir ; ngudasmara : nggagas, mildr, ngunandika, ngungrum udata : seru banget, umuk udaya : segara, pletheking srengenge, munggah, mumbul udrasa : tangis, jlentrehna artinya ; maca udrasa : nangis udung : ngudung : mangjel atiné ugem : diugem : dipethek nganggo jlentrehna artinya primbon ; diugemi : diandel sarta digugu uger : anggere, janji, waton ; paugeran : bebaku, wewaton ; uger gugat : katerangané wong gugat ; uger wangsulan : katerangané dakwa ; uger-uger : cagak adeg-adeging lawang ; diugeri : diwatoni, dirungokaké katerangané ; uger-uger lawang : anak loro lanang kabeh ; layang ugeran : layang katerangan prakara kang katur marang pradata udara : awang-awang, weteng udasmara : panggagas, pamikir ; ngudasmara : nggagas, mikir, ngunandika,ngungrum udata : seru banget, umuk udaya : segara, pletheking srengenge, munggah, mumbul udrasa : tangis, luh ; maca udrasa : nangis udung : ngudung : mangjel atine ugem : diugem : dipethek nganggo buku primbon ; diugemi : diandel sarta digugu ukara : rerangkening tembung-tembung kang mawa surasa ukum : wewaton, angger-angger, pututsaning pengadilan, pidana pinangka piwalese kaluputan; ukum badan : pidana srana disiksa badane; ukum dhendha : pidana srana di dhendha; ukum gantung : pidana srana digantung; ukum kisas : pidana srana jlentrehna artinya (dipateni).

jlentrehna artinya : pengadilaning allah; ukum pati : ukum kisas. umbut : bung penjalin. ume : nglangi. umi : biyung. umindhuwur : mendhuwur, munggah. umingsor : mudhun, mengisor. umis : mili.

umur : yuswa, suwené enggoné urip, urip, nyawa; saumuring jagung : sedhela banget. una : tanpa una uni, ora duwe rembug apa-apa. unandika : gunem ing sajroning ati; ngunandika jlentrehna artinya guneman ing sajroning ari. unang : oneng, susah dening kesengsem; kaunang-unang : kondhang, misuwur. undhag : baud (pinter) gegawean; undhagi : tukang gawe dandanan saka kayu. undhuk : lindhuk, papan sing rada peteng, piranti saka pring kanggo ngrampok macan, pepethan kanggo njantrot manuk, kayu awak awaking pasah ; sambang undhuk : lara mrongkol ; caping undhuk : caping gedhe saka blarak.

uning : uninga, weruh, sumurup ; diuningani : diweruhi, disumurupi. unon : panggeng, tansah ajeg, sawah kang kena oncoran banyu. ungar : diungar, diwiwiti ; ungaran : isih wiwitan, isih anyaran, kang metu kawitan.

unggal dina : unggal dinten, saben dina. unggar : diunggar, dijenggaraké tumrap apa-apa sing kempel, diuja (diumbar) tumrap kekarepan, hawa nepsu. unggon : unggan, unggwan, enggon. ungkod : diungkod, diwalik tumrap godhogan apa-apa, ditetangi, dicungutaké maneh ; ungkad-ungkadan : blethok. ungkara : donga, pepuji. ungup : mungup, mencungul sethithik ; ungup-ungup : ungupan, pepucukaning prakara sing wis katon.

upadi : diupadi, digoleki, upakat : mupakat. upaksama : apura ; diupaksama : diapura. upaksi : atur upaksi, aweh weruh, ngandhani. upaos : upata, supata. upeksa : weruh, paniti priksa, pangerti ; diupeksa : dititipriksa, disumurupi. upekti : upeti, upetyapametu, wulu wetu, bulu bekti. urab : campur, carub ; urab-uraban : ngunek-unekaké nganggo tembung saru ; urab sari : kembang campur bawur. urna : makutha, sorban. uru : wentis, pupu. urug : lemah sing dianggo ngrata ledhokan, imbuh ; sekul urug : weweh sing ora ana gunane.

usada : usadi, tamba, jampi ; diusadani : ditambani. usana : kuna, jaman biyen, wasana, wusana. usen : rikat, gancang. usi : diusi, dioyak. usna : panas. usnisa : iket, tulban. uswasa : usyasa, napas, ambegan. ustra : unta. utama : utami, becik, linuwih ; utamané : prayogane, becike. utara : antara, watara, lor, kiwa. utwaha : geni. utpala : trate biru. utsaha : ngetog karosan, panjangka, pangarah, pangudi.

uwa : sedulure tuwa bapa utawa ibu ; diuwakaké : ditogake, dilemparaké ; senjata uwa : walat, wewelak. uwung : papan kang suwung. uyang : gerah uyang, awaké krasa panas, atiné ora jenjem ; nguyang : tuku pan (wsi ora ngomah) ; uyang-uyung : wira-wiri karo nggegawa. uyu : uyu-uyu, manguyu, baturing pendhita ; manguyu-uyu : klenengan nalikané duwe gawé. W wabakda : wabakda sakingpunika, lan sawise kang kasebut.

wada : cacad, pepoyok, gunem, tembung pangucab ; diwadani : diwaoni, dicacad, dipoyoki; wadanan : jeneng pepoyok; dhendhawada : pisrengan ; wada kawongan : nacad nanging sejatiné isih dhemen. wadaka : ulangan, reridhu, pituna ; kawadaka : kena ing alangan (reridhu), konangan, kawanguran.

wadal : dhuwit pinangka gantiné pagawean gugur gunung, apa-apa sing dienggo bebanten. wadana : cangkem, rai, pangarsa, pangarep. wadari : taman, patamanan. wadat : ora nglakoni bebojoan. wadata : endah, ayu, kalangenan. wadhag : kasar, ora alus, raga, awak. wadhe : wadheh, ngeblak ora ditutupi, cemplang, jelih, bosen. waditra : gamelan, tetabuhan. wado : wadwa, prajurit, bala. wadu : wadon, prajurit, bala ; jlentrehna artinya aji : abdining ratu.

wadwan : wadon. wadya : wadya bala, prajurit. wagal : arané iwak loh. wagel : pepalang, kang ngedheg-endhegi, cacading watakjaran. wagugu : kewuhan, susah. waha : nunggang, tunggangan. wahana : tunggangan, katerangan tegesing impen. wahil : pepoyok, poyok-poyokan.

wahini : putri, prajurit, wadya bala. wahiri : meri. wahita : apus. wahya : wetu, wedhar, kelair ; diwahyakaké : diwetokake, diwedharake, dilairake. wahyadyatmika : kang katon inglair lan gaib, lair lan batine. wahyaka : lair, ing jabane, wadhag. wahyu : wedharing allah ing prekara gaib, pulung nugrahané allah ; ketiban wahyu : oleh pulung nugrahaning allah. wai : banyu. waila : wong wadon. wakbajra : landhep tembunge, sanjare dadi. wakul : ething gedhe. waksa : dhadha, susu.

waksuda : bumi wakca : diwakeakake, diblekake, diwalehake. wakta : gunem, tembung; mawakta : clathu, guneman. waktra : cangkem, rai, pangarep. wala : gagangjanjangankrambil.bocah, bala ; walan : punjungan panganan marang punggawa desa ; sabuk wala : bebedanjarite singseparo dienggo sabukan walaya : gelang, kelat bau.

walak : pepacuh, wewaler ; walak-walak : sesa-sesa, mung gumantung marang. walatkara : ambek siya, kaniaya walepa : centhula. ladak, umuk waler : waleran : wewaler, pepacuh, larangan ; diwaleri : dilarangi, dipacuhi, diwatesi walgita : layang, tulisan waling : panyana, panggagas ; diwaling : digagas, dipikir, dinyana walkala : klikaning wit sing dianggo sandhangan para tapa; walkaladara : ulah tapa, pandhita; walkali : pandhita tapa wallaba : sih, kekasih walu : wrandha, dhudha, bali, waluh wama : kiwa wancah : diwancahi : diwaoni, diwada, dipaido; diwancah : diyugel, dicekak (tumrap tembung); wancahan : tembung tugelan (cekakan) wancak : walang ; mancak : golek walang; wancak driya : walang ati; wancak suji : pancak suji wanci : lageyan sing dadi cacad wayah ; sawanci-wanci : sawayah-wayah, samangsa-mangsa ; wancos : wadhah kinang ; ciri wanci lelai ginawa mati (pr) : cacad ala ora bisa mati wanda : jlentrehna artinya, sesepataning wujude wayang, dhapur, wujud, wangun, peranganing tembung sing muni sakecap ; wandawa : sedulur, sanak ; wandu wandawa : sanak sedulur wande : waning, wurung, waru ; wandera : wandira, wringin wandita : pinunjul, endah banget Wandya : wurung, kliru waneh : jlentrehna artinya, seje, liya wangbang : bambang wangkawa : teja, sorot, kluwung wangkid : wates ; wangkidan : kutuk jlentrehna artinya : bangsané cethok kanggo matun wangking : merit cilik tumrap bangkekan ; diwangking : disengkelit ; wangkingan : bangkekan, keris wangkong : tangkebaning bokong ; mbiyak wangkong (pr) : ngandhakaké wadiné liyan ; nggepok wangkong (pr) : omong-omongan nyandhak wadiné sing diajak omong wanglu : kemiri sikil wangon : kauban wangon : kauban payon wangsa : sanak, sedulur, brayat ; wangsaya : wangsajati, darahing wong luhur wangsi : suling wangsit : pituduh, piweling, wedharing wisik wangwa : mawa wangwang : wawang ; diwangwang : disawang, ditamataké wangwung : kuwawung, suwungn, tanpa isi apa-apa waos : waja, untu, tumbak warada : warda, sih waragang : arak, tuwak, badheg.

warak : kewan akulit kandel lan mawa cula. warana : wrana, kelir, slintru, aling-aling. warandha : randha. waranggana : widadari. warapsara : dewa linuwih. warapsari : widadari linuwih. warastra : gegaman, panah. wardah : wredha, sepuh, tuwa. wardaya : ati.

wardi : werdi, teges, makna, keterangan. wareh : warih, wari, banyu. wareng : turuné pitik kate karo pitik lumrah; turun sing kalima; embah jlentrehna artinya : wong tuwané embah canggah; warid : wirid, wejangan ngelmu tuwa. wariga : kidang. waring : kadud sing alus, jala sing lembut pangename. warsa : warsaya, warsaka, warsi, taun; warsajalada : mendhung. warsiki : kembang gambir.

warta : wartos, warti, kabar, pakabaran. warga : linuwih, gedhe. was : uwas, was-was, sumelang, kuwatir ; diwasaké : diawasake. wasa : wasa-wasa, kanthi peksa ; diwasa-wasa : dipeksa-peksa. wasana : wusana, pungkasan, temahane. jlentrehna artinya : panguwasa. wasesa : duwe wenang (panguwasa), andharaningjejer (tumrap ukara) ; diwasesa : dikuwasani, diwengkoni, dipilara, dipidana. wasi : pandhita tapa.

wasir : patih. wasis : pinter, bisa ; winasis : wong pinter. wasita : pitutur, wewarah, kandha. wasiyasat : pameksa, ambek siya, kaniaya. waskitha : awas, bisa weruh marang prakara kang sinamar. wasundari : bumi. waspa : luh ; waspada : awas, kanthi weweka ; diwaspadakake : diawasake, ditamatake. wasta : aran, jeneng. wastra : sandhangan, jarit ; wastra bedhah kayu pokah : ketaton nganti putung balunge ; wastra lungsed ing sampiran : kapinteran sing ora digunakaké suwe-suwe bisa lali.

wastu : temen, nyata ; taun wastu : taun lumrah, angin. wata : dhasaring bebuden. watak : ora watak ora patut mungguhing. watang : genter, kayu prebatang, sodor, tumbak tanpa lelandhep, garan ; lebar watang : wayangan ing kraton ing malem minggu; urang watang : urang gedhe ; nyambung watang putung : ngrukunaké wong cecongkrahan.

watesan : semangka. watgata : tatu ; kawatgata : ketaton. wati : sanggama ; diwati : disanggama. watsa : watsya, pedhet. wawa : mawa, geni mengangah, bangsané kethek gedhe. wawal : wangkil, cethok, linggis; diwawali : dipadoni, ora disarujuki; wawalan : pepadon, tukaran; wawalan bandha : memungsuhan karo wong sing apes.

wawan : lawan, jlentrehna artinya ; wawan gunem : geguneman, rerembugan, pepadon. we : banyu, srengenge, baé, sabawa, nelakake, cingak (kaget). weda : wedha, ngelmu, kawruh, layang, pepakem, kitab suci ; wedana : lara. wedi : nyata, temenan; sudara wedi : mitra temenan. wedya : widya, dhukun ; wedya rini : dhukun bayi.

wega : rikat, kesusu. weka : weweka, wiweka, ngati-ati, prayitna ; diwekani jlentrehna artinya diprayitnani, diati-ati ing sadumnge. wela : wela-wela, ngegia, katon cetha banget, taman, patamanan, mangsa, wektu. weleh-weleh : cetha banget, wela-wela. wen : diwehi ; sawen-wen : suwe banget.

wendra : arané iwak segara. weni : rambut, gelungan. wera : bawera; weraye : susah, sedhih. weri : mungsuh. wesa : wesya, gegolonganing wong sing makarya dagang, tetanen lan kriya.

wesma : wisma, omah. westhi : bebaya, alangan. wetalika : pesindhen. wedi : ajrih, ora wani, duwe pangaji-aji ; wedi asih : duwe pangaji-aji lan tresna. wedidang : antarané dhengkul karo diamakan sikil, kencet (otot ing tungkak)! wedrah : wredha, tuwa, uwa. wedhi : krikil lembut-lembut ; wedhi malela : wedhi ireng lembut banget ; wedhi grasak : wedhi kecampuran krikil. wedhihan : sandhangan. wedhit : ula. wedhung : pasikon, saemper pangot gedhe nganggo wrangka. weg : wek, celeng. wegang : wegah.

wegig : rongeh, goreh,pinter, gathikan, kendel. wegil : megil, ngungsi, ndhelik. wegung : sawegung, kabeh, sakehe. weka : anak, raraged sing ngintip ing ceret utawa teko. wekan : guwa garba. wekul : sregep sarta temenan. wela : sela, elet, lowong ; diwelani : diselani, dieleti, dilowongi welad : sesetan kulit pring wulung dienggo ngethok puser ; sedulur tunggal welad : sedulur tunggal bapa biyung.

welak : wewelak, bebenduning allah arupa kasangsaran, lsp. welas : rasa mesakaké marang liyan; memelas : mesakake, pantes diwelasi; welasan : gampang welas ; welas asih : welas arsa, welas ayun. weleh : weweleh, piweleh, lelakon minangka wewales enggoné goroh; diwelihaké : ditutuhaké enggoné goroh.

weleg : diweleg, diuja ing pangan. welek : kebul. weli : tuku, bakul. weling : wekas, ula saemper ula welang nanging cilik. welu : surem, katon lungkrah aras-arasen, wangkal, wogkod.

welug : pethut, benggoling maling. welun : mawelun, welun-welun, mulek, uyek-uyekan. welut : iwak loh ujude saemper ula ; kaya welut dilengani : pinter banget padune; enggon welut didoli udhet : wong pinter diumuki kapinteran sing remeh.

wendra : sawendra, sepuluh yuta ; wendran : pirang-pirang wendra. wening : bening, resik ; weninga : wuninga, weruh.

wentar : suwur. wentis : pupu. wengkelan : kempol. wengku : blengker minangka pikukuh; diwengku : diubengi kaya wengku, dikuwasani. werak : werak aren, legen aren. werat : abot. werdu : uler ; werdu angga : lintah ; yayah werdu angga sasra : uyek-uyekan akèh banget.

werek : wuruh, umpluk, wuni, mendem. wergul : kewan bangsané lingsang. werh : wingit, angker, gaib, umpetaa, kenceng, keras. werjit : cacing, wercita. wewegan : padhanging ati, pangerti.

wewer : diwewer, digulung, dilinthing; wibawa : kaluhuran, kamulyan, kamukten ; mukti wibawa : mulya banget. wibi : biyung, ibu. wibrama : kisruh, bingung, nepsu. wibuh : rosa, sentosa.

wibuti : kaluhuran, kamulyan, kuwasa. wida : ganda wida, boreh, wewangi. widada : widadi, tulus slamet, lestari slamet. widadara : dewa. widadari : dewa wadon ; midadareni : lek-lekan ngarepaké temuné penganten. widagda : widagdya, pinter. widayaka : wong kang mranata, wong pinter. widayakeng praja : ratu. widara : arané wit sarta wohé; meneng widara uliran : laire becik nanging batiné ala; widara gepak : wanguné omah kampung empere mubeng.

widigda : widigdya, widagda, pinter. widik : diwidik-widik, dikira-kira kanthi ditamatake. widik-widik : langit, awang-awang. widita : misuwur. wido : jago sing wuluné ing geger pucuké ijo. widya : wida, bareh, wewangi, kawruh, kawicaksanan. widyastuti : pangabekti, pepuji. widyuta : widyutmala, kilat, bledheg. wigar : ilang dayane, ngabar, kalah, jugar, ora dadi. wigena : wigna, alangan, reribed, susah, sedhih, lara gandrung.

wigraha : congkrah, perang. wiguna : tanpa kautaman, nistha, bodho, pinter, wasis. wihang : wiyang, mopo, lenggana, emoh. wihanggama : wihaga, manuk. wihanten : wihara, patapan, pasraman. wihaya : awang-awang, langit. wihikan : wikan, weruh. wija : wiji, anak. wijah : pitik wijah, pitik lumrah; wong wijah : wong lumrah, urakan; wijah-wijah : pilah-pilah, pepanthan.

wijaya : menang, kamenangan, kasekten; wijaya kusuma : kembang kang diagem saratjumenengan ratu; wijayanti : menang. wijana : darah, luhur, panepen, sanggar palanggatan. wiji : isiné woh sing calon dadi wit, winih, bibit, writan, turun, dhadhakan, sing dadi jalaran; nandur wiji keli : ngopeni tumné wong luhur. wijil : regol, gapura, lawang, wetu, mijil, metu, wiji, turun; wijiling amaratapa : turuné wong tapa; wijiling andana warih : turuné satriya (wong luhur).

wijuk : wisuh. wijung : celeng gedhe. wikan : weruh, jlentrehna artinya wikana, ora weruh, embuh; wikana : embuh. wikara : owah, jlentrehna artinya, nepsu, muring; tan wikara : ora owah, panggah; wikarané : kang dadi jalarane; diwikara : dipilara.

wild : kikrik, ora gampangan. wikrama : jangkah, kekendelan; diwikramakaké ; dipikramakake, dikramakake, diomah omahake. wikridita : dolanan, seneng-seneng. wil : buta. wila : maja, bolongan, leng, guwa. wiladah : adus wiladah, adus sesuci tumrap wong wadon sabubar nglairaké sawise 40 dina. wilangan : wilangon, sengsem ; milangoni : nengsemake.

wilapa : kidung pasambat, layang, kekidungan. wilasa : ngenggar-enggar, dolanan; sih wilasa : kawelasan. wilasita : ngenggar-enggar, dolanan. wilatikta : majapait. wilis : ijo tuwa, wilang, wilisan, wilangan, tandhu.

wilut : diwikut, dipuntir, disindhet, dikala; idu wilut : iduning dhukun dienggo nambani. wiloma : wiluma, kliru, jugar. wilwa : maya. wimala : tanpa rereged, resik, suci. wimana : kreta, tunggangan. wimardana : perang. wimbuh : wuwuh, imbuh, kuwur, peteng atine. wimoha : wimohita, bingung, kuwur atine.

wimurca : wimurcita, semaput, ora eling. wimudha : bodho,gendheng. winadi : winados, kineker, dienggo wadi. winantu : linarengan ing, binarung. winarah : diwarah, dikandhani. winardi : diterangake, ditegesi. winarna : dicritakake, dikocapake. winasa : dipeksa, rusak, ilang, sirna. winasis : wong wasis, wong pinter. winastha : windasa, rusak, lebur, sirna. windu : lambe sumur, petungan wektu sing suwené 8 taun ; diwindoni : dibancaki nalika umur sawindu (8 taun).

wineh : winih, diwenehi, diwehi, didokoki. winenangake : diwenangake, dikuwasakake, dileksanani. winicara : digunem, dirembug. winisudha : dijunjung pangkate.

winong : winongwong, diemong, dijangkung. winor : diemor, dicampur. winot : diemot. wintang : lintang. winga : mawinga-winga, abang mengangah. wingka : pecahan grabah ; gandhos wingka : arané panganan.

wingkisan : gusi. wingsati : rongpuluh. wingsilan : pringsilan. wingwal : ora wing wal, ora geseh, padha. wingwing : pawakan cilik ramping. wipala : tanpa guna, remeh. wipata : luput, kliru, ala, tiba. wipati : cilaka. wipra : pandhita. wipula : akèh banget, amba, jembar. wira : wong lanang, jlentrehna artinya, kendel. wiradat : karep ; diwiradati : disranani. wiraga : solah bawa sing nengsemaké awit digawé-gawé. wirage : wiragya, sedhih, kesengsem, gandrung.

wiraha : pegat, pisah. wirahsa : wirasa, wiraos, surasa, teges, gunem, wetuning pangarsa. wiralalita : arané tembang gedhe. wirandungan : alon, mandheg tumuli. wirangrong : sedhih, marga kesengsem, arané tembang tengahan. wirasat : pirasat, titikaning wewaton kanthi ndeleng praen. wiratara : kendel banget. wirati : leren, ngaso, sesirih, pasa. wiring : tepis wiring, tapel wates, watesing negara; wiring galih : jago ulese abang sikile ireng; wiring kuning : jago sing sikile kuning.

wiroda : wirodya, wiruda, congkrah, nepsu banget; wiruda : bangga banjur oncat. wirong : mirong, sedhih, susah; mirong kampuhjingga : sumedya mbalela. wirota : nepsu banget, ambek siya banget; wirotama : wira utama, kendel banget.

wirun : panengah. wirya : kendel, kuwasa, mulya, luhur; wiryawan : kendel, kuwasa, mulya. wisada : usada, tamba, jamu. wisala : jembar, amba. wisama : pakewuh.

wisangsaya : tanpa jlentrehna artinya, tanpa kuwatir. wisapaha : panawaring wisa. wisarga : leren, mandheg, pungkasan. wisarja : nggusah, nundhung. wisika : biseka, jeneng, jejuluk. wisesa : kuwasa, luhur, wasesa mandharaning jejer tumrap ukara.

wiskira : bebek. wisma : omah; wismaya : gumun, ngungun. wismreti : kali. wisthi : pagawean, pakewuh, kangelan. witadesa : ninggal padunungan, alihan enggon. witama : bale sing dipajang-pajang. witaradya : alihan negara, kang pinunjul, kang linuwih; trahing witaradya : darah luhur, turuné wong pinunjul.

wiwaha : pikrama, dhaup, bawahan, ketemuning penganten; diwiwaha : didhaupake, ditemokake, dimulyakaké kanthi pista gedhe. wiwaksa : wiwaksita, gunem, iijar, clathu. wiwal : uwal, pisah, oncat; wiwal nalare : rada owah (edan); diwiwal : dipisah, dipegat; pamiwal : dhuwit kanggp srana njaluk pegat.

wiwandha : pepalang, alangan, pakewuh. wiwara : bolongan, lowang. wiwarjita : uwal, oncat, muksa. wiwarna : pucet. wiwaswan : srengenge. wiwuda : dewa. wlagang : walagang, gelis gedhe. wlagar : diwlagar, diobong ; wlagaran : ora nganggo lapak, tanpa sandhangan.

wlaha : mlaha, ora nganggo apa-apa. wlija : walija, bakul. wod : asale tembung ; woding ati : kang banget ditresnani. wodha : amodha, nuturi. wodhana : amodhana, nggugah, nenangi, ngaruh-aruhi. woh : pentil kang wis tuwa, pikoleh, pituwas ; udan woh : udan kaworan es ; nyawat abali wohé : mialani liyan lantaran sanak sedulure.

worsuh : carub jlentrehna artinya karuwan pepilahane. wot : pring utawa kayu dipalangaké sadhuwuring kalen kanggo liwat ; ngewot : mlaku ing wot.

wotsari : wotsantun, wotsukar, wotsinom, nyembah. wragang : wlayang, tuwak. wraha : celeng. wraksa : wreksa, kayu. wratsangka : wratsari, kembang cepaka.

wrayang : panah. wre : kethek. wreda : wredha, tuwa ; wredaya : ati. wredi : tulus, ndadi, mundhak-mundhak, teges, makna. wredu : alus, sareh, lemes. wregu : tetuwuhan bangsané penjalin. wrenda : gegolonganing wadya bala. wresaba : sapi. wresmi : pripean. wresthi : udan. wudel : underaning weteng ; ora duwe wudel : ora duwe nalar. wuduk : gajih ; sega wuduk : sega gurih. wudun : untar, jinise wudun brama, wudun semat ; wudunen : untaranen, nandhang lara wudun.

wudhu : ora ana sing nandhingi, sebel ora pepayon. wugu : wuku sing kaping 26. wuhaya : baya. wukir : gunung, arané wuku sing kaping telu. wuku : kleatheng isi kapas, glintiran, pringkilan, ros-rosing pring.

wulakan : pancuran, grojogan wulanjar : warandha nanging durung duwe anak. wiilangun : kangen banget, sedhih banget, kesengsem. wulinga : berag. wulu kalong : wul langseb, wuluning awak kng lambut lan lemes.

wulu puhun : ing jempol sikil. wulu setan : wulu sing manggoné nyleneh. wunglon : rambutan. wungsu : wuragil. wuru : mendem ; wong wuru dawa : wong seneng mendem ; wuru getih : ngamuk ora eling apa-apa. wuruk : tukang nglakokaké kreta, pedhet, piwulang, pitutur ; wuruk sudi gawé : agawe geger. wurukung : dina paringkelan kang kapitu. wusu : piranti kanggo jlentrehna artinya kapuk, wungkuk.

wuwul : toh, wudhu, uruman. way : away, aja. wyabicara : kliru, salah. wyagra : macan. wyala : ula, naga ; wyalapuspa : nagasari. wyanjana : aksara kang dudu aksara swara ; dhentawyanjana : unit-urutaning aksara jawa. wyustha : dina. Y yadi : yadin, yadyan, yen, sanadyan.

jlentrehna artinya

yadyapi : yadyastun, malah uga, senadyan mangkono. yaen : yagen, yahagen, ora nriman, wiyaen. yaksa : buta, danawa. yaksi : buta wadon. yama : paro, rakit, kembar, dewaning pati. yaniami : yumani, yomani, nraka. yana : kreta, tunggangan, dalan.

yani : kali. yapwan : yar, yen. yasadarma : bapa. yasa kambang : bale kambang. yasti : penthung. yata : yaiku, banjur, nuli. yatanyan : supaya. yatapin : senadyan. yatarta : mulane. yati : pendhita; yatindra : pendhita linuwih; yatiwara : pendhita luhur. yatma : yatmaka, sukma, nyawa, badan alus. yatna : pangati-ati, jlentrehna artinya, ngati-ati; yatna yuwana lena kena : sing sapa ngati-ati bakal slamet. yitma : yatma, sukma, badan alus.

yitna : yatna, weweka, pangati-ati, prayitna. yoga : anak, yuga, jaman, pantes, patut, prayoga, semedi; kang ayoga : bapa; yogabrata : yoga semedi, ngeningaké cipta. yogi : pendhita; yogiswara : pendhita linuwih. yogya : patut, pantes; yogyaswara : tembung wandané wekasan legna; yogyapara : sigeg (tumrap aksara).

yoni : sekti, linuwih. yuda : perang, peperangan; yuda kanaka : kukur-kukur; yuda negara : iguhing pangreh, tata trapsila; yudasmara : aliron sih. yuga : jaman, anak. yugala : somah, semah, bojo. yujana : yojana, ukuran pal-palan. yukti : pantes, patut. yumana : kreta raharja, slamet. yumani : yamani, naraka. yun : ayun, arsa, arep, karep; diyun : dibandul. yusya : jlentrehna artinya, umur. yuta : bingung, wudhar.

yutapa : senopati. yutun : tani yutun, wong taiii sing mungkul. yuwana : slamet, rahayu, tulus. yuwaraja : pangeran jlentrehna artinya.

yuwati : prawan. yuyu : kewan mawa thothok sikile sepuluh. CONTOH BAHASA NGOKO, KRAMA Jlentrehna artinya DAN KRAMA INGGIL Ngoko Krama Madya Krama Inggil Arti aba aba dhawuh perintah ngabani ngabani ndhawuhi memerintah abah-abah abah-abah kambil pelana abang abrit abrit merah abur abur abur terbang mabur mabur mabur terbang abot awrat awrat berat kabotan kawratan kawratan keberatan adang bethak bethak menanak nasi dangan bethakan bethakan takaran beras dang-dangan bethakan bethakan hasil nanaknasi adeg adeg jumeneng berdiri ngadeg ngadeg jumeneng berdiri adeg-adegan adeg-adegan jumenengan sambil berdiri adi-adi adi-adi adi-adi manja ngadi-gadi ngadi-gadi ngadi-gadi bermanja adoh tebih tebih jauh ngadoh nebih nebih menjauh kadohan ketebihen ketebihen terlalu jauh adol sade sade jual ngedol nyade nyade menjual adon aben aben sabungan adon abenan abenan sabungan adon-adon aben-aben aben-aben sabungan adu aben aben menyabung adu arep aben ajeng aben ajeng berhadapan adu-adu aben-aben aben-aben mengadukan ngedu ngaben ngaben menyabung padu paben paben tengkar mulut adus adus siram mandi padusan padusan pasiraman tempat mandi padusan padusan siraman mandi sbim puasa adhem asrep asrep dingin kadhemen kasrepen kasrepen kedinginan adhem panas asrep benter asrep benter demam adhep ajeng ajeng hadap madep majeng majeng menghadap adhep2-an ajeng-ajengan ajeng-ajengan berhadapan ngadep sowan marak menghadap adhi adhi rayi adik agama agami agami agama age-age enggal-enggal enggal-enggal cepat-cepat aja sampun sampun jangan aji aos aos nilai ngajeni ngaosi ngaosi menghargai pangaji pengaos pengaos bemilai aju ajeng ajeng maju maju majeng majeng maju ngajokake ngajengaken ngajengaken mengajukan ayake mbok menawi mbok menawi barangkali ayo mangga suwawi mari, silahkan akeh kathah kathah banyak kakehan kekathahen kekathahen terlalu banyak jlentrehna artinya kathah2-ipun kathah2-ipun banyak, umiunnya akon aken dhawuh suruh aksama aksama/i aksama/i ampun aku kula dalem saya ngaku ngaken ngaken mengaku ngakoni ngakeni ngakeni mengaku diaku dipunaken dipunaken diakui akon-akon aken-akenan aken-akenan dianggep ngaku-ngaku ngaken-aken ngaken-aken mengakui sebagai ala awon awon jelek piala piawon piawon kejelekan ala-ala awon-awon awon-awon meskipun jelek ngala-ala ngawon-awon ngawon-awon menjelek-jelekkan alang pambeng pambeng aral, halangan alangan pambengan pambengan halangan ngalang-alangi mambengi mambengi menghalangi alas wana wana hutan ali-ali sesupe sesupe dndn alih, elih pindah pindah pindah alis alis imba alis amarga amargi amargi karena amba, jembar wiyar wiyar luas ngambakake miyaraken miyaraken memperluas ambu ambet ambet bau ngambu ngambet ngambet mencium ambon2 ambet2-an ambet2-an bau-bauan ambung ambung aras dum ngambung ngambung ngaras mendum amit amit nuwun sewu minta maaf ampir ampir pinarak singgah ana wonten wonten ada nganakake ngawontenaken ngawontenaken mengadakan kahanan kawontenan kawontenan keadaan ana dene wondene wondene adapun anak anak, jlentrehna artinya putra anak manak gadhah lare babaran bersalin anak-anak anak-anak peputra beranak aandel pitados pitados percaya piandel kapitadosan kapitadosan kepercayaan ani-ard pugut pugut ani-ani ngeneni mugut mugut menuai anom enem enem muda antara antawis antawis antara anti antos antos tunggu nganti ngantos ngantos sampai nganti2 ngantos2 ngantos2 me-nunggu2 anut tumut dherek turut, ikut angger uger uger asalkan angon angen angen menggembala pangon pangen pangen penggembala ayang, enyang awis awis tawar nganyang ngawis ngawis menawar anyang2-an awis-awisan awis-awisan tawar-menawar anyar enggal enggal baru apa menapa punapa apa apal apal apal hapal apalan apalan apalan hapalan apik/bedk sae sae baik, bagus apura apunten apunten maaf ngapura ngapunten ngapunten memaafkan apura-ingapura apunten-ing-apunten apunten-ing-apunten saling memaafkan aran, jeneng nama asma nama aran wasta wasta nama (barang) ngarani mastani mastani menyebut arang awis awis jarang arang-arang awis-awis awis-awis jarang arep, doyan ajeng kersa mau, sudi arep ajeng ajeng hadap ngarep ngajeng ngajeng di depan ngarepan ngajengan ngajengan di bagian depan ari ari, adhi rayi adikari- ari v ari-ari tuntunan ari-ari asor awon andhap rendah kasoran kawon kandhapan kalah ngasor ngawon ngawon mengalah asu segawon segawon anjing ati manah penggalih had aten-aten memanahan penggalih pikiran ati-ati atos-atos atos-atos hati-hati ngati-ati ngatos-ngatos ngatos-ngatos berhati-hati awak badan salira badan, tubuh ngawaki ngawaki nyelirani melakukan sendiri awan siyang siyang siang kawanen kesiangan kesiangan kesiangan awan-awan siyang-siyang siyang-siyang meskipun siang ayo (su)mangga/sumawi (su)mangga/sumawi mari/silakan baé, wae kemawon kemawon hanya (saja) bacut lajeng lajeng lantas terlanjur kebacut kelajeng kelajeng terlanjur bayi/bayen nglairaken babaran melahirkan bakal badhe badhe akan bako sata sata tembakau baku baken.

baken pokok mbakoni mbakeni mbakeni menjadi pokok bali wangsul kondhur kembali bola-bali wongsal-wangsul wongsal-wangsul berkali2 kembali balung balung tosan tulang banda banda besta borgol bebandan bebandan bestan tawanan banjir bena bena banjir banjur lajeng lajeng kemudian kebanjur kelajeng kelajeng terlanjur banget sanget sanget sangat, amat kebangeten kesangeten kesangeten keterlaluan banget-banget sanget-sanget sanget-sanget terlalu bantal bantal kajang bantal bantalan bantalan kajangan bantalan banyu toya toya air bapa, bapak bapa, bapak rama ayah bareng sareng sareng bersama bebarengan sesarengan sesarengan bersama (datang) barep, mbarep pembajeng pembajeng sulung bata banon banon batu bata batin batos jlentrehna artinya batin, isi hati mbatin mbatos mbatos memikir kebatinan kebatosan kebatosan kebatinan batu, watu sela sela batu batur rencang abdi pembantu mbatur ngrencang ngabdi, suwita mengabdi mbaturi ngrencangi ngrencangi menemani bathik serat serat bathik mbafhik nyerat nyerat membathik bafhikan seratan seratan bathikan bathuk bathuk pelarapan dahi bebed bebed nyamping jarik (untuk pria) bebedan bebedan nyampingan memakai jarik bebek kembangan kembangan itik beda benten benten beda bedudan bedudan watangan pipa rokok bekti bekti bekti hormat ngabekti ngabekti ngabekti berbakti ben, kareben kajengipun kersanipun biar bengi dalu dalu malam kewengen kedalon kedalon kemalaman beras wos, uwos wos, uwos beras besuk/sesuk benjing benjing besok becik sae sae baik mbedki misaeni misaeni berbuat baik kebecikan kesaenan kesaenan kebaikan biyen rumiyin rumiyin dahulu mbiyene rumiyinipun rumiyinipun dahulunya bisa saged saged dapat bobot awrat wawrat berat bojo semah garwa suami-istri bokong bokong pocong pantat bolah benang benang benang boreh boreh konyoh bedak bocah lare lare anak brengos rawis gumbala kumis bubar bibar bibar selesai bubrak, rusak risak, bibrah risak, bibrah rusak budi manah penggalih budi, pikir budhal bidhal bidhal berangkat budahalan bidhalan bidhalan bubaran bungah bingah rena gembira bungah-bungah bingah-bingah bingah-bingah bergembira mbungahi mbingahi mbingahi gembira yang terlalu bupati bupati bupati bupati buri wingking wingking belakang buru bujeng bujeng kejar mburu mbujeng mbujeng mengejar beburu bebujeng mbebujeng berburu butuh betah betah butuh kebutuhan kabetahan kabetahan kebutuhan buwang bucal bucal buang cangkem lesan tutuk mulut cedhak,cerak celak celak dekat cekel cepeng asta pegang nyekel nyepeng ngasta memegang celathu wicanten ngendika bicara celeng andaan andaan babi hutan cendhek, andhap andhap pendek, rendah cengel cengel griwa tengkuk cilik alit alit kecil cilikan alitan alitan yang kecil cilikan aten alitan manah alitan manah mudah putus asa coba cobi cobi coba pacoban pacoban pacoban percobaan, cobaan cerita ceriyos dhusun cerita cukup cekap cekap cukup kecukupan kecekapan kecekapan kecukupan cukur cukur paras cukur cumbana cumbana saresmi sanggama dadah dadah ngginda memijit dadi dados dados jadi dumadi dumados dumados menjadi kedadeyan kedadosan kedadosan terjadi dagang gramen gramen dagang dalan margi margi jalan dandan dandos busana berhias ndandani ndandani mbusanani merias dawa panjang panjang panjang ndedawa memanjang memanjang memperpanjang deleh suka paring taruh, letak ndelehaken nyukakaken maringaken meletakkan deleng tinggal priksa lihat ndeleng ninggali mriksani melihat sapendeleng sapeningal sapeningal sepenglihatan derma derma derma amal Sadrema sadremi sadremi hanya karena desa dhusun dhusun desa padesan jlentrehna artinya pedhusunan pedesaan dhadha jlentrehna artinya jaja dada dhayo tamu tamu tamu dhek kala nalika, kala ketika dhemen remen remen senang, suka dhemenan remenan remenan kesenangan dhengkul dhengkul jengku lutut dhewe piyambak piyambak sendiri dheweke jlentrehna artinya panjenengampun dia dhisik rumiyin rumiyin dahulu dhuwit arta arta uang dhuwur inggil luhur luhur, tinggi di- dipun- dipun- di- dina dinten dipun- hari padinan padintenan padintenan harian dluwang diancang diancang kertas dodot dodot kampuh kain dokok dekek paring letak ndokokake ndekekaken maringaken meletakkan jlentrehna artinya purun kersa mau dol, adol sade sade jual dol tinuku sade tinumbas sade tinumbas jual beli dolan jlentrehna artinya ameng-ameng main-main dolanan dolanan ameng-amengan bermain-main dom jarum jarum jarum dudu sanes sanes bukan duga dugi dugi duga kaduga kedugi kedugi kira-kira mampu dulur dherek dherek saudara sedulur sedherek sentana saudara paseduluran pasedherekan pasedherekan persaudaraan durung dereng dereng belum sadurunge saderengipun saderengipun sebelumnya edan ewah ewah gila kedanan kedanan kesengsem tergila-gila eling emut, enget emut, enget ingat, sadar kelingan kemutan kengetan teringat ngeling-eling ngemut-emut ngemut-emut mengingat-ingat ngelingi ngemuti, ngengeti ngemuti, gengeti mengingat elmu elmi elmi ilmu elu, melu tumut dherek ikut eluh eluh waspa airmata emas jene jene emas embah simbah eyang kakek embuh kilap, mboten mangertos duka tidak tahu embun-embun embun-embun sundulan ubun-ubun embok embok ibu ibu enak eca eca enak kepenak sekaca sekaca enak perasaan kepenak sekeca dhangan sembuh dari sakit endem, mendem endem, mendem wuru mabuk endi pundi pundi mana endas sirah mustaka kepala endheg kendel kendel henti mandheg kendel kendel berhenti jlentrehna artinya ngendelaken ngendelaken menghentikan endhog tigan tigan telur ngendhog nigan nigan bertelur eneng, meneng mendel mendel diam ngenengake ngendelaken ngendelaken membiarkan ener leres leres arah ngener ngleres ngleres menuju ke pener leres leres tepat engo, anggo engge agem pakai jlentrehna artinya kangge kagem untuk nganggo ngangge ngagem memakai enggon enggen enggen tempat manggon manggen lenggah tinggal ngenggoni ngenggeni nglenggahi menempati panggonan panggenan panggenan tempat enom enem enem muda enom-enoman enem-eneman enem-eneman masa muda entek telas telas habis kentekan ketelesan ketelesan kehabisan epek pendhet pundhut ambil ngepek mendhet mundhut mengambil ngepekake mendhetaken mundhutaken mengambilkan enya mangga mangga silakan ambil gadhe gantos gantos ganti nggadhe nggantos nggantos mengganti gaman dedamel dedamel alat gamelan gangsa gangsa gamelan gampang gampil gampil mudah nggampangake nggampilaken nggampilaken meremehkan ganti gantos gantos ganti ngganti nggantos nggantos mengganti gati gatos gatos penting wigati wigatos wigatos penting kawigaten kawigatosan kawigatosan perhatian gawa bekta ambil bawa nggawa mbekta ngambil membawa gawan bektan ampilan bawaan gawe damel ngasta bekerja gedhang pisang pisang pisang gedhe ageng ageng besar penggedhe pengageng pengageng pembesar geger geger pengkeran punggung gelang gelang binggel gelang gelem purun kersa mau geleman purunan purunan penurut gelung gelung ukel gelung geneya kenging menapa kenging menapa mengapa genep jangkep jangkep lengkap nggenepi njangkepi njangkepi melengkapi geni latu grama api genti gentos gentos gilir, ganti gentenan gentosan gentosan bergilir gering kera susut kurus gering jlentrehna artinya gerah sakit getih rah, erah rah, erah darah githok githok griwa tengkuk godhong ron ron daun gegodhongan ron-ronan ron-ronan dedaunan goiek pados pados cari golek-goiek pados-pados pados-pados mencari-cari golekan padosan padosan yang dicari nggoleki madosi madosi mencari goroh dora dora bohong gugah gigah wungu bangun gugat gigat gigat adu gugu gega ngestokaken’ taat gula gendhis gendhis gula gulu gulu jangga leher guna gina gina guna nggunakake ngginakake ngginakake menggunakan gunem ginem ngendika bicara guneman gineman ngendikan berbicara gunung redi redi gunung pegnnnngan pareden pareden pegunungan guyu gujeng gujeng tawa gumuyu gumujeng gumujeng tertawa guyon gegujengan gegujengan berkelakar nggeguyu gegujeng gegujeng mentertawakan idu idu kecoh ludah ijo ijem ijem hijau ijoan ijeman ijeman undangan lisan ngijo ngijem ngijem belt secara ijon ijol lintu lintu tukar ika menika menika itu iket udheng dhestar ikat kepala (jawa) iki menika menika ini iku menika menika itu ilang ical ical hilang kelangan kecalan kecalan kehilangan ilo, pengilon ilo, pengilon paningalan cermin imbu imbet imbet peram jlentrehna artinya imbetan imbetan peraman imbuh imbet tanduk tambah makan inep sipeng sipeng inap nginep nyipeng nyare bermalam inten sola sela intan ingu ingah ingah piara ingon-ingon jlentrehna artinya ingah-ingahan temak piaraan ngingu ngingah ngingah memelihara ireng cemeng cemeng hitam iring, ngiring iring, ngiring ndherek mengiring irung irung grana hidung isih taksih taksih masih isin lingsem lingsem malu ngisin-isinake nglelingsemaken.

nglelingsemaken memalukan ngism-isim nglelingsemi nglelingsemi memalukan ising, ngising bebucal bobotan buang hajat iso, asor andhap andhap bawah ngisor ngandhap ngandhap di bawah iwak ulam ulam ikan, daging jaba jawi jawi luar kejaba kejawi kejawi kecuali njaba njawi njawi diluar jaga J’agi reksa jaga jago sawung sawung jago, calon njagokake jlentrehna artinya nyawungaken mencalonkan jagong jagong lenggah duduk jagongan jagongan lenggahan duduk-duduk jalu jalu, panja jalu, panja taji jaluk tedha pundhut,suwun pinta njaluk nedha mundhut, nyuwun minta jam jam/ pukul jam, pukul jam jamu jampi loloh, usada jamu jejamu jejampi loloh berobat njamoni njampeni nglolohi mengobati janggut janggut kethekan dagu jaran kapal turangga, kuda kuda jare, ujare cariyosipun cariyosipun katanya jarit, jarik sinjang nyamping kain panjang jaritan sinjangan nyampingan pakai kain panjang jarwa jarwi jarwi ard njarwakake njarwekaken njarwekaken menjelaskan jati jatos jatos jati, inti kayu jati kajeng jatos kajengjatos’ kayu jati sejati sejatos sejatos sejati jawa jawi jawi jawa njawani njaweni njaweni seperti jawa jeneng nama asma nama jenggot jenggot gumbala janggut jero lebet lebet dalam menjero mlebet mlebet masuk.

njerokake nglebetaken nglebetaken memperdalam jeruk jeram jeram jeruk joged joged beksa tari jogedan jogedan beksan tarian njoged njoged mbeksa menari jungkat serat jlentrehna artinya sisir jungkatan seratan pethatan bersisir njungkati nyerati methati menyisir jupuk pendhet pundhut ambil njupuk mendhet mundhut mengambil njupuki mendheti mundhuti ngambil ber-kali2 njejupuk memendhet memendhet mencuri kabeh sedaya sedaya semua kacek kaot kaot beda kinacek kinaot kinaot istimewa kaji, ngaji ngaos ngaos mengaji pengajian pengaosan pengaosan pengajian munggah kaji minggah kaji minggah kaji naik haji kakang kakang kangmas, raka kakak, abang kalah kawon kasoran kalah ngalah ngawon ngawon mengalah kali lepen lepen sungai kalung kalung sangsangan kalung kambil klapa klapa kelapa kamituwa kami sepuh kami sepuh pimpinan desa kana rika rika sana kanca rencang rencang teman kandha criyos ngendika, matur berkata kapan benjing, menapa, benjing, menapa kapan kapan kala menapa kala menapa kapan karep kajeng kersa kehendak karepe kajengipun kersanipun biarlah kekarepan kekajengan kekajengan kehendak kari kantun kantun tertinggal kari-kari kantun-kantun kantun-kantun temyata karo kaliyan kaliyan dengan karo-karone kalih-kalihipun kalih-kalihipun keduanya karuwan kantenan kantenan tentu, pasti ora karuwan mboten kantenan mboten kantenar tidak tentu kathok sruwal lancingan celana kathokan sruwalan lancingan bercelana ke- (ka-) kaping kaping ke… kebo maesa maesa kerbau kelar, kuwat kuwawi kuwawi kuat keluron keluron terag keguguran kembang sekar sekar kembang, bunga kembangan sekaran sekaran hiasan kekembangan sesekaran sesekaran bunga-bungaan kembang telon sekar tigan sekar tigan bunga tiga warna kemenyan sela sela kemenyan kemu kemu kembeng, gurah kumur kekemon kekemon kekembeng berkumur kemul kemul singeb selimut kemulan kemulan singeban berselimut kena kenging kenging boleh kena pikantuk kepareng boleh jlentrehna artinya ngengingi ngengingi mengenai kene riki riki sini mengkene makaten makaten begitu kepriye kados pundi kados pundi bagaimana kepung kepang kepang dikelilingi kepungan kepangan kepangan kenduri kerep asring, sering asring, sering sering keris duwung wangkingan keris kesusu kesesa kesesa tergesa-gesa ketara ketawis, ketingal ketawis, ketmgal kentara ngetara ngetawis, ngetingal ngetawis, ngetingal menampakkan diri ngetarani ngetawisi ngetawisi menunjukkan tanda ketok ketmgal ketingal kelihatan ketok-ketoken tetingalen tetingalen terbayang kijing kijing sekaran nisan kiyi menika menika ini kinang ganten ganten sirih kira kinten kinten kira kira-kira kinten-kinten kinten-kinten kira-kira ngira nginten nginten mengira kiriin kintun kintun kirim ngirim ngintun ngintun mengirim klambi rasukan rasukan baju klasa gelaran gelaran, tikar tikar kleru klintu klintu keliru klumpuk klempak klempak kumpul klumpukan klempakan klempakan kumpulan nglumpuk nglempak nglempak berkumpul kok (ko-) sampeyan panjenengan kau- kon,kongkon ken,kengken dhawuh, utus suruh kongkonan kengkenan utusan suruhan kono riku riku situ kono sampeyan panjenengan kamu kowe sampeyan panjenengan kamu, anda kramas kramas jamas mandi jamas krasa kraos kraos terasa krasan kraos kraos kerasan, betah kringet kringet riwe keringat kubur petak sare kubur kuburan kuburan pasareyan kuburan ngubur metak nyarekaken mengubur kudu kedah kedah harus kelair kawedal kawiyos terlahir kelairan wedalan wiyosan kelahiran lair batin lair batos lair batos lahir batin laki semah garwa suami laku lampah tindak jalan, laku lakon lampahan, cariyos lampahan, cariyos cerita kelakon kelampahan kelampahan terlaksana miaku-mlaku mlampah2 tindak-tindak jalan-jalan nglakoni nglampahi nindakaken menjalankan miaku miampah tindak berjalan laH supe supe lupa kelalen kesupen kelimput terlupa lalen supenan supenan pelupa lambe lambe lathi bibir lanang jaler kakung pria, lelaki lanangan jaleran jaleran jantan lara sakit gerah sakit kelara-lara kesakit-sakit kesakit-sakit sakit hati kelaran kesakitan kesakitan kesakitan lelara sesakit sesakit penyakit nglarani nyakiti nyakiti menyakiti larang awis awis mahal nglarangake ngawisaken ngawisaken jual lebih mahal nglarangi ngawisi ngawisi berani bli mahal lawang konten, kori konten, kori pintu lawas lami lami lama lawasan lamen lamen bekas, dah lama lawe selangkung selangkung dua puluh lima lebu lebet lebet dalam kelebu kelebet kelebet termasuk kelebon kelebetan kelebetan kemasukan lebon lebetan lebetan pemasukan mlebu mlebet mlebet masuk lek, melek lek, melek wungu terjaga lek-lekan lek-lekan wungon berjaga lemah siti siti tanah palemahan pasiten pasiten bidang tanah lemari lemantun lemantun almari lembut lembat lembat lembut, halus lelembut lelembat lelembat roh halus lemu lema lema gemuk, subur nglelernu nglelema nglelema mempergemuk leren kendel kendel istirahat nglereni ngendeli ngendeli mengistirahatkan lima gangsal gangsal lima liman gangsalan gangsalan limaan liru lintu lintu tukar, ganti liwat langkung miyos lewat keliwat kelangkung kelangkung kelewat lor ler ler utara lor-loran ler-leran ler-leran sebelah utara ngalor ngaler ngaler ke utara loro kalih kalih dua karo-karone kalih-kalihipun kalih-kalihipun kedua-duanya sakloron kekalih kekalih berdua luku lujeng lujeng bajak mluku mlujeng mlujeng membajak lulang cucal cucal kulit walulang wacucal wacucal kulit lumrah limrah limrah biasa kalumrahan kalimrahan kalimrahan kebiasaan, jlentrehna artinya lunga kesah tindak pergi lungan kesahan tindakan bepergian lungguh lenggah linggih duduk kalungguhan kalenggahan kalinggihan kedudukan luput lepat lepat salah kaluputan kalepatan kalepatan kesalahan luwih langkung langkung lebih keluwihan kelangkungan kelangkungan kelebihan linuwih linangkung linangkung luar biasa, hebat madu maben maben madu maling pandung pandung pencuri kemalingan kepandungan kepandungan kecurian mamah mamah nggilut jlentrehna artinya mana menten menten (se) kian semana semanten semanten sekian mandheg kendel kendel berhenti maneh malih malih lagi, tambah manuk peksi peksi burung mangkana makaten makaten demikian, begitu mangkene makaten makaten demikian, -begini mari mantun dhangan sembuh marekake mantunaken ndhanganaken menyembuhkan mareni mantuni mantuni berhenti dari mata mripat paningal mata mati pejah, tilar seda, gugur mati kepaten kepejahan kesedan kehilangan km mati mateni mejahi nyedani membunuh mau wau wau tadi mawa mawi mawi dengan mawa-mawa mawi-mawi mawi-mawi tergantung mayit jisim layon jenazah melu tumut ndherek turut melu-melu tumut-tumut tumut-tumut ikut-ikutan menang mimpang mimpang menang menawa menawi menawi jika, kalau menjangan jlentrehna artinya sangsam rusa mengko mangke mangke nanti mcntas nembe nembe baru menyang dateng dateng ke… merga margi margi karena meteng wawrat, ngandeg mbobot hamil minggat kesah lolos melarikan diri mono manten manten demikian semono semanten semanten sekian mor, amor kempal kempal kumpul mori monten monten kafan mot wrat wrat muat kamot kawrat kawrat memuat muga-muga mugi-mugi mugi-mugi mudah-mudahan mula mila mila maka mundhak mindhak mindhak tambah mung namung, naming namung, naming hanya mungguh menggah menggah mengenai mungsuh mengsah mengsah musuh, lawan mungsuhan mengsahan mengsahan bermusuhan murah mirah mirah murah kemurahan kemirahan kemirahan kemurahan murahan mirahan mirahan murahan murah2-an mirah2-an mirah2-an serba murah muring muring duka marah muring-muring muring-niuring duka-duka marah-marah mutah mutah luntak muntah mutawatir mutawatos mutawatos bahaya mutawatiri mutawatosi mutawatosi berbahaya mutawatirake mutawatosaken mutawatosaken membahayakan muwah miwah miwah danjuga nagara nagari nagari negara, kota nesu jlentrehna artinya duka marah nesoni nyrengeni ndukani memarahi ngelak ngelak salit haus ngelu ngelu puyeng pusing ngenger ngenger ngabdi mengabdi ngerti ngertos priksa tahu pangerten pangertosan pangertosan -pengertian kangerien kangertosan kangertosan ketahuan nom, enom nem, enem timur muda nuli lajeng lajeng lalu, cepat tumuli tumunten tumunten segera obah ebah ebah bergerak obong besmi, besem basmi/ besem bakar kobong kabesmi, kabesem kabesmi, kabesem terbakar kobongan kabesmen kabesmen kebakaran oleh angsal angsal dapat oleh angsal kepareng boleh oleh-oleh angsal-angsal angsal-angsal oleh-oleh omah griya dalem rumah omah-omah emah-emah krama kawin, nikah pomahan pekawisan pekawisan pekarangan somah semah garwa suami, istri ombe ombe unjuk minum omben-omben omben-omben unjukan minuman ngombe ngombe ngunjuk minum omong, catur ginem ngendika bicara omong-omong gineman ngendikan bercakap-cakap opah epah epah upah opahan epahan epahan bayaran ngopahi ngepahi ngepahi mengupah ompong ompong dhaut ompong era mboten mboten tidak ora-orane mboten2-ipun mboten2-ipun tidak mungkin rupak ripak jlentrehna artinya sempit rusak risak risak rusak rusuh resah resah rusuh ngrusuhi ngresahi ngresahi mengganggu sabuk sabuk paningset sabuk saguh sagah sagah Sanggup saiki sakmenika sakmenika sekarang saji saji caos melayani sajen sajen caosan sajian saka saking saking dari salah lepat lepat salah salin gantos, santun santun gand pakaian nyalird nggantosi nggantosi mengganti salin-salin gantos-gantos gantos-gantos berganti-ganti sambung sambet sambet sambung sesambungan sesambetan sesambetan berhubungan samubarang samukawis samukawis segala sesuatu sangga sanggi sanggi sangga/ angkat sapa sinten sinten siapa sapi lembu lembu sapi sarwa sarwi sarwi serba sasi wulan wulan bulan sasen-sasen wewulanan wewulanan berbulan-bulan sawah sabin sabin sawah pesawahan pesabinan pesabinan persawahan se-/ sa- satunggal satunggal satu sebar dhawah dhawah sebar benih padi nyebar ndhawahaken ndhawahaken menyebar benih sebut sebat sebat mengatakan, sebut nyebut nyebat nyebat menyebutkan sebutan sebatan sebatan nama sedhela sekedhap sekedhap sebentar sedheng cekap cekap cukup sedhengan cekapan cekapan cukupan sega sekul sekul nasi sumega sumekul sumekul baru senang makan segara seganten seganten laut seje sanes sanes lain seje-seje sanes-sanes sanes-sanes lain-lain seka, saka saking saking dari jlentrehna artinya selangkung selangkung dua puluh lirria semana samanten semanten ^ sekian itu semaya semados semados menangguhkan sembelih pragat pragat menyembelih semono semanten semanten sebesar itu sendhok sendhok lantaran sendok seneng remen remen, tresna senang, cinta nyenengake ngremenaken ngremenaken menyenangkan nyenengi ngremeni nresnani mencintai separo sepalih sepalih separo maro malih malih membagi dua nyeparo nyepalih nyepalih masing2 separo sepi sepen sepen sunyi, sepi nyepi nyepen nyepen menyendiri sepi ing pamrih Sepen ing pamrih sepi ing jlentrehna artinya tanpa pamrih seprana seprika seprika sejak dahulu seprene sepriki sepriki sampai sekarang seru sora sora keras (suara) sesuk benjang benjing besok sesuk-esuk benjang-enjang benjing-enjing besok pagi setali setangsul setangsul 25 sen sethifhik sekedhik sekedhik sedikit si pun pun si (kata sandang) sida siyos estu jadi siji setunggal setunggal satu sikil suku sampeyan kaki sikut sikut siku siku silih sambut pundhut, ambil pinjam silihan sambutan ampilan pinjaman nyilih jlentrehna artinya ngampil meminjam sing ingkang ingkang yang slamet wilujeng sugeng selamat slametan wilujengan sugengan selamatan sok asring asring kadang-kadang sok uga sokugi sok ugi mungkin sore sonten sonten sore sore-sore sonten-sonten sonten-sonten pada sore hari sranta srantos srantos sabar sranti srantos srantos tunggu srengen srengen duka marah nyrengerd nyrengeni ndukani memarahi srengenge srengenge surya matahari sugnh segah sugata jamuan suguhan segahan pasugatan jamuan nyuguh nyegah nyugata menjamu suket rumput rumput rumput sumurup sumerep priksa tahu sunat sunat tetes khitan supaya supados supados supaya surasa suraos suraos arti suruh sedhah sedhah sirih nyuruhi nyedahi nyedahi mengundang surup serap scrap petang surup srengenge serap surya serap surya matahari terbenam kesurupan keserapan keserapan sampai petang susah sisah sekel susah susah ati sisahmanah sekel penggalir isusahhati susu susu pembayun, susu nusu nesep .nesep menyusu suson sesepan sesepan masih menyusu susur susur penasar sugi susuran susuran penasaran bersugi suwara suwantenan suwantenan suara nyuwara nyuwanteni nyuwanteni menegur suwarga suwargi suwargi surga, almarhum suwe dangu dangu lama suwe-suwe dangu-dangu dangu-dangu lama-kelamaan suwening-suwe dangu2-ning dangu2-ning lama-kelamaan kesuwen kedangon jlentrehna artinya / terlalu lama nyuweni ndedangu ndedangu membuat lama suweng jlentrehna artinya sengkang subang tai tinja tinja tahi, tinja tak- dak- kula- dalem/ kawula saya takon taken nyuwun priksa jlentrehna artinya tali tangsul tangsul tali tamba jampi usada obat tampa tampi tampi terima tandur tanem tanem tanam tangan tangan asta tangan nangani nangani ngasta mengerjakan tanda tangan tanda tangan tapak asma tanda tangan tangga tanggi tanggi tetangga tanggateparo tangga tepalih tangga tepalih para tetangga tanggung tanggel tanggel tanggung ketanggungan ketanggelan ketanggelan kurang banyak, nanggung nanggel nanggel menanggung tangi tangi wungu bangun tangis tangis muwun menangis tapel tapel raketan tapal tapih tapih sinjang kain wanita tari taros taros tanya, tawar nari naros naros nawarkan tau nate nate pemah tawa tawi tawi tawar tebu rosan rosan tebu teka dhateng rawuh datang katekan kedhatengan karawuhan kedatangan tekan dumugi dumugi tiba/ sampai katekan kadumugen kadumugen kesampaian teken teken lantaran tongkat telu tiga tiga tiga tembaga tembagi tembagi tembaga tembang sekar sekar lagu, nyanyian nembang nyekar nyekar menyanyi temen, tenan estu, yektos estu, yektos sungguh temenan saestu, sayektos saestu, sayektos sungguh, benar temu panggih panggih temu ketemu kepanggih kepanggih berternu tepung tepang tepang kenal tetepungan tetepangan tetepangan berkenalan terus lajeng lajeng terus tetak supit supit supit tiba dhawah dhawah jatuh tilik tuwi tinjo, sowan, seba berkunjung tinggal tilar tilar tinggal tonton tingal priksa lihat tontonan tetingalan tetingalan pertunjukan katon ketingal ketingal terlihat tuduh tedah paring priksa, memberitahukan tuku tumbas mundhut membeli tulis serat serat tulis tulisan seratan seratan tulisan tuma tuma itik kutu rambut tumbak waos watangan tombak tuna tuni tuni rugi tunggal tunggil tunggil satu, tunggal setunggal setunggil .setunggil satu tunggang tumpak titih naik jlentrehna artinya tumpakan titihan kendaraan tunggu tengga tengga tunggu turu tilem sare tidur turon tileman sareyan berbaring-baring turun turun tedhak turun tutu gentang gentang tumbuk padi nutu nggentang nggentang menumbuk padi tutur sanjang, criyos paring priksa/ berkata tuwa sepuh yuswa tua nuwani nyepuhi nyepuhi bersikap tua tetuwa sesepuh sesepuh sesepuh, tetua udakara udakawis udakawis kira-kira udan jawah jawah hujan udan-udan jawah-jawah jawah-jawah hujan-hujan kodanan kejawahan kejawahan kehujanan udhar udhar lukar kendor, tanggal udhun andhap andhap turun mudhun mandhap mandhap turun uga ugi ugi juga ujar, nadar, kaul ujar, nadar, kaul punagi janji, sumpah ngujari, ngauli ngujari, ngauli munageni berjanji untuk ula sawer sawer ular ulat ulat pasuryan raut muka ulem ulem atur undangan ngulemi ngulemi ngaturi mengundang ulih antuk kondur pulang mulih mantuk kondur pulang umbel umbel gadhing ingus umur urnur yuswa umur, usia wis umur wis umur sampun yuswa dewasa undang timbal atur panggil ngundang nimbali ngaturi memanggil undhak indhak indhak tambah undhakan indhakan indhakan tambahan imggah inggah mggah naik munggah minggah minggah naik unggah2-an inggah2-an inggah2-an tanjakan ungkur pengker pengker belakang mungkur mengker mengker membelakang uni ungel ungel bunyi, suara muni mungel mungel bersuara unen-unen ungel-ungelan ungel-ungelan ungkapan untu waos waja gigi upakara upakawis upakawis pelihara ngupakara ngupakawis ngupakawis memelihara upama upami upami umpama, misal urip gesang sugeng hidup ngurip-urip nggegesang nggegesang memelihara panguripan panggesangan jlentrehna artinya penghidupan utama utami utami utama utang sambut pundhut, ampil pinjam ngutang nyambut ngampil meminjam utawa utawi utawi atau uyah sarem jlentrehna artinya garam uyuh toyan toyan kendng nguyuh tetoyan tetoyan kendng waca waos waos baca maca maos maos membaca macakake maosaken maosaken membacakan waosan waosan waosan bacaan wadi wados wados rahasia wadon, wedok estri putri, wanita putri, perempuan wahing wahing sigra bersih wani wantun wantun berani kumawani kumawantun kumawantun terlalu berani wanti-wanti wantos-wantos wantos-wantos nasehat keras waras, saras saras dhangan sembuh wareg tuwuk tuwuk kenyang warisan tilaran pusaka warisan warung wande wande kedai, warung marung mande mande berkedai waspada waspaos waspaos waspada watara watawis watawis antara, kira-kira watu sela sela batu watuk watuk cekoh batuk matuki matuki nyekohi bikin batuk wedang benteran unjukan minuman wedel celep celep cat kain medel nyelep nyelep mewamai kain wedi ajrih ajrih takut memedi memedos memedos hantu wedhus menda menda kambing weh, weweh suka paring, caos beri menehi nyukani maringi, nyaosi memberi wektu wekdal wekdal waktu wengi dalu dalu malam wema, wama werni wemi wama werta, warta wertos, wartos wertos, wartos berita, kabar weruh sumerep priksa, wuninga tahu, melihat kawruh seserepan seserepan pengetahuan meruhi nyemerepi ngawuningani mengetahui wesi tosan tosan best wesi aji tosan aji tosan aji pusaka weteng padharan padharan perut meteng.

wawrat, mbobot ngarbini hamil wetu wedal wiyos keluar metu medal miyos keluar weton wedalan wiyosan hari kelahiran wicara wicanten ngendika bicara wilang wical wical hitung milang mical mical menghitung wilangan wicalan wicalan bilangan, hitungan wis sampun sampun sudah wong tiyang priyantun orang wrangka sarungan sarungan sarung keris wudel wudel nabi pusar wudun wudun untar bisul wudunen wudunen untaren sakit bisul wulang wucal wucal mengajar wulangan wucalan wucalan pelajaran wuluh welah welah buluh, bambu wuning sande sande batal, gagal murungake nyandekaken nyandekaken membatalkan wuwuh wewali wewah tambah muwuhi mewahi mewahi menambahkan wuwuhan wewahan wewahan tambahan ya, iya inggih inggih ya yaiku inggih punika inggih punika yaitu yekti yektos yektos betui sayekti sayektos sayektos sebetulnya Cari untuk: Tulisan Terakhir • 2014 in review • The Beauty of a Woman BlogFest III: #GirlBoner Edition • Abhava (non eksistensi) • Kamus Jawa Sederhana • LUBDHAKA Si Pemburu yang Insyaf (Cerita Hindu) Arsip • Desember 2014 • April 2014 • Januari 2013 • April 2012 • Maret 2012 Kategori • kamus • kamus jawa • Uncategorized Meta • Daftar • Masuk • Feed entri • Feed Komentar • WordPress.comPengertian Basa Rinengga Basa rinengga yaiku basa kang dipaes, direngga, utawa didandani ben dadi basa sing endah lan nresepake ati.

Basa Rinega biasane digawe ana ing acara pedhalangan, pranata cara (sambutan temanten, pengetan taun anyar lsp). Utawa basa rinengga yaiku karangan kang kalebu susastra rinacik mawa basa kang endah. Endahing karangan kasawung sarana isi kang narik kawigaten lan nyenengake, sarta basa kang edi peni. Edi penining basa warna-warna, lan katon manawa diucapake. Racikaning basa kang edi peni karana rinengga-rengga lan warna-warna rerengganing basa.

Kajaba marga endahing basa, karangan katon endah marga becik pangrakite, laras pangrumpakane. Iku katon ing prakara runtut lan mathis panataning tembung lan ukarane. Endahing karangan marga cocog jlentrehna artinya tembung. Upamane, bab anggone migunakake tembung camborandasanamaning tembung.

Luwih-luwih bab pamilihing tembung lan kridhaning swara ing sajroning ukara. Kadhang kala endahing karangan utawa rumpakan karana mathis pamilihing busananing basa. Upamane, bab pangraciking swara lan pangrakiting tembung.

Ing istilah Jawa ana kang ingaran purwakanthi. Istilah purwakanthi cupet banget pangertene, yaiku padha karo kang sinebut ing istilah Indonesia sajak utawa rima. Baca Juga : Serat Tripama Dhandanggula Tujuan Basa Rinengga Kang dadi ancas (tujuan) digunakake basa rinengga yaiku kangge nambahi kaendahaning ukara (pepaes). Jenise Basa Rinengga 1.Tembung Saroja Tembung kang rinakit seka rong tembung kang (meh) padha tegese kang dienggo bebarengan lan bisa nuwuhake makna kang luwih teges.

Tuladha : • Wayang iku minangka budaya kang adi jlentrehna artinya. • Supaya Koperasi Sekolah maju, para pengurus kudu nggunakake akal budi. • Sumarno nduweni rasa tresna asih marang sumarni. 2. Tembung Entar Jenise basa rinengga selanjute yaiku tembung entar. Tembung entar yaiku tembung kang tegesé ora kaya makna saluguné (kata kiasan).Utawa tembung kang ora kena ditegesi sawantahe baé sinebut uga ing basa Indonesia tembang silihan (kiasan).

Tuladha: • Para warga pada wedi amarga ana wong lara owah. • Sanajan rupane ayu, akeh sing ora seneng amarga tipis lambene (ceriwis). • Cah nakal kui pancen dowo tangane (nyolongan). 3. Wangsalan Wangsalan yaiku unen-unen cangkriman nanging dibatang (dibedhek) dhewe. Ukarané ora persis nanging mèmper wae.

Wangsalan ana kang awujud ukara selarik, bisa uga awujud tembang. Tuladha: • Nyaron bumbung, nganti cengklungen nggonku ngenteni. (saron bumbung=angklung) • Njanur gunung, kadingaren sliramu teka. (janur gunung=aren). • Sarung jagung, abot entheng ayo ditanggung (klobot) • Pindang lulang, kacek apa aku karo kuwe (Pindhang lulang = Krecek) 4.

Paribasan Pribasan yaiku unen-unen kang wis gumathok racikane lan mawa teges tartemtu. Dhapukaning paribasan awujud ukara utawa kumpulaning tembung (frase), lan kalebu basa pinathok. Racikaning tembung ora owah, surasa utawa tegese uga gumathok, lumrahe ateges entar.

Paribasan ngemu teges: tetandhingan, pepindhan, utawa pepiridan (saemper pasemon). Tuladha: • Becik ketitik ala ketara = sing becik bakal tinemu, sing ala bakale ketara.

• Cebol nggayuh lintang = wong duwe panggayuh kang mokal kecandhake. • Setembung sing duweni teges sedhakep ngawe-awe tegese = wis mareni marang tumindak ala nanging ing batin isih kepingin nindakake maneh. 5. Bebasan Bebasan yaiku unen-unen kang ajeg pangang-gone, jlentrehna artinya teges entar, ngemu surasa pepindhan.

Kang dipindhakake kaanan utawa sesipatane wong/barang. Tuladha: • Kocak tandha lukak tegese : wong kang sugih omong pratandha durung akeh kawruhe. • Sedhakep ngawe-awe tegese : wis mareni marang tumindak ala nanging ing bathin isih kepingin nindakake maneh.

• Ngubak-ngubak banyu bening tegese : gawe kerusuhan ing papan jlentrehna artinya tentrem. • Emban cindhe emban siladan: ora adil/ pilih kasih • Ancik-ancik pucuking eri: uripe tansah kuwatir 6. Saloka Saloka yaiku unen-unen kang ajeg panganggone mawa teges entar, ngemu surasa pepindhan.

Nanging kang dipindhakake wonge Tuladha: • Gajah ngidak rapah tegese : wong kang nglanggar wewalere dhewe. • Sumur lumaku tinimba tegese : wong kang kumudu-kudu dijaluki warah. • Lahan karoban manis tegese : wong bagus/ayu rupane tur becik bebudhene. 7. Purwakanthi Purwakanthi yaiku tembung mawa wirama kang kadhapuk kanthi ngambali peranganing swara utawa aksarane Purwakanthi kang runtut basane jenenge purwakanthi basa, dene yen ing sastra sinebut purwakanthi sastra.

Tuladha : • Kudu jujur yen kowe kepingin makmur. • Ana dina ana upa, ana awan ana pangan • Kala kula kelas kalih, kalung kula kolang-kaling keli ing kalen kilen kula • Pak Kreta, nunggang kreta mudhun kreteg Kertasana. • Watake putri kudu gemi, nastiti, lan ngati-ati. • Sing sapa salah bakale seleh. • Angele sok ginawe dhewe. 8. Parikan Parikan yaiku unen – unen kang jlentrehna artinya saka rong ukara. Ukara sepisanan kanggo narik kawigaten, lan ukara kapindho minangka isi.

Parikan iku kaya pantun nanging mung rong larik, parikan migunakake purwakanthi guru swara. Paugeran utawa pathokane parikan Cacahing wanda kapisan, kudu padha karo ukara kapindho. Ukara sing ngarep kanggo bebuka dene ukara sabanjure minangka isi, wos. Tibaning ukara kang kapisan kudu padha karo ukara sing kapindho. Parikan bisa dumadi saka rong gatra utawa patang gatra. Tuladha: • Pitik blorok, manak siji.

Jare kapok, malah ndadi • Wajik klithik, gula Jawa. Luwih becik, sing prasaja. • Nyangking ember, kiwa tengen.

Lungguh jejer, tamba kangen. • Plesir sore, dina ahad. Naksir kowe, kakehan ragat. • Plesir sore, dina minggu. Naksir kowe ora kewetu. • Bisa nggender, ora bisa ndemung. Bisa jejer, ora bisa nembung. • Bayeme, wis kuning – kuning. Ayeme, yen wis nyandhing. • Klapa sawit, wite dhuwur wohe alit. Isih murid aja seneng keceh dhuwit. • Gawe cao nangka sabrang, kurang sirup luwih banyu.

Aja awatak gumampang, den sengkud nggregut sinau • Kece, ora enak. Melu kowe ora kepenak • Ngetan, bali ngulon. Tuwas edan, ora klakon. 9. Pepindhan Pepindhan yaiku unen-unen jlentrehna artinya ora ngemu surasa kang sejatine.

Lumrahe pepindhan nganggo tembung: kaya, lir, pindha, kadya lan liya-liyane kang ngemu karep kaya. Pepindhan asring dipigunakake ing pacelathon padinan, panyandra jroning adicara penganten, pagelaran wayang utawa jroning babagan sastra. Tuladhane: • Ayune kaya dewi Ratih • Dedege ngringin sungsang • Kulite kuning nemu giring pindha mas sinangling • Luruhe pindha Dewi Sembadra • Abang kumpul padha abang kaya alas kobong • Dawane barisan anglur selur pindha sela brakithi • Ijo kumpul padha ijo kaya bethet sayuta • Soca bang angatirah • Jaja bang mawinga-winga sinabet merang sagedheng bel mubal dahana.

• Akehe lelara kaya kena pageblug • Bedane kaya bumi karo langit • Begjane kaya nemu cempaka sawakul • Begjane kaya nemu emas sakebo • Cumlorot kaya lintang alihan Itulah pembahasan materi tentang Basa Rinengga dari Synaoo.com. Semoga materi yang dibagikan dapat bermanfaat bagi teman-teman.
MENU • Home • SMP • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Kewarganegaraan • IPS • IPA • Penjas • SMA • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Akuntansi • Matematika jlentrehna artinya Kewarganegaraan • IPA • Fisika • Biologi • Kimia • IPS • Sejarah • Geografi • Ekonomi • Sosiologi • Penjas • SMK • Penjas • S1 • Agama • IMK • Pengantar Teknologi Informasi • Uji Kualitas Perangkat Lunak • Sistem Operasi • E-Bisnis • Database • Pancasila • Kewarganegaraan • Akuntansi • Bahasa Indonesia • S2 • Umum • About Me Berbeda dengan mite, legenda di tokohi oleh manusia ada kalanya memupunyai sifat-sifat luar biasa dan sering kali juga dihubungkan dengan makhluk ajaib.

Peristiwa bersifat sekuler (keduniawian) dan sering dipandang sebagai sejarah kolektif. Oleh karena itu legenda sering kali dipandang sebagai “ sejarah ” kolektif (folkstory). Walaupun demikian, karena tidak tertulis maka kisah tersebut telah mengalami distorsi sehingga seringkali jauh berbeda dengan kisah aslinya.

Oleh karena itu, jika legenda hendak dipergunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah maka legenda harus bersih dari unsur-unsur yang mengandung sifat-sifat folklor. Liat Juga : Pengertian Cerita Rakyat Beserta Ciri, Jenis Dan Contohnya Pengertian Legenda Menurut Para Ahli 1. Menurut Danandaja “2002” Legenda bersifat sekuler “keduniawian” terjadinya pada masa yang belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang.

Legenda sering dipandang tidak hanya merupakan cerita belaka namun juga dipandang sebagai “sejarah” kolektif namun hal itu juga sering menjadi perdebatan mengingat cerita tersebut karena kelisannya telah mengalami distorsi. Maka, apabila legenda akan dijadikan bahan sejarah harus dibersihkan dulu dari unsur-unsur folklornya. 2. Menurut Moeis Menyatakan legenda juga bukan semata-mata cerita hiburan, namun lebih dari itu dituturkan untuk mendidik manusia serta membekali mereka terhadap ancaman bahaya yang ada dalam lingkungan kebudayaan.

Legenda ialah cerita rakyat yang persediaannya paling banyak, hal ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya karena legenda biasanya bersifat migratoris yakni dapat berpindah-pindah yang sehingga dikenal luas di daerah yang berlainan. 3. Menurut Alan Dundes Jumlah legenda di setiap kebudayaan jauh lebih banyak dari pada mite dan dongeng. Hal ini disebabkan jika mite hanya memiliki jumlah tipe dasar yang terbatas, seperti penciptaan dunia dan asal mula terjadinya kematian, namun legenda memiliki jumlah tipe dasar yang tidak terbatas, terutama legenda setempat yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan legenda yang dapat mengembara dari satu daerah ke daerah lain ” migratory legends”.

Begitu juga bila dibandingkan dengan dongeng, dongeng-dongeng yang berkembang sekarang ini kebanyakan versi dari dongeng yang telah ada bukan merupakan dongeng yang baru, sedangkan legenda dapat tercipta yang baru. 4. Menurut Yus Rusyana “2000” Menurutnya mengemukakan beberapa ciri legenda yaitu: • Legenda merupakan cerita tradisional karena cerita tersebut sudah dimiliki masyarakat sejak dahulu. • Ceritanya biasa dihubungkan dengan peristiwa dan benda yang berasal dari masa lalu, seperti peristiwa penyebaran agama dan benda-benda peninggalan seperti mesjid, kuburan dan lain-lain.

• Para pelaku dalam legenda dibayangkan sebagai pelaku yang betul-betul pernah hidup pada masyarakat lalu, mereka itu merupakan orang yang terkemuka, dianggap sebagai pelaku sejarah juga dianggap pernah melakukan perbuatan yang berguna bagi masyarakat. • Hubungan tiap peristiwa dalam legenda menunjukan hubungan yang logis. • Latar cerita terdiri dari latar tempat dan latar waktu, latar tempat biasanya ada yang disebut secara jelas dan ada juga yang tidak, sedangkan latar waktu jlentrehna artinya merupakan waktu yang teralami dalam sejarah.

• Pelaku dan perbuatan yang dibayangkan benar-benar terjadi menjadikan legenda seolah-olah terjadi dalam ruang dan waktu yang seungguhnya. Sejalan dengan hal itu anggapan masyarakat pun menjadi seperti itu dan melahirkan perilaku dan perbuatan yang benar-benar menghormati keberadaan pelaku dan perbuatan dalam legenda.

Liat Juga : Artikel Tentang Fabel Legenda merupakan cerita rakyat yang memiliki ciri-ciri yaitu sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi, pada masa yang belum begitu lampau dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang, bersifat migration yakni dapat berpindah-pindah, sehingga dikenal luas di daerah-daerah yang berbeda dan tersebar dalam bentuk pengelompokan yang disebut siklus yaitu sekolompok cerita yang berkisar pada suatu tokoh atau kejadian tertentu misalnya di Jawa legenda-legenda mengenai Roro Jongrang.

Selanjutnya berbicara mengenai legenda tentunya kita tidak akan lepas dari pembicaraan mengenai penggolongan legenda, selama ini telah ada atau mungkin banyak ahli yang menggolongkan legenda, namun sampai kini belum ada kesatuan pendapat mengenai hal itu.

Ciri-Ciri Legenda Legenda merupakan cerita rakyat yang memiliki ciri-ciri yaitu sebagai berikut : • Oleh yang empunya cerita dianggap sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi.

• Bersifat sekuler ( keduniawian ) terjadinya pada masa yang belum begitu lampau dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang. Tokoh utama dalam legenda adalah manusia. • Sejarah, kolektif maksudnya sejarah yang banyak mengalami distorsi karena seringkali dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya.

• Bersifat migration yakni dapat berpindah-pindah sehingga dikenal luas didaerah-daerah yang berbeda. • Bersifat siklus yaitu sekelompok cerita yang berkisar pada suatu tokoh atau kejadian tertentu misalnya di Jawa legenda-legenda mengenai panji.

Struktur Legenda Berikut ini terdapat beberapa struktur dari legenda, antara lain sebagai berikut: • Orientasi, adalah bagian awal dari sebuah cerita fabel. Orientasi berisi pengenalan dari cerita fabel, seperti pengenalan background, pengenalan tokoh, maupun latar tempat dan waktu.

• Komplikasi, merupan klimaks dari cerita, berisi puncak permasalahan yang dialami tokoh. • Resolusi, berisi pemecahan masalah yang dialami tokoh. • Koda, merupakan bagian akhir dari cerita. Biasanya berisi pesan dan amanat yang ada pada cerita fabel tersebut.

Unsur-Unsur Legenda Berikut ini terdapat beberapa unsur-unsur dari legenda, antara lain sebagai berikut: • Tema, gagasan dasar yang menopang sebuah kara sastra dan yang terkandung di dalam teks. • Tokoh, para pelaku yang terdapat dalam sebuah cerita fiksi. Tokoh dalam cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca.

• Alur atau plot, peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak berifat sederhana. Peristiwa-peristiwa tersebut tersusun karena adanya sebab-akibat di dalam cerita. • Latar, latar merupaka landas tumpu terjadinya sebuah peristiwa di dalam sebuah cerita. Latar terbagi menjadi tiga, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar suasana. • Sudut pandang,sudut pandang merupakan posisi atau cara penulis dalam menyampaikan peristiwa-peristiwa yang terdapat di dalam cerita. • Amanat, pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca.

Jenis-Jenis Legenda Legenda ini terbagi menjadi empat jenis yaitu : 1. Legenda Keagamaan Legenda yang ceritanya berkaitan dengan kehidupan keagamaan disebut dengan legenda keagamaan. Legenda ini misalnya legenda tentang orang-orang tertentu. Kelompok tertentu misalnya cerita tentang para penyebar Islam di Jawa. Kelompk orang-orang ini di Jawa. Kelompok orang-orang ini di Jawa dikenal dengan sebutan jlentrehna artinya, mereka ialah manusia biasa, tokoh yang memang benar-benar ada, akan tetapi dalam uraian ceritanya ditampilkan sebagai figure-figur yang memiliki kesaktian.

Kesaktian yang mereka miliki digambarkan di luar batas-batas manusia biasa. Sebutan wali songo ada yang menafsirkan bukan berarti Sembilan dalam arti jumlah, tetapi angka Sembilan itu sebagai angka sakral. Penafsiran ini didasarkan pada kenyataan adanya para tokoh penyebar Islam yang lainya. Liat Juga : 14 Pengertian Dongeng Menurut Para Ahli Terlengkap Mereka berada ditempat-tempat tertentu masyarakat setempat biasanya memandang tokoh tersebut kedudukannya sama atau derajat dengan tokoh wali yang Sembilan orang.

Tokoh-tokoh tersebut seperti Syekh Abdul Muhyi, Syekh Siti Jenar, Sunan Geseng, Ki Pandan Arang, Pangeran Panggung dan lain-lain. 2. Legenda Alam Gaib Legenda alam gaib yang merupakan legenda yang berbentuk kisah yang dianggap benar-benar terjadi dan pernah dialami seseorang.

Fungsi legenda semacam ini ialah untuk meneguhkan kebenaran “ takhyul ” atau kepercayaan rakyat. Jadi legenda alam gaib ialah cerita-cerita pengalaman seorang dengan makhluk-makhluk gaib, hantu-hantu, siluman, gejala-gejala gaib dan sebagainya. Seperti didaerah Jawa Barat ada legenda tentang mandor Kebun Raya Bogor yang hilang lenyap begitu saja sewaktu bertugas di Kebun Raya.

Menurut kepercayaan penduduk setempat hal itu disebabkan ia telah melangkahi setumpuk batu bata yang merupakan bekas pintu gerbang Kerajaan Penjajaran. Pintu gerbang itu, menurut kepercayaan penduduk setempat terletak di salah satu tempat di kebun raya. Tepatnya jlentrehna artinya ada yang mengetahui.

Oleh karenanya penduduk disana menasihati pada pengujung Kebun Raya agar jangan melangkahi tempat antara tumpukan-tumpukan batu bata tua, karena ada kemungkinan bahwa di sanalah bekas pintu gerbang kerjaan zaman dahulu itu. Jika kita melanggarnya, maka kita akan masuk ke daerah gaib dan tidak dapat pulang lagi ke dunia nyata. Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya. 3. Legenda Perorangan Legenda perorangan merupakan cerita mengenai tokoh-tokoh tertentu yang dianggap benar-benar terjadi.

Di Indonesia legenda semacam ini banyak sekali misalnya Sabai nan Aluih jlentrehna artinya Si Pahit Lidah dari Sumtra, Si Pitung dan Nyai Dasima dari Jakarta, Lutung Kasarung dari Jawa Barat, Rara Mendut dan Jaka Tingkir dari Jawa Tengah, Suramenggolo dari Jawa Timur serta Jayaprana dan Layonsari dari Bali.

4. Legenda Lokal ( Setempat ) Legenda lokal ialah legenda yang berhubungan dengan nama tempat terjadinya gunung, bukit, danau dan sebagainya. Misalnya, legenda terjadinya Danau Toba di Sumatra, Sangkuriang (Legenda Gunung Tangkuban Perahu) di Jawa Barat, Rara Jonggrang di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Ajisaka di Jawa Tengah dan Desa Trunyan di Bali.

Contoh Legenda Legenda Tangkuban Perahu (Sangkuriang) Di Jawa Barat Pada zaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat yang bernama Dayang Sumbi, ia memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya.

Pada suatu hari tumang tidak mau mengikuti perintahnya untuk mengejar jlentrehna artinya, maka anjing tersebut diusirnya ke dalam hutan, ketika kembali ke istana.

Sangkuriang menceritakan kejadian itu pada ibunya. Bukan main marahnya Dayang Sumbi begitu mendengar cerita itu. Tanpa sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan sebuah sendok nasi yang dipegangnya. Sangkuriang terluka ia sangat kecewa dan pergi mengembara. Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali dirinya. Ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa. Pada suatu ketika pada dewa memberinya sebuah hadiah, ia akan selamanya muda dan memiliki kecantikan abadi. Setelah bertahun-tahun mengembara, Sangkuriang akhirnya berniat untuk kembali ke tanah airnya.

Sesampainya disana, kerajaan itu sudah berubah total. Disana dijumpainya seorang gadis jelita yang tak lain adalah Dayang Sumbi. Terpesona oleh kecantikan wanita tersebut maka. Sangkuriang melamarnya oleh karena pemuda itu sangat tampan Dayang Sumbi pun sangat terpesona padanya. Liat Juga : Pengertian Cerita Fantasi Serta Jenis Dan Contohnya Lengkap Pada suatu hari Sangkuriang minta pamit untuk berburu ia minta tolong Dayang Sumbi untuk merapikan ikat kepalanya.

Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi ketika melihat bekas di kepala calon suaminya. Luka itu persis seperti luka anaknya yang telah pergi merantau.

Setelah lama jlentrehna artinya, ternyata wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat ketakutan, maka kemudian ia mencari daya upaya untuk menggagalkan proses peminangan itu. Ia mengajukan dua buah syarat. • Pertama ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. • Kedua ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing. Malam itu Sangkuriang melakukan tapa, dengan kesaktiannya ia mengerahkan makhluk-makhluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu.

Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota.

ketika menyaksikan warna memerah di timur kota Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan pekerjaannya, ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi.

Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Maka terjadilah banjir besar melanda seluruh kota, ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya, sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama “ Tangkuban Perahu ”.

Kisah mbah Jlentrehna artinya Dahulu kala ada sepasang suami Istribeliau bekerja sebagai petani disekitar bukit sitanjung. Pagi itu sepasang suami istri tersebut sedang beraktifitas seperti biasanya, hingga kemudian sang istri menemukan sebuah telur misterius di sekitar sawah mereka. Lalu sang istri bertanya kepada suaminya ,telur apa ini. Itu seperti telur biawak mungkin. Telur itu pun dibawa pulang, lalu sang istri memasak terlur tersebut. Ketika waktu istirahat siangsang istri membawakan masakan untuk suaminya, mereka menyantap makanan itu, dan sang istri memakan telur yang ia temukan tadi, dan tiba tiba ia merasa aneh, sang suami pun terkejut dan tidak memakan telur itu.

Kemudian bertanya kepada istrinya,apa yang terjadi. Pusing dan aneh jawabnya. Tiba tiba kulit sang istri berubah menjadi bersisik seperti ular, dan sekujur tubuhnya pun sudah terbalut sisik ular tidak lama kemudian. Sang suami pun kebingungan melihat apa yang terjadi, dan semenjak saat itu sang istri yang berubah menjadi ular disebut sebagai mbah gringsing, dan menjadi suatu pantangan bagi yang berkunjung ke Bukit Sitanjung menggunakan kain / Selendang bermotif Gringsing.

Dan menjadi mitos sampai sekarang ini yang dituturkan oleh warga setempat. Liat Juga : 7 Pengertian Prosa Jlentrehna artinya Menurut Para Ahli Kisah Cungkir Emas Cacaban Menurut warga sekitar Awal mula sebelum waduk cacaban didirikanPresiden Soekarno mendapat wangsit untuk membangun waduk di Kabupaten Tegal, dan dipilihlah lokasi yang sekarang menjadi Waduk Cacaban.

Berhubung tempat yang akan dibangun waduk masih berbentuk pedusunan yang menurut cerita ada 9 desa yang direlokasikan demi terwujudnya rencana pembangunan waduk didaerah itu, Salah satu desa tersebut jlentrehna artinya desa Rayan, yang sekarang berlokasi di dekat kecamatan Pagerbarang Kab. Tegal…. Dan pembangunan pertama kali di resmikan Oleh Bapak Presiden Soekarno, dan peletakan batu pertama menggunakan Cungkir Emas, konon Cungkir Emas tersebut masih terdapat di dalam air di waduk tersebut namun informasi benar atau tidaknya masih simpang siur.

Misteri Gugusan Delta (pulau kecil) Waduk Cacaban Dibalik keindahan pemandangan alam dan banyaknya ikan yang hidup di waduk Jlentrehna artinya menyimpan beberapa misteri dan cerita cerita dari para pemancing ataupun para pemilik kapal motor sewaan disekitar waduk. Ada banyak gugusan pulau kecilkebanyakan para pemancing ikan singgah dari gugusan satu ke gugusan yang lain, ada yang bernamagugusan rayan, randu telu, kandangwinong, sentong kyaidsb.

Menurut salah satu sumber yaitu seorang pemancing pernah melihat seekor ular yang besarnya seperti pohon kelapa, si pemancing tersebut hanya diam dan berusaha untuk tidak menggangunya,san karena memang digugusan pulau itu terdapat banyak jenis ularnamun hanya beberapa saja yang nampak dan biasanya memang tidak mengganggu. Ada juga penampakan sosok misterius yang sampai saat ini masih tanda tanya, karena foto tersebut milik teman saya sendiri dan sempat membuat heboh teman teman pemancing hingga sampai dirumah.

Bayangan hitam tertangkap jlentrehna artinya handphone tepat dibelakang teman saya seperti sedang berjalan. Percaya atau tidak foto itu memang nyata dan itu bukan rekayasa karena ada beberapa saksi yang memang melihat kejadian itu.

Tapi tidak perlu takut akan hal itu, hanya saja jangan gegabah dan bertindak yang tidak baik disekitar Obyek wisata itu, itu pesan dari petani jagung yang menanami tanaman disalah satu gugusan pulau di Waduk cacaban Goa Lawa Yang Penuh Misteri Satu lagi wilayah diKabupaten tegal yang menyimpan misterinya yang beredar di masyarakat sekitar, kali ini misteri tersebut berada diKecamatan Balapulang Kabupaten tegal.

Terdapat sebuah bukit kecil yang membentang di dua desa yaitu Desa Harjawinangun dan desa Batuagung Kecamatan Balapulang. Ditengah tengah bukit tersebut terdapat sebuah Goa yang disebut warga sekitar dengan nama Goa Lawa. Keberadaan goa tersebut memang sudah lama dan tidak banyak diketahui oleh masyrakat diluar kecamatan Balapulang. Disekitar tahun 1991 sampai tahun 2000 masih banyak warga sekitar yang mendaki dan mengunjungi goa lawa tersebut, namun munculnya berbagai misteri hingga ditemukannya sesosok mayat hasil jlentrehna artinya didekat lokasi tersebut menjadikan tempat itu semakin sepi dikunjungi.

Dibalik keindahan alam yang menarik untuk dikunjungi Memang lokasi tersebut menyimpan berbagai misteri didalamnya menurut penuturan warga sekitar.

Mitos Batu Keramat Didekat goa tersebut terdapat sebuah batu besar yang dianggap keramat oleh warga sekitar, mitos yang dituturkan oleh penduduk sekitar adalah jika ada orang yang berani menduduki batu tersebut maka tubuhnya akan berubah menjadi seperti kera. Konon batu tersebut dihuni oleh siluman penjaga goa lawa, dan akhirnya sesepuh desa tersebut memberi peringatan berupa tulisan dan batas agar tidak menduduki batu tersebut. Kisah Timun Emas Mbok Sirni namanya, ia seorang janda yang menginginkan seorang anak agar dapat membantunya bekerja.

Suatu hari ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang anak dengan syarat apabila anak itu berusia enam tahun harus diserahkan ke raksasa itu jlentrehna artinya disantap. Mbok Sirnipun setuju. Raksasa memberinya jlentrehna artinya mentimun agar ditanam dan dirawat. Setelah dua minggu diantara buah ketimun yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan berkilau seperti emas. Kemudian Mbok Sirni membelah buah itu dengan hati-hati.

Ternyata isinya seorang bayi cantik yang diberi nama Timun Emas. Semakin hari Timun Emas tumbuh menjadi gadis jelita. Suatu hari datanglah raksasa untuk menagih janji.

Mbok Sirni amat takut kehilangan Timun Emas, dia mengulur janji agar raksasa datang 2 tahun lagi, karena semakin dewasa, semakin jlentrehna artinya untuk disantap, raksasa jlentrehna artinya setuju. Mbok Sirnipun semakin sayang pada Timun Emas, setiap kali ia teringat akan janjinya hatinyapun menjadi cemas dan sedih. Suatu malam Mbok Sirni bermimpi, agar anaknya selamat ia harus menemui petapa di Gunung Gundul. Paginya ia langsung pergi. Di Gunung Gundul ia bertemu seorang petapa yang memberinya 4 buah bungkusan kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam, dan terasi sebagai penangkal.

Sesampainya di rumah diberikannya 4 bungkusan tadi kepada Timun Emas, dan disuruhnya Timun Emas berdoa. Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. Timun Emaspun disuruh keluar lewat pintu belakang oleh Mbok Sirni. Raksasapun mengejarnya. Timun Emaspun teringat akan bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya.

Raksasapun memakannya. Tapi buah timun itu malah menambah tenaga raksasa. Lalu Timun Emas menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlah pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam.

Dengan kaki yang berdarah-darah raksasa terus mengejar. Timun Emaspun membuka bingkisan garam dan ditaburkannya. Seketika hutanpun menjadi lautan luas. Dengan kesakitan raksasa dapat melewatinya. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, akhirnya raksasapun mati. “Terimakasih Tuhan, Engkau telah melindungi hambamu ini” Timun Emas mengucap syukur.

Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan damai. Liat Juga : “Teks Cerita Sejarah” Pengertian & ( Struktur – Ciri – Kaidah Kebahasaan – Jenis – Contoh ) Karang Bolong Beberapa abad yang lalu tersebutlah Kesultanan Kartasura.

Kesultanan sedang dilanda kesedihan yang mendalam karena permaisuri tercinta sedang sakit keras. Pangeran sudah berkali-kali memanggil tabib untuk mengobati sang permaisuri, tapi tak satupun yang dapat mengobati penyakitnya. Sehingga hari demi hari, tubuh sang permaisuri menjadi kurus kering seperti tulang terbalutkan kulit. Kecemasan melanda rakyat kesultanan Kartasura. Roda pemerintahan menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Hamba sarankan agar Tuanku mencari tempat yang sepi untuk memohon kepada Sang Maha Agung agar mendapat petunjuk guna kesembuhan permaisuri,” kata penasehat istana. Tidak berapa lama, Pangeran Kartasura melaksanakan tapanya. Godaan-godaan yang dialaminya dapat dilaluinya. Hingga pada suatu malam terdengar suara gaib. “Hentikanlah semedimu. Ambillah bunga karang di Pantai Selatan, dengan bunga karang itulah, permaisuri akan sembuh.” Kemudian, Pangeran Kartasura segera pulang ke istana dan menanyakan hal suara gaib tersebut pada penasehatnya.

“Pantai selatan itu sangat luas. Namun hamba yakin tempat yang dimaksud suara gaib itu adalah wilayah Karang Bolong, di sana banyak terdapat gua karang yang di dalamnya tumbuh bunga karang,” kata penasehat istana dengan yakin.

Keesokannya, Pangeran Kartasura menugaskan Adipati Surti untuk mengambil bunga karang tersebut. Adipati Surti memilih dua orang pengiring setianya yang bernama Sanglar dan Sanglur. Setelah beberapa hari berjalan, akhirnya mereka tiba di karang bolong. Di jlentrehna artinya terdapat sebuah gua.

Adipati Surti segera melakukan tapanya di dalam gua tersebut. Setelah beberapa hari, Adipati Surti mendengar suara seseorang. “Hentikan semedimu. Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi harus kau penuhi dahulu persyaratanku.” Adipati Surti membuka matanya, dan melihat seorang gadis cantik seperti Dewi dari kahyangan di hadapannya.

Sang gadis cantik tersebut bernama Suryawati. Ia adalah abdi Nyi Loro Kidul yang menguasai Laut Selatan. Syarat yang diajukan Suryawati, Adipati harus bersedia menetap di Pantai Selatan bersama Suryawati. Setelah lama berpikir, Adipati Surti menyanggupi syarat Suryawati. Tak lama setelah itu, Suryawati mengulurkan tangannya, mengajak Adipati Surti untuk menunjukkan tempat bunga karang.

Ketika menerima uluran tangan Suryawati, Adipati Surti merasa raga halusnya saja yang terbang mengikuti Suryawati, sedang raga kasarnya tetap pada posisinya bersemedi. “Itulah bunga karang yang dapat menyembuhkan Permaisuri,” kata Suryawati seraya menunjuk pada sarang burung walet.

Jika diolah, akan menjadi ramuan yang luar biasa khasiatnya. Adipati Surti segera mengambil sarang burung jlentrehna artinya cukup banyak.

Setelah itu, ia kembali ke tempat bersemedi. Raga halusnya kembali masuk ke raga kasarnya. Setelah jlentrehna artinya bunga karang, Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya kembali ke Kartasura. Pangeran Kartasura sangat gembira atas keberhasilan Adipati Surti. “Cepat buatkan ramuan obatnya,” perintah Pangeran Kartasura pada pada abdinya. Ternyata, setelah beberapa hari meminum ramuan sarang burung walet, Permaisuri menjadi sehat dan segar seperti sedia kala.

Suasana Kesultanan Kartasura menjadi ceria kembali. Di tengah kegembiraan tersebut, Adipati Surti teringat janjinya pada Suryawati. Ia tidak mau mengingkari janji. Ia pun mohon diri pada Pangeran Kartasura dengan alasan untuk menjaga dan jlentrehna artinya karang bolong yang di dalamnya banyak sarang burung walet. Kepergian Adipati Surti diiringi isak tangis para abdi istana, karena Adipati Surti adalah seorang yang baik dan rendah hati.

Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya untuk pergi bersamanya. Setelah berpikir beberapa saat, Sanglar dan Sanglur memutuskan untuk ikut bersama Adipati Surti. Setibanya di Karang Bolong, mereka membuat sebuah rumah sederhana. Setelah selesai, Adipati Surti bersemedi. Tidak berapa lama, ia memisahkan raga halus dari raga kasarnya. “Aku kembali untuk memenuhi janjiku,” kata Adipati Surti, setelah melihat Suryawati berada di hadapannya.

Jlentrehna artinya, Adipati Surti dan Suryawati melangsungkan pernikahan mereka. Mereka hidup bahagia di Karang Bolong. Di sana mereka mendapatkan penghasilan yang tinggi dari hasil sarang burung walet yang semakin hari semakin banyak dicari orang.

Hikayat Bunga Kemuning Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh jlentrehna artinya puteri yang jlentrehna artinya. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana. Tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya, karena itu ia tidak mampu untuk mendidik anakanaknya.

Istri sang raja sudah meninggal dunia ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Puteri-puteri Raja menjadi manja dan nakal.

Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Pertengkaran sering terjadi diantara mereka. Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. Puteri Sulung bernama Puteri Jambon. Adik-adiknya dinamai Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Kelabu, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona dan Puteri Kuning, Baju yang mereka pun berwarna sama dengan nama mereka.

Dengan begitu, sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh. Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, Ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka bebergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya. Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya.

“Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?” tanya raja. “Aku ingin perhiasan yang mahal,” kata Puteri Jambon. “Aku mau kain sutra yang berkilaukilau,” kata Puteri Jingga. 9 anak raja meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka.

Tetapi lain halnya dengan Puteri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu memegang lengan ayahnya. “Ayah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat,” katanya. Kakakkakaknya tertawa dan mencemoohkannya. “Anakku, sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu,” kata sang raja. Tak lama kemudian, raja pun pergi. Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas.

Mereka sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka. Karena sibuk menuruti permintaan para puteri yang rewel itu, pelayan tak sempat membersihkan taman istana. Puteri Kuning sangat sedih melihatnya karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. Tanpa ragu, Puteri Kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu.

Daun-daun kering dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan pohon dipangkasnya hingga rapi. Semula inang pengasuh melarangnya, namun Puteri Kuning tetap berkeras mengerjakannya.

Kakak-kakak Puteri Kuning yang melihat jlentrehna artinya menyapu, tertawa keras-keras. “Lihat tampaknya kita punya pelayan baru,”kata seorang diantaranya. “Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Jlentrehna artinya istana yang jlentrehna artinya rapi, kembali acakacakan.

Puteri Kuning diam saja dan menyapu sampahsampah jlentrehna artinya. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang sampai Puteri Kuning kelelahan. Dalam hati ia bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya. “Kalian ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian. Bisanya hanya mengganggu saja!” Kata Puteri Kuning dengan marah. “Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!” ajak Puteri Nila. Mereka meninggalkan Puteri Kuning seorang diri.

Begitulah yang terjadi setiap hari, sampai ayah mereka pulang. Ketika sang raja tiba di istana, kesembilan puteri nya masih bermain di danau, sementara Puteri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana.

Mengetahui hal itu, raja menjadi sangat sedih. “Anakku yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!” kata sang raja. Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya.

“Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning,” kata Puteri Kuning dengan lemah lembut. “Yang penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah,” ucapnya lagi. Ketika Puteri Kuning sedang membuat teh, kakak-kakaknya berdatangan.

Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya. Tak ada yang ingat pada Puteri Kuning, apalagi menanyakan hadiahnya. Keesokan hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. “Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!” katanya dengan perasaan iri. Ayah memberikannya padaku, bukan kepadamu,” sahut Puteri Kuning. Mendengarnya, Puteri Hijau menjadi marah. Ia segera mencari saudara-saudaranya dan menghasut mereka.

“Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus mengajarnya berbuat baik!” kata Puteri Hijau. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu.

Tak lama kemudian, Puteri Kuning muncul. Kakak-kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya. Tak disangka, pukulan tersebut menyebabkan Puteri Kuning meninggal. “Astaga! Kita harus menguburnya!” seru Puteri Jlentrehna artinya. Mereka beramai-ramai mengusung Puteri Kuning, lalu menguburnya di taman istana. Puteri Hijau ikut mengubur kalung batu hijau, karena ia tak menginginkannya lagi.

Sewaktu raja mencari Puteri Kuning, tak ada yang tahu kemana puteri itu pergi. Kakak-kakaknya pun diam seribu bahasa. Raja sangat marah. “Hai para pengawal! Cari dan temukanlah Puteri Kuning!” teriaknya. Tentu saja tak ada yang bisa menemukannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil mencarinya.

Raja sangat sedih. “Aku ini ayah yang buruk,” katanya.” Biarlah anak-anakku kukirim ke tempat jauh untuk belajar dan mengasah budi pekerti!” Maka ia pun mengirimkan puteriputerinya untuk bersekolah jlentrehna artinya negeri yang jauh.

Raja sendiri sering termenung-menung di taman istana, sedih memikirkan Puteri Kuning yang hilang tak berbekas. Suatu hari, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Sang raja heran melihatnya. “Tanaman apakah ini? Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi!

Tanaman ini mengingatkanku pada Puteri Kuning. Baiklah, kuberi nama ia Kemuning.!” kata raja dengan senang. Sejak itulah bunga kemuning mendapatkan namanya. Bahkan, bunga- bunga kemuning bisa digunakan untuk mengharumkan rambut. Batangnya dipakai untuk membuat kotak-kotak yang indah, sedangkan kulit kayunya dibuat orang menjadi bedak.

Setelah mati pun, Puteri Kuning masih memberikan kebaikan. Sungai Jodoh Pada suatu masa di pedalaman pulau Batam, ada sebuah desa yang didiami seorang gadis yatim piatu bernama Mah Bongsu. Ia menjadi pembantu rumah tangga dari seorang majikan bernama Mak Piah.

Mak Piah mempunyai seorang putri bernama Siti Mayang. Pada suatu hari, Mah Bongsu mencuci jlentrehna artinya majikannya di sebuah sungai. Ular! teriak Jlentrehna artinya Bongsu ketakutan ketika melihat seekor ulat mendekat. Ternyata ular itu tidak ganas, ia berenang jlentrehna artinya sana ke mari sambil menunjukkan luka di punggungnya. Mah Bongsu memberanikan diri mengambil ular yang kesakitan jlentrehna artinya dan membawanya pulang ke rumah. Mah Bongsu merawat ular tersebut hingga sembuh.

Tubuh ular tersebut menjadi sehat dan bertambah besar. Kulit luarnya mengelupas sedikit demi sedikit. Mah Bongsu memungut kulit ular yang terkelupas itu, kemudian dibakarnya. Ajaib, setiap Mah Bongsu membakar kulit ular, timbul asap besar. Jika asap mengarah ke Negeri Singapura, maka tiba-tiba terdapat tumpukan emas berlian dan uang.

Jika asapnya mengarah ke negeri Jepang, mengalirlah berbagai alat elektronik buatan Jepang. Dan bila asapnya mengarah ke kota Bandar Lampung, datang berkodi-kodi kain tapis Lampung. Dalam tempo dua, tiga bulan, Mah Bongsu menjadi kaya raya jauh melebihi Mak Piah Majikannya.

Kekayaan Mah Bongsu membuat orang bertanya-tanya. Pasti Mah Bongsu memelihara tuyul, kata Mak Piah. Pak Buntal pun menggarisbawahi pernyataan istrinya itu. Bukan memelihara tuyul! Tetapi ia telah mencuri hartaku!

Banyak orang menjadi penasaran dan berusaha menyelidiki asal usul harta Mah Bongsu. Untuk menyelidiki asal usul harta Mah Bongsu ternyata tidak mudah. Beberapa dari orang dusun yang penasaran telah menyelidiki berhari-hari namun tidak dapat menemukan rahasianya.

jlentrehna artinya

Yang penting sekarang ini, jlentrehna artinya tidak dirugikan, kata Mak Ungkai kepada tetangganya. Bahkan Mak Ungkai dan para tetangganya mengucapkan terima kasih kepada Mah Bongsu, sebab Mah Bongsu selalu memberi bantuan mencukupi kehidupan mereka sehari-hari.

Selain mereka, Mah Bongsu juga jlentrehna artinya para anak yatim piatu, orang yang sakit dan orang lain yang memang membutuhkan bantuan. Mah Bongsu seorang yang dermawati, sebut mereka. Mak Piah dan Siti Mayang, anak gadisnya merasa tersaingi. Hampir setiap malam mereka mengintip ke rumah Mah Bongsu. Wah, ada ular sebesar betis? gumam Mak Piah. Dari kulitnya yang terkelupas dan dibakar bisa mendatangkan harta karun?

gumamnya lagi. Hmm, kalau begitu aku juga akan mencari ular sebesar itu, ujar Mak Piah. Mak Piah pun berjalan ke hutan mencari seekor ular. Tak lama, ia pun mendapatkan seekor ular berbisa. Dari ular berbisa ini pasti akan mendatangkan harta karun lebih banyak daripada yang didapat oleh Mah Bongsu, pikir Mak Piah.

Ular itu lalu di bawa pulang. Malam harinya ular berbisa itu ditidurkan bersama Siti Mayang. Saya takut! Ular melilit dan menggigitku! teriak Siti Mayang ketakutan. Anakku, jangan takut. Bertahanlah, ular itu akan mendatangkan harta karun, ucap Mak Piah. Sementara itu, luka ular milik Mah Bongsu sudah sembuh.

Mah Bongsu semakin menyayangi ularnya. Saat Mah Bongsu menghidangkan makanan dan minuman untuk ularnya, ia tiba-tiba terkejut. Jangan terkejut. Malam ini antarkan aku ke sungai, tempat pertemuan kita dulu, kata ular yang ternyata pandai berbicara seperti manusia.

Mah Bongsu mengantar ular itu ke sungai. Sesampainya di sungai, ular mengutarakan isi hatinya. Mah Bongsu, Aku ingin membalas budi yang setimpal dengan yang telah kau berikan padaku, ungkap ular itu. Aku ingin melamarmu untuk menjadi istriku, lanjutnya. Mah Bongsu semakin terkejut, ia tidak bisa menjawab sepatah katapun.

Bahkan ia menjadi bingung. Ular segera menanggalkan kulitnya dan seketika itu juga berubah wujud menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa. Kulit ular sakti itu pun berubah wujud menjadi sebuah gedung yang megah yang terletak di halaman depan pondok Mah bongsu.

Selanjutnya tempat itu diberi nama desa Tiban asal dari kata ketiban, yang artinya kejatuhan keberuntungan atau mendapat kebahagiaan. Akhirnya, Mah Bongsu melangsungkan pernikahan dengan pemuda tampan tersebut. Pesta pun dilangsungkan tiga hari tiga malam. Berbagai macam hiburan ditampilkan. Tamu yang datang tiada henti-hentinya memberikan ucapan selamat. Dibalik kebahagian Mah Bongsu, keadaan keluarga Mak Piah yang tamak dan loba sedang dirundung duka, karena Siti Mayang, anak gadisnya meninggal dipatuk ular berbisa.

Konon, sungai pertemuan Mah Bongsu dengan ular sakti yang berubah wujud menjadi pemuda tampan itu dipercaya sebagai tempat jodoh. Sehingga sungai itu disebut Sungai Jodoh. Aji Saka Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.

Di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.

Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu. Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan.

Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya. Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu.

Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya. Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya.

Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak. Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.

Keong Emas Raja Kertamarta adalah raja dari Kerajaan Daha. Raja mempunyai 2 orang putri, namanya Dewi Galuh dan Candra Kirana yang cantik dan baik. Candra Kirana sudah ditunangkan dengan putra mahkota Kerajaan Kahuripan yaitu Raden Inu Kertapati yang baik dan bijaksana. Raja Kertamarta adalah raja dari Kerajaan Daha. Raja mempunyai 2 orang putri, namanya Dewi Galuh dan Candra Kirana yang cantik dan baik.

Candra Kirana sudah ditunangkan dengan putra mahkota Kerajaan Kahuripan yaitu Raden Inu Kertapati yang baik dan bijaksana. Tapi saudara kandung Candra Jlentrehna artinya yaitu Galuh Ajeng sangat iri pada Candra kirana, karena Galuh Ajeng menaruh hati pada Raden Inu kemudian Galuh Ajeng menemui nenek sihir untuk mengutuk Candra Kirana.

Dia juga memfitnahnya sehingga Candra Kirana diusir dari Istana. Ketika Candra Kirana berjalan menyusuri pantai, nenek sihirpun muncul dan menyihirnya menjadi keong emas dan membuangnya ke laut. Tapi sihirnya akan hilang bila keong emas berjumpa dengan tunangannya. Suatu hari seorang nenek sedang mencari ikan dengan jala, dan keong emas terangkut. Keong Emas dibawanya pulang dan ditaruh di tempayan.

Besoknya nenek itu mencari ikan lagi di laut tetapi tak seekorpun didapat. Tapi ketika ia sampai digubuknya ia kaget karena sudah tersedia masakan yang enak-enak. Si nenek bertanya-tanya siapa yang memgirim masakan ini. Begitu pula hari-hari berikutnya si nenek menjalani kejadian serupa, keesokan paginya nenek pura-pura ke laut ia mengintip apa yang terjadi, ternyata keong emas berubah menjadi gadis cantik dan langsung memasak, kemudian nenek menegurnya “siapa gerangan kamu putri yang cantik ?” “Aku adalah putri kerajaan Daha yang disihir menjadi keong emas oleh saudaraku karena ia iri kepadak u” kata keong emas, kemudian Candra Kirana berubah kembali menjadi keong emas.

Nenek itu tertegun melihatnya. Sementara pangeran Inu Jlentrehna artinya tak mau diam saja ketika tahu Candra Kirana menghilang. Iapun mencarinya dengan cara menyamar menjadi rakyat biasa. Nenek sihirpun akhirnya tahu dan mengubah dirinya menjadi gagak untuk mencelakakan Raden Inu Kertapati. Raden Inu Kertapati kaget sekali melihat burung gagak yang bisa berbicara dan mengetahui tujuannya.

Ia menganggap burung gagak jlentrehna artinya sakti dan menurutinya padahal Raden Inu diberikan arah yang salah. Diperjalanan Raden Inu bertemu dengan seorang kakek yang sedang kelaparan, diberinya kakek itu makan. Ternyata kakek adalah orang sakti yang baik. Ia menolong Raden Inu dari burung gagak itu. Kakek itu memukul burung gagak dengan tongkatnya, dan burung itu menjadi asap.

Akhirnya Raden Inu diberitahu dimana Candra Kirana berada, disuruhnya Raden itu pergi ke desa Dadapan. Setelah berjalan berhari-hari sampailah ia ke desa Dadapan.

Ia menghampiri sebuah gubuk yang dilihatnya untuk meminta seteguk air karena perbekalannya sudah habis. Tapi ternyata ia sangat terkejut, karena dari balik jendela ia melihat tunangannya sedang memasak. Akhirnya sihirnya pun hilang karena perjumpaan dengan Raden Inu. Tetapi jlentrehna artinya saat itu muncul nenek pemilik gubuk itu dan putri Candra Kirana memperkenalkan Raden Inu pada nenek.

Akhirnya Raden Inu memboyong tunangannya ke istana, dan Candra Kirana menceritakan perbuatan Galuh Ajeng pada Baginda Kertamarta. Baginda minta maaf kepada Candra Kirana dan sebaliknya. Galuh Ajeng mendapat hukuman yang setimpal. Karena takut, Galuh Ajeng melarikan diri ke hutan, kemudian ia terperosok dan jatuh ke dalam jurang.

Akhirnya pernikahan Candra kirana dan Raden Inu Kertapatipun berlangsung. Mereka memboyong nenek Dadapan yang baik hati itu ke istana dan mereka hidup bahagia Legenda Danau Situ Bagendit Danau Situ Bagendit terletak di Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Jawa Barat, sekitar empat kilometer dari Kota Garut. Nama danau diambil dari nama seorang janda kaya yang tamak dan kikir.

Karena kekikiran dan jlentrehna artinya, suatu hari janda itu mendapat pelajaran dari seorang kakek tua, sehingga ia dan seluruh harta kekayaannya ditenggelamkan air. Berikut kisah janda kaya itu. Alkisah, di sebuah desa terpencil di daerah Jawa Barat, ada seorang janda muda yang kaya raya dan tidak mempunyai anak. Hartanya yang melimpah ruah dan rumah sangat besar jlentrehna artinya ditempatinya merupakan warisan dari suaminya yang telah meninggal dunia.

Namun sungguh disayangkan, janda itu sangat kikir, pelit, dan tamak. Ia tidak pernah mau memberikan bantuan kepada warga yang membutuhkan. Bahkan jika ada orang miskin yang datang ke rumahnya untuk meminta bantuan, ia tidak segan-segan mengusirnya. Karena sifatnya yang kikir dan pelit itu, maka masyarakat di sekitarnya memanggilnya Bagenda Endit, yang artinya orang kaya jlentrehna artinya pelit.

Selain memiliki harta warisan yang melimpah, Bagende Endit juga mewarisi pekerjaan suaminya sebagai rentenir. Hampir seluruh tanah pertanian di desa itu adalah miliknya yang dibeli dari penduduk sekitar dengan cara memeras, yaitu meminjamkan uang kepada warga dengan bunga yang tinggi dan memberinya tempo pembayaran yang sangat singkat.

Jika ada warga yang tidak sanggup membayar hutang hingga jatuh tempo, maka tanah pertaniannya harus menjadi taruhannya. Tak heran jika penduduk sekitarnya banyak yang jatuh miskin karena tanah pertanian mereka habis dibeli semua oleh janda itu.

Suatu hari, ketika Bagende Endit sedang asyik menghitung-hitung emas dan permatanya di depan rumahnya, tiba-tiba seorang perempuan tua yang sedang menggendong bayi datang menghampirinya. “Bagende Endit, kasihanilah kami! Sudah dua hari anak saya tidak makan,” kata perempuan itu memelas. “Hai perempuan tua yang tidak tahu diri! Makanya, jangan punya anak kalau kamu tidak mampu memberinya makan! Enyahlah kau dari hadapanku!” bentak Bagende Endit. Bayi di gendongan perempuan itu pun menangis mendengar suara bentakan Bagende Jlentrehna artinya.

Karena kasihan melihat bayinya, pengemis tua itu kembali memohon kepada janda kaya itu agar memberikan sesuap nasi untuk anaknya. Tanpa sepatah kata, Bagende Endit masuk ke dalam rumah. Alangkah senangnya hati perempuan tua itu, karena mengira Bagende Endit akan mengambil makanan.

“Cup… cup… cup…! Diamlah anakku sayang. Sebentar lagi kita akan mendapatkan makanan,” bujuk perempuan itu sambil menghapus air mata bayinya. Tak berapa lama kemudian, Bagende Endit pun keluar. Namun, bukannya membawa makanan, melainkan sebuah ember yang berisi air dan tiba-tiba Bagende Endit menyiramkannya ke arah perempuan tua itu. “Byuuurrr…! Rasakanlah ini hai perempuan tua!” seru Bagende Endit.

Tak ayal lagi, sekujur tubuh perempuan tua dan bayinya menjadi basah kuyup. Sang bayi pun menangis dengan sejadi-jadinya. Dengan hati pilu, perempuan tua itu berusaha mendiamkan dan menyeka tubuh bayinya yang basah kuyup.

Melihat perempuan tua belum juga pergi, janda kaya yang tidak berpesan itu semakin marah. Dengan wajah garang, ia segera mengusir perempuan tua itu keluar dari pekarangan rumahnya. Setelah perempuan tua itu pergi, Bagende Endit kembali masuk ke dalam rumahnya. Keesokan harinya, beberapa warga datang ke rumah Bagende Endit meminta air sumur untuk keperluan memasak dan mandi.

Kebetulan di desa itu hanya janda kaya itulah satu-satunya yang memiliki sumur dan airnya pun sangat melimpah. Sementara warga di sekitarnya harus mengambil air di sungai yang jaraknya cukup jauh dari desa. “Bagende Endit, tolonglah kami! Biarkanlah kami mengambil air di sumur Bagende untuk kami pakai memasak. Kami sudah kelaparan,” iba seorang warga dari jlentrehna artinya pagar rumah Bagende Endit. “Hai, kalian semua! Aku tidak mengizinkan kalian mengambil air di sumurku!

Jika kalian mau mengambil air, pergilah ke sungai sana!” usir Bagende Endit. Para warga tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya, mereka pun terpaksa pergi ke sungai untuk mengambil air. Tak berapa lama setelah warga tersebut berlalu, tiba-tiba seorang kakek tua renta berdiri sambil memegang tongkatnya di depan rumah Bagenda Endit.

Kakek jlentrehna artinya juga bermaksud untuk meminta air tapi hanya untuk diminum. “Ampun Bagende Endit! Berilah hamba seteguk air minum. Hamba sangat haus,” iba Kakek itu. Bagende Endit yang jlentrehna artinya tadi sudah merasa kesal menjadi semakin kesal melihat kedatangan kakek tua itu. Tanpa sepata kata pun, ia keluar dari rumahnya lalu menghampiri dan merampas tongkat sang kakek. Dengan tongkat itu, ia kemudian memukuli kakek itu hingga babak belur dan jatuh tersungkur ke tanah.

Melihat kakek itu tidak sudah tidak berdaya lagi, Bagende Endit membuang tongkat itu di samping kakek itu lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya. Sungguh malang nasib kakek jlentrehna artinya itu. Bukannya air minum yang diperoleh dari janda itu melainkan penganiayaan. Sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, kakek itu berusaha meraih tongkatnya untuk bisa bangkit kembali.

Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, kakek itu menancapkan tongkatnya di halaman rumah Bagende Endit. Begitu ia mencabut tongkat itu, tiba-tiba air menyembur keluar dari bekas tancapan tongkat itu. Bersamaan dengan itu, kakek itu pun menghilang entah ke mana. Semakin lama semburan air itu semakin besar dan deras. Para warga pun berlarian meninggalkan desa itu untuk menyelamatkan diri. Jlentrehna artinya itu, Bagende Endit masih berada di dalam rumahnya hendak menyelamatkan semua harta bendanya.

Tanpa disadarinya, ternyata air telah menggenangi seluruh desa. Ia pun berusaha untuk menyelamatkan diri sambil berteriak meminta tolong. “Tolooong…. Toloong… Tolong aku! Aku tidak bisa berenang!” teriak Bagende Endit meminta tolong sambil menggendong sebuah peti emas dan permatanya. Bagende Endit terus berteriak hingga suaranya menjadi parau. Namun tak seorang pun yang datang menolongnya karena seluruh warga telah pergi meninggalkan desa.

Janda kaya yang pelit itu tidak bisa lagi menyelamatkan diri dan tenggelam bersama seluruh harta kekayaannya. Semakin lama, desa itu terus tergenang air hingga akhirnya lenyap dan menjadilah sebuah danau yang luas dan dalam. Oleh masyarakat setempat, danau itu diberi nama Situ Bagendit. Kata situ berarti danau yang luas, sedangkan kata bagendit diambil dari nama Bagende Endit.

Legenda Gunung Kelud Gunung Kelud merupakan sebuah gunung api yang terletak di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Indonesia. Meskipun telah puluhan kali meletus dan memakan relatif banyak korban jiwa sejak abad ke-15 sampai abad ke-20, gunung api ini menjadi salah satu obyek wisata menarik di daerah itu karena keindahan panorama alamnya.

Gunung yang memiliki ketinggian 1.730 meter di atas permukaan laut ini semakin menarik minat para pengunjung karena setiap tanggal 23 Suro (penanggalan Jawa) masyarakat setempat menggelar acara arung sesaji. Pagelaran acara tersebut merupakan simbol Condro Sengkolo atau sebagai penolak bala dari bencana akibat pengkhianatan cinta yang dilakukan oleh putri Kerajaan Majapahit terhadap seorang pemuda jlentrehna artinya Lembu Sura.

Bagaimana penghianatan cinta itu terjadi? Ikuti kisahnya dalam cerita Legenda Gunung Kelud berikut ini! Alkisah, di daerah Jawa Timur, ada seorang raja bernama Raja Brawijaya yang bertahta di Kerajaan Majapahit.

Ia mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Dyah Ayu Pusparani. Sang Putri memiliki keindahan tubuh yang sangat memesona, kulitnya lembut bagai sutra, dan wajahnya elok berseri bagaikan bulan purnama.

Sudah banyak pengeran datang melamar, namun Prabu Brawijaya belum menerima satu pun lamaran agar tidak terjadi kecemburuan di antara pelamar yang lain. Di sisi lain, penguasa Majapahit itu juga tidak ingin menolak secara langsung karena takut mereka akan menyerang kerajaannya.

Setelah berpikir keras, Prabu Brawijaya menemukan sebuah cara, yaitu ia akan mengadakan sayembara bahwa barang siapa yang berhasil merentang busur sakti Kyai Garudayeksa dan mengangkat gong Kyai Sekardelima maka dialah yang berhak mempersunting putrinya.

Ia memerintahkan para pengawalnya untuk menyampaikan pengumuman tersebut kepada seluruh rakyatnya, termasuk kepada para raja dan pangeran dari kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Pada saat yang telah ditentukan, para peserta dari berbagai negeri telah berkumpul di alun-alun (lapangan, halaman) istana Kerajaan. Prabu Brawijaya pun tampak duduk di atas singgasananya dan didampingi oleh permaisuri dan putrinya.

Setelah busur Kyai Garudyeksa dan gong Kyai Sekadelima disiapkan, Prabu Brawijaya segera memukul gong pertanda acara dimulai. Satu persatu peserta sayembara mengeluarkan seluruh kesaktiannya untuk merentang busur dan mengangkat gong tersebut, namun tak seorang pun yang berhasil. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang mendapat musibah. Ada yang patah tangannya karena memaksakan diri merentang busur sakti itu, dan ada pula yang patah pinggangnya ketika mengangkat gong besar dan berat itu.

Ketika Prabu Brawijaya akang memukul gong untuk menutup sayembara itu, tiba-tiba datanglah seorang pemuda berkepala lembu jlentrehna artinya mengandu keberuntungan. “Ampun, Gusti Prabu! Apakah hamba diperkenankan mengikuti sayembara ini?” pinta pemuda itu. jlentrehna artinya, pemuda aneh! Siapa namamu?” tanya Prabu Brawijaya. “Nama saya Lembu Sura,” jawab pemuda itu. Prabu Brawijaya beranggapan bahwa pemuda jlentrehna artinya tidak akan mampu merentang busur sakti dan mengangkat gong besar itu.

Ia pun mengizinkannya mengikuti sayembara itu sebagai peserta terakhir. “Baiklah! Kamu boleh mengikuti sayembara ini,” ujar Prabu Brawijaya. Lembu Sura pun menyanggupi persyaratan itu. Dengan kesaktiannya, ia segera merentang busur Kyai Garudayaksa dengan mudah. Keberhasilan Lembu Sura itu diiringi oleh tepuk tangan para jlentrehna artinya yang sangat meriah. Sementara itu, Putri Dyah Ayu Pusparani terlihat cemas, karena ia tidak ingin bersuamikan manusia berkepala lembu.

Ketika Lembu Sura menghampiri gong Sekardelima, semua yang hadir tampak tegang, terutama sang Putri. Ia sangat berharap agar Lembu Sura gagal melewat ujian kedua itu. Tanpa diduganya, pemuda berkepala lembu itu ternyata mampu mengangkat gong Sekardelima dengan mudah.

Tepuk tangan penonton pun kembali bergema, sedangkan Putri Dyah Ayu Purpasari hanya terdiam. Hatinya sangat sedih dan dan kecewa. “Aku tidak mau bersuami orang yang berkepala lembu,” seru sang Putri seraya berlari masuk ke dalam istana. Mendengar ucapan putrinya itu, Prabu Brawijaya langsung terkulai karena telah mengecewakan putrinya. Namun sebagai seorang raja, ia harus menepati janjinya untuk menjaga martabatnya.

Dengan demikian, Putri Jlentrehna artinya Ayu Pusparani harus menerima Lembu Sura sebagai suaminya. `Hadirin sekalian! Sesuai dengan janjiku, maka Lembu Sura yang telah memenangkan sayembara ini akan kunikahkan dengan putriku!” seru Prabu Brawijaya. Seluruh pesarta sayembara pun berlomba-lomba memberikan ucapan selamat kepada Lembu Sura. Sementara itu, di dalam istana, Putri Dyah Ayu Pusparani menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya.

Berhari-hari ia mengurung diri di dalam kamar. Ia tidak mau makan dan minum. Melihat tuannya sedang sedih, seorang Inang pengasuh berusaha membujuk dan menasehatinya. “Ampun, Tuan Putri! Jika Tuan Putri tidak mau menikah dengan Lembu Sura, sebaiknya Tuan Putri segera mencari jalan keluar sebelum hari pernikahan itu tiba,” ujar Inang pengasuh.

Mendengar nasehat itu, sang Putri langsung terperanjat dari tempat tidurnya. “Benar juga katamu, Mak Inang! Kita harus mencari akal agar pernikahanku dengan orang yang berkepala lembu itu dibatalkan. Tapi, apa yang harus kita lakukan? Apakah Mak Inang mempunyai usul?” tanya sang Putri bingung.

Inang pengasuh hanya terdiam. Sejenak, suasana menjadi hening. Setelah berpikir keras, akhirnya Inang pengasuh menemukan sebuah jalan keluar. “Ampun, Tuan Putri! Bagaimana kalau Tuan Putri meminta satu syarat yang lebih berat lagi kepada Lembu Sura?” usul Inang pengasuh. “Apakah syarat itu, Mak Inang?” tanya sang Putri penasaran. “Mintalah kepada Lembu Sura agar Tuan Putri dibuatkan sebuah sumur di puncak Gunung Kelud untuk tempat mandi kalian berdua setelah acara pernikahan selesai.

Tapi, sumur itu harus selesai dalam waktu semalam,” usul Mak Inang. Putri Dyah Ayu Pusparani pun menerima usulan Inang pengasuh dan segera menyampaikannya kepada Lembu Sura. Tanpa berpikir panjang, Lembu Sura menyanggupi persyaratan itu. Pada sore harinya, berangkatlah ia ke Gunung Kelud bersama keluarga istana, termasuk sang Putri.

Setibanya di Gunung Kelud, Lembu Sura mulai menggali tanah dengan menggunakan sepasang tanduknya. Dalam waktu tidak berapa lama, ia telah menggali tanah cukup dalam. Ketika malam semakin larut, galian sumur itu semakin dalam. Lembu Sura sudah tidak tampak lagi dari bibir sumur. Melihat hal itu, Putri Dyah Ayu Pusparani semakin panik. Ia pun mendesak ayahandanya agar menggagalkan usaha Lembu Sura membuat sumur. “Ayah! Apa yang harus kita lakukan? Putri tidak mau menikah dengan Lembu Sura,” keluh sang Putri dengan bingung.

Prabu Brawijaya pun tidak ingin mengecewakan putri kesayangannya untuk yang kedua kalinya. Setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan sebuah cara untuk jlentrehna artinya nyawa Lembu Sura. “Pengawal! Timbun sumur itu dengan tanah dan bebatuan besar!” seru Prabu Brawijaya. Tak seorang pun pengawal yang berani membantah. Jlentrehna artinya segera melaksanakan perintah rajanya. Lembu Sura yang berada di dalam sumur berteriak-teriak meminta tolong.

“Tolooong…! Tolooong…! Jangan timbun aku dalam sumur ini!” demikian teriakan Lemu Sura. Para pengawal tidak menghiraukan teriakan Lembu Suara. Mereka terus menimbun sumur itu dengan tanah dan bebatuan. Dalam waktu sekejap, Lembu Sura sudah terkubur di dalam sumur. Meski demikian, suaranya masih terdengar dari dalam sumur. Lembu Jlentrehna artinya melontarkan sumpah kepada Prabu Brawijaya dan seluruh rakyat Kediri karena sakit hati.

“Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung”. (Wahai orang-orang Kediri, suatu saat akan mendapatkan balasanku yang sangat besar.

Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan, dan Tulungagung menjadi daerah perairan dalam). Dalam sumpahnya, Lembu Sura berjanji bahwa setiap dua windu[1] sekali dia akan merusak seluruh wilayah kerajaan Prabu Brawijaya.

Mendengar ancaman itu, Prabu Brawijaya dan seluruh rakyatnya menjadi ketakutan. Berbagai usaha pun dilakukan untuk menangkal sumpah Lembu Sura tersebut. Ia memerintahkan para pengawalnya agar membangun sebuah tanggul pengaman yang kokoh (kini telah berubah menjadi gunung bernama Gunung Pegat) dan menyelenggarakan selamatan yang disebut dengan larung sesaji. Meski demikian, sumpah Lembu Sura tetap juga terjadi.

Setiap kali Gunung Kelud meletus, masyarakat setempat menganggap hal itu merupakan amukan Lembu Sura sebagai pembalasan dendam atas tindakan Prabu Brawijaya dan Jlentrehna artinya. Demikian kisah Legenda Gunung Kelud dari daerah Kediri, Jawa Timur. Hingga saat ini, masyarakat Kediri, khususnya masyarakat Desa Sugih Waras, secara rutin (yaitu setiap tanggal 23 Syura) menyelenggarakan acara selamatan larung sesaji di sekitar kawah Gunung Kelud.

Setidaknya ada dua jlentrehna artinya yang dapat dipetik dari carita di atas yaitu pertama bahwa hendaknya kita jangan suka meremehkan kemampuan jlentrehna artinya dengan hanya melihat bentuk fisiknya karena siapa mengira di balik semua itu tersimpan kekuatan yang luar biasa.

Pelajaran kedua yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang suka mengingkari janji seperti Putri Dyah Ayu Pusparani dan Prabu Brawijaya dapat mendatangkan bencana kepada dirinya sendiri maupun orang lain.

Meletusnya Gunung Kelud yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa merupakan akibat dari ulah Prabu Brawijaya dan putrinya yang tidak menepati janjinya kepada Lembu Sura. Sifat suka mengingkari janji ini merupakan sifat tidak terpuji yang harus dijauhi, karena termasuk sifat orang-orang munafik. Legenda Dewi Padi Ditengah kehidupan masyarakat Purwagaluh yang hanya menggantungkan sumber makanan dari hasil buruan, kehidupan berubah menjadi neraka ketika hutan tak lagi menyediakan binatang untuk diburu.

Jlentrehna artinya kering kerontang dan sungai tidak lagi menyisakan air yang memberi kehidupan pada hewan dan tumbuhan. Purwagaluh adalah satu wilayah yang tengah mengalami bencana kekeringan terparah. Sadana, Adikara, dan Dewi Sri, tiga pemuda yang ditugaskan mencari jalan keluar untuk membebaskan warga dari kesulitan dan memperbaiki kehidupan Purwagaluh secara keseluruhan.

Namun dalam perjalanan tugas yang pertama pun mereka sudah menemukan kesulitan yang datang dari musuh bebuyutan mereka sejak kecil. Demi mendapatkan Adikara yang dicintainya sejak kecil, Nuridami tak pernah berhenti mengejar dan menghalalkan segala cara dengan memanfaatkan kesaktian sang nenek, Nyi Ulo juga kakaknya Sapigumarang dan Singasatru.

Dalam satu pertarungan, Dewi Sri yang menyamar menjadi Camar Seta berhasil membunuh Singasatru yang saat itu memimpin kelompok Bajak Lautnya menyerang Pelabuhan Atasangin, pulau yang paling maju dan makmur kala itu dan menjadi tempat Dewi Sri, Sadana dan Adikara mempelajari sebab kemajuan Atasangin untuk diterapkan di Purwagaluh. Sapigumarang sangat murka mengetahui kabar kematian adiknya, Singasatru di Atasangin oleh Camar Seta.

Segera ia mendatangi Sadana untuk membalas dendam pada Camar Seta. Namun Nyi Ulo menahannya dengan alasan Singasatru yang jauh lebih saktipun berhasil dikalahkan Camar Seta. Akhirnya Sapigumarang mau berlatih secara khusus bersama Nyi Ulo untuk menyempurnakan ilmu Lebursaketinya. Dari situlah Sapigumarang kemudian menyadari sumber kekuatannya yang besar, yaitu amarah yang bisa jlentrehna artinya gandakan kekuatannya hingga mampu menguasai Lebursaketi dengan sempurna.

Segera setelah itu Sapigumarang mendatangi Sadana untuk membunuh Camar Seta, Sadana beralih tidak mengenal Camar Seta. Sapigumarang tak mau percaya dan menyangka Camar Seta adalah Adikara yang memakai nama palsu. Sadana yang berniat membantu dihajarnya hingga pingsan dan Adikara dibawa pergi setelah tidak berdaya karena Nuridami merayu Sapigumarang untuk tidak membunuhnya.

Dewi Sri sangat sedih mengetahui kekasihnya, Adikara ditawan oleh Sapigumarang. Namun berkat kesaktian Malihwarni yang diajarkan oleh kakeknya, Aki Tirem, Dewi Sri bisa merubah dirinya menjadi seekor harimau jadi sangat frustasi dan akhirnya bunuh diri. Sapigumarang jadi murka dan gelap mata setelah Budugbasu dan Kalabuat menghasutnya dan menuduh Dewi Sri yang telah membunuh Nuridami karena cemburu. Sapigumarang langsung menyusun kekuatan untuk membunuh Dewi Sri sekaligus menguasai Purwagaluh yang saat itu sudah berubah menjadi wilayah yang sangat makmur berkat Dewi Sri, Sadana dan Adikara yang berhasil menciptakan sawah padi disana.

Dan ketika Dewi Sri dan Adikara merayakan panen padi pertama bersama warga di Desa Cidamar, pasukan Sapigumarang yang dipimpin Budugbasu datang untuk merebut semua hasil panen dan menangkap Dewi Sri. Namun Dewi Sri yang sudah sangat sakti berhasil mengalahkan Budugbasu dan semua pasukannya. Sapigumarang tidak menyerah, ia menunjuk Kalabuat untuk menggantikan Budugbasu dan memimpin pasukan yang lebih banyak. Kalabuat yang licik bersiasat untuk menyerang malam hari dengan kekuatan penuh.

Saat itu Dewi Sri dan Adikara hanya berjaga – jaga dengan pemuda dan warga yang jumlahnya sangat sedikit karena banyak diantara warga Cidamar yang terbunuh pada peperangan melawan Budugbasu. Kalabuat dan pasukannya yang besar datang dengan penuh percaya diri. Ketika mengepung sawah, tempat Dewi Sri memfokuskan penjagaan.

Dewi Sri dan ADikara tak mau menyerah begitu saja, mereka melawan semua pasukan Kalabuat dengan sepenuh tenaga. Saat itu Budugbasu yang sangat dendam keluar dengan pasukannya karena ingin Dewi Sri dan Adikara hanya mati ditangannya.

Kalabuat sempat marah karena Bubugbasu hanya memimpin pasukan bantuan dan seharusnya belum boleh keluar. Tapi Budugbasu tak peduli dan segera menyerang Dewi Sri untuk membunuhnya. Dewi Sri dan Adikara sangat terdesak menghadapi jumlah pasukan yang semakin banyak. Saat itulah Dewi Sri mengeluarkan ajian Malihwarninya dan merubah dirinya menjadi ratusan kelelawar besar yang sangat buas.

Pasukan Kalabuat dan Budugbasu kalang kabut menghadapi serangan ratusan kelelawar, mereka semua terbunuh dan hanya sedikit yang berhasil melarikan diri. Sementara Kalabuat dan Budugbasu pun tak luput dari serangan kelelawar.

Mereka pun kemudian melarikan diri dengan wajah dan bukan yang penuh luka gigitan. Sapigumarang sangat murka mengetahui Kalabuat dan Budugbasu kembali kalah oleh Dewi Sri, terlebih lagi semua pasukannya yang habis terbunuh. Ia dengan murka menghajar Kalabuat dan Budugbasu. Kalabuat membela diri dan menyalahkan Budugbasu yang membawa keluar pasukan bantuannya hingga akhirnya semua pasukan habis terbunuh.

Budugbasu tak mau kalah, ia menyalahkan Kalabuat yang bersiasat menyerang malam hari hingga mereka diserang kelelawar ganas ciptaan sihir Dewi Sri. Mengetahui Dewi Sri yang menguasai sihir Sapigumarang segera meminta bantuan Nyi Ulo untuk menghadapi Dewi Sri. Namun Dewi Sri dengan cerdik mengalahkan semua sihir dari Nyi Ulo yang menyerangnya, bahkan Nyio Ulo pun tewas oleh serangan balik dari Dewi Sri.

Sapigumarang murka dan menantang Dewi Sri untuk adu tanding dengannya. Dewi Sri melayani tantangan Sapigumarang dan bertarung dengan tangan kosong. Sapigumarang yakin mampu membunuh Dewi Sri dengan kekuatan penuh Lebursaketinya. Namun Dewi Sri yang sudah bersiap dengan ajian Sungsangbuana berhasil mengembalikan pukulan dahsyat Lebursaketi. Jlentrehna artinya pun tewas oleh ajian Lebursaketinya sendiri. Mengetahui kenyataan itu Kalabuat dan Budugbasu tak bisa berbuat apa-apa.

Merekapun menyerah ketika pasukan Sadana tiba-tiba datang meringkusnya. Semua warga dan pasukan bergembira menyambut kemenangan Dewi Sri. Mereka semua mengelu-elukan nama Dewi Sri dan menjulukinya sebagai Dewi Padi karena jasa terbesarnya yang telah menciptakan tanaman padi diseluruh wilayah Purwagaluh. Demikianlah pembahasan mengenai Artikel Tentang Legenda semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan jlentrehna artinya semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.

🙂 🙂 🙂 Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Bahasa Indonesia Ditag 10 perbedaan legenda dan dongeng, apa arti legenda dan contohnya, apa itu legend, apa yang dimaksud dengan legenda keagamaan, arti kata mitos, bagaimana langkah-langkah menulis dongeng, cerita legenda adalah dan berikan contohnya, ciri ciri fabel dan legenda, ciri ciri legenda, contoh dari jlentrehna artinya, contoh dongeng legenda, contoh legenda, contoh legenda adalah brainly, contoh legenda keagamaan, contoh legenda setempat, contoh legenda singkat, legend adalah, legenda adalah brainly, legenda adalah dan berikan contohnya, legenda adalah dan contohnya brainly, legenda adalah ips, legenda peta adalah, macam macam legenda dan contohnya, pengertian legenda, pengertian legenda dan ciri-cirinya, pengertian legenda dan contohnya, pengertian legenda menurut para ahli, penggolongan legenda, perbedaan legenda dan fabel, struktur cerita legenda Navigasi pos • Contoh Teks Editorial • Contoh Teks Laporan Hasil Observasi • Teks Negosiasi • Teks Deskripsi • Contoh Kata Pengantar • Kinemaster Pro • WhatsApp GB • Contoh Diksi • Contoh Teks Eksplanasi • Contoh Jlentrehna artinya Berita • Contoh Teks Negosiasi • Contoh Teks Ulasan • Contoh Teks Eksposisi • Alight Motion Pro • Contoh Alat Musik Ritmis • Contoh Alat Musik Melodis • Contoh Teks Cerita Ulang • Contoh Teks Prosedur Sederhana, Kompleks dan Protokol • Contoh Karangan Eksposisi • Contoh Pamflet • Pameran Seni Rupa • Contoh Seni Rupa Murni • Contoh Paragraf Campuran • Contoh Seni Rupa Terapan • Contoh Karangan Deskripsi • Contoh Paragraf Persuasi • Contoh Paragraf Eksposisi • Contoh Paragraf Narasi • Contoh Karangan Narasi • Teks Prosedur • Contoh Karangan Persuasi • Contoh Karangan Argumentasi • Proposal • Contoh Cerpen • Pantun Nasehat • Cerita Fantasi • Memphisthemusical.Com

Penyandaran kepada Allah Jalla Jalaluh




2022 www.videocon.com