Syahwat terhadap lawan jenis

syahwat terhadap lawan jenis

MENGENDALIKAN SYAHWAT Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari Allah Ta’ala menciptakan manusia dengan disertai syahwat. Adanya syahwat pada diri manusia tidak sia-sia, akan tetapi terdapat faidah dan manfaat di dalamnya. Bahkah jika manusia tidak memiliki syahwat (selera) makan, misalnya, kemudian dia tidak makan, sehingga akan menyebabkan dirinya binasa. Demikian juga syahwat terhadap lawan jenis manusia tidak memiliki syahwat terhadap lawan jenis, maka keturunan dapat menjadi terputus.

Oleh karena itu, keberadaan syahwat pada manusia tidak tercela. Celaan itu tertuju jika manusia melewati batas dalam memenuhi syahwat. Karena ada sebagian manusia yang tidak memahami hal ini, mengira bahwa syahwat pada manusia merupakan perkara tercela, sehingga mereka berusaha meninggalkan semua yang sebenarnya diinginkan oleh jiwanya. Bahkan di antara mereka ada yang berkata: “Aku memiliki istri selama sekian tahun, aku menginginkankannya, namun aku tidak pernah menyentuhnya!” Hal seperti ini, sesungguhnya merupakan perbuatan zhalim terhadap jiwa, karena menghilangkan haknya.

Padahal jiwa memiliki hak yang harus dipenuhi, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat beliau yang bernama ‘Utsman bin Mazh’un Radhiyallahu anhu : فَإِنِّي أَنَامُ وَأُصَلِّي وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَنْكِحُ النِّسَاءَ فَاتَّقِ اللَّهَ يَا عُثْمَانُ فَإِنَّ لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِضَيْفِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَصُمْ وَأَفْطِرْ وَصَلِّ وَنَمْ Sesungguhnya aku biasa tidur dan shalat, berpuasa dan berbuka, dan aku menikahi wanita-wanita.

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai ‘Utsman, karena sesungguhnya keluargamu memiliki hak yang menjadi kewajibanmu, tamumu memiliki hak yang menjadi kewajibanmu, dan jiwamu memiliki hak yang menjadi kewajibanmu. Maka puasalah, berbukalah, shalatlah (pada sebagian waktu malam, pen.) dan tidurlah (pada sebagian waktu malam, pen. ). [1] Anggapan seperti ini juga merupakan penyimpangan dari keyakinan terhadap sesuatu yang halal, dan menyelisihi Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa meminum madu dan minuman manis, dan itu merupakan kesukaan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun sebagian manusia yang meninggalkan perkara-perkara yang mereka sukai itu dengan beralasan karena zuhud (meremehkan) terhadap dunia. Tetapi zuhud yang mereka lakukan itu diiringi dengan kebodohan terhadap agama, sehingga zuhud mereka itu tidak bernilai kebaikan. Karena mengharamkan sesuatu yang dihalalkan agama –meskipun hanya bagi dirinya sendiri- merupakan kezhaliman terhadap jiwa, bukan merupakan keadilan.

Bukankah mengambil sesuatu yang halal yang disukai jiwa -pada sebagian waktu- dan untuk menguatkan jiwa, itu ibarat pengobatan bagi orang yang sakit? Dan hal itu tentu terpuji dan tidak tercela.

MENGENDALIKAN SYAHWAT PERUT Walaupun memenuhi kebutuhan hidup yang disukai itu diperbolehkan, namun bukan berarti seorang mukmin dibolehkan selalu memperturutkan hawa nafsunya, bahkan dia harus mengendalikannya. Di antaranya, yaitu mengendalikan syahwat perut. Karena syahwat perut ini termasuk salah satu perkara yang dapat membinasakan manusia.

Syahwat ini pula yang menjadi penyebab Nabi Adam Alaihissalam dikeluarkan dari Surga yang kekal. Dan dari syahwat perut ini, kemudian timbul syahwat kemaluan dan rakus terhadap harta benda. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan fitnah (kesesatan, ujian) syahwat dan fitnah syubhat terhadap umatnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ Syahwat terhadap lawan jenis di antara yang aku takutkan atas kalian, ialah syahwat mengikuti nafsu pada perut dan pada kemaluan kalian serta fitnah-fitnah yang menyesatkan.

[2] Syahwat mengikuti nafsu perut dan kemaluan merupakan fitnah syahwat, sedangkan fitnah-fitnah yang menyesatkan adalah fitnah syubhat. Oleh karena itu seorang mukmin memiliki cara makan yang berbeda dengan orang-orang kafir. Di dalam hadits yang shahih diriwaytakan: عَنْ نَافِعٍ قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ لَا يَأْكُلُ حَتَّى يُؤْتَى بِمِسْكِينٍ يَأْكُلُ مَعَهُ فَأَدْخَلْتُ رَجُلًا يَأْكُلُ مَعَهُ فَأَكَلَ كَثِيرًا فَقَالَ يَا نَافِعُ لَا تُدْخِلْ هَذَا عَلَيَّ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ Dari Nâfi’, ia berkata: “Kebiasaan Ibnu ‘Umar, tidak makan sehingga didatangkan seorang miskin yang akan makan bersamanya,” maka aku memasukkan seorang laki-laki yang akan makan bersamanya.

Laki-laki itu makan banyak, maka Ibnu ‘Umar berkata: “Wahai Nâfi’, janganlah engkau masukkan (lagi) orang ini kepadaku. Aku telah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,’Seorang mukmin makan memenuhi satu usus, sedangkan orang kafir makan memenuhi tujuh usus’.” [HR. Bukhari, no. 5391]. Para ulama berbeda pendapat tentang makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini.

Sebagian ulama mengatakan, yang dimaksudkan oleh hadits ini ialah bukan zhahirnya. Sedangkan sebagian lain mengatakan, bahwa hadits ini benar sesuai dengan zhahirnya. Kemudian para ulama berbeda pendapat tentang maknanya. Adapun syahwat terhadap lawan jenis yang tepat, ialah -sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, bahwa hadits ini sesuai dengan zhahirnya, yaitu menunjukkan kebiasaan/keadaan dominan.

Maksud syahwat terhadap lawan jenis dikehendaki dengan bilangan tujuh, yaitu sebagai penekanan untuk menunjukkan banyak. Sehingga makna hadits ini, bahwa keadaan orang mukmin ialah sedikit makan, karena ia sibuk melakukan sarana-sarana ibadah, dan mengetahui tujuan makan menurut syariat, ialah untuk menghilangkan lapar, melangsungkan kehidupan, dan menguatkan ibadah. Dan karena seorang mukmin takut terhadap hisab yang disebabkan melampaui batas dalam hal makanan.

Sedangkan orang kafir sebaliknya, karena tidak memahami maksud syari’at, bahkan dia mengikuti hawa nafsunya, tanpa ada rasa takut terhadap akibat-akibat keharamannya. Maka jadilah makannya seorang mukmin sepertujuh, jika dibandingkan dengan makannya orang kafir.

Namun hal ini tidak berarti berlaku umum untuk semua orang mukmin ataupun orang kafir. Baca Juga Esensi Malu Dalam Kehidupan Terkadang di antara orang-orang mukmin ada yang makannya banyak.

Bisa jadi karena kebiasaan, atau karena sesuatu yang berhubungan dengannya, seperti karena penyakit yang tidak nampak, atau lainnya. Begitu pula terkadang di kalangan orang-orang kafir ada yang makannya sedikit.

Bisa jadi karena untuk menjaga kesehatan sebagaimana menurut pendapat para dokter, atau karena latihan menurut pendapat para pendeta, atau karena faktor kelemahan lambung, dan semacamnya. Kesimpulannya, di antara keadaan orang mukmin, ialah semangat dalam berbuat zuhud dan merasa cukup dengan perbekalan.

Dan ini berbeda dengan orang kafir. Sehingga, jika seorang mukmin atau seorang kafir tidak didapati berada pada sifat ini, maka bukan berarti membatalkan hadits ini”. [3] Adapun tidak disukainya banyak makan, juga disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut: مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya.

Cukup bagi anak Adam beberapa suap yang menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak ada pilihan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya. [4] Penjelasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini ialah puncak kebaikan.

Sedangkan keadilan dalam makan, yaitu menyudahi makan ketika masih ada keinginan untuk menambah. Adapun menyedikitkan makan secara terus-menerus, akan dapat menyebabkan lemahnya kekuatan. Banyak orang yang menyedikitkan makan, sehingga mereka juga melalaikan terhadap kewajiban-kewajiban agama karena faktor kebodohan.

Mereka menyangka hal itu merupakan keutamaan. Padahal anggapan itu tidak benar. Adapun maksud syahwat terhadap lawan jenis ulama yang menjelaskan tentang keutamaan lapar, ialah menunjukkan pada keadaan sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.

Dan para ulama, sama sekali tidak membolehkan penyimpangan terhadap syariat. Wallahul-Musta’an. MENGENDALIKAN SYAHWAT KEMALUAN Hendaklah kita mengetahui, syahwat terhadap lawan jenis yang diciptakan pada diri manusia memiliki hikmah dan faidah. Antara lain, ialah untuk memelihara keberlangsungan hidup manusia di muka bumi sampai waktu yang Allah kehendaki.

Demikian juga agar manusia merasakan kenikmatan, yang dengan kepemilikan syahwat itu, ia dapat membandingkan kenikmatan dunia dengan kenikmatan kehidupan di akhirat. Karena orang yang belum pernah merasakan suatu jenis kenikmatan, maka ia tidak akan merindukannya.

syahwat terhadap lawan jenis

Tetapi, jika syahwat terhadap lawan jenis ini tidak dikendalikan dengan baik, akan dapat memunculkan banyak keburukan dan musibah.

Karena sesungguhnya fitnah (ujian) terbesar bagi laki-laki adalah wanita, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ Tidaklah aku menginggalkan fitnah, setelah aku (wafat), yang lebih berbahaya atas laki-laki daripada wanita.

[5] Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari hadits ini dengan perkataan: “Hadits ini menunjukkan bahwa fitnah yang disebabkan wanita merupakan fitnah terbesar daripada fitnah lainnya. Hal itu dikuatkan firman Syahwat terhadap lawan jenis “ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita…” (Ali-Imran/3 ayat 14) yang Allah menjadikan wanita termasuk hubbu syahawat (kecintaan perkara-perkara yang diingini), bahkan Dia menyebutkannya pertama sebelum jenis-jenis lainnya, sebagai isyarat bahwa wanita-wanita merupakan hal utama dalam masalah itu”.

( Fathul-Bari) Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata: “ Kebanyakan yang merusakkan kekuasaan dan negara, ialah karena menaati syahwat terhadap lawan jenis wanita”. [6] Sebagian orang shalih berkata: “Seandainya seseorang memberikan amanah kepadaku terhadap baitul mal, aku menduga akan mampu melaksanakan amanah tersebut atasnya. Namun seandainya seseorang memberikan amanah kepadaku atas diri seorang gadis untuk bersendirian satu jam saja, aku tidak merasa aman atas diriku padanya”.

[7] Karena fitnah wanita, dapat menyebabkan seseorang dapat terjerumus ke dalam berbagai kemaksiatan hingga melupakannya terhadap akhirat. Seperti memandang wanita yang bukan mahramnya, menyentuhnya, berpacaran, bahkan sampai berbuat zina.

Baca Juga Efek Dan Pengaruh Amarah Sesungguhnya perkara yang mudah untuk menjaga diri dari fitnah wanita sejak permulaannya, ialah sebagaimana telah diajarkan Allah Ta’ala, yaitu dengan menahan pandangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.

Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka perbuat”. [an-Nûr/24:30]. Dalam hal ini, Allah Ta’ala juga tidak mencukupkan hanya dengan memerintahkan kepada laki-laki yang beriman saja agar menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya, tetapi Allah juga mengiringkan perintah-Nya kepada wanita-wanita: وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.

[an- Nûr/24: 31]. Akan tetapi, ketika seseorang melepaskan kendali terhadap syahwatnya semenjak awal, maka di akhirnya dia akan sangat kesulitan mengatasinya. Ibarat seekor kuda yang berlari menuju ke suatu pintu yang akan dimasukinya, maka akan sangat mudah mengarahkan kuda itu dengan cara menarik kendalinya dan membelokkannya ke arah lain. Sebaliknya betapa susah, setelah kuda itu memasuki pintu tersebut, kemudian orang berusaha memegangi ekornya dan menariknya ke belakang.

Alangkah besar perbedaan dua hal di atas. Kemudian, karena beratnya menjaga dan mengendalikan fitnah syahwat ini, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jaminan surga terhadap orang yang dapat mengendalikannya dengan baik.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ Barang siapa menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya. [8] Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan : Makna “ menjamin (untuk Nabi)”, ialah memenuhi janji dengan meninggalkan kemaksiatan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dengan menjamin, sedangkan yang beliau maksudkan ialah konsekwensinya, yaitu menunaikan kewajibannya.

Sehingga maknanya, barang siapa yang menunaikan kewajiban pada lidahnya, yaitu berbicara sesuai dengan kewajibannya, atau diam dari apa yang tidak bermanfaat baginya; dan menunaikan kewajiban pada kemaluannya, yaitu meletakkannya pada yang halal dan menahannya dari yang haram.

Sedangkan yang dimaksud dengan “apa yang ada di antara dua rahangnya”, yaitu lidah dan apa yang dilakukannya, yaitu perkataan. Sedangkan “apa yang ada di antara dua kakinya” ialah kemaluan. Ad-Dawudi mengatakan, “ apa yang ada di antara dua rahangnya” adalah mulut.

Dia mengatakan, sehingga itu meliputi perkataan, makanan, minuman dan semua perbuatan yang dilakukan dengan mulut. Dia juga mengatakan, barangsiapa berusaha menjaganya, maka ia telah aman dari semua keburukan, karena tidak tersisa kecuali pendengaran dan penglihatan”. Namun masih tersembunyi baginya, yaitu memukul dengan tangan. Sesungguhnya pengertian hadits ini berbicara dengan lidah merupakan hal utama dalam meraih semua yang dicari.

Jika seseorang tidak berbicara kecuali di dalam hal kebaikan, maka dia selamat. Ibnu Baththal rahimahullah berkata, hadits ini menunjukkan bahwa bencana terbesar atas seseorang di dunia adalah lidah dan kemaluannya. Sehingga barang siapa menjaga keburukan keduanya, dia telah menjaga dari keburukan yang terbesar.

[9] Maka siapa syahwat terhadap lawan jenis akan menyambut tawaran agung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini? Wallahul-Musta’an. [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XI/1428H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] _______ Footnote [1] HR Abu Dawud, no.

1369 dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha. Dishahihkan oleh Syahwat terhadap lawan jenis al-Albani. [2] HR A hmad dari Abu Barzah al-Aslami. Dishahihkan oleh Syaikh Badrul Badr dalam ta’liq Kasyful- Kurbah, hlm. 21. [3] Lihat Fathul-Bari, Penerbit Darus Salâm, Riyadh (9/667-669).

[4] HR at-Tirmidzi, no. 2380. Ibnu Majah, no. 3349. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani. [5] HR al-Bukhari no: 5096. Muslim, no: 2740, syahwat terhadap lawan jenis lainnya, dari Usamah bin Zaid.

[6] Iqtidha` Shirathil-Mustaqim, hlm. 257. [7] Mukhtashar Minhajul-Qashidin, hlm. 213, Tahqiq: Syaikh Ali al-Halabi. [8] HR al-Bukhari, no. 6474. At-Tirmidzi, no. 2408; lafazh bagi Bukhari. [9] Fathul-Bari, syar h hadits no. 6474 secara ringkas. SlideShare uses cookies to improve functionality and performance, and to provide you with relevant advertising.

If you continue browsing the site, you agree to the use of cookies on this website. See our User Agreement and Privacy Policy. SlideShare uses cookies to improve functionality and performance, and to provide you with relevant advertising. If you continue browsing the site, you agree to the use of cookies on this website. See our Privacy Policy and User Agreement for details. BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Tiap ahli psikologi memberikan batasan yang berbeda tentang belajar dan terdapat keragaman dalam hal menjelaskan atau mendefinisikan belajar itu sendiri.

Belajar merupakan hal yang paling penting sekali dalam kehidupan manusia. Dengan belajar manusia akan mengalami proses ke arah yang lebih baik lagi. Dalam kaitannya dengan belajar ini, banyak sekali para ahli psikologi yang membahas tentang belajar. Tanpa teori pembelajaran tidak akan ada kerangka konseptual yang digunakan sebagai dasar dalam melakukan pembelajaran.

Dalam perkembangannya, terdapat banyak teori-teori yang berkembang dari tokoh-tokoh psikologi. Dalam makalah ini akan dibahas teori pembelajaran pemprosesan informasi dan kognitif, serta teori sosial kognitif.

syahwat terhadap lawan jenis

1.2 RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana penjelasan teori pembelajaran pemprosesan informasi dan kognitif ? 2. Bagaimana penjelasan teori pembelajaran sosial kognitif ? 1.3 TUJUAN Dengan adanya makalah pendekatan belajar pemprosesan informasi dan sosial kognitif ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan pembaca berkaitan dengan teori belajar. Emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat atau keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seperti kegembiaraan, keharuan, kecintaan, dan keberanian yang bersifat subjektif (KBBI) BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks.

Tiap ahli psikologi memberikan batasan yang berbeda tentang belajar dan terdapat keragaman dalam hal menjelaskan atau mendefinisikan belajar itu sendiri. Belajar merupakan hal yang paling penting sekali dalam kehidupan manusia.

syahwat terhadap lawan jenis

Dengan belajar manusia akan mengalami proses ke arah yang lebih baik lagi. Dalam kaitannya dengan belajar ini, banyak sekali para ahli psikologi yang membahas tentang belajar. Tanpa teori pembelajaran tidak akan ada kerangka konseptual yang digunakan sebagai dasar dalam melakukan pembelajaran. Dalam perkembangannya, terdapat banyak teori-teori yang berkembang dari tokoh-tokoh psikologi. Dalam makalah ini akan dibahas teori pembelajaran pemprosesan informasi dan kognitif, serta teori sosial kognitif.

1.2 RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana penjelasan teori pembelajaran pemprosesan informasi dan kognitif ? 2. Bagaimana penjelasan teori pembelajaran sosial kognitif ? 1.3 TUJUAN Dengan adanya makalah pendekatan belajar pemprosesan informasi dan sosial kognitif ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan pembaca berkaitan dengan teori belajar. Emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat atau keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seperti kegembiaraan, keharuan, kecintaan, syahwat terhadap lawan jenis keberanian yang bersifat subjektif (KBBI) Emosi, hawa nafsu, syahwat • 1.

L/O/G/O www.themegallery.com EMOSI, HAWA NAFSU, SYAHWAT Syahwat terhadap lawan jenis A F S I R H A D I S T • 2. RASA MARAH RASA TAKUT Click to add title in here Emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat atau keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seperti kegembiaraan, keharuan, kecintaan, dan keberanian yang bersifat subjektif (KBBI) A.

EMOSI RASA DENGKI RASA CEMBURU RASA MALU RASA CINTA RASA BENCI • 3. • Terbagi atas : Cinta kepada Allah Cinta kepada Rasul Cinta kepada manusia Cinta kepada semua makhluk Cinta kepada anak-anak Cinta kepada lawan jenis Cinta kepada harta benda 1.

RASA CINTA • 4. Cinta Kepada Allah Sesungguhnya cinta kepada Allah tergolong rasa cinta manusia yang paling luhur. Rasa cinta kepada Allah terbukti akan mendatangkan rasa bahagia dan kedamaian spiritual.

Dia merupakan kekuatan yang dapat mengarahkan perilaku manusia ke arah kebaikan. Jika rasa cinta kepada Allah telah mendarah daging pada diri seseorang, maka setiap tindakan, gerakan, dan diamnya akan mencerminkan ketaatan kepada Allah. Dia juga akan menjauhi perbuatan maksiat dan segala yang dibenci maupun dilarang Allah. Allah Ta’ala telah menciptakan, membentuk, dan mendesain manusia dalam wujud yang sempurna.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhumaa bahwa Rasulullah bersabda, “Cintailah kepada Allah karena nikmat-nikmat yang dicurahkan kepada kalian semua!” • 5. Cinta Kepada Rasul Cinta kepada Rasul hukumnya wajib bagi setiap muslim.

syahwat terhadap lawan jenis

Karena Allah telah memerintahkan untuk mencintai beliau. Rasulullah telah memerintahkan kita untuk mencintai beliau dan juga ahlul baitnya. Rasulullah bersabda, ‘Cintai Allah karena nikmat-nikmat-Nya yang dicurahkan kepada kalian! Cintailah aku sebagaimana kalian mencintai Allah!

Dan cintailah ahlul bait (keluarga) ku sebagaimana kalian semua mencintai diriku!” Diriwayatkan dari Anas ra bahwa rasulullah bersabda, “Barangsiapa mencintai aku, maka dia akan bersamaku di dalam surga.” • 6. Cinta Kepada Manusia Manusia adalah makhluk sosial yang hidup di tengah komunitas masyarakat dan harus menjalin interaksi dengan banyak individu lain.

seorang anak yang berkembang biasanya akan mencintai semua orang. Dia akan mengasihi, menyayangi, menjalin hubungan baik, dan akan menolong orang yang akan membutuhkan. Rasa cinta kepada orang lain dan keinginan untuk menolong orang lain merupakan salah satu faktor utama yang membuat seseorang benar-benar tumbuh dan diterima dalam masyarakat.

Rasulullah telah menyarankan kaum muslimin untuk saling menyayangi dan mencintai. Diriwayatakan oleh Az-Zubair bahwa Rasulullah bersabda, “Demi Dzat Yang Menguasai jiwaku, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku beritahu syahwat terhadap lawan jenis yang bisa membuat kalian saling mencintai ? Sebarkanlah salam di antara kalian !” • 7. Cinta Kepada Semua Makhluk Diriwayatkan dari Anas ra bahwa Rasullullah bersabda, “Tidak ada seorang muslim pun yang menanam tumbuhan atau menanam tanaman, lantas dimakan burung, manusia, atau binatang, kecuali hal itu akan dinilai sebagai sedekah baginya.” Sesungguhnya ajaran Rasulullah untuk menebar cinta dan kebaikan tidak terbatas pada manusia saja, tetapi juga untuk diterapkan pada semua makhluk Allah yang ada di jagad raya ini.

• 8. Cinta Kepada Anak- anak Rasulullah mengajak kaum syahwat terhadap lawan jenis untuk mencintai anak-anak dan memberikan penjagaan serta pendidikan yang baik bagi mereka. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah berkata, “Rasulullah SAW mencium Al Hasan bin ‘Ali. Dan di sisi beliau ketika itu ada Al Aqra’ bin Habis At-Tamimi sedang duduk. Maka dia pun berkata, “Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak. Belum ada seorang pun dari mereka yang pernah aku cium.” Maka Rasulullah SAW melihatnya sambil bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi [anak kecil], maka dia tidak akan disayangi [oleh Allah].” • 9.

Cinta Kepada Lawan Jenis Allah telah memberikan dorongan seksual dalam diri manusia. Motivasi itulah yang menyebabkan pria dan wanita memiliki ketertarikan antara yang satu dengan lain.

Mereka akan saling mencintai dan pada akhirnya bisa memelihara kelanggengan spesies. Sesungguhnya Islam tidak mengingkari adanya cinta yang memunculkan dorongan seks.

syahwat terhadap lawan jenis

Hanya saja Islam mengajarkan cara pemuasan seks yang sesuai dengan syariat yaitu melalui pernikahan. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra bahwa Rasulullah bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa dia antara kalian ada yang sudah mampu secara ekonomi untuk menikah, maka hendaklah dia melangsungkan pernikahan!

Namun barangsiapa masih belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa! Karena sesungguhnya puasa memiliki daya pengekang [untuk nafsu seksual].” • 10. Cinta Kepada Harta Benda Manusia memiliki kecintaan yang sangat besar terhadap harta benda duniawi, karena dengan harta benda maka manusia mampu memenuhi kebutuhannya. Dengan harta mereka juga mampu meraih jabatan dan memiliki pengaruh di antara manusia. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra bahwa Rasulullah bersabda, “Seandainya anak Adam memiliki dua buah lembah yang [penuh terisi] emas, pasti dia senang memiliki lembah ketiga.

Rongga anak [keturunan] Adam tidak akan pernah penuh kecuali tanah [kubur ayang akan memenuhi rongga tersebut]. Dan Allah memberikan taubat untuk orang yang mau bertaubat.” • 11. 2. RASA TAKUT Takut termasuk emosi yang penting dalam kehidupan manusia. Takut merupakan fitrah yang dirasakan dalam kondisi berbahaya dan mengancam keselamatan diri. Takut membantu seseorang siap siaga dalam mengantisipasi bahaya yang mengancam.

Sesungguhnya rasa takut yang paling penting dan paling bermanfaat adalah rasa takut akan azab Allah. Rasa takut ini yang memacu seseorang berpegang teguh dalam kewajiban beragama, menjalankan perintah dan senantiasa menjauhi larangan-Nya. Diriwayatkan dari Abu Dzarr bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku mampu melihat apa yang tidak bisa kalian lihat dan mampu mendengar apa yang tidak bisa kalian dengar.

Langit bersuara dan memang dia pantas untuk bersuara. Tidak ada ruang sebesar empat jari di langit, melainkan digunakan malaikat meletakkan dahinya untuk bersujud kepada Allah.

Demi Allah, seandainya syahwat terhadap lawan jenis tahu apa yang aku ketahui, pasti kalian sedikit tertawa, sering menangis, tidak bersenang-senang dengan wanita di atas ranjang, dan keluar menuju pelataran rumah untuk bertadharru’ (tunduk) kepada Allah. Sesungguhnya aku benar-benar ingin menjadi sebatang pohon yang ditebang.” • 12.

3. RASA MARAH Marah merupakan emosi fitrah yang akan muncul ketika salah satu motivasi dasar seseorang tidak terpenuhi. Rasa marah sangat beragam tingkat kekuatannya pada diri masing-masing orang. Jika marah yang timbul ketika adanya sesuatu yang menghalangi tujuan utama hidup kita atau menghalangi tujuan mulia, maka itu termasuk rasa marah yang terpuji. Akan tetapi marah yang dipicu oleh sesuatu yang tidak bersifat duniawi, maka tidak tergolong marah yang syahwat terhadap lawan jenis.

Rasulullah tidak pernah marah karena didorong oleh urusan pribadi. Diriwayatakan dari Abu Sa’id Al Khudzri bahwa Rasulullah bersabda, “Ingatlah, sesungguhnya marah itu adalah bara api yang terdapat dalam hati anak keturunan Adam. Tidakkah kalian melihat warna merah kedua matanya dan urat-urat lehernya yang mengembang [ketika seseorang sedang marah]?

“ • 13. 4. RASA BENCI Rasa benci merupakan lawan dari rasa cinta. Segala sesuatu yang bisa membangkitkan rasa marah bisanya juga sesuatu yang mengobarkan rasa benci. Kompetisi kerja di antara manusia seringnya dilatarbelakangi oleh tuntutan hidup yang kadang-kadang menimbulkan perasaan benci, permusuhan, yang pada akhirnya dapat melemahkan persatuan dan kesatuan. Rasulullah SAW telah mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya, “Penyakit beberapa umat manusia menimpa kalian, yaitu rasa hasud dan benci.” Rasulullah juga telah mengisyaratkan rasa benci manusia kepada maut.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian sering ingat pada sesuatu yang [bisa] memutus kelezatan (maut)!” • 14. 5. RASA DENGKI Hasud merupakan kondisi emosi yang banyak menyerang manusia.

Rasa dengki ada dua macam : • Merasa tidak senang melihat orang lain mendapatkan kenikmatan apapun yang lebih baik dibandingkan dirinya. • Merasa tidak senang melihat orang lain mendapatkan kenikmatan yang lebih baik dibandingkan dirinya. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya beberapa nikmat Allah [yang diberikan pada seseorang itu bisa menimbulkan] beberapa musuh.” Lantas Rasulullah ditanya, “Siapakah mereka itu ?” Rasulullah bersabda, “Mereka itu adalah orang-orang yang hasud kepada manusia atas karunia yang dicurahkan oleh Allah kepada [orang-orang di antara] mereka.” • 15.

6. RASA CEMBURU Rasa cemburu merupakan sebuah letupan emosi yang sangat mengganggu. Biasanya rasa ini muncul pada seseorang ketika dia syahwat terhadap lawan jenis ada orang lain yang berusaha berkompetisi dengannya demi mendapatkan cinta kekasih dambaan. Allah juga mempunyai rasa cemburu. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki rasa cemburu.

Orang mukmin juga memiliki rasa cemburu. Sedangkan bentuk kecemburuan Allah adalah kalau seorang mukmin melanggar sesuatu yang diharamkan Allah.” • 16. 7. RASA MALU Malu merupakan kondisi emosi yang dirasakan oleh seseorang sebagai akibat dari sebuah perbuatan yang tercela atau karena perbuatan yang tidak bisa diterima baik secara agama maupun etika.

Barangsiapa tidak memiliki rasa malu, maka tidak jarang dia melakukan perbuatan-perbuatan buruk atau terjerumus dalam perbuatan salah dan dosa.

syahwat terhadap lawan jenis

Rasulullah memuji sifat malu dan menganggapnya sebagai sifat terpuji yang wajib dimiliki oleh seseorang mukmin. Diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Umar, dia berkata, “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melewati seorang laki-laki yang sedang mencela saudaranya karena rasa malu [yang dimilikinya]. Dia berkata, “Sesungguhnya kami ini [rugi kalau memiliki] rasa malu.” Sepertinya [maksud] perkataan lelaki itu adalah, “Rasa malu itu telah menimbulkan madharat bagimu.” Maka Rasulullah bersabda, “Biarkanlah dia seperti itu!

Karena sesungguhnya rasa malu itu termasuk keimanan.” • 17. B. HAWA NAFSU Nafsu mempunyai arti diri seorang, roh, jiwa, tubuh, nyawa, niat dan kehendak.

Dalam ilmu tasawuf nafsu mempunyai arti : jiwa, kehendak. Pada garis besarnya nafsu di bagi dalam dua bagian yaitu yang bersifat duniawi atau kebutuhan jasmani dan ukhrawi. Nafsu secara etimologis berhubungan dengan asal usul peniupan dan sering terjadi silih berganti di pakai dalam literatur bahasa arab dengan arti “jiwa kehidupan atau gairah dan hasrat duniawi”. • 18. Pembagian Nafsu Nafsu Amarah Adalah jiwa yang belum mampu membedakan mana yang baik dan buruk, belum memperoleh tuntunan, tetapi kebanyakan ia mendorong kepada hal yang tidak patut misalnya sifat tadabur, loba, tamak, kikir senang menyakiti orang lain, dan senang kepada kejahatan.

Nafsu Lawwamah Adalah jiwa yang telah mempunyai rasa insaf dan menyesal sesudah melakukan pelanggaran. Ia tidak berani melakukan secara terang- terangan dan tidak pula mencari cara kegelapan untuk melakukan sesuatu, karena ia sadar akibat perbuatannya. Namun ia belum mampu dan kuat untuk mengekang nafsu yang jahat. Nafsu Musawwalah Adalah jiwa yang sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Walaupun baginya mengerjakan itu sama melakukan yang buruk.

Ia melakukan yang buruk tidak berani dengan terang-terangan, tapi dikerjakannya keburukan dengan sembunyi karena padanya ada sifat malu tetapi bukan lah malu pada dirinya sendiri melainkan ia malu orang lain mengetahui keburukan dan kejahatan yang dilakukannya.

• 19. continue Nafsu Mutmainnah Adalah jiwa yang mendapat tuntunan dengan pemeliharaan yang baik. Ia mendapat ketenangan jiwa dan melahirkan sikap dan perbuatan yang baik, membentengi serangan kekejian dan kejahatan. Nafsu Mulhamah Adalah jiwa yang memperoleh ilham dari Allah SWT, dikarunia ilmu pengetahuan, dihiasi oleh akhlakul karimah.

Ia merupakan sumber sabar, syukur, tabah dan ulet. Pada tingkat nafsu ini telah terbuka berbagai petunjuk dari Allah SWT oleh karena itu seseorang telah memiliki sifat-sifat yang menunjukkan kepribadian yang kuat. Nafsu Raadliyah Adalah jiwa yang ridho kepada Allah SWT, mempunyai status yang baik dalam kesejahteraan, mensyukuri nikmat, qanaah.

Nafsu ini dalam realisasinya sering muncul dalam tindakan-tindakan. Nafsu ini akan menjadikan seseorang ridho dalam melaksanakan segala perintah Allah SWT.

Secara ikhlas pula menjauhi larangannya. • 20. continue Nafsu Mardliyah Adalah jiwa yang diridhoi Allah SWT.

Keridhoan yang diberikan berupa senantiasa berdzikir, ikhlas, mempunyai karamah dan memperoleh kemuliaan. Syahwat terhadap lawan jenis itu kemuliaan yang diberikan Allah SWT bersifat universal artinya jika Tuhan memuliakannya siapapun tidak akan bisa menghina demikian pula sebaliknya.

Nafsu Kaamilah Adalah jiwa yang telah sempurna bentuk dan dasarnya, sudah dianggap cukup mengerjakan irsyad atau petunjuk dan menyempurnakan ikmaal atau penghambaan diri kepada Allah SWT. Orangnya dapat disebut sebagai mursyid dan mukammil atau insan kamil. • 21. C. SYAHWAT Syahwat berasal dari bahasa Arab Syahiya-syaha yasyha- syahwatan, secara lughawi berarti menyukai dan menyenangi.

Sedangkan pengertian syahwat adalah kecenderungan jiwa terhadap apa yang dikehendakinya “Nuzu’an nafs ila ma turidduhu”. dalam Al- Qur’an kata syahwat terkadang dimaksudkan untuk objek yang diinginkan.

Bagi orang awam syahwat selalu dikonotasikan dengan seks sehingga orang akan malu jika disebutkan sebagai orang yang besar syahwatnya. Sesungguhnya syahwat merupakan salah satu subsistem dalam sistem kejiwaan (sistem nafsani) manusia, bersama dengan akal, hati, dan hati nurani.

Syahwat itu bersifat fitrah, manusiawi, normal, tidak tercela, bahkan dibutuhkan keberadaannya sebab jika seseorang sudah tidak memiliki syahwat pasti ia tidak lagi memiliki semangat hidup. • 22. Perbedaan Syahwat dengan Nafsu Ar Raghib berkata tentang perbedaan antara hawa nafsu dengan syahwat bahwa syahwat ada dua macam, yaitu syahwat terpuji dan syahwat tercela.

Syahwat terpuji asalnya dari tindakan Allah ta'ala, sedangkan syahwat tercela asalnya dari tindakan manusia. Syahwat yaitu pemenuhan hawa nafsu sebab didalamnya terdapat kenikmatan badaniyah, sedangkan hawa nafsu adalah syahwat yg menang ini ketika pemikiran mengikutinya. Hal itu disebabkan karena sesungguhnya pemikiran berada di antara akal dan syahwatakal di atas pemikiran dan syahwat di bawahnya, jadi ketika pemikiran naik maka keluarlah kebaikan dan ketika pemikiran turun keluarlah keburukan.

• 23. Mengendalikan Syahwat MENGENDALIKAN SYAHWAT PERUT Walaupun memenuhi kebutuhan hidup yang disukai itu diperbolehkan, namun bukan berarti seorang mukmin dibolehkan selalu memperturutkan hawa nafsunya, bahkan dia harus mengendalikannya.

Di antaranya, yaitu mengendalikan syahwat perut. Karena syahwat perut ini termasuk salah satu perkara yang dapat membinasakan manusia. Syahwat ini pula yang menjadi penyebab Nabi Adam Alaihissalam dikeluarkan dari surga yang kekal. Dan dari syahwat perut ini, kemudian timbul syahwat kemaluan dan rakus terhadap harta benda. Rasulullah Shallallahu syahwat terhadap lawan jenis wa sallam telah mengkhawatirkan fitnah (kesesatan, ujian) syahwat dan fitnah syubhat terhadap umatnya.

Beliau bersabda: َّ‫ن‬ِ‫إ‬‫ا‬‫م‬ِ‫م‬‫َى‬‫ش‬ْ‫خ‬َ‫أ‬َّْ‫م‬ُ‫ك‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬َِّ‫ت‬‫ا‬ َ‫و‬َ‫ه‬َ‫ش‬َِّ‫َي‬‫غ‬ْ‫ال‬‫ي‬ِ‫ف‬َّْ‫م‬ُ‫ك‬ِ‫ن‬‫و‬ُ‫ط‬ُ‫ب‬ََّ‫و‬َُّ‫ك‬ ِ‫وج‬ُ‫ر‬ُ‫ف‬َّْ‫م‬َِّ‫ت‬‫َّل‬ ِ‫ض‬ُ‫م‬ َ‫و‬َِّ‫ن‬َ‫ت‬ِ‫ف‬ْ‫ال‬ "Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kalian, ialah syahwat mengikuti nafsu pada perut dan pada kemaluan kalian serta fitnah- fitnah yang menyesatkan.” • 24.

MENGENDALIKAN SYAHWAT KEMALUAN Hendaklah kita mengetahui, syahwat terhadap lawan jenis yang diciptakan pada diri manusia memiliki hikmah dan faidah. Antara lain, ialah untuk memelihara keberlangsungan hidup manusia di muka bumi sampai waktu yang Allah kehendaki. Demikian juga agar manusia merasakan kenikmatan, yang dengan kepemilikan syahwat itu, ia dapat membandingkan kenikmatan dunia dengan kenikmatan kehidupan di akhirat.

Karena orang yang belum pernah merasakan suatu jenis kenikmatan, maka ia tidak akan merindukannya. Tetapi, jika syahwat terhadap lawan jenis ini tidak dikendalikan dengan baik, akan dapat memunculkan banyak keburukan dan musibah. Karena sesungguhnya fitnah (ujian) terbesar bagi laki-laki adalah wanita, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Tidaklah aku menginggalkan fitnah, setelah aku (wafat), yang lebih berbahaya atas laki-laki daripada wanita".

• 25. L/O/G/O www.themegallery.com Thank You! U I N S U S K A R I A U – 3 Syahwat terhadap lawan jenis /> • Arsip • Februari 2012 • Juni 2008 • April 2008 • Maret 2008 • Kategori • 1.

Adab Pergaulan • 1. Kisah dan Hikmah • 1. Suami • 1. Wali Nikah • 2. Anjuran Menikah • 2. Doa-doa • 2. Istri • 2. Saksi Nikah • syahwat terhadap lawan jenis. Anak-anak • 3. Hukum Pernikahan • 3. Mahar • 3. Opini • 4. Akad Nikah • 4. Anekdot • 4. Kebutuhan/Maisyah • 4. Khitbah/Meminang • 5. Memilih Pasangan • 5.

syahwat terhadap lawan jenis

Puisi dan Sastra • 5. Rumah tangga • 5. Walimatul Ursy • 6. Mertua • 7. Tetangga • E. Artikel Pernikahan • Komentar Terbaru jatmika pada Risalah Agung Pernikahan ad pada Ketika Allah Menjadi Alasan Pa… Adji pada Risalah Agung Pernikahan muklies pada 4 Kunci Rumah Tangga Harm… muklies pada Do’a Cinta Sang Pengantin Belakangan ini saya banyak diskusi dengan istri tentang gejala ” syahwat lawan jenis”.

Istri saya termasuk akhwat yang cukup “cerewet” soal gejala-gejala tidak sehat mengenai perilaku hubungan antara ikhwan dan akhwat.

“Jangan sampai menjadi perusak masa depan dakwah kita.!”, demikian hujjah balighah yang kerap meluncur dari dirinya kepada saya. Dan ketika saya meresponnya dengan kalem, pressure pun muncul. “Abi kan mas’ul kaderisasi. Abi tanggung jawab kalau nanti terjadi apa-apa pada dakwah ini …!!” Sesaat saya akan menulis kolom ini, istri saya baru melontarkan serangan barunya, Abi denger nih. Ummi dapet berita shahih kalau ada mas’ul dakwah kampus pacarin 11 akhwat, dan 4 diantaranya ternyata hamil…!!

” Saya mencoba merespon dengan santai – karena sedang mikir tema apa yang harus ditulis – dengan mengatakan agar berita itu di tabayyun (cros check) dulu. Tetapi justru saya disergah : “Ya tugas abi dong yang harus men-tabayyun !

Abi kan punya akses dan kewenangan !”. Saya mencoba mulai menulis. Tetapi belum lagi ketemu tema tulisan, saya dibombardir oleh pertanyaan lain :”Bi emang bener ustadz Fulan nikah lagi, dan sebelumnya pake pacaran segala?” Alhasil, tanpa diniatkan sebelumnya akhirnya saya menulis tema ini. Kebetulan sehari sebelumnya saya mendapatkan short massage service (sms) dari seorang akh yang mengomentari tulisan saya berjudul “SMS”. Komentarnya berterima kasih atas tulisan tersebut, karena memang itulah fenomena yang terjadi di lapangan.

Pikir saya, biarlah sekalin menulis tema yang lebih “serem” sebagai tadzkirah. Fadzakir inna adz-adzikara tanfa’ul mu’minin!. Pertama, saya mencoaba merenungi kembali dasar masalah “syahwat lawan syahwat terhadap lawan jenis. Nabi Adam as diciptakan Allah SWT sebagai manusia pertama dan satu-satunya pada saat itu.

Beliau ditempatkan di dalam syurga yang penuh kenikmatan tak terhingga. Tetapi apa yang terjadi ? Nabi Adam merasa “kurang nikmat” menikmati kenikmatan syurga seorang diri. Ia menginginkan seorang wanita. Lalu apa yang terjadi ? Nabi Adam dan istrinya tertipu oleh syaitan sehingga melanggar prinsip-prinsip ’syahwat lawan jenis’ yang diatur oleh Allah SWT. Perhatikan firman Allah : “Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh syetan sebagaimana halnya dia (syeitan) syahwat terhadap lawan jenis mengeluarkan ibu bapakmu dari syurga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya”(QS.

Al A’raaf:27). Nabi Adam dan istrinya merintis kehidupan baru komunitas manusia di muka bumi dengan berbekal ampunan dan hidayah Allah SWT. Tetapi apa yang kemudian dicatat oleh sejarah? Kejahatan pertama di muka bumi adalah perebutan dua orang syahwat terhadap lawan jenis terhadap syahwat terhadap lawan jenis wanita, dan berakhir dengn aksi pembunuhan. “Maka nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya (Habil)kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka terjadilah dia termasuk orang yang merugi” (QS.

Al- Maidah : 30). Lalu sejarah umat dan bangsa-bangsa menunjukkan bagaimana kehancuran di banyak peradaban mereka justru karena “syahwat lawan jenis”. Rasulullah SAW pernah berpesan : “Sesungguhnya dunia ini manis dan menyegarkan…Maka takutlah kepada wanita, karena cobaan yang pertama terhadap Bani Israil ialah karena wanita.” (Al Jami’ Ash-Shagir, 2/179).

Jadi dasar dari semua masalah ini adalah dahsyatnya dorongan dan pengaruh yang muncul dari “syahwat lawan jenis”, yang tidak ada seorang manusia pun bisa membebaskan diri darinya. Bahkan seperti yang diungkapkan Rasulullah, ia manis dan menyegarkan.

Atau seperti ungkapan Allah, ia dipandang indah dan menyenangkan. “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadaap syahwat berupa wanita”(QS Ali Imran :14) Allah tentu saja menjadikan “syahwat lawan jenis” sebagai unsur kekuatan manusia dalam membangun kehidupan dan peradabannya.

Dengan syahwat inilah, manusia menyuburkan nilai rasa, emosi, kasih dan cinta agar kehidupan dunia “manis dan menyegarkan”. Dengan syahwat ini, manusia memiliki dorongan untuk syahwat terhadap lawan jenis bersama” dalam ikatan perkawinan dan keluarga agar leluasa mengekspresikan luapan rasa, emosi, kasih dan cintanya sampai dalam bentuk hubungan seksual. Dengan syahwat inilah, keluarga-keluarga menghasilkan anak-keturunannya untuk menyempurnakan kesenangan, kebahagiaan, dan kebanggaan.

Dengan syahwat ini pula, manusia membangun norma, etika, adat, estetika dan syari’at yang mampu memelihara dan mengkokohkan unsur kekuatan yang sangat mendasar sifatnya ini, tanpa menyebabkan kerusakan dari kerusakan dan kehancuran tata kehidupan sosialnya. Kita adalah umat dakwah. Sekumpulan orang yang mengemban misi untuk mengajak dan membimbing manusia kepada kehidupan yang baik.

Agar mereka bisa mengelola syahwat lawan jenisnya secara benar dan baik, sehingga kebaikan dan keberlangsungan peradabannya bisa terjaga. Kita mendakwahi mereka kepada syari’at yang membimbing syahwat lawan jenis secara benar. Tentu saja bukan sekedar dengan kata-kata, tetapi juga dengan teladan amal.

Bahwa syahwat terhadap lawan jenis dakwah – yang semoga dipelihara Allah SWT – secara konsisten berkomitmen menjalankan syari’at ini. Dan manusia menyaksikan kebenaran syari’at bukan dari kata-kata kita, tetapi dari apa yang kita amalkan. Apa yang perlu menjadi perhatian dan keprihatinan kita saat ini Saya sebutkan saja satu per satu berbagai gejala yang saya dengar dan saya lihat sendiri.

(1) Adab ikhwan dan akhwat mulai bergeser ke arah yang membuka celah syahwat lawan jenis. Berbicara tatap-muka dengan jarak yang dekat dan sering bertatapan mata, misalnya.

Atau komunikasi lewat telpon dengan irama suara yang membuat seorang ikhwan ‘menikmati’ suara akhwat lawan bicaranya. (2) Keterdesakan atau keterpaksaaan yang menggiring kepada suatu yang “tidak boleh terjadi !”. Misalnya akhwat “terpaksa” dibonceng motor oleh ikhwan gara-gara rapat baru selesai malam hari, syahwat terhadap lawan jenis jalan menuju halte bus atau rumahnya cukup jauh serta “tidak aman”.

Atau rapat dalam satu ruangan yang “sempit” sehingga ikhwan dan akhwat duduk berdampingan tanpa jarak yang aman atau tanpa hijab. Dalam forum-forum seperti ini, akhwat tidak membiasakan diri bicara dengan tegas dan lugas. Ingat suara wanita adalah aurat! (3) Bergesernya mode pakaian akhwat yang ‘mengundang’ pandangan syahwat kaum ikhwan.

Mulai dari jilbab yang “kependekan” sehingga tidak menutup dadanya dengan sempurna atau bila tertiup angin bisa menampakan bagian leher dan rambut belakangnya. Lalu bahan pakaian yang “lebih tipis” dan pilihan warna yang “flamboyan”.

Atau menggunalkan sepatu berhak “cukup tinggi”, sehingga mengundang perhatian pada langkah dan pinggul belakang akhwat. (4) Bergesernya nilai seni Islam dari senandung jihad dan iman kepada senandung hiburan semata. Lalu mulai muncul akhwat-akhwat yang menggemari “munsyid” (penyanyi) daripada “nasyid”-nya. (5) Keterbukaan pergaulan dakwah antara ikhwan dan akhwat menggiring syahwat terhadap lawan jenis memilih jodoh kepada apa yang menarik dari “pandangan mata” dan bukan menarik dari “pandangan dakwah”.

Akibarnya, semangat mencari jodoh sendiri begitu menggebu, dan murabbi tinggal menunggu konfirmasi. (6) Konsultasi dakwah masalah pribadi atau rumah tangga yang kemudian berbuah simpati sampai jatuh hati. Tidak sedikit seorang da’i yang berawal dari semangat dakwah terhadap lawan jenis justru berubah arah menjadi ajang “perselingkuhan” baru. Alih-alih membantu menyelesaikan masalah malah menambah masalah. Ada satu dua ustadz yang menikah (lagi) dengan “wanita” yang semula menjadi “pasien” dakwahnya.

Rupanya ustadz ikut ketularan penyakit pasiennya. (7) Semangat menikah (lagi) melalui prosedur resmi, tetapi dimulai dengan hubungan “ala pacaran” Dalihnya sederhana, “wanita calon istri” kan harus dikenalkan dulu dengan istri pertama dan anak-anaknya.

(8) Ketidakmampuan membina kehidupan suami-istri yang selalu ‘menggairahkan’ beralih kepada semangat ‘mencari yang baru’. Sebagai sebab dari ketidakmampuan ini adalah qillatul-ilmi (sedikit ilmu) tetang seni berumah tangga dan seni mengolah cinta. (9) Sebagian kecil ikhwan mulai memasuki usia 40, dan katanya ini fase “recycling” dengan dalih “life started at fourty” hidup dimulai dari usia 40 tahun. Aktualisasinya adalah muncul ‘kegenitan’ jilid kedua.

(10) Masih ada lagi, tetapi saya cukupkan saja dulu. Mari merenung!! Sumber [Majalah SAKSI No 11 Tahun VII] – Author [Mahfuz Sidik] Maret 2008 S S R K J S M 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Apr » • Tulisan Terakhir • Do’a pengantin… • Walimatul ‘Ursy • Sebuah Syair Renungan Untuk Suami • Sebuah Syair Renungan Untuk Istri • Risalah Agung Pernikahan • J o d o h • Resep Kue Pernikahan • Do’a Cinta Sang Pengantin • Kata Terurai jadi Laku… • Membina Hubungan Baik Dengan Orang Lain • Tambahan Oleh : Ustd.

Mahfuz Sidik Belakangan ini saya banyak diskusi dengan istri tentang gejala ” syahwat lawan jenis”. Istri saya termasuk akhwat yang cukup “cerewet” soal gejala-gejala tidak sehat mengenai perilaku hubungan antara ikhwan dan akhwat.

“Jangan sampai menjadi perusak masa depan dakwah kita.!”, demikian hujjah balighah yang kerap meluncur dari dirinya kepada saya. Dan ketika saya meresponnya dengan kalem, pressure pun muncul. “Abi kan mas’ul kaderisasi.

Abi tanggung jawab kalau nanti terjadi apa-apa pada dakwah ini …!!” Sesaat saya akan menulis kolom ini, istri saya baru melontarkan serangan barunya, Abi denger nih. Ummi dapet berita shahih kalau ada mas’ul dakwah syahwat terhadap lawan jenis pacarin 11 akhwat, dan 4 diantaranya ternyata hamil…!! ” Saya mencoba merespon dengan santai – karena sedang mikir tema apa yang harus ditulis – dengan mengatakan agar berita itu ditabayyun (cros check) dulu. Tetapi justru saya disergah : “Ya tugas abi dong yang harus men-tabayyun !

Abi kan punya akses dan kewenangan !”. Saya mencoba mulai menulis. Tetapi belum lagi ketemu tema tulisan, saya dibombardir oleh pertanyaan lain :”Bi emang bener ustadz Fulan nikah lagi, dan sebelumnya pake pacaran segala?” Alhasil, tanpa diniatkan sebelumnya akhirnya saya menulis tema ini. Kebetulan sehari sebelumnya saya mendapatkan short massage service (sms) dari seorang akh yang mengomentari tulisan saya berjudul “SMS”. Komentarnya berterima kasih atas tulisan tersebut, karena memang itulah fenomena yang terjadi di lapangan.

Pikir saya, biarlah sekalian menulis tema yang lebih “serem” sebagai tadzkirah. Fadzakir inna adz-adzikara tanfa’ul mu’minin!. Pertama, saya mencoba merenungi kembali dasar masalah “syahwat lawan jenis”. Nabi Adam as diciptakan Allah SWT sebagai manusia pertama dan satu-satunya pada saat itu. Beliau ditempatkan di dalam syurga yang penuh kenikmatan tak terhingga.

Tetapi apa yang terjadi ? Nabi Adam merasa “kurang nikmat” menikmati kenikmatan syurga seorang diri. Ia menginginkan seorang wanita. Lalu apa yang terjadi ? Nabi Adam dan istrinya tertipu oleh syaitan sehingga melanggar prinsip-prinsip ’syahwat lawan jenis’ yang diatur oleh Allah SWT. Perhatikan firman Allah : “Wahai anak cucu Adam!

Janganlah sampai kamu tertipu oleh syetan sebagaimana halnya dia (syeitan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari syurga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya”(QS.

Al A’raaf:27). Nabi Adam dan istrinya merintis kehidupan baru komunitas manusia di muka bumi dengan berbekal ampunan dan hidayah Allah SWT. Tetapi apa yang kemudian syahwat terhadap lawan jenis oleh sejarah? Kejahatan pertama di muka bumi adalah syahwat terhadap lawan jenis dua orang laki-laki terhadap seorang wanita, dan berakhir dengn aksi pembunuhan. “Maka nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya (Habil)kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka terjadilah dia syahwat terhadap lawan jenis orang yang merugi” (QS.

Al- Maidah : 30). Lalu sejarah umat dan bangsa-bangsa menunjukkan bagaimana kehancuran di banyak peradaban mereka justru karena “syahwat lawan jenis”. Rasulullah SAW pernah berpesan : “Sesungguhnya dunia ini manis dan menyegarkan…Maka takutlah kepada wanita, karena cobaan yang pertama terhadap Bani Israil ialah karena wanita.” (Al Jami’ Ash-Shagir, 2/179). Jadi dasar dari semua masalah ini adalah dahsyatnya dorongan dan pengaruh yang muncul dari “syahwat lawan jenis”, yang tidak ada seorang manusia pun bisa membebaskan diri darinya.

Bahkan seperti yang diungkapkan Rasulullah, ia manis dan menyegarkan. Atau seperti ungkapan Allah, ia dipandang indah dan menyenangkan. “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadaap syahwat berupa wanita”(QS Ali Imran :14) Allah tentu saja menjadikan “syahwat lawan jenis” sebagai unsur kekuatan manusia dalam membangun kehidupan dan peradabannya.

Dengan syahwat inilah, manusia menyuburkan nilai rasa, emosi, kasih dan cinta agar kehidupan dunia “manis dan menyegarkan”. Dengan syahwat ini, manusia memiliki dorongan untuk “hidup bersama” dalam ikatan perkawinan dan keluarga agar leluasa mengekspresikan luapan rasa, emosi, kasih dan cintanya sampai dalam bentuk hubungan seksual. Dengan syahwat inilah, keluarga-keluarga menghasilkan anak-keturunannya untuk menyempurnakan kesenangan, kebahagiaan, dan kebanggaan.

Dengan syahwat ini pula, manusia membangun norma, etika, adat, estetika dan syari’at yang mampu memelihara dan mengkokohkan unsur kekuatan yang sangat mendasar sifatnya ini, tanpa menyebabkan kerusakan dari kerusakan dan kehancuran tata kehidupan sosialnya. Kita adalah umat dakwah. Sekumpulan orang yang mengemban misi untuk mengajak dan membimbing manusia kepada kehidupan yang baik. Agar mereka bisa mengelola syahwat lawan jenisnya secara benar dan baik, sehingga kebaikan dan keberlangsungan peradabannya bisa terjaga.

Kita mendakwahi mereka kepada syari’at yang membimbing syahwat lawan jenis secara benar. Tentu saja bukan sekedar dengan kata-kata, tetapi juga dengan teladan amal. Bahwa kader-kader dakwah – yang semoga dipelihara Allah SWT – secara konsisten berkomitmen menjalankan syari’at ini. Dan manusia menyaksikan kebenaran syari’at bukan dari kata-kata kita, tetapi dari apa yang kita amalkan. Apa yang perlu menjadi perhatian dan keprihatinan kita saat ini Saya sebutkan saja satu per satu berbagai gejala yang saya dengar dan saya lihat sendiri.

• Adab ikhwan dan akhwat mulai bergeser ke arah yang membuka celah syahwat lawan jenis. Berbicara tatap-muka dengan jarak yang dekat dan sering bertatapan mata, misalnya.

Atau komunikasi lewat telpon dengan irama suara yang membuat seorang ikhwan ‘menikmati’ suara akhwat lawan bicaranya. • Keterdesakan atau keterpaksaaan yang menggiring kepada suatu yang “tidak boleh terjadi !”. Misalnya akhwat “terpaksa” dibonceng motor oleh ikhwan gara-gara rapat baru selesai malam hari, dan jalan menuju halte bus atau rumahnya cukup jauh serta “tidak aman”.

Atau rapat dalam satu ruangan yang “sempit” sehingga ikhwan dan akhwat duduk berdampingan tanpa jarak yang aman atau tanpa hijab. Dalam forum-forum seperti ini, akhwat tidak membiasakan diri bicara dengan tegas dan lugas. Ingat suara wanita adalah aurat! • Bergesernya mode pakaian akhwat yang ‘mengundang’ pandangan syahwat kaum ikhwan. Mulai dari jilbab yang “kependekan” sehingga tidak menutup dadanya dengan sempurna atau bila tertiup angin bisa menampakan bagian leher dan rambut belakangnya.

Lalu bahan pakaian yang “lebih tipis” dan pilihan warna yang “flamboyan”. Atau menggunalkan sepatu berhak “cukup tinggi”, sehingga mengundang perhatian pada langkah dan pinggul belakang akhwat.

• Bergesernya nilai seni Islam dari senandung jihad dan iman kepada senandung hiburan semata. Lalu mulai muncul akhwat-akhwat yang menggemari “munsyid” (penyanyi) daripada “nasyid”-nya.

• Keterbukaan pergaulan dakwah antara ikhwan dan akhwat menggiring prefensi memilih jodoh kepada apa yang menarik dari “pandangan mata” dan bukan menarik dari “pandangan dakwah”. Akibarnya, semangat mencari jodoh sendiri begitu menggebu, dan murabbi tinggal menunggu konfirmasi. • Konsultasi dakwah masalah pribadi atau rumah tangga yang kemudian berbuah simpati sampai jatuh hati. Tidak sedikit seorang da’i yang berawal dari semangat dakwah terhadap lawan jenis justru berubah arah menjadi ajang “perselingkuhan” baru.

Alih-alih membantu menyelesaikan masalah malah menambah masalah. Ada satu dua ustadz yang menikah (lagi) dengan “wanita” yang semula menjadi “pasien” dakwahnya. Rupanya ustadz ikut ketularan penyakit pasiennya.

• Semangat menikah (lagi) melalui prosedur resmi, tetapi dimulai dengan hubungan “ala pacaran” Dalihnya sederhana, “wanita calon istri” kan harus dikenalkan dulu dengan istri pertama dan anak-anaknya. • Ketidakmampuan membina kehidupan suami-istri yang selalu ‘menggairahkan’ beralih kepada semangat ‘mencari yang baru’. Sebagai sebab dari ketidakmampuan ini adalah qillatul-ilmi (sedikit ilmu) tetang seni berumah tangga dan seni mengolah cinta.

• Sebagian kecil ikhwan mulai memasuki usia 40, dan katanya ini fase “recycling” dengan dalih “life started at fourty” hidup dimulai dari usia 40 tahun. Aktualisasinya adalah muncul ‘kegenitan’ jilid kedua. • Masih ada lagi, tetapi saya cukupkan saja dulu.

Mari merenung!! Sumber : Majalah SAKSI No 11 Tahun VII http://www.hudzaifah.org/Article496.phtml 17 Oktober 2007 pukul 10:54 pm setuju dan benar semoanya saya sendiri hidup dalam lingkungan anak muda yang hedon tapi juga berada dalam lingkungan religius seringkali beribadah hanya bersifat riak ada niat dari lisan tetapi hati muncul riak ibadah karena cari jodoh walau pikiranku cari jodoh yang berbackground muslimah tulen… • Dakwah Cyber • Profil • Pengelola • Bukutamu • Menu Utama • Berita (1) • Fiqih (6) • Kajian (11) • Keluarga (6) • Kontemporer (1) • Muslimah (7) • Ramadhan (5) • Renungan Diri (2) • Review Buku (1) • Siroh/Kisah (2) • Tausiyah (9) • Thaharah (2) • Ustadz Menjawab (5) • Tulisan Terakhir • Mitos Jawa, Dituruti atau Tidak?

syahwat terhadap lawan jenis

• Berwudhu Tanpa Melepas Kerudung • Mengeluarkan Air Mani di Luar Isteri • Hari Jilbab Dunia Mengenang wafatnya Syahwat terhadap lawan jenis Pembela Jilbab • Siapakah kau, perempuan sempurna ?

• Komentar Terbaru Geraldo pada WARNING : Syahwat Lawan Jenis… khoirul amin pada Doa untuk Orang yang Meni… abuya guan pada Doa untuk Orang yang Meni… klik artikel sampai… pada Persiapan Menyambut Ramadhan S… www.madarchitect.org pada Persiapan Menyambut Ramadhan S… • Tulisan Teratas • Mitos Jawa, Dituruti atau Tidak? • Berwudhu Tanpa Melepas Kerudung • Mengeluarkan Air Mani di Luar Isteri • Hari Jilbab Dunia Mengenang wafatnya Sahidah Pembela Jilbab • Siapakah kau, perempuan sempurna ?

• 7 Indikator Kebahagiaan Dunia • Download Novel Ketika Cinta Bertasbih (Full) • Definisi Hubungan Intim • Membongkar Jaringan AKKBB • Karir Muslimah • PMO • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti. • Grosir Mukena Solo • Mukena Tye Die Abstrak • Mukena Bunga Rambat • Mukena Lapis • Mukena Black Tulip • Mukena Dewi Sandra • Mukena Anak Tatto • Mukena Tye Die Keong • Mukena Tye Die Batik • Mukena Anggrek Lukis • Mukena Tye Die Gelombang • Kalender
Merdeka.com - Zina dalam Islam merupakan sebuah perbuatan terlarang dan mendapatkan balasan yang pedih dari Allah SWT.

Seringkali zina selalu dikaitkan dengan hubungan intim yang dilakukan oleh dua perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim. Namun nyatanya, zina tidak hanya terbatas pada perbuatan tersebut. Namun, perbuatan zina juga dapat disebut pada perbuatan-perbuatan yang mampu membangkitkan nafsu syahwat dari lawan jenis bukan muhrim. Padahal, dalam Alquran telah disebutkan secara jelas bahwa Allah SWT melarang hamba-Nya untuk menjauhi nafsu syahwat terhadap lawan jenis yang bukan muhrimnya.

Selain mendatangkan dosa dan azab yang pedih dari Allah, melakukan zina juga dapat menimbulkan berbagai bahaya hingga ancaman penyakit pada tubuh apabila dilakukan secara terus-menerus.

Lantas, bagaimana sebenarnya zina dalam hukum Islam hingga jenisnya yang seringkali dilakukan oleh manusia tanpa disadari? Simak ulasan selengkapnya berikut ini, dirangkum dari berbagai sumber. Jenis Zina Zina dalam Islam terbagi menjadi beberapa jenis.

Yakni zina al-laman, zina muhsan, dan zina ghairu muhsan. Berikut penjelasan selengkapnya: Zina Al-Laman Jenis zina yang pertama ini merupakan zina yang pada umumnya dilakukan oleh panca indera.

Hal ini jelas dilarang dalam Islam, seperti sabda Rasulullah berikut ini: " Telah diterapkan bagi anak-anak Adam yang pasti terkena, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya syahwat terhadap lawan jenis berkata-kata, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah berjalan, hati zinanya adalah keinginan (hasrat) dan yang membenarkan dan mendustakannya adalah kemaluan." (HR.

Muslim) Zina Muhsan Zina muhsan merupakan jenis zina yang dilakukan oleh mereka dengan status telah berkomitmen untuk mengikat janji di dalam suatu pernikahan. Atau kata lain, zina ini dilakukan oleh mereka syahwat terhadap lawan jenis telah beristri atau bersuami. Hal ini seringkali terjadi dan berujung pada perselingkuhan hingga perceraian. BACA JUGA: Niat Sholat Taubat Zina dan Tata Caranya, Lengkap dengan Bacaan Doa 6 Doa Saat Sakit Hati Karena Syahwat terhadap lawan jenis, Agar Tidak Galau dan Kembali Ikhlas Zina Ghairu Muhsan Jenis zina ghairu muhsan merupakan zina yang dilakukan oleh seorang wanita atau laki-laki dengan status pernikahan yang belum sah atau belum pernah menikah.

Hal ini seringkali dilakukan oleh sepasang kekasih atau wanita dan laki-laki yang melakukan hubungan intim sebelum menikah. Berzina Adalah Perbuatan Haram Zina dalam Islam secara tegas merupakan perbuatan haram dan syahwat terhadap lawan jenis ke dalam dosa besar.

Hal tersebut seperti yang tertulis pada firman Allah sebagai berikut: " Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya syahwat terhadap lawan jenis mendapat (pembalasan) dosa(nya) (68) (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina (69)." (QS Al-Furqan: 68-69).

©2018 Merdeka.com/Pixabay Hukuman di Dunia Bagi Pezina Selain mendapatkan dosa besar dan laknat dari Allah SWT, zina dalam Islam juga akan mendapatkan hukuman yang setimpal saat di dunia.

Hukuman tersebut tak lain berupa rajam atau dilempari batu hingga mati. Sedangkan pada pelaku yang belum menikah, maka pelaku akan mendapatkan hukum cambuk sebanyak 100 kali hingga diasingkan dalam kurun waktu tertentu. " Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kamu kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman." (QS.

An-Nur: 2). BACA JUGA: 6 Potret Terbaru Aisyahrani Hamil Anak Ketiga, Penampilannya Mencuri Perhatian Intip Foto Lawas Ivan Gunawan dengan Tubuh Langsing, Beda Banget dan Bikin Pangling Berikut beberapa bahaya melakukan zina yang dapat dialami oleh pelaku: • Masa depan dapat rusak akibat dari berbagai dampak yang ditimbulkan usai melakukan zina.

• Memupuk dosa yang menghilangkan sikap untuk menjaga diri daripada berbuat dosa. • Mendapatkan aib yang berkepanjangan. • Memicu konflik dalam kehidupan sosial. • Cenderung kekal dalam kemiskinan dan tak akan merasa cukup dengan yang dimiliki. • Merusak martabat di hadapan masyarakat dan Allah SWT. • Dicampakkan oleh Allah SWT hingga kehidupan yang tak mendapatkan keberkahan. • Terjangkit penyakit mematikan seperti HIV/AIDS hingga berbagai macam penyakit menular seks lainnya.

Balasan Bagi Pezina Tak hanya mendapatkan kerugian saat di dunia, pelaku zina dalam Islam juga akan diberi balasan oleh Allah SWT kelak di kemudian hari. Hal ini seperti yang pernah disampaikan Rasulullah SAW dengan sabda: " Dua kejahatan akan dibalas oleh Allah ketika di dunia: zina dan durhaka kepada ibu bapak." (HR.

Thabrani). BACA JUGA: VIDEO: PARAH! Ambulans Isi Wisawatan Terobos One Way di Puncak H+5 Lebaran, Arus Balik di Trans Sulawesi Mulai Padat Melakukan zina berarti sama dengan menghilangkan cahaya mulia dari raut wajah hingga memperpendek usia di muka bumi. Maka dari itu, hindari untuk melakukan zina dan semakin dekatkan diri kepada Allah SWT saat nafsu duniawi terasa menggebu-gebu. Alihkan secara langsung dengan melakukan berbagai ibadah yang justru akan membawa kita ke jalan kebenaran di dunia dan akhirat.

1 Kisah Kehidupan Seks Tentara Belanda di Indonesia 2 Viral Video Kuda Penarik Delman Terjatuh di Tengah Jalan, Warganet Meradang 3 Ultah ke-43, Ini 5 Potret Terbaru Sara Wijayanto Disebut Awet Muda Bak Gadis 4 Potret Cantik Alyssa Soebandono Makin Kurus, Netizen Sebut Bak Anak SMA 5 Momen Jokowi dan Cucu Menikmati Pantai Nusa Dua Bali Selengkapnya
posted by : karim Belakangan ini saya banyak diskusi dengan istri tentang gejala ” syahwat lawan jenis”.

Istri saya termasuk akhwat yang cukup “cerewet” soal gejala-gejala tidak sehat mengenai perilaku hubungan antara ikhwan dan akhwat. “Jangan sampai menjadi perusak masa depan dakwah kita.!”, demikian hujjah balighah yang kerap meluncur dari dirinya kepada saya. Dan ketika saya meresponnya dengan kalem, pressure pun muncul.

syahwat terhadap lawan jenis

“Abi kan mas’ul kaderisasi. Abi tanggung jawab kalau nanti terjadi apa-apa pada dakwah ini …!!” Sesaat saya akan menulis kolom ini, istri saya baru melontarkan serangan barunya, Abi denger nih. Ummi dapet berita shahih kalau ada mas’ul dakwah kampus pacarin 11 akhwat, dan 4 diantaranya ternyata hamil…!! ” Saya mencoba merespon dengan santai – karena sedang mikir tema apa yang harus ditulis – dengan mengatakan agar berita itu ditabayyun (cros check) dulu.

Tetapi justru saya disergah : “Ya tugas abi dong yang harus men-tabayyun ! Abi kan punya akses dan kewenangan !”. Saya mencoba mulai menulis. Tetapi belum lagi ketemu tema tulisan, saya dibombardir oleh pertanyaan lain :”Bi emang bener ustadz Fulan nikah lagi, dan sebelumnya pake pacaran segala?” Alhasil, tanpa diniatkan sebelumnya akhirnya saya menulis tema ini.

Kebetulan sehari sebelumnya saya mendapatkan short massage service (sms) dari seorang akh yang mengomentari tulisan saya berjudul “SMS”. Komentarnya berterima kasih atas tulisan tersebut, karena memang itulah fenomena yang terjadi di lapangan. Pikir saya, biarlah sekalian menulis tema yang lebih “serem” sebagai tadzkirah. Fadzakir inna adz-adzikara tanfa’ul mu’minin!. Pertama, saya mencoba merenungi kembali dasar masalah “syahwat lawan jenis”.

Nabi Adam as diciptakan Allah SWT sebagai manusia pertama dan satu-satunya pada saat itu. Beliau ditempatkan di dalam syurga yang penuh kenikmatan tak terhingga. Tetapi apa yang terjadi ? Nabi Adam merasa “kurang nikmat” menikmati kenikmatan syurga seorang diri. Ia menginginkan seorang wanita.

Lalu apa yang terjadi ? Nabi Adam dan istrinya tertipu oleh syaitan sehingga melanggar prinsip-prinsip ’syahwat lawan jenis’ yang diatur oleh Allah SWT. Perhatikan firman Allah : “Wahai anak cucu Adam!

Janganlah sampai kamu tertipu oleh syetan sebagaimana halnya dia (syeitan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari syurga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya”(QS. Al A’raaf:27). Nabi Adam dan istrinya merintis kehidupan baru komunitas manusia di muka bumi dengan berbekal ampunan dan hidayah Allah SWT.

Tetapi apa yang kemudian dicatat oleh sejarah? Kejahatan pertama di muka bumi adalah perebutan dua orang laki-laki terhadap seorang wanita, dan berakhir dengn aksi pembunuhan. “Maka nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya (Habil)kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka terjadilah dia termasuk orang yang merugi” (QS. Al- Maidah : 30). Lalu sejarah umat dan bangsa-bangsa menunjukkan bagaimana kehancuran di banyak peradaban mereka justru karena “syahwat lawan jenis”.

Rasulullah SAW pernah berpesan : “Sesungguhnya dunia ini manis dan menyegarkan…Maka takutlah kepada wanita, karena cobaan yang pertama terhadap Bani Israil ialah karena wanita.” (Al Jami’ Ash-Shagir, 2/179). Jadi dasar dari semua masalah ini adalah dahsyatnya dorongan dan pengaruh yang muncul dari “syahwat lawan jenis”, yang tidak ada seorang manusia pun bisa membebaskan diri darinya.

Bahkan seperti yang diungkapkan Rasulullah, ia manis dan menyegarkan. Atau seperti ungkapan Allah, ia dipandang indah dan menyenangkan. “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadaap syahwat berupa wanita”(QS Ali Imran :14) Allah tentu saja menjadikan “syahwat lawan jenis” sebagai unsur kekuatan manusia dalam membangun kehidupan dan peradabannya. Dengan syahwat inilah, manusia menyuburkan nilai rasa, emosi, kasih dan cinta agar kehidupan dunia “manis dan menyegarkan”.

Dengan syahwat ini, manusia memiliki dorongan untuk “hidup bersama” dalam ikatan perkawinan dan keluarga agar leluasa mengekspresikan luapan rasa, emosi, kasih dan cintanya sampai dalam bentuk hubungan seksual. Dengan syahwat syahwat terhadap lawan jenis, keluarga-keluarga syahwat terhadap lawan jenis anak-keturunannya untuk menyempurnakan kesenangan, kebahagiaan, dan kebanggaan. Dengan syahwat ini pula, manusia membangun norma, etika, adat, estetika dan syari’at yang mampu memelihara dan mengkokohkan unsur kekuatan yang sangat mendasar sifatnya ini, tanpa menyebabkan kerusakan dari kerusakan dan kehancuran tata kehidupan sosialnya.

Kita adalah umat dakwah. Sekumpulan orang yang mengemban misi untuk mengajak dan membimbing manusia kepada kehidupan yang baik. Agar mereka bisa mengelola syahwat lawan jenisnya secara benar dan baik, sehingga kebaikan dan keberlangsungan peradabannya bisa terjaga.

Kita mendakwahi mereka kepada syari’at yang membimbing syahwat lawan jenis secara benar. Tentu saja bukan sekedar dengan kata-kata, tetapi juga dengan teladan amal. Bahwa kader-kader dakwah – yang semoga dipelihara Allah SWT – secara konsisten berkomitmen menjalankan syari’at ini. Dan manusia menyaksikan kebenaran syari’at bukan dari kata-kata kita, tetapi dari apa yang kita amalkan.

Apa yang perlu menjadi perhatian dan keprihatinan kita saat ini Saya sebutkan saja satu per satu berbagai gejala yang saya dengar dan saya lihat sendiri. (1) Adab ikhwan dan akhwat mulai bergeser ke arah yang membuka celah syahwat lawan jenis.

Berbicara tatap-muka dengan jarak yang syahwat terhadap lawan jenis dan sering bertatapan mata, misalnya. Atau komunikasi lewat telpon dengan irama suara yang membuat seorang ikhwan ‘menikmati’ suara akhwat lawan bicaranya. (2) Keterdesakan atau keterpaksaaan yang menggiring kepada suatu yang “tidak boleh terjadi !”. Misalnya akhwat “terpaksa” dibonceng motor oleh ikhwan gara-gara rapat baru selesai malam hari, dan jalan menuju halte bus atau rumahnya cukup jauh serta “tidak aman”.

Atau rapat dalam satu ruangan yang “sempit” sehingga ikhwan dan akhwat duduk berdampingan tanpa jarak yang aman atau tanpa hijab. Dalam forum-forum seperti ini, akhwat tidak membiasakan diri bicara dengan tegas dan lugas.

Ingat suara wanita adalah aurat! (3) Bergesernya mode pakaian akhwat yang ‘mengundang’ pandangan syahwat kaum ikhwan. Mulai dari jilbab yang “kependekan” sehingga tidak menutup dadanya dengan sempurna atau bila tertiup angin bisa menampakan bagian leher dan rambut belakangnya. Lalu bahan pakaian yang “lebih tipis” dan pilihan warna yang “flamboyan”. Atau menggunalkan sepatu berhak “cukup tinggi”, sehingga mengundang perhatian pada langkah dan pinggul belakang akhwat.

(4) Bergesernya nilai seni Islam dari senandung jihad dan iman kepada senandung hiburan semata. Lalu mulai muncul akhwat-akhwat yang menggemari “munsyid” (penyanyi) daripada “nasyid”-nya. (5) Keterbukaan pergaulan dakwah antara ikhwan dan akhwat menggiring prefensi memilih jodoh kepada apa yang menarik dari “pandangan mata” dan bukan menarik dari “pandangan dakwah”.

Akibarnya, semangat mencari jodoh sendiri begitu menggebu, dan murabbi tinggal menunggu konfirmasi. (6) Konsultasi dakwah masalah pribadi atau rumah tangga yang kemudian berbuah simpati sampai jatuh hati. Tidak sedikit seorang da’i yang berawal dari semangat dakwah terhadap lawan jenis justru berubah arah menjadi ajang “perselingkuhan” baru. Alih-alih membantu menyelesaikan masalah malah menambah masalah. Ada satu dua ustadz yang menikah (lagi) dengan “wanita” yang semula menjadi “pasien” dakwahnya.

Rupanya ustadz ikut ketularan penyakit pasiennya. (7) Semangat menikah (lagi) melalui prosedur resmi, tetapi dimulai dengan hubungan “ala pacaran” Dalihnya sederhana, “wanita calon istri” kan harus dikenalkan dulu dengan istri pertama dan anak-anaknya. (8) Ketidakmampuan membina kehidupan suami-istri yang selalu ‘menggairahkan’ beralih kepada semangat ‘mencari yang baru’. Sebagai sebab dari ketidakmampuan ini adalah qillatul-ilmi (sedikit ilmu) tetang seni berumah tangga dan seni mengolah cinta.

(9) Sebagian kecil ikhwan mulai memasuki usia 40, dan katanya ini fase “recycling” dengan dalih “life started at fourty” hidup dimulai dari usia 40 tahun. Aktualisasinya adalah muncul ‘kegenitan’ jilid kedua. (10) Masih ada lagi, tetapi saya cukupkan saja dulu. Mari merenung!! Sumber : Majalah SAKSI No 11 Tahun VII Oleh : Ustd. Mahfuz Sidik Tulisan Terakhir • MASIH SEMANGATKAH KAWAN…!! • Emang Akhwat bisa jatuh cinta?? • Akhiri kehidupanmu dengan karya… • Selamat berjuang pengurus baru • open recruitmen prajurit dakwah di amikom • Nahkoda baru dakwah di amikom • Istiqomah Di Tengah Jalan yang Penuh Badai Ujian • Training Life Mapping • Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H Komentar Terbaru • Fajrin pada MASIH SEMANGATKAH KAWAN…!!

• Jabar Jamin pada Masjid Bukan Mosque • Cyber Wawan pada Masjid Bukan Mosque • kevin kustan pada Hamas atau Israel yang Nyerang Duluan…? • kevin kustan pada Hamas atau Israel yang Nyerang Duluan…? • John Athan pada Hamas atau Syahwat terhadap lawan jenis yang Nyerang Duluan…?

• sulaiman zaini pada Masuk ke Sarang Izzudin Al Qassam, Sayap Militer Hamas • imam pada Menemukan Kedamaian Islam di Balik Jilbab • imam pada Antara Michael Jackson dan Marwa al-SharbiniHukum memandang lawan jenis dalam Islam syahwat terhadap lawan jenis tertera dalam Al-Qur'an juga Hadis Nabi Muhammad SAW. Ada batasan tertentu mana yang dibolehkan dan mana yang haram. Namun bukan berarti kita dilarang sama sekali untuk memandang lawan jenis.

Dalam Qur'an Surat An-Nur ayat 31 yang berbunyi: وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ Mereka juga mendasarkan pendapatnya pada hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan At Tirmidzi berikut ini: Ketika itu Ummu Salamah bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan Maimunah, lalu Ibnu Ummi Maktum hendak masuk ke rumah. Itu terjadi setelah kami diperintahkan untuk berhijab (setelah turun ayat hijab).

Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata: ‘Kalian berdua hendaklah berhijab darinya’. Ummu Salamah berkata: ‘Wahai Rasulullah, bukankan Ibnu Ummi Maktum itu buta tidak melihat kami dan syahwat terhadap lawan jenis mengenali kami?’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata: ‘Apakah kalian berdua juga buta? Bukankah kalian berdua melihatnya?’ Bagaimanakah hukum memandang syahwat terhadap lawan jenis jenis dalam Islam?

Dalam laman Ditjen Pendis Kemenag RI, Dr. Nur Rofiah, BIL UZM, seorang dosen Institut Perguruan Tinggi Ilmu Qur'an menjelaskan hal ini dalam video berikut: Poin penting yang diungkap oleh Dr. Nur Rofiah tentang hukum memandang lawan jenis dalam Islam ialah sebagai berikut: 1. Menundukkan pandangan bukan mata Banyak yang salah kaprah, menganggap bahwa ghadul basyar yang bermakna menundukkan pandangan, diartikan bahwa harus menundukkan kepala saat berhadapan dengan lawan jenis.

Padahal, yang lebih penting adalah mengendalikan cara pandang terhadap lawan jenis agar tidak terjerumus ke dalam zina. 2. Mengontrol cara pandang terhadap lawan jenis Jangan melihat lawan jenis sebagai makhluk seksual, tapi juga sebagai makhluk intelektual dan spritual yang memiliki akal budi. Sehingga pergaulan dengan lawan jenis tidak seperti hewan yang tujuannya hanya untuk bereproduksi, sehingga hubungan pejantan dan betina selalu dalam hal seksualitas. 3. Menjaga alat kelamin agar tidak berzina Memandang lawan jenis dalam Islam dengan cara mengontrol pola pikir agar tidak melulu berpikiran soal seksual.

Tujuannya supaya terhindar dari zina. Dan bisa menjalani pergaulan dengan lawan jenis lebih positif, yaitu dalam lingkup cara pandang intelektual dan spiritual. • Kehamilan • Tips Kehamilan • Trimester Pertama • Trimester Kedua • Trimester Ketiga • Melahirkan • Menyusui • Tumbuh Kembang • Bayi • Balita • Prasekolah • Praremaja • Usia Sekolah • Parenting • Pernikahan • Berita Terkini • Seks • Keluarga • Kesehatan • Penyakit • Info Sehat • Vaksinasi • Kebugaran • Gaya Hidup • Keuangan • Travel • Fashion • Hiburan • Kecantikan • Kebudayaan • Lainnya • TAP Komuniti • Beriklan Dengan Kami • Hubungi Kami • Jadilah Kontributor Kami Tag Kesehatan
Allah Subhanahu wa ta'ala menciptakan manusia dengan disertai syahwat.

Kata syahwat itu sendiri merupakan bentuk jamak dari ‘syahaa’ yang berarti ‘almusytaha‘ atau sesuatu yang diinginkan. Allah Ta’ala telah menyebutkan bagi kita berbagai jenis syahwat yang membawa jiwa untuk mencintainya. Seperti disebutkan dalam firman'Nya : زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.

Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Al Imran:14) (Baca juga : Jadilah Calon Istri yang Sesuai Panduan Rasulullah ) Jenis-jenis syahwat yang disebutkan dalam ayat tersebut di antaranya: wanita, anak-anak, harta, hewan ternak dan ladang. Syahwat seringkali dikonotasikan dengan hal-hal yang negatif, terutama tentang hawa nafsu yang berlebihan.

Padahal, menurut Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari, Allah Ta’ala menciptakan manusia dengan disertai syahwat dan tidak akan sia-sia karena terdapat juga faedah dan manfaat di dalamnya. Salah satu contohnya, misalnya jika manusia tidak memiliki syahwat (selera) makan, kemudian dia tidak makan, sehingga akan menyebabkan dirinya binasa.

Demikian juga jika manusia tidak memiliki syahwat terhadap lawan jenis terhadap lawan jenis, maka keturunan dapat menjadi terputus. Oleh karena itu, keberadaan syahwat pada manusia tidak tercela. Celaan itu tertuju jika manusia melewati batas dalam memenuhi syahwat. Karena ada sebagian manusia yang tidak memahami hal ini, mengira bahwa syahwat pada manusia merupakan perkara tercela, sehingga mereka berusaha meninggalkan semua yang sebenarnya diinginkan oleh jiwanya.

(Baca juga : Waspada, Perempuan pun Bisa Terfitnah Kaum Lelaki ) Ada juga sebagian manusia yang meninggalkan perkara-perkara yang mereka sukai itu dengan beralasan karena zuhud (meremehkan) terhadap dunia. Tetapi zuhud yang mereka lakukan itu diiringi dengan kebodohan terhadap agama, sehingga zuhud mereka itu tidak bernilai kebaikan. Karena mengharamkan sesuatu yang dihalalkan agama –meskipun hanya bagi dirinya sendiri- merupakan kezaliman terhadap jiwa, bukan merupakan keadilan. Namun demikian, yang dibutuhkan manusia adalah mengendalikan syahwat agar tidak berlebihan.

Dirangkum dari tulisan ceramahnya, ustadz Abu Isma'il membeberkan beberapa cara mengendalikan syahwat tersebut. Syahwat terhadap lawan jenis antaranya : 1. Mengendalikan syahwat perut Walaupun memenuhi kebutuhan hidup yang disukai itu diperbolehkan, namun bukan berarti seorang mukmin dibolehkan selalu memperturutkan hawa nafsunya, bahkan dia harus mengendalikannya. Di antaranya, yaitu mengendalikan syahwat perut. Karena syahwat perut ini termasuk salah satu perkara yang dapat membinasakan manusia.

(Baca juga : Memperbaiki Hati, Salah Satu Cara Meraih Surga Allah Ta'ala ) Syahwat ini pula yang menjadi penyebab Nabi Adam Alaihissalam dikeluarkan dari Surga yang kekal.

Dan dari syahwat perut ini, kemudian timbul syahwat kemaluan dan rakus terhadap harta benda. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan fitnah (kesesatan, ujian) syahwat dan fitnah syubhat terhadap umatnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ "Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kalian, ialah syahwat mengikuti nafsu pada perut dan pada kemaluan kalian serta fitnah-fitnah yang menyesatkan.( HR Ahmad) Syahwat mengikuti nafsu perut dan kemaluan merupakan fitnah syahwat, sedangkan fitnah-fitnah yang menyesatkan adalah fitnah syubhat.

(Baca juga : Pendanaan Terorisme Kian Canggih, Berubah Seiring Perkembangan Teknologi ) • menahan nafsu syahwat • adab dan akhlak • godaan syahwat wanita • faedah dan mengendalikan syahwat • Bolehkah Menggabungkan Puasa Syawal dan Puasa Sunnah Senin-Kamis Sekaligus? • Dua Kisah Sahabat Nabi SAW yang Rutin Membaca Surah Al-Ikhlas dalam Setiap Sholat • Mencari Keberkahan dari Makanan yang Disajikan Sesuai Syariat • Berwisata dengan Tujuan Ibadah akan Lebih Bermakna, Yuk Amalkan!

• 7 Adab Merayakan Idul Fitri • Amalan Agar Hilang Sumpek dan Dimudahkan Segala Urusan • Kisah Abdullah Bin Ubay Sebarkan Api Kebencian terhadap Kaum Muhajirin REKOMENDASI • Membesuk dan Mendoakan Orang Sakit Bisa Jadi Sebab Kesembuhan • Komunitas Muslim Bikers Berbagi Sedekah di Tengah Pandemi Covid-19 • Benih-Benih Cinta Itu Bersemi di Musim Pandemi • Dzulqarnain, Cermin Pemimpin Idola Rakyat • Kisah Nabi Musa dan Anak yang Saleh, Pemilik Sapi Betina • Kisah Blusukan Nabi Daud yang Patut Ditiru Pemimpin Sekarang Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Yang pertama kali yang dihisab (dihitung) dari perbuatan seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalatnya.

Jika sempurna ia beruntung dan jika tidak sempurna, maka Allah Azza wa Jalla berfirman, Lihatlah apakah hamba-Ku mempunyai amalan shalat sunnah? Bila didapati ia memiliki amalan shalat sunnah, maka Dia berfirman Lengkapilah shalat wajibnya yang kurang dengan shalat sunnahnya (HR.

Nasa\'i No. 463)
Artinya: “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal .” Etika atau adab pergaulan dengan lawan jenis harus selalu diterapkan agar terhindar dari hal-hal yang melanggar syariat agama. Dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam : Akidah Akhlak Untuk Madrasah Aliyah Kelas XII karangan Toto Adidarmo, MA, dan Drs.

Mulyadi serta Tausiyah Cinta (Special Edition)berikut etika bergaul dengan lawan jenis dalam aturan Islam. Artinya: “ Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.’ ”

Tidak Kuat Menahan Syahwat Walau Sudah Berbagai Cara - Buya Yahya Menjawab




2022 www.videocon.com