Mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris

mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris

Historiografi Tradisional – Historiografi adalah proses penyusunan fakta-fakta sejarah dan berbagai sumber yang telah diseleksi dalam sebuah bentuk penulisan sejarah. Historiografi merupakan tahap terakhir dari kegiatan penelitian untuk penulisan sejarah.

Salah satu jenis historiografi adalah historiografi tradisional, berikut penjelasannya! Daftar Isi • Pengertian Historiografi Tradisional • Tujuan Historiografi • Ciri-Ciri Historiografi Tradisional • Historiografi Tradisional Masa Hindu-Buddha • Ciri-Ciri Historiografi Hindu-Buddha • Historiografi Tradisional Masa Islam • Ciri-Ciri Historiografi Islam Pengertian Historiografi Tradisional Historiografi Tradisional atau penulisan sejarah tradisional adalah penulisan sejarah yang dimulai dari zaman Hindu sampai masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia.

Penulisan sejarah pada zaman ini berpusat pada masalah-masalah pemerintahan dari raja-raja yang berkuasa, bersifat istanasentris, yang mengutamakan keinginan dan kepentingan raja. Tujuan Historiografi Tujuan penulisan sejarah (historiografi) tradisional adalah untuk menghormati dan meninggikan kedudukan raja, nama raja, serta wibawa raja, agar raja tetap dihormati, tetap dipatuhi, dan dijunjung tinggi.

Penulisan sejarah pada masa itu sebetulnya lebih merupakan ekspresi budaya daripada usaha untuk merekam masa lampau sebagaimana halnya sejarah yang kita kenal sekarang. Untuk menulis karya sejarah pada waktu itu tidak diperlukan penguasaan dan penerapan metodologi, cukup kemampuan menyusun cerita dari peristiwa di masa lalu, maka jadilah karya sejarah.

Penulisan sejarah pada masa itu tidak ditujukan untuk mendapatkan kebenaran sejarah melalui pembuktian fakta-fakta, tetapi diperoleh melalui pengakuan dan untuk diabdikan kepada penguasa. Oleh karena itu, dalam historiografi tradisional mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris unsur-unsur sastra yang menyuguhkan karya mitologi dan imajinatif.

Walaupun demikian, di dalamnya sudah ada batasan waktu dan urutan kejadian sehingga telah melahirkan historisasi mitologi. Contoh historiografi tradisional antara lain adalah Sejarah Melayu, Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Aceh, Babad Tanah Jawa, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, dan Babad Kartasura Ciri-Ciri Historiografi Tradisional Berikut ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki naskah historiografi tradisional.

• Hanya membahas aspek tertentu, seperti aspek keturunan (genealogi) atau aspek kepercayaan (religius), • Hanya membicarakan peristiwa tertentu yang dianggap penting dan perlu ditanamkan di tengah masyarakat untuk kepentingan istana. • Mengedepankan sejarah keturunan dari satu raja kepada raja berikutnya (genealogi). • Historiografi tradisional mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris sering memuat kehidupan raja dan bangsawan. • Historiografi tradisional menekankan pada struktur bukan proses.

Historiografi tradisonal secara garis besar dibedakan menjadi 2 macam, yaitu historiografi tradisional masa Hindu-Buddha, dan historiografi tradisional masa Islam. Berikut masing-masing penjelasannya. Historiografi Tradisional Masa Hindu-Buddha Borobudur Pada masa Hindu-Buddha, sejarah lebih banyak ditulis pada batu yang dikenal dengan prasasti.

Tujuan pembuatan prasasti adalah agar generasi penerus dapat mengetahui bahwa ada suatu peristiwa penting yang terjadi dalam suatu kerajaan di bawah pemerintahan seorang raja. Biasanya prasasti ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Ciri-Ciri Historiografi Hindu-Buddha Berikut ciri-ciri penulisan sejarah pada periode Hindu-Buddha. 1. Karya penulisan yang dihasilkan merupakan terjemahan naskah Hindu dari India, seperti Mahabharata dan Ramayana yang diterjemahkan dalam parwa (karya prosa epos) Jawa Kuno.

Buku keempat dari Mahabharata (Wirataparwa) merupakan buku pertama yang diselesaikan dan pertama kali dibacakan pada tahun 996 di hadapan penguasa Jawa Timur. 2. Historiografi tradisional bersifat religiomagis. Istilah religiomagis berasal dari kata religi dan magis. Religi yaitu kepercayaan tentang adanya kekuatan di atas manusia. Magis bersifat menimbulkan kekuatan gaib serta dapat menguasai alam sekitar.

Karya yang dihasilkan memberi peranan pada kekuatan supranaturan beserta peristiwa-peristiwa yang ada di luar jangkauan manusia. Contoh karya sastra historiografi yang bersifat religiomagis, antara lain Aji Saka dan Bubuksah. 3. Kandungan isi penulisan bersifat keratonsentris (istanasentris).

Biasanya para penguasa kerajaan mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris berusaha melegitimasi kekuasannya dan mewariskan pengalaman kepada generasi penerusnya. Untuk hal itulah raja membutuhkan tulisan sejarah yang disusun oleh pujangga keraton sehingga muncul tulisan berupa krobik dan babad. Oleh karena itu, pandangan hidup para pujangga masih diliputi rajasentris, karya yang dihasilkan pun bersifat keratonsentris.

Para pujangga tersebut tidak hanya menulis peristiwa yang bersifat historis, tetapi juga mitologi demi untuk kebesaran raja. Contoh karya jenis ini antara lain adalah Negarakertagama dan Pararaton.

Historiografi Tradisional Masa Islam Masjid Agung Demak Pada masa kerajaan Islam, penulisan peristiwa sejarah ditulis dalam kitab-kitab. Beragam karya sejarah pada masa ini membuktikan tradisi budaya Arab berhasil memengaruhi dan mengubah model penulisan sejarah di Indonesia. Ciri-Ciri Historiografi Islam Berikut ciri-ciri penulisan sejarah pada masa Islam. 1. Karya yang ditulis pada masa Islam belum bisa meninggalkan mitologi.

Dalam beberapa karya terlihat bahwa setelah seseorang menerima wahyu (pulung, ndaru, dan cahaya suci), kemudian tokoh tersebut menjadi tokoh penting. Biasanya tulisan seperti ini untuk melegitimasi kekuasaan seorang raja, contohnya kisah Jaka Tingkir (Raja Pajang) dan Sutawijaya (Raja Mataram Islam).

mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris

2. Karya penulisannya telah mengenal kronologi, misalnya asal-usul raja atau sebab berdirinya sebuah kerajaan. Sebagai contoh, idharul Haqq fi Mamlakat Perlak yang berisi sejarah Kerajaan Perlak dan izhar al-Haqq fi Silsilat Raja Perlak (sejarah dinasti para penguasa Perlak).

3. Karya-karyanya bersifat etnosentris. Karya-karya berupa babad atau hikayat mengisahkan lingkungan etnik yang terbatas, misalnya Babad Tanah Jawa dan Hikayat Raja-Raja Pasai.

mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris

Kedua karya tersebut mengisahkan kehidupan pada masa Kerajaan Mataram Islam di Jawa dan Kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Untuk memberikan gambaran mengenai kedatangan agama Islam di Jawa, tokoh yang terlibat dalam penyebaran agama Islam, dan pembentukan komunitas Islam pertama, bisa dilihat dari karya-karya babad dan serat, seperti Babad Demak, Babad Majapahit, Babad Pajang, Serat Siti Jenar, Serat Cebolek, dan Serat Centini. Nah, itulah penjelasan lengkap mengenai historiografi tradisional beserta tujuan, dan historiografi pada masa Hindu-Buddha, serta Islam.

Demikian artikel yang dapat saya bagikan mengenai historiografi tradisional dan semoga bermanfaat. Historiografi Tradisional adalah penulisan sejarah tradisional yang dimulai dari zaman Hindu sampai mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris dan berkembangnya Islam di Indonesia. [1] Penulisan sejarah masa kerajaan tradisional berfungsi untuk merekam dan mewariskan kehidupan dinasti yang berkuasa kepada generasi berikutnya. Penulisan sejarah ini mengedepankan unsur keturunan ( geneologi), tetapi mempunyai kelemahan dalam struktur kronologi dan unsur biografi.

Penulisan sejarah tradisional umumnya tentang kerajaan, kehidupan raja, dan sifat-sifat yang melebih-lebihkan raja dan para pengikutnya. Historiografi ini berkembang pada masa Hindu-Budha dan Islam.

[2] Daftar isi • 1 Zaman Hindu-Buddha • 2 Zaman Islam • 2.1 Hikayat • 2.2 Babad • 3 Ciri-ciri Historiografi Tradisional • 3.1 Bersifat Istana-sentris • 3.2 Bersifat Religio-magis • 3.3 Bersifat Regio-sentris • 3.4 Bersifat Feodalistis-aristokratis • 3.5 Memperkuat Legitimasi Penguasa • 4 Referensi Zaman Hindu-Buddha [ sunting - sunting sumber ] Tradisi tulis pada masa Hindu-Buddha berkembang dengan pesat sehingga tecipta 1000 buah naskah di seluruh nusantara.

Berdasarkan isinya, bentuk-bentuk kesustraan pada masa Hindu-Buddha tersebut terdiri atas tutur, (kitab keagamaan), castra (kitab hukum), wiracarita (cerita kepahlawanan), dan kitab-kitab cerita yang berisi ajaran keagamaan, sejarah dan moral. Sampai dengan zaman Majapahit bahasa yang dipakai dalam naskah sejarah adalah bahasa Jawa kuno. Sesudah dalam naskah sejarah adalah bahasa Jawa tengahan.

Berdasarkan bentuknya naskah sejarah zaman Hindu-Buddha terdiri atas gancaran (prosa), dan tembang (puisi). Tembang pada masa Jawa kuno disebut kakawin dan tembang pada masa Jawa tengahan disebut kidung.

[2] Setelah bangsa Indonesia mengenal huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta pertumbuhan dan perkembangan bahasa tulisan serta seni sastra berlangsung dengan cepat. Dengan dikenalnya aksara Pallawa atau sering juga disebut dengan huruf Pascapallawa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mendokumentasikan pengalaman dalam kehidupannya.

[2] Terbitnya prasasti-prasasti dari kerajaan-kerajaan kuno, penggubahan karya sastra dengan berbagai judul, serta dokumentasi tertulis lainnya adalah berkat dikenalnya aksara Pallawa. Bahkan aksara Pallawa itu kemudian diubah oleh berbagai etnis Indonesia menjadi aksara Jawa kuno, Bali kuno, Sunda kuno, Lampung, Batak, dan Bugis Walaupun bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa berpengaruh terhadap perkembangan bahasa, tulisan, dan seni sastra di Indonesia ,namun bahasa Sansekerta tidak pernah digunakan sebagai mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris komunikasi antar kelompok masyarakat di Indonesia karena bahasa Sansekerta hanya digunakan para Brahmana dalam upacara keagamaan atau di lingkungan istana.

mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris

Oleh karena itu, sebagai sarana komunikasi digunakan bahasa Melayu untuk berkomunikasi antar kelompok masyarakat di Indonesia. penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi antar kelompok masyarakat di Indonesia diperkirakan dimulai sejak zaman kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. [2] Selain pada batu prasasti, media yang digunakan untuk menulis adalah daun lontar ( kropak), lempengan perunggu, lempengan emas, lempengan perak, nipah, bambu, kulit pohon, kayu, kain dan kertas.

Selanjutnya tradisi tulis berkembang di luar istana dan di dalam istana. [2] Pada masa kerajaan Kediri terjadi perkembangan di bidang penulisan sejarah. Pada masa itu, telah dihasilkan karya sastra dengan judul Arjuna Wiwaha yang ditulis oleh Empu Kanwa pada tahun 1035. Kitab Arjuna Wihaha berisi kisah kehidupan Raja Airlangga yang dianggap sebagai tokoh Arjuna. Pada masa pemerintahan Jayabaya, Jayabaya pernah memerintahkan kepada Empu Sedah untuk mengubah kitab Bharatayudha ke dalam bahasa Jawa kuno.

Karena tidak mampu menyelesaikannya maka penulisan kitab Bharatayudha tersebut dilanjutkan oleh Empu Panuluh.

Dalam kitab tersebut Jayabaya disebut beberapa kali sebagai sanjungan kepada raja. Kitab Bharatayuda bertuliskan tahun candrasangkala yang berbunyi sangakuda suddha candrama atau tahun 1079 Saka (tahun 1157). [2] Pada masa mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris Majapahit, di hasilkan karya sejarah kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca pada tahun 1365 isi kitab Negarakertagama adalah 1) Sejarah raja-raja Singasari dan Majapahit dengan masa pemerintahannya; 2) Keadaan kota Majapahit dan daerah daerah kekuasaannya; 3) Kisah perjalanan Raja Hayam Wuruk ketika berkunjung ke daerah kekuasaannya di Jawa timur beserta daftar candi-candi yang ada; 4) Kehidupan keagamaan dan pelaksanaan upacara upacara keagamaan di kerajaan misalnya upacara Ssrada untuk menghormati roh Gayatri dan menambah kesaktian raja.

[2] Zaman Islam [ sunting - sunting sumber ] Pada masa Islam, tradisi penulisan sejarah terus berlanjut. Tema-temanya sebagian ada yang disesuaikan dengan kebudayaan Islam, dan sebagian lainnya merupakan hasil ciptaan yang baru.

Namun isinya menunjukan tradisi tulis yang menjadi dasar dimulainya tradisi sejarah. Tradisi tulis tersebut terkait dengan kebudayaan Hindu-Buddha, Islam atau sintesis dari kebudayaan tersebut. Hasil-hasil kesustraan Islam yang berkembang di daerah Jawa, sebagian besar merupakan perkembangan dari kesutraan zaman Hindu-Buddha yang disesuaikan dengan budaya Islam.

Adapun jenis-jenis penulisan sejarah zaman Islam meliputi hikayat dan babad. [2] Hikayat [ sunting - sunting sumber ] Hikayat merupakan bentuk karya sastra yang isinya berupa cerita atau dongeng yang sering kali dikaitkan dengan tokoh sejarah. Hikayat-hikayat peninggalan kerajaan Islam di Indonesia mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris dipengaruhi oleh kebudayaan Arab, Persia, India dan lain-lain.

[3] Beberapa contoh hikayat antara lain; Hikayat Aceh, Hikayat Raja-Raja Pasai, dan Sejarah Raja-Raja Riau. [2] Babad [ sunting - sunting sumber mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris Babad adalah cerita klasik yang menceritakan asal usul daerah, kerajaan dan cerita-cerita mengenai hal yang terjadi pada daerah atau kerajaan tersebut. [4] Beberapa contoh babad antara lain adalah: a. Babad Cirebon (yang isinya berupa kisah pangeran cakrabuana yang membangun kota Cirebon serta perkampungan muslim) b.

Babad Demak (yang isinya tentang kisah Raden patah dalam mendirikan kerajaan Demak) c. Babad Giyanti diperkirakan ditulis pada tahun 1830 mengenai politik yang terjadi di pulau Jawa sekitar 1741 sampai sekitar 1757. d. Babat raja-raja Riau berupa silsilah raja-raja Riau yang memiliki corak Islam babad sejarah Melayu. e. Babad Tanah Jawi dituliskan oleh Carik Braja pada 1788. [3] Selain kedua bentuk karya sastra tersebut masih terdapat beberapa jenis karya sejarah pada masa Islam yang tidak dapat digolongkan ke dalam jenis babad dan hikayat.

Karya sejarah tersebut mengisahkan riwayat nabi atau para dewa. Misalnya Kitab Manikmaya yang menceritakan penciptaan alam semesta oleh Tuhan. kisah nabi Adam. nabi Ibrahim. dan nabi Ismail. Selain itu terdapat karya sastra berisi ajaran moral dan tuntunan hidup sesuai dengan agama dan adat. Misalnya Bustanussalatin (Taman Raja-Raja) dan Tajussalatin (Mahkota Semua Raja-Raja). Kitab Tajussalatin ditulis oleh Bukhari al Jauhari pada tahun 1630 di Aceh.

Tajussalatin ditulis oleh Nuruddin Ar-Raniri atas perintah Sultan Iskandar II dari Aceh pada tahun 1638. Bustanussalatin mengisahkan riwayat para nabi sejak nabi Adam sampai nabi Muhammad, riwayat nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin, sejarah bangsa Arab, masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah, sejarah raja-raja di Malaka dan Pahang serta raja-raja Aceh. [2] Ciri-ciri Historiografi Tradisional [ sunting - sunting sumber ] Ciri-ciri historiografi tradisional antara lain sebagai berikut; Bersifat Mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris [ sunting - sunting sumber ] Istana sentris artinya kisah sejarah tradisional hanya berisi kehidupan raja atau keluarga kerajaan yang berdiam di istana tersebut.

[2] Bersifat Religio-magis [ sunting - sunting sumber ] Religiomagis artinya kisah sejarah tradisional selalu dihubungkan dengan kepercayaan mengenai hal-hal yang bersifat gaib. Raja atau pemimpin kadang-kadang juga digambarkan sebagai seorang yang sakti dan memiliki hubungan dengan makhluk-makhluk gaib atau dewa-dewa setempat yang menguasai kekuatan alam gaib.

[2] Bersifat Regio-sentris [ sunting - sunting sumber ] Bersifat region-sentris berarti banyak dipengaruhi daerah misalnya oleh-oleh cerita gaib atau cerita-cerita dewa di daerah sekitar.

[2] Bersifat Feodalistis-aristokratis [ sunting - sunting sumber ] Bersifat feodalistis aristokratis, artinya yang dibicarakan hanyalah kehidupan kaum bangsawan feodal tidak ada sifat kerakyatannya.

historiografi tersebut tidak memuat riwayat kehidupan rakyat tidak membicarakan segi segi rakyat. [1] Memperkuat Legitimasi Penguasa [ sunting - sunting sumber ] Di dalam kisah historiografi tradisional, para pujangga istana menyusun silsilah yang menghubungkan raja dengan dinasti-dinasti sebelumnya atau dengan para nabi dan dewa.

Misalnya dalam hikayat Melayu, raja-raja Melayu selalu dikaitkan dengan Raja Iskandar Zulkarnain yang turun di bukit Siguntang. Tujuan pemberian silsilah tersebut ialah untuk memperkuat legitimasi kekuasaan raja sebagai keturunan dari raja-raja terdahulu.

Namun isi tulisan tersebut tidak didukung oleh fakta sejarah. [2] Upaya penciptaan legitimasi ini terutama bertujuan agar aja tetap dihormati, dipatuhi, disegani dan dijunjung tinggi.

Itulah sebabnya maka historiografi tradisional cenderung banyak mitosnya. Misalnya raja dianggap sangat sakti karena raja dianggap penjelmaan atau titisan dewa dan apa yang dikatakan raja serba benar, sehingga ada ungkapan Sabda pandhita ratu datan kena wowali apa yang diucapkan raja tidak boleh berubah sebab raja adalah segalanya.

[2] Dalam konsep kepercayaan Hindu bahwa raja adalah titisan dewa sehingga segala ucapan dan tindakannya adalah benar. Kepercayaan semacam ini juga terus berlanjut selama zaman madya (Islam). Misalnya, adanya ungkapan wewenang murbawisesa juga mengandung suatu pengertian bahwa raja ada adalah mandataris Tuhan karena diberi wewenang menjalankan kekuasaan atas nama Tuhan. Karena menerima (menjalankan) kekuasaan dari atau atas nama Tuhan maka kekuasaannya bersifat suci dan tidak boleh diganggu gugat (absolut).

[2] Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b "Penulisan Sejarah (Historiografi) Mewujudkan Nilai-Nilai Kearifan Budaya Lokal Menuju Abad 21". 1 (1). 2016: 255–266. Parameter -first1= tanpa -last1= di Authors list ( bantuan) • ^ a b c d e f g h i j k l m n o p Sejarah Pembelajaran Sejarah Interaktif.

Solo: Platinum. 2014. ISBN 978-602-257-577-1. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan); Parameter -first1= tanpa -last1= di Authors list ( bantuan); Parameter -first2= tanpa -last2= di Authors list ( bantuan) • ^ a b Smith, Jordan (2017-03-05). "ANEKA KARYA SASTRA PENINGGALAN DARI KERAJAAN ISLAM". Sastrawan.

mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-11-29. Diakses tanggal 2020-05-10. • ^ Qur'ani, Hidayah Budi (2018-12-30). "NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BABAD TANAH JAWA". JENTERA: Jurnal Kajian Sastra. 7 (2): 182. doi: 10.26499/jentera.v7i2.918. ISSN 2579-8138. • Halaman ini terakhir diubah pada 9 Maret 2022, pukul 02.52.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
tagging: Historiografi Tradisional GridKids.id - Kids, apakah kamu pernah mendengar istilah historiografi tradisional? Historiografi tradisional adalah penulisan sejarah yang eksis pada zaman kerajaan Hindu-Buddha hingga kerajaan Islam di Nusantara.

Artikel ini akan membahas mengenai materi Sejarah kelas 10 tentang historiografi tradisional: pengertian dan ciri-cirinya. Baca Juga: Sejarah Singkat dan Daftar Anggota Organisasi Militer Internasional (NATO) Historiografi tradisional pada umumnya diciptakan oleh pujangga-pujangga di kalangan kerajaan. Hal ini tercipta dari legitimasi raja atau para penguasa yang bertahta pada zaman dahulu.

Berikut ini pembahasan mengenai pengertian dan ciri-ciri dari historiografi tradisional. Simak ulasannya, yuk! Apa itu historiografi dan apa saja jenis-jenis historiografi dalam sejarah? Yuk, kita bahas di artikel ini! -- Siapa yang tidak kenal mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris kisah cinta Rama dan Shinta yang terkenal itu?

Kamu mungkin menyebutnya dengan dongeng atau cerita-cerita masa lalu. Tapi, tahukah kamu? Dalam ilmu sejarah, cerita-cerita semacam itu disebut dengan historiografi. Yuk, kita pahami lebih jauh mengenai historiografi dan jenis-jenisnya di artikel berikut ini!

Pengertian Historiografi Historiografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu historia yang artinya sejarah, dan graphia yang artinya penulisan. Singkatnya, Historiografi adalah penulisan sejarah. Nah, tapi tidak sesederhana itu ya, kita bahas dulu lebih detail, ya. Kisah-kisah pewayangan atau cerita Rama-Shinta dan Hanoman adalah contoh dari historiografi.

Historiografi sendiri adalah tulisan sejarah. Menurut Louis Gottschalk, historiografi adalah bentuk publikasi, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, mengenai peristiwa atau kombinasi peristiwa-peristiwa di masa lampau. Historiografi sebagai cabang ilmu merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang perkembangan penulisan sejarah dari masa ke masa, atau dalam arti lain disebut dengan sejarah dari penulisan sejarah.

Baca juga: Manusia Purba yang Ditemukan di Indonesia Jenis-jenis Historiografi Pembagian jenis historiografi di Indonesia dibagi berdasarkan ciri dan karakteristiknya. Berurutan dari historiografi tradisional, historiografi kolonial, historiografi nasional dan historiografi modern. Ini dia penjelasan dari 4 jenis historiografi tersebut: 1. Historiografi Tradisional Historiografi tradisional merupakan penulisan sejarah yang umumnya dilakukan oleh para sastrawan atau pujangga keraton dan bangsawan kerajaan.

Sedangkan dari segi karakteristiknya, historiografi tradisional bersifat kultural dan politis, serta belum menggunakan metode ilmiah dalam penyusunannya, sehingga unsur subjektivitasnya tinggi.

Ciri-ciri historiografi tradisional • Sudut pandang penulisannya berbentuk Istanasentris • Tujuan penulisannya sebagai alat legitimasi raja • Terdapat rasa anakronis atau ketidakpastian keterangan waktu • Banyak mengandung unsur mitos • Bersifat Regio-sentris atau kaya akan unsur kedaerahan Historiografi Tradisional berkembang sejak masa Kerajaan Hindu dan Buddha sekitar abad ke-14 M hingga masa Kerajaan Islam pada awal abad ke-20 M.

Ciri-ciri historiografi tradisional masa Hindu dan Buddha • Karya yang dihasilkan berupa terjemahan dari naskah-naskah dari India. • Bersifat religio magis.

• Bersifat istanasentris. Contoh historiografi masa Hindu dan Buddha adalah Kitab Mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris dan Ramayana, Kitab Pararaton, Kitab Negarakertagama, Babad Arya Tabanan, Babad Tanah Jawi, dan lain sebagainya. Ciri-ciri historiografi tradisional masa Islam • Masih mengandung unsur mitos. • Sudah mengenal unsur kronologi. • Bersifat etnosentris. Contoh historiografi masa Islam adalah Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Aceh, Babad Demak, Babad Tanah Jawi, dan Babad Giyanti.

mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris

Baca juga: Mengenal Sejarah Nenek Moyang Bangsa Indonesia 2. Historiografi Kolonial Historiografi Kolonial adalah penulisan sejarah yang berkembang pada masa Kolonial Belanda sejak abad ke-17 M hingga Pemerintahan Hindia Belanda mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris abad ke-20 M. Fokus utama historiografi kolonial adalah kehidupan warga Belanda (Eropa) di Hindia Belanda karena ditulis oleh orang-orang Belanda atau Eropa. Tujuan penulisannya untuk memperkuat kedudukan mereka di Indonesia.

Ciri-ciri historiografi masa kolonial adalah: Ciri-ciri historiografi kolonial • Sudut pandang penulisannya adalah Neerdelandosentris atau Eropasentris • Tulisannya bersifat subjektif pemerintah kolonial • Dalam penyusunannya cenderung mengabaikan sumber lokal • Mengisahkan sejarah dari orang-orang besar, misalnya Daendels dan Raffles • Tulisannya bersifat diskriminatif terhadap rakyat Hindia Belanda Karakteristik historiografi kolonial berfokus pada kajian penguasaan Belanda atau Eropa di Hindia Belanda, sedangkan kondisi rakyat Hindia Belanda (Indonesia) yang terjajah tidak mendapat perhatian.

Contoh historiografi masa kolonial • Beknopt Leerboek Geschiedenis van Nederlandsch Oost-Indie karya A.J. Eijkman dan F.W. Stapel. • Schets eener Economische Geschiedenis van Nederlands-Indie karya G. Gonggrijp. • Geschiedenis van den Indischen Archipel karya B.H.M.

Vlekke. • Geschiedenis van Indonesie karya H. J. de Graaf. • History of Java (1817) karya Thomas S. Raffles. Kamu ingin lebih paham lagi tentang Historiografi dan materi sejarah lainnya? Bisa nih coba simak materi pembahasan ini di melalui fitur ADAPTO di ruangbelajar. Kamu bisa menyimak pembahasan ini dengan video interaktif sesuai dengan pemahaman belajarmu! Baca juga: Konsep Kehidupan Manusia dalam Ruang dan Waktu 3. Historiografi Nasional Selanjutnya, yakni historiografi nasional.

Ialah penulisan sejarah dengan bangsa Indonesia sebagai subjek utama. Model historiografi ini mulai marak setelah bangsa ini merdeka pada agustus 1945 Penulisannya bersifat Indonesiasentris, dengan tujuan untuk kepentingan menanamkan rasa nasionalisme kepada seluruh rakyat Indonesia.

Sedangkan ciri dari historiografi nasional antara lain menggunakan perspektif nasionalisme Indonesia. Dari karakteristiknya, penulisan sejarah memiliki tujuan untuk kepentingan bangsa Indonesia. Tulisan sejarah sengaja dibuat berdasarkan perspektif bangsa Indonesia. Contoh historiografi nasional • 6000 Tahun Sang Merah Putih karya Muhammad Yamin • Gadjah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara Karya Muhammad Yamin • Atjeh Sepintas Lalu Karya SM Amin 4.

Historiografi Modern Historiografi modern muncul akibat tuntutan mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris teknik untuk mendapatkan fakta-fakta sejarah.

mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris

Fakta sejarah didapat melalui penetapan metode penelitian, memakai ilmu-ilmu bantu, adanya teknik pengarsipan, dan rekonstruksi melalui sejarah lisan. Masa ini dimulai dengan munculnya studi sejarah kritis, yang menggunakan prinsip-prinsip metode penelitian sejarah. Contoh historiografi modern adalah Pemberontakan Petani Banten 1888 karya Sartono Kartodirdjo dan Revolusi Pemuda karya Benedict Anderson.

Historiografi modern tentunya berkembang sesuai dengan zaman. Historiografi masa kini sudah semakin objektif dan kritis terhadap satu peristiwa sejarah. Ciri-ciri historiografi modern • Bersifat metodologis: sejarawan diwajibkan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah. • Bersifat kritis historis: artinya dalam penelitian sejarah menggunakan pendekatan multidimensional. • Sebagai kritik terhadap historiografi nasional: lahir sebagai kritik terhadap historiografi nasional yang dianggap memiliki kecenderungan menghilangkan unsur asing dalam proses pembentukan keindonesiaan.

• Munculnya peran-peran rakyat kecil. Baca juga: Aspek Kepercayaan pada Masa Praaksara Meski begitu, historiografi modern tidak lepas dari berbagai kelebihan dan kekurangan. Ini dia beberapa kelebihan dan kekurangannya: Wah, hari ini kita belajar hal baru lagi ya!

Masih semangat buat kepoin materi sejarah atau mata pelajaran lainnya? yuk tonton video Konsep Kilat dan Adapto di ruangbelajar! Video-videonya belajarnya lucu, dan juga bisa bantu kamu memahami pelajaran dengan pengalaman yang seru. Yuk, langsung aja download di aplikasi Ruangguru! Referensi: Hendrayana. 2009. Sejarah 1: Sekolah Menengah Atas dan madrasah Aliyah Jilid 1. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional Sumber Foto: Louis R Gottschalk: University of Chicago Photographic Archive, Hanna Holborn Gray Special Collections Research Center, University of Chicago Library.

[Daring] tautan: http://photoarchive.lib.uchicago.edu/db.xqy?one=apf1-06470.xml (Diakses 28 Oktober 2021) Artikel diperbarui 21 Oktober 2021.
Selamat datang di Dosen.co.id, web digital berbagi ilmu pengetahuan.

Kali ini PakDosen akan membahas tentang Etnosentrisme? Apakah kalian pernah mendengar istrilah dari Etnosentrisme?

Jangan khawatir jika kalian belum pernah mendengarnya, disini PakDosen akan membahas secara rinci tentang pengertian, pengertian menurut para ahli, faktor, dampak, karakteristik dan contoh. Simak Penjelasan mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris secara seksama, jangan sampai ketinggalan.

6.1. Sebarkan ini: Etnosentrisme merupakan pemahaman yang dimiliki oleh seseorang yang berpendapat bahwa budayanya merupakan yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain. Adanya perbedaan budaya dari masing-masing daerah bahkan negara. Perbedaan cara pandang dan pendapat terhadap budaya yang dimiliki atau diakui dapat menunjukan perilaku etnosentrisme. Etnosentrisme terdapat dalam beberapa bahasa yaitu arti kata “Cina” dalam bahsa Cina sebetulnya bermakna “pusat dunia” dan suku Navajo, Kiowa dan Inuit menyebut diri mereka sendiri sebagai “The people”.

Contoh adanya perilaku etnosentrisme, misalnya saja suatu daerah mempunyai budaya untuk memakan daging kuda mentah. Hal ini mendapat cara pandang yang berbeda dari berbagai kalangan. Ada yang berpendapat bahwa memakan daging kuda mentah adalah hal yang biadab dan tidak normal. Tetapi mungkin saja ada yang mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris pandangan bahwa memakan daging kuda mentah adalah biasa dan tidak sebanding dengan meletakkan orang tua di panti jompo.

Dari contoh diatas maka Nanda dan Warms (dalam Larry, 2010) menjelaskan bahwa etnosentrisme merupakan pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul dibandingkan budaya yang lain.

Pandangan bahwa budaya lain dinilai berdasarkan standart budaya kita. Kita menjadi etnosentris ketika kita melihat budaya lain melalui kacamata budaya kita atau posisi sosial kita.

Secara menyeluruh perilaku etnosentrisme merupakan sikap/ perilaku yang menggunakan pandangan dan cara hidup dari sudut pandangnya sebagai tolak ukur untuk menilai budaya lain atau kelompok lain. Selain itu etnosentrisme dapat didefinisikan sebagai kepercayaan yang sangat tinggi terhadap budayanya sendiri dan menganggap tidak nyaman dengan budaya lain sehingga lebih memandang rendah terhadap budaya lain.

1. Menurut Matsumoto Menurut pendapat dari Matsumoto, Etnosentrisme merupakan kecenderungan untuk melihat dunia hanya melewati perspektif budaya sendiri. 2. Menurut Daft Menurut pendapat dari Daft, Etnosentrisme merupakan kepercayaan bahwa semua kelompok, semua budaya dan subkultur pada hakekatnya sama. 3.

mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris

Menurut Sumnel Menurut pendapat dari Sumnel, Etnosentrisme merupakan kecenderungan manusia yang mengikuti naluri biologinya yang mementingkan diri sendiri lebih unggul dari orang lain dan menjadi seorang Individualistik. 4. Menurut Hariyono Menurut pendapat mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris Hariyono, Etnosentrisme merupakan suatu perasaan In group dan Out group dalam suatu dasar sikap yang dijalankan oleh seseorang. 5. Menurut Coleman dan Cressey Menurut pendapat dari Coleman dan Cressey, Etnosentrisme merupakan seseorang yang berasal dari kelompok etnis yang cenderung melihat budaya mereka sebagai yang terbaik dibandingkan dengan kebudayaan yang lain.

Faktor Penyebab Etnosentrisme Berikut ini terdapat dua faktor penyebab terjadinya etnosentrisme, yakni sebagai berikut: • Budaya Politik Didalam masyarakat diperoleh budaya politik yang mengarah tidak rasional dan tradisional. Maka dari itu masyarakat akan lebih dikuasai oleh sikap subjektif, primordial dan penuh emosional.

Jika msayarakat berinteraksi dengan keadaan-keadaan politik, maka akan lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri, baik dari segi agama, suku, etnis dan lain sebagainya.

• Pluralitas Bangsa Indonesia Golongan, suku, ras dan agama yang diperoleh di Indonesia akan mudah menyebabkan beberapa perselisihan dan masalah sosial.

Kondisi tersebut dikarenakan keberagaman tersebut akan membuat setiap golongan, suku, ras dan agama masing-masing saling berdaulat dan menguasai satu sama lain. Dampak Etnosentrisme Berikut ini terdapat dua dampak etnosentrisme, yakni dampak negatif dan positif antara lain sebagai berikut: Baca Lainnya : Tumbuhan Dikotil 1.

Dampak Negatif Etnosentrisme Berikut ini terdapat beberapa dampak negatif terjadinya etnosentrisme, yakni sebagai berikut: • Menyebabkan terdapatnya perselisihan sosial yang terjadi antar suku dan agama. • Berisi terdapatnya aliran politik. • Membatasi proses integrasi dan asimilasi. • Membatasi ilmu pengetahuan yang objektif. • Membatasi adanya pertukaran budaya. 2. Dampak Positif Etnosentrisme Berikut ini terdapat beberapa dampak positif terjadinya etnosentrisme, yakni sebagai berikut: • Mengembangkan perilaku semangat patriotisme.

• Melindungi kestabilan dan keutuhan budaya. • Mengembangkan rasa cinta kepada bangsanya. Karakteristik Etnosentrisme Karakteristik dalam etnosentrisme dikemukakan oleh beberapa tokoh, antara lain sebagai berikut: Menurut Larry, dkk (2010) terdapat tiga tingkatan dalam etnosentrisme, yaitu: • Positif, merupakan kepercayaan bahwa paling tidak bagi Anda, budaya Anda lebih baik dari yang lain. Hal ini alami dan kepercayaan Anda berasal dari budaya asli Anda.

mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris

• Negatif, Anda mengevaluasi secara sebagian. Anda percaya bahwa budaya Anda merupakan pusat dari segalanya dan budaya lain harus dinilai dan diukur berdasarkan standar budaya Anda. Menurut Triandis, “kita melihat kebiasaan kelompok sebagai hal yang benar. Kita langsung berpikir bahwa peranan dan nilai-nilai dalam kelompok benar”. • Sangat Negatif, bagi Anda tidak cukup hanya menganggap budaya Anda sebagai yang paling benar dan bermanfaat, Anda juga menganggap budaya Anda sebagai yang paling berkuasa dan Anda percaya bahwa nilai dan kepercayaan Anda harus diadopsi oleh orang lain.

Etnosentrisme semuanya terletak pada identitas sosial yang mendasar: kami. Sesaat sesudah orang-orang menciptakan kategori yang disebut “kami”, mereka mempersepsikan semua orang lain sebagai “bukan kami”.

Solidaritas dalam kelompok ini dapat tercipta dalam waktu satu menit dalam laboratorium, sebagaimana ditunjukkan oleh Henri Tajfel dan rekan-rekannya (1971) dalam sebuah eksperimen di sekolah khusus lelaki di Inggris.

mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris

Tajfel menunjukkan kepada anak-anak lelaki ini berbagai potongan gambar, masing-masing memiliki sejumlah titik yang beraneka ragam dan meminta anak-anak ini untuk menebak beberapa jumlah semua titik dalam potongan gambar tersebut. Anak-anak ini dengan acak dikelompokkan sebagai “ overestimators” ataupun “ underestimators” dan mereka kemudian diminta untuk mengerjakan tugas lainnya. Dalam tahap ini, mereka diberikan kesempatan menilai anak-anak lain yang diidentifikasikan sebagai “ overestimators” ataupun “ underestimators”.

Walaupun setiap anak bekerja sendiri dalam ruangnya masing-masing, setiap anak memberikan nilai yang lebih tinggi pada anak-anak yang dianggap mirip dengannya, entah itu seorang yang “ overestimators” ataupun “ underestimators”.

Ketika anak-anak ini keluar dari ruangannya masing-masing dan ditanyai, mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris yang manakah dirimu?” dan jawaban yang diberikan disebut dengan sorak gembira atau cemooh dari anak-anak lainnya. Baca Lainnya : Soal dan Jawaban Fluida Statis: Pengertian dan Komponennya Contoh Etnosentrisme di Indonesia Salah satu contoh etnosentrisme di Indonesia merupakan perilaku carok dalam masyarakat Madura.

Menurut Latief Wiyata, carok adalah tindakan atau upaya pembunuhan yang dilakukan oleh seorang laki-laki apabila harga dirinya merasa terusik. Secara sepintas, konsep carok dianggap sebagai perilaku yang brutal dan tidak masuk akal. Hal itu terjadi apabila konsep carok dinilai dengan pandangan kebudayaan kelompok masyarakat lain yang beranggapan bahwa menyelesaikan masalah dengan mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris kekerasan dianggap tidak masuk akal dan tidak manusiawi.

Namun, bagi masyarakat Madura, harga diri merupakan konsep yang sakral dan harus selalu dijunjung tinggi dalam masyarakat. Oleh karena itu, terjadi perbedaan penafsiran mengenai masalah carok antara masyarakat Madura dan kelompok masyarakat lainnya karena tidak adanya pemahaman atas konteks sosial budaya terjadinya perilaku carok tersebut dalam masyarakat Madura.

Contoh etnosentrisme dalam menilai secara negatif konteks sosial budaya terjadinya perilaku carok dalam masyarakat Madura tersebut telah banyak ditentang oleh para ahli ilmu sosial.

mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris

Contoh yang lain adalah kebiasaan memakai koteka bagi masyarakat papua pedalaman. Jika dipandang dari sudut masyarakat yang bukan warga papua pedalaman, memakai koteka mungkin adalah hal yang sangat memalukan. Tapi oleh warga pedalaman papua, memakai koteka dianggap sebagai suatu kewajaran, bahkan dianggap sebagai suatu kebanggaan. Demikian Penjelasan Materi Tentang Etnosentrisme Adalah: Pengertian, Pengertian Menurut Para Ahli, Faktor, Dampak, Karakteristik dan ContohSemoga Materinya Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi.

Sebarkan ini: • Facebook • Twit • WhatsApp Posting pada S1, SMA, SMK, SMP Ditag akibat yang dapat ditimbulkan oleh etnosentrisme, apa itu heroisme, apa itu primordialisme, apa yang diharapkan dari pandangan sosialisme, apa yang dimaksud dengan konflik rasial, apa yang dimaksud dengan semangat kebangsaan, apakah bukti keutuhan nkri, arti dari diskriminatif, arti individualis, arti kata primordialisme, artikel tentang etnosentrisme, berikan perbedaan etik dan emik, budaya lokal biasanya bersifat, cara mengatasi etnosentrisme, ciri ciri etnosentrisme, ciri-ciri primordialisme, contoh chauvinisme, contoh diskriminasi sosial, contoh etnosentrisme brainly, contoh etnosentrisme dalam kehidupan sehari-hari, contoh politik aliran, contoh politik aliran (sektarian), contoh rasisme dan rasialisme, contoh sektarian, contoh sikap etnosentrisme di sekolah, contoh soal tentang etnosentrisme, contoh xenosentrisme, dampak etnosentrisme, dampak positif dan negatif politik aliran, dampak positif dan negatif primordialisme, dampak positif dan negatif xenosentrisme, dampak positif etnosentrisme adalah berguna untuk meningkatkan rasa, dampak positif primordialisme, etno adalah, etno berarti, etnosentrisme adalah, etnosentrisme adalah brainly, etnosentrisme dan primordialisme, etnosentrisme timbul akibat berkembangnya, faktor kemajemukan, fanatisme, jelaskan dampak positif dari adanya konflik, jelaskan faktor penghambat persatuan, jelaskan pengertian dari diferensiasi sosial, jelaskan pengertian politik aliran, jenis etnosentrisme, makalah tentang etnosentrisme, pengaruh diferensiasi dan stratifikasi sosial, pengertian diskriminatif, pengertian etnosentrisme brainly, pengertian etnosentrisme dan primordialisme, pengertian kebijakan geosentris, pengertian politik aliran, pengertian primordialisme, pengertian primordialisme dan contohnya, pengertian separatisme adalah, perbedaan fanatisme dan etnosentrisme, pertanyaan tentang etnosentrisme, polisentris adalah, politik aliran, politik aliran sektarian, primordialisme, primordialisme adalah, proses terjadinya ketimpangan sosial, sektarian adalah, sentrisme berarti, stereotip, suku dayak terdapat mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris provinsi, xenosentrisme, xenosentrisme adalah Pos-pos Terbaru • Higgs domino mod apk speeder tanpa iklan • Dataran adalah • Good Governance • Kenakalan Remaja • Siklus Krebs • Norma Kesopanan • DPR Adalah • Gotong Royong • Kulit adalah • Ras adalah • Pemasaran Jasa • Tujuan Pengembangan Komunikasi • Pengertian Berkarya Seni Rupa • Indikator adalah • Vakuola adalah
Halo Rahmat, kaka bantu jawab ya.

Historiografi masa Islam yang bersifat etnosentris, artinya menekankan ciri egoisme terhadap suku bangsa dan budaya yang ada dalam wilayah kerajaan. Yuk simak pembahasannya! Historiografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu historia yang artinya sejarah, dan graphia yang artinya penulisan. Singkatnya, Historiografi adalah penulisan sejarah. Historiografi Tradisional berkembang sejak masa Kerajaan Hindu dan Buddha sekitar abad ke-14 M hingga masa Kerajaan Islam pada awal abad ke-20 M. Salah satu historiografi tradisional pada masa Islam bersifat etnosentris.

Artinya, dalam historiografi tradisional ditulis dengan penekanan pada penonjolan/egoisme terhadap suku bangsa dan budaya yang ada dalam wilayah kerajaan. Semoga membantu ya :) 1. pada 1971 Roy Tomlinson dan rekannya berhasil menciptakan situs penyedia surat elektronik atau email hasil temuan Roy Tomlinson tersebut bermanfaat bagi manusia karena A.

mempercepat pertukaran informasi B. mengakomodasi kepentingan pribadi C. memudahkan interaksi dengan banyak orang D. memperlancar komunikasi antar orang banyak E. memudahkan masyarakat menjalankan aktivitas Masa Reformasi dimulai dengan mengembalikan hak-hak rakyat, baik dalam tataran elite maupun rakyat pada umumnya.

SEBAB Reformasi melakukan mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris koreksi terhadap penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan Orde Baru. A. Jika kedua pernyataan benar dan keduanya mempunyai mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris sebab akibat. B. Jika kedua pernyataan benar, tetapi tidak mempunyai hubungan sebab akibat. C. Jika pernyataan pertama benar sedangkan pernyataan kedua salah.

D. Jika pernyataan pertama salah, tetapi pernyataan kedua benar. E. Jika kedua pernyataan salah.Penulisan sejarah tradisional dimulai dari zaman Hindu sampai masuk dan berkembangnya Islam.

Penulisan sejarah pada jaman ini berpusat pada masalah-masalah pemerintahan dari raja-raja yang berkuasa, bersifat istana-sentris yang mengutamakan keinginan dan kepentingan raja. Penulisan sejarah di zaman Hindu-Buddha pada umumnya ditulis di prasasti dengan tujuan agar generasi penerus dapat mengetahui peristiwa di zaman kerajaan pada masa dulu di mana seorang raja memerintah.

Penulisan sejarah (historiografi) tradisional, berlanjut sampai masa kedatangan Islam ke Indonesia. Yaitu dengan keberadan Babad, Hikayat, Silsilah atau Kronik. Sebagai contoh, Babab Tanah Jawi yang memuat cerita awal dunia. Didalamnya memuat campuran unsur-unsur mitologi. · Tujuan penulisan sejarah tradisional untuk menghormati dan meninggikan kedudukan raja, dan nama raja, serta wibawa raja; agar supaya raja tetap dihormati, tetap dipatuhi, tetap dijunjung tinggi. Oleh karena itu banyak mitos, bahwa raja sangat sakti, raja sebagai penjelmaan/titisan dewa.

Raja atau pemimpin dianggap mempunyai kekuatan gaib dan kharisma (bertuah, sakti). Penjelasan atas model historiografi modren adalah ketika pusat orientasi dari pembahasan atas masa-lalu (sejarah) adalah manusia. Itu kenapa kemudian salah-satu ciri dari historiografi modren adalah antroposentris. Subjek dan objek dari penulisan sejarah adalah manusia. Manusia yang menjadi poros dari geraknya sejarah kedepan dan manusia yang menjadi objek penulisan atas apa yang telah ia gerakkan dalam kehidupan di muka bumi ini.

Selain dari batasan antroposentris —yang sudah dimulai oleh Herodotus dalam karyanya Perang Parsi yang menjadikan dia bapak sejarah atau bapak historiographi— ada ciri lain yakni ia bersifat demokratis, artinya dalam penulisan sejarah pengguan pendekatan atau kecendrungan selain dari perspektif agama --seperti yang terjadi pada masa abad pertengahan atau Abad Kegelapan dalam historiografi antri-kristiani atau Abad Iman dalam historiogrphi orang orang kristiani -- juga boleh digunaka.

Selain itu di dalam perkembangan historiografi modren ini kebudayaan masal lalu (klasik) sangat mendapat tempat yang besar disini.

mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris

Ada sekian banyak penghargaan atas budaya masa lalu. Namun hal yang paling terpenting dalam penulisan sejarah masa modren ini adalah mulai menggunakan metode sejarah yang sifatnya kritis dalam melihat sumber-sumber di masa-lalu. Semenjak penemuan kembali penemuan logika ilmiah yang bisa saja ditandai dengan momentum masa pencerahan dimana ilmu pengetahuan menemukan kemerdekaannya dan akal berfikir manusia mulai tampil secara mandiri yang artinya manusia sudah mulai tidak ketergantungan terhadap pengetahuan mistis dan tidak ilmiah yang dikeluarkan oleh pihak gereja sebagai kebenran tunggal.

Manusia sebagai subjek pengetahuan sudah mulai percaya diri terhadap kemampuan akal dan nuraninya untuk muncul mengembalikan apa yang pernah bangsa Eropa miliki dalam kemajuan pengtahuan seperti di zaman Plato, Aristotles dan masih banyak yang lainya.

Kemudian dalam perkembangannya kontemporer ini ditemukan fenomena corak dari penulisan sejarah. Dalam situasi politik global, sejak perjalan C. Colombus mengelilingi dunia dan sejak penemuan koloni-koloni oleh bangsa barat serta secara ekonomi-politik mulai dikenal istilah penjajahan atau kolonialisme/kolonial dan kolonialisme ini kemudian menjadi corak baru dalam penulisan sejarah kontemporer khususnya dibekas negera negara jajahan.

Selain historiografi kolonial adapula anti-thesa dari historiografi kolonial yakni historiografi nasional. Historiografi ini adalah reaksi atas pengetahuan sejarah yang berkaca-mata gladak kapal koloniasentris.

Artinya penjelasan yang keluar bukan lagi penjelasan yang bersifat mengagungkan kehadiran penjajah di tanah kolonial. Penejelasan atas atas istilah kolonial yang paling sederhana adalah bersifat daerah jajahanartinya historiografi kolonial adalah penulisan sejarah yang berkecendrungan pemerintahan jajahan atau si penjajah.

Visi yang digambarkan adalah sangat sejala tentang menonjolkan peranan pokok bangsa Asing dan memberikan tekanan secara politis, ekonomis dan institusional. Hal merupakan perkembangan secara logis dari situasi kolonial di mana penulisan sejarah terutama mewujudkan sejarah dari golongan yang dominan. Penulisan sejarah yang kolonial seperti ini menitik beratkan kepada penjajahsentris, sehingga apapun yang pernah ditulis mengguanakan perspektif pribumisentris akan terlihat buruk dan ini kemudian kan menjadi keterbalikan ketika sejarah di lihat dari perspektif pribumisentris.

Sebagai contoh atas penjelasan di atas adalah bagai mana kita melihat kedatangan Belanda ke bangsa-bangsa jajahannya, katakanlah Indonesia asumsi penjelasan Belandasentrisnya adalah mereka datang adalah dengan membawa sebuah peradaban atau sebuah kemajuan dan modrenisme, sedangkan jika melihat dari kaca-mata Indonesiasentris kita tidak melihat sama sekali kemanusiaan yang dihadirkan oleh pihak Belanda.

Kemuduran dari pengetahuan dan sumberdaya alam di Indonesia ini adalah berkat kolonialisme yang di ciptakan Bangsa Belanda, kecuali kelompok kelompok yang berwawasan sempit seperti juga melekat pada konstruksi sejarah yang ingin digantikan, ketika dendam sejarah, kepentingan politik dan kepicikan perspektip menutup arti penting penguasaan metodologi.

Maka bukan meng-ada jika dikatakan bahwa sebagian besar para pengritik itu sebenarnya hanya memproduksi cara berfikir historiografi yang sama dengan apa yang mereka kritik yakni historiografi kolonial. Penulisan sejarah Nasional adalah bentuk dari histroriografi mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris yang menjadi reaksi terhadap hampir seluruh negara-negara jajahan yang berhasil keluar dari belenggu penjajahan dan penindasan bangsa asing.

Reaksi ini muncul akibat kebangkitan kesadaran atas sejarah bangsanya sendiri. Sejarah yang gilang-gemilang sebelum kedatangan bangsa asing di tanah air mereka. Sebagai contoh, sartono menjelaskan Setelah dirasakan historiografi kolonial tidak relevan lagi dengan cerita dengan masa-lampau bangsa Indonesia, maka pemikiran baik sebelum maupun sesudah Seminar Sejarah Nasional I di Yogyakarta pada akhir tahun 1957 telah berhasil menerobos langkah kolonial dari sejarh Indonesia serta mengganti pandangna Eropasentris dengan yang Indonesiasentris.

Dalam penuisan sejarah yang indosesia sentris seharusnya memuat kedidupan sehari-sehariseperti contoh sejarah petani karya sartono k. karena penulisan sejarah indonesia sentris cenderung hanya memuat aktifitas politik. Dalam perkembangan historiografi pada akhirnya kita kan melihat bentuk bentuk atau corak corak yang mempunyai cirinya tersendiri. Ketika ilmu pengetahuan belum matang kita mengenal apa yang kemudian diistilahkan dengan historiografi tradisional.

Penjelasan sejarah pada masa ini masih sangat dilingkupi aliran mistisisme, hegemoni dewa dewa dari lama jauh masih dijadikan poros dari perkembangan sejarah umat manusia di muka bumi ini. Cara penjelasan sejarah yang masih rentan dari sebuah kebenaran sejarah masih sangat melingkupi corak historiografi tradisional, tradisi lisan yang dikembangkan oleh masyarakat desa menajadi sampel dari rentannya perubahan informasi dari sebuah peristiwa sejarah yang diceritakan secara turun menurun.

Selain corak tradisional yang masih sangat rentan itu, dekade kemajuan ilmu pengetahuan mendorong terciptanya suasana ke-ilmiahan yang muncul pasca Abad Kegelapan di negeri Eropa. Semangat keilmiahan itu mendorong penemuan logika ilmiah dalam penelitian sejarah yang kerap kali di campur adukakan oleh Subjetivisme yang tinggi. Perkembangan historiografi modern ini juga bisa dibaca keberadaannya ketika Herodotus mulai menulis karya sejarahnya yang berjudul Perang Parsie.

Dimana dia sudah memulai penulisan sejarah dengan manusia sebagai subjek penelitian, dan sifat antroposentris ini adalah salah satu ciri dari penulisan sejarah modren. Namun dalam perkembanganya di dunia modren ini kita juga akan menemukan fenomena peneulisan sejarah yang sangat subjektiv.

Peta politik pasca penemuan kompas, dan teori yang menyatakan bahwa bumi ini bulat mendorong timbulnya kolonialisme atau penjajahan. Corak penulisan yang sangat penjajahsentri ini lah yang kemudian mewarnai carak penulisan sejarah di dunia modren ini dengan sebutan historiografi Kolonial.
KOMPAS.com - Historiografi tradisional adalah penulisan sejarah yang eksis pada zaman kerajaan Hindu-Buddha hingga kerajaan Islam di Nusantara.

Umumnya historiografi tradisional diciptakan oleh pujangga-pujangga di kalangan kerajaan sebagai legitimasi dari raja atau penguasa yang sedah bertahta. Media yang digunakan dalam historiografi tradisional berupa media tulis natural seperti batu prasasti, lontar, kulit binatang, kertas dsb. Ciri-ciri historiografi tradisional Dalam buku Historiografi di Indonesia : Dari Magis Religius hingga Strukturis (2009) karya Agus Mulyana dan Darmiati, ciri-ciri historiografi tradisional adalah: • Religio-magis, artinya unsur magis atau supranatural sangat kental dalam narasi historiografi tradisional.

• Istana-sentris, artinya subyek, obyek, dan ruang lingkup historiografi tradisional hanya seputar kehidupan istana kerajaan. • Historiografi tradisional digunakan sebagai alat legitimasi (pengesahan) kekuasaan raja. • Bersifat feodalistik-aristokratis, artinya historiografi tradisional hanya membahas tentang sejarah dari kaum bangsawan dan keturunan raja.

• Region-sentris mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris kedaerahan, artinya historiografi tradisional banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat di daerah setempat. Baca juga: Prasasti Peninggalan Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Kelemahan historiografi tradisional Dalam buku Pengantar Ilmu Sejarah (2005) karya Kuntowijoyo, historiografi tradisional memiliki kelemahan sebagai berikut: • Memiliki subyektifitas yang tinggi, sehingga cenderung dibuat berdasarkan kepentingan dari sang penulis atau penguasa.

mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris

Hal tersebut menjadikan beberapa peristiwa sejarah dalam historiografi tradisional diragukan obyektifitas dan netralitasnya. • Tidak menggunakan metodologi yang jelas • Hanya mengungkapkan peristiwa sejarah dalam aspek kehidupan yang terbatas. • Tidak memiliki sumber sejarah yang jelas • Menggabungkan unsur supranatural dan realitas, sehingga mempersulit pembaca untuk mencari kebenaran sejarah.

Kelebihan Historiografi Tradisional Historiografi tradisional juga memiliki kelebihan, seperti: • Menggunakan romantisme klasik dalam penulisan sejarah sehingga menarik untuk dibaca. • Mampu menunjukan legitimasi raja dan keadaan politik kerajaan. • Historiografi tradisional menggunakan konsep genealogi (silsilah) secara runtut dan kronologis. Baca juga: Zaman Praaksara di Indonesia Contoh Historiografi Tradisional Berikut merupakan contoh-contoh karya historiografi tradisional : • Kitab Pararaton • Kitab Negarakertagama • Babad Tanah Jawi • Babad Tanah Pasundan • Hikayat Raja-Raja Pasai
Historiografi Tradisional - Pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai tema penulisan sejarah tradisional, sub tema meliputi : Pengertian, Ciri-Ciri, Karakteristik, Kelebihan dan Contohnya.

Apa pengertian historiografi tradisional? pertanyaan tersebut sering kita jumpai saat pelajaran sejarah di SMP maupun SMA. Hasil penulisan historiografi tradisional yaitu berupa naskah, kemudian penulis pada masa ini menulis bukan untuk mengungkap kebenaran dan fakta sejarah.

Hal ini mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris penulis berada dibawah pengawasan raja atau penguasa pada saat itu. Sifat atau karakteristik historiografi tradisional yaitu meliputi : magis religius (unsur magis dan kepercayaan sebagai dasar penulisan), istana sentris (hanya pada lingkungan keraton), dan etnosentris (kedaerahan). Ciri-Ciri dan Contoh Historiografi Tradisional • Penulisan berpusat pada kepentingan dan keinginan raja atau bersifat istana sentris.

• Penulisan dilakukan hanya pada suku bangsa tertentu atau bersifat kedaerahan. • Pada penempatan waktu sering terjadi kesalahan. • Sebagian besar hanya menampilkan unsur politik dalam karyanya, hal ini untuk menunjukkan kekuasaan dan kejayaan raja. • Penulisan dilakukan apabila ada permintaan dari raja dan hanya mencatat peristiwa penting di kerajaan tersebut. • Hasil karya penulisan kebanyakan berupa silsilah, sementara mengenai detail dan kronologinya kurang.

• Sumber datanya sulit untuk dibuktikan dan sulit untuk ditelusuri ulang. • Kebanyakan penyusunan data dilakukan tidak secara ilmiah, hal ini karena banyak data yang tercampur dengan mitos-mitos. Contoh historiografi tradisional dapat berupa babad, sastra dan kronik. Berikut ini contoh historiografi tradisional pada masa Hindu-Budha dan pada masa Islam. Contoh karya pada masa Hindu-budha : Babad Tanah Jawa, Babad Parahiangan, Kitab Pararaton, Babad Tanah Pasundan, Babad Sriwijaya, Kitab Negarakertagama, Babad Galuh.

Contoh karya pada masa Islam meliputi : Babad Demak, Babad Diponegoro, Babad Cirebon, Babad Aceh, Babad Banten. Sementara itu, historiografi tradisional juga memiliki kelemahan dan kelebihan.

Kelemahan historiografi tradisional yaitu : pertama, dalam isi penulisannya pemimpin atau raja dianggap memiliki kekuatan sakti (goib). Kedua, segala penulisan akan dihubungkan dengan hal gabid dan kepercayaan, kemudian penulisan hanya membahas mengenai kehidupan bangsawan dan tidak sama sekali membahas mengenai kehidupan rakyat.

Kelebihan historiografi tradisional yaitu : pertama, penulisan bertujuan meninggikan dan menghormati raja, sehingga raja tetap dipatuhi, dihormati dan dijunjung tinggi oleh rakyat.

Kemudian bermunculan berbagai mitos bahwa raja merupakan keturunan dewa mengapa historiografi tradisional bersifat etnosentris penjelmaan dewa, hal ini memunculkan anggapan bahwa setiap apa yang dikatakan raja benar.

Historiografi Part 1.




2022 www.videocon.com