Biografi kh mas mansyur

biografi kh mas mansyur

Ndrosmo : K H Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah sekaligus tokoh islam Nusantara yang mendapat gelar pahlawan nasional terlahir di Surabaya, tepatnya pada Kamis 25 Juni 1896. Ibunda beliau bernama Raudhah, seorang wanita kaya yang berasal dari keluarga Pesantren Sidoresmo, Wonokromo, Surabaya. Ayahnya bernama K.H. Mas Ahmad Marzuqi, seorang pioneer Islam, ahli agama yang terkenal di Jawa Timur.

Berasal dari keturunan bangsawan Astatinggi Sumenep, Madura. Dia dikenal sebagai imam tetap dan khatib di Masjid Agung Ampel Surabaya, sebuah jabatan terhormat saat itu. Tahun 1906, semasa Mas Mansur berusia sepuluh tahun, dia dikirim oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Demangan, Bangkalan, Madura. Di sana, dia biografi kh mas mansyur Al-Qur’an dan mendalami kitab Alfiyah ibn Malik kepada Kiai Khalil.

Baru belajar dua tahun, Kiai Khalil meninggal dunia, Mas Mansur pulang ke Surabaya. editor : M Luqman Hakim sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mas_Mansoerhttp://jawatimuran.wordpress.com/2012/12/14/k-h-mas-mansur-surabaya/ K.H. Mas Mansur adalah arek Suroboyo, kelahiran kampung Sawahan yang sekarang bernama Kampung Baru Nur Anwar, pada tanggal 25 Biografi kh mas mansyur 1896. la adalah putera Kyai Mas Ahmad dari keluarga pesantren Sidoresno Surabaya. Ibunya bernama Ramlah.

Pendidikan Mansur dimulai dengan belajar pada ayahnya sendiri, kemudian belajar pada Kyai Cholil di Kademangan, Bangkalan, Madura. Umur 12 tahun ia dikirim oleh ayahnya ke Mekah untuk belajar pula. Belum lama disana, terjadilah peristiwa politik di negeri Saudi Arabia dan semua orang asing diperintahkan oleh Raja Syarif Husein di Mekah agar meninggalkan kota itu. Mansur berangkat ke Mesir karena ingin meneruskan pelajaran di Universitas Al Azhar, namun ayahnya tidak menyetujuinya karena menganggap Mesir adalah tempat plesir dan maksiat.

biografi kh mas mansyur

Di Mesir tidak menerima kiriman uang dari ayahnya sehingga hidup dari dana-dana dan makan pun di mesjid. Untung hal yang demikian tidak berlangsung lama. Ayahnya kemudian berubah pendapat dan mau mengirim belanja kepadanya. Selama di Mesir banyak membaca buku-buku sastra Barat yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab.

Disana menyaksikan pula tumbuhnya nasionalisme dan hal ini membekas dalam jiwanya. Ia belajar di Al Azhar kurang lebih 3 tahun lamanya.

Selama di Mesir berkesempatan mengunjungi beberapa negara Islam, antara lain meninjau pesantren Syanggit di Tripoli yang amat berkesan dihatinya. Berhubung dengan berkecamuknya perang dunia I, dipanggil pulang oleh ayahnya.

biografi kh mas mansyur

Dalam perjalanan pulang bermukim lagi satu tahun di Mekah. Pada tahun 1915 tiba kembali di tanah airnya. Ia segera disibukkan oleh berbagai kegiatan dalam pergerakan agama, bahkan politik pula. Sebagai ulama, dikenal ahli ilmu tasawuf, ilmu tauhid, ilmu kalam, falsafah, dan mantiq K.H. Mas Mansyur biografi kh mas mansyur, bahwa pada masa penjajahan itu, agama Islam tidak dapat berkembang. Pemerintah jajahan selalu biografi kh mas mansyur menjauhkan masyarakat, terutama kaum terpelajarnya, dari kehidupan agama Islam.

K.H. Mas Mansyur sudah berkata pada zaman itu, bahwa…. ditanah air kita Indo­nesia ini sebagian banyak dari kaum terpelajar kita yang lari dari agama Islam lantaran mereka merasa ragu-ragu disebabkan oleh keadaan pemeluknya yang pada masa ini sedang berada di lapisan yang paling rendah, rendah dan sungguh rendah martabat kedudukannya kalau dibandingkan dengan umat yang lain, ya sekali lagi rendah martabatnya.

Tetapi di samping kerendahan bangsa kita dewasa ini adalah boleh dikatakan, karena kita sendiri, bukan karena Is­lam. Bukan karena Muhammad, dan bukan karena Qur’an dan Hadisnya, Is­lam tetap tinggi, tetapi umatnya belum tentu sebagai dia. Biar umatnya tidak terpandang, hina dina, namun dia (Islam) tetap mulia. Kehinaan umatnya bukan menunjukkan atas kehinaannya. Tegasnya, kehinaan dan kebenaran serta kemuliaan pemeluk sesuatu agama itu, bukan menjadi ukuran atas kehinaan agama yang dipeluknya.

Tetapi ukuran kebenaran dan kerendahan suatu agama itu, ialah tersimpan di mata air agama itu sendiri. Setibanya kembali di tanah air, dari Jakarta K.H. Mansur tidak langsung pulang ke Surabaya, tetapi singgah di Yogyakarta pada K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, untuk memperkenalkan diri dan bersilaturahmi. Rupanya sejak di negeri Saudi Arabia sudah tertarik oleh Muhammadiyah yang didirikan K.H.

Ahmad Dahlan tiga tahun sebelum pulang. Sejak itu terjadilah hubungan erat antara K.H. Mas Mansur dengan K.H. Ahmad Dahlan dan pada tahun 1921 K.H. Mas Mansur pun masuk menjadi anggota Muhammadiyah.

Sebelum masuk Muhammadiyah lebih dahulu telah tertarik kepada politik dan menjadi anggota SI (Serikat Islam) sejak tahun 1915.

Disamping itu aktif didalam lembaga pendidikan bersama-sama rekan-rekannya ulama mendirikan Madrasah Nadhatul Wathan. Taswirul Afkar dan mengajar dipesantren ayahnya Madrasah Mufidah. Di sini menerapkan sistim Mesir.

Di dalam Muhammadiyah kedudukan K.H. Mas Mansur terus meningkat. Masuk Muhammadiyah, kemudian mendirikan cabang Surabaya yang diketuainya, lalu diangkat menjadi konsul untuk Jawa Timur dan di dalam kongres Muhammadiyah ke-26 pada tahun 1937 dipilih menjadi Ketua Pimpinan Pusat. Di dalam kongres-kongres berikutnya dipilih kembali hingga memimpin Muhammadiyah selama 6 tahun penuh, dari tahun 1937 hingga 1943.

Selama menjadi Ketua PP Muhammadiyah memberi pelajaran pada Madrasah Mu’alimin, yaitu sekolah calon guru Muhammadiyah sekaligus sebagai kader-kader yang disiapkan untuk menanam benih-benih Muhammadiyah biografi kh mas mansyur seluruh Indonesia. Sebagai seorang mubaligh K.H. Mas Mansur pandai berpidato. la terkenal dengan pidatonya yang singkat, padat, seringkali dibumbui dengan hal yang lucu-lucu. Menulis pun Mas Mansur mahir. Tulisan-tulisannya dimuat berbagai majalah.

Tulisannya pun seperti pidatonya, yaitu singkat, padat, jelas dan enak dibaca. Pernah pula menerbitkan majalah tengah bulanan yang diberinya nama Le Djinem (baca: Jinem), Journal Ertude, Proprietair. Majalah yang nama-namanya mirip bahasa Perancis itu bukan berbahasa Perancis, tetapi berbahasa Jawa dengan huruf Arab.

Majalah Djinem menyuarakan ”arinom” artinya adik muda atau angkatan muda.

biografi kh mas mansyur

Majalah ini terbit tahun 1920. Kecuali berpidato dan menulis pun suka berpolemik tentang sesuatu masalah. Ia selalu merasa perlu mendudukkan suatu persoalan sewajarnya hingga masyarakat umum memahami soal itu dengan benar-benar.

Kalau masih juga lawan polemiknya belum mengerti. Mas Mansur tidak segan-segan mendatanginya tidak lain untuk menjelaskan biografi kh mas mansyur. Dalam memimpin Muhammadiyah Mas Mansur menerapkan disiplin yang ketat. Menarik garis antara pribadi dan organisasi. Ia lebih suka orang-orang Muhammadiyah datang di kotanya tentang urusan organisasi dari pada datang di kediamannya dengan dalih bersilaturrahmi. Rapat PP Muhammadiyah pernah dibatalkan, karena pada waktu yang ditetapkan dalam undangan, para anggota belum mencukupi jumlah untuk dapat bersidang.

Sejak itu PP Muhammadiyah menjauhi kebiasaan jam karet.

biografi kh mas mansyur

K.H. Mas Mansur tidak saja memiliki berbagai keahlian dalam soal-soal agama Islam, tetapi banyak pula prakarsanya mengembangkan agama Islam ditanah air. Pada tahun 1926 menjadi ketua MAIHS (Mu’tamar al-alam allslam Far’ul Hindisy – Syaqiyah) dengan sekretaris Haji Agus Salim. Dalam tahun itu juga menjadi ketua HOH (Haji Organisasi Hindia), dan dalam tahun itu pula bersama H.O.S. Cokroaminoto dan K.H. Mas Mansur Sejak berangkat ke Mekah untuk mewakili Indonesia dalam Mu’tamar Alam Islami sedunia.

K.H. Mas Mansur adalah seorang ulama yang besar, juga seorang pemimpin yang disegani. Bukan saja karena ilmunya yang luas dan dalam mengenai agama Islam, tetapi juga karena wataknya yang luhur dan berbudi.

Pengaruhnya tidak terbatas dilingkungan umat Islam saja, tetapi juga meluas di segenap masyarakat bangsa, karena itu sudah sewajarnya, apabila pemerintah kolonial Hindia Belanda memperhatikan dan berusaha untuk mendekati K.H. Mas Mansur. Dengan melalui Dr. Pijper biografi kh mas mansyur Hindia Belanda menawari K.H. Mas Mansur supaya suka menduduki jabatan sebagai Ketua Hod van Islamietische Zaken, yaitu suatu lembaga tinggi tentang urusan agama Islam, yang biografi kh mas mansyur memberikan nasehat-nasehat keagamaan Islam kepada Pemerintah Hindia-Belanda.

K.H. Mas Mansur akan memperoleh gaji sebesar f.1000,- (seribu gulden) setiap bulan, suatu jumlah yang sungguh besar, seperti gaji seorang bupati di zaman Hindia Belanda itu. Tetapi diluar dugaan Pemerintah Hindia Belanda dan pihak-pihak yang tidak menyukai beliau, ternyata K.H. Mas Mansur menolak. la memilih kebebasan bergerak di dalam perserikatan Muhammadiyah, walaupun dengan keperluan hidup yang serba terbatas daripada menjadi ketua Hod van Islamitiesche Zaken dengan gaji besar dan kehidupan mewah, tetapi menjadi alat pemerintahan penjajahan.

Karena penolakannya itu, nama Kyai Haji Mas Mansur makin harum, terutama dikalangan para pemimpin pergerakan nasional. Prakarsa K.H. Mas Mansur yang mendapat penghargaan dari para pemimpin Islam ialah berdirinya Majelis Islam Tertinggi yang berkembang menjadi MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia) pada tahun 1937, menemui Kyai Haji Moh.

Dahlan pemimpin Nadlatul Ulama (NU) di Surabaya dan mengusulkan pembentukannya Majelis Islam Tertinggi. Usul itu mendapat sambutan dan kemudian mereka mengadakan pertemuan dengan para ulama di Surabaya yang di hadiri oleh 70 orang ulama dari Jawa dan Madura. Pada pertemuan itulah dibentuk majelis tersebut dengan ketua K.H. Mas Mansur, wakilnya K.H Moh. Dahlan (Surabaya) dan K.H. Wahab Habullah dari NU duduk didalam pengurus pula.

Pada tanggal 26 Februari – 1 Maret 1938 MIAI mengadakan Kongres Al Islam ke I di Surabaya. Sebenarnya umat Islam Indonesia pernah melangsungkan kongres Al Islam sampai yang ke-9 sebelum ada MIAI, namun yang diusahakan MIAI itu disebut Kongres Al Islam ke-1. Hal ini tidak menjadi persoalan karena para ulama lebih mementingkan persatuan umat Islam yang waktu itu terasa goncang. Kegoncangan itu disebabkan karena adanya perbedaan pandangan antara PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) dengan kelompok-kelompok lainnya.

Pada tahun 1939 berdirilah GAPI (Gabungan Partai-Partai Politik Indonesia) dengan tuntutannya ”Indonesia Berparlemen” dan programnya menyelenggarakan Kongres Rakyat Indonesia (KRI). MIAI dengan wakil-wakilnya, Wahid Hasyim, Wondoamiseno, Sukiman dan K.H Mas Mansur ikut serta.

Beberapa partai dan organisasi lain ikut pula. Dalam tahun 1941 KRI yang telah menjadi badan tetap mengganti nama dengan Majelis Rakyat Indonesia (MRI) K.H. Mas Mansur dipilih menjadi ketuanya. Hal itu membuktikan bahwa kepemimpinannya tidak hanya diakui oleh kelompok agama, tetapi juga oleh kaum pergerakan nasional.

Perlu diketahui pada zaman kolonial itu pemerintah Belanda memang membentuk Dewan Rakyat (Volksraad). Tetapi para pemimpin pergerakan nasional, terutama kaum nonkoperasi (tidak bekerjasama dengan pemerintah jajahan) tidak menaruh kepercayaan terhadap Volksraad yang dinamakannya Komidi omong. Volksraad itu memang alat Pemerintah Hindia Belanda. Selama berjuang dan memimpin perjuangan umat Islam K.H. Mas Mansur banyak sekali menyumbang buah pikiran berupa pidato-pidato dan tulisan-tulisan diberbagai majalah dan surat kabar.

Pemerintah RI dengan SK Presiden RI No.162 Tahun 1964 tertanggal biografi kh mas mansyur Juni 1964 menganugerahi Kyai Haji Mas Mansur gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
K. H. Mas Mansoer (Mas Mansur) Lahir ( 1896-06-25)25 Juni 1896 Surabaya, Hindia Belanda Meninggal 25 April 1946 (1946-04-25) (umur 49) Surabaya, Indonesia Makam Gipu, Surabaya Kebangsaan Indonesia Almamater Universitas Al-Azhar Organisasi Muhammadiyah Suami/istri Siti Zakijah Halimah Orang tua KH.

Mas Achmad Marzoeqi (Ayah) Raudhah (Ibu) Penghargaan Pahlawan Nasional Indonesia Kiai Haji Mas Mansoer (25 Juni 1896 – 25 April 1946) adalah seorang tokoh Islam dan pahlawan nasional Indonesia. Daftar isi • 1 Keluarga • 2 Pendidikan • 2.1 Nyantri pada Kyai Kholil Bangkalan • 2.2 Belajar di Mekkah dan Mesir • 3 Menikah • 4 Bergabung dengan Sarekat Islam • 5 Taswir Al-Afkar • 6 Kepenulisan • 7 Kegiatan di Muhammadiyah • 7.1 Mulai aktif di Muhammadiyah • 7.2 Terpilih menjadi Ketua PB Muhammadiyah • 7.3 Gaya kepemimpinan • 8 Kegiatan politik • 9 Meninggal dunia • 10 Pahlawan nasional • 11 Pranala luar Keluarga [ sunting - sunting sumber ] Ibunya bernama Raudhah, seorang wanita kaya yang berasal dari keluarga Sagipodin.

Ayahnya bernama KH. Mas Achmad Marzoeqi berasal dari Keluarga Pesantren Sidoresmo Wonokromo Surabaya yang merupakan seorang pionir Islam, ahli agama yang terkenal di Jawa Timur pada masanya. Dia berasal dari keturunan bangsawan Astatinggi Sumenep, Madura.

Dia dikenal sebagai imam tetap dan khatib di Masjid Ampel, suatu jabatan terhormat pada saat itu. Pendidikan [ sunting - sunting sumber ] Nyantri pada Kyai Kholil Bangkalan [ sunting - sunting sumber ] Masa kecilnya dilalui dengan belajar agama pada ayahnya sendiri.

Di samping itu, dia juga belajar di Pesantren Sidoresmo, dengan Kiai Muhammad Thaha sebagai gurunya. Pada tahun 1906, ketika Mas Biografi kh mas mansyur berusia sepuluh tahun, dia dikirim oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Demangan, Bangkalan, Madura. Di sana, dia mengkaji Al-Qur'an dan mendalami kitab Alfiyah ibnu Malik kepada Kiai Khalil.

Belum lama dia belajar di sana kurang lebih dua tahun, Kiai Khalil meninggal dunia, sehingga Mas Mansur meninggalkan pesantren itu Raka Belajar di Mekkah dan Mesir [ sunting - sunting sumber ] Sepulang dari Pondok Pesantren Demangan pada tahun 1908, oleh orang tuanya disarankan untuk menunaikan ibadah haji dan belajar di Biografi kh mas mansyur pada Kiai Mahfudz yang berasal dari Pondok Pesantren Termas Pacitan Jawa Timur.

Biografi kh mas mansyur kurang lebih empat tahun belajar di sana, situasi politik di Saudi memaksanya pindah ke Mesir. Penguasa Arab Saudi, Syarif Hussen, mengeluarkan instruksi bahwa orang asing harus meninggalkan Makkah supaya tidak terlibat sengketa biografi kh mas mansyur. Pada mulanya ayah Mas Mansoer tidak mengizinkannya ke Mesir, karena citra Mesir (Kairo) saat itu kurang baik di mata ayahnya, yaitu sebagai tempat bersenang-senang dan maksiat.

Meskipun demikian, Mas Mansoer tetap melaksanakan keinginannya tanpa izin orang tuanya. Kepahitan dan kesulitan hidup karena tidak mendapatkan kiriman uang dari orang tuanya untuk biaya sekolah dan biaya hidup harus dijalaninya.

Oleh karena itu, dia sering berpuasa Senin dan Kamis dan mendapatkan uang dan makanan dari masjid-masjid. Keadaan ini berlangsung kurang lebih satu tahun, dan setelah itu orang tuanya kembali mengiriminya dana untuk belajar di Mesir. Di Mesir, dia belajar di Perguruan Tinggi Al-Azhar pada Syaikh Ahmad Maskawih. Suasana Mesir pada saat itu sedang gencar-gencarnya membangun dan menumbuhkan semangat kebangkitan nasionalisme dan pembaharuan. Banyak biografi kh mas mansyur memupuk semangat rakyat Mesir, baik melalui media massa maupun pidato.

Mas Mansoer juga memanfaatkan kondisi ini dengan membaca tulisan-tulisan yang tersebar di media massa dan mendengarkan pidato-pidatonya. Ia berada di Mesir selama kurang lebih dua tahun. Sebelum pulang ke tanah air, terlebih dulu dia singgah dulu di Makkah selama satu tahun dan pada tahun 1915 dia pulang ke Indonesia.

Menikah [ sunting - sunting sumber biografi kh mas mansyur Sepulang dari belajar di Mesir dan Makkah, ia menikah dengan puteri Haji Arif yaitu Siti Zakijah yang tinggalnya tidak jauh dari rumahnya.

Dari hasil pernikahannya itu, mereka dikaruniai enam orang anak, yaitu Nafiah, Ainoerrafiq, Aminah, Mohammad Noeh, Ibrahim dan Loek-loek. Di samping menikah dengan Siti Zakijah, dia juga menikah dengan Halimah. Dia menjalani hidup dengan istri kedua ini tidak berlangsung lama, hanya dua tahun, karena pada tahun 1939 Halimah meninggal dunia. Bergabung dengan Sarekat Islam [ sunting - sunting sumber ] Langkah awal Mas Mansoer sepulang dari belajar di luar negeri ialah bergabung dalam Sarekat Islam.

Peristiwa yang dia saksikan dan alami baik di Makkah, yaitu terjadinya pergolakan politik, maupun di Mesir, yaitu munculnya gerakan nasionalisme dan pembaharuan merupakan modal baginya untuk mengembangkan sayapnya dalam suatu organisasi.

Pada saat itu, SI dipimpin oleh Oemar Said Tjokroaminoto, dan terkenal sebagai organisasi yang radikal dan revolusioner. Ia dipercaya sebagai Penasihat Pengurus Besar SI. Taswir Al-Afkar [ sunting - sunting sumber ] Di samping itu, Mas Mansoer juga membentuk majelis diskusi bersama Wahab Hasboellah yang diberi nama Taswir al-Afkar (Cakrawala Pemikiran).

Terbentuknya majelis ini diilhami oleh Masyarakat Surabaya yang diselimuti kabut kekolotan. Masyarakat sulit diajak maju, bahkan mereka sulit menerima pemikiran baru yang berbeda dengan tradisi yang mereka pegang. Taswir al-Afkar merupakan tempat berkumpulnya para ulama Biografi kh mas mansyur yang sebelumnya mereka mengadakan kegiatan pengajian di rumah atau di surau masing-masing.

Masalah-masalah yang dibahas berkaitan dengan masalah-masalah yang bersifat keagamaan murni sampai masalah politik perjuangan melawan penjajah. Aktivitas Taswir al-Afkar itu mengilhami lahirnya berbagai aktivitas lain di berbagai kota, seperti Nahdhah al-Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang menitikberatkan pada pendidikan. Sebagai kelanjutan Nahdhah al-Wathan, Mas Mansur dan Abdul Wahab Hasbullah mendirikan madrasah biografi kh mas mansyur bernama Khitab al-Wathan (Mimbar Tanah Air), kemudian madrasah Ahl al-Wathan (Keluarga Tanah Air) di Wonokromo, Far'u al-Wathan (Cabang Tanah Air) di Gresik dan Hidayah al-Wathan (Petunjuk Tanah Air) di Jombang.

Kalau diamati dari nama yang mereka munculkan, yaitu wathan yang berarti tanah air, maka dapat diketahui bahwa kecintaan mereka terhadap tanah air sangat besar. Mereka berusaha mencerdaskan bangsa Indonesia dan berusaha mengajak mereka untuk membebaskan tanah air dari belenggu penjajah.

Pemerintahan sendiri tanpa campur tangan bangsa lain itulah yang mereka harapkan. Taswir al-Afkar merupakan wadah yang diskusinya mau tidak mau permasalahan yang mereka diskusikan merembet pada masalah khilafiyah, ijtihad, dan madzhab.

Terjadinya perbedaan pendapat antara Mas Mansoer dengan Abdoel Wahab Hasboellah mengenai masalah-masalah tersebut yang menyebabkan Mas Mansoer keluar dari Taswir al-Afkar.

Kepenulisan [ sunting - sunting sumber ] Mas Mansoer juga banyak menghasilkan tulisan-tulisan yang berbobot. Pikiran-pikiran pembaharuannya dituangkannya dalam media massa. Majalah yang pertama kali diterbitkan bernama Soeara Santri. Kata santri digunakan sebagai nama majalah, karena pada saat itu kata santri sangat digemari oleh masyarakat.

Oleh karena itu, Soeara Santri mendapat sukses yang gemilang. Djinem merupakan majalah kedua yang pernah diterbitkan oleh Mas Mansoer. Majalah ini terbit dua kali sebulan dengan menggunakan bahasa Jawa dengan huruf Arab. Kedua majalah tersebut merupakan sarana untuk menuangkan pikiran-pikirannya dan mengajak para pemuda melatih mengekspresikan pikirannya dalam bentuk tulisan.

Melalui majalah itu Mas Mansoer mengajak kaum muslimin untuk meninggalkan kemusyrikan dan kekolotan. Di samping biografi kh mas mansyur, Mas Mansoer juga pernah menjadi redaktur Kawan Kita di Surabaya. Tulisan-tulisan Mas Mansur pernah dimuat di Siaran dan Kentoengan di Surabaya; Pengandjoer dan Islam Bergerak di Jogjakarta; Pandji Islam dan Pedoman Masyarakat di Medan dan Adil di Solo.

Di samping melalui majalah-majalah, Mas Mansoer juga menuliskan ide dan gagasannya dalam bentuk buku, antara lain yaitu Hadits Nabawijah; Sjarat Sjahnja Nikah; Risalah Tauhid dan Sjirik; dan Adab al-Bahts wa al-Munadlarah. Beberapa dari tulisan-tulisan KH. Mas Mansoer yang tersebar di banyak media tersebut kemudian dihimpun oleh Amir Hamzah Wirjosukarto dalam sebuah Buku Rangkaian Mutu Manikam Kyai Hadji Mas Mansur yang diterbitkan oleh Penjebar Ilmu dan Al-Ichsan pada tahun 1968.

Kegiatan di Muhammadiyah [ sunting - sunting sumber ] Mulai aktif di Muhammadiyah [ sunting - sunting sumber ] Di samping aktif dalam bidang tulis-menulis, dia juga aktif dalam organisasi, meskipun aktivitasnya dalam organisasi menyita waktunya dalam dunia jurnalistik. Pada tahun 1921, Mas Mansoer masuk organisasi Muhammadiyah. Aktivitas Mas Mansoer dalam Muhammadiyah membawa angin segar dan memperkukuh keberadaan Muhammadiyah sebagai organisasi pembaharuan.

Tangga-tangga yang dilalui Mas Mansur selalu dinaiki dengan mantap. Hal ini terlihat dari jenjang yang dilewatinya, biografi kh mas mansyur setelah Ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya, kemudian menjadi Konsul Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur. Puncak dari tangga tersebut adalah ketika Mas Mansur menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah Terpilih menjadi Ketua PB Muhammadiyah [ sunting - sunting sumber ] Mas Mansoer dikukuhkan sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 di Jogjakarta pada bulan Oktober 1937.

Banyak hal pantas dicatat sebelum Mas Mansoer terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah. Suasana yang berkembang saat itu ialah ketidakpuasan angkatan muda Muhammadiyah terhadap kebijakan Pengurus Besar Muhammadiyah yang terlalu mengutamakan pendidikan, yaitu hanya mengurusi persoalan sekolah-sekolah Muhammadiyah, tetapi melupakan bidang tabligh (penyiaran agama Islam).

Angkatan Muda Muhammadiyah saat itu berpendapat bahwa Pengurus Besar Muhammadiyah hanya dikuasai oleh tiga biografi kh mas mansyur tua, yaitu KH. Hisjam (Ketua Pengurus Besar), KH.

Moechtar (Wakil Ketua), dan KH. Sjuja' sebagai Ketua Majelis PKO (Pertolongan Kesedjahteraan Oemoem). Situasi bertambah kritis ketika dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 di Jogjakarta pada tahun 1937, ranting-ranting Muhammadiyah lebih banyak memberikan suara kepada tiga tokoh tua tersebut.

Kelompok muda di lingkungan Muhammadiyah semakin kecewa. Namun setelah terjadi dialog, ketiga tokoh tersebut ikhlas mengundurkan diri. Setelah mereka mundur lewat musyawarah, Ki Bagoes Hadikoesoemo diusulkan untuk menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, namun ia yang menolak. Kiai Hadjid juga menolak ketika ia dihubungi untuk menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah. Perhatian pun diarahkan kepada Mas Mansoer (Konsul Muhammadiyah Daerah Surabaya). Pada mulanya Mas Mansoer menolak, tetapi setelah melalui dialog panjang ia bersedia menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah.

Pergeseran kepemimpinan dari kelompok tua kepada kelompok muda dalam Pengurus Besar Muhammadiyah tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah saat itu sangat akomodatif dan demokratis terhadap aspirasi kalangan muda yang progresif demi kemajuan Muhammadiyah, bukan demi kepentingan perseorangan.

Bahkan Pengurus Besar Muhammadiyah pada periode Mas Mansoer juga banyak didominasi oleh angkatan muda Muhammadiyah yang cerdas, tangkas, dan progresif. Gaya kepemimpinan [ sunting - sunting sumber ] Terpilihnya Mas Mansoer sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah meniscayakannya untuk pindah ke Jogjkarta bersama keluarganya.

Untuk menopang kehidupannya, Muhammadiyah tidak memberikan gaji, melainkan ia diberi tugas sebagai guru di Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta, sehingga ia mendapatkan penghasilan dari sekolah tersebut. Sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, Mas Mansoer juga bertindak disiplin dalam berorganisasi.

Sidang-sidang Pengurus Besar Muhammadiyah selalu diadakan tepat pada waktunya. Demikian juga dengan para tamu Muhammadiyah dari daerah-daerah. Berbeda dari Pengurus Besar Muhammadiyah sebelumnya yang sering kali menyelesaikan persoalan Muhammadiyah di rumahnya masing-masing, Mas Mansoer selalu menekankan bahwa kebiasaan seperti itu tidak baik bagi disiplin organisasi, karena Pengurus Besar Muhammadiyah telah memiliki kantor sendiri beserta segenap karyawan dan perlengkapannya.

Namun ia tetap bersedia untuk menerima silaturrahmi para tamu Muhammadiyah dari daerah-daerah itu di rumahnya untuk urusan yang tidak berkaitan dengan Muhammadiyah. Kepemimpinannya ditandai dengan kebijaksanaan baru yang disebut Langkah Muhammadiyah 1938-1949. Ada duabelas langkah yang dicanangkannya. Selain itu, Mas Mansoer juga banyak membuat gebrakan dalam hukum Islam dan politik ummat Islam saat itu. Yang perlu untuk pula dicatat, Mas Mansoer tidak ragu mengambil kesimpulan tentang hukum bank, yakni haram, tetapi diperkenankan, dimudahkan, dan dimaafkan, selama keadaan memaksa untuk itu.

Ia berpendapat bahwa secara hukum bunga bank adalah haram, tetapi ia melihat bahwa perekonomian ummat Islam dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, sedangkan ekonomi perbankan saat itu sudah menjadi suatu sistem yang kuat di masyarakat.

Oleh karena itu, jika ummat Islam tidak memanfaatkan dunia perbankan untuk sementara waktu, maka kondisi perekonomian ummat Islam akan semakin turun secara drastis. Dengan demikian, dalam kondisi keterpaksaan tersebut dibolehkan untuk memanfaatkan perbankan guna memperbaiki kondisi perekonomian ummat Islam.

Kegiatan politik [ sunting - sunting sumber ] Dalam perpolitikan ummat Islam saat itu, Mas Mansoer juga banyak melakukan gebrakan. Sebelum menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, Mas Mansoer sebenarnya sudah banyak terlibat dalam berbagai aktivitas politik ummat Islam. Setelah menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, ia pun mulai melakukan gebrakan politik yang cukup berhasil bagi ummat Islam dengan memprakarsai berdirinya Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) bersama Hasyim Asy'ari dan Wahab Hasboellah yang keduanya dari Nahdlatul Ulama (NU).

Ia juga memprakarsai berdirinya Partai Islam Indonesia (PII) bersama Dr. Sukiman Wiryasanjaya sebagai perimbangan atas sikap non-kooperatif dari Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).

Demikian juga ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Mas Mansoer termasuk dalam empat orang tokoh nasional yang sangat diperhitungkan, yang terkenal dengan empat serangkai, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan Mas Mansur.

Keterlibatannya dalam empat serangkai mengharuskannya pindah ke Jakarta, sehingga Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah diserahkan kepada Ki Bagoes Hadikoesoemo. Namun kekejaman pemerintah Jepang yang luar biasa terhadap rakyat Indonesia menyebabkannya tidak tahan dalam empat serangkai tersebut, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke Surabaya, dan kedudukannya dalam empat serangkai digantikan oleh Ki Bagoes Hadikoesoemo.

Meninggal dunia [ sunting - sunting sumber ] Ketika pecah perang kemerdekaan, Mas Mansoer belum sembuh benar dari sakitnya. Namun ia tetap ikut berjuang memberikan semangat kepada barisan pemuda untuk melawan kedatangan tentara Belanda ( NICA).

biografi kh mas mansyur

Akhirnya ia ditangkap oleh tentara NICA dan dipenjarakan di Kalisosok. Di tengah pecahnya perang kemerdekaan yang berkecamuk itulah, Mas Mansur meninggal di tahanan pada tanggal 25 April 1946. Jenazahnya dimakamkan di Gipo Surabaya. Pahlawan nasional [ sunting - sunting sumber ] Atas jasa-jasanya, oleh Pemerintah Republik Indonesia ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional bersama teman seperjuangannya, yaitu KH. Fakhruddin. Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] • (Indonesia) Biografi Mas Mansyur di Muhammadiyah.com Didahului oleh: KH Hisyam Ketua Umum Muhammadiyah 1936—1942 Diteruskan oleh: Ki Bagoes Hadikoesoemo Abdul Halim Majalengka · Abdoel Kahar Moezakir · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Mononutu · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumbantobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara · Kasman Singodimedjo · Kusumah Atmaja · Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi · Soekarni · Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto · Zainul Arifin Militer Abdul Haris Nasution · Andi Abdullah Bau Massepe · Basuki Rahmat · Tjilik Riwut · Djamin Ginting · Gatot Soebroto · Harun Thohir · Hasan Basry · John Lie · R.E.

Martadinata · Marthen Indey · Mas Isman · Muhammad Yasin · Syam'un · Soedirman · Soekanto Tjokrodiatmodjo · Soeprijadi · Oerip Soemohardjo · Usman Janatin · Yos Biografi kh mas mansyur · Djatikoesoemo Biografi kh mas mansyur Moestopo Kemerdekaan Agustinus Adisucipto · Abdulrachman Saleh · Adisumarmo Wiryokusumo · Andi Djemma · Ario Soerjo · Bagindo Azizchan · Bernhard Wilhelm Lapian · Halim Perdanakusuma · Ignatius Slamet Rijadi · Iswahyudi · I Gusti Ngurah Rai · Muhammad Mangundiprojo · Robert Wolter Mongisidi · Sam Ratulangi · Supeno · Sutomo (Bung Tomo) · Tahi Bonar Simatupang · Pakubuwana XII Revolusi As'ad Samsul Arifin · Abdul Wahab Hasbullah · Ahmad Dahlan · Albertus Soegijapranata · Bagoes Hadikoesoemo · Fakhruddin · Haji Abdul Malik Karim Amrullah · Hasjim Asy'ari · Hazairin · Ilyas Yakoub · Kyai Saleh Lateng · Lafran Pane · Mas Mansoer · Masjkur · Mohammad Natsir · Muhammad Zainuddin Abdul Madjid · Noer Alie · Nyai Ahmad Dahlan · Syech Yusuf Tajul Khalwati · Wahid Hasjim Perjuangan Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Made Agung · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyi Ageng Serang · Opu Daeng Risadju · Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Radin Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Fisabilillah · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Syaifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Untung Suropati · Zainal Mustafa • Abdul Kaffar • K.H.

Ahmad Sanusi • Abdoel Kahar Moezakir • Abdurrahman Baswedan • Agus Musin Dasaad • BKPH Suryohamijoyo • BPH Bintoro • BPH Purubojo • Dr. Kanjeng Raden Tumenggung Radjiman Wedyodiningrat • Dr. Raden Boentaran Martoatmodjo • Dr. Raden Suleiman Effendi Kusumah Atmaja • Dr. Samsi Sastrawidagda • Dr. Soekiman Wirjosandjojo • Drs. KRMH Sosrodiningrat • Drs.

Mohammad Hatta • Haji Agus Salim • Ichibangase Yosio • Ir. Pangeran Muhammad Noor • Ir. R. Ashar Sutejo Munandar • Ir. R.M. Pandji Soerachman Tjokroadisoerjo • Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo • Ir. Soekarno • K.H. Abdul Halim biografi kh mas mansyur Ki Bagoes Hadikoesoemo • Ki Hadjar Dewantara • Kiai Haji Abdul Biografi kh mas mansyur Hasan • Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim • Kiai Haji Mas Mansoer • Kiai Haji Masjkur • Liem Koen Hian • Mas Aris • Mas Sutardjo Kertohadikusumo • Mr.

Alexander Andries Maramis • Mr. Johannes Latuharhary • Mr. KRMT Wongsonegoro • Mr. Mas Besar Mertokusumo • Mr. Mas Soesanto Tirtoprodjo • Mr. Prof. Mohammad Yamin, S.H.

• Mr. RA Maria Ulfah Santoso • Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo • Mr. Raden Hindromartono • Mr. Raden Mas Sartono • Mr. Raden Panji Singgih • Mr.Rd.

Syamsuddin • Mr. Raden Sastromulyono • Mr. Raden Soewandi • Oey Tiang Tjoei • Oei Tjong Hauw • P.F. Dahler • Parada Harahap • Prof. Dr. Pangeran Ario Hussein Jayadiningrat • Prof. Dr. Raden Djenal Asikin Widjaja Koesoema • Prof. Mr. Dr.

Soepomo • R. Abdulrahim Pratalykrama • RAA Poerbonegoro Soemitro Kolopaking • RAA Wiranatakoesoema V • Raden Abdul Kadir • Raden Abikusno Tjokrosoejoso • Raden Asikin Natanegara • Raden Mas Margono Djojohadikusumo • Raden Oto Iskandar di Nata • Raden Pandji Soeroso • Raden Ruslan Wongsokusumo • Raden Sudirman • Raden Sukarjo Wiryopranoto • RMTA Soerjo • RMTA Wuryaningrat • RN Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito • Tan Eng Hoa • Halaman ini terakhir diubah pada 23 Februari 2022, pukul 02.26.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • Menu • Home • Daftar Tokoh • Pahlawan Nasional • Pahlawan Revolusi • Presiden Indonesia • Tokoh Islam Indonesia • 100 Tokoh Michael H Hart • 25 Nabi dan Rasul Islam • Ulul Azmi • Khulafaur Rasyidin • Sahabat Nabi • Sahabat Nabi Perempuan • Tabi'in • Tabi'ut tabi'in • Pengumpul Hadits • Mazhab Islam • Wali songo • Kabinet Kerja • Bidang Ilmu • Arsitek • Filsafat • Fiqih • Fisika • Hukum • Kedokteran • Komputer • Matematika • Politik • Sastra • Sosiologi • Tokoh Militer • Tokoh Muslim • Tokoh Wanita • Penemu Kiai Haji Mas Mansoer adalah seorang tokoh Islam dan pahlawan nasional Indonesia, beliau lahir di Surabaya, 25 Juni 1896.

Ibunya bernama Raudhah, seorang wanita kaya yang berasal dari keluarga Pesantren Sidoresmo Wonokromo Surabaya. Ayahnya bernama KH. Mas Achmad Marzoeqi, seorang pionir Biografi kh mas mansyur, ahli agama yang terkenal di Jawa Timur pada masanya. Dia berasal dari keturunan bangsawan Astatinggi Sumenep, Madura.

Dia dikenal sebagai imam tetap dan khatib di Masjid Ampel, suatu jabatan terhormat pada saat itu. Kiai Haji Mas Mansoer menikah dengan puteri Haji Arif yaitu Siti Zakijah yang tinggalnya tidak jauh dari rumahnya. Dari hasil pernikahannya itu, mereka dikaruniai enam orang anak, yaitu Nafiah, Ainoerrafiq, Aminah, Mohammad Noeh, Ibrahim dan Loek-loek.

Di samping menikah dengan Siti Zakijah, dia juga menikah dengan Halimah. Dia menjalani hidup dengan istri kedua ini tidak berlangsung lama, hanya dua tahun, biografi kh mas mansyur pada tahun 1939 Halimah meninggal dunia.

Pendidikan Di samping belajar agama pada ayahnya sendiri dia juga belajar di Pesantren Sidoresmo dengan Kiai Muhammad Thaha sebagai gurunya. Pada tahun 1906, ketika Mas Mansur berusia sepuluh tahun, dia dikirim oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Demangan, Bangkalan, Madura.

Di sana, dia mengkaji Al-Qur'an dan mendalami kitab Alfiyah ibn Malik kepada Kiai Khalil. Belum lama dia belajar di sana kurang lebih dua tahun, Kia Khalil meninggal dunia, sehingga Mas Mansur meninggalkan pesantren itu dan pulang ke Surabaya.

Belajar di Mekkah dan Mesir Sepulang dari Pondok Pesantren Demangan pada tahun 1908, oleh orang tuanya disarankan untuk menunaikan ibadah haji dan belajar di Makkah pada Kiai Mahfudz yang berasal dari Pondok Pesantren Termas Pacitan Jawa Timur. Setelah kurang lebih empat tahun belajar di sana, situasi politik di Saudi memaksanya pindah ke Mesir. Penguasa Arab Saudi, Syarif Hussen, mengeluarkan instruksi bahwa orang asing harus meninggalkan Makkah supaya tidak terlibat sengketa itu.

Pada mulanya ayah Mas Mansoer tidak mengizinkannya ke Mesir, karena citra Mesir (Kairo) saat itu kurang baik di mata ayahnya, yaitu sebagai tempat bersenang-senang dan maksiat. Meskipun demikian, Mas Mansoer tetap melaksanakan keinginannya tanpa izin orang tuanya. Kepahitan dan kesulitan hidup karena tidak mendapatkan kiriman uang dari orang tuanya untuk biaya sekolah dan biaya hidup harus dijalaninya. Biografi kh mas mansyur karena itu, dia sering berpuasa Senin dan Kamis dan mendapatkan uang dan makanan dari masjid-masjid.

Keadaan ini berlangsung kurang lebih satu tahun, dan setelah itu orang tuanya kembali mengiriminya dana untuk belajar di Mesir. Di Mesir, dia belajar di Perguruan Tinggi Al-Azhar pada Syaikh Ahmad Maskawih.

biografi kh mas mansyur

Suasana Mesir pada saat itu sedang gencar-gencarnya membangun dan menumbuhkan semangat kebangkitan nasionalisme dan pembaharuan. Banyak tokoh memupuk semangat rakyat Mesir, baik melalui media massa maupun pidato. Mas Mansoer juga memanfaatkan kondisi ini dengan membaca tulisan-tulisan yang tersebar di media massa dan mendengarkan pidato-pidatonya.

Ia berada di Mesir selama kurang lebih dua tahun. Sebelum pulang ke tanah air, terlebih dulu dia singgah dulu di Makkah selama satu tahun, dan pada tahun 1915 dia pulang ke Indonesia. Bergabung dengan Sarekat Islam (SI) Bergabung dalam Sarekat Islam adalah langkah awal Mas Mansoer sepulang dari belajar di luar negeri. Peristiwa yang dia saksikan dan alami baik di Makkah, yaitu terjadinya pergolakan politik, maupun di Mesir, yaitu munculnya gerakan nasionalisme dan pembaharuan merupakan modal baginya untuk mengembangkan sayapnya dalam suatu organisasi.

Pada saat itu, SI dipimpin oleh Oemar Said Tjokroaminoto, dan terkenal sebagai organisasi yang radikal dan revolusioner. Ia dipercaya sebagai Penasehat Pengurus Besar SI.

Taswir Al-Afkar Di samping itu, Mas Mansoer juga membentuk majelis diskusi bersama Wahab Hasboellah yang diberi nama Taswir al-Afkar (Cakrawala Pemikiran).

biografi kh mas mansyur

Terbentuknya majelis ini diilhami oleh Masyarakat Surabaya yang diselimuti kabut kekolotan. Masyarakat sulit diajak maju, bahkan mereka sulit menerima pemikiran baru yang berbeda dengan tradisi yang mereka pegang.

Taswir al-Afkar merupakan tempat berkumpulnya para ulama Surabaya yang sebelumnya mereka mengadakan kegiatan pengajian di rumah atau di surau masing-masing. Masalah-masalah yang dibahas berkaitan dengan masalah-masalah yang bersifat keagamaan murni sampai masalah politik perjuangan melawan penjajah. Aktivitas Taswir al-Afkar itu mengilhami lahirnya berbagai aktivitas lain di berbagai kota, seperti Nahdhah al-Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang menitikberatkan pada pendidikan.

Sebagai kelanjutan Nahdhah al-Wathan, Mas Mansur dan Abdul Wahab Hasbullah mendirikan madrasah yang bernama Khitab al-Wathan (Mimbar Tanah Air), kemudian madrasah Ahl al-Wathan (Keluarga Tanah Air) di Wonokromo, Far'u al-Wathan (Cabang Tanah Air) di Gresik dan Hidayah al-Wathan (Petunjuk Tanah Air) di Jombang. Kalau diamati dari nama yang mereka munculkan, yaitu wathan yang berarti tanah air, maka dapat diketahui bahwa kecintaan mereka terhadap tanah air sangat besar.

Mereka berusaha mencerdaskan bangsa Indonesia dan berusaha mengajak mereka untuk membebaskan tanah air dari belenggu penjajah. Pemerintahan sendiri tanpa campur tangan bangsa lain itulah yang mereka harapkan. Taswir al-Afkar merupakan wadah yang diskusinya mau tidak mau permasalahan yang mereka diskusikan merembet pada masalah khilafiyah, ijtihad, dan madzhab.

Terjadinya perbedaan pendapat antara Mas Mansoer dengan Abdoel Wahab Hasboellah mengenai masalah-masalah tersebut yang menyebabkan Mas Mansoer keluar dari Taswir al-Afkar. Kepenulisan Pemikirannya tentang pembaharuan dituangkannya ke dalam bentuk tulisan-tulisan yang berbobot seperti dalam media massa. Majalah yang pertama kali diterbitkan bernama Soeara Santri.

Kata santri digunakan sebagai nama majalah, karena pada saat itu kata santri sangat digemari oleh masyarakat.

Oleh karena itu, Soeara Santri mendapat sukses yang gemilang. Djinem merupakan majalah kedua yang pernah diterbitkan oleh Mas Mansoer. Majalah ini terbit dua kali sebulan dengan menggunakan bahasa Jawa dengan huruf Arab. Kedua majalah tersebut merupakan sarana untuk menuangkan pikiran-pikirannya dan mengajak para pemuda melatih mengekspresikan pikirannya dalam bentuk tulisan.

Melalui majalah itu Mas Mansoer mengajak kaum muslimin untuk meninggalkan kemusyrikan dan kekolotan. Di samping itu, Mas Mansoer juga pernah menjadi redaktur Kawan Kita di Surabaya.

Tulisan-tulisan Mas Mansur pernah dimuat di Siaran dan Kentoengan di Surabaya; Penagandjoer dan Islam Bergerak di Jogjakarta; Pandji Islam dan Pedoman Masyarakat di Medan dan Adil di Solo.

Di samping melalui majalah-majalah, Mas Mansoer juga menuliskan ide dan gagasannya dalam bentuk buku, antara lain yaitu Hadits Nabawijah; Sjarat Sjahnja Nikah; Risalah Tauhid dan Sjirik; dan Adab al-Bahts wa al-Munadlarah. Kegiatan di Muhammadiyah Di samping aktif dalam bidang tulis-menulis, dia juga aktif dalam organisasi, meskipun aktivitasnya dalam organisasi menyita waktunya dalam dunia jurnalistik.

Pada tahun 1921, Mas Mansoer masuk organisasi Muhammadiyah. Aktivitas Mas Mansoer dalam Muhammadiyah membawa angin segar dan memperkokoh keberadaan Muhammadiyah sebagai organisasi pembaharuan.

Tangga-tangga yang dilalui Mas Mansur selalu dinaiki dengan mantap. Hal ini terlihat dari jenjang yang biografi kh mas mansyur, yakni setelah Ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya, kemudian menjadi Konsul Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur. Puncak dari tangga tersebut adalah ketika Mas Mansur menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah pada tahun 1937-1943.

Mas Mansoer dikukuhkan sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 di Jogjakarta pada bulan Oktober 1937. Banyak hal pantas dicatat sebelum Mas Mansoer terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah. Kegiatan politik Setelah menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, ia pun mulai melakukan gebrakan politik yang cukup berhasil bagi ummat Islam dengan memprakarsai berdirinya Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) bersama Hasyim Asy'ari dan Wahab Hasboellah yang keduanya dari Nahdlatul Ulama (NU).

Ia juga memprakarsai berdirinya Partai Islam Indonesia (PII) bersama Dr. Sukiman Wiryasanjaya sebagai perimbangan atas biografi kh mas mansyur non-kooperatif dari Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Demikian juga ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Mas Mansoer termasuk dalam empat orang tokoh nasional yang sangat diperhitungkan, yang terkenal dengan empat serangkai, yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan Mas Mansur.

Keterlibatannya dalam empat serangkai mengharuskannya pindah ke Jakarta, biografi kh mas mansyur Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah diserahkan kepada Ki Bagoes Hadikoesoemo.

biografi kh mas mansyur

Namun kekejaman pemerintah Jepang yang luar biasa terhadap rakyat Indonesia menyebabkannya tidak tahan dalam empat serangkai tersebut, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke Surabaya, dan kedudukannya dalam empat serangkai digantikan oleh Ki Bagoes Hadikoesoemo.

Ketika pecah perang kemerdekaan, Mas Mansoer belum sembuh benar dari sakitnya. Namun ia tetap ikut berjuang memberikan semangat kepada barisan pemuda untuk melawan kedatangan tentara Belanda (NICA).

Akhirnya ia ditangkap oleh tentara NICA dan dipenjarakan di Kalisosok. Di tengah pecahnya perang kemerdekaan yang berkecamuk itulah, Mas Mansur meninggal di tahanan pada tanggal 25 April biografi kh mas mansyur pada umur 49 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Gipo Surabaya. Atas jasa-jasanya, oleh Pemerintah Republik Indonesia KH. Mas Mansur diangkat sebagai Pahlawan Nasional bersama teman seperjuangannya, yaitu KH.

Fakhruddin. KH mas Mansur menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 26 Juni 1964 berdasarkan Keppres No. 163 tahun 1964. • ► 2022 (5) • ► April (1) • ► March (2) • ► February (2) • ► 2021 (41) • ► December (5) • ► November (7) • ► July (2) • ► June (12) • ► April (8) • ► March (2) • ► February (2) • ► January (3) • ► 2020 (85) • ► December (1) • ► November (2) • ► October (1) • ► September (3) • ► August (12) • ► July (15) • ► June (25) • ► May (6) • ► April (3) • ► March (8) • ► February (8) • ► January (1) • ► 2019 (85) • ► December (10) • ► November (16) • ► October (8) • ► September (8) • ► August (8) • ► July (9) • ► June (6) • ► May (1) • ► April (1) • ► March (4) • ► February (2) • ► January (12) • ► 2018 (92) • ► December (12) • ► November (14) • ► October (11) • ► September (11) • ► August (7) • ► July (3) • ► June (2) • ► May (3) • ► April (2) • ► March (4) • ► February (8) • ► January (15) • ► 2017 (223) • ► December (4) • ► November (11) • ► October (17) • ► September (7) • ► August (9) • ► July (23) • ► June (24) • ► May (29) • ► April (23) • ► March (31) • ► February (29) • ► January (16) • ► 2016 (363) • ► December (7) • ► November (20) • ► October (44) • ► September (61) • ► August (48) • ► July (35) • ► June (46) • ► May (26) • ► April (22) • ► March (13) • ► February (19) • ► January (22) • ► 2015 (168) • ► December (7) • ► November (22) • ► October (4) • ► September (5) • ► August (13) • ► July (11) • ► June (23) • ► May (26) • ► April (12) • ► March (19) • ► February (12) • ► January (14) • ▼ 2014 (427) • ► December (29) • ► November (35) • ► October (27) • ► September (31) • ► August (27) • ► July (27) • ► June (24) • ► May (28) • ► April (35) • ► March (43) • ► February (78) • ▼ January (43) • Biografi Arie Frederik Lasut • Biografi Basuki Rahmat - Pahlawan Nasional • Biografi Harun Thohir - Pahlawan Nasional • Biografi Usman Janatin - Pahlawan Nasional • Biografi Pangeran Antasari - Pahlawan Nasional Ind.

• Biografi Wilhelmus Zakaria Johannes • Biografi Raden Eddy Martadinata • Biografi Eugène Emmanuel Viollet-le-Duc - Arsitek . • Biografi Sutan Syahrir • Biografi Sugiyono Mangunwiyoto - Pahlawan Revolusi • Biografi Katamso Darmokusumo - Pahlawan Revolusi • Biografi KH Ahmad Sahal Mahfudh • Biografi Karel Satsuit Tubun - Pahlawan Revolusi • Biografi Pierre Tendean - Pahlawan Revolusi • Biografi Sutoyo Siswomiharjo - Pahlawan Revolusi • Biografi D.I.

Pandjaitan - Pahlawan Revolusi • Biografi Siswondo Parman - Pahlawan Revolusi • Biografi Mas Tirtodarmo Haryono - Pahlawan Revolusi • Biografi R. Suprapto - Pahlawan Revolusi • Biografi Ahmad Yani - Pahlawan Revolusi • Biografi Soepomo - Arsitek Undang-Undang Dasar 1945 • Biografi Oerip Soemohardjo • Biografi Jenderal Sudirman - Pahlawan Nasional • Biografi Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo • Biografi Hasjim Asy'ari - Pendiri Pesantren Tebu I.

• Biografi Dian Fossey • Biografi Sri Susuhunan Pakubuwana VI • Biografi Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim • Biografi Alimin - Pahlawan Nasional Indonesia • Biografi KH. Mas Mansoer • Biografi KH Fakhruddin - Pejuang Pergerakan Kemerd. • Biografi Tjipto Mangoenkoesoemo • Biografi Cut Nyak Meutia - Pahlawan Aceh • Biografi Simone de Beauvoir • Biografi Cut Nyak Dhien - Pahlawan Nasional dari Aceh • Saharjo - Tokoh Penting Dalam Bidang Hukum di Ind.

• Biografi Djoeanda Kartawidjaja • Biografi Tan Malaka • Biografi Zainul Arifin - Pahlawan Kemerdekaan Nasi. • Ferdinand Lumbantobing • Biografi Sukarjo Wiryopranoto • Gatot Soebroto • Biografi Haji Agus Salim • ► 2013 (35) • ► December (22) • ► November (5) • ► August (3) • ► July (5)
Oleh: M. Arsyad Arifi KH Mas Mansyur dikenal sebagai kiai kharismatik yang menjadi tokoh “Empat Serangkai” pemimpin PETA (Pusat Tenaga Rakyat) bersama Soekarno, Hatta, dan Ki Hajar Dewantara.

Tentu semua mengenal sosok beliau. Kiai yang pandai berpotret, suka memakai sarung dan peci ini lahir dari pasangan KH Mas Ahmad Marzuki dan Raudah di Surabaya, 25 Juni 1896 tepatnya di kampung Sawahan, Surabaya. Beliau tumbuh dalam lingkungan religius, mengingat ayahnya sendiri merupakan bagian dari keluarga Pondok Pesantren Sidoresmo Surabaya. Murid Kiai Khalil Bangkalan dan Kiai Muhammad Thaha Sidoresmo ini terkenal cerdas, gemar membaca, dan suka mendengarkan nasehat. Bakat kepemimpinannya, menurut Muslihat (kakaknya), sudah terlihat sejak kanak-kanak.

“Ketika masih kanak-kanak, ia sering bermain sekolah-sekolahan dan ia seakan menjadi guru, bantal-bantal itu diibaratkan para murid,” terang Muslihat. Maka dari itu orangtuanya menyarankan beliau untuk naik haji dan berguru kepada Syeikh Mahfudz Termas di Makkah.

Di tengah-tengah pembelajarannya, terjadi pergolakan politik yang membuatnya harus pindah dari Saudi Arabia. Akhirnya turunlah sauh KH Mas Mansyur di negeri Firaun.

Beliau melanjutkan pembelajarannya di Universitas Al-Azhar Kairo. Pada saat inilah beliau bertemu dengan banyak tokoh pembaharu seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha terkenal dengan tafsirnya “Al-Manar”, Kasim Amin, Muhammad Haykal yang terkenal dengan karyanya “Hayatu Muhammad”, Abbas M. Akkad hingga Saad Zaghlul yang dikenal sebagai bapak kemerdekaan Mesir. Jiwa pelopor KH Mas Mansyur mulai tumbuh dan terpatri dalam sanubarinya.

Kalau Albert Camus mengatakan, “Aku memberontak maka aku ada”, dapat dikatakan KH Mas Mansyur, “Aku membaharu maka aku ada.” Seusai menuntut ilmu, pulanglah ia ke tanah air pada tahun 1915.

Sepulangnya di rumah, ia mendapati pertumbuhan pergerakan nasional terjadi di berbagai tempat, yang pada pada akhirnya mempertemukan ia dengan Persyarikatan Muhammadiyah karena kecocokan visi dan misi. Tak butuh waktu lama semenjak perkenalannya beliau langsung jatuh cinta dengan Muhammadiyah.

Maka beliau masuk ke dalamnya pada tahun 1921. Setelah masuk, jiwa pelopornya yang didapatkan saat di Mesir pun berkobar. Biografi kh mas mansyur mendapat izin dari KH Ahmad Dahlan maka dengan penuh semangat KH Mas Mansyur mendirikan Muhammadiyah Cabang Surabaya di tahun itu juga.

Tak hanya itu, ia pun mengusulkan berdirinya Majelis Tarjih pada Kongres Muhammadiyah yang ke-16 di Pekalongan tahun 1927. Alasannya adalah guna mencegah timbulnya percekcokan dan perselisihan masalah-masalah agama di kalangan Muhammadiyah. Sebab hal itu akan menghambat jalannya kemajuan organisasi, serta akan meretakkan ukhuwah islamiyah. Di samping itu, untuk mencegah timbulnya penyalahgunaan hukum agama demi kepentingan pribadi.

Pengaruhnya yang sangat berarti di tubuh Muhammadiyah inilah yang membuatnya akhirnya terpilih menjadi Ketua PB Muhammadiyah pada tahun 1937-1943.

Beliau menjadi nahkoda bahtera Muhammadiyah yang ketiga setelah KH Ahmad Dahlan dan KH Ibrahim. Kepeloporannya tak hanya di lingkungan Muhammadiyah saja, bersama HOS Cokroaminoto, KH Mas Mansyur ikut menahkodai Sarekat Islam yang menjadi satu-satunya wadah perjuangan umat Islam di bidang politik kala itu.

Beliau juga tergabung dalam MIAI atau Majelis Islam A’la Indonesia yang menjadi cikal bakal Masyumi yang sangat masyhur pengaruhnya. Juga melalui PUTERA biografi kh mas mansyur Tenaga Rakyat) yang dipimpinnya ia membentuk BKR yang bertransformasi menjadi TKR yang kini menjadi TNI.

Selain peran di politik pemerintahan, tokoh Muhammadiyah ini sangat akrab dengan semua kalangan, termasuk juga dengan Nahdlatul Ulama. Tercatat setelah kepulangannya dari Timur Tengah, bersama KH Wahab Chasbullah mempelopori berdirinya kelompok diskusi “Taswirul Afkar” di Surabaya. Lalu mereka membentuk suatu perkumpulan yang bergerak dalam bidang pendidikan yang diberi nama “Djami’ah Nahdhatul Wathan” dari perkumpulan ini kemudian didirikan sekolah yang cukup modern kala itu dengan “Khitabul Wathan” di Surabaya.

Perkumpulan ini berkembang pesat hingga muncullah cabang-cabang di berbagai tempat. Selain itu beliau ikut mempelopori berdirinya STI yang menjadi Sekolah Tinggi Islam pertama dan satu-satunya di Indonesia kala itu.

Tinta emas prestasi biografi kh mas mansyur diukir oleh KH Mas Mansyur membuat pada puncaknya beliau meraih gelar Pahlawan Nasional yang disematkan oleh Presiden Soekarno melalui surat keputusan Presiden RI Nomor 590 Tahun 1961 tertanggal 19 November 1961. Sekian banyak prestasi yang ditorehkan oleh KH Mas Mansyur memberikan kesimpulan bahwasannya beliau adalah sosok ulama yang tak menyukai stagnasi dan kebekuan ide maka dari itu beliau mendobraknya dengan pembaharuan di segala, tempat, waktu dan dengan siapapun kawannya.

Jiwa kepeloporan inilah ibrah yang harus kita ambil dari beliau karena Rasulullah ﷺ bersabda: من سن في الإسلام سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها من بعده لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئا(خرجه مسلم biografi kh mas mansyur صححيه.) Artinya: Barangsiapa mencontohkan dalam Islam contoh yang baik maka baginya mendapat pahala dari amal itu sendiri dan mendapat pahala dari amalan orang yang mengamalkannya dengan apa yang telah ia contohkan tanpa berkurang pahalanya sedikitpun dan barangsiapa mencontohkan dalam Islam contoh yang buruk maka baginya mendapat dosa dari amal itu sendiri dan mendapat dosa dari amalan orang yang mengamalkannya dengan apa yang telah ia contohkan tanpa berkurang dosanya sedikitpun.

(H.R. Muslim) Maka dari itu, mari kita menjadi pelopor dalam kebaikan untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Wallahua’lambishawab.* Penulis adalah aktivis Pemuda Muhammadiyah DIY. Pernah belajar di International Islamic University Malaysia (UIAM) Rep: Admin Hidcom Editor: -
KOMPAS.com - KH Mas Mansyur merupakan seorang tokoh Islam dan tokoh nasional asal Surabaya.

Ia tergabung dalam Muhammadiyah. Selain aktif dalam keagamaan, ia juga terlibat dalam pergerakan nasional. Ia adalah salah satu dari Empat Serangkai yang memperjuangkan nasib rakyat Indonesia sejak masa penjajahan Hindia Belanda hingga masa pendudukan Jepang.

Baca juga: Kerajaan Khmer: Pendiri, Masa Keemasan, dan Keruntuhan Keluarga KH Mas Mansyur lahir pada 25 Juni 1896 di Surabaya.

Ayahnya bernama Kyai Haji Mas Ahmad Marzuki dan ibunya merupakan seorang keturunan Bugis dan juga Minang. Sang ayah merupakan pionir Islam dan ahli agama yang terkenal di Jawa Timur. Ia merupakan keturunan bangsawan Astatinggi Sumenep, Madura. Ayahnya dikenal sebagai imam tetap dan khatib di Masjid Ampel, sebuah jabatan yang terhormat pada saat itu. Baca juga: ASEAN: Latar Belakang Berdirinya, Tujuan, dan Negara Anggota Pendidikan Sekolah Pesantren Pada masa kecil, KH Mas Mansyur belajar soal agama melalui ayahnya sendiri.

Namun, selain itu, ia juga belajar di Pesantren Sidoresmo bersama Kiai Muhammad Thaha sebagai gurunya.

biografi kh mas mansyur

Pada 1906, saat Mas Mansyur berusia sepuluh tahun, ia dikirim oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Demangan, Bangkalan Madura.

Di sana ia belajar mengkaji Al-Qur'an dan mendalami kitab Alfiyah ibnu Malik bersama Kiai Khalil. Berita Terkait Jumlah Penduduk Indonesia 2020 Biografi kh mas mansyur Provinsi dan Distribusinya Jumlah Penduduk Indonesia 2020 Berdasarkan Jenis Kelamin DI Pandjaitan: Masa Muda, Karier Militer, dan Akhir Hidup S Siswomihardjo: Kehidupan, Karier Militer, dan Akhir Hidup Jumlah Penduduk Indonesia 2020 Berdasarkan Komposisi Usia Berita Terkait Jumlah Penduduk Indonesia 2020 Berdasarkan Provinsi dan Distribusinya Jumlah Penduduk Indonesia 2020 Berdasarkan Jenis Kelamin DI Pandjaitan: Masa Muda, Karier Militer, dan Akhir Hidup S Siswomihardjo: Kehidupan, Karier Militer, dan Akhir Hidup Jumlah Penduduk Indonesia 2020 Berdasarkan Komposisi UsiaMas Mansur lahir di Surabaya pada tanggal 25 Juni 1896.

Ia belajar agama di Mekah dan kemudian di Universitas Al Azhar, Kairo. Selain mendalami pengetahuan agama, ia juga rajin mempelajari pengetahuan Barat. Karena itu, pemikirannya menjadi luas. Mansur terpengaruh juga oleh perjuangan bangsa Mesir melepaskan diri dari penjajahan. Setelah kembali ke tanah air, ia mengajar di pesantren Mufidah di Surabaya.

Selain itu, ia aktif pula menjadi anggota Muhammadiyah, kemudian memasuki Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Banyak kegiatan yang telah dilakukannya untuk memajukan Muhammadiyah, antara lain giat berdakwah ke daerah-daerah. Dari jabatan ketua cabang, Mansur diangkat menjadi Konsul Muhammadiyah Jawa Timur.

Pada tahun 1937 ia terpilih sebagai Ketua Pucuk Pimpinan Muhammadiyah. Pada masa pendudukan Jepang ia giat mengurus perguruan Muhammadiyah. Bersama K.H. Wahid Hasyim dan K.H. Taufiqurrahman, ia mendirikan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Ketika Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera), Kyai Haji Mas Mansur diangkat menjadi salah seorang pemimpinnya disamping Ir. Sukarno, Drs. Muhammad Hatta dan Ki Hajar Dewantara. Putera dibentuk untuk mengambil hati tokoh-tokoh nasionalis. Buat Mas Mansur, yang tidak menyukai pemerintah Jepang, tugas itu tidak menyenangkan.

Tetapi, demi kepentingan umat Islam, diterimanya juga. Hidup di Jakarta merupakan tekanan batin yang berat sebab hampir setiap hari ia menyaksikan orang-orang bergaul bebas, minum minuman keras, dan melakukan pekerjaan lain yang bertentangan dengan ajaran Islam. Karena itu, pada tahun 1944, ia kembali ke Surabaya dengan alasan kesehatan terganggu. Namun biografi kh mas mansyur, ia masih saja diangkat menjadi anggota Cuo Sangi In.

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan, Mas Mansur diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sesudah Indonesia merdeka, ia giat membantu pemuda-pemuda Surabaya berjuang melawan Inggris. Karena mempunyai pengaruh yang besar terhadap para pemuda, ia ditangkap oleh Belanda dan dipenjarakan di penjara Kalisosok, Surabaya.

Dalam perjalanan ini ia meninggal dunia pada tanggal 25 April 1946. Kemudian berdasar Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 162 Tahun 1964, tanggal 26 Juni 1964, Kyai Haji Mas Mansur ditetapkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan

Biografi KH Mas Mansur




2022 www.videocon.com