Terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu

terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu

Trending • Catat Girls, Inilah 7 Tanda Pacar Akan Segera Melamarmu • 10 Cara Paling Ampuh Mengatasi Bosan Dalam Hubungan • Pahami 7 Aturan Ini, Saat Pacaran Dengan Teman Kantor Agar Langgeng • 10 Cara Menghadapi Pacar Suka Mengatur Kehidupanmu Berlebihan • Susah Menaklukan Hati Cowok Pemalu?

Coba 10 Cara PDKT Ini • 10 Cara Ampuh Bikin Pacar Makin Sayang Saat LDR-an • 10 Cara Membuat Cowok Nyaman Menjalin Hubungan Denganmu • Lakukan 11 Cara Ini Ketika Pacar Selalu Sibuk Agar Hubungan Langgeng • Gak Harus Bilang “Kangen”, Inilah 9 Cara Cowok Mengungkapkan Rindu • Bukan Modus, Inilah 7 Tanda Cowok Tulus Menyayangimu Hallo sahabat kepo….Pertengkaran di dalam hubungan merupakan hal wajar. Semesra dan seromantis apapun kamu dengan pacar, pasti akan ada masanya kalian bertengkar dengan pacar.

Namun jangan sampai saat bertengkar terucap ungkapan terlarang yang akan kita bahas kali ini, jika tidak mau hubunganmu segera berakhir. Namun tak jarang pertengkaran bisa memicu emosi menjadi meledak-ledak.

Hal kecil pun akan dibesarkan dan menyebabkan kamu dan pacar bisa putus di tengah jalan. Dan parahnya, terkadang muncul perkataan yang tidak dapat terkontrol, baik dari salah satu maupun keduanya yang membuat hati tersakiti. Karena itulah saat mengalami pertengkaran dengan pacar, kamu harus bisa menjaga ucapan. Jangan sampai mengucap hal-hal yang sekiranya bisa menyakitkan. Menggunakan ungkapan terlarang ini saat bertengkar dengan pacar tidak akan menjadi solusi, justru membuat hubunganmu dengan dia semakin runyam.

Selain itu, hal seperti ini adalah salah satu kebiasaan buruk pacaran yang bikin tidak langgeng. Inilah Ungkapan Terlarang Pantang Terucap Saat Bertengkar Dalam hubungan percintaan, pertengkaran menjadi hal yang wajar.

terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu

Karena pasti ada saja momen dimana kamu berbeda pendapat dengan pacar, dan ini dikarenakan apa yang ada di kepalamu dengan dia jelas berbeda. Namun meskipun wajar bukan berarti kamu bisa menggunakan ungkapan-ungkapan yang bisa saja menyakiti hatinya. Ingat tajamnya kata-kata saat sudah melukai hati akan sangat sulit diobati. Sehingga semarah apapun kamu, hindari mengunakan unkapan terlarang di bawah ini.

12 ungkapan terlarang saat bertengkar dengan pasangan 1. “Terserah” Rasanya ungkapan kata “terserah” menjadi salah satu jawaban andalan saat terjadi pertengkaran bersama pasangan. Meskipun terkesan sepele, namun siapa sangka jika ungkapan terlarang ini bisa menyakitkan hati pasangan. Mengucapkan kata “terserah” membuat kamu seakan-akan mengabaikan pasanganmu.

Hal ini malah berakibat buruk dan sama sekali tidak akan memecahkan masalah kalian berdua. Sehingga jangan mengucapkan kata larangan saat bertengkar ini dengan pacarmu. Akan lebih baik jika kamu mengajak pasangan untuk berbicara bersama baik-baik. Dan jika salah satu dari kalian sedang emosi, maka akan lebih baik untuk diam agar tidak membuat emosinya menjadi semakin meledak-ledak. 2. “Kamu tuh jangan suka gede-gedein masalah” Besar kecilnya permasalahan dalam hubungan itu relatif.

Standar kamu dengan pacar maupun orang lainnya jelas berbeda. Bisanya, ungkapan terlarang seperti ini muncul di situasi saling menyalahkan satu sama lain, misalnya “Kamu tuh jangan suka gede-gedein masalah”. Mungkin bagimu itu masalah sepele, namun belum tentu itu yang ada di pikiranmu.

Jika pacarmu merasa masalah tersebut perlu dibahas dan dicarikan solusinya, maka kamu harus mengikuti kemauannya.

terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu

Sehingga kalian berdua bisa sama-sama segera menemukan jawabannya. Dan tentu saja ini akan membuat emosi pacarmu mereda dan dia tidak marah lagi.

3. “Ini Semua Salahmu” Ungkapan terlarang saat bertengkar dengan pacar yang sebaiknya jangan sampai terucap adalah “ini semua salahmu”. Dengan saling menyalahkan, baik kamu atau pacarmu tidak akan membawa pada solusi apapun.

Saat emosi naik, terkadang ego kalian berdua bisa meninggi. Seakan-akan kamu merasa jika kamu adalah yang paling benar dan pasanganmu yang salah.

Akan lebih baik jika kamu menyelesaikan permasalahan yang terjadi dengan tenang tanpa harus melibatkan emosi. Jika pacarmu masih memicu emosimu maka lebih baik untuk menghindar sementara hingga dia merasa baikan. 4. “Kamu itu gak pernah….” Mungkin ungkapan-ungkapan inilah yang seringkali diucapkan banyak pasangan saat terjadi pertengkaran.

“kamu tidak pernah mengerti”“kamu tidak pernah ngebantuin”, “kamu gak pernah sayang” dan lainnya. Kata-kata ini mungkin akan terucap saja saat emosi naik. Meskipun kamu penuh emosi sekalipun, jangan kurangi menggunakan ungkapan terlarang ini saat bertengkar dengan pacarmu.

Ini malah akan membuat pasangan kamu makin menjadi jadi dan bahkan hingga mensugesti diri terhadpa kata-kata yang kamu ucapkan. Bukan tidak mungkin jika masalah akan semakin runyam bukan?

5. “kamu maunya apa sih?” Ungkapan terlarang saat bertengkar berikutnya adalah dengan bernada tanya tapi ambigu, seperti “kamu maunya apa sih?”.

terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu

Kalimat semacam ini akan mengesankan jika dirimu tidak bisa menjadi orang yang terbuka dengan pasanganmu. Kamu malah akan membuat image mu yang memiliki kuasa sendiri dan berhak untuk menentukan kemana berjalannya hubungan kalian. Padahal hubungan asmara tersebut dijalankan oleh 2 orang, bukan kamu saja.

Belum tentu pacarmu melarang kamu untuk melakukan sesuatu. Bisa jadi dia hanya ingin tahu alasan mengapa kamu sampai melakukan sesuatu hal yang dia tidak suka.

Sehingga berbicara dengan baik-baik adalah solusi yang pas. Jangan menggunakan emosi semata yang sebenarnya tidak ada gunanya. 18 Sifat Cewek Idaman Yang Bikin Cowok Bangga Memilikimu 6. “Aku bukan anak kecil, kamu gak perlu ngatur aku” Saat kamu memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan bersama orang yang kamu sukai, bukankan secara otomatis kamu merelakan agar pasangan masuk ke dalam kehidupanmu dan begitupula sebaliknya?

Sehingga wajar saja pada beberapa momen tertentu pacar kamu bisa ikut berpendapat atau menasehati dalam beberapa hal di hidupmu. Ada baiknya kamu mencermati hal apa yang sampai membuatnya tertarik membahas hal-hal yang kamu lakukan.

Jika sarannya memang baik, buat apa keberatan? Lagipula jika kamu sampai mengucapkan ungkapan terlarang tersebut malah membuat diri kamu terlihat masih kekanak-kanakan dan tidak siap untuk menjalin hubungan yeng lebih serius.

7. “Kamu itu egois” Dalam pertengkaran akan lebih baik bila tidak menggunakan ungkapan yang bernada muduh, seperti “kamu itu egois”. Ucapan seperti ini terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu tendensius. Siapapun tentunya tidak akan suka jika dijuluki dengan label semacam itu. Selain itu, ungkapan seperti ini malah membuat pacarmu juga mengungkit balik keegoisanmu sendiri. Sehingga yang terjadi adalah perdebatan yang tak kunjung usia antara kalian berdua.

Bukannya menyelesaikan permasalahan namun ini akan semakin menambah panjang masalahmu. 8. “Kamu itu harusnya gini…” Saat bertengkar, cobalah meredam perasaam marah dalam dirimu. Jangan hanya mengikuti emosi semata saja. Misalnya menyalahkan pasanganmu dan menyuruhnya untuk melakukan yang kamu inginkan dengan kata-kata “kamu itu harus gini.”.

Ingat, kalian adalah pasangan, bukan bos dengan karyawan yang dengan seenaknya memerintah. Jadi sebaiknya ungkapan terlarang seperti ini jangan sampai terucap ketika situasi memanas. Solusi terbaiknya adalah dengan mencari jalan tengah permasalahan kalian berdua. Dan setelah itu selesaikan semuanya tanpa melibatkan emosi. 9. “Aku gak apa-apa” Mungkin ini yang sering dikatakan cewek ketika sedang bertengkar dengan pasanganmu.

Kalimat seperti ini malah akan terlihat kamu menutupi perasaamu sendiri padahal hati kamu sangatlah terluka. Akan lebih baik jika kamu menghindari kata larangan saat bertengkar ini. Ungkapkan saja apa yang sebenarnya kamu rasakan, namun ingat bicarakan dengan cara yang baik sehingga membuat suasana juga semakin membaik.

10.

terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu

Menghina Keluarganya Perkataan larangan yang tidak pantas di katakan ke pasangan adalah yang berhubungan dengan menghina keluarga pasanganmu.

Karena keluarga merupakan salah satu bagian pada diri pasangan kalian, yang mungkin dia cintai dan menjadi prioritas dalam hidupnya selain kamu. Jika kamu membenci keluarga dan bahkan hingga menghinanya saat kalian bertengkar.

Ini akan menjadi hal yang sensitif baginya. Bukan tiak mungkin jika dia akan tidak peduli lagi pada dirimu. 11. “Aku gak habis pikir kenapa aku mau jadi pacar kamu dulu” Ini mungkin menjadi kaliamt yang cukup fatal diucapkan saat bertengkar. Jika kamu mengucapkan kalimat ini secara tidak sadar, sama saja kamu merendahkan pacarmu. Ini akan mengesankan jika kamu tidak konsisten dengan pilihanmu dan dia merupakan orang yang salah. Dalam sebuah pertengkaran, kamu tidak bisa hanya menyalahkan pasanganmu saja.

Bagaimanapun ungkapan terlarang ini akan menyakitkan saat dia mendengarnya langsung darimu. Jika kamu masih melakukan hal ini saat bertengkar dengannya, jangan kaget jika pacarmu patah hati parah karena merasa sangat terhina. 12. “Kita putus aja” Ungkapan terlarang yang wajib kamu hindari saat bertengkar adalah “kita putus aja”.

Ungkapan tersebut sangat sensitif bagi keberlangsungan hubungan kalian berdua, apalagi jika kamu sudah akan berlanjut ke hubungan yang lebih serius. Hindari mengucapkan ungkapan seperti ini, atau kamu bisa menyesalinya seumur hidup. Sedikit-dikit minta putus seakan kamu tidak memiliki itikad yang baik untuk memperbaiki dan melanjutkan hubunganmu.

Dan tindakan ini sama sekali tidak pantas jika dilakukan oleh orang yang sudah dewasa. Tak hanya egois, hal ini juga menisyaratkan kamu tak benar-benar berkomitmen dalam hubungan. Meskipun kamu juga memiliki hak untuk mengakhiri hubungan. Namun, kamu juga harus memperhatikan, semuanya harus berdasarkan perasaan dan logika. Putus yang baik adalah saat kedua belah pihak saling menerima keputusan. Nah itulah tadi beberapa kata larangan yang sebaiknya kamu hindari saat bertengkar, jika tidak ingin membuatmu menyesal setelahnya.

Jika kamu memang masih ingin melanjutkan hubunganmu dengannya. Apapun masalah yang sedang menguji hubungan kalian, selesaikan hal tersebut secara dewasa. Jauhkan sikap kekanak-kanakan dalam diri anda dan jangan hanya berkata yang tidak berdasar mengikuti emosi saja. Bertengkar kecil memang wajar, namu menjadi tak wajar bila terus terusan Mungkin bila tidak bertengkar jadi ada yang kurang.

Apalagi pasangan muda, mereka masih saling menuntut agar semua perfect. Padahal tidak ada yang sempurna kecuali Allah Yang Maha Sempurna. Karena itu harusnya saling filter dulu sebelum meluapkan kemarahan. Memang pasangan yang harmonispun atau serukun apapun pasangan pastilah pernah ada pertengkaran yang terjadi. Masalah dan konflik itu bagai percikan yang akan selalu hadir dalam sebuah hubungan. Pertengkaran-pertengkaran tertentu bahkan bisa membuat hubungan makin mesra.

Ada sejumlah pertengkaran yang masih bisa disebut wajar dan normal. Bahkan pasangan yang harmonis dan rukun pun pernah mengalami pertengkaran ini.

Bertengkar dengan suami itu wajar asal tetap bisa diatasi dengan kepala dingin. Dan berikut ini beberapa jenis pertengkaran yang masih dalam tahap normal dan pernah dialami oleh sebagian besar pasangan.

1. Soal PelukanWanita umumnya suka dengan pelukan. Pelukan akan membuatnya merasa dicintai dan dilindungi.

Hanya saja tak semua pria suka memberi pelukan atau berinisiatif memberi sentuhan yang menenangkan hati sang istri. Hal ini pun bisa memicu konflik dan pertengkaran sendiri. Untuk hal ini, seorang wanita perlu punya inisiatif sendiri untuk menjalin komunikasi. Dilansir dari rd.com, Elizabeth Lombardo penulis buku A Happy You: Your Ultimate Prescription for Happiness told Woman’s Day mengatakan kalau istri perlu mengatakan ini pada suami, "Saat kamu menggenggam tanganku atau memelukku, kamu kembali terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu kalau kamu mencintaiku." Wanita kadang perlu sedikit memberi penjelasan agar pria bisa lebih mengerti dan tak sekadar menduga-duga.

2. Perkataan “Nggak ada apa-apa kok”Biasanya ini pemicunya adalah pihak wanita.

terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu

Saat suamimu melihatmu bete lalu bertanya ada apa, kamu dengan mudahnya bilang, "Nggak ada apa-apa kok." Lalu suamimu menganggap jawabanmu itu memang jawaban yang sesungguhnya jadi dia tak menanyaimu hal lain lagi. Tapi ternyata di balik kalimat itu, kamu menyimpan kekesalan tertentu, misalnya karena suamimu lupa dengan hari pernikahan kalian.

Baca Juga : Seorang Istri, 3 Bulan Tak Mampu Memandang Wajah Suaminya. Meski mungkin kamu kesal atau ngambek, nggak ada salahnya kok untuk memberi penjelasan padanya akan penyebab sesungguhnya kamu marah. Coba bilang, "Aku sedih karena kamu lupa dengan hari pernikahan kita." Utarakan rasa sedih dan kecewamu.

Kalau dia pengertian, dia pasti akan berusaha untuk memperbaiki kesalahannya. 3. Masalah Klasik yaitu UangUang juga bisa jadi sumber konflik atau pertengkaran dalam hubungan.

Saat sudah berumah tangga, perlu membangun komitmen dari awal akan urusan uang dan finansial dalam keluarga. Tak hanya soal pemasukan dan pengeluaran tapi juga gaya hidup.

Gilda Carle, PhD menyarankan agar pasangan suami istri punya tiga rekening, "Satu rekening 'kamu', satu rekening 'aku' dan satu rekening 'kita." Dengan begitu ada kebebasan untuk membelanjakan uang pribadi yang kita punya tapi juga ada tanggung jawab untuk bisa mengontrol keuangan tetap stabil.

4. Soal Kebiasaan MandiTinggal serumah sebagai suami istri pastilah kebiasaan-kebiasaan kecil jadi pemicu pertengkaran. Termasuk soal kebiasaan mandi. Pasti ada saja kebiasaan mandi pasanganmu yang bikin jengkel. Pun sebaliknya, suamimu mungkin juga pernah marah soal kebiasaan mandimu. Untuk mengatasi hal ini, coba nyalakan selera humormu. Soal kebiasaan mandi ini memang perlu dikompromikan.

Jangan sampai malah dibesar-besarkan dan memicu konflik yang lebih besar. 5. Soal TamuMenerima tamu ke rumah memang menyenangkan. Rumah jadi terasa lebih semarak dan pasti menyenangkan bisa bertemu banyak orang di rumah. Hanya saja soal ini bisa meninggalkan masalah terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu. Menyambut tamu perlu persiapan. Setelah tamu pulang, kesibukan di rumah pun masih akan berlanjut seperti bersih-bersih rumah.

Dan kalau tak ditangani bersama-sama, hal ini bisa memicu konflik sendiri. Memang ada baiknya untuk membahas dulu tamu yang akan datang dan apa yang akan dilakukan setelah tamu pulang. Memang 5 hal diatas adalah masalah yang wajar, namun menjadi tak wajar bila akhirnya hal ini memicu pertengkaran yang agak besar.

terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu

Untuk itu satu sama lain bisa saling mengalah, tak ada pembenaranya membesarkan masalah untuk menambah pertengkaran dalam rumah tangga.
Terkadang kita hanya butuh waktu sendiri, karena keramaian sesekali membuat kita lupa. Terlena dengan hingar bingar yang semu, dan sepi seringkali mampu mengembalikan apa-apa yang dirasa hilang.

terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu

Maka, menyepilah dengan Tuhanmu, dan yang dirasa hilang akan datang dengan sendirinya. Kekuatan, misalnya! Pernah satu waktu aku mengenal seseorang, yang bersamanya aku tak ragu untuk menjadi diriku sendiri. Dia berjanji tak akan pernah pergi, dan degan lugunya aku percaya. Sekarang entah langkahnya sudah sejauh apa, dia memutuskan pergi bahkan tanpa salam perpisahan. Jika kau melihat dua manusia saling menangis dalam peluk untuk kemudian saling melepaskan, maka pastinya itu bukan aku dan dia. Sudah hitungan tahun aku tak lagi mendengar kabar tentangnya, namun disini masih ada kepingan tanya yang belum digenapkan jawaban.

Entah akan terjawab atau tetap begini sampai nanti, aku tak mau tahu lagi. Lelah rasanya menerka-nerka dalam ketidaktahuan, mencoba mencari kebenaran diantara ribuan pembenaran yang tak kunjung pasti.

Aku ingin melupakan, namun nyatanya tidak semudah membalik telapak. Setidaknya aku butuh kata-kata, sebaris kalimat perpisahan saja cukup bagiku. Nyatanya dia terlalu pengecut untuk menghadapi perpisahan, memilih pergi begitu saja meninggalkan aku dengan sejuta tanda tanya.

Baiklah, sudah cukup! Ini tahun kesekian aku menunggu pasti, bahkan tak sekalipun kudengar tentangmu. Tidak sedikitpun ada celah mengetahui kabarmu. Aku menyerah! Tak lagi akan menunggu apapun tentangmu, berhenti sepenuhnya dari kisah kita yang kujaga sendiri. Selamat jalan! Ah tidak, selamat tinggal, maksudku. Karena aku akan benar-benar menanggalkan segala tanya untuk lebur tanpa jawaban.

Biar rasa sakit ini akan kusembuhkan sendiri, sebab menunggumu adalah kesia-siaan tak berujung.

terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu

Aksaradayanti Pagi tadi aku bertemu seseorang, tatapannya lembut tapi aku tak suka, senyumnya ramah tapi aku merasa tak aman, saat berbicara nadanya tak terbantah, menyuruh dan seolah menghakimi bukan nada seseorang yang meminta pertolongan. Kelembutan hilang, keramahan pun sirna. Aku terkesiap, betapa manusia di jaman ini sudah melupakan banyak hal, terutama bahasa yang memanusiakan manusia. Bukankah sejak kecil kita diajarkan kelembutan, keramah tamahan dalam berbahasa dan bertatakrama?

Pada siapapun tanpa terkecuali! Senyumku getir, nyatanya penampilan anggun bukan jaminan keanggunan sikap, pandai berorasi bukan jaminan bahwa dia mampu menginspirasi, lemah lembut saat tersorot lampu kamera bukan jaminan kelembutan hati. Miris! Kata-kata telah mati, terkubur dalam hati yang sibuk mengejar duniawi. Memanusiakan manusia hanyalah wacana, dimata mereka yang dadanya sesak oleh kemilau harta. Kenggunan sikap yang tulus bukan lagi tujuan bagi mereka yang kalbunya telah tertutup oleh nafsu.

Pada akhirnya, jika kata-kata nasihat selalu patah oleh bantahan cerdas milik lisan yang tak bersandar pada kebaikan, maka biarlah mereka dengan kemauannya.

Karena kaki yang terus mengejar dunia akan tiba pada penyesalan, sedang berbalik arah sudah tak mungkin lagi dilakukan. Karena hati yang terpaut pada rupiah akan mengeja sesal yang tak berkesudahan, sedang di terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu masa harta tak mampu menambah usia. Matipun hanya membawa kafan tanpa saku. Kata-kata telah mati, tiga kata sakti telah wafat.

Maaf, tolong dan terimakasih telah dikuburkan berdampingan, pada jiwa yang sakit karena kesialuannya pada urusan dunia. Kedudukan dan pundi - pundi rupiah.

Semoga kita tidak termasuk di dalamnya, karena dunia itu sementara dan akhirat itu selamanya. *Kurang-kurangin nyatikin orang (dengan lisan dan/atau perbuatan) karena hidup belum tentu sampai lusa* Aksaradayanti, Bandung, 09 Juni 2017 Terkadang kita merindukan ‘pulang’ menuju rumah yang mau mendekap kita erat.

Seperti berjaket tebal ditengah deru hujan yang menderas diluar jendela. Hangat! Sayangnya kita yang seringkali lupa ‘jalan pulang’, merasa tersesat dan tak tahu arah. Sedang ‘kompas’ di hati lupa untuk ditengok, bahkan disadari adanya pun tidak. Kita merasa sudah berjalan begitu jauh, padahal kita hanya diam di tempat.

Melangkahkan kaki di sini-sini saja, tidak beranjak kemana-mana. Lari di tempat, lelah tapi tak mengubah arah! Kita butuh 'rumah’ tempat dimana luka dan lebam diobati, dibasuh oleh tangan lembut seperti dekapan ibu. Sayangnya kita seringkali lupa kemana arah kaki harus melangkah. Padahal 'rumah’ itu dekat, sedekat kening dan sajadah yang beradu di sepertiga.

Tempat mengobati luka itu di depan mata, terlihat dan terasa dalam rukuk dan sujud di waktu yang lima. Sayang, kitanya saja yang tidak peka! Catatan Aksara Bandung, 080517 Seorang perempuan berkata “pergi!” namun di dadanya masih ada gemuruh rasa yang riuh. Dia berteriak “aku sudah melupakan” namun di ingatannya masih lekat satu wajah itu terbayang. Bilakah seorang perempuan semudah itu melupakan?

Aku wanita, dan aku tahu jawabannya adalah tidak. Kecuali jika memang cintanya tidak sedalam yang diakuinya dulu. Seorang perempuan berkata “aku sudah melangkah” namun tatapnya masih terpikat pada satu sosok yang membuatnya susah memejamkan mata setiap malam datang. Dia yang berkata “aku baik-baik saja” namun kilat matanya masih menusuk saat melihat sosok itu berjalan dengan rusuk kiri yang sudah di pilihnya sejak lama, dan dia bukan perempuan itu.

Bilakah seorang perempuan akan baik-baik saja saat api cemburu membakar dadanya? Aku wanita dan aku tahu jawabannya adalah tidak. Kecuali jika memang rasanya tidak sebesar yang diceritakannya dulu. Seorang perempuan berusaha melupakan hujan, namun terus menulis tentang rinai rindunya pada hujan, sementara sang hujan sudah berlabuh pada senja lain yang lebih bisa memeluk basahnya.

Seorang perempuan berusaha berlari menghindari wangi tanah basah setelah hujan reda, namun setiap kali hujan reda dia menjadi yang pertama menjulurkan kepala keluar terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu. Bagaimana bisa? Sedang melupakan dan mengingat bertolak belakang, menghindari dan menghampiri adalah dua sisi yang berpunggungan.

Mungkinkah cintanya pada hujan hilang secepat kedipan mata? Aku wanita dan aku tahu jawabannya adalah tidak. Bagaimanapun, seorang wanita lebih peka pada perasaan wanita lainnya, kan? catatanaksara 080517 Ingin memulai lagi banyak hal yang sudah lama tidak dilakukan.

Menulis misalnya, dan beberapa hal yang terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu bermanfaat lainnya. Meski sejujurnya masih blur tentang apa yang akan dituliskan atau apa yang akan dibagikan, hanya saja aku ingin! Se-random apapun nanti semoga masih layak dibaca dan mampu memercikkan manfaat meski sedikiiiiit.

Semoga ya, tetap bisa baik dan membaikkan, dan semoga semangat ini tidak seperti air hangat yang akan mendingin dengan cepat. Semoga tetap ada dalam dada dan menyala. Iya, semoga… Setiap kali saya merasa dekat dengan seseorang maka tiap-tiap itulah saya mengkhawatirkan soal siapa saya dan siapa dia. Bukan karena saya ingin semuanya berjalan lancar tanpa kendala, bukan karena saya manja atau apa, tapi ada kekhawatiran yang membekas dari kejadian dulu.

Saya tidak berdiri di sampimg seseorang tapi di hadapan seseorang. Di tengah kami ada sumur dalam, kelam, dan sunyi. Mungkin jika aku boleh menanyakan satu hal padamu (perempuan lainnya), itulah sebaris kalimat tanya yang ingin aku lontarkan.

Biar bagaimanapun, se-tidak peka apapun seorang perempuan pasti bisa ‘melihat’ jika perempuan lainnya menyimpan rasa, terlebih pada sosok laki-laki yang juga dicintai olehnya. Tapi, bukankah tidak mungkin dalam satu hati ada dua cinta? Maaf, perkenalanmu dengannya memang jauh lebih lama, namun jika aku yang dipilih olehnya, (dan akupun memiliki rasa yang sama). Lantas, aku bisa apa? Mirisnya, sang anak tidak hanya menyaksikan pertengkaran dan percekcokannamun menjadi penengah yang tak tahu harus berbuat apa.

Ayah dan Ibu Anda sama-sama mengadukan masalahnya pada Anda. Sebagai anak, tentu saja Anda tidak akan bisa memihak dan memilih salah satu di antara keduanya. Lantas hal apa saja yang bisa dilakukan anak untuk mendamaikan orang tuanya ketika bertengkar?

Sebagai anak, jika orang tua bertengkar di hadapan Anda, cobalah perhatikan apakah pertengkaran tersebut hanya sebatas adu mulut atau terdapat unsur kekerasan secara fisik. Jika ternyata hanya adu mulut, pergilah menjauh dan tidak usah ikut campur. Namun, jika pertengkaran mengarah pada tindakan kekerasan, maka hubungi orang dewasa lain yang sekiranya mampu melerai orang tua Anda.
Tidak dapat dimungkiri lagi, jika menjalin hubungan asmara akan selalu ada masalah dan pertengkaran yang hadir mewarnai hubunganmu.

Di mana, dengan adanya pertengkaran ini, dapat membuat kedekatan emosional antara kamu dan pasangan semakin dekat, jika masalah tersebut terselesaikan dengan baik dan saling percaya satu sama lain. Namun, terkadang rasa marah dan kesal selalu saja menghancurkan segalanya.

Tanpa sadar, baik kamu maupun pasangan akan tersulut emosinya untuk mengungkit beberapa hal, yang justru jika dilakukan akan menambah masalah. Oleh karena itu, agar hal tersebut tidak terjadi, maka jangan pernah mengungkit beberapa hal di bawah ini.

Simak baik-baik, ya, agar kamu mengerti. pexels.com/Lucas Souza Ketika kamu sedang bertengkar, baik itu karena masalah kecil maupun besar, jangan pernah mengungkit kesalahan fatal pasangan yang terjadi di masa lalu. Karena jika dilakukan, masalah tersebut bukan malah selesai, tapi malah tambah runyam dan pasanganmu pun akan merasa bahwa kamu masih belum memaafkannya. Oleh karena itu, cukuplah membahas masalah yang sedang terjadi saat ini saja. Yang lalu biarlah menjadi masa lalu untuk tidak diungkit lagi.

pexels.com/Emma Bauso Pasti kamu pernah mendengar bahwa kebaikan itu jangan untuk diungkit lagi. Nah, hal itu pun berlaku di hubunganmu, dengan apa pun kondisi yang ada.

Ketika kamu bertengkar dan mulai mengungkit kebaikan yang pernah kamu lakukan untuk hubungan dan pasangan, maka sikapmu sangat kekanak-kanakan. Kebaikan dalam hubungan itu wajib dilakukan, entah itu olehmu maupun pasanganmu. Dan, ketika kamu mengungkit hanya akan menambah masalah dan membuat pasangan akan malas berhubungan denganmu lagi. Baca Juga: 7 Hal Sederhana Ini Bakal Melunakkan Cowokmu Saat Berantem pexels.com/Moose Photos Ketika kamu mengeluarkan uangmu untuk kepentingan pasangan maupun hubungan, pastinya kamu ikhlas memberikannya.

oleh sebab itu, mengungkit kebaikanmu tentang uang yang pernah diberikan, sangat pantang dilakukan. Dalam hubungan pacaran saja, tindakanmu ini sangat perhitungan, apa lagi jika menikah nanti.

Selain itu, pasanganmu juga akan sakit hati, jika kamu mengungkit uang terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu.

Masalah yang sedang kalian perdebatkan tidak akan selesai. Buruknya, malahan akan selesai dengan berakhirnya hubunganmu dengannya. pexels.com/Polina Zimmerman Tidak ada yang benar-benar sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Oleh karena itu, ketika dirimu sedang emosi, jangan pernah mengungkit kekurangan yang dimiliki oleh pasangan, karena pasanganmu juga akan mengungkit sebaliknya.

Dan, pada akhirnya, masalah yang sedang dihadapi tidak akan pernah selesai. Malahan akan bertambah menjadi lebih buruk. pexels.com/Wendy Wei Perlu kamu ketahui, bahwa mengistimewakan dan memprioritaskan pasangan itu wajib dilakukan agar hubunganmu bisa tetap romantis. Dengan kamu memprioritaskan pasangan, bukan berarti kamu juga akan mengungkit perbuatanmu itu di dalam hubungan saat sedang bertengkar. Bukannya selesai dan saling memaafkan, malahan hubunganmu akan berakhir sia-sia aja.

Pasanganmu tidak akan mau menjalin hubungan denganmu lagi dan kamu akan sendirian mengalami kekesalan. Itulah lima hal yang tak boleh kamu ungkit dalam hubungan saat bertengkar.

Mengungkit salah satu maupun kelimanya, hanya akan membuat hubunganmu makin berantakan dan berpotensi untuk putus. Baca Juga: 5 Alasan Cowok Lebih Memilih Diam Ketika Bertengkar dengan Pasangan Berita Terpopuler • Hamas Mulai Bangkit, Menkeu Israel: Ini Semua Kesalahan Netanyahu • 10 Potret Liburan Ayu Ting Ting dan Keluarga ke Jogja, Ayah Rozak Hits • 10 Fakta Elon Musk, Orang Terkaya di Dunia yang Baru Membeli Twitter • 10 Momen Nagita Slavina Masak Makan Malam buat Teman-teman Artisnya • [LINIMASA-5] Perkembangan Terkini Vaksinasi COVID-19 Indonesia • 10 Potret Menawan Arlova, Anak Bungsu Andre Taulany, Beranjak Remaja • Libur Lebaran Usai, Jakarta Kembali Terapkan Ganjil Genap Hari Ini • BMKG: Waspada, Suhu Panas Terik Terjadi hingga Pertengahan Mei • 10 Potret Baby Ameena dalam Berbagai Ekspresi, Gemasnya Kebangetan
Oleh: Weinata Sairin _”Rixari de lana caprina.

Bertengkar mengenai bulu domba”._ Kata “tengkar” yang kemudian membentuk kata “bertengkar” sudah lama sekali dikenal dalam kosa kata Bahasa Indonesia. Buku “Logat Kecil Bahasa Indonesia” yang disusun oleh WJS Poerwadarminta, dan diterbitkan oleh Penerbit JB Wolters, Groningen dan Djakarta tahun 1951 memberikan arti “bertengkar” itu “berbantah”. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kemudian lebih memperluas makna kata “bertengkar” itu tidak saja “berbantah”, tetapi juga “bercekcok”, “saling mengadu argumentasi”.

Dibanding dengan kata “berantem/berhantam”, atau “berkelahi” maka kata “bertengkar” lebih terfokus pada tindakan “adu mulut” dengan suara yang biasanya keras, yang satu menyalahkan yang lain, pihak yang satunya terkadang memberi klarifikasi dan atau apologi, yang dalam kondisi pertengkaran yang sudah makin seru maka klarifikasi atau apologi itu tidak lagi memiliki makna.

Dari berbagai pengalaman, ternyata “bertengkar”itu bisa terjadi pada siapa saja, anak-anak, orang dewasa, pegawai pabrik, bahkan wakil rakyat juga.

Ibarat film maka aktivitas atau tindakan bertengkar itu masuk dalam kategori “semua umur”. Anak-anak biasa bertengkar untuk hal-hal spele, misalnya seorang anak melihat bahwa layang-layangnya yang dengan susah.payah bisa naik tiba-tiba putus talinya dan layang-layang kemudian entah jatuh ketempat yang jauh.

Ia kemudian langsung menuduh seorang anak yang ada di sekitar tempat itu yang membuat layang-layangnya putus karena benang layanng-layang sianak ini ditaburi pecahan beling sehingga tajam dan jika menyenggol benang layang-layang yang lain, bisa menyebabkan putus. Maka terjadilah pertengkaran ditempat itu. Sebuah pertengkaran jika tidak dilerai, di damaikan, dicari solusi bisa berujung pada perkelahian. Murid-murid sekolah juga acapkali bertengkar karena kunci jawaban ulangan yang tidak dibagi secara “merata”.

Orang dewasa pada level mahasiswa bisa juga bertengkar untuk soal-soal non akademis. Ada sebuah sekolah tinggi yang mahasiswanya tinggal di asrama karena mereka datang dari seluruh Indonesia.

Pernah terjadi ada. pertengkaran hebat karena jatah makan malam seorang kawan ternyata sudah diambil oleh kawan lain karena dianggap mahasiwa yang tadi tidak ikut makan malam di ruang makan asrama, sudah makan malam ditempat lain.

Hal-hal teknis seperti ini bisa berulang kali terjadi karena situasi kehidupan asrama yang terkadang jarang menghadirkan suasana yang nyaman, yang _convenience_. Baca juga Sudah Tepat, DPR Minta Imbauan Kapolri Soal WFH Cegah Macet Arus Balik Ditindaklanjuti Menurut tulisan seorang psikolog, pasangan suami istri yang relatif masih muda usia perkawinannya juga acapkali mengalami pertengkaran.

Ada soal _trust_ disana, ada soal pengelolaan keuangan terutama jika suami istri sama-sama bekerja; namun ada juga soal kapan rencana mempunyai anak, berapa jumlahnya, berapa laki-laki berapa perempuan,; siapa nama sang anak; nanti melahirkan di RS mana. Ada banyak “isu-isu sensitif” dalam kehidupan suami istri(yang relatif muda) yang dihadapi, apalagi jika oma-opa ikut juga “berperan serta” dalam sebuah keluarga muda. Tapi sang psikolog mencatat pertengkaran-pertengkaran kecil dalam hidup suami istri itu pada case tertentu bisa melahirkan *kebaruan rasa cinta* diantara pasangan itu.

Cekcok-cekcok kecil itu katanya bisa melahirkan gairah dan energi baru dalam meneruskan perjalanan rumah tangga. Apakah tengkar dan cekcok tidak dialami oleh pasutri yang nyaris uzur? Oh bisa bertambah banyak daftarnya.

Tapi isu tengkar dan cekcok pada pasutri yang katakanlah diatas 60 biasanya pada aspek _komunikasi_. Internet dan wifi bagi pasangan itu kehabisan kuota terus sehingga acap terjadi distorsi. Misalnya sang suami bilang abc, istri menangkapnya sebagai cfm.

Maka takada follow up apa-apa; disitu terjadi pertengkaran kecil. Realitas itu bisa diatasi jika percakapan dilakukan dengan suara keras dan jaraknya dekat. Atau masing-masing menyadari kelemahannya bahwa pertambahan usia *mengurangi* segalanya; kurang ini itu, termasuk kurang pendengaran. Dalam realitas itu spirit *kesalingan* harus makin kuat : saling bantu, saling memahami, saling menyadari, dan saling memuji. Dalam konteks ini perbedaan gender dalam melaksanakan pekerjaan tidak sepenuhnya berlaku.

Suami bisa saja ia menanak nasi; istri bisa terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu ia mengecek listrik yang padam karena sekringnya putus. Pepatah yang dikutip diawal tulisan ini menyatakan “bertengkar mengenai bulu domba”. Artinya bertengkar tentang hal yang tak perlu. Dalam hidup ini kita.sebaiknya menjauhi pertengkaran, apalagi untuk mempertengkarkan hanya bulu domba.

Jika ada hal makro dan strategis dalam kehidupan ini yang perlu diubah karena tidak sesuai dengan perkmbangan zaman maka dalam era demokrasi ada aturan yang jelas.

terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu

Dalam rumah tangga juga ada aturannya dan ada etikanya. Jika dirumah tangga kita ada hal-hal yang perlu kita bicarakan demi kebaikan berrsama maka masuklah ke kamar, tutup.pintu dan kita selesaikan disitu dengan bertukar fikiran dan kemudian berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan kita.

Jika kita mau agak mesra sedikit bolehlah kita bikin kaus, ya *kaus*. Kita sablon dengan kata-kata “Berdamai itu lebih indah dari pada bertengkar”. Apalagi bertengkar tentang hal kecil dan hal belum jelas, itu sesuatu yang kontra produktif. Pemenang suatu kontestasi, terutama para pendukungnya tidak usah mesti bertengkar, adu mulut. Tunggu pengumuman dari lembaga yang berwenang dan patuhi jadwal waktunya.

Andai nanti ditengarai ada kecurangan, bawa bukti kecurangan itu dan tempuh mekanisme yang tersedia. Jangan menjadi hakim sendiri ; kita ini negara hukum!Oleh: Weinata Sairin _”Rixari de lana caprina. Bertengkar mengenai bulu domba”._ Kata “tengkar” yang kemudian membentuk kata “bertengkar” sudah lama sekali dikenal dalam kosa kata Bahasa Indonesia.

Buku “Logat Kecil Bahasa Indonesia” yang disusun oleh WJS Poerwadarminta, dan diterbitkan oleh Penerbit JB Wolters, Groningen dan Djakarta tahun 1951 memberikan arti “bertengkar” itu “berbantah”. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kemudian lebih memperluas makna kata “bertengkar” itu tidak saja “berbantah”, tetapi juga “bercekcok”, “saling mengadu argumentasi”.

Dibanding dengan kata “berantem/berhantam”, atau “berkelahi” maka kata “bertengkar” lebih terfokus pada tindakan “adu mulut” dengan suara yang biasanya keras, yang satu menyalahkan yang lain, pihak yang satunya terkadang memberi klarifikasi dan atau apologi, yang dalam kondisi pertengkaran yang sudah makin seru maka klarifikasi atau apologi itu tidak lagi memiliki makna. Dari berbagai pengalaman, ternyata “bertengkar”itu bisa terjadi pada siapa saja, anak-anak, orang dewasa, pegawai pabrik, bahkan wakil rakyat juga.

Ibarat film maka aktivitas atau tindakan bertengkar itu masuk dalam kategori “semua umur”. Anak-anak biasa bertengkar untuk hal-hal spele, misalnya seorang anak melihat bahwa layang-layangnya yang dengan susah.payah bisa naik tiba-tiba putus talinya dan layang-layang kemudian entah jatuh ketempat yang jauh. Ia kemudian langsung menuduh seorang anak yang ada di sekitar tempat itu yang membuat layang-layangnya putus karena benang layanng-layang sianak ini ditaburi pecahan beling sehingga tajam dan jika menyenggol benang layang-layang yang lain, bisa menyebabkan putus.

Maka terjadilah pertengkaran ditempat itu.

terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu

Sebuah pertengkaran jika tidak dilerai, di damaikan, dicari solusi bisa berujung pada perkelahian. Murid-murid sekolah juga acapkali bertengkar karena kunci jawaban ulangan yang tidak dibagi secara “merata”. Orang dewasa pada level mahasiswa bisa juga bertengkar untuk soal-soal non akademis. Ada sebuah sekolah tinggi yang mahasiswanya tinggal di asrama karena mereka datang dari seluruh Indonesia. Pernah terjadi ada. pertengkaran hebat karena jatah makan malam seorang kawan ternyata sudah diambil oleh kawan lain karena dianggap mahasiwa yang tadi tidak ikut makan malam di ruang makan asrama, sudah makan malam ditempat lain.

Hal-hal teknis seperti ini bisa berulang kali terjadi karena situasi kehidupan asrama yang terkadang jarang menghadirkan suasana yang nyaman, yang _convenience_. Menurut tulisan seorang psikolog, pasangan suami istri yang relatif masih muda usia perkawinannya juga acapkali mengalami pertengkaran. Ada soal _trust_ disana, ada soal pengelolaan keuangan terutama jika suami istri sama-sama bekerja; namun ada juga soal kapan rencana mempunyai anak, berapa jumlahnya, berapa laki-laki berapa perempuan,; siapa nama sang anak; nanti melahirkan di RS mana.

Ada banyak “isu-isu sensitif” dalam kehidupan suami istri(yang relatif muda) yang dihadapi, apalagi jika oma-opa ikut juga “berperan serta” dalam sebuah keluarga muda. Tapi sang psikolog mencatat pertengkaran-pertengkaran kecil dalam hidup suami istri itu pada case tertentu bisa melahirkan *kebaruan rasa cinta* diantara pasangan itu.

terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu

Cekcok-cekcok kecil itu katanya bisa melahirkan gairah dan energi baru dalam meneruskan perjalanan rumah tangga. Apakah tengkar dan cekcok tidak dialami oleh pasutri yang nyaris uzur?

Oh bisa bertambah banyak daftarnya. Tapi isu tengkar dan cekcok pada pasutri yang katakanlah diatas 60 biasanya pada aspek _komunikasi_. Internet dan wifi bagi pasangan itu kehabisan kuota terus sehingga acap terjadi distorsi. Misalnya sang suami bilang abc, istri menangkapnya sebagai cfm. Maka takada follow up apa-apa; disitu terjadi pertengkaran kecil. Terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu itu bisa diatasi jika percakapan dilakukan dengan suara keras dan jaraknya dekat.

Atau masing-masing menyadari kelemahannya bahwa pertambahan usia *mengurangi* segalanya; kurang ini itu, termasuk kurang pendengaran. Dalam realitas itu spirit *kesalingan* harus makin kuat : saling bantu, saling memahami, saling menyadari, dan saling memuji. Dalam konteks ini perbedaan gender dalam melaksanakan pekerjaan tidak sepenuhnya berlaku. Suami bisa saja ia menanak nasi; istri bisa saja ia mengecek listrik yang padam karena sekringnya putus.

Pepatah yang dikutip diawal tulisan ini menyatakan “bertengkar mengenai bulu domba”. Artinya bertengkar tentang hal yang tak perlu. Dalam hidup ini kita.sebaiknya menjauhi pertengkaran, apalagi untuk mempertengkarkan hanya bulu domba.

Jika ada hal makro dan strategis dalam kehidupan ini yang perlu diubah karena tidak sesuai dengan perkmbangan zaman maka dalam era demokrasi ada aturan yang jelas. Dalam rumah tangga juga ada aturannya dan ada etikanya. Jika dirumah tangga kita ada hal-hal yang perlu kita bicarakan demi kebaikan berrsama maka masuklah ke kamar, tutup.pintu dan kita selesaikan disitu dengan bertukar fikiran dan kemudian berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan kita.

Jika kita mau agak mesra sedikit bolehlah kita bikin kaus, ya *kaus*. Kita sablon dengan kata-kata “Berdamai itu lebih indah dari pada bertengkar”.

Apalagi bertengkar tentang hal kecil dan hal belum jelas, itu sesuatu yang kontra produktif. Pemenang suatu kontestasi, terutama para pendukungnya tidak usah mesti bertengkar, adu mulut.

Tunggu pengumuman dari lembaga yang berwenang dan patuhi jadwal waktunya. Andai nanti ditengarai ada kecurangan, bawa bukti kecurangan itu dan tempuh mekanisme yang tersedia. Jangan menjadi hakim sendiri ; kita terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu negara hukum! Selamat Berjuang. God bless.
Kehidupan suami istri dalam sebuah keluarga bukanlah kehidupan surga yang hanya berisi kenikmatan dan suka cita.

Seromantis apapun suami istri, sesakinah apapun keluarga, suatu saat pasti ada masalahnya. Kadang suami istri berselisih dalam satu hal, atau ‘bertengkar’. Perselisihan atau ‘pertengkaran’ yang sesekali terjadi pada suami istri bukanlah hal yang fatal.

Sepanjang bisa mengendalikan diri dan mengontrol kata-kata. Nah, agar perselisihan atau ‘pertengkaran’ tidak berkepanjangan, tidak membawa luka mendalam serta tidak merusak hubungan cinta dan kasih sayang, suami istri perlu menghindari tiga ucapan ini: Ancaman Suami istri harus menghindari kata-kata yang bernada ancaman.

Sebab ancaman hanya makin menyulut kemarahan pasangan hidup kita dan masalah berkepanjangan. Kalaupun ancaman meredakan masalah secara temporer, ia membekaskan kekhawatiran di jiwa pasangan hidup kita. Kata-kata seperti “Awas, kalau kamu tidak berubah, aku akan pergi dari rumah ini” atau “Jika kamu mengulangi hal itu lagi, aku akan mengusirmu dari rumah ini” harus dihindari. Betapa banyaknya keluarga yang berantakan setelah suami mengeluarkan ancaman semacam ini, kemudian istrinya menjawabnya dengan ancaman pula.

“Oke, kalau begitu aku akan pulang ke rumah orangtuaku.” Yang lebih berbahaya, jika suami mengancam dengan menggunakan kata “cerai.” Seperti kalimat: “Kalau begini caranya, aku akan menceraikanmu.” Rasulullah mengingatkan tentang kata-kata cerai ini.

ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ “Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius, yakni nikah, talak dan rujuk” (HR. Abu Daud) Imam Nawawi menjelaskan, “Orang yang mentalak dalam keadaan ridha, marah, serius maupun bercanda, talaknya tetap jatuh” Ungkapan kebencian Meskipun sedang marah atau ‘bertengkar’ dengan pasangan, hindari kata-kata “Aku benci kamu.” Sebab, disadari atau tidak, kata-kata ungkapan kebencian ini bisa sangat membekas di hati pasangan hidup, khususnya ketika diucapkan oleh seorang suami kepada istrinya.

Sang istri akan merasa bahwa suaminya sudah tak lagi mencintainya. Dan ini berbahaya bagi kehidupan pernikahannya. Bahkan, bekas sayatan hati karena ungkapan benci ini akan terus terbawa dalam benak istri meskipun kemarahan sudah mereda, pertengkaran sudah selesai, dan permalasahan sudah teratasi. Salah satu tandanya, ketika ada hal yang tak diinginkan dari suami, istri teringat kembali akan kata-kata itu. Para suami perlu menyadari bahwa wanita adalah makhluk perasa.

Sensitif perasaannya. “Selalu” dan “Tidak Pernah” Kata-kata ini juga perlu dihindari. “Selalu” dan “tidak pernah.” Misalnya ketika suami istri bertengkar gara-gara anaknya yang masih SD terlambat sekolah. “Ini gara-gara kamu, kamu selalu terlambat menyiapkan sarapan,” kata suami. Padahal, dalam satu pekan atau satu bulan, baru kali itu sang istri terlambat menyiapkan sarapan. Itu pun karena dirinya tidak enak badan.

Sedangkan penggunaan kata “tidak pernah” umumnya lebih sering dipakai wanita. Ketika marah kepada suaminya, ia mengatakan “Engkau tidak pernah membahagiakanku”, “Kau tidak pernah memberiku nafkah yang layak” dan seterusnya. Kata-kata “tidak pernah” ini merupakan bentuk pengingkaran atas kebaikan pasangan hidup kita.

Dan karena ini banyak digunakan wanita, inilah yang menyebabkan kebanyakan penghuni neraka adalah wanita. Sebagaimana sabda Rasulullah: وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ.

قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ “Dan aku melihat neraka.

terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu

Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari itu. Aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Mengapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami).

Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali tidak pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR.

Bukhari dan Muslim) Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/keluargacinta.com] Kiranya bisa lebih indah untuk menjadikan medsos( media sosial) menjadi forum sharing yg akan di tanya ataupun dijawab oleh siapa saja, sehingga tidak mengharuskan admin yang selalu menjawab. Karena jika jawabannya pada posisi yang salah (admin belum tentu selalu benar) akan menjadikan Hikmah dari tulisan awalnya menjadi kurang mengena, padahal banyak hikmah dari goresan pokok bahasan utamanya.

• Kata ” slalu” itu yg saya dapat dr suami saya selama 9 th km berkeluarga kata ‘selalu’ terus terucap darinya setiap ada permasalahan di rumah seakan saya ini pembuat masala mau marah mau mengucap tdk bisa karna dia merasa yg paling benar sebenarnya sakit capek ingin pergi jauh tapi terlalu sayang sama keluarga jadi hanya bisa memendam dan di jalani aja semoga Allah selalu memberi kesabaran untuk saya • Karena kalau istri minta talaq, atau bilang “cerai” berapa kalipun setahu saya tidak akan sah.

Kecuali si suami yang bilang “cerai” baru sah. Karena wanita itu selalu pake perasaan, alias mudah sensitive dan kalo ngomong kadang terbawa perasaan jd ngga mikir lagi. Kalo laki-laki biasanya kalo ngomong ngga bawa perasaan, jd lebih mikir kalo ngmgnya hehe peace… tp dgn perasaan itulah wanita mmpunyai kasih sayang yg lbih besar drpd laki-laki.

Betul ngga ya? hehe wallaahu a’lam • suami juga harus berbanyak introspeksi diri, kerana istri itu untuk dibimbing, jangan menanggapi apa yg dilakukan istri salah semua, mungkin ditakdirkan dia berbuat salah pada suami supaya suami mendidik dan membimbing, jadilah seimbang.

Kerana kita tidak menikah dengan individu yg sempurna, maka harus saling mengisi wadah2 yg masih kosong. Paling mudah jika lagi berantap, tinggalin aja pasangan, biar dia ngomong sama dinding, jadi ngak ada yg beginian, wallahua’lam.

• “TIGA PERKARA yang serius dan bercanda dan sama-sama dianggap serius, yakni nikah, talak dan RUJUK” (HR. Abu Daud) Apakah ada yang bisa sharing dari hal ketiga tersebut (RUJUK), apakah sama berlakunya semudah talak?Dan kriteria apa yang melengkapi hal ketiga tersebut?

Jarang mendengar RUJUK menjadi pokok bahasan yang rame, yg sebenarnya bisa juga dijadikan rame dan menjadi doktrin positif selain sisi buruk yg ditonjolkan dalam tiap tema guratan hati. Silahkan comment ungkapan hati, dan alangkah lebih bijak jika mencantumkan solusi positif dan bertanya tentang solusi positif jika tidak tahu solusinya. • Bagaimana kalau sang istri yang bekerja dengan ikhlas, smua pekerjaan rumah tangga diselesaikan dengan baik, kewajiban sudah dipenuhi tapi suami suka berkata kasar, kdrt dan sering mengucapkan cerai dan talak, saya bingung apakah sya ini sudah resmi ditalak atau mash harus menjalankan kewajiban sya?

sakit sekali slalu sya yg disalahkan dan dia minta benarnya sendiri • aslkm wr.wb saya menikah udah 3 thn tp suami sya jaranmenafkahi sya,klo sya lg butuh dia jga bilangnya slalu gk ada uang,pdhl tiap bulan dia gajian tp duitnya gk prnh dikasihkan ke sya,tp dia slalu mementingkan urusan kluarganya sendiri,bahkan sekarangpun krj dia itu gk pernah sekalipun dikshkan ke sya,kebthnpun lebih besar apalagi skrg ank sya msh bayi,tp yg jadi suami itu gk ada pengertian sm sekali istrinya itu butuh biaya untuk kbthn bayinya,maunya enaknya sja,egois dan maunya menang sendiri, • Sangat terkesan membaca artikel ini.

saya yg saat ini hidup menduda karena saya itu orangnya gak suka ada omongan yg gak pantes di keluarin sebagai suami istri silahkan bila mau marah sepuasnya kalau itu memang salah saya orangnya yg selalu cepat mengambil keputusan dalam hal apa saja tentunya dengan etika objektif sebagai suami istri yg saling mengerti satu sama lalinnya.

Saya suka artikel ini. kontack person: aldotaridi@gmail.com • assalamu’alaikum,saya mau tanya nich,saya sedang berada jauh dengan suamu,karena saya bekerja,suami saya di rumah bersama anak kami,suami sering sekali marah di sms,dan lbih sering mengatakn pisah,daripada kata cerai dan akan pergi meninggalkan anak berserta saya,saya tidak menyangka bahwa suami saya berkata seperti itu,karena ketika suami marah selalu berkumpul dengan temannya,ketika suami tidak ingin sms,hp selalu di berikan temannya lalu pergi,pertanyaan saya pertama apakah itu sudah termasuk jatuh talak.ketika saya bertanya kepada suami,apakah kamu benar berkata pisah sewaktu marah,dia selalu menjawab tidak.pertanyaan saya kedua adalah apakah talak tersebut tetap jatuh,mohon pertanyaan saya di berikan jawaban,terima kasih sebelumnya • ASTAGFIRULLAH ALADIM .

semoga Allah bisค memaafkan dosa dosaku amat takpernah kusadari inilah kata kata yang sering ku katakan aku sudah cape dan aku g pernah suka dan aku g mau kamu lgi inilhkata kata jika aku marah kpdnya …ternyata kata kata ini g boleh di katakn …semoga Alloh membuka pintu maafnya bagiku • Saya ada beberapa pendapat yg InShaaAllah berguna, tpi jika ada kesalahan saya mohon maaf dan dikoreksi 1.

Jika suami berkata, ‘Ah, saya sudah capek’,’Saya benci kamu’,’Mendingan pisah’, dan lain sebagainya, coba anda lihat situasi anda, Anda sedang dalam situasi bertengkar kan? Mari kita bayangkan ketika kita sedang dalam situasi yg menyenangkan, dalam piknik, wisata, ato mendapat rezeki tak terduga, Apakah Suami Anda akan berkata ‘Kita cerai aja yuk’,’Ak makin benci sama kmu’ dsbg. Tentu tidak kan? Bersabarlah dan tunggu tenang. Karena waktu untuk anda untuk ‘Bertengkar’ pasti berlalu 2.Seperti pada Comment sebelumnya, jika suami hanya mengancam, berkata seenaknya, ato hanya seperti ejekan.

Blom bisa diaanggap Talak atau cerai kecuali suami benar2 berkata ‘Ya’ ato Mensetujuinya. Alias yg saya maksut dalam situasi Berunding, bukan bertengkar 3. Jika suami blom menafkahi istri, saya rasa terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu suami salah, krna ada hadits yg menyebutkan bahwa Istri itu tanggungan suami. Tapi jika suami blom sadar juga, mohon diajak berunding dahulu, ato diajak berbicara 4.

Ini yang terakhir dan yg seringkali menjadi problema Pasangan. Seperti salah satu comment diatas, ialah ‘Kurangnya Komunikasi’. Yang sebaiknya kita lakukan adalah JUJUR dahulu, bukan berarti anda harus jujur blak2an tiba2 ‘Yah. Ayah jangan gitu donk. Ak gasuka’. Itu terlalu tiba2. Sebaiknya Ajak bicara Suami/Istri anda untuk berunding baik2, buat Situasi yg tenang tpi tegas, berbicara yg lembut, jaga tutur kata anda, buat suasana yg tenang(bukan menyenangkan juga bukan tegang), lalu silahkan berbasa basi dikit lalu seterusnya InShaaAllah anda bisa.

InShaaAllah bermanfaat, Jangan lupa Untuk selalu Sholat, berdoa, dan berusaha sebisa mungkin. Wassalamualaikum • Pandai_pandainya kita saling menyikapi suatu kondisi yg seakan_akan memperkeruh suasana hati masing_masing.Semangat buat kamu_nya,Semangat buat kamu_nya, & Begitu pula dengan calon dek_bayi nya selamat.

& Begitu pula dengan calon dek_bayi nya selamat. Saling berfikir bagaimana jikalau kitanya memposisikan diri kita terhadap pasangan kita. • Suami saya sering ngancam saya,bukan hanya ancaman ingin pergi dari rumah dia bahkan sering mengancam saya dengan benda2 tajam,,sering melakukan kekerasan,apabila tersinggung sedikit saja sering marah2,dia juga sering melontarkan kata2 yang merendahkan saya sebagai seorang istri,,tapi saya tidak mau pisah kenapa y…saya sepertinya sudah gila,saya sering depresi…apa yang harus saya lakukan???

• Suami gk prnh melakukan tindakan kekerasan, kalo berkata2 juga lembut. Kalo suami di t4 kerja menggoda atau merayu wanita lain? (Itu dibuktikan dr chat, sms dan foto2nya). Suami pernah cerita ada yg selalu nawarin dia ke night club kalo malam tiap ketemu, tp suami menolak.

Tp kemudian di smsnya, sy baca sendiri kalo yg pertama mengajak adalah suami sy sendiri, bukan org itu. Bahkan dia mengajak temannya buat party di night club itu. Ya Allah. Perih, sakit hati ini. Padahal anak masih 1 tahun lebih dan saya tdk bekerja (hanya sebagai ibu rumah tangga). Sikap apa yang paling baik istri lakukan dalam pandangan islam? Sy takut pulang ke rumah ortu sy, saya tdk mau ortu saya menilai pasangan sy jelek akhirnya membenci pasangan sy dan keluarganya, dia masih imam saya yg ingin sy muliakan, sy tidak ingin aibnya diumbar (padahal mertua saya adalah org yg baik, rajin ibadah), sy juga takut mengadu kepada mertua krn mertua lg banyak pikiran (ipar sy mau nikah tp dirundung masalah serius).

Hanya kepada Allah sy meminta pertolongan dan jalan keluar. Tolong dijawab. Jawaban Anda sangat berarti buat sy yg sedang menangis setiap hr :'(. Saya mencoba jd istri yg terbaik, melengkapinya, merayunya, membahagiakannya. Tp sy rasa itu belum cukup buat dia. Mungkin krn stlh nikah bentuk fisik sy berubah, tdk punya waktu merawat diri krn mementingkan anak dan keluarga. Tolong dijawab apa yg harus saya lakukan. • brdoa mugkin langkah utama anda untuk mnyelesaikan prkara anda,di SANA lah tempat segala keluhan, ALLAH SWT dekat dgan hambanya bila hamba tsb dekat dengan NYA,dan sebaliknny.

USAHA buat suami anda merasa nyaman bila dkat dgn anda,jgn skali2 mnampakan wajah muram kpd nya,insya ALLAH lambat laun doa dan usaha anda sesuai harapan,dan suami anda paling tidak bsa membanding2kan anda dgn selingkuhan suami anda,jangan memancing emosi suami,jika ada msalah bicarakan dengan waktu dan tempat yg tepat,kiranya cuma itu sja yg bsa saya haturkan,terimakasih. • kuncinya sabar…memang orang sabar sulit dengan hati panas …tapi diam itu lebih baik.dan serahkan segalanya kepada ALLAH SWT, karena semuanya yang ada di bumi cuma titipan sementarawalaupun suami berbuat dosaitu bukan urusan istri, urusan istri adalah menjaga anak dan martabat suami, urusan suami adalah tanggung jawab sama RABBnya….jadi biarkan saja seperti air mengalir pada suatu saat pasti ada masanyapasti ada karmanya…semua itu sudah ada garis kehidupan dari yang maha Kuasa……kita bisa saja menasehati tapi kalau suami keras kepala, ya sudah biarkan sajasemuanya itu ada sebab akibat .yang kita tidak tahu kapan akan terjadinya….sekian semoga bermanfaat 🙂 • Sy sgt tau wanita harus patuh trhdp suami.Hkm ny istri melawan suami adalah durhaka.

Tp sy jg manusia terkadang ada kslahan kecil yg sy lakukan.lalu sy di umpat.dikatain dgn kasar.dari binatang sampai iblis. Sy tdk prnh membalas umpatan itu. Saya diam salah.klu saya menjawab terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu salah.krn terkadang kuping sy gk sanggup mendgar sgala caci maki… Sy hanya mengingatkan.jgn mencaci maki wlu semarah apapun.tp itu di terkadang kita bertengkar hanya karena hal yang tak perlu suami sy, sy itu melawan.menurut dia mencaci maki saat emosi adalah bnr.

Apakah mmg bnr demikian??. • waduh istrinya cantik x ye….berani benar mencaci maki suami …kalau istri seperti itu tinggalin aja…cari yang soleh masih banyak….daripada saling menyakitkan kedua belah pihak dan menimbulkan dosa, sebaiknya bebaskan istrinya .suruh cari suami yang cocok bagi dia…dan pastinya dapet suami lebih parah dari sebelumnya …sok dah…:)

5 Alasan Pria Memilih Diam Saat Bertengkar Dengan Pasangannya




2022 www.videocon.com