Apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar

apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar

none Fawatihus suwar Secara bahasa fawatih adalah jama’ dari fatihah pembukaan atau awalan sedangkan kata asuwar adalah jama’ dari kata as-surah.secara etimilogis, fawatih al Suwar berarti pembukaan-pembukaan surat, karena posisinya berada di awal surat-surat dalam Al Qur’an. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah, huruf tersebut sering dinamakan dengan Ahruf Muqatta’ah (huruf-huruf yang terpisah) karena posisi dari huruf tersebut yang cenderung menyendiri dan tidak bergabung membentuk suatu kalimat secara kebahasaan.

Dari segi pembacaannya pun, tidaklah berbeda dari lafazh yang diucapkan pada huruf hijaiyah. Manna Khalil Al Qhatthan dalam kitabnya Mabahits fi ulumil Qur’an mengidentikan fawatihus suwardengan huruf-huruf yang terpisah (Al ahruful muqotho’ah). Menurut Ibnu Abi Al Asba’, seperti dikutip Ahmad bin Musthafa, bahwa pembuka-pembuka surat itu untuk menyempurnakan dan memperindah bentuk-bentuk penyampaian, dengan sarana pujian atau melalui huruf-huruf.

Khawatim merupakan bentuk jamak dari kata khatimyang berarti penutup atau penghabisan. Secara bahasa, fawatih al-suwar berarti penutup surat-surat Al-Quran.

Menurut istilah. Fawatih al-suwar adalah ungkapan yang menjadi penutup dari surat-surat Alquran yang memberi isyarat berakhirnya pembicaraan sehingga merangsang untuk mengetahui hal-hal yang dibicarakan sesudahnya. Imam As Suyuthi dalam membahas khawatim al-suwar tidak begitu rinci sebagaimana menerangkan fawatihus suwar.

apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar

Ia menerangkan beberapa bentuk term sebagai penutup dari surat-surat tersebut. Di situ diterangkan bahwa penutup surat diantaranya berupa : do’a, wasiat, faroidl, tahmid, tahlil, nasihat-nasihat, janji dan ancaman, dll. a. Penutup dengan mengagungkan Allah (At Ta’dzim) terdapat dalam 17 surat, yaitu : 1).

Q.S. Al Maidah, 2). Al Anfal, 3). Al Anbiya, 4). An Nur, 5). Lukman, 6). Fathr, 7). Fushilat. 8). Al Hujurat, 9). Al Hadid, 10). Al Hasyr, 11). Al Jum’ah, 12). Al Munafiqun, 13). At Thaghabun, 14).At Thalaq, 15). Al Jin, 16).

Al Mudatsir, 17). Al Qiyamah, dan 18). At tin. Para mufassir berbeda pendapat tentang pengertian dari huruf-huruf muqatha’ah dalam al-qur’an al karim seperti dalam tafsir ibnu katsir bahwa para mufassir berbeda pendapat dalam arti huruf muqatha’ah, huruf muqatha’ah merupakan yang termasuk rahasia dari ilmu Allah dan hanyalah Allah yang tahu akan hakikat tersebut,begitu juga pendapat tersebut tertulis dalam kitab aysar tafasir.

Adapun dalam tafsir al mizan disebutkan 11 pendapat para mufassir tentang huruf muqatha’ah yang dinukilkan dari thabrasi dalam majma’ul bayan, dan berikut poin-poin penting tentang pendapat para mufassir: ia merupakan mutasyabihaat (yang tidak diketahu artinya) dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah SWT.

Merupakan nama dari surat yang jatuh padanya huruf tersebut.seperti alif lam mim,maka ia merupakan nama lain dari surat al-baqarah. Ia merupakan nama dari nama-nama Al-qur’an secara keseluruhan. dalam al-amtsal diriwayatkan hadits dari imam Husain as: “para kaum kafir quraisy dan yahudi tidak mempercayai Al-qur’an dan meeka berkata ‘ini merupakan sihir’ maka Allah berfirman :”alif lam mim….dst, (dalam surat al-baqarah)dan wahai Muhammad ini merupakan kitab yang aku turunkan padamu ialah huruf muqatha’ah yaitu alif, lam, mim.dan merupakan huruf-huruh dari bahsa kalian,maka datangkanlah yang seperti itu jika kalian banar” Huruf muqatha’ah yang terdapat diawal surat maryam didalam al-amstal disebutkan bahwa huruf-huruf muqatha’ah tersebut mengandung arti nama dari nama Allah yaitu kaf (kafii) berarti maha mencukupi ha’ (hādi) berarti petunjuk ya’ (waliy) ‘ain (alīm) berarti maha mengetahui dan shad (shadiqul wa’di) berarti maha menepati janji.

Namun sebagian mufassir menafsirkan huruf-huruf ini pada peristiwa yang menimpa Al-husain as di karbala dengan pengertian ha’ berarti halaka itrah annabiy musibah agung yang menimpa keluarga nabi SAW, ya’ berarti yazid,pemerintah dhalim yang berkuasa di zaman al-husain,’ain berarti athasy, kehausan yang menimpa Al-husain dan keluarganya di karbala, shad berarti shabar, kesabaran yang sangat agung Al-husain, keluarganya dan sahabatnya demi menegakkan islam yang dibawa rasulullah SAW. Huruf muqatha’ah ada pada awal surat,dan setelahnya sebagian banyak menerangkan keagungan Al-qur’an, dan hal ini menunjukkan bahwa huruf tersebut sebagai bukti dari keagungan al-qur’an sebagai mukjizat sepanjang zaman,dan tak ada yang mampu menandinginya.

Pembuka-pembuka surat itu untuk menyempurnakan dan memperindah bentuk-bentuk penyampaian,dengan sarana pujian atau melalui huruf-huruf.Selain itu ia dipandang merangkum segala materi yang akan disampaikan lewat kata-kata awal dalam hal ini,surat Al-fatihah dapat digunakan sebagai ilustrasi dari suatu pembuka yang merangkum keseluruhan pesan ayat dan surat yang terdapat didalam Al-Qur’an.

Awal surat yang berupa huruf merupakan bentuk peringatan kepada nabi.Dikatakan bahwa allah mengetahui bagian-bagian waktu yang nabi sebagai seorang manusia kadang sibuk.Maka dari itu jibril menyampaikan firman Allah seperti Alif-lam-mim, Alif-lam-ra, dengan suara jibril supaya nabi menerima apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar memperhatikannya. Sedangkan Sayyid Rashid Ridla dalam Al-Manar menyatakan bahwa huruf-huruf tersebut sebagai sebuah peringatan yang diutamakan pada ruh dan watak kejiwaan nabi yang mulia.Dalam hal ini ia tidak mengkhususkan pada siapa tanbih (peringatan) itu ditujukan.Sedang ulama lain memberikan keterangan bahwa tanbih itu ditunjukkan kepada kaum musyrikin di makkah dan ahli kitab di Madinah.As-Syafi’i berpendapat bahwa huruf-huruf awal surat merupakan rahasia Al-Qur’an.

Ali Bin Abi Tholib pernah berkata: Beberapa ulama menarik pengertian dari firman Allah SWT Alif-lam-mim,ghulibatirrum(Alif-lam-mim,orang-orang romawi telah dikalahkan,)bahwa baitul maqdis,akan ditakhlukkan oleh kaum muslimin pada tahun 583 H dan ternyata hal itu terjadi,sebagaimana yang telah difirmankan Allah SWT Al-izz bin abdis-salam meriwayatkan bahwa,Ali bin Abi Thalib ra memperoleh pangerian akan terjadinya peperangan dengan Muawiyah dari huruf-huruf awalan haa(ringan)mim,’ain sin qaf.Sementara pendapat kaum syi’ah didalam kumpulan fawatih ini,apabila dibuang huruf yang berulang-ulang dari padanya terdapat pengertian yang memberi faedah bahwasanya:صراط علي حق نمسكه Pentakwilan lain lagi yang didasarkan pada bilangan terkenal dengan nama ‘adda ubay jad.Para ulama dengan keras menolak dan mencela pentakwilan ‘adda ubay jad itu.Ibnu Hajar Asqalani memandangnya sebagai jelas-jelas kebathilan.Riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas dapat dipastikan kebenarannya menegaskan bahwa pentakwilan ‘adda ubay jad sangat tercela.Riwayat tersebut juga mengisyaratkan bahwa,pentakwilan itu termasuk sihir,atau tidak terlampau jauh dari sihir.Pentakwilan itu tidak ada dasarnya dalam syari’at.2 Al-Qur’an memiliki banyak keistimewaan dari segi makna dan kebahasaan.

Fawatihus suwar merupakan salah satu realitas keistimewaan misterius yang terdapat di dalam Al Qur’an. Pemaparan tentang Fawatihus suwar khusunya menyangkut al huruf al muqatta’ah tidak banyak bahkan hampir tidak ada yang berhasil mengungkap latar belakang ataupun keterangan yang valid yang secara historis bisa membuktikan hubungan-hubungan fawatihus suwar. Dari segi makna, memang banyak sekali penafsiran-penafsiran spekulatif terhadap huruf-huruf itu.

Dikatakan spekulatif, karena penafsiran-penafsiran mengenai hal itu tidak didahului pengungkapan konteks historisnya. Lain halnya dengan fawatihus suwar dalam bentuk lain misalnya Al Qasam (sumpah), An Nida’ (seruan), Al Amr (perintah), Al Istifham (pertanyaan) dan lain-lain. Para pengkaji lebih bergairah menyajikannya, seperti kitab tafsir Bintusy Syathi’. Pesan-pesan moralnya juga lebih bisa dimaknai secara rasional.

Urgensi telaah terhadap Fawatihus suwar tidak terlepas dari konteks penafsiran Al Qur’an. Penggalian-penggalian makna yang terlebih dahulu memalui karakter bab ini akan memberikan nuansa tersendiri, baik yang didasarkan kepada data historis yang kongkrit ataupun penafsiran yang menduga-duga.

Lebih dari itu kita tentu meyakini eksistensi Al Qur’an kebesarannya, keagungannya, juga rahasia kemu’jizatannya. Jadi secara etimilogis, fawatih al Suwar berarti pembukaan-pembukaan surat, karena posisinya berada di awalsurat-surat dalam Al Qur’an.

Apabila dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah, huruf tersebut sering dinamakan dengan Ahruf Muqatta’ah (huruf-huruf yang terpisah) karena posisi dari huruf tersebut yang cenderung menyendiri dan tidak bergabung membentuk suatu kalimat secara kebahasaaan.

Ibnu Abi Al Asba’ menulis sebuah kitab yang secara mendalam membahas tentang bab ini, yaitu kitab Al-Khaqathir Al-Sawanih fi Asrar Al-Fawatih. Ia mencoba menggambarkan tentang beberapa kategori dari pembukaan-pembukaan surat yang ada di dalam Al-Quran. Pembagian karakter pembukaannya adalah sebagai berikut. Pertama, pujian terhadap Allah swt yang dinisbahkan kepada sifat-sifat kesempurnaan Tuhan.

Kedua, yang menggunakan huruf-huruf hijaiyah; terdapat pada 29 surat. ketiga, dengan mempergunakan kata seru (ahrufun nida), terdapat dalam sepuluh apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar. lima seruan ditujukan kepada Rasul secara khusus. Dan lima yang lain ditujukan kepada umat.

Keempat, kalimat berita (jumlah khabariyah); terdapat dalam 23 surat. kelima, apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar bentuk sumpah (Al-Aqsam); terdapat dalam 15 surat. • ▼ 2015 (18) • ▼ Juni (18) • Memendekkan Kumis dan Memanjangkan Jenggot • Studi Kitab Syarh Hadis Al Muntaqo • Sekilas Kajian pusatkajianhadis.com • Rijal Hadis Shalat Magrib • Mengenal Cristian Snouck Horgronje • Mukhtaliful Hadis • Kawin Paksa • Pemikiran Hadis Prof.Dr.Daniel Juned • Pengertian Fawatihus Suwar.

• Kebersihan • Pengetahuan,Ilmu dan Filsafat • Perbuatan Baik dan Dosa • Gravitasi dan Analisa Ayat Terkait • Tafsir Al-Khasyaf • Boros dalam Al-Qur'an • Ilmu, Agama dan Persentuhan Keduanya • Dia Kemana?

• Studi Syarah Shahih Muslim
• Pengertian Fawatih as Suwar Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi manusia mengandung pembukaan-pembukaan surat yang sangat mendalam artinya.Ada yang berisi perintah, larangan, kata-kata syukur, bahkan huruf-huruf yang tidak diketahui pasti artinya.Hal tersebut merupakan sebagian rahmat bagi umat Islam.Pembukaan-pembukaan tersebut disebut dengan Fawatih as-Suwar.

apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar

Istilah fawatih adalah jamak dari kata “fatiha” yang secara lughowi berarti pembuka. Sedangkan “ suwar” adalah jamak dari kata “ surah” sebagai sebutan dari sekumpulan ayat-ayat al-qur’an yang diberi nama tertentu.Sehingga arti Fawatih as-Suwar secara bahasa berarti pembukaan-pembukaan yang berada di awal-awal surah Al-Qur’an.

[1]Juga dapat diartikan secara istilah Fawatih as-Suwar berarti pembukaan-pembukaan surah, karena posisinya berada diawal surah-surah dalam Al-qur’an.

[2] Pembuka-pembuka surat dalam Al-Qur’an( Fawatih as-Suwar) biasa juga disebut dengan Awail as-Suwar (permulaan-permulaan surat); al-huruf al Muqatha’ah apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar huruf-huruf). Huruf-huruf semacam ini( al-huruf al Muqatha’ah) dalam konteks yang tersurat ( manthiq al-nash) tidak memberikan pemahaman sama sekali, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga, atas dasar inilah kemudian ayat-ayat Mutasyabihat hanya dapat diketahui ta’wilnya oleh Allah SWT, seperti halnya pengetahuan tentang hari kiamat, turunnya hujan, apa yang ada dalam rahim, dan pengetahuan tentang roh.

Dalam hal ini Imam Zarkasyi berpendapat seperti yang dikutip oleh M. Nur Ichwan : “Aspek tersebut merupakan bagian dari sesuatu yang ghaib, seperti ayat-ayat yang membicarakan tentang terjadinya hari kiamat, turunnya hujan, apa yang ada dalam rahim, interpretasi tentang roh, dan huruf-huruf penggalan (al-huruf al Muqatha’ah). Semua ayatayat mutasyabih yang terdapat dalam Al-Qur’an menurut ahl al-haq tidak ada tempat bagi itjtihad untuk menafsirkannya dan memang tidak ada jalan untuk menuju ke sana kecuali dengan cara mengikuti salah satu dari ketiga hal berikut, yaitu berdasarkan dari nash Al Qur’an, penjelasan dari Nabi SAW, atau apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar kesepakatan (ijma’) ummat atas ta’wilnya.

Jika tidak terdapat penjelasan secara tauqifi dari ketiganya, maka dapat kita ketahui bahwa yang mengetahui ta’wilnya hanyalah Allah semata.” [3] Sehingga dapat disimpulkan bahwa huruf-huruf al Muqatha’ah adalah urusan Allah SWT.

• Pengertian Huruf Al-Muqatha’ah Menurut Imam Al-Qasthalani dalam Lathai’if Al-Isyarah huruf yang terpotong-potong( al-Ahruf al-Muqatha’ah) huruf ini terdapat pada 29 surah dengan memakai 14 huruf tanpa diulang yang terangkum dalam kalimat “ Nashsh karim qath’i lahu sirr”(teks mulia yang bersifat pasti dan memiliki rahasia) [4].Contohnya Alif Lam Mim(الم) cara membacanya adalah alif dibaca biasa, lam dipanjangkan 6 harakat, antara lam dan mim didengungkan 3 harakat dan mim dipanjangkan 6 harakat.

Dalam kitab Tafsir al-Mizan karya Thaba’tabai disebutkan bahwa ada 11 perbedaan pendapat ulama’ kontemporer dan klasik dalam menafsiri huruf al-Muqatha’ah: • Huruf al-Muqatha’ah termasuk ayat mutasyabihat yang hanya diketahui oleh Allah semata • Huruf al-Muqatha’ah termasuk nama-nama al-Qur’an • Huruf al-Muqatha’ah menunjukkan nama-nama Allah SWT • Huruf al-Muqatha’ah menunjukkan nama Allah yang terpotong, jika manusia menyusunya maka akan menjadi rangkaian nama Allah yang Agung, seperti; اﻟﺮ وﺣﻢ و ن = اﻟﺮﲪﻦ • Huruf al-Muqatha’ah termasuk huruf sumpah Allah dengan huruf-huruf karena sesungguhnya al-Qur’an adalah kalam Allah yang mulia, pokok bahasa umat-umat dan tidak ada yang menandinginya.

• Huruf al-Muqatha’ah termasuk isyarah usia ,masa, musibah, sebuah kaum. • Menunjukkan tentang isyarah ketetapan sebuah ummah yang menunjukkan hitungan jumlah. • Huruf ini mengandung maksud untuk tidak memerlukan menyebut hurufhuruf yang lain, atau bisa dikatakan efisiensi atau menghemat kata, misal ketika menyebut alif-ba’ maka yang dimaksud adalah keseluruhan huruf. • Huruf al-Muqatha’ah dimaksudkan untuk menarik perhatian kaum musyrik dan kafir karena selama itu mereka tidak menghiraukan dan tidak mendengarkan al-Qur’an, maka Allah menurunkan huruf-huruf ini agar mereka berfikir dan mendengarkan.

• Huruf al-Muqatha’ah dimaksudkan untuk melemahkan anggapan kaum musyrik dan kafir bahwa huruf-huruf ini diulang-ulang untuk memperjelas dalam hujjah. [5] Hampir semua mufassir mengatakan Wallahu a’lam ketika bertemu dengan hal ini [6] • Macam-macam Fawatih as-Suwar Dalam pembukaan surat ( Fawatih as-Suwar), macam-macamnya dibagi berdasarkan isi kandungan dari ayat pertamanya.Menurut Imam Al Qasthlani dalam Latha’if Al Isyarah yang dikutip Abdul Djalal membagi kedalam 10 kelompok [7].Pengelompokan tersebut adalah sebagai berikut: • Pembukaan dengan pujian kepada allah (al-istiftah bi al-tsana)Pujian kepada allah ada 3 macam, yaitu : • Menetapkan sifat-sifat terpuji dengan menggunakan (a) hamdalah, yakni dibuka dengan ( الحمد لله )yang terdapat pada 5 surah, yaitu Al-Fatihah, Al-An’am, Al-Kahfi, Saba, dan Fathir; (b) menggunakan lafal ( تبارك ) yang terdapat dalam 2 surah, yaitu Al-Furqon dan Al-Mulk.

• Mensucikan Allah dari sifat-sifat negatif dengan menggunakan lafal tasbih yang terdapat pada 7 surah, yaitu al-isra’Al-A’la, Al-Hadid, Al-Hasyr, Al-Shaff, Al-Jum’ah, dan Al-Taghabun. Contoh ayat: سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [8] Artinya: “ Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.

Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” • Menggunakan lafadz Tabaraka yang terdapat dalam 2 surah yaitu Al-Furqan dan Al-Mulk. Contoh ayat: تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا [9] Artinya: “ Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar kepada seluruh alam”(Q.S Al Furqan:1) • Pembukaan dengan huruf yang terputus-putus ( al-Ahruf al-Muqatha’ah), pembukaan dengan huruf ini terdapat pada 29 surah dengan memakai 14 huruf tanpa diulang yakni ; Alif, ha’, siin, shad, tha’,’ain, qaf, kaf, lam, mim, nun, ha,dan ya’, pembuka surat yang diawali dengan huruf hijaiyah, adalah: • Fawatih al-Suwar yang terdiri dari satu huruf.

Untuk jenis pertama ini dapat dijumpai di tiga tempat, yaitu QS. Shad/38:1 yang diawali dengan huruf Shad( ص ); QS.Qaf/50:1 yang diawali dengan huruf Qaf( ق) dan • Al-Qalam/68:1 yang diawali dengan Nun( ن ). Contoh ayat: ق ۚ وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ [10] Artiya: “ Qaaf Demi Al Quran yang sangat mulia.”(Q.S Qaf:1) • Fawatih al-Suwar yang terdiri dari dua huruf. Jenis yang kedua ini dapat dijumpai pada sepuluh tempat.

[11]Tujuh diantaranya dinamai hawaamim diawali dengan dua huruf haa mim( حم )sehingga ketujuh surat itu biasa disebut juga dengan nama hawamim, yang merupakan bentuk jamak dari ha mim. Ketujuh surat dimaksud adalah QS. Al-Mukmin/40: 1: QS. Fushilat/41: 1; QS. Al-Syura/42: 1; QS. Al-Zukhruf/43: 1; QS. AlDukhan/44: 1; QS Al-Jasiyah/45: 1; dan QS. Al-Ahqaf/46:1. Sementara itu, tiga surat lainnya adalah QS. Thaha/20: 1 yang diawali dengan huruf Tha ha( طه ); QS.

Al-Naml/27: 1 yang diawali dengan Tha sin( طس apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar dan QS. Yasin/ 38: 1 yang diawali dengan Ya Sin. • Fawatih al-Suwar yang terdiri dari tiga huruf, hal ini dapat ditemukan pada 13 tempat, enam diantaranya diawali dengan huruf alif lam min( الم )yaitu pada QS.

Al-Baqarah/2; QS. Ali Imran/3; QS. Al-Ankabut/29; QS. Al-Rum/30; QS. Luqman/31; dan QS. Al-Sajdah/32. Lima surat lainnya diawali dengan huruf-huruf alif lam ra( الر ) yaitu terdapat pada QS. Yunus/10; QS. Hud/11; QS. Yusuf/12; QS.Ibrahim/14; QS. Al-Hijr/15. Sedangkan dua surat lainnya lagi diawali dengan huruf-huruf tha sin Mim( طسم ), seperti yang terdapat pada QS.

Al-Syu’ara/26; dan QS. AlQashash/28. • Fawatih al-Suwar yang terdiri dari empat huruf, diantaranya terdapat pada dua tempat, yaitu QS. Al-A’raf/7: 1 yang diawali dengan alif lam mim shad( المر ); dan QS.

Al-Rad/13: 1 yang diawali dengan alif lam mim Ra’( المص ). • Fawatih al-Suwar yang terdiri dari lima huruf. Untuk jenis yang terakhir ini dapat ditemui pada dua tempat, yaitu pada QS. Maryam/19: 1 yang diawali dengan kaf ha’ ya ain shad( كهيعص ) dan حم عسص(surah Al-Syura ) • Pembukaan dengan panggilan ( al- istiftah bi al-nida).Nida ini ada 3 macam, terdapat pada 9 surah, yakni sebagai berikut. • Nida untuk nabi dengan term يا ايها النبي ( Ya ayyuha al-Muzammil) pada surah al-ahzab, al-tahrim dan al-thalaq.

• Nida untuk nabi dengan term يا ايها المزمل ( Ya ayyuha al-Muzammil) pada Surah Al-Muzamil. • Nida untuk nabi dengan term يا ايها المدثر ( ya ayyuha al-Mudatstsir )pada surah Al-Mudatsir. • Nida untuk orang-orang beriman dengan term يا ايها الذين امنوا ( ya ayyuha alladiina amanuu) pada surah Al-Mai’dah, Al-Hujurat, dan Al-Mumtahanah. • Nida untuk orang-orang secara umum dengan term يا ايها الناس ( ya ayyuha annaasu) pada Surah An-Nisa dan Al-Hajj.

• Pembukaan dengan kalimat berita (al-istiftah bi al-jumlah al-akbariyah).kalimat berita ( al-jumlah al-khabariyah) dalam pembukaan surah ada 2 macam, yaitu; • Kalimat nomina ( al-jumlah al-islamiyah) Kalimat ini terdapat pada 11 surah, apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar Surah Al-Taubah, Al-Nur, Al-Zumar, Muhammad, Al-Fath, Al-Rahman, Al-Haqqah, Nuh, Al-Qadr, Al-Qari’ah, dan Al-Kautsar.

• Kalimat verba (al-jumlah al-fi’liyah) Kalimat ini terdapat pada 12 surah, yaitu Al-Anfal, An-Nahl, Al-Qamar, Al-Mu’minun, Al-Anbiya, Al-Mujadalah, Al-Ma’arij, Al-Qiyamah, Al-Balad, ‘Abasa, Al-Bayinah, Al-Takatsur. • Pembukaan dengan sumpah (al istiftah bi al-qasam ) Sumpah yang digunakan dalam pembukaan surah-surah Al-Qur’an ada tiga macam dan terdapat dalam 15 surah. Pembahasannya akan dibicarakan pada bagian tersendiri. • Pembukaan dengan syarat ( al-istiftah bil-syarth) Syarat-syarat yang digunakan dalam pembukaan surah-surah Al-Qur’an ada 2 macam dan digunakan dalam 7 surah, yakni surah Al-Takwir, Al-Infithar, Al-Insyiqaq,Al-Waqi’ah, Al-Munafiqun, Al-Zalzalah, dan Al-Nashr.

• Pembukaan dengan kata kerja perintah ( al-istiftah bi al-amr) Berdasarkan penelitian apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar ahli, ada sekitar 6 kata kerja perintah yang menjadi pembukaan surah-surah Al-Qur’an, yaitu pada Surah Al-Alaq’, Jin, Al-Kafirun, Al-Ikhlas, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan Al-Nas.

• Pembukaan dengan pertanyaan ( al-istiftah bi al-istifham) Bentuk pernyataan ini ada 2 macam, yaitu; • Pertanyaan positif, yaitu pertanyaan dengan menggunakan kalimat positif. Pertanyaan dalam bentuk ini digunakan pada 4 surah, yaitu surah Al-Dahr,Al-Naba, Al-Ghasyiyah, dan Al-Ma’un. • Pertanyaan negatif, yaitu pertanyaan dengan menggunakan kalimat negatif, yang hanya terdapat pada dua surah, yaitu surah Al-Insyirah dan Al-Fil.

• Pembukaan dengan do’a (al istiftah bi al-du’a) Pembukaan dengan do’a ini terdapat 3 surah, yaitu surah Al-Muthaffifin, Al-Humazah, dan Al-Lahab. • Pembukaan dengan alasan ( al-istiftah bi al-ta’lil) Pembukaan dengan alasan ini hanya terdapat dalam quraisy. Selanjutnya As Suyuthiy mengatakan : pembukaan dengan doa dapat saja dimasukkan ke dalam pembagian Al-khabar, begitu juga pembukaan dengan pujian seluruhnya dapat di masukkan ke dalam jenis Al-khabar kecuali surah Al-a’la dapat di masukkan kedalam bagian Al-amr dan ayat yang di dahului dengan subhana dapat mengandung Al-amr dan Al-khabar.

[12] [1] Hasani Ahmad,Diskursus Munasabah Al Qur’an Dalam Tafsir Al-Misbah,(Jakarta:Amzah,2015),Hal 250 [2] Kadar M. Yusuf, Studi Al-Qur’an,( jakarta: amzah, 2009),hlm.102 [3] M. Nur Ichwan, op.cit., hlm.170 [4] Hasani Ahmad,Diskursus Munasabah Al Qur’an Dalam Tafsir Al-Misbah,(Jakarta:Amzah,2015),Hal 250 [5] Muhammad Husain at-Thaba’thaba’I, Al-Mizan Fi Tafsir al-Qur’an, Juz 18, Matba’ah Ismai’liyah, t.t, t.th, hlm.

7-8 [6] Hasani Ahmad,Diskursus Munasabah Al Qur’an Dalam Tafsir Al-Misbah,(Jakarta:Amzah,2015),Hal 251 [7] Abdul Jalal, Ulumul Qur’an,(Surabaya:Dunia Ilmu,2000).168-198 [8] https://tafsirq.com/17-al-isra/ayat-1 [9] https://tafsirq.com/25-al-furqan/ayat-1 [10] https://tafsirq.com/50-qaf/ayat-1 [11] Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy,Ilmu-ilmu Al Quran,(Semarang:Pustaka Rizki Putra),Bab IV,Hal 125 [12] Kadar M.

Yusuf, Studi Al-Qur’an,(Jakarta:Amzah,2009),hlm.104. Dari segi bahasa, fawatihus suwar berarti pembukaan-pembukaan surat, karena posisinya yang mengawali perjalanan teks-teks pada suatu surat.

Apabila dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah, huruf cenderung ‘menyendiri’ dan tidak bergabung membentuk suatu kalimat secara kebahasaan. Dari segi pembacaannya pun, tidaklah berbeda dari lafazh yang diucapkan pada huruf hijaiyah. Ibnu Abi Al Asba’ menulis sebuah kitab yang secara mendalam membahas tentang bab ini, yaitu kitab Al-Khaqathir Al-Sawanih fi Asrar Al-Fawatih.

Ia mencoba menggambarkan tentang beberapa kategori dari pembukaan-pembukaan surat yang ada di dalam Al-Quran. Pembagian karakter pembukaannya adalah sebagai berikut. Pertama, pujian terhadap Allah swt yang dinisbahkan kepada sifat-sifat kesempurnaan Tuhan.

Kedua, yang menggunakan huruf-huruf hijaiyah; terdapat pada 29 surat. ketiga, dengan mempergunakan kata seru ( ahrufun nida), terdapat dalam sepuluh surat. lima seruan ditujukan kepada Rasul secara khusus. Dan lima yang lain ditujukan kepada umat. Keempat, kalimat berita (jumlah khabariyah); terdapat dalam 23 surat.

apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar

kelima, dalam bentuk sumpah ( Al-Aqsam); terdapat dalam 15 surat. Berdasarkan uraian di atas, ternyata masing-masing surat tersebut menetapkan sifat-sifat yang negatif.

Surat-sufat yang diawali dengan pujian ini memiliki tasbih itu merupakan monopoli Allah. Dalam hal ini, tasbih dimulai dengan mashdar dan selanjutnya diikuti dengan fi’il.

Ini semua dimaksudkan agar mencakup seluruh tasbih, sekaligus menunjukkan betapa ajaibnya Al-Quran itu. Jumlah ismiyyah yang menjadi pembuka surat terdapat 11 surat, yaitu: (a) (براءة من الله ورسوله) ( Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan rasul-Nya (QS.

apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar

Al-Taubah). (b) (سورة انزلناها وفرضناها) ( ini adalah) satu surat yang Kami nuzulkan dan kami wajibkan (QS. Al-Nur); (c) (تنزيل الكتاب من الله العزيز الحكيم) / Kitab Alquran ini dinuzulkan oleh Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Zumar); (d) (الذين كفروا زصلوا عن سبيل الله) ( orang-orang kafir dan menghalang-halangi (manusia), dari jalan Allah), (QS. Muhammad); (e) (ان فتحنالك فتحا مبينا) / Sunngguh kami telah, memberikan keapdamu kemenangan yang nyata (QS.

Al-Fath); (f) (الرحمان علم القران) / Alah Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan, (QS. Al-Rahman); (g) (الحاقة ماالحاقة) / Kiamat, apakah hari kiamat itu? (QS. Al-Haqqa); (h) (ان ارسلنانوحا الي قوم) / Sungguh telah mengutus Nuh kepada kaumnya (QS. Nuh) ; (i) (انا انزلنه في ليلة القدر) / Sungguh telah menurunkannya (Alquran) pada malam al-Qadr (QS. Al-Qadr); QS. Al-Qadr; (j) (القارعة ما القارعة) / Hari Kiamat, apakah Hari kiamat itu?(QS. Al-Qari’ah); (k) (انا اعطيناك الكوثر) / Sungguh kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (QS.

Al-Kawtsar). Jumlah fi’liyah yang menjadi pembuka surat-surat Alquran terdapat dalam 12 surat, yaitu (a) (يسئلونك عن الانفال) / Mereka bertanya kepadamu tentang pendistribusian harta rampasan perang (QS. Al-Anfal); (b) (اتي امرالله فلا تستعجلوه) / Telah pasti datangnya ketetapan Allah itu, maka janganlah minta disegerakan (QS. Al-Nahl), (c).

(اقترب للناس apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar / Telah dekat datangnya saat itu (QS. Al-Qamar); (d) (قدافلل المئمنون) / Sungguh beruntung orang-orang yang beriman (QS. Al-Mukminun; (e) (اقتربت الساعة) / telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalam mereka (QS. Al-Anbiya); (f) (قدسمع الله قول التي تجادلك) / Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpanya (QS. Al-Ma’arij); (g) (لاقسم بيوم القيامة) / Aku bersumpah dengan hari kiamat (QS. Al-Qiyamah); (h) (لااقسم بهذا البلاد) / Aku bersumpah dengan kota ini, Makkah (QS.

Balad); (i) (عبس وتولي) / Dia (Muhammad) bermuka Masam dan berpaling (QS. ‘Abasa) (j) (لم يكن الذين كفروا من اهل الكتاب) / Dia Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan agamanya (QS. Al-Bayyinah); (k) (الهاكمتكاثر) / Bermegah-megahan telah melalaikan kamu (QS.

Al-Takatsur). 1) Sumpah dengan benda-benda angkasa, misalnya (والصفات) ( Demi rombongan yang bersaf-saf) dalam QS. Al-Shaffat; (والنجم) ( Demi bintang) dalam surat al-Najm; (زالمرسلات) ( Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa) dalam QS. Al-Nai’at; (والسماء ذات البروج) ( Demi lagit yang memiliki gugusan bintang) dalam QS.

Al-Buruj; (والسماء و الطارق) ( Demi langit dan yang datang pada malam harinya) dalam QS al-Thariq; (والفجروليال عشر) ( Demi fajar dan malam yang sepuluh) dalam QS. Al-Fajr; dan (والشمس والضحها) ( Demi matahari dan cahanyanya di waktu duha) dalam QS.

Al-Syams. 2) Sumpah dengan benda-benda bawah, misalnya (والذاريات apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar ( Demi angin yang menerbangkan debu dengan sekuat-keuatnya) dalam QS.

Al-Dzariyyat; (والطور) ( Demi bukit Thur) dalam QS. Al-Thur; (والتين) ( Demi buah Tin) dalam QS. Al-Thin; (والعاديت) ( Demi kuda perang yang berlari kencang) dalam QS. Al-‘Adiyat. Hikmah dari fawatih al suwar dengan sumpah ini, pertama, agar manusia meneladani sikap bertanggung jawab; berbicara harus benar dan jujur dan berani berbicara untuk menegakkan keadilan; kedua, agar dalam bersumpah manusia harus senantiasa memakai nama-nama Allah bukan selain-Nya; ketiga, digunakannya beberapa benda sebagai sumpah Allah dimaksudkan agar benda-benda itu diperhatikan manusia dalam rangka mendekatkan diri keapda Allah, karena pada dasarnya, benda-benda itu ciptaan Allah.

Syarat yang digunakan dalam pembukaan surat Al-Quran ada dua macam dan digunakan dalam 7 surat, yakni: (1) (اذالشمس كورت) / Apabila matahari digulung dalam QS. Al-Takwir; (2) (اذالشماء انفطرت) / Apabila langit terbelah, dalam QS.

Al-Infithar; (3) (اذالشماء انشقت) / Apabila langit terbelah, dalam QS. Al-Insyiqaq, (4) (اذا واقعت الواقعة) / Apabila terjadi hari kiamatdalam QS. Al-Waqi’ah; (5) (اذاجاءك المنافقون) / Apabila orang-orang munafik datang kepedamu, dalam QS. Al-Munafiqun; (6) (اذا زلزلت الارض زلزالها) / Apabila bumi dogoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dalam QS. Al-Zaljalah; (7) (اذاجاءنصرالله والفتح) / Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dalam QS.

Al-Nashr. 1) Pertanyaan, positif yang pertanyaan dengan menggunakan kalimat positif. Pertanyaan ini digunakan dalam 4 pendahuluan surat Alquran, yaitu: (هل اتي علي الانسان حين من الدهر) Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa dalam QS. Al-Dahr, (عم يتساءلون.

عن البإالعجيم) Tentang apakah mereka saling bertanya tentang berita yang besar, dalam QS al-Naba, (هل اتاك حديث الغاشية) Sudah datangkah kepadamu berita tentang hari pembalasan?

Dalam QS. Al-Ghasyiyah, (ارايت الذي يكذب بالدين) Tahukah kamu orang-orang yang mendustakan agama?

apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar

Dalam QS. Al-Ma’un. 2) Pertanyaan negatif, yaitu pertanyaan dengan menggunakan kalimat; negatif, yang hanya terdapat dalam dua surat, yakni (الم نشرح لك صدرك) Bukankah kami telah melapangkan dadamu untukmu, dalam QS. Al-Insyirah dan (الم تركيف فعل ربك بأصحب الفيل) Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah dalam QS. Al-Fil. Menurut As-Suyuti, pembukaan-pembukaan surat ( awail Al-suwar) atau huruf-huruf potongan ( Al-huruf Al-Muqatta’ah) ini termasuk ayat-ayat mutasyabihat.

Sebagai ayat-ayat mutasyabihat, para ulama berbeda pendapat lagi dalam memahami dan menafsirkannya. Dalam hal ini pendapat para ulama pada pokoknya terbagi dua. Pertama, pertama ulama yang memahaminya sebagai rahasia yang hanya diketahui oleh Allah. As-Suyuti memandang pendapat ini sebagai pendapat yang mukhtar (terpilih). Ibnu Al-Munzir meriwayatkan bahwa ketika Al-Syabi ditanya tentang pembukaan-pembukaan surat ini berkata; Dengan keterangan di atas, jelas bahwa pembukaan-pembukaan surat ada 29 macam yang terdiri dari tiga belas bentuk.

Huruf yang paliang banyak terdapat dalam pembukaan-pembukaan ini adalah huruf Alif (ا) dan lam (ل), kemudian Mim (م), dan seterusnya secara berurutan huruf Ha (ح), Ra (ر), Sin (س) Ta (ط), Sad (ص), Ha (ه), dan Ya’ (ي), ‘Ain (ع) dan Qaf (ق), dan akhirnya Kaf (ك), dan Nun (ن). Seluruh huruf yang terdapat dalam pembukaan-pembukaan surat ini dengan tanpa berulang berjumlah 14 huruf atau separuh dari jumlah keseluruhan huruf ejaan.

Karena itu, para apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar berkata bahwa pembukaan-pembukaan ini disebutkan untuk menunjukkan kepada bangsa Arab akan kelemahan mereka. Meskipun Al-Quran tersusun dari huruf-huruf ejaan yang mereka kenal, sebagiannya datang dalam AlQuran dalam bentuk satu huruf saja dan lainnya dalam bentuk yang tersusun dari beberapa huruf, namun mereka tidak mampu membuat kitab yang dapat menandinginya. Pendapat ini telah dijelaskan secara panjang lebar oleh Al-Zamakhsari (wafat 538 H) dan Al-Baidhawi (wafat 728 H).

pendapat ini dikuatkan oleh Ibn Taimiyah (wafat 728 H) dan muridnya, Al-Mizzi (wafat 742 H). Mereka menguraikan tantangan Al-Quran di turunkan dalam bahasa Mereka sendiri. Akan tetapi, mereka tidak mampu membuat kitab yang menyerupainya. Hal ini menunjukkan kelemahan mereka di hadapan Al-Quran dan membuat mereka tertarik untuk mempelajarinya. Dikatakan juga huruf-huruf ini merupakan peringatan-peringatan ( tanbihat) sebagaimana halnya dalam panggilan ( nida).

Akan tetapi, di sini tidak digunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bahasa Arab, seperti (ألا) dan (أما) karena kata-kata ini termasuk lafal yang sudah biasa dipakai dalam percakapan. Sedangkan al-Quran adalah kalam yang tidak sama dengan kalam yang biasa sehingga digunakan alif (ا). Sebagai peringatan ( tanbih) lebih terkesan kepada pendengar. Yang belum pernah digunakan sama sekali sehingga lebih terkesan kepada pendengar.

Dalam hubungan ini sebagian ulam memandangnya peringatan ( tanbih) kepada rasul agar dalam waktu-waktu kesibukannya dengan urusan manusia berpaling kepada Jibril untuk mendengarkan ayat-ayat yang akan disampaikan kepadanya. Sebagian yang lain apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar sebagai peringatan ( tanbih) kepada orang-orang Arab agar mereka tertarik mendengarkannya dan hati mereka menjadi lunak kepadanya.

Tampaknya, pandangan yang pertama kurang tepat karena Rasul sebagai utusan Allah dan yang terus-menerus merindukan wahyu tidak perlu diberi peringatan. Sedangkan pandangan yang kedua adalah lebih kuat karena orang-orang Arab yang selalu bertingkah, keras hati dan enggan mendengarkan ketenaran perlu diberi peringatan ( tanbih) agar perhatian mereka tertuju kepada ayat-ayat yang disampaikan.

3. As-Sayid Rasyid Ridha tidak membenarkan Al-Quwaibi di atas, karena Nabi senantiasa dalam keadaan sadar dan senantiasa menanti kedatangan wahyu Rasyid Ridha berpendapat sesuai dengan Ar-Razi, bahwa tanbih ini sebenarnya dihadapkan kepada orang-orang Musyrik Mekkah dan Ahli Kitab Madinah.

Karena orang-orang kafir apabila Nabi membacakan Al-Quran mereka satu sama lain menganjurkan untuk tidak mendengarkannya. Oleh karena i’tiqad bahwa huruf-huruf ini telah sedemikian dari azalinya, maka banyaklah orang yang tidak berani mentafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap huruf-huruf itu. Huruf-huruf itu dipandang masuk golongan mutasyabihat yang hanya Allah sendiri yang mengetahui tafsirnya.

Huruf-huruf itu, sebagai yang pernah ditegaskan oleh Asy-Syabi, ialah rahasia dari pada Al-Quran ini. Urgensi Studi Fawatihus Suwar Al-Qur’an memiliki banyak keistimewaan dari segi makna dan kebahasaan. Fawatihus Suwar merupakan salah satu realitas keistimewaan misterius yang terdapat di dalam Al_Qur’an.

Pemaparan tentang fawatihus Suwar, khusunya menyangkut Al-Huruf Al Muqotta’ah, tidak banyak bahkan hampir tidak ada yang berhasil mengungkapkan latar belakang ataupun keterangan yang valid yang secara historis bisa membuktikn hubungan – hubungan fawaitus suwar.

Dari segi makna, memang banyak sekali penafsiran – penafsiran spekulatif terhadap huruf-huruf itu. Dikatakan spekulatif, karena penafsiran-penafsiran mengenai hal itu tidak didahului pengungkapan konteks historisnya. Lain halnya dengan Fawatihus Suwar dalam bentuk lain misalnya Al Qosam (sumpah), An Nida’ (seruan), Al Amr (perintah),Al Istifham (pertanyaan) dan lain -lain.

Urgensi telaah terhadap fawatihus suwar tidak terlepas dari konteks penafsiran Al-Qur’an. Pengggalian – penggalian makna yang terlebih dahulu melalui karakter bab ini, akan memberikan nuansa tersendiri, baik yang apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar pada data historis yang konkrit ataupunpenafsiran yang menduga – duga. Lebih dari itu tentu saja kita tetap meyakini eksistensi Al-Qur’an, kebesarannya, keagungannya, juga rahasia kemu’jizatannya. Banyak sekali urgensi yang kita dapat dalam mengkaji Fawatih al-Suwar Adapun sebagian dari urgensinya sebagai berikut: 1.

Sebagai Tanbih ( peringatan ) dan dapat memberikan perhatian baik bagi nabi, maupun umatnya dan dapat menjadi pedoman bagi kehidapan ini. 2. Sebagai pengetahuan bagi kita yang senantiasa mengkajinya bahwa dalam fawatih as-suwar banyak sekali hal-hal yang mengandung rahasia – rahasia Allah yang kita tidak dapat mengetahuinya, 3.Sebagai motivasi untuk selalu mancari ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah swt.

Untuk menghilangkan keraguan terhadap al-Qur,an terutama bagi kaum islimin yang masih lemah imannya karena sangat mudah terpengaruh oleh perkataan musuh -musuh islam yang mengatakan bahwa al-qur’an itu adalah buatan Muhammad. Dengan mengkaji Fawatih al-Suwar kita akan merasakan terhadap keindahan bahasa al-Qur’an itu sendiri bahwa al-Qur’an itu datang dari Allah swt. Pencarian untuk: • Tulisan Terakhir • Sejarah Singkat Tafsir bil-Ma’tsur & bir-Ra’yi • Tafsir Corak Falsafi • Fawatih al-Suwar • Hadis “Tidak Ada yang Mengetahui Kapan Hujan Turun” • Teori Sosial, Konsep Hegemoni Antonio Gramsci • Komentar Terbaru • Arsip • Januari 2014 • Desember 2013 • November 2013 • Oktober 2013 • Kategori • Akhlak Tasawuf • Filsafat • Fiqih • Kajian al-Qur'an • Kajian Hadis • Studi Pemikiran Islam • Meta • Daftar • Masuk • Feed entri • Feed Komentar • WordPress.com • Laman • About
Setelah basmalah, terdapat dalam 29 surat sekelompok huruf –kadang kala bahkan huruf tunggal– yang telah banyak menyebabkan diskusi dan refleksi dalam sejarah pemikiran umat Islam.

Dalam catatan As-Suyuthi, ada kurang lebih 20 apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar yang berkaitan dengan persoalan ini. Menurut As-Suyuthi, huruf muqathaah tergolong ke dalam ayat mutasabbih. Itulah sebabnya, banyak telaah tafsirilah untuk mengungkapkan makna rahasia yang terkandung di dalamnya. Menurut Ibn 'Abbas, berdasarkan riwayat Ibn Abi Hatim, huruf-huruf itu menunjukan nama Tuhan. Menurut Sayyid Al-Quthub, huruf-huruf itu mengingatkan kenyataan bahwa Al-Quran disusun dari huruf-huruf yang lazim apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar oleh bangsa Arab, yaitu tujuan Al-Quran pertama kali diturunkan.

Dalam pandangannya pula, misteri dan kekuatan huruf-huruf itu terletak pada kenyataan bahwa meski pun huruf-huruf ini begitu lazim dan sangat dikenal, manusia tidak akan dapat menciptakan gaya dan diksi yang sama dengannya untuk membuat kitab seperti Al-Quran. Pendapat lain adalah bahwa huruf-huruf itu berfungsi sebagai tanbih (peringatan), seperti terungkap dalam pendapat Ibn Katsir, Ath-Thabari, dan Rasyid Ridha, dalam kitab tafsirnya masing-masing.

Dalam tradisi sufi, rahasia-rahasia huruf itu dijelaskan dengan perspektif estorik-simbolik. Ibn 'Arabi menjelaskan bahwa Alif adalah nama esensi Ilahi yang menunjukan bahwa Ia adalah yang pertama dari segala esensi, sementara lam terbentuk dari dua alif dan keduanya terandung dalam mim.

Ia menjelaskan bahwa setiap nama merupakan referensi untuk hakikat (esensi), yaitu yang mengandung sesuatu yang lain (atribut). Oleh karena itu, mim merupakan referensi indakan Muhammad. Selain itu, ia menjelaskan bahwa alif adalah simbol sifat atau tindakan Muhammad, maka lam yang merupakan pengantar alif dan mim merupakan apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar nama malaikat Jibril.

• ► 2022 (12) • ► Mar (4) • ► Feb (4) • ► Jan (4) • ► 2021 (64) • ► Dec (7) • ► Nov (4) • ► Oct (4) • ► Sep (6) • ► Aug (4) • ► Jul apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar • ► Jun (7) • ► May (5) • ► Apr (5) • ► Mar (8) • ► Feb (5) • ► Jan (5) • ► 2020 (96) • ► Dec (3) • ► Nov (6) • ► Oct (6) • ► Sep (9) • ► Aug (5) • ► Jul (5) • ► Jun (9) • ► May (9) • ► Apr (11) • ► Mar (10) • ► Feb (10) • ► Jan (13) • ► 2019 (84) • ► Dec (11) • ► Nov (12) • ► Oct (7) • ► Sep (7) • ► Aug (7) • ► Jul (4) • ► Jun (5) • ► May (6) • ► Apr (5) • ► Mar (6) • ► Feb (8) • ► Jan (6) • ▼ 2018 (50) • ▼ Dec (4) • Cara Membaca Hamzah Washal • Do’a Setelah Makan dan Minum Beserta Latin dan Ter.

• Mad Shilah Qashirah dan Mad Shilah Thawilah (Penge. • Fawatihus Suwar atau Huruf Muqathaah dalam Tinjaua. • ► Nov (4) • ► Oct (4) • ► Sep (4) • ► Aug (4) • ► Jul (4) • ► Jun (4) • ► May (4) • ► Apr (4) • ► Mar (4) • ► Feb (5) • ► Jan (5) • ► 2017 (90) • ► Dec (4) • ► Nov (4) • ► Oct (6) • ► Sep (10) • ► Aug (4) • ► Jul (7) • ► Jun (9) • ► May (4) • ► Apr (7) • ► Mar (11) • ► Feb (11) • ► Jan (13) • ► 2016 (10) • ► Dec (10)
http://darunnajah.com A.

Pengertian Fawatihus Suwar Dalam cacatan As-Suyuthi, ada kurang lebih 20 pendapat yang berkaitan dengan persoalan ini. Dilafalkan secara terpisah sebanyak huruf yang berdiri sendiri. Huruf Al-muqaththa’ah (huruf yang terpotong-potong) disebut Fawatih Suwar (pembuka surat), menurut As-Suyuthi, tergolong dalam ayat mutasyabih. Itulah sebabnya, banyak telaah tafsir untuk mengungkapkan rahasia yang terkandung didalamnya.

Menurut bahasa fawatih adalah jamak dari kata fatihah, yang berarti pembukaan atau permulaan atau awalan. Sedangkan kata as-suwar adalah jamak dari kata as-surah, sekumpulan ayat-ayat Al-qur’an yang mempunyai awalan dan akhiran. Jadi, Fawatihus Suwar beberapa pembukaan dari surah-surah Al-qur’an. Sebab seluruh surah Al-qur’an yang berjumlah 114 buah surah itu diuka dengan sepuluh macam pembukaan saja, tidak ada satu surahpun yanag keluar dari sepuluh pembukaan itu.

Istilah Fawatihus Suwar ini sering dijumuhkan orang dengan al-huruful muqaththa’ah(huruf terputus-putus yang terdapat di permulaan surah-surah Al-qur’an). Diantara orang yang menjumbuhkan fawatihus suwar dengan huruf muqaththa’ah ialah Dr. Shubhi Ash-Shalih dalam kitanya Mabahits Fi ‘Ulumil Qur’an. Karena itu, perlu ditegaskan bahwa Fawatihus Suwar itu berbeda dengan huruful muqaththa’ah yang hanya mempunyai salah satu macam dari Fawatihus Suwar yang ada sepuluh macam itu.

Sebab seluruh surah-surah Al-qur’an itu dibuka dengan sepuluh macam pembukaan. B. Macam-Macam Fawatihus Suwar Imam Al-Qasthalani dalam kitabnya Lathaiful Isyarati menjadi sepuluh macam pembahasan. Oleh Syekh Syihabun Abu Syamal Al-Muqaddiisi (wafat 665 H), sepuluh macam Fawatihus Suwar itu dinadhamkan/disyairkan dalam dua bait syair sebagai berikut: دُعَاءِ حُرُوْفِ التَّهَجِّى اسْتَفْهِمِ الْخَبَرِ “Allah SWT memuji kepada Dzat-Nya sendiri dengan tetapnya pujian, dan bersihnya Allah (dari sifat tercela)ketika Dia membuka surah-surah Al-qur’an.

Dan (dibuka dengan) amar, syarat,nida’, ta’lil, qasam, doa, dan huruf-huruf tahajji, serta istifham dan jumlah khabariyah”. Jadi, Fawatihus Suwar atau pembukaan-pembukaan dari 114 surah-surah Al-qur’an itu adalah sepuluh macam, yaitu sebagai berikut: a.

Pembukaan dengan pujian kepada Allah Swt ( al istiftaahu bits tsanaa’i ) terdapat dalam 14 surah Pujian kepada Allah Swt itu ada 2 macam yaitu: 1. Menetapkan sifat-sifat terpuji ( al itsbaatu sifaatil madhi ) yang memakai salah satu dari 2 lafadz sebagai berikut: a) Memakai lafal “ hamdalah “ ( bilafdzil hamdalah ) yakni dibuka dengan lafal Al- Hamdulillahi terdapat dalam 5 surah sebagai berikut: - Surah al-Fatihah dengan lafal أَلْحَمْدُلِلَهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ - Surah al- An’am dengan lafal أَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّموَاتِ وَالأَرْضَ - Surah al- Kahfi dengan lafal أَلحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتبَ - Surah as-Saba’ dengan lafal أَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ لَهُ مَافِى السَّموَاتِ وَالأَرْضِ - Surah Fathir dengan lafal أَلحَمْدُلَلّه الَّذِيْ فَاطِرِالسَّموَاتِ والْأَرْضَ b.

Memakai lafal “tabaaraka” yang terdapat dalam 2 surah yaitu: - Surah al-Furqan dengan lafal تَبَارَكَ الَّذيْ نَزَّلَ الْفُرْقأنَ عَلَى عَبْدِهِ - Surah al-Mulk dengan lafal تَبَارَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ 2. Mensucikan Allah SWT. Dari sifat-sifat yang negatif ( tanziilu an shifaatin nuqshaan ) yang memakai lafal tasbih, terdapat dalam 7 surah, diantaranya: - Surah al-Isra’ dengan lafal يُسَبِّحُ لِلهِ ما فِى السَّمواتِ وَما فِى الأَرْضِ Artinya : “ telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada dilangit dan apa saja yang ada dibumi”.

3. Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus-putus ( istiftaahu bil huruufi al muqaththa’ati ) Pembukaan dengan huruf-huruf ini terdapat dalam 29 surah dengan memakai 14 huruf dengan tanpa diulang yang terkumpul dalam kalimat نَصِّ حَكِيْمٌ قَاطِعٌ لَهُ سِرِّyang terdiri dari huruf-huruf أ, ح, ر, س, ص, ط, ع, ق, ك, ل, م, ن, ه, ي.

Jika dihitung dengan memasukkan huruf-huruf yang berulang-ulang, maka akan berjumlah 78 huruf. Penggunaan huruf-huruf tersebut dalam pembukaan surah-surah al-Qur’an disusun dalam 14 rangkaian dan terdiri dari 5 kelompok sebagai berikut: 1) Kelompok sederhana, terdiri dari 1 huruf ( al- muwahhada ) yang ada 3 rangkaian dan terdapat dalam 3 surah sebagai berikut yaitu: - Surah shaad dengan lafal ن. وَالقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَ Artinya : “ nuun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”.

2) Kelompok yang terdiri dari dua huruf (Al-Mutsanna) yang ada empat rangkaian dan terdapat dalam 9 surah, diantaranya : a) Rangkaian huruf “Ha” dan “Mim” dalam 6 surah, sebagai berikut : 1.

apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar

Surah Ghafir atau al-Mu’min 2. Surah As-Sajdah 3. Surah Az-Zuhruf 4. Surah Ad-Dukhan 5. Surah Al-Jatsiyah 6. Surah Al-Ahqaf b) Rangakaian huruf “Tha” dan “Ha” hanya dalam 1 surah yaitu Surah Thaha. c) Rangakaian huruf “Tha” dan “Sin” hanya dalam 1 surah yaitu Surah An-Naml.

d) Rangkaian huruf “Ya” dan “Sin” hanya dalam 1 surah saja yaitu Surah yaasin. 3) Kelompok yang terdiri dari tiga huruf (Al-Mutsallatsatu)yang ada tiga rangkaian dan terdapat dalam 13 surah-surah, sebagai berikut: a) Rangkaian huruf “ Alif, Lam, Mim,” dalam 6 surah sebagai berikut: 1.

Surah al-Baqarah 2. Surah Ali-Imran 3. Surah Al-Ankabut 4. Surah Ar-Rum 5. Surah Luqman 6.

apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar

Surah As-Sajdah b) Rangkaian huruf “Alif, Lam, Ra” dalam 5 surah, sebagai berikut: 1. Surah Yunus 2. Surah Hud 3. Surah Yusuf 4. Surah Ibrahim 5. Surah Al-hijr c) Rangkaian huruf “Tha, Sin, dan Mim” dalam 1 surah yaitu Surah Al-Qashash dan Asy-Syu’ara. 4) Kelompok yang terdiri dari 4 huruf (Al-Muraaba’ah) yang ada dua rangakaian dan terdapat dalam dua surah saja.

a) Rangkaian yang terdiri dari huruf Alif, Lam, Mim, dan Ra dalam satu surah yaitu Ar-Ra’d b) Rangkaian yang terdiri dari Alif, Lam, Mim, Shad dalam satu surah yaitu Surah Al-A’raf. 5) Kelompok yang terdiri dari 5 huruf ( Al-Mukhaamasatu) yang ada dua rangkaian dan terdapat dalam dua surah, yaitu: a) Rangkaian yang terdiri dari huruf Kaf, Ha, Ya, ‘Ain, dan Shad dalam satu surah yaitu Surah Maryam.

b) Rangkaian yang terdiri dari huruf Ha, Mim, ‘Ain, Sin dan Qaf dalam satu surah yaitu Surah Asy-Syura. c. Pembukaan dengan Nida/panggilan (Al-istiftaahu Bin Nidaa’) Nida’ (panggilan) itu ada 3 macam, yaitu: 1. Nida/ panggilan yang ditujukan kepada kepada Nabi SAW, terdapat dalam 5 surah, diantaranya Surah Al-Ahzab, Surah At-Tahrim dan Surah Ath-Thalaq dimulai dengan lafal “ياَاَيُّهَاالنَّبِيُّ ,” Surah Al-Muzammil dimulai dengan lafal ” يَااَيُّهَاالْمُزَمِّلُ قَمِ الَّيلَ اِلاَّقَلِيْلاً “dan Surah Al-Muddatsir dimulai dengan lafal ” يَااَيُّهَاالمُدَّثِّرُ ”.

2. Nida yang ditujukan kepada kaum mukminin dengan lafal ” يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ امَنُوْا “, terdapat dalam surah, diantaranya: 1. Surah Al-Maidah 2. Surah Al-Hujurat 3. Nida yang ditujukan kepada umat manusia ” يَااَيُّهَاالنَّاسُ ”yang terdapat dalam dua surah, yaitu Surah An-Nisa dan Surah Al-Hajj.

Hikmah atau rahasia dari pembukaan surah-surah dengan memakai nida’ adalah untuk memberikan perhatian, peringatan baik kepada Nabi Saw atau umat beliau dan untuk menjadi pedoman dan petunjuk dalam mengarungi laut kehidupan didunia ini. d. Pembukaan dengan jumlah Khabariyah (Al-istiftaahu Bil Jumalil Khabariyyati) Jumlah Khabariyyah diawal surah-surah Al-Qur’an ada dua macam, yaitu: 1) Jumlah Ismiyah, yang menjadi pembukaan 11 surah-surah, diantaranya: - Surah At-Taubah dengan lafal ” بَرَاءَةٌمِنَ اللّهِ وَرَسُوَلِهِ “ - Surah An-Nur dengan lafal ” سُوْرَةٌ اَنْزَلْنهَا وَفَرَضْنهَا “ - Surah Az-Zumar dengan lafal ” تَنْزِيْلُ apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar مِنَ اللّهِ العَزِيْزِالحَكيْمِ “ - Surah Muhammad dengan lafal ” الَّذِيْنَ كَفَرُوَا وَصَدُّوْا apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar سَبِيْلِ اللّه” - Surah Al-Fath dengan lafal ” إِنَّافَتَحْنَالَكَ فَتْحًا مُبِيْنًا “ - Surah Ar-Rahman dengan lafal ” اَلرَّحْمنُ عَلَّمَ الٌقُرْانَ “ - Surah Al-Haqqah dengan lafal ” الْحَآقَّةُ مَاالحَآقَّةُ “ - Surah Nuh dengan lafal ” إِنَّااَرْسَلْنَانُوْحًاإِلَى قَوْمِهِ “ - Surah Al-Qadr dengan lafal ” إِنَّااَنْزَلْنهُ فِى لَيْلَةِالقَدْرِ “ - Surah Al-Qaqi’ah dengan lafal ” أَالْقَارِعَةُ مَاالْقَارِعَةُ “ - Surah Al-Kautsar dengan lafal ” إِنآَاَعْطَيْنَاكَ الكَوْثَرَ “ 2.

Jumlah Fi’liyah yang menjadi pembukaan 12 surah-surah diantaranya : - Surah Al-Anfal dengan lafal ” يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الأَنْفالِ “ - Surah An-Nahl dengan lafal ” أَتَى أَمْرُاللّهِ فَلَاتَسْتَعجِلُوْهُ “ - Surah Al-Anbiya’ dengan lafal ” إِقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ “ - Surah Al-Mu’minun dengan lafal ” قَدْاَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ “ - Surah Al-Qamar dengan lafal ” إِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُوَانْشَقَّ القَمَرُ “ - Surah Al-Mujadilah dengan lafal ” قَدْسَمِعَ اللّهُ قَوْلَ الَّتِى تُجَادِلُكَ “ - Surah Al-Ma’arij dengan lafal ” سَأَلَ سَآئِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ “ - Surah Al-Qiyamah dengan lafal ” لَآأُقْسِمُ بِيَوْمِ القِيَامَةِ “ - Surah Al-Balad dengan lafal ” لَآأُقْسِمُ بِهذَالْبَلَدِ “ - Surah Abas dengan lafal ” عَبَسَ وَتَوَلَّى “ - Surah Al-Bayyinah dengan lafal ” لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْامِنْ أَهْلِ الكِتبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ مُنْفَكِّيْنَ “ - Surah At-Takatsur dengan lafal ” اَلْهكُمُ الـتَّكَاثُرُ ” Hikmah dari pembukaan surah dengan jumlah ini ialah memperingatkan Nabi Saw.

dan umat islam agar memperhatikan firman-firman Allah serta mengamalkan dan menjadikannya sebagai pedoman. e. Pembukaan dengan sumpah/ qosam (Al-Istiftaahu Bil-Qasami) Sumpah Allah yang dipakai dalam pembukaan surah al-Qur’an itu ada 3 macam, dan terdapat dalam 15 surah diantaranya : 1) Sumpah dengan benda-benda angkasa (Al-Istiftaahu ‘Uluwiyyati)Terdapat dalam 8 surah, yaitu: - Surah Ash-Shaaffat dengan lafal ” وَالصَّفّتِ صَفَّا “ - Surah An-Najm dengan lafal ” وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى “ - Surah Al-Mursalaat dengan lafal ” وَالْمُرْسَلتِ عُرْقًا “ - Surah An-Nazi’at dengan lafal “وَالنَّزِعتِ غَرْقًا “ - Surah Al-Buruj dengan lafal ” وَالسَّمَاءِذَاتِ البُرُوْجِ “ - Surah Ath-Thariq dengan lafal ” وَالسَّمَاءِوَالطَّارِقِ “ - Surah Al-Fajr dengan lafal ” وَالَفَجْرِوَلَيَالٍ عَشْرٍ “ - Surah Asy-Syams dengan lafal ” وَالشَّمْسِ وَضُحهَا “ 2) Sumpah dengan benda-benda bawah (Al-Qasamu Bis-Sufliyaati) terdapat dalam 4 surah, yaitu: - Surah Adz-Dzariyat dengan lafal ” وَالذَّارِيتِ ذَرْوًا “ - Surah Ath-Thur dengan lafal ” وَالطُّوْرِوَكِتبٍ مَسْطُزْرٍ “ - Surah At-Tin dengan lafal ” وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِ “ - Surah Al-‘Adiyat dengan lafal ” وَالْعدِيتِ ضَبْحًا “ 3) Sumpah dengan waktu (Al-Qasamu Bil-Waqti), terdapat dalam 3 surah, diantaranya: - Surah Al-Lail dengan lafal ” وَالَّيْلِ أِذَايَغْشَى “ - Surah Adh-Dhuha dengan lafal ” وَالضُّحَى “ - Surah Al-‘Ashr dengan lafal ” وَالْعَصْرِ “ Hikmah atau rahasia Allah Swt membuka beberapa surah dalam kitab-Nya dengan memakai sumpah-sumpah tersebut sebagai berikut : 1.

Agar manusia meneladani sikap bertanggung jawab, bjujur dan bila perlu berani angkat sumpah untuk memperkuat ucapannya. 2. Agar dalam bersumpah bagi manusia harus nemakai nama Allah Swt. 3. Digunakannya beberapa benda/ makhluk sebagai sumpah Allah Swt itu agar benda-benda/ makhluk Allah Swt itu selalu diperhatikan oleh umat manusia. f. Pembukaan dengan syarat (Al-Istiftaahu Bis-Sarthi) Syarat-syarat yang dipakai Allah sebagai pembukaan surah-surah Al-Qur’an ada 2 macam dan digunakan dalam 7 surah, sebagai berikut: 1) Syarat yang masuk pada jumlah ismiyah, dipakai diawal 3 surah diantaranya: - Surah At-Takwir dengan lafal ” إِذَالشَّمْسُ كُوِّرَتْ “ - Surah Al-Infithar dengan lafal ” إِذَالشّمآءٌفَطَرَتْ “ - Surah Al-Insyiqaq dengan lafal ” إْذَالسَّمآءٌانْشَقَّتْ “ 2) Syarat yang masuk pada jumlah fi’liyah, dipakai diawal 4 surah, diantaranya: - Surah Al-Waqi’ah dengan lafal ” إِذَا وَقَعَتِ الوَاقِعَةِ “ - Surah Al-Munafiqun dengan lafal ” إِذَا جَاءَكَالمُنفِقُرْنَ “ - Surah Az-Zalzalah dengan lafal ” إِذَازُلْزِلَتِ الأَرْضُ زُلْزَالَهَا “ - Surah An-Nashr dengan lafal ” إِذَاجَاءَنَصْرُاللّهِ وَالْفَتْحِ “ g.

Pembukaan dengan fi’il amar (Al-Istiftaahu bil Amri) Ada 6 fi’il amar yang dipakai apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar membuka surah-surah al-Qur’an, yang terdiri dari 2 lafal dan digunakan untuk membuka 6 surah-surah sebagai berikut: 1. Dengan fi’il Amar إِقْرَأْ yang hanya untuk membuka satu surah yaitu Surah Al-‘Alaq. 2. Dengan fi’il amar قُلْ, yang digunakan dalam 5 surah sebagai berikut: - Surah Al-Jinn dengan lafal ” قُلْ أُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌمِنَ الجِنِّ “ - Surah Al-Kafirun dengan lafal ”قُلْ يآأَيُّهَاالكفِرُوْنَ ” - Surah Al-Ikhlash dengan lafal ” قُلْ هُوَاللّهُ أَحَدٌ “ - Surah Al-Falaq dengan lafal ” قُلْ أَعُوْذُبِرَبِّ الفَلَقِ “ - Surah An-Nas dengan lafal ” قُلْأَعُوْذُبِرَبِّ النَّاسِ “ Adapun hikmah dari pembukaan surah-surah dengan memakai amar/perintah adalah untuk memberikan perhatian, peringatan, dan petunjuk serta pedoman dalam berbagai pranata kehidupan dan peribadatan, agar manusia dapat selamat dan berbahagia didunia dan di akhirat kelak.

h. Pembukaan dengan pertanyaan (Al-Istiftaahu bil Istifhaami) Bentuk pertanyaan/ istifham yang dipakai sebagai pembukaan dari 6 surah-surah al-Qur’an itu ada 2 macam sebagai berikut: 1. Pertanyaan positif (Al-Istifhaamu Al-Muhiibiyyu), yaitu bentuk pertanyaan yang dengan kalimat positif yang tidak ada alat negatifnya.

Terdapat dalam 4 surah yaitu: - Surah Ad-Dahru, dengan lafal: ” هَلْ أَتَى عَلَى الإِنْسَانِ حِيْنٌ مِنَ الدَّهْرِ ” Artinya:“ bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa”.

- Surah An-Naba’, dengan lafal: ” عَمَّ يَتَسآءَلُوْنَ. عَنِالنَّبَإِالعَظِيْمِ ” Artinya:“ tentang apakah mereka saling bertanya-tanya.

Tentang berita yang besar”. - Surah Al-Ghasyiyyah, dengan lafal: ” هَلْ أَتكَ حَدَيْثُ مُوْسَى ” Artinya: “ sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan”. - Surah Al-Ma’un, dengan lafal: ” أَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِ ” Artinya:“ tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama”.

2) Pertanyaan negatif, yaitu pertanyaan yang dalam kalimat negatif. Diantaranya: - Surah al-Insyirah dengan lafal ” أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرْكَ “ - Surah Al-Fiil dengan lafal ” أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحبِ الفِيْلِ “ Hikmah pembukaan surah-surah al-Qur’an dengan pertanyaan- pertanyaan ini untuk memberikan peringatan, perhatian dan petunjuk-petunjuk kepada umat manusia ke arah kebahagiaan hidup didunia dan di akhirat.

i. Pembukaan dengan do’a (Al-istiftaahu bid Du’aai) Do’a atau harapan yang digunakan sebagai pembukaan dari 3 surah ada 2 macam sebagai berikut : 1. Do’a atau harapan yang berbentuk apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar benda (Ad-Du’aaul Ismiyyu)ada di 2 surat yaitu: - Surah Al-Muthaffifin, dengan lafal: وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِّيْن Artinya: “ kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang”.

- Surah Al-Humazah, dengan lafal: ” وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَ ةٌ “ Artinya:“ kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela 2. Do’a atau harapan yang berbentuk kata kerja (Ad-Du’aaul Fi’liyu) membuka satu surah saja yaitu surah Al-Lahab ” تَبَّــتْ يَدَاأَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ “ Hikmah pembukaan dengan do’a/harapan yaitu untuk memberi perhatian, peringatan dan petunjuk kepada semua umat manusia.

j. Pembukaan dengan alasan ( Al-Istiftaahu bit-Ta’lili) Seperti yang digunakan untuk membuka surah Al-Quraisy dengan lafal: ” لإِيْلفِ قُرَيْشٍ ” Artinya:“karena kebiasaan orang-orang Quraisy” C.

Hikmah dari Fawatihus Suwar Diantara hikmah-hikmah Fawatihus Suwar adalah: 1. Untuk memberi perhatian, peringatan atau menjadi pedoman kehidupan, baik bagi Rasulullah ataupun umatnya.

apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar

2. Pembukaan surat yang diawali dengan menetapkan sifat-sifat terpuji kepada Allah, yakni dengan mashdar dengan selanjutnya diikuti dengan fi’il madhi, mudhari’ dan amr. Ini semua dimaksudkan akan mencakup seluruh tasbih, sekaligus menunjukkan betapa ajaibnya Al-Qur’an itu. 3.

apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar

Hikmah dari Fawatihus Suwar dengan sumpah, yaitu: agar manusia meneladani sikap bertanggungjawab; berbicara harus benar dan jujur; dan Allah menggunakan beberapa benda sebagai sumpahNya, dimaksudkan agar manusia memperhatikan kebesaran Allah melalui ciptaanNya.

Dengan begitu manusia merasa rendah dihadapan Allah. DAFTAR PUSTAKAFawatihus shuwar adalah ilmu yang membahas tentang kalimat yang menjadi pembuka atau awal dari seluruh surah yang ada di dalam Al Qur'an.

Secara bahasa kata Fawatihus shuwar merupakan gabungan dari 2 kata yaitu kata Fawatihus ( yang merupakan isim jamak dari kata fatihah sehingga kata fawatihus artinya adalah pembukaan-pembukaan) dan kata Shuwar ( yang merupakan isim jamak dari kata surah sehingga kata shuwar artinya adalah surah-surah) Pembahasan Kitab suci Al Qur'an merupakan salah satu kitab yang telah Allah turunkan kepada umat manusia.

Kitab suci Al Qur'an merupakan kitab yang telah Allah turunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Kitab suci Al Qur'an menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia selama hidup di dunia agar dapat hidup bahagia di dunia dan dapat hidup bahagia di akhirat kelak. Untuk dapat memahami isi kandungan ayat Al Qur'an maka diperlukan untuk mempelajari beberapa ilmu yang berkaitan dengan Al Qur'an. Mempelajari beberapa ilmu yang berkaitan dengan Al Qur'an ada yang hukumnya fardhu 'ain dan ada juga yang hukumnya fardhu kifayah.

Contoh ilmu yang berkaitan dengan Al Qur'an yang hukum mempelajarinya fardhu 'ain adalah mempelajari ilmu tajwid. Pelajari lebih lanjut • Materi tentang mahrajul huruf, pada brainly.co.id/tugas/26494280 • Materi tentang huruf yang daopat disambung disebelah kanan, pada brainly.co.id/tugas/33199592 • Materi tentang pembagian mahrajul huruf, pada brainly.co.id/tugas/32093569 ==================================== Detail jawaban Kelas : IV Mata pelajaran : Agama islam Bab : Membaca Surah-surah Al-Qur'an Kode soal : 4.14.1 #AyoBelajar Setelah wafatnya Rasulullah SAWIslam dipimpin apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar para Khulafaur Rasyidin, yaitu para sahabat Rasullah SAW yang adil dan bijaksana sehingga perse … baran Islam sangat luas, salah satunya adalah sahabat Umar bin Khattab Radiyaullohu'an.

Dalam kepemimpinannya Islam berkembang ke berbagi belahan bumi dan Umar memiliki inovasi dalam ekonomi, negara dan lainnya. Tuliskan 2 perkembangan yang terjadi di masa kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab Radiyaullohu'an 5.Berikut ini yang bukan merupakan larangan ketika wukuf adalah.

A.memakai pakaian berjahit B.memakai wewangian bagi perempuan C.membunuh hewa … n D.memakai pakaian berjahit bagi wanita 6.jamaah haji indonesia berangkat ke Padang Arafah satu hari menjelang wukuf.Hal itu untuk mengurangi kemacetan dan mempermudah pengaturan kendaraan dalam pemberangkatan jamaah haji.Wukuf dilaksanakan pada tanggal.zulhijah A.8 B.9 C.10 D.11 10.selama berada ditanah suci,pak ahmad mèlakasanakan tawaf bersama istrinta setelah selesai salat subuh.Tawaf yang mereka laksanakan adalah tawaf A.sunah B.qudum C.ifada D.wada TOLONG YA BANTU CEPAT, YG BANTU SAMA² PUNYA PENGALAMAN BELAJAR BARENG.MAKASIH
Tartib al-ayat fawatih apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar adalah dua rangkaian kata, tartib al-ayat ialah tertib susunan ayat maupun surah dalam Al-Qur'an sedangkan fawatih al-suwar ialah pembukaan atau awalan surah yang terdapat dalam Al- Qur'an.

Fawatih al-suwar dalam Al-Qur'an terdiri dari sepuluh bentuk yaitu: Pujian kepada Allah, huruf al-muqaththa’ah¬¬, panggilan, jumlah khabariyah, sumpah, syarat, fi’il amr, pertanyaan, berupa kutukan dan alasan. Pendapat ulama tafsir tentang huruf al- muqaththa’ah sebagai salah satu bentuk dari fawatih al-suwar, ada dua versi.

Pertama, berpendapat bahwa huruf tersebut hanya Allah yang tahu persis makna yang dikandungnya. Pendapat kedua menyatakan bahwa disamping huruf tersebut diketahui oleh Allah juga dapat diketahui oleh manusia untuk menyingkap tujuan dan makna yang terkandung di dalamnya. 1. Pembukaan dengan lafal tahmid (pujian)2. Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus/al-muqaththa’ah3. Pembunuhan dengan nida/ panngilan dengan tiga macam bentuk4.

Pembukuan dengan jumlah khabariyah dengan dua macam bentuk5. Pembukaan dengan sumpah/qasam6. Pembukaan dengan syarat7.

apa yang dimaksud dengan fawatihus suwar

Pembukaan dengan fi'il amr8. Pembukaan dengan pertanyaan9. Pembukaan dengan lafal yang berarti kutukan10. Pembukaan dengan alasan/karena •

PENJELASAN : Fawatihus suwar




2022 www.videocon.com