Mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah

mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah

Mengapa hanya nabi muhammad yang bergelar uswatun hasanah? – Seorang muslim pasti paham bahwa gelar uswatun hasanah hanya diberikan kepada nabi Muhammad SAW. Namun, apakah kamu sendiri tahu alasannya itu mengapa? Sedangkan beberapa orang mungkin bertanya-tanya tentang hal ini. Di kunci jawaban kali ini, guru akan senantiasa memberikan informasi serta jawabannya, agar kelak kamu benar-benar tahu dan paham terkait gelar yang diberikan hanya kepada Rasulullah SAW.

Sedangkan, diantara banyaknya jutaan manusia, apakah mereka juga menjadi salah satu usawatun hasanah seperti Nabi Muhammad? Guru rasa ini akan sulit diteladani, karena uswatun hasanah sebagai salah satu gelar yang memimpin akhlak seseorang.

Nah untuk mendapatkan dan mengetahui jawaban tersebut, mari kita lihat dibawah ini agar kamu paham apa yang guru sampaikan ya. Mengapa Hanya Nabi Muhammad yang Bergelar Uswatun Hasanah?

Karena Nabi Muhammad SAW memiliki akhlak yang sangat mulia, perilaku yang baik, serta beliau menjadi teladan bagi umat manusia. Itulah mengapa hanya nabi muhammad yang bergelar uswatun hasanah. Jawaban serupa: Mengapa Kita Harus Istiqomah? Ini Alasannya Di penjuru dunia, tidak akan ada satu orang pun yang mampu menandingi kemuliaan Rasulullah, ia menjadi teladan yang begitu sempurna.

Beliau adalah satu-satunya makhluk yang menggambarkan keteladan, keagungan, juga kesabaran yang didunia ini tidak ada makhluk yang bisa menandinginya.

Sehingga, dari hal tersebut Rasulullah SAW dijuluki gelar Uswatun Hasanah yang sama sekali tidak akan ada pada diri mahkluk lain, meskipun ia terlihat begitu sempruna. Kesempurnaan manusia sendiri tidak dilihat dari fisik, materi, atau hal serupa lainnya, melainkan dari akhlak yang apakah dia memiliki akhlak yang baik?

Jadi jangan berharap kita menjadi orang yang sempurna jika masih menjadi orang yang tidak memiliki akhlak, mampukah kamu mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad?

Semoga saja kamu bisa meneladani semua sikap dan akhlak yang ada pada belai ya, agar kamu menjadi orang yang baik dimata Allah SWT. Jawaban Mengapa hak dan kewajiban harus dilaksanakan secara seimbang? Kunci-jawaban.com – Mengapa hak dan kewajiban harus dilaksanakan secara seimbang apa dan bagaimana? Nah penting untuk kamu ketahui tentang hal ini, maka dari itu guru punya jawaban yang benar.

Setelah kita tahu nanti jawabannya hak Read more… Jawaban Sebutkan subsektor industri kreatif berikan contohnya di Indonesia Kunci-jawaban.com – Sebutkan subsektor industri kreatif berikan contohnya di Indonesia. Sektor industri kreatif dapat di artikan sebagai kumpulan aktivitas ekonomi yang terkait dengan penciptaan mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah penggunaan pengetahuan dan informasi.

Mengenai Industri kreatif juga di kenal dengan Read more… لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS.

Al-Ahzaab: 21] Ayat yang agung di atas, di setiap bulan Rabi’ul Awwal, biasanya menjadi ayat yang paling mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah terdengar dari corong-corong masjid. Tentu saja melalui mimbar-mimbar ceramah maulid. Para penceramah maulid juga tidak pernah lupa mengingatkan makna inti yang terkandung dalam ayat tersebut, bahwa kita sebagai ummat Muhammad wajib untuk menjadikan beliau sebagai panutan dan ikutan dalam mengamalkan agama. Belakangan, mencuat sebuah pertanyaan, sudahkah makna inti ayat tersebut terealisasi pada diri dan masyarakat muslim kita?

Dan apakah kita telah memahami hakikat “uswatun hasanah” yang diinginkan oleh ayat tersebut? Ulama tafsir mengaitkan turunnya ayat di atas secara khusus dengan peristiwa perang Khandaq yang sangat memberatkan kaum muslimin saat itu. Nabi dan para Sahabat benar-benar dalam keadaan susah dan lapar, sampai-sampai para Sahabat mengganjal perut dengan batu demi menahan perihnya rasa lapar.

mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah

Mereka pun berkeluh kesah kepada Nabi. Adapun Nabi, benar-benar beliau adalah suri teladan dalam hal kesabaran ketika itu. Nabi bahkan mengganjal perutnya dengan dua buah batu, namun justru paling gigih dan sabar. Kesabaran Nabi dan perjuangan beliau tanpa sedikitpun berkeluh kesah dalam kisah Khandaq, diabadikan oleh ayat di atas sebagai bentuk suri teladan yang sepatutnya diikuti oleh ummatnya.

Sekali lagi ini adalah penafsiran yang bersifat khusus dari ayat tersebut, jika ditilik dari peristiwa yang melatar belakanginya. [lihat Tafsir al-Qurthubi: 14/138-139] Adapun jika dikaji secara lebih mendalam, ayat di atas -di mata para ulama- merupakan dalil bahwasanya teladan Nabi berupa perbuatan dan tindak tanduk beliau bisa menjadi landasan atau dalil dalam menetapkan suatu perkara, karena tidak ada yang dicontohkan mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah Nabi kepada ummatnya melainkan contoh yang terbaik.

Hal ini dijelaskan oleh Imam ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’adi dalam kitab tafsirnya yang terkenal, Tafsir Kariimir Rahmaan. Beliau berkata (hal.

726 Cet. Darul Hadits): “Para ulama ushul berdalil dengan ayat ini tentang ber-hujjah (berargumen) menggunakan perbuatan-perbuatan Nabi. (Karena) pada asalnya, ummat beliau wajib menjadikan beliau sebagai suri teladan dalam perkara hukum, kecuali ada dalil syar’i yang mengkhususkan (bahwa suatu perbuatan Nabi hanya khusus untuk beliau saja secara hukum, tidak untuk ummatnya).” Nabi kita adalah manusia yang terbaik di segala sisi dan segi.

Di setiap lini kehidupan, beliau selalu nomor satu dan paling pantas dijadikan profil percontohan untuk urusan agama dan kebaikan. Sehingga tidak heran jika Allah mewajibkan kita untuk taat mengikuti beliau serta melarang kita untuk durhaka kepadanya dalam banyak ayat al-Qur-an, di antaranya firman Allah (artinya): “…Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar.” Rasulullah juga pernah bersabda: كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَـى، فَقِيْلَ: وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى “Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan.

(Lalu) dikatakan kepada beliau: ‘Siapa yang enggan itu wahai Rasulullah ?’ Maka beliau menjawab: ‘Barangsiapa mentaati aku ia pasti masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka ia enggan (masuk surga).” [Shahih Bukhari: 7280] Hakikat Makna Uswatun Hasanah Kita sering terperangkap dalam pola prinsip yang keliru dalam memaknai hakikat uswatun hasanah yang ada pada diri Rasulullah.

Tidak sedikit di antara kita mengkerdilkan makna sifat uswah (keteladanan) Nabi hanya terbatas pada masalah-masalah akhlak, sunnah-sunnah dan ritual ibadah yang dikerjakan oleh Nabi saja. Padahal, syari’at juga menuntut kita untuk meninggalkan -atau tidak mengerjakan- segala sesuatu yang tidak dikerjakan oleh Nabi dalam urusan agama ini.

Inilah makna uswah yang lebih sempurna, mencakup sunnah fi’liyyah dan juga sunnah tarkiyyah. Sunnah fi’liyyah adalah sunnah yang dikerjakan atau dicontohkan oleh Nabi. Dalam hal ini kita pun disunnahkan -bahkan bisa wajib- untuk mengerjakan persis seperti apa yang dikerjakan oleh beliau sebatas kemampuan kita. Adapun pada sunnah tarkiyyah, kita dituntut untuk meninggalkan suatu bentuk ritual dikarenakan ritual tersebut ditinggalkan atau tidak dikerjakan oleh Nabi di masanya, padahal sangat memungkinkan untuk dikerjakan di masa beliau.

Contohnya adalah kumandang adzan saat solat ‘Ied, adzan solat istisqo’ (minta hujan), dan adzan untuk jenazah.

Ini semua ditinggalkan atau tidak dikerjakan oleh Nabi, maka bagi kita ummatnya, meninggalkan ritual-ritual (seperti adzan yang tidak pada tempatnya) tersebut juga termasuk sunnah –yang sifatnya wajib- yang disebut sebagai sunnah tarkiyyah. Contoh lain yang lebih pas di bulan ini (Rabi’ul Awwal) adalah; perayaan hari kelahiran Nabi (maulid).

Merayakan kelahiran Nabi sangat memungkinkan untuk dikerjakan di masa Nabi dan Sahabat. Nabi tahu bahwa kelahiran dirinya ke muka bumi adalah rahmat bagi alam yang patut disyukuri. Demikian pula para Sahabat adalah orang yang paling mencintai dan memuliakan Nabi, mereka adalah kaum yang paling bersyukur atas kelahiran Nabi di tengah-tengah mereka.

Namun faktanya Nabi dan Sahabat meninggalkan perayaan kelahiran tersebut, mereka tidak pernah mengerjakannya. Sehingga jadilah ia sunnah tarkiyyah bagi kita (yakni sunnah –yang bersifat wajib- untuk kita tinggalkan). “Sunnah” Tarkiyyah Bermakna “Wajib” Adapun dasar hukum sunnah tarkiyyah ini, para ulama berdalil dengan kisah tiga orang peziarah yang bertanya kepada istri-istri Nabi perihal keseharian ibadah yang dikerjakan oleh beliau.

Anas radhiallahu’anhu, pembantu sekaligus Sahabat Rasulullahmengisahkan yang artinya: “Datang tiga orang menuju rumah para istri Nabi.

Mereka bertanya tentang ibadah Nabi. Manakala mereka dikabarkan perihal ibadah-ibadah yang dilakukan oleh Nabi, seakan akan mereka menganggapnya sedikit.

Maka mereka berkata: ‘Kita ini di mana jika dibandingkan dengan Nabi? (Wajar saja), beliau telah diampuni dosa-dosanya, baik yang telah lampau dan yang akan datang.’ Salah seorang di antara mereka lantas berkata: ‘Adapun aku, sungguh aku akan solat malam selamanya (tidak tidur).’ Berkata lagi yang lain: ‘Aku mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah berpuasa dahr, dan tidak akan berbuka (puasa setiap hari tanpa jeda).’ Dan yang satu lagi berkata: ‘Aku akan menjauhi wanita, aku tidak akan menikah selamanya.” “Maka Nabi datang, lantas berkata (sambil marah) : ‘Kalian yang berkata begini…dan begini…?

Adapun aku demi Allah! Aku orang yang paling takut kepada Allah daripada kalian, dan aku yang paling taqwa kepada-Nya daripada mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah Namun (kendatipun demikian) aku ini berpuasa, tapi juga berbuka (ada hari jeda).

Aku solat (malam), dan aku juga tidur. Dan aku menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak suka sunnahku (lebih memilih yang lain), maka dia bukan golonganku”. [Bukhari: 5063, Muslim: 1401, Lih. Ushuulul Bida’ hal. 108] Jika kita simak hadits di atas, bagaimana kerasnya ancaman Rasulullah terhadap orang-orang yang tidak mau mencukukan diri dengan sunnah beliau, maka bisa dipahami bahwa “sunnah” tarkiyyah -dalam artian meninggalkan bentuk-bentuk ritual yang hendak dilakukan oleh ketiga orang tersebut- bersifat wajib hukumnya, bukan “sunnah” dalam pengertian ilmu fiqih; berpahala jika dikerjakan dan tidak berdosa jika ditinggalkan.

Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam kitabnya Fadhlu ‘Ilmis Salaf mengatakan: “…adapun apa–apa yang telah disepakati oleh Salaf (para Sahabat) untuk ditinggalkan (dalam urusan agama), maka tidak boleh dikerjakan. Karena para Salaf tidaklah meninggalkan sesuatu (dalam urusan agama ini), melainkan karena mereka tahu bahwa sesuatu tersebut tidak (disyari’atkan) untuk diamalkan.” [lih.

‘Ilmu Ushulil Bida’ hal. 110] Alhasil, apa yang Nabi contohkan kepada kita, niscaya itu baik. Dan apa-apa yang beliau tinggalkan dari perkara agama ini, sudah pasti itu bukan suatu kebaikan di sisi Allah jika kita kerjakan.

Rasulullah bersabda: إنَّهُ لَمْ يَكُن نَبِيٌّ قَبْلِي إلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ “Sungguh tidak ada satupun Nabi sebelumku, melainkan ia pasti menunjukkan (mengajarkan) kepada ummatnya segala bentuk kebaikan yang ia ketahui, dan memperingatkan ummatnya dari segala macam keburukan yang ia ketahui”.

[Shahih Muslim: 1844] Dan Nabi telah memperingatkan kita dari berbuat sesuatu yang tidak ada teladannya dari beliau dalam urusan agama ini. Sebagaimana sabdanya: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa melakukan amalan ibadah yang tidak ada perintahnya dari kami (Nabi dan Sahabat1), maka amalannya tertolak (tidak diterima).” [Syarh Shahih Muslim: 1718] Akhirulkalam, baik sunnah fi’liyyah (mengerjakan yang dicontohkan) maupun sunnah tarkiyyah (meninggalkan yang tidak dicontohkan), kedua-duanya harus berjalan dalam diri seorang mukmin yang mengaku Rasulullah sebagai teladan hidupnya.

Dengan demikian, barulah hakikat uswatun hasanah pada ayat yang kita kaji ini benar-benar tidak hanya sekedar pemanis bibir di mimbar-mimbar ceramah. Wallahua’lam Sumber: https://www.facebook.com/permalink.phpid=380219618706181&story_fbid=380221738705969
Jakarta - Nabi dan rasul merupakan putra pilihan sejak kecil. Akhlak mulianya bahkan termaktub dalam Al Quran dan hadits sehingga menjadi uswatun hasanah bagi umat manusia.

Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah bagi umat muslim juga ditegaskan dalam firman Allah QS. Al Ahzab ayat 21 yang berbunyi: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS.

Al Ahzab: 21) Lantas, apa arti dari uswatun hasanah? Arti Uswatun Hasanah Mengutip dari buku Metode Belajar Anak Usia Dini yang ditulis oleh Eliyyil Akbar, M.Pd.I., istilah bahasa Arab uswah dan iswah atau dengan kata al-qudwah dan al-qidwah memiliki arti suatu keadaan ketika seseorang manusia mengikuti manusia lain, apakah dalam kebaikan dan kejelekan.

Senada dengan itu, menurut Muhammad Fahmi Siddiq dalam tulisan ilmiahnya yang berjudul Uswah Hasanah dalam Dakwah Nabi Ibrahim: Analisis deskriptif dalam Tafsir Ibn Katsir dan Al-Maraghi, kata uswatun hasanah berasal dari dua kata yaitu uswah yang berarti teladan, dan hasanah, berasal dari kata hasuna, yahsunu, husnan wa hasanatan, yang berarti sesuatu yang baik, pantas, dan kebaikan.

Sementara itu, arti hasanah menurut pakar bahasa Raghib al-Asfahani adalah segala sesuatu kebaikan atau kenikmatan yang diperoleh manusia bagi jiwa, fisik, dan kondisi perasaannya. Berdasarkan hal itu, uswatun hasanah artinya suatu perilaku yang mulia yang menjadi teladan bagi umat manusia atau teladan yang baik. Baca juga: Bacaan Niat Puasa Senin kamis dan Doa Buka puasa Hal ini dapat dipahami bahwa, konteks yang patut ditiru adalah perilaku dan sifat yang baik dari nabi dan rasul.

Artinya keteladanan ini bermakna positif. Menurut M Ridho Ramadhani dalam The Modeling Theory and Its Relevancy with Uswatun Hasanah in the Quran Perspective, keteladanan merupakan salah satu metode pendidikan yang diterapkan Rasulullah dan dianggap paling banyak pengaruhnya terhadap keberhasilan menyampaikan dakwahnya. Sebab teladan merupakan konkret dari prinsip dan fitrah tersebut dan bisa dilihat dengan jelas, dicontoh, dan, diikuti.

Sebagai pendidik bagi umat muslim, Rasulullah SAW memberikan petunjuk kepada manusia dengan tingkah lakunya sendiri sebelum melalui perkataannya. Rasulullah sebagai teladan universal bagi umat manusia ditegaskan pula dalam QS. Saba' ayat 28: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ Artinya: "Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." (QS.

Saba': 28). Melansir dari buku Agama Islam: Ayo Mengenal Allah Lebih Dekat Untuk SD Kelas 4 karya Hj. Hindun Anwar, sifat-sifat Rasulullah SAW yang sangat mulia dan wajib diteladani oleh umat manusia adalah sebagai berikut: -Dapat dipercaya (amanah); -Jujur (siddiq); -Pemurah; -Pengasih; dan -Penyayang.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدىْ وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْكَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى خَاتَمِ اْلاَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ مُحَمَّدٍ وَّعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ Pertama, ramah dalam pergaulan; Beliau sangat ramah terhadap siapa pun, berbicara sangat serius mendengarkannya, biarpun orang itu lemah dan miskin, tetap menghormatinya tanpa merendahkan sedikitpun, tidak banyak berbiacara, mencela dan tidak pernah memotong pembicaraan seseorang kecuali ia berbicara kebatilan.

Kedua, rendah hati dalam bermasyarakat; Nabi Muhammad memiliki posisi tinggi di sisi Allah dan manusia, akan tetapi beliau tidak mengagungkan dirinya, malah merendahkan diri tanpa harus merasa terhina. Perendahan diri yang disenangi oleh sahabat-sahabatnya, sebagaimana mereka cinta pada keluarga dan putra-putranya. Beliau memperlakukan masyarakat dengan santun dan menghormarinya. Sabda Rosululloh SAW Ketiga, senang bermusyawarah; Nabi Muhammad SAW selalu mengajak para sahabatnya untuk bermusyawarah dalam memutuskan suatu masalah.

Apabila para sahabatnya telah memberikan pertimbangan kepadanya, maka beliau mengambil pendapat yang dinilainya paling tepat, sambil memuji kepada orang yang mengemukakan pendapat tersebut, sebagai dorongan agar dia lebih bersemangat, juga sebagai bentuk penghargaan kepadanya. Sabda Rosululloh SAW Nabi Muhammad SAW adalah sosok manusia paling sempurna (insan kamil), selalu menjaga kewajibannya sebagai hamba Allah, yaitu beribadah kepada Allah Swt. Meskipun beliau sudah dijamin oleh Allah Swt masuk surga, beliau tetap beribadah kepada Allah dengan sangat tekun.

Dalam satu riwayat dari Aisyah ra disebutkan bahwa Melihat Nabi Muhammad SAW. demikian tekun melakukan shalat Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah! bukankah dosamu yang tedahulu dan yang akan datang telah diampuni Allah ?

Nabi Muhammad SAW menjawab: aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur”. (HR Bukhari dan Muslim). Sejak masa muda, Nabi Muhammad SAW telah dikenal dengan kejujuran, amanat, kesabaran, ketegaran, dan kedermawanan.

Dalam kesabaran dan kerendahan diri beliau dan dalam keagungan akhlak beliau tak tertandingi. Dalam memaafkan, beliau tidak ada bandingannya. Ketika mendapatkan gangguan dan cemoohan masyarakatnya, beliau hanya berkata “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.” Beliau selalu mengharapkan kebaikan seluruh umat manusia, penyayang dan belas-kasih terhadap mereka.

Rahasia besar kesuksesanya dalam berdakwah adalah menyampaikan dakwah melalui amal perbuatan dan dengan cara yang hikmah, yaitu penyampaian dakwah secara bijaksana, penuh dengan kebaikan, kemudahan dan tidak menimbulkan permasalahan. Dakwahnya disampaikan dengan nasihat yang baik (Mau’idzah Hasanah), • ► 2022 (6) • ► April (3) • ► Maret (2) • ► Januari (1) • ▼ 2021 (102) • ► Desember (4) • ► November (3) • ▼ Oktober (1) • NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI USWATUN HASANAH • ► Juli (1) • ► Juni (2) • ► Mei (10) • ► April (17) • ► Maret (21) • ► Februari (26) • ► Januari (17) • ► 2020 (138) • ► Desember (14) • ► November (11) • ► Oktober (7) • ► September (6) • ► Agustus (15) • ► Juli (12) • ► Juni (10) • ► Mei (19) • ► April (16) • ► Maret (10) • ► Februari (8) • ► Januari (10) • ► 2019 (255) • ► Desember (4) • ► November (9) • ► Oktober (15) • ► September (11) • ► Agustus (44) • ► Juli (47) • ► Juni (37) • ► Mei (32) • ► April (25) • ► Maret (8) • ► Februari (19) • ► Januari (4) • ► 2018 (153) • ► Desember (18) • ► November (33) • ► Oktober (21) • ► September (15) • ► Agustus (9) • ► Juli (12) • ► Juni (11) • ► Mei (20) • ► April (10) • ► Maret (1) • ► Februari (2) • ► Januari (1) • ► 2017 (236) • ► Desember (13) • ► November (10) • ► Oktober (6) • ► September (18) • ► Agustus (20) • ► Juli (25) • ► Juni (10) • ► Mei (26) • ► April (58) • ► Maret (36) • ► Februari (12) • ► Januari (2) • ► 2016 (19) • ► Desember (1) • ► November (5) • ► Oktober (13)
Sungguh, ada suri teladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika mereka berkata kepada kaumnya: “ Sungguh, kami berlepas diri darimu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah.

Kami ingkari kekafiranmu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “ Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun darimu siksaan Allah”. Ibrahim berkata: “ Ya Rabbana, hanya kepada-Mu kami bertawakal dan hanya kepada-Mu kami bertobat dan hanya kepada-Mu kami kembali” (QS al-Mumtahanah, 4).

Sebagai uswatun hasanah, kedua rasul mulia ini adalah cermin kepribadian yang telah teruji bagi umatnya. Itulah sebabnya, orang-orang yang mengikuti jejak langkah dan kepribadian para rasul tersebut disebut shalihinorang-orang shaleh.

Allah memberi jaminan kepada mereka seperti dalam firman-Nya. “ Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama-sama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Itulah teman yang sebaik-baiknya” (QS an-Nisa, 69). Jauh sebelum kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alayhis Salaam, Nabi Ibrahim al-Hanif Shallallahu ‘Alayhis Salaam pernah bermohon kepada Allah Azza wa Jalla agar Dia berkenan untuk memberinya keturunan yang shaleh dan menjadi penerus kenabiannya.

Doanya adalah “ Ya Rabbana, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka Alquran dan Hikmah, serta mensucikan mereka.

Sungguh, Engkaulah yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana” mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah al-Baqarah, 129). Permohonan beliau ini terkabul. Terbukti, banyak dari keturunan Ibrahim al-Hanif Shallallahu ‘Alayhis Salaam yang diangkat menjadi nabi. Salah satunya adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhis Salaam yang kemudian menjadi nabi terakhir. Itulah sebabnya, Ibrahim al-Hanif Shallallahu ‘Alayhis Salaam disebut pula sebagai abaa-a al-anbiya, para nabi.

Sebuah hadist menyatakan bahwa al-‘ulamaa-u waratsatul anbiyaa-a. Ulama adalah pewaris para nabi. Lalu, apa yang diwarisi oleh ulama dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhis Salaam?

Sangat banyak. Tirkah (peninggalan) dari para nabi kepada ulama bukan hanya proses transferring ilmu, melainkan juga karakter istimewa yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhis Salaam.

Kita tahu, dan semua umat Islam sudah sangat paham, bahwa ada empat karakter istimewa yang melekat kuat pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhis Salaam, yaitu FAST: fathonah, amanah, shiddiq, dan tabligh. Empat sifat dan karakkter istimewa yang dimiliki nabi itulah yang kemudian mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah alat pencelup kepribadian ulama sesudahnya.

Lalu, lahirlah para mujaddid dan ulama yang brilian. Mereka semua melahirkan karya-karya besar dengan tulisan yang melintas-batas disiplin ilmu. Nama-nama besar seperti Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Hanbali, Imam al-Ghazali, Syekh Ibn Taimiyah, dan masih banyak lagi ulama lainnya yang tidak bisa disebutkan di sini.

Mereka berkarya dan terus berkarya untuk menjabarkan firman-firman Allah dengan kualitas hati dan akalnya. Beberapa nama ulama yang disebutkan itu sudah mendunia internasional. Mereka inilah yang disebut oleh Allah sebagai bagian dari “ orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah” (QS an-Nisa, 69). Di tingkat lokal-nasional, ada pula mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah yang memiliki nama besar karena karya dan perjuangannya.

Mereka lahir di bumi pertiwi ini. Dari kalangan “Salaf”, ada nama Imam Nawawi al-Bantani; Syekh Ahmad Khatib al-Padangi; Syekh Abdurrauf as-Singkili; dan Syekh Yusuf al-Makassari.

Dari kalangan “Khalaf”, sebut saja nama-nama ulama yang sudah cukup dikenal, seperti K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Hasyim Asy’ari, Buya Hamka, dan Dr. Moh. Natsir. Itulah beberapa di antara sekian banyak nama ulama dan cerdik pandai negeri ini.

Kelahiran ulama itu diawali oleh kehadiran para wali penyebar Islam di tanah Nusantara ini yang dalam sejarah biasa disebut Wali Songo. Dari mereka, lahirlah ulama kenamaan—baik karena kepribadiannya yang zuhud maupun karena ilmunya yang luas—yang menjadi pelanjut perjuangannya, baik di pulau Jawa maupun Sumatera, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, atau Sulawesi. Mereka semua memiliki kekhususan tersendiri sesuai dengan disiplin ilmu yang menjadi bidang kajiannya.

Mereka memiliki kharismatik yang sangat besar yang oleh Max Weber (dalam Johnson, 1988) disebut sebagai salah satu penopang kepemimpinan. Kharismatik ini muncul karena upaya mereka dalam taqarrub dan praktek ruhaninya yang sangat ketat kepada Allah. Ulama, seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alayhis Salaam melalui sebuah hadis (as-Sayuthi, Darul Fikr, t.t.: 69), adalah mashalih al-ardhi wakhulafa’ al-anbiya’ wawaratsati wa warasatu al-anbiya’, pelita untuk bumi, pengganti para nabi, pewarisku dan pewaris para nabi.

Sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhis Salaam, ulamalah yang menjadi pelita. Dengan ilmu yang ”diwarisi” dari para nabi itu, mereka menerangi seluruh penduduk bumi dan segala isinya. Mereka bertugas untuk menggantikan fungsi para nabi dalam memelihara dan menyebarluaskan ajaran Allah. Itulah sebabnya, mereka disebut waratsaat al-anbiyaa, pewaris para nabi. Sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhis Salaam, banyak ulama yang lahir belakangan—yang sejak dulu hingga kini dan mendatang—bertugas untuk terus mewarisi dan menyebar-luaskan ilmunya.

Dalam konteks ini, pewarisan yang dimaksud mengandung konotasi bahwa ulama berkewajiban untuk memahami, mendalami, mengamalkan, mengajarkan, mengembangkan, dan menyiarkan Islam yang “diwarisinya” dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhis Salaam. Ulama berkewajiban memimpin umat Islam untuk menghayati dan mengamalkan ajaran Islam secara kaffah. Mereka, jika dalam kondisi tertentu menghendaki, bahkan wajib memimpin umat untuk berjuang mengangkat senjata secara bersama-sama untuk menghadapi musuh Allah.

Mereka juga harus rela mengorbankan harta dan jiwanya untuk memelihara keberadaan dan kemurnian aplikasi ajaran Islam dalam kehidupan diri dan umatnya di bumi ini. Ulama adalah waratsatu al-anbiya’, pewaris para nabi. Sebagai pewaris nabi, merekalah yang harus bersungguh-sungguh memahami hakikat ajaran Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhis Salaam kepada mereka dan umat manusia yang sezaman dengannya.

Karena itu, mereka pulalah yang paling mantap dalam hal-hal memberi makna, menetapkan arah dan menggariskan langkah-langkah perjuangan untuk menegakkan Islam, baik dalam upaya pelestarian maupun pengalamannya untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Alquran memberi informasi bahwa orang yang paling takut kepada Allah dari sekian banyak hamba-Nya di permukaan bumi ini hanyalah ulama.

Sesungguhnya, orang yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah Fathir, 28). Tetapi, karena ajaran dan risalah Allah itu disampaikan oleh Rasul-Nya, mereka mendapat perintah untuk mematuhi Rasul-Nya juga. Taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan ulil amri di antaramu. Kemudian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian (QS an-Nisa: 59).

Ketaatan mereka kepada rasul itu, dengan demikian, menduduki rangking kedua setelah ketaatan kepada Allah. Setiap zaman memiliki karakternya sendiri. Setiap zaman juga memiliki pemimpinnya sendiri. Karakter pemimpin itu disesuaikan dengan zaman yang dihadapinya. Tidak ada zaman kecuali ada pemimpin yang Allah tentukan untuk menjadi leader factor bagi zaman itu.

Pemimpin atau tokoh yang dituakan selalu tampil di garis depan. Ia menjadi pelita saat umatnya kegelapan. Ia menjadi pencerah batin saat umatnya digelayuti oleh rasa bimbang dan gelisah.

Seorang tokoh ibarat sebuah cermin. Cermin itu memantulkan bayang-bayang wajah kita. Cermin yang bersih adalah cermin yang jujur. Karena itu, ketika memandang seorang tokoh yang ditamsilkan sebagai cermin, semestinya kita mengedepankan kearifan dan kebijksanaan ( wisdom). Ada banyak sisi yang dapat menjadi nasihat dan ilmu dari sang tokoh, terlepas dari kelebihan dan kekurangan tokoh itu.

Kita bisa belajar dan menyelami makna yang sangat dalam dari perjalanan hidupnya. Penelusuran tentang riwayat hidupnya dan perenungan pengabdian seorang tokoh menjadi pintu gerbang untuk bersikap arif dan lebih cerdas. Pemahaman tentang kehidupan seseorang menjadi sangat berarti yang dengannya memberi kemampuan untuk melanjutkan kehidupan secara stabil dan seimbang.

Salah seorang tokoh dan ulama kharismatis yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia, umumnya; dan masyarakat Garut, khususnya, pada zamannya adalah Prof. K.H. Anwar Musaddad. Beliau adalah seorang ulama, guru besar, dan mubalig terkenal di dalam dan luar negeri (Timur Tengah dan Asia Tenggara). Beliaulah pendiri dan rektor pertama IAIN Sunan Gunung Djati Bandung yang kini telah berubah nama menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.

Beliau juga termasuk orang yang oleh Allah diberkati umur panjang, tepatnya 90 tahun (pada 3 April 1999) dan wafat pada usia 91 tahun. Beliau adalah orang yang selama hidupnya selalu mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah senyum optimisme. Beliau dikenal sebagai ulama yang mengedepankan gaya hidup wara, zuhud, dan tawadhu—sebuah proses yang menjadi bagian dari dunia sufi.

Beliau sangat suka untuk memperpanjang dan melakukan silaturahim. Beliau menerapkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alayhis Salaam: ” Barangsiapa yang ingin dijembarluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia memperbanyak silaturahim”. Inilah rahasia hidup yang beliau terapkan; dan gaya hidup seperti ini pula yang seharusnya menjadi ibrah dan uswah bagi generasi pelanjutnya; kita semua.

Ada banyak hal yang menonjol dan keistimewaan pada diri beliau. Bahkan, kini, dapat dikatakan bahwa ”keistimewaan” itu merupakan sesuatu yang langka. Di usianya yang lanjut, secara fisik, beliau masih tampak segar-bugar. Tatapan dan sorot matanya sangat tajam. Raut muka yang penuh wibawanya tidak mengurangi kelemah-lembutannya terhadap siapa pun. Secara alami, beliau tidak mengidap penyakit tua (pikun). Padahal, tidak sedikit orang yang satu angkatan atau seusia mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah tampak lebih ringkih dan tampak tidak bergairah karena pikun ( ardzal al-’umur).

Memang, kepikunan merupakan salah satu takdir Allah yang bagi manusia tidak mungkin dapat menghindarinya. “ Sungguh, Kami telah menjadikanmu dari tanah, lalu dari setetes mani, dari segumpal darah, dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna agar Kami menjelaskan kepadamu dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.

Kemudian, Kami keluarkan kamu sebagai bayi, lalu dengan berangsur-angsur sampailah kamu kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan ada pula yang dipanjangkan umurnya sampai pikun supaya ia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dulunya telah diketahuinya” (QS al-Hajj, 5). ”Kelangkaan” lain yang dimilikinya adalah gagasan dan ide brilian yang mengalir deras darinya.

Beliau banyak melahirkan gagasan-gagasan besar ( the graet ideas) yang melintasi ruang dan waktu pada zamannya. Gagasan itu mencakup berbagai hal; dari mulai masalah kebangsaan hingga pengembangan Islam di Indonesia. Beberapa karya beliau sudah banyak disebarkan di seluruh persada Indonesia, bahkan di berbagai kawasan dunia Islam. Murid-muridnya pun tidak melulu dari Indonesia, tetapi juga dari negara-negara Asia Tenggara.

Salah satu gagasan besarnya yang hingga kini masih bertengger adalah lembaga tempat pengaderan ulama dan cendekiawan yang bernama Institut Agama Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Namun, boleh jadi, banyak di antara generasi muda IAIN yang kini menjadi UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini belum pernah melihat wajahnya. Mereka hanya mengenal nama dan jasa-jasanya yang telah menjadi nafas hidup bagi sebagian orang.

Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang mendapatkan buah karya-karya tulisnya dan berusaha mengamalkan muatannya setelah berusaha mempelajarinya. Tidak sedikit pula yang mengenal beliau sebagai ulama penyabar dan mubalig piawai dengan gambar-gambar yang ditayangkan melalui overhead projector. Pemaknaan simbolik dari gambar-gambar tersebut memiliki sarat nilai dan nasihat yang bisa ditangkap oleh para pengamat. Tutur mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah “santai”, tetapi bernas dan cerdas.

Nasihat yang disampaikannya selalu merujuk kembali kepada ayat-ayat Alquran dan Hadis yang memang sangat dibutuhkan sebagai syifa’ batin (psikoterapi) manusia modern.

Ada sejumlah orang yang mengenalnya sebagai penasihat spiritual. Mengapa? Karena beliau banyak memberi jalan keluar dan solusi dari sejumlah permasalahan yang tidak bisa diselesaikan oleh akal modern. Beliau memberikan “ makhrajan“, jalan keluar, dengan izin Allah, dengan memperkaya nasihat melalui petuah dan amalan doa. Tidak terhitung orang yang mengenalnya sebagai kyai politik yang mampu membagi rasa ( the spirit of sharing) ketika pengambilan keputusan tentang sesuatu yang sangat sulit dan dilematis.

Kepekaan batin beliau ini menjadi bukti bahwa beliau adalah orang dengan talenta ruhani yang sangat dalam. Beliau memiliki deep thinking tentang sesuatu.

Inilah yang harus menjadi trigger bagi kita, generasi pelanjut. Oleh para koleganya, K.H. Anwar Musaddad, adalah seorang yang dikenal sebagai seorang kreatif, dan periang. Keseriusannya dalam mengkaji ilmu tidak menghilangkan sikap periangnya karena terbukti beliau dikenal pula sebagai orang yang suka melucu dan membuat orang tertawa, serta gemar bercerita.

Dengan pengetahuannya yang sangat luas dan dalam tentang tanggung jawab pendidikan seorang ayah, beliau membangunkan anak-anaknya ketika waktu fajar tiba untuk bersama-sama ke mesjid, atau berjamaah sholat shubuh. Semua anak-anaknya dididik dengan disiplin tinggi, cinta kasih, dan tingkat kehati-hatian yang tinggi pula tentang penerapan ajaran Islam.

Sedemikian lembutnya, beliau bahkan tidak sungkan membuatkan nasi goreng sendiri untuk kemudian disuapkan kepada anak-anaknya ketika sarapan pagi dengan penuh kasih sayang. Beliau juga tidak segan untuk bermain bersama anak-anak; seperti main “kuda-kudaan” atau main “petak umpet”. Kedekatan batin inilah yang sudah hilang di sebagian hati seorang ayah modern—karena tuntutan pekerjaan yang sedemikian ketat.

Menurut para ahli pendidikan, tempat kelahiran dan orang-orang yang ada di sekitarnya sangat berpengaruh terhadap bentuk dan perkembangan kepribadian seseorang. Demikian pula sistem pendidikan yang dibangun oleh orang tua Kyai Anwar di rumahnya. Kepribadian orang tua pun sangat menentukan kepribadian keturunannya. Tepatlah apa yang dikatakan oleh pepatah Inggris kuno: like son like father.

Jelas sekali, kepribadian anak sangat banyak dipengaruhi oleh kepribadian orang tuanya. Dari orangtualah seorang anak bisa meniru berbagai hal; baik dan buruk. Jelas sekali bahwa pertumbuhan jiwa dan mental anak akan baik jika lingkungannya pun dibentuk sedemikian baik.

Dalam Alquran, fakta empiris tentang kepribadian anak yang baik ini dikisahkan lewat Maryam. Disebutkan, “ Allah mendidik Maryam dengan pendidikan yang baik, dan—untuk tujuan itu—Allah menjadikan Zakaria sebagai pemeliharanya” (QS Ali Imran, 38).

Bagi K.H. Anwar Musaddad, daerah kelahiran dan tempat petualangan ilmu sangat berpengaruh pada formatisasi sikap, perilaku dan karakteristik pribadinya kelak. Beliau lahir di Garut, salah satu daerah kabupaten di Jawa Barat yang berhawa sejuk. Dengan lekukan pegunungan yang melingkari daerah itu. Sekarang, daerah Garut dikenal sebagai kota yang bermoto “INTAN”.

Sejak dulu hingga kini, Garut dikenal sebagai daerah yang memiliki dunia spiritulitas keislaman yang sangat baik. Tidak sedikit pondok pesantren dengan santri dan ajengannya yang memainkan kiprah sangat penting dan menentukan di negeri ini, khususnya di saat perebutan kemerdekaan RI. Meskipun Garut kini sudah cukup ramai, namun, suasana alam pedesaan yang asri, elok, dan permai dengan pemandangannya yang indah masih terlihat jelas.

Garut dengan keindahannya itu merupakan tempat berhawa dingin yang tenang, sejuk, dan segar. Ia seakan-akan menjadi potret kedamaian mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah penghuninya yang penuh keramahan dan sikap saling menghormati.

Kini, tantangan terberat yang dihadapi oleh jajaran birokrasi dan seluruh warga masyarakat Garut, sebagaimana daerah lainnya, adalah tingkat kemiskinan yang masih tinggi. Tingkat pendidikannya masih tergolong rendah. Jumlah penggangguran pun terus bertambah yang jika tidak segera diatasi akan menjadi api dalam sekam bagi persoalan sosial di kemudian hari.

mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah

Di daerah berhawa sejuk itulah K.H. Anwar Musaddad dibesarkan oleh kedua orang tuanya. Bagi K.H. Anwar Musaddad, pengaruh orang tua dan sikapnya terhadap anak-anak berperan besar dalam kehidupan keluarga. Bagaimanapun, peran orang tua berpengaruh kuat terhadap proses mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah pribadi anak-anaknya.

Apa yang diajarkan oleh orang tuanya sejak kecil itulah yang kemudian menjadi dasar bagi perkembangan kepribadiannya. Kondisi inilah yang menjadi salah satu peringatan Allah kepada setiap orang tua. “ Hendaknya takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya.

Karena itu, hendaknya mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar” (QS an-Nisa, 9). Ayat tersebut menjadi “ tadzkirah” bagi setiap orang tua. Sejak kecil, beliau diasuh oleh seorang ibu yang lemah lembut.

Beliau juga sangat saat kepada dan mencintai Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam. Ketaatan dan kecintaannya dibuktikan oleh disiplin tinggi dalam hal ibadah makhdah, seperti shalat. Bahkan, Ibunda K.H. Anwar Musaddad dikenal sebagai ibu yang selalu menjadikan shalat istikharah sebagai jalan konsultasi kepada Allah ketika ia menghadapi persoalan.

Dengan batin yang selalu tersambung dengan Allah itu, beliau melakukan pengasuhan kepada anak-anaknya. Khususnya, kepada K.H. Anwar Musaddad muda. Pengasuhan ini hanya dilakukan seorang diri karena suaminya meninggal. Tidak lama setelah itu, ibundanya tercinta menikah kembali. Ayah tiri beliau juga termasuk orang yang sangat sayang kepadanya. Memang, kedua orang tua beliau termasuk orang yang taat kepada Allah. Ketaatan ini termanifestasikan dalam pergaulannya dengan anak-anaknya. Kendatipun bukan ayah kandung yang mendidik, merawat, dan membimbing beliau—karena meninggal ketika beliau masih kecil; tetapi ayah tiri ini memiliki kepribadian yang sangat baik.

Memang, K.H. Anwar Musaddad tidak dibesarkan di lingkungan keluarga yang biasa mengarahkan anaknya ke pondok pesantren. Tetapi, karena pendekatan cinta dan kasih sayang dalam pendidikan anak, beliau berkembang menjadi anak yang mandiri. Bahwa beliau masih keturunan dari garis Sunan Gunung Jati, itu benar adanya. Garis keturunan wali ini pula yang agaknya memberi pengaruh positif bagi perkembangan kepribadiannya.

Tetapi, orang yang sangat berperan dalam perkembangan karakter dan kepribadiannya adalah ibundanya. Wanita shalehah yang berhati bersih, dan ahli ibadah inilah yang menjadi pencelup jiwanya yang berkarakter. Sebagai wanita yang ahli ibadah, ibunda dari K.H. Anwar Musaddad selalu menjadikan shalat istikharah untuk mendoakan anak-anaknya. Karena jiwa dan hatinya dengan Allah, doanya pun makbul.

Doa permohonan itu biasanya diminta, salah satunya, lewat istikharah. Dengan cinta kasih kedua orang tuanya, K.H. Anwar Musaddad dididik dan dibangun kepribadiannya oleh nilai-nilai kasih sayang yang sangat kental.

Namun, kedua orang tua beliau bukanlah orang yang berlatar belakang pendidikan kepesantrenan—seperti halnya para kyai pada umumnya. Dengan kata lain, K.H. Anwar Musaddad tidak berasal dari keluarga kyai yang memiliki pondok pesantren besar. Meskipun demikian, mereka semua adalah orang-orang yang menjunjung tinggi makna perjuangan dalam hidup. Hasilnya, lahirlah gambaran sosok Anwar Musaddad yang bermental tegar.

Hal ini menjadi bukti yang jelas sekali bahwa sewaktu kecil beliau banyak dipengaruhi oleh kepribadian kedua orang tuanya. Selain orang tua, lingkungan keluarga pun sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan mental dan kepribadiannya. Sulit dipungkiri bahwa kehebatan seseorang dalam keilmuan dan kepribadian diawali oleh sistem pendidikan yang baik yang pernah diterimanya.

Pendidikan merupakan awal yang baik bagi pengembangan kepribadian yang baik. Kepribadian yang baik menjadi awal yang baik pula bagi pembangunan peradaban yang konstruktif.

Kalangan pendidik berkeyakinan bahwa seorang anak akan memiliki kepribadian yang positif jika hatinya sering disentuh oleh kasih sayang yang tulus dan kelemah-lembutan. Sentuhan seperti itulah yang pernah dirasakan oleh K.H. Anwar Musaddad sewaktu kecil, meskipun ia harus dirawat dan dibesarkan bersama seorang ayah tiri. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa kedua orang tua K.H. Anwar Musaddad bukanlah orang yang berlatar-belakang pesantren, meskipun darahnya masih bersambungan dengan Syekh Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati Cirebon.

Itulah sebabnya, kedua orang tua beliau tidak membekali secara langsung K.H. Anwar Musaddad dengan ilmu agama Islam. Beliau hanya diarahkan oleh orang tuanya dalam hal kebaikan secara umum; terutama ibundanya.

Bahwa, kelak di kemudian hari K.H. Anwar Musaddad bersemangat melanglang buana untuk mencari ilmu, bahkan hingga sampai mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah Makkah al-Mukarramah, itu karena semangatnya yang sangat besar. Semagat pencarian ilmu agama yang dilakukan K.H.

Anwar Musaddad hingga ke Makkah itu tidak lama setelah ia keluar dari sekolah Belanda.beliau yakin bahwa, dengan pengembaraan ini, jatidiri dan identitas diri akan ikut terbentuk sebagai seorang the adventure ilmu.

Singkatnya, K.H. Anwar Musaddad ingin menjadi petualng ilmu sebanyak yang mampu diraihnya. Kepada orang-orang yang bermental pengembara ilmu itu, Allah memberi kabar gembira: “ Bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Mereka adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah” (QS at-Taubah, 111-112). Dalam hal ini, K.H. Anwar Musaddad muda berusaha keras menjadi as-saai huun, orang yang melakukan lawatan. Apakah yang dimaksud as-saai huun, orang yang melawat itu? Salah satu makna dari kata ini adalah orang yang melawat untuk mencari ilmu atau berjihad.

Tetapi, ada pula yang menafsirkannya dengan arti orang yang berpuasa. ”Hukum melawat” dan mencari ilmu inilah yang menjadi pendorong pribadi K.H. Anwar Musaddad untuk menemukan kebenaran hakiki lewat pengembaran ilmunya. Terbukti, sesudah selesai menempuh pendidikan di HIS ( Holands Inlandes School) di Garut, MULO ( Meer Uitgebried Lager Onderwys) di Sukabumidan AMS di Jakarta, beliau melanjutkan pendalaman agama dengan bermukim di Mekah.

Disana, beliau mendalami berbagai cabang ilmu agama Islamsekaligus bergaul dengan kebiasaan penduduk bumi para nabi. Beliau juga banyak bergaul dengan tokoh dan ulama dari berbagai belahan dunia, dengan lintas bahasa. Karena kondisi lingkungan yang sangat kondusif bagi pengembangan ilmu, prestasi yang dicapai oleh K.H. Anwar Musaddad pun prestasi yang cemerlang.

Namun, sesuatu hal yang menarik, pada masa mudanya, K.H. Anwar Musaddad justru tidak pernah dikenalkan oleh orang tuanya dengan pondok pesantren. Ini terjadi karena kedua orangtunya bukanlah orang yang berlatar-belakang pesantren, meskipun mereka sangat peduli terhadap pendidikan. Semangatnya ke Makkah dalam pengembaraannya untuk mencari ilmu itu semata-mata karena kehausan dirinya tentang ilmu agama Allah. Di Tanah Suci itu, K.H. Anwar Musaddad terus bersemangat mendalami berbagai ilmu agama Islam.

Beliau otodidak dalam mengembangkan kemampuan berbahasa. Beliau mendisiplinkan diri dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Agaknya, disiplin yang ketat dan pemikiran rasionalnya yang baik itu tidak bisa dilepaskan dari pendidikan yang pernah ditempuhnya di HIS ( Holands Mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah School), MULO ( Meer Uitgebried Lager Onderwys), dan AMS di Jakarta.

Semangatnya mencari ilmu mengantarkan dirinya pada kemauan kuat untuk mendalami dan mempelajari bahasa pengantar ilmu saat itu; terutama bahasa Belanda. Perkenalannya kemudian dengan bahasa Arab karena beliau pun bertekad untuk mendalami sumber-sumber ajaran Islam.

Terbukti kemudian, K.H. Anwar Musaddad mengukir prestasi cemerlang ( achievement of excellent), termasuk dalam penguasaan bahasa asing itu. Dari penguasaan bahasa asing itulah yang kemudian menentukan keberhasilan belajarnya di Makka al-Mukarramah,Saudi Arabia. Prestasi gemilang ( the achievement) tersebut beliau capai dengan tetap tekun, rajin, dan berkemauan keras. Beliau bukan tipe orang yang berharap hasil, tanpa beramal. Karena hal itu merupakan watak seorang pengkhayal. Beliau juga bukan tipe orang pengamal yang hanya berharap kepada amalnya.

Karena hal itu watak orang yang sombong. Beliau adalah orang yang cerdas dalam beramal, dan berharap hanya kepada Allah atas apa saja yang sedang dan akan diamalkannya. Dengan semangat demikian, beliau layak disebut sebagai raajiin, orang yang selalu berharap kepada Allah. Orang yang raajiin adalah orang yang memahami luasnya rahmat Allah. Orang yang raajiin adalah orang yang meyakini luasnya kasih-sayang Allah. Orang yang raajiin adalah orang yang amalnya a hsanu ’amalan.

” Apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah” (QS Ali Imran, 159); ” Kamu mengharapkan sesuatu dari Allah apa yang tidak mereka harapkan” (QS an-Nisa, 104). Nas Alquran itulah yang menjadi sumber semangat beliau. Ya, tetap berharap kepada Allah semestinya menjadi nafas kegiatan seluruh langkah seorang muslim.

Seorang diplomat Jerman yang akhirnya menjadi Muslim yang taat, Murad Wilfried Hoffman pernah berujar: “ Setiap Muslim semestinya bersikap optimis dan menatap hari esok dengan lebih baik” (Hoffman, 2009). Dengan semangat berharap kepada Allah yang sangat kuat seperti itu, ternyata, beliau berhasil menguasai beberapa bahasa asing, terutama bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Belanda.

Kemampuan menguasai bahasa asing yang diraih dari berbagai jenjang pendidikan tersebut, pada akhirnya, memberi kontribusi yang sangat besar bagi keberhasilan belajarnya kemudian tatkala beliau bermukim (tinggal untuk belajar) di Saudi Arabia. Selama hidupnya, beliau adalah orang yang berjuang keras untuk menanamkan makna dan pengertian pandangan hidup Muslim yang benar menurut Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Beliau memahami benar tentang semakin melebarnya kesenjangan pendidikan umat Islam, perselisihan antarsesama golongan dalam agama (Islam) dan agama lainnya.

Seluruh persoalan ini menjadi fokus perhatiannya. Bahkan, beliau berusaha menjadikan masalah itu sebagai lahan jihad dan bentuk pengorbanan nyata yang tinggi untuk segera menuntaskannya.

Karena kecintaannya terhadap ilmu, beliau juga sangat peduli terhadap kehidupan Perguruan Tinggi Islam, Pondok Pesantren, Masjid, dan massa rakyat—umat Islam. Kepeduliannya ( caring) itu dibuktikan dengan semangat dan usahanya yang sekuat tenaga, juga dengan pikirannya selama hidupnya, untuk mencerdaskan bangsa.

Bagi beliau, kualitas sumber daya manusia yang maju akan menjadi penentu bagi kemajuan bangsa. Atas dasar itu, beliau merasa perlu adanya sebuah lembaga yang menagani secara khusus untuk menjawab kelangkaan sumber daya manusia yang berkualitas.

Dalam pengamatan beliau, sejak zaman Belanda, Jepang, hingga zaman kemerdekaan, masalah toleransi beragama terus menjadi masalah utama hubungan antarumat beragama. Kondisi ini terus berlangsung pada masa Orde Lama, Orde Baru, bahkan Orde Reformasi. Bahkan, hingga kini pun toleransi umat beragama masih terus dipertanyakan.

Keadaan inilah yang sejak dulu menjadi perhatian beliau. Beliau terus melakukan berbagai upaya perbaikan. Beliau juga berusaha keras untuk dapat mempromosikan dan menyosialisasikan bahwa konsep Pancasila yang ideal masih harus terus disosialisasikan ke segenap masyarakat. Asal-usul keturunan dan riwayata hidup Anwar Musaddad—yang sebagiannya sudah dipaparkan pada ulasan sebelumnya, sesungguhnya, dapat disimak dari berbagai tulisan yang berceceran.

Sumber utamanya adalah cerita yang disampaikan sendiri oleh keluarga besarnya. Banyak yang telah dituliskan, namun tidak sedikit pula belum terungkap secara utuh tentang kehidupan pribadinya. Itulah sebabnya, riwayat hidup beliau ini harus dilengkapi oleh cerita-cerita dari orang-orang yang dekat dengannya.

Dari cerita keluarga terungkap bahwa, ternyata, Bung Karno, salah seorang mantan Presiden RI I, sempat menjadi murid dan mendapat bimbingan keagamaan dari K.H. Anwar Musaddad. Beliau juga menjadi pembimbing khusus bagi hajinya Bung Karno. Inilah salah satu kisah yang pernah dipublikasikan kepada khalayak. Berdasarkan catatan keluarga, K.H. Anwar Musaddad dikaruniai oleh Allah putra-putri yang banyak. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang berhasil.

Dari mereka, banyak informasi yang dapat digali, bahkan dikembangkan lebih jauh. Sebagaimana masa kecilnya yang dididik dengan disiplin dan cinta, beliau pun menerapkannya kepada anak-anak beliau. Hal ini diutarakan sendiri oleh putra-putri beliau bahwa ayah (baca: Anwar Musaddad) menerapkan pendidikan yang disiplin, ketat, dan penuh cinta.

Segala sesuatunya dipantau dan diawasi secara berkelanjutan, dengan dasar cinta-kasih-sayang dan kehangatan yang sangat kuat. Disiplin dalam hal ketetapan waktu. Ketat dalam hal ketaatan terhadap aturan Allah dan Rasul-Nya.

Cinta dalam hal interaksi antara ayah dan anak. Itu semua dirasakan sedemikian kuat oleh seluruh anak-anaknya. Simaklah sebuah kisah yang sangat menarik tentang sikap beliau terhadap anaknya yang tegas; khususnya yang terkait dengan ajaran Islam. Anak perempuan pertamanya, Yies Sa’diyah, berniat unutk kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada tahun 1962.

Sebenarnya, sebagai orang yang menjunjung tinggi demokrasi, K.H. Anwar Musaddad sudah memberi kesempatan kepada anaknya untuk mengambil keputusan sendiri. Tetapi, ada satu alasan syar’i yang dijunjung tinggi, yaitu masalah menutup aurat bagi anak perempuan. Lalu, beliau meyakinkan anak pertamanya itu untuk mengambil kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Setidaknya, kuliah di kampus yang lingkungannya lebih kondusif dalam hal berpakaian akan lebih aman dan lebih baik daripada kuliah di kampus yang tidak jelas status penutupan auratnya.

Penjelasan ini, agaknya, diterima olehYies Sa’diyah, dan jadilah Yies Sa’diyah kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagai anak pejabat di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yies Sa’diyah mendapatkan fasilitas antarjemput mobil. Di kampus, Yies Sa’diyah adalah seorang aktivis yang sangat aktif. Dia mempunyai banyak kawan, baik lelaki maupun perempuan. Salah satu teman akrabnya adalah lelaki yang sekarang menjadi suaminya, Maksum Zaeladry.

Mengapa Ibu Yies Sya’diyah harus menikah dengan suaminya sekarang? Dituturkan bahwa beliau pernah melihat anak perempuannya, Yies Sya’diyah, sering tampak akrab dengan seorang teman lelakinya yang satu kampus dan satu aktivis.

Kejadian ini akhirnya mendorong K.H. Anwar Musaddad untuk segera memanggil dan mengajak Maksum Zaeladry guna melakukan perbincangan ringan. Di dalam perbincangan itu, K.H.

Anwar Musaddad ingin berkenalan dengan orang tua Maksum Zaeladry, dan kebetulan waktu itu pamannya, Haji Asnawi, sedang berkunjung ke Yogyakarta untuk menengok anak-anaknya yang bersekolah di sana. Esok harinya, pamannyalah yang datang menghadap K.H. Anwar Musaddad. Di hadapan tamunya, beliau meminta kesepakatan untuk menikahkan Maksum dengan putrinya tersebut, sekalipun keduanya masih sangat muda.

Pernikahan ini harus dilakukan untuk menghindari fitnah dan menjaga nama baik keluarga. Akhirnya, terjadilah kesepakatan, dan pernikahan dilangsungkan besok paginya. Ketika beliau mendapatkan protes dari anak perempuannya, beliau menjelaskan bahwa jalan itulah yang akan menyelamatkan sebuah keluarga dari fitnah dan menjaga nama baik keluarga.

Sementara itu, sekalipun sudah menikah mereka tetap dapat melanjutkan kuliah sampai selesai dan kehormatan keluarga tetap terjaga. Sikap seperti ini merupakan cerminan kehati-hatian dalam upaya memproteksi anak perempuan dari kesalahan jalan hidup. Sikap seperti inilah yang semestinya diterapkan oleh orang tua zaman modern ketika pergaulan bebas sudah sedemikian terbuka lebar untuk menghindari perbuatan yang diharamkan oleh ajaran agama.

mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah

Demikianlah sikap ketegasan dan kehati-hatian yang diberlakukan untuk semua putra-putrinya dalam hal menerapkan ajaran Islam dari seorang kyai yang tawadhu dan wara’ ini. Dalam pandangan relasi dan kolega, kepribadian K.H. Anwar Musaddad juga dikenal sebagai orang yang sangat konsisten terhadap ide yang diyakininya. Beliau juga sangat komitmen pada tugas-tugas yang menjadi tanggung-jawabnya. Beliau sangat kuat dalam memegang prinsip, baik dalam urusan keluarga maupun masyarakat.

Selain sebagai seorang pekerja keras, beliau juga tampak sebagai orang yang tidak pernah lelah untuk menjalankan tugas-tugasnya, terutama tugas yang berkaitan dengan keulamaan dan tablig Islam. Bagi beliau, sikap aktif dan dinamis merupakan sebuah keharusan. Beliau ingin menjadi bagian dari “rabbaniyyun”—generasi yang merefleksikan sifat dan nama Tuhan dalam perjuangan hidupnya.

Karakter ideal para pemuda “rabbaniyyun” digambarkan oleh Alquran sebagai “ orang yang tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak pernah lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh” (QS Ali Imran, 146).

Beliau ingin menjadi bagian dari mujahidin—orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam penegakan kebenaran dan pemberian manfaat kepada semesta alam. Beliau yakin bahwa Allah telah dan pasti membedakan derajat antara mujahidin dan qaa’idin seperti firman-Nya di dalam Alquran.” Tidaklah sama antara mukmin yang duduk, qaa’idiin, yang tidak ikut berjuang, yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad, mujaahidiin, di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya.

Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk, qaa’idiin, satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik surga dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang dudukdengan pahala yang besar” (QS an-Nisa, 95).

Selain mobilitas yang tinggi, beliau diikenal juga sebagai orang yang selalu menjauhi dan menghindari barang haram. Inilah karakter seorang yang sangat wara’, berhati-hati. Beliau juga tidak suka membicarakan orang lain ( ghibah); atau membuka aib atau kejelekan orang lain ( tajassus). Beliau selalu istiqamah dalam praktek kehidupan. Dengan pengalaman ruhaninya yang “ seabreg” itu, beliau layak menjadi suri teladan generasi pelanjutnya. Bagi beliau, bersikap wara’, menjauhi ghibah, menepiskan tajassus, dan bersikap istiqamah merupakan keharusan dalam kehidupan seorang muslim.

Tindakan itulah yang mencerahkan dan menjernihkan hatinya. Itulah karakter ’ibaadurrahman. Siapakah dia? “ Orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya” (QS al-Furqan, 72).

Sebagai intelektual dan ulil-albab yang spiritualis, K.H. Anwar Musaddad juga selalu tertarik dan tidak segan untuk menjadi pendengar setia atas keluhan atau pendapat orang lain. Beliau adalah seorang pendengar yang sangat baik. Beliau juga sangat antusias dan peduli untuk mendiskusikan berbagai macam persoalan informasi yang ada, meskipun dari muridnya sendiri. Inilah bukti ketawadhuannya.

Beliau selalu bertanya tentang banyak hal, terutama segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan, perguruan tinggi, dan pondok pesantren. Keinginan ini tidak lepas dari pemikiran beliau yang terus diperjuangkannya dengan sangat gigih.

Semua keputusan yang diambilnya acapkali diawali oleh semangat bermusyawarah untuk bermufakat. Lalu, berdasarkan hasil musyawarah itu, beliau mengambil keputusan dengan bertumpu pada sikap bijaksana yang demokratis. Berkat kegigihan dan pergulatannya dalam menggelindingkan gagasan besarnya tentang perlunya wadah bagi kaderisasi ulama dan ilmuwan-cendekiawan, lahirlah sebuah institut agama bernama IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sejatinya, lembaga dakwah ini dikhususkan sebagai ”kawah candradimuka” untuk mencetak kader ulama-intelektual, dan intelektual-ulama. Kepada generasi pelanjut ini, beliau sanat berharap dapat melanjutkan estafeta pengembangan Islam agar lebih membumi; khususnya di wilayah Jawa Barat. Untuk tujuan itu, beliau dikukuhkan sebagai orang pertama yang membidani perguruan tinggi ini, sekaligus rektor pertamanya.

Kendatipun menjadi orang nomor satu di IAIN Sunan Gunung Jati Bandung, tidak ada sama sekali semangat feodalisme; yang terjadi justru sebaliknya, atensi dan sikap pedulinya semakin ditonjolkan kepada para dosen muda dan mahasiswanya.

Walaupun beliau pada akhirnya pensiun dari dinas kepegawaian, termasuk melepaskan jabatan sebagai Rektor IAIN Sunan Gunung Jati Bandung, namun, sepanjang hidupnya, beliau tidak pernah pensiun, khususnya dalam hal pengembangan dunia pendidikan agama Islam. Ini dibuktikan oleh semangatnya untuk membangun Perguruan Tinggi dan Pondok Pesantren di tempat asal kelahirannya, Garut.

Dari gagasan ini, lahirlah Yayasan al-Musaddadiyah. Hingga kini, Yayasan al-Musaddadiyah berdiri kokoh melayani kebutuhan pendidikan dan pengajaran agama bagi wilayah Garut dan sekitarnya. Sudah bisa dimaklumi oleh orang kebanyakan bahwa K.H. Anwar Musaddad adalah seorang pendidik yang mumpuni.

Beliau juga dikenal sebagai ahli bidang pendidikan Islam. Selain sebagai seorang ulama dan pendidik, beliau juga dianggap seorang pemikir cemerlang karena banyak menguasai teori-teori dan sistem pendidikan tradisional dan modern—sebuah racikan yang sangat indah.

Penguasaan teori ini, boleh jadi, karena beliau pernah terdidik di dunia pendidikan Belanda dengan aneka budaya dan latar belakangnya yang berseberangan dengan akidah muslim. Dari sistem pendidikan ala Belanda, beliau sengat mengedepankan kedisiplinan waktu; konsistensi janji; penghargaan dalam perbedaan.

Bahkan, dalam hal berpakaian pun beliau selalu rapi dan modern. Dari aspek pemahaman Islam, beliau banyak berkenalan kitab-kitab klasik. Pemahaman ini didukung oleh penguasaan beliau tentang bahasa Arab—bahasa pengantar mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah klasik yang menjadi sumber ajaran Islam. Beliau juga mempunyai wawasan keilmuan Islam yang cukup luas di luar spesialisnya, seperti tafsir, hadis, fiqh, akidah, sejarah, filsafat Islam, sosial, politik, perbandingan agama, tasawuf, dan disiplin ilmu agama lainnya.

Beliau juga menguasai pengetahuan umum dan bahasa asing. Keluasan wawasan beliau sudah teruji dalam kenyataan. Seorang tamu datang untuk bersilaturahim kepada beliau. Sang tamu itu berpersepsi bahwa ia akan dikhotbahi dan ditanya tentang berbagai urusan agama. Faktanya, persepsi itu meleset jauh. Mengapa? Beliau justru mengajak berdiskusi dan berdebat dengan tamu tentang khasiat obat-obat kuat bagi kesejatan raga—sesuatu yang barangkali “aneh” dan “mahiwal”.

Ini menjadi bukti bahwa beliau juga ternyata mengetahui seluk beluk obat-obatan. Tamu lain yang datang kepada beliau memiliki persepsi yang sama. Tamu-tamu itu ada yang berlatar belakang dokter, ekonom, politisi, atau pendidik. Uniknya, beliau menyajikan materi pembicaraan yang disesuaikan dengan profesi tamunya. Kejadian ini menunjukkan bahwa sebelum menemui tamunya, beliau sepertinya telah mengetahui lebih dulu kapasitas tamu yang datang itu.

Beliau ingin menggunakan ”bahasa kaum” tamu yang datang. Sebagai politisi senior yang berakhlak, beliau juga memiliki pandangan yang sangat demokratis, dan memahami benar peta jagad perpolitikan yang menjadi trend saat itu. Lalu, beliau menggelar peta politik itu ke pentas nasional.

Pengalaman hidup berpolitik yang piawai itu wajar saja dimiliki karena beliau mengalami hidup beberapa zaman, tepatnya sejak zaman perjuangan politik prakemerdekaan, dan masa perjuangan pada masa pembenahan negara dan rakyat hendak diwujudkan hingga masa mengisi kemerdekaan. Keinginan beliau yang utama adalah terwujudnya negara dan rakyat yang kesejahteraannya paripurna. Beliau sangat sadar, pekerjaan untuk mewujudkan cita-cita itu sangat berat.

Namun, sebagai politisi berakhlak mulia dan berpandangan kuat bahwa hal itu akan terwujud. Beliau juga sadar, sungguhpun sebagai ulama dan mubalig, beliau tetap merasa bahwa pandangan manusia—sepintar apa pun—tetaplah relatif dan nisbi karena kemutlakan hanya ada di sisi Allah.

Sikapnya yang konsisten dalam kebenaran, dan dikemas oleh kelemah-lembutan yang sangat jelas menjadikan posisi beliau laksana magnet penarik. Pendirian beliau yang konsisten itu selalu dapat diterima oleh semua pihak. Dengan perpaduan antara komitmen dan kemasan akhlak seperti inilah, seorang politisi modern seharusnya meniru gaya berpolitik beliau yang santun dan berprinsip.

Ketika zaman reformasi tengah bergulir sosok figur yang seperti beliau inilah yang sangat dibutuhkan. Di lingkungan IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, beliau diakui sebagai perintis dan pendirinya. Sejak 1967, dalam suasana yang sangat sederhana yang diiringi oleh kesulitan dan rintangan saat perintisan dan pendiriannya, beliau tetap komitmen dan konsisten untuk terus mewujudkan lembaga kaderisasi ulama dan cendekiawan ini.

Kini, kondisi yang berbeda sudah dapat dirasakan. Setelah lebih dari tiga puluh satu tahun, berbagai kemajuan sudah berhasil diraih. Dalam hal ini, beliau telah meletakkan dasar cita-cita Islam yang sangat jelas yang terwujud dalam sebuah institusi pendidikan.

Institusi ini diharapkan dapat mewujudkan amalan Islam dalam pola pikir masyarakat Jawa Barat yang maju. Melalui peran sentral yang dimainkan oleh lembaga ini, warga masyarakat juga diharapkan mulai berani menegakkan kebenaran, siap untuk berbeda pendapat, dan siap pula untuk bersikap terbuka terhadap dunia luar bagi kemajuan bersama.

K.H. Anwar Musaddad berhasil meletakkan fundamen Islam yang menjadi visi-misi IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pada awalnya, perintisan pun mengalami berbagai kendala, hambatan, tantangan, dan kekurangan. Namun, gagasan beliau dilanjutkan oleh generasi penerus. Secara umum, cikal bakal perkembangan kelembagaan UIN Sunan Gunung Djati berawal dari PTAIN pada 1951-1960; yang biasa disebut periode perintisan. Pendirian PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) merupakan pengembangan—atau lebih tepatnya Penegerian Fakultas Agama UII—yang diatur oleh Peraturan Presiden No.

34 1950 tertanggal 14 Agustus 1950. Peresmian PTAIN ini dilaksanakan pada 26 September 1951 Pada periode ini terjadi peleburan PTAIN (didirikan berdasarkan Peraturan Presiden No. 34/1950) dan ADIA (didirikan berdasarkan Penetapan Menteri Agama No. 1/1957) seiring dengan diterbitkannya Peraturan Presiden No. 11/1960, tertanggal 9 Mei 1960 tentang Pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dengan nama al-Jami’ah al-Islamiyah al-Hukumiyah).

Pada periode Pembangunan Landasan Kelembagaan (1960-1972), ada dua IAIN yang secara resmi mulai digunakan pada 24 Agustus 1960. Dalam hal ini, ada dua IAIN yang berdiri, pertama berpusat di Yogyakarta, dan kedua berpusat di Jakarta berdasarkan Keputusan Menteri Agama No.

49/1963, tertanggal 25 Pebruari 1963. IAIN yang berpusat di Yogyakarta diberi nama “Sunan Kalijaga”; sedangkan IAIN berpusat di Jakarta diberi nama “Syarif Hidayatullah”. Pada mulanya, K.H.Anwar Musaddad aktif mengajar dan mentransfer ilmu di IAIN “Sunan Kalijaga” Yogyakarta.

Di sisi lain, jiwa kesundaannya telah mendorongnya untuk membangun IAIN yang sama di Jawa Barat. Berkat perjuangannya yang tidak mengenal lelah, akhirnya, IAIN yang berpusat di Bandung pun mulai digagas untuk didirikan. Kegigihan K.H. Anwar Musaddad pun mendapat jawaban simpatik dari Menteri Agama RI dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Agama No. 57/1968 tertanggal 28 Maret 1968. Dengan keputusan ini pula IAIN di Bandung resmi berdiri dengan nama “IAIN Sunan Gunung Djati” Bandung.

Pada periode mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah, IAIN Sunan Gunung Djati dipimpin secara berturut-turut sejak masa awal pendiriannya adalah K.H.Anwar Musaddad (1968-1972), Kolonel Abjan Sulaiman (1972-1973), Drs. H. Shalahuddin Sanusi (1973-1977), Drs.

H.O. Djauharuddin AR (1977-1986), Prof. Dr. H.Rachmat Djatnika (dua periode 1986-1995), dan Prof. Dr. H. Endang Soetari AD, MS (1995-2003). Kini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung sudah dan sedang mengalami banyak perubahan karena sudah menjadi lembaga pendidikan tinggi dan ilmiah yang tangguh, dan sederajat dengan lembaga pendidikan dan ilmiah terkemuka lainnya sesuai dengan harapan umat. Sebagai ulama dan guru besar yang banyak terlibat dalam dunia pendidikan tinggi, K.H.

Anwar Musaddad ikut pula membuka era baru, yaitu upaya integrasi model perguruan tinggi dan pondok pesantren. Integrasi ini dianggap sangat penting karena sistem pendidikan dan kelembagaannya merupakan mekanisme alokasi posisional yang sangat menentukan bagi peningkatan kualitas sumber daya umat. Pendirian Yayasan al-Musadaddiyah pun tidak lepas dari idealisme itu.

Sistem pendidikan dan kelembagaan itu ternyata mendapatkan kepercayaan penuh dari masyarakat. Tidak sedikit dari mereka yang menyalurkan anak-anaknya ke lembaga tersebut dan bangga menjadi bagian dari keluarga besar al-Musaddadiyah Garut. Di usia senja saat mendirikan Yayasan al-Musadaddiyah itu bukanlah penghalang yang berarti bagi beliau. Sungguhpun usia beliau mulai senja, beliau tetap bersemangat membakar jiwa juang generasi muda melalui lembaga yang didirikannya. Agaknya, beliau disemangati oleh ayat Alquran: ” Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang.

Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan, jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu orang kafir” (QS al-Anfal, 65). Gagasan beliau tentang integrasi tersebut relevan dengan kenyataan pendidikan yang kini dirasakan oleh masyarakat luas. Dalam hal ini, Perguruan Tinggi Islam Musaddadiyah hendak diposisikan sebagai perintis konsep integrasi itu.

Realitas ini menunjukkan beberapa hal berikut. • Sistem pendidikan dan kelembagaan yang digagas dan ditancapkan itu merupakan cerminan keadaan masyarakat. Keadaan masyarakat yang berlapis-lapis memantul dalam kenyataan bahwa pendidikan perguruan tinggi dan pondok pesantren harus merupakan satu-kesatuan.

Kini, jalur institusional itu sudah berjalan dan mendapatkan kepercayaan publik. Setiap tahun ajaran baru, sebagian masyarakat mengantarkan putra-putrinya untuk masuk lembaga Pendidikan dari PAUD hingga Perguruan Tinggi Musaddadiyah. • Lembaga Sekolah, Perguruan Tinggi dan Pondok Pesantren Musaddadiyah yang berkemampuan besar untuk menyalurkan lulusannya sesuai dengan harapan masyarakat.

Keberadaan dan kehadirannya sangat kuat. Alokasi sistem yang dicanangkan K.H. Anwar Musaddad ini merujuk pada dalil: semakin besar sekolah, perguruan tinggi mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah pondok pesantren mengantarkan peserta didik (mahasiswa) menduduki posisi kemasyarakatan yang terpandang, semakin besar pula arus peserta didik memasuki sekolah, perguruan tinggi dan pesantren itu.

• Orientasi alokasi posisional itu berdampak pada munculnya dorongan kuat di kalangan anggota masyarakat untuk memperoleh tingkat pendidikan setinggi-tingginya. Terbukti pula bahwa Universitas Garut (Uniga) telah menampakkan hubungan sinergi dengan cita-ideal sistem pendidikan yang digagas oleh K.H.

Anwar Musaddad. Ini terjadi karena Perguruan Tinggi Musaddadiyah sudah mulai memasuki lembaga sosial ekonomi. Orientasi alokasi posisional itu juga mendorong masyarakat untuk mendudukkan sekolah, perguruan tinggi dan pesantren atas dasar taraf dan kualitas sistem pendidikannya. Jadi, tolok ukur masyarakat terhadap sekolah, perguruan tinggi, dan pesantern adalah kualitas output yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan. Bertolak dari kenyataan sistem pendidikan yang dirintis oleh K.H.

Anwar Musaddad itu, posisi dan peran lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi Musaddadiyah sudah diakui oleh berbagai kalangan masyarakat. Keberadaan dan kehadiran K.H. Anwar Musaddad di bidang pendidikan Islam dalam bentuk pondok pesantren-madrasah-sekolah dan perguruan tinggi yang terintegrasi dalam satu kompleks ( boarding school) hampir mendekati harapan umat. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Perguruan Tinggi Musaddadiyah digambarkan sebagai model dan kiblat pembaharuan sistem pendidikan a la Timur Tengah, Eropa, Amerika, dan Asia.

Perpaduan itu sedikit demi sedikit mulai terpola dengan jelas. Penyesuaian itu tidak sekadar program perubahan dan kebijaksanaan, tetapi juga kecenderungan yang terjadi dan cepat direspon dengan baik.

mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah

Kecepatan merespon kecenderungan itu semakin membuktikan bahwa ajaran Islam yang sarat nilai pendidikan keilmuan harus diaktualisasikan dalam praktek formal dan nonformal sesegera mungkin, tidak boleh berlambat-lambat; don’t delay thing that we can do it now. Dalam hal ini, di dalam setiap kesempatan, K.H. Anwar Musaddad selalu dan terus menyandarkan langkahnya pada sebuah Hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam: ” Barangsiapa yang menghendaki dunia, ia harus berilmu.

Barangsiapa yang menghendaki akhirat, ia harus berilmu. Barangsiapa yang menghendaki keduanya, ia harus menggunakan ilmunya”. Matan Hadis ini, oleh K.H. Anwar Musaddad, dijadikan sebagai tema sentral dalam praktek sistem pendidikannya.

Kedalaman makna Hadis itu telah mendorong K.H. Anwar Musaddad untuk mempublikasikannya agar umat dapat memimpin dan mengendalikan percaturan dan perubahan dunia dengan ilmu dan iman.

Setelah resmi menjabat sebagai Rektor IAIN Sunan Gunung Djati (1967-1972), banyak terobosan baru yang dilakukan oleh K.H. Anwar Musaddad di Perguruan Tinggi. Jujur saja, upaya seriusnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan madrasah, pondok pesantren, dan perguruan tinggi Islam waktu itu belum dipahami sebagai model alternatif. Padahal, arah sistem yang digagasnya sudah cukup jelas, yaitu menempatkan sistem pendidikan madrasah dalam konteks kemasyarakatan yang lebih luas.

Memang, waktu yang dibutuhkan untuk memantapkan sistem pendidikan integrasi itu sangat lama. Biasanya, setelah output yang dihasilkannya sangat jelas, masyarakat pun mulai merespons sehingga banyak peserta didik yang dapat menimba ilmu di lingkungan madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi yang dibinanya meneruskan pelajarannya ke jenjang tinggi, baik IAIN maupun perguruan tinggi umum.

Model inilah yang kini lazim disebut dengan istilah boarding school. Sekolah berasrama yang kini semakin dibutuhkan oleh umat Islam. Di bidang dakwah, beliau juga sering menganjurkan kepada para dai agar terus meng up-grade diri dengan menambah berbagai macam ilmu, dan keterampilan. Lingkungan madrasah dan pondok pesantren harus mulai diciptakan suasana keilmuan yang kondusif. Setiap santri tidak boleh hanya menguasai satu bahasa. Bahasa Arab, misalnya.

Tetapi, ia juga harus mengusai satu atau dua atau lebih bahasa lainnya. Pun, semangat meneliti dan mencari ilmu bagi kecapakan hidup ( lifeskill) setiap santri di lingkungan kampus yang digagasnya harus terus ditumbuh-kembangkan.

Di bidang pendidikan, K.H. Anwar Musaddad menjadikan dialog antara Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam dan Mu’adz bin Jalal sebagai teladan. Beliau adalah seorang guru besar yang tetap belajar sendiri secara otodidak. Baginya, belajar itu harus sepanjang hayat ( longlife education).

Ternyata, beliau ia berhasil dengan sangat gemilang. Memang, masalah ini jarang terjadi, sungguhpun bukan sesuatu yang mustahil. Secara umum, manusia belajar melalui jenjang pendidikan formal. Tidak sedikit orang yang berhenti belajar hanya karena ia telah lulus dari sekolah formalnya.

Tidak sedikit pula, seseorang yang meraih gelar akademik lantas berhenti belajar. Bahkan, tidak sedikit orang yang ingin meraih gelar profesor, tetapi setelah itu, ia berhenti berkarya. Profesor ini laksana orang yang duduk di mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah gading, dan tidak pernah turun menangani permasalahan yang dihadapi oleh umatnya. Persoalan ini pula yang menjadi perhatian beliau. Hal lain yang menjadi perhatiannya berkenaan dengan dunia pendidikan adalah kualitas pendidikan yang masih jauh dari harapan.

Keprihatinan ini wajar mengingat beliau sangat memahami dunia pendidikan karena kariernya di bidang pendidikan dimulai dari titik nol. Sejak muda hingga menjelang wafatnya, beliau tetap sangat peduli terhadap dunia pendidikan. Beliau mengisi karier pada usia senjanya dengan membenahi lembaga yang ada di bawah naungan Yayasan al-Musaddadiyah. Dengan semangatnya, beliau mengembangkann yayasan ini dengan membangun berbagai sarana pendidikan yang cukup memadai di kota kelahirannya, Garut.

Salah satu keprihatinan yang menjadi perhatian utama K.H. Anwar Musaddad di bidang pendidikan adalah keberagaman kualitas mahasiswa yang notabene beragama Islam. Menurut pengamatan K.H. Anwar Musaddad, hampir separuh mahasiswa barunya belum biasa dan belum bisa mendirikan shalat dan belum bisa membaca Alquran dengan sempurna (tartil). Menghadapi realitas ini, apa yang harus diajarkan oleh perguruan tinggi terhadap mahasiswa dengan kualitas seperti ini?

Materi yang diajarkan tentu harus sesuai dengan tingkat usia mahasiswa. Bagaimana dengan pelajaran shalat dan membaca Alquran? Dua pelajaran itu harus sudah diselesaikan di tingkat pendidikan dasar. Jadi, menurut tingkatannya, pelajaran itu tidak cocok lagi bila diajarkan di perguruan tinggi karena materi yang dibutuhkan oleh mahasiswa adalah pengembangan, pengertian, dan wawasan ( world view) pengetahuan dalam disiplin ilmu yang dipelajarinya.

Realitas ini acapkali menimbulkan kesenjangan di kalangan intelektual tentang pengetahuan umum dan agama. Tingkat pengetahuan umum level mahasiswa memang cukup memadai di dalam disiplin ilmunya.

Tetapi, pengetahuan agama, bahkan level ibtidaiyah pun masih belum tuntas. Realitas inilah yang mendapat sorotan tajam dari K.H. Anwar Musaddad. Menurut beliau, para mahasiswa muslim tidak mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah menafaskan agama dengan disiplin ilmu atau pengetahuan lain di luar ilmu agama. Lebih parah lagi, mahasiswa umum pun tidak sedikit terjebak dalam melihat pengetahuan umum dan agama secara dikhotomis.

Menurut K.H. Anwar Musaddad, cara pandang seperti inilah yang menjadi penyebab umat Islam selalu terbelakang. Berkaitan dengan itu, perlu pemikiran utuh tentang upaya pengembangan pendidikan informal dan nonformal secara terpadu karena pendidikanlah yang menjadi pemegang peranan penting.

Salah satunya adalah kajian Alquran yang intensif. Karena itu, menurutnya, setiap anggota keluarga harus diseru untuk belajar Alquran dan mendalami muatannya secara terus menerus tanpa henti. Gagasan lain yang sangat brilian adalah tentang peranan mahasiswa muslim.

Menurut beliau, sebelum diberi gelar dan berpredikat sarjana, setiap mahasiswa harus melakukan tugas KKN (kuliah kerja nyata) atau semacamnya. Mereka harus terjun ke lapangan sosial atau dunia empiris untuk membuktikan bahwa mereka adalah pejuang muslim yang tangguh.

Mereka harus dapat mengislamkan orang Islam, bahkan mengislamkan nonmuslim sekalipun. Setelah kemampuan itu terbukti, ia dapat dilantik sebagai sarjana muslim. Dengan demikian, mahasiswa lulusan perguruan tinggi Islam lebih dari sekadar kualitas pendidikan mahasiswa. Pola integrasi antara ilmu teoretis dan praktis ini disampaikan oleh K.H.

Anwar Musaddad dalam Seminar Hukum Islam dan Pengembangan Masyarakat pada 1987. Bagi beliau, aktif dan bergelut secara langsung dalam kegiatan pendidikan merupakan sesuatu yang sangat nikmat karena semanga itu sudah menjadi panggilan jiwanya. Itulah sebabnya, tugasnya sebagai seorang pendidik memberi kebahagiaan tersendiri. Namun, diakuinya, puncak kebahagiaan yang dirasakannya adalah ketika gagasan tentang pendirian Perguruan Tinggi Islam al-Musaddadiyah berhasil didirikan olehnya bersama anak-anaknya.

Beliau berharap, seluruh lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan al-Musaddadiyah itu menjadi lembaga pendidikan terbaik dengan menghilangkan dikhotomi antara ilmu umum dan agama. Secara khusus, beliau berharap, Perguruan Tinggi al-Musaddadiyah menjadi universitas yang memiliki kualifikasi, kekhasan dan keistimewaan yang patut dibanggakan. Melalui Yayasan Pendidikan al-Musaddadiyah ini, beliau mengamanatkan banyak hal untuk mewujudkan cita-cita terwujudnya universitas yang memiliki kualifikasi, kekhasan dan keistimewaan yang patut dibanggakan itu.

Beliau segera memerintahkan kepada seluruh keluarga besar yayasan untuk berupaya meningkatkan ruhul Islam, status sekolah, jumlah fakultas dan jurusan, serta meningkatkan kampus dan kesejahteraan karyawan. Tindakan nyata yang dilakukannya adalah membenahi sistem dan sarana pendidikan, khusunya di lingkungan Pondok Pesantren al-Musaddadiyah. Sarana itu, antara lain, membangun kampus yang meliputi ruang kuliah, perpustakaan, tempat ibadah dan perkantoran.

Pembangunan ini didahulukan karena ketersediaan sarana sangat membantu kelancaran perkuliahan. Suasana kehidupan kampus yang mampu mendorong semangat belajar mahasiswa pun akan tercipta. Pembangunan ini berhasil diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat, tepatnya selama K.H.

Anwar Musaddad tinggal di Garut. Banyak donator dari umat Islam nasional dan Brunei Darussalam yang memberikan bantuan. Penyelesaian bangunan kampus yang menjadi hardware Perguruan Pondok Pesantren al-Musaddadiyah menjadi perhatian khusus K.H. Anwar Musaddad. Setelah mempersiapkan segala sesuatu secara seimbang, perhatian beliau diarahkan kepada kualitas dosen pengajar.

Untuk itu, beliau segera merancang gagasan tentang pengiriman dosen untuk kuliah lagi. Sebanyak mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah dosen dikirim ke pendidikan pascasarjana untuk dapat meningkatkan kualitas keilmuwaannya. Mereka didorong untuk mengikuti berbagai penataran penulisan dan kegiatan lain yang searah dengan pengembangan ilmu. Gagasan lain yang digelindingkannya adalah pembukaan fakultas pascasarjana di Pondok Pesantren al-Musaddadiyah sebagai bagian dari pendidikan pascasarjana dari konsorsium perguruan tinggi swasta.

Para mahasiswa semua jurusan harus mendapatkan pendidikan sains dan filsafat. Berbagai persiapan untuk meningkatkan kualitas software terus dilakukan. Jelas sekali, dasar-dasar kebijakan untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan ( software) ideal ini telah diletakkan oleh K.H.

Anwar Musaddad pada periode pertama. Kini, perkembangan dan kemajuan al-Musaddadiyah sudah mulai tampak ke permukaan. Posisi dan peran Pondok Pesantren al-Musaddadiyah di dunia pendidikan secara bertahap juga telah memperoleh pengakuan positif dari umat.

Ini terlihat dari semakin banyak peminat kalangan generasi muda yang menuntut ilmu di Perguruan Tinggi al-Musaddadiyah dari berbagai kota di Jawa Barat.

Selain itu, status akreditasi Program Studi yang dibina oleh Perguruan Tinggi Musaddadiyah terus meningkat pula. Kini, STAI Musaddadiyah sudah memperoleh status akreditasi B. Demikian juga STTG juga telah memperoleh status Akreditasi B.

Itu semua menjadi bukti optimisme yang menjadi dasar perjuangan K.H. Anwar Musaddad. Kemajuan yang dicapai oleh Lembaga Pendidikan dan Pondok Pesantren al-Musaddadiyah menjadi bukti akumulasi dari hasil kiprah dan kerja keras seluruh keluarga besar Yayasan Pendidikan al-Musaddadiyah dengan K.H. Anwar Musaddad menjadi figur sentralnya. Berbagai kemajuan dan hasil yang dicapai itu menumbuhkan motivasi yang sangat kuat, sekaligus tanggung jawab yang berat. Disadari sepenuhnya bahwa semua hasil tersebut tidak diperoleh secara instant.

Perolehannya memerlukan kekuatan hati dan ketangguhan jiwa dengan sikap optimis yang selalu hadir di dalam hati para pelakunya. Dalam hal ini, kekuatan optimis itu terletak pada keyakinannya bahwa Allah pasti memberi jalan kemudahan baginya.

” Kalian berharap kepada Allah apa yang tidak mereka harapkan” (QS an-Nisa, 104). Agar prestasi yang ditorehkan itu terus berlanjut, upaya mempertahankan dan melakukan perbaikan kualitas terus dilakukan. Semangat inilah yang menjadi ikon dalam diri K.H. Anwar Musaddad dan bagi Yayasan Pendidikan al-Musaddadiyah.

Disadari sepenuhnya pula bahwa keberhasilan yang mereka capai tidak dalam waktu yang terlalu lama. Ini menjadi prestasi tersendiri.

Bagi K.H. Anwar Musaddad, lulusan IAIN dan Perguruan al-Musaddadiyah harus dapat memelihara pergaulan dan interaksi dengan dunia luar. Pola interaksi itu harus diikat oleh kesamaan akidah sehingga mereka menjadi satu keluarga yang kokoh dalam suka dan duka. Beliau bertekad, semua lulusan IAIN dan Perguruan Tinggi Musaddadiyah harus mampu memberantas masalah besar yang dihadapi umat: kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan umat, serta pengangguran. Itulah prioritas utama program pendidikan yang digagasnya.

Tekad itu timbul karena rasa tanggungjawabnya yang sangat besar. Ia menjadi bagian yang tak terpisahkan dari umat yang telah memperoleh kesempatan pendidikan tinggi. Perlu disadari, pendidikan di Pondok Pesanten al-Musaddadiyah dapat terlaksana dengan kesuksesan yang membanggakan karena dukungan umat, baik bantuan dana maupun daya. Karena itu, beliau memberi semangat kepada setiap muridnya, berbuatlah sebanyak-banyaknya untuk dan demi kepentingan umat dan bangsa.

Beliau juga mengingatkan kepada setiap sarjana—baik dari Perguruan Tinggi al-Musaddadiyah maupun IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dan perguruan tinggi lainnya—untuk tidak menambah beban masyarakat yang sedang dipersulit oleh keadaan ekonomi.

Sebaliknya, mereka harus terus mengembangkan kreativitas dan inovasi atas dasar kesadaran bahwa sarjana diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya.

Itulah keinginan utama beliau yang disampaikan dalam berbagai kesempatan. Sebagai bagian dari Keluarga Besar IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, K.H. Anwar Musaddad terus menumbuhkan rasa setia kawan kepada sesama civitas academica.

Beliau selalu menjungjung tinggi citra almamater. Beliau juga memiliki semangat bekerja sama yang sangat baik untuk meraih sukses, bahkan memajukan lembaga pendidikan umat itu. Beliau berharap, rasa setiakawan dapat terus dipelihara dengan lebih baik melalui berbagai media silaturahim yang sehat dan dinamis. Menurut beliau, kesibukan pribadi setiap anggota keluarga besar IAIN SGD Bandung tidak boleh menjadi alasan bagi menurunnya semangat bersilaturahim antar mantan rektor, kecuali untuk sesuatu kegiatan yang bersifat resmi.

Hal lain yang menjadi teladan dari seorang bernama K.H. Anwar Musaddad adalah kebiasaan beliau yang terus menggeluti ilmu. Semangat ini telah membentuk sikap mental yang selalu berorientasi jauh ke depan. Dalam bahasa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam, beliau termasuk orang dengan kategori al-kayyis. Seorang sahabat bertanya, apakah al-kayyis itu? Rasulullah Saw. menjawab: ” Al-kayyis itu adalah orang yang mengetahui kekurangan diri, dan selalu beramal untuk kehidupan setelah mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah.

Dengan semangat bervisi, K.H. Anwar Musaddad terus berikhtiar untuk memotivasi generasi mahasiswa agar membekali diri dengan perbendaharan ilmu yang memadai. Mereka harus terus melakukan upgrade atas diri, ilmu dan kepribadiannya. Apa yang dilakukan beliau menjadi bukti bahwa beliau adalah seorang guru besar yang sangat dekat dengan muridnya. Beliau tidak pernah lelah untuk memacu dan membakar semangat anak-didiknya. Konsep ini mirip dengan konsep yang pernah dikembangkan oleh CEO General Electric, Jack Welch, sekian tahun kemudian: ” Spark your spirit”.

Beliau selalu mengingatkan siapa pun yang dekat dengannya untuk terus mengisi dan menjawab tantangan hari depan dengan penuh optimisme. Sungguh, tugas seorang pemimpin dan mubalig memang menguras tenaga, waktu, dan pikiran. Tanpa terasa, usia K.H. Anwar Musaddad semakin menuju ketuaan yang sempurna. Secara umum, orang seusianya harus sudah beristirahat dan menikmati sisa-sisa umurnya dengan tugas pekerjaan yang ringan. Di sisi lain, kegiatan keumatan terus menyita waktu dan menguras tenaganya.

Waktu pun terus berjalan. Usia pun terus beranjak hingga menjelang 90 tahun. Bagi orang lain, usia sesepuh ini tentu menjadi beban yang bertambah berat. Tetapi, dengan izin Allah, subhanallah, pada usia sepuh, seorang K.H.

Anwar Musaddad tidak tampak merasakan beban berat. Bahkan, keadaan yang tampak ringan-ringan saja. Kondisi keceriaan wajah ( wujuuhun na’imah) ini terjadi, agaknya, karena kenikmatan ruhani beliau dalam berhubungan dengan Allah. Beliau sangat komitmen terhadap pengembangan dan peningkatan kualitas umat Islam.

Komitmennya sulit diukur. Hampir seluruh kehidupan K.H. Anwar Musaddad diamalbaktikan bagi kehidupan umat. Memang, beliau pernah berperan aktif di legislatif dan pemerintahan. Tetapi, sepertinya, panggilan keumatan ini tidak pernah terpisahkan dari kehidupannya. Bahkan, ia menyatu dalam seluruh kegiatannya. Boleh jadi, kita merasa kesulitan untuk menilai pribadinya, apakah kelebihan itu ada pada pribadinya, sebagai birokrat, aktivis kemasyarakatan ataukah karena kepemimpinannya.

Setiap tahun, jadwal menjadi khatib Idul Fitri atau Idul Adha terus dilakoninya, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan, khususnya kota Bandung, Jawa Barat. Beliau juga mendapat undangan rutin untuk berdakwah di beberapa negara Asia Tenggara, khususnya Brunei Darussalam dan Malaysia. Banyak masyarakat yang merindukan kehadirannya agar dapat meraih nasihat-nasihatnya lewat kuliah Subuh. Permintaan ceramah selalu dipenuhinya dengan tulus ikhlas. Tidak ada beban yang mengganjal di hati.

Tidak ada pula harapan ( vested interest) yang terselip di kalbu. Semuanya dilakukan semata-mata karena Allah. Baginya, “wajah Allah” adalah target utama perjuangannya. Subhanallah. Semua tugas dilaksanakannya dengan performa terbaik. Baginya, itu semua merupakan kewajiban untuk dapat melayani umat manusia. Beliau ingin menunaikan tugas kekhalifahan di bumi ini sebaik mungkin.

Beliau ingin mendapatkan gelar sebagai khalifatullah fil ardh dari Allah. Pelaksanan tugas kekhalifahan itulah yang tampaknya menjadi bagian esensial dan substansial dalam kehidupan K.H. Anwar Musaddad. Hidupnya berpegang teguh dan berlandaskan pada kerangka rujukan ( term of reference) yang sudah digariskan Allah dalam Alquran dan Assunnah. Menurut K.H.

Anwar Musaddad, manusia tidak dapat melepaskan diri dari tugasnya sebagai makhluk mulia ( a hsanu taqwim). Dakwah yang menjadi tugas semua muslim akan membentangkan tentang sesuatu yang jelas-benar dan sesuatu yang jelas-salah di mata umat. Tanpa dakwah, kehidupan yang gelap tidak akan bisa diubah menjadi terang. Kehidupan fi azh-zhulumaat akan terus dominan jika semangat berdakwah sudah mati dari hati umat Islam.

Sebuah hadis menyebutkan, orang yang seumur hidupnya tidak berjuang atau tidak pernah ada bersitan hati untuk berjuang demi Islam, kematiannya memiliki sebagian munafik. Manifestasi dan komitmennya terhadap dakwah tidak hanya dibuktikan oleh K.H. Anwar Musaddad lewat ceramah dan khotbah yang disampaikannya di berbagai tempat.

Baginya, menerima atau menyampaikan ilmu merupakan dua kewajiban generasi rabbany. Itulah sebabnya, dengan penuh kerendahan hati, K.H. Anwar Musaddad selalu siap selalu menerima ceramah dan khotbah orang lain, tanpa merasa risih sedikit pun.

mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah

” Generasi rabbany karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan tetap mempelajarinya” (QS Ali Imran, 79). Beliau sadar, setiap manusia pasti memiliki kekurangan atau kekhilafan dan kelebihan. Kekurangan dan kelebihan inilah yang selalu dihayati oleh K.H.

Anwar Musaddad. Baginya, kekurangan dan kelebihan itu mutlak adanya pada diri manusia. Kebenaran mutlak itu hanya di sisi Allah, Rabbul ’Alamiin. ” Al- haqq min rabbik, kebenaran itu dari Allah” kata Alquran (QS al-Kahf, 29). Atas dasar itu, K.H. Anwar Musaddad tidak segan-segan untuk belajar kepada siapa pun atau apa pun.

K.H. Anwar Musaddad selalu menyempatkan hadir untuk mendengarkan ceramah atau taklim di lingkungan pondoknya. Aktivitas menyerap ilmu ini lebih intensif dilakukan pada akhir usia senjanya.

Sikap tawadhu inilah yang menjadi daya pemikat umatnya. Terbukti, kehadiran Mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah. Anwar Musaddad di tengah-tengah umat selalu diharapkan dan ditunggu. Umat merasa kehangatan dan ketenangan jika K.H. Anwar Musaddad berada di tengah-tengah mereka. Terbukti, hampir di setiap acara, formal atau nonformal, kehadirannya selalu ditunggu.

Acara taklim tidak mantap, jika beliau tidak membacakan doa. Doa yang dipanjatkannya adalah doa seorang hamba Allah yang berhati bersih. Lafal doa itu menjadi pemantap batin, pengisi kekosongan jiwa. Realitas ini bukan hanya karena beliau ulama senior, atau menyandang predikat guru besar, atau mantan rektor sebagai jabatan akademik-terpenting yang pernah didudukinya, tetapi karena akhlak, kharisma, integritas, dan komitmennya terhadap kebangkitan umat.

Bagi beliau, boleh jadi, sesuatu yang dialami terasa pahit. Tetapi, untuk kepentingan umat dan tegaknya kebenaran, sesuatu yang terasa pahit itu akan tetap dilaksanakannya. Beliau tidak pernah mundur sejengkal pun untuk melakukannya. Sebaliknya, sesuatu yang menurut bahasa lahir terasa baik dan nikmat, tetapi nurani meyakini bahwa sesuatu itu salah, karena merugikan umat, beliau tidak segan-segan untuk menjauhinya. Tindakan ini beliau lakukan untuk menjaga hal-ihwal ruhaninya agar tetap mantap bersama Allah.

Amal-amal nyata yang terbaik inilah yang menjadi credit point bagi para muridnya. Itulah sebabnya, tidaklah pujian yang berlebihan jika kemudian ada salah seorang murid akrabnya yang pernah berkata bahwa K.H. Anwar Musaddad adalah ulama dan pemimpin yang teguh dan konsisten dengan pendiriannya. Disebut teguh dan konsisten karena beliau selalu berpihak pada kebenaran.

mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah

Beliau tidak pernah peduli dengan setumpuk penawaran materi yang menggiurkan hatinya. Baginya, semua tawaran yang tidak diridhai Allah pasti merugikan dan mencelakakan diri dan umat. Baginya, amal apa pun yang dilakukan, di mana pun, untuk apa pun, dan kapan pun harus dalam rangka ibadah kepada Allah. Dakwah yang efektif adalah dakwah teladan, termasuk dalam berkeluarga. Itulah sebabnya, K.H. Anwar Musaddad berprinsip bahwa keluarga harus dimantapkan lebih dulu. Mengapa?

Karena dakwah tidak bisa dilepaskan dengan umat yang paling dekat bernama keluarga. Keluarga merupakan objek dakwah ( mad’u) pertama yang harus didahulukan daripada selainnya.

mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah

Beliau merujuk pada nash Alquran: ” Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS asy-Syu’ara, 214). Sulit dipungkiri pula bahwa keluarga yang hancur dan berantakan akan sangat berpengaruh kepada pelaksanaan tugas-tugas dakwah. Karena itu, beliau selalu memulai dari lingkungan keluarganya sendiri. ” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahrim, 6).

Meskipun kesibukan dan jadwal kegiatannya penuh, beliau tetap mengajar putra-putrinya untuk belajar Alquran, Hadis, dan Fiqh secara langsung.

mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah

Beliau bahkan menjelaskan pemahaman kandungannya. Semangat belajar selalu ditumbuhkan kepada batin putra-putirnya. Suasana damai dan harmonis pun betul-betul terasa di dalam keluarga K.H.

Anwar Musaddad. Semua persoalan yang muncul selalu diselesaikannya dengan baik dan penuh pengertian. Tak seorang pun anak-anaknya yang menyakitinya, dan disakiti olehnya. Semua putra-putirnya merasa puas dan lega hati sedemikian nyaman. Bagi beliau, keharmonisan keluarga merupakan kunci utama bagi keharmonisan diri dan kesuksesan dakwah.

Inilah prinsip yang selalu dipegangnya. Beliau bercermin dan belajar dari keluarga Ibrahim al-Hanif Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam yang oleh Allah disebut sebagai imam bagi manusia. Bagi beliau, kesejalanan ide, keselerasan pikiran, dan kesatuan hati antara ayah, ibu dan anak merupakan pendukung utama kesuksesan dakwah. Prinsip ini menjadi kunci utama dan doktrin perjalanan hidup K.H.

Anwar Musaddad, dan beliau telah berhasil membuktikannya. Beliau sadar benar bahwa, seorang nabi sekalipun, ketika dakwahnya tidak didukung oleh istri dan anak-anaknya, ia pasti menemui kegagalan. Apa yang dialami oleh Nabi Nuh ‘Alayhis Salam dan Nabi Luth ‘Alayhis Salam merupakan sebuah pelajaran berharga tentang masalah itu.

Konsep tasamuh dan tawasuth pun menjadi “ruhul hayat” bagi K.H. Anwar Musaddad.

mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah

Konsep ini tercermin dalam perilaku beliau. Perilaku ini berperan penting dalam segala aktivitas kehidupan beliau. Terbukti, ketika para pengurus NU merasakan keresah-gelisahan karena ada banyak tantangan yang menghadang di depan mata, yakni ketika ada upaya mengorganisasikan diri dan mencari solusi terbaik atas perbedaan pandangan, beliau menjadi air penyejuk perbedaan itu.

Jelas sekali, K.H. Anwar Musaddad berhasil menjadi pemersatu berbagai perbedaan di dalam tubuh organisasi NU. Kelembutan sikap dalam memberi nasifat, tetapi ketegasan dalam menentang kemungkaran menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi siapa pun yang pernah bertemu dengannya. Perjalanan hidup K.H. Anwar Musaddad adalah perwujudan dan sosok yang relatif utuh dan komprehensif.

Beliau seorang figur ulama yang tawadhu, zuhud, dan wara’; sekaligus seorang intelektual. Beliau tampil dan berperan aktif ketika umat menghadapi keadaan dan masa yang sangat kritis. Dalam keadaan normal, beliau menjadi seorang penghibur orang yang sedang susah dan gundah-gulana laksana seorang nabi sebagai al-mubasysyir.

Jiwanya yang tulus-ikhlas dalam melakukan setiap perbuatan menjadi mata-air penyejuk kegersangan umat yang diterpa berbagai masalah.

Baginya, setiap perbuatan di jalan Allah adalah ibadah. Semangat inilah yang menjadikan beliau selalu merasa aman bersama Allah, amanahum min khauf, Allahlah yang memberi mereka rasa aman.

Dapatkah kita menjejaki perjalanan panjang ulama-intelektual ini?
 uswatun hasanah artinya via 31.ayobai.org Sebagian orang mungkin bertanya-tanya, uswatun hasanah artinya? Mengapa Rasulullah diberikan gelar tersebut? Agar kamu mengetahui dan wawasanmu bertambah, yuk simak penjelasannya pada artikel ini.

Seringkali kita mendengar orang berkata " uswatun khasanah". Uswatun hasanah artinya teladan yang baik. Panutan dan teladan umat Islam adalah Nabi Muhammad SAW. Seorang laki-laki pilihan Allah SWT yang diutus untuk menyampaikan ajaran yang benar yaitu Agama Islam. Oleh sebab itu, kita sebagai muslim harus meniru dan mencontoh kepribadian beliau.

Berikut penjelasan lengkap mengapa Rasulullah diberi gelar uswatun hasanah. Baca Juga : • Kisah Para Nabi dan Rasul Beserta Mukjizatnya • Ditanya Siapa Wanita Terbaik di Dunia? Jawaban Rasulullah Bikin Hati Bergetar • Alasan Rasulullah Membangun Masjid Nabawi di Madinah Bukan di Kota Lain • Rasulullah Sangat Marah Kepada Orangtua yang Suka Melakukan 4 Hal ini Kepada Anaknya • Peristiwa Menakjubkan Menjelang Kelahiran Rasulullah, 12 Kejadian Ini Menjadi Bukti Rasulullah Begitu Mulia Rasulullah SAW sebagai Uswatun Hasanah Uswatun hasanah adalah salah satu sebutan dari Allah kepada Muhammad Rasulullah.

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al Quran surat Al Ahzab [33] ayat 21 : لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرً Artinya : "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." Juga dalam surat Al Qalam [68] ayat 4 : وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ Artinya : "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung" Demikian juga, petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik petunjuk.

mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah

Rasulullah. bersabda : فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ Artinya : "Sesungguhnya sebaik-baik berita adalah kitab Allâh, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru (dalam agama), dan semua bid’ah adalah kesesatan." [ HR.Muslim no.

864 ]. Meskipun surat Al Ahzab [33] ayat 21 turun ketika di dalam keadaan perang Ahzab, akan tetapi hukumnya umum meliputi keadaan kapan saja dan dalam hal apa saja.  ilustrasi uswatun hasanah artinya via alamuslim.com Atas dasar itu, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata tentang ayat ini : “Ayat yang mulia ini merupakan pondasi/dalil yang agung dalam meneladani Rasulullah dalam semua perkataan, perbuatan, dan keadaan beliau.

Orang-orang diperintahkan meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Ahzab, dalam kesabaran, usaha bersabar, istiqomah, perjuangan, dan penantian beliau terhadap pertolongan dari Rabbnya. Semoga sholawat dan salam selalu dilimpahkan kepada beliau sampai hari Pembalasan”. [ Tafsir Ibnu Katsir, 6/391, penerbit: Daru Thayyibah ] Demikian juga Syaikh Abdur Rahman bin Nâshir as Sa’di rahimahullah menjelaskan kaedah meneladani Rasulullah ini dengan menyatakan : “Para Ulama ushul (fiqih) berdalil (menggunakan) dengan ayat ini untuk berhujjah dengan perbuatan-perbuatan Rasulullah, dan bahwa (hukum asal) umat beliau adalah meneladani (beliau) dalam semua hukum, kecuali perkara perkara yang ditunjukkan oleh dalil syari’at sebagai kekhususan bagi beliau.

Kemudian uswah (teladan) itu ada dua: uswah hasanah (teladan yang baik) dan uswah sayyi`ah (teladan yang buruk). Uswah hasanah (teladan yang baik) ada pada diri Rasulullah. Karena orang yang meneladani beliau adalah orang yang menapaki jalan yang akan menghantarkan menuju kemuliaan dari Allah Azza wa Jalladan itu adalah shirathal mustaqim (jalan yang lurus). Adapun meneladani (mengikuti orang) selain beliau, jika menyelisihi beliau, maka dia adalah uswah sayyi`ah (teladan yang buruk).

Sebagaimana perkataan orang-orang kafir ketika diajak oleh para rasul untuk meneladani mereka, (namun orang-orang kafir itu mengatakan) : dalam surat Az Zukhruf [43] ayat 22 : إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ Artinya : "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka." Orang yang mengikuti uswah hasanah (Rasulullah) dan mendapatkan taufik ini hanyalah orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat.

Karena keimanan yang ada padanya, demikian juga rasa takut kepada Allah, dan mengharapkan pahalaNya, serta takut terhadap siksaNya, (semua itu) mendorongnya untuk meneladani Rasulullah”. [ Tafsir Karimir Rahman, surat al Ahzab /33 : 21 ]. Perilaku Rasulullah adalah Uswah Hasanah Kaedah Rasulullah adalah uswah hasanah, kaedah yang agung yang dipratekkan oleh tokoh tokoh umat ini, termasuk oleh Rasulullah sendiri.

Marilah kita perhatikan hadits berikut ini, bagaimana beliau menegur salah seorang Sahabat beliau dengan kaedah agung ini : عَنْ عُرْوَةَ قَالَ:” دَخَلَتِ امْرَأَةُ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ – أَحْسِبُ اسْمَهَا خَوْلَةَ بِنْتَ حَكِيمٍ – عَلَى عَائِشَةَ وَهِىَ بَاذَّةُ الْهَيْئَةِ فَسَأَلَتْهَا:”مَا شَأْنُكِ ؟”.

فَقَالَتْ :”زَوْجِى يَقُومُ اللَّيْلَ وَيَصُومُ النَّهَارَ”. فَدَخَلَ mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah – n – فَذَكَرَتْ عَائِشَةُ ذَلِكَ لَهُ فَلَقِىَ رَسُولُ اللَّهِ – n – عُثْمَانَ فَقَالَ :”يَا عُثْمَانُ إِنَّ الرَّهْبَانِيَّةَ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْنَا أَفَمَا لَكَ فِىَّ أُسْوَةٌ فَوَاللَّهِ إِنِّى أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَحْفَظُكُمْ لِحُدُودِهِ “. Dari ‘Urwah, dia berkata, “Istri ‘Utsman bin Mazh’un, menurutku namanya adalah Khaulah binti Hakim- menemui ‘Aisyah dengan pakaian seadanya.

Aisyah bertanya kepadanya, “Kenapa engkau ini?” Dia menjawab, “Suamiku selalu (sibuk) sholat malam dan berpuasa di siang hari”. Kemudian Rasulullah masuk, ‘Aisyah pun menyampaikan hal itu kepada beliau. Kemudian Rasulullah menemui ‘Utsman seraya berkata, “‘Utsman, sesungguhnya kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah pada diriku terdapat uswah (teladan) bagimu?

Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan orang yang paling menjaga hukum-hukumNya di antara kamu’." [ HR. Ahmad dan dishahîhkan oleh al-Albâni dalam Silsilah ash-Shahîhah no.1782 ]  ilustrasi uswatun hasanah artinya via youtube.com Allahu Akbar, alangkah lembutnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur Sahabat ini, “Utsman, sesungguhnya kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah pada diriku terdapat uswah (teladan) bagimu?” Wahai orang-orang yang menelantarkan keluarganya dengan alasan dakwah dan memikirkan umat, tidakkah pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat uswah (teladan) bagi kalian?” Wahai, orang-orang yang membuat-buat ibadah sendiri, tanpa tuntunan Rasulullah, dengan mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah mengikuti seorang ustadz, kyai dan figur tertentu saja, tidakkah pada diri Rasulullah terdapat uswah (teladan) bagi kalian?” Marilah kita perhatikan kejadian berikut ini : Sahabat ‘Ubaid bin Khaalid al-Muharibi Radhiyallahu anhu berkata : إِنِّي لَبِسُوقِ ذِي الْمَجَازِ عَلَيَّ بُرْدَةٌ لِي مَلْحَاءُ أَسْحَبُهَا قَالَ فَطَعَنَنِي رَجُلٌ بِمِخْصَرَةٍ فَقَالَ ارْفَعْ إِزَارَكَ فَإِنَّهُ أَبْقَى وَأَنْقَى( أَمَا لَكَ فِيَّ أُسْوَةٌ ) فَنَظَرْتُ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرْتُ فَإِذَا إِزَارُهُ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ "Aku berada di pasar Dzil Majaz mengenakan burdah (semacam selimut) bergaris-garis hitam dan putih milikku dengan menyeretnya.

Lalu seorang laki-laki menekanku dengan tongkatnya, sambil berkata : “Angkatlah sarungmu, itu (akan membuatnya) lebih awet dan lebih bersih.

(Tidakkah pada diriku terdapat teladan baik bagimu?)”. Lalu aku melihatnya, ternyata dia (lelaki itu) adalah Rasulullah, lalu aku memandang ternyata sarung beliau sampai pertengahan kedua betis beliau. " [ HR. Ahmad, no:22007; tambahan dalam kurung riwayat at Tirmidzi dalam asy Syamail ] Maka, orang orang yang sengaja memanjangkan sarung atau celananya melebihi mata kaki, dengan alasan tidak sombong, dengan dalih Sahabat Abu Bakar Radhiyallahu anhu juga melakukannya tanpa kesombongan, tidakkah pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat uswah (teladan) bagi mereka?” Padahal, Sahabat Abu Bakar Radhiyallahu anhu selalu menjaga diri untuk tidak isbal, beliau tidak sengaja melakukan isbal.

Oleh karenanya, mendapatkan rekomendasi dari Rasulullah bahwa dia tidak melakukannya karena sombong! Ibnu ‘Umar berkata : مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي إِزَارِي اسْتِرْخَاءٌ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ ارْفَعْ إِزَارَكَ فَرَفَعْتُهُ ثُمَّ قَالَ زِدْ فَزِدْتُ فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ إِلَى أَيْنَ فَقَالَ أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ Artinya : "Aku melewati Rasulullah, sedangkan sarungku turun, maka beliau bersabda : “Wahai ‘Abdullâh, angkatlah sarungmu!”, maka aku mengangkatnya.".

Lalu beliau mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah : “Tambahlah (Naikkan lagi)!” Maka aku menambahkan (menaikkannya lagi). Setelah itu aku selalu menjaganya.” Sebagian orang bertanya: “Sampai mana?” Ibnu ‘Umar berkata: “Pertengahan betis”.

[ HR. Muslim, no: 2086. Riyadhus Shalihin, no: 800 ] Pada riwayat Imam Ahmad rahimahullah disebutkan, Zaid bin Aslam berkata : bahwa Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu bercerita, “Bahwa Rasulullah melihatnya memakai sarung baru Kemudian beliau bertanya : “Siapa ini?” Aku menjawab: “’Abdullah”.

Beliau bersabda : “Jika engkau ‘Abdullah, maka angkatlah sarungmu!”, maka aku mengangkatnya. K emudian beliau bersabda; “Tambahlah (Naikkan lagi)!” Maka aku menaikkannya sehingga sampai pertengahan betis”. Kemudian beliau menoleh kepada Abu Bakar sambil bersabda : “Barangsiapa menyeret pakaiannya karena ke sombongan, Allah tidak mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah melihatnya pada hari Kiamat”.

Lalu Abu Bakar berkata: “Sesungguhnya terkadang sarungku turun”. Maka Nabi bersabda : “Engkau tidak termasuk mereka”. [ HR. Ahmad, no: 6056 ]. Namun Anda, wahai orang yang memanjangkan celana sampai menutupi mata kaki, sengaja melakukannya, tidak menjaga dengan menaikkannya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memberikan rekomendasi kepada Anda bahwa anda tidak sombong!

Jika Anda beranggapan diri Anda seperti Abu Bakar Radhiyallahu anhu insan terbaik dari umat ini setelah Nabinya maka alangkah besarnya kesombongan Anda!

Tidakkah Anda mengetahui bahwa isbal merupakan kesombongan atau sarana menuju kesombongan. Marilah kita perhatikan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Jabir bin Sulaim Radhyiallahu anhu di bawah ini : mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ Artinya : "Angkatlah sarungmu sampai pertengahan betis, jika engkau enggan maka sampai kedua mata kaki.

Janganlah engkau menjulurkan kain sarung, karena sesungguhnya itu termasuk kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan." [HR.Abu Dâwud, no: 4084, dishahîhkan oleh Syaikh al Albani] Baca Juga : Manfaat Ilmiah Memakai Sarung untuk Kesuburan yang Belum Banyak Orang Menyadari Praktek Sahabat Nabi Terhadap Kaidah di atas Para Sahabat Radhiyallahu anhu juga mengikuti pemahaman Rasulullah, berhujjah dengan ayat yang artinya “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”.

Contoh bagaimana mereka mengaplikasikan kaedah agung ini sangat banyak, berikut beberapa permisalannya. Marilah kita amati sikap ‘Abdullah bin ‘Umar Radhayallahu anhu yang tertuang dalam riwayat berikut : عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّهُ قَالَ: ” كُنْتُ أَسِيرُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بِطَرِيقِ مَكَّةَ “. فَقَالَ سَعِيدٌ : “فَلَمَّا خَشِيتُ الصُّبْحَ نَزَلْتُ فَأَوْتَرْتُ ، ثُمَّ لَحِقْتُهُ”. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ : “أَيْنَ كُنْتَ ؟”.

فَقُلْتُ : “خَشِيتُ الصُّبْحَ ، فَنَزَلْتُ فَأَوْتَرْتُ “. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ:” أَلَيْسَ لَكَ فِى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ ؟” فَقُلْتُ :”بَلَى وَاللَّهِ “. قَالَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُوتِرُ عَلَى الْبَعِيرِ”. "Dari Sa’id bin Yasar, dia berkata, “(Pernah) aku pergi bersama ‘Abdullah bin ‘Umar di suatu jalan di kota Mekah. Ketika aku khawatir (masuk waktu) Subuh, aku turun (dari ontaku, lalu aku mengerjakan shalat witir, kemudian aku menyusulnya”.

‘Abdullah bin ‘Umar bertanya, ‘Dimana saja engkau?’ Aku menjawab,”‘Aku khawatir (masuk waktu) Subuh, aku turun (dari ontaku) untuk mengerjakan sholat witir”. ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Tidakkah pada diri Rasulullah terdapat uswah (teladan baik) bagimu?” Maka aku menjawab, ‘Ya, demi Allah’. ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah biasa mengerjakan sholat witir di atas onta’." [ HR. al-Bukhari, no. 999 ]  ilustrasi uswatun hasanah artinya via indowarta.com Contoh lain, berkait dengan ketulusan Sahabat Nabi menerima kebenaran ketika diingatkan dengan kaedah yang agung ini.

Karena kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti. Lihatlah kisah yang menakjubkan di bawah ini : عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ طَافَ مَعَ مُعَاوِيَةَ بِالْبَيْتِ فَجَعَلَ مُعَاوِيَةُ يَسْتَلِمُ الْأَرْكَانَ كُلَّهَا فَقَالَ لَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ لِمَ تَسْتَلِمُ هَذَيْنِ الرُّكْنَيْنِ وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَلِمُهُمَا فَقَالَ مُعَاوِيَةُ لَيْسَ شَيْءٌ مِنْ الْبَيْتِ مَهْجُورًا فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ { لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ } فَقَالَ مُعَاوِيَةُ صَدَقْتَ.

"Dari Ibnu ‘Abbas, dia mengerjakan tawaf di Baitullah bersama Mu’awiyah. Lalu Mu’awiyah mulai menyentuh semua sudutnya (sudut Kabah). Maka Ibnu Abbas berkata kepadanya, “Mengapa Anda menyentuh dua pojok (Syami) ini, padahal Rasulullah tidak pernah menyentuh keduanya?”.

Mu’awiyah menjawab, “Tidak ada sesuatu (pojok) dari Baitullah ini yang ditinggalkan!”. Maka Ibnu ‘Abbas berkata kepadanya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”. Maka Mu’awiyah berkata, “Engkau benar!”. " [ HR. Ahmad, no. 1877 ]. Mu’awiyah bin Abu Sufyan Radhiyallahu anhu, salah seorang Sahabat penulis wahyu di masa kenabian, penguasa di zamannya, raja pertama dan terbaik di antara umat ini. Beliau tidak malu menerima kebenaran dari Sahabat yang usianya di bawahnya, yaitu Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, Karena memang “sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagi orang beriman”, Maka selayaknya kita tidak malu untuk terbuka menerima kepada kebenaran.

Karena berpaling dari kesalahan untuk kembali kepada kebenaran adalah keutamaan, bukan kehinaan. Praktek Ulama Terhadap Kaidah di Atas Bukan hanya generasi Sahabat saja yang menjunjung tinggi keteladanan Rasulullah dalam kehidupan mereka, generasi generasi berikutnya pun juga berjalan di atas jalan mereka (para Sahabat) yang baik itu.

Marilah kita perhatikan bagaimana sikap Imam Malik bin Anas Radhiyallahu anhu, terhadap orang yang menyelisihi petunjuk Rasulullah dalam kisah berikut ini : Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata : “Imam Mâlik rahimahullah didatangi seorang lelaki, lalu bertanya : “Wahai Abu Abdullah, dari mana aku memulai ihrom?” Beliau menjawab : “Dari Dzul Hulaifah, tempat berihrom Rasulullah”.

Lelaki tadi berkata : “Aku ingin berihrom dari masjid di dekat kubur (saja)”. Imam Malik rahimahullah berkata : “Jangan engkau lakukan (itu), aku khawatir musibah akan menimpamu”. Dia menjawab: “Musibah apa?” Imam Malik rahimahullah berkata : “Apakah ada musibah yang lebih besar dari anggapanmu bahwa engkau meraih keutamaan yang tidak dapat diraih oleh Rasulullah?

Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman : فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-nya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." ( Al Quran surat An Nuur [24] ayat 63 ).

[ Riwayat al Khathib dalam al Faqih wal Mutafaqqih, 1/148; dll. Lihat ‘Ilmu Ushûl Bida’, hlm. 72 ] Semoga Allah Azza wa Jalla merahmati Imam Malik rahimahullah, yang telah memberikan contoh mulia dalam menasehati umat agar tetap mengikuti teladan terbaik mereka. Dengan sedikit penjelasan dan contoh-contoh di atas, maka sepantasnya kita bertanya kepada diri kita, “Sudahkan kita menjadikan Rasulullah sebagai uswah hasanah bagi kita, dalam seluruh sisi kehidupan?”. Jika ya, maka marilah berharap dan memohon Allah Azza wa Jalla mencurahkan rahmat-Nya dan balasan baik di akherat.

Jika tidak (belum), maka kita perlu memperbaiki diri kita ke arah yang lebih baik. Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus. Baca Juga : Kisah Rasulullah, Ketika Abu Bakar Membacakan Sebuah Ayat Saat Wafatnya Nabi Demikian ulasan tentang uswatun khasanah artinya dalam Al-Quran, gelar yang diberikan kepada Rasulullah. Dengan adanya artikel ini, semoga kita bisa mengamalkan perilaku Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari dan mendapatkan ridho Allah.

Wallahu a’lamMEMAHAMI MAKNA NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM ADALAH USWAH HASANAH Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari Sesungguhnya nikmat Allâh Azza wa Jalla kepada manusia sangat banyak. Di antara nikmat besar yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada para hamba-Nya, adalah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh manusia.

Allâh Azza wa Jalla berfirman: لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ Sesungguhnya Allâh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allâh mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allâh, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur`ân) dan al-Hikmah (Sunnah).

Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata [Ali-‘Imrân/3: 164] Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah insan yang terbaik, memiliki budi pekerti yang paling luhur, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla : وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung [al-Qalam/68:4] Demikian juga, petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik petunjuk. Beliau n bersabda: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ Sesungguhnya sebaik-baik berita adalah kitab Allâh, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru (dalam agama), dan semua bid’ah adalah kesesatan.

[HR.Muslim no. 864] USWAH HASANAH ADALAH NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM Dengan penjelasan di atas, maka dalam pandangan seorang Mukmin Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik teladan (uswah hasanah) dalam semua keadaan beliau, kecuali dalam hukum-hukum yang memang dikhususkan bagi beliau n semata.

Allâh Azza wa Jalla berfirman menjelaskan kaedah yang sangat agung ini dalam firman-Nya: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allâh [al-Ahzâb/33:21] Walaupun ayat ini turun ketika di dalam keadaan perang Ahzâb, akan tetapi hukumnya umum meliputi keadaan kapan saja dan dalam hal apa saja.

Atas dasar itu, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Ayat yang mulia ini merupakan fondasi/dalil yang agung dalam meneladani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua perkataan, perbuatan, dan keadaan beliau.

Orang-orang diperintahkan meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Ahzâb, dalam kesabaran, usaha bersabar, istiqomah, perjuangan, dan penantian beliau terhadap pertolongan dari Rabbnya. Semoga sholawat dan salam selalu dilimpahkan kepada beliau sampai hari Pembalasan”. [Tafsir Ibnu Katsir, 6/391, penerbit: Daru Thayyibah] Demikian juga Syaikh Abdur Rahmân bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan kaedah menaladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dengan menyatakan, “Para Ulama ushul (fiqih) berdalil (menggunakan) dengan ayat ini untuk berhujjah dengan perbuatan-perbuatan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bahwa (hukum asal) umat beliau adalah meneladani (beliau) dalam semua hukum, kecuali perkara-perkara yang ditunjukkan oleh dalil syari’at sebagai kekhususan bagi beliau.

Kemudian uswah (teladan) itu ada dua: uswah hasanah (teladan yang baik) dan uswah sayyi`ah (teladan yang buruk). Uswah hasanah (teladan yang baik) ada pada diri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena orang yang meneladani beliau adalah orang yang menapaki jalan yang akan menghantarkan menuju kemuliaan dari Allâh Azza wa Jalladan itu adalah shirâthâl mustaqîm (jalan yang lurus). Adapun meneladani (mengikuti orang) selain beliau, jika menyelisihi beliau, maka dia adalah uswah sayyi`ah (teladan yang buruk). Sebagaimana perkataan orang-orang kafir ketika diajak oleh para rasul untuk meneladani mereka, (namun orang-orang kafir itu mengatakan): إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.

[Az-Zukhruf/43:22] Orang yang mengikuti uswah hasanah (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dan mendapatkan taufik ini hanyalah orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari Kiamat. Karena keimanan yang ada padanya, demikian juga rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalladan mengharapkan pahala-Nya, serta takut terhadap siksa-Nya, (semua itu) mendorongnya untuk meneladani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”.

[Taisîr Karîmir Rahmân, surat al-Ahzâb/33:21] PRAKTEK NYATA KAEDAH ‘NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM ADALAH USWAH HASANAH’ Kaedah ‘Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah uswah hasanah’ adalah kaedah yang agung yang dipratekkan oleh tokoh-tokoh umat ini, termasuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Marilah kita perhatikan hadits berikut ini, bagaimana beliau menegur salah seorang Sahabat beliau dengan kaedah agung ini: عَنْ عُرْوَةَ قَالَ:” دَخَلَتِ امْرَأَةُ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ – أَحْسِبُ اسْمَهَا خَوْلَةَ بِنْتَ حَكِيمٍ – عَلَى عَائِشَةَ وَهِىَ بَاذَّةُ الْهَيْئَةِ فَسَأَلَتْهَا:”مَا شَأْنُكِ ؟”.

فَقَالَتْ :”زَوْجِى يَقُومُ اللَّيْلَ وَيَصُومُ النَّهَارَ”. فَدَخَلَ النَّبِىُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَذَكَرَتْ عَائِشَةُ ذَلِكَ لَهُ فَلَقِىَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عُثْمَانَ فَقَالَ :”يَا عُثْمَانُ إِنَّ الرَّهْبَانِيَّةَ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْنَا أَفَمَا لَكَ فِىَّ أُسْوَةٌ فَوَاللَّهِ إِنِّى أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَحْفَظُكُمْ لِحُدُودِهِ “.

Baca Juga Larangan Ghuluw Dan Berlebih-Lebihan Dalam Memuji Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Dari ‘Urwah, dia berkata, “Istri ‘Utsmân bin Mazh’ûn – menurutku namanya adalah Khaulah binti Hakîm- menemui ‘Aisyah dengan pakaian seadanya. ‘Aisyah bertanya kepadanya, “Kenapa engkau ini?” Dia menjawab, “Suamiku selalu (sibuk) sholat malam dan berpuasa di siang hari”.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk, ‘Aisyah pun menyampaikan hal itu kepada beliau. Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui ‘Utsmân seraya berkata, “‘Utsmân, sesungguhnya kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah pada diriku terdapat uswah (teladan) bagimu? Demi Allâh, aku adalah orang yang paling takut kepada Allâh dan orang yang paling menjaga hukum-hukumNya di antara kamu’.

[HR. Ahmad dan dishahîhkan oleh al-Albâni dalam Silsilah ash-Shahîhah no.1782] Allâhu Akbar, alangkah lembutnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur Sahabat ini, “Utsmân, sesungguhnya kependetaan tidak diwajibkan atas kita. Tidakkah pada diriku terdapat uswah (teladan) bagimu?” Wahai orang-orang yang menelantarkan keluarganya dengan alasan dakwah dan memikirkan umat, tidakkah pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat uswah (teladan) bagi kalian?” Wahai, orang-orang yang membuat-buat ibadah sendiri, tanpa tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdengan hanya mengikuti seorang ustadz, kyai dan figur tertentu saja, tidakkah pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat uswah (teladan) bagi kalian?” Marilah kita perhatikan kejadian berikut ini: Sahabat ‘Ubaid bin Khâalid al-Muharibi Radhiyallahu anhu berkata: إِنِّي لَبِسُوقِ ذِي الْمَجَازِ عَلَيَّ بُرْدَةٌ لِي مَلْحَاءُ أَسْحَبُهَا قَالَ فَطَعَنَنِي رَجُلٌ بِمِخْصَرَةٍ فَقَالَ ارْفَعْ إِزَارَكَ فَإِنَّهُ أَبْقَى وَأَنْقَى( أَمَا لَكَ فِيَّ أُسْوَةٌ ) فَنَظَرْتُ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرْتُ فَإِذَا إِزَارُهُ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ Aku berada di pasar Dzil Majâz mengenakan burdah (semacam selimut) bergaris-garis hitam dan putih milikku dengan menyeretnya.

Lalu seorang laki-laki menekanku dengan tongkatnya, sambil berkata: “Angkatlah sarungmu, itu (akan membuatnya) lebih awet dan lebih bersih. (Tidakkah pada diriku terdapat teladan baik bagimu?)”.

Lalu aku melihatnya, ternyata dia (lelaki itu) adalah Rasûlullâh, lalu aku memandang ternyata sarung beliau sampai pertengahan kedua betis beliau.

[HR. Ahmad, no:22007; tambahan dalam kurung riwayat at-Tirmidzi dalam asy-Syamâil] Maka, orang-orang yang sengaja memanjangkan sarung atau celananya melebihi mata kaki, dengan alasan tidak sombong, dengan dalih Sahabat Abu Bakar Radhiyallahu anhu juga melakukannya tanpa kesombongan, tidakkah pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat uswah (teladan) bagi mereka?” Padahal, Sahabat Abu Bakar Radhiyallahu anhu selalu menjaga diri untuk tidak isbal, beliau tidak sengaja melakukan isbal.

Oleh karenanya, mendapatkan rekomendasi dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia tidak melakukannya karena sombong! Ibnu ‘Umar berkata: مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي إِزَارِي اسْتِرْخَاءٌ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ ارْفَعْ إِزَارَكَ فَرَفَعْتُهُ ثُمَّ قَالَ زِدْ فَزِدْتُ فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ إِلَى أَيْنَ فَقَالَ أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ Aku melewati Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallamsedangkan sarungku turun, maka beliau bersabda: “Wahai ‘Abdullâh, angkatlah sarungmu!”, maka aku mengangkatnya.

Lalu beliau bersabda; “Tambahlah (Naikkan lagi)!” Maka aku menambahkan (menaikkannya lagi). Setelah itu aku selalu menjaganya.” Sebagian orang bertanya: “Sampai mana?” Ibnu ‘Umar berkata: “Pertengahan betis”. [HR. Muslim, no: 2086. Riyâdhus Shâlihîn, no: 800] Pada riwayat Imam Ahmad rahimahullah disebutkan, Zaid bin Mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah berkata: bahwa Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu bercerita, “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya memakai sarung baru, kemudian beliau bertanya: “Siapa ini?” Aku menjawab: “’Abdullâh”.

Beliau bersabda: “Jika engkau ‘Abdullâh, maka angkatlah sarungmu!”, maka aku mengangkatnya. Kemudian beliau bersabda; “Tambahlah (Naikkan lagi)!” Maka aku menaikkannya sehingga sampai pertengahan betis”.

Kemudian beliau menoleh kepada Abu Bakar sambil bersabda: “Barangsiapa menyeret pakaiannya karena ke sombongan, Allâh tidak akan melihatnya pada hari Kiamat”. Lalu Abu Bakar berkata: “Sesungguhnya terkadang sarungku turun”.

Maka Nabi bersabda: “Engkau tidak termasuk mereka”. [HR. Ahmad, no: 6056] Namun Anda, wahai orang yang memanjangkan celana sampai menutupi mata kaki, sengaja melakukannya, tidak menjaga dengan menaikkannya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memberikan rekomendasi kepada Anda bahwa anda tidak sombong!

Jika Anda beranggapan diri Anda seperti Abu Bakar Radhiyallahu anhu – insan terbaik dari umat ini setelah Nabinya- maka alangkah besarnya kesombongan Anda! Tidakkah Anda mengetahui bahwa isbal merupakan kesombongan atau sarana menuju kesombongan. Marilah kita perhatikan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Jâbir bin Sulaim Radhyiallahu anhu di bawah ini: وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ Angkatlah sarungmu sampai pertengahan betis, jika engkau enggan maka sampai kedua mata kaki.

Janganlah engkau menjulurkan kain sarung, karena sesungguhnya itu termasuk kesombongan, dan Allâh tidak menyukai kesombongan. [HR.Abu Dâwud, no: 4084, dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni] PRAKTEK SAHABAT NABI TERHADAP KAEDAH DI ATAS Para Sahabat Radhiyallahu anhu juga mengikuti pemahaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamberhujjah dengan ayat yang artinya “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu”. Contoh bagaimana mereka mengaplikasikan kaedah agung ini sangat banyak, berikut beberapa permisalannya.

Baca Juga Pemakaian Alaihissalam Atas Diri Putra Rasulullah Marilah kita amati sikap ‘Abdullâh bin ‘Umar Radhayallahu anhu yang tertuang dalam riwayat berikut: عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّهُ قَالَ: ” كُنْتُ أَسِيرُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بِطَرِيقِ مَكَّةَ “.

فَقَالَ سَعِيدٌ : “فَلَمَّا خَشِيتُ الصُّبْحَ نَزَلْتُ فَأَوْتَرْتُ ، ثُمَّ لَحِقْتُهُ”. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ : “أَيْنَ كُنْتَ ؟”. فَقُلْتُ : “خَشِيتُ الصُّبْحَ ، فَنَزَلْتُ فَأَوْتَرْتُ “. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ:” أَلَيْسَ لَكَ فِى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ ؟” فَقُلْتُ :”بَلَى وَاللَّهِ “.

قَالَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُوتِرُ عَلَى الْبَعِيرِ“. Dari Sa’îd bin Yasâr, dia berkata, “(Pernah) aku pergi bersama ‘Abdullâh bin ‘Umar di suatu jalan di kota Mekah. Ketika aku khawatir (masuk waktu) Subuh, aku turun (dari ontaku, lalu aku mengerjakan shalat witir, kemudian aku menyusulnya”. ‘Abdullâh bin ‘Umar bertanya, ‘Dimana saja engkau?’ Aku menjawab,”‘Aku khawatir (masuk waktu) Subuh, aku turun (dari ontaku) untuk mengerjakan sholat witir”.

‘Abdullâh bin ‘Umar berkata, “Tidakkah pada mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah Rasûlullâh terdapat uswah (teladan baik) bagimu?” Maka aku menjawab, ‘Ya, demi Allâh’. ‘Abdullâh bin ‘Umar berkata, ‘Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan sholat witir di atas onta’.

[HR. al-Bukhari, no. 999] Contoh lain, berkait dengan ketulusan Sahabat Nabi menerima kebenaran ketika diingatkan dengan kaedah yang agung ini. Karena kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti. Lihatlah kisah yang menakjubkan di bawah ini: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ طَافَ مَعَ مُعَاوِيَةَ بِالْبَيْتِ فَجَعَلَ مُعَاوِيَةُ mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah الْأَرْكَانَ كُلَّهَا فَقَالَ لَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ لِمَ تَسْتَلِمُ هَذَيْنِ الرُّكْنَيْنِ وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَلِمُهُمَا فَقَالَ مُعَاوِيَةُ لَيْسَ شَيْءٌ مِنْ الْبَيْتِ مَهْجُورًا فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ { لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ } فَقَالَ مُعَاوِيَةُ صَدَقْتَ.

Dari Ibnu ‘Abbâs, dia mengerjakan tawaf di Baitullâh bersama Mu’âwiyah. Lalu Mu’âwiyah mulai menyentuh semua sudutnya (sudut Ka’bah). Maka Ibnu ‘Abbâs berkata kepadanya, “Mengapa Anda menyentuh dua pojok (Syami) ini, padahal Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh keduanya?”.

Mu’awiyah menjawab, “Tidak ada sesuatu (pojok) dari Baitullâh ini yang ditinggalkan!”. Maka Ibnu ‘Abbâs berkata kepadanya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu”.

Maka Mu’âwiyah berkata, “Engkau benar!”. [HR. Ahmad, no. 1877] Mu’âwiyah bin Abu Sufyân Radhiyallahu anhu, salah seorang Sahabat penulis wahyu di masa kenabian, penguasa di zamannya, raja pertama dan terbaik di antara umat ini, beliau tidak malu menerima kebenaran dari Sahabat yang usianya di bawahnya, yaitu Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu, karena memang “sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagi orang beriman”, maka selayaknya kita tidak malu untuk terbuka menerima kepada kebenaran.

Karena berpaling dari kesalahan untuk kembali kepada kebenaran adalah keutamaan, bukan mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah. PRAKTEK ULAMA TERHADAP KAEDAH DI ATAS Bukan hanya generasi Sahabat saja yang menjunjung tinggi keteladanan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kehidupan mereka, generasi-generasi berikutnya pun juga berjalan di atas jalan mereka (para Sahabat) yang baik itu.

Marilah kita perhatikan bagaimana sikap Imam Mâlik bin Anas Radhiyallahu anhuterhadap orang yang menyelisihi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kisah berikut ini: Sufyân bin ‘Uyainah rahimahullah berkata: “Imam Mâlik rahimahullah didatangi seorang lelaki, lalu bertanya: “Wahai Abu ‘Abdullâh, dari mana aku memulai ihrom?” Beliau menjawab: “Dari Dzul Hulaifah, tempat berihrom Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”.

Lelaki tadi berkata: “Aku ingin berihrom dari masjid di dekat kubur (saja)”. Imam Mâlik rahimahullah berkata: “Jangan engkau lakukan (itu), aku khawatir musibah akan menimpamu”. Dia menjawab: “Musibah apa?” Imam Malik rahimahullah berkata: “Apakah ada musibah yang lebih besar dari anggapanmu bahwa engkau meraih keutamaan yang tidak dapat diraih oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

Sesungguhnya aku mendengar Allâh Azza wa Jalla berfirman: فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-nya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

(an-Nûr/24:63). [Riwayat al-Khathîb dalam al-Faqîh wal Mutafaqqih, 1/148; dll. Lihat ‘Ilmu Ushûl Bida’, hlm. 72] Semoga Allâh Azza wa Jalla merahmati Imam Mâlik rahimahullah, yang telah memberikan contoh mulia dalam menasehati umat agar tetap mengikuti teladan terbaik mereka.

Dengan sedikit penjelasan dan contoh-contoh di atas maka sepantasnya kita bertanya kepada diri kita, “Sudahkan kita menjadikan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai uswah hasanah bagi kita, dalam seluruh sisi kehidupan?”.

mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah

Jika ya, maka marilah berharap dan memohon Allâh Azza wa Jalla mencurahkan rahmat-Nya dan balasan baik di akherat. Jika tidak (belum), maka kita perlu memperbaiki diri kita ke arah yang lebih baik. Semoga Allâh selalu membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus.

Wallâhu a’lam [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIV/1431H/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.

0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
uswatun hasanah ialah via 31.ayobai.org Sebagian orang mungkin penasaran, uswatun hasanah ialah?

Mengapa Rasulullah diberikan gelar tersebut? Agar kamu mengetahui & wawasanmu bertambah, mari simak penjelasannya pada artikel ini. Seringkali kita mendengar orang berkata “uswatun khasanah”. Uswatun hasanah artinya teladan yang baik. US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US US Panutan & teladan umat Islam merupakan Nabi Muhammad SAW.

Seorang pria pilihan Allah SWT yang diutus buat mengungkapkan ajaran yg benar yaitu Agama Islam. Oleh karena itu, kita menjadi muslim wajibmeniru dan mencontoh kepribadian beliau. Berikut penerangan lengkap mengapa Rasulullah diberi gelar uswatun hasanah.

Baca Juga :Kisah Para Nabi dan Rasul Beserta MukjizatnyaDitanya Siapa Wanita Terbaik pada Dunia? Jawaban Rasulullah Bikin Hati BergetarAlasan Rasulullah Membangun Masjid Nabawi di Madinah Bukan pada Kota LainRasulullah Sangat Marah Kepada Orangtua yg Suka Melakukan 4 Hal ini Kepada AnaknyaPeristiwa Menakjubkan Menjelang Kelahiran Rasulullah, 12 Kejadian Ini Menjadi Bukti Rasulullah Begitu MuliaRasulullah SAW menjadi Uswatun Hasanah Uswatun hasanah merupakan keliru satu sebutan berdasarkan Allah kepada Muhammad Rasulullah.

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al Quran surat Al Ahzab [33] ayat 21 : لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرً “Sesungguhnya sudah terdapat pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah & (kedatangan) hari kiamat & beliau poly menyebut Allah.” Juga dalam surat Al Qalam [68] ayat 4 : وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ “Dan sesungguhnya engkausahih-benar berbudi pekerti yg agung” Demikian juga, petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sebaik-baik petunjuk.

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Sesungguhnya sebaik-baik liputan merupakan kitabAllâh, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk kasus adalah masalah-masalah baru (dalam agama), dan semua bid’ah adalah kesesatan.” [ HR.Muslim no. 864 ]. Meskipun surat Al Ahzab [33] ayat 21 turun waktu pada pada keadaan perang Ahzab, akan namun hukumnya umum mencakup keadaan kapan saja dan pada hal apa saja.

gambaran uswatun hasanah adalah via alamuslim.com Atas dasar itu, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan mengenai ayat ini : “Ayat yg mulia ini adalah pondasi/dalil yg agung pada meneladani Rasulullah dalam semua perkataan, perbuatan, & keadaan dia. Orang-orang diperintahkan meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Ahzab, dalam kesabaran, usaha bersabar, istiqomah, perjuangan, dan penantian beliau terhadap pertolongan dari Rabbnya.

Semoga sholawat & salam selalu dilimpahkan pada dia sampai hari Pembalasan”. [ Tafsir Ibnu Katsir, 6/391, penerbit: Daru Thayyibah ] Demikian pula Syaikh Abdur Rahman bin Nâshir as Sa’pada rahimahullah mengungkapkan kaedah meneladani Rasulullah ini dengan menyatakan : “Para Ulama ushul (fiqih) berdalil (menggunakan) menggunakan ayat ini untuk berhujjah menggunakan perbuatan-perbuatan Rasulullah, dan bahwa (hukum asal) umat dia merupakan meneladani (dia) dalam seluruh hukum, kecuali perkara perkara yang ditunjukkan sang dalil syari’at sebagai kekhususan bagi dia.

Kemudian uswah (teladan) itu ada 2: uswah hasanah (teladan yg baik) dan uswah sayyi`ah (teladan yang tidak baik). Uswah hasanah (teladan yg baik) ada dalam diri Rasulullah. Karena orang yang meneladani beliau merupakan orang yang menapaki jalan yang akan menghantarkan menuju kemuliaan berdasarkan Allah Azza wa Jalla& itu merupakan shirathal mustaqim (jalan yang lurus). Adapun meneladani (mengikuti orang) selain beliau, bila menyelisihi dia, maka mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah merupakan uswah sayyi`ah (teladan yang tidak baik).

Sebagaimana perkataan orang-orang kafir waktu diajak oleh para rasul buat meneladani mereka, (namun orang-orang kafir itu mengatakan) : pada surat Az Zukhruf [43] ayat 22 : إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, & sesungguhnya kami orang-orang yang menerima petunjuk menggunakan (mengikuti) jejak mereka.” Orang yang mengikuti uswah hasanah (Rasulullah) & mendapatkan taufik ini hanyalah orang yg mengharap (rahmat) Allah & (kedatangan) hari Kiamat.

Lantaran keimanan yang terdapat padanya, demikian jua rasa takut pada Allah, dan mengharapkan pahalaNya, serta takut terhadap siksaNya, (semua itu) mendorongnya buat meneladani Rasulullah”. [ Tafsir Karimir Rahman, surat al Ahzab /33 : 21 ].Perilaku Rasulullah adalah Uswah Hasanah Kaedah Rasulullah adalah uswah hasanah, kaedah yg agung yg dipratekkan sang tokoh tokoh umat ini, termasuk sang Rasulullah sendiri.

Marilah kita perhatikan hadits berikut adalah, bagaimana dia menegur keliru seseorang Sahabat dia menggunakan kaedah agung ini : عَنْ عُرْوَةَ قَالَ:” دَخَلَتِ امْرَأَةُ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ – أَحْسِبُ اسْمَهَا خَوْلَةَ بِنْتَ حَكِيمٍ – عَلَى عَائِشَةَ وَهِىَ بَاذَّةُ الْهَيْئَةِ فَسَأَلَتْهَا:”مَا شَأْنُكِ ؟”. فَقَالَتْ :”زَوْجِى يَقُومُ اللَّيْلَ وَيَصُومُ النَّهَارَ”.

فَدَخَلَ النَّبِىُّ – n – فَذَكَرَتْ عَائِشَةُ ذَلِكَ لَهُ فَلَقِىَ رَسُولُ اللَّهِ – n – عُثْمَانَ فَقَالَ :”يَا عُثْمَانُ إِنَّ الرَّهْبَانِيَّةَ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْنَا أَفَمَا لَكَ فِىَّ أُسْوَةٌ فَوَاللَّهِ إِنِّى أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَحْفَظُكُمْ لِحُدُودِهِ “. Dari ‘Urwah, dia mengatakan, “Istri mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah bin Mazh’un, menurutku namanya adalah Khaulah binti Hakim- menemui ‘Aisyah dengan sandang seadanya.

Aisyah bertanya kepadanya, “Kenapa engkauini?” Dia menjawab, “Suamiku selalu (sibuk) sholat malam dan berpuasa pada siang hari”. Kemudian Rasulullah masuk, ‘Aisyah pun mengungkapkan hal itu pada beliau. Kemudian Rasulullah menemui ‘Utsman seraya menyampaikan, “‘Utsman, sesungguhnya kependetaan nir diwajibkan atas kita. Tidakkah pada diriku terdapat uswah (teladan) bagimu?

Demi Allah, gw merupakan orang yg paling takut kepada Allah dan orang yang paling menjaga hukum-hukumNya di antara kamu’.” [ HR. Ahmad dan dishahîhkan sang al-Albâni pada Silsilah ash-Shahîhah no.1782 ] ilustrasi uswatun hasanah merupakan via youtube.com Allahu Akbar, alangkah lembutnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur Sahabat ini, “Utsman, sesungguhnya kependetaan tidak diwajibkan atas kita.

Tidakkah pada diriku masih ada uswah (teladan) bagimu?” Wahai orang-orang yg menelantarkan keluarganya menggunakan alasan dakwah & memikirkan umat, tidakkah dalam diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat uswah (teladan) bagi kalian?” Wahai, orang-orang yg menciptakan-buat ibadah sendiri, tanpa tuntunan Rasulullah, dengan hanya mengikuti seorang ustadz, kyai dan figur eksklusif saja, tidakkah pada diri Rasulullah masih ada uswah (teladan) bagi kalian?” Marilah kita perhatikan insiden berikut adalah : Sahabat ‘Ubaid bin Khaalid al-Muharibi Radhiyallahu anhu mengungkapkan : إِنِّي لَبِسُوقِ ذِي الْمَجَازِ عَلَيَّ بُرْدَةٌ لِي مَلْحَاءُ أَسْحَبُهَا قَالَ فَطَعَنَنِي رَجُلٌ بِمِخْصَرَةٍ فَقَالَ ارْفَعْ إِزَارَكَ فَإِنَّهُ أَبْقَى وَأَنْقَى( أَمَا لَكَ فِيَّ أُسْوَةٌ ) فَنَظَرْتُ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرْتُ فَإِذَا إِزَارُهُ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ “Aku berada di pasar Dzil Majaz mengenakan burdah (semacam selimut) bergaris-garis hitam & putih milikku menggunakan menyeretnya.
Pengertian Rasulullah sebagai Teladan yang Baik (Uswatun Hasanah).

Tafsir QS Al-Ahzab:21 AYAT Al-Quran yang menegaskan keteladanan Rasulullah Saw, QS Al-Ahzab:21, dipastikan banyak disampaikan oleh para penceramah, khususnya pada bulan Rabiul Awal (Mulud) yang kita kenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw ( Maulid Nabi Saw). Semoga, para ustadz tidak lupa mengulas atau mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah teladan Rasulullah Saw sesuai dengan ayat Al-Quran, selain mengupas kemuliaaan budi pekerti (akhlak) Rasulullah dalam kehidupan pribadi, rumah tangga, bermasyarakat, bernegara, dan dalam membela Islam.

Rasulullah Muhammad Saw adalah suri teladan yang baik ( uswatun hasnah) bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah SWT dan kedatangan Hari Kiamat serta banyak berdzikir. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab:21).

Sayangnya, para penceramah umumnya hanya membacakan ayatnya, terjemahannya, dan menyampaikan bahwa Rasulullah Saw adalah "uswah hasanah", teladan yang baik. Jarang yang membahas ayat ini secara lebih jelas maksud dan asbabun nuzul-nya. Karena itu, mari kita simak paparan sejumlah mufasir tentang QS. Al-Ahzab:21 ini. Ayat ini turun semasa Perang Ahzab atau Perang Khandaq. Perang Ahzab ( غزوةالاحزاب) atau Perang Khandaq ( غزوةالخندق), menurut buku-buku sejarah Islam, terjadi bulan Syawal tahun 5 Hijrah/627 Masihi.

Dinamakan Perang Ahzab karena dalam perang ini kaum musyrik/kafir bersekutu ( ahzab) dengan kaum Yahudi untuk menyerang kaum Muslimin di Madinah. Rasulullah sebagai Teladan: Tafsir Ibnu Katsir Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan, ayat ini adalah dasar yang paling utama dalam perintah meneladani Rasulullah Saw, baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keadaannya.

Oleh karena itu, Allah Ta'ala menyuruh manusia untuk meneladani Rasulallah Saw dalam hal kesabaran, keteguhan, ribath (terikat dengan tugas, komitmen), dan kesungguh-sungguhannya. Ayat ini turun semasa Perang Ahzab ketika ada anggota pasukan Islam yang yang takut, goncang, dan hilang keberaniannya pada perang Ahzab. Allah menyuruh orang demikian meneladani Nabi Saw dalam kesabaran dan keteguhan membela agama Allah. Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang yang tergoncang jiwanya, gelisah, gusar dan bimbang dalam perkara mereka pada hari Ahzaab, laqad kaana lakum fii rasuulillaaHi uswatun hasanatun (“Sesungguhnya telah ada pada [diri] Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”) yaitu, mengapa kalian tidak mencontoh dan mensuritauladani sifat-sifatnya?

Untuk itu Allah berfirman: liman kaana yarjullaaHa wal yaumal aakhira wa dzakarallaaHa katsiiraa (“[yaitu] bagi orang-orang yang mengharap [rahmat] Allah dan [kedatangan] hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”) Intinya, umat Islam harus meneladani Rasul termasuk dalam keadaan takut atau menghadapi ujian. Ayat di atas terkait dengan QS.

Al-Baqarah:214. Ibnu ‘Abbas berkata: “Yang dimaksud adalah firman Allah dalam Surah al-Baqarah: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?

mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” (al-Baqarah: 214).

Yaitu, inilah apa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya berupa ujian dan cobaan yang membawa pertolongan yang amat dekat.” Rasulullah sebagai Teladan:Tafsir Jalalain Pada ayat ini Allah SWT memperingatkan orang-orang munafik. bahwa sebenarnya mereka dapat memperoleh teladan yang baik dari Nabi Saw. Rasulullah Saw adalah seorang yang kuat imannya, berani, sabar, tabah menghadapi segala macam cobaan, percaya dengan sepenuhnya kepada segala ketentuan-ketentuan Allah dan beliaupun mempunyai akhlak yang mulia.

Jika mereka bercita-cita ingin menjadi manusia yang baik, berbahagia hidup di dunia dan di akhirat, tentulah mereka akan mencontoh dan mengikuti Nabi. Tetapi perbuatan dan tingkah laku mereka menunjukkan bahwa mereka tidak mengharapkan keridaan Allah dan segala macam bentuk kebahagiaan hakiki itu. Rasulullah sebagai Teladan: Tafsir Al-Azhar (HAMKA) Dalam Perang Ahzab (Khandaq), kondisinya mencekam.

Banyak kaum muslim yang merasa gentar karena besarnya kekuatan musuh. Ummu Salmah (moga-moga ridha Allah terhadapnya), isteri Rasulullah saw. yang telah banyak pengalamannya sebagai isteri dari Rasulullah saw., yang turut menyaksikan beberapa peperangan yang dihadapi Rasulullah pernah mengatakan tentang hebatnya keadaan Kaum Muslimin ketika peperangan Khandaq itu.

mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah

Beliau berkata: "Aku telah menyaksikan di samping Rasulullah saw. beberapa pepe­rangan yang hebat dan ngeri, peperangan di Almuraisiya', Khaibar dan kami pun telah menyaksikan pertemuan dengan musuh di Hudaibiyah, dan saya pun turut ketika menaklukkan Mekkah dan peperangan di Hunain.

Tidak ada pada semua peperangan yang saya turut menyaksikan itu yang lebih membuat lelah Rasulullah dan lebih membuat kami-kami jadi takut, melebihi peperangan Khandaq.

Karena kaum Muslimin benar-benar terdesak dan terkepung pada waktu itu, sedang Bani Quraizhah (Yahudi) tidak lagi dipercaya karena sudah belot, sampai Madinah dikawal sejak siang sampai waktu Subuh, sampai kami dengar takbir kaum Muslimin untuk melawan rasa takut mereka. Yang melepaskan kami dari bahaya ialah karena musuh-musuh itu telah diusir sendiri oleh Allah dari tempatnya mengepung itu dengan rasa sangat kesal dan sakit hati, karena maksud mereka tidak tercapai".

Demikian riwayat Ummu Salmah. Namun, di dalam saat-saat yang sangat mendebarkan hati itu, contoh teladan yang patut ditiru, tidak ada lain, melainkan Rasulullah Saw sendiri: "Sesungguhnya adalah bagi kamu pada Rasulullah itu teladan yang baik". Memang ada orang yang bergoncang fikirannya, berpenyakit jiwanya, pengecut, munafiq, tidak berani bertanggung jawab, berse­dia-sedia hendak lari jadi Badwi kembali ke dusun-dusun, tenggelam dalam ketakutan melihat dari jauh betapa besar jumlah musuh yang akan menyerbu.

Tetapi masih ada lagi orang-orang yang mempunyai pendirian tetap, yang tidak putus harapan, tidak kehilangan akal. Sebab mereka melihat sikap dan tingkah laku pemimpin besar mereka sendiri, Rasulullah Saw.

Mulai saja beliau menerima berita tentang maksud musuh yang besar bilangannya itu, beliau terus bersiap mencari akal buat bertahan mati-matian, jangan sampai musuh sebanyak itu menyerbu ke dalam kota. Karena jika maksud mereka menyerbu Madinah berhasilhancurlah Islam dalam kandangnya sendiri.

Dia dengar nasehat dari Salman Al-Farisiy agar di tempat yang musuh bisa menerobos di dalam khandaq, atau parit pertahanan. Nasehat Salman itu segera beliau laksanakan.

Beliau sendiri yang memimpin menggali parit bersama ­sama dengan shahabat-shahabat mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah banyak itu. Untuk menimbulkan kegembiraan bekerja siang dan malam menggali tanah, menghancurkan batu-batu yang membelintang, beliau turut memikul tanah galian dengan bahunya yang semampai. Ketika tiba giliran perlu memikul, beliau pun turut memikul, sehingga tanah ­tanah dan pasir telah mengalir bersama keringat beliau di atas rambut beliau yang tebal.

Semuanya itu dikerjakan oleh shahabat-shahabatnya dengan gembira dan bersemangat, sebab beliau sendiri kelihatan gembira dan bersemangat. Sehingga bekerja, bergotong-royong, menggali tanah, menyekap pasir, memukul batu sambil beryanyi gembira, dengan syair-syair gembira gubahan 'Abdullah bin Ruwahah, dengan bahar rajaz yang mudah dinyanyikan.

"Demi Allah, kalau bukan kehendak Allah, tidaklah kami dapat petunjuk; Tidaklah kami berzakat, tidaklah kami sembahyang." "Maka turunkanlah ketenteraman hati kepada kami, Dan teguhkanlah kaki kami jika kami bertemu musuh. " "Sesungguhnya mereka itu telah kejam kepada kami, Kalau mereka mau berbuat ribut, kami tak mau. " Syair-syair dalam timbangan bahar rajaz ini mudah dilagukan bersama-sama dengan gembira.

Maka sambil mengangkat tanah, memikul batu, memecah batu besar dengan linggis, mereka nyanyikan bahar Rajaz gubahan 'Abdullah bin Ruwahah itu bersamar sama. Rasulullah Saw pun turut mengangkat suara beliau dengan gembirasehingga semua pun senanglupa bagaimana beratnya pekerjaan dan bagaimana besarnya musuh yang dihadapi. Maka janganlah kita samakan Rasulullah saw.

yang memimpin penggalian parit khandaq itu dengan beliau-beliau orang-orang besar di zaman kini ketika meletakkan batu pertama hendak mendirikan gedung baru, atau menggunting pita ketika sebuah kantor akan dibuka, atau sembahyang ke masjid dengan upacara. Beliau Rasulullah Saw betul-betul memimpin. Al-Barra' bin Al-'Azib mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah "Tanah yang beliau angkat pun jatuh ke atas perut beliau dan lekat pada bulu dada dan perut.

Karena bulu dada beliau tebal". Setelah dikaji peperangan Khandaq ini secara ilmiyah, sebagai yang dilakukan oteh Jenderal Pensiun 'Abdullah Syist Khaththaab di Iraq, memang amat besar bahaya yang mengancam dalam Perang Khandaq itu.

Hari di musim dingin, persediaan makanan di Madinah berkurang-kurang. Kalau terbayang saja agak sedikit rasa kecemasan di wajah beliau, pastilah semangat para pejuang akan meluntur. Namun beliau bersikap seakan-akan bahaya itu kecil saja dan dapat diatasi dengan kegembiraan dan kesungguhan bekerja. Disiplin keras tetapi penuh kasih sayang, meneladan shifat Allah 'Aziz yang disertai Hakiim. Perkasa disertai Bijaksana. Dalam peperangan Khandaq itu semua bekerja keras siang malam.

Mulanya bekerja menggali parit, sesudah itu berjaga siang dan malam. Besar dan kecil, tua dan muda. Kanak-kanak dan perempuan perempuan dipelihara dalam benteng (Athaam) dan dikawal. Zaid bin Tsabit, yang kemudian terkenal sebagai salah seorang yang dititahkan oleh Khalifah Rasulillah Abubakar Shiddiq mengumpulkan Al-Qur'an dalam satu mush-haf dan masih sangat muda, turut pula bekerja keras, menggali tanah, memikul pasir, dan memecahkan batu.

Rasulullah pernah mengatakan: "Adapun dia itu sesungguhnya adalah anak baik!" Rupanya oleh karena sangat lelah bekerja dan berjaga, dan hari sangat dingin, dia masuk ke dalam parit itu sampai di sana dia tertidur dan senjatanya terlepas dari tangannya. Datang seorang pemuda lain bernama 'Ammarah bin Hazem, diambilnya senjata yang telah terjatuh itu dan disimpannya.

Setelah dia terbangun dari tidurnya dilihatnya senjatanya tak ada lagi. Dia pucat terkejut dan cemas. Maka tibalah Rasulullah di tempat itu. Setelah beliau lihat Zaid baru terbangun dari tidurnya, berkatalah beliau: "Hai Abaa Ruqaad! (Hai Pak Penidur), engkau tertidur dan senjatamu terbang!" Tetapi wajah beliau tidak membayangkan marah sedikit juga, sehingga Zaid bertambah takut disertai malu.

Lalu beliau melihat keliling dan berkata pula: mengapa hanya nabi muhammad yang mendapatkan gelar uswatun hasanah yang menolong menyimpan senjatanya?" 'Ammarah menjawab: "Saya yang menyimpannya, ya Rasul Allah!" Lalu beliau suruh segera kembalikan senjata Zaid dan beliau bernase­hat pula kepada 'Ammarah didengar oleh yang lain: "Saya dibuat seorang Muslim jadi cemas dengan menyembunyikan senjatanya sebagai senda gurau".

Suasana memimpin yang seperti itu adalah teladan yang baik kepada Panglima Perang yang menyerahkan tentaranya ke medan pertempuran. Beliau tahu benar bahwa Zaid itu anak baik. Tertidur karena sudah sangat lelah, bukanlah hal yang dapat dilawannya. Sambil bergurau saja beliau menegur, namun kesannya kepada Zaid besar sekali. Kelihatan lagi sikap beliau yang patut dicontoh. Yaitu seketika Huzaifah telah selesai dari tugas berat dalam malam kelam picik dan sangat dingin diperintah menyelidiki keadaan musuh, sampai Huzaifah telah dekat kepada Abu Sufyan sendiri, sebagai yang telah diterangkan terlebih dahulu.

Huzaifah pulang dari tugas berat itu dalam keadaan malam sangat dingin dan angin sangat keras. Huzaifah menceriterakan bahwa seketika Huzaifah datang didapatinya beliau saw. tengah sembahyang. Untuk menangkis dingin yang sangat itu, Rasulullah sembahyang berselimut dengan selimut tebal salah seorang isteri beliau.

Huzaifah datang beliau tahu. Tetapi oleh karena sembahyang beliau masih panjang dan belum selesai, ditariknya Huzaifah ke dekatnya, lalu dise­limutkannya kepada Huzaifah ujung selimut yang beliau pakai sembahyang itu, sehingga Huzaifah terpelihara dari pukulan angin dan dingin. Sembahyang beliau teruskan, dan di belakang beliau, Huzaifah mengekor menutupi dan memanaskan badannya dengan ujung selimut yang dipakai Nabi sedang sembahyang itu.

Setelah selesai barulah dia menoleh kepada Huzaifah meminta berita. Setelah mendengar berita Huzaifah, maka disampaikannyalah khabar gembira kepada Huzaifah bahwa tentara yang menyerbu itu dengan persekutuannya akan gagal.

Dan besoknya setelah matahari naik, mereka melihat ke sebelah timur, jelaslah bahwa tentara besar itu telah pergi dan yang tinggal hanya bekas-bekas dari tentara yang gagal Maka bersyukurlah Rasulullah saw. kepada Tuhan lalu membaca: "Tidak ada tuhan, melainkan Allah, yang berdiri sendiri-Nya.

Benar janji-Nya, Dia tolong hamba-Nya, Dia muliakan tentara­Nya, dan Dia kalahkan sekutu-sekutu dengan sendiri-Nya. Make tidaklah ada sesuatu jua sesudah-Nya. " Keteguhan sikap RasuIuIIah saw. itu pun adalah salah satu sebab yang utama maka kemenangan bisa dicapai. Lanjutan ayat ialah: "Bagi barang siapa yang mengharapkan Allah dan hari Kemudian". Yaitu sesudah di pangkaI ayat dikatakan bahwa pada diri Rasulullah itu sendiri ada hal yang akan dapat dijadikan contoh teladan bagi kamu.

Yaitu bagi kamu yang beriman. Semata ­mata menyebut iman saja tidaklah cukup. Iman mesti disertai pengharapan, yaitu bahwa inti dari iman itu sendiri. Inti Iman ialah harapan. Harapan akan Ridha Allah dan harapan akan kebahagiaan di hari akhirat. Kalau tidak ingat akan yang dua itu, atau kalau hidup tidak mempunyai harapan, Iman tidak ada artinya. Maka untuk mernelihara Iman dan Harapan hendaklah banyak mengingat Allah. Sebab itu maka di ujung ayat dikatakan: "Dan yang banyak ingat kepada Allah".

Ini diperingatkan di akhir ayat. Sebab barang yang mudah mengatakan mengikut teladan Rasul dan barang yang mudah mengata­kan beriman. Tetapi adalah meminta latihan bathin yang dalam sekali untuk dapat menjalankannya. Seumpama orang yang mengambil alasan menuruti Sunnah Rasul yang membolehkan orang beristeri lebih dari satu sampai berempat, tetapi jarang orang yang mengikuti ujung ayat, yaitu meneladan Rasul di dalam berlaku adil kepada isteri­ isteri.

Atau umumnya orang yang mengakui ummat Muhammad tetapi tidak mau mengerjakan peraturan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Maka bertambah besar harapan kita kepada Tuhan dan keyakinan kita akan Hari Kemudian dan bertambah banyak kita mengingat dan menyebut Allah bertambah ringanlah bagi kita meneladan Rasul Saw. Demikian makna atau pengertian Rasulullah sebagai Teladan (Uswatun Hasanah) menurut para mufassir. Wallahu a'lam bish-shawabi.

(www.risalahislam.com, dari berbagai sumber).*

MENGEJUTKAN‼️ Inilah Alasan Nabi Muhammad Diutus untuk Semua Kaum - Ustadz Adi Hidayat LC MA




2022 www.videocon.com