Prajna dewantara

prajna dewantara

Cut Nyak Dien Lahir 1848 Lampadang, Kesultanan Aceh Meninggal 6 Prajna dewantara 1908 – 1848; umur -61–-60 tahun Sumedang, Hindia Belanda Sebab meninggal Meninggal karena sakit-sakitan setelah diasingkan oleh Belanda. Tempat pemakaman Komplek Makam Cut Nyak Dhien, Sumedang, Jawa Barat 6°51′47.7″S 107°54′59.1″E  /  6.863250°S 107.916417°E  / -6.863250; 107.916417 Koordinat: 6°51′47.7″S 107°54′59.1″E  /  6.863250°S 107.916417°E  / -6.863250; 107.916417 Nama lain Ibu Perbu / Ibu Ratu / Ibu Suci (Sumedang) Dikenal atas Pahlawan Nasional Indonesia Gerakan politik Perang Aceh dengan Belanda Lawan politik Belanda Suami/istri Ibrahim Lamnga, Teuku Umar Anak Cut Gambang Orang tua Teuku Nanta Seutia Kerabat Teuku Mayet Ditiro (Menantu) Keluarga Teuku Rayut (Saudara Kandung) Cut Nyak Dhien (ejaan lama: Tjoet Nja' Dhien, Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848 – Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908; [1] dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh.

Setelah wilayah VI Mukim diserang, ia mengungsi, sementara suaminya Ibrahim Lamnga bertempur melawan Belanda. Tewasnya Ibrahim Lamnga di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878 kemudian menyeret Cut Nyak Dhien lebih jauh dalam perlawanannya terhadap Belanda. Pada tahun 1880, Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Umar, setelah sebelumnya ia dijanjikan dapat ikut turun di medan perang jika menerima lamaran tersebut.

Dari pernikahan ini Cut Nyak Dhien memiliki seorang anak yang diberi nama Cut Gambang. [2] Setelah pernikahannya dengan Teuku Umar, Cut Nyak Dhien bersama Teuku Umar bertempur bersama melawan Belanda. Namun, pada tanggal 11 Februari 1899 Teuku Umar prajna dewantara. Hal ini membuat Cut Nyak Dhien berjuang sendirian di pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Usia Cut Nyak Dien yang saat itu sudah relatif tua serta kondisi tubuh yang digrogoti berbagai penyakit seperti encok dan rabun membuat satu pasukannya yang bernama Pang Laot melaporkan keberadaannya karena iba.

[3] [4] Ia akhirnya ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Di sana ia dirawat dan penyakitnya mulai sembuh. Keberadaan Cut Nyak Dhien yang dianggap masih memberikan pengaruh kuat terhadap perlawanan rakyat Aceh serta hubungannya dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap membuatnya kemudian diasingkan ke Prajna dewantara.

Cut Nyak Dhien meninggal pada tanggal 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang. Nama Cut Nyak Dhien kini diabadikan sebagai Bandar Udara Cut Nyak Dhien Nagan Raya di Meulaboh.

[5] Rumah Cut Nyak Dhien di Lampisang, Aceh Besar Cut Nyak Dhien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang VI Mukim, yang juga merupakan keturunan Datuk Makhudum Sati, perantau dari Minangkabau. Datuk Makhudum Sati merupakan keturunan dari Prajna dewantara Muda Nanta yang merupakan perwakilan Kesultanan Aceh pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Pariaman.

[6] Datuk Makhudum Sati mungkin datang ke Aceh pada abad ke 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.

[3] [7] Sedangkan ibunya prajna dewantara putri uleebalang Lampageu. Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dhien adalah anak yang cantik. [3] Ia memperoleh pendidikan pada bidang agama (yang dididik oleh orang tua ataupun guru agama) dan rumah tangga (memasak, melayani suami, dan yang menyangkut kehidupan sehari-hari yang dididik baik oleh orang tuanya).

Banyak laki-laki yang suka pada Cut Nyak Dhien dan berusaha melamarnya. Pada usia 12 tahun, ia sudah dinikahkan oleh orangtuanya pada tahun 1862 dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, [3] [7] putra dari uleebalang Lamnga XIII.

Mereka memiliki satu anak laki-laki. Perlawanan saat Perang Aceh [ sunting - sunting sumber ] Rencong merupakan senjata tradisional milik Suku Aceh.

Cut Nyak Dhien menggunakan Rencong sebagai salah satu alat perang untuk melawan para tentara Kerajaan Belanda pada saat Kerajaan Belanda menyerang Kerajaan Aceh dan membakar Masjid Raya Baiturrahman pada tahun 1873.

prajna dewantara

Pada prajna dewantara 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Perang Aceh pun meletus. Pada perang pertama ( 1873- 1874), Aceh yang dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Machmud Syah bertempur melawan Belanda yang dipimpin Johan Harmen Rudolf Köhler. Saat itu, Belanda mengirim 3.198 prajurit.

Lalu, pada tanggal prajna dewantara April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Köhler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman dan membakarnya. Kesultanan Aceh dapat memenangkan perang pertama. Ibrahim Lamnga yang bertarung di garis depan kembali dengan sorak kemenangan, sementara Köhler tewas tertembak pada April 1873. Pada tahun 1874- 1880, di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten, daerah VI Mukim dapat diduduki Belanda pada tahun 1873, sedangkan Keraton Sultan jatuh pada tahun 1874.

Cut Nyak Dhien dan bayinya akhirnya mengungsi bersama ibu-ibu dan rombongan lainnya pada tanggal 24 Desember 1875. Suaminya selanjutnya bertempur untuk merebut kembali daerah VI Mukim.

Ketika Ibrahim Lamnga bertempur di Gle Tarum, ia tewas pada tanggal 29 Juni 1878. Hal ini membuat Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah akan menghancurkan Belanda. [3] Cut Nyak Dien, setelah tertangkap oleh pihak Belanda Teuku Umar, tokoh pejuang Aceh, melamar Cut Nyak Dhien.

Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolak. Namun, karena Teuku Umar mempersilakannya untuk ikut bertempur dalam medan perang, Cut Nyak Dien akhirnya menerimanya dan menikah lagi dengan Teuku Umar pada tahun 1880.

prajna dewantara

Hal ini meningkatkan moral semangat perjuangan Aceh melawan Kaphe Ulanda (Belanda Kafir). Nantinya, Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar memiliki anak yang diberi nama Cut Gambang.

Perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi'sabilillah. Sekitar tahun 1875, Teuku Umar melakukan gerakan dengan mendekati Belanda dan hubungannya dengan orang Belanda semakin kuat. Pada tanggal 30 September 1893, Teuku Umar dan pasukannya yang berjumlah 250 orang pergi ke Kutaraja dan "menyerahkan diri" kepada Belanda. Belanda sangat senang karena musuh yang berbahaya mau membantu mereka, sehingga mereka memberikan Teuku Umar gelar Teuku Umar Johan Pahlawan dan menjadikannya komandan unit pasukan Belanda dengan kekuasaan penuh.

Teuku Umar merahasiakan rencana untuk menipu Belanda, meskipun ia dituduh sebagai prajna dewantara oleh orang Aceh. Cut Nyak Dien berusaha menasihatinya untuk kembali melawan Belanda. Namun, Teuku Umar masih terus berhubungan dengan Belanda. Umar lalu mencoba untuk mempelajari taktik Belanda, sementara prajna dewantara mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di unit yang ia kuasai. Ketika jumlah orang Aceh pada pasukan tersebut cukup, Teuku Umar melakukan rencana palsu pada orang Belanda dan mengklaim bahwa ia ingin menyerang basis Aceh.

[2] Teuku Umar, suami kedua Cut Nyak Dhien. Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien pergi dengan semua pasukan dan perlengkapan berat, senjata, dan amunisi Belanda, lalu tidak pernah kembali. Penghianatan ini disebut Het verraad van Teukoe Oemar (pengkhianatan Teuku Umar).

prajna dewantara

Teuku Umar yang mengkhianati Belanda menyebabkan Belanda marah dan melancarkan operasi besar-besaran untuk menangkap baik Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar. [2] [3] Namun, gerilyawan kini dilengkapi perlengkapan dari Belanda.

prajna dewantara

Mereka mulai menyerang Belanda sementara Jend. Van Swieten diganti. Penggantinya, Jend. Johannes Ludovicius Jakobus Hubertus Pel, dengan cepat terbunuh dan pasukan Belanda berada pada kekacauan. [2] Belanda lalu mencabut gelar Teuku Umar dan membakar prajna dewantara, dan juga mengejar keberadaannya. [3] Dien dan Umar terus menekan Belanda, lalu menyerang Banda Aceh (Kutaraja) dan Meulaboh (bekas basis Teuku Umar), sehingga Belanda terus-terusan mengganti jenderal yang bertugas.

[2] Unit " Maréchaussée" lalu dikirim ke Aceh. Mereka dianggap biadab dan sangat sulit ditaklukan oleh orang Aceh.

prajna dewantara

Selain itu, kebanyakan pasukan "De Marsose" merupakan orang Tionghoa-Ambon yang menghancurkan semua yang ada di jalannya. [2] Akibat dari hal ini, pasukan Belanda merasa simpati kepada orang Aceh dan Van der Heyden membubarkan unit "De Marsose". [2] Peristiwa ini juga menyebabkan kesuksesan jenderal selanjutnya karena banyak orang yang tidak ikut melakukan jihad kehilangan prajna dewantara mereka, dan ketakutan masih tetap ada pada penduduk Aceh.

[2] Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz memanfaatkan ketakutan ini dan mulai menyewa orang Aceh untuk memata-matai pasukan pemberontak sebagai informan sehingga Belanda menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Akhirnya, Teuku Umar gugur tertembak peluru.

prajna dewantara

Ketika Cut Gambang, anak Cut Nyak Dhien, menangis karena kematian ayahnya, ia ditampar oleh ibunya yang lalu memeluknya dan berkata: “ Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid [2] ” Cut Nyak Dien lalu memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya dan mencoba melupakan suaminya. Pasukan ini terus bertempur sampai kehancurannya pada tahun 1901 karena tentara Belanda sudah terbiasa berperang di medan daerah Aceh.

Selain itu, Cut Nyak Dien sudah semakin tua. Matanya sudah mulai rabun, dan ia terkena penyakit encok dan juga jumlah pasukannya terus berkurang, serta sulit memperoleh makanan. Hal ini membuat iba para pasukan-pasukannya. [3] [4] Anak buah Cut Nyak Dhien yang bernama Pang Laot melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda karena iba. [3] [4] Akibatnya, Belanda menyerang markas Cut Nyak Dien di Beutong Le Sageu. Mereka terkejut dan bertempur mati-matian.

Dhien berusaha mengambil rencong dan mencoba untuk melawan musuh. Namun, aksi Dhien prajna dewantara dihentikan oleh Belanda. [8] [9] Cut Nyak Dhien ditangkap, sementara Cut Gambang berhasil melarikan diri ke hutan dan meneruskan perlawanan yang sudah dilakukan oleh ayah dan ibunya. [2] Masa Tua dan Kematian [ sunting - prajna dewantara sumber ] Perangko Peringatan 100 Tahun Prajna dewantara Nyak Dhien Setelah ditangkap, Cut Nyak Dhien dibawa ke Banda Aceh dan dirawat di situ.

Penyakitnya seperti rabun dan encok berangsur-angsur sembuh. Namun, Cut Nyak Prajna dewantara akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, karena ketakutan Belanda bahwa kehadirannya akan menciptakan semangat perlawanan dan juga karena ia terus berhubungan dengan pejuang yang belum tunduk.

Ia dibawa ke Sumedang bersama dengan tahanan politik Aceh lain dan menarik perhatian bupati Suriaatmaja. Selain itu, tahanan laki-laki juga menyatakan perhatian mereka pada Cut Nyak Dhien, tetapi tentara Belanda dilarang mengungkapan identitas tahanan. [2] Ia ditahan bersama ulama bernama Ilyas yang segera menyadari bahwa Cut Nyak Dhien merupakan ahli dalam agama Islam, sehingga ia dijuluki sebagai "Ibu Perbu". [2] Pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien meninggal karena usianya yang sudah tua.

Makam "Ibu Perbu" baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan. [9] "Ibu Perbu" diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964. [2] [3] Makam [ sunting - sunting sumber ] Perangko Peringatan 100 Tahun Cut Nyak Dhien Menurut penjaga makam, makam Cut Nyak Dhien baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh, Ali Hasan.

Pencarian dilakukan berdasarkan data yang ditemukan di Belanda. [9] Masyarakat Aceh di Sumedang sering menggelar acara sarasehan.

prajna dewantara

Pada acara tersebut, peserta berziarah ke makam Cut Nyak Dhien dengan jarak sekitar dua kilometer. [9] Menurut pengurus makam, kumpulan masyarakat Aceh di Bandung sering menggelar acara tahunan dan melakukan ziarah setelah hari pertama Lebaran.

prajna dewantara

Selain itu, orang Aceh dari Jakarta melakukan acara Haul setiap bulan November Makam Cut Nyak Dhien pertama kali dipugar pada 1987 dan dapat terlihat melalui monumen peringatan di dekat pintu masuk yang tertulis tentang peresmian makam yang ditandatangani oleh Gubernur Aceh Ibrahim Hasan pada tanggal 7 Desember 1987. Makam Cut Nyak Dhien dikelilingi pagar besi yang ditanam bersama beton dengan luas 1.500 m 2. Di belakang makam terdapat musholla dan di sebelah kiri makam terdapat banyak batu nisan yang dikatakan sebagai makam keluarga ulama H.

Sanusi. [9] Pada batu nisan Cut Prajna dewantara Dhien, tertulis riwayat hidupnya, tulisan bahasa Arab, Surah At-Taubah dan Al-Fajr, serta hikayat cerita Aceh. Jumlah peziarah ke makam Cut Nyak Dhien berkurang karena Gerakan Aceh Merdeka melakukan perlawanan di Aceh untuk merdeka dari Republik Indonesia. Selain itu, daerah makam ini sepi akibat sering diawasi oleh aparat. [9] Kini, makam ini mendapat biaya perawatan dari kotak amal di daerah makam karena pemerintah Sumedang tidak memberikan dana.

[9] Apresiasi [ sunting - sunting sumber ] Biografi dalam Seni [ sunting - sunting sumber ] Poster Film Tjoet Nja' Dhien Perjuangan Cut Nyak Dien diinterpretasi dalam film drama epos berjudul Tjoet Nja' Dhien pada tahun 1988 yang disutradarai oleh Eros Djarot dan dibintangi Christine Hakim sebagai Tjoet Nja' Dhien, Piet Burnama sebagai Pang Laot, Slamet Rahardjo sebagai Teuku Umar dan juga didukung Rudy Wowor.

Film ini memenangkan Piala Citra sebagai film terbaik, dan merupakan film Indonesia pertama yang ditayangkan di Festival Film Cannes (tahun 1989). Pada 13 April 2014, sebuah karya seni untuk mengenang semangat perjuangan dan perjalanan hidup Cut Nyak Dhien (CND) dalam bentuk teater monolog yang dimainkan dan disutradarai oleh Sha Ine Febriyanti; dipentaskan pertama kali di Auditorium Indonesia Kaya, Jakarta.

Naskah berdurasi 40 menit yang ditulis oleh Prajna Paramita tersebut kemudian dipentaskan kembali prajna dewantara 2015 di Jakarta, Pekalongan, Magelang, Semarang, dan Banda Aceh. Rencananya, teater monolong CND juga akan dipentaskan di Australia dan Belanda.

Biografi beliau juga pernah dituangkan dalam bentuk cerita bergambar secara berseri dalam majalah anak-anak Ananda. [10] Pengabadian [ sunting - sunting sumber ] • Sebuah kapal prajna dewantara TNI-AL diberi nama KRI Cut Nyak Dhien. • Mata uang rupiah yang bernilai sebesar Rp10.000,00 yang dikeluarkan tahun 1998 memuat prajna dewantara Cut Nyak Dhien dengan deskripsi Tjoet Njak Dhien. • Namanya diabadikan di berbagai kota Indonesia sebagai nama jalan. • Masjid Aceh kecil didirikan di dekat makamnya untuk mengenangnya.

prajna dewantara

• Masjid Cut Nyak Dien, Jakarta [11] • Museum Rumah Cut Nyak Dhien, Banda Aceh. [12] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Perang Aceh • Teuku Umar • Tokoh Indonesia • Tjoet Nja' Dhien (film) Referensi [ sunting - sunting sumber ] Catatan kaki [ sunting - sunting sumber ] • ^ Sai, Julinar, Tiara Wulandari (1995).

Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jendal Kebudayaan. hlm. 19. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c d e f g h i j k l m "Tjoet Njak Dien (Cut Nyak Dhien)". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-04-12. • ^ a b c d e f g h i j Armand, Deddi. Cut Nyak Dien. Penerbit: Pustaka Ananda • ^ a b c "Tentang Cut Nyak Dien di tokohindonesia.com". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-11-21.

Diakses tanggal 2010-03-24. • ^ Cut Nyak Dhien bin Teuku Nanta Setia • ^ Riwajat hidup (singkat) beberapa orang pahlawan Atjeh, zaman pra-kemerdekaan • ^ a b "Tentang Cut Nyak Dhien di situs resmi pemerintah Provinsi Aceh".

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-02-02. Diakses tanggal 2010-03-24. • ^ Sudarmanto, Y.B. 1999. Jejak Pahlawan Indonesia. Penerbitan Surat Keputusan No 23 (Kolonial Verslag 1907: 12). • ^ a b c d e f g "sinarharapan.co.id: Makam Cut Nyak Dhien Sepi Akibat Perang Saudara". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-01-28. Diakses tanggal 2010-03-24.

• ^ Media, Kompas Cyber. "Biografi Cut Nyak Dien, Pejuang Wanita yang Ditakuti Belanda Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2021-01-17. • ^ Nafi'an, Muhammad Ilman. "Anies Resmikan Masjid Cut Nyak Dien Setelah Renovasi, UAS Hadir". detiknews. Diakses tanggal 2021-01-17. • ^ Media, Kompas Cyber. "Berkunjung ke Rumah Cut Nyak Dhien di Aceh". pesonaindonesia.kompas.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-01-17. Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] • Armand, Deddi.

Cut Nyak Dien. Penerbit: Pustaka Ananda. • Sudarmanto, Y.B. 1999. Jejak Pahlawan Indonesia. Penerbit: Grasindo. • Muhazir. 1984. Pahlawan Repulusi Aceh Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Cut Nyak Dhien. Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan: Cut Nyak Dhien. • (Indonesia) "Perempuan Aceh Berhati Baja" Bio Cut Nyak Dien di Ensiklopedi Tokoh Indonesia Diarsipkan 2013-05-29 di Wayback Machine.

• (Indonesia) Biografi Cut Nyak Dhien di tokohindonesia.com • (Indonesia) Biografi Cut Nyak Dhien di Website Pemerintah Provinsi Aceh Diarsipkan 2008-02-02 di Wayback Machine. • (Indonesia) Film Perjuangan Tempo Dulu Diarsipkan 2013-03-26 di Wayback Machine. • (Inggris) Tjoet Njak Dien Story @ Victory News Magazine • (Indonesia) Cut Nyak Dien Pahlawan Tanah Rencong @ WartaNews.com Diarsipkan 2010-09-23 di Wayback Machine.

Abdul Halim Majalengka · Abdoel Kahar Moezakir · Achmad Soebardjo · Adam Malik · Adnan Kapau Gani · Alexander Andries Maramis · Alimin · Andi Sultan Daeng Radja · Arie Frederik Lasut · Arnold Prajna dewantara · Djoeanda Kartawidjaja · Ernest Douwes Dekker · Fatmawati · Ferdinand Lumbantobing · Frans Kaisiepo · Gatot Mangkoepradja · Hamengkubuwana IX · Herman Johannes · Idham Chalid · Ida Anak Agung Gde Agung · Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono · I Gusti Ketut Pudja · Iwa Koesoemasoemantri · Izaak Huru Doko · Johannes Leimena · Johannes Abraham Dimara · Kasman Singodimedjo · Kusumah Atmaja prajna dewantara Lambertus Nicodemus Palar · Mahmud Syah III dari Johor · Mangkunegara I · Maskoen Soemadiredja · Mohammad Hatta · Mohammad Husni Thamrin · Moewardi · Teuku Nyak Arif · Nani Wartabone · Oto Iskandar di Nata · Radjiman Wedyodiningrat · Rasuna Said · Saharjo · Samanhudi · Soekarni · Soekarno · Sukarjo Wiryopranoto · Soepomo · Soeroso · Soerjopranoto · Sutan Mohammad Amin Nasution · Sutan Syahrir · Syafruddin Prawiranegara · Tan Malaka · Tjipto Mangoenkoesoemo · Oemar Said Tjokroaminoto · Zainul Arifin Militer Abdul Haris Nasution · Andi Abdullah Bau Massepe · Basuki Rahmat · Tjilik Riwut · Djamin Ginting · Gatot Soebroto · Harun Thohir · Hasan Basry · John Lie · R.E.

Martadinata · Marthen Indey · Mas Isman · Muhammad Yasin · Syam'un · Soedirman · Soekanto Tjokrodiatmodjo · Soeprijadi · Oerip Soemohardjo · Usman Janatin · Yos Sudarso · Prajna dewantara · Moestopo Kemerdekaan Agustinus Adisucipto · Abdulrachman Saleh · Adisumarmo Wiryokusumo · Andi Djemma · Ario Soerjo · Bagindo Azizchan · Bernhard Wilhelm Lapian · Halim Perdanakusuma · Ignatius Slamet Rijadi · Iswahyudi · I Gusti Ngurah Rai · Muhammad Mangundiprojo · Robert Wolter Mongisidi · Sam Ratulangi · Supeno · Sutomo (Bung Tomo) · Tahi Bonar Simatupang · Pakubuwana Prajna dewantara Revolusi As'ad Samsul Arifin · Abdul Wahab Hasbullah · Ahmad Dahlan · Albertus Soegijapranata · Bagoes Hadikoesoemo · Fakhruddin · Haji Abdul Malik Karim Amrullah · Hasjim Asy'ari · Hazairin · Ilyas Yakoub · Kyai Saleh Lateng · Lafran Pane · Mas Mansoer · Masjkur · Mohammad Natsir · Muhammad Zainuddin Abdul Madjid · Noer Alie · Nyai Ahmad Dahlan · Syech Yusuf Tajul Khalwati · Prajna dewantara Hasjim Perjuangan Abdul Kadir · Achmad Rifa'i · Andi Depu · Andi Mappanyukki · Aji Muhammad Idris · Aria Wangsakara · Baabullah · Cut Nyak Dhien · Cut Nyak Meutia · Depati Amir · Hamengkubuwana I · I Gusti Ketut Jelantik · I Gusti Ngurah Prajna dewantara Agung · Himayatuddin Muhammad Saidi · Iskandar Muda dari Aceh · Kiras Bangun · La Madukelleng · Machmud Singgirei Rumagesan · Mahmud Badaruddin II dari Palembang · Malahayati · Martha Christina Tiahahu · Nuku Muhammad Amiruddin · Nyi Ageng Serang · Opu Daeng Risadju prajna dewantara Pakubuwana VI · Pakubuwana X · Pangeran Antasari · Pangeran Diponegoro · Pattimura · Pong Tiku · Raden Mattaher · Prajna dewantara Inten II · Ranggong Daeng Romo · Raja Haji Prajna dewantara · Sisingamangaraja XII · Sultan Agung dari Mataram · Sultan Hasanuddin · Teungku Chik di Tiro · Tuanku Imam Bonjol · Tuanku Tambusai · Teuku Umar · Tirtayasa dari Banten · Thaha Syaifuddin dari Jambi · Tombolotutu · Untung Suropati · Zainal Mustafa Kategori tersembunyi: • Halaman dengan tag koordinat rusak • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Koordinat tidak ada di Wikidata • Articles with hCards • Pranala kategori Commons ada di Wikidata • Templat webarchive tautan wayback • Pages using flagicon template with unknown parameters • Semua artikel biografi • Artikel biografi April 2022 • Artikel Wikipedia dengan penanda VIAF • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda NTA • Artikel Wikipedia dengan prajna dewantara BPN • Artikel Wikipedia dengan penanda FAST • Artikel Wikipedia dengan penanda Trove • Artikel Wikipedia dengan penanda WORLDCATID • Halaman ini terakhir diubah pada 1 April 2022, pukul 16.53.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •

PERINGATAN KEMERDEKAAN WARGA BTN ASEAN 17 AGUSTUS 2020




2022 www.videocon.com