Nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk

nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk

1. Nabi Muhammad SAW diutus di muka bumi sebagai rahmat untuk …. a. Seluruh alam semesta b. Keluarganya c. dirinya sendiri d. para sahabatnya 2. Cara dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah adalah . a. Sirri b. Jahr c. Sirri dan jahr d. Terpusat di masjid 3. Salah satu keberhasilan dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah adalah . a. Menanamkan aqidah Islam b. Mengajarkan cara hidup bermasyarakat c. Mmenunjukkan perbedaan derajat d.

Hanya mengajarkan cara berperang 5. Di bawah ini yang bukan termasuk hikmah yang dapat diambil dari misi Nabi Muhammad SAW di Mekkah adalah . a. Senantiasa menomorsatukan Allah b. Selalu menjunjung tinggi persamaan derajat manusia dihadapan Allah swt. c. Agar mementingkan kelompok atau golongannya d.

Mengangkat harkat dan martabat wanita 6. Nabi Muhammad menolak pencampuran ajaran Islam dan ajaran lain karena dengan surat . a.

Quraisy b. Al 'Alaq c. Al Mudatsir d. Al Kafirun 7. Di bawah ini yang bukan termasuk keladanan yang dapat diambil dari perjuangan para sahabat dalam menghadapi masyarakat Mekkah adalah . a. Kebersamaan dalam membantu si miskin b. Kegigihan dalam mempertahankan iman c. Keutuhan dalam menjaga persatuan d. Kesatuan dalam tekad perang 8. Masyarakat Mekkah memiliki kepercayaan terhadap . a. Agama Yahudi b. Yahudi c. Paganisme d. Nasrani 11. Suku Quraisy merupakan pendudukan Makkah yang memegang perniagaan di jazirah Arab karena beberapa faktor, kecuali .

a. Keberadaan Orang Yaman yang ahli perniagaan di Makkah b. Keberadaan Kabah sebagai tempat melaksanakan haji c. Kebiasaan Suku Quraisy melakukan perjalan perdagangan ke daerah lain. d. Kekayaan sumber daya Alam di Makkah 15. Kafir Quraisy merasa khawatir kehilangan status sosial sehingga menolak dakwah Nabi Muhammad karena salah satu prioritas dakwah nabi Muhammad saw . a. Mengajarkan persaman hak asasi b.

Merubah prilaku jahiliyah c. Menegaskan hari kiamat d. Mengajarkan ketauhian 16. Berikut ini adalah para shahabat yang ikut Hijrah ke Habasyah, kecuali . a. Utsman bin Affan b. Zubair bin Awwam c. Abdurrahman bin Auf d. Hamzah bin abdul Muthalib 17. Utusan kafir Quraisy untuk menemui Raja Habasyah dengan harapan Raja Habasyah mau mengembalikan para pengikut Nabi Muhammad ke Makkah adalah .

a. Amr bin 'Ash b. Abu Sufyan bin Harb c. Khalid bin Walid d. Zubair bin Umayah 18. Salah satu Alasan Nabi Muhammad memilih Thaif sebagai tempat berlindung adalah .

a. Penduduknya sangat mendukung Nabi Muhammad b. Kaya dengan sumber alamnya c. Sukunya termasuk suku Arab yang paling kuat b. Sukunya bermusuhan dengan Kafir Quraisy 19. Da’i pertama dalam sejarah Islam adalah . a. Ali bin Abi Thalib b.

Mus’ab bin Umair c. Mu’adz bin Jabal d. Amar bin Yasir 20. Perjanjian Aqabah pertama disebut baiat wanita karena . a. Pesertanya wanita b. Tanpa perintah perang c. Baiat sumpah setia d. Kondisi ketakutan none
Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior MINA (Mi’raj Islamic News Agency) Di dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR.

Al-Baihaqi). Ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu agama Islam, merupakan agama yang sempurna untuk seluruh umat manusia sepanjang masa.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan Rasul akhir zaman, Rasul terakhir dan penutup para nabi, yang diutus oleh Allah untuk seluruh umat manusia tanpa melihat asal suku dan bangsanya. Misi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam antara lain adalah menyempurnakan akhlak manusia.

Begitulah, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus di tengah-tengah masyarakat pada jaman jahiliyah. Saat itu, akhlak dan prilaku masyarakat sangat biadab, penuh dengan penyembahan pada berhala, pengagungan manusia atas manusia lainnya, perbudakan, penuh dengan pertikaian dan penguasa yang menindas. Begitulah, Allah mengutus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dilengkapi dengan perilaku (akhlak) yang mulia dan menjadi teladan terbaik bagi umatnya.

Keagungan akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam, Allah sebutkan di dalam ayat: وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS Al-Qalam: 4). لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

(QS Al-Ahzab: 21). Isteri baginda Nabi, ‘Aisyah sendiri menyebut akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Al-Qur’an. Maka, siapa saja yang menginginkan kehidupan di dunia hingga akhirat berjalan baik dan selamat sebagaimana yang dikehendaki Allah. Tiada jalan lain kecuali kembali mengamalkan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam kehidupannya sehari-hari.

Sebab Al-Qur’an diturunkan adalah sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa, dan dengan ketakwaan inilah kehidupan dunia hingga akhirat akan berlangsung baik dan selamat. Firman Allah: الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ Artinya: “Alif laam miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”.

(QS Al-Baqarah: 1-2) Maka, bagi siapa saja yang mengabaikan Al-Qur’an dengan memperturutkan hawa nafsunya, dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah mengingatkan di dalam ayat: وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى.

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا. قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى. وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى Artinya: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”. Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”.

Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk dan lebih kekal”. (QS Thaha: 124-127). Akhlak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah untuk terciptanya sebuah ketenteraman, kebahagian dan kesejahteraan hidup seluruh makhluk di seluruh dunia hingga akhirat. Sebagaimana firman Allah: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu Muhammad, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

(QS Al-Anbiya’: 107). Semoga kita dapat meneladani akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam kehidupanm sehari-hari. Aamiin. (RS2/P1) Mi’raj Islamic News Agency (MINA) ===== Ingin mendapatkan update berita pilihan dan info khusus terkait dengan Palestina dan Dunia Islam setiap hari dari Minanews.net. Yuks bergabung di Grup Telegram " Official Broadcast MINA", caranya klik link https://t.me/kbminaofficial, kemudian join.

Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. PAI Kelas 6 Pelajaran 5 – Nabi Muhammad saw. diutus Allah sebagai rosul-Nya di muka bumi ini utamanya adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Saling mencintai karena Allah Swt. adalah salah satu akhlak mulia.

Kita menyayangi orang tua, guru, saudara, dan sesama manusia untuk hidup mulia dunia dan akhirat. Berperilaku jujur juga bagian dari akhlak mulia yang paling penting.

Kita nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk akan pernah bisa membohongi diri nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk apalagi Allah Swt. Orang jujur pasti dihormati dan disayangi oleh siapa saja. Kejujuran dan Kasih Sayang Rasulullah saw.

Nabi Muhammad saw. ”al-Amin ” Nabi Muhammad saw. sejak kecil sudah menjadi yatim piatu. Oleh sebab itu, beliau sangat mencintai anak yatim dan menganjurkan umatnya untuk merawat, mendidik, dan mencintai anak yatim. Di samping itu, Nabi Muhammad saw.

terkenal sangat jujur. Sikap jujur tersebut sudah diperlihatkan sebelum beliau diangkat menjadi rasul.

nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk

Pada usia remaja, beliau diminta bantuan oleh pamannya untuk membawa barang dagangan Siti Khadijah binti Khuwailid yang kaya dan dihormati di Kota Mekah. Pada usia tiga puluh lima tahun, Nabi Muhammad saw. bersama-sama dengan orang-orang Quraisy diminta untuk memperbaiki Ka’bah. Ketika pembangunan sudah sampai ke bagian Hajar Aswad, bangsa Quraisy berselisih tentang siapa yang mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula.

Pada akhirnya, mereka sepakat menunjuk Muhammad saw. sebagai orang yang tepat untuk melakukan hal tersebut. Rasulullah pun kemudian mengambil selembar selendang, kemudian Hajar Aswad itu diletakkan di tengah-tengan selendang tersebut. Beliau lalu meminta seluruh pemuka kabilah yang berselisih nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk memegang ujung-ujung selendang itu.

Mereka kemudian mengangkat Hajar Aswad itu bersama-sama. Setelah mendekati tempatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-lah yang kemudian meletakkan Hajar Aswad tersebut. Ini merupakan jalan keluar yang terbaik. Seluruh kabilah setuju dan meridhai jalan keluar ini. Mereka pun tidak jadi saling menumpahkan darah. Sejak saat itu, beliau dikenal di antara kaumnya dengan sifat-sifat yang terpuji. Para sahabat dan pengikutnya sangat menghormati dan mencintai beliau sehingga beliau diberi gelar ”al-Amin, artinya orang yang dapat dipercaya.

Mari kita teladani sifat jujur Nabi Muhammad saw. dalam kehidupan sehari-hari. Kasih Sayang Rasulullah saw. terhadap Anak, Keluarga, Orang Tua, dan Masyarakat Selain memiliki sifat jujur dalam berdagang dan bergaul, Rasulullah saw.

pun sayang terhadap keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Pada zaman Jahiliyah, penduduk Mekah tidak menghargai anak perempuan. Namun, Nabi Muhammad saw. justru menggendong putrinya Fatimah yang masih balita sambil Thawaf – mengelilingi Ka’bah. Begitu pula setelah Fatimah dewasa dan dikaruniai anak; Rasulullah saw. menyayangi cucunya yang bernama Hasan dan Husein.

Rasulullah saw. juga tidak pernah menyakiti hati orang lain. Hal itu dapat dibuktikan dalam hadiś beliau yang artinya: ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah Swt. dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim). Kepedulian Rasulullah saw.

terhadap Lingkungan Kepedulian Rasulullah saw. bukan hanya pada ibadah seperti sholat, tetapi beliau pun peduli terhadap lingkungan hidup. Hal itu tercermin pada perilaku beliau antara lain, sebagai berikut. • Nabi Muhammad saw. sangat hemat dalam mempergunakan air; itu dibuktikan pada anjuran beliau agar tidak berlebihan dalam pemakaian air dalam berwudu’. • Nabi Muhammad saw. mengajarkan agar tidak melakukan kerusakan di muka bumi ini. Nabi Muhammad saw. sebagi Pembawa Rahmat bagi Alam Semesta Nabi Muhammad saw.

diutus oleh Allah Swt. sebagai Rahmatan lil Ălamín atau sebagai pembawa kasih sayang bagi alam semesta ini. Tujuan dakwah Nabi Muhammad saw. adalah untuk mengubah keadaan masyarakat Jahiliyah menjadi masyarakat yang sejahtera berdasarkan agama Tauhid, yaitu agama yang menyakini bahwa Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Esa. Nabi Muhammad saw. selain mengajak kita untuk mengutamakan kemurnian aqidah dan selalu menyembah Allah Yang Maha Esa. Beliau juga menanamkan akhlak terpuji yang membawa kebaikan manusia hidup di dunia hingga akhirat.

Salah satu sifat terpuji yang dapat kita cermati, ketika beliau dan pengikutnya hijrah ke Kota Madinah adalah beliau mampu menanamkan sikap persaudaraan antara kaum pendatang ( Muhajirin) dengan kaum Anshor sehingga mereka saling menolong untuk menciptakan daerah yang tertib dan aman.

Sebagai umat Nabi Muhammad saw., kita harus menjunjung tinggi ajaran beliau, misalnya kita menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda.

Kita berperilaku sopan dan bertutur kata santun terhadap orang tua, guru dan masyarakat sekitar. Kepemimpinan Sahabat Rasulullah saw. Kepemimpinan Abu Bakar Abu Bakar adalah khalifah pertama setelah Nabi Muhammad saw. wafat. Beliau dilahirkan pada tahun 571 M. Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Abi Khuafah at-Taimi. Gelar Abu Bakar diberikan oleh Nabi Muhammad saw. karena ia adalah paling cepat masuk Islam. Gelar as-siddiq diberikan karena ia selalu membenarkan Nabi Muhammad saw.

dalam berbagai peristiwa, terutama membenarkan peristiwa Isra dan Mi’raj. Abu Bakar memimpin dari tahun 632 M sampai dengan nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk M.

Abu Bakar senantiasa meneladani perilaku Nabi Muhammad saw. Dalam menentukan keputusan, beliau selalu mengajak para sahabat untuk bermusyawarah. Beliau sangat memperhatikan rakyatnya. Beliau selalu membantu rakyat yang kekurangan. Meskipun Abu Bakar sudah menjadi pemimpin negara, beliau tidak sombong dan masih mau memerah susu untuk rakyatnya di kampung.

Untuk kesejahteraan rakyatnya, beliau mendirikan Baitul Mal, yaitu suatu lembaga yang mengurusi kas dan keuangan negara. Kepemimpinan Umar bin Khattab Umar bin Khattab adalah khalifah kedua setelah Abu Bakar. Umar bin Khattab mempunyai nama lengkap Umar bin Khattab bin Abdul Uzza.

Umar bin Khattab menjadi khalifah sejak tahun 634 M sampai dengan 644 M. Beliau seorang pemberani, jujur, adil, tegas, bijaksana dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya.

Beliau juga seorang pemimpin yang hidup sederhana dan suka bermusyawarah. Kalifah Umar bin Khattab tak mau menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, walaupun hanya sebatas cahaya lampu.

Pada masa pemerintahannya, Umar bin Khattab dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan bertanggung jawab. Jasa Khalifah Umar bin Khattab yang sampai saat ini kita rasakan adalah penetapan kalender Hijriyah atau penetapan tanggal 1 Muharam sebagai Tahun Baru Hijriyah.

Kepemimpinan Usman bin Affan Khalifah Usman bin Affan memerintah selama dua belas tahun atau dari tahun 644 sampai dengan 656 M. Beliau dikenal sebagai orang kaya dan dermawan. Bukti kedermawanan Usman bin Affan, yaitu pada masa pemerintahan Abu Bakar, beliau pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1.000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.

Di masa pemerintahannya, Usman bin Affan melakukan kodifikasi (menyusun atau membukukan) kitab al–Qur’an karena beliau khawatir akan terjadi perbedaan al–Qur’an. Kemudian, beliau membentuk panitia penyusunan al–Qur’an yang diketuai oleh Zaid bin Sabit dengan anggotanya Abdullah bin Zubair dan Abdurrahman bin Haris.

Panitia tersebut bertugas menyalin ulang ayat-ayat al–Qur’an dalam sebuah buku yang disebut Mushaf dan diperbanyak 4 (empat) buah (eksemplar). Satu buah disimpan di Madinah yang disebut Mushaf al-Imam atau Mushaf Utsmani, empat buah lainnya dikirim ke Mekah, Suriah, Basrah dan Kufah.

Di samping itu, beliau juga merenovasi Masjid Nabawi di Kota Madinah, dengan cara memperluas dan memperindah bentuknya. Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang khulafaurrasyidin yang terakhir.

Ali merupakan anak dari paman Rasulullah saw., yaitu: Abu Thalib yang selalu membela dakwah Nabi Muhammad saw. Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang pemberani. Hal itu sudah dibuktikan Ali bin Abi Thalib ketika harus menggantikan tidur Rasulullah saw.

Padahal di luar rumah pemuda-pemuda Quraisy ingin menyakiti Rasulullah saw. yang akan pergi hijrah. Masa pemerintahan Ali kurang lebih selama lima tahun (656-661 M). Selain pemberani, Ali bin Abi Talib juga seorang pemimpin yang peduli terhadap pendidikan. Sebagai contoh, beliau mendirikan beberapa madrasah untuk tempat belajar anak-anak. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Ali bin Abi Thalib mengharuskan pegawainya jujur, cakap, dan bertanggung jawab.

Beliau juga memajukan bidang Ilmu Bahasa, serta mengembangkan bidang pembangunan, terutama di Kota Kufah sebagai pusat Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ilmu Nahwu dan ilmu pengetahuan lainnya. Latihan Soal PAI Kelas 6 Pelajaran 5 Kamu bisa mengasah pemahaman dan kemampuanmu menggunakan latihan soal versi online ini.

Silakan klik tautan atau gambar di bawah ini! Latihan Soal PAI Kelas 6 Pelajaran 5 Untuk latihan soal PAI kelas 6 Seluruh Pelajaran silakan klik tautan di bawah ini Latihan Soal PAI Kelas 6 NB: Media pembelajaran online ini kami kembangkan dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada secara online hasil para guru-guru kreatif Indonesia.

Adanya media ini juga untuk mendukung kreatifitas mereka, video pembelajaran yang kami gunakan kami ambil langsung dari channel YouTube mereka.

Video-video tersebut kami embedd di media ini, sehingga tidak mengurangi viewer mereka, justru akan menambah nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk mereka serta meningkatkan rating pencariannya.

Mohon maaf, karena ribuan soal yang kami input jadi ada beberapa soal yang kunci jawabannya salah, mohon jangan kecewa karena itu semata-mata adalah kesalahan kami sebagai manusia. Bila menemukan kesalahan tersebut silakan kirim tangkapan layar ( screenshot) kesalahan tersebut kepada kami di email ghofurach@gmail.com atau melalui Whatsapp di 085648017971.

Bisa juga melalui komentar di laman ini disertai dengan keterangan subtema berapa. Terimakasih…. Buku Digital PAI Kelas 6 Buku PAI versi digital (FlipBook) yang bisa kamu baca secara online pada tautan di bawah ini.

Ukuran file buku digital ini sengaja dibuat lebih kecil sehingga bisa diakses dengan cepat. Bila membutuhkan membaca secara offline bisa diunduh di tautan yang telah disediakan. Ukuran file buku pdf juga sudah disesuaikan (lebih kecil) sehingga tidak makan banyak kuota internet, cepat dalam pengunduhan, serta tidak banyak mengurangi ruang penyimpanan. Silakan baca bukunya di sini: FlipBook PAI Kelas 6 • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk berbagi pada Tumblr(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk mengirim ini lewat surel kepada seorang teman(Membuka di jendela yang baru) •
Share Allah Swt mengutus Nabi Muhammad Saw di masa kevakuman para rasul a.s.

Beliau merupakan penutup para nabi dan penghapus syariat para rasul yang datang sebelumnya. Beliau diutus untuk seluruh manusia, baik yang berkulit hitam maupun yang berkulit putih; baik orang Arab maupun orang Ajam (non-Arab). Dan waktu itu, bumi dari arah Barat dan Timur dipenuhi dengan aneka mitos (khurafat) dan pelbagai kebohongan, bidah, kekejian dan penyembahan berhala. Rasulullah Saw diutus agar ia memerintahkan manusia menyembah Allah Swt dan tidak menyekutukan-Nya.

Beliau juga diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak, dan diperintahkan untuk memerintahkan kebaikan dan meninggalkan segala keburukan. Melalui risalah yang dibawanya, manusia diminta untuk mengatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan hendaklah mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat serta berpuasa di bulan Ramadan dan melaksanakan haji ke Baitullah dan berpegang teguh dengan hukum-hukum Islam.

Dan dengan hanya mengucapkan dua kalimat syahadat maka seseorang dianggap Muslim dan ia memiliki semua hak yang ada pada kaum Muslim. Baca: Benarkah Nabi Muhammad Saw Seorang yang Ummi? Nabi Saw diutus untuk menyampaikan persamaan hak di antara semua orang dan tiada seorang pun yang lebih utama kecuali dengan ketakwaan. Beliau juga diutus untuk menciptakan persaudaraan di antara semua kaum Mukmin, dan bahwa masing-masing mereka sebanding dengan yang lain di mana masyarakat lapisan bawah pun merasa terlindungi.

Beliau juga diutus untuk memberikan amnesti massal kepada siapa pun yang masuk Islam. Beliau membawa syariat yang mengagumkan dan undang-undang yang adil yang nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk dari Allah Swt. Undang-undang ini mencakup hukum-hukum ibadah dan muamalah serta apa saja yang mereka butuhkan dalam kehidupan dunia dan akhirat mereka. Jadi, undang-undang tersebut mengandung aspek ibadah, sosial, politik, dan akhlak.

Dengan kata lain, apa pun yang akan mungkin terjadi pada kehidupan manusia di masa mendatang, dan apa pun yang diperlukan oleh mereka, pasti telah dibahasnya. Dengan demikian, tak ada peristiwa yang terjadi kecuali syariat Islam memiliki dasar yang pasti yang dapat dirujuk oleh kaum Muslimin.

Ibadah dalam agama Islam tidak hanya terfokus pada ibadah lahiriah, bahkan di dalamnya terdapat manfaat fisik, sosial, dan politik. Bersuci, misalnya, mengandung makna kebersihan, dalam salat terdapat unsur latihan spiritual dan fisik. Sedangkan dalam salat jamaah dan haji terdapat banyak manfaat sosial dan politik, dan dalam puasa terdapat manfaat kesehatan yang tak dapat dipungkiri. Namun perlu diketahui bahwa memahami manfaat-manfaat lahiriah hukum-hukum Islam, apalagi hukum-hukum yang batin (tersembunyi) adalah hal yang sulit.

Baca: Tujuan Allah Mengutus Muhammad SAW Dan karena dalam agama ini terdapat keindahan dan kebaikan, hukum-hukumnya sesuai dengan akal dan mudah serta penuh dengan toleransi dan cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda keislaman, dan karena di dalam ajaran-ajarannya terdapat keagungan, kepastian dan keseriusan, maka banyak manusia yang masuk Islam secara berbondong-bondong.

Kemudian umat Islam memenuhi mayoritas negeri di muka bumi. Dan cahayanya menembus timur dan barat bumi, dan semua negeri tersebut dan daerah-daerah bagiannya tunduk di bawah panjinya. Pelbagai umat justru didekatkan oleh Islam meskipun mereka memiliki keragaman unsur dan bahasa.

Tak perlu banyak waktu bagi seorang lelaki itu untuk memasuki Mekkah sebagai penakluk dan pemenang, di mana beliau menguasai penduduknya tanpa ada pertumpahan darah sebelumnya walaupun setetes. Padahal beliau tadinya terusir secara sembunyi-sembunyi dari Mekkah, dan para sahabatnya disiksa dan dihinakan serta dijauhkan dari agama mereka, sehingga terkadang mereka pergi ke Habasyah secara sembunyi-sembunyi dan terkadang pergi ke Madinah juga secara rahasia. Akhirnya, mereka masuk Islam, baik secara tunduk maupun secara terpaksa.

Dan pelbagai tokoh Arab delegasi demi delegasi datang kepada beliau dan menyatakan ketundukannya.

nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk

Agama ini tidak ditegakkan di atas pedang dan kekerasan sebagaimana dibayangkan oleh mereka yang ingin merusak citranya, tapi sebagaimana diperintahkan oleh Allah Swt: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” Baca: Alquran Rahmat bagi seluruh Manusia dan Nabi Muhammad Saw Rahmat bagi Semesta dalam Seluruh Aspek Dan Nabi Muhammaf Saw tidak memerangi penduduk Mekkah dan seluruh bangsa Arab sehingga mereka yang lebih dahulu memeranginya dan ingin membunuh dan mengusirnya.

Dan para pemuka agama lain yang turun kepada mereka kitab-kitab samawi mengakui agama umat Islam, sementara Nabi Muhammad Saw tidak memaksa mereka untuk masuk dalam Islam. Ketika Allah Swt mengutus Nabi-Nya, Dia menurunkan Alquran dalam bahasa Arab yang jelas, yang tidak terdapat kebatilan dari segala sisinya. Dengan Alquran, Nabi Saw mampu melemahkan para ahli sastra dan membungkam para ahli bahasa. Bahkan, beliau menantang mereka untuk membuat sepertinya, namun mereka tidak mampu melakukannya.

Padahal, mereka termasuk orang-orang Arab yang paling fasih, bahkan aspek kefasihan dan balaghah (perihal sastra Arab) berakhir pada mereka. Kitab agung yang diturunkan oleh Zat Yang Maha Bijaksana dan Mahatahu ini mengandung hukum-hukum agama dan berita-berita orang-orang dahulu, pendidikan akhlak, perintah akan keadilan dan larangan pada kelaliman serta menjelaskan segala sesuatu.

lni membuatnya berbeda dengan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Alquran yang mulia senantiasa dibaca sepanjang zaman. la tetap aktual, relevan dan tidak membosankan, meskipun berulangkali dibaca dan begitu tua usianya. Alquran yang mulia merupakan mukjizat; di mana ia menciptakan revolusi ilmiah dan budaya di masa kegelapan Jahiliah.

Kaidah-kaidah kebangkitannya menjadi landasan metode ilmiah yang cermat. la menganjurkan pencarian ilmu dan ia menganggapnya sebagai faktor pertama pendukung pencapaian manusia menuju kesempurnaan yang diharapkan. Dan ia mendorong manusia untuk berpikir, mengadakan eskperimen, mengkaji fenomena alam serta memperdalam hal tersebut sehingga mereka mampu menyingkap hukum-hukumnya dan ketentuan-ketentuannya.

Alquran juga mengharuskan mempelajari semua yang dibutuhkan oleh nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk sosial manusia. Bahkan ia pun memperhatikan ilmu-ilmu teoritis seperti Teologi, Filsafat, Sejarah, Fikih, dan Akhlak. Ia melarang pelbagai bentuk taklid serta mengikuti prasangka dan mengukuhkan kaidah-kaidah berpikir dengan menggunakan burhan (bukti rasional).

Baca: Mati dalam Keadaan Mencintai Keluarga Muhammad saw, Mati Syahid Islam sangat memperhatikan penjagaan keamanan dan perlindungan harta dan darah serta kehormatan. Islam menetapkan hukuman yang berat bagi siapa pun yang mencoba mengganggu keamanan. Tentu yang demikian ini setelah ia mempersiapkan fasilitas yang sesuai untuk menciptakan stabilitas dan keadilan; di mana ia menjadikan hukuman sebagai solusi terakhir untuk mengatasi penyakit sosial ini dengan suatu cara yang sesuai dengan kebebasan yang dicanangkan oleh Islam pada manusia.

Maka itu, penghakiman dalam syariat Islam selalu bertumpu pada penegakan keadilan dan keamanan serta pemberian hak yang sah dengan memberi pelbagai jaminan yang lazim untuk mendukung hal tersebut. *Dikutip dari buku Biografi Sang Adi Insan Muhammad Rasulullah Saw – The Ahl-Bayt World Assembly Buletin • Nilai-Nilai Asyura dalam Surah Al-Fajr • Suara Dewan Syura Ahlulbait Indonesia Menyambut Nisfu Sya’ban 1438 H • Solidaritas Palestina dan Tafsir Ayat Persaudaraan • Mereka yang Tidak Peduli Nasib Sesama • Sebagai Pemimpin, Nabi SAW adalah Orang yang Ikhlas, Pekerja Keras, Akomodatif, dan Komunikatif
Seorang muslim yang mempercayai akan setiap nabi yang dituskan kepada umatnya masing-masing, tentunya punya misi intinya sama, mengajak untuk bertauhid, menyembah kepada Allah, serta mematuhi nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk menjahui apa-apa yang sudah ditetapkan.

Hal ini juga berlaku kepada Nabi Muhammad saw., yang disuruh untuk memperbaiki akhlak manusia yanghidup pada waktu itu yang sudah kelewat batas. Sebagai khatamul anbiyaa’ (penutup para nabi), beliau mendapatkan misi dan amanat yang begitu besar dan harus dilaksanakannya sebagai seorang rasul Allah swt. Menyempurnakan Akhlak Manusia Mengenai akhlak manusia yang waktu itu sudah tidak teratur dan tidak terkendali, Nabi Muhammad saw., diberikan perintah untuk memperbaiki akhlak manusia yang berada di lingkungan sekitarnya.

Mulai dari segi ibadah, keyakinan, mu’amalah dan lain sebagainya. Dari kondisi masyarakat yang bernuansa carut marut itulah nabi ditugaskan untuk memperbaiki kondisi tersebut dengan beberapa cara, antara lain: a. Mengajarkan ajaran tauhid kepada kaumnya Bagian yang paling penting dalam menyempurnakan akhlak manusia tentu manusia harus bisa men-tauhid-kan Tuhannya. Serta membebaskan diri dari sesuatu yang bersifat musyrik.

Hal ini dilakukan oleh Rasulullah saw., yang waktu itu sedang berada di Makkah dan dipenuhi oleh kaum Jahiliyah yang senang menyembah berhala.

Ajaran tauhid yang dijelaskan oleh nabi Muhammad saw., terdapat dalam Kitab Suci al-Qur’an, seperti yang tertulis dalam surat al-Baqarah, berikut ini : وَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ ١٦٣ Artinya: “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (QS. al-Baqarah (2): 163 Dalam surat yang lain dijelaskan juga bahwa semua utusan Allah swt.

sebelum Nabi Muhammad pun juga diberikan wahyu untuk mnegajarkan ajaran tauhid ini. وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ ٢٥ Artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku" (QS. al-Anbiyaa’ (21): 25) b. Memberikan adanya kabar gembira dan peringatan bagi setiap ummat Nabi Muhammad saw., yang menjadi utusan Allah, selain mengajarkan ajaran tauhid juga mempunyai misi lain yang harus disampaikan kepada ummatnya.

Sebagai pembawa kabar gembira juga sebagai pemberi peringatan. Beliau sudah pasti akan memberikan kabar gembira kepada siapapun yang senantiasa beriman kepada Allah dan rasul-Nya. ( Simak juga: Iman Kepada Allah) Begitu pula sebaliknya, jika siapa saja yang meninggalkan aturan-aturan yang sudah ditetapkan, serta suka berbuat onar dan jahat, beliau pasti akan mendatanginya untuk memberikan sebuah peringatan supaya menghentikan perbuatan jeleknya tersebut. Karena kelak perbuatan terbeut akan mendapatkan balasan setimpal.

Perihal di atas seperti yang dicantumkan dalam QS. Fathir (35): 24, sebagai berikut: إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗاۚ وَإِن مِّنۡ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٞ ٢٤ Artinya: “Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan” c. Memberikan bimbingan moral terhadap satu sama lain Ketika beliau masih berada di kota Makkah, mayoritas moral masyarakat kota Makkah sangatlah bejat dan banyak perlakuan-perlakuan yang kurang terpuji sering dilakukan oleh mereka semua.

Dalam posisi inilah nabi Muhammad sangat mempunyai peran penting, yakni memberikan contoh yang baik dan benar terhadap mereka semua, semua itu dilakukan tentu agar perilaku dan moral mereka semua bisa berubah menjadi baik.

Seperti penjelasan sebuah hadits. عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ : إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ (رواه أحمد) Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw., bersabda: “Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak yang baik ( sholeh) (HR. Ahmad) Bimbingan moral yang diberikan oleh nabi tentu mempunyai sebuah kelebihan tersendiri. Mulai dari perilaku baik dan sopan santunnya terhadap masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Sampai rasa kasih sayangnya terhadap mereka yang bahkan mencemooh dan menghinanya. Tidak ada rasa marah dan membalas perbuatan mereka kembali. Akhlak nabi sangatlah tinggi, beliau tahu bahwa hinaan, cemoohan, ancaman dan lain-lain yang mengandung unsur jahat, bisa jadi dikarenakan mereka belum tahu atau belum mendapatkan hidayah dari Allah swt.

Bahkan ada sebuah hadits yang mejelaskan nabi pun mendoakan mereka semuanya. رَبِّ اغْفِرْ لِقَوْمِي ، فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ (رواه مسلم) Artinya: “Wahai Tuhan, ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui” (HR. Muslim) Kepada kaum yang terbilang lemah atau pada para fakir miskin pun, beliau juga sangatlah perhatian, mulai dari cara bicara dan juga amal kesehariannya. Dari sinilah mereka semua bisa menanggapi apa yang sebenarnya diajarkan oleh nabi Muhammad saw.

Sebagai pemimpin, beliau juga mempunyai watak yang cerdas, dan pandangan yang luas, dari sinilah ketika beliau berdakwah kepada kaumnya mengenai berbagai ajaran iman dan islam, beliau memberikan contoh lebih dulu dan dilakukan sehari-hari. Dari kepribadian seperti itulah, umatnya bisa menjadi mengerti. Dari situ pula, nabi melakukan dakwahnya tanpa adanya sebuah paksaan, dan yang mengikuti ajarannya bisa mengerjakan sebuah amalan dengan senang hati, penuh kepercayaan dan keyakinan serta tanpa keraguan sedikitpun.

Sumber: • Supardjo, Ngadiyanto, Mutiara Pendidikan Agama Islam Untuk Sekolah Menengah Pertama Kelas VII, (Solo: PT. Wangsa Jatra Lestari, 2011) • Software al-Qur’an in Word v.2.2Software al-Maktabah al-Syaamilah v. 3.64 • id.wikipedia.orgRekomendasi • Masjid Sunan Kalijaga tetap pertahankan keaslian • 7 Keutamaan Salat Shubuh Berjamaah di Masjid • Keutamaan Surah Al-Mulk Pelindung dari Siksa Kubur • Keutamaan Membaca Al-Quran dengan Mushaf • Beginilah Gambaran Bangsa Arab Sebelum Datangnya Islam • Keunikan Masjid Bingkudu di Kabupaten Agam • Cara Mengangkat Tangan Ketika Takbiratul Ihram Menurut 4 Mazhab • Kisah Rasulullah SAW Mengganjal Perutnya dengan Batu • Doa yang Diajarkan Nabi Agar Tetap Tawakkal • Kisah Nabi Ibrahim dan Raja Namrud yang Sombong Read Again • Kisah Umar Bin Khattab di Masa Jahiliyah, Ahli Miras dan Mencumbu Perempuan • Sayyidah Shafiyah: Tawanan Perang, Putri Ulama Yahudi yang Dinikahi Rasulullah SAW • Niat Puasa Qadha Ramadhan di Bulan Syawal dan Tata Caranya • Mencari Keberkahan dari Makanan yang Disajikan Sesuai Syariat • Inilah Hikmah dan Manfaat Puasa 6 Hari di Bulan Syawal nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk Berwisata dengan Tujuan Ibadah akan Lebih Bermakna, Yuk Amalkan!

• Inilah 5 Keutamaan Puasa Syawal Menurut Hadis Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa salllam (SAW) diberi keistimewaan berupa watak dan kepribadian luhur serta beragam kebaikan. Allah menghiasinya dengan sifat-sifat mulia yang terangkum dalam dua kata "akhlaqul-karim" (akhlak mulia). Dua kata itu melekat menjadi sebutan Beliau sekaligus misi kerasulan Beliau.

Sayyidatina Aisyah RA merangkum akhlak Nabi Muhammad SAW dalam 3 kata: "Akhlaknya adalah Alquran". Di riwayat lain, Aisyah juga berkata: "Beliau adalah manusia terbaik akhlaknya. Tak pernah berbuat keji atau berkata keji. Tak pernah gaduh di pasar. Tak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi memaafkan dan menjabat tangan". Itu pula yang dikatakan pelayan (pembantu) Nabi, Sayyidina Anas ibn Malik RA yang 10 tahun setia menemani Nabi SAW di rumah maupun di perjalanan.

"Rasulullah adalah manusia terbaik akhlaknya," ujarnya. Maka tak salah bila dikatakan Nabi Muhammad SAW adalah Alquran berjalan di muka bumi. Dalam diri Beliau tercermin isi kitabullah.Hidupnya adalah replika wahyu, bagaimana kebaikan diterapkan dan keburukan dijauhi. Dengan begitu, Nabi mengajarkan kepada manusia bagaimana mewujudkan firman Allah dalam kehidupan sehari-harinya.

Dan cukuplah sebagai bukti pujian Allah kepada Nabi Muhammad dalam banyak ayat serta persaksian-Nya. "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung," (QS. Al Qalam:4).

nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk

Beliau senantiasa memperlakukan orang lain dengan lemah lembut, mengasihi mereka, menuntun mereka kepada hidayah, berlapang dada, dan tidak sempit hati. Nabi Muhammad SAW juga selalu bersikap tawadhu' kepada setiap mukmin. Padahal, beliaulah yang lebih berhak diutamakan dan dikasihi kaum mukmin. Dalam QS At-Taubah ayat nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk, Allah berfirman: "Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri.

Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang mukmin." Bahkan, Beliau adalah rahmat yang diutus untuk semesta alam (langit dan bumi). "Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam" (Al-Anbiya:107).

Di antara watak dan kepribadian Nabi Muhammad adalah tajamnya akal disertai kepekaan indra dan kekuatan fisik. Jujur dan amanah, penuh cinta kasih, adil, pemalu, baik dalam bergaul, ridha, toleran, santun, tenang, beriwibaya, tawadhu', selalu memberi kemudahan, mensyukuri nikmat, tawakkal. Selain itu, murah hati, sabar, pemaaf, menepati janji, menyambung silaturrahim, gagah berani, membela kebebasan aqidah, bijak dan ahli strategi, teguh memegang kebenaran, optimistis, tidak gegabah serta fasih dalam berbicara.

Kebaikan dan keluhuran budi pekerti Nabi yang agung ini merupakan sumber teladan dan panutan bagi semua orang. Barang siapa yang mencintai, mengikuti dan menghidupkan sunnah Beliau, niscaya hidupnya bahagia di dunia dan akhirat.

• hikmah ramadhan • kisah nabi muhammad saw • Beginilah Kondisi Para Sahabat setelah Berakhirnya Bulan Ramadhan • Kisah Istri-Istri Rasulullah SAW: Cemburu Berat Aisyah kepada Shafiyah • Sayyidah Shafiyah: Tawanan Perang, Putri Ulama Yahudi yang Dinikahi Rasulullah SAW • Kisah Ibrahim bin Adham: Ketika Kuburan Kian Ramai dan Kota Makin Sepi • Inilah Hikmah dan Manfaat Puasa 6 Hari di Bulan Syawal • Niat Puasa Qadha Ramadhan di Bulan Syawal dan Tata Caranya • Dua Kisah Sahabat Nabi SAW yang Rutin Membaca Surah Al-Ikhlas dalam Setiap Sholat • Kisah Dalam Al-Qur'an yang Terulang dan yang Tak Terulang Kembali • Kisah Debat Sengit Abu Bakar dengan Umar Bin Khattab Soal Memerangi Pembangkang Zakat • Kisah Umar Bin Khattab di Masa Jahiliyah, Ahli Miras dan Mencumbu Perempuan
alhikmah.ac.id – Nabi Muhammad Saw mempunyai ciri-ciri yang khusus dibandingkan dengan para rasul lainnya.

Diantara ciri-ciri tersebut adalah sebagai nabi penutup, penghapus risalah sebelumnya, membenarkan nabi sebelumnya, menyempurnakan risalah, diperuntukkan bagi manusia seluruh alam dan sebagai rahmat bagi alam semesta. Ciri-ciri ini dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk tidak dimiliki oleh para Rasul sebelumnya. Nabi Muhammad sebagai penutup berarti tidak ada lagi nabi setelah nabi Muhammad Saw, ia pun menghapuskan risalah sebelumnya yang berarti risalah sebelumnya tidak lagi digunakan setelah datangnya Nabi Muhammad Saw, beliaupun membenarkan Nabi sebelumnya dan adanya Nabi Muhammad tidak untuk kaumnya saja tetapi bagi seluruh manusia dan bagi semesta alam.

Rasulullah tampil sebagai pembawa risalah Islam yang mencakupi huda dan dienul Haq. Selain itu hadirnya Rasulullah Saw di tengah kita adalah sebagai saksi, pembawa berita gembira dan peringatan, menyeru ke jalan Allah dan sebagai pelita yang menerangi.

1. Khatama Al Anbiya (Nabi penutup). Allah Swt telah menurunkan Nabi sebanyak 124.000 dan Rasul sebanyak 313 orang. Namun demikian di dalam Al-Qur’an yang disebutkan hanya sebanyak 25 orang saja. Perhatikan Al-Qur’an surat 40: 78, 4: 163-164, 6: 84-86.

Seperti juga ada diungkapkan bahwa setelah Rasul Musa AS ada sebanyak 36 pelanjut Risalahnya. Sedangkan penutup bagi semua Rasul dan Nabi itu adalah Nabi Muhammad Saw. Dalil: Q.33: 40, Muhammad itu bukan bapa salah seorang diantara lelaki kamu tetapi dia adalah Rasul Allah dan kesudahan dari Rasul-Rasul Allah. 2. Nasikhu Ar Risalah (penghapus risalah). Risalah terdahulu hanya untuk kaum tertentu saja, sehingga hanya sesuai untuk kaum tersebut.

Selain itu risalah terdahulu mengikuti keadaan dan situasi serta keperluan semasa waktu itu sehingga hanya sesuai pada saat tersebut saja.

Risalah Nabi Muhammad sebagai pelengkap dari risalah sebelumnya dan sekaligus memansukhkan risalah sebelumnya.

nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk

Risalah Nabi Muhammad Saw sesuai dan dapat digunakan oleh semua manusia dan dapat diamalkan hingga hari kiamat. Risalah terdahulu yang dibawa oleh ratusan Nabi dan Rasul mempunyai pendekatan dakwah yang sesuai dengan pendekatan kaumnya misalnya pendekatan dakwah Nabi Daud dengan kekuatan fisikal, Nabi Sulaiman pandai bercakap dengan hewan, pohon, jin dan mempunyai kekuatan memindahkan kerajaan dan sebagainya, Nabi Ibrahim berdakwah dengan memotong semua kepala berhala, Nabi Isa AS tidak berkahwin dan banyak contoh lainnya.

Disimpulkan bahwa pendekatan-pendekatan dakwah dan risalah yang dibawa oleh Nabi sebelumnya tidaklah sesuai lagi bagi zaman sekarang. Dalil: Hadits. Q.33: 40, sebagai penutup nabi.

Q.61: 8, membenarkan para nabi sebelumnya. Q.34: 28, ditujukan untuk seluruh manusia. Q.21: 107, menjadi rahmat bagi alam semesta.

nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk

3. Musoddiqu Al Anbiya (membenarkan para nabi). Banyak tantangan dan cabaran yang mencoba menghapuskan agama Allah, namun demikian Allah Swt senantiasa menjaga dan memeliharanya dari serangan kaum kafir. Diantaranya dengan memenangkan Islam atas agama lainnya atau dengan menurunkan para Rasul dan Nabi untuk kembali menegakkan kesilapan atau kejahiliyahan ummat. Nabi Muhammad Saw sebagai nabi akhir melengkapi risalah sebelumnya dan dijadikan sebagai rujukan utama bagi ummat Islam.

Dalil: Q.61: 8-9, Mereka hendak memadamkan risalah Allah tetapi Allah Swt pelihara dan menyempurnakannya. Kemudian Allah Swt mengutus Rasul-Nya dengan memberikan petunjuk dan agama yang benar, supaya Dia memenangkan agama Allah itu atas sekalian agama.

4. Mukammilu Ar Risalah (penyempurna risalah). Selain membenarkan Rasul dan Nabi sebelumnya yang membawa risalah Islam. Kehadiran nabi Muhammad Saw juga diperuntukkan menyempurnakan risalah sebelumnya.

Risalah sebelumnya cenderung diperuntukkan bagi suatu kaum tertentu saja dan bagi saat tertentu. Berbeda dengan Nabi Muhammad Saw yang diutus untuk semua manusia (tidak untuk kaumnya saja) dan berlaku hingga kiamat. 5. Kaafatalinnaas (untuk seluruh manusia). Rasul Muhammad Saw berbeda dengan para Rasul dan Nabi sebelumnya dimana Nabi Muhammad Saw diutus bagi kepentingan ummat manusia secara keseluruhan dengan tidak mengira suku, bangsa, warna kulit, bahasa dan sebagainya.

Sehingga dapat dilihat perkembangan Islam pada masa ini dimana muslim tersebar di seluruh pelosok dunia. Dalil: Q.34: 28, Kami tiada mengutus engkau ya Muhammad melainkan kepada sekalian ummat manusia untuk memberi khabar gembira dan peringatan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.

6. Rahmatul Alamin (rahmat bagi alam semesta). Kehadiran Nabi Muhammad Saw dimuka bumi ini adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam yang tidak saja manusia tetapi juga alam, hewan, pokok dan sebagainya. Manusiapun dengan kehadiran Nabi Muhammad mendapatkan rahmat dan kebaikan. Manusia kafir dan jahiliyahpun mendapatkan rahmat dari kedatangan Islam. Dengan demikian Islam dan Nabi Muhammad tidak hanya untuk ummat Islam tetapi kebaikannya juga dirasakan oleh manusia lainnya.

Islam adalah membawa agama fitrah yang sesuai dengan penciptaan manusia, jadi apabila Islam disampaikan maka akan dirasakan sesuai oleh manusia. Alam, hewan dan pokokpun dilindungi dan dipelihara dengan kedatangan Islam. Umat Islam sebagai khalifah di muka bumi melaksanakan pemeliharaan dan penjagaan alam dengan demikian kestabilan terwujud dan alam serta isinya menjadi damai. Dalil: Q.21: 107, kami tiada mengutus engkau (ya Muhammad), melainkan menjadi rahmat untuk semesta alam. 7. Risalatul Islam.

Risalah Nabi Muhammad Saw adalah risalah Islam, yang dibawanya adalah sesuatu yang benar. Hal ini tercermin dari akhlak, kepribadian dan sifat-sifat Nabi yang mulia.

Inti nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk risalah Nabi Muhammad Saw adalah huda (petunjuk) dan dien yang benar. Risalah membawa huda karena Islam itu sendiri sebagai panduan bagi manusia. Dalil: Q.48: 28, Dia yang mengutus rasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya agama itu mengalahkan semua agama. Dan Allah cukup menjadi saksi. 8. Ad Dakwah.

nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk

Rasul menggunakan Islam sebagai petunjuk dan juga Allah menangkan Islam sebagai dienul Haq ke atas agama-agama lainnya. Usaha ini tidak akan tercapai apabila tidak dilaksanakan dakwah. Rasul dalam menjalankan dakwahnya mempunyai peranan sebagai saksi atas ummatnya, memberi penyampaian nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk Islam yang bersifat kabar gembira ataupun kabar peringatan. Allah Swt sekali lagi menegaskan bahwa Rasul berdakwah dengan menyeru manusia agar kembali kepada Allah dan kemudian Rasul sebagai pelita yang menerangi.

Peranan Nabi yang digambarkan di dalam surat 33: 45-46 adalah sebagai da’i. Beliau berdakwah dengan mengajak manusia dan bersifat sebagai pelita yang senantiasa dijadikan rujukan bagi manusia. Dalil: Q.33: 45-46, Hai Nabi, sesungguhnya kami mengutus engkau sebagai saksi atas ummat dan untuk memberi kabar gembira dan kabar takut. Dan untuk menyeru (manusia) kepada Allah dengan izinNya, dan menjadi pelita yang menerangi.
Nabi Muhammad saw merupakan khataman nabiyyin yaitu nabi dan rasul penutup/terakhir, tidak ada lagi nabi da rasul yang diutus Allah setelah beliau.

Rasulullah saw. diutus bukan untuk orang bangsa arab saja, tetapi untuk semua bangsa, olehnya itu Nabi Muhammad saw. sebagai Rahmatan lil alamin, yaitu anugrah bagi alam semesta.

Nabi Muhammad SAW. sebagai Penyempurna Akhlak Kondisi masyarakat Arab tempat beliau lahir sangat memprihatinkan waktu itu. Zaman tersebut sering disebut sebagai zaman jahiliah. Masyarakat berada dalam kebodohan akhlak. Mereka hidup tanpa aturan, semua orang mengejar kesenangan tanpa mempedulikan etika dan kebenaran, kezaliman merajalela. Dalam hal akidah mereka juga berada dalam kondisi buruk. Orang-orang menyembah berhala dan melakukan persembahan-persembahan kepada berhala.

Tidak ada seorangpun yang peduli untuk melakukan perbaikan. Dalam kondisi akhlak yang seperti itulah Nabi Muhammad saw. lahir. Sejak masa kecil, sebelum Nabi Muhammad saw. menjadi Nabi, beliau sudah memikirkan kondisi masyarakatnya yang buruk.

Nabi Muhammad saw. selalu berpikir dan merenung untuk mencari jalan bagi perbaikan. Petunjuk dari Allah itupun tiba, ketika Nabi Muhammad saw. menerima wahyu pertama. Sejak saat itu, Nabi Muhammad saw. mulai mengajarkan kebaikan.

Di tengah masyarakat jahiliah Nabi Muhammad saw. terus berjuang menyebarkan kebaikan. Beliau memiliki budi pekerti yang luhur meskipun hidup di tengah masyarakat jahiliah. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT.

yang artinya: Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar, berbudi pekerti yang luhur (Q.S. al-Qalam: 4) Ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. meliputi masalah akidah hingga akhlak. Selain mengajarkan untuk meninggalkan penyembahan terhadap berhala, Nabi Muhammad saw. juga memperbaiki akhlak masyarakat yang saat itu berada dalam kondisi jahiliah. Perilaku zalim dan penindasan dihentikan. Nabi Muhammad saw.

mengajarkan kepada para pengikutnya untuk selalu bersikap penyayang, melindungi kaum lemah, dan bersikap adil. Semua manusia dihargai martabatnya tanpa melihat status sosial maupun kekayaan yang dimilikinya.

Misi Nabi Muhammad saw. sebagai penyempurna akhlak disebutkan dalam hadis yang artinya: Dari Abu Huraira “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (H.R.

Baihaqi) Ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. telah mengubah akhlak manusia yang semula berada dalam kondisi gelap menjadi akhlak terpuji.

Sebagaimana dalam firman Allah yang artinya: "Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benarbenar dalam kesesatan yang nyata.

(Q.S. Ali-Imrān: 164) Dengan ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad saw. manusia memiliki nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk untuk menjadi makhluk yang mulia dan bermartabat. Kehidupan jahiliah ketika manusia hidup dalam kesia-siaan telah dihapuskan berkat ajaran dan teladan Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad SAW. sebagai Rahmat bagi Alam Semesta Nabi Muhammad saw. adalah rahmat bagi seluruh alam. Ajaran yang disampaikan serta perilaku yang diteladankan dalam diri Nabi Muhammad saw.

merupakan pembawa kebaikan bagi alam semesta. Hal ini berarti bukan hanya manusia, tetapi juga tumbuhan, hewan, serta semua makhluk. Allah swt. berfirman dalam Al-Quran yang artinya: "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (Q.S.

al-Ambiya: 107). Bagaimana cara Nabi Muhammad saw. membawa kebaikan bagi alam semesta? Nabi Muhammad saw. mengajarkan kepada umatnya untuk selalu mengadakan perbaikan dan tidak berbuat kerusakan. Melalui Al-Qur’an, beliau menyebarkan kebaikan bagi alam semesta, termasuk tumbuh-tumbuhan dan hewan. Perhatikan ayat yang mengarah pada pelestarian alam berikut ini. Artinya: Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan.

(QS.

nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk

al-Baqarah: 205) Ayat di atas menunjukkan bahwa setiap orang dianjurkan untuk mengadakan perbaikan dan tidak menimbulkan kerusakan termasuk terhadap binatang ternak dan tanaman. Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. merupakan rahmat bagi seluruh alam, termasuk tanaman dan hewan. Nabi Muhammad saw. menjadi rahmat bagi alam semesta dengan jalan menyebarkan kedamaian, kesejahteraan, dan kemajuan. 1. Kedamaian Nabi Muhammad saw. adalah pembawa kedamaian bagi alam semesta. Beliau mengajarkan kepada umatnya untuk berbuat adil, bersikap baik terhadap semua orang, tidak menzalimi orang lain, diri sendiri, dan alam sekitar.

Ajaran kedamaian tersebut juga diteladankan dalam diri Nabi Muhammad saw. Beliau tak pernah berlaku kasar, selalu adil, memaafkan orang lain, serta sikap-sikap lainnya. Dalam berdakwah Nabi Muhammad saw. juga selalu menempuh jalan damai. Beliau tak pernah memaksa atau bersikap kasar. Peperangan hanya dilakukan jika benar-benar terpaksa, setelah semua jalan damai tidak dapat ditempuh. Bahkan terhadap orang-orang kafir pun, jika mereka tidak mengganggu, beliau tetap bersikap baik.

Ajaran nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk seperti inilah yang dapat menjadikan kehidupan di dunia menjadi lebih baik. Tidak ada kezaliman, ketidakadilan, serta penganiayaan. Semua orang hidup dengan damai. Kedamaian juga disebarkan oleh Nabi Muhammad saw. kepada tumbuhtumbuhan maupun hewan.

Beliau adalah gembala kambing yang bersikap penuh kasih sayang kepada hewan ternak maupun hewan liar, tidak menyiksa atau membunuh jika tidak diperlukan. Bahkan dalam penyembelihan hewan ternak untuk dimakan dagingnya pun beliau mengajarkan untuk menggunakan cara-cara tertentu seperti menggunakan pisau yang tajam sehingga mengurangi rasa sakit hewan tersebut, memotong dalam sekali potong atau secepatnya agar tidak sakit terlalu lama, dan sebagainya.

Terhadap tumbuh-tumbuhan, beliau juga bersikap baik, tidak menebang sembarangan sehingga keseimbangan alam dapat terjaga. Peristiwa banjir dan tanah longsor akibat penggundulan hutan tidak diajarkan dan bahkan dibenci oleh Nabi Muhammad saw. Beliau mengajarkan untuk tidak membuat kerusakan di atas muka bumi. 2. Kesejahteraan Nabi Muhammad saw. mengajarkan untuk menyantuni kaum duafa, menyisihkan sebagian harta kekayaan untuk fakir miskin, beramal dan membantu keluarga serta teman dekat.

Dengan cara-cara tersebut ia membawa kesejahteraan bagi semua orang. Bagi orang-orang yang beramal, mereka tidak akan dirugikan di dunia maupun di akhirat. Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda baik di dunia maupun di akhirat kelak. Melalui ajaran dalam Al-Qur’an, hadis, maupun teladan dalam diri Nabi Muhammad saw., dunia bergerak ke arah yang lebih sejahtera.

Jika semua orang menerapkan ajaran ini, semua orang akan hidup penuh kesejahteraan. Kejahatan dan pencurian tak perlu terjadi. 3. Kemajuan Nabi Muhammad saw. juga menyampaikan dan mengajarkan agar setiap orang menuntut ilmu, mengadakan perbaikan.

nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk

Hal ini membawa kemajuan dalam semua aspek kehidupan. Ilmu kenegaraan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan keagamaan diterapkan untuk mencapai kemajuan. Caracara hidup yang terbelakang seperti kebodohan, kekafiran, dan kezaliman ditinggalkan. Perjuangan Nabi Muhammad SAW. Bersama Para Sahabat di Mekah Untuk menyampaikan ajaran yang dibawanya, Nabi Muhammad saw.

selalu menghadapi rintangan. Di Mekah, sejak pertama kali menerima wahyu dan mengajarkannya kepada orang-orang dekatnya, hambatan mulai datang. Abu Lahab, yang merupakan paman beliau sendiri, menentang dakwah dengan keras. Penentangan Abu Lahab tidak hanya berbentuk ucapan yang keras dan kasar, tetapi juga teror dan penyiksaan fisik.

Ia melempari Nabi Muhammad saw. ketika berdakwah dengan batu-batu hingga menyebabkan beliau terluka. Tetapi, hal ini tidak menghentikan tekad Nabi Muhammad saw. untuk terus berdakwah dan menyebarkan Islam. Setelah penolakan Abu Lahab, kaum Quraisy pun mulai melancarkan teror secara bersama-sama.

Mereka bersatu dan bertekad untuk menghancurkan Nabi Muhammad saw. serta para pengikutnya. Abu Jahl, salah satu orang dari kaum kafir Quraisy berniat membunuh beliau. Ketika Nabi Muhammad saw. sedang bersujud, Abu Jahl mengangkat sebuah batu dan mendekati beliau, berniat memukul kepala beliau dengan batu tersebut hingga meninggal. Tetapi, Allah melindungi Nabi Muhammad saw.

sehingga Abu Jahl tidak berhasil melaksanakan niatnya, bahkan lari terbirit-birit dalam keadaan sangat ketakutan. Penyiksaan dan kekerasan tidak hanya diterima oleh Nabi Muhammad saw. tetapi juga para sahabat yang telah masuk Islam.

Mereka adalah orang-orang yang pertama masuk Islam atau disebut assabiqūnal awwalūn, mereka adalah Khadijah, Ali bin Abi Talib, Zaid bin Haritzah, dan Nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk Bakar.

Mereka menjadi sasaran teror orang-orang yang ingin menghentikan dakwah Nabi Muhammad saw. Di antara para sahabat yang menerima siksaan-siksaan tersebut adalah Bilal, yang disiksa dengan ditindih batu yang sangat besar dan dibaringkan di atas padang pasir yang panas.

Zinnirah, disiksa sehingga matanya buta. Keluarga Ammar bin Yasir, ayah dan ibunya dibawa ke padang pasir dan disiksa karena mereka masuk Islam, bahkan ibu Ammar disiksa hingga meninggal dunia. Selain ucapan yang kasar dan keras, siksaan fisik, para sahabat juga menerima siksaan berupa embargo dari kaum kafir Quraisy. Kaum kafir Quraisy berniat menghancurkan Nabi Muhammad saw.

dan semua orang yang masuk Nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk dengan berbagai cara, termasuk dengan melakukan embargo sehingga tidak dapat memperoleh air dan bahan makanan, serta membuat usaha dagang mereka bangkrut. Tetapi, mereka tetap bertahan dalam akidah Islam.

Nabi Muhammad saw. dan para sahabat selalu bertahan dalam akhlak mulia meskipun diperlakukan dengan semena-mena. Nabi Muhammad saw. mengajarkan untuk membalas kezaliman dengan kebaikan, tidak berbuat zalim meskipun kepada orang yang menganiayanya, bersikap pemaaf. Di tengah sikap zalim dan jahiliah para kafir Quraisy, Nabi Muhammad saw.

dan para sahabat tetap bertahan sebagai manusia mulia, bermanfaat, dan mengembangkan sikap terpuji. Jika diibaratkan, mereka seperti intan yang tetap bersinar meskipun berada di tengah kubangan lumpur dan kotoran. Bersama para sahabat tersebut, Nabi Muhammad saw. terus mengajarkan Islam dan bertahan dari gangguan kaum kafir Quraisy. Para sahabat selain selalu mempelajari ajaran Nabi Muhammad saw.

juga berusaha menyebarkannya kepada orang-orang terdekat mereka, seperti keluarga dan sahabat. Misalnya Abu Bakar, yang terus berdakwah sehingga banyak orang yang masuk Islam berkat dakwahnya. Orang-orang tersebut adalah Usman bin Affan, Az- Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abu Waqqash, Thalhah, Abu Ubaidah, Amir bin Fuhairah, Sa’id bin Al Ash, dan seterusnya. Begitu pula dengan Usman, Umar, serta Ali yang dengan kemampuan yang dimilikinya selalu berjuang untuk menyebarkan Islam dan mempertahankannya dari gangguan kaum kafir Quraisy.

Hikmah Nabi Muhammad saw. berasal dari keturunan terhormat dan kaya. Abdul Mutalib, Kakeknya adalah orang kaya dan disegani di kalangan kaum Quraisy. Tetapi, beliau bergaul dengan semua orang, baik dari kalangan para pembesar Quraisy maupun dengan kalangan orang miskin bahkan dengan budak.

Beliau selalu bersikap rendah hati dan terbuka kepada siapa saja. Beliau juga selalu menghargai orang lain meskipun orang itu berasal dari kalangan budak.

Tutur katanya sopan dan hatinya sangat lembut.

nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk

Sikapsikap seperti inilah yang sangat membantu dakwah beliau. Orang-orang tidak hanya merasa ingin mengetahui dan mempelajari Islam, tetapi juga tertarik kepada kepribadian beliau. Mereka tertarik kepada kedamaian yang disebarkan oleh ajaran Islam. Berada di dekat Nabi Muhammad saw. dan para sahabat membuat siapapun akan merasa damai.
Oleh : Nabila Asy-Syafi’i Suaramubalighah.com, Hadis- Di dalam hadits dari Abu HurairahRadhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: إِنَّمَابُعِثْتُلأُتَمِّمَمَكَارِمَالأَخْلاقِ Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR.

Al-Baihaqi). Kita sering mendengar para penceramah menukilkan hadis diatas, dan menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus Allah Subhanallahu Wa Ta’ala semata untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak. Akhlak dipandang sebagai dasar dan pondasi menuju perbaikan. Perubahan akan terjadi jika ada perubahan akhlak. Banyaknya pejabat yang korupsi, para pemimpin yang abai pada rakyatnya, maraknya riswah bahkan telah membudaya. kemaksiatan dan kejahatan terjadi dimana-mana, diklaim karena kerusakan akhlak.

Maka untuk perbaikan harus fokus pada memperbaiki akhlak. Tepatkah yang demikian itu? Faktanya memfokuskan hanya pada perbaikan akhlak, dengan makna akhlak adalah perilaku, adab, sopan santun, kejujuran, amanah, menepati janji, maka hal ini tidak mengantarkan pada perubahan yang hakiki.

Suatu contoh pegawai bank, meskipun akhlaknya baik, nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk tidak bisa mengubah untuk menghilangkan transaksi riba yang telah jelas keharamannya. Lantas apa yang dimaksud dengan hadis diatas?

MEMAKNAI HADITS Untuk memahami makna akhlak yang terdapat dalam hadits إِنَّمَابُعِثْتُلأُتَمِّمَمَكَارِمَالأَخْلاق Kita akan merujuk kepada pemahaman para ulama yang berkompeten untuk menjelaskannya. Kata al-makârim itu sendiri adalah jamak dari kata al-makrumah.

Menurut dalam Lisânal-‘Arab (Ibnu Manzhur) makna Al makarim adalah perbuatan mulia (fi’lal-karam). Adapun Akhlak (الأخلاق) adalah jamak dari khuluq (الخُلُقُ). Khuluq menurut Al-Azhari adalah “Al-Khuluq: din, dan al-khuluq: muru’ah.” (Muhammad bin Ahmad al-Azhariy ). Sedangkan Al-Qadhi ‘Iyadh menukil perkataan Ibnu al-‘Arabi: “Ibnu al-‘Arabi menuturkan: al-khuluq yakni tabiat, al-khuluq yakni al-dîn, al-khuluq yakni muru’ah.” (‘Iyadh bin Musa bin ‘Iyadh, Masyâriqal-Anwâr ‘AlâShihâhal-Âtsâr).

Ibn Manzhur dalam Lisânal-‘Arab pun menjelaskan :”Al-Khuluq: yakni din (agama), tabi’at dan watak alami” Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa makna akhlak adalah addinul Islam.

Oleh karena itu tidak boleh memakai hadits bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam fokus dakwahnya hanya pada akhlak mulia dan mengabaikan nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk menyeru pada penerapan Islam kaffah dalam naungan khilafah Rasyidah. Karena faktanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru pada masyarakat Arab kepada aqidah Islam dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membangun Daulah Islam Madinah berlandaskan aqidah Islam.

Dengan aqidah Islam masyarakat Islam yang berakhlak karimah terbentuk. Mengenai makna hadis diatas, Imam Abu Ja’faral-Thahawiy meriwayatkan hadits ini no. 4432 dan menjelaskan maknanya: “Dan makna hadits ini menurut kami –wallâhua’lam- bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengutusnya –shallallâhu ‘alaihi wa sallam- untuk menyempurnakan bagi manusia Din mereka, dan Allah menurunkan kepadanya dari apa yang masuk dalam pemaknaan ini, yakni firman-Nya ‘Azza waJalla: {الْيَوْمَأَكْمَلْتُلَكُمْدِينَكُمْ} “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kamu Din-mu” (QS.

Al-Mâ’idah [5]: 3) Maka Allah ‘Azza wa Jalla mengutusnya untuk menyempurnakan bagi manusia syariat beragama dari para Nabi sebelumnya berdasarkan informasi dalam firman-Nya: الْيَوْمَأَكْمَلْتُلَكُمْدِينَكُمْ “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kamu Din-mu” (QS. Al-Mâ’idah : 3) Oleh karena itu hadits إِنَّمَابُعِثْتُلأُتَمِّمَمَكَارِمَالأَخْلاق tidak bisa serta merta dimaknai dengan akhlak yang bermakna sikap sopan santun, ramah, menepati janji, jujur, dan sifat-sifat terpuji lainnya.

Namun dikembalikan pada makna yang yang seharusnya yakni diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyempurnakan agama dan syariat Nabi dan Rasul yang terdahulu. Dimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah penutup para Nabi dan Rasul. Dengan demikian ajaran dan syariat Islam pun telah sempurna.

MAKNA AKHLAK DALAM ISLAM Al Allamah Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitabnya Nidzam al Islam menjelaskan, ” bahwa Islam adalah agama yang diturunkan Allah S ubhanallahu wa Ta’ala kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallâhu ‘alayhiwasallam, untuk mengatur hubungan manusia dengan Khaliq-nya, dirinya, dan dengan sesamanya. Hubungan manusia dengan Khaliq-nya mencakup urusan aqidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya mencakup akhlak, makanan/minuman dan pakaian.

Sedangkan hubungan manusia dengan sesamanya mencakup mu’amalat dan uqubat/sanksi.” Oleh karena itu, akhlak merupakan bagian dari syari’at Islam, berakhlak terikat dengan perintah dan larangan Allah. Oleh karenanya ketika seorang muslim marah dan melaknat para pemghina Rasulullah, bukan berarti ia bersikap berlebihan, namun memang seharusnya begitu, karena syariat menunjukan kepada siapa kaum muslimin bersikap keras dan kepada siapa kaum muslimin harus bersikap lemah lembut.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus Allah Subhanaallahu Wa Ta’ala ke dunia untuk mengemban risalah Islam, dan menuntun manusia kejalan yang benar. Meski, sebelum menerima wahyu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah dikenal sebagai seorang pemuda yang berakhlak mulia, yang jujur dan dapat dipercaya, sehingga beliau digelari al-Amiin. Namun tatkala beliau berdakwah di tengah-tengah masyarakat Jahiliyyah Quraisy, penolakan, rintangan bahkan ancaman dilakukan oleh orang-orang kafir Quraish khususnya para pembesar Quraish.

Mereka berusaha untuk menghentikan dakwah Rasulullah. Karena para pembesar Quraish itu memahami bahwa dakwah Rasulullah bukan sekedar seruan moral, namun akan membawa perubahan besar dalam tatanan masyarakat jahiliyah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berdakwah, menyeru kepada aqidah tauhid dan penegakan Islam kaffah yang mampu mengubah wajah masyarakat kafir Quraish penyembah berhala menjadi masyarakat yang bertauhid.

Masyarakat yang merdeka yang hanya menghamba kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Sungguh, masyarakat yang berakhlak mulia hanya bisa terwujud dari masyarakat yang memiliki perasaan dan pemikiran yang islami, dan dengan ditegakkan syari’at Islam kaaffah di tengah-tengah masyarakat. Karena akhlak tidak bisa dipisahkan dari syari’at, akhlak adalah bagian dari syari’at Islam yang mulia. Maka tatkala sistem kapitalisme demokrasi yang diterapkan. Kemaksiatan dan pelanggaran syariat Islam diberi ruang yang luas, seperti riba dilegalkanminuman beralkohol bebas diproduksi dan diperjualbelikan, pergaulan bebas hal yang bisa dan sebagainya, maka tak heran jika angka nabi muhammad saw diutus dimuka bumi sebagai rahmat untuk di tengah-tengah masyarakat menjadi sangat tinggi.

Dan menghilangkan kemaksiatan dan kriminalitas hanya dengan seruan untuk moralitas saja, rasanya jauh panggang dari api. Waallahua’lam. “Barang siapa yang pada pagi harinya hasrat dunianya lebih besar, itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah; dan barang siapa yang tidak takut kepada Allah, itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah; dan barang siapa yang tidak perhatian dengan urusan kaum muslimin semuanya, dia bukan golongan mereka.” (HR Al-Hakim dan Baihaqi)




2022 www.videocon.com