Gejala herpes

gejala herpes

Herpes selama ini dikenal sebagai penyakit kulit, seperti herpes genital dan oral atau herpes zoster ( cacar api). Padahal, kelompok virus herpes bisa menyebabkan berbagai penyakit menular lain, seperti cacar air, demam kelenjar, dan sarkoma kaposi. Penyakit herpes yang menyerang kulit memiliki ciri-ciri berupa lenting kemerahan yang terasa gatal. Penyakit herpes lainnya menunjukan gejala yang berbeda.

Simak perbedaan gejala masing-masing penyakit yang disebabkan kelompok virus herpes ini. Gejala herpes oral (labialis) Penyakit herpes oral atau mulut disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks tipe 1 (HHV-1). Penularan virus ini dapat terjadi melalui kontak oral, seperti mulut dengan mulut, atau menggunakan peralatan makan dan lipstik yang sama dengan penderita.

Gejalanya berupa ruam kemerahan yang nantinya berubah menjadi lenting, yaitu bintik-bintik merah yang melepuh dan terisi cairan. Lenting yang muncul akibat infeksi HSV 1 paling sering ditemukan di sekitar mulut dan wajah. Berikut ini merupakan gejala umum dari herpes oral: • Sensasi gatal dan terbakar di kulit selama beberapa hari • Luka kering atau terbuka yang paling sering muncul di sekitar bibir dan wajah • Demam • Nyeri otot dan sendi • Pembengkakan kelenjar di leher • Infeksi mata ( herpes mata): mata sakit, sensitif, dan gatal • Ruam dan lenting muncul di beberapa bagian tubuh lain • Gejala berlangsung selama 2-3 minggu dari ruam pertama muncul Gejala herpes genital Penyakit herpes yang menyerang kulit kelamin disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks tipe 2 (HHV-2).

Penularan herpes genital yang paling umum adalah melalui kontak seksual, tapi juga bisa ditularkan dari ibu pada bayinya dalam proses persalinan. Menurut American Academy of Dermatology, ciri-ciri herpes genital secara umum adalah: • Nyeri dan gatal di bagian kulit kelamin • Luka kering atau terbuka di sekitar bagian kulit kelamin, anus, dan bokong • Luka lecet pada serviks atau bagian dalam vagina • Keputihan • Demam • Tidak enak badan • Nyeri atau kesulitan buang air kecil • Sensasi terbakar dan kesemutan di sekitar kulit kelamin yang terdapat lenting • Ruam dan lenting di bagian tubuh lainnya • Gejala terus kambung secara berulang • Gejala berlangsung 2-6 minggu dari ruam pertama muncul Gejala cacar air Cacar gejala herpes disebabkan oleh virus varicella zoster (VZV), yang masih termasuk dalam keluarga virus herpes.

Dibandingkan virus herpes lainnya, VZV lebih mudah ditularkan. Penularannya bisa melalui berbagai cara, seperti kontak dengan luka cacar, droplet (percikan lendir), dan udara. Tanda-tanda dan gejala dari herpes kulit yang disebabkan infeksi varicella zoster, meliputi: • Demam • Kelelahan • Kehilangan nafsu makan • Sakit kepala • Ruam dan lenting yang menyebar di badan, wajah, kulit kepala, bagian dalam mulut, dan seluruh tubuh • Ruam dan lenting terasa gatal • Lenting akan bertahan dan selanjutnya mengering selama 4-7 hari Demam biasanya akan muncul lebih dulu, sekitar 1-2 hari sebelum ruam pertama muncul.

Gejala herpes zoster (cacar api) Saat sudah sembuh dari cacar air, ada kalanya virus penyebabnya tidak hilang tuntas dari tubuh Anda. Virus varicella zoster yang pernah menyerang tetap ada di dalam tubuh, tapi dalam keadaan “tertidur” alias dorman.

Virus varicella zoster yang tertidur ini dapat kembali “bangun” dan menyebabkan munculnya penyakit herpes zoster atau dikenal juga dengan cacar api. Oleh karena itu, penyakit herpes kulit ini hanya bisa dialami oleh orang yang sebelumnya pernah terkena cacar air. Meski disebabkan oleh infeksi virus yang sama dengan cacar air, gejala herpes zoster bisa lebih berat, seperti: • Nyeri saraf kulit pada salah satu atau beberapa bagian tubuh • Demam • Sakit kepala • Tidak enak badan • Ruam dan lenting muncul pada bagian kulit yang nyeri, biasanya pada salah satu sisi tubuh • Pola ruam kulit yang mengumpul atau memusat pada salah satu bagian kulit • Rasa gatal pada bagian kulit yang tedampak Gejala inveksi cytomegalovirus, virus herpes 6, dan 7 (HHV6 dan HHV7) Cytomegalovirus (CMV), HHV-6, dan HHV-7 merupakan jenis beta herpesvirus, yaitu kelompok virus herpes yang bisa menginfeksi tubuh dalam siklus yang panjang.

Infeksi virus herpes ini berkaitan dengan kelainan bawaan pada bayi, penyakit roseola, dan infeksi ginjal yang berhubungan dengan penolakan transplantasi ginjal. Oleh karena itu, gejalanya bisa bervariasi, tapi umumnya menunjukkan gangguan seperti: • Demam • Sakit tenggorokan • Gangguan pernapasan • Ruam di kulit • Pembengkakan kelenjar • Kelelahan atau tubuh lemas Gejala demam kelenjar (mononukleosis) Epstein-Barr gejala herpes (EBV), yaitu penyebab dari mononukleosis juga termasuk ke dalam kelompok virus herpes.

Virus ini dapat ditularkan dengan mudah melalui air liur. Penyakit herpes ini menyerang sel limfosit yang terdapat di kelenjar getah bening di leher sehingga menyebabkan gejala, seperti: • Pembengkakan kelenjar di leher atau ketiak • Sakit tenggorokan • Demam • Sakit kepala • Nyeri atau kaku otot • Ruam kulit • Tubuh terasa lemas Gejala infeksi virus herpes 8 (HHV-8) Virus herpes-8 yang masih satu keluarga dengan virus Epstein-Barr merupakan penyebab dari penyakit sarkoma kaposi, yaitu kanker yang berkembang di sekitar pembuluh limfa.

Penularan dan infeksi virus herpes ini belum diketahui secara menyeluruh oleh peneliti. Dari kasus gejala herpes ada, virus herpes ini dapat ditularkan melalui kontak seksual dan ibu hamil ke bayinya dalam proses persalinan. Gejala yang disebabkan oleh infeksi virus herpes 8 ini, meliputi: • Muncul lesi atau jaringan abnormal gejala herpes berupa bintik ungu kemerahan • Pembengkakan lesi • Lesi di selaput lendir • Perdarahan pada lesi Kapan harus periksa ke dokter?

Kelompok virus herpes bisa menyebabkan berbagai penyakit infeksi dengan gejala dan tingkat keparahan penyakit yang berbeda-beda. Jika mengalami gejala penyakit herpes kulit, Anda dianjurkan segera menemui dokter ketika gejala sudah semakin parah meskipun telah melakukan pengobatan di rumah. Begitupun dengan herpes CMV dan mononukleosis. Infeksi virus herpes simpleks bahkan memerlukan obat herpes berupa antivirus, seperti acyclovir, famciclovir, dan valacyclovir, untuk mengatasi gejalanya.

Maka dari itu, pengobatan medis sangat diperlukan. Untuk penyakit herpes yang menunjukan gejala serius seperti sarkoma kaposi, sebaiknya Anda segera menemui dokter ketika mengalami atau mencurigai gejala yang disebutkan di atas. AAD. (2020). Herpes simplex: Overview. Retrieved 2 November gejala herpes, from https://www.aad.org/public/diseases/a-z/herpes-simplex-overview AAD.

(2020). Herpes simplex: Signs and symptoms. Retrieved 2 November 2020, from https://www.aad.org/public/diseases/a-z/herpes-simplex-symptoms AAD.

(2020). Shingles: Overview. Retrieved 2 November 2020, from https://www.aad.org/public/diseases/a-z/shingles-overview CDC. (2020). Chickenpox - Signs and Symptoms - Varicella. Retrieved 2 November 2020, from gejala herpes Mayo Clinic.(2020).

Mononucleosis – Symptoms and causes.Retrieved 2 November 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/mononucleosis/symptoms-causes/syc-20350328 CDC. (2020). Cytomegalovirus (CMV) and Congenital CMV Infection. Retrieved 2 November 2020, from https://www.cdc.gov/cmv/index.html America Cancer Society. (2020). What Is Kaposi Sarcoma?

Retrieved 2 November 2020, from https://www.cancer.org/cancer/kaposi-sarcoma/about/what-is-kaposi-sarcoma.html Herpes adalah kelompok virus yang dapat menyebabkan infeksi. Infeksi virus herpes umumnya ditandai dengan kulit kering, luka lepuh, atau luka terbuka yang berair. Herpes simplex virus (HSV) dan varicella-zoster virus (VZ) adalah jenis virus herpes yang umum menyerang manusia.

Virus herpes dapat menyerang siapa saja. Adanya riwayat kontak dengan penderita infeksi virus ini dan daya tahan tubuh yang sedang lemah adalah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terinfeksi virus herpes. Virus herpes terbagi dalam tiga kelompok besar, yaitu a l pha (α) herpesvirus, b eta (β) herpesvirus, dan g amma (γ) herpesvirus. Dari tiga kelompok tersebut, ada delapan jenis virus herpes yang dapat menginfeksi manusia, yaitu: • Herpes simplex virus tipe 1 (HSV 1) • Herpes simplex virus tipe 2 (HSV 2) • Epstein-Barr virus (EBV) • Varicella-zoster virus (VZV) • Cytomegalovirus (CMV) gejala herpes Herpesvirus 6 (HBLV) • Herpesvirus 7 • Herpesvirus 8 sarkoma kaposi Penyebab Herpes Meski banyak jenis virus herpes yang dapat menyerang manusia, tetapi kelompok gejala herpes herpesvirus lah yang paling sering menyebabkan infeksi.

Beberapa jenis virus gejala herpes kelompok ini adalah: Herpes simplex virus tipe 1 (HSV 1) HSV 1 merupakan jenis virus herpes yang sering menyebabkan herpes oral (mulut) atau herpes labial (bibir). Akan tetapi, HSV 1 juga dapat menyebar dari mulut ke alat kelamin dan menyebabkan terjadinya herpes kelamin (genital) pada orang yang menerima seks oral dari penderita herpes oral. HSV 1 dapat menyebar melalui kontak langsung dari penderita herpes ke orang yang sehat, misalnya lewat berciuman, berbagi pakai peralatan makan atau kosmetik bibir, seperti lipstik.

Pada sebagian besar kasus, HSV 1 ditularkan dari penderita HSV 1 yang tidak bergejala. Namun, risiko penularan akan lebih tinggi jika terjadi kontak dengan penderita yang mengalami luka terbuka akibat HSV 1. Herpes simplex virus tipe 2 (HSV 2) HSV 2 merupakan penyebab utama penyakit herpes genital. Infeksi virus ini bisa kambuh dengan frekuensi kekambuhan yang bervariasi pada tiap penderitanya. Virus HSV 2 menular melalui kontak langsung dengan luka pada penderita herpes, misalnya saat berhubungan seksual.

Pada kasus yang jarang terjadi, HSV 2 juga dapat ditularkan dari ibu kepada bayinya pada saat persalinan. Varicella-zoster virus (VZV) VZV merupakan virus yang menjadi penyebab cacar air ( varicella) dan cacar ular ( herpes zoster).

Cacar air terjadi ketika virus varicella-zoster menginfeksi seseorang untuk pertama kalinya. Sedangkan herpes zoster, atau dikenal juga dengan herpes kulit, terjadi saat virus VZV yang tidak aktif di dalam tubuh kambuh kembali. Seseorang juga bisa terinfeksi virus ini dari penderita herpes zoster.

VZV utamanya menular melalui kontak langsung dengan penderita cacar air. Infeksi virus ini dapat dikenali dengan timbulnya bintil kulit yang berisi cairan (vesikel). VZV juga bisa menular melalui kontak langsung dengan cairan yang ada di dalam vesikel atau percikan liur yang keluar saat penderita bersin atau batuk. Biasanya, virus sudah berada di dalam tubuh penderita selama 7–21 hari sebelum ruam atau gejala lainnya muncul.

Namun, penderita sudah dapat menularkan virus varicella-zoster ke orang lain sejak 48 jam sebelum munculnya ruam.

gejala herpes

Faktor risiko herpes Herpes dapat menyerang siapa saja dalam semua kelompok usia. Akan tetapi, infeksi virus ini lebih rentan terjadi pada seseorang yang sering kontak dengan penderita herpes, seperti petugas medis atau anggota keluarga yang merawat pasien herpes.

Untuk jenis virus herpes simplex tipe 1 atau tipe 2, beberapa faktor berikut dapat meningkatkan risiko terinfeksi virus ini: • Berjenis kelamin perempuan • Sering bergonta-ganti pasangan seksual • Memiliki daya tahan tubuh yang lemah akibat mengonsumsi obat tertentu atau menderita HIV/AIDS • Menderita penyakit menular seksual Sementara beberapa faktor yang dapat membuat seseorang lebih berisiko terinfeksi virus VZV adalah: • Berusia di bawah 12 tahun • Memiliki riwayat kontak langsung dengan penderita cacar air • Bekerja atau beraktivitas di sekolah atau fasilitas khusus anak-anak, terutama jika ada anak yang sedang mengalami cacar air • Memiliki daya tahan tubuh yang lemah, baik akibat penyakit maupun efek samping obat-obatan Selain bisa menyebabkan cacar air, virus VZV juga bisa menyebabkan herpes zoster.

Beberapa faktor dan kondisi yang bisa meningkatkan gejala herpes seseorang mengalami herpes zoster, yaitu: • Berusia 60 tahun ke atas • Memiliki riwayat cacar air gejala herpes • Menderita penyakit yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, seperti HIV/AIDS atau kanker • Sedang menjalani kemoterapi, radioterapi, atau menggunakan obat imunosupresan Gejala Herpes Infeksi herpes biasanya terjadi dalam beberapa tahap. Gejala atau keluhan yang bisa timbul pada tiap tahap dapat berbeda-beda, seperti dijelaskan di bawah ini: 1.

Stadium primer Stadium primer terjadi pada hari ke-2 hingga ke-8 setelah infeksi herpes terjadi. Gejala yang muncul pada fase ini adalah ruam lepuh ( blister) pada kulit yang berukuran kecil dan terasa sakit.

Ruam lepuh biasanya berisi cairan berwarna bening atau keruh. Ruam lepuh dapat pecah sehingga menimbulkan luka terbuka. Gejala herpes di sekitar ruam lepuh juga akan berwarna kemerahan. 2. Stadium laten Pada stadium ini, ruam lepuh dan luka yang sebelumnya muncul akan mereda.

Namun, pada fase ini, virus sedang berkembang dan menyebar ke saraf di dekat saraf tulang belakang yang ada di bawah kulit. 3.

gejala herpes

Stadium peluruhan Virus mulai berkembang biak pada ujung saraf organ tubuh. Jika ujung saraf yang terinfeksi terletak pada organ tubuh yang menghasilkan cairan, seperti testis atau vagina, maka virus herpes dapat terkandung dalam cairan tubuh seperti air mani dan lendir vagina.

Biasanya, pada fase ini, penderita tidak mengeluhkan gejala khusus. 4. Stadium rekurensi ( kemuncul an kembali) Pada stadium ini, ruam lepuh pada kulit yang terjadi di stadium primer dapat muncul kembali, tetapi biasanya tidak separah lepuhan dan luka yang sebelumnya.

Gejala lain yang bisa timbul pada stadium rekurensi ini adalah gatal, kesemutan, dan nyeri yang muncul di area infeksi pada stadium pertama. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, gejala atau keluhan saat terinfeksi virus herpes bisa bervariasi, tergantung pada fase yang sedang terjadi, jenis virus yang menginfeksi, serta daya tahan tubuh penderita. Perlu gejala herpes, tidak semua penderita herpes mengalami gejala yang sama.

Bahkan, kondisi ini kadang tidak menimbulkan gejala apa pun.

gejala herpes

Namun, pada beberapa orang yang mengalami infeksi virus herpes, akan muncul gejala berikut: • Demam • Kelelahan • Sakit kepala • Nyeri otot • Hilang nafsu makan • Pembengkakan kelenjar getah bening Selanjutnya, akan muncul gejala spesifik sesuai dengan jenis virus herpes yang menginfeksi dan lokasi atau bagian tubuh yang terinfeksi, yaitu: Gejala infeksi HSV 1 atau herpes oral Pada kondisi ini, gejala akan timbul di mulut dan area di sekitarnya. Gejala yang dapat muncul adalah: • Nyeri, gatal, rasa terbakar, atau tertusuk di bibir • Luka lepuh, lenting-lenting kecil, atau sariawan di bibir • Luka lepuh yang terasa nyeri sehingga mengganggu proses makan Gejala infeksi HSV 2 Pada penderita infeksi HSV 2 atau herpes genital, beberapa gejala yang umumnya dialami adalah: • Pembengkakan pada kulit kelamin atau area di sekitarnya yang terasa gatal, nyeri, dan disertai sensasi terbakar • Luka yang terasa nyeri di kemaluan, bokong, anus, atau paha • Nyeri pada saat buang air kecil ( dysuria) • Keluarnya cairan dari vagina • Kulit penis kering, perih, dan gatal Gejala infeksi VZV Sedangkan pada infeksi herpes zoster virus yang menyebabkan cacar air, akan timbul ruam kulit berisi cairan (vesikel) yang terasa gatal.

Ruam ini dapat menyebar ke seluruh tubuh. Jika penderita cacar air yang sudah sembuh mengalami herpes zoster, akan muncul keluhan pada salah satu sisi bagian gejala herpes, seperti nyeri, sensasi panas, dan diikuti dengan munculnya lepuh di kulit. Kapan harus ke dokter Lakukan pemeriksaan ke gejala herpes jika Anda mengalami gejala herpes seperti yang telah disebutkan di atas, terutama jika timbul ruam lepuh di kulit yang tidak diketahui penyebabnya.

Pemeriksaan perlu segera dilakukan jika ruam lepuh timbul pada anak Anda yang berusia kurang dari 8 minggu. Infeksi virus herpes pada bayi dapat berkembang lebih cepat hingga bisa menyebabkan terjadinya komplikasi serius. Jika Gejala herpes memiliki daya tahan tubuh yang lemah, lakukan pemeriksaan ke dokter saat timbul ruam lepuh pada kulit. Infeksi yang parah dan komplikasi lebih mudah terjadi pada penderita herpes yang memiliki daya tahan tubuh lemah.

Kesulitan saat makan akibat infeksi HSV 1 berisiko menyebabkan dehidrasi. Segera cari pertolongan medis jika mengalami dehidrasi akibat infeksi virus ini, yang ditandai dengan jumlah urine berkurang, mulut kering, kelelahan, dan mudah marah. Khusus ibu hamil yang sedang atau pernah menderita herpes genital, konsultasikan dengan dokter terkait hal yang harus dilakukan untuk mencegah virus menular ke bayi.

Diagnosis Herpes Untuk mendiagnosis herpes, dokter akan melakukan tanya jawab mengenai gejala, riwayat aktivitas, dan riwayat kesehatan pasien. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat ada tidaknya demam, jenis ruam kulit yang timbul, dan pola penyebaran ruam tersebut. Dokter dapat mendiagnosis herpes melalui tanya jawab dan hasil pemeriksaan fisik.

Namun, untuk memperkuat diagnosis dan memastikan jenis virus herpes yang menginfeksi, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti: Kultur virus Kultur virus herpes bertujuan untuk mendeteksi virus herpes.

Kultur virus herpes dilakukan dengan mengambil sampel melalui metode swab (usap) dari area kulit atau genital yang terinfeksi, untuk selanjutnya diteliti di laboratorium. Pemeriksaan kultur virus terutama dilakukan untuk mendeteksi atau memastikan keberadaan virus herpes, sekaligus menentukan jenis virus yang menginfeksi. Pemeriksaan Tzank Pemeriksaan Tzank dilakukan dengan mengambil sampel dari ruam kulit untuk selanjutnya diperiksa di bawah mikroskop. Hasil pemeriksaan ini bisa menentukan apakah lesi yang timbul disebabkan oleh virus herpes.

Meski begitu, pemeriksaan Tzank tidak dapat mengidentifikasi jenis virus herpes yang menyebabkan infeksi. Tes antibodi Tes antibodi bertujuan untuk mendeteksi antibodi terhadap virus herpes. Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel darah, kemudian menelitinya di laboratorium untuk memastikan keberadaan antibodi yang terbentuk akibat infeksi virus herpes. Hasil tes antibodi akan sangat membantu diagnosis pada pasien yang tidak mengalami luka atau lepuhan pada kulit. Pemeriksaan ini sering digunakan mendiagnosis infeksi HSV 1 atau pun HSV 2.

Selain tes yang disebutkan di atas, pada beberapa kasus, dokter bisa menyarankan tes PCR ( polymerase chain reaction), untuk mendeteksi infeksi virus herpes, terlebih yang telah menyebabkan infeksi pada mata atau gejala herpes saraf pusat.

Pengobatan Herpes Pada umumnya, luka dan lepuh akibat herpes dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu 2–4 minggu. Hanya saja, virus mungkin tetap ada di dalam tubuh penderita tanpa menimbulkan gejala.

Hingga kini, belum ada metode pengobatan yang dapat menghilangkan virus herpes dari dalam tubuh. Fokus pengobatan gejala herpes adalah untuk membantu meredakan keluhan, mencegah penularan herpes, dan menurunkan risiko terjadinya komplikasi. Beberapa obat-obatan antivirus dapat digunakan untuk mengatasi infeksi virus herpes adalah: • Acyclovir • Valacyclovir • Famciclovir • Penciclovir Selain mengonsumsi obat antivirus, beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meredakan keluhan dan mempercepat pemulihan akibat infeksi virus herpes yaitu: • Mengonsumsi paracetamol atau ibuprofen untuk meredakan nyeri • Mengompres ruam kulit dengan air hangat atau atau air dingin • Menggunakan air suam kuku untuk mandi • Menggunakan pakaian longgar • Menggunakan pakaian dalam berbahan katun • Menjaga area luka tetap kering dan bersih Komplikasi Herpes Secara umum, infeksi akibat virus herpes jarang menimbulkan komplikasi serius.

Komplikasi infeksi virus herpes biasanya terjadi pada kondisi tertentu. Misalnya, penderita herpes simpleks yang juga menderita HIV biasanya mengalami gejala herpes yang lebih parah dan lebih sering kambuh. Komplikasi akibat infeksi virus herpes juga bisa tergantung pada jenis virus yang menginfeksi.

Saat terinfeksi virus herpes simpleks, berikut ini adalah beberapa komplikasi yang bisa timbul: • Penyebaran infeksi ke bagian tubuh lain • Hepatitis • Radang paru-paru • Radang otak dan selaput otak • Kematian jaringan retina mata • Esofagitis Pada cacar air, risiko terjadinya komplikasi umumnya akan meningkat pada anak-anak, lansia, ibu hamil, atau orang yang daya tahan tubuhnya lemah. Beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat cacar air adalah: • Ruam menyebar ke mata • Ruam yang diikuti oleh sesak napas dan sakit kepala • Ruam yang diikuti dengan infeksi sekunder Cacar air pada ibu hamil yang tidak ditangani dengan benar dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan pada janin.

Gangguan tersebut bisa berupa gangguan penglihatan, retardasi mental, pertumbuhan lambat, atau kepala yang berukuran lebih kecil. Sementara itu, komplikasi yang bisa terjadi akibat herpes zoster adalah: • Post herpetic neuralgia, yaitu nyeri yang masih dirasakan meski lesi pada kulit sudah menghilang • Infeksi bakteri pada lokasi ruam • Nyeri dan ruam gejala herpes menjalar hingga ke mata • Sindrom Ramsay-Hunt, yaitu kondisi yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada wajah dan gangguan pendengaran Pencegahan Herpes Untuk menghindari penyebaran virus herpes ke orang lain, beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah: • Hindari kontak fisik dengan orang lain, terutama bagi yang memiliki luka terbuka.

• Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun secara rutin. • Oleskan obat pada ruam dengan menggunakan kapas agar tangan tidak menyentuh daerah yang terinfeksi virus herpes.

• Jangan berbagi pakai barang-barang yang dapat menyebarkan virus, seperti gelas, cangkir, handuk, pakaian, dan peralatan makeup.

• Jangan melakukan seks oral, ciuman, atau aktivitas seksual lainnya, selama gejala penyakit herpes muncul.

• Hindari mencium bayi terlalu sering. Khusus bagi penderita herpes genital, hindari segala bentuk aktivitas seksual selama gejala herpes masih ada. Perlu diingat bahwa meski sudah menggunakan kondom, virus herpes dapat menyebar melalui kontak kulit yang tidak terlindungi kondom. Bagi wanita yang merencanakan kehamilan, jalani tes toksoplasmosis, rubella, citomegalovirus, dan herpes ( tes TORCH) terlebih dahulu.

Selain sebagai deteksi dini, tujuan tes tersebut adalah agar ibu yang terinfeksi bisa menjalani pengobatan sebelum hamil sehingga mencegah penularan virus ke janin.
Buka Tutup • Penyakit herpes adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus dan umumnya ditandai dengan adanya luka, kulit kering, dan lepuhan pada kulit; • Ada 3 jenis virus herpes yang paling umum terjadi, yaitu Herpes Zoster (Cacar Ular), Virus Simplex Herpes (HSV) Tipe 1, dan Virus Simplex Herpes (HSV) Tipe 2; gejala herpes Gejala herpes umumnya tergolong ringan bahkan tidak terdeteksi.

Untuk memastikannya, diperlukan tes darah atau tes lain pada cairan dari luka di kulit; • Penyakit herpes bisa diobati dengan penggunaan obat antivirus seperti acyclovir dan valacyclovir berupa obat oral ataupun topikal dalam melawan virus herpes; • Untuk mencegah infeksi penyakit herpes adalah dengan melakukan hubungan seksual secara aman menggunakan gejala herpes dan tidak bergonta-ganti pasangan; • Klik untuk membeli Acyclovir, obat kulit, dan obat antivirus lain dari rumah Anda melalui HDMall.

*Gratis ongkir ke seluruh Indonesia dan bisa COD. Herpes adalah sekelompok virus hepresviridae yang menyebabkan infeksi pada manusia. Penyakit herpes umumnya ditandai dengan munculnya luka, kulit kering, dan lepuhan pada kulit.

Terdapat 2 jenis virus Herpes yang paling sering terjadi, yaitu herpes zoster dan herpes kelamin (herpes genital). Mengenai Herpes Penyebab Herpes Penyebab herpes adalah virus. Kondisi tersebut bisa menyerang siapa saja terutama mereka yang memiliki sistem imun yang lemah.

Virus herpes menjadi penyebab penyakit herpes zoster maupun herpes kelamin. Virus ini dapat menyebabkan herpes kelamin atau herpes genital yang biasanya menyebar dari satu orang gejala herpes orang lain saat melakukan hubungan seks, baik secara vaginal, oral, atau anal. Selain itu, virus juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka pada kulit atau melalui kulit mulut, penis, vagina, saluran kemih, atau anus dengan orang yang telah terinfeksi penyakit herpes. Herpes juga bisa menyebar dari satu bagian ke bagian tubuh yang lain.

Jika penderita menyentuh luka di alat kelamin, maka virus dapat terbawa oleh jari-jari dan ketika menyentuh bagian tubuh lain, termasuk mulut atau mata, maka virus tersebut akan menular ke bagian yang tersentuh. Baca juga: Gejala dan Pengobatan Herpes pada Mata Ibu hamil yang mengalami penyakit herpes genital harus memberitahu dokter, termasuk jika pernah berhubungan seks dengan seseorang yang terinfeksi herpes.

Gejala herpes ini untuk membantu mencari cara yang tepat untuk mengurangi risiko penularan virus herpes pada anak. Jika memiliki infeksi herpes genital aktif pada waktu persalinan, maka virus ini dapat tertular ke bayi. Ketika bayi melewati jalan lahir, mungkin bayi tersebut dapat kontak dengan luka dan terinfeksi oleh virus. Jika hal ini terjadi dapat berisiko menyebabkan kerusakan otak, kebutaan, atau bahkan kematian pada bayi baru lahir.

Salah satu cara yang dilakukan ketika ibu hamil diduga menderita penyakit herpes yang aktif saat akan melahirkan, maka dokter mungkin akan melakukan operasi caesar (C-section) sehingga bayi tidak harus melalui jalan lahir persalinan normal dan terpapar virus herpes dari ibu. Jenis penyakit Herpes Ada 3 jenis virus herpes yang paling umum terjadi, di antaranya: 1. Herpes Zoster (Cacar Ular) Herpes Zoster atau penyakit cacar ular disebabkan oleh virus Varicella zoster (VZV) yang juga menjadi penyebab seseorang terkena cacar air.

Umumnya cacar air terjadi pertama kali gejala herpes usia anak-anak dan remaja. Namun, seseorang yang pernah terpapar virus ini biasanya akan mengalami penurunan kekebalan tubuh dan berisiko menderita Herpes Zoster di kemudian hari. Virus Varicella zoster (VZV) dapat menular akibat kontak langsung dengan penderita cacar air ataupun percikan liur ketika penderita herpes bersin atau batuk.

Tanda atau gejala herpes zoster dapat berupa bintil kulit berisi cairan di kulit yang biasanya muncul setelah 7-21 hari setelah terpapar virus herpes. Baca juga: Catat, Ini Obat Alami untuk Atasi Herpes Zoster pada Kulit! 2. Herpes kelamin (Virus Simplex Herpes (HSV) Tipe 1 HSV tipe 1 merupakan salah satu jenis virus herpes yang sering menyebabkan herpes oral. Tak hanya menyebabkan herpes mulut ( oral herpes), tetapi HSV 1 juga dapat menyebabkan penyakit herpes genital jika penderita melakukan hubungan intim secara oral.

Herpes kelamin atau HSV tipe 1 jarang menimbulkan gejala sehingga penularannya sering tidak disadari. Namun, jika terdapat gejala seperti demam, sensasi terbakar pada lesi luka, rasa nyeri, dan munculnya blister, maka hal itu dapat meningkatkan risiko penularan. 3. Virus Simplex Herpes (HSV) Tipe 2 VIrus HSV tipe 2 dapat menjadi penyebab herpes genital yang paling utama.

Penularan juga dapat terjadi dari ibu ke bayi saat proses persalinan. Apabila terinfeksi, virus akan tetap ada di dalam tubuh selama sisa hidup dan dapat kambuh kapan saja pada penderita herpes. Gejala herpes genital atau herpes simplex yang sering terjadi adalah rasa nyeri saat berkemih, adanya cairan keluar dari vagina, rasa gatal, serta muncul benjolan di daerah selangkangan paha.

Seseorang yang sering berganti-ganti pasangan dan memiliki sistem imun rendah lebih berisiko terjangkit virus ini. Gejala Herpes Banyak orang yang terkena herpes namun tidak ditandai dengan gejala apapun.

Terkadang, gejala herpes gejala herpes ringan sehingga tidak jarang dokter keliru memberikan diagnosanya, karena sering dikaitkan dengan kondisi penyakit kulit. Beberapa gejala yang patut dicurigai sebagai tanda-tanda herpes adalah: • Luka yang menyakitkan di daerah wajah, kelamin, anus, bokong, atau paha • Rasa gatal • Buang air kecil yang menyakitkan • Keputihan • Benjolan lunak di selangkangan Pada saat terinfeksi virus herpes pertama kali (herpes primer), salah satu tanda yang mungkin terjadi akan mirip dengan gejala flu, yakni nyeri tubuh, demam, dan sakit kepala.

Beberapa gejala mungkin akan timbul seiring berjalannya waktu pada orang yang menderita infeksi virus herpes walau tidak separah saat pertama kali terinfeksi. Diagnosis Herpes Untuk menentukan diagnosis dan cara pengobatan penyakit herpes, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan melihat luka secara mendalam. Pemeriksaan kultur cairan dari luka dan pemeriksaan laboratorium akan dilakukan untuk mendeteksi adanya virus herpes. Tes darah atau tes lain pada cairan dari luka juga bisa dilakukan untuk membantu memastikan suatu diagnosa terhadap kondisi penyakit herpes.

Penanganan Herpes Jika menemukan tanda-tanda penyakit herpes, segera temui dokter. Lebih mudah untuk mendiagnosis herpes ketika terdapat luka sehingga pengobatan dapat lebih cepat dimulai dan mungkin dapat meminimalkan rasa sakit yang terjadi akibat infeksi.

Obat-obatan seperti acyclovir dan valacyclovir adalah obat gejala herpes yang dapat digunakan untuk melawan virus herpes. Obat-obatan ini dapat mempercepat penyembuhan dan mengurangi rasa sakit akibat herpes serta dapat digunakan untuk mengobati herpes primer ataupun berulang.

gejala herpes

Baca juga: Infeksi Virus Apa Saja yang Bisa Diatasi dengan Acyclovir? Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati herpes berulang harus diminum segera setelah merasakan gejala kesemutan, rasa terbakar, atau gatal. Obat-obatan tersebut juga dapat diminum setiap hari untuk mencegah rekurensi. Obat bentuk krim atau salep herpes seperti Acyclovir juga dapat diaplikasikan langsung pada luka.

gejala herpes

Pencegahan Herpes Cara terbaik untuk mencegah tertular penyakit herpes adalah dengan tidak melakukan hubungan seksual secara sembarangan dan tidak bergonta-ganti pasangan. Selain itu, sangat penting untuk menjaga kebersihan diri serta tidak berbagi barang pribadi, seperti handuk, pakaian, lipstik, gelas, dan lainnya. Penyakit herpes sendiri bisa menular bahkan ketika orang yang memilikinya tidak menunjukkan gejala apapun.

Apabila gejala herpes Anda menderita herpes, tidak ada cara untuk mengetahui dengan pasti bahwa Anda tidak akan tertular. Perlu diingat, walaupun setia hanya dengan satu pasangan dalam berhubungan seksual, itupun tidak menjamin bahwa Anda tidak akan terkena herpes. Sebabnya, Anda tidak bisa mengetahui kondisi kesehatan pasangan secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan dan rasa keterbukaan menjadi kunci yang baik untuk mencegah penularan herpes antar pasangan.

Selain itu, gunakan kondom setiap kali berhubungan seks. Meskipun penggunaan kondom tidak bisa mencegah penularan sepenuhnya, tetapi dapat membantu mengurangi risiko penyebaran virus herpes ke orang lain.

Baca juga: Cara Benar dan Aman Menggunakan Kondom Apabila Anda menderita herpes, sebaiknya memberi tahu pasangan karena Anda harus menghindari berhubungan seks jika sedang memiliki luka. Herpes dapat menyebar dari satu orang ke orang lain dengan sangat mudah ketika ada luka. Ajukan pertanyaan dengan promosi dan dapatkan jawabannya dalam 60 menit 40.000 HealthCoins Pertanyaan Anda akan dijawab dalam waktu 60 menit dan Anda akan menerima pemberitahuan secepatnya melalui email Jika pertanyaan Anda tidak terjawab dalam waktu 60 menit, kami akan mengembalikan 20.000 HealthCoins dan pertanyaan Anda akan diturunkan ke Pertanyaan Reguler.

Pertanyaan Anda akan dijawab dalam waktu 24 jam sebagai gantinya. Jika pertanyaan Anda tidak terjawab dalam 24 jam, kami akan mengembalikan semua HealthCoins. (gratis) Pertanyaan Anda akan diprioritaskan bagi dokter, perawat, dan apoteker yang terverifikasi dalam waktu 2 hari agar Anda bisa mendapatkan jawaban yang lebih banyak Standar Pemeriksaan Konten HonestDocs Konten ini ditulis atau ditinjau oleh praktisi kesehatan dan didukung oleh setidaknya tiga referensi dan sumber yang dapat dipercaya.

Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk mengirimkan konten yang akurat, komprehensif, mudah dipahami, terbaru, dan dapat ditindaklanjuti. Anda dapat membaca proses editorial lengkap di sini.

Jika Gejala herpes memiliki pertanyaan atau komentar tentang artikel kami, Anda dapat memberi tahu kami melalui WhatsApp di 0821-2425-5233 atau email di [email protected] Buka di app Pengertian herpes genital (herpes kelamin) Herpes genital adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks.

Penyakit ini biasanya ditandai dengan luka melepuh serta rasa nyeri pada alat kelamin dan sekitar anus. Namun, orang yang gejala herpes herpes genital sering kali tidak menyadari karena tidak mengalami gejala selama bertahun-tahun. Akibatnya, penyakit kelamin ini bisa menyebar dengan mudah tanpa diketahui. Ada 2 jenis virus herpes simpleks, yaitu herpes simpleks tipe satu dan dua.

Herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) merupakan penyebab utama herpes oral dengan ciri luka melepuh ( lenting) di sekitar mulut dan bibir. HSV-1 juga dapat menyebar dan menyebabkan herpes genital. Sementara HSV-2 adalah penyebab utama herpes pada kelamin. Virus herpes ini hanya bisa ditularkan melalui hubungan seksual. Infeksi herpes simpleks (kelamin) berlangsung seumur hidup, tetapi pengobatan bisa mengatasi gejala sekaligus mengurangi risiko penularan penyakit pada orang lain.

Seberapa umumkah herpes kelamin? Herpes genital adalah penyakit kelamin yang dapat dialami oleh wanita dan laki-laki. Menurut WHO, kasus herpes genitalis lebih banyak dialami oleh wanita ketimbang pria. Hal ini dikarenakan transmisi virus herpes simpleks tipe 2 lebih berisiko dari pria ke wanita daripada wanita ke pria. Selain itu, kasus herpes juga ditemukan dari penularan ibu yang terinfeksi herpes gejala herpes tipe 2 pada bayinya selama proses persalinan, misalnya melahirkan normal.

Meski begitu, herpes kelamin adalah salah satu penyakit menular seksual yang dapat dicegah dengan mengurangi faktor risiko. Diskusikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut. Tanda & gejala herpes genital Sebagian besar orang yang terinfeksi herpes genital tidak mengetahui bahwa mereka sedang terinfeksi karena tidak merasakan tanda-tanda apa pun.

Sementara pada beberapa kasus, gejala penyakit herpes simplex genitalis bisa cukup ringan dan sering salah diidentifikasi sebagai penyakit kulit biasa.

Gejala khas dari herpes simplex genitalis adalah sebagai berikut: • Nyeri atau gatal di vagina, penis, area alat kelamin, atau bokong. • Luka melepuh yang berupa ruam merah atau lenting putih.

• Koreng atau luka kering. • Nyeri saat buang air kecil • Sakit kepala. • Nyeri otot dan sendi. • Demam. • Pembengkakan kelenjar getah bening di lipatan paha. Ruam merah dan luka melepuh atau lenting herpes dapat muncul di sekitar alat kelamin, anus, dan mulut.

Lenting herpes yang pecah bisa meninggalkan luka perih yang gejala herpes baru bisa sembuh selama hampir 1 minggu. Nah, dalam kondisi ini gejala yang muncul biasanya mirip flu seperti demam, sakit kepala, dan pembengkakan kelenjar.

Dilansir dari CDC, gejala herpes genital dapat hilang dan kambuh kembali beberapa kali. Ada orang mengalami gejala herpes gejala beberapa kali dalam setahun, tetapi ada pula yang tidak kambuh sama sekali. Namun saat kambuh, gejala herpes kelamin biasanya lebih ringan dan cepat mereda tidak separah saat pertama kali dialami. Meskipun infeksi virus herpes simpleks beratahan seumur hidup, frekuensi kekambuhan gejala akan berkurang seiring berjalannya waktu. Gejala herpes genitalis yang muncul bisa berbeda pada setiap orang.

K emungkinan terdapat tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas, jadi sebaiknya periksakan ke dokter bila Anda mengalami keluhan tertentu. Kapan saya harus periksa ke dokter?

gejala herpes

Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter jika mengalami gejala seperti herpes genital atau penyakit kelamin lain, terutama saat ada luka atau nyeri pada organ intim yang tidak kunjung sembuh. Jika Anda aktif berhubungan seksual, sangat penting untuk melakukan pemeriksaan medis atau skrining penyakit kelamin secara rutin.

Hal ini bertujuan agar herpes kelamin bisa diobati sedini mungkin dan menghindari penyebaran penyakit pada orang lain.

Penyebab herpes genital Herpes genital adalah penyakit yang disebabkan oleh virus herpes simpleks. Penyakit herpes simpleks dapat menular melalui kontak langsung, hubungan seksual, seks oral, atau dari ibu ke bayinya. Dalam buku Herpes yang ditulis oleh Juliet Spencer, dijelaskan bahwa virus herpes simpleks masuk ke dalam tubuh melalui kulit. Virus tersebut kemudian menyebar ke dalam sel-sel saraf.

Pada masa infeksi awal, gejala herpes simpleks ini mungkin belum muncul meskipun virus sudah mulai memperbanyak diri. Pada masa akhir infeksi awal, virus menetap di bawah sel-sel saraf dalam keadaan dorman atau tidak aktif memperbanyak diri. Kondisi ini membuat sistem kekebalan tubuh dapat lebih mudah mengendalikan infeksi virus.

Namun nantinya, virus dapat kembali aktif menginfeksi dan mulai memperbanyak diri. Virus akan kembali ke permukaan sel-sel saraf dan merusak sel-sel sehat sehingga menimbulkan gejala seperti ruam dan luka melepuh (lenting herpes). Jenis virus herpes gejala herpes penyebab herpes genital (kelamin) Ada 2 tipe virus herpes simpleks yang dapat menyebabkan herpes genitalis, yaitu: Virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) Infeksi virus ini umumnya gejala herpes luka gejala herpes di sekitar mulut, tetapi juga dapat menyebar ke alat kelamin.

Cara penularan HSV-1 yang umum terjadi saat berciuman dan menyentuh luka terbuka di sekitar mulut orang yang terinfeksi.

Selain itu, Anda juga dapat tertular dari pasangan yang tidak memiliki luka terlihat atau tidak merasa terinfeksi. Melakukan seks oral dengan pasangan yang terinfeksi juga berisiko membuat Anda terkena infeksi virus ini. Virus herpes simpleks tipe 2 (HSV-2) HSV-2 umumnya menyebabkan herpes genital. Virus ini menular melalui hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi.

Virus herpes biasanya tidak dapat bertahan lama saat berada di luar tubuh. Risiko penularan saat menyentuh permukaan benda sangat kecil dibandingkan dengan kontak antar kulit. Begitu pun dengan penggunakan dudukan toilet, pakaian, atau handuk yang sama dengan pengidap herpes kelamin, risiko penularan penyakit dengan cara ini sangat kecil. Bagaimana herpes genital bisa kambuh? Seperti yang sudah dijelaskan, penyakit herpes kelamin bisa kambuh beberapa kali dalam setahun.

Hal ini sebabkan oleh virus herpes simpleks yang semula dorman atau tidur kemudian kembali aktif menginfeksi. Sebagian besar kambuhnya gejala herpes kulit terjadi karena melemahnya fungsi sistem imun tubuh.

Beberapa kondisi yang dapat memicu kekambuhan herpes genitalis adalah: • Mengalami infeksi karena penyakit lain. • Mengalami peradangan akibat kecelakaan, benturan, pembengkakan. • Mendapatkan paparan dari sinar ultraviolet dan udara panas atau dingin secara berlebihan. • Mengalami stres atau gangguan hormon.

• Mengalami kelelahan berat. Faktor risiko herpes kelamin Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena herpes genital adalah: 1. Jenis kelamin Berdasarkan kasus yang sudah terjadi, terlihat bahwa wanita lebih mudah terinfeksi herpes kelamin dibanding laki-laki. 2. Memiliki pasangan seksual lebih dari satu Risiko Anda mengalami penyakit menular seksual bisa semakin meningkat bila memiliki lebih dari satu pasangan seksual.

Penting bagi Anda dan pasangan untuk melakukan skrining penyakit kelamin secara teratur jika termasuk dalam kelompok berisiko.

3. Seks berisiko Virus herpes simpleks tipe 2 menular melalui hubungan intim yang melibatkan penetrasi vagina. Melakukan hubungan seksual yang berisiko tanpa kondom dapat membuat seseorang gejala herpes mudah terjangkit herpes genitalis.

Begitu pun saat Anda melakukan seks oral tanpa kondom dengan pasangan yang terinfeksi herpes kelamin, Anda berisiko terinfeksi penyakit ini. 4. Sistem imun lemah Kondisi sistem kekebalan tubuh yang menurun membuat Anda lebih rentan terhadap infeksi virus.

gejala herpes

Kondisi sistem imun yang lemah bisa disebabkan oleh kelelahan, penyakit autoimun, pengobatan yang memengaruhi kerja sistem imun. 5. Menggunakan benda secara bergantian Meski kemungkinnya kecil, menggunakan benda seperti alat makan, sikat gigi, dan handuk secara bergantian dengan orang yang terinfeksi bisa meningkatkan risiko Anda mengalami herpes kelamin.

Diagnosis herpes genital Beberapa tes yang bisa dilakukan dokter untuk mendiagnosis herpes genital (simplex) adalah sebagai berikut: 1. Pemeriksaan kultur virus Pemeriksaan ini menggunakan sampel dari ulkus di kulit atau sariawan untuk mengkonfirmasi adanya virus herpes simpleks. 2. Tes polymerase chain reaction (PCR) Tes ini memeriksa DNA Anda dari sampel darah untuk memastikan keberadaan virus herpes simpleks dan menentukan tipenya.

3. Pemeriksaan darah Tes darah untuk memeriksa antibodi HSV yang mendeteksi adanya infeksi virus herpes sebelumnya. Pengobatan herpes genital Informasi gejala herpes diberikan bukanlah pengganti nasihat medis.

SELALU konsultasikan pada dokter Anda. Virus penyebab herpes genital akan menetap selamanya di dalam tubuh. Sejauh ini belum ada obat yang bisa menghilangkan virus sepenuhnya dari dalam tubuh. Namun, pengobatan herpes yang dilakukan dapat membantu mengatasi gejala herpes dan mencegah kemungkinan penyakit ini kambuh.

Saat virus dalam keadaan dorman (tidur) dan tidak mengalami gejala apa pun, Anda tidak membutuhkan pengobatan. Dokter dapat memberikan obat antivirus untuk menghilangkan gejala herpes.

Obat antivirus yang diberikan sebagai pengobatan herpes kelamin bertujuan untuk: • Mempercepat penyembuhan.

gejala herpes

• Mengurangi frekuensi kekambuhan. • Mengurangi tingkat keparahan dan durasi gejala. • Mengurangi kemungkinan penularan pada orang lain. Jenis obat antivirus yang sering digunakan untuk herpes genital adalah: • Acyclovir • Valacyclovir • Famciclovir Obat antivirus ini biasanya tersedia dalam bentuk krim atau salep yang bisa langsung dioleskan pada luka herpes. Namun, ada juga obat antivirus herpes dalam pil atau infus yang bisa lebih efektif meredakan gejala.

Jika Anda hamil dan mengalami herpes, segera beri tahu dokter. Dokter dapat memberikan obat antivirus mendekati akhir masa kehamilan untuk mencegah penularan virus pada bayi. Pada beberapa kasus, dokter mungkin menganjurkan melahirkan dengan operasi caesar guna mengurangi risiko penularan.

Pengobatan rumahan herpes genital Herpes kelamin bisa menyebabkan luka dan rasa sakit luar biasa pada seseorang yang punya gangguan sistem imun.

Beberapa perubahan gaya hidup dan perawatan herpes alami berikut ini diharapkan dapat membantu menyembuhkan gejala herpes genital: • Minum atau mengoleskan obat herpes genital yang diberikan dokter sesuai instruksi. • Makan makanan bernutrisi untuk herpes kelamin • Jagalah agar luka herpes Anda tetap kering dan bersih. • Jika Anda hamil, beri tahu dokter Anda untuk mengetahui cara perawatan yang dapat melindungi bayi Anda. Cara mencegah penularan herpes genital Jika Anda atau padangan terinfeksi herpes kelamin, Anda tetap bisa menghindari penularan penyakit ini.

Risiko penularan akan semakin tinggi jika gejala luka atau lenting herpes muncul. Oleh karena itu, Anda perlu mengonsumsi obat ketika mengalami gejala sampai benar-benar sembuh. Disamping itu, lakukan juga beberapa cara berikut ini agar upaya pencegahan herpes kelamin semakin maksimal: • Menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual.

• Menunda melakukan hubungan seksual ketika Anda atau pasangan mengalami gejala herpes kelamin maupun penyakit menular seksual lainnya. • Hindari menyentuh luka herpes terlalu sering. Setelah menyentuh luka, Anda harus segera mencuci tangan. • Jika mengalami gejala herpes kelamin, hindari menggunakan benda-benda yang dipakai pada mulut atau kulit bergantian dengan orang yang sehat.

• Melakukan pemeriksaan penyakit menular seksual secara rutin setiap tahun. Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda. Spencer, J. V. (2009). Herpes. Infobase Publishing. Available at: gejala herpes Whitley, R., & Baines, J. (2018). Clinical management of herpes simplex virus infections: past, gejala herpes, and future. F1000Research, 7, F1000 Faculty Rev-1726.

https://doi.org/10.12688/f1000research.16157.1 WHO. (2020). Herpes simplex virus. Retrieved 18 January 2021, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/herpes-simplex-virus CDC. (2021). STD Facts – Genital Herpes. Retrieved 18 January 2021, from https://www.cdc.gov/std/herpes/stdfact-herpes.htm Mayo Clinic.

(2021). Genital herpes – Symptoms and causes. Retrieved 18 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/genital-herpes/symptoms-causes/syc-20356161 Mayo Clinic. (2021). Genital herpes – Diagnosis and treatment. Retrieved 18 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/genital-herpes/diagnosis-treatment/drc-20356167
Setiap orang pasti menginginkan tubuh yang sehat.

Berbagai cara dilakukan agar stamina tubuh dapat terjaga. Gejala herpes mengonsumsi sayur, berolahraga, tidur yang cukup dan masih banyak cara lainnya. Namun, jika seseorang tidak peka untuk menjaga kesehatan, ia akan rentan terserang penyakit. Berbagai kuman, bakteri hingga virus dengan mudahnya masuk ke tubuh. Salah satu penyakit yang umum menyerang tubuh manusia adalah herpes. Penyakit ini ditandai dengan adanya lepuhan pada kulit yang berisi cairan dan berwarna kemerahan.

Penyakit herpes tergolong penyakit jangka panjang. Herpes disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV). Bahkan, virus ini diketahui gejala herpes bertahan seumur hidup dalam tubuh seseorang. ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI Herpes terbagi jadi dua macam, yakni herpes simpleks dan herpes zoster.

Setiap orang memiliki risiko terserang penyakit ini, dari mulai anak-anak hingga orang dewasa. Gejala yang dialami pun berbeda-beda. Agar dapat menangani penyakit herpes dengan tepat, kenali dulu gejala penyakit herpes simpleks maupun zoster.

gejala herpes

Secara umum, ciri-ciri yang timbul akibat serangan virus herpes di antaranya adalah demam, menggigil, sesak napas, nyeri di persendian. Berikut penjelasan lengkapnya mengenai jenis, gejala, penyebab, dan cara mengobati penyakit herpes simpleks dan zoster, seperti dirangkum brilio.net dari berbagai sumber pada Rabu (14/7).

Jenis-jenis penyakit herpes. 1. Herpes simpleks. foto: freepik.com Herpes simpleks merupakan salah satu tipe penyakit herpes. Biasanya penyakit gejala herpes menimbulkan ruam dan luka melepuh di bagian leher, lengan, dan anggota tubuh lainnya. Penyebab herpes jenis ini tergantung pada tipe virus yang menyerang.

Pada tipe pertama, virus yang mengakibatkan herpes adalah HSV-1. Virus ini dikenal dengan herpes simpleks Virus-1 (HSV-1). Virus ini bisa menyerang bagian mulut atau pinggang ke atas. Selanjutnya, pada tipe kedua disebabkan oleh virus HSV-2. Virus ini sering dikenal dengan herpes genitalis. Biasanya menyerang di bagian pinggang ke bawah dan lebih sering menyerang bagian kelamin.

Uniknya saat virus ini menyerang pada wanita, tidak bisa terlihat jelas atau secara langsung. 2. Herpes zoster. foto: freepik.com Meski tidak berbahaya, herpes zoster menimbulkan keluhan nyeri.

Berbeda dengan herpes simpleks, penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster, yang juga menjadi gejala herpes cacar air. Herpes zoster biasanya menyerang pada punggung, dada, dan dahi. * Gejala umum penyakit herpes kulit. Terdapat beberapa perbedaan gejala penyakit herpes zoster dan herpes simpleks.

Secara kasat mata, perbedaan gejala tersebut terletak pada bagian tubuh yang terdampak. Selain itu, gejala ini juga dapat dibagi ke beberapa stadium. Berikut ini adalah tanda-tanda dan gejala penyakit herpes kulit: 1. Munculnya bintil berwarna putih dan berair.

foto: freepik.com 2. Ruam dengan benjolan merah. foto: freepik.com 3. Benjolan merah berubah menjadi kerak kering. foto: freepik.com 4. Kulit terasa gatal. foto: freepik.com 5. Demam dan sakit kepala.

foto: freepik.com 6. Mati rasa atau kesemutan pada kulit. foto: freepik.com 7. Nafsu makan menurun. foto: freepik.com 8. Mual dan muntah. foto: freepik.com * Gejala khusus penyakit herpes. Berbeda dengan sebelumnya, setelah memasuki fase yang lebih parah akan muncul gejala sesuai dengan jenis virus gejala herpes yang menginfeksi dan lokasi atau bagian tubuh yang terinfeksi. Seseorang yang terserang penyakit ini akan mengalami gejala yang dapat kambuh setiap saat.

Berikut adalah berbagai gejala khusus penyakit herpes: 1. Penurunan kesadaran. foto: freepik.com 2. Sensasi rasa terbakar pada tempat infeksi. gejala herpes freepik.com 3. Kejang. foto: freepik.com 4. Lepuhan merah berisi air di area yang terinfeksi. foto: freepik.com 5. Pembengkakan kelenjar getah bening. foto: freepik.com 6.

Infeksi luka dengan rasa nyeri. foto: freepik.com * Penyebab penyakit herpes. Herpes adalah penyakit yang disebabkan karena virus. Penyakit ini bisa menular dari satu orang ke orang lain.

Kenali beberapa penyebab herpes yang harus kamu waspadai. Beberapa di antaranya seperti infeksi virus yang bisa menular dari bersin, batuk, pakaian yang tercemar, sering menyentuh herpes orang lain, masalah daya tahan tubuh yang kurang, kontak langsung dengan orang yang terkena cacar air, dan karena hubungan seks. * Cara mengobati penyakit herpes. Penyakit herpes muncul akibat serangan virus. Untuk itu dibutuhkan obat antivirus untuk mengatasinya.

Namun, biasanya luka dan lepuhan akibat herpes ini dapat sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu 2–4 minggu. Meski begitu, bisa saja virus herpes ini masih tetap ada di dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala. Sampai saat ini belum ada metode pengobatan yang dapat menghilangkan virus herpes dari dalam tubuh. Selain berbagai obat-obatan antivirus, dilansir dari medicalnewstoday.com, beberapa bahan rumahan berikut ini juga dapat digunakan untuk meringankan gejala herpes: 1.

Mengoleskan tepung maizena ke daerah yang terinfeksi. 2.

gejala herpes

Menyemprotkan air dalam botol ke benjolan untuk mengurangi rasa sakit. 3. Mengoleskan gel lidah buaya pada area luka. Namun sayangnya, belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa pengobatan ini berhasil. (brl/vin) • Rekomendasi kuliner khas kampung halaman di ShopeeFood, bikin laper • 11 Cara mengatasi darah rendah, mudah dan cepat • 12 Penyebab sinusitis, gejala, dan cara mengobati secara alami • Selain ketupat, 4 makanan kekinian cocok temani silaturahmi Idul Fitri • 13 Penyebab cegukan dan cara mengatasinya dengan cepat • 14 Manfaat cokelat hitam untuk kesehatan dan kecantikan • Rekomendasi kuliner khas kampung halaman di ShopeeFood, bikin laper • 15 Penyebab rambut rontok dan cara mengatasinya (brl/vin)
Definisi Apa itu herpes?

Herpes adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus gejala herpes. Penyakit ini lebih dikenal dengan herpes kulit karena gejalanya ditandai dengan lenting atau lepuhan pada kulit yang terasa gatal. Namun, sebenarnya terdapat delapan jenis virus herpes yang bisa menimbulkan penyakit, yaitu: • Herpes simplex tipe I gejala herpes dikenal dengan herpes oral yang bisa menyebabkan luka dan benjolan melepuh di sekitar bibir serta wajah.

• Herpes simplex tipe II (HSV-2):termasuk ke dalam golongan herpes genital (kelamin) dan biasanya muncul di kelamin bagian luar serta daerah sekitar anus. • Varicella zoster (VZV): penyebab cacar air dan herpes zoster ( cacar api) yang menyerang orang yang pernah terkena cacar air.

• Epstein-Barr virus (EBV): menyerang limfosit T dalam tubuh sehingga menyebabkan penyakit mononukleosis atau demam kelenjar. • Cytomegalovirus (HHV 5), HHV 6, HHV 7: infeksi virusnya bisa berlangsung lama dan membahayakan orang dengan imunitas lemah seperti penderita HIV atau yang melakukan transplantasi organ. • Kaposi’s sarcoma herpesvirus ( HHV 8): infeksi virusnya memicu pertumbuhan sel kanker di sekitar pembuluh darah dan limfa dikenal juga dengan penyakit sarkoma kaposi.

Seberapa umumkah penyakit ini? Dilansir dari the New Zealand Herpes Foundation, herpes kulit adalah penyakit yang sangat umum dialami. Siapapun bisa terinfeksi oleh virus herpes. Diperkirakan 50% pengidapnya tertular dari kontak dengan orang lain yang terinfeksi.

Orang dewasa yang aktif secara seksual kerap gejala herpes penyakit herpes yang menyerang kelamin. Selain itu, orang yang memiliki kondisi kekebalan tubuh yang lemah juga berisiko tinggi terinfeksi virus herpes.

Tanda-tanda & gejala Apa saja tanda dan gejala herpes? Penyakit herpes yang menyerang kulit disebabkan oleh virus herpes simplex (HSV 1 dan HSV2) dan varicella gejala herpes atau herpes zoster. Terdapat beberapa perbedaan gejala antara herpes zoster dan herpes simplex, terutama pada bagian tubuh yang terdampak. Berikut ini adalah tanda-tanda dan gejala penyakit herpes kulit yang biasanya ditunjukkan: • Ruam disertai lenting berkelompok di satu sisi tubuh • Ruam diawali dengan benjolan merah (lenting) • Lenting berair dan berubah menjadi kerak kering (terlihat menyebar atau mengelompok pada beberapa bagian tubuh seperti tangan, kaki, dan badan) • Rasa sakit, gatal, dan kesemutan pada lenting • Demam • Sakit kepala • Panas dingin • Kelelahan • Sensitif terhadap cahaya Herpes simpleks Infeksi virus herpes simplex akan menimbulkan gangguan pada kulit kelamin dan di sekitar bibir, terkadang bisa juga menyerang bagian mata (herpes mata).

Namun, kemunculan awal penyakit ini sering kali tidak disertai gejala. Gejala herpes simplex mungkin baru akan terasa muncul setelah berbulan-bulan hingga bertahun-tahun terinfeksi. Orang yang terkena penyakit ini akan mengalami gejala yang terus kambuh secara berulang. Berikut ini adalah berbagai gejala herpes yang menyerang kelamin dan mulut yang bisa muncul: • Lecet dan luka pada alat kelamin bagian luar • Lepuhan merah berisi air di sekitar mulut, anus, atau alat kelamin • Keputihan • Rasa sakit dan gatal pada lepuhan • Tidak enak badan • Demam • Nyeri saat buang air kecil • Kelenjar getah bening membengkak • Rasa terbakar atau kesemutan di sekitar alat kelamin sebelum luka lepuhan yang berisi air kembali muncul • Adanya lecet dan luka pada serviks • Luka lepuhan di sekitar mulut yang berisi cairan dan berwarna kemerahan Kapan harus pergi ke dokter?

Anda perlu segera berkonsultasi ke dokter saat melihat berbagai gejala yang menunjukkan penyakit herpes. Dokter akan segera melakukan penanganan terbaik untuk mencegah keparahan kondisi. Jika Anda melakukan hubungan seksual dengan orang yang diketahui terinfeksi herpes, segera periksakan diri untuk memastikan kondisi kesehatan. Selain itu, untuk Anda sudah pernah gejala herpes cacar air kemungkinan virus aktif kembali pun tetap ada.

Oleh karenanya, konsultasikan segera saat gejala herpes kulit mulai muncul. Penyebab dan Penularan Apa penyebab penyakit herpes? Penyebab penyakit herpes kulit adalah infeksi virus varicella zoster yakni virus yang menyebabkan cacar air dan cacar api serta virus herpes simpleks.

Virus varicella zoster biasanya dapat hidup gejala herpes sistem saraf selama bertahun-tahun. Pada sebagian orang, virus akan tetap tidur, tapi pada sebagian lainnya infeksi bisa diaktifkan kembali sehingga menyebabkan penyakit cacar api herpes zoster.

Re-infeksi virus varicella zoster lebih berpeluang terjadi terutama saat mengalami penyakit atau menjalani pengobatan yang melemahkan sistem kekebalan tubuh. Virus varicella zoster bisa ditularkan melalui kontak langsung, droplet (percikan lendir), atau udara. Sementara virus herpes simpleks dapat menular dengan cara: • Berhubungan seks vagina atau anal tanpa kondom • Melakukan seks oral dengan orang yang memiliki luka dan ruam penyakit di sekitar mulutnya • Menggunakan mainan seks secara bergantian • Berciuman dengan orang yang memiliki ruam penyakit di sekitar mulutnya • Melalui kelahiran jika ibu dengan herpes genital memiliki luka saat melahirkan Faktor-faktor risiko Apa yang membuat saya berisiko terkena penyakit ini?

Semua orang yang pernah terserang cacar air dapat terkena penyakit heroes. Namun, ada berbagai faktor lain yang meningkatkan risikonya. Berikut berbagai faktor yang meningkatkan risiko seseorang untuk terkena penyakit ini: • Berusia gejala herpes dari 50 tahun • Memiliki penyakit tertentu yang melemahkan sistem imun seperti HIV/AIDS dan kanker • Sedang menjalani perawatan kanker seperti radiasi dan kemoterapi yang dapat menurunkan kekebalan tubuh terhadap penyakit • Mengonsumsi obat-obatan yang dirancang untuk mencegah penolakan terhadap organ transplantasi misalnya penggunaan steroid yang berkepanjangan seperti prednison Herpes simpleks Semua orang berisiko terkena virus penyakit ini, dari mulai anak-anak hingga dewasa.

Namun, untuk yang menyerang kelamin biasanya lebih mudah menginfeksi orang-orang yang aktif secara seksual tanpa menerapkan seks aman.

Berbagai faktor yang meningkatkan risiko penyakit yang satu ini: • Berjenis kelamin perempuan • Memiliki pasangan seks lebih dari satu • Berhubungan seks di usia yang sangat muda • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah • Memiki penyakit kelamin yang lain Diagnosis Bagaimana dokter mendiagnosis penyakit ini? Penyakit herpes simpleks sering kali menimbulkan gejala yang cukup khas. Oleh karena itu, banyak dokter biasanya mampu mendiagnosis penyakit ini hanya dari melihat gejalanya saja.

Sementara untuk herpes zoster, dokter akan mendiagnosisnya dengan melihat riwayat rasa sakit di satu sisi tubuh Anda. Dokter juga akan melihat apakah ada ruam dan lepuh yang muncul di bagian yang sakit tersebut.

Namun untuk memastikan jenis penyakit herpes yang dialami, dokter juga bisa melakukan pemeriksaan tambahan dengan mengambil sampel jaringan atau lepuhan untuk diperiksa di laboratorium.

Pengobatan Apa saja pilihan pengobatan untuk herpes? Dalam mengatasi penyakit herpes, dokter biasanya akan meresepkan antivirus. Obat antivirus inidigunakan untuk membantu mengurangi keparahan gejala, memperpendek masa kekambuhan gejala herpes, dan mengurangi risiko gejala herpes virus ke orang lain.

Biasanya, obat herpes diberikan dalam bentuk pil dan juga salep. Namun, untuk kasus yang cukup parah dokter akan memberikannya melalui suntikan. Berikut ini berbagai obat herpes yang biasanya diresepkan: • Obat antivirus seperti acyclovir, valacyclovir, dan famiciclovir membantu mengurangi rasa sakit dan mempercepat penyembuhan.

Dikonsumsi 2 hingga 5 kali sehari sesuai resep dokter • Obat antiradang seperti ibuprofen untuk mengurangi rasa sakit dan pembengkakan. Dikonsumsi setiap 6 hingga 8 jam sekali • Obat dari golongan narkotika dan analgesik untuk mengurangi rasa sakit, biasanya dikonsumsi dua kali sehari atau sesuai resep dokter • Antikonvulsan atau antidepresan trisiklik untuk mengobati rasa sakit yang berkepanjangan, biasanya dikonsumsi 1 atau 2 kali sehari • Antihistamin seperti diphenhydramine (Benadryl) untuk mengatasi rasa gatal, biasanya dikonsumsi setiap delapan jam sekali • Krim, gel, atau patch mati rasa untuk seperti lidocaine untuk mengatasi rasa sakit, biasanya diaplikasikan saat diperlukan • Capsaicin (Zostrix), membantu mengurangi risiko nyeri saraf yang disebut neuralgia pasca-herpes yang terjadi setelah Anda pulih dari herpes zoster Terapi untuk mengatasi herpes Obat golongan antivirus diresepkan untuk pasien yang mengalami episode pertama penyakit herpes simpleks.

Untuk episode berulang, biasanya dokter akan merekomendasikan terapi episodik dan terapi supresif yang juga menggunakan obat antivirus. Terapi episodik biasanya direkomendasikan jika Anda mengalami kekambuhan kondisi enam kali dalam waktu satu tahun.

Terapi ini membantu mempersingkat gejala herpes kulit yang biasanya terjadi dalam waktu yang cukup lama. Sementara itu, terapi supresif digunakan untuk orang-orang yang mengalami kekambuhan kondisi sebanyak lebih dari enam kali dalam setahun. Te rapi ini dapat mengurangi gejala herpes kulit setidaknya hingga 75 persen saat Anda meminum obat antivirus. Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan untuk mengatasi herpes? Selain perawatan dari dokter, perawatan rumahan dan perubahan gaya hidup bisa dilakukan untuk membantu mengatasi penyakit ini.

Menggabungkan pengobatan medis dan perawatan rumahan dapat membantu mempercepat kesembuhan penyakit dan meringankan gejala. Berikut berbagai perawatan rumahan dan obat alami untuk herpes kulit: • Mandi dengan menggunakan air garam untuk membantu meredakan gejala. • Berendam dalam bak mandi yang berisi air hangat. • Petroleum jelly menjadi obat alami yang bisa digunakan dengan mengoleskan ke area yang terinfeksi. • Menggunakan pakaian yang longgar dan menghindari yang ketat terutama di daerah yang terinfeksi.

• Mencuci tangan hingga bersih dengan sabun terutama setelah menyentuh area yang terinfeksi. • Tidak melakukan kegiatan seksual baik vaginal, oral, maupun anal hingga gejalanya menghilang. • Mengompres area yang gejala herpes dengan menggunakan es yang dibalut dengan handuk. • Istirahat yang cukup untuk mengembalikan kekuatan sistem kekebalan tubuh. • Mengompres ruam atau lepuhan menggunakan air dingin untuk mengurangi rasa sakit dan juga gatal. • Menggunakan losion calamine untuk mengurangi rasa gatal.

Pencegahan Bagaimana cara mencegah herpes? Vaksin cacar air membantu mencegah Anda dari gejala penyakit yang parah serta komplikasi yang ditimbulkannya. Untuk itu, semua anak perlu melakukan imunisasi varicella. Begitupun dengan orang dewasa yang belum pernah terserang cacar air perlu melakukan vaksin yang satu ini.

Sementara itu, orang tua yang memasuki usia 50 tahun perlu melakukan vaksin herpes zoster yang dikenal sebagai imunisasi varicella zoster. Vaksin ini nantinya akan membantu mencegah keparahan gejala dan komplikasi akibat herpes zoster. Tak hanya vaksin, Anda juga perlu mencegah penyebaran infeksi dengan cara: • Menghindari kontak dengan orang-orang yang belum pernah terkena cacar air dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah • Sering mencuci tangan dengan menggunakan sabun • Menjaga daya tahan tubuh agar tetap baik dengan cara menerapkan pola hidup sehat yaitu makan bergizi, istirahat cukup, mengurangi stres dan olahraga teratur Sementara itu, belum ada obat untuk menyembuhkan herpes simpleks.

gejala herpes

Oleh karena itu, cara terbaik menghindari infeksi ialah dengan melakukan berbagai tindakan pencegahan seperti: • Menghindari kontak fisik langsung dengan orang yang terinfeksi • Menghindari seks baik oral, vaginal, dan anal selama terinfeksi • Menghindari berciuman dengan orang yang memiliki infeksi di bagian mulut • Tidak berganti-ganti pasangan seksual • Melakukan seks aman dengan menggunakan kondom Melakukan berbagai langkah ini secara konsisten membantu mencegah Gejala herpes dari risiko dan komplikasi penyakit yang parah.

Jika Anda memiliki pertanyaan, konsultasikan ke dokter untuk mendapat informasi lebih jelas mengenai penyakit yang dimiliki.

Saguil, A., Kane, S., Mercado, M., & Lauters, R. (2017). Herpes Zoster and Postherpetic Neuralgia: Prevention and Management. American Family Physician, 96(10), 656-663. Retrieved from https://www.aafp.org/afp/2017/1115/p656.html Groves, M.

(2016). Genital Herpes: A Review. American Family Physician, 93(11), 928-934. Retrieved from https://www.aafp.org/afp/2016/0601/p928.html CDC. (2020).

gejala herpes

Chickenpox - About - Varicella. Retrieved 26 October 2020, from https://www.cdc.gov/chickenpox/about/index.html CDC. gejala herpes. Shingles - Signs and Symptoms - Herpes Zoster. Retrieved 26 October 2020, from https://www.cdc.gov/shingles/about/symptoms.html American Academy of Family Physicians. (2020). Herpes – Symptoms, Diagnosis, Treatment.

Retrieved 26 October 2020, from https://familydoctor.org/condition/herpes/ Mayo Clinic. (2020). Genital herpes – Symptoms and causes. Retrieved 26 October 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/genital-herpes/symptoms-causes/syc-20356161 NZ Herpes Foundation. (2020). Myths vs facts on genital herpes (HSV-2) & cold sores. Retrieved 26 October 2020, from https://www.herpes.org.nz/herpes-patient-info/myths-vs-factsHerpes kelamin atau herpes genital sering kali tidak disadari oleh penderitanya, karena bisa terjadi tanpa gejala.

Namun, pada penderita yang mengalami gejala, keluhannya bisa berupa luka lepuh di kelamin yang terasa sakit dan gatal. Luka lepuh ini muncul 2 hari sampai 2 bulan sejak tertular virus HSV. Ciri-ciri luka lepuh pada herpes kelamin adalah: • Luka lepuh berisi cairan dan kemerahan di sekelilingnya yang muncul secara berkelompok • Area luka terlihat bengkak dan terasa lunak ketika ditekan • Luka gejala herpes akan pecah mengeluarkan cairan atau darah, lalu membentuk koreng Gejala herpes muncul luka lepuh, herpes genital juga dapat disertai dengan gejala yang mirip dengan flu, yaitu demam dan nyeri otot.

Pada kondisi tertentu, bisa muncul benjolan di selangkangan akibat pembengkakan kelenjar getah bening, atau infeksi herpes yang menyebar ke mata (keratitis herpes).

Setelah infeksi awal, herpes kelamin atau herpes genital dapat kambuh beberapa kali dalam setahun. Tanda kambuhnya herpes genital ditunjukkan dengan luka lepuh yang disertai rasa panas, sakit, atau kesemutan di area kelamin. Gejala tersebut dapat disertai rasa sakit gejala herpes punggung bawah, bokong, paha, atau lutut. Namun, luka pada saat kambuh biasanya lebih cepat sembuh. Seiring waktu, tubuh akan membangun sistem kekebalan untuk melawan virus herpes sehingga infeksi akan makin jarang kambuh.

Kapan Harus Ke Dokter Konsultasikan dengan dokter kulit bila Anda melakukan hubungan seksual yang berisiko, seperti bergonta-ganti pasangan dan tidak menggunakan kondom.

Tanyakan juga pada dokter cara untuk mencegah penularan penyakit menular seksual, termasuk herpes genital. Jika Anda mengalami luka lepuh kemerahan di mulut atau area kelamin, segera periksakan diri ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebab luka dan memberikan pengobatan yang sesuai.

Apa Itu Herpes Zoster Atau Cacar Api?




2022 www.videocon.com