Kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah

kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah

Walaupun pada dasarnya Al-Qur’an diwahyukan secara lisan, Al-Qur’an sendiri menyebut sebagai kitab tertulis, sebagaimana disebut dalam surat al-An’am ayat:7 “ Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang kafir itu berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” Al-Qur’an sebagaimana yang dimiliki ummat Islam sekarang ternyata mengalami proses sejarah yang cukup panjang dan upaya penulisan dan pembukuan (kodifikasi).

kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an belum dibukukan ke dalam satu mushaf. Al-Qur’an baru ditulis dalam menggunakan kepingan-kepingan tulang, pelapah-pelapah kurma dan batu-batu, sesuai dengan kondisi peradaban masyarakat waktu itu yang belum mengenal adanya alat-alat tulis menulis, seperti kertas dan pensil. Allah akan menjamin kemurnian dan kesucian Al-Qur’an, akan selamat dari usaha-usaha pemalsuan, penambahan atau pengurangan-pengurangan sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah dalam surat Al-Hijr: 9, dan juga dalam surat Al-Qiyamah: 17-19.

Dalam catatan sejarah dapat dibuktikan bahwa proses kodifikasi dan penulisan Qur’an dapat menjamin kesuciannya secara meyakinkan. Qur’an ditulis sejak Nabi masih hidup. Begitu wahyu turun kepada Nabi, Nabi langsung memerintahkan para sahabat penulis wahyu untuk menuliskannya secara hati-hati.

Begitu mereka tulis, kemudian mereka hafalkan sekaligus mereka amalkan. Dalam makalah ini penulis akan menggambarkan sejarah kodifikasi/ pengumpulan Al-Qur’an pada masa Rasulullah SAW dan setelah beliau wafat, baik pada masa Abu Bakar - ash-Shiddiq hingga Utsman bin Affan, termasuk kendala-kendala atau permasalahan yang muncul dalam proses penyusunan maupun setelah pengumpulan Al-Qur’an. Al-Qur’anul Karim turun kepada nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis). Karena itu perhatian nabi hanya sekedar menghafal dan menghayatinya, agar beliau dapat menguasai Al-Qur’an persis sebagaimana halnya Al-Qur’an yang diturunkan.

kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah

Setelah itu beliau membacakannya kepada umatnya sejelas mungkin agara mereka pun dapat menghafal dan memantapkannya. Hal ini karena Nabi pun diutus Allah dikalangan ummi pula. Nabi Muhammad SAW. adalah orang yang pertama kali menghafal Al Qur’an dan para sahabat mencontoh suri tauladannya, sebagai usaha menjaga dan melestarikan Al Qur’an. Upaya pelestarian Al Qur’an pada masa nabi Muhammad SAW. dilakukan oleh Rasulullah sendiri setiap kali beliau menerima wahyu dari Allah.

Setelah itu, beliau langsung mengingat dan menghafal serta menyampaikannya kepada para sahabat. Lalu sahabat langsung menghafalnya dan menyampaikannya kepada keluarga dan para sahabat lainnya. Tidak hanya itu, mereka para sahabat langsung mempraktekkan perintah yang datang dari Allah melalui Rasul-Nya.

Hal ini bisa kita lihat pada ayat tentang turunnya hijab. Dalam menerima wahyu yang berupa Al Qur’an, Rasulullah SAW. sangat bersemangat untuk segera menghafalnya. Suatu ketika beliau pernah kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah bibir dan lidahnya untuk membaca Al Qur’an tatkala wahyu turun kepadanya sebelum malaikat Jibril menyelesaikan wahyu itu, sebagai upaya keras untuk menghafalnya.

Dari kejadian ini turunlah ayat QS. Al Qiyamah 75 : 16-19): “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya”. Rasulullah amat menyukai wahyu, ia senantiasa menunggu pernurunan wahyu dengan rasa rindu, lalu menghafal dan memahaminya, persis seperti dijanjikan Allah: Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya (al-Qiyamah [75]:17).

Oleh Karena itu, ia adalah hafiz (penghafal) Qur’an pertama dan merupakan contoh paling baik bagi para sahabat dalam menghafalnya, sebagai realisasi kecintaan mereka kepada pokok agama dan sumber risalah. Qur’an diturunkan selama dua puluh tahun lebih.

Proses penurunannya terkadang hanya turun satu ayat dan terkadang turun sampai sepuluh ayat. Setiap kali sebuah ayat turun, dihafal dalam dada dan ditempatkan dalam hati, sebab bangsa Arab secara kodrati memang mempunyai daya hafal yang kuat. Hal itu karena umumnya mereka buta huruf, sehingga dalam kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah berita-berita, syair-syair dan silsilah mereka dilakukan dengan catatan dihati mereka.(Manna:2013) [2] Para sahabat yang hafal Al-Qur’an pada masa Nabi SAW tak terhitung jumlahnya.

Antara lain, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, Zaid bin Tsabit, Amr bin Ash, Ibnu Zubair, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Aishah, Hafshah, Umma Salamah. Sahabat penghafal Al-Qur’an yang mati syahid dalam perang Yamamah saja lebih dari 70 orang. Demikian pula yang mati syahid dalam peristiwa Bi’r Ma’unah juga sekitar 70 orang.

Jadi jumlah pengahafal Al-Qur’an yang mati syahid pada dua perang itu saja sekitar 140 orang. Jelaslah bahwa jumlah sahabat yang hafal Al-Qur’an cukup banyak dan mencapai jumlah mutawatir, yaitu suatu jumlah dalam suatu periwayatan dalil yang mustahil sepakat untuk berdusta.(Muhammad:2002) [3] Keistimewaan yang kedua dari Al-Qur’an Karim ialah pengumpulan dan penulisannya dalam lembaran.

Rasulullah SAW. Mempunyai beberapa orang sekretaris wahyu. Setiap turun ayat Al-Qur’an, beliau memerintahkan kepada mereka untuk menulisnya dalam rangka memperkuat catatan dan dokumentasi dalam kehati-hatian beliau terhadap kitab Allah Azza Wa Jalla, sehingga penulisan tersebut dapat memudahkan penghafalan dan memperkuat daya ingat.

Meskipun menulis bukan keahlian umum di masa Nabi, di Makkah, yang menjadi pusat perdagangan, terdapat sejumlah orang yang bisa menulis. Al-Qur’an ditulis oleh sejumlah juru tulis baik atas inisiatif sendiri maupun atas instruksi dari Nabi, yang memanggil seorang juru tulis tiap kali setelah wahyu turun.(Farid:2002) [4] Para penulis wahyu tersebut adalah para sahabat pilihan Rasul dari kalangan sahabat yang terbaik dan indah tulisannya sehinnga mereka benar-benar dapat mengemban tugas yang mulia ini.

Diantara mereka adalah Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Muawiyah bin Abi Sufyan, Khulafaur Rasyidin, dan sahabat-sahabat lain. (Muhammad:1998) [5] Para sahabat senantiasa menyodorkan Qur’an kepada Rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan. Tulisan-tulisan Qur’an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf; yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki oleh yang lain. Zaid bin Sabit mengatakan: “Rasulullah telah wafat, sedang Qur’an belum dikumpulkan sama sekali.” Maksudnya ayat-ayat dan surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf.

Al-Khattabi berkata: Rasulullah tidak mengumpulkan Qur’an dalam satu mushaf karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau membacanya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasulullah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada pada Khulafa’ur Rasyidin sesuai dengan janji-Nya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya. Dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar. (Manna:2013) [6] Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad SAW.

Terdiri dari dua kategori, pertama: Pengumpulan Hadits dalam dada, maksudnya dengan cara menghafal. Rasulullah S AW. a dalah orang yang pertama kali menghafal Al Qur’an dan para sahabat mencontoh suri tauladannya, sebagai usaha menjaga dan melestarikan Al Qur’an. Upaya pelestarian Al Qur’an pada masa nabi Muhammad SAW. dilakukan oleh Rasulullah sendiri setiap kali beliau menerima wahyu dari Allah. Setelah itu, beliau langsung mengingat dan menghafal serta menyampaikannya kepada para sahabat.

kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah

Lalu sahabat langsung menghafalnya dan menyampaikannya kepada keluarga dan para sahabat lainnya. Tidak hanya itu, mereka para sahabat langsung mempraktekkan perintah yang datang dari Allah melalui Rasul-Nya. Kedua : Pengumpulan Al-Qur’an dalam bentuk tulisan. Rasulullah SAW. Mempunyai beberapa orang sekretaris wahyu. Setiap turun ayat Al-Qur’an, beliau memerintahkan kepada mereka untuk menulisnya dalam rangka memperkuat catatan dan dokumentasi dalam kehati-hatian beliau terhadap kitab Allah Azza Wa Jalla, sehingga penulisan tersebut dapat memudahkan penghafalan dan memperkuat daya ingat.

Setelah Rasulullah SAW. wafat, Abu Bakar As Shiddiq terpilih menjadi Khalifah dan pemimpin kaum muslimin. Pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dilakukan kodifikasi terhadap naskah Al-Qur’an yang telah ditulis pada masa Nabi. Karakter kodifikasi Al-Qur’an pada masa ini ditandai dengan penyusunan Al-Qur’an dalam suatu naskah secara rapi dan berurutan; di mana suatu surah dapat dibaca secara sempurna dalam satu naskah karena ia tidak tersebar dalam lembaran-lembaran yang berbeda.(Kadar:2012) [9] Pada masa kekhalifahannya, banyak terjadi kekacauan dan peristiwa yang di timbulkan oleh orang-orang murtad, pengikut nabi palsu Musailamah Al Kadzab.

Kondisi inilah yang mengakibatkan terjadinya perang Yamamah yang terjadi pada tanggal 12 H. Dalam pertempuran itu, banyak sekali sahabat pembaca dan penghafal Al Qur’an yang gugur di medan perang. Data yang tercatatmenunjukkan 70 sahabat dari para penghafal Al Qur’an. Riwayat lain ada yang menyebutkan bahwa jumlah sahabat yang gugur di medan perang sebanyak 500 sahabat. Umar bin Khattab merasa sangat khawatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan al-Qur’an karena dikhawatirkan akan musnah.

Sebab perang Yamamah telah banyak membunuh para qari. Di segi lain Umar merasa khawatir juga kalau-kalau peperangan di tempat-tempat lain kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah membunuh banyak qari pula sehingga Qur’an akan hilang dan musnah. Abu Bakar menolak usulan ini dan berkeberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah.

Tetapi Umar tetap membujuknya, sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan Umar tersebut. Kemudian Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Sabit, mengingat kedudukannya dalam qira;at, penulisan, pemahaman dan kecerdasannya serta kehadirannya pada pembacaan yang terakhir kali. Abu Bakar menceritakan kepadanya kekhawatiran dan usulan Umar. Pada mulanya Zaid menolak seperti halnya Abu Bakar waktu itu.

Keduanya lalu bertukar pendapat, sampai akhirnya Zaid dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan Qur’an itu. Zaid bin Sabit memulai tugasnya yang berat ini dengan bersandar pada hafalan yang ada pada hati para qurra dan catatan yang ada pada para penulis.

Kemudian lembaran-lembaran (kumpulan) itu disimpan ditangan Abu Bakar.

kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah

(Manna:2013) [10] peristiwa yang mengakibatkan banyak penghafal yang gugur itulah Umar bin Khattab Dari meminta kepada Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq agar Al Qur’an segera di kumpulkan dan di tulis dalam sebuah kitab yang nantinya dinamakan dengan mushaf. Usulan ini disampaikan karena beliau merasa cemas dan khawatir bahwa Al Qur’an sedikit demi sedikit akan musnah bila hanya mengandalkan hafalan, apalagi para penghapal Al Qur’an semakin berkurang dengan banyaknya mereka yang gugur di medan perang.

Semula Khalifah Abu Bakar merasa ragu untuk menerima gagasan Umar bin Khattab itu, sebab Rasulullah SAW. tidak pernah memerintahkan untuk mengumpulkan Al Qur’an kepada kaum muslimin. Sehingga suatu saat Allah membukakan hati Abu Bakar dan menerima gagasan itu setelah betul-betul mempertimbangkan kebaikan dan manfaatnya. Abu Kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah ra tahu bahwa dengan mengumpulkan Al Qur’an sebagaimana yang diusulkan oleh Umar bin Khattab sarana yang sangat penting untuk menjaga kitab suci Al Qur’an dari kemusnahan, perubahan dan penyelewengan.

(Muhammad:1998) [11] Pada masa kepemimpinan Utsman, daerah kekuasaan Islam telah meluas, orang-orang islam telah terpencar di berbagai daerah. Dan di masing-masing daerah berkembang bacaan( qiraah) sesuai dengan bacaan dari sahabat yang mengajar mereka. Penduduk Syam membaca Al-Qur’an mengikuti bacaan Ubay bin Ka’ab, penduduk Kufah mengikuti bacaan Abu Musa Al-Asy’ari. Akibatnya, muncul diantara mereka perbedaan tentang bunyi huruf dan bacaan. Tidak jarang masalah ini menimbulkan pertikaian dan perpecahan.

Bahkan akibat perbedaan qiraah dalam membaca Al-Qur’an, satu sama lain saling mengkufurkan. Karena latar belakang tersebut Utsman dengan ketepatan pandangannya berpendapat untuk melakukan tindakan preventif. Ia mengumpulkan sahabat-sahabat yang terkemuka dan cerdik cendekiawan untuk bermusyawarah dalam menanggulangi fitnah (perpecahan) dan perselisihan.

Mereka semua sependapat agar Amirul Mu’minin menyalin dan memperbanyak mushaf kemudian mengirimkannya ke segenap daerah dan kota dan selanjutnya menginstruksikan agar orang-orang membakar mushaf yang lainnya sehingga tidak ada lagi jalan yang membawa kepada pertikaian dan perselisihan dalam hal bacaan Al-Qur’an. Utsman menugaskan kepada empat orang sahabat pilihan yang hafalannya dapat diandalkan, yakni Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Al’Ash dan Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam.

Utsman lalu meminta kepada Hafshah binti Umar agar ia sudi meminjamkan mushaf yang ada padanya sebagai hasil pengumpulan pada masa Abu Bakar, untuk disalin dan diperbanyak. Dan setelah selesai akan dikembalikan lagi. Hafshah mengabulkannya. Setelah selesai kemudian Utsman mengembalikan mushaf itu kepada Hafshah dan mengirimkan hasil pekerjaan tersebut ke seluruh penjuru negeri Islam serta memerintahkan untuk membakar naskah mushaf Al-Qur’an selainnya. (Muhammad:2002) [13] Utsman r.a melakukan hal ini setelah meminta pendapat kepada para sahabat ra.

yang lain sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ali ra. bahwasanya dia mengatakan : “Demi Allah, tidaklah seseorang melakukan apa yang dilakukan pada mushaf-mushaf Al-Qur’an selain harus meminta pendapat kami semuanya”, Utsman mengatakan : “Aku berpendapat sebaiknya kita mengumpulkan manusia hanya pada satu Mushaf saja sehingga tidak terjadi perpecahan dan perbedaan”. Kami menjawab : “Alangkah baiknya pendapatmu itu”. Mush’ab Ibn Sa’ad mengatakan : “Aku melihat orang banyak ketika Utsman membakar mushaf-mushaf yang ada, merekapun keheranan melihatnya”, atau dia katakan : “Tidak ada seorangpun dari mereka yang mengingkarinya, hal itu adalah termasuk nilai positif bagi Amirul Mukminin Utsman Ibn Affan r.a yang disepakati oleh kaum muslimin seluruhnya.

Hal itu adalah penyempurnaan dari pengumpulan yang dilakukan Khalifah Rasulullah SAW. Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. (Rosihon:2013) [14] Keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Usman itu telah disepakati oleh para sahabat. Mushaf-mushaf itu ditulis dengan satu huruf (dialek) dari tujuh huruf Qur’an seperti yang diturunkan agar orang bersatu dalam satu qiraat.

Dan usman telah mengembalikan lembaran-lembaran yang asli kepada Hafsah, lalu dikirimkannya pula ke setiap wilayah masing-masing satu mushaf, dan ditahannya satu mushaf untuk di Madinah, yaitu mushafnya sendiri yang kemudian dikenal dengan nama “Mushaf Imam”. (Manna:2013) [15] Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq ditandai dengan penyusunan Al-Qur’an dalam suatu naskah secara rapi dan berurutan; di mana suatu surah dapat dibaca secara sempurna dalam satu naskah karena ia tidak tersebar dalam lembaran-lembaran yang berbeda.

Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Umar bin Khattab, Dari peristiwa yang mengakibatkan banyak penghafal yang gugur itulah Umar bin Khattab meminta kepada Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq agar Al Qur’an segera di kumpulkan dan di tulis dalam sebuah kitab yang nantinya dinamakan dengan mushaf. P engumpulan Al-Qur’an pada masa Utsman adalah menyalinnya dalam satu huruf di antara ke tujuh huruf itu untuk kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah kaum muslimin dalam satu mushaf dan dan satu huruf yang mereka baca tanpa keenam huruf lainnya.

Pengumpulan al-Qur'an pada zaman khalifah Abu Bakar r.a dilakukan dengan mengumpulkan (memindahkan) catatan-catatan al-Qur'an yang terpisah-pisah yang ada di kulit binatang, tulang belulang, dan pelepah kurma. Lalu dikumpulkan dalam satu mushaf, yang ayat-ayat dan surat-suratnya tersusun rapi.

kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah

Sedangkan, Pengumpulan al-Qur'an versi khalifah Utsman r.a yaitu dengan menyalin salah satu huruf dari tujuh huruf al-Qur'an, supaya kaum Muslimin bersatu di atas mushaf yang satu. Pengumpulan pada masa Abu Bakar dilatarbelakangi oleh banyaknya huffazh yang gugur. Sedangkan pengumpulan pada masa Utsman dipicu oleh adanya perbedaan dalam hal bacaan ( qiraah) Al-Qur’an.

Pengumpulan yang dilakukan pada masa Abu Bakar dilaksanakan dengan cara mengumpulkan berbagai tulisan dan lembaran Al-Qur’an yang ditulis oleh para penulis wahyu dihadapan Nabi SAW. Pada satu tempat. Sedang pengumpulkan pada masa Utsman dilakukan dengan cara menyalin kembali apa yang telah terkumpul pada masa Abu Bakar menjadi beberapa salinan, lalu dikirimkan ke seluruh wilayah pemerintahan Islam.

Jadi, jelas sekali bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang sama dengan yang ada pada masa Utsman, sama dengan mushaf yang ada pada masa Abu Bakar, dan sama dengan Kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah yang ditulis dan dihafal pada zaman Rasulullah SAW.

Yang diwahyukan oleh Allah SWT. Melalui malaikat Jibril AS kepada Rasulullah SAW. (Muhammad:2002) [16] Ibnut Tin dan yang lain mengatakan: “Perbedaan antara pengumpulan Abu Bakar dengan Usman ialah bahwa pengumpulan kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah dilakukan Abu bakar disebabkan oleh kekhawatiran akan hilangnya sebagian Qur’an karena kematian par penghafalnya, sebab ketika itu Qur’an belum terkumpul di satu tempat.

Lalu Abu bakar mengumpulkannya dalam lembaran-lembaran dengan menertibkan ayat-ayat dan surahnya, sesuai dengan petunjuk Rasulullah kepada mereka. Sedang pengumpulan Usman disebabkan banyaknya perbedaan dalam hal qiraat, sehingga mereka membacanya menurut logat mereka masing-masing dengan bebas dan ini menyebabkan timbulnya sikap saling menyalahkan. Karena khawatir akan timbul ‘bencana’, Usman segera memerintahkan menyalin lembaran-lembaran itu ke dalam satu mushafdengan menertibkan/menyusun surah-surahnya dan membatasinya hanya pada bahasa Quraisy saja dengan alasan bahwa Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka(Quraisy).

Sekalipun pada mulanya memang diijinkan membacanya dengan bahsa selain Qurisy guna menghindari kesulitan. Dan menurutnya keperluan demikian ini sudah berakhir, karena itulah ia membatasinya hanya pada satu logat saja. Perbedaan pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar dengan Utsman yaitu: Pengumpulan pada masa Abu Bakar dilatarbelakangi oleh banyaknya huffazh yang gugur.

Sedangkan pengumpulan pada masa Utsman dipicu oleh adanya perbedaan dalam hal bacaan ( qiraah) Al-Qur’an. Pengumpulan yang dilakukan pada masa Abu Bakar dilaksanakan dengan cara mengumpulkan berbagai tulisan dan lembaran Al-Qur’an yang ditulis oleh para penulis wahyu dihadapan Nabi SAW. Pada satu tempat.

Sedang pengumpulkan pada masa Utsman dilakukan dengan cara menyalin kembali apa yang telah terkumpul pada masa Abu Bakar menjadi beberapa salinan, lalu dikirimkan ke seluruh wilayah pemerintahan Islam. As-Suyuthi berkata : “Jibril menurunkan beberapa ayat kepada Rasulullah dan menunjukkan kepadanya tempat dimana ayat-ayat itu harus diletakkan dalam surah atau ayat-ayat yang turun sebelumnya.

Lalu Rasulullah memerintahkan kepada para penulis wahyu untuk menuliskannya di tempat tersebut. Beliau mengatakan kepada mereka : “Letakkanlah ayat-ayat ini pada surah yang didalamnya disebutkan begini dan begini,”. Al-Kirmani dalam kitab Al-Burhan mengatakan : “ Tertib surah seperti yang kita kenal sekarang ini adalah menurut Allah pada Lauhful Mahfud, Al-Qur’an sudah menurut tertib ini.

Dan menurut tertib ini pula Nabi membacakan dihadapan Malaikat Jibril setiap tahun di bulan Ramadhan apa yang telah dikumpulkannya dari Jibril itu. Pada tahun ke wafatannya Nabi membacakannya dihadapan Jibril dua kali. Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad SAW. Terdiri dari dua kategori, pertama: Pengumpulan Hadits dalam dada, maksudnya dengan cara menghafal.

Rasulullah S AW. a dalah orang yang pertama kali menghafal Al Qur’an dan para sahabat mencontoh suri tauladannya, sebagai usaha menjaga dan melestarikan Al Qur’an. Upaya pelestarian Al Qur’an pada masa nabi Muhammad SAW.

dilakukan oleh Rasulullah sendiri setiap kali beliau menerima wahyu dari Allah. Setelah itu, beliau langsung mengingat dan menghafal serta menyampaikannya kepada para sahabat. Lalu sahabat langsung menghafalnya dan menyampaikannya kepada keluarga dan para sahabat lainnya. Tidak hanya itu, mereka para sahabat langsung mempraktekkan perintah yang datang dari Allah melalui Rasul-Nya. Kedua : Pengumpulan Al-Qur’an dalam bentuk tulisan.

Rasulullah SAW. Mempunyai beberapa orang sekretaris wahyu. Setiap turun ayat Al-Qur’an, beliau memerintahkan kepada mereka untuk menulisnya dalam rangka memperkuat catatan dan dokumentasi dalam kehati-hatian beliau terhadap kitab Allah Azza Wa Jalla, sehingga penulisan tersebut dapat memudahkan penghafalan dan memperkuat daya ingat. Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq ditandai dengan penyusunan Al-Qur’an dalam suatu naskah secara rapi dan berurutan; di mana suatu surah dapat dibaca secara sempurna dalam satu naskah karena ia tidak tersebar dalam lembaran-lembaran yang berbeda.

Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Umar bin Khattab, Dari peristiwa yang mengakibatkan banyak penghafal yang gugur itulah Umar bin Khattab meminta kepada Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq agar Al Qur’an segera di kumpulkan dan di tulis dalam sebuah kitab yang nantinya dinamakan dengan mushaf.

P engumpulan Al-Qur’an pada masa Utsman adalah menyalinnya dalam satu huruf di antara ke tujuh huruf itu untuk mempersatukan kaum muslimin dalam satu mushaf dan dan satu huruf yang mereka baca tanpa keenam huruf lainnya.

Perbedaan pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar dengan Utsman yaitu: Pengumpulan pada masa Abu Bakar dilatarbelakangi oleh banyaknya huffazh yang gugur.

kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah

Sedangkan pengumpulan pada masa Utsman dipicu oleh adanya perbedaan dalam hal bacaan ( qiraah) Al-Qur’an. Pengumpulan yang dilakukan pada masa Abu Bakar dilaksanakan dengan cara mengumpulkan berbagai tulisan dan lembaran Al-Qur’an yang ditulis oleh para penulis wahyu dihadapan Nabi SAW.

Pada satu tempat. Sedang pengumpulkan pada masa Utsman dilakukan dengan cara menyalin kembali apa yang telah terkumpul pada masa Abu Bakar menjadi beberapa salinan, lalu dikirimkan ke seluruh wilayah pemerintahan Islam. • ► 2017 (30) • ► April (2) • ► Maret (28) • ▼ 2016 (30) • ► Desember (4) kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah ▼ Oktober (15) • Tarekat Tidjaniyah di Desa Prenduan Sumenep Madura • TASAWUF IRFANI • RIBA • Peran IT Terhadap Kesuksesan Bisnis Perusahaan OLX • Al-Maslahah Al-Mursalah dan Saddu Dzara’i • Manajemen Sumber Daya Manusia Global Perspektif Is.

• Manajemen SDM Global Lanjutan • Manajemen SDM Global • Tantangan Menghadapi Dunia Kerja & Masalah Pengang. • KODIFIKASI AL-QURAN • ULUMUL HADITS • ANALISIS BESARNYA TINGKAT INFLASI DI KABUPATEN SUM. • Peranan Bauran Pemasaran (Marketing Mix) terhadap . • Coretan Senja • Perencanaan dan Pembuatan Keputusan • ► Agustus (11) Sejarah kodifikasi al-Quran dijelaskan dalam al-Tibyan fi Ulum Al-Qur’an dibagi ke dalam dua fase yakni fase Kenabian dan fase al-Khulafa al-Rasyidun.

Kata jam’u yang biasanya dijadikan sebagai kata kunci pembahasan dalam beberapa kitab Ulumul Qur’an merujuk pada makna kodifikasi baik melalui hafalan maupun tulisan. Fase Nubuwwah Pada fase pertama aktivitas kodifikasi al-Quran terbagi ke dalam dua metode yakni: • Metode hafalan Dalam kitab-kitab sejarah umumnya terdapat informasi bahwa bangsa Arab pra-Islam memang terkenal dengan kemampuannya dalam menghafal (cepat dan kuat).

Mereka mampu menghafal ribuan syair serta ratusan silsilah nasab atau keturunannya. Keistimewaan yang mereka miliki inilah yang menjadi sebab mudahnya mereka menyimpan al-Qur’an dalam dada mereka dan menjaga otentisitasnya.

2. Metode penulisan Pada fase pewahyuan, Nabi memiliki kuttab al-wahy atau asisten pribadi yang bertugas menulis wahyu. Di antara yang masyhur namanya adalah Ubay ibn Ka’ab, Muadz ibn Jabal, Zaid ibn Tsabit, dan Abu Zaid. Namun selain para penulis wahyu yang khusus ditugaskan Rasulullah, ada beberapa sahabat yang juga berinisiatif secara mandiri untuk menuliskan wahyu yang didengarnya dari Nabi dan dibuktikan dengan keberadaan mushaf pribadinya.

Di antara para sahabat tersebut ialah Ibn Mas’ud, Ali ibn Abi Thalib, Aisyah dan lainnya. Baca Juga: Mengurai Sejarah Kemunculan dan Urgensi Kronologi Al-Quran dalam Ilmu Tafsir Media yang mereka gunakan untuk menulis di antaranya tulang-belulang, permukaan batu yang lebar, kulit binatang, serta daun-daun yang lebar.

Mengapa tidak di kertas? Sebab penggunaan kertas—dalam bentuk yang sangat sederhana—baru terdapat di zaman Persia dan Romawi dan itupun masih sangat terbatas. Maka, tidak heran jika zaman itu bangsa Arab menggunakan media apapun yang mudah dijumpainya sebagai media tulis.

Selanjutnya, para Sahabat menyusun al-Qur’an ke dalam susunan yang kita jumpai saat ini ( tartib mushafi) merupakan petunjuk langsung dari Allah kepada Nabi. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa saat Jibril menurunkan ayat per ayat al-Qur’an, ia menginformasikan kepada Nabi letak dan susunannya yang merupakan instruksi langsung dari Allah. Fase Khulafa Rasyidun Fase kodifikasi al-Quran ini secara khusus akan membahas bagaimana sebab-sebab eksternal mendorong terjadinya proyek kepenulisan al-Qur’an secara tersistematisasi dan terorganisir.

• Fase Khalifah Abu Bakar Fase ini merupakan fase pertama dalam periode penulisan al-Qur’an secara tersistematisasi dan terorganisir.

kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah

Hal yang menjadi alasan dari aktivitas tersebut ialah terjadinya tragedi Yamamah. Di mana pasukan muslimin berperang dengan para murtaddin dari pengikut Musailamah al-Kadzab.

Namun sayangnya, menurut data sejarah yang populer, sebanyak lebih dari 70 orang penghafal Qur’an syahid di pertempuran ini. Dalam data sejarah yang lain dikatakan sampai ribuan.

Banyaknya penghafal Qur’an yang syahid di medan perang, menyebabkan Umar ibn Khatab gusar dan sedih karena khawatir ketidaan mereka akan menyebabkan hilangnya al-Qur’an secara perlahan. Maka Umar pun mendatangi Abu Bakar dan meminta padanya sebagai Khalifah saat itu untuk memutuskan sebuah kebijakan yaitu melaksanakan program penulisan al-Qur’an.

Pada awalnya Abu Bakar saat itu merasa ragu untuk melakukannya (sebab di zaman Nabi tidak ada secara jelas Nabi memerintahkan untuk mengumpulkan al-Qur’an ke dalam satu mushaf), namun Umar berhasil meyakinkannya dengan memaparkan maslahat yang ada dalam kebijakan tersebut. Maka Abu Bakar yang telah setuju kemudian meminta kepada Zaid ibn Tsabit untuk menjadi ketua dari proyek penulisan al-Qur’an dalam satu mushaf (sebab selama ini penulisan al-Qur’an masih tercecer dalam berbagai media tulis yang berbeda).

Zaid pun merasa ragu saat itu, namun akhirnya berhasil diyakinkan dan proyek pun dilaksanakan hingga akhirnya al-Qur’an terkumpul ke dalam satu mushaf.

Mushaf ini lalu turun temurun diwariskan kepada Umar ibn Khatab dan terakhir kepada Hafshah bintu Umar. Adapun dalam proses penulisannya, mushaf Abu Bakar ini ditulis oleh Zaid dengan mempertimbangkan dua sumber yakni hafalan para huffadz dan tulisan-tulisan yang telah ada di zaman Rasulullah.

Mushaf ini juga memuat ragam dialek baik secara sanad mutawatir maupun ahad yang dijumpai di era tersebut. 2. Kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah Khalifah Utsman Kodifikasi al-Quran di masa Utsman memiliki permasalahan lain, berbeda halnya dengan zaman khalifah Abu Bakar yang mengadakan proyek karena kekhawatiran akan sirnanya al-Qur’an bersamaan dengan ketiadaan para hafiz.

Permasalahan yang dimilikinya berdasar pada ekspansi kekuasaan pemerintahan Islam. Ekspansi wilayah kekuasaan ini menyebabkan umat Islam tersebar ke berbagai daerah baru. Di daerah-daerah baru tersebut Utsman mengirimkan para sahabat untuk menjadi paku bumi atau pusat pengajaran.

Sepertinya halnya di Syam, maka ada Ubay ibn Ka’ab sebagai pengajar atau muallim/ muqri’, kemudian di Kufah ada Abdullah ibn Mas’ud, dan di Bashrah ada Abu Musa al-Asy’ari. Masing-masing dari pengajar memiliki kekhasannya tersendiri khususnya dalam hal qira’at yang dipakai dan diajarkan.

Perbedaan itu ternyata menimbulkan perdebatan, pengkafiran dan bahkan peperangan di antara masing-masing murid para sahabat tatkala berjumpa. Keresahan ini juga disampaikan Hudzaifah ibn al-Yamani tatkala memperluas wilayah kekuasaan Islam di Armenia dan Azerbaijan. Baca Juga: Sejarah Jual-Beli Mushaf Al-Quran di Era Awal Islam Ia menyaksikan bagaimana perdebatan para murid dari daerah yang berbeda dan tergabung dalam satu pasukan itu sudah seperti perselisihan dua agama yang berbeda (layaknya Yahudi dan Nasrani).

Maka Utsman semakin khawatir dan akhirnya memutuskan untuk menjalankan proyek Mushaf Imam sebelum keadaan semakin parah. Proyeknya dimulai dengan meminjam mushaf dari Hafshah bintu Umar, kemudian ia menunjuk Zaid ibn Tsabit, Abdullah ibn Zubair, Sa’id ibn Ash, dan Abdurrahman ibn Harits ibn Hisyam untuk menuliskan ulang mushaf Abu Bakar agar menjadi banyak. Dari keempat orang tersebut, hanya Zaid yang bukan orang Quraisy.

Utsman pun berpesan, apabila saat penulisan al-Qur’an terjadi perdebatan antara Zaid dan ketiga orang Quraisy lainnya, maka tulislah dengan logat atau dialek Quraisy sebab al-Qur’an turun dengan dialek orang Quraisy.

Keempat orang itu setuju dan menulis ulang mushaf Abu Bakar ke dalam beberapa mushaf yang kemudian disebar oleh Ustman ke berbagai daerah. Ia juga memerintahkan agar segala bentuk tulisan selain dari mushaf yang diproduksinya agar dibakar. Meskipun kehadiran mushaf Utsmani ini juga berimplikasi pada hilangnya hilangnya beberapa dialek yang sebelumnya terdapat dalam mushaf Abu Bakar, sebab hanya memuat dialek Quraisy dengan harapan meminimalisir terjadinya perbedaan dan perpecahan di tengah umat Islam.

Adapun cara penulisan al-Qur’an pada masa Utsman inilah yang kemudian melahirkan ilmu yang disebut sebagai Ilmu Rasm Utsmani. TENTANG KAMIDengan semangat membangun peradaban islami berbasis tafsir Al Quran, kami berusaha memenuhi asupan kebutuhan masyarakat terhadap kitab suci Al Quran, baik terjemah, tafsir tematik dengan materi yang aktual di masyarakat, maupun Ulumul Quran yang merupakan perangkat keilmuan dalam memahami Alquran
Di berbagai buku sejarah Islam mencatat bahwa pasca wafatnya Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasallam yang kemudian diganti dengan terpilihnya secara aklamasi Sahabat Abu Bakar menjadi khalifah pertama, muncul berbagai persoalan yang sangat mendasar di dalam tubuh agama Islam, yakni banyaknya orang yang murtad dengan kembali ke agama nenek moyang mereka, dan banyaknya orang yang membangkang tidak mau membayar zakat, dan yang paling mengenaskan adalah adanya Musaylamah sebagai tokoh yang mengaku sebagai nabi dengan menggubah surat al-fiil untuk menandingi al-Qur’an.

Namun persoalan-persoalan tersebut berhasil diselesaikan oleh sahabat Abu Bakar dengan cara memerangi para pembangkang tersebut dan berhasil mengembalikan mereka ke jalan Islam dalam waktu yang sangat singkat, mengingat sahabat Abu Bakar hanya menjadi Khalifah hanya dalam kurun waktu tidak lebih dari dua tahun saja (632-634 M.). Terkait dengan nabi palsu, konon pengikut Musaylamah mencapai 40.000 orang yang terdiri dari suku Thayyi, Asad, Thulayhah dan Banu Hanifah, sehingga Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid untuk berangkat memerangi mereka tepatnya di Yamamah (kemudian masyhur dengan istilah perang Yamamah).

Dalam peperangan inilah, teramat banyak para penghafal al-Qur’an yang berguguran syahid. Cerita yang lebih panjang bisa dibaca buku the History of The Arab karya Philip K. Hitti, h. 175-177. Disebabkan peristiwa Yamamah tersebut, sahabat Umar merasa khawatir tentang kondisi dan nasib al-Qur’an di masa yang akan datang, sehingga ia mengusulkan kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan al-Qur’an, sebelum pada akhirnya para sahabat yang hafal al-Qur’an berguguran di medan perang yang lain.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Zaid bin Tsabit (w. 45 H.) mengatakan: “Saya diutus oleh Abu Bakar untuk ikut memerangi penduduk Yamamah, lalu tiba-tiba Umar datang dan berkata ‘Sungguh, perang Yamamah begitu berat bagi para penghafal al-Qur’an, saya khawatir nanti korban berjatuhan hingga menyebabkan al-Qur’an hilang dengan wafatnya para penghafal al-Qur’an, saya punya inisiatif agar engkau berkenan mengumpulkan al-Qur’an.’ “Bagaimana saya bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah?.” Jawab Abu Bakar merasa keberatan.

“Demi Allah, ini adalah suatu keniscayaan yang baik.” Umar mencoba meyakinkan Abu Bakar. “Berkali-kali Umar mencoba meyakinkan hal itu, lalu allah telah melapangkan dadaku dengan menerima inisiatif Umar untuk mengumpulkan al-Qur’an.” Kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar. Abu Bakar menyampaikan hal itu kepada Zaid dengan mengatakan “Sungguh engkau adalah lelaki yang luar biasa, sebab engkau pernah menulis al-Qur’an untuk baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (HR.

Bukhari. Bab kitabu fadhaili al-Qur’an). Sang Penulis Mushaf Zaid bin Tsabit Sahabat Zaid bin Tsabit terkenal dengan kepiawaiannya dalam hal menulis sehingga di masa Abu Bakar dan Usman kelak, ia tetap ditugaskan untuk menulis mushaf.

Di antara kecakapannya dalam hal ini adalah ia merupakan seorang yang hafal al-Qur’an, ia juga masih muda yang prigel, hafalannya sangat kuat, logikanya dan kekreatifitasnya berjalan, tenang dan tidak suka tergesa-gesa sekaligus banyak kerjanya.

Semua sifat-sifat tersebut dimiliki oleh pribadi seorang Zaid bin Tsabit. Karena kecakapannya tersebut, ia membuat metode dalam pengumpulan mushaf dengan memberikan syarat sebuah ayat al-Qur’an harus disaksikan minimal dua orang sahabat, sekaligus tidak hanya mengandalkan hafalan para sahabat saja, melainkan terdapat bukti tertulis yang ditulis di masa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Ketika dua syarat tersebut tidak terpenuhi maka ia tidak akan menulis dan memasukkan ayat tersebut ke dalam bagian dari al-Qur’an.

Sehingga pada ujungnya, ia menemukan ayat terakhir surat at-taubah. Kedua ayat tersebut hanya disaksikan oleh Abu Khuzaimah al-Anshari seorang, tidak ada sahabat lain yang memberikan kesaksian. Dua ayat tersebut tak kunjung dimasukkan oleh Zaid ke dalam mushaf.

Sampai pada akhirnya, terdapat dua sahabat lagi yang datang memberikan kesaksian, yakni Abdullah bin Zubair dan Umar bin Khattab. Pengumpulan mushaf ini tidak memakan waktu lama, yakni sekitar satu tahun saja di era khalifah Abu Bakar, kira-kira di akhir tahun 11 Hijriyah atau awal tahun 12 Hijriyah, pengumpulan mushaf ini selesai dilaksanakan. Pada bulan Jumadil akhir tahun 13 Hijriyah, sahabat Abu Bakar wafat, kumpulan mushaf tersebut kemudian pindah tangan ke pangkuan Sahabat Umar bin Khattab, lalu sayyidatina Khafsah, istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dari mushaf yang dibawa oleh Khafsah itulah yang kelak dijadikan sumber primer oleh Usman dalam menggandakan mushaf al-Qur’an. islami.co dihidupi oleh jaringan penulis, videomaker dan tim editor yang butuh dukungan untuk bisa memproduksi konten secara rutin.

Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kerja-kerja kami dalam memproduksi artikel, video atau infografis yang mengedukasi publik dengan ajaran Islam yang ramah, toleran dan mencerahkan, kami akan sangat berterima kasih karenanya. Sebab itu sangat membantu kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah meringankan.

Baca Juga • Feature Manuskrip Birmingham Diklaim Sebagai Al-Quran Tertua di Dunia • Tokoh Hafsah binti Umar bin Khattab, Perempuan Penjaga Mushaf Hingga Akhir Hayatnya • Kajian Nomenklatur Islam: Yang Membedakan Nasikh-Mansukh, Tadwin dan Mushaf • Tela'ah Tiga Kitab Tafsir yang Disusun Berdasarkan Waktu Turunnya Al-Quran • Tela'ah Selain Tartil, Kita Juga Boleh Membaca Al-Quran dengan Beberapa Macam Cara Ini Berita • Pengalaman Toleransi Agama dari Semarang: Saling Berkunjung di Hari Raya sampai Bebersih Vihara • Quraish Shihab: Berdosa, Rajin Ibadah Sunnah Semalaman Tapi Malas Bekerja • Kapan Shalat Idul Fitri Dilakukan?

Kementerian Agama Akan Putuskan 1 Syawal Hari Ini • Quraish Shihab: Jangan Anggap Kecil Amalanmu, Jangan Remehkan Dosamu! • Kemenag Undang Ormas Islam dan Perwakilan Dubes pada Isbat Awal Syawal 1443 H Kolom • Memahami Fenomena Baju (Serba) Baru Saat Lebaran • Pesan KH. Ali Mustafa Yaqub: Dakwah Jangan Dijadikan Profesi dan Sumber Mata Pencarian • Relasi Islam & Kristen di Kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah Peluang Dialog Antar-Agama • Riwayat Perjumpaan Islam & Kristen di Indonesia • Mengapa Ibadah Puasa Ramadhan Mengikuti Kalender Hijriyah?

Kajian • Ini Dalil Halal Bihalal dan Ziarah Kubur Ketika Lebaran • Argumen Bolehnya Zakat Fitrah dengan Uang dalam Madzhab Syafi’i • Tidak Semua Ghibah Dilarang, Dalam 6 Kondisi Ini Ghibah Dibolehkan • Sudah Pertengahan Ramadhan, Ini Dalil Baca Qunut Saat Shalat Witir • Suntik Insulin Saat Puasa, Apakah Membatalkan Puasa?

Kisah • Kiat Mengendalikan Hawa Nafsu Menurut Imam Al-Ghazali: Membatasi Waktu Makan • Kisah Ibnu Umar dan Tetangga yang Mendapatkan Bagian Warisan • K.H Ali Mustafa Yaqub: Zakat itu Menyucikan Jiwa Bukan Harta • Parenting Islami: Kiat Menjaga Hubungan Baik Antara Orang Tua dan Anak • Rasulullah SAW Peka Ketika Aisyah Marah Ibadah • Khutbah Jumat Spesial Idul Fitri: Anjuran Menjaga Hubungan Baik dengan Tetangga • Apakah Puasa Syawal Mesti 6 Hari Berturut-turut?

Ini Beberapa Perbedaan Pendapat Ulama • Hukum Shalat Idul Fitri dan Tata Cara Pelaksanaannya • Contoh Khutbah Idul Fitri 1443 H/2022 M: Menjadi Kaya Raya dengan Bersaudara • Mengapa Zakat Fitrah Diwajibkan? Ini Sejarahnya!

Budaya • Tradisi Nyadran, Ziarah dan Transfer Amal kepada Orang Tua • Tradisi Dandangan: Semarak Bulan Suci di Kota Kudus • Makna di Balik Nyadran, Nyekar, dan Kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah Ramadhan Lainnya • Menyambut Lailatul Qadar ala Warga Desa: Tradisi Selikuran dan Pitulikuran di Pati • Budaya Melayu: Tradisi Tepung Tawar Masyarakat Melayu Langkat, Sumatera Utara Kodifikasi Al Qur'an terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq.

Peristiwa tersebut terjadi setelah perang Yamamah yang banyak para hafidz Al Qur'an wafat. Umar mengusulkan untuk mengumpulkan kitab suci Al Qur'an dalam salah satu kitab dan disetujui oleh para sahabat lainnya. Pembahasan Abu Bakar merupakan sahabat nabi yang menjadi khalifah pertama setelah Nabi Muhammad wafat. Abu Bakar menjadi khalifah setelah dipilih oleh para sahabat lainnya. Abu Bakar menjadi khalifah selama kurang lebih 2 tahun lamanya. Banyak kejadian besar yang terjadi pada masa kekhalifahan Abu Bakar seperti seperti perang melawan nabi palsu dan juga kejadian melawan orang yang tidak mau membayar zakat dan juga peristiwa pengumpulan kitab suci Al Qur'an.

Proses pengumpulan kitab suci Al Qur'an sudah dilakukan oleh para sabahat pada saat nabi masih hidup. Akan tetapi, pada saat itu pengumpulan kitab suci Al Qur'an masih dilakukan secara pribadi dan masih terpisah-pisah dan tidak dikumpulkan dalam satu kitab. Pada saat nabi masih hidup, para sahabat hanya menulis Al Qur'an di bagian-bagian kulit.

Pelajari lebih lanjut • Materi tentang dakwah di Kota Madinah, pada brainly.co.id/tugas/2239950 • Materi tentang kisah atau cerita singkat tentang Nabi Muhammadpada brainly.co.id/tugas/27915962 • Materi tentang gelar uswatun hasanah, pada brainly.co.id/tugas/18379249 ============================ Detail jawaban Kelas: VII Mata pelajaran: Agama Islam Bab: Sejarah Nabi Muhammad SAW Kode soal: 7.14.9 #TingkatkanPrestasimu
orangbaikwk Penjelasan: Pertama kali yang dilakukan Khalifah Utman adalah membentuk satu tim ahli untuk melaksanakan tugas penulisan Alquran.

mayoritas ulama berpendapat ada empat orang, yaitu Zaid bin Tsabit dari Anshar. Kemudian dari Quraisy, yaitu Abdullah bin Zubair, Said bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits. Mereka semua adalah orang-orang yang berilmu dan teliti.

Selain itu, ada pula yang berpendapat 5 orang dan 12 orang.Setelah membentuk tim, Utsman mengutus seseorang kepada Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin Khathab radhiyallahu kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah. Ia meminta sebuah mushaf Alquran yang dibukukan di zaman Abu Bakar.

Tim penulis pun menjadikan mushaf tersebut sebagai acuan dalam menjalankan tugas mereka. Kemudia mereka menulis ulang berdasarkan perintah Utsman.Khalifah Utsman sendirilah yang mengawasi proses kodifikasi Alquran ini. Utsman berkata pada tim panitia, “Jika kalian berbeda pendapat dengan Zaid bin Tsabit dalam hal apapun pada Alquran, maka tulislah dengan lisan Quraisy. Kerena Alquran diturunkan dengan lisan Quraisy.” semoga membantu:)
Kerja kodifikasi Al-Qur’an di masa khalifah Utsman bin Affan melahirkan produk Al-Qur’an beberapa mushaf yang sangat terbatas.

Sejumlah mushaf versi resmi ini kemudian terkenal dengan sebutan Mushaf Utsmani atau Al-Imam.

kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah

Mushaf Utsmani atau Al-Imam merupakan fase ketiga dalam sejarah kodifikasi Al-Qur’an. (Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi Ulumil Qur’an, [tanpa kota, Darul Ilmi wal Iman: tanpa tahun], halaman 129). Pada masa khalifah Abu Bakar RA, Sayyidina Umar RA tercatat sebagai orang yang mengusulkan kodifikasi Al-Qur’an kepada pemerintah.

Sedangkan pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, sahabat Hudzaifah ibnul Yaman adalah orang yang mengusulkan kodifikasi Al-Qur’an kepada pemerintah dengan sebab yang berbeda.

Imam Bukhari dalam Kitab Shahih-nya menceritakan dari sahabat Anas bin Malik RA, sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman datang menemui Utsman bin Affan RA. Hudzaifah yang bertugas dalam ekspedisi penaklukan Armenia dan Azirbaijan melaporkan kepada Utsman RA betapa terkejutnya ia atas keragaman versi bacaan Al-Qur’an (di mana mereka saling mengafirkan karena perbedaan versi bacaan).

"Selamatkanlah umat ini sebelum mereka terpecah perihal bacaan seperti Yahudi dan Nasrani," kata Hudzaifah kepada Utsman. Keresahan ini tidak hanya dirasakan oleh sahabat Hudzaifah. Riwayat Ibnu Jarir menunjukkan betapa banyaknya sahabat yang mengalami keresahan yang sama di mana banyak masyarakat membaca Al-Qur’an dengan berbagai versi dan bahkan kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah membaca dengan salah.

Satu sama lain saling mengafirkan karenanya. (Al-Qaththan, tanpa tahun: 125) dan (Syekh Ali As-Shabuni, At-Tibyan fi Ulumil Qur’an, [tanpa kota, Darul Mawahib Al-Islamiyyah: 2016], halaman 60). Kodifikasi Al-Qur’an era khalifah Utsman didorong oleh situasi yang berbeda dari situasi yang dihadapi khalifah Abu Bakar, yaitu banyaknya penaklukan kota-kota dan sebaran umat Islam di berbagai kota-kota yang jauh.

(As-Shabuni, 2016: 60). Selain itu, kebutuhan umat Islam yang telah menyebar di berbagai penjuru negeri terhadap kajian Al-Qur’an mengharuskan kerja-kerja kodifikasi Al-Qur’an di era Utsman bin Affan RA. Sedangkan setiap penduduk mengambil qiraah dari sahabat rasul yang cukup terkenal di kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah tersebut dan sering kali telah mengalami kekeliruan karena faktor geografis.

Penduduk Syam membaca Al-Qur’an dengan qiraah Ubay bin Ka’ab. Penduduk Kufah membaca Al-Qur’an dengan qiraah Abdullah bin Mas’ud.

Selain mereka membaca Al-Qur’an dengan qiraah Abu Musa Al-Asy’ari. Perbedaan versi ini membawa konflik di tengah masyarakat. (M Abdul Azhim Az-Zarqani, Manahilul Irfan fi Ulumil Qur’an, [Kairo, Darul Hadits: 2017 M/1438 H], halaman 205).

Kondisi darurat mendorong Khalifah Utsman bin Affan RA untuk mengatasi situasi sosial yang semakin memburuk. Dengan Mushaf Utsmani, khalifah Utsman RA mengatasi konflik sosial, menyudahi pertikaian, dan melakukan perlindungan terhadap orisinalitas dan otentisitas Al-Qur’an dari penambahan dan penyimpangan seiring dengan peralihan zaman dan pergantian waktu. (Al-Qaththan 128). Adapun konflik sosial ini harus dicarikan solusinya. (Al-Qaththan, tanpa tahun: 123). Solusi yang diambil Sayyidina Utsman RA berangkat dari kecerdasan pikiran dan keluasan pandangannya untuk mengatasi konflik sosial sebelum memuncak.

Ia kemudian memanggil para sahabat terkemuka ahli Al-Qur’an untuk mencari akar masalah dan mencoba mengatasinya. (As-Shabuni, 2016: 61). Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, kodifikasi Al-Qur’an yang dilakukan khalifah Utsman bin Affan RA terjadi pada tahun 25 H meski ada sebagian orang yang menduga tanpa sanad bahwa hal itu terjadi pada tahun 30 H.

(As-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulumil Qur’an, [Kairo, Darul Hadits: 2006 M/1427 H], juz I, halaman 191) dan (Al-Qaththan, tanpa tahun: 129). Ibnu Asytah dari Abu Qilabah meriwayatkan bahwa Anas bin Malik meriwayatkan, merebaknya perpecahan di tengah masyarakat perihal versi bacaan Al-Qur’an sehingga anak-anak remaja pelajar dan para guru Al-Qur’an terlibat pertikaian karenanya.

Merebaknya gejolak sosial yang mengarah pada konflik ini sampai juga telinga Sayyidina Utsman RA. "Di depanku kalian berani berdusta dan salah membaca.

kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah

Niscaya orang yang jauh dari kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah akan lebih berdusta dan lebih salah baca lagi tentunya. Wahai para sahabat rasul, bersatuah kalian. Catatlah satu mushaf sebagai imam atau pedoman bagi masyarakat," kata Sayyidina Utsman RA.

(As-Suyuthi, 2006: 191). Kerja kodifikasi Al-Qur’an yang melahirkan Mushaf Utsmani atau Al-Imam di era sahabat Utsman bin Affan ini menarik simpati dan apresiasi dari kalangan sahabat. Berikut ini pengakuan Sayyidina Ali RA atas kerja kodifikasi Al-Qur’an yang dilakukan Utsman bin Affan RA.

"Kalau aku penguasanya, niscaya aku akan melakukan hal yang sama dengan Sayyidina Utsman RA," kata Sayyidina Ali RA mengapresiasi kerja kodifikasi Al-Qur’an Utsman melalui Mushaf Utsmani.

(As-Suyuthi, 2006: 192-193). Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)Ilustrasi: Kodifikasi Al-Qur’an dibicarakan secara detail dalam kajian ulumul qur'an untuk menunjukkan besarnya perhatian kita pada Al-Qur’an, pencatatan dan kodifikasinya. Ilustrasi: Kodifikasi Al-Qur’an dibicarakan secara detail dalam kajian ulumul qur'an untuk menunjukkan besarnya perhatian kita pada Al-Qur’an, pencatatan dan kodifikasinya. Upaya kodifikasi Al-Qur’an dilakukan pada zaman Rasulullah SAW dan zaman para khalifah.

Setiap upaya kodifikasi memiliki keistimewaan dan kekhasannya masing-masing. (Syekh M Ali As-Shabuni, At-Tibyan fi Ulumil Qur’an, [tanpa kota, Darul Mawahib Al-Islamiyyah: 2016 M], halaman 49). Menurut As-Shabuni, upaya kodifikasi Al-Qur’an dilakukan di masa Nabi Muhammad SAW dengan menempuh dua jalan.

Pertama, kodifikasi Al-Qur’an dalam batin dengan jalan hafalan dan ingatan. Kedua, kodifikasi Al-Qur’an dalam catatan dengan jalan penulisan dan goresan. Kodifikasi Al-Qur’an dibicarakan secara detail dalam kajian ulumul qur'an untuk menunjukkan besarnya perhatian kita pada Al-Qur’an, pencatatan dan kodifikasinya. Besarnya perhatian terhadap Al-Qur’an berikut pencatatan dan kodifikasinya ini, menurut As-Shabuni, melebihi perhatian orang terhadap kitab samawi sebelumnya.

Adapun Al-Qur’an diturunkan kepada seorang nabi yang tumbuh dalam kultur masyarakat yang ummi sehingga ia mengerahkan perhatiannya untuk menghafal Al-Qur’an untuk mengingatnya sebagaimana diturunkan kepadanya.

Ia kemudian membacakannya dengan tenang kepada para sahabatnya agar mereka menghafalnya sebagaimana keterangan Surat Al-Jumuah ayat 2. Dalam kultur masyarakat ummi, Rasulullah mengandalkan daya hafal dan daya ingatnya karena tidak membaca dan menulis.

Demikian kondisi bangsa Arab secara umum ketika Al-Qur’an diturunkan. Bangsa Arab ketika itu menikmati betul kekhasan bangsanya, yaitu mempunyai daya ingat yang baik dan mempunyai kecepatan hafalan atas sesuatu. (As-Shabuni, 2016 M: 50). Bangsa Arab sanggup menghafal ratusan ribu syair. Mereka dapat mengenali secara urut nasab dan keturunan seseorang atau suatu klan di luar kepala.

kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah

Mereka sanggup memahami sejarah. Jarang sekali mereka yang tidak memahami keturunan dan nasab keluarganya atau tidak menghafal syair-syair terbaik karya para sastrawan Arab hebat yang digantung di Ka’bah. Rasulullah SAW memberikan perhatian luar biasa kepada Al-Qur’an. Rasulullah SAW menghidupkan malam dengan membaca Al-Qur’an di dalam ibadah sembahyang, membacanya di luar sembahyang, dan merenungkan maknanya sehingga kedua kakinya memar karena terlalu lama berdiri dalam shalat malam untuk membaca Al-Qur’an sebagaimana keterangan Surat Al-Muzzammil.

Tentu tidak heran kalau Rasulullah SAW bergelar sayyidul huffazh. Ia memeliharan Al-Qur;an dalam hatinya dan menjadi rujukan umat Islam di masanya perihal Al-Qur’an. (As-Shabuni, 2016 M: 50). Para sahabat juga memiliki perhatian yang besar terhadap Al-Qur’an. Mereka berlomba untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Mereka mengerahkan segenap kemampuannya untuk menghafal Al-Qur’an. Mereka mengajari istri dan anaknya Al-Qur’an di rumah-rumah.

Bila melewati rumah para sahabat di tengah kegelapan malam, niscaya kita akan mendengar suara orang membaca Al-Qur’an sebagaimana dengung lebah. Rasulullah SAW pernah melewati sebagian rumah sahabat Anshor di kegelapan malam.

Beliau lalu berhenti sejenak untuk mendengarkan mereka membaca AL-Qur’an dari luar. (As-Shabuni, 2016 M: 50-51). Rasulullah SAW mengobarkan semangat untuk menghafalkan Al-Qur’an. Dari sini lahirnya banyak sahabat penghafal Al-Qur’an. mereka ditugaskan ke berbagai penjuru daerah dan kota untuk mengajarkan Al-Qur’an untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada penduduk setempat. Sebelum peristiwa hijrah, Rasulullah SAW mengutus sahabat Mush’ab bin Umair dan Abdullah bin Ummi Maktum ke Madinah. Rasulullah SAW juga pernah mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal ke Makkah setelah peristiwa hijrah.

"Setiap kali ada orang yang berhijrah, Rasulullah akan membelokkan orang tersebut kepada kami untuk diajari Islam dan Al-Qur’an," kata Ubadah bin Shamit. (HR Ahmad dan Al-Hakim). (M Abdul Kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah Az-Zarqani, Manahilul Irfan fi Ulumil Qur’an, [Kairo, Darul Hadits: 2017 M/1438 H], halaman 194-195). Imam Bukhari dalam Kitab Shahih-nya menyebut tujuh sahabat terkemuka penghafal Al-Qur’an.

kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah

Mereka adalah Abdullah bin Mus’ud, Salim bin Ma’qil budak Hudzaifah, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid (Qais) bin Sakan, dan Abud Darda. (Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi Ulumil Qur’an, [tanpa kota, Darul Ilmi wal Iman: tanpa tahun], halaman 115).

Abu Ubadi dalam Kitab Al-Qira’at menyebutkan sejumlah ahli Al-Qur’an di kalangan sahabat. Mereka (kalangan muhajirin) adalah empat khalifah rasul, Thalhah, Sa’ad, Ibnu Mas’ud, Hudzaifah, Salim, Abu Hurairah, Abdullah bin Sa’ib, abadilah arba’ah atau empat Abdullah (yang terdiri atas Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amr bin Ash, Abdullah bin Umar, dan Abdullah bin Zubair), Aisyah, Hafshah, Ummu Salamah. (Al-Qaththan, tanpa tahun: 117-118).

Adapun ahli Al-Qur’an dari kalangan sahabat Ansor adalah Ubadah bin Shamit, Mu’adz, Majma’ bin Jariyah, Fadhalah bin Ubaid, Maslamah bin Makhlad, dan banyak sahabat lainnya. (Al-Qaththan, tanpa tahun: 118). Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)
Kodifikasi Al-Qur’an di masa Rasulullah SAW merupakan fase pertama kodifikasi Al-Qur’an yang dilakukan umat Islam. Kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah menghafalkan, mencatat, dan menyusun urutan ayat dan surat dalam Al-Qur’an sesuai petunjuk Rasulullah SAW.

(Syekh M Ali As-Shabuni, At-Tibyan fi Ulumil Qur’an, [tanpa kota, Darul Mawahib Al-Islamiyyah: 2016 M], halaman 54). Setelah Rasulullah SAW selesai menyampaikan risalah, mengemban amanah, serta membimbing keberagamaan umat dan wafat pada 11 H atau sekira 632 M, kepemimpinan umat beralih kepada sahabat Abu Bakar As-Shiddiq RA.

Di masa kepemimpinannya, Abu Bakar menghadapi berbagai tantangan sosial politik yang luar biasa. Salah satu masalah besar yang dihadapi Sayyidina Abu Bakar RA adalah peperangan sahabat terhadap kelompok pembangkang beberapa suku di Arab pengikut Musailamah Al-Kadzdzab.

Pertempuran di Yamamah (daerah yang terletak di tengah jazirah Arab) ini kemudian disebut dengan Perang Yamamah (12 H) yang selanjutnya berhasil ditumpas oleh panglima Khalid bin Walid. Pertempuran Yamamah berlangsung sengit. Banyak sahabat ahli Al-Qur’an terkemuka gugur dalam penumpasan kelompok pembangkang tersebut. Jumlah ahli Al-Qur’an yang gugur mencapai 70 sahabat.

Peristiwa ini tentu saja menyusahkan umat Islam. (As-Shabuni, 2016 M: 54). Sebagian ahli sejarah mencatat ahli Al-Qur’an yang gugur mencapai 500 orang. (M Abdul Azhim Az-Zarqani, Manahilul Irfan fi Ulumil Qur’an, [Kairo, Darul Hadits: 2017 M/1438 H], halaman 201). Keresahan ini mendera Sayyidina Umar bin Khattab RA.

Ia kemudian menemui khalifah Abu Bakar RA yang didapatinya dalam keadaan sedih dan duka mendalam. Ia menyampaikan rekomendasi kepada khalifah Abu Bakar RA untuk melakukan kodifikasi terhadap Al-Qur’an karena khawatir musnahnya Al-Qur’an yang lebih banyak tersimpan dalam hafalan dan ingatan para sahabat.

Sedangkan para sahabat penghafal Al-Qur’an banyak yang gugur di pertempuran Yamamah. Awalnya khalifah Abu Bakar RA sempat bimbang dan ragu pada usulan sahabat Umar bin Khattab RA. Kemudian ia mulai yakin setelah sahabat Umar RA menjelaskan segi kemaslahatannya. Hati dan pikiran Abu Bakar RA terbuka.

Umar RA berhasil meyakinkan sahabat Abu Bakar RA. Ia memanggil sahabat Zaid bin Tsabit dan memintanya untuk mengodifikasi Al-Qur’an dalam sebuah mushaf. Zaid bin Tsabit juga awalnya bimbang dan ragu, tetapi kemudian pikiran dan hatinya terbuka sebagaimana riwayat Bukhari.

(As-Shabuni, 2016 M: 54). "Bagaimana aku melakukan hal yang tidak dilakukan Rasulullah SAW?" kata sahabat Abu Bakar RA. "Demi Allah, ini (mega) ‘proyek’ yang baik," kata sahabat Umar RA. Umar RA, kata Abu Bakar RA, terus menerus mendatangiku untuk mendiskusikan masalah ini sehingga pikiranku terbuka untuk melakukan kodifikasi Al-Qur’an. "Kau pemuda cerdas. Kami tidak akan mencurigaimu. Kau sejak dahulu menulis wahyu untuk Rasulullah SAW. Sekarang periksa dan himpunlah Al-Qur’an," perintah khalifah Abu Bakar RA kepada Zait bin Tsabit.

"Demi Allah, seandainya aku ditugasi untuk memindahkan bukit, niscaya itu tidak lebih berat bagiku daripada apa (kodifikasi Al-Qur’an) yang ditugaskan kepadaku," kata Zaid dalam hati. "Bagaimana kalian berdua melakukan proyek yang tidak dilakukan Rasulullah?" kata Zaid.

"Demi Allah ini pekerjaan baik," kata Abu Bakar. Setelah Abu Bakar dan Umar terus mengajak Zaid berdiskusi, akhirnya ia terbuka juga untuk menerima usulan tersebut. Zaid bin Tsabit kemudian memeriksa Al-Qur'an dan menginventarisasinya dari catatan ayat dan surat yang tercecer pada batu tulis tipis, pelepah kodifikasi alquran dilaksanakan pada masa pemerintahan khalifah, dan hafalan beberapa sahabat penghafal Al-Qur’an.

"Aku menelitinya sampai aku menemukan ayat akhir Surat At-Taubah (Surat At-Taubah ayat 128-129 hingga akhir surat, yaitu la qad ja’akum rasulun min anfusikum…) pada Abu Khuzaimah Al-Anshari yang tidak kutemukan pada seorang pun sahabat lainnya," kata Zaid.

Lembaran-lembaran mushaf Al-Qur’an itu disimpan dengan baik oleh Khalifah Abu Bakar RA hingga wafat. Lembaran mushaf itu kemudian berpindah ke tangan Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA hingga ia wafat.

Lembaran mushaf Al-Qur’an itu selanjutnya untuk sementara dirawat oleh Hafshah binti Umar RA. (HR Bukhari) Riwayat ini menjadi sebab kodifikasi Al-Qur’an. (As-Shabuni, 2016 M: 54). Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)

VIRAL !! LANCANG INJAK AL-QURAN LANGSUNG KENA AZAB~kpk~




2022 www.videocon.com