Penyiraman air keras di medan

penyiraman air keras di medan

SuaraSumut.id - Lima orang ditetapkan tersangka kasus penyiraman air keras kepada Persada Bhayangkara Sembiring (25) di Medan. Kelima tersangka berinisial SS (41), HST (36), IIB (39), UA, dan N. Direktur Reskrimum Polda Sumut Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja mengatakan, kelima tersangka mempunyai peran masing-masing.

Tersangka SS merupakan otak penyiraman air keras dan disebut mengatur pertemuan dengan korban. HST berperan berkomunikasi dan membuat janji bertemu dengan korban. Kemudian IIB berperan mencari eksekutor, UA berperan sebagai joki dan N yang menyiram air keras ke korban.

"Kelimanya dipersangkakan dengan Pasal 355 ayat 1 Subs Pasal 353 ayat 2 Subs Pasal 351 ayat 2 KUHPidana.

penyiraman air keras di medan

Ancaman hukuman 12 tahun penjara," kata Tatan, Senin (2/8/2021). Baca Juga: Waduh! Atlet Korea Selatan Sebut Atlet Iran Peraih Emas Olimpiade Teroris Tatan mengaku, kasus ini terungkap setelah petugas melakukan pemeriksaan mulai dari sejak kejadian, Minggu (25/7/2021) malam di Jalan Jamin Ginting, Simpang Selayang, Kecamatan Medan Tuntungan.

Dari pemeriksaan terungkap motif penganiayaan ini karena lokasi gelanggang permainan (Gelper) tembak ikan di kawasan Medan Tuntungan yang diberitakan oleh korban. "Motifnya memberikan efek jera terhadap korban, pelaku merasa resah, terancam karena bolak balik diberitakan kemudian merasa diteror seperti itu, sehingga para pelaku berinisiatif memberikan pelajaran terhadap korban," katanya.

"Perkembangannya kami sudah menangkap 4 orang pelaku," katanya. Namun demikian, Rafles masih enggan membeberkan identitas keempat pelaku. Pasalnya, petugas masih melakukan penyelidikan dan memburu pelaku lainnya.

Baca Juga: 4 Manfaat Nasi Basi untuk Aglonema, Agar Sehat dan Segar! "Sementara itu aja yang kami sampaikan karena masih ada yang kami kejar," katanya. Kondisi Korban Membaik Kassubag Humas Rumah Sakit Adam Malik Rosario Simanjuntak, menjelaskan kondisi korban berangsur membaik.

Baca Juga: Lagi-lagi Dari Cabang Angkat Besi, Erwin Sumbangkan Medali Perunggu "Matanya memang ada peradangan akibat terkena cairan air keras itu, tapi ketajaman mata dalam melihat itu masih dalam batas normal.

Pasien masih ditangani dokter spesialis bedah plastik dan dokter spesialis mata," pungkasnya. IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Menu • HOME • RAMADHAN • Kabar Ramadhan • Puasa Nabi • Tips Puasa • Kuliner • Fiqih Ramadhan • Hikmah Ramadhan • Video • Infografis • NEWS • Politik • Hukum • Pendidikan • Umum • News Analysis • UMM • UBSI • Telko Highlight • NUSANTARA • Jabodetabek • banten • Jawa Barat • Jawa Tengah & DIY • Jawa Timur • kalimantan • Sulawesi • Sumatra • Bali Nusa Tenggara • Papua Maluku • KHAZANAH • Indonesia • Dunia • Filantropi • Hikmah • Mualaf • Rumah Zakat • Sang Pencerah • Ihram • Alquran Digital • ISLAM DIGEST • Nabi Muhammad • Muslimah • Kisah • Fatwa • Mozaik • INTERNASIONAL • Timur tengah • Palestina • Eropa • Amerika • Asia • Afrika • Jejak Waktu • Australia Plus • DW • EKONOMI • Digital • Syariah • Bisnis • Finansial • Migas • pertanian • Global • Energi • REPUBLIKBOLA • Klasemen • Bola Nasional • Liga Inggris • Liga Spanyol • Liga Italia • Liga Dunia • Internasional • Free kick • Arena • Sea Games 2021 • SEAGAMES 2021 • Berita • Histori • Pernik • Profil • LEISURE • Gaya Hidup • travelling • kuliner • Parenting • Health • Senggang • Republikopi • penyiraman air keras di medan • TEKNOLOGI • Internet • elektronika • gadget • aplikasi • fun science & math • review • sains • tips • KOLOM • Resonansi • Analisis • Fokus • Selarung • Sastra • konsultasi • Kalam • INFOGRAFIS • Breaking • sport • tips • komik • karikatur • agama • JURNAL-HAJI • video • haji-umrah • journey • halal • tips • ihrampedia • REPUBLIKA TV • ENGLISH • General • National • Economy • Speak Out • KONSULTASI • keuangan • fikih muamalah • agama islam • zakat • IN PICTURES • Nasional • Jabodetabek • Internasional • Olahraga • Rana • PILKADA 2020 • berita pilkada • foto pilkada • video pilkada • KPU Bawaslu • SASTRA • cerpen • syair • resensi-buku • RETIZEN • Info Warga • video warga • teh anget • INDEKS • LAINNYA • In pictures • infografis • Pilkada 2020 • Sastra • Retizen • indeks Baca Juga • Polisi: Korban Penembakan Bukan Ustaz Melainkan Paranormal • Polisi Tangkap Tiga Terduga Penembak Paranormal • Polisi Bantah Bubarkan Aksi Bagi-Bagi Telur di Blitar Ia menyebut bahwa saat ini pelaku masih menjalani proses pemeriksaan di Penyiraman air keras di medan Polsek Deli Tua.

Peristiwa penyiraman air keras yang mengakibatkan korban bernama Syahbila meninggal dunia terjadi pada Minggu (26/9). Kejadian bermula saat pelaku datang ke rumah korban untuk makan bersama. Pelaku lalu mengajak korban berkeliling mengendarai sepeda motor, hingga mereka akhirnya sampai di Jalan Stasiun, Desa Suka Makmur, Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang.

Di lokasi itu, pelaku berpura-pura ban sepeda motornya kurang angin dan meminta korban mengecek ban tersebut.

Pada saat itulah pelaku menyiramkan air keras ke tubuh korban. Pelaku kemudian membawa korban kembali ke rumahnya. Orangtua korban yang melihat korban terluka, langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Sampai rumah sakit, korban dinyatakan telah meninggal dunia.Ketika ditanya oleh orangtua korban, pelaku menyebut bahwa korban disiram air keras oleh orang tak dikenal.

Kasus itu kemudian dilaporkan kepada Polsek Deli Tua. Medan - Polisi penyiraman air keras di medan Persada Bhayangkara Sembiring yang merupakan pemimpin redaksi (pemred) salah satu media di Medan disiram air keras gegara berita terkait tempat judi. Persada disebut tetap memberitakan tempat diduga ada judi itu meski mendapat jatah duit. Para tersangka ialah SS, HST, IIB, UA, dan N. SS, yang disebut menjadi otak dari aksi penyiraman terhadap Persada, merupakan pemilik salah satu tempat usaha mesin permainan diduga judi.

"Pada sekitar bulan Juni, pemilik gelanggang permainan Saudara SS meminta kepada pengelola tempat gelanggang permainan tersebut, yaitu Saudara HST. Di mana pada saat itu Saudara HST melaporkan kepada pemilik gelanggang permainan tersebut, bahwa ada permintaan uang dari korban Saudara PBS, di mana PBS ini biasanya meminta jatah bulanan yang sudah berlangsung sekitar 8 kali, mulai dari angka Rp 500 ribu kemudian minta dinaikkan Rp 1 juta, kemudian dinaikkan lagi minta Rp 2 juta, terakhir yang bersangkutan meminta dinaikkan menjadi Rp 4 juta per bulan," ujar Kapolrestabes Medan Kombes Riko Sunarko di Polrestabes Medan, Senin (2/8/2021).

Baca juga: Pemred di Medan Diduga Disiram Air Keras Gegara Berita soal Tempat Judi SS menyebut Persada perlu diberi pelajaran.

Riko mengatakan Persada kemudian mengirim beberapa link berita media online lewat WhatsApp karena SS telat memberi uang 'setoran' pada Juni 2021. "Dalam WA tersebut korban menyampaikan bahwa link berita tersebut belum dibagikan atau belum disebar dan penyiraman air keras di medan jatah bulan Juni segera diberikan.

Kemudian setelah diberikan, pada bulan Juli kembali tanggal 21 Saudara PBS kembali menagih untuk jatah bulan Juli namun terlambat sampai dengan tanggal 24, kemudian tanggal 25-nya Saudara PBS dan Saudara Heri janjian untuk ketemu, di Simpang Tuntungan tepatnya di depan RM Tesalonika," ujarnya.

Sebelum bertemu, SS dan HST disebut mencari orang untuk menyiram air keras ke Persada.

penyiraman air keras di medan

Aksi penyiraman air keras kemudian terjadi pada Minggu (25/7). "Pada tanggal 21 Juli, saudara PBS mengirimkan beberapa WA kepada H. Kemudian disampaikan bahwa bosnya, belum ada uang. Kemudian tanggal 24, diputuskan diajak ketemuan. Namun, Saudara PBS menyampaikan bahwa dia minta untuk ditransfer kemudian Saudara H menyampaikan bahwa yang bersangkutan tidak ngerti cara transfer uang dan memaksakan untuk ketemu.

Namun, korban tetap mengirimkan nomor rekening karena tidak dikirimkan juga oleh Saudara H, makanya korban akhirnya mengajak ketemuan tanggal 25 malam tersebut," ujarnya. Baca juga: Polisi Tetapkan 5 Tersangka Kasus Pemred di Medan Disiram Air Keras Polisi sendiri menyebut pernah mendatangi tempat permainan yang dimiliki SS. Menurut polisi, tempat itu memiliki masalah perizinan. "Kita belum menemukan adanya unsur-unsur judi," tuturnya. Sebelumnya, Dirreskrimum Polda Sumut, Kombes Tatan Dirsan Atmaja, mengatakan penyiraman air keras dilakukan untuk memberi efek jera kepada korban.

penyiraman air keras di medan

Menurutnya, SS merasa terancam karena bolak-balik diberitakan oleh korban. "Motifnya adalah memberikan efek jera kepada korban, karena pelaku merasa resah, pelaku merasa terancam karena bolak balik diberitakan," kata Kombes Tatan. Tatan juga menyebut SS merasa diteror sehingga ingin memberi pelajaran kepada korban. Dia mengatakan hal itu diketahui setelah polisi memeriksa riwayat WhatsApp para pelaku. "Kemudian merasa diteror seperti itu sehingga para pelaku berinisiatif untuk memberikan pelajaran kepada korban.

Itu terfaktakan dari beberapa WA (WhatsApp) yang kita screenshot baik kepada otak pelaku, termasuk kepada tersangka HST," ujar Tatan. Kelima tersangka itu dijerat Pasal 355 ayat 1 subs Pasal 353 ayat 2 subs Pasal 351 ayat 2 KUHP. Mereka terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara.

penyiraman air keras di medan

PWI Kutuk Keras Penyiraman Air Keras Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut mengutuk aksi tersebut. PWI menyebut aksi ini merupakan kekerasan terhadap wartawan yang sedang menjalankan tugas. "Mengecam tindak kekerasan kembali terjadi terhadap wartawan yang bertugas di lingkungan Kota Medan, khususnya, dan Sumatera Utara, umumnya," kata Ketua PWI Sumut Hermansjah kepada wartawan, Senin (26/7).

penyiraman air keras di medan

Baca juga: Anggota DPRA Curhat Sulit Bayar SPP Anak Usai Banyak Bank Cabut dari Aceh Dia mengatakan korban sering meliput berita perjudian. Dia meminta wartawan di Sumut berhati-hati saat bertugas. "Diduga sering menaikkan berita perjudian, lalu ditelepon, jumpalah di Simpang Selayang.

Setelah jumpa, lalu tiba-tiba diduga Pemred Jelajah perkara disiram air keras ke wajahnya," tutur Herman. Tonton juga Video: Polisi Kantongi Identitas Pelaku Pembacokan Ketua MUI Labura Sumut [Gambas:Video 20detik] (haf/haf)
SuaraSumut.id - Seorang pria korban penyiraman air keras, Persada Sembiring, dilaporkan balik dalam kasus pemerasan. Laporan yang dubuat pelapor Heri Sanjaya berdasarkan LP1565/Agustus/2021. Plt Wakasat Reskrim Polrestabes Medan AKP Madianta Ginting mengaku, saat ini pihaknya sedang melakukan serangkaian penyelidikan dan melengkapi berkas pemeriksaan kasus dugaan pemerasan itu.

"Terlapor Persada Sembiring belum kita mintai keterangan karena kondisinya masih dalam proses penyembuhan menurut penyiraman air keras di medan keluarganya," ungkap Madianta.

"Kami tentunya mendalami setiap laporan masyarakat dan kami memastikan setiap masyarakat mendapatkan keadilan, percayakan kepada kami prosesnya dan kami akan bekerja profesional," katanya. Baca Juga: Polisi Bekuk Sindikat Pengedar Jaringan Jakarta-Aceh-Medan, Sita 1,37 Ton Ganja Duduk Perkara Pemerasan Ia menjelaskan, duduk perkara kasus pemerasan yang membuat korban penyiraman air keras tersebut sebagai tersangka.

penyiraman air keras di medan

"Bukti permulaan yang kita peroleh ada chattingan, screenshot antara pelapor dan terlapor yang kita duga ada unsur pemerasan," ujarnya.
"Mereka dijanjikan uang Rp 13 juta, namun baru dikasih eksekutor dan joki, masing-masing satu juta setengah," kata Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Riko Sunarko, Senin (2/8/2021).

Kelima tersangka disebut mempunyai peran masng-masing. Tersangka SS merupakan otak penyiraman air keras dan disebut mengatur pertemuan dengan korban. Baca Juga: Geger Anak di Jember Makan Wafer Isi Silet Pemberian Pria Misterius HST berperan berkomunikasi dan membuat janji bertemu dengan korban. Kemudian IIB berperan mencari eksekutor, UA berperan sebagai joki dan N yang menyiram air keras ke korban. Tersangka SS mengaku geram dengan tindak tanduk korban yang terus mengancam lewat berita mengenai keberadaan lokasi game tembak ikan.

Padahal setiap bulan korban meraup Rp 4 juta agar penyiraman air keras di medan memberitakan keberadaan lokasi judi game tembak ikan tersebut. "Semuanya berawal dari pengancaman berita dari korban, setelah beberapa bulan dia itu dikasih terus," katanya. Ia mengaku, beberapa bulan 'jatah' yang diberikan kepada korban lancar. Namun, memasuki Juli 2021 jatah bulanan korban belum diberikan karena diduga sepi akibat terdampak PPKM. Meski begitu, korban terus memaksa meminta sampai mengancam akan diberitakan.Penulis : Christandi Dimas MEDAN, KOMPAS.TV - Setelah menangkap empat pelaku penyiraman air keras terhadap seorang jurnalis di Kota Medan, polisi akhirnya menangkap otak dalam kasus ini.

penyiraman air keras di medan

Pelaku ternyata kesal kerap dimintai uang hingga jutaan rupiah oleh korban sejak akhir tahun 2020 lalu. Menurut polisi, aksi penyiraman air keras dilakukan karena pelaku yang merupakan pengelola tempat gelanggang permainan tembak ikan kesal kerap dimintai uang setiap bulannya oleh korban. Terakhir, korban meminta uang bulanan sebesar Rp 4 juta kepada pelaku. Baca Juga: Gubernur Sulteng Jamin Keselamatan 6 Anggota Mujahidin Indonesia Timur Jika Serahkan Diri Jangan lewatkan streaming Kompas TV live 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live agar kamu semua tidak ketinggalan berita-berita terkini, terlengkap, serta laporan langsung dari berbagai daerah di Indonesia.

Subscribe juga channel YouTube Kompas TV dan aktifkan lonceng supaya kamu dapat notifikasi video terbaru langsung. LINTASAN BALAP MOBIL TERTUA DI JERMAN, SIRKUIT F1 NURBURGRING, JADI PUSAT LOGISTIK BANTUAN BANJIR MANTAN ANGGOTA DPRD KERINCI, JAMBI, YUSUF SAGORO, DITANGKAP SETELAH 13 TAHUN JADI BURONAN KASUS KORUPSI SEBANYAK 23,8 TON IKAN NILA DI KERAMBA JARING APUNG DANAU BATUR, BANGLI, BALI, MATI AKIBAT KERACUNAN BELERANG TAMAN NASIONAL ALAS PURWO DI BANYUWANGI, JATIM, PERPANJANG MASA PENUTUPANNYA HINGGA 25 JULI 2021 PENUTUPAN 8 RUAS JALAN UTAMA DI SOLO DIPERPANJANG HINGGA 25 JULI 2021 SEIRING PENERAPAN PPKM PEMKAB PURBALINGGA UBAH RSUD GOETENG TAROENADIBRATA JADI RS KHUSUS COVID-19, DAYA TAMPUNG MENCAPAI 232 PASIEN MENKO MARVES LUHUT BINSAR PANDJAITAN OPTIMISTIS KEKEBALAN KELOMPOK BISA TERCAPAI PADA AKHIR TAHUN INI PEMKOT BEKASI TUNGGAK INSENTIF TENAGA KESEHATAN DI DINKES YANG TANGANI COVID-19 PERIODE JANUARI-MEI 2021 SEBANYAK 22 KG ORGAN HEWAN KURBAN TAK LAYAK KONSUMSI DI JAKARTA PUSAT DIMUSNAHKAN PETUGAS KREMATORIUM UNTUK JENAZAH COVID-19 DI TPU TEGAL ALUR, JAKBAR, DITARGETKAN BISA DIGUNAKAN PADA JUMAT, 23 JULI 2021 SEKJEN DPR INDRA ISKANDAR SEBUT 511 ORANG DI DPR POSITIF TERINFEKSI COVID-19, 346 DI ANTARNYA TELAH NEGATIF RANGKAP JABATAN SEBAGAI KOMISARIS DI SALAH SATU PERUSAHAAN BUMN, REKTOR UI Penyiraman air keras di medan KUNCORO PUNYA HARTA KEKAYAAN RP 52,4 M TEMUKAN MALAADMINISTRASI PROSES TWK, OMBUDSMAN RI: KPK HARUS KOREKSI PROSES ALIH STATUS PEGAWAI KPK KAPOLRI JENDERAL LISTYO SIGIT PRABOWO MINTA JAJARANNYA BANTU PERCEPAT PENYALURAN BANSOS SELAMA PANDEMI COVID-19
Direktur Reskrimum Polda Sumut Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja mengatakan, aksi itu dilakukan karena lokasi gelanggang permainan (Gelper) tembak ikan di kawasan Medan Tuntungan diberitakan korban.

"Untuk memberikan efek jera terhadap korban, pelaku merasa resah, terancam karena bolak balik diberitakan kemudian merasa diteror, sehingga mereka berinisiatif memberikan pelajaran terhadap korban," kata Tatan, Senin (2/8/2021). Baca Juga: Klasemen Indonesia Naik Usai Greysia/Apriyani Rebut Emas, Ini Gambaran Lengkapnya Hal ini diketahui setelah petugas melakukan pemeriksaan terhadap isi percakapan WhatsApp (WA) di ponsel tersangka maupun korban.

"Itu terfaktakan dari WA yang kita screenshot baik terhadap otak pelaku dan tersangka HST, itu terfaktakan dari pembicaraan mereka di WhatsApp," bebernya. Dari hasil pemberitaan terkait keberadaan gelper tembak ikan itu, pada Oktober 2020 korban mendapat 'jatah' Rp 500 ribu dan terus meningkat tiap bulannya. Namun, pada Juli 2021 pihak pengelola telat memberikan 'jatah' kepada korban karena diduga sepi akibat dampak PPKM. Korban yang tak terima, mengancam akan memberitakan di situs websitenya.

"Dari lima ratus ribu (jatah tiap bulan) meningkat satu juta, meningkat dua juta, dan meningkat empat juta. Kemudian di bulan Juli itu telat di tanggal 24 belum diserahkan yang penyiraman air keras di medan tanggal 21, sehingga korban membuat berita tapi belum dishare," kata Tatan.
MEDAN, KOMPAS.com - Polisi telah menangkap lima orang pelaku penyiraman air keras kepada seorang pria di Medan, Sumatera Utara, bernama Persada Bhayangkara Sembiring.

Kasus penyiraman air keras itu terjadi pada 25 Juli 2021.

penyiraman air keras di medan

Kelima orang yang ditangkap itu yakni UA sebagai joki atau pengendara sepeda motor saat kejadian. Baca juga: Pemred Media Online di Medan Disiram Air Keras, Polisi Tangkap 4 Pelaku, tapi Enggan Ungkap Identitasnya Kemudian N sebagai eksekutor, dan HST selaku pembuat janji dengan korban.

Berikutnya, IIB sebagai perekrut eksekutor dan SS sebagai otak dari aksi tersebut. Mereka ditangkap oleh personel Polrestabes Medan dan Polda Sumatera Utara. "Ada lima tersangka yang diamankan. Satu lagi, S sebagai penjual air keras kepada pelaku, masih diburu," kata Kapolrestabes Medan Kombes Riko Sunarko saat konferensi pers di Mapolrestabes Medan, Senin (2/8/2021).

Baca juga: Kisah Tragis Seorang Siswi SMK, Disiram Air Keras Mantan Pacar gara-gara Tak Terima Diputus Cinta Persada disiram air keras oleh N di Simpang Selayang, Penyiraman air keras di medan Jamin Ginting. Pada saat itu, N dibonceng oleh Penyiraman air keras di medan menggunakan sepeda motor.

Keduanya dijanjikan upah sebesar Rp 13 juta apabila berhasil menyerang korban. "Masing-masing sudah dibayar Rp 1,5 juta," kata Riko. Berita Terkait Pengakuan Penyiram Air Keras Siswi SMK di Brebes, Sakit Hati Diputus Cinta Putus Cinta Berujung Ancaman Penjara, Pria Ini Ditangkap Usai Siram Mantan Kekasih dengan Air Keras Kisah Tragis Seorang Siswi SMK, Disiram Air Keras Mantan Pacar gara-gara Tak Terima Diputus Cinta Pemred Media Online di Medan Disiram Air Keras, Polisi Tangkap 4 Pelaku, tapi Enggan Ungkap Identitasnya Berita Terkait Pengakuan Penyiram Air Keras Siswi SMK di Brebes, Sakit Hati Diputus Cinta Putus Cinta Berujung Ancaman Penjara, Pria Ini Ditangkap Usai Siram Mantan Kekasih dengan Air Keras Kisah Tragis Seorang Siswi SMK, Disiram Air Keras Mantan Pacar gara-gara Tak Terima Diputus Cinta Pemred Media Online di Medan Disiram Air Keras, Polisi Tangkap 4 Pelaku, tapi Enggan Ungkap Identitasnya Pekan Depan, 26.761 Nakes di Kalbar Bakal Divaksin Dosis Ketiga dengan Moderna https://regional.kompas.com/read/2021/08/02/130638478/pekan-depan-26761-nakes-di-kalbar-bakal-divaksin-dosis-ketiga-dengan https://asset.kompas.com/crops/wOVLrA6MrSjuRCvYSx_UWomkEeg=/0x0:1079x719/195x98/data/photo/2021/07/17/60f278f3ab88d.jpg
MEDAN, RadarBangsa.co.id – Penyiraman air keras terhadap Persada Bhayangkara Sembiring (25) di Jalan Jamin Ginting, Simpang Tuntungan, Medan, Minggu (25/7/21) malam, ternyata dipicu pemerasan.

“Kejadian itu berawal pada bulan Juni 2021. Saat itu tersangka HST (36) memberi tahu kepada pemilik salah satu gelanggang permainan tembak ikan, ada permintaan sejumlah uang dari Persada,” ujar Kapolrestabes Medan Kombes Pol Riko Sunarko, Senin (2/8/2021). Persada tercantum sebagai pemimpin redaksi pada portal berita jelajahperkara.com.

Dari pemeriksaan terhadap para tersangka terungkap, biasanya korban meminta jatah setoran bulanan. Hal itu sudah berlangsung 8 kali. Tiap bulan yang bersangkutan megutip Rp 500 ribu dari tersangka. Belakangan, korban minta setoran dinaikkan menjadi satu juta, dua juta, kemudian Rp 4 juta per bulan.

penyiraman air keras di medan

“Lalu bulan Juni biasanya korban menerima bulanan dari HST. Namun pada tanggal 21, uang belum diterima juga,” ujarnya. Kemudian, kata Riko, korban mengirim link berita tentang gelanggang tersebut kepada HST.

Persada mengatakan, link berita belum diunggah, dan ia meminta jatah bulan Juni segera diberikan. Tak berapa lama, HST memberikan jatah uang penyiraman air keras di medan Juni kepada korban.

Pada bulan Juli tanggal 21, korban kembali meminta sejumlah uang kepada HST. Namun sampai tanggal 24, ia belum juga menerimanya. Riko menjelaskan, saat itu pemilik gelanggang berinisial SS (41) memberi tahu kepada HST agar korban diberi pelajaran. Pada tanggal 25 Juli 2021, tersangka HST janji bertemu dengan korban di Simpang Tuntungan.

“Sebelumnya, tersangka HST sudah mencari orang untuk memberi pelajaran kepada korban,” katanya. Saat hari eksekusi tiba, sambung Riko, tersangka eksekutor dan driver berinisiatif membeli cairan air keras seharga Rp 100.000. Kemudian air keras mereka masukkan ke dalam botol minuman suplemen.

“Pada pukul 21.00 WIB, korban mengirim pesan What’s App, bahwa dia sudah ada di lokasi,” ujarnya. Tak berapa lama, kata Riko, HST menunjukkan foto korban kepada eksekutor.

penyiraman air keras di medan

Kemudian eksekutor berinisial N dan driver berinisial UA (50) bergerak ke lokasi. “Di jalan, mereka sempat memindahkan air keras ke dalam potongan botol air mineral. Setibanya di lokasi, tersangka N langsung menyiramkan air keras itu ke tubuh korban, lalu kabur, ” katanya.

Sebagaimana diketahui, Satreskrim Polrestabes Medan menangkap lima pelaku penyiraman air keras terhadap Persada Bhayangkara Sembiring. Para tersangka yang diamankan itu ialah SS (41) warga Jalan Petunia II, Desa Namo Gajah Kecamatan Medan Tuntungan, yang merupakan otak pelaku. Kemudian UA (50) warga Kampung Sawah Desa Jaya Loka, Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) yang bertindak sebagai joki Kemudian, HST (36) warga Lingkungan II Namo Gajah, Kelurahan Namo Gajah Kecamatan Medan Tuntungan yang bertindak sebagai pengkondisi waktu dan tempat pertemuan dengan korban.

Selanjutnya N warga Datuk Kabu Pasar III yang bertindak sebagai eksekutor menyiramkan air keras.

penyiraman air keras di medan

Terakhir IIB (39) warga Jalan Bunga Kardiol, Lingkungan III Kelurahan Ladang Bambu. Sumber : topmetro.news

CCTV di Sekitar TKP Penyiraman Air Keras di Medan




2022 www.videocon.com