Riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu

riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu

Nabi Musa A.S. adalah seorang bayi yang dilahirkan dikalangan Bani Isra'il yang pada ketika itu dikuasai oleh Raja Fir'aun yang bersikap kejam dan zalim. Nabi Musa bin Imron bin Qahat bin Lawi bin Ya'qub adalah beribukan Yukabad.Setelah meningkat dewasa Nabi Musa telah beristerikan dengan puteri Nabi Syu'aib yaitu Shafura.Dalam perjalanan hidup Nabi Musa untuk menegakkan Islam dalam penyebaran risalah yang telah diutuskan oleh Allah kepadanya ia telah diketemukan beberapa orang nabi diantaranya ialah bapa mertuanya Nabi Syu'aib, Nabi Harun dan Nabi Khidhir.

Di sini juga diceritakan tentang perlibatan beberapa orang nabi yang lain di antaranya Nabi Somu'il serta Riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu Daud Catatan : Para ahli tafsir berselisih pendapat tentang Syu'aib, mertua Nabi Musa.

Sebagian besar berpendapat bahwa ia adalah Nabi Syu'aib A.S. yang diutuskan sebagai rasul riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu kaum Madyan, sedang yang lain berpendapat bahwa ia adalah orang lain yaitu yang dianggap adalah satu kebetulan namanya Syu'aib juga. Wallahu A'lam bisshawab Kelahiran Musa Dan Pengasuhnya Raja Fir'aun yang memerintah Mesir sekitar kelahirannya Nabi Musa, adalah seorang raja yang zalim, kejam dan tidak berperikemanusiaan.

Ia memerintah negaranya dengan kekerasan, penindasan dan melakukan sesuatu dengan sewenang-wenangnya. Rakyatnya hidup dalam ketakutan dan rasa tidak aman tentang jiwa dan harta benda mereka, terutama Bani Isra'il yang menjadi hamba kekejaman, kezaliman dan bertindak sewenang-wenangnya dari raja dan orang-orangnya. Mereka merasa tidak tenteram dan selalu dalam keadaan gelisah, walau pun berada dalam rumah mereka sendiri.

Mereka tidak berani mengangkat kepala bila berhadapan dengan seorang hamba raja dan berdebar hati mereka karena ketakutan bila kedengaran suara pegawai-pegawai kerajaan lalu di sekitar rumah mrk, apalagi bunyi kasut mrk sudah terdengar di depan pintu. Raja Fir'aun yang sedang mabuk kuasa yang tidak terbatas itu, bergelimpangan dalam kenikmatan dan kesenangan duniawi yang tiada taranya, bahkan mengumumkan dirinya sebagai tuhan yang harus disembah oleh rakyatnya.

Pd suatu hari beliau telah terkejut oleh ramalan oleh seorang ahli nujum kerajaan yang dengan tiba-tiba dtg menghadap raja dan memberitahu bahwa menurut firasatnya falaknya, seorang bayi lelaki akan dilahirkan dari kalangan Bani Isra'il yang kelak akan menjadi musuh kerajaan dan bahkan akan membinasakannya. Raja Fir'aun segera mengeluarkan perintah agar semua bayi lelaki yang dilahirkan di dalam lingkungan kerajaan Mesir dibunuh dan agar diadakan pengusutan yang teliti sehingga tiada seorang pun dari bayi lelaki, tanpa terkecuali, terhindar dari tindakan itu.

Maka dilaksanakanlah perintah raja oleh para pengawal dan tenteranya. Setiap rumah dimasuki dan diselidiki dan setiap perempuan hamil menjadi perhatian mereka pada saat melahirkan bayinya. Raja Fir'aun menjadi tenang kembali dan merasa aman tentang kekebalan kerajaannya setelah mendengar para anggota kerajaannya, bahwa wilayah kerajaannya telah menjadi bersih dan tidak seorang pun dari bayi laki-laki yang masih hidup.

Ia tidak mengetahui bahwa kehendak Allah tidak dpt dibendung dan bahwa takdirnya bila sudah difirman "Kun" pasti akan wujud dan menjadi kenyataan "Fayakun". Tidak sesuatu kekuasaan bagaimana pun besarnya dan kekuatan bagaimana hebatnya dapat menghalangi atau mengagalkannya.

Raja Fir'aun sesekali tidak terlintas dalam fikirannya yang kejam dan zalim itu bahwa kerajaannya yang megah, menurut apa yang telah tersirat dalam Lauhul Mahfudz, akan ditumbangkan oleh seorang bayi yang justeru diasuh dan dibesarkan di dalam istananya sendiri akan diwarisi kelak oleh umat Bani Isra'il yang dimusuhi, dihina, ditindas dan disekat kebebasannya. Bayi asuhnya itu ialah laksana bunga mawar yang tumbuh di antara duri-duri yang tajam atau laksana fajar yang timbul menyingsing dari tengah kegelapan yang mencekam.

Yukabad, isteri Imron bin Qahat bin Lawi bin Ya'qub sedang duduk seorang diri di salah satu sudut rumahnya menanti dtgnya seorang bidan yang akan memberi pertolongan kepadanya melahirkan bayi dari dalam kandungannya itu. Bidan dtg dan lahirlah bayi yang telah dikandungnya selama sembilan bulan dalam keadaan selamat, segar dan sihat afiat. Dengan lahirnya bayi itu, maka hilanglah rasa sakit yang luar biasa dirasai oleh setiap perempuan yang melahirkan namun setelah diketahui oleh Yukabad bahwa bayinya adalah lelaki maka ia merasa takut kembali.

Ia merasa sedih dan khuatir bahwa bayinya yang sgt disayangi itu akan dibunuh oleh orang-orang Fir'aun. Ia mengharapkan agar bidan itu merahsiakan kelahiran bayi itu dari sesiapa pun. Bidan yang merasa simpati terhadap bayi yang lucu dan bagus itu serta merasa betapa sedih hati seorang ibu yang akan kehilangan bayi yang baru dilahirkan memberi kesanggupan dan berjanji akan merahsiakan kelahiran bayi itu. Setelah bayi mencapai tiga bulan, Yukabad tidak merasa tenang dan selalu berada dalam keadaan cemas dan khuatir terhadap keselamatan bayinya.

Allah memberi ilham kepadanya agar menyembunyikan bayinya di dalam sebuah peti yang tertutup rapat, kemudian membiarkan peti yang berisi bayinya itu terapung di atas sungai Nil. Yukabad tidak boleh bersedih dan cemas ke atas keselamatan bayinya karena Allah menjamin akan mengembalikan bayi itu kepadanya bahkan akan mengutuskannya sebagai salah seorang rasul.

Dengan bertawakkal kepada Allah dan kepercayaan penuh terhadap jaminan Illahi, mak dilepaskannya peti bayi oleh Yukabad, setelah ditutup rapat dan dicat dengan warna hitam, terapung dipermukaan air sungai Nil.

Kakak Musa diperintahkan oleh ibunya untuk mengawasi dan mengikuti peti rahsia itu agar diketahui di mana ia berlabuh dan ditangan siapa akan jatuh peti yang mengandungi erti yang riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu besar bagi perjalanan sejarah umat manusia.

Alangkah cemasnya hati kakak Musa, ketika melihat dari jauh bahwa peti yang diawasi itu, dijumpai oleh puteri raja yang kebetulan berada di tepi sungai Nil bersantai bersama beberapa dayangnya dan dibawanya masuk ke dalam istana dan diserahkan kepada ibunya, isteri Fir'aun. Yukabad yang segera diberitahu oleh anak perempuannya tentang nasib peti itu, menjadi kosonglah hatinya karena sedih dan cepat serta hampir saja membuka rahsia peti itu, andai kata Allah tidak meneguhkan hatinya dan menguatkan hanya kepada jaminan Allah yang telah dinerikan kepadanya.

Raja Fir'aun ketika diberitahu oleh Aisah, isterinya, tentang bayi laki-laki yang ditemui di dalam peti yang terapung di atas permukaan sungai Nil, segera memerintahkan membunuh bayi itu seraya berkata kepada isterinya: "Aku khuatir bahwa inilah bayi yang diramalkan, yang akan menjadi musuh dan penyebab kesedihan kami dan akan membinasakan kerajaan kami y besar ini." Akan tetapi isteri Fir'aun yang sudah terlanjur menaruh simpati dan sayang terhadap bayi yang lucu dan manis itu, berkata kepada suaminya: "Janganlah bayi yang tidak berdosa ini dibunuh.

Aku sayang kepadanya dan lebih baik kami ambil dia sebagai anak, kalau-kalau kelak ia akan berguna dan bermanfaat bagi kami. Hatiku sgt tertarik kepadanya dan ia akan menjadi kesayanganku dan kesayangmu". Demikianlah jika Allah Yang Maha Kuasa menghendaki sesuatu maka dilincinkanlah jalan bagi terlaksananya takdir itu. Dan selamatlah nyawa putera Yukabad yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi rasul-Nya, menyampaikan amanat wahyu-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang sudah sesat.

Nama Musa yang telah diberikan kepada bayi itu oleh keluarga Fir'aun, bererti air dan pohon {Mu=airSa=pohon} sesuai dengan tempat ditemukannya peti bayi itu. Didatangkanlah kemudian ke istana beberapa inang untuk menjadi ibu susuan Musa.

Akan tetapi setiap inang yang mencuba dan memberi air susunya ditolak oleh bayi yang enggan menyedut dari setiap tetk yang diletakkan ke bibirnya. Dalam keadaan isteri Fir'aun lagi bingung memikirkan bayi pungutnya yang enggan menetek dari sekian banyak inang yang didatangkan ke istana, datanglah kakak Musa menawarkan seorang inang lain yang mungkin diterima oleh bayi itu.

Atas pertanyaan keluarga Fir'aun, kalau-kalau ia mengenal keluarga bayi itu, berkatalah kakak Musa: "Aku tidak mengenal siapakah keluarga dan ibu bayi ini.

Hanya aku ingin menunjukkan satu keluarga yang baik dan selalu rajin mengasuh anak, kalau-kalau bayi itu dpt menerima air susu ibu keluarga itu". Anjuran kakak Musa diterima oleh isteri Fir'aun dan seketika itu jugalah dijemput ibu kandung Musa sebagai inang bayaran. Maka begitu bibir sang bayi menyentuh tetek ibunya, disedutlah air susu ibu kandungnya itu dengan sgt lahapnya. Kemudian diserahkan Musa kepada Yukabad ibunya, untuk diasuh selama masa menetek dengan imbalan upah yang besar.

Maka dengan demikian terlaksanalah janji Allah kepada Yukabad bahwa ia akan menerima kembali puteranya itu. Setelah selesai masa meneteknya, dikembalikan Musa oleh ibunya ke istana, di mana ia di asuh, dibesar dan dididik sebagaimana anak-anak raja yang lain.

Ia mengenderai kenderaan Fir'aun dan berpakaian sesuai dengan cara-cara Fir'aun berpakaian sehingga ia dikenal orang sebagai Musa bin Fir'aun.

Bacalah tentang isi cerita di atas di dalam Al-Quran dari ayat 4 - 13 dalam surah "Al-Qashash" sebagai berikut :~ "4.~ Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu menjadikan penduduknya berpecah belah dengan menindas segolongan dari mrk, menyembelih anak lelaki mrk dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka.

Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.5.~ Dan Kami hendak memberi kurnia kepada orang-orang yang tertindas di bumi {Mesir} itu dan hendak menjadi mrk pemimpin dan menjadikan mrk orang-orang yang mewarisi {bumi}.6.~ Dan Kami akan teguhkan kedudukan mrk di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman berserta tenteranya apa yang selalu mereka khuatirkan dari mereka itu.7.~ Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa,"susukanlah dia, dan apabila kamu khuatir terhadapnya, maka jatuhkan dia ke dalam sungai {Nil}.

Dan janganlah kamu khuatir dan janganlah pula bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya {salah seorang} dari para rasul.8.~ Maka pungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya ia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman berserta tenteranya adalah orang-orang yang bersalah.9.~ Dan berkatalah isteri Fir'aun: "Ia {Musa} biji mata bagiku dan bagimu.

Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak," sedang mrk tiada menyedari.10.~ Dan menjadi kekosongan hait ibu Musa, seandainya Kami tidak teguhkan hatinya, spy ia termasuk orang-orang yang percaya {kepada janji Allah}.11.~ Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia".

Maka kelihatan olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya.12.~ Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang nahu menyusukannya sebelum itu, maka berkatalah saudara Musa: "Mahukah kamu aku tunjukkan kepada kamu ahlul-bait yang akan memeliharakannya utkmu dan mrk dpt berlaku baik kepadanya?"13.~ Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi manusia kebanyakan tidak mengetahuinya." { Al-Qashash : 4 ~ 13 } Sejak ia dikembali ke istana oleh ibunya setelah disusui, Musa hidup sebagai slah seorang drp keluarga kerajaan hingga mencapai usia dewasanya, dimana ia memperolehi asuhan dan pendidikan sesuai dengan tradisi istana.

Allah mengurniakannya hikmah dan pengetahuan sebagai persiapan tugas kenabian dan risalah yang diwahyukan kepadanya. Di samping kesempurnaan dan kekuatan rohani, ia dikurniai oleh Allah kesempurnaan tubuh dan kekuatan jasmani. Musa mengetahui dan sedar bahwa ia hanya seorang anak pungut di istana dan tidak setitik darah Fir'aun pun mengalir di dalam tubuhnya dan bahwa ia adalah keturunan Bani Isra'il tg ditindas dan diperlakukan sewenang-wenangnya oleh kaum Fir'aun. Karenanya ia berjanji kepada dirinya akan menjadi pembela kepada kamunya yang tertindas dan menjadi pelindung bagi golongan yang lemah yang menjadi sasaran kezaliman dan keganasan para penguasa.

Demikianlah maka terdorong oleh rasa setia kawannya kepada orang-orang yang madhlum dan teraniaya, terjadilah suatu peristiwa yang menyebabkan ia terpaksa meninggalkan istana dan keluar dari Mesir. Peristiwa itu terjadi ketika Musa sedang berjalan-jalan di sebuah lorong di waktu tengahari di mana keadaan kota sunyi sepi ketika penduduknya sedang tidur siang, Ia melihat kedua berkelahi seorang dari golongan Bani Isra'il bernama Samiri dan seorang lagi dari kaum Fir'aun bernama Fa'tun.

Musa yang mendengar teriakan Samiri mengharapkan akan pertolongannya terhadap musuhnya yang lebih kuat dan lenih besar itu, segera melontarkan pukulan dan tumbukannya kepada Fatun yang seketika itu jatuh rebah an menghembuskan nafasnya yang terakhir. Musa terkejut melihat Fatun, orang Fir'aun itu mati karena tumbukannya yang tidak disengajakan dn tidak akan mengharapkan membunuhnya. Ia merasa berdoa dan beristighfar kepada Allah memohon ampun diatas perbuatannya yang tidak sengaja, telah melayang nyawa salah seorang drp hamba-hamba-Nya.

Peristiwa matinya Fatun menjadi perbualan ramai dan menarik para penguasa kerajaan yang menduga bahwa pasti orang-orang Isra'illah yang melakukan perbunuhan itu. Mereka menuntut agar pelakunya diberi hukuman yang beratbila ia tertangkap. Anggota dan pasukan keamanan negara di hantarkan ke seluruh pelusuk kota mencari jejak orang yang telah membunuh Fatun, yang sebenarnya hanya diketahui oleh Samiri dan Musa shj.

akan tetapi, walaupun tidak orang ketiga yang menyaksikan peristiwa itu, Musa merasa cemas dan takut dan berada dalam keadaan bersedia menghadapi akibat perbuatannya itu bila sampai tercium oleh pihak penguasa.

Alangkah malangnya nasib Musa yang sudah cukup berhati-hati menghindari kemungkinan terbongkarnya rahsia pembunuhan yang ia lakukan tatkala ia terjebat lagi tanpa disengajakan dalam suatu perbuatan yang menyebabkan namanya disebut-sebut sebagai pembunuh yang dicari.

Musa bertemu lagi dengan Samiri yang telah ditolongnya melawan Fatun, juga dalam keadaan berkelahi untuk kali keduanya dengan salah seorang dari kaum Fir'aun. Melihat Musa berteriaklah Samiri meminta pertolongannya. Musa menghampiri mereka yang sedang berkelahi seraya berkata menegur Samiri: " Sesungguhnya engkau adalah seorang yang telah sesat." Samiri menyangkal bahwa Musa akan membunuhnya ketika ia mendekatinya, lalu berteriaklah Samiri berkata: "Apakah engkau hendak membunuhku sebagaimana engkau telah membunuh seorang kelmarin?

Rupanya engkau hendak menjadi seorang yang sewenang-wenang di negeri ini dan bukan orang yang mengadilkan kedamaian". Kata-kata Samiri itu segera tertangkap orang-orang Fir'aun, yang dengan cepat memberitahukannya kepada para penguasa yang memang sedang mencari jejaknya.

Maka berundinglah para pembesar dan penguasa Mesir, yang akhirnya memutuskan untuk menangkap Musa dan membunuhnya sebagai balasan terhadap matinya seorang dari kalangan kaum Fir'aun. Selagi orang-orang Fir'aun mengatur rancangan penangkapan Musa, seorang lelaki slah satu daripada sahabatnya datang dari hujung kota memberitahukan kepadanya dan menasihatkan agar segera meninggalkan Mesir, karena para penguasa Mesir telah memutuskan untuk membunuhnya apabila ia ditangkap.

lalu keluarlah Musa terburu-buru meninggalkan Mesir, ssebelum anggota polis sempat menutup serta menyekat pintu-pintu gerbangnya. Tentang isi cerita ini, terdapat dalam al-Quran yang dapat di baca di dalam surah "Al-Qashshas" ayat 14 - 21 sebagaimana berikut :~ "14.~ Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikannya hikmah dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.15.~ Dan Musa masuk ke kota {Memphis} ketika penduduknya sedang tidur, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang lelaki sedang bergaduh, yang seorangnya dari golongannya {Bani Isra'il} dan seorang lagi dari musuhnya {Kaum Fir'aun}.

Maka orang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang dari musuhnya, lalu Musa menumbuknya dan matilah musuhnya itu. Musa berkta; "Ini adalah perbuatan syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata {permusuhannya}.16.~ Musa berdoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku".

Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.17.~ Musa berkata : "Ya Tuhanku demi nikmat Engkau anugerahkan kepadaku, aku sesekali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa".18.~ Karena itu jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu dengan khuatir {akibat perbuatannya} maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongannya kelmarin berteriak meminta pertolongan kepadanya.

Musa berkata kepadanya: "Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang sesat, yang nyata {kesesatannya}.19.~ Maka tatkala Musa hendak memegang dengan kuat orang yang menjadi musuh keduanya, berkata {seorang drp mereka}: "Hai Musa apakah engkau bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kelmarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri {ini}, dan tiadalah kamu bermaksud menjadi salah seorang dari orang yang mengadakan perdamaian".20.~ Dan datanglah seorang laki-laki dari hujung kota bergegas-gegas, seraya berkata: "Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentangmu, untuk membunuhmu oleh itu keluarlah {dari kota ini}.

Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.21.~ Mak keluarlah Musa dari kota ini dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khuatir. Dia berdoa: "Ya Tuhanku selamatkanlah dari orang-orang yang zalim itu." { Al-Qashash : 14 ~ 21 } Dengan berdoa kepada Allah: "Ya Tuhanku selamatkanlah aku dari segala tipu daya orang-orang yang zalim" keluarlah Nabi Musa dari kota Mesir seorang diri, tiada pembantu selain inayahnya Allah tiada kawan selain cahaya Allah dan tiada bekal kecuali bekal iman dan takwa kepada Allah.

Penghibur satu-satunya bagi hatinya yang sedih karena meninggalkan tanahi airnya ialah bahwa ia telah diselamatkan oleh Allah dari buruan kaum fir'aun yang ganas dan kejam itu. Setelah menjalani perjalanan selama lapan hari lapan malam dengan berkaki ayam {tidak berkasut} sampai terkupas kedua kulit tapak kakinya, tibalah Musa di kota Madyan yaitu kota Nabi Syu'aib yang terletak di timur jazirah Sinai dan teluk Aqabah di selatan Palestin.

Nabi Musa beristirehat di bawah sebuah pokok yang rendang bagi menghilangkan rasa letihnya karena perjalanan yang jauh, berdiam seorang diri karena nasibnya sebagai salah seorang bekas anggota istana kerajaan yang menjadi seorang pelarian dan buruan. Ia tidak tahu ke mana ia harus pergi dan kepada siapa ia harus bertamu, di tempat di mana ia tidak mengenal dan dikenal orang, tiada sahabat dan saudara.

Dalam keadaan demikian terlihatlah olehnya sekumpulan penggembala berdesak-desak mengelilingi sebuah sumber air bagi memberi minum ternakannya masing-masing, sedang tidak jauh dari tempat sumber air itu berdiri dua orang gadis yang menantikan giliran untuk memberi minuman kepada ternakannya, jika para penggembala lelaki itu sudah selesai dengan tugasnya.

Musa merasa kasihan melihat kepada dua orang gadis itu yang sedang menanti lalu dihampirinya dan ditanya : "Gerangan apakah yang kamu tunggu di sini?" Kedua gadis itu menjawab: "Kami hendak mengambil air dan memberi minum ternakan kami namun kami tidak dapat berdesak dengan lelaki yang masih berada di situ.

Kami menunggu sehingga mereka selesai memberi minum ternakan mereka. Kami harus lakukan sendiri pekerjaan ini karena ayah kami sudah lanjut usianya dan tidak dapat berdiri, jangan lagi datang ke mari". Lalu tanpa mengucapkan sepatah kata dua pun diambilkannyalah timba kedua gadis itu oleh Musa dan sejurus kemudian dikembalikannya kepada mrk setelah terisi air penuh sedang sekeliling sumber air itu masih padat di keliling para pengembala. Setibanya kedua gadis itu di rumah berceritalah keduanya kepada ayah mrk tentang pengalamannya dengan Nabi Musa yang karena pertolongannya yangbtidak diminta itu mrk dapat lebih cepat kembali ke rumah drp biasa.

Ayah kedua gadis yang bernama Syu'aib itu tertarik dengan cerita kedua puterinya. Ia ingin berkenalan dengan orang yang baik hati itu yang telah memberi pertolongan tanpa diminta kepada kedua puterinya dan sekaligus menytakan terimakasih kepadanya. Ia menyuruh salah seorang dari puterinya itu pergi memanggilkan Musa dan mengundangnya datang ke rumah. Dengan malu-malu pergilah puteri Syu'aib menemui Musa yang masih berada di bawah pohon yang masih melamun.

Dalam keadaan letih dan lapar Musa berdoa: "Ya Tuhanku aku sangat memerlukan belas kasihmu dan memerlukan kebaikan sedikit brg makanan yang Engkau turunkan kepadaku." Berkatalah gadis itu kepada Musa memotong lamunannya: "Ayahku mengharapkan kedatanganmu ke rumah untuk berkenalan dengan engkau serta memberi engkau sekadar upah atas jasamu menolong kami mendapatkan air bagi kami dan ternakan kami." Musa sebagai perantau yang masih asing di negeri itu, tiada mengenal dan dikenali orang tanpa berfikir panjang menerima undangan gadis itu dengan senang hati.

Ia lalu mengikuti gadis itu dari belakang menuju ke rumah ayahnya yang bersedia menerimanya dengan penuh ramah-tamah, hormat dan mengucapkan terimakasihnya. Dalam berbincang-bincang dab bercakap-cakap dengan Syu'aib ayah kedua gadis yang sudah lanjut usianya itu Musa mengisahkan kepadanya peristiwa yang terjadi pd dirinya di Mesri sehingga terpaksa ia melarikan diri dan keluar meninggalkan tanah airnya bagi mengelakkan hukuman penyembelihan yang telah direncanakan oleh kaum Fir'aun terhadap dirinya.

Berkata Syu'aib setelah mendengar kisah tamunya: "Engkau telah lepas dari pengejaran dari orang-orang yang zalim dan ganas itu adalah berkat rahmat Tuhan dan pertolongan-Nya. Dan engkau sudah berada di sebuah tempat yang aman di rumah kami ini, di man engkau akan tinggallah dengan tenang dan tenteram selama engkau suka." Dalam pergaulan sehari-hari selama ia tinggal di rumah Syu'aib sebagai tamu yang dihormati dan disegani Musa telah dapat menawan hati keluarga tuan rumah yang merasa kagum akan keberaniannya, kecerdasannya, kekuatan jasmaninya, perilakunya yang lemah lembut, budi perkertinya yang halus serta akhlaknya yang luhur.

Hal mana telah menimbulkan idea di dalam hati salah seorang dari kedua puteri Syu'aib untuk mempekerjakan Musa sebagai pembantu mereka. Berkatalah gadis itu kepada ayahnya: "wahai ayah! Ajaklah Musa sebagai pembantu kami menguruskan urusan rumahtangga dan penternakan kami. Ia adalah seorang yang kuat badannya, luhur budi perkertinya, baik hatinya dan boleh dipercayai." Saranan gadis itu disepakati dan diterima baik oleh ayahnya yang memang sudah menjadi pemikirannya sejak Musa tinggal bersamanya di rumah, menunjukkan sikap bergaul yang manis perilaku yang hormat dab sopan serta tangan yang ringan suka bekerja, suka menolong tanpa diminta.

Diajaklah Musa berunding oleh Syu'aib dan berkatalah kepadanya: "Wahai Musa! Tertarik oleh sikapmu yang manis dan cara pergaulanmu yang sopan serta akhlak dan budi perkertimu yang luhur, selama engkau berada di rumah ini kami dan mengingat akan usiaku yang makin hari makin lanjut, maka aku ingin sekali mengambilmu sebagai menantu, mengahwinkan engkau dengan salah seorang dari kedua gadisku ini. Jika engkau dengan senang hati menerima tawaranku ini, maka sebagai maskahwinnya, aku minta engkau bekerja sebagai pembantu kami selama lapan tahun menguruskan penternakan kami dan soal-soal rumahtangga yang memerlukan tenagamu.

Dan aku sangat berterima kasih kepada mu bila engkau secara suka rela mahu menambah dua tahun di atas lapan tahun yang menjadi syarat mutlak itu." Nabi Musa sebagai buruan yang lari dari tanah tumpah darahnya dan berada di negeri orang sebagai riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu, tada sanak saudara, tiada sahabat telah menerima tawaran Syu'aib iut sebagai kurniaan dari Tuhan yang akan mengisi kekosongan hidupnya selaku seorang bujang yang memerlukan teman hidup untuk menyekutunya menanggung beban penghidupan dengan segala duka dan dukanya.

Ia segera tanpa berfikir panjang berkata kepada Syu'aib: "Aku merasa sgt bahagia, bahwa pakcik berkenan menerimaku sebagai menantu, semuga aku tidak menghampakan harapan pakcik yang telah berjasa kepada diriku sebagai tamu yang diterima dengan penuh hormat dan ramah tamah, kemudian dijadikannya sebagai menantu, suami kepada anak puterinya. Syarat kerja yang pakcik kemukakan sebagai maskahwin, aku setujui dengan penuh tanggungjawab dab dengan senang hati." Setelah masa lapan tahun bekerja sebagai pembantu Syu'aib ditambah dengan suka rela dilampaui oleh Musa, dikahwinkanlah ia dengan puterinya yang bernama Shafura.

Dan sebagai hadiah perkahwinan diberinyalah pasangan penganti baru itu oleh Syu'aib beberapa ekor kambing untuk dijadikan modal pertama bagi hidupnya yang baru sebagai suami-isteri. Pemberian beberpa ekor kambing itu juga merupakan tanda terimaksih Syu'aib kepada Musa yang selama ini di bawah pengurusannya, penternakan Syu'aib menjadi berkembang biak dengan cepatnya dan memberi hasil serta keuntungan yang berlipat ganda.

Bacalah tentang isi cerita yang terurai ini di dalam ayat 22 sampai ayat 28, surah "Al-Qashash" juz 20 yang berbunyi sebagai berikut :~ "22.~ Dan tatkala ia menghadap ke negeri Madyan, ia berdoa {lagi}: "Mudah-mudahan Tuhanku menimpaiku ke jalan yang benar."23.~ Dan tatkala ia sampai di sumber air di negeri Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum {ternakannya} dan ia menjumpai di belakang orang ramai itu, dua orang riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu yang sedang menghambat ternakannya.

Musa berkata: "Apakah maksudmu {dengan berbuat begitu}?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan {ternakan kami} sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan {ternakkannya} sedang bapa kami orang tua yang telah lanjut umurnya."24.~ Maka Musa memberi minum ternakan itu {utk menolong} keduanya, kemudian kembali ke tempat yang teduh, lalu berdoa: " Ya Tuhanku!

Sesungguhnya aku memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku."25.~ Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang daripada kedua wanita itu dengan malu-malu ia berkata: "Sesungguhnya bapaku memanggilmu agar ia memberi pembalasan {kebaikanmu} memberi minum {ternakan} kami." Maka tatkala Musa mendatangi bapanya {Syu'aib} dan menceritakan kepadanya cerita {mengenai dirinya}. Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut, kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu."26.~ Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapaku, ambil ia sebagai orang yang bekerja {dengan kita}.

karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja {dengan kita} ialah orang yang kuat lagi dpt dipercayai."27.~ Berkatalah dia {Syu'aib}: " Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku lapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun itu adalah dari kemahuanmu, maka aku tidak mahu memberati kamu. Dan kamu insya-Allah kelak akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik."28.~ Dia berkata: "Itulah {perjanjian} antara aku dan kamu, mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku {lagi}.

Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan." { Al-Qashash : 22 ~ 28 } Sepuluh tahun lebih Musa meninggalkan Mesir tanah airnya, sejak ia melarikan diri dari buruan kaum Fir'aun.

Suatu waktu yang cukup lama bagi seseorang dpt bertahan menyimpan rasa rindunya kepada tanah air, tempat tumpah darahnyawalaupun ia tidak pernah merasakan kebahagiaan hidup di dalam tanah airnya sendiri. Apa lagi seorang seperti Musa yang mempunyai kenang-kenangan hidup yang seronok dan indah selama ia berada di tanah airnya sendiri selaku seorang dari keluarga kerajaan yang megah dan mewah, maka wajarlah bila ia merindukan Mesir tanah tumpah darahnya dan ingin pulang kembali setelah ia beristerikan Shafura, puteri Syu'aib.

Bergegas-gegaslah Musa berserta isterinya mengemaskan barang dan menyediakan kenderaan lalu meminta diri dari orang tuanya dan bertolaklah menuju ke selatan menghindari jalan umum supaya tidak diketahui oleh orang-orang Fir'aun yang masih mencarinya.

Setibanya di "Thur Sina" tersesatlah Musa kehilangan pedoman dan bingung manakah yang harus ia tempuh. Dalam keadaan demikian terlihatlah oleh dia sinar api yang nyala-nyala di atas lereng sebuah bukit.

Riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu berhenti lalu lari ke jurusan api itu seraya berkata kepada isterinya: "Tinggallah kamu disini menantiku.

Aku pergi melihat api yang menyala di atas bukit itu dan segera aku kembali. Mudah-mudahan aku dapat membawa satu berita kepadamu dari tempat api itu atau setidak-tidaknya membawa sesuluh api bagi menghangatkan badanmu yang sedang menggigil kesejukan." Tatkala Musa sampai ke tempat api itu terdengar oleh dia suara seruan kepadanya datang dari sebatang pohon kayu di pinggir lembah yang sebelah kanannya pada tempat yang diberkahi Allah.

Suara seruan yang didengar oleh Musa itu ialah: "Wahai Musa! Aku ini adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci Thuwa. Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu.

Sesungguhnya aku ini adalah Allah tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah solat untuk mengingat akan Aku." Itulah wahyu yang pertama yang diterima langsung oleh Nabi Musa sebagai tanda kenabiannya, di mana ia telah dinyatakan oleh Allah sebagai rasul dan nabi-Nya yang dipilih Nabi Musa dalam kesempatan bercakap langsung dengan allah di atas bukit Thur Sina itu telah diberi bekal oleh Allah yang Maha Kuasa dua jenis mukjizat sebagai persiapan untuk menghadap kaum Fir'aun yang sombong dan zalim itu.

Bertanyalah Allah kepada Musa: "Apakah itu yang engkau pegang dengan tangan kananmu hai Musa!" Suatu pertanyaan yang mengadungi erti yang lebih dalam dari apa yang sepintas lalu dapat ditangkap oleh Nabi Musa dengan jawapannya yang sederhana. "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan pdnya dan aku pukul daun dengannya untuk makanan kambingku. Selain itu aku dapat pula menggunakan tongkatku untuk keperluan-keperluan lain yang penting bagiku." Maksud dan erti dari pertanyaan Allah yang nampak sederhana itu baru dimegertikan dan diselami oleh Musa setelah Allah memerintahkan kepadanya agar meletakkan tongkat itu di atas tanah, lalu menjelmalah menjadi seekor ular besar yang merayap dengan cepat sehingga menjadikan Musa lari ketakutan.

Allah berseru kepadanya: "Peganglah ular itu dan jangan takut. Kami akan mengembalikannya kepada keadaan asal." Maka begitu ular yang sedang merayap itu ditangkap dan dipegang oleh Musa, ia segera kembali menjadi tongkat yang ia terima dari Syu'aib, mertuanya ketika ia bertolak dari Madyan.

Sebagai mukjizat yang kedua, Allah memerintahkan kepada Musa agar mengepitkan tangannya ke ketiaknya yang nyata setelah dilakukannya perintah itu, tangannya menjadi putih cemerlang tanpa cacat atau penyakit. Bacalah tentang isi cerita di atas dalam surah "Thaahaa" ayat 9 sehingga 23 juz 16 sebagai berikut :~ "9.~ Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?

10.~ Ketika itu melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: "Tinggallah kamu {di sini} sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu." 11.~ Mak ketika ia datang ke tempat api itu, ia dipanggil: "Hai Musa, 12.~ Sesungguhnya Aku ini adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci Thuwa.

13.~ Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan {kepadamu}. 14.~ Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah solat untuk mengingati Aku. 15.~ Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahsiakan {waktunya} agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang diusahakannya.

16.~ Maka sesekali janagnlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu menjadi binasa." 17.~ Apakah itu yang ditangan kananmu, hai Musa?" 18.~ Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya dan aku memukul {daun} dengannya untuk kambingku dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya." 19.~ Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" 20.~ Lalu dilemparkanlah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.

21.~ Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut. Kami akan mengembalikannya kepada keadaan asalnya." 22.~ Dan kepitkanlah tanganmu di ketiakmu, nescaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain {pula}.

23.~ untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar." {Thaahaa : 9 ~ 23 } Raja Fir'aun yang telah berkuasa di Mesir telah lama menjalankan pemerintahan yang zalim, kejam dan ganas. Rakyatnya yang terdiri dari bangsa Egypt yang merupakan penduduk peribumi dan bangsa Isra'il yang merupakan golongan pendatang, hidup dalam suasana penindasan, tidak merasa aman bagi nyawa dan harta bendanya.

Tindakan sewenang-wenang dan pihak penguasa pemerintahan terutamanya ditujukan kepada Bani Isra'il yang tidak diberinya kesempatan hidup tenang dan tenteram. Mereka dikenakan kerja paksa dan diharuskan membayar berbagai pungutan yang tidak dikenakan terhadap penduduk bangsa Egypt, bangsa Fir'aun sendiri.

Selain kezaliman, kekejaman, penindasan dan pemerasan yang ditimpakan oleh Fir'aun atas rakyatnya, terutama kaum Bani Isra'il. ia menyatakan dirinya sebagai tuhan yang harus disembah dan dipuja. Dan dengan demikian ia makin jauh membawa rakyatnya ke jalan yang sesat tanpa pendoman tauhid dan iman, sehingga makin dalamlah mereka terjerumus ke lembah kemaksiatan dan kerusakan moral dan akhlak.

Maka dalam kesempatan bercakap-cakap langsung di bukit Thur Sina itu diperintahkanlah Musa oleh Allah untuk pergi ke Fir'aun sebagai Rasul-Nya, mengajakkan beriman kepada Allah, menyedarkan dirinya bahwa ia adalah makhluk Allah sebagaimana lain-lain rakyatnya, yang tidak sepatutnya menuntut orang menyembahnya sebagi tuhan dan bahawa Tuhan yang wajib disembah olehnya dan oleh semua manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan alam semesta ini.

Nabi Musa dalam perjalanannya menuju kota Mesir setelah meninggalkan Madyan, selalu dibayang oleh ketakutan kalau-kalua peristiwa pembunuhan yang telah dilakukan sepuluh tahun yang lalu itu, belum terlupakan dan masih belum hilang dari ingatan para pembesar kerajaan Fir'aun.

Ia tidak mengabaikan kemungkinan bahwa mrk akan melakukan pembalasan terhadap perbuatan yang ia tidak sengaja itu dengan hukuman pembunuhan atas dirinya bila ia sudah berada di tengah-tengah mereka. Ia hanya terdorong rasa rindunya yang sangat kepada tanah tumpah darahnya dengan memberanikan diri kembali ke Mesir tanpa memperdulikan akibat yang mungkin akan dihadapi.

Jika pada waktu bertolak dari Madyan dan selama perjalannya ke Thur Sina. Nabi Musa dibayangi dengan rasa takut akan pembalasan Fir'aun, Maka dengan perintah Allah yang berfirman maksudnya :~ "Pergilah engkau ke Fir'aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas, segala bayangan itu dilempar jauh-jauh dari fikirannya dan bertekad akan melaksanakan perintah Allah menghadapi Fir'aun apa pun akan terjadi pada dirinya.

Hanya untuk menenterankan hatinya berucaplah Musa kepada Allah: "Aku telah membunuh seorang drp merekamaka aku khuatir mereka akan membalas membunuhku, berikanlah seorang pembantu dari keluargaku sendiri, yaitu saudaraku Harun untuk menyertaiku dalam melakukan tugasku meneguhkan hatiku dan menguatkan tekadku menghadapi orang-orang kafir itu apalagi Harun saudaraku itu lebih petah {lancar} lidahnya dan lebih cekap daripada diriku untuk berdebat dan bermujadalah." Allah berkenan mengabulkan permohonan Musa, maka digerakkanlah hati Harun yang ketika itu masih berada di Mesir untuk pergi menemui Musa mendampinginya dan bersama-sama pergilah mereka ke istana Fir'aun dengan diiringi firman Allah: "Janganlah kamu berdua takut dan khuatir akan disiksa oleh Fir'aun.

Aku menyertai kamu berdua dan Aku mendengar serta melihat dan mengetaui apa yang akan terjadi antara kamu dan Fir'aun.

Berdakwahlah kamu kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut sedarkanlah ia dengan kesesatannya dan ajaklah ia beriman dan bertauhid, meninggalkan kezalimannya dan kecongkakannya kalau-kalau dengan sikap yang lemah lembut daripada kamu berdua ia akan ingat pada kesesatan dirinya dan takut akan akibat kesombongan dan kebonmgkakannya." Bacalah tentang isi cerita di atas di dalam ayat 33 sehingga ayat 35 surah "Al-Qashash" dan ayat 42 sehingga ayat 47 surah "Thaha" sebagai berikut :~ "33.~ Musa berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh seseorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku, 34.~ dan saudaraku Harun dia lebih petah lidahnya drpku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantu untuk membenarkan {perkataan} ku sesungguhnya aku khuatir mereka akan mendustakan aku." 35.~ Allah berfirman: "Kami akan membantumu dengan saudaramu dan Kami berikan kepadamu kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu {berangkat kami berdua} dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang akan menang." { Al-Qashash : 33 ~ 35 } "42.~ Pergilah kamu berserta saudara kamu dengan membawa ayat-ayat-Ku dan janganlah kamu berdua lalai dalam memngingat-Ku.

43.~ Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melewati batas. 44.~ maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia akan ingat atau takut" 45.~ Berkatalah mereka berdua: "Ya Tuhan kami sesungguhnya kami khuatir bahwa ia segera menyeksa kami atau akan bertambah melewati batas 46.~ allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khuatir, sesungguhnya Aku berserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat".

47.~ Maka datanglah kamu berdua kepadanya {Fir'aun} dan katakanlah: "Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Isra'il bersama kami dan janganlah kamu menyeksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti {atas kerasulan kami} dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk." { Thaha : 42 ~ 47 } Diperolehi kesempatan oleh Musa dan Harun, menemui raja Fir'aun yang menyatakan dirinya sebagai tuhan itu, setelah menempuh beberapa rintangan yang lazim dilampaui oleh orang yang ingin bertemu dengan raja pd waktu itu.

Pertemuan Musa dan Harun dengan Fir'aun dihadiri pula oleh beberapa anggota pemerintahan dan para penasihatnya. Bertanya Fir'aun kepada mereka berdua:: "Siapakah kamu berdua ini?" Musa menjawab: "Kami, Musa dan Harun adalah pesuruh Allah kepadamu agar engkau membebaskan Bani Isra'il dari perhambaan dan penindasanmu dan menyerahkan meeka kepada kami agar menyebah kepada Allah dengan leluasa dan menghindari seksaanmu." Fir'aun yang segera mengenal Musa berkata kepadanya: "Bukankah engkau adalah Musa yang telah kami mengasuhmu sejak masa bayimu dan tinggal bersama kami dalam istana sampai mencapai usia remajamu, mendapat pendidikan dan pengajaran yang menjadikan engkau pandai?

Dan bukankah engkau yang melakukan pembunuhan terhadap diriseorang drp golongan kami? Sudahkah engkau lupa itu semuanya dan tidak ingat akan kebaikan dan jasa kami kepada kamu?" Musa menjawab: "Bahwasanya engkau telah memeliharakan aku sejak masa bayiku, itu bukanlah suatu jasa yang dapat engkau banggakan.

Karena jatuhnya aku ke dalam tangan mu adalah akibat kekejaman dan kezalimanmu tatkala engkau memerintah agar orang-orangmu menyembelih setiap bayi-bayi laki yang lahir, sehingga ibu terpaksa membiarkan aku terapung di permukaan sungai Nil di dalamsebuah peti yang kemudian dipungut oleh isterimu dan selamatlah aku dari penyembelihan yang engkau perintahkan.

Sedang mengenai pembunuhan yang telah aku lakukan itu adalah akibat godaan syaitan yang menyesatkan, namun peristiwa itu akhirnya merupakan suatu rahmat dan barakah yang terselubung bagiku.

Sebab dalam perantauanku setelah aku melarikan diri dari negerimu, Allah mengurniakan aku dengan hikmah dan ilmu serta mengutuskan aku sebagai Rasul dan pesuruh-Nya. Maka dalam rangka tugasku sebagai Rasul datanglah aku kepadamu atas perintah Allah untuk mengajak engkau dan kaummu menyembah Allah dan meninggalkan kezaliman dan penindasanmu terhadap Bani Isra'il." Fir'aun bertanya: "Siapakah Tuhan yang engkau sebut-sebut itu, hai Musa? Adakah tuhan di atas bumi ini selain aku yang patut di sembah dan dipuja?" Musa menjawab: "Ya, yaitu Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu serta Tuhan seru sekalian alam." Tanya Fir'aun: "Siapakah Tuhan seru sekali alam itu?" Musa menjawab: "Ialah Tuhan langit dan bumi dan segala apa yang ada antara langit dan bumi." Berkata Fir'aun kepada para penasihatnya dan pembesar-pembesar kerajaan yang berada disekitarnya.

Sesungguhnya Rasul yang diutuskan kepada kamu ini adalah seorang yang gila kemudia ia balik bertanya kepada Musa dan Harun: "Siapakah Tuhan kamu berdua?" Musa menjawab: "Tuhan kami ialah Tuhan yang telah memberikan kepada tiap-tiap makhluk sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberi petunjuk kepadanya." Fir'aun bertanya: "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu yang tidak mempercayai apa yang engkau ajarkan ini dan malahan menyembah berhala dan patung-patung?" Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku.

Jika Dia telah menurunkan azab dan seksanya di atas mereka maka itu adalah karena kecongkakan dan kesombongan serta keengganan mereka kembali ke jalan yang benar. Jika Dia menunda azab dan seksa mereka hingga hari kiamat, maka itu adalah kehendak-Nya yang hikmahnya kami belum mengetahuinya. Allah telah mewahyukan kepada kami bahwa azab dan seksanya adalah jalan yang benar." Rif'aun yang sudah tidak berdaya menolak dalil-dalil Nabi Musa yang diucapkan secara tegas dan berani merasa tersinggung kehormatannya sebagai raja yang telah mempertuhankan dirinya lalu menujukan amarahnya dan berkata kepada Musa secara mengancam: "Hai Musa!

jika engkau mengakui tuhan selain aku, maka pasti engkau akan kumasukkan ke dalam penjara." Musa menjawab: "Apakah engkau akan memenjarakan aku walaupun aku dapat memberikan kepadamu tanda-tanda yang membuktikan kebenaran dakwahku?" Fir'aun menentang dengan berkata: "Datanglah tanda-tanda dan bukti-bukti yang nyata yang dapat membuktikan kebenaran kata-katamu jika engkau benar-benar tiak berdusta." Dialog {mujadalah} antara Musa dan Fir'aun sebagaimana dihuraikan di atas dpt dibaca dalam surah "Asy-Syu'ara" ayat 18 hingga ayat 31 juz 19 sebagimana berikut :~ "18.~ Fir'aun berkata: "Bukankah kami telah mengasuhmu diantara {keluarga} kami diwaktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal diantara {keluarga} kami beberapa tahun dari umurmu.

19.~ dan kamu telah berbuat sesuatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas jasa." 20.~ Berkata Musa: "Aku telah melakukannya sedang aku diwaktu itu termasuk orang-orang yang khilaf.

21.~ Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepada kamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikan aku salah seorang diantara rasul-rasul.

22.~ Budi yang kamu limpahkan kepada ku ini adalah {disebabkan} perhambaan darimu terhadap Bani Isra'il." 23.~ Fir'aun bertanya: "Apa Tuhan semesta alam itu?"24.~ Musa menjawab: "Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang diantara keduanya {itulah Tuhanmu} jika kamu sekalian {orang-orang} mempercayainya". 25.~ Berkata Fir'aun kepada orang-orang sekelilingnya: "Apakah kamu tidak mendengarkan?". 26.~ Musa berkata: "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu" 27.~ Fir'aun berkata: "Sesungguhnya Rasulmu yang diutuskan kepada kamu sekalian benar-benar orang gila".

28.~ Musa berkata: "Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya {itulah Tuhanmu} jika kamu mempergunakan akal". 29.~ Fir'aun berkata: "Sungguh jika kamu menyenbah Tuhan selain aku benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan".

30.~ Musa berkata: "Dan apakah kamu {akan melakukan itu} walaupun aku tunjukkan kepadamu sesuatu {keterangan} yang nyata jika kamu adlah termasuk orang-orang yang benar." { Asy-Syura : 18 ~ 31 } Menjawab tentangan Fir'aun yang menuntut bukti atas kebenarannya Musa dengan serta-merta meletakkan tongkat mukjizatnya di atas yang segera menjelma menjadi seekor ular besar yang melata menghala ke Fir'aun.

Karena ketakutan melompat lari dari singgahsananya melarikan diri seraya berseru kepada Musa: " Hai Musa demi asuhanku kepadamu selama delapan belas tahun panggillah kembali ularmu itu." Kemudian dipeganglah ular itu oleh Musa dan kembali menjadi tongkat biasa.

Berkata Fir'aun kepada Musa setelah hilang dari rasa heran dan takutnya: "Adakah bukti yang dapat engkau tunjukkan kepadaku?" "Ya, lihatlah." Musa menjawab serta memasukkan tangannya ke dalam saku bajunya.

Kemudian tatkala tangannya dikeluarkan dari sakunya, bersinarlah tangan Musa itu menyilaukan mata Fir'aun itu dan orang-orang yang sedang berada disekelilingnya.

Fir'aun sebagai raja yang menyatakan dirinya sebagai tuhan tentu tidak akan mudah begitu saja menyerah kepada Musa bekas anak pungutnya walaupun kepadanya telah diperlihatkan dun mukjizat.

Ia bahkan berkata kepada kaumnya yang ia khuatir akan terpengaruh oleh kedua mukjizat Musa itu bahwa itu semuanya adalah perbuatan sihir dan bahwa Musa dan Harun adalah ahli riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu yang mahir yang datang dengan maksud menguasai Mesir dan para penduduknya akan kekuatan dengan sihirnya itu.

Fir'aun dianjurkan oleh penasihatnya yang dikepalai oleh Haman agar mematahkan sihir Musa dan Harun itu dengan mengumpulkan ahli-ahli sihir yang terkenal dari seluruh daerah kerajaan untuk bertanding melawan Musa dan Harun.

Anjuran mana disetujui oleh Fir'aun yang merasa itu adalah fikiran yang tepat dan jalan yang terbaik untuk melumpuhkan kedua mukjizat Allah yang oleh mereka dianggapnya sebagai sihir. Anjuran itu lalu ditawarkan kepada Musa yang seketika tanpa ragu-ragu sedikit pun menerima tentangan Fir'aun untuk beradu dan bertanding melawan ahli-ahli sihir. Musa berkeyakinan penuh bahwa dengan perlindung Allah ia akan keluar sebagai pemenang dalam pertarungan itu, pertandingan antara perbuatan sihir yang diilham oleh syaitan melawan mukjizat yang dikurniakan oleh Allah.

Pada suatu hari raya kerajaan telah bersetuju untuk mengadakan hari pertandingan sihir maka berduyun-duyunlah penduduk kota menuju ke tempat yang telah ditentukan untuk menyaksikan perlumbaan kepandaian menyihir yang buat pertama kalinya diadakan di kota Mesir. Juga sudah berada di tempat ahli-ahli sihhir yang terpandai yang telah dikumpulkan dari seluruh wilayah kerajaan masing-masing membawa tongkattali dan lain-lain alat sihirnya. Mrk cukup bersemangat dan akan berusaha sepenuh kepandaian mrk untuk memenangi pertandingan.

Mrk telah memperolhi janji dari Fir'aun akan diberi hadiah dan wang dalam jumlah yang besar bila berhasil mengalahkan Musa dengan mematahkan daya sihirnya. Setelah segala sesuatu selesai disiapkan dan masing-masing pembesar negeri sudah mengambil tempatnya mengelilingi raja Fir'aun yang telah duduk di atas kursi singgahsananya maka dinyatakanlah pertandingan dimulai. Kemudian atas persetujuan Musa dipersilakan para lawannya beraksi lebih dahulu mempertujukan kepandai sihirnya. Segeralah ahli-ahli sihir Fir'aun menujukan aksinya melemparkan tongkat dan tali-temali mrk ke tengah-tengah lapangan.

Musa merasa takut ketika terbayang kepadanya bahwa tongkat-tongkat dan tali-tali itu seakan-akan ular-ular yang merayap cepat. Namun Allah tidak mebiarkan hamba utusan-Nya berkecil hati menghadapi tipu-daya orang-orang kafir itu.

Allah berfirman kepada Musa disaat ia merasa cemas itu: "Janganlah engkau merasa takut dan cemas hai Musa! engkau adalah yang lebih unggul dan akan menang dalam pertandingan ini.

Lemparkanlah yang ada ditanganmu segera." Para ahli-ahli sihir yang pandai dalam bidangnya itu tercengang ketika melihat ular besar yang menjelma dari tongkat Nabi Musa dan menelan ular-ular dan segala apa yang terbayangsebagai hasil tipu sihir mrk. Mrk segera menyerah kalah bertunduk dan bersujud {kepada Allah} dihadapan Musa seraya berkata: "Itu bukanlah perbuatan sihir yang kami kenal yang diilhamkan oleh syaitan tetapi sesuatu yang digerakkan oleh kekuatan ghaib yang mengatakan kebenaran kata-kata Musa dan Harun maka tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mempercayai risalah mereka dn beriman kepada Tuhan mereka sesudah apa yang kami lihat dan saksikan dengan mata kepala kami sendiri." Fir'aun raja yang congkak dan sombong yang menuntut persembahan dari rakyatnya sebagai tuhan segera membelalakkan matanya tanda marah dan jengkel melihat ahli-ahli sihirnya begitu cepat menyerah kalah kepada Musa bahkan menyatakan beriman kepada Tuhannya dan kepada kenabiannya serta menjadi pengikut-pengikutnya.

Tindakan mereka itu dianggapnya sebagai pelanggaran terhadap kekuasaannya, penentangan terhadap ketuhanannya dan merupakan suatu tamparan bagi kewibawaan serta prestasinya. Ia berkata kepada mrk: "Adakah kamu berani beriman kepada Musa dan menyerah kepada keputusannya sebelum aku izinkan kepada kamu?" Bukankah ini suatu persekongkolan drp kamu terhadapku? Musa dpt mengalah kamu sebab ia mungkin guru dan pembesar yang telah mengajarkan seni sihir kepadamu dan kamu telah mengatur bersama-samanya tindakan yang kamu sandiwarakan di depanku hari ini.

Aku tidak akan tinggal diam menghadapi tindakan khianatmu ini. Akanku potong tangan-tangan dan kaki-kakimu serta akanku salibkan kamu semua pada pangkal pohon kurma sebagai hukuman dan balasan bagi tindakan khianatmu ini." Ancaman Fir'aun itu disambut mrk dengan sikap dingin dan acuh tak acuh. Karena Allah telah membuka mata hati mereka dengan cahaya iman sehingga tidak akan terpengaruh dengan kata-kata kebathilan yang menyesatkan atau ancaman Fir'aun yang menakutkan.

Mrk sebagai-orang-orang yang ahli dalam ilmu dan seni sihir dpt membedakan yang mana satu sihir dan yang mana bukan. Maka sekali mrk diyakinkan dengan mukjizat Nabi Musa yang membuktikan kebenaran kenabiannya tidaklah keyakinan itu akan dpt digoyahkan oleh ancaman apa pun.

Berkata mereka kepada Fir'aun menanggapi ancamannya: "Kami telah memdpat bukti-bukti yang nyata dan kami tidak akan mengabaikan kenyataan itu sekadar memenuhi kehendak dan keinginanmu. Kami akan berjalan terus megikut jejak dan tuntutan Musa dan Harun sebagai pesuruh oleh yang benar.

Maka terserah kepadamu untuk memutuskan apa yang engkau hendak putuskan terhadap diri kami. Keputusan kamu hanya berlaku di dunia ini sedang kami mengharapkan pahala Allah di akhirat yang kekal dan abadi." Bacalah tentang isi cerita di atas dalam surah "Asy-Syu'ara" ayat 32 sehingga ayat 51 juz 19 sebagai berikut :~ "32~ Maka Musa melemparkan tongkatnya, lalu tiba-tiba tongkat itu {menjadi ular}.

33~ Dan ia menarik tangannya {dr dalam saku bajunya} maka tiba-tiba tangan itu menjadi putih {bersinar} bagi orang-orang yang melihatnya. 34~ Fir'aun berkata pembesar-pembesar yang berada di sekelilingnya: "Sesungguhnya Musa itu benar-benar seorang ahli sihir yang pandai, 35~ ia hendak mengusir kamu dari negeri kamu sendiri dengan sihirnya maka karena itu apakah yang kamu anjurkan?" 36~ Mrk menjawab: "Tundalah {urusan} dia dan saudaranya dan kirimlah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan {ahli sihir}, 37~ nescaya mereka akan mendatangkan semua ahli sihir yang pandai kepadamu".

38~ Lalu dikumpulkanlah ahli-ahli sihir pada waktu yang ditetapkan di hari yang maklum, 39~ dan dikatakan kepada orang ramai: "Berkumpullah kamu sekalian, 40~ semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir, jika mereka adalah orang-orang yang menang".

41~ Maka tatkala ahli-ahli sihir dtgmrk pun bertanya kepada Fir'aun: "Apakah kami sungguh-sungguh mendpt upah yang besar jika kami adalah orang-orang yang menang?" 42~ Fir'aun menjawab: "Ya, kalu demikian, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan {kepadaku}". 43~ Berkatalah Musa kepada mrk: "Jatuhkalah apa yang kamu hendak jatuhkan". 44~ Lalu mrk menjatuhkan tali-temali dan tongkat-tongkat mereka lalu berkata: " Demi kekuasaan Fir'aun, sesungguhnya kami akan benar-benar akan menang".

45~ kemudian Musa menjatuhkan tongkatnya, maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu itu. 46~ Maka tersungkurlah ahli-ahli sihir sambil bersujud {kepada Allah}, 47~ mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam48~ yaitu Tuhan Musa dan Harun". 49~ Fir'aun berkata: "Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelumaku memberi izin kepadamu?

Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajar sihir kepadamu, maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui {akibat perbuatanmu}, sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya".

50~ Mereka berkata: "Tidak ada kemudharatan {kepada kami}, sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, 51~ sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama sekali beriman." {Asy-Syu'ara : 32 ~ 51 } Nabi Musa yang telah mengalahkan ahli-ahli sihir dengan kedua mukjizatnya makin meluas pengaruhnya, sedan Fir'aun dengan kekalahan ahli sihirnya merasa kewibawaannya merosot dan kehormatannya menurun.

ia khuatir jika gerakan Musa tidak segera dipatahkan akan mengancam keselamatan kerajaannya serta kekekalan mahkotanya. Para penasihat dan pembantu-pembantu terdekatnya tidak berusaha menghilangkan rasa kecemasan dan kekhuatirannya, tetapi mereka sebaliknya makin membakar dadanya dan makin menakutu-nakutinya.

Mrk berkata kepadanya: "Apakah engkau akan terus membiarkan Musa dan kaumnya bergerak secara bebas dan meracuni rakyat dengan amcam-macam kepercayaan dan ajaran-ajaran yang menyimpang dari apa yang telah kita warisi dari nenek-moyang kita?

Tidakkah engkau sedar bahwa rakyat kita makin lama makin terpengaruh oleh hasutan-hasutan Musa. sehingga lama-kelamaan nescaya kita dan tuhan-tuhan kita akan ditinggalkan oleh rakyat kita dan pada akhirnya akan hancur binasalah negara dan kerajaanmu yang megah ini." Fir'aun menjawab: "Apa yang kamu huraikan itu sudah menjadi perhatiku sejak dikalahkannya ahli-ahli sihir kita oleh Musa.

Dan memang kalau kita membiarkan Musa terus melebarkan sayapnya dan meluaskan pengaruhnya di kalangan pengikut-pengikutnya yang makin lama makin bertambah jumlahnya, pasti pada akhirnya akan merusakkan adab hidup masyarakat negara kita serta membawa kehancuran dan kebinasaan bagi kerajaan kita yang megah ini. karenanya aku telah merancang akan bertindak terhadap Bani Isra'il dengan membunuh setiap orang lelaki dan hanya wanita sahaja akanku biarkan hidup." Rancangan jahat fir'aun diterapkan oleh pegawai dan kaki tangan kerajaannya.

Aneka ragam gangguan dan macam-macam tindakan kejam ditimpakan atas Bani Isra'il yang memang menurut anggapan masyarakat, mereka itu adalah rakyat kelas kambing dalam kerajaan Fir'aun yang zalim itu. Dengan makin meningkatnya kezaliman dan penindasan yang mereka terima dari alat-alat kerajaan Fir'aun, datanglah Bani Isra'il kepada Nabi Musa, mengharapkan pertolongan dan perlindungannya. Nabi Musa tidak dpt berbuat byk pada masa itu bagi Bani Isra'il yang tertindas dan teraniaya.

Ia hanya menenteramkan hati mereka, bahwa akan tiba saatnya kelak,di mana mrk akan dibebaskan oleh Allah dari segala penderitaan yang mrk alami. Dianjurkan oleh Nabi Musa agar mereka bersabar dan bertawakkal seraya memohon kepada Allah agar Allah memberikan pertolongan dan perlindungan-Nya karena Allah telah menjanjikan akan mewariskan bumi-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang soleh, sabar dan bertakwa!

Fir'aun bertujuan melemahkan kedudukan Nabi Musa dengan tindakan kejamnya terhadap Bani Isra'il yang merupakan kaumnya, bahkan tulang belakang Nabi Nusa. Akan tetapi gerak dakwah Nabi Musa tidak sedikit pun terhambat oleh tindakan Fir'aun itu. Demikian pula tidak seorang pun drp pengikut-pengikutnya yang terpengaruh dengan tindakan Fir'aun itu. Sehingga tidak menjadi luntur iman dan keyakinan mrk riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu sudah bulat terhadap risalah Musa.

Karena sasaran yang dituju dengan tindakan kekejaman yang tidak berperikamanusiaan itu tidak tercapai dan tidak dpt menerima dakwah Nabi Musa dan para pengikutnya, yang dilhatnya bahkan semakin bersemangat menyiarkan ajaran iman dan tauhid, maka Fir'aun tidak mempunyai pilihan selain harus menyingkirkan orang yang menjadi pengikutnya, yaitu dengan membunuh Nabi Musa.

Fir'aun memanggil para penasihat dan pembesar-pembesar kerajaannya untuk bermesyuarat dan merancang pembunuhan Musa. Di antara mereka yang di undang itu terdapat seorang mukmin dari Keluarga Fir'aun yang merahsiakan imannya. Di tengah-tengah perdebatan dan perundingan yang berlangsung dalam pertemuan yang diadakan oleh Fir'aun untuk membincangkan cara pembunuhan Nabi Musa itu, bangkitlah berdiri mukmin itu mengucapkan pembelaannya terhadap Nabi Musa dan nasihat serta tuntunan bagi mereka yang hadir.

Ia berkata: "Apakah kamu akan membunuh seseorang lelaki yang tidak berdosa, hanya berkata bahwa Allah adalah Tuhannya? Padahal ia menyatakan iman dan kepercayaannya itu kepada kamu bukan tanpa dalil dan hujjah. Ia telah mempertunjukkan kepada kamu bukti-bukti yang nyata untuk menyakinkan kamu akan kebenaran ajarannya. Jika andainya dia seorang pendusta, maka dia sendirilah yang akan menanggung dosa akibat dustanya. Namun jika ia adalah benar dalam kata-katanya, maka nescaya akan menimpa kepada kamu bencana azab yang telah dijanjikan olehnya.

Dan dalam keadaan yang demikian siapakah yang akan menolong kamu dari azab Allah yang telah dijanjikan itu?" Fir'aun memotong pidato orang mukmin itu dengan berkata: "Rancanganku harus terlaksana dan Musa harus dibunuh. Aku tidak mengemukan kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik dan aku tidak menunjukkan kepadamu melainkan jalan yang benar, jalan yang akan menyelamatkan kerajaan dan negara." Berucap orang mukmin dari keluarga Fir'aun itu melanjutkan: "Sesungguhnya aku khuatir, jika kamu tetap berkeras kepala dan enggan menempuh jalan yang benar yang dibawa oleh para nabi-nabi, bahwa kamu akan ditimpa azab dan seksa yang membinasakansebagaimana telah dialami oleh kaum Nuh, kaum Aad, kaum Tsamud dan umat-umat yang datang sesudah mereka.

Apa yang telah dialami oleh kaum-kaum itu adalah akibat kecongkakan dan kesombongan mereka karena Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya". Mukmin itu meneruskan nasihatnya:"Wahai kaumku! Sesungguhnya aku khuatir kamu akan menerima seksa dan azab Tuhan di hari qiamat kelak, di mana kamu akan berpaling kebelakang, tidak seorang pun akan dapat menyelamatkan kamu itu dari seksa Allah. Hai kaum ikutilah nasihatku, aku hanya ingin kebaikan bagimu dan mengajak kamu ke jalan yang benar.

Ketahuilah bahwa kehidupan riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu dunia ini hanya merupakan kesenangan sementara, sedangkan kesenangan dan kebahagiaan yang kekal adalah di akhirat kelak." Orang mukmin dari keluarga Fir'aun itu tidak dpt mengubah sikap Fir'aun dan pengikut-pemgikutnya, walaupun ia telah berusaha dengan menggunakan kecekapan berpidatonya dan susunan kata-katanya yang rapi, lengkap dengan contoh-contoh dari sejarah umat-umat yang terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah karena perbuatan dan pembangkangan mereka sendiri.

Fir'aun dan pengikut-pengikutnya bahkan menganjurkan kepada orang mukmin itu, agar meninggalkan sikapnya yang membela Musa dan menyetujui rancangan jahat mereka. Ia dinasihat untuk melepaskan pendiriannya yang pro Musa dan mengabungkan diri dalam barisan mereka menentang Musa dan segala ajarannya. Ia diancam dengan dikenakan tindakan kekerasan bila ia tidak mahu mengubah sikap pro kepada Musa secara suka rela.

Berkata orang mukmin itu menanggapi anjuran Fir'aun: "Wahai kaumku, sgt aneh sekali sikap dan pendirianmu, aku berseru kepada kamu untuk kebaikan dan keselamatanmu, kamu berseru kepadaku untuk berkufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang aku tidak ketahui, sedang aku berseru kepadamu untuk beriman kepada Allah, Tuhan YAng Maha Esa, Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun.

Sudah pasti dan tidak dapat diragukan lagi, bahwa apa yang kamu serukan kepadaku itu tidak akan menolongku dari murka dan seksa Allah di dunia mahupun di riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu. Dan sesungguhnya kamu sekalian akan kembali kepada Allah yang akan memberi pahala syurga bagi orang-orang yang soleh, bertakwa dan beriman, sedang orang-orang kafir yang telah melampaui batas akan diberi ganjaran dengan api neraka.

Hai kaumku perhatikanlah nasihat dan peringatanku ini. Kamu akan menyedari kebenaran kata-kataku ini kelak bila sudah tidak berguna lagi orang menyesal atau merasa susah karena perbuatan yang telah dilakukan. Aku hanya menyerahkan urusan ku dan nasibku kepada Allah. Dialah Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat perbuatan dan kelakuan hamba-hamba-Nya." Bacalah tentang isi cerita di atas dalam surah "Al-A'raaf" ayat 127 sehingga ayat 129 juz 9 dan surah "Al-Mukmin" ayat 28 sehingga ayat 33 dan ayat 38 sehingga ayat 45 juz 24 sebagai berikut :~ "127~ Berkata pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun {kepada Fir'aun}: "Apakah kamu akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakkan di negeri ini {Mesir} dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?" Fir'aun menjawab: "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh ke atas mereka".

128~ Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah sesungguhnya bumi {ini} kepunyaan Allah dipusakakannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesusahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa".

129~ Kaum Musa berkata: "Kami telah ditindas {oleh Fir'aun} sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu datang." Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuh-musuh kamu dan menjadikan kamu khalifah di bumi{-Nya} maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu." { Al-A'raaf : 127 ~ 129 } "28~ Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang mneyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan "Tuhanku ialah Allah" padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu.

Dan jika dia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung {dosa} dustanya itu dan jika dia seorang yang benar, nescaya sebahagia {bencana} yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu." Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.

29~ Hai kaumku utkmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita?" Fir'aun berkata: "Aku tidak mengemukakan kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik dan aku tidak menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar." 30~ Dan orang yang beriman itu berkata: "Hai kaumku sesungguhnya aku khuatir kamu akan ditimpa {bencana} seperti peristiwa {kehancuran} golongan yang bersekutu, 31~ {yakni} seperti keadaan kaum Nuh, Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka.

Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya. 32~ HAi kaumku, sesungguhnya aku khuatir terhadapmu akan seksaan hari panggil-memanggil. 33~ {yaitu} hari {ketika} kamu {lari} berpaling kebelakang, tidak ada bagimu seseorang pun yang menyelamatkan kamu dari {azab} Allah dan siapa yang disesatkan Allah nescaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk." { Al-Mukmin : 28 ~ 33 } "38~ Orang yang beriman itu berkata: "Hai kaumku ikutilah aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.

39~ Hai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan {sementara} dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. 40~ Barabg siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa yang mengerja amal yang soleh baik laki-laki mahupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk syurga, mereka diberi rezeki didalamnya tanpa hisab.

41~ Hai kaumku! Bagaiman kamu ini, aku menyeru kamu kepada keselamatan tetapi kamu menyeru aku ke neraka? 42~ {kenapa} kamu menyerukan supaya kufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidakku ketahui padahal aku menyeru kamu {beriman} kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun?" 43~ Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku {beriman} kepadanya tidak dpt memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia mahu pun di akhirat. Dan sesungguhnya kembali kita adalah kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mrk itulah penghuni neraka.

44~ Kelak kamu akan ingat kepada apa yang aku katakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusan aku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. 45~ Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka dan Fir'aun berserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." { Al-Mukmin : 38 ~ 45 } Selain tindakan kekerasan yang ditimpakan ke atas Bani Isra'il kaumnya Nabi Musa, Fir'aun melontarkan penghinaan dan kata-kata ejekan terhadap Nabi Musa dalam usahanya memerangi dan membendung pengaruh Nabi Musa yang semakin beertambah semenjak ia keluar sebagai pemenang dalam pertandingan melawan tukang-tukang sihir kaum Fir'aun.

Berkata Fir'aun kepada pembesar-pembesar kerajaannya: "Biarkanlah aku membunuh Musa dan biarlah ia riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu dari Tuhannya untuk melindunginya. Aku ingin tahu sampai sejauh mana ia dapat melepaskan diri dari kekuasaanku dan biarlah ia membuktikan kebenaran kata-kata, bahwa Tuhannya akan melindunginya dari segala tipu daya musuh-musuhnya." Dalam lain kesempatan Fir'aun berkata kepada rakyatnya yang sudah diperhambakan jiwanya, terbiasa memuja-mujanya, mengiakan kata-katanya dan mengaminkan segala perintahnya: "Hai rakyatku!

Tidakkah kamu melihat bahwa aku memiliki kerajaan Mesir yang megah dan besar ini di mana sungai-sungai mengalir dibawah telapak kakiku, sungai-sungai yang memberi kemakmuran hidup dan kebahagiaan hidup bagi rakyatku?

Dan tidakkah kamu melihat kekuasaanku yang luas dan ketaatan rakyatku yang bulat kepadaku? Bukankah aku lebih baik dan lebih agung dari Musa yang hina-dina itu yang tidak cekap menguraikan isi hatinya dan menerangkan maksud tujuannya. Megapa Tuhannya tidak memakaikan gelang emas, sebagaimana lazimnya orang-orang yang diangkat menjadi raja, pemimpin atau pembesar? Atau mengapa ia tidak diiringi oleh malaikat-malaikat sebagai tanda kebesarannya dan bukti kebenarannya bahwa ia adalah pesuruh Tuhannya?" Kelompok orang yang mendengar kata-kata Fir'aun itu dengan serta-merta mengiyakan dan membenarkan kata-kata rajanya serta menyatakan kepatuhan yang bulat kepada segala titah dan perintahnya sebagai warga yang setia kepada rajanya, namun zalim dan fasiq terhadap Tuhannya.

Dalam pd itu kesabaran Nabi Musa sampai pd puncaknya, melihat Fir'aun dan pembantu-pambantunya tetap berkeras kepala menentang dakwahnya, mendustakan risalahnya dan makin memperhebatkan tindakan kejamnya terhadap kaum Bani Riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu terutama para pengikutnya yang menyembunyikan imannya karena ketakutan daripada kejaran Fir'aun dan pembalasannya yang kejam dan tidak berperikemanusiaan.

riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu

Maka disampaikan oleh Nabi Musa kepada mrk bahwa Allah tidak akan membiarkan mereka terus-menerus melakukan kekejaman, kezaliman dan penindasan terhamba-hamba-Nya dan berkufur kepada Allah dan Rasul-Nya. Akan ditimpakan oleh Allah kepada mereka bila tetap tidak mahu sedar dan beriman kepada-Nya, bermacam azb dan seksa di dunia semasa hidup mereka sebagai pembalasan yang nyata! Berdoalah Nabi Musa, memohon kepada Allah: "Ya Tuhan kami, engkau telah memberi kepada Fir'aun dan kaum kerabatnya kemewahan hidup, harta kekayaan yang meluap-luap dan kenikmatan duniawi, yang kesemua itu mengakibatkan mereka riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu manusia, hamba-hamba-Mu, dari jalan yang Engkau riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu dan tuntunan yang Engkau berikan.

Ya Tuhan kami, binasakanlah harta-benda mereka dan kunci matilah hati mereka. Mrk tidak akan beriman dan kembali kepada jalan yang benar sebelum melihat seksaan-Mu yang pedih." Berkat doa Nabi Musa dan permohonannya yang diperkenankan oleh Allah, maka dilandakanlah kerajaan Fir'aun oleh krisis kewangan dan makanan, yang disebabkan mengeringnya sungai Nil sehingga tidak dapat mengairi sawah-sawah dan ladang-ladang disamping serangan hama yang ganas yang telah menghabiskan padi dan gandum yang sudah menguning dan siap untuk diketam.

Belumlagi krisis kewangan dan makanan teratasi datang menyusul bala banjir yang besar disebabkan oleh hujan yang turun dengan derasnya, sehingga menghanyutkan rumah-rumah, gedung-gedung dan membinasakan binatang-binatang ternak. Dan sebagai akibat dari banjir itu berjangkitlah bermacam-macam wabak dan penyakit yang merisaukan masyarakat seperti hidung berdarah dan lain-lain.

Kemudian datanglah barisan kutu-kutu busuk dan katak-katak yang menyerbu ke dalam rumah-rumah sehingga mengganggu ketenteraman hidup mereka,menghilangkan kenikmatan makan, minum dan tidur, disebabkan menyusupnya binatang-binatang itu ke dalam tempat-tempat tidur, hidangan makanan dan di antara sela-sela pakaian mereka.

Pada waktu azab menimpa dan bencana-bencana itu sedang melanda berdatanglah mereka kepada Nabi Musa minta pertolongannya demi kenabiannya, agar memohonkan kepada Allah mengangkat bala itu dari atas mereka dengan perjanjian bahwa mrk akan beriman dan menyerahkan Bani Isra'il kepada Nabi Musa sekirannya mereka dpt ditolong dan terhindar dari azab bala itu.

Akan tetapi begitu bala-bala itu tercabut dari atas mrk dan hilanglah gangguan yang diakibatkan olehnya, mrk mengingkari janji mereka dan kembali bersikap memusuhi dan menentang Nabi Musa, seolah-olah apa yang terjadi bukanlah karena doa dan permohonan Musa kepada Allah tetapi karena hasil usaha mrk sendiri. Bacalah tentang isi cerita di atas ayat 26 dari surah "Al-Mukmin" ; ayat 51 sehingga ayat 54 surah "Az-Zukhruf" ; ayat 88 dan 89 surah "Yunus" dan ayat 130 sehingga ayat 135 surah "Al-A'raaf" sebagimana berikut :~ "Dan berkata Fir'aun {kepada pembesar-pembesarnya} "Biarlah aku membunuh Musa, dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khuatir dia akan menukar agama atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." { Al-Mukmin : 26 } "Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya {seraya} berkata: "Hai kaumku!

Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan {bukankah} sungai-sungai ini mengalir dibawahku, maa apakah yang kamu tidak melihatnya? 52~ Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan {perkataannya}? 53~ Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang emas, atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya." 54~ Mak Fir'aun mempergaruhi kaumnya {dengan perkataan itu} lalu mereka patuh kepadanya kerana sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasiq." riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu Az-Zukhruf : 51 ~ 54 } "88~ Musa berkata: "Ya Riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan {manusia} dari jalan Engkau.

Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat seksaan yang pedih." 89~ Allah berfirman: "Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sesekali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui." { Yunus : 88 sehingga 89 } "130~ Dan sesungguhnya Kami telah menghukum {Fir'aun dan} kaumnya dengan mendatangkan musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pengajaran 131~ Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran mereka berkata: "Ini adalah kerana {usaha} kami." Dan jika mereka ditimpa kesusahan mrk lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang berserta dengannya.

Ketahuilah sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakkan mereka tidak mengetahui. 132~ Mrk berkata kepada Musa: Bagaiman kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka sesekali kami tidak akan beriman kepadamu." 133.~ Maka Kami {Allah} kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas tetapi mrk tetap menyombong diri dan mrk adalah kaum yang berdosa.

134~ Dan ketika mrk ditimpa azab {yang telah diterangkan itu} mereka pun berkata: " Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan {perantaraan} kenabian yang diketahui oleh Allah ada pada sisimu.

Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu drp kami pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Isra'il pergi bersamamu." 135~ Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mrk hingga batas waktu yang mrk sampai kepadanya, tiba-tiba mrk mengingkarinya." { Al-A'raaf : 130 ~ 135 } Bani Isra'il yang cukup menderita akibat tindasan Fir'aun dan kaumnya cukup merasakan penganiayaan dan hidup dalam ketakutan di bawah pemerintahan Fir'aun yang kejam dan bengis itu, pada akhirnya sedar bahwa Musalah yang benar-benar dikirimkan oleh Allah untuk membebaskan mereka dari cengkaman Fir'aun dan kaumnya.

Maka berduyun-duyunlah mereka datang kepada Nabi Musa memohon pertolongannya agar mengeluarkan mereka dari Mesir. Kemudian bertolaklah rombongan kaum Bani Isra'il di bawah pimpinan Nabi Musa meninggalkan Mesir menuju Baitul Maqdis. Dengan berjalan kaki dengan cepat karena takut tertangkap oleh Fir'aun dan bala tenteranya yang mengejar mereka dari belakang akhirnya tibalah mereka pada waktu fajar di tepi lautan merah setelah selama semalam suntuk dapat melewati padang pasir yang luas. Rasa cemas dan takut makin mencekam hati para pengikut Nabi Musa dan Bani Isra'il ketika melihat laut terbentang di depan mereka sedang dari belakang mrk dikejar oleh Fir'aun dan bala tenteranya yang akan berusaha mengembalikan mereka ke Mesir.

Mereka tidak meragukan lagi bahwa bila mrk tertangkap, maka hukuman matilah yang akan mereka terima dari Fir'aun yang zalim itu. Berkatalah salah seorang dari sahabat Nabi Musa, bernama Yusha' bin Nun: "Wahai Musa, ke mana kami harus pergi?" Musuh berada di belakang kami sedang mengejar dan laut berada di depan kami yang tidak dapat dilintasi tanpa sampan. Apa yang harus kami perbuat untuk menyelamatkan diri dari kejaran Fir'aun dan kaumnya?" Nabi Musa menjawab: "Janganlah kamu khuatir dan cemas, perjalanan kami telah diperintahkan oleh Allah kepadaku, dan Dialah yang akan memberi jalan keluar serta menyelamatkan kami dari cengkaman musuh yang zalim itu." Pada saat yang kritis itu, di mana para pengikut Nabi Musa berdebar-debar ketakutan, seraya menanti tindakan Nabi Musa yang kelihatan tenang sahaja, turunlah wahyu Allah kepada Nabi-Nya dengan perintah agar memukulkan air laut dengan tongkatnya.

Maka dengan izin Allah terbelah laut itu, tiap-tiap belahan merupakan seperti gunung yang besar. Di antara kedua belahan air laut itu terbentang dasar laut yang sudah mengering yang segera di bawah pimpinan Nabi Musa dilewatilah oleh kaum Bani Isra'il menuju ke tepi timurnya. Setelah mrk sudah berada di bahagian tepi timur dalam keadaan selamat terlihatlah oleh mereka Fir'aun dan bala tenteranya menyusuri jalan yang sudah terbuka di antara dua belah gunung air itu.

Kembali rasa cemas dan takut mengganggu hati mereka seraya memandang kepada Nabi Musa seolah-olah bertanya apa yang hendak dia lakukan selanjutnya. Dalam pada itu Nabi Musa telah diilhamkan oleh Allah agar bertenang menanti Fir'aun dan bala tenteranya turun semua ke dasar laut. Karena takdir Allah tela mendahului bahwa mrk akan menjadi bala tentera yang tenggelam. Berkatalah Fir'aun kepada kaumnya tatkala melihat jalan terbuka bagi mereka di antara dua belah gunung air itu: "Lihat bagaimana lautan terbelah menjadi dua, memberi jalan kepada kami untuk mengejar orang-orang yang melarikan diri itu.

Mrk mengira bahwa mrk akan dpt melepaskan dari kejaran dan hukumanku. Mrk tidak mengetahui bahwa perintahku berlaku dan ditaati oleh laut, jgn lagi oleh manusia. Tidakkah ini semuanya membuktikan bahwa aku adalah yang berkuasa yang harus disembah olehmu?" Maka dengan rasa bangga dan sikap sombongnya turunlah Fir'aun dan bala tenteranya ke dasar laut yang sudah mengering itu melakukan gerak-cepatnya untuk menyusul Musa dan Bani Isra'il yang sudah berada di tepi bahagian timur sambil menanti hukuman Allah yang telah ditakdirkan terhamba-hamba-Nya yang kafir itu.

Demikianlah maka setelah Fir'aun dan bala tenteranya berada di tengah-tengah lautan yang membelah itu, jauh dari ke dua tepinya, tibalah perintah Allah dan kembalilah air yang menggunung itu menutupi jalur jalan yang terbuka di mana Fir'aun dengan sombongnya sedang memimpin barisan tenteranya mengejar Musa dan Bani Isra'il. Terpendamlah mrk hidup-hidup di dalam perut laut dan berakhirlah riwayat hidup Fir'aun dan kaumnya untuk menjadi kenangan sejarah dan ibrah bagi generasi- akan datang.

Pada detik-detik akhir hayatnya, seraya berjuang untuk menyelamatkan diri dari maut yang sudah berada di depan matanya, berkatalah Fir'aun: "Aku percaya bahwa tiada tuhan selain Tuhan Musa dan Tuhan Bani Isra'il. Aku beriman pada Tuhan mereka dan berserah diri kepada-Nya sebagai salah seorang muslim." Berfirmanlah Allah kepada Fir'aun yang sedang menghadapi sakaratul-maut: "Baru sekarangkah engkau berkata beriman kepada Musa dan berserah diri kepada-Ku?

Tidakkah kekuasaan ketuhananmu dpt menyelamatkan engkau dari maut? Baru sekarangkah engkau sedar dan percaya setelah sepanjang hidupmu bermaksiat, melakukan penindasan dan kezaliman terhadap hamba-hamba-Ku dan berbuat-sewenang-wenang, merusak riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu dan aqidah manusia-manusia yang berada di bawah kekuasaanmu.

Terimalah sekarang pembalasan-Ku yang akan menjadi pengajaran bagi orang-orang yang akan datang sesudahmu. Akan Aku apungkan tubuh kasarmu untuk menjadi peringatan bagi orang-orang yang meragukan akan kekuasaan-Ku." Bani Isra'il pengikut-pengikut Nabi Musa masih meragukan kematian Fir'aun. Mrk masih terpengaruh dengan kenyataan yang ditanamkan oleh Fir'aun semasa ia berkuasa sebagai raja bahwa dia adalah manusia luar biasa lain drp yang lain dan bahwa dia akan hidup kekal sebagai tuhan dan tidak akan mati.

Khayalan yang masih melekat pd fikiran mrk menjadikan mrk tidak mahu percaya bahwa dengan tenggelamnya, Fir'aun sudah mati. Mrk menyatakan kepada Musa bahwa Fir'aun mungkin masih hidup namun di alam lain. Nabi Musa berusaha menyakinkan kaumnya bahwa apa yang terfikir oleh mrk tentang Fir'aun adalah suatu khayalan belaka dan bahwa Fir'aun sebagai orang biasa telah mati tenggelam akibat pembalasan Allah atas perbuatannya, menentang kekuasaan Allah mendustakan Nabi Musa dan menindaskan serta memperhambakan Bani Isra'il.

Dan setelah melihat dengan mata kepala sendiri, tubuh-tubuh Firaun dan orang-orangnya terapung-apung di permukaan air, hilanglah segala tahayul mrk tentang Fir'aun dan kesaktiannya.

Menurut catatan sejarah, bahwa mayat Fir'aun yang terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir, lalu diawet hingga utuh sampai sekarang, sebagai mana dpt dilihat di muzium Mesir. Tentang isi cerita yang terurai di atas dapat di baca dalam surah "Thaha" ayat 77 sehingga 79 ; surah "Asy-Syua'ra" ayat 60 sehingga 68 ; surah "Yunus" ayat 90 sehingga 92 sebagaimana berikut :~ "77~ Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku {Bani Isra'il} di malam hari, maka buatklah untuk mrk jalan yang kering di laut itu, kamu tidak usah khuatir akan tersusul dan tidak usah takut {akan tenggelam}." 78~ Maka Fir'aun dengan bala tenteranya mengejar mrk, lalu mrk ditutup oleh laut yang menenggelamkan mrk.

79~ Dan Fir'aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi peetunjuk." { Thaha : 77 ~ 79 } "60~ Maka Fir'aun dan bala tenteranya dpt menyusuli mrk di waktu matahari terbit.

61~ Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku. 63~ Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu." Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan itu adalah seperti golongan yang lain. 65~ Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersertanya semuanya. 66~ Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.

67~ Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar {mukjizat} dan kebanyakkan mrk tidak beriman. 68~ Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Mulia Perkasa lai Maha Penyayang." { Asy-Syu'ara : 60 ~ 68 } "90~ Dan Kami memungkinkan Bani Isra'il melintasi lau, lalu mrk diikiti oleh Fir'aun dan bala tenteranya, karena hendak menganiaya dan menindas {mereka} hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Isra'il dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri {kepada Allah}." 91~ Apakah sekarang {baru kamu percaya} padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakkan.

92~ Maka pada hari ini Kami akan selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pengajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakkan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." { Yunus : 90 ~ 92 } Dalam perjalanan menuju Thur Sina setelah melintasi lautan di bahagian utara dari Laut Merah dan setelah mereka merasa aman dari kejaran Fir'aun dan kaumnya.

Bani Isra'il yang dipimpin oleh Nabi Musa itu melihat sekelompok orang-orang yang sedang menyembah berhala dengan tekunnya. Berkatalah mrk kepada Nabi Musa: "Wahai Musa, buatlah untuk kamu sebuah tuhan berhala sebagaimana mrk mempunyai berhala-berhala yang disembah sebagai tuhan." Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah orang-orang yang bodoh dan tidak berfikiran sihat. Persembahan mereka itu kepada berhala adalah perbuatan yang sesat dan bathil serta pasti akan dihancurkan oleh Allah.

Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu selain Allah yang telah memberikan kurnia kepada kamu, dengan menyelamatkan kamu dari Fir'aun, melepaskan kamu dari perhambaannya dan penindasannya serta memberikan kamu kelebihan di atas umat-umat yang lain.Sesungguhnya suatu permintaan yang aneh drp kamu, bahwa kamu akan mencari tuhan selain Allah yang demikian besar nikmatnya atas kamu, Allah pencipta langit dan bumi serta alam semesta.

Allah yang baru saja kamu saksikan kekuasaan-Nya dengan ditenggelamkannya Fir'aun berserta bala tenteranya untuk keselamatan dan kelangsungan hidupmu." Perjalanan Nabi Musa dan Bani Isra'il dilanjutkan ke Gurun Sinai di mana panas matahari sgt teriknya dan sunyi dari pohon-pohon atau bangunan di mana orang dpt berteduh di bawahnya.

Atas permohonan Nabi Musa yang didesak oleh kaumnya yang sedang kepanasan diturunkan oleh Allah di atas mereka awan yang tebal untuk mrk bernaung dan berteduh di bawahnya dari panas teriknya matahari. Di samping itu tatkala bekalan makanan dan minuman mereka sudah berkurangan dan tidak mencukupi keperluan.

Allah menurunkan hidangan makanan "manna" - sejenis makanan yang manis sebagai madu dan "salwa" - burung sebangsa puyuh dengan diiringi firman-Nya: "Makanlah Kami dari makanan-makanan yang baik yang Kami telah turunkan bagimu." Demikian pula tatkala pengikut-pengikut Nabi Musa mengeluh kehabisan air untuk minum dan mandi di tempat yang tandus dan kering itu, Allah mewahyukan kepada Musa agar memukul batu dengan tongkatnya.

Lalu memancarlah dari batu yang dipukul itu dua belas mata air, untuk dua belas suku bangsa Isra'il yang mengikuti Nabi Musa, masing-masing suku mengetahui sendiri dari mata air mana mereka mengambil keperluan airnya.

Bani Isra'il pengikut Nabi Musa yang sangat manja itu, merasa masih belum cukup atas apa yang telah Allah berikan kepada mrk yang telah menyelamatkan mereka dari perhambaan dan penindasan Fir'aun, memberikan mereka hidangan makanan dan minuman yang lazat dan segar di tempat yang kering dan tandus mereka menuntut lagi dari Nabi Musa agar memohon kepada Allah menurunkan bagi mereka apa yang ditumbuhkan oleh bumi dari rupa-rupa sayur-mayur, seperti ketimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah karena mereka tidak puas dengan satu macam makanan.

Terhadap tuntutan mereka yang aneh-aneh itu berkatalah Nabi Musa: "Mahukah kamu memperoleh sesuatu yang rendah nilai dan harganya sebagai pengganti dari apa yang lebih baik yang telah Allah kurniakan kepada kamu? Pergilah kamu ke suatu kota di mana pasti kamu akan dapat apa yang telah kamu inginkan dan kamu minta." Pokok cerita tersebut di atas dikisahkan oleh Al-Quran dalam surah "Al-A'raaf ayat 138 sehingga 140 dan 160 ; serta surah "Al-Baqarah" ayat 61 yang berbunyi sebagai berikut :~ "138~ Dan Kami seberangkan Bani Isra'il ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, mereka {Bani Isra'il} berkata: "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan {berhala} sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan {berhala}".

Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui {sifat-sifat Tuhan}". 139~ Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal yang selalu mereka kerjakan. 140~ Musa berkata: "Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu yang selain dari Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat".

{ Al-A'raaf : 138 ~ 140 } "160~ Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu".

Maka memancarlah drpnya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan Awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. {Kami berfirman}: "Makanlah baik-baik dari apa yang Kami telah rezekikan kepadamu." Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri." { Al-A'raaf : 160 } "61~ Dan ingatlah ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak boleh sabar {tahan} dengan satu macam makanan saja.

Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, Agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawah merahnya." Musa berkata: "Mahukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperolehi apa yang kamu minta." { Al-Baqarah : 61 } Menurut riwayat sementara ahli tafsir, bahawasanya tatkala Nabi Musa berada di Mesir, ia telah berjanji kepada kaumnya akan memberi mereka sebuah kitab suci yang dapat digunakan sebagai pedoman hidup yang akan memberi bimbingan dan sebagai tuntunan bagaimana cara mereka bergaul dan bermuamalah dengan sesama manusia dan bagaimana mereka harus melakukan persembahan dan ibadah mereka kepada Allah.

Di dalam kitab suci itu mereka akan dapat petunjuk akan hal-hal yang halal dan haram, perbuatan yang baik yang diredhai oleh Allah di samping perbuatan-perbuatan yang mungkar yang dapat mengakibatkan dosa dan murkanya Tuhan.

Maka setelah perjuangan menghadapi Fir'aun dan kaumnya yang telah tenggelam binasa di laut, selesai, Nabi Musa memohon kepada Allah agar diberinya sebuah kitab suci untuk menjadi pedoman dakwah dan risalahnya kepada kaumnya. Lalu Allah memerintahkan kepadanya agar untuk itu ia berpuasa selama tiga puluh hari penuh, iaiut semasa bulan Zulkaedah.

Kemudian pergi ke Bukit Thur Sina di mana ia akan diberi kesempatan bermunajat dengan Tuhan serta menerima kitab penuntun yang diminta. Setelah berpuasa selama tiga puluh hari penuh dan tiba saat ia harus menghadap kepada Allah di atas bukit Thur Sina Nabi Musa merasa segan akan bermunajat dengan Tuhannya dalam keadaan mulutnya berbau kurang sedap akibat puasanya. Maka ia menggosokkan giginya dan mengunyah daun-daunan dalam usahanya menghilangkan bau mulutnya.

Ia ditegur oleh malaikat yang datang kepadanya atas perintah Allah. Berkatalah malaikat itu kepadanya: "Hai Musa, mengapakah engkau harus menggosokkan gigimu untuk menghilangkan bau mulutmu yang menurut anggapanmu kurang sedap, padahal bau mulutmu dan mulut orang-orang yang berpuasa bagi kami adalah lebih sedap dan lebih wangi dari baunya kasturi.

Maka akibat tindakanmu itu, Allah memerintahkan kepadamu berpuasa lagi selama sepuluh hari sehingga menjadi lengkaplah masa puasamu sepanjang empat puluh hari." Nabi Musa mengajak tujuh puluh orang yang telah dipilih diantara pengikutnya untuk menyertainya ke bukit Thur Sina dan mengangkat Nabi Harun sebagai wakilnya mengurus serta memimpin kaum yang ditinggalkan selama kepergiannya ke tempat bermunajat itu.

Pada saat yang telah ditentukan tibalah Nabi Musa seorang diri di bukit Thur Sina mendahului tujuh puluh orang yang diajaknya turut serta. Dan ketika ia ditanya oleh Allah: "Mengapa engkau datang seorang diri mendahului kaummu, hai Musa?" Ia menjawab: "Mereka sedang menyusul di belakangku, wahai Tuhanku.

Aku cepat-cepat datang lebih dahulu untuk mencapai redha-Mu." Berkatalah Musa dalam munajatnya dengan Allah: "Wahai Tuhamku, nampakkanlah zat-Mu kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu" Allah berfirman: "Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi cubalah lihat bukit itu, jika ia tetap berdiri tegak di tempatnya sebagaimana sedia kala, maka nescaya engkau akan dapat melihat-Ku." Lalu menolehlah Nabi Musa mengarahkan pandangannya kejurusan bukit yang dimaksudkan itu yang seketika itu juga dilihatnya hancur luluh masuk ke dalam perut bumi tanpa menghilangkan bekas.

Maka terperanjatlah Nabi Musa, gementarlah seluruh tubuhnya dan jatuh pengsan. Setelah ia sedar kembali dari pengsannya, bertasbih dan bertahmidlah ia seraya memohon ampun kepada Allah atas kelancangannya itu dan berkata: "Maha Besarlah Engkau wahai Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku dn aku akan menjadi orang yang pertama beriman kepada-Mu." Dalam kesempatan bermunajat itu, Allah menerimakan kepada Nabi Musa kitab suci "Taurat" berupa kepingan-kepingan batu-batu atau kepingan kayu menurut sementara ahli tafsir yang di dalamnya tertulis segala sesuatu secara terperinci dan jelas mengenai pedoman hidup dan penuntun kepada jalan yang diredhai oleh Allah.

Allah mengiring pemberian "Taurat" kepada Musa dengan firman-Nya: "Wahai Musa, sesungguhnya Aku telah memilih engkau lebih dari manusia-manusia yang lain di masamu, untuk membawa risalah-Ku dan menyampaikan kepada hamba-hamba-Ku. Aku telah memberikan kepadamu keistimewaan dengan dapat bercakap-cakap langsung dengan Aku, maka bersyukurlah atas segala kurnia-Ku kepadamu dan berpegang teguhlah pada apa yang Aku tuturkan kepadamu.

Dalam kitab yang Aku berikan kepadamu terhimpun tuntunan dan pengajaran yang akan membawa Bani Isra'il ke jalan yang benar, ke jalan yang akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat bagi mereka. Anjurkanlah kaummu Bani Isra'il agar mematuhi perintah-perintah-Ku jika mereka tidak ingin Aku tempatkan mereka di tempat-tempat orang-orang yang fasiq." Bacalah tentang kisah munajat Nabi Musa ini, surah "Thaha" ayat 83 dan 84 dan surah "Al-a'raaf" ayat 142 sehingga ayat 145 sebagaimana berikut :~ "83~ Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?" 84~ Berkata Musa: "Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepadamu ya Tuhanku, agar supaya Engkau redha kepadaku." { Thaha : 83 ~ 84 } "142~ Dan Kami telah janjikan kepada Musa {memberikan Taurat} sesudah berlalu waktu tiga puluh malam dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh {malam lagi}, maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam.

Dan berkata Musa kepada saudaranya, yaitu Harun: "Gantilah aku dalam {memimpin} kaumku dan perbaikilah dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakkan". 143~ Dan tatkala Musa datang untuk {munajat} dengan {Kami} pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman {langsung} kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku nampakkanlah {Zat Engkau} kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman: "Kamu sesekali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya {sebagai sediakala} nescaya kamu dapat melihat-Ku." Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pengsan.

Maka setelah Musa sedar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku orang yang pertama beriman." 144~ Allah berfirman: "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih kamu lebih dari manusia yang lain {di masamu} untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur." 145~ Dan Kami telah tuliskan untuk Musa luluh {Taurat} segala sesuatu sebagai pengajaran bagi sesuatu.

Maka Kami berfirman: "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada {perintah-perintahnya} yang sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasiq." { Al-A'raaf: 142 ~ 145 } Nabi Musa berjanji kepada Bani Isra'il yang ditinggalkan di bawah pimpinan Nabi Harun bahwa ia tidak akan meninggalkan mereka lebih lama dari tiga puluh hari, dalam perjalananya ke Thur Sina untuk berminajat dengan Tuhan.

Akan tetapi berhubung dengan adanya perintah Allah kepada Musa untuk melengkapi jumlah hari puasanya menjadi empat puluh hari, maka janjinya itu tidak dapat ditepati dan kedatangannya kembali ke tengah-tengah mereka tertunda menjadi sepuluh hari riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu lama drp yang telah dijanjikan.

Bani Isra'il merasa kecewa dan menyesalkan kelambatan kedtgan Nabi Musa kembali ke tengah-tengah mrk. Mrk menggerutu dan mengomel dengan melontarkan kata-kata kepada Nabi Musa seolah-olah ia telah meninggalkan mrk dalam kegelapan dan dalam keadaan yang tidak menentu.

Mrk merasa seakan-akan telah kehilangan pimpinan yang biasanya memberi bimbingan dan petunjuk-petunjuk kepada mrk. Keadaan yang tidak puas dan bingung yang sedang meliputi kelompok Bani Isra'il itu, digunakan oleh seprg munafiq, bernama Samiri yang telah berhasil menyusup ke tengah-tengah mrk, sebagai kesempatan yang baik untuk menyebarkan benih syiriknya dan merusakkan akidah para pengikut Nabi Musa yang baru saja menerima ajaran tauhid dan iman kepada Allah.

Samiri yang munafiq itu menghasut mrk dengan kata-kata bahwa Musa telah tersesat dalam tugasnya mencari Tuhan bagi mereka dan bahawa dia tidak dapat diharapkan kembali dan karena itu dianjurkan oleh Samiri agar mereka mencari tuhan lain sebagai ganti dari Tuhan Musa. Samiri melihat bahwa hasutan itu dapat menggoyahkan iman dan akidah pengikut-pengikut Musa yang memang belum meresapi benar ajaran tauhidnya segera membuat patung bagi mereka untuk disembah sebagai tuhan pengganti Tuhannya Nabi Musa.

PAtung itu berbentuk anak lembu yang dibuatnya dari emas yang dikumpulkan dari perhiasan-perhiasan para wanita.

Dengan kepandaian tektiknya patung itu dibuat begitu rupa sehingga dapat mengeluarkan suara menguap seakan-akan anak lembu sejati yang hidup. Maka diterimalah anak patung lembu itu oleh Bani Isra'il pengikut Nabi Musa yang masih lemah iman dan akidahnya itu sebagai tuhan persembahan mereka.

Ditegurlah mereka oleh Nabi Harun yang berkata: "Alangkah bodohnya kamu ini! Tidakkah kamu melihat anak lembu yang kamu sembah ini tidak dapat bercakap-cakap dengan kamu dan tidak pula dapat menuntun kamu ke jalan yang benar.

Kamu telah menganiaya diri kamu sendiri dengan menyembah pada sesuatu selain Allah." Teguran Nabi Harun itu dijawab oleh mereka yang telah termakan hasutan Samiri itu dengan kata-kata: "Kami akan tetap berpegang pada anak lembu ini sebagai tuhan persembahan kami sampai Musa kembali ke tengah-tengah kami." Nabi Harun tidak dapat berbuat banyak menghadapi kaumnya yang telah berbalik menjadi murtad itu, karena ia khuatir kalau mereka dihadapi dengan sikap yang keras, akan terjadi perpecahan di antara mereka dan akan menjadi keadaan yang lebih rumit dan gawat sehingga dapat menyulitkan baginya dan bagi Nabi Musa kelak bila ia datang untuk mencarikan jalan keluar dari krisis iman yang melanda kaumnya itu.

Riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu hanya memberi peringatan dan nasihat kepada mereka sambil menanti kedatangan Musa kembali dari Thur Sina.

Dalam pada itu, Nabi Musa setelah selesai bermunajat dengan Tuhan dan dalam perjalanannya kembali ke tempat di mana kaumnya sedang menunggu memperolehi isyarat tentang apa yang telah terjadi dan dialami oleh Nabi Harun selama ketiadaannya.

Nabi Musa sgt marah dan sedih hati tatkala ia tiba di tempat dan melihat kaumnya sedang berpesta mengelilingi anak patung lembu emas, menyembahnya dan memuji-mujinya.

Dan karena sgt marah dan sedihnya ia tidak dapat menguasai dirinya, kepingan-kepingan Taurat dilemparkan berantakan. Harun saudaranya dipegang rambut kepalanya ditarik kepadanya seraya berkata menegur: "Apa yang engkau buat tatkala engkau melihat mereka tersesat dan terkena oleh hasutan dan fitnahan Samiri? Tidakkah engkau mematuhi perintahku dan pesanku ketika aku menyerahkan mereka kepadamu untuk engkau pimpin? Tidakkah engkau berdaya melawan hasutan Samiri dengan memberi petunjuk dan penerangan kepada mereka dan mengapa engkau tidak cepat memadamkan api kemurtadan ini sebelum menjadi besar begini?" Harun berkata menanggapi teguran Musa: "Hai anak ibuku, janganlah engkau memegang jangut dan rambut kepalaku, menarik-narikku.

Aku telah berusaha memberi nasihat dan teguran kepada mereka, namun mereka tidak mengindahkan kata-kataku. Mereka menganggapkan aku lemah dan mengancam akan membunuhku. Aku khawatir jika aku menggunakan sikap dan tindakan yang keras, akan terjadi perpecahan dan permusuhan di antara sesama kita, hal mana akan menjadikan engkau lebih marah dan sedih. Lepaskanlah aku dan janganlah membuatkan musuh-musuhku bergembira melihat perlakuanmu terhadap diriku.

Janganlah disamakan aku dengan orang-orang yang zalim." Setelah mereda rasa jengkel dan sedihnya dan memperoleh kembali ketenangannya, berkatalah Nabi Musa kepada Samiri, orang munafiq yang menjadi biang keladi dari kekacauan dan kesesatan itu: "Hai Samiri, apakah yang mendorongmu menghasut dan menyesatkan kaumku, sehingga mereka kembali menjadi murtad, menyembah patung yang engkau buatkan dari emas itu?" Samiri menjawab: "Aku telah melihat sesuatu yang mereka tidak melihatnya.

Aku telah melihat kuda malaikat Jibril. aku mengambil segenggam tanah bekas jejak telapak kakinya itu, lalu aku lemparkannya ke dalam emas yang mencair di atas api dan terjadilah patung anak lembu yang dapat menguak, mengeluarkan suara sebagaimana anak lembu biasa.Demikianlah hawa nafsuku membujukku untuk berbuat itu." Berkata Nabi Musa kepada Samiri: "Pergilah engkau dan jauhilah pergaulan manusia sebab karena perbuatan kamu itu engkau harus dipencilkan dan menjadi tabu {sesuatu yang terlarang} jika disentuh atau menyentuh seseorang ia akan menderita sakit demam panas.

Ini adalah ganjaranmu di dunia, sedang di akhirat nerakalah akan menjadi tempatmu. Dan tuhanmu yang engkau buat dan sembah ini kami akan bakar dan campakkannya ke dalam laut." Kemudian berpalinglah Nabi Musa kepada kaumnya berkata: "Hai kaumku, alangkah buruknya perbuatan yang kamu telah kerjakan setelah kepergianku!

Apakah engkau hendak mendahului janji Tuhanmu? Bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu janji yang baik, berupa kitab suci? Ataukah engkau menghendaki kemurkaan Tuhan menimpa atas dirimu, karena perbuatanmu yang buruk itu dan perlanggaranmu terhadap perintah-perintah dan ajaran-ajaranku." Kaum Musa menjawab: "Kami tidak sesekali melanggar perjanjianmu dengan kemahuan kami sendiri, akan tetapi kami disuruh membawa beban-beban perhiasan yang berat kepunyaan orang Mesir yang atas anjuran Samiri kami lemparkan ke dalam api yang sedang menyala.

Kemudian perhiasan-perhiasan yang kami lemparkan itu menjelma menjadi patung anak lembu yang bersuara, sehingga dapat menyilaukan mata kepala kami dan menggoyahkan iman yang sudah tertanam di dalam dada kami." Berkata Musa kepada mrk: "Sesungguhnya kamu telah berbuat dosa besar dan menyia-nyiakan dirimu sendiri dengan menjadikan patung anak lembu itu sebagai persembahanmu, maka bertaubatlah kamu kepada Tuhan, Penciptamu dan Pencipta alam semesta dan mohonlah ampun drpnya agar Dia menunjukkan kembali kepada jalan yang benar." Akhirnya kaum Musa itu sedar atas kesalahannya dan mengakui bahwa mereka telah disesatkan oleh syaitan dan memohon ampun dan rahmat Allah agar selanjutnya melindungi mereka dari godaan syaitan dan iblis yang akan merugikan mereka di dunia dan akhirat.

Demikian pula Nabi Musa beristighfar memohon ampun baginya dan bagi Harun saudaranya setalah ternyata bahwa ia tidak melalaikan tugasnya sebagai wakil Musa dalam menghadapi krisis iman yang dialami oleh kaumnya. Berdoa Musa kepada Tuhannya: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami berdua ke dalam lingkaran rahmat-Mu sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Setelah suasana yang meliputi hubungan Musa dengan Harun di satu pihak dan hubungan mereka berdua dengan kaumnya di lain pihak menjadi tenang kembali, kepingan-kepingan Taurat yang bertaburan sudah dihimpun dan disusun sebagaimana asalnya, maka Allah memerintahkan kepada Musa agar membawa sekelompok dari kaumnya menghadap untuk meminta riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu atas dosa mereka menyembah patung anak lembu.

Tujuh puluh orang dipilih oleh Nabi Musa di antara kaumnya untuk diajak pergi bersama ke Thur Sina memenuhi perintah Allah meminta ampun atas dosa kaumnya. Mereka diperintahkan untuk keperluan itu agar berpuasa, mensucikan diri, pakaian mereka dan pada waktu yang telah ditentukan berangkatlah Nabi Musa bersama tujuh puluh orang itu menuju ke bukit Thur Sina.

Setiba mereka di Thur Sina turunlah awan yang tebal meliputi seluruh bukit, kemudian masuklah Nabi Musa diikuti para pengikutnya ke dalam awan gelap itu dan segera mereka bersujud. Dan sementara bersujud terdengarlah oleh kelompok tujuh puluh itu percakapan Nabi Musa dengan Tuhannya. Pada saat itu timbullah dalam hati mereka keinginan untuk melihat Zat Allah dengan mata kepala mereka setelah mendengar percakapan-Nya dengan telinga.Maka setelah selesai Nabi Musa bercakap-cakap dengan Allah berkatalah mereka kepadanya: "Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang." Dan sebagai jawapan atas keinginan mereka yang menunjukkan keingkaran dan ketakaburan itu, Allah seketika itu juga mengirimkan halilintar yang menyambar dan merenggut nyawa mereka sekaligus.

Nabi Musa merasa sedih melihat nasib fatal yang menimpa kelompok tujuh puluh orang yang merupakan orang-orang yang terbaik di antara kaumnya. Ia berseru memohon kepada Allah agar diampuni dosa mereka seraya berkata: "Wahai Tuhanku, aku telah pergi ke Thur Sina dengan tujuh puluh orang yang terbaik di antara kaumku kemudian aku akan kembali seorang diri, pasti kaumku tidak akan mempercayaiku.

Ampunilah dosa mereka, wahai Tuhanku dan kembalilah kepada mereka nikmat hidup yang Engkau telah cabut sebagai pembalasan atas keinginan dan permintaan mereka yang durhaka itu." Alah memperkenankan doa Musa dan permohonannya dengan dihidupkan kembali kelompok tujuh puluh orang itu, maka bangunlah mereka seakan-akan orang yang baru sedar dari pengsannya.

Kemudian pada kesempatan itu Nai Musa mengambil janji dari mereka bahwa mereka akan berpegangan teguh kepada kitab Taurat sebagai pedoman hidup mereka melaksanakan perinta-perintahnya dan menjauhi segala apa yang dilarangnya. Pokok cerita yang dihuraikan di atas, dikisahkan oleh Al-Quran dalam banyak tempat, di antaranya surah "Thaha" ayat 85 sehingga 98, surah "Al-A'raaf ayat 149, 151, 154, 155 dan surah "Al-Baqarah" ayat 55, 56, 63 dan 64 sebagai berikut :~ "85~ Allah berfirman: "Maka sesungguuhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan dan mereka telah disesatkan oleh Samiri." 86~ Kemudian Musa kembali kepada kaumnya, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik?

Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu melanggar perjanjian dengan aku?" 87~ Mereka berkata: "Kami sesekali tidak melanggar perjanjian kamu dengan kemahuan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya." 88~ Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mrk anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: "Inilah tuhanmu dan tuhan Musa tetapi Musa telah lupa." 89~ Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahawapatung anak lembu itu tidak dapat memberi jawapan kepada mereka dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan?

90~ Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: " Hai kaumku, sesungguhnya kamu itu hanya diberi cubaan dengan anak lembu itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Pemurah maka ikutilah aku dan taatilah perintahku." 91~ Mereka menjawab: "Kami akan tetap menyambah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami." 92~ Berkata Musa: "Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat telah tersesat, 93~ {sehingga} kamu tidak mengikuti aku?

Maka apakah kamu telah sengaja mendurhakai perintahku?" 94~ Harun menjawab: "Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang jangutku dan jangan pula kepalaku; sesungguhnya aku khuatir bahawa kamu akan berkata {kepadaku}: " Kamu telah memecah antara Bani Isra'il dan kamu tidak memelihara amanatku." 95~ Berkatalah Musa: "Apakah yang mendorongmu {berbuat demikian} hai Samiri?" 96~ Samiri menjawab: "Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya maka aku ambil segenggam aari jejak rasul, lalu aku melemparkannya dan demikianlah nafsuku membujukku." 97~ berkata Musa: "Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagi kamu di dalam kehidupan di dunia ini hanya dapat menyatakan : Janganlah menyantuh {aku}." Dan sesungguuhnya bagimu hukuman {di akhirat} yang kami sesekali tidak dapat menghindarinya dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya.

Sesungguhnya kami akan membakarnya kemudian kami sesungguhnya akan menghamburkannya ke dalam laut {berupa abu yang berserakan} 98~ Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu." { Thaha : 85 ~ 98 } "149~ Dan setelah mereka sgt menyesali perbuatanya dari mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka pun berkata: "Sesungguhnya jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami pastilah kami menjadi orang-orang yang rugi." { Al-A'raaf : 149 } "151~ Musa berdoa: "Ya Tuhanku ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para Penyayang." { Al-A'raaf : 151 } "154~ Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya kembali luh-luh {Taurat} itu; dan dalam riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu terdpt petunjuk dan rahmatbutk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.

155~ Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk {memohonkan taubat kepada Kami} pada waktu yang telah Kami tentukan. Mak ketika mereka digoncang genpa bumi Musa berkata: "Ya Tuhanku! kalau Engkau kehendaki tentulah Engkau telah membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang krg akal di antara kami?

Itu hanyalah cubaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cubaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.

Engkaulah yang memimpin kami maka ampunilah kami dan berikanlah kepada kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun sebaik-baiknya." { Al-A'raaf : 154 ~ 155 } "55~ Dan {ingatlah} ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu, sebelum kami melihat Allah dengan terang karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya" 56~ Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur." { Al-Baqarah : 55 ~ 56 } "63~ Dan {ingatlah} ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kmai angkatkan gunung { Thur Sina } di atas {seraya Kami berfirman} : "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.

Kemudian kamu berpaling setelah {adanya perjanjian} itu, maka kalau tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya atasmu, nescaya kamu tergolong orang yang rugi." { Al-Baqarah : 63 ~ 64 } Tidak kurang-kurang kurniaan Allah yang diberikan kepada kaum Bani Isra'il.

Mereka telah dibebaskan dari kekuasaan Fir'aun yang kejam yang telah menindas dan memperhambakan mereka berabad-abad lamanya.

Telah diperlihatkan kepada mereka bagaimana Allah telah membinasakan Fir'aunmusuh mereka tenggelam di laut. Kemudian tatkala mereka berada di tengah-tengah padang pasir yang kering dan tandus, Allah telah memancarkan air dari sebuah batu dan menurunkan hidangan makanan "Manna dan Salwa" bagi keperluan mereka. Di samping itu Allah mengutuskan beberapa orang rasul dan nabi dari kalangan mererka sendiri untuk memberi petunjuk dan bimbingan kepada mereka.

Akan tetapi kurnia dan nikmat Allah yang susul-menyusul yang diberikan kepada mereka, tidaklah mengubah sifat-sifat mereka yang tidak mengenal syukur, berkeras kepala dan selalu membangkang terhadap perintah Allah yang diwahyukan kepada rasul-Nya. Demikianlah tatkala Allah mewahyukan perintah-Nya kepada Nabi Musa untuk memimpin kaumnya pergi ke Palestin, tempat suci yang telah dijanjikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menjadi tempat tinggal anak cucunya, mereka membangkang dan enggan melaksanankan perintah itu.

Alasan penolakan mereka ialah karena mereka harus menghadapi suku "Kana'aan" yang menurut anggapan mereka adalah orang-orang yang kuat dan perkasa yang tidak dapat dikalahkan dan diusir dengan aduan kekuatan. Mereka tidak mempercayai janji Allah melalui Musa, bahwa dengan pertolongan-Nya mereka akan dapat mengusir suku Kan'aan dari kota Ariha untuk dijadikan tempat pemukiman mereka selama-lamanya. Berkata mereka tanpa malu, menunjuk sifat pengejutnya kepada Musa: "Hai Musa, kami tidak akan memasuki Ariha sebelum orang-orang suku Kan'aan itu keluar.

KAmi tidak berdaya menghadapi mereka dengan kekuatan fizikal kerana mereka telah terkenal sebagai orang-orang yang kuat dan perkasa.

Pergilah engkau berserta Tuhanmu memerangi dan mengusir orang-orang suku Kan'aan itu dan tinggalkanlah kami di sini sambil menanti hasil perjuanganmu." Naik pitamlah Nabi Musa melihat sikap kaumnya yang pengecut itu yang tidak mau berjuang dan memeras keringat untuk mendapat tempat pemukiman tetapi ingin memperolehnya secara hadiah atau melalui mukjizat sebagaimana mereka telah mengalaminya dan banyak peristiwa.

Dan yang menyedihkan hati Musa ialah kata-kata mengejek mereka yang menandakan bahwa dada mereka masih belum bersih dari benih kufur dan syirik kepada Allah. Dalam keadaan marah setelah mengetahui bahawa tiada seorang drp kaumnya yang akan mendampinginya melaksanakan perintah Allah itu, berdoalah Nai Musa kepada Allah: "Ya Tuhanku, aku tidak menguasai selain diriku dan diri saudaraku Harun, maka pisahkanlah kami dari orang-orang yang fasiq yang mengingkari nikmat dan kurnia-Mu." Sebagaimana hukuman bagi Bani Isra'il yang telah menolak perintah Allah memasuki Palestin, Allah mengharamkan negeri itu atas mereka selama empat puluh tahun dan selama itu mereka akan mengembara berkeliaran di atas bumi Allah tanpa mempunyai tempat mukim yang tetap.

Mereka hidup dalam kebingungan sampai musnahlah mereka semuanya dan datang menyusul generasi baru yang akan mewarisi negeri yang suci itu sebagaimana yang telah disanggupkan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim a.s. Pokok cerita tersebut di atas dikisahkan oleh Al-Quran dalam surah "Al-Maidah ayat 20 sehingga ayat 26 sebagaimana berikut : "20~ Dan {ingatlah} ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikannya kamu orang-orang merdeka dan diberi-Nya kepada mu apa yang belum pernah diberi-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain." 21~ HAi kaumku, masuklah ke tanah suci {Palestin} yang telah ditentukan oleh Allah bagimu dan janganlah kamu lari kebelakang {karena takut kepada musuh} maka kamu akan menjadi orang-orang yang rugi.

22~ Mereka berkata: "Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa sesungguhnya kami tidak sesekali akan memasukinya sebelum mereka keluar drpnya. Jika mereka keluar drpnya, pasti kami akan memasukinya" 23~ Berkatalah dua orang di antara orrg-orang yang takut {kepada Allah} yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: " Serbulah mereka melalui pintu gerbang {kota} itu, maka bila kamu memasukinya nescaya kamu akan menang.

Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu orang-orang yang beriman." 24~ Mereka berkata: "Hai Musa, kami sesekali tidak akan memasuki selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja." 25~ Berkata Musa: "Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku.

Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasiq itu." 26~ Allah berfirman : {Jika demikian} maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun {selama itu} mereka akan berpusing-pusing kebingungan di bumi itu.

Maka janagnlah kamu bersedih hati {memikirkan nasib} orang-orang yang fasiq itu." { Al-Maidah : 20 ~ 26 } Salah satu dari beberapa mukjizat yang telah dinerikan oleh Allah kepada Nabi Musa ialah penyembelihan sapi yang terkenal dengan sebutan sapi Bani ISra'il. Dikisahkan bahwa ada seorang anak laki-laki putera tunggal dari seorang kaya-raya memperolehi warisan harta peninggalan yang besar dari ayahnya yang telah wafat tanpa meninggalkan seorang pewaris selain putera tunggalnya itu.

Saudara-saudara sepupu dari putera tunggal itu iri hati dan ingin menguasai harta peninggalan yang besar itu atau setidak-tidaknya sebahagian daripadanya. Dan kerana menurut hukum yang berlaku pada waktu itu yang tidak memberikan hak kepada mereka untuk memperoleh walau sebahagian dari peninggalan bapa saudara merekamereka bersekongkol untuk membunuh saudara sepupu pewaris itu, sehingga bila ia sudah mati hak atau warisan yang besar itu akan jatuh kepada mereka.

Pembunuh atas pewaris sah itu dilaksanakan menurut rencana yang tersusun rapi kemudian datanglah mereka kepada Nabi Musa melaporkan, bahwa mereka telah menemukan saudara sepupunya mati terbunuh oleh seorang yang tidak dikenal identitinya mahupun tempat di mana iamenyembunyikan diri. Mereka mengharapkan Nabi Musa dapat menyingkap tabir yang menutupi peristiwa pembunuhan itu serta siapakah gerangan pembunuhnya.

Utk keperluan itu, Nabi Musa memohon pertolongan Allah yang segera menwahyukan perintah kepadanya agar ia menyembelih seekor sapi dan dengan lidah sapi yang disembelih itu dipukullah mayat sang korban yang dengan izin Allah akan bangun kembali memberitahukan siapakah sebenarnya yang telah melakukan pembunuhan atas dirinya.

Tatkala Nabi Musa menyampaikan cara yang diwahyukan oleh Allah itu kepada kaumnya ia ditertawakan dan diejek karena akal mereka tidak dapat menerima bahwa hal yang sedemikian itu boleh terjadi. Mereka lupa bahwa Allah telah berkali-kali menunjukkan kekuasaan-Nya melalui mukjizat yang diberikan kepada Musa yang kadang kala bahkan lebih hebat dan lebih sukar untuk diterima oleh akal manusia berbanding mukjizat yang mereka hadapi dalam peristiwa pembunuhan pewaris itu.

Berkata mereka kepada Musa secara mengejek: "Apakah dengan cara yang engkau usulkan itu, engkau bermaksud hendak menjadikan kami bahan ejekan dan tertawaan orang?

Akan tetapi kalau memang cara yang engkau usulkan itu adalah wahyu, maka cubalah riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu kepada Tuhanmu, sapi betina atau jantankah yang harus kami sembelih? Dan apakah sifat-sifatnya serta warna kulitnya agar kami tidak dapat salah memilih sapi yang harus kami sembelih?" Musa menjawab: "Menurut petunjuk Allah, yang harus disembelih itu ialah sapi betina berwarna kuning tua, belum pernah dipakai untuk membajak tanah atau mengairi tanaman tidak cacat dan tidak pula ada belangnya." Kemudian dikirimkanlah orang ke pelosok desa dan kampung-kampung mencari sapi yang dimaksudkan itu yang akhirnya diketemukannya pd seorang anak yatim piatu yang memiliki sapi itu sebagai satu-satunya harta peninggalan ayahnya serta menjadi satu-satunya sumber nafkah hidupnya.

Ayah anak yatim itu adalah seorang fakir miskin yang soleh, ahli ibadah yang tekun yang pada saat mendekati waktu wafatnya, berdoalah kepada Allah memohon perlindungan bagi putera tunggalnya yang tidak dapat meninggalkan warisan apa-apa baginya selain seekor sapi itu. Maka berkat doa ayah yang soleh itu terjuallah sapi si anak yatim itu dengan harga yang berlipat ganda karena memenuhi syarat dan sifat-sifat yang diisyaratkan oleh Musa untuk disembelih. Setelah disembelih sapi yang dibeli dari anak yatim itu, diambillah lidahnya oleh Nabi Musa, lalu dipukulkannya pada tubuh mayat, yang seketika bangunlah ia hidup kembali dengan izin Allah, menceritakan kepada Nabi Musa dan para pengikutnya bagaimana ia telah dibunuh oleh saudara-saudara sepupunya sendiri.

Demikianlah mukjizat Allah yang kesekian kalinya diperlihatkan kepada Bani Isra'il yang keras kepala dan keras hati itu namun belum juga dapat menghilangkan sifat-sifat congkak dan membangkang mereka atau mengikis-habis bibit-bibit syirik dan kufur yang masih melekat pada dada dan hati mereka.

Ayat-ayat Al-Quran yang mengisahkan pokok cerita di atas, terdapat dalam surah "Al-Baqarah ayat 67 sehingga 73 sebagaimana tersebut di bawah ini :~ "67~ Dan {ingatlah} ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih sapi betina." Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan." Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah drp menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil." 68~ Mrk menjawab: "Mohonlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami sapi betina apakah itu?

Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda pertengahan antara itu maka kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu." 69~ Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apakah warnanya.

Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya." 70~ Mrk berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu {masih} samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya-Allah akan dat petunjuk." 71~ Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak cacat, tidak ada belangnya." Mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenar." Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

72~ Dan {ingatlah} ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.

73~ Lalu Kami berfirman: "Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu." Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti." { Al-Baqarah : 67 ~ 73 } Pada suatu ketika berpidatolah Nabi Musa di depan kaumnya Bani Isra'il. Ia berdakwah kepada mereka, memberi nasihat dengan mengingatkan kepada mereka akan kurnia dan nikmat Allah yang telah dicurahkan kepada mereka yang sepatutnya diimbangi dengan syukur dan pelaksanaan ibadah yang tulus, melakukan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Kepada mereka yang beriman, bertaat dan bertakwa, Nabi Musa menjanjikan pahala syurga dan bagi mereka yang mengingkari nikmat Allah diancam dengan seksa api neraka. Begitu Nabi Musa mengakhiri pidatonya bangunlah di antara para hadiri bertanya kepadanya: "Wahai Musa, siapakah di atas bumi Allah ini paling pandai dan paling berpengetahuan?" "Aku", jawab Musa. Apakah tidak ada kiranya orang yang lebih pandai dan lebih berpengetahuan daripadamu?" Tanya lagi si penanya itu.

"Tidak ada"ujar Musa seraya berkata dalam hati kecilnya: " Bukankah aku Nabi terbesar di antara Bani Isra'il?

riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu

Aku adalah penakluk Fir'aun, pemegang berbagai mukjizat, yang telah dapat membelah laut dengan tongkatku dan akulah yang memperoleh kesempatan bercakap-cakap langsung dengan Tuhan. Maka kemuliaan apa lagi yang dapat melebihi kemuliaan serta kebesaran yang aku capai itu, yang belum pernah dialami dan dicapai oleh sesiapa pun sebelum aku." Riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu sombong dan keunggulan diri yang tercermin dalam kata-kata Nabi Musa, dicela oleh Allah yang memperingatkan kepadanya bahwa ilmu itu adalah lebih luas untuk dimiliki oleh seseorang walaupun ia adalah seorang rasul dan bahwa bagaimana luasnya ilmu dan pengetahuan seseorang, nescaya akan terdapat orang lain yang lebih pandai dan lebih alim daripadanya.

Selanjutnya untuk melanjutkan kekurangan yang ada pada diri Nabi Musa Allah memerintahkan kepadanya agar menemui seorang hamba-Nya di suatu tempat di mana dua lautan bertemu. Hamba yang soleh yang telah diberinya rahmat dan ilmu oleh Allah itu akan memberi tambahan pengetahuan dan ilmu kepada Nabi Musa sehingga dapat menjadikan sedar bahwa tiada manusia yang dapat membanggakan diri dengan mengatakan bahwa akulah orang yang terpandai dan berpengetahuan luas di atas bumi ini.

Berkata Musa kepada Tuhan: "Wahai Tuhanku, aku akan pergi mencari hamba-Mu yang soleh itu, bagi memperolehi bunga api ilmunya dan mendapat titisan air pengetahuan dan ilham yang Engkau telah berikan kepadanya." Allah berfirman kepada Musa: "Bawalah seekor ikan didalam sebuah keranjang dalam perjalananmu mencari dia dan ketahuilah bahwa di tempat di mana engkau akan kehilangan ikan di dalam keranjang itu, di situ engkau akan menemui hamba-Ku yang soleh itu." Nabi Musa menyiapkan diri untuk perjalanan yang jauh, didampingi oleh "Yusya' bin Nun" seorang drp para pengikutnya yang setia.

Ia membawa bekal makanan dan minuman di antaranya sebuah keranjang yang terisi seekor ikan sesuai dengan petunjuk Allah. Ia berkeras hati tidak akan kembali sebelum ia dapat menemui hamba yang soleh itu walaupun ia harus melakukan perjalanan yang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun bila perlu. Ia berpesan kepada teman sepejalanannya Yusya' bin Nun agar segera memberitahu kepadanya bilamana ikan yang di dalam keranjang yang dibawanya itu hilang. Tatkala Nabi Musa nerserta Yusya' bin Nun sampai di mana dua lautan bertemu yang telah diisyaratkan dalam firman Allah kepadanya, tertidurlah ia di atas sebuah batu yang besar yang berada di tepi lautan.

Pada saat ia lagi tidur nyenyak, turunlah hujan rintik-rintik, membasahi seekor di dalam keranjang itu dan tanpa mereka ketahui melompatlah ikan tersebut itu masuk ke dalam laut. Setelah Musa terjaga dari tidurnya, bangunlah mereka meneruskan perjalanan yang tidak menentu arah mahupun tujuan. Dan dalam perjalanan yang sudah agak jauh, berhentilah Musa beristirehat sekadar untuk menghilangkan rasa penatnya seraya meminta dari Yusya bin Nun agar menyiapkan santapannya karena ia sudah sgt lapar.

Ketika Yusya bin Nun membuka keranjang untuk mengambil makanan teringatlah olehnya akan ikan yang hilang dan melompat ke dalam laut. Maka berkatalah Yusya' kepada Nabi Musa: "Aku telah dilupakan oleh syaitan untuk memberitahu kepadamu segera, bahwa tatkala engkau berada di atas batu karang sedang tidur nyenyak, ikan kami yang berada di dalam keranjang tiba-tiba hidup kembali setelah kejatuhan air hujan dan melompat masuk ke dalam laut. Sepatutnya aku melapurkan kkepadamu segera, sesuai dengan pesananmu, namun aku dilupakan oleh syaitan." Wajah Nabi Musa berseri-seri menjadi kegirangan mendengar berita itu dari Yusya' karena telah dapat mengetahui di mana ia akan dapat bertemu dengan hamba Allah yang dicari itu.

Berkata Musa kepada Yusya': "Inilah tempat yang kami tuju dan disini kami akan menemui orang yang kami cari. Marilah kami kembali ke tempat batu karang itu yang menjadi tempat tujuan terakhir dari perjalanan kami yang jauh ini." Setiba mereka kembali di tempat di mana mereka kehilangan ikan, mereka melihat seorang bertubuh kurus langsing yang pada wajahnya tampak cahaya dan iman serta tanda-tanda orang soleh. Ia sedang menutpi tubuhnya dan pakaiannya sendiri, yang segera disingkapnya ketika mendengar kata-kata salam Nabi Musa kepadanya.

"Siapakah engkau?" bertanya orang soleh itu. Musa menjawab: "Aku adalah Musa." Bertanya kembali orang soleh itu: "Musa, nabi Bani Isra'ilkah?" "Betul", jawab Musa, seraya bertanya: "Dari manakah engkau mengetahui bahawa aku adalah Nabi Bani Isra'il?" "Dari yang mengutusmu kepadaku", jawab orang soleh itu. "Inilah hamba Allah yang aku cari", berkata Musa dalam hatinya, seraya mendekatinya dan berkata kepadanya: "Dapatkah engkau memperkenankan aku mengikutimu dan berjalan bersamamu ke mana saja engkau pergi sebagai bayanganmu dan sebagai muridmu?

Aku akan mematuhi segala petunjuk dan perintahmu." Hamba soleh atau menurut banyak pendapat ahli-ahli tafsir Nabi Al-Khidhir itu menjawab: "Engkau tidak akan sabar dan tidak dapat menahan diri bila engkau mengikutiku dan berjalan bersamaku. Engkau akan mengalami dan melihat hal-hal yang ajaib yang sepintas lalu nampak seakan-akan perbuatan yang salah dan mungkar namun pada hakikatnya adalah perbuatan benar dan wajar dab engkau sebagai manusia tidak akan berdiam diri melihatku melakukan perbuatan dan tingkah laku yang ganjil menurut pandanganmu." Musa menjawab dengan sikap seorang murid yang ingin belajar dan menambah pengetahuan : "Insya-Allah engkau akan mendapati aku seorang yang sabar yang tidak akan melanggar sesuatu perintah atau petunjuk daripadamu." Berkata Al-Khidhir kepada Musa: "JIka engkau benar-benar ingin mengikutiku dan berjalan bersamaku maka engkau harus berjanji tidak akan mendahului bertanya tentang sesuatu sebelum aku memberitahukan kepadamu.

Engkau harus berjanji bahwa engkau tidak akan menentang segala perbuatan dan tindakan yang aku lakukan dihadapan mu walaupun menurut pandanganmu itu salah dan mungkar. Aku dengan sendirinya memberi alasan dan tafsiran bagi segala tindakan dan perbuatanmu kepadamu kelak pada akhir perjalanan kami berdua." Dengan diterimanya pesyaratan Nabi Al-Khidhir oleh Musa yang berjanji akan mematuhinya bulat-bulat, maka diajaklah Nabi Musa mengikutinya dalam perjalanan.

Pelanggaran pertama terhadap persyaratan Al-Khidhir terjadi tatkala mereka sampai di tepi pantai, di mana terdapat sebuah perahu sedang berlabuh.

Nabi Al-Khidhir meminta pertolongan pemilik perahu itu, agar menghantar mereka di suatu tempat yang di tuju. Dengan senang hati diangkutlah mereka berdua secara percuma tanpa bayaran bahkan dihormati dan diberi layanan yang baik kerana dilihatnya oleh pemilik perahu bahwa kedua orang itu memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri yang tidak terdapat pada orang biasa.

Tatkala mereka berada dalam perut perahu yang sedang meluncur dengan lajunya di antara gelombang-gelombang tiba-tiba Musa melihat Al-Khidhir melubangi perahu itu dengan mengambil dua keping kayunya.

Perbuatan mana yang dianggap oleh Musa suatu gangguan dan pengrusakan bagi milik riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu yang telah berbuat baik terhadap mereka. Musa lupa akan janjinya sendiri dan ditegulah Al-Khidhir dengan berkata: "Engkau telah melakukan perbuatan mungkar dengan merusak dan melubangi perahu ini. Apakah dengan perbuatan kamu ini engkau hendak menenggelamkan perahu ini dengan semua penumpangnya? Tidakkah engkau merasa kasihan kepada pemilik perahu ini yang telah berjasa kepada kami dan menghantarkan kami ke tempat yang kami tuju tanpa membayar sesen pun?" Berkata Al-Khidhir menjawab teguran Musa: "Bukankah aku telah katakan kepadamu bahawa engkau tidak akan sabar menahan diri melihat tindak-tandukku di dalam perjalanan menyertaiku." Musa berkata: "Maafkanlah daku.

Aku telah lupa akan janjiku sendiri. Janganlah aku dipersalahkan dan dimarahi akan kelupaanku." Permintaan maaf Musa diterimalah oleh Al-Khidhir dan tibalah meeka berdua di tempat yang dituju di sebuah pantai. Kemudian perjalanan dilanjutkan di darat dan bertemulah mereka dengan seorang anak laki-laki yang sedang bermain-main dengan kawan-kawannya. Tiba-tiba dipanggillah anak itu oleh Al-Khidhir, dibawanya ke tempat yang agak jauh, dibaringkannya dan dibunuhnya seketika itu.

Alangkah terperanjatnya Musa melihat tindakan Al-Khidhir yang dengan sewenang-wenangnya telah membunuh seorang anak yang tidak berdosa, seorang yang mungkin sekali dalam fikiran Musa adalah harapan satu-satunya bagi kedua orang tuanya. Musa sebagai Nabi yang diutus oleh Allah untuk memerangi kemungkaran dan kejahatan tidak dapat berdiam diri melihat Al-Khidhir melakukan pembunuhan yang tiada beralasan itu, maka ditegurlah ia seraya berkata: "Mengapa engkau telah membunuh seorang anak yang tidak berdosa?

Sesungguhnya engkau telah melakukan perbuatan yang mungkar dan keji." Al-Khidhir menjawab dengan sikap dinginnya: "Bukankah aku telah berkata kepadamu, bahwa engkau tidak akan sabar menahan diri berjalan dengan aku?" Dengan rasa malu mendengar teguran Al-Khidhir itu, berucaplah Musa: "Maafkanlah aku untuk kedua kalinya dan perkenankanlah untuk aku meneruskan perjalanan bersamamu dengan pergertian bahwa bila terjadi lagi perlanggaran dari pihakku untuk kali ketiganya, maka janganlah aku diperbolehkan menyertaimu seterusnya.Sesungguhnya telah cukup engkau memberi uzur dan memberi maaf kepadaku." Dengan janji terakhir yang diterima oleh Al-Khidhir dari Musa diteruskanlah perjalanan mereka berdua sampai tiba di suatu desa di mana mereka ingin beristirehat untuk menghilangkan lelah dan penat mereka akibat perjalanan jauh yang telah ditempuh.

Mereka berusaha untuk mendapat tempat penginapan sementara dan sedikit bahan makanan untuk sekadar mengisi perut kosong mereka, namun tidak seorang pun dari penduduk desa yang memang terkenal bachil {pelit} itu yang mahu menolong mereka memberi tempat beristirehat atau sesuap makanan sehingga dengan rasa kecewa mereka segera meninggalkan desa itu.

Dalam perjalanan Musa dan Al-Khidhir hendak keluar dari desa itu mereka melihat dinding salah satu rumah desa itu nyaris roboh. Segera AL-Khidhir menghampiri dinding itu dan ditegakkannya kembali. Dan secara spontan, tanpa disedar, berkata Musa kepada Al-Khidhir: "Hairan bin ajaib, mengapa engkau berbuat kebaikan bagi orang0orang yang jahat dan pelit ini. Mereka telah menolak untuk memberi kepada kami tempat istirehat dan sesuap makanan untuk perut kami yang lapar.

Sepatutnya engkau menuntut upah bagi usahamu menegakkan dinding itu, agar dengan upah yang engkau perolehi itu dapat kami menutupi keperluan makan minum kami." Al-Khidhir menjawab: "Wahai Musa, inilah saat untuk kami berpisah sesuai dengan janjimu yang terakhir. Cukup sudah aku memberimu kesempatan dan uzur. Akan tetapi sebelum kami berpisahakan aku berikan kepadamu tujuan serta alasan-alasan perbuatan-perbuatanku yang engkau rasakan tidak wajar dan kurang patut." "Ketahuilah hai Musa", Al-Khidhir melanjutkan huraiannya,"bahawa pengrusakan bahtera yang kami tumpangi itu adalah dimaksudkan untuk menyelamatkannya dari pengambil-alihan oleh seorang raja yang zalim yang sedang mengejar di belakang bahtera itu.

Sedang bahtera itu adalah milik orang-orang fakir-miskin yang digunakan sebagai sarana mencari nafkah bagi hidup mereka sehari-hari. Dengan melubangi yang aku lakukan dalam bahtera itu, si raja yang zalim itu akan berfikir dua kali untuk merampas bahtera itu yang dianggapnya rusak dan berlubang itu.

Maka perbuatanku yang pada lahirnya adalah pengrusakan milik orang, namun tujuannya ialah menyelamatkannya dari tindakan perampasan sewenang-wenangnya." "Adapun tentang anak yang aku bunuh itu ialah bertujuan menyelamatkan kedua orang tuanya dari gangguan anak yang durhaka itu. Kedua orang tua anak itu adalah orang-orang yang mukmin, soleh dan bertakwa yang aku khuatirkan akan menjadi tersesat dan melakukan hal-hal yang buruk karena dorongan anaknya yang durhaka itu.

Aku harapkan dengan matinya anak itu Allah akan mengurniai anak pengganti riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu soleh dan berbakti kepada mereka berdua." Sedang mengenai dinding rumah yang ku perbaiki dan ku tegakkan kembali itu adalah karena dibawahnya terpendam harta peninggalan milik dua orang anak yatim piatu.

Ayah mereka adalah orang yang soleh ahli ibadah dan Allah menghendaki bahwa warisan yang ditinggalkan untuk kedua anaknya itusampai ketangan mereka selamat dan utuh bila mereka sudah mencapai dewasanya, sebagai rahmat dari Tuhan serta ganjaran bagi ayah mereka yang soleh dan bertakwa itu." "Demikianlah wahai Musa, apa yang ingin engkau ketahui tentang tujuan tindakan-tindakanku yang sepintas lalu engkau anggap buruk dan melanggar hukum.

Semuanya itu telah kulakukan bukan atas kehendakku sendiri tetapi atas tuntunan wahyu Allah kepadaku." Kisah Musa dan Al-Khidir ini dapat dibaca dalam surah "Al-Kahfi" ayat 60 sehingga ayat 82 yang bermaksud :~ "60~ Dan {ingatlah} ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun." 61~ Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.

62~ Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah kemari makanan kita sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini." 63~ Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidaklah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali." 64~ Musa berkata: "Itulah tempat yang kita cari." Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu.

65~ Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. 66~ Musa berkata Al-Khidhir: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" 67~ Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sesekali kamu tidak akan sanggup sabar bersamaku, 68~ dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" 69~ Musa berkata: "Insya-Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun." 70~ Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu." 71~ Maka berjalanlah keduanya, hingga keduanya menaiki perahu, lalu Al-Khidhir melubanginya.

Musa berkata: "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpamgnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. 72~ Dia {Al-Khidhir} berkata: "Bukankah aku telah katakan: "Sesungguhnya kamu sesekali tidak akan sabar bersama dengan aku." 73~ Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku kerana kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku," 74~ Maka berjalanlah keduanya hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang pemuda maka Al-Khidhir membunuhnya.

Musa berkata : "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan kerana dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar." 75~ Al-Khidhir berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" 76~ MUsa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah {kali ini} maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku." 77~ Maka keduanya berjalan hingga riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu keduanya sampai kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mahu menjamu mereka kemudian keduanya dapati dalam negeri itu ada dinding rumah yang hampir roboh, maka Al-Khidhir menegakkan dinding itu.

Musa berkata: "Jikalau kamu mahu nescaya kamu akan mengambil upah untuk itu." 78~ Al-Khidhir berkata : "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu kelak akan ku beritahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. 79~ Adapun bahter itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu kerana di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

80~ Dan ada pun anak muda itu maka kedua orang tuanya adlah orang-orang mukmin dan kami khuatir bhe dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. 81~ Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya {kepada ibubapanya}.

82~ Adapun dinding rumah itu kepunyaan dua orang anak muda yang yatim di kota itu sedang ayahnya adalah seorang yang soleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu dan bukanlah aku melakukannnya itu menurut kemahuanku sendiri.

Demikianlah itu adlah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya." { Al-Kahfi : 60 ~ 82 } Qarun adalah nama seorang drp kaum Nabi Musa dan keluarganya yang dekat.

Ia dikurniai Allah kelapangan rezeki dan kekayaan harta benda yang besar yang tidak ternilai bilangannya. IA hidup mewah, selalu mujur dalam usahanya mengumpulkan kekayaan, sehingga menjadi padatlah khazanahnya dengan harta benda dan benda-2 yang sgt berharga.

Sampai-2 para juru kuncinya tidak berdaya membawa atau memikul kunci-2 peti khazanahnya karena sgt byk dan beratnya. Ia hidup secara mewah dan menonjol di antara kaum dan penduduk kotanya. Segala-galanya adlah luar biasa dan lain drp yang lain. Gedung-2 tempat tinggalnya ,pakaiannya sehari-hari ,pelayan-2nya dan hamba-2 sahayanya yang bilangannya melebihi keperluan. Dan walaupun ia tenggelam dalam lautan kenikmatan duniawi yang tiada taranya pada masa itu, ia merasa masih belum puas dengan tingkat kekayaan yang ia miliki dan terus berusaha mengisi khazanahnya yang sudah padat itu, sifat mausia yang serakah yang tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah dicapai.

Jika ia sudah memiliki segantang emas ia ingin memperolhi segantang yang kedua dan demikian seterusnya. Sebagaimana halnya dengan kebykan orang-orang kaya yang telah dimabukkan oleh harta bendanya maka Qarun tidak merasa sedikit pun bahwa dia mempunyai kewajiban sosial dengan harta kekayaannya itu.

Ia dalam hidupnya hanya memikirkan kesenangan dan kesejahteraan peribadinya, memikirkan bagaimana ia dapat menambahkan kekayaannya yang sudah melimpah-limpah itu. Ia telah dinasihati oleh pemuka-2 kaumnya agar ia menyediakan sebahagian daripada kekayaannya bagi menolong para fakir miskin, menolong orang-orang yang telanjang yang tidak berpakaian dan lapar tidak dapat makanan. Ia diperingatkan bahwa kekayaan yang ia perolehi itu adalah kurniaan dari Tuhan yang harus disyukuri dengan beramal kebajikan terhadap sesama manusia dan melakukan perbuatan-2 yang dapat meringankan penderitaan orang-orang yang ditimpa musibah atau menderita cacat.

Diperingatkan bahwa Allah yang telah memberinya rezeki yang luas itu dapat sewaktu-waktu mencabutnya bila ia melalaikan kewajiban sosialnya. Nasihat yang baik dan peringatan yang jujur yang dikemukakan oleh pemuka-pemuka kaumnya itu tidak diendahkan oleh Qarun dan tidak mendapat tempat didalam hatinya.Ia bahkan merasa bahwa karena kekayaannya ialah yang harus memberi nasihat dan bukan menerima nasihat.

Orang harus tunduk kepadanya, mematuhi perintahnya, mengiakan kata-katanya dan membenarkan segala tindak tanduknya. IA menyombongkan diri dengan mengatakan kepada orang-orang yang memberikan nasihat itu bahwa kekayaan yang ia miliki adalah semata-mata hasil jerih payahnya dan hasil kecekapan dan kepandaiannya berusaha dan bukan merupakan kurnia atau pemberian dari sesiapa pun.

Karenanya ia bebas menggunakan harta kekayaannya menurut kehendak hatinya sendiri dan tidak merasa terikat oleh kewajipan sosial berupa pertolongan dan bantuan kepada para fakir miskin dan para penderita yang memerlukan bantuan dan pertolongan. Sebagai tentangan bagi para orang yang menasihatinya, Qarun makin meningkatkan cara hidup mewahnya dan secara menyolok mempamerkan kekayaannya dengan berlebih-lebihan.

Bila ia keluar, Ia mengenakan pakaian dan perhiasan yang bergemerlapan, membawa pengantar dan pembantu lebih banyak daripada biasanya dan mengenderai kuda-kuda yang dihiasi dengan indah dan cantik. Kemewahan yang ditonjolkan secara menyolok itu ,merasakan iri-hati dikalangan penduduk terutama mereka yang masih lemah imannya. Mereka berbisik-bisik diantara sesama mereka mengeluh dengan berkata: "Mengapa kami tidak diberi rezeki dan kenikmatan seperti yang telah diberikan kepada Qarun?

Alangkah mujurnya nasib Qarun dan alangkah bahagianya dia dalam hidupnya di dunia ini! Dan mengapa Tuhan melimpahkan kekayaan yang besar itu kepada Qarun yang tidak mempunyai rasa belas kasihan terhadap orang-orang yang melarat dan sengsara, orang-orang yang fakir dan miskin yang memerlukan pertolongan berupa pakaian mahupun makanan.Dimanakah letak keadilan Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih itu?" Qarun yang tidak mengabaikan anjuran orang, agar ia secara sukarela menyediakan sebahagiaan harta kekayaannya untuk disedekahkan kepada orang-orang yang memerlukannya, melarat dan miskin akhirinya didatangi oleh Nabi Musa menyampaikan kepadanya bahwa Allah telah mewahyukan perinyah berzakat bagi tiap-tiap orang yang kaya dan berada.

Diterangkan oleh Musa kepadanya bahwa dalam harta kekayaan tiap ada bahagian yang telah ditentukan oleh Tuahn sebagai hak orang-orang yang melarat dan fakir miskin yang wajib diserahkan kepada mereka. Qarun merasa jengkel memerima perintah wajib berzakat itu dan menyatakan keraguan dan kesangsian kepada Musa. Ia berkata: "Hai MUsa kami telah membantumu dan menyokongmu dalam dakwahmu kepada agama barumu.

Kami telah menuruti segala perintahmu dan mendengarkan segala kata-katamu. Sikap kami yang lunak itu terhadap dirimu telah memberanikan engkau bertindak lebih jauh dari apa yang sepatutnya dan mulailah engkau ingin meraih harta benda kami.

Engkau rupanya ingin juga menguasai harta kekayaan kami setelah kami serahkan kepadamu hati dan fikiran kami sebulat-bulatnya.

Dengan perintah wajib zakatmu ini engkau telah membuka topengmu dan menunjukkan dustamu dan bahwa engkau hanya seorang pendusta dan ahli sihir belaka." Tuduhan Qarun yang ingin melepaskan dirinya dari wajib berzakat itu ditolak oleh Nabi Musa yang menegaskan kembali bahwa kewajiban berzakat iut tidak dapat ditawar-tawar dan harus dilaksanakan karena ia adalah perintah Allah yang harus ditaati dan dilaksanakan dengan semestinya.

Quran tidak dapat jalan untuk mengelakkan diri dan kewajiban zakat itu setelah berbantah dan berdebat dengan Musa maka ia menyerah dan ditentukan berapa besar yang harus ia keluarkan zakat harta kekayaannya. Setelah tiba di rumah dan menghitung-hitung bahagian yang harus dizakatkan dari harta miliknya Qarun merasa terlampau besar yang harus dizakatkan dan merasa sayang bahwa ia harus mengeluarkan dari khazanahnya sejumlah wang tanpa meperolehi imbalan sesuatu keuntungan dan laba.

Fikir punya fikir dan timbang punya timbang akhirnya Qarun mengambil keputusan untuk tidak akan mengeluarkan zakat walau apapun yang akan terjadi akibat tindakannya itu. Utk menguatkan aksi pemboikotannya terhadap kewajiban mengeluarkan zakat, Qarun menyebarkan fitnah kepada Nabi Musa dengan maksud menarik orang agar menjadikan penunjang aksinya dan mengikutinya menolak menolak kewajiban mengeluarkan zakat sebagaimana diperintahkan oleh Nabi Musa.

Ia menyebarkan fitnah seolah-olah Nabi Musa dengan dakwahnya dan penyiaran agama barunya bertujuan ingin memperkayakan diri dan bahwa perintah zakatnya itu adalah merupakan cara perampasan yang halus terhadap milik-milik para pengikutnya.

Lebih jahat lagi untuk menjatuhkan Nabi Musa dan kewibawaannya, Qaru bersekongkol dengan seorang wanita yang diajarinya agar mengaku didepan umum bahwa ia telah melakukan perbuatan zina dengan Musa.

Akan tetapi Allah tidak rela nama Rasul-Nya tercemar oleh tuduhan palsu yang diaturkan oleh Qarun itu. Maka digerakkanlah hati wanita sewaannya itu untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya dan bahwa apa yang ia tuduhkan kepada Nabi Musa adalah fitnahan dan ajaran Qarun semata-mata dan bahawasannya Musa adalah bersih dari perbuatan yang dituduh itu.

Setelah ternyata bagi Nabi Musa bahwa Qarun tidak beriktikad baik dan bahwa ia tidak dapat diharap menjadi pengikut yang soleh yang mematuhi perintah-2 Allah terutama perintah wajib zakat bahkan ia dapat merusakkan akhlak dan iman para pengikut Musa dengan sikap dan cara hidupnya yang berlebih-lebihan mewahnya, ditambahkan pula usahanya yang tidak henti-2 merusakkan kewibawaan Nabi Musa dengan melontarkan fitnahan dan berbagai hasutan maka habislah kesabaran Nabi Musa ,lalu berdoa ia kepada Allah agar menurunkan azab-Nya atas diri Qarun yang sombong dan congkak itu, agar menjadi pengajaran dan ibrah bagi kaumnya yang sudah mulai goyah imannya melihat kenikmatan yang berlimpah-limpah yang telah Allah kurniakan kepada Qarun yang membangkang itu.

Maka dengan izin Allah yang telah memperkenankan doa Nabi Musa terjadilah tanah runtuh yang dahsyat di atas mana terletak bangunan gedung-gedung yang mewah tempat tinggal Qarun dan tempat penimbunan kekayaannya. Terbenamlah seketika itu Qarun hidup-hidup berserta semua milik kekayaan yang menjadi kebaggaannya. Peristiwa yang menimpa Qarun dan harta kekayaannya itu menjadi ibrah bagi pengikut-2 Nabi Musa serta ubat rohani bagi mereka yang beriri hati dan mendambakan kenikmatan dan kemewahan hidup sebagaimana yang telah dialami oleh Qarun.

Mereka berkata seraya bersyukur kepada Allah: "Sekiranya Allah telah melimpahkan rahmat dan kurnia-Nya, nescaya kami dibenamkan pula seperti Qarun yang selalu kami inginkan kedudukan duniawinya. Sesungguhnya kami telah tersesat ketika kami beriri hati dan mendambakan kekayaannya yang membawa binasa baginya. Aduhai benar-2 tidaklah beruntung orang-orang yang mengingkari nikmat Allah." Isi cerita tersebut di atas dapat dibaca dalam surah "Qashash" ayat 76 sehingga 82 dan surah "Al-Ahzaab" ayat 69 sebagaimana berikut :~ "76~Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa maka ia berlaku aniaya terhadap mereka dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-nya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-2.

{Ingatlah{ ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." 77~ Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan kepada mu {kebahagiaan} negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari {kenikmatan} duniawi dan berbuat baiklah {kepada orang lain} sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakkan di {muka} bumi ini.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakkan. 78~ Qarun berkata: "Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku." Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasannya Allah sungguh telah membinasakan umat-2 sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka. 79~ Mak keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: " Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarunsesungguhnya ia benar-benar mempunyai peruntungan yang besar." 80~ Berkatalah orang-orang yang telah dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebihbaik bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar." 81~ Mak Kami benamkan Qarun berserta rumahnya ke dalam bumi.

Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang {yang dapat} membela {dirinya}. 82~ Dan jadilah orang-orang yang kelmarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu berkata: "aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.

Kalau Allah tidak melimpahkan kurnia-Nya atas kita benar-benar Dia {Allah} telah membenamkan kita {pula}. Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari {nikmat} Allah." { Al-Qashash : 76 ~ 82 } "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah." { Al-Ahzaab : 69 } Thalout diangkat sebagai raja Bani Isra'il Setelah Bani Isra'il memasuki Palestin dan menguasainya di bawah pimpinan Yusya bin Nun mereka selalu menjadi sasaran penyerbuan dan serangan dari bangsa-2 sekelilingnya, seperti suku Amaliqah dari bangsa Arab, bangsa Palestin sendiri dan bangsa Aramiyin.

Kemenangan dan kekalahan di antara meeka silih berganti. Pada suatu waktu datanglah bangsa Palestin penduduk "Usydud" suatu daerah dekat Gaza menyerbu dan menyerang mereka dan terjadilah pertempuran yang berakhir dengan kemenangan bangsa Palestin yang berhasil, mencerai-beraikan Bani Israil dan merampas benda keramat mereka yang bernama "Tabout", yaitu sebuah peti tempat penyimpanan kitab Taurat. Peti yang disebut Tabout itu adlah merupakan salah satu dari banyak kurnia yang telah diberikan oleh Allah kepada Bani Isra'il.

Mereka menganggap Tabout itu suatu benda keramat yang dapat menginspirasikan kekuatan dan keberanian kepada mereka dikala menghadapi musuh. Maka karenanya dalam tiap medan perang dibawanyalah Tabout itu untuk memberi kekuatan batin dan semangat juang bagi mereka memberi rasa berani bagi mereka dan rasa takut bagi musuh. Maka dengan dirampasnya Tabout itu oleh bangsa Palestin hilanglah pegangan mereka dan berantakanlah barisannya, retaklah kesatuannya sehingga menjadi laksana binatang ternakan yang ditinggalkan gembalanya.

Dan memang sejak ditinggalkan oleh Nabi Mua, Bani Isra'il tidak mempunyai seorang raja atau seorang pemimpin yang berwibawa yang dapat mengikat mereka di bawah satu bendera dan menghimpun mereka di bawah satu komando bila terjadi serangan dari luar dan penyerbuan oleh musuh.

Mereka hanya dipimpin oleh hakim-hakim penghulu yang memberi tuntunan kepada mereka dalam bidang keagamaan dan kadangkala menjadi juru damai jika timbul perselisihan dan sengketa di antara sesama mereka. Di antara penghulu itu terdapat seorang penghulu yang paling disegani dan di hormati bernama Somu'il. Kata-katanya selalu didengar dan nasihat-2nya selalu diterima dan ditaati.

Kepada Somu'il datanglah beberapa pemuda Bani Isra'il yang merasa sedih melihat keadaan kaumnya menjadi kacau bilau dan bercerai berai setelah dikalahkan oleh bangsa Palestin dan dikeluarkan dari negeri mereka serta dirampasnya Tabout yang merupakan peti wasiat dan benda keramat bagi mereka. Mereka mengutarakan kepada Samu'il bahwa mereka memerlukan seorang pemimpin yang kuat yang berwibawa dan mempunyai kekuasaan sebagai seorang raja untuk menghimpun mereka dan seterusnya menjadi panglima perang.

Samu'il yang mengenal baik watak mereka dan titik-titik kelemahan serta sifat-2 licik dan pembangkang yang meletak pada diri mereka berkata: "Aku khuatir bahwa kamu akan takut dan enggan bertempur melawan musuh bila kepadamu diperintahkan untuk berperang menghalau musuh dari negerimu." Mereka menjawab: "Bagaimana kami menolak perintah semacam itu dan enggan maju bertempur melawan musuh sedangkan kami telah dihina diusir dari rumah-rumah kami dan dipisahkan dari sanak keluarga kami.

Bukankah suatu hal yang memalukan dan menurun darjat kami sebagai bangsa, bila dalam keadaan yang sedang kami alami ini, kami masih juga enggan berperang melawan musuh yang datang menyerang dan menyerbu daerah kami.

Kami akan maju dan tidak akan gentar masuk dalam medan perang, asalkan saja kami akan dapat pimpinan dari seorang yang cekap, berani serta berwibawa sehingga komandonya dan segala perintahnya akan dipatuhi oleh kaum kami semuanya." Somu'il berkata: "Jika demikian ketetapan hatimu dan demikian pula keinginanmu untuk memperoleh seorang raja yang akan memimpin dan membimbing kamumaka berilah waktu kepadaku untuk beristikharah memohon pertolongan Allah menunjukkan kepadaku seseorang yang patut dan layak menjadi raja bagimu." Di dalam istikharahnya, Somuil mendapat ilham dan petunjuk dari Allah, agar ia memilih serta mengangkat seorang yang bernama "Thalout" menjadi raja Bani Isra'il.

Dan walaupun ia belum pernah mendengar nama itu atau mengenalkan orangnya Allah akan memberinya jalan dan tanda-tanda yang akan memungkinkan ia bertemu muka dengan orang itu dan mengenalinya dengan segera. Thalout adalah seorang berbadan gemuk dan jangkung, tegak, kuat dan berparas tampan. Dari pancaran kedua matanya orang dapat mengetahui bahwa ia adalah seorh yang cerdik, cekap dan bijaksana, memiliki hati yang tabah dan berani. IA hidup dan bertempat tinggal di sebuah desa yang agak terpencil sehingga tidak banyak dikenal orang Ia hidup bersama ayahnya bercucuk tanam dan memelihara haiwan ternak.

Pada suatu hari di kala Thalout sedang sibuk bersama ayahnya menguruskan tanah ladangnya terlepaslah dari kadang seekor keldai dari haiwan-2 peliharaannya dan menghilang sesat. Pergilah Thalout bersama seorang bujangnya mencari keldai yang hilang itu di celah-2 lembah dan bukit-2 di sekitar desanya, namun tidak berhasil menemukan kembali haiwan yang terlepas itu. Akhirnya ia mengajak bujangnya kembali karena khuatir ayahnya akan menjadi gelisah bila ia lebih lama meninggalkan rumahnya mencari keldai yang hilang itu.

Berkata sang bujang kepada Thalout: "Kami sekarang sudah berada di daerah Shuf tempat dimana Somu'il berada. Alangkah baiknya kalau kami pergi kepadanya menanyakan kalau-2 ia dapat memberikan keterangan dan petunjuk kepada kami di mana kiranya kami dapat menemukan keldai kami itu.

Ia adalah seorang nabi yang menerima petinjuk dari Tuhannya melalui para malaikat dan dia telah banyak kali mengungkapkan hal-hal ghaib yang ditanyakan oleh orang kepadanya." Thalout menerima baik cadangan bujangnya dan berangkatlah mereka berdua menuju tempat tinggal Somu'il.

Di tengah-2 perjalanan, mereka bertanya kepada beberapa gadis yang ditemuinya sedang menimpa air dari sebuah perigi: "Di manakah tempat tinggal Nabi Somu'il?" "Tidak usah kamu cepat-2 meneruskan perjalananmu.

Somu'il sebentar lagi akan datang ke sini. Ia sedang ditunggu kedatangannya di atas bukit oleh rakyat tempat itu." Para gadis itu menjawab. Ternyata bahawa belum selesai para gadis itu memberikan keteranagnnya, muncullah Somu'il dengan wajahnya yang berseri-seri memancarkan cahaya kenabian dan kealiman yang mengesahkan. Thalout segera mendekati Somu'il dan setelah saling pandang memandang, berkatalah Thalout: "Wahai Nabi Allah, kami datang menemui bapak untuk memohon pertolongan yaitu dapatkah kiranya kami diberi keterangan dan petunjuk di manakah kami dapat menemukan kembali keldai kami yang telah terlepas dari kandang dan menghilang tidak kami temukan jejaknya walaupun sudah tiga hari kami berusaha mencarinya." Somu'il setelah memandang wajah Thalout dengan teliti sedarlah ia bahwa inilah orangnya yang oleh Allah ditunjuk untuk menjadi raja pemimpin dan penguasa Bani Isra'il.

Ia berkata kepada Thalout: "Keldai yang engaku cari itu sedang berada dalam perjalanan kembali ke kandangnya di tempat ayahmu. Janganlah engkau rungsingkan fikiranmu dan ributkan dirimu dengan urusan keldai itu.

Kerana aku memang mencarimu dan ingin menemuimu untuk urusan yang lebih besar dan lebih penting dari soal keldai. Engaku telah dipilih oleh Allah untuk memimpin Bani Isra'il sebagai raja, mempersatukan barisan mereka yang sudah kacau-balau serta membebaskan mereka dari musuh-musuh yang sedang menyerbu dan menduduki negeri mereka.

Dan insya-Allah Tuhan akan menyertaimu memberi perlindungan kepadamu dan mengurniakan kemenangan dan kemujuran dalam segala sepak terajangmu." Thalout menjawab: "Bagaimana aku dapat menjadi seorang raja dan pemimpin Bani Isra'il sedang aku ini seorang dusun riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu cucu Benyamin yang paling papa, terasing dari pengaulan orang ramai, seorang anak tani dan penggembala haiwan yang tidak dikenal orang?" Berkata Somu'il: "Itu adlah kehendak Allah dan perintah-Nya.

Dan lebih tahu pada siapa Ia meletakkan amanat dan tugas-tugas-Nya. Dialah yang menugaskan dan Dia pulalah yang akan melengkapi segala kekuranganmu. Bersyukurlah engkau atas nikmat dan kurniaan Allah ini. Terimalah tugas suci ini dengan keteguhan hati dan kepercayaan penuh akan pertolongan dan perlindungan Allah kepadamu." Kemudian dipeganglah tangan Thalout, diangkatnya keatas seraya menghadap kepada kaumnya dan berkata: " Wahai kaumku, inilah orangnya yang oleh Allah telah dipilih untuk menjadi rajamu.

Ia berkewajiban memimpin kamu dan mengurus segala urusanmu dengan sebaik-baiknya dan setepat-tepatnya dan kamu berkewajiban taat kepadanya, mematuhi segala perintahnya dan berdiri tegak di belakang komandinya.

Bersatu padulah kamu di bawah bendera raja Thalout dan bersiap-siaplah untuk berjuang melawan musuh-musuhmu." Bani Isra'il yang sedang berkumpul mengerumuni somu'il mendengarkan pidato pelantikannya mengangkat Thalout sebagai raja, tercengang dan terkejut dan dengan mulut ternganga mereka melihat satu kepada yang lain, berpindahan pandangan mereka dari wajah Somu'il ke wajah thalout yang menandakan kehairanan dan ketidak-puasan dengan pengangkatan itu. Selintas pun tidak terfikir oleh mereka bahwa seorang seperti Thalout yang papa dan miskin dan tidak dikenal orang ialah yang akan dipilih oleh Somu'il soal pemilihan dan pengangkatan seorang raja bagi mereka.

Berkata mereka kepada Somu'il: "Bagaimana seorang seperti Thalout ini akan dapat memimpin kami sebagai raja padahal ia seorang yang miskin yang tidak dikenal orang dan pergaulan sehari-harinya hanya terbatas didesanya. selain ituia bukannya dari keturunan "Lawi" yang menurunkan para nabi Bani Israil, juga bukan dari keturunan "Yahuda" yang menurunkan raja-raja Bani Isra'il sejak dahulu kala.

Ia pun tidak memiliki pengalaman dan kecekapan yang diperlukan oleh seorang raja untuk mengurus serta mempertahankan kerajaannya.

Mengapa tidak dipilih sahaja seorang drp mereka yang berada di kota yang pandai-pandai, berpengalaman dan berkeadaan cukup?" berkata Somu'il menanggapi keberatan-2 yang dikemukakan oleh kaumnya: "Pengurusan kerajaan dan pemimpin perang tidak memerlukan kebangsawanan atau kekayaan.

Ia memerlukan kecekapan, kebijaksanaan, kecerdasan berfikir dan kecekatan bertindak. sifat-2 itu terdapat dalam dir Thalout di samping ia memiliki tubuh yang kuat, perawakan tg tegap dan kekar serta paras muka yang tampan yang memberi kesan baik bagi orang-orang yang menghadapinya. Selain itu semuanya, ia adalah pilihan dan tunjukan Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengenal hamba-hamba-Nya.

Maka tidak patutlah kami memilih orang lain setelah Allah menjatuhkan pilihan-Nya." "Baiklah", kata mereka, "Jika yang demikian itu pilihan dan kehendak Allah, maka kami tidak dapat berbuat lain selain meneriam kenyataan ini.

Akan tetapi untuk menghilangkan keragu-raguan kami tentang diri Thalout, berilah kepada kami suatu tanda yang dapat menyakinkan kami bahwa Thalout benar-benar pilihan Allah." Somu'il menjawab: "Sesungguhnya Allah telah mengetahui watak dan tabiat kamu yang kaku dan keras kepala. Imanmu tidak berada di dalam hati tetapi di kelopak mata. Kamu tidak mempercayai sesuatu tanpa bukti yang riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu kamu rasa dengan pancaindera kamu.

Maka sebagai bukti bahwa Allah merestui pengangkatan Thalout menjadi raja kamu, ialah bahawa kamu akan menemukan kembali peti keramatmu "Tabout" yang telah hilang dan dirampas oleh bangsa Palestin.

Kamu akan menemukan itu datang kepadamu dibawa oleh malaikat. Pergilah kamu keluar kota sekarang juga untuk menerimanya." Setelah ternyata bagi mereka kebenaran kata-kata Somu'il dengan ditemuinya kembali Tabout yang sudah tujuh bulan berada di tangan orang-orang Palestin itu, maka diterimalah pengangkatan Thalout sebagai raja mereka dengan memberikan bai'at kepadanya dan janji akan taat serta mematuhi segala nasihat dan perintahnya.

Tugas pertama yang dilakukan oleh thalout setelah dinobatkan sebagai raja ialah menyusun kekuatan dengan menghimpunkan para pemuda dan orang-orang yang masih kuat untuk menjadi tentera yang akan mengahdapi bangsa Palestin yang terkenal kuat dan berani.

Ia menyusun bala tenteranya dari orang-orang yang masih kuat, tidak mempunyai tanggungan keluarga, tidak mempunyai ikatan-2 dagang usaha sehingga dapat membulatkan tekadnya untuk berjuang dan memusatkan fikiran dan tenaga bagi mencapai kemenangan dna menghalaukan musuh dari negeri mereka dengan semangat yang teguh yang tidak tergoyahkan.

Sebagai ujian untuk mengetahui sampai sejauh mana rakyatnya atau barisan tenteranya yang disusun itu berdisiplin mengikuti komando dan perintahnya, Thalout berkata mereka: "Kamu dalam perjalananmu di bawah terik panasnya matahari akan melalui sebuah sungai. Maka barang siapa di antara kamu minum dari air sungai itu, ia bukan pengikutku yang setia yang dapat kupercayai kesungguhan hatinya dan kebulatan tekadnya.

Sebaliknya barangsiapa di antara kamu yang hanya menciduk air sungai itu seciduk tangan untuk sekadar membasahi kerongkongannya, maka ia ialah seorang pengikutku dan tentera yang benar-benar dapat kuandalkan keberaniannya dan kedisiplinannya." Ternyata apa yang dikhuatirkan oleh Thalout telah terjadi dan menjadi kenyataan. Setiba barisan tentera Thalout di sungai yang dimaksudkan itu, hanya sebahagian kecil sahajalah dari mereka yang berdisiplin mengikuti petunjuk Thalout secara tepat.

Sedang bahagian yang besar tidak dapat bersabar menahan dahaganya dan minumlah mereka dari air sungai itu sepuas-puas hatinya. Walaupun telah terjadi pelanggaran disiplin oleh sebahagian besar dari anggota tenteranya, thalout tetap berkeras hati melanjutkan perjalanannya menuju ke medan perang dg pasukan yang tidak bersatu padu dan berdisiplin sebagaimana ia menduga dan mengharapkannya. Ia hanya bersandar dan mengandalkan kekuatan tenteranya kepada bahagian kecil yang sudah ternyata setia dan patuh kepada perintah dan petunjuknya.

Sedang terhadap mereka yang sudah melanggar perintahnya dan minum dari air sungai itu, Thalout bersikap sabar, lunak dan bijaksana untuk menghindari keretakan di dalam barisan tenteranya sebelum menghadapi musuh. Tatkala mereka tiba di medan perang dan berhadapan dengan musuh, sebahagian drp pasukan Thalout ialah mereka yang telah melanggar disiplin dan minum dari air sungai, merasa kecil hati dan ketakutan melihat pasukan musuh yang terdiri dari orang-orang kuat dan besar-besar dengan peralatan yang lebih lengkap dan jumlah tentera yang lebih besar di bawah pimpinan seorang komandan bernama "Jalout".

Jalout, panglima komandan pasukan musuh terkenal seorang panglima yang berani, cekap dan terkenal tidak pernah kalah dalam peperangan. Tiap orang yang berani bertarung dengan dia pasti jatuh terbunuh. Namanya telah menimbulkan rasa takut dan kecil hati pada bahagian besar dari pasukan Thalout. berkata mereka kepadanya: "Kami tidak berdaya dan tidak akan sanggup menghadapi dan melawan Jalout berserta tenteranya hari ini.

Mereka lebih lengkap peralatannya dan lebih besar bilangannya daripada pasukan kami." Akan tetapi kelompok yang setia yang merupakan golongan yang kecil dalam pasukan Thalout, tidak merasa takut dan gentar menghadapi Jalout dan bala tenteranya, walaupun mereka lebih besar dan lebih lengkap peralatannya karena mereka keluar ke medan perang mengikuti Thalout dengan tekad yang bulat hendak membebaskan negerinya dari para penyerbu dengan berbekal tawakkal dan iman kepada Allah.

Sejak mereka melangkahkan kaki keluar dari rumah mereka sudah berniat bulat berjuang bermati-matian melawan musuh yang telah merampas rumah dan tanah mereka dan bersedia mati untuk tugas suci itu. Berkata mereka kepada kawan-2nya kelompok pengecut itu: "Majulah terus untuk bertempur melawan musuh. Kami tidak akan kalah karena bilangan yang sedikit atau kerana kelemahan fizikal.

Kami akan menggondol kemenangan bila iman di dalam dada kami tidak tergoyahkan dan kepercayaan kami akan pertolongan Allah tidak menipis. Berapa banyak terjadi sudah, bahwa kelompok yang kecil jumlahnya mengalahkan kelompok yang besar, bila Allah mengizinkannya dan memberikan pertolongan-Nya.

Dan Allah selalu berada di sisi orang-orang yang beriman, sabar dan bertawakkal." Dengan tidak menghiraukan kasak-kusuk dan bisikan kelompok pengecut yang ingin mundur dan melarikan diri dari kewajiban berperang, Raja Thalout terus maju memimpin pasukannya seraya bertawakkal kepada Allah memohon pertolongan dan perlindungan-Nya.

Setelah kedua pasukan merapat berhadapan satu dengan yang lain dan pertempuran dimulai, keluarlah dari tengah-2 barisan bangsa Palestin, panglima besarnya yang bernama Jalout berteriak riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu sekuat suaranya menentang pasukan Thalout mengajak bertarung seorang lawan seorang Berulang-ulang ia berseru dengan suara yang lantang agar pihat Thalout mengeluarkan seorang yang akan melawan dia bertanding dan bertarung namun tidak seorang pun keluar adri tengah pasukan Bani Isra'il menghadapinya.

Kata-kata ejekan dan hinaan dilontarkan oleh Jalout kepada pihak musuhnya, pasukan Bani Isra'il yang sedang dicekam oleh rasa takut dan bimbang menghadapi Jalout yang sudah termasyur sebagai jaguh yang tidak pernah terkalahkan itu. Pada saat yang kritis dan tegang itu di mana rasa malu rendah diri memenuhi dada dan hati para pemimpin pasukan Bani Isra'il yang sedang memandang satu kepada yang lain, seray bertanya-tanya dalam hati masing-2 gerangan siapakah di antara mereka yang dapat maju membungkam ,ulut si Jalout yang berteriak-teriak itu dan melawannya, datanglah pada saat itu menghadap raja Thalout seorang lelaki remaja berparas tampan, bertubuh kekar dan tegak, sinar matanya memancarkan keberanian dan kecerdasan.

Ia meminta izin dari sang raja untuk keluar menyambut tentangan Jalout dan menandinginya. Thalout merasa kagum akan keberanian pemuda yang telah menawarkan dirinya untuk bertarung dengan Jalout, sementara orang-orang dari pasukannya sendiri yang sudah berpengalaman berperang tidak ada yang tergerak hatinya untuk menyahut cabaran Jalout yang berteriak-teriak melontarkan ejekan dan hinaan.

Thalout dengan cermat memperhatikan perawakan sang pemuda itu merasa berat dan ragu-ragu untuk memberi izin kepadanya turun ke gelanggang melawan Jalout. Ia tidak membayangkan seorang dalam usia semuda itu, yang belum pernah turun ke medan perang dan tiak berpengalaman bertarung akan selamat dan keluar hidup dari pertarungan melawan Jalout.

Ia benar-benar bukan tandingannya, kata hati Thalout, bahkan merupakan suatu dosa bila ia melepaskan pemuda itu bertarung dengan Jalout. Sayang bagi usianya yang masih muda itu bila ia akan menjadi korban dan makanan pedang Jalout yang tidak pernah memberi ampun kepada lawan-lawannya. Sang pemuda dengan memperhatikan roman muka Thalout dapat menangkap isi hatinya bahwa ia ragu-ragu dan bimbang untuk melepaskannya bertarung dengan Jalout maka berkatalah ia kepadanya: "Janganlah engkau terpengaruh oleh usia mudaku dan keadaan fizikalku yang menjadikan engkau ragu-ragu dan khuatir melepaskan aku melawan Jalout karena yang menentukan dalampertarungan bukanlah hanya kekuatan fizikal dan kebesaran badan akan tetapi yang lebih penting dari itu ialah keteguhan hati dan keuletan bertempur serta iman dan kepercayaan kepada Allah yang menentukan hidup matinya seseorang hamba-Nya.

beberapa hari yang lalu aku telah berhasil menangkap seekor singa dan membunuhnya tatkal ia hendak menyergap dombaku dan sebelum itu terjadi pula aku menghadang seekor beruang yang ganas dan berhasil membunuhnya setelah bergulat mati-matian.

Maka bukanlah usia atau kekuatan badan yang merupakan faktor yang menentukan dalam pertempuran tetapi keberanian dan keteguhan hati serta kelincahan dan kecepatan bergerak dengan disertai perhitungan yang tepat, itulah merupakan senjata yang lebih ampuh dalam setiap pertarungan." Mendengar kata-kata yang penuh semangat yang keluar dari hati yang ikhlas dan jujur sedarlah Thalout bahawa pemuda itu berkemahuan keras ingin melawan Jalout.

Ia percaya kepada dirinya sendiri bahwa ia dapat mengalahkannya maka diberinyalah izin dan restu oleh Thalout untuk melaksanakan kehendaknya dengan diiringi doa semuga Allah melindunginya dan mengurniainya dengan kemenangan yang diharap-harapkan oleh seluruh anggota pasukan. Kemudian ia diberinya pedang, topi baja dan zirah baju besi namun ia enggan mengenakan pakaian yang berat itu dan pedang pun ia menolak untuk membawanya dengan alasan ia belum biasa menggunakan senjata itu. Ia hanya membawa sebuah tongkat beberapa batu kerikil dan sebuah bandul untuk melemparkan batu-batu itu.

Berkatalah Thalout kpanya: "Bagaimana engkau dapat bertarung dengan hanya bersenjatakan tongkat, bandul dan batu-batu melawan Jalout yang bersenjatakan pedang, panah dan berpakaian lengkap?" Pemuda itu menjawab: "Tuhan yang telah melindungiku dan taring singa dan kuku beruang akan melindungiku pula dari pedang dan panah Jalout yang durhaka itu." Lalu dengan berbekalkan senjata yang sgt sedrhana itu, keluarlah ia dari tengah-2 barisan Bani Isra'il menuju gelanggang di mana Jalout sedang menari-nari mengelu-elukan pedangnya seraya berteriak-teriak mengejek dan menyombangkan diri.

Tatkala Jalout melihat bahwa yang masuk gelanggang hendak bertanding dengan dia adalah seorang pemuda remaja tidak bersenjatakan pedang atau panah dan tidak pula mengenakan topi baja dan zirah, dihinalah ia dan diejek dengan kata-kata: "Utk apakah tongkat yang engkau bawa itu."Utk mengejar anjingkah atau untuk memukul anak-anak yang sebaya dengan engkau?

Di mana pedangmu dan zirahmu? Rupa-rupanya engkau sudah bosan hidup dan ingin mati padahal engkau masih muda yang belum merasakan suka-dukanya kehidupan dan yang masih harus banyak belajar dari pengalaman. Majulah engkau ke sini akan aku habiskan nyawamudalam sekelip mata dan akan kujadikan dagingmu makanan yang lazat bagi binatang-2 di darat dan burung-2 di udara." Sang pemuda menjawab: "Engkau boleh bangga dengan zirah dan topi bajamu, boleh merasa kuat dan ampuh dengan pedang dan panahmu yang tidak akan sanggup menyelamatkan nyawamu dan tanganku yang masih halus dan bersih ini.

Aku datang ke sini dengan nama Allah Tuhan Bani Isra'il yang telah lama engkau hina, engkau jajah dan engkau tundukkan. Engkau sebentar lagi akan mengetahui pedang dan panahkah yang akan mengakhiri hayatku atau kehendak Allah dan kekuasaan-Nya yang akan meranggut nyawamu dan mengirimkan engkau ke neraka Jahannam?" Melihat Jalout melangkah maju, maka sebelum ia sempat mendekatinya, sang pemuda segera mengeluarkan batu dari sakunya, melemparkannya dengan bandul tepat ke arah kepala Jalout yang seketika itu juga mengalirkan darah dengan derasnya hingga menutupi kedua matanya, lalu diikuti dengan lemparan batu kedua dan ketiga oleh sang pemuda hingga terjatuhlah Jalout tertiarap di atas lantai menghembuskan nafas terakhirnya.

Bergemuruhlah suara teriakan gembira dan sorak-sorai dari pihak pasukan Bani Isra'il menyambut kemenangan pemuda gagah perkasa itu atas Jalout jaguh dan kebanggaan bangsa Palestin.

Dan dengan matinya Jalout hilanglah semangat tempur pasukan Palestin dan mundurlah mereka melarikan diri tunggang-langgang seraya dikejar dan diajar tanpa ampun oleh pasukan Thalout yang telah memperoleh kembali semangat juangnya dan harga diri serta kebanggaan nasionalnya. Isi cerita di atas dikisahkan oleh Al-Quran dalam surah "Al-Baqarah" ayat 246 sehingga 251 yang bermaksud :~ "246~ Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Isra'il sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami dapat berperang {di bawah pimpinannya} di jalan Allah." Nabi mereka berkata: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang`." Mereka menjawab : "Mengapa kami tidak mahu berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?" Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka.

Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim. 247~ Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah mengangkat Thalout menjadi rajamu." Mereka menjawab: "Bagaimana Thalout memerintah kami padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi mereka berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberi pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. 248~ Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya tabout kepadamu di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun tabout itu dibawa oleh malaikat.

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu jika kamu orang yang beriman. 249~ Maka tatkala Thalout ke luar membawa tenteranya ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan satu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tidak merasakan airnya kecuali orang yang hanya menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnnya terkecuali beberapa orang di antara mereka.

Maka tatkala Thalout dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalout dan tenteranya." Orang-orang yang menyakini bahwa mereka akan menemui jalan Allah berkata: "Berpa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah dan Allah berserta orang-orang yang sabar.

250~ tatkala Jalout dan tenteranya telah nampak oleh mereka, mereka pun berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan kukuhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." 251~ Mereka {tentera Thalout} mengalahkan tentera Jalout dengan izin Allah dan {dalam peperangan itu} Daud membunuh Jalout, kemudian Allah memberikan kepadanya {Daud} pemerintahan dan hikmah {sesudah meninggalkan Thalout} serta Allah mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya." { Al-Baqarah : 246 ~ 251 } menerima apa adanya dan tidak berbohong pada diri sendiri dan menikmati apa yang dihasilkan dengan jeri payahsendiri da bantuan tuhan kepada kita berupa rezeki yang halalan thoibah,berguna bagi anak dan istri bagi keluarga sesama uamat manusia menjadi pemaaf bagi diri sendiri dan selalu bersyukur atas karunia yang di berikan tuhan berupa hidup sehat akan menjadi ketenangan bathin bagi diri sendiri dan bagi oang di sekitar kita amiiiin semoga bermanfaat bagi diri ini dan bermaanfaat bagi semua orang ( hidup jujur apa adanya ) • ► 2015 (2) • ► September (1) • ► Juli (1) • ► 2014 (2) • ► Maret (2) • ► 2013 (12) • ► September (1) • ► Juni (1) • ► Mei (2) • ► Maret (7) • ► Februari (1) • ▼ 2012 (30) • ► Agustus (2) • ► Juli (1) • ▼ Juni (23) • RIWAYAT NABI SULAIMAN AS.

• RIWAYAT NABI MUHAMMAD SAW. • RIWAYAT NABI ISA AS. • RIWAYAT NABI ZAKARIA AS. DAN NABI YAHYA AS. • RIWAYAT NABI YUNUS AS. • RIWAYAT NABI ILYASA AS. • RIWAYAT NABI ILYAS AS. • RIWAYAT NABI DAUD AS. • RIWAYAT NABI HARUN AS. • RIWAYAT NABI DZULKIFLI AS. • RIWAYAT NABI AYYUB AS. • RIWAYAT NABI SYU'IB AS.

• RIWAYAT NABI SHALEH AS. • RIWAYAT NABI YA'QUB AS. • RIWAYAT NABI ISHAQ AS. • RIWAYAT NABI LUTH AS. • RIWAYAT NABI ISMAIL AS. • RIWAYAT NABI IBRAHIM AS. • RIWAYAT NABI HUD AS.

• RIWAYAT NABI NUH AS. • RIWAYAT NABI IDRIS AS. • RIWAYAT NABI ADAM DAN HAWA • RIWAYAT NABI MUSA AS • ► April (1) • ► Maret (1) • ► Januari (2) • ► 2011 (22) • ► Juli (1) • ► Juni (1) • ► Maret (3) • ► Februari (17) • ► 2010 (3) • ► Desember (1) • ► Mei (2) • ► 2009 (17) • ► November (3) • ► Agustus (4) • ► Juli (10) • ► 2008 (8) • ► Juni (3) • ► Mei (2) • ► April (3) • ► 2007 (9) • ► Desember (6) • ► September (3) Jakarta - Nabi Musa AS merupakan nabi yang diutus Allah SWT di tengah kekejaman Raja Firaun.

Kisahnya saat berperang melawan penyihir kerajaan merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. Nabi Musa AS merupakan nabi ke-14 dalam silsilah 25 nabi yang wajib kita imani. Kisah Nabi Musa AS diceritakan dalam Al Quran dan berbagai riwayat. Diceritakan dalam buku Musa 'Alaihissalam karya Abu Haafizh Abdurrahman, Raja Firaun adalah raja yang berkuasa di Mesir pada waktu itu.

Bahkan ia mengaku sebagai Tuhan. Sehingga seluruh rakyat harus tunduk padanya. Raja Firaun juga memperlakukan rakyat dengan kejam tanpa belas kasihan. Ia memeras pajak yang tinggi dan menjadikan kaum Bani Israil sebagai budak-budak kerajaan. Kekejaman Raja Firaun juga diikuti dengan kesombongannya. Ia enggan bersyukur atas kemakmuran yang dianugerahkan Allah SWT.

Ia justru menjadikan negeri Mesir penuh dengan kemusyrikan. Baca juga: Kisah Nabi Syu'aib AS dan Kaum Madyan yang Suka Curangi Timbangan Dagang Berikut kisah Nabi Musa selengkapnya: 1. Mimpi Buruk Raja Firaun Pada suatu malam, Firaun mendapat mimpi yang sangat mengerikan. Ia bahkan tak bisa tidur tenang. Ia langsung memerintahkan para pembatunya untuk mengumpulkan seluruh peramal.

Firaun lalu menceritakan mimpi yang menghantuinya kepada para peramal. Dia berkata melihat api yang berkobar hebat di Mesir yang membakar dan memusnahkan seluruh rumah orang-orang Mesir rumah bani Israil. Tidak ada satupun dari mereka yang ikut terbakar.

Seperti diketahui, kaum Bani Israil adalah kaum Nabi Ibrahim AS dan keturunannya. Mereka sudah berada di jalan Allah dan mendapatkan rahmat-Nya. Selama menetap di Mesir mereka mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari Firaun. Salah seorang peramal lalu berkata bahwa akan ada anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil yang kelak akan menghancurkan kekuasaannya.

Firaun merasa heran. Bagaimana mungkin kaum Bani Israil bisa mengalahkannya. Sementara, di mata Firaun Bani Israil adalah kaum yang lemah tidak punya daya apapun. Lantas ia memerintahkan kepada pasukan kerajaan untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil. Klik pada halaman selanjutnya
Nabi Musa as dilahirkan pada waktu zaman raja Firaun IV (Ramses III) menguasai negeri Mesir.

Pada masa kelahirannya telah dikeluarkan perintah raja untuk membunuh seluruh bayi laki-laki Bani Israil yang baru dilahirkan. Perintah tersebut dipicu oleh mimpi raja yang melihat bahwa api telah tertuju ke Baitul Maqdis sehingga menerangi seluruh Mesir.

Para ahli nujum raja meramalkan mimpinya bahwa kerajaan Mesir akan dirobohkan, rajanya akan dibinasakan dan mencampurkannya dengan kekuasaan mereka, dan mengusir dirinya dari negeri mereka dan mengganti agama yang mereka yakini oleh laki-laki dari Bani Israil yang dilahirkan saat itu.

Maka dibunuhlah semua bayi laki-laki yang lahir saat itu, tidak ada satupun yang ditinggal hidup kecuali didatangi para prajuritnya untuk kemudian dibunuh dengan kejamnya.

Budak-budak yang melahirkan pun digugurkan. Firaun IV inilah raja yang paling kejam kepada Bani Israil. Firaun menjadikan mereka sebagai budak dan menyiksa mereka. Bagi mereka yang tidak bekerja harus membayar upeti kepada raja. Kemudian Nabi Musa dimasukkan dalam tabut dan dilarungkan ke sungai Nil. Sesaat air mengambangkannya ke atas dan sesaat lagi menurunkannya ke tempat yang landai. Sampai akhirnya tabut itu terdampar di pohon-pohon, di taman kediaman Firaun.

Dengan qudrat Allah tabut itu ditemukan oleh isteri Firaun Asiyah. Waktu itu ia sedang mandi di tepi sungai Nil. Musa pun menjadi anak angkat Firaun, dan dipelihara oleh Asiyah dengan kasih sayangnya. Bayi itu diberi nama Musa, karena dalam bahasa Mesir, "Mu" berarti pohon dan "Sya" berarti sungai. Artinya anak yang ditemukan di pohon sungai. Bayi itu terus saja menangis tidak henti-hentinya, iapun segera menyusuinya, tetapi tetap saja bayi itu menangis dan menangis.

Setiap dayang-dayang diminta untuk menyusui bayi tersebut agar anak itu tenang berada di istana. Tiap kali orang diganti, tidak ada satupun yang cocok dengan bayi itu.

Sampai akhirnya Yukabad, sang ibu Musa mendengar akan keluh-kesah istri Firaun. Kepada Haman, kepala rumah tangga istana ia menyampaikan keinginan tersebut. Didatanganilah istana Firaun dengan hati khawatir dan was-was. Namun kasih sayangnnya telah mengalahkan ketakutannya itu. Dimintanya bayi tersebut untuk disusuinya, dan tenanglah bayi itu bersama ibunya. Nabi Musa pun dapat selalu bertemu dengan ibunya sendiri meskipun ia berada di istana.

Musa semakin besar juga. Ia telah pandai berjalan. Umurnya waktu kira-kira tiga tahun. Asiyah semakin sayang kepadanya. Begitupulan Firaun. Pada suatu hari Firaun menggendong Musa, tiba-tiba Musa sa merebut janggutnya, sehingga ia berteriak kesakitan.

"Wahai isteriku! Barangkali inilah anak yang akan menjatuhkan aku dari kerajaanku!" Musa diletakkannya. Ia segera mengambil pedang hendak membunuhnya. Isterinya tahu dan berkata: "Sabarlah tuanku! Masakan anak sekecil ini tahu apa-apa! Dia kan belum berakal!" "Belum berakal katamu.

tetapi janggutku direnggutnya, rasakan pecah kepalaku karena sakit". Kebetulan di tempat itu ada bara api, dibiarkan Musa berjalan ke dekat bara api itu. Setelah dekat, bara itu diambilnya dan langsung dimasukkannya ke mulutnya. Musa menjerit karena panas dan lidahnya terbakar. "Coba lihat dan perhatikanlah tuanku, kalau dia telah berakal, pasti bara itu tidak dimakannya" Kata Asiyah sambil memeluk Musa. Musa masih menangis karena menggigit bara yang panas, sampai bila ia telah dewasa mengganggu lidah Nabi Musa untuk berbicara.

Sebagai putera kesayangan Firaun dimana-dimana Musa dihormati orang. Ia dibolehkan pergi kemana-mana sampai di luar manapun. Setelah Musa besar dan dewasa, fikirannya cerdas maka Allah menganugerahkan kepadanya pangkat kenabian. Tak Sengaja Membunuh Pada suatu hari, antara manghrib dan Isya, Musa berjalan-jalan di kota Memphis, dan penduduknya tidak mengenal Musa, lalu ia bertemu dengan dua orang yang sedang berkelahi, salah seorang di antaranya ialah orang Bani Israil, sedangkan yang lainnya lagi ialah bangsa Qibti kaumnya Firaun.

Musa berusaha mendamaikan antara keduanya, tetapi orang Qibti (Mesir) tidak mau berdamai, lalu Musa bermaksud membela orang Israel itu dan memukulnya sekali saja, dan seketika orang itu terus mati. Musa sangat menyesali peristiwa itu, ia menyadari itu perbuatan syetan, lalu ia berdoa kepada Allah: "Oh Tuhanku sesungguhnya aku telah berlaku aniaya terhadap diriku sendiri, karena itu ampunilah dosaku, maka Allah mengampuni dosanya.

Sesungguhnya Tuhan Maha pengampun lagi Penyayang". Musa berkata: "Ya Tuhanku! Demi nikmat yang telah engkau berikan kepadaku, sekali-kali aku tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang dzalim". Setelah kejadian itu, orang yang pernah ia tolong kemarin berteriak minta tolong lagi padanya.

Musa berkata padanya: "Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata". Maka tatkalah Musa hendak memegang dengan keras yang menjadi musuh keduanya, mesuhnya berkata: "Hai Musa! Apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri ini. Dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian".

Orang Mesir itu kemudian melaporkan Musa kepada Firaun. Kemudian datanglah dengan sekonyong-konyong seorang laki-laki kepada Musa dengan memberitakan: "Hai Musa! Sesungguhnya pembesar negeri telah berunding untuk membunuh kami, karena mereka mengetahui rahasiamu (membunuh orang Mesir) maka keluarlah dari negeri ini.

Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan saja" Nabi Musa Hidup di Pengasingan Lalu keluarlah Nabi Musa dari sana dengan penuh kekhawatiran kalau-kalau ada yang mengetahuinya, ia meninggalkan negeri Mesir mengikuti langkah kakinya, ia belum tahu daerah yang dapat dijadikan perlindungan, maka larilah ia menuruti langkah kakinya saja tak tentu arahnya.

Diwaktu beliau berlari meninggalkan Mesir, sering menoleh ke belakang, karena merasa ada orang yang membuntutinya. Maka larilah Musa dari kota itu (dari negeri Mesir) dengan ketakutan, serta memperhatikan orang yang akan menangkapnya lalu ia berkata: "Ya Tuhanku! Lepaskanlah aku dari siksaan kaum yang aniaya" Dan pada sore harinya beliau berhenti di bawah pohon kayu di daerah Madyan. Dan tatkala ia menghadap ke jurusan negeri Madyan, ia berdoa: "Mudah-mudahan Tuhanku menunjuki aku kepada jalan yang benar".

Sewaktu nabi Musa berhenti di bawah pohon kayu, beliau melihat serombongan orang akan meminumkan ternak kambingnya, karena disana terdapat mata air. Untuk mendapatkan air mereka saling berebut-rebutan, dan di antara mereka terdapatlah dua anak gadis yang sedang menunggu sampai selesainya orang laki-laki yang berjejal itu.

Nabi Musa menolong dua gadis bersaudara itu untuk meminumkan kambingnya, dan setelah selesai beliaupun duduk di tempat semula, Lalu kembali ia berdoa: "Ya Tuhanku! Sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku". Kebaikan yang dimaksudkan Nabi Musa diriwayatkan sebagaian ahli tafsir sebagai "barang sedikit makanan".

Kemudian salah seorang dari kedua perempuan itu datang kepada Musa, berjalan perlahan-lahan dengan perasaan malu, ia berkata: "Bapakku mengundang tuan karena ia hendak membalas kebaikan tuan, meminumkan kambing kami".

Tatkala Musa tiba dihadapan ayah anak gadis itu (Nabi Syuaib), lalu Musa menceritakan kisahnya dari awal sampai akhir ia berjumpa Nabi Syuaib itu. Maka sahut Nabi Syuaib, "Janganlah engkau takut, engkau telah selamat dari kaum yang dzalim itu". Selesai pembicaraan Nabi Musa dengan ayah gadis itu, berkatalah salah seorang anaknya "Wahai ayahku!

ambillah Musa untuk bekerja bersama kita (orang upahan) karena yang sebaik-baik orang upahan ialah yang kuat lagi dapat dipercaya seperti dia". Nabi Musa Menikah Akhirnya Nabi Musa bekerja kepada Nabi Syuaib, ayah gadis itu, sebagai pekerja yang setiap harinya mengembalakan kambing Nabi Syuaib.

Dalam masa mengembala, dipanggillah Nabi Musa oleh Nabi Syuaib. Ia berkata: "Sesungguhnya aku hendak menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua puteriku ini atas dasar bahwa engkau jadi buruhku selama delapan tahun, tetapi jika engkau sempurnakan sepuluh tahun, maka (itu suatu kebaikan) dari kemauanmu sendiri, dan aku tidak mau memberatkanmu. Engkau akan buktikan aku, Insya Allah termasuk orang-orang yang baik". Lalu jadilah Nabi Musa kawin dengan salah seorang puteri Nabi Syuaib dan perjanjian yang telah ditentukan itu telah dijalankan dan dilaksanakan oleh Nabi Musa as sendiri.

Maka tatkala Nabi Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan, atas izin mertuanya Nabi Musa berangkat dengan isterinya ke Mesir, melalui jalan-jalan kecil, karena takut kalau ditangkap oleh mata-mata Firaun. Dalam perjalannya Nabi Musa as melihat api dari jauh dan ia bermaksud akan mengambil api itu untuk pedoman ia berlajan, tetapi setelah sampai di tempat itu, bukan main herannya melihat api itu, karena api tersebut melekat di sebuah pohon, tetapi pohon itu tidak terbakar.

Musa mendekati apa itu dan setelah ia sampai terdengarlah olehnya suara yang tak dapat diserupakan dengan apapun dari sebelah kanan pohon Zaitun. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa! Aku ini Allah, Tuhanmu! Maka tanggalkan terompahmu! engkau berada di lembah suci Thuwa! Dan Aku telah memilih engkau (jadi rasulku). Karena itu dengarlah baik-baik apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya Aku Allah tiada Tuhan (yang haq) melainkan aku.

Karena itu sembahlah Aku! Dan kerjakan sholat, agar engkau mengingatKu. Sesungguhnya hari Kiamat pasti terjadi, Aku sembunyikan (tanda-tanda)nya. Agar tiap-tiap diri kelak dinilai amal perbuatannya. Maka jangan sekali-kali kamu ragu-ragu tentang ini. Jangan kamu dipalingkan oleh orang-orang yang tidak beriman kepadanya, yang akan mencelakakan engkau kelak". (QS. Thaaha 20:11-16) Kemudian Musa membuka sepatunya hatinya berdebar-debar, tibatiba ia mendengar suara kembali: "Apakah itu yang ditangan kananmu, hai Musa?" Musa berkata: "Ini adalah tongkatku, aku telah bertelekan kepadanya, dan aku pukul daun dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya".

Allah berfirman: "Lemparkanlah tongkat itu, hai Musa!". Lalu tongkatnya dilemparkan, tiba-tiba tongkat itu berubah menjadi ular besar, yang merayap dengan cepat, memburu ke arah Musa. Musa lari ketakutan. Kemudian Allah berfirman kepadanya: "Peganglah tongkat itu kembali.

Jangan takut hai Musa, sesungguhnya seorang yang telah diutus menjadi Rasul tidak perlu takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula menjadi tongkat. Musa memegang ular itu, kemudian kembali menjadi tongkat. Selanjutnya Allah berfirman kepada Musa: "Kepitlah tanganmu ke ketiakmu! Niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain pula".

Lalu Musa mengapitkan tangannya, tampak kemudian tangannya bercahaya putih kemilau. Kemudian Allah memerintahkan kepadanya "Pergilah kepada Firaun, sesungguhnya ia telah melampaui batas" Musa kemudian berdoa: "Ya Tuhanku! Lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku supaya mereka mengerti perkataanku dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku!

Harun saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat kami". Pergilah Nabi Musa ke Mesir, dengan membawa mukjizat tongkat bisa menjadi ular dan tangan menjadi putih kemilau.

Nabi Musa Menentang Firaun Firaun mempunyai kekuasaan yang besar sekali di Mesir, dan karena demikian besarnya kekuasaan, sehingga akhirnya Firaun makin lama makin sombong, bahkan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Kemudian Allah memanggil Nabi Musa untuk mendatangi Firaun dan kaumnya, memberi pelajaran kepada mereka, agar mereka menyembah Tuhan Allah dan meninggalkan segala maksiat dan kejahatan dan tunduk kepada perintah-perintah Allah.

Dan meyakinkan mereka bahwa Allah selalu bersama mereka berdua, tidak perlu takut menghadapi apapun. Setelah Musa berada di mesir, ia menyampaikan perintah Allah bersama Harun, saudaranya riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu perkataan yang lemah lembut dan menyampaikan kebenaran yang nyata kepada Firaun.

Nabi Musa berkata: "Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu ditimpakan atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling".

Nabi Musa kemudian menunjukkan mukjizat yang diberikan Allah kepadanya dengan memasukkan tangannya ke ketiaknya, maka tampaklah cahaya putih berkilau sempurna. Terjadilah dialog antara Firaun dan Nabi Musa serta Harun tentang masalah-masalah keTuhanan.

Demi mendengar apa yang disampaikan mereka berdua, bukan main marahnya Firaun kepada Musa. Firaun berkata bahwa Musa adalah tukang sihir dan jika sihir itu dibanggakannya maka ia pun mempunyai tukang-tukang sihir pula. Dan bahkan ia menyuruh Haman untuk membuat istana yang tinggi agar ia dapat menemui Tuhan Musa. Ia ingin menyatakan kepada kaumnya bahwa Musa hanya berbohong.

Lalu Firaun mengumpulkan tukang-tukang sihirnya untuk bertanding melawan Musa di suatu arena. Arena telah ditentukan berada pada daerah pertengahan antara kerajaan Firaun dan Madyan. Sedangkan waktunya ditentukan di hari raya pada pagi hari saat matahari naik sepenggalah. Sebelum pertandingan itu dimulai Firaun telah membuat tipu daya bagi keduanya.

Dan menghasut bahwa Musa dan Harun akan mengusir mereka dari Mesir. Ia membuat opini bahwa pertandingan tersebut merupakan pertaruhan dua bangsa yang harus dimenangkan oleh bangsa Mesir. Apabila mereka kalah mamka mereka akan dihinakan oleh Musa. Bermunculanlah jago-jago sihir dari seluruh penjuru dikumpulkan untuk menghadapi Nabi Musa.

Dan mereka telah menyiapkan diri untuk mengalahkannya. Tatkala saatnya tiba, jago-jago sihir Firaun melemparkan tali, tongkat maka berubahlah tali dan tongkat itu menjadi ular yang menjalar. Lalu Musa riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu takut, karena telah dikelilingi oleh ular-ular yang berbisa. Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa: Lemparkanlah tongkat yang di tangan kanamu, niscaya ia akan (berubah menjadi ular besar yang) menelan segala perbuatan mereka itu, sesungguhnya kerja mereka itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka).

Dan sekali-kali tidaklah akan menang tukang sihir itu walau bagaimanapun juga" (QS Thaaha 20:69). Tongkat itu kemudian berubah menjadi ular besar, ditelannya semua ular-ular yang ada. Bukan main terkejutnya jago-jago sihir itu. baru kali itu mereka melihat kejadian yang luar biasa semacam itu, sehingga kemudian semua ahli sihir itu tunduk sujud kepada Musa. Kemudian segala tukang sihir itu bersujud tunduk kepada Musa seraya berkata: "Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa" (QS.

Thaaha 20:70) Karena melihat tukang sihirnya telah beriman keapda nabi Musa as, amat gusarlah Firaun dan dihukumlah mereka yang beriman kepadanya, tangan dan kaki mereka dipotong berlawanan, kaki kiri dipotong dan tangan kanan dipotongnya.

Kemudian mereka disalib pada pangkal pohon kurma. Demikianlah ujian bagi mereka yang beriman dan menentang Firaun.

Demikian pula ketika Firaun mengetahui bahwa isterinya Asiyah telah beriman kepada Allah, maka Firaun bertambah-tambah marahnya, sehingga isterinya disiksanya sampai mati, demikian juga orang-orang yang beriman disiksa dengan siksaan yang amat berat.

Nabi Musa Membelah Lautan Akhirnya nabi Musa bersama-sama orang yang beriman keluar dari Mesir, setelah mereka tidak berdaya lagi di negeri Mesir, maka Firaun mengejar mereka sampai ke pantai Laut Merah. Kemudian Allah mewahyukan kepada nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut sehingga lautpun menjadi jalan besar dan membelah dua untuk dilalui Musa dengan pengikut-pengikutnya. Firaun mengejar kaum Musa ke tengah laut itu. Dan sewaktu Firaun dengan balatentaranya mengejar dari belakang sampai dipertengahan laut, air lautpun bersambung kembali menjadi satu, kemudian mereka mati tenggelam semuanya.

Firaun dan balatentaranya mengejar mereka (Nabi Musa dan orang-orang yang beriman sampai ke tengah laut), lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka semuanya" (QS. Thaaha 20:78) Tubuh Firaun ditemukan telah mati di pinggir pantai oleh orang-orang Mesir. Lalu tubuhnya dimummi sehingga sampai saat ini orang dapat melihatnya di musium Mesir. Walaupun Firaun telah mati, namun rakyatnya yang telah menerima ajran Firaun bertahun-tahun masih banyak, dan jiwanya sangat sulit untuk diperbaiki dan diajak menjalankan ajaran yang dibawa oleh Musa as.

Karena itu Musa memohon kepada Allah supaya Harun dijadikan pembantunya dalam menjalankan kerasulannya. Kemudian doa nabi Musa dikabulkan Tuhan, ia berkata: "Wahai Tuhanku! Aku telah membunuh seorang dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku. Dan saudaraku, Harun, ia lebih fasih lidahnya daripadaku. Maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan perkataanku. Sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakan aku". Allah berfirman: "Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepada kalian kekuasaan yang besar.

Maka mereka tidak akan bisa mencapai kalian berdua. Lantaran ayat-ayat Kami, kamu berdua dan orang-orang yang mengikuti kamulah yang akan menang".

riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu

Setelah kematian Firaun, tidak berarti dakwah Nabi Musa telah selesai masih banyak yang harus dikerjakannya untuk membawa ummatnya kepada jalan yang benar.

Dan beliau sendiri selalu memohon petunjuk kepada Allah untuk membimbing umatnya. Nabi Musa dan Khidhr Nabi Musa mengajak muridnya, Yusa bin Nun, untuk berlayar bersamanya ke tengah lautan. Ketika ia berada di antara perbatasan dua laut, ia minta kepadanya agar kembali lagi.

"Dan (Ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan, atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun" (QS. al-Kahfi 18:60). Maka tatkalah meraka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.

Tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini". Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala ia mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syetan dan ikan mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali".

Kemudian Nabi Musa berkata: "Itulah tempat yang kita cari". Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Allah, yang telah diberikan kepada rahmatnya dari sisi Allah, dan yang telah diajarkan kepadanya ilmu dari sisi Allah. Dialah nabi Khidhr yang sedang ia cari untuk berguru kepadanya. Nabi Musa bersedia mencarinya sampai kapanpun ia dapatkan. Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkan aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?".

Khidhr menjawab: "Sesungguhnya sekali-kali kamu tidak akan sanggup sabar bersamaku". "Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu" tambahnya.

Nabi Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun". Khidhr menjawab: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu". Dengan kesepakatan itu, maka berjalanlah keduanya, mengarungi lautan, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya dapat menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar".

Khidhr menjawab: "Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya, sekali-kali kamu tidak akan sabar besama dengan aku. Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku". Maka keduanya terus melanjutkan perjalanannya, hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya.

Musa berkata: "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar"?, Khidhr menjawab: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?".

Musa berkata: "Jika aku bertanya sesuatu sesudah kali ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku". Maka keduanya meneruskan perjalanan, hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu.

Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu". Khidhr menjawab: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu, aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya kepada ibu bapaknya.

Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah orang yang shaleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukanlah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya". Khidhr merupakan sosok tokoh yang tenang, ia tidak berbicara dan gerak-geriknya penuh makna dan menimbulkan kebingungan Nabi Musa as.

Itulah perumpamaan ahli syariat dan ahli hikmat, yang sulit difahami dengan mata kasar belaka. Nabi Musa dan Bani Israil Nabi Musa memohon kepada Allah untuk memberikannya petunjuk.

Kemudian Allah memerintahkan dirinya pergi menuju gunung Sinai selama 30 hari, yang kemudian disempurnakan Allah menjadi 40 hari. Maka pergilah ia ke gunung Sinai dan menerima Taurat dari sisi Tuhannya. Nabi Musa berpesan kepada saudaranya Harun: "Gantikanlah aku dalam memimpin kaumku, dan perbaikilah hal-ihwal mereka dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan".

Ketika ia telah sampai di gunung itu maka Allah mewahyukan kepadanya Taurat dan berbicara langsung dengan Allah. Lalu Musa berkata: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau".

Maka Allah berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu, tapi lihatlah bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sedia kala) niscaya kamu dapat melihatKu" (QS. al-Araf 7:143). Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada bukit itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

"Allah berfirman: "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalahKu dan untuk berbicara langsung denganKu, sebab itu berpegang-teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur". Dan Allah telah memberikannya kepingan batu yang tertulis isi Taurat, yang disebut Lauh, sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu. Kemudian Allah berfirman kepadanya: "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik (QS.

al-Araf 7:142-145). Setelah kembali dari gunung Sinai, banyak umatnya yang berpaling dari perintahnya, akibat ajakan seorang tukang sihir Samiri banyak di antara umatnya yang menyembah patung sapi yang bisa berbicara karena sihirnya.

Sehingga marahlah beliau kepada nabi Harun dan menyuruh Samiri dan pengikutnya membunuh dirinya sendiri karena lebih baik bagi mereka.

Umat Nabi Musa sangat keras kepala, kekufurannya telah mendarah daging dan telah berpengaruh yang menghunjam pada jiwanya. Mereka meminta kepada nabi Musa untuk membuat Tuhan seperti umat lainnya menyembah berhala. Nabi Musa sangat marah kepada mereka dan menghardik mereka. Jika mereka diseru untuk menyembah Tuhan mereka meminta agar Allah ditampakkannya, sehingga mereka mati, binasa tersambar petir. Nabi Musa sendiri, ketika ia diperintah melihat gunung riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu tersungkur pingsan.

"Dan (Ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa! kamai tidak akan beriman kepada engkau sebelum kami melihat Allah dengan jelas dan terang (dengan kedua mata kami)", karena itu halilintarlah yang datang menyambar kamu, sedang kamu melihatnya hingga mati semua".

(QS. al-Baqarah 2: 55-56) senada dengan ayat ini QS. al-Araf 7:143. Pada suatu ketika Bani Israil ditimpa kepanasan dan kelaparan. Maka datanglah Bani Israil kepada Nabi Musa minta diberikan makanan, berupa sayur-sayuran dan buah-buahan, kemudian Musa berdoa kepada Allah, lalu Allah lindungi mereka dengan awan dari terik matahari dan memberikan Manna (makanan manis sebangsa madu) dan Salwa (burung sebangsa puyuh) sebagai makanan mereka.

"Kami lindungi kamu dengan awan dan Kami turunkan kepadamu makanan bernama Manna dan Salwa" (QS al-Baqarah 2:57) Pada saat Samiri dan pengikutnya lari meninggalkan Musa, dan ketika mereka mencari air dalam perjalanan mereka, usaha mereka sia-sia dan tidak mendapatkan air sama sekali. Akhirnya, mereka datang kepada Nabi Musa mengadukan halnya, dan mereka meminta tolong kepada Musa supaya memintakan air kepada Allah. Dan (ingatlah) kepada Nabi Musa memintakan air bagi kaumnya, maka Kami berkata: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu", lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.

Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu masing-masing. Makan dan minumlah rizqi (yang diberikan) Allah dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan membuat kerusakan" (QS. al-Baqarah 2:60) Mereka akhirnya meminum air itu, setelah nabi Musa memukulkan tongkatnya ke batu itu, sehingga keluarlah dua belas mata air dan masing-masing puak meminum airnya.

Meskipun banyak anugerah Allah yang diberikan kepada Bani Israil, tetapi mereka tetap saja membuat nabi yang diutus kepada mereka geram. Setelah mereka mendapatkan manna dan salwa, kemudian mereka mendapat dua belas mata airnya, dengan mudah mereka berkata kepada nabi Musa: "Hai Musa, kami tidak bisa tahan dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya".

Musa berkata: "Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpakanlah riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapatkan kemurkaan Allah.

Hal itu terjadi karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu terjadi karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas". Nabi Musa juga menyampaikan kepada mereka untuk beribadah pada hari Sabtu, sebagai perjanjian mereka dengan Allah untuk beribadah dan memohon kepadaNya agar selalu mengingatNya.

Nabi Musa melarang mereka untuk bekerja atau berlayar ke laut pada hari Sabtu untuk menghormatinya. Namun adapula mereka yang tidak meperdulikan perintah Nabi Musa, malah mereka berlayar pada hari Sabtu karena ikan pada hari itu sangat banyak sekali.

Akhirnya Allah menurunkan adzab kepada mereka. "Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kalian kera yang hina" (QS.

al-Baqarah 2:66) Nabi Musa dan Qorun Adapula kisah mengenai nabi Musa dan Qorun. Qorun adalah saudara ayahnya. Ia adalah paman nabi Musa yang kaya raya. Namanya tersebut dalam al-Quran QS. al-Qosos 76-78. "Sesungguhnya Qorun termasuk dari kaum Musa" Allah telah memberikannya harta yang banyak dimana kunci-kunci simpanan kekayaannya membenani punggung-punggung unta.

Disebutkan ia mempunyai kunci yang dibawa oleh 60 keledai, setiap kunci terdapat simpanan kekayaannya yang terbuat dari kulit. Kebencian musuh Allah ini tampak dari kekikirannya ketika bala menimpa kaumnya. Nabi Musa telah memerintahkan Bani Israil untuk berinfak di jalan Allah. Ketika ia berkata kepada kaumnya: "Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah kepadamu kebahagiaan negeri akherat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kalian, dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan"' Qorun kemudian berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta, karena ilmu yang ada padaku". Qorun tetap saja tidak mengindahkan perintah Nabi Musa dan memusuhinya, sampai ia keluar kepada kaumnya dengan bangganya dengan kuda mewahnya, dengan iring-iringan lengkap para pengawalnya untuk memperlihatkan kekayaannya. Maka mereka yang tergoda dengan kemewahan itu berkata: "Mudah-mudahan Allah memberikan kita seperti yang telah diberikanNya kepada Qorun".

Maka marahlah nabi Musa dan menyuruh mereka bertaqwa kepada Allah, namun hanya sedikit orang sabar yang mendengarnya. Allah kemudian menguji mereka dengan zakat, maka diwajibkanlah kemudian kepada Bani Israil untuk mengeluarkan sebagian hartanya untuk orang miskin. Nabi Musa memberitahukan kepada kaumnya bahwa setiap 1000 dinar dikeluarkan dengan satu dinar.

Dan setiap 100 dirham 1 dirham. Dan setiap 1000 materi satu dizakatkan. Maka berkatalah Qorun: "Hai kaum! Engkau selalu mendengar perintahnya dan mematuhinya, saat ini ia memerintahkan kalian mengambil harta-harta kalian". Mereka berkata: "Engkau adalah bangsawan kami dan tuan kami, maka perintahkanlah kami sekehendakmu!" Maka ia memerintahkan untuk membawa seseorang wanita pencuri maka kemudian ia menjadikan dirinya perkara palsu.

Maka mereka memanggilnya dan menyuruhnya untuk menuduh dirinya sendiri berzinah dengan Musa. Kemudian ia mendatangi Musa. Ia berkata: "Sesungguhnya kaummu telah berkumpul agar memerintahkan mereka dan melarang mereka".

Maka keluarlah Musa kepada mereka dan berkata: "Wahai Bani Israil, barangsiapa yang mencuri maka akan kami potong tangannya, barangsiapa berzinah maka akan kami cambuk ia 80 kali, dan barangsiapa berzina sementara ia tidak punya istri kami akan cambuk dia seratus kali, dan barangsiapa yang berzinah sementara ia telah beristri kami akan cambuk ia sampai mati".

Kemudian Qorun berkata: "Meskipun engkau yang melakukannya?", ia menjawab: "Meskipun aku!" "Sesungguhnya Bani Israil telah menuduhmu dengan kekejian, engkau telah berbuat zinah dengan seorang perempuan".

Ia berkata: "Panggillah ia!, apabila ia berkata maka itulah saksinya". Maka ketika ia datang pada Musa maka berkatalah ia "Wahai perempuan!", ia menjawab: "Aku memenuhi panggilanmu!" Musa berkata: "Aku berzinah dengannmu seperti tuduhan mereka?" Ia berkata: "Tidak mereka bohong!, akan tetapi membuat perkara agar aku menuduhmu dengan diriku".

Maka meloncatlah nabi Musa dan bersujud. Maka diwahyukanlah kepadanya: "Perintahkanlah bumi sekehendakmu!" Kemudian ia berkata: "Ambillah mereka!", maka terbenamlah kaki-kaki mereka. Kemudian ia berkata: "Wahai bumi ambillah mereka!", maka terbenamlah mereka sampai ke leher.

Mereka kemudian berteriak minta tolong dan memohon kepada Nabi Musa. Ia berkata: "Wahai bumi ambillah mereka!" Maka terbenamlah mereka semua ke dalam bumi. Kemudian Allah berfirman kepada Nabi Musa: "Wahai Musa! Berkata hamba-hambaku padamu: "Wahai Musa! Wahai Musa!. Jangan kasihani mereka. Kalau kepadaKu mereka meminta maka mereka akan mendapatiKu sangat dekat dan menerima mereka.

"Maka kami benamkanlah Qorun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golonganpun yang menolongnya terhadap adzab Allah.

Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)" (QS. al-Qosos 28:81) Kemudian nabi Musa pindah ke Ariha daerah yang berdekatan dengan Baitul Maqdis.

Ia memerintahkan kepada kaumnya untuk masuk ke dalam Baitul Maqdis, ia berkata: "Hai kaumku! Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikanNya kamu orang-orang mereka, dan diberikanNya kepadamu apa yang belum pernah diberikanNya kepada seseorang di antara umat-umat yang lain.Hai kaumku!, masuklah ke tanah suci Palestina yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari dari perang karena takut kepada musuh, sehingga kamu menjadi orang-orang yang merugi.

Mereka berkata: "Hai Musa sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya.

Jika mereka keluar, pasti kami akan memasukinya". Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut kepada Allah, yakni Yusa bin Nun dan Kalib bin Yoqna, Allah telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui gerbang kota itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang.

Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". Bani Israil berwatak keras kepala, keras seperti batu, sudah jelas perintah Nabi Musa adalah perintah Allah, dan nabi telah mengingatkan mereka untuk berperang, malah dengan enteng mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja".

Demi mendengar pernyataan mereka, nabi Musa tak kuasa lagi memerangi keingkaran mereka. Lalu berdoalah nabi Musa: "Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu". Kemudian Allah mewahyukan kepada mereka: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tieh) itu.

Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu. (QS. al-Maidah 5:26) Benarlah firman Allah, karena keingkaran mereka, akhirnya bangsa Israel menjadi bangsa yang terkatung-katung, terbuang di antara bangsa-bangsa lainnya.

Sapi Betina Zaman dahulu kala, tersebutlah di zaman Bani Israil seorang anak yang sangat taat kepada ibunya. Ia tidak pernah menolak perintah, selalu taat pada ibunya. Tak pernah terlontar dari mulutnya kata-kata kasar atau tidak patuh kepadanya. Ia membagi malamnya dengan tiga, shalat sepertiga malam, tidur sepertiga malamnya dan sepertiganya lagi, memanjakan kepala ibunya di pahanya. Bila telah datang pagi maka ia mencari kayu bakar dan dijualnya di pasar.

Bila ia mendapatkan hasilnya, sepertiganya ia sedekahkan, sepertiganya ia pergunakan untuk dirinya dan sepertiganya lagi ia berikan pada ibunya. Pada suatu hari berkatalah ibunya: "Sesungguhnya ayamu telah mewariskanmu sebuah sapi di kampung maka berangkatlah engkau ke tempat itu dan berdoalah kepada Tuhan Ibrahim, Ismail, Ishaq, dan Yaqub agar mengembalikannya padamu, tanda-tanda sapi itu ialah engkau menyangka bahwa sinar matahari telah keluar dari kulitnya", sapi itu disebut dengan "sapi emas" karena kuningnya dan keindahannya.

Maka dilihatnya sapi itu sedang makan di kebun, maka berkatalah anak itu: "Aku memilihmu dengan Tuhan Ibrahim, Ismail, Ishaq, dan Yaqub".

Maka datanglah sapi riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu kepadanya dan berdiri di hadapannya minta dibelainya. Sapi yang digembalakannya sangat bagus karena warna keemasannya, bila matahari terbit menyinari bumi, laksana emas dihamparkan di atas kulitnya, membuat orang terpesona melihatnya. Namun sapi itu lari dari orang yang melihatnya.

Syahdan, ibunya berkata kepadanya: "Sesungguhnya engkau fakir tak berharta, bersusah payah engkau cari kayu bakar dan tak pernah pula engkau tinggalkan ibadah di malam hari, maka berangkatlah engkau ke pasar dan juallah sapi itu!", anak itu bertanya: "Berapa harganya!", ibunya menjawab: "Tiga dinar dan janganlah engkau jual tanpa persetujuanku" sapi itu hendak dijualnya di pasar atas uruhan ibunya dengan harga 3 dinar. Sapi itu ditawar oleh seseorang dengan harga 6 dinar.

Anak itupun berkata padanya: "Ibuku menyuruhku menjual sapi ini seharga tiga dinar, bila engkau menawarnya 6 dinar aku akan sampaikan dulu pada ibuku, jika ia membolehkannya akan aku berikan kepadamu". Bersegeralah ia menemui ibunya dan menceritakan maksudnya, ibunya berkata: "Juallah dengan harga itu!".

Anak itupun bergegas pergi dan menyampaikan harga yang dimintanya. Orang itu menawarnya kembali dengan harga 10 dinar.

Anak itu tidak mengizinkan sebelum ibunya mengetahui hal itu. Maka ia kembali pada ibunya dan memberitahukan perihal tersebut. Ibunya kembali mengizinkan untuk menjualnya dengan harga 10 dinar, "Ambillah sapi itu dengan harga sepuluh dinar dan jangan kau lebihkan lagi!" Ia pun mendatangi laki-laki tadi dan memberinya harga 10 dinar.

Orang itu kembali menawar dengan 13 dinar. Kembali ia menolaknya karena ibunya hanya mengizinkan 10 dinar untuk harga sapi itu. Akhirnya ibunya berkata: "Sesungguhnya orang yang bertanya kepadammu itu adalah seorang nabi, datang kepadamu untuk mengujimu. Maka apabila ia datang kepadamu katakan kepadanya: "Apakah engkau akan membelinya atau tidak?".

Maka datanglah ia kepada orang tersebut, dikatakan apa yang diperintahkan ibunya, maka berkatalah orang itu: "Jangan kau jual sapi ini, sesungguhnya aku Musa bin Imran membelinya darimu untuk seorang Bani Israil yang terbunuh, dan jangan engkau jual kecuali dengan dinar yang dimilikinya, maka peganglah". Akhirnya diterimalah pemberian Musa itu.

Nabi Musa membeli sapi itu dikarenakan Allah telah mewahyukan kepadanya untuk membeli sapi betina itu, untuk menyelesaikan masalah pembunuhan di kalangan Bani Israil. Syahdan, terdapat seorang laki-laki kaya Bani Israil, ia tidak mempunyai anak, hanya mempunyai keponakan, dan tidak ada orang lain yang akan mewarisi hartanya kecuali dirinya. Sudah sejak lama anak itu menunggu kematian pamannya tersebut agar ia dapat mewarisi harta kekayaannya. Semakin ia fikirkan semakin lama pula pamannya meninggal dunia, sehingga syetan menggoda dirinya untuk membunuh pamannya.

Maka dibunuhlah pamannya, agar ia mendapatkan warisannya. Anak itu kemudian memindahkan jenazahnya ke desa lainnya. Lalu dengan lihainya anak itu menuntut kepada Bani Israil agar menemukan pembunuh pamannya itu. Sampai akhirnya persoalan itu menjadi besar dan nabi Musa as dituduh sebagai pembunuhnya. Akhirnya nabi Musa dihadapkan pada persoalan pelik yang menyangkut tuduhan bangsa Mesir atas terbunuhnya seseorang.

Dan nabi Musa dituduh sebagai pembunuhnya. Persoalan itupun menjadi opini umum, sehingga Nabi Musa dirundung duka dan mengadukan masalah itu kepada Allah, Tuhannya yang selalu memberikan petunjuk kepadanya. Maka Allah memberi wahyu kepadanya agar ia menyuruh penduduk itu membuktikan kesuciannya dengan seekor sapi yang harus disembelihnya untuk mengetahui siapa pelaku sebenarnya yang telah membunuh orang itu.

Nabi Musa telah memerintahkan penduduk untuk mencari seekor sapi untuk membuktikan perbuatan itu. Tetapi Bani Israil selalu ingkar pada petunjuk nabinya merekapun engkan melakukannya. Sampai nabi Musa marah, mereka kemudian bertanya: "Sapi yang engkau perintahkan untuk disembelih itu seperti apa".

Setelah mendapat wahyu nabi pun menjawab: "Sapi itu masih perawan". Lama pula perintah itu disampaikan kepada mereka, tetap saja bertanya kembali: "Apakah ada tanda-tanda dari sapi itu". Setelah wahyu turun Nabi menjawab: "Sesungguhnya sapi itu berwarna keemasan". Dicarilah sapi itu, namun mereka tidak mampu menemukannya. Mereka mencari alasan bahwa permintaan itu sulit dikabulkan. Akhirnya Nabi Musa memperoleh sapi betina itu, sapi yang berwarna keemasan dari anak itu. Dan memerintahkan Bani Israil menyembelihnya.

Kembali mereka tidak mematuhi perintah Rasulnya. Akhirnya Nabi Musa pula yang menyembelihnya. Dan dipukulkanlah sapi itu kepada tubuh korban. Dengan izin Allah orang itu bangun dan menyatakan siapa pembunuhnya: "Orang yang membunuh saya adalah fulan bin fulan".

Dengan peristiwa itu maka terjagalah kehormatan nabi Musa dan orang yang membunuh korban itu dijebloskan ke dalam penjara. Nabi Musa Wafat Begitulah riwayat hidup Nabi Musa yang mengajak umatnya ke jalan yang benar. Meskipun permintaan mereka telah banyak dikabulkan Allah namun bangsa Israel yang keras kepala selalu menentangnya.

Dan hancurlah musuh-musuhnya, hancurlah Firaun, Haman, Qorun, dan kaum Kanaan. Nabi Musa meninggal dunia dalam usia 120 tahun di padang Tieh. Nabi Musa dan kaumnya patut dijadikan ibarat agar kaum muslimin dapat mengambil hikmah yang besar. Bahkan Allah begitu banyak menempatkan cerita Bani Israil dan nabi-nabinya dalam al-Quran.

Ini menjadi hikmah bagi kita agar meneladani perjuangan para nabi dan rasul dan menjaga diri dari adzab yang telah menimpa mereka. • 1 Kisah Nabi Musa Dari Lahir Hingga wafat (Lengkap) • 1.1 Ketika Nabi Musa As Lahir • 1.2 Nabi Musa As Dipertemukan Kembali Dengan Ibunya • 1.3 Nabi Musa As Ketika Dewasa • 1.4 Nabi Musa As.

Kembali Ke mesir Dan Menghadap Fir’aun • 1.5 Tenggelamnya Raja Fir’aun Di Laut Merah • 1.6 Share this: • 1.7 Related posts: Kisah Nabi Musa Dari Lahir Hingga wafat (Lengkap) Nabi Musa As. adalah seorang anak laki-laki dari ibu yang bernama Yukabad dan seorang ayah yang bernama Imran. Beliau bersaudara dengan nabi Harun As. nabi Musa as dilahirkan pada zaman pemerintahan raja Fir’aun.

Fir’aun adalah seorang raja yang dzolim, takabur dan bahkan beliau mengaku dirinya sebagai Tuhan, siapa saja yang tidak menuruti semua perintahnya maka mati adalah hukumannya. Pada suatu hari, raja Fir’aun bermimpi bahwa negara Mesir habis terbakar, dan kemudian semua rakyatnya mati terkecuali orang-orang Israil yang masih hidup. dan pada saat Fir’aun bangun ia segera mencari ahli nujum untuk menakwilkan arti mimpinya tersebut.

Dan jawaban dari para ahli nujun tersebut adalah mimpinya merupakan pertanda akan datangnya dari seorang laki-laki dari Bani Israil yang akan menjatuhkan kekuasaannya. Mendengar jawaban tersebut, Fir’aun langsung memerintahkan seluruh tentaranya untuk memeriksa setiap rumah penduduk dan membunuh setiap bayi laki-laki dari Bani Israil.

Keputusannya tersebut diumumkan ke seluruh pelosok negeri agar semua rakyat mematuhi undang-undang tersebut. Ketika Nabi Musa As Lahir Ibu nabi Musa As diberi ilham oleh Allah SWT untuk menghanyutkan bayinya tersebut ke sungai Nil. Atas kekuasaan Allah SWT bayi nabi Musa As terapung di dalam sebuah peti dan berjalan mengikuti arus sungai menuju kolam pemandian istana Fir’aun.

Kemudian peti tersebut ditemukan oleh istri Fir’aun yaitu Siti Asiah yang kemudian dibawanya ke dalam istana. Ketika melihat bayi ditangan istrinya, Fir’aun segera menghunus pedangnya untuk membunuh bayi laki-laki tersebut.

riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu

Kemudian Siti Asiah itupun melindunginya dan berkata “Bayi ini jangan dibunuh, sebaiknya kita jadikan ia sebagai anak angkat, karena aku sudah menyayanginya dan bukankan kita tidak memiliki anak?” Mendengar hal tersebutFir’aun akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa, maka sejak itulah Nabi Musa diangkat sebagai anaknya.

Nabi Musa As Dipertemukan Kembali Dengan Ibunya Siti Asiah mencarikan wanita yang dapat menyusui anak nya itu, kemudian atas iradat Allah maka terpilihlah ibu kandung Nabi Musa As untuk menyusuinya. Karena pada saat itu tidak ada satupun air susu wanita yang mau diminum oleh nabi Musa as kecuali ibu kandungnya sendiri.

begitulah cara Allah SWT mempertemukan kembali Nabi Musa As ke pangkuan ibunya.

riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu

Artinya: “Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” Dan alangkah gembiranya Siti Asiah dapat menemukan orang yang tepat yang bisa menyusukan anak angkatnya tersebut yang tidak lain adalah ibu kandungnya sendiri. Selain mendapat upah yang besar dari pekerjaan nya tersebut, ibu dari nabi Musa As merasa tenang tanpa rasa takut anaknya akan dibunuh oleh tentara Fir’aun.

Nabi Musa As Ketika Dewasa Setelah menginjak dewasa, nabi Musa As. diberi anugrah oleh Allah SWT ilmu pengetahuan dan pangkat kenabian serta diberi kitab Taurat untuk menghadap dan menaklukan Fir’aun. Kemudian nabi Musa as meninggalkan istana Fir’aun karena mendapati kabar bahwa Fir’aun berencana buruk terhadapnya dan memerintahkan tentaranya untuk menangkapnya.

Hal itu dapat terjadi karena salah satu rakyatnya ada yang mati terbunuh oleh nabi Musa as saat ia mendamaikan perkelahian dua orang dari bangsa Bani Israil dan Qibthi (bangsa Fir’aun). Kemudian dengan rasa cemas dan takut iapun meninggalkan kota tersebut. Sebagaimana dalam Q.S Al-Qashash ayat 21 فَخَرَجَ مِنْهَا خَآئِفًا يَتَرَقَّبُ ۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِى مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ Artinya: “Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, Ia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.” Nabi Musa pun pergi tanpa arah tujuan.

Beliau hanya berjalan mengikuti langkah kakinya dengan perasaan yang cemas dan rasa takut. Kemudian saat beliau istirahat, nabi Musa melihat dua orang gadis yang tengah berebut air untuk hewan ternaknya. Nabi Musa pun membantunya untuk mengambil air tersebut dan meminumkannya kepada ternak-ternaknya. Setelah kedua gadis itu pulang, kemudian ia kembali lagi untuk menjumpai nabi Musa As dan mengundangnya ke rumah.

Ternyata kedua gadis tersebut adalah putri nabi Syu’aib. Setelah dijamu dengan penuh hormat, beliau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, bahwa ia sedang dikejar oleh tentara Fir’aun.

Maka berkatalah nabi Syu’aib : “Janganlah takut, sesungguhnya engkau telah lepas dari kaum yang zalim”. Kemudian Nabi Syu’aib menawarkan kedua putrinya untuk salah satu dijadikan istrinya. Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu.

Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.” Dan pada akhirnya nabi Musa as menerima tawara dari nabi Syu’aib, dan kawinlah ia dengan salah satu putri dari nabi Syu’aib.

Nabi Musa As. Kembali Ke mesir Dan Menghadap Fir’aun Dalam perjalanan kembali menuju Mesir bersama keluarganya, Nabi Musa memperoleh wahyu dari Allah SWT, dimana peristiwa itu terjadi dan diabadikan dalam Q.S Al-Qashash ayat 29-32.

Ketika tiba di Mesir, beliau mengajak Fir’aun untuk kembali ke jalan yang benar sambil menunjukkan kedua mukjizatnya yang baru ia peroleh dari Allah SWT. Melihat hal itu, Fir’aun sangat murka dan memanggil seluruh tukang sihirnya agar bertanding dengan Nabi Musa as. Tetapi kemenangan berada di pihak nabi Musa as, sehingganya para tukang sihir Fir’aun mengakui kebenaran ajaran yang dibawa oleh nabi Musa as.

Maka bertambahlah murka Fir’aun sehingga ia menghukum mati para tukang sihirnya dan menyiksa istrinya sehingga menemui ajalnya. Tenggelamnya Raja Fir’aun Di Laut Merah Kemudian nabi Musa dan pengikutnya dikejar oleh Fir’aun dan bala tentaranya hingga di tepi laut merah. Sesampainya disana nabi Musa dan pengikutnya kebingungan karena menemui jalan yang buntu sedangkan mereka sudah terkepung oleh Fir’aun dan tentaranya.

Kemudian turunlah firman Allah SWT untuk menolongnya dalam Q.S Al-Baqarah ayat 50. Dalam peristiwa Allah mewahyukan kepada Nabi Musa As. agar memukulkan riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu ke permukaan laut, kemudian nabi Musa as segera memukulnya dan tiba-tiba air laut terbelah menjadi dua bagian yang sekaligus di tengah-tengah (belahan) itu menjadi jalan yang bisa dilewatinya dan para pengikutnya.

Kisah Nabi Musa Riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu Lahir Hingga wafat (Lengkap) Kemudian tidak lama dari itu, Fir’aun dan bala tentaranya menyusul melewati jalan tersebut sambil merasakan takut. Kemudian nabi Musa dan pengikutnya sampai di daratan, maka Allah memerintahkan kepada nabi Musa agar secepatnya memukulkan tongkatnya ke lautan dan seketika air laut yang terbelah dua itu menjadi air laut seperti semula dan tenggelamlah raja Fir’aun dan bala tentaranya di laut merah.

Demikianlah tadi Kisah Nabi Musa Dari Lahir Hingga wafat (Lengkap). Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan kamu. Terimakasih 🙂 Related posts: • Kisah Nabi Ilyasa Saat Berdakwah Kepada Kaum Bani Israil • Kisah Nabi Shaleh As Saat Berdakwah Kepada Kaum Tsamud • Kisah Nabi Ibrahim As Saat Diutus Menyembelih Nabi Ismail Posted in Kisah Tagged buku kisah nabi musa, ibu nabi musa, istri nabi musa, kisah nabi harun, kisah nabi musa, kisah nabi musa alaihissalam, kisah nabi musa dikejar firaun, kisah nabi musa lengkap pdf, kisah nabi musa membelah laut merah, kisah nabi musa singkat, kisah teladan nabi musa as, mukjizat nabi harun, mukjizat nabi musa, mukjizat nabi musa brainly, mukjizat nabi musa dan isa, nabi musa, nama ibu nabi musa alaihissalam Post navigation Recent Posts • Suami Boleh Memukul Istri Jika hal itu Bermanfa’at • Kisah Nabi Ilyasa Saat Berdakwah Kepada Kaum Bani Israil • Kisah Nabi Shaleh As Saat Berdakwah Kepada Kaum Tsamud • Suami Yang Sholih Menghadapi dan Menyikapi Istrinya • Mahar Dan Hukumnya Tidak Membayar, ini perihal penting • Lelaki Haram Melihat Perempuan & Sebaliknya • Syarah ‘Uqudllujain Pasal Dua, Tiga dan Empat • Taubat Suami Munafiq & Khutbah Syarah ‘Uqudullujain • Kisah Nabi Ibrahim As Saat Diutus Menyembelih Nabi Ismail • Kisah Nabi Ibrahim As Dibakar Hidup-Hidup Oleh Raja Namrud • Suami Wajib Memberi Nafkah & Istri Wajib Memenuhi Ajakannya • Berwasiat Baik Pada Istri dan Istri Patuh Kepada Suami • Suami Wajib Memberi Nafkah Keluarga Dalil & Rinciannya • Kewajiban Istri : Hak Suami yang wajib dipenuhi • Hak Suami Atas Istri Yang Wajib Dipenuhi Oleh Istri
Table of Contents • Alur Kisah Nabi Musa • Anda Mungkin Juga Menyukai • 1.

Peristiwa yang Mengiringi Kelahiran Nabi Musa • 2. Proses Kelahiran Nabi Musa • 3. Perjalanan Ditemukan Oleh Anak Firaun • 4. Menjadi Anak Angkat Fir’aun • 5. Pelarian Musa ke Madyan • 6. Pertemuan dengan Putri Nabi Syuaib • 7. Pertemuan dengan Putri Nabi Syuaib • 8. Pertama Kali Turunnya Wahyu • 9. Dakwah Nabi Musa Kepada Firaun • 10.

Perlawanan Nabi Musa Terhadap Firaun • 11. Peristiwa Pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir • 12. Peristiwa yang Menguji Kesabaran Nabi Musa • 13. Jawab Atas Perilaku Aneh dari Nabi Khidir • 14. Kematian Nabi Musa • Maqam Nabi Musa • Apa Saja Mukjizat Nabi Musa? • 1. Tongkat Menjadi Ular • 2. Membelah Lautan Menggunakan Tongkat • 3. Tangan yang dapat Memancarkan Cahaya • 4. Taufan yang Menyebabkan Paceklik • 5. Membanjirnya katak • 6. Mengubah Air Menjadi Darah • 7. Kemarau Panjang • 8.

Serbuan Belalang • 9. Serangan Kutu • Buku tentang Kisah Nabi Musa • Artikel Terkait Kisah Nabi Musa AS • • Kategori Ilmu Berkaitan Agama Islam • Kisah Nabi • Apa kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa? • Siapa ibu Nabi Musa? • Siapa ayah Nabi Musa?

riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu

Alur Kisah Nabi Musa Menyebarkan ajaran mengenai keesaan Allah SWT pada masa lalu tentu diiringi dengan berbagai macam ujian bahkan cacian seringkali diterima. Kisah Nabi Musa cukup menarik untuk Anda simak karena ada banyak bukti kebesaran dan kuasa-Nya. Kisah Nabi Musa As sebagai salah satu gambaran dari keteladanan para Nabi dan Rasul bisa kamu baca pada buku Kisah Nabi Musa A.S.

1. Peristiwa yang Mengiringi Kelahiran Nabi Musa Kalangan para sahabat mengatakan bahawa Firaun bermimpi melihat api yang datang dari arah baitul maqdis membakar daerah Mesir namun tidak membahayakan bagi kalangan Bani Israel. Tatkala bangun akhirnya semua tukang sihir dan ahli nujum dikumpulkan untuk mengartikannya. Sebagian besar dari mereka mengatakan jika akan lahir seorang anak laki-laki dari kalangan Bani Israil yang dapat menghancurkan Mesir.

Sejak saat itu Firaun memerintahkan bala tentaranya untuk menangkap dan membunuh di tempat anak dari kalangan Bani Israel tanpa terkecuali. 2. Proses Kelahiran Nabi Musa Seiring berjalannya waktu, ahli nujum mendatangi Firaun dan mengatakan jika tidak lama lagi akan lahir anak lak-laki yang akan menghancurkan kekuasaannya. Mendengar kabar itu, ia langsung memerintahkan pasukannya untuk melakukan pencarian lebih detail di kalangan Kaum Bani Israil.

Nabi musa terlahir dari pasangan Imran dan Yukabad yang pada saat mendengar kabar tersebut tentu tidak ingin anaknya sampai terluka.

Pada akhirnya saat akan melahirkan, ayah Musa membawa ibunya ke gua agar tidak bisa ditemukan oleh para prajurit kerajaan apalagi sampai dibunuh Nabi Musa yang dilahirkan di Negeri Mesir pada masa pemerintahan Raja Firaun juga dapat kamu temukan perjalanan kisahnya pada buku Board Book Teladan Anak Muslim: Nabi Musa. Saat itu keajaiban terjadi, Musa kecil ditemukan oleh putri Raja Firaun.

Selama perjalanan itu kakak Musa diperintahkan untuk mengikuti kemana air membawa peti. Kemudian setelah dibuka oleh Istri Firaun bernama Asiyah mendapati ternyata isinya adalah bayi kecil dan menggemaskan.

4. Menjadi Anak Angkat Fir’aun Sebab merasa iba, akhirnya Asiyah memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak. Niat tersebut kemudian diutarakan kepada Fir’aun, meski pada awalnya ditolak namun akhirnya harapannya diterima. Selanjutnya ia mencari inang pengasuh yang nantinya akan menyusui sampai cukup usia.

Pada waktu itu sudah ada beberapa inang yang diundang untuk menyusui usa, namun hampir semuanya ditolak. Ketika informasi ini didengar oleh sang kakak kandungnya, akhirnya memberitakan kepada ibu. Singkat cerita usaha kecil akhirnya disusui ibunya sendiri dengan segenap kasih sayang. 5. Pelarian Musa ke Madyan Musa dididik sebagaimana anak raja pada umumnya, hingga suatu ketika setelah memasuki masa riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu ia berjalan-jalan ke kota dan mendapati dua orang sedang bertengkar.

Antara keduanya berada di kaum berbeda yaitu Bani Israel dna pengikut setia Firaun. Kian lama perdebatan makin memanas. Akhirnya Musa turun tangan dan memukul pasukan Firaun sampai meninggal untuk membela kaum Bani Yahudi. Atas kejadian itu, ia ketakutan jika akan mendapatkan hukuman dari sang ayah angkat. Setelah itu Musa melarikan diri keluar Mesir dan menuju arah Madyan. 6. Pertemuan dengan Putri Nabi Syuaib Saat di perjalanan menuju Madyan, beliau bertemu dengan sekelompok orang yang sedang berebut air sekitar sumur tuk memberikan minum hewan ternak masing-masing diantaranya.

Disisi lain ada dua perempuan berdiri dengan niatan sama namun hanya berdiri di sekitarnya saja. Lantas Musa bertanya kepada keduanya tentang alasan mengapa tidak mendekati sumur dan berebut air untuk memberi minuman kepada ternaknya. Mereka pun menjawab bahawa seorang perempuan tentu tenaganya tidak sekuat laki-laki.

Akhirnya bantulah agar mendapatkannya. 7. Pertemuan dengan Putri Nabi Syuaib Sesampainya di rumah, bertemulah Musa dengan ayah kedua anak tersebut yang ternyata merupakan putra dari Nabi Syuaib.

Kemudian antara keduanya mulai berbincang mengenai hal yang dialami oleh Musa. Terutama perihal alasannya lari ke Madyan sendirian tanpa adanya pengawalan. Kisah selanjutnya menceritakan tawaran Nabi Syu’aib untuk menjadi penggembala ternak. Dengan imbalan ketika sudah dewasa kelak berhak memilih salah satu di antara kedua puterinya. Tanpa terasa sudah berjalan 10 tahun Musa berada di Madyan.

Namun pikirannya tertuju keadaan Bani Israel. 8. Pertama Kali Turunnya Wahyu Setelah menikah dengan Shafura, beliau dan sang istri memutuskan untuk pergi ke Mesir. Sesampainya di sebuah bukit yang belakangan diketahui bernama Tursina ia melihat seberkas cahaya memancar. Singkat cerita karena penasaran akhirnya beliau berjalan mendekatinya.

Setibanya di dekat cahaya, terdengar suara yang menyatakan mengenai terpilihnya sebagai nabi Allah. Kemudahan, Musa meminta saudaranya yakni Harun juga mendapatkan wahyu untuk membantunya dalam berdakwah sebab semasa kecil ia pernah memakan bara api yang membuat lidahnya cacat. 9. Dakwah Nabi Musa Kepada Firaun Turunnya wahyu menandakan bahwa Musa sudah diangkat menjadi seorang nabi yang bertugas menunjukkan kebenaran kepada umatnya terutama Firaun. Bersama saudaranya, akhirnya beliau berangkat menuju istana untuk menunjukkan jalan kebenaran supaya tidak tersesat.

Kenyataan pahit harus diterima nya karena ternyata Firaun menolak dengan mentah-mentah. Lantas meminta bukti atas kekuasaan Allah SWT. Mulanya ia menyuruh ahli sihir melemparkan tali dan akhirnya berubah menjadi ular. Sedangkan Musa mendapatkan perintah melemparkan tongkatnya. Firaun juga mengaku dirinya sebagai Tuhan yang membuat Nabi Musa dan para pengikutnya pergi meninggalkan Mesir seperti yang diceritakan pada buku Nabi Ulul Azmi: Nabi Musa As Membebaskan Bani Israil.

riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu

10. Perlawanan Nabi Musa Terhadap Firaun Tongkat yang berasal dari kayu tersebut akhirnya juga berubah menjadi ular yang memakan ciptaan penyihir tadi. Melihat kejadian itu, Firaun marah dan tetap tidak mau beriman sedikitpun kepada Allah SWT. Bahkan ia mengatakan bahwa Musa adalah seorang penyihir licik yang berbahaya. Kejadian ajaib lainnya pun muncul yaitu ketika Musa meletakkan tangan ke dalam sakunya dan mengeluarkannya maka terlihat sinar menyilaukan.

Sampai-sampai Firaun meminta untuk memasukkannya kembali. Meskipun sudah tunjukkan kuasa Allah namun keingkaran tetap di hatinya. 11. Peristiwa Pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir Nabi Khidr sendiri dipercaya memiliki banyak kelebihan yang diberikan Allah untuk menunjang dakwahnya kepada manusia. Awal pertemuannya disebabkan pada saat Musa ditanya siapakah yang paling pintar, maka ia menjawab bahwa dirinya dan tidka merujukkannya kepada Allah SWt.

Selanjutnya disebutkan bahwa Allah berfirman jika memiliki hamba yang jauh lebih pintar berada di antara pertemuan dua laut. Dengan diikut sahabatnya bernama Yusya bin Nun yang disuruhnya membawa ikan. Jika nantinya melompat ke dalam air maka tempat itu menjadi lokasi pertemuannya. 12. Peristiwa yang Menguji Kesabaran Nabi Musa Pada saat Nabi musa dan temannya merasa kelelahan, akhirnya memutuskan untuk berhenti dan beristirahat.

Saat itulah ikan yang dibawa Yas’a melompat ke air namun disayangkan ia lupa memberitahukan kepada Musa. Akhirnya setelah sehari semalam kabar itu diutarakan.

Akhirnya keduanya datang kembali pada tempat di mana ikan tadi tercebur kemudian disitulah pertemuan antara Nabi Musa dan Nabi Khidir. Setelah perbincangan yang cukup pelik akhirnya mereka memulai perjalanan bersama tetapi ada banyak kejadian janggal misalnya tragedi pelubangan perahu.

riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu

13. Jawab Atas Perilaku Aneh dari Nabi Khidir Saat perjalanan bersama Nabi Khidir, Musa diliputi tanda tanya besar terkait beberapa tindakan belia mulai dari melobangi perahu, membunuh anak kecil, dan dan memperbaiki tembok yang akan roboh. Semuanya sebenarnya memiliki makna tersendiri, berikut penjelasannya: • Peristiwa melobangi perahu bertujuan untuk menghindar terjadinya perampasan oleh penguasa kejam sehingga mereka akan kehilangan kendaraannya.

• Sedangkan pembunuhan terhadap anak kecil karena ditakutkan saat dewasa nantinya bisa menjerumuskan orang tuanya ke jalan kekufuran.

Di samping itu Nabi Khidir juga berdoa kepada Allah agar diganti dengan buah hati yang baik. • Pendirian tembok bertujuan untuk melindungi anak yatim yang berada di dalamnya agar tidak tertimpa reruntuhan. 14. Kematian Nabi Musa Kisah mengenai wafatnya Nabi Musa memang sedikit membuat bertanya-tanya, karena pernah terjadi pemukulan dengan menampar sampai bola matanya pecah ketika malaikat Izrail mendatangi beliau.

Sampai pada akhirnya memilih untuk diwafatkan, hal ini diriwayatkan pada sebuah hadits. Hiruk pikuk dunia seringkali membuat Nabi Musa lelah dan akhirnya ingin bertemu dengan Allah SWT. Meskipun pada awal penjemputannya namun pada akhirnya saat berada di dekat tanah suci (Baitul Maqdis) sejauh lemparan batu. Konon makamnya berada di sana juga. Maqam Nabi Musa maqam nabi musa (sumber: https://wbabdullah.files.wordpress.com/) maqam nabi musa (sumber: https://wbabdullah.files.wordpress.com/) Dikutip dari wikipedia, makam Nabis Musa terletak di Maqam El-Nabi Musa, berada di 11 km (6.8 bt) keselatan bandar Jericho dan 20 km (12 bt) ke timur Jerusalem dekat kawasan gersang Judea.

Apa Saja Mukjizat Nabi Musa? Hadirnya mukjizat bertujuan untuk menunjukkan kekuasaan Allah dan membuktikan bahwa mereka adalah benar-benar mendapatkan wahyu untuk menyebarkan dakwah agar hidup umatnya lebih terarah. Berbagai mukjizat yang dilakukan beliau juga bisa ditemukan pada buku Seri Komik Nabi: Nabi Musa As Nabi dengan Tujuh Mukjizat.

Seri halnya yang diberikan kepada Nabi Musa, berikut ulasannya: 1. Tongkat Menjadi Ular Kisah mengenai hal ini tentu sudah banyak dikisahkan di buku pelajaran maupun dongeng Islami. Pada waktu itu ketika Firaun meminta Nabi musa menunjukkan Mukjizat kenabian, lantas turn perintah untuk memukulkan tongkatnya ke lantai.

Beberapa waktu kemudian muncullah ular besar. Ular besar tersebut memakan ular lain yang dibuat oleh penyihir dari pihak Firaun. Meskipun sudah ditunjukkan kekuasaan Allah, namun ternyata kesombongan masih menutupi hatinya hingga [pada akhirnya tidak ada keimanan sedikitpun. Namun Nabi Musa tidak berhenti di situ dan terus berdakwah.

2. Membelah Lautan Menggunakan Tongkat Masih seputar tongkat Nabi Musa yang dapat digunakan untuk membelah lautan pada saat diajar oleh para pasukan firaun. Pada saat itu dibuktikan bahawa kekayaan maupun kejayaan tidak bererti sedikitpun apabila Allah SWT berkehendak. Akhirnya tiba ajalnya ketika tenggelam tanpa diselamatkan. Awal kisahnya saat Nabi Riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu dikejar pasukan, akhirnya Allah mengutus untuk memukulkan tongkatnya ke lautan.

Kemudian secara tiba-tiba terbelah. Seluruh pengikut Musa dianjurkan untuk segera menyeberang. Pada saat pasukan firaun sampai ke tengah tiba-tiba air kembali seperti semula. 3. Tangan yang dapat Memancarkan Cahaya Pada saat dakwah pertama kalinya kepada Firaun, beliau menunjukkan beberapa mukjizat yang diberikan Allah kepadanya mula dari tongkat yang berubah menjadi ular serta tangan bercahaya.

Kejadiannya bermula saat beliau menaruhnya ke dalam saku kemudian mengeluarkannya. Tiba-tiba cahaya muncul yang membuat mata silau bahkan Firaun memintanya untuk memasukan kembali ke dalam sakunya. Pada saat itu beredar rumor bahwa Musa merupakan seorang penyihir licik.

riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu

Tujuannya untuk memecah belah masyarakat muslim dan menyebarkan agama palsu. 4. Taufan yang Menyebabkan Paceklik Angin taufan datang dalam jangka waktu lama membuat masyarakat terserang kelaparan karena tidak bisa menjalankan kegiatan yang berkaitan dengan ekonomi atau membuat makanan.

Penyebabnya adalah kekejaman Firaun sudah melampaui batas wajar sehingga membuat Allah semakin murka. Ketika badai mulai berhenti, masyarakat sekitar kembali menyombongkan diri dan tiada sama sekali mengingat Allah.

Bahkan justru muncul perkataan bahwa semuanya karena usaha mereka sendiri tanpa adanya campur tangan dari dzat yang maha kuasa. Tentunya kemurkaan Allah semakin meningkat. 5. Membanjirnya katak Suatu waktu terjadi serangan katak yang bersumber dari Sungai Nil kemudian beranjak masuk ke rumah warga. Meski tidak berbahaya namun sangat mengganggu mulai dari suaranya serta kencingnya mengakibatkan masalah kulit.

Selain itu juga memancing kedatangan ular berbisa untuk memakannya. Katak yang mati menyebabkan bau busuk menyeruak di sekitar tempat tinggal masyarakat, akibatnya mereka menjadi sibuk terus membersihkan sisanya. Di samping itu, kuman dan penyakit mudah berkembang biak. Pada akhirnya masyarakat mengidap berbagai macam penyakit. 6. Mengubah Air Menjadi Darah Pada suatu saat, ketika Firaun diingatkan nabi musa namun tetap menolaknya, hal ini menjadikan kesabarannya teruji oleh karenanya Allah menurunkan azab besar berupa semua berubah menjadi darah.

Bukan hanya sekedar warnanya yang memerah melainkan juga rasanya tidak enak. Azab darah tersebut sangat berat karena aktivitas masyarakat menjadi terbengkalai.

Sebagai seorang manusia hanya bertahan tanpa minum sekitar 3-4 hari saja. Selebihnya maka meningkatkan risiko mengalami kematian. Orang Mesir mendesak kaum Israel untuk meninggalkan wilayah itu. 7. Kemarau Panjang Jika kemarau biasa mungkin tidak akan menimbulkan masalah serius, namun berbeda dengan yang terjadi di Mesir pada waktu itu. Kelaparan terjadi di mana-mana sampai banya nyawa yang dipertaruhkan baik anak kecil, dewasa, maupun orang tua sekalipun.

Kekeringan menjadikan masyarakat kebingungan untuk mencari minum dan menjalankan aktivitas harian seperti mencuci perabot dan mandi. Namun kejadian ini hanya menyerang bangsa Mesir dan tidak pada kaum Bani Israel. Akhirnya berbagai kesialan muncul bahkan menghalalkan segala cara.

8. Serbuan Belalang Belalang terkenal sebagai serangga yang bisa menyebabkan kerusakan pada tanaman, sedangkan pada waktu itu masyarakat berpenghasilan dari ternak dan pertanian. Terjadinya serangan hewan tersebut membuat gagal panen sehingga membuat paceklik dan kelaparan di mana-mana.

Jumlah belalang sendiri bukan hanya satu bahkan mencapai ribuan bahkan menyebabkan tanah menjadi tidak terlihat lagi. Berlangsungnya terbilang cukup lama, akibat berbagai aktivitas menjadi terhambat sampai tidak sempat untuk menjalankan kegiatan sehari-harinya.

9. Serangan Kutu Pengingat semi pengingat terus Allah turunkan untuk masyarakat Mesir pada waktu itu agar mau beriman. Namun harapan itu hanya sekadar angan belaka karena Firaun terus membanggakan kekayaan serta anggap dirinya berkuasa atas segalanya. Hingga pada suatu saat diturunkannya kutu dalam jumlah sangat banyak. ada banyak kerusakan yang ditimbulkannya sampai membuat masyarakat sekitar menjadi kebingungan bagaimana cara menanganinya. Pada akhirnya ia meminta pertolongan kepada Musa dengan berbagai tipu dayanya.

Demikian penjelasan mengenai Kisah Nabi Musa yang perlu Anda ketahui untuk meningkatkan kadar ketakwaan kepada Allah SWT. Agar lebih memahami maknanya, sebaiknya baca tafsir atau terjemahan. Pastikan mencari sumber paling valid supaya tidak sampai tersesat. Buku tentang Kisah Nabi Musa Buku ini berisikan kumpulan-kumpulan serpihan hikmah dan pengalaman tentang ilmu. Isinya mengangkat remeh-temeh kehidupan menjadi sesuatu yang layak untuk direnungkan. Dengan bahasa riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu mengalir dan enak dibaca, kita tidak perlu mengernyitkan dahi untuk berpikir keras.

Namun, saat membaca, tetiba wajah terasa ditampar berkali-kali karena diingatkan dengan hal-hal yang sering kita lalaikan: lupa mati, kurang bersyukur, tidak menghormati guru, dan riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu sebagainya.

Buku “Andai Kita Hidup di Zaman Nabi Musa” ini cocok sebagai bacaan ringan di kala senggang, ataupun sebagai bahan materi tausiah untuk disampaikan. Selamat membaca. Board Book Teladan Anak Muslim: Nabi Musa Nabi Musa dilahirkan di Negeri Mesir pada masa pemerintahan Raja Firaun, Setelah Musa dewasa, ia tidak senang melihat kekuasaan Firaun yang sewenang-wenang. Untuk memberantas kekejaman Firaun, Allah SWT mengangkat Musa menjadi Nabi dan Rasul.

Seri Ulul Azmi: Nabi Musa A.S. Dan Firaun Yang Keji Ayo, kita mengenal para Nabi Ulul Azmi! Mereka disebut sebagai Nabi Ulul Azmi karena tingkat ketabahan dan kesabarannya yang luar biasa dalam berdakwah. Yuk, ikuti kisah mereka di Seri Ulul Azmi ini! Keunggulan Buku Senang sekali bisa mengenal 5 Nabi Ulul Azmi yang mempunyai kesabaran luar biasa dalam berdakwah.

Mereka menyampaikan pesan-pesan Allah tanpa mengenal lelah. Mereka senang dan selalu berkorban demi terwujudnya dakwah Islam. Kisah-kisah 5 Nabi Ulul Azmi dalam buku ini disampaikan dengan sederhana dan cocok untuk balita atau anak-anak yang baru masuk sekolah dasar. Buku ini mengajarkan anak untuk mencontoh 5 Nabi Ulul Azmi, agar bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari.

Hal ini tentunya sangat baik untuk anak-anak, terutama balita yang cenderung meniru orang dewasa atau tokoh yang dia baca dan dia lihat. Selain itu, buku ini juga bisa menginspirasi anak agar mereka bisa tumbuh menjadi anak-anak yang saleh dan salehah.

Ilustrasi yang dihadirkan pada buku ini begitu menarik dan penuh warna, yang membuat anak-anak akan suka saat membacanya. Buku ini sangat cocok untuk dijadikan bahan ajar bagi orangtua dan pendidik. Selamat membaca! Seri Ulul Azmi ini merupakan edisi republish dengan tampilan ilustrasi cover dan isi terbaru. Teks sangat sederhana dan mudah dipahami anak. Sangat cocok digunakan sebagai media pembelajaran yang tepat untuk mengenalkan 5 Nabi Ulul Azmi pada anak.

Memperkaya wawasan anak tentang 5 Nabi Ulul Azmi. Anak bisa mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap peristiwa yang dialami oleh 5 Nabi Ulul Azmi. Buku dikemas dengan format board book yang tentunya sangat ramah anak. Halo Balita.Kisah Nabi: Keranjang Nabi Musa A.S. (Boardbook) Yuk abad bersedih karena harus berpisah dengan bayi laki-lakinya.

Namun, Allah Swt. memberinya petunjuk. Dia menghanyutkan bayinya ke Sungai Nil. Wah, apakah sang bayi akan selamat atau tidak, ya? Artikel Terkait Kisah Nabi Musa AS Recent Post • Cara Mengirim Artikel Ke Koran Tribun yang Perlu Kamu Tahu Mei 6, 2022 • Cara Membuat Contoh Proposal Bisnis Plan yang Baik dan Benar Mei 6, 2022 • 8 Rekomendasi Spidol Kain Terbaik untuk Melukis Mei 6, 2022 • Tips Membangkitkan Semangat Kerja & Penyebab Semangat Kerja Menurun Mei 6, 2022 • 70 Ucapan Selamat Idul Fitri Lengkap Mei 6, 2022 • Menu Sahur Enak, Mudah, dan Praktis Mei 6, 2022 • 5 Contoh Surat Pengunduran Diri Mei 6, 2022 • 11 Cara Menghilangkan Ngantuk Secara Efektif Mei 6, 2022 • Menghilangkan Bau Ketiak Secara Efektif Mei 6, 2022 • Rekomendasi Buku Hijrah Muslimah Mei 6, 2022
Menu • HOME • RAMADHAN • Kabar Ramadhan • Puasa Nabi • Tips Puasa • Kuliner • Fiqih Ramadhan • Hikmah Ramadhan • Video • Infografis • NEWS • Politik • Hukum • Pendidikan • Umum • News Analysis • UMM • UBSI • Telko Highlight • NUSANTARA • Jabodetabek • banten • Jawa Barat • Jawa Tengah & DIY • Jawa Timur • kalimantan • Sulawesi • Sumatra • Bali Nusa Tenggara • Papua Maluku • KHAZANAH • Indonesia • Dunia • Filantropi • Hikmah • Mualaf • Rumah Zakat • Sang Pencerah • Ihram • Alquran Digital • ISLAM DIGEST • Nabi Muhammad • Muslimah • Kisah • Fatwa • Mozaik • INTERNASIONAL • Timur tengah • Palestina • Eropa • Amerika • Asia • Afrika • Jejak Waktu • Australia Plus • DW • EKONOMI • Digital • Syariah • Bisnis • Finansial • Migas • pertanian • Global • Energi • REPUBLIKBOLA • Klasemen • Bola Nasional • Liga Inggris • Liga Spanyol • Liga Italia • Liga Dunia • Internasional • Free kick • Arena • Sea Games 2021 • SEAGAMES 2021 • Berita • Histori • Pernik • Profil • LEISURE • Gaya Hidup • travelling • kuliner • Parenting • Health • Senggang • Republikopi • tips • TEKNOLOGI • Internet • elektronika • gadget • aplikasi • fun science & math • review • sains • tips • KOLOM • Resonansi • Analisis • Fokus • Selarung • Sastra • konsultasi • Kalam • INFOGRAFIS • Breaking • sport • tips • komik • karikatur • agama • JURNAL-HAJI • video • haji-umrah • journey • halal • tips • ihrampedia • REPUBLIKA TV • ENGLISH • General • National • Economy • Speak Out • KONSULTASI • keuangan • fikih muamalah • agama islam • zakat • IN PICTURES • Nasional • Jabodetabek • Internasional • Olahraga • Rana • PILKADA 2020 • berita pilkada • foto pilkada • video pilkada • KPU Bawaslu • SASTRA • cerpen • syair • resensi-buku • RETIZEN • Info Warga • video warga • teh anget • INDEKS • LAINNYA • In pictures • infografis • Pilkada 2020 • Sastra • Retizen • indeks REPUBLIKA.CO.ID, JAKARATA -- N abi Musa Alaihissalam (AS) adalah salah seorang Rasul Allah SWT yang memiliki sejumlah keistimewaan (mukjizat).

Nabi Musa diberikan mukjizat berupa kitab Taurat, tongkatnya yang bisa berubah menjadi ular, tangannya yang bercahaya, dan bisa berbicara langsung dengan Allah. Karena itulah, Nabi Musa mendapat gelar sebagai Kalimullah. Selain itu, Nabi Musa juga merupakan satu di antara lima nabi yang mendapat gelar Ulul Azmi (Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad SAW).

Menurut sejumlah riwayat, Nabi Musa hidup sekitar tahun 1527-1407 Sebelum Masehi (SM). Lihat keterangan lengkapnya dalam buku Athlas Tarikh al-Anbiya wa ar-Rusul (Atlas Sejarah Nabi dan Rasul) karya Sami bin Abdullah Al-Maghluts. Penjelasan serupa juga dikemukakan Harun Yahya dalam bukunya Jejak Bangsa-bangsa Terdahulu.

Lalu, kapankah Nabi Musa diutus oleh Allah menjadi Nabi dan Rasul? Menurut keterangan Sami al-Maghluts, Nabi Musa diutus oleh Allah SWT menjadi Nabi dan Rasul sekitar tahun diutus 1450 SM. Adapun pengukuhan kenabian dan kerasulannya saat Musa berangkat dari Madyan menuju Mesir. Sedangkan lokasinya, dalam Alquran disebutkan berada di suatu tempat yang diberkahi, yakni Thuwa (Muqaddasi Thuwa).

Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: ‘Hai Musa, Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan, Aku telah memilih kamu maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku’.

(QS Thaha [20]: 11-14). Keterangan serupa juga terdapat dalam surah An-Nazi`at [79]: 16. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci, yaitu Lembah Thuwa. Tujuan pengukuhan kenabian dan kerasulan ini agar Nabi Musa AS segera menyeru Firaun untuk menyembah dan beriman kepada Allah, serta memohon ampun atas sikapnya yang sombong dan angkuh, karena mengaku dirinya sebagai tuhan.

Awalnya, setelah melaksanakan kewajibannya selama lebih kurang 10 tahun, sebagai seorang menantu kepada mertuanya (Nabi Syuaib AS) untuk membayar mahar atas pernikahannya dengan salah seorang putri Nabi Syuaib, Musa berniat membawa keluarganya ke Mesir. (QS Al-Qashash [28]: 23-28). Daerah Madyan berada di sebelah barat teluk Aqabah di daerah Yordania. Namun, pada suatu malam, di tengah perjalanan dengan cuaca yang sangat dingin, Musa tersesat. Sedangkan dirinya tidak memiliki secercah cahaya atau lampu sebagai penerang.

Tiba-tiba, ia melihat suatu cahaya di balik sebuah bukit. Maka itu, ia memerintahkan istrinya untuk menunggu sementara di tempat mereka berteduh. Musa pun segera mencari tahu asal atau sumber cahaya itu. Musa mengira, cahaya itu adalah api. Ia berkata kepada keluarganya: ‘Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan’.

(QS Al-Qashash [28]: 29). Dan, ketika sampai di tempat yang disangkanya api tersebut, Musa melihat sinar yang menyala-nyala dari sebuah pohon hijau dan berduri. Menurut Ahzami Samiun Jazuli dalam bukunya Hijrah Menurut Pandangan Al-Qur’an, pohon itu muncul dari dasar bukit sebelah barat, di sebelah kanan tempatnya berdiri. Di tempat ini pula, Rasul SAW berdiri, sebagaimana disebutkan dalam Alquran surah Al-Qashash [28]: 44. Dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi yang sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan tiada pula kamu termasuk orang-orang yang menyaksikan.

Cahaya itu berasal dari Zat Allah SWT. Dan, Allah menamakan tempat itu dengan nama Thuwa, yaitu suatu tempat yang diberkahi. Allah berfirman, Sesungguhnya, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. (QS Thaha [20]: 14). Lihat pula dalam surah Al-Qashash [28]: 30. Karena itulah, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk membuka sandalnya sebagai bentuk penghormatan, pengagungan, dan kesopanan terhadap tempat yang dimuliakan dan diberkahi.

Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. (QS Thaha [20]: 12). Sumber: Pusat Data Republika/Syahrudin el-FikriSuara.com - Kisah Nabi Musa AS telah diabadikan di dalam Al-Qur'an. Nama Nabi Musa di Al-Qur'an disebutkan sebanyak 136 kali.

Berdasarkan perjalanan Nabi Musa, pada akhirnya diketahui bahwa Allah SWT tidak menyukai perbuatan sewenang-wenang ataupun yang menganiaya orang lain. Itulah sebabnya salah satu perintah Allah SWT kepada Nabi Musa adalah untuk melawan Raja yang berkuasa pada zaman itu, yaitu Firaun.

Nabi Musa AS merupakan salah satu nabi dan rasul yang dikarunia mukjizat yang luar biasa oleh Allah SWT. Nabi Musa merupakan rasul ulul azmi dan termasuk dalam satu dari empat Nabi yang dikaruniai kitab, yaitu kitab Taurat. Kisah Nabi Musa AS Baca Juga: Kisah Nabi Ibrahim dari Kecil hingga Melawan Raja Namrud Nabi Musa diperintah Allah SWT untuk menyelamatkan kaumnya dari kekafiran.

Nabi Musa juga diutus untuk menyadarkan penguasa Mesir saat itu, yaitu Raja Firaun yang menganggap dirinya sebagai tuhan. Sebab, kesombongan dan kekejaman Raja Firaun itu membuat masyarakat Mesir takut dan tunduk kepadanya. Raja Firaun juga tidak segan membunuh bayi laki-laki karena dianggap akan mengganggu kerajaannya. Di dalam Al-Qur'an, sewaktu bayi, Nabi Musa sengaja dihanyutkan oleh ibunya di Sungai Nil agar tidak dibunuh oleh bala tentara dan pengawal Raja Firaun.

Tindakan ibu Nabi Musa pada saat itu karena mendapatkan ilham dari Allah SWT. Kemudian di hilir sungai, istri Raja Firaun justru menemukan Musa yang bersih dan bercahaya, lalu dipungut oleh keluarga Firaun.

Nabi Musa tumbuh menjadi sosok yang cerdas dan berakal yang sempurna. Nabi Musa dewasa merantau meninggalkan Mesir menuju Madyan, dan di sana, dirinya bertemu dengan Nabi Syu'aib AS lalu menikah dengan salah satu anaknya.

Baca Juga: Artefak Mesir yang Lama Hilang Ditemukan di Dalam Kotak Cerutu Setelah 10 tahun tinggal di Madyan, Nabi Musa dan istrinya meminta izin kepada Nabi Syu'aib untuk kembali ke Mesir. Di dalam perjalanan menuju Mesir, Nabi Musa melihat sinar yang menyala di Bukit Sinai. Di tempat itulah Nabi Musa menerima wahyu pertama kali dari Allah SWT.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
• Acèh • Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • Aragonés • العربية • ܐܪܡܝܐ • مصرى • Asturianu • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Boarisch • Žemaitėška • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • বাংলা • བོད་ཡིག • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • Cebuano • Chamoru • کوردی • Čeština • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Zazaki • Dolnoserbski • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Võro • Føroyskt • Français • Furlan • Frysk • Gaeilge • 贛語 • Kriyòl gwiyannen • Gàidhlig • Galego • ગુજરાતી • Gungbe • Hausa • עברית • हिन्दी • Fiji Hindi • Hrvatski • Magyar • Հայերեն • Արեւմտահայերէն • Interlingua • Interlingue • Ilokano • Íslenska • Italiano • 日本語 • Patois • Jawa • ქართული • Taqbaylit • Kabɩyɛ • Қазақша • 한국어 • Kurdî • Kernowek • Latina • Ladino • Lëtzebuergesch • Лакку • Лезги • Lingua Franca Nova • Limburgs • Ladin • Lombard • Lietuvių • Latviešu • Malagasy • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • मराठी • Bahasa Melayu • မြန်မာဘာသာ • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Occitan • ਪੰਜਾਬੀ • Picard • Deitsch • Polski • Piemontèis • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Rumantsch • Română • Русский • Русиньскый • Sicilianu • Srpskohrvatski / српскохрватски • Taclḥit • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Gagana Samoa • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • Svenska • Kiswahili • தமிழ் • ไทย • Türkmençe • Tagalog • Türkçe • Татарча/tatarça • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt • Walon • Winaray • 吴语 • მარგალური • ייִדיש • Yorùbá • 中文 • Bân-lâm-gú • 粵語 • Amram (ayah kandung) [7] [8] • Yokhebed (ibu kandung) [7] [8] • Putri dari Firaun (ibu angkat) Kerabat • Miryam (kakak perempuan) [8] • Harun (kakak laki-laki) [7] [8] Bagian dari seri artikel Kristen tentang Musa Musa dan Israel Sekilas Tentang Musa Nama dan Julukan Tulah • Mujizat • Pelayanan Musa dan Sejarah Garis waktu • Kronologi • Tokoh Kehidupan pribadi Musa Budaya dan sejarah latar belakang Musa dan Kekristenan Peran Musa • l • b • s Musa [catatan 1] adalah sosok yang dianggap sebagai Nabi terpenting dalam Yudaisme atau agama Yahudi, [9] [10] dan salah satu Nabi terpenting dalam agama Kristen, Islam, Baha'i dan agama-agama Abrahamik lainnya.

Menurut Alkitab Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan Al-Qur'an, Musa adalah pemimpin dari Bani Israil dan pemberi hukum yang dianggap sebagai penulis Taurat. Menurut Kitab Keluaran, Musa lahir di masa ketika bangsanya, yaitu Bani Israil menjadi bangsa minoritas yang ditindas di Mesir kuno, dan karena populasinya yang terus meningkat ditakutkan oleh Fir'aun bahwa mereka kemungkinan akan bersekutu dengan musuhnya Mesir. [11] Ibu Musa yang dari etnis Yahudi, yaitu Yokhebed, diam-diam menyembunyikannya ketika Fir'aun memerintahkan semua bayi Yahudi yang laki-laki untuk dibunuh untuk mengurangi populasi Bani Israil.

Oleh anak perempuan Fir'aun (dikenal sebagai Ratu Bithia di Midrash, atau Asiyah menurut islam) Musa yang masih bayi itu pun diadopsi setelah ditemukannya hanyut di Sungai Nil, dan ia pun dibesarkan bersama keluarga kerajaan Mesir lainnya. Setelah membunuh seorang etnis Mesir yang memukuli budaknya yang beretnis Yahudi, Musa pun kabur melintasi Laut Merah ke Midian, di mana dia bertemu dengan Malaikat Tuhan, [12] yang berbicara kepadanya dari dalam semak yang terbakar di Gunung Horeb, yang dianggap sebagai Gunung Ilahi.

Tuhan memerintahkan Musa untuk kembali ke Mesir untuk menuntut pembebasan bangsa Israel dari perbudakan. Namun, Musa berkata kalau dirinya tidak dapat berbicara secara fasih, [13] maka Tuhan mengizinkan Harun, yang merupakan abangnya Musa, [14] untuk menjadi juru bicaranya. Setelah terjadinya Sepuluh Tulah, Musa menuntun Bani Israil keluar dari Mesir menyeberangi Laut Merah. Setelah itu mereka berdiam di Gunung Sinai, di mana Musa menerima Sepuluh Perintah Tuhan. Pasca 40 tahun mengembara di padang pasir, Musa wafat di Gunung Nebo, di dekat Tanah Perjanjian.

Diakibatkan tidak adanya bukti arkeologis maupun catatan sejarah selain dari Kitab-Kitab Samawi mengenai dirinya, [15] [16] banyak ilmuwan dan agamawan menganggap cerita Musa sebagai cerita dongeng, dengan beberapa tetap memegang kemungkinan bahwa Musa atau sosok seperti Musa pernah ada di abad ke-13 SM. [17] [18] [19] [20] [21] Yudaisme Rabbinikal mengkalkulasi bahwa Musa hidup dari tahun 1391 sampai 1271 SM; [22] sedangkan menurut Jerome, Musa lahir di tahun 1592 SM, [23] dan James Ussher mengatakan Musa lahir di tahun 1571 SM.

[24] Daftar isi • 1 Ayat • 2 Nama • 3 Kisah • 3.1 Sumber • 3.1.1 Teks kitab suci • 3.1.2 Sastra • 3.2 Keluarga • 3.3 Latar belakang • 3.4 Kelahiran dan masa muda • 3.5 Melarikan diri dari Mesir • 3.6 Utusan Allah • 3.6.1 Seruan • 3.6.2 Azab dan bencana • 3.7 Hijrah dari Mesir • 3.8 Perjalanan • 3.8.1 Gunung Sinai • 3.8.2 Patung sapi • 3.8.3 Kemah Suci • 3.9 Upaya Memasuki Palestina • 3.9.1 Baal Peor • 3.9.2 Peperangan • 3.10 Kejadian lain • 3.10.1 Perselisihan internal • 3.10.2 Menghidupkan orang mati • 3.10.3 Khidir • 3.10.4 Harun meninggal • 3.10.5 Pengganti Musa • 3.11 Wafat • 4 Kedudukan • 4.1 Yahudi • 4.2 Kristen • 4.3 Islam • 5 Fir'aun • 5.1 Perempuan istana • 6 Gambar • 7 Makam • 8 Lihat pula • 9 Catatan • 10 Rujukan • 10.1 Daftar pustaka • 11 Pranala luar Ayat [ sunting - sunting sumber ] “ (Allah) berfirman, 'Wahai Musa!

Sesungguhnya Aku memilih engkau dari manusia yang lain untuk membawa risalah-Ku dan firman-Ku, sebab itu berpegangteguhlah kepada yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.' — Al-A'raf (7): 144 ” “ Seperti Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel dalam hal segala tanda dan mujizat yang dilakukannya atas perintah Tuhan di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya, dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel.

— Ulangan 34: 10-12 ” Nama [ sunting - sunting sumber ] Musa dalam Hieroglif Menurut Kitab Keluaran, nama Musa (Mošeh משה) berarti "diangkat dari air" dari akar kata mšh משה "mengangkat, menarik ke luar", menurut Keluaran 2:10: Putri Firaun . menamainya Musa (משה), sebab katanya: "Karena aku telah menariknya (משיתהו) dari air." [25] Nama "Musa" ini dapat mengindikasikan bentuk pasif "ditarik keluar", yaitu "dia yang ditarik keluar", tetapi juga ada yang melihat dalam arti aktif, yaitu: "ia yang menarik keluar" dalam arti "Juruselamat" ( bahasa Latin: Soter; bahasa Inggris: saviour, deliverer).

[26] Bentuk nama yang tertulis dalam Teks Masoret sesungguhnya merupakan bentuk aktif partisipel dalam tata bahasa Ibrani. [27] Sejarawan Yahudi-Romawi dari abad ke-1 M, Flavius Yosefus (37-100), berpendapat bahwa nama ini diambil dari etimologi Mesir.

Ini didukung oleh sejumlah pandangan sarjana yang menunjukkan turunan dari istilah bahasa Koptik mo yaitu "air" dan `uses "menolong, menyelamatkan", memberi arti "diselamatkan dari air". [28] Pandangan lain mengkaitkan nama Musa dengan kata Mesir kuno ms -- artinya "lahir" atau "anak; keturunan" atau "pemberian"—yang ditemukan dalam nama-nama " Thut- mo se", "anak dari (dewa) Thoth") dan " Ra- me sses", yang berarti "anak yang diberi oleh (dewa) Ra.

[25] [29] Dari antara orang-orang Aram dan Neo-Hitit, penduduk di Sam'al Utara, Yahudi, menyebutkan bahwa ada jejak-jejak kebudayaan nenek moyang pahlawan Moschos, menunjuk kepada pahlawan Yunani Mopsus (berarti "anak sapi") yang memiliki beberapa kesamaan dengan Musa.

[30] Kesamaan-kesamaan ini hanya berkisar pada kedekatan lokasi dan kemiripan nama. Kisah [ sunting - sunting sumber ] Sumber [ sunting - sunting sumber ] Teks kitab suci [ sunting - sunting sumber ] Dalam Al-Qur'an (kitab suci umat Islam), nama Musa disebutkan sebanyak 136 kali, [a] menjadikannya sebagai manusia yang namanya paling banyak disebut dalam Al-Qur'an.

Kisahnya disebutkan dalam Surah Al-Baqarah (2): 49-61, Al-A'raf (7): 103-160, Yunus (10): 75-93, Al-Isra' (17): 101-104, Thaha (20): 9-97, Asy-Syu'ara' (26): 10-66, An-Naml (27): 7-14, Al-Qashash (28): 3-46, Al-Ghafir (40): 23-30, Az-Zukhruf (43): 46-55, Ad-Dukhan (44): 17-31, dan An-Naziat (79): 15-25.

Dalam Tanakh (kitab suci umat Yahudi) dan Alkitab (kitab suci umat Kristen), riwayat kehidupan Musa terutama dicatat dalam Kitab Keluaran (Syemot), Imamat (Wayiqra), Bilangan (Bemidbar), dan Ulangan (Devarim). Namanya disebutkan sebanyak 873 kali dalam 803 ayat dalam 31 buku di dalam Alkitab versi Terjemahan Baru.

[31] Sastra [ sunting - sunting sumber ] Tulisan-tulisan di luar kitab-kitab suci mengenai Musa pertama kali muncul pada awal periode Helenistik, sejak 323 SM sampai kira-kira 146 SM. Shmuel mencatat bahwa "suatu ciri sastra zaman ini adalah penghormatan tinggi terhadap orang-orang Timur pada umumnya dan sekelompok orang tertentu di antara masyarakat." [32] Para sejarawan Yahudi-Romawi atau Yahudi-Yunani termasuk Artapanus, [33] [34] [35] Eupolemus, [36] Flavius Yosefus, dan Filo meninggalkan informasi mengenai Musa.

Sejumlah sejarawan bukan orang Yahudi termasuk Hecataeus dari Abdera (dikutip oleh Diodoros Sikolos), [36] [37] Alexander Polyhistor, Manetho, Apion, Chaeremon dari Aleksandria, Tacitus dan Porfirios juga menyinggung mengenai Musa. Tidak diketahui sejauh mana tulisan-tulisan ini mengambil dari sumber-sumber lebih kuno. [38] Sejarawan, ahli geografi dan filsuf Yunani, Strabo, menulis secara rinci mengenai Musa dalam tulisannya Geographica (~ 24 M), yang dianggapnya sebagai seorang imam Mesir yang tidak puas terhadap keadaan negerinya dan mengumpulkan pengikut untuk melawan penyembahan ilah yang berupa manusia atau binatang, karena percaya bahwa sembahannya adalah suatu sosok yang melebihi segalanya – tanah dan laut.

[39] [40] [41] Sejarawan Romawi Tacitus (~ 56–120 M) menyinggung mengenai Musa ketika menggambarkan agama Yahudi yang monoteistik tanpa patung yang jelas dalam karyanya Histories (~ 100 M), sehingga penyembahan paganisme ditinggalkan. [42] Tacitus menyatakan bahwa sumber-sumbernya meyakini adanya peristiwa keluarnya orang-orang dari Mesir pada zaman Firaun Bocchoris, yakni saat Mesir mengalami wabah sampar sehingga atas nubuat dewa Zeus- Amun ia mengusir orang-orang Yahudi ke padang gurun, dan orang-orang ini dipimpin oleh Musa selama 6 hari mengembara kemudian merebut tanah Kanaan pada hari ketujuh.

[43] Numenios, seorang filsuf Yunani asal Apamea, di Suriah, pada paruh akhir abad ke-2 M, mempelajari Musa, para nabi dan Yesus, [44] di samping mitos Mesir dan Hindu. Ia menyebut Musa sebagai "nabi" sebagaimana Homer adalah penyair. Plato digambarkannya sebagai "Musa Yunani". [45] Filsuf Kristen, Yustinus Martir (103–165 M) menulis bahwa Musa "lebih dapat dipercaya, lebih jelas dan benar karena hidup pada masa lebih tua dari pada para filsuf Yunani," [46] sebagai nabi, pemberi hukum dan guru agama paling awal bagi orang Kristen.

[46] Musa juga disebutkan dalam berbagai teks agamawi Yahudi yaitu Mishnah (sekitar 200 M), Midras (200–1200 M), [47] Keluarga [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Kehidupan pribadi Musa Musa adalah seorang Bani Israel, yakni mereka yang merupakan keturunan Ya'qub atau Yakub (juga disebut "Israel" [48]). Disebutkan bahwa Ya'qub awalnya tinggal di Palestina (tanah Kanaan). Putra kesebelas Ya'qub, Yusuf, yang telah menjadi orang kepercayaan raja kemudian mengundang Ya'qub dan keluarganya yang ada di Palestina untuk tinggal di Mesir lantaran paceklik hebat.

Mereka kemudian beranak-pinak di sana. [49] [50] Alkitab menyebutkan bahwa ayah Musa bernama Amram (Imran dalam sumber Islam), salah seorang keturunan Lewi, putra ketiga Yakub. Ibu Musa adalah Yokhebed, keturunan Lewi yang juga merupakan saudari dari ayah Amram.

[51] Silsilah keluarga Musa dari adalah: Putri Firaun digambarkan di sinagoge Dura-Europos, dibuat sekitar 244 M. Ada beberapa pendapat terkait waktu kehidupan Musa. • Yahudi Rabinik menyebutkan bahwa Musa hidup sekitar waktu 1391 sampai 1271 SM [52] • Hieronimus berpendapat tahun 1592 SM sebagai tahun kelahirannya [53] • James Ussher menyatakan bahwa Musa lahir pada 1571 SM [54] Alkitab menyebutkan bahwa setelah Yusuf dan orang-orang seangkatannya meninggal, naiklah penguasa Mesir yang tidak mengenalnya.

Raja ini khawatir lantaran jumlah Bani Israel dirasa lebih banyak dari kaumnya dan ditakutkan mereka akan berkhianat lalu bergabung dengan musuh jika terjadi perang, sehingga ia memerintahkan agar mereka dipaksa melakukan pekerjaan keras. Dia juga memerintahkan para bidan yang membantu persalinan para perempuan Bani Israel, namanya Sifra dan Pua, untuk membunuh tiap bayi laki-laki yang lahir.

Namun mereka tidak melakukannya karena takut akan Allah. Saat ditanya alasannya, mereka berdalih bahwa para perempuan Bani Israel kuat sehingga dapat melahirkan sendiri sebelum para bidan tiba. [55] Al-Qur'an tidak menyebutkan motif Fir'aun menindas Bani Israel. Para ulama memberikan keterangan bahwa Fir'aun melakukan hal tersebut lantaran yakin bahwa akan ada Bani Israel yang akan menghancurkan kekuasaannya.

Sebagian menyebutkan bahwa keyakinan itu didapat lantaran Fir'aun bermimpi melihat api dari Baitul Maqdis (Palestina) datang dan menghancurkan rumah-rumah bangsa Qibti, tapi tidak dengan rumah Bani Israel. Sebagian berpendapat bahwa hal ini berkaitan dengan penguasa Mesir terdahulu yang terkena tulah lantaran hendak menodai Sarah, istri Ibrahim ( Abraham).

Dari peristiwa tersebut kemudian diyakini bahwa akan ada keturunan Sarah yang akan menghancurkan kekuasaan Fir'aun. [56] Sebagian ulama menyebutkan bahwa bangsa Qibti mengeluh pada Fir'aun lantaran jumlah Bani Israel menjadi terlalu sedikit untuk mengerjakan pekerjaan keras karena kebijakan pembunuhan bayi laki-laki tersebut, sehingga dikhawatirkan bangsa Qibti yang nantinya akan mengurus berbagai pekerjaan kasar itu.

Fir'aun kemudian mengadakan kebijakan berselang-seling: satu tahun tidak dilangsungkan pembunuhan bayi dan tahun berikutnya dilakukan pembunuhan bayi. Harun lahir pada saat kebijakan pembunuhan bayi tidak dijalankan. [57] Sebagian ulama menyebutkan bahwa pembunuhan bayi laki-laki tersebut dilakukan setelah Musa dan Harun diutus menyeru Fir'aun. Sebagian menyebutkan bahwa hal itu dilakukan sejak sebelum Musa lahir dan tetap dilaksanakan setelah Musa diutus pada Fir'aun.

[58] Kelahiran dan masa muda [ sunting - sunting sumber ] Yokhebed mendapat ilham untuk memasukkan Musa ke dalam peti pandan dan meletakkannya di tengah-tengah teberau (tanaman papirus) di tepi sungai Nil, sementara kakak perempuan Musa mengawasinya dari jauh. [59] Peti berisi Musa tersebut kemudian ditemukan oleh perempuan istana keluarga Fir'aun. Perempuan istana itu kemudian mengangkat Musa sebagai anaknya.

Menurut Al Qur'an, Musa menolak semua perempuan yang dijadikan ibu susunya. Sumber Al Qur'an dan Alkitab mencatat bahwa kakak perempuan Musa itu kemudian mengajukan kepada keluarga Fir'aun agar Yokhebed menjadi ibu susu Musa. Perempuan istana itu setuju dan Musa kembali pada Yokhebed selama beberapa waktu. [60] [61] [62] [63] Alkitab menyebutkan bahwa Musa berusia tiga bulan saat itu. [64] Al-Qur'an menyebutkan bahwa Yokhebed menjadi putus asa setelah menghanyutkan Musa dan hampir saja berteriak dan membuka jati diri anaknya sendiri bila Allah tidak menguatkan hatinya.

Disebutkan pula bahwa Musa menolak semua wanita yang dijadikan ibu susunya sebelum akhirnya dia menyusu pada ibunya sendiri. Sumber Al-Qur'an menyebutkan bahwa perempuan istana yang menjadikan Musa sebagai anak angkat adalah istri Fir'aun, sementara Alkitab menyebutkannya sebagai "putri Fir'aun". [65] Selanjutnya hanya disebutkan di Alkitab bahwa Musa mendapatkan pendidikan berdasarkan "segala hikmat orang Mesir" dalam tatacara bahasa dan tingkah lakunya.

[66] Al-Qur'an dan Alkitab tidak mencatat riwayat kehidupan Musa antara masa belia sampai dewasa. Sejarawan Yahudi pada akhir abad ke-3 SM dan penulis " Peri Iudaion", Artapanus, menyebutkan riwayat masa muda Musa, yang dilestarikan dalam tulisan sejarawan Kristen, Eusebius, [67] antara lain: • Pangeran Musa (" Mousos") diadopsi oleh putri 'Merris', anak perempuan Fir'aun Palmanothes, yang kemudian menikah dengan Fir'aun Khenephrês (= Sobekhotep IV), "yang menjadi raja atas wilayah di seberang Memphis, karena pada zaman itu ada banyak raja di Mesir." • Setelah dewasa, Pangeran Musa mengatur negeri itu untuk Fir'aun Khenephrês dan menjadi terkenal di kalangan rakyat Mesir.

• Pangeran Musa memimpin peperangan melawan orang Etiopia yang menyerang Mesir, selama 10 tahun. Peristiwa ini juga dicatat oleh sejarawan Yahudi-Romawi Flavius Yosefus (37-100 M). • Ketika kembali dan membawa kemenangan, Fir'aun Khenephrês berupaya membunuhnya karena cemburu atas keberhasilan Musa, tetapi Musa "lari ke Arabia dan hidup dengan Raguel, penguasa daerah itu, dan menikahi putrinya." [67] Melarikan diri dari Mesir [ sunting - sunting sumber ] Saat Musa dewasa, berusia 40 tahun menurut Alkitab, [68] dia bertemu seorang bangsa Mesir (disebut bangsa Qibthi dalam literatur Muslim) yang menyiksa seorang Bani Israel (bangsa Ibrani).

Musa kemudian membunuh orang Mesir tersebut. Pada kesempatan berikutnya, Musa kembali melihat dua orang Bani Israel sedang berkelahi.

Saat Musa berusaha memperingatkannya, salah satu orang Israel itu justru menanyakan apakah Musa hendak membunuhnya juga seperti Musa telah membunuh orang Mesir kemarin. [69] [70] [71] Terkait peristiwa ini, Al-Qur'an menggambarkan bahwa Musa sangat menyesal telah membunuh orang Mesir tersebut dan merasa sangat takut setelahnya. [72] Alkitab menyebutkan bahwa dengan membunuh orang Mesir tersebut Musa mengira bani Israel tahun bahwa Allah akan menyelamatkan mereka melalui Musa, tetapi bani Israel tidak memahami maksud perbuatan Musa.

[73] Setelah mengetahui perbuatan Musa, Fir'aun bermaksud membunuh Musa. Musa kemudian melarikan diri ke Madyan ( Midian).

Saat sampai di sumber air Madyan, terdapat beberapa perempuan yang kesulitan memberi minum ternak-ternak mereka dan Musa membantu mereka. Setelahnya, ayah dari para perempuan tersebut meminta putrinya untuk mengundang Musa ke kediaman mereka. Musa kemudian bekerja menjadi penggembala pada lelaki tersebut dan menikahi putrinya.

[74] [75] [76] Al-Qur'an memberikan keterangan bahwa Musa keluar dari Mesir lantaran ada seseorang yang memperingatkannya bahwa para pembesar berencana membunuhnya. [77] Terkait lelaki di Madyan yang kemudian menjadi mertua Musa, Al-Qur'an tidak menyebutkan jati diri lelaki tersebut selain bahwa dia adalah seorang yang usianya sudah sangat lanjut.

[78] Banyak literatur Muslim menyebutkan bahwa mertua Musa adalah Syu'aib, meski keterangan ini tidak terdapat dalam Al-Qur'an. Alkitab menyebutkan bahwa dia adalah seorang imam (pendeta), namanya Rehuel [79] atau Yitro. [80] Al-Qur'an menyebutkan bahwa putri lelaki tua tersebut yang ditemui Musa di sumber air berjumlah dua orang, [81] sementara Alkitab menyebutkan bahwa Rehuel atau Yitro memiliki tujuh putri.

[82] Ibnu Katsir menyebutkan bahwa bisa jadi lelaki tersebut memiliki tujuh putri, tetapi yang sedang meminumkan ternak saat itu dua orang. [83] Al-Qur'an menyebutkan bahwa lelaki tua itu akan menikahkan Musa dengan putrinya jika Musa mau bekerja padanya selama delapan tahun atau digenapkan sepuluh tahun. [84] Alkitab menyebutkan bahwa putri Rehuel atau Yitro yang dinikahkan dengan Musa bernama Zipora.

Mereka dikaruniai dua putra, [85] bernama Gersom [5] dan Eliezer. [6] Sumber Alkitab juga menyebutkan bahwa Fir'aun yang ingin membunuh Musa kemudian wafat, sehingga Fir'aun berikutnya merupakan orang yang berbeda. [86] Utusan Allah [ sunting - sunting sumber ] Setelahnya, Allah berfirman pada Musa saat dia berada di gunung. Al-Qur'an dan Alkitab memiliki narasi serupa terkait percakapan antara Allah dan Musa, yakni bahwa Allah memerintahkan Musa menanggalkan alas kakinya karena tempat itu adalah tempat suci, kemudian memerintahkan agar Musa menyeru kepada Fir'aun dan membiarkan Bani Israel keluar dari Mesir.

Allah memberikan Musa mukjizat, yakni tongkatnya dapat berubah menjadi ular dan tangannya dapat berubah menjadi putih. Namun Riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu masih merasa takut, dan kakak Musa, Harun, juga diutus Allah untuk mendampingi Musa.

[87] [88] [89] [90] [91] Terkait waktu, Al-Qur'an menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi setelah Musa menyelesaikan waktu perjanjian kerja dengan mertuanya dan saat Musa pergi bersama keluarganya.

Ulama tafsir menyebutkan bahwa mereka dalam perjalanan menuju Mesir. [92] Disebutkan bahwa saat dalam perjalanan bersama keluarganya, Musa melihat api di lereng gunung, sehingga dia mendatangi tempat tersebut untuk mencari kabar atau membawa api untuk keluarganya.

Selanjutnya, Allah berfirman kepadanya. [93] Dalam Alkitab, ketika sudah menetap 40 tahun di Midian, Musa menggembalakan ternak mertuanya di dekat gunung Horeb, kemudian takjub melihat api muncul dari suatu semak duri, tapi semak tersebut tidak terbakar.

Allah kemudian berfirman pada Musa. [94] Setelahnya, Musa kembali ke kediaman mertuanya untuk meminta izin kembali ke Mesir, kemudian dia membawa istri dan anak-anaknya pergi ke Mesir bersamanya. [95] Al-Qur'an menyebutkan bahwa tempat Allah berfirman pada Musa adalah lembah Thuwa, sedangkan Alkitab menyebutnya gunung Horeb (juga ditulis sebagai " gunung Sinai" [96] [97] [98]).

[99] Beberapa tempat di kawasan semenanjung Sinai, Arab barat laut, dan sekitarnya diidentifikasikan sebagai tempat Allah berfirman pada Musa (lihat " Gunung Sinai dalam Alkitab"). Dalam Alkitab disebutkan bahwa saat Musa dan keluarganya bermalam di tengah perjalanan menuju Mesir, Tuhan hendak membunuh Musa, tetapi setelah Zipora mengambil pisau batu dan menyunat anak Musa, maka Musa dibiarkan hidup.

Namun, Zipora mengatakan bahwa Musa adalah "pengantin darah", [100] lalu membawa kedua anak Musa pulang ke Madyan. [101] Seruan [ sunting - sunting sumber ] Alkitab menyebutkan bahwa Allah berfirman pada Harun agar dia menemui Musa di padang gurun, dan keduanya bertemu di gunung Horeb.

Setelahnya, mereka berdua menemui para tetua Bani Israel sembari menunjukkan mukjizat. Mengetahui bahwa itu adalah riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu Allah mendengar doa mereka yang meminta dibebaskan dari penindasan bangsa Mesir, bani Israel kemudian berlutut dan sujud menyembah. [102] Fir'aun melihat ular memakan setan di hadapan Musa, dari manuskrip Qishash al-Anbiya', sekitar.

1540. Riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu Al-Qur'an disebutkan bahwa Musa dan Harun menghadap Fir'aun, menyatakan diri sebagai utusan Allah, dan meminta agar Fir'aun membebaskan Bani Israel. Terjadi dialog di antara mereka mengenai Allah.

Fir'aun mengungkit masa lalu Musa yang dibesarkan di istana dan kesalahan Musa dulu, yakni membunuh seorang bangsa Mesir. Fir'aun menganggap Musa dan Harun sebagai orang yang gila dan menyatakan bahwa siapa yang menyembah selain padanya akan dipenjara.

Selanjutnya, Musa menunjukkan mukjizatnya, yakni tongkat yang menjadi ular dan tangannya yang menjadi putih. Fir'aun dan pengikutnya menertawakannya dan menganggap bahwa hal itu hanyalah sihir belaka. Fir'aun menolak beriman pada Musa dan Harun yang dianggap berusaha memalingkannya dari kepercayaan leluhur, juga menganggap mereka berusaha merebut kekuasaan di Mesir dan akan mengusir Fir'aun dan pengikutnya. [103] [104] [105] [106] [107] [108] Kedua belah pihak kemudian menyepakati perjanjian untuk mengadakan pertandingan terbuka di hari raya antara Musa dan Harun dengan ahli-ahli sihir Mesir.

Kepada para ahli sihir Mesir, Fir'aun menjanjikan kedudukan yang dekat dengannya bila mereka memenangkan pertandingan. Para penyihir itu kemudian melemparkan tali-temali dan tongkat-tongkat mereka dan menyihirnya menjadi ular. Musa sempat gentar, tetapi Allah menguatkannya. Musa kemudian melemparkan tongkatnya dan berubah menjadi ular. Ular Musa memakan ular-ular para penyihir itu. Para penyihir tersebut kemudian bersujud dan beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.

Fir'aun mengancam akan menyiksa para penyihir itu, tetapi mereka tetap teguh mengimani Musa. [109] [110] [111] [112] [113] Alkitab menyebutkan bahwa Musa dan Harun menghadap Fir'aun dan memintanya agar membiarkan orang Israel bersama mereka untuk pergi ke padang gurun sejauh perjalanan tiga hari untuk mempersembahkan korban kepada Allah. Namun Fir'aun menolak permintaan mereka dan berkata bahwa dia tidak mengenal Tuhan yang dimaksud Musa dan Harun.

Tidak hanya melarang mereka keluar, Fir'aun bahkan menitahkan untuk memperberat pekerjaan orang Israel. Bani Israel diperintahkan mencari jerami sendiri, sebelumnya mereka menerima pasokan, tetapi tetap harus menyelesaikan jumlah batu bata sesuai target seperti sebelumnya.

Lantaran hal ini, mandor-mandor Bani Israel menyalahkan Musa dan Harun. [114] Alkitab juga menyebutkan bahwa ketika Musa dan Harun menghadap Fir'aun lagi, Harun melemparkan tongkatnya dan berubah menjadi ular. Fir'aun kemudian memanggil ahli-ahli sihir. Mereka melemparkan tongkatnya dan berubah menjadi ular, tetapi tongkat Harun menelan tongkat-tongkat para ahli sihir itu. Meski demikian, Fir'aun tetap berkeras hati. Disebutkan bahwa Musa saat itu berusia 80 tahun dan Harun berusia 83 tahun.

[115] Al-Qur'an menyebutkan tanggapan Bani Israel terhadap Musa dan seruannya. Disebutkan bahwa keturunan kaum Musa beriman, juga takut bahwa Fir'aun dan pemuka kaumnya akan menyiksa mereka.

[116] Sebagian mengeluh dan menyebutkan bahwa mereka ditindas baik sebelum maupun sesudah Musa datang. [117] Sebagian menyatakan bahwa mereka bertawakal pada Allah dan berdoa untuk diselamatkan dari orang-orang kafir. [118] Fir'aun sendiri tetap tidak beriman pada seruan Musa dan Harun. Disebutkan dalam Al-Qur'an bahwa Fir'aun menyatakan bahwa kerajaan Mesir adalah miliknya dan sungai-sungai mengalir di bawahnya.

Dia juga mengejek Musa yang tidak ahli dalam berbicara, juga karena Musa tidak memakai gelang dari emas atau tidak diiringi para malaikat. Perkataan Fir'aun tersebut berhasil mempengaruhi para pengikutnya. [119] Lebih jauh, Fir'aun menyatakan tidak ada tuhan bagi kaumnya selain dirinya sendiri dan memerintahkan tangan kanannya, Haman, untuk mendirikan bangunan tinggi agar dapat melihat Tuhannya Musa.

[120] [121] Disebutkan pula bahwa ada ada seorang dari keluarga Fir'aun yang beriman pada Musa dan menyeru bangsa Mesir agar turut beriman. [122] Dalam Alkitab tertulis bahwa Allah mengeraskan hati Fir'aun dan para pegawainya, supaya Dia dapat menunjukkan mukjizat-mukjizat pada bangsa Mesir dan dapat dikisahkan Bani Israel dari generasi ke generasi, bagaimana Allah mempermain-mainkan orang Mesir agar kekuasaan Allah diketahui semua orang.

[123] Azab dan bencana [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Sepuluh tulah Mesir Al-Qur'an menyebutkan bahwa Mesir ditimpa kemarau bertahun-tahun sebagai salah satu peringatan Allah, tetapi Fir'aun dan para pengikutnya menyalahkan Musa dan pengikutnya sebagai sebab kesialan yang mereka terima.

Jika mereka mendapat kemakmuran, para penentang Musa menyebutkan bahwa itu karena usaha mereka. Mereka juga menegaskan bahwa bukti apa saja yang dibawa Musa dan Harun untuk menyihir mereka, mereka tetap tidak akan beriman.

Negeri Mesir kemudian dilanda topan, serangan belalang, wabah kutu, menyebarnya katak-katak di sepenjuru negeri, dan air minum bangsa Mesir berubah menjadi darah. Fir'aun dan pengikutnya memohon pada Musa agar dia dapat mendoakan mereka agar terbebas dari segala bencana tersebut dengan janji akan membiarkan Bani Israel pergi bersamanya.

Namun setelah azab tersebut hilang, mereka mengingkari janjinya. [124] Dalam Alkitab disebutkan bahwa Allah menimpakan sepuluh tulah atau azab kepada bangsa Mesir. Tulah pertama, darah.

Harun memegang tongkat dan mengulurkan tangannya ke atas sungai, selokan, kolam, dan semua sumber air Mesir, dan semua air tersebut berubah menjadi darah. Namun ahli-ahli sihir Fir'aun juga dapat membuat hal yang sama sehingga Fir'aun tetap menolak permintaan Musa. [125] Tulah kedua, katak. Harun mengulurkan tangannya dengan tongkat ke perairan Mesir dan keluarlah katak-katak dalam jumlah besar dan memenuhi Mesir.

Fir'aun kemudian meminta Musa dan Harun berdoa pada Tuhan untuk menghilangkan katak-katak tersebut dengan janji akan membiarkan Bani Israel pergi. Namun Fir'aun mengingkari janjinya setelah katak-katak tersebut hilang. [126] Tulah ketiga, nyamuk. Harun memukulkan tongkatnya pada debu tanah dan muncullah nyamuk yang menghinggapi manusia dan binatang. [127] Tulah keempat, lalat. Lalat pikat mengerubuti negeri Mesir, termasuk istana Fir'aun dan pegawai-pegawainya, tapi tidak dengan kediaman Bani Israel.

Fir'aun meminta Musa dan Harun berdoa pada Tuhan untuk menghilangkan katak-katak tersebut dengan janji akan membiarkan Bani Israel pergi, tetapi kemudian Fir'aun mengingkari janjinya lagi. [128] Tulah kelima, sampar. Hewan-hewan ternak bangsa Mesir mati terkena penyakit sampar, tapi tidak dengan milik Bani Israel.

[129] Tulah keenam, barah atau bisul. Musa menggambil segenggam abu dari tempat pembakaran dan menghamburkannya di udara. Abu itu menjadikan manusia dan hewan terkena bisul bernanah, termasuk ahli sihir Fir'aun.

[130] Tulah ketujuh, hujan es. Musa mengangkat tongkatnya ke langit, kemudian turunlah hujan es dahsyat disertai petir yang sambar-menyambar. Seluruh negeri Mesir dilanda hujan es, kecuali daerah pemukiman Bani Israel. Fir'aun meminta Musa dan Harun berdoa pada Tuhan untuk menghilangkan tulah tersebut dengan janji akan membiarkan Bani Israel pergi, tetapi kemudian Fir'aun mengingkari janjinya lagi.

[131] Tulah kedelapan, belalang. Musa mengacungkan tongkatnya ke langit dan bertiuplah angin timur membawa belalang yang sangat banyak jumlahnya dan memenuhi Mesir.

Fir'aun riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu memohon untuk menghilangkan bencana yang muncul, tapi kembali mengingkari janjinya setelah tulah tersebut hilang. [132] Tulah kesembilan, kegelapan. Mesir dilanda kegelapan selama tiga hari, tapi tidak dengan pemukiman Bani Israel. [133] Tulah kesepuluh, kematian anak sulung. Berbeda dengan tulah sebelumnya yang hanya menimpa bangsa Mesir dan tidak mengenai Bani Israel tanpa melakukan upaya perlindungan khusus, tulah terakhir ini merata dan dapat mengenai siapa saja.

Sebelum tulah turun, Allah memerintahkan Musa agar Bani Israel meminta perhiasan emas dan perak dari tetangga-tetangga mereka bangsa Mesir. Bangsa Mesir kemudian memberikannya. Bani Israel diperintahkan Allah untuk menyembelih, memanggang, dan memakan seekor domba atau kambing jantan, serta darah hewan tersebut ditorehkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas pintu pada tiap-tiap rumah keluarga Bani Israel yang memakannya. Malamnya, matilah semua anak sulung bangsa Mesir, mulai anak raja sampai anak tahanan.

Semua ternak yang pertama lahir juga mati. Malam itu juga, Fir'aun memanggil Musa dan Harun dan menyuruh mereka pergi dari Mesir bersama Bani Israel. [134] Hijrah dari Mesir [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Keluar dari Mesir dan Penyeberangan Laut Merah Al-Qur'an menyebutkan bahwa rombongan Bani Israel keluar pada malam hari. Fir'aun kemudian mengirim utusan ke kota-kota guna menghimpun pasukan untuk mengejar Bani Israel dan mereka berhasil menyusul saat matahari terbit.

Maka saat kedua kelompok tersebut dapat saling melihat, sebagian Bani Israel ketakutan, "Kita benar-benar akan tersusul." Allah mewahyukan agar Musa memukulkan tongkatnya ke laut dan laut terbelah.

Setiap bagian laut tersebut seperti gunung dan Bani Israel melewati jalan kering di antara laut yang terbelah tersebut. Fir'aun dan pasukannya mengejar Bani Israel, tetapi sebelum sampai di tepi, laut tersebut menutup kembali sehingga Fir'aun dan pasukannya tenggelam.

Di saat-saat terakhir, Fir'aun berkata, "Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan Yang dipercayai Bani Israel dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri." Meski demikian, Allah tidak menerima pertobatan Fir'aun. Meski demikian, jasad Fir'aun terjaga untuk menjadi pelajaran bagi generasi setelahnya. [135] [136] [137] [138] [139] Para ulama memberikan beberapa keterangan tambahan yang tidak terdapat dalam Al-Qur'an.

Saat riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu terbelah, Fir'aun justru menyombongkan diri dan menyatakan bahwa laut itu terbelah demi dirinya agar bisa mengejar Bani Israel.

Sebenarnya pasukan Fir'aun dan kuda-kuda mereka ragu untuk maju, tetapi Jibril kemudian muncul dalam wujud seorang pemuda yang menunggang kuda betina sehingga kuda-kuda jantan Fir'aun dan pasukannya mengejarnya.

Saat Fir'aun bertobat, Jibril mengambil pasir lautan dengan sayapnya, kemudian riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu pada wajah Fir'aun dan menguburnya.

[140] Dalam Alkitab disebutkan bahwa pada malam Paskah (tanggal 15 Abib atau 15 Nisan) setelah Allah menurunkan tulah kematian anak sulung pada bangsa Mesir, Bani Israel berangkat keluar dari Mesir sambil membawa adonan roti sebelum sempat diragi, karena mereka diusir dari Mesir dan tidak dapat berlama-lama dan tidak sempat menyediakan bekal.

Musa memimpin bangsa Israel (jumlahnya kira-kira 600.000 orang laki-laki, tidak termasuk anak-anak), beserta banyak ternak, bertolak dari Raamses. [141] Musa juga membawa tulang-tulang Yusuf, sesuai wasiat Yusuf. [142] Allah menuntun dalam wujud tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari yang berjalan di depan Bani Israel untuk memandu jalan mereka. [143] Allah memerintahkan Musa mengambil jalan memutar dan berkemah di tepi laut agar Fir'aun menyangka rombongan Bani Israel tersesat.

Saat terlihat Fir'aun dan pasukannya menyusul, Bani Israel menjadi sangat ketakutan dan menyalahkan Musa. Namun Allah memerintahkan malaikat yang berjalan di depan Bani Israel untuk berpindah ke belakang mereka sehingga menimbulkan kegelapan di antara tentara Mesir dan orang Israel sepanjang malam dan pasukan Fir'aun tidak dapat mendekati Bani Israel malam itu.

[144] Kemudian Musa diperintahkan untuk mengulurkan tangannya ke atas laut dan angin dari timur bertiup semalaman sehingga membelah air laut dan menciptakan jalan kering di tengahnya.

Bani Israel menyeberang laut lewat jalur kering tersebut, sementara air laut membentuk tembok di kiri dan di kanan mereka. Pasukan Fir'aun menyusul dan saat sampai di tengah laut, roda kereta kuda mereka menjadi miring sehingga sulit untuk maju.

Musa kemudian mengulurkan kembali tangannya ke laut dan laut tersebut kembali menyatu, menenggelamkan Fir'aun dan pasukannya, dan mayat-mayat mereka terdampar di pantai. [145] Setelahnya, rombongan Bani Israel menyanyikan lagu syukur kepada Allah dipimpin oleh Musa dan Miryam. [146] Alkitab mencatat bahwa pada waktu Bani Israel keluar dari Mesir ini banyak orang dari berbagai bangsa juga ikut pergi bersama mereka.

Disebutkan bahwa Bani Israel tinggal di Mesir selama 430 tahun. [147] Al-Qur'an bahwa setelah menyeberang lautan, rombongan Bani Israel melewati kaum penyembah berhala.

Sebagian Bani Israel meminta agar Musa juga membuatkan tuhan berhala untuk mereka sebagaimana kaum tersebut. Musa menolak dan memperingatkan mereka. [148] Perjalanan [ sunting - sunting sumber ] Victory O Lord! ("Kemenangan, ya, Tuhan!"), lukisan John Everett Millais (1871), menggambarkan Musa, dibantu oleh Harun dan Hur, mengangkat kedua tangannya selama peperangan Bani Israel melawan orang Amalek Alkitab menyebutkan bahwa setelah menyeberang laut, Bani Israel berjalan di gurun selama tiga hari tanpa menemukan air.

Saat menemukannya di tempat bernama Mara, airnya terasa pahit. Allah kemudian menunjukkan sepotong kayu dan kayu tersebut dilemparkan ke dalam air sehingga air di tempat itu menjadi tawar dan dapat diminum. Di tempat tersebut, Allah mengajarkan berbagai peraturan pada mereka. Setelahnya, mereka pergi dan berkemah di Elim dan di sana terdapat 12 mata air dan 70 pohon kurma.

[149] Al-Qur'an menyebutkan secara singkat bahwa Bani Israel juga dikaruniai manna dan salwa untuk makan. [150] [151] [152] Ulama tafsir menyebutkan bahwa salwa adalah burung puyuh dan manna adalah makanan yang berasa seperti madu. Allah memerintahkan Musa untuk memukulkan tongkatnya pada batu dan memancarlah dua belas mata air untuk minum. [153] [154] Alkitab menyebutkan setelah berangkat dari Elim dan berkemah di padang gurun Sin (pada tanngal 15 bulan ke-2), Bani Israel terus mengeluh lantaran lelahnya perjalanan dan ingin makan roti dan daging seperti saat mereka masih hidup di Mesir.

Saat sore, datanglah burung puyuh banyak sekali sampai memenuhi perkemahan. Paginya, turunlah embun di sekeliling perkemahan. Saat embun tersebut menguap, tampaklah sesuatu yang tipis seperti sisik dan halus seperti embun beku, bentuknya biji-biji kecil berwarna putih dan rasanya seperti kue dari madu. Embun tersebut disebut " manna" oleh Bani Israel. Makanan tersebut turun setiap pagi. Jumlahnya menjadi berlipat saat hari keenam.

Pada hari ketujuh, hari Sabat, Bani Israel dilarang keluar kemah untuk menghormati Tuhan dan manna juga tidak turun, sehingga mereka makan dari persediaan yang sudah disiapkan pada hari sebelumnya. [155] Bani Israel melanjutkan perjalanan sampai Rafidim dan mereka kembali mengeluh karena tidak mendapat air. Allah kemudian memerintahkan Musa memukul sebuah batu dan memancarlah air dari tempat tersebut. [156] Diterangkan dalam Alkitab bahwa saat berada di Rafidim, bangsa Amalek menyerang Bani Israel.

Musa kemudian memerintahkan Yosua (Yusya' dalam Islam) bin Nun untuk memilih beberapa orang dan bertarung melawan Amalek. Bersama Harun dan Hur, Musa naik ke atas bukit. Saat Musa mengangkat tangannya, Bani Israel menang, tetapi saat menurunkan tangan, Amalek yang menang. Saat Musa kelelahan, Harun dan Hur mengambil batu untuk Musa duduk dan mereka berdua menopang tangan Musa sampai matahari terbenam. Pasukan Yosua akhirnya berhasil mengalahkan Amalek.

[157] Di tempat itu pula Yitro, mertua Musa, datang berkunjung dengan membawa serta Zipora, istri Musa, dan kedua anak laki-lakinya, Gersom dan Eliezer. Yitro menasihati Musa untuk mengangkat para hakim guna membantunya mengadili kasus-kasus yang ada pada bangsa Israel. [158] Kemudian mereka berangkat dari Rafidim dan tiba di padang gurun Sinai dan berkemah di depan gunung Sinai pada bulan ketiga setelah Bani Israel keluar dari tanah Mesir.

[159] Gunung Sinai [ sunting - sunting sumber ] Alkitab menyebutkan bahwa pada tanggal satu bulan ke-3 setelah meninggalkan Mesir, Bani Israel mendirikan perkemahan di riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu gunung Sinai, dan Musa menaiki gunung itu untuk berbicara dengan Allah.

Allah memerintahkan Bani Israel untuk bersuci, mandi, dan mencuci pakaian mereka untuk bersiap menghadapi hari ketiga. Pada pagi hari ketiga, seluruh gunung ditutupi asap dan terdengar bunyi sangkakala dengan keras.

Allah memerintahkan Musa naik ke puncak gunung. Bani Israel lain, juga hewan ternak, dilarang mendekati gunung. [160] Allah kemudian memberikan beberapa perintah pada Musa, yang dikenal dengan Sepuluh Perintah. [161] [162] Allah juga menyampaikan perintah dan hukum terkait pembangunan mezbah, [163] budak, [164] berbagai tindakan kekerasan, [165] tanggung jawab para pemilik ternak, [166] ganti rugi, [167] kesusilaan dan ibadah, [168] keadilan dan kejujuran, [169] tahun ketujuh dan hari ketujuh, [170] dan hari-hari raya.

[171] Besok paginya, Musa mendirikan mezbah (altar persembahan) dengan dua belas tugu di kaki gunung, kemudian memerintahkan para pemuda untuk menyembelih beberapa ekor sapi untuk kurban. [172] Al-Qur'an dan Alkitab menjelaskan bahwa Allah kemudian memerintahkan Musa untuk naik ke atas gunung selama empat puluh hari empat puluh malam. Selama Musa pergi, Harun dan Hur dipasrahi untuk mengurus Bani Israel.

Di atas gunung itu Allah menuliskan hukum-hukum-Nya pada dua loh atau keping batu. [173] [174] Al-Qur'an menyebutkan bahwa saat itu Musa memohon agar Allah menunjukkan diri.

Allah kemudian meminta agar Musa melihat ke sebuah gunung dan jika gunung itu tetap berdiri, maka Musa dapat melihat Allah. Saat menampakkan keagungan-Nya pada gunung yang dimaksud, gunung tersebut hancur. Musa jatuh pingsan dan setelah sadar, dia bertobat pada Allah atas permintaannya. [175] Sebagian ulama menjelaskan bahwa awalnya Allah memerintahkan Musa untuk berdiam selama tiga puluh hari di gunung dan Allah akan berfirman padanya di hari terakhir.

Musa berpuasa selama tiga puluh hari tersebut dan setelahnya dia menggosok giginya dengan siwak sebelum bermunajat pada Allah untuk menghilangkan bau mulutnya. Namun Allah justru menyatakan bahwa bau mulut orang berpuasa lebih harum dari minyak kasturi, sehingga Allah memerintahkan Musa untuk berpuasa sepuluh hari lagi.

[176] [177] Alkitab menjelaskan bahwa saat itu Allah memberikan hukum dan perintah terkait Kemah Suci [178] [179] [180] dan pelatarannya, [181] peti perjanjian, [182] meja untuk roti sajian, [183] kaki lampu, [184] mezbah, [185] [186] pengurusan lampu, [187] pakaian imam (pendeta), [188] penahbisan Harun dan keturunannya menjadi imam, [189] kurban harian, [190] bak perunggu, [191] minyak upacara, [192] dan hari Sabat. [193] Patung sapi [ sunting - sunting sumber ] Di tempat lain, Bani Israel merasa Musa terlalu lama berada di gunung.

Perhiasan-perhiasan emas yang dibawa Bani Israel kemudian dilemparkan ke api dan dibuatlah patung sapi emas dan dinyatakan bahwa patung tersebut adalah tuhan. Banyak Bani Israel kemudian menyembahnya. Saat turun dari gunung, Musa sangat marah dengan perbuatan Bani Israel sampai melemparkan lauh-lauh atau kepingan batunya dan kemudian menghancurkan patung sapi tersebut.

Musa juga memarahi Harun lantaran dianggap lalai menjaga Bani Israel. [194] [195] [196] Terdapat perbedaan pendapat mengenai pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Alkitab menyebutkan bahwa Harun sendirilah yang membuat patung tersebut. [197] Al-Qur'an menyebutkan bahwa seseorang yang disebut Samiri yang melakukannya, [198] sementara Harun sendiri sudah berusaha mencegah Bani Israel melakukan penyembahan sapi tersebut, tapi peringatan tersebut tidak diindahkan lantaran dia dipandang lemah dan diancam akan dibunuh.

[199] Saat Musa menanyai alasan Samiri melakukan perbuatan tersebut, dijawab bahwa dirinya mengetahui hal yang tidak orang lain ketahui, jadi dia mengambil segenggam jejak rasul, kemudian melemparkannya ke dalam api tempat membakar perhiasan emas tersebut. [200] Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud jejak rasul adalah tanah bekas tapak kaki kuda Jibril saat menyeberangi laut.

Saat tanah tersebut dimasukkan ke dalam tubuh patung, patung tersebut dapat bersuara seperti suara sapi. Ulama lain menjelaskan bahwa tanah itu membuat patung tersebut menjadi seperti sapi sungguhan yang memiliki daging dan darah, juga bersuara selayaknya sapi hidup. [201] Al-Qur'an menyebutkan bahwa Musa kemudian mengusir Samiri. [202] Al-Qur'an menyebutkan bahwa setelahnya, Musa memerintahkan Bani Israel untuk bertobat dan membunuh diri mereka sebagai bentuk pertobatan.

[203] Alkitab menjelaskan bahwa suku Lewi kemudian mengelilingi Musa dan mereka kemudian diperintahkan menghunus pedang, kemudian berjalan dari satu gerbang perkemahan ke gerbang lainnya sambil membunuh saudara, sahabat, dan tetangga mereka.

Sekitar tiga ribu orang tewas. Musa kemudian kembali naik ke gunung untuk memintakan ampun perbuatan Bani Israel pada Allah. [204] Al-Qur'an menjelaskan bahwa setelahnya, Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk bertobat pada Allah. Saat mereka ditimpa gempa, Musa memohon pengampunan pada Allah dan meminta agar Allah jangan membinasakan kaumnya lantaran perbuatan sebagian dari mereka. [205] Para ulama menjelaskan bahwa di antara ketujuh puluh orang tersebut adalah Harun, Yusya', Nadab, dan Abihu.

[206] Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa sebagian Bani Israel menyatakan tidak akan beriman kalau tidak melihat Allah secara langsung, maka mereka mati disambar petir, tetapi Allah menghidupkan mereka kembali. [207] Muhammad bin Ishaq menjelaskan bahwa tujuh puluh orang terbaik dipilih di kalangan Bani Israel untuk meminta pengampunan di gunung.

Saat di sana, muncul awan tebal dan mereka masuk ke dalamnya. Di hadapan mereka muncul cahaya yang sangat terang. Allah kemudian berfirman pada Musa dan menyampaikan berbagai hukum. Setelahnya, Musa mendatangi kaumnya, tapi mereka menyatakan tidak mau beriman sebelum melihat Allah. Maka Allah menyambar mereka dengan riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu.

[208] Alkitab menjelaskan bahwa setelah kejadian penyembahan patung sapi tersebut, Musa mendirikan kemah pertemuan jauh di luar perkemahan Bani Israel, supaya setiap orang yang mencari Allah dapat pergi ke sana. [209] Musa kemudian membuat ulang kepingan batu yang baru karena yang lama sudah dia pecahkan. [210] Kemah Suci [ sunting - sunting sumber ] Model Kemah Suci di Timna Park, Israel Pada tanggal 1 bulan pertama tahun ke-2 setelah keluar dari Mesir, Kemah Suci resmi didirikan, terdiri dari alas, tiang, atap kemah, Tabut Perjanjian berisi loh hukum Allah, tabir penudung, meja roti sajian, kandil, mezbah ukupan, tirai pintu kemah, mezbah korban bakaran, bejana pembasuhan di antara Kemah Pertemuan dan mezbah korban bakaran, tiang-tiang pelataran sekeliling Kemah Suci dan mezbah serta dan tirai pintu gerbang pelataran.

[211] Ketika selesai didirikan maka tiang awan Allah menutupi Kemah Suci dan Musa tidak dapat memasuki kemah itu, selama awan itu ada di atas kemah. Awan itu berada di atas Kemah Suci pada siang hari dan muncul api di dalamnya pada malam hari. Apabila awan itu naik dari atas Kemah Suci, berangkatlah rombongan Bani Israel dari tempat mereka berkemah, tetapi selama awan itu tidak naik, maka mereka menetap di tempat itu sampai hari awan itu naik.

[212] Setelah mendirikan Kemah Suci, Musa menahbiskan Harun dan keempat putranya menjadi imam-imam untuk melayani persembahan korban umat bagi Allah dan memimpin ibadah umat.

Karena Nadab dan Abihu, kedua putra tertua Harun, menyalahi aturan pembuatan ukupan, mereka dihukum mati oleh Allah. Berikutnya dirinci aturan-aturan kehidupan dan ibadah untuk seluruh umat Israel. [213] Upaya Memasuki Palestina [ sunting - sunting sumber ] Al-Qur'an menjelaskan bahwa Musa memerintahkan Bani Israel untuk masuk ke negeri yang telah ditentukan Allah untuk mereka.

Namun mereka tidak mau memasukinya dengan alasan penduduk di sana sangat kuat dan kejam. Dua orang di antara Bani Israel berusaha meyakinkan yang lain bahwa mereka akan memperoleh kemenangan melawan penduduk negeri tersebut, tetapi tetap saja Bani Israel yang lain tidak tergerak.

Puncaknya, mereka justru meminta Allah dan Musa berperang sendiri melawan penduduk tersebut, sementara mereka akan menanti. Maka Allah mengharamkan negeri itu pada Bani Israel selama empat puluh tahun dan selama itu, mereka akan berputar-putar kebingungan di muka bumi. [214] Alkitab menjelaskan bahwa Musa mengutus dua belas orang pengintai untuk meninjau tanah Kanaan (Palestina).

Setelah kembali, mereka melaporkan bahwa negeri itu memiliki susu dan madu yang melimpah, juga bangsa yang tinggal di sana sangat kuat dan tinggal di kota besar berbenteng. Sepuluh pengintai di antara mereka menyebutkan bahwa Bani Israel tidak akan mampu melawan bangsa tersebut, menyebarkan cerita bohong bahwa penduduk negeri itu adalah penduduk negeri tersebut seperti raksasa sehingga mustahil untuk direbut.

[215] Laporan tersebut menjadikan Bani Israel mengeluh dan marah, bahkan mereka hendak mengangkat seorang pemimpin baru dan kembali ke Mesir. Dua di antara pengintai tersebut, Yosua bin Nun dari suku Efraim dan Kaleb bin Yefune dari suku Yehuda berusaha keras meyakinkan Bani Israel yang lain bahwa mereka bisa mengalahkan penduduk tersebut karena Tuhan menyertai mereka, tetapi orang-orang tersebut justru mengancam akan melempari mereka dengan batu. Allah kemudian menghukum Bani Israel.

Mereka semua yang berusia di atas dua puluh tahun, kecuali Yosua dan Kaleb, akan mati di gurun dan tidak akan bisa memasuki negeri yang dijanjikan tersebut. Setelah Musa menyampaikan hukuman Allah tersebut, Bani Israel menjadi sedih dan keesokan harinya, mereka berusaha merebut negeri tersebut tanpa restu Musa.

Meski Musa telah melarang, mereka tetap nekat riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu mereka dikalahkan oleh bangsa Amalek dan penduduk Kanaan. [216] Menurut Alkitab, selama Bani Israel mengembara empat puluh tahun di padang gurun, maka semua orang dewasa yang tidak percaya terhadap laporan Yosua dan Kaleb telah mati dalam perjalanan.

[217] [218] Meskipun demikian anak-anak mereka tumbuh dewasa sehingga jumlah umat tidak berubah banyak. Pada tahun pertama, jumlah laki-laki dewasa berusia 20 tahun ke atas (tidak termasuk laki-laki berusia di bawah 20 tahun, para perempuan dan anggota suku Lewi) adalah 603.550 orang, [219] sedangkan pada tahun terakhir jumlahnya adalah 601.730 orang.

[220] Dalam Kitab Bilangan dicatat 42 tempat persinggahan bangsa Israel selama mengembara. [221] Tempat perkemahan terakhir sebelum menyeberangi sungai Yordan untuk masuk ke tanah Kanaan adalah di Sitim, [222] [223] yaitu di sebelah timur sungai Yordan, di dataran Moab, berseberangan dengan kota Yerikho; [224] di padang gurun, di Araba-Yordan, di tentangan Suf, antara Paran dengan Tofel, Laban, Hazerot dan Di-Zahab; sebelas hari perjalanan jauhnya dari Horeb sampai Kadesh-Barnea, melalui jalan pegunungan Seir, [225] Baal Peor [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Peristiwa Baal-Peor Alkitab mencatat bahwa Balak bin Zipor, raja Moab, takut terhadap Bani Israel, maka memanggil Bileam bin Beor untuk mengutuki mereka.

Namun, Allah memperingatkan Bileam melalui keledainya yang tiba-tiba dapat berbicara dan penampakan malaikat yang siap membunuhnya, supaya Bileam hanya bersedia mengatakan apa yang diberikan Allah kepadanya. Tiga kali Bileam dibawa ke tempat untuk dapat melihat perkemahan Israel, tetapi tiga kali itu pula Bileam memberkati bangsa Israel. [226] Namun, Bileam ternyata memberi nasihat kepada para pemimpin bangsa Madyan (Midian) untuk menyesatkan bangsa Israel, supaya mereka makan persembahan berhala (Baal-Peor) dan berbuat zina dengan perempuan-perempuan Madyan.

[227] [228] [229] Akibatnya Bani Israel ditimpa tulah sehingga 24.000 orang dari mereka mati. [230] Kemudian bangsa Israel diperintahkan Allah melalui Musa untuk menyerang penduduk Madyan yang berniat menyesatkan mereka itu, dan membunuh raja-raja mereka, serta juga membunuh Bileam. [231] [232] Peperangan [ sunting - sunting sumber ] Dicatat dalam Alkitab bahwa ketika Bani Israel hendak mencapai tepi timur sungai Yordan, Musa mengirimkan utusan kepada raja-raja di daerah itu supaya mereka diizinkan lewat di jalan besar mereka, tetapi Sihon, raja Hesybon memutuskan menyerang Bani Israel.

Maka bangsa Israel mengalahkan pasukan Sihon serta menduduki tanahnya. [233] Demikian pula Og, raja Basan, menyerang Bani Israel, tetapi juga dikalahkan dan tanahnya diduduki oleh Bani Israel. [234] Tanah itu kemudian dibagikan kepada suku Ruben, suku Gad dan setengah suku Manasye. [235] Kejadian lain [ sunting - sunting sumber ] Perselisihan internal [ sunting - sunting sumber ] Al-Qur'an menyebutkan bahwa salah seorang kaum Musa bernama Qarun dianugerahi kekayaan yang sangat banyak.

Saat sebagian orang memperingatkannya agar jangan terlalu membanggakan diri, Qarun membalas bahwa dia dikaruniai semua kekayaan tersebut karena ilmunya. Suatu hari, dia keluar dengan menunjukkan kemegahannya. Mereka yang cenderung pada dunia menjadi iri dan ingin seperti Qarun, tetapi orang-orang saleh justru membenci yang dilakukan Qarun.

Allah kemudian membenamkan Qarun dan rumahnya ke dalam bumi. [236] Para ulama memberikan beberapa keterangan tambahan. Disebutkan bahwa Qarun memiliki suara yang merdu saat membaca Taurat, tapi dia termasuk orang munafik seperti Samiri. [237] Qarun membayar seorang wanita pelacur untuk mengatakan di depan khalayak bahwa Musa telah melakukan perbuatan senonoh terhadapnya. Musa kemudian mendatangi wanita tersebut dan dia akhirnya mengaku bahwa Qarun yang memerintahkannya berbuat demikian.

Musa kemudian mendoakan keburukan pada Qarun. [238] Kisah Qarun dipersamakan dengan kisah Korah dalam Alkitab, dan dicatat bahwa ketika Bani Israel masih dalam pengembaraan di padang gurun, Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi (putra paman Musa), [239] Datan dan Abiram (keduanya putra Eliab), serta On bin Pelet, ketiganya dari suku Ruben, mengajak 250 orang termasuk pemimpin-pemimpin umat dan orang ternama untuk memberontak melawan Musa.

Mereka berkumpul mengerumuni Musa dan Harun untuk menggugat kepemimpinan kedua orang itu. Musa menyatakan bahwa Korah dan para pengikutnya harus datang di depan Kemah Suci sambil membawa tempat-tempat api pada besok hari, mengisinya dengan bara api dan dupa, dan membawanya ke mezbah. Besoknya, cahaya muncul dan Tuhan berfirman pada Musa, memerintahkan agar Bani Israel menjauhi kemah-kemah Korah dan pengikutnya.

Setelahnya, tanah terbelah, menelan Korah dan segala harta bendanya. Lalu Tuhan mendatangkan api dan menghanguskan 250 orang pengikut Korah.

[240] Menurut Alkitab, ketika berkemah di Hazerot, Musa digugat oleh kakak-kakak kandungnya sendiri yaitu Miryam dan Harun, dengan alasan Musa memperistri seorang perempuan Kush, dan selain Musa, Allah juga berbicara dengan perantaraan mereka berdua.

Namun, Allah menegaskan bahwa Musa adalah pemimpin umat serta menghukum Miryam dengan kusta selama 7 hari. Setelah Miryam sembuh, barulah Bani Israel berangkat dari Hazerot. [241] Menghidupkan orang mati [ sunting - sunting sumber ] Al-Qur'an menyebutkan bahwa Musa memerintahkan Bani Israel untuk menyembelih seekor sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, berwarna kuning tua, belum pernah dipakai membajak tanah atau mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang.

Dari salah satu anggota tubuh sapi tersebut kemudian dipukulkan ke jasad dari seseorang yang mati dibunuh, kemudian dia dapat hidup kembali.

[242] Sebagian ulama mengisahkan bahwa ada salah seorang Bani Israel yang kaya raya, sudah berusia lanjut, dan memiliki banyak keponakan. Mereka mengharapkan kematiannya agar segera mewarisi hartanya. Salah seorang dari mereka kemudian membunuhnya dan kemudian terjadi perdebatan mengenai jati diri pelakunya.

Saat perkara itu dibawa ke hadapan Musa, dia memerintahkan mereka menyembelih sapi yang berwarna kuning kemerahan, dan ciri-ciri lainnya. Setelahnya, jenazah dipukul dengan menggunakan bagian dari tubuh sapi tersebut. Jenazah tersebut hidup kembali dan memberitahukan pembunuhnya. [243] Khidir [ sunting - sunting sumber ] Al-Qur'an mengisahkan bahwa Musa berguru pada seorang saleh. Namanya tidak disebutkan dalam Al-Qur'an dan ulama ahli tafsir menyebutkan bahwa dia adalah Khidir.

Disebutkan dalam sebuah riwayat hadits bahwa suatu hari, Bani Israel bertanya pada Musa mengenai siapa orang yang paling banyak ilmunya di muka bumi.

Musa menjawab bahwa dia adalah orang yang paling banyak ilmunya di muka bumi. Allah menegur Musa dan menyebutkan bahwa ada orang yang lebih berilmu dari Musa dan dia sedang ada di pertemuan dua lautan. [244] Al-Qur'an dengan ditambah keterangan para ulama menyebutkan bahwa Musa dan pembantunya, dia adalah Yusya' (Yosua) menurut ahli tafsir, menuju tempat yang dimaksud.

Saat sedang beristirahat, ikan yang menjadi bekal mereka kembali hidup dan melompat mengambil jalan ke laut. Saat mereka sudah cukup jauh melanjutkan perjalanan, Musa meminta bekalnya pada Yusya' dan barulah Yusya' yang tadi lupa kemudian menceritakan mengenai ikan tersebut. Akhirnya mereka kembali ke tempat ikan tersebut pergi dan di sana mereka melihat Khidir.

Musa kemudian meminta pada Khidir agar dia bisa ikut dengannya untuk menimba sebagian ilmu darinya, tapi Khidir mengingatkan Musa bahwa dia tidak akan sabar saat ikut dengannya. Meski demikian, Musa tetap berkeras. Akhirnya Khidir mengabulkan permintaan Musa dengan syarat Musa tidak boleh bertanya tentang apapu sampai dia sendiri yang menjelaskannya. [245] Saat mereka menaiki perahu, tiba-tiba Khidir melubangi perahu tersebut.

Musa protes karena perbuatan tersebut dapat membahayakan penumpangnya, tetapi Khidir hanya mengingatkan tentang perjanjian mereka sebelumnya. Saat mereka berpapasan dengan seorang anak, Khidir membunuh anak tersebut. Musa kembali protes dan menyatakan bahwa Khidir telah melakukan suatu kemungkaran. Khidir kembali mengingatkan perjanjian mereka di awal. Saat mereka tiba di suatu kawasan, Khidir dan Musa meminta dijamu penduduk setempat, tetapi mereka menolaknya.

Saat melihat tembok rumah yang hendak roboh di tempat itu, Khidir kemudian menegakkan dinding tersebut. Musa kembali protes dan mengatakan bahwa Khidir bisa mengambil upah dari perbuatannya itu. [246] Khidir kemudian berpisah dengan Musa, tetapi sebelumnya, dia menjelaskan alasan perbuatannya. Khidir merusak bahtera karena bahtera tersebut milik seorang yang miskin agar tidak dirampas oleh seorang raja yang hendak merampas tiap bahtera di hadapan mereka.

Khidir membunuh anak tersebut karena anak tersebut dapat menjerumuskan kedua orang tuanya dalam kekafiran dan kesesatan. Khidir menegakkan dinding karena di bawahnya ada harta simpanan dari dua anak yatim dan ayah mereka adalah seorang yang saleh.

[247] [248] Harun meninggal [ sunting - sunting sumber ] Alkitab menjelaskan bahwa saat rombongan Musa tiba di gunung Hor di perbatasan Edom, Allah memerintahkan Musa membawa Harun dan putranya, Eleazar, naik ke gunung. Mereka bertiga kemudian naik gunung tersebut dan disaksikan Bani Israel. Musa kemudian menanggalkan pakaian imam Harun dan mengenakannya pada Eleazar, setelahnya Harun meninggal. Bani Israel berkabung selama tiga puluh hari.

[249] Pengganti Musa [ sunting - sunting sumber ] Alkitab menyebutkan bahwa saat Allah mengabarkan bahwa Musa juga akan mati lebih dulu sebelum masuk ke negeri perjanjian sebagaimana Harun, Musa meminta agar Allah menunjuk penggantinya dalam memimpin Bani Israel.

Allah kemudian menunjuk Yosua (Yusya') bin Nun. Yosua kemudian diperintahkan berdiri di riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu Imam Eleazar bin Harun dan Musa meletakkan tangannya di atas kepala Yosua, kemudian Musa mengumumkan bahwa Yosua akan menjadi penggantinya. [250] Tercatat dalam Alkitab bahwa pada tanggal 1 bulan ke-11 tahun ke-40 ketika bangsa Israel sudah berkemah di tanah Moab menjelang akhir tahun ke-40 penggembaraan mereka dan siap menyeberang ke tanah Kanaan, Musa diperintahkan oleh Allah untuk berbicara kepada seluruh Bani Israel dan menguraikan sekali lagi (dan terakhir kali) hukum Taurat yang dicatatnya dalam Kitab Ulangan.

[251] Wafat [ sunting - sunting sumber ] Monumen Musa, gunung Nebo, Yordania Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa saat waktu kematian Musa tiba, malaikat maut mendatanginya terang-terangan, tetapi Musa langsung menamparnya hingga buta.

Malaikat maut kembali dan mengadu pada Allah. Allah mengembalikan penglihatan malaikat maut, memerintahkannya untuk menyampaikan pada Musa agar dia meletakkan tangannya di atas kulit sapi, maka setiap bulu yang tertutupi tangannya merupakan tambahan satu tahun untuk umur Musa. Setelah pesan tersebut disampaikan, Musa menanyakan yang terjadi setelah masa tambahan tersebut. Malaikat maut menjawab bahwa Musa akan meninggal.

Setelahnya Musa memilih untuk meninggal saat itu juga. [252] [253] Alkitab menerangkan bahwa Musa meninggal di Moab dan dikuburkan di sebuah lembah di Moab di seberang kota Bet-Peor. Musa meninggal pada usia 120 tahun dengan kekuaatan yang masih prima dan penglihatan yang masih jelas.

Bani Israel berkabung di Moab untuk kematian Musa selama tiga puluh hari. [254] Kedudukan [ sunting - sunting sumber ] Yahudi [ sunting - sunting sumber ] Tradisi Yahudi memandang Musa sebagai nabi teragung yang pernah hidup. [255] [256] Meski demikian, Yahudi menekankan Musa sebagai manusia, sehingga tidak boleh untuk disembah.

[257] Dalam Yahudi Ortodoks, Musa disebut Moše Rabbenu, `Eved HaSyem, Avi haNeviim zya"a (Musa pemimpin kami, hamba Tuhan, dan bapa para nabi). Secara tradisi, Musa juga dipandang sebagai penulis dari lima kitab pertama dalam Tanakh dan Alkitab: Beresyit (בראשית) atau Kejadian, Syemot (שמות) atau Keluaran, Vayikra (ויקרא) atau Imamat, Bemidbar (במדבר) atau Bilangan, dan Devarim (דברים) atau Ulangan. [258] Kelima kitab tersebut yang disebut Taurat oleh umat Yahudi dan Kristen.

Dia juga disebut penggubah salah satu mazmur (syair pujian pada Tuhan). [259] Musa juga merupakan seorang hakim, memutuskan berbagai permasalah Bani Israel, dan pengajar, mengajarkan berbagai hukum dan perintah Allah pada umatnya. Musa juga membuat Tabut Perjanjian, wadah kayu berlapis emas yang berisikan loh-loh atau kepingan batu yang berukirkan sepuluh perintah Allah, tongkat Harun, dan roti manna. Kristen [ sunting - sunting sumber ] Sebuah patung marbel karya Michaelangelo yang dipahat tahun 1515 di Italia yang menggambarkan sosok Musa Musa adalah tokoh dari Tanakh yang paling sering disebutkan dalam Perjanjian Baru.

Bagi umat Kristen, Musa sering menjadi perlambang hukum Allah, sebagaimana diperkuat dan dijelaskan dalam ajaran Yesus. Para penulis Perjanjian Baru sering membandingkan kata-kata dan perbuatan Yesus dengan Musa untuk menjelaskan misi Yesus. Dalam Kisah Para Rasul 7: 39-43, 51–53, misalnya, penolakan Musa oleh orang-orang Yahudi yang menyembah anak lembu emas disamakan dengan penolakan Yesus oleh orang-orang Yahudi. [260] [261] Musa juga disebutkan dalam beberapa pesan Yesus.

Ketika bertemu dengan orang Farisi Nikodemus pada malam hari, [262] Yesus membandingkan Musa yang membuat ular tembaga di padang belantara yang bisa dilihat bangsa Israel dan menyembuhkan mereka, dengan pengangkatan Yesus sendiri (oleh kematian dan kebangkitan) bagi mereka yang melihat akan disembuhkan. Disebutkan pula bahwa Yesus menanggapi klaim orang-orang bahwa Musa memberikan mereka manna di padang belantara dengan mengatakan bahwa bukan Musa, tetapi Allah, yang menyediakan.

Menyebut dirinya "roti kehidupan", Yesus menyatakan bahwa dirinya disediakan untuk memberi makan umat Allah. [263] Musa juga dipandang sebagai santo oleh beberapa gereja dan diperingati sebagai nabi pada 4 September dalam Kalender Orang Suci Gereja Ortodoks Timur, Katolik Roma, dan Lutheran. [264] [265] Gereja Ortodoks juga memperingati dia pada hari Minggu para leluhur, dua hari Minggu sebelum hari kelahiran Yesus.

[266] Gereja Apostolik Armenia memperingati Musa sebagai salah satu Bapa Leluhur Suci dalam Kalender Orang Suci mereka pada 30 Juli.

[267] Islam [ sunting - sunting sumber ] "Musa dengan tongkat di tangannya", miniatur Persia abad ke-15 Musa dipandang sebagai nabi dan rasul. [268] Dia termasuk satu dari lima rasul ulul azmi dan mendapat julukan kalīmullāh ( bahasa Arab: كليم الله‎) yang bermakna "orang yang berbicara dengan Allah." [269] riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu Dia merupakan tokoh manusia yang namanya paling banyak disebutkan dalam Al-Qur'an, yakni sejumlah 136 kali.

Al-Qur'an menyebutkan Musa sebagai seseorang yang membawa bukti-bukti kebenaran, [271] [272] diberi petunjuk oleh Allah, [273] dilebihkan atas manusia yang lain, [274] dan memiliki kedudukan terhormat di sisi Allah.

[275] Umat Islam juga diperintahkan untuk beriman kepada wahyu Allah, baik yang diturunkan kepada Muhammad maupun kepada nabi-nabi yang lain, termasuk di antaranya adalah Musa, juga diperintahkan untuk tidak membeda-bedakan para nabi dan berserah diri kepada Allah. [276] [277] Sebagaimana rasul yang lain, peran Musa dalam menyerukan keesaan Allah juga tersurat jelas. Kehidupan Musa kerap disamakan dengan Muhammad. [278] [279] Keduanya merupakan seorang pemimpin keagamaan, pimpinan militer, dan hakim.

Beberapa literatur Islam juga menyamakan antara pengikut kedua tokoh tersebut terkait perjalanan sejarah mereka. Keluarnya Bani Israel dari Mesir disepadankan dengan hijrahnya para sahabat Nabi dari Makkah. Tenggelam dan kehancuran Fir'aun dan pasukannya juga disejajarkan dengan Pertempuran Badr. [280] Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi Muhammad bersabda, "Janganlah kalian melebihkanku atas Musa. Sesungguhnya seluruh manusia pada hari kiamat kelak akan pingsan dan aku adalah orang yang pertama kali sadar.

Namun aku mendapati Musa sedang berpegangan dengan salah satu kaki 'Arsy. Aku tidak tahu apakah dia juga pingsan lalu sadar sebelum aku sadar, ataukah dia tidak pingsan karena dahulu pernah pingsan di bukit (Sinai)." [281] [282] Dalam sebuah riwayat lain juga disebutkan bahwa Muhammad diperlihatkan para nabi dan umat mereka.

Ada nabi bersama beberapa orang, ada seorang nabi bersama satu orang saja, dan seorang nabi lain tanpa seorangpun bersamanya. Kemudian terlihat kumpulan warna hitam yang sangat banyak sampai menutupi ufuk. Dikatakan bahwa mereka adalah Musa dan kaumnya. [283] [284] [285] Fir'aun [ sunting - sunting sumber ] Patung Ramses II di Luxor. Ramses II merupakan sosok yang kerap diidentifikasikan sebagai fir'aun pada masa Musa Sejumlah Fir'aun yang diidentifikasikan dengan Fir'aun yang hidup masa masa Musa: • Dedumose II (wafat sekitar 1690 SM).

David Rohl, seorang Egiptologis dari Inggris, merevisi sejarah Mesir dengan memperpendek Periode Menengah Ketiga Mesir selama hampir 300 tahun.

Sebagai akibatnya, sinkronisme dengan narasi kitab suci telah berubah, menjadikan raja Periode Menengah Kedua Dedumose II sebagai Fir'aun dari Kitab Keluaran. [286] Teori Rohl gagal mendapat dukungan di antara para sarjana di bidangnya.

[287] • Ahmose I (berkuasa 1550–1525 SM) [288] • Akhenaten (berkuasa 1353–1349 SM). Sigmund Freud berpendapat bahwa Musa adalah seorang pendeta Atenisme yang dipaksa meninggalkan Mesir bersama para pengikutnya setelah kematian Akhenaten. [289] • Ramses II (berkuasa 1279–1213 SM). Fir'aun yang paling kerap disamakan dengan Fir'aun dalam kitab suci, utamanya setelah penayangan film The Ten Commandments yang dirilis pada tahun 1956.

Namun sebagaimana Fir'aun lainnya, belum ada bukti dokumenter atau arkeologis bahwa dia mengejar budak yang melarikan diri dari Mesir. [290] [291] [292] • Merneptah (berkuasa 1213–1203 SM) [293] • Setnakhte (berkuasa 1189–1186 SM) [294] [295] • Senusret III (berkuasa 1878 – 1839 SM) [296] Musa sendiri diduga sebagai Amenemhat IV [297] Perempuan istana [ sunting - sunting sumber ] Disebutkan bahwa Musa yang masih bayi ditemukan oleh seorang perempuan istana dari keluarga Fir'aun dan kemudian diangkat menjadi anaknya.

Al-Qur'an menyebutan bahwa dia adalah istri Fir'aun. Riwayat hadits menyebutnya Asiyah. [298] Sumber Tanakh dan Alkitab menyebutkan bahwa dia adalah putri Fir'aun. Kitab Yobel dan Flavius Yosefus menyebutkan bahwa namanya adalah Thermouthis. [299] [300] [301] [302] Vayikrah Rabbah dan Kitab Tawarikh menyebutnya Bat-Yah, Bityah, atau Bithiah, yang secara harfiah bermakna "putri Yahweh", julukan yang diberikan padanya setelah mengangkat Musa sebagai putranya, maka Yahweh mengangkatnya sebagai putrinya.

[303] Dalam Kristen, dia juga dinamai Merris atau Merrhoe. [304] [305] Terkait perbedaan statusnya dengan fir'aun dalam kitab suci, disebutkan bahwa fir'aun kerap menikah dengan kerabat dekatnya hingga pada taraf pernikahan sedarah. Berikut beberapa daftar dari perempuan istana yang hidup pada masa beberapa fir'aun yang diidentifikasikan hidup pada masa Musa, yang mereka merupakan istri sekaligus putri seorang fir'aun: • Ahmose-Nefertari.

Putri dari Seqenenre Tao II, saudari dan permaisuri dari Ahmose I. • Ahmose-Sitkamose. Putri dari Kamose, istri dari Ahmose I. • Ahmose-Henuttamehu. Putri dari Seqenenre Tao II, saudari dan istri dari Ahmose I. • Meritamen.

riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu

Putri dan istri dari Ramses II. • Bintanath. Putri dan istri dari Ramses II. • Nebettawy. Putri dan istri dari Ramses II. • Henutmire. Putri dan istri dari Ramses II. • Isetnofret II. Putri atau cucu dari Ramses II, istri dari Merneptah. Gambar [ sunting - sunting sumber ] Dalam budaya Barat, Musa digambarkan dalam berbagai lukisan dan patung. Patung Musa yang berada di Kopenhagen, Denmark Makam [ sunting - sunting sumber ] Menurut tradisi Islam, Musa diyakini dimakamkan di tempat yang disebut "Nabi Musa" (koordinat 31°47′N 35°26′E  /  31.783°N 35.433°E  / 31.783; 35.433) [306] di 11 km di selatan Yerikho dan 20 km di timur Yerusalem di rimba Yudea, masuk kawasan Tepi Barat.

[307] Bagian utama dari makam, masjid, dan menara dibangun pada masa Sultan Mamluk Baibars pada 1270 M. Pada tahun-tahun setelahnya, makam Nabi Musa diperluas [308] dan dilindungi tembok. Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Nabi-nabi dalam Islam, di antaranya: • Syu'aib • Harun • Yusya • Dawud • Zakariyya • Mukjizat Musa • Kehidupan pribadi Musa • Taurat • Sefer Torah • Bagian Alkitab yang berkaitan: Kitab Keluaran, terutama: Keluaran 2, Keluaran 3, Keluaran 12, Keluaran 14, Keluaran 15, Keluaran 20, Keluaran 32, Keluaran 40; Kitab Imamat; Kitab Bilangan; Kitab Ulangan, terutama Ulangan 34; Mazmur 90; Kisah Para Rasul 7 Catatan [ sunting - sunting sumber ] • ^ Keluaran 2:2 • ^ Ulangan 34: 6 • ^ Filler, Elad.

"Moses and the Kushite Woman: Classic Interpretations and Philo's Allegory". TheTorah.com. Diakses tanggal 11 May 2019.

• ^ Keluaran 2: 21; 18: 2 • ^ a b Keluaran 2: 22; 18: 3 • ^ a b Keluaran 18: 4 • ^ a b c Keluaran 6: 20 • ^ a b c d Bilangan 26: 59 • ^ Deuteronomy 34:10:HE • ^ Maimonides, 13 principles of faith, 7th principle. • ^ Exodus 1:10 • ^ Douglas K. Stuart (2006). Exodus: An Exegetical and Theological Exposition of Holy Scripture. B&H Publishing Group. hlm. 110–13. • ^ Kitab Keluaran 4:10 • ^ Kitab Keluaran 7:7 • ^ "Was Moses real?". Washington Post (dalam bahasa Inggris).

ISSN 0190-8286. Diakses tanggal 2021-11-25. • ^ "Man versus myth: does it matter if the Moses story is based on fact?". the Guardian (dalam bahasa Inggris). 2014-11-30. Diakses tanggal 2021-11-25. • ^ Nigosian, S.A.

(1993). "Moses as They Saw Him". Vetus Testamentum. 43 (3): 339–350. doi: 10.1163/156853393X00160. Three views, based on source analysis or historical-critical method, seem to prevail among biblical scholars. First, a number of scholars, such as Meyer and Holscher, aim to deprive Moses all the prerogatives attributed to him by denying anything historical value about his person or the role he played in Israelite religion.

Second, other scholars. diametrically oppose the first view and strive to anchor Moses the decisive role he played in Israelite religion in a firm setting. And third, those who take the middle position. delineate the solidly historical identification of Moses from the superstructure of later legendary accretions….Needless to say, these issues are hotly debated unresolved matters among scholars. Thus, the attempt to separate the historical from unhistorical elements in the Torah has yielded few, if any, positive results regarding the figure of Moses or the role he played on Israelite religion.

No wonder J. Van Seters concluded riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu "the quest for the historical Moses is a futile exercise. He now belongs only to legend • ^ William G. Dever (2001). What Did the Biblical Writers Know and When Did They Know It?: What Archeology Can Tell Us About the Reality of Ancient Israel.

Wm. B. Eerdmans Publishing. hlm. 99. ISBN 978-0-8028-2126-3. A Moses-like figure may have existed somewhere in southern Transjordan in the mid-late 13th century s.c., where many scholars think the biblical traditions concerning the god Yahweh arose. • ^ Beegle, Dewey. "Moses". Encyclopædia Britannica. • ^ "Moses". Oxford Biblical Studies Online. • ^ Miller II, Robert D. (25 November 2013). Illuminating Moses: A History of Reception from Exodus to the Renaissance.

BRILL. hlm. 21, 24. ISBN 978-90-04-25854-9. Van Seters concluded, 'The quest for the historical Moses is a futile exercise. He now belongs only to legend.' . "None of this means that there is not a historical Moses and that the tales do not include historical information. But in the Pentateuch, history has become memorial. Memorial revises history, reifies memory, and makes myth out of history. • ^ Seder Olam Rabbah [ perlu rujukan lengkap] • ^ Jerome's Chronicon (4th century) gives 1592 for the birth of Moses • ^ The 17th-century Ussher chronology calculates 1571 BC ( Annals of the World, 1658 paragraph 164) • ^ a b New World Dictionary-Concordance to the New American Bible.

World Publishing. 1970. hlm. 461. ISBN 0-529-04540-0. • ^ HAW Theological Wordbook of the Old Testament • ^ Lambdin, T.O., Intro. to Biblical Hebrew. NY:Charles Scribner's Sons, 1971. pp. 18-19 • ^ Gesenius' Lexicon (1906), s.v. מֹשֶׁה‎ ; Gesenius lebih condong kepada etimologi Koptik. Demikian pula "Jones' Dictionary of Old Testament Proper Names" • ^ So BDB Theological Dictionary and HAW Theological Wordbook of the Old Testament; lihat "Meaning, origin and etymology of the name Moses".

• ^ http://www.bibleorigins.net/MopsusMoxusExodus.html • ^ http://alkitab.sabda.org/search.php?search=musa • ^ Shmuel 1976, hlm. 1102. • ^ Barclay, John M. G. Jews in the Mediterranean Diaspora: From Alexander to Trajan (323 BCE – 117 CE), University of California Press (1996) p. 130 • ^ "Moses". Jewish Encyclopedia. Diakses tanggal 2010-03-02. • ^ Feldman 1998, hlm. 40. • ^ a b Droge 1989, hlm. 18. • ^ Hecataeus "menggambarkan Musa sebagai seorang yang unggul dalam hikmat dan keberanian." menurut Shmuel 1976, p.

1133. • ^ Shmuel 1976, hlm. 1103. • ^ Shmuel 1976, hlm. 1132. • ^ Strabo. The Geography, 16.2.35–36, Translated by H.C. Hamilton and W. Falconer in 1854, pp. 177–78, • ^ Assmann 1997, hlm. 38. • ^ Tacitus, Cornelius. The works of Cornelius Tacitus: With an essay on his life and genius by Arthur Murphy, Thomas Wardle Publ.

(1842) p. 499 • ^ Tacitus, Cornelius. Tacitus, The Histories, Volume 2, Book V. Chapters 5, 6 p. 208. • ^ Guthrie 1917, hlm. 194. • ^ Guthrie 1917, hlm. 101. • ^ a b Blackham 2005, hlm. 39. • ^ Hammer, Reuven (1995), The Classic Midrash: Tannaitic Commentaries on the Bible, Paulist Press, hlm. 15. • ^ Kejadian 32:28 • ^ Yusuf (12): 93-100 • ^ Kejadian 46:1-34; Kisah Para Rasul 7:8-15 • ^ Keluaran 6:20 • ^ Seder Olam Rabbah [ riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu rujukan lengkap] • ^ Jerome's Chronicon (4th century) gives 1592 for the birth of Moses • ^ The 17th-century Ussher chronology calculates 1571 BC ( Annals of the World, 1658 paragraph 164) • ^ Keluaran 1:1-21; Kisah Para Rasul 7:18-19 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm.

428-429. • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 430-431. • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 478-479.

riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu

• ^ Keluaran 2:2-4 • ^ Thaha (20): 38-40 • ^ Al-Qashash (28): 7-13 • ^ Keluaran 2:1-10; Kisah Para Rasul 7:21 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 431-435. • ^ Keluaran 2:2; Kisah Para Rasul 7:20 • ^ Keluaran 2:5-10; Kisah Para Rasul 7:21 • ^ Kisah Para Rasul 7:22 • ^ a b Eusebius Pamphilis, Buku 9, Bab 27:1-37. Terjemahan Inggris oleh (a) E.H. Gifford, 1903, dan (b) J.J.

Collins, 1985, halaman 889-903. Dikutip dalam: Rohl, David (1995). A Test of Time: The Bible - from Myth to History. London: Century. ISBN 0-7126-5913-7. Diterbitkan di Amerika Serikat sebagai Rohl, David (1995).

Pharaohs and Kings: A Biblical Quest. New York: Crown Publishers. ISBN 0-517-70315-7. Bab 12 • ^ Kisah Para Rasul 7:23 • ^ Al-Qashash (28): 14-19 • ^ Keluaran 2:11-14; Kisah Para Rasul 7:24-28 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 436-439. • ^ Al-Qashash (28): 15-17 • ^ Kisah Para Rasul 7:25 • ^ Al-Qashash (28): 20-28 • ^ Keluaran 2:14-22 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm.

439-443. • ^ Al-Qashash (28): 20 • ^ Al-Qashash (28): 23 • ^ Keluaran 2:18 • ^ Keluaran 3: 1 • ^ Al-Qashash (28): riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu • ^ Keluaran 2:16 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 440. • ^ Al-Qashash (28): 27-28 • ^ Kisah Para Rasul 7: 29 • ^ Keluaran 2:23 • ^ Thaha (20): 9-36 • ^ Al-Qashash (28): 29-35 • ^ Keluaran 3:1-22; Kisah Para Rasul 7:30-34 • ^ Keluaran 4: 1-17 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm.

447-455. • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 448. • ^ Al-Qashash (28): 29-30 • ^ Keluaran 3:1-4 • ^ Keluaran 4: 18-20 • ^ Coogan, Michael David. The Old Testament: A historical and literary introduction to the Hebrew Scriptures. Oxford University Press, USA, 2017: pg.

108 • ^ Coogan, Michael David. The Oxford history of the biblical world. Oxford University Press, USA, 2001: pg. 67. • ^ Wright, N. T. (2018). Paul : a biography. London: Society for Promoting Christian Knowledge (SPCK. hlm. 63. ISBN 978-0-281-07875-2. OCLC 994933821. • ^ Keluaran 3:1; Kisah Para Rasul 7:30 • ^ Keluaran 4:24-26 • ^ Keluaran 18:5-6 • ^ Keluaran 4:27-31; Kisah Para Rasul 7:35 • ^ Al-A'raf (7): 104-110 • ^ Yunus (10): 75-78 • ^ Thaha (20): 47-57 • ^ Asy-Syu'ara' (26): 16-34 • ^ Az-Zukhruf (43): 46-47 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm.

455-465. • ^ Al-A'raf (7): 111-126 • ^ Yunus (10): 79-82 • ^ Thaha (20): 61-73 • ^ Asy-Syu'ara' (26): 35-51 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 465-477. • ^ Keluaran 5:1-23 • ^ Keluaran 7:1-13 • ^ Yunus (10): 83 • ^ Al-A'raf (7): 129 • ^ Yunus (10): 84-86 • ^ Az-Zukhruf (43): 51-54 • ^ Al-Qashash (28): 38 • ^ Ghafir (40): 36-37 • ^ Ghafir (40): 28-44 • ^ Keluaran 10:1-2 • ^ Al-A'raf (7): 130-135 • ^ Keluaran 7: 14-25 • ^ Keluaran 8: 1-15 • ^ Keluaran 8: 16-19 • ^ Keluaran 8: 20-32 • ^ Keluaran 9: 1-7 • ^ Keluaran 9: 8-12 • ^ Keluaran 9: 13-34 • ^ Keluaran 10: 1-20 • ^ Keluaran 10: 21-29 • ^ Keluaran 12: 1-42 • ^ Al-A'raf (7): 136 • ^ Yunus (10): 90-92 • ^ Thaha (20): 77-79 • ^ Asy-Syu'ara' (26): 52-68 • ^ Al-Qashash (28): 40 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm.

507-512. • ^ Keluaran 12:37; Kisah Para Rasul 7:36 • ^ Keluaran 13:19 • ^ Keluaran 13:21-22 • ^ Keluaran 14:10-20 • ^ Keluaran 14:1-31; Kisah Para Rasul 7:36 • ^ Keluaran 15:1-21-31 • ^ Keluaran 12: 30-51 • ^ Riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu (7): 138-140 • ^ Keluaran 15: 22-27 • ^ Al-Baqarah (2): 57 • ^ Al-A'raf (7): 160 • ^ Thaha (20): 80 • ^ Al-Baqarah (2): 60 • ^ Al-A'raf (7): 160 • ^ Keluaran 16: 1-36 • ^ Keluaran 17: 1-7 • ^ Keluaran 17: 8-16 • ^ Keluaran 18:1-27 • ^ Keluaran 19:1-2 • ^ Keluaran 19:1-25 • ^ Keluaran 20:1-17 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm.

527-529. • ^ Keluaran 20:22-26 • ^ Keluaran 21:1-11 • ^ Keluaran 21:12-27 • ^ Keluaran 21:28-36 • ^ Keluaran 22:1-15 • ^ Keluaran 22:16-31 • ^ Keluaran 23:1-9 • ^ Keluaran 23:10-13 • ^ Keluaran 23:14-19 • ^ Keluaran 24:1-11 • ^ Al-A'raf (7): 142-147 • ^ Keluaran 24:12-18 • ^ Al-A'raf (7): 143 • ^ Al-Qarni 2006, hlm.

93. • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 533-534. • ^ Keluaran 25:1-9 • ^ Keluaran 26:1-37 • ^ Keluaran 30:11-16 • ^ Keluaran 27:9-19 • ^ Keluaran 25:10-22 • ^ Keluaran 25:23-30 • ^ Keluaran 25:31-40 • ^ Keluaran 27:1-8 • ^ Keluaran 30:1-10 • ^ Keluaran 27:20-21 • ^ Keluaran 28:1-43 • ^ Keluaran 29:1-37 • ^ Keluaran 29:38-46 • ^ Keluaran 30:17-21 • ^ Keluaran 30:22-38 • ^ Keluaran 31:12-18 • ^ Al-A'raf (7): 148-154 • ^ Thaha (20): 83-98 • ^ Keluaran 32:1-25 • ^ Keluaran 32:4 • ^ Thaha (20): 85 • ^ Al-A'raf (7): 150 • ^ Thaha (20): 96 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm.

542. • ^ Thaha (20): 97 • ^ Al-Baqarah (2): 54 • ^ Keluaran 32:26-35 • ^ Al-A'raf (7): 155 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 547-548. • ^ Al-Baqarah (2): 55-56 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 548-549. • ^ Keluaran 33:12-22 • ^ Keluaran 34:1-4 • ^ Keluaran 40:17-33 • ^ Keluaran 40:34-38 • ^ Kitab Imamat 1- 27 • ^ Al-Ma'idah (5): 21-26 • ^ Bilangan 13:1-33 • ^ Bilangan 14:1-45 • ^ Bilangan 1:45-46 • ^ Bilangan 26:64 • ^ Bilangan 1 • ^ Bilangan 26 • ^ Bilangan 33 • ^ Yosua 2:1 • ^ Bilangan 25:1 • ^ Bilangan 22:1 • ^ Ulangan 1:1-2 • ^ Bilangan 22-24 • ^ Bilangan 31:16 • ^ Mazmur 106:28-31 • ^ Wahyu 2:14 • ^ Bilangan 25:1-9 • ^ Bilangan 25:16-13 • ^ Bilangan 31:1-54 • ^ Bilangan 21:21-30 • ^ Bilangan 21:31-35 • ^ Bilangan 32 • ^ Al-Qashash (28): 76-82 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm.

597. • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 599-600. • ^ Keluaran 6:21 • ^ Bilangan 16:1-35 • ^ Bilangan 12 • ^ Al-Baqarah (2): 67-73 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm.

558-562. • ^ HR. Al-Bukhari (4725) • ^ Al-Kahfi (18): 60-70 • ^ Al-Kahfi (18): 71-77 • ^ Al-Kahfi (18): 78-82 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 562-573. • ^ Bilangan 20:22-29 • ^ Bilangan 27:12-23 • ^ Ulangan 1 • ^ Tarikh Ath-Thabari (1/432) • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 618. • ^ Ulangan 34:1-8 • ^ Ginzberg, Louis (1909). The Legends of the Jews Vol.

III : Moses excels all pious men (Translated by Henrietta Szold) Philadelphia: Jewish Publication Society. • ^ "Judaism 101: Moses, Aaron and Miriam". Jew FAQ. Diakses tanggal 2010-03-02. • ^ Wolpe, David. "Ki Teitzei – A Jewish Approach to the Church Abuse Scandal." Sinai Temple Los Angeles. 25 Agustus 2018. Sermon. • ^ "Pentateuch". Cross, F. L., ed. The Oxford dictionary of the Christian church. New York: Oxford University Press.

2005 • ^ Mazmur 90:1-17 • ^ Larkin, William J. (1995). Acts (IVP New Testament Commentary Series). Intervarsity Press Academic. ISBN 978-0-8308-1805-1. • ^ "Bible Gateway passage: Acts 7 – New International Version".

Bible Gateway. Diakses tanggal 2017-01-08. • ^ Yohanes 3:1-21 • ^ Yohanes 6:28-35 • ^ Synaxariste Agung: bahasa Yunani: Ὁ Προφήτης Μωϋσῆς. 4 Σεπτεμβρίου. ΜΕΓΑΣ ΣΥΝΑΞΑΡΙΣΤΗΣ. • ^ Holy Prophet and God-seer Moses. OCA – Lives of the Saints. • ^ THE SUNDAY OF THE HOLY FOREFATHERS. St John's Orthodox Church, Colchester, Essex, England. • ^ Տոնական օրեր. Armenian Church (dalam bahasa armenian). Diakses tanggal 31 August 2017. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui ( link) • ^ Maryam (19): 51 • ^ "Chapter 7: Account of the death of Prophet Musa, occultation of Successors and Divine Proofs till the period of Prophet Isa".

Al-Islam. Diakses tanggal 2019-09-22. • ^ James E. Lindsay (2005). Daily Life In The Medieval Islamic World. Greenwood Publishing Group. hlm. 178. ISBN 9780313322709.

• ^ Al-Baqarah (2): 92 • ^ Al-A'raf (7): 103 • ^ Al-An'am (6): 84 • ^ Al-A'raf (7): 144 • ^ Al-Ahzab (33): 69 • ^ Al-Baqarah (02): 136 • ^ Ali 'Imran (03): 84 • ^ Juan Eduardo Campo (2009). Encyclopedia of Islam.

Infobase Publishing. hlm. 483. ISBN 9781438126968. • ^ Norman Solomon; Richard Harries; Tim Winter (2006). Abraham's Children: Jews, Christians, and Muslims in Conversation.

Continuum International Publishing Group. hlm. 67. ISBN 9780567081612. • ^ Juan Eduardo Campo (2009). Encyclopedia of Islam. Infobase Publishing. hlm. 483. ISBN 9781438126968. • ^ HR. Bukhari dan Muslim • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 603. • ^ HR. Bukhari (5752) • ^ HR. Ahmad (1/271) • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 607-608. • ^ Rohl 1995, hlm.

341–348 • ^ Bennett 1996 • ^ Meyers, Stephen C. "IBSS – Biblical Archaeology – Date of the Exodus". www.bibleandscience.com. Institute for Biblical & Scientific Studies.

Diakses riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu 13 April 2017. • ^ Musa dan Monoteisme, ISBN 0-394-70014-7 • ^ Stephen L. Caiger, "Archaeological Fact and Fancy," Biblical Archaeologist, ( 9, 1946). • ^ I Will Show You: Essays in History and Archaeology of the Ancient Near East in Honor of J. Maxwell Miller, Sheffield Academic Press, 1997, p. 261–262, ISBN 978-1-85075-650-7, [1] • ^ Long, V. Philips; Neils Peter Lemche (2000).

Israel's past in present research: essays on ancient Israelite historiography. Eisenbrauns. hlm. 398. ISBN 978-1-57506-028-6. • ^ Isaac Asimov, Asimov's Guide to the Bible, Random House, 1981, p. 130–131, ISBN 0-517-34582-X • ^ Igor P. Lipovsky, Early Israelites: Two Peoples, One History: Rediscovery of the Origins of Biblical Israel ISBN 0-615-59333-X • ^ "Exodus: The History Behind the Story". • ^ "Pharaohs of the Oppression". Answers in Genesis. Diakses tanggal 2019-09-16.

• ^ Searching for Moses by David Down (April 1, 2001) • ^ HR. Al-Bukhari 7329 • ^ Flusser David, and Shua Amorai-Stark. (1993). " "The Goddess Thermuthis, Moses, and Artapanus." Jewish Studies Quarterly 1, no. 3": 217–33. JSTOR 40753100. • ^ Josephus, Antiquities of the Jews 9,5 • ^ "Thermuthis – History's Women" (dalam bahasa Inggris).

Diakses tanggal 2019-09-11. • ^ "Renenutet - Ancient Egypt Online" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-09-11.

• ^ "Daughter of Pharaoh: Midrash and Aggadah - Jewish Women's Archive". jwa.org. Diakses tanggal 2019-09-04. • ^ Commentary on Hexameron MPG 18.785 • ^ Praeparatio evangelica 9.27 • ^ Silvani, written and researched by Daniel Jacobs .

riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu

Shirley Eber and Francesca (1998). Israel and the Palestinian Territories : the rough guide (edisi ke-2nd). London: Penguin Books. hlm. 531. ISBN 1858282489. burial place of prophet musa. • ^ Amelia Thomas; Michael Kohn; Miriam Raphael; Dan Savery Raz (2010). Israël & the Palestinian Territories. Lonely Planet. hlm.

319. ISBN 9781741044560. • ^ Urbain Vermeulen (2001). Egypt and Syria in the Fatimid, Ayyubid, and Mamluk Eras III: Proceedings of the 6th, 7th and 8th International Colloquium Organized at the Katholieke Universiteit Leuven in May 1997, 1998, and 1999.

Peeters Publishers. hlm. 364. ISBN 9789042909700. Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] • Assmann, Jan, Moses the Egyptian: The Memory of Egypt in Western Monotheism, Harvard University Press, ISBN 978-0-674-58738-0 Parameter -qccy author-link= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan); Parameter ---> year= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Blackham, Paul (2005), "The Trinity in the Hebrew Scriptures", dalam Metzger, Paul Louis, Trinitarian Soundings in Systematic Theology (essay), Continuum International • Droge, Arthur J (1989), Homer or Moses?: Early Christian Interpretations of the History of Culture, Mohr Siebeck • Feldman, Louis H (1998), Josephus's Interpretation of the Bible, University of California Press • Ibnu Katsir (2014).

Kisah-Kisah Para Nabi. Diterjemahkan oleh Muhammad Zaini. Surakarta: Insan Kamil Solo. ISBN 978-602-6247-11-7. • Shmuel, Safrai (1976), Stern, M, ed., The Jewish People in the First Century, Van Gorcum Fortress Press • Al-Qarni, A'idh (2006). 40 Hadits Qudsi dan Dzikir. Diterjemahkan oleh Abbas Sungkar, Ferry Irawan.

Surakarta: Aqwam. ISBN 979-3653-20-5. Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] • Kisah Nabi Musa di situs Islam.elvini.net [ pranala nonaktif permanen] Kategori tersembunyi: • Artikel mengandung aksara Ibrani • Artikel mengandung aksara Suryani • Artikel mengandung aksara Arab • Artikel mengandung aksara Yunani • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Artikel yang memerlukan referensi lebih detail • Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui • CS1 menggunakan skrip berbahasa Armenia (hy) • Articles with hCards • Artikel mengandung aksara non-Indonesia • Artikel mengandung aksara Latin • Pranala kategori Commons ditentukan secara lokal riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda ISNI • Artikel Wikipedia dengan penanda VIAF • Artikel Wikipedia dengan penanda BNE • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda NKC • Artikel Wikipedia dengan penanda NLA • Artikel Wikipedia dengan penanda PLWABN • Artikel Wikipedia dengan penanda SELIBR • Artikel Wikipedia dengan penanda FAST • Artikel Wikipedia dengan penanda TDVİA • Artikel Wikipedia dengan penanda WORLDCATID • Halaman dengan kesalahan referensi • Halaman ini terakhir diubah pada 28 Maret 2022, pukul 12.13.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Nabi Musa a.s. adalah salah seorang nabi dari Bani Israil. Musa lahir di Mesir dan diperintahkan oleh Allah SWT untuk berdakwah kepada Raja Fir’aun yang zalim.

Fir’aun memang terkenal dengan kekejamannya. Bahkan ia berani menyatakan dirinya sebagai Tuhan yang wajib disembah rakyatnya.

Siapa pun yang tidak setuju dan berani menentang raja besar Mesir itu, pasti akan dihukum mati. Dakwah Nabi Musa a.s. dalam mengingatkan Fir’aun agar bertobat dan kembali ke jalan yang benar bukan tugas yang mudah.

Tapi, Nabi Musa a.s tetap melaksanakan tugasnya dengan penuh kesabaran dan keberanian. Atas kesabaran dan kegigihannya itulah, Musa menjadi salah satu nabi Ulul Azmi, Ulul Azmi yaitu nabi Allah SWT yang memiliki tekad dan kesabaran luar biasa dalam menegakkan kebenaran. Allah SWT tidak membiarkan Nabi Musa a.s. riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu dakwahnya dengan tangan kosong.

Allah SWT memberikan beberapa mukjizat kepada Nabi Musa a.s. Tahukah adik-adik? Salah satu mukjizat itu adalah tongkat sakti yang kelak digunakan untuk membantu Bani Israil menyeberangi laut Merah. Tongkat itu menyelamatkan Bani Israil dari kejaran pasukan Fir’aun yang ingin menghancurkan Musa dan Bani Israil.

Biar lebih seru, yuk, ikuti saja kisah nabi Musa di alquran ini selengkapnya! Ringkasan Cerita Kisah Nabi Musa as dan Firaun Kelahiran Nabi Musa as Walaupun Nabi Musa as hidup berada di lingkungan istana Firaun, namun kelahiran Nabi Musa memiliki kisah yang sangat luar biasa. Saat Musa masih dalam kandungan ibundanya yang bernama Yukabbad, Mesir sedang gempar. Rakyat hidup dalam ketakutan, terutama para ibu yang sedang mengandung.

Rupanya Raja Fir’aun memerintahkan bala tentaranya untuk mengambil paksa bayi laki-laki yang lahir pada tahun itu. “Ambil setiap bayi laki-laki yang lahir di tahun ini!” perintah Fir’aun. Tak hanya itu, Fir’aun juga menyingkirkan bayi-bayi yang tak berdosa tersebut. Allah SWT berfirman, “Sungguh, Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka.

Sungguh, dia (Fir’aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Qashash [28]: 4) Fir’aun melakukan hal tersebut setelah para penasihatnya menafsirkan mimpinya. Menurut dukun-dukun istana, akan lahir seorang lelaki Bani Israil yang kelak akan menghancurkan kekuasaan Fir’aun.

Karena itulah, untuk mencegah hal itu terjadi, Fir’aun menyingkirkan setiap bayi laki-laki dari Bani Israil. Sementara itu, Yukabbad merasa takut karena sebentar lagi bayi yang dikandungnya akan lahir.

“Bagaimana ini? Haruskah anak kita ini mati di tangan Fir’aun sebelum ia bisa melihat dunia?” ucap Yukabbad, bersedih. “Tenanglah istriku,” hibur Imran, suaminya. “Mari berdoa, kita serahkan segalanya kepada Allah! Mari meminta perlindungan kepada-Nya.” Yukabbad masih murung. Ia tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi nanti dengan bayi yang dikandungnya. “Lebih baik kau beristirahat. Lagi pula, belum tentu juga bayi kita ini laki-laki,” kata Imran.

Tapi, Yukabbad tetap merasa khawatir. Ia memiliki perasaan yang begitu kuat bahwa bayi yang ada dalam kandungannya itu adalah bayi laki-laki. “Ya Allah, lindungilah kami sekeluarga dan bayi ini!” ucapnya lirih. Nabi Musa Dihanyutkan ke Aliran Sungai Nil Waktu kelahiran itu pun tiba.

Ternyata benar dugaan Yukabbad. Bayi yang ia lahirkan adalah laki-laki. Yukabbad amat senang, tapi pada saat yang bersamaan, ia juga takut dan khawatir dengan nasib bayi laki-lakinya itu. Dalam kebimbangan hati tersebut, Allah SWT mengilhamkan ibunda Musa untuk menghanyutkan bayinya ke sungai Nil. “Apakah kamu yakin dengan rencanamu itu?” tanya Imran setelah mendengar rencana istrinya itu.

“Ya, hanya ini cara yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bayi kita,” ujar Yukabbad. “Baiklah. Ayo, segera kita persiapkan segala sesuatunya, sebelum prajurit Fir’aun tahu dan mengambil buah hati kita ini,” ucap Imran. Dengan mengendap-endap, Yukabbad dan Imran berjalan menuju tepian sungai Nil.

Mereka meletakkan Musa di dalam sebuah kotak kayu. Kotak kayu tersebut sudah dibuat senyaman mungkin sehingga Musa tidak menangis. Jika Musa menangis, hal itu akan membahayakan dirinya. Yukabbad terlihat begitu berat hati ketika hendak menghanyutkan Musa ke sungai Nil. Sungai yang dipenuhi kuda nil dan buaya-buaya yang besar dan ganas. Yukabbad sempat cemas, bagaimana jika buaya dan kuda nil memangsa Musa. “Cepat lakukan! Sebelum orang-orang Fir’aun melihat kita!” perintah Imran.

Yukabbad, ibunda Musa, berupaya melawan kekhawatirannya. Dengan berderai air mata, ia menghanyutkan Musa yang masih bayi itu ke sungai Nil. Aliran deras sungai terpanjang di dunia itu dalam sekejap mengayun-ayun kotak kayu tersebut. Kotak itu semakin jauh dibawa aliran sungai hingga hilang dari pandangan mata Yukabbad.

“Mari kita pulang,” ajak Imran, suaminya. Yukabbad masih tidak percaya bahwa sebagai seorang ibu, ia baru saja menghanyutkan anak kandungnya sendiri ke sungai. ia telah membiarkan Musa yang masih bayi itu berjuang sendiri melawan ganasnya alam.

Namun, Allah SWT memberikan ketenangan dan keyakinan kepada Yukabbad bahwa Musa akan baik-baik saja. Suatu ketika, mereka akan berjumpa kembali. “Ibu percaya, anakku,” bisik Yukabbad lirih. “Ibu percaya, kamu pasti akan selamat. Allah SWT akan menjagamu dan kita akan berjumpa kembali.” Memang begitulah takdir Musa. Allah SWT menyelamatkan Musa. Rupanya permaisuri Raja Fir’aun yaitu Siti Asiyah, juga sedang berada di tepian sungai Nil.

Ketika tengah asyik mandi sambil menikmati kesegaran air sungai, tiba-tiba seorang dayang yang menemaninya berteriak-teriak.“Tuanku! Tuanku! Lihatlah, kotak apakah yang hanyut dan tersangkut di sela-sela batu itu?” katanya pada Siti Asiyah sambil menunjuk sebuah kotak kayu. “Coba kamu ambil kotak itu!” perintah Siti Asiyah.

Si dayang bergegas memungut kotak kayu itu. Betapa terkejutnya ia ketika melihat ada seorang bayi laki-laki yang mungil di dalam kotak itu. “Tuanku! Ada seorang bayi di dalam kotak ini!” teriak si dayang sambil bergegas menuju tuannya. “Bayi siapa ini sebenarnya?” Siti Asiyah terdiam beberapa saat. Ia mengarahkan pandangannya ke sekitar sungai, mencari tahu apakah ada orang lain di sana yang telah menghanyutkan bayi itu. Permaisuri Raja Fir’aun itu kemudian memutuskan untuk membawa Musa ke istana.

Ia akan merawatnya dengan sepenuh hati. “Kasihan sekali bayi ini. Ah, lebih baik aku merawatnya di istana,” ucapnya. Siti Asiyah pun merawat Musa seperti anaknya sendiri. Ia amat menyayangi Musa. Permaisuri Fir’aun itu merasa sangat beruntung dan bahagia bisa membesarkan Musa.

Apalagi, ia juga belum dikaruniai seorang anak. Di istana Fir’aun itulah, Musa tumbuh. Tapi, meskipun hidup di istana Fir’aun, Musa sama sekali tak terpengaruh oleh kemewahan istana. Perilaku dan watak Musa sangat berbeda dengan sifat Fir’aun. Allah SWT telah menjaga Musa, dan membuat Musa memiliki sifat yang mulia.

Itu karena Musa ditakdirkan menjadi nabi, dan dengan sifat terpujinya, ia akan berdakwah kepada Fir’aun. Perang Tanding dengan Dukun Sakti Fir’aun Musa pun menjadi putra mahkota. Semua kemewahan istana bisa dia nikmati sepuasnya. Tapi, semakin beranjak dewasa Musa, semakin sadar ia dengan perilaku kejam ayah angkatnya itu.

Bagaimana tidak? Fir’aun selalu menindas rakyatnya yang tidak taat kepadanya. Bahkan, Fir’aun sangat tidak adil terhadap Bani Israil.

Ia menjadikan kaum itu sebagai budak dan memperlakukan mereka dengan sewenang-wenang. Musa yang akhirnya tahu bahwa dirinya adalah orang Bani Israil, merasa bimbang dan sedih. ia ingin melawan kezaliman Fir’aun terhadap Bani Israil. Tapi, selama ini pula Fir’aun telah merawat dan membesarkan dirinya dengan baik. “Haruskah aku membela Bani Israil dan menentang ayah angkatku sendiri?” batin Musa.

Tapi, Allah SWT telah menetapkan bahwa Musa adalah utusan-Nya yang akan menyelamatkan Bani Israil. Allah SWT pun mengangkat Musa sebagai nabi dan rasul untuk berdakwah. Musa ditugaskan untuk mengingatkan Fir’aun akan kezalimannya dan mengajak Fir’aun kembali ke jalan yang benar. Namun, Musa merasa lidahnya kelu dan tidak lancar berbicara ketika berhadapan dengan ayah angkatnya itu. Harun, saudaranya, lebih fasih berbicara.

Oleh karena itu, Nabi Musa a.s. meminta kepada Allah SWT agar Harun menjadi pendampingnya yang akan menemaninya berdakwah kepada Fir’aun. Mereka berdua pun pergi bersama-sama menghadap Fir’aun. “Apa?! Berani-beraninya kalian mengingatkanku!

Tidak tahukah kalian bahwa aku ini Tuhan kalian?!” bentak Fir’aun yang sangat murka. “Tidak!” jawab Musa dengan tegas. “Allah adalah Tuhan yang sebenarnya! Allah pemilik langit dan bumi. Allah adalah Tuhanmu, Tuhanku, dan Tuhan semesta alam. Kepada-Nya kita semua harus menyembah!” Mendengar jawaban Nabi Musa a.s. tersebut, Fir’aun semakin marah. Fir’aun kemudian menantang Musa untuk adu kesaktian melawan para penyihir sakti andalannya. “Pertandingan itu akan menunjukkan bahwa kamu hanyalah pembohong besar, Musa!

Orang-orangku pasti akan dengan mudah mengalahkanmu!” kata Fir’aun dengan penuh percaya diri. “Baiklah, kupenuhi tantangan itu!” jawab Musa. Hari adu kesaktian tiba. Arena pertandingan tampak begitu ramai. Banyak orang ingin melihat langsung peristiwa yang tidak biasa itu.

Mereka ingin membuktikan, apakah Musa benar utusan Allah dan bisa mengalahkan para penyihir Fir’aun. Suasana sangat tegang saat pertandingan dimulai. Sebagian besar penonton berlari menjauhi lapangan ketika tali-tali yang dilemparkan tukang sihir Fir’aun berubah menjadi ular-ular berbisa yang ganas.

Ular-ular itu menggeliat-geliat seolah ingin memangsa apa pun yang ada di sekitarnya. “Hai, Musa! Ayo, tunjukkan kesaktianmu!” ejek para penyihir Fir’aun. “Kulihat engkau begitu ketakutan dan gemetar melihat ular-ular kami ini! Hahaha!” Musa tak bisa mengelak bahwa ia memang merasa ketakutan. Dalam kekhawatirannya itu, Allah SWT memerintahkan Musa untuk melemparkan tongkatnya ke tengah lapangan. Para penyihir Fir’aun, Raja Fir’aun sendiri, dan seluruh penonton di lapangan seketika terbelalak.

Mereka merasa takjub sekaligus tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. “Wah!” Sebagian penonton merasa takjub. “Hih!” Yang lain merasa ngeri, ketakutan dengan apa yang mereka lihat. Ternyata tongkat Musa berubah menjadi ular raksasa. Ular itu dengan lahap menelan semua ular-ular penyihir Fir’aun, tanpa tersisa seekor pun. Cerita Kisah Nabi Musa as dan Firaun Singkat Melihat hal itu, para riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu Fir’aun langsung bersujud di kaki Musa.

Mereka mengaku kalah. Mereka juga mengakui bahwa Musa adalah nabi dan rasul utusan Allah SWT. Para penyihir itu pun menyatakan keimanannya kepada Allah SWT di hadapan Musa. “Kami beriman kepada Tuhanmu, hai Musa!” ucap mereka. Allah SWT berfirman, “Lalu para pesihir itu merunduk bersujud, seraya berkata, `Kami telah percaya (beriman) kepada Tuhannya Harun dan Musa.”‘ (Q5- Thaahaa [20]: 70) Berbeda dengan Raja Fir’aun, ia tak bisa menerima kekalahan itu.

Ia justru menjadi semakin murka begitu mengetahui para penyihirnya sendiri malah mengkhianatinya dan menjadi pengikut setia Musa.

“Mereka semua sungguh tak tahu diri! Tak tahu diuntung!” gerutu Fir’aun. Raja Mesir yang zalim itu kemudian memerintahkan prajuritnya untuk menangkap para penyihir itu. “Tangkap mereka dan bawa ke hadapanku!” seru Fir’aun. Para penyihir Fir’aun itu pun tertangkap. Fir’aun menghukum mereka dan menyiksa mereka hingga meninggal di hadapan banyak orang.

Meskipun demikian, sebagian besar orang sadar bahwa Fir’aun memang hanyalah manusia biasa dan bukan Tuhan yang harus disembah. Semakin banyak orang pula yang menjadi pengikut Musa, “Musa adalah dari doa-doa kita selama ini,” bisik orang-orang Bani Israil satu sama lain. “Dia dikirim oleh Tuhan untuk membebaskan kita dari perbudakan Fir’aun yang kejam itu!” Orang-orang Bani Israil rnenaruh harapan yang sangat besar terhadap Musa.

Mereka berharap Musa dapat mengakhiri penderitaan mereka. Nabi Musa dikejar Firaun Sejak kekalahan yang menyakitkan itu, kemarahan Fir’aun semakin menjadi-jadi.

Di berbagai tempat, terlihat prajurit Fir’aun menyiksa orang-orang Bani Israil secara kejam. Untuk kesalahan kecil saja, orang-orang Bani Israil itu bisa tewas di senjata para prajurit Fir’aun. “Musa, sampai kapankah kiranya kami mengalami penyiksaan dan penindasan ini?” adu Bani Israil kepada Musa.

“Tidak bisakah engkau menyelamatkan kami dan mengakhiri semua penderitaan kami di negeri ini?” Musa pun sebenarnya masih bingung. Melawan Fir’aun dengan kekuatan prajuritnya yang luar biasa bukanlah hal yang mudah, bahkan bisa dianggap mustahil.

Hingga kemudian, Musa mendapat perintah dari Allah SWT untuk membawa seluruh Bani Israil pergi dari Mesir menuju tanah Kan’an. Kan’an adalah asal leluhur Bani Israel yang berada di sebelah timur Mesir. Rencana besar itu pun disampaikan secara sembunyi-sernbunyi di antara orang-orang Bani Israil. “Ssst, jangan keras-keras!” kata seseorang kepada temannya sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. “Ini rencana yang sangat rahasia, jangan sampai bocor dan ketahuan Fir’aun. Ingat, prajurit dan mata-mata Fir’aun ada di mana-mana!” “Betul!” Temannya mengangguk mengiyakan.

riwayat nabi musa hidup di masa raja yang mengaku dirinya sebagai tuhan yaitu rencana ini ketahuan, tentu kita semua akan menjadi budak abadi Saat yang ditunggu pun tiba.

Harun, membawa lebih dari setengah juta orang Bani Israil keluar dari Mesir. Setengah juta manusia bukanlah.jumlah yang kecil. Tentu kepergian orang sebanyak itu akan dengan mudah diketahui oleh Fir’aun dan bala tentaranya. “Kita harus kejar mereka dan mengembalikan mereka ke Mesir! Tangkap mereka!” perintah Fir’aun kepada seluruh prajuritnya dengan tegas dan penuh kemarahan. Tentu saja, sangat rnudah bagi Fir’aun dan bala tentaranya untuk menyusul Musa dan Bani Israil.

Kuda-kuda yang mereka tunggangi lari dengan begitu kencang. “Musa! Fir’aun dan bala tentaranya berhasil menyusul kita!” teriak orang-orang Bani Israil, ketakutan. “Lihatlah di belakang sana, begitu banyak jumlah mereka! Akankah hidup kita berakhir di tepi Laut Merah ini? Atau kita akan dibawa ke Mesir dan kembali menjadi budak disana. Saat itu, Musa dan orang-orang Bani Israil berada di tepi Laut Merah, laut yang memisahkan daratan Afrika dan Asia.

Mereka terjebak karena di depan mereka laut, sementara di belakang mereka dari kejauhan terlihat Fir’aun dan bala tentaranya. Kisah Nabi Musa Membelah Laut Merah Musa bingung, tak ada pilihan lain selain rnenyeberangi lautan itu. Tapi, apakah itu mungkin? Bagaimana mereka bisa menyeberang, sedangkan laut sedang pasang? Musa lalu berdoa, memohon pertolongan kepada Allah SWT. Oleh Allah SWT, Musa diperintahkan memukulkan tongkatnya ke lautan.

Musa pun melaksanakan perintah Allah tersebut. Dengan seketika, Laut Merah terbelah menjadi dua. Terbentuklah jalan di antara kedua lautan itu. Musa dan orang-orang Bani Israil pun segera melintasi jalan tersebut. “Ayooo! Cepaaaaaat!” teriak mereka, saling memberi semangat satu sama lain agar mempercepat langkah. Fir’aun dan bala tentaranya juga ikut melintasi jalan itu. Ketika Bani Israil telah berhasil menyeberang ke daratan, Laut Merah kembali seperti semula.

Jalanan yang baru mereka lewati itu pun tertutup. “Tolooong! Tolooong!” teriak pasukan Fir’aun yang masih berada di Laut Merah. Gelombang besar lautan dengan cepat menggulung mereka. Fir’aun dan pasukannya pun mati tenggelam di dasar laut itu. Allah SWT telah mengakhiri kekejaman dan kezaliman Fir’aun di muka bumi. Namun, Allah SWT mengabadikan jasad Fir’aun dan membuatnya tidak rusak sebagai pelajaran untuk seluruh manusia, termasuk untuk kita.

Allah SWT berfirman, “Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.” (Q.S.

Yunus [10]: 92) Pesan moral dari rangkuman kisah nabi Musa as ini adalah kezaliman dan kesombongan itu akan musnah, dan Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu. Baca juga kisan nabi lainnya yaitu • Cerita Kisah Nabi Yusuf Lengkap dengan Kisah Cinta dan Mukjizatnya • Cerita Anak Soleh : Sejarah Asal Mula Keajaiban Air Zamzam • Cerpen Islami Kisah Keteladanan Nabi Ibrahim as dan Mukjizatnya • Cerpen Kisah Nabi Saleh as Singkat, Kaum Tsamud dan Mukjizatnya • Yuk Kita Baca Kisah Nabi Nuh a.s.

Lengkap untuk Kita Ambil Hikmahnya • Kisah Cerita Nabi Adam dan Siti Hawa Lengkap • Dongeng Rakyat Ramadhan : Kura-Kura dan Kelinci • Cerita Anak Ramadhan : Balas Budi Semut Kepada Merpati • Cerita Anak Muslim : Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun • Cerita Anak Muslim : Mukjizat dan Kisah Nabi Sulaiman • Dongeng Anak Islami Cerita Kisah Nabi Daud AS • Cerita Pendek Anak Islami : Nabi Ibrahim dan Putranya • Cerita Anak Islami – Kisah Nabi Yunus AS • Sejarah Cerita Kisah Nabi Yusuf AS dan Mukjizatnya • Cerita Kisah Nabi Yaqub AS – Cerita Anak Muslim • Dongeng Islami Untuk Anak : Kisah Nabi Ishaq AS • Cerita Anak Muslim – Kisah Nabi Ayub AS • Kumpulan Cerita Anak Islami : Kisah Nabi Zulkifli AS • Cerita Kisah Nabi Ismail AS – Dongeng Anak Muslim • Cerita Anak Pendek : Kisah Nabi Syu’aib AS • Cerita Kisah Nabi Luth AS – Dongeng Anak Islam • Sejarah Mukjizat Cerita Kisah Nabi Ibrahim AS • Cerita Kisah Nabi Saleh AS – Dongeng Anak Islami • Sejarah Kisah Nabi Hud AS – Cerita Anak Islami • Mukjizat dan Kisah Nabi Nuh AS : Cerita Anak Muslim • Cerita Anak Muslim : Kisah Nabi Idris AS • Kisah Nabi Adam AS Dan Siti Hawa • Cerita Anak Islami : Kisah Nabi Idris • Cerita Anak Islami : Kisah Nabi Yahya

AL-QUR'AN SAMPAIKAN SEBAGAI PELAJARAN




2022 www.videocon.com