Berani jujur pecat

berani jujur pecat

Sabtu, 29 Mei 2021 Faktakini.info *KPK, BERANI JUJUR ITU DIPECAT ?* Oleh : *Ahmad Khozinudin* Sastrawan Politik Rezim Jokowi memang sedang menunjukkan puncak ketidakmampuan mengelola kekuasaan. Kasus KPK, berani jujur pecat dikatakan klimaksnya. Saat Presiden Jokowi berusaha menyelamatkan muka, ikut mengomentari pemecatan 75 pegawai KPK berdalih tak lolos TWK, ternyata jajaran dibawahnya tidak mempedulikan.

BKN bersama Menpan RB dan pimpinan KPK tetap 'mengesekusi' 51 pegawai KPK. Sudah berkurang memang, tetapi orang-orang yang dikenal publik memiliki reputasi dan dedikasi, ikut barisan pegawai yang dieksekusi. Sejumlah nama yang dikenal komitmen memberantas korupsi termasuk Novel Baswedan ikut tamat riwayatnya.

Sejumlah pegawai KPK mengeluh, pada acara talk show bersama Najwa Shihab, mereka mengenakan kaos bertuliskan 'Berani Jujur Itu Pecat !'. Satu ungkapan satir yang merepresentasikan kondisi yang dialami KPK. Beda KPK beda dengan ormas Islam, namun narasinya seragam. Saat ingin membungkam Ormas Islam, rezim mengedarkan narasi radikalisme, terorisme, anti NKRI dan anti Pancasila.

Adapun KPK, isunya disusupi Taliban. Konfirmasi rezim yang anti Islam dan menganut islamophobia. Bagaimana mungkin ada pertanyaan TWK yang membandingkan Pancasila dengan al Qur'an ? Etikanya dimana, mempertanyakan hasyrat seorang wanita ? Dan apa hubungannya, jilbab dengan kesetiaan pada bangsa berani jujur pecat Negara ? Jokowi telah menunjukkan betapa sempurnanya ketidakmampuannya mengelola pemerintahan. Jokowi, terbukti tidak diindahkan, dan boleh jadi pembelaan Jokowi kepada 75 pegawai KPK hanya lips service saja.

Kenyataannya, ide 'membunuh' KPK melalui perubahan UU KPK berasal dari Presiden. Presiden juga ogah keluarkan Perppu untuk menganulir keberlakuan UU KPK perubahan. Penulis setuju dengan manuver yang dilakukan sejumlah pegawai KPK, perang terbuka saja. Soal bocoran Harun Masiku, juga meneguhkan boroknya rezim Jokowi dan keberpihakannya kepada koruptor.

Harun Masiku juga akan membuka keterlibatan PDIP melalui Hasto Kristianto. Rasanya, demi masa depan bangsa Indonesia harus banyak yang siap untuk 'Jihad Fi Sabilillah' termasuk yang berani jujur pecat KPK. Di kementerian dan sektor lain, juga wajib berani buka suara. Kalau semua bungkam, apa tanggung jawab kita kelak pada generasi masa depan Indonesia ? Mulanya KPK dilemahkan, koruptor BLBI dibebaskan, hingga pegawai KPK diamputasi.

Sempurna sudah, jalan menuju surga korupsi bagi bangsa Indonesia. Sekarang saatnya semua bersuara.

berani jujur pecat

Kalau dulu HTI dan FPI ada hambatan untuk bersuara, penulis kira untuk urusan KPK ini tidak boleh ada yang ambil posisi diam. Negeri ini, bukan untuk koruptor tapi untuk masa depan generasi setelahnya. Kalau tidak kita, siapa lagi ? kalau tidak sekarang, kapan lagi ? Kalau kita memilih diam pada kezaliman yang berani jujur pecat hari ini, lalu apa yang akan kita katakan pada generasi setelahnya ?

[]. ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTAAktivis Greenpeace menembakan sinar laser yang bertuliskan #BeraniJujurPecat saat menggelar aksi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (28/6/2021). Aksi tersebut menyuarakan keadilan bagi 51 pegawai KPK yang dinonaktifkan akibat dinyatakan tidak lulus Tes Wawasan Kebangsaan, juga menyampaikan pesan untuk menyelamatkan lembaga anti korupsi dari cengkraman oligarki. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.

JAKARTA, KOMPAS.com - Slogan Berani Jujur, Pecat! terpampang di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK), Jakarta Selatan, pada Senin (28/6/2021) malam. Tulisan itu berasal dari tembakan laser berwarna merah menyala. Ada pula slogan Mosi Tidak Percaya dan Save KPK. Pesan ini merupakan bagian dari aksi Greenpeace Indonesia dalam merespons berbagai isu terkait pemberantasan korupsi, mulai dari pemecatan 51 pegawai dalam polemik tes wawasan berani jujur pecat (TWK) hingga upaya pelemahan KPK.

Baca juga: Gedung Merah Putih Ditembak Laser Berani Jujur Pecat!, Ini Respons KPK Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri mengapresiasi seluruh pihak yang senantiasa mendukung pemberantasan korupsi di Indonesia. Termasuk, kritik yang disampaikan melalui aksi tersebut. Ali mengatakan, jujur dan delapan nilai antikorupsi lainnya merupakan sikap dasar yang harus ditanamkan dengan sungguh-sungguh agar tidak terjerumus dalam praktik korupsi.

"Masyarakat tentu masih ingat dengan sembilan nilai antikorupsi, bukan? Jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil," kata Ali dalam keterangan tertulis, Selasa (29/6/2021). "Jadi mengenai jargon Berani Jujur Pecat, kami rasa yang tepat Berani Jujur Hebat," ucap Ali. Kendati demikian, kata Ali, KPK sangat menyadari bahwa setiap kelompok masyarakat punya perannya masing-masing untuk ikut mendukung pemberantasan korupsi.

"Oleh karenanya, KPK tak pernah bosan-bosan terus mengajak masyarakat melalui jargon-jargon antikorupsi, diantaranya Berani Jujur Hebat," ucap Ali. Baca juga: Sambil Bawa Keranda, Mahasiswa Mataram Tolak Kedatangan Pimpinan KPK Dikutip dari Tribunnews,com, Juru bicara #BersihkanIndonesia Greenpeace Indonesia, Asep Komaruddin mengatakan, melalui tulisan-tulisan tersebut masyarakat ingin menyuarakan kritik terhadap kebijakan dan kinerja KPK.
Sudah lama aku tak melihatnya di kantor.

Petang itu, ia datang ke rumahku dengan kondisi yang tampak segar. Aku tak bisa langsung menemaninya duduk karena harus salat magrib. Biasanya aku tidak salat magrib atau salat-salat yang lain.

Petang itu, aku merasa harus salat … setidaknya untuk mengulur waktu. Aku belum siap berhadapan dengannya. “Itu juga lukisan?” tanyanya memandangi Nothing karya Jackson Martin yang kupajang di dinding. Aku tersenyum. “Memang apa lagi?” “Kelihatan konyol,” “Aku habis beberapa miliar buat yang itu,” “Oh, maaf,” Aku mengangguk. “Santai, nggak semua orang harus paham lukisan, kan?” Dia tersenyum masam dan meminum kopi yang kusiapkan.

Keningnya berkerut saat menyeruput kopi yang kemungkinan besar rasanya tak karuan itu. Kerutan di keningnya membuatku menyadari, dia mulai tua. Ia rekan kerja sekaligus sahabatku. Sudah 15 tahun kami bekerja menangkap tikus berdasi. Sebulan lalu, ia dinonaktifkan. Aku sendiri menyayangkan, penyidik hebat seperti dirinya dipaksa untuk tidak berani jujur pecat apa-apa. Itulah akibatnya karena ia terlalu bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya selama ini. Ia pasti masih bekerja, andai ia sepertiku—penyidik yang patuh pada Pimpinan dan hanya sesekali menangkap koruptor kecil untuk segera dilepaskan lagi.

“Kau … nggak mau ke kantor lagi?” tanyaku hati-hati. Dia menggeleng. “Kalau ke sana pun, mau ngapain?” “Apa saja, balas WhatsApp, email, ngopi, makan siang ….” Dia tertawa. “Kemarin, gajiku masih turun seperti biasanya, dengan jumlah yang biasanya juga. Hah … padahal aku pengin dipecat saja,” “Terus, istrimu?” “Dia sependapat.

berani jujur pecat

Katanya, lebih baik dipecat daripada jadi penyidik jinak.” Aku tertegun. “Oh, maaf, aku nggak bermaksud menyinggung,” katanya. Aku tersenyum. Ah, senyumku pasti kelihatan canggung.

“Gimana kalau kau … mengundurkan diri?” saranku kemudian. “ Nggak sesederhana itu. Status nonaktif ini … penghinaan buatku. Kalau aku mengundurkan diri, artinya mereka berhasil menyingkirkan aku, tanpa mengotori tangan mereka sedikit pun.” Aku tertawa.

Dia sangat lucu dan cerdik. “Jadi, apa rencanamu?” tanyaku. “Pertama-tama ….” dia memandang sekeliling, “mendapat hadiah perpisahan darimu. Lukisan juga boleh,” “Hadiah perpisahan?” “Ya. Kalau aku benar-benar dipecat nanti, kita nggak akan ketemu lagi,” “Kau ini ngomong apa? Kita masih bisa saling mampir, seperti kau ke sini sekarang. Bikin janji di luar juga ayo,” “Sayang sekali … kalau benar-benar dipecat, aku bakal pindah ke luar kota.” “Kenapa?” “Kota ini nggak aman buat anak-istriku,” “ Nggak aman?” “Kemarin anakku sempat hilang.

Dia nggak ada waktu aku dan istriku datang ke sekolah buat menjemputnya. Kami panik. Kami bahkan ngamuk ke guru-gurunya. Waktu kami kembali ke rumah, anakku justru sudah duduk di beranda. Anakku bilang, ada orang yang berani jujur pecat dari sekolah.

Orang itu berani jujur pecat sebagai temanku di kantor.” “Anakmu mau dijemput orang lain? Kau nggak mengajarkannya soal begituan?” “Sudah berkali-kali aku mengajarkannya. Mungkin masuk kuping kanan, keluar kuping kiri,” Aku menghela napas. “Kejadian itu … tamparan keras buatku.

Aku tahu, aku lagi diperingatkan. Cih, mereka mengejekku pakai cara yang licik!” lanjutnya. “Kau yakin itu ada hubungannya sama tempat kerja kita?” “ Yah, kalau bukan, apalagi? Buat apa anakku diantar ke rumah, alih-alih diculik? Sudah jelas itu dalam rangka mengejekku.

Di dunia ini, siapa lagi yang punya alasan buat melakukan itu?” Aku mengangguk-angguk. “Jadi karena itu, kau mantap mau pindah ke luar kota?” Dia terdiam agak lama. Hal itu benar-benar membuatku merasa canggung. “Ya. Aku ke sini … mau memberitahumu. Tolong sampaikan ke mereka, pecat saja aku dan nggak perlu melakukan hal-hal konyol lagi.” katanya kemudian.

berani jujur pecat

Aku mengernyit. “Mereka?” “Pimpinan kita, dan semua komplotanmu di kantor.” “Kau gila?” “Aku tahu, kau sendiri yang merekomendasikan biar aku disingkirkan.” Aku menelan ludah. “Dan juga, anakku ingat persis ciri-ciri orang yang menjemputnya tempo hari. Itu kau.” Sesudah menelanjangi kebusukanku, dia berdiri dan berjalan ke arah pintu. Namun, lukisan Nothing menghentikan langkahnya yang angkuh. “Penyidik biasa nggak akan mampu mengoleksi lukisan-lukisan mahal, kan?” Sialan, aku menyesal memajang lukisan pemberian Pimpinan berani jujur pecat sana.

Penyunting: Agilia An’amta Komentar Terbaru • Zotero pada Proyeksi Bunuh Diri: Terapi Minor dan Hip Hop-nya yang Puitis • Furqon pada Proyeksi Bunuh Diri: Terapi Minor dan Hip Hop-nya yang Puitis • Zarathrusta pada Proyeksi Bunuh Diri: Terapi Minor dan Hip Hop-nya yang Puitis • Decleyre (2) pada Proyeksi Bunuh Diri: Terapi Minor dan Hip Hop-nya yang Puitis • Decleyre pada Proyeksi Bunuh Diri: Terapi Minor dan Hip Hop-nya yang Puitis Tag detikEduSabtu, 02 Okt 2021 12:30 WIB Mengapa Kita Harus Memiliki Sifat Jujur?

Berikut 8 Hikmahnya Penyebab mengapa kita harus memiliki sifat jujur telah dijelaskan dalam Al Quran. Allah SWT telah memerintahkan tiap umat selalu berbuat dan bertindak jujur. detikNewsJumat, 17 Sep 2021 berani jujur pecat WIB Keberanian Dalam Islam Disebut Syaja'ah: Penjelasan dan Haditsnya Lengkap Keberanian dalam Islam disebut syaja'ah yang memiliki tiga bentuk.

berani jujur pecat

Keberanian bagi seorang muslim telah dijelaskan dalam Al Quran dan hadits. detikNewsSabtu, 24 Jul 2021 08:43 WIB KPK Polisikan Tembakan Laser, PPP Minta Tiru Cara Jokowi Respons Kritik KPK melaporkan tindakan penembakan laser bertulisan 'Berani Jujur Pecat' ke polisi. PPP menilai KPK perlu mencontoh Presiden Jokowi dalam menanggapi kritik. detikNewsKamis, 22 Jul 2021 18:13 WIB Gedungnya Ditembaki Laser, KPK: Tak Bisa Dimaknai Kebebasan Berpendapat KPK mengaku menilai karena penembakan laser itu tidak sesuai aturan, KPK menganggap tak bisa memaknainya sebagai kebebasan berpendapat.

detikNewsKamis, 22 Jul 2021 13:42 WIB KPK Polisikan Tindakan Laser 'Berani Jujur Pecat', Greenpeace: Berlebihan! KPK yang melaporkan penembakan laser 'Berani Jujur Pecat' di gedung KPK beberapa waktu lalu.

Greenpeace Indonesia merasa tindakan KPK itu berlebihan. detikNewsKamis, 22 Jul 2021 11:16 WIB KPK Laporkan Tembakan Laser 'Berani Jujur Pecat', MAKI: Ini Langkah Mundur! MAKI mengkritik KPK usai melaporkan aksi tembakan laser 'berani jujur pecat' ke polisi.

MAKI menilai laporan KPK sebagai suatu kemunduran. detikNewsSenin, 19 Jul 2021 20:31 WIB Buntut Gedung Dilaser 'Berani Jujur Pecat', KPK Lapor ke Polisi Gedung Merah Putih KPK ditembaki laser 'Berani Jujur Pecat' beberapa waktu lalu. KPK pun tak tinggal diam dan melaporkan tindakan itu ke Polres Metro Jaksel. detikNewsSelasa, 29 Jun 2021 08:37 WIB Gedung KPK Ditembak Laser, KPK: Yang Tepat 'Berani Jujur Hebat' Gedung Merah Berani jujur pecat KPK ditembaki laser untuk menyuarakan kritik ke KPK dengan tulisan 'Berani Jujur Pecat' semalam.

KPK merasa jargon tersebut tidak tepat. detikNewsSenin, 28 Jun 2021 19:55 WIB Gedung KPK Ditembak Laser 'Berani Jujur Pecat', Ada Apa?

Gedung Merah Putih KPK ditembaki laser yang menyuarakan kritik ke KPK. Salah satu kritik yang dilontarkan melalui tembakan laser itu, 'Berani Jujur Pecat'.

detikNewsKamis, 13 Mei 2021 10:18 WIB Novel Baswedan: Berani jujur pecat Pemberantasan Korupsi Negeri Ini #BeraniJujurPecat Novel Baswedan menyampaikan kekecewaan itu dengan ikut memplesetkan slogan KPK #BeraniJujurHebat menjadi #BeraniJujurPecat.
Jakarta - Gedung Merah Putih KPK ditembaki laser yang menyuarakan kritik ke KPK. Salah satu kritik yang dilontarkan melalui tembakan laser itu adalah 'Berani Jujur Pecat'.

Pantauan detikcom, tampak gedung KPK yang terletak di Jalan Persada Kuningan, Jakarta Selatan, itu disorot laser dengan tulisan berwarna hijau dan merah pada Senin (26/8/2021) malam. Laser itu terlihat membentuk tulisan 'Save KPK', 'Mosi Tidak Percaya', dan lainnya. "Upaya pelemahan KPK ini akan semakin memperburuk integritas KPK sebagai lembaga antikorupsi berani jujur pecat negeri ini," ujar Asep.

Selain itu, Asep mengatakan upaya pelemahan itu juga berdampak pada kerusakan lingkungan karena ada celah korupsi. Tindakan korupsi itu adalah soal perizinan pada perusahaan dalam membuka lahan. "Tidak hanya itu, kerusakan lingkungan khususnya yang berkaitan dengan alih fungsi lahan akan semakin menjadi-jadi, karena salah satu celah korupsi adalah saat kepala daerah memberikan atau memperpanjang izin kepada perusahaan untuk membuka lahan, ini merupakan bagian dari praktik state capture corruption," ujarnya.

Lebih lanjut, Asep juga menyinggung soal polemik TWK yang menyingkirkan penyidik-penyidik KPK yang dinilainya terbaik. Hal itu menunjukkan bahwa integritas KPK berkurang. "Penyingkiran penyidik-penyidik terbaik KPK ini membuktikan bahwa KPK telah digerogoti dari dalam, menggunakan stigma radikalisme yang sesungguhnya hanya dibuat-buat untuk menyingkirkan mereka yang berintegritas," katanya.

Sebelumnya, aksi juga digelar di depan gedung KPK Merah Putih, Jakarta Selatan, siang tadi. Aksi itu digelar secara teatrikal dengan menampilkan karakter Thanos sebagai simbol penghancur KPK.

Baca juga: UI: Postingan BEM Soal Jokowi 'The King of Lip Service' Langgar Aturan Juru bicara dari aksi #BersihkanIndonesia asal Greenpeace Indonesia, Asep Komarudin, mengatakan KPK saat ini sedang dalam upaya pelemahan semenjak era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Asep mengatakan gejala itu dia bisa amati sejak revisi UU KPK disahkan, begitu pun sejak diangkatnya Firli Bahuri sebagai Ketua KPK. "Upaya pelemahan KPK ini, akan semakin memperburuk integritas KPK sebagai lembaga antikorupsi di negeri ini.

Tidak hanya itu, kerusakan lingkungan khususnya yang berkaitan dengan alih fungsi lahan akan semakin menjadi-jadi, karena salah satu celah korupsi adalah saat kepala daerah memberikan atau memperpanjang izin kepada perusahaan untuk membuka lahan, ini merupakan bagian dari praktik state capture corruption," kata Asep kepada wartawan, Senin (28/6).

(mae/mae)
Oleh Zulfata Diakui atau tidak, kejujuran belum dijadikan kekuatan dalam menyelenggarakan negara, apakah itu dari sisi eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

berani jujur pecat

Kejujuran lebih condong dijadikan urusan keimanan masing-masing manusia, belum menjadi sebuah praksis atau agenda birokrasi untuk memperkuat negeri. Munculnya kesadaran untuk cari berani jujur pecat lebih menguat dari pada bersuara jujur di setiap instansi pekerjaan.

Pandangan untuk tidak ingin mengganggu urusan kekuasaan lebih baik dari pada memperjuangkan nasib hajat hidup orang banyak. Kita seakan-akan menyongsong ke arah berkehidupan plural egosisme, bermoderasi dengan egoism. Prinsip hidup berakhir menjadi bermanfaat untuk diri sendiri.

Memperdulikan nasib banyak orang adalah sesuatu yang dijalani meskipun tak ingin diakui. Memilih jujur yang kemudian dianggap membuat onar, tukang kompor, tidak sopan, tidak beretika, tidak sesuai keinginan pimpinan atau harus ikut selera tuan masih menjadi faktor penyelamat seseorang dalam bekerja. Praktik saya ikut asal tuan senang kemudian menjadi sebuah komando instansi, yang seharusnya berpegang kepada kebenaran dan kejujuran berubah secara otomatis untuk menyenangkan tuan atau para tuan-tuan.

Lantas untuk apa kita menganggarkan proyek penelitian sosial humaniora di negeri ini untuk menciptakan sebuah solusi, padahal masalahnya ada di diri kita sendiri, birokrasi kita sendiri.

Malu-malu untuk membuka diri bahwa kita takut jujur demi sesuap nasi, serta kenyamanan hidup pribadi atau mitra diri. Dalam bekerja, atau mengabdikan diri kepada negara, tak perduli dengan prestasi pembongkaran kebusukan politisi korup. Upaya melakukan pemberantasan korupsi mudah terjebak stigma, diciptakan ranjau atas nama seleksi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pencegahan radikalisme pada suatu instansi. Sungguh unik bin aneh cara untuk melumpuhkan kekuatan pemberantasan korupsi pada waktu yang tidak dapat disebutkan itu.

Tebang pilih pemberantasan korupsi telah menjadi rahasia publik dengan melumpuhkan kekuatan para mereka yang telah jujur dalam memberantas korupsi.

berani jujur pecat

Karier pemberantasan mereka berakhir dengan pemecatan akibat tidak dianggap lulus Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Tak peduli dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dalam pelaksanaan seleksi tersebut, tak peduli seberapa besar kasus yang dapat dibongkar ketika tidak ada pemecatan penyidik tersebut.

Yang jelas pecat karena mereka tak taat perintah tuan, stigma Taliban dipaksa tempelkan pada mereka meskipun ada yang mengaku di antara mereka berani jujur pecat berkehidupan “saliban” penuh damai dalam keberagaman. Menjelang pemecatan tersebut, disambut pula sebuah wacana bahwa pihak kepolisian bersedia untuk menerima lebih dari lima puluh anggota yang dipecat dari instansi anti rasuah, wacana tersebut menjadi suatu yang semakin aneh, mengapa yang tak lulus TWK dapat menjadi bagian dari ASN sebagai bagian dari kepolisian, atau apakah ini sebuah permainan wacana yang dimaikan oleh elite negara?

Sungguh kita sebagai rakyat kecil hanya bisa menulis dengan hati-hati, kelewatan bicara dapat ditanggap dengan berbagai tuduhan yang didasari kepastian hukum. Kondisi sedemikian secara perlahan-lahan kekuatan kejujuran ditekan, semangat drama atau sandiwara elite melebar dari panggung pidato kenegaraan hingga visi dan misi kampanye politik saat ingin memikat suara publik.

Publik dibutuhkan khusus di waktu pesta demokrasi, di waktu itu, praktik sogok-menyogok melibatkan publik, transaksi yang kemudian disebut money politic sudah menjadi sesuatu berani jujur pecat lumrah dalam berpolitik. Politik menjadi padat modal, bukan meniscayakan kejujuran. Pesta demokrasi mempersatukan kerjasama antara calon pemimpin dengan rakyat untuk sama-sama tidak jujur dalam memilih, untuk sama-sama tidak jujur dalam memberantas kepura-puraan menjalani tanggung jawab bernegara.

Peran negara yang seharusnya mampu menjamin warganya agar terhindar dari praktik penimpuan atau ketidakjujuran, justru negara terseok-seok dengan praktik ketidakjujuran itu sendiri. Sehingga kiblat penyelenggaraan yang dibangun penuh dengan ketulusan dan kejujuran para pendiri bangsa berubah menjadi praktik bersandiwara dari kita untuk kita, yang kemudian berubah menjadi konsep demokrasi ketidakjujuran yang berprinsip dari ketidakjujuran kita untuk ketidakjujuran dalam memperjuangkan cita-cita bangsa.

Hadirnya tulisan ini bukan untuk sebuah tuduhan, dan bukan pula ingin menggiring bahwa negara yang bernama Indonesia kental dengan ketidakjujuran yang massif. Hanya saja tulisan ini hadir untuk sebuah kontemplasi sembari menikmati kopi dengan sebongkah ubi kayu yang direbus di pagi hari. Bagi yang membaca tulisan ini tidak mesti memaksakan kehendak bahwa kejujuran harus menjadi panglima dalam menyelenggarakan negara, cukup menjadikan kejujuran sebagai tema-tema pidato atau ceramah-ceramah religi.

Jika terus-terusan memaksa agar kejujuran bernegara atau dalam kehidupan birokrasi harus ditegakkan, maka akan banyak para penyelenggara negara akan kehilangan pekerjaannya, akan banyak yang di ancam, akan banyak berani jujur pecat dianggap Taliban, teroris, radikal dan mudah dikaitkan dengan perkara hukum.

Kondisi ini menjadikan budaya birokrasi untuk menikmati ketidakjujuran bernegara. Sikap pasrah pada penguasa telah menjadi pilihan akhir. Masyarakat yang telah dewasa benar-benar tidak menginginkan kejujuran itu menjadi cahaya dalam menjalani aktivitas bernegara atau memperkuat masyarakat.

Kejujuran diperkuat untuk mendidik generasi selanjutnya, pendidikan karakter terus-terusan disuguhkan kepada mereka (anak/remaja), demikian pula kekuatan moralitas disadarkan pada mereka.

Tetapi, setelah mereka dewasa, nasehat untuk jangan terlalu jujur dalam bekerja adalah sebuah jalan selamat dalam bekerja, tidak perlu meluruskan kekuasaan adalah sesuatu yang efektif dari pada menyusahkan diri, sanak dan keluarga karena diteror penguasa. Perjuangan untuk menegakkan kebenaran berubah menjadi memperjuangkan diri sendiri, perjuangan sanak dan keluarga.

Penulis tidak mengetahui secara pasti, apakah siklus kehidupan yang disinggung dalam tulisan ini adalah keniscayaan hidup sebagai manusia masa kini, atau dampak dari kondisi kemanusiaan hari ini yang semakin terlanjur nyaman dengan kehidupan untuk tidak jujur. Ketika kejujuran dilemahkan, seiring itu pula kemunafikan meraja-lela dengan berbagai diksi yang menutupinya. Misalnya berani jujur pecat terus dijalankan meski di dalamnya adanya praktik sokong menyokong dari praksis ketidakadilan, demikian pula taat pada atasan adalah sebuah kewajiban bagi bawahan mesti praksis ketidakjujuran terus diperkuat di dalamnya.

Kondisi sedemikian secara tidak langsung menjadikan ketidakjujuran yang sejatinya menjadi etos kerja atau etos pengabdian telah benar-benar runtuh, berserak di pinggir-pinggir jalan dan di sapu bersih oleh tukang sapu jalan.

Oleh karena itu jangan heran ketika kita melihat tukang sapu jalan jauh lebih jujur dari pada tukang bicara di parlemen atau di istana. Kemudian kondisi sedemikian juga menandakan ketidakjujuran telah terorganisir dalam bentuk birokrasi, telah membentuk budaya kerja baru yang disebut budaya korupsi karena tuntutan pekerjaan yang memaksa kita harus korupsi secara elite. Korupsi dalam dunia birokrasi tanpa disadari telah menjalar hampir ke semua level birokrasi, mulai dari pemerintahan pusat, hingga ke pemerintahan desa.

Kita sebagai rakyat biasa tak perlu heran dengan situasi dan kondisi itu, sebab jika kita terlalu berkata jujur, maka kita akan dianggap sok suci, polos, tidak mampu menyesuaikan untuk hidup dalam dunia birokrasi modern. Stigma sedemikian terus menjadi pandangan hidup dalam dunia kerja pemerintahan, bahkan menguat dalam perbincangan masyarakat. Sehingga berani jujur pecat adalah sebuah yang kita saksikan dan rayakan hari ini. Seperti inikah kedaulatan rakyat dan kedaulatan negara yang diinginkan Undang-Undang Dasar 1945?

Mungkin lambaian ombak saat menghempaskan diri di bibir pantai cukup paham untuk menjawabnya. Penulis adalah direktur Sekolah Kita Menulis (SKM)Pelaksana tugas juru bicara KPK, Ali Fikri, mengatakan setiap bagian masyarakat memiliki peran masing-masing dalam mendukung pemberantasan korupsi.

"Mengenai jargon Berani Jujur Pecat, kami rasa yang tepat adalah Berani Jujur Hebat," kata pelaksana tugas juru bicara KPK Ali Fikri melalui keterangan tertulis pada Selasa, 29 Juni 2021. Sindiran Berani Jujur Pecat ini dilontarkan sebagai wujud dukungan terhadap 75 pegawai KPK yang tak lolos tes wawasan kebangsaan ( TWK).

Tes yang merupakan syarat alih status pegawai menjadi ASN ini diduga sudah diakali untuk menyasar beberapa pegawai saja. Baca juga: Akal Busuk TWK, Firli Bahuri Diduga Incar 21 Pegawai KPK
KEMPALAN: Bayi sungsang adalah bayi yang lahir terbalik. Harusnya kepala keluar dulu dalam persalinan, tapi yang keluar malah kaki dulu. Bayi sungsang menyulitkan persalinan, dan bisa mengakibatkan risiko kematian sang ibu. Untuk menyelamatkan sang ibu dari kematian akibat kelahiran sungsang harus dilakukan operasi bedah.

Fenomena bayi sungsang cukup banyak terjadi. Tapi yang lebih banyak terjadi sekarang ini adalah fenomena politisi sungsang, politisi yang mencla-mencle, isuk dele sore tempe (pagi kedele sore jadi tempe). Belum lama mendukung satu calon dalam pilpres, tapi tidak lama kemudian balik kanan mendukung calon presiden lainnya. Dalam pilpres sebelumnya mendukung Prabowo, tapi dalam pilpres berikutnya mendukung Jokowi dan menjelek-jelekkan Prabowo.

Itulah politisi sungsang. Dalam pilpres menjadi pembela Prabowo tapi setelah pilpres royokan masuk kabinet Jokowi dengan alasan demi persatuan bangsa. Itulah manuver politik sungsang. Ada juga istilah otak sungsang yang beberapa waktu belakangan ini sering dipakai oleh staf ahli KSP (Kepala Staf Kepresidenan) Ali Mochtar Ngabalin untuk menyebut orang-orang yang mengkritik kebijakan pemerintah. Paling tidak ada dua orang yang oleh Ngabalin disebut sebagai otak sungsang.

Satunya K.H Anwar Abbas, wakil ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia), dan satunya lagi Busyro Muqoddas, mantan ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang sekarang menjadi Ketua PP Muhammadiyah bidang hukum dan HAM. Anwar Abbas mengritik Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang dianggap lelet menangani kasus penistaan agama oleh Jozeph Paul Zhang yang mengaku sebagai nabi ke-26.

Anwar Abbas tidak yakin Listyo akan menindak Zhang karena Listyo beragama Kristen. Ngabalin ngamuk atas kritik Anwar Abbas ini dan menyebut Anwar sebagai pak tua berotak berani jujur pecat. Sampai sekarang sudah sebulan buron Paul Zhang belum tertangkap. Kita tunggu siapa yang berotak sungsang, Ngabalin atau Kiai Anwar Abbas.

Ngabalin juga menyerang Busyro Muqoddas dengan sebutan otak sungsang. Busyro mengritik keras pelemahan KPK dengan penonaktifan 75 penyidik senior KPK yang dikomandani oleh Novel Baswedan dan Harun Al Rasyid. Menurut Busyro pemecatan Novel dan kawan-kawan ini laksana paku pada peti mati KPK. Busyro menyimpukan, di tangan Jokowi KPK tamat. Ngabalin yang berang menyerang Busyro dengan menyebutnya berotak sungsang. Montase logo KPK “Berani Jujur Pecat” Perlawanan terhadap pelemahan KPK dilakukan dengan berbagai cara.

Ada upaya perlawanan yang serius seperti yang dilakukan Busyro, tapi ada juga yang terkesan slengekan, tapi juga tetap serius. Salah satunya adalah memplesetkan tagline ‘’Berani Jujur Hebat’’ menjadi ‘’Berani Jujur Pecat’’.

Tagline Berani Jujur Pecat ini menjadi trending topik yang dicuitkan ribuan kali oleh warganet yang kecewa terhadap penonaktifan 75 penyidik dan karyawan KPK melalui tes wawasan kebangsaan yang dinilai dipenuhi jebakan dan ada rekayasa. Penonaktifan itu dianggap sebagai paku terakhir yang ditancapkan ke peti mati yang menandai matinya KPK sebagai ghost busters pemburu kasus-kasus hantu korupsi di Indonesia.

Motto ‘’Berani Jujur Hebat’’ sudah menjadi semboyan yang sangat identik dengan KPK. Tagline itu sudah dipakai sejak 2011 sejak KPK digawangi oleh Abraham Samad dan Bambang Widjojanto.

Tagline itu menempel di gedung KPK di Kuningan dan menjadi trade mark khas lembaga anti rasuah itu. Beberapa hari belakangan tagline itu diedit dan diganti menjadi ‘’Berani Jujur Pecat’’ dan ditempelkan secara virtual di gedung KPK.

Novel Baswedan, penyidik senior yang menjadi salah satu korban penonaktifan mencuitkan tagline pecat itu di akun twitternya yang kemudian menjadi trending topik nasional. Bahkan di tengah jepitan dua hari besar nasional, Idul Fitri dan Kebangkitan Isa Almasih, tanda pagar pecat itu masih menjadi perhatian besar para warganet yang kecewa terhadap KPK. Tagar Berani Jujur Hebat dibuat oleh KPK sebagai sebuah kampanye budaya yang digencarkan ke berbagai kota bersar di seluruh Indonesia.

Salah satu tujuannya adalah mengampanyekan budaya jujur yang selama ini dianggap masih lemah di Indonesia. Budaya jujur dengan sendirinya akan membuat seseorang menahan diri dari melakukan korupsi. Karena itu, alih-alih membuat pesan langsung seperti misalnya ‘’Tidak Korupsi Hebat’’ KPK memakai logika sungsang dengan membalik message-nya menjadi ‘’Berani Jujur Hebat’’.

Dalam tradisi ilmu mantiq atau ilmu logika ada teknik pemahaman terhadap teks yang disebut sebagai ‘’mafhum mukholafah’’ atau pemahaman terbalik.

Sesuatu pesan dipahami melalui pernyataan yang berseberangan. Berani jujur hebat berarti mafhum mukholafahnya ‘’berani korupsi brengsek’’. Untuk berlaku jujur dan bertindak korup sama-sama butuh keberanian nyali, karena itu KPK lebih mendorong orang untuk memakai keberanian untuk berlaku jujur daripada berlaku berani jujur pecat. Pada Pemilu 2009, Partai Demokrat menampilkan diri sebagai partai anti-korupsi melalui iklan media yang sangat gencar dengan tagline ‘’Katakan Tidak pada Korupsi’’.

Tagline itu menjadi sangat terkenal di kalangan publik karena selain message-nya jelas dan tegas para bintang iklannya juga dianggap sangat kredibel dan berpenampilan menarik. Angelina Sondakh, Putri Indonesia 2001 adalah salah satu daya utama karena cantik dan cerdas.

Ada juga Eddy Baskoro Yudhoyono, putra Presiden SBY, ada Anas Urbaningrum, politisi muda yang disebut-sebut sebagai the next leader, ada Andi Mallarangeng yang muda, ganteng, pintar, dan kemudian menjadi menteri pemuda dan olahraga.

berani jujur pecat

Ada juga politisi muda Demokrat M. Nazarudin yang menjabat bendahara umum partai. Siapa yang sungsang; Ngabalin bersama Jokowi Semua berkata lantang, “Tidak!”. Pada iklan itu, Anas menggerakkan kedua tangannya seolah menangkis “rayuan” korupsi.

berani jujur pecat

Kata-kata dalam iklan itu pun cukup lugas, “Gelengkan kepala dan katakan ‘Tidak’. Abaikan rayuannya dan katakan ‘Tidak'”. Yang terjadi kemudian benar-benar sungsang alias terbalik. Hampir semua bintang iklan itu terlibat berani jujur pecat dan diangkap KPK dan dipenjarakan.

Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng, Nazaruddin, semuanya terbukti melakukan korupsi proyek pembangunan berani jujur pecat olahraga Hambalang. Bahkan Eddy Baskoro Yudhoyono pun disebut-sebut namanya dalam kasus itu. Beruntung Ibas selamat. Pengamat politik J.B Kristiadi jengkel terhadap Partai Demokrat yang membuat blunder logika sungsang kampanye antikorupsi. Ia mengusulkan supaya Partai Demokrat melakukan tobat nasional lalu memasang iklan besar-besaran dengan mengganti tagline ‘’Katakan Tidak pada Korupsi’’ menjadi tagline baru ‘’Katakan Tobat pada Korupsi’’.

Plesetan lucu tapi mengena seperti ini sekarang coba diulangi lagi pada jargon KPK ‘’Berani Jujur Pecat’’. Banyak yang prihatin dan menganggap Berani jujur pecat sudah benar-benar terbalik menjadi komisi pendukung korupsi. Busyro Muqoddas dengan tegas mengatakan KPK sudah mendekati ajal dengan pemecatan Novel Baswedan dan kawan-kawan. Yang terjadi di KPK sekarang benar-benar sungsang alias terbalik-balik, karena Novel dan kawan-kawan yang terkenal jujur dan berintegritas justru dicoret dari kepegawaian KPK setelah dinyatakan tidak lulus tes wawasan kebangsaan.

Di era Jokowi sekarang KPK tamat, kata Busyro. Ali Mochtar Ngabalin dengan berang menuduh Busyro Berani jujur pecat berotak sungsang dengan pernyataannya itu. Ngabalin menganggap apa yang dilakukan Busyro mencederai Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah yang fokus pada gerakan sosial dan pendidikan. Busyro Muqoddas, kata Ngabalin, tidak pantas menjadi ketua PP Muhammadiyah, dan lebih pantas menjadi ketua LSM atau ketua partai politik. Rupanya, bagi Ngabalin, setiap orang yang kritis terhadap kebijakan pemerintah dianggap berotak sungsang.

Istilah sungsang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti posisi yang terbalik, atas menjadi bawah dan bawah menjadi atas, dalam Bahasa Inggris disebut upside down. Atau bisa juga terbalik dalam memakai baju, dalam menjadi luar dan luar menjadi dalam. Dalam Bahasa Inggris disebut inside out. Sungsang juga dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang terbalik, yang depan menjadi belakang, dan yang belakang menjadi depan. Seharusnya yang normal adalah kepala keluar duluan dalam persalinan bayi.

Tapi yang keluar ternyata kaki duluan. Itulah bayi sungsang. Urusan pelemahan KPK ini adalah masalah nasional yang sangat serius. Seharunya orang nomor satu di Republik ini muncul dan hadir di depan untuk mengambil tanggung jawab. Tapi ternyata pemimpin itu hanya bersembunyi, dan yang muncul di depan adalah kaki tangannya.

Mungkin berani jujur pecat salah satu indikasi pemimpin sungsang. (*)
• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Bacaan  Sabtu, 16  Oktober 2021 Luk 12:8 Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah.

9 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. 10 Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. 11 Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu.

12 Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan." Renungan Iwan Ismail, pegawai pengamanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengirim surat terbuka. Iwan menerangkan kronologi penemuan bendera simbol organisasi Hizbut Tahrir Indonesias (HTI) saat patroli di lantai 10 Gedung Merah Putih KPK pada Februari 2019.

Slogan Berani Jujur Hebat menjadi Berani Jujur Pecat ia rasakan karena penemuan bendera itu berujung pemecatan. "Selama ini saya diam dan menerima keputusan tanpa ada keadilan, biarkan Allah SWT yang membalas, karena Allah SWT yang maha memberi rezeki," ucapnya di surat terbuka tertanggal 29 September 2021 lalu.(lih. Kompas.com) Bacaan Injil hari ini menarasikan konsistentsi dan  konsekuensi keberanian murid-murid Yesus di tengah-tengah situasi konfrontasi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dengan Yesus Sang Rabi, yang makin menjadi-jadi.

Yesus mengingatkan untuk tetap berani setia bertahan sebagai pengikut-NYa meski begitu berat penderitaan yang didapat. Tetap mau dan berani menanggung akibat pilihan sebagai pengikut-Nya meski begitu banyak ongkos harga yang berani jujur pecat dibayarnya.

 Murid-murid-Nya yang tidak gentar, tidak takut, bukan pengecut, tidak menyangkal, tidak meninggalkan jalan kebenaran-Ny, pada saat-Nya, di hari penghakiman, pengakuan imannya diakui oleh-Nya.

berani jujur pecat

Mereka memperoleh penghiburan dan kemuliaan kekal. Penderitaan yang dialami sebagai pengikut-Nya, efektif menghadirkan Kerajaan-Nya. Berubah jadi kesaksian dan kehormatan, mereka hidup sukacita karena keluar sebagai pemenang. Namun tidak semua murid-Nya demikian adanya. Akan  terdapat  murid-murid-Nya yang  gagal dan berhenti mengikuti-Nya. Ada yang tidak siap dan tidak tahan dengan aneka penderitaan, kesukaran. Dikucilkan, dikejar-kejar, dibulli, dipersekusi, didiskriminasi, ditangkap, dipenjara, dianiaya, dan dibunuh karena nama Yesus, adalah camilan kudapan mengerikan.

Kerapuhan, hanya mengandalkan diri sendiri menghantar murid-murid-Nya meninggalkan Allah dan Yesus. Mereka gagal berani jujur pecat Allah sebagai andalan hidup. Kesempatan bersaksi di tengah salib kehidupan disia-siakan. Mereka memilih menyangkal Kristus dan berkhianat. Pada saat penghakiman, pilihan eksistensial ini berbalik menghakimi dirinya sendiri.

 Mereka mendapati diri tercampak dari persatuan dengan Allah, Yesus dan Roh Kudus. Akhir hidup yang tragis.

berani jujur pecat

Mereka mengenali potret diri sebagai pecundang, Dari masa ke masa, dipelbagai tempat, akan selalu terjadi penolakan melawan Yesus Anak Manusia. Dengan beraneka cara dan cerita akan ada suara sumbang yang menggosipkan asal-usul-Nya; mereka-reka kehadiran-Nya sebagai hasil persetubuhan Maria dengan Allah, bahkan dengan tentara Roma; sesatlah menuhankan manusia, menggantungkan diri pada makhluk yang digantung pada tiang gantungan; anehlah Tuhan kok lahir, Tuhan menyusu, Tuhan porno, bercelana kolor, Â cawetan, nyaris telanjang.

Siapapun yang tidak mengenal Yesus, namun berbicara tentang-Nya sebagai Anak Manusia dengan penuh kebencian, merendahkan, melecehkan dan menghina, masih  ada pengampunan.  Akan tetapi, siapapun setelah pencurahan Roh Kudus, dengan keji mengeraskan hati menentang Yesus dan kristianitas, ia menghujat Roh Kudus,  kehilangan kesempatan  anugerah pengampunan dosa. Siapapun yang  tidak dapat diyakinkan oleh pengikut-Nya, namun berani jujur pecat masih mempunyai harapan.

berani jujur pecat

Namun setelah mengenal-Nya dalam Roh, kemudian menghujat-Nya, akan kehilangan segala hidup berpengharapan. Untuk dapat bersaksi, para murid-Nya  diperlengkapi dengan memadai. Agar mereka tetap mengikuti-Nya, memikul salib kristianitasnya dan melaluinya dengan cara terhormat, penuh kemuliaan.

 Menjadi martir, setia kepada Kristus pertama-tama bukanlah mengalami penderitaan-Nya, melainkan  kesaksian, pengakuan iman, penyelamatan.

berani jujur pecat

Dalam ketidakberdayaan  mereka menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah, "Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu.

 Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan." Dalam kesukaran dan penderitaan, Yesus memberikan jaminan kepastian. Jangan bingung memusingkan diri dengan pembelaan. Roh Kudus, Roh Hikmat, akan mengajar apa yang harus dikatakan, dan bagaimana mengatakannya, sehingga nama Allah semakin berani jujur pecat.

Pada saat-Nya yang selau tepat dan tak terduga, Allah Yesus dan Roh Kudus turun tangan, terlibat ikut campur tangan membebaskan. Penyelenggaraan-Nya luar biasa dahsyat.

Maukah seperti Iwan Ismail konsisten dan konsekuen dengan prinsip kehidupan Berani Jujur Hebat meski pengalaman mengajarkan Berani Jujur Dipecat? Maukah seperti Iwan Ismail mengembalikan segalanya kepada Allah yang maha memberi rezeki?

Maukah  memintakan berkat bagi siapapun yang menjahati kristianitasnya? Mampukah mengulang doa-Nya di tiang gantungan  "Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa berani jujur pecat mereka perbuat!", Mampukah tetap bersyukur, bersukacita, bersemangat meski tiada hari tanpa  "diiyik-iyik", dianiaya karena kristianitas?

Mau jadi pemenang ataukah pecundang dalam kristianitas?

KPK Polisikan Aksi Sorot Laser ‘Berani Jujur Pecat’




2022 www.videocon.com