Gotong royong sesuai dengan sila ke

gotong royong sesuai dengan sila ke

Seorang gotong royong sesuai dengan sila ke menunjukan bibit tembakau saat bergotong royong menanam tembakau dengan cara "tonjo" di lahan pertanian Bendosari, Sawit, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (24/5/2021). Memasuki musim tembakau, masyarakat setempat dengan kearifan lokal melakukan gotong royong menanam tembakau dengan cara "tonjo" atau bersama-sama membuat lubang satu per satu untuk menanam bibit tembakau.

Salah satu pilar dalam Pancasila adalah gotong royong yang menjadi karakteristik orang Indonesia. Hal itu sesuai dengan sila ketiga dalam Pancasila yaitu, persatuan Indonesia. Perilaku gotong royong atau saling membantu sudah ada dan dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak zaman dahulu.

Gotong royong adalah suatu kepribadian bangsa serta budaya yang sudah melekat dan berakar di dalam kehidupan masyarakat. Penjelasan Singkat Tentang Gotong Royong Sebagaimana yang telah ditulis dalam paragraf sebelumnya bahwa gotong royong merupakan salah satu asas dalam Pancasila.

Secara makna gotong royong adalah sebuah kegiatan yang dilaksanakan secara bersama-sama dan memiliki sifat sukarela. Supaya kegiatan yang dilakukan bisa berjalan dengan lancar, ringan, dan juga mudah.

Salah satu contoh yang bisa dilakukan secara gotong royong adalah pembangunan fasilitas yang bisa digunakan oleh masyarakat secara luas, membersihkan lingkungan desa, hingga kerja bakti. Oleh karenanya, perilaku yang dilakukan oleh masyarakat dalam bergotong royong akan membuat pekerjaan menjadi lebih mudah dan juga cepat diselesaikan serta lebih lancar dan maju.

Tidak hanya itu saja, dengan adanya kesadaran semua lapisan masyarakat dalam menerapkan sikap gotong royong, maka akan tercipta hubungan persaudaran yang semakin erat. Zaman yang semakin berkembang, ada beragam nilai budaya yang masuk dan menjadi satu bagian di dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Selain itu, kehidupan masyarakat sedikit demi sedikit mulai berubah. Dari ekonomi agraris menuju ke ekonomi industri. Pada era saat ini, ekonomi industri sudah lebih berkembang dan maju. Oleh karena itu, banyak tatanan kehidupan yang didasarkan pada pertimbangan ekonomi. Sehingga banyak orang yang memiliki sifat materialistis dan nilai gotong royong yang dulu sangat melekat kini sudah mulai pudar.

Definisi Gotong Royong Menurut Kamus dan Para Ahli 1. Definisi KBBI Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gotong royong adalah kerjasama atau tolong menolong, dan saling membantu diantara anggota atau suatu komunitas. 2. Definisi Menurut Pudjiwati Sakjoyo Menurut Pudjiwati Sakjoyo yang dia tulis dalam buku Sosiologi Pedesaan, bahwa gotong royong adalah adat istiadat tolong menolong antara orang-orang yang ada di berbagai macam lapangan kegiatan sosial.

Baik itu berdasarkan hubungan tetangga, kekerabatan, dan berdasarkan efisien yang bersifat praktis serta ada juga kegiatan kerjasama gotong royong sesuai dengan sila ke lain. 3. Definisi Koentjaraningrat Menurut Koentjaraningrat yang dia tulis dalam bukunya yang berjudul Pengantar Antropologi bahwa gotong royong adalah bentuk kerjasama, dimana seseorang dikatakan beriman jika ia telah mencintai saudaranya sama seperti ia mencintai dirinya sendiri.

Manfaat Gotong Royong Ada beragam manfaat yang bisa diraih apabila menerapkan sikap gotong royong dalam kehidupan sehari-hari: 1. Membangun rasa jalinan solidaritas di dalam lingkungan masyarakat 2.

Menciptakan lingkungan di sekitar kita bisa terlihat lebih bersih, nyaman, serta indah. 3. Menciptakan rasa kedamaian serta hidup tentram di dalam iklim masyarakat akan lebih terasa, sebab semua warga sudah mengenal satu sama lain. 4. Sikap gotong royong tidak mengenal perbedaan. Sehingga saat akan dilakukan, semuanya terasa sama.

5. Menjalin rasa ukhuwah bersama tetangga sehingga saling mengenal tetangga yang lain, pejabat kenal dengan buruh, pedagang kenal dengan supir, yang kaya kenal dengan tetangga yang kurang mampu, dan lainnya. Aneka Ragam Gotong Royong Jenis-jenis gotong royong dibedakan menjadi beberapa hal sesuai dengan kadar pekerjaan yang dilakukan. Berikut beberapa jenis gotong royong: 1. Tanggap Bencana Jenis gotong royong yang pertama adalah tanggap bencana.

Kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat untuk bekerja sama dalam menghadapi sebuah bencana ataupun musibah. Tanggap bencana biasanya dimulai dari hal-hal kecil seperti peduli dengan masyarakat sekitar yang sedang merasa kesulitan, membantu sesama, dan lainnya. 2. Kerja Bakti Bentuk gotong royong yang kedua adalah kerja bakti. Aktivitas tersebut adalah sebuah wujud yang bisa meningkatkan rasa saling menolong antar sesama dan saling peduli. Umumnya kerja bakti akan dilaksanakan pada saat akan bersih-bersih lingkungan tempat tinggal atau saat ada acara 17 Agustus atau momen kebersamaan masyarakat lainnya.

Dengan adanya kerja bakti, kita akan lebih mengenal tetangga, RT/RW, gotong royong sesuai dengan sila ke warga sekitar di mana kita tinggal. Tentunya hal tersebut dapat menumbuhkan rasa saling peduli antar tetangga dan warga. 3. Panen Raya Ragam gotong berikutnya adalah panen raya.

Biasanya dilakukan saat terjadinya musim panen dengan skala yang cukup besar dari semua bidang pertanian. Biasanya, musim panen dilakukan setiap dua kali dalam setahun atau bergantung dengan pertaniannya. Pada saat musim panen, biasanya masyarakat akan gotong royong untuk membantu proses panen. Nantinya mereka akan membagikan sebagian hasil panen kepada orang-orang yang membantu. Jadi, hal tersebut tentu akan meningkatkan rasa peduli dan saling berbagi antar sesama.

Tujuan Gotong Royong Gotong royong adalah salah satu kegiatan yang memiliki tujuan yang diwujudkan dalam bentuk tindakan ataupun perilaku secara individu. Mereka akan bersatu untuk melakukan sebuah kegiatan secara bersama-sama demi kepentingan bersama tanpa mengharapkan imbalan atau balasan.

1. Persatuan Tujuan pertama dari gotong royong adalah persatuan yang tercipta dari adanya kegiatan gotong royong juga mampu melahirkan persatuan antar warga. Dengan adanya persatuan tersebut, masyarakat akan menjadi lebih dekat, kuat, serta mampu menghadapi permasalahan yang muncul di lingkungan tempat tinggal. 2. Kebersamaan Selanjutnya, tujuan dari gotong royong adalah akan cerminan akan kebersamaan yang diciptakan dalam lingkungan masyarakat.

Artinya, masyarakat secara sukarela dan bersama-sama membantu orang lain maupun untuk kepentingan umum yang dapat dimanfaatkan bersama. 3. Asas Tolong Menolong Tujuan dari gotong royong adalah menumbuhkan sikap saling membantu antar masyarakat.

Dimana orang-orang mau membantu dan menolong orang lain yang membutuhkan. Pertolongan merekalah yang nantinya akan memberi manfaat bagi orang lain dan juga diri sendiri. Demikian penjelasan singkat mengenai pengertian mengenai gotong royong yang menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Asas tersebut sudah menjadi bagian dalam Pancasila yang perlu dilestarikan pendidikan dan menyuarakan lebih banyak ke masyarakat mengenai asas gotong royong.

gotong royong sesuai dengan sila ke

• Wabah Hepatitis Akut Disebut Efek Vaksin Covid-19? Ini Penjelasan Ahli • Heboh BBM Air Nikuba, Ahli Sebut Sulit Proses Air Menjadi Energi • Elektabilitas Tiga Capres 2024 Makin Tinggi, Ini Harta Kekayaannya • Fakta Terkini Hepatitis Akut, Gejala hingga Dugaan Penyebabnya • Kasus Baru Covid-19 Mencapai 218 Orang, Ini Sebarannya none
Jakarta - Gotong royong termasuk sila ke berapa, sih?

Apakah detikers tahu jawabannya? Di dalam lima butir Pancasila terdapat nili-nilai yang terkandung, yaitu nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan.

gotong royong sesuai dengan sila ke

Dalam buku Dasar Negara karya Ronto, Pancasila diambil dari kata dalam bahasa Sansekerta yaitu panca dan sila. 'Panca' berarti lima dan syla berarti 'batu sendi'. Pancasila memiliki simbol yang diwakili oleh lambang bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng, serta padi dan kapas. Menurut buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan oleh Rahmanuddin Tomalili, nilai Pancasila adalah nilai-nilai yang hidup dalam realitas sosial, keagamaan, maupun adat kebudayaan bangsa Indonesia, dan bersifat universal.

Baca juga: Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Pancasila, Sila Pertama sampai Kelima Gotong royong sesuai dengan Pancasila ke berapa? Melansir dari laman Kemenkeu RI, gotong royong termasuk pengamalan nilai sila ke-5.

Sila kelima berbunyi Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sila ke-5 disimbolkan dengan padi dan kapas. Maknanya adalah kemakmuran dan kesejahteraan. Menurut Soekarno, gotong royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang disebut dengan satu karyo, satu gawe.

Bagaimana pengamalan sila ke-5? Pengamalan Pancasila ada 45 butir. Dilansir dari Kementerian Pertahanan RI, ini dia pengamalan sila kelima. 1.

gotong royong sesuai dengan sila ke

Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan 2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama 3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban 4. Menghormati hak orang lain 5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri 6.

Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain 7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah 8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum 9. Suka bekerja keras 10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama 11.

Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa gotong royong termasuk sila ke-5. Hal tersebut juga tertuang dalam butir pengamalan Pancasila. Gotong royong merupakan salah satu budaya yang ada di Indonesia dan salah satu bentuk pengamalan dari Pancasila. Pancasila terdiri dari lima sila yang menjadi pedoman masyarakat Indonesia dalam melakukan berbagai kegiatan sehari-hari.

Dalam lima butir Pancasila terkandung nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Tahukah Andagotong royong mencerminkan sila Pancasila yang ke berapa? Simak jawabannya berikut ini. Dikutip dari buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Ani Sri Rahayu) (2017: 19) nilai yang terkandung dalam sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia didasari oleh sila Ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, serta kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Dalam sila kelima tersebut terkandung nilai-nilai yang merupakan tujuan negara sebagai tujuan dalam hidup bersama.

gotong royong sesuai dengan sila ke

Maka dari itu, dalam sila kelima terkandung nilai keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan bersama (kehidupan sosial). Keadilan tersebut didasari dan dijiwai oleh hakikat keadilan kemanusiaan, yaitu keadilan dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lain, manusia dengan masyarakat, bangsa, dan negaranya, serta manusia dengan tuhannya.

Sila kelima disimbolkan dengan padi dan kapas. Maknanya adalah kemakmuran dan kesejahteraan. Sedangkan menurut Ir. Soekarno, gotong royong menggambarkan satu usahasatu amal, satu pekerjaan, yang disebut dengan satu karyo, satu gawe. Selain gotong royong ada beberapa perilaku yang merupakan contoh pengamalan dari sila kelima yaitu:
• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Gotong royong sesuai dengan sila ke • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Konten Terkait • Puasa Ramadan Mengajarkan Pentingnya Gotong Royong • Bukber, Wujud Hablum Minannas • Kelahiran dan Miskonsepsi Tafsir Sila Pertama Pancasila • Menggunakan Produk Lokal sebagai Wujud Cinta Tanah Air • Wujud Rasa Syukur Menyambut Ramadhan • Bersyukur Selalu sebagai Wujud Manusia Tangguh Pancasila adalah dasar negara Indonesia dan terdiri dari lima ideologi, yang telah menjadi standar hidup bangsa Indonesia.

Kelima ideologi tersebut adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam gotong royong sesuai dengan sila ke perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

gotong royong sesuai dengan sila ke

Kelima ideologi tersebut mengandung nilai- nilai luhur yang harus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu nilai luhur yang terkandung dalam sila kelima pancasila adalah gotong royong. Gotong royong adalah sikap saling membantu, bahu membahu, dan peduli sesama tanpa membedakan ras atau status sosial.

gotong royong sesuai dengan sila ke

Sikap gotong royong merupakan salah satu ciri bangsa Indonesia sejak zaman dahulu. Berikut ini adalah contoh penerapan nilai-nilai luhur Pancasila, gotong royong: 1) Ikut membantu orang tua mengerjakan pekerjaan rumah dengan menyapu lantai, mencuci piring dan membersihkan rumah.

gotong royong sesuai dengan sila ke

2) Tanpa memandang ras, agama atau status sosial, selalu saling membantu. 3) Berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat, dan jangan malas di sekolah atau di rumah. 4) Kerjakan kelompok dengan baik dan jangan hanya mengandalkan satu orang dalam kelompok. 5) Membantu korban bencana alam dengan menjadi sukarelawan, menyumbangkan barang dan uang, atau mengundang orang lain.

6) Membantu tetangga atau teman yang sedang kesusahan atau terkena musibah, 7) Selalu gunakan masker saat keluar rumah selama pandemi Covid-19 untuk membantu menghentikan penyebaran virus. 8) Bersama-sama menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan mendaur ulang.

9) Dengan mematuhi tata tertib lingkungan sekolah dan masyarakat, kita bersama-sama akan menegakkan hukum. 10) Ketika tetangga mengadakan acara penting seperti pernikahan, saling membantu di daerah tersebut. Biasanya wanita akan membantu memasak, sedangkan pria gotong royong sesuai dengan sila ke membantu membuat tenda dan dekorasi.
• Info Maritim • Daerah • Lifestyle • Industri Maritim • Pariwisata Maritim • Advertorial • Geladak • Jasa Maritim • Misteri Laut • Tokoh • Olahraga • Video • Galeri • Kolom • Redaksi • Tentang Kami • Visi dan Misi • Kebijakan Privasi • Pedoman Pemberitaan Media Siber • Standar Perlindungan Profesi Wartawan • Kode Etik Perilaku Sikap yang sesuai dengan sila kedua Pancasila, satu diantaranya adalah gotong royong.

Gotong royong adalah istilah asli Indonesia yang berarti bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu hasil yang didambakan. Gotong royong menjadi modal masyarakat Indonesia untuk mencapai cita-cita yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Makna Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah mengandung nilai suatu kesadaran sikap moral dan tingkah laku manusia yang didasarkan pada potensi budi nurani manusia dalam hubungan dengan norma-norma dan kebudayaan pada umumnya baik terhadap diri sendiri, terhadap sesama manusia maupun terhadap lingkungannya.

Nilai kemanusiaan yang adil mengandung suatu makna bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan beradab harus berkodrat adil. Hal ini mengandung suatu pengertian bahwa hakikat manusia harus adil dalam hubungan dengan diri sendiri, adil terhadap manusia lain, adil terhadap masyarakat bangsa dan negara, adil terhadap lingkungannya serta adil terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Berikut ini adalah 5 sikap yang sesuai dengan sila kedua Pancasila: Gotong royong Gotong royong adalah bentuk kerja-sama kelompok masyarakat untuk mencapai suatu hasil positif dari tujuan yang ingin dicapai secara mufakat dan musyawarah bersama.

Kerjasama muncul atas dorongan keinsyafan, kesadaran dan semangat untuk mengerjakan serta menanggung akibat dari suatu karya, terutama yang benar-benar, secara bersama-sama, serentak dan beramai-ramai, tanpa memikirkan dan mengutamakan keuntungan bagi dirinya sendiri, melainkan selalu untuk kebahagian bersama, seperti terkandung dalam istilah ‘Gotong.’ Didalam membagi hasil karyanya, masing-masing anggota mendapat dan menerima bagian-bagiannya sendiri-sendiri sesuai dengan tempat dan sifat sumbangan karyanya masing-masing, seperti tersimpul dalam istilah ‘Royong’.

Donor darah Donor darah, adalah tindakan pengambilan darah dengan volume tertentu melalui pembuluh darah. Darah kemudian diproses oleh Palang Merah Indonesia (PMI) untuk kemudian digunakan sebagai pengganti darah kepada orang yang membutuhkan. Dengan menjadi donor darah, langsung ke Palang Merah Indonesia atau melalui kegiatan sosial pengambilan darah maka akan membantu sesama yang membutuhkan sekaligus mengamalkan Pancasila dalam kehidupan nyata.

Siapa saja yang membutuhkan darah dari donor kita? Tambahan darah dibutuhkan pada saat terjadi perdarahan berat pasca operasi atau melahirkan, dirawat karena kecelakaan yang mengeluarkan banyak darah, kelainan ginjal karena lahir, dan lain sebagainya.

Mereka dapat meninggal jika kekurangan darah ditubuhnya. Juga penyandang talasemia mayor dan penderita hemofilia membutuhkan transfusi darah secara rutin. Selain itu, penyakit lain juga membutuhkan tambahan darah, misalnya demam berdarah akibat virus dengue (DBD). Aktivitas donor darah merupakan kewajiban setiap masyarakat sebagai wujud kepedulian terhadap orang lain. Baca Juga: Ikhlas dan Sukarela Merupakan Pengamalan Nilai Pancasila Tidak membeda-bedakan manusia berdasarkan suku, agama, warna kulit, tingkat ekonomi, maupun tingkat pendidikan Keberagaman ras, suku, agama dan golongan masyarakat di Indonesia merupakan hal alamiah bagi negara kepuluaan.

Gotong royong sesuai dengan sila ke negara kepulauan, perbedaan antar suku yang mendiami satu pulau dengan pulau lain atau berada di satu kawasan berbeda-beda budayanya.

Seluruh warga negara sudah seharusnya punya andil yang besar dalam mengetahui, mempelajari, dan mengembangkan persatuan bangsa yang memiliki komitmen terhadap semangat persatuan dalam konteks NKRI, serta tetap bergerak dalam koridor persatuan dan kesatuan melalui berbagai kegiatan yang membangun.

gotong royong sesuai dengan sila ke

Cara menghargai keragaman di masyarakat misalnya tidak menghina kebudayaan lain, merasa ikut memiliki, dan ikut melestarikan kebudayaan daerah yang hampir punah. Maka dari itu persatuan dan kesatuan sangat penting untuk mewujudkan cita-cita Negara yang tentunya harus berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila serta komitmen untuk menjadikan Negara yang maju, bermartabat dan berwibawa.

Dalam menerima keragaman suku bangsa dan budaya di masyarakat diperlukan sikap yang lapang dada, tulus ikhlas dan sikap rela menerima adanya perbedaan. Menyadari bahwa kita mempunyai hak dan kewajiban yang sama Agar setiap anggota masyarakat memperoleh hak dan kewajibannya, pemerintah berupaya untuk melindunginya bagi setiap anggota masyarakat. Upaya untuk melindungi hak-hak dan kewajiban masyarakat tersebut dilakukan dengan membuat undang-undang dan berbagai peraturan.

Lalu apakah hak dan kewajiban warga negara? Hak adalah sesuatu yang kita terima. Lalu apa yang dimaksud dengan hak warga masyarakat? Hak-hak warga masyarakat adalah hak-hak apa saja yang dimiliki sebagai anggota masyarakat. Sedangkan kewajiban adalah segala gotong royong sesuai dengan sila ke yang harus atau wajib dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab. Jadi, kewajiban warga negara adalah segala sesuatu yang wajib dilakukan dengan penuh tanggungjawab oleh warga masyarakat kepada negara.

Contoh kewajiban warga negara yang diatur dalam UUD Negara RI Tahun 1945 antara lain: 1. Kewajiban untuk menjunjung hukum dan pemerintahan (pasal 27 ayat 1). Artinya warga negara wajib mematuhi peraturan pemerintah seperti peraturan lalu lintas, membayar pajak, membayar iuran listrik, dan sebagainya.

2. Hak dan sekaligus kewajiban untuk ikut serta dalam pembelaan negara (pasal 27 ayat 3) 3. Kewajiban untuk mengikuti pendidikan dasar (pasal 31 ayat 2).

gotong royong sesuai dengan sila ke

Artinya setiap warga negara sekurang-kurangnya harus lulus pendidikan dasar. Hormat kepada bapak ibu guru Sekolah, sanggar-sanggar belajar atau PKBM terdiri dari warga yang berbeda-beda karakter, latar belakang sosial ekonomi, suku bangsa ataupun agama.

Saling menghormati diantara warga belajar, hormat dan patuh kepada guru merupakan salah satu bentuk kerukunan di satuan pendidikan. Semua warga belajar menghargai perbedaan pendapat dan pandangan dan selalu dapat bekerjasama.

Sejatinya, manusia merupakan makhluk sosial yang memang membutuhkan satu sama lainnya. Termasuk dalam hal menjalin keberagaman di Indonesia. Dengan membantu satu sama lainnya akan memberikan efek yang sangat besar. Terlebih, sesama masyarakat Indonesia memang seharusnya melakukan hal ini. Seperti saat terdapat musibah maka bisa membantu satu sama lainnya. Bersikaplah baik untuk tetap membantu lainnya. Jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk tidak membantu. Tetapi, tetap berikan gotong royong sesuai dengan sila ke yang memang bisa bermanfaat untuk digunakan.

Hal ini akan membuat pola kehidupan yang lebih baik.Informasi Damai • Qadha Ramadhan • Idul Fitri, Tradisi Halal Bihalal dan Ukhuwah Kebangsaan • Filosofi Ketupat: Sarana Penyucian diri dan Ideologi di Hari Raya Idul Gotong royong sesuai dengan sila ke • Idul Fitri dan Pentingnya Mempertahankan Khittah Anti-Kekerasan Pasca Ramadan • Lebaran; Kembali Ke Fitrah Manusia yang Anti-Kekerasan • Masihkah Ada Jejak Ramadan dalam Manusia Fitri? • Idul Fitri; Momentum Kemenangan Melawan Kebencian dan Kekerasan • Kembali Menjadi Fitrah: Suci dari Amarah, Kebencian, Permusuhan dan Kekerasan • Idul Fitri; Mereduksi Nalar Kekerasan, Menumbuhkan Fitrah Kemanusiaan • Zakat sebagai Energi Saling Berbagi, Bukan Saling Memusuhi • Aksiologi Zakat Fitrah untuk Solidaritas dan Kesatuan Umat • Totalitas Berpuasa dan Bagaimana Ramadan Membentuk Sikap Sosial • Ramadan: Kekuatan Moral untuk Saling Berbagi dan Menghapus Permusuhan • Dimensi Ramadan: Membentuk Kesalehan Spiritual dan Sosial • Zakat Fitrah, Kesalehan Sosial dan Urgensi Filantropi Islam • Filantropi: dari Deradikalisasi hingga Keberagamaan Inklusif • Menemukan Persaudaraan dalam Sedekah • Ramadhan: Saling Berbagi adalah Terapi dari Virus Kebencian!

• Sufisme Nusantara, Puasa, dan Tenggang Rasa • Bulan Suci: Filantropi Subur, Provokasi Kebencian Terkubur • Ramadan; Ghiroh Berbagi Menghapus Tabiat Memusuhi • Ramadan; Membangun Kepedulian Sebagai Terapi dari Sindrom Kebencian • Darurat NII : Kegagalan Memahami Pancasila dalam Relasi Agama dan Negara • NII dan Nasionalisme Populistik • Mimpi Negara Islam : Dari Pemberontakan, Teror Hingga Aktifitas Organisasi Politik • Kartini dan Spirit Perempuan Damai • 3 Dosa NII terhadap NKRI : Makar, Teror dan Cuci Otak Ideologi Generasi Muda • NII itu Gerakan Islam Politik Bukan Politik Islam • NII Bukan Hanya Musuh Negara, Tetapi Juga Musuh Agama!

• Menunggu Fatwa tentang Bahaya NII : Kenapa MUI Diam? • KH. Agus Salim, NII dan 3 Inspirasi Pencegahan Gerakan Anti Pancasila • Tiga Bahaya NII dan Pentingnya Regulasi untuk Memberantasnya • Pentingnya Regulasi Khusus dalam Memutus Ideologi Anti Pancasila dan NKRI • NII, Metamorfosis Terorisme, dan Mengapa Kita Perlu Memberangus Gerakan Anti-Pancasila • Darurat NII: Negara Tidak Boleh Kalah!

• Jejaring NII dan Urgensi Payung Hukum Mencegah Ideologi Anti-NKRI • Darurat NII; Antara Kerentanan Ideologi dan Lemahnya Regulasi • Ramadan dan Jumat Agung: Momen Suci Perkuat Toleransi • Menjaga Kesucian Ramadan; Perkuat Toleransi, Hapus Arogansi • Bulan Ramadan: Bulan Pengampunan dan Bulan Persaudaraan • Potret Sejarah Perdamaian di Bulan Ramadan • Panorama Toleransi di Bulan Suci : Tradisi Saling Melindungi • Jangan Kotori Ramadan dengan Kebencianmu!

• Ramadan, Aksi dan Darah yang Halal • Jadikan Ramadanmu; Energi Pemersatu dan Saling Berbagi • Menjaga Kesucian Ramadan dari Gerakan Anarkis-Destruktif • Tragedi 11 April dan Tiga Hal yang Merusak Sakralitas Ramadan • Menebar Mahabbah di Bulan Penuh Hikmah • Menemukan Toleransi di Bulan Suci • Merajut Sikap Toleransi dan Cinta-Kasih di Bulan Suci Artikel Utama • Qadha Ramadhan • Idul Fitri, Tradisi Halal Bihalal dan Ukhuwah Kebangsaan • Filosofi Ketupat: Sarana Penyucian diri dan Ideologi di Hari Raya Idul Fitri • Idul Fitri dan Pentingnya Mempertahankan Khittah Anti-Kekerasan Pasca Ramadan • Lebaran; Kembali Ke Fitrah Manusia yang Anti-Kekerasan Internalisasi terhadap makna Pancasila sesungguhnya berujung pada implementasi semangat gotong royong, apalagi dalam konteks sekarang, masa pandemi covid-19.

gotong royong sesuai dengan sila ke

Gotong royong sangat dibutuhkan untuk saling membantu, antara yang kaya dengan yang miskin, yang mampu dengan yang tidak mampu, yang berpunya dengan yang tidak berpunya. Persis seperti yang pernah disampaikan presiden pertama Indonesia, Soekarno, saat menyampaikan pidato 1 Juni 1945, yang diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila.

Dalam kesempatan itu, ia mengatakan, “Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong. Alangkah hebatnya! Negara gotong royong!”, ungkap Soekarno yang dihadiahi tepuk tangan oleh anggota sidang BPUPKI. Dalam kacamata Soekarno, gotong royong merupakan ruh dari Pancasila sebagai ideologi bangsa. Pancasila, yang berarti Lima Sila, kata Soekarno, jika diperas akan menjadi Tri Sila, yaitu socio-nationslime, socio-democratie, dan ketuhanan.

Dan dari Tri Sila itu, jika diperas lagi menjadi Eka Sila, yaitu Gotong Royong. Kerena sebagai bagian atau unsur dari sebuah ideologi Pancasila, menurut Soekarno, dalam ungkapannya pada pidato 1 Juni 1945, mengatakan, “Gotong royong adalah adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari ‘kekeluargaan’. Saudara-saudara!

Kekeluargaan adalah satu paham yang statis, tetapi gotong royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo, satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini bersama-sama! Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama.

Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kehilangan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah gotong royong!”. Saling membantu dan menghormati Dari pernyataan di atas, tampaklah bagaimana Pancasila dirumuskan berdasarkan semangat gotong royong yang dilandasi oleh nilai-niliai kemanusiaan. Artinya, jika kondisi sekarang, bangsa kita dan seluruh elemen masyarakat sedang menghadapi wabah covid-19, segala keluh-kesah, penderitaan yang dialami oleh sebagian masyarakat, maka dengan semangat gotong royong, diharapkan saling membantu satu sama lain.

Baca Juga : Menangkal Ancaman Terorisme di Masa Pandemi Gotong royong dalam konteks itu, dipahami sebagai perbuatan terpuji untuk saling membantu sesama di atas prinsip kemanusiaan, sesuai dengan Sila ke-2, Kemanusiaan Yang Gotong royong sesuai dengan sila ke dan Beradab. Dan terbukti, sebagaimana kita amati dan rasakan bersama, solidaritas masyarakat untuk korban covid-19 sejak awal hingga kini telah menunjukkan perilaku positif, saling membantu, berjiwa gotong royong.

Namun demikian, gotong royong tidak hanya bermakna saling membantu dan tolong menolong, tetapi juga gotong royong sesuai dengan sila ke dimensi lain, berkaitan dengan keharmonisan dan saling menghormati. Gotong royong yang bermakna saling menghormati ini dalam skala luas, baik perbedaan etnis, bahasa, maupun agama. Hal itu ditegaskan oleh Soekarno bahwa, “Prinsip gotong royong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan pranakan yang menjadi bangsa Indonesia”.

Dari sini, tampak jelas bagaimana semangat gotong royong telah ditanamkan sejak awal sebelum bangsa ini merdeka. Bahwa solidaritas, saling membantu, dan saling menghormati satu sama lain, tidak mengenal batas perbedaan primordial, seperti beda etnis, bahasa, dan agama.

Internalisasi terhadap semangat gotong royong dengan sendirinya akan mengantarkan setiap individu maupun kelompok masyarakat untuk saling berkontribusi demi kebaikan bersama.

gotong royong sesuai dengan sila ke

Pada akhirnya, jika semangat gotong royong semakin kuat dalam diri setiap warga, akan mengantarkan pula pada jiwa nasionalisme dan sekaligus patriotisme. Membantu dan menolong sesama, bukan semata-mata pangilan kemanusiaan dan agama, tetapi telah menjadi pandangan hidup bangsa.

gotong royong sesuai dengan sila ke

gotong-royong termasuk penerapan sila ke berapa?




2022 www.videocon.com