Amsal 1 ayat 7

amsal 1 ayat 7

Boks Temuan 7:1 Hai anakku, z berpeganglah pada perkataanku 1, dan simpanlah perintahku dalam hatimu. 7:2 Berpeganglah pada perintahku, dan engkau akan hidup; a simpanlah ajaranku seperti biji matamu. 7:3 Tambatkanlah semuanya itu pada jarimu, dan tulislah itu pada loh hatimu.

b 7:4 Katakanlah kepada hikmat: "Engkaulah saudaraku" dan sebutkanlah pengertian itu sanakmu, 7:5 supaya engkau dilindunginya terhadap perempuan jalang, terhadap perempuan asing, yang licin perkataannya. c 7:6 Karena ketika suatu waktu aku melihat-lihat, dari kisi-kisiku, dari jendela rumahku, 7:7 kulihat di antara yang tak berpengalaman, kudapati di antara anak-anak muda seorang teruna yang tidak berakal budi, d 7:8 yang menyeberang dekat sudut jalan, lalu melangkah menuju rumah perempuan semacam itu, 7:9 pada waktu senja, e pada petang hari, di malam yang gelap.

7:10 Maka datanglah menyongsong dia seorang perempuan, berpakaian sundal dengan amsal 1 ayat 7 licik; 7:11 cerewet f dan liat perempuan ini, kakinya tak dapat tenang di rumah, 7:12 sebentar ia di jalan dan sebentar di lapangan, dekat setiap tikungan ia menghadang. g 7:13 Lalu dipegangnyalah orang teruna h itu dan diciumnya, dengan muka tanpa malu berkatalah i ia kepadanya: 7:14 "Aku harus mempersembahkan korban keselamatan, j dan pada hari ini telah kubayar nazarku itu. 7:15 Itulah sebabnya aku keluar menyongsong engkau, untuk mencari engkau dan sekarang kudapatkan engkau.

amsal 1 ayat 7

7:16 Telah kubentangkan permadani di atas tempat tidurku, kain lenan beraneka warna dari Mesir. 7:17 Pembaringanku k telah kutaburi dengan mur, l gaharu dan kayu manis. 7:18 Marilah kita memuaskan berahi hingga pagi hari, dan bersama-sama menikmati asmara.

amsal 1 ayat 7

m 7:19 Karena suamiku tidak di rumah, ia sedang dalam perjalanan jauh, 7:20 sekantong uang dibawanya, ia baru pulang menjelang bulan purnama." amsal 1 ayat 7 Ia merayu orang muda itu dengan berbagai-bagai bujukan, dengan kelicinan bibir n ia menggodanya.

7:22 Maka tiba-tiba orang muda itu mengikuti dia seperti lembu yang dibawa ke pejagalan, dan seperti orang bodoh yang terbelenggu o untuk dihukum, 7:23 sampai anak panah menembus p hatinya; seperti burung dengan cepat menuju perangkap, dengan tidak sadar, bahwa hidupnya q terancam. 7:24 Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah r aku, perhatikanlah perkataan mulutku.

7:25 Janganlah hatimu membelok ke jalan-jalan perempuan itu, dan janganlah menyesatkan dirimu di jalan-jalannya. s 7:26 Karena banyaklah orang yang gugur ditewaskannya, sangat besarlah jumlah orang yang dibunuhnya.

7:27 Rumahnya adalah jalan ke dunia orang mati, yang menurun ke ruangan-ruangan maut. t [7:1] 1 Full Life : BERPEGANGLAH PADA PERKATAANKU. Nas : Ams 7:1-27 Sekali lagi Amsal memperingati terhadap kebejatan yang dilakukan atas nama kasih (ayat Ams 7:18), serta menekankan akibatnya yang merusak (ayat Ams 7:25-27; lihat cat. --> Ams 5:3; lihat cat. --> Ams 5:14; lihat cat. --> Ams 6:32-33). [atau ref.

amsal 1 ayat 7

Ams 5:3,14; Ams 6:32-33] Kedursilaan seksual dapat dielakkan • (1) dengan komitmen teguh kepada segala yang dinyatakan baik dan benar oleh Allah (ayat Ams 7:1-5), • (2) dengan tidak membiarkan pikiran kita membayangkan kesenangan penuh nafsu (ayat Ams 7:25), dan • (3) dengan mengetahui bahwa dosa ini mendatangkan kesusahan, penyesalan, dan kematian (ayat Ams 7:26-27). SABDAweb - Daftar Ayat "Sabda-Mu adalah pelita bagi langkahku, cahaya untuk menerangi jalanku." Mazmur 119:105 (BIS) Alkitab Daftar Ayat Temukan di Alkitab: Kata(-kata) Daftar Ayat Versi Alkitab Alkitab Terjemahan Baru Alkitab Kabar Baik (BIS) Firman Allah Yang Hidup Perjanjian Baru WBTC [draft] Alkitab Terjemahan Lama Kitab Suci Injil Alkitab Shellabear [draft] Alkitab Melayu Baba Alkitab Klinkert 1863 Alkitab Klinkert 1870 Alkitab Leydekker [draft] Alkitab Ende TB Interlinear [draft] TL Interlinear [draft] AV with Strong Numbers Bible in Basic English The Message Bible New King James Version Philips NT in Modern English Revised Webster Version God's Word Translation NET Bible [draft] NET Bible [draft] Lab BHS dengan Strongs Analytic Septuagint Interlinear Greek/Strong Westcott-Hort Greek Text Textus Receptus Pengantar Kitab Pengantar Full Life Pengantar BIS Pengantar FAYH Pengantar Ende Pengantar Jerusalem Pengantar Bible Pathway Intisari Alkitab Ajaran Utama Alkitab Garis Besar Full Life Garis Besar Ende Garis Besar Pemulihan Judul Perikop Full Life Judul Perikop BIS Judul Perikop TB Judul Perikop FAYH Judul Perikop Ende Judul Perikop KSI Judul Perikop WBTC Catatan Ayat Catatan Ayat Full Life Catatan Ayat BIS Catatan Ayat Ende Catatan Terjemahan Ende Catatan Ayat Jerusalem Referensi Silang TSK Referensi Silang Amsal 1 ayat 7 Referensi Silang BIS Santapan Harian Kamus Kamus Kompilasi Kamus Easton Kamus Pedoman Kamus Gering Peta Leksikon Leksikon Yunani Leksikon Ibrani Amsal 1:1-7 - Alkitab Terjemahan Baru halaman 1 dari 1 Lihat Lagi.
180 Ayat Emas Alkitab yang Populer Hari Ini Menurut catatan tim kita, ayat alkitab Amsal 1:7 ini berkaitan dengan beberapa topik menarik dalam kehidupan berikut ini : • Kebijaksanaan • Pengetahuan • Perasaan kagum Jika anda tertarik anda bisa menyimak topik-topik terkait lainnya yang menakjubkan.

Bantu Kami Mengenali Ayat Amsal 1:7 Menurut kamu, ayat Amsal 1:7 ini berkaitan dengan topik atau tema apa lagi ya? - tulis jawabanmu dikomentar ya. Navigasi pos Amsal 1:7 Konteks TB (1974) © SABDAweb Ams 1:7 Takut akan TUHAN 1 j adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat k dan didikan. l AYT (2018) Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan; orang-orang bodoh menghina hikmat dan didikan. TL (1954) © SABDAweb Ams 1:7 Bahwa takut akan Tuhan itulah permulaan segala pengetahuan, maka orang bodoh itu benci akan hikmat dan pengajaran.

BIS (1985) © SABDAweb Ams 1:7 Untuk memperoleh ilmu sejati, pertama-tama orang harus mempunyai rasa hormat dan takut kepada TUHAN. Orang bodoh tidak menghargai hikmat dan tidak mau diajar. MILT (2008) Takut akan TUHAN YAHWEH 03068 adalah permulaan pengetahuan; tetapi orang bodoh memandang rendah hikmat dan didikan. Shellabear 2011 (2011) Ketakwaan kepada ALLAH adalah permulaan pengetahuan; orang bodoh merendahkan hikmat dan didikan.

AVB (2015) Takut kepada TUHAN adalah permulaan pengetahuan; orang bodoh meremehkan hikmah dan didikan. [+] Bhs. Inggris TB amsal 1 ayat 7 © SABDAweb Ams 1:7 Takut akan TUHAN 1 j adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat k dan didikan. l TB +TSK (1974) © SABDAweb Ams 1:7 Takut 1 akan TUHAN adalah permulaan 2 pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. Catatan Full Life Ams 1:7 1 Nas : Ams 1:7 Kekaguman yang penuh hormat pada kuasa, keagungan, dan kekudusan Allah menghasilkan di dalam diri kita suatu ketakutan kudus untuk melanggar kehendak-Nya yang ternyatakan; kehormatan semacam ini perlu sekali untuk memperoleh hati berhikmat.

PB menunjukkan bahwa sungguh-sungguh takut akan Tuhan di dalam hati akan disertai dengan penghiburan Roh Kudus (lihat cat. --> Kis 9:31; [atau ref. Kis 9:31] lihat art. TAKUT AKAN TUHAN).
SABDAweb - Amsal 1:7 "Sabda-Mu adalah pelita bagi langkahku, cahaya untuk menerangi jalanku." Mazmur 119:105 (BIS) Alkitab Ayat Temukan di Alkitab: Kata(-kata) Daftar Ayat Versi Alkitab Alkitab Terjemahan Baru Alkitab Kabar Baik (BIS) Firman Allah Yang Hidup Perjanjian Amsal 1 ayat 7 WBTC [draft] Alkitab Terjemahan Lama Kitab Suci Injil Alkitab Shellabear [draft] Alkitab Melayu Baba Alkitab Klinkert 1863 Alkitab Klinkert 1870 Alkitab Leydekker [draft] Alkitab Ende TB Interlinear [draft] TL Interlinear [draft] AV with Strong Numbers Bible in Basic English The Message Bible New King James Version Philips NT in Modern English Revised Webster Version God's Word Translation NET Bible [draft] NET Bible [draft] Lab BHS dengan Strongs Analytic Septuagint Interlinear Greek/Strong Westcott-Hort Greek Text Textus Receptus Pengantar Kitab Pengantar Full Life Pengantar BIS Pengantar FAYH Pengantar Ende Amsal 1 ayat 7 Jerusalem Pengantar Bible Pathway Intisari Alkitab Ajaran Utama Alkitab Garis Besar Full Life Garis Besar Ende Garis Besar Pemulihan Judul Perikop Full Life Judul Perikop BIS Judul Perikop TB Judul Perikop FAYH Judul Perikop Ende Judul Perikop KSI Judul Perikop WBTC Catatan Ayat Catatan Ayat Full Life Catatan Ayat BIS Catatan Ayat Ende Catatan Terjemahan Ende Catatan Ayat Jerusalem Referensi Silang TSK Referensi Silang Amsal 1 ayat 7 Referensi Silang BIS Santapan Harian Kamus Kamus Kompilasi Kamus Easton Kamus Pedoman Kamus Gering Peta Leksikon Leksikon Yunani Leksikon Ibrani Amsal 1:7 Pengantar - Konteks - Catatan Ayat
April 17, 2021 Kategori : Apr 2021, Renungan Harian 20551 Bacaan: Amsal 1:1-7 Kunci Sukses: TUHAN adalah sumber hikmat tertinggi Memperdalam Akar Iman: Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

Amsal 1:7 Amsal adalah kebenaran umum atau kebijaksanaan-kebijaksanan hidup yang diungkapkan dalam cara berbicara yang berbentuk peribahasa, yang aforistis (ungkapan mengenai doktrin atau prinsip atau suatu kebenaran yang sudah diterima amsal 1 ayat 7 umum) dan kadang-kadang mengandung ritme dan mempunyai bentuk yang megah. Dalam ayat 7 berkata ‘Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan.” Takut akan Tuhan, adalah tema dari seluruh kitab Amsal, dan merupakan awal dari hidup berhikmat.

Takut dalam hal ini bukan berarti ngeri, seram, tapi menunjukkan sikap hormat, menjunjung tinggi, menundukkan diri kepada kedaulatan Allah dan mentaati perintah-perintah-Nya. TUHAN adalah sumber hikmat tertinggi, karena itu setiap orang perlu datang kepada sumber hikmat supaya menjadi orang yang berhikmat, hidup bijaksana, bermoral tinggi dan selaras dengan kehendak Tuhan.

Sekarang ini pendidikan dianggap sebagai jalan menuju sukses sehingga banyak orang tua memasukkan anaknya ke sekolah yang berlabel sekolah unggulan bahkan yang punya uang lebih memasukkan anaknya ke sekolah internasional untuk mempersiapkan anaknya supaya punya masa depan yang lebih baik. Tentu ini tidak salah tetapi harus disadari bahwa kesuksesan bukan semata-mata berbicara materi. Salomo sadar apa yang diperlukan generasi muda (ayat 4) yang sering disebut belum banyak makan asam garam kehidupan, sering bertindak tanpa pikir panjang dan hanya mengikuti ego atau hawa nafsu, akibatnya orang muda sering jatuh ke dalam lubang yang sama (kesalahan yang sama) meski dinasehati berulang kali.

Mungkin usia kita tidak lagi muda tetapi apakah karakter kita sudah dewasa sesuai umur kita atau masih memiliki karakter seperti orang muda yang karena belum banyak pengalaman sehingga seringkali melakukan kesalahan yang sama. Orang bijak berkata menjadi tua itu pasti tetapi menjadi dewasa itu pilihan. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Ayat 7 menolong kita bahwa Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, memiliki hikmat sehingga bukan hanya pandai dalam melakukan sesuatu tetapi melakukannya dengan benar, adil dan jujur. Orang yang takut akan Tuhan tahu bagaimana harus hidup, bagaimana harus mengatasi masalah, bagaimana harus mengambil keputusan dan bagimana harus berdiri tegak di tengah badai kehidupan yang setiap hari harus kita hadapi. Kiranya Tuhan menjadikan kita menjadi orang-orang yang berhikmat agar kita piawai menata hidup sesuai kehendak Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati. Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-Hakim 12-13; Roma 7 *** Categories • Agustus (61) • Apr 2021 (29) • Apr 2022 (31) • April (59) • Aug 2021 (31) • Dec 2020 (31) • Dec 2021 (24) • December (31) • Feb 2021 (28) • Feb 2022 (28) • February (57) • Jan 2021 (31) • Jan 2022 (31) • January (42) • Jul 2021 (31) • July (56) • Jun 2021 (30) • June (64) • Mar 2021 (32) • Mar 2022 (31) • March (61) • May (31) • May 2021 (31) • May 2022 (8) • Nov 2021 (30) • November (60) • Oct 2021 (31) • October (90) • Renungan Harian (1,235) • Sep 2021 (30) • September (74)Tujuan Amsal ini 1:1 Amsal-amsal 1 a Salomo 2 b bin Daud, raja Israel, c 1:2 untuk mengetahui hikmat 3 dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, 1:3 untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, 1:4 untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, d dan pengetahuan serta kebijaksanaan e kepada orang muda-- 1:5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu f dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan-- 1:6 untuk mengerti amsal dan ibarat, g perkataan dan teka-teki h orang bijak.

i 1:7 Takut akan TUHAN 4 j adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat k dan didikan. l Nasihat dan peringatan 1:8 Hai anakku, m dengarkanlah didikan ayahmu, n dan jangan menyia-nyiakan ajaran o ibumu 1:9 sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu. p 1:10 Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk q engkau 5, janganlah engkau menurut; r s 1:11 jikalau mereka berkata: "Marilah ikut kami, biarlah kita menghadang t darah, biarlah kita mengintai orang yang tidak bersalah, dengan tidak semena-mena; 1:12 biarlah kita menelan amsal 1 ayat 7 mereka hidup-hidup seperti dunia orang mati, bulat-bulat, seperti mereka yang turun ke liang kubur; v 1:13 kita akan mendapat pelbagai benda yang berharga, kita akan memenuhi rumah kita dengan barang rampasan; 1:14 buanglah undimu ke tengah-tengah kami, satu pundi-pundi w bagi kita sekalian." 1:15 Hai anakku, janganlah engkau hidup amsal 1 ayat 7 tingkah laku mereka, tahanlah kakimu x dari pada jalan y mereka, 1:16 karena kaki mereka lari menuju kejahatan z dan bergegas-gegas untuk menumpahkan darah.

a 1:17 Sebab percumalah jaring dibentangkan di depan mata segala yang bersayap, 1:18 padahal mereka menghadang b darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri. c 1:19 Demikianlah pengalaman setiap orang yang loba akan keuntungan gelap, yang mengambil nyawa orang yang mempunyainya. d Nasihat hikmat 1:20 Hikmat berseru nyaring e di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya, 1:21 di atas tembok-tembok ia berseru-seru, di depan pintu-pintu gerbang kota ia mengucapkan kata-katanya.

1:22 "Berapa lama lagi, hai orang yang tak berpengalaman, f kamu masih cinta kepada keadaanmu itu, pencemooh masih gemar kepada cemooh, dan orang bebal benci g kepada pengetahuan? 1:23 Berpalinglah kamu kepada teguranku! Sesungguhnya, aku hendak mencurahkan isi hatiku kepadamu dan memberitahukan perkataanku kepadamu.

1:24 Oleh karena kamu menolak h ketika aku memanggil, i dan tidak ada orang yang menghiraukan j ketika aku mengulurkan tanganku, 1:25 bahkan, kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku, 1:26 maka aku juga akan menertawakan k celakamu 6; l aku akan berolok-olok, m apabila kedahsyatan datang ke atasmu, n 1:27 apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka o melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu.

1:28 Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, p mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku. q 1:29 Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan TUHAN, r 1:30 tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku, s 1:31 maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana t mereka.

1:32 Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan u oleh kelalaiannya. 1:33 Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, v terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka. w" [1:1] 1 Full Life : AMSAL-AMSAL. Nas : Ams 1:1 Sebuah amsal ialah suatu pepatah, perbandingan atau pertanyaan singkat-padat yang mengungkapkan suatu prinsip atau sebuah pengamatan tentang perilaku manusia dari sudut pandangan Allah.

Amsal-amsal ini digubah untuk mengajar umat Allah (khususnya kaum muda) bagaimana menjalankan hidup yang menyenangkan Dia, memiliki hidup yang berhasil dan berbahagia, dan menjauhi kesusahan-kesusahan hidup amsal 1 ayat 7 diakibatkan oleh dosa (ayat Ams 1:2-6,15-19). [1:1] 2 Full Life : SALOMO. Nas : Ams 1:1 Salomo, raja ketiga di Israel, menggubah banyak amsal ini.

Pada permulaan masa pemerintahannya ia berdoa memohon hikmat, dan Allah mengabulkan permohonan itu ( 1Raj 3:5-14; 4:29-32). Akan tetapi, di kemudian hari Salomo sendiri tidak mengikuti hikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya. Karena gagal untuk bertekun dalam takut akan Tuhan, hati Salomo menyimpang dari Allah ( 1Raj 11:1-11; lihat cat. --> 1Raj 11:1). [atau ref. 1Raj 11:1] Jadi, sekadar mengetahui atau mengajarkan prinsip-prinsip moral Firman Allah tidak cukup untuk memastikan kehidupan rohani; harus selalu ada rasa takut akan Allah, serta bergantung dan bertanggung jawab kepada-Nya (ayat Ams 1:7).

[1:2] 3 Full Life : HIKMAT. Nas : Ams 1:2 Sebagaimana dipakai dalam kitab ini, hikmat artinya hidup dan berpikir sesuai dengan kebenaran, jalan, dan pola Allah. Hikmat artinya mendekati seluruh kehidupan dari sudut pandangan Allah, percaya bahwa segala sesuatu yang dikatakan Allah itu benar, dan merupakan satu-satunya standar hidup yang layak.

Memperoleh hikmat jauh lebih baik daripada memiliki emas dan perak ( Ams 3:13-14). Hikmat ini hanya datang kepada mereka yang mencarinya melalui hubungan yang benar dengan Allah (ayat Ams amsal 1 ayat 7 dan mempelajari Firman-Nya dengan rajin ( Ams 3:1-3). Kristus, yang oleh PB disebut puncak hikmat Allah ( 1Kor 1:30; Kol 2:2-3), mengajarkan bahwa kita memperoleh hikmat dengan tetap tinggal dalam firman-Nya, dengan membiarkan firman-Nya tetap tinggal di dalam diri kita ( Yoh 15:7), dan dengan menyerahkan hati dan pikiran kita kepada Roh Kudus yang mendiami kita ( Yoh 14:16-26).

[1:7] 4 Full Life : TAKUT AKAN TUHAN. Nas : Ams 1:7 Kekaguman yang penuh hormat pada kuasa, keagungan, dan kekudusan Allah menghasilkan di dalam diri kita suatu ketakutan kudus untuk melanggar kehendak-Nya yang ternyatakan; kehormatan semacam ini perlu sekali untuk memperoleh hati berhikmat.

PB menunjukkan bahwa sungguh-sungguh takut akan Tuhan di dalam hati akan disertai dengan penghiburan Roh Kudus (lihat cat. --> Kis 9:31; [atau ref.

amsal 1 ayat 7

Kis 9:31] lihat art. TAKUT AKAN TUHAN). [1:10] 5 Full Life : ANAKKU, JIKALAU ORANG BERDOSA HENDAK MEMBUJUK ENGKAU. Nas : Ams 1:10 Pada usia yang sangat muda dalam kehidupannya orang muda berhadapan dengan bujukan untuk berbuat dosa. Tekanan dari kawan sebaya akan menggoda mereka untuk bergabung dengan golongan mayoritas dan menikmati kesenangan-kesenangan berdosa. Orang muda dapat menolak godaan untuk berbalik dari Allah dan jalan-Nya dengan menggalang hubungan yang dekat dengan-Nya sebagai Tuhan mereka, dengan kesediaan berdiri sendiri, jika memang perlu, dalam komitmen mereka kepada jalan-jalan Allah yang benar (ayat Ams 1:15-16), dan dengan menyadari bahwa jalan kompromi dan kesenangan berdosa menuntun kepada sakit hati, kesukaran, malapetaka, dan kebinasaan (ayat Ams 1:27; lihat cat.

--> Mat 4:1-11). [atau ref. Mat 4:1-11] [1:26] 6 Full Life : CELAKAMU. Nas : Ams 1:26 Kitab Amsal menekankan bahwa Allah telah menetapkan standar-standar mutlak mengenai benar dan salah; mengabaikannya berarti mendatangkan akibat-akibat yang menyedihkan dalam hidup kita.

Salah satu kebenaran besar yang dapat kita pelajari pada masa muda ialah bahwa kita memang akan menuai apa yang kita taburkan ( Gal amsal 1 ayat 7.

Harga yang nantinya harus kita bayar bagi dosa kita ialah penderitaan, kesusahan, dan celaka (ayat Ams 1:27).
Tujuan Amsal ini 1:1 Amsal-amsal 1 a Salomo 2 b bin Daud, raja Israel, c 1:2 untuk mengetahui hikmat 3 dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, 1:3 untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, 1:4 untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, d dan pengetahuan serta kebijaksanaan e kepada orang muda-- 1:5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu f dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan-- 1:6 untuk mengerti amsal dan ibarat, g perkataan dan teka-teki h orang bijak.

i 1:7 Takut akan TUHAN 4 j adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat k dan didikan. l [1:1] 1 Full Life : AMSAL-AMSAL. Nas : Ams 1:1 Sebuah amsal ialah suatu pepatah, perbandingan atau pertanyaan singkat-padat yang mengungkapkan suatu prinsip atau sebuah pengamatan tentang perilaku manusia dari sudut pandangan Allah. Amsal-amsal ini digubah amsal 1 ayat 7 mengajar umat Allah (khususnya kaum muda) bagaimana menjalankan hidup yang menyenangkan Dia, memiliki hidup yang berhasil dan berbahagia, dan menjauhi kesusahan-kesusahan hidup yang diakibatkan oleh dosa (ayat Ams 1:2-6,15-19).

[1:1] 2 Full Life : SALOMO. Nas : Ams 1:1 Salomo, raja ketiga di Israel, menggubah banyak amsal ini. Pada permulaan masa pemerintahannya ia berdoa memohon hikmat, dan Allah mengabulkan permohonan itu ( 1Raj 3:5-14; 4:29-32). Akan tetapi, di kemudian hari Salomo sendiri tidak mengikuti hikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya. Karena gagal untuk bertekun dalam takut akan Tuhan, hati Salomo menyimpang dari Allah ( 1Raj 11:1-11; lihat cat.

--> 1Raj 11:1). [atau ref. 1Raj 11:1] Jadi, sekadar mengetahui atau mengajarkan prinsip-prinsip moral Firman Allah tidak cukup untuk memastikan kehidupan rohani; harus selalu ada rasa takut akan Allah, serta bergantung dan bertanggung jawab kepada-Nya (ayat Ams 1:7). [1:2] 3 Full Life : HIKMAT. Nas : Ams 1:2 Sebagaimana dipakai dalam kitab ini, hikmat artinya hidup dan berpikir sesuai dengan kebenaran, jalan, dan pola Allah.

Hikmat artinya mendekati seluruh kehidupan dari sudut pandangan Allah, percaya bahwa segala sesuatu yang dikatakan Allah itu benar, dan merupakan satu-satunya standar hidup yang layak. Memperoleh hikmat jauh lebih baik daripada memiliki emas dan perak ( Ams 3:13-14). Hikmat ini hanya datang kepada mereka yang mencarinya melalui hubungan yang benar dengan Allah (ayat Ams 1:7) dan mempelajari Firman-Nya dengan rajin ( Ams 3:1-3).

Kristus, yang oleh PB disebut puncak hikmat Allah ( 1Kor 1:30; Kol 2:2-3), mengajarkan bahwa kita memperoleh hikmat dengan tetap tinggal dalam firman-Nya, dengan membiarkan firman-Nya tetap tinggal di dalam diri kita ( Yoh 15:7), dan dengan menyerahkan hati dan pikiran kita kepada Roh Kudus amsal 1 ayat 7 mendiami kita ( Yoh 14:16-26). [1:7] 4 Full Life : TAKUT AKAN TUHAN. Nas : Ams 1:7 Kekaguman yang penuh hormat pada kuasa, keagungan, dan kekudusan Allah menghasilkan di dalam diri kita suatu ketakutan kudus untuk melanggar kehendak-Nya yang ternyatakan; kehormatan semacam ini perlu sekali untuk memperoleh hati berhikmat.

PB menunjukkan bahwa sungguh-sungguh takut akan Tuhan di dalam hati akan disertai dengan penghiburan Roh Kudus (lihat cat. --> Kis 9:31; [atau ref. Kis 9:31] lihat art. TAKUT AKAN TUHAN).
Perjanjian Lama : Kejadian Keluaran Imamat Bilangan Ulangan Yosua Hakim-hakim Rut 1 Samuel 2 Samuel 1 Raja-raja 2 Raja-raja 1 Tawarikh 2 Tawarikh Ezra Nehemia Ester Ayub Mazmur Amsal Pengkhotbah Kidung Agung Yesaya Yeremia Ratapan Yehezkiel Daniel Hosea Yoel Amos Obaja Yunus Mikha Nahum Habakuk Zefanya Hagai Zakharia Maleakhi Nas : Ams 1:7 Kekaguman yang penuh hormat pada kuasa, keagungan, dan kekudusan Allah menghasilkan di dalam diri kita suatu ketakutan kudus untuk melanggar kehendak-Nya yang ternyatakan; kehormatan semacam ini perlu sekali untuk memperoleh hati berhikmat.

PB menunjukkan bahwa sungguh-sungguh takut akan Tuhan di dalam hati akan disertai dengan penghiburan Roh Kudus (lihat cat. --> Kis 9:31; [atau ref. Kis 9:31] lihat art. TAKUT AKAN TUHAN). Takut akan TUHAN (YHWH) atau takut akan Allah, bdk Kel 20:20+; Ula 6:2+, l.k. searti dengan apa yang kita sebut: agama sejati, kesalehan yang tulen, takwa yang benar. Ketakutan itu menjadi baik prinsip dan pokok pangkal, Ams 9:10; 15:33; Ayu 28:28; Maz 111:10; Sir 1:14,20.

maupun puncak penyelesaian, Sir 1:18; 19:20; 25:10-11; 40:25-27, hikmat kebijaksanaan yang pada pokoknya mempunyai ciri keagamaan. Melalui hikmat itu terjalinlah hubungan pribadi dengan Allah perjanjian, sehingga "takut akan Tuhan" dan kasih, takluk dan percaya menjadi l.k. searti, bdk Maz 25:12-14; 112:1; 128:1; Pengk 12:13; Sir 1:27-28; 2:7-9,15-18, dll. 7. Takut akan TUHAN. Sebuah ekspresi yang umum dalam Kitab Mazmur dan di tempat lain, frasa ini dipakai sebanyak empat belas kali dalam Kitab Amsal.

Contoh-contoh pemakaiannya terdapat pada Mazmur 115:11 - "Hai orang-orang yang takut akan TUHAN, percayalah kepada TUHAN," dan Yesaya 11:2,3, di mana takut akan Tuhan disebut sebagai ciri khas sang Mesias.

amsal 1 ayat 7

Takut seperti itu meliputi rasa kagum dan hormat kepada. Yang Mahakuasa ( Mzm. 2:11 - `Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar"). Ayub 28:28 pada dasarnya merupakan sebuah definisi - "Takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi." Amsal 8:13 mengandung maksud serupa "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan." Permulaan pengetahuan.

Bukan berarti yang "utama" atau "inti," seperti yang mungkin ditunjukkan oleh akar kata tersebut dalam bahasa Ibrani, sebab Amsal 9:10 menggunakan sebuah kata yang khusus amsal 1 ayat 7 "awal" atau "permulaan." Sebaliknya, berarti langkah pertama untuk hidup bermoral adalah hubungan kita dengan Allah. Orang bodoh menghina hikmat. Kata "orang bodoh" muncul delapan belas kali dalam Kitab Amsal; tujuh kali di tempat lain. Pemakaiannya pun berbeda.

Dalam Yesaya 35:8, "pandir" jelas berarti "bodoh" sebagaimana arti lazimnya dalam bahasa Inggris. Tetapi, Kitab Amsal secara khusus memakai "orang bodoh" untuk menunjuk kepada orang berdosa. Amsal 14:9 merupakan contoh - "orang bodoh mencemoohkan kurban tebusan." Kalimat ini berarti bahwa orang-orang berdosa mencemoohkan kekudusan. Versi berbahasa Yunani, LXX, secara tepat menerjemahkan "orang bodoh" dengan orang yang tidak takut kepada Allah.

Peringatan-peringatan Orangtua ( 1:7-9) • Salomo, setelah mengambil tindakan untuk mengajarkan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda, di sini membeberkan dua aturan umum untuk dijalankan agar pengetahuan dan kebijaksanaan itu diperoleh.

Kedua aturan itu adalah takut akan Allah dan hormat kepada orangtua. Dengan dua hukum moral dasar ini pulalah Pitagoras memulai ayat-ayat emasnya, tetapi hukum pertamanya secara menyedihkan masih dalam keadaan yang sangat buruk. Primum, deos immortales cole, parentesque honora – Pertama-tama sembahlah dewa-dewi yang tidak bisa mati, lalu hormatilah orangtuamu.

Untuk menjadikan orang muda sebagaimana mereka seharusnya, • I. Biarlah mereka memandang hormat kepada Allah sebagai yang terutama bagi mereka. • 1. Ia membeberkan kebenaran ini, bahwa takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan (ay.

7). Takut akan TUHAN adalah bagian utama dari pengetahuan (begitu arti tersiratnya). Takut akan TUHAN adalah kepala pengetahuan.

Maksudnya, • (1) Dari segala hal yang harus diketahui, inilah yang paling jelas, bahwa Allah harus ditakuti, harus dihormati, dilayani, dan disembah. Ini benar-benar merupakan permulaan pengetahuan sehingga orang-orang yang tidak mengetahuinya berarti tidak tahu apa-apa.

• (2) Untuk memperoleh semua pengetahuan yang berguna, inilah yang paling penting, bahwa kita takut akan Allah. Kita tidak memenuhi syarat untuk mendapat keuntungan dari didikan-didikan yang diberikan kepada kita jika pikiran kita tidak dipenuhi dengan penghormatan yang kudus akan Allah, dan jika setiap hal yang kita pikirkan tidak ditundukkan kepada-Nya.

Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu ajaran-Nya ( Yoh. 7:17). • (3) Sama seperti semua pengetahuan kita harus timbul dari takut akan Allah, demikian pula pengetahuan itu harus mengarah pada takut akan Allah sebagai kesempurnaan dan pusatnya. Orang-orang yang cukup berpengetahuan adalah orang yang tahu bagaimana takut kepada Allah, yang berhati-hati dalam segala hal untuk menyenangkan-Nya, dan yang takut akan menyakiti hati-Nya dalam hal apa pun.

Inilah Alfa dan Omega pengetahuan. • 2. Untuk meneguhkan kebenaran ini, agar dalam segala pencarian kita akan pengetahuan kita diarahkan dan didorong oleh mata yang tertuju kepada Allah, ia mengamati bahwa orang bodoh (orang atheis, yang tidak percaya akan Allah) menghina hikmat dan didikan.

Karena tidak ngeri sama sekali terhadap segala murka Allah, atau mempunyai keinginan sedikit pun akan perkenanan-Nya, mereka tidak akan berterima kasih kepada kita karena telah memberi tahu mereka apa yang dapat mereka lakukan agar terhindar dari murka-Nya dan mendapatkan perkenanan-Nya. Orang-orang yang berkata kepada Yang Mahakuasa, “ Pergilah dari kami,” yang sama sekali tidak takut akan Dia sehingga malah menantang-Nya, tidak akan membuat kita terkejut jika mereka tidak ingin mengetahui jalan-jalan-Nya, tetapi malah merendahkan didikan itu.

Perhatikanlah, orang-orang bodoh adalah mereka yang tidak takut kepada Allah dan tidak menghargai Kitab Suci. Walaupun mereka mengaku-ngaku mengagumi kecerdikan, sebenarnya mereka adalah orang-orang yang asing dan musuh-musuh bagi hikmat.

• II. Biarlah mereka menghormati orangtua mereka sebagai atasan mereka (ay. 8-9): hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu. Maksudnya, bukan saja ia ingin agar anak-anaknya sendiri mengikuti dia dan apa yang dikatakannya kepada mereka, juga bukan hanya ia ingin agar murid-muridnya, dan orang-orang yang datang kepadanya untuk diajar, melihatnya sebagai bapak mereka dan mengikuti perintah-perintahnya sebagaimana layaknya anak-anak, tetapi juga ia ingin agar semua anak patuh dan hormat terhadap amsal 1 ayat 7 mereka, dan menuruti didikan budi pekerti dan agama yang diberikan orangtua mereka kepada mereka, sesuai dengan perintah kelima.

amsal 1 ayat 7

• 1. Ia menganggap benar amsal 1 ayat 7 orangtua, dengan segala hikmat yang mereka miliki, akan mendidik anak-anak mereka, dan, dengan segala wewenang yang mereka miliki, akan memberikan aturan bagi anak-anak mereka demi kebaikan mereka.

Anak-anak adalah makhluk-makhluk yang berakal, dan oleh sebab itu kita tidak boleh memberi mereka aturan tanpa didikan. Kita harus menarik mereka dengan tali manusia, dan apabila kita memberi tahu mereka apa yang harus mereka lakukan, kita juga harus memberi tahu mereka alasannya. Tetapi mereka rusak dan susah diatur, dan oleh sebab itu bersama-sama dengan didikan diperlukan juga aturan. Abraham tidak hanya mau mengajar, tetapi juga memerintah rumah tangganya.

Baik ayah maupun ibu harus berbuat semampu mereka demi memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak mereka, dan itu pun masih jauh dari cukup. • 2. Ia memerintah anak-anak untuk menerima dan juga mengingat pelajaran-pelajaran dan aturan-aturan baik yang diberikan orangtua mereka kepada mereka.

amsal 1 ayat 7

• (1) Untuk menerimanya dengan siap sedia: “Dengarkanlah didikan ayahmu. Dengarkanlah dan camkanlah itu. Dengarkanlah dan sambutlah itu, berterima kasihlah untuk itu, dan tunduklah kepadanya.” • (2) Untuk memegangnya dengan teguh: “Jangan menyia-nyiakan ajaran mereka. Janganlah berpikir bahwa ketika engkau dewasa, dan tidak lagi diasuh para pembimbing dan pengajar, engkau bisa hidup sesukamu.

Tidak, ajaran ibumu sesuai dengan ajaran Allahmu, dan oleh sebab itu janganlah pernah disia-siakan. Engkau dididik di dalam jalan yang harus engkau tempuh, dan oleh sebab itu, ketika engkau tua, engkau tidak boleh meninggalkan jalan itu.” Sebagian orang mengamati bahwa apabila etika orang-orang bukan Yahudi, dan hukum orang-orang Persia dan Romawi, hanya memastikan agar anak-anak menghormati bapak mereka, hukum ilahi menjamin penghormatan kepada ibu juga.

• 3. Ia menyarankan didikan ini sebagai sesuatu yang sangat mulia dan akan mendatangkan kehormatan kepada kita: “Didikan-didikan dan ajaran-ajaran orangtuamu, jika dijalani dan dihayati betul-betul, akan menjadi karangan bunga yang indah bagi kepalamu (ay. 9; kjv: perhiasan indah bagi kepalamu – pen.), suatu perhiasan yang, dalam pandangan Allah, mahal harganya, dan akan membuatmu tampak besar seperti orang-orang yang mengenakan kalung emas di leher mereka.” Biarlah kebenaran-kebenaran dan perintah-perintah ilahi menjadi bagi kita sebuah mahkota kecil, atau kalung lencana sebagai lambang pangkat tertinggi.

Marilah kita menghargainya, dan berkeinginan sangat untuk mengejarnya, maka kebenaran-kebenaran dan perintah-perintah ilahi itu akan menjadi mahkota atau kalung lencana bagi kita. Orang-orang yang benar-benar berharga, dan yang akan dihargai, adalah mereka yang lebih menghargai diri mereka sendiri berdasarkan kebajikan dan kesalehan mereka daripada berdasarkan kekayaan dan kehormatan duniawi mereka.

Perbedaan pengetahuan dan hikmat. Pengetahuan diidentikkan dengan informasi yang tepat, sedangkan hikmat didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggunakan informasi yang tepat itu pada waktu dan cara yang tepat. Di kitab Amsal, Raja Salomo tidak membedakan keduanya; istilah pengetahuan dan hikmat dipakai silih berganti untuk mewakili makna yang sama yakni bijaksana. Hikmat berawal dari kemampuan untuk melihat dan mendengarkan. Pada waktu Salomo diangkat menjadi raja, ia berdoa, “… berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang paham …” (ayat 1Raj.

3:9). Kata “paham” di sini berasal dari akar kata “mendengar”, tetapi bukan asal mendengar, melainkan mendengarkan dengan penuh perhatian. Orang yang bodoh—tidak berhikmat—tidak bersedia mendengarkan siapa pun termasuk Tuhan. Orang yang tidak mendengarkan Tuhan, Sang Sumber hikmat, adalah orang yang tidak takut kepada Tuhan. Ada orang yang kaya namun bodoh dan ada orang yang berpendidikan tinggi tetapi bodoh; ternyata, kaya dan cerdas tidak sama dengan bijaksana.

Hikmat tidak diperoleh lewat kekayaan atau kecerdasan; amsal 1 ayat 7 didapatkan dari takut akan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang dipimpin oleh Tuhan; setiap langkah yang diambilnya merupakan hasil tuntunan Tuhan dan Tuhan tidak akan membiarkannya tersesat.Orang yang bijak adalah orang yang “tahu diri”—ia menyadari keterbatasannya; itu sebabnya ia bersedia menerima didikan baik dari Tuhan maupun sesamanya.

Sebaliknya, orang bodoh adalah orang yang “tidak tahu diri”—ia tidak menyadari keterbatasannya dan menganggap diri mengetahui segalanya. Renungkan: Dalam mengambil keputusan, jangan cepat-cepat berkata, ya atau tidak. Jawablah dengan, tunggu!—menunggu kehendak dan pimpinan Tuhan.

Inilah awal dari hikmat. Tujuan penulisan. Kitab Amsal dimulai dengan pokok bahasan yang memaparkan maksud dan tujuan penulisan kitab Amsal. Kitab ini membimbing pembaca untuk hidup dengan kebijaksanan, disiplin, berpengetahuan, dan hidup dalam kebenaran. Tulisan-tulisan Amsal yang terfokus pada hikmat yang muncul sampai 41 kali dalam kitab ini menunjukkan betapa pentingnya amsal 1 ayat 7 dicermati oleh pembacanya.

Melalui kata-kata bijak yang ditulis dalam bentuk syair, peribahasa, pernyataan-pernyataan pengajaran, penulis mendesak pembacanya agar memiliki hikmat dalam seluruh aspek hidup. Takut akan Tuhan, adalah tema dari seluruh tulisan kitab Amsal, dan merupakan awal dari hidup berhikmat.

"Takut" bukan berarti 'ngeri', 'seram', tetapi lebih menunjukkan sikap hormat, menjunjung tinggi, menundukkan diri pada kedaulatan Allah dan menaati perintah-perintah-Nya. Tuhan adalah sumber hikmat tertinggi dan ilahi. Karena itu setiap orang perlu datang kepada Sang Sumber hikmat dan memperoleh hikmat daripada-Nya. Setiap manusia harus mengakui bahwa segala kepandaian dan kemampuan yang ada padanya berasal dari Allah, Sumber hikmat.

Siapa pun yang mau datang memperoleh hikmat daripada-Nya akan memiliki hidup bijaksana, bermoral tinggi, dan selaras dengan kehendak-Nya. Allah yang Berpribadi Pribadi Allah Nama Allah Nama-nama Tunggal Allah Tuhan (Ibr.: Yahweh) Kej 4:26 Kel 3:14-15 Kel 6:1-2 Kel 15:11 Kel 20:2 Kel 33:19 Kel 34:5-7 Ula 10:17 Ula 28:10 Hak 8:23 1Sa 12:12 1Ra 2:3 2Ta 7:11-16 Maz 10:16 Maz 103:6 Maz 110:1 Maz 130:3-5 Maz 146:10 Ams 1:7 Yes 33:22 Yes 43:3 Yes 45:24 Yer 14:9 Yer 31:31-34 Yer 32:27 Dan 9:14 Amo 5:8 Mal 3:6 Dosa Para Pendosa adalah Orang-orang Bodoh Maz 74:22 Ams 1:7 Ams 10:23 Ams 13:19 Ams 14:9 Rom 1:22 Kebodohan karena Kurang Bijaksana Ayu 5:2 Ayu 11:12 Ams 1:7 Ams 1:22 Ams 10:14 Ams 10:23 Ams 11:12 Ams 12:16 Ams 12:23 Ams 13:3 Ams 13:16 Ams 14:7-9 Ams 14:15-18 Ams 15:2 Ams 15:5 Ams 15:7,14 Ams 15:21 Ams 16:22 Ams 17:7 Ams 17:10 Ams 17:12 Ams 17:16 Ams 17:21 Ams 17:24 Ams 18:2 Ams 18:6-7 Ams 19:13 Ams 19:29 Ams 20:3 Ams 23:9 Ams 24:7 Ams 26:1 Ams amsal 1 ayat 7 Ams 26:7-8,10-11 Ams 27:3 Ams 27:12 Ams 27:22 Ams 29:9 Ams 29:11 Pengk 4:5 Pengk 5:2 Pengk 7:4-6,9 Pengk 9:17 Pengk 10:2-7,12-15 Kehidupan Kristen: Tanggung Jawab kepada Allah Memuliakan Allah Takut kepada Allah Mutlak Takut kepada Allah Takut akan Allah adalah Hal yang Paling Utama Ayu 28:28 Maz 19:10 Maz 111:10 Ams 1:7 Ams 9:10 Ams 15:33 Penulis : Salomo dan Orang Lain Tema : Hikmat untuk Hidup dengan Benar Tanggal Penulisan: Amsal 1 ayat 7 970-700 SM Latar Belakang PL Ibrani secara khusus terbagi atas tiga bagian: Hukum, Kitab Para Nabi, dan Tulisan-Tulisan (bd.

Luk 24:44). Termasuk dalam bagian ketiga ialah kitab-kitab Syair dan Hikmat seperti Ayub, Mazmur, Amsal, dan Pengkhotbah. Demikian pula, Israel kuno mempunyai tiga golongan hamba Tuhan: para imam, para nabi, dan para bijak ("orang berhikmat").

Kelompok orang bijak khususnya dikaruniai hikmat dan nasihat ilahi mengenai masalah-masalah kehidupan yang praktis dan filosofis. Amsal merupakan hikmat para bijak yang terilhamkan. Istilah Ibrani _mashal_, yang diterjemahkan "amsal", bisa berarti "ucapan" orang bijak, "perumpamaan", atau "peribahasa berhikmat".

Karena itu ada beberapa ajaran (ucapan orang bijak) yang agak panjang dalam kitab ini (mis. Ams 1:20-33; Ams 2:1-22; Ams 5:1-14), dan juga aneka pernyataan ringkas yang menggugah berisi hikmat untuk hidup dengan bijaksana dan benar.

Sedangkan kitab Amsal menyajikan suatu bentuk pengajaran berupa amsal amsal 1 ayat 7 umum dipakai di Timur Dekat zaman dahulu, hikmatnya itu khusus karena disajikan dalam konteks Allah dan semua standar kebenaran-Nya bagi umat perjanjian Allah. Alasan-alasan popularitas pengajaran berupa amsal pada zaman kuno ialah kejelasannya dan sifat mudah dihafalkan dan disampaikan kepada angkatan berikutnya.

Sebagaimana Daud menjadi sumber tradisi bermazmur di Israel, demikian Salomo menjadi sumber tradisi hikmat (lih. Ams 1:1; Ams 10:1; Ams 25:1).

Menurut 1Raj 4:32, Salomo menghasilkan 3000 amsal dan 1005 kidung semasa hidupnya. Penulis lain yang disebutkan dalam Amsal adalah Agur ( Ams 30:1-33) dan Raja Lemuel ( Ams 31:1-9), keduanya tidak kita kenal. Penulis-penulis lain disebut secara tak langsung dalam Ams 22:17 dan Ams 24:23.

Sekalipun sebagian besar Amsal ini digubah pada abad ke-10 SM, waktu terdini yang amsal 1 ayat 7 bagi selesainya penyusunan kitab ini adalah masa pemerintahan Hizkia (yaitu sekitar 700 SM). Keterlibatan para pegawai Hizkia dalam menyusun amsal-amsal Salomo ( Ams 25:1--29:27) dapat diberi tanggal tahun 715-686 SM sementara masa amsal 1 ayat 7 rohani yang dipimpin raja yang takut akan Allah ini. Sangat mungkin amsal-amsal gubahan Agur, Lemuel, dan "amsal-amsal dari orang bijak" lainnya terkumpul juga pada waktu itu.

Tujuan Tujuan kitab ini dinyatakan dengan jelas dalam Ams 1:2-7: memberi hikmat dan pengertian mengenai perilaku yang bijak, kebenaran, keadilan, dan kejujuran ( Ams 1:2-3) sehingga • (1) orang yang tidak berpengalaman dapat menjadi orang bijak ( Ams 1:4), • (2) kaum muda dapat memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan ( Ams 1:4), dan • (3) orang bijak bisa menjadi lebih bijak lagi ( Ams 1:5-6).

Sekalipun Amsal pada hakikatnya adalah buku pedoman hikmat untuk hidup dengan benar dan bijaksana, landasan yang diperlukan oleh hikmat tersebut dinyatakan dengan jelas sebagai "takut akan Tuhan" ( Ams 1:7). Survai Tema yang mempersatukan kitab ini ialah "hikmat untuk hidup dengan benar", sebuah hikmat yang berawal dari tunduk dengan rendah hati kepada Allah dan kemudian mengalir kepada semua bidang kehidupan. Hikmat dalam Amsal ini • (1) memberi nasihat mengenai keluarga, kaum muda, kemurnian seksual, kesetiaan hubungan pernikahan, kejujuran, kerja keras, kemurahan, persahabatan, keadilan, kebenaran, dan disiplin; • (2) memperingatkan mengenai bodohnya dosa, pertengkaran, bahaya lidah, kebebalan, minuman keras, kerakusan, nafsu, kebejatan, kebohongan, kemalasan, teman-teman yang tidak baik; • (3) membandingkan kebijaksanaan dengan kebodohan, orang benar dengan orang fasik, kesombongan dengan kerendahan hati, kemalasan dengan kerajinan, kemiskinan dan kekayaan, kasih dan hawa nafsu, benar dan salah, serta kematian dan kehidupan.

Walaupun kitab ini, seperti Mazmur, tidak dapat diringkas dengan mudah seperti kitab lainnya dalam Alkitab, terdapat struktur yang jelas (lih. Garis Besar); secara khusus hal ini berlaku dalam pasal 1-9 ( Ams 1:1--9:18) yang berisi 13 ajaran sebagaimana akan diberikan oleh seorang ayah kepada putranya bila memasuki usia remaja.

Terkecuali tiga ajaran (lih. Ams 1:30; Ams 8:1; Ams 9:1), masing-masing diawali dengan "hai, anakku" atau "hai, anak-anakku." Ke-13 ajaran ini berisi banyak titah hikmat yang penting bagi kaum muda. Mulai dengan pasal 10 ( Ams 10:1-32) Amsal berisi pengarahan penting mengenai hubungan keluarga (mis.

Ams 10:1; Ams 12:4; Ams 17:21,25; Ams 18:22; Ams 19:14,26; Ams 20:7; Ams 21:9,19; Ams 22:6,28; Ams 23:13-14,22,24-25; Ams 25:24; Ams 27:15-16; Ams 29:15-17; Ams 30:11; Ams 31:10-31). Sekalipun Amsal adalah kitab yang isinya sangat praktis, kitab ini juga berisi pandangan yang dalam tentang Allah.

Allah adalah perwujudan hikmat (mis. Ams 8:22-31) dan Pencipta (mis. Ams 3:19-20; Ams 8:22-31; Ams 14:31; Ams 22:2); Allah digambarkan sebagai mahatahu (mis.

Ams 5:21; Ams 15:3,11; Ams 21:2), adil (mis. Ams 11:1; Ams 15:25-27,29; Ams 19:17; Ams 21:2-3), dan berdaulat (mis Ams 16:9,33; Ams 19:21; Ams 21:1). Amsal ditutup dengan sebuah pujian mengesankan bagi seorang istri yang berbudi luhur ( Ams 31:10-31). Ciri-ciri Khas Delapan ciri utama menandai kitab ini.

• (1) Hikmat, bukannya dikaitkan dengan kepandaian atau pengetahuan yang luas, tetapi dihubungkan langsung dengan "takut akan Tuhan" ( Ams 1:7); jadi orang berhikmat adalah mereka yang mengenal Allah dan menaati perintah-perintah-Nya.

amsal 1 ayat 7

Takut akan Tuhan ditekankan berulang-ulang dalam kitab ini ( Ams 1:7,29; Ams 2:5; Ams 3:7; Ams 8:13; Ams 9:10; Ams 10:27; Ams 14:26-27; Ams 15:16,33; Ams 16:6; Ams 19:23; Ams 22:4; Ams 23:17; Ams 24:21). • (2) Sebagian besar nasihat bijaksana dalam Amsal ini adalah dalam bentuk nasihat seorang ayah yang saleh kepada anak atau anak-anaknya. • (3) Inilah kitab yang paling praktis dalam PL karena menyentuh lingkup prinsip-prinsip dasar yang luas untuk hubungan dan perilaku hidup sehari-hari yang benar -- prinsip-prinsip yang dapat diterapkan kepada semua angkatan dan kebudayaan.

• (4) Hikmat praktis, ajaran saleh, dan prinsip-prinsip hidup mendasar disajikan dalam bentuk pernyataan singkat dan mengesankan yang mudah dihafalkan dan diingat oleh kaum muda sebagai garis pedoman bagi hidup mereka. • (5) Keluarga menduduki tempat penting yang menentukan dalam Amsal, bahkan seperti dalam perjanjian Allah dengan Israel (bd.

Kel 20:12,14,17; Ul 6:1-9). Dosa-dosa yang melanggar maksud Allah bagi keluarga disingkapan secara khusus dan diberi peringatan. • (6) Ciri sastra yang menonjol dalam amsal-amsal ialah banyak menggunakan bahasa kiasan yang hidup (mis. simile dan metafora), perbandingan dan perbedaan, ajaran singkat, dan pengulangan. • (7) Istri dan ibu bijaksana yang digambarkan pada akhir kitab (pasal 31; Ams 31:1-31) adalah unik dalam sastra kuno karena pandangannya yang tinggi dan mulia tentang seorang wanita bijak.

• (8) Nasihat berhikmat dalam Amsal merupakan pendahulu PL bagi banyak nasihat praktis yang terdapat dalam surat-surat PB. Penggenapan Dalam Perjanjian Baru Hikmat diwujudkan dalam pasal 8 ( Ams 8:1-36) dengan cara yang mirip dengan perwujudan _logos_ ("Firman") dalam kitab Yohanes ( Yoh 1:1-18).

Hikmat itu • (1) ikut terlibat dalam penciptaan ( Ams 3:19-20; Ams 8:22-31), • (2) terkait dengan asal-usul kehidupan biologis dan rohani ( Ams 3:19; Ams 8:35), • (3) dapat diterapkan pada hidup yang benar dan bermoral ( Ams 8:8-9), dan • (4) tersedia bagi mereka yang mencarinya ( Ams 2:1-10; Ams 3:13-18; Ams 4:7-9; Ams 8:35-36). Hikmat Amsal diungkapkan dengan sempurna amsal 1 ayat 7 Yesus Kristus, yang "lebih daripada Salomo" ( Luk 11:31), yang amsal 1 ayat 7 menjadi hikmat bagi kita" ( 1Kor 1:30) dan yang "di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan" ( Kol 2:3).

Garis Besar • I. Prolog: Maksud dan Tema-Tema Amsal ( Ams 1:1-7) • II. Tiga Belas Ajaran Hikmat bagi Kaum Muda ( Ams 1:8-9:18) • A. Hormatilah Orang-Tua dan Perhatikan Nasihat Mereka ( Ams 1:8-9) • B. Katakan "Tidak" kepada Semua Bujukan Orang Berdosa ( Ams 1:10-19) • C. Tunduklah pada Hikmat dan Takut akan Tuhan ( Ams 1:20-33) • D. Carilah Hikmat dengan Pengertian dan Kebajikannya ( Ams 2:1-22) • E.

Ciri-Ciri Khas dan Manfaat Hikmat Sejati ( Ams 3:1-35) • F. Hikmat Sebagai Harta Keluarga ( Ams 4:1-13,20-27) • G. Hikmat dan Dua Jalan Hidup Ini ( Ams 4:14-19) • H. Bujukan dan Kebodohan Kebejatan Seksual ( Ams 5:1-14) • I. Nasihat Mengenai Kesetiaan Dalam Pernikahan ( Ams 5:15-23) • J.

Hindari Tanggungan Utang Orang Lain, Kemalasan dan Penipuan ( Ams 6:1-19) • K. Kebodohan yang Sangat dari Semua Bentuk Kebejatan Seksual ( Ams 6:20-7:27) • L. Imbauan Hikmat ( Ams 8:1-36) • M. Hikmat dan Kebebalan Diperbandingkan ( Ams 9:1-18) • III.Himpunan Utama Amsal-Amsal Salomo ( Ams 10:1-22:16) • A. Amsal-Amsal yang Membandingkan Orang Benar dengan Orang Fasik ( Ams 10:1-15:33) • B.

Amsal-Amsal yang Mendorong Hidup Benar ( Ams 16:1-22:16) • IV. Perkataan Tambahan Orang Bijak ( Ams 22:17-24:34) • V. Amsal-Amsal Salomo yang Dikumpulkan Para Pegawai Hizkia ( Ams 25:1-29:27) • A. Amsal-Amsal Tentang Bermacam-Macam Orang ( Ams 25:1-26:28) • B. Amsal-Amsal Tentang Amsal 1 ayat 7 Kegiatan ( Ams 27:1-29:27) • VI.

Kata-Kata Hikmat Terakhir ( Ams 30:1-31:31) • A. Oleh Agur ( Ams 30:1-33) • B. Oleh Lemuel ( Ams 31:1-9) • C. Mengenai Istri yang Bersifat Mulia ( Ams 31:10-31) • Di hadapan kita sekarang kita dapati, • I. Seorang penulis baru, atau lebih tepatnya seorang juru tulis, atau sebuah pena (kalau Anda mau mengatakan demikian) yang dipakai oleh Roh Kudus untuk mengungkapkan pikiran Allah kepada kita, yang menulis sebagaimana ia digerakkan oleh tangan Allah (begitulah Roh Allah disebut).

Orang ini adalah Salomo. Melalui tangannya jadilah kitab suci ini dan dua kitab yang mengikutinya, Pengkhotbah dan Kidung Agung, sebuah khotbah dan sebuah kidung. Menurut pendapat sebagian orang, Salomo menulis Kidung Agung ketika masih sangat muda, Amsal ketika paruh baya, dan Pengkhotbah ketika sudah tua.

Dalam judul Kidung Agungnya, ia hanya menyebut dirinya sebagai Salomo, mungkin karena ia menulisnya sebelum naik takhta, ketika dipenuhi oleh Roh Kudus pada waktu muda. Dalam judul Amsalnya, ia menyebut dirinya sebagai Salomo bin Daud, raja Israel, sebab pada waktu itu ia memerintah atas seluruh Israel.

Dalam judul Pengkhotbahnya, ia menyebut dirinya sebagai anak Daud, raja di Yerusalem, karena mungkin pada waktu itu pengaruhnya atas suku-suku yang jauh sudah berkurang, dan pemerintahannya terbatas di sekitar Yerusalem.

Mengenai penulis ini, kita dapat mengamati, • 1. Bahwa ia adalah seorang raja, dan anak raja. Sebagian besar penulis kitab suci, sampai sejauh ini, merupakan orang-orang yang berkedudukan tinggi di dunia, seperti Musa dan Yosua, Samuel dan Daud, dan sekarang Salomo.

Namun, sesudahnya, penulis-penulis yang penuh ilham pada umumnya adalah nabi-nabi yang miskin, orang-orang yang tidak terpandang di dunia, karena pembabakan baru yang kian mendekat. Dalam pembabakan ini Allah akan memilih apa yang lemah dan bodoh bagi dunia untuk memalukan orang-orang yang berhikmat dan yang kuat, dan orang miskin harus dipekerjakan untuk memberitakan Injil. Salomo adalah seorang raja yang kaya raya, dan kekuasaannya sangatlah luas, raja nomor wahid.

Namun demikian, ia bergemar dalam mempelajari perkara-perkara ilahi, dan merupakan seorang nabi dan anak nabi. Bukanlah suatu penghinaan bagi raja-raja dan penguasa-penguasa besar di dunia untuk mengajarkan agama dan hukum­hukumnya kepada orang-orang di sekitar mereka. • 2. Bahwa ia adalah seorang yang dikaruniai Allah dengan hikmat dan pengetahuan yang luar biasa, sebagai jawaban atas doa­doanya pada waktu ia naik takhta.

Doanya itu patut dicontoh: “ Berilah aku hikmat dan pengertian.” Jawaban untuk doa itu membesarkan hati: ia mendapatkan apa yang diinginkanya dan semua hal lain ditambahkan kepadanya. Sekarang di sini kita mendapati bagaimana ia memanfaatkan dengan baik hikmat yang telah diberikan Allah kepadanya. Amsal 1 ayat 7 tidak hanya mengatur dirinya sendiri dan kerajaannya dengan hikmat itu, tetapi memberikan aturan-aturan amsal 1 ayat 7 kepada orang lain juga, dan meneruskannya kepada angkatan berikutnya.

Demikian pulalah kita harus mengembangkan talenta-talenta amsal 1 ayat 7 dipercayakan kepada kita, sesuai dengan apa talenta-talenta itu. • 3. Bahwa ia adalah orang yang tidak luput dari kesalahan, dan menjelang akhir hidupnya berpaling dari jalan-jalan Allah yang baik itu, yang kepadanya dia mengarahkan orang lain dalam kitab ini.

Kita bisa membaca kisahnya dalam 1 Raja-raja 11, dan sungguh merupakan kisah yang sedih, bahwa penulis kitab seperti ini sampai murtad seperti yang diperbuatnya. Janganlah kabarkan itu di Gat. Tetapi biarlah dari sini orang-orang penting yang tersohor berjaga-jaga agar tidak sombong atau merasa aman-aman. Biarlah kita semua belajar untuk tidak menganggap buruk ajaran-ajaran yang baik meskipun kita mendapatkannya dari orang-orang yang hidupnya tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang mereka ajarkan sendiri.

• II. Cara menulis yang baru, yang di dalamnya hikmat ilahi diajarkan kepada kita melalui amsal-amsal, atau kalimat-kalimat pendek, yang memuat seluruh maknanya secara sendiri-sendiri dalam setiap kalimat dan tidak berhubungan satu sama lain.

Sebelumnya kita sudah mendapati hukum-hukum, sejarah-sejarah, dan nyanyian-nyanyian ilahi, dan sekarang amsal-amsal ilahi. Seperti itulah beragam cara yang telah dipakai oleh Hikmat Tak Terbatas untuk mengajar kita, supaya, karena tidak satu pun batu yang tidak dibalik untuk membawa kebaikan bagi kita, kita tidak dapat berdalih jika kita binasa dalam kebodohan kita.

Mengajar dengan amsal merupakan, • 1. Cara mengajar di zaman kuno. Ini merupakan cara yang paling kuno di antara orang-orang Yunani. Setiap orang dari tujuh orang bijak Yunani mempunyai semacam satu pepatah yang di dalamnya terkandung nilai mengenai dirinya sendiri, dan yang membuatnya tersohor.

Pepatah-pepatah itu digoreskan pada tiang-tiang, dan dipuja-puja dengan begitu rupa sampai orang mengatakannya turun dari sorga. A cœlo descendit, Gnothi seauton – Kenalilah dirimu sendiri adalah perintah yang turun dari sorga. • 2. Cara mengajar yang jelas dan mudah, yang tidak membutuhkan banyak usaha besar dari guru maupun murid, dan juga tidak memeras otak serta ingatan mereka.

Ungkapan-ungkapan yang panjang dan argumentasi-argumentasi yang sukar harus menguras pikiran yang menyusunnya maupun yang harus memahaminya, sedangkan sebuah amsal, yang menyampaikan pengertian sekaligus buktinya dalam kalimat singkat, cepat ditangkap dan diikuti, dan mudah diingat. Baik ibadah­ibadah Daud maupun ajaran-ajaran Salomo singkat tetapi padat. Cara pengungkapan seperti ini dapat dicontoh oleh orang-orang yang melayani perkara-perkara kudus, baik dalam berdoa maupun berkhotbah.

• 3. Cara mengajar yang bermanfaat, dan secara menakjubkan memenuhi apa yang ingin dicapai. Kata mashal, yang di sini digunakan untuk amsal, berasal dari kata yang berarti memerintah atau mempunyai kekuasaan, karena kekuatan dan pengaruh yang berkuasa yang dimiliki pepatah-pepatah bijak dan berbobot atas anak-anak manusia.

Barangsiapa mengajar dengan peribahasa berarti dominatur in concionibus – menguasai para pendengarnya. Mudah untuk mengamati bagaimana dunia diatur oleh amsal. Perkataan seperti peribahasa orang tua-tua ( 1Sam. 24:14), atau (sebagaimana yang biasa kita katakan) seperti kata pepatah, amat berpengaruh dalam membentuk gagasan-gagasan kebanyakan orang dan membulatkan tekad­tekad mereka.

Banyak dari hikmat orang-orang zaman dulu diteruskan kepada keturunan mereka melalui amsal. Sebagian orang berpendapat bahwa kita bisa menilai sifat dan tabiat sebuah bangsa melalui ciri-ciri peribahasa rakyatnya.

Amsal dalam percakapan adalah seperti aksioma (pernyataan yang dianggap benar – pen.) dalam filsafat, seperti maksim (kebenaran umum – pen.) dalam hukum, dan dalil dalam matematika, yang tidak dibantah siapa pun, tetapi yang berusaha diuraikan semua orang agar hal-hal tersebut berpihak kepada mereka. Namun, ada banyak amsal yang bobrok, yang cenderung merusak pikiran manusia dan mengeraskan mereka di dalam dosa.

Iblis mempunyai pepatah-pepatahnya sendiri, dan dunia serta kedagingan juga mempunyai pepatah-pepatah mereka sendiri, yang mencerminkan penghinaan terhadap Allah dan agama (seperti dalam Yehezkiel 12:22; 18:2). Agar kita waspada terhadap pengaruh-pengaruh jahatnya, Allah juga mempunyai pepatah-pepatah-Nya sendiri, yang kesemuanya bijak dan baik, dan bertujuan menjadikan kita demikian.

Amsal-amsal Salomo ini bukanlah sekadar kumpulan kata­kata bijak yang sudah disampaikan sebelumnya, sebagaimana sebagian orang menyangkanya, melainkan apa yang diungkapkan oleh Roh Allah kepada Salomo. Yang pertama-tama dari amsal ini ( 1:7) selaras dengan apa yang sudah difirmankan Allah kepada manusia pada mulanya ( Ayb. 28:28, sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat). Karena itu, walaupun Salomo orang besar, dan namanya merupakan jaminan mutu bagi tulisan-tulisannya seperti nama orang-orang besar lain, namun, sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo.

Allahlah, melalui Salomo, yang di sini berbicara kepada kita. Saya katakan, kepada kita. Sebab amsal-amsal ini ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, dan, ketika Salomo berbicara kepada anaknya, nasihat itu dikatakan berbicara kepada kita seperti kepada anak-anak ( Ibr.

12:5). Sama seperti tidak ada kitab yang begitu bermanfaat bagi ibadah-ibadah kita seperti mazmur-mazmur Daud, demikian pula tidak ada kitab yang begitu bermanfaat untuk mengatur segala perilaku kita dengan benar seperti amsal-amsal Salomo. Seperti yang dikatakan Daud tentang perintah-perintah Allah, amsal-amsal Salomo itu teramat sangat luas.

Dalam kalimat-kalimat pendek, amsal-amsalnya berisi kumpulan lengkap perkara-perkara ilahi yang berkaitan dengan etika, politik, dan ekonomi, dengan menyingkapkan setiap kejahatan, memuji setiap kebaikan, dan menyarankan pedoman-pedoman untuk mengatur diri kita dalam setiap hubungan dan keadaan, dan dalam amsal 1 ayat 7 alur pembicaraan.

Uskup Hall, seorang cendekiawan, menarik sebuah ajaran filsafat moral dari Amsal dan Pengkhotbah Salomo ini. Sembilan pasal pertama dari kitab Amsal ini dianggap sebagai pendahuluan, yang menasihati kita agar mempelajari dan melaksanakan aturan-aturan hikmat, dan memperingatkan kita terhadap perkara-perkara yang akan menghalang-halangi kita dalam melakukannya. Jadi, di sini kita mendapati jilid pertama dari amsal 1 ayat 7 Salomo dalam pasal Amsal 10-24. Setelah itu jilid kedua, pasal 25-29.

Kemudian nubuatan Agur, pasal 30, dan nubuatan Lemuel, pasal amsal 1 ayat 7. Maksud dari kesemuanya ini satu dan sama, untuk mengarahkan kita agar mengatur perilaku hidup kita dengan baik sehingga pada akhirnya kita dapat melihat keselamatan yang datang dari Tuhan.

Komentar terbaik untuk aturan-aturan ini adalah dengan diatur olehnya. KITAB AMSAL PENGANTAR Kitab Amsal adalah karya yang paling jelas memperlihatkan apa itu sastera kebijaksanaan di Israel (bdk Pengantar umum dari kitab-kitab Kebijaksanaan). Kitab Amsal terbentuk di sekitar dua kumpulan pepatah, amsal 1 ayat 7 Ams 10-22:16, yang berjudul: "Amsal-amsal Salomo bin Daud" (375 pepatah) dan Ams 25-29, yang didahului keterangan berikut: "Juga ini adalah amsal-amsal Salomo yang dikumpulkan pegawai-pegawai Hizkia, raja Yehuda" (128 pepatah).

Kedua kumpulan tersebut kemudian diberi tambahan: Kumpulan pertama ditambah dengan "Amsal-amsal orang bijak", Ams 22:17-24:22, dan "Juga ini adalah amsal-amsal dari orang bijak", Ams 24:23-34; kumpulan kedua ditambah dengan "Perkataan Agur", Ams 30:1-14, dengan sejumlah peribahasa bilangan, Ams 30:15-33, dan dengan "Perkataan Lemuel", Ams 31:1-9. Keseluruhan ini akhirnya diberi suatu pendahuluan panjang, 1-9 di mana seorang ayah memberi berbagai nasehat kebijaksanaan kepada anaknya, sedangkan Hikmat sendiripun angkat bicara pula.

Kitab Amsal berakhir dengan sebuah sajak tersusun menurut abjad Ibrani yang memuji isteri yang cakap, Ams 31:10-31. Urutan bagian-bagian kitab Amsal tersebut tidak menentu.

Urutan dalam Alkitab Yunani berbeda dengan urutan dalam Alkitab Ibrani. Selain itu, di dalam masing- masing bagian pepatah-pepatah berturutan tidak keruan dan ada kalanya diulang.

Maka kitab Amsal boleh dikatakan semacam wadah yang menampung pelbagai kumpulan yang diberi kerangka sebuah pendahuluan dan sebuah kata penutup. Kitab Amsal mencerminkan suatu perkembangan di bidang sastera, seperti yang telah diuraikan dalam Pengantar umum. Kedua kumpulan besar yang disebut di atas menyajikan sejumlah "masyal" (bdk Pengatar umum) dengan bentuk aselinya.

Kumpulan-kumpulan itu hanya berisikan pepatah melulu dan pepatah-pepatah itu pada umumnya tersendiri atas dua bagian yang menjadi satu ayat. Dalam bagian-bagia tambahan tersebut pepatah-pepatah menjadi lebih panjang; sajak-sajak pendek yang berupa pepatah bilangan, Ams 30:15-33; bdk 6:16-19, menambahkan daya tarik ajarannya dengan memberinya berupa teka-teki sebuah jenis sastera yang dikenai sejak dahulu kala, bdk Am 1. bagian pembukaan kitab, 1-9, merupakan wejangan teratur yang berasal dari kalangan para perilmu.

Wejangan itu terputus oleh dua pidato yang dibawakan oleh Hikmat yang dipribadikan. Bagian penutup kitab, Ams 31:10-31, juga sebuah karya ciptaan para berilmu. Perkembangan dalam bentuk sastera tersebut bersesuaian dengan urutan bagian- bagian kitab Amsal dalam waktu. Bagian-bagian tertua dalam kitab Amsal ialah kedua kumpulan pepatah yang disebut di atas, 10-22 dan 25-29.

Kumpulan-kumpulan itu dikatakan berasal dari Salomo yang menurut 1Raj 4:32 "menggubah tiga ribu amsal" dan yang selalu dipandang sebagai orang bijak yang terbesar pada bangsa Israel. Selain keterangan tradisi tersebut, kitab Amsal sendiri tidak menolong dalam menentukan pepatah-pepatah manakah berasal dari Salomo. Tetapi tidak ada alasan amsal 1 ayat 7 meragukan bahwa secara menyeluruh kumpulan-kumpulan itu berasal dari zaman para raja.

Amsal-amsal yang termaktub dalam kumpulan kedua sudah dipandang tua sewaktu pegawai-pegawai Hizkia menghimpunkannya di sekitar tahun 700 seb. Mas. Oleh karena merupakan bagian inti kitab seluruhnya, maka kedua kumpulan tersebut "meminjamkan" nama raja itu untuk menyebut seluruh kitab Amsal, sehingga berjudul: "Amsal-amsal Salomo bin Daud", Ams 1:1.

Tetapi judul-judul yang dibubuhkan pada bagian-bagian masing-masing menunjukkan bahwa judul umum tersebut jangan diartikan secara harafiah. Judul amsal 1 ayat 7 itu mecakup juga karya orang bijak yang tidak bernama, Ams 22:17-24:34, perkataan- perkataan Agur dan Lemuel, Ams 30:1-31:9.Andaikan nama kedua orang bijak yang berbangsa Arab itu hanya nama buatan saja dan bukankah nama tokoh-tokoh yang sungguh-sungguh pernah hidup, maka nama-nama itu toh memperlihatkan betapa orang Israel menghargai hikmat dari luar negeri.

Penghargaan itu paling terbukti dengan adanya beberapa "amsal orang bijak", Ams 22:17-23:11, yang terpengaruh oleh petuah-petuah Amenemope" dari Mesir, yang ditulis pada awal milenium pertama seb. Mas. Wejangan yang tercantum dalam Ams 1-9 berpolakan "Wejangan", yaitu suatu jenis sastera yang lazim dipakai oleh kebijaksanaan di Mesir. Tetapi wejangan itupun serupa dengan "Nasehat-nasehat seorang ayah kepada anaknya", seperti baru-baru ini ditemukan dalam sebuah naskah dari kota Ugarit yang ditulis dalam bahasa Akkad.

Malahan pempribadian Amsal 1 ayat 7 ada contohnya dalam kesusasteraan Mesir, yang suka memperorangkan Maat, yaitu Keadilan-kebenaran. Tetapi orang- orang bijaksana di Israel tidak menjiplak saja. Mereka mempertahankan keaseliannya dan menyesuaikan contoh-contoh dari luar negeri itu dengan kepercayaan mereka kepada Yahwe. Bagian inti kitab Amsal, bab 10-29, dengan cukup pasti dapat ditanggalkan pada masa sebelum pembuangan.

Sebaliknya, waktu manakah bab 30-31 disusun tidaklah pasti. Adapun bagian pembukaan, 1-9, pasti disusun di masa belakangan dan corak kesusasteraannya ada kesamaannya dengan karya-karya yang dikarang sesudah masa pembuangan. Maka bagian pembukuan itu ditulis pada abad ke-5 seb. Mas. Pada masa yang sama agaknya kitab Amsal amsal 1 ayat 7 memperoleh bentuk definitipnya.

Oleh karen kitab Amsal mencerminkan buah-buah pikiran yang berasal dari pelbagai zaman, maka dengan sendirinya dicerminkan juga perkembangan dalam ajaran.

Dalam kedua bagian tertua nada kebijaksanaan manusiawi dan keduniaan menyolok, sehingga bingunglah orang Kristen yang membacanya. Walaupun demikian, namun sudah dalam bagian itu, dengan perbadingan satu lawan tujuh, pepatah- pepatah mempunyai ciri keagamaan. Ajaran memang berupa teologi praktis: Allah mengajar orang yang berkata benar, yang berkasihan, yang berhati murni dan rendah hati.

Sebaliknya Allah menghukum sifat-sifat yang berlawanan. Sumber dan ringkasan segala sifat baik ialah hikmat-kebijaksanaan dan ini tidak lain dari takwa dan takut akan Tuhan, Ams 15:16, 33;16:6; 22:4; manusia harus mengandalkan Allah saja, Ams 20:22; 29:25. Bagian pertama kitab Amsal menyajikan nasehat-nasehat yang juga bernafaskan kebijaksanaan manusiawi dan keagamaan.

Ditekankan dosa-dosa yang tidak diperhatikan oleh para bijaksana di masa lampau, yaitu: zinah dan pergaulan bebas dengan "perempuan asing" Ams 2:16 dst; 5:2 dst; 5:15 dst.

Bagian penutup kitab Amsal ternyata menjunjung tinggi perempuan. Yang lebih penting lagi ialah: Bagian pembukaan, sebagai yang pertama, secara berturutan menyajikan ajaran mengenai hikmat-kebijaksanaan, mengenai nilainya dan tentang peranannya sebagai pembimbing dan pengatur kelakuan.

Hikmat sendiripun angkat bicara, memuji dirinya; ia menjelaskan hubungannya dengan Allah dan menyatakan bahwa ia sudah berada pada Allah sejak awal mula dan menolong dalam menciptakan dunia semesta, Ams 8:22-31. Inilah nas pertama yang memperorangkan Hikmat.

Nas-nas lain sudah ditunjuk dalam Pengantar umum kitab-kitab kebijaksanaan. Ajaran Kristus, Hikmat Allah yang sejati, tentu saja melebihi ajaran kitab Amsal. Tetapi sejumlah pepatah kitab Amsal sudah bercirikan ajaran akhlak seperti yang terdapat dalam Injil. Perlu juga orang insaf bahwa agama yang sejati hanya dapat berkembang atas dasar peri kemanusiaannya yang wajar.

Perjanjian Baru sering mempergunakan kitab Amsal (14 kutipan, dan 20 kali Amsal disinggung) dan dengan jalan itu Perjanjian Baru mengajak orang Kristen supaya tetap menghargai buah pikiran para bijaksana Israel dahulu. AMSAL SULAIMAN PENDAHULUAN Bagian 2 tertua dari kesusasteraan Kebidjaksanaan Hibrani dengan djelasnja terdapat dalam kitab jang berdjudul "Amsal Sulaiman".

Didalamnja kita dapati permulaan tertulis dari arus jang mengalir sampai ke-abad 2 belakangan sebelum Perdjadjian Baru, jaitu sampai ke kebidjaksanaan Putera Sirah dan kitab Kebidjaksanaan.

Arus ini terdapat atas sedjumlah besar "orang 2 kebidjaksanaan" anonim, jang mentjatat pengalaman 2 serta renungan 2nja untuk murid 2nja dan angkatan jang akan datang. Mereka merupakan suatu golongan tersendiri didalam rakjat Israil, jangberlainan sekali dengan penulis sedjarah, apalagi dengan para nabi. Orang 2 jang berwatak sedang ini dan, kendati bertakwa benar, tetapi tjukup menaruh perhatian jang praktis dan duniawi, sangat boleh djadi harus ditjari dikalangan isi istana, dimana mereka bertindak selaku pendidik para pegawai administrasi dan politik dan mungkin djuga memegang sendiri djabatan administrasi dan politik.

Tidak djaranglah kalangan ini bertentangan dengan lingkungan nabi 2 jang djauh lebih bersemangat dan lebih radikal. Adapun arti kata Hibrani untuk "amsal" sukar dibentangkan dengan beberapa patah kata sadja.

Kata ini melingkupi suatu rentetan jang ber-matjam 2 artinja. Kadang 2 berarti "peribahasa rakjat", ungkapan tadjam atau teka-teki dan sindiran. Perumpamaan, parabel dan kiasan dinamakan begitu pula, bahkan djuga uraian danpidato jangagak pandjang. Suatu djenis chusus ialah apa jang disebut amsal 1 ayat 7 bilangan", jang djuga lambat-laun disempurnakan.

Semua "amsal" ini dapat bertahan ber-abad 2 lamanja dan djuga berkembang labih landjut. Rupanja merupakan bentuk jang djitu untuk menarik perhatian dan untuk menghafalkan adjaran jang tertjantum didalamnja. Semua bentuk itu terdapat pula dalam kitab Amsal. Sebab kitab ini bukan hasil karya satu orang pengarang dan bukan pula dari satu generasi "orang amsal 1 ayat 7 bidjaksana".

Sungguhpun kitab ini berdjudul "Amsal 2 Sulaiman", namun ini se-kali 2 tidak berarti, bahwa semua kumpulan bersumberkan "Bapak Kebidjaksanaan" itu, meski setjara tak-langsung sekalipun. Dua bagian, jang dapat dibedakan dengan djelas dandjuga merupakan bagian 2 jang terbesar dari kitab ini (10-22,16 dan 25-29), amsal 1 ayat 7 pula "Amsal 2 Sulaiman" (10,1 dan 25,1). Ini bagian 2 jang tertua dari kitab tadi, dan amsal 2 didalamnjapun nampaklah primitif sekali bentuknja, baik mengenai isi maupun tjoraknja, umumnja pepatah jang terdiri dua baris, jang berdjadjaran tanpa banjak gandingannja satu sama lain.

Kebanjakan djuga bersifat populer dan praktis. Bahwasanja sebagian dari antaranja berasal dari Sulaiman, tidaklah mustahil, tetapi ada banjak djuga jang anonim sama sekali dan ditjatat dari mulut rakjat. Tentang kumpulan kedua amsal 1 ayat 7 dengan djelasnja, bahwa itu disusun oleh pegawai 2 radja Hizkia, djadi beberapa abad amsal 1 ayat 7 Sulaiman.

Kemudian kedua kumpulan itu ditambah dengan lampiran 2 jang berlainan pengarang atau penghimpunannja. Kumpulan pertama ditambah dengan "Perkataan para bidjaksana" (22,17-24,22) dan "Inipun dari para bidjaksana" (24,23-34). Tidak mungkin lagi menentukan lebih landjut, siapa 2 "orang 2 bidjaksana Israil".

Amsal 2 jang dikumpulkan dalam bagian ini menundjukkan tjorak jang lebih beraneka-ragam dan lebih madju. Kumpulan kedua amsal 1 ayat 7 2 Sulaiman" diikuti tiga kumpulan pendek. Jang pertama berdjudul "Perkataa 2" ahur bin Jake dari Massa" (30,1-14), orang jang tidak dikenal lebih landjut, seorang amsal 1 ayat 7 suku Arab, dan boleh djadi seorang tokoh chajali belaka.

Lampiran lain ialah nasihat 2 kepada Lemuel, seorang putera-mahkota, oleh ibunja (31,1-9). Antara ke-dua 2nja tadi ada suatu kumpulan anonim pepatah 2 bilangan (30,15-33). Seluruh kitab dikuntji dengan pudjian atas isteri jang berbudi (31,10-31), jang bentuk kesusasteraannja sungguh berlainan dengan kumpulan 2 jang terdahulu dan sudah pestilah disusun belakangan. Kitab ini dimulai dengan suatu kata pendahuluan jang pandjang-lebar (1-9).

Selain 6,1-19 - jang lebih menjerupai bagian 2 lain kitab dan terdiri atas rentetan amsal 2 5terdiri,-maka bagian pertama ini merupakan suatu keseluruhan jang besar dan teratur.

Adapun isinja memudjikan (1,1-19;2,1-5,23;6,20-71,27) dan melukiskan (1,20-33;8,1-9,6) Kebidjaksanaan. Tjorak bagian ini sungguh berlainan dengan bagian 2 lain kitab ini sangat mirip dengan kebidjaksanaan Putera Sirah dan Kitab Kebidjaksanaan. Djelaslah, bahwa bagian ini disusun paling achir dan sudah sangat diperngaruhi nabi 2.

Baian tadi ditambahkan kepada kumpulan beraneka-ragam amsal sudah ada. Kira 2 sadja boleh di katakan, bahwa kitab seperti kita kenal sekarang ini, seluruhnja selesai sekitar tahun 500 sebelum Masehi.

Djadi, adalah hasil kebidjaksanaan Israil selama ber-abad 2. Berdasarkan keterangan 2 dari kitab itu sendiri, dapatlah dibagi sbb: I Memudjikan Kebidjaksanaan (1-9) II Amsal 2 Sulaiman (10-22,16) III Amsal 2 para Bidjaksana (22,17-24,22) IV Lagi Amsal 2 para Bidjaksana (24,23-34) V Kumpulan kedua Amsal 2 Sulaiman (25-29) VI Amsal 2 Agur (30,1-14) VII Pepatah 2 bilangan (30,15-33) VIII Amsal 2 untuk Lemuel (31,1-9) IX Pudjian atas Isteri berbudi (31,10-31).

Didalam terdjemahan Junani urutan bagian 2 tadi agak berlainan, hal mana menundjukkan pula, bahwa kitab ini disusun setjara ber-anggur 2 dan baru lama kemudian mendapat bentuknja jangdefinitif. Urutan dalam terdjemahan JUnani adalah sbb: I,II,III,VI,VII,VIII,V,IX. Didjalam dahulu kala tidak hanja Israil sadja jang mempunjai madrasah 2 ilmu kebidjaksanaan. Lama sebelumnja di Mesir sudah ada metodes pendidikan sematjam itu, dan tidak sedikitlah dari kumpulan amsal 2 Mesir sampai kepada kita.

Ilmu kebidjaksanaan Mesir merembas pula ke-negeri 2 tetangga. Orang 2 Jahudi sering mengadakan perhubungan dengan Mesir dan oleh karenanja tidak mustahil, malahan mungkin sekali, orang 2 bidjaksana di Israil tidak sama sekali terpelas dari orang 2 bidjaksana Mesir serta negeri 2 tetangga. Tetapi ini tidak berarti, bahwa mereka bergantung setjara langsung daripadanja. Soalnja lebih mengenai suasana umum serta metode dan pengaruh satu sama lain, tetapi dengan tidak kita ketahui, bagaimana persisnja djalan proses itu.

Agur jang bidjaksana dan ibu Lemuel pastilah bukan orang Israil, melainkan teranglah orang kufur dari djurusan Mesir. Amsal Agur mengingatkan kita kepada buku kebidjaksanaan tertentu dari Mesir.

Kalau umat Serani membatja kitab Amsal ini, maka tak dapatlah kita menghilangkan kesan, bahwasanja selain pasal 1-9, kesemuanja itu bojak dan biasa sadja isinja.

Kebanjakan amsal itu mengadjarkan kebidjaksanaan insani jang biasa dan umum sadja, dan lagi dengan senangnja mengutarakan ber-matjam 2 kepitjikan manusia serta tjatjat 2, tanpa dibubuhi dengan penilaian susilanja.

Pada umumnja amsal itu tidak besarlah nilai keigamaannja. Segala sesuatunja agar rendah dan biasa. Kesan itu untuk sebagian besar dapat dibenarkan. Tetapi djanganlah kita lupakan, bahwa amsal 1 ayat 7 kitab ini kita berkenalan dengan amsal 1 ayat 7 dari perkembangan keigamaan dan kesusilaan Israil dan bahwa kita berharap dengan kalangan orang bidjaksana, jang belum mendapat udjian api para nabi, djadi manusia dri kehidupan praktis, jang berhaluan duniawi dan jang tahu memandang keseluruhan dari tempat jang agak tinggi.

Mereka adalah pendidik, jang terutama bermaksud membimbing orang djadi warga dan pegawai jang baik, bahkan djadi radja jang baik. Dari itu mereka menitik beratkan keutamaan 2 kodrat dan kebadjikan warga masjarakat, jang mendjamin kedudukan jang lajak dalam masjarakat bagi murid 2nja.

Tetapi sebaliknja, ada djuga banjak amsal jang bernada keigamaan. Ada orang baik dan orang djahat, ada keutamaan dan ketjelaan, sekadar manusia berbuat sesuai tidaknja dengan kebidjaksanaan, jang achirnja berasal dari Allah. Allah melihat dan mendengar segala sesuatu, dan tak seorangpun dapat lolos dari kebidjaksanaanNja serta kemahakuasaanNja, sebab Ia adalah Pentjipta dan Penguasa segala sesuatu.

Allah inilah jang mengadjar dan menghukum setjara adil dan sekadar perbuatan 2. Gandjaran itu berupa berkah serta kebahagiaan didunia, lebih 2 banjak anak dan umur pandjang, sedangkan hukuman itu berwudjud hidup jang miskin dan tjelaka dan lekas mati, tanpa meninggalkan keturunan.

Djika rangka jang agak sederhana ini dikenakan pada manusia, boleh djadi dapat memuaskan untuk sementara, tetapi didalam abad 2 kemudian menimbulkan reaksi jang hebat dan kritik, seperti jang kita dapati dalam kitab Ijob dan Kitab si Pengchotbah.

Pikiran jang, dipandang setjara umum, mendjadi dasar semua amsal, jang beraneka ragam tjoraknja dan sangat berlainan maksudnja itu, dibentangkan sedikit banjak setjara teologis dalam kesembilan pasal permulaan tadi. Ialah pikiran perihal "Kebidjaksanaan". Para penjusun amsal jang terdahulu belum pernah memikirkan dengan sungguh 2 perihal dasar terachir adjaran mereka. Itu terserah kepada masa kemudian, ketika pasal 2 permulaan itu tersusun sebagai kata pendahuluan dan pertanggungdjawab atas pepatah 2 jang banjak djumlahnja dari leluhur itu.

Adapun kebidjaksanaan itu suatu pengertian jang samar 2 dan melingkupi banjak hal. Bisa berarti ketjakapan dan seni, teristimewanja seni untuk hidup, untuk berbahagia dan berhasil baik dengan mengukuhi aturan 2 tertentu dan dengan menghindari segala keterlaluan. Kebidjaksanaan adalah terutama seni untuk hidup mursid, dan kemursidan ditentukan oleh "ketakutan akan Allah", jang mengharuskan orang memenuhi hukumNja, walaupun dimasa dahulu kala Taurat Musa belum tampil dengan djelasnja seperti dimasa kemudian.

lalu kebidjaksanaan disamakan dengan hukum Allah ini. Madju selangkah lagi, maka kebidjaksanaan mendjadi sifat Allah sendiri, jang dapat dianugerahkanNja kepada manusia, jang oleh karenanja djadi mursid, lants kebidjaksanaan. Kebidjaksanaan sebagai sifat Allah achirnja diperorangkan (1,20-33;8,1-9,6). Ia datang dari Allah dan ada pada Allah dan djuga pada manusia.

Ia adalah penasihat Allah jang kekal dan arsitekNja dalam mentjiptakan dunia, membimbing para penguasa dalam memerintah rakjat mereka dan membawa manusia kekehidupan. Renungan 2 perihal kebidjaksanaan sebagai penengah antara sifat Allah dan pribadi Ilahi merupakan persiapan akan pewahjuan "Sabda Allah" dan Roh Kudus, seperti jang kita dapati dalam Perdjandjian Baru. Sama beraneka-ragamnja seperti pengertian "kebidjaksanaan" ialah pengertian "kebodohan", jang dapat berarti ketololan maupun kefasikan dan djuga dapat diperorangkan.

Kebodohan itu mendjadi kebalikan dari kebidjaksanaan Ilahi dan mendjadi sebab musababnja dosa dan tjatjat. Pada achirnja kitab ini terdapat ichtisar pembagian jang kami adakan. PENDAHULUAN AMSAL AJARAN DARI AMSAL. Inti dari Kitab Amsal ialah ajaran tentang prinsip moral dan prinsip etika. Keunikan kitab ini adalah bahwa sebagian besar isinya merupakan ajaran yang disajikan dengan cara memperlihatkan kontrasnya.

Yang terutama patut diperhatikan ialah pasal 10-15, di mana hampir setiap ayat dipisahkan dengan kata "tetapi." Pada bagian pertama, pasal 1-9, juga dipergunakan kontras - antara yang baik dan yang jahat. Kebaikan dalam bagian ini ditunjukkan secara menonjol oleh beberapa kata - hikmat, didikan, pengertian, kebenaran, keadilan, kejujuran, pengetahuan, kebijaksanaan, ilmu, pertimbangan-pertimbangan - tetapi khususnya hikmat, yang muncul tujuh belas kali pada amsal 1 ayat 7 ini dan dua puluh dua kali pada bagian selebihnya dari kitab ini.

Teks penting dari kitab ini ialah pernyataan terkenal pada 1:7, "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan," yang diulang pada akhir bagian ini ( 9:10). Pernyataan ini muncul kembali kata per kata secara alfabetis (dengan klausa dibalik) dalam Mazmur 111:10, dan dalam bentuk yang hampir sama, sebagai klimaks dari Ayub pasal 28, yang menggambarkan secara puitis sekali pencarian akan hikmat.

Yang unik pada bagian Amsal ini ialah personifikasi hikmat sebagai seorang perempuan. Ini terlihat pertama kali dalam 3:15. Sebetulnya, kata ganti dalam 3:15-18 yang merujuk amsal 1 ayat 7 hikmat dapat diterjemahkan dengan "itu" (Ing., it) maupun "dia" (Ing., she), tetapi personifikasi tersebut diterima amsal 1 ayat 7 rujukan-rujukan sesudahnya.

Amsal 7:4 membuka jalan bagi personifikasi tersebut, "Katakanlah kepada hikmat: "Engkaulah saudaraku [perempuan]."' Personifikasi itu menjadi jelas dalam pasal 8 dan 9, di mana Hikmat mengundang orang-orang tidak amsal 1 ayat 7 untuk ikut dalam perjamuannya. Hanya di dalam Kitab Amsal dan amsal 1 ayat 7 pada bagian pertama inilah hikmat dipersonifikasikan seperti itu.

Untuk memahami bagian pertama ini orang perlu sekali mengenali personifikasi tersebut. Karena kata "hikmat" dalam amsal 1 ayat 7 Ibrani merupakan kata benda jenis feminin, maka wajar jika kata ini dipersonifikasikan sebagai seorang perempuan. Lebih penting lagi, penulis Amsal membedakan antara "hikmat," perempuan yang bijaksana, dengan perempuan sundal, perempuan asing.

Sebagaimana hikmat berarti semua kebajikan, demikian juga barangkali perempuan asing tersebut melambangkan dan menyiratkan segala dosa. Kontrasnya sengaja dipersiapkan secara artistik. Hikmat berseru-seru di jalan-jalan ( 8:3). Ia mengajak, "Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari" ( Ams. 9:4). Sebaliknya, perempuan bebal yang mengajak menikmati air curian dan yang tamu-tamunya, adalah penghuni dunia orang mati ( 9:17, 18), memberikan undangan yang sama, "Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari" ( 9:16).

Hikmat mengajak orang tak berpengalaman untuk membuang dosa; perempuan sundal mengajaknya untuk menuruti nafsunya. Dengan demikian, bagian ini, Amsal 1-9, mempertentangkan dosa dengan kebenaran.

Kata-kata seperti "hikmat," "didikan," "pengertian," dan sebagainya pada seluruh bagian ini bukan saja berarti kecerdasan dan kecakapan manusia, melainkan juga berlawanan dengan hal yang jahat. Jadi, yang dimaksud hikmat di sini adalah sifat moral. Perlu diperhatikan bahwa ini merupakan pemakaian yang khusus. Pada sebagian besar pemakaian dalam Perjanjian Lama, hikmat adalah sekadar kecakapan atau kecerdikan. Bahkan dalam Kitab Pengkhotbah di mana hikmat juga ditekankan, hikmat adalah sekadar kecerdasan manusia dan karenanya termasuk di dalam kesia-siaan ( Pkh.

2:12-15). Hanya dalam Ayub 28 dan dalam mazmur-mazmur tertentu (37:30; 51:8; 90:12; 111:10) konsep dari Kitab Amsal mengenai hikmat tampak nyata. Bahkan hikmat (kebijaksanaan) yang membuat Salomo termasyhur dalam kitab-kitab sejarah, sebenarnya bukan hikmat ini. Salomo termasyhur karena kecakapannya dalam ilmu alam ( I Raj. 4:33) dan hukum ( I Raj. 3:16-28) dan kecerdikannya yang luar biasa ( I Raj.

10:1-9). Amsal menambahkan konsep tentang ketajaman mental, kelurusan moral, yang merupakan satu-satunya hal yang menjadikan akal budi berarti. Pada bagian kedua, Amsal Salomo, 10:1-22:16, ajarannya disajikan, nyaris hanya melalui pernyataan satu ayat. Pada seluruh pasal 15, ajaran diberikan lewat kontras yang ditunjukkan oleh kata "tetapi" di tengah hampir setiap ayat. Karenanya, lebih sering muncul persamaan gagasan daripada perbedaan. Bagian ini meliputi pokok yang luas dan tak teruraikan. Tetapi, sudut pandangnya konsisten.

Salomo membedakan hikmat dengan kebodohan. Dan sebagaimana amsal 1 ayat 7 Bagian 1, ini bukan pertentangan antara kecerdasan dengan kebodohan akal budi manusia, melainkan pertentangan antara hikmat (kebijaksanaan) moral dengan dosa.

Pada bagian ini, hikmat tidak pernah dipersonifikasikan, tetapi sinonim-sinonim yang sama untuk kata itu pada Bagian I dipakai di sini - pengertian, kebenaran, didikan/ajaran. Orang bodoh juga mempunyai sinonim-sinonim: pencemooh, pemalas, orang curang.

Bagian-bagian berikutnya (lihat Garis Besar) melanjutkan tema ini. Seperti ditunjukkan oleh Toy (Crawford H. Toy, ICC dalam Proverb, hlm. xi), etika dalam kitab ini sangat tinggi. Di sini ditekankan tentang kejujuran, kesetiaan, penghargaan terhadap jiwa dan hak milik.

Orang didorong untuk memperjuangkan keadilan, cinta kasih, dan belas kasihan kepada orang lain. Suatu kehidupan rumah tangga yang baik, disertai didikan yang hati-hati terhadap anak-anak dan kedudukan yang terhormat bagi wanita tercermin di sini. Mengenai pandangan keagamaan, Tuhan dipahami sebagai pencipta moralitas serta keadilan, dan tersirat juga monoteisme. Tetapi, di sini sedikit sekali disebut tentang Hukum Taurat dan nubuat ( 29:18), keimaman dan persembahan kurban ( 15:8; 21:3, 27).

Sang penulis sendiri yang berbicara, dengan mengajarkan prinsip-prinsip bahwa perilaku yang benar berasal dari Tuhan. KEPENULISAN. Nama Salomo muncul pada tiga bagian kitab ini - 1:1; 10:1 dan 25:1.

Jadi, ada klaim bahwa bagian-bagian pokok kitab ini ditulis oleh Salomo, sesungguhnya dia juga menulis semua bagian, kecuali Bagian III, 22:17-24:22; IV, 24:23-34; dan VI, 30:1-31:31. Para sarjana kritis membantah klaim ini. Toy ( op. cit. hlm. xix), yang membantah bahwa Pentateukh ditulis oleh Musa dan berpendapat bahwa Yesaya dan para nabi bukanlah penulis kitab-kitab yang berkaitan dengan diri mereka, cukup wajar untuk tidak mengakui Salomo sebagai penulis karya ini.

Berdasarkan banyak petunjuk internal, dia menyatakan bahwa kitab tersebut ditulis pada zaman pasca-Pembuangan. Driver (S. R. Driver, Introduction to the Literature of the Old Testament, edisi keempat, hlm.

381 dst.) berpendapat bahwa amsal 1 ayat 7 kitab ini berasal dari zaman pra-Pembuangan, tetapi sedikit saja - kalaupun ada - yang ditulis oleh Salomo. Pfeiffer (Robert H. Pfeiffer, Introduction to the Old Testament, hlm. 649-659) meneliti ciri-ciri khas internal Kitab Amsal dan berpikir untuk menetapkan tanggal dari berbagai strata.

Karena sastra hikmat di Mesir pada sekitar 1700-1500 SM murni bersifat sekular, dia berkesimpulan bahwa strata keagamaan dalam Amsal pasti berasal dari abad keempat SM.

Setelah puas merekonstruksi sejarah pemikiran di Israel, dia menetapkan tanggal Kitab Amsal dalam kaitan dengan perkembangan itu. Kesimpulannya adalah bahwa kitab ini diselesaikan sesudah 400 SM dan beberapa waktu sebelum akhir abad ketiga SM. W. F. Albright ("Some Canaanite-Phoenician Sources of Hebrew Wisdom" dalam Wisdom in Israel and the Ancient Near East, disunting oleh M. Noth dan D. W. Thomas, hlm. 13) mempelajari kemiripan bahasa Kitab Amsal dengan bahasa Ugarit, lalu dia berpendapat bahwa kitab tersebut "seluruh isinya barangkali berasal dari zaman pra-Pembuangan, tetapi bahwa kebanyakan dari padanya disampaikan secara lisan hingga abad kelima.

Dia berpendapat bahwa Salomo mungkin menulis bagian intinya. Lihat juga artikel oleh salah seorang murid Albright, Cullen I. K. Story, "The Book of Proverbs and Northwest Semitic Literature," JBL, LXIV (1945), 319-337. Charles T. Amsal 1 ayat 7 (The Book of Proverbs, IB, Vol. IV, hlm. 775) berdasarkan alasan-alasan seperti itq mengemukakan pendapat yang sangat mirip.

Oesterley (W. O. E. Oesterley, The Book of Proverbs, hlm. xxvi) memberi tanggal sebelum zaman Pembuangan untuk sebagian besar kitab itu, tetapi untuk Bagian I, 1:1-9:18, dan Bagian VI, 30:1-31:31, dia memberi tanggal abad ketiga "dan sangat mungkin lebih belakangan lagi." Faktanya adalah bahwa perhatian paling teliti atas bukti-bukti internal ini tidak dapat menetapkan tanggal untuk kitab tersebut atau kumpulan-kumpulannya. Sekalipun amsal-amsal sekular mungkin lahir lebih dulu daripada amsal-amsal keagamaan, atau sekalipun aforisme satu baris ada lebih dulu daripada bentuk-bentuk [amsal] yang lebih maju, toh perkembangan bentuk-bentuk amsal yang rumit dan bersifat keagamaan pasti telah berkembang sepenuhnya sebelum zaman Salomo.

Sekalipun Yeremia melawan orang-orang bijaksana pada zamannya ( Yer. 18:18), hal ini tidak memberikan bukti apa-apa mengenai tanggal penulisannya. Dia juga menentang para imam, para nabi dan para raja, tetapi itu tidak membuktikan bahwa jabatan-jabatan ini berasal dari zaman pasca-Pembuangan!

Pendekatan paling menjanjikan untuk amsal 1 ayat 7 tanggal penulisan berdasarkan kriteria internal ialah pendekatan Albright melalui perbandingan kata-kata dan bentuk-bentuk dalam bahasa Ugarit.

Bukti-bukti eksternal kita tidak begitu lengkap seperti yang kita harapkan, tetapi itu tidak boleh sama sekali dihilangkan. Sebagai contoh, Amsal 15:8 dikutip dengan rumusan, "Ada tertulis," dalam Dokumen [Imam] Zadok (kolom XI, baris 20; C. Rabin, The Zadokite Documents, hlm. 58). Ini menunjukkan bahwa kitab tersebut dianggap sebagai kanonik pada abad kedua SM. Karya Salomo mengenai "amsal dan perumpamaan" disebut dalam Kitab Yesus bin Sirakh 47:17, bertanggal sekitar 180 SM.

Meskipun demikian, tidak ada bukti eksternal sebelum ini. Oesterley menyatakan adanya kasus peminjaman dari Amsal oleh Story of Ahikar dalam abad kelima (lih.

tafsiran tentang 23:14). Pendapat orang mengenai tanggal penulisan Kitab Amsal sangat dipengaruhi oleh pandangannya tentang kitab-kitab lainnya. Jika orang berpendapat bahwa Pentateukh belum ditulis sampai 400 SM dan Kitab-kitab para nabi sebagian besar berasal dari zaman pasca-Pembuangan, maka dia pasti akan menolak bahwa Salomo menulis Kitab Amsal. Tetapi, jika tanggal penulisan ditetapkan pada zaman pra-Pembuangan untuk Pentateukh, Mazmur dan Kitab-kitab Para Nabi (sebagaimana oleh pengarang ini) maka tampaknya tidak ada alasan yang kuat untuk menyangkal anggapan tradisional bahwa Salomo menulis bagian-bagian yang menyebut namanya.

Fritsch (op. cit., hlm. 770) keberatan terhadap kebiasaan mengagung-agungkan kebijaksanaan Salomo padahal "dia telah melakukan banyak kekeliruan yang bodoh dalam segala bidang sepanjang hidupnya." Rasanya ini adalah penilaian yang kasar terhadap raja Israel yang paling cemerlang ini. Bahwa dia telah melakukan kesalahan-kesalahan pada masa pemerintahannya yang panjang selama empat puluh tahun, itu adalah jelas; tetapi arkeologi memberikan kesaksian mengenai kecakapan Salomo di bidang arsitektur, kemampuan dalam pemerintahan, dan berbagai penemuan dalam bidang teknik yang berhubungan dengan pengecoran tembaga di Ezion-Geber.

Memang, pada masa tuanya dia bersifat menindas ( I Raj. 12:10), tetapi kemunduran pada masa tuanya itu jangan sampai membuat kita lupa pada kecemerlangannya ketika muda. Lebih banyak kritikus menyatakan keberatan terhadap karakter Salomo karena dia memiliki banyak sekali isteri. Akan tetapi, penelitian yang cermat terhadap berbagai teks (dan itu adalah satu-satunya sumber kita) memperlihatkan bahwa teks-teks itu tidak menggambarkan Salomo sebagai manusia penuh nafsu.

Sebagai seorang raja penting atas suatu wilayah yang mencakup banyak raja kecil dari negara-negara kota (polis), Salomo pasti mengadakan banyak perjanjian. Tentu saja, dalam banyak kasus, perjanjian-perjanjian seperti itu dikuatkan oleh perkawinan Salomo dengan anak perempuan para raja kecil itu, sebagaimana kebiasaan kuno dan sebagaimana dalam kasus aliansi dengan Mesir ( I Raj.

9:16, 17). Tidak diragukan bahwa perkawinan-perkawinan Salomo sebagian besar merupakan kebijaksanaan-kebijaksanaan politik. Kesalahan Salomo sebagian besar bukan terletak pada nafsu, melainkan pada tindakannya mengizinkan para isterinya - yang dari segi politik penting - membawa masuk penyembahan kafir mereka ke dalam kota Allah ( I Raj.

11:7-9). Kita sama sekali tidak mengetahui siapa penulis bagian-bagian lain dari Amsal (III, 22:17-24:22; IV, 24:23-34; VI, 30:1-31:31).

Lihat berbagai keterangan di dalam Tafsiran. Karenanya, kita tidak mungkin bersikap dogmatis mengenai tanggal penulisan bagian-bagian tersebut, kecuali mengatakan bahwa kita tidak perlu menetapkan tanggal penyuntingan final kitab tersebut sesudah berdasarkan tradisi zaman Alkitab berakhir - yaitu sekitar 400 SM.

KUMPULAN-KUMPULAN DALAM KITAB AMSAL. Toy (op. cit., hlm. vii, viii), dan orang-orang lain yang mengikuti pandangannya berpendapat bahwa munculnya kalimat atau ayat yang sama pada `banyak bagian kitab ini menunjukkan adanya penulis-penulis berbeda untuk bagian-bagian itu. Toy mencatat lebih dari lima puluh persamaan, meskipun sebagian tidak terlalu mirip. Dia secara kurang hati-hati mengabaikan 15:13 dan 17:22. Sebagian besar dari persamaan ini diberi perhatian dalam bagian Tafsiran tentang pembahasan ini.

Toy tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap fakta nyata bahwa dalam banyak .hal bagian dari sebuah ayat diulang dengan variasi-variasi yang mungkin penting. Pengulangan tersebut tidak memberikan bukti apa-apa mengenai adanya kumpulan amsal dari penulis-penulis berbeda.

Kadang-kadang pengulangan tersebut juga berada dalam bagian yang oleh Toy dianggap merupakan kumpulan yang menyatu, seperti 14:12 dan 16:25. Di sini Toy terpaksa memberikan kesan bahwa ada kumpulan-kumpulan tambahan. Lebih jauh, ada pengulangan serupa pada sebuah karya dari Mesir yang dianggap ditulis oleh penulis yang sama (bdg.

Tafsiran dari 22:28). Kelihatannya pendapat Toy didasarkan pada asumsi yang keliru. Jelas bahwa ada beberapa kumpulan berbeda dalam Amsal, sebagaimana ditunjukkan oleh judul-judulnya; tetapi bukti-bukti internal berupa kesamaan-kesamaan ini tidak cukup untuk membantah bahwa Salomo menulis bagian-bagian yang dinyatakan berasal dari dia. AMSAL DAN SASTRA HIKMAT LAIN. Sebagaimana penulisan puisi pada zaman purba tidak terbatas pada bangsa Ibrani, demikian juga bentuk sastra dari Amsal bukanlah khas Ibrani.

Kita tidak perlu heran jika menemukan kumpulan-kumpulan amsal di Mesir dan Mesopotamia pada zaman purba. Beberapa karya seperti itu patut diperhatikan, tetapi ada dua yang paling penting - Story of Ahikar dan Wisdom of Amen-em-opet, yang harus dianggap rendah dalam beberapa detail. Salah satu yang paling tua di antara karya-karya Hikmat ini adalah Instruction of Ptah-Hotep, yang berasal dari sekitar 2450 SM di Mesir. Ada beberapa hal dalam karya tersebut yang diduga memiliki persamaan dengan Kitab Amsal, tetapi gaya penulisannya seperti amsal dan dalam beberapa hal gagasan-gagasannya sama.

Misalnya, dalam Instruction of Ptah-Hotep ada perintah agar anak-anak taat, perintah agar rendah hati, bersikap adil, berhati-hati jika berada di meja orang yang terhormat, lebih banyak mendengarkan daripada berbicara dan sebagainya. Jelas nasihat yang saleh seperti itu sudah ada sejak lama dan merupakan sifat lazim masyarakat Timur.

Persamaan antara tulisan-tulisan itu dengan Amsal tidak membuktikan apa-apa mengenai asal-usul kitab yang kita bicarakan ini. Pandangan serupa berlaku untuk Instruction of Ani dan sastra Mesir mula-mula lainnya.

Beberapa karya sastra Mesopotamia patut diperhatikan.

amsal 1 ayat 7

Apa yang dikenal sebagai Ayub versi Babel, berjudul I Will Praise the Lord of Wisdom, mengingatkan kita pada Ayub dam Alkitab kita. Di situ diceritakan seorang laki-laki dengan penyakit hebat yang disembuhkan oleh dewa-dewa. Ada juga Dialogue about Human Misery, yang kadang-kadang disebut Kitab pengkhotbah versi Babel. Kesamaan kata-katanya dengan Kitab Pengkhotbah kecil sekali, tetapi di dalamnya ada beberapa petuah. Berbagai batu tulis dari Babel yang berasal dari abad kedelapan SM atau sebelumnya, berisi juga amsal-amsal yang menasihati orang untuk membalas kejahatan dengan kebaikan, tidak berkata-kata gegabah, tidak ikut dalam pertengkaran orang lain, dsb.

Lagi-lagi, karena prinsip-prinsip moral ini sangat umum, maka keberadaannya di dalam batu-batu tulis itu tidak membuktikan apa-apa mengenai asal-usul Kitab Amsal, kecuali bahwa kitab itu dengan demikian seharusnya dianggap bertentangan dengan latar belakangnya. Sebagaimana Musa mungkin mengambil dari hukum-hukum Hammurabi, dan sebagaimana Daud menggunakan beberapa bentuk puisi Kanaan, demikian juga Salomo dan para penerusnya mempunyai kekayaan materi latar belakang untuk digunakan sebagai ilustrasi.

Tetapi, dalam semua hal ini, bahan kuno yang bersifat umum itu dibentuk lagi oleh sang penulis Ibrani, yang dengan ilham Roh Allah menulis penyataan Allah bagi umat-Nya.

(Semua tulisan ini dapat dilihat secara enak dalam koleksi hasil suntingan James B. Pritchard, Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament, edisi kedua).

Yang lebih penting bagi penelaahan kita ialah Story amsal 1 ayat 7 Ahikar, sebuah cerita dari Mesopotamia yang dibumbui banyak amsal. Cerita tersebut telah lama dikenal, sebab ada bagian-bagiannya yang muncul pada tulisan-tulisan pengarang Kristen mula-mula.

Tetapi pada tahun 1906, sebelas lembar papirus yang memuat kisah tersebut ditemukan dalam penggalian-penggalian terhadap koloni Yahudi di Elefantin, Mesir. Salinan ini berasal dari sekitar 400 SM.

Ahikar adalah penasihat Raja Sanherib dan Raja Esarhaddon di Asyur (Siria) sekitar 700 SM. Dia mengadopsi kemenakan laki-lakinya, yang dengan amsal 1 ayat 7 muslihat membujuk raja untuk mengeksekusi Ahikar. Tetapi, sang eksekutor yang bersahabat dengan terhukum, menyembunyikan Ahikar untuk sementara, kemudian memulihkan kedudukannya ketika murka raja telah mereda.

Dua pertiga dari buku kecil ini berisi ucapan-ucapan Ahikar yang menampilkan sejumlah persamaan dengan Amsal. W. O. E. Oesterley dalam The Book Of Proverbs (hlm. xxxvii-lii) mencatat tiga puluh tiga persamaan, yang barangkali merupakan jumlah yang agak dibesar-besarkan. Story (op. cit. hlm. 329-336) juga memberikan perbandingan-perbandingan penting. Sebagian besar dari persamaan-persamaan ini bersifat umum. Misalnya, Ahikar memperingatkan orang untuk tidak memandang perempuan yang dandanannya merangsang atau menaruh nafsu birahi terhadapnya, karena ini adalah dosa terhadap Allah (bdg.

Ams. 6:25, dsb.). Dia juga mendesak seorang ayah untuk menundukkan anak laki-lakinya ketika anak itu masih muda, jika tidak maka dia akan memberontak ketika dia merasa lebih kuat (bdg. Ams. 19:18). Tetapi, disangsikan bahwa ada kaitan langsung antara amsal-amsal Ahikar dengan amsal-amsal dalam Alkitab.

Lebih jauh, amsal-amsal dari Ahikar kurang memiliki nilai moral seperti Kitab Amsal. Amsal-amsal tersebut tidak menampilkan perbedaan antara orang bijaksana dengan orang berdosa, yang menjadi ciri khas dari Amsal; sebaliknya amsal-amsal itu lebih bersifat sekular. Meskipun demikian, Kitab Amsal kadang-kadang memakai latar belakang sekular ini untuk mengembangkan ajaran moralnya.

Sesungguhnya, sulit menentukan - jika ada ketergantungan - karya mana yang menjadi peminjam. Story of Ahikar, kendatipun berlatar belakang Asyur, telah beredar di antara bangsa Yahudi dan di kemudian hari di antara orang-orang Kristen. Salinan terbaik yang kita miliki adalah dari sumber Yahudi. Amsal-amsal Ahikar sangat mungkin dipengaruhi oleh Kitab Amsal atau oleh perbendaharaan amsal umum bangsa Yahudi, (lihat Tafsiran tentang 23:14 mengenai kemungkinan Ahikar meminjam dari Amsal).

Beberapa orang menganggap kasus tersebut berbeda dengan Wisdom of Amen-em-Opet bangsa Mesir. Kumpulan amsal yang luar biasa ini bahkan lebih banyak memiliki kesamaan dengan kitab dalam Alkitab daripada yang dimiliki Ahikar. Tanggal penyusunannya tidak pasti. Papirus di atas lebih baru daripada karya ini, tetapi papirus sendiri tidak dapat diketahui tanggalnya.

F. Ll Griffith mengerjakan penerjemahan utama dari bahasa Mesir. Oesterley melaporkan tanggal yang diberikan oleh Griffith untuk kitab tersebut ialah abad ketujuh sampai keenam SM, sedang H.

O. Lange bahkan memberikan tanggal yang lebih belakangan. Oesterley sendiri menetapkan tanggal karya tersebut adalah abad kedelapan atau sesudahnya (The Wisdom of Egypt, hlm. 9, 10). Albright mendukung tanggal lebih awal, kira-kira 1100-1000 SM ( op. cit. hlm. 6). Jika tanggal ini diterima, gagasan apapun mengenai asal-usulnya pasti bermuara pada karya asli bangsa Mesir. John A. Wilson (ANET, hlm. 421), dalam terjemahannya atas karya tersebut, tidak mempunyai komitmen apapun mengenai tanggal penulisan.

Sifat dari persamaan-persamaan tersebut harus diamati. Dalam telaahnya yang tajam, Oesterley melihat bahwa Wisdom of Amen-em-Opet sama sekali tidak berciri Mesir. Karya ini memiliki etika yang tinggi serta konsep mulia tentang Allah - menunjuk pada semacam monoteisme. Dia menyatakan bahwa "yang seperti itu tidak ditemukan di manapun dalam sastra Mesir zaman pra-Kristen" ( op. cit., hlm. 24). Oesterley menemukan beberapa persamaan dengan kitab-kitab dalam Perjanjian Lama selain Amsal, misalnya Ul.

19:14; 25:13-15; 27:18; I Sam. 2:6-8; Mzm. 1; Yer. 17:6 dst.). Tetapi ayat-ayat ini tidak terlalu penting, karena sebagian besar membicarakan tema-tema yang juga terdapat dalam Kitab Amsal, di mana terdapat banyak persamaan - Oesterly mencatat lebih dari empat puluh persamaan (The Book of Proverbs, hlm. xxxvii-liii). Persamaan-persamaan itu terdapat dengan banyak bagian dari Amsal. Tetapi, yang paling menonjol adalah dengan bagian 22:17-23:14. Semuanya kecuali lima dari ayat-ayat ini memiliki persamaan dengan Amen-em-Opet.

Yang paling mencolok dari semua, kitab Mesir ini dibagi menjadi tiga puluh pasal (yang cukup panjang) dan ditutup dengan nasihat untuk menaati tiga puluh pasal ini.

Bagian ini dalam Kitab Amsal, yang meluas sehingga mencakup 22:17-24:22, katanya berisi tiga puluh petuah (Oesterley, op. cit. hlm. 192). Kata pengantar dari bagian ini dalam Amsal adalah "Bukankah sudah kusuratkan bagimu beberapa perkara yang indah" ( 22:20, dalam Terjemahan Lama). Ini bisa dengan lebih benar dibaca dengan sedikit sekali vokal yang berbeda, "Tiga puluh petuah sudah kutuliskan untukmu" (dari Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari).

Harus diakui bahwa penemuan hanya tiga puluh petuah dalam enam puluh sembilan ayat ini agak tidak terduga. Dan tiga puluh petuah tersebut nyaris tidak sepanjang tiga puluh pasal dari kitab Mesir itu. Toh, persamaannya menonjol. Oesterley ( The Wisdom of Egypt, hlm. 105) menunjukkan fakta yang aneh bahwa bagian Amsal 22:17-23:12 mempunyai persamaan dengan seluruh ayat kecuali tiga ayat pada bagian-bagian yang terserak dalam karya Mesir itu.

Tetapi, bagian-bagian lain dari Amsal yang mempunyai lebih sedikit persamaan, yakni pada umumnya persamaan dengan pasal X dan pasal XXI dari Amen-em-Opet.

Dari sini dia menjelaskan dengan cukup masuk akal bahwa penggunaan bahan pinjaman berbeda pada bagian-bagian yang berlainan dari dua kitab itu. Tidak ada karya yang meminjam langsung dari karya lainnya. Pada beberapa bagian, dua-duanya diambil dari sumber petuah-petuah yang sama.

Tetapi dari keunikan karya bangsa Mesir itu Oesterley berpendapat bahwa dua-duanya bersumber pada latar belakang hikmat dan teologi Ibrani: Barangkali kita bisa melihat lebih jauh.

Banyak yang telah diperoleh dari bacaan, "Tiga puluh petuah sudah kutuliskan untukmu." Jelas bahwa tiga puluh petuah dalam bagian Amsal ini bukan disalin dari kitab bangsa Mesir yang terdiri dari tiga puluh pasal di atas.

Sebenarnya, separuh terakhir dari bagian dalam Kitab Amsal tidak memiliki persamaan sama sekali dengan kitab Mesir itu. Kata "tiga puluh" dalam Amsal mungkin mengikuti contoh "tiga puluh" pada karya bangsa Mesir, tetapi bagaimanapun juga, itu bukan dipinjam secara meniru mentah-mentah. Sebaliknya, kita perlu melihat di sini contoh lain tentang pemakaian khusus bilangan dalam sastra Hikmat. Contoh-contoh yang terkenal ialah keterangan-keterangan yang berbentuk klimaks "tiga hal .

bahkan, ada empat hal" yang terlalu sulit untuk dimengerti ( Ams. 30:18 dst.) atau "enam perkara bahkan, tujuh perkara" ( Ams. 6:16-19). Keterangan-keterangan itu dapat dicocokkan dengan sastra Ugarit.

Baal dikatakan membenci dua persembahan, bahkan tiga (C. H. Gordon, Ugaritic Literature, hlm. 30). Baal merebut enam puluh enam kota, bahkan tujuh puluh tujuh kota ( ibid., hlm. 36). Kemudian, tujuh puluh tujuh saudara, bahkan delapan puluh delapan yang disebutkan (i bid., hlm. 55). Banyak contoh lain dapat diberikan. Tampaknya dalam petuah-petuah dari Amen-em-Opet dan dalam Amsal 22:20 kita mempunyai dua contoh pemakaian tertulis dari bilangan tiga puluh, yang mungkin dapat diperbanyak jika sumber-sumber kita mengenai Hikmat bangsa Mesir dan bangsa Ibrani kuno lebih lengkap.

Mengenai perbandingan-perbandingan yang rinci dari Kitab Amsal dengan peribahasa-peribahasa Mesir, lihat tafsiran atas ayat-ayat di dalam Tafsiran. Kita juga perlu menyebut dua kitab apokrif, Yesus amsal 1 ayat 7 Sirakh, kira-kira dari tahun 180 SM, dan Kebijaksanaan Salomo, yang mungkin sedikit lebih belakangan.

Yang luar biasa menarik, kitab-kitab ini dalam beberapa hal mencontoh Kitab Amsal. Tetapi, dua-duanya berasal dari zaman belakangan, dan memperlihatkan perkembangan lebih jauh dalam personifikasi hikmat dan dalam amsal 1 ayat 7 lain. Materi-materinya diambil dari Kitab Amsal, bukan sebaliknya, dan karena itu kita tidak perlu banyak mengacu pada kitab-kitab tersebut untuk tujuan kita sekarang.

GARIS BESAR AMSAL • I. Penghargaan Salomo terhadap hikmat, yaitu takut akan Tuhan. 1:1-9:18. • A. Pendahuluan. 1:1-7 • B. Perempuan bijaksana, Hikmat, lawan perempuan jahat. 1:8-9:18 • II. Beberapa macam amsal satu ayat dari Salomo. 10:1-22:16 • A. Amsal-amsal yang menampilkan kontras. 10:1-15:33 • B. Amsal-amsal yang kebanyakan menampilkan persamaan.

16:1-22:16 • III. Amsal-amsal orang Bijak, tiga puluh amsal. 22:17-24:22 • A. Amsal-amsal yang memiliki persamaan dengan Hikmat bangsa Mesir. 22:17-23:12 • B. Amsal-amsal yang tidak memiliki persamaan dengan hikmat bangsa Mesir. 23:13-24:22 • IV. Amsal-amsal orang Bijak, Tambahan. 24:23-34 • V. Amsal-amsal Salomo yang disunting oleh pegawai-pegawai Hizkia. 25:1-29:27 • VI. Tambahan yang terakhir. 30:1-31:31. • A.

Perkataan-perkataan Agur. 30:1-33. • B. Perkataan-perkataan Lemuel. 31:1-9. • C. Syair alfabetis tentang isteri yang cakap. 31:10-31. AMSAL PENGANTAR Buku Amsal adalah suatu kumpulan ajaran tentang cara hidup yang baik. Ajaran-ajaran itu diungkapkan dalam bentuk petuah, peribahasa dan pepatah.

Kebanyakan di antaranya menyangkut persoalan-persoalan yang timbul dalam hidup sehari-hari. Buku ini mulai dengan peringatan ini, "Untuk amsal 1 ayat 7 pengetahuan, orang harus pertama-tama mempunyai rasa hormat dan takut kepada TUHAN." Selain tentang cara-cara hidup yang baik, buku ini mengajar orang untuk memakai pikiran sehat dan bersopan santun.

Peribahasanya banyak dan menunjukkan betapa dalamnya pengetahuan guru- guru Israel zaman dahulu mengenai sikap dan tindakan orang bijaksana dalam keadaan-keadaan tertentu. Petuah-petuah itu menyangkut berbagai bidang, termasuk hubungan dalam keluarga, urusan dagang, sopan santun dalam pergaulan, perlunya menguasai diri. Kecuali itu, buku ini banyak juga mengemukakan sifat-sifat yang baik, seperti misalnya: rendah hati, sabar, menghargai orang miskin dan setia kepada kawan.

Isi •  Hikmat diagungkan Ams 1:1-9:18 •  Petuah-petuah Salomo Ams 10:1-29:27 •  Ucapan-ucapan Agur Ams 30:1-33 •  Ucapan-ucapan Lemuel Ams 31:1-9 •  Pujian kepada istri yang berbudi Ams 31:10-31 Tujuan Supaya anggota kelompok mengerti seluruh Kitab Amsal yang mengajarkan asas-asas dari kehidupan yang dijalankan dengan hikmat dan penuh rasa takut kepada Tuhan.

Pelajaran ini dapat mendorong mereka untuk melaksanakannya. Pendahuluan Penulis : Kitab Amsal ditulis oleh beberapa orang, tetapi penulis yang terbanyak adalah raja Salomo. Sedangkan penulis-penulis lainnya adalah Agur dan ibu raja Lemuel. Isi Kitab: Kitab Amsal terdiri dari 31 pasal. Kitab Amsal berisikan kata-kata hikmat yang mengajarkan asas-asas dari kehidupan yang dijalankan dengan penuh rasa takut kepada Tuhan.

I. Ajaran-ajaran utama dalam Kitab Amsal • Pasal 1 ( Ams 1:1-7). Tujuan Amsal-Amsal Amsal memberi pengetahuan akan hikmat. Amsal memberikan kepandaian. Amsal memberikan kejujuran. Amsal memberikan pengetahuan tentang takut akan Tuhan. • Pasal 1-9 ( Ams 1:8-9:18). Amsal tentang hikmat Bagian ini berisikan ajaran tentang pentingnya seorang muda mencari hikmat.

Pendalaman • Bacalah pasal Ams 2:1-22. Jelaskanlah cara mencari hikmat dan kepentingannya. • Apakah berkatnya bagi seorang yang berhikmat?

(pasal 3; Ams 3:1-35). • Pasal 10-24 ( Ams 10:1-24:34). Amsal-Amsal Salomo sebagai anjuran supaya berakal budi Bagian ini menjelaskan tentang tindakan orang yang berakal budi dan yang tidak berakal budi, serta segala suatu akibat dari tindakan tersebut. Pendalaman • Bacalah pasal Ams 15:21-24. Apakah yang dikatakan tentang kesukaan orang yang tida berakal budi? Dan ke manakah jalan orang yang berakal budi? • Bacalah pasal Ams 23:17-18. Apakah akibatnya jikalau seseorang takut akan Tuhan?

• Pasal 25-29 ( Ams 25:1-29:27). Amsal-Amsal Salomo yang dikumpulkan pegawai raja Hizkia Bagian ini menjelaskan tentang cara amsal 1 ayat 7 kesombongan. Pendalaman Bacalah pasal Ams 27:1-2; 29:23. Apakah yang dikatakan tentang cara mengatasi kesombongan? • Pasal 30-31 ( Ams 30:1-31:31). Amsal Agur bin Yake dan Ibu Raja Lemuel Amsal ini berbicara mengenai doa dan ajaran hidup, serta tabiat seorang istri yang baik.

Pendalaman • Apakah yang amsal 1 ayat 7 perisai bagi seorang dalam hidup? Dan bagaimanakah hidup yang baik itu? (pasal Ams 30:5-9). • Bagaimanakah tabiat seorang istri yang baik? (pasal Ams 31:10-31). II. Kesimpulan/penerapan • Kitab Amsal mengajarkan tentang kehidupan di dala kebenaran, keadilan dan kejujuran. • Kitab Amsal mengajarkan arti dan tujuan dari kehidupan manusia. • Kitab Amsal mengajarkan kemuliaan dari seorang istri yang bijaksana. • Kitab Amsal mengajarkan akibat-akibat dari kemalasan.

• Kitab Amsal mengajarkan bahwa pengetahuan yang tidak diserta dengan takut akan Allah merupakan suatu hal yang tidak berguna. • Kitab Amsal membuat seorang yang tidak berpengalaman di dala kehidupan dapat mempunyai pengetahuan akan arti dan tujuan kehidupan.

Pertanyaan-pertanyaan yang Dapat Digunakan untuk Tanya Jawab • Siapakah penulis Kitab Amsal? • Apakah tujuan Kitab Amsal? • Apakah permulaan dari segala pengetahuan/hikmat? ( Ams 1:7). • Apakah kegunaan mempelajari Kitab Amsal ini bagi seseorang? Jadilah bijaksana! KITAB KEBIJAKSANAAN Amsal merupakan hasil karya beberapa penulis, tiga di antaranya dikenal dengan nama -- Salomo, Agur dan Lemuel. Paling sedikit satu bagian dari kitab ini ditulis oleh orang yang tidak dikenal.

Kitab ini kebanyakan berisi petuah-petuah Salomo ( Ams 10:1-22:16; 25:1-29:27). Dia dikenal sebagai penulis 3.000 Amsal dan 1.005 lagu-lagu ( 1Ra 4:31-32). Kitab ini berisi hasil penelitian lengkap yang telah dikumpulkan oleh Salomo dan para penulis lainnya dari berbagai sumber, ditambah dengan pengalaman hidup mereka sendiri.

Tujuan dari kitab ini jelas terangkum dalam pembukaannya ( Ams 1:2-6).

amsal 1 ayat 7

Penekanan yang sering diulang-ulang dalam kitab ini adalah takut akan Tuhan. APAKAH AMSAL ITU? Pengajaran dengan memakai Amsal merupakan salah satu cara mengajar yang paling kuno di dunia ini. Dalam pengajaran seperti itu dipakai kalimat-kalimat sederhana, yang mudah diingat dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Salomo adalah seorang yang mepunyai keahlian dalam berbagai bidang. Dia bukan hanya seorang raja, tetapi juga seorang filsuf yang mempunyai kemampuan intuisi dan pengertian yang luar biasa, dan ia juga seorang ilmuwan murni. Tetapi sayang, dalam kehidupan pribadinya, ia tidak selalu hidup sesuai dengan hikmat yang diketahuinya.

HIKMAT DARI ALLAH Amsal 1 ayat 7 Amsal, hikmat dikatakan sudah ada bersama Allah sepanjang zaman. Hikmat dipersonifikasikan sehingga seringkali dianggap pelambang Kristus ( Ams 8:23-31; lihat Yoh 1:2; Ibr 1:2; Kol 2:3). Dijelaskan bahwa hikmat tersedia bagi semua orang.

Orang yang bijaksana adalah mereka yang tanggap pada perintah Allah, sedangkan orang yang bodoh mengabaikannya. Hikmat sangat penting di dalam dunia kehidupan ( Ams 4:7). BENTUK Amsal 1 ayat 7 usaha dilakukan untuk menganalisis Kitab Amsal. Beberapa komentator mengemukakan tiga bagian yang ditandai dengan judul 'amsal salomo' ( Ams 1:1; 10:1; 25:1). Selanjutnya ada pendapat bahwa amsal dengan kata ganti orang kedua adalah amsal yang diperuntukkan bagi Salomo yang diajarkan oleh guru-gurunya, sedangkan amsal dengan kata ganti orang ketiga adalah amsal yang dibuat oleh Salomo sendiri.

Namun demikian, hal ini sukar dipastikan. Pesan Pesan yang terkandung dalam Amsal tidak dapat disingkat seperti yang mungkin dilakukan dengan kitab-kitab lain dalam Alkitab. Sebaiknya kita melihat isinya berdasarkan pokok bahasan yang berbeda-beda, yang dapat kita lihat di sana-sini dalam seluruh kitab.

Ajaran-ajaran berikut diajarkan dengan jelas: o Hikmat merupakan hal utama yang harus kita cari. Ams 1:20-33; 2:1-22; 3:1-35; 4:1-27; 8:1-36; 22:17-24:34 o Jalan orang bodoh -- orang yang mengabaikan kehendak Allah -- adalah jalan menuju bencana. Ams 1:7; 12:16,23; 14:9; 15:20; 17:24; 18:2,6,7; 28:26 o Kemalasan jelas akan membawa aib.

Ams 6:6,9; 19:15; 13:4; 15:19; 19:24; 20:4; 21:25; 22:13; 24:30; 26:13,16 o Kawan sejati bernilai tinggi. Ams 17:7; 18:24; 27:6,17 o Kata-kata bukan pengganti perbuatan. Ams 26: 20-28 o Amsal 1 ayat 7 masyarakat bermula dari kehidupan keluarga yang sehat. Ams 10:1; 13:1,24; 17:21,25; 19:13,18,27; 20:11; 22:6, 15; 23:13-16, 19-28; 28:7,24; 29:15,17; 30:11,17 o Kehidupan yang saleh diberkati Allah, sebaliknya kehidupan yang jahat membawa aib dan kematian.

Ams 3:25; 5:4; 11:29; 14:12 Penerapan 1. Jangan menjadi orang bodoh! Masalah hikmat dan kebodohan mewarnai seluruh isi Amsal. Penuh hikmat berarti hidup sesuai dengan standar yang ditentukan Allah, bodoh berarti hidup dengan mengabaikan Allah dan hidup hanya diri sendiri.

Upah bagi kehidupan orang yang penuh hikmat adalah berkat, tetapi kehidupan orang bodoh akan berakhir dalam kematian dan kebinasaan. 2. Hati-hati dengan kata-katamu Amsal banyak berbicara mengenai manfaat pembicaraan. Kata-kata mempunyai potensi besar untuk hal-hal yang baik ataupun yang jahat. Orang yang bijaksana dapat mengendalikan lidahnya untuk menghindari gosip atau sanjungan yang sia-sia. 3. Menjalankan kehidupan berkeluarga secara serius Stabilitas suatu negara ditentukan oleh kualitas kehidupan keluarga dalam negara itu.

Para orang tua mempunyai tanggungjawab terhadap anak-anak mereka. Perzinahan adalah dosa. 4. Bekerja keras 'Dalam tiap jerih payah ada keuntungan' ( Ams 14:23). Amsal memberikan banyak peringatan mengenai bahaya kemalasan.

Tak ada lagi yang perlu dikatakan mengenai kelambanan. Tema-tema Kunci 1. Kerja Teks kunci: Ams 6:6-11. Si pemalas membesar-besarkan masalahnya dan tidak melakukan apa-apa ( Ams 22:13; 26:13,14; 21:25,26).

Perhatikan akibat dari kemalasan ( Ams 10:4,5; 12:24; 13:4; 19:15). Orang yang rajin mengumpulkan kekayaan dengan menggunakan kesempatan yang ada ( Ams 10:4,5). Ia diberi tanggung jawab ( Ams 12:27) dan menjadi makmur. (Bandingkan Mat amsal 1 ayat 7 Yoh 9:4; Gal 6:9,10; Efe 5:16). 2. Faedah lidah Teks kunci: Ams 10:11,13,18-21,31,32. Orang bijaksana berhati-hati dalam menggunakan kata-kata, sedangkan orang bodoh kurang dapat menenggang rasa sehingga menimbulkan sakit hati dan kerugian.

(Lihat juga Ams 6:16,18,19; 10:11,19; 11:13; 12:18; 14:23; 15:1; 16:28; 17:9,22; 18:6-8; 20:19; 24:2; 25:11,15,23; 26:20,22,29:11; 31:26. Bandingkan dengan Ams Mat 7:1-1; 12:34-36;15:11,17,18; Yak 3:5-8). 3. Persahabatan Pasal kunci: Ams 18. sedikit teman akrab lebih baik daripada banyak kenalan.

Persahabatan harus dimenangkan; menjalin persahabatan memerlukan temperamen yang baik ( Ams 3:29; 25:8,9, 21,22; 24:17,19; 11:12;14:21;21:10;12:26). Seorang sahabat yang baik itu setia dan takpernah meninggalkan ( Ams 14:20; 19:4,6,7; 17: 17).

Dia juga jujur ( Ams 27:6; 29:5). Dia meyakinkan dan mendorong semangat ( Ams 17:9,17). Persahabatan sejati memerlukan hikmat dan tenggang rasa ( Ams 25:17; 27:14; 26:18,19). Namun demikian, hubungan persahabatan antar manusia selalu mengandung risiko ( Ams 2:17; 16:28; 17:9). 4. Kekayaan dan kemiskinan Pasal kunci: Ams 19. Kekayaan memberikan ke-ntungan-keuntungan yang nyata. Kekayaan memberikan perasaan aman ( Ams 10:15; 18:11); membuka berbagai jalan ( Ams 18:16); menarik banyak teman ( Ams 14:20; 19:4,6).

Bersama dengan itu, kekayaan cenderung membuat orang menjadi keras ( Ams 18:23) dan memberikannya kekuasaan yang sewenang-wenang ( Ams 22:7). Kekayaan menimbulkan percaya diri ( Ams 30:8-9). Namun demikian, kekayaan dunia tidaklah kekal ( Ams 23:4,5; 27:24).

Kekayaan sama sekali tidak dapat membantu pada saat Hari Penghakiman datang ( Ams 11:4), sedangkan kocek yang kosong membantu seseorang untuk bergantung sepenuhnya kepada Allah dan hidup dalam kebenaran ( Ams 15:16; 28:6). Seorang miskin mungkin saja mempunyai kekayaan yang besar ( Ams 13:7; bandingkan dengan Mat 6:19-24; 2Ko 6:10). [1] PENDAHULUAN Ams 1:1-7 Ams 1:1 Judul Ams 1:2-6 Tujuan Amsal Ams 1:7 Rahasia [2] BERBAGAI SEGI HIKMAT Ams 1:8-9:18 Ams 1:8-19 Kebijaksanaan dalam memilih teman Ams 1:20-33 Tantangan terhadap hikmat Ams 2:1-22 Perlindungan yang diberikan oleh hikmat Ams 3:1-35 Kemakmuran yang diperoleh dari hikmat Ams 4:1-27 Hikmat sepanjang kehidupan Ams 5:1-23 Petuah mengenai perkawinan Ams 6:1-35 Peringatan terhadap kebodohan dan perzinahan Ams 7:1-27 Peringatan terhadap perempuan nakal Ams 8:1-36 Seruan hikmat Ams 9:1-18 Pesta hikmat dan pesta kebodohan [3] KUMPULAN AMSAL-AMSAL SALOMO Ams 10:1-22:16 [4] PETUAH-PETUAH DARI ORANG BIJAK Ams 22:17-24:34 [5] AMSAL-AMSAL SALOMO LAINNYA Ams 25:1-29:27 [6] PERKATAAN-PERKATAAN AGUR Ams 30:1-33 [7] PERKATAAN-PERKATAAN RAJA LEMUEL Ams 31:1-9 [8] GAMBARAN SEORANG ISTRI YANG CAKAP Ams 31:10-31

Renungan singkat Amsal 1:7 Takut akan Tuhan permulaan pengetahuan.




2022 www.videocon.com