Pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah

pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah

Menu • HOME • RAMADHAN • Kabar Ramadhan • Puasa Nabi • Tips Puasa • Kuliner • Fiqih Ramadhan • Hikmah Ramadhan • Video • Infografis • NEWS • Politik • Hukum • Pendidikan • Umum • News Analysis • UMM • UBSI • Telko Highlight • NUSANTARA • Jabodetabek • banten • Jawa Barat • Jawa Tengah & DIY • Jawa Timur • kalimantan • Sulawesi • Sumatra • Bali Nusa Tenggara • Papua Maluku • KHAZANAH • Indonesia • Dunia • Filantropi • Hikmah • Mualaf • Rumah Zakat • Sang Pencerah • Ihram • Alquran Digital • ISLAM DIGEST • Nabi Muhammad • Muslimah • Kisah • Fatwa • Mozaik • INTERNASIONAL • Timur tengah • Palestina • Eropa • Amerika • Asia • Afrika • Jejak Waktu • Australia Plus • DW • EKONOMI • Digital • Syariah • Bisnis • Finansial • Migas • pertanian • Global • Energi • REPUBLIKBOLA • Klasemen • Bola Nasional • Liga Inggris • Liga Spanyol • Liga Italia • Liga Dunia • Internasional • Free kick • Arena • Sea Games 2021 • SEAGAMES 2021 • Berita • Histori • Pernik • Profil • LEISURE • Gaya Hidup • travelling • kuliner • Parenting • Health • Senggang • Republikopi • tips • TEKNOLOGI • Internet • elektronika • gadget • aplikasi • fun science & math • review • sains • tips • KOLOM • Resonansi • Analisis • Fokus • Selarung • Sastra • konsultasi • Kalam • INFOGRAFIS • Breaking • sport • tips • komik • karikatur • agama • JURNAL-HAJI • video • haji-umrah • journey • halal • tips • ihrampedia • REPUBLIKA TV • ENGLISH • General • National • Economy • Speak Out • KONSULTASI • keuangan • fikih muamalah • agama islam • zakat • IN PICTURES • Nasional • Jabodetabek • Internasional • Olahraga • Rana • PILKADA 2020 • berita pilkada • foto pilkada • video pilkada • KPU Bawaslu • SASTRA • cerpen • syair • resensi-buku • RETIZEN • Info Warga • video warga • teh anget • INDEKS • LAINNYA • In pictures • infografis • Pilkada 2020 • Sastra • Retizen • indeks Menu • HOME • RAMADHAN • Kabar Ramadhan • Puasa Nabi • Tips Puasa • Kuliner • Fiqih Ramadhan • Hikmah Ramadhan • Video • Infografis • NEWS • Politik • Hukum • Pendidikan • Umum • News Analysis • UMM • UBSI • Telko Highlight • NUSANTARA • Jabodetabek • banten • Jawa Barat • Jawa Tengah & DIY • Jawa Timur • kalimantan • Sulawesi • Sumatra • Bali Nusa Tenggara • Papua Maluku • KHAZANAH • Indonesia • Dunia • Filantropi • Hikmah • Mualaf • Rumah Zakat • Sang Pencerah • Ihram • Alquran Digital • ISLAM DIGEST • Nabi Muhammad • Muslimah • Kisah • Fatwa • Mozaik • INTERNASIONAL • Timur tengah • Palestina • Eropa • Amerika • Asia • Afrika • Jejak Waktu • Australia Plus • DW • EKONOMI • Digital • Syariah • Bisnis • Finansial • Migas • pertanian • Global • Energi • REPUBLIKBOLA • Klasemen • Bola Nasional • Liga Inggris • Liga Spanyol • Liga Italia • Liga Dunia • Internasional • Free kick • Arena • Sea Games 2021 • SEAGAMES 2021 • Berita • Histori • Pernik • Profil • LEISURE • Gaya Hidup • travelling • kuliner • Parenting • Health • Senggang • Republikopi • tips • TEKNOLOGI • Internet • elektronika • gadget • aplikasi • fun science & math • review • sains • tips • KOLOM • Resonansi • Analisis • Fokus • Selarung • Sastra • konsultasi • Kalam • INFOGRAFIS • Breaking • sport • tips • komik • karikatur • agama • JURNAL-HAJI • video • haji-umrah • journey • halal • tips • ihrampedia • REPUBLIKA TV • ENGLISH • General • National • Economy • Speak Out • KONSULTASI • keuangan • fikih muamalah • agama islam • zakat • IN PICTURES • Nasional • Jabodetabek • Internasional • Olahraga • Rana • PILKADA 2020 • berita pilkada • foto pilkada • video pilkada • KPU Bawaslu • SASTRA • cerpen • syair • resensi-buku • RETIZEN • Info Warga • video warga • teh anget • INDEKS • LAINNYA • In pictures • infografis • Pilkada 2020 • Sastra • Retizen • indeks Mereka tinggalkan tanah airnya yang mahal dan berangkat menuju Habasyah, sebuah negeri yang jauh dengan penduduk yang berlainan bangsa, warna dan suku, demi membela akidah yang diimaninya.

Tatkala fajar dakwah memancar dari Makkah, maka muhajir pertama bukanlah dua orang laki-laki, tetapi seorang laki-laki dan seorang wanita. Kedua muhajir ini adalah Utsman bin Affan dan istrinya, Ruqayyah binti Muhammad SAW. Ruqayyah lahir sesudah kakaknya, Zainab. Sesudah kedua orang itu, muncullah Ummu Kultsum yang menemani dalam hidup Rasulullah setelah Zainab menikah. Ketika keduanya mendekati usia perkawinan, Abu Thalib meminang mereka berdua untuk kedua putera Abu Lahab.

Allah SWT menghendaki perkawinan ini tidak berlangsung lama, karena melihat sikap Abu Lahab terhadap Islam. Akan tetapi Allah SWT menampilkan Utsman bin Affan kepada kedua puteri itu. Maka dia pun menikah dengan Ruqayyah dan hijrah bersamanya ke Habasyah. Ummu Kultsum tetap tinggal bersama ayah dan ibunya menunggu sesuatu yang ditakdirkan baginya. Imam Adz-Dzahabi berkata, "Ruqayyah hijrah ke Habasyah bersama Utsman dua kali.

Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya kedua orang itu (Utsman dan Ruqayyah) adalah orang-orang yang pertama hijrah kepada Allah sesudah Luth." Anas bin Malik ra berkata, "Utsman bin Affan keluar bersama istrinya, Ruqayyah, puteri Rasulullah SAW menuju negeri Habasyah. Lama Rasulullah SAW tidak mendengar kabar kedua orang itu.

Kemudian datang seorang wanita Quraisy berkata, "Wahai Muhammad, aku telah melihat menantumu bersama istrinya." Nabi SAW bertanya, "Bagaimanakah keadaan mereka ketika kau lihat?" Wanita itu menjawab, "Dia telah membawa istrinya ke atas seekor keledai yang berjalan pelahan, sementara ia memegang kendalinya." Maka Rasulullah SAW bersabda, "Allah menemani keduanya. Sesungguhnya Utsman adalah laki-laki pertama yang hijrah membawa istrinya, sesudah Luth as." Ruqayyah kembali bersama Utsman ke Makkah dan mendapati ibunya telah berpulang kepada Ar-Rafiiqil A'laa.

Kemudian kaum Muslimin pindah dari Makkah ke Madinah semuanya. Ruqayyah juga ikut hijrah bersama suaminya, Utsman, sehingga dia menjadi wanita yang hijrah dua kali. Penyebab hijrah ke Habasyah adalah takut fitnah dan menyelamatkan agama mereka menuju Allah. Bukan menyebarkan agama Islam, karena negeri Habasyah pada waktu itu menganut agama Masehi dan agama Masehi di sana tidak akan menerima agama baru yang menyainginya, meskipun Habasyah diperintah oleh raja yang tidak menganiaya seseorang.

Hijrah ke Habasyah merupakan bagian dari peralihan dan kelanjutan perjuangan, karena hasil yang diharapkan oleh kaum muhajirin dari hijrah mereka ke Habasyah adalah menyelamatkan agamanya ke negeri yang memberi ketenangan bagi mereka di sana. Di negeri itu mereka tidak mengalami kekerasan dan gangguan, sampai ketika saudara-saudara mereka di Makkah ditakdirkan binasa hingga orang terakhir, membawa panji dakwah sebagai penerus.

Adapun hijrah ke Madinah, maka penyelamatan agama adalah salah satu sebabnya, tetapi bukan penyebab pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah.

Penyebab utamanya adalah perubahan dan kelanjutan perjuangan di mana para muhajirin dapat mendirikan sebuah tanah air tempat hijrah mereka. Selama 13 tahun Islam merupakan agama tanpa tanah air dan rakyat tanpa negara. Hijrah yang merupakan tahap kedua di antara tahap-tahap dakwah adalah tahap perjuangan yang paling rumit. Apabila tahap perjuangan ini telah memiliki sifat petualangan, maka sesungguhnya petualangan itu hanyalah semacam perjuangan, bahkan macam perjuangan heroik tertinggi.

Tahap perjuangan ini berhasil mendapat kemenangan. Iman mengalahkan kekuatan, roh mengalahkan materi dan kebenaran mengalahkan kebathilan. Sesungguhnya kebesaran dari kemenangan itu sulit digambarkan dan dinilai. Kebebasan dari ketakutan dan perjuangan menuju keamanan. Kebebasan dari perbudakan dan perjuangan menuju kemerdekaan. Kebebasan dari kehinaan dan perjuangan menuju kemuliaan. Kebebasan dari kesempitan dan perjuangan menuju kelapangan.

Kebebasan dari kelumpuhan dan perjuangan menuju keaktifan. Kebebasan dari kelemahan dan perjuangan menuju kekuatan. Dan kebebasan dari ikatan-ikatan bicara dan perjuangan menujukebebasan berbicara. none
Masuk Islamnya Umar bin Khattab membuat para shahabat lainnya kian bersemangat dalam menyebarkan dakwah Islam. Mereka yang berdakwah ke Habasyah memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka di Mekkah. Namun, bayangan akan sambutan baik yang diperlakukan oleh kerabat mereka di sana, ternyata tak manis.

Mereka diperlakukan kasar dan tak manusiawi oleh kerabatnya manakala mendapati keimanan kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW tetap terpatri dalam jiwa mereka. Tak tahan menderita akibat teror mental dan fisik, mereka pun mengadukan masalahnya kepada Rasulullah SAW. Melihat situasinya seperti itu, Utsman bin Affan berkata, “Ya Rasul Allah, kami telah berhijrah yang pertama kepada Najasyi, dan kali ini yang kedua, tapi engkau tidak juga ikut bersama kami.” Rasulullah SAW berkata, “Kalian berhijrah kepada Allah dan kepadku.

Kalian mendapatkan kedua hijrah ini semuanya.” “Kalau begitu, cukup kami saja, ya Rasul Allah,” jawab Utsman.Rasul pun akhirnya mengijinkan mereka untuk berangkat hijrah kembali ke Habasyah untuk kedua kalinya.

Ujian ketika hijrah ke Habasyah kali ini lebih berat dibandingkan dengan yang pertama dulu. Sebab, pembesar suku Quraisy melakukan makar untuk mencelakakan mereka melalui raja Najasyi. Selama di tanah hijrah pembesar Quraisy mendengar mereka diperlakukan dengan sangat baik oleh Najasyi. Mereka yang berangkat hijrah ke Habasyah gelombang kedua sebanyak 83 orang laki-laki dan 11 orang perempuan dari suku Quraisy, serta ditambah 7 orang perempuan asing.

Kaum Muhajirin itu menetap di negeri Habasyah di sisi Najasyi dalam keadaan aman dan sentosa. Namun, tatkala mereka mendengar Rasulullah SAW ke Madinah, maka pulanglah dari mereka 33 orang leleki dan 8 orang perempuan. Dua orang lelaki di antaranya meninggal di Mekkah dan 7 orang lainnya tertahan di Mekkah. (sumber: Prof. Muhammad Ridha, Sirah Nabawiyah, IBS Bandung) Leave a Reply Cancel reply Your email address will not be published.

Required fields are marked * Name * Email * Website Comment You may use these HTML tags and attributes:

• Indeks Rasulullah • Rasulullah Suami Teladan • Ujian Rasa Takut yang Dialami Rasulullah SAW • Cara Rasulullah SAW Mengajarkan Kesabaran • Hijrah Pertama ke Negeri Habasyah • Mengenal Putra dan Putri Rasulullah • Setiap Umat Diutus Rasul • Kesan Raja Romawi Setelah Menerima Surat dari Nabi Muhammad • Terhentinya Wahyu Beberapa Waktu • Laki-Laki Ini tak Jadi Membunuh Rasulullah, Penyebabnya?

• Bagaimana Penampilan Fisik Rasulullah? + Indeks pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah • Indeks Terbaru • Partai Politik India Mempermasalahkan Pengeras Suara Masjid Melantunkan Adzan • Hiroaki Kawanishi, Mualaf yang Ingin Sebarkan Islam di Jepang • MUI: Umat Islam Perlu Banyak Kembangkan Bidang Kewirausahaan Muslimah • Kerendahan Hati Mo Salah Jadi Inspirasi Mualaf Inggris • Berharap Bahagia Saat ‘Berjumpa’ dengan Allah • Peter Oudenes: Islam Agama Sempurna • Andre Ho, Hidayah Luruhkan Kebencian • Bongkar Masjid Babri, Mualaf ini Lalu Bangun 100 Masjid • Alquran adalah Sumber Ilmu yang Dinantikan Rasulullah SAW • Kepala Gereja Kristen Ortodoks Yunani Tegaskan Masjid Al-Aqsha Khusus untuk Umat Islam • Artikel ini berisi tentang Hijrah sekelompok Muslim Mekah ke Abyssina di tahun-tahun pertama setelah Bi'tsah.

Untuk peristiwa lain yang disebut Hijrah, lihat Hijrah (disambiguasi). Sejarah Permulaan Islam Peperangan: Ghazwah dan Sariyyah • Ghazwah Badar • Ghazwah Uhud • Ghazwah Tabuk Kota-kota dan Situs-situs Bersejarah • Mekah • Madinah • Thaif • Saqifah • Khaibar • Pemakaman Baqi Peristiwa-peristiwa • Bi'tsah • Hijrah ke Habasyah • Hijrah ke Madinah • Perjanjian Hudaibiyah • Haji Perpisahan • Peristiwa Ghadir • Peristiwa Saqifah Bani Sa'idah Entry Terkait • Islam • Syiah • Haji • Quraisy • Bani Hasyim • Bani Umayyah • v • t • e Hijrah ke Habasyah (bahasa Arab: هجرة الی الحبشة) juga terkenal dengan Hijrah Pertama merupakan hijrahnya sekelompok Muslim Makkah ke Habasyah untuk melepaskan diri dari kezaliman dan penindasan kaum musyrikin di tahun-tahun pertama setelah Bi'tsah.

Hijrah ke Habasyah terjadi dalam dua tahapan atas perintah Nabi Islam saw; pada fase pertama, sebelas pria dan wanita Muslim, dan pada fase kedua, 83 orang berhijrah di bawah kepemimpinan Ja'far bin Abi Thalib yang dilakukan secara diam-diam.

Kaum Quraisy masih berusaha mengembalikan mereka ke kota Makkah dengan mengirim Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah ke Habasyah; tetapi Najashi, raja Habasyah, setelah mendengar perkataan Ja'far bin Abi Thalib, menolak untuk mengembalikan kaum Muslim.

Sebagian dari kaum Muslim meninggal di Habasyah dan sebagiannya lagi telah memiliki anak; Abdullah bin Ja'far, suami dari Sayidah Zainab sa, lahir di Habasyah. Setelah Nabi saw ber hijrah ke Madinah, orang-orang yang berhijrah ke Habasyah dapat kembali ke Madinah, ke sisi Nabi saw secara bertahap dari sebelum hingga sesudah penaklukan Khaibar.

Daftar isi • 1 Sebab Hijrah • 2 Hijrah Pertama • 2.1 Orang-Orang yang Melakukan Hijrah Pertama • 3 Hijrah Kedua • 3.1 Para Muhajirin di Hijrah Kedua • 4 Reaksi Quraisy • 5 Kembalinya Muhajirin • 6 Orang-Orang yang Meninggal di Habasyah • 7 Orang-Orang yang Lahir di Habasyah • 8 Pranala Terkait • 9 Catatan Kaki • 10 Daftar Pustaka Sebab Hijrah Kaum Muslimin Makkah sering ditindas dan dizalimi oleh kaum musyrik Quraisy. [1] Sebab itu Rasulullah saw memerintahkan kaum muslimin untuk berhijrah ke Habasyah; karena pemimpinnya, Najasyi, adalah raja beragama Nasrani yang arif dan adil.

[2] Hijrah ini dilakukan secara diam-diam dengan menggunakan dua kapal dari para pedagang dan saudagar yang dapat membawa mereka ke sana dengan setengah harga. [3] Kaum Muslimin dua kali Hijrah ke Habasyah dimana menurut penuturan Ya'qubi, pada hijrah pertama diikuti 12 orang dan pada hijrah yang kedua 70 orang yang berhijrah ke Habasyah terkecuali para wanita dan anak-anak. [4] Hijrah Pertama Diriwayatkan bahwa pada hijrah pertama, kaum Muslimin berhijrah ke Habasyah pada bulan Rajab pada tahun ke-5 setelah bi'tsah, hijrah rombongan muslimin ini terdiri dari sebelas orang laki-laki dan empat perempuan pergi ke Habasyah, kaum musyrikin langsung mengejar mereka namun tidak berhasil menangkap mereka.

Kaum muslimin sudah pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah di Habasyah, lalu mereka mendengar kabar bahwa orang-orang musyrik Quraisy telah masuk Islam, oleh karenanya mereka kembali ke Makkah.

Begitu sampai di dekat Makkah mereka baru tahu bahwa kabar keislaman Quraisy hanya dusta belaka. [5] Namun dikarenakan kaum Muslimin tidak memiliki kemampuan untuk kembali lagi ke Habasyah, jadi mereka masing-masing pergi secara terpisah atau masuk ke kota di bawah perlindungan beberapa orang.

[6] Utsman bin Mazh'un juga masuk ke kota Makkah dengan berlindung kepada Walid bin Mughirah, namun ketika melihat banyak orang Islam yang menderita dan disiksa, dia meminta kepada pelindungnya supaya mencabut keamanan darinya dan membiarkannya juga ikut disiksa. Begitu menerima siksaan Utsman malah menampakkan rasa bahagia di wajahnya. [7] Orang-Orang yang Melakukan Hijrah Pertama • Utsman bin Affan dan istrinya, Ruqayyah. [8] • Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabiah, bersama istrinya Sahlah, putri Suhail bin Amr bin Amir bin Luay.

[9] • Zubair bin Awwam. [10] • Abu Sabrah bin Abi Raham bin Abdul Uzza al-Amiri dari bani Amir bin Luay. [11] • Suhail bin Baidha' dari bani al-Harits bin Fihr. [12] • Abdullah bin Mas'ud. [13] • Amir bin Rabiah al-Unzi sekutu yang melakukan perjanjian dengan bani Ady dan istrinya Laili, putri Abu Hatsmah. [14] • Mush'ab bin Umair [15], pengajar Alquran dan seorang pemuda yang tampan dan beraut indah. [16] • Utsman bin Mazh'un.

[17] • Abdurrahman bin Auf, [18] • Di sebagian sumber referensi disebutkan Ummu Aiman juga tergolong dari orang-orang yang berhijrah ke Habasyah tapi tidak disebutkan pada hijrah pertama atau hijrah kedua. [19] Hijrah Kedua Untuk kedua kalinya kaum muslimin berhijrah ke Habasyah atas perintah Rasulullah saw dan kali ini rombongan dipimpin oleh Ja'far bin Abi Thalib.

Jumlah rombongan yang pergi berhijrah adalah 83 orang. [20] Para Muhajirin di Hijrah Kedua • Ja'far bin Abi Thalib; pemimpin rombongan hijrah kedua yang kemudian memiliki julukan Ja'far Dzuljanahain dan al-Thayyar. [21] Ikut serta pula istrinya, Asma binti Umais dan anak-anaknya; Abdullah, Muhammad dan Aun. • Saudah dan suaminya, Sukran. Ketika di Habasyah Sukran menjadi Nasrani dan meninggal di sana. Saudah di kemudian hari menikah dengan Rasulullah saw.

[22] • Ummu Habibah binti Abi Sufyan bin Harb dan suaminya, Ubaidullah bin Jahsy. Menurut satu pendapat, Abdullah meninggal dunia di Habasyah atau berpindah agama menjadi seorang Nasrani. Di kemudian hari Ummu Habibah menikah dengan Rasulullah saw. [23] • Khalid bin Sa'id bin Ash bin Umayyah.

Menurut penuturan Waqidi, ia adalah termasuk orang yang pertama ikut hijrah ke Habasyah. [24] • Umair bin Rubab al-Sahmi yang terbunuh di zaman Abu Bakar dalam perluasan pembukaan kota-kota. [25] • Syurahbil bin Hasanah [26] • Menurut sebagian pendapat, Ammar Yasir juga ikut hijrah.

[27] Reaksi Quraisy Setelah sebagian Muslimin kembali berhijrah ke Habasyah, orang-orang Quraisy gusar dan bergegas mengirim Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah dengan membawa berbagai hadiah kepada Najasyi, raja Habasyah [28], itupun dilakukan karena mereka memiliki hubungan dagang dengan Habasyah dan persahabatan di antara mereka. [29] Amr bin Ash menyampaikan kepada Najasyi bahwa orang-orang yang lari ke negerinya adalah para budak bodoh yang telah keluar dari agamanya.

Najasyi tidak menerima begitu saja apa yang didengarnya dari Amr. Dia meminta penjelasan langsung dari pihak muhajirin. Untuk itu dia mengumpulkan para pemuka agama dan bersama menanyakan langsung kepada muhajirin tentang sebab hijrahnya mereka. Ja'far bin Abi Thalib memberi penjelasan: “Kami dulunya memang bodoh dan penyembah berhala, memakan bangkai, senang dengan pertumpahan darah dan banyak berbuat mungkar. Sampai suatu saat Allah swt mengutus Nabi-Nya dari kalangan kami. Kami kenal betul bagaimana nasabnya, kami sangat percaya dan yakin akan kejujurannya.

Dia mengajak kami untuk mengimani Tuhan Yang Esa dan melarang menyembah batu dan berhala. Dia mengajarkan kami untuk selalu berkata dan berprilaku jujur, bersilaturrahmi, berbuat baik kepada tetangga, dan melarang berbuat cela. Namun mereka ini malah memusuhi kami. Mereka ingin supaya kami kembali menyembah berhala. Sebab itu kami datang ke negeri yang Anda pimpin, kami memilih Anda dibanding orang lain.” Mendengar hal itu, Najasyi berkata kepada utusan Quraisy, "Pergilah, demi Tuhan, aku pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah akan pernah mengembalikan mereka pada kalian.” Akhirnya kedua utusan tersebut kembali ke Mekah dengan rasa malu." [30] Kembalinya Muhajirin Kembalinya muhajirin dari Habasyah dilakukan secara bertahap.

Mereka yang kembali setelah hijrah pertama, tetap tinggal di Makkah dan bersama muslimin lainnya hijrah ke Madinah. Sebagian juga ada yang baru hijrah ke Madinah dua tahun sebelum perang Khaibar dan ada yang setelah penaklukan Khaibar. [31] Rasulullah saw mengutus Amr bin Umayyah al-Dhamri untuk menemui Najasyi supaya memfasilitasi kepulangan kaum muslimin. [32] Kepulangan terakhir para muhajirin dari Habasyah, terjadi pada tahun ke-7 H, bertepatan dengan tahun terjadinya penaklukan Khaibar.

[33] Di tengah-tengah rombongan itu ada Ja'far bin Abi Thalib beserta istrinya Asma binti Umays, dan anaknya Abdullah bin Ja'far. [34] Ketika Ja'far datang menemui Rasulullah saw, beliau mencium keningnya dan berkata: “Aku tidak tahu untuk kemenangan yang mana sekarang ini aku bahagia; penaklukan Khaibar ataukah kedatangan Ja'far.” [35] Orang-Orang yang Meninggal di Habasyah Di antara orang-orang yang berhijrah ke Habasyah, ada delapan yang meninggal dunia dan dimakamkan di sana, di antara mereka adalah: • Abaidullah bin Jahsy dari bani Abdu Syams dimana ketika tinggal di Habasyah ia berpindah agama menjadi Nasrani dan tinggal di sana hingga meninggal dunia • Amr bin Umayyah bin Harits dari bani Asad • Hathib bin Harits dan saudaranya, Hithab bin Harits yang keduanya dari bani Jamah • Abdullah bin Harits bin Qais dari bani Sahm • Urwah bin Abdul Uzza.

• Adi bin Nadhlah dari bani Adi. • Musa bin Harits bin Khalid dari bani Taim. [36] Orang-Orang yang Lahir di Habasyah • Abdullah bin Ja'far putra Ja'far al-Thayyar. • Muhammad bin Abi Hudzaifah. • Sa'id bin Khalid bin Sa'id. • Pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah binti Abi Salamah.

pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah

• Abdullah bin Muthallib bin Azhar. • Musa bin Harits bin Khalid. • Aisyah binti Harits bin Khalid. • Fatimah binti Harits bin Khalid. • Zainab binti Harits bin Khalid. [37] Pranala Terkait Hijrah ke Madinah Catatan Kaki • ↑ Ibnu Khaldun, al-Ibar al-Tarikh, jld. 1, hlm. 395. • ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, jld.

3, hlm. 873. • ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, jld. 3, hlm. 873. • ↑ Ya'qubi, Tarikh Ya'qubi, jld. 1, hlm. 386. • ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, jld. 3, hlm. 882.

pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah

• ↑ Muqaddasi, Afarinesh wa Tarikh, jld. 2, hlm. 654. • ↑ Baihaqi Dalail al-Nubuah, jld. 2, hlm. 49. • ↑ Ibnu Khaldun, al-Ibar al-Tarikh, jld. 1, hlm. 395. • ↑ Ibnu Khaldun, al-Ibar al-Tarikh, jld. 1, hlm. 395. • ↑ Ibnu Khaldun, al-Ibar al-Tarikh, jld. 1, hlm. 395. • ↑ Ibnu Khaldun, al-Ibar al-Tarikh, jld. 1, hlm. 395. • ↑ Ibnu Khaldun, al-Ibar al-Tarikh, jld. 1, hlm. 396. • ↑ Ibnu Khaldun, al-Ibar al-Tarikh, jld.

1, hlm. 396. • ↑ Ibnu Khaldun, al-Ibar al-Tarikh, jld. 1, hlm. 396. • ↑ Ibnu Khaldun, al-Ibar al-Tarikh, jld. 1, hlm. 396. • ↑ Muqaddasi, Afarinesh wa Tarikh, jld.

pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah

2, hlm. 791. • ↑ Baihaqi, Dalail al-Nubuah, jld. 2, hlm. 49. • ↑ Ibnu Hisyam, Zendeqani Muhammad, jld.1, hlm.213. • ↑ Ibnu Abdul Bar, al-Isti'ab, jld.4, hlm.1793; Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, jld.5, hlm.567 • ↑ Muqaddasi, Afarinesh wa Tarikh, jld. 2, hlm. 655. • ↑ Muqaddasi, Afarinesh wa Tarikh, jld. 2, hlm.

792. • ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, jld. 4, hlm.

pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah

1289; Muqaddasi, Afarinesh wa Tarikh, jld. 2, hlm. 726. • ↑ Muqaddasi, Afarinesh wa Tarikh, jld. 2, hlm. 728. • ↑ Muqaddasi, Afarinesh wa Tarikh, jld. 2, hlm. 790. • ↑ Ibnu Khaldun, al-Ibar al-Tarikhjld. 1, hlm. 495. • ↑ Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyahjld.

1, hlm. 350. • ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, jld. 3, hlm. 873. • ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, jld. 3, hlm. 878. • ↑ Ibnu Khaldun, al-Ibar al-Tarikh, jld. 1, hlm. 395. • ↑ Muqaddasi, Afarinesh wa Tarikh,jld. 2, hlm. 655. • ↑ Ibnu Khaldun, al-Ibar al-Tarikh, jld. 1, hlm. 438. • ↑ Ibnu Khaldun, al-Ibar al-Tarikh, jld. 1, hlm. 438. • ↑ Muqaddasi, Afarinesh wa Tarikh, jld. 2, hlm. 706. • ↑ Ibnu Khaldun, al-Ibar al-Tarikh, jld.

1, hlm. 438. • ↑ Ibnu Khaldun, al-Ibar al-Tarikh, jld. 1, hlm. 438. • ↑ Ibnu Hisyam, Zendegani Muhammad saw, jld. 2, hlm. 244. • ↑ Ibnu Hisyam, Zendegani Muhammad saw, jld. 2, hlm. 244. • Baihaqi, Abu Bakar Ahmad bin Husain. Dalail al-Nubuwah. Terjemah Mahmud Mahdawi Damaghani. Teheran: Intisyarat Ilmi wa Farhanggi. Dua jilid, 1361 HS. • Ibnu Abdul Bar, Yusuf bin Abdullah. Al-Isti'ab fi Ma'rifati Ashab. Atas upaya Ali Muhammad Bajawi. Kairo: Tanpa penerbit. 1960/1380 H.

• Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Usd al-Ghabah fi Ma'rifati al-Shahabah. Kairo. Tanpa penerbit. 1280 H.

• Ibnu Hisyam, Abdul Malik. Al-Sirah al-Nabawiyah. Atas upaya Musthafa Saqqa, Ibrahim Abyari, Abdul Hafidz Syalbi.

pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah

Kairo: Tanpa penerbit. 1936. • Ibnu Hisyam, Abdul Malik. Zendeghani Muhammad saw Payambar-e Islam. Terjemah Sayid Hasyim Rasuli. Teheran: penerbit Kitabci. Cet. Kelima. 1375 HS. • Ibnu Khaldun. Al-'Ibar al-Tarikh. Terjemahan Abdul Muhammad Ayati. Teheran: Muassasah Muthala'at wa Tahqiqat-e Farhanghi. Cet. Pertama. 1363 HS. • Muqaddasi, Muthahhar bin Thahir. Afarinesh wa Tarikh.

Terjemah Muhammad Ridha Syafi'i Kadkani. Teheran: penerbit Aghah. Cet. Pertama. 1374 HS. • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh Thabari. Terjemah Abul Qasim Payandeh. Teheran: penerbit Asathir. Cet. Kelima, 1375 HS. • Ya'qubi, Ahmad Abi Ya'qub. Tarikh Ya'qubi. Terjemah Muhammad Ibrahim Ayati. Teheran: Intisyarat Ilmi wa Farhangghi. Cet. Keenam. 1371 HS. Kategori tersembunyi: • Halaman yang memiliki Editorial Box • Artikel dengan penilaian kualitas dan prioritas • Artikel dengan prioritas b • Artikel dengan kualitas b • Artikel dengan prioritas b dan kualitas b • Artikel dengan link yang sesuai • Artikel yang tidak memerlukan foto • Artikel dengan kategori • Artikel yang tidak memerlukan infobox • Artikel dengan navbox • Artikel dengan alih • Artikel yang memiliki referensi
HIJRAH pertama yang dilakukan kaum Muslimin yaitu ke Negeri Habasyah, kini dikenal sebagai Ethiopia, sebuah kerajaan pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah daratan Benua Afrika.

Hijrah ini dilakukan atas perintah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam demi menghindari penyiksaan dan penindasan yang dilakukan oleh kaum Quraisy. "Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melihat apa yang menimpa para sahabatnya dari siksaan, sementara Beliau mendapat perlindungan yang cukup dari Allah Subhanahu wa ta'ala, kemudian juga dari pamannya Abu Thalib, dan Beliau merasa tidak mampu memberikan perlindungan kepada mereka.

Pada saat itulah Beliau berkata kepada mereka, 'Seandainya kalian pergi ke Negeri Habasyah karena negeri itu dipimpin oleh seorang raja yang tidak satu pun dari rakyatnya yang terzalimi dan bumi itu adalah bumi yang aman.

Tinggallah kalian di sana hingga Allah memberikan jalan keluar kepada kalian dari apa yang menimpa kalian'," kata Ustadz Syafiq Riza Basalamah, dikutip dari akun Youtube Yufid TV, Jumat (21/8/2020). Kemudian berangkatlah kaum Muslimin ke Negeri Habasyah, dipimpin oleh Usman bin Maz’un. Usman bin Affan beserta istrinya Ruqayyah yang merupakan putri Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun ikut serta dalam berhijrah.

pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah

Penyebab hijrah ke Habasyah adalah takut fitnah kaum Quraisy dan menyelamatkan agama mereka menuju Allah Subhanahu wa ta'ala. Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: لاَ تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ، وَلاَ تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا "Hijrah tidak akan terputus hingga tobat terputus dan tobat tidak akan terputus kecuali matahari terbit dari barat." (HR Abu Daud nomor 2479) Baca juga: Kisah Rasulullah Diselamatkan Sarang Laba-Laba dari Kejaran Kaum Quraisy Saat itu Habasyah bukan negeri Islam, namun merupakan negeri kafir.

Tetapi dapat dilihat bahwa orang kafir tidak satu tingkatan, ada yang baik, salah satunya yaitu Habasyah. Setelah sampainya kaum Muslimin di negeri tersebut dan mendapat perlindungan, para sahabat mencoba kembali pulang ke kampung halamannya di Makkah. Namun, situasi keamanan Makkah ternyata belum aman, bahkan semakin menjadi-jadi. Maka kaum Muslimin kembali lagi ke Negeri Habasyah untuk kedua kalinya. Jumlah sahabat yang hijrah kedua itu terdiri dari 80 orang. Dikarenakan jumlahnya semakin banyak, orang-orang kafir Quraisy takut jika Islam menjadi besar di Habasyah.

Kemudian kaum Quraisy mengutus dua orang untuk menghadap Raja Najasyi. Setelah sampai di Habasyah keduanya membawa hadiah khusus untuk Najasyi dan hadiah untuk orang-orang di sekelilingnya. Kemudian meminta agar orang-orang Islam ini dipulangkan ke Makkah dengan berkata bahwa orang-orang Islam tersebut telah meninggalkan agama mereka dan orang-orang ini mencela Maryam.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran Raja Najasyi yang bijak pun tidak ingin mendengar hanya dari satu pihak.

Ia memanggil kaum Muslimin untuk mendatanginya dan bertanya, "Apa pendapat kalian tentang Isa bin Maryam dan ibunya?" Kemudian kaum Muslimin menjelaskan dengan membacakan ayat-ayat pada Surah Maryam hingga Najasyi pun menangis. Kemudian Raja Najasyi memerintahkan agar hadiah-hadiah itu dikembalikan kepada kedua utusan Quraisy dan berkata, "Demi Allah. Allah tidak menerima suap dariku ketika mengembalikan kerajaan ini kepadaku.

Aku juga tidak mengikuti manusia dalam urusanku sehingga aku harus tunduk pula kepada manusia. Kembalikan hadiah mereka kepada keduanya, aku tidak membutuhkannya.

Usirlah utusan itu dari negeri ini." Akhirnya kedua orang utusan Quraisy itu meninggalkan Habasyah dalam keadaan kecewa dan terhina. Baca juga: Kota Petra, Saksi Hancurnya Kaum Tsamud yang Menolak Dakwah Nabi Saleh Hijrah ini mendatangkan keuntungan yang besar. Raja Habasyah memenuhi apa yang diharapkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan kaum Muslimin. Beliau bersedia memberi jaminan keselamatan serta menghormati akidah umat Islam yang berada di negerinya.

Bahkan pada akhirnya Najasyi pun masuk Islam karena penjelasan akidah dengan dalil Alquran dan As-Sunnah yang dijelaskan oleh kaum Muslimin saat menemuinya. Kisah ini dapat diambil banyak pelajaran, seperti kebijakan dan keadilan Raja Najasyi yang perlu diteladani. Kemudian Allah Subhanahu wa ta'ala selalu menolong agama-Nya. Allah Azza wa jalla berfirman: إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا ۖ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ "Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya.

Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (QS Ali Imran: 120) Wallahu a'lam bishawab. Baca juga: Kisah Nabi Muhammad Terlambat Sholat Subuh, Sahabat Bertasbih "Subhanallah"
Habsyi (habasyah) disebut juga Abbesinia adalah negeri yang terletak di Afrika timur.

Sekarang negeri itu bernama Ethiopia. Raja Habsyi saat itu bernama Negus atau Najasi. Raja Negus adalah raja yang beragama Nasrani (Kristen). Sebagian besar penduduk Habsyi saat itu juga memeluk agama nasrani.

Pada bulan pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah tahun ke 5 kenabian, berangkatlah rombongan kaum muslimin ke Habsyi. Mereka membawa harapan yang besar bahwa di Habsyi akan terlindung dari penderitaan yang disebabkan oleh kekejaman kaum kafir Quraisy.

Rasulullah Saw berpesan agar kaum muslimin tinggal di Habsyi sampai Allah Swt memberi jalan keluar dari penderitaan yang menimpa kaum muslimin. Dengan adanya siksaan demi siksaan yang terus menerus dilakukan kaum kafir Quraisy kepada kaum muslimin, terutama kaum muslimin yang tergolong lemah secara ekonomi.

Mereka sangat menderita, karena penderitaan mereka inilah maka Rasulullah Saw. meminta para sahabatnya untuk hijrah ke Habsyi demi menyelamatkan agama mereka di sisi raja Najasyi, Rasulullah Saw. tahu bahwa Raja Habsyi sangat adil dan tak pernah berbuat aniaya pada sesama manusia, kaum muslimin akan aman disana, terutama keamanan sebagian besar kaum muslimin yang mengkhawatirkan diri dan keluarga mereka dari kaum kafir Quraisy. Dan peristiwa ini tepatnya terjadi pada tahun kelima dari masa kenabian.

Hijrah ke Habsyi dilakukan kaum muslimin dalam dua gelombang, rombongan pertama kaum muslimin yang berjumlah lebih kurang10 orang laki-laki dan 4 orang perempuan, pada tahun ke 5 bulan ke tujuh kenabian. Dilanjutkan dengan rombongan hijrah kedua hingga keseluruhannya berjumlah 83 orang laki-laki dan 18 orang perempuan. Di antara mereka terdapat Utsman bin Affan beserta isterinya, Ruqayah binti Muhammad, Zubair bin Awwan, Abdurrahman bin Auf, Ja’far bin Abu Thalib sebagai pemimpin rombongan dan lain-lain.

Rombongan ini mendapat sambutan yang baik dan penghormatan dari Raja Najasyi, namun Kaum Quraisy berusaha merusak kedudukan mereka di Habsyi. Maka mereka mengirim utusan dipimpin Abdullah bin Abi Rabi’ah dan Amr bin ’Ash serta memberi hadiah untuk raja dan memintanya agar menyerahkan kaum muslimin kepada mereka. Mereka mengatakan kepada raja bahwa kaum muslimin menjelekjelekkan Isa dan ibundanya.

Tatkala raja Najasyi menanyakan hal tersebut kepada kaum muslimin, dan merekapun menjelaskan pandangan Islam tentang Isa dengan sebenar-benarnya, maka raja mengamankan mereka dan menolak untuk menyerahkan mereka kepada Kaum Quraisy. Tidak hanya itu kaum Quraisy juga melakukan pemboikotan atau pengucilan terhadap kaum muslimin dari pergaulan dengan masyarakat Mekkah, yang digantungkan di dinding Ka’bah, berisi antara lain : 1.

Tidak boleh melakukan jual beli kepada bani Hasyim, bani Muthalib dan umat Islam. 2. Dilarang mengadakan perdamaian dengan keluarga bani Hasyim, bani Mutholib dan umat Islam, kecuali Nabi Muhammad Saw.

diserahkan atau menyerahkan diri pada kaum kafir Quraisy. 3. Dilarang berbicara, mengunjungi orang sakit dari keluarga bani Hasyim, bani Mutholib dan umat Islam. 4. Dilarang mengadakan pernikahan dengan keluarga bani Hasyim, bani Mutholib dan umat Islam.

5. Pemukiman umat Islam dikucilkan di bagian utara kota Mekkah dan dijaga ketat oleh kaum kafir Quraisy sehingga mereka tidak dapat berhubungan dengan masyarakat Mekkah atau di luar Mekkah. Masih dalam tahun yang sama, di Bulan Ramadhan, Nabi Muhammad Saw. pergi ke Mekkah. Di sana telah berkumpul sekelompok besar kaum kafir Quraisy, lalu beliau berdiri di antara mereka. Namun tiba-tiba beliau membaca surat an-Najm, padahal orang-orang kafir belum pernah mendengarkan kalam Allah, mengingat sebelumnya mereka selalu berwasiat agar tidak mendengar ucapan Rasulullah Saw sedikitpun.

Ketika beliau mengejutkan mereka dengan surat ini, dan mengetuk telinga mereka dengan kalam Allah Swt. yang sangat menarik ini satu persatu dari mereka tetap ditempatnya mendengarkan kalam Ilahi tersebut. Di hati mereka tidak terlintas apapun selain kalam Ilahi ini, sampai ketika beliau membaca ayat: فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا Artinya : “Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)." (QS.

An-Najm : 62) Kemudian merekapun bersujud. Setiap orang tidak dapat menguasai dirinya untuk tidak bersujud. Dari kejadian ini, maka kaum kafir Quraisy yang tidak menyaksikan peristiwa tersebut mencela atas perbuatan mereka. Ketika itu, mereka mendustakan atas apa yang pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah dilakukan oleh Rasulullah Saw dan berkata bahwa Rasulullah Saw telah pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah berhala-berhala mereka.

pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah

Mereka juga berkata bahwa syafaat berhala-berhala tersebut sangat diharapkan. Mereka melakukan kebohongan besar ini sebagai alasan dari tindakan atas bersujud sebahagian dari mereka. Sebab-sebab kaum muslimin hijrah ke Habsyi. Nabi Muhammad Saw tidak tahan menyaksikan penderitaan para sahabat dan kaum muslimin karena kekejaman kaum kafir Quraisy.

Oleh sebab itu, Rasulullah Saw menghendaki agar kaum muslimin hijrah keluar kota mekah. Rasulullah Saw khawatir kaum kafir Quraisy akan semakin kejam menyiksa dan menganiaya para sahabat dan kaum muslimin. Penghinaan dan penganiayaan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy tidak saja ditujukan kepada pengikut Nabi Muhammad Saw. Namun, hal itu juga ditujukan kepada para sahabat terkemuka yang dahulunya sangat dihormati dan memiliki pengaruh dikalangan kaum Quraisy.

Lemparan batu, kotoran hewan, bahkan lemparan kotoran manusia sudah tidak aneh lagi dirasakan umat Islam.

Beberapa sahabat meminta kepada Rasulullah Saw agar diizinkan tetap bertahan di mekah. Mereka rela dan ikhlas menerima perlakuan orang kafir yang kejam itu. Mereka berjanji akan tetap mempertahankan akidah Islam yan sudah tertanam di dalam hatinya walaupun harus mengorbankan nyawa.

Beberapa sahabat yang lain mengusulkan untuk membalas kekejaman kaum kafir quraisy dengan kekejaman pula. Namun, Rasulullah Saw pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah menasehati mereka dengan arif dan bijaksana untuk selalu bersabar, “Sesungguhnya Allah swt bersama orang-orang yang sabar”.

Beliau juga menjelaskan bahwa dalam ajaran islam tidak ada balas dendam. Begitu pula bersabar bukan berarti menerima saja tanpa berusaha. Untuk itu jalan yang terbaik adalah menghindari kekejaman kaum kafir Quraisy dengan cara hijrah. Para sahabat pun siap untuk meninggalkan kota mekah. Diantaranya adalah sahabat terkemuka sepeti Utsman bin Affan dan Jafar bin Abu Thalib.

Mereka diperintahkan untuk menyertai kaum muslimin hijrah. Sedangkan Rasulullah Saw akan tetap tinggal di mekah. Sebab-sebab Rasulullah Saw memilih Habsyi sebagai tempat hijrahnya kaum muslimin, antara lain karena raja negeri Habsyi terkenal sangat jujur, adil dan bijaksana.

pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah

Dia tidak suka berbuat zalim sehingga tidak ada seorang pun di negeri itu yang teraniaya. Selain itu negeri Habsyi adalah suatu negeri yang aman dan jauh dari jangkauan orang-orang kafir Quraisy.Kaum musyrikin Makkah telah mengembangkan berbagai cara untuk menghadang laju dakwah. Mulai dari ejekan dan celaan hingga penyiksaan. Enam cara Quraisy menghadang dakwah tersebut telah kita bahas pada artikel sebelumnya. Hijrah ke Habasyah yang Pertama Sejak pertengahan tahun keempat kenabian, intimidasi dan penyiksaan atas kaum muslimin semakin menjadi.

Orang-orang kafir Quraisy menteror kaum muslimin dengan sangat keras. Saat itulah Allah menurunkan Surat Al Kahfi yang menginspirasi kaum muslimin dengan tiga kisah. Yakni kisah Ashabul Kahfi, kisah Khidhr dan Musa, serta kisah Dzul Qarnain. Pada kisah Ashabul Kahfi inilah terdapat inspirasi hijrah. Sebagaimana firman-Nya: وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرفَقًا Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.

(QS. Al Kahfi: 16) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun lantas memerintahkan sebagian sahabat nabi untuk berhijrah ke Habasyah. Beliau tahu bahwa pemimpin Habasyah saat itu, Ashhamah An Najasyi, adalah raja yang adil dan tidak membiarkan orang dizalimi di hadapannya.

Pada Rajab tahun kelima kenabian, berangkatlah 12 laki-laki dan 4 wanita ke Habasyah. Mereka dipimpin Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Meskipun berangkat sembunyi-sembunyi pada malam hari, gerakan mereka terendus orang-orang kafir Quraisy.

Namun saat Quraisy tiba di pantai, rombongan kapal yang dinaiki muhajirin telah berangkat. Di Habasyah, muhajirin hidup dengan aman. Namun pada bulan Syawal mereka pulang ke Makkah setelah terdengar kabar bahwa orang-orang Quraisy telah masuk Islam.

Mendekati Makkah, barulah muhajirin tahu bahwa apa yang mereka dengan adalah hoax. Orang-orang Quraisy belum masuk Islam.

Mereka hanya bersujud karena terpesona dengan Al Quran, ketika Rasulullah membaca Surat An Najm. فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.

(QS. An Najm: 62) Menyadari hal itu, muhajirin pun masuk ke Makkah secara sembunyi-sembunyi. Ada pula yang masuk Makkah dengan jaminan keamanan tokoh yang mereka kenal. Hijrah ke Habasyah yang Kedua Tekanan dan siksaan dari orang-orang Quraisy semakin menjadi. Rasulullah pun memerintahkan hijrah untuk kedua kalinya. Hijrah kedua ini lebih sulit karena Quraisy semakin meningkatkan kewaspadaan.

Namun Allah memudahkan 83 laki-laki dan 18 wanita untuk berangkat ke Habasyah. Mengetahui banyak kaum muslimin yang hidup aman di Habasyah, para pemuka Quraisy tak mau tinggal diam. Mereka mengutus Amr bin Ash dan Abdullah bin Abu Rabi’ah menghadap Najasyi.

Dengan membawa berbagai hadiah dan persiapan diplomasi, keduanya datang ke Habasyah. Setelah mendekati para uskup penasehat Najasyi dengan berbagai hadiah, keduanya pun bertemu Najasyi. “Wahai Tuan Raja, sesungguhnya ada sejumlah orang bodoh dari negeri kami yang telah menyusup ke negeri Tuan. Mereka ini memecah belah agama kaumnya, juga tidak mau masuk ke agama Tuan.

Mereka datang dengan membawa agama baru yang mereka ciptakan sendiri,” Amr bin Ash sejak masa jahiliyah memang pandai beretorika. Ia meminta Najasyi mengembalikan kaum muslimin ke Makkah dengan berbagai alasan. Para uskup yang telah diberi hadiah, ikut menguatkan perkataan Amr bin Ash. Namun Najasy yang dikenal adil itu tak mau langsung mengambil keputusan. Ia panggil delegasi kaum muslimin untuk dikonfrontasi. “Seperti apakah agama kalian sehingga memecah belah kaum dan kalian juga tak masuk agama kami?” “Wahai Tuan Raja,” kata Ja’far bin Abu Thalib sang juru bicara muhajirin.

“Dulu kami memeluk agama jahiliyah. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah mesum, memutus persaudaraan, menyakiti tetangga dan yang kuat menzalimi yang lemah. Lalu Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami sendiri yang kami ketahui nasab, kejujuran, amanah dan kesucian dirinya.” Ja’far menjelaskan ajaran Islam dan bagaimana agama tersebut mengubah perilaku-perilaku jahiliyah.

Namun kaumnya memusuhi dan menyiksa kaum muslimin. “Maka kami pun pergi ke negeri Tuan dan memilih Tuan daripada orang lain. Kami gembira mendapat perlindaungan Tuan dan berharap agar kami tidak dizalimi di sisin Tuan.” Kemudian Najasyi meminta dibacakan sebagian ajaran Nabi Muhammad.

Ketika Ja’far membaca awal Surat Maryam, Najasyi menangis hingga membasahi jenggotnya. “Sesungguhnya ini dan yang dibawa Isa benar-benar keluar dari satu cahaya yang sama.” Amr bin Ash tidak menyerah. Besoknya, ia datang lagi menghadap Najasyi dan memprovokasi bahwa Nabi Muhammad bicara yang tidak-tidak tentang Isa. Kaum muslimin pun dipanggil untuk kembali dikonfrontasi. Kaum muslimin sempat khawatir kalau Najasyi marah. Namun Ja’far bertekad mengatakan yang sebenarnya.

“Wahai Tuan Raja, kami katakan seperti yang dikatakan Nabi kami bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya dan Kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, sang perawan suci.” Mendengar itu, Najasyi mengambil sebatang lidi dari lantai.

“Demi Allah, perbedaan Isa bin Maryam dari apa yang kau katakan tadi tak lebih besar dari batang lidi ini.” Hidup di Habasyah dengan Aman Amr bin Ash dan rombongannya pulang ke Makkah dengan tangan hampa.

Mereka gagal mempengaruhi Najasyi untuk mendeportasi kaum muslimin. Propaganda mereka yang menjelekkan para sahabat mentah. Para pemuka Quraisy hanya bisa kecewa dan marah. Di Habasyah, kaum muslimin bisa tinggal dengan aman dan tenang. Mereka bisa beribadah tanpa gangguan. Mereka bebas berislam tanpa disakiti dan dicelakai. Meskipun demikian, bukan berarti di Habasyah kaum muslimin tidak menghadapi godaan.

Dalam keseharian yang nyaman, justru ada yang terseret dalam gemerlap dunia hiburan. Akhirnya murtad meninggalkan Islam. Ubaidillah bin Jahsy, namanya. Suami dari Ummu Habibah binti Abu Sufyan. Dalam kondisi yang sangat sedih, Ummu Habibah menerima lamaran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ummu Habibah menerimanya dengan penuh kesyukuran. Maka jadilah ia ummul mukminin, meskipun masih terpisah jarak. Kelak, kaum muslimin yang hijrah ke Habasyah ini mendengar Rasulullah telah hijrah ke Madinah dan meraih kemenangan demi kemenangan.

pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah

Maka mereka pun menyusul Rasulullah hijrah ke Madinah. Ja’far dan orang-orang asy’ariyyin baru menyusul ke Madinah seusai perang Khaibar. Rasulullah menyambut mereka dengan bahagia. Beliau bersabda, “Demi Allah, aku tidak tahu manakah di antara keduanya yang membuatku bergembira; penaklukan Khaibar atau kedatangan Ja’far.” [Muchlisin BK/BersamaDakwah] < Sebelumnya Berikutnya > Quraisy Menghadang Dakwah Umar Bin Khattab Masuk Islam Selengkapnya (urut per bab) Sirah Nabawiyah
Permusuhan dengan kaum kafir menyebabkan penderitaan dan kesu-sahan kaum Muslimin semakin pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah.

Akhirnya Rasulullah saw. meng-izinkan mereka meninggalkan Makkah. Banyak para sahabat yang hijrah ke negeri Habasyah, walaupun pada saat itu Habasyah dipimpin oleh seorang raja Nasrani pada waktu itu dia belum memeluk Islam yang terkenal karena kasih sayang dan keadilannya.

Pada bulan Rajab tahun ke-5 sejak Rasulullah saw. menjalankan dakwah, rombongan pertama telah diberangkatkan ke Habasyah. Rombongan itu berjumlah kurang lebih 12 orang lelaki dan 5 orang wanita. Orang-orang kafir Quraisy pun segera mengejar untuk menghalangi kaum muslimin, namun mereka tiba di pelabuhan setelah kapal kaum muslimin bertolak.

Setibanya di Habasyah, rombongan kaum muslimin mendengar kabar burung bahwa seluruh orang Quraisy telah memeluk Islam dan Islam telah mendapat kemenangan. Mendengar berita itu, mereka sangat gembira. Mereka pun memutus-kan untuk kembali ke tanah air mereka.

Tetapi ketika hampir tiba di Makkah mereka mendapati bahwa berita itu hanya tipuan belaka. Karena ternyata gangguan dan permusuhan terhadap orang-orang Islam tidak berkurang sedikit pun. Dengan terpaksa mereka segera berlayar kembali ke Habasyah, sedangkan sebagian dari mereka terus memasuki kota Makkah dengan perlindungan orang yang berpengaruh. Peristiwa ini dikenal dengan nama hijrah ke Habasyah yang pertama.

Tidak lama setelah kejadian itu, satu rombongan sahabat yang lebih besar jumlahnya, yaitu sekitar 83 orang lelaki dan 18 orang wanita telah berhijrah ke Habasyah. Kepergian para sahabat yang kedua ini dikenal dengan sebuatan ‘Hijrah ke Habasyah yang Kedua’. Dalam rombongan hijrah yang kedua ini termasuk di antaranya sejumlah sahabat Nabi yang pernah ikut pada hijrah pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah pertama.

Kepergian orang-orang Islam ke Habasyah menimbulkan kemarahan kaum kafirin Quraisy. Mereka mengirim satu rombongan khusus ke Habasyah dengan membawa bermacam-macam hadiah untuk membujuk raja Najasyi dan orang-orang penting di istananya serta pendeta-pendeta Nasrani.

Setibanya di Habasyah, mereka segera menemui pembesar-pembesar istana dan para pendeta Nasrani. Dengan menyuap para pembesar istana dan para pendeta itu, mereka berhasil menemui raja. Mereka bersujud di hadapan raja sambil meletakan beraneka macam hadiah* di hadapannya, lalu mereka berkata, ‘Tuanku, sebagian dari warga kami telah meninggalkan agama nenek moyang kami dan telah memeluk agama baru yang bertentangan dengan agama’kami dan agama tuan.

Mereka telah datang untuk menetap di sini. Pembesar-pembesar Makkah, orang tua dan kaum kerabat mereka telah mengutus kami untuk membawa mereka kembali. Kami memohon agar tuan bersedia menyerahkan mereka kepada kami.” Raja Habasyah menjawab, “Kami tidak dapat menyerahkan orang yang telah meminta perlindungan kepada kami tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Biarlah mereka dibawa ke hadapan kami supaya kami dapat menelaah perkataan-perkataan mereka. Jika tuduhan kalian benar, kami akan menyerahkan mereka kepada kalian.” Kemudian raja Najasyi menyuruh pegawainya untuk membawa kaum muslimin ke hadapannya. Kaum muslimin merasa khawatir, karena tidak tahu apa yang harus diperbuat, tetapi Allah menolong mereka dan memberikan semangat kepada mereka.

Sesampainya di hadapan raja, mereka menyampaikan salam kepada raja. Seorang aparat raja berkata, “Kalian tidak mempunyai sopan santun karena tidak bersujud kepada raja!” “Nabi kami telah melarang kami agar tidak bersujud kepada selain Allah” jawab mereka.

Lalu sang raja meminta mereka untuk menceritakan perihal yang sebenarnya. Salah seorang sahabat, yaitu Ja’far r.a.

pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah

bangun lalu berkata, “Wahai tuan raja! Dahulu kami ini manusia jahil. Kami tidak mengenal Allah dan Rasul-Nya, kami menyembah batu-batu dan memakan bangkai serta menger-jakan berbagai jenis kejahatan yang keji. Kami pun memutuskan hubungan silaturahmi. Yang kuat di antara kami akan menindas yang lemah. Dalam keadaan seperti itu, akhirnya datanglah seorang Nabi yang membawa pemba-haruan dalam kehidupan kami.

Keturunannya yang mulia, kejujurannya, dan kehidupannya suci bersih sudah kami kenal dan telah tersebar luas. Beliau mengajak kami supaya menyembah Allah dan meninggalkan perbuatan-perbuatan syirik. Beliau memerintahkan kami agar melakukan yang ma’ruf dan meninggalkan yang mungkar. Beliau mengajarkan kepada kami supaya berkata benar, menunaikan amanah, menghormati kaum kerabat dan berbuat baik terhadap tetangga.

Dari beliau kami belajar shalat, puasa, zakat dan berkelakuan baik. Beliau melarang perbuatan zina, berdusta, memakan harta anak yatim secara zhalim, dan memfitnah. Kami diajar supaya menjauhi perbuatan jahat, pertumpahan darah, dan sebagainya. Beliau juga meng­ajarkan kami al Quran, kitabullah yang mengagumkan. Oleh karena itu kami percaya pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah beliau, kami mengikuti jejak langkahnya, dan menerima ajaran yang dibawanya.

Karena hal itulah kami diganggu dan disiksa dengan harapan kami kembali kepada agama semula. Karena kekejaman mereka telah melampuai batas perikemanusiaan, maka dengan izin beliau kami datang ke negeri ini untuk memohon perlindungan tuan.” Raja Najasyi berkata, “Perdengarkanlah sedikit al Quran yang telah engkau pelajari dari Nabi itu.” Kemudian Ja’far r.a.

membaca ayat permulaan surat Maryam. Ayat-ayat yang dibacanya sangat mengharukan hati pendengarnya, sehingga pipi-pipi mereka basah oleh air mata.

pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah

“Demi Allah!” kata raja Najasyi. “kalimat-kalimat yang dibaca tadi sama dengan kalimat-kalimat yang telah diturunkan kepada Nabi Musa a.s. dan merupakan nur dari sumber cahaya yang sama.” Raja memandang per-wakilan kaum Quraisy lalu mengatakan bahwa ia tidak akan menyerahkan para pengungsi itu kepada mereka. Sungguhpun orang-orang Quraisy merasa malu dan hampa, namun mereka tidak mau mengaku kalah.

Mereka bermusyawarah, kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan mengatakan sesuatu yang tentu dapat menimbulkan kemarahan baginda raja terhadap mereka.” Usulan ini tidak disetujui oleh beberapa orang Quraisy.

Sebagian mereka berpendapat bahwa dengan diterimanya usulan tersebut, berarti kaum muslimin terancam bahaya.

pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah

Sedangkan mereka tidak menginginkan hal itu terjadi, karena sekalipun telah memeluk Islam, orang-orang itu adalah tetap darah daging dan kerabat mereka. Tetapi orang yang mengajukan usul itu tidak mau membatalkannya. Copyright © fadlie.web.id Keesokan harinya perwakilan Quraisy ini menghasut raja Habasyah dengan mengatakan bahwa orang-orang Islam ini tidak percaya Nabi Isa itu anak Allah.

Sekali lagi orang-orang Pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah itu dibawa menghadap raja. Mereka gemetar karena ketakutan. Ketika ditanya mengenai Nabi Isa a.s., dengan tegas mereka menjawab, “Kami percaya kepada firman-firman Allah menge­nai Isa a.s. yang diturunkan kepada Nabi kami, bahwa dia hanyalah seorang hamba dan pesuruh Allah. Kami juga percaya dengan firman-firman Allah yang telah disampaikan kepada Maryam.”Copyright © fadlie.web.id Raja Najasyi berkata, “Demikian itulah pengakuan Isa tentang dirinya, tidak ada perbedaan sedikit pun.” Para pendeta yang mendengar perkataan raja bersungut-sungut mem-bantah pernyataan itu, tetapi raja tidak menghiraukan mereka.

Raja berkata kepada para utusan Quraisy, “Katakan apa keinginan kalian?” Sambil pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah demikian, raja pun mengembalikan hadiah-hadiah yang telah diberikan oleh para utusan Quraisy itu. Kemudian raja mengalihkan perhatiannya kepada orang-orang Islam dan berkata, “Tinggallah kalian di sini dengan aman, orang-orang yang menganiaya kalian akan menerima hukuman yang berat.” Rombongan para utusan kafir Quraisy pun pulang dengan perasaan kecewa dan malu.

Kegagalan perwakilan Quraisy dan kemenangan orang-orang Islam ini menyebabkan kaum musyrikin bertambah berang, apalagi setelah mendengar Umar memeluk Islam. Mereka terus memikirkan bagai-mana caranya menghancurkan kaum muslimin. Akibat kemarahan yang meluap ini maka para pemuka Quraisy mengadakan musyawarah yang tujuan utamanya adalah merencanakan pembunuhan Rasulullah saw. Copyright © fadlie.web.id Namun membunuh Muhammad itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Bani Hasyim yang satu keturunan dengan Muhammad saw.

yang jumlahnya cukup banyak dan sangat kuat pengaruhnya, sungguhpun banyak yang belum memeluk Islam, namun sudah pasti mereka tidak akan berdiam diri kalau salah seorang dari kalangan mereka dibunuh. Copyright © fadlie.web.id Akhirnya dalam musyawarah para pemuka Quraisy itu diputuskan untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib.

Isi keputusan itu menya-takan bahwa orang-orang Quraisy tidak boleh bergaul dengan Bani Hasyim atau pun sebaliknya. Tidak boleh mengadakan jual beli dan berbicara dengan mereka, bahkan tidak boleh berkunjung ke rumah-rumah mereka. Kepu­tusan ini terus berlaku selama Bani Hasyim tidak menyerahkan Muhammad saw.

untuk dibunuh. Keputusan tersebut tidak hanya berupa kata-kata, bahkan mereka membuat maklumat tertulis pada tanggal satu Muharram tahun ketujuh kenabian. Maklumat yang ditandatangani oleh tiap pemuka Quraisy itu digantung di dinding Ka’bah supaya semua orang dapat menge-tahui dan mematuhinya.

Copyright © fadlie.web.id Pemboikotan itu berjalan selama tiga tahun dan selama itu Muhammad beserta Bani Hasyim dan Bani Muthalib terkurung di sebuah lembah di kota Makkah. Mereka tidak dibenarkan keluar dari lembah itu dan tidak diper-bolehkan jual beli dengan kaum Quraisy bahkan dengan pedagang asing sekalipun.

Mereka yang melanggar, dihukum dengan hukuman yang kejam. Pemboikotan ini sudah tentu mengakibatkan Bani Hasyim dan yang lainnya menderita kesusahan dan kelaparan. Karena mereka tidak bisa keluar dari lembah itu untuk mendapatkan keperluan mereka dari orang-orang Quraisy, pedagang lain pun tidak berani datang ke tempat mereka.

Sebagian kaum wanita yang sedang menyusui, air susunya kering, sehingga tidak dapat menyusui bayinya dan anak-anak mereka menangis menjerit-jerit kelaparan. Untung saja ada sedikit makanan yang diselundupkan oleh para lelaki kaum Quraisy yang telah menikah dengan wanita-wanita Bani Hasyim. Sungguh­pun penderitaan mereka tidak terbayangkan beratnya, namun Nabi Muhammad saw.

dan para sahabatnya tetap teguh dalam keimanan mereka, bahkan dalam keadaan demikian, mereka sempat pula menyampaikan risalah Ilahi kepada manusia yang senasib dengan mereka.

Akhirnya setelah tiga tahun berlalu, atas kehendak dan kemurahan Allah Swt, maklumat yang digantung di dinding Kabah itu pun hancur dimakan rayap, dan pemboikotan yang dilakukan terhadap Bani Hasyim dan keluarganya itu dengan sendirinya tidak berlaku lagi. Hikmah dari kisah di atas: Demikianlah secara ringkas gambaran penderitaan yang dialami Nabi dan para sahabatnya.

Kita yang mengaku sebagai pengikut-pengikut beliau, patutlah bertanya kepada diri sendiri mengenai usaha yang telah kita lakukan untuk menegakkan syi’ar Islam. Adakah pengorbanan yang telah kita berikan dl, jalan Allah? Kita menginginkan kemajuan dunia dan kenikmatan akhirat tetapi lupa dengan semua ini, bahwa hal ini tidak mungkin diperoleh tanpa pengorbanan di jalan Allah.

Saya mengkhawatirkan kalian, hai orang-orang Badwi, kalian tidak akan sampai ke Ka’bah, karena jalan yang kalian tempuh menuju ke Turkist sumber : Fhadail ‘Amal Posted from WordPress for Android Kumpulan Soal Kumpulan Soal Kuis dan TTS Kuis dan TTS Perangkat Pembelajaran • Agustus 2020 (1) • Februari 2019 (1) • Desember 2018 (2) • Agustus 2018 (1) • Februari 2018 (1) • Desember 2017 (1) • Oktober 2016 (1) • September 2016 (1) • Maret 2016 (1) • Januari 2016 (1) • Agustus 2015 (4) • Juli 2015 (2) • Juni 2015 (3) • Mei 2015 (2) • April 2015 (26) • Februari pimpinan rombongan saat hijrah ke habasyah adalah (1) Galeri • Agustus 2020 • Februari 2019 • Desember 2018 • Agustus 2018 • Februari 2018 • Desember 2017 • Oktober 2016 • September 2016 • Maret 2016 • Januari 2016 • Agustus 2015 • Juli 2015 • Juni 2015 • Mei 2015 • April 2015 • Februari 2015

Kisah Hijrahnya Sahabat ke Habasyah - Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.




2022 www.videocon.com