Bahasa daerah suku minangkabau

bahasa daerah suku minangkabau

• Acèh • Afrikaans • العربية • مصرى • Asturianu • Azərbaycanca • Bikol Central • Беларуская (тарашкевіца) • বাংলা • Català • Нохчийн • Cebuano • Deutsch • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Galego • Bahasa Hulontalo • 客家語/Hak-kâ-ngî • Fiji Hindi • Հայերեն • Ilokano • Italiano • 日本語 • Jawa • Қазақша • 한국어 • Коми • Ligure • Lietuvių • Minangkabau • Македонски • ꯃꯤꯇꯩ ꯂꯣꯟ • Bahasa daerah suku minangkabau Melayu • Nederlands • Norsk bokmål • Polski • Piemontèis • Português • Русский • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sunda • Svenska • Kiswahili • ไทย • Türkçe • Татарча/tatarça • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt • 吴语 • 中文 • Bân-lâm-gú • 粵語 Austronesia • Melayu-Polinesia • Melayu-Sumbawa • Melayu-Sumbawa Utara dan Timur • Melayik • Nuklir Melayik • Melayu Sumatra Utara • Kerinci-Minangkabau • Minangkabauik • Minangkabau Dialek • Dialek dalam bahasa Minangkabau • Agam • Aneuk Jamee • Batu Sangkar-Pariangan • Orang Mamak • Pajokumbuh • Penghulu • Si Junjung • Singkarak • Tanah • Ulu Wilayah dimana bahasa Minangkabau dituturkan secara dominan (pulau Sumatra bagian Barat; mencakup wilayah Sumatra Barat, sebagian Sumatra Utara, dan sebagian Bengkulu) Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA.

Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan bahasa daerah suku minangkabau Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA Bahasa Minangkabau ( Baso Minangkabau; aksara Jawi: باسو ميناڠكاباو) adalah suatu bahasa Austronesia yang dituturkan oleh Suku Minangkabau yang berasal dari wilayah Dataran Tinggi Minangkabau di Sumatra Barat.

[4] Melalui diaspora masyarakat bersuku Minangkabau, bahasa ini juga dituturkan di beberapa wilayah lain terutama di daerah-daerah sekitar Sumatra Barat terutama di Sumatra Utara, Jambi, Bengkulu, sebagian Aceh, sebagian Riau, serta di wilayah luar negeri meliputi Negeri Sembilan di Semenanjung Kra, dan Singapura.

Bahasa Minangkabau merupakan salah satu bahasa yang terdapat dalam rumpun bahasa Minangkabauik yang bercabang dari rumpun Malayo-Sumbawa ( juga disebut sebagai 'rumpun bahasa Indonesia Barat') yang diturunkan dari rumpun Malayo-Polinesia yang merupakan cabang dari rumpun bahasa Austronesia.

[5] [6] Daftar isi • bahasa daerah suku minangkabau Dialek • 2 Karya sastra • 3 Fonologi • 4 Hubungan dengan bahasa lain • 4.1 Bahasa Melayu dan Indonesia • 4.1.1 Lafal • 4.1.2 Kosa kata • 4.1.3 Frasa • 4.1.4 Penamaan dokumen hukum • 4.1.5 Kalimat positif dan kalimat negatif • 4.1.6 Kalimat pertanyaan bahasa daerah suku minangkabau 4.1.7 Kalimat petunjuk • 4.1.8 Kata pengganti • 4.1.9 Bilangan • 4.1.10 Silsilah keluarga • 5 Lihat pula • 6 Referensi • 7 Bacaan lanjutan • 8 Pranala luar Dialek [ sunting - sunting sumber ] Bahasa Minang memiliki banyak dialek, bahkan antarkampung yang dipisahkan oleh sungai sekali pun dapat mempunyai dialek yang berbeda.

Menurut Nadra, di wilayah Sumatra Barat bahasa Minang dapat dibagi dalam 8 dialek, yaitu: [7] • Dialek Rao Mapat • Dialek Muara Lolo • Dialek Lubuak Alai • Dialek Payakumbuh • Dialek Agam • Dialek Pancung Soal • Dialek Koto Baru • Dialek Pekal • Dialek Lintau Selain itu, masing-masing dialek Payakumbuh, Agam, dan Pancung Soal masih dapat dibagi lagi ke dalam sub-dialek. [8]. [9] [10] Dialek bahasa Minangkabau yang dituturkan di Singkil, Simeulue, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, dan Meulaboh juga disebut dengan bahasa Aneuk Jamee.

[11] Bahasa Minangkabau yang ada di Provinsi Riau terdiri dari 4 dialek, [12] di antaranya: • Dialek Rokan, dipakai di Kabupaten Rokan Hilir dan Rokan Hulu • Dialek Kampar juga disebut sebagai bahaso Ocu, dipakai di Kabupaten Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kampar, Kota Pekanbaru, Pelalawan, Kuantan Singingi (Kuansing), dan Indragiri Hulu • Dialek Basilam, dipakai di Kabupaten Rokan Hilir • Dialek Indragiri, dipakai di Kabupaten Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir Dialek-dialek bahasa Minangkabau yang berada di Provinsi Riau dalam perkembangannya mendapat pengaruh dari bahasa Melayu di sekitarnya.

Oleh sebagian masyarakat pengguna dialek tersebut mengganggapnya sebagai bahasa tersendiri. [13] [14] [15] Bahasa Minangkabau Umum ini juga disebut sebagai dialek Padang yang biasa disebut Bahaso Padang atau Bahaso Urang Awak.

[16] Karya sastra [ sunting - sunting sumber ] Karya sastra tradisional berbahasa Minang memiliki persamaan bentuk dengan karya sastra tradisional berbahasa Melayu pada umumnya, yaitu berbentuk prosa, cerita rakyat, dan hikayat.

Penyampaiannya biasa dilakukan dalam bentuk cerita ( kaba) atau dinyanyikan ( dendang). Adapula karya sastra yang digunakan untuk prosesi adat Minang, seperti pepatah-petitih dan persembahan ( pasambahan). Pepatah-petitih dan persembahan banyak menggunakan kata-kata kiasan. Agar tidak kehilangan makna, karya sastra jenis ini tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Oleh karenanya sangat sedikit sekali orang yang menguasai karya sastra ini, yang hanya terbatas pada ninik mamak dan pemuka adat. [17] Fonologi [ sunting - sunting sumber ] Berikut merupakan kotak fonem suara dari bahasa Minangkabau.

[18] Konsonan Dwi- bibir Rongga- gigi langit- langit lang. bel. Celah- suara Sengau m 〈m 〉 n 〈n 〉 ɲ 〈ny 〉 ŋ 〈ng 〉 Letup/ Gesek nirsuara p 〈p 〉 t 〈t 〉 tʃ 〈c 〉 k 〈k 〉 ʔ 〈' 〉 bersuara b 〈b 〉 d 〈d 〉 dʒ 〈j 〉 ɡ 〈g 〉 Geser s 〈s 〉 h 〈h 〉 Sisian l 〈l 〉 Getar r 〈r 〉 Semivokal w 〈w 〉 j 〈y 〉 Vokal Depan Madya Belakang Tertutup i 〈i 〉 u 〈u 〉 Tengah e 〈e 〉 o 〈o 〉 Terbuka a 〈a 〉 Diftong: [iə̯], [uə̯], [ui̯], [ai̯], [au̯]. Hubungan dengan bahasa lain [ sunting - sunting sumber ] Orang Minangkabau umumnya berpendapat banyak persamaan antara Bahasa Minangkabau dengan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia.

Marah Roesli dalam Peladjaran Bahasa Minangkabau menyebutkan pada umumnya perbedaan antara Bahasa Minangkabau dan Bahasa Indonesia adalah pada perbedaan lafal, selain perbedaan beberapa kata. Bahasa Melayu dan Indonesia [ sunting - sunting sumber ] Bahasa Minangkabau merupakan salah satu bahasa daerah yang banyak memberikan sumbangan terhadap kosakata Bahasa Indonesia.

Hal ini disebabkan karena banyaknya sarjana Minang yang berkontribusi dalam pembentukan Bahasa Melayu baku yang kelak menjadi Bahasa Indonesia.

[19] Selain itu, peran para sastrawan Minang yang banyak menulis karya-karya sastra terkemuka pada masa awal kemerdekaan, juga menjadi faktor besarnya interferensi Bahasa Minangkabau terhadap Bahasa Indonesia. Mereka banyak memasukkan kosakata Minang ke dalam Bahasa Indonesia baku, terutama kosakata yang tidak memiliki padanannya di dalam Bahasa Indonesia.

[20] [21] Pada tahun 1966, dari semua kosakata non-Melayu dalam Kamus Bahasa Indonesia, Bahasa Minangkabau mencakup 38% dari keseluruhannya.

Angka ini merupakan yang tertinggi dibanding bahasa daerah lain, seperti Bahasa Jawa (27,5%) dan Bahasa Sunda (2,5%). Meskipun dalam perkembangannya, jumlah kosakata Minangkabau cenderung menurun dibandingkan interferensi bahasa daerah suku minangkabau bahasa daerah tersebut. [22] Abdul Gaffar Ruskhan dalam makalah yang disampaikannya di Sarasehan Bahasa Minangkabau menyampaikan pola perubahan kata dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Minangkabau sebagai berikut: • Bunyi akhir BI -ul à- ua: bandul àbandua • Bunyi akhir BI -ut à- uik: rumput àrumpuik • Bunyi akhir BI -us à- uih: putus àputuih • Bunyi akhir BI -is à- ih: baris àbarih • Bunyi akhir BI -it à- ik: sakit àsakik • Bunyi akhir BI -as à- eh: batas àbateh • Bunyi akhir BI -ap à- ok: atap àatok • Bunyi akhir BI -at à- ek: rapat àrapek • Bunyi akhir BI -at (dari Arab) à- aik: adat àadaik • Bunyi akhir BI -al/-ar à- a: jual àjua, kabar àkaba • Bunyi akhir BI -a à- o: kuda àkudo • Bunyi -e (pepet) à- a: beban àbaban • Awalan ter- ber- per- à ta- ba- pa-: berlari, termakan, perdalam à balari, tamakan, padalam [23] Lafal [ sunting - sunting sumber ] Contoh-contoh perbedaan lafal Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Minangkabau adalah sebagai berikut: Akhiran Menjadi Contoh a o nama— namo, kuda— kudo, cara— caro al dan ar a jual— jua, kabar— kaba, kapal— kapa as eh atau aih batas— bateh, alas— aleh, balas— baleh at ek atau aik dapat— dapek, kawat— kawek, surat— surek, dekat– dekek ap ok lembap— lambok, gelap— galok, kurap— kurok, atap— atok ih iah atau io kasih— bahasa daerah suku minangkabau kasio, putih— putiah– putio, pilih— piliah– pilio ing iang atau iong kucing— kuciang– kuciong, saling— saliang– saliong, gading— gadiang– gadiong bahasa daerah suku minangkabau ia atau ie atau iu atau iegh atau iar atau iah air— aia, pasir— pasia, lahir— lahia is ih baris— barih, manis— manih, alis— alih it ik sakit— sakik, kulit— kulik, jahit— jahik, sulit– sulik uh uah atau uo tujuh— tujuah, patuh— patuah uk uak atau uok untuk— untuak, buruk— buruak, busuk— busuak ung uang atau uong langsung— langsuang, hidung— hiduang, untung— untuang ur ua atau u cukur— cukua, kasur— kasua, angsur— ansua us uih putus— putuih, halus— haluih, bungkus— bungkuih ut uik rumput— rumpuik, ikut— ikuik, takut— takuik • Selain perbedaan akhiran, imbuhan awalan seperti me- ber- ter- ke- pe- dan se- dalam bahasa Minang menjadi ma- ba- ta- ka- pa- dan sa.

Contohnya meminum, berlari, terlambat, kesalahan, penakut, dan setiap dalam bahasa Minang menjadi maminum, balari, talambek, kasalahan, panakuik, dan satiok. • Sementara itu, imbuhan akhiran seperti -kan dan -nya dalam bahasa Minang menjadi -an dan -nyo.

Contohnya memusnahkan dan selamanya dalam bahasa Minang menjadi mamusnahan dan salamonyo. [24] • Perbedaan lainnya adalah setiap suku kata pertama yang mengandung huruf " e" dalam bahasa Minang menjadi huruf " a".

Contohnya selama dan percaya dalam bahasa Minang menjadi salamo dan parcayo. Kosa kata [ sunting - sunting sumber ] Persamaan Bahasa Minangkabau dengan berbagai bahasa lain dari rumpun Melayu dapat dilihat misalnya dalam perbandingan kosakata berikut: Bahasa Indonesia apa laut lihat kucing pergi ular keras manis lutut Bahasa Minangkabau apo lauik liaik/caliak kuciang pai ula kareh manih lutuik Bahasa Pekal apo lawik liek kucing lalui ulah kehas manis lutuik Bahasa Urak Lawoi' nama lawoi ʔ lihai ʔ mi'aw pi ulal kras maneh lutoi ʔ Frasa [ sunting - sunting sumber ] Bahasa Minangkabau: Sadang kayu di rimbo tak samo tinggi, kok kunun manusia (peribahasa) Bahasa Indonesia: Sedangkan pohon di hutan tidak sama tinggi, apa lagi manusia Bahasa Minangkabau: Co a koncek baranang co itu inyo (peribahasa) Bahasa Indonesia: Bagaimana katak berenang, seperti itulah dia.

Bahasa Minangkabau: Indak buliah mambuang sarok di siko! Bahasa Indonesia: Tidak boleh membuang sampah di sini! Bahasa Minangkabau: Bungo indak satangkai, kumbang indak sa ikua (peribahasa) Bahasa Indonesia: Bunga tidak setangkai, kumbang tidak seekor Bahasa Minangkabau: A tu nan ang karajoan?

Bahasa Indonesia: Apa yang sedang kamu kerjakan? kata Apa dalam Bahasa Minangkabau yaitu Apo tetapi lebih sering disingkat dengan kata A Penamaan dokumen hukum [ sunting - sunting sumber ] Sebagai contoh, perbedaan dapat dilihat dalam versi masing-masing dari Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia: Bahasa Inggris Bahasa Indonesia Bahasa Melayu (Baku) Bahasa Minangkabau Universal Declaration of Human Bahasa daerah suku minangkabau Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Perisytiharan Hak Asasi Manusia Sejagat Deklarasi Sadunia Hak-Hak Asasi Manusia Article 1 Pasal 1 Perkara 1.

Pasal 1 All human beings are born free and equal in dignity and rights. They are endowed with reason and conscience and should act towards one another in a spirit of brotherhood. Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan. Semua manusia dilahirkan bebas dan samarata dari segi kemuliaan dan hak-hak. Mereka mempunyai pemikiran dan perasaan hati dan hendaklah bertindak di antara satu sama lain dengan semangat persaudaraan.

Sadoalah urang dilahiaan mardeka jo punyo martabaik sarato hak-hak nan samo. Inyo dikaruniai aka jo hati nurani, supayo nan ciek jo nan lain bagaua dalam samangaik badunsanak. Kalimat positif dan kalimat negatif [ sunting - sunting sumber ] Kalimat negatif seperti dibuat bahasa Prancis.

# Bahasa Indonesia Bahasa Minang Bahasa Prancis kalimat positif Subjek + Predikat + Objek Subjek + Predikat + Objek Subjek + Kata Kerja + Objek/Pelengkap kalimat negatif Subjek + tidak + Predikat + Objek Subjek + indak + Predikat + Objek + do Subjek + ne + Kata Kerja + pas + Objek/Pelengkap Contoh: • Iko lamak (ini enak) • Iko indak lamak do • Ba a (bagaimana) • Ndak ba a do Kalimat pertanyaan [ sunting - sunting sumber ] Bahasa Indonesia Bahasa Minang Apa Apo/A Bagaimana Bagaimano/Ba a Berapa Barapo/Bara Di mana Dimano/Dima Kemana Kamano/Kama Dari mana Dari mano/Dari ma Mana Mano/Ma Siapa Siapo/Sia Mengapa Mangapo/Manga /Dek a Kapan Bilo Kalimat petunjuk [ sunting - sunting sumber ] Bahasa Indonesia Bahasa Minang Ini Iko/Ko Itu Itu/Tu Sini Siko Situ Situ Sana Sinan Kata pengganti [ sunting - sunting sumber ] Saya Ambo, Bahasa daerah suku minangkabau, Awak, Aden Kamu Sanak (Formal), Awak (Formal), Ang (Laki-laki) Kau (Perempuan) Dia Inyo Bilangan [ sunting - sunting sumber ] Bahasa Indonesia Bahasa Minang Satu Ciek Dua Duo Tiga Tigo Empat Ampek Lima Limo Enam Anam Tujuh Tujuah Delapan Salapan Sembilan Sambilan Sepuluh Sapuluah Sebelas Sabaleh Seratus Saratuih Seribu Saribu Silsilah keluarga [ sunting - sunting sumber ] Bahasa Indonesia Bahasa Minang Kakek Pak Gaek, Antan, Angku, Inyiak, Gayiek, Datuak Nenek Mak Gaek, Enek, Anduang, Inyiak, Niniak, Uwo Ayah Apak, Abak Ibu Amak, Mandeh, Biyai, Bundo Paman Mamak, Pak Tuo, Pak Angah, Pak Adang, Pak Etek, Pak Anjang Bibi Etek, Ande, Amay, Uncu Kakak Laki-laki Uda, Ajo, Udo, Uan, Abang Kakak Perempuan Uni, Kakak Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Bahasa Aneuk Jamee • Ejaan Bahasa Minangkabau • Kongres Bahasa Minangkabau Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ Moeliono, A.M., (2000), Kajian serba linguistik: untuk Anton Moeliono, pereksa bahasa, BPK Gunung Mulia, ISBN 979-687-004-5.

• ^ "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Minangkabau". Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. • ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2019). "Minangkabau". Glottolog 4.1. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. Pemeliharaan CS1: Tampilkan editors ( link) • ^ Darrell T.

Tryon, Comparative Austronesian Dictionary: An Introduction to Austronesian Studies, Walter de Gruyter & Co, Berlin, 1994 • ^ "Minangkabauic". The Southeast Asian Linguistics Society Special Publication (dalam bahasa Inggris). Honolulu, Hawai'i: University of Hawai'i Press. 2019. [Rumpun bahasa Minangkabauik] Parameter -first1= tanpa -last1= di Authors list ( bantuan); Parameter -first2= tanpa -last2= di Authors list ( bantuan); Parameter -first3= tanpa -last3= bahasa daerah suku minangkabau Authors list ( bantuan); Parameter -first4= tanpa -last4= di Authors list ( bantuan) • ^ "Minangkabau language" [Bahasa Minangkabau].

Glottolog 4.4 (dalam bahasa Inggris). • ^ Nadra 2006. • ^ Nadra 1997. • ^ Medan, Tamsin, (1985), Bahasa Minangkabau dialek Kubuang Tigo Baleh, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. • ^ Nadra, (2006), Rekonstruksi bahasa Minangkabau, Andalas University Press, ISBN 979-3364-55-6. • ^ "AZIZ, Zulfadli A.; AMERY, Robert. A survey on the status of the local languages of Pulau Simeulue and Pulau Banyak and their use within the community.

In: Proceedings of English Education International Conference. 2016. p. 487-490". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-12-15. Diakses tanggal 2018-08-12. • ^ Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI. Bahasa Minangkabau di Provinsi Riau. Pada: Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. 2017 [1] Diarsipkan 2018-08-12 di Wayback Machine.

bahasa daerah suku minangkabau

• ^ Saidat Dahlan, Saidat Dahlan and Anwar Syair, Anwar Syair and Abdullah Manan, Abdullah Manan and Amrin Sabrin, Amrin Sabrin (1985) Pemetaan Bahasa Daerah Riau dan Jambi (1985). Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta. [2] • ^ Agus Sri Danardana, Agus Sri Danardana (2010) persebaran dan kekerabatan bahasa-bahasa di prov riau dan kep riau 149h. Balai Bahasa Provinsi Riau. ISBN 978-979-1104-46-3 [3] • ^ Ayub A, Husin N, Muhardi M, Usman A H, & Yasin A.

(1993). Tata Bahasa Minangkabau. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta. ISBN 979-459-294-3 • ^ Moussay 1998, hlm. 24. • ^ Edwar Jamaris, Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau, Yayasan Obor Indonesia, 2001 • ^ Adelaar, K. Alexander (1992). Proto-Malayic: The Reconstruction of its Phonology and Parts of its Lexicon and Morphology.

Pacific Linguistics, Series C, no. 119. Canberra: Dept. of Linguistics, Research School of Pacific Studies, the Australian National University. • ^ S. Budisantoso, Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya, 1986 • ^ Martin Haspelmath, Uri Tadmor; Loanwords in the World's Languages: A Comparative Handbook; De Gruyter Mouton, 2009 • ^ Alif Danya Munsyi, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing, KPG, 2003 • ^ Adeng Chaedar Alwasilah, Politik Bahasa dan Pendidikan, 1997 • ^ Ruskhan, Abdul Gaffar (2015).

Penentuan Dialek Baku Bahasa Minangkabau Dalam Penulisan Daring. Bogor: Badan Bahasa. • ^ Edwar Djamaris, Beberapa masalah dalam penerjemahan naskah Sastra Minangkabau [ pranala nonaktif permanen] Bacaan lanjutan [ sunting - sunting sumber ] • Moussay, Gérard (1998).

Rahayu S. Hidayat, ed. Tata Bahasa Minangkabau (judul asli: La Langue Minangkabau ) (dalam bahasa Indonesia). Jakarta: Kepustakaan Popular Gramedia.

ISBN 979-9023-16-5. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui ( link) • Eberhard, David M.; Simons, Gary F.; Fennig, Charles D. (2021). "Ethnologue: Languages of the World" (dalam bahasa Inggris). Dallas: SIL International. Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] • (Indonesia) Artikel Kategori Bahasa Minang [ pranala nonaktif permanen] • (Indonesia) Beberapa kata sulit Bahasa Minangkabau • (Indonesia) Kamus Bahasa Indonesia – Minangkabau / Minangkabau – Indonesia • (Inggris) Bahasa Minangkabau di Ethnologue • (Inggris) Deklarasi Sedunia Hak Asasi Manusia dalam Bahasa Minangkabau • Kamus Bahasa Indonesia – Minangkabau I – Depdikbud • Kamus Minangkabau Indonesia – Depdikbud • kamus-bahasa-indonesia-minang.pdf • Ucapan dan contoh perkataan dalam bahasa Minangkabau - kanal I Love Languages di Youtube • Aceh • Bangka • Batak • Alas-Kluet • Angkola • Karo • Mandailing • Pakpak • Singkil • Simalungun • Toba • Col • Devayan • Haloban • Lekon • Duano a • Enggano • Gayo • Haji • Kaur • Kerinci • Komering • Kubu • Lampung • Api • Nyo • Loncong • Lubu • Melayu • Melayu Barisan Selatan • Besemah • Bengkulu • Ogan bahasa daerah suku minangkabau Semendo • Serawai • Melayu Jambi • Mentawai • Minangkabau • Jamee • Kampar • Mukomuko • Pesisir Sibolga • Musi • Palembang • Bahasa daerah suku minangkabau • Nias • Pekal • Rejang • Sigulai • Abui • Adang • Adonara • Alor • Amarasi • Anakalangu • Bali • Bengkala 2 • Bilba • Bima • Blagar • Bunak b • Dela-Oenale • Dengka • Dhao • Ende • Hamap • Helong • Ile Ape • Kabola • Kafoa • Kamang • Kambera • Kedang • Kelon • Kemak b • Ke'o • Kepo' • Kodi • Komodo • Kui • Kula • Lamaholot • Lamalera • Lamatuka • Lamboya • Lamma • Laura • Lembata Barat • Lembata Selatan • Levuka • Lewo Eleng • Lewotobi • Lio • Lole • Melayu Bali • Melayu Kupang • Melayu Larantuka • Mamboru • Manggarai • Nage • Nedebang • Ngada • Ngada Timur • Palue • Rajong • Rembong • Retta • Ringgou • Riung • Rongga • Sabu • Sasak • Sawila • Sikka • So'a • Sumbawa • Tambora • Tereweng • Termanu • Tetun b • Tewa • Tii • Uab Meto • Wae Rana • Wanukaka • Wejewa • Wersing • Abal • Ampanang • Aoheng • Bahau • Bakati' • Rara • Sara • Barangas • Bakumpai • Banjar bahasa daerah suku minangkabau Basap • Benyadu' • Bidayuh • Biatah a • Bukar-Sadong a • Bolongan a • Bukat • Bukitan • Burusu • Dusun • Deyah • Malang • Witu • Embaloh • Hovongan • Iban a • Jangkang • Kayan • Kayan Busang • Sungai Kayan • Mahakam • Mendalam • Wahau • Kelabit a • Kembayan • Kendayan • Keninjal • Kenyah • Kelinyau a • Wahau • Kereho • Kohin • Lawangan • Lengilu • Lun Bawang a • Ma'anyan • Melayu • Kota Bangun • Berau • Bukit • Dayak • Pontianak • Tenggarong • Modang • Mualang • Murut • Selungai Murut a • Sembakung Murut a • Tagal Murut a • Ngaju • Okolod a • Ot Danum • Paku • Punan • Aput • Merah • Merap • Tubu • Putoh • Ribun • Sa'ban • Sanjau Basap • Sanggau • Seberuang • Segai • Semandang bahasa daerah suku minangkabau Siang • Taman • Tausug a • Tawoyan • Tidong a • Tunjung • Uma' • Lasan • Lung • Alune • Amahai • Ambelau • Aputai • Asilulu • Babar Tenggara • Babar Utara • Banda • Barakai • Bati • Batuley • Benggoi • Boano • Bobot • Buli • Buru • Dai • Damar Barat • Damar Timur • Dawera-Daweloor • Dobel • Elpaputih • Emplawas • Fordata • Galela • Gamkonora • Gane • Gebe • Geser-Gorom • Gorap • Haruku • Hitu • Horuru • Hoti • Huaulu • Hukumina • Hulung • Ibu • Ili'uun • Imroing • Kadai • Kaibobo • Kamarian • Kao • Karey • Kayeli • Kei • Kisar • Koba • Kola • Kompane • Kur • Laba • Laha • Larike-Wakasihu • Latu • Leti • Liana-Seti • Lisabata-Nuniali • Lisela • Lola • Loloda • Lorang • Loun • Luang • Luhu • Maba • Makian Barat • Makian Timur • Melayu Ambon • Melayu Bacan • Melayu Banda • Melayu Maluku Utara • Mangole • Manipa • Manombai • Manusela • Mariri • Masela Barat • Masela Tengah • Masela Timur • Masiwang • Modole • Moksela • Naka'ela • Nila • Naulu Selatan • Naulu Utara • Nusa Laut • Oirata • Pagu • Palumata • Patani • Paulohi • Perai • Piru • Roma • Sahu • Salas • Saleman • Saparua • Sawai • Seit-Kaitetu • Selaru • Seluwasan • Sepa • Serili • Serua • Sula • Tabaru • Taliabu • Talur • Tarangan Barat • Tarangan Timur • Tela-Masbuar • Teluti • Teor • Ternate • Ternateño 1 • Te'un • Tidore • Tobelo • Tugun • Tugutil • Tulehu • Ujir • Waioli • Watubela • Wamale Selatan • Wamale Utara • Yalahatan • Yamdena bahasa daerah suku minangkabau Abinomn 3 • Abun 3 • Aghu • Airoran • Ambai • Anasi • Ansus • Arandai • Arguni • As • Asmat Pantai Kasuari • Asmat Tengah • Asmat Utara • Asmat Yaosakor • Atohwaim • Auye • Awbono • Awera • Awyi • Awyu Asue • Awyu Tengah • Awyu Edera • Awyu Jair • Awyu Utara • Awyu Selatan • Bagusa • Baham • Barapasi • Bahasa daerah suku minangkabau • Bayono • Bedoanas • Beneraf • Berik • Betaf • Biak • Biga • Biritai • Bonggo • Burate • Burmeso • Burumakok • Buruwai • Busami • Citak • Citak Tamnim • Dabe • Damal • Dani Lembah Bawah • Dani Lembah Tengah • Dani Lembah Atas • Dani Barat • Dao • Dem • Demisa • Dera • Diebroud • Dineor • Diuwe • Doutai • Duriankere • Dusner • Duvle • Edopi • Eipomek • Ekari • Elseng 3 • Emem • Eritai • Erokwanas • Fayu • Fedan • Foau • Gresi • Hatam 3 • Hupla • Iau • Iha • Iha Pijin 4 • Irarutu • Iresim • Isirawa • Itik • Iwur • Jofotek-Bromnya • Kaburi • Kais • Kaiy • Kalabra • Kamberau • Kamoro • Kanum Bädi • Kanum Ngkâlmpw • Kanum Smärky • Kanum Sota • Kapauri • Kaptiau • Karas • Karon Dori • Kaure • Kauwera • Kawe • Kayagar • Kayupulau • Kehu 5 • Keijar • Kemberano • Kembra 5 • Kemtuik • Ketengban • Ketum • Kimaghima • Kimki • Kirikiri • Kofei • Kokoda • Kombai • Komyandaret • Konda • Koneraw • Kopkaka • Korowai • Korupun-Sela • Kosare • Kowiai • Kuri • Kurudu • Kwer • Kwerba • Kwerba Mamberamo • Kwerisa • Kwesten • Kwinsu • Legenyem • Lepki 5 • Liki • Maden • Mai Brat • Mairasi • Maklew • Melayu Papua • Mander • Mandobo Atas • Mandobo Bawah • Manem • Manikion/Mantion/Sougb • Mapia • Marau • Marind • Marind Bian • Masimasi • Massep 3 • Matbat • Mawes • Ma'ya • Mekwei • Meoswar • Mer • Meyah • Mlap • Mo • Moi • Molof 5 • Mombum • Momina • Momuna • Moni • Mor • Mor • Morai • Morori • Moskona • Mpur 3 • Munggui • Murkim 5 • Muyu Utara • Muyu Selatan • Nafri • Nakai • Nacla • Namla 5 • Narau • Ndom • Nduga • Ngalum • Nggem • Nimboran • Ninggerum • Nipsan • Nisa • Obokuitai • Onin • Onin Pijin 4 • Ormu • Orya • Bahasa daerah suku minangkabau • Papuma • Pom • Puragi • Rasawa • Riantana • Roon • Samarokena • Saponi • Sauri • Sause • Saweru • Sawi • Seget • Sekar • Semimi • Sempan • Sentani • Serui-Laut • Sikaritai • Silimo • Skou • Sobei • Sowanda • Sowari • Suabo • Sunum • Tabla • Taikat • Tamagario • Tanahmerah • Tandia • Tangko • Tarpia • Tause • Tebi • Tefaro • Tehit • Tobati • Tofanma 5 • Towei • Trimuris • Tsaukambo • Tunggare • Una • Uruangnirin • Usku 5 • Viid • Vitou • Wabo • Waigeo • Walak • Wambon • Wandamen • Wanggom • Wano • Warembori • Wares • Waris • Waritai • Warkay-Bipim • Waropen • Wauyai • Woi • Wolai • Woria • Yahadian • Yale Kosarek • Yali Angguruk • Yali Ninia • Yali Lembah • Yaqay • Yarsun • Yaur • Yawa • Yei • Yelmek • Yeretuar • Yetfa • Yoke • Zorop Kategori tersembunyi: • Pemeliharaan CS1: Tampilkan editors • Galat CS1: tidak memiliki penulis atau penyunting • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Templat webarchive tautan wayback • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • Halaman yang menggunakan pranala magis ISBN • Artikel bahasa dengan jumlah penutur yang tidak bertanggal • Artikel bahasa dengan kode Glottolog yang tidak bernama • Artikel bahasa dengan kode ISO 639-2 bahasa daerah suku minangkabau Artikel bahasa tanpa referensi • Artikel bahasa Maret 2022 • Semua artikel bahasa • Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui • Halaman ini terakhir diubah pada 7 Maret 2022, pukul 23.50.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • Seperti yang kita tahu, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia di kehidupan sehari-hari untuk saling berinteraksi.

Indonesia merupakan negara dengan 718 bahasa daerah dengan bahasa indonesia yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia. Salah satunya ialah bahasa minangkabau, yang tentu tidak asing di dengar oleh kita mengenai bahasa minangkabau. Takukah kamu jika bahasa minangkabau merupakan bahasa austronesia ? Bahasa minangkabau merupakan bahasa austronesia yang dituturkan oleh Suku Minangkabau dari wilayah dataran tinggi Minangkabau di Sumatra Barat dan juga tidak hanya ada di Sumatra Barat saja lhoteman-teman.

Mengapa? Karena dahulu bahasa minangkabau mengalami proses diaspora yang mana mengakibatkan bahasa minangkabau tersebar ke beberapa wilayah sekitarnya seperti wilayah Sumatra Utara, Jambi, Bengkulu, sebagian Aceh, sebagian Riau bahkan ada pula di luar Indonesia seperti di Negeri Sembilan di Semenanjung Kra dan Singapura.

Dalam kedudukan bahasanya, bahasa minangkabau berperan sebagai bahasa induk. Yang kita tahu bahwa bahasa induk memiliki dialek atau varietas bahasa yang di setiap daerah pemakainya memiliki dialek berbeda. Dialek bahasa minangkabau di provinsi asalnya Sumatra Barat memiliki lima dialek— berupa Dialek Pasaman, Dialek Agam-Tanah Datar, Dialek Lima Puluh Kota, Dialek Koto Baru dan Dialek Pancung Soal. Dalam penggunaannya Dialek Agam-Tanah memiliki jumlah penutur terbanyak, hal seperti sebaran geografis yang luaslah yang membuat Dialek Agam-Tanah digunakan sebagai bahasa minangkabau umum di pusat Kota Sumatra Barat.

Pada Provinsi lain seperti Sumatra Utara, Jambi, Bengkulu, bahasa minangkabau dituturkan dibanyak kabupaten. Pada wilayah lain seperti Provinsi Aceh dan Riau, bahasa minangkabau memiliki macam dialek, seperti di Provinsi Aceh terdapat Dialek Tamiang, Dialek Sunting dan Dialek Aneuk Jamee serta di Provinsi Riau terdapat Dialek Rokan, Dialek Kampar, Dialek Basilam, Dialek Indragiri dan Dialek Kuantan.

Pada bunyi vokal terdapat bunyi [a, i, u, e, o] yang masing-masing memiliki vokal yang berbeda dan kelima vokal tersebut dapat kita pakai pada awal, tengah maupun akhir suku kata. Bunyi [i dan u] memiliki vokal tinggi contohnya [i] pada kata "lima",“limo” dan [u] pada kata "dua",“duo”. Bunyi [e] merupakan vokal sedang contohnya "empat “ampek" dan vokal rendah pada bunyi [o, a] seperti kata bila “bilo" dan berapa “bara”. Nah! Itu dia sedikit informasi mengenai bahasa minangkabau, dialek dan vokalnya yang dapat kita pelajari bersama.

Untuk mempelajari bahasa tidaklah sulit jika kita berusaha dan memiliki niat yang kuat dalam mempelajarinya. Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan kita mengenai bahasa minangkabau dan dapat membantu kalian dalam mempelajari bahasa.

Teruslah belajar dan lestarikan bahasa daerah!
MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • Bahasa daerah suku minangkabau • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) Suku Minangkabau – Sejarah, Kebudayaan, Adat Istiadat, Kekerabatan, Bahasa, Makanan, Pakaian, Rumah Adat : Minangkabau (Minang) adalah kelompok etnis Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau.

Wilayah kebudayaannya Minang meliputi daerah Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan juga Negeri Sembilan di Malaysia. 7.6. Sebarkan ini: Minangkabau (Minang) adalah kelompok etnis Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. Wilayah kebudayaannya Minang meliputi daerah Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan juga Negeri Sembilan di Malaysia.

Sebutan orang Minang seringkali disamakan sebagai orang Padang, hal ini merujuk pada nama ibu kota provinsi Sumatera Barat yaitu kota Padang. Namun, masyarakat ini biasanya akan menyebut kelompoknya dengan sebutan urang awak, yang bermaksud sama dengan orang Minang itu sendiri. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pembacaan Teks Proklamasi 17 Agustus 1945 Etnis Minang juga telah menerapkan sistem proto-demokrasi sejak masa pra-Hindu dengan adanya kerapatan adat untuk menentukan hal-hal penting dan permasalahan hukum.

Prinsip adat Minangkabau tertuang singkat dalam pernyataan Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah(Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al-Qur’an) yang berarti adat berlandaskan ajaran Islam. Walau tambo tersebut tidak tersusun secara sistematis dan lebih kepada legenda berbanding fakta serta cendrung kepada sebuah karya sastra yang sudah menjadi milik masyarakat banyak. Namun kisah tambo ini sedikit banyaknya dapat dibandingkan dengan Sulalatus Salatin yang juga menceritakan bagaimana masyarakat Minangkabau mengutus wakilnya untuk meminta Sang Sapurba salah seorang keturunan Iskandar Zulkarnain tersebut untuk menjadi raja mereka.

Masyarakat Minang merupakan bagian dari masyarakat Deutro Melayu (Melayu Muda) yang melakukan migrasi dari daratan China Selatan ke pulau Sumatera bahasa daerah suku minangkabau 2.500–2.000 tahun yang lalu.

Diperkirakan kelompok masyarakat ini masuk dari arah timur pulau Sumatera, menyusuri aliran sungai Kampar sampai ke dataran tinggi yang disebut darek dan menjadi kampung halaman orang Minangkabau. Beberapa kawasan darek ini kemudian membentuk semacam konfederasi yang dikenal dengan nama luhak, yang selanjutnya disebut juga dengan nama Luhak Nan Tigo, yang terdiri dari Luhak Limo Puluah, Luhak Agam, dan Luhak Tanah Data.

Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, kawasan luhak bahasa daerah suku minangkabau menjadi daerah teritorial pemerintahan yang disebut afdeling, dikepalai oleh seorang residen yang oleh masyarakat Minangkabau disebut dengan nama Tuan Luhak.

Awalnya penyebutan orang Minang belum dibedakan dengan orang Melayu, namun sejak abad ke-19, penyebutan Minang dan Melayu mulai dibedakan bahasa daerah suku minangkabau budaya matrilineal yang tetap bertahan berbanding patrilineal yang dianut oleh masyarakat Melayu umumnya.

Kemudian pengelompokan ini terus berlangsung demi kepentingan sensus penduduk maupun politik. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Isi Trikora ( Tri Komando Rakyat ) : Tujuan, Latar Belakang, Sejarah Awal Hingga Akhir Kebudayaan Suku Minangkabau 1.

Pakaian Adat Suku Minangkabau • Pakaian Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang Yang pertama adalah Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang atau sering pula disebut pakaian Bundo Kanduang. Pakaian ini merupakan lambang kebesaran bagi para wanita yang telah menikah. Pakaian tersebut merupakan simbol dari pentingnya peran seorang ibu dalam sebuah keluarga. Limapeh sendiri artinya bahasa daerah suku minangkabau tiang tengah dari bangunan rumah adat Sumatera Barat. Peran limapeh dalam mengokohtegakan bangunan adalah analogi dari peran ibu dalam sebuah keluarga.

Jika limapeh rubuh, maka rumah atau suatu bangunan juga akan rubuh, begitupun jika seorang ibu atau wanita tidak pandai mengatur rumah tangga, maka keluarganya juga tak akan bertahan lama. Secara umum, pakaian adat Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang memiliki desain yang berbeda-beda dari setiap nagari atau sub suku.

Akan tetapi, beberapa kelengkapan khusus yang pasti ada dalam jenis-jenis pakaian tersebut. Perlengkapan ini antara lain tingkuluak (tengkuluk), baju batabue, minsie, lambak atau sarung, salempang, dukuah (kalung), galang (gelang), dan beberapa aksesoris lainnya. • Baju Tradisional Pria Minangkabau Pakaian adat Sumatera Barat untuk para pria bernama pakaian penghulu.

Sesuai namanya, pakaian ini hanya digunakan oleh tetua adat atau orang tertentu, dimana dalam cara pemakaiannya pun di atur sedemikian rupa oleh hukum adat. Pakaian ini terdiri atas beberapa kelengkapan yang di antaranya Deta, baju hitam, sarawa, sesamping, cawek, sandang, keris, dan tungkek.

• Pakaian Adat Pengantin Padang Selain baju bundo kanduang dan baju penghulu, ada pula jenis pakaian adat Sumatera Barat lainnya yang umum dikenakan oleh para pengantin dalam upacara pernikahan. Pakaian pengantin ini lazimnya berwarna merah dengan tutup kepala dan hiasan yang lebih banyak.

Hingga kini, pakaian tersebut masih kerap digunakan tapi tentunya dengan sedikit tambahan modernisasi dengan gaya atau desain yang lebih unik. 2. Rumah Adat Suku Minang Kabau Rumah Gadang adalah rumah adat suku Minangkabau yang juga memiliki sebutan lain seperti rumah Godang, rumah Bagonjong, dan rumah Baanjuang.

Rumah adat ini merupakan bahasa daerah suku minangkabau model panggung yang berukuran besar dengan bentuk persegi panjang. Sama seperti rumah adat Indonesia lainnya, rumah gadang juga dibuat dari material yang berasal dari alam. Tiang penyangga, dinding, dan lantai terbuat dari papan kayu dan bambu, sementara atapnya yang berbentuk seperti tanduk kerbau terbuat dari ijuk. Meski terbuat dari hampir 100% bahan alam, arsitektur rumah gadang tetaplah memiliki desain yang kuat.

Baca Juga Bahasa daerah suku minangkabau Yang Mungkin Berhubungan : BPUPKI : Pengertian, Anggota, Tugas, Sidang, Dan Tujuan Beserta Sejarahnya Lengkap Rumah ini memiliki desain tahan gempa sesuai dengan kondisi geografis Sumatera Bahasa daerah suku minangkabau yang memang terletak di daerah rawan gempa. Desain tahan gempa pada rumah gadang salah satunya ditemukan pada tiangnya yang tidak menancap ke tanah.

Tiang rumah adat Sumatera barat ini justru menumpang atau bertumpu pada batu-batu datar di atas tanah. Dengan desain ini, getaran tidak akan mengakibatkan rumah rubuh saat terjadi gempa berskala besar sekalipun. Selain itu, setiap pertemuan antara tiang dan kaso besar pada rumah adat ini tidak disatukan menggunakan paku, melainkan menggunakan pasak yang terbuat dari kayu.

Dengan sistem sambungan ini, rumah gadang akan dapat bergerak secara fleksibel meski diguncang dengan getaran gempa yang kuat. 3. Seni Tari Suku Minang Kabau • Tarian pencak berbeda dengan pencak dan silat.

Pencak silat dilakukan oleh dua orang dengan gaya silat. Secara pisik dalam pencak, permainannya dapat bersinggungan atau bersentuhan. Tetapi, di dalam tarian, pemain tigak bersinggungan atau bersentuhan.

Tarian ini diikuti oleh bunyi-bunyian seperti talempong dan pupuik batang padi.

bahasa daerah suku minangkabau

Gerakannya tidak harus mengikuti irama dan bunyi-bunyian. Bunyi-bunyian itu hanyalah sekedar pengiring belaka. Gerakan tarian pencak ini disesuaikn dengan gerak lawan. Bagaimana lawan memainkan gerakan, seperti itu pula gerakan yang satunya. Ada 3 jenis tarian pencak yaitu sebagai berikut : Tari Sewah, Tari Alo Ambek, dan Tari Galombang.

• Tarian perintang yaitu tarian yang dimainkan pemuda-pemuda untuk perintang waktu. Tarian dapat dilakukan bersama-sama atau seorang diri. Tarian diiringi bunyi-bunyian seperti talempong, gendang, dan puput batang padi.

Tarian dilakukan dengan bebas dengan irama 4/4 tanpa terikat dengan bunyi-bunyian yang mengiringinya. Setiap penari bebas melakukan gerakan sesuai kemahirannya. Akan tetapi ada gerakan yang telah terpola seperti menirukan gerak tupai, elang terbang, kebaru mengamuk, dan sebagainya. Tarian ini dimainkan di sawah pada musim panen atau pada acara-acara keramaian lainnya. Antara lain tari piring, tari galuak, dan tari kerbau jalang.

• Tarian kaba adalah tarian yang mengangkat tema cerita (kaba). Tarian ini mengutamakan nyanyian daripada gerak tari. Penari menyanyikan cerita kaba sambil menari. Pengungkapan cerita kaba dengan nyanyian lebih diutamakan daripada gerak tarinya. Jadi, tari hanya sebagai pembawa kaba belaka. Tarian biasanya juga diikuti oleh musik pengiring seperti talempong dan adok.

Jenis tarian ini tergantung kepada cerita kaba yang dibawakan. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : PPKI : Pengertian, Sejarah, Tugas, Dan Anggota Beserta Sidang Lengkap 3. Alat Musik Khas Suku Minangkabau • Talempong Salah satu alat musik tradisional minangkabau adalah talempong.

Alat musik pukul ini terbuat dari kuningan, berbentuk bulat dengan bagian bawah berlubang dan pada bagian atasnya ada sedikit tonjolan. Talempong sering digunakan sebagai alat musik untuk mengiringi berbagai kesenian tradisional minangkabau seperti tarian atau musik.

• Saluang termasuk alat musik tiup. Alat musik tradisional minangkabau ini terbuang dari ‘talang’ yang merupakan sejenis bambu tapi lebih tipis. Talang dengan ukuran yang lebih besar juga digunakan sebagai wadah untuk memasak makanan khas minangkabau yaitu Lamang. Alat musik tradsiional minangkabau yang satu ini memiliki panjang 40-60 sentimeter dengan 4 buah lubang dengan diameter masing-masing lubang 3-4 sentimeter.

Untuk memainkan Saluang tidaklah mudah, dibutuhkan teknik khusus yang dinamakan dengan ‘manyisiahan angok’ (menyisakan nafas). Dengan teknik ini pemain saluang bisa meniup saluang dari awal sampai akhir lagu tanpa nafas yang terputus.

• Rabab adalah alat musik tradisional minangkabau yang mirip dengan biola. Dikatakan mirip karena dari segi bentuk memang hampir sama dan cara memainkannya pun sama yaitu dengan digesek. Rabab selain menjadi alat musik juga menjadi kesenian tersendiri. Kesenian rabab biasanya berbentuk cerita atau dendang dengan diiringi alat musik rabab tadi. Dua aliran rabab yang cukup terkenal adalah Rabab Pasisia dan Rabab Pariaman. • Pupuik Batang Padi Seperti namanya alat musik tiup ini memang terbuat dari batang padi.

Pada bagian ujung tempat tiupan biasanya dipecah sedikit sehingga menimbulkan celah, jika ditiup celah ini akan mengelurkan bunyi. Biasanya pupuik batang padi ditambah dengan lilitan daun kelapa pada ujungnya.

Bahasa daerah suku minangkabau Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Terbentuknya DI-TII Beserta Penjelasannya • Bansi adalah salah satu alat musik tiup tradisional minangkabau. Bansi memiliki 7 lubang, mirip dengan rekorder, bentuknya pendek, biasanya berukuran 33-36 sentimeter. • Pupuik Tanduak Alat musik tradisional minangkabau yang satu ini cukup unik karena dibuat dari bekas tanduk kerbau.

Bahasa daerah suku minangkabau termasuk alat musik tapi pupuik tanduak sangat jarang dimainkan sebagai pengiring musik, fungsinya lebih kepada alat pemanggil atau pemberitahu jika ada pengumuman dari pemuka adat. • Sarunai Konon kata Sarunai berasal dari kata Shehnai yaitu alat musik yang berasal dari India. Sarunai terbuat dari dua potong bambu yang tidak sama besar, potongan yang kecil dapat masuk ke potongan yang lebih besar, dengan fungsi sebagai penghasil nada.

• Tambua Tasa adalah alat musik pukul yang sampai saat ini masih sering digunakan, terutama pada saat acara adat. Alat musik ini terdiri dari dua alat yaitu Gandang Tambua dan Gandang Tasa.

Gandang Tambua berbentuk tabung dengan bahan kayu dengan dua permukaan kulit. Gandang Tambua dimainkan dengan cara bahasa daerah suku minangkabau pada salah satu bahu oleh pemain dalam posisi berdiri dengan menggunakan dua buah kayu sebagai pemukul. Sedangkan Gandang Tasa lebih mirip setengah bola yang hanya memiliki satu sisi kulit (single headed drum). Kayu untuk memukul Gandang Tasa biasanya lebih ramping, lentur dan berukuran lebih panjang. Adat Istiadat Suku Minangkabau 1. Adat nan sabana adat • Adat nan sabana Adat, adalah ketentuan hukum, sifat yang terdapat pada alam benda, flora dan fauna, maupun manusia sebagai ciptaan-Nya (Sunatullah).

Adat nan sabana Adat ini adalah sebagai SUMBER hukum Adat Minangkabau dalam menata masyarakat dalam bahasa daerah suku minangkabau hal. Dimana ketentuan alam tersebut adalah aksioma tidak bisa dibantah kebenarannya.

Sebagai contoh dari benda Api dan Air, ketentuannya membakar dan membasahkan. Dia akan tetap abadi sampai hari kiamat dengan sifat tersebut, kecuali Allah sebagai sang penciptanya menentukan lain (merobahnya). Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Masa Pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945) • Alam sebagai ciptaan-Nya bagi nenek moyang orang Minangkabau yakni Datuak perpatiah nan sabatang dan datuak ketumanggungan diamati, dipelajari dan dipedomani dan dijadikan guru untuk mengambil iktibar seperti yang disebutkan dalam pepatah-petitih Adat : • Panakiak bahasa daerah suku minangkabau sirawik, ambiak galah batang lintabuang, silodang ambiakkan niru, nan satitiak jadikan lawik, nan sakapa jadikan gunuang, Alam Takambang Jadi Guru.

2. Adat nan diadatkan oleh nenek-moyang. • Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya diatas yakni dengan meneliti, mempedomani, mempelajari alam sekitarnya oleh nenek-moyang orang Minangkabau, maka disusunlah ketentuan-ketentuan alam dengan segala fenomena-fenomenanya menjadi pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun dan gurindam Adat dengan mengambil perbandingan dari ketentuan alam tersebut, kemudian dijadikan menjadi kaidah-kaidah sosial untuk menyusun masyarakat dalam segala bidang seperti : ekonomi, sosial budaya, hukum, politik, keamanan, pertahanan dan sebagainya.

• Karena pepatah-petitih tersebut dicontoh dari ketentuan alam sesuai dengan fenomenanya masing-masing, maka kaidah-kaidah tersebut sesuai dengan sumbernya tidak boleh dirobah-robah walau dengan musyawarah mufakat sekalipun. Justru kedua jenis Adat pada huruf a dan b karena tidak boleh dirobah-robah disebut dalam pepatah : Adat nan tak lakang dek paneh, tak lapuak dek hujan, dianjak tak layua, dibubuik tak mati, dibasuah bahabih aia, dikikih bahabih basi.

Artinya adalah Kebenaran dari hukum alam tersebut. Selama Allah SWT, sebagai sang pencipta bahasa daerah suku minangkabau alam tersebut tidak menentukaan lain, maka ketentuan alam tersebut tetap tak berobah. contoh pepatah : lawik barombak, gunuang bakabuik, lurah baraia, api mambaka, aia mambasahkan,batuang babuku, karambia bamato, batuang tumbuah dibukunyo, karambia tumbuah dimatonyo. 3. Adat Teradat • Adat teradat adalah peraturan-peraturan yang dibuat oleh penghulu-penghulu Adat dalam suatu nagari, peraturan guna untuk melaksanakan pokok-pokok hukum yang telah dituangkan oleh nenek moyang (Dt.

Perpatiah Nan Sabatang dan Dt. Ketumanggungan) dalam pepatah-petitih Adat. Bagaimana sebaiknya penetapan aturan-aturan pokok tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan tidak bertentangan dengan aturan-aturan pokok yang telah kita warisi secara turun-temurun dari nenek-moyang dahulunya. Sebagai contoh kita kemukakan beberapapepatah-petitih, mamang, bidal, Adat yang telah diadatkan oleh nenek moyang tersebut diatas seperti : Abih sandiang dek Bageso, Abih miyang dek bagisiah.

Artinya nenek-moyang melalui pepatah ini melarang sekali-kali jangan bergaul bebas antara dua jenis yang berbeda sebelum nikah (setelah Islam) atau kawin (sebelum Islam). Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Kondisi Ekonomi Dan Politik Sebelum Reformasi Di Indonesia • Begitupun peresmian SAKO(gelar pusaka) kaum atau penghulu, ada nagari yang memotong kerbau, ada banteng, ada kambing, ada dengan membayar uang adat kenagari yang bersangkutan.

Semuanya adalah aturan pelaksanaan dari peresmian satu gelar pusaka kaum (Sako) yang diambil keputusannya melalui musyawarah mufakat. dan lain sebagainya. 4. Adat Istiadat • Adat Istiadat adalah peraturan-peraturan yang juga dibuat oleh penghulu-penghulu disuatu nagari melalui musyawarah mufakat sehubungan dengan sehubungan dengan KESUKAAN anak nagari seperti kesenian, olah raga, pencak silat bahasa daerah suku minangkabau, talempong, pakaian laki-laki, pakaian wanita, barang-barang bawaan kerumah mempelai, begitupun helat jamu meresmikan S a k o itu tadi.

Begitu pula Marawa, ubur-ubur, tanggo, gabah-gabah, pelamina dan sebagainya yang berbeda-beda disetiap nagari. Juga berlaku pepatah yang berbunyi : • Lain lubuak lain ikannyo, lain padang lain balalangnyo, • lain nagari bahasa daerah suku minangkabau adatnyo (Istiadatnya).

• Adat teradat adalah peraturan-peraturan yang dibuat oleh penghulu-penghulu Adat dalam suatu nagari, peraturan guna untuk melaksanakan pokok-pokok hukum yang telah dituangkan oleh nenek moyang (Dt.

Perpatiah Nan Sabatang dan Dt. Ketumanggungan) dalam pepatah-petitih Adat. Bagaimana sebaiknya penetapan aturan-aturan pokok tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan tidak bertentangan dengan aturan-aturan pokok yang telah kita warisi secara turun-temurun dari nenek-moyang dahulunya. Sistem Kepercayaan Suku Minang kabau Sebagian besar masyarakat Minangkabau beragama Islam. Masyarakat desa percaya dengan hantu, seperti kuntilanak, perempuan menghirup ubun-ubun bayi dari jauh, dan menggasing (santet), yaitu menghantarkan racun melalui udara.

Upacara-upacara adat di Bahasa daerah suku minangkabau meliputi: • Upacara Tabuik adalah upacara peringatan kematian Hasan dan Husain di Padang Karabela; • Upacara Kitan dan Katam berhubungan dengan lingkaran hidup manusia, seperti: • upacara Turun Tanah/Turun Mandi adalah upacara bayi menyentuh tanah pertama kali, • upacara Kekah bahasa daerah suku minangkabau upacara memotong rambut bayi pertama kali.

• Upacara selamatan orang meninggal pada hari ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000. Sistem Kekerabatan Suku Minangkabau Sistem kekerabatan dalam masyarakat Minangkabau adalah matrilineal (garis keturunan ibu), sehingga sistem kekerabatan memerhitungkan dua generasi di atas ego lakilaki dan satu generasi di bawahnya.

Urutannya sebagai berikut. • Ibunya ibu. • Saudara perempuan dan laki-laki ibunya ibu. • Saudara laki-laki ibu. • Anak laki-laki, perempuan saudara perempuan ibu ibunya ego. • Saudara laki-laki dan perempuan ego. • Anak laki-laki dan perempuan saudara perempuan ibu.

• Anak laki-laki dan perempuan saudara perempuan ego. • Anak laki-laki dan perempuan anak perempuan saudara perempuan ibunya ibu.

Kesatuan keluarga kecil seperti di atas disebut paruik, pada sebagian masyarakat ada kesatuan yang disebut kampueng yang memisahkan paruik dengan suku. Kepentingan keluarga diurus oleh laki-laki yang bertindak sebagai niniek mamak. Dalam hal jodoh masyarakat Minangkabau memilih dari luar suku, tetapi pola itu kini mulai hilang.

Bahkan akibat pengaruh dunia modern, perkawinan endogami bahasa daerah suku minangkabau tidak lagi dipertahankan. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Berdirinya PBB Dan Tujuannya Terlengkap Bahasa Suku Minangkabau bahasa Minangkabau yang berbeda-beda untuk sebuah maksud yang sama, meski masih dalam akar rumpun kata yang sama.

Dialek bahasa Minangkabau sangat bervariasi, bahkan antar kampung yang dipisahkan oleh sungai sekalipun sudah mempunyai dialek yang berbeda. Perbedaan terbesar adalah dialek yang dituturkan di kawasan Pesisir Selatan dan dialek di wilayah Muko-Muko, Bengkulu.

Selain itu dialek bahasa Minangkabau juga dituturkan di Negeri Sembilan, Malaysia dan yang disebut sebagai Aneuk Jamee di Aceh, terutama di wilayah Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan. Makanan Khas Suku Minangkabau 1. Lamang tapai Lamang tapai merupakan makanan yang biasa disajikan ketika ada acara khusus. Misalnya saat berbuka puasa, hari raya, atau saat pesta pernikahan. Sehingga, makanan yang biasa dijadikan makanan pernutup ini sangat dinanti oleh masyarakat Minang.

Lamang tapai terdiri dari dua komponen utama, yaitu lamang dan tapai. Lamang terbuat dari beras ketan yang dimasak bersama dengan santan di dalam bambu. Sedangkan Tapai terbuat daru beras ketan hitam yang difermentasi. Makan lamang ini rasanya akan kurang kalau nggak sama-sama dengan tapai. Kombinasi rasa asam dan manis dari kedua makanan ini menjadikan sajian yang satu ini akan terasa lebih lezat. 2. Dadiah Kamu tahu yoghurt? susu sapi yang difermentasi sehingga jadi lebih kental.

Nah, kalau dadiah ini dibuat dari susu kerbau. Sama-sama difermentasi juga, tapi kala dadiah fermentasinya di dalam bambu. Dadiah, biasanya dihidangkan dengan mencampurnya bersama emping bahasa daerah suku minangkabau ketan dan disiram santan serta gula merah. Perpaduan rasa dari bahan-bahan yang dicampur akan terasa meleleh di lidah.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Demokrasi Di Dunia Dari Abad Ke-18 Hingga Sekarang 3. Sala Lauak Sala lauak ini merupakan makanan sejenis gorengan. Terbuat dari tepung beras, ikan asin, dan bumbu seperti bawang, kunyit, cabe, dan garam. Kemudian, bahan-bahan yang sudah disiapkan dicampur dan dibuat menjadi adonan.

Adonan kemudian dibentuk bulat seukuran bola pingpong.Sala lauak paling enak dimakan ketika masih hangat. Apalagi kalau kamu ada di dekat tempat menggorengnya. Aroma sala lauak yang baru saja bahasa daerah suku minangkabau akan menggoda iman kamu untuk segera mencicipinya. Masyarakat Minang biasa menjadikan sala lauak sebagai pelengkap saat makan lontong atau ketupat sayur. Kalau kamu ingin mencicipi kuliner yang satu ini, pergi saja ke pusat kuliner yang ada di Kota Padang dan Pariaman.

Kamu akan dengan mudah menemukan jajanan bulat nan gurih ini. 4. Pensi sejenis kerang yang ukurannya kecil dan hanya hidup di Danau Maninjau. Pensi biasanya diolah oleh masyarakat Minang menjadi makanan ringan yang lezat.

Pensi akan dimasak bersama dengan jahe, lengkuas, daun bawang, seledri, dan garam. Rasanya sungguh lezat dan menggoda, ada gurih dan manis yang berpadu menjadi satu. Untuk mendapatkan makanan ringan yang satu bahasa daerah suku minangkabau, kamu bisa mencarinya di pasar-pasar tradisional yang ada di Kabupaten Agam. Kamu bisa menuju Pasar Maninjau, Pasar Tiku, Pasar Lubuk Basung, dan Pasar Matur. 5. Goreng Rinuak Rinuak merupakan ikan yang ukurannya kecil, kira-kira hanya berukuran 2 cm saja.

Ikan ini hanya bisa kamu temui di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kalau dilihat, ikan ini mirip seperti ikan teri, cuma bedanya, ikan ini hidup di air tawar. Rinuak akan mudah kamu temui di sekitar Danau maninjau. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Isi Trikora ( Tri Komando Rakyat ) : Tujuan, Latar Belakang, Sejarah Awal Hingga Akhir Sebarkan ini: • • • • • Posting pada S1, Sejarah, SMA, SMK, SMP Ditag #kebudayaan suku minangkabau, #makanan khas suku minangkabau, #pakaian adat suku minangkabau, #rumah adat suku minangkabau, #sejarah suku minangkabau, #seni musik bahasa daerah suku minangkabau minangkabau, #sistem kekerabatan suku minangkabau, #sistem kepercayaan suku minangkabau, 7 unsur kebudayaan suku minangkabau, adat istiadat yang biasa dilakukan di padang, adat pernikahan minangkabau, asal usul suku jambak, ayam den lapeh berasal dari, bahasa minang cinta, bahasa minangkabau, bahasa minangkabau dialek, bahasa negeri sembilan, berita prri, budaya khas suku bangsa minangkabau, cia prri, ciri fisik suku minangkabau, ciri khas suku minang brainly, contoh adat minang kabau, gala suku piliang, hukum adat minangkabau pdf, kebiasaan adat riau, kebiasaan adat sumatera barat, kebiasaan orang sumatera, kebudayaan minangkabau pdf, kenapa orang padang mancung, kesenian suku minangkabau, kota kembar bukittinggi seremban, kota negeri sembilan, lagu ayam den lapeh berasal dari, macam macam budaya minangkabau, makalah kebudayaan minangkabau, mata pencaharian suku minangkabau, minangkabau airport, minangkabau berasal dari provinsi, minangkabau lirik, minangkabau rumah adat, nama bayi perempuan minang unik, nama orang sulawesi, nama pakaian daerah padang, nama putri minang, nama rumah adat padang, nama rumah adat suku minang, orang minang pada masa kemerdekaan, orang minangkabau orang lain juga menelusuri, pakaian adat minangkabau, pakaian adat suku minang, pecahan suku caniago, pepatah adat minang kabau, percakapan bahasa minang dengan pacar, ppt suku minangkabau, raja negeri sembilan, region budaya sunda, rumah adat negeri sembilan, sejarah suku di sumatera barat, seni tari suku minangkabau, senjata suku minangkabau, suku di minangkabau, suku koto, suku melayu berasal dari, suku minangkabau berasal dari sumatera barat, suku pisang sumatera barat, suku sikumbang, suku simabua, suku tanjung, tatanan adat minangkabau, tokoh adat minangkabau, tradisi adat minang, upacara adat sumatera barat dan keterangannya, upacara adat sumatera barat tabuik Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Penjelasan Ciri-Ciri Helicobacter Pylori Dalam Biologi • Pengertian Kata Berimbuhan • Pengertian Coelentarata – Ciri, Habitat, Reproduksi, Klasifikasi, Cara Hidup, Peranan • Pengertian Gerakan Antagonistic – Macam, Sinergis, Tingkat, Anatomi, Struktur, Contoh • Pengertian Dinoflagellata – Ciri, Klasifikasi, Toksisitas, Macam, Fenomena, Contoh, Para Ahli • Pengertian Myxomycota – Ciri, Siklus, Klasifikasi, Susunan Tubuh, Daur Hidup, Contoh • “Panjang Usus” Definisi & ( Jenis – Fungsi – Menjaga ) • Pengertian Mahasiswa Menurut Para Ahli Beserta Peran Dan Fungsinya • “Masa Demokrasi Terpimpin” Sejarah Dan ( Latar Belakang – Pelaksanaan ) • Pengertian Sistem Regulasi Pada Manusia Beserta Macam-Macamnya • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com • Acèh • العربية • مصرى • تۆرکجه • Български • Català • Čeština • Dansk • Deutsch • English • Español • Eesti • فارسی • Suomi • Français • Bahasa Hulontalo • 客家語/Hak-kâ-ngî • हिन्दी • Հայերեն • 日本語 • Jawa • ქართული • Lietuvių • Minangkabau • മലയാളം • Bahasa Melayu • Nederlands • Polski • Português • Русский • Srpskohrvatski / српскохрватски • Sunda • Svenska • தமிழ் • Türkçe • Українська • Tiếng Việt • 中文 Pengantin dalam balutan pakaian tradisional Minangkabau Daerah dengan populasi signifikan Indonesia (Sensus 2010) 6.462.713 [1] [2] Sumatra Barat 4.281.439 Riau 624.145 Sumatra Utara 345.403 DKI Jakarta 305.538 Jawa Barat 202.203 Jambi 168.947 Kepulauan Riau 156.770 Banten 86.217 Bengkulu 73.333 Sumatra Selatan 69.996 Lampung 69.884 Malaysia 934.000 [3] Negeri Sembilan 548.000 Singapura 15.720 Belanda 7.490 Bahasa Bahasa Minang, Indonesia, Melayu, dan Kerinci.

Agama Islam Sunni Etnis terkait Melayu, Mandailing, Kerinci, Aneuk Jamee, Sakai Minangkabau atau disingkat Minang ( Jawi: ميناڠكاباو) merujuk pada entitas kultural dan geografis yang ditandai dengan penggunaan bahasa, adat yang menganut sistem kekerabatan matrilineal dan identitas agama Islam.

Secara geografis, Minangkabau meliputi daratan Sumatra Barat, separuh daratan Bahasa daerah suku minangkabau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatra Utara, barat daya Aceh dan Negeri Sembilan di Malaysia. [4] Dalam percakapan awam, orang Minang sering kali disamakan sebagai orang Padang. Hal ini merujuk pada nama ibu kota provinsi Sumatra Barat, yaitu Kota Padang. Namun, mereka biasanya akan menyebut kelompoknya dengan sebutan urang awak.

Awak itu sendiri berarti saya, aku atau kita dalam percakapan keseharian orang Minang. [5] Jadi dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan urang awak itu adalah orang Minang itu sendiri.

[6] Menurut A.A. Navis, Minangkabau lebih merujuk kepada kultur etnis dari suatu rumpun Melayu yang tumbuh dan besar karena sistem monarki [7] serta menganut sistem adat yang dicirikan dengan sistem kekeluargaan melalui jalur perempuan atau matrilineal, [8] walaupun budayanya sangat kuat diwarnai ajaran agama Islam. Thomas Stamford Raffles, setelah melakukan ekspedisi ke pedalaman Minangkabau tempat kedudukan Kerajaan Pagaruyuang, menyatakan bahwa Minangkabau ialah sumber kekuatan dan asal bangsa Melayu, yang kelak penduduknya tersebar luas di Kepulauan Timur.

[9] Masyarakat Minang bertahan sebagai penganut matrilineal terbesar di dunia. [10] [11] Selain itu, etnis ini telah menerapkan sistem proto- demokrasi sejak masa pra- Hindu dengan adanya kerapatan adat untuk menentukan hal-hal penting dan permasalahan hukum. Prinsip adat Minangkabau tertuang dalam pernyataan Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Alquran) yang berarti adat berlandaskan ajaran Islam.

[12] Orang Minangkabau sangat menonjol di bidang perniagaan, sebagai profesional dan intelektual. Mereka merupakan pewaris dari tradisi lama Kerajaan Melayu dan Sriwijaya yang gemar berdagang dan dinamis. [13] Lebih dari separuh jumlah keseluruhan anggota masyarakat ini berada dalam perantauan. Diaspora Minang pada umumnya bermukim di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Medan, Batam, Palembang, Bandar Lampung dan Surabaya. Di luar wilayah Indonesia, etnis Minang terkonsentrasi di Kuala Lumpur, Seremban, Singapura, Jeddah, Sydney [14] dan Melbourne.

[15] Masyarakat Minang memiliki masakan khas yang populer dengan sebutan masakan Padang yang sangat digemari di Indonesia bahkan mancanegara. [16] Daftar isi • 1 Etimologi • 2 Asal usul • 3 Agama • 4 Adat dan budaya • 4.1 Matrilineal • 4.2 Bahasa • 4.3 Kesenian • 4.4 Olahraga • 4.5 Rumah adat • 4.6 Perkawinan • 4.7 Masakan khas • 5 Sosial kemasyarakatan • 5.1 Persukuan • 5.2 Nagari • 5.3 Penghulu • 5.4 Kerajaan • 6 Minangkabau perantauan • 6.1 Jumlah perantau • 6.2 Gelombang rantau • 6.2.1 Pantai Barat Sumatra • 6.2.2 Riau • 6.2.3 Semenanjung Malaya • 6.2.4 Jawa • 6.3 Perantauan intelektual • 6.4 Sebab merantau • 6.4.1 Faktor budaya • 6.4.2 Faktor ekonomi • 6.4.3 Faktor perang • 6.5 Merantau dalam sastra • 7 Orang Minangkabau dan kiprahnya • 8 Lihat pula • 9 Referensi • 10 Bacaan lanjutan • 11 Pranala luar Etimologi Peta yang menunjukan wilayah penganut kebudayaan Minangkabau di pulau Sumatra.

Nama Minangkabau berasal dari dua kata yaitu, minang dan kabau. Nama itu dikaitkan dengan suatu legenda yang dikenal di dalam tambo. Dari tambo tersebut, konon pada suatu masa ada satu kerajaan asing (biasa ditafsirkan sebagai Majapahit) yang datang dari laut dan akan melakukan penaklukkan.

Untuk mencegah pertempuran, masyarakat setempat mengusulkan untuk mengadu kerbau. Pasukan asing tersebut menyetujui dan menyediakan seekor kerbau yang besar dan agresif, sedangkan masyarakat setempat menyediakan seekor anak kerbau yang masih menyusui.

Dalam pertempuran, anak kerbau yang masih menyusui tersebut menyangka kerbau besar tersebut adalah induknya. Maka anak kerbau itu langsung berlari mencari susu dan menanduk hingga mencabik-cabik perut kerbau besar tersebut.

Kemenangan itu menginspirasikan masyarakat setempat memakai nama Minangkabau, [17] yang berasal dari ucapan " Manang kabau" (artinya menang kerbau). Kisah tambo ini juga dijumpai dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan juga menyebutkan bahwa kemenangan itu menjadikan negeri yang sebelumnya bernama Pariangan menggunakan nama tersebut.

[18] Selanjutnya penggunaan nama Minangkabau juga digunakan untuk menyebut sebuah nagari, yaitu Nagari Minangkabau, yang terletak di Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.

Dalam catatan sejarah kerajaan Majapahit, Nagarakretagama [19] bertanggal 1365, juga telah menyebutkan nama "Minangkabau" sebagai salah satu dari negeri yang ditaklukannya. Begitu juga dalam Tawarikh Ming tahun 1405, terdapat bahasa daerah suku minangkabau kerajaan Mi-nang-ge-bu dari enam kerajaan yang mengirimkan utusan menghadap kepada Kaisar Yongle di Nanjing.

[20] Di sisi lain, nama "Minang" ( kerajaan Minanga) itu sendiri juga telah disebutkan dalam Prasasti Kedukan Bukit tahun 682 dan ber bahasa Sanskerta. Dalam prasasti itu dinyatakan bahwa pendiri kerajaan Sriwijaya yang bernama Dapunta Hyang bertolak dari "Minānga" . [21] Beberapa ahli yang merujuk dari sumber prasasti itu menduga, kata baris ke-4 (.minānga) dan ke-5 (tāmvan.) sebenarnya tergabung, sehingga menjadi "mināngatāmvan" dan diterjemahkan dengan makna sungai kembar.

Sungai kembar yang dimaksud diduga menunjuk kepada pertemuan (temu) dua sumber aliran Sungai Kampar, yaitu Sungai Kampar Kiri dan Sungai Kampar Kanan. [22] Namun pendapat ini dibantah oleh Casparis, yang membuktikan bahwa "tāmvan" tidak ada hubungannya dengan "temu", karena kata temu dan muara juga dijumpai pada prasasti-prasasti peninggalan zaman Sriwijaya yang lainnya.

[23] Oleh karena itu, kata Minanga berdiri sendiri dan identik dengan penyebutan Minang itu sendiri. Lihat pula: Tambo Minangkabau dan Tombo Lubuk Jambi Dari tambo yang diterima secara turun temurun, menceritakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari bahasa daerah suku minangkabau Iskandar Zulkarnain. Walau tambo tersebut tidak tersusun secara sistematis dan lebih kepada legenda berbanding fakta serta cendrung kepada sebuah karya sastra yang sudah menjadi milik masyarakat banyak.

[7] Namun kisah tambo ini sedikit banyaknya dapat dibandingkan dengan Sulalatus Salatin yang juga menceritakan bagaimana masyarakat Minangkabau mengutus wakilnya untuk meminta Sang Sapurba salah seorang keturunan Iskandar Zulkarnain tersebut untuk menjadi raja mereka. [24] Masyarakat Minang merupakan bagian dari masyarakat Deutro Melayu (Melayu Muda) yang melakukan migrasi dari daratan China Selatan ke pulau Bahasa daerah suku minangkabau sekitar bahasa daerah suku minangkabau tahun yang lalu.

Diperkirakan kelompok masyarakat ini masuk dari arah timur pulau Sumatra, menyusuri aliran sungai Kampar sampai ke dataran tinggi yang disebut darek dan menjadi kampung halaman orang Minangkabau. [25] Beberapa kawasan darek ini kemudian membentuk semacam konfederasi yang dikenal dengan nama luhak, yang selanjutnya disebut juga dengan nama Luhak Nan Tigo, yang terdiri dari Luhak Limo Puluah, Luhak Agam, dan Luhak Tanah Data.

[8] Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, kawasan luhak tersebut menjadi daerah teritorial pemerintahan yang disebut afdeling, dikepalai oleh bahasa daerah suku minangkabau residen yang oleh masyarakat Minangkabau disebut dengan nama Tuan Luhak. [7] Sementara seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan penduduk, masyarakat Minangkabau menyebar ke kawasan darek yang lain serta membentuk beberapa kawasan tertentu menjadi kawasan rantau.

Konsep rantau bagi masyarakat Minang merupakan suatu kawasan yang menjadi pintu masuk ke alam Minangkabau. Rantau juga berfungsi sebagai tempat mencari kehidupan, kawasan perdagangan. Rantau di Minangkabau dikenal dengan Rantau Nan Duo terbagi atas Rantau di Hilia (kawasan pesisir timur) dan Rantau di Mudiak (kawasan pesisir barat).

[26] Pada awalnya penyebutan orang Minang belum dibedakan dengan orang Melayu, namun sejak abad ke-19, penyebutan Minang dan Melayu mulai digunakan untuk membedakan budaya matrilineal yang tetap bertahan pada etnis Minang, berbanding patrilineal yang dianut oleh masyarakat Melayu pada umumnya. [27] Kemudian, pengelompokan ini terus berlangsung demi kepentingan sensus penduduk maupun politik hingga saat ini.

Sebuah masjid di Padang Lua, Banuhampu, Agam sekitar tahun 1900-an dengan arsitektur khas Minangkabau sekitar tahun 1900-an. Agama Masyarakat Minang saat ini merupakan pemeluk agama Islam, jika ada masyarakatnya keluar dari agama Islam ( murtad), secara langsung yang bersangkutan juga dianggap keluar dari masyarakat Minang, dalam istilahnya disebut " dibuang sepanjang adat".

Agama Islam diperkirakan masuk melalui kawasan pesisir timur, walaupun ada anggapan dari pesisir barat, terutama pada kawasan Pariaman, namun kawasan Arcat (Aru dan Rokan) serta Inderagiri yang berada pada pesisir timur juga telah menjadi kawasan pelabuhan Minangkabau, dan Sungai Kampar maupun Batang Kuantan berhulu pada kawasan pedalaman Minangkabau.

Sebagaimana pepatah yang ada di masyarakat, Adat manurun, Syarak mandaki (Adat diturunkan dari pedalaman ke pesisir, sementara agama (Islam) datang dari pesisir ke pedalaman), [28] serta hal ini juga dikaitkan dengan penyebutan Orang Siak merujuk kepada orang-orang yang soleh, ahli dan tekun dalam agama Islam, [29] masih tetap digunakan di dataran tinggi Minangkabau.

Sebelum Islam diterima secara luas, masyarakat ini dari beberapa bukti arkeologis menunjukan pernah memeluk agama Buddha terutama pada masa kerajaan Sriwijaya, Dharmasraya, sampai pada masa-masa pemerintahan Adityawarman dan anaknya Ananggawarman. Kemudian perubahan struktur kerajaan dengan munculnya Kerajaan Pagaruyung yang telah mengadopsi Islam dalam sistem pemerintahannya, walau sampai abad ke-16, Suma Oriental masih menyebutkan dari tiga raja Minangkabau hanya satu yang telah memeluk Islam.

[30] Kedatangan Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang dari Mekkah sekitar tahun 1803, [31] memainkan peranan penting dalam penegakan hukum Islam di pedalaman Minangkabau. Walau pada saat bersamaan muncul tantangan dari masyarakat setempat yang masih terbiasa dalam tradisi adat, dan puncak dari konflik ini adalah munculnya Perang Padri.

Setelah itu barulah muncul kesadaran bahwa adat berasaskan Al-Qur'an ditengah masyarakat Minangkabau. [32] Artikel utama: Adat Minangkabau dan Budaya Minangkabau Menurut tambo, sistem adat Minangkabau pertama kali dicetuskan oleh dua orang bersaudara, Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang. Datuk Ketumanggungan mewariskan sistem adat Koto Piliang yang aristokratis, sedangkan Datuk Perpatih mewariskan sistem adat Bodi Caniago yang egaliter. Dalam perjalanannya, dua sistem adat yang dikenal dengan kelarasan ini saling isi mengisi dan membentuk sistem pada masyarakat Minangkabau.

Dalam masyarakat Minangkabau, ada tiga pilar yang membangun dan menjaga keutuhan budaya serta adat istiadat. Mereka adalah alim ulama, cerdik pandai, bahasa daerah suku minangkabau ninik mamak, yang dikenal dengan istilah Tungku Tigo Sajarangan.

Ketiganya saling melengkapi dan bahu membahu dalam posisi yang sama tingginya. Dalam masyarakat Minangkabau yang demokratis dan egaliter, semua urusan masyarakat dimusyawarahkan oleh ketiga unsur itu secara mufakat. [33] Matrilineal Pakaian perempuan Minang dalam pesta adat atau perkawinan.

Matrilineal merupakan salah satu aspek utama dalam mendefinisikan identitas masyarakat Minang. Adat dan budaya mereka menempatkan pihak perempuan bertindak sebagai pewaris harta pusaka dan kekerabatan. Garis keturunan dirujuk kepada ibu yang dikenal dengan Samande (se-ibu), sedangkan ayah mereka disebut oleh masyarakat dengan nama Sumando ( ipar) dan diperlakukan sebagai tamu dalam keluarga. Salah satu ciri adat matrilinealisme Minangkabau adalah garis keturunan yang ditarik berdasarkan garis ibu, yang secara lebih luas kemudian membentuk kelompok kaum ( lineages) dan suku ( clans), dan penguasaan harta pusaka ada di tangan kaum ibu yang dipimpin oleh seorang wanita senior yang disebut bundo kanduang.

[34] Kaum perempuan di Minangkabau memiliki kedudukan yang istimewa sehingga dijuluki dengan Bundo Kanduang, memainkan peranan dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan keputusan-keputusan yang dibuat oleh kaum lelaki dalam posisi mereka sebagai mamak (paman atau saudara dari pihak ibu), dan penghulu (kepala suku). Pengaruh yang besar tersebut menjadikan perempuan Minang disimbolkan sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang (pilar utama rumah). [35] Walau kekuasaan sangat dipengaruhi oleh penguasaan terhadap aset ekonomi namun kaum lelaki dari keluarga pihak perempuan tersebut masih tetap memegang otoritas atau memiliki legitimasi kekuasaan pada komunitasnya.

[36] Bahasa Artikel utama: Bahasa Minangkabau Bahasa Minangkabau termasuk salah satu anak cabang rumpun bahasa Austronesia. Walaupun ada perbedaan pendapat mengenai hubungan bahasa Minangkabau dengan bahasa Melayu. Namun, bahasa daerah suku minangkabau terdapat anggapan yang menyakini bahwa bahasa yang dituturkan masyarakat ini sebagai bagian dari dialek Melayu, karena banyaknya kesamaan kosakata dan bentuk tuturan di dalamnya. Sementara itu, yang lain justru beranggapan bahasa ini merupakan bahasa mandiri yang berbeda dengan Melayu serta ada juga yang menyebut bahasa Minangkabau merupakan bahasa Proto-Melayu.

[37] [38] Selain itu dalam masyarakat penutur bahasa Minang itu sendiri juga sudah terdapat berbagai macam dialek bergantung kepada daerahnya masing-masing. [39] [40] Pengaruh bahasa lain yang diserap ke dalam bahasa Minang umumnya dari Sanskerta, Arab, Tamil, dan Persia. Kemudian kosakata Sanskerta dan Tamil yang dijumpai pada beberapa prasasti di Minangkabau telah ditulis menggunakan bermacam aksara di antaranya Dewanagari, Pallawa, dan Kawi.

Menguatnya Islam yang diterima secara luas juga mendorong masyarakatnya menggunakan Abjad Jawi dalam penulisan sebelum berganti dengan Alfabet Latin. Meskipun memiliki bahasa sendiri, orang Minang juga menggunakan bahasa Melayu dan kemudian bahasa Indonesia secara meluas. Historiografi tradisional orang Minang, Tambo Minangkabau, ditulis dalam bahasa Melayu dan merupakan bagian sastra Melayu bahasa daerah suku minangkabau sastra Indonesia lama.

[17] Suku Minangkabau menolak penggunaan bahasa Minangkabau untuk keperluan pengajaran di sekolah-sekolah. [41] Bahasa Melayu yang dipengaruhi baik secara tata bahasa maupun kosakata oleh bahasa Arab telah digunakan untuk pengajaran agama Islam.

Pidato di sekolah agama juga menggunakan bahasa Melayu. Pada awal abad ke-20 sekolah Melayu yang didirikan pemerintah Hindia Belanda di wilayah Minangkabau mengajarkan ragam bahasa Melayu Riau, yang dianggap sebagai bahasa standar dan juga digunakan di wilayah Johor, Malaysia. Namun kenyataannya bahasa yang digunakan oleh sekolah-sekolah Belanda ini adalah ragam yang terpengaruh oleh bahasa Minangkabau. [41] Guru-guru dan penulis Minangkabau berperan penting dalam pembinaan bahasa Melayu Tinggi.

Banyak guru-guru bahasa Melayu berasal dari Minangkabau, dan sekolah di Bukittinggi merupakan salah satu pusat pembentukan bahasa Melayu formal. [42] Dalam masa diterimanya bahasa Melayu Balai Pustaka, orang-orang Minangkabau menjadi percaya bahwa mereka adalah penjaga kemurnian bahasa yang kemudian menjadi bahasa Indonesia itu.

[41] Kesenian Sebuah pertunjukan kesenian talempong, salah satu alat musik pukul tradisional Minangkabau. Masyarakat Minangkabau memiliki berbagai macam atraksi dan kesenian, seperti tari-tarian yang biasa ditampilkan dalam pesta adat maupun perkawinan. Di antara tari-tarian tersebut misalnya tari pasambahan. Tarian bahasa daerah suku minangkabau merupakan tarian yang dipertunjukkan untuk memberikan ucapan selamat datang ataupun ungkapan rasa hormat kepada tamu istimewa yang baru saja sampai, selanjutnya tari piring merupakan bentuk tarian dengan gerak cepat dari para penarinya sambil memegang piring bahasa daerah suku minangkabau telapak tangan masing-masing, yang diiringi dengan lagu yang dimainkan oleh talempong dan saluang.

Silek atau Silat Minangkabau merupakan suatu seni bela diri tradisional khas suku ini yang sudah berkembang sejak lama. Dewasa ini Silek tidak hanya diajarkan di Minangkabau saja, namun juga telah menyebar ke seluruh Kepulauan Melayu bahkan hingga ke Eropa dan Amerika.

Selain itu, adapula tarian yang bercampur dengan silek yang disebut dengan randai. Randai biasanya diiringi oleh nyanyian atau disebut juga dengan sijobang, [43] dalam randai ini juga terdapat seni peran ( acting) bahasa daerah suku minangkabau skenario. [44] Pengrajin Songket Minang, circa 1890. Selain itu, Minangkabau juga menonjol dalam seni berkata-kata. Terdapat tiga genre seni berkata-kata, yaitu pasambahan (persembahan), indang, dan salawat dulang.

Seni berkata-kata atau bersilat lidah, lebih mengedepankan kata sindiran, kiasan, ibarat, alegori, metafora, dan aforisme. Dalam seni berkata-kata seseorang diajarkan untuk mempertahankan kehormatan dan harga diri, tanpa menggunakan senjata dan kontak fisik. [45] Olahraga Pacuan kuda merupakan olahraga berkuda yang telah lama ada di nagari-nagari Minang, dan sampai saat ini masih diselenggarakan oleh masyarakatnya, serta menjadi perlombaan tahunan yang dilaksanakan pada kawasan yang memiliki lapangan pacuan kuda.

Beberapa pertandingan tradisional lainnya yang masih dilestarikan dan menjadi hiburan bagi masyarakat Minang antara lain lomba pacu jawi dan pacu itik.

Sipak rago, atau nama lainnya sepak takraw adalah olahraga masyarakat tradisional Minang yang dimainkan sedikitnya lima atau empat orang, bolanya terbuat dari anyaman rotan, bola ditendang dari setinggi pinggang sampai setinggi kepala oleh sekelompok orang yang berdiri melingkar, dalam hikayat dan novel serta beberapa film seperti film sengsara membawa nikmat ada menyinggung masalah olahraga sipak rago ini.

Rumah adat Bangunan "balai", tempat musyawarah petinggi daerah, circa 1895. Menggunakan atap gonjong. Bahasa daerah suku minangkabau adat Minangkabau disebut dengan Rumah Gadang, yang biasanya dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku tersebut secara turun temurun. [46] Rumah adat ini dibuat berbentuk empat persegi panjang dan dibagi atas dua bagian muka dan belakang. [47] Umumnya berbahan kayu, dan sepintas kelihatan seperti bentuk rumah panggung dengan atap yang khas, menonjol seperti tanduk kerbau yang biasa disebut gonjong [48] dan dahulunya atap ini berbahan ijuk sebelum berganti dengan atap seng.

Di halaman depan Rumah Gadang, biasanya didirikan dua sampai enam buah Rangkiang yang digunakan sebagai tempat penyimpanan padi milik keluarga yang menghuni Rumah Gadang tersebut.

Hanya kaum perempuan bersama suaminya beserta anak-anak yang menjadi penghuni Rumah Gadang, sedangkan laki-laki kaum tersebut yang sudah beristri, menetap di rumah istrinya. Jika laki-laki anggota kaum belum menikah, biasanya tidur di surau. Surau biasanya dibangun tidak jauh dari komplek Rumah Gadang tersebut, selain berfungsi sebagai tempat ibadah, juga berfungsi sebagai tempat tinggal lelaki dewasa namun belum menikah.

[49] Dalam budaya Minangkabau, tidak semua kawasan boleh didirikan Rumah Gadang. Hanya pada kawasan yang telah berstatus nagari saja rumah adat ini boleh ditegakkan.

Oleh karenanya di beberapa daerah rantau Minangkabau seperti Riau, Jambi, Negeri Sembilan, pesisir barat Sumatra Utara dan Aceh, tidak dijumpai rumah adat bergonjong. [50] Perkawinan Artikel utama: Pernikahan Minangkabau Dalam adat budaya Minangkabau, perkawinan merupakan salah satu peristiwa penting dalam siklus kehidupan, dan merupakan masa peralihan yang sangat berarti dalam membentuk kelompok kecil keluarga baru pelanjut keturunan.

Bagi lelaki Minang, perkawinan juga menjadi proses untuk masuk lingkungan baru, yakni pihak keluarga istrinya. Sementara bagi keluarga pihak istri, menjadi salah satu proses dalam penambahan anggota di komunitas Rumah Gadang mereka.

Dalam prosesi perkawinan adat Minangkabau, biasa disebut baralek, mempunyai beberapa tahapan yang umum dilakukan. Dimulai dengan maminang (meminang), manjapuik marapulai (menjemput pengantin pria), sampai basandiang (bersanding di pelaminan). Setelah maminang dan muncul kesepakatan manantuan hari (menentukan hari pernikahan), maka kemudian dilanjutkan dengan pernikahan secara Islam yang biasa dilakukan di masjid, sebelum kedua pengantin bersanding di pelaminan.

Pada nagari tertentu setelah ijab kabul di depan penghulu atau tuan kadi, mempelai pria akan diberikan gelar baru sebagai panggilan penganti nama kecilnya. [51] Kemudian masyarakat sekitar akan memanggilnya dengan gelar baru tersebut. Gelar panggilan tersebut biasanya bermulai dari sutan, bagindo atau sidi ( sayyidi) di kawasan pesisir pantai.

Sementara itu di kawasan Luhak Limopuluah, pemberian gelar ini tidak berlaku. Masakan khas Artikel utama: Masakan Padang Masyarakat Minang juga dikenal akan aneka masakannya.

Dengan citarasa yang pedas, membuat masakan ini populer di kalangan masyarakat Indonesia, sehingga dapat ditemukan di hampir seluruh Nusantara. [52] Di Malaysia dan Singapura, masakan ini juga sangat digemari, begitu pula dengan negara-negara lainnya. Bahkan, seni memasak yang dimiliki masyarakat Minang juga berkembang di kawasan-kawasan lain seperti Riau, Jambi, dan Negeri Sembilan, Malaysia.

Salah satu masakan tradisional Minang yang terkenal adalah Rendang, yang mendapat pengakuan dari seluruh dunia sebagai hidangan terlezat. [53] [54] Masakan lainnya yang khas antara lain Asam Pedas, Soto Padang, Sate Padang, dan Dendeng Balado. Masakan ini umumnya dimakan langsung dengan tangan.

Masakan Minang mengandung bumbu rempah-rempah yang kaya, seperti cabai, serai, lengkuas, kunyit, jahe, bawang putih, dan bawang merah. Beberapa di antaranya diketahui memiliki aktivitas antimikroba yang kuat, sehingga tidak mengherankan jika ada masakan Minang yang dapat bertahan lama. [55] Pada hari-hari tertentu, masakan yang dihidangkan banyak yang berbahan utama daging, terutama daging sapi, daging kambing, dan daging ayam.

Masakan ini lebih dikenal dengan sebutan Masakan Padang, begitu pula dengan restoran atau rumah makan yang khusus menyajikannya disebut Restoran Padang. Padahal dalam masyarakat Minang itu sendiri, memiliki karakteristik berbeda dalam pemilihan bahan dan proses memasak, bergantung kepada daerahnya masing-masing. Sosial kemasyarakatan Persukuan Artikel utama: Daftar suku Minangkabau Persukuan atau suku dalam tatanan Masyarakat Minangkabau merupakan basis dari organisasi sosial, sekaligus tempat pertarungan kekuasaan yang fundamental.

Pengertian awal kata suku dalam bahasa Minang dapat bermaksud satu perempat. Hal ini dikaitkan dengan pendirian suatu nagari di Minangkabau. Suatu nagari dapat dikatakan sempurna apabila telah terdiri dari komposisi empat suku yang mendiami kawasan tersebut. Jika dibandingkan dengan kebudayaan lain, sistem persukuan hampir serupa dengan sistem marga dalam kebudayaan Batak.

Perbedaannya adalah setiap suku dalam tradisi Minang, diurut dari garis keturunan yang sama dari pihak ibu ( matilineal), dan diyakini berasal dari satu keturunan nenek moyang yang sama. Sementara marga dalam tradisi Batak, diurut dari garis keturunan ayah ( patrilineal). [8] Selain sebagai basis politik, suku juga merupakan basis dari unit-unit ekonomi. Kekayaan ditentukan oleh kepemilikan tanah keluarga, harta, dan sumber-sumber pemasukan lainnya yang semuanya itu dikenal sebagai harta pusaka.

Harta pusaka merupakan harta milik bersama dari seluruh anggota kaum-keluarga. Harta pusaka tidak dapat diperjualbelikan dan tidak dapat menjadi milik pribadi.

Harta pusaka semacam dana jaminan bersama untuk melindungi anggota kaum-keluarga dari kemiskinan. Jika ada anggota keluarga yang mengalami kesulitan atau tertimpa musibah, maka harta pusaka dapat digadaikan. [8] Suku terbagi-bagi ke dalam beberapa cabang keluarga yang lebih kecil atau disebut payuang (payung). Adapun unit yang paling kecil setelah sapayuang disebut saparuik.

Sebuah paruik (perut) biasanya tinggal pada sebuah Rumah Gadang secara bersama-sama. [4] Nagari Suasana permukiman Bahasa daerah suku minangkabau di Nagari Koto Baru atau kini dikenal sebagai Kawasan Seribu Rumah Gadang. Sebuah permukiman baru dapat dikatakan sebagai nagari apabila di dalamnya sudah terdapat balai adat dan masjid. Daerah Minangkabau terdiri atas banyak nagari. Nagari ini merupakan daerah otonom dengan kekuasaan tertinggi di Minangkabau. Tidak ada kekuasaan sosial dan politik lainnya bahasa daerah suku minangkabau dapat mencampuri adat di sebuah nagari.

Nagari yang berbeda akan mungkin sekali mempunyai tipikal adat yang berbeda. Tiap nagari dipimpin oleh sebuah dewan yang terdiri dari pemimpin suku dari semua suku yang ada di nagari tersebut. Dewan ini disebut dengan Kerapatan Adat Nagari (KAN). Dari hasil musyawarah dan mufakat dalam dewan inilah sebuah keputusan dan peraturan yang mengikat untuk nagari itu dihasilkan. [ butuh rujukan] Faktor utama yang menentukan dinamika masyarakat Minangkabau adalah terdapatnya kompetisi yang konstan antar nagari, kaum-keluarga, dan individu untuk mendapatkan status dan prestise.

[56] Oleh karenanya setiap kepala kaum akan berlomba-lomba meningkatkan prestise kaum-keluarganya dengan mencari kekayaan (berdagang) serta menyekolahkan anggota kaum ke tingkat yang paling tinggi. Dalam pembentukan suatu nagari sejak dahulunya telah dikenal dalam istilah pepatah yang ada pada masyarakat adat Minang itu sendiri yaitu Dari Taratak manjadi Dusun, dari Dusun manjadi Koto, dari Koto manjadi Nagari, Nagari ba Panghulu. Jadi dalam sistem administrasi pemerintahan di kawasan Minang dimulai dari struktur terendah disebut dengan Taratak, kemudian berkembang menjadi Dusun, kemudian berkembang menjadi Koto dan kemudian berkembang menjadi Nagari.

Biasanya setiap nagari yang dibentuk minimal telah terdiri dari 4 suku yang mendomisili kawasan tersebut. [8] Selanjutnya sebagai pusat administrasi nagari tersebut dibangunlah sebuah Balai Adat sekaligus sebagai tempat pertemuan dalam mengambil keputusan bersama para penghulu di nagari tersebut.

Penghulu Pakaian khas suku Minangkabau pada tahun 1900-an. Penghulu atau biasa yang digelari dengan datuak, merupakan kepala kaum keluarga yang diangkat oleh anggota keluarga untuk mengatur semua permasalahan kaum.

Penghulu biasanya adalah seorang laki-laki yang dipilih di antara anggota kaum laki-laki lainnya. Setiap kaum-keluarga akan memilih seorang laki-laki yang pandai berbicara, bijaksana dan memahami adat, untuk menduduki posisi ini. Hal ini dikarenakan ia bertanggung jawab mengurusi semua harta pusaka kaum, membimbing kemenakan, serta sebagai wakil kaum dalam masyarakat nagari.

Setiap penghulu berdiri sejajar dengan penghulu lainnya, sehingga dalam rapat-rapat nagari semua suara penghulu yang mewakili setiap kaum bernilai sama. [ butuh rujukan] Seiring dengan bertambahnya anggota kaum, serta permasalahan dan konflik intern yang timbul, maka kadang-kadang dalam sebuah keluarga posisi kepenghuluan ini dipecah menjadi dua.

Atau sebaliknya, anggota kaum yang semakin sedikit jumlahnya, cenderung akan menggabungkan gelar kepenghuluannya kepada keluarga lainnya yang sesuku. [57] Hal ini mengakibatkan berubah-ubahnya jumlah penghulu dalam suatu nagari. Memiliki penghulu yang mewakili suara kaum dalam rapat nagari, merupakan suatu prestise dan harga diri. Sehingga setiap kaum akan berusaha sekuatnya memiliki penghulu sendiri.

Kaum-keluarga yang gelar kepenghuluannya sudah lama terlipat, akan berusaha membangkitkan kembali posisinya dengan mencari kekayaan untuk "membeli" gelar penghulunya yang telah lama terbenam. Batagak panghulu (bertegak penghulu) biasanya memakan biaya cukup besar, sehingga dorongan untuk melakukan acara batagak panghulu selalu muncul dari keluarga kaya.

[58] Kerajaan Artikel utama: Kerajaan Melayu, Dharmasraya, dan Kerajaan Pagaruyung Dalam laporan De Stuers [59] kepada pemerintah Hindia Belanda, dinyatakan bahwa di daerah pedalaman Minangkabau, tidak pernah ada suatu kekuasaan pemerintahan terpusat di bawah seorang raja. Tetapi yang ada adalah nagari-nagari kecil yang mirip dengan pemerintahan polis-polis pada masa Yunani kuno.

[60] Namun dari beberapa prasasti bahasa daerah suku minangkabau ditemukan pada kawasan pedalaman Minangkabau, serta dari tambo yang ada pada masyarakat setempat, etnis Minangkabau pernah berada dalam suatu sistem kerajaan yang kuat dengan daerah kekuasaan meliputi pulau Sumatra dan bahkan sampai Semenanjung Malaya.

Beberapa kerajaaan yang ada di wilayah Minangkabau antara lain Kerajaan Dharmasraya, Kerajaan Bahasa daerah suku minangkabau, dan Kerajaan Inderapura.} Sistem kerajaan ini masih dijumpai di Negeri Sembilan, Malaysia, salah satu kawasan dengan komunitas masyarakat Minang yang cukup signifikan.

Pada awalnya masyarakat Minang di negeri ini menjemput seorang putra Raja Alam Minangkabau untuk menjadi raja mereka, sebagaimana tradisi masyarakat Minang sebelumnya, seperti yang diceritakan dalam Sulalatus Salatin. [ butuh rujukan] Minangkabau perantauan Balairung Hotel di Jalan Matraman, Jakarta Timur.

bahasa daerah suku minangkabau

Minangkabau perantauan merupakan istilah untuk orang Minang yang hidup bahasa daerah suku minangkabau luar kampung halamannya.Bagi laki-laki Minang merantau erat kaitannya dengan pesan nenek moyang karatau madang di hulu babuah babungo balun (anjuran merantau kepada laki-laki karena di kampung belum berguna). Dalam kaitan ini harus dikembangkan dan dipahami, apa yang terkandung dan dimaksud satinggi-tinggi tabangnyo bangau baliaknyo ka kubangan juo (setinggi-tingginya bangau terbang, kembalinya ke kubangan lagi).

Ungkapan ini ditujukan agar urang Minang agar akan selalu ingat pada ranah asalnya. Merantau merupakan proses interaksi masyarakat Minangkabau dengan dunia luar. Kegiatan ini merupakan sebuah petualangan pengalaman dan geografis, dengan meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di negeri orang. Keluarga yang telah lama memiliki tradisi merantau, biasanya mempunyai saudara di hampir semua kota utama di Indonesia dan Malaysia. Keluarga yang paling kuat dalam mengembangkan tradisi merantau biasanya datang dari keluarga pedagang-pengrajin dan penuntut ilmu agama.

[61] Para perantau biasanya telah pergi merantau sejak usia belasan tahun, baik sebagai pedagang ataupun penuntut ilmu. Bagi sebagian besar masyarakat Minangkabau, merantau merupakan sebuah cara yang ideal untuk mencapai kematangan dan kesuksesan. Dengan merantau tidak hanya harta kekayaan dan ilmu pengetahuan yang didapat, namun juga prestise dan kehormatan individu di tengah-tengah lingkungan adat.

[62] Dari pencarian yang diperoleh, para perantau biasanya mengirimkan sebagian hasil usahanya ke kampung halaman untuk kemudian diinvestasikan dalam usaha keluarga, yakni dengan memperluas kepemilikan sawah, memegang kendali pengolahan lahan, atau menjemput sawah-sawah yang tergadai.

Uang dari para perantau biasanya juga dipergunakan untuk memperbaiki sarana-sarana nagari, seperti masjid, jalan, ataupun pematang sawah. [63] [64] Jumlah perantau Kota konsentrasi perantau Minang Kota Jumlah (2010) [65] Persentase* Seremban 282.971 50,9% [66] Pekanbaru 343.121 37,96% Batam 169.887 14,93% Tanjung Pinang 26.249 14,01% Medan 181.403 8,6% Bandar Lampung 74.071 8,4% Banda Aceh 13.606 7,8% Palembang 103.025 7,1% Bandung 101.729 4,25% Jakarta Raya 889.039 3,18% Singapura 15.052 0,3% *Persentase dari keseluruhan penduduk kota [67] [68] Etos merantau orang Minangkabau sangatlah tinggi, bahkan diperkirakan tertinggi di Indonesia.

Dari hasil studi yang pernah dilakukan oleh Mochtar Naim, pada tahun 1961 terdapat sekitar 32% orang Minang yang berdomisili di luar Sumatra Barat. Kemudian pada tahun 1971 jumlah itu meningkat menjadi 44%.

[68] Berdasarkan sensus tahun 2010, etnis Minang yang tinggal di Sumatra Barat berjumlah 4,2 juta jiwa, dengan perkiraan hampir separuh orang Minang berada di perantauan. Mobilitas migrasi orang Minangkabau dengan proporsi besar terjadi dalam rentang antara tahun 1958 sampai tahun 1978, dimana lebih 80% perantau yang tinggal di kawasan rantau telah meninggalkan kampung halamannya setelah masa kolonial Belanda.

[69] Namun tidak terdapat angka pasti mengenai jumlah orang Minang di perantauan. Angka-angka yang ditampilkan dalam perhitungan, biasanya hanya memasukkan para perantau kelahiran Sumatra Barat.

Namun belum mencakup keturunan-keturunan Minang yang telah beberapa generasi menetap bahasa daerah suku minangkabau perantauan. Para perantau Minang, hampir keseluruhannya berada di kota-kota besar Indonesia dan Malaysia. Di beberapa perkotaan, jumlah mereka cukup signifikan dan bahkan menjadi pihak mayoritas. Di Pekanbaru, perantau Minang berjumlah 37,96% dari seluruh penduduk kota, dan menjadi etnis terbesar di kota tersebut.

[70] Jumlah ini telah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 1971 yang mencapai 65%. [71] Gelombang rantau Merantau pada etnis Minang telah berlangsung cukup lama. Sejarah mencatat migrasi pertama terjadi pada abad ke-7, di mana banyak pedagang-pedagang emas yang berasal dari pedalaman Minangkabau melakukan perdagangan di muara Jambi, dan terlibat dalam pembentukan Bahasa daerah suku minangkabau Malayu. [72] Migrasi besar-besaran terjadi pada abad ke-14, dimana banyak keluarga Minang yang berpindah ke pesisir timur Sumatra.

Mereka mendirikan koloni-koloni dagang di Batubara, Pelalawan, hingga melintasi selat ke Penang dan Negeri Sembilan, Malaysia. Bersamaan dengan gelombang migrasi ke arah timur, juga terjadi perpindahan masyarakat Minang ke pesisir barat Sumatra. Di sepanjang pesisir ini perantau Minang banyak bermukim di Meulaboh, Aceh tempat keturunan Minang dikenal dengan sebutan Aneuk Jamee; Barus, Sibolga, Natal, Bengkulu, hingga Lampung.

[73] Setelah Kesultanan Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, banyak keluarga Minangkabau yang berpindah ke Sulawesi Selatan. Mereka menjadi pendukung kerajaan Gowa, sebagai pedagang dan administratur kerajaan.

Datuk Makotta bersama istrinya Tuan Sitti, sebagai cikal bakal keluarga Minangkabau di Sulawesi. [74] Gelombang migrasi bahasa daerah suku minangkabau terjadi pada abad ke-18, yaitu ketika Minangkabau mendapatkan hak istimewa untuk mendiami kawasan Kerajaan Siak. Pada masa penjajahan Hindia Belanda, migrasi besar-besaran kembali terjadi pada tahun 1920, ketika perkebunan tembakau di Deli Serdang, Sumatra Timur mulai dibuka.

Pasca- kemerdekaan, para perantau Minang telah bermukim di setiap kota-kota besar di Indonesia, serta di Kuala Lumpur, Penang, dan Singapura. Diluar Asia Tenggara, Minang perantauan banyak dijumpai di Arab Saudi, Australia, Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat. Sebagian besar mereka menjadi ekspatriat, pelajar, dan pedagang.

Pantai Barat Sumatra Rumah Gadang Kajang Padati, tipikal rumah gadang di kawasan pantai barat Sumatra Kawasan pantai barat Sumatra telah berabad-abad menjadi wilayah tujuan rantau orang Minangkabau, diantaranya merantau ke pesisir barat Aceh, Tapanuli, dan Bengkulu.

Oleh penduduk setempat mereka bahasa daerah suku minangkabau disebut sebagai orang Minangkabau, melainkan Aneuk Jamee (Aceh), Suku Pesisir (Tapanuli), dan Suku Mukomuko (Bengkulu). Aneuk Jamee merupakan suku bangsa yang mendiami pesisir barat Aceh. Dari segi bahasa, mereka ber bahasa Aneuk Jamee, yang merupakan hasil asimilasi bahasa Minangkabau dengan bahasa setempat. Menurut sejarah, mereka berasal dari Ranah Minang yang pada waktu itu masih dalam kekuasaan Kesultanan Aceh. Orang Aceh menyebut mereka sebagai Aneuk Jamee yang berarti 'anak tamu' atau 'pendatang'.

[75] Umumnya mereka tinggal di sekitar Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Nagan Raya, dan sebagian kecil Meulaboh, Aceh Barat. Suku Pesisir (disebut juga Ughang Pasisia) adalah kelompok masyarakat yang tersebar di pesisir barat Sumatra Utara, terutama di Sibolga dan Tapanuli Tengah.

Suku Pesisir merupakan penduduk Bahasa daerah suku minangkabau yang bermigrasi ke Tapanuli sejak abad ke-14 dan telah bercampur baur dengan orang Melayu, Mandailing, dan Batak Toba. Penamaan Suku Pesisir untuk kelompok ini tidak pernah dikenal hingga abad ke-20.

Bahasa daerah suku minangkabau ini dipakai untuk membedakan kelompok masyarakat di pesisir barat Sumatra Utara dengan masyarakat Batak di pedalaman. Menurut ruang geografis etnisitas yang disusun oleh Collet (1925), Cunningham (1958), Reid (1979) dan Sibeth (1991), di pesisir barat Sumatra Utara terdapat kelompok masyarakat yang bukan dari etnis Batak. [76] Suku Mukomuko merupakan bagian dari rumpun Minangkabau yang menghuni daerah Mukomuko, Bengkulu.

[77] Secara adat, budaya, dan bahasa, Mukomuko berkaitan erat dengan masyarakat Pesisir Selatan di Sumatra Barat. [78] Dahulu daerah Mukomuko termasuk daerah Riak nan Badabua yakni daerah sepanjang Pesisir Pantai Barat dari Padang sampai Bengkulu Selatan. Namun wilayah Mukomuko sejak masa kolonial Inggris telah dimasukkan ke dalam administratif Bengkulu ( Bengkulen).

Sejak saat itu orang Mukomuko telah terpisah dari masyarakat serumpunnya di daerah Sumatra Barat dan menjadi bagian integral dari wilayah Bengkulu. Hal ini berlangsung terus pada masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga masa kemerdekaan. [77] [79] Riau Rumah Lontiok, rumah tradisional Kampar yang memiliki bentuk atap melengkung lentik hampir serupa dengan atap Rumah Gadang yang melengkung runcing.

Suku Kampar atau oleh masyarakatnya disebut Ughang Kampar atau Ughang Ocu, merupakan kelompok etnik yang mendiami Kabupaten Kampar, Riau yang ber bahasa Kampar. [80] Mereka dapat ditemukan juga di sebagian besar daerah Riau, seperti Siak, Bengkalis, Ujung Batu, Pelalawan, Selat Panjang, dan lain-lain. Selain itu masyarakat Kampar telah banyak yang bermukim di Malaysia, seperti di Kuantan ( Pahang), Sabak Bernam, Teluk Intan, dan Negeri Sembilan. [81] Orang Kuantan merupakan kelompok yang tinggal di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

Secara adat, budaya, dan bahasa memiliki persamaan dengan masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat, khususnya di Sijunjung yang berbatasan langsung dengan daerah Kuantan. Kuantan Singingi merupakan daerah rantau dari Luhak Tanah Datar yang bernama Rantau Nan Kurang Aso Duo Puluah. Seperti juga suku Kampar, masih terdapat kontroversi mengenai keterkaitannya dengan orang Minangkabau.

[82] Semenanjung Malaya Museum Negeri Sembilan (kiri) dan Istana Ampangan Tinggi (kanan) yang memiliki arsitektur Minangkabau Masyarakat Minangkabau telah turun temurun mendiami Semenanjung Malaya, Malaysia.

Diantaranya paling banyak menghuni Negeri Sembilan. Pada awal abad ke-14, orang-orang Minangkabau datang ke Negeri Sembilan melalui Melaka hingga sampai ke Rembau. Orang Minangkabau ini hidup bersama dengan penduduk setempat yaitu, Orang Asli secara damai. Karena hal inilah, terjadi pernikahan antara orang Minangkabau dan penduduk asli sehingga keturunan mereka membentuk suku yang disebut dengan suku Biduanda. Suku Biduanda inilah yang menjadi pewaris utama Negeri Sembilan dan apabila dilakukan pemilihan pemimpin, maka hanya dari suku Biduanda inilah yang akan dipilih.

Orang Minangkabau yang datang kemudian membentuk suku-suku berdasarkan daerah asal mereka di Minangkabau. Pada gelombang awal kebanyakan datang dari Tanah Datar dan Limapuluh Kota. [83] [84] [85] Dari suku Biduanda inilah asalnya pembesar-pembesar Negeri Sembilan yang dipanggil "Penghulu" dan diistilahkan menjadi Undang. Sebelum terdapat institusi Yang di-Pertuan Besar, masyarakat Negeri Sembilan berada di bawah naungan Kerajaan Melayu Johor.

Dalam kesehariannya, mereka menuturkan bahasa Negeri Sembilan ( baso Nogoghi). [83] [86] Gelombang perantau Minangkabau berikutnya yang tiba di Malaya terjadi pasca Perang Paderi. Salah satu komunitas yang cukup besar adalah orang Rao ( Ughang Rawo) atau yang di Malaysia dikenal sebagai "Orang Rawa". Orang Rao bermigrasi ke beberapa daerah di Malaya, antara lain ke Negeri Sembilan, Pahang, Kelantan, Perak dan Selangor.

bahasa daerah suku minangkabau

{INSERTKEYS} [87] [88] Sejak pertengahan abad ke-19, ramai pula orang Minang yang merantau ke Kuala Lumpur. Tujuan utama mereka ke kota tersebut adalah hendak berdagang. Sehingga banyak pedagang Minang yang menjadi peneroka awal Kuala Lumpur, diantaranya adalah Mohamed Taib bin Haji Abdul Samad. Jawa Dibandingkan dengan Semenanjung Malaya, migrasi besar-besaran orang Minang ke pulau Jawa relatif baru. Meski tujuan utama mereka adalah Jakarta Raya, namun perantau Minang juga banyak dijumpai di kota-kota besar seperti Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang, Surakarta, dan Tasikmalaya, dimana mereka memiliki perkumpulan yang cukup solid.

Pada tahun 1961, jumlah perantau Minang di kota Jakarta meningkat 18,7 kali dibandingkan dengan tingkat pertambahan penduduk kota itu yang hanya 3,7 kali, [89] dan pada tahun 1971 etnis ini diperkirakan telah berjumlah sekitar 10% dari jumlah penduduk Jakarta waktu itu. [90] Perantauan intelektual Pada akhir abad ke-18, banyak pelajar Minang yang merantau ke Mekkah untuk mendalami agama Islam, di antaranya Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik. Setibanya di tanah air, mereka menjadi penyokong kuat gerakan Paderi dan menyebarluaskan pemikiran Islam yang murni di seluruh Minangkabau dan Mandailing.

Gelombang kedua perantauan ke Timur Tengah terjadi pada awal abad ke-20, yang dimotori oleh Abdul Karim Amrullah, Tahir Jalaluddin, Muhammad Jamil Jambek, dan Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. [91] Selain ke Timur Tengah, pelajar Minangkabau juga banyak yang merantau ke Eropa. Mereka antara lain Abdoel Rivai, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Roestam Effendi, dan Mohammad Amir. Intelektual lain, Tan Malaka, hidup mengembara di delapan negara Eropa dan Asia, membangun jaringan pergerakan kemerdekaan Asia.

Semua pelajar Minang tersebut, yang merantau ke Eropa sejak akhir abad ke-19, menjadi pejuang kemerdekaan dan pendiri Republik Indonesia. [92] Sebab merantau Faktor budaya Ada banyak penjelasan terhadap fenomena ini, salah satu penyebabnya ialah sistem kekerabatan matrilineal.

Dengan sistem ini, penguasaan harta pusaka dipegang oleh kaum perempuan sedangkan hak kaum pria dalam hal ini cukup kecil. Selain itu, setelah masa akil baligh para pemuda tidak lagi dapat tidur di rumah orang tuanya, karena rumah hanya diperuntukkan untuk kaum perempuan beserta suaminya, dan anak-anak.

Para perantau yang pulang ke kampung halaman, biasanya akan menceritakan pengalaman merantau kepada anak-anak kampung. Daya tarik kehidupan para perantau inilah yang sangat berpengaruh di kalangan masyarakat Minangkabau sedari kecil. Siapa pun yang tidak pernah mencoba pergi merantau, maka ia akan selalu diperolok-olok oleh teman-temannya.

[93] Hal inilah yang menyebabkan kaum pria Minang memilih untuk merantau. Kini wanita Minangkabau pun sudah lazim merantau. Tidak hanya karena alasan ikut suami, tapi juga karena ingin berdagang, meniti karier dan melanjutkan pendidikan. Menurut Rudolf Mrazek, sosiolog Belanda, dua tipologi budaya Minang, yakni dinamisme dan anti-parokialisme melahirkan jiwa merdeka, kosmopolitan, egaliter, dan berpandangan luas, hal ini menyebabkan tertanamnya budaya merantau pada masyarakat Minangkabau.

[94] Semangat untuk mengubah nasib dengan mengejar ilmu dan kekayaan, serta pepatah Minang yang mengatakan Karatau madang dahulu, babuah babungo alun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun (lebih baik pergi merantau karena di kampung belum berguna) mengakibatkan pemuda Minang untuk pergi merantau sedari muda. Artikel utama: Saudagar Minangkabau Penjelasan lain adalah pertumbuhan penduduk yang tidak diiringi dengan bertambahnya sumber daya alam yang dapat diolah. Jika dulu hasil pertanian dan perkebunan, sumber utama tempat mereka hidup dapat menghidupi keluarga, maka kini hasil sumber daya alam yang menjadi penghasilan utama mereka itu tak cukup lagi memberi hasil untuk memenuhi kebutuhan bersama, karena harus dibagi dengan beberapa keluarga.

Selain itu adalah tumbuhnya kesempatan baru dengan dibukanya daerah perkebunan dan pertambangan. Faktor-faktor inilah yang kemudian mendorong orang Minang pergi merantau mengadu nasib di negeri orang. Untuk kedatangan pertamanya ke tanah rantau, biasanya para perantau menetap terlebih dahulu di rumah dunsanak yang dianggap sebagai induk semang.

Para perantau baru ini biasanya berprofesi sebagai pedagang kecil. [95] [96] Selain itu, perekonomian masyarakat Minangkabau sejak dahulunya telah ditopang oleh kemampuan berdagang, terutama untuk mendistribusikan hasil bumi mereka.

Kawasan pedalaman Minangkabau, secara geologis memiliki cadangan bahan baku terutama emas, tembaga, timah, seng, merkuri, dan besi, semua bahan tersebut telah mampu diolah oleh mereka. [97] Sehingga julukan suvarnadvipa (pulau emas) yang muncul pada cerita legenda di India sebelum Masehi, kemungkinan dirujuk untuk pulau Sumatra karena hal ini.

[98] Pedagang dari Arab pada abad ke-9, telah melaporkan bahwa masyarakat di pulau Sumatra telah menggunakan sejumlah emas dalam perdagangannya. Kemudian dilanjutkan pada abad ke-13 diketahui ada raja di Sumatra yang menggunakan mahkota dari emas. Tomé Pires sekitar abad ke-16 menyebutkan, bahwa emas yang diperdagangangkan di Malaka, Panchur (Barus), Tico (Tiku) dan Priaman (Pariaman), berasal dari kawasan pedalaman Minangkabau.

Disebutkan juga kawasan Indragiri pada sehiliran Batang Kuantan di pesisir timur Sumatra, merupakan pusat pelabuhan dari raja Minangkabau. [99] Dalam prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman disebut bahwa dia adalah penguasa bumi emas.

Hal inilah menjadi salah satu penyebab, mendorong Belanda membangun pelabuhan di Padang [100] dan sampai pada abad ke-17 Belanda masih menyebut yang menguasai emas kepada raja Pagaruyung.

[101] Kemudian meminta Thomas Diaz untuk menyelidiki hal tersebut, dari laporannya dia memasuki pedalaman Minangkabau dari pesisir timur Sumatra dan dia berhasil menjumpai salah seorang raja Minangkabau waktu itu (Rajo Buo), dan raja itu menyebutkan bahwa salah satu pekerjaan masyarakatnya adalah pendulang emas. [102] Sementara itu dari catatan para geologi Belanda, pada sehiliran Batanghari dijumpai 42 tempat bekas penambangan emas dengan kedalaman mencapai 60 m serta di Kerinci waktu itu, mereka masih menjumpai para pendulang emas.

[103] Sampai abad ke-19, legenda akan kandungan emas pedalaman Minangkabau, masih mendorong Raffles untuk membuktikannya, sehingga dia tercatat sebagai orang Eropa pertama yang berhasil mencapai Pagaruyung melalui pesisir barat Sumatra. [104] Faktor perang Tuanku Imam Bonjol, salah seorang pemimpin Perang Padri, yang diilustrasikan oleh de Stuers.

"Orang Minang merupakan masyarakat yang gelisah, dengan tradisi pemberontakan dan perlawanan yang panjang. Selalu merasa bangga dengan perlawanan mereka terhadap kekuatan luar, baik dari Jawa maupun Eropa". [105] — Pendapat dari Audrey R. Kahin. Beberapa peperangan juga menimbulkan gelombang perpindahan masyarakat Minangkabau terutama dari daerah konflik, setelah Perang Padri, [32] muncul pemberontakan di Batipuh menentang tanam paksa Belanda, disusul pemberontakan Siti Manggopoh dalam Perang Belasting menentang belasting dan pemberontakan komunis tahun 1926–1927.

[105] Setelah kemerdekaan muncul PRRI yang juga menyebabkan timbulnya eksodus besar-besaran masyarakat Minangkabau ke daerah lain. [90] Dari beberapa perlawanan dan peperangan ini, memperlihatkan karakter masyarakat Minang yang tidak menyukai penindasan. Mereka akan melakukan perlawanan dengan kekuatan fisik, namun jika tidak mampu mereka lebih memilih pergi meninggalkan kampung halaman ( merantau). Orang Sakai berdasarkan cerita turun temurun dari para tetuanya menyebutkan bahwa mereka berasal dari Pagaruyung.

[106] Orang Kubu menyebut bahwa orang dari Pagaruyung adalah saudara mereka. Kemungkinan masyarakat terasing ini termasuk masyarakat Minang yang melakukan resistansi dengan meninggalkan kampung halaman mereka karena tidak mau menerima perubahan yang terjadi di negeri mereka.

De Stuers sebelumnya juga melaporkan bahwa masyarakat Padangsche Bovenlanden sangat berbeda dengan masyarakat di Jawa, di Pagaruyung ia menyaksikan masyarakat setempat begitu percaya diri dan tidak minder dengan orang Eropa. Ia merasakan sendiri, penduduk lokal lalu lalang begitu saja dihadapannya tanpa ia mendapatkan perlakuan istimewa, malah ada penduduk lokal meminta rokoknya, serta meminta ia menyulutkan api untuk rokok tersebut.

[59] Merantau dalam sastra Fenomena merantau dalam masyarakat Minangkabau, ternyata sering menjadi sumber inspirasi bagi para pekerja seni, terutama sastrawan. Hamka, dalam novelnya Merantau ke Deli, bercerita tentang pengalaman hidup perantau Minang yang pergi ke Deli dan menikah dengan perempuan Jawa.

Novelnya yang lain Tenggelamnya Kapal Van der Wijck juga bercerita tentang kisah anak perantau Minang yang pulang kampung. Di kampung, ia menghadapi kendala oleh masyarakat adat Minang yang merupakan induk bakonya sendiri. Selain novel karya Hamka, novel karya Marah Rusli, Sitti Nurbaya dan Salah Asuhannya Abdul Muis juga menceritakan kisah perantau Minang. Dalam novel-novel tersebut, dikisahkan mengenai persinggungan pemuda perantau Minang dengan adat budaya Barat.

Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, mengisahkan perantau Minang yang belajar di pesantren Jawa dan akhirnya menjadi orang yang berhasil. Dalam bentuk yang berbeda, lewat karyanya yang berjudul Kemarau, A.A Navis mengajak masyarakat Minang untuk membangun kampung halamannya yang banyak di tinggal pergi merantau.

[ butuh rujukan] Novel yang bercerita tentang perantau Minang tersebut, biasanya berisi kritik sosial dari penulis kepada adat budaya Minang yang kolot dan tertinggal. Selain dalam bentuk novel, kisah perantau Minang juga dikisahkan dalam film Merantau karya sutradara Inggris, Gareth Evans. [107] Orang Minangkabau dan kiprahnya Lihat pula: Ulama Minangkabau Orang Minang terkenal sebagai kelompok yang terpelajar, oleh sebab itu pula mereka menyebar di seluruh Indonesia bahkan mancanegara dalam berbagai macam profesi dan keahlian, antara lain sebagai politisi, penulis, ulama, pengajar, jurnalis, dan pedagang.

Berdasarkan jumlah populasi yang relatif kecil (2,7% dari penduduk Indonesia), Minangkabau merupakan salah satu suku tersukses dengan banyak pencapaian. [69] Majalah Tempo dalam edisi khusus tahun 2000 mencatat bahwa 6 dari 10 tokoh penting Indonesia pada abad ke-20 merupakan orang Minang. [108] 3 dari 4 orang pendiri Republik Indonesia adalah putra-putra Minangkabau. [109] [110] Keberhasilan dan kesuksesan orang Minang banyak diraih ketika berada di perantauan.

Sejak dulu mereka telah pergi merantau ke berbagai daerah di Jawa, Sulawesi, semenanjung Malaysia, Thailand, Brunei, hingga Philipina. Pada tahun 1390, Raja Bagindo mendirikan Kesultanan Sulu di Filipina selatan. [68] Pada abad ke-14 orang Minang melakukan migrasi ke Negeri Sembilan, Malaysia dan mengangkat raja untuk negeri baru tersebut dari kalangan mereka.

Di akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, beberapa ulama Minangkabau seperti Tuan Tunggang Parangan, Dato ri Bandang, Dato ri Patimang, Dato ri Tiro, dan Dato Karama, menyebarkan Islam di Kalimantan, Sulawesi, dan Kepulauan Nusa Tenggara. [111] Kedatangan reformis Muslim yang menuntut ilmu di Kairo dan Mekkah memengaruhi sistem pendidikan di Minangkabau. Sekolah Islam modern Sumatra Thawalib dan Diniyah Putri, banyak melahirkan aktivis yang berperan dalam proses kemerdekaan, antara lain A.R Sutan Mansur, Siradjuddin Abbas, dan Djamaluddin Tamin.

[ butuh rujukan] Pada periode 1920–1960, banyak politisi Indonesia berpengaruh lahir dari ranah Minangkabau. Menjadi salah satu motor perjuangan kemerdekaan Asia, pada tahun 1923 Tan Malaka terpilih menjadi wakil Komunis Internasional untuk wilayah Asia Tenggara.

Politisi Minang lainnya Muhammad Yamin, menjadi pelopor Sumpah Pemuda yang mempersatukan seluruh rakyat Hindia Belanda. Di dalam Volksraad, politisi asal Minang-lah yang paling vokal. Mereka antara lain Jahja Datoek Kajo, Agus Salim, dan Abdul Muis. Tokoh Minang lainnya Mohammad Hatta, menjadi ko-proklamator kemerdekaan Indonesia. Setelah kemerdekaan, empat orang Minangkabau duduk sebagai perdana menteri ( Sutan Syahrir, Mohammad Hatta, Abdul Halim, Muhammad Natsir), seorang sebagai presiden ( Assaat), seorang sebagai wakil presiden (Mohammad Hatta), seorang menjadi pimpinan parlemen ( Chaerul Saleh), dan puluhan yang menjadi menteri, di antara yang cukup terkenal ialah Azwar Anas, Fahmi Idris, Rizal Ramli dan Emil Salim.

Emil bahkan menjadi orang Indonesia terlama yang duduk di kementerian RI. Minangkabau, salah satu dari dua etnis selain etnis Jawa, yang selalu memiliki wakil dalam setiap kabinet pemerintahan Indonesia.

Selain di pemerintahan, pada masa Demokrasi liberal parlemen Indonesia didominasi oleh politisi Minang. Mereka tergabung kedalam aneka macam partai dan ideologi, islamis, nasionalis, komunis, dan sosialis.

[ butuh rujukan] Selain menjabat gubernur provinsi Sumatra Tengah dan Sumatra Barat, orang Minangkabau juga duduk sebagai gubernur provinsi lain di Indonesia. Mereka adalah Datuk Djamin ( Jawa Barat), Daan Jahja ( Jakarta), Rano Karno ( Banten), Muhammad Djosan dan Muhammad Padang ( Maluku), Anwar Datuk Madjo Basa Nan Kuniang dan Moenafri ( Sulawesi Tengah), Adenan Kapau Gani, Mohammad Isa, dan Rosihan Arsyad ( Sumatra Selatan), Eny Karim, Rizal Nurdin, dan Erry Nuradi ( Sumatra Utara), Arsyadjuliandi Rachman ( Riau), serta Djamin Datuk Bagindo ( Jambi).

[112] Beberapa partai politik Indonesia didirikan oleh politisi Minang. PARI dan Murba didirikan oleh Tan Malaka, Partai Sosialis Indonesia oleh Sutan Sjahrir, PNI Baru oleh Mohammad Hatta, Masyumi oleh Mohammad Natsir, Perti oleh Sulaiman ar-Rasuli, dan Permi oleh Rasuna Said.

Selain mendirikan partai politik, politisi Minang juga banyak menghasilkan buku-buku yang menjadi bacaan wajib para aktivis pergerakan. Penulis Minang banyak memengaruhi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia.

Mereka mengembangkan bahasa melalui berbagai macam karya tulis dan keahlian. Marah Rusli, Abdul Muis, Idrus, Hamka, dan A.A Navis berkarya melalui penulisan novel. Nur Sutan Iskandar novelis Minang lainnya, tercatat sebagai penulis novel Indonesia yang paling produktif. Chairil Anwar dan Taufik Ismail berkarya lewat penulisan puisi.

Serta Sutan Takdir Alisjahbana dan Sutan Muhammad Zain, dua ahli tata bahasa yang melakukan modernisasi bahasa Indonesia sehingga bisa menjadi bahasa persatuan nasional. Novel-novel karya sastrawan Minang seperti Sitti Nurbaya, Salah Asuhan, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Layar Terkembang, dan Robohnya Surau Kami telah menjadi bahan bacaan wajib bagi siswa sekolah di Indonesia dan Malaysia.

[ butuh rujukan] Selain melalui karya sastra, pengembangan bahasa Indonesia banyak pula dilakukan oleh jurnalis Minang. Mereka antara lain Djamaluddin Adinegoro, Rosihan Anwar, dan Ani Idrus.

Selain Abdul Rivai yang dijuluki sebagai Perintis Pers Indonesia, Rohana Kudus yang menerbitakan Sunting Melayu, menjadi wartawan sekaligus pemilik koran wanita pertama di Indonesia. Di samping menjadi politisi dan penulis, kiprah Orang Minang juga cukup menonjol di bidang intelektualisme. [113] Kebiasaan mereka yang suka berpikir dan menelaah, telah melahirkan beberapa pakar di dunia kedokteran, humaniora, hukum, dan ekonomi, yang kesemuanya memberikan sumbangan besar terhadap bangsa Indonesia.

Di antara mereka yang cukup dikenal adalah Ahmad Syafii Maarif, Hazairin, Syahrir, Taufik Abdullah, dan Azrul Azwar. Tuanku Abdul Rahman, salah seorang tokoh Minang yang berpengaruh di kawasan rantau.

Di Indonesia dan Malaysia, selain orang Tionghoa, orang Minang juga terkenal sebagai pengusaha ulung. Banyak pengusaha Minang sukses berbisnis di bidang perdagangan tekstil, rumah makan, perhotelan, pendidikan, keuangan, dan kesehatan.

Di antara figur pengusaha sukses adalah, Abdul Latief (pemilik ALatief Corporation), Basrizal Koto (pemilik Basko Group), dan Hasyim Ning (pengusaha perakitan mobil pertama di Indonesia).

Banyak pula orang Minang yang sukses di dunia hiburan, baik sebagai sutradara, produser, penyanyi, maupun artis. Sebagai sutradara dan produser ada Usmar Ismail, Asrul Sani, Djamaludin Malik, dan Arizal. Arizal bahkan menjadi sutradara dan produser film yang paling banyak menghasilkan karya. Sekurang-kurangnya 52 film dan 8 sinetron dalam 1.196 episode telah dihasilkannya. Pemeran dan penyanyi Minang yang terkenal beberapa di antaranya adalah Afgan Syah Reza, Dorce Gamalama, Marshanda, Eva Arnaz, dan Nirina Zubir.

Pekerja seni lainnya, ratu kuis Ani Sumadi, menjadi pelopor dunia perkuisan di Indonesia. Selain mereka, Soekarno M. Noer beserta putranya Rano Karno, mungkin menjadi pekerja hiburan paling sukses di Indonesia, baik sebagai aktor maupun sutradara film.

Pada tahun 1993, Karnos Film perusahaan film milik keluarga Soekarno, memproduksi film seri dengan peringkat tertinggi sepanjang sejarah perfilman Indonesia, Si Doel Anak Sekolahan. [114] Di Malaysia dan Singapura, kontribusi orang Minangkabau juga cukup besar. Pada tahun 1723, Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah I, duduk sebagai sultan Johor sebelum akhirnya mendirikan Kerajaan Siak di daratan Riau.

[115] Di awal abad ke-18, Nakhoda Bayan, Nakhoda Intan, dan Nakhoda Kecil meneroka Pulau Pinang. [116] Tahun 1773, Raja Melewar diutus Pagaruyung untuk memimpin rantau Negeri Sembilan. Ia juga menyebarkan Adat Perpatih dan Adat Tumenggung, yang sampai saat ini masih berlaku di Semenanjung Malaya.

Menjelang masa kemerdekaan beberapa politisi Minang mendirikan partai politik. Di antaranya adalah Ahmad Boestamam yang mendirikan Parti Rakyat Malaysia dan Rashid Maidin yang mengikrarkan Parti Komunis Malaya. Setelah kemerdekaan Tuanku Abdul Rahman menjadi Yang Dipertuan Agung pertama Malaysia, sedangkan Rais Yatim, Amirsham Abdul Aziz, dan Abdul Samad Idris, duduk di kursi kabinet. Beberapa nama lainnya yang cukup berjasa adalah Sheikh Muszaphar Shukor (astronaut pertama Malaysia), Muhammad Saleh Al-Minangkabawi (kadi besar Kerajaan Perak), Tahir Jalaluddin Al-Azhari (ulama terkemuka), Adnan bin Saidi (pejuang kemerdekaan Malaysia), dan Abdul Rahim Kajai (perintis pers Malaysia).

Mereka juga banyak yang terjun di dunia bisnis, diantaranya yang cukup sukses adalah Kamarudin Meranun (pendiri Air Asia) dan Tunku Tan Sri Abdullah (pemilik Melewar Corporation). {/INSERTKEYS}

bahasa daerah suku minangkabau

Di Singapura, Mohammad Eunos Abdullah dan Abdul Rahim Ishak muncul sebagai politisi Singapura terkemuka, Yusof bin Ishak menjadi presiden pertama Singapura, dan Zubir Said menciptakan lagu kebangsaan Singapura Majulah Singapura. Beberapa tokoh Minang juga memiliki reputasi internasional. Di antaranya, Roestam Effendi yang mewakili Partai Komunis Bahasa daerah suku minangkabau, dan menjadi orang Hindia pertama yang duduk sebagai anggota parlemen Belanda.

[117] Di Arab Saudi, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, menjadi satu-satunya orang non- Arab yang pernah menjabat imam besar Masjidil Haram, Mekkah. Mohammad Natsir, salah seorang tokoh Islam terkemuka, pernah menduduki posisi presiden Liga Muslim se-Dunia ( World Moslem Congress) dan ketua Dewan Masjid se-Dunia.

Sementara itu Azyumardi Azra, menjadi orang pertama di luar warga negara Persemakmuran yang mendapat gelar Sir dari Kerajaan Inggris. [118] Lihat pula • Daftar tokoh Minangkabau • Yang Dipertuan Besar Negeri Bahasa daerah suku minangkabau Referensi • ^ Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk 2010 (PDF). Badan Pusat Statistik. 2011. ISBN 9789790644175.

Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2017-07-12. Diakses tanggal 2012-08-24. • ^ Aris Ananta, Evi Nurvidya Arifin, M. Sairi Hasbullah, Nur Budi Handayani, dan Agus Pramono (2015). Demography of Indonesia’s Ethnicity. Institute of Southeast Asian Studies dan BPS – Statistics Indonesia. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ "Salinan bahasa daerah suku minangkabau.

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-03-23. Diakses tanggal 2020-06-16. • ^ a b De Jong, P.E de Josselin (1960). Minangkabau and Negeri Sembilan: Socio-Political Structure in Indonesia. Jakarta: Bhartara. • ^ "Kamus Indonesia - Minangkabau - Glosbe". glosbe.com. Diakses tanggal 2022-04-25. • ^ Kingsbury, D.; Aveling, H.

(2003). Autonomy and Disintegration in Indonesia. Routledge. ISBN 0-415-29737-0. • ^ a b bahasa daerah suku minangkabau Navis, A.A. (1984). Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Grafiti Pers. • ^ a b c d e Batuah, A. Dt.; Madjoindo, A.

Dt. (1959). Tambo Minangkabau dan Adatnya. Jakarta: Balai Pustaka. • ^ Reid, Anthony (2001). "Understanding Melayu (Malay) as a Source of Diverse Modern Identities". Journal of Southeast Asian Studies. 32 (3): 295–313. doi: 10.1017/S0022463401000157. • ^ Evers, Hans Dieter; Korff, Rüdiger (2000). Southeast Asian Urbanism. LIT Verlag Münster: Ed.2nd. hlm. 188. ISBN 3-8258-4021-2.

• ^ Ong, Aihwa; Peletz, Michael G. (1995). Bewitching Women, Pious Men: Gender and Body Politics in Southeast Asia. University of California Press. hlm. 51. ISBN 0-520-08861-1. • ^ Jones, Gavin W.; Chee, Heng Leng; Mohamad, Maznah (2009). "Not Muslim, Not Minangkabau, Interreligious Marriage and its Culture Impact in Minangkabau Society by Mina Elvira".

Muslim-Non-Muslim Marriage: Political and Cultural Contestations in Southeast Asia. Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 51. ISBN 978-981-230-874-0. • ^ Graves, Elizabeth E. (1981). The Minangkabau Response to Dutch Colonial Rule Nineteenth Century. Itacha, New York: Cornell Modern Indonesia Project #60. hlm. 1. • ^ "Warga Minang Sidney Peduli Syiar Islam".

Harian Singgalang. 2012-02-18. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-04-07. Diakses tanggal 2012-06-14. • ^ "Indonesian Community in Victoria-Tasmania". Konsulat Jenderal Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-06-10. Diakses tanggal 2012-06-14. • ^ Ramli, Andriati (2008). Masakan Padang: Populer & Lezat. Niaga Swadaya. ISBN 978-979-1477-09-3. • ^ a b Djamaris, Edwar (1991). Tambo Minangkabau. Jakarta: Balai Pustaka. hlm. 220–221. ISBN 978-979-1477-09-3. • ^ Hill, A.H. (1960). Hikayat Raja-raja Pasai.

London: Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland. • ^ Brandes, J.L.A. (1902). Nāgarakrětāgama; Lofdicht van Prapanjtja op Koning Radjasanagara, Hajam Wuruk, van Madjapahit, Naar Het Eenige Daarvan Bekende Handschrift, Aangetroffen in de Puri te Tjakranagara op Lombok. • ^ Geoff Wade, translator, Southeast Asia in the Ming Shi-lu: an open access resource, Singapore: Asia Research Institute and the Singapore E-Press, National University of Singapore.

• ^ Cœdès, George (1930). Les Inscriptions Malaises de Çrivijaya. BEFEO. • ^ Purbatjaraka, R.M. Ngabehi (1952). Riwajat Indonesia. Jakarta: Jajasan Pembangunan. • ^ Casparis, J.G. De (1956). Prasasti Indonesia II. Bandung: Masa Baru.

Dinas Purbakala Republik Indonesia. • ^ Raffles, T.S. bahasa daerah suku minangkabau. Malay Annals. Penerjemah: John Leyden, Longman, Hurst, Rees, Orme, dan Brown. • ^ Graves (1981). hlm. 4. • ^ Firdaus, Dwi Rini Sovia; Lubis, Djuara P.; Soetarto, Endriatmo; Susanto, Djoko (26 Juni 2020). "Bagaimana Pola Komunikasi Keluarga Minangkabau Mempengaruhi Pelestarian Budaya dan Pengikisan Budaya?".

Jurnal Komunikasi Pembangunan. IPB Journal. Vol.18 (02): 105. doi: 10.46937/18202030330. ISSN 1693-3699. OCLC 8621053567. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-11-27. Diakses tanggal 30 November 2020. • ^ Andaya, L.Y. (2008). Leaves of the Same Tree: Trade and Ethnicity in the Straits of Melaka. University of Hawaii Press. ISBN 0-8248-3189-6. • ^ Abdullah, Taufik (1966).

"Adat and Islam: An Examination of Conflict in Minangkabau". 2 (2): 1–24. doi: 10.2307/3350753. • ^ Syamsu As, Muhammad (1996). Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya. Lentera Basritama. ISBN 9798880161. • ^ Rujukan pustaka: • Drs. Saharman, MA (2017). "Surau Sebagai Lembaga Pendidikan Islam Di Minangkabau".

Jurnal Pendidikan Islam. STAI YASTIS Padang. Vol.1 (No.2): 54 – 55. eISSN 2620-9772. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-07-12. Diakses tanggal 3 Desember 2020. • Graves, Elizabeth E.

(2007). Asal-Usul Elite Minangkabau Modern: Respons Terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/XX. Yayasan Obor Indonesia.

hlm. 46. ISBN 979-461-661-3. Diakses tanggal 3 Desember 2020. • ^ Azra, Azyumardi (2004). The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern "Ulamā" in the Seventeenth and Eighteenth Centuries.

University of Hawaii Press. ISBN 0-8248-2848-8. • ^ a b Nain, Sjafnir Aboe (2004). Memorie Tuanku Imam Bonjol (Terjemahan). Padang: PPIM. • ^ Westenenk, L.C. (1918).

De Minangkabausche Nagari. Weltevreden: Visser. hlm. 59. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-06-09. Diakses tanggal 2019-05-15. • ^ Arifin Zainal (2013). "Bundo Kanduang: (hanya) Pemimpin di Rumah (Gadang)". Antropologi Indonesia. 34 (2): 125. ISSN 1693-167X. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-01-24.

Diakses tanggal 2020-11-18. • ^ Koning, Juliette (2000). Women and Households in Indonesia: Cultural Notions and Social Practices.

Routledge. ISBN 0-7007-1156-2. • ^ Wira Yanti (Juli 2014). "Memahami Peranan Perempuan Suku Minang Perantauan dalam Menjaga dan Meneruskan Komunikasi Budaya Matrilineal". Jurnal The Messenger. Universitas Semarang. Vol.VI (No.2): 29. doi: 10.26623/themessenger.v6i2.191. ISSN 2086-1559. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-08-07.

Diakses tanggal 2021-01-21. • ^ Simanjuntak, Mengantar (1982). Aspek Bahasa dan Pengajaran. Sarjana Enterprise. • ^ Garry, J.; R., Carl; Rubino, G. (2001). Facts About the World's Languages: An Encyclopedia of the World's Major Languages, Past and Present. H.W. Wilson. ISBN 0-8242-0970-2. • ^ Medan, Tamsin (1985). Bahasa Minangkabau Dialek Kubuang Tigo Baleh. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

• ^ Nadra (2006). Rekonstruksi Bahasa Minangkabau. Andalas University Press. ISBN 979-3364-55-6. • ^ a b c Khaidir Anwar (1976). "Minangkabau, Background of the Main Pioneers of Modern Standard Malay in Indonesia". Archipel. 12: 77–93. • ^ Sneddon, James (2003).

"The 20th Century to 1945". The Indonesian Language: Its History and Role in Modern Society. Sydney: UNSW Press. hlm. 94. ISBN 0-86840-598-1. • ^ Phillips, Nigel (1981). Sijobang: Sung Narrative Poetry of West Sumatra. Cambridge University Press.

ISBN 978-0-521-23737-6. • ^ Pauka, K. (1998). Theater and Martial Arts in West Sumatra: Randai and Silek of the Minangkabau. Ohio University Press. ISBN 978-0-89680-205-6. • ^ Suryadi (2010). Masa Depan Seni Bersilat Lidah Minangkabau. Padang Ekspres. • ^ Graves, Elizabeth E. (2007). Asal usul Elite Minangkabau Modern: Respons Terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/XX.

Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-661-1. • ^ Sayuti, Azinar; Abu, Rifai (1985). Sistem Ekonomi Tradisional Sebagai Perwujudan Tanggapan Aktif Manusia Terhadap Lingkungan Daerah Sumatra Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. hlm. 202. • ^ Navis, A.A.

Cerita Rakyat dari Sumatra Barat 3. Grasindo. ISBN 979-759-551-X. • ^ Habibi, Gantino (2018). Rumah Gadang yang Tahan Gempa (PDF).

bahasa daerah suku minangkabau

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. hlm. 33. ISBN 978-602-437-268-2. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2021-01-20. Diakses tanggal 2021-01-21. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan); Lebih dari satu parameter -author= dan -last= yang digunakan ( bantuan) • ^ Ariyati; Al Busyra Fuadi (2018). "Persepsi Masyarakat Sumpu Terhadap Rumah Gadang (Pasca Rekonstruksi Rumah Gadang Siti Fatimah Dan Rumah Gadang Etek Nuraini".

Jurnal REKAYASA. Universitas Bung Hatta (dipublikasikan tanggal 30 Juli 2018). Vol.8 (No.1): 56. doi: 10.37037/jrftsp.v8i1.23. eISSN 2622-9455. ISSN 1412-0151. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-12-01. Diakses tanggal 20 Januari 2021.

• ^ Idris, Soewardi (2004). Sekitar Adat Minangkabau. Jakarta: Kulik-Kulik Alang, Himpunan Eks-Siswa SMP Negeri Solok Masa Revolusi, 1946-1949. • ^ Owen, Sri (1993). The Rice Book. Doubleday. ISBN 0-7112-2260-6. • ^ Owen, Sri (1994). Indonesian Regional Food and Cookery Doubleday. London dan Sydney: Frances Lincoln Ltd.

ISBN 978-1862056787. • ^ "World's 50 Most Delicious Foods by CNN GO". 2011-09-07. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-11-11. Diakses tanggal 2012-05-18. • ^ Pudji Rahayu, Winiati. "Aktivitas Antimikroba Bumbu Masakan Tradisional Hasil Olahan Bahasa daerah suku minangkabau Terhadap Bakteri Patogen Perusak".

[ pranala nonaktif permanen] • ^ Graves (1981). hlm. 11. • ^ Stibbe (1869). Het Soekoebestuur in de Padangsche Bovenlanden. hlm. 33. • ^ Graves (1981). hlm. 25. • ^ a b De Stuers, Hubert Joseph Jean Lambert (30 Agustus 1825). Laporan Kepada Gubernur Jendral. hlm.

bahasa daerah suku minangkabau

33. Exhibitum. 24 Agustus 1826. No. 41. • ^ Bonner, Robert Johnson (1933). Aspects of Athenian Democracy Vol. 11. University of California Press. hlm. 25–86. • ^ Graves (1981). hlm. 40. • ^ Shintia Dwi Alika; Fathur Rokhman; Haryadi Haryadi (8 November 2017). "Upaya Pemertahanan Bahasa Minangkabau Ragam Nonformal Pada Komunitas Seni Sakato di Kota Yogyakarta". Jurnal Bahasa dan Sastra-LINGUA.

Universitas Negeri Semarang. Vol.XIII (No.2): 194. eISSN 2549-3183. Bahasa daerah suku minangkabau dari versi asli tanggal 2020-07-03. Diakses tanggal 20 Januari 2021. • ^ Drs. Akral, MM (4 Desember 2014). Nina Firstavina, ed. "Orang Minangkabau Merantau guna Mengentaskan Kemiskinan".

Biro Organisasi Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Barat. 55 (VI). Dirjen Cipta Karya- Kemen PUPR RI. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-01-20. Diakses tanggal 2021-01-21. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • ^ Vivi Emita; Zusmelia; Marleni bahasa daerah suku minangkabau. "Peran Perantau Terhadap Pembangunan Di Jorong Galogandang, Nagari III Koto Kec.

Rambatan, Kab. Tanah Datar". Jurnal Ilmu Sosial MAMANGAN. STKIP PGRI Sumbar. Vol.II (No.1): 5. ISSN 2301-8496. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-08-07. Diakses tanggal 20 Januari 2021. • ^ "Tabel Hasil Sensus Penduduk 2010 Provinsi DKI Jakarta". Badan Pusat Statistik. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-11-13. Diakses tanggal 2012-03-11. • ^ "Key Summary Statistics For Local Authority Areas, Malaysia 2010" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2015-02-05. Diakses tanggal 2012-06-14.

• ^ Badan Pusat Statistik, Sensus 2000. • ^ a b c Naim, Mochtar. Merantau, Minangkabau Voluntary Migration. University of Singapore. • ^ a b Kato, Tsuyoshi (2005). Adat Minangkabau dan Merantau dalam Perspektif Sejarah. Balai Pustaka. ISBN 979-690-360-1.

• ^ "Peran Budaya Melayu dan Kewirausahaan". Bappeda Kota Pekanbaru. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-06-19. • ^ Andaya, Barbara Watson (1997). Recreating a Vision.

Daratan and Kepulauan in Historical Context. hlm. 503. • ^ Munoz, Paul Michel (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. • ^ Dobbin, Christine. Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Paderi, Minangkabau 1784–1847. • ^ "Melayu-Bugis-Melayu dalam Arus Balik Sejarah". www.rajaalihaji.com. 2008-12-24. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-02-15. Diakses tanggal 2011-07-22.

• ^ M. J. Melalatoa, Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1995 • ^ Daniel Perret, Kolonialisme dan Etnisitas, Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut, École Franc̦aise d'Extrême-Orient, 1995 • ^ a b Agus Setiyanto, Elite Pribumi Bengkulu: Perspektif Sejarah Abad ke-19, Balai Pustaka, 2001 • ^ Suwarno, Sintaksis Bahasa Muko-Muko, 1993 • ^ Umar Manan, Zainuddin Amir (1986) Struktur Bahasa Muko-Muko (1986) Diarsipkan 2019-02-16 di Wayback Machine.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. • ^ Said, C., (1986), Struktur bahasa Minangkabau di Kabupaten Kampar, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. • ^ Purna, I. M., Sumarsono, Astuti, R., Sunjata, I. W. P., (1997), Sistem pemerintahan tradisional di Riau, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan • ^ Ruswan, Ruswan,; M.S., Suwardi M.S., Suwardi; Abnadani, Latifah Abnadani, Latifah (1986). "Struktur Bahasa Melayu Dialek Kuantan (1986)". repositori.perpustakaan.kemdikbud.go.id (dalam bahasa Inggris).

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-08-26. Diakses tanggal 2018-08-26. • ^ a b de Josselin de Jong, P. E., (1951), Minangkabau and Negri Sembilan, Leiden, The Hague. • ^ Situs Resmi Kerajaan Negeri Sembilan, Sejarah Berdiri http://www.ns.gov.my/my/kerajaan/info-negeri/sejarah-penubuhan Diarsipkan 2019-10-08 di Wayback Machine.

• ^ Zed, Mestika Hubungan Minangkabau Dengan Negeri Sembilan. Working Paper. FIS UNP, Padang. • ^ Idris Aman, Norsimah Mat Awal, & Mohammad Fadzeli Jaafar (2016). Imperialisme Linguistik, Bahasa Negeri Sembilan dan Jati Diri: Apa, Mengapa, Bagaimana Diarsipkan 2018-10-14 di Wayback Machine. International Journal of the Malay World and Civilisation (Iman), 4(3): 3 - 11. • ^ Watson, C. W. (1982). "Rawa and Rinchi: A Further Note". Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society.

55 (1 (242)): 82–86. ISSN 0126-7353. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-08-04. Diakses tanggal 2019-08-04. • ^ MILNER, A.C. (1978). "A NOTE ON 'THE RAWA '". Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society.

51 (2 (234)): 143–148. ISSN 0126-7353. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-08-05. Diakses tanggal 2019-08-05. • ^ Castles, Lance (1967).

Religion, Politics, and Economic Behaviour in Java: The Kudus Cigarette Industry. Yale University. • ^ a b Syamdani (2009). PRRI, Pemberontakan atau Bukan. Media Pressindo.

ISBN 978-979-788-032-3. • ^ Rizqi Handayani. "Syair Fi Kaifiyat Al-Hajj : Perjalanan Haji Sebagai Bentuk Migrasi Muslim Minangkabau". Jurnal Manuskrip Nusantara (JUMANTARA). Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 4 (01): 98. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-07-03. Diakses tanggal 20 Januari 2021. • ^ Poeze, Harry A. In Het Land van de Overheerser: Indonesiër in Nederland 1600-1950. • ^ Radjab, Muhammad (1950). Semasa Ketjil di Kampung (1913-1928): Autobiografi Seorang Anak Minangkabau.

Jakarta: Balai Pustaka. • ^ "Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Ma'arif, Satu Nomor Contoh Produk Tradisi Merantau".

ANTARA. 2008-11-05. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-07-07. Diakses tanggal 2011-07-22. • ^ Hendra Cipta (31 Desember 2019). "Faktor Determinan Jiwa Berwirausaha Pedagang Minang Perantauan". Jurnal SOCIETY. Universitas Bangka Belitung. Vol.7 bahasa daerah suku minangkabau. doi: 10.33019/society.v7i2.110. eISSN 2597-4874. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-08-13. Diakses tanggal 2021-01-21.

• ^ Zulfikarni; Siti Ainim Liusti. "Merawat Ingatan: Filosofi Merantau di Dalam Pantun-pantun Minangkabau". Jurnal SASDAYA. Universitas Gadjah Mada. Vol.4 (No.1): 18–19. doi: bahasa daerah suku minangkabau. eISSN 2549-3884. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-08-25. Diakses tanggal 2021-01-21. • ^ Van R.W., Bemmelen (1970).

The Geology of Indonesia. The Haque. • ^ P., Wheatley (1961). The Golden Khersonese. Kuala Lumpur. hlm. 177–184. • ^ A., Cortesao (1944). The Suma Oriental of Tome Pires. London: Hakluyt Society. • ^ W., Marsden (1811). The History of Sumatra. London. • ^ NA, VOC (1277). Mission to Pagaruyung. Fols. 1027r-v. • ^ De Haan, F. (1896). Naar Midden Sumatra in 1684. Batavia: Albrecht & Co. • ^ A., Tobler (1911). Djambi-Verslag. Jaarboek van het Minjwezen in Nedelandsch Oost-Indie: Verhandelingen.

XLVII/3. • ^ Raffles, Sophia (1830). Memoir of the Life and Public Services of Sir Thomas Stamford Raffles. London: J. Murray. • ^ a b Kahin, Audrey R. (2005). Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatra Barat dan Politik Indonesia, 1926-1998. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-519-5. • ^ Suparlan, Parsudi (1995). Orang Sakai di Riau. hlm. 73. • ^ Novi Muharrami (5 Agustus 2009). "Merantau, Film Action Indonesia ala Jackie Chan".

Okezone.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-01-11. Diakses tanggal 20 Januari 2021. • ^ Majalah Tempo Edisi Khusus Tahun 2000. Desember 1999. • ^ Tim Wartawan Tempo (2010). 4 Serangkai Pendiri Republik.

Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. • ^ Empat bahasa daerah suku minangkabau Republik Indonesia adalah Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka. • ^ Rujukan situs, jurnal dan pustaka: • Zulkarnain (14 Juni 2017). "Kisah 3 Ulama Minang Menyebarkan Islam dengan Damai di Sulawesi Selatan". okezone. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-01-19.

Diakses tanggal 28 November 2020. • Daton, Zakarias Demon (28 Agustus 2019). Aprillia Ika, ed. "Menelisik Jejak Sejarah Samboja dan Sepaku, 2 Kecamatan yang Ditunjuk Jadi Ibu Kota Baru". kompas.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-01-15.

Diakses tanggal 28 November 2020. • Nurdin, M.Com.,Ph.D; Dr. Harsul Maddini, M.Pd.I (2018). Khaeruddin Yusuf, S.Pd.I, M.Phil, ed. "Sejarah Dato Karama (Abdullah Raqie) Ulama Pembawa Islam Dari Minangkabau Ke Sulawesi Tengah". IAIN Palu Press. ISBN 9786026081384. Diakses tanggal 28 November 2020. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • Abdullah, Anzar (2016). "Islamisasi di Sulawesi Selatan Dalam Perspektif Sejarah".

Paramita. Vol.26 (No.1): 86–94. eISSN 2407-5825. ISSN 0854-0039. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-02-23. Diakses tanggal 28 November 2020. • Syawal, Ismail (2019). "Syekh Abdullah Raqi: Orang Minangkabau Penyebar Islam di Palu pada Abad XVII".

bahasa daerah suku minangkabau

Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol.5 (No.2): 189–212. doi: 10.36424/jpsb.v5i2.131. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-05-08. Diakses tanggal 28 November 2020. • Sewang, Ahmad M. (2005). Islamisasi Kerajaan Gowa: abad XVI sampai abad XVII.

Yayasan Obor Indonesia. hlm. 89–99. ISBN 9794615307. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-05-08. Diakses tanggal 28 November 2020. Lebih dari satu parameter -isbn13= dan -isbn= yang digunakan ( bantuan) • ^ "Budaya Merantau Orang Minang (1) Bahasa daerah suku minangkabau di Bulan Ada Kehidupan" Periksa nilai -url= ( bantuan). Pos Metro Padang. 2008-10-10. Diakses tanggal 2011-07-24. [ pranala nonaktif] • ^ Azyumardi, Azra (2008). Membangkik Batang Tarandam, Reinventing Indonesia: Menemukan Kembali Masa Depan Bangsa.

Mizan. • ^ Aceng Abdullah; Jimi Narotama Mahameruaji; Evi Rosfiantika (2018). "Si Doel Anak Sekolahan, Sinetron Indonesia Paling Fenomenal (Tinjauan Ilmu Komunikasi Atas Sinetron Si Doel Anak Sekolahan)". Jurnal Kajian Televisi dan Film-ProTVF. Universitas Padjadjaran). Vol.2 (No.2): 210–211. doi: 10.24198/ptvf.v2i2.20822. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-09-08. Diakses tanggal 20 Januari 2021. • ^ Cave, J.; Nicholl, R; Thomas, P.

L.; Effendy, T. (1989). Syair Perang Siak: A Court Poem Presenting the State Policy of a Minangkabau Malay Royal Family in Exile. Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society. • ^ "Losing a Big Part of Our Heritage". New Straits Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-05-09. • ^ "Mengenang Sastrawan Rustam Effendi". Tempo Interaktif. 1979-06-02. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-11-04. Diakses tanggal 2011-07-22.

• ^ "Sir Azra dan Islam Indonesia". Okezone.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-03-07. Diakses tanggal 2012-03-12. Bacaan lanjutan • Kaiser, Astrid (1996). Mädchen und Jungen in Einer Matrilinearen Kultur. Interaktionen und Wertvorstellungen bei Grundschulkindern im Hochland der Minangkabau Auf Sumatra. Hamburg: Kovac.

ISBN 3-86064-419-X. • Metje, Ute Marie (1995). Die Starken Frauen. Gespräche Uber Geschlechterbeziehungen bei den Minangkabau in Indonesien. Frankfurt am Main und New York: Campus. ISBN 3-593-35409-8.

• Dieter, Weigel (1998). Reisemosaik bei den Minangkabau. Sumatra. Heiteres, Ernstes, Alltägliches, Unglaubliches. Hamburg: Jahn und Ernst. ISBN 3-89407-208-3. (Erlebnisbericht). • Navis, A.A. Curaian Adat Minangkabau. Pranala luar Koto Tuo • Kampung Tonga • Koto Baru • Suku Moneiliang • Caniago • Melayu • Patopang • Piliang • Nan Tigo • Nan Ompek • Nan Limo • Nan Onam • Piliang Lowe • Piliang Soni • Caromin (Camin/Cermin) • Mandahiliang • Kampung Salapan • Tigo Kampuang • Limo Kampuang • Piliang Atas • Piliang Bawah • Piabadar (Payobada) • Bendang • Kampai • Koto Piliang • Piliang Godang • Piliang Kociak • Piliang Tonga Suku-suku Minang di Kampar Alfur • Alune • Amahai • Bahasa daerah suku minangkabau • Aputai • Asilulu • Babar Tenggara • Babar Utara • Banda • Barakai • Bati • Batuley • Benggoi • Boano • Bobot • Buli • Buru • Dai • Damar Barat • Damar Timur • Dawera-Daweloor • Dobel • Elpaputih • Emplawas • Fordata • Galela • Gamkonora • Gane • Gebe • Geser-Gorom • Gorap • Haruku • Hitu • Bahasa daerah suku minangkabau • Hoti • Huaulu • Hukumina • Hulung • Ibu • Ili'uun • Imroing • Kadai • Kaibobo • Kamarian • Kao • Karey • Kayeli • Kei • Kisar • Koba • Kola • Kompane • Kur • Laba • Laha • Larike-Wakasihu • Latu • Leti • Liana-Seti • Lisabata-Nuniali • Lisela • Lola • Loloda • Lorang • Loun • Luang • Luhu • Maba • Makian Barat • Makian Timur • Melayu Ambon • Melayu Bacan • Melayu Banda • Melayu Maluku Utara • Mangole • Manipa • Manombai • Manusela • Mariri • Masela Barat • Masela Tengah • Masela Timur • Masiwang • Modole • Moksela • Naka'ela • Nila • Nuaulu ( Naulu Selatan • Naulu Utara) • Nusa Laut • Oirata • Pagu • Palumata • Patani • Paulohi • Perai • Piru • Roma • Sahu • Salas • Saleman • Saparua • Sawai • Seit-Kaitetu • Selaru • Seluwasan • Sepa • Serili • Serua • Sula • Tabaru • Taliabu • Talur • Tarangan Barat • Tarangan Timur • Tela-Masbuar • Teluti • Teor • Ternate • Ternateño 1 • Te'un • Tidore • Tobelo • Tugun • Togutil • Tulehu • Ujir • Waioli • Watubela • Wemale ( Selatan • Utara) • Yalahatan • Yamdena Abinomn 3 • Abun 3 • Aghu • Airoran • Ambai • Amungme • Anasi • Ansus • Arandai • Arfak • Arguni • As • Asmat ( Asmat Pantai Kasuari • Asmat Tengah • Asmat Utara • Asmat Yaosakor) • Atohwaim • Auye • Awbono • Awera • Awyi • Awyu Asue • Awyu Tengah • Awyu Edera • Awyu Jair • Awyu Utara • Awyu Selatan • Bagusa • Baham • Barapasi • Bauzi • Bayono • Bedoanas • Beneraf • Berik • Betaf • Biak • Biga • Biritai • Bonggo • Burate • Burmeso • Burumakok • Buruwai • Busami • Citak • Citak Tamnim • Dabe • Damal • Dani ( Dani Lembah Bawah • Dani Lembah Tengah • Dani Lembah Atas • Dani Barat) • Dao • Dem • Demisa • Dera • Diebroud • Dineor • Diuwe • Doutai • Duriankere • Dusner • Duvle • Edopi • Eipomek • Ekari • Elseng 3 • Emem • Empur • Eritai • Erokwanas • Fayu • Fedan • Foau • Gresi • Hatam 3 • Hupla • Iau • Iha • Iha Pijin 4 • Irarutu • Iresim • Isirawa • Itik • Iwur • Jofotek-Bromnya • Kaburi • Kais • Kaiy • Kalabra • Kamberau • Kamoro • Kanum Bädi • Kanum Ngkâlmpw • Kanum Smärky • Kanum Sota • Kapauri • Kaptiau • Karas • Karon Dori • Kaure • Kauwera • Kawe • Kayagar • Kayupulau • Kehu 5 • Keijar • Kemberano • Kembra 5 • Kemtuik • Ketengban • Ketum • Kimaghima • Kimki • Kimyal • Kirikiri • Kofei • Kokoda • Kombai • Komyandaret • Konda • Koneraw • Kopkaka • Korowai • Korupun-Sela • Kosare • Kowiai • Kuri • Kurudu • Kwer • Kwerba • Kwerba Mamberamo • Kwerisa • Kwesten • Kwinsu • Legenyem • Lepki 5 • Liki • Maden • Mai Brat • Mairasi • Maklew • Melayu Papua • Mander • Mandobo Atas • Mandobo Bawah • Manem • Manikion • Mapia • Marau • Marind • Marind Bian • Masimasi • Massep 3 • Matbat • Mawes • Ma'ya • Mekwei • Meoswar • Mer • Meyah • Mlap • Mo • Moi • Molof 5 • Mombum • Momina • Momuna • Moni • Mor • Mor • Morai • Morori • Moskona • Mpur 3 • Munggui • Murkim 5 • Muyu Utara • Muyu Selatan • Nafri • Nakai • Nacla • Namla 5 • Narau • Ndom • Nduga • Ngalum • Nggem • Nimboran • Ninggerum • Nipsan • Nisa • Obokuitai • Onin • Onin Pijin 4 • Ormu • Orya • Papasena • Papuma • Pom • Puragi • Rasawa • Riantana • Roon • Samarokena • Saponi • Sauri • Sause • Saweru • Sawi • Seget • Sekar • Semimi • Sempan • Sentani • Serui-Laut • Sikaritai • Silimo • Skou • Sobei • Sowanda • Sowari • Suabo • Sunum • Tabla • Taikat • Tamagario • Tanahmerah • Tandia • Tangko • Tarpia • Tause • Tebi • Tefaro • Tehit • Tobati • Tofanma 5 • Towei • Trimuris • Tsaukambo • Tunggare • Una • Uruangnirin • Usku 5 • Viid • Vitou • Wabo • Waigeo • Walak • Wambon • Wandamen • Wanggom • Wano • Warembori • Wares • Waris • Waritai • Warkay-Bipim • Waropen • Wauyai • Woi • Wolai • Woria • Yahadian • Yale Kosarek • Yali Angguruk • Yali Ninia • Yali Lembah • Yaqay • Yarsun • Yaur • Yawa • Yei • Yelmek • Yeretuar • Yetfa • Yoke • Zorop Kategori tersembunyi: • Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Halaman dengan rujukan yang memiliki parameter duplikat • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • CS1: Ketidakpastian Julian–Gregorian • Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun • Templat webarchive tautan wayback • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Halaman dengan galat URL • "Related ethnic groups" needing confirmation • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan April 2022 • Pranala kategori Commons ditentukan secara lokal • Halaman ini terakhir diubah pada 25 April 2022, pukul 05.28.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; bahasa daerah suku minangkabau tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
none
3.9/5 - (8 votes) Minangkabau atau seringkali disingkat dengan Minang adalah kata yang mengacu pada suku atau kelompok etnis sesuai adat istiadat Minang.

Umumnya suku ini menganut agama Islam. Orang Minang sangat dikenal dengan sistem kekerabatan matrilineal, yaitu masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu. Secara geografis, Minangkabau meliputi Sumatera Barat, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, sebagian Riau, pantai barat Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan Negeri Sembilan di Malaysia. Masyarakat awam seringkali menyebut “orang Minang” dengan sebutan “orang Padang”.

Hal tersebut merujuk jika Padang merupakan ibukota dari Sumatera Barat. Meskipun sebenarnya orang Minang mengidentifikasi kelompoknya dengan sebutan “urang awak”. Akan tetapi maksud dari ketiga istilah tersebut dianggap sama. Daftar Isi • Sejarah Suku Minangkabau • Suku di Minangkabau • Agama Suku Minangkabau • Sistem Kekerabatan Matrilineal • Bahasa Minangkabau • Olahraga Suku Minangkabau • Perkawinan Suku Minangkabau • Kuliner Asal Minangkabau • Kesenian Minangkabau • Baju Adat Minangkabau Sejarah Suku Minangkabau Konon nenek moyang suku Minangkabau adalah keturunan Iskandar Zulkarnain atau Alexander The Great.

Orang Minang merupakan salah stau bagian dari rakyat Deutro Melayu atau Melayu Muda yang melakukan migrasi dari daratan Cina Selatan menuju Pulau Sumatera. yuksinau.id Migrasi ini bahasa daerah suku minangkabau sekitar 2.000 hingga 2.500 tahun yang lalu.

Mereka masuk dari arah timur Pulau Sumatera, kemudian menyusuri aliran sungai Kampar hingga ke dataran tinggi. Wilayah inilah yang kemudian menjadi kampung halaman orang Minang. Orang Minang dan Melayu pada awalnya dianggap sama. Hingga pada abad ke-19, penyebutan orang Minang dan orang Melayu mulai dibedakan berdasarkan tradisi matrilineal dan patrilineal. Hukum adat Minangkabau menjalankan sistem kekerabatan matrilineal hingga saat ini kini.

Sementara adat istiadat Melayu menjalankan sistem kekerabatan patrilineal. Suku di Minangkabau Etnis Minangkabau terbagi menjadi banyak klan atau suku. Budaya Minangkabau dibentuk oleh Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang.

Di masa awal pembentukan budaya Minang, hanya ada 4 suku awal, yaitu Klan Koto, Klan Bodi, Suku Caniago, dan Klan Piliang. Keempat klan ini terbagi menjadi 2 sistem kekuasaan adat yang disebut sebagain Kelarasan. baca juga: Pantai Semeti, Lombok - Bertabur Tajamnya Batuan Karang Nama-nama klan atau suku dari etnis Minangkabau berasal dari bahasa Sansekerta. Bahasa Sansekerta adalah jenis baha yang mendapat pengaruh dari bahasa Hindu dan Buddha yang sangat berkembang di kala itu.

Seiring dengan perkembangan budaya dan bahasa Minang, nama-nama tersebut kemudian berkembang pengucapannya sesuai dengan logat orang Minang. Selanjutnya, bahasa yang berkembang tersebut mendapat pengaruh dari agama Islam.

Beberapa suku Minang yang berkembang dari 4 klan awal, antara lain: • Payobada • Putopang • Sikumbang • Tanjuang • Panai • Guci • Panyalai • Jambak • Bendang • Kampai • Kutianyie • Malayu • Sipisang • Mandailiang • Mandaliko • Sumagek • Singkuan • Dalimo • Supanjang • Sumpadang • Domi Suku-suku yang disebutkan diatas adalah suku umum di Minangkabau.

Masih banyak suku atau klan lainnya hasil dari 4 suku awal Minang. Agama Suku Minangkabau Beberapa bukti arkeologis menunjukkan masyarakat awal Minangkabau pernah memeluk agama Buddha pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, Dharmasraya, hingga masa pemerintahan Asityawarman dan anaknya Ananggawarman.

Setelah itu, muncul Kerajaan Pagaruyung yang menganut agama Islam dan menggunakan hukum Islam dalam sistem pemerintahannya.

wego.co.id Sekitar tahun 1803, Haji Sumanik, Haji Miskin, dan Haji Piobang datang dari Mekkah. Ketiganya memainkan peranan penting dalam penyebaran agama Islam dan bahasa daerah suku minangkabau hukum Islam di pedalaman Minangkabau.

Saat ini, agama Islam telah mengakar pada adat istiadat Minangkabau. Jika ada anggota masyarakat Minang yang keluar dari agama, maka yang bersangkutan secara langsung dianggap keluar dari masyarakat Minang. Tradisi ini disebut dengan “dibuang sepanjang adat”. Ia akan dikucilkan dari pergaulan dan tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan adat. Namun bahasa daerah suku minangkabau masih diperbolehkan tinggal di wilayah tersebut.

Hukuman “dibuang sepanjang adat” juga akan diberikan kepada anggota masyarakat yang melakukan kesalahan adat lainnya, misalnya merampok, berzina, hingga membunuh.

Mereka akan dibuang dalam jangka waktu tertentu, bahkan hingga tak terbatas. Sistem Kekerabatan Matrilineal Membicarakan orang Minang, hal pertama yang biasa diingat adalah sistem kekerabatan matrilineal yang mereka anut.

Sistem ini menjadi identitas etnis Minang. Pihak perempuan adalah pewaris harta pusaka dan kekerabatan. Garis keturunan merujuk pada ibu dan disebut sebagai Samandeyang berarti seibu atau satu ibu. Pihak ayah disebut sebagai Sumando yang berarti ipar.

Sedangkan Sumandi dianggap sebagai tamu di dalam keluarga. Perempuan memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan yang akan dibuat oleh para lelaki dalam posisi mereka sebagai mamak, atau paman dari pihak ibu. Bahkan wanita juga berperan dalam keputusan yang diambil oleh penghulu atau kepala suku. Perempuan diibaratkan sebagai pilar utama rumah, atau dalam bahasa Minang disebut Limpapeh Tumah Nan Gadang.

Kekuasaan di masyarakat Minangkabau sangat bergantung pada aset bahasa daerah suku minangkabau, oleh karena itu pihak perempuan sangat berkuasa. Akan tetapi, kaum lelaki di keluarga perempuan masih memiliki otoritas di komunitasnya. Bahasa Minangkabau Bahasa yang digunakan orang Minang termasuk ke dalam bahasa daerah suku minangkabau bahasa Austronesia. Banyak yang berpendapat bahwa bahasa Minang banyak terpengaruh dari bahasa Melayu, karena ada banyak kesamaan kosakata maupun dialek.

Namun banyak juga yang menentang pendapat ini, mereka berpendapat bahwa bahasa Minang adalah bahasa yang mandiri dan tak ada sangkut pautnya sama sekali dengan bahasa Melayu. Saat ini terdapat beberapa dialek dalam bahasa Minang, tergantung dari daerah yang mereka tinggali.

Dalam perkembangannya, bahasa Minang juga mendapat pengaruh dari bahasa lain. Umumnya masyarakat Minang mendapat pengaruh dari bahasa Arab, Sansekerta, Persia, dan Tamil. Dalam tulisan, awalnya orang Minang menggunakan aksara Dewanagari, Pallawa, dan Kawi. Kemudian seiring dengan masuknya pengaruh Islam, ditemukan juga tulisan orang Minang dalam bahasa Jawi. Aksara-aksara tersebut digunakan sebelum mereka mengganti dengan pemakaian alfabet Latin.

Olahraga Suku Minangkabau Masyarakat Minang mempunyai kebiasaan berolahraga sejak dulu dan jeberapa jenis olahraga masih dilakukan hingga saat ini. Kegiatan olahraga berkaitan erat dengan sistem kekerabatan di dalam masyarakat Minang yang kuat. Sehingga ada banyak kegiatan adat istiadat dan tradisi yang dilakukan secara bersama-sama.

kabar.news Beberapa olahraga yang masih dilakukan hingga kini adalah pacuan kuda, lomba pacu jawi, pacu itik, dan sipak rago atau sepak takraw. Keempat olahraga ini hanya bisa dilakukan secara bersama-sama. baca juga: Tari Barong - Sejarah, Mitos, Jenis, Kostum, Alur Cerita, Keunikan & Perkembangan Perkawinan Suku Minangkabau Dalam masyarakat Minang, prosesi pernikahan disebut sebagai Baralek.

Pada umumnya, Baralek terdiri dari 3 tahapan, yaitu: • Maminang merupakan proses meminang atau lamaran • Majapuik Marapulai merupakan proses menjemput pengantin pria • Basandiang adalah proses bersanding di pelaminan.

Kuliner Asal Minangkabau Di Indonesia, masakan asal Minang sangat populer dan disebut sebagai masakan Padang. Bahkan hampir di setiap daerah di Indonesia terdapat rumah makan Padang.

selerasa.com Banyak jenis masakan Padang yang digemari orang Indonesia dari berbagai macam suku. Beberapa makanan khas Minang yang menjadi favorit adalah rendang, dendeng balado, sate Padang, soto Padang, asam pedas, dan lain-lain.

Bahkan rendang pernah dinobatkan sebagai salah satu hidangan paling lezat di seluruh dunia. Kesenian Minangkabau Etnis Minang adalah salah satu kelompok masyarakat yang mempunyai eksistensi besar di Indonesia, termasuk dalam kesenian. Kesenian Minang tersebut meliputi upacara adat, tari tradisiopnal dan sebagainya. Beberapa contoh tarian khas Minangkabau antara lain: • Tari Pasambahan • Tari Piring • Silek atau Silat Minangkabau • Randai • Salawat Dulang Selain itu, masyarakat Minang juga dikenal karena seni berkata-kata.

Setidaknya ada 3 jenis aliran seni berkata-kata, yaitu pasambahan atau persembahan, indang dan salawan dulang. Seni berkata-kata ini populer disebut bersilat lidah. Dinamakan demikian karena lebih menonjolkan sisi sindiran, kiasan, ibarat, alegori, metafora dan aforisme. Kesenian berkata-kata ini diajarkan agar orang Minang mampu menjaga kehormatan dan harga diri mereka meski tanpa kontak fisik atau senjata.

Baju Adat Minangkabau Pakaian tradisional khas Minangkabau dikenal dengan nama Bundo Kanduang atau juga disebut Limpapeh Rumah Nan Gadang.

Keunikan pakaian ini terdapat pada bentuk penutup kepala yang menyerupai tanduk kerbau atau atap dari rumah gadang. Bundo Kanduang adalah baju tradisional Minangkabau yang dikenakan bahasa daerah suku minangkabau perempuan Minang yang telah menikah.

Sedangkan untuk acara adat lain seperti pernikahan menggunakan pakaian tradisional lainnya. Berikut adalah pakaian tradisional wanita Minangkabau, terdiri dari Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang, Tingkuluak (Tengkuluk), Baju Batabue, Lambak, Salempang dan Perhiasan. Sedangkan baju tradisional pria Minangkabau terdiri dari Deta, Baju, Sarawa, Sasampiang, Cawek, Sandang, Keris dan Tongkat.• Aplikasi Pendidikan Daftar Aplikasi Pendidikan Bermanfaat • Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi negara kita • Biologi Biologi adalah ilmu mengenai kehidupan • Ekonomi Ekonomi adalah platform dimana sektor industri melekat diatasnya • Fisika Fisika adalah ilmu mengenai alam • Geografi Geografi adalah ilmu yang mempelajari tentang Bumi • Inggris Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling banyak digunakan • IPS IPS adalah penyederhanaan dari disiplin ilmu-ilmu sosial • Matematika Matematika adalah ilmu tentang logika • PAI PAI adalah pendidikan mengenai agama Islam • Penjasorkes Penjasorkes adalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan • PKN PKN adalah pendidikan agar menjadi warga negara yang baik • Sejarah Sejarah adalah ilmu yang mempelajari masa lampau • Seni Budaya Seni budaya adalah keahlian dalam mengekspresikan ide • Sosiologi Sosiologi adalah ilmu yang tentang perilaku sosial • TIK TIK adalah berbagai aspek yang melibatkan teknologi Minangkabau atau Minang merupakan sebuah kelompok etnis di Nusantara yang berbahasa sekaligus menjunjung tinggi nilai adat Minangkabau.

Suku Minangkabau menjadi salah satu suku yang terbesar bahasa daerah suku minangkabau paling terkenal di Indonesia yang terletak di Sumatera Barat. Wilayah kebudayaan dari Minangkabau meliputi daerah bagian Sumatera Barat, separuh di daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatera Utara, barat daya Aceh, serta Negeri Sembilan di Malaysia.

Orang minang seringkali disamakan dan juga disebut sebagai orang Padang, hal tersebut tidak lain karena Padang merupakan ibu kota dari provinsi Sumatera Barat. Meski demikian, warga minang biasanya akan menyebut kelompok etnisnya dengan sebutan urang awak, yang merujuk pada orang minang itu sendiri.

Suku Minangkabau juga sudah menerapkan sistem proto-demokrasi sejak pada masa pra-Hindu dengan munculnya kerapatan adat dengan tujuan menentukan hal-hal penting untuk suku dan juga permasalahan hukum.

Adapun prinsip dari Suku Minangkabau yang telah tertuang secara singkat di dalam pernyataan Adat basandi syarak (Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al-Qur’an) yang memiliki arti adat dengan landasan ajaran agama Islam. Suku Minangkabau juga sangat menonjol di sektor bidang perdagangan, khusunya sebagai profesional dan intelektual.

Orang minang merupakan pewaris utama dan terhormat dari tradisi tua Kerajaan Melayu dan Sriwijaya yang dulunya sangat gemar dalam kegiatan berdagang dan dinamis. Hampir setengah dan total keseluruhan anggota masyarakat mianng berada dalam perantauan. Daftar Isi • Suku Minangkabau • Agama Suku Minangkabau • Adat dan Budaya Suku Minangkabau • Matrilineal • Bahasa Suku Minangkabau • Kesenian Suku Minangkabau • Olahraga Suku Minangkabau • Rumah Adat Suku Minangkabau • Perkawinan Suku Minangkabau • Masakan khas Suku Minangkabau • Sosial Kemasyarakatan • Persukuan • Nagari • Penghulu • 7 Unsur Kebudayaan Suku Minangkabau • Kerajaan Suku Minangkabau • Pakaian Adat Suku Minangkabau • Baju Adat Sumatera Barat • Baju Adat Minangkabau Wanita • Baju Adat Tradisional Pria Minangkabau Suku Minangkabau Nama dari Minangkabau bersala dari dua kata, yakni minang dan kabau.

Nama tersebut dikait-kaitkan dengan suatu legenda khas Minang yang disebut di dalam tambo. Di dalam tambo disebutkan bahwa, tambo yang diterima secara turun-temurun, mengisahkan bahwa nenek moyang Suku Minangkabau berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain.

Meskipun tambo tidak terseusun secara sistematis sebab lebih menonjol kepada legenda yang tidak sesuai dengan fakta dan cenderung merujuk ke sebuah karya sastra yang telah menjadi kepunyaan masyarakat banyak.

Kisah tambo ini juga banyak dibandingkan dengan Sulalatus Salatin yang juga di dalamnya menceritakan mengenai bagaimana rakyat minangkabau mengutus wakilnya untuk meminta Sang Sapurba. Yang merupakan salah seorang keturunan Iskandar Zulkarnain untuk menjadi raja mereka. Massyarakat suku minang merupakan salah bagian dari rakyat Deutro Melayu (Melayu Muda) yang melakukan migrasi dari daratan China Selatan menuju pulau Sumatera sekitar tahun 2.500 – 2.000 yang lalu.

Konon, kelompok etnis ini masuk dari arah timur pulau Sumatera yang kemudian menyusuri aliran sungai Kampar hingga sampai ke dataran tinggi yang disebut dengan darek serta menjadi kampung halaman orang Minangkabau.

Beberapa wilayah dari darek ini lalu membentuk semacam konfederasi yang dikenal dengan sebutan luhak, yang kemudian juga dikenal dengan nama Luhak Nan Tigo. Konfederasi tersebut terdiri dari Luhak Limo Puluah, Luhak Agam, serta Luhak Tanah Data. Di masa pemerintahan Hindia-Belanda, daewah dari kawasan luhak tersebut menjadi daerah teritorial pemerintahan yang disebut dengan afdeling.

Daerah tersebut dikepalai oleh seorang residen yang disebut dengan nama Tuan Luhak oleh msyarakat suku minangkabau. Pada awalnya, sebutan orang minang masih sama dengan orang Melayu, namun sejak abad ke-19. Penyebutan kata Minang dan Melayu mulai dibedakan dilihat dari budaya matrilineal yang tetap bertahan serta berbanding dengan patrilineal yang dianut oleh masyarakat Melayu umumnya. Sehingga, pengelompokan tersebut terus berlangsung hingga kini demi kepentingan sensus penduduk ataupun politik.

Baca juga: Suku Dayak Agama Suku Minangkabau Agama dari Suku Minangkabau adalah Islam, dan jikalau ada salah seorang dari rakyat minang keluar dari agama islam. Itu berarti yang bersangkutan juga telah dianggpap keluar dari masyarakat Suku Minangkabau, dalam istilah juga mempunyai sebutan “dibuang sepanjang adat”. Adat dan Budaya Suku Minangkabau Dalam tambo disebutkan bahwa, sistem yang digunakan Suku Minangkabau pertama kali dicetuskan oleh dua orang bersaudara yang bernama Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang.

Datuk Ketumanggungan mewariskan sistem adat Koto Piliang yang bercorak aristokratis, sedangkan untuk Datuk Perpatih mewariskan sistem adat Bodi Caniago yang bercorak egaliter. Di dalam perjalanan suku minang, kedua sistem adat tersebut dikenal selaras dan saling mengisi serta membentuk sistem masyarakat dari Minangkabau.

Di dalam suku minang, terdapat tiga pilar bahasa daerah suku minangkabau membangun serta menjaga keutuhan budaya dan adat istiadat suku minang. Ketiga pilar tersebut adalah alim ulama, cerdik pandai, dan ninik mamak, yang juga dikenal dengan istilah Tungku Tigo Sajarangan. Ketiga pilar tersebut saling mengisi dan bahu membahu dalam posisi yang sama tingginya. Dalam masyarakat Minangkabau yang demokratis dan corak egaliter, semua urusan masyarakat dimusyawarahkan oleh ketiga unsur itu dengan cara mufakat.

Matrilineal Hingga saat ini, masyarakat minangkabau merupakan masyarakat penganut matrilineal terbesar yang ada di dunia. Matrilineal sendiri adalah salah satu aspek utama yang mengidentifikasikan identitas rakyat minang. Adat dan budaya rakyat minang menempatkan pihak perempuan bertindak sebagai pewaris harta pusaka serta kekerabatan.

Garis keturunan merujuk pada ibu yang dikenal dengan nama Samande (se-ibu), sedangkan ayah disebut dengan nama Sumando (ipar) oleh rakyat minang serta diperlakukan layaknya tamu di dalam kelurga.

Kaum perempuan di dalam suku minangkabau mempunya kedudukan yang istimewa sehingga dijuluki dengan sebutan Bundo Kanduang.

Kaum perempuan berperan dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan keputusan yang dibuat oleh kaum lelaki dalam posisi mereka sebagai mamak (paman atau saudara dari pihak ibu), serta penghulu (kepala suku). Karena pengaruhnya yang besar, menjadikan kaum perempuan rakyat minang disimbolkan sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang (pilar utama rumah).

Walau kekuasaan suku minang sangat dipengaruhi oleh penguasaan terhadap aset ekonomi namun kaum lelaki dari keluarga pihak perempuan tersebut masih tetap memegang otoritas atau mempunyai legitimasi kekuasaan pada komunitasnya. Bahasa Suku Minangkabau Bahasa dari suku minang termasuk ke dalam bahasa daerah suku minangkabau satu anak cabang rumpun bahasa Austronesia. Meski demikian, ada perbedaan pendapat mengenai hubungan bahasa Minangkabau dengan bahasa Melayu. Ada yang menyebutkan bahwa dialek dari bahasa suku minang sebagai bagian dari dialek Melayu, sebab memiliki banyak kesamaan dalam kosakata dan bentuk tuturan di dalamnya.

Sedangkan pendapat lainnya menyebutkan bahwa bahasa suku minang merupakan bahasa mandiri yang tidak ada sangkut pautnya dengan bahasa melayu. Dan yang terakhir ada juga yang menyebutkan bahasa suku minang merupakan bahasa Proto-Melayu. Terlepas dari itu semua, dalam kehidupan masyarakat minang penutur bahasa minang itu sendiri juga telah terdapat berbagai macam dialek yang bergantung kepada daerahnya masing-masing.

Bahasa minang tentunya telah mendapat pengaruh dari bahasa lain, pengaruh bahasa lain tersebut kemudian diserap ke dalam bahasa minang yang umumnya berasal dari bahasa Sanskerta, Arab, Tamil, dan Persia. Lalu selanjutnya, kosakata dari bahasa Sanskerta dan Tamil juga dapat kita jumpai dalam beberapa prasasti di Minangkabau yang telah tertulis menggunakan berbagai macam aksara seperti Dewanagari, Pallawa, danKawi.

Menguatnya pengaruh agama Islam yang diterima secara luas juga telah mendorong masyarakat minang menggunakan Abjad Jawi dalam penulisannya sebelum berganti dengan Alfabet Latin. Kesenian Suku Minangkabau Sebagai salah satu etnis yang terkenal, etnis minangkabau memiliki beragam atraksi dan kesenian, seperti upacara adat, tari-tarian pengiring pesta dalam perkawinan dan sebagainya. Adapun beberapa tarian dari etnis minangkabau yaitu: • Tari Pasambahan • Tari Piring • Silek atau Silat Minangkabau • Randai • Salawat Dulang Suku Minangkabau juga terkenal dalam seni berkata-kata.

Terdapat tiga macam genre seni berkata-kata, yakni pasambahan (persembahan), indang, dan salawat dulang. Seni berkata-kata atau akrab dengan istilah bersilat lidah lebih mengedepankan dalam hal sindiran, kiasan, ibarat, alegori, metafora, dan aforisme.

Dalam seni berkata-kata atau bersilat lidah, seseorang diajarkan untuk bisa mempertahankan kehormatan dan juga harga diri, tanpa menggunakan senjata ataupun kontak fisik. Olahraga Suku Minangkabau Suku Minangkabau juga miliki olahraga tradisional yang hingga kini masih dilestarikan dan menjadi hiburan bagi masyarakat minang dan juga wisatawan yang datang ke minang, olaharaga tersebut diantaranya: • Pacuan Kuda • Lomba pacu jawi • Pacu itik • Sipak rago atau akrab disebut sebagai sepak takraw Rumah Adat Suku Minangkabau Suku Minangkabau juga memiliki rumah adat yang disebut dengan Rumah Gadang.

Perkawinan Suku Minangkabau Advertisement Prosesi perkawinan masayarakat Suku Minangkabau disebut juga dengan baralek, yang umumnya memiliki beberapa tahapan yang harus dilakukan, yakni: • Maminang (meminang) • Manjapuik marapulai (menjemput pengantin pria) • Basandiang (bersanding di pelaminan). Masakan khas Suku Minangkabau Selain olaharaga dan budaya, tentunya suku minang juga memiliki berbagai macam masakan khas populer yang sungguh menggoda, apa lagi kalau bukan masakan padang. Masakan padang ini tentunya sangat digemari oleh rakyat Indonesia bahkan hingga mancanegara.

Salah satu masakan khas suku minang yang telah mendunia adalah rendang, yang dimana mendapat pengakuan sebagai salah satu hidangan terlezat yang ada di dunia.

Selain itu, masakan khas suku minang lainnya adalah Asam Pedas, Soto Padang, Sate Padang, dan Dendeng Balado. Sosial Kemasyarakatan Persukuan Suku yang ada dalam tatanan kehidupan masyarakat minang adalah basis dari oraganisasi sosial yang sekligus tempat pertarungan kekuasaan yang fundamental. Arti dari kata suku dalam bahasa minang dapat disimpulkan sebagai satu perempat sehingga jika dihubungkan dengan pendirian suatu nagari di Minangkabau.

Bisa disebutkan sempurna apabila sudah terdiri dari komposisi empat suku yang mendiami kawasan tersebut. Kemudian, dalam setiap suku tradisi minang, diurutkan dari garis keturunan yang sama dari pihak mamak atau ibu, serta dipercaya berasal dari satu keturunan nenek moyang yang sama. Suku dalam minangkabau terbagi dalam beberapa cabang keluarga yang lebih kecil dan biasa disebut sebagai payuang (payung). Adapun unit yang lebih kecil dari payung yang disebut dengan saparuik.

Sebuah paruik (perut) pada umumnya tinggal di dalam sebuah rumah gadang secara bersama-sama. Nagari Kawasan dari suku minang terbagi atas banyak nagari.

Nagara sendiri adalah daerah otonom yang memiliki kekuasaan tertinggi di kawasan Minangkabau. Tak ada kekuasaan politik ataupun sosial yang dapat mencampuri urusan adat dari sebuah nagari. Nagari yang tak sama akan sangat mungkin memiliki tipikal dengan adat yang berbeda. Pada setipa negari dipipin oleh sebuah dewan yang terdiri atas pimpinan suku dari seluruh suku yang ada di nagari tersebut. Dewan ini juga disebut dengan nama Kerapatan Adat Nagari (KAN).

Dari hasil musyawarah serta mufakat di dalam dewan inilah memunculkan sebuah keputusan dan peraturan yang mengikat untuk nagari tersebut. Baca juga: 4 Kerajaan Islam di Sumatera Penghulu Penghulu dalam suku minang biasanya memiliki gelar datuk yang merupakan kepala dari kaum keluarga yang diangkat oleh seluruh anggota keluarga untuk mengatur segala permasalahan di dalam kaum keluarga.

penghulu pada umumnya seorang laki-laki yang telah terpilih di antara anggota keluarga kaum laki-laki lainnya. Dalam setiap kaum keluarga, nantinya akan memilih salah seorang laki-laki yang pandai dalam berbicara, memiliki sikap yang bijaksana, serta memahami adat. Klasifikasi tersebut tentunya memiliki alasan, sebab seseorang yang telah terpilih nantinya akan memiliki tanggung jawab dalam mengurusi segala hal dari harta pusaka kaum, membimbing kemenakan, dan juga sebagai wakil kaum dalam masyarakat nagari.

Setiap penghulu nantinya berdiri sejajar dengan para penghulu lainnya, sehingga di dalam rapat-rapat nagari semua suara penghulu yang mewakili setiap kaum keluarga memiliki nilau yang sama. 7 Unsur Kebudayaan Suku Minangkabau 1. Bahasa Bahasa Minangkabau atau Baso Minang merupakan suatu Austranesia yang telah digunakan oleh suku Minangkabau sejak awal berdiri. 2. Sistem Teknologi Sebagai contoh dari sistem teknologi yang ada di dalam suku Minangkabau terdapat pada bentuk rumah adat serta bentuk desanya.

Nigari merupakan sebuah nama desa di dalam bahasa Minangkabau. Nigari sendiri ialah kediaman utama yang dapat dianggap sebagai pusat desa. Rumah Gadang merupakan rumah adat dari suku Minangkabau. Memiliki bentuk yang memanjang serta memiliki atap yang mirip dengan tanduk kerbau. 3.

bahasa daerah suku minangkabau

Sistem Mata Pencaharian Mayoritas dari rakyat Minangkabau hidup dengan mengandalkan bidang dalam bercocok tanam. Untuk rakyat yang tinggal di daerah laut mapun danau hidup melalui pelayaran Terdapat pula masyarakat Minangkabau yang hidup dengan engandalkan kerajinan tangan.

4. Sistem Kekerabatan Pariuk, kampuang, serta suku merupakan kelompok kekerabatan masyarakat yang ada di suku Minangkabau. Etnis dipimpin oleh seorang penghulu suku, serta kampuang yang juga di pimpin oleh penghulu andiko atau dikenal juga dengan datuak kampuang. Tanggung jawab dalam pembiayaan acara perkawinan seluruhnya dilimpahkan kepada pihak perempuan karena suku Minangkabau menganut sistem matrilineal.

Di dalam suku Minangkabau juga sistem poligami merupakan hal yang tidak dilarang. 5. Sistem Pengetahuan Saat usia 7 tahun, anak laki-laki di Minangkabau sudah meninggalkan rumah mereka dan tinggal di dalam surau, atau tempat mereka belajar mengenai adat Minangkabau dan juga ilmu agama islam. Ketika mereka sudah beranjak dewasa, selanjutnya mereka akan meninggalkan kampung serta menimba ilmu atau pengalaman diluar kampung atau desa. Tujuannya dari perantauan tersebut supaya setelah menjadi dewasa dapat bertanggungjawab terhadap keluarga ketika pulang ke kampung (Nagari).

6. Sistem Bahasa daerah suku minangkabau Hampir seluruh dari anggota suku minang memeluk agama islam. 7. Kesenian Beberapa kesinian tradisional Minangkabau diantaranya sebagai berikut: • Randai, suatu teater yang berisi music, tarian, drama, dan pencak silat.

• Talempong • Saluang Jo Dendang • Tari Piring • Tari Payung • Tari Indang • Pidato Adat (Sambah Manyambah) • Pencak SIlat Perayaan dan upacara MInagkabau : • Turun mandi – pemberkatan bayi • Sunat rasul – upacara sunatan • Baralek – upacara pernikahan • Batagak pangulu – pelantikan penghulu (pemimpin suku atau desa) • Turun ka sawah – gotong royong • Hari rayo – idul fitri dan idul adha • Maanta pabukaan – mengantar makanan untuk ibu mertua pada saat Ramadan • Tabuik – perayaan di pariaman • Tanah ta sirah – pelantikan datuak • Mambangkik batang bahasa daerah suku minangkabau – pelantikan datuak Kesenian kerajinan tangan Minangkabau : • Kain Songket Tenun dengan corak rumit yang ditenun dengan tangan dari benang emas atau perak.

Dipakai oleh bangsawan. • Sulaman • Pahatan bahasa daerah suku minangkabau dan perak • Ukiran kayu Kerajaan Suku Minangkabau Di dalam suku minang juga ternyata terdapat kerajaan di dalamnya, beberapa kerajaan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: • Kerajaan Dharmasraya • Kerajaan Pagaruyung • Kerajaan Inderapura. Pakaian Adat Suku Minangkabau Baju Adat Sumatera Barat Baju adat Minangkabau yang sudah dikenal di dalam kancah nasional bernama pakaian Bundo Kanduang atau juga disebut dengan Limpapeh Rumah Nan Gadang Pakaian adat ini mempunyai keunikan utama yang berada di bagian penutup kepalanya yang bentuknya menyerupai bentuk tanduk kerbau atau atap dari rumah gadang.

Pakaian Bundo kanduang adalah pakaian adat dari Minangkabau yang dikenakan oleh kaum perempuan yang telah menikah. Sedangakan untuk kaum pria maupun untuk sepasang pengantin, juga terdapat pakaian adat lainnya.

Baju Adat Minangkabau Wanita • Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang • Tingkuluak (Tengkuluk) • Baju Batabue • Lambak • Salempang • Perhiasan Baju Adat Tradisional Pria Minangkabau • Deta • Baju • Sarawa • Sasampiang • Cawek • Sandang • Keris dan Tongkat Itulah sedikit ulasan mengenai Suku Minangkabau, kita sebagai warga negara Indonesia pastinya harus ikut menjadi situs warisan budaya nusantara supaya tidak termakan oleh perkembangan zaman.

Semoga artikel ini dapat membantu kegiatan belajar anda. Terima kasih telah berkunjung.

Nama Bahasa yang Ada di sumatera, apa bahasa mu




2022 www.videocon.com