Mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi

mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi DALAM agama Islam para ulama memiliki kedudukan yang amat tinggi. Mereka adalah hamba pilihan: karena mereka paling takut ( khasy-yah) kepada Allah (Qs. Fathir [35]: 28). Mereka (disebut sebagai ahl al-dzikr) juga tempat rujukan umat: kalau ummat tidak paham tentang ajaran agama ini harus bertanya kepada mereka (Qs.

Al-Na hl [16]: 43). Lebih dari itu, yang dicantumkan namanya dengan Allah dan para malaikat-Nya ketika menyaksikan bahwa tidak ada ilah kecuali Allah adalah para ulama ( ahl al-‘ilm) (Qs. Al ‘Imran [3]: 18). Allah Subhnahu Wata’ala juga mengangkat para ahli ilmu ( ulu al-‘ilm) sekian derajat di atas orang-orang jahil (Qs. Al-Mujadilah [58]: 11). Karena memang orang-orang berilmu tidak sama dengan yang tidak berilmu (Qs.

Az-Zumar [39]: 9). Bahkan di dalam Al-Qur’an banyak sekali disebutkan perumpamaan oleh Allah. Dan semuanya tidak diketahui oleh orang awam, tetapi diketahui oleh para ahli ilmu (Qs. Al-‘Ankabut [29]: 43). Dan tentunya masih banyak ayat lain yang menyebutkan keutamaan para ulama. Apa yang disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an dalam beberapa ayat tersebut di atas kemudian dikuatkan oleh sabda Nabi Muhammad Saw. Menurut beliau, para ulama itu adalah pewaris para nabi ( waratsat al-anbiya’).

Karena para nabi Allah tidak pernah mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Dan yang mewarisi ilmu mereka itu adalah para ulama kita (HR. Abu Dawud, Ibn Hibban, at-Tirmidzi, Ibn Majah, dan ad-Darimi). Dalam sabdanya yang lain Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam menyatakan, “Siapa saja yang dikehendaki oleh Allah akan mendapat kebaikan, maka dia dijadikan pahamnya mendalam terhadap urusan agama.” (HR.

Muttafaq ‘Alaihi). Bahkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam ketika lebih mengutamakan ilmu ketimbah ibadah dan mati syahid beliau bersabda, “Keutamaan seorang ‘alim atas seorang ahli ibadah seperti keutamaanku dibanding seseorang yang paling rendah derajatnya dari kalangan para sahabatku.” (HR.

at-Tirmidzi). Diantara para Sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam yang memberi nasehat tentang ilmu adalah seorang Sahabat sekaligus anak pamannya dan menanttu beliau, ‘Ali ibn Abi Thalib yang berkata kepada Kumail, “Hai Kumail, ilmu itu lebih baik daripada harta.

Ilmu menjagamu, sedangkan harta engkau yang menjaganya. Ilmu adalah hakim sementara harta yang dihakimi. Harta jika diinfakkan akan ludes, tetapi ilmu semakin tumbuh dan kembang jika diinfakkan.” Seorang Sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sekaligus anak pamannya plus yang dijuluki di tengah-tengah ummat ini dengan sebutan “habr” (pemuka agama), “bahr” (lautan, dalam ilmu) sekaligus “turjuman al-Qur’an” (penerjemah Al-Qur’an, karena kedalaman pahamnya tentang Al-Quran) ‘Abdullah ibn ‘Abbas menyatakan, “Sulaiman putra nabi Daud disuruh pilih oleh Allah: ilmu, harta, atau kekuasaan.

Sulaiman lebih memilih ilmu, lalu diberi harta dan kekuasaan (menjadi raja).” Sungguh, begitu mulia kedudukan para ulama dalam agama yang hanif ini. Sehingga ketika salah seorang ahli hadits yang bernama Abdullah ibn al-Mubarak, “Siapah yang disebut manusia sejati itu?” Beliau menjawab ringkas sekali, “Para ulama!” Kemudian beliau ditanya lagi, “Lalu, para raja (penguasa) itu siapa?” Beliau menjawab, “Para ahli zuhud.” Beliau kemudian ditanya lagi, “Lalu, siapakah orang-orang yang hina?” Beliau menjawab, “Yang makan dunia dengan menjual agama.” Jadi, Ibn al-Mubarak tidak menganggap selain ulama sebagai manusia dalam makna yang sesungguhnya.

Karena salah satu faktor yang membedakan manusia dari seluruh hewan ternak adalah ilmu. Manusia tidak dilihat dari kekuatannya, karena unta lebih kuat darinya. Ia juga disebut manusia bukan karena kebesaran tubuhnya, karena gajah lebih besar darinya. Dan manusia tidak dinilai karena keberaniannya, karena ada binatang buas yang lebih berani darinya.

Juga bukan karena banyak dan kuat makan, karena ada sapi yang lebih luas perutnya. Tidak pula dalam hal mengumpulkan makanan, karena ada burung yang lebih cepat darinya. Jadi, manusia diciptakan tidak lain dan tidak bukan kecuali untuk menghiasi dirinya dengan ilmu. (Imam al-Ghazali (450-505 H), I hya’ ‘Ulum al-Din, tahqiq: Muhammad ibn Nashr Abu Jabal (Kairo: Maktabah Mishr, 1434 H/2013 M), 1/14, 15, 17, 19). Ibn ‘Abbas juga berkata, “Para ulama derajatnya melebihi derajat orang-orang beriman sebanyak tujuh ratus derajat.

Jarak antara dua derajat itu lamanya (jika ditempuh) sepanjang 500 tahun.” (Imam, Imam Badr al-Din Abu ‘Abdillah Muhammad ibn Ibrahim ibn Jamaʻah al-Kanani al-Syafi’i, Tadzkirah al-Samiʻ wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Mutakallim, editor: ‘Abd al-Salam ‘Umar ‘Ali (Kairo: Maktabah Ibn ‘Abbas, 1425 H/2005 M), 41).

Bahkan, Imam al-Mushuli berkata, “Tidakkah orang yang sakit jika tidak makan dan minum akan mati?” Orang-orang kemudan berkata, “Ya, benar!” Beliau kemudian melanjutkan, “Begitu juga dengan hati. Jika selama tiga hari tidak mendapat hikmah dan ilmu, dia akan mati.” Imam al-Ghazali kemudian mengomentarinya, “Beliau benar! Karena gizi hati adalah adalah ilmu dan hikmah. Dengan keduanya lah hati menjadi hidup. Sebagaimana jasad gizinya adalah makanan. Siapa yang kehilangan ilmu maka sakitlah hatinya dan layak mati.

Namun ia tak merasa. Karena cintanya yang begitu berlebihan kepada dunia telah mematikan sensitivitas hatinya.” (Imam al-Ghazali, I hya’ ‘Ulum al-Din, 1/20).

Dari sana dapat dipahami bahwa para ulama dalam agama ini begitu mulia dan sangat terhormat. Maka tidak boleh anggap enteng dengan ulama. Apalagi mencela, mencaci-maki dan merendahkan mereka. Mari Muliakan Ulama Kita Untuk itu, sebagai seorang Muslim kita diwajibkan menghormati, menghargai, dan memuliakan para ulama. Apalagi bagi para penuntut ilmu. Imam az-Zarnuji, misalnya, dalam kitab yang sangat terkenal Taʻlim al-Mutaʻallim menyatakan dengan sangat indah, “Ketahuilah bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan pernah memperoleh ilmu dan tidak akan pernah dapat manfaat dari ilmu itu kecuali mengagungkan (menghormati) ilmu dan ahli ilmu, mengagungkan ustadz (guru) dan menghargainya.” Bahkan beliau mengatakan, “Hormat itu lebih baik dari taat.

Tidakkah Anda mendapati seseorang tidak kafir karena perbuatan maksiat, tetapi dia kafir karena menganggap remeh dan meninggalkan sikap hormat. Dan salah satu bentuk pengagungan terhadap ilmu dan guru adalah kata-kata ‘Ali ibn Abi Thalib yang berbunyi, ‘Aku menjadi hamba siapa yang mengajari ilmu meskipun satu huruf.

Jika mau dia bisa menjualku. Dan jika mau dia bisa memerdekakanku.’ (Imam az-Zarnuji, Taʻlim al-Mutaʻallim Thariq al-Taʻallum, tahqiq: Marwan Qubbani (Beirut/Damaskus: al-Maktab al-Islami, 1401 H/1981 M), 78).

Syekh Sadid al-Din al-Syirazi berkata, “Siapa yang ingin anaknya menjadi seorang alim, hendaklah ia memperhatikan para fuqaha’: memuliakan mereka, memberi makan mereka, dan memberikan sesuatu kepada mereka.

Jika pun anaknya tidak menjadi seorang alim, bisa jadi kelak cucunya mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi menjadi alim.” (Imam az-Zarnuji, Taʻlim al-Mutaʻallim, 79). Imam az-Zarnuji kemudian menjelaskan bahwa diantara bentuk pemuliaan dan penghormatan kepada ulama adalah: tidak boleh berjalan di depannya, tidak duduk di tempat duduknya, tidak memulai pembicaraan di hadapannya kecuali setelah diizinkan, tidak banyak bicara di hadapannya, tidak bertanya ketika dia sedang lelah dan senantiasa memperhatikan waktu yang tepat untuk bertanya, tidak mengetuk pintu rumahnya namun harus bersabar sampai sang guru keluar dari rumahnya.

Kesimpulannya: carilah keridhaan sang guru, hindari kemurkaannya, laksanakan perintahnya dalam hal yang tidak mengandung maksiat kepada Allah. Karena memang tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Khaliq. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, “Manusia paling jahat adalah: yang mengorbankan agamanya untuk kepentingan dunia orang lain dengan cara bermaksiat kepada Khaliq (Allah).” (Imam az-Zarnuji, Taʻlim al-Mutaʻallim, 79-80).

Diceritakan bahwa khalifah Harun ar-Rasyid mengirim anaknya kepada al-Ashmaʻi untuk belajar ilmu dan adab (akhlak). Suatu hari, beliau mendapati al-Ashmaʻi berwudhu’ dan membasuh kakinya sendiri.

Sementara anak sang khalifah menuangkan air kepada kaki al-Ashmaʻi. Maka sang khalifah pun marah dan berkata, “Aku mengutus anak ini kepadamu agar engkau mengajarinya ilmu dan adab. Mengapa engkau tidak menyuruhnya untuk menuangkan air dengan salah satu tangannya. Sehingga tangannya yang lain membasuh kakimu?” (Imam az-Zarnuji, Taʻlim al-Mutaʻallim, 82). Itulah diantara ajaran ulama-ulama kita terdahulu dalam mendidik para murid, para peserta didik, para siswa, dan para santri mereka.

Bahkan orang tua zaman dahulu paham betul bagaimana mengajarkan akhlak yang baik, sebelum belajar ilmu yang benar. Karena akhlak berada di atas ilmu. Ilmu tanpa akhlak sejatinya bukan ilmu. Karena ilmu yang baik seharusnya membuahkan akhlak yang mulia dan kesalehan.* ( Bersambung) Penulis adalah Pengasuh di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan. Penulis buku “Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia” (2012) dan “Jejak Sofisme dalam Liberalisasi Pemikiran di Indonesia” (2016) Rep: Admin Hidcom Editor: Cholis Akbar Raja Salman Masuk Rumah Sakit, Ada Apa?

Obesitas Mengancam Kesiapan Militer Amerika Serikat Jelang Hari Pendirian Negara Penjajah ‘Israel’ 14 Mei, MUI Imbau Umat Islam Baca Qunut Nazilah Daftar Jama’ah Haji 2022 Resmi Dirilis, Kemenag Minta Persiapkan Diri dan Segera Konfirmasi An-Nūr Kemenag Bantah Narasi Menag Minta Dana Haji untuk IKN: Hoaks dan Fitnah Berita Lainnya Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat dan benar!

1) Jelaskan peranan para Ulama terhadap pembaruan dalam bidang politik dan pendidikan! 2) Jel … askan jalur masuknya ide-ide pembaruan di Indonesia!

3) Jelaskan corak gerakan pembaruan di Indonesia! 4) Jelaskan konsep pembaruan yang digagas oleh KH. Ahmad Dahlan! 5) Jelaskan konsep pembaruan Nahdlatul Ulama dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan!​ Tolong dibantu yaa قَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَ … ثِيْرًاۗ laqad kāna lakum fī rasụlillāhi uswatun ḥasanatul limang kāna yarjullāha wal-yaumal-ākhira wa żakarallāha kaṡīrā Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.

(Q.S Al Ahzab ayat 21) Pertanyaan : Bagaimana pendapatmu tentang ayat tersebut? 44. Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut. (1) Dilakukan pada malam hari di bulan Ramadan. (2) Harus dilakukan secara berjama’ah. (3) Dilakukan se … telah waktu salat isya.

(4) Jumlah rakaatnya selalu genap. mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi Diikuti dengan salat witir. Tentukan pernyataan yang tepat tentang tata cara pelaksanaan salat tarawih berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut. Sudah menjadi kebiasaan di Desa Sukamaju, apabila akan ada perhelatana/acara, mengundang salah satu tokohnya yaitu Pak Sukiran, dia dipercaya dapat me … mbantu kesuksesan acar-acara yang diadakan masyarakat: baik menangkal hujan, mengusir setaan, bahkan dipercaya akan mendatangkan keuntungan bagi yang punya acara.

Dalam pelaksanaannya, Pak Sikran mengajak pemilik acara untuk melakukan semua yang disarankannya: Misalnya, meletakkan pakaian di atas atap, untuk menolak hujan; meletakkan rangkaian bunga tertentu yang disertai mantra-matra di setiap sudut rumah, untuk mengusir setan dan sebagainya.

Yang dilakukan Pak Sukiran tidak sesuai dengan ajaran Islam, khususnya Al-Qur’an surah …. A)Al Ikhlas 2B)An Naas 3C)Al Falaq 4D)Al Fatihah 3​
A. Pendahuluan Pendidikan adalah suatu bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (Marimba, 1998: 9).

Pendidikan juga berarti sebagai semua perbuatan dan usaha dari generasi yang lebih tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya, serta keterampilannya (orang menamakan hal ini juga mengalihkan kebudayaan) kepada generasi muda, sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah.

Dapat pula dikatakan bahwa pendidikan itu adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu memikul tanggung jawab moril dari segala perbuatannya (Zuhairini, dkk.

1992: 120). Harapan dari bimbingan yang diberikan guru ini adalah perubahan pada diri anak didik. Pembentukan kepribadian merupakan hasil dari perubahan dalam proses pendidikan tersebut.

Kepribadian menjadi tujuan utama pendidikan Islam yang selalu mengutamakan nilai ajaran Islam. Namun kenyataan sekarang ini kualitas pendidikan semakin turun, sebab pendidikan belum mencapai tujuan yang sebenarnya. Bahkan pendidikan sekarang ini dijadikan sebagai alat untuk mencapai kemasyhuran, kedudukan dan materi semata.

Karena itu, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang belum tentu ia semakin baik kepribadiannya. Dengan demikian, guru sebagai salah satu faktor pendidikan harus profesional dalam melaksanakan kegiatan mengajarnya, karena gurulah yang memberikan pengaruh besar kepada muridnya, sehingga guru dituntut untuk bisa memberikan arah yang baik sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu membentuk kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian keberhasilan proses belajar mengajar akan tercapai.

Keberhasilan dan kegagalan suatu proses belajar mengajar secara umum dapat dinilai dari output-nya, yakni orang yang sebagai produk pendidikan.

Bila pendidikan menghasilkan orang-orang yang dapat bertanggung jawab atas tugas kemanusiaan dan ketuhanan, bertindak lebih bermafaat baik diri sendiri maupun orang lain, pendidikan tersebut dikatakan berhasil. Sebaliknya, bila output-nya adalah orang-orang yang tidak mampu melaksanakan tugas hidupnya, pendidikan tersebut mengalami kegagalan (Rusn, 1998: 123).

Keberhasilan pendidikan dalam mengahasilkan output sebagian besar dipegang oleh guru, karena guru adalah salah satu komponen dalam proses belajar mengajar yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan (Sardiman, 1990: 123).

Guru dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik bukan hanya dilakukan di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga dilaksanakan di masjid, di rumah, dan sebagainya, sebagaimana pandangan masyarakat terhadap guru (Isa, 1994: 79) sebagaimana yang dikatakan oleh Syaiful Bahri Djamarah bahwa: …… Guru adalah spiritual father atau bapak rohani bagi seorang anak didik. Dia yang memberikan santapan jiwa dan ilmu, pendidikan akhlak dan membenarkannya.

Maka menghormati guru berarti menghormati kita, penghargaan guru berarti penghargaan terhadap anak-anak kita. Dengan guru itulah mereka hidup dan berkembang (2000: 42). Uraian di atas menunjukkan bahwa tugas dan tangung jawab guru begitu besar, maka guru dituntut untuk mempunyai kemampuan. Dewasa ini menjadi guru tidak semudah yang dibayangkan.

Guru haruslah bersifat profesional, artinya guru haruslah memiliki kepribadian, kapabilitas, dan kualitas sumber daya manusia yang memadai serta didukung oleh sumber daya manusia yang memadai pula. Hal ini tidak lain hanyalah untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan, dan juga pada dasarnya tugas guru tak ubahnya tugas dokter yang tidak dapat diserahkan pada sembarang orang (Gordon, 1986: 1).

Jika tugas tersebut diserahkan pada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Di samping itu menurut Dr. Muhaimin M.A, dalam bukunya Wacana Pengembangan Pendidikan Islam mengatakan bahwa: …… Profesionalisme guru harus didukung oleh beberapa faktor antara lain: 1) skap dedikasi yang tinggi terhadap tugasnya, 2) sikap komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja serta 3) sikap continous improvement, yakni selalu berusaha memperbaiki dan memperbaharui metode-metode kerjanya, sesuai dengan tuntutan zaman yang didasari oleh kesadaran yang tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi penerus yang akan hidup di zaman masa depan (2003: 209).

Disadari atau tidak pada dasarnya tanggung jawab pendidikan seorang anak adalah bertumpu pada kedua orang tuanya dengan alasan orang tua berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anak, yakni sukses anak adalah sukses orang tua dan karena kodrat Allah SWT, kemudian karena berbagai kesibukan dan faktor lain yang tidak memungkinkan orang tua mendidik anaknya, maka di sinilah tugas seorang guru (Nata, 1999: 62).

B. Guru 1. Pengertian Guru Secara etimologi (secara bahasa atau lughat) kata guru berasal dari bahasa Indonesia yang diartikan orang yang mengajar (pengajar, pendidik, ahli didik) (Nata, 2001: 42). Dalam bahasa jawa, sering kita mendengar kata guru diistilahkan dengan digugu lan ditiru. Kata digugu berarti diikuti nasihat-nasihatnya. Sedangkan ditiru diartikan dengan diteladani tindakannya (Tu’u, 2004: 127).

Guru dijadikan figur teladan bagi anak didik khususnya dan bagi masyarakat pada umumnya. Guru juga bisa disebut Murabbi. Kata Murabbi sering juga digunakan untuk menyebut seorang guru. Murabbi sendiri ditafsirkan sebagai orang-orang yang memiliki sifat-sifat rabbani yaitu bijaksana, bertanggung jawab dan kasih sayang terhadap peserta didik (Thoha, 1996: mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi.

Guru juga disebut dengan mursid, kata tersebut juga sering dipakai untuk menyebut sang guru dalam thariqah-thariqah. Guru juga sering disebut dengan istilah mudarris, yaitu orang yang memberi pelajaran, dan juga muaddib yakni orang mengajar khusus di istana (al-Abrasyi, 2003: 150). Ada lagi sebutan untuk guru, yakni professor ( muallim) yang dimaknai dengan orang yang mengusai ilmu teoritik, mempunyai kreativitas dan amaliah (Muhaimin, 2003: 29). Secara terminologi (istilah), guru atau pendidik yaitu orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik, dengan kata lain, guru adalah orang yang bertanggung jawab dalam mengupayakan perkembangan potensi anak didik, baik kognitif, afektif ataupun psikomotor sampai ke tingkat setinggi mungkin sesuai dengan ajaran Islam (Tafsir, 2004: 74).

Dalam hal ini pada dasarnya orang yang paling bertanggung jawab adalah orang tua. Tanggung jawab itu disebabkan oleh adanya beberapa hal, antara lain: a.

Kodrat; yaitu orang tua yang ditakdirkan menjadi orang tua anaknya, dan karena itu ia diwajibkan pula bertanggung jawab mendidik anaknya. b. Kepentingan kedua orang tua, yaitu orang tua berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anaknya, maka kesuksesan yang diraih oleh anak merupakan kesuksesan orang tuanya juga. Dalam literatur lain dikatakan bahwa guru adalah pendidik yaitu orang yang melaksanakan tugas mendidik atau orang yang memberikan pendidikan dan pengajaran baik secara formal atau non formal (Aziz, 2003: 51).

Pendidikan tidak dibatasi ruang dan waktu, kapan saja dan di mana saja. Pendidik utama dan pertama di dunia ini adalah Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Alaq ayat 4-5: yang artinya Yang mengajar manusia dengan perantaraan Qolam, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak dia ketahui.

(Q.S. Al Alaq : 4-5) (Soenarjo, 1994: 1079). Dari ayat tersebut dapat ditafsirkan bahwa Allah SWT adalah pendidik sejati, atau pendidik al-Haq (Aziz, 2003: 52). Tidak hanya pendidik manusia, namun pendidik seluruh alam (rabbul alamin). Hal ini terlihat ketika Allah SWT menciptakan manusia pertama kali agar dapat berperan sebagai khalifah di bumi dan menjalani kehidupan dengan baik.

Allah mengajari dan memberikan pengetahuan tentang benda-benda di bumi sebagai persiapan pengelolaannya. Pada awalnya tugas mendidik adalah tugas murni kedua orang tua (Tafsir, 2004: 65), yaitu yang menyebabkan anak lahir di dunia dan juga yang berhubungan langsung dengannya (Al-Ghazali, t.t.: 69). Anak dilahirkan sesuai fitrahnya, tidak tahu apa-apa dan juga tidak membawa apapun kecuali sebuah perangkat yang difasilitasi oleh Allah pada setiap manusia yang terlahir di dunia.

Oleh karena itulah peran pendidikan menjadi sangat penting. Kecuali itu juga mereka membutuhkan kasih sayang demi perkembangan dan pertumbuhan anak tersebut, seperti apa yang telah difirmankan: dalam satu ayat yang artinya: Dan Allah SWT mengeluarkan kamu dari perut ibumu tanpa mengetahui suatu apapun… (QS.

Al-Nahl : 78) (Soenarjo, 1994: 413). Berangkat dari ayat tersebut jelas bahwa orang tua sebagai wakil dari Allah yang berkewajiban mendidik anaknya, sebagaimana pernyataan al-Ghazali, bibit apel tiada artinya sebelum ditanam oleh karena itu, di sini posisi orang tua sebagai pendidik pertama bagi anak. Akan tetapi karena perkembangan pengetahuan, keterampilan, sikap, serta kebutuhan hidup yang semakin dalam, luas dan rumit, maka orang tua merasa berat dan perlu melaksanakan kewajiban pendidikan tersebut (al-Abrasyi, 2003: 37).

Agar pelaksanaan pendidikan tersebut dapat berjalan efektif dan efisien, maka diperlukan pendidik, guru dan lembaga-lembaga pendidikan. Sebagai pendidik yang mengambil alih tugas orang tua sebagai tugas yang mulia, oleh karena itu diharapkan seorang guru senatiasa bersikap jujur, tanpa pamrih dan hanya mengharapkan ridha Allah semata.

Sikap itu akan teraplikasi ke dalam proses belajar mengajar sehingga akan menghasilkan generasi yang berkualitas (Aziz, 2003: 74). Zakiah Darajat menyatakan bahwa …… Guru merupakan pendidik profesional.

Oleh karena itu, secara implisit mereka telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan sejak orang tua menyerahkan anaknya ke sekolah, secara tidak langsung mereka melimpahkan sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru di sekolah tersebut.

Mereka berharap anaknya mendapat ilmu sebagai bekal demi kesuksesan di masa yang akan datang, dengan demikian kebahagiaan hidup anaknya dapat lebih baik dalam hal ini secara tidak langsung orang tua juga turut merasakannya (1996: 39). Lebih lanjut, tidak semua orang dapat menjabat sebagai guru artinya bahwa guru bukan hanya bertugas sebagai pengajar (menyampaikan materi di depan kelas), akan tetapi, mereka mampu menempatkan dirinya sebagai pendidik yang bertanggung jawab atas perkembangan anak didiknya, baik di sekolah atau luar sekolah) (Djamarah, 2000: 32).

Guru merupakan unsur pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan. Dalam perspektif pendidikan islam, keberadaan, peranan dan fungsi guru merupakan keharusan yang tidak dapat diingkari. Tidak ada pendidikan tanpa kehadiran guru. Guru merupakan penentu arah dan sistematika pembelajaran mulai dari kurikulum, sarana, bentuk pola sampai kepada usaha bagaimana anak didik seharusnya belajar dengan baik dan benar dalam rangka mengakses diri akan pengetahuan dan nilai-nilai hidup.

2. Tugas Guru Guru adalah figur seorang pemimpin, dia juga sebagai sosok arsitek yang dapat membentuk jiwa dan watak anak didik, dengan cara membantu anak didik mengubah perilakunya sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan (Poerwati dkk, 2002: 7). Guru mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun kepribadian anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Guru bertugas mempersiapkan manusia susila mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi cakap yang diharapkan mampu membangun dirinya, bangsa dan negara.

John Dewey mengemukakan bahwa tugas guru adalah sebagai berikut. …… The educator’s part in the enterprise of education is to furnish the environment which stimulates responses and directs the learner’s course.

mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi

All that the educator can do is modify stimuli so that response will as surely as is possible result in the formation of desirable intellectual and emotional dispositions (2004: 174). Tugas guru dalam usaha pendidikan adalah untuk melayani masyarakat yang mana memberi semangat dan menunjukkan jalan bagi peserta didik. Guru dapat melakukan suatu perubahan sehingga sangat mungkin sekali untuk meraih watak emosi dan intelektual yang dicitacitakan.

Pada hakikatnya, tugas guru adalah mendidik yang sebagian besar tercermin dalam kehidupan di dalam rumah tangga dengan cara memberi keteladanan, memberi contoh yang baik, pujian dorongan dan lain sebagainya yang diharapkan dapat menghasilkan pengaruh positif bagi pendewasaan anak (Paraba, 1999: 10).

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka mengajar merupakan sebagian dari mendidik. Dalam arti yang lebih sempit tugas guru adalah mengajar sebagai upaya transfer of knowlwdge yang dituntut untuk mengusai materi apa yang akan disampaikan, penggunaan metode yang tepat dan pemahaman tentang berbagai karakteristik yang dimiliki anak.

Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam sistem pendidikan untuk membantu proses perkembangan siswa. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa: …… Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi (Tim Redaksi 2005: mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi.

Pemahaman tentang berjalannya proses belajar mengajar sangat diperlukan agar apa yang disampaikan oleh seorang guru sesuai apa yang dimiliki anak. Disamping itu guru juga dituntut untuk membuat persiapan mengajar, mengevaluasi tugas belajar anak dan melakukan tugas lainya yang berkaitan dengan tujuan pengajaran. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam bukunya Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif menyatakan bahwa jabatan guru memiliki banyak tugas baik terikat dalam dinas maupun di luar dinas, dalam bentuk pengabdian tugastugas itu antara lain: a.

Tugas guru sebagai profesi yaitu suatu tugas yang menuntut profesionalitas diri sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tugas tersebut direalisasikan dalam sistem pembelajaran yang dapat memberikan bimbingan anak didik menemukan nilai-nilai kehidupan. Tugas guru sebagai pengajar juga dapat diartikan meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Sementara tugas sebagai pelatih diartikan mengembangkan keterampilan dan menerapkan dalam kehidupan demi masa depan anak didik.

b. Tugas guru sebagai tugas kemanusiaan berarti guru terlibat dalam interaksi sosial di masyarakat. Guru harus mampu menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak didik agar anak didik punya kesetiakawanan sosial. c. Tugas guru sebagai tugas kemasyarakatan berarti guru harus mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara yang berakhlak dan bermoral.

Dalam hal ini dapat diumpamakan bahwa mendidik anak sama halnya dengan mencerdaskan bangsa (Djamarah, 2000: 37). Oleh karena itu, untuk mengemban tugas dan tanggung jawab sebagaimana diatas, maka menurut Zakiah Darajat, agar dapat menjadi guru yang dapat mempengaruhi anak didik ke arah kebahagian dunia dan akhirat, ia harus memenuhi syarat-syarat antara lain: bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, sehat jasmani dan rohaninya, baik akhlaknya dan bertanggung jawab serta berjiwa nasional (Purwanto, 1995: 137).

3. Kedudukan Guru Guru termasuk manusia yang berjiwa besar di dunia ini, ia berusaha menyiapkan generasi penerus yang berkualitas, mentransferkan ilmu pengetahuan dan juga memiliki posisi sebagai pewaris nabi.

Oleh karena itu Islam memberikan penghargaan sangat tinggi terhadap guru. Ia adalah salah satu pemilik ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan memiliki peran penting, dengan ilmu, manusia akan sanggup menaklukkan dunia dan dengan ilmu pula orang akan menemukan jalan kebahagiaan hidup baik di alam dunia fana dan akhirat kelak, bahkan keberadaan ilmu merupakan salah satu syarat akan datangnya hari kiamat, Islam sebagai agama penyempurna, menghendaki kebaikan kehidupan manusia di dunia sekaligus di akhirat.

Dan juga memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada guru setingkat dibawah para Nabi dan Rasul (Tafsir, 2004: 76). Tingginya kedudukan guru dalam Islam, menurut Ahmad Tafsir, tak bisa dilepaskan dari pandangan bahwa semua ilmu pengetahuan bersumber pada Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat al-Baqarah ayat 32 yang artinya: Mereka menjawab, Mahasuci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.

Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui (lagi) Maha Bijaksana (Shihab, 2003: 143). Tanpa guru, sulit rasanya peserta didik bisa memperoleh ilmu secara baik dan benar.

Itulah sebabnya, kedudukan guru sangat istimewa dalam Islam. Bahkan dalam tradisi tasawuf/tarekat, dikenal ungkapan, “siapa yang belajar tanpa guru, maka gurunya adalah setan”. Al-Ghazali menggambarkan kedudukan guru agama sebagai : …… Makhluk di atas bumi yang paling utama adalah manusia, bagian manusia yang paling utama adalah hatinya.

Seorang guru sibuk menyempurnakan, memperbaiki, membersihkan dan mengarahkannya agar dekat kepada Allah azza wajalla. Maka mengajarkan ilmu merupakan ibadah dan merupakan pemenuhan tugas dengan khalifah Allah.

Bahkan merupakan tugas kekhalifahan Allah yang paling utama. Sebab Allah telah membukakan untuk hati seorang alim suatu pengetahuan, sifat-Nya yang paling istimewa. Ia bagaikan gudang bagi benda-benda yang paling berharga.

Kemudian ia diberi izin untuk memberikan kepada orang yang membutuhkan. Maka derajat mana yang lebih tinggi dari seorang hamba yang menjadi perantara antara Tuhan dengan makhluk-Nya dalam mendekatkan mereka kepada Allah dan menggiring mereka menuju surga tempat peristirahatan abadi (Sulaiman, 1990: 41-42). Kedudukan itu akan tampak jelas ketika seorang guru mengamalkan ilmunya dalam arti mengajarkan kepada orang lain, dalam hal ini guru adalah bagaikan matahari yang menerangi alam dan juga bagaikan minyak wangi yang mengharumi orang lain karena ia memang wangi (Al-Ghazali, t,t.

62). Tingginya kedudukan guru dalam Islam masih dapat disaksikan secara nyata pada masa sekarang ini, terutama di pesantren-pesantren Indonesia, santri tidak berani menatap sinar mata Kyai, membungkukkan badan sebagai tanda hormat kepada sang Kyai tatkala menghadap ataupun berpapasan, tawadu’ dan sifat baik lainnya. Hal ini disebabkan karena adanya kewibawaan atau kharisma yang dimiliki oleh kyai.

Keyakinan santri akan kebaikan atau keberkahan dari seorang kyai masih sangat kental hingga merasuk ke dalam sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari (Nasution, 1999: 94). Di samping itu, untuk memanifestasikan kedudukan guru yang sangat mulia dan terhormat ini dan juga membangun relasi antara guru dan murid maka guru harus memberikan peran yang dibutuhkan oleh murid dan juga oleh masyarakat, antara lain: a.

Sebagai korektor/evaluator; guru bisa membedakan mana nilai yang buruk mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi nilai yang baik. b. Sebagai informator; guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain bahan pelajaran yang telah diprogramkan dalam mata pelajaran dalam kurikulum. c. Sebagai inspirator; guru harus memberikan ilham (petunjuk) yang baik atas kemajuan anak didik.

d. Sebagai organisator; guru harus mampu mengorganisasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses belajar mengajar demi tercapainya efektivitas dan efisiensi dalam belajar pada diri anak didik.

e. Sebagai motivator; guru harus mampu mendorong anak didiknya agar bergairah dan aktif dalam belajar. f. Sebagai inisiator; guru harus mampu menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. g. Sebagai fasilitator; guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memudahkan belajar anak didik. h. Sebagai pembimbing; guru hendaknya mengarahkan peserta didik terhadap potensinya sehingga mereka menjadi manusia dewasa yang sempurna, baik ilmu dan akhlaknya.

i. Supervisor; guru hendaknya dapat membantu dan memperbaiki serta menilai terhadap mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi pengajaran secara kritis.

mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi

Dan juga peranan lain yang dapat mendukung dan mewujudkan kedudukan guru sebagai manusia terhormat dan mulia (Djamarah, 2000: 43-48). Kedudukan guru akan tampak jelas ketika guru dapat memberikan perannya sebagaimana di atas, minimal peranan sebagai pendidik dan pembimbing yang pada dasarnya peranan guru itu tidak terlepas dengan kepribadianya dalam arti tidak hanya menyampaikan bahan-bahan mata pelajaran dan juga tidak hanya dalam interaksi formal tetapi juga informal, tidak hanya diajarkan tetapi juga ditularkan (Sukmadinata, 2003: 251).

Serta tidak hanya diucapkan tetapi harus diamalkan, dengan kata lain ilmiah yang amaliah. 4. Profesionalisme Guru Profesionalisme berasal dari kata profesi ( profession) yang dapat diartikan sebagai jenis pekerjaan yang khas atau pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan, atau dapat juga berarti beberapa keahlian atau ilmu pengetahuan yang digunakan dalam aplikasi untuk berhubungan dengan orang lain.

Instansi atau sebuah lembaga profesional adalah seseorang yang memiliki perangkat pengetahuan atau keahlihan yang khas dari profesinya. …… Profesionalitas merupakan kepemilikan seperangkat keahlian atau kepakaran dibidang tertentu yang dilegalkan dengan sebuah sertifikat oleh sebuah lembaga. Seorang yang profesional berhak memperoleh reward yang layak dan wajar yang menjadi pendukung utama dalam merintis karirnya ke depan (Muhtar, 2003: 79). Dalam kesempatan lain, berkaitan dengan profesionalitas guru, Zakiah Darajat dalam sebuah bukunya mengatakan bahwa: …… Guru adalah pendidik profesional, karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak para orang tua.

Mereka ini, tatkala menyerahkan anaknya ke sekolah, sekaligus berarti pelimpahan sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru, hal ini berarti mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya kepada mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi guru, sebab tidak sembarang orang dapat menjabat sebagai guru (1996: 39).

Profesional adalah cara individu melihat keluar dari dunianya. Sesuatu yang berhubungan dengan apa yang mereka lakukan dengan terhadap organisasi dan profesi yang mereka emban. Bagi guru secara sederhana dapat diwujudkan dalam sebuah karya ilmiah, seperti buku yang mereka tulis atau pembelajaran yang mereka lakukan sesuai kebutuhan.

Oleh karena itu dalam profesi digunakan teknik dan prosedur intelektual yang harus dipelajari secara sengaja sehingga dapat diterapkan untuk kemaslahatan orang lain. Suatu pekerjaan akan dikatakan sebagai profesi apabila memenuhi kriteria sebagai berikut. a. Panggilan hidup yang sepenuh waktu; bahwa profesi ini adalah pekerjaan yang menjadi panggilan hidup seseorang yang dilakukan sepenuhnya serta berlangsung untuk jangka waktu lama bahkan seumur hidup.

b. Pengetahuan serta kecakapan keahlian; profesi adalah pekerjaan yang dilakukan atas dasar pengetahuan dan kecakapan/keahlian yang khusus dipelajari. c. Kebakuan Universal; profesi adalah pekerjaan yang dilakukan menurut teori prinsip, prosedur dan anggapan dasar yang baku secara umum universal.

d. Pengabdian; profesi adalah pekerjaan terutama sebagai pengabdian pada masyarakat bukan untuk mencari keuntungan secara material/ finansial bagi diri sendiri. e. Kecakapan diagnostik dan kompetensi aplikatif. Profesi adalah pekerjaan yang mengandung unsur-unsur kecakapan diagnostik dan kompetensi aplikatif terhadap orang dan lembaga yang melayani. f. Otonomi. Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan secara otonomi atas dasar prinsip-prinsip dan norma-norma yang ketetapannya dapat diuji atau dinilai oleh orang lain.

g. Kode Etik Profesi adalah pekerjaan yang mempunyai kode etik yaitu norma-norma tertentu sebagai pegangan atau pedoman yang diakui dan dihargai oleh masyarakat. h. Klien. Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan untuk melayani mereka yang membutuhkan pelayanan (klien) yang pasti dan jelas subyeknya (Nurdin, 2003: 16). Dari kriteria tersebut di atas dapat dipahami bahwa memang guru merupakan suatu pekerjaan profesional, karena kebanyakan guru berkomitmen dengan panggilan nurani, tanggung jawab moral, sosial dan keilmuan (Muhtar, 2003: 85).

Oleh karena itu ia berhak mendapatkan penghargaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan profesionalnya dalam mengemban tugas sebagai pendidik (Nata, 2001: 97).

C. Konsep Guru dalam Perspektif Pemikir Islam 1. Kriteria Guru dalam Serat Wulangreh Kanjeng Susuhunan Paku Buwono IV dilahirkan pada hari Kamis Wage jam sepuluh malam, tanggal 18 Rabi’ul Akhir, Wuku Watu Gunung, Windu Sengara tahun Je 1694, atau tanggal 2 September 1768.

Pada usia muda bernama Raden Mas Gusti Subadiyo, setelah dewasa bernama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunagara Sudibyarajaputra Narendra Mataram.

Beliau dinobatkan sebagai raja pada hari Senin Paing, tanggal 28 Besar tahun Jimakir 1714, atau tanggal 18 September 1788, terkenal dengan nama Ingkang Sinuwun Bagus (Kanjeng Susuhunan Paku Buwono IV, 1994: 3). Beliau juga membangun dalem Purwadiningratan yang terletak di lingkungan dalam Keraton, Baluwarti dan merupakan bangunan dalem yang terluas, terbesar dan pagar tertinggi di lingkungan itu (90m x 100m atau sekitar satu halaman. Beliau menyelesaikan dalam penulisan Serat Wulangreh pada tanggal 19 Besar, hari Ahad Kliwon tahun Dal, 1735, Mangsa kedelapan, Windu Sancaya, Wuku Sungsang.

Kurang lebih 12 tahun sebelum beliau meninggal dunia. Serat Wulangreh adalah hasil karya Paku Buwono IV yang terkenal hingga sekarang dimana serat tersebut banyak mengungkap tentang ajaran-ajaran moral dan nilai-nilai luhur serta budi pekerti utama yang dijadikan sebagai pedoman hidup untuk membina kepribadian yang bukan hanya relevan bagi pedoman pendidikan para pejabat, pegawai maupun abdi kerajaan pada waktu itu, namun jika digali dan dipelajari secara mendalam nilai luhurnya tetap aktual sampai sekarang lebih-lebih ditinjau dari pendidikan Islam.

Serat Wulangreh sampai saat ini sangat populer di lingkungan kebudayaan Jawa. Orang Jawa sangat memperhatikan ajaran-ajaran dalam Serat Wulangreh itu untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketajaman moral dan intelektual diperlukan agar manusia tepat dalam meniti karier hidup (Munarsih, 2005: 9). Paku Buwono IV memberi petunjuk orang yang mencari ilmu dalam Serat Wulangreh sebagai berikut: Sasmitaning ngaurip puniki, yekti ewuh yen ora weruha, tan jumeneng ing uripe, sekeh kang ngaku-ngaku, pangrasane pan wus utami, tur durung weruh ing rasa, rasa kang satuhu, rasaning rasa punika, upayanen darapon, sampurning dhiri, ing kauripanira.

Jroning Qur’an nggoning rasa jati, nanging pilih wong kang uninga, anjaba lawan tuduhe, nora kena binawur, ing satemah nora pinanggih, mundak katalanjukan, temah sasar susur, yen sira ayun waskitha, kasampurnaning badanira puniki, sira aggegurua, (Pupuh Dhandhanggula). Terjemahan:. Makna kehidupan itu sungguh sayang bila tak tahu tidak kokoh hidupnya banyak orang mengaku perasaannya sudah utama, padahal belum tahu rasa, rasa yang sesungguhnya, hakikat rasa itu adalah, usahakan agar diri sempurna, dalam kehidupan.

Dalam Qur’an tempat rasa jati, tapi jarang orang tahu, keluar dari petunjuk, tak dapat asal-asalan, akhirnya tidak ketemu, malahan terjerumus, akhirnya kesasar, kalau kamu ingin peka, agar hidupmu sempurna, maka bergurulah. Dari syair diatas memberikan penjelasan bahwa orang yang hidup harus tahu makna kehidupan itu sendiri, agar hidupnya senantiasa mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi sempurna maka seseorang harus berpegang pada petunjuk yang sejati yaitu Kalamullah atau al-Qur’an, dengan harapan hidupnya tidak terjerumus ke lembah kesesatan.

Disamping itu agar hidup seseorang sempurna maka dia harus berguru yang dalam hal ini adalah guru yang berkompeten atau profesional dalam bidangnya. Jikalau mencari guru yang tidak berkompeten di bidangnya maka dapat dipastikan hidupnya akan hancur. Dalam ajaran Serat Wulangreh karya Paku Buwono IV, yang arti harfiahnya pengajaran dan perintah secara tersirat ingin menunjukkan kedalaman makna wahyu al-Qur’an.

Pada mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi baris pertama tembang Dhandanggula itu, Sri Sunan yang terkenal sebagai seorang pujangga menuturkan tentang pentingnya penghayatan al-Qur’an dan orang-orang yang terpilih yang memahaminya.ungkapan itulah yang mengilhami masyarakat Jawa dalam menghayati al-Qur’an, serta keyakinan adanya misteri anugrah Allah SWT yang turun di malam lailatul kadar.

Serat Wulangreh juga berbicara tentang keharusan-keharusan menghayati dan mengamalkan etika-etika kekeratonan sebagaimana yang ada dalam lembaga. Dalam serat ini pula diwejangkan tentang etika kepada guru, etika pergaulan, etika kewaspadaan (keprayitan), kebaktian, hubungan-hubungan keluarga, tentang keutamaan budi baik.

Ini merupakan pelajaran orang-orang dahulu (nenek moyang) bahwa kehidupan merupakan sebuah proses yang cukup panjang untuk dijalani, tetapi sangat cepat untuk dinanti. Dalam menghadapi memerlukan kesiapan-kesiapan. Dalam menemukan kesiapan memerlukan latihan baik fisik maupun mental spiritual.

Seperti misalnya mengurangi makan, tidur, meningkat menjadi berpuasa, belajar atau berlatih berprihatin, dalam bersuka ria, atau bersuka dalam prihatin, bersakit dalam sehat atau bersehat dalam sakit, sampai pada memati diri (mati raga), mati dalam hidup/hidup dalam mati. Tetapi sebelumnya harus bersikap sopan santun beradab susila baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam masyarakat (Arifin, 2006: 31).

Menurut D. Zawawi bahwa Serat Wulangreh kaya akan ajaran demokrasi dan kepemimpinan. Serat yang ditulis Paku Buwono IV ini banyak memberikan wejangan soal moralitas pemimpin dan rakyat yang dipimpin. Pada pupuh Dandanggula, disinggung pentingnya dengan ilmu pengetahuan. Rakyat negeri ini harus melek, harus pintar, karena demokrasi tidak bisa dilakukan oleh orang-orang yang bodoh.

Pada bab pupuh Gambuh, mengingatkan pemimpin agar menghindari perbuatanperbuatan buruk yang merugikan banyak orang. Sedangkan pada bab pupuh Maskumambang disebut-sebut bahwa pujian hanyalah diberikan kepada orang yang pantas dipuji.

Serat Wulangreh adalah Sastra Adiluhung yang di dalamnya tersirat ajaran menjadi orang terhormat. Menurut Wulangreh, menjadi orang terhormat tidak mudah karena mesti jauh dari sifat adigang, adigung, dan adiguna atau membanggakan kelebihan yang dimilikinya. Wulangreh juga momot aturan tingkah laku yang utama. Dalam ajaran Islam bahwa manusia tidak sombong terhadap sesama, karena yang berhak atau yang pantas meyandang sombong adalah Allah SWT.

Kriteria guru yang baik dalam Serat Wulangreh disampaikan oleh Kanjeng Susuhunan Paku Buwono IV khususnya dalam pupuh Dhandanggula: Nanging siro yen nggeguru kaki amiliha manungsa kang nyata ingkang becik martabate sarta kang wruh ing kukum kang ngibadah lan kang wirangi sokur oleh wong tapa ingkang wus amungkul tan mikir pawewehing liyan iku pantes sira guronana kaki sartane kawruhana.

Lamun ana wong micoreng ngelmi tan mupakat ing patang perkara aja sira age-age anganggep nyatanipun saringana dipun baresih limbangen lan kang patang prakara rumuhun dalil kadis lan ijemak lan kiyase papat iku salah siji ana kang mupakat. Ana uga kena den antepi yen ucula kang patang prakara ora enak legatane tan mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi tinggal wektu panganggepe wes angengkoki aja kudu sembahyang wus salat katanggung banjure buwang sarengat batal karam nora ngango den rawati mbubrah sagehing tata.

Terjemahannya:. Jika anda belajar, anakku pilihlah orang yang benar yang baik martabatnya serta yang tahu akan hukum yang beribadah dan saleh apalagi bila orang yang suka bertapa yang telah mencapai tujuan tak memikirkan pemberian orang lain itu pantas kau belajar kepadanya serta ketahuilah.

Jika ada orang yang membicarakan ilmu tak sepakat kepada empat hal jangan engkau tergesa-gesa menganggap kenyataannya saringlah sampai bersih pilihlah dengan yang empat perkara yang lalu dalil hadits dan ijmak dan empat kiyas itu salah satu usahakan ada yang sepakat.

Ada juga yang mantap kalau tepat empat perkara sungguh tidak tepat hanya meninggalkan waktu menganggap sudah tepat hendak tidak salat hanya bikin tanggung lalu membuang syari’at batal haram tak peduli lalu bikin kacau. Dari beberapa bait di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kriteria guru yang baik (yang pantas untuk dijadikan sebagai guru) menurut Kanjeng Susuhunan Paku Buwono IV adalah sebagai berikut.

a. Guru yang nyata atau benar Dalam Serat Wulangreh di jelaskan bahwa salah satu kriteria guru yang baik adalah seorang guru yang nyata atau benar. Nyata atau benar dalam arti mempunyai pengetahuan dan mampu mengamalkannya dalam bentuk proses pembelajaran dan pengajaran (Arifin, 2006: 56). Sinuwun Paku Buwono IV merasa perlu mengemukakan syarat untuk dijadikan guru yaitu seorang guru yang nyata, sebab pada masa mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi banyak orang yang mengaku-aku sebagai orang yang telah mumpuni dengan cara yang sombong ia minta diakui umum sebagai guru sejati yang berkompeten, artinya, seorang guru jelas mempunyai kemampuan atau sehingga dia patut untuk mengajar.

Guru dituntut untuk berkompeten dalam bidang pembelajaran dan mampu melaksanakan pembelajaran tersebut. Sebelum melaksanakan pembelajaran seorang guru harus mempersiapkan materi apa yang akan diajarkan dan metode apa yang akan digunakan dalam pembelajaran tersebut, sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat tepat guna, efektif dan efisien, karena itu terkait dengan tugas dan peranan seorang guru. Tugas dan peranan guru antara lain: menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi siswa.

Tugas guru dalam proses belajar mengajar meliputi tugas paedagogis dan tugas administrasi. Tugas paedagogis adalah tugas membantu, membimbing dan memimpin.

Rifa’i sebagaimana dikutip oleh Suryosubroto yang mengatakan bahwa: …… Dalam situasi pengajaran, gurulah yang memimpin dan bertanggung jawab penuh atas kepemimpinan yang dilakukan itu. Ia tidak melakukan instruksi-instruksi dan tidak berdiri dibawah instruksi manusia lain kecuali dirinya sendiri, setelah masuk dalam situasi kelas (1997: 4). Jadi, setelah masuk kelas tugas guru adalah sebagai pemimpin dan bukan semata-mata mengontrol atau mengritik (Suryosubroto, 1997: 4).

Ditinjau dari kompetensinya, guru yang nyata atau benar menurut Paku Buwono IV merupakan kompetensi pedagogik, personal, profesional, dan sosial. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa guru harus dari orang yang nyata memiliki keempat kompetensi untuk mengajarkan ilmu yang dimilikinya dalam proses pembelajaran, dengan harapan tujuan pembelajaran dapat tercapai serta pergaulan sosial seorang guru dengan masyarakat berlangsung dengan baik.

b. Baik martabatnya Kata martabat berasal dari bahasa arab martabatun. Di dalam kamus besar bahasa Indonesia dijelaskan bahwa martabat artinya tingkat harkat kemanusiaan atau harga diri. Martabat juga diartikan kebesaran, kemuliaan, harga diri (Munandir dan Imam Hanafi, 2005: 38). Jadi, martabat guru adalah kemuliaan, kebesaran, dan harga diri yang dimiliki oleh seorang guru. Mengacu pada pemikiran Kanjeng Susuhunan Paku Buwno IV mengapa guru harus mempunyai martabat yang baik karena guru menjadi panutan atau contoh bagi peserta didik bahkan masyarakat.

Bagaimana seorang peserta didik mau mengikuti apa yang guru ajarkan kalau dia sendiri tidak bisa menjaga martabatnya. Mereka tentunya akan selalu menganggap bahwa guru tersebut tidak pantas untuk dijadikan sebagai guru. Bahkan guru tersebut akan dicoret dari daftar seorang guru, karena dia memang tidak layak atau tidak pantas menjadi guru. Ditinjau dari kompetensinya bahwa mempunya martabat yang baik atau bermartabat merupakan kompetensi personal (kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik) yang harus dimiliki oleh seorang guru.

Tingkah laku personal dan hubungan sosial seorang guru sangat diperhatikan oleh peserta didik khususnya dan masyarakat pada umumnya. Ada beberapa hal yang dilakukan oleh seorang guru untuk menjaga martabat dan hal ini juga merupakan karakteristik seorang pendidik yang mengikuti Rasulullah diantaranya : jujur dan amanah, komitmen dalam ucapan dan tindakan, adil dan egaliter, berakhlak karimah, rendah hati, baik dalam tutur kata dan tidak egois.

1) Jujur dan amanah adalah mahkota seorang guru. Jika tidak ada kejujuran dan amanah padanya, maka tidak ada pula kepercayaan manusia terhadap ilmu yang dimilki, serta apa-apa yang ada pada dirinya, seorang murid wajar jika ia menerima apa saja yang diucapkan oleh gurunya, sehingga apabila seorang murid mengetahui akan kebohongan seorang guru, maka bisa jadi kepercayaan murid langsung berbalik arah (tidak percaya lagi), atau bisa jadi kebohongan itu dapat menjatuhkan prestise seorang guru dimata muridnya.

Hal ini juga yang menentukan martabat seorang guru. 2) Guru juga harus komitmen dalam ucapan dan tindakan, termasuk karakter yang tidak terpuji adalah seorang guru yang ucapan dan tindakannya tidak kompatibel. Ucapan dan tindakan seorang guru yang tidak kompatibel membuat murid menjadi bingung serta menjadikan ia seorang yang labil.

3) Adil dan egaliter juga karater yang harus dimiliki seorang guru, urgensi merealisasikan keadilan dan egaliter terhadap murid, agar dapat tersebar rasa kecintaan dan kasih sayang diantara mereka. Menegakan keadilan merupakan cara untuk mendapat kualitas dan derajat yang baik.

4) Berakhlak karimah, berakhlak karimah merupakan suatu kelayakan bagi seorang guru, begitu juga mendorong muridnya untuk berbuat demikian. Tutur kata yang halus serta wajah yang sumringah merupakan sebab yang dapat menghilangkan kecanggungan antara guru dan murid.

5) Rendah hati (tawadlu’), dapat menghilangkan kecanggungan murid kepada guru. Rendah hati merupakan alat yang mulia untuk menghantarkan empunya kepada kemuliaan dan keagungan. 6) Baik dalam tutur kata, berkata baik merupakan sesuatu yang terpuji dan memberikan dampak positif bagi orang lain. Sedangkan mengolok-olok berarti menghina orang lain, merendahkannya, dan mengundang permusuhan serta kebencian. Lantas apa jadinya bila sorang guru terbiasa berbuat demikian.

7) Tidak egois, egois merupakan perbuatan yang hanya mementingkan diri sendiri. Musyawarah merupakan bentuk menjauhi sifat egois, musyawarah harus dilakukan oleh seorang guru, jika ia mengahadapi suatu persoalan dan permasalan yang sulit (asy-Syalhub, 2005: 11). c. Tahu akan hukum Tahu akan hukum dapat dimaknai dua yaitu pertama, mengetahui hukum syari’at agama Islam. Kedua, mengetahui hukum-hukum pengajaran atau pendidikan karena ini kaitannya dengan orang yang menuntut ilmu, bahkan Kanjeng Sunan Paku Buwono IV memerintahkan untuk mencari guru yang benar-benar mengetahui hukum syari’at Islam serta hukum-hukum pendidikan atau pengajaran (Harsono, 2005: 15).

Ditinjau dari kompetensinya, bahwa pemikiran Paku Buwono IV yaitu tahu akan hukum merupakan kompetensi profesional (kemampuan menguasai materi secara luas dan mendalam) yang harus dimiliki oleh guru, di antaranya: menguasai bahan pengajaran, menguasai program kerja, menguasai pengelolaan kelas, mampu menggunakan media, menguasai landasan-landasan kependidikan, mampu mengelola interaksi belajar mengajar, menilai prestasi peserta didik untuk kependidikan dan pengajaran di sekolah, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.

Artinya seorang guru harus profesional dalam bidangnya. d. Beribadah Beribadah kata dasarnya adalah ibadah, ibadah berasal dari akar kata abada yang berarti menyembah. Orang yang menyembah disebut abdun (mufrad) atau ibaadun (jamak).

Dengan kata lain orang yang menyembah adalah abdun atau ibaadun, bentuk pekerjaannya disebut ibadah. Kata ibaadun bisa berarti orang yang beribadah, pengabdi atau pelayan. Menurut Paku Buwono IV seorang guru harus taat beribadah dalam arti melaksanakan semua perintah syari’at, misalnya shalat lima waktu tidak boleh ditinggalkan, siapa yang meninggalkan akan merugi.

Kaitannya dengan seorang guru, beliau Paku Buwono IV mempunyai pemikiran bahwa salah satu kriteria guru yang baik adalah guru yang beribadah, baik ibadah mahdlah maupun ibadah ghairu mahdlah. Ibadah mahdlah misalnya shalat, haji dan lain-lain, sedangkan ibadah ghairu mahdlah misalnya menolong sesama dan termasuk pengabdiannya kepada sesama yaitu mengajar dan mendidik kepada peserta didik.

Guru harus bisa menyeimbangkan antara pengabdiannya kepada Allah maupun pengabdian kepada sesama. e. Wira’i Menurut Paku Buwono IV seorang guru harus senantiasa wira’i (Harsono, 2005: 39). Wira’i atau wara’ dalam kitab Ta’limul Muta’allim ditafsirkan guru harus dapat menjaga kredibelitas status sehingga bisa menjaga diri dari perbuatan yang dilarang oleh agama serta menjaga diri dari nafsu amarah (az-Zarnuji, t.t.

13). Wira’i juga berarti selalu menghindari perbuatan-perbuatan yang mengarah pada dosa dan maksiat (menjaga diri). Seorang guru harus bisa menjaga diri jangan sampai terjerumus ke jurang kemaksiatan yang pada akhirnya akan menjatuhkan martabat dan kewibawaannya sebagai guru.

mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi

Ditinjau dari komptensinya, wira’i merupakan kompetensi personal (kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik), karena wira’i adalah sifat yang dimiliki seseorang secara personal, secara sosialnya mereka dalam bergaul dengan masyarakat harus senantiasa wira’i.

Guru yang wira’i senantiasa selalu menjaga dirinya dan penuh hati-hati disetiap tindakannya, dan mereka takut ketika bertindak yang tidak sesuai dengan syari’at-syari’at Islam. Wira’i sangat terkait dengan kehidupan sosial masyarakat. Dan ini merupakan kompetensi personal seorang guru yang berat untuk dilaksanakan. Walaupun berat tapi sifat wira’i yang dimiliki akan senantiasa menjaga kedudukan atau martabatnya.

f. Bertapa (berpuasa) Paku Buwono IV mengajarkan bahwa bertapa merupakan salah satu kriteria guru yang baik. Makna secara bahasa bertapa adalah berpuasa. Puasa dapat diartikan menahan untuk tidak mudah marah (sabar), dan juga menahan atau mengekang hawa nafsu (asy-Syalhub, 2005: 30).

Paku Buwono memerintahkan supaya mengurangi makan (berpuasa) dan tidur, agar berkuranglah nafsu yang merajalela sehingga batin akan terasa tenang. Batin yang tenang bisa menumbuhkan sifat sabar. Sabar dalam etimologi berarti “mengekang”, ia merupakan posisi yang tinggi, yang tidak dapat diraih kecuali oleh orang-orang yang berhati mulia dan berjiwa suci.

Amarah yaitu gejolak dalam jiwa yang membuat sang pelakunya buta, tidak dapat membedakan mana yang benar dan yang salah. Amarah merupakan suatu tindakan yang tidak terpuji kecuali marah demi menegakkan agama Allah. Seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, beliau adalah sosok orang yang tidak pernah marah terhadap dirinya sendiri sehingga tidak ada sesuatu apa pun (nafsu) yang menang.

Tetapi beliau akan marah jika kehormatan Allah dirusak dan diinjak-injak oleh manusia (Harsono, 2005: 39). g. Ikhlas (tak memikirkan pemberian orang lain) Menurut Paku Buwono IV keikhlasan seorang guru merupakan salah satu kriteria guru yang baik (Harsono, 2005: 16). Tugas guru dalam mengajar tidak bisa disamakan dengan mencari pangkat ataupun prioritas, karena memang dalam tugas tersebut, seorang guru adalah lebih mulia dan lebih luhur dari pada yang lain, sehingga ketika suatu keilmuan semakin mulia dan memberikan banyak kemanfaatan bagi manusia, maka hal itu dapatlah mengangkat derajat seorang guru menjadi mulia dan tinggi (asy-Syalhub, 2005: ix).

Jika seorang guru ikhlas beramal semata untuk Allah dan niat mengamalkan ilmunya untuk kemanfaatan manusia, mengajarkan kebaikan, serta memberantas kebodohan, maka semua itu dapat memperbanyak amal kebaikannya, juga menambah ganjarannya, seperti sabda nabi Muhammad yang artinya semua amal tergantung dengan niat (Harsono, 2005: 16).

Kriteria ikhlas itu sendiri bukan hanya bersih dari tujuan lain selain Allah yang bersifat lahir seperti mengajar untuk mendapatkan upah atau gaji, misalnya. Lebih dari itu, ikhlas berhubungan dengan niat yang letaknya dalam hati, dan itu merupakan proses panjang, sepanjang usia manusia dalam usahanya menjadikan dirinya menjadi manusia yang sempurna (Rusn, 1998: 69).

h. Berlandaskan dalil, hadits, ijma’ dan qiyas Kanjeng Susuhunan Paku Buwono IV dalam Serat Wulangreh juga mengajarkan bahwa orang yang mengajarkan ilmu (guru) hendaknya juga berlandaskan dalil (al-Qur’an), Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Hal ini tentunya sesuai dengan tradisi yang diajarkan oleh pendidikan agama Islam.

Kalau tidak ada kaitannya dengan keempat landasan tersebut, maka pengetahuan yang diajarkan itu bisa terjerumus ke jurang kesesatan (Munarsih. 2005: 14). Ditinjau dari kompetensi guru yang berpegang kepada keempat dasar di atas merupakan kompetensi personal, yaitu memiliki kemampuan kepribadian yang mantap.

Dalam setiap tindakan atau tingkah lakunya secara personal harus sesuai dengan keempat dasar tersebut (al-Qur’an, Hadits, Ijma’, dan Qiyas). Jika seorang guru meninggalkan salah satunya, maka mereka akan tersesat yang berakibat pada dirinya sendiri bahkan paserta didiknya. Karena guru adalah panutan atau teladan perilaku keberagamaan peserta didik maupun masyarakat. Keempat dasar di atas adalah dasar atau petunjuk dalam kehidupan.

Tanpa dasar tersebut maka ibarat berjalan di medan yang gelap gelita tanpa adanya penerangan atau lampu. Petunjuk diibaratkan sebuah lampu yang menunjukkan mana jalan yang baik dan mana jalan yang jelek. Dengan petunjuk manusia akan tahu mana yang khaq dan mana yang batal. Menurut hemat penulis setelah meninjau beberapa kriteria guru yang baik menurut Paku Buwono IV dalam Serat Wulangreh dari kompetensi guru terkesan bahwa kriteria guru tersebut hanya termasuk kompetensi pedagogik, personal, dan profesional.

Tetapi kriteria tersebut akan berpengaruh pada kompetensi sosial seorang guru. Jika seorang guru bisa mempunyai kriteria guru yang nyata, baik martabatnya, berpengetahuan, beribadah, wira’i, bertapa, ikhlas, dan berlandaskan Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas, tentu sangat perpengaruh sekali pada kehidupan sosial seorang guru, dengan kata lain hubungan sosialnya dengan peserta didik, orang tua wali, sesama guru dan masyarakat sekitar terjalin dengan baik, efektif dan efisien.

Oleh karena itu dari kriteria guru menurut Paku Buwono IV ada muatan kompetensi sosial. 2. Adab Terhadap Guru Menurut Imam Al Ghazali Imam Al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 H/1058 M di kota Thus yang merupakan kota kedua di Khurasan setelah Naysabur. Beliau berasal dari keluarga Muslim dengan anggota keluarganya sebagai pemintal wol.

Imam Al-Ghazali selanjutnya dikenal sebagai seorang filsuf, teolog, ahli hukum, dan Sufi. Imam Al-Ghazali wafat di Thus pada hari senin, 14 Jumada al-Akhir 505 H/1111 M dalam usia 55 tahun. Al-Hujjah al-Islam Zaynuddin al-Thusi Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al- Ghazali di kuburkan di Zhahir al-Thabiran, ibu kota Thus (Al-Ghazali, 2003: 18).

Al-Ghazali juga aktif menulis dalam berbagai bidang ilmu dengan susunan dan metode yang sangat bagus. Mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi sebuah riwayat, bahwa ketika Al-Ghazali menulis bukunya Al-Mankhul dan memaparkan kepada gurunya untuk meminta pendapatnya tentang karyanya itu, Imamul Haramain mendesah ketika membacanya dengan sungguh-sungguh: “Wahai, engkau telah memudarkan ketenaranku sebagai seorang penulis, sampai-sampai aku berasa telah mati.” Pada saat kematiannya, Imam Haramain meninggalkan beberapa karya terkemuka dan empat ratus ulama istimewa sebagai murid-muridnya, tetapi Al-Ghazali melampaui mereka semua (Qayyum, 1985: 6).

Al-Ghazali memiliki watak semangat untuk mengetahui hakekat kebenaran. Namun semangat ini terkalahkan oleh kedudukannya di masa muda. Akan tetapi, setelah mendalami beberapa ilmu tersebut dan ketika hasratnya pada kedudukan dan jabatan hilang, semangatnya untuk mencari hakekat kebenaran semakin kuat. Berkaitan dengan hal ini, Al-Ghazali menyatakan: …… Sekarang aku tidak seperti dahulu. Jika dahulu aku masih mencari kedudukan. Sekarang tujuanku memperbaiki pribadiku dan juga orang lain.

Aku mengajak menuju ilmu yang bisa untuk meninggalkan kedudukan duniawi dan untuk mengetahui rendahnya mencari kedudukan. Bukan aku yang menggerakkan, tetapi Allah yang memperjalankan aku.

Segala sesuatu yang aku kerjakan ini semata-mata ikhlas karena Allah SWT (Al-Ghazali, 2008: 19). Al-Ghazali meninggal dengan husnul khatimah pada hari senin tanggal 14 juamadil akhir tahun 505 H (1111 M) di Thusia. Jenazahnya dikebumikan di samping makam Al-Firdausi, seorang ahli syair yang termasyhur.

Sebelum meninggal Al-Ghazali pernah mengucapkan kata-kata yang di ucapkan pula oleh Francis Bacon seorang filsuf Inggris, yaitu: Kuletakkan arwahku di hadapan Allah dan tanamkanlah jasadku dilipat bumi yang sunyi senyap. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir umat manusia di masa depan (Al-Ghazali, 1994: 25).

Ia meninggalkan pusaka yang tidak dapat dilupakan oleh umat muslimin pada khususnya dan dunia pada umumnya dengan karangan-karangannya yang berjumlah hampir seratus buah banyaknya. Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali ditulis pada abad ke-5 Hijriyah tahun 489 H. Kitab ini ditulis dalam masa pengembaraan beliau dalam mencari hakikat kebenaran, tepatnya pada masa perjalanan beliau pulang dari ibadah haji menuju Damaskus dan Baitul Maqdis. Sampai beliau menetap dan tinggal di Damaskus, tepatnya di sebelah barat Masjid Jami’ Al-Umawi, di suatu sudut yang terkenal sampai sekarang dengan nama “Al-Ghazaliyah”.

Nama sudut tersebut diambil dari nama Al-Ghazali, dan pada masa itulah ia mulai mengarang kitab Ihya’ Ulumuddin. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Fadhalalla Haeri, bahwa, …… Imam Al-Ghazali’s book called Revival of the Religious Sciences is considered to be his greatest work.

It is the spiritual experience. This made him one of the most influential theologians in the Muslim world, as well as making the orthodox religious scholars take sufi movements seriously (Haeri, 1990: 99). Kitab Imam Al-Ghazali yang disebut dengan Ihya’ Ulumiddin, merupakan hasil karyanya yang terbesar. Kitab ini merupakan hasil dari pengalaman spiritual. Karyanya yang satu ini sangat berpengaruh terhadap para teologi di dunia Islam, sebagaimana menjadikan pelajar-pelajar Kristen dengan pergerakan sufi secara serius.

Al-Ghazali merupakan seorang ulama Sufi yang banyak mengulas masalah keguruan, dan menempatkan posisi guru sebagai profesi yang sangat mulia.

Hal ini berawal dari perhatiannya yang sangat mendalam tentang ilmu dan pendidikan. Berkaitan dengan ilmu pengetahuannya, manusia mencakup empat macam keadaan, antara lain: Pertama, dalam keadaan mencari.

Kedua, dalam keadaan berusaha. Ketiga, dalam keadaan menghasilkan yang tidak perlu lagi kepada bertanya dan Keempat dalam keadaan meneliti, yaitu berpikir mencari yang baru dan mengambil faedah darinya (Al-Ghazali, 1994: 212).

Karena kemuliaan tersebut, bagi orang yang berilmu, baramal dan mengajar, disebut orang yang besar dalam alam malakut tinggi. Ia laksana matahari yang menyinarkan cahayanya kepada lainnya dan menyinarkan pula kepada dirinya sendiri. Ia laksana kasturi yang membawa keharuman kepada lainnya dan ia sendiripun harum. Berkaitan dengan orang yang berilmu namun tidak beramal menurut ilmunya, Al-Ghazali memberikan beberapa perumpamaan, antara lain: manusia seumpama suatu daftar yang memberi faedah kepada yang lainnya, akan tetapi ia sendiri kosong dari ilmu pengetahuan.

Seumpama batu pengasah yang menajamkan lainnya akan tetapi ia sendiri tidak dapat memotong. Seumpama jarum penjahit yang dapat menyediakan pakaian untuk lainnya akan tetapi ia sendiri telanjang. Seumpama sumbu lampu yang dapat menerangi lainnya akan tetapi ia sendiri terbakar. Hal ini sebagaimana kata pantun: ……. Dia hanyalah laksana sumbu yang menyala menerangi manusia. Ia terbakar jadi abu dan orang lain yang mendapatkan sinarnya (Adnan 1993: 19).

Dari beberapa perumpamaan di atas, maka dapat dipahami bahwa profesi guru merupakan profesi yang paling mulia dan paling agung dibandingkan dengan profesi yang lain. Dengan profesinya tersebut, seorang guru menjadi perantara antara manusia dalam hal ini murid, dengan penciptanya yaitu Allah SWT. Dengan demikian, maka seorang guru telah mengemban pekerjaan yang sangat penting. Sehingga guru dianggap sebagai bapak kerohanian, yaitu seseorang yang mempunyai tugas sangat tinggi dalam dunia ini.

Ia memberikan ilmu sebagai makanannya, sebagai kebutuhan manusia yang tinggi, disamping ia sebagai alat untuk sampai kepada Tuhan. Menurut Al-Ghazali, guru adalah seseorang yang bertugas untuk menyempurnakan, mensucikan dan menjernihkan serta membimbing anak didiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana pernyataan Al-Ghazali, yang juga menggambarkan ketinggian derajat dan kedudukan seorang guru, bahwa …….

Guru itu berpengurusan dalam hati dan jiwa manusia. Yang termulia di atas bumi, ialah jenis manusia. Yang termulia dari bagian tubuh manusia ialah hatinya. Guru itu bekerja menyempurnakan, membersihkan, mensucikan dan membawakan hati itu mendekati Allah ‘Azza wa Jalla. Mengajarkan ilmu itu dari satu segi adalah ibadah kepada Allah Ta’ala dan dari segi yang lain adalah menjadi khalifah Allah Ta’ala. Dan itu adalah yang termulia menjadi khalifah Allah.

Bahwa Allah telah membuka pada hati orang berilmu, akan pengetahuan yang menjadi sifat-Nya yang teristimewa, maka dia adalah seperti penjaga gudang terhadap barang gudangnya yang termulia. Kemudian diizinkan berbelanja dengan barang itu untuk siapa saja yang membutuhkannya (Al-Ghazali, 1994: 77). Berdasarkan pemaparan di atas, maka orang yang berilmu diwajibkan untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Adapun seorang guru tidak hanya sebatas mengamalkan ilmunya saja, akan tetapi mengamalkan harus dilandasi dengan keikhlasan dalam mendidik dan mengajarkan ilmunya kepada anak didik mereka.

Karena ikhlas merupakan amal hati yang menjadi syarat diterimanya amal-amal seseorang. Sehingga tiada sempurna sebuah amal tanpa dilandasi keikhlasan.

Seorang guru berperan penting dalam melepaskan murid-muridnya dari api neraka akhirat, yakni dengan ilmu yang diajarkan kepadanya. Sementara ibu bapaknya, hanya melepaskan anaknya dari neraka dunia. Oleh sebab itu, hak seorang guru lebih besar daripada hak ibu bapaknya. Adapun guru yang dimaksud di sini adalah guru yang memberikan kegunaan hidup akhirat yang abadi.

Yakni guru yang mengajar ilmu akhirat ataupun ilmu pengetahuan duniawi, tetapi dengan tujuan akhirat, bukan untuk tujuan dunia (Al-Ghazali, 1994: 212-213). Berkaitan dengan masalah upah atau imbalan, Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa seorang guru harus mengikuti jejak Rasulullah SAW. Ia tidak mencari upah, balasan dan juga ucapan terimakasih dengan mengajar itu.

Tetapi seorang guru mengajar karena Allah dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Adapun seorang guru diperbolehkan untuk memandang bahwa dirinya telah berbuat suatu perbuatan yang baik, dengan menanamkan ilmu pengetahuan dan mendidik jiwa para muridnya.

Hal ini agar hatinya senantiasa dekat dengan Allah SWT (Al-Ghazali, 1994: 214). Al-Ghazali membuat perumpamaan tentang posisi guru dan murid dengan seorang yang meminjamkan sebidang tanah untuk ditanami didalamnya tanam-tanaman yang hasilnya untuk peminjam tersebut. Maka faedah atau manfaat yang diperoleh dari peminjam tanah melebihi faedah yang diperoleh dari pemilik tanah itu.

Dengan demikian, maka seorang guru tidak perlu menyebut jasa-jasanya sebab mengajar. Karena pada hakikatnya pahala yang diperoleh guru dari mengajar tersebut, ada pada Allah Ta’ala lebih banyak dari pahala yang diperoleh murid. Akan tetapi mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi murid juga sangat penting, mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi jika tidak ada murid yang belajar, maka guru pun tidak akan memperoleh pahala tersebut.

Selain itu, proses pembelajaran pun tidak akan berjalan. Sehingga hubungan guru dan murid pun harus senantiasa terpelihara dengan baik (Al-Ghazali, 1994: 214-215). Dalam pengamalan ilmu juga dibutuhkan keikhlasan agar mampu menjadi jembatan amal perbuatannya, sehingga amalnya dapat diterima oleh Allah SWT.

Orang yang berilmu akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada orang yang tidak berilmu. Hal ini sesuai dengan janji Allah dalam Al-Qur’an, yang artinya: ……. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 97).

Ayat tersebut, menegaskan kepada seluruh manusia bahwa Allah akan memberikan kehidupan yang jauh lebih baik bagi orang yang berilmu. Adapun yang ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman. Seorang guru hendaknya tidak terkecoh oleh kesenangan duniawi, yang hanya akan membuatnya menjadi hina, baik dimata Allah maupun dimata manusia.

Karena sejatinya Allah telah memberikan kelebihan dan kenikmatan bagi orang yang berilmu. Berkaitan dengan ini, Al-Ghazali mengatakan betapa kotornya orang berilmu, yang rela untuk dirinya kedudukan duniawi. Sementara ia berbohong dan menipu diri sendiri dengan tidak malu mengatakan: Maksudku dengan mengajar ialah menyiarkan ilmu pengetahuan, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menolong agama-Nya (Al-Ghazali, 1994: 215).

Adapun mengenai seorang guru, Al-Ghazali menyatakan bahwa siapa yang menekuni sebagai tugas sebagai pengajar, berarti ia tengah menempuh suatu perkara yang sangat mulia. Oleh karena itu, ia harus senantiasa menjaga adab dan tugas yang menyertainya. Antara lain sebagai berikut. a. Tugas dan Adab yang Pertama Tugas dan adab yang pertama adalah mempunyai rasa belas-kasihan terhadap murid-muridnya dan memperlakukan mereka sebagai anak sendiri. Dalam hal ini seorang guru berperan untuk melepaskan murid-muridnya dari api neraka akhirat, yakni dengan ilmu yang diajarkannya.

Hal ini lebih penting dari usaha kedua ibu bapak, melepaskan anaknya dari neraka dunia. Oleh karena itu, hak seorang guru lebih besar dari hak ibu bapaknya. Orang tua menjadi sebab lahirnya anak itu dan dapat hidup di dunia yang fana ini. Sedangkan guru menjadi sebab anak itu memperoleh hidup kekal. Jika tidak ada seorang guru, maka apa yang diperoleh anak dari orang tuanya, dapat membawa kepada kebinasaan yang terus menerus.

Guru memberikan keagungan hidup akhirat yang abadi. Guru di sini yang mengajarkan ilmu akhirat ataupun ilmu pengetahuan duniawi, tetapi dengan tujuan akhirat, tidak dunia (Al-Ghazali, 1994: 212-213). Adapun mengajar dengan tujuan dunia, maka akan binasa dan membinasakan. Sebagaimana hak anak-anak dari seorang ayah, saling mengasihi dan saling membantu dalam mencapai mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi maksud, maka demikian juga dengan kewajiban murid-murid terhadap seorang guru, saling mengasihi dan menyayangi.

Semua itu akan terwujud, bila tujuan guru dan murid adalah akhirat. Namun jika tujuannya dunia, maka yang ada hanyalah saling mendengki dan saling bermusuh-musuhan. b. Tugas dan Adab yang Kedua Tugas dan adab yang kedua adalah mengikuti jejak Rasul SAW. Dalam hal ini tidak mencari upah, balasan dan juga ucapan terimakasih dengan mengajar itu. Tetapi seorang guru mengajar karena Allah dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Ia tidak melihat, bahwa dirinya telah menanam budi baik kepada murid-muridnya Itu.

Akan tetapi, guru itu harus memandang bahwa dia telah berbuat suatu perbuatan yang baik, karena telah mendidik jiwa anak-anak itu. Supaya hatinya dekat dengan Allah Ta’ala dengan menanamkan ilmu pengetahuan kepadanya (Al-Ghazali, 1994: 214-215). c. Tugas dan Adab yang Ketiga Tugas dan adab yang ketiga, tidak meninggalkan nasehat sedikitpun kepada yang demikian itu, ialah dengan melarangnya mempelajari suatu tingkat, sebelum berhak pada tingkat itu.

Belajar ilmu yang tersembunyi sebelum selesai ilmu yang terang. Kemudian menjelaskan kepadanya bahwa maksud dengan menuntut ilmu itu, ialah mendekatkan diri kepada Allah. Bukan karena keinginan menjadi kepala, kemegahan dan perlombaan (Al-Ghazali, 1994: 215-216).

d. Tugas dan Adab yang Keempat Tugas dan adab yang keempat, seorang guru harus bersikap lemah lembut dalam mengajar, ketika guru menghardik muridnya dari berperangai jahat, maka dengan cara sindiran selama mungkin dan tidak dengan cara terus terang.

Dengan cara kasih sayang, tidak dengan cara mengejek. Sebab, kalau dengan cara terus terang, menghilangkan rasa takut murid kepada guru.

Selain itu, mengakibatkan murid berani menentang dan suka meneruskan sifat yang tidak baik tersebut (Al-Ghazali, 1994: 217-218). e. Tugas dan Adab yang Kelima Tugas dan adab yang kelima, seorang guru yang bertanggung jawab pada salah satu mata pelajaran, tidak boleh melecehkan mata pelajaran yang lain dihadapan muridnya.

Sebaliknya, yang wajar hendaklah seorang guru yang bertanggung jawab sesuatu mata pelajaran, membuka jalan seluas-luasnya kepada muridnya untuk mempelajari mata pelajaran yang lain. Apabila seorang guru bertanggung jawab untuk dalam beberapa ilmu pengetahuan, maka hendaklah menjaga kemajuan si murid dari setingkat ke tingkat (Al-Ghazali, 1994: 217-218).

f. Tugas dan Adab yang Keenam Tugas dan adab yang keenam, guru harus menyingkatkan pelajaran menurut tenaga pemahaman si murid. Jangan di ajarkan pelajaran yang belum sampai otaknya kesana.

Setelah murid memahaminya barulah guru mengembangkan pengetahuan tersebut secara mendalam (Al-Ghazali, 1994: 217-218). g. Tugas dan Adab yang Ketujuh Tugas dan adab yang ketujuh, kepada seorang pelajar yang singkat paham, hendaklah diberikan pelajaran yang jelas, yang layak baginya. Janganlah disebutkan kepadanya, bahwa di balik yang diterangkan ini, ada lagi pembahasan yang mendalam yang disimpan, tidak dijelaskan. Karena yang demikian itu, mengakibatkan kurang keinginannya pada pelajaran yang jelas itu dan mengacaukan pikirannya.

Sebab menimbulkan dugaan kepada pelajar itu nanti, seolah-olah gurunya kikir, tak mau memberikan ilmu itu kepadanya (Al-Ghazali, 1994: 221). h. Tugas dan Adab yang Kedelapan Tugas dan adab yang kedelapan, seorang guru harus mengamalkan ilmunya sepanjang masa. Ia harus menjaga perkataannya agar sesuai dengan perbuatannya. Karena ilmu dilihat dengan mata hati dan amal dilihat dengan mata kepala.

Apabila amal tidak sesuai dengan ilmu, maka akan tersesat dan menyesatkan. Seperti perumpamaan guru yang mursyid dengan para muridnya, ialah seumpama ukiran dari abu tanah dan bayang-bayang dari kayu.

Bagaimanakah abu tanah itu terukir sendiri tanpa benda pengukir dan kapankah bayang-bayang itu lurus sedang kayunya bengkok? Hal ini sebagaimana pantun berikut: ……. Janganlah engkau melarang suatu pekerti, sedang engkau sendiri melakukannya. Malulah kepada diri sendiri, dilihat orang engkau mengerjakannya (Al-Ghazali, 1994: 222). . Pantun tersebut sesuai dengan sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya, Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri.

(QS. Al-Baqarah, ayat 44). Ayat ini mengandung pengertian, bahwa tujuan ayat ini bukan hanya mencela kepada para ulama karena menyuruh kepada amal ma’ruf sedang mereka sendiri meninggalkannya, namun karena para ulama meninggalkan amal ma’ruf itu, yang merupakan kewajiban bagi setiap individu yang mengetahuinya.

Akan tetapi, hal yang wajib dan utama bagi seorang ulama ialah melakukan beramal ma’ruf dan memerintahkannya kepada orang lain, serta tidak menyalahi mereka. Namun demikian, bukan berarti apabila seorang ulama melakukan kemungkaran (misalnya), kemudian ia tidak boleh melarang orang lain berbuat kemungkaran yang dilakukannya.

Hal ini sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir, bahwa Sa’id bin Jubeir berkata, “Apabila seorang tidak menyuruh kepada amal ma’ruf dan tidak melarang kemungkaran hingga pada dirinya tidak ada perkara apapun, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menyuruh kepada amal ma’ruf dan melarang dari kemungkaran”.

Hal ini menunjukkan, bahwa tidak ada seorang pun yang tidak pernah luput dari kesalahan, termasuk juga seorang ulama dan guru. Namun perlu diketahui, bahwa dosa orang yang berilmu mengerjakan perbuatan maksiat, lebih besar dari dosa orang bodoh. Karena dengan terperosoknya orang berilmu, maka akan terperosok pula orang-orang yang menjadi pengikutnya. Adapun bila dikaitkan dalam lingkungan pendidikan, maka seorang guru diwajibkan untuk menyampaikan apa yang diketahuinya mengenai suatu ilmu kepada muridnya, dan hendaknya perbuatan seorang guru harus sesuai dengan perkataannya.

Karena segala sikap dan tingkah laku guru menjadi perhatian para muridnya. Dari berbagai pemaparan di atas, maka keberhasilan seseorang tergantung pada niatnya, seorang guru akan berhasil dalam mengajar dan mendidik muridnya apabila dilandasi dengan niat yang lurus.

Yakni ketika mengajar dan mendidik, guru senantiasa berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah, menyebarkan ilmunya untuk kebaikan, menghilangkan kebatilan dan menghidupkan agama serta demi kemaslahatan umat. Hal ini yang menggambarkan sikap dan ketulusan seorang guru dalam mengajar dan mendidik murid-muridnya.

3. Memuliakan Guru Menurut Az-Zarnuji Salah satu hal yang menarik dalam ajaran Islam ialah penghargaan Islam yang sangat tinggi terhadap guru. Begitu tingginya penghargaan itu sehingga menempatkan kedudukan guru setingkat di bawah kedudukan nabi. Mengapa demikian? Karena guru selalu terkait dengan ilmu pengetahuan, sedangkan Islam amat menghargai ilmu pengetahuan.

mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi

Dalam kitab-kitab hadits kita menemukan banyak sekali hadits yang mengajarkan betapa tinggi kemuliaan orang yang berilmu pengetahuan, biasanya dihubungkan pula dengan mulianya menuntut ilmu (Tafsir, 2004: 76). Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin al-Ghazali (dalam Zainuddin dkk, 1991: 50) menyebutkan bahwa apabila ilmu pengetahuan itu lebih utama dalam segala hal, maka mempelajarinya adalah mencari yang lebih mulia dan mengajarkannya adalah memberikan faedah bagi keutamaan itu.

Jadi mengajar dan mendidik adalah sangat mulia karena secara naluri orang yang berilmu itu dimuliakan dan dihormati oleh orang. Dan ilmu pengetahuan itu sendiri adalah mulia, maka mengajarkannya adalah memberikan kemuliaan. Pendidik adalah orang kedua yang harus dihormati dan dimuliakan setelah orang tua. Mereka menggantikan peran orang tua dalam mendidik anak-anak atau peserta didik ketika berada di lembaga pendidikan. Dengan demikian seharusnya kita menghargai dan memuliakannya.

Para pendidik serta ulama seperti halnya memuliakan para orang tua kita (Muhtar, 2005: 25). Sejalan dengan itu al-Ghazali mengatakan bahwa ……. Seseorang yang berilmu, kemudian dia mengamalkan ilmunya, maka orang itulah yang dinamakan orang yang berjasa besar di kolong langit ini.

Orang tersebut bagaikan matahari yang menyinari orang lain dan menerangi pula dirinya sendiri ibarat minyak kestari yang baunya dinikmati orang lain dan dia sendiri pun harum. Siapa yang bekerja di bidang pendidikan maka sesungguhnya dia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan sangat penting, maka hendaknya dia memelihara adab dan sopan santun dalam tugasnya itu (Al-Ghazali, t.t. 105-106). Sebenarnya tingginya kedudukan guru dalam Islam merupakan realisasi ajaran Islam itu sendiri.

Islam memuliakan pengetahuan, pengetahuan itu didapat dari belajar mengajar, dan yang mengajar adalah seorang guru. Karena itulah Islam memuliakan guru. Tak terbayangkan terjadinya perkembangan pengetahuan tanpa adanya orang yang belajar dan mengajar, tak terbayangkan adanya belajar dan mengajar tanpa adanya guru, karena Islam adalah agama. Maka pandangan tentang guru, kedudukan guru tidak terlepas dari nilai-nilai kelangitan. Jadi lengkaplah sudah syarat-syarat untuk menempatkan kedudukan tinggi bagi guru dalam Islam.

Untuk mengetahui konsep memuliakan guru menurut pemikiran al-Zarnuji, maka dapat diulas dari kitab Ta’lim al-Muta’allim, yang secara spesifik ditulis dalam bab IV, tentang Memuliakan Ilmu dan Ahli Ilmu. Dalam bab ini beliau membahas secara luas mengenai hubungan guru dengan murid, mencakup beberapa etika yang harus diperhatikan oleh seorang murid, terkait dengan hubungan sebagai sesama manusia dalam keseharian maupun hubungan dalam situasi formal sebagai seorang pengajar dan individu yang belajar.

Akan tetapi dalam hal ini, bagaimana etika atau sikap guru terhadap murid hanya dibahas secara implisit, karena pada dasarnya kitab ini ditulis sebagai pedoman dan tuntunan bagi para penuntut ilmu atau para murid. Belajar merupakan suatu usaha untuk memperoleh ilmu pengetahuan Dengan ilmu pengetahuan dapat mengantarkan seseorang menuju jalan yang terang dan derajat keluhuran.

Dalam bukunya Clifford T Morgan, menyatakan bahwa, Learning is any relatively permanent change in behavior that is the result of past experience (Belajar adalah perubahan dalam tingkah laku yang relatif permanen sebagai hasil dari pengalaman masa lalu) (Morgan, 1961: 219).

Belajar bagi al-Zarnuji lebih dimaknai sebagai tindakan yang bernilai ibadah, yang dapat ikut menghantarkan peserta didik mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi kebahagiaan dunia dan akhirat (dalam Pimay, 1999: 55). Sebab diniati untuk mencari ridho Allah, pengembangan dan pelestarian Islam serta dalam rangka mensyukuri nikmat Tuhan dan menghilangkan kebodohan, serta bukan sekedar reorganisasi atau struktur kognitif dan bukan pula dalam arti perubahan yang relatif permanen yang terjadi karena adanya mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi.

Agama sangat menjunjung nilai-nilai moral dalam kehidupan, terlebih orang-orang yang berilmu. Orang yang mencari ilmu harus memperhatikan dasar-dasar etika agar dapat berhasil dengan baik dalam belajar, memperoleh manfaat dari ilmu yang dipelajari dan tidak menjadikannya sia-sia. Diantara beberapa etika tersebut dapat dipahami dari nasihat-nasihat al-Zarnuji, yang terkait dengan etika dalam menjaga hubungan antara guru dengan murid.

Dalam mengawali pembahasan ini, beliau memberi statement yang bernada suatu penegasan kepada orang yang belajar (murid), penegasan tersebut adalah : Ketahuilah sesunguhnya orang yang mencari ilmu itu tidak akan memperoleh ilmu dan kemanfaatannya, kecuali dengan memuliakan ilmu beserta ahlinya, dan memuliakan guru (dalam Ibrahim bin Isma’il, t.t: 16). Statement ini menjadi semangat yang mendasari adanya penghormatan murid terhadap guru, bahwa murid tidak akan bisa memperoleh ilmu yang manfaat tanpa adanya pengagungan terhadap ilmu dan orang yang mengajarnya.

Jadi untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, membutuhkan jalan dan sarana yang tepat, yakni dengan mengagungkan ilmu yang termasuk dalam mengagungkan ilmu adalah penghormatan terhadap guru dan keluarganya. Apabila kita membuka mata, betapa besar pengorbanan Guru yang berupaya keras mencerdaskan manusia dengan memberantas kebodohan, dengan sabar dan telaten membimbing, mengarahkan murid serta mentransfer ilmu yang dimiliki, sehingga melahirkan individu-individu yang memiliki nilai lebih dan derajat keluhuran baik di mata sesama makhluk maupun di hadapan Allah SWT.

Jadi penghormatan terhadap guru merupakan suatu hal yang wajar karena pada dasarnya guru tidak membutuhkan suatu penghormatan akan tetapi secara manusiawi guru biasanya menjadi tersinggung apabila muridnya bersikap merendahkan dan tidak menghargai.

mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi

Dan sebagai wujud pemuliaan dan penghormatan kepada guru, Sebagai konsekuensi sikap moral atas pengagungan dan penghormatan terhadap guru al-Zarnuji memberikan saran dan penjelasan, bahwa penghormatan tersebut berbentuk sikap konkrit yang mengacu pada etika moral dan akhlak seorang murid terhadap gurunya dalam interaksi keseharian dan dalam bentuk materi.

Dalam kajian Awaluddin bahwa bentuk penghormatan ini, berkaitan dengan kewajiban orang tua murid dalam upaya menjalin suasana keakraban dengan seorang guru, sebagai ungkapan rasa terima kasih dan imbalan atas jasa serta waktu yang telah banyak dicurahkan untuk mendidik murid. Salah satu bentuknya adalah memberikan sebagian hartanya kepada pendidik atau guru (Pimay, 1999: 53).

Pemikiran al-Zarnuji mengenai keutamaan dalam menghormati dan memuliakan guru bukan merupakan sebuah teori semata akan tetapi lebih dari sebuah pemikiran yang mengandung alasan cukup mendasar bagi terbentuknya suatu hubungan yang etis humanitis antara guru dan murid.

Alasan tersebut dikemukakan secara jelas oleh al-Zarnuji : Maka, sesungguhnya orang yang mengajar kamu satu huruf, yang hal itu masalah agama dan kamu perlukan maka dia termasuk (dihukumi) sebagai bapakmu dalam agama (Syeh Ibrahim bin Isma’il, t.t: 15). 4. Konsep Guru Menurut Ibnu Khaldun Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu pendidikan.

Setiap usaha peningkatan mutu pendidikan, perlu memberikan perhatian besar kepada peningkatan guru, baik dalam segi kuantias mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi maupun kualitasnya (mutu). Oleh karena itu, guru merupakan seorang figur yang menempati posisi dan memegang peran penting dalam pendidikan.

Karena peranannya yang begitu besar, maka seorang guru disyaratkan mempunyai kompetensi paedagogik, professional, kepribadian, dan sosial. Ibnu Khaldûn salah satu tokoh Islam yang terkenal. Sebagai bukti dari keterkenalannya itu, bisa dilihat dari berbagai karyanya, baik dalam berbagai sosiologi, ilmu sejarah, ilmu ekonomi, politik Islam, dan juga pakar dalam bidang pendidikan.

Hampir seperempat sisa umurnya menjadi guru dan pengajar di berbagai madrasah dan universitas, ia memang tidak mempunyai buah karya khusus tentang pendidikan. Meskipun tidak banyak, Ibnu Khaldûn telah mengemukakan pemikiran-pemikiran dalam bidang pendidikan yang sangat progresif dan cemerlang, terutama berkenaan dengan guru. Di antara pemikiran Ibnu Khaldun tentang guru, antara lain: 1) guru harus profesional2) tugas utama guru, 3) gaji dan penghasilan guru, dan 4) guru harus memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran; kelima, guru harus memperhatikan metode pembelajaran.

a. Guru Harus Profesional Ibnu Khaldûn menegaskan bahwa seorang guru harus profesional atau ahli dalam bidangnya, sebagaimana iapun berpendapat bahwa, pengajaran ilmu (guru) merupakan salah satu keahlian.

Di halaman yang lain dia berkata bahwa, baiknya suatu keahlian yang diperoleh dengan belajar tergantung kepada baiknya guru dan cara yang digunakan untuk mengajarkannya (Khaldûn, 2005: 476). Lebih lanjut dia mengatakan bahwa, keterampilan dalam suatu ilmu pengetahuan dan aspeknya yang beragam serta penguasaan atasnya, merupakan akibat dari kebiasaan yang memberikan kemungkinan bagi pemiliknya untuk menguasai semua prinsip dasar dan kaidah-kaidahnya, serta untuk memahami problematikanya dan menguasai secara detail terhadap hal-hal yang bersifat prinsipil.

Sejauh kebiasaan itu tidak didapatinya (baca: tidak ada), maka sejauh itu pula keterampilan dalam suatu disiplin khusus (profesional) tidak mungkin diperolehnya. Guru profesional adalah seorang yang melaksanakan tugas pengajarannya dilakukan secara efisien dan efektif dengan tingkat keahlian yang tinggi dalam mencapai tujuan pekerjaan tersebut. Seseorang dikatakan guru profesional, bilamana pada dirinya melekat sikap dedikasi yang tinggi terhadap tugasnya, sikap komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, dan sikap continous improvement, yakni selalu berusaha memperbaiki dan mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi model-model atau cara kerjanya sesuai dengan tuntutan zamannya, yang dilandasi oleh kesadaran yang tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi penerus yang akan hidup pada zaman di masa depan (Muhaimin, 2003: 222).

Berdasarkan berbagai penelitian kualitas pendidikan ditentukan oleh 60% kualitas guru. Jika kualitas gurunya jelek, maka 60% jelek pula kualitas pendidikan. Sebaliknya jika kualitas gurunya baik, maka 60% kualitas pendidikan juga baik dan 40% lainnya dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya.

Artinya jika pendidikan ingin maju, maka harus dimulai dulu dari gurunya. Guru memang benar-benar faktor kunci kalau ingin memajukan pendidikan). Untuk menjadi guru yang profesional tidaklah mudah, karena dia harus memiliki kompetensi-kompetensi keguruan. Di antaranya kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh guru profesional adalah: 1) Penguasaan materi al-Islam yang komprehensif serta wawasan dan pengayaan, terutama pada bidang yang menjadi tugasnya; 2) Penguasaan strategi (mencakup pendekatan, metode, dan teknik) pendidikan Islam, termasuk kemampuan evaluasinya; 3) Penguasaan ilmu dan wawasan pendidikan; 4) Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan pada umumnya guna keperluan pengembangan pendidikan Islam; dan 5) Memiliki kepekaan terhadap informasi secara langsung ataupun tidak langsung yang mendukung kepentingan tugasnya (Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993: 172).

Sedangkan menurut Ibnu Khaldûn, indikator dari guru profesional adalah 1) memiliki ilmu pengetahuan yang beragam dan penguasaan atasnya; 2) menguasai semua prinsip dasar dan kaidah-kaidah tentang ilmu pengetahuan; dan 3) memahami problematikanya dan menguasai secara detail terhadap hal-hal yang bersifat prinsipil dalam pembelajaran.

b. Tugas Utama Guru adalah Memanusiakan Manusia Alasan yang sangat mendasar, seorang guru harus profesional, adalah karena dalam proses pembelajaran guru bertugas, kalau mengambil istilah filosof Yunani, untuk memanusiakan manusia.

Karena sebelum mendapatkan pendidikan, manusia layaknya binatang. Tapi dalam diri manusia, terdapat potensi untuk berpikir ( al-Hayawan al-Nathiq). Potensi berpikir itulah, pada akhirnya yang menjadi pembeda sangat prinsipil antara manusia dengan binatang.

Hal ini senada dengan pernyataan Ibnu Khaldûn (2005: 532) bahwa ”manusia termasuk jenis binatang dan bahwa Allah telah membedakannya dengan mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi kerena kemampuan manusia untuk berpikir yang Dia ciptakan untuknya”.

Lebih lanjut Ibnu Khaldûn (2005: 533-534) menyatakan bahwa manusia dikelompokkan pada semua hewan dalam kebinatangannya, baik dalam hal indera, gerak, makan, tempat berlindung, dan lain sebagainya.

Manusia berbeda dengan hewan-hewan, karena kemampuannya untuk berpikir. Sementara pertukangan (kerajinan) dan ilmu pengetahuan adalah hasil dari kemampuan manusia untuk berpikir, aspek yang membedakannya dengan binatang (Ibnu Khaldûn, 2005: 477). Itulah tugas guru yang mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi utama, yang membantu dan membimbing serta mengarahkan siswanya untuk memaksimalkan potensi pikirnya. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Guru dan Dosen (2003: 2), guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Hal ini ditegaskan oleh Ibnu Khaldûn, agar manusia menjadi manusia, manusia (baca: siswa) tersebut harus berpengetahuan atau mencari orang-orang yang mempunyai ilmu, seperti guru. Sebagaimana kata Ibnu Khaldûn, Lalu manusia itu berpulang pada orang yang lebih dahulu memiliki ilmu, atau yang punya kelebihan dalam suatu pengetahuan, atau mengambil dari para nabi yang telah mendahuluinya (2005: 534).

Manusia minta bantuan para ahli ilmu pengetahuan supaya bisa mencapai kesempurnaan dalam dirinya, kemampuan untuk bisa membedakan (tamyiz), memiliki pengetahuan. Manusia akan mencari orang dewasa guna membimbing dan mengarahkannya untuk mencapai ketiga hal tersebut.

Dari sinilah timbul yang dinamakan dengan proses pendidikan dan pengajaran. Sebab tanpa proses pendidikan dan pengajaran, ketiga hal tersebut, tidak akan dapat tercapai. Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia baik dalam bentuk formal maupun informal. Salah bentuk dari proses tersebut adalah pengajaran, yakni proses transfer of knowledge atau usaha mengembangkan dan mengeluarkan potensi intelektualitas dari dalam diri manusia. Intelektualitas dan pengetahuan itupun belum sepenuhnya mewakili diri manusia.

Oleh karena itu, pendidikan bukan hanya sekedar transfer of knowledge atau peralihan ilmu pengetahuan semata, akan tetapi dengan adanya pendidikan diharapkan peserta didik mampu mengetahui dan memahami eksistensi dan potensi yang mereka miliki. Di sinilah akhir dari tujuan pendidikan, yakni melakukan proses mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi (memanusiakan manusia) yang berujung pada proses pembebasan. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa manusia dalam sistem dan struktur sosial mengalami dehumanisasi karena eksploitasi kelas, dominasi gender maupun hegemoni budaya lain.

Oleh karena itu, pendidikan merupakan sarana untuk memproduksi kesadaran dalam mengembalikan kemanusiaan manusia, dan dalam kaitan ini, pendidikan berperan untuk membangkitkan kesadaran kritis sebagai prasyarat upaya untuk pembebasan. Jadi, yang dimaksud bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia adalah pendidikan bisa mengantarkan peserta didik menuju kematangan dan kedewasaan rohani dan jasmani sehingga peserta didik dapat menjadi manusia yang benar-benar sempurna (manusia seutuhnya), baik dari aspek kecerdasan, emosional, spiritual, sikap, dan lain sebagainya.

c. Guru Berhak untuk Mendapatkan Gaji dan Penghasilan Kalau predikat guru sudah profesional dan sudah melaksanakan tugas utama dari pendidikan, maka sangat wajar kalau guru tersebut menuntut dan berhak untuk memperoleh gaji dan penghasilan. Hal ini ditegaskan dalam UU No.

14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 14, dalam melaksanakan tugasnya, seorang guru berhak memperoleh gaji dan penghasilan. Gaji adalah hak yang diterima oleh guru atas pekerjaannya, sedangkan penghasilan adalah sesuatu hak yang diterima oleh guru sebagai imbalan melaksanakan tugas keprofesionalan yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi dan mencerminkan martabat guru sebagai pendidik profesional. Sebagaimana Ibnu Khaldûn (2005: 465) mengatakan ”orang-orang yang bertugas mengurusi agama, seperti guru di antaranya, adalah orang yang memberikan keuntungan”.

Lebih lanjut dia berkata (Ibnu Khaldûn, 2005: 480) bahwa ”orang tidak akan memberikan pikiran dan tenaganya tanpa upah, sebab pikiran dan tenaganya adalah sumber kehidupan dan keuntungan, bahkan satu-satunya sumber keuntungan selama hidupnya”. Dia berpegangan pada yang dikatakan oleh Ali ra, ”nilai setiap orang terletak pada keahliannya”.

Dalam memandang guru, Ibnu Khaldûn berpendapat bahwa tugas guru adalah pekerja dalam pekerjaan mendidik, atau menurut istilahnya ”industri pendidikan”.

Dia memandang bahwa tuntutan mereka (baca: guru-guru) akan upah mengajar merupakan suatu keniscayaan dan pekerjaan wajar yang tidak akan menjadi aib bagi mereka. Karena industri merupakan satu sarana untuk mencari dan memperoleh rezeki (Sulaeman, 1987: 72). Pandangan di atas, secara sepintas menyebutkan bahwa tugas guru itu hanya bersifat pragmatis realistis.

Tapi menurut hemat penulis, justru dengan diperhatikan kesejahteraan (dalam hal ini adalah gaji) guru, akan sangat menunjang terhadap keberhasilannya dalam proses pendidikan. Sebagaimana yang sering disampaikan oleh para guru-guru dan para praktisi pendidikan serta pakar pendidikan.

Sebab ketika kesejahteraan guru sudah tercukupi, maka konsentrasi guru terhadap proses belajar mengajar pun akan semakin bersemangat dan fokus terhadap profesinya. Walaupun memang tidak adanya jaminan akan seratus persen bahwa adanya korelasi linear antara besarnya kesejahteraan guru dengan keberhasilan dan meningkatnya mutu pendidikan.

Tapi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Supriadi (1998: 42-45), bahwa pengalaman di negara-negara lain menyatakan bahwa salah satu penentu prestasi kerja adalah besar kecilnya imbalan. Makin tingginya imbalan, makin tinggi kesungguhan, komitmen, dan produktivitas kerja, serta makin kecil tindakan indisipliner. Lebih lanjut Dedi (1998: 42-45) menyatakan bahwa sedikitnya ada 4 hubungan antara kesejahteraan (baca: gaji) guru dengan kinerjanya, yaitu: pertama, peningkatan gaji tanpa diikuti oleh peningkatan kinerja pegawai adalah pemborosan.

Kedua, kenaikan gaji PNS selalu diikuti oleh meningkatnya harga dan menjadi penyebab inflasi. Ketiga, jika gaji PNS tidak ditingkatkan, maka PNS akan mencari penghasilan tambahan di luar gaji resminya yang malah mengakibatkan tugas utamanya terabaikan. Keempat, dengan besar gaji seperti itu pun, anggaran belanja negara yang dialokasikan untuk gaji sudah lebih dari sepertiga (37%) dari anggaran rutin. Ibnu Khaldûn menyatakan bahwa para pengajar tidak mendapatkan gaji yang layak dengan profesinya, ini merupakan suatu ketidakadilan.

Padahal pekerjaan mereka itu, sebagai mediasi untuk mendapatkan pekerjaan yang lain. Jadi, sangat wajarlah, jika guru mendapatkan gaji yang layak (A. Tafsir, 2000: 106). Sebagaimana firman Allah QS. al-Zalzalah: 7-8 ”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah pun, niscaya dia akan mendapat balasannya”.

Artinya bahwa sangat logis, apabila guru yang melaksanakan tugas sebagai seorang pendidik mendapatkan gaji dan penghasilan, sesuai dengan profesinya. Karena Allah juga membalas kepada seseorang yang apabila mengerjakan kebaikan, maka orang tersebut akan dibalas dengan kebaikan pula. Maka sangatlah wajar, ketika realitas hari ini, menunjukkan bahwa profesi guru tidak menjadi idaman atau panggilan bagi kebanyakan pemuda, walaupun tugas itu mulia. Hal ini didasarkan pada anggapan profesi guru kurang menjanjikan di dalam profitnya.

Walaupun gaji guru tidak lebih rendah dari gaji resmi pegawai-pegawai lain, namun pendapatan pada umumnya rendah. Secara finansial jabatan guru tidak akan membuat seseorang menjadi kaya (Nasution, 1983: 108). Lebih lanjut Nasution (1983: 108-109) menjelaskan bahwa guru-guru pada umumnya tidak begitu melibatkan diri dalam usaha mencari uang, namun menginginkan adanya jaminan ekonomi agar dapat menutupi biaya hidup sehari-hari menurut keperluan sewajarnya.

Untuk jaminan itu guru sering mencari sumber-sumber finansial lainnya di luar profesinya sebagai pendidik. Penulis sangat mendukung terhadap pandangan Ibnu Khaldûn yang begitu memperhatikan kondisi guru melalui imbalan gaji yang harus diberikannya kepada seorang guru. Walaupun ada sedikit perbedaan persepsi dengan pandangan al-Ghazali mengenai upah gaji guru ini. Al-Ghazali melarang tentang gaji guru.

Sebagaimana al-Ghazali mengatakan bahwa guru itu tidak layak menuntut honorarium sebagai jasa tugas mengajar dan tidak patut menunggu-nunggu datangnya pujian, ucapan terima kasih atau balas jasa dari muridnya.

Yang demikian itu karena dia melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Sebagaimana ia meniru Rasulullah Saw. demikianlah dia mengajarkan ilmunya semata-mata untuk mencari keridhaan Allah. Dengan cara ini seorang guru akan sangat dekat dengan Tuhannya dan besar pahalanya. Sebagaimana katanya: “Orang yang mencari harta kekayaan melalui ilmu agama tak ubahnya bagaikan orang yang hendak menyapu telapak kaki dengan wajahnya sendiri, dengan maksud membersihkannya” (al-Ghazali, 2003: 173 dan Sulaiman, 1993: 45).

Tapi kalau diperhatikan dengan seksama bahwa yang diharamkan oleh al-Ghazali mengenai gaji guru adalah apabila al-Quran (ilmu-ilmu yang lainnya) dijadikan sebagai alat untuk mencari rezeki, menumpuk kekayaan bahkan satu-satunya tujuan mengajar (dari seseorang guru) hanya untuk mencari nafkah dan mencukupi segala kebutuhan rumah tangganya (Zainuddin, 1991: 55).

mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi

d. Guru harus Memperhatikan Prinsip-prinsip Pembelajaran Menurut Ibnu Khaldûn, dalam melaksanakan tugas, seorang guru harus memerhatikan dan memegang prinsip-prinsip pembelajaran, yaitu sebagai berikut. Seorang guru harus menghindari hukum ( punishment) yang bersifat keras. Dalam hal ini Ibnu Khaldûn (2005: 763) menyatakan bahwa kekerasan terhadap pelajar membahayakan mereka. Hukuman yang keras dalam pengajaran (ta’lim) berbahaya pada si murid, khususnya bagi anak-anak kecil.

Karena itu termasuk tindakan yang dapat menyebabkan timbulnya kebiasaan buruk dan kekasaran dan kekerasan dalam pengajaran serta mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi mengakibatkan bahwa kekerasan itu sendiri akan menguasai jiwa dan mencegah perkembangan pribadi anak yang bersangkutan. Kekerasan membuka jalan ke arah kemalasan dan keserongan, penipuan serta kelicikan.

Ia juga mengingatkan agar seorang guru tidak mempermalukan siswanya dengan cara-cara kasar dan memberlakukan siswanya dengan cara paksaan (Khaldûn, 2005: 764). Ibnu Khaldûn menasihatkan kepada guru agar tidak bersifat otoriter dalam memperlakukan peserta didik yang masih kecil. Karena kekerasan yang dilakukan dalam pendidikan akan sangat membahayakan perkembangan jiwa peserta didik, khususnya mereka yang masih kecil. Dikatakannya bahwa perlakuan kasar di kelas terhadap anak-anak kecil akan menimbulkan kenakalan dan kemalasan serta membuat mereka berdusta.

Ibnu Khaldûn menghendaki agar para guru bersikap lemah lembut terhadap peserta didiknya. Tetapi sekali-kali dalam keadaan yang sangat terpaksa, perlu juga seorang guru bersikap keras. Namun jika akan dilakukan harus dipertimbangkan bebebepa hal, di antaranya: 1) jika perlu menghukum dengan pukulan, maka boleh memukul anak dengan pukulan ringan yang menimbulkan rasa sakit, itu pun setelah diberikan peringatan keras terhadapnya; 2) tidak memukul anak lebih dari seratus kali, dan sebaiknya hanya tiga kali pukulan; 3) jangan memukul kepala atau muka anak, karena membahayakan kesehatan otak dan merusak mata atau berbekas buruk pada muka (wajah), maka sebaiknya pukulan hukuman itu diberikan pada kedua kakinya; dan 4) jangan diberikan di depan orang lain.

Tapi walaupun sudah banyak alternatif di atas, selagi masih bisa dihindari dari hukuman pukulan tersebut, maka hindarilah. Karena sikap keras, yakni memberikan hukuman dengan pukulan belum tentu merupakan alternatif yang tepat untuk diberikan kepada peserta didik.

Pendapat Ibnu Khaldûn dapat dipahami karena kekerasan dan sikap kasar dalam bergaul dengan anak-anak sangat membahayakan. Sikap keras dan otoriter bisa mengakibatkan penderitaan dan kenakalan mereka, serta bisa menimbulkan perilaku bohong, jahat, penipu, dan juga sikap berpura-pura, sehingga menjadi kebiasaannya untuk berperilaku seperti itu.

Menurutnya bahwa kekerasan terhadap anak akan mengakibatkan sempit hati, sikap yang melemahkan semangat bekerja dan menjadikan pemalas dan pada gilirannya menunbuhkan sikap berdusta serta menimbulkan kecenderungan untuk berbuat buruk. Akibat lain lebih lanjut, anak cenderung untuk menipu atau berbohong, maka hancurlah makna kemanusiaan yang berada di dalam dirinya (M. Arifin, 2000: 221). Oleh karena itu, dalam mendidik dan mengajar anak-anak di sekolah hendaknya menggunakan cara yang bijak, halus dan berdasarkan kasih sayang.

Demikianlah kita mendapatkan peringatan dari Ibnu Khaldûn sebagai guru untuk selalu mengetahui bagaimana cara mempelajari dan memperlakukan murid-muridnya di sekolah. D. Penutup Guru menurut bahasa memiliki arti orang yang mempunyai tugas mendidik. Guru bisa juga disebut pendidik. Sebelum kita memehami konsep guru yang lebih jelas kita bahas terlebih dahulu mengenai pendidikan, Apa sih pendidikan itu ?

Pendidikan menurut Ahmad Tafsir adalah merupakan usaha menolong agar seseorang mampu menyelesaikan masalah yang di hadapinya. Jadi semua manusia itu masih menjalani pendidikan, sementara itu manusia tidak pernah tidak manghadapi masalah.J adi selama manusia itu menghadapi masalah, maka selama itu pula ia memerlukan pendidikan.

Pengertian pendidikan dalam arti kata ialah jalan. Maksudnya ialah jalan atau proses berjalannya hubungan pergaulan antara pendidik dan yang dididik, dan hubungan tersebut mempuyai tujuan tertentu, yang memungkinkan perubahan tingkah laku bagi si terdidik.

Guru merupakan pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dari pengertian di atas jelas bahwa guru itu memiliki peranan yang strategis dan merupakan kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan kelembagaan sekolah, karena guru adalah pengelola KBM bagi para siswanya.

Kegiatan belajar mengajar akan efektif apabila tersedia guru yang sesuai dengan kebutuhan sekolah baik jumlah, kualifikasi maupun bidang keahliannya. Guru (dari Sanskerta: गुरू yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah “berat”) adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Sehingga pengertian pendidikan tersebut pada akhirnya menyangkut semua aspek kecerdasan. Dalam paradigma Jawa, pendidik diidentikan dengan ( gu dan ru) yang berarti digugu dan ditiru. Dikatakan digugu (dipercaya) karena guru mempunyai seperangkat ilmu yang memadai, yang karenanya ia memiliki wawasan dan pandangan yang luas dalam melihat kehidupan ini.

Dikatakan ditiru (di ikuti) karena guru mempunyai kepribadian yang utuh, yang karenanya segala tindak tanduknya patut dijadikan panutan dan suri tauladan oleh peserta didiknya. Sesungguhnya seorang pendidik bukanlah bertugas memindahkan atau mentransfer ilmunya kepada orang lain atau kepada anak didiknya. Tetapi pendidik juga bertanggungjawab atas pengelolaan, pengarah fasilitator dan perencanaan.

Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru.

Daftar Pustaka. Adnan (ed). 1993. Gema Ruhani Imam Ghazali, terj. Saifuddin Mujtaba. Surabaya: Pustaka Progressif. Afifuddin (ed.). 2006. Merespon Undang-Undang Guru dan Dosen dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan, Bandung: CV.

Insan Mandiri.

mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi

Al-Abrasyi, Muhammad al Atiyyah. 2003. Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia. Al-Ghazali. 1994. Ihya’ Al-Ghazali, terj. Ismail Yakub. Jakarta: CV. Faizan. Al-Ghazali. 2003. Mukasyafah al-Qulub. Cet. I, terj. Irwan Kurniawan. Bandung: Marja’. Al-Ghazali. 2008. Mutiara Ihya’ Ulumuddin, terj. Iwan Kurniawan. Bandung: PT Mizan Pustaka. Al-Ghazali. t.t. Ihya Ulumuddin, Jilid I. Beirut: Dar Al-kitab Al-Islami.

Arifin, M. 2000. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara. Arifin, Zainal. 2006. Konsep Guru Menurut Sunan Kalijaga dalam Serat Wulangreh, Skripsi Sarjana IAIN Walisongo Semarang, Semarang : Perpustakaan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang. Asy-Syalhub, Fuad bin Abdul Aziz, 2005. Muhammad SAW Al Muallimul Aw-Wal (Mengajar EQ Cara Nabi, Konsep Belajar Mengajar Cara Rasulullah SAW.

terjm Ikhwan Fauzi. Bandung : MQS Publishing, Aziz, Erwati. 2003. Prinsip-prinsip Pendidikan Islam. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Az-Zarnuji, Asy-Syekh. t.t. Ta’limul Muta’alim. Maktabah Daru Ihya al-Kitab al-Arabiyah Indonesia, Darajat, Zakiah. 1996. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. Departemen Agama RI. 2000, Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung : CV. Diponegoro. Dewey, John. 2004. Demokrasi And Education. New York : Macmillan. Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interksi Edukatif.

Jakarta: Rineka Cipta. Djumhur, I., dan Danasuparta, 1976. Sejarah Pendidikan, Bandung: CV. Ilmu Bandung. Gordon, Thomas. 1986. Guru Yang Efektif. Jakarta: Rajawali Pers. Haeri, Fadhalalla. 1994. The Elements Of Sufism. Dorset: Elements Books Limited. Hakim, Thursan. 2000. Belajar secara Efektif, Jakarta: Puspa Swara.

Harsono, Andi. 2005. Tafsir Ajaran Serat Wulangreh. Yogyakarta: Pura Pustaka. Ibrahim bin Isma’il. t.t. Syarah Ta’lim al-Muta’allim. Indonesia : Karya Insan. Isa, Kamal Muhammad. 1994.

Manajemen Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Fikahati Aneska. Kanjeng Susuhunan Paku Buwono IV. Terjemahan Mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi Wulangreh. Semarang : Dahara Prize. Madjidi, Busyairi. 1997. Konsep Kependidikan para Filosof Muslim, Yogyakarta: Al Amin Press. Marimba, Ahmad D. 1998. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Cet. VIII. Bandung: al-Ma’arif. Morgan, Clifford T. 1961. Introduction of Psychology. New York: MacGraw Hill Book Company. Muhaimin dan Mujib, Abdul.

1993. Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasional, Bandung: Trigenda Karya. Muhaimin. 2003. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Surabaya: Pustaka Pelajar.

Muhtar, Jauhari. 2005. Fiqih Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya. Muhtar. 2003. Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Mizaka Galiza. Munandir dan Imam Hanafi. 2005. Kamus Kata Serapan Bahasa Indonesia.

Malang: Univeritas Negeri Malang. Munarsih. 2005. Serat Centhini Warisan Sastra Dunia. Yogyakarta : Gelombang Pasang. Nasution, S. 1999. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Nasution. 1983. Sosiologi Pendidikan, Bandung: Jemmars.

Nata, Abuddin. 1999. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Nata, Abudin. 2001. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Nata, Abudin. 2001. Persepektif Islam tentang Pola Hubungan Guru-murid. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Nurdin, Syafruddin. 2003. Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum.

Jakarta: Ciputat Press. Paraba, Hadirja. 1999. Wawasan Tugas Tenaga Guru dan Pembina Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Friska Agung Insani. Pimay, Awaluddin. 1999. Konsep Pendidik dalam Islam (Studi Komparatif atas Pandangan al- Ghazali dan Az-Zarnuji). Semarang: Perpustakaan Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang.

Poerwati, Endang dkk. 2002. Perkembangan Peserta Didik. Malang; UMM Press. Purwanto, Ngalim. 1995. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosda Karya. Qayyum. 1985. Surat-Surat Al-Ghazali. Cet.

II. terj. Haidar Baqir. Bandung: Mizan. Rusn, Abidin Ibnu. 1998. Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sardiman A M. 1990. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers. Shihab, Quraisy. 2003. Tafsir al-Misbah Volume 1. Jakarta : Lentera Hati. Soenarjo. 1994. al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Yayasan Penyelenggaraan Penterjemahan.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya. Sulaiman, Fathiyah Hasan. 1987. Pandangan Ibnu Khaldûn tentang Ilmu dan Pendidikan, Terj. Herry Noer Ali, Bandung: Diponegoro. Sulaiman, Fathiyah Hasan.

1990. Konsep Pendidikan Al-Ghazali, terj. Ahmad Hakim dan Imam Azis. Jakarta : P3M. Supriadi, Dedi. 1998. Mengangkat Citra dan Martabat Guru, Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Suryosubroto, B. 1997. Poses Belajar Mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi Di Sekolah.

Jakarta : PT. Renika Cipta. Syeh Ibrahim bin Isma’il, t.t. Syarah Ta’lim al-Muta’allim. Indonesia : Karya Insan Tafsir, Ahmad. 2004. Ilmu Pendidikan dalam Persepektif Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya. Thoha, Chabib. 1996. Kapita Selekta Pendidikan Islam.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Tim Redaksi Nuansa Aulia. 2005.

mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Beserta Penjelasannya. Bandung : CV. Nuansa Aulia. Tu’u, Tulus. 2004. Peran Disiplin Pada Prilaku dan Prestasi Siswa. Jakarta: Grasindo. Zainuddin dkk. 1991. Seluk Beluk Pendidikan dari al-Ghazali. Jakarta: Bumi Aksara. Zamroni. 2000. Paradigma Pendidikan Masa Depan, Yogyakarta: Adipura. Zuhairini, dkk. 1992. Filsafat Pendidikan Islam.

Jakarta : Bumi Aksara. . • Blogroll • Documentation 0 • Plugins 0 • Suggest Ideas 0 • Support Forum 0 • Themes 0 • WordPress Blog 0 • WordPress Planet 0 • Serat Panginggil • Model Pembelajaran Berbasis Portofolio • Mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi dan Koherensi dalam Wacana • Pembelajaran Berbasis Budaya • Proses Morfofonemik dan Morfologis • Variasi Bahasa • Penilaian, Pengukuran, dan Evaluasi • Pembelajaran Keterampilan Menyimak • Teori Resepsi Sastra dan Penerapannya • Layanan Bimbingan Kelompok • Hubungan Bahasa dengan Kebudayaan • Tulisan Terakhir • Pendekatan dalam Resepsi Sastra • BABAD GALUH II • BABAD GALUH I • Sejarah Lisan • Memahami Karakter Dasar Siswa • Photos Makalah Pendidikan Islam dan Budi Pekerti Hormat dan Patuh Kepada Guru Disusun oleh: Annisa Salma N (03) Cahya Lesmana (06) Elvira Siti H (09) Nabilla Widyanti (17) Rusty Fauzian X IIS-1 SMAN 1 GARUT 2015-2016 DAFTAR ISI Hormat dan Patuh Kepada Guru DAFTAR ISI ii KATA PENGANTAR.

iii BAB I PENDAHULUAN. 1 1.1 Latar Belakang. 1 1.2 Rumusan Masalah. 1 1.3 Batasan Masalah. 1 1.4 Tujuan dan Manfaat Pembahasan.

1 BAB II PEMBAHASAN. 2 2.1 Guru. 2 2.2 Pentingnya seorang Guru. 2 2.3 Bentuk-Bentuk Akhlak kepada Guru. 2 2.4 Cara untuk menghormati dan mematuhi Guru. 4 2.5 Keuntungan Sikap Hormat dan Patuh kepada Guru. 5 BAB III PENUTUPAN. 6 3.1 Kesimpulan. 6 3.2 Saran. 7 DAFTAR PUSTAKA. 8 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia dan rahmat-Nya, kami dapat menyelesaikan Makalah Pendidikan Agama Islam dan Budi Perkerti ini.

Secara garis besar, makalah ini meliputi pembahasan mengenai hormat dan patuh kepada Guru yang meliputi materi mengenai pembahasan ini. Selain untuk menambah wawasan dan pengetahuan penyusun, makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Perkerti.

Tersusunnya makalah ini tentunya tidak lepas dari berbagai pihak yang telah memberikan bantuan secara materil dan moril, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : • Ibu Guru selaku guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Perkerti. • Orang tua yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan • Teman-teman kelas XI-IPS 1 yang telah membantu dan memberikan dorongan semangat agar makalah ini dapat di selesaikan.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu, kami mengharapkan saran dan kritik demi perbaikan makalah ini. Akhirnya ucapkan terima kasih tiada terhindar kepada Allah SWT juga mengucapkan doa dan syukur kepada semua pihak yang telah ikut mendorong dan membantu terwujudnya makalah ini. Semoga kita semua selalu diberikan dan senantiasa dalam lindungannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semuanya. Amin Garut, 10 Februari 2016 Penulis BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hormat dan patuh kepada guru sangatlah ditekankan dalam agama Islam.

Guru adalah orang yang mengajarkan kita dengan berbagai macam ilmu pengetahuan dan mendidik kita sehingga menjadi orang yang mengerti dan dewasa. Walau bagaimanapun tingginya pangkat atau kedudukan seseorang, dia adalah bekas seorang pelajar yang tetap berhutang budi kepada gurunya yang pernah mendidik pada masa dahulu. Terkait dengan hal tersebut, untuk meningkatkan rasa patuh dan hormat kepada guru, kami merasa tertarik dengan pembahasan tersebut sehingga kami akan menjelaskan lebih lanjut dalam makalah ini mengenai apa itu guru, pentingnya seorang guru, bentuk-bentuk akhlak kepada guru, bagaimana cara kita sebagai siswa untuk hormat dan patuh kepada guru, dan keuntungan sikap hormat dan patuh kepada guru.

Untuk lebih jelasnya akan dibahas pada bab berikutnya. 1.2 Rumusan Masalah • Apa itu Guru? • Mengapa seorang Guru sangat penting dalam kehidupan ini? • Apa saja bentuk-bentuk akhlak kepada Guru? • Bagaimana cara menghormati dan mematuhi Guru?

• Apa saja dan keuntungan sikap hormat dan patuh kepada Guru? 1.3 Batasan Masalah Masalah yang diangkat dalam makalah ini terlalu luas jika dibahas mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi meyeluruh. Maka dari itu agar masalah tidak melebar kemana-mana penulis hanya mencantumkan pembahasan yang berhubungan dengan hormat dan patuh kepada guru.

1.4 Tujuan dan Manfaat Pembahasan Adapun tujuan dan manfaat dari pembahasan ini adalah untuk menyadarkan kita betapa pentingnya seorang guru sehingga kita dapat menghormati dan mematuhi guru. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Guru Guru adalah seorang pengajar suatu ilmu dengan tugas utama untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi murid.

Guru dalam Islam juga disebut pewaris para nabi. Karena lewat seorang guru, wahyu atau ilmu para nabi diteruskan kepada umat manusia. Imam Al-Gazali mengkhususkan seorang guru dengan sifat-sifat kesucian, kehormatan, dan penempatan guru langsung sesudah kedudukan para nabi. Beliau juga menegaskan bahwa: “Seorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya itu, maka dialah yang dinamakan besar di bawah kolong langit ini, dia ibarat matahari yang menyinari orang lain dan mencahayai dirinya sendiri, ibarat minyak kesturi yang baunya dinikmati orang lain dan dia sendiri pun harum.

Siapa yang berkerja di bidang pendidikan, maka sesungguhnya dia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan yang sangat penting, maka hendaknya dia memelihara adab dan sopan satun dalam tugasnya ini.” 2.2 Pentingnya seorang Guru Guru adalah orang yang mengajarkan kita dengan berbagai macam ilmu pengetahuan dan mendidik kita sehingga menjadi orang yang mengerti dan dewasa.

Walau bagaimanapun tingginya pangkat atau kedudukan seseorang, dia adalah bekas seorang pelajar yang tetap berhutang budi kepada gurunya yang pernah mendidik pada masa dahulu. Guru merupakan bapak rohani bagi seorang murid, guru lah yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pendidikan akhlak, dan membimbing para muridnya untuk mengarahkan murid ke arah yang baik.

Karena seorang guru, murid menjadi tahu dari yang tidak tahu, dan bisa dari yang tidak bisa. Peran seorang guru, sangatlah penting dalam kehidupan ini. oleh karena itu, sudah kewajiban kita untuk hormat dan patuh kepada guru. 2.3 Bentuk-Bentuk Akhlak kepada Guru Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Alloh ‘azza wa jalla.

Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama. Diantara bentuk-bentuk akhlak kepada guru adalah sebagai berikut. • Di antara akhlaq kepada guru adalah memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi, sebagaimana sabda Rosulullah saw : لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak menyayangi orang yang lebih muda.” ( HSR.

Ahmad dan At-Tirmidzi ) • Di antara akhlaq kepada guru adalah mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan penuh semangat, sebagaimana sabda Rosulullah saw : مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu padanya, Alloh mudahkan baginya dengannya jalan menuju syurga.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah ) • Di antara akhlaq kepada guru adalah datang ke tempat belajar dengan penampilan yang rapi, • Di antara akhlaq kepada guru yaitu diam memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan, sebagaimana hadits berkata : “Bila kamu melihat ada anak muda yang bercakap-cakap padahal sang guru sedang menyampaikan ilmu, maka berputus-asalah dari kebaikannya, karena dia sedikit rasa malunya.”( AR.

Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ilas-Sunan ) • Di antara akhlaq kepada guru adalah bertanya kepada guru bila ada sesuatu yang belum dia mengerti dengan cara baik. Allah berfirman : فَاسْأَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ “Bertanyalah kepada ahli dzikr ( yakni para ulama ) bila kamu tidak tahu.”( Qs.

An-Nahl : 43 dan Al-Anbiya’ : 7 ) Dan Rosulullah saw bersabda : أَلاَ سَأَلُوْا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ “Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu ? Bukankah obat dari ketidaktahuan adalah bertanya ?” ( HSR.

Abu Dawud ) • Di antara akhlaq kepada guru adalah menegur guru bila melakukan kesalahan dengan cara yang penuh hormat, sebagaimana sabda Rosulullah : الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُقُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ لِلَّهِ وَ لِكِتَابِهِ وَ لِرَسُولِهِ وَ لأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَ عَامَّتِهِمْ “Agama mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi nasihat.” Kami ( Shahabat ) bertanya : “Untuk siapa ?” Beliau menjawab : Untuk menta’ati Alloh, melaksanakan Kitab-Nya, mengikuti Rosul-Nya untuk para pemimpin kaum muslimin dan untuk orang-orang umum.” ( HR.

Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dll ) 2.4 Cara Hormat dan Patuh kepada Guru Murid adalah orang yang sedang belajar dan menuntut ilmu kepada seorang guru. Demi untuk keberkahan dan kemudahan dalam meraih dan mengamalkan ilmu atau pengetahuan yang telah diperoleh dari seorang guru, maka seorang murid haruslah memiliki akhlak atau etika yang benar terhadap gurunya.

Beberapa contoh etika murid terhadap gurudiantaranya adalah sebagai berikut : • Seorang murid hendaklah hormat kepada guru, mengikuti pendapat dan petunjuknya. • Seorang murid hendaklah memberi salam terlebih dahulu kepada guru apabila menghadap atau berjumpa dengan beliau.

• Seorang murid hendaklah memandang gurunya dengan keagungan dan meyakini bahwa gurunya itu memiliki derajat kesempurnaan, sebab hal itu lebih memudahkan untuk mengambil manfaat dari beliau. • Seorang murid hendaklah mengetahui dan memahami hak-hak yang harus diberikan gurunya dan tidak melupakan jasanya. • Seorang murid hendaklah bersikap sabar jika menghadapi seorang guru yang memiliki perangai kasar dan keras. • Seorang murid hendaklah duduk dengan sopan di hadapan gurunya, tenang, merendahkan diri, hormat sambil mendengarkan, memperhatikan, dan menerima apa yang disampaikan oleh gurunya.

• Seorang murid hendaklah ketika mengadap gurunya dalam keadaan sempurna dengan badan dan pakaian yang bersih. • Seorang murid hendaklah jangan banyak bicara di depan guru ataupun membicarakan hal-hal yang tidak berguna. • Seorang murid hendaklah jangan bertanya dengan tujuan untuk mengujinya dan menampakkan kepandaian kepada guru. • Seorang murid hendaklah jangan bersenda gurau di hadapan guru. • Seorang murid hendaklah jangan menanyakan masalah kepada orang lain ditengah majlis guru.

• Seorang murid hendaknya tidak banyak bertanya, apalagi jika pertanyaan itu tidak berguna. • Jika guru berdiri, Seorang murid hendaklah ikut berdiri sebagai penghormatan kepada beliau. • Seorang murid hendaklah tidak bertanya suatu persoalan kepada guru ketika sedang di tengah jalan. • Seorang murid hendaklah tidak menghentikan langkah guru di tengah jalan untuk hal-hal yang tidak berguna. • Seorang murid hendaklah tidak berburuk sangka terhadap apa yang dilakukan oleh guru ( guru lebih mengetahui tentang apa yang dikerjakannya).

• Seorang murid hendaklah tidak mendahului jalannya ketika sedang berjalan bersama. • Ketika guru sedang memberi penjelasan/ berbicara hendaklah murid tidak memotong pembicaraannya. Kalaupun ingin menyanggah pendapat beliau maka sebaiknya menunggu hingga beliau selesai berbicara dan hendaknya setiap memberikan sanggahan atau tanggapan disampaikan dengan sopan dan dalam bahasa yang baik. • Murid haruslah berkata jujur apabila guru menanyakan suatu hal kepadanya.

• Meskipun sudah tidak dibimbing lagi oleh beliau ( karena sudah lulus) murid hendaklah tetap selalu mengingat jasanya dan tetap terus mendoakan kebaikan –kebaikan atas mereka. 2.5 Keuntungan Sikap Hormat dan Patuh kepada Guru Berdasarkan uraian di atas, betapa pentingnya sikap hormat dan patuh kepada guru.

Dengan menghormati seorang guru, kita akan mendapatkan berbagai macam keuntungan, antara lain sebagai berikut. • Ilmu yang diperoleh akan menjadi berkah dalam kehidupan kita.

• Akan lebih mudah menerima pelajaran yang disampaikan. • Ilmu yang diperoleh dari guru akan menjadi bermanfaat bagi orang lain. • Akan selalu didoakan oleh guru. • Akan membawa berkah, memudahkan urusan, serta dianugerahi nikmat yang lebih dari Allah Swt. BAB III PENUTUPAN 3.3 Kesimpulan Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa: Guru adalah seorang pengajar suatu ilmu dengan tugas utama untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi murid.

Guru dalam Islam juga disebut pewaris para nabi. Karena lewat seorang guru, wahyu atau ilmu para nabi diteruskan kepada umat manusia. Guru adalah orang yang mengajarkan kita dengan berbagai macam ilmu pengetahuan dan mendidik kita sehingga menjadi orang yang mengerti dan dewasa. Diantara bentuk-bentuk akhlak kepada guru adalah sebagai berikut.

• Di antara akhlaq kepada guru adalah memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki guru • Di antara akhlaq kepada guru adalah mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan penuh semangat, sebagaimana sabda Rosulullah saw : • Di antara akhlaq kepada guru adalah datang ke tempat belajar dengan penampilan yang rapi, • Di antara akhlaq kepada guru yaitu diam memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan • Di antara akhlaq kepada guru adalah bertanya kepada guru bila ada sesuatu yang belum dia mengerti dengan cara baik.

• Di antara akhlaq kepada guru adalah menegur guru bila melakukan kesalahan dengan cara yang penuh hormat Beberapa contoh etika murid terhadap gurudiantaranya adalah sebagai berikut : • Mereka selalu rendah hati terhadap gurunya, meskipun ilmu sudah lebih banyak ketimbang gurunya. • Mereka menaati setiap arahan serta bimbingan guru.

• Mereka juga senantiasa berkhidmat kepada guru-guru mereka dengan mengharapkan balasan pahala serta kemuliaan di sisi Allah Swt. • Mereka memandang guru dengan perasaan penuh hormat dan ta’zim (memuliakan) serta memercayai kesempurnaan mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi.

Dengan menghormati seorang guru, kita akan mendapatkan berbagai macam keuntungan, antara lain sebagai berikut. • Ilmu yang diperoleh akan menjadi berkah dalam kehidupan kita.

• Akan lebih mudah menerima pelajaran yang disampaikan. • Ilmu yang diperoleh dari guru akan menjadi bermanfaat bagi orang lain. • Akan selalu didoakan oleh guru. • Akan membawa berkah, memudahkan urusan, serta dianugerahi nikmat yang lebih dari Allah Swt.

3.2 Saran Pada kenyataannya, pembuatan makalah ini masih bersifat sangat sederhana dan simpel. Selain itu penulis hanya menggunakan sumber sekunder yaitu bersumber dari buku dan sumber tersier yang bersumber dari internet untuk penyusunan makalah ini.

Oleh karena itu penulis masih memerlukan kritikan dan saran yang bermanfaat bagi makalah ini. DAFTAR PUSTAKA Sumber Internet: http://kisahimuslim.blogspot.co.id/2014/09/hormat-dan-patuh-kepada-guru.html https://rizkiwirsa.wordpress.com/2015/03/08/makalah-agama-tentang-hormat-dan-patuh-kepada-orang-tua-dan-guru/ https://id.wikipedia.org/wiki/Guru Cari untuk: Tulisan Terakhir • Terjemahan Lirik Lagu Official Hide dandism (Official髭男dism) – Itan na Star / 異端なスター • Terjemahan Lirik Lagu Kenshi Yonezu – Canary • Terjemahan Lirik Lagu Back Number – Suiheisen (水平線) • Terjemahan Lirik Lagu Official Hige Dandism (Official髭男dism) – Laughter • Terjemahan Lirik Lagu Ryokuoushoku Shakai – Sabotage (Ost drama You and I on the G Strings) Komentar Terbaru Teguh pada Terjemahan Lirik Lagu Kenshi Y… アント pada Terjemahan Lirik Lagu Back Num… Makhluk Hidup pada Terjemahan Lirik Lagu Official… Makhluk Hidup pada Terjemahan Lirik Lagu Official… Makhluk Hidup pada Terjemahan Lirik Lagu Official… Arsip • Agustus 2020 • Juli 2020 • Mei 2020 • April 2020 • Desember 2019 • Maret 2019 • Mei 2017 • Desember 2016 • Juli 2016 • Mei 2016 • April 2016 • Februari 2016 • Januari 2016 Meta • Daftar • Masuk • Feed entri • Feed Komentar • WordPress.com Cari untuk: Statistik Blog • 233.070 hits Follow Makhluk Hidup on WordPress.com KATEGORI
Menu • HOME • RAMADHAN • Kabar Ramadhan • Puasa Nabi • Tips Puasa • Kuliner • Fiqih Ramadhan • Hikmah Ramadhan • Video • Infografis • NEWS • Politik • Hukum • Pendidikan • Umum • News Analysis • UMM • UBSI • Telko Highlight • NUSANTARA • Jabodetabek • banten • Jawa Barat • Jawa Tengah & DIY • Jawa Timur • kalimantan • Sulawesi • Sumatra • Bali Nusa Tenggara • Papua Maluku • KHAZANAH • Indonesia • Dunia • Filantropi • Hikmah • Mualaf • Rumah Zakat • Sang Pencerah • Ihram • Alquran Digital • ISLAM DIGEST • Nabi Muhammad • Muslimah • Kisah • Fatwa • Mozaik • INTERNASIONAL • Timur tengah • Palestina • Eropa • Amerika • Asia • Afrika • Jejak Waktu • Australia Plus • DW • EKONOMI • Digital • Syariah • Bisnis • Finansial • Migas • pertanian • Global • Energi • REPUBLIKBOLA • Klasemen • Bola Nasional • Liga Inggris • Liga Spanyol • Liga Italia • Liga Dunia • Internasional • Free kick • Arena • Sea Games 2021 • SEAGAMES 2021 • Berita • Histori • Pernik • Profil • LEISURE • Gaya Hidup • travelling • kuliner • Parenting • Health • Senggang • Republikopi • tips • TEKNOLOGI • Internet • elektronika • gadget • aplikasi • fun science & math • review • sains • tips • KOLOM • Resonansi • Analisis • Fokus • Selarung • Sastra • konsultasi • Kalam • INFOGRAFIS • Breaking • sport • tips • komik • karikatur • agama • JURNAL-HAJI • video • haji-umrah • journey • halal • tips • ihrampedia • REPUBLIKA TV • ENGLISH • General • National • Economy • Speak Out • KONSULTASI • keuangan • fikih muamalah • agama islam • zakat • IN PICTURES • Nasional • Jabodetabek • Internasional • Olahraga • Rana • PILKADA 2020 • berita pilkada • foto pilkada • video pilkada • KPU Bawaslu • SASTRA • cerpen • syair • resensi-buku • RETIZEN • Info Warga • video warga • teh anget • INDEKS • LAINNYA • In pictures • infografis • Pilkada 2020 • Sastra • Retizen • indeks Menu • HOME • RAMADHAN • Kabar Ramadhan • Puasa Nabi • Tips Puasa • Kuliner • Fiqih Ramadhan • Hikmah Ramadhan • Video • Infografis • NEWS • Politik • Hukum • Pendidikan • Umum • News Analysis • UMM • UBSI • Telko Highlight • NUSANTARA mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi Jabodetabek • banten • Jawa Barat • Jawa Tengah & DIY • Jawa Timur mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi kalimantan • Sulawesi • Sumatra • Bali Nusa Tenggara • Papua Maluku • KHAZANAH • Indonesia • Dunia • Filantropi • Hikmah • Mualaf • Rumah Zakat • Sang Pencerah • Ihram • Alquran Digital • ISLAM DIGEST • Nabi Muhammad • Muslimah • Kisah • Fatwa • Mozaik • INTERNASIONAL • Timur tengah • Palestina • Eropa • Amerika • Asia • Afrika • Jejak Waktu • Australia Plus • DW • EKONOMI • Digital • Syariah • Bisnis • Finansial • Migas • pertanian • Global • Energi • REPUBLIKBOLA • Klasemen • Bola Nasional • Liga Inggris • Liga Spanyol • Liga Italia • Liga Dunia • Internasional • Free kick • Arena • Sea Games 2021 • SEAGAMES 2021 • Berita • Histori • Pernik • Profil • LEISURE • Gaya Hidup • travelling • kuliner • Parenting • Health • Senggang • Republikopi • tips • TEKNOLOGI • Internet • elektronika • gadget • aplikasi • fun science & math • review • sains • tips • KOLOM • Resonansi • Analisis mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi Fokus • Selarung • Sastra • konsultasi • Kalam • INFOGRAFIS • Breaking • sport • tips • komik • karikatur • agama • JURNAL-HAJI • video • haji-umrah • journey • halal • tips • ihrampedia • REPUBLIKA TV • ENGLISH • General • National • Economy • Speak Out • KONSULTASI • keuangan • fikih muamalah • agama islam • zakat • IN PICTURES • Nasional • Jabodetabek • Internasional • Olahraga • Rana • PILKADA 2020 • berita pilkada • foto pilkada • video pilkada • KPU Bawaslu • SASTRA • cerpen • syair • resensi-buku • RETIZEN • Info Warga • video warga • teh anget • INDEKS • LAINNYA • In pictures • infografis • Pilkada 2020 • Sastra • Retizen • indeks Pada suatu hari, Rasulullah SAW keluar dari rumah.

Tiba-tiba beliau melihat ada dua majelis yang berbeda. Majelis yang pertama ialah majelis orang-orang ibadah yang sedang berdoa kepada Allah SWT dengan segala kecintaan kepada-Nya sedangkan majelis yang kedua ialah majelis pendidikan atau pengajaran yang terdiri atas para guru dan sejumlah muridnya.

Melihat dua majelis yang berbeda tersebut, Beliau SAW bersabda, "Adapun mereka dari majelis ibadah, mereka sedang berdoa kepada Allah. Jika mau, Allah menerima doa mereka, dan jika tidak, Allah menolak doa mereka itu. Tetapi, mereka yang termasuk dalam majelis pengajaran, mereka sedang mengajar manusia. Sesungguhnya aku diutus oleh Allah adalah juga menjadi seorang guru." Kemudian beliau datang mendekati majelis yang kedua, yaitu majelis pendidikan, bahkan ikut duduk bersama mereka mendengar pengajaran yang disampaikan oleh seorang guru.

Saking mulianya kedudukan guru, Ahmad Syauki, seorang penyair Mesir, pernah menyatakan bahwa guru itu hampir seperti seorang rasul. Mungkin itu terlalu berlebihan. Karena memang pada dasarnya antara rasul dan guru memiliki tugas dan peranan yang sama, yaitu mendidik, mengajar, dan membina umat. Dalam surah Ali Imran [3] ayat 164 Allah SWT menegaskan tugas para rasul.

Dalam ayat tersebut setidaknya ada tiga tugas pokok seorang rasul yang bisa dijadikan pegangan oleh setiap guru, yaitu membacakan ayat-ayat Allah (at-tilawah); membersihkan jiwa (at-tazkiyah); dan mengajarkan Alquran (al-kitab) dan sunah (al-hikmah).

Guru merupakan profesi yang paling mulia, agung, dan dihormati. Hal itu karena guru sebagai ahli waris para nabi. Guru dihormati karena ilmunya, yaitu ilmu yang diwariskan Rasulullah SAW melalui para sahabat, tabi'in, tabi'ut-tabi'in, para ulama, dan guru terdahulu. Karena itulah, para guru pantas disebut sebagai ahli waris para nabi. Namun, guru yang tidak mengamalkan dan mengajarkan ilmu sesuai tuntunan Rasulullah SAW bukan ahli waris para nabi.

(Fuad Asy-Syalhub dalam bukunya Guruku Muhammad SAW). Menjadi guru berarti memiliki peluang mendapatkan amalan yang terus mengalir, yaitu dengan mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada peserta didik. Sabda Nabi SAW, "Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu berdoa untuknya." (HR Muslim). Menurut Syekh Jamal Abdul Rahman, jika guru mampu mendidik siswa menjadi saleh maka hal itu masuk ke dalam ketiga kategori amal yang tidak akan putus sebagaimana dalam hadis di atas.

Maksudnya, waktu dan tenaga yang disisihkan guru untuk mendidik siswa bisa menjadi sedekah jariyah. Ilmu yang guru sampaikan kepada siswa akan menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan, siswa yang dididik guru akan menjadi anak yang saleh, yang akan mendoakan dirinya, baik ketika guru masih hidup maupun sudah meninggal dunia. Semoga Allah membimbing kita agar menjadi seorang guru pewaris para nabi.

Wallahu a'lam.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Islam telah mengajarkan kepada kita agar taat dan berbakti kepada orang tua, mengingat banyak dan besarnya pengorbanan serta kebaikan orang tua terhadap anak, yaitu memelihara dan mendidik kita Sejak kecil tanpa perhitungan biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak mengharapkan balasan sedikit pun dari anak, meskipun anak sudah mandiri dan bercukupan tetapi orang tua tetap memperlihatkan kasih sayangnya, oleh karena itu seorang anak memiliki mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi kewajiban terhadap orang tuanya menempati urutan kedua setelah Allah Swt, dan kita juga dilarang durhaka kepada orang tua.

Di antara kelaziman hidup bermasyarakat adalah budaya saling hormat menghormati, saling menghargai satu sama lain, dalam keluarga sangatlah penting di tanamkan abad dan tatakrama yang sopan terhadap kedua orang dan santun apabila berbicara terhadap keduanya.

Di zaman yang modern seperti sekarang ini telah banyak pergeseran tentang adab atau prilaku sehingga menjurus kepada dekadensi moral, anak dengan orang tua tiada jarak yang memisahkan seperti layaknya teman sebaya, murid dengan guru sudah tidak bisa lagi dibedakan baik dalam perkataan, perbuatan ataupun prilaku dalam kehidupan sehari-hari yang seakan-akan tidak mencerminkan prilaku seorang guru ataupun peserta didik. Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita temukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kaidah islamiyyah yang menjunjung tinggi rasa saling menghargai, menghormati.

Dalam berkehidupan saling berdampingan dalam satu kawasan ataupun daerah individualisme lah yang sering dimunculkan di mana rasa gotong royong, membantu satu sama lain sudah sangat sulit sekali kita temukan, terlebih di kota-kota besar yang memang notabene memiliki beragam etnis, kebiasaan, dan budaya yang berbeda beda.

Dengan adanya makalah ini penyusun mencoba menjelaskan tentang pandangan islam tentang adab/tatakrama/ prilaku yang seharusnya dijunjung tinggi dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. B. Rumusan Masalah Dalam makalah ini kami akan membahas A. Apa itu Adab ? B. Apa Dalil Al Qur’an tentang hormat dan patuh kepada orang tua ? C. kriteria yang menunjukkan bentuk bakti seorang anak kepada kedua orang tua?

mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi

D. Hadist yang berkaitan dengan hormat dan patuh kepada kedua orang tua ? E. Contoh perilaku yang mencerminkan hormat dan patuh kepada orang tua ? F. Apa itu Guru? G. Mengapa seorang Guru sangat penting dalam kehidupan ini? H. Apa saja bentuk-bentuk akhlak kepada Guru? I. Bagaimana cara menghormati dan mematuhi Guru? J. Apa saja dan keuntungan sikap hormat dan patuh kepada Guru?

C. Tujuan A. Menjelaskan arti dari Adab B. Mengetahui Dalil Al- Qur’an tentang hormat dan patuh kepada kedua orang tua C. Memberikan contoh berbakti kepada kedua orang tua D. Mengetahui Hadist tentang hormat dan patuh kepada kedua orang tua E. Memberikan contoh perilaku yang mencerminkan hormat dan patuh kepada kedua orang tua F. Menjelaskan pengertian dari Guru G. Menjelaskan pentingnya guru dalam kehidupan sehari – hari H.

Menyebutkan bentuk – bentuk akhlak kepada guru I. Mengetahui bagaimana cara menghormati dan menaati guru J. Mengetahui keuntungan sikap hormat dan patuh kepada guru BAB II PEMBAHASAN A.

Pengertian Adab Menurut bahasa Adab memiliki arti kesopanan, kehalusan dan kebaikan budi pekerti, akhlak. M.Sastra Praja menjelaskan bahwa, adab yaitu tata cara hidup, penghalusan atau kemuliaan kebudayaan manusia.Sedangkan menurut istilah Adab adalah mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi ibarat tentang pengetahuan yang dapat menjaga diri dari segala sifat yang salah. Pengertian bahwa adab ialah mencerminkan baik buruknya seseorang, mulia atau hinanya seseorang, terhormat atau tercelanya nilai seseorang.

Maka jelaslah bahwa seseorang itu bisa mulia dan terhormat di sisi Allah dan manusia apabila ia memiliki adab dan budi pekerti yang baik. Seseorang akan menjadi orang yang beradab dengan baik apabila ia mampu menempatkan dirinya pada sifat kehambaan yang hakiki. Tidak merasa sombong dan tinggi hati dan selalu ingat bahwa apa yang ada di dalam dirinya adalah pemberian dari Allah swt. Sifat-sifat tersebut telah dimiliki Rasulullah saw.

Secara utuh dan sempurna. Menurut Imam al-Ghazali akhlak mulia adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh para utusan Allah swt. yaitu para Nabi dan Rasul dan merupakan amal para shadiqin.

Akhlak yang baik itu merupakan sebagian dari agama dan hasil dari sikap sungguh-sungguh dari latihan yang dilakukan oleh para ahli ibadah dan para mutaqin. B. Dalil Al Qur’an Terdapat banyak ayat yang mendudukkan ridha orang tua setelah ridha Allah dan keutamaan berbakti kepada orang tua adalah sesudah keutamaan beriman kepada Allah, antara lain : Artinya : “dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.

jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia.” (QS.

Al Isra 23) Artinya, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS.

al-Isra: 24) Surat Al-Isra ayat 23-24 memiliki kandungan mengenai pendidikan berkarakter. Definisi dari karakter adalah satu kesatuan yang membedakan satu dengan yang lain atau dengan kata lain karakter adalah kekuatan moral yang memiliki sinonim berupa moral, budipekerti, adab, sopan santun dan akhlak. Akhlak dan adab sumbernya adalah wahyu yakni berupa Al-Qur’an dan Sunah.

Sedangkan budi pekerti, moral, dan sopan santun sumbernya adalah filsafat. Kembali kepada pengertian dari Surah Al-Isra ayat 23 disebutkan bahwa yang pertama Allah memerintahkan kepada hamba-hambanya untuk menyembah Dia semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.yang kedua, kita harus berbakti kepada orang tua.

Lalu pada ayat 24 disebutkan bahwa anak hendaknya mendoakan kedua orang tuanya. Ulama menegaskan bahwa doa kepada kedua orang tua yang dianjurkan adalah bagi yang muslim, baik yang masih hidup atau telah meninggal. Sedangkan bila ayah atau ibu yang tidak beragama islam telah meninggal, maka terlarang bagi anak untuk mendoakannya. Dari penjelasan mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi atas sangat jelas bahwa ketika kita menghargai dan menyayangi orang tua kita dengan baik maka akan menumbuhkan akhlak serta moral yang baik pula bagi anak sedangkan jikalau kita acuh maka akan timbuh akhlak dan moral yang tidak baik.

Dengan kata lain, hal ini sangat berpengaruh dalam pendidikan karakter. Antara orangtua sebagai pendidik dan anak. Segala sesuatu yang diajarkan dengan baik pada mulanya akan menanamkan karakter yang baik pula pada anak. Untuk itu berbakti kepada orang tua merupakan suatu cara yang harus dilakukan. C. Kriteria yang menunjukkan bentuk bakti seorang anak kepada kedua Ada lima kriteria yang menunjukkan bentuk bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya.

1. Tidak ada komentar yang tidak mengenakkan dikarenakan melihat atau tercium dari kedua orang tua kita sesuatu yang tidak enak. Akan tetapi memilih untuk tetap bersabar dan berharap pahala kepada Allah dengan hal tersebut, sebagaimana dulu keduanya bersabar terhadap bau-bau yang tidak enak yang muncul dari diri kita ketika kita masih kecil. Tidak ada rasa susah dan jemu terhadap orang tua sedikit pun. 2. Tidak menyusahkan kedua orang tua dengan ucapan yang menyakitkan.

3. Mengucapkan ucapan yang lemah lembut kepada keduanya diiringi dengan sikap sopan santun yang menunjukkan penghormatan kepada keduanya. Tidak memanggil keduanya langsung dengan namanya, tidak bersuara keras di hadapan keduanya. Tidak menajamkan pandangan kepada keduanya (melotot) akan tetapi hendaknya pandangan kita kepadanya adalah pandangan penuh kelembutan dan ketawadhuan. Urwah mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi jika kedua orang tuamu melakukan sesuatu yang menimbulkan kemarahanmu, maka janganlah engkau menajamkan pandangan kepada keduanya.

Karena tanda pertama kemarahan seseorang adalah pandangan tajam yang dia tujukan kepada orang yang dia marahi. 4. Berdoa memohon kepada Allah agar Allah menyayangi keduanya sebagai balasan kasih sayang keduanya terhadap kita. 5. Bersikap tawadhu’ dan merendahkan diri kepada keduanya, dengan menaati keduanya selama tidak memerintahkan kemaksiatan kepada Allah serta sangat berkeinginan untuk memberikan apa yang diminta oleh keduanya sebagai wujud kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya.

Perintah Allah untuk berbuat baik kepada orang tua itu bersifat umum, mencakup hal-hal yang disukai oleh anak ataupun hal-hal yang tidak disukai oleh anak.

Bahkan sampai-sampai al-Qur’an memberi wasiat kepada para anak agar berbakti kepada kedua orang tuanya meskipun mereka adalah orang-orang yang kafir. Artinya : “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS.

Lukman:15). D. Hadist Hadis Abdullah ibnu Umar tentang ridho Allah terletak pada ridho orang tua. عَÙ†ْ عَبْدُ الله بن عَÙ…ْرٍÙˆ رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَÙ‰ اللهُ فى رِضَÙ‰ الوَالِدَÙŠْÙ†ِ Ùˆ سَØ®َØ·ُ الله فى سَØ®َØ·ُ الوَالِدَÙŠْÙ†ِ ( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم) Artinya: dari Abdullah bin ‘Amrin bin Ash r.a.

ia berkata, Nabi SAW telah bersabda: “ Keridhoaan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”.

( H.R.A t-Tirmidzi. Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Ridhonya Orang Tua adalah Ridho-Nya Allah, Murkanya Orang Tua adalah Murka-Nya Allah. Sebagai seorang anak, sebaiknya kita selalu mengharap keridoan dari keduanya dan mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi perintah-perintahnya, sepanjang tidak untuk berbuat maksiat.

Juga anak harus selalu mementingkan keduanya dengan mendahulukan keinginan– keinginannya dari pada kepentingan dan keinginan pribadi. Pernahkah anda membayangkan saat pulang kerumah mendapati orang tua kita sudah terbaring kaku dibungkus dengan kain kafan. Perasaan menyesal terbesit dalam hati karena sebagai anak belum cukup berbakti.

Untuk itu tunaikanlah kewajiban kita selagi kedua orang tua masih hidup. Berbuat baiklah pada kedua orang tua. Berbakti kepada kedua orang tua sering sekali disebutkan dalam Al-Quran, bahkan digandengkan dengan tuntunan menyembah Allah. Hal ini menunjukan bahwa berbakti kepada Kedua orang tua (Ibu – Bapak) adalah wajib.

Anak berkewajiban berbuat baik kepada kedua orang tuanya yang harus ditunaikan semaksimal mungkin. Apalagi jkia sering menyakitinya dengan cara membantah dan berkata kasar pada mereka. Termasuk durhaka kepada kedua orang tua, adalah menyakitinya dengan tidak mau memberikan hal yang baik kepada keduanya, sesuai dengan kemampuan. Kemudian bagaimanakah kita sebagai anak tega memalingkan muka dan berkata kasar kepadanya.

Hadis Al-Mughirah bin Su’bah tentang Allah mengharamkan durhaka kepada ibu, menolak kewajiban, meminta yang bukan haknya. عن المغيرة بن شعبة قال النبي صلى الله عليه وسلم : ان الله حرم عليكم عقوق الامهات ووأد البنات ومنع وهات وكره لكم قيل وقال وكثرة السؤال واضاعة المال (اخرجه البخاري) Artinya: dari Al-Mughirah bin Syu’ban r.a.

ia berkata, Nabi Saw telah bersabda: “ Sungguh Allah ta’ala mengharamkan kalian durhaka kepada ibu, menolak kewajiban, meminta yang bukan haknya dan mengubur hidup-hidup anak perempuan. Allah juga membenci orang yang banyak bicara, banyak pertanyaan dan menyia-nyiakan harta. Setelah orang muslim mengetahui hak kedua orang tua atas dirinya dan menunaikannya dengan sempurna karena mereka mentaati Allah Ta’ala dan merealisir wasiat-Nya, maka juga menjaga etika-etika berikut ini terhadap kedua orang tuanya : 1.

Taat kepada kedua orang tua dalam semua perintah dan larangan keduanya, selama di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan kepada Allah, dan pelanggaran terhadap syariat-Nya, karena manusia tidak berkewajibab taak kepada manusia sesamanya dalam bermaksiat kepada Allah, berdasarkan dalil-dalil berikut : 2. Hormat dan menghargai kepada keduanya, merendahkan suara dan memuliakan keduanya dengan perkataan dan perbuatan yang baik, tidak menghardik dan tidak mengangkat suara di atas suara keduanya, tidak berjalan di depan keduanya, tidak mendahulukan istri dan anak atas keduanya, tidak memanggil keduanya dengan namanya namun memanggil keduanya dengan panggilan, “Ayah, ibu,” dan tidak berpergian kecuali dengan izin dan kerelaan keduanya.

3. Berbakti kepada keduanya dengan apa saja yang mampu ia kerjakan, dan sesuai dengan kemampuannya, seperti memberi makan-pakaian keduanya, mengobati penyakit keduanya, menghilangkan madzarat dari keduanya, dan mengalahkan untuk kebaikan keduanya. 4. Menyambung hubungan kekerabatan dimana ia tidak mempunya hubungan kecuali dari jalur kedua orang tuanya mendoakan dan memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji (wasiat), dan memuliakan teman-teman keduanya.

E. Contoh perilaku yang mencerminkan hormat dan patuh kepada orang tua 1. Pengertian Birrul Walidain Istilah Birrul Walidain terdiri dari kata Birru dan al-Walidain. Birru atau al-birru artinya kebajikan dan al-walidain artinya kedua orang tua atau ibu bapak.

Jadi, Birrul Walidain adalah berbuat kebajikan terhadap kedua orang tua. 2. Kedudukan Birrul Walidain Birrul Walidain mempunyai kedudukan yang istimewa dalam ajaran Islam.

mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi

Allah dan Rasul-Nya menempatkan orang tua pada posisi yang sangat istimewa, sehingga berbuat baik pada keduanya juga menempati posisi yang sangat mulia, dan sebaliknya durhaka kepada keduanya menempati posisi yang sangat hina. Karena mengingat jasa ibu bapak yang sangat besar sekali dalam proses reproduksi dan regenerasi umat manusia.

Secara khusus Allah juga mengingatkan betapa besar jasa dan perjuangan seorang ibu dalam mengandung, menyusui, merawat dan mendidik anaknya. Kemudian bapak, sekalipun tidak ikut mengandung tapi dia berperan besar dalam mencari nafkah, membimbing, melindungi, membesarkan dan mendidik anaknya, sehingga mempu berdiri bahkan sampai waktu yang sangat tidak terbatas. Berdasarkan semuanya itu, tentu sangat wajar dan logis saja, kalau si anak dituntut untuk berbuat kebaikan kepada orang tuanya dan dilarang untuk mendurhakainya.

3. Bentuk-Bentuk Birrul Walidain Adapun bentuk-bentuk Birrul Walidain di antaranya: 1. Taat dan patuh terhadap perintah kedua orang tua, taat dan patuh orang tua dalam nasihat, dan perintahnya selama tidak menyuruh berbuat maksiat atau berbuat musyrik, bila kita disuruhnya berbuat maksiat atau kemusyrikan, tolak dengan cara yang halus dan kita tetap menjalin hubungan dengan baik.

mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi

2. Senantiasa berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap hormat, sopan santun, baik dalam tingkah laku maupun bertutur kata, memuliakan keduanya, terlebih di usia senja. 3. Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan, baik masalah pendidikan, pekerjaan, jodoh, maupun masalah lainnya.

Selama keinginan dan saran-saran itu sesuai dengan ajaran Islam. 4. Membantu Ibu Bapak secara fisik dan materil. Misalnya, sebelum berkeluarga dan mampu berdiri sendiri anak-anak membantu orang tua terutama ibu. Dan mengerjakan pekerjaan rumah.

5. Mendoakan Ibu Bapak semoga diberi oleh Allah kemampuan, rahmat dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirta. 6. Menjaga kehormatan dan nama baik mereka. 7. Menjaga, merawat ketika mereka sakit, tua dan pikun. 8. Setelah orang tua meninggal dunia, Birrul Walidain masih bisa diteruskan dengan cara antara lain: – Mengurus jenazahnya dengan sebaik-baiknya – Melunasi semua hutang-hutangnya – Melaksanakan wasiatnya – Meneruskan sillaturrahmi yang dibinanya sewaktu mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi – Memuliakan sahabat-sahabatnya – Mendoakannya.

4.Doa Anak untuk Orang Tua Seorang anak yang ingin mendoakan kedua orang tuanya dapat mengambil contoh dari ayat suci Alquran yaitu, doa Nabi Ibrahim as ketika mengajukan permohonan kepada Allah Swt agar dapat lah kiranya Allah memberi ampunan pada kedua orang tuanya dari dosa-dosa yang telah mereka perbuat.

Doa Nabi Ibrahim as dalam Q.S.Ibrahim:41 41. Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. Permohonan Nabi Ibrahim dalam Q.S. Al-Israa’: 24 24. dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

5. ‘Uququl Walidain ‘Uququl Walidain artinya mendurhakai kedua orang tua. Durhaka kepada kedua orang tua adalah dosa besar yang dibenci oleh Allah Swt, sehingga adzabnya disegerakan oleh Allah di dunia ini. Hal ini mengingat betapa istimewanya kedudukan kedua orang tua dalam ajaran Islam dan juga mengingat betapa besarnya jasa kedua orang tua terhadap anaknya, jasa itu tidak bisa diganti dengan apapun.

Adapun bentuk pendurhakaan terhadap orang tua bermacam-macam dan bertingkat-tingkat, mulai dari mendurhaka di dalam hati, mengomel, mengatakan “ah” ( uffin, berkata kasar, menghardik, tidak menghiraukan panggilannya, tidak pamit, tidak patuh dan bermacam-macam tindakan lain yang mengecewakan atau bahkan menyakitkan hati orang tua.) di dalam Q.S.

A-Israa:23 di ungkapkan oleh Allah dua contoh pendurhakaan kepada orang tua yaitu, mengucapkan kata “uffin” dan menghardik ( lebih-lebih lagi bila kedua orang tua sudah berusia lanjut) F. Pengertian Guru Guru adalah seorang pengajar suatu ilmu dengan tugas utama untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi murid. Guru dalam Islam juga disebut pewaris para nabi. Karena lewat seorang guru, wahyu atau ilmu para nabi diteruskan kepada umat manusia.

Imam Al-Gazali mengkhususkan seorang guru dengan sifat-sifat kesucian, kehormatan, dan penempatan guru langsung sesudah kedudukan para nabi. Beliau juga menegaskan bahwa: “Seorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya itu, maka dialah yang dinamakan besar di bawah kolong langit ini, dia ibarat matahari yang menyinari orang lain dan mencahayai dirinya sendiri, ibarat minyak kesturi yang baunya dinikmati orang lain dan dia sendiri pun harum.

Siapa yang berkerja di bidang pendidikan, maka sesungguhnya dia telah memilih pekerjaan yang terhormat dan yang sangat penting, maka hendaknya dia memelihara adab dan sopan satun dalam tugasnya ini.” G. Pentingnya seorang Guru Guru adalah orang yang mengajarkan kita dengan berbagai macam ilmu pengetahuan dan mendidik kita sehingga menjadi orang yang mengerti dan dewasa. Walau bagaimanapun tingginya pangkat atau kedudukan seseorang, dia adalah bekas seorang pelajar yang tetap berhutang budi kepada gurunya yang pernah mendidik pada masa dahulu.

Guru merupakan bapak rohani bagi seorang murid, guru lah yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pendidikan akhlak, dan membimbing para muridnya untuk mengarahkan murid ke arah yang baik. Karena seorang guru, murid menjadi tahu dari yang tidak tahu, dan bisa dari yang tidak bisa. Peran seorang guru, sangatlah penting dalam kehidupan ini. oleh karena itu, sudah kewajiban kita untuk hormat dan patuh kepada guru.

H. Bentuk-Bentuk Akhlak kepada Guru Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Alloh ‘azza wa jalla.

Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama. Diantara bentuk-bentuk akhlak kepada guru adalah sebagai berikut. 1. Di antara akhlaq kepada guru mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki guru, sebagaimana sabda Rosulullah saw : Ù„َÙŠْسَ Ù…ِÙ†َّا Ù…َÙ†ْ Ù„َÙ…ْ ÙŠُÙˆَÙ‚ِّرْ ÙƒَبِيرَÙ†َا Ùˆَ ÙŠَرْØ­َÙ…ْ صَغِيرَÙ†َا “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak menyayangi orang yang lebih muda.” ( HSR.

Ahmad dan At-Tirmidzi ) 2. Di antara akhlaq kepada guru adalah mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan penuh semangat, sebagaimana sabda Rosulullah saw : Ù…َÙ†ْ سَÙ„َÙƒَ Ø·َرِيقًا ÙŠَÙ„ْتَÙ…ِسُ فِيهِ عِÙ„ْÙ…ًا سَÙ‡َّÙ„َ اللَّÙ‡ُ Ù„َÙ‡ُ بِÙ‡ِ Ø·َرِيقًا Ø¥ِÙ„َÙ‰ الْجَÙ†َّØ©ِ “Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu padanya, Alloh mudahkan baginya dengannya jalan menuju syurga.” ( HR.

Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah ) 3. Di antara akhlaq kepada guru adalah datang ke tempat belajar dengan penampilan yang rapi, 4. Di antara akhlaq kepada guru yaitu diam memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan, sebagaimana hadits berkata : “Bila kamu melihat ada anak muda yang bercakap-cakap padahal sang guru sedang menyampaikan ilmu, maka berputus-asalah dari kebaikannya, karena dia sedikit rasa malunya.”( AR. Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ilas-Sunan ) 5.

Di antara akhlaq kepada guru adalah bertanya kepada guru bila ada sesuatu yang belum dia mengerti dengan cara baik. Allah berfirman : فَاسْØ£َÙ„ُÙˆْا Ø£َÙ‡ْÙ„َ الذِّÙƒْرِ Ø¥ِÙ†ْ ÙƒُÙ†ْتُÙ…ْ لاَ تَعْÙ„َÙ…ُÙˆْÙ†َ “Bertanyalah kepada ahli dzikr ( yakni para ulama ) bila kamu tidak tahu.”( Qs.

An-Nahl : 43 dan Al-Anbiya’ : 7 ) Dan Rosulullah saw bersabda : Ø£َلاَ سَØ£َÙ„ُÙˆْا Ø¥ِØ°ْ Ù„َÙ…ْ ÙŠَعْÙ„َÙ…ُوا فَØ¥ِÙ†َّÙ…َا Ø´ِفَاءُ الْعِÙŠِّ السُّؤَالُ “Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu ? Bukankah obat dari ketidaktahuan adalah bertanya ?” ( HSR. Abu Dawud ) 6. Di antara akhlaq kepada guru adalah menegur guru bila melakukan kesalahan dengan cara yang penuh hormat, sebagaimana sabda Rosulullah : الدِّÙŠْÙ†ُ النَّصِÙŠْØ­َØ©ُÙ‚ُÙ„ْÙ†َا : Ù„ِÙ…َÙ†ْ ؟ Ù‚َالَ Ù„ِÙ„َّÙ‡ِ Ùˆَ Mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi Ùˆَ Ù„ِرَسُولِÙ‡ِ Ùˆَ لأَئِÙ…َّØ©ِ الْÙ…ُسْÙ„ِÙ…ِينَ Ùˆَ عَامَّتِÙ‡ِÙ…ْ “Agama adalah nasihat.” Kami ( Shahabat ) bertanya : “Untuk siapa ?” Beliau menjawab : Untuk menta’ati Alloh, melaksanakan Kitab-Nya, mengikuti Rosul-Nya untuk para pemimpin kaum muslimin dan untuk orang-orang umum.” ( HR.

Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dll ) I. Cara Hormat dan Patuh kepada Guru Murid adalah orang yang sedang belajar dan menuntut ilmu kepada seorang guru. Demi untuk keberkahan dan kemudahan dalam meraih dan mengamalkan ilmu atau pengetahuan yang telah diperoleh dari seorang guru, maka seorang murid haruslah memiliki akhlak atau etika yang benar terhadap gurunya.

Beberapa contoh etika murid terhadap gurudiantaranya adalah sebagai berikut : 1. Seorang murid hendaklah hormat kepada guru, mengikuti pendapat dan mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi. 2. Seorang murid hendaklah memberi salam terlebih dahulu kepada guru apabila menghadap atau berjumpa dengan beliau. 3. Seorang murid hendaklah memandang gurunya dengan keagungan dan meyakini bahwa gurunya itu memiliki derajat kesempurnaan, sebab hal itu lebih memudahkan untuk mengambil manfaat dari beliau.

4. Seorang murid hendaklah mengetahui dan memahami hak-hak yang harus diberikan gurunya dan tidak melupakan jasanya. 5. Seorang murid hendaklah bersikap sabar jika menghadapi seorang guru yang memiliki perangai kasar dan keras. 6. Seorang murid hendaklah duduk dengan sopan di hadapan gurunya, tenang, merendahkan diri, hormat sambil mendengarkan, memperhatikan, dan menerima apa yang disampaikan oleh gurunya. 7. Seorang murid hendaklah ketika mengadap gurunya dalam keadaan sempurna dengan badan dan pakaian yang bersih.

8. Seorang murid hendaklah jangan banyak bicara di depan guru ataupun membicarakan hal-hal yang tidak berguna. 9. Seorang murid hendaklah jangan bertanya dengan tujuan untuk mengujinya dan menampakkan kepandaian kepada guru.

10. Seorang murid hendaklah jangan bersenda gurau di hadapan guru. 11. Seorang murid hendaklah jangan menanyakan masalah kepada orang lain ditengah majlis guru. 12. Seorang murid hendaknya tidak banyak bertanya, apalagi jika pertanyaan itu tidak berguna.

13. Jika guru berdiri, Seorang murid hendaklah ikut berdiri sebagai penghormatan kepada beliau. 14. Seorang murid hendaklah tidak bertanya suatu persoalan kepada guru ketika sedang di tengah jalan.

15. Seorang murid hendaklah tidak menghentikan langkah guru di tengah jalan untuk hal-hal yang tidak berguna. 16. Seorang murid hendaklah tidak berburuk sangka terhadap apa yang dilakukan oleh guru ( guru lebih mengetahui tentang apa yang dikerjakannya).

17. Seorang murid hendaklah tidak mendahului jalannya ketika sedang berjalan bersama. 18. Ketika guru sedang memberi penjelasan/ berbicara hendaklah murid tidak memotong pembicaraannya. Kalaupun ingin menyanggah pendapat beliau maka sebaiknya menunggu hingga beliau selesai berbicara dan hendaknya setiap memberikan sanggahan atau tanggapan disampaikan dengan sopan dan dalam bahasa yang baik.

19. Murid haruslah berkata jujur apabila guru menanyakan suatu hal kepadanya. 20. Meskipun sudah tidak dibimbing lagi oleh beliau ( karena sudah lulus) murid hendaklah tetap selalu mengingat jasanya dan tetap terus mendoakan kebaikan –kebaikan atas mereka.

J. Keuntungan Sikap Hormat dan Patuh kepada Guru Berdasarkan uraian di atas, betapa pentingnya sikap hormat dan patuh kepada guru. Dengan menghormati seorang guru, kita akan mendapatkan berbagai macam keuntungan, antara lain sebagai berikut.

1. Ilmu yang diperoleh akan menjadi berkah dalam kehidupan kita. 2. Akan lebih mudah menerima pelajaran yang disampaikan. 3. Ilmu yang diperoleh dari guru akan menjadi bermanfaat bagi orang lain. 4. Akan selalu didoakan oleh guru. 5. Akan membawa berkah, memudahkan urusan, serta dianugerahi nikmat yang lebih dari Allah Swt. BAB III PENUTUP A.

Kesimpulan Menurut bahasa Adab memiliki arti kesopanan, kehalusan dan kebaikan budi pekerti, akhlak. M.Sastra Praja menjelaskan bahwa, adab yaitu tata cara hidup, penghalusan atau kemuliaan kebudayaan manusia.Sedangkan menurut istilah Adab adalah suatu ibarat tentang pengetahuan yang dapat menjaga diri dari segala sifat yang salah. Pengertian bahwa adab ialah mencerminkan baik buruknya seseorang, mulia atau hinanya seseorang, terhormat atau tercelanya nilai seseorang.

Maka jelaslah bahwa seseorang itu bisa mulia dan terhormat di sisi Allah dan manusia apabila ia memiliki adab dan budi pekerti yang baik. 1. Bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama. 2. Bahwa ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua. 3. Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shahih tersebut. 4. Dengan berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan rizki dan dipanjangkan umur.

5. Manfaat dari berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasukkan ke jannah (surga) oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di dalam hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam disebutkan bahwa anak yang durhaka tidak akan masuk surga. Maka kebalikan dari hadits tersebut yaitu anak yang berbuat baik kepada kedua orang tua akan dimasukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ke jannah (surga). Berbakti kepada kedua orang tua sering sekali disebutkan dalam Al-Quran, bahkan digandengkan dengan tuntunan menyembah Allah.

Hal ini menunjukan bahwa berbakti kepada Kedua orang tua (Ibu – Bapak) adalah wajib. Anak berkewajiban berbuat baik kepada kedua orang tuanya yang harus ditunaikan semaksimal mungkin.

Apalagi jkia sering menyakitinya dengan cara membantah dan berkata kasar pada mereka. Termasuk durhaka kepada kedua orang tua, adalah menyakitinya dengan tidak mau memberikan hal yang baik kepada keduanya, sesuai dengan kemampuan. Kemudian bagaimanakah kita sebagai anak tega memalingkan muka dan berkata kasar kepadanya. Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa: Guru adalah seorang pengajar suatu ilmu dengan tugas utama untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi murid.

Guru dalam Islam juga disebut pewaris para nabi. Karena lewat seorang guru, wahyu atau ilmu para nabi diteruskan kepada umat manusia. Guru adalah orang yang mengajarkan kita dengan berbagai macam ilmu pengetahuan dan mendidik kita sehingga menjadi orang yang mengerti dan dewasa. Diantara bentuk-bentuk akhlak kepada guru adalah sebagai berikut.

1. Di antara akhlaq kepada guru adalah memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki guru 2. Di antara akhlaq kepada guru adalah mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan penuh semangat, sebagaimana sabda Rosulullah saw : 3. Di antara akhlaq kepada guru adalah datang ke tempat belajar dengan penampilan yang rapi, 4. Di antara akhlaq kepada guru yaitu diam memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan 5.

Di antara akhlaq kepada guru adalah bertanya kepada guru bila ada sesuatu yang belum dia mengerti dengan cara baik. 6. Di antara akhlaq kepada guru adalah menegur guru bila melakukan kesalahan dengan cara yang penuh hormat Beberapa contoh etika murid terhadap gurudiantaranya adalah sebagai berikut : 1.

Mereka selalu rendah hati terhadap gurunya, meskipun ilmu sudah lebih banyak ketimbang gurunya. 2. Mereka menaati setiap arahan serta bimbingan guru. 3. Mereka juga senantiasa berkhidmat kepada guru-guru mereka dengan mengharapkan balasan pahala serta kemuliaan di sisi Allah Swt. 4. Mereka memandang guru dengan perasaan penuh hormat dan ta’zim (memuliakan) serta memercayai kesempurnaan ilmunya. Dengan menghormati seorang guru, kita akan mendapatkan berbagai macam keuntungan, antara lain sebagai berikut.

1. Ilmu yang diperoleh akan menjadi berkah dalam kehidupan kita. 2. Akan lebih mudah menerima pelajaran yang disampaikan. 3. Ilmu yang diperoleh dari guru akan menjadi bermanfaat bagi orang lain. 4. Akan selalu didoakan oleh guru. 5. Akan membawa berkah, memudahkan urusan, serta dianugerahi nikmat yang lebih dari Allah Swt.

B. SARAN Sebagai seorang anak, sebaiknya kita selalu mengharap keridoan dari keduanya dan memenuhi perintah-perintahnya, sepanjang tidak untuk berbuat maksiat. Juga anak harus selalu mementingkan keduanya dengan mendahulukan keinginan– keinginannya dari pada kepentingan dan keinginan pribadi. Pada kenyataannya, pembuatan makalah ini masih bersifat sangat sederhana dan simpel.

Selain itu penulis hanya menggunakan sumber sekunder yaitu bersumber dari buku dan mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi tersier yang bersumber dari internet untuk penyusunan makalah ini.

Oleh karena itu penulis masih memerlukan kritikan dan saran yang bermanfaat bagi makalah ini. DAFTAR PUSTAKA http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/bakti-pada-orang-tua.html http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2009/01/peran-orangtua-dalam-upaya-pencegahan.html http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/bakti-kepada-orang-tua.html http://kisahimuslim.blogspot.co.id/2014/09/hormat-dan-patuh-kepada-guru.html https://rizkiwirsa.wordpress.com/2015/03/08/makalah-agama-tentang-hormat-dan-patuh-kepada-orang-tua-dan-guru/ https://id.wikipedia.org/wiki/Guru Dalam suatu negara untuk menjalankan fungsinya pemerintah atau penguasa setempat memerlukan dana atau modal.

Modal yang diperlukan itu salah satunya bersumber dari pungutan berupa pajak dari rakyatnya. Pajak juga merupakan gejala sosial dan hanya terdapat dalam suatu masyarakat, tanpa ada masyarakat, tidak mungkin ada suatu pajak.

Karena itu, jelaslah bagi kita untuk membiayai seluruh kepentingan umum, salah satu yang dibutuhkan dan terpenting adalah suatu peran aktif dari warganya untuk ikut memberikan iuran kepada negaranya dalam bentuk pajak, sehingga segala keperluan pembangunan dapat dibiayai. Dana selebihnya merupakan tabungan kesejahteraan bagi masyarakat dan negara demi keadilan yang merata. Bagi Wajib Pajak, khususnya para pengusaha, kewajiban dan hak perpajakan merupakan suatu hal yang sulit untuk dapat dihindari.

Sebab setiap langkah untuk menjadi penguasha formal, seperti izin Pemda, izin Departemen Perdagangan mempersyaratkan pemenuhan salah satu kewajiban Perpajakan, yakni kewajiban mendaftarkan di Kantor Pelayanan Pajak untuk mendapatkan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak). Selanjutnya selama kegiatan bisnis berlangsung timbul berbagai kewajiban perpajakan di satu pihak dan hak perpajakan di lain pihak.

B. Rumusan Masalah Yang wajib mempunyai NPWP adalah wajib pajak (penghasilan). Jadi, orang atau badan yang bertempat tinggal di Indonesia, yang menerima atau memperoleh penghasilan bagi perorangan yang jumlahnya setahun melampaui batas pajak, yaitu yang mempunyai penghasilan melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) wajib mempunyai NPWP walaupun kepadanya belum atau tidak dikenakan pajak atau belum atau tidak diberikan Surat Ketetapan Pajak (SKP).

Setiap orang yang dengan sengaja tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak, atau menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPWP sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.

Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak idana menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak dalam rangka mengajukan permohonan restitusi atau melakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau perkreditan yang dilakukan dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau perkreditan yang dilakukan.

b. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan suatu usaha atau tidak melakukan perkerjaan bebas apabila jumlah penghasilannya sampai dengan suatu bulan yang disetahunkan telah melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak, wajib mendaftarkan diri paling lambat pada akhir bulan berikutnya.

B. Surat Setoran Pajak (Ssp) Dan Ketentuan Pembayaran SSP merupakan surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke keas negara. SSP dapat berupa SSP standar, SSP khusus, SSPCP (surat setoran pabeab, cukai, dan pajak dalam rangka impor), SSCP (surat setoran cukai atas barang kena cukai dan PPN hasil tembakau buaan dalam negeri).

Pembayaran pajak dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain : [2] [5] SPT merupakan dokumen yang menjadi alat kerja sama antara wjib pajak dan administrasi pajak, yang memuat data-data yang diperluakn untuk menetapkan secara tepat jumlah pajak yang terutang.

Pengertian SPT dalam Pasal 1 butir 10 UU KUP dijelaskan bahwa, “Surat pemberitahuan adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terutang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.” 5. Melaporkan pembayaran pajak yang dipungut dalam hal ini adalah pajak pertambahan nilai dan pajak atas penjualan barang mewah (PPN dan PPnBM), bagi Pengusaha Kena Pajak.Sesuai dengan prinsip self assesment system, wajib pajak harus melaporkan pajak bulanan dan pajak tahunan.

Pelaporan ini menggunakan surat pemberitahuan (SPT) yang dapat diambil di Kantor Pelayanan Pajak, atau dapat diotokopi. Landasan hukum pengaturan SPT ini berdasarkan : Pada prinsipnya SPT harus diisi sendiri oleh wajib pajak, karena wajib pajaklah yang mengetahui tentang transaksi dan kegiatan yang berhubungan dengan pajaknya. Apabila tidak paham tentang kerumitan peraturan perundang-undangan perpajakan, maka dapat dibantu oleh praktisi pajak (jasa konsultan pajak).

Wajib pajak mengisi SPT harus benar sesuai dengan kenyataan dan lengkap, apabila tidak, maka akan mengakibatkan sanksi administrasi, lebih jauh akan dikenakan sanksi pidana yang dijatuhkan kepada wajib pajak. Untuk dapat mengisi data dalam SPT, diperlukan catatan atau pembukuan wajib pajak. Oleh karena itu, wajib pajak harus menyelenggarakan pembukuan minimal pencatatan. Sebagai bukti pengisian data SPT tersebut telah sesuai dengan keadaan sebenarnya, maka perlu dilampirkan neraca dan laporan rugi laba (untuk pembukuan) mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi catatan peredaran harian (untuk pencatatan).

SPT dikembalikan atau disampaikan langsung ke Kantor Pelayanan Pajak atau Kantor Penyuluhan Pajak, mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi pajak akan diberi tanda terima SPT.

Jika disampaikan melalui kantor pos harus tercatat, resi pos merupakan tanda bukti tanda terima dan tanggal pengiriman dianggap sebagai tanda bukti dan tanggal penerimaan, atau tempat lain yang ditunjuk Dirjen Pajak sesuai Pasal 5 UU KUP. c. Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang terutang.Pemberitahuan Perpajangan SPT Tahunan wajib ditandatangani oleh Wajib Pajak atau Kuasa Wajib Pajak. Dalam hal Pemberitahuan Perpajakan SPT Tahunan ditandangani oleh Kuasa Wajib Pajak, Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan harus dilampiri dengan Surat Kuasa Khusus.

Apabila telah melebihi jangka waktu 5 tahun sejak terutangnya pajak ternyata tidak diberikan SKPKB maka dianggap pajak yang telah dibayar adalah benar adanya. Jumlah kekurangan pajak yang tercantum dalam SKPKB yang dikarenakan oleh poin a dan e akan dikenakan sanksi adminirasi berupa kenaikan sebesar 50% dai PPh yang tidak atau kurang dibayar, serta 100% dari PPh yang tidak atau kurang dipotong, tidak atau kurang dipungut atau dipotong, dipungut tetapi kurang disetor, dan PPN atau PPnBM yang kurang dibayar.

Merupakan surat keputusan yang menentukan jumlah tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan. Jika hasil temuan (kurang bayar tambahan) diungkapkan oleh Wajib Pajak sendiri makan tidak akan dikenakan sanksi perpajakan, sedangkan kalau temuan tersebut terungkap setelah dilakukannya pemeriksaan oleh Direktur Jenderal Pajak maka Wajib Pajak akan dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% dari jumlah kekurangan paja.

Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut.

mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi

Yang Wajib Menyelenggarakan Pembukuan Suatu peraturan dapat dikatakan ideal dalam segi keadilan bagi masing-masing pihak jika ancaman sanksi ada yang mengikat seluruh pihak yang berkepentingan. UU KUP juga telah menetapkan beragam sanksi yang mengikat tidak hanya kepada Wajib Pajak atau Penanggung Pajak, tetapi juga mengikat Aparat Pajak [fiskus] dan pihak ketiga yang terlibat semisal Kuasa, Pejabat selain Pejabat Pajak, dan sebagainya. c. Sanksi kenaikan pajak yang terutang adalah sanksi yang paling ditakuti oleh Wajib Pajak.

Hal ini karena bila dikenakan sanksi tersebut, jumlah pajak yang harus dibayar bisa menjadi berlipat ganda.sanksi berupa kenaikan pada dasarnya dihitung dengan angka persentase tertentu dari jumlah pajak yang tidak kurang dibayar.

Pidana kurungan hanya diancamkan kepada tindak pidana yang bersifat pelanggaran. Dapat ditujukan kepada Wajib Pajak, dan pihak ketiga.

Karena pidana kurungan diancamkan kepada si pelanggar norma itu ketentuannya sama dengan yang diancamkan dengan denda pidana, maka masalahnya hanya ketentuan mengenai denda pidana sekian itu diganti dengan pidana kurungan selama-lamanya sekian. Setiap orang yang menurut ketentuan wajib memberikan keterangan atau bukti yang diminta tetapi dengan sengaja tidak memberi keterangan atau bukti; atau memberi keterangan atau bukti yang tidak benar, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling paling banyak Rp.

10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah). Penghasilan tidak kena pajak (PTKP) adalah besarnya penghasilan yang menjadi batasan tidak kena pajak bagi wajib pajak orang pribadi, dengan kata lain apabila penghasilan netto wajib pajak orang pribadi yang menjalankan usaha dan atau pekerjaan bebas jumlahnya dibawah PTKP tidak akan dikenakan pajak penghasilan (PPh) pasal 25/29 dan apabila berstatus sebagai pegawai atau penerima penghasilan sebagai objek PPh pasal 21, maka penghasilan tersebut tidak akan dilakukan pemotongan PPh pasal 21.

Besarnya PTKP untuk tahun pajak 2016, 2015, dan 2014 terdiri dari : Masing-masing orang atau badan berbeda-beda kewajibannya sesuai dengan kondisinya masing-masing. Untuk badan misalnya, kewajiban pajak hampir meliputi semua jenis kewajiban tersebut. Untuk orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha, kewajiban pajaknya biasanya adalah PPh Pasal 25 bulanan, dan pelaporan SPT PPh Tahunan. Kalau dia punya karyawan, kewajibannya juga meliputi PPh Pasal 21.

Bagi orang pribadi yang statusnya hanya sebagai karyawan, kewajibannya hanya menyampaikan SPT Tahunan setiap tahun.Search mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi Beranda • Utama • Utama Satu • Utama Dua • Surabaya • Jatim Membangun • Gerbang Raya Sidoarjo - Gresik - Mojokerto • Karesidenan Bojonegoro Bojonegoro-Lamongan-Tuban - Jombang • Karesidenan Kediri Kediri-Blitar-Trenggalek-Tulungagung-Nganjuk • Karesidenan Malang Raya Kota Malang - Kab Malang - Kota Batu • Karesidenan Besuki Banyuwangi-Bondowoso-Situbondo-Jember • Karesidenan Madura Bangkalan-Sampang-Pamekasan-Sumenep • Karesidenan Pasuruan Pasuruan-Probolinggo-Lumajang • Karesidenan Madiun Madiun-Ngawi-Pacitan-Ponorogo • Ekbis • Olahraga • Nasional • Opini • Tajuk • Foto • Pendidikan • Advertorial • E-Paper • Indeks Oleh: Moch Sayyidatthohirin Pengajar Tahfidz di Asrama Monash Institute, Mahasiswa Peraih Beasiswa Bidikmisi UIN Walisongo Semarang Sebentar lagi, tepatnya pada tanggal 25 November 2014 merupakan hari spesial bagi bangsa Indonesia, yakni memperingati Hari Guru Nasional.

Hari itu menjadi momentum penting bagi Indonesia dalam mengingat jasa para guru yang telah mencerdaskan bangsa. Hingga mereka sering disebut sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Sebab, idealnya, guru berjuang keras dalam mendidik siswa-siswinya supaya menjadi generasi yang cerdas demi kemajuan bangsa dengan tanpa meminta imbalan ataupun balasan sedikitpun. Momentum tersebut sangat tepat jika dikaitkan dengan kondisi kualitas pendidikan Indonesia saat ini yang masih jauh dari sempurna.

Bila dibandingkan dengan kualitas pendidikan sejumlah negara maju, seperti Amerika, Inggris, Australia, Singapura, Brunei, dan juga termasuk Finlandia yang saat ini kualitas pendidikannya dinilai nomor satu sedunia, kualitas pendidikan bangsa Indonesia masih dinilai rendah. Terbukti, hampir tidak ada prestasi yang cemerlang yang diraih, baik dalam bidang pendidikan, pilitik, ekonomi, hukum, dan lainnya.

Maka, Indonesia patut meneladani pendidikan Finlandia meskipun tidak seluruhnya, karena seperti yang dikatakan oleh Dr. Mohammad Nasih al-hafidz, Wakil Rektor STEBANK Jakarta sekaligus dosen Universitas Indonesia (UI), bahwa sejatinya kondisi pendidikan di tempat yang berbeda, maka akan berbeda pula sistem yang harus diterapkan.

Dalam konteks ini, guru menjadi komponen pendidikan yang sangat urgen. Urgensinya bagaikan tingkat kekuatan pondasi dalam suatu bangunan. Kualitas guru diibaratkan dengan perumpamaan itu. Apabila pondasi itu kokoh, maka bangunan itu akan mampu bertahan lama. Namun sebaliknya. Jika pondasi itu lemah, maka pondasi itu akan cepat rapuh dan bangunan pun roboh.

Begitu pula dengan guru. Apabila kualitas guru tinggi, maka akan berpeluang besar tercetak siswa yang cerdas karena dididik dengan tepat dan benar sesuai porsinya. Namun sebaliknya. Apabila kualitas guru rendah, maka tidak mengherankan jika kualitas siswa pun rendah, alias “bodoh”. Sesungguhnya jika disadari, guru memiliki peran serta tanggung jawab yang sangat besar dalam rangka mengentas umat manusia dari juran kebodohan.

Saking besarnya, guru menjadi komponen pertama dan utama dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan bangsa. Bahkan, Nasih menyatakan bahwa guru menjadi salah satu penentu kemajuan suatu bangsa.

Artinya, maju tidaknya suatu bangsa terletak di pundak guru. Apabila guru sukses mendidik para siswanya, maka bangsanya akan maju. Begitu pula sebaliknya.

Satu hal terpenting yang harus diingat yaitu guru termasuk pewaris nabi. Ini mengacu pada salah satu hadist Nabi Muhammad SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi secara eksplisit dan implisit menyatakan bahwa Ulama’ merupakan pewaris para nabi. Kata ulama merupakan dari bahasa arab berbentuk jamak dari bentuk tunggal kata ‘alim, artinya orang yang tahu (baca: cendekiawan). Karena guru dianggap orang yang banyak mengetahui tentang ilmu pengetahuan di bidangnya, maka guru meerupakan orang ‘alim.

Karena guru termasuk orang ‘alim, maka dia termasuk pewaris nabi. Oleh karena itu, setidaknya guru harus berusaha keras memiliki sifat-sifat profetik, yaitu shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathonah (cerdas).

Dengan memiliki sifat-sifat tersebut, diharapkan guru mampu mengaplikasikannyaa ke dalam kehidupan sehari-hari, khususnya saat mendidik para siswanya sehingga tujuan pendidikan yang sebenarnya akan terwujud. Sebab, terbukti bahwa semua sifat itu menjadi kunci kesuksesan nabi Muhammad SAW. dalam menyampaikan risalahnya kepada umat manusia pada zamannya, sehingga mereka bisa menerimanya dan menjadi umat yang cerdas.

Maka dari itu, muncul istilah masyarakat madani (beradab). Keberadabannya bermula dari keberhasilan nabi dalam mendidik umat manusia.

Sebagai tindak lanjutnya, guru harus mengoptimalkan peran dan tanggung jawabnya sebagai pendidik umat manusia. Guru harus sadar bahwa peran dan tanggung jawabnya tidak hanya sebatas mentransformasikan ilmu pengetahuan kepada para siswanya. Itu merupakan suatu keniscayaan baginya. Namun, yang lebih penting, guru harus menjadi sosok seorang yang berbeda dari pada orang lain, supaya memang terbukti bahwa guru termasuk pewaris nabi.

Dalam hal ini, perbedaan yang dimaksud merupakan segala sesuatu yang positif. Untuk itu, setidaknya guru harus melakukan beberapa hal. Pertama, guru harus berusaha dan mampu menjadi suri tauladan bagi seluruh masyarakat. Jika masih ingin disebut sebagai pewaris nabi, maka guru harus berusaha dengan maksimal untuk bisa mengamalkan sifat-sifat profetik.

Ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab: 21. Selain itu, guru juga harus memiliki sifat-sifat yang layaknya dimiliki seorang guru yang baik, diantarany; dewasa, bijaksana, adil, berwibawa, bersahaja, tidak bercanda berlebihan (over kidding), menjauhi segala perilaku negatif dan yang menyebabkan hilangnya kewibawaannya, seperti bercanda melewati batas (over kidding).

Dengan begitu, guru akan berhasil menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Dalam istilah jawa, guru harus bisa digugu (dijadikan tauladan) dan ditiru (diikuti). Kedua, guru harus sukses mencerdaskan siswa-siswinya. Untuk mudah merealisasikannya, menurut Abdul Mufid Lc., guru harus memenuhi beberapa syarat yang harus dipenuhinya, diantaranya; kualitas guru (berpengetahuan luas dalam bidangnya dan mampu mendidik siswanya dengan baik dan benar) harus tinggi, paham dan mampu mengaplikasikan metode pendidikan yang sinkron, relevan, dan sesuai dengan kurikulum yang diterapkan.

Ini sesuai firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Nahl: 125 tentang bagaimana cara mendidik mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi baik. Apabila salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, maka guru bagaikan menegakkan tali yang basah, alias sia-sia.

Ketiga, guru harus berkarya, terutama dalam bidang akademik. Poin ini berhubungan erat dengan poin pertama dan kedua. Selain bertugas mentransformasikan ilmunya, guru juga dituntut mampu berkarya di bidangnya, misalkan; guru bahasa inggris mampu membuat sebuah buku berjudul “Kunci Sukses Menguasai Bahasa Inggris”.

Dengan begitu, akan terbukti bahwa guru tersebut berkualitas. Keempat, guru harus ikhlas dalam mendidik siswa-siwinya. Supaya sukses mengimplementasikan poin ini, guru harus sadar, ingat, dan mengamalkan satu hadist nabi, “‘allim majjanan kama ‘ullimta majjanan”. Maksudnya adalah nabi menyuruh umatnya supaya ketika kita mengajar siswa, jangan sampai kita berharap atau bahkan meminta jasa balasannya sebagaimana kita diajar gratis. Sebab, dalam menyampaikan risalahnya yang penuh unsur pendidikan bagi umatnya, nabi sangat ikhlas dalam melaksanakannya.

Karena beliau sangat paham dan mengamalkan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Mujadalah: 11. Keempat poin tersebut saling berkaitan erat. Apabila salah satu poin tidak terpenuhi, maka jangan harap guru masih disebut sebagai pewaris nabi. Semoga para guru di seantoro negeri ini mampu mengaplikasikan syarat-syarat tersebut.

Dengan demikian, setidaknya tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UUD 1945 alinea keempat dan UU. no. 20 tahun 2003 akan terwujud, sehingga masyarakat Indonesia mampu menjadi masyarakat yang cerdas, berkualitas, unggul, bermartabat, serta mampu bersaing dan bahkan mengungguli negara-negaa maju lainnya di dunia.

Wallahu a’lam bimurodihi. ————————- *** ————————-

Jadi barang siapa yang memiliki kewibawaan, akan dipatuhi secara sadar, dengan tidak terpaksa, dengan tidak merasa / diharuskan dari luar, dengan penuh kesadaran, keinsyafan, tunduk, patuh, menuruti semua yang dikehendaki oleh pemilik kewibawaan itu.

“Gezag” berasal dari kata “Zeggen” yang berarti “Berkata ”. Siapa yang perkataannya mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain, berarti mempunyai kewibawaan atau gezag terhadap orang lain. Gezag atau kewibawaan“ itu ada pada orang dewasa, terutama pada orang tua. Dapat kita katakan bahwa kewibawaan yang ada pada orang tua (ayah dan ibu) itu adalah asli.

Orang tua dengan langsung mendapat tugas dari tuhan untuk mendidik anak-anaknya. Orang tua atau keluarga mendapat hak untuk mendidik anak¬anaknya, suatu hak yang tidak dapat dicabut karena terikat oleh kewajiban. Berdasarkan pendapat- pendapat tersebut, penulis menyim-pulkan bahwa kewibawaan adalah kekuasaan tertinggi yang dimiliki sesorang karena memiliki kelebihan-kelebihan yang menyebabkan orang lain merasa segan dan hormat terhadapnya yang selanjutnya akan tunduk atas apa yang dikehendakinya.

“Gezag” berasal dari kata “Zeggen” yang berarti “Berkata ”. Siapa yang perkataannya mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain, berarti mempunyai kewibawaan atau gezag terhadap orang lain. Gezag atau kewibawaan“ itu ada pada orang dewasa, terutama pada orang tua. Dapat kita katakan bahwa kewibawaan yang ada pada orang tua (ayah dan ibu) itu adalah asli. Orang tua dengan langsung mendapat tugas dari tuhan untuk mendidik anak-anaknya.

Orang tua atau keluarga mendapat hak untuk mendidik anak¬anaknya, suatu hak yang tidak dapat dicabut karena terikat oleh kewajiban. Hak dan kewajiban yang ada pada orang tua itu keduanya tidak dapat dpisahkan Kewibawaan adalah sesuatu yang sangat penting untuk dimiliki oleh seorang guru.

Guru yang mempunyai kewibawaan berarti mempunyai kesungguhan, suatu kekuatan, sesuatu yang dapat memberikan kesan dan pengaruh Menurut langeveld pemilik kewibawaan pendidikan didasarkan pada dua kriteria ini: 1) Pemangku kewibawaan pendidikan yaitu pemimpin suatu kesatuan hidup bersama.

Kewibawaan pendidikan semacam ini disebut kewibawaan atas dasar status kodrati / jabatan (status sosial). 2) Orang dewasa yang menjadi pendidik memiliki dan merealisir sendiri nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan ini hendak dimiliki dan direalisir juga oleh anak didik dalam hidupnya. Dalam hubungan dengan anak didik, pendidik memancarkan nilai-nilai kemanusiaan dari dalam dirinya sebagai pribadi dewasa susila dalam bentuk tingkah lakunya.

Anak didik sendiri mengingini dan hendak memiliki nilai-nilai itu, dan karena itu, ia menerima, mengakui, percaya pada pendidik. Ia mempelajarinya dari pendidik. Anak didik ingin menjadi pribadi dewasa susila, ingin sama seperti pendidik itu, anak didik meniru secara aktif, dan secara aktif membentuk kebiasaan-kebiasaan bertindak.

Di dalam proses pendidikan, kewibawaan (gezag) adalah syarat yang harus ada pada pendidik karena kewibawaan itu digunakan oleh pendidik didalam proses pendidikan untuk membawa anak didik kepada kedewasaan maka kewibawaan itu termasuk alat pendidikan Yang dimaksud dengan kewibawaan dalam pendidikan (Opveoding¬gozag) di sini ialah, pengakuan dan penerimaan secara sukarela terhadap pengaruh atau anjuran yang datang dari orang lain.

Jadi pengakuan dan penerimaan pengaruh atau anjuran itu atas dasar keikhlasan, atas kepercayaan yang penuh, bukan didasarkan atas rasa terpaksa, rasa takut akan sesuatu, dan sebagainya b. Mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi Kewibawaan Ditinjau dari mana daya mempengaruhi yang ada pada seseorang ini ditimbulkan, maka kewibawaan dapat dibedakan menjadi : 1) Kewibawaan lahir Adalah kewibawaan yang timbul karena kesan-kesan dilihat dari lahiriah seseorang, seperti : a) Bentuk tubuh yang tinggi besar b) Pakaian yang lengkap dan rapi c) Tulisan yang bagus d) Suara yang keras dan jelas e) Berbicara dan bersikap yang baik sopan 2) Kewibawaan batin Adalah kewibawaan yang didukung oleh keadaan batin atau yang muncul dari diri seseorang, seperti a) Adanya rasa cinta Kewibawaan itu dapat dimiliki oleh seseorang, apabila hidupnya penuh kecintaan dengan atau kepada orang lain.

b) Adanya rasa demi kamu Demi kamu atau you attitude, Adalah siakap yang dapat dilukiskan sebagai suatu tindakan, perintah atau anjuran bukan untuk kepentingan orang yang memerintah, tetapi untuk kepentingan orang diperintah, menganjurkan demi orang yang menerima anjuran, melarang juga demi orang dilarang.

Misalnya: seorang guru yang memerintahkan agar anak didik belajar keras dalam menghadapi ujian, bukan agar dirinya mendapat nama karena anak didiknya banyak lulus, melainkan agar anak didik mendapatkan nilai yang bagus dan mudah untuk meneruskan sekolahnya. c) Adanya kelebihan bathin Adanya guru yang menguasai bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya, bisa berlaku adil dan obyektif, bijaksana, merupakan contoh-contoh yang dapat menimbulkan kewibawaan batin.

d) Adanya ketaatan kepada norma Menunjukkan bahwa dalam tingkah lakunya seorang guru sebagai pendukung norma yang sungguh-sungguh, selalu menepati janji yang pernah dibuat, disiplin dalam hal-hal yang telah mengapa seorang guru juga disebut sebagai pewaris para nabi. Dalam pendidikan, dari dua macam kewibawaan yang itu, yang tua maupun guru muda harus memiliki kewibawaan bathin.

Walaupun ini tidak berarti bahwa kewibawaan lahir atau penampilan luar dari pendidik boleh diabaikan, seperti : tulisan di papan tulis yang baik, berpakaian ynag rapi, berbicara yang baik, sikap yang sopan, yang semuanya ini merupakan kesan-kesan luar, yang sangat membantu terlaksananya pendidikan, meskipun semua ini saja belum mencukupi.

Pada umumnya disepakati bahwa kewibawaan bathin lebih dibutuhkan oleh para pendidik dalam menjalankan tugasnya.

Kewibawaan merupakan syarat mutlak dalam pendidikan, artinya jika tidak ada kewibawaan, maka pendidikan itu tidak mungkin terjadi. Sebab dengan adanya kewibawaan ini, segala bimbingan yang diberikan oleh pendidikan akan diikuti secara suka rela oleh anak didik. Sebaliknya jika kewibawaan tidak ada, segala bentuk bimbinga dari pendidik tidak mungkin dituruti oleh anak didik, sehingga tanpa kewibawaan pendidik akan kehilangan predikatnya sebagai pendidik.

Agar kewibawaan yang dimiliki oleh pendidik tidak goyah, tidak melemah, maka hendaknya pendidik itu selalu: a) Bersedia memberi alasan Pendidik harus siap dengan alasan yang mudah diterima anak, mengapa pendidik menghendaki anak didik supaya berlaku begini, mengapa pendidik melarang anak didik, mengapa pendidik memberikan nasihat begitu, penjelasan hendaknya singkat dan dapat diterima anak dengan jelas, menggunakan bahasa yang sesuai dengan perkembangan anak.

Dengan adanya kejelasan ini, akan membuat anak didik menerima semuanya penuh dengan kerelaan dan kesadaran. b) Bersikap demi kamu / you attitude Pendidik selalu harus menunjukkan sikap demi kamu / you attitude, sikap ini tidak perlu ditonjolkan, tetapi harus dengan jelas Nampak kepada anak, atau mudah diketahui oleh anak.

Pendidik menuntut anak didik ini, melarang berbuat itu, semuanya demi anak didik sendiri bukan untuk kepentingan pendidik. c) Bersikap sabar Pendidik harus selalu bersikap sabar, memberi tenggang waktu kepada anak didik untuk mau menerima perintah dan nasehat yang diberikan oleh pendidik.

Mungkin pendidik harus memberikan nasihatnya berkali-kali kepada seorang anak, pendidik dituntut kesabarannya sungguh-sungguh, tidak boleh putus asa. Putus asa adalah sikap yang salah. d) Bersikap memberi kebebasan Semakin bertambah umur anak didik atau semakin dewasa, pendidik hendanya semakin memberi kebebasan, memberi kesempatan kepada anak didik, agar belajar berdiri sendiri, belajar bertanggung jawab, dan belajar mengambil keputusan, sehingga pada akhirnya anak tidak lagi memerlukan nasihat dalam kewibawaan melainkan anak diberi kebebasan untuk mengikuti nasihat itu, atau tidak c.

Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kewibawaan Kewibawaan dapat terbentuk pada diri seseorang / guru apabila seseorang/ guru tersebut memiliki beberapa kriteria tertentu. Untuk lebih jelasnya peneliti akan menguraikan tentang sumber-sumber terbentuknya suatu kewibawaan. Di antara beberapa faktor yang bisa mempengaruhi munculnya suatu wibawa dari diri seorang guru menurut A. Samana di antaranya: 1) Faktor yang bersumber pada wewenang yuridis Kewibawaan yang muncul karena adanya kewenangan yuridis umumnya berupa kemanangan formal, ditandai oleh penjenjangan kepangkatan dalam tata birokrasi administratif yang secara nyata dikukuhkan oleh aturan-aturan hukum tertentu dan disahkan oleh surat¬surat keputusan tertentu dari pejabat yang berwenang.

Realisasi dari kewenangan yuridis ini berbentuk kewenangan memerintah, mengatur, menilai dan menetapkan sangsi kepada bawahan berdasarkan aturan yang berlaku dalam sistem bernegara dengan segala lembaga penunjangnya. Kewibawaan seperti ini bersifat dipaksakan (perspektif) penerapan keawibawaan yuridis dapt menyeleweng menjadi alat untuk kepentingan diri sendiri / kelompok dan dapat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur serta universal.

Demikian juga dengan kewibawaan seorang, Apabila seorang guru hanya memiliki kewibawaan yuridis, maka perkataannya cenderung bisa diperhatikan siswa/ditaati siswa selama guru tersebut berada didalam kelas saja. Kewibawaan karena adanya kekuasaan atau jabatan tidak akan membekas pada diri siswa.

Pengaruh kewibawaan inipun terbatas seperti yang dikatakan oleh Ngalim Purwanto bahwa kewibawaan yang ada pada guru ini terbatas oleh banyaknya anak-anak yang diserahkan kepadanya dan setiap tahun berganti anak-anak didik/siswa 2) Faktor yang bersumber dari daya kekuatan fisik Kewibawaan ini juga bisa disebut dengan kewibawaan lahihiriah (sesuatu yang bisa dilihat oleh orang lain). Sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan macam-macam kewibawaan.

Selain itu ada contoh lain yang termasuk faktor kewibawaan lahiriyah diantaranya Faktor penampilan terbaik        Artinya : “ Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. ” (At tin/95: 4) Guru berpribadi dapat kita amati pada penampilan pertama.

Jika guru mampu menampakkan positif pada murid akan memiliki kesan yang positif pula. Bagaimana guru mampu memberikan kesan pertama yang positif kepada murid-nurid yang menjadi mitra dalam pembelajaran. Jika kesan pertama yang positif dapat dibangun oleh guru, maka akan memudahkan pelaksanaan pembalajaran selanjutnya. Untuk membangun penampilan terbaik guru, setidak-tidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan, terutama: posisi dan bahasa tubuh, gaya bicara dan ekspresi wajah, dan cara berpakaian.

d. Guru 1) Pengertian guru Term “Guru” dalam bahasa Inggris sering disebut teacher. Terkadang juga dikatakan sebagai educator. Sementara itu, dalam bahasa Arab disebut mu’allim, muaddib, murabbiy, mudarris.

Menurut Muhaimin term guru dalam bahasa Arab juga disebut dengan istilah ustadz. Dalam literatur kependidikan Islam, kata guru sering juga dikatakan dengan ustadz, mu’allim, murabbiy, mudarris dan muaddib.

Sedangkan menurut Muhammad Ali al-Khuli dalam kamusnya “Dictionary of Education; English-Erobic”, kata “guru” disebut juga dengan mu’allim dan mudarris. Melihat dari usaha-usaha guru di atas, maka kedudukan guru dalam Islam merupakan realita dari ajaran itu sendiri. Tidak boleh tidak, Islam pasti memuliakan guru. Tak terbayangkan terjadinya perkembangan pengetahuan tanpa adanya orang belajar dan mengajar; tak terbayangkan adanya belajar mengajar tanpa adanya guru, karena Islam adalah agama.

Maka pandangan tentang guru, kedudukan guru tidak terlepas dari nilai-nilai kelangitan. 2) Syarat Kompetensi Guru Tugas dan pekerjaan guru dalam mengajar anak-anak menuntut persyaratan tersendiri, yaitu terutama terletak persyaratan dapatnya seorang guru membawa dan menanamkan tingkah laku anak didik yang baik sepanjang masyarakat/negara menghargainya.

Dan ini berhubungan dengan pengetahuan tentang pendidikan, psikologi, kecakapan teknik mengajar serta ilmu-ilmu bantu yang lain. Oleh sebab itu, ketidakdisiplinan guru juga membawa implikasi yang negatif kepada siswa. Namun sebaliknya, sikap disiplin tinggi yang dimiliki oleh guru sebagaiu rasa tanggung jawabnya juga membawa siswa untuk disiplin.

Menanggapi persoalan di atas, Hadari Nawawi mengemukakan bahwa : “Setiap guru harus memahami fungsinya karena besar pengaruhnya terhadap cara bertindak, berbicara dan berbuat dalam menunaikan pekerjaan sehari-hari, di kelas atau di sekolah dan di masyarakat. Pemahaman dan pengetahuannya tentang kompetensi guru akan mendasari pola kegiatannya dalam menunaikan profesi sebagai guru.

Kompetensi guru yang dimaksud antara lain mengenai kompetensi pribadi, kompetensi profesi dan kompetensi kemasyarakatan”. Sementara itu menurut Abuddin Nata secara garis besar ada beberapa ciri seorang guru yaitu: a) Seorang guru yang profesional harus menguasai bidang ilmu pengetahuan yang akan diajarkanya dengan baik b) Seorang guru yang profesional harus memiliki kemampuan menyampaikan atau mengajarkan ilmu yang dimilikinya (transfer of knowledge) kepada murid-muridnya secara efektif dan efisien.

c) Seorang guru yang profesional harus berpegang teguh pada kode etik profesional. Kode etik disini lebih ditekankan pada perlunya memiliki akhlak yang mulia. Jadi, bahwa untuk menjadi seorang guru, di samping harus memiliki kemampuan untuk menyampaikan materi yang diajarkan, ia juga harus memiliki ilmu keguruan (secara akademik dibuktikan dengan ijasah).

Betapa Mulia Profesi Guru Dalam Pandangan Islam




2022 www.videocon.com