Salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah....

salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah....

“Hanya milik Allah-lah asma-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) dalam (menyebut dan memahami) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan” (QS: 07/180). Doa asmaul husna adalah salah satu doa yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk dipelajari.

Lantaran, dalam asmaul husna memuat nama-nama terbaik Allah yang jika diserukan saat berdoa, Allah SWT akan mengabulkan doa kita. Baca Juga: 99 Asmaul Husna Beserta Artinya Lengkap dengan Dalil Doa Asmaul Husna Ilustrasi ramadan. (pexels.com/Thirdman) Doa asmaul husna terbagi menjadi tiga bagian, yaitu doa pembukaan yang dibaca sebelum asmaul husna, kemudian dilanjutkan dengan membaca asmaul husna, dan terakhir diakhiri dengan doa penutup.

Berikut doa asmaul husna yang biasa dilafalkan di majelis atau acara. Artinya: "Dengan nama Allah, kami memulai (membaca). Segala puji bagi Tuhan kami. Shalawat dan salam untuk Nabi Kekasih kami.

salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah....

Ya Allah ya Tuhan Kami. Engkau Tujuan Kami, RidhaMu yang Kami Cari. Di Dunia dan Akherat Kami." 2. Doa Penutup Asmaul Husna Bi ‘asmaa ‘ikal khusnaa - Ighfir lanaa dhunuubanaa, Waliwalidiinaa - Wa dhurriyaa tinaa, Kaffir ‘an sayyi’a tinaa - Waastur ‘alaa ‘uyuu binaa, Waajbur ‘alaa nuq shoo ninaa - Waarfa’ darojaa tinaa, Wa zidnaa ‘ilmaannaa fi’aan - Warizqon Waasi’aan, Khalaalan thoyyiban - Wa’amalan sholikhaan, Wanawwir quluu banaa - Wayassir umuu ronaa, Wa shokhi’ ajsaa danaa - Daaa’ima khayaatinaa, ilal khoiri qorribnaa - ‘Anisy syarri baa’idnaa, Waalqurbaa rojaaa ‘una - Salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah.

nilnalmunaa, Balligh maqooshidanaa - Waqdhi khawaa ‘ijanaa, Walkhamdu li’ilaahinaa - Alladhii hadaanaa, Sholli wasalim ‘alaa - Thoohaa kholiilir rokhmaan, Wa ‘aa lihii washokhbihii - ’Ilaa aakhirizzamaan. Artinya: "Dengan asma ul khusna, ampunilah dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan keturunan kami.

Hapuskanlah kejelekan kami - dan tutuplah cacat kami. Tambahlah kekurangan kami, naikkanlah derajat kami. Tambahilah kami ilmu yang bermanfaat, rezki yang luas, halal dan bagus, dan amalan yang sholeh. Terangkanlah hati kami, mudahkanlah urusan kami, dan sehatkanlah badan kami.

Selama hidup kami, dekatkanlah kebaikan kepada kami, jauhkanlah kami dari kejelekan. Dekatlah pada allah harapan kami, akhirnya kami memperoleh kenikmatan, sampaikanlah maksud-maksud kami.

Penuhilah hajat-hajat kebutuhan kami, segala puji untuk tuhan kami yang telah menunjukkan kepada kami. Semoga allah memberikan rahmat dan keselamatan. Atas thoha/nabi Muhammad menjadi kekasih. dan keluarganya dan sahabatnya - sampai akhir masa." Itulah urutan doa asmaul husna yang bisa kamu praktikkan. Jangan lupa diamalkan agar keinginanmu segera dikabulkan oleh Allah SWT, ya! Baca Juga: Lakukan 7 Rahasia Ini agar Doa Cepat Dikabulkan!

Berita Terpopuler • Hamas Mulai Bangkit, Menkeu Israel: Ini Semua Kesalahan Netanyahu • 10 Potret Liburan Ayu Ting Ting dan Keluarga ke Jogja, Ayah Rozak Hits • Kamu Workaholic? Waspadai 7 Tanda Kamu Terlalu Keras ke Diri Sendiri • 10 Fakta Elon Musk, Orang Terkaya di Dunia yang Baru Membeli Twitter • BMKG: Waspada, Suhu Panas Terik Terjadi hingga Pertengahan Mei • 10 Potret Baby Ameena dalam Berbagai Ekspresi, Gemasnya Kebangetan • Libur Lebaran Usai, Jakarta Kembali Terapkan Ganjil Genap Hari Ini • Kemenag Sebut Kriteria Jemaah Haji Reguler yang Berangkat Tahun Ini • 10 Momen Nagita Slavina Masak Makan Malam buat Teman-teman Artisnya ERROR: The request could not be satisfied 403 ERROR The request could not be satisfied.

The Amazon CloudFront distribution is configured to block access from your country. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation.

Generated by cloudfront (CloudFront) Request ID: fdlgdM2uv1BIRQKelMAC6t-1w6nAMnKXPZ4juJsNfM1ZtKMexHklWw==
Daftar 99 Asmaul Husna dan Artinya – Memaknai Nama Baik Allah SWT – Sebagai seorang muslim, kita tentu tidak asing mendengar kata Asmaul Husna. Asmaul Husna merupakan nama-nama baik yang dimiliki oleh Allah dan terdiri dari 99 nama yang masing-masing memiliki arti dan makna yang baik.

Asmaul Husna biasa dinyanyikan sebagai shalawat setelah melakukan ibadah sholat maghrib. Asma merupakan bahasa arab yang berarti “nama”, sedangkan Husna adalah kata berbahasa arab yang berarti “yang baik atau indah”, sehingga Asmaul Husna merupakan nama-nama yang baik dan indah milik Allah. Dalam Al-Quran Allah telah menjelaskan bahwa Asmaul Husna adalah nama serta sifat yang dimiliki – Nya, seperti pada surat At-Thaha : 8 yang artinya “Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia.

Dia mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang baik)”. kemudian Allah menjelaskan pula pada surat Al-Baqarah : 31 yang berarti “Dia telah mengajari Adam seluruh nama” serta menyerukan kepada ummat – Nya untuk menyebut Asmaul Husna dalam doa, hal tersebut dijelaskan pada surat Al-A’raf : 130 yang memiliki arti “Milik Allah lah nama-nama yang indah, dan mohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama tersebut”. Memahami Asmaul Husna merupakan hal penting yang harus diketahui oleh setiap muslim, karena termasuk dalam tauhid, sehingga seorang muslim dapat mewujudkan dan mengamalkan keimanan sempurna kepada Allah.

Mempelajari Asmaul Husna terdapat dalam dua jenis tauhid sebagai berkut. Tauhid al-ilmi al-khabari al-Itiqadi atau tauhid yang berhubungan dengan ilmu atau pengalaman dan sumbernya dari berita atau wahyu Allah serta menyangkut keyakinan dalam hati seseorang. Tauhid ini merupakan penetapan sifat-sifat maha sempurna bagi Allah serta pensucian sifat – Nya dari penyerupaan. Tauhid kedua merupakan bentuk dari penghambaan diri kepada Allah serta tidak menyekutukan – Nya. Daftar Isi • Ayat Al-Quran Tentang Asmaul Husna • Daftar 99 Asmaul Husna disertai Arti dan Makna • Anda Mungkin Juga Menyukai • Hikmah dan Manfaat Melafalkan Asmaul Husna Ayat Al-Quran Tentang Asmaul Husna Kata Asmaul Husna berasal dari bahasa Arab, yaitu Al-Asmaau yang berarti nama dan Al-Husna yang berparti baik dan indah.

Secara istilah Asmaul Husna berarti nama-nama Allah yang indah. Asal Asmaul Husna dikisarkan melalui kitab asbabun – nuzul, dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa Rasullulah yang sedang melaksanakan salat di Mekah berdoa dengan menyebut “Ya Rahman, Ya Rahim” doa yang diucapkan oleh Rasul kemudian didengar oleh seorang kaum musyrikin, orang itu kemudian berkata bahwa, “ dia melarang kita menyembah dua Tuhan, namun dia menyebutkan dua Tuhan dalam doanya”.

Dari kejadian tersebut, turunlah surat Al-Isra ayat 110 yang berbunyi, “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al Asmaaul Husna dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalat mu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”.

(Q.S. Al-Isra:110) Turunnya surat Al-Isra ayat 110 tersebut merupakan peringatan dari Allah kepada kaum musyrikin yang memiliki pandangan buruk terhadap Rasul yang sedang berdoa.

Dalam surat tersebut, Allah mengatakan bahwa Rasul menyebut Rahman dan Rahim untuk memuji kekuasaan Allah melalui penamaan yang memiliki arti yang indah dan baik. Kemudian Allah menurunkan lagi surat Al- A’raf : 180 yang berbunyi, “Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama Nya.

Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S. Al-A’raf:180). Itulah beberapa ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan mengenai munculnya Asmaul Husna. Daftar 99 Asmaul Husna disertai Arti dan Makna Setelah mengetahui ayat-ayat yang menyebutkan salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. Asmaul Husna, sebagai muslim yang baik kita wajib mengamalkan kebaikan-kebaikan yang diserukan dalam al-quaran serta makna baik yang ada dalam Asmaul Husna.

Rp 39.800 Asma yang memiliki arti nama atau penyebutan serta husna yang memiliki arti baik atau indah terdiri dari 99 Nama yang memiliki makna nama-nama miliki Allah SWT yang baik dan indah.

Pada buku Mengenal Asmaul Husna 99 Nama Allah SWT Yang Maha Indah Versi Bilingual, Grameds dapat mempelajari nama-nama tersebut dalam bahasa Arab dan juga Inggris. 99 Asmaul Husna Arti dan Makna • Ar Rahman الرحمن = Yang Maha Pengasih • Ar Rahiim الرحيم = Yang Maha Penyayang • Al Malik الملك = Yang Maha Merajai atau menguasai • Al Quddus القدوس = Yang Maha Suci • As Salaam السلام = Yang Maha Memberi Kesejahteraan • Al Mu`min المؤمن = Yang Maha Memberi Keamanan • Al Muhaimin المهيمن = Yang Maha Mengatur • Al Aziz العزيز = Yang Maha Perkasa • Al Jabbar الجبار = Yang Memiliki Mutlak Kegagahan • Al Mutakabbir المتكبر = Yang Maha Megah • Al Khaliq الخالق = Yang Maha Pencipta • Al Baari البارئ = Yang Maha Pembuat atau Perancang • Al Mushawwir المصور = Yang Maha Membentuk Rupa • Al Ghaffaar الغفار = Yang Maha Pengampun • Al Qahhaar القهار = Yang Maha Memaksa • Al Wahhaab الوهاب = Yang Maha Pemberi Karunia • Ar Razzaaq الرزاق = Yang Maha Pemberi Rezeki • Al Fattaah الفتاح = Yang Maha Pembuka Rahmat • Al `Aliim العليم = Yang Maha Mengetahui • Al Qaabidh القابض = Yang Maha Menyempitkan • Al Baasith الباسط = Yang Maha Melapangkan • Al Khaafidh الخافض = Yang Maha Merendahkan • Ar Raafi الرافع = Yang Maha Meninggikan • Al Mu`izz المعز = Yang Maha Memuliakan • Al Mudzil المذل = Yang Maha Menghinakan • Al Samii السميع = Yang Maha Mendengar • Al Bashiir البصير = Yang Maha Melihat • Al Hakam الحكم = Yang Maha Menetapkan • Al `Adl العدل = Yang Maha Adil • Al Lathiif اللطيف = Yang Maha Lembut atau Maha Teliti.

• Al Khabiir الخبير = Yang Maha Mengenal atau mengetahui. • Al Haliim الحليم = Yang Maha Penyantun • Al `Azhiim العظيم = Yang Maha Agung • Al Ghafuur الغفور = Yang Maha Memberi Pengampunan • As Syakuur الشكور = Yang Maha Pembalas Budi • Al `Aliy العلى = Yang Maha Tinggi • Al Kabiir الكبير = Yang Maha Besar • Al Hafizh الحفيظ = Yang Maha Memelihara • Al Muqiit المقيت = Yang Maha Pemberi Kecukupan • Al Hasiib الحسيب = Yang Maha Membuat Perhitungan • Al Jaliil الجليل = Yang Maha Luhur • Al Kariim الكريم = Yang Maha Pemurah • Ar Raqiib الرقيب = Yang Maha Mengawasi • Al Mujiib المجيب = Yang Maha Mengabulkan • Al Waasi الواسع = Yang Maha Luas • Al Hakiim الحكيم = Yang Maha Maka Bijaksana • Al Waduud الودود = Yang Maha Mengasihi • Al Majiid المجيد = Yang Maha Mulia • Al Baa`its الباعث = Yang Maha Membangkitkan • As Syahiid الشهيد = Yang Maha Menyaksikan • Al Haqq الحق = Yang Maha Benar • Al Wakiil الوكيل = Yang Maha Memelihara • Al Qawiyyu القوى = Yang Maha Kuat • Al Matiin المتين = Yang Maha Kokoh • Al Waliyy الولى = Yang Maha Melindungi • Al Hamiid الحميد = Yang Maha Terpuji • Al Muhshii المحصى = Yang Maha Menghitung • Al Mubdi المبدئ = Yang Maha Memulai • Al Mu`iid المعيد = Yang Maha Mengembalikan Kehidupan • Al Muhyii المحيى = Yang Maha Menghidupkan • Al Mumiitu المميت = Yang Maha Mematikan • Al Hayyu الحي = Yang Maha Hidup • Al Qayyuum القيوم = Yang Maha Mandiri • Al Waajid الواجد = Yang Maha Penemu • Al Maajid الماجد = Yang Maha Mulia • Al Wahid الواحد = Yang Maha Tunggal • Al Ahad الاحد = Yang Maha Esa • As Shamad الصمد = Yang Maha Dibutuhkan • Al Qaadir القادر = Yang Maha Menentukan • Al Muqtadir المقتدر = Yang Maha Berkuasa • Al Muqaddim المقدم = Yang Maha Mendahulukan • Al Mu`akkhir المؤخر = Yang Maha Mengakhirkan • Al Awwal الأول = Yang Maha Awal • Al Aakhir الأخر = Yang Maha Akhir • Az Zhaahir الظاهر = Yang Maha Nyata • Al Baathin الباطن = Yang Maha Ghaib • Al Waali الوالي = Yang Maha Memerintah • Al Muta`aalii المتعالي = Yang Maha Tinggi • Al Barru البر = Yang Maha Penderma • At Tawwaab التواب = Yang Maha Penerima Tobat • Al Muntaqim المنتقم = Yang Maha Pemberi Balasan • Al Afuww العفو = Yang Maha Pemaaf • Ar Ra`uuf الرؤوف = Yang Maha Pengasuh • Malikul Mulk مالك الملك = Yang Maha Penguasa Kerajaan • Dzul Jalaali Wal Ikraam ذو الجلال و الإكرام = Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan • Al Muqsith المقسط = Yang Maha Pemberi Keadilan • Al Jamii` الجامع = Yang Maha Mengumpulkan • Al Ghaniyy الغنى = Yang Maha Kaya • Al Mughnii المغنى = Yang Maha Pemberi Kekayaan • Al Maani المانع = Yang Maha Mencegah • Ad Dhaar الضار = Yang Maha Penimpa Kemudharatan • An Nafii النافع = Yang Maha Memberi Manfaat • An Nuur النور = Yang Maha Bercahaya • Al Haadii الهادئ = Yang Maha Pemberi Petunjuk • Al Badii’ البديع = Yang Maha Pencipta • Al Baaqii الباقي = Yang Maha Kekal • Al Waarits الوارث = Yang Maha Pewaris • Ar Rasyiid الرشيد = Yang Maha Pandai • As Shabuur الصبور = Yang Maha Sabar Sebagai nama-nama Allah SWT, Asmaul Husna yang terdiri dari 99 nama Allah SWT dijadikan rangkaian cerita pada buku 99 Kisah Asmaul Husna oleh Dian K Dan Tethy Ezokanzo yang dapat membantu Grameds dapat melafalkannya.

Hikmah dan Manfaat Melafalkan Asmaul Husna Seperti yang telah penulis jelaskan sebelumnya, melafalkan Asmaul Husna merupakan salah satu tauhid yang perlu diamalkan oleh seorang muslim untuk dapat menyempurnakan dan mengamalkan keimanan kepada Allah semata.

Selain dapat memperkuat iman kita, melafalkan Asmaul Husna juga memberikan beberapa hikmah serta manfaat antara lain sebagai berikut. • Mendekatkan diri kepada Allah, dengan menghafalkan serta mengucapkan Asmaul Husna dalam keseharian seorang muslim amalan ini dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah.

Caranya dengan melafalkan Asmaul Husna setiap pagi hari dan setelah shalat Maghrib disertai dengan salawat-salawat atas nabi.

• Membukakan pintu rezeki. Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, maka urusan duniawi seperti masalah rezeki dapat lebih mudah didapatkan atau terwujud. Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, maka urusan duniawi lainnya akan mengikuti. • Sebagai jembatan surga. Surga merupakan salah satu janji Allah kepada hamba-Nya yang mendekatkan diri kepada-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

Setiap muslim tentu ingin masuk surga, oleh karena itu salah satu caranya adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah melalui beberapa amalan seperti membaca Asmaul Husna. • Dilindungi oleh Allah. Hamba yang mendekatkan diri kepada Allah serta memperbanyak amalan baik, maka dalam setiap langkahnya akan dilindungi dan disertai oleh rahmat Allah.

• Diberikan petunjuk ke jalan yang lurus. Manfaat kelima ini merupakan hikmah yang dapat dituai oleh seorang mukmin apabila mengamalkan perbuatan baik walaupun kecil seperti membaca Asmaul Husna. • Menentramkan hati serta pikiran. Muslim yang dekat dengan Allah serta senantiasa berusaha menjauhi hal-hal buruk niscaya akan lebih tentram hatinya.

Itulah keenam manfaat yang didapatkan dari amalan kecil dan mudah seperti membaca Asmaul Husna, selain itu salah satu Syekh yaitu Syekh Shalih Al- Ja’fari pernah mengatakan bahwa seseorang yang berdoa sembari menyebut nama-nama Asmaul Husna maka orang tersebut telah meminta seluruh kebaikan dan telah membuat pencegahan antara dirinya dengan keburukan secara menyeluruh. Syekh shalih mencontohkan pula bagaimana cara berdoa untuk memeroleh salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah.

kebaikan tersebut. Caranya adalah menyebutkan Asmaul Husna seperti yang Rasul lakukan, seperti “Ya Rahman, Rahim” dengan menyebutkan kedua Asmaul Husna tersebut, maka seseorang telah meminta rahmat kepada Allah, lalu dilanjutkan dengan berdoa seperti biasa.

Dalam memahami lebih dalam manfaat serta hikmah dari Asmaul Husna, Grameds dapat membaca buku Asmaul Husna Hakikat Dan Maknanya yang ada di bawah ini.

Manfaat lain dari menyebutkan Asmaul Husna dijelaskan pula oleh Syekh shalih. Beliau menjelaskan bahwa menyebut Asmaul Husna dapat memberikan manfaat untuk urusan dunia, agama serta akhirat. Oleh karena itu, dengan menyebutkan Asmaul Husna disebut pula sebagai zikir yang mengumpulkan kebaikan, kunci keberkahan serta kejelasan. Kemudian beliau menyebutkan pula bahwa tidak akan diberi kesulitan seseorang yang melafazkan Asmaul Husna serta diberikan kelapangan dan dimudahkan segala urusannya, disembuhkan atau diangkat penyakitnya serta Allah akan menerangi hati seseorang yang mengucapkan Asmaul Husna.

Itulah penjelasan mengenai Asmaul Husna manfaat serta makna yang dapat dipahami oleh seorang muslim agar mendapatkan hikmah serta beragam manfaat. 2. Mau Menjadi Lebih Baik 3. Adab Di Atas Ilmu Baca juga artikel lain yang terkait “99 Asmaul Husna” : • Tata Cara Berwudhu • Pengertian Al-Quran dan Hadits • Pengertian Akhlak • Sifat-sifat Mulia • Perilaku Jujur dalam Islam • Pengertian Zakat • Rukun Haji • Pengertian Salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah.

Kepada Malaikat • Pengertian Aurat • Daftar 99 Asmaul Husna • Zakat Fitrah dan Zakat Mal • Ciri-ciri Orang Munafik Buku Best Seller : • Buku Anak Belajar Mengaji • Buku Anak Islami • Buku Agama Islam • Buku Islami • Buku Hadits Kategori • Administrasi 5 • Agama Islam 126 • Akuntansi 37 • Bahasa Indonesia 95 • Bahasa Inggris 59 • Bahasa Jawa 1 • Biografi 31 • Biologi 101 • Blog 23 • Business 20 • CPNS 8 • Desain 14 • Design / Branding 2 • Ekonomi 152 • Environment 10 • Event 15 • Feature 12 • Fisika 30 • Food 3 • Geografi 62 • Hubungan Internasional 9 • Hukum 20 • IPA 82 • Kesehatan 18 • Kesenian 10 • Kewirausahaan 9 • Kimia 19 • Komunikasi 5 • Kuliah 21 • Lifestyle 9 • Manajemen 29 • Marketing 17 • Matematika 20 • Music 9 • Opini 3 • Pendidikan 35 • Pendidikan Jasmani 32 • Penelitian 5 • Pkn 69 • Politik Ekonomi 15 • Profesi 12 • Psikologi 31 • Sains dan Teknologi 30 • Sastra 32 • SBMPTN 1 • Sejarah 84 • Sosial Budaya 98 • Sosiologi 53 • Statistik 6 • Technology 26 • Teori 6 • Tips dan Trik 57 • Tokoh 59 • Uncategorized 31 • UTBK 1 3 menit Sebaik-baiknya seorang muslim adalah ia yang mempelajari agama Islam dengan benar.

Salah satunya, dengan mengetahui sifat wajib Allah Swt. sebagai sang pencipta, Sahabat 99. Berbeda dengan asmaul husna yang terdiri dari 99 poin, sifat wajib yang dimiliki oleh Allah Swt. hanya ada 20 poin. Mempelajari dan memahami sifat-sifat wajib tersebut merupakan salah satu cara bagi seorang muslim untuk mempelajari ilmu ketauhidan. Sebagaimana kita ketahui, tauhid merupakan pilar utama dalam dalam ajaran agama Islam.

Melalui tauhid, kita belajar bagaimana cara beriman kepada Allah sebagaimana hal tersebut tercantum dalam rukun Islam.

Simak sifat wajib Allah dan maknanya berikut ini, yuk! 20 Sifat Wajib Allah dan Artinya sumber: kumpulanmakalah.com 1. Wujud (Ada) Wujud merupakan sifat wajib Allah yang pertama.

Arti dari Wujud adalah ‘ada’ yang berarti merupakan zat yang pasti ada, berdiri sendiri, tidak diciptakan oleh siapapun, dan tidak ada tuhan selain Dia. Sifat ini tercermin dalam firman Allah Swt. dalam beberapa ayat berikut ini: • “Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Bagimu tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain Dia. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS.

As-Sajadah: 4) • “Sesungguhnya, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS. Ta-Ha: 14) 2.

Qidam (Awal/Terdahulu) Qidam artinya adalah ‘terdahulu’ yang berarti Allah Swt. merupakan sang pencipta yang ada terlebih dahulu dari yang diciptakannya. Dengan demikian, maka tidak ada yang terdahulu sebelum Allah Swt. di dunia ini. Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an: • “Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid: 3) 3. Baqa’ (Kekal) Baqa’ artinya adalah ‘kekal’ yang berarti Allah Swt.

Maha Kekal, tidak akan punah atau binasa. • “…segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.” (QS. Al-Qasas: 88) 4. Mukhalafatu Lil Hawaditsi (Berbeda Dengan Makhluk Ciptaannya) Sebab Allah Swt. merupakan sang pencipta yang menciptakan alam semesta beserta isinya, maka Allah pasti berbeda dengan apapun yang ia ciptakan.

Tidak ada satupun makhluk yang sebanding maupun menyerupai keagungan-Nya. Hal tersebut dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini: • “Dan tidak ada satupun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 4) • “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS.

Asy- Syura: 11) 5. Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri) Allah Swt. berdiri sendiri, tidak bergantung terhadap siapapun, dan tidak membutuhkan bantuan dari siapapun. • “…sungguh Allah Maha Kaya tidak memerlukan sesuatu dari seluruh alam.” (QS. Al-’Ankabut: 6) 6. Wahdaniyah (Esa/Tunggal) Umat muslim mengimani bahwa Allah Maha Esa atau tunggal, artinya Dia adalah satu-satunya tuhan pencipta alam semesta. • salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. pada keduanya di langit dan di bumi ada Tuhan-Tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa.

Maha Suci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiya: 22) 7. Qudrat (Berkuasa) Allah Maha Kuasa atas apapun dan tidak ada satupun yang bisa menandingi kekuasaannya. • “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 20) 10. Iradat (Berkehendak) Setiap hal yang ada di alam semesta ini berjalan atas kehendak Allah Swt., maka apabila Dia berkehendak tidak ada satupun yang bisa mencegah-Nya.

• “Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Ya-Sin: 82) 9. Ilmun (Mengetahui) Allah Swt. Maha Mengetahui atas segala sesuatu, baik yang terlihat maupun tidak terlihat. • “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS.

Qaf: 16) 10. Hayat (Hidup) Allah Swt. memiliki sifat hidup. Dia tidak akan pernah binasa, sebab ia kekal selamanya. • “Dan bertawakallah kepada Allah yang Maha Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya…” (QS.

Al-Furqan: 58) 11. Sama’ (Mendengar) Allah Swt. Maha Mendengar setiap hal yang diucapkan maupun yang disembunyikan.

• “…Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ma’idah: 76) 12. Basar (Melihat) Tidak ada yang Maha Melihat selain Allah Swt., karena apapun yang ada di dunia tidak luput dari penglihatan-Nya. • “…Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hujurat: 18) 13. Qalam (Berfirman) Allah Swt. berfirman melalui kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi-Nya untuk umat manusia. • “Dan ketika Musa datang untuk munajat pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman langsung kepadanya…” (QS.

Al-A’raf: 143) 14. Qadiran (Berkuasa) Setiap hal yang ada di alam semesta berada dalam kekuasaan Allah Swt. sebagai Tuhan pencipta alam. • “…sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 20) 15.

Muridan (Menghendaki) Selain bersifat Maha Berkehendak, Allah Swt. juga memiliki sifat Maha Menghendaki yang menyatu dengan sifat iradat. • “…sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang ia kehendaki.” (QS.

Hud: 107) 16. Aliman (Mengetahui) Allah Swt. memiliki sifat Maha Mengetahui, artinya Dia mengetahui apa saja sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. • “…dan Allah maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 176) 17. Hayyan (Hidup) Mirip dengan sifat hayat yang berarti hidup, hayyan merupakan sifat Allah yang berarti Maha Hidup.

18. Sami’an (Mendengar) Allah Swt. Maha Mendengar, maka mustahil bagi-Nya untuk tidak mendengar segala hal. 19. Bashiran (Melihat) Allah Swt. bersifat Maha Melihat, mustahil bagi-Nya untuk tidak melihat atau buta atas segala hal. 20. Mutakalliman (Berfirman/Berkata-Kata) Mutakalliman juga berarti berfirman atau berkata-kata, maka Allah adalah Maha berkata dan mustahil baginya untuk bisu.

Klasifikasi Sifat Wajib Allah Dalam buku “Akidah dan Akhlak” oleh Taofik Yusmansyah, sifat wajib Allah diklasifikasikan ke dalam empat kategori, yakni: 4. Sifat ma’nawiyah, yakni sifat-sifat yang berkaitan erat dengan sifat-sifat ma’ani.

Sifat ma’nawiyah ini mencakup Qadiran, Muridan, ‘Aliman, Hayan, Sami’an, Basiran, serta Mutakaliman. *** Semoga artikel ini bermanfaat ya, Sahabat 99! Simak informasi menarik lainnya di Berita 99.co Indonesia. Sedang mencari hunian di Apartemen Salemba Residence ? Kunjungi www.99.co/id dan temukan hunian impianmu dari sekarang!
Halaman ini berisi artikel tentang budayawan. Untuk tokoh teknologi informasi, lihat Ainun Najib.

Emha Ainun Nadjib Lahir Muhammad Ainun Nadjib 27 Mei 1953 (umur 68) Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Indonesia Kebangsaan Indonesia Nama lain Cak Nun, Mbah Nun [1] Dikenal atas Tokoh intelektual Islam Inisiator Masyarakat Maiyah Suami/istri Neneng Suryaningsih (cerai 1985) [2] Novia Kolopaking (1997–sekarang) [3] Anak Sabrang Mowo Damar Panuluh Ainayya Al-Fatihah Aqiela Fadia Haya Jembar Tahta Aunillah Anayallah Rampak Mayesha Situs web www .caknun .com Muhammad Ainun Nadjib atau biasa dikenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun atau Mbah Nun [4] (lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953; umur 68 tahun) adalah seorang tokoh intelektual Muslim Indonesia.

Ia menyampaikan gagasan pemikiran dan kritik-kritiknya dalam berbagai bentuk: puisi, esai, cerpen, film, drama, lagu, musik, talkshow televisi, siaran radio, seminar, ceramah, dan tayangan video.

Ia menggunakan beragam media komunikasi dari cetak hingga digital dan sangat produktif dalam berkarya. [5] Ragam dan cakupan tema pemikiran, ilmu, dan kegiatan Cak Nun sangat luas, seperti dalam bidang sastra, teater, tafsir, tasawwuf, musik, filsafat, pendidikan, kesehatan, Islam, dan lain-lain.

[6] Selain penulis, ia juga dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, cendekiawan, ilmuwan, sastrawan, aktivis-pekerja sosial, pemikir, dan kyai. Banyak orang mengatakan Cak Nun adalah manusia multi-dimensi. [7] Menjelang kejatuhan pemerintahan Soeharto, Cak Nun merupakan salah satu tokoh yang diundang ke Istana Merdeka untuk dimintakan nasihatnya, yang kemudian celetukannya diadopsi oleh Soeharto berbunyi " Ora dadi presiden ora pathèken”. [8] Setelah Reformasi 1998, Cak Nun bersama KiaiKanjeng memfokuskan berkegiatan bersama masyarakat di pelosok Indonesia.

Aktivitasnya berjalan terus dengan menginisiasi Masyarakat Maiyah, yang berkembang di seluruh negeri hingga mancanegara. [9] Cak Nun bersama KiaiKanjeng dan Masyarakat Maiyah mengajak untuk membuka yang sebelumnya belum pernah dibuka. Memandang, merumuskan dan mengelola dengan prinsip dan formula yang sebelumnya belum pernah ditemukan dan dipergunakan.

[10] Daftar isi • 1 Kehidupan pribadi • 2 Aktivitas • 2.1 Malioboro • 2.2 Wartawan • 2.3 Musik Puisi • 2.4 Teater • 2.5 Iowa, Rotterdam, Berlin • 2.6 Mandar • 2.7 Lautan Jilbab • 2.8 ICMI • 2.9 Pak Kanjeng • 2.10 Televisi dan Radio • 3 Reformasi 1998 • 3.1 Detik-detik Lengsernya Soeharto • 3.2 Husnul Khatimah • 3.3 Komite Reformasi • 3.4 Ora Pathèken • 3.5 Empat Sumpah Soeharto • 4 Maiyah • 4.1 Padhangmbulan • 4.2 Sinau Bareng • 4.3 Opinium • 4.4 Majelis Masyarakat Maiyah • 5 Karya-karya • 5.1 Puisi • 5.2 Esai/Buku • 5.3 Cerpen • 5.4 Naskah Drama • 5.5 Skenario Film • 5.6 Wawancara, Quote, Transkrip Maiyahan • 5.7 Musik Puisi • 5.8 Album Musik dan Shalawat • 6 Penghargaan • 7 Referensi • 8 Pranala luar Kehidupan pribadi [ sunting - sunting sumber ] Cak Nun merupakan anak keempat dari 15 bersaudara.

[11] Lahir dari pasangan Muhammad Abdul Latief dan Chalimah. Ayahnya adalah petani dan tokoh agama (kyai) yang sangat dihormati masyarakat Desa Menturo, Sumobito, Jombang.

[12] Juga seorang pemimpin masyarakat yang menjadi tempat bertanya dan mengadu tentang masalah yang masyarakat hadapi. [13] Begitu juga ibunya menjadi panutan warga yang memberikan rasa aman dan banyak membantu masyarakat. [11] [14] Dalam ingatan Cak Nun, ketika ia kecil sering diajak ibunya mengunjungi para tetangga, menanyakan keadaan mereka.

Apakah mereka bisa makan dan menyekolahkan anak. Pengalaman ini membentuk kesadaran dan sikap sosialnya yang didasarkan nilai-nilai Islam. Bahwa menolong sesama manusia dari kemiskinan dan membuat mereka mampu berfungsi sebagai manusia seutuhnya, merupakan kunci dalam Islam. [13] Kakak tertuanya, yaitu Ahmad Fuad Effendy, adalah anggota Dewan Pembina King Abdullah bin Abdul Aziz International Center For Arabic Language (KAICAL) Saudi Arabia. [15] Paman Cak Nun, adik ayahnya, yaitu almarhum K.H.

Hasyim Latief, [16] seorang pendiri Pertanu (Persatuan Tani dan Nelayan NU), ketua PWNU Jawa Timur, wakil Ketua PBNU, wakil Rais Syuriah PBNU, dan Mustasyar PBNU [17] yang mendirikan Yayasan Pendidikan Maarif (YPM) di Sepanjang, Sidoarjo. [18] Dari garis ayah, Cak Nun bersaudara dengan aktivis masyarakat miskin kota Wardah Hafidz dan Ali Fikri yang masih sepupu ayah Cak Nun. [18] Dari garis ayahnya ini, kakek buyut Cak Nun, yaitu Imam Zahid, [19] adalah murid Syaikhona Kholil Bangkalan bersama dengan K.H.

Hasyim Asyari, K.H. Ahmad Dahlan, dan K.H. Romly Tamim. [20] Emha Ainun Nadjib (berdiri paling kanan mengenakan kopiah) di masa kecil bersama keluarganya. Pendidikan formal Cak Nun dimulai dari Sekolah Dasar di desanya. Karena semenjak kecil ia sangat peka atas segala bentuk ketidakadilan, ia sempat dianggap bermasalah oleh para guru karena memprotes dan menendang guru yang dianggapnya tak berlaku adil.

[21] Suatu ketika ada guru terlambat mengajar, dan Cak Nun memprotesnya.

salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah....

Karena sebelumnya Cak Nun pernah terlambat masuk sekolah dan dihukum berdiri di depan kelas sampai pelajaran usai. Hukuman itu ia jalani sebagai konsekuensi kesalahannya dan itu merupakan aturan sekolah.

Maka tatkala ada guru terlambat, menurut Cak Nun aturan yang sama harus diberlakukan. Dan ujungnya, ia keluar dari SD yang dianggapnya menerapkan aturan yang tidak adil itu. [22] Kemudian oleh ayahnya, ia dikirim ke Pondok Modern Darussalam Gontor. Pada masa tahun ketiganya di Gontor, Cak Nun sempat menggugat kebijakan pihak keamanan Pondok yang dianggapnya tidak berlaku adil.

Ia pun memimpin “demonstrasi” bersama santri-santri lain sebagai bentuk protes. Namun protes itu berujung pada dikeluarkannya Cak Nun dari Pondok. [23] Meskipun hanya 2,5 tahun di sana, Gontor memberikan kesan mendalam baginya. Budaya santri mengakar kuat dalam dirinya sehingga ia memiliki disiplin pesantren.

[24] Kemudian ia pindah ke Yogyakarta melanjutkan sekolah di SMP Muhammadiyah 4 dan selanjutnya tamat SMA Muhammadiyah 1 [25] bersama dengan teman karibnya, Busyro Muqoddas. Usai SMA, Cak Nun diterima di Fakultas Ekonomi UGM.

Di “ kampus biru” ini, ia bertahan hanya satu semester, atau tepatnya empat bulan saja. [25] Sebenarnya ia juga diterima di Fakultas Filsafat UGM namun tidak mendaftar ulang.

Istrinya, Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi. Bersama Novia, ia dikaruniai empat anak, yaitu Ainayya Al-Fatihah (meninggal di dalam kandungan), [26] Aqiela Fadia Haya, Jembar Tahta Aunillah, dan Anayallah Rampak Mayesha.

[27] Sabrang Mowo Damar Panuluh adalah salah satu putranya yang kini tergabung dalam grup band Letto. Aktivitas [ sunting - sunting sumber ] Malioboro [ sunting - sunting sumber ] Emha Ainun Nadjib di kediaman Umbu Landu Paranggi di Bali tahun 2017. Pada akhir tahun 1969 ketika masih SMA, Cak Nun memulai proses kreatifnya dengan hidup “menggelandang” di Malioboro, Yogyakarta selama lima tahun hingga 1975.

[28] Kala itu, Malioboro menjadi tempat bertemu para aktivis mahasiswa, sastrawan, dan seniman Yogyakarta. [29] Malioboro menjadi salah satu poros dalam jalur Bulaksumur-Malioboro-Gampingan yang menandakan dialektika intelektual-sastra-seni rupa. [30] Di Malioboro ini, Cak Nun bergabung dengan PSK (Persada Studi Klub), sebuah ruang studi sastra bagi penyair muda Yogyakarta yang diasuh oleh Umbu Landu Paranggi, [28] seorang sufi yang hidupnya misterius. Banyak yang mengatakan pertemuan dengan Umbu memberikan pengaruh dalam perjalanan hidup Cak Nun selanjutnya.

[31] [32] PSK yang didirikan tahun 1969 dan aktif hingga 1977, telah melahirkan sejumlah sastrawan terkemuka Indonesia, di antaranya Teguh Ranusastra Asmara, Iman Budhi Santosa, Ragil Suwarna Pragolapati, Linus Suryadi AG, Korrie Layun Rampan, dan Cak Nun sendiri. [33] Keberadaan PSK tidak dapat dipisahkan dari Mingguan Pelopor Yogya.

Kehidupan di PSK, di bawah asuhan Umbu, memang menuntut setiap penyair mudanya untuk berpacu setiap saat dengan “kehidupan puisi”. [30] Dan ketika di PSK, Cak Nun termasuk yang produktif menghasilkan karya sehingga di usia yang masih belia, belum genap 17 tahun, ia sudah mendapatkan legitimasi sebagai penyair dan disematkan sebagai penyair garda depan yang dimiliki Yogyakarta. [34] Semasa di Malioboro ini, Cak Nun yang masih SMA sering bolos sekolah karena asyik dengan dunia sastra.

Ia pernah membolos hampir 40 hari dalam satu semester. Ini membuat ia mulai tidak disukai guru-gurunya, ditambah rambutnya gondrong yang dianggap melanggar peraturan sekolah. Tapi ia mengatakan bahwa dirinya lebih suka mencari hal-hal yang belum diketahuinya namun tidak didapatkannya di sekolah. [35] Wartawan [ sunting - sunting sumber ] Emha Ainun Nadjib produktif berkarya dengan menggunakan mesin ketik.

Masih dalam masa berproses bersama PSK di bidang sastra, Cak Nun juga aktif dalam dunia jurnalistik dan kepenulisan, tahun 1973 sampai 1976. Sebagai wartawan serta redaktur beberapa rubrik di Harian Masa Kini Yogyakarta, seperti: Seni-Budaya, Kriminalitas, dan Universitaria, pun redaktur tamu di Harian Bernas selama tiga bulan.

[36] Pada usia 24-25, tahun 1977-1978, kualitas esai-esai Cak Nun sudah diakui publik dan diterima harian Kompas. Pada 1981 saat usia Cak Nun 28 tahun, majalah Tempo telah menerima tulisan kolom-kolomnya dan ia menjadi kolumnis termuda majalah itu. [37] [38] Lima tahun (1970-1975) Cak Nun menggeluti dunia kewartawanan. Berbeda dengan wartawan modern dalam mendefinisikan peran dan tugasnya sebagai penyiar berita, Cak Nun memiliki prinsip kewartawanan yang niscaya berhubungan dengan transendensi.

Cak Nun menjelaskannya sebagai berikut: [39] “Sekurang-kurangnya para wartawan adalah jari-jemari Al-Khabir, yang maha mengabarkan. Para wartawan menyayangi dinamika komunikasi masyarakat, Ar-Rahman. Mereka memperdalam cinta kemasyarakatannya itu, Ar-Rahim. Mereka memelihara kejujuran, kesucian, dan objektivitas setiap huruf yang diketiknya, Al-Quddus. Mereka berkeliling ronda menyelamatkan transparansi silaturahmi, As-Salam. Mereka mengamankan informasi, Al-Mu`min. Mereka mengemban tugas untuk turut menjaga berlangsungnya keseimbangan nilai kebenaran, kebaikan dan keindalan, dalam kehidupan masyarakat: Al-Muhaimin.

Mereka menggambar indahnya kehidupan dengan penanya, Al-Mushawwir. Serta berpuluh-puluh lagi peran Tuhan yang didelegasikan kepada kaum jurnalis atau para wartawan”. Musik Puisi [ sunting - sunting sumber ] Tahun 1977/1978, Cak Nun bergabung dengan Teater Dinasti yang didirikan oleh Fajar Suharno, Gajah Abiyoso, dan Tertib Suratmo. Pada masa ini, keterlibatan Cak Nun bersama Teater Dinasti, dan keikutsertaan Teater Dinasti bersama Cak Nun tidak bisa dipisahkan.

[40] Bersama Teater Dinasti, Cak Nun intensif mementaskan puisi dalam rentang perjalanan sejak 1978 sampai 1987. Ia menggunakan bahasa Jawa “jalanan” dan ungkapan-ungkapan populer salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. bersifat oral dan menimbulkan plesetan yang mendekonstruksi logika, makna, serta humor dalam puisi-puisinya dan mengangkat masalah-masalah sosial.

[41] Karya-karyanya bersama Teater Dinasti dianggap menjadi fenomena baru dalam pemanggungan puisi sehingga banyak dibicarakan oleh pengamat kesenian karena diiringi alunan musik dari seperangkat gamelan.

[41] Pementasan Musik Puisi Emha Ainun Nadjib bersama Teater/Karawitan Dinasti di akhir tahun 1970-an. Pada tanggal 8 Desember 1980, Cak Nun dan Teater Dinasti mementaskan puisi di Teater Arena Taman Ismail Marzuki (TIM) yang berjudul Tuhan. Pembacaan puisi yang diiringi musik gamelan Jawa pada masa itu merupakan bentuk musikalisasi puisi yang tidak lazim.

Karena itu, Cak Nun menyebut pementasan seperti itu sebagai “musik puisi”, bukan musikalisasi puisi. [42] Model pertunjukan demikian diakui Cak Nun sebagai terobosan dan merupakan strategi agar mendekatkan puisi kepada masyarakat di kampung-kampung. Hal ini lazim karena masyarakat pedesaan masih lekat dengan seni tradisi yang memposisikan gamelan Jawa sebagai instrumen utama.

[43] Gamelan yang digunakan berbeda dengan gamelan pada umumnya, yaitu menggunakan besi, bukan kuningan. Pembacaan puisi dengan menggunakan gamelan besi oleh Cak Nun ini adalah bentuk pembelaan dan perhatiannya pada golongan masyarakat kelas bawah. Konsep bunyi gamelan besi mewakili kelas bawah, dibanding gamelan kuningan dan perunggu yang mewakili golongan elite, bangsawan, ningrat, dan semacamnya.

[44] Puisi-puisi Cak Nun selain dibacakan, juga banyak yang dimusikpuisikan. Pada akhir 1970-an, ia bersama Deded Er Moerad di Yogyakarta aktif menyelenggarakan poetry singing. Pada masa-masa itu pula, proses kreatif Cak Nun dijalani juga bersama Ebiet G Ade (penyanyi), Eko Tunas (cerpenis/penyair), dan EH.

Kartanegara (penulis). [45] Keempat nama ini sering disebut Empat E: Emha, Ebiet, Eko, Eha. [46] Kelompok ini acapkali ngamen puisi di kampung-kampung dan kampus-kampus. [45] Ebiet, sebelum menjadi penyanyi terkenal banyak belajar dari Cak Nun dengan menyanyikan puisi karya Emily Dickinson dan Cak Nun. [47] Teater [ sunting - sunting sumber ] Emha Ainun Nadjib dalam Lokakarya Teater Rakyat tahun 1988. Di Teater Dinasti, Cak Nun berkolaborasi dengan Gajah Abiyoso, Fajar Suharno, Simon Hate, Joko Kamto, dan Agus Istiyanto, yang sangat produktif melahirkan ide-ide dan pemikirannya dalam puisi-puisi dan naskah-naskah drama, seperti Keajaiban Lik Par (1980), Mas Dukun (1982), Geger Wong Ngoyak Macan (1989), dan Patung Kekasih (1989).

[42] Kemenyatuan Cak Nun dan Teater Dinasti, selain pembacaan puisi, melalui pertunjukan drama teater menyuguhkan keunikan tersendiri di awal tahun 1980-an yang membuatnya semakin dikenal masyarakat sehingga banyak permintaan pementasan. [48] Cak Nun juga diikutsertakan dalam lokakarya teater tahun 1980 pada Phillippine Educational Theatre Association (PETA), sebuah OAO—konsep teater yang mengusung nilai-nilai organisatoris, artistikal, dan orientatif—di Manila, Filipina.

[49] Cak Nun, antara lain bersama Fred Wibowo dan Ariel Heryanto adalah peserta dari Indonesia angkatan pertama. [49] Persinggungan Cak Nun dan kawan-kawan Teater Dinasti dengan metode teater pembebasan PETA di Filipina ini tampaknya memicu mereka memberikan berbagai kegiatan pendidikan politik kepada rakyat melalui teater sebagai wahana ekspresi spirit pembebasan.

Teater Dinasti pada era itu merupakan pelopor yang konsen dalam menggarap konsep teater pendidikan. [50] Iowa, Rotterdam, Berlin [ sunting - sunting sumber ] PSK di masa aktifnya sering mengadakan kegiatan dialog sastra bersama Umar Kayam dan sastrawan lainnya yang dipandang mapan di wilayah sastra nasional. Cak Nun dan Linus Suryadi AG dikenal memiliki kedekatan dengan beliau.

Tahun 1981, [51] Umar Kayam merekomendasikan Salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. Nun untuk mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat.

[52] Sebagai sastrawan, Cak Nun juga diundang dalam beberapa acara internasional. Tahun 1984, Cak Nun diundang untuk mengikuti The International Poetry Reading Festival di Rotterdam Belanda. Seorang profesor di Universitas Leiden menjadi anggota committee festival yang menentukan siapa saja yang layak diundang ke festival bergengsi itu.

Disarankan kepada sang profesor oleh Siswa Santoso—sahabat Cak Nun ketika aktif dalam diskusi di rumah almarhum Umar Kayam di Yogyakarta pada akhir era 70-an awal 80-an, seorang Emha Ainun Nadjib adalah sosok yang bisa diundang yang dianggap akan “menghidupkan” event itu. [53] Emha Ainun Nadjib berorasi dalam Dies Natalies 2008 Institute of Social Studies (ISS) di Den Haag.

Berawal hanya diundang untuk mengisi festival, keberadaan Cak Nun di Belanda kemudian berlanjut. Profesor Ben White dari ISS (Institute of Social Studies) Den Haag menyukai pemikiran Cak Nun sehingga didukung untuk berkegiatan di ISS Den Haag selama setahun. Cak Nun bisa kuliah, seminar, konferensi, ke Berlin, ke mana-mana, asalkan untuk mendukung imajinasinya menulis. Tulisan-tulisannya pada periode itu banyak dimuat di buku Dari Pojok Sejarah. [53] Tahun 1985, Cak Nun mengikuti Festival Horizonte III di Berlin, Jerman.

Pada festival ini, ia membacakan puisi-puisinya yang dipadukan dengan ayat-ayat Al-Qur`an. [54] Seperti ketika di Rotterdam, Cak Nun juga kemudian menetap lama di Jerman.

Tahun 1983, Cak Nun bersama Gus Dur dan rombongan berkunjung ke Utrecht, mereka menginap di kediaman Adnan Buyung Nasution yang sedang studi. Di sini Cak Nun bertemu dengan Pipit Rochiyat Kartawidjaja yang kemudian saling menemukan kecocokan pemikiran. Ketika berkelana di Jerman tahun 1985 itu, Cak Nun tinggal di rumah Pipit. Sebagian tulisan dalam buku Dari Pojok Sejarah juga ditulis di sana.

[55] Mandar [ sunting - sunting sumber ] Di Yogyakarta, seorang asli Mandar Sulawesi Barat, alumni APMD Yogyakarta yang kemudian menjadi Pegawai Negeri Sipil yang suka sastra, bersahabat dengan Cak Nun.

Namanya Alisjahbana. [56] Di kampungnya sekitar tahun 1983, di Tinambung, Alisjahbana menghimpun puluhan anak muda yang setiap malam mangkal dan bernyanyi-nyanyi di pinggir jalan, liar dan suka mabuk-mabukan.

Anak-anak muda yang tidak mampu sekolah dan kuliah itu dihimpun dalam sebuah komunitas yang diarahkan sebagai wahana pembinaan pengembangan seni budaya. Nama komunitas itu adalah Teater Flamboyant. [57] Emha Ainun Nadjib dan Nevi Budianto bersama Teater Flamboyant di Tinambung, April 1989. Alisjahbana membina mereka agar bisa terarah dan mempunyai prospek dalam hidupnya ke depan.

Secara pelan dan bertahap, anak-anak muda liar dan suka mabuk-mabukan itu bisa terkendali. Salah satu cara ia membangun mimpi mereka, adalah dengan mengenalkan beberapa orang pintarnya Indonesia ke mereka.

Salah satunya yaitu Cak Nun. Setiap tulisan Cak Nun yang terbit di majalah terkemuka nasional, difotokopi sebanyak mungkin, dibagikan, dan malamnya didiskusikan sampai larut. Perlahan tumbuh rasa cinta anak-anak muda itu ke Cak Nun. Tidak satupun tulisannya yang ada di sejumlah media dilewatkan.

[57] Tahun 1987, atas inisiatif anak-anak itu, Cak Nun diundang ke Mandar. Ia disambut dengan gembira. Selama di Mandar, ia melakukan berbagai aktivitas. Memimpin langsung workshop teater, memandu anak-anak muda salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. diskusi dengan aneka topik, mandi ke sungai Mandar, sambil menantang anak-anak Mandar berlomba menyelam.

[57] Tidak hanya bagi anak-anak muda ini, kedatangan Cak Nun juga punya arti besar bagi masyarakat Tinambung. Ketika itu Tinambung sedang mengalami kemarau panjang. Cak Nun lalu mengajak masyarakat bersama-sama sembahyang minta hujan. Begitu rampung shalat, hujan turun dengan lebatnya. Dan Cak Nun dianggap membuat keajaiban hingga banyak orang-orang tua mendatanginya di penginapan untuk meminta berkah doa dan pengobatan. [58] Emha Ainun Nadjib bersama Baharuddin Lopa dalam sebuah acara di Polewali Mandar.

Tanggal 23-26 April 1989, Cak Nun datang kembali ke Tinambung bersama Nevi Budianto untuk kembali mengadakan workshop teater. Kegiatan ini juga diikuti pemuda-pemuda sekitar Tinambung: Polewali, Wonorejo, dan Campalagian.

[58] Cak Nun pun sering ke Mandar pada tahun-tahun berikutnya hingga terjalin hubungan persaudaran yang sangat kuat antara mereka. [59] Cak Nun didaulat sebagai orang Mandar yang lahir di Jombang oleh tokoh-tokoh masyarakat Mandar yang berhimpun di Yayasan Sipamandar.

[57] Cak Nun juga menjadi dekat dengan tokoh Mandar, yaitu Baharuddin Lopa [60] dan Bunda Cammana. Tahun 2011, bertempat di Gedung Cak Durasim Surabaya, Cak Nun bersama Masyarakat Maiyah memberikan Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah kepada mereka yang meneguhkan 5 prinsip nilai-nilai kehidupan: Kebenaran, Kesungguhan, Otentisitas, Kesetiaan, Keikhlasan.

Dua di antara 12 orang penerimanya adalah orang Mandar: Alisjahbana dan Bunda Cammana. Kedekatannya dengan masyarakat Mandar, membuat Cak Nun diminta memediasi pertemuan pejuang pembentukan Sulawesi Barat dengan Gus Dur yang ketika itu menjadi Presiden.

Dengan terlibatnya Cak Nun, masyarakat Mandar yakin perjuangan pembentukan Sulawesi Barat yang sudah lama diupayakan akan membuahkan hasil. Akhirnya September 2004, Provinsi Sulawesi Barat bisa terwujud.

[61] Lautan Jilbab [ sunting - sunting sumber ] Selain bersama Teater Dinasti, di akhir era 80-an dan awal 90-an, Cak Nun juga menghasilkan karya-karya naskah pementasan drama seperti Santri-santri Khidlir, Sunan Sableng dan Baginda Faruq, Keluarga Sakinah, Lautan Jilbab, Pak Kanjeng, dan Perahu Retak. [62] Pementasan Lautan Jilbab diangkat dari judul puisi berjudul sama. Puisi ini tercipta pada 16 Mei 1987 secara spontan, sore hari sebelum Cak Nun mengisi acara “Ramadlan in Campus” yang diselenggarakan Jamaah Shalahuddin UGM.

[63] Setelah penampilan penyair Taufiq Ismail di boulevard UGM, pentas puisi Lautan Jilbab mendapat sambutan hangat 6000-an orang yang hadir. [64] Puisi ini kemudian mengalami revisi, dari satu judul berkembang menjadi 33 sub judul, terhimpun dalam buku Syair Lautan Jilbab yang terbit tahun 1989. [47] Pada masa Orde Baru ketika itu, pemakaian jilbab di kalangan muslimah Indonesia, terutama di sekolah dan tempat kerja dilarang oleh pemerintah.

Karena pemakaian jilbab dianggap sebagai fenomena politik Islam. [65] Atas bentuk represi Orde Baru itu, Cak Nun yang sejak kecil menentang ketidakadilan, memandang tindakan pemerintah ini melanggar hak asasi perempuan untuk berjilbab. Puisi Lautan Jilbab ini merupakan resistensi Cak Nun terhadap pembatasan hak asasi manusia oleh Orde Baru. [66] Pementasan drama Lautan Jilbab, naskah Emha Ainun Nadjib, disutradarai Agung Waskito dengan supervisi Dr. Kuntowijoyo. Drama Lautan Jilbab pertama kali dipentaskan kelompok Sanggar Shalahuddin UGM, disutradarai oleh Agung Waskito dengan supervisor Dr.

Kuntowijoyo. [67] Pementasan ini dianggap memecahkan rekor jumlah penonton. Tidak kurang dari 3000 penonton pada malam pertama, dan sekitar 2000 penonton saat malam kedua.

[68] Karena antusias yang tinggi itu, drama ini dipentaskan di banyak kota selain Yogyakarta, yaitu di Madiun, Malang, Surabaya, Bandung, Jember, dan Makassar. [69] Puisi dan pementasan teater Lautan Jilbab tak ubahnya sebuah ajakan perlawanan. Sejak itu pemakaian jilbab punya arti perlawanan terhadap otoritarianisme Orde Baru.

[70] Cak Nun mengungkapkan alasan perlawanannya: [70] “ Pakai jilbab atau tak berjilbab adalah otoritas pribadi setiap wanita. Pilihan atas otoritas itu silahkan diambil dari manapun: dari studi kebudayaan, atau langsung dari kepatuhan teologis. Yang saya perjuangkan bukan memakai jilbab atau membuang jilbab, melainkan hak setiap manusia untuk memilih.” Menurut Niels Murder, seorang sosiolog Belanda yang perhatian kepada perkembangan sosiokultural Indonesia, sejak pentas Lautan Jilbab oleh Cak Nun bersama Sanggar Shalahuddin digelar, busana muslimah berjilbab menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia.

[71] [72] ICMI [ sunting - sunting sumber ] Pertemuan Emha Ainun Nadjib dan B. J. Habibie tahun 1991. Cak Nun tidak menamatkan kuliah, tetapi ia dipandang sebagai salah satu intelektual terkemuka di Indonesia. Dekan Fakultas Psikologi UI tahun 1991, Dr. Yaumil Agus Akhir, mengatakan bahwa Cak Nun layak diberi gelar Doktor Honouris Causa, atau bahkan profesor karena pikiran dan wawasannya yang luas dan didukung analisis yang tajam.

[73] Pada usianya yang belum genap 40 tahun, Cak Nun dimasukkan ke dalam jajaran kepengurusan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang dibentuk pada Desember 1990, dipimpin oleh B.J. Habibie. [74] Terkait hal ini, Cak Nun sejak awal mempertanyakan keterlibatannya di ICMI dengan bersurat langsung ke B.J.

Habibie karena namanya dimasukkan dalam jajaran pengurus ICMI tanpa konfirmasi dan persetujuan resmi darinya. [75] Cak Nun kemudian menerima dijadikan Ketua Bidang Dialog Kebudayaan, lantaran B.J. Habibie menjanjikan ICMI mampu menyelesaikan persoalan Waduk Kedungombo.

[76] Namun, ICMI tidak berhasil membantu masyarakat Kabupaten Sragen, Boyolali, dan Grobogan, yang tertindas karena tidak mendapatkan ganti rugi tanah yang digunakan Orde Baru untuk pembangunan waduk.

[77] Karena itu, Cak Nun memutuskan keluar dari ICMI. [78] Bulan Februari 1991, secara resmi Cak Nun mengirimkan surat pengundurannya langsung kepada B.J. Habibie. [79] Praktis hanya dua bulan ia menjadi pengurus ICMI. Pak Kanjeng [ sunting - sunting sumber ] Pak Kanjeng merupakan naskah Cak Nun, yang dipentaskan untuk mengkritik dan merespons kesemena-menaan penguasa rezim Orde Baru ketika membangun Waduk Kedungombo. [80] Setelah sebelumnya sangat sulit sekali mendapat izin pentas, tanggal 16 dan 17 November 1993 di Purna Budaya Yogyakarta (sekarang menjadi Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri UGM]), lakon Pak Kanjeng dipentaskan.

Lakon ini memotret perlawanan seorang warga, yaitu Pak Jenggot, dalam menolak pembangunan Waduk Kedungombo di Boyolali, Jawa Tengah. Pementasan ini ditampilkan dengan bahasa yang sangat deras, keras, tajam, pintar, dan sarkastis. [81] Pementasan lakon Pak Kanjeng, naskah Emha Ainun Nadjib tahun 1993. Pak Kanjeng diperankan oleh tiga aktor yaitu Joko Kamto, Nevi Budianto, dan Butet Kertaradjasa.

Ketiganya, masing-masing menggambarkan sebuah pribadi yang terpecah menjadi tiga: yang keras melawan, yang lunak toleran, dan yang ragu-ragu. Itu merupakan tiga faset kejiwaan Pak Kanjeng dalam menghadapi kekuasaan Orde Baru.

[80] Pementasan ini digarap oleh Komunitas Pak Kanjeng (yang memang diambil dari judul naskah ini) dengan forum penyutradaraan oleh sembilan sutradara.

[80] Selain ketiga pemainnya, dalam forum sutradara ini turut terlibat pula Agus Noor, Indra Tranggono, Djadug Ferianto, dan Cak Nun sendiri. [82] Gagasan berani dan keras dalam pementasan lakon yang mengkritik Orde Baru ini menyebabkan pertunjukannya dilarang di berbagai kota. [83] Bagi Cak Nun sendiri, Pak Kanjeng bukan terutama sebuah pertunjukan. Melainkan sebuah laboratorium budaya, Laboratorium Pak Kanjeng yang kemudian dalam pementasan-pementasan selanjutnya menjadi Komunitas Pak Kanjeng (KPK).

Komunitas ini pada akhirnya mengalami perubahan format, bermetamorfosa menjadi Gamelan KiaiKanjeng yang diinisiasi oleh Toto Rahardjo. Personel awal adalah Nevi Budianto, Joko Kamto, Bayu Kuncoro, Narto Salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. Selanjutnya beberapa personel baru pun direkrut ketika itu seperti Bobiet, Joko SP, Azied Dewa, Yoyok Prasetyo, Imoeng, Ismarwanto, Ardhani, dan Giyanto.

Kemudian KiaiKanjeng pada tahun-tahun selanjutnya selalu bersama Cak Nun dalam melayani masyarakat. [84] Televisi dan Radio [ sunting - sunting sumber ] Setelah sebelumnya Cak Nun banyak menyampaikan gagasan dan kritiknya lewat media cetak, seminar, ceramah, pementasan musik puisi dan pertunjukan drama, pada pertengahan 1990-an ia memanfaatkan media audio-visual. Bersama KiaiKanjeng, pada 29 April 1996 Cak Nun mementaskan musik puisi Talbiyah Cinta di RCTI untuk menyambut Idul Adha.

[84] Beberapa seniman terlibat seperti Ita Purnamasari, Novia Kolopaking, Gito Rollies, Dewi Gita, Amak Baldjun, Amoroso Katamsi, dan Wiwiek Sipala. Masih pada tahun 1996, stasiun televisi Indosiar setiap hari menyiarkan program acara Cermin, yang digagas Cak Nun dan Uki Bayu Sejati. [85] Dengan pembawaannya, Cak Nun mengajak para penonton untuk tenang dan rileks ketika menikmati tontonan berdurasi sangat singkat, sekitar satu atau dua menit.

[86] Cak Nun muncul di antara tayangan iklan atau acara-acara lainnya, sebanyak 70 episode. Pesan yang disampaikannya cukup variatif. Tak lepas dari sentuhan moral agama dan masalah sosial. [87] Program ini dimaksudkan Cak Nun untuk menyajikan kepada salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah., sebuah tayangan yang lebih kontemplatif dan berprioritas moral, di tengah kondisi siaran televisi yang dipenuhi hiburan-hiburan ringan dan hanya mimpi-mimpi.

[88] Selain Cermin, di Indosiar Cak Nun juga pernah memproduksi dan menayangkan sebuah talk show yang bernuansa santai tapi berisi tema-tema serius dan kritis.

Acara yang tayang setiap Kamis malam ini bernama Gardu. [85] Cak Nun dilibatkan dalam sebuah perhelatan besar di masa Orde Baru yang mendapat porsi tayangan media sangat penting. Yaitu siaran malam takbiran tahun 1997. Bertempat di kawasan Monumen Nasional (Monas), acara yang bertajuk Gema Zikir dan Takbir digelar.

[89] Penting karena Presiden Soeharto memimpin langsung takbiran itu. Sebuah momen langka Soeharto takbiran nasional. Bersama Soeharto dalam takbiran itu adalah Wakil Presiden Try Sutrisno, Rhoma Irama, K.H.

Zainuddin MZ, Cak Nun, Prof. Dr. Quraisy Shihab, K.H. Hasan Basri, Muammar Z.A., dan K.H. Ilyas Ruchiyat. [90] Takbiran yang memang bernuansa politis, namun juga kental dengan unsur budaya. Hadirnya 'raja dangdut' Rhoma Irama dan Cak Nun menjadi magnet tersendiri.

Takbir dan zikir penuh warna kesenian nuansa Islami yang tidak monoton. [90] Sebuah penggalan zikir pencerahan di masa menjelang krisis moneter itu disampaikan Cak Nun: [89] “ Wahai Engkau pembuka segala pintu.

Mohon. Jangan lagi bukakan pintu kelaliman di hati kami. Jangan bukakan lagi pintu kekerasan dan kebrutalan. Jangan bukakan pintu benci dan dengki di dalam jiwa kami.

Mohon. Mohon. Jangan bukakan api dari lubuk nafsu kami. Ya Allah. Jangan bukakan pintu kerusuhan-kerusuhan lagi.” Selain televisi, Cak Nun berkomunikasi kepada masyarakat lewat frekuesi radio. Rekaman suara pemikirannya pernah disiarkan Radio Delta FM dalam tajuk Catatan Kehidupan. [91] Bulan Ramadlan tahun 2018 dan 2019, Cak Nun juga menyampaikan pesan-pesannya dalam program Radio Suara Surabaya bertajuk Tasbih.

salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah....

{INSERTKEYS} [92] Reformasi 1998 [ sunting - sunting sumber ] Pada masa Orde Baru, sejak 80-an, Cak Nun termasuk salah satu tokoh masyarakat yang vokal dan kritis kepada Soeharto. Ia sering kali menempatkan diri dalam oposisi langsung melawan pemerintahan Orde Baru. Kegiatan-kegiatannya banyak sekali dicekal dan dibatasi ruang geraknya oleh ABRI. [93] Perjuangannya melawan segala bentuk ketidakadilan Orde Baru mencapai titik puncaknya tahun 1998.

Reformasi 1998 merupakan episode perjalanan Republik Indonesia yang melibatkan banyak pihak dan elemen masyarakat Indonesia. Masing-masing memiliki peran, termasuk peran signifikan Cak Nun dan beberapa tokoh nasional. Detik-detik Lengsernya Soeharto [ sunting - sunting sumber ] Mei 1998, kerusuhan pecah di berbagai kota, termasuk Surakarta, Bandung, dan Palembang usai terjadi penembakan dalam demonstrasi yang menewaskan mahasiswa Universitas Trisakti tanggal 12 Mei.

Dikenal dengan Tragedi Trisakti. Jakarta rusuh tanggal 13 Mei, dan puncaknya, 15 Mei, beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta hangus terbakar. Ratusan orang tewas. [94] 16 Mei, di tengah suasana Jakarta yang rusuh, beberapa intelektual berkumpul di Hotel Regent. Di antaranya Cak Nun dan Nurcholish Madjid (Cak Nur). Dalam pertemuan ini, didiskusikan kemungkinan-kemungkinan untuk mengakhiri krisis ekonomi-sosial-politik yang intinya, Soeharto harus lengser.

Tapi bagaimana caranya menyampaikan itu ke Soeharto, karena sebelumnya pernah ditempuh lewat Quraish Shihab, tapi menteri agama ini menolaknya.

Cak Nun pada pertemuan itu mengeluarkan ide untuk membentuk opini bersama militer. [95] Emha Ainun Nadjib menyatakan tegas bahwa Soeharto harus turun, saat Padhangmbulan 11 Mei 1998.

Ide pembentukan opini ini sebelumnya sudah dilakukan Cak Nun pada forum Padhangmbulan tanggal 11 Mei di Jombang yang menyampaikan seruan Soeharto untuk lengser, waktunya sudah hampir habis. [94] Cak Nun juga menerbitkan Selebaran Terang Benderang, sudah ditulis sejak tanggal 8 Mei dan dikirimkan ke berbagai media massa namun tidak ada yang memuatnya.

Cak Nun menyatakan tegas: “Pak Harto Turun, TNI Berpihak Pada Rakyat”. Secara khusus di pertemuan Padhangmbulan itu, Cak Nun mengajak masyarakat melantunkan wirid dan zikir bersama yang dipuncaki pembacaan Hizib Nashr yang dipimpin Bu Chalimah, ibunda beliau.

[96] Setelah pertemuan di Hotel Regent tanggal 16 Mei, malamnya, Cak Nur, Cak Nun, bersama Oetomo Dananjaya, Malik Fadjar, dan S. Drajat merumuskan empat prosedur lengsernya Soeharto dengan meminimalisir korban dan memaksimalkan efektivitas kenegaraan.

[97] Empat prosedur ini termaktub dalam surat Husnul Khatimah yang rencananya akan diserahkan kepada Soeharto. [98] Para perumus surat itu sebenarnya berasal dari sebuah kelompok diskusi rutin yaitu Majelis Reboan yang salah satunya diselenggarakan di Jl.

Indramayu 14 Menteng. [99] Keesokan harinya, 17 Mei, surat yang lengkapnya berjudul Semuanya Harus Berakhir Dengan Baik (Husnul Khatimah) itu dikabarkan kepada para wartawan di Hotel Wisata oleh Cak Nur, Cak Nun, dan kawan-kawan.

[100] Konferensi pers itu menjadi pembicaraan di banyak media esoknya, 18 Mei. [95] Pada 18 Mei itu juga, surat tersebut disampaikan ke Soeharto melalui Mensesneg ketika itu, Saadilah Mursyid. [101] Sore harinya, tak diduga, Harmoko sebagai Ketua DPR/ MPR yang dikenal setia kepada Soeharto, membacakan pernyataan agar Presiden Soeharto mengundurkan diri dengan arif dan bijaksana. Malam harinya, ternyata Soeharto menyambut baik usulan untuk Husnul Khatimah. Melalui Saadilah Mursyid, Presiden Soeharto menghubungi Cak Nur dan menyatakan bersedia mundur kapan saja.

Kabar itupun diteruskannya kepada Cak Nun. [102] [101] [97] [95] Emha Ainun Nadjib dan tokoh-tokoh nasional lain menyimak konferensi pers Soeharto setelah pertemuan 19 Mei 1998. Setelah usulan dalam surat Husnul Khatimah diterima dan menyatakan akan mundur, Soeharto ingin merundingkan cara lengser terbaik, tercepat, tetapi berisiko minimal bagi bangsa Indonesia.

Ia ingin membahasnya bersama perumus surat itu dan tokoh-tokoh muslim segera. Soeharto secara khusus meminta agar Gus Dur diikutsertakan. Cak Nur mengusulkan agar Amien Rais juga diundang, tapi ditolak Soeharto. [94] Tanggal 19 Mei pagi, pukul 09.00, sembilan tokoh masyarakat diterima Soeharto di Istana Merdeka.

Yaitu Cak Nur, Cak Nun, Gus Dur, Ahmad Bagja, KH. Cholil Baidowi, K.H. Ali Yafie, K.H. Ma’ruf Amin, Malik Fadjar, dan Sumargono. Selain mereka bersembilan, Cak Nur juga mengajak Yusril Ihza Mahendra. Yusril ketika itu bekerja sebagai penyusun naskah pidato kepresidenan yang sebenarnya tidak masuk dalam undangan, tapi Cak Nur memaksa karena Yusril paham hukum ketatanegaraan.

[95] Pertemuan 19 Mei pagi itu dijadwalkan hanya berlangsung setengah jam, tapi ternyata molor hingga dua setengah jam. [94] Dalam pertemuan itu tidak ada perdebatan, tidak ada desakan, tidak ada tawar-menawar kekuasaan. Justru pertemuan itu santai dan penuh gelak tawa. Kesemua tokoh, satu-persatu berbicara kepada Soeharto.

Semuanya menegaskan beliau harus segera mundur. Pertemuan itu terjadi berkat kepastian malam sebelumnya, ketika Soeharto menyatakan bersedia mundur kepada Cak Nur. Ibarat sebuah pernikahan, pertemuan itu adalah bagian “resepsi”, karena sebelumnya kepastian “akad nikah” lengser sudah terjadi. [101] Soeharto berencana akan membentuk Kabinet Reformasi. Juga, ia menerima usulan adanya semacam Komite Reformasi, yang berangkat dari gagasan formula keempat reformasi sebagai jalan tengah yang tertera dalam surat Husnul Khatimah.

Soeharto meminta Cak Nur untuk memimpin komite itu. Tapi permintaan itu dengan tegas ditolak. Bila kabinet dan komite itu terbentuk, Cak Nur meminta tidak boleh satu pun dari tokoh-tokoh yang hadir tanggal 19 Mei itu dimasukkan Soeharto ke dalamnya. Soeharto sebenarnya sangat berharap kepada mereka, karenanya penolakan itu mengecewakannya. Ketika konferensi pers setelah pertemuan, Soeharto belum menyatakan mundur. [95] Ia menyatakan akan melakukan reshuffle kabinet dan memimpin reformasi, juga tak akan bersedia dipilih lagi dalam pemilu mendatang.

Tak ada pernyataan yang jelas kapan ia akan benar-benar turun dari kursi presiden selain kode “secepat-sepatnya”. [103] Merespons pertemuan itu, Amien Rais mengadakan konferensi pers di kantor PP Muhammadiyah.

Ia mengatakan bahwa dengan tak memberi gambaran program dan tempo yang jelas, Soeharto sama sekali tak memberi titik cerah kepada masyarakat. Itu juga menandakan dengan gamblang Soeharto gagal membaca aspirasi rakyatnya. [94] Pada hari yang sama dengan pertemuan di Istana Merdeka itu, 14 menteri Kabinet Pembangunan VII menandatangani surat pengunduran diri dari kabinet, di Gedung Bappenas dan menolak dimasukkan ke dalam Kabinet Reformasi atau Komite Reformasi yang akan dibentuk.

Mereka adalah Akbar Tanjung, A.M. Hendropriyono, Ginandjar Kartasasmita, Giri Suseno Hadihardjono, Haryanto Dhanutirto, Justika S. Baharsjah, Kuntoro Mangkusubroto, Rachmadi Bambang Sumadhijo, Rahardi Ramelan, Sanyoto Sastrowardoyo, Subiakto Tjakrawerdaya, Sumahadi, Tanri Abeng, dan Theo L.

Sambuaga. [104] Keesokannya, 20 Mei, Soeharto menganggap pengunduran para menterinya yang ramai-ramai mundur, hanya rumor. Sampai Yusril yang berada di kediaman Soeharto di jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, mendapat kabar kepastian mundur itu langsung dari Akbar Tanjung, yang menunjukkan kopian surat pengunduran.

Surat disampaikan ke Saadilah Mursyid, dan akhirnya Soeharto pun mendapat kepastian kabar itu. Merasa kehilangan dukungan politik, tidak didukung tokoh-tokoh yang menemuinya, dan masyarakat sudah ngamuk, “resepsi” lengser itu pun akhirnya terjadi. Pagi hari pukul 09.00, tanggal 21 Mei 1998, Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia di Istana Negara, dan kemudian Wakil Presiden B.J. Habibie dilantik menjadi Presiden.

[95] Husnul Khatimah [ sunting - sunting sumber ] Surat atau konsep Husnul Khatimah merupakan gagasan luhur yang lahir dari pemahaman atas Islam. Cak Nun mengungkapkan, jika ada seorang maling berhenti dari kemalingannya tidak harus melalui peristiwa dikepung lalu dipukuli beramai-ramai dulu. Tuhan masih memberi peluang Taubat dan Husnul Khatimah.

Maka Soeharto perlu diambil perasaan dan psikologinya sehingga ia menyadari memang perlu mundur. [105] Kerusuhan yang menewaskan banyak orang termasuk mahasiswa, penculikan-penculikan, situasi ekonomi yang sulit, korupsi-kolusi-kronisme-nepotisme yang akut, represi militer bertahun-tahun, ketidakbebasan berpendapat yang lama, dan berbagai kesalahan Soeharto lainnya, maka bisa dipahami segala situasi itu menyebabkan kebencian dan dendam yang mendalam masyarakat kepadanya.

Mereka menghendaki pengalihan kekuasaan total dan tidak menoleransi keterlibatan Soeharto dalam reformasi. Sementara menurut pertimbangan dengan logika berpikir Husnul Khatimah, yang paling bertanggung jawab atas semua kesalahannya adalah Soeharto sendiri. [106] Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Nadjib, dan Yusril Ihza Mahendra dalam diskusi buku Islam Demokrasi Atas Bawah di Jakarta tahun 1998. Cak Nur, Cak Nun dan kawan-kawan memilih untuk melakukan pendekatan yang berbeda, dengan berusaha tidak hanyut dalam arus kebencian yang tidak proporsional.

Mencoba untuk tidak mengutuk-ngutuknya lagi walaupun ingin, karena sering mengalami tindakan represi dari rezim Orde Baru. [106] Sebelumnya, pada HUT Golkar ke-33 tanggal 19 Oktober 1997, Soeharto dalam pidatonya mengisyaratkan siap lengser keprabon madeg pandito.

[107] Cak Nun memandang Soeharto yang berkuasa dengan kuat selama 32 tahun, pada saat militer masih dikendalikan penuh, dalam batinnya saat itu sudah madeg pandito.

Maka tinggal disentuh hatinya agar dirinya menyelesaikan permasalahan dengan husnul khatimah. Sebelum menawarkan Husnul Khatimah, terlebih dahulu dijelaskan tiga bentuk aspirasi reformasi yang muncul.

Pertama, reformasi masih dalam kerangka sistem pemerintahan Orde Baru, yang berarti dilakukan bertahap hingga selesainya masa jabatan tahun 2003. Kedua, reformasi dalam sistem yang sangat berbeda dari Orde Baru. Yaitu Soeharto harus mundur. Ketiga, reformasi dengan proses kudeta. Dijelaskan dalam surat tersebut bahwa bentuk pertama tidak banyak menjanjikan dan terlalu lama.

Sedangkan bentuk kedua dan ketiga akan memunculkan gerakan penentangan yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Maka Cak Nur, Cak Nun, dan kawan-kawan menawarkan bentuk keempat yang tetap mengandung kesulitan, tetapi relatif aman dan dapat memberi landasan legitimasi baru yang kuat untuk pemerintahan yang akan datang.

[98] Bentuk keempat inilah sebuah Husnul Khatimah yang intinya bahwa Soeharto bertekad memimpin sendiri reformasi secara menyeluruh. Dengan menyesali terjadinya krisis moneter, mengakui semua kesalahan dan segala kekeliruannya. Menyerahkan kekayaan pribadi dan keluarga untuk kepentingan bangsa dan negara.

Kemudian Soeharto memimpin perbaikan-perbaikan yang ketentuan-ketentuannya dituangkan dalam legal-formal-konstitusional. Menyatakan bersedia mundur dari jabatan kepresidenan secepat mungkin melalui cara-cara damai dan konstitusional. Lalu membimbing bangsa Indonesia memasuki Millenium Ketiga. Juga disampaikan teknis waktu yang matang yaitu selama 20 bulan berikutnya, sampai tidak lebih dari tanggal 10 Januari 2000, pemilihan umum sudah harus terlaksana.

Maksimal tanggal 11 Maret 2000 sudah terpilih presiden baru. [98] Komite Reformasi [ sunting - sunting sumber ] Gagasan Cak Nur dan Cak Nun selain bersikeras Soeharto untuk tetap mundur adalah, jika memakai logika reformasi, saat Soeharto mundur maka semestinya DPR/MPR juga ikut bubar. Karena keberadaan DPR/MPR selama masa kekuasaan Soeharto, dipandang hanya untuk mengukuhkan jabatan Presiden Soeharto. DPR/MPR dipandang bukan lembaga yang sesuai namanya yang mewakili rakyat.

Maka perlu disiapkan Komite Reformasi yang akan menjadi embrio berdirinya Parlemen Reformasi sesegera mungkin. [108] Komite Reformasi ini merupakan sebuah konsep sebagai langkah alternatif untuk menghindari konsekuensi naiknya B.J. Habibie yang dianggap masyarakat bagian dari Orde Baru. Karena bila B.J. Habibie menjadi presiden, akan muncul polarisasi konflik yang baru. Akan ada kelompok yang setuju kepada B.J. Habibie dan yang menolaknya. [109] Komite Reformasi ini semacam MPRS yang bertugas menyusun undang-undang politik dan pemilu, yang kemudian menyelenggarakan pemilu selama 6 bulan.

Emha Ainun Nadjib dan Abdurrahman Wahid menjelang pertemuan dengan Soeharto di Istana Merdeka. Soeharto menyatakan akan membentuk Komite Reformasi dalam konferensi pers setelah bertemu sembilan tokoh pada 19 Mei.

Yusril, bersama Saadilah, dipercaya Soeharto untuk merealisasikan pembentukan Komite Reformasi. Sekitar 45 nama diajak bergabung ke dalam Komite Reformasi. [104] 45 tokoh yang direncanakan masuk dalam Komite Reformasi ini antara lain Megawati Soekarno Putri, Gus Dur, Abdul Qadir Jailani, Adnan Buyung Nasution, Fahmi Idris, Y.B.

Mangunwijaya, Kwik Kian Gie, Ali Sadikin, Daniel Sparingga, Muladi SH, Ismail Sunny, I Ketut Puja, Eggi R. Sudjana, Soelarso Supater, Adi Sasono, Affan Gaffar, Arbi Sanit, Achmad Tahir, Achmad Tirtosudiro, Ahmad Bagja, Akbar Tanjung, Albert Hasibuan, Anwar Hardjono, Anas Urbaningrum, A.

M. Fatwa, Malik Fadjar, Harun Al-Rasyid, Hartono Suhardiman SE, Wiranto, Yusril Ihza Mahendra, serta para Rektor dari UI, ITB, UGM, Undip, Unair, Unpad, Unhas, IPB, dan IAIN Syarif Hidayatullah.

[110] Sebagai pemberi ide dibentuknya Komite Reformasi, sejak awal Cak Nur dan Cak Nun berjanji untuk tidak terlibat dalam komite maupun pemerintahan pasca lengsernya Soeharto. [111] Ini dilakukan untuk memberi contoh kepada masyarakat bahwa yang mereka lakukan bukanlah bertujuan kekuasaan.

Karena kehadiran sembilan tokoh Islam ke Istana berada dalam posisi dicurigai masyarakat. Para tokoh ini sebelumnya dikenal kritis terhadap Soeharto selama krisis mulai melanda. [112] Cak Nur konsisten tidak mau memimpin komite ini, meskipun Soeharto mendesak.

[113] Yusril dan Saadilah pasca pertemuan itu tetap menjalankan perintah Soeharto untuk memformulasikan 45 nama-nama anggota Komite Reformasi. Namun orang-orang yang dihubungi, mayoritas menolak. Fahmi Idris yang awalnya mau, lantas mulai ragu-ragu. Ismail Sunny juga mengiyakan, tapi kemudian tidak mengontak lagi.

[114] Berbeda dengan Cak Nur, Cak Nun, dan Gus Dur yang mendukung adanya Komite Reformasi, [115] Amien Rais menolak gagasan itu karena menurutnya jika ketuanya adalah Soeharto sendiri, komite itu akan kehilangan kredibilitas dan akan sulit mencari tokoh yang kompeten untuk duduk di dalamnya.

[94] Bahkan ia memandang, Komite Reformasi ini hanya cara Soeharto untuk mengulur waktu dan tetap berkuasa. [116] Sebenarnya Amien Rais akan ditunjuk sebagai Presiden Republik Indonesia oleh Komite Reformasi untuk memimpin masa transisi, namun Cak Nur tidak berhasil menjelaskan gagasan itu kepadanya.

[117] Pada akhirnya Komite Reformasi pun kandas di tengah jalan, gagal terwujud. [118] Ora Pathèken [ sunting - sunting sumber ] Pada saat konferensi pers dalam pertemuan dengan sembilan tokoh di Istana Merdeka, Soeharto mengatakan “tidak jadi presisen tidak pathèken”. Idiomatik seperti ini bukan berasal dari habitat kulturnya Soeharto di Jawa Tengah dan Yogyakarta. [119] Istilah pathèken lazim diucapkan masyarakat Surabaya. [105] Di dalam pertemuan itu Cak Nur menjadi juru bicara.

Ia memberi kesempatan pertama kepada K.H. Ali Yafie untuk berbicara. Beliau menegaskan Soeharto harus mundur dan mengatakan mungkin ini pahit baginya.

[120] Soeharto malah mengatakan, “Tidak, tidak pahit, saya sudah kapok jadi presiden”, yang kemudian menjadi headline berita koran Kompas esoknya, 20 Mei 1998. Ia dengan guyon mengatakan kapok sebanyak tiga kali sehingga Cak Nur menambahkan, “Kalau orang Jombang itu, bukan kapok, tapi tuwuk (kekenyangan).” [115] Cak Nun pun menimpali, “ Ora dadi presiden, ora pathèken.” [121] Gus Dur, oleh Cak Nur diberi kehormatan untuk bicara pada giliran akhir dan menjadi gongnya pertemuan.

“Wah, tadi saya ketakutan ketika akan ketemu Pak Harto,” kata Gus Dur, “sebab saya pikir sampeyan ini monster. Tetapi alhamdulillah ternyata sampeyan ini ya manusia.” [101] Kutipan konferensi pers Soeharto yang mengandung istilah ora patheken direkam koran Kompas saat itu: [115] “Jadi, demikianlah, ada yang juga mengatakan, terus terang saja dalam bahasa Jawanya, tidak menjadi Presiden, tidak akan pathèk-en.

Itu kembali menjadi warga negara biasa, tidak kurang terhormat dari Presiden asalkan bisa memberikan pengabdian kepada negara dan bangsa. Jadi, jangan dinilai saya sebagai penghalang, tidak sama sekali. Semata-mata karena tanggung jawab saya.” Empat Sumpah Soeharto [ sunting - sunting sumber ] Presiden Soeharto sudah turun, dan B.J.

Habibie menjadi presiden. Di masa kepresidenan Habibie, krisis multidimensi terjadi. Pemimpin-pemimpin politik tidak bisa bersatu. Menurut Cak Nun ketika itu, siapapun bisa bicara apa saja dan bahkan para pemimpin pun sulit dipercaya. Himbauan ulama untuk tidak berbuat rusuh tidak dihiraukan. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Karena itu Cak Nun yang resah dengan keadaan ini memandang keluarga besar bangsa Indonesia perlu melakukan Ikrar Husnul Khatimah.

Ikrar yang digagas Cak Nun ini rencananya diselenggarakan pada 14 Februari 1999, bertempat di Masjid Baiturrahman Komplek DPR/MPR. Mulanya, ide ini dilontarkan Cak Nun pada saat shalat tarawih Ramadlan, awal tahun 1999, bersama Ginanjar Kartasasmita, Abdul Latief, A.M.

Hendropriyono, dan Akbar Tanjung. Menurutnya, ini satu-satunya cara untuk mencoba membuka pintu krisis legitimasi yang dialami Indonesia.

[122] Emha Ainun Nadjib mengundang Soeharto di rumahnya di Jalan Cendana untuk menghadiri Ikrar Husnul Khatimah, Februari 1999. Dalam rencana acara Pertobatan Nasional bertajuk Ikrar Husnul Khatimah itu, para tokoh nasional diundang.

Selain tiga tokoh di atas, tokoh-tokoh yang diundang antara lain: Presiden B.J. Habibie, Wiranto, Gus Dur, Megawati, Amien Rais, para menteri dan tokoh-tokoh lainnya, termasuk Soeharto. [122] Cak Nun mengundang Soeharto secara langsung ketika bertemu dengannya di Cendana sebanyak dua kali. Tanggal 26 Januari 1999, Soeharto mengundang Cak Nun. Sebelumnya, beberapa kali, orang-orang lain, termasuk anak-anaknya, Hutomo Mandala Putra dan Bambang Trihatmodjo, mencoba menghubungkan Cak Nun dengan Soeharto, tetapi tidak berhasil.

Menurut Soeharto, Cak Nun termasuk orang yang dia percayai karena di tengah-tengah hujatan kepadanya, Cak Nun dianggap cukup objektif. [123] Dalam pertemuan pertama selama tiga jam di kediamannya, Soeharto menyanggupi untuk hadir pada acara tanggal 14 Februari. Tidak hanya akan hadir, ia setuju untuk membayar semua dosanya dan mengakhiri sisa kehidupan dengan kebaikan-kebaikan dengan menandatangani rumusan Empat Sumpah Soeharto, di hadapan Cak Nun.

[124] Sumpah yang rencananya dinyatakan di hadapan seluruh masyarakat, tokoh, dan semua wartawan media cetak dan televisi yang akan hadir itu berisi: [125] [126] (1) Bahwa saya, Soeharto, bersumpah tidak akan pernah menjadi Presiden Republik Indonesia lagi. (2) Bahwa saya, Soeharto, bersumpah tidak akan pernah turut campur dalam setiap proses pemilihan Presiden Republik Indonesia. (3) Bahwa saya, Soeharto, bersumpah siap dan ikhlas diadili oleh Pengadilan Negara untuk mempertanggungjawabkan kesalahan saya selama 32 tahun menjadi Presiden Republik Indonesia.

(4) Bahwa saya, Soeharto, bersumpah siap dan ikhlas mengembalikan harta rakyat yang dibuktikan oleh Pengadilan Negara. Ide Cak Nun agar Soharto melakukan pertobatan ini lantas menjadi pemberitaan. Termasuk, menurut Cak Nun, ada pemberitaan miring dengan tuduhan yang penuh curiga dan tafsir aneh-aneh tanpa mengerti inti acara sebenarnya. Berita yang dimaksud dimuat antara lain di Pos Kota dan Terbit pada 3 Februari 1999. Berita-berita itu menggiring opini bahwa acara ini digagas Soeharto sebagai langkahnya menghindari upaya hukum yang sedang diproses untuk menghukumnya.

[122] Cak Nun juga mendapat tanggapan bernada negatif dari para tokoh politik yang menganggap Cak Nun telah menjadi “mesin politik” Soeharto. [127] Gus Dur juga tampaknya kurang antusias dengan ide acara tersebut.

[126] Soeharto mengundang Cak Nun kembali ke Cendana tanggal 4 Februari 1999, dan skenario berubah. Karena Soeharto khawatir acara yang rencananya dihadiri 10.000 undangan itu bisa menimbulkan masalah yang memancing demo dan menambah huru-hara.

Soeharto tetap berniat melakukan taubat nasuha meskipun tidak dilakukan di tempat acara Cak Nun digelar. {/INSERTKEYS}

salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah....

Ia akan melakukannya di masjid dekat rumahnya, Masjid Bimantara, Kebon Sirih, dan berjanji akan menjelaskan soal pertobatannya pada 28 Februari 1999 di masjid dekat kediaman Gus Dur di Ciganjur. [126] Setelah pertemuan kedua itu, kepada wartawan Cak Nun menegaskan, “Ini ide saya dan bukan maunya Pak Harto.

Mau datang atau tidak bukan urusan saya.” [122] Meskipun Soeharto bersumpah untuk bersedia mempertanggungjawabkan kesalahannya dan mengembalikan harta yang dituduhkan telah dicurinya dengan dibuktikan pengadilan, namun hingga wafatnya tahun 2008, Soeharto tidak pernah sekalipun diadili oleh penegak hukum Republik Indonesia. [128] Maiyah [ sunting - sunting sumber ] Jika pada masa Orde Baru, aktivitas Cak Nun selalu ramai dalam hiruk pikuk media massa dan publik nasional, maka setelah Reformasi ia memilih ‘jalan sunyi’.

Cak Nun mundur dari panggung nasional. Cak Nun menjaga jarak dengan media mainstream, karena ia menyadari sepenuhnya potensi destruktif yang kerap dibawa media daripada potensi konstruktifnya. [129] Waktu kegiatannya sebagian besar bersama masyarakat langsung di berbagai pelosok daerah di nusantara, lebih banyak dibanding sebelumnya.

[130] Dalam aktivitasnya itu, Cak Nun bersama KiaiKanjeng melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metode perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat. Aktivitas Cak Nun yang intens bersama masyarakat itu kemudian berkembang sebagai sebuah konsep kebersamaan yang diikuti beragam lapisan masyarakat.

Konsep ini kemudian tahun 2001 disebut Maiyah. Secara etimologis, Maiyah berasal dari kata ma’a, bahasa Arab yang artinya bersama. Dan arti Maiyah sendiri adalah kebersamaan. [131] Kebersamaan dibangun dengan berpijak pada kebersamaan Segitiga Cinta. Yaitu segitiga antara Allah, Rasulullah, dan makhluk.

[132] Inspirasi konsep kebersamaan ini diambil dari Al-Qur`an yang dikaji oleh Marja’ (rujukan keilmuan) Maiyah: Ahmad Fuad Effendy. Salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. kata ma’a dalam Al-Qur`an disebutkan sebanyak 161 kali yang berada dalam relasi atau kebersamaan antara Allah, Rasulullah, dan semua makhluk-Nya.

[133] Ada yang melihat Maiyah yang diinisiasi Cak Nun ini sebagai sebuah fenomena gerakan sosial budaya baru yang cukup memberikan salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah.

kebangkitan Indonesia. Maiyah dianggap sebagai oase di tengah berbagai dahaga sosial, kebudayaan, agama, dan krisi keadilan yang terjadi di Indonesia. Karena kesemua permasalahan itu diakomodasi dan diolah bersama menjadi energi kreatif yang menyiratkan prospek masa depan Indonesia yang lebih baik. [129] Maiyah bisa dikatakan seperti sekolah gratis terbuka atau universitas jalanan untuk berbagai lapisan masyarakat, atau juga mirip pesantren virtual.

Maiyah seperti menjadi laboratorium sosial yang melatih logika berpikir dan seni manajemen kehidupan. Pun formatnya lain dari berbagai bentuk institusi pembelajaran yang pernah ada. [134] Maiyah sangat terbuka bagi siapapun. Semuanya boleh datang ke Majelis Masyarakat Maiyah. Mereka yang merasa bertuhan, yang ateis, yang apolitis, juga yang politis, yang berpendidikan tinggi maupun tidak sekolah, semuanya boleh. Tanpa ada sekat yang dibangun untuk tujuan pemisahan.

Tidak ada sekat berdasarkan agama, kelas sosial-ekonomi, dan atas dasar stratifikasi sosial yang selama ini telah terbentuk kehidupan sehari-hari. [135] Maiyah begitu cair, luwes, rileks, nyaris tanpa struktur baku. Bukan sebuah organisasi. Maiyah lebih cenderung disebut “organisme” yang memiliki karakter seperti ruang yang menampung apapun dan siapapun di dalamnya. [134] Cak Nun mengatakan bahwa sejatinya Maiyah itu merupakan dinamika tafsir terus-menerus, tidak terlalu penting didefinisikan secara baku.

Yang penting keberadaannya bermanfaat bagi masyarakat luas. [136] Toto Rahardjo, pimpinan KiaiKanjeng dan sahabat Cak Nun yang merupakan salah satu sesepuh Maiyah mengatakan bahwa, meskipun Maiyah dipandang sebagai sebuah gerakan sosial budaya, agama, bahkan gerakan sufi, menurutnya Maiyah mengambil posisi cukup sebagai majelis ilmu. Menurut Cak Nun, dengan berposisi sebagai majelis ilmu, Maiyah dapat menjadi penyokong segala organisasi, pergerakan, ataupun institusi yang ada di masyarakat.

[136] Bagi nahdliyyin yang ber-Maiyah akan semakin kuat ke-NU-annya, dan warga Muhammadiyah tambah kuat ke-Muhammadiyah-annya. Maiyah berupaya untuk selalu berada pada titik seimbang, sebagai penengah, berada pada posisi washatiyah tidak memihak kepada siapapun, baik kekuasaan, ormas, mazhab agama, dan kelompok-kelompok atau aliran-aliran apapun.

[137] Padhangmbulan salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. sunting - sunting sumber ] Embrio atau cikal bakal Maiyah berawal dari sebuah pengajian tahun 1994 yang digagas Adil Amrullah (adik Cak Nun). Pengajian ini diselenggarakan di rumah orang tua Cak Nun di Jombang sebagai jalan silaturahmi Cak Nun dengan keluarga. [138] Karena padatnya jadwal undangan Cak Nun, maka keinginan teman-teman di Jawa Timur untuk bertemu dengannya diputuskan bisa satu bulan sekali.

Cak Dil—panggilan akrab Adil Amrullah—butuh waktu dua tahun sejak 1992 merayu Cak Nun. Setelah disepakati, akhirnya mulai bulan Oktober 1994 diselenggarakan pengajian rutin. [139] Suasana Padhangmbulan pada tahun 90-an. Pengajian itu dinamakan Padhangmbulan yang secara kebetulan diadakan setiap pertengahan bulan Hijriah, dan hari kelahiran Cak Nun adalah 15 Ramadlan ketika bulan purnama.

[140] Padhangmbulan awalnya diikuti 50 sampai 60 orang. Bulan kedua 270 orang. Bulan ketiga 500 orang. [141] Setelah lebih dari 14 bulan diselenggarakan, pada awal tahun 1996 membludak hingga 10.000 orang yang puncaknya ketika menjelang Reformasi, pernah dihadiri 35.000 orang.

[140] Dilihat dari pelat kendaraan mereka, ada yang dari Surabaya, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Cirebon, Malang, Brebes, dan lain-lain. [142] Desa Menturo setiap Padhangmbulan diadakan menjadi sangat ramai. Sebenarnya pada masa lalu desa ini juga cukup ramai pada saat Muhammad Abdul Latief—akrab dipanggil Cak Mad, ayah Cak Nun masih hidup. Almarhum mewarnai kegiatan kehidupan masyarakat Menturo. [142] Cak Mad mendirikan Madrasah Islamiyah “Mansyaul ‘Ulum” di Menturo Timur tahun 1958.

[19] Namun sepeninggal Cak Mad pada tahun 1975, keramaian saat itu perlahan meredup. Pun Cak Nun bersaudara banyak beraktivitas di luar Jombang. Hanya kakak keduanya, Miftahus Surur (Cak Mif) yang mendapat amanah melanjutkan perjuangan Cak Mad mengurus madrasah.

[19] Padhangmbulan merupakan bentuk pengabdian anak-anak Cak Mad untuk melanjutkan perjuangan dan menjadi amal jariyah dalam permberdayaan masyarakat. Masyarakat Maiyah mensyukuri berjalannya Padhangmbulan hingga tahun ke-26. Merespons fenomena Padhangmbulan yang menjadi magnet berkumpulnya ribuan orang di tengah pengawasan rezim Orde Baru saat itu, Cak Nun mengatakan bahwa yang penting fungsinya harus jelas. Fungsi pertama adalah melalui tafsir Al-Qur`an, Padhangmbulan mencoba merefleksikan penyikapan-penyikapan terhadap masalah-masalah sosial yang akhirnya diharapkan terjadi pembenahan cara berpikir bersama melalui pembelajaran Al-Qur`an.

Fungsi kedua adalah pemberdayaan. Ada konsep-konsep yang dicari bersama sebagai alternatif terbaru dalam memberdayakan umat. Karena mereka yang datang ke Padhangmbulan dari berbagai daerah dan latar belakang. Padhangmbulan tidak hanya pengajian, tetapi ada silaturahmi ekonomi di situ.

[140] Di antara mereka ketika itu, yang datang ada tokoh politik, seniman, budayawan, dan selebriti. Seperti Rhoma Irama, Trie Utami, Arie Koesmiran, Imam Utomo (Gubernur Jatim), Tadjus Sobirin, Permadi, Kemal Idris, W.S.

Rendra, hingga Prabowo Subianto. Tujuannya juga beragam. Memang ada yang betul-betul ikut pengajian untuk menimba ilmu. [142] Ada pula yang ingin berkonsultasi menyampaikan keluh kesah sebagai upaya mencari solusi atas masalah mereka. [143] Biasanya salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. diterima Cak Nun usai Padhangmbulan. Di antara masyarakat yang datang, ada yang sekadar jajan aneka makanan yang dijual para penjual dadakan. [142] Luasnya sambutan masyarakat ketika itu dengan diadakannya Padhangmbulan, bagi Cak Nun sekeluarga, yang juga penting adalah pengaruh pengajian itu kepada sang ibunda, Chalimah (wafat 2012).

Meski sudah lanjut usia ketika itu, ibu Chalimah sangat bersemangat untuk mempersiapkan acara sebulan sekali itu. Cak Nun mengatakan bahwa ibunya akan sangat sehat kalau bisa ngerumat banyak orang karena merasa senang. Karena kalau tidak ada kegiatan, mungkin bisa sakit-sakitan.

[142] Sejak awal, upaya tafsir dilakukan di Padhangmbulan melalui duet Cak Nun dan kakak pertamanya, Cak Fuad (Ahmad Fuad Effendy). Cak Fuad menyampaikan tafsir tekstual, sementara Cak Nun menyampaikan tafsir kontekstualnya. Tafsir tekstual dilakukan seperti lazimnya yang dilakukan para kyai. Beberapa ayat Al-Qur`an dibacakan Cak Fuad, lalu diterangkan arti atau terjemahnya.

Cak Fuad juga sering menguraikan makna kata-kata kunci di dalam ayat-ayat tersebut. Kemudian disampaikan tafsirnya dengan merujuk pada beberapa kitab tafsir Al-Qur`an. Cak Fuad juga mencoba menyampaikan pemahamannya sendiri menyangkut ayat-ayat yang tengah dikaji tersebut.

Sementara, tafsir kontekstual disampaikan Cak Nun yang berupaya memahami kejadian di masyarakat, baik itu peristiwa politik, sosial, budaya, dan keagaaman. Cak Nun meletakkan ayat-ayat yang dikaji sebagai sudut pandang, atau ditemukan kaitan-kaitan antara ayat-ayat tersebut dengan realitas sosial.

Al-Qur`an tidak diposisikan sebagai objek kajian, melainkan sebagai metodologi membaca realitas. [144] Meskipun begitu, Cak Nun tidak mengklaim bahwa mereka mufasir. [140] Tanggal 13 Oktober 2019, keluarga besar Cak Nun dan Masyarakat Maiyah mensyukuri perjalanan masih diselenggarakannya Padhangmbulan selama 26 tahun.

[145] Sinau Bareng [ sunting - sunting sumber ] Meskipun keberangkatannya dari pengajian, dalam perjalanannya Cak Nun bersama Masyarakat Maiyah melakukan dekonstruksi atas model pengajian baku yang sudah ada.

[134] Kebersamaan di dalam Maiyah menawarkan suatu wacana baru berupa gerakan kultural dengan metode yang alami. Forum-forum Maiyah adalah peristiwa pertemuan antar manusia yang alami, secara langsung, dan tanpa tendensi materialisme.

[131] Kebersamaan yang dibangun di Maiyah merupakan upaya meniru Nabi Muhammad dengan Islam di Madinah, yaitu mengupayakan kecerdasan kolektif ( swarm intelligent). Kecerdasan komunal ini tidak dibentuk oleh satu atau dua orang pandai, tapi dibuat oleh interaksi antar manusia. [146] Untuk melangkah menuju terwujudnya kecerdasan kolektif itu, Cak Nun dan Masyarakat Maiyah melakukan Sinau Bareng (belajar bersama) di mana-mana.

Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam Pembukaan Dieng Culture Festival 2016. Ada dua bentuk umum Sinau Bareng, yaitu majelis ilmu yang diadakan sendiri oleh Masyarakat Maiyah rutin bulanan, dan yang diselenggarakan masyarakat umum pada waktu tertentu dengan mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng. Undangan dari masyarakat ke berbagai wilayah nusantara ini bisa 10 sampai 15 kali per bulan.

Untuk Sinau Bareng secara massal, umumnya dilakukan di area terbuka. Durasi Sinau Bareng sendiri sangat beragam. Umumnya antara empat hingga delapan jam. [147] Sinau Bareng dirasakan sebagai wahana pendidikan alternatif yang semakin hari, masyarakat yang hadir berusia sangat muda.

Dari generasi Milenial dan generasi Z. Setidaknya ada 10 hal yang bisa diperhatikan dalam melihat perbedaan Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng dengan pengajian-pengajian pada umumnya: [148] • Egaliter, tanpa sekat, tanpa seragam, hanya peci Maiyah sebagai tanda silaturahmi. • Gamelan KiaiKanjeng adalah elemen primer dalam Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng. • Siapa saja boleh naik ke panggung, untuk mencari apa yang benar bukan siapa yang benar.

• Panggung rendah hanya 40 cm tingginya dan jarak dengan jamaah sangat dekat tanpa pagar pembatas. • Komunikasi yang dilakukan adalah komunikasi dua arah dengan mengutamakan dialog, bukan ceramah monolog satu arah. • Belajar bersama dengan diskusi multi dimensi ilmu, ilmu Maiyah yang universal. • Dilakukan workshop yang menggembirakan. • Para orang tua muda hadir mengikuti Sinau Bareng membawa anak-anaknya yang masih kecil hingga larut malam. • Selalu shalawatan, atmosfer kemesraan dibangun, dan bergembira dengan kegembiraan yang disenangi Allah.

• Di akhir acara, satu persatu masyarakat yang hadir salaman dengan Cak Nun. Opinium [ sunting - sunting sumber ] Tampilan fitur Sinau Bareng pada aplikasi Opinium Konsep Sinau Bareng yang lahir dari rahim Maiyah yang berangkat dari kultur berdaya bersama ini, selanjutnya bisa diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan. Tidak harus berupa pengajian dalam skala besar, yang terpenting inti konsepnya membangun kecerdasan bersama, bisa diaplikasikan.

Seperti yang digunakan dalam aplikasi bersistem operasi Android bernama Opinium. [149] Sebuah aplikasi berbasis komunitas yang menyediakan alternatif kurasi informasi. Kurasi ini dibangun dari diskusi untuk menguji bersama keabsahan sebuah informasi, demi menghindari hoaks. [150] Salah satu fitur utama dalam aplikasi Opinium adalah Sinau Bareng. Melalui fitur ini, setiap pengguna dapat membangun reputasi dan kredibilitas mereka melalui interaksi silang berbagai bidang studi.

Semua pendapat dan diskusi di forum Sinau Bareng dapat diuji dan dikuratori oleh pengguna lain. Dengan parameter manfaat visual terbuka, Sinau Bareng menjadi laboratorium interaksi informasi yang penggunanya dapat menilai seberapa besar pengaruh dampak positif setiap pengguna. [149] Majelis Masyarakat Maiyah [ sunting - sunting sumber ] Majelis Masyarakat Maiyah "Bangbang Wetan" pada tahun ke-13, November 2019.

Berawal dari Padhangmbulan tahun 1994, Maiyah sebagai majelis ilmu kemudian berkembang. Masyarakat Maiyah di berbagai daerah berupaya melingkar setiap bulan, untuk istiqomah Sinau Bareng. Setidaknya lebih dari 60 Majelis Masyarakat Maiyah digelar setiap bulannya: • Mocopat Syafaat, Yogyakarta. Diselenggarakan sejak tahun 1999 di TKIT Alhamdulillah, Tamantirto, Kasihan, Bantul setiap tanggal 17 bulan masehi. • Gambang Syafaat, Semarang. Diselenggarakan sejak Desember tahun 1999 di Masjid Baiturrahman, Simpang Lima, Semarang setiap tanggal 25 bulan masehi.

• Kenduri Cinta, Jakarta. Diselenggarakaan sejak Juni tahun 2000 di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada hari jumat (malam hari) di minggu kedua setiap bulan masehi. • Bangbang Wetan, Surabaya. Diselenggarakan sejak tahun 2008 di Surabaya, sehari setelah Padhangmbulan di Jombang diadakan. • Papperandang Ate, Mandar, Sulawesi Barat. Sejak tahun 1998. • Juguran Syafaat, Banyumas Raya. • Maneges Qudroh, Magelang. • Waro` Kaprawiran, Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo.

• Damar Kedhaton, Gresik. • Majelis Gugur Gunung, Ungaran. • Jamparing Asih, Bandung. • Relegi, Malang. • Maiyah Dusun Ambengan, Lampung. • Suluk Pesisiran, Pekalongan. • Suluk Surakartan, Surakarta.

salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah....

• Lingkar Daulat Malaya, Tasikmalaya. • Magarmaya, Sukabumi. • Kidung Syafaat, Salatiga. • Likuran Paseduluran, Kebumen. • SabaMaiya, Wonosobo. • Maiyah Balitar, Blitar. • Pasemuan Bebrayan, Cilacap. • Majlis Alternatif, Jepara.

salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah....

• Lingkar Maiyah Klaten, Klaten. • Poci Maiyah, Tegal. • Maiyah Blora, Blora. • Maiyah Kahuripan, Gunung Kidul. • Maiyah Kalijagan, Demak. • Maiyah Kanoman, Pemalang. • Manunggal Syafaat, Kulonprogo. • Wisma Mutafailin, Sragen. • Sedulur Maiyah, Kudus. • Wolulasan, Purworejo. • Jembaring Manah, Jember. • Rampak Osing, Banyuwangi. • Sanggar Kedirian, Kediri. • Selapanan, Bojonegoro.

• Semesta Maiyah, Lamongan. • Tasawuf Cinta, Nganjuk. • Sendhon Waton, Rembang. • Sulthon Penanggungan, Pasuruan. • Jimat, Tuban. • Paseban Majapahit, Mojokerto. • Damar Ate, Sumenep. • Paddhang Ate, Bangkalan. • Batang Banyu, Banjarmasin. • Maiyah Ternate, Ternate. • Maiyah Cirrebes, Cirebon. • Sibar Kasih, Cikarang.

• Bege Silampari, Lubuk Linggau. • Suluk Bahari, Tanjung Pinang. • Maiyah Dualapanan, Lampung. • Batam Maiyah, Batam. • Masuisani, Bali. • Tong Il Qoryah, Korea Selatan.

• Mafaza, Eropa. Dalam Masyarakat Maiyah, juga terdapat kelompok diskusi Martabat yang digerakkan oleh Sabrang Mowo Damar Panuluh, juga kelompok diskusi Nahdlatul Muhammadiyyin yang diasuh oleh Mustofa W.

Hasyim dan K.H. Marzuki Kurdi. Kedua kelompok diskusi ini diselenggarakan di Yogyakarta. Selain itu juga diadakan Majelis Pahingan di Menturo, Sumobito, Jombang.

Juga berjalan Gerakan Anak Bangsa (Gerbang) yang menginisiasi Sekolah Warga di berbagai daerah. Karya-karya [ sunting - sunting sumber ] Cak Nun berkarya sejak akhir tahun 1969, pada usia 16 tahun. Mulai tahun 1975, karya-karyanya dibukukan. Buku-bukunya terentang dalam berbagai jenis: esai, puisi, naskah drama, cerpen, musik puisi, quote, transkrip Maiyahan, dan wawancara. Buku yang diterbitkan tahun 1980-an dan 1990-an, 20 sampai 30 tahun setelahnya masih diterbitkan ulang karena dipandang masih kontekstual dengan situasi dan kondisi kehidupan di Indonesia.

[5] Karya-karya Cak Nun tersebut adalah: Kumpulan puisi, cerpen, naskah drama, musik puisi, skenario film, quote, transkrip maiyahan, dan wawancara karya Emha Ainun Nadjib. Puisi [ sunting - sunting sumber ] • “M” Frustasi dan Sajak-sajak Cinta (1975). Diterbitkan sederhana oleh Pabrik Tulisan. [151] • Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978). Diterbitkan oleh Tifa Sastra UI. [152] • Tak Mati-Mati (1978). Dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

[151] • Nyanyian Gelandangan (1982). Dibacakan bersama Teater Dinasti di Taman Budaya Surakarta. [151] • 99 Untuk Tuhanku (1983). Dibacakan di Bentara Budaya Yogyakarta. [98] Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Pustaka-Perpustakaan Salman ITB.

Diterbitkan kembali oleh Bentang tahun 1993 dan 2015. • Iman Perubahan (1986). • Suluk Pesisiran (1988). Diterbitkan oleh Mizan. • Syair Lautan Jilbab (1989). Diterbitkan oleh Sipress. • Seribu Masjid Satu Jumlahnya: Tahajjud Cinta Seorang Hamba (1990). Diterbitkan oleh Mizan, pertama kali tahun 1990 dan diterbitkan kembali tahun 2016. • Cahaya Maha Cahaya (1991). DIterbitkan pertama kali oleh Lembaga Pengkajian, Penelitian, dan Pembinaan Sastra (LP3S) tahun 1988.

Edisi tahun 1991 diterbitkan oleh Pustaka Firdaus. • Sesobek Buku Harian Indonesia (1993). Diterbitkan oleh Bentang, pertama kali tahun 1993 dan diterbitkan kembali tahun 2017. • Abacadabra Kita Ngumpet. (1994). Diterbitkan oleh Bentang bersama Komunitas Pak Kanjeng. • Syair-syair Asmaul Husna (1994). Diterbitkan oleh Salahuddin Press dan Pustaka Pelajar. • Doa Mohon Kutukan (1995). Diterbitkan oleh Risalah Gusti.

• Ibu, Tamparlah Mulut Anakmu (2000). Diterbitkan oleh Zaituna. • Trilogi Doa Mencabut Kutukan, Tarian Rembulan, Kenduri Cinta (2001). Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. • Karikatur Cinta (2005). Diterbitkan oleh Progress. Esai/Buku [ sunting - sunting sumber ] • Indonesia Bagian Dari Desa Saya (1980). Diterbitkan pertama kali oleh penerbit Jatayu. Diterbitkan kembali tahun 1983 dan 1992 oleh Sipress, dan tahun 2013 oleh Kompas.

• Sastra yang Membebaskan: Sikap Terhadap Struktur dan Anutan Seni Moderen Indonesia (1984). Diterbitkan oleh PLP2M (Pusat Latihan, Penelitian, dan Pengembangan Masyarakat). • Dari Pojok Sejarah: Renungan Perjalanan (1985). Diterbitkan oleh Mizan. Dicetak kembali tahun 2020. • Slilit Sang Kiai (1991).

Diterbitkan oleh Pustaka Utama Grafiti. Diterbitkan kembali tahun 2013 oleh Mizan. • Secangkir Kopi Jon Pakir (1992). Diterbitkan oleh Mizan. • Bola-Bola Kultural (1993). Diterbitkan oleh Mizan. Dicetak kembali tahun 2016 dan 2019. • Markesot Bertutur (1993). DIterbitkan oleh Mizan. Dicetak kembali tahun 2012, 2015, dan 2019. • Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1994). Diterbitkan pertama kali oleh Risalah Gusti. Diterbitkan kembali tahun 2015 dan 2018 oleh Bentang Pustaka.

• Gerakan Punakawan Atawa Arus Bawah (1994). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Dicetak kembali tahun 2015. • Kiai Sudrun Gugat (1994). Diterbitkan oleh Pustaka Utama Grafiti.

• Markesot Bertutur Lagi (1994). Diterbitkan oleh Mizan. Dicetak kembali tahun 2013, 2015, dan 2019. • Sedang Tuhan Pun Cemburu: Refleksi Sepanjang Jalan (1994). Diterbitkan pertama kali oleh Sipress. Diterbitkan kembali tahun 2015 dan 2018 oleh Bentang Pustaka. • Gelandangan di Kampung Sendiri (1995). Diterbitkan pertama kali oleh Pustaka Pelajar. Diterbitkan kembali tahun 2015 dan 2018 oleh Bentang Pustaka. • Nasionalisme Muhammad: Islam Menyongsong Masa Depan (1995).

Diterbitkan oleh Sipress. • Opini Plesetan, OPLES (1995). Diterbitkan oleh Mizan. • Terus Mencoba Budaya Tanding (1995). Diterbitkan oleh Pustaka Pelajar. • Surat Kepada Kanjeng Nabi (1995). Diterbitkan oleh Mizan. Dicetak kembali tahun 2015. • Titik Nadir Demokrasi: Kesunyian Manusia dalam Negara (1996). Diterbitkan pertama kali oleh Zaituna. Diterbitkan kembali tahun 2016 oleh Bentang Pustaka. • Tuhan Pun Berpuasa (1997). Diterbitkan pertama kali oleh Zaituna. Diterbitkan kembali tahun 2012 dan 2016 oleh Kompas.

• Demokrasi T*l*l Versi Saridin (1997). Diterbitkan oleh Zaituna. • Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto: 2,5 Jam di Istana (1998). Diterbitkan pertama kali oleh Zaituna. Diterbitkan kembali tahun 2016 oleh Bentang Pustaka.

• Iblis Nusantara Dajjal Dunia: Asal Usul Krisis Kita Semua (1998). Diterbitkan oleh Zaituna. • Keranjang Sampah (1998).

Diterbitkan oleh Zaituna. • Kyai Kocar Kacir (1998). Diterbitkan oleh Zaituna. • Mati Ketawa Ala Refotnasi: Menyorong Rembulan (1998).

Diterbitkan pertama kali oleh Zaituna. Diterbitkan kembali tahun 2016 oleh Bentang Pustaka. • Ikrar Husnul Khatimah Keluarga Besar Bangsa Indonesia (1999). Diterbitkan oleh Hamas dan Padhangmbulan. • Jogja-Indonesia Pulang-Pergi (1999). Diterbitkan oleh Zaituna. • Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1999). Diterbitkan oleh Zaituna. • Hikmah Puasa 1 & 2 (2001). Diterbitkan oleh Zaituna. • Segitiga Cinta (2001). Diterbitkan oleh Zaituna.

• Kafir Liberal (2005). Diterbitkan oleh Progress. • Orang Maiyah (2007). Diterbitkan pertama kali oleh Progress. Diterbitkan kembali tahun 2015 oleh Bentang Pustaka.

• Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki (2007). Diterbitkan oleh Kompas. Dicetak kembali tahun 2016. • Tidak. Jibril Tidak Pensiun (2007). Diterbitkan pertama kali oleh Progress. Diterbitkan kembali tahun 2017 oleh Bentang Pustaka. • Istriku Seribu (2007). Diterbitkan pertama kali oleh Progress. Diterbitkan kembali tahun 2015 oleh Bentang Pustaka • Kagum Pada Orang Indonesia (2008). Diterbitkan pertama kali oleh Progress.

Diterbitkan kembali tahun 2015 oleh Bentang Pustaka. • Jejak Tinju Pak Kiai (2008). Diterbitkan oleh Kompas. • Demokrasi La Roiba Fih (2009). Diterbitkan oleh Kompas. Dicetak kembali tahun 2016. • Anak Asuh Bernama Indonesia - Daur 1 (2017). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka. • Iblis Tidak Butuh Pengikut - Daur 2 (2017). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka. • Mencari Buah Simalakama - Daur 3 (2017). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka. • Kapal Nuh Abad 21 - Salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah.

4 (2017). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka. • Kiai Hologram (2018). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka. • Pemimpin Yang "Tuhan" (2018). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka. • Markesot Belajar Ngaji - Daur 5 (2019). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka.

• Siapa Sebenarnya Markesot - Daur 6 (2019). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka. • Sinau Bareng Markesot - Daur 7 (2019). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka. • Lockdown 309 Tahun (2020). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka. [153] Cerpen [ sunting - sunting sumber ] • Yang Terhormat Nama Saya (1992).

DIterbitkan oleh Sipress. • BH (2006). Diterbitkan oleh Kompas. Naskah Drama [ sunting - sunting sumber ] • Sidang Para Setan (1977). • Patung Kekasih (1983). Tentang pengkultusan. Ditulis bersama Fajar Suharno dan Simon Hate. • Doktorandus Mul (1984). • Mas Dukun (1986). Tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern. • Keajaiban Lik Par (1987). Tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern. • Geger Wong Ngoyak Macan (1989).

Tentang pemerintahan "Raja" Soeharto. Ditulis bersama Fajar Suharno dan Gadjah Abiyoso. • Keluarga Sakinah (1990). • Lautan Jilbab (1990). • Santri-Santri Khidlir (1991).

Dipentaskan di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain. Dihadiri 35.000 penonton di saat dipentaskan di alun-alun Madiun), • Perahu Retak (1992). Tentang Indonesia Orde Baru yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram.

• Sunan Sableng dan Baginda Farouq (1993). • Pak Kanjeng (1994). • Duta Dari Masa Depan (1996). • Tikungan Iblis (2008). • Nabi Darurat Rasul Ad Hoc (2012). Tentang betapa rusaknya manusia Indonesia sehingga hanya manusia sekelas Nabi yang bisa membenahinya. Dipentaskan oleh Teater Perdikan dan Letto. • Sengkuni 2019 (2019). Skenario Film [ sunting - sunting sumber ] • Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2011). Ditulis bersama Viva Westi. [154] Wawancara, Quote, Transkrip Maiyahan [ sunting - sunting sumber ] • Kerajaan Indonesia (2006).

Diterbitkan oleh Zaituna. • Indonesia Apa Adanya (2016). Diterbitkan oleh Mizan. • Hidup Itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem (2016). Diterbitkan oleh Noura Publishing. • Urusan Laut Jangan Dibawa Ke Darat (2018). Diterbitkan oleh Pustaka Narasi. • Allah Tidak Cerewet Seperti Kita (2019). Diterbitkan oleh Noura Publishing. • Islam Itu Rahmatan Lil Alamin Bukan Untuk Kamu Sendiri (2020). Diterbitkan oleh Noura Publishing.

[155] Musik Puisi [ sunting - sunting sumber ] • Tuhan Aku Berguru Kepada-Mu (1980). Dimusikpuisikan berrsama Teater Dinasti di Taman Ismail Marzuki (TIM). [151] • Isro` Mi’roj Yang Asyik (1986). Dimusikpuisikan di UGM, Yogyakarta. [151] • Satria Natpala (1995). • Talbiyah Cinta (1996). Dipentaskan di RCTI. [84] • Jangan Cintai Ibu Pertiwi (2001). • Kesaksian Orang Biasa (2003). • Republik Gundul Pacul (2004). • Presiden Balkadaba (2009).

Album Musik dan Shalawat [ sunting - sunting sumber ] • Perahu Retak (1995). Seluruh lirik ditulis oleh Cak Nun, dan lagu oleh Frangky Sahilatua. [156] [157] [158] • Kado Muhammad (1996). • Raja Diraja (1997). salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. Wirid Padang Bulan (1998).

• Jaman Wis Akhir (1999). • Menyorong Rembulan (1999). • Allah Merasa Heran (2000). • Perahu Nuh (2000). • Dangdut Kesejukan (2001). Syair ditulis oleh Cak Nun.

• Maiyah Tanah Air (2001). • Terus Berjalan (2008). • Shohibu Baity (2010). • Lizziyaroh Qoshidiina (2020). Single • Sholawatun Nur (2020). Single. [159] • Takbir Akbar (2020). Single • Hubbu Ahmadin (2020). Single • Pusaka 1 (2020) • Pusaka 2 (2020) Penghargaan [ sunting - sunting sumber ] Emha Ainun Nadjib menerima HIPIIS Social Science Awards 2017. September 1991, Cak Nun menerima penghargaan Anugerah Adam Malik di Bidang Kesusastraan yang diberikan Yayasan Adam Malik.

Penyerahan anugerah ini diselenggarakan di Gedung Sekretariat ASEAN, Jakarta. Keputusan anugerah ini berdasarkan hasil seleksi lima orang juri, yaitu Rosihan Anwar, Adiyatman, Lasmi Jahardi, Wiratmo Soekito, dan Amy Prijono. [160] [161] Bulan Maret 2011, Cak Nun memperoleh Penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

[162] Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik, penghargaan diberikan berdasarkan pertimbangan bahwa penerimaya memiliki jasa besar di bidang kebudayaan yang telah mampu melestarikan kebudayaan daerah atau nasional serta hasil karyanya berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

[162] Penerimaan penghargaan ini diwakili oleh putranya, Noe Letto. [163] Pada pergelaran Festival Film Indonesia (FFI) 2012, Cak Nun dinominasikan dalam kategori penulis Cerita Asli Terbaik untuk cerita film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya.

Film ini juga mendapatkan dua nominasi lain yaitu Tio Pakusadewo sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik, dan Christine Hakim sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik. [164] Dalam Kongres HIPIIS (Himpunan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial) ke-10 yang diselenggarakan tahun 2017, Cak Nun memperoleh HIPIIS Social Sciences Award 2017 karena dipandang sebagai contoh ilmuwan sosial yang objektif dan mandiri, serta merupakan sosok yang kritis, independen, dan produktif.

Cak Nun memperoleh penghargaan ini bersama ilmuwan Prof. Dr. R. Siti Zuhro M.A. [165] Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ "Riwayat Panggilan 'Mbah Nun '".

CakNun.com. Diakses tanggal 6 Desember 2019. • ^ "Anak Petani Menggores Tinta Emas". Majalah SINAR. 1 Maret 1997. Parameter -access-date= membutuhkan -url= ( bantuan) • ^ "Film 90-an, Novia Kolopaking Antara Sitti Nurbaya-Keluarga Cemara". bintang.com. Diakses tanggal 24 Agustus 2016. Ia menikah dengan budayawan Emha Ainun Nadjib pada 1997. • ^ "Riwayat Panggilan 'Mbah Nun '".

CakNun.com. Diakses tanggal 3 Desember 2019. • ^ a b "Terus Berkarya". CakNun.com. 8 Oktober 2019. Diakses tanggal 3 Desember 2019. • ^ "Kata Mereka Tentang Cak Nun, KiaiKanjeng, dan Maiyah". CakNun.com. 18 Oktober 2019. Diakses tanggal 3 Desember 2019. • ^ Rahardjo, Toto (2006). "Teman Siapa Saja". Jalan Sunyi Emha. Jakarta: Kompas. hlm. xviii. Salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah.

979-709-255-0. Seorang host suatu talk show di sebuah stasiun televisi swasta, Jaya Suprana, bertanya kepada orang ini, "Orang selalu mengatakan bahwa Anda adalah manusia multi-dimensional. Sekurang-kurangnya kegiatan Anda di masyarakat memang sangat beragam. Apa pendapat Anda sendiri?" Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Oetama, Jakob (2006). "Pengantar Jakob Oetama". Jalan Sunyi Emha. Jakarta: Kompas. hlm. xvii. ISBN 979-709-255-0.

Kehadiran buku ini tentu ditunggu khalayak salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah., tidak hanya oleh para pengagum, tetapi juga pengritik sosok yang menyeletukkan kalimat 'ora dadi presiden ora pathèken', saat bersama sejumlah tokoh diundang Soeharto sebelum lengser. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Hashman, Ade (2019).

Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib. Yogyakarta: Bentang. hlm. 176. ISBN 978-602-291-589-8.

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Emha Ainun Nadjib". CakNun.com. Diakses tanggal 3 Desember 2019. • ^ a b Hadi, Sumasno (2017). Semesta Emha Ainun Nadjib: Bentangan Pengembaraan Pemikiran. Bandung: Mizan. hlm. 50. ISBN 978-602-441-010-0. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 49. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Betts, Ian L.

(2006). Jalan Sunyi Emha. Jakarta: Kompas. hlm. 7. ISBN 979-709-255-0. Parameter -url-status= salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Jalan Sunyi Emha. hlm. 18. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Perjuangan Cak Fuad Menjaga Bahasa Al-Qur`an di Kancah Dunia". CakNun.com. 24 Januari 2017. Diakses tanggal 3 Desember 2019. • ^ Masjkur, Ahmad Udi (27 April 2019).

"KH Hasyim Latief, Sang Komandan Tempur Hizbullah". Indonesiana.id. Diakses tanggal 4 Desember 2019. • ^ "Tokoh NU KH Hasjim Latief Meninggal Dunia". NU Online. 20 April 2005. Diakses tanggal 4 Desember 2019. • ^ a b Ali, Fahmi (25 April 2015). "KH Hasyim Latief Sepanjang". Catatan Fahmi Ali. Diakses tanggal 4 Desember 2019. • ^ a b c Nadjib, Emha Ainun (28 Mei 2018). "Kunci Kebahagiaan". CakNun.com. Diakses tanggal 19 Desember 2019. • ^ Putra, Erik Purnama (4 Agustus 2015). "Kisah Kedekatan KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan".

Republika. Diakses tanggal 4 Desember 2019. • ^ Nugraha, Latief S (2018). Sepotong Dunia Emha. Yogyakarta: Octopus. hlm. 94. ISBN 978-602-727-437-2. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Jalan Sunyi Emha. hlm. xxii. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Jabrohim (2003). Tahajjud Cinta Emha Ainun Nadjib: Sebuah Kajian Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm. 1. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Jalan Sunyi Emha.

hlm. 8. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 53. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Yuswanto, Teguh (1 Juli 1998). "Novia Kolopaking: Lebih Baik Dia di Surga". Tabloid BINTANG. • ^ Sepotong Dunia Emha. hlm. 157. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Sepotong Dunia Emha.

hlm. 80–81. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Sepotong Dunia Emha. hlm. 84. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Sepotong Dunia Emha. hlm. 85. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Salam, Aprinus; Alfian, M Alfan; Susetya, Wawan (2014). Kitab Ketentraman: Dari Khasanah Emha Ainun Nadjib.

Bekasi: Penjuru Ilmu. hlm. 133. ISBN 978-602-0967-07-3. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Jalan Sunyi Emha. hlm. 1. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Sepotong Dunia Emha.

hlm. 88. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Sepotong Dunia Emha. hlm. 89. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Sepotong Dunia Emha. hlm. 90. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Tahajjud cinta Emha Ainun Nadjib. hlm. 28. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 56. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Jalan Sunyi Emha.

hlm. 14. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Wardhana, Sutirman Eka (2017). Yogya Bercerita: Catatan 40 Wartawan Ala Jurnalisme Malioboro. Yogyakarta: Tonggak Pustaka. hlm. 77. ISBN 978-602-745-877-2. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ H.D., Halim (1995). "Fenomena Emha". Terus Mencoba Budaya Tanding. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm. xvi. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Sepotong Dunia Emha.

hlm. 131. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 58. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Pratama, Rony K (22 Maret 2019). "Maiyah Sebagai Pendidikan Alternatif Sosial Kemasyarakatan (3)". CakNun.com. Diakses tanggal 4 Desember 2019. • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 59. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Sepotong Dunia Emha.

hlm. 130. Parameter -url-status= yang salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 57. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Tahajjud Cinta Emha Ainun Nadjib.

hlm. 31. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 60. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 61. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 62. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "1981 Participants". International Writing Program.

Diakses tanggal 19 Desember 2019. • ^ Sepotong Dunia Emha. hlm. 194. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Karim, Ahmad (4 Oktober 2019). "Menggelandang di Belanda". CakNun.com. Diakses tanggal 13 Desember 2019. • ^ Agustian, Fahmi (17 Oktober 2016). "Soto Handuk Celupan Sepatu Ala Chef Pipit Rochiyat".

CakNun.com. Diakses tanggal 13 Desember 2019. • ^ "Diskusi bersama Pak Pipit Rochiyat Kartawidjaja". CakNun.com. 27 September 2016. Diakses tanggal 13 Desember 2019. Parameter -first1= tanpa -last1= di Authors list ( bantuan) • ^ Mustofa, Helmi (1 April 2017). "Pak Nevi Asisten Pengobatan Cak Nun". CakNun.com. Diakses tanggal 12 Desember 2019. • ^ a b c d Ismail, Hamzah (8 April 2018). "Orang Mandar yang Lahir di Jombang: Jejak Mbah Nun di Tanah Mandar".

CakNun.com. Diakses tanggal 12 Desember 2019. • ^ a b Budianto, Nevi (11–17 Juni 1989). "Di Tinambung Mandar, Sulawesi Selatan, Emha Dimintai Berkah dan Pengobatan". Minggu Pagi. Pemeliharaan CS1: Format tanggal ( link) • ^ Mustofa, Helmi (24 Maret 2018). "Contoh Hubungan Erat Antar Dua Etnis". CakNun.com. Diakses tanggal 12 Desember 2019. • ^ "Korek Jress di Bandara". CakNun.com. Diakses tanggal 12 Desember 2019. • ^ Rahardjo, Toto (29 April 2016).

"Rihlah Cammanallah: Perjalanan ke Bunda Cammana". CakNun.com. Diakses tanggal 12 Desember 2019. • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 63. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib.

hlm. 64. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 65. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Jo, Hendi. "Jilbab Terlarang di Era Orde Baru". Historia. Diakses tanggal 5 Desember 2019. • ^ Sepotong Dunia Emha. hlm. 109. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Kertarahardja, Kuswandi (4 Oktober 1988).

"Sebuah Potret Nasib Wanita Berjilbab". Berita Buana. • ^ Kitab Ketentraman: Dari Khasanah Emha Ainun Nadjib. hlm. 147. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Sepotong Dunia Emha. hlm. 107. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b "Lautan Jilbab". CakNun.com.

Diakses tanggal 5 Desember 2019. • ^ Mulder, Niels (2001). Ruang Batin Masyarakat Indonesia. Yogyakarta: LKiS. hlm. 27. ISBN 978-979-896-634-7. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Mulder, Niels (2007). Di Jawa: Petualangan Seorang Antropolog.

Yogyakarta: Kanisius. hlm. 268. ISBN 978-979-211-467-6. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Emha Layak Dapat Gelar Doktor HC".

Kedaulatan Rakyat. 12 Mei 1991. • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib: Bentangan Pengembaraan Pemikiran. hlm. 67. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 69. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 70. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Betts, Ian Leonard (2006). Jalan Sunyi Emha. Jakarta: Kompas. hlm. 28. ISBN 979-709-255-0.

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Mustofa, Helmi (12 Maret 2018). "Wah, Mbah Nun Mundur Dari ICMI". CakNun.com. Diakses tanggal 5 Desember 2019. • ^ "Setelah Pengurus Diumumkan". Majalah TEMPO. 23 Februari 1991.

• ^ a b c "Pak Kanjeng". CakNun.com. Diakses tanggal 5 Desember 2019. • ^ "Lakon Politik Pak Kanjeng". Majalah TEMPO. 27 November 1993. • ^ Sepotong Dunia Emha. hlm. 118. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib.

hlm. 76. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c Majid, Munzir (10 Oktober 2016). "Penabuh Gong". KenduriCinta.com. Diakses tanggal 5 Desember 2019. • ^ a b Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 78. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Kurniawan, Didik W (10 April 2017). "Masih di Depan 'Cermin '". CakNun.com. Diakses tanggal 6 Desember 2019. • ^ "Emha Ainun Nadjib Tampil di Indosiar".

Majalah GATRA. 20 Januari 1996. Parameter -first1= tanpa -last1= di Authors list ( bantuan) • ^ Jalan Sunyi Emha. hlm. 36. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b "Silatnas Politik Cak Nun". Majalah SINAR. 1 Maret 1997. • ^ a b Ginting, Selamat (16 Juni 2018). "Soeharto, Tabir dan Takbir 1997". Republika. Diakses tanggal 6 Desember 2019. • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib.

hlm. 80. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Ramadlan di Suara Surabaya". CakNun.com. Diakses tanggal 6 Desember 2019. • ^ Jalan Sunyi Emha. hlm. 23. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c d e f Firdausi, Fadrik Aziz (19 Mei 2018).

"Diminta Para Ulama untuk Mundur, Soeharto Bergeming". Tirto.id. Diakses tanggal 6 Desember 2019. • ^ a b c d e f "Di Balik Detik-detik Itu". Majalah TEMPO. 18 Mei 2003. Diakses tanggal 6 Desember 2019. • ^ Nadjib, Emha Ainun (2016). Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto: 2,5 Jam di Istana. Yogyakarta: Bentang. hlm. 3 dan 10. ISBN 978-602-291-206-4. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Nadjib, Emha Ainun (14 Mei 2018).

"Reformasi NKRI, 7". CakNun.com. Diakses tanggal 6 Desember 2019. • ^ a b c d Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto: 2,5 Jam di Istana. hlm. 32. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Makka, A. Makmur (2008). Sidang Terakhir Kabinet Orde Baru: 12 Jam Sebelum Presiden Soeharto Mundur. Jakarta: Republika. hlm. 47. ISBN 978-979-110-240-7. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Hisyam, Muhammad (2003).

"Hari-Hari Terakhir Orde Baru". Krisis Masa Kini dan Orde Baru. Jakarta: Pustaka Obor. hlm. 79. ISBN 978-602-433-161-0. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c d Nadjib, Emha Ainun (2009). Demokrasi La Roiba Fih. Jakarta: Kompas. hlm. 115. ISBN 978-979-709-427-0. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Tandjung, Akbar (2007). The Golkar Way: Survival Partai Golkar di Tengah Turbulensi Politik Era Transisi.

Jakarta: Gramedia. hlm. 69. ISBN 979-223-363-6. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Parry, Richard Lloyd (2008). Zaman Edan: Indonesia di Ambang Kekacauan. Jakarta: Serambi. hlm. 227. ISBN 978-979-024-058-2. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b "Hari Ini 20 Tahun Silam: Saat Soeharto Bertekuk Lutut".

CNN Indonesia. 21 Mei 2015. Diakses tanggal 8 Desember 2019. • ^ a b Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto: 2,5 Jam di Istana. hlm. 94. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Semesta Emha Ainun Nadjib.

hlm. 95. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Najib, Muhammad (1999). Suara Amien Rais Suara Rakyat. Jakarta: Gema Insani Press. hlm. 128. ISBN 979-561-490-8.

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Demokrasi la Roiba Fih. hlm. 116. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ M, Wens (23 Mei 1998). "Kami Beri Waktu Habibie Enam Bulan Untuk Memenuhi Tuntutan Kaum Reformis".

Parameter -access-date= membutuhkan -url= ( bantuan) • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib: Bentangan Pengembaraan Pemikiran. hlm. 93. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Agustian, Fahmi (21 Mei 2018). "Ora Dadi Presiden, Ora Pathèken (Akad Nikah Lengser Keprabon Soeharto)". CakNun.com. Diakses tanggal 8 Desember 2019. • ^ Gaus AF, Ahmad (2010). Api Islam Salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. Madjid: Jalan Hidup Seorang Visioner.

Jakarta: Kompas. hlm. 227. ISBN 978-979-709-514-7. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Nadjib, Emha Ainun (17 Mei 2003). "Capres Kita 'Si Kung '". Majalah GATRA. Diakses tanggal 8 Desember 2019. • ^ Soempeno, Femi Adi (2008). Mereka Mengkhianati Saya: Sikap Anak-anak Emas Soeharto di Penghujung Orde Baru.

Yogyakarta: Galang Press. hlm. 172. ISBN 978-979-249-954-4. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c "Pak Harto: Saya Kapok Jadi Presiden". Kompas. 20 Mei 1998. • ^ "Hari Ini dalam Sejarah: 21 Mei 1998 Jadi Saksi Keruntuhan Hegemoni Soeharto oleh Gerakan Reformasi". National Geographic Indonesia.

21 Mei 2019. Diakses tanggal 9 Desember 2019. • ^ Demokrasi La Roiba Fih. hlm. 117. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib: Bentangan Pengembaraan Pemikiran. hlm. 94. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Demokrasi La Roiba Fih. hlm. 114. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto: 2,5 Jam di Istana.

hlm. 91. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Sidang Kabinet Terakhir Orde Baru. hlm. 48. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c d "Husnul Khatimah Ide Cak Nun Bukan Pak Harto".

Majalah GARDA. 15–28 Februari 1999. Pemeliharaan CS1: Format tanggal ( link) • ^ "Membawa Ember ke Cendana". Majalah GATRA. 13 Februari 1999. • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib: Bentangan Pengembaraan Pemikiran. hlm. 96. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Nadjib, Emha Ainun (22 Mei 2002).

"4 Sumpah Pak Harto". Jawa Pos. • ^ a b c "Mengatur Tobat Dari Desa Menturo". Majalah GATRA. 13 Februari 1999. • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 97. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Korupsi Soeharto Sulit Diadili Karena Dilegalkan Peraturan".

Detik.com. 24 Januari 2008. Diakses tanggal 8 Desember 2019. • ^ a b Supraja, SH., M.Si., Dr. Muhammad (24 November 2018). "Alternatif Gerakan Indonesia Baru (Bagian-2)". Watyutink.com. Diakses tanggal 15 Desember 2019. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib.

hlm. 100. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 105.

salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah....

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Jufri, Ahmad Jamaluddin (23 Desember 2016). "Menyelami Maiyah Cinta Segitiga". CakNun.com. Diakses tanggal 15 Desember 2019. • ^ Effendy, Ahmad Fuad (2009). Ma’iyah di dalam Al-Qur`an: Sebuah Kajian Tematik (PDF). Jombang. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib.

hlm. 171. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Supraja, SH., M.Si., Dr.Muhammad (25 November 2018). "Alternatif Gerakan Indonesia Baru (Bagian-3)".

Watyutink.com. Diakses tanggal 15 Desember 2019. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ a b Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib. hlm. 166. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Soduwuh, Ihda Ahmad (5 September 2017). "Jalan Tengah Maiyah". CakNun.com. Diakses tanggal 15 Desember 2019. • ^ Saputra, Prayogi R (2016).

Spiritual Journey: Pemikiran dan Permenungan Emha Ainun Nadjib. Jakarta: Kompas. hlm. 30. ISBN 978-602-412-092-4. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Pengajian Padang Mbulan, Dari Mengaji Hingga Membuat Bank Syariah". Republika. 9 Februari 1996.

• ^ a b c d "Emha 'Kyai Salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. Ainun Nadjib: Bukan Organisasi, tapi Laboratorium Alam Pikir, Iman dan Sikap". Republika. 9 Februari 1996. • ^ Spiritual Journey. hlm. 73. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c d e Anam, Saiful (6 Maret 1999). "Satu Purnama di Tepi Jombang". Majalah GATRA. • ^ "Konsultasi Usai Padhangmbulan".

CakNun.com. 28 Maret 2017. Diakses tanggal 19 Desember 2019. • ^ Mustofa, Helmi (10 April 2017). "Al-Qur`an, Pengajian Maiyah, dan Masyarakat (1)". CakNun.com. Diakses tanggal 15 Desember 2019. • ^ Agustian, Fahmi (14 Oktober 2019). "Belajar Menjadi Manusia Sorogan dari Gamelan KiaiKanjeng".

CakNun.com. Diakses tanggal 15 Desember 2019. • ^ Panuluh, Sabrang Mowo Damar (17 September 2018). "Kecerdasan Kolektif". CakNun.com. Diakses tanggal 15 Desember 2019. • ^ Semesta Emha Ainun Nadjib. hlm. 106. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Agustian, Fahmi (1 Januari 2019). "Pengajian Kok Begitu: 10 Hal untuk Millenial Ketahui Tentang Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng".

CakNun.com. Diakses tanggal 15 Desember 2019. • ^ a b "Opinium". Google Play Store. Diakses tanggal 19 Desember 2019. • ^ "Opinium, Aplikasi Penguji Hoaks Karya Pemuda Jatim". Tempo.co. 5 Mei 2018. Diakses tanggal 19 Desember 2019. • ^ a b c d e Sepotong Dunia Emha. hlm. 32. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Sajak-Sajak Serpanjang Jalan". CakNun.com. Diakses tanggal 12 Desember 2019.

• ^ Redaksi (19 Mei 2020). "Buku Lockdown 309 Tahun". CakNun.com. Diakses tanggal 20 Mei 2020. • ^ "Kru 'CAHAYA DI ATAS CAHAYA' Gelar Syukuran".

KapanLagi.com. 20 Mei 2011. Diakses tanggal 13 Desember 2019. Parameter -first1= tanpa -last1= di Authors list ( bantuan) • ^ Pratama, Rony K (3 Maret 2020). "Islam Milik Bersama, Tak Perlu Dipolitisasi".

CakNun.com. Diakses tanggal 20 Mei 2020. • ^ Majid, Munzir (17 Juni 2019). "Proses Kreatif Album 'Perahu Retak '". CakNun.com. Diakses tanggal 13 Desember 2019. • ^ "Tribute Untuk Franky Sahilatua di Konser Novia Kolopaking". KapanLagi.com. 16 Mei 2011. Diakses tanggal 13 Desember 2019. Parameter -first1= tanpa -last1= di Authors list ( bantuan) • ^ "Emha di Mata Pengagum".

Majalah GATRA. 2 Maret 1996. Parameter -access-date= membutuhkan -url= ( bantuan) • ^ Nadjib, Emha Ainun (22 Februari 2020). "Sholawatun Nur". CakNun.com. Diakses tanggal 20 Mei 2020. • ^ "Anugerah Adam Malik Untuk Emha". Jawa Pos. 5 September 1991. Parameter -access-date= membutuhkan -url= ( bantuan) • ^ "Barangkali Saya Memang Konservatif".

Jawa Pos. 10 September 1991. Parameter -access-date= membutuhkan -url= ( bantuan) • ^ a b "Menbudpar Sematkan Satyalencana Kebudayaan 2010".

antaranews.com. 24 Maret 2011. Diakses tanggal 24 Agustus 2016. • ^ "Noe Letto: Berkarya Tak Hanya Demi Penghargaan". KapanLagi.com. 24 Maret 2011. Diakses tanggal 13 Desember 2019. Parameter -first1= tanpa -last1= di Authors list ( bantuan) • ^ "Diunggulkan Dapat Penghargaan, Reaksi Tio Datar".

salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah....

Kompas.com. 27 November 2012. Diakses tanggal 13 Desember 2019. • ^ "Cak Nun dan Siti Zuhro Raih Penghargaan".

salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah....

LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). 10 Agustus 2017. Diakses tanggal 13 Desember 2019. Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Emha Ainun Nadjib.

• (Indonesia) Emha Ainun Nadjib Official Site • (Indonesia) KiaiKanjeng Official Site • (Indonesia) Jamaah Maiyah Jakarta • (Indonesia) Jamaah Maiyah Surabaya Kategori tersembunyi: • Halaman yang menggunakan rujukan dengan accessdate dan tanpa URL • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Galat CS1: tidak memiliki penulis atau penyunting • Pemeliharaan CS1: Format tanggal • Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list • Wikipedia pages with incorrect protection templates • Articles with hCards • Pranala kategori Commons ada di Wikidata • Semua orang hidup • Semua artikel biografi • Artikel biografi April 2022 • Artikel Wikipedia dengan penanda ISNI • Artikel Wikipedia dengan penanda VIAF • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda NTA • Artikel Wikipedia dengan penanda FAST • Artikel Wikipedia dengan penanda SUDOC • Artikel Wikipedia dengan penanda WORLDCATID • Halaman ini terakhir diubah pada 5 April 2022, pukul 14.18.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
• Senin, 9 Mei 2022 • Network • Pikiran Rakyat • Gowapos.com • PR Cirebon • PR Cianjur • PR Tasikmalaya • Pedoman Tangerang • PR Bogor • PR Depok • PR Pangandaran • PR Indramayu • PR Bekasi • PRFM News • Seputar Tangsel • Portal Jember • Ringtimes Banyuwangi • Zona Jakarta • Kabar Besuki • Mantra Sukabumi • Lensa Purbalingga • Zona Banten • Lihat Semua • • • BERITA DIY - Arti dan makna Asmaul Husna Al Akhir lengkap dengan dalil Al Qur'an, berikut ayat Al Qur'an yang mencantumkan nama Allah yang indah khususnya Al Akhir.

Sebagai umat islam, memahami Asmaul Husna merupakan hal yang penting. Salah satu Asmaul Husna yang akan dibahas pada artikel ini adalah Al Akhir beserta dengan arti, makna, dan dalilnya. Asmaul Husna memiliki jumlah keseluruhan 99 nama Allah Salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. yang indah. Anda pasti akan sering menjumpai beberapa Asmaul Husna dalam ayat-ayat Al Qur'an. Baca Juga: Resep Opor Ayam Gurih dan Empuk Cocok untuk Sajian Lebaran Sejumlah bacaan doa juga menyebutkan Asmaul Husna atau menyebut nama Allah yang indah agar doa dikabulkan.

Hal ini dikarenak Asmaul Husna memiliki keistimewaan sebagai doa. Perintah agar berdoa dengan menyebut Asmaul Husna telah dijelaskan dalam firman Allah pada surat Al Araf ayat ke 180, yang berbunyi: وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ Artinya: Dan Allah memiliki Asma'ul-husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma'ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya.

Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala berkat, rahmat, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan “Optimalisasi Pembinaan Keagamaan Siswa di SMP Negeri 1 Jepara” dengan baik. Rancangan kegiatan aktualisasi dan habituasi nilai-nilai dasar Aparatur Spil Negara bertujuan untuk meningkatkan penerapan nilai-nilai agama islam dengan sikap perilaku dan nilai dasar ASN yang terdiri dari: Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi (ANEKA).

Penulis sadar bahwa rancangan laporan aktualisasi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karenanya penulis berharap masukan dari berbagai pihak membuat rancangan laporan menjadi lebih baik agar rancangan ini dapat dijadikan dasar dalam pelaksanaan dan pelaporan aktualisasi dan habituasi nilai-nilai dasar ASN, serta memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi semua pihak yang membutuhkan.

Sekolah merupakan tempat peserta didik mendapatkan kucuran pengetahuan dan pembentukan karakter kepribadian. Sekolah mempunyai kewajiban memberikan bimbingan dan pembinaan terhadap aspek tersebut. Pembinaan karakter peserta didik saat ini menjadi isu penting dimana banyak kasus kekerasan dan penyimpangan-penyimpangan perilaku peserta didik yang menerabas norma-norma positif. Salah satu model pembinaan karakter yang dapat dilakukan sekolah adalah melalui kegiatan pembinaan keagamaan dengan membiasakan peserta didik melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan.

Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui internalisasi nilai-nilai keagamaan melalui kegiatan-kegiatan ibadah dan lain sebagainya.

Islam sebagai suatu agama mempunyai perangkat lengkap dalam membentuk kebiasaan seseorang melalui kegiatan ibadah setiap harinya. Kebiasaan ini berupa ibadah wajib dan sunnah yang mengandung nilai-nilai spriritual agama yang baik untuk pembentukan karakter peserta didik. Nilai-nilai agama adalah seperangkat ajaran nilai-nilai luhur yang ditransfer dan diadopsi ke dalam diri untuk mengetahui cara menjalankan kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran-ajaran agama dalam membentuk kepribadian yang utuh.

Oleh karena itu, seberapa banyak dan seberapa jauh nilai-nilai agama Islam bisa mempengaruhi dan membentuk suatu karakter seseorang sangat tergantung dari seberapa nilai-nilai agama yang terinternalisasi pada dirinya. Semakin dalam nilai-nilai agama Islam yang terinternalisasi dalam diri seseorang, maka kerpibadian dan sikap religiusnya akan muncul dan terbentuk Dalam lembaga pendidikan, pengembangan akhlak mulia dan religius dengan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari tentu saja merupakan tugas dari sebuah lembaga.

oleh sebab itu Guru wajib memberikan bimbingan kepada peserta didik agar menerapkan nilai-nilai pendidikan agama dalam kehidupan sehari-hari dengan harapan peserta didik mampu memiliki kesalehan pribadi dan kesalehan sosial Pengalaman beragama yang ditanamkan sejak dini akan menentukan kualitas moral setelah peserta didik dewasa.

Membiasakan peserta didik untuk shalat berjamaah, shalat dhuha, membaca Al-Qur`an akan memperkaya pengalaman rohani dan akan berkesan sepanjang hayat. Proses pembiasaan ini perlu dilakukan melalui pembinaan yang optimal agar pembiasaan keagamaan dapat berjalan baik, efektif, sehingga menjadi kebiasaan dan benar-benar terinternalisasi dalam kehidupan pribadi peserta didik.

Kedudukan serta peran ASN dalam NKRI yaitu Manajemen ASN, Whole of Government, dan Pelayanan Publik merupakan prinsip kegiatan aktualisasi dan habituasi yang akan dilaksanakan di SMP Negeri 1 Jepara dengan menerapkan nilai ANEKA. Program aktualisasi dan habituasi dibuat berdasarkan identifikasi isu dengan melihat dari sisi keaktualan, problematik, kekhalayakan dan juga berdasarkan kelayakan isu tersebut untuk dipecahkan (metode APKL).

Setelah itu prioritas isu ditentukan dengan melihat dari sisi urgency, seriousness dan growth atau dikenal dengan USG. Daftar Isu yang diperoleh yang dikaitkan dengan agenda ketiga Pelatihan Dasar CPNS (Manajemen ASN, Whole of Government (WoG) dan Pelayanan Publik) ditampilkan pada Tabel berikut : Pembinaan keagamaan dilingkungan sekolah sangat diperlukan untuk membentuk karakter peserta didik melalui pembiasaan-pembiasaan agama di sekolah.

apabila tidak dilakukan maka peserta didik dapat terkena dampak negatif krisis moral dan karakterdiantaranya berbuat anarkis, tindakan asusila, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, dan banyak perilaku negatif lainnya.

Yang akan berpengaruh terhadap kepribadian peserta didik di masa depan karena tidak memiliki bekal spiritual sebagai benteng dari perilaku negatif. Aktualisasi dan habituasi ini dibuat sebagai upaya untuk mengaktualisasikan nilai – nilai akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi yang dikenal dengan sebutan ANEKA.

Serta Manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN), Pelayanan Publik, dan Whole of Government (WoG) sebagai upaya meningkatkan penerapan nilai-nilai agama islam di SMP Negeri 1 Jepara. Pemahaman dan pemaknaan wawasan kebangsaan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan bagi aparatur, pada hakikatnya terkait dengan pembangunan kesadaran berbangsa dan bernegara yang berarti sikap dan tingkah laku PNS harus sesuai dengan kepribadian bangsa dan selalu mengaitkan dirinya dengan cita-cita dan tujuan hidup bangsa Indonesia.

Kesadaran bela negara merupakan upaya untuk mempertahankan negara dari ancaman yang dapat mengganggu kelangsungan hidup bermasyarakatyang berdasarkan atas cinta tanah air.

Selain itu menumbuhkan rasa patriotisme dan nasionalisme di dalam diri PNS. Upaya bela negara selain sebagai kewajiban dasar juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, penuh tanggung jawab dan rela berkorban dalam pengabdian kepada negara dan bangsa. Lingkungan strategis adalah situasi internal dan eksternal baik yang statis (trigatra) maupun dinamis (pancagatra) yang memberikan pengaruh pada pencapaian tujuan nasional.

Analisa perubahan lingkungan strategis ini bertujuan membekali peserta dengan kemampuan memahami konsepsi perubahan lingkungan strategis sebagai wawasan strategis PNS.

Sehingga PNS dapat memahami modal insani dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis, dapat mengidentifikasi isu-isu kritikal, dan dapat melakukan analisis isu-isu kritikal dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis.

Dengan begitu PNS dapat mengambil keputusan yang terbaik dalam tindakan profesionalnya. Pasal 27 dan Pasal 30 UUD Negara RI 1945 mengamanatkan kepada semua komponen bangsa berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah.

syarat-syarat tentang pembelan negara. Dalam hal ini setiap PNS sebagai bagian dari warga masyarakat tertentu memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk melakukan bela negara sebagaimana diamanatkan dalam UUD Negara RI 1945 tersebut. Kesiapsiagaan bela negara merupakan kondisi warga negara yang secara fisik memiliki kondisi kesehatan, keterampilan dan jasmani yang prima serta secara kondisi psikis yang memiliki kecerdasan intelektual, dan spiritual yang baik, senantiasa memelihara jiwa dan raganya, memiliki sifat-sifat disiplin, ulet, kerja keras, dan tahan uji, merupakan sikap mental dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaan kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Oleh sebab tiu dalam pelaksanaan latihan dasar bagi CPNS dibekali dengan latihan-latihan seperti : Akuntabilitas adalah kata yang seudah tidak asing lagi kita dengar, namun seringkali kita susah untuk membedakannya dengan responsibilitas.

Namun dua konsep tersebut memiliki arti yang berbeda. Responsibilitas adalah kewajiban untuk bertanggung jawab, sedangkan akuntabilitas adalah kewajiban pertanggungjawaban yang harus dicapai. Lebih lanjut akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya.

Pencapaian akuntabilitas dalam lingkungan kerja, diperlukan adanya keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan, serta harapan dan kapasitas. Selain itu, adanya harapan dalam mewujudkan kinerja yang baik juga harus disertai dengan keseimbangan kapasitas sumber daya dan keahlian (skill) yang dimiliki.

Nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang meninggikan bangsanya sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Sikap seperti ini jelas mencerai beraikan bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Sedang dalam arti luas, nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.

Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai-nilai Pancasila yang diarahkan agar bangsa Indonesia senantiasa: menempatkan persatuan kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kepentingan golongan; menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara; bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak merasa rendah diri; mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama bangsa; menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia; mengembangkan sikap tenggang rasa.

Etika lebih dipahami sebagai refleksi atas baik/buruk, benar/salah yang harus dilakukan atau bagaimana melakukan yang baik atau benar, sedangkan moral mengacu pada kewajiban untuk melakukan yang baik atau apa yang seharusnya dilakukan. Dalam kaitannya dengan pelayanan publik, etika publik adalah refleksi tentang standar/norma yang menentukan baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik.

Anti Korupsi adalah tindakan atau gerakan yang dilakukan untuk memberantas segala tingkah laku atau tindakan yang melawan norma–norma dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi, merugikan negara atau masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Tindak pidana korupsi yang terdiri dari kerugian keuangan negara, suap-menyuap, pemerasan, perbuatan curang, penggelapan dalam jabatan, benturan kepentingan dalam pengadaan dan gratifikasi.

Untuk mewujudkan birokrasi yang professional dalam menghadapi tantangan-tantangan global, pemerintah melalui UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara telah bertekad untuk mengelola aparatur sipil negara menjadi semakin professional. Undang-undang ini merupakan dasar dalam manajemen aparatur sipil negara yang bertujuan untuk membangun aparat sipil negara yang memiliki integritas, profesional dan netral serta bebas dari intervensi politik, juga bebas dari praktek KKN, serta mampu menyelenggarakan pelayanan publik yang berkualitas bagi masyarakat.

Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan Pegawai ASN yang professional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Manajemen ASN lebih menekankan kepada pengaturan profesi pegawai sehingga diharapkan agar selalu tersedia sumber daya aparatur sipil Negara yang unggul selaras dengan perkembangan jaman. Penyelenggaraan pelayanan publik dimana masyarakat harus memenuhi berbagai persyaratan dan membayar fee untuk memperoleh layanan yang mereka butuhkan harus diterapkan prinsip mudah dan murah. Hal ini perlu ditekankan karena pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah tidak dimaksudkan untuk mencari keuntungan melainkan untuk memenuhi mandat konstitusi.

SMP N 1 Jepara beralamat di Jl. Sersan Sumirat No. 3 Jepara. SMP tersebut berdiri di jantung kota Jepara. SMP N 1 Jepara merupakan salah satu SMP favorit di kabupaten Jepara. hal tersebut dapat dilihat dari peringkat UN setiap tahun bahwa SMP N 1 Jepara sering menduduki peringkat 1 hasil UN terbaik se Kabupaten Jepara dan yang terbaru pada tahun 2019 ini SMP N 1 Jepara kembali menduduki juara 1 hasil UN terbaik se Kabupaten Jepara.

Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar mengacu pada tujuan umum pendidikan dasar yaitu meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

Sedangkan secara khusus, sesuai dengan visi dan misi sekolah, serta tujuan SMP Negeri 1 Jepara pada akhir tahun pelajaran 2018/2019, sekolah mengantarkan siswa didik untuk: Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permenegpan RB) No.

16 tahun 2009 menjelaskan bahwa Jabatan fungsional guru adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk melakukan kegiatan mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil.

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Kegiatan pembelajaran adalah kegiatan Guru dalam menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan pembelajaran yang bermutu, menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran, menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik.

Berdasarkan uraian tugas SKP (Sasaran Kerja Pegawai ) SMP Negeri 1 Jepara maka kegiatan tugas jabatan guru meliputi : • Guru wajib membuat administrasi perencanaan pembelajaran meliputi kalender akademik, rincia0n minggu efektif, program tahunan, program semster, pemetaan KD, Silabus, RPP, proses penentuan KKM, materi pembelajaran, rencana penilaian; • Guru wajib menyajikan pembelajaran dan membuat administrasi pelaksanaan pembelajaran meliputi: menyajikan pelajaran sesuai jadwal pelajaran mata pelajaran yang diajarkan, absensi kehadiran siswa, lembar kegiatan harian (LKH), catatan perkembangan siswa; dan menilai sikap siswa; • Guru wajib meleksanakan penilaian pembelajaran meliputi penilaian pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam bentuk penilaian proses, ulangan harian, ulangan mid semester, ulangan akhir sem e ster ; • Guru wajib menyusun perangkat penilaian meliputi perangkat ulangan (kisi-kisi, naskah soal, kunci jawaban, norma penilaian, pedoman salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah.

dan daftar nilai; • Guru wajib melakukan analisis hasil penilaian; • Guru wajib melaksanakan progran perbaikan dan pengayaan ; • Guru wajib memberikan bimbingan kepada peserta didik; • Guru wajib membantu penyelesaian masalah yang dihadapi peserta didik tentang mata pelajaran yang diampunya; • Guru wajib berkordinasi dengan wali kelas dan guru BK dalam mengadakan pembinaan dan tindak lanjut siswa bermasalah.

• Guru wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri PKB dan publikasi ilmiah ; • Guru wajib membuat alat pelajaran / alat peraga dan peningkatan kualitas pembelajaran. • Guru wajib melaksanakan tugas piket sesuai jadwal; • Guru wajib melakasanakan tugas tambahan yang dipercayakan kepadanya; • Guru wajib men dokumentasikan seluruh administrasi kegiatan no.

1 s.d 12. KH. Fatchur Rozi dipilih penulis sebagai role model karena beliau adalah sosok yang penulis segani. KH. Fatchur Rozi lahir pada salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. September 1956 dari orang tua KH. Ahmad Muallim dan Hj. Siti Fatimah. Bertempat tinggal di Desa Pekalongan RT.02 RW.03 Kecamatan Batealit Kabupaten Jepara, beliau adalah pensiunan PNS guru agama di SD Negeri 1 Pekalongan.

Didampingi istri bernama Hj. Siti Aisyah beliau dikaruniai 4 anak, 1 putri 3 putra. Ke 4 anak beliau mewarisi semangat pengabdian sebagaimana ayahnya yaitu seluruhnya menjadi guru. Dalam keluarga, beliau adalah sosok yang berwibawa yang setiap perkataan dan petuahnya ditaati oleh anak-anaknya. Banyak pesan dan nasihat yang beliau sampaikan antara lain sering disampaikan kepada keluarga adalah “ dadi uwong kudune titi, setiti, lan ati-ati (jadi manusia harus teliti, waspada, dan hati-hati) “ (anti korupsi), selain itu beliau juga berpesan “ jika punya kelebihan berbagilah, jika bisa berbuat baik maka berbuat baiklah walaupun kepada orang yang jahat kepadamu “ (etika publik).

Dilingkungan masyarakat beliau adalah tokoh agama sekaligus tokoh masyarakat yang disegani. Beliau sering menjadi tempat berkonsultasi dan meminta pendapat berbagai masalah yang dialami masyarakat mulai dari masalah agama, sosial, hingga rumah tangga (Pelayanan Publik).

Pada Tahun 1986 saat usia beliau baru 30 tahun beliau sudah dipercaya masyarakat untuk menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Islam yang mengelola lembaga pendidikan mulai TK – SMP di Desa Pekalongan hingga sekarang (Kepemimpinan).

Kualitas kepemimpinan beliau yang baik menjadikan beliau dipercaya pula sebagai Ketua Masjid Jami` Raudlatus Salikin desa pekalongan dan Ketua Tanfidziyah NU ranting desa Pekalongan. Selain itu beliau juga mengampu pengajian-pengajian untuk orang tua di beberapa masjid dan musholla baik di desa Pekalongan dan luar desa.

Walaupun dengan kesibukan yang cukup padat beliau tidak pernah meninggalkan tugas beliau sebagai guru di SD N 1 Pekalongan (Komitmen mutu). Sebagai PNS beliau merupakan sosok sederhana (Anti Korupsi). Beliau sering berpesan kepada anak-anaknya “ dadi wong sing biasa-biasa wae (jadi orang yang biasa-biasa saja sederhana) “ keteladanan ini biasa disaksikan keluarga, beliau mempunyai kebiasaan setiap bulan menyisihkan gaji untuk membeli beberapa karung beras untuk kemudian dibagi-bagi ke orang-orang tidak mampu disekitar tempat tinggal beliau.

Kegiatan aktualisasi akan dilaksanakan di SMP Negeri 1 Jepara dengan nilai dasar Pegawai Negeri Sipil (PNS) yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi (ANEKA) dan berprinsip pada Manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN), Layanan Publik dan Whole of Government (WoG). Adapun berkaitan dengan rancangan program tersebut sudah dianalisis dan mempertimbangkan identifikasi isu, dan untuk merencanakan kegiatan aktualisasi, langkahnya adalah melakukan identifikasi isu yang terjadi dan aktual di tempat kerja atau instansi, seperti isu unit kerja, isu organisasi dan isu individu.

Setelah itu memilih isu yang benar-benar penting berdasarkan penilaian dari kriteria Aktual, Problematik, Kekhalayakan, dan Layak (APKL) dan kriteria Urgency, Seriousness, dan Growth (USG) untuk dicarikan solusi dan dikategorikan salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah.

dengan mata pelatihan dari Manajemen ASN, WoG, dan Pelayanan publik sebagaimana yang telah diuraikan pada Bab I. Sumber isu yang diangkat berasal dari tugas pokok dan fungsi (Tupoksi), Sasaran Kinerja Pegawai (SKP), inisiatif kegiatan peserta yang disetujui mentor dan coach, dan penugasan dari atasan.

Dalam pelaksanaan 5 kegiatan aktualisasi dan habituasi ANEKA, terdapat kemungkinan kegiatan-kegiatan tersebut mengalami kendala sehingga rancangan kegiatan ini tidak dapat direalisasikan secara optimal atau tidak tercapai aktualisasinya. Oleh karena itu perlu disampaikan kendala-kendala yang mungkin terjadi, langkah-langkah antisipasi menghadapi kendala tersebut, dan perlu dicari secara cermat strategi untuk menghadapi kendala tersebut.

Kendala, resiko dan solusi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini. Rancangan aktualisasi ini disusun berdasarkan identifikasi isu yang telah dirumuskan melaui analisa APKL dan analisa USG.

Identifikasi isu yang ada dapat berasal dari individu, unit kerja maupun dari organisasi, dari sana beberapa isu telah dapat diidentifikasi. Dari beberapa isu tersebut kemudian dilakukan identifikasi dengan metode USG. Isu yang diangkat yaitu belum optimalnya pembinaan keagamaan siswa SMP Negeri 1 Jepara Dari isu tersebut muncul gagasan pemecahan isu yang tertuang dalam 7 kegiatan.

Pentingnya Rancangan Aktualisasi dibuat karena menjadi pedoman dan panduan untuk menyelesaikan isu melalui gagasan pemecahan isu yang tertuang dalam kegiatan yang dirancang. Dengan adanya pembuatan Rancangan Aktualisasi, diharapkan pelaksanaan kegiatan aktualisasi dapat menghasilkan output yang sesuai dengan perencanaan.

Selain itu dengan membuat Rancangan Aktualisasi, penulis juga dapat lebih memahami nilai-nilai dasar ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi) yang dapat diimplementasikan dalam berbagai kegiatan selama melaksanakan aktualisasi maupun dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. Penulis juga lebih paham mengenai sikap dan perilaku yang dapat memberikan kontribusi terhadap visi dan misi organisasi serta menguatkan nilai organisasi.

Apabila Rancangan Aktualisasi tidak dibuat maka dapat mengakibatkan dampak negatif dari krisis moral, diantaranya berbuat anarkis, penyalahgunaan narkoba, terpapar paham radikaisme dan lain-lain yang akan berpengaruh terhadap kepribadian peserta didik yang tidak mampu mengaktualisasikan nilai-nilai agama dalam kehidupannya. Selain itu pemahaman mengenai nilai-nilai dasar ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi) pun menjadi kurang karena tidak ada pedoman dan panduan dalam mengimplementasikan nilai-nilai tersebut.

Dalam penyusunan rancangan aktualisasi ini saya meminta dukungan, saran dan masukan dari pihak manapun agar kegiatan yang akan saya laksanakan dapat berjalan lancar. 1. Mengapa kita melakukan penelitian ? Jawab : Penelitian dilakukan karena beberapa hal, diantaranya: 1) Adanya sifat dasar manusia yang serba ingin tahu (curiosity), sehingga manusia akan melakukan sesuatu untuk memuaskan keingintahuannya itu.

2) Adanya fenomena yang tidak sesuai dengan kenyataan seharusnya, sehingga menimbulkan pertanyaan yang butuh sebuah jawaban. 3) Adanya permasalahan yang butuh untuk segera dipecahkan dan dicari solusinya. 2. Jelaskan 3 aliran filsafat penelitian ! Jawab : 3 aliran filsafat penelitian, yaitu : 1) Pra-Positivisme, yang memandang realitas itu bersifat alamiah, apa adanya, tidak dibuat-buat, sehingga pengamat bersifat pasif menggambarkan realita sesuai apa yang dilihat.

aliran ini menghasilkan metode penelitian deskripsi kualitatif 2) Positivisme, yang memandang realitas itu teramati, bersifat tunggal, bisa diklasifikasikan, relatif tetap dan terukur. Aliran ini menghasilkan metode Rumusan Masalah dalam Penelitian Kuantitatif Masalah dapat diartikan sebagai kesenjangan atau penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang ada, antara teori dengan fakta, antara rencana dengan aksi, antara aturan dengan pelaksanaan.

Adapun sumber-sumber masalah dalam penelitian dapat diambil dari berbagai hal, antara lain bahan bacaan / pustaka dapat berupa jurnal / laporan penelitian, diskusi, seminar, pertemuan ilmiah, atau pengalaman. Sedangkan rumusan masalah adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dicari jawabannya melalui pengumpulan data. Rumusan masalah dalam penelitian kuantitatif secara garis besar dikelompokkan menjadi tiga bentuk, yaitu Deskriptif, Asosiatif, dan Komparatif.
Macam-macam Hukum Tajwid dan Contohnya – Bagi umat muslim, membaca Al-quran dengan baik dan benar adalah sebuah kewajiban.

Membaca Al-Quran harus benar dan tartil, serta harus tahu kapan harus berhenti dan kapan harus melanjut bacaan. Maka dari itu, supaya membaca Al-Quran bisa dengan baik dan benar harus mempelajari ilmu tajwid.

Dengan membaca Al-Quran secara perlahan, akan membantu untuk memahami dan merenungkan makna dari bacaan Al-Quran. Di bawah ini akan lebih dijelaskan mengenai hukum-hukum ilmu tajwid, beserta contohnya. Daftar Isi • Pengertian Tajwid • Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid • Anda Mungkin Juga Menyukai • Hukum-Hukum Tajwid dan Contohnya • 1. Sukun dan Tanwin • a. Idzhar • b. Idgham Bigunnah • c. Idgham Bilagunnah • d. Iqlab • e. Ikhfa Haqiqi • 2. Mim Sukun • a. Ikhfa Syafawi • b.

Idgham Mimi • c. Idzhar Syafawi • 3. Mim tasydid dan Nun Tasydid: • 4. Lam ta’rief: • a. Idzhar Qamariyah • b. Idgham Syamsiyah • 5. Qalqalah Pengertian Tajwid Tajwid adalah istilah dari bahasa Arab yang salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah.

harfiah memiliki makna ‘melakukan sesuatu dengan indah atau bagus’. Tajwid berasal dari kata ‘Jawadda’. Tajwid juga berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat yang ada pada setiap huruf. Secara garis besar, ilmu tajwid adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana cara mengucapkan huruf-huruf yang ada di dalam kitab suci Al-Quran. Sejarah bacaan Al-Qur’an berkaitan dengan sejarah qira’at, karena setiap qari memiliki seperangkat aturan tajwid mereka sendiri, dengan banyak tumpang tindih di antara mereka.

Abu Ubaid al-Qasim bin Salam (774 – 838 M) adalah orang pertama yang mengembangkan ilmu tajwid. Ia memberikan aturan nama tajwid dan menuliskannya dalam bukunya yang berjudul al-Qiraat. Dia menulis sekitar 25 qari, termasuk 7 qari mutawatir. Abu Bakar Ibn Mujahid (859 – 936 M) menulis sebuah buku berjudul Kitab al-Sab’ fil-qirā’āt “Tujuh Bacaan”. Dia adalah orang pertama yang membatasi jumlah bacaan hingga tujuh yang diketahui. Imam Al-Shatibi (1320 – 1388 M) menulis sebuah puisi yang menguraikan dua cara paling terkenal yang diturunkan dari masing-masing dari tujuh imam yang kuat, yang dikenal sebagai Ash-Shatibiyyah.

Di dalamnya, ia mendokumentasikan aturan bacaan Naafi’, Ibn Katsir, Abu ‘Amr, Ibn ‘Aamir, ‘Aasim, al-Kisaa’i, dan Hamzah.

Ibn al-Jazari (1350 – 1429 M) menulis dua puisi besar tentang Qira’at dan tajwid. Salah satunya adalah Durrat Al-Maa’nia, dalam bacaan tiga qari utama, ditambahkan ke tujuh di Shatibiyyah, menjadikannya sepuluh. Yang lainnya adalah Tayyibat An-Nashr, yaitu 1014 baris pada sepuluh qari utama dengan sangat rinci.

Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid Pengetahuan tentang ilmu tajwid yang sebenarnya adalah Fardhu Kifayah, artinya setidaknya ada satu orang di setiap komunitas yang bisa atau paham tentang ilmu tersebut. Mayoritas ulama sepakat bahwa tidak wajib menerapkan hukum tajwid. Ada perbedaan pendapat tentang hukum mempelajari ilmu tajwid bagi setiap individu. Shadee el-Masry menyatakan bahwa mempelajari ilmu tajwid adalah kewajiban individu atau Fardhu Ain.

Syekh Zakariyya al-Ansari menyatakan bahwa membaca dengan cara mengubah makna atau mengubah tata bahasa adalah dosa. Jika tidak mengubah kedua hal ini, maka tidak berdosa. Rp 38.000 Adapun dalil mempelajari ilmu tajwid, sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Muzzamil ayat 4, yang berbunyi: اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ “atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan.” Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Allah SWT menyuruh Nabi Muhammad untuk mebaca Al-Quran dengan tartil, dengan memperindah ucapan pada setiap huruf-hurufnya.

Adapula dalam surat Al-baqarah ayat 121, Allah berfirman, اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَتْلُوْنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ ۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ “Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya, mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan barangsiapa ingkar kepadanya, mereka itulah orang-orang yang rugi.” Hukum-Hukum Tajwid dan Contohnya Berikut adalah hukum tajwid beserta contohnya: 1.

Sukun dan Tanwin a. Idzhar Apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf idzhar, maka cara membacanya yaitu jelas, terang. Huruf-huruf idzhar ini dibaca jelas karena tempat keluarnya huruf-huruf tersebut adalah mulut, ada pada kerongkongan atau tenggorokan. Huruf-huruf idzhar: ا ع غ ح خ ها Contoh: مِنْ آَلِ فِرْعَوْنَ Nun mati bertemu dengan أ • فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ Nun mati bertemu dengan هـ • بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ Nun mati bertemu dengan ع • مِنْ غَفُورٍ رَحِيم Nun mati bertemu dengan غ • أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ Tanwin bertemu dengan ح • كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ Tanwin bertemu dengan خ b.

Idgham Bigunnah Apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf idgham bigunnah maka dibacanya dengan mendengung. Idgham artinya memasukkan, dan bigunnah artinya mendengung. Jadi cara membacanya dengan ditasydidkan ke dalam salah satu huruf idham dengan suara yang mendengung. Huruf-huruf idgham bigunnah: ي ن م و Contoh: مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا Nun mati bertemu dengan ي • إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ Nun mati bertemu dengan ن • وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ Nun mati bertemu dengan م • مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ Nun mati bertemu dengan و • بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ Tanwin bertemu dengan ي • حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ Tanwin bertemu dengan ن • رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ Tanwin bertemu dengan م • مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ Tanwin bertemu dengan و BACA JUGA: Daftar Huruf Hijaiyah: Pengertian, Harakat, Penulisan, dan Perannya c.

Idgham Bilagunnah Apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf idgham bilagunnah maka dibacanya dengan dimasukkan namun tidak berdengung. Idgham artinya memasukkan, dan bilagunnah artinya tidak mendengung.

Jadi cara membacanya dengan ditasydidkan ke dalam salah satu huruf idham dengan suara yang tidak mendengung. Huruf-huruf idgham bigunnah: ل ر • فَضْلًا مِنْ رَبِّكَ Nun Mati bertemu dengan ر • قَالَ لَمْ أَكُنْ لِأَسْجُدَ Nun Mati bertemu dengan ل • لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ Tanwin bertemu dengan ل • سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ Tanwin bertemu dengan ر d.

Iqlab Apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf iqlab maka dibacanya dengan ditukar. Iqlab artinya meleburkan atau lebih mudahnya cara membacanya dengan menukar huruf menjadi huruf mim. Huruf iqlab: ب Contoh: • أَنْ تُنْبِتُوا Nun mati bertemu dengan ب • كُلُّ حِزْبٍ بِمَا Tanwin bertemu dengan ب e. Ikhfa Haqiqi Apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf-huruf ikhfa haqiqi, maka dibacanya dengan samar-samar.

Ikhfa artinya menyamar atau menyembunyikan sedangkan haqiqi artinya sungguh-sungguh. Jadi cara membacanya harus terang dengan adanya dengung. Huruf-huruf Ikhfa Haqiqi: ت ث ج د ذ ز س ش ص ض ط ظ ف ق ك Contoh: • أَنْتُمْ Nun mati bertemu dengan ت • مَنْثُورًا Nun mati bertemu dengan ث • فَأَنْجَيْنَاه Nun mati bertemu dengan ج • عِنْدَهُ Nun mati bertemu dengan د • لِيُنْذِرَكُمْ Nun mati bertemu dengan ذ • أُنْزِلَ Nun mati bertemu dengan ز • نَنْسَخْ Nun mati bertemu dengan س • مَنْشُورً Nun mati bertemu dengan ش • رِيحًا صَرْصَرًا Tanwin bertemu dengan ص • وَكُلًّا ضَرَبْنَا Tanwin bertemu dengan ض • صَعِيدًا طَيِّبًا Tanwin bertemu dengan ط • ظِلًّا ظَلِيلً Tanwin bertemu dengan ظ • سَفَرٍ فَعِدَّةٌ Salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah.

bertemu dengan ف • عَلِيمٌ قَدِيرٌ Tanwin bertemu dengan ق • وَرِزْقٌ كَرِيمٌ Tanwin bertemu dengan ك Dasar -Dasar Ilmu Tajwid 2. Mim Sukun a. Ikhfa Syafawi Apabila mim mati bertemu dengan huruf ikhfa syafawi maka dibaca dengan samar. Caranya menyamarkan suara mim mati dengan diiringi dengungan.

Meskipun dengungnya tidak terlalu terdengar jelas karena huruf mim mati dan ba memiliki tempat keluar yang sama yaitu dua bibir. Huruf ikhfa syafawi hanya satu. Hurufnya sama seperti iqlab, namun cara membacanya tidak dileburkan seperti iqlab. Huruf Ikhfa Syafawi: ب Contoh: • وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ Mim mati bertemu dengan huruf ب • وَهُمْ بِالْآَخِرَةِ Mim mati bertemu dengan huruf ب • عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍMim mati bertemu dengan huruf ب b.

Idgham Mimi Apabila mim mati bertemu dengan huruf idgham mimi, maka dibacanya melebur menjadi satu. Huruf idgham mimi hanya satu, yaitu huruf mim.

Jadi, idgham mimi adalah pertemuan dua huruf mim. Cara melafalkannya sama seperti melafadzkan mim yang bertasydid.

Sebab, mim tasydid merupakan gabungan dari mim mati dan mim hidup. huruf Idgham mimi: م Contoh: • وَكَمْ مِنْ قَرْيَةٍ Mim mati bertemu dengan م • كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ Mim mati bertemu dengan م • إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ Mim mati bertemu dengan م c. Idzhar Syafawi Apabila mim mati bertemu dengan huruf-huruf idzhar syafawi, maka tetap harus dibaca jelas meski mulut tertutup. Huruf idzhar syafawi ada banyak, kecuali mim dan salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah., karena kedua huruf tersebut merupakan milik ikhfa syafawi dan idgham mimi.

Huruf idzhar syafawi: ا ت ث ج ح خ د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ع غ ف ق ك ل ن و ه ي Contoh: • أَأَنْذَرْتَهُمْ أَم Mim mati bertemu dengan ا • أَنْعَمْتَ Mim mati bertemu dengan ت • ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ Mim mati bertemu dengan ث • أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ Mim mati bertemu dengan ج • يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا Mim mati bertemu dengan ح • ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ Mim mati bertemu dengan خ • الْحَمْدُ لِلَّ Mim mati bertemu dengan د • أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ Mim mati bertemu dengan ذ • حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ Mim mati bertemu dengan ر • ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمْزًا Mim mati bertemu dengan ز • وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ Mim mati bertemu dengan س • وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ Mim mati bertemu dengan ش • إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ Mim mati bertemu dengan ص • أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا Mim mati bertemu dengan ض • وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ Mim mati bertemu dengan ط • وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ Mim mati salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah.

dengan ظ • بِسَمْعِهِمْ Mim mati bertemu dengan ع • عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوب Mim mati bertemu dengan غ • وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ Mim mati bertemu dengan ف • إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا Mim mati bertemu dengan ق • مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ Mim mati bertemu dengan ك • وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا Mim mati bertemu dengan ل • وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ Mim mati bertemu dengan ن • عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّين Mim mati bertemu dengan و • أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ Mim mati bertemu dengan ه • هُمْ يُوقِنُون Mim mati bertemu dengan ي 3.

Mim tasydid dan Nun Tasydid: Apabila mim bertasydid dan nun bertasydid maka dibacanya dengan cara didengungkan. Hal ini juga disebut dengan bacaan gunnah. Gunaah ini disebut dengan ghunna ashliyyah. Secara bahasa gunnah artinya suara dengung, suara ringan yang berasal dari rongga hidung dan tidak ada penggunaan lidah sama sekali.

Cara membacanya dipanjangkan sampai salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah. harokat. Huruf: mim tasydid dan nun tasydid contoh: إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا ada nun bertasydid وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُون ada mim bertasydid كَمَا آَمَنَ النَّاس ada nun bertasydid 4.

Lam ta’rief: Adalah alif dan lam yang dihubungkan dengan kata atau nama-nama benda. a. Idzhar Qamariyah Apabila ada lam ta’rief bertemu dengan huruf-huruf idzhar qamariyah, maka cara membacanya harus jelas. Qamar dalam bahasa arab memiliki arti bulan. Sedangkan lam ta’rief diumpamakan dengan bintang. Hal ini karena bintang tetap terlihat meskipun bertemu dengan bulan. Huruf-huruf Idzhar Qamariyah: ء ب ج ح خ ع غ ف ق ك م و ه ي Contoh; • لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولً Alif lam bertemu dengan ء • فَارْجِعِ الْبَصَرَ Alif lam bertemu dengan ب • أَصْحَابَ الْجَنَّةِ Alif lam bertemu dengan ج • خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ Alif lam bertemu dengan ح • وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ Alif lam bertemu dengan خ • وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ Alif lam bertemu dengan ع • تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ Alif lam bertemu dengan غ • وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ Alif lam bertemu dengan ف • لِيَوْمِ الْفَصْلِ Alif lam bertemu dengan ق • إِنِ الْكَافِرُونَ Alif lam bertemu dengan ك • وَبِئْسَ الْمَصِيرُ Alif lam bertemu dengan م • فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ Alif lam bertemu dengan و • وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَى Alif lam bertemu dengan ه • وَإِنَّهُ لَحَقُّ الْيَقِينِ Alif lam bertemu dengan ي b.

Idgham Syamsiyah Apabila ada lam ta’rief bertemu dengan huruf-huruf qamariyah lainnya, selain huruf idzhar qamariyah, maka disebut dengan idhgam. Syamsiyah memiliki arti matahari, maka jika alif lam yang diumpakan bintang, bertemu dengan matahari, maka jadi tidak terlalu kelihatan. Karena tidak terbaca ini, maka alif lam yang bertemu dengan huruf syamsiyah, seperti ditasydidkan, atau dimasukkan ke huruf berikutnya.

huruf-huruf idhgam syamsiyah: ت ث د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ل ن Contoh: • وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ Alif lam bertemu dengan ت • مِنَ الثَّمَرَاتِ Alif lam bertemu dengan ث • يَوْمِ الدِّينِ Alif lam bertemu dengan د • وَالذَّاكِرِينَ Alif lam bertemu dengan ذ • الرَّحْمَنِ Alif lam bertemu dengan ر • وَالزَّيْتُوْنِ Alif lam bertemu dengan ز • هُمُ السُّفَهَاءُ Alif lam bertemu dengan س • هَذِهِ الشَّجَرَةَ Alif lam bertemu dengan ش • وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ Alif lam bertemu dengan ص • وَلَا الضَّالِّينَ Alif lam bertemu dengan ض • فَوْقَكُمُ الطُّورَ Alif lam bertemu dengan ط • مِنَ الظَّالِمِينَ Alif lam bertemu dengan ظ • وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ Alif lam salah satu asmaul husna adalah al akhir yang artinya adalah.

dengan ل • أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ Alif lam bertemu dengan ن Mudah Belajar Tajwid 5. Qalqalah apabila ada huruf qalqalah yang mati, maka cara membacanya harus membalik. ada dua macam qalqalah, qalqalah sugra dan qalqalah kubro. Hurufnya sama, namun penempatannya yang berbeda. Dibaca qalqalah sughra jika huruf qalqalah terletak di pertengahan kalimat. Dibaca qalqalah kubro jika huruf qalqalah berada di akhir kalimat. Qalqalah sughra dibaca lebih tipis, seperti arti sughra sendiri yang artinya kecil.

Sedangkan qalqalah kubro, cara membacanya dipantulkan lebih jelas dan lebih keras, seperti arti kubro yang artinya besar. Huruf-Huruf Qalqalah: ب ج د ط ق Contoh: • ثُمَّ لِيَقْطَعْ فَلْيَنْظُرْ Ada huruf Qaf mati di tengah kata • ثَانِيَ عِطْفِهِ Ada huruf Tho mati di tengah kata • وَقَوْمُ إِبْرَاهِيمَ Ada huruf Ba mati di tengah kata • فَعَلَيَّ إِجْرَامِي Ada huruf Ja mati di tengah kata • يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ Ada huruf Da mati di tengah kata • بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ Ada huruf Ba di akhir kalimat • وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ Ada huruf Ja di akhir kalimat • وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ Ada huruf Da di akhir kalimat • قَائِمًا بِالْقِسْطِ Ada huruf Tho di akhir kalimat • وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ Ada huruf Qaf di akhir kalimat BACA JUGA: • Tata Cara Berwudhu • Pengertian Al-Quran dan Hadits • Pengertian Akhlak • Sifat-sifat Mulia • Perilaku Jujur dalam Islam • Pengertian Zakat • Rukun Haji • Pengertian Iman Kepada Malaikat • Pengertian Aurat • Daftar 99 Asmaul Husna • Zakat Fitrah dan Zakat Mal • Pengertian Tabligh • Pengertian Zakat Mal • Makna Dari Gelar Al-Amin Rasulullah SAW • Pengertian Iman Secara Bahasa dan Istilah • Bacaan Ayat Kursi dan 12 Keutamaannya dalam Kehidupan Kategori • Administrasi 5 • Agama Islam 126 • Akuntansi 37 • Bahasa Indonesia 95 • Bahasa Inggris 59 • Bahasa Jawa 1 • Biografi 31 • Biologi 101 • Blog 23 • Business 20 • CPNS 8 • Desain 14 • Design / Branding 2 • Ekonomi 152 • Environment 10 • Event 15 • Feature 12 • Fisika 30 • Food 3 • Geografi 62 • Hubungan Internasional 9 • Hukum 20 • IPA 82 • Kesehatan 18 • Kesenian 10 • Kewirausahaan 9 • Kimia 19 • Komunikasi 5 • Kuliah 21 • Lifestyle 9 • Manajemen 29 • Marketing 17 • Matematika 20 • Music 9 • Opini 3 • Pendidikan 35 • Pendidikan Jasmani 32 • Penelitian 5 • Pkn 69 • Politik Ekonomi 15 • Profesi 12 • Psikologi 31 • Sains dan Teknologi 30 • Sastra 32 • SBMPTN 1 • Sejarah 84 • Sosial Budaya 98 • Sosiologi 53 • Statistik 6 • Technology 26 • Teori 6 • Tips dan Trik 57 • Tokoh 59 • Uncategorized 31 • UTBK 1

ASMAUL HUSNA + TERJEMAH - Versi Baru Runa & Syakira ( official music video )




2022 www.videocon.com