Tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah

tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah

• Аԥсшәа • Acèh • Адыгабзэ • Afrikaans • Alemannisch • Алтай тил • አማርኛ • Aragonés • Ænglisc • العربية • ܐܪܡܝܐ • الدارجة • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • Авар • Kotava • अवधी • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Basa Bali • Boarisch • Žemaitėška • Bikol Central • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • Bislama • Banjar • বাংলা • བོད་ཡིག • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • Нохчийн • Cebuano • کوردی • Corsu • Qırımtatarca • Čeština • Словѣньскъ / ⰔⰎⰑⰂⰡⰐⰠⰔⰍⰟ • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Dagbanli • Deutsch • Thuɔŋjäŋ • Zazaki • Dolnoserbski • ދިވެހިބަސް • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • Estremeñu • فارسی • Suomi • Võro • Føroyskt • Français • Arpetan • Nordfriisk • Furlan • Frysk • Gaeilge • Gagauz • 贛語 • Kriyòl gwiyannen • Gàidhlig • Galego • Avañe'ẽ • गोंयची कोंकणी / Gõychi Konknni • ગુજરાતી • Gaelg • Hausa • 客家語/Hak-kâ-ngî • עברית • हिन्दी • Fiji Hindi • Hrvatski • Hornjoserbsce • Kreyòl ayisyen • Magyar • Հայերեն • Արեւմտահայերէն • Interlingua • Interlingue • Igbo • Iñupiak • Ilokano • ГӀалгӀай • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • Patois • La .lojban.

• Jawa • ქართული • Taqbaylit • Kabɩyɛ • Kongo • Gĩkũyũ • Қазақша • ភាសាខ្មែរ • ಕನ್ನಡ • 한국어 • Къарачай-малкъар • कॉशुर / کٲشُر • Kurdî • Kernowek • Кыргызча • Latina • Ladino • Lëtzebuergesch • Лакку • Лезги • Lingua Franca Nova • Limburgs • Ligure • Ladin • Lombard • Lingála • ລາວ • Lietuvių • Latviešu • मैथिली • Basa Banyumasan • Мокшень • Malagasy • Олык марий • Māori • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • ဘာသာ မန် • मराठी • Bahasa Melayu • Malti • Mirandés • မြန်မာဘာသာ • Эрзянь • مازِرونی • Nāhuatl • Napulitano • Plattdüütsch • Nedersaksies • नेपाली • Li Niha • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Novial • Nouormand • Sesotho sa Leboa • Occitan • Livvinkarjala • Oromoo • ଓଡ଼ିଆ • Ирон • ਪੰਜਾਬੀ • Kapampangan • Papiamentu • Picard • Norfuk / Pitkern • Polski • Piemontèis • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Rumantsch • Română • Armãneashti • Русский • Русиньскый • Ikinyarwanda • संस्कृतम् • Саха тыла • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sardu • Sicilianu • Scots • سنڌي • Davvisámegiella • Srpskohrvatski / српскохрватски • ၽႃႇသႃႇတႆး • සිංහල • Simple English • Slovenčina • سرائیکی • Slovenščina • Gagana Samoa • ChiShona • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • SiSwati • Seeltersk • Sunda • Svenska • Kiswahili • Ślůnski • தமிழ் • ತುಳು • తెలుగు • Тоҷикӣ • ไทย • ትግርኛ • Tagalog • Tok Pisin • Türkçe • Xitsonga • Татарча/tatarça • Twi • ئۇيغۇرچە / Uyghurche • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vèneto • Vepsän kel’ • Tiếng Việt • West-Vlams • Volapük • Walon • Winaray • 吴语 • მარგალური • ייִדיש • Yorùbá • Vahcuengh • Zeêuws • 中文 • 文言 • Bân-lâm-gú • 粵語 • l • b • s Kekristenan atau Kristianitas [note 1] atau agama Kristen adalah agama Abrahamik monoteistik berasaskan riwayat hidup dan ajaran Yesus Kristus, yang merupakan inti sari agama ini.

Agama Kristen adalah agama terbesar di dunia, [1] [2] dengan lebih dari 2,5 miliar pemeluk, atau sekitar 2,6 miliar jiwa [3] [4] [5] atau hampir 33% dari populasi global, yang disebut " umat Kristen", atau "umat Kristiani". [note 2] Umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Juru Selamat umat manusia yang datang sebagai Mesias ( Kristus) sebagaimana dinubuatkan dalam Alkitab Perjanjian Lama.

[6] Teologi Kristen terangkum dalam syahadat-syahadat seperti Syahadat Para Rasul dan Syahadat Nikea. Syahadat atau pengakuan-pengakuan iman ini berisi pernyataan bahwa Yesus telah menderita sengsara, wafat, dimakamkan, turun ke alam maut, dan bangkit dari maut, untuk mengaruniakan kehidupan kekal kepada siapa saja yang percaya kepadanya dan mengandalkannya demi beroleh pengampunan atas dosa-dosa yang telah mereka perbuat.

Syahadat-syahadat ini juga menyatakan bahwa Yesus secara jasmaniah naik ke surga, tempat ia memerintah bersama Allah Bapa dalam persekutuan Roh Kudus, dan bahwa ia kelak datang kembali untuk menghakimi orang-orang hidup dan orang-orang mati, serta mengaruniakan kehidupan kekal bagi para pengikutnya. Inkarnasi, karya pelayanan, penyaliban, dan kebangkitannya sering kali disebut " Injil", yang berarti "kabar baik". [note 3] Injil juga berarti catatan-catatan riwayat hidup dan ajaran Yesus, empat di antaranya— Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes—dianggap kanonik (sahih) dan dijadikan bagian dari Alkitab Kristen.

Agama Kristen adalah agama Abrahamik yang bermula sebagai sebuah sekte dari agama Yahudi era Kenisah kedua pada pertengahan abad pertama tarikh Masehi. [7] [8] Sekte ini berasal dari Yudea, kemudian menyebar dengan pesat ke Eropa, Syam, Mesopotamia, Anatolia, Transkaukasia, Mesir, Etiopia, serta India, dan pada akhir abad ke-4 telah menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.

[9] [10] [11] Sesudah Abad Penjelajahan, agama Kristen menyebar pula ke Benua Amerika, Australasia, Afrika Sub-Sahara, dan ke segenap penjuru dunia melalui karya misi dan kolonialisme.

[12] [13] [14] Agama Kristen telah berperan besar dalam pembentukan Peradaban Dunia Barat. [15] [16] [17] [18] [19] Sepanjang sejarahnya, agama Kristen telah mengalami skisma dan sengketa teologi yang memunculkan bermacam-macam gereja dan denominasi.

Tiga cabang agama Kristen yang terbesar di dunia adalah Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur, dan rumpun besar denominasi Kristen Protestan. Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur saling memutuskan hubungan persekutuan dalam peristiwa Skisma Timur–Barat pada 1054, sementara rumpun Kristen Protestan muncul pada zaman reformasi abad ke-16 sebagai pecahan dari Gereja Katolik.

[20] Daftar isi • 1 Etimologi • 2 Keyakinan • 2.1 Syahadat • 2.2 Yesus • 2.2.1 Wafat dan kebangkitan • 2.3 Keselamatan • 2.4 Tritunggal • 2.4.1 Paham Tritunggal • 2.4.2 Paham Antitritunggal • 2.5 Kitab Suci • 2.5.1 Tafsir Katolik • 2.5.2 Tafsir Protestan • 2.5.2.1 Kejelasan Kitab Suci • 2.5.2.2 Makna asali yang sejati dari Kitab Suci • 2.6 Eklesiologi • 2.7 Eskatologi • 2.7.1 Maut dan akhirat • 3 Ibadat • 3.1 Hari raya • 3.2 Sakramen • 3.3 Penanggalan liturgi • 3.4 Lambang • 3.5 Baptisan • 3.6 Doa • 4 Sejarah • 4.1 Gereja perdana dan konsili-konsili kristologi • 4.1.1 Akhir dari penindasan bangsa Romawi pada masa pemerintahan Kaisar Konstantinus (313 M) • 4.2 Awal Abad Pertengahan • 4.3 Puncak dan Akhir Abad Pertengahan • 4.4 Reformasi Protestan dan Kontra Reformasi • 4.5 Pasca-Pencerahan • 4.6 Agama Kristen di Indonesia • 4.6.1 Pra-Penjajahan Belanda • 4.6.2 Zaman Penjajahan Belanda • 4.6.3 Pasca-Penjajahan Belanda • 5 Demografi • 6 Denominasi • 6.1 Gereja Katolik • 6.2 Gereja Ortodoks Timur • 6.3 Gereja Ortodoks Oriental • 6.4 Gereja Negeri Timur Asiria • 6.5 Rumpun besar Protestan • 6.6 Aliran Pemulihan • 6.7 Lain-lain • 7 Kebudayaan • 8 Gerakan oikumene • 9 Kritik dan pembelaan • 10 Lihat pula • 11 Keterangan • 12 Rujukan • 12.1 Kepustakaan • 13 Bacaan Lebih Lanjut • 14 Pranala luar Etimologi Umat Kristen perdana yang berkebangsaan Yahudi menyebut diri pengikut-pengikut jalan ( bahasa Yunani: τῆς ὁδοῦ, tês hodoû), mungkin mengacu kepada nas Yesaya 40:3, "persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN." [21] [note 4] Berdasarkan nas Kisah Para Rasul 11:26, istilah "orang Kristen" ( bahasa Yunani: Χρῑστῐᾱνός, Krīstiānós) berarti "pengikut Kristus", mengacu kepada murid- murid Yesus, dan pertama kali dipakai di kota Antiokhia oleh warga non-Yahudi.

[27] Istilah "Kekristenan" ( bahasa Yunani: Χρῑστῐᾱνισμός, Krīstiānismós) pertama kali dipakai Ignasius dari Antiokhia di dalam surat-suratnya yang ditulis sekitar tahun 100 Masehi. [28] Keyakinan Ada banyak perbedaan tafsir dan pandangan mengenai Alkitab dan Tradisi Tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah yang merupakan landasan agama Kristen.

[29] Perbedaan-perbedaan teologi yang tak terukunkan, serta kurangnya kata sepakat mengenai pokok-pokok iman Kristen, menyebabkan umat Kristen Katolik, Ortodoks dan Protestan sering kali tidak mengakui umat dari denominasi-denominasi Kristen tertentu sebagai sesama orang Kristen. [30] Syahadat Syahadat Nikea Ikhtisar dari maklumat doktrin atau ungkapan keyakinan agama Kristen disebut syahadat (dari bahasa bahasa Arab: الشهادة‎‎, asy-syahadah, yang berarti "kesaksian") atau kredo (dari bahasa Latin credo, yang berarti "aku percaya"); umat Kristen Protestan di Indonesia lazimnya menggunakan istilah "pengakuan iman" (terjemahan dari istilah khas Protestan dalam bahasa Latin, confessio fidei).

Syahadat-syahadat agama Kristen mula-mula disusun sebagai rumusan ayat-ayat upacara pembaptisan, yang di kemudian hari dijabarkan lebih luas lagi sewaktu terjadi sengketa Kristologi pada abad ke-4 dan ke-5, sehingga akhirnya menjadi rumusan-rumusan ungkapan iman. Banyak denominasi Protestan Injili menolak syahadat sebagai ungkapan iman yang definitif, bahkan meskipun mereka setuju dengan sebagian atau seluruh isi syahadat itu.

Denominasi-denominasi Protestan Baptis bersikukuh menjadi kaum tak bersyahadat, "yakni tidak berusaha menetapkan pengakuan-pengakuan iman yang bersifat otoritatif dan mengikat sebagai pegangan bersama." [31] :hlm.111 Golongan lain yang juga menolak syahadat adalah denominasi-denominasi Protestan yang lahir dari Gerakan Restorasi di Amerika Serikat pada awal abad ke-19.

[32] [33] :14–15 [34] :123 Sebuah ikon Kristen Timur yang menampilkan sosok Kaisar Konstantinus Agung, didampingi para Bapa Konsili Nikea I (325 M), memegang naskah Syahadat Nikea-Konstantinopel tahun 381 M Syahadat Para Rasul adalah butir-butir ungkapan iman Kristen yang paling berterima.

Syahadat ini digunakan oleh sejumlah denominasi Kristen, baik untuk keperluan liturgi (peribadatan) maupun untuk keperluan katekese (pengajaran), sebagaimana yang jelas terlihat di Gereja-Gereja berliturgi dalam tradisi Kristen Barat, antara lain Gereja Katolik Ritus Latin, gereja-gereja Lutheran, gereja-gereja Anglikan, dan Gereja Ortodoks Ritus Barat.

Syahadat ini juga digunakan oleh gereja-gereja Presbiterian, gereja-gereja Metodis, dan gereja-gereja Kongregasional. Inti sari dari Syahadat Para Rasul, yang disusun antara abad ke-2 dan ke-9 ini, adalah ajaran-ajaran mengenai Tritunggal dan Allah Sang Mahapencipta.

Tiap-tiap ajaran dalam syahadat ini dapat ditelusuri asal-usulnya sampai ke pernyataan-pernyataan yang muncul pada Zaman Apostolik (masa hidup rasul-rasul Kristus). Syahadat ini tampaknya digunakan sebagai semacam ringkasan ajaran agama Kristen bagi para calon penerima baptisan di gereja-gereja Kota Roma.

[35] Pokok-pokok keyakinan dalam Syahadat Para Rasul adalah: • Percaya akan Allah Bapa, Yesus Kristus sebagai Putra Allah, dan Roh Kudus • Percaya bahwa Kristus telah wafat, turun ke alam barzah, bangkit, dan naik ke surga • Percaya akan kekudusan Gereja dan persekutuan orang-orang kudus • Percaya akan kedatangan Kristus kali kedua, hari penghakiman, dan keselamatan umat beriman.

Syahadat Nikea disusun dengan tujuan utama melawan paham Arianisme dalam penyelenggaraan Konsili Nikea pada 325 M dan Konsili Konstantinopel pada 381 M, [36] [37] kemudian disahkan menjadi syahadat Kristen sejagat oleh Konsili Efesus I pada 431 M.

[38] Rumusan Kalsedon atau Syahadat Kalsedon disusun dalam penyelenggaraan Konsili Kalsedon pada 451. [39] Syahadat yang ditolak oleh Gereja Ortodoks Oriental ini [40] mengajarkan bahwa Kristus "dikenal dalam dua kodrat yang tak tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah, tak terubahkan, tak terbagi, dan tak terpisahkan," satu kodrat ilahi dan satu kodrat insani, yang masing-masing sempurna adanya, namun juga sempurna manunggal dalam satu pribadi. [41] Syahadat Atanasius, yang diterima di Gereja Barat sebagai syahadat yang setaraf dengan Syahadat Nikea dan Syahadat Kalsedon, berisi kalimat "bahwasanya kami menyembah satu Allah dalam ketritunggalan, dan ketritunggalan dalam keesaan; tanpa menyama-nyamakan pribadi maupun membeda-bedakan hakikat." [42] Sebagian besar umat Kristen ( Katolik, Ortodoks Timur, Ortodoks Oriental, maupun Protestan) menerima pemakaian syahadat, dan menggunakan sekurang-kurangnya salah satu dari syahadat-syahadat di atas.

[43] Yesus Lihat pula: Kristus Asas utama agama Kristen adalah kepercayaan pada Yesus sebagai Putra Allah dan Mesias (Kristus). Umat Kristen percaya bahwa Yesus, selaku Mesias, diurapi oleh Allah tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah juru selamat umat manusia, dan yakin bahwa Yesus datang ke dunia sebagai penggenapan nubuat tentang Mesias yang termaktub dalam Alkitab Perjanjian Lama.

tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah

Konsep Mesias dalam agama Kristen pada dasarnya berbeda dari konsep Mesias dalam agama Yahudi. Inti dari keyakinan Kristen adalah bahwasanya dengan percaya dan menerima wafat dan kebangkitan Yesus, umat manusia yang berdosa dapat dirukunkan kembali dengan Allah, dan dengan demikian beroleh tawaran keselamatan dan janji hidup kekal.

[44] Meskipun ada berbagai macam perbedaan pandangan teologi mengenai kodrat Yesus pada abad-abad permulaan sejarah agama Kristen, pada umumnya umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah penjelmaan Allah dan adalah " Allah sejati sekaligus manusia sejati" (atau seutuhnya ilahi dan seutuhnya insani). Karena menjelma menjadi manusia yang seutuhnya, maka Yesus juga mengalami sakit derita dan godaan hidup selayaknya seorang manusia fana, namun tidak berbuat dosa.

Sebagai Allah yang seutuhnya, Yesus hidup kembali sesudah wafat. Menurut Alkitab Perjanjian Baru, Yesus bangkit dari antara orang mati, [45] naik ke surga, duduk di sebelah kanan Sang Bapa, [46] dan pada akhirnya akan datang kembali ( Kisah Para Rasul 1:9–11) untuk menggenapi nubuat-nubuat selebihnya yang berkaitan dengan Mesias, yakni kebangkitan orang mati, penghakiman terakhir, dan pendirian Kerajaan Allah.

Menurut Injil Matius dan Injil Lukas, Yesus dikandung berkat kuasa Roh Kudus, dan dilahirkan oleh Perawan Maria. Hanya sedikit saja kisah masa kanak-kanak Yesus yang diriwayatkan dalam injil-injil sahih, namun ada pula injil-injil tentang masa kanak-kanak Yesus yang populer pada Abad Kuno. Sebaliknya masa tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah Yesus, teristimewa sepekan menjelang wafatnya, justru diriwayatkan secara terperinci oleh injil-injil yang terdapat dalam kumpulan kitab suci Perjanjian Baru, karena masa-masa tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah yang diyakini paling penting. Riwayat-riwayat Alkitab tentang karya pelayanan Yesus meliputi peristiwa pembaptisannya, mukjizat-mukjizatnya, khotbah-khotbahnya, ajaran-ajarannya, serta sikap dan perbuatannya.

Wafat dan kebangkitan Penyaliban, gambaran wafat Yesus di kayu salib, lukisan karya Diego Velázquez, abad ke-17 Bagi umat Kristen, kebangkitan Yesus adalah batu penjuru iman mereka ( 1 Korintus 15) dan peristiwa terpenting dalam sejarah. [47] Di antara sekian banyak keyakinan Kristen, wafat dan kebangkitan Yesus adalah dua peristiwa utama yang melandasi sebagian besar doktrin dan teologi Kristen. [48] Menurut Alkitab Perjanjian Baru, Yesus disalibkan, wafat secara jasmaniah, dimakamkan, dan bangkit dari antara orang mati tiga hari kemudian ( Yohanes 19:30–31, Markus 16:1, Markus 16:6).

Alkitab Perjanjian Baru meriwayatkan beberapa peristiwa penampakan diri Yesus pascabangkit kepada kedua belas rasul dan murid-muridnya, termasuk peristiwa penampakan yang disaksikan oleh "lebih dari lima ratus orang saudara sekaligus" ( 1 Korintus 15:6), sebelum kenaikan Yesus ke surga.

Wafat dan kebangkitan Yesus diperingati oleh umat Kristen dalam semua ibadat, dan diperingati secara lebih khusus selama Pekan Suci (sudah termasuk Hari Jumat Agung dan Hari Minggu Paskah). Wafat dan kebangkitan Yesus lazimnya dianggap sebagai peristiwa-peristiwa terpenting dalam teologi Kristen, salah satu sebabnya adalah karena peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa Yesus berkuasa atas hidup dan mati, dan oleh karena itu berwenang dan berkuasa untuk menganugerahkan hidup kekal kepada umat manusia.

[49] Gereja-Gereja Kristen mengakui dan mengajarkan riwayat Perjanjian Baru mengenai kebangkitan Yesus dengan segelintir pengecualian. [50] Beberapa pengkaji modern menjadikan kepercayaan para pengikut Yesus akan kebangkitannya sebagai titik tolak dalam menetapkan kesinambungan antara sosok Yesus selaku tokoh sejarah dan sosok Yesus dalam pewartaan Gereja perdana. [51] Segolongan umat Kristen liberal tidak mengakui kebangkitan jasmaniah secara harfiah, [52] [53] dan menganggap riwayat kebangkitan Yesus sekadar sebagai mitos yang kaya akan perlambang dan bermanfaat bagi pertumbuhan rohani.

Argumen-argumen terkait keyakinan akan wafat dan kebangkitan Yesus muncul dalam banyak debat keagamaan dan dialog-dialog lintas agama. [54] Rasul Paulus, salah seorang pemeluk perdana sekaligus misionaris agama Kristen, pernah menulis bahwa "andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu" ( 1 Korintus 15:14).

[55] Keselamatan Artikel utama: Keselamatan (Kristen) Sebagaimana orang Yahudi dan orang Romawi penyembah berhala pada zamannya, Rasul Paulus percaya bahwa korban persembahan berkhasiat menciptakan ikatan kekerabatan baru, menyucikan, dan mendatangkan kehidupan kekal. [56] Bagi Paulus, korban persembahan yang diperlukan adalah wafat Yesus. Bangsa-bangsa lain, yang berkat pengorbanan nyawa Yesus telah menjadi "milik kepunyaan Kristus", juga adalah keturunan Abraham dan "berhak menerima janji Allah", sama seperti bangsa Israel ( Galatia 3:29).

[57] Allah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati juga mengaruniakan kehidupan baru bagi "tubuh fana" umat Kristen dari bangsa-bangsa lain, yang bersama-sama dengan bangsa Israel telah menjadi "anak-anak Allah", dan oleh karena itu tidak lagi "hidup menurut daging" ( Roma 8:9,11,16).

[56] Gereja-gereja modern cenderung lebih memusatkan perhatiannya pada permasalahan tentang bagaimana umat manusia dapat diselamatkan dari keadaan berdosa dan maut yang universal sifatnya itu, daripada permasalahan tentang bagaimana orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain dapat menjadi anggota keluarga Allah.

Menurut doktrin Katolik maupun Protestan, keselamatan datang berkat pengorbanan nyawa Yesus menggantikan umat manusia dan berkat kebangkitannya. Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan tidak terwujud tanpa adanya kesetiaan di pihak umat Kristen; orang-orang yang telah bertobat dan hendak menjadi pengikut Kristus harus hidup menurut prinsip-prinsip cinta kasih, dan sepatutnya harus dibaptis.

[58] [59] Martin Luther mengajarkan bahwa baptisan diperlukan demi beroleh keselamatan, akan tetapi gereja Lutheran dan gereja-gereja Protestan lainnya pada zaman modern cenderung mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah yang diperoleh seseorang berkat kasih karunia Allah, yang kadang-kadang didefinisikan sebagai "kerahiman tanpa pandang kelayakan", bahkan di luar dari baptisan.

Umat Kristen berbeda pandangan mengenai sejauh mana keselamatan seseorang telah ditakdirkan sejak semula oleh Allah. Teologi Kalvinis memberi penekanan khusus pada kasih karunia dengan mengajarkan bahwa tiap-tiap orang sama sekali tidak mampu membebaskan diri sendiri dari dosa, akan tetapi kasih karunia yang menguduskan itu tak terelakkan.

[60] Sebaliknya umat Kristen Katolik, Ortodoks, dan Protestan Arminian percaya bahwa pelaksanaan kehendak bebas diperlukan untuk beriman pada Yesus. [61] Tritunggal Tritunggal adalah keyakinan bahwa Allah itu esa dalam tiga pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. [62] Istilah "Tritunggal" mengacu pada ajaran bahwa Allah yang esa [63] terdiri atas tiga pribadi berlainan yang serentak ada secara kekal, yakni Bapa, Putra (menjelma menjadi Yesus Kristus), dan Roh Kudus.

Adakalanya ketiga pribadi ini bersama-sama disebut sebagai Keilahian ( bahasa Yunani: θειότης, Teiotēs; bahasa Latin: Divinitas), [64] [65] [66] walau tak ada satu pun istilah yang digunakan dalam Alkitab untuk membahasakan gagasan Keilahian yang manunggal.

[67] Syahadat Atanasius, salah satu ungkapan perdana dari keyakinan Kristen, menjelaskannya dengan kalimat "Sang Bapa adalah Allah, Sang Putra adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah, akan tetapi bukan ada tiga Allah melainkan satu Allah." [68] Tiga pribadi ini berbeda satu sama lain: Sang Bapa tidak bersumber, Sang Putra diperanakkan oleh Tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah Bapa, dan Roh Kudus keluar dari Sang Bapa. Sekalipun berbeda, ketiga-tiganya tak terpisahkan satu sama lain, baik dalam keberadaan maupun dalam berkarya. Sebagian umat Kristen juga percaya bahwa Allah tampil sebagai Sang Bapa pada masa Perjanjian Lama, tampil sebagai Sang Putra pada masa Perjanjian Baru, dan tampil sebagai Roh Kudus pada masa kini, namun tetap saja Allah hadir pada ketiga masa ini sebagai tiga pribadi.

[69] Meskipun demikian, ada keyakinan Kristen tradisional bahwa Sang Putralah yang tampil dalam Perjanjian Lama, karena bilamana Tritunggal digambarkan dalam seni rupa, Sang Putra lazimnya digambarkan dengan ciri khusus, yakni dengan praba bertanda salib yang melambangkan Kristus, dan sosok dengan ciri seperti inilah yang ditampilkan sebagai rupa Allah dalam penggambaran Taman Eden, yakni sosok penjelmaan Allah yang baru mengejawantah di kemudian hari.

Pada sejumlah sarkofagus umat Kristen perdana, gambar sosok Sang Logos dicirikan dengan janggut, "yang membuatnya terlihat sudah lanjut usia, bahkan terkesan prawujud (ada mendahului zamannya)." [70] Tritunggal adalah doktrin hakiki dari agama Kristen arus utama.

Jauh sebelum Syahadat Nikea dirumuskan pada 325 M, agama Kristen sudah mengajarkan [71] misteri hakikat ketritunggalan Allah sebagai suatu ungkapan iman normatif.

Menurut Roger E. Olson dan Christopher Hall, melalui doa, tafakur, kajian dan praktik, komunitas Kristen menyimpulkan "bahwa Allah mestilah wujud sebagai suatu kemanunggalan maupun ketritunggalan", dan mengundangkan kesimpulan ini dalam konsili oikumene pada penghujung abad ke-4. [72] [73] Menurut doktrin ini, Allah tidak terbagi-bagi dalam arti tiap-tiap pribadi merupakan sepertiga dari keseluruhan diri Allah; sebaliknya, tiap-tiap pribadi dianggap sebagai Allah yang seutuhnya (baca perikoresis).

Perbedaannya terletak dalam hubungan antarpribadi, Sang Bapa tidak bersumber; Sang Putra diperanakkan oleh Sang Bapa; Roh Kudus keluar dari Sang Bapa dan (dalam teologi Gereja Barat) dari Sang Putra. Sekalipun hubungannya berbeda, tiap-tiap "pribadi" ini kekal dan mahakuasa. Sekte-sekte Kristen seperti Universalisme Unitarian, Saksi Yehuwa, Gereja Mormon, dan sekte-sekte lainnya tidak menganut paham-paham Tritunggal semacam ini.

Kata Latin " trias", cikal bakal dari kata " trinitas", yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "tritunggal", pertama kali muncul dalam karya-karya tulis Teofilus dari Antiokhia. Teofilus menulis tentang "Ketritunggalan Allah (Sang Bapa), Firman-Nya (Sang Putra), dan Hikmat-Nya (Roh Kudus)". [74] Istilah ini mungkin saja telah digunakan sebelum zaman Teofilus.

Sesudah Teofilus, kata ini muncul kembali dalam karya-karya tulis Tertulianus. [75] [76] Pada abad berikutnya, kata ini menjadi umum dipergunakan, dan sering muncul dalam karya tulis Origenes. [77] Paham Tritunggal Artikel utama: Tritunggal Penganut paham tritunggal atau kaum trinitarianisme adalah sebutan bagi umat Kristen yang percaya pada konsep tritunggal. Hampir semua denominasi Kristen menganut paham tritunggal.

Sekalipun kata "tritunggal" tidak termaktub dalam Alkitab, para teolog telah mengembangkan istilah dan konsep ini semenjak abad ke-3 untuk memudahkan orang memahami ajaran-ajaran Perjanjian Baru mengenai Allah sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Semenjak saat itu pula, para teolog Kristen dengan cermat menegaskan bahwa tritunggal bukan berarti ada tiga Allah (bidah antitritunggal Triteisme), juga bukan berarti tiap-tiap hipostasis dari Tritunggal adalah sepertiga dari satu Allah yang tak terhingga (bidah parsialisme), dan bukan pula berarti Sang Putra dan Roh Kudus adalah makhluk ciptaan yang derajatnya di bawah Sang Bapa (bidah Arianisme).

Sebaliknya, Trinitas justru didefinisikan sebagai Allah Yang Maha Esa Dalam Tiga Pribadi. [78] Paham Antitritunggal Artikel utama: Anti-Tritunggal Antitritunggal atau antitrinitarianisme (atau nontrinitarianisme) mengacu pada teologi yang menolak doktrin Tritunggal. Berbagai pandangan antitritunggal, semisal adopsionisme atau modalisme, sudah muncul semenjak permulaan sejarah agama Kristen, dan telah menjadi pemicu sengketa Kristologi.

[79] Paham antitritunggal kembali muncul pada abad ke-11 sampai abad ke-13 dalam ajaran gnostik kaum Katari, pada abad ke-16 di kalangan jemaat-jemaat berpaham unitarian yang terbentuk semasa Reformasi Protestan, [80] pada Zaman Pencerahan abad ke-18, dan pada abad ke-19 di kalangan jemaat-jemaat Protestan yang terbentuk semasa Kebangunan Rohani II.

Kitab Suci Alkitab adalah Kitab Suci agama Kristen Sama seperti agama-agama lain, agama Kristen juga memiliki beragam pemeluk dengan beragam keyakinan dan penafsiran Kitab Suci. Dalam agama Kristen, kumpulan kitab-kitab kanonik, yakni Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, diyakini sebagai Firman Allah yang terilhamkan. Menurut pandangan tradisional mengenai ilham ini, Allah berkarya sedemikian rupa melalui para pujangga insani sehingga para pujangga ini dapat menuliskan hal-hal yang hendak diwahyukan Allah.

Perkataan Yunani dalam 2 Timotius 3:16 yang mengacu pada ilham ilahi ini adalah teopneustos, yang secara harfiah berarti "diembuskan Allah". [81] Sebagian kalangan percaya bahwa ilham ilahi membuat Alkitab yang ada sekarang ini bebas dari kesalahan. Kalangan lain percaya bahwa Alkitab bebas dari kesalahan dalam naskah-naskah aslinya saja, walau tak satu pun naskah asli Alkitab yang masih ada sampai sekarang.

Ada pula kalangan yang percaya bahwa hanya Alkitab dalam terjemahan tertentu saja yang bebas dari kesalahan, misalnya Alkitab Versi Raja James. [82] [83] [84] Pandangan lain yang tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah kaitannya dengan keyakinan ini adalah infalibilitas Alkitab atau sifat bebas-salah-terbatas dari Alkitab, yakni pandangan yang mengatakan bahwa Alkitab bebas dari kesalahan selaku tuntunan menuju keselamatan, namun mungkin saja mengandung kesalahan sehubungan dengan hal-hal tertentu seperti sejarah, geografi, atau ilmu pengetahuan.

Kitab-kitab yang diakui sebagai bagian dari Alkitab oleh Gereja Ortodoks, Gereja Katolik, dan gereja-gereja Protestan agak bervariasi, sementara umat Yahudi hanya mengakui kesahihan Alkitab Ibrani (kumpulan pustaka dalam Alkitab yang ditulis dalam bahasa Ibrani); meskipun demikian, ada banyak kitab yang diakui kesahihannya oleh semua pihak. Variasi-variasi dalam daftar kitab yang dianggap sahih ini merupakan cerminan dari rentang tradisi dan konsili-konsili yang pernah diselenggarakan sehubungan dengan hal ini.

Tiap-tiap versi daftar Kitab Suci Perjanjian Lama selalu memuat kumpulan Tanak ( Taurat- Nabi- Kitab), yakni Alkitab Ibrani atau kumpulan pustaka yang dianggap sahih oleh umat Yahudi. Selain kumpulan Tanak, Gereja Katolik dan Ortodoks menganggap kumpulan pustaka Deuterokanonika (kumpulan sahih kedua) sebagai kitab-kitab yang sahih dan layak dijadikan bagian dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Kitab-kitab Deuterokanonika termuat dalam Alkitab Septuaginta (terjemahan perdana Alkitab Yahudi dalam bahasa Yunani), namun dianggap apokrif (daif) oleh kalangan Protestan.

Meskipun demikian, kitab-kitab ini dianggap sebagai dokumen-dokumen sejarah penting, yang dapat membantu orang memahami kosakata, tata bahasa, dan tata kalimat yang lazim digunakan pada zaman penulisannya. Beberapa versi terbitan Alkitab memuat kitab-kitab Deuterokanonika dan bagian-bagian dari kitab sahih yang dianggap apokrif di kalangan Protestan pada bagian tersendiri di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

[85] Kumpulan Kitab Suci Perjanjian Baru, yang ditulis dalam bahasa Yunani Koine (bahasa Yunani pasaran), terdiri atas 27 kitab yang diakui kesahihannya oleh semua denominasi Kristen. Kajian modern telah memunculkan berbagai isu terkait Alkitab. Meskipun diagung-agungkan oleh banyak kalangan penutur bahasa Inggris karena keindahan prosanya yang memukau, Alkitab Versi Raja James sesungguhnya diterjemahkan dari Alkitab Yunani Erasmus yang disusun "atas dasar satu saja naskah salinan abad ke-12, yakni salah satu dari naskah-naskah terburuk yang masih ada sampai sekarang".

[86] Banyak kajian yang dilakukan selama beberapa ratus tahun terakhir telah membanding-bandingkan berbagai naskah yang berlainan guna mereka-ulang naskah asli. Isu lain yang juga dimunculkan adalah anggapan bahwa sejumlah kitab mengandung ayat-ayat palsu. Anjuran kepada kaum perempuan untuk "berdiam diri dan bersikap patuh" dalam 1 Timotius 2 [87] diduga oleh banyak kalangan sebagai ayat palsu yang disusupkan salah seorang pengikut Paulus ke dalam Alkitab. Ayat serupa dalam 1 Korintus 14, [88] yang diduga sebagai buah pikiran Paulus, muncul di tempat-tempat yang berlainan dalam naskah-naskah yang berlainan pula, dan diduga mula-mula adalah catatan pinggir yang dibuat oleh seorang penyalin.

[86] Ayat-ayat lain dalam 1 Korintus, misalnya 1 Korintus 11:2–16 yang berisi anjuran bagi kaum perempuan untuk menudungi rambut "bilamana berdoa atau bernubuat", [89] justru bertentangan dengan anjuran bagi mereka untuk berdiam diri selama ibadat berlangsung.

Isu terakhir terkait Alkitab adalah cara menyeleksi kitab-kitab untuk dimasukkan ke dalam kumpulan Kitab Suci Perjanjian Baru. Injil-injil lain telah ditemukan, semisal injil-injil yang ditemukan di dekat Nag Hammâdi pada 1945, dan meskipun sebagian dari nas-nas ini berbeda dari nas-nas yang lumrah digunakan umat Kristen, perlu dipahami bahwa beberapa di antara materi injil temuan baru ini mungkin sekali berasal dari masa yang sama, atau bahkan mendahului masa penulisan injil-injil Perjanjian Baru.

Nas-nas inti dari Injil Tomas, pada khususnya, diperkirakan ditulis seawal-awalnya pada tahun 50 M (meskipun beberapa pengkaji menyanggah penetapan batas awal perkiraan tarikh penulisan Injil Tomas ini), [90] dan jika benar demikian maka injil ini dapat menawarkan suatu cara pandang baru dalam mencermati nas-nas injil yang mendasari injil-injil kanonik, yakni nas-nas yang terdapat dalam Injil Lukas 1:1–2.

Injil Tomas memuat banyak nas yang mirip dengan nas injil-injil kanonik, misalnya saja ayat 113 ("Kerajaan Bapa tersebar di muka bumi, akan tetapi orang-orang tidak melihatnya"), [91] yang mengingatkan orang pada ayat-ayat Injil Lukas ( Lukas 17:20–21) [92] [93] dan Injil Yohanes, dengan peristilahan dan pendekatan yang mengesankan pada apa yang di kemudian hari disebut sebagai ajaran Gnostik, yang belakangan ini telah dianggap mungkin saja merupakan tanggapan terhadap Injil Tomas, yakni injil yang umumnya dilabeli proto-Gnostik.

Para pengkaji kini sedang menjajaki hubungan dalam Gereja perdana antara spekulasi dan pengalaman mistik di satu pihak, dan upaya pencarian tata tertib Gereja di lain pihak, dengan menelaah nas-nas temuan baru, dengan meneliti nas-nas kanonik secara lebih seksama. dan dengan menguji tahapan yang dilalui nas-nas Kitab Suci Perjanjian Baru sehingga berstatus kanonik.

Tafsir Katolik Basilika Santo Petrus, Kota Vatikan, gedung gereja terbesar di dunia, sekaligus salah satu lambang Gereja Katolik Ada dua mazhab eksegesis (tafsir ayat-ayat suci) yang muncul dan berkembang pada Abad Kuno, satu di Aleksandria, dan satu lagi di Antiokhia. Tafsir mazhab Aleksandria, sebagaimana yang dicontohkan oleh Origenes, cenderung menelaah makna kiasan (makna yang tersirat) dari ayat-ayat Alkitab, sementara tafsir mazhab Antiokhia menelaah makna harfiahnya (makna yang tersurat), dengan keyakinan bahwa makna-makna lain (disebut teoria) hanya boleh diterima jika didasarkan atas makna harfiah.

[94] Teologi Katolik membedakan makna yang dikandung ayat-ayat Alkitab menjadi dua macam, yakni makna harfiah dan makna rohaniah. [95] Makna harfiah adalah arti dari kata-kata yang digunakan dalam susunan ayat-ayat suci, sementara makna rohaniah masih dibedakan lagi menjadi: • Makna alegori (kiasan), yang mencakup tipologi.

Sebagai contoh, kisah terbelahnya Laut Merah dipahami sebagai "tipe" (lambang) atau kiasan dari pembaptisan ( 1 Korintus 10:2). • Makna moral (kesusilaan), yakni hikmah atau pelajaran budi pekerti yang terkandung dalam Kitab Suci.

• Makna anagogi (kebatinan), yang berkaitan dengan eskatologi (akhir zaman), kekekalan, dan hari kiamat. Sehubungan dengan eksegesis, menurut pedoman tafsir yang benar, teologi Katolik menegaskan bahwa: • Semua makna lain dari ayat-ayat Kitab Suci wajib didasarkan atas makna harfiahnya. [96] [97] • Kesejarahan injil-injil harus diyakini secara mutlak dan tunak.

tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah

{INSERTKEYS} [98] • Kitab Suci semestinya dibaca dalam lingkup "tradisi hidup segenap Gereja". [99] • "Tugas menafsirkan Kitab Suci telah dipercayakan kepada para uskup dalam persekutuan dengan pengganti Petrus, Uskup Roma". [100] Tafsir Protestan Umat Protestan berpegang pada keyakinan-keyakinan asasi yang digagas oleh Martin Luther untuk melawan Gereja Katolik, yakni sola scriptura (dengan Kitab Suci belaka), sola fide (oleh iman belaka), sola gratia (berkat kasih karunia belaka), solus Christus (melalui Kristus belaka), dan soli Deo gloria (demi kemuliaan Allah belaka).

Kejelasan Kitab Suci Umat Kristen Protestan yakin bahwa Alkitab adalah wahyu yang swadaya, kewenangan tertinggi di atas seluruh doktrin Kristen, dan menyingkap seluruh kebenaran yang diperlukan demi keselamatan.

Keyakinan ini terkenal dengan sebutan sola scriptura. [101] Sudah menjadi ciri khas bagi umat Protestan untuk meyakini bahwa umat awam mampu memahami Kitab Suci secara memadai, baik karena Kitab Suci itu sendiri sudah jelas (atau "lugas"), berkat pertolongan Roh Kudus, maupun karena kedua-duanya. Martin Luther percaya bahwa tanpa pertolongan Allah, Kitab Suci akan "terselubungi kegelapan".

[102] Ia menghendaki adanya "satu pemahaman Kitab Suci yang bersifat definitif dan sederhana". [102] Yohanes Kalvin pernah menulis bahwa "barang siapa tidak menolak bimbingan Roh Kudus, ia akan menemukan cahaya terang dalam Kitab Suci".

[103] Pengakuan Iman Helvetika kedua, yang disusun oleh gembala jemaat Kalvinis di Zürich (pengganti Hulderikus Zwingli), diadopsi sebagai maklumat doktrin oleh sebagian besar jemaat Kalvinis di Eropa. [104] Makna asali yang sejati dari Kitab Suci Umat Protestan menitikberatkan makna dari kata-kata yang termaktub dalam Kitab Suci. Cara tafsir yang mementingkan arti kata dalam ayat-ayat suci ini disebut metode historis-gramatikal (metode kesejarahan-ketatabahasaan).

[105] Metode historis-gramatikal merupakan suatu upaya di bidang Hermeneutika Alkitab (ilmu tafsir Alkitab) untuk menemukan makna mula-mula dan maksud yang sesungguhnya dari nas-nas Kitab Suci. [106] Makna asali dan maksud sejati dari nas Kitab Suci diperoleh melalui penelaahan ayat dari segi tata bahasa dan tata kalimat, latar belakang sejarah, ragam sastra, serta pertimbangan-pertimbangan teologi (kanon Alkitab). [107] Metode historis-gramatikal membedakan antara satu makna asali dan arti penting dari nas Alkitab.

Arti penting dari suatu nas Alkitab mencakup penggunaan atau penerapan nas tersebut. Ayat Alkitab dianggap hanya memiliki satu arti atau makna tunggal. Sebagaimana yang diutarakan oleh Milton S. Terry, "salah satu prinsip dasar dari eksposisi historis-gramatikal adalah bahwasanya kata-kata dan kalimat-kalimat hanya memiliki satu signifikansi dalam satu koneksi yang sama. Bilamana kita mengabaikan prinsip ini, di saat itu pula kita hanyut di lautan ketidakpastian dan penerkaan." [108] Jelasnya, metode tafsir historis-gramatikal berlainan dengan penentuan arti penting dari suatu ayat yang ditafsirkan.

Jika disatukan, kedua-duanya membentuk pengertian dari istilah hermeneutika Alkitab. [106] Sejumlah mufasir Protestan menggunakan pendekatan tipologi.

[109] Eklesiologi Biara Khor Virap yang dibangun pada abad ke-7 di bawah bayang-bayang Gunung Ararat. Armenia adalah negara pertama yang menjadikan agama Kristen sebagai agama negara, yakni pada 301 M. [110] Pembahasan mengenai akhir dari segala sesuatu, baik akhir hayat setiap insan, akhir zaman, maupun akhir dunia, pada dasarnya adalah eskatologi Kristen, yakni kajian mengenai takdir umat manusia sebagaimana yang diwahyukan dalam Alkitab.

Pokok-pokok bahasan utama dalam eskatologi Kristen adalah zaman kesusahan besar, maut dan akhirat, pengangkatan, kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, kebangkitan orang mati, surga dan neraka, milenialisme (keyakinan tentang kerajaan seribu tahun), pengadilan terakhir, hari kiamat, serta langit yang baru dan bumi yang baru. Umat Kristen percaya bahwa kedatangan Kristus untuk kedua kalinya akan terjadi pada akhir zaman, sesudah kurun waktu penganiayaan dahsyat (zaman kesusahan besar).

Semua orang yang telah wafat akan dibangkitkan secara jasmaniah dari kematian untuk menjalani pengadilan terakhir. Yesus akan mendirikan Kerajaan Allah yang paripurna untuk menggenapi nubuat-nubuat dalam Kitab Suci. [111] [112] Maut dan akhirat Sebagian besar umat Kristen percaya bahwa umat manusia akan menghadap mahkamah ilahi dan diganjari hidup kekal atau laknat kekal.

Kepercayaan tentang mahkamah ilahi ini meliputi keyakinan akan penghakiman umum atas segenap umat manusia manakala orang-orang mati dibangkitkan, serta keyakinan (dianut oleh umat Kristen Katolik, [113] [114] Ortodoks, [115] [116] dan sebagian besar denominasi Protestan) akan penghakiman khusus atas tiap-tiap jiwa manakala yang bersangkutan mengalami kematian jasmani. Dalam ajaran Katolik, orang-orang yang wafat dalam keadaan berahmat, yakni tanpa dosa berat yang memisahkannya dari Allah namun belum sepenuhnya bersih dari akibat-akibat dosa, akan dimurnikan di purgatorium (alam pemurnian) sehingga mencapai kekudusan dan layak masuk ke hadirat Allah.

[117] Orang-orang yang telah mencapai kekudusan disebut orang-orang kudus. [118] Beberapa denominasi Kristen, misalnya Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, menganut paham mortalisme, yakni keyakinan bahwa jiwa manusia tidak diciptakan baka, dan berada dalam keadaan tidak sadar sejak wafat sampai dengan dibangkitkan. Umat Kristen penganut paham mortalisme ini juga menganut paham anihilasionisme, yakni keyakinan bahwa selepas pengadilan terakhir, orang-orang jahat akan lenyap, bukannya menanggung siksaan kekal.

Umat Saksi Yehuwa juga menganut paham serupa. [119] Ibadat Hari raya Hari raya Kekristenan ditetapkan berdasarkan astronomi. Dua diantaranya ialah natal dan paskah. Paskah dirayakan pada pekan pertama ketika Bulan purnama terlewati. Kondisi ini tercapai ketika eukinoks musim semi. Sedangkan natal dirayakan pada hari pertama dari titik balik Matahari kembali terbit di musim dingin dengan arah yang berlawanan dalam pandangan di langit.

[120] Contoh benda-benda rohani Katolik— Alkitab, salib, dan rosario. Dalam karya tulisnya, Pembelaan Pertama ( ca. 150 M), Yustinus Martir menggambarkan jalannya liturgi (upacara ibadat berjemaah) Kristen dalam penjelasannya mengenai agama Kristen kepada Kaisar Antoninus Pius. Penggambarannya ini masih relevan dengan tatanan dasar upacara peribadatan Kristen. Yustinus Martir memberi gambaran sebagai berikut: Dan pada hari yang disebut hari Minggu, semua orang yang tinggal di kota-kota maupun di desa-desa berhimpun di satu tempat, dan riwayat-riwayat para rasul atau tulisan-tulisan para nabi dibacakan, sepanjang waktu mengizinkan; lalu bilamana pembaca telah menyelesaikan tugasnya, pemimpin ibadat memberi arahan secara lisan, dan mengimbau agar hal-hal baik ini diteladani.

Kemudian kami semua berdiri bersama-sama dan berdoa, dan sebagaimana yang sudah kami katakan sebelumnya, bilamana kami selesai berdoa, roti dan anggur serta air diantarkan, dan pemimpin ibadat dengan cara yang sama mempersembahkan doa-doa dan ucapan-ucapan syukur, sesuai dengan kesanggupannya, dan para hadirin mengiyakan dengan berucap amin; dan ada pencatuan bagi tiap-tiap hadirin, dan pengambilan bagian dari yang atasnya telah dipersembahkan ucapan syukur, dan bagi orang-orang yang tidak hadir ada jatah yang diantar oleh para diakon.

Orang-orang yang mampu, dan yang rela, menyumbang sebanyak yang ia anggap layak; dan sumbangan yang terkumpul disimpan oleh pemimpin ibadat, yang menyantuni yatim piatu dan janda-janda serta orang-orang yang memerlukan santunan karena sedang sakit atau karena sebab lain, juga orang-orang yang terbelenggu dan orang-orang asing yang sedang singgah di tengah-tengah kami, singkatnya, menyantuni semua orang yang memerlukan santunan.

[121] Dari karya tulis Yustinus Martir dapat diketahui bahwa, pada masa hidupnya, umat Kristen berhimpun untuk beribadat secara berjemaah pada hari Minggu, hari kebangkitan Yesus, meskipun ada pula upacara-upacara peribadatan lain yang dilaksanakan di luar hari Minggu.

Bacaan-bacaan Kitab Suci diambil dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, teristimewa injil. Seringkali bacaan-bacaan ini ditata berurutan mengikuti suatu siklus tahunan, di dalam sebuah buku yang disebut leksionari (kumpulan bacaan). Arahan lisan dari pemimpin ibadat didasarkan atas bacaan-bacaan ini, dan disebut khotbah atau homili. Ada bermacam-macam doa berjemaah, antara lain doa ucapan syukur, doa pengakuan dosa, dan doa syafaat, yang diucapkan selama ibadat berlangsung.

Bentuk doa-doa ini juga bermacam-macam, antara lain doa yang didaraskan, doa berbalas-balasan, doa dalam hati, maupun doa yang dilantunkan. Doa Bapa Kami, atau Doa Tuhan, diucapkan secara teratur.

Grup musik kebaktian Protestan modern sedang memimpin salah satu sesi kebaktian (penyembahan) yang bergaya mutakhir Sebagian denominasi Kristen telah meninggalkan tata peribadatan tradisional ini. Di negara-negara penutur bahasa Inggris, orang sering kali membedakan upacara peribadatan menjadi kebaktian gereja " tinggi", yang bercirikan upacara yang lebih megah dan takzim, dan kebaktian gereja " rendah", namun dalam kedua-dua kategori ini pun terdapat banyak sekali variasi bentuk peribadatan.

Jemaat-jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh menyelenggarakan ibadat berjemaah pada hari Sabtu, dan ada pula jemaat-jemaat Kristen yang menyelenggarakan ibadat berjemaah tidak secara berkala (seminggu sekali).

Jemaat-jemaat Karismatik atau Pentakosta boleh saja serta-merta melakukan tindakan-tindakan tertentu selama ibadat berlangsung bilamana merasa digerakkan oleh Roh Kudus, alih-alih mengikuti suatu urut-urutan upacara yang baku.

Tindakan serta-merta ini juga mencakup berdoa secara spontan. Jemaat Quaker akan duduk berdiam diri selama ibadat berlangsung sampai digerakkan oleh Roh Kudus untuk berkata-kata.

Beberapa denominasi Protestan Injili menyelenggarakan ibadat seperti konser-konser, lengkap dengan musik rock dan pop, tari-tarian, dan penggunaan multimedia. Denominasi-denominasi yang tidak mengakui keberadaan jabatan imamat yang terpisah dari umat awam pada umumnya beribadat tanpa harus dipandu oleh seorang pemimpin ibadat yang resmi, baik karena prinsip yang dianut denominasi tersebut, maupun karena sekadar menyesuaikan penyelenggaraan ibadat dengan kebutuhan jemaat setempat.

Beberapa denominasi hanya menggunakan musik akapela, baik karena prinsip yang dianutnya (sebagai contoh, banyak jemaat dari denominasi Sidang Jemaat Kristus menolak penggunaan alat musik dalam ibadat), maupun karena tradisi (seperti di Gereja Ortodoks).

Hampir semua denominasi Kristen menyelenggarakan upacara perayaan Ekaristi (perjamuan kudus), yakni upacara pemberkatan dan pembagi-bagian roti dan anggur. Upacara ini dilakukan demi mematuhi perintah Yesus dalam Perjamuan Terakhir kepada murid-muridnya agar diperbuat guna mengenang dirinya sewaktu membagi-bagikan roti kepada mereka sambil berkata, "inilah tubuhku", dan mengedarkan cawan berisi minuman anggur sambil berkata, "inilah darahku". [122] Beberapa denominasi Kristen mempraktikkan komuni tertutup (persekutuan tertutup), sehingga hanya membagikan komuni (roti dan anggur yang sudah diberkati) kepada orang-orang yang sudah bergabung dengan denominasinya, atau kadang-kadang hanya kepada orang-orang yang sudah bergabung dengan jemaat gerejanya.

Gereja Katolik hanya membagikan komuni kepada anggota-anggotanya yang tidak dalam keadaan ber dosa berat. Sebagian besar denominasi mempraktikkan komuni terbuka, karena menurut pandangan mereka komuni adalah sarana untuk bersekutu, dan bukan persekutuan itu sendiri.

Denominasi-denominasi semacam ini mempersilahkan semua orang Kristen untuk ikut mengambil bagian. Tata ibadat dapat diubah suai pada kesempatan-kesempatan istimewa seperti pembaptisan atau pernikahan yang diselenggarakan selama ibadat berlangsung, atau pada hari-hari raya penting. Dalam peribadatan Gereja perdana, orang-orang yang belum selesai menjalani proses inisiasi (para katekumen) akan dipisahkan dari jemaat bilamana ibadat akan dilanjutkan ke bagian upacara Ekaristi.

Di banyak gereja sekarang ini, kanak-kanak dipisahkan dari orang dewasa sepanjang seluruh atau sebagian dari waktu peribadatan untuk diberi pengajaran yang sesuai dengan usia mereka. Ibadat khusus untuk kanak-kanak ini disebut Sekolah Minggu atau Sekolah Sabat (Sekolah Minggu sering kali diselenggarakan sebelum ibadat, alih-alih sewaktu ibadat berlangsung). Sakramen Dan di kalangan kami santapan ini disebut Eukaristia, yang tak seorang pun diperbolehkan ikut menyantapnya kecuali yang percaya bahwa segala sesuatu yang kami ajarkan itu benar adanya, dan yang telah dibasuh dengan pembasuhan demi penghapusan dosa, dan demi kelahiran kembali, dan yang dengan demikian menjalani hidup seturut arahan Kristus.

Karena bukan seperti roti biasa dan minuman biasa kami menyantapnya; melainkan selayaknya Yesus Kristus Juru Selamat kami, yang setelah menjadi manusia oleh Sabda Allah, memiliki daging maupun darah demi keselamatan kami, demikianlah kami diajarkan bahwa santapan yang diberkati dengan doa dari perkataannya itu, dan yang olehnya darah dan daging kami dipelihara melalui perubahan zat itu, adalah daging dan darah Yesus setelah menjadi manusia. Yustinus Martir [121] Dalam ruang lingkup keyakinan dan praktik agama Kristen, sakramen adalah ritus yang ditetapkan oleh Kristus menjadi saluran kasih karunia ilahi, dan merupakan suatu misteri suci.

Istilah "sakramen" berasal dari kata Latin, sacramentum, yang dijadikan padanan bagi kata Yunani, μυστήριον, misterion (misteri). Denominasi-denominasi Kristen berbeda pandangan sehubungan dengan ritus mana saja yang dapat disebut sakramen, dan tindakan apa saja yang diperlukan demi kesahihan sebuah sakramen. [123] Definisi fungsional yang paling lazim dari sakramen adalah suatu tanda yang bersifat lahiriah yang ditetapkan oleh Kristus sebagai saluran kasih karunia rohani yang bersifat batiniah melalui Kristus.

Dua sakramen yang paling berterima luas adalah sakramen Pembaptisan dan sakramen Ekaristi (Perjamuan Kudus). Meskipun demikian, mayoritas umat Kristen juga mengakui lima sakramen lain, yakni sakramen Penguatan (disebut Krisma di kalangan Kristen Ortodoks), sakramen Imamat ( pentahbisan), sakramen Tobat ( pengakuan dosa), sakramen Pengurapan, dan sakramen Pernikahan.

[123] Jika disatukan, sakramen-sakramen ini merupakan Ketujuh Sakramen yang diakui oleh Gereja-Gereja bertradisi Gereja Tinggi, terutama Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur, Gereja Ortodoks Oriental, gereja-gereja Katolik Independen, gereja Katolik Lama, banyak gereja Anglikan, dan sejumlah gereja Lutheran. Sebagian besar dari denominasi-denominasi Kristen yang selebihnya hanya mengakui Baptisan dan Perjamuan Kudus sebagai sakramen, sementara sejumlah denominasi Protestan, misalnya kaum Quaker, menolak teologi sakramen.

[123] Denominasi-denominasi Kristen yang meyakini bahwa ritus-ritus ini tidak mendatangkan kasih karunia, misalnya gereja Baptis, lebih suka menyebut Baptisan dan Perjamuan Kudus sebagai ordinansi daripada sebagai sakramen. Selain sakramen-samramen di atas, Gereja Negeri Timur mengakui pula dua sakramen lain sebagai ganti sakramen Pernikahan dan sakramen Pengurapan, yakni sakramen Ragi Suci (Melka) dan sakramen Tanda Salib.

[124] • Lihat pula: Kalender orang kudus Umat Kristen Katolik, Anglikan, Ortodoks Timur, dan jemaat-jemaat Protestan tradisional menata hari-hari peribadatannya sedemikian rupa sehingga membentuk satu tahun liturgi. Satu siklus liturgi tahunan ini terbagi lagi menjadi serangkaian masa. Masing-masing masa dalam tahun liturgi menonjolkan tema teologi tertentu dan tata cara beribadat tertentu yang ditunjukkan dengan berbagai macam cara menghias gereja, warna-warna paramentum dan vestimentum bagi rohaniwan, [125] nas-nas Alkitab yang dibacakan dalam ibadat, tema-tema khotbah, dan bahkan dengan berbagai macam tradisi serta praktik untuk diamalkan oleh anggota jemaat secara pribadi atau di tempat tinggalnya masing-masing.

Penanggalan liturgi Kristen di Dunia Barat disusun mengikuti siklus tahunan dari pelaksanaan ritus Romawi dalam Gereja Katolik, [125] sementara umat Kristen Timur menggunakan penanggalan-penanggalan serupa yang disusun mengikuti siklus tahunan dari pelaksanaan ritus Gereja mereka masing-masing.

Dalam penanggalan-penanggalan ini, hari-hari tertentu diistimewakan sebagai hari-hari suci, misalnya solemnitas (hari raya) untuk memperingati peristiwa-peristiwa tertentu dalam kehidupan Yesus, Maria, atau orang-orang kudus. Ada jangka-jangka waktu tertentu yang ditetapkan untuk berpuasa, misalnya masa prapaskah (masa puasa); ada hari-hari yang ditetapkan untuk memperingati peristiwa-peristiwa penting tertentu, misalnya memoria (peringatan); ada pula hari-hari yang ditetapkan untuk merayakan festum (pesta) orang-orang kudus.

Denominasi-denominasi Kristen yang tidak menggunakan penanggalan liturgi sering kali masih mempertahankan hari-hari suci tertentu sebagaimana yang ditetapkan dalam penanggalan liturgi, misalnya hari raya Natal untuk memperingati kelahiran Yesus, hari raya Paskah untuk memperingati kebangkitan Yesus, dan hari raya Pentakosta untuk memperingati turunnya Roh Kudus ke atas Gereja.

Ada pula segelintir denominasi Kristen yang sama sekali tidak memanfaatkan penanggalan liturgi. [126] Lambang Salib dan ikan adalah dua lambang Yesus Kristus yang paling umum. Huruf-huruf Yunani, ΙΧΘΥΣ, iktys (ikan), adalah singkatan dari "Ίησοῦς Χριστός, Θεοῦ Υἱός, Σωτήρ", yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "Yesus Kristus, Putra Allah, Juru Selamat". Pada umumnya agama Kristen tidak mempraktikkan anikonisme, yaitu penolakan atau pelarangan terhadap pemanfaatan berbagai macam citra, meskipun beberapa sekte Kristen Yahudi dan sejumlah denominasi Kristen modern sampai pada taraf tertentu lebih suka untuk tidak menggunakan citra-citra makhluk hidup sebagai lambang dengan alasan ketaatan pada larangan menyembah berhala dalam Dasatitah.

Salib, yakni salah satu lambang yang paling dikenal di seluruh dunia sekarang ini, digunakan sebagai salah satu lambang agama Kristen semenjak permulaan sejarah Gereja. [127] [128] Dalam karya tulisnya yang berjudul De Corona (Perihal Mahkota), Tertulianus mengemukakan bahwa sudah menjadi tradisi bagi umat Kristen untuk berulang kali menandai dahi mereka dengan tanda salib.

[129] Meskipun lambang salib sudah dikenal oleh umat Kristen perdana, krusifiks (salib dengan citra Yesus) baru mulai digunakan pada abad ke-5. [130] Di antara berbagai macam lambang yang digunakan oleh umat Kristen perdana, agaknya lambang ikanlah yang menempati posisi terpenting.

Dari peninggalan-peninggalan sejarah semisal bangunan-bangunan makam diketahui bahwa lambang ikan sangat lumrah digunakan oleh umat Kristen semenjak permulaan sejarah Gereja. Gambar ikan sudah digunakan sebagai salah satu lambang agama Kristen pada dasawarsa-dasawarsa pertama dalam abad ke-2.

[131] Kepopulerannya di kalangan umat Kristen agaknya bersumber dari sebuah singkatan terkenal yang terdiri atas lima huruf Yunani pembentuk kata iktys (ikan). Kalimat yang disingkat menjadi kata iktys ini adalah serangkai perkataan Yunani yang pendek namun dengan jelas menggambarkan fitrah Kristus sebagai pribadi yang layak disembah oleh orang-orang percaya, yakni Iesous Kristos Teou Yios Soter (Ίησοῦς Χριστός, Θεοῦ Υἱός, Σωτήρ), yang berarti Yesus Kristus, Putra Allah, Juru Selamat. [131] Lambang-lambang utama lainnya dalam agama Kristen meliputi, monogram ki-ro, burung merpati (lambang Roh Kudus), anak domba kurban (lambang pengorbanan diri Kristus), pokok anggur (melambangkan perlunya umat Kristen senantiasa terhubung dengan Kristus), dan berbagai macam lambang lain.

Semua lambang ini bersumber dari ayat-ayat Kitab Suci Perjanjian Baru. [130] Baptisan Lukisan peristiwa pembaptisan Yesus, karya Almeida Júnior Baptisan adalah tindakan ritual, dengan menggunakan air, untuk mengesahkan seseorang menjadi anggota warga Gereja.

Denominasi-denominasi Kristen berbeda keyakinan sehubungan dengan baptisan. Perbedaan yang pertama berkaitan dengan permasalahan mengenai apakah tindakan membaptis memiliki arti rohani yang penting.

Sebagian denominasi, misalnya Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur, serta sejumlah gereja Lutheran dan Anglikan, menganut doktrin baptisan demi kelahiran kembali, yang menegaskan bahwa baptisan menumbuhkan atau meneguhkan iman seseorang, dan erat kaitannya dengan keselamatan.

Denominasi-denominasi lain beranggapan bahwa baptisan semata-mata adalah suatu tindakan simbolis belaka, yakni suatu pernyataan di muka umum mengenai perubahan batiniah yang telah terjadi dalam diri seseorang, namun tidak mengandung khasiat rohaniah. Perbedaan yang kedua berkaitan dengan tata cara pelaksanaan baptisan.

Orang dapat dibaptis dengan cara imersi (celup), submersi (selam), afusi (guyur), dan aspersi (percik). Denominasi-denominasi yang percaya bahwa baptisan mengandung khasiat rohaniah lazimnya mengamalkan pula tradisi pembaptisan bayi.

[132] Semua Gereja Ortodoks mempraktikkan pembaptisan bayi, dan senantiasa membaptis dengan cara mencelupkan tubuh si penerima baptisan ke dalam air sebanyak tiga kali berturut-turut dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. [133] [134] Gereja Katolik juga mempraktikkan pembaptisan bayi, [135] biasanya dengan cara mengguyurkan air ke kepala bayi yang dibaptis seraya mendaraskan rumusan Tritunggal.

[136] Doa Artikel utama: Doa Kristen Taklimat Yesus mengenai doa dalam Khotbah di Bukit menunjukkan kurangnya minat terhadap aspek-aspek lahiriah dari doa. Kepedulian terhadap teknik-teknik berdoa dikutuk sebagai perbuatan 'syirik', sementara sikap percaya secara bersahaja pada kerahiman Allah sebagai pribadi yang kebapakan justru digiatkan ( Matius 6:5–15).

Dalam berbagai ayat Perjanjian Baru, kebebasan untuk mendekat pada Allah ini juga ditonjolkan ( Filipi 4:6, Yakobus 5:13–19). Sikap percaya diri semacam ini harus dipahami dalam lingkup keyakinan Kristen akan adanya hubungan istimewa antara orang percaya dan Kristus melalui Roh Kudus yang bersemayam di dalam dirinya. [137] Dalam tradisi-tradisi agama Kristen pada masa-masa selanjutnya, gerak-gerik tubuh tertentu ditonjolkan, termasuk gerak-gerik tubuh khas Abad Pertengahan seperti berlutut atau membuat tanda salib.

Berlutut, bersoja, dan bersujud (lihat pula poklon) sering kali dipraktikkan oleh denominasi-denominasi Kristen yang lebih tradisional. Umat Kristen di Dunia Barat acap kali berdoa sambil merapatkan kedua telapak tangan dengan ujung-ujung jari mengarah ke depan seperti dalam upacara komendasi feodal (baiat). Adakalanya digunakan pula sikap berdoa orans yang jauh lebih kuno, yakni mengangkat kedua belah tangan dengan telapan tangan menghadap ke depan, ujung-ujung jari mengarah ke atas, dan kedua siku tertekuk.

Doa syafaat adalah berdoa demi kepentingan orang lain. Ada banyak riwayat tentang doa syafaat dalam Alkitab, antara lain doa syafaat Rasul Petrus demi kesembuhan orang-orang sakit ( Kisah Para Rasul 9:40) dan doa syafaat nabi-nabi dalam Perjanjian Lama demi kepentingan orang lain ( 1 Raja-Raja 17:19–22).

Dalam Surat Yakobus, doa syafaat orang-orang percaya biasa tidak dibedakan dari doa syafaat Elia, nabi besar Perjanjian Lama ( Yakobus 5:16–18). Menurut agama Kristen, makbul tidaknya doa bergantung pada kuasa Allah, bukan pada status si pendoa. [137] Gereja purba, yang mencakup Gereja Timur maupun Gereja Barat, mengembangkan tradisi memohon syafaat orang-orang kudus (yang sudah wafat). Sampai sekarang tradisi ini masih dipraktikkan dalam Gereja Ortodoks Timur, Gereja Ortodoks Oriental, Gereja Katolik, dan sejumlah gereja Anglikan.

Meskipun demikian, gereja-gereja yang terbentuk pada zaman Reformasi Protestan menolak tradisi berdoa kepada orang-orang kudus, dengan alasan bahwa Kristus adalah satu-satunya perantara bagi umat manusia. [138] Tokoh Reformasi Protestan, Hulderikus Zwingli, mengaku pernah berdoa kepada orang-orang kudus sampai akhirnya diyakinkan oleh nas Alkitab bahwa perbuatan semacam itu adalah penyembahan berhala.

[139] Menurut Katekismus Gereja Katolik, "berdoa adalah mengarahkan akal budi dan hati kepada Allah atau meminta hal-hal baik dari Allah." [140] Buku Doa Bersama yang dipergunakan di kalangan Anglikan adalah sebuah buku pedoman tata ibadat di gereja yang memuat doa-doa, bacaan-bacaan Kitab Suci, dan sekumpulan madah atau mazmur untuk dinyanyikan. Sejarah Lembah Kadisya, Lebanon, lokasi sejumlah biara Kristen tertua di dunia Agam Kristen bermula sebagai sebuah sekte agama Yahudi di kawasan Syam, Timur Tengah, pada pertengahan abad pertama tarikh Masehi.

Selain agama Yahudi era kenisah kedua, keyakinan-keyakinan besar yang turut mempengaruhi agama Kristen perdana adalah agama Majusi dan ajaran-ajaran Gnostik. [note 2] [7] [8] [141] John Bowker berpendapat bahwa gagasan-gagasan Kristen seperti "para malaikat, kiamat, pengadilan terakhir, kebangkitan, serta surga dan neraka mendapatkan bentuk dan maknanya dari ...

kepercayaan-kepercayaan agama Majusi". [142] Agama Kristen mula-mula bertumbuh di bawah kepemimpinan kedua belas rasul, khususnya Petrus dan Paulus, yang dilanjutkan oleh para uskup [note 5] perdana yang dihormati oleh umat Kristen selaku pengganti para rasul.

Menurut Kitab Suci agama Kristen, umat Kristen sejak semula telah ditindas oleh sejumlah pemuka agama Yahudi dan Romawi, yang tidak setuju dengan ajaran-ajaran para rasul (baca Perpecahan Gereja Perdana dan Yudaisme). Penindasan ini juga dilakukan melalui pemberian berbagai macam hukuman, termasuk hukuman mati, kepada umat Kristen, seperti yang dialami oleh Stefanus ( Kisah Para Rasul 7:59) dan Yakobus bin Zebedeus ( Kisah Para Rasul 12:2).

Penindasan-penindasan berskala besar dilakukan oleh pemerintah Kekaisaran Romawi, dan pertama kali terjadi pada tahun 64, manakala Kaisar Nero mengambinghitamkan umat Kristen sebagai penyebab peristiwa kebakaran besar di Roma. Menurut tradisi Gereja, pada masa penindasan Kaisar Nero inilah para pemimpin Gereja Perdana, Petrus dan Paulus, wafat sebagai syuhada di Roma. Penindasan-penindasan yang lebih luas lagi berlangsung selama masa pemerintahan sembilan Kaisar Romawi berikutnya, dan yang paling gencar terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Desius dan Kaisar Dioklesianus.

Semenjak tahun 150, para ulama Kristen mulai menghasilkan karya-karya tulis teologi dan apologi untuk membela iman Kristen. Para pujangga ini dikenal dengan sebutan bapa-bapa Gereja, dan kajian atas karya-karya mereka disebut Studi Patristik atau Patrologi. Bapa-bapa Gereja terdahulu yang terkenal antara lain Ignasius dari Antiokhia, Polikarpus, Yustinus Martir, Ireneus, Tertulianus, Klemens dari Aleksandria, dan Origenes.

Armenia diyakini sebagai negara pertama yang menerima agama Kristen, [110] [143] [144] manakala Raja Tirdat III menjadikan agama Kristen sebagai agama negara Armenia antara tahun 301 dan 314. Agama Kristen bukanlah agama baru di Armenia kala itu, karena sudah menyebar ke negeri itu selambat-lambatnya sejak abad ke-3, dan mungkin saja sudah hadir lebih awal lagi.

[145] Akhir dari penindasan bangsa Romawi pada masa pemerintahan Kaisar Konstantinus (313 M) Salah satu contoh seni rupa Romawi Timur, mosaik Deisis Gereja Hagia Sofia di Konstantinopel Penindasan oleh negara mereda pada abad ke-4, setelah Konstantinus I mengeluarkan maklumat toleransi pada tahun 313.

Kala itu, penganut agama Kristen masih merupakan golongan minoritas, mungkin hanya lima persen dari populasi Romawi. [146] Pada 27 Februari 380, Kaisar Teodosius I mengundangkan sebuah hukum yang menetapkan agama Kristen versi Nikea sebagai agama Kristen yang sah dianut di Kekaisaran Romawi.

[147] Segera sesudah dijadikan agama negara, agama Kristen tumbuh dengan subur. Gereja menerima banyak sumbangan dari orang-orang kaya hingga mampu membeli tanah. [148] Selambat-lambatnya semenjak abad ke-4, agama Kristen telah berperan penting dalam pembentukan peradaban Dunia Barat.

[149] Kaisar Konstantinus juga berjasa menyelenggarakan Konsili Nicea yang pertama pada 325, untuk mengusut tuntas bidah Arianisme, dan merumuskan Syahadat Nikea yang hingga kini masih dipakai oleh Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur, persekutuan gereja-gereja Anglikan, dan banyak gereja Protestan.

[43] Konsili Nikea adalah yang pertama dari serangkaian Konsili Oikumene (sedunia) yang secara resmi merumuskan unsur-unsur teologi Gereja, terutama yang berkaitan dengan Kristologi. [150] Gereja Timur Asiria tidak menerima keputusan Konsili Oikumene yang ketiga berikut keputusan konsili-konsili yang diselenggarakan sesudahnya, dan sampai sekarang masih berdiri sendiri di luar lingkup persekutuan-persekutuan Kristen lainnya.

Kehadiran agama Kristen di Afrika bermula pada abad pertama Masehi di Mesir, dan pada abad ke-2 di kawasan sekitar Kartago. Penginjil Markus merintis pembentukan Gereja Ortodoks Koptik di Aleksandria pada ca. 43 M. [151] [152] [153] Tokoh-tokoh Afrika yang telah mempengaruhi perkembangan agama Kristen antara lain Tertulianus, Klemens dari Aleksandria, Origenes dari Aleksandria, Siprianus, Atanasius, dan Agustinus dari Hipo. Di kemudian hari, kemunculan Islam di Afrika Utara menyusutkan ukuran dan jumlah jemaat-jemaat Kristen, serta hanya menyisakan Gereja Koptik di Mesir, Gereja Tewahedo Ortodoks Etiopia di kawasan Tanduk Afrika, dan Gereja Nubia di Sudan (Nobatia, Makuria, dan Alodia).

Di bidang kemakmuran dan kehidupan berbudaya, Kekaisaran Romawi Timur merupakan salah satu dari puncak-puncak pencapaian dalam sejarah agama Kristen dan peradaban Kristen. [154] Konstantinopel tetap menjadi kota terunggul di seluruh Dunia Kristen dari segi ukuran, kemakmuran, dan budayanya. [155] Di kota ini pula minat terhadap filsafat Yunani klasik bersemi kembali, dan jumlah karya sastra dalam bahasa Yunani semakin bertambah banyak.

[156] Kesenian dan kesusastraan Romawi Timur sangat dihargai di Eropa, dan seni rupa Romawi Timur telah meninggalkan kesan yang bertahan sangat lama dalam kebudayaan Dunia Barat. [157] Awal Abad Pertengahan Dengan runtuhnya Kekaisaran Romawi di Eropa Barat, lembaga kepausan tampil menjadi salah satu pihak yang turut berperan di pentas politik. Kenyataan ini pertama kali terlihat dalam perundingan diplomatik yang dilakukan Sri Paus Leo dengan orang Hun dan orang Vandal.

[158] Gereja juga memasuki kurun waktu usaha dakwah dan penambahan umat yang berlangsung lama di tengah-tengah berbagai suku dan kaum di Eropa. Manakala pengikut bidah Kristen Arian menetapkan hukuman mati bagi pelaku penyembahan berhala (lihat Pembantaian Verden sebagai contoh), agama Kristen Katolik justru menyebar di kalangan suku-suku bangsa Jermani, [158] Kelt, Slav, Magyar, dan Balt yang masih memuja berhala.

Agama Kristen telah menjadi unsur penting dalam pembentukan peradaban Dunia Barat, setidaknya semenjak abad ke-4. [16] [17] [149] Sekitar tahun 500, Santo Benediktus menyusun aturan biara, dan dengan demikian menghadirkan suatu tatanan regulasi yang berkaitan dengan pendirian dan pengelolaan biara. [158] Monastisisme menjadi kekuatan besar di seluruh Eropa, [158] dan memunculkan banyak pusat pendidikan perdana; yang paling terkenal di antaranya adalah pusat-pusat pendidikan di Irlandia, Skotlandia, dan di Galia, yang turut andil dalam gerakan Pembaharuan Karoling pada abad ke-9.

Pada abad ke-7, bala tentara Muslim menaklukkan Negeri Syam (termasuk Yerusalem), Afrika Utara, dan Spanyol.

Salah satu faktor yang mendukung keberhasilan bala tentara Musim adalah merosotnya kekuatan Kekaisaran Romawi Timur akibat perang berpuluh-puluh tahun melawan Persia. [159] Semenjak abad ke-8, seiring meningkatnya kekuasaan raja-raja wangsa Karoling, lembaga kepausan mulai mendapatkan dukungan politik yang lebih besar dari Kerajaan orang Franka. [160] Pada Abad Pertengahan, terjadi perubahan-perubahan besar dalam Gereja.

Paus Gregorius Agung secara dramatis merombak dan menata ulang struktur dan administrasi Gereja. [161] Pada permulaan abad ke-8, umat Kristen terpecah-belah akibat bidah ikonoklasme yang didukung oleh kaisar-kaisar Romawi Timur. Konsili Oikumene Nikea yang kedua pada 787 akhirnya mengeluarkan keputusan yang membenarkan penggunaan ikon oleh umat Kristen.

[162] Pada permulaan abad ke-10, monastisisme Kristen di Dunia Barat semakin berkembang berkat usaha-usaha pembaharuan yang dipelopori oleh biara induk tarekat Benediktin di Cluny. [163] Hebraisme, sebagaimana Helenisme, merupakan salah satu faktor mahapenting dalam perkembangan peradaban Dunia Barat; agama Yahudi, selaku pendahulu dari agama Kristen, secara tidak langsung banyak memberi sumbangan bagi pembentukan nilai-nilai luhur dan akhlak bangsa-bangsa Barat semenjak agama Kristen menyebar luas di daratan Eropa.

[17] Puncak dan Akhir Abad Pertengahan Paus Urbanus II dalam Konsili Clermont mengimbau umat Kristen untuk mengobarkan Perang Salib yang pertama Semenjak abad ke-11, sekolah-sekolah katedral yang sudah lama berdiri di Dunia Barat dikembangkan menjadi universitas-universitas (lihat Universitas Oxford, Universitas Paris, dan Universitas Bologna).

Universitas-universitas tradisional Abad Pertengahan ini—hasil pengembangan sekolah-sekolah gereja Katolik dan Protestan—selanjutnya membentuk struktur-struktur akademik khusus untuk mendidik mahasiswa dalam jumlah yang lebih besar secara lebih layak agar menjadi tenaga-tenaga profesional. Profesor Walter Rüegg, penyunting buku A History of the University in Europe, mengemukakan bahwa universitas-universitas pada zaman itu hanya mendidik mahasiswa untuk menjadi rohaniwan, ahli hukum, pamong praja, dan tabib.

[164] Meskipun pada awalnya hanya mengajarkan mata kuliah teologi, universitas-universitas mulai menambahkan mata-mata kuliah lain, seperti ilmu pengobatan, filsafat, dan hukum. Universitas-universitas yang mengajarkan berbagai mata kuliah tambahan ini menjadi cikal bakal dari lembaga-lembaga pendidikan tinggi modern. [165] Pada umumnya universitas dianggap sebagai lembaga yang berlatar belakang agama Kristen Abad Pertengahan.

[166] [167] Sebelum universitas-universitas didirikan, penyelenggara pendidikan tinggi di Eropa selama ratusan tahun adalah sekolah-sekolah katedral atau sekolah-sekolah biara ( bahasa Latin: scholae monasticae), tempat para biarawan dan biarawati mengajarkan berbagai mata pelajaran.

Sekolah-sekolah yang merupakan para leluhur langsung dari universitas-universitas ini terbukti sudah ada di berbagai tempat semenjak abad ke-6. [168] Seiring maraknya pendirian "kota-kota baru" di seluruh Eropa, terbentuk pula tarekat-tarekat fakir Kristen yang membawa keluar cara hidup bakti dari lingkungan biara ke tengah-tengah lingkungan perkotaan.

Dua tarekat fakir yang paling menonjol adalah Tarekat Fransiskan yang didirikan oleh Santo Fransiskus, [169] dan Tarekat Dominikan yang didirikan oleh Santo Dominikus.

[170] Kedua tarekat ini sangat berjasa bagi tumbuh kembangnya universitas-universitas besar di Eropa. Tarekat baru lainnya adalah Tarekat Sistersien yang membangun biara-biara besar di daerah-daerah yang belum dihuni orang. Biara-biara Sistersien ini berjasa merintis berdirinya permukiman-permukiman baru.

Pada masa itu, gedung-gedung gereja dan seni arsitektur gerejawi meraih capaian-capaian baru, yang berpuncak pada gaya arsitektur Romanik dan Gothik, serta katedral-katedral megah di Eropa. [171] Sejak tahun 1095, yakni pada masa pontifikat Paus Urbanus II, Perang Salib dikobarkan.

[172] Perang Salib adalah serangkaian aksi militer di Tanah Suci dan di tempat-tempat lain, yang dilancarkan sebagai tanggapan atas permohonan bantuan yang diajukan Kaisar Romawi Timur, Aleksios I, untuk melawan usaha perluasan wilayah yang dilakukan oleh bangsa Turki.

Perang Salib pada akhirnya gagal membendung agresi Islam, bahkan menjadi penyebab timbulnya rasa permusuhan di kalangan umat Kristen sendiri setelah kota Konstantinopel dijarah bala tentara Kristen dari Eropa Barat semasa Perang Salib yang ke-4.

[173] Dari abad ke-7 sampai abad ke-13, umat Kristen di Dunia Barat dan umat Kristen di Dunia Timur lambat laun terasing satu sama lain. Keterasingan ini bermuara pada skisma yang memecah-belah umat Kristen menjadi Gereja cabang barat, yakni Gereja Katolik, [174] dan Gereja cabang timur (sebagian besar adalah Kristen Yunani), yakni Gereja Ortodoks.

Dua Gereja ini berselisih pendapat mengenai sejumlah isu seputar tadbir, liturgi, dan doktrin, terutama isu keutamaan yurisdiksi Sri Paus.

[175] [176] Konsili Lyon II pada 1274, dan Konsili Firenze pada 1439 berusaha mempersatukan kembali kedua Gereja ini, akan tetapi Gereja Ortodoks menolak memberlakukan putusan-putusan Konsili Lyon maupun Konsili Firenze, sehingga kedua Gereja masih tetap terpisah sampai sekarang.

Meskipun demikian, Gereja Katolik telah berhasil memulihkan persatuan dengan sejumlah Gereja Timur yang lebih kecil. Mulai sekitar tahun 1184, sesudah Perang Salib melawan bidah Katarisme, [177] berbagai lembaga peradilan, yang secara umum disebut Inkuisisi, dibentuk dengan tujuan memberantas bidah serta menjaga kesatuan agama dan doktrin Kristen melalui konversi agama dan gugatan hukum.

[178] Reformasi Protestan dan Kontra Reformasi Lihat pula: Perang agama Eropa Semangat Pembaharuan pada abad ke-15 menghidupkan kembali minat orang pada khazanah ilmu pengetahuan peninggalan Abad Kuno. Skisma besar lainnya, yakni Reformasi Protestan, memecah-belah umat Kristen di Dunia Barat menjadi beberapa aliran. [182] Pada 1517, Martin Luther memprotes penjualan indulgensi (anugerah penghapusan ganjaran dosa) dan tak seberapa lama kemudian mulai menafikan sejumlah pokok penting dalam doktrin Gereja Katolik.

[183] Tokoh-tokoh Reformasi Protestan lainnya seperti Hulderikus Zwingli, Yohanes Oecolampadius, Yohanes Kalvin, Yohanes Knox, dan Yakobus Arminius bertindak lebih jauh lagi dengan mengecam ajaran dan peribadatan Katolik. Penentangan-penentangan terhadap Gereja Katolik ini berkembang menjadi sebuah gerakan bernama Protestantisme yang menafikan keutamaan Sri Paus, peranan Tradisi Suci, Tujuh Sakramen, serta berbagai doktrin dan praktik lainnya.

[183] Gerakan Reformasi Protestan di Inggris bermula pada 1534, manakala Raja Henry VIII dipermaklumkan sebagai Kepala Gereja Inggris. Mulai dari tahun 1536, biara-biara di seluruh Inggris, Wales, dan Irlandia dibubarkan. [184] Tomas Müntzer, Andreas Karlstadt, dan sejumlah teolog lainnya beranggapan bahwa baik Gereja Katolik maupun aliran-aliran Reformasi Magisterial sudah menyimpang dari kebenaran. Para teolog ini memprakarsai gerakan Reformasi Radikal yang melahirkan berbagai denominasi Anabaptis.

Gereja Katolik menanggapi gerakan Reformasi Protestan dengan melakukan serangkaian upaya perombakan dan pembaharuan internal yang disebut Kontra Reformasi atau Reformasi Katolik. [185] Konsili Trento menjelaskan dan menegaskan kembali doktrin Gereja Katolik. Selama abad-abad berikutnya, persaingan antara agama Kristen Katolik dan agama Kristen Protestan dicampuradukkan dengan perjuangan politik negara-negara Eropa. [186] Sementara itu, penemuan Amerika oleh Kristoforus Kolumbus pada 1492 menimbulkan suatu gelombang kegiatan dakwah yang baru.

Berkat semangat baru untuk berdakwah ini, meskipun seiring sejalan dengan usaha perluasan wilayah jajahan oleh negara-negara kuat di Eropa, agama Kristen menyebar ke Amerika, Oseania, Asia Timur, dan Afrika Sub-Sahara. Di seluruh Eropa, perpecahan yang ditimbulkan oleh Reformasi Protestan bermuara pada maraknya aksi kekerasan bermotif agama dan pembentukan gereja-gereja negara yang berdiri sendiri-sendiri.

Aliran Lutheran menyebar ke kawasan utara, tengah, dan timur dari wilayah negara Jerman, Livonia, dan Skandinavia. Aliran Anglikan terbentuk di Inggris pada 1534. Aliran Kalvinis dan beragam pecahannya (misalnya Aliran Presbiterian) menyebar di Skotlandia, Negeri Belanda, Hongaria, Swiss, dan Prancis. Alitan Arminian mendapatkan pengikut di Belanda dan Frisia. Semua perbedaan ini pada akhirnya menimbulkan sengketa-sengketa yang dipicu oleh masalah agama. Perang Tiga Puluh Tahun, Perang Saudara Inggris, dan Perang Agama Prancis merupakan contoh-contoh yang paling menonjol.

Peristiwa-peristiwa semacam ini memanaskan perdebatan di kalangan umat Kristen seputar persekusi dan toleransi. [187] Pasca-Pencerahan Citra Bunda Maria dan Kanak-Kanak Yesus dalam sebuah gambar cukil kayu Kakure Kirisyitan abad ke-19 di Jepang Pada era yang terkenal dengan sebutan Penyimpangan Besar, manakala Abad Pencerahan dan Revolusi Ilmiah di Dunia Barat menimbulkan perubahan-perubahan besar di bidang kemasyarakatan, agama Kristen dihadapkan pada berbagai macam bentuk skeptisisme dan ideologi-ideologi politik modern tertentu seperti sosialisme dan liberalisme.

[188] Agama Kristen ditentang dalam berbagai macam peristiwa yang berkisar dari sekadar aksi antiklerikalisme sampai luapan aksi kekerasan semisal aksi dekristenisasi saat berlangsungnya Revolusi Prancis, [189] Perang Saudara Spanyol, dan gerakan-gerakan Marxis tertentu, khususnya Revolusi Rusia dan penindasan umat Kristen di Uni Soviet oleh rezim ateis. [190] [191] [192] [193] Perkembangan yang sangat pesat di Eropa kala itu adalah pembentukan negara-negara bangsa selepas era Napoleon.

Di seluruh negara Eropa, berbagai macam denominasi Kristen sadar sedang terlibat dalam kancah persaingan, pada taraf tinggi maupun rendah, antara satu sama lain maupun dengan negara. Variabel-variabel dalam persaingan ini adalah ukuran nisbi dari denominasi-denominasi serta orientasi keagamaan, politik, dan ideologi dari negara. Urs Altermatt dari Universitas Fribourg, yang secara khusus mencermati agama Kristen katolik di Eropa, berhasil mengidentifikasi empat ragam kehidupan berbangsa di Eropa.

Di negeri-negeri yang mayoritas warganya turun-temurun memeluk agama Kristen Katolik seperti Belgia, Spanyol, dan sampai taraf tertentu juga Austria, komunitas-komunitas keagamaan dan kebangsaan kurang lebih identik. Simbiosis dan pemisahan budaya didapati di Polandia, Irlandia, dan Swiss, yakni negeri-negeri dengan denominasi-denominasi yang saling bersaing. Persaingan didapati di Jerman, Belanda, dan juga di Swiss, yakni negara-negara dengan populasi Katolik minoritas yang kurang lebih bangga menjadi anak bangsa dari negeri yang ditinggalinya.

Yang terakhir, pemisahan antara agama (khususnya agama Kristen Katolik) dan negara didapati dalam taraf yang tinggi di Prancis dan Italia, yakni di negeri-negeri tempat negara secara aktif menentang kewenangan Gereja Katolik. [194] Gabungan faktor-faktor pembentukan negara-negara bangsa dan ultramontanisme, khususnya di Jerman dan Belanda, juga di Inggris (dalam taraf yang jauh lebih rendah [195]), sering kali memaksa gereja-gereja, organisasi-organisasi, dan anggota-anggota jemaat Katolik untuk memilih antara tunduk pada tuntutan-tuntutan kebangsaan dari negara atau tunduk pada kewenangan Gereja, teristimewa pada kewenangan lembaga kepausan.

Permasalahan ini mengemuka dalam Konsili Vatikan Pertama, dan juga menjadi sebab langsung dari Kulturkampf (pergolakan budaya) di Jerman, manakala kubu liberal dan Protestan di bawah pimpinan Otto von Bismarck berhasil mengundangkan berbagai macam peraturan yang sungguh-sungguh membatasi keleluasaan Gereja Katolik dalam berekspresi dan berorganisasi.

Ketaatan beragama umat Kristen di Eropa merosot seiring munculnya modernitas dan sekularisme di benua itu, [196] khususnya di Republik Ceko dan Estonia, [197] sementara ketaatan beragama di Amerika pada umumnya tinggi jika dibandingkan dengan Eropa.

Pada penghujung abad ke-20, terjadi peralihan jumlah umat Kristen yang taat beragama dari Eropa dan Amerika ke negara-negara Dunia Ketiga, dan belahan bumi selatan pada umumnya. Peradaban Dunia Barat akhirnya tak lagi menjadi pengusung utama panji-panji agama Kristen. Beberapa kelompok masyarakat Eropa (termasuk yang di perantauan), masyarakat-masyarakat pribumi Amerika, dan masyarakat-masyarakat pribumi di benua-benua lainnya telah menghidupkan kembali agama-agama aslinya masing-masing.

Sekitar 7,1 sampai 10% dari orang Arab adalah umat Kristen, [198] sebagian besar di antaranya bermukim di Mesir, Suriah, dan Lebanon.

Agama Kristen di Indonesia Artikel utama: Kekristenan di Indonesia Pra-Penjajahan Belanda Menurut sebuah naskah Kristen Mesir dari abad ke-12, ada sebuah gereja yang dibangun di Barus, bandar niaga di kawasan pesisir barat Sumatra Utara.

Bandar ini diketahui sering dikunjungi oleh saudagar-saudagar India, sehingga gereja di Barus mungkin saja memiliki hubungan dengan umat Kristen Santo Tomas di India. [199] Setelah berhasil menguasai bandar Goa di India pada 1510 dan merebut bandar Malaka di Semenanjung Malaya pada 1511, para pelaut Portugis melanjutkan pelayaran niaganya ke berbagai pelosok kepulauan Nusantara.

Pemimpin-pemimpin orang Makassar di kawasan selatan Pulau Sulawesi beberapa kali mengungkapkan ketertarikan mereka terhadap agama Kristen pada abad ke-16. Permintaan tenaga misionaris Katolik ke Malaka tidak kunjung dikabulkan, mungkin karena ketiadaan rempah-rempah di daerah ini, dan masyarakat di kawasan selatan Pulau Sulawesi akhirnya memeluk agama Islam semenjak 1605.

[200] Setelah para saudagar Portugis dianugerahi hak monopoli niaga cengkih dari Sultan Ternate, komunitas Kristen Katolik pertama di kepulauan Nusantara akhirnya terbentuk di Halmahera pada 1534.

Melalui jalur niaga kayu cendana antara Malaka dan Pulau Timor, saudagar-saudagar Portugis berhasil menyebarkan agama Kristen Katolik di Pulau Solor, Pulau Timor, dan Pulau Flores. Pada 1562, para misionaris Dominikan datang dari Malaka dan mendirikan sebuah gereja di Flores. [201] Manado dijadikan pangkalan pertahanan Portugis dalam rangka menghadapi sepak terjang Kesultanan Ternate.

Para misionaris Portugis mendakwahkan agama Kristen di kawasan utara Pulau Sulawesi antara 1563 dan 1570, namun daerah misi ini akhirnya ditinggalkan ketika orang-orang Portugis diserang bertubi-tubi selepas peristiwa pembunuhan Sultan Hairun di Ternate. [202] Zaman Penjajahan Belanda Gereja Katedral Keuskupan Agung Jakarta Setelah mengalahkan Portugis pada 1605, Bangsa Belanda mengusir para misionaris Katolik.

[203] Kompeni Belanda menaklukkan dan menduduki Ambon pada 1605. Warga Kristen Katolik di Ambon, Manado, dan Kepulauan Sangihe-Talaud dipaksa beralih keyakinan menjadi Protestan. Pada 1613, Solor jatuh ke tangan Belanda sehingga kegiatan misi Katolik meredup di Pulau Flores dan Pulau Timor, meskipun kedua pulau ini masih dikuasai bangsa Portugis.

[204] Agama Kristen Protestan masuk ke Nusantara pada zaman penjajahan Belanda. Pada pertengahan era 1700-an, sudah ada jemaat Lutheran dalam jumlah yang signifikan di Jakarta dengan sebuah gedung gereja Lutheran yang dibangun oleh Gubernur Jenderal penganut aliran Lutheran, Gustaaf Willem van Imhoff, pada 1749. [205] Umat Kristen Katolik baru diberi kebebasan untuk beribadat di wilayah Hindia Belanda oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 1808.

Kebijakan ini lebih ditujukan bagi kepentingan umat Kristen Katolik berkebangsaan Eropa, karena Gubernur Jenderal Daendels memerintah Hindia Belanda di bawah rezim Prancis, negara penganut agama Kristen Katolik. Kebebasan beribadah bagi umat Katolik ini dikukuhkan oleh Thomas Raffles. Pada 1817, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie (Gereja Protestan di Hindia Belanda) atau Indische Kerk (Gereja Hindia) untuk mewadahi denominasi-denominasi Gereformeerd ( Kalvinis), Lutheran, Baptis, Arminian, dan Menonit.

[206] Dengan maklumat tanggal 11 Desember 1835, Raja Belanda, Willem I, menitahkan penyatuan seluruh denominasi Lutheran dan Kalvinis (baru terwujud pada 1854), serta pembentukan majelis gereja tunggal untuk mengawasi seluruh denominasi Kristen Protestan di Hindia Belanda (terwujud pada 1844). [207] Pasca-Penjajahan Belanda Setelah Indonesia Merdeka, agama Kristen (Katolik maupun Protestan) terus bertumbuh sekalipun bangsa Belanda maupun bangsa-bangsa Eropa lainnya diusir dari Indonesia.

Agama Kristen tumbuh sangat pesat selepas pemakzulan Presiden Sukarno pada 1965. Pelarangan terhadap komunisme dan kebijakan-kebijakan anti-Konfusianisme yang dikeluarkan oleh rezim Orde Baru mengakibatkan orang berbondong-bondong (sebagian besar adalah orang Tionghoa) memeluk agama Kristen. [203] Sejak akhir abad ke-20 sampai dengan awal abad ke-21, banyak misionaris dari Amerika Serikat yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan aliran Injili dan Pentakosta.

Aliran-aliran yang sering kali disebut "karismatik" ini merupakan aliran-aliran yang dianggap "modern" karena menggabungkan keyakinan Kristen tradisional dengan pola pikir modern. [208] Demografi Lihat pula: Dunia Kristiani dan Negara Kristen Dengan jumlah pemeluk sekitar 2,5 miliar jiwa, [3] [4] yang terbagi-bagi dalam tiga cabang utama, yakni Kristen Katolik, Kristen Protestan, dan Kristen Ortodoks Timur, agama Kristen merupakan agama terbesar di dunia. [2] Persentase umat Kristen dari keseluruhan populasi dunia bertahan di kisaran 33% selama seratus tahun terakhir, yang berarti bahwa satu dari tiga orang di dunia memeluk agama Kristen.

Persentase ini sesungguhnya tidak memperlihatkan pergeseran besar yang telah terjadi dalam demografi Kristen, yakni pertambahan besar jumlah pemeluk agama Kristen di negara-negara berkembang yang terjadi seiring dengan penurunan besar jumlah pemeluk agama Kristen di Eropa dan Amerika Utara. [209] Menurut kajian tahun 2015 yang dilakukan oleh lembaga Pew Research Center, agama Kristen masih akan tetap menjadi agama terbesar di dunia dalam empat dasawarsa berikutnya, dan jumlah pemeluk agama Kristen mungkin akan melampaui 3 miliar jiwa pada 2050.

[210] :60 Persentase umat Kristen Katolik dan Ortodoks (baik Gereja Ortodoks Timur maupun Gereja Ortodoks Oriental) semakin menurun, sementara persentase umat Kristen Protestan dan kelompok-kelompok Kristen lainnya semakin meningkat.

[211] [212] [213] Kelompok yang disebut aliran Protestan populer [note 6] adalah salah satu di antara golongan-golongan keagamaan dengan pertumbuhan tercepat di dunia. [214] [215] Agama Kristen adalah agama yang paling dominan di Eropa, Benua Amerika, dan kawasan selatan Afrika.

Di Asia, agama Kristen adalah agama dominan di Georgia, Armenia, Timor Leste, dan Filipina. [216] Meskipun demikian, agama Kristen mengalami penurunan jumlah pemeluk di banyak tempat, termasuk di kawasan utara dan kawasan barat Amerika Serikat, [217] Oseania (Australia dan Selandia Baru), kawasan utara Eropa (mencakup Britania Raya, [218] Skandinavia, dan lain-lain), Prancis, Jerman, Provinsi Ontario, Provinsi British Columbia, dan Provinsi Quebec di Kanada, dan berbagai negara di Asia (khususnya di Timur Tengah – sebagai akibat dari emigrasi umat Kristen, [219] [220] [221] Korea Selatan, [222] Taiwan, [223] dan Makau [224]).

Populasi Kristen tidak berkurang di Brazil, kawasan selatan Amerika Serikat, [225] dan Provinsi Alberta di Kanada, [226] tetapi persentasenya menurun. Di negara-negara seperti Australia [227] dan Selandia Baru, [228] populasi Kristen mengalami penurunan baik dalam jumlah maupun persentase. Meskipun mengalami penurunan jumlah pemeluk, agama Kristen masih tetap menjadi agama terbesar di Dunia Barat, karena 70% warganya memeluk agama Kristen.

[5] Survei Pew Research Center tahun 2011 mendapati bahwa 76,2% orang Eropa, 73,3% di Oseania dan sekitar 86,0% di Benua Amerika (90,0% di Amerika Latin dan 77,4% di Amerika Utara) mengaku beragama Kristen. [5] [229] [230] [231] Pada tahun 2010, sekitar 157 negara dan wilayah di dunia merupakan tempat-tempat berpenduduk mayoritas Kristen. [2] Meskipun demikian, banyak gerakan karismatik yang sudah berdiri kukuh di berbagai belahan dunia, teristimewa di Afrika, Amerika Latin, dan Asia.

[232] [233] [234] [235] [236] Sejak 1900, terutama melalui perpindahan agama, aliran Protestan telah menyebar dengan cepat di Afrika, Asia, Oseania, dan Amerika Latin. [237] Sejak 1960 sampai 2000, tingkat pertumbuhan global umat Protestan Injili yang terlaporkan meningkat tiga kali lipat dibanding tingkat pertumbuhan populasi dunia, dan dua kali lipat dibanding tingkat pertumbuhan pemeluk agama Islam.

[238] Kajian Universitas Saint Mary memperkirakan ada sekitar 10,2 juta umat Muslim beralih menjadi pemeluk agama Kristen pada 2015, [239] dan ada pula pemeluk-pemeluk agama Islam dalam jumlah yang signifikan beralih menjadi pemeluk agama Kristen di Afganistan, [240] Albania, [239] Azerbaijan [241] [242] Aljazair, [243] [244] Belgia, [245] Prancis, [244] Jerman, [246] Iran, [247] India, [244] Indonesia, [248] Malaysia, [249] Maroko, [244] [250] Rusia, [244] Belanda, [251] Arab Saudi, [252] Tunisia, [239] Turki, [244] [253] [254] [255] Kazakstan, [256] Kirgistan, [239] Kosovo, [257] Amerika Serikat, [258] dan Asia Tengah.

[259] [260] Dilaporkan pula bahwa agama Kristen cukup populer di kalangan orang-orang dari latar belakang yang berbeda-beda di India (sebagian besar beragama Hindu), [261] [262] Malaysia, [263] Mongolia, [264] Nigeria, [265] Vietnam, [266] Singapura, [267] Indonesia, [268] [269] Tiongkok, [270] Jepang, [271] dan Korea Selatan. [272] Di sebagian besar negara berkembang, kebiasaan menghadiri ibadat berjemaah di gereja di kalangan masyarakat yang masih mengaku sebagai pemeluk agama Kristen telah merosot dalam beberapa dasawarsa terakhir.

[273] Beberapa sumber memandang kenyataan ini sekadar sebagai bagian dari tindakan menanggalkan keanggotaan pada lembaga-lembaga tradisional, [274] sementara sumber-sumber lain mengaitkannya dengan tanda-tanda penurunan keyakinan akan pentingnya agama secara umum. [275] Meskipun jumlahnya menurun, populasi Kristen Eropa masih merupakan komponen geografis terbesar dari agama Kristen. [276] Menurut data Survei Sosial Eropa dari tahun 2012, sekitar sepertiga dari umat Kristen Eropa mengaku menghadiri ibadat berjemaah di gereja sebulan sekali atau lebih dari sekali.

[277] Sebaliknya sekitar dua pertiga dari umat Kristen Amerika Latin, dan menurut World Values Survey sekitar 90% dari umat Kristen Afrika (di Ghana, Nigeria, Rwanda, Afrika Selatan, dan Zimbabwe), mengaku menghadiri ibadat berjemaah di gereja secara teratur.

[277] Agama Kristen dalam berbagai bentuknya merupakan satu-satunya agama negara di negara-negara berikut ini: Argentina (Katolik), [278] Tuvalu (Kalvinis), Tonga (Metodis), Norwegia (Lutheran), [279] [280] [281] Kosta Rika (Katolik), [282] Kerajaan Denmark (Lutheran), [283] Inggris (Anglikan), [284] Georgia (Ortodoks Georgia), [285] Yunani (Ortodoks Yunani), [286] Islandia (Lutheran), [287] Liechtenstein (Katolik), [288] Malta (Katolik), [289] Monako (Katolik), [290] dan Kota Vatikan (Katolik).

[291] Ada pula sejumlah besar negara lain, misalnya Siprus, yang tidak menjadikan agama Kristen sebagai agama negara namun tetap memberikan pengakuan dan dukungan resmi bagi salah satu denominasi Kristen tertentu. [292] Demografi aliran-aliran besar agama Kristen ( Pew Research Center, data 2011) [293] Aliran Pemeluk % dari populasi Kristen % dari populasi dunia Dinamika pemeluk Dinamika masuk dan keluar agama Kristen Katolik 1,369,610,000 46,1 15,9 Naik Naik Protestan 1.000,640,000 40.7 11.6 Naik Naik Ortodoks 260,380,000 11.9 3.8 Naik Turun Lain-lain 48,430,000 1.3 0.4 Naik Naik Agama Kristen 2.5 Miliyar 100 31.7 Naik Stabil Artikel utama: Denominasi Kristen, Daftar denominasi Kristen, dan Daftar denominasi Kristen menurut jumlah anggota Empat pecahan utama dari agama Kristen adalah Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur, Gereja Ortodoks Oriental, dan rumpun bersar Protestan.

[34] :14 [295] Adakalanya agama Kristen dibedakan menjadi dua pecahan yang lebih besar, yakni Gereja Timur dan Gereja Barat, yang bersumber dari peristiwa Skisma Timur-Barat (Skisma Akbar) pada abad ke-11. Meskipun demikian, ada pula kelompok-kelompok umat Kristen lain [296] yang juga bersejarah [297] namun tidak dapat begitu saja digolongkan ke dalam kategori-kategori utama ini.

Ada beragam doktrin dan praktik peribadatan di kalangan kelompok-kelompok yang menyebut dirinya Kristen. Kelompok-kelompok ini dapat saja berbeda pandangan eklesiologi sehubungan dengan penggolongan denominasi-denominasi Kristen. [298] Meskipun demikian, syahadat Nikea tahun 325 lazimnya diakui sebagai pedoman yang patut diikuti oleh sebagian besar umat Kristen, termasuk Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur, Gereja Ortodoks Oriental, dan aliran-aliran utama dalam rumpun besar aliran Protestan, misalnya berbagai macam denominasi Anglikan.

[299] Berdasarkan eklesiologi Protestan, semenjak kemunculannya pada abad ke-16, rumpun besar Protestan terdiri atas bermacam-macam kelompok jemaat dan praktik peribadatan.

Selain Lutheran dan Kalvinis yang merupakan dua aliran utama dari gerakan Reformasi Protestan, ada pula aliran Anglikan yang muncul dari gerakan Reformasi Inggris. Aliran Anabaptis dikucilkan oleh aliran-aliran Protestan lainnya kala itu, namun di kemudian hari diakui pula sebagai bagian dari rumpun besar aliran Protestan. Aliran Adventis, Baptis, Metodis, Pentakosta, dan berbagai macam aliran Protestan lainnya baru muncul pada abad-abad berikutnya. Gereja Katolik Paus Fransiskus, kepala Gereja Katolik saat ini Gereja Katolik terdiri atas gereja-gereja partikularis yang dikepalai oleh uskup-uskup, dalam persekutuan dengan Sri Paus, Uskup Roma, pemangku kewenangan tertinggi dalam perkara iman, akhlak, dan kepemimpinan Gereja.

[300] [301] Sebagaimana Gereja Ortodoks Timur, Gereja Katolik merunut asal-usulnya melalui suksesi apostolik (alih jabatan rasuli) sampai pada paguyuban umat Kristen peerdana yang dibentuk oleh Yesus Kristus. [302] [303] Umat Katolik percaya bahwa " Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik, yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri, seutuhnya berada dalam Gereja Katolik, namun mengakui pula keberadaan gereja-gereja dan komunitas-komunitas Kristen lainnya, [304] [305] dan berusaha mewujudkan rekonsiliasi di antara seluruh umat Kristen.

[304] Iman Katolik dijabarkan dalam Katekismus Gereja Katolik. [306] [307] 2.834 keuskupan [308] dikelompokkan menjadi 24 Gereja swatantra partikularis (yang terbesar di antaranya adalah Gereja Latin), masing-masing memiliki tradisi khas di bidang liturgi dan pelayanan sakramen. [309] Dengan lebih dari 1,1 triliun anggota jemaat terbaptis, yakni lebih dari setengah jumlah seluruh umat Kristen dan seperenam dari populasi dunia, Gereja Katolik merupakan Gereja Kristen yang terbesar.

[310] [311] [312] Gereja Ortodoks Timur Katedral Kristus Sang Juru Selamat di Moskwa, gedung gereja Kristen Ortodoks Timur tertinggi di dunia. Gereja Ortodoks Timur terdiri atas Gereja-Gereja yang menjalin persekutuan dengan para batrik [note 7] Gereja Timur, misalnya Batrik Oikumene Konstantinopel. [313] Sama seperti Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur juga merunut asal-usulnya sampai pada saat pembentukan agama Kristen melalui suksesi apostolik, dan struktur kepemimpinannya juga dikepalai oleh para uskup.

Meskipun demikian, Gereja-Gereja dalam lingkup persekutuan ini sangat menonjolkan keswatantraannya, dan sebagian besar di antaranya merupakan Gereja kebangsaan. Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Barat masih mempersengketakan sejumlah doktrin dan lingkup kewenangan yang berpuncak pada peristiwa Skisma Akbar. Gereja Ortodoks Timur merupakan denominasi Kristen terbesar kedua, dengan jumlah jemaat sekitar 225–300 juta jiwa. [5] [311] [314] Gereja Ortodoks Oriental Artikel utama: Gereja Ortodoks Oriental Gereja Ortodoks Oriental yang juga disebut Gereja Timur Lama merupakan persekutuan Gereja-Gereja yang menerima keputusan tiga Konsili Oikumene yang pertama ( Konsili Nikea I, Konsili Konstantinopel I, dan Konsili Efesus) namun menolak dogma kristologi yang dirumuskan oleh Konsili Kalsedon, dan lebih memilih berpegang pada dogma kristologi Miafisit.

Gereja Ortodoks Oriental terdiri atas enam Gereja, yakni Gereja Ortodoks Suryani, Gereja Ortodoks Koptik, Gereja Ortodoks Etiopia, Gereja Ortodoks Eritrea, Gereja Ortodoks Suriah Malankara, dan Gereja Apostolik Armenia.

[315] Meskipun menjalin persekutuan satu sama lain, keenam Gereja ini sepenuhnya mandiri secara hierarki. [316] Gereja-Gereja ini masih melakukan dialog dengan Gereja Ortodoks Timur untuk membina persekutuan di antara Gereja-Gereja Ortodoks. [317] Gereja Negeri Timur Asiria Artikel utama: Gereja Asiria Timur Gereja Negeri Timur Asiria, dengan rangkaian suksesi kebatrikan yang berkesinambungan semenjak terbentuk pada abad ke-17, adalah sebuah denominasi Kristen Timur yang mandiri dan mengaku sebagai kelanjutan dari Gereja Negeri Timur, sama halnya dengan kebatrikan Katolik yang terbentuk pada abad ke-16 dan berkembang menjadi Gereja Katolik Kaldea, salah satu Gereja Katolik Timur yang menjalin persekutuan dengan Sri Paus.

Rumpun besar Protestan Reformasi Sejarah Gerakan pra-Reformasi Albigensis ( Per.) Hussit ( Boh.) Lollard ( Ing.) Waldensis ( Per./ Ita./ Jer.) Gereja-gereja Reformasi Anabaptis Anglikanisme ( Inggris) Calvinisme ( Swiss) Lutheranisme ( Jer.) Reform Socinianisme ( Pol.) Zwinglianisme ( Swi.) Gerakan pasca-Reformasi Amish ( Ame.) Baptis ( Ing.) Konggregasional Mennonit ( Bel./ Swi./ Ame./ Kan.) Metodisme ( Ing.) Pietisme Presbyterianisme ( Skot./ Ame.) Puritanisme ( Ing.) Universalisme " Kebangunan Besar" Injili Pentakosta Revivalisme Restorasionisme Gerakan Restorasi Advent Kotak ini: • lihat • bicara • sunting Pada abad ke-16, Martin Luther, kemudian Hulderikus Zwingli dan Yohanes Kalvin, memprakarsai sebuah mazhab atau aliran pemikiran yang kemudian hari disebut Protestantisme.

Para pengikut ajaran teologi Martin Luther disebut kaum Lutheran, sementara para pengikut ajaran teologi Hulderikus Zwingli dan Yohanes Kalvin membentuk lebih banyak denominasi yang pada umumnya disebut kaum Reformed ( bahasa Belanda: Gereformeerd). [318] Aliran-aliran Protestan tertua yang pertama kali memisahkan diri dari Gereja Katolik semasa Reformasi Protestan sering kali mengalami perpecahan lebih lanjut. [318] Misalnya saja pada abad ke-18, aliran Metodis muncul dari gerakan Kekudusan yang digagas oleh John Wesley, seorang imam gereja Anglikan.

[319] Di kemudian hari, aliran Metodis memunculkan pula sejumlah gereja Pentakosta dan gereja nondenominasi yang mengutamakan kuasa penyucian Roh Kudus. [320] Karena aliran Metodis, Pentakosta, dan aliran-aliran injili lainnya senantiasa mendengung-dengungkan imbauan "terima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadimu", [321] yang berasal dari ajaran John Wesley tentang pentingnya "lahir baru", [322] maka para pengikut aliran-aliran ini sering kali menyebut dirinya sebagai orang Kristen lahir baru.

[323] [324] Perkiraan jumlah keseluruhan umat Kristen Protestan sangat tidak pasti, namun rumpun besar Protestan jelas merupakan kelompok umat Kristen terbesar kedua sesudah Gereja Katolik berdasarkan jumlah pengikut (meskipun Gereja Ortodoks Timur jauh lebih besar dari denominasi Protestan yang mana pun). [311] Jumlah perkiraan yang kerap dikemukakan adalah lebih dari 800 juta jiwa, setara dengan 40% dari jumlah keseluruhan umat Kristen di dunia.

[211] Sebagian besar umat Kristen Protestan merupakan anggota dari segelintir rumpun denominasi, yakni rumpun denominasi Adventis, rumpun denominasi Anglikan, rumpun denominasi Baptis, rumpun denominasi Reformed (Kalvinis), [325] rumpun denominasi Lutheran, rumpun denominasi Metodis, dan rumpun denominasi Pentakosta. [211] Selain itu, gereja-gereja Nondenominasi, Injili, Karismatik, neo-Karismatik, Independen, dan berbagai macam gereja lainnya semakin marak bermunculan di mana-mana dan bertumbuh menjadi bagian yang penting dari rumpun besar Protestan.

[326] Salah satu rumpun aliran di dalam rumpun besar Protestan yang istimewa adalah gereja-gereja Anglikan yang bermula dari gereja Inggris dan diorganisasikan dalam komuni (persekutuan) Anglikan. Sejumlah gereja Anglikan mengaku sebagai gereja Protestan sekaligus Katolik.

[327] Sejumlah tokoh Anglikan menganggap gerejanya sebagai salah satu cabang dari "Gereja Katolik yang kudus dan esa" setingkat dengan Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur. Anggapan semacam ini ditolak oleh Gereja Katolik, sejumlah Gereja Ortodoks Timur, dan banyak dari umat Anglikan injili sendiri. [328] [329] Jika aliran Anglikan, aliran Lutheran, dan aliran Reformed bermula dari gerakan Reformasi Magisteral, maka ada pula kelompok-kelompok lain seperti kaum Anabaptis yang sering kali tidak menganggap dirinya Protestan.

Kelompok-kelompok lain ini bermula dari gerakan Reformasi Radikal, dan memiliki ciri khas menolak pembaptisan kanak-kanak; mereka menganut paham kredobaptisme atau baptisan orang percaya, yakni keyakinan bahwa yang boleh dibaptis hanyalah orang-orang dewasa yang percaya. Aliran Anabaptis mencakup jemaat-jemaat Amische (pengikut ajaran Jakob Ammann), jemaat-jemaat Kristen Rasuli (pengikut ajaran Samuel Heinrich Fröhlich), jemaat-jemaat Bruderhof (didirikan oleh Eberhard Arnold), jemaat-jemaat Menonit (pengikut ajaran Menno Simons), jemaat-jemaat Huterit (didirikan oleh Jakob Hutter), dan jemaat-jemaat Persaudaraan Schwarzenau atau kaum Baptis Jerman.

[330] [331] [332] Sekelompok orang yang menganut asas-asas ajaran aliran Protestan hanya menyebut dirinya "umat Kristen" atau "umat Kristen lahir baru". Kelompok ini biasanya menghindari paham konfesionalisme dan kredalisme dari komunitas-komunitas Kristen lain [333] dengan menyebut diri mereka sebagai " kaum nondenominasional" atau " kaum injili".

Karena sering kali dibentuk oleh gembala-gembala perorangan, kelompok-kelompok semacam ini sedikit sekali memiliki kaitan afiliasi dengan denominasi-denominasi historis. [334] Joseph Smith dan Oliver Cowdery menerima tahbisan imamat Harun dari Yohanes Pembaptis, lukisan dari abad ke-19. Umat Mormon percaya bahwa jabatan imam telah lenyap sepeninggal para rasul dan oleh karena itu perlu dipulihkan. Semasa Kebangunan Rohani Kedua, yakni kurun waktu kesadaran beragama yang berlangsung di Amerika Serikat pada awal era 1800-an, terjadi pertambahan jumlah gereja yang tidak memiliki kaitan dengan gereja lain.

Pada umumnya gereja-gereja ini menganggap dirinya sedang memulihkan gereja mula-mula yang didirikan oleh Yesus Kristus, alih-alih menganggap dirinya mendirikan sebuah gereja baru.

[335] Pada umumnya umat Kristen Pemulihan ini percaya bahwa kelompok-kelompok umat Kristen lainnya telah membawa masuk kesesatan ke dalam agama Kristen. Tindakan penyesatan agama Kristen inilah yang mereka sebut sebagai Murtad Besar. [336] Iglesia ni Cristo adalah gereja Pemulihan di Asia yang dibentuk pada permulaan era 1900-an.

Beberapa gereja Pemulihan yang terbentuk pada kurun waktu ini secara historis memiliki kaitan dengan kegiatan-kegiatan perkemahan rohani pada awal abad ke-19 di daerah Midwest dan daerah Upstate New York. Salah satu dari gereja-gereja terbesar yang dihasilkan oleh gerakan ini adalah Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir. [337] Aliran Seribu Tahun dan aliran Adventis di Amerika Serikat, yang berasal dari aliran Protestan injili, mempengaruhi gerakan Saksi-Saksi Yehuwa dan gerakan Adventis Hari Ketujuh.

Gerakan Adventis Hari Ketujuh sendiri muncul sebagai tanggapan atas khotbah-khotbah William Miller. Gereja-gereja Pemulihan lainnya, yakni Gereja Kristen (Murid-Murid Kristus), Gereja Masehi Injili di Kanada, [338] [339] Gereja-Gereja Kristus, serta gereja-gereja Kristen dan gereja-gereja Kristus, bersumber dari Gerakan Pemulihan Stone-Campbell yang berpusat di Kentucky dan Tennessee.

Kelompok-kelompok lain yang terbentuk pada kurun waktu ini meliputi kaum Kristadelfian dan gerakan Orang-Orang Suci Zaman Akhir sebagaimana yang sudah diuraikan di atas. Meskipun gereja-gereja yang bersumber dari gerakan Kebangunan Rohani Kedua memiliki beberapa tampilan lahiriah yang serupa, doktrin dan praktik-praktiknya sangat berbeda satu sama lain. Lain-lain Berbagai komunitas kecil Katolik mandiri, misalnya Gereja Katolik Lama, menambahkan embel-embel katolik pada namanya, dan boleh dikata memiliki banyak kesamaan praktik dengan Gereja Katolik, akan tetapi komunitas-komunitas ini telah keluar dari persekutuan paripurna dengan Takhta Suci.

Umat Kristen Rohani, seperti kaum Doukhobor dan kaum Molokan, memisahkan diri dari Gereja Ortodoks Rusia serta membina hubungan akrab dengan kaum Mennonit dan kaum Quaker karena memiliki kesamaan dalam praktik-praktik keagamaan. Di kemudian hari semua kaum ini disebut sebagai jemaat-jemaat cinta damai karena menganut paham pasifisme. [340] [341] Agama Yahudi Mesianis (atau Gerakan Mesianis) adalah nama sebuah gerakan Kristen yang terdiri atas sejumlah aliran yang anggota-anggotanya boleh menganggap dirinya sebagai umat Yahudi.

Gerakan yang bermula pada era 1960-an dan 1970-an ini mencampurkan unsur-unsur dari praktik keagamaan Yahudi dengan ajaran Kristen injili. Agama Yahudi Mesianis meyakini asas-asas kepercayaan semisal status Mesias dan kodrat ilahi dari "Yesyua" (nama Yesus dalam bahasa Ibrani) serta hakikat ketritunggalan Allah, namun juga menaati sejumlah hukum dan adab makan Yahudi. [342] Umat Kristen esoteris atau para penganut kebatinan Kristen menganggap agama Kristen sebagai sebuah agama misteri, [343] [344] dan mengakui keberadaan serta mengaku memiliki doktrin-doktrin atau praktik-praktik esoteris (kebatinan) tertentu [345] [346] yang tersembunyi dari khalayak ramai dan hanya dapat diakses oleh sekalangan kecil orang-orang yang "tercerahkan", "terinisiasi", atau sangat terdidik.

[347] [348] Contoh lembaga kebatinan Kristen antara lain Rosicrucian Fellowship (Perhimpunan Mawar Salib), Perhimpunan Antroposofi, dan Martinisme. Kebudayaan Contoh-contoh budaya Kristen dan pemuka-pemuka agama Kristen yang tersohor Hampir sepanjang sejarahnya, kebudayaan Barat telah disamakan dengan kebudayaan Kristen, dan sebagian besar populasi Dunia Barat dapat disebut umat Kristen budaya.

Istilah " Eropa" dan " Dunia Barat" telah dikait-kaitkan begitu rapat dengan gagasan tentang "agama Kristen" dan "Dunia Kristen", bahkan banyak kalangan yang beranggapan bahwa agama Kristen merupakan salah satu mata rantai dalam pembentukan jati diri Eropa yang tunggal. [349] Kebudayaan Barat memang mengandung sejumlah anasir dari agama-agama politeistik pada awal sejarahnya di bawah kekuasaan bangsa Yunani dan bangsa Romawi, namun begitu kekuasaan terpusat bangsa Romawi meredup, Gereja Katolik pun bangkit sebagai satu-satunya kekuatan yang mantap di Eropa.

[350] Sampai dengan Abad Pencerahan, [351] kebudayaan Kristen mengendalikan arus perkembangan filsafat, kesusastraan, seni rupa, seni musik, dan ilmu pengetahuan. [350] [352] Pengaruh agama Kristen pada bidang-bidang tersebut di kemudian hari melahirkan filsafat Kristen, seni rupa Kristen, seni musik Kristen, kesusastraan Kristen, dan sebagainya.

Agama Kristen telah banyak berjasa bagi dunia pendidikan karena Gerejalah yang menciptakan dasar-dasar sistem pendidikan Dunia Barat, [353] dan yang mendanai pendirian universitas-universitas di Dunia Barat; oleh karena itu, pada umumnya universitas dianggap sebagai lembaga yang terbentuk di dalam ruang lingkup masyarakat Kristen pada Abad Pertengahan.

[166] [167] Sepanjang sejarah, agama Kristen sering kali menjadi pengayom ilmu pengetahuan dan kedokteran. Agama Kristen telah mendirikan banyak sekali sekolah, universitas, serta rumah sakit, dan banyak rohaniwan Katolik, [354] khususnya rohaniwan Yesuit, [355] [356] turut berkecimpung di bidang ilmu pengetahuan sepanjang sejarah serta memberi banyak sumbangsih penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

[357] Agama Kristen Protestan juga memiliki andil besar di bidang ilmu pengetahuan. Menurut Tesis Merton, ada korelasi positif antara kebangkitan Puritanisme Inggris serta Pietisme Jerman di satu pihak dan eksperimen-eksperimen ilmu pengetahuan perdana di lain pihak.

[358] Dampak agama Kristen terhadap peningkatan taraf hidup manusia meliputi bidang kesejahteraan sosial, [359] pendirian rumah-rumah sakit, [360] ilmu ekonomi (misalnya etika kerja Protestan), [361] [362] politik, [363] arsitektur, [364] kesusastraan, [365] perawatan kebersihan diri, [366] [367] dan kehidupan berumah tangga.

[368] Umat Kristen Timur (khususnya umat Kristen Nestorian) memiliki andil dalam kemajuan peradaban Islam Arab pada zaman Khilafah Bani Umayyah dan Khilafah Bani Abbas karena menerjemahkan karya-karya tulis para filsuf Yunani ke dalam bahasa Suryani dan selanjutnya ke dalam bahasa Arab.

[369] [370] [371] Mereka juga menonjol di bidang filsafat, ilmu pengetahuan, teologi, dan kedokteran, [372] [373] [374] bahkan banyak cendekiawan di Balai Hikmat (bahasa bahasa Arab: بيت الحكمة‎, Baitul Hikmah) berlatar belakang agama Kristen.

[375] Umat Kristen telah memberikan berbagai macam kontribusi bagi kemajuan umat manusia dalam berbagai macam bidang, [376] antara lain filsafat, [377] ilmu pengetahuan dan teknologi, [354] [378] [379] [380] [381] seni murni dan arsitektur, [382] politik, kesusastraan, seni musik, [383] dan dunia usaha.

[384] Menurut 100 Years of Nobel Prizes (Seabad Hadiah Nobel), sebuah ulasan mengenai anugerah hadiah Nobel antara 1901 dan 2000, sebagian besar (65,4%) dari penerima hadiah Nobel memilih agama Kristen dalam berbagai bentuknya sebagai agama yang mereka sukai. [385] Pascakekristenan [386] adalah istilah yang digunakan sebagai sebutan bagi kemerosotan agama Kristen, khususnya di Eropa, Kanada, Australia, dan dalam taraf rendah di ujung selatan Benua Amerika, pada abad ke-20 dan ke-21, menurut ukuran-ukuran pascamodernisme.

Istilah ini mengacu pada hilangnya monopoli agama Kristen atas nilai-nilai dan wawasan dunia di dalam masyarakat-masyarakat yang turun-temurun memeluk agama Kristen. Umat Kristen budaya adalah masyarakat sekuler dengan warisan Kristen yang mungkin saja tidak percaya pada berbagai ajaran agama Kristen, tetapi mempertahankan keakraban dengan budaya populer, seni rupa, seni musik, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan agama Kristen.

Istilah ini juga kerap digunakan untuk membedakan kelompok-kelompok politik di kawasan-kawasan yang didiami oleh masyarakat dari berbagai latar belakang keagamaan. Gerakan oikumene Kebaktian oikumene di biara Taizé, Prancis Kelompok-kelompok dan denominasi-denominasi Kristen sudah lama mendengung-dengungkan cita-cita untuk bersatu. Pada abad ke-20, gerakan oikumene (gerakan persatuan) umat Kristen mengalami kemajuan melalui dua cara.

[387] Salah satu caranya adalah meningkatkan kerjasama antargolongan, contohnya adalah pembentukan Aliansi Injili Sedunia pada 1846 di London, penyelenggaraan Konferensi Utusan Injil Edinburgh di kalangan Protestan pada 1910, pembentukan Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Penciptaan dalam Dewan Gereja-Gereja Sedunia pada 1948 oleh gereja-gereja Protestan dan Gereja-Gereja Ortodoks, serta pembentukan dewan-dewan nasional seperti Dewan Gereja-Gereja Nasional Australia yang juga mengikutsertakan umat Kristen Katolik.

[387] Cara yang lain adalah membina persatuan kelembagaan melalui persatuan dan persekutuan antargereja, yakni suatu praktik yang dapat ditelusuri asal-usulnya sampai pada usaha-usaha persatuan yang dilakukan oleh jemaat-jemaat Lutheran dan jemaat-jemaat Kalvinis pada awal abad ke-19 di Jerman. Gereja-gereja Kongregasional, Metodis, dan presbiterian bersatu pada 1925 menjadi Gereja Kesatuan Kanada, [388] dan pada 1977 untuk membentuk Gereja Bersatu di Australia. Pada 1947, gereja-gereja Anglikan, Baptis, Metodis, Kongregasional, dan Presbiterian bersatu membentuk Gereja India Selatan.

[389] Komunitas Taizé adalah sebuah paguyuban monastik oikumene yang istimewa karena beranggotakan lebih dari seratus orang bruder dari Gereja Katolik maupun gereja-gereja Protestan. [390] Komunitas ini mementingkan rekonsiliasi di antara semua denominasi Kristen, dan gereja utamanya yang berlokasi di Taizé, Saône-et-Loire, Prancis, diberi nama "Gereja Rekonsiliasi". [390] Komunitas yang sudah terkenal di seluruh dunia ini dikunjungi lebih dari 100.000 peziarah muda setiap tahun.

[391] Langkah-langkah menuju rekonsiliasi pada tataran global dilakukan pada 1965 oleh Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks dengan menarik kembali pernyataan pengucilan dari masing-masing pihak yang menjadi pemicu skisma akbar di antara keduanya pada 1054.

[392] Komisi Internasional Anglikan-Katolik Roma dibentuk pada 1969, dan telah berupaya memulihkan persekutuan penuh di antara kedua belah pihak semenjak 1970. [393] Sejumlah gereja Lutheran dan Gereja Katolik menandatangani Pernyataan Bersama Mengenai Doktrin Pembenaran pada 1999 demi menuntaskan sengketa-sengketa di antara kedua belah pihak yang dipicu oleh gerakan Reformasi Protestan.

Pada 2006, Dewan Metodis Sedunia, atas nama seluruh denominasi Metodis, mengadopsi pernyataan bersama ini. [394] Kritik dan pembelaan Selembar salinan Summa Theologica, salah satu karya tulis pembelaan agama Kristen yang terkenal Kritik terhadap agama Kristen dan umat Kristen sudah muncul semenjak masa hidup rasul-rasul.

Alkitab Perjanjian Baru memuat riwayat-riwayat mengenai sengketa yang timbul di antara para pengikut Yesus di satu pihak dan kaum Farisi serta ahli-ahli Taurat di lain pihak (misalnya Matius 15:1–20 dan Markus 7:1–23). [395] Pada abad ke-2, agama Kristen dikritik oleh umat Yahudi dengan berbagai alasan, misalnya nubuat-nubuat dalam Alkitab Ibrani dikatakan tidak digenapi oleh Yesus karena hidupnya berakhir secara tragis, [396] dan bahwasanya kurban penghapusan dosa yang dipersembahkan di muka (dipersembahkan sebelum timbul perbuatan dosa), baik yang dipersembahkan demi kepentingan semua orang maupun yang dipersembahkan demi kepentingan diri sendiri, tidak sesuai dengan ritual kurban agama Yahudi.

Selain itu dikatakan pula bahwa Allah menghakimi manusia berdasarkan perbuatannya, bukan berdasarkan keyakinannya. [397] [398] Salah satu dari serangan komprehensif pertama terhadap agama Kristen berasal dari filsuf Yunani, Kelsos, yang menulis Perkataan Yang Benar ( bahasa Yunani: Λόγος Ἀληθής, Logos Alētēs; bahasa Latin: Verbum Verum), sebuah polemik yang mengkritik umat Kristen sebagai warga yang tidak berguna bagi masyarakat.

[399] [400] [401] Bapa Gereja, Origenes, menanggapi kritik Kelsos dengan menerbitkan risalahnya, Melawan Kelsos ( bahasa Yunani: Κατὰ Κέλσου, Kata Kelsou; bahasa Latin: Contra Celsum), sebuah karya tulis yang menjadi cikal bakal dari ilmu apologetika Kristen. Origenes menanggapi kritik-kritik Kelsos secara sistematis, sehingga membantu meningkatkan wibawa akademik agama Kristen. [401] [402] Pada abad ke-3, kritik terhadap agama Kristen sudah menggunung, sebagian di antaranya merupakan bentuk pembelaan diri terhadap agama Kristen.

Desas-desus liar mengenai umat Kristen telah menyebar ke mana-mana. Konon kabarnya umat Kristen adalah umat tak bertuhan, memakan bayi manusia dalam upacara-upacara peribadatannya, dan gemar melakukan persetubuhan sumbang secara beramai-ramai. [403] [404] Porfirios, ahli filsafat Neoplatonis, menyusun karya tulisnya, Melawan Orang Kristen ( bahasa Yunani: Κατὰ Χριστιανῶν, Kata Kristianon; bahasa Latin: Adversus Christianos), dalam lima belas jilid sebagai suatu serangan komprehensif terhadap agama Kristen, sebagian dari isinya disusun berdasarkan ajaran-ajaran Plotinos.

[405] [406] Pada abad ke-12, Rabi Musa bin Maimun dalam karya tulisnya, Misneh Torah, mengkritik agama Kristen sebagai penyembahan berhala, karena umat Kristen memperilahkan Yesus yang berjasmani. [407] Pada abad ke-19, Nietzsche mulai menulis serangkai polemik mengenai ajaran-ajaran "tak wajar" agama Kristen (misalnya berpantang seks), dan terus-menerus mengkritik agama Kristen hingga akhir hayatnya. [408] Pada abad ke-20, filsuf Bertrand Russell menjabarkan kritiknya terhadap agama Kristen dalam esainya yang berjudul Why I Am Not a Christian.

Bertrand Russell merumuskan penolakannya terhadap agama Kristen dalam bentuk argumen-argumen logis. [409] Kritik terhadap agama Kristen terus-menerus bermunculan hingga hari ini, misalnya kritik dari ahli-ahli teologi Yahudi dan Muslim terhadap doktrin Tritunggal yang dianut oleh sebagian besar umat Kristen.

Menurut alim-ulama Yahudi dan Muslim ini, doktrin Tritunggal menerbitkan asumsi bahwa ada tiga Allah, dan oleh karena itu bertentangan dengan asas monoteisme. [410] Pengkaji Perjanjian Baru, Robert M. Price, telah mengemukakan dugaan dalam bukunya yang berjudul " The Christ Myth Theory and its problems" (Teori Mitos Kristus dan Permasalahannya) bahwa sebagian isi dari sejumlah kisah dalam Alkitab didasarkan pada mitos. [411] Apologetika Kristen bertujuan membentuk landasan rasional bagi agama Kristen.

Kata "apologetika" berasal dari kata Yunani, " apologeomai", yang berarti "demi membela". Apologetika Kristen telah dilakukan dalam berbagai bentuk selama berabad-abad, mulai dari Rasul Paulus.

Filsuf Tomas Aquinas mengemukakan lima argumen bagi eksistensi Allah dalam karya tulisnya yang berjudul Summa Theologica, sementara Summa contra Gentiles merupakan sebuah karya tulis utama di bidang apologetika Kristen yang juga dihasilkan oleh filsuf ini. [412] [413] Ahli apologetika kenamaan lainnya, G. K. Chesterton, menulis pada permulaan abad ke-20 tentang manfaat-manfaat agama, teristimewa agama Kristen.

G. K. Chesterton yang terkenal dengan penggunaan paradoks ini menjelaskan bahwa sekalipun merupakan agama yang paling banyak misterinya, agama Kristen juga adalah agama yang paling praktis.

[414] [415] Ia mengacu pada kemajuan peradaban-peradaban Kristen sebagai bukti dari praktikalitas agama Kristen. [416] John Polkinghorne, seorang imam Anglikan sekaligus seorang fisikawan, dalam bukunya yang berjudul Questions of Truth, membahas hal-ihwal hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan, yakni pokok bahasan yang juga pernah didalami oleh ahli-ahli apologetika Kristen lainnya seperti Ravi Zacharias, John Lennox, dan William Lane Craig.

Sehubungan dengan pokok bahasan ini, John Lennox dan William Lane Craig berpendapat bahwa model Ledakan Besar yang memperluas ruang angkasa adalah bukti bagi eksistensi Allah. [417] Lihat pula • ^ Dari kata Yunani Kuno Χριστός, Khristós ( dilatinkan menjadi Christus), terjemahan dari kata Ibrani מָשִׁיחַ, Māšîăḥ, yang berarti "orang yang diurapi", diimbuhi akhiran Latin -ian dan -itas.

• ^ a b Istilah "orang Kristen" ( bahasa Yunani: Χριστιανός, Kristianos) pertama kali digunakan sebagai sebutan bagi murid-murid Yesus di kota Antiokhia ( Kisah Para Rasul 11:26) pada ca.

44 M. Kristianos berarti "pengikut Kristus". Sebutan ini diberikan oleh warga non-Yahudi Antiokhia kepada murid-murid Yesus. Dalam Perjanjian Baru, sebutan-sebutan bagi murid-murid Yesus di kalangan sendiri adalah "saudara", "orang beriman", "orang terpilih", "orang kudus", dan "orang percaya".

Karya tulis tertua yang berisi kata Kristianos adalah surat-surat Ignasius dari Antiokhia yang ditulis sekitar tahun 100 M.

[1] • ^ "Kabar baik" atau "kabar gembira" adalah terjemahan dari istilah Yunani Kuno εὐαγγέλιον euanggélion. Umat Kristen Indonesia menggunakan kata Arab, إنجيل, Injil, yang terdapat pada naskah-naskah agama Islam, dan kini digunakan pula oleh umat Muslim non-Arab serta orang Arab non-Muslim. Kata ini berasal dari istilah Aram Suryani ܐܘܢܓܠܝܘܢ awon-gali-yun (artinya "Ia Mewahyukan") dalam Pesyita (Alkitab dalam bahasa Suryani), hasil alih aksara dari kata Yunani euanggelion. Dari kata "Injil" inilah dibentuk kata Injili sebagai padanan " Evangelical" dan Penginjilan sebagai padanan " evangelism".

• ^ Sebutan ini muncul di dalam Kisah Para Rasul ( Kisah Para Rasul 9:2, Kisah Para Rasul 19:9, Kisah Para Rasul 19:23). Beberapa terjemahan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Inggris mengkapitalisasi kata 'the Way' (misalnya di dalam Alkitab Versi Raja James Baru dan Alkitab Bahasa Inggris Versi Standar), yang mengisyaratkan bahwa inilah 'sebutan yang tampaknya dilekatkan kepada agama baru ini' [22] sementara terjemahan-terjemahan lainnya menjadikan frasa tersebut sebagai indikatif 'the way' (jalan tersebut), [23] 'that way' (jalan itu), [24] atau 'the way of the Lord' (jalan Tuhan).

[25] Alkitab bahasa Suryani menggunakan frasa "jalan Allah", sementara Alkitab bahasa Latin Vulgata menggunakan frasa "jalan Tuhan". [26] • ^ Dari bahasa bahasa Arab: أُسْقُف‎, usquf, alih aksara dari bahasa Yunani: επίσκοπος, epískopos, yang berarti penilik. • ^ Istilah "aliran Protestan populer" adalah sebuah istilah yang luwes; didefinisikan sebagai segala macam wujud dari aliran Protestan selain dari denominasi-denominasi bersejarah yang terbentuk pada zaman Reformasi Protestan.

• ^ Dari bahasa Arab: بَطْرَك‎, baṭrak, hasil alih aksara dari bahasa Yunani: πατριάρχης, patriarkēs, yang berarti kepala keluarga. Rujukan • ^ Zoll, Rachel (19 Desember 2011). "Study: Christian population shifts from Europe". Associated Press . Diakses tanggal 25 Februari 2012. • ^ a b c "The Global Religious Landscape: Christianity" (PDF). Pew Research Center. {/INSERTKEYS}

tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah

December 2012. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2015-09-24. Diakses tanggal 30 Juli 2012. • ^ a b 32,93% dari ~7,9 miliar penduduk dunia (di bagian 'People') "World". The World Factbook. CIA. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-01-05.

Diakses tanggal 2017-05-23. • ^ a b "Christianity 2015: Religious Diversity and Personal Contact" (PDF). gordonconwell.edu. Januari 2015. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2017-05-25. Diakses tanggal 29 Mei 2015. • ^ a b c d ANALYSIS (19 Desember 2011). "Global Christianity". Pew Research Center. Diakses tanggal 17 Agustus 2012. • ^ Woodhead, Linda (2004). Christianity: A Very Short Introduction.

Oxford: Oxford University Press. hlm. n.p. • ^ a b Robinson 2000, hlm. 229 • ^ a b Esler. The Early Christian World. hlm. 157f. • ^ Religion in the Roman Empire, Wiley-Blackwell, oleh James B. Rives, halaman 196 • ^ Catholic encyclopedia New Advent • ^ McManners, Oxford Illustrated History of Christianity, hlm.

301–303. • ^ Muslim-Christian Relations. Amsterdam University Press. 2006. ISBN 978-90-5356-938-2. Diakses tanggal 18 Oktober 2007. Semangat untuk mewartakan Injil di kalangan umat Kristen juga disertai oleh kesadaran bahwa permasalahan pertama yang akan muncul adalah bagaimana melayani melayani sejumlah besar pemeluk baru. Simatupang mengatakan bahwa, jika jumlah umat Kristen meningkat menjadi dua atau tiga kali lipat, maka jumlah pelayan umat semestinya juga meningkat menjadi dua atau tiga kali lipat, peran serta umat awam harus dimaksimalkan, dan pelayanan agama Kristen bagi masyarakat luas melalui sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit, dan panti-panti asuhan, harus diperbanyak.

Selain itu, bagi Simatupang, misi Kristen harus terlibat dalam perjuangan menegakkan keadilan di tengah-tengah geliat modernisasi. • ^ Fred Kammer (1 Mei 2004). Doing Faith Justice. Paulist Press. ISBN 978-0-8091-4227-9. Diakses tanggal 18 Oktober 2007. Para teolog, uskup, dan pengkhotbah mendesak komunitas Kristen untuk berbelas kasih sebagaimana Allah mereka berbelas kasih, dengan berulang kali menegaskan bahwa jagat raya diciptakan demi kepentingan seluruh umat manusia.

Mereka juga menerima dan mengembangkan ajaran menemukan Kristus dalam diri fakir miskin, dan kewajiban umat Kristen untuk melayani fakir miskin. Kongregasi-kongregasi religius dan pemimpin-pemimpin karismatik perseorangan mendorong pengembangan lembaga-lembaga penyantunan, panti-panti husada, balai-balai penyantunan peziarah, panti-panti asuhan, rumah-rumah penampungan bagi ibu-ibu yang tidak menikah yang menjadi cikal bakal "jaringan besar rumah-rumah sakit, panti-panti asuhan, dan sekolah-sekolah pada zaman modern, untuk melayani fakir miskin dan masyarakat luas." • ^ Christian Church Women: Shapers of a Movement.

Chalice Press. Maret 1994. ISBN 978-0-8272-0463-8. Diakses tanggal 18 Oktober 2007. Di provinsi-provinsi tengah di India, mereka mendirikan sekolah-sekolah, panti-panti asuhan, rumah-rumah sakit, dan gereja-gereja, serta mewartakan pesan Injil di zenanas. • ^ Religions in Global Society – Halaman 146, Peter Beyer – 2006 • ^ a b Cambridge University Historical Series, An Essay on Western Civilization in Its Economic Aspects, hlm.40: Hebraisme, sebagaimana Helenisme, telah menjadi faktor mahapenting dalam perkembangan peradaban barat; Agama Yahudi, selaku pendahulu agama Kristen, secara tidak langsung memiliki andil besar dalam pembentukan cita-cita dan moralitas bangsa-bangsa barat semenjak zaman Kristen.

• ^ a b c Caltron J.H Hayas, Christianity and Western Civilization (1953),Stanford University Press, hlm.2: "Tampilan-tampilan khas tertentu dari peradaban barat kita itu — yakni peradaban Eropa Barat dan Amerika — telah dibentuk terutama oleh Yahudi – Yunani – Kristen, Katolik maupun Protestan." • ^ Horst Hutter, University of New York, Shaping the Future: Nietzsche's New Regime of the Soul And Its Ascetic Practices (2004), hlm.111:tiga pendiri besar budaya barat, yakni Sokrates, Yesus, dan Plato.

• ^ Fred Reinhard Dallmayr, Dialogue Among Civilizations: Some Exemplary Voices (2004), hlm.22: Peradaban barat kadang-kadang pula digambarkan sebagai peradaban "Kristen" atau peradaban "Yahudi Kristen". • ^ S. T. Kimbrough, ed. (2005). Orthodox and Wesleyan Scriptural understanding and practice. St Vladimir's Seminary Press.

ISBN 978-0-88141-301-4. • ^ Larry Hurtado (17 Agustus 2017 ), "Paul, the Pagans’ Apostle" • ^ Ulasan Alkitab Jamieson-Fausset-Brown untuk nas Kisah Para Rasul 19, http://biblehub.com/commentaries/jfb//acts/19.htm diakses tanggal 8 Ockober 2015 • ^ Jubilee Bible 2000 • ^ Alkitab Versi Raja James Amerika • ^ Alkitab Douai-Rheims • ^ Gill, J., Gill's Exposition of the Bible, ulasan nas Kisah Para Rasul 19:23 http://biblehub.com/commentaries/gill/acts/19.htm diakses tanggal 8 Oktober 2015 • ^ E.

Peterson (1959), "Christianus." In: Frühkirche, Judentum und Gnosis, penerbit: Herder, Freiburg, hlmn. 353–372 • ^ Elwell & Comfort 2001, hlm. 266, 828. • ^ Olson, The Mosaic of Christian Belief. • ^ Ehrman, Bart (2003).

"Introduction: Recouping Our Losses". Lost Christianities: the battles for scripture and the faiths we never knew. Oxford, New York: Oxford University Press. hlm. 1. ISBN 978-0-19-518249-1. Tentu saja banyak dari kelompok-kelompok umat Kristen ini juga menolak mengakui kelompok-kelompok umat Kristen lainnya sebagai orang Kristen.

• ^ Avis, Paul (2002) The Christian Church: An Introduction to the Major Traditions, SPCK, London, ISBN 0-281-05246-8 sampul lunak • ^ White, Howard A.

Sejarah Gereja. • ^ Cummins, Duane D. (1991). A handbook for Today's Disciples in the Christian Church (Disciples of Christ) (edisi ke-Revised).

St Louis, MO: Chalice Press. ISBN 0-8272-1425-1. • ^ a b Ron Rhodes, The Complete Guide to Christian Denominations, Harvest House Publishers, 2005, ISBN 0-7369-1289-4 • ^ Pelikan/Hotchkiss, Creeds and Confessions of Faith in the Christian Tradition.

• ^ " "We Believe in One God….": The Nicene Creed and Mass". Catholics United for the Fath. Februari 2005. Diakses tanggal 16 Juni 2014. (Perlu mendaftar ( help)). • ^ Encyclopedia of Religion, "Arianism". • ^ Catholic Encyclopedia, "Council of Ephesus".

• ^ Christian History Institute, First Meeting of the Council of Chalcedon. • ^ Peter Theodore Farrington (Februari 2006).

"The Oriental Orthodox Rejection of Chalcedon". Glastonbury Review. Gereja Ortodoks Britania (113). Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 Juni 2008. • ^ Paus Leo I, Surat kepada Flavianus • ^ Catholic Encyclopedia, " Athanasian Creed (Kredo Atanasius)".

• ^ a b "Our Common Heritage as Christians". The United Methodist Church. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 Januari 2006. Diakses tanggal 31 Desember 2007. • ^ Metzger/Coogan, Oxford Companion to the Bible, hlmn. 513, 649. • ^ Kisah Para Rasul 2:24, Kisah Para Rasul 2:31–32, Kisah Para Rasul 3:15, Kisah Para Rasul 3:26, Kisah Para Rasul 4:10, Kisah Para Rasul 5:30, Kisah Para Rasul 10:40–41, Kisah Para Rasul 13:30, Kisah Para Rasul 13:34, Kisah Para Rasul 13:37, Kisah Para Rasul 17:30–31, Roma 10:9, 1 Korintus 15:15, 1 Korintus 6:14, 2 Korintus 4:14, Galatia 1:1, Efesus 1:20, Kolose 2:12, 1 Tesalonika 1:10, Ibrani 13:20, 1 Petrus 1:3, 1 Petrus 1:21 • ^ Wikisource:Doa Syahadat Nicea • ^ Hanegraaff.

Resurrection: The Capstone in the Arch of Christianity. • ^ "The Significance of the Death and Resurrection of Jesus for the Christian". Australian Catholic University National. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 September 2007. Diakses tanggal 16 Mei 2007. • ^ Yohanes 3:16, Yohanes 5:24, Yohanes 6:39–40, Yohanes 6:47, Yohanes 10:10, Yohanes 11:25–26, Yohanes 17:3 • ^ Diambil dari sejumlah sumber, khususnya syahadat-syahadat awal, Katekismus Gereja Katolik, karya-karya tulis teologi tertentu, serta berbagai macam pengakuan iman yang disusun pada zaman Reformasi Protestan, termasuk Tiga Puluh Sembilan Pasal Gereja Inggris, dan karya-karya tulis yang termaktub dalam Buku Mufakat ( Concordia).

• ^ Fuller, The Foundations of New Testament Christology, hlm. 11. • ^ Salah satu kesimpulan Jesus Seminar: "dalam pandangan seminar ini, ia tidak bangkit secara jasmaniah dari antara orang mati; peristiwa kebangkitan ini hanyalah didasarkan atas penglihatan-penglihatan yang dialami Petrus, Paulus, dan Maria." • ^ Funk.

The Acts of Jesus: What Did Jesus Really Do?. • ^ Lorenzen. Resurrection, Discipleship, Justice: Affirming the Resurrection Jesus Christ Today, hlm.

13. • ^ Ball/Johnsson (ed.). The Essential Jesus. • ^ a b Eisenbaum, Pamela (Winter 2004). "A Remedy for Having Been Born of Woman: Jesus, Gentiles, and Genealogy in Romans" (PDF).

Journal of Biblical Literature. 123 (4): 671–702. doi: 10.2307/3268465. JSTOR 3268465. Diakses tanggal 3 April 2009. ((Perlu berlangganan ( help)). • ^ Wright, N.T. What Saint Paul Really Said: Was Paul of Tarsus the Real Founder of Christianity? (Oxford, 1997), hlm. 121. • ^ KGK 846; Vatikan II, Lumen Gentium 14 • ^ Lihat kutipan-kutipan dari Konsili Trente mengenai pembenaran (justifikasi) di Justforcatholics.org • ^ Pengakuan Iman Westminster, Bab X Diarsipkan 28 May 2014 di Wayback Machine.; Spurgeon, Pembelaan Kalvinisme Diarsipkan 10 April 2008 di Wayback Machine.

• ^ "Grace and Justification". Katekismus Gereja Katolik. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 Agustus 2010. • ^ Definisi dari Konsili Lateran IV, dikutip dalam Katekismus Gereja Katolik §253. • ^ Status monotheistik agama Kristen ditegaskan dalam berbagai sumber, antara lain dalam ' Catholic Encyclopedia (artikel " Monotheism (Monoteisme) "); William F.

Albright, From the Stone Age to Christianity (Dari Zaman Batu ke Agama Kristen); H. Richard Niebuhr; About.com, Monotheistic Religion resources (Sumber-sumber Agama Monoteistik) ; Kirsch, God Against the Gods (Allah Melawan Ilah-Ilah); Woodhead, An Introduction to Christianity (Suatu Pengantar ke Agama Kristen); Ensiklopedia Elektronik Columbia Monotheism ; The New Dictionary of Cultural Literacy, monotheism ; New Dictionary of Theology, Paul (Paulus)hlmn.

496–99; Meconi. Pagan Monotheism in Late Antiquity (Monoteisme Pagan Menjelang Akhir Abad Kuno). hlm. 111f. • ^ Kelly. Early Christian Doctrines. hlmn. 87–90. • ^ Alexander. New Dictionary of Biblical Theology. hlm. 514f. • ^ McGrath. Historical Theology. hlm. 61. • ^ Metzger/Coogan. Oxford Companion to the Bible. hlm. 782. • ^ Kelly. The Athanasian Creed. • ^ Oxford, "Encyclopedia Of Christianity, pg1207 • ^ Heidi J. Hornik and Mikeal Carl Parsons, Interpreting Christian Art: Reflections on Christian art, Mercer University Press, 2003, ISBN 0-86554-850-1, hlmn.

32–35. • ^ Contoh-contoh penyataan pra-Nikea: Dengan demikian segala kuasa sihir dileburkan; dan segala ikatan kejahatan dihancurkan, kebodohan manusia disingkirkan, dan kerajaan lama dihapuskan.

Allah sendiri tampil dalam wujud manusia, demi pembaharuan hidup kekal. — Santo Ignasius dari Antiokhia dalam Surat kepada jemaat di Efesus, bab 4, versi ringkas, terjemahan Roberts-Donaldson Kita juga memiliki seorang tabib, yakni Tuhan Allah kita Yesus Kristus, Sang Firman, Putra Tunggal yang diperanakkan sebelum zaman bermula, namun yang kemudian juga menjadi manusia, dari Maria Sang Perawan.

Karena 'Firman telah menjadi manusia.' Ia yang tak berjasmani, menjadi berjasmani; yang tak tersentuh derita, menjadi bertubuh rentan; yang baka, menjadi berbadan fana; yang hidup, menjadi tunduk pada kebinasaan, agar Ia dapat membebaskan jiwa-jiwa kita dari maut dan kebinasaan, dan menyembuhkannya, dan memulihkan kesehatannya, manakala jiwa-jiwa kita dijangkiti penyakit kefasikan dan hawa nafsu jahat — Santo Ignasius dari Antiokhia dalam Surat kepada jemaat di Efesus, bab 7, tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah ringkas, terjemahan Roberts-Donaldson Gereja, sekalipun menyebar ke seluruh dunia, bahkan sampai ke penjuru-penjuru bumi, telah menerima iman ini dari para rasul dan murid-murid mereka: .satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Khalik langit, dan bumi, dan laut, dan segala sesuatu yang terkandung di dalamnya; dan akan satu Kristus Yesus, Putra Allah, yang menjelma demi keselamatan kita; dan akan Roh Kudus, yang melalui nabi-nabi mewartakan pengampunan-pengampunan Allah, serta kedatangan, kelahiran dari seorang perawan, sengsara, kebangkitan dari antara orang mati, dan kenaikan ke surga dalam daging dari Yesus Kristus yang terkasih, dan penjelmaannya dari surga dalam kemuliaan Sang Bapa 'untuk menghimpun segala sesuatu menjadi satu,' dan untuk membangkitkan kembali seluruh jasad segenap umat manusia, supaya kepada Kristus Yesus, Tuhan, Allah, Juru Selamat, dan Raja kita, seturut kehendak Bapa yang tak kelihatan, setiap lutut akan bertelut, baik yang di surga, yang di bumi, maupun yang di bawah bumi, dan setiap lidah akan mengaku, dan bahwasanya Ia akan menghakimi semua orang dengan adil.

— Santo Ireneus dalam Melawan Bidah, bab X, ayat I, Donaldson, Sir James (1950), Ante Nicene Fathers, Jilid 1: Apostolic Fathers, Justin Martyr, Irenaeus, William B. Eerdmans Publishing Co., ISBN 978-0802880871 Karena dalam nama Allah, Bapa dan Tuhan semesta alam, dan Juru Selamat kita Yesus Kristus, dan Roh Kudus, mereka kemudian menerima pembasuhan dengan air — Yustinus Martir dalam Pembelaan Pertama, bab LXI, Donaldson, Sir James (1950), Ante Nicene Fathers, Jilid 1: Apostolic Fathers, Justin Martyr, Irenaeus, Wm.

B. Eerdmans Publishing Company, ISBN 978-0802880871 • ^ Olson, Roger E. (2002). The Trinity. Wm. B. Eerdmans Publishing. hlm. 15. ISBN 978-0-8028-4827-7. • ^ Fowler. World Religions: An Introduction for Students. hlm. 58. • ^ Teofiulus dari Antiokhia Apologia ad Autolycum II 15 • ^ McManners, Oxford Illustrated History of Christianity.

hlm. 50. • ^ Tertullian De Pudicitia bab 21 • ^ McManners, Oxford Illustrated History of Christianity, hlm. 53. • ^ Moltman, Jurgen. The Trinity and the Kingdom: The Doctrine of God.

Tr. from German. Fortress Press, 1993. ISBN 0-8006-2825-X • ^ Harnack, History of Dogma. • ^ Pocket Dictionary of Church History Nathan P. Feldmeth hlm. 135 "Unitarianisme. Kaum unitarian muncul di kalangan umat Kristen Protestan sejak abad ke-16. Kaum ini sangat menitikberatkan ajaran tentang keesaan Allah sehingga menafikan doktrin Tritunggal" • ^ Virkler, Henry A. (2007). Ayayo, Karelynne Gerber, ed. Hermeneutics: Principles and Processes of Biblical Interpretation (edisi ke-ke-2).

Grand Rapids, USA: Baker Academic. hlm. 21. ISBN 978-0-8010-3138-0. • ^ "Inspiration and Truth of Sacred Scripture". Catechism of the Catholic Church. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 September 2010. (§105–108) • ^ Second Helvetic Confession, Of the Holy Scripture Being the True Word of God • ^ Chicago Statement on Biblical Inerrancy, teks daring • ^ Metzger/Coogan, Oxford Companion to the Bible.

hlm. 39. • ^ a b Ehrman, Bart D. (2005). Misquoting Jesus: the story behind who changed the Bible and why. San Francisco: HarperSanFrancisco ISBN 978-0060738174 halaman 209, 183 • ^ "1 Timothy 2:11–12 NIV – A woman should learn in quietness and".

Bible Gateway. Diakses tanggal 12 Maret 2013. • ^ "1 corinthians 14:34–35 NIV – Women should remain silent in the". Bible Gateway. Diakses tanggal 12 Maret 2013. • ^ "1 corinthians 11:2–16 NIV – On Covering the Head in Worship – I". Bible Gateway. Diakses tanggal 12 March 2013. • ^ Wright, N.T. (1992).

The New Testament and the People of God. Minneapolis: Fortress Press. hlm. 435–443. ISBN 978-0-8006-2681-5.

• ^ "The Gospel of Thomas Collection – Translations and Resources". Gnosis.org. Diakses tanggal 12 Maret 2013. • ^ "Luke 17:20–21 NIV – The Coming of the Kingdom of God". Bible Gateway. Diakses tanggal 12 Maret 2013. • ^ "Reflections on religions". Mmnet.com.au. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-02-02. Diakses tanggal 12 March 2013. • ^ Kelly. Early Christian Doctrines. hlmn. 69–78. • ^ Katekismus Gereja Katolik, The Holy Spirit, Interpreter of Scripture § 115–118.

Diarsipkan 25 March 2015 di Wayback Machine. • ^ Tomas Aquinas, "Apakah dalam Kitab Suci sebuah kata dapat memiliki sejumlah makna" Diarsipkan 6 September 2006 di Wayback Machine. • ^ Katekismus Gereja Katolik, §116 Diarsipkan 25 March 2015 di Wayback Machine. • ^ Konsili Vatikan II, Dei Verbum (ayat 19) Diarsipkan 31 May 2014 di Wayback Machine.

• ^ Katekismus Gereja Katolik, "Roh Kudus, Penafsir Kitab Suci" § 113. Diarsipkan 25 March 2015 di Wayback Machine. • ^ Katekismus Gereja Katolik, "Penafsiran Warisan Iman" § 85. Diarsipkan 3 April 2015 di Wayback Machine. • ^ Keith A. Mathison (2001). "Introduction". The Shape of Sola Scriptura. Canon Press.

hlm. 15. ISBN 978-1-885767-74-5. • ^ a b Foutz, Scott David. "Martin Luther and Scripture". Quodlibet Journal. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 April 2000. Diakses tanggal 16 Juni 2014. • ^ Yohanes Kalvin, Ulasan Mengenai Surat-Surat Am 2 Petrus 3:14–18 • ^ "The Second Helvetic Confession, Bab 2 – Of Interpreting the Holy Scriptures; and of Fathers, Councils, and Traditions".

Gereja Presbiterian (Amerika Serikat). 11 Desember 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 Desember 2007. Diakses tanggal 1 Januari 2015. • ^ Sproul. Knowing Scripture, hlmn. 45–61; Bahnsen, A Reformed Confession Regarding Hermeneutics (pasal 6) Diarsipkan 2014-12-04 di Wayback Machine. • ^ a b Elwell, Walter A. (1984). Evangelical Dictionary of Theology. Grand Rapids, Mich.: Baker Book House. hlm.

565. ISBN 978-0-8010-3413-8. • ^ Johnson, Elliott (1990). Expository hermeneutics : an introduction. Grand Rapids Mich.: Academie Books. ISBN 978-0-310-34160-4. • ^ Terry, Milton (1974). Biblical hermeneutics : a treatise tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah the interpretation of the Old and New Testaments.

Grand Rapids Mich.: Zondervan Pub. House. hlm. 205. (edisi 1890 halaman 103, view1, view2) • ^ misalnya dalam ulasannya tentang Matius 1 (§III.1). Matthew Henry menafsirkan bahwa putra kembar Yehuda, Peres dan Zerah, melambangkan umat Kristen non-Yahudi dan umat Kristen Yahudi. Untuk penggunaan mutakhir dari tipologi, baca tulisan Glenny, Typology: A Summary Of The Present Evangelical Discussion.

• ^ a b Gill, N.S. "Which Nation First Adopted Christianity?". About.com. Diakses tanggal 8 Oktober 2011.

tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah

Armenia dianggap sebagai negara pertama yang menerima agama Kristen sebagai agama negara yang menurut tarikh tradisional terjadi pada ca. 301 M. • ^ Tomas Aquinas, Summa Theologicum, Supplementum Tertiae Partis soal 69 sampai 99 • ^ Calvin, John. "Institutes of the Christian Religion, Buku ke-3, Bab 25". www.reformed.org. Diakses tanggal 1 Januari 2008. • ^ Catholic Encyclopedia, " Particular Judgment". • ^ Ott, Grundriß der Dogmatik, hlm. 566. • ^ David Moser, Apa keyakinan Ortodoks sehubungan dengan doa bagi orang mati.

• ^ Ken Collins, Apa yang terjadi bila aku mati? Diarsipkan 2008-09-28 di Wayback Machine. • ^ "Audience of 4 August 1999". Vatican.va. 4 Agustus 1999.

Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ Catholic Encyclopedia, " Persekutuan para kudus". • ^ "Maut yang didatangkan Adam ke dalam dunia bersifat rohaniah maupun jasmaniah, dan hanya orang-orang yang beroleh izin masuk ke Kerajaan Allah sajalah yang akan ada secara kekal. Meskipun demikian, pemisahan ini belum terjadi sampai dengan Armagedon, manakala semua orang akan dibangkitkan dan diberi pilihan untuk meraih kehidupan kekal.

Selama belum dibangkitkan, "orang-orang mati tidak menyadari apa-apa." Apa Yang Diniatkan Allah Bagi Bumi?" Situs Resmi Saksi Yehuwa. Menara Pengawal, 15 Juli 2002. • ^ Black, Jonathan (2015). Wiyati, Nunung, ed. Sejarah Dunia yang Disembunyikan [ The Secret History of the World].

Diterjemahkan oleh Soekato, I. B., dan Toha, A. Jakarta: PT Pustaka Alvabet. hlm. 59. ISBN 978-602-9193-67-1. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: translators list ( link) • ^ a b Yustinus Martir, Pembelaan Pertama §LXVII • ^ Ignazio Silone, Bread and Wine (1937). • ^ a b c Cross/Livingstone.

The Oxford Dictionary of the Christian Church. hlm. 1435f. • ^ Gereja Negeri Timur Asiria Yang Kudus Apostolik Katolik, Keuskupan Agung Australia, Selandia Baru, dan Lebanon. • ^ a b Fortescue, Adrian (1912). "Christian Calendar". The Catholic Encyclopedia. Robert Appleton Company.

Diakses tanggal 18 July 2014. • ^ Hickman. Handbook of the Christian Year. • ^ "ANF04. Fathers of the Third Century: Tertullian, bagian tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah Minucius Felix; Commodian; Origen, bagian pertama dan ke-2 - Christian Classics Ethereal Library". Ccel.org. 1 Juni 2005. Diakses tanggal 5 Mei 2009. • ^ Penggambaran Minusius Feliks tentang bentuk salib Yesus sama dengan bentuk salib yang sudah sangat dikenali orang sekarang ini, yakni serupa dengan benda-benda berpalang atau mirip bentuk orang yang sedang tegak berdoa sambil merentangkan tangan ( Octavius dari Minucius Felix, bab XXIX).

• ^ "Setiap kali hendak melangkah dan berbuat, setiap kali hendak masuk dan keluar, bilamana kami hendak berpakaian dan mengenakan kasut, bilamana kami hendak mandi, bilamana kami hendak duduk di sekeliling meja, bilaman kami hendak menyalakan dian, di atas dipan, di atas kursi, dalam segala tindakan lumrah sehari-hari, kami menandai dahi dengan tanda itu." (Tertulianus, De Corona, bab 3) • ^ a b Dilasser.

The Symbols of the Church. • ^ a b Catholic Encyclopedia, " Symbolism of the Fish". • ^ "Melalui baptisan kita dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali menjadi putra-putra Allah; kita menjadi anggota-anggota tubuh Kristus, dijadikan warga Gereja, dan dijadikan pengambil bagian dalam misi Gereja" ( Katekismus Gereja Katolik, 1213 Diarsipkan 22 Juli 2016 di Wayback Machine.); "Baptisan Kudus adalah sakramen yang digunakan Allah untuk mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya dan membuat tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah menjadi anggota-anggota tubuh Kristus, yakni Gereja, serta menjadi ahli-ahli waris kerajaan Allah" ( Suci Doa Bersama, 1979, Gereja Episkopal); "Baptisan adalah sakramen inisiasi dan inkorporasi ke dalam tubuh Kristus" ( By Water and The Spirit – Pemahaman Resmi Persatuan Metodis Tentang Baptisan (PDF) Diarsipkan 13 Maret 2016 di Wayback Machine.; "Sebagai suatu ritus inisiasi menjadi anggota Keluarga Allah, para calon penerima baptisan secara simbolis dimurnikan atau dibasuh karena dosa-dosa mereka sudah diampuni dan sudah bersih dibasuh" ( William H.

Brackney, Doing Baptism Baptist Style – Believer's Baptism Diarsipkan 7 Januari 2010 di Wayback Machine.) • ^ "Sesudah pendarasan syahadat, air baptis didoakan dan diberkati sebagai tanda kebaikan ciptaan Allah. Orang yang akan dibaptis juga didoakan dan diberkati dengan minyak suci sebagai tanda bahwa ia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang suci dan baik.

Kemudian, sesudah pendarasan meriah "Alleluia" (terpujilah Allah), orang itu dibenamkan sebanyak tiga kali ke dalam air dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus" ( Gereja Ortodoks di Amerika: Pembaptisan). Diarsipkan 2010-10-12 di Wayback Machine. • ^ "Dalam Gereja Ortodoks, sekujur tubuh kita dibenamkan, karena pembenaman sekujur tubuh melambangkan kematian. Kematian apa?

Kematian "manusia lama yang berdosa". Sesudah pembaptisan kita dibebaskan dari kuasa dosa, meskipun sesudah dibaptis kita masih memiliki kecenderungan dan kecondongan terhadap yang jahat.", Keuskupan Agung Ortodoks Yunani Australia, artikel " Baptism (Baptisan) Diarsipkan 30 September 2014 di Wayback Machine.". • ^ Katekismus Gereja Katolik 403, 1231, 1233, 1250, 1252.

• ^ Catechism of the Catholic Church 1240. • ^ a b Alexander, T. D.; Rosner, B. S, ed. (2001). "Prayer". New Dictionary of Biblical Theology. Downers Grove, IL: Intervarsity Press. • ^ Ferguson, S. B. & Packer, J. (1988). "Saints". New Dictionary of Theology. Downers Grove, IL: Intervarsity Press. • ^ Madeleine Gray, The Protestant Reformation, (Sussex Academic Press, 2003), hlm. 140. • ^ "Catechism of the Catholic Church: Bagian 4 – Christian Prayer".

Va. Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ Rennie, Bryan.

tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah

"Zoroastrianism: The Iranian Roots of Christianity". • ^ Bowker, John (1997). World Religions: The Great Faiths Explored & Explained. London: Dorling Kindersley Limited. hlm. 13.

ISBN 0-7894-1439-2. • ^ "The World Factbook: Armenia". CIA. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-07-19. Diakses tanggal 8 Oktober 2011. • ^ Brunner, Borgna (2006). Time Almanac with Information Please 2007. New York: Time Home Entertainment. hlm. 685. ISBN 978-1-933405-49-0. • ^ Theo Maarten van Lint (2009). "The Formation of Armenian Identity in the First Millenium". Church History and Religious Culture. 89 (1/3,): 269. • ^ Chidester, David (2000). Christianity: A Global History.

HarperOne. hlm. 91. • ^ Undang-Undang Teodosius XVI.i.2, in: Bettenson. Documents of the Christian Church. Hlm. 31. • ^ Burbank, Jane; Copper, Frederick (2010). Empires in World History: Power and the Politics of Difference. Princeton: Princeton University Press. hlm. 64. • ^ a b Orlandis, A Short History of the Catholic Church (1993), preface.

• ^ McManners, Oxford Illustrated History of Christianity, hlm. 37f. • ^ Eusebius dari Kaisarea, penulis Sejarah Gereja pada abad ke-4 meriwayatkan bahwa Santo Markus datang ke Mesir pada tahun pertama atau tahun ketiga masa pemerintahan Kaisar Kaludius, yaitu pada tahun 41 atau 43 M.

"Two Thousand years of Coptic Christianity" Otto F.A. Meinardus hlm. 28. • ^ Neil Lettinga. "A History of the Christian Church in Western North Africa".

Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 Juli 2001. • ^ "Allaboutreligion.org". Allaboutreligion.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 November 2010. Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ Cameron 2006, hlm. 42. • ^ Cameron 2006, hlm. 47. • ^ Browning 1992, hlm. 198–208. • ^ Browning 1992, hlm. 218. • ^ a b c d Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 238–42. • ^ Mullin, 2008, hlm. 88. • ^ Mullin, 2008, hlm. 93–4. • ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 244–47. • ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlm.

260. • ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 278–81. • ^ Rudy, The Universities of Europe, 1100–1914, hlm. 40 • ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 305, 312, 314f.

• ^ a b Rüegg, Walter: "Foreword. The University as a European Institution", dalam: A History of the University in Europe. Jld. 1: Universities in the Middle Ages, Cambridge University Press, 1992, ISBN 0-521-36105-2, hlmn. XIX–XX • ^ a b Verger, Jacques (1999). Culture, enseignement et société en Occident aux XIIe et XIIIe siècles (dalam bahasa French) (edisi ke-ke-1).

Presses universitaires de Rennes in Rennes. ISBN 286847344X. Diakses tanggal 17 Juni 2014. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui ( link) • ^ Riché, Pierre (1978): "Education and Culture in the Barbarian West: From the Sixth through the Eighth Century", Columbia: University of South Carolina Press, ISBN 0-87249-376-8, hlmn.

126–127, 282–298 • ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 303–07, 310f., 384–86. • ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 305, 310f., 316f. tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 321–23, 365f. • ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn.

292–300. • ^ Riley-Smith. The Oxford History of the Crusades. • ^ Gereja Barat kala itu disebut Gereja Latin oleh umat Kristen Timur dan umat non-Kristen karena Gereja Barat melaksanakan ibadat dan mengerjakan urusannya dengan menggunakan bahasa Latin • ^ "The Great Schism: The Estrangement of Eastern and Western Christendom".

Orthodox Information Centre. Diakses tanggal 26 Mei 2007. • ^ Duffy, Saints and Sinners (1997), hlm. 91 • ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn.

300, 304–05. • ^ Gonzalez, The Story of Christianity, hlmn. 310, 383, 385, 391. • ^ National Geographic, 254. • ^ Jensen, De Lamar (1992), Renaissance Europe, ISBN 0-395-88947-2 • ^ Levey, Michael (1967). Early Renaissance. Penguin Books. • ^ Simon. Great Ages of Man: The Reformation. hlm. 7. • ^ a b Simon. Great Ages of Man: The Reformation. hlmn. 39, 55–61. • ^ Schama. A History of Britain. hlmn. 306–10. • ^ Bokenkotter, A Concise History of the Catholic Church, hlmn. 242–44.

• ^ Simon. Great Ages of Man: The Reformation. hlmn. 109–120. • ^ Sekilas pandangan umum mengenai diskusi Inggris terdapat dalam karya tulis Coffey, Persecution and Toleration in Protestant England 1558–1689. • ^ Novak, Michael (1988). Catholic social thought and liberal institutions: Freedom with justice. Transaction. hlm. 63. ISBN 978-0-88738-763-0. • ^ Mortimer Chambers, The Western Experience (Jld. 2) bab 21. • ^ Religion and the State in Russia and China: Suppression, Survival, and Revival, by Christopher Marsh, halaman 47.

Continuum International Publishing Group, 2011. • ^ Inside Central Asia: A Political and Cultural History, by Dilip Hiro. Penguin, 2009. • ^ Adappur, Abraham (2000). Religion and the Cultural Crisis in India and the West (dalam bahasa English). Intercultural Publications. ISBN 978-81-85574-47-9. Konversi Paksa di Bawah Rezim Ateis: Dapat ditambahkan pula bahwa sebagian besar contoh "konversi" pada zaman modern bukanlah hasil usaha suatu negara teokratis, melainkan suatu pemerintah yang mengaku ateis — yakni pemerintah Uni Soviet yang diperintah oleh kaum komunis.

Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui ( link) • ^ Geoffrey Blainey; A Short History of Christianity; Viking; 2011; hlm.494" • ^ Altermatt, Urs (2007). "Katholizismus und Nation: Vier Modelle in europäisch-vergleichender Perspektive".

Dalam Urs Altermatt, Franziska Metzger. Religion und Nation: Katholizismen im Europa des 19. und 20. Jahrhundert (dalam bahasa German). Kohlhammer. hlm. 15–34. ISBN 978-3-17-019977-4. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui ( link) • ^ Heimann, Mary (1995). Catholic Devotion in Victorian England.

Clarendon Press. hlm. 165–73. ISBN 0-19-820597-X. • ^ "Religion may become extinct in nine nations, study says". BBC News. 22 Maret 2011. • ^ "図録▽世界各国の宗教". .ttcn.ne.jp. Diakses tanggal 17 Agustus 2012. • ^ Fargues, Philippe (1998). "A Demographic Perspective". Dalam Pacini, Andrea. Christian Communities in the Middle East. Oxford University Press. ISBN 0-19-829388-7. • ^ Adolf Heuken. Ensiklopedi Gereja (2005). Lihat pula Adolf Heuken, "Bab I: Christianity in Pre-Colonial Indonesia", dalam A History of Christianity in Indonesia, penyunting Jan Aritonang dan Karel Steenbrink, hlmn.

3–7, Leiden/Boston: Brill, 2008, ISBN 978-90-04-17026-1 • ^ History of Christianity in Indonesia. hlmn. 59–62 • ^ History of Christianity in Indonesia. Bab IV • ^ History of Christianity in Indonesia. hlmn. 62–68 • ^ a b "U.S. Library of Congress' Country Studies of Indonesia". cuntrystudies.us. Diakses tanggal 2011-03-02. • ^ Robert Cribb, Historical Atlas of Indonesia (2000:48) • ^ Aritonang, Jan Sihar; Steenbrink, Karel, ed.

(2008), A history of Christianity in Indonesia, Leiden, The Netherlands: Koninklijke Brill NV, hlm. 122–123, ISBN 978-90-04-17026-1diakses tanggal 30 November 2010 • ^ Aritonang, Jan Sihar; Steenbrink, Karel, ed. (2008), A history of Christianity in Indonesia, Leiden, The Netherlands: Koninklijke Brill NV, hlm. 384, ISBN 978-90-04-17026-1diakses tanggal 30 November 2010 • ^ Aritonang, Jan Sihar; Steenbrink, Karel, ed. (2008), A history of Christianity in Indonesia, Leiden, The Netherlands: Koninklijke Brill NV, hlm.

647, ISBN 978-90-04-17026-1diakses tanggal 30 November 2010 • ^ "A History of Christianity in Indonesia". icrs.ugm.ac.id. Diakses tanggal 2011-03-02.

• ^ Werner Ustorf. "A missiological postscript", dalm McLeod and Ustorf (penyunting), The Decline of Christendom in (Western) Europe, 1750–2000, ( Cambridge University Press, 2003) hlmn. 219–20. • ^ "The Future of World Religions: Population Growth Projections, 2010–2050" (PDF). • ^ a b c "Pewforum: Christianity (2010)" (PDF). Diakses tanggal 14 Mei 2014. • ^ Johnstone, Patrick, "The Future of the Global Church: History, Trends and Possibilities", hlm.

100, gambar 4.10 & 4.11 • ^ Hillerbrand, Hans J., "Encyclopedia of Protestantism: 4-volume Set", hlm. 1815, "Para pengamat yang dengan cermat membandingkan seluruh angka-angka ini dalam konteks keseluruhan akan mendapati temuan yang mengejutkan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah rumpun besar Protestan, jumlah umat Kristen Protestan secara keseluruhan akan hampir sama banyak dengan umat Kristen Katolik pada tahun 2050 – masing-masing dengah jumlah pemeluk lebih dari 1,5 miliar jiwa, atau 17 persen dari populasi dunia, dengan percepatan pertambahan jumlah umat Kristen Protestan yang lebih tinggi dibandign percepatan pertambahan jumlah umat Katolik setiap tahunnya." • ^ Juergensmeyer, Mark (3 November 2005).

"Religion in Global Civil Society". Oxford University Press. hlm. 16. • ^ Barker, Isabelle V. (2005). "Engendering Charismatic Economies: Pentecostalism, Global Political Economy, and the Crisis of Social Reproduction". American Political Science Association. hlm. 2, 8 dan catatan kaki nomor 14 di hlm. 8. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 Desember 2013.

Diakses tanggal 25 Maret 2010. • ^ Encyclopædia Britannica tabel agama, menurut kawasan. Diakses November 2007. Diarsipkan 18 February 2008 di Wayback Machine. • ^ ARIS 2008 Report: Part IA – Belonging. "American Religious Identification Survey 2008". B27.cc.trincoll.edu. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 May 2011. Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ "New UK opinion poll shows continuing collapse of 'Christendom '". Ekklesia.co.uk.

23 December 2006. Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ Barrett/Kurian. World Christian Encyclopedia, hlm. 139 (Inggris), 281 (Prancis), 299 (Jerman). • ^ "Christians in the Tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah East". BBC News. 15 Desember 2005. Diakses tanggal 19 November 2010.

• ^ Katz, Gregory (25 Desember 2006). "Is Christianity dying in the birthplace of Jesus?". Chron.com. Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ "Number of Christians among young Koreans decreases by 5% per year". Omf.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 26 Februari 2009. Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ "Christianity fading in Taiwan - American Tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah Net".

Americanbuddhist.net. 10 November 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 Februari 2009. Diakses tanggal 5 Mei 2009. • ^ Greenlees, Donald (26 Desember 2007). "A Gambling-Fueled Boom Adds to a Church's Bane". Macao: Nytimes.com. Diakses tanggal 30 Juni 2011. • ^ Barry A. Kosmin; Ariela Keysar (2009). "American Religious Identification Survey (ARIS) 2008" (PDF).

Hartford, Connecticut, USA: Trinity College. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 7 April 2009. Diakses tanggal 1 April 2009. • ^ "Religions in Canada—Census 2001". 2.statcan.ca. 9 Maret 2010. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-02-28. Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ "Australian 2006 census – Religion". Censusdata.abs.gov.au. Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ Table 28, 2006 Census Data – QuickStats About Culture and Identity – Tables. Diarsipkan 24 Juli 2011 di Wayback Machine.

• ^ ANALYSIS (19 Desember 2011). "Europe". Pewforum.org. Diakses tanggal 17 Agustus 2012. • ^ ANALYSIS (19 Desember 2011). "Americas". Pewforum.org. Diakses tanggal 17 Agustus 2012. • ^ ANALYSIS (19 Desember 2011). "Global religious landscape: Christians". Pewforum.org. Diakses tanggal 17 Agustus 2012.

• ^ David Stoll, "Is Latin America Turning Protestant?" published Berkeley: University of California Press. 1990 • ^ Jeff Hadden (1997). "Pentecostalism". Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 April 2006. Diakses tanggal 24 September 2008. • ^ Pew Forum on Religion; Public Life (24 April 2006). "Moved by the Spirit: Pentecostal Power and Politics after 100 Years". Diakses tanggal 24 September 2008. • ^ "Pentecostalism". Britannica Concise Encyclopedia.

2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 Januari 2009. Diakses tanggal 21 Desdember 2008. Periksa nilai tanggal di: -accessdate= ( bantuan) • ^ Ed Gitre, Christianity Today Magazine (13 November 2000). "The CT Review: Pie-in-the-Sky Now". • ^ Melton, J. Gordon (1 Januari 2005).

"Encyclopedia of Protestantism". Infobase Publishing. hlm. 11. ISBN 978-0-8160-6983-5. • ^ Milne, Bruce (2010). Know the Truth: A Handbook of Christian Belief. InterVarsity Press. hlm. 332. ISBN 0-83082-576-2. • ^ a b c d Johnstone, Patrick; Miller, Duane Alexander (2015). "Believers in Christ from a Muslim Background: A Global Census". IJRR. 11 (10): 1–19. Diakses tanggal 30 Oktober 2015. • ^ USSD Bureau of Democracy, Human Rights, and Labor (2009). "International Religious Freedom Report 2009".

Diakses tanggal 2010-03-06. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ "5,000 Azerbaijanis adopted Christianity" (dalam bahasa Russian). Day.az. 7 Juli 2007. Diakses tanggal 30 Januari 2012.

tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah

Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui ( link) • ^ "Christian Missionaries Becoming Active in Azerbaijan" (dalam bahasa Azerbaijani). Tehran Radio. 19 Juni 2011. Diakses tanggal 12 Agustus 2012. • ^ Canada, Immigration and Refugee Board of (17 Juli 2013).

"Algeria: Situation of Christians, including the treatment of Christians by society and by the authorities; availability of state protection; the fire at Tafat church; whether there were convictions for proselytism (2010 – July 2013) [DZA104491.FE]". • ^ a b c d e f "Muslims Turn to Christ – ChristianAction".

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-04-26. Diakses tanggal 2018-08-11. • ^ "In Europe, many Muslims renounce Islam, embrace Christianity: Report". • ^ Aghajanian, Liana (12 Mei 2014). " 'Our second mother': Iran's converted Christians find sanctuary in Germany" – via The Guardian.

• ^ Gary Lane. "House Churches Growing in Iran". Cbn.com. Diakses tanggal 17 Agustus 2012. • ^ David B. Barrett; George Thomas Kurian; Todd M. Johnson, ed. (15 Februari 2001). World Christian Encyclopedia hlm.374. Oxford University Press USA. ISBN 0195079639. • ^ AHMAD FAROUK MUSA; MOHD RADZIQ JALALUDDIN; AHMAD FUAD RAHMAT; EDRY FAIZAL EDDY YUSUF (22 October 2011).

"What is Himpun about?". The Star. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 October 2011. Diakses tanggal 16 December 2011. • ^ "Christian Converts in Morocco Fear Fatwa Calling for Their Execution". • ^ "Friesch Dagblad". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-10-18.

Diakses tanggal 2018-08-11. • ^ Cookson, Tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah (2003). Encyclopedia of religious freedom. Taylor & Francis. hlm. 207.

ISBN 0-415-94181-4. • ^ "TURKEY: Protestant church closed down – Church In Chains – Ireland :: An Irish voice for suffering, persecuted Christians Worldwide". • ^ "Ekklesia – Turkish Protestants still face 'long path' to religious freedom". 8 Maret 2011. • ^ khadijabibi (30 Oktober 2009). "35,000 Muslims convert into Christianity each year in Turkey". Chowk.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 September 2012.

Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ "Нац состав.rar". Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 Juli 2011. Diakses tanggal 24 Juli 2011. • ^ "Conversion rate". 30 Desember 2008 – via The Economist. • ^ "Why Are Millions of Muslims Becoming Christian?". • ^ Jeni Mitchell. "FREEradicals – Targeting Christians in Central Asia".

Icsr.info. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 Februari 2012. Diakses tanggal 17 Agustus 2012. • ^ "Despite Government Set-backs, Christianity Is Alive in Central Asia".

Opendoorsusa.org. 30 November 2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 January 2012. Diakses tanggal 17 August 2012. • ^ Bareth, Narayan (23 Februari 2005). "State to bar religious conversion". BBC News. • ^ "Religious Conversions". The Times of India. India. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-11-04. Diakses tanggal 2018-08-11. • ^ "160,000 Have Converted Out of Hinduism in Malaysia in 25 Years". Christianaggression.org. 16 Mei 2005. Diarsipkan dari versi asli tanggal 23 November 2007.

Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ "Religions in Mongolia". Mongolia-attractions.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 Mei 2011. Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ Religious Demographic Profiles – Pew Forum Diarsipkan 21 April 2010 di Wayback Machine.

• ^ "Annual Report on International Religious Freedom for 2005 – Vietnam". U.S. Department of State. 30 Juni 2005. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 Oktober 2006. Diakses tanggal 11 Maret 2007. • ^ "Christianity, non-religious register biggest growth: Census 2010".

Newnation.sg. 13 Januari 2011. Diakses tanggal 17 Agustus 2012. • ^ "In Indonesia, Lunar New Year an old practice for young Christians". Webcitation.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 Agustus 2011. Diakses tanggal 17 Agustus 2012. • ^ "In Indonesia, the Chinese go to church". Nytimes.com. 27 April 2006. Diakses tanggal 17 Agustus 2012. • ^ "Christianity 2010: a view from the new Atlas of Global Christianity". Goliath.ecnext.com.

1 Januari 2010. Diakses tanggal 17 Agustus 2012. • ^ "More People Claim Christian Faith in Japan". • ^ Landau, Christopher (26 October 2009). "Will South Korea become Christian?". BBC News. Diakses tanggal 17 Agustus 2012.

• ^ Putnam, Democracies in Flux: The Evolution of Social Capital in Contemporary Society, hlm. 408. • ^ McGrath, Christianity: An Introduction, hlm. xvi. • ^ Peter Marber, Money Changes Everything: How Global Prosperity Is Reshaping Our Needs, Values and Lifestyles, hlm. 99. • ^ Philip Jenkins God's Continent, Oxford: Oxford University Press, 2007, hlm.

56 • ^ a b "The future of the world's most popular religion is African". 25 December 2015 – via The Economist. • ^ "Argentina". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 11 Mei 2008. • ^ Løsere bånd, men fortsatt statskirke Diarsipkan 27 Desember 2012 di WebCite, ABC Nyheter • ^ Staten skal ikke lenger ansette biskoper, NRK • ^ Forbund, Human-Etisk.

"Ingen avskaffelse: / Slik blir den nye statskirkeordningen". • ^ "Costa Rica". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 11 Mei 2008. • ^ "Denmark". Encyclopædia Britannica.

Diakses tanggal 11 Mei 2008. • ^ "Church and State in Britain: The Church of privilege". Centre for Citizenship. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 Mei 2008. Diakses tanggal 11 Mei 2008. • ^ "McCain Praises Georgia For Adopting Christianity As Official State Religion". BeliefNet. Diakses tanggal 11 April 2009. • ^ "El Salvador". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 11 Mei 2008. • ^ "Iceland". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 11 Mei 2008.

• ^ "Liechtenstein". U.S. Department of State. Diakses tanggal 11 Mei 2008. • ^ "Malta". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 11 Mei 2008. • ^ "Monaco". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 11 Mei 2008. • ^ "Vatican". Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 11 Mei 2008. • ^ "Cyprus". U.S. Department of State. Diakses tanggal 11 Mei 2008. • ^ "Global Christianity – A Report on the Size and Distribution of the World's Christian Population".

19 Desember 2011. • ^ ANALYSIS (19 December 2011). "Table: Religious Composition by Country, in Percentages". Pewforum.org. Diakses tanggal 17 Agustus 2012. • ^ "Divisions of Christianity". North Virginia College. Diakses tanggal 31 December 2007. • ^ "The LDS Restorationist movement, including Mormon denominations". Religious Tolerance. Diakses tanggal 31 December 2007. • ^ Ehrman, Bart D. (2003). Lost Christianities: The Battles for Scripture and the Faiths We Never Knew.

Oxford University Press, USA. hlm. 1. ISBN 0-19-514183-0. • ^ Sydney E. Ahlstrom, menggambarkan denominasionalisme di Amerika sebagai "sebuah eklesiologi virtual" yang "pertama-tama menolak pernyataan Gereja Katolik, gereja-gereja hasil Reformasi 'magisterial', dan sebagian besar sekte bahwa merekalah satu-satunya Gereja yang sejati." ( Ahlstrom, Sydney E.; Hall, David D.

(2004). A Religious History of the American People (edisi ke-Revised). Yale University Press. hlm. 381. ISBN 978-0-300-10012-9. ); • Nash, Donald A. Why the Churches of Christ are Not a Denomination (PDF). hlm. 1–3. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 28 January 2010.

Diakses tanggal 17 June 2014. ; • Wendell Winkler, Christ's Church is not a Denomination; • David E. Pratte (1999). "Jesus Is Lord Free Online Bible Study Course Lesson 8, II. How Did Modern Denominations Begin?". biblestudylessons.com. Diakses tanggal 17 Juni 2014. • ^ "Nicene Creed". Encyclopædia Britannica Online. Encyclopædia Britannica. 2007. Diakses tanggal 31 Desember 2007.

• ^ Konsili Vatikan II, Lumen Gentium Diarsipkan 6 September 2014 di Wayback Machine. • ^ Duffy, Saints and Sinners, hlm. 1. • ^ Hitchcock, Geography of Religion, hlm. 281. • ^ Norman, The Roman Catholic Church an Illustrated History, hlmn. 11, 14. • ^ a b Konsili Vatikan II, Lumen Gentium Diarsipkan 6 September 2014 di Wayback Machine., bab 2, alinea 15. • ^ Katekismus Gereja Katolik, alinea 865. Diarsipkan 12 Agustus 2015 di Wayback Machine. • ^ Marthaler, Introducing the Catechism of the Catholic Church, Traditional Themes and Contemporary Issues (1994), prakata.

• ^ John Paul II, Pope (1997). "Laetamur Magnopere". Vatican. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 Februari 2008. Diakses tanggal 9 Maret 2008. • ^ Annuario Pontificio (2012), hlm. 1142.

• ^ Barry, One Faith, One Lord (2001), hlm. 71 • ^ Central Intelligence Agency, CIA World Factbook Diarsipkan 2010-01-05 di Wayback Machine. (2007). • ^ a b c Adherents.com, Religions by Adherents Diarsipkan 2008-06-15 di Wayback Machine. • ^ Zenit.org, " Number of Catholics and Priests Rises Diarsipkan 25 February 2008 di Wayback Machine.", 12 Februari 2007.

• ^ Cross/Livingstone. The Oxford Dictionary of the Christian Church, hlm. 1199. • ^ Fairchild, Mary. "Christianity:Basics:Eastern Orthodox Church Denomination".

about.com. Diakses tanggal 22 Mei 2014. • ^ "Oriental Orthodox Churches". Wcc-coe.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 April 2010. Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ "An Introduction to the Oriental Orthodox Churches". Pluralism.org. 15 Maret 2005. Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ OONS. "Syrian Orthodox Resources – Middle Eastern Oriental Orthodox Common Declaration".

Sor.cua.edu. Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ a b McManners, Oxford Illustrated History of Christianity. hlmn. 251–259. • ^ "About The Methodist Church". Methodist Central Hall Westminster. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 Januari 2007. Diakses tanggal 31 Desember 2007. • ^ "Christianity: Pentecostal Churches". GodPreach, Inc. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 February 2015. Diakses tanggal 31 December 2007.

• ^ "Statement of Belief". Cambridge Christ United Methodist Church. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 September 2007. Diakses tanggal 31 December 2007. • ^ "The New Birth by John Wesley (Sermon 45)". The United Methodist Church GBGM. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 September 2007. Diakses tanggal 31 Desember 2007. • ^ "God's Preparing, Accepting, and Sustaining Grace". The United Methodist Church GBGM. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 Januari 2008.

Diakses tanggal 31 Desember 2007. • ^ "Total Experience of the Spirit". Warren Wilson College. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 September 2006. Diakses tanggal 31 Desember 2007. • ^ Cabang aliran Protestan ini mula-mula disebut Kalvinis oleh kaum Lutheran yang menentangnya, namun para pengikut aliran ini sendiri lebih suka menggunakan sebutan Reformed. Aliran ini mencakup denominasi-denominasi Presbiterian dan Kongregasional.

• ^ Dewan Gereja-Gereja Sedunia: Gereja-gereja Injili: "Gereja-gereja Injili telah tumbuh membesar dengan cepat pada paruh kedua abad ke-20 dan terus-menerus menampakkan daya hidup yang besar, teristimewa di belahan dunia selatan. Pertumbuhan yang cepat ini dapat dijelaskan melalui pertumbuhan gerakan Pentakosta yang fenomenal dan kemunculan gerakan Karismatik, yang erat dikait-kaitkan dengan paham Injili.

Meskipun demikian, tidak dapat dimungkiri bahwa tradisi Injili " per se" telah menjadi salah satu unsur utama dari ruang lingkup agama Kristen.

Umat Kristen Injili juga membentuk kelompok minoritas yang cukup kuat di dalam gereja-gereja Protestan dan Anglikan tradisional. Di kawasan-kawasan seperti Afrika dan Amerika Latin, batasan antara "Injili" dan "arus utama" berubah dengan cepat dan membuka jalan bagi hadirnya realita-realita gerejawi yang baru." • ^ Sykes/Booty/Knight.

The Study of Anglicanism, hlm. 219. • ^ Gregory Hallam, Orthodoxy and Ecumenism. • ^ Gregory Mathewes-Green, " Whither the Branch Theory?", Anglican Orthodox Pilgrim Jld. 2, No. 4. Diarsipkan 19 Mei 2012 di Wayback Machine. • ^ Benedetto, Robert; Duke, James O. (2008). The New Westminster Dictionary of Church History. Westminster John Tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah Press. hlm. 22. ISBN 9780664224165. • ^ Littell, Franklin H. (2000). The Anabaptist View of the Church (dalam bahasa English). The Baptist Standard Bearer, Inc. hlm. 79. ISBN 9781579788360.

Manakala menelaah catatan-catatan ini, pembaca terkesima dengan kesadaran akut kaum Anabaptis akan keterpisahan dari gereja "yang sudah jatuh" — yang menurut mereka mencakup Gereja Katolik maupun gereja-gereja bentukan para tokoh Reformasi Protestan.

Oleh karena itu sebagian penulis menyimpulkan bahwa aliran Anabaptis bukanlah sekadar salah satu ragam dari aliran Protestan, melainkan lebih merupakan suatu ideologi dan praktik yang cukup berbeda dari ideologi dan praktik Gereja Roma dan para tokoh Reformasi Protestan. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui ( link) • ^ "Who We Are: A Quick Visual Guide" (dalam bahasa English). Mennonite Church USA. 2018. Diakses tanggal 26 April 2018. Anabaptists: Kami bukan Katolik maupun Protestan, namun kami juga memiliki hubungan dengan aliran-aliran agama Kristen itu.

Kami bekerja sama sebagai tanda kesatuan kami dalam Kristus dan dalam cara-cara yang meluaskan pemerintahan Kerajaan Allah di muka bumi. Kami dikenal sebagai “kaum Anabaptis” (bukan antibaptis) — yang berarti “kaum pembaptis ulang.” Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui ( link) • ^ Konfesionalisme adalah istilah yang digunakan oleh para sejarawan sebagai sebutan bagi "penciptaan identitas-identitas dan sistem-sistem keyakinan yang bersifat tetap bagi gereja-gereja terpisah yang sebelumnya jauh lebih cair dalam pemahaman tentang dirinya sendiri, dan yang tidak terbentuk dengan cara mencari identitas-identitas terpisah bagi diri mereka sendiri—yang sebenarnya mereka kehendaki adalah menjadi sungguh-sungguh katolik sekaligus tereformasi." (MacCulloch, The Reformation: A History, hlm.

xxiv.) • ^ "Classification of Protestant Denominations" (PDF). Pew Forum on Religion & Public Life / U.S. Religious Landscape Survey. Diakses tanggal 27 September 2009. • ^ McManners, Oxford Illustrated History of Christianity, hlm. 91f. • ^ "The Restorationist Movements". Religious Tolerance. Diakses tanggal 31 Desember 2007.

• ^ "LDS Statistics and Church Facts - Total Church Membership". www.mormonnewsroom.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-04-27. • ^ Sydney E. Ahlstrom, A Religious History of the American People (2004) • ^ Melton's Encyclopedia of American Religions (2009) • ^ Fahlbusch, Erwin (14 February 2008).

The Encyclodedia of Tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah (dalam bahasa English). Wm. B. Eerdmans Publishing. hlm. 208. ISBN 9780802824172. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui ( link) • ^ Fleming, John A.; Rowan, Michael J.; Chambers, James Albert (2004). Folk Furniture of Canada's Doukhobors, Hutterites, Mennonites and Ukrainians (dalam bahasa English).

University of Alberta. hlm. 4. ISBN tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah. Kaum Quaker Inggris, yang sebelumnya sudah melakukan kontak dengan kaum Doukhobor serta Perhimpunan Sahabat-Sahabat Filadelfia, juga bertekad membantu perpindahan mereka dari Rusia ke negara lain--satu-satunya tindakan yang tampaknya mungkin dilakukan.

Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui ( link) • ^ Ariel, Yaakov (2006). "Judaism and Christianity Unite! The Unique Culture of Messianic Judaism". Dalam Gallagher, Eugene V.; Ashcraft, W. Michael. Jewish and Christian Traditions. Introduction to New and Alternative Religions in America.

2. Westport, Conn: Greenwood Publishing Group. hlm. 208. ISBN 978-0-275-98714-5. LCCN 2006022954. OCLC 315689134. Diakses tanggal 9 September 2015. Sebagai contoh, umat Yahudi Mesianis, tanpa kecuali, percaya bahwa jalan menuju kehidupan kekal adalah menerima Yesus sebagai juru selamat pribadi, dan percaya bahwa tidak satu pun ketaatan pada hukum atau "perbuatan" Yahudi yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu.…Yang luar biasa, justru keyakinan pada iman injili Kristen yang asasi seperti inilah yang memungkinkan umat Yahudi Mesianis untuk mengadopsi dan mempromosikan ritus-ritus dan adat-istiadat Yahudi.

Mereka adalah umat Kristen yang baik dan dapat mempertahankan atribut-atribut dan ritus-ritus budaya apa saja yang mereka pilih. • ^ Western Esotericism and the Science of Religion: Makalah-makalah terpilih untuk dipresentasikan dalam kongres ke-17 • ^ Besant, Annie (2001). Esoteric Christianity or the Lesser Mysteries.

City: Adamant Media Corporation. ISBN 978-1-4021-0029-1. • ^ Esoterisme berasal dari kata Yunani, ἐσωτερικός (esôterikos, "batiniah"). Istilah esoterisme sendiri muncul pada abad ke-17. (Oxford English Dictionary Compact Edition, Jilid 1, Oxford University Press, 1971, hlmn. 894.) • ^ Wouter J. Hanegraaff, Antoine Faivre, Roelof van den Broek, Jean-Pierre Brach, Dictionary of Gnosis & Western Esotericism, Brill 2005.

• ^ "Merriam-Webster Online Dictionary: esotericism". Webster.com. 13 August 2010. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-12-02. Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ "Merriam-Webster Online Dictionary: esoteric". Webster.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-09-07. Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ Dawson, Christopher; Glenn Olsen (1961).

Crisis in Western Education (edisi ke-reprint). hlm. 108. ISBN 9780813216836. • ^ a b Koch, Carl (1994). The Catholic Church: Journey, Wisdom, and Mission. Early Middle Ages: St.

Mary's Press. ISBN 978-0-88489-298-4. • ^ Koch, Carl (1994). The Catholic Church: Journey, Wisdom, and Mission. The Age of Enlightenment: St. Mary's Press. ISBN 978-0-88489-298-4. • ^ Dawson, Christopher; Olsen, Glenn (1961). Crisis in Western Education (edisi ke-reprint). ISBN 978-0-8132-1683-6. • ^ Encyclopædia Britannica Forms of Christian education • ^ a b Hough, Susan Elizabeth (2007), Richter's Scale: Measure of an Earthquake, Measure of a Man, Princeton University Press, hlm.

68, ISBN 0-691-12807-3 • ^ Woods 2005, hlm. 109. • ^ Encyclopædia Britannica Jesuit • ^ Wallace, William A. (1984). Prelude, Galileo and his Sources. The Heritage of the Collegio Romano in Galileo's Science.

N.J.: Princeton University Press. • ^ Sztompka, 2003 • ^ Encyclopædia Britannica Church and social welfare • ^ Encyclopædia Britannica Care for the sick • ^ Encyclopædia Britannica Property, poverty, and the poor, • ^ Weber, Max (1905). The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. • ^ Encyclopædia Britannica Church and state • ^ Sir Banister Fletcher, History of Architecture on the Comparative Method. • ^ Buringh, Eltjo; van Zanden, Jan Luiten: "Charting the 'Rise of the West': Manuscripts and Printed Books in Europe, A Long-Term Perspective from the Sixth through Eighteenth Centuries", The Journal of Economic History, Jld.

69, No. 2 (2009), hlmn. 409–445 (416, tabel 1) • ^ Eveleigh, Bogs (2002). Baths and Basins: The Story of Domestic Sanitation. Stroud, England: Sutton. • ^ Henry Gariepy (2009). Christianity in Action: The History of the International Salvation Army. Wm. B. Eerdmans Publishing. hlm. 16. ISBN 978-0-8028-4841-3. • ^ Encyclopædia Britannica The tendency to spiritualize and individualize marriage • ^ Hill, Donald.

Islamic Science and Engineering. 1993. Edinburgh Univ. Press. ISBN 0-7486-0455-3, hlm.4 • ^ Brague, Rémi (15 April 2009). The Legend of the Middle Ages. hlm.

164.

tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah

ISBN 978-0-226-07080-3. • ^ Kitty Ferguson (2011). Pythagoras: His Lives and the Legacy of a Rational Universe. Icon Books Limited. hlm. 100. ISBN 978-1-84831-250-0. Di Timur Dekat, Timur Tengah, dan Afrika Utaralah tradisi-tradisi belajar-mengajar kuno dilanjutkan, dan para cendekiawan Kristen dengan cermat melestarikan tulisan-tulisan dan ilmu pengetahuan kuno dalam bahasa Yunani Kuno • ^ Kaser, Karl (2011). The Balkans and the Near East: Introduction to a Shared History.

LIT Verlag Münster. hlm. 135. ISBN 978-3-643-50190-5. • ^ Rémi Brague, Assyrians contributions to the Islamic civilization Diarsipkan 2013-09-27 di Wayback Machine. • ^ Britannica, Nestorian • ^ Hyman and Walsh Philosophy in the Middle Ages Indianapolis, 1973, hlm. 204' Meri, Josef W. and Jere L. Bacharach, Editors, Medieval Islamic Civilization Jld.1, A-K, Index, 2006, hlm. 304. • ^ "Religion of History's 100 Most Influential People".

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-01-01. Diakses tanggal 2018-07-15. • ^ "Religion of Great Philosophers". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-06-07. Diakses tanggal 2018-07-15. • ^ "Christian Influences In The Sciences". rae.org.

Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 September 2015. • ^ "World's Greatest Creation Scientists from Y1K to Y2K". creationsafaris.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 January 2016. • ^ "100 Scientists Who Shaped World History".

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-07-09. Diakses tanggal 2018-07-15. • ^ "50 Nobel Laureates and Other Great Scientists Who Believe in God". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-06-17. Diakses tanggal 2018-07-15. Banyak tokoh sejarah terkenal yang mempengaruhi ilmu pengetahuan Dunia Tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah mengaku beragama Kristen, misalnya Nikolaus Kopernikus, Galileo Galilei, Johannes Kepler, Isaac Newton, Robert Boyle, Alessandro Volta, Michael Faraday, William Thomson (Lord Kelvin), dan James Clerk Maxwell.

• ^ "Religious Affiliation of the World's Greatest Artists". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-06-03. Diakses tanggal 2018-07-15. • ^ Hall, hlm. 100. • ^ "Wealthy 100 and the 100 Most Influential in Business".

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-08-12. Diakses tanggal 2018-07-15. • ^ Baruch A. Shalev, 100 Years of Nobel Prizes (2003), Atlantic Publishers & Distributors, hlm.57: antara 1901 dan 2000 mengungkap fakta bahwa 654 penerima hadiah Nobel tergolong dalam 28 agama yang berbeda.

Sebagian besar di antaranya (65,4%) memilih agama Kristen dalam berbagai bentuknya sebagai agama yang mereka sukai. ISBN 978-0935047370 • ^ G.C. Oosthuizen. Postchristianity in Africa. C Hurst & Co Publishers Ltd (31 Desember 1968). ISBN 0-903983-05-2 • ^ a b McManners, Oxford Illustrated History of Christianity, hlmn. 581–84. • ^ McManners, Oxford Illustrated History of Christianity.

hlm. 413f. • ^ McManners, Oxford Illustrated History of Christianity, hlm. 498. • ^ a b The Oxford companion to Christian thought. Oxford: Oxford University Press. 2000. hlm. 694. ISBN 978-0-19-860024-4.

• ^ Oxford, "Encyclopedia Of Christianity, hlm. 307. • ^ McManners, Oxford Illustrated History of Christianity, hlm. 373. • ^ McManners, Oxford Illustrated History of Christianity, hlm.

583. • ^ "Methodist Statement" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 16 Januari 2010. Diakses tanggal 19 November 2010. • ^ International Standard Bible Encyclopedia: E-J by Geoffrey W. Bromiley 1982 ISBN 0-8028-3782-4 hlm. 175 • ^ Jews and Christians: The Parting of the Ways, A.D. 70 to 135 oleh James D. G. Dunn 1999 ISBN 0-8028-4498-7 hlmn.

112–113 • ^ Asher Norman Twenty-six Reasons why Jews Don't Believe in Jesus Feldheim Publishers 2007 ISBN 978-0-977-19370-7 hlm. 11 • ^ Keith Akers The Lost Religion of Jesus: Simple Living and Nonviolence in Early Christianity Lantern Books 2000 ISBN 978-1-930-05126-3 hlm.

103 • ^ Ferguson, Everett (1993). Backgrounds of Early Christianity (edisi ke-ke-2). Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company. hlm. 562–564. ISBN 0-8028-0669-4. • ^ Thomas, Stephen (2004). "Celsus". Dalam McGuckin, John Anthony. The Westminster Handbook to Origen. Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press. hlm. 72–73. ISBN 0-664-22472-5. • ^ a b Olson, Roger E.

(1999), The Story of Christian Theology: Twenty Centuries of Tradition & Reform, Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, hlm. 101, ISBN 978-0-8308-1505-0 • ^ McGuckin, John Anthony (2004). "The Scholarly Works of Origen". The Westminster Handbook to Origen. Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press. hlm. 32–34. ISBN 0-664-22472-5.

• ^ Ferguson, Everett (1993). Backgrounds of Early Christianity (edisi ke-second). Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company. hlm. 556–561.

ISBN 0-8028-0669-4. • ^ Sherwin-White, A. N. (April 1964). "Why Were the Early Christians Persecuted? -- An Amendment". Past and Present. 27 (27): 23–27. doi: 10.1093/past/27.1.23. JSTOR 649759.

• ^ The Encyclopedia of Christian Literature, Jilid 1 oleh George Thomas Kurian dan James Smith 2010 ISBN 0-8108-6987-X hlm. 527 • ^ Apologetic Discourse and the Scribal Tradition oleh Wayne Campbell Kannaday 2005 ISBN 90-04-13085-3 hlmn.

32–33 • ^ A Dictionary Of Jewish-Christian Relations by Edward Kessler, Neil Wenborn 2005 ISBN 0-521-82692-6 hlm. 168 • ^ The Cambridge Companion to Nietzsche oleh Bernd Magnus, Kathleen Marie Higgins 1996 ISBN 0-521-36767-0 hlmn. 90–93 • ^ Russell on Religion: Selections from the Writings of Bertrand Russell oleh Bertrand Russell, Stefan Andersson, dan Louis Greenspan 1999 ISBN 0-415-18091-0 hlmn.

77–87 • ^ Christianity: An Introduction oleh Alister E. McGrath 2006 ISBN 1-4051-0899-1 hlmn. 125–126. • ^ " The Christ Myth Theory and its Problems ", diterbitkan pada 2011 oleh American Atheist press, Cranford, New Jersey, ISBN 1-57884-017-1 • ^ Dulles, Avery Robert Cardinal (2005).

A History of Apologetics. San Francisco: Ignatius Press. hlm. 120. ISBN 0-89870-933-4. • ^ L Russ Bush, ed. (1983). Classical Readings in Christian Apologetics. Grand Rapids: Zondervan. hlm. 275. ISBN 0-310-45641-X. • ^ ( http://www.chesterton.org/why-i-believe-in-christianity/) • ^ Hauser, Chris (History major, Dartmouth College class of 2014) (Fall 2011).

"Faith and Paradox: G.K. Chesterton's Philosophy of Christian Paradox". The Dartmouth Apologia: A Journal of Christian Thought.

6 (1): 16–20. Diakses tanggal 29 Maret 2015. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ "Christianity". 6 Desember 2010. • ^ Howson, Colin (28 Juli 2011). Objecting to God. Cambridge University Press. hlm. 92. ISBN 9781139498562. Kesepakatan ini bukan pula suatu kebetulan, menurut sejumlah besar ahli apologetika religius, yang menganggap model Ledakan Besar yang memperluas ruang angkasa sebagai bukti langsung bagi keberadaan Allah.

John Lennox, seorang matematikawan di Universitas Oxford, berpendapat bahwa 'sekalipun orang-orang non-Kristen tidak suka, Ledakan Besar benar-benar cocok dengan narasi penciptaan dalam agama Kristen'. . William Lane Craig adalah tokoh lain yang mengklaim bahwa riwayat penciptaan dalam Alkitab dikuatkan oleh kosmologi Ledakan Besar.

William Lane Craig juga mengklaim bahwa ada suatu pembuktian sebelumnya tentang adanya suatu Allah yang menciptakan jagat raya ini. Kepustakaan • Albright, William F. From the Stone Age to Christianity. • Alexander, T. Desmond. New Dictionary of Biblical Theology. • Bahnsen, Greg. A Reformed Confession Regarding Hermeneutics (artikel 6) Diarsipkan 2014-12-04 di Wayback Machine.

• Ball, Bryan; Johnsson, William (penyunting). The Essential Jesus. Pacific Press (2002). ISBN 0-8163-1929-4. • Barrett, David; Kurian, Tom dkk. (penyunting). World Christian Encyclopedia. Oxford University Press (2001). • Barry, John F. One Faith, One Lord: A Study of Basic Catholic Belief. William H. Sadlier (2001). ISBN 0-8215-2207-8 • Benton, John. Is Christianity True? Darlington, Eng.: Evangelical Press (1988).

ISBN 0-85234-260-8 • Bettenson, Henry (penyunting). Documents of the Christian Church. Oxford University Press (1943). • Bokenkotter, Thomas (2004). A Concise History of the Catholic Church [ Sejarah Singkat Gereja Katolik]. Doubleday. ISBN 0-385-50584-1. • Browning, Robert (1992). The Byzantine Empire [ Kekaisaran Bizantin]. Washington, DC: The Catholic University of America Press. ISBN 0-8132-0754-1.

• Bruce, F.F. The Canon of Scripture. • Cameron, Averil (2006). The Byzantines [ Orang Bizantin]. Oxford: Blackwell. ISBN 978-1-4051-9833-2. • Chambers, Mortimer; Crew, Herlihy, Rabb, Woloch. The Western Experience. Volume II: The Early Modern Period. Tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah A. Knopf (1974). ISBN 0-394-31734-3. • Coffey, John. Persecution and Toleration in Protestant England 1558–1689. Pearson Education (2000). • Cross, F. L.; Livingstone, E. A. (penyunting). The Oxford Dictionary of the Christian Church.

Oxford University Press (1997). ISBN 0-19-211655-X. • Deppermann, Klaus. Melchior Hoffman: Social Unrest and Apocalyptic Vision in the Age of Reformation.

ISBN 0-567-08654-2. • Dilasser, Maurice. The Symbols of the Church. Collegeville, MN: Liturgical Press (1999). ISBN 0-8146-2538-X • Duffy, Eamon. Saints and Sinners, a History of the Popes. Yale University Press (1997). ISBN 0-300-07332-1 • Elwell, Walter A.; Comfort, Philip Wesley. Tyndale Bible Dictionary, Tyndale House Publishers (2001). ISBN 0-8423-7089-7.

• Esler, Philip F. The Early Christian World. Routledge (2004). • Farrar, F.W. Mercy and Judgment. A Few Last Words On Christian Eschatology With Reference to Dr. Pusey's, "What Is Of Faith?". Macmillan, London/New York (1904). • Ferguson, Sinclair; Wright, David, (penyunting) New Dictionary of Theology. (penyunting lepas) Packer, James. Leicester: Inter-Varsity Press (1988). ISBN 0-85110-636-6 • Foutz, Scott.

Martin Luther and Scripture. • Fowler, Jeaneane D. World Religions: An Introduction for Students, Sussex Academic Press (1997). ISBN 1-898723-48-6.

• Fuller, Reginald H. The Foundations of New Testament Christology Scribners (1965). ISBN 0-684-15532-X. • Froehle, Bryan; Gautier, Mary, Global Catholicism, Portrait of a World Church, Orbis books; Center for Applied Research in the Apostolate, Georgetown University (2003) ISBN 1-57075-375-X • Funk, Robert. The Acts of Jesus: What Did Jesus Really Do?. Polebridge Press (1998). ISBN 0-06-062978-9. • Glenny, W. Edward. Typology: A Summary Of The Present Evangelical Discussion.

• Gonzalez, Justo L. The Story of Christianity: The Early Church to the Dawn of the Reformation, Harper Collins Publishers, New York (1984). • Hanegraaff, Hank. Resurrection: The Capstone in the Arch of Christianity. Thomas Nelson (2000). ISBN 0-8499-1643-7. • Harnack, Adolf von. History of Dogma (1894). • Hickman, Hoyt L. dkk. Handbook of the Christian Year. Abingdon Press (1986). ISBN 0-687-16575-X • Hinnells, John R. The Routledge Companion to the Study of Religion (2005).

• Hitchcock, Susan Tyler. Geography of Religion. National Geographic Society (2004) ISBN 0-7922-7313-3 • Kelly, J.N.D. Early Christian Doctrines. • Kelly, J.N.D. The Athanasian Creed. Harper & Row, New York (1964). • Kirsch, Jonathan. God Against the Gods. • Kreeft, Peter. Catholic Christianity. Ignatius Press (2001) ISBN 0-89870-798-6 • Letham, Robert. The Holy Trinity in Scripture, History, Theology, and Worship.

P & R Publishing (2005). ISBN 0-87552-000-6. • Lorenzen, Thorwald. Resurrection, Discipleship, Justice: Affirming the Resurrection Jesus Christ Today. Smyth & Helwys (2003). ISBN 1-57312-399-4. • McLaughlin, R. Emmet, Caspar Schwenckfeld, reluctant radical: his life to 1540, New Haven: Yale University Press (1986).

ISBN 0-300-03367-2. • MacCulloch, Diarmaid, The Reformation: A History. Viking Adult (2004). • MacCulloch, Diarmaid, A History of Christianity: The First Three Thousand Years. London, Allen Lane. 2009. ISBN 978-0-7139-9869-6 • Marber, Peter. Money Changes Everything: How Global Prosperity Is Reshaping Our Needs, Values and Lifestyles. FT Press (2003). ISBN 0-13-065480-9 • Marthaler, Berard.

Introducing the Catechism of the Catholic Church, Traditional Themes and Contemporary Issues. Paulist Press (1994). ISBN 0-8091-3495-0 • Mathison, Keith. The Shape of Sola Scriptura (2001). • McClintock, John, Cyclopaedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature. Harper &Brothers, karya asli dari Universitas Harvard (1889) • McGrath, Alister E. Christianity: An Introduction. Blackwell Publishing (2006).

ISBN 1-4051-0899-1. • McGrath, Alister E. Historical Theology. • McManners, John. Oxford Illustrated History of Christianity. Oxford University Press (1990). ISBN 0-19-822928-3. • Meconi, David Vincent. "Pagan Monotheism in Late Antiquity", in: Journal of Early Christian Studies. • Metzger, Bruce M., Michael Coogan (penyunting). Oxford Companion to the Bible.

Oxford University Press (1993). ISBN 0-19-504645-5. • Mullin, Robert Bruce. A short world history of Christianity. Westminster John Knox Press (2008). • Norman, Edward. The Roman Catholic Church, An Illustrated History. University of California (2007) ISBN 978-0-520-25251-6 • Olson, Roger E., The Mosaic of Christian Belief.

InterVarsity Press (2002). ISBN 978-0-8308-2695-7. • Orlandis, Jose, A Short History of the Catholic Church. Scepter Publishers (1993) ISBN 1-85182-125-2 • Ott, Ludwig.

Grundriß der Dogmatik. Herder, Freiburg (1965). • Otten, Herman J. Baal or God? Liberalism or Christianity, Fantasy vs. Truth: Beliefs and Practices of the Churches of the World Today. Edisi ke-2 New Haven, Mo.: Lutheran News, 1988. • Pelikan, Jaroslav; Hotchkiss, Valerie (ed.) Creeds and Confessions of Faith in the Christian Tradition. Yale University Press (2003). ISBN 0-300-09389-6. • Putnam, Robert D. Democracies in Flux: The Evolution of Social Capital in Contemporary Society.

Oxford University Press (2002). • Riley-Smith, Jonathan. The Oxford History of the Crusades. New York: Oxford University Press, (1999). • Robinson, George (2000). Essential Judaism: A Complete Guide to Beliefs, Customs and Rituals. New York: Pocket Books. ISBN 978-0-671-03481-8. Teks "trans-title:Agama Yahudi Yang Hakiki: Sebuah Panduan Lengkap Mengenai Keyakinan, Istiadat, dan Ritual" akan diabaikan ( bantuan) • Schama, Simon.

A History of Britain. Hyperion (2000). ISBN 0-7868-6675-6. • Servetus, Michael. Restoration of Christianity. Lewiston, New York: Edwin Mellen Press (2007). • Simon, Edith. Great Ages of Man: The Reformation.

Time-Life Books (1966). ISBN 0-662-27820-8. • Smith, J.Z. (1998). • Spitz, Lewis. The Protestant Reformation. Concordia Publishing House (2003). ISBN 0-570-03320-9. • Sproul, R.C. Knowing Scripture. • Spurgeon, Charles. A Defense of Calvinism. • Sykes, Stephen; Booty, John; Knight, Jonathan. The Study of Anglicanism. Augsburg Fortress Publishers (1998).

ISBN 0-8006-3151-X. • Talbott, Thomas.

tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah

Three Pictures of God in Western Theology" (1995). • Ustorf, Werner. "A missiological postscript", in: McLeod, Hugh; Ustorf, Werner (ed.).

The Decline of Christendom in Western Europe, 1750–2000. Cambridge University Press (2003). • Walsh, Chad. Campus Gods on Trial.

edisi revisi dan diperbesar. New York: Macmillan Co., 1962, t.p. 1964. xiv, [4], tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah hlm. • Woodhead, Linda. An Introduction to Christianity. • Woods, Thomas E. (2005). How the Catholic Church Built Western Civilization [ Bagaimana Gereja Katolik Membangun Peradaban Barat]. Washington, DC: Regnery. Bacaan Lebih Lanjut • Gill, Robin (2001).

The Cambridge companion to Christian ethics [ Tuntunan Cambridge di bidang etika Kristen]. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

ISBN 0-521-77918-9. • Gunton, Colin E. (1997). The Cambridge companion to Christian doctrine [ Tuntunan Cambridge di bidang doktrin Kristen]. Cambridge, UK: Cambridge University Press. ISBN 0-521-47695-X. • MacCulloch, Diarmaid. Christianity: The First Three Thousand Years (Viking; 2010) 1.161 halaman; survei oleh sejarawan terkemuka • MacMullen, Ramsay (2006).

Voting About God in Early Church Councils [ Pemungutan suara perihal Allah dalam konsili-konsili Gereja Perdana]. New Haven, CT: Yale University Press. ISBN 0-300-11596-2. • Padgett, Alan G.; Sally Bruyneel (2003). Introducing Christianity [ Pengenalan Agama Kristen]. Maryknoll, N.Y.: Orbis Books.

ISBN 1-57075-395-4. • Price, Matthew Arlen; Collins, Michael (1999). The story of Christianity [ Kisah Agama Kristen]. New York: Dorling Kindersley. ISBN 0-7513-0467-0. • Ratzinger, Joseph (2004). Introduction To Christianity (Communio Books) [ Pengenalan Agama Kristen (Communio Books)]. San Francisco: Ignatius Press. ISBN 1-58617-029-5.

• Roper, J.C., Bp. (1923), dkk. Faith in God, dalam seri, Layman's Library of Practical Religion, Church of England in Canada, jld. 2. Toronto, Ont.: Musson Book Co.

N.B.: Pernyataan seri ini disampaikan dalam bentuk yang lebih panjang pada sampul depan. • Tucker, Karen; Wainwright, Geoffrey (2006). The Oxford history of Christian worship [ Sejarah Oxford perihal peribadatan Kristen].

Oxford [Oxfordshire]: Oxford University Press. ISBN 0-19-513886-4. • Wagner, Richard (2004). Christianity for Dummies [ Agama Kristen untuk pemula]. For Dummies. ISBN 0-7645-4482-9. • Webb, Jeffrey B. (2004). The Complete Idiot's Guide to Christianity [ Tuntunan mengenal agama Kristen bagi pemula]. Indianapolis, Ind: Alpha Books.

ISBN 1-59257-176-X. • Wills, Garry, "A Wild and Indecent Book" (ulasan David Bentley Hart, The New Testament: A Translation, Yale University Press, 577 hlmn.), The New York Review of Books, jld. LXV, no. 2 (8 Februari 2018), hlmn. 34–35. Membahas sejumlah jebakan dalam menafsirkan dan menerjemahkan Perjanjian Baru. • Woodhead, Linda (2004). Christianity: a very short introduction [ Agama Kristen: sebuah pengantar yang sangat ringkas].

Oxford [Oxfordshire]: Oxford University Press. ISBN 0-19-280322-0. Pranala luar Cari tahu mengenai Kekristenan pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: Definisi dan terjemahan dari Wiktionary Gambar dan media dari Commons Berita dari Wikinews Kutipan dari Wikiquote Teks sumber dari Wikisource Buku dari Wikibuku • Kekristenan di Curlie (dari DMOZ) • (Inggris) "Agama Kristen".

Encyclopædia Britannica • (Inggris) Agama & Etika – Kristen Sejumlah artikel pengantar mengenai agama Kristen dari BBC Kategori tersembunyi: • Artikel mengandung aksara Yunani • Artikel mengandung tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah non-Indonesia • Artikel mengandung aksara Arab • Halaman dengan rujukan atau sumber yang hanya dapat diakses dengan masuk log • Halaman yang mengandung pranala ke konten yang hanya dapat diakses dengan berlangganan • Templat webarchive tautan wayback • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui • Galat CS1: tanggal • Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list • CS1 sumber berbahasa Azerbaijani (az) • Templat webarchive tautan webcite • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Halaman Wikipedia yang dilindungi sebagian tanpa batas waktu • Artikel mengandung aksara Latin • Halaman dengan berkas rusak • Artikel mengandung aksara Belanda • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter tanpa nama • Artikel berpranala Curlie • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda BNE • Artikel Wikipedia dengan penanda BNF • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda LNB • Artikel Wikipedia dengan penanda NDL • Artikel Wikipedia dengan penanda NKC • Artikel Wikipedia dengan penanda NLI • Artikel Wikipedia dengan penanda HDS • Artikel Wikipedia dengan penanda MA • Artikel Wikipedia dengan penanda NARA • Artikel Wikipedia dengan penanda TDVİA • Halaman ini terakhir diubah pada 12 Januari 2022, pukul 05.49.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • • Afrikaans • العربية • বাংলা • Català • Cymraeg • Deutsch • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Français • हिन्दी • Magyar • Հայերեն • Italiano • 日本語 • ქართული • 한국어 • Latina • Nederlands • Português • Русский • සිංහල • Српски / srpski • Svenska • தமிழ் • Türkçe • Українська • Tiếng Việt • 中文 Halaman ini berisi artikel tentang asal mula bahasa alamiah.

Untuk asal mula bahasa pemrograman, lihat Sejarah bahasa pemrograman. Asal mula bahasa pada spesies manusia telah menjadi topik perdebatan para ahli selama beberapa abad. Walaupun begitu, tidak ada kesepakatan umum mengenai kapan dan umur bahasa manusia secara pasti. Salah satu permasalahan yang membuat topik ini sangat sulit dikaji adalah kurangnya bukti langsung.

Akibatnya, para ahli yang ingin meneliti asal mula bahasa harus menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti lain seperti catatan-catatan fosil atau bukti-bukti arkeologis, keberagamanan bahasa kontemporer, kajian akuisisi bahasa, dan perbandingan antara bahasa manusia dengan sistem komunikasi hewan, terutama sistem komunikasi primata lain.

Secara umum ada kesepakatan bahwa asal mula bahasa manusia berkaitan erat dengan asal usul perilaku manusia modern, namun terdapat perbedaan pendapat mengenai implikasi-implikasi dan keterarahan hubungan keduanya. Langkanya bukti empiris membuat banyak ahli menganggap topik ini tidak dapat dijadikan kajian penting.

Pada tahun 1866, Société de Linguistique de Paris bahkan melarang perdebatan mengenainya. Larangan tersebut tetap berpengaruh di banyak negara barat hingga akhir abad ke-20. [1] Sekarang, ada banyak hipotesis mengenai bagaimana, kenapa, kapan dan di mana bahasa mungkin pertama kali muncul. [2] Tampaknya tidak begitu banyak kesepakatan pada saat ini dibandingkan seratus tahun lalu, saat teori evolusi Charles Darwin lewat seleksi alam-nya menimbulkan banyak spekulasi mengenai topik ini.

[3] Sejak awal 1990-an, sejumlah ahli bahasa, arkeologis, psikologis, antropolog, dan ilmuwan profesional lainnya telah mencoba untuk menelaah dengan metode baru apa yang mereka mulai pertimbangkan sebagai permasalahan tersulit dalam sains. [4] Daftar isi • 1 Pendekatan-pendekatan • 2 Hipotesis asal mula bahasa • 2.1 Spekulasi awal • 2.2 Permasalahan reliabilitas dan kecurangan • 2.2.1 Hipotesis 'bahasa ibu' • 2.2.2 Hipotesis 'altruisme timbal balik wajib' • 2.2.3 Hipotesis gosip dan perawatan • 2.2.4 Koevolusi ritual/bicara • 2.2.5 Hipotesis Menara Babel • 2.3 Teori Jestural • 2.4 Saraf cermin dan asal mula bahasa • 2.5 Teori menaruh anak di bawah • 2.6 Teori Gramatisasi • 2.7 Teori Kera yang dijinakkan • 3 Bicara dan bahasa untuk komunikasi • 4 Perkembangan kognitif dan bahasa • 4.1 Teori pikiran • 4.2 Pengenalan pada Angka • 5 Struktur Linguistik • 5.1 Prinsip leksikal-fonologis • 5.2 Pijin dan kreol • 6 Rentang waktu evolusiner • 6.1 Bahasa Primata • 6.2 Awal- Homo • 6.3 Homo sapiens purba • 6.3.1 Homo heidelbergensis • 6.3.2 Homo neanderthalensis • 6.4 Homo sapiens • 7 Skenario Biologis pada evolusi bahasa • 8 Fondasi Biologis dari bahasa manusia • 9 Sejarah • 9.1 Dalam agama dan mitologi • 9.2 Percobaan Historis • 9.3 Sejarah penelitian • 10 Lihat juga • 11 Catatan • 12 Referensi • 13 Bacaan lebih lanjut • 14 Pranala luar Pendekatan-pendekatan [ sunting - sunting sumber ] Pendekatan terhadap asal mula bahasa dapat dibagi berdasarkan asumsi dasarnya.

"Teori Keberlanjutan" merupakan teori yang dilandaskan pada gagasan bahwa bahasa sangat kompleks sehingga tidak dapat dibayangkan timbul begitu saja dari ketiadaan dalam bentuk akhir seperti sekarang: bahasa pastinya berkembang dari sistem pra-linguistik awal di antara leluhur primata kita. Sementara itu, "teori Ketakberlanjutan" didasarkan pada gagasan yang berlawanan—bahwa bahasa adalah suatu sifat yang unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan apapun yang ditemukan pada spesies selain manusia dan oleh karena itu bahasa pasti muncul secara tiba-tiba selama perjalanan evolusi manusia.

Perbedaan lainnya yaitu antara teori yang memandang bahasa sebagai bawaan lahir yang ter-sandi secara genetis, dan mereka yang melihatnya sebagai sebuah sistem yang secara umum bersifat kultural—dipelajari lewat interaksi sosial. [5] Noam Chomsky adalah pendukung utama teori ketakberlanjutan. "Pandangan Noam Chomsky terhadap sifat dasar Tatabahasa Universal (TU, tatabahasa universal lahiriah) telah lama menjadi dominan dalam bidang linguistik, tapi TU sendiri telah mengalami perubahan besar dari dasawarsa ke dasawarsa" (Christiansen, 59).

Ia berargumen bahwa sebuah mutasi terjadi pada salah satu individu dalam rentang 100.000 tahun yang lalu, yang mengakibatkan munculnya kemampuan bahasa (sebuah komponen dalam otak) secara "instan" dalam bentuk yang "sempurna" atau "hampir-sempurna". Argumentasi secara filosofinya berbunyi sebagai berikut: pertama, dari apa yang diketahui mengenai evolusi, setiap perubahan biologis dalam suatu spesies timbul dari perubahan genetis secara acak pada satu individu, yang menyebar dalam satu kelompok peranakan.

Kedua, berdasarkan sudut pandang komputasi dalam teori bahasa: satu-satunya perubahan yang dibutuhkan adalah kemampuan kognitif untuk membentuk dan memproses struktur data rekursif dalam pikiran (properti dari " infinitas diskret", yang muncul hanya pada manusia). Chomsky beralasan bahwa perubahan genetis ini, yang memberikan otak manusia suatu properti infinitas diskret, secara esensial merupakan loncatan yang menyebabkan dapat menghitung dari bilangan N, dengan N adalah bilangan pasti, sampai mampu menghitung sampai bilangan tak-terbatas (misalnya, jika N dapat dibentuk begitu juga N+1).

Berdasarkan pernyataan di atas, evolusi kemampuan bahasa pada manusia merupakan saltasi karena secara logis tidak mungkin ada transisi secara bertingkat dari otak yang mampu menghitung pada bilangan tertentu menjadi otak yang mampu berpikir mengenai ketakterbatasan. Sebagai gambaran, pembentukan kemampuan berbahasa pada manusia serupa dengan pembentukan kristal; infinitas diskret muncul dalam otak primata layaknya bibit kristal yang ditambahkan dalam larutan super jenuh.

[6] [7] Teori keberlanjutan sekarang didukung oleh mayoritas ilmuwan, tapi terdapat berbagai macam variasi. Di antara mereka yang melihat bahasa sebagai bawaan lahir, beberapa—yang terkenal yaitu Steven Pinker [8]—menghindari spekulasi mengenai pelopor bahasa pada primata non-manusia, dan menekankan secara sederhana bahwa kemampuan bahasa harusnya berevolusi secara bertahap. [9] Kelompok lainnya—yang terkenal yaitu Ib Ulbæk [10]—menganggap bahwa bahasa berkembang tidak dari komunikasi primata tapi dari kesadaran primata, yang jauh lebih kompleks.

Bagi mereka yang menganggap bahasa sebagai alat komunikasi yang dipelajari secara sosial, seperti Michael Tomasello, bahasa berkembang dari aspek komunikasi primata, yang condong kepada komunikasi lewat isyarat daripada lewat vokal. [11] [12] Terkait pendahulu vokal, banyak pendukung teori keberlanjutan membayangkan bahasa berkembang dari kemampuan manusia purba dalam bernyanyi. [13] [14] Di luar teori keberlanjutan dan ketakberlanjutan, terdapat mereka yang melihat munculnya bahasa sebagai konsekuensi dari suatu bentuk transformasi sosial [15] yang, dengan menghasilkan tingkat kepecayaan umum yang belum pernah terjadi sebelumnya, melepaskan potensi genetik untuk kreativitas linguistik yang sebelumnya dibiarkan terpendam.

[16] [17] [18] 'Teori koevolusi ritual/bicara' adalah salah satu contoh dari pendekatan ini. [19] [20] Ilmuwan-ilmuwan dalam kelompok intelektual ini menunjuk kepada fakta bahwa bahkan simpanse dan bonobo memiliki kemampuan terpendam yang, dalam lingkungan liar, jarang dipergunakan.

[21] Argumennya adalah jika suatu mutasi yang akan muncul secara tiba-tiba memungkinkan kemampuan bahasa pada suatu individu primata, mutasi tersebut tidak akan memberikan keuntungan adaptif kecuali jika sistem sosial secara radikal berubah.

Suatu struktur sosial yang sangat spesifik—sebuah struktur yang dapat dengan luar biasa menjunjung tinggi akuntabilitas dan kepercayaan publik—haruslah berkembang sebelum atau bersamaan dengan bahasa supaya ketergantungan pada 'sinyal murahan' (perkataan) menjadi sebuah strategi stabil evolusioner.

Karena munculnya bahasa terjadi pada zaman pra-sejarah, perkembangan yang terkait tidak meninggalkan jejak sejarah langsung; dan tidak tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah proses pembandingan yang dapat dilakukan pada masa sekarang. Oleh karena itu, munculnya bahasa isyarat pada masa modern -- Bahasa Isyarat Nikaragua, misalnya—mungkin berpotensi memperlihatkan gambaran tingkat-tingkat perkembangan dan proses kreatif yang terlibat.

[22] Pendekatan lainnya yaitu dengan meneliti fosil manusia awal, melihat kemungkinan adanya jejak adaptasi fisik terhadap penggunaan bahasa. [23] [24] Dalam beberapa kasus, saat DNA dari manusia yang telah punah dapat dipulihkan, ada atau ketiadaan gen yang seharusnya berkaitan dengan bahasa—FOXP2 sebagai contohnya—mungkin dapat memberikan informasi lebih lanjut.

[25] Pendekatan lainnya, kali ini secara arkeologis, adalah dengan membawa perilaku simbolis (seperti aktivitas ritual) yang mungkin berpotensial meninggalkan jejak secara arkeologis—seperti pengumpulan dan modifikasi dari pigmen ochre yang digunakan untuk melukis badan—dapat membangun argumentasi teoretis untuk memberikan kesimpulan dari simbolism secara umum kepada bahasa secara khusus.

[26] [27] [28] Rentang waktu bagi evolusi bahasa dan/atau prasyarat anatomis terjadi, paling tidak secara dasar, sejak perpisahan filogenetik pada Homo (2,3 sampai 2,4 juta tahun lalu) dari Pan (5 sampai 6 juta tahun lalu) sampai munculnya perilaku modernitas sekitar 150.000 - 50.000 tahun lalu.

Beberapa orang membantah bahwa Australopithecus kemungkinan tidak memiliki sistem komunikasi yang lebih canggih daripada Kera Besar secara umum, [29] tetapi para ahli memiliki pendapat yang berbeda-beda terhadap perkembangan sejak munculnya Homo sekitar 2,5 juta tahun yang lalu.

Beberapa ahli mengasumsikan perkembangan sistem mirip-bahasa primitif (proto-bahasa) pada masa Homo habilis, sementara ahli lainnya menempatkan perkembangan komunikasi simbol primitif hanya pada Homo erectus (1,8 juta tahun yang lalu) atau Homo heidelbergensis (0,6 juta tahun yang lalu) dan perkembangan bahasa pada Homo sapiens kurang dari 200.000 tahun lampau. Dengan menggunakan metode statistik untuk memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui persebaran dan perbedaan pada bahasa modern saat sekarang, Johanna Nichols—seorang ahli bahasa dari Universitas California, Berkeley—memberikan argumen pada tahun 1998 bahwa bahasa vokal pastinya telah berdiversifikasi pada spesies kita paling tidak sekitar 100.000 tahun lalu.

[30] Menggunakan keberagaman fonemis, sebuah analisis terbaru memberikan dukungan linguistik langsung terhadap waktu yang sama. [31] Perkiraan semacam ini secara independen didukung oleh bukti genetik, arkeologi, paleontologi dan bukti-bukti lainnya yang menunjukkan bahwa bahasa mungkin muncul di suatu tempat di Afrika sub-Sahara selama zaman batu pertengahan, kira-kira sezaman dengan perkembangan spesies Homo sapiens.

[32] Para ahli bahasa sekarang setuju bahwa, selain pijin, tidak ada bahasa modern yang "primitif": semua populasi manusia modern berbicara bahasa yang hampir sama kompleks dan ekspresif, [33] walau penelitian terbaru telah menunjukkan bagaimana kompleksitas linguistik bervariasi antara dan dalam suatu bahasa sepanjang sejarah.

[34] Hal ini merupakan perdebatan serius dalam ilmu bahasa kontemporer, dan mendapat tentangan sampai awal abad ke 21 (Everett 2005). Konsensus sekarang bahwa tidak ada bahasa modern yang primitif adalah perubahan terbesar dalam pendekatan linguistik terhadap bahasa. Hipotesis asal mula bahasa [ sunting - sunting sumber ] Spekulasi awal [ sunting - sunting sumber ] Saya tidak dapat meragukan bahwa bahasa berasal dari imitasi dan modifikasi, dibantu oleh isyarat dan gerakan, terhadap berbagai suara alam, suara binatang lainnya, dan teriakan naluriah manusia sendiri.

— Charles Darwin, 1871. The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex. [35] line feed character di -title= pada posisi 80 ( bantuan) Pada tahun 1861, ahli sejarah bahasa Max Müller menerbitkan daftar teori asal mula bahasa yang spekulatif: [36] • Bow-wow.

Teori bow-wow atau cuckoo, yang Muller kaitkan dengan filsuf Jerman Johann Gottfried Herder, menganggap kata-kata bermula sebagai imitasi dari teriakan hewan-hewan liar atau burung. • Pooh-pooh. Teori Pooh-Pooh menganggap kata-kata pertama sebagai teriakan dan kata seru emosional yang dipicu oleh rasa sakit, senang, terkejut, dan lainnya. • Ding-dong. Müller menyarankan apa yang dia sebut dengan teori Ding-Dong, yang menyatakan bahwa semua mahluk memiliki sebuah getaran resonansi alami, yang digemakan oleh manusia dalam perkataan awalnya dengan suatu cara.

• Yo-he-ho. Teori yo-he-ho meyakini bahasa muncul dari kegiatan kerja sama yang teratur dan usaha untuk menyinkronisasi otot, sehingga menghasilkan suatu suara yang 'menghela' bergantian seperti ho. • Ta-ta. Teori ini tidak ada dalam daftar Max Müller, tapi diajukan oleh Sir Richard Paget pada tahun 1930.

[37] Menurut teori ta-ta, manusia membuat perkataan pertama dengan menggerakan lidah yang meniru gerakan manual, membuatnya terdengar bersuara. Banyak ilmuwan saat ini menganggap semua teori tersebut tidak sepenuhnya salah karena kadang-kadang memberikan ilham; namun, teori-teori ini dianggap naif secara komikal dan tidak relevan. [38] [39] Masalah dalam teori-teori tersebut adalah sifatnya yang sangat mekanistik. Teori-teori tersebut mengasumsikan bahwa sekali leluhur kita menyadari kejeniusan mekanisme untuk menghubungkan suara dengan makna, bahasa secara otomatis berkembang dan berubah.

Permasalahan reliabilitas dan kecurangan [ sunting - sunting sumber ] Dari perspektif ilmu modern Darwin, rintangan utama dari evolusi komunikasi mirip-bahasa di alam bukanlah mekanisme.

Melainkan, fakta bahwa simbol-simbol—asosiasi acak antara suara, atau suatu bentuk yang tampak, dengan maknanya—adalah tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah dapat diandalkan dan bisa saja salah.

[40] Seperti peribahasa, 'Berbicara itu gampang'. [41] Permasalahan reliabilitas tidak dikenali oleh Darwin, Müller atau oleh ahli teori evolusi awal. Sinyal vokal hewan pada umumnya secara intrinsik dapat diandalkan. Pada saat seekor kucing mendengkur, sinyal tersebut menandakan bukti langsung bahwa hewan berada pada keadaan senang.

Kita dapat 'percaya' kepada sinyal tersebut bukan karena kucing itu jujur, tetapi karena suara itu tidak dapat dipalsukan. Seruan vokal primata bisa saja lebih dapat dimanipulasi, tetapi mereka tetap dapat diandalkan untuk beberapa alasan—karena mereka susah untuk dipalsukan. [42] Intelijensi sosial primata disebut Machiavellian—melayani diri sendiri dan tidak dibatasi oleh moral.

Monyet dan kera terkadang mencoba menipu satu sama lain, sementara pada saat bersamaan tetap berjaga-jaga agar tidak menjadi korban dari penipuan itu sendiri. [43] Paradoksnya, justru resistensi dari primata terhadap penipuan menghambat evolusi sistem sinyal mereka bersama dengan komunikasi yang mirip-bahasa.

Bahasa ditolak karena cara terbaik untuk mencegah dari tertipu adalah dengan mengabaikan semua sinyal kecuali yang reliabilitasnya dapat diperiksa langsung. Berbicara secara otomatis gagal dalam tes ini. [44] Kata-kata sangat mudah dipalsukan. Jika kata-kata berbentuk kebohongan, pendengar akan beradaptasi dengan mengabaikan mereka sehingga menguntungkan isyarat atau petunjuk yang lebih sulit di palsukan.

Supaya bahasa dapat bekerja, pendengar haruslah yakin bahwa pembicara yang mereka ajak berbicara secara umum cenderung berkata jujur. [45] Fitur tidak biasa pada bahasa adalah 'referensi terlantar', yang berarti referensi terhadap topik di luar situasi yang sekarang dialami. Properti ini mencegah ucapan-ucapan menjadi suatu kebenaran 'di sini' dan 'sekarang' secara langsung. Karena alasan tersebut, bahasa mengasumsikan tingkat saling percaya yang tinggi supaya menjadi terbentuk sepanjang waktu sebagai suatu strategi stabil evolusioner.

Stabilitas ini lahir dari saling percaya dalam waktu lama dan yang menunjang penguasaan bahasa. Teori dari asal mula bahasa harus menjelaskan kenapa manusia dapat mulai mempercayai isyarat-isyarat lemah dengan suatu cara sementara binatang lain tidak bisa (lihat teori pensinyalan). Hipotesis 'bahasa ibu' [ sunting - sunting sumber ] Hipotesis 'bahasa ibu' diajukan pada tahun 2004 sebagai solusi yang mungkin dari masalah ini. [46] W. Tecumseh Fitch menyatakan bahwa prinsip 'seleksi saudara' [47]—ketertarikan konvergensi genetis antar kerabat—bisa jadi merupakan bagian dari jawaban.

Fitch menyarankan bahwa bahasa bermula dari 'bahasa ibu'. Jika bahasa berevolusi pada awalnya untuk komunikasi antara ibu dan keturunan biologisnya sendiri, yang berkembang lebih lanjut dan mengikutkan kerabat dewasa juga, ketertarikan antara pembicara dan pendengar pastinya merupakan suatu kebetulan.

tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah

Fitch beralasan bahwa ketertarikan genetis yang sama menyebabkan kepercayaan dan kerjasama yang cukup untuk sinyal yang secara intrinsik tidak dapat dipercaya—perkataan—supaya dapat diterima sebagai sesuatu yang tepercaya dan mulai berkembang untuk pertama kalinya. Kritik terhadap teori ini menunjuk pada seleksi kerabat tidak hanya unik pada manusia. Ibu kera juga berbagi gen dengan turunannya, sebagaimana binatang lainnya, lalu kenapa hanya manusia yang berbicara?

Lebih lanjut, sangat sulit untuk dipercaya bahwa manusia awal membatasi komunikasi linguistik hanya pada saudara genetis: tabu mengenai incest pasti memaksa laki dan wanita berinteraksi dan berkomunikasi dengan yang bukan saudara.

" Spesies terkadang bergantung pada bentuk komunikasi verbal dan non-verbal, seperti teriakan; suara luapan emosi non-vokal, seperti kipasan ekor lumba-lumba pada air; bioluminescence; penandaan bau; petunjuk kimia atau taktil; sinyal visual dan gestur tubuh" (Toothman).

Jadi, walaupun kita menerima premis pertama Fitch, penyebab dari hubungan 'bahasa ibu' dari kerabat kepada non-kerabat tetap tidak dapat dijelaskan. [48] Fitch beralasan, bagaimanapun juga, periode panjang dari kematangan fisik pada anak manusia, dan perkembangan extrauterine pada ensefalisasi manusia memberikan hubungan manusia-anak sebuah periode kebergantungan inter-generasi yang berbeda dan lebih lama daripada yang ditemukan pada spesies lain.

Hipotesis 'altruisme timbal balik wajib' [ sunting - sunting sumber ] Ib Ulbæk [49] menyebutkan prinsip Darwinian lain -- 'altruisme timbal-balik' [50]—untuk menjelaskan tingkat kejujuran tinggi yang diperlukan oleh bahasa untuk berkembang. 'Altruisme timbal-balik' dapat diekspresikan sebagai prinsip yang jika kamu menggaruk punggung saya, saya akan menggaruk punggungmu juga. Dalam istilah linguistik, ia dapat berarti jika kamu berkata jujur pada saya, saya akan jujur juga padamu.

Ulbæk menunjukkan bahwa altruisme timbal-balik Darwin umumnya adalah sebuah hubungan yang terjalin antara interaksi individu-individu yang sering terjadi. Supaya bahasa menguasai seluruh komunitas, bagaimanapun juga, suatu pertukaran diperlukan secara paksa secara universal tidak hanya dibiarkan sebagai pilihan individu. Ulbæk menyimpulkan bahwa supaya bahasa dapat berkembang, masyarakat awal secara keseluruhan pastinya merupakan subjek dari regulasi moral.

Evolusi tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah altruisme timbal-balik, dan permasalahan dilema tahanan dikaitkan dengan permasalahan penumpang gratis dan penipuan, telah digunakan untuk menjelaskan cepatnya peningkatan ensefalisasi dihubungkan dengan transisi dari Australopithecus sampai Homo sapien purba. Kritik menunjukkan bahwa teori ini gagal menjelaskan kapan, bagaimana, kenapa atau oleh siapa 'altruisme timbal balik wajib' dapat mungkin ditegakkan.

Berbagai proposal telah diajukan untuk memperbaiki kekurangan ini. [51] Kritikan lebih lanjut adalah bahwa bahasa tidak bekerja berdasarkan altruisme timbal-balik. Manusia dalam percakapan grup tidak menyimpan semua informasi kecuali pendengar mau memberikan informasi berharga sebagai balasan. Secara berlawanan, mereka tampak ingin menampilkan kepada dunia akses mereka terhadap informasi yang berhubungan secara sosial, menyebarkannya kepada siapa saja yang mau mendengarkan tanpa menginginkan kembalian.

[52] Hipotesis gosip dan perawatan [ sunting - sunting sumber ] Gosip, menurut Robin Dunbar, dilakukan kelompok manusia sedangkan merawat berlaku pada primata lainnya—ia membolehkan individu untuk melayani hubungan mereka dan menjaga persekutuan mereka dengan prinsip dasar, Jika kamu menggaruk punggung saya, saya akan menggaruk punggungmu juga.

Saat manusia mulai hidup di grup sosial yang semakin besar, pekerjaan merawat semua teman dan kenalan menjadi memakan waktu dan tidak terjangkau.

Merespon permasalahan ini, manusia menciptakan 'perawatan yang murah dan sangat efisien' -- perawatan vokal. Untuk membuat teman bahagia, sekarang anda cukup 'merawat' mereka dengan suara vokal yang rendah, melayani sejumlah sekutu secara bersamaan sementara membuat kedua tangan bebas untuk pekerjaan lainnya.

Perawatan vokal kemudian berkembang secara bertahap menjadi bahasa vokal—awalnya dalam bentuk 'gosip'. [53] Kritik terhadap teori ini menunjuk pada efisiensi dari 'perawatan vokal' -- fakta bahwa bicara itu gampang—akan merusak kapasitasnya untuk mensinyalkan sejenis komitmen yang disampaikan dengan perawatan manual yang berharga dan memakan waktu.

[54] Kritikan lebih lanjut adalah bahwa teori ini tidak menjelaskan transisi krusial dari perawatan vokal—produksi suara yang menenangkan tapi tidak berarti—ke kompleksitas kognitif dari berbicara secara sintaks. Kritik ini mengasumsikan bahwa dari perawatan vokal ke bahasa vokal terdapat beberapa langkah kompleks. Kritik sebelumnya juga tampak mengasumsikan tidak begitu terlihatnya superiotas dari perawatan fisik terhadap perawatan vokal dengan kata lain ia memiliki kekurangan berupa kapasitas yang sama terhadap komitmen pensinyalan.

Sebagai contohnya, penelitian yang telah memperlihatkan kedekatan seorang anak terhadap suara ibunya bisa menyarankan bahwa perawatan manual tidak memiliki keuntungan hierarki tetap lebih dari perawatan vokal. [55] Koevolusi ritual/bicara [ sunting - sunting sumber ] Teori koevolusi ritual/bicara awalnya diajukan oleh antropolog sosial Roy Rappaport [56] sebelum diuraikan oleh antropolog seperti Chris Knight, [57] Jerome Lewis, [58] Nick Enfield, [59] Camilla Power [60] dan Ian Watts.

[61] Ilmuwan kognitif dan insiyur robotik Luc Steels [62] adalah pendukung penting dari pendekatan ini, seperti juga antropologis/neurosains biologis Terrence Deacon. [63] Ilmuwan tersebut beralasan bahwa tidak ada yang namanya 'teori asal mula bahasa'. Hal ini dikarenakan bahasa bukanlah sebuah adaptasi terpisah tapi sebuah aspek internal yang lebih luas—dinamakan, kultur simbolis manusia secara keseluruhan.

[64] Para ilmuwan tersebut mengatakan bahwa mencoba menjelaskan bahasa secara independen dalam konteks yang luas ini gagal karena mereka menangani masalah tanpa solusi. Bisakah kita membayangkan seorang ahli sejarah mencoba menjelaskan munculnya kartu kredit secara tersendiri dalam sistem yang luas sementara ia adalah sebuah bagian?

Menggunakan kartu kredit masuk akal jika anda memiliki rekening bank yang secara institusional dikenal dalam suatu masyarakat kapitalis maju—suatu sistem dengan teknologi komunikasi elektronik, komputer digital, dan pencegahan penggelapan. Dalam hal yang sama, bahasa tidak akan bekerja di luar susunan institusi dan mekanisme sosial.

Sebagai contohnya, ia tidak akan bekerja bagi seekor kera yang berkomunikasi dengan kera lain di dunia liar. Bahkan kera tercerdas pun tak dapat membuat bahasa bekerja dalam bawah kondisi tersebut. Kebohongan dan jenis-jenisnya, diturunkan dalam bahasa . memberikan permasalahan terhadap masyarakat yang stukturnya dibangun oleh bahasa, yang dinamakan semua masyarakat manusia. Oleh karena itu saya beralasan bahwa jika semua kata itu ada maka diperlukan membentuk Firman, dan bahwa Firman dibentuk oleh persamaan liturgi.

— Roy Rappaport, 1979. Ecology, Meaning and Religion, pp. 210-11. [65] line feed character di -title= pada posisi 72 ( bantuan) Pendukung pemikiran ini merujuk bahwa berbicara itu gampang. Seperti halusinasi digital, mereka secara intrinsik tidak dapat diandalkan. Jika kera sangat pandai, atau bahkan satu kelompok kera pandai, mencoba untuk menggunakan kata-kata di alam liar, mereka tidak akan membawa suatu keyakinan. Vokalisasi primata yang memang membawa tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah yang mereka benar-benar gunakan—tidak seperti perkataan, mereka diekspresikan secara emosional, bermakna secara intrinsik dan dapat dipercaya karena mereka relatif berharga dan sulit dipalsukan.

Bahasa terdiri dari kontras digital yang harganya secara esensial nol. Sebagai konvensi sosial murni, sinyal jenis ini tidak dapat berkembang dalam dunia sosial Darwinian—secara teori, ia adalah sebuah ketidakmungkinan. [40] Karena tidak dapat dipercaya secara intrinsik, bahasa bekerja hanya jika anda dapat membuat suatu reputasi untuk dapat dipercaya dalam suatu bentuk masyarakat—dinamakan juga, salah satu tempat fakta-fakta kultural simbolis (terkadang disebut dengan 'fakta institusional') dapat dibangun dan dijaga lewat dukungan kolektif sosial.

[66] Dalam masyarakat pemburu-pengumpul, mekanisme dasar untuk membangun kepercayaan dalam fakta kultural simbolis adalah ritual bersama.

[67] Oleh karena itu, pekerjaan yang dihadapi para peneliti dalam asal mula bahasa adalah lebih ke multidisiplin daripada biasanya. Ia berhubungan dengan melihat perkembangan timbulnya kultur simbolis manusia secara keseluruhan, dengan bahasa sebagai salah satu yang utama tapi komponen tambahan. Kritik mengenai teori ini dari Noam Chomsky, yang menamainya dengan hipotesis 'ketak-adaan' -- sebuah penolakan dari keberadaan bahasa sebagi suatu objek kajian bagi ilmu alam. [68] Teori Chomsky sendiri adalah bahwa bahasa muncul secara instan dan dalam bentuk sempurna, [7] mendorong kritiknya sebagai jawaban bahwa hanya sesuatu yang tidak ada—sebuah konstruksi teoretis atau fiksi sosial yang mudah—yang dapat muncul secara ajaib.

[69] Kontroversi masih tetap belum terselesaikan. Hipotesis Menara Babel [ sunting - sunting sumber ] Telah disarankan bahwa bahasa mungkin saja berkembang sebagian untuk menutup komunikasi, untuk mengatur supaya suku sendiri terpisah dari terkontaminasi yang lain. [70] Hal ini berkaitan dengan paradoks pembicara-kode, kisah Menara Babel, dan tidak bertentangan dengan bahasa-ibu, perawatan dalam suku, dan hipotesis pencegahan inses yang dijelaskan di atas.

Teori Jestural [ sunting - sunting sumber ] Teori jestural menyatakan bahwa bahasa manusia berkembang dari jestur yang digunakan sebagai komunikasi sederhana. Dua tipe bukti mendukung teori ini. • Bahasa isyarat dan bahasa lisan bergantung pada sistem saraf yang sama. Bagian pada korteks yang bertanggung jawab terhadap pergerakan mulut dan tangan. • Primata selain manusia menggunakan jestur atau simbol setidaknya untuk komunikasi primitif, dan beberapa dari jestur tersebut mirip dengan yang digunakan pada manusia, seperti "postur meminta", dengan tangan direntangkan, yang manusia memiliki kesamaan dengan simpanse.

[71] Penelitian telah menemukan bukti kuat untuk ide bahwa bahasa lisan dan bahasa isyarat bergantung pada struktur saraf yang sama. Pasien yang menggunakan bahasa isyarat, dan yang menderita left- hemisphere lesion, memperlihatkan gangguan yang sama dengan bahasa isyarat sebagaimana pasien vokal dengan bahasa oralnya.

[72] Peneliti lain menemukan bagian left-hemisphere otak yang aktif saat melakukan bahasa tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah sama dengan saat menggunakan bahasa vokal atau tulisan.

[73] Pertanyaan penting untuk teori jestural yaitu kenapa terjadi peralihan ke penggunaan vokalisasi. Terdapat tiga penjelasan yang memungkinkan: • Nenek moyang kita mulai menggunakan alat yang lebih banyak, artinya kedua tangan mereka sedang digunakan dan tidak dapat digunakan untuk melakukan jestur.

[74] • Penggunaan jestur manual membutuhkan dua invidu yang berkomunikasi dapat melihat satu sama lain. Pada banyak situasi, mereka butuh berkomunikasi, bahkan tanpa kontak visual—misalnya saat malam hari atau saat dedaunan menghalangi pemandangan.

• Berdasarkan hipotesis gabungan, bahasa awal menggunakan bagian jestur dan bagian vokal mimemis (meniru 'lagu-dan-tarian'), menggabungkan modalitas-modalitas karena semua sinyal (seperti pada para kera dan monyet) masih diperlukan untuk berbiaya supaya secara intrinsik meyakinkan.

Oleh sebab itu, setiap penampilan multi-media diperlukan tidak hanya untuk menghilangkan ambigu dari arti sebenarnya tapi juga untuk menginspirasi kepercayaan dalam realibilitas sinyal. Hal ini menunjukkan bahwa hanya saat pemahaman komunitas muncul [75] maka secara otomatis diasumsikan kepercayaan dalam upaya komunikatif, paling tidak membolehkan Homo sapiens berpindah ke format standar yang lebih efisien.

Karena fitur perbedaan vokal (kontras suara) cocok untuk tujuan ini, maka hanya pada titik tersebut—saat bahasa tubuh yang secara intrinsik persuasif tidak lagi dibutuhkan untuk menyampaikan setiap pesan—bahwa pemilihan perpindahan dari manual jestur ke bahasa ucapan terjadi.

[76] [77] [78] Manusia masih menggunakan tangan dan jestur wajah saat berbicara, terutama saat seseorang bertemu dengan orang lain yang berbeda bahasa. [79] Dan ada juga, sudah pasti, sejumlah bahasa isyarat yang masih ada, biasanya berkaitan dengan komunitas tuli; penting juga diketahui bahwa bahasa isyarat memiliki kompleksitas, kecanggihan, dan kekuatan ekspresif yang sama dengan bahasa lisan yang ada—fungsi kognitifnya sama dan bagian otak yang digunakan juga sama—perbedaannya adalah "fonem" diproduksi oleh tubuh bagian luar, diartikulasikan dengan tangan, badan, dan ekspresi muka, bukan dengan bagian dalam tubuh yang diartikulasikan dengan lidah, gigi, bibir, dan pernapasan.

Kritik terhadap teori jestural menyatakan bahwa sangat sulit untuk menyebutkan alasan serius mengapa komunikasi vokal berbasis-nada (yang digunakan pada primata) ditinggalkan demi komunikasi yang kurang efektif selain suara, komunikasi jestural. Namun, Michael Corballis telah menunjukan bahwa komunikasi vokal primata (seperti teriakan peringatan) tidak bisa dikontrol secara sadar, tidak seperti gerakan tangan, dan maka ia tidak kredibel sebagai prekursor bagi bahasa manusia; vokalisasi primata agak homolog dengan dan terus menerus dalam refleks yang disengaja (terhubung dengan dasar emosi manusia) seperti teriakan atau tawa (fakta bahwa hal tersebut dapat dipalsukan tidak membantah fakta bahwa respons asli tak-sengaja saat takut atau terkejut tetap ada).

Juga, jestur bukannya secara umum kurang efektif, dan bergantung pada situasi bisa jadi menguntungkan, sebagai contohnya dalam suatu lingkungan yang bising atau saat perlu untuk diam, seperti saat berburu. Tantangan lain untuk teori "jestur-lebih-dahulu" telah dikemukakan oleh peneliti dalam psikolinguistik, termasuk David McNeill. Saraf cermin dan asal mula bahasa [ sunting - sunting sumber ] Pada manusia, penelitian fungsi MRI telah melaporkan menemukan wilayah yang sama dengan sistem saraf cermin pada monyet di korteks bagian depan bawah, dekat dengan wilayah Borca, salah satu yang dihipotesiskan sebagai wilayah bahasa pada otak.

Hal ini memberikan petunjuk bahwa bahasa manusia berkembang dari sebuah sistem pemahaman isyarat yang tertanam di saraf cermin. Saraf-saraf cermin dikatakan memiliki potensi untuk menyediakan suatu mekanisme untuk memahami tindakan, belajar meniru, dan menyimulasikan perilaku orang lain.

[80] Hipotesis ini didukung oleh beberapa homologi sitoarkitektonik antara wilayah premotor monyet F5 dan wilayah Broca pada manusia. [81] Laju ekspansi kosakata terkait dengan kemampuan anak untuk meniru suara bukan-kata dan juga dalam mempelajari pengucapan kata baru.

Hal seperti pengulangan bicara terjadi secara otomatis, cepat [82] dan secara terpisah pada otak untuk persepsi bicara. [83] [84] Lebih lanjut imitasi suara tersebut dapat terjadi tanpa pemahaman seperti dalam pembayangan bicara [85] dan echolalia. [86] Bukti lebih lanjut dari keterkaitan ini datang dari penelitian terbaru, dengan mengukur aktivitas otak dari dua peserta menggunakan fMRI saat mereka melakukan isyarat kata-kata antara satu sama lain menggunakan isyarat tangan melalui suatu permainan tebak kata—sebuah modalitas yang beberapa ahli menyarankan mungkin merepresentasikan prekursor secara evolusi dari bahasa manusia.

Analisis data menggunakan Kausalitas Granger memperlihatkan bahwa sistem saraf cermin dari pengamat memang merefleksikan pola dari aktivitas dari aktivitas di dalam sistem motor si pengirim, mendukung ide bahwa konsep motor berhubungan dengan kata-kata memang ditransmisikan dari satu otak ke otak lain menggunakan sistem cermin. [87] Perlu diketahui bahwa sistem saraf cermin tampak pada dasarnya tidak memadai untuk memainkan peran dalam sintaks, selama properti penting bahasa manusia yang diterapkan dalam struktur rekursif hierarkis ini diratakan menjadi urutan linier fonem-fonem yang membuat struktur rekursif tidak dapat diakses oleh deteksi sensoris.

[88] Teori menaruh anak di bawah [ sunting - sunting sumber ] Menurut teori 'menaruh anak di bawah'-nya Dean Falk, interaksi vokal antara ibu hominin awal dengan anaknya memunculkan perkataan awal leluhur kita. [89] Ide dasarnya adalah ibu manusia yang berevolusi, tidak seperti monyet dan kera, tidak dapat berpindah tempat dan mencari makanan saat anaknya menggantung di belakang mereka. Hilangnya bulu pada kasus manusia menyebabkan anak bukan berarti tidak mau menggantung. Seringkali, karenanya, si ibu harus menaruh bayi mereka di bawah.

Hasilnya, bayi-bayi tersebut harus diyakinkan bahwa mereka tidak diacuhkan. Si ibu merespon dengan mengembangkan 'motherese' -- sistem komunikasi langsung kepada bayi yang menekankan ekspresi wajah, bahasa tubuh, menyentuh, menepuk, membelai, tertawa, menggelitik dan teriakan-teriakan panggilan ekspresif secara emosional.

Argumennya adalah bahwa bahasa bisa saja berkembang karena hal-hal tersebut. Kritik menyatakan bahwa bila teori ini mungkin menjelaskan sejumlah jenis 'protobahasa' terhadap-bayi - dikenal sekarang sebagai 'motherese' - ia hanya memberikan sedikit untuk menjawab permasalahan yang lebih rumit, yaitu munculnya di antara orang dewasa perkataan dengan sintaks.

Namun, dalam The Mental and Social Life of Babies, psikolog Kenneth Kaye menulis bahwa tidak ada bahasa yang digunakan sekarang dapat berkembang tanpa komunikasi interaktif antara anak-anak muda dengan orang dewasa.

"Tidak ada sistem simbolik yang dapat bertahan dari satu generasi ke generasi selanjutnya jika ia tidak dapat secara mudah ditangkap oleh anak-anak dalam kondisi normal mereka pada kehidupan sosial." [90] Teori Gramatisasi [ sunting - sunting sumber ] ' Gramatikalisasi' adalah sebuah proses sejarah berkelanjutan ketika kata-kata yang berdiri sendiri berkembang menjadi tambahan tata bahasa, sementara hal tersebut kemudian menjadi lebih terspesialisasikan dan terstruktur.

Yang awalnya berupa penggunaan yang 'salah', menjadi diterima, mengarah ke konsekuensi yang tidak terbayangkan, memicu efek terpukul dan memperpanjang seurutan perubahan. Secara paradoks, tata bahasa berkembang karena, dalam analisis akhir, manusia lebih peduli terhadap keterpahaman daripada keindahan tata bahasa.

[91] Jika ini merupakan cara bagaimana tata bahasa berkembang sekarang, menurut aliran pemikiran tersebut, kita dapat secara sah berpendapat prinsip yang sama bekerja di antara leluhur jauh kita, saat tata bahasa itu sendiri untuk pertama kalinya terbentuk. [92] [93] [94] Untuk merekonstruksi ulang transisi evolusi dari awal bahasa ke bahasa dengan tata bahasa kompleks, kita perlu mengetahui urutan hipotesis mana yang memungkinan dan yang tidak memungkinkan.

Untuk menyampaikan ide abstrak, jalan keluar pertama dari pembicara adalah dengan kembali secara langsung pada gambaran konkret yang dikenali, sering kali mengembangkan metafora-metafora yang berakar dalam pengalaman jasmani yang sama. [95] Contoh yang lazim adalah penggunaan istilah konkret seperti 'perut' atau 'punggung' untuk menyampaikan makna abstrak seperti 'di dalam' atau 'di belakang'.

Hal yang sama secara metafora adalah strategi dalam merepresentasikan pola sementara pada model spasial. Makanya dalam konteks bahasa Inggris sering dikatakan 'It is going to rain', dimodelkan dari 'I am going to London'. Kita bisa mempersingkat ini dalam bahasa sehari-hari menjadi 'It's gonna rain'.

Bahkan pada saat terburu-buru, kita tidak mengatakan 'I'm gonna London' -- kontraksi terbatas pada waktu yang menentukan pekerjaan. Dari contoh tersebut kita tidak melihat kenapa gramatikalisasi secara konsistensi searah—dari makna konkret ke abstrak, bukan sebaliknya.

Para pendukung teori gramatikalisasi membayangkan bahasa awal sebagai sederhana, mungkin hanya terdiri dari kata-kata benda. [96] Bahkan dengan asumsi ekstrim tersebut, bagaimanapun juga, sangat susah untuk membayangkan halangan kognitif apa yang secara realistiknya mencegah orang dari menggunakan—katakanlah -- 'tombak' seakan-akan sebagai kata kerja, seperti yang digunakan dalam bahasa Inggris ('Let's spear this pig!').

Terlepas dari keindahan tata bahasa yang para ahli bahasa pahami, orang-orang di dunia nyata akan menggunakan kata benda mereka sebagai kata kerja atau kata kerja sebagai kata benda saat dikehendaki. Secara singkat, bila bahasa dengan tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah mungkin tampak secara teori memungkinkan, teori gramatikalisasi mengindikasikan bahwa ia tidak dapat tetap konstan dalam keadaannya tersebut untuk waktu yang lama.

Kreativitas mengendalikan perubahan tata bahasa. [97] Pandangan ini mengasumsikan perilaku tertentu pada pendengar. Bukannya menghukum penyimpangan dari penggunaan yang seharusnya, pendengar harus memprioritaskan imajinasi membaca-pikiran. Kita seharusnya tidak mengambil begitu saja sikap kognitif. Kreativitas imajinasi—mengindahkan tanda bahaya macan tutul saat tidak ada macan tutul, sebagai contohnya—bukanlah suatu perilaku yang mana monyet vervet akan hargai atau menghukum.

[98] Kreativitas dan reliabilitas adalah keinginan yang bertentangan; bagi primata 'Machiavellian' sebagaimana pada hewan secara umumnya, tekanan utamanya adalah untuk menunjukan reliabilitas. [99] Jika manusia meninggalkan batasan-batasan tersebut, itu karena pada kasus kita, para pendengar lebih tertarik dengan keadaan mental. Memusatkan perhatian pada keadaan pikiran sama dengan menerima fiksi—penghuni imajinasi—sebagai informasi yang potensial dan menarik. Contohnya adalah penggunaan metafora.

Secara harfiah, metafora adalah sebuah pernyataan yang salah. [100] Bayangkan pernyataan Romeo, 'Juliet adalah matahari!'. Juliet adalah seorang wanita, bukanlah sebuah bola dari gas panas di angkasa, tapi para pendengar (biasanya) tidak bersikeras terhadap kebenaran faktanya. Mereka ingin mengetahui apa yang pembicara miliki dalam pikirannya. Gramatikalisasi pada dasarnya berdasar pada metafora. Melarang penggunaannya akan menghambat tata bahasa untuk berkembang dan meniadakan pengungkapan pemikiran abstrak.

[95] [101] Suatu kritikan terhadap hal ini adalah bila teori gramatikalisasi mungkin menjelaskan perubahan bahasa pada saat sekarang, ia tidak secara memuaskan menjawab tantangan yang lebih rumit—menjelaskan transisi awal dari komunikasi gaya-primata ke bahasa yang kita ketahui sekarang.

Tapi, teori tersebut mengasumsikan bahwa bahasa telah ada. Seperti yang dibenarkan oleh Bernd Heine dan Tania Kuteva: Gramatikalisasi membutuhkan sebuah sistem linguistik yang sering digunakan dalam suatu komunitas pembicara dan disampaikan dari satu kelompok pembicara ke yang lainnya. [102] Di luar manusia modern, keadaan tersebut tidak berlaku. Teori Kera yang dijinakkan [ sunting - sunting sumber ] Menurut penelitian yang menginvestigasi perbedaan suara antara white-rumped Munia dengan bandingannya yang dikandangkan ( Bengalese finch), munia liar menggunakan urutan suara tinggi yang khas, sedangkan yang dipelihara mengeluarkan suara tinggi yang terpaksa.

Pada finch liar, sintaks dari suara adalah supaya disukai oleh betina - seleksi seksual - dan secara relatif tidak berubah. Namun, pada Bengalese finch, seleksi alam digantikan oleh proses keturunan, dalam kasus ini untuk corak warna pada bulu, sehingga dipisahkan dari tekanan selektif, sintaks suara yang khas dibiarkan menghilang.

Ia digantikan, selama 1000 generasi, oleh sebuah variabel and tahap-tahap pembelajaran. Finch liar, lebih lanjut, tidak mampu mempelajari urutan suara dari finch lainnya. [103] Dalam bidang vokalisasi burung, bagian otak yang menghasilkan hanya suara bawaan lahir memiliki jalur neural yang sederhana: pusat forebrain motor utama, dikenal dengan robust nucleus dari arcopallium, terhubung ke bagian tengah penghasil vokal, yang memproyeksikan ke brainstem motor nuclei.

Secara berlawanan, bagian otak yang mampu mempelajari suara, arcopallium menerima input dari sejumlah bagian otak-depan, termasuk dari bagian yang terlibat dalam belajar dan pengalaman sosial. Kontrol dalam menghasilkan suara menjadi kurang terbatas, lebih tersebar, dan lebih fleksibel. Bila dibandingkan dengan primata lain, yang sistem komunikasinya terbatas pada stereotip suara teriak dan teriakan yang tinggi, manusia memiliki sangat sedikit vokalisasi bawaan lahir, sebagai contoh tertawa dan menangis.

Lebih lanjut, vokalisasi bawaan lahir ini dihasilkan oleh jalur neuronal yang terbatas, dengan bahasa dihasilkan oleh sistem yang sangat tersebar mengikutkan sejumlah wilayah pada otak manusia. Fitur bahasa yang menonjol adalah bila kemampuan berbahasa diturunkan, bahasa itu sendiri ditransmisi lewat kultur.

Yang ditransmisi lewat kultur juga pemahaman, seperti teknologi dalam cara-cara melakukan sesuatu, yang dibungkus dalam penjelasan berbasis bahasa. Karenanya seseorang akan mendapatkan lintasan evolusi yang kuat antara kemampuan bahasa dan kultur: proto-manusia yang mampu menggunakan bahasa pertama, dan diasumsikan belum sempurna, akan memiliki akses pemahaman kultural yang lebih baik, dan pemahaman kultural, disampaikan dalam proto-bahasa yang dapat dipahami oleh otak anak-anak, akan lebih mudah ditrasmisikan, sehingga memberikan manfaat yang dapat diperoleh.

Karena itu proto-manusia masih melaksanakan, dan terus melaksanakan, apa yang disebut konstruksi niche, membuat niche kultural yang menyediakan kunci pemahaman terhadap kelangsungan hidup, dan perubahan evolusionari berkelanjutan yang mengoptimasi kemampuannya untuk menghiasi niche tersebut.

Tekanan seleksi yang beroperasi untuk menopang insting yang dibutuhkan untuk bertahan hidup pada niche sebelumnya akan diharapkan mengendur karena manusia menjadi bergantung kepada niche kultural yang dibuat sendiri, selama inovasi-inovasi yang memfasilitasi adaptasi kultural—dalam kasus ini, inovasi dalam kompetensi bahasa—akan lebih berkembang.

Salah satu cara untuk memikirkan tentang evolusi manusia adalah kita ini seperti kera yang dijinakkan. Seperti halnya penjinakkan mengendurkan seleksi untuk stereotip suara pada burung finch—pilihan pasangan digantikan dengan pilihan yang dibuat oleh kepekaan estetis dari peternak burung dan kustomernya—bisa saja domestikasi dari kultural kita telah mengendurkan seleksi dalam banyak hal dari sifat perilaku primata kita, menyebabkan jalur lama menjadi merosot dan terbentuk ulang.

Mempertimbangkan bahwa otak mamalia berkembang secara tidak pasti—otak berkembang secara "bottom up", dengan satu kelompok interaksi neuronal mempersiapkan langkah untuk interaksi selanjutnya—jalur degradasi lebih condong untuk mencari dan menemukan kesempatan baru untuk terhubung sinaptis.

Perbedaan turunan dari jalur otak seperti itu bisa saja berkontribusi pada kompleksitas fungsi yang mengkarakterisasikan bahasa manusia. Dan, seperti yang terjadi pada burung finch, de-diferensiasi tersebut dapat terjadi dalam waktu yang cepat. [104] [105] Bicara dan bahasa untuk komunikasi [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Komunikasi hewan, Bahasa hewan, dan Asal mula bicara Terdapat perbedaan antara bicara dan bahasa. Bahasa tidak harus selalu diucapkan: ia bisa saja tertulis atau diisyaratkan.

Bicara adalah salah satu metode di antara sejumlah metode berbeda dalam menterjemahkan dan mentrasmisikan informasi linguistik, walaupun bisa dibilang yang paling alami. Beberapa ahli memandang bahasa sebagai awal dari perkembangan kognitif, ke-'ekternalisasi'-nya untuk melayai tujuan komunikatif yang terjadi kemudian pada evolusi manusia.

Menurut suatu aliran pemikiran, ciri penting yang membedakan bahasa manusia adalah rekursi. [106]—dalam konteks ini, proses berulang menanamkan kalimat di dalam kalimat. Ilmuwan lain—yang terkenal Daniel Everett—menolak bahwa rekursi itu adalah universal, mengutip beberapa bahasa tertentu (yaitu Pirahã) yang diduga memiliki kekurangan fitur ini.

[107] Beberapa ahli menganggap bahwa kemampuan untuk mengajukan pertanyaan membedakan bahasa manusia dari sistem komunikasi makhluk lain. [108] Beberapa primata-primata dalam kurungan (khususnya bonobo dan simpanse) yang telah mempelajari menggunakan bahasa isyarat dasar untuk berkomunikasi dengan pelatih manusia mereka mampu menanggapi pertanyaan dan permintaan yang kompleks dengan benar, tetapi gagal untuk mengajukan sebuah pertanyaan yang sederhana.

Sebaliknya, anak manusia mampu menanyakan pertanyaannya untuk pertama kali (hanya menggunakan intonasi pertanyaan) dalam periode mengoceh dari perkembangan mereka, jauh sebelum mereka dapat menggunakan sintaks yang terstruktur.

Meskipun bayi-bayi dari kultur yang berbeda menyerap bahasa aslinya dari lingkungan, semua bahasa di dunia tanpa kecuali—tonal, non-tonal, intonasi dan aksen—menggunakan "intonasi tanya" yang sama untuk pertanyaan ya-tidak.

[109] [110] Fakta ini adalah bukti kuat keuniversalan intonasi tanya. Perkembangan kognitif dan bahasa [ sunting - sunting sumber ] Salah satu kemampuan yang menarik yang dimiliki oleh pengguna bahasa adalah referensi tingkat-tinggi, atau kemampuan untuk menunjuk ke benda atau keadaan sesuatu yang tidak terjadi secara langsung bagi pembicara.

Kemampuan ini terkadang berhubungan kepada teori pikiran, atau sebuah kepedulian dari orang lain sebagai mahluk hidup seperti dirinya dengan hasrat dan perhatian sendiri.

Menurut Chomsky, Hauser dan Fitch (2002), ada enam aspek dari sistem referensi tingkat-tinggi: • Teori pikiran • Kapasitas untuk mendapatkan representasi konseptual non-linguis, seperti perbedaan pada objek/sifat • Mengenali sinyal vokal • Imitasi sebagai sistem yang rasional, bertujuan, sengaja. • Secara sukarela mengatur produksi sinyal sebagai bukti dari komunikasi yang sengaja • Kognisi angka Teori pikiran [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Teori pikiran Simon Baron-Cohen (1999) berargumen bahwa teori pikiran pasti mendahului penggunaan bahasa, berdasarkan bukti penggunaan dari karakteristik-karakteristik berikut sekitar 40.000 tahun yang lalu: komunikasi, perbaikan komunikasi yang gagal, mengajar, persuasi, penipuan yang disengaja, membuat tujuan dan rencana bersama-sama, membagi fokus atau topik secara sengaja, dan berpura-pura.

Lebih lanjut, Baron-Cohen berargumen bahwa banyak primata memiliki kemampuan ini, tetapi tidak semuanya. Penelitian Call dan Tomasello terhadap simpanse mendukung argumen ini, dengan seekor simpanse tampak memahami bahwa simpanse lain memiliki kepedulian, pengetahuan, dan tujuan, tetapi tidak memahami penipuan. Banyak primata memperlihatkan kecendrungan ke arah teori pikiran, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan yang dimiliki manusia.

Secara keseluruhan, ada sejumlah konsensus bahwa teori pikiran diperlukan untuk menggunakan bahasa. Maka, perkembangan dari teori pikiran pada manusia diperlukan sebagai suatu prekursor penting untuk penggunaan bahasa secara penuh. Pengenalan pada Angka [ sunting - sunting sumber ] Dalam satu penelitian, tikus dan merpati dibutuhkan untuk menekan tombol beberapa kali untuk mendapatkan makanan: binatang memperlihatkan akurasi perbedaan untuk angka yang kecil dari empat, tapi setelah angka dinaikkan, tingkat error meningkat (Chomsky, Hauser & Fitch, 2002).

Matsuzawa (1985) mencoba mengajari angka arab. Perbedaan antara primata dan manusia dalam hal ini sangatlah besar, saat simpanse membutuhkan ribuan percobaan untuk mempelajarai angka 1-9 dengan setiap angka membutuhkan waktu pelatihan yang hampir sama; dan, setelah mempelajari makna dari 1, 2 dan 3 (dan terkadang 4), anak-anak dengan mudah memahami nilai integer tertinggi dengan menggunakan fungsi turunan (misalnya, 2 lebih besar dari 1, 3 adalah 1 angkat lebih besar dari 2, 4 lebih besar 1 angka daripada 3; setelah mencapai angka 4 tampaknya hampir semua anak memiliki "a-ha!" momen dan memahami nilai semua integer n adalah lebih besar 1 dari angka sebelumnya).

Secara sederhana, primata lain belajar arti dari angka satu persatu dengan menggunakan pendekatan yang sama dengan mengacu pada simbol sementara anak-anak pertama cukup mempelajari daftar dari simbol (1,2,3,4.) dan kemudian nantinya mereka akan mempelajari arti sebenarnya.

[111] Hasil ini dapat dilihat sebagai bukti dari aplikasi dari "open-ended generative property" dari bahasa dalam pengenalan angka pada manusia. tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah Struktur Linguistik [ sunting - sunting sumber ] Prinsip leksikal-fonologis [ sunting - sunting sumber ] Hocket (1966) memberikan daftar rincian fitur yang penting untuk menjelaskan bahasa manusia.

Dalam wilayah prinsip leksikal-fonologis, dua fitur dari daftar tersebut yang sangat utama: • Produktivitas: pengguna dapat membuat dan memahami pesan yang sangat asing.

• Pesan baru secara bebas diciptakan oleh pencampuran, menganalisis dari, atau mengubah yang lama. • Tidak ada elemen baru atau lama yang secara bebas menjadi semantik baru karena lingkungan dan konteks. Hal ini mengatakan bahwa di setiap bahasa, idiom baru secara konstan tercipta. • Dualitas (dalam pola): sejumlah elemen yang memiliki arti adalah hasil ciptaan dari sejumlah kecil elemen yang kurang berarti secara tersendiri dan berbeda-arti.

Sistem suara dari bahasa terbentuk dari sejumlah item-item fonologi sederhana. Dengan aturan fonotaktik suatu bahasa, item-item tersebut dapat digabung ulang dan disatukan, melahirkan morfologi dan kosakata terbuka.

Fitur kunci dari bahasa adalah sejumlah item-item fonologi yang terbatas dan sederhana melahirkan sistem kosakata yang tidak terbatas dengan aturan-aturan yang menentukan bentuk dari setiap item, dan artinya terkait dengan bentuknya. Sintak fonologi adalah kombinasi sederhana dari unit fonologi yang sudah ada. Terkait dengan hal tersebut, fitur utama lain dari bahasa manusia adalah: sintaksis leksikal (kosakata), dengan unit yang sudah ada digabungkan, menghasilkan item baru secara semantik (arti) atau berbeda secara kosakata.

Beberapa elemen dari prinsip leksikal-fonologis diketahui ada di luar manusia.

tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah

Bila semua tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah hampir kesemua) telah didokumentasikan dalam suatu bentuk dalam dunia alami, hanya sedikit yang ada dalam satu spesies yang sama.

Nyanyian burung, kera, dan suara paus semuanya memperlihatkan sintak fonologi, gabungan unit suara menjadi struktur besar tanpa meningkatkan atau memberi arti baru. Beberapa spesies primata memiliki sistem fonologi sederhana dengan unit-unit menunjuk pada beberapa entiti di dunia.

Namun, perbedaannya dengan sistem manusia, unit-unit pada sistem primata tersebut biasanya terjadi dalam isolasi. Ada sebuah bukti baru yang menyatakan bahwa monyet Campbell juga memperlihatkan sintak leksikal, menggabungkan dua teriakan (teriakan peringatan adanya predator dengan "boom", sebuah gabungan yang menyatakan berkurangnya bahaya), namun masih belum jelas apakah itu adalah leksikal atau fenomena morfologi.

Pijin dan kreol [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Bahasa kreol dan Bahasa pijin Pijin adalah bahasa yang secara signifikan disederhanakan dengan hanya tata-bahasa yang belum sempurna dan kosakata yang terbatas. Pada masa awal perkembangannya pijin hanya terdiri dari kata benda, kata kerja, dan kata keterangan dengan sedikit atau tanpa pasal, kata depan, kata penghubung atau kata bantu kerja.

Tata bahasanya tidak memiliki urutan kata dan kata-katanya tidak ada nada suara. [113] Jika komunikasi terjadi antara kelompok yang menggunakan pijin untuk waktu yang lama, pijin akan menjadi komplek dalam beberapa generasi. Jika anak dalam satu generasi menggunakan pijin sebagai bahasa natif maka ia akan berkembang menjadi bahasa kreol, yang makin teratur dan menggunakan tata-bahasa yang lebih rumit, dengan fonologi yang teratur, sintak, morfologi, dan penggunaan sintaktis. Sintak dan morfologi dari bahasa itu bisa saja memiliki inovasi lokal sendiri yang tidak diturunkan dari bahasa orang tuanya.

Penelitian terhadap bahasa kreol diseluruh dunia telah menjelaskan bahwa mereka memiliki kesamaan yang luar biasa dalam tata-bahasa dan berkembang secara seragam dari pijin dalam satu generasi. Kesamaan ini jelas kelihatan walaupun kreol tidak memiliki sumber yang sama. Sebagai tambahan, kreol memiliki kesamaan walaupun terbentuk dalam isolasi yang berbeda satu dengan yang lain. Kesamaan sintak termasuk urutan kata dalam Subjek-Kata Kerja-Objek (SKO). Bahkan bila kreol berasal dari bahasa dengan urutan kata yang berbeda mereka sering berkembang menjadi urutan SKO.

Kreol condong memiliki kesamaan pola penggunaan untuk klausa yang pasti dan tak pasti, dan memiliki aturan perubahan untuk struktur kalimat walaupun pada bahasa asalnya tidak ada. [113] Rentang waktu evolusiner [ sunting - sunting sumber ] Bahasa Primata [ sunting - sunting sumber ] Bidang ahli primatologi dapat memberikan kita gambaran mengenai cara Kera Besar berkomunikasi di alam liar.

[29] Penemuan utamanya yaitu primata selain-manusia, termasuk kera besar, menghasilkan suara-suara yang bergradasi dan tidak terdiferensiasi secara kategoris, dengan pendengar berusaha untuk mengevaluasi gradasi halus di bagian-bagian emosional dan keadaan tubuh dari si pemberi sinyal.

Kera sangat sulit menghasilkan vokalisasi tanpa adanya keadaan yang berkaitan dengan emosi. [114] Dalam penangkaran, kera telah diajarkan bentuk-bentuk dasar dari bahasa isyarat dan telah dibujuk untuk menggunakan lexigram—simbol-simbol yang secara grafis tidak menggambarkan kata—pada papanketik komputer.

Beberapa kera, seperti Kanzi, telah belajar dan menggunakan ratusan lexigram. [115] [116] Area Broca dan Area Wernicke pada otak primata bertanggung jawab untuk mengontrol otot dari muka, lidah, mulut, dan laring, dan juga untuk mengenali suara. Primata dikenal membuat "teriakan vokal", dan teriakan ini dibuat oleh sirkuit dalam batang-otak dan sistem limbik.

[117] Rupanya, pemindain modern pada otak pada simpanse yang sedang mengoceh membuktikan bahwa mereka menggunakan area Broca untuk mengoceh. [118] dan ada bukti bahwa monyet-monyet yang mendengar monyet lain berceloteh menggunakan wilayah otak yang sama seperti manusia mendengarkan pembicaraan.

[119] Di alam liar, komunikasi monyet vervet telah banyak dipelajari. [113] Mereka dikenal karena membuat sepuluh vokalisasi yang berbeda. Banyak darinya tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah untuk memperingati anggota dari grup apabila predator mendekat. Mereka termasuk "teriakan leopard", "teriakan ular", dan "teriakan elang".

Setiap teriakan memicu strategi pertahanan yang berbeda pada monyet yang mendengar teriakan tersebut dan ilmuwan dapat memperoleh respon yang terprediksi dari monyet dengan menggunakan speaker dan suara rekaman. Vokalisasi yang lain digunakan untuk identifikasi. Jika bayi monyet berteriak, ibunya akan menoleh kepadanya, tapi ibu monyet vervet yang lain menoleh ke ibu monyet tersebut untuk melihat apa yang akan dilakukannya. [120] Dengan cara yang sama, para peneliti telah memperlihatkan bahwa simpanse (dalam penangkaran) menggunaan "kata" yang berbeda untuk menunjuk pada makanan yang berbeda.

Mereka merekam vokalisasi yang dibuat oleh simpanse tersebut, sebagai contoh, untuk anggur, dan simpanse yang lain akan menunjuk ke gambar anggur bila dipedengarkan suara tersebut. [121] Awal- Homo [ sunting - sunting sumber ] Mengenai pengucapan, ada spekulasi yang patut dipertimbangkan mengenai kemampuan bahasa dari awal- Homo (2,5 sampai 0,8 juta tahun yang lalu).

Secara anatomi, beberapa ahli percaya kemampuan bipedalisme, yang berkembang dalam australopithecine sekitar 3,5 juta tahun lalu, telah membawa perubahan pada tengkorak, membuat sistem vokal lebih banyak berbentuk L-nya. Bentuk dari trak dan laring yang terletak dekat di bawah leher merupakan prasyarat penting bagi kebanyakan suara yang dihasilkan manusia, terutama sekali pada huruf hidup.

Ilmuwan lain percaya bahwa, berdasarkan posisi laring, Neanderthal tidak memiliki anatomi yang dibutuhkan untuk menghasilkan suara secara penuh yang dibuat oleh manusia modern.

[122] [123] Sebelumnya diajukan bahwa perbedaan antara saluran vokal Homo sapiens dan Neanderthal dapat dilihat pada fosil, tapi penemuan tulang hyoid Neanderthal (lihat di bawah) identik dengan yang ditemukan pada Homo sapiens, telah melemahkan teori tersebut. Tetap saja ada yang berpendapat bahwa rendahnya laring tidak mempengaruhi perkembangan kemampuan berbicara. [124] Istilah bahasa-purba, yang didefinisikan oleh linguis Derek Bickerton, adalah bentuk primitif dari komunikasi yang memiliki kekurangan: • sintaks yang lengkap • kata penunjuk waktu, aspek, kata kerja bantu, dll.

• kosakata kelas-tertutup (misalnya, non-leksikal) Sebuah tingkat dalam evolusi bahasa berada di antara bahasa kera besar dan bahasa manusia modern yang telah lengkap. Bickerton (2009) menempatkan pertama munculnya bahasa-purba dengan munculnya Homo awal, dan menghubungkan kemunculannya dengan tekanan adaptasi perilaku terhadap konstruksi niche dari memulung yang dihadapi oleh Homo habilis.

[125] Fitur anatomis seperti vokal huruf L berevolusi terus-menerus, tidak muncul tiba-tiba. [126] Makanya lebih memungkinkan bila Homo habilis dan Homo erectus selama Lower Pleistocene memiliki semacam bentuk komunikasi sederhana antara manusia modern dan primata lainnya.

[127] Homo sapiens purba [ sunting - sunting sumber ] Informasi lebih lanjut: Homo sapiens purba Steven Mithen mengusulkan istilah Hmmmmm terhadap sistem komunikasi pra-linguistik yang digunakan oleh Homo purba, dimulai dari Homo ergaster dan mencapai tingkat tertinggi penggunaannya pada masa Pleistosen Tengah pada Homo heidelbergensis dan Homo neanderthalensis.

Hmmmmm adalah akronim dari kata bahasa Inggris untuk holistic (bukan-gabungan), manipulatif (ucapan merupakan perintah atau sugesti, bukan penjelasan), multi- modal (akustik sebagaimana isyarat dan mimik), musical (bersifat musik), dan mimetic.

[128] Homo heidelbergensis [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Homo heidelbergensis: Bahasa H. heidelbergensis adalah kerabat dekat (kebanyakan mungkin karena turunan dari bermigrasi) dari Homo ergaster. H. ergaster beberapa peneliti percaya bahwa spesies ini sebagai hominid pertama yang dapat membuat suara yang terkontrol, kemungkinan meniru vokalisasi hewan lain.

[129] dan H. heidelbergensis mengembangkan kultur yang lebih rumit sejak dari titik tersebut dan mungkin mengembangkan bentuk bahasa simbolik pertama. Homo neanderthalensis [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Perilaku Neanderthal: Bahasa Penemuan tulang hyoid Neanderthal pada tahun 2007 menyatakan bahwa Neanderthal secara anatomis bisa saja menghasilkan suara seperti manusia modern. Saraf hypoglossal, yang dikirim lewat kanal, mengontrol pergerakan lidah dan ukurannya dikatakan mempengaruhi kemampuan berbicara.

Hominid yang hidup lebih dari 300,000 tahun lalu memiliki kanal hypoglossal lebih mirip dengan simpanse daripada manusia. [130] [131] [132] Walaupun Neanderthal memiliki anatomi yang memungkinkan untuk berbicara, Richard G.

Klein pada tahun 2004 meragukan bahwa mereka memiliki bahasa seperti bahasa modern. Keraguan dia berdasarkan catatan fosil dari manusia purba dan peralatan batunya. Sejak 2 juta tahun setelah munculnya Homo habilis, teknologi batu dari hominid berubah sangat sedikit.

Klein, yang telah bekerja lama dengan alat-alat batu, menjelaskan alat batu yang kasar pada manusia purba membuatnya tidak mungkin untuk dikelompokkan berdasarkan fungsinya, dan melaporkan bahwa Neanderthal tidak begitu peduli bagaimana bentuk akhir dari alat-alat mereka. Klein berargumen bahwa otak Neanderthal belum mencapai tingkat kompleksitas untuk berbicara secara modern, walaupun komponen fisik untuk menghasilkan suara telah berkembang. [133] [134] Isu mengenai tingkat kultur dan teknologi dari Neanderthal masih menjadi salah satu kontroversi.

Homo sapiens [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Manusia modern anatomis dan Perilaku modernitas Anatomi manusia modern pertama muncul dalam catatan fosil 195.000 tahun yang lalu di Ethiopia.

Tapi walau modern secara anatomis, bukti arkeologi yang ada meninggalkan hanya sedikit indikasi bahwa mereka berperilaku berbeda dengan Homo heidelbergensis. Mereka memiliki alat batu Acheulean yang sama dan berburu sedikit efisien dari manusia modern Late Pleistocene. [135] Transisi ke yang lebih canggih Mousterian terjadi sekitar 120,000 tahun lalu, dan ini terjadi pada masa H.

sapiens dan H. neanderthalensis. Perkembangan Perilaku modernitas pada H. sapiens, yang tidak terjadi pada H. neanderthalensis atau variasi Homo lainnya, berkisar antara 70.000 sampai 50.000 tahun yang lalu. Perkembangan alat yang lebih canggih, pertama kalinya terbentuk lebih dari satu materi (contoh: tulang atau tanduk) dan dapat dikelompokan dalam beberapa kategori dan fungsi (seperti ujung proyektil, alat ukir, pisau, dan alat penggerekan dan tusuk) dianggap sebagai bukti munculnya dan berkembangnya bahasa yang utuh, diasumsikan karena ia dibutuhkan untuk mengajarkan proses manufaktur kepada para turunannya.

[133] [136] Langkah terbesar [ diragukan – diskusikan] dalam evolusi bahasa adalah progres dari primitif, komunikasi seperti bahasa pijin ke komunikasi berbentuk kreol dengan tata-bahasa dan sintak seperti bahasa modern. [113] Beberapa ahli percaya bahwa langkah ini hanya dapat terjadi karena perubahan biologis pada otak, seperti mutasi.

Juga dikatakan bahwa gen seperti FOXP2 mungkin telah bermutasi membuat manusa dapat berkomunikasi. [ diragukan – diskusikan] Namun, penelitian genetik terbaru memperlihatkan bahwa Neandertal berbagi FOXP2 dengan H. sapiens. [137] Oleh sebab itu ia tidak memiliki mutasi yang unik dengan H. sapiens. Malahan, ia mengindikasikan bahwa perubahan genetik mendahului Neandertal -- H.

sapiens terpisah. Masih banyak debat tentang apakah bahasa berkembang secara bertahap selama ribuan tahun atau muncul secara langsung. Area Broca dan Wernicke pada otak primata juga muncul di otak manusia, area pertama yang ikut serta dalam banyak pekerjaan kognitif dan persepsi, yang berakhir pada kemampuan berbahasa.

Sirkuit yang sama pada otak primata, sistem stem dan limbic, mengatur suara non-verbal pada manusia (tertawa, menangis, dll), yang menyatakan bahwa pusat bahasa manusia adalah modifikasi sirkuit neural yang umum pada semua primata. Modifikasi dan skil untuk komunikasi linguis ini tampak sangat unik pada manusia, yang menyiratkan bahwa organ bahasa yang diturunkan setelah garis keturunan manusia terpisah dari garis keturunan primata (simpanse dan bonobo).

Secara jelas menyatakan, bahasa kata adalah modifikasi dari laring yang unik pada manusia. [117] Menurut hipotesis Asal usul dari Afrika, sekitar 50.000 tahun lalu [138] sekelompok manusia meninggalkan Afrika dan berlanjut mendiami hampir sebagian dari bumi, termasuk Australia dan Amerika, yang mana belum pernah dihuni oleh hominid kuno.

Beberapa ilmuwan [139] percaya bahwa Homo sapiens tidak meninggalkan Afrika sebelum itu, karena mereka belum memiliki kesadaran dan bahasa modern, dan makanya tidak memiliki kemampuan atau jumlah yang dibutuhkan untuk migrasi.

Walaupun demikian, adanya fakta bahwa Homo erectus berhasil meninggalkan benua lebih awal (tanpa kemampuan yang luas dari bahasa, peralatan yang memadai, atau anatomi yang modern), alasan kenapa anatomi manusia modern masih berada di Afrika untuk waktu yang lama masih belum jelas. Skenario Biologis pada evolusi bahasa [ sunting - sunting sumber ] Informasi lebih lanjut: Evolusi linguistik Semua manusia memiliki bahasa.

Ini termasuk populasi, seperti Penduduk Asli Tasmania dan Andaman, yang telah terisolasi selama 40.000 tahun lebih. Linguistik monogenesis adalah hipotesis bahwa ada sebuah proto-bahasa, terkadang disebut proto-manusia, dan dari situ semua vokal pada bahasa diturunkan. (hal ini tidak berlaku pada bahasa isyarat, yang diketahui muncul secara tersendiri bukan secara berkelanjutan.) Jika asumsi tentang bahasa "proto-manusia" diterima, perkiraan waktunya mungkin sekitar 200.000 tahun lalu (zaman Homo sapiens) dan 50.000 tahun lalu (zaman perilaku modernitas).

[ butuh rujukan] Usaha ilmiah serius yang pertama untuk mencoba menetapkan realitas dari monogenesis adalah dari Alfredo Trombetti, dalam bukunya L'unità d'origine del linguaggio, diterbitkan tahun 1905 (cf. Ruhlen 1994:263). Trombetti memperkirakan bahwa leluhur bersama bahasa-bahasa yang ada sekarang telah dituturkan antara 100.000 dan 200.000 tahun lalu (1922:315). Monogenesis ditolak oleh banyak ahli bahasa pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, saat doktrin poligenesis ras manusia dan bahasa mereka mendapatkan pengaruh (misalnya Saussure 1986/1916:190).

Pendukung terbaik dari monogenesis di Amerika pada pertengahan abad ke-20 adalah Morris Swadesh (cf. Ruhlen 1994:215). Dia mempelopori dua metode penting untuk menginvestigasi hubungan mendalam antara bahasa-bahasa, leksikostatistik dan glotokronologi.

Hipotesis multiregional mengharuskan bahwa bahasa modern berkembang secara tersendiri di semua benua, sebuah dalil yang dianggap masuk akal oleh pendukung monogenesis.

[140] [141] Berdasarkan hipotesis tersebut, manusia pertama muncul pada awal Pleistosen dua juta tahun lalu dan evolusi manusia berikutnya telah terjadi dalam spesies manusia tunggal dan berkelanjutan. Spesies ini mengikutkan wujud-wujud manusia purba seperti Homo erectus dan Neanderthal dan juga wujud modernnya, dan berevolusi ke seluruh dunia sampai ke beragam populasi dari Homo sapiens sapiens modern.

Teori ini berpendapat bahwa manusia berevolusi lewat suatu kombinasi adaptasi dalam berbagai wilayah dunia dan aliran gen antara wilayah-wilayah tersebut. Pendukung dari asal mula multiregional menunjuk pada fosil dan data genomik dan kontinuitas dari kultur-kultur arkeologis sebagai pendukung hipotesis mereka.

Fondasi Biologis dari bahasa manusia [ sunting - sunting sumber ] Descended laring dikenal sebagai struktur unik pada sistem vokal manusia dan penting sekali dalam perkembangan bicara dan bahasa. Namun, ia juga telah ditemukan di spesies lainnya, termasuk mamalia laut dan rusa besar (contohnya: Red Deer), dan laring diobservasi telah diwarisi selama vokalisasi pada anjing, kambing, dan buaya.

Pada manusia, descended laring menyebabkan panjangnya sistem vokal dan mengembangkan jenis-jenis suara manusia yang dapat dikeluarkan. Beberapa ilmuwan mengklaim bahwa adanya komunikasi non-verbal pada manusia sebagai bukti dari descended laring bukan bagian esensial terhadap perkembangan bahasa.

Descended laring memiliki fungsi selain linguistik juga, mungkin terlalu membesar-besarkan ukuran yang terlihat pada binatang (lewat vokalisasi yang rendah dari nada yang diharapkan). Karenanya, walaupun memainkan peranan penting dalam menghasilkan suara, memperluas keberagaman suara yang dapat dihasilkan manusia, ia mungkin tidak berkembang secara khusus untuk tujuan tersebut, seperti yang disarankan oleh Jeffrey Laitman, dan oleh Hauser, Chomsky, dan Fitch (2002), bisa saja merupakan contoh dari praadaptasi.

Kemampuan mengkontrol lidah manusia juga harus diperhitungkan. Sebagai akibat dari meningkatnya intelegensi, otak manusia dapat mengkontrol organ dan sekelilingnya secara lebih tepat.

Oleh karena itu, lidah lebih kreatif dalam meliukkan, menggabungkan, menghentikan dan mengeluarkan getar suara yang dihasilkan oleh laring. Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Dalam agama dan mitologi [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Bahasa Ilahi dan Bahasa Adam Pencarian terhadap asal mula bahasa memiliki sejarah yang panjang dan berakar dari mitologi. Kebanyakan mitologi tidak menganggap manusia sebagai penemu bahasa, tetapi menganggapnya sebagai ucapan ilahi mendahului bahasa manusia.

Bahasa mistik digunakan untuk berkomunikasi dengan binatang atau roh, seperti bahasa burung, juga banyak, dan cukup menarik pada masa Renaisans. Vāc adalah dewi bahasa di, atau "penjelmaan perkataan". Sebagai "pengucapan yang suci" brahman, dia memiliki peran kosmologis sebagai "Ibu dari Veda". Berdasarkan kisah Aztek, hanya seorang laki-laki, Coxcox, dan seorang wanita, Xochiquetzal, yang bertahan, dari mengapung di atas potongan kulit pohon. Mereka terdampar di sebuah daratan dan melahirkan banyak anak yang saat pertama kali lahir tidak bisa berbicara, tapi selanjutnya, saat datangnya sebuah merpati yang diberkahi dengan bahasa, walaupun masing-masing dari mereka diberikan bahasa yang berbeda supaya mereka tidak bisa memahami satu sama lain.

[142] Sumber-sumber mistisisme seperti itu bisa dipahami telah berkembang bersamaan dengan pemikiran bahwa nasib seseorang terikat dengan keinginan dewa/tuhan, alam, dll. Dalam sejarah, bahasa dianggap sebagai sesuatu yang diwariskan secara ilahi sama seperti tanaman (misalnya, padi) yang dianugrahkan oleh dewa kebajikan dan alam. Saat misteri tentang bagaimana tanaman tumbuh hilang seiring dengan berkembangnya teknologi, begitu juga dengan pemikiran tentang bahasa yang diturukan secara ilahi juga akan lambat laun menghilang.

Percobaan Historis [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Percobaan menghilangkan bahasa Sejarah memiliki sejumlah anekdot tentang orang yang mencoba menemukan asal mula bahasa dengan bereksperimen.

Kisah pertama diceritakan oleh Herodotus ( Sejarah 2.2). Ia mengatakan bahwa Firaun Psammetichus (mungkin Psamtik I, dari abad ke-7 SM) memilih dua anak yang dibesarkan oleh seorang penggembala, dengan instruksi bahwa tidak ada yang boleh berbicara dengan mereka, tapi si penggembala harus memberi makan dan menjaga mereka sementara mendengarkan kata pertama mereka.

Saat salah satu anak menangiskan kata "bekos" dengan tangan yang terulur. Si penggembala mengasumsikan bahwa kata tersebut adalah bahasa Frigia karena seperti itulah bahasa Frigia untuk kata roti. Dari hal tersebut Psammetichus menyimpulkan bahwa bahasa pertama adalah Frigia. Raja James V dari Skotlandia dikatakan melakukan percobaan yang sama: anaknya dikatakan berbicara bahasa Ibrani.

[143] Dua raja pada abad pertengahan Frederick II dan Akbar dikatakan melakukan percobaan yang sama; anak yang ikut dalam percobaan tersebut tidak berbicara. [144] Sejarah penelitian [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Evolusi linguistik Akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-19 ilmuwan Eropa mengasumsikan bahwa bahasa di dunia merefleksikan bermacam tingkatan perkembangan dari primitif sampai ucapan tingkat lanjut, mencapai puncaknya pada rumpun bahasa Indo-Eropa, dianggap sebagai yang paling berkembang.

[ butuh rujukan] Linguistik modern tidak muncul sampai akhir abad 18, dan tesis Romantis atau animisme dari Johann Gottfried Herder dan Johann Christoph Adelung masih berpengaruh sampai abad 19. Pertanyaan mengenai asal mula bahasa tampak tidak dapat dilacak dengan pendekatan metodis, dan pada tahun 1866 Linguistic Society of Paris secara terkenal melarang semua diskusi mengenai asal mula bahasa, menganggapnya sebagai masalah yang tidak terjawab.

Meningkatnya pendekatan sistematik terhadap sejarah linguistik berkembang pada abad 19, mencapai puncaknya pada ajaran Junggrammatiker dari Karl Brugmann dan lainnya. Walaupun begitu, ketertarikan ilmuwan terhadap pertanyaan dari asal mula bahasa secara berangsur-angsur hidup kembali sejak tahun 1950-an (dan secara kontroversial) dengan ide-ide seperti tata bahasa universal, Perbandingan massa dan glotokronologi.

"Asal mula bahasa" sebagai subjek tersendiri muncul dari pembelajaran dalam neurolinguistik, psikolinguistik dan evolusi manusia. Linguistic Bibliography memperkenalkan " Origin of language" (asal mula bahasa) sebagai topik terpisah pada tahun 1988, sebagai sub-topik dari psikolinguistik. Institut penelitian khusus terhadap evolusi linguistik adalah fenomena baru, muncul sejak tahun 1990-an.

Lihat juga [ sunting - sunting sumber ] • Tulisan mengenai Asal Mula Bahasa • Psikologi evolusioner bahasa • Akuisisi bahasa • Asal mula bahasa secara neurobiologi • Asal mula masyarakat • Asal mula bicara • Mitos asal mula bahasa Catatan [ sunting - sunting sumber ] • ^ Stam, J.

H. 1976. Inquiries into the origins of language. New York: Harper and Row, p. 255. • ^ Tallerman, Maggie; Gibson, Kathleen (2011). The Oxford Handbook of Language Evolution.

Oxford: Oxford University Press. • ^ Müller, F. M. 1996 [1861]. The theoretical stage, and the origin of language. Lecture 9 from Lectures on the Science of Language. Reprinted in R. Harris (ed.), The Origin of Language. Bristol: Thoemmes Press, pp. 7-41.

• ^ Christiansen, M. H. and S. Kirby, 2003. Language evolution: the hardest problem in science? In M. H. Christiansen and S. Kirby (eds), Language Evolution.

Oxford: Oxford University Press, pp. 1- 15. • ^ Ulbæk, Ib (1998). "The Origin of Language and Cognition". Dalam J. R. Hurford & C. Knight. Approaches to the evolution of language. Cambridge University Press. hlm. 30–43. • ^ Chomsky, N. (2004). Language and Mind: Current thoughts on ancient problems. Part I & Part II. In Lyle Jenkins (ed.), Variation and Universals in Biolinguistics. Amsterdam: Elsevier, pp. 379-405. • ^ a b Chomsky, N.

(2005). "Three factors in language design". Linguistic Inquiry. 36 (1): 1–22. • ^ Pinker, S.; Bloom, P. (1990). "Natural language and natural selection". Behavioral and Brain Sciences. 13: 707–84. • ^ Pinker, S. (1994). The Language Instinct. London: Penguin. • ^ Ulbæk, I. (1998). The origin of language and cognition. In J. R. Hurford, M. Studdert-Kennedy and C. D. Knight (eds), Approaches to the evolution of language: social and cognitive bases.

Cambridge: Cambridge University Press, pp. 30-43. • ^ Tomasello, M. 1996. The cultural roots of language. In Velichkovsky, B. M. and D. M. Rumbaugh (eds), Communicating Meaning. The evolution and development of language. Mahwah, NJ: Erlbaum, pp. 275-307. • ^ Pika, S.; Mitani, J. C. (2006). " 'Referential gesturing in wild chimpanzees (Pan troglodytes) '".

Current Biology. 16: 191–192. • ^ The EconomistThe evolution of language: Babel or babble?16 April 2011pp. 85-86. • ^ Cross, I. & Woodruff, G. E. (2009). Music as a communicative medium. Diarsipkan 2012-04-02 di Wayback Machine. In R. Botha and C. Knight (eds) The Prehistory of Language (pp113-144), Oxford: Oxford University Press, pp. 77-98. • ^ Knight, C. and C. Power (2011). Social conditions for the evolutionary emergence of language. In M. Tallerman and K. Gibson tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah, Handbook of Language Evolution. Oxford: Oxford University Press, pp. 346-49. • ^ Rappaport, R. A. (1999). Ritual and Religion in the Making of Humanity. Cambridge: Cambridge University Press. • ^ Knight, C. (2010). " 'Honest fakes' and language origins" (PDF). Journal of Consciousness Studies. 15 (10-11): 236–48. • ^ Knight, C. (2010). The origins of symbolic culture. In Ulrich J. Frey, Charlotte Störmer and Kai P. Willfuhr (eds) 2010.

Homo Novus – A Human Without Illusions. Berlin, Heidelberg: Springer-Verlag, pp. 193-211. • ^ Knight, C. 1998. Ritual/speech coevolution: a solution to the problem of deception. In J. R. Hurford, M. Studdert-Kennedy and C. Knight (eds), Approaches to the Evolution of Language: Social and cognitive bases. Cambridge: Cambridge University Press, pp. 68-91. • ^ Knight, C. 2006. Language co-evolved with the rule of law. In A. Cangelosi, A. D. M. Smith and K. Smith (eds) The evolution of language.

Proceedings of the Sixth International Conference (EVOLANG 6). New Jersey & London: World Scientific Publishing, pp. 168-75. • ^ Savage-Rumbaugh, E.S. and K. McDonald (1988). Deception and social manipulation in symbol-using apes.

In R. W. Byrne and A. Whiten (eds), Machiavellian Intelligence. Oxford: Clarendon Press, pp. 224-237. • ^ Kegl, J., A. Senghas and M. Coppola (1998). Creation through Contact: Sign language emergence and sign language change in Nicaragua. In M. DeGraff (ed.), Language Creation and Change: Creolization, Diachrony and Development. Cambridge, MA: MIT Press. • ^ Lieberman, P. and E. S. Crelin (1971). On the speech of Neandertal Man. Linguistic Inquiry 2: 203-22. • ^ Arensburg, B.; Vandermeersch, A.

M. B.; Duday, H.; Schepartz, L. A.; Rak, Y. (1989). "A Middle Palaeolithic human hyoid bone". Nature. 338: 758–760.

• ^ Diller, K. C. and R. L. Cann (2009). Evidence against a genetic-based revolution in language 50,000 years ago. In R. Botha and C. Knight (eds), The Cradle of Language. Oxford: Oxford University Press, pp. 135-149. • ^ Henshilwood, C. S. and B. Dubreuil (2009). Reading the artifacts: gleaning language skills from the Middle Stone Age in southern Africa. In R. Botha and C. Knight (eds), The Cradle of Language.

Oxford: Oxford University Press, pp. 41-61. • ^ Knight, C., (2009). Language, ochre and the rule of law. In R. Botha and C. Knight (eds), The Cradle of Language.

Oxford: Oxford University Press, pp. 281-303. • ^ Watts, I. (2009). Red ochre, body painting, and language: interpreting the Blombos ochre.

In R. Botha and C. Knight (eds), The Cradle of Language. Oxford: Oxford University Press, pp. 62-92. • ^ a b Arcadi, A. C. (2000). "Vocal responsiveness in male wild chimpanzees: implications for the evolution of language".

Journal of Human Evolution. 39: 205–223. • ^ Johanna Nichols, 1998. The origin and dispersal of languages: Linguistic evidence. In Nina Jablonski and Leslie C. Aiello, eds., The Origin and Diversification of Language, pp. 127-70. (Memoirs of the California Academy of Sciences, 24.) San Francisco: California Academy of Sciences. • ^ Perreault, C. and S. Mathew, 2012. Dating the origin of language using phonemic diversity. "PLoS ONE" 7(4): e35289. Doi:10.1371/journal.pone.0035289.

• ^ Botha, R. and C. Knight (eds) 2009. The Cradle of Language. Oxford: Oxford University Press. • ^ Pinker, S. (2003) Language as an adaptation to the cognitive niche, in M. H. Christiansen and S. Kirby (eds), Language Evolution. Oxford: Oxford University Press, pp. 16-37. • ^ Sampson, G., D. Gil and P. Trudghill (eds), Language Complexity as an Evolving Variable.

Oxford: Oxford University Press. • ^ Darwin, C. (1871). "The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex", 2 vols. London: Murray, p. 56. • ^ Müller, F. M. 1996 [1861]. The theoretical stage, and the origin of language. Lecture 9 from Lectures on the Science of Language. Reprinted in R. Harris (ed.), The Origin of Language. Bristol: Thoemmes Press, pp. 7-41. • ^ Paget, R. 1930. Human speech: some observations, experiments, and conclusions as to the nature, origin, purpose and possible improvement of human speech.

London: Routledge & Kegan Paul. • ^ Firth, J. R. 1964. The Tongues of Men and Speech. London: Oxford University Press, pp. 25-6. • ^ Stam, J. H. 1976. Inquiries into the origins of language. New York: Harper and Row, p. 243-44. • ^ a b Zahavi, A. (1993). "The fallacy of conventional signalling". Philosophical Transactions of the Royal Society of London. 340: 227–230. • ^ Maynard Smith, J. (1994). "Must reliable signals always be costly?".

Animal Behaviour. 47: 1115–1120. • ^ Goodall, J. 1986. The Chimpanzees of Gombe. Patterns of behavior. Cambridge, MA and London: Belknap Press of Harvard University Press. • ^ Byrne, R. and A. Whiten (eds) 1988. Machiavellian Intelligence. Social expertise and the evolution of intellect in monkeys, apes, and humans.

Oxford: Clarendon Press. • ^ Knight, C. 1998b. Ritual/speech coevolution: a solution to the problem of deception. In J. R. Hurford, M. Studdert-Kennedy and C. Knight (eds), Approaches to the Evolution of Language: Social and cognitive bases. Cambridge: Cambridge University Press, pp. 68-91. • ^ Power, C. 1998. Old wives’ tales: the gossip hypothesis and the reliability of cheap signals. In J. R. Hurford, M.

Studdert Kennedy and C. Knight (eds), Approaches to the Evolution of Language: Social and Cognitive Bases. Cambridge: Cambridge University Press, pp. 111 29. • ^ Fitch, W. T. 2004. Kin Selection and ``Mother Tongues : A Neglected Component in Language Evolution.

In D. Kimbrough Oller and Ulrike Griebel (eds), Evolution of Communication Systems: A Comparative Approach, pp.

275-296. Cambridge, MA: MIT Press. • ^ Hamilton, W. D. (1964). "The genetical evolution of social behaviour. I, II". Journal of Theoretical Biology. 7: 1–52. • ^ Tallerman, M. In press.

Kin selection, pedagogy and linguistic complexity: whence protolanguage. In R. Botha and M. Everaert (eds), The Evolutionary Emergence of Human Language. Oxford: Oxford University Press. • ^ Ulbæk, I. 1998. The origin of language and cognition. In J. R. Hurford, M. Studdert-Kennedy and C. D. Knight (eds), Approaches to the evolution of language: social and cognitive bases. Cambridge: Cambridge University Press, pp. 30-43. • ^ Trivers, R. L. (1971). "The evolution of reciprocal altruism".

Quarterly Review of Biology. 46: 35–57. • ^ Knight, C. 2006. Language co-evolved with the rule of law. In A. Cangelosi, A. D. M. Smith and K. Smith (eds), The evolution of language. Proceedings of the Sixth International Conference (EVOLANG6). New Jersey & London: World Scientific Publishing, pp.

168-75. • ^ Dessalles, J.-L. 1998. Altruism, status and the origin of relevance. In J. R. Hurford, M. Studdert-Kennedy and C. Knight (eds), Approaches to the Evolution of Language. Social and cognitive bases. Cambridge: Cambridge University Press, pp.

130-147. • ^ Dunbar, R. I. M. 1996. Grooming, Gossip and the Evolution of Language. London: Faber and Faber. • ^ Power, C. 1998. Old wives’ tales: the gossip hypothesis and the reliability of cheap signals.

In J. R. Hurford, M. Studdert Kennedy and C. Knight (eds), Approaches to the Evolution of Language: Social and Cognitive Bases.

Cambridge: Cambridge University Press, pp. 111-29. • ^ M.H. Klaus and J.H. Kennel, Maternal Infant Bonding (Mosby, St Louis, 1976); P. De Chateau, Birth Family J. 41, 10 (1977). • ^ Rappaport, R. A. 1999. Ritual and Religion in the Making of Humanity. Cambridge: Cambridge University Press. • ^ Knight, C. 1998. Ritual/speech coevolution: a solution to the problem of deception. In J. R. Hurford, M. Studdert-Kennedy and C. Knight (eds), Approaches to the Evolution of Language: Social and cognitive bases.

Cambridge: Cambridge University Press, pp. 68-91. • ^ Lewis, J. 2009. As well as words: Congo Pygmy hunting, mimicry, and play. In R. Botha and C. Knight (eds), The Cradle of Language. Oxford: Oxford University Press, pp.

236-256. • ^ Enfield, N. J. (2010). "Without social context?". Science. 329: 1600–1601. • ^ Power, C. 1998. Old wives’ tales: the gossip hypothesis and the reliability of cheap signals. In J. R. Hurford, M. Studdert Kennedy and C. Knight (eds), Approaches to the Evolution of Language: Social and Cognitive Bases. Cambridge: Cambridge University Press, pp.

111 29. • ^ Watts, I. 2009. Red ochre, body painting, and language: interpreting the Blombos ochre. In R. Botha and C. Knight (eds), The Cradle of Language. Oxford: Oxford University Press, pp.

62-92. • ^ Steels, L. 2009. Is sociality a crucial prerequisite for the emergence of language? In R. Botha and C. Knight (eds), The Prehistory of Language. Oxford: Oxford University Press. • ^ Deacon, T. 1997. The Symbolic Species: The co evolution of language and the human brain. London: Penguin. • ^ Knight, C. 2010. The origins of symbolic culture. In Ulrich J. Frey, Charlotte Störmer and Kai P. Willfuhr (eds) 2010. Homo Novus – A Human Without Illusions.

Berlin, Heidelberg: Springer-Verlag, pp. 193-211. • ^ Rappaport, R. A. 1979. Ecology, Meaning, and Religion. Berkeley, California: North Atlantic Books. • ^ Searle, J. R. 1996. The Construction of Social Reality. London: Penguin. • ^ Durkheim, E. 1947 [1915]. Origins of these beliefs. Chapter VII.

In É. Durkheim, The Elementary Forms of the Religious Life. A study in religious sociology. Trans. J.

W. Swain. Glencoe, Illinois: The Free Press, pp. 205-39. • ^ Noam Chomsky (2011): Language and Other Cognitive Systems. What Is Special About Language?Language Learning and Development7:4263-278 • ^ Knight, C.

2008. ‘Honest fakes’ and language origins. Journal of Consciousness Studies, 15, No. 10–11, 2008, pp. 236–48. • ^ Mark PagelWar of WordsNew Scientistnumber 2894page 3808-Dec-2012. • ^ Premack, David & Premack, Ann James. The Mind of an Ape, ISBN 0-393-01581-5. • ^ Kimura, Doreen (1993). Neuromotor Mechanisms in Human Communication. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-505492-7. • ^ Newman, A. J.; et al. (2002). "A Critical Period for Right Hemisphere Recruitment in American Sign Language Processing".

Nature Neuroscience. 5 (1): 76–80. doi: 10.1038/nn775. PMID 11753419. Pemeliharaan CS1: Penggunaan et al. yang eksplisit ( link) • ^ Corballis, M. C. 2002. Did language evolve from manual gestures? In A. Wray (ed.), The Transition to Language. Oxford: Oxford University Press, pp. 161-179. • ^ Knight, C. 2008. Language co-evolved with the rule of law. "Mind and Society" 7(1) 109-128. • ^ Knight, C. 1998. Ritual/speech coevolution: a solution to the problem of deception.

In J. R. Hurford, M. Studdert-Kennedy and C. Knight (eds), Approaches to the Evolution of Language: Social and cognitive bases. Cambridge: Cambridge University Press, pp. 68-91. • ^ Knight, C. 2000. Play as precursor of phonology and syntax. In Knight, C., M. Studdert-Kennedy and J. R. Hurford (eds), 2000. The Evolutionary Emergence of Language. Social function and the origins of linguistic form.

Cambridge: Cambridge University Press, pp. 99-119. • ^ Knight, C. (2008). " 'Honest fakes' and language origins" (PDF). Journal of Consciousness Studies. 15 (10-11): 236–48. • ^ Kolb, Bryan, and Ian Q. Whishaw (2003). Fundamentals of Human Neuropsychology (edisi ke-5th). Worth Publishers. ISBN 978-0-7167-5300-1.

Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Skoyles, John R., Gesture, Language Origins, and Right Handedness, Psycholoqy: 11,#24, 2000 • ^ Petrides, Michael, Cadoret, Genevieve, Mackey, Scott (2005). Orofacial somatomotor responses in the macaque monkey homologue of Broca's area, Nature: 435,#1235 • ^ PMID 7421161 ( PubMed) Citation will be completed automatically in a few minutes.

Jump the queue or expand by hand • ^ PMID 6722512 ( PubMed) Citation will be completed automatically in a few minutes. Jump the queue or expand by hand • ^ PMID 11239078 ( PubMed) Citation will be completed automatically in a few minutes. Jump the queue or expand by hand • ^ PMID 4621131 ( PubMed) Citation will be completed automatically in a few minutes. Jump the queue or expand by hand • ^ PMID 907878 ( PubMed) Citation will be completed automatically in a few minutes.

Jump the queue or expand by hand • ^ Schippers, MB; Roebroeck, A; Renken, R; Nanetti, L; Keysers, C (2010). "Mapping the Information flow from one brain to another during gestural communication" (PDF). Proc Natl Acad Sci U S A. 107 (20): 9388–93. doi: 10.1073/pnas.1001791107. PMC 2889063. PMID 20439736. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2012-02-27. Diakses tanggal 2012-07-21. • ^ Moro, Andrea (2008). The Boundaries of Babel. The Brain and the Enigma of Impossible Languages.

MIT Press. hlm. 257. ISBN 978-0-262-13498-9. Periksa nilai: invalid character -isbn= ( bantuan). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-10-07. Diakses tanggal 2012-07-21. • tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah Falk, D. (2004). "Prelinguistic evolution in early Hominins: Whence motherese?". Behavioral and Brain Sciences. 27: 491–503. • ^ Kaye, K. (1982). The Mental and Social Life of Babies.

Univ. Chicago Press. hlm. 186. ISBN 0226428486. • ^ Sperber, D. and D. Wilson 1986. Relevance. Communication and cognition. Oxford: Blackwell. • ^ Deutscher, G. 2005. The Unfolding of Language. The evolution of mankind’s greatest invention. London: Random House. • ^ Hopper, P. J. 1998. Emergent grammar. In M. Tomasello (ed.), The New Psychology of Language. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum, 155-175. • ^ B. Heine and T. Kuteva, 2007. The Genesis of Grammar. A Reconstruction. Oxford: Oxford University Press.

• ^ a b Lakoff, G. and M. Johnson 1980. Metaphors We Live By. Chicago: University of Chicago Press. • ^ Heine, B. and Kuteva, T. 2007. The Genesis of Grammar: A Reconstruction. Oxford: Oxford University Press, p. 111. • ^ B. Heine and T. Kuteva, 2012. Grammaticalization theory as a tool for reconstructing language evolution. In M. Tallerman and K. R. Gibson (eds.), The Oxford Handbook of Language Evolution. Oxford: Oxford University Press, pp.512-527. • ^ Cheney, D. L.; Seyfarth, R. Tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah. (2005). "Constraints and preadaptations in the earliest stages of language evolution". Linguistic Review. 22: 135–59.

• ^ Maynard Smith, J. and D. Harper 2003. Animal Signals. Oxford: Oxford University Press. • ^ Davidson, R. D. 1979. What metaphors mean. In S. Sacks (ed.), On Metaphor. Chicago: University of Chicago Press, pp.

29-45. • ^ Lakoff, G. and R. Núñez 2000. Where mathematics comes from. New York: Basic Books. • ^ B. Heine and T. Kuteva 2007. The Genesis of Grammar. A Reconstruction. Oxford: Oxford University Press, p.

164. • ^ Soma, M., Hiraiwa-Hasegawa, M., & Okanoya, K. (2009). "Early ontogenetic effects on song quality in the [[Bengalese finch]] ( Lonchura striata var. domestica): laying order, sibling competition and song sintax" (PDF). Behavioral Ecology and Sociobiology. 63 (3): 363–370. doi: 10.1007/s00265-008-0670-9. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2020-03-02. Diakses tanggal 2011-07-27. Konflik URL–wikilink ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Graham Ritchie and Simon Kirby (2005).

"Selection, domestication, and the emergence of learned communication systems" (PDF). Second International Symposium on the Emergence and Evolution of Linguistic Communication. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2012-01-21. Diakses tanggal 2011-07-27. • ^ Ursula Goodenough (February 5, 2010). "Did We Start Out As Self-Domesticated Apes?". http://www.npr.org. Hapus pranala luar di parameter -newspaper= ( bantuan) • ^ Hauser 2002. • ^ Everett, Daniel L.

(August–October 2005). "Cultural Constraints on Grammar and Cognition in Pirahã: Another Look at the Design Features of Human Language" (PDF). Current Anthropology. Tbilisi: Logos. 46 (4): 634. ISBN 99940-31-81-3. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2019-07-09. Diakses tanggal 2011-07-27. Lebih dari satu parameter -author= dan -last= yang digunakan ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -year= / -date= mismatch ( bantuan) • ^ Joseph Jordania, Who Asked the First Question?

Origins of Human Choral Singing, Intelligence, Language, and Speech. Logos, 2006 • ^ Bolinger, Dwight L. (Editor) 1972. Intonation. Selected Readings. Harmondsworth: Penguin, pg.314 • ^ Cruttenden, Alan. 1986. Intonation. Cambridge: Cambridge University Press. Pg.169-174 • ^ S. Carey, Mind Lang.

tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah

16, 37 (2001) • ^ Hauser, Chomsky, Fitch, Science, Vol. 298, No. 5598 (Nov. 22, 2002), p. 1577 • ^ a b c d Diamond, Jared (1992, 2006). The Third Chimpanzee: The Evolution and Future of the Human Animal. New York: Harper Perennial. hlm. 141–167. ISBN 0-06-018307-1. Periksa nilai tanggal di: -year= ( bantuan) • ^ Goodall, J.

1986. The Chimpanzees of Gombe. Patterns of behavior. Cambridge, MA and London: Belknap Press of Harvard University Press, p. 125. • ^ S. Savage-Rumbaugh and R.

Lewin (1994), Kanzi. The ape at the brink of the human mind. New York: Wily. • ^ Savage-Rumbaugh S, Shanker G, Taylor T J (1998) Apes, Language and the Human Mind.

Oxford University Press, Oxford. • ^ a b Freeman, Scott; Jon C. Herron.Evolutionary Analysis (4th ed.)Pearson Education, Inc. (2007)ISBN 0-13-227584-8 pages 789-90 • ^ Evolve (tv show): Communication • ^ RedOrbit: Primate and Human Language Use Same Brain Regions • ^ Wade, Nicholas (2006-05-23). "Nigerian Monkeys Drop Hints on Language Origin". The New York Times.

Diakses tanggal 2007-09-09. • ^ Gibbons, Christopher (2007), THE REFERENTIALITY OF CHIMPANZEE VOCAL SIGNALING: BEHAVIORAL AND ACOUSTIC ANALYSIS OF FOOD BARKS (PDF), Ohio State University [ pranala nonaktif permanen] • ^ Aronoff, Mark; Rees-Miller, Janie, ed. (2001). The Handbook of Linguistics. Oxford: Blackwell Publishers. hlm. 1–18. ISBN 1-4051-0252-7. • ^ Fitch, W. Tecumseh. "The Evolution of Speech: A Comparative Review" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2007-08-09.

Diakses tanggal 2007-09-09.

tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah

• ^ John Ohala, (2000). The irrelevance of the lowered larynx in modern man for the development of speech]. In Evolution of Language - Paris conference Diarsipkan 2006-10-22 di Wayback Machine. (pp. 171-172). • ^ Bickerton, Adam's Tongue (2009). • ^ Olson, Steve (2002). Mapping Human History. Houghton Mifflin Books. ISBN 0-618-35210-4. Any adaptations produced by evolution are useful only in the present, not in some vaguely defined future.

So the vocal anatomy and neural circuits needed for language could not have arisen for something that did not yet exist line feed character di -quote= pada posisi 193 ( bantuan) • ^ Ruhlen, Merritt (1994). Origin of Language. New York, NY: Wiley. hlm. 3. ISBN 0-471-58426-6. Earlier human ancestors, such as Homo habilis and Homo erectus, would likely have possessed less developed forms of language, forms intermediate between the rudimentary communicative systems of, say, chimpanzees and modern human languages • ^ Mithen, Steven J.

(2006). The Singing Neanderthals: The Origins of Music, Language, Mind, and Body. Cambridge: Harvard University Press. ISBN 0-674-02192-4. • ^ Mithen, Steven (2006). The Singing Neanderthals, ISBN 978-0-674-02559-8 • ^ Jungers, William L.; et al. (2003). "Hypoglossal Canal Size in Living Hominoids and the Evolution of Human Speech" (PDF). Human Biology. 75 (4): 473–484. doi: 10.1353/hub.2003.0057. PMID 14655872. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2007-06-12. Diakses tanggal 2007-09-10.

Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Penggunaan et al. yang eksplisit ( link) • ^ DeGusta, David; et al. (1999). "Hypoglossal Canal Size and Hominid Speech". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America.

96 (4): 1800–1804. doi: 10.1073/pnas.96.4.1800. PMC 15600. PMID 9990105. Hypoglossal canal size has previously been used to date the origin of human-like speech capabilities to at least 400,000 years ago and to assign modern human vocal abilities to Neandertals. These conclusions are based on the hypothesis that the size of the hypoglossal canal is indicative of speech capabilities.

Parameter -access-date= membutuhkan -url= ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Penggunaan et al. yang eksplisit ( link) • ^ Johansson, Sverker (2006). "Constraining the Time When Language Evolved" (PDF). Evolution of Language: Sixth International Conference, Rome: 152. doi: 10.1142/9789812774262_0020.

Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2006-10-15. Diakses tanggal 2007-09-10. Hyoid bones are very rare as fossils, as they are not attached to the rest of the skeleton, but one Neanderthal hyoid has been found (Arensburg et al., 1989), very similar to the hyoid of modern Homo sapiens, leading to the conclusion that Neanderthals had a vocal tract similar to ours (Houghton, 1993; Bo¨e, Maeda, & Heim, 1999).

Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Klarreich, Erica (April 20, 2004). "Biography of Richard G. Klein". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America.

101 (16): 5705–5707. doi: 10.1073/pnas.0402190101. PMC 395972. PMID 15079069. Diakses tanggal 2007-09-10. • ^ Klein, Richard G. "Three Distinct Human Populations". Biological and Behavioral Origins of Modern Humans. Access Excellence @ The National Health Museum. Diakses tanggal 2007-09-10. • ^ Schwarz, J. http://uwnews.org/article.asp?articleID=37362 • ^ Wolpert, Lewis (2006).

Six impossible things before breakfast, The evolutionary origins of belief. New York: Norton. hlm. 81. ISBN 0-393-06449-2. • ^ Krause (2007). Current Biology. 17 (21). doi: 10.1016/j.cub.2007.10.008.

PMID 17949978 http://www.cell.com/current-biology/abstract/S0960-9822%2807%2902065-9. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan); Tidak memiliki atau tanpa -title= ( bantuan) • ^ Minkel, J. R. (2007-07-18). "Skulls Add to "Out of Africa" Theory of Human Origins: Pattern of skull variation bolsters the case that humans took over from earlier species".

Scientific American.com. Diakses tanggal 2007-09-09. • ^ Klein, Richard. "Three Distinct Populations". Diakses tanggal 2007-11-10. You've had modern humans or people who look pretty modern in Africa by 100,000 to 130,000 years ago and that's the fossil evidence behind the recent "Out of Africa" hypothesis, but that they only spread from Africa about 50,000 years ago. What took so long? Why that long lag, 80,000 years?

• ^ Wade, Nicholas (2003-07-15). "Early Voices: The Leap to Language". The New York Times. Diakses tanggal 2007-09-10.

• ^ Sverker, Johansson. "Origins of Language — Constraints on Hypotheses" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2007-08-10.

Diakses tanggal 2007-09-10. • ^ Turner, P. and Russell-Coulter, C. (2001) Dictionary of Ancient Deities (Oxford: OUP) • ^ Lindsay, Robert (1728). The history of Scotland: from 21 February 1436. to March, 1565. In which are contained accounts of many remarkable passages altogether differing from our other historians; and many facts are related, either concealed by some, or omitted by others. Baskett and company. hlm. 104. • ^ "Linguistics 201: First Language Acquisition". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-07-20.

Diakses tanggal 2011-07-27. Referensi [ sunting - sunting sumber ] • Allott, Robin (1989). The Motor Theory of Language Origin. Sussex, England: Book Guild. ISBN 0-86332-359-6. • Botha, R. and C. Knight (2009). The Prehistory of Language.

Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-954587-2. • Botha, R and C. Knight (2009). The Cradle of Language. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-954585-8. • Cangelosi, A., A. Greco, and Harnad, S. (2002) "Symbol grounding and the symbolic theft hypothesis." Simulating the Evolution of Language, edited by A.

Cangelosi and D. Parisi. London: Springer. • Crystal, David (1997). The Cambridge Encyclopedia of Language. Cambridge: Cambridge University Press.

ISBN 0-521-55967-7. • Dawkins, Richard. 2004. The Ancestor's Tale: A Pilgrimage to the Dawn of Life. London: Weidenfeld and Nicolson. • Deacon, Terrence William (1997). The Symbolic Species: The Co-evolution of Language and the Brain.

New York: W.W. Norton. ISBN 0-393-03838-6. • Dunbar, R.I.M. (1996). Grooming, Gossip and the Evolution of Language. London: Faber and Faber. ISBN 0-571-17396-9. • Ginzburg, Carlo (1984). "Morelli, Freud, and Sherlock Holmes: Clues and Scientific Method". Dalam Eco, Umberto; Sebeok, Thomas. The Sign of Three: Dupin, Holmes, Peirce. Bloomington, IN: History Workshop, Indiana University Press. hlm. 81–118. ISBN 978-0-253-35235-4. Ginzburg menyadari bahwa paradigma membaca kejadian pada masa lalu lewat tanda-tandanya pada masa sekarang bermula dari praktik primitif dari para pelacak.

• Givón, T. (2002). "The evolution of language out of pre-language." Typological studies in language 53. Amsterdam: John Benjamins. ISBN 1-58811-237-3. • Harnad, S.R., J. B. Lancaster, and H.D. Steklis (1976)(Eds). Origins and Evolution of Language and Speech. Diarsipkan 2011-09-28 di Wayback Machine.

New York: New York Academy of Sciences. ISBN 0-89072-026-6. • Hauser, Marc D.; Chomsky, Noam; Fitch, W. Tecumseh (2002). "The faculty of language: What is it, who has it, and how did it evolve?".

Science. 298 (5598): 1569–1579. doi: 10.1126/science.298.5598.1569. PMID 12446899. • Hurford, James R. (1990). "Nativist and functional explanations in language acquisition." Logical Issues in Language Acquisition, edited by I.M. Roca, 85–136. Dordrecht: Foris. ISBN 90-6765-506-6. • Kenneally, Christine (2007). The First Word: The Search for the Origins of Language. New York: Viking. • Knight, C., M. Studdert-Kennedy and J. R. Hurford (eds), 2000. The Evolutionary Emergence of Language.

Cambridge: Cambridge University Press. • Knight, C., and C. Power (2011). Social conditions for the evolutionary emergence of language. In M. Tallerman and K. Gibson (eds), Handbook of Language Evolution. Oxford: Oxford University Press, pp. 346–49. • Komarova, N.L. (2007). "Language and mathematics: An evolutionary model of grammatical communication." History & Mathematics, edited by Leonid Grinin, Victor C. de Munck, and Andrey Korotayev, 164–179.

Moscow: KomKniga/URSS. ISBN 978-5-484-01001-1. • Laitman, J.T. and Reidenberg, J.S. (2009) The evolution of the human larynx: Nature’s great experiment.

In: Fried M.P., Ferlito, A. eds. The Larynx, 3rd ed., Plural, San Diego, 19-38. • Pinker, Steven (2000). The Language Instinct: How the Mind Creates Language. New York: Harper Perennial Modern Classics. ISBN 0-06-095833-2. • Perreault, C. and S. Mathew, 2012.

Dating the origin of language using phonemic diversity. "PLoS ONE" 7(4) e35289. DOI: 10.1371/journal.pone.0035289. • Pollick, Amy. S and Frans B.M. de Waal (2007). "Ape gestures and language evolution." [1] Proceedings of the National Academy of Sciences 104.19, 8184–8189. (Also: Popular summary by Liz Williams, "Human language born from ape gestures" Diarsipkan 2008-02-07 di Wayback Machine., Cosmos, May 1, 2007.) • Saussure, Ferdinand de (1986).

Course in General Linguistics, translated by Roy Harris. Chicago: Open Court. (English translation of 1972 edition of Cours de linguistique générale, originally published in 1916.) tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik. suara manusia yang disebut musik adalah Vajda, Edward.

"The origin of language." Diarsipkan 2009-02-01 di Wayback Machine. • Weiss, B. (1974) "Medieval Muslim discussions of the origin of language", Zeitschrift der Deutschen Morgenlandischen Gesellschaft, 124.1: 33-41. • Weiss, Tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah. (1987) "‘Ilm al-wad‘: an introductory account of a later Muslim philological science", Arabica, 34.1: 339-356. Bacaan lebih lanjut [ sunting - sunting sumber ] • Botha, R. and C. Knight (eds) 2009.

The Prehistory of Language. Oxford: Oxford University Press. • Botha, R. and C. Knight (eds) 2009. The Cradle of Language. Oxford: Oxford University Press. • Burling, R. 2005. The Talking Ape. How language evolved. Oxford: Oxford University Press. • Christiansen, M. and S. Kirby (eds), 2003. Language Evolution. Oxford: Oxford University Press. • Christiansen, M. and S. Kirby (eds), 2003. Language Evolution. Oxford: Oxford University Press. • de Grolier, E. (ed.), 1983. The Tidak semua suara yang diucapkan manusia dapat disebut musik.

suara manusia yang disebut musik adalah and Evolution of Language. Paris: Harwood Academic Publishers. • Dessalles, J-L., 2007. Why We Talk. The evolutionary origins of language. Oxford: Oxford University Press. • Deutscher, G. 2005. The Unfolding of Language. The evolution of mankind’s greatest invention. London: Random House. • Dunbar, R.

I. M. 1996. Grooming, Gossip and the Evolution of Language. London: Faber and Faber. • Dunbar, R. I. M., C. Knight and C. Power (eds), 1999. The Evolution of Culture. An interdisciplinary view. Edinburgh: Edinburgh University Press. • Fitch, W. T. 2010. The Evolution of Language. Cambridge: Cambridge University Press. • Harnad, S. R., H. D. Steklis and J. Lancaster (eds), 1976. Origins and Evolution of Language and Speech. New York: Annals of the New York Academy of Sciences. • Hockett, C. F. (1960).

"The origin of speech". Scientific American. 203 (3): 89–96. • Hrdy, S. B. 2009. Mothers and others. The evolutionary origins of mutual understanding. London and Cambridge, MA: Belknap Press of Harvard University Press. • Hurford, J. R. 2007. The Origins of Meaning. Language in the light of evolution. Oxford: Oxford University Press. • Hurford, J. R., M. Studdert-Kennedy and C. Knight (eds), 1998. Approaches to the Evolution of Language.

Social and cognitive bases. Cambridge: Cambridge University Press. • Knight, C., M. Studdert-Kennedy and J. R. Hurford (eds), 2000.

The Evolutionary Emergence of Language. Social function and the origins of linguistic form. Cambridge: Cambridge University Press. • Lenneberg, E. H. 1967. Biological Foundations of Language. New York: Wiley. • Leroi-Gourhan, A. 1993. Gesture and Speech. Trans. A. Bostock Berger. Cambridge, MA: MIT Press. • Lieberman, P. 1991. Uniquely Human. The evolution of speech, thought and selfless behavior. Cambridge, Mass.: Harvard University Press.

• Lieberman, P. 2006. Toward an Evolutionary Biology of Language. Cambridge, MA: Harvard University Press. • MacNeilage, P. 2008. The Origin of Speech. Oxford: Oxford University Press. • Maynard Smith, J. and D. Harper 2003. Animal Signals. Oxford: Oxford University Press. • Mazlumyan, Victoria 2008. Origins of Language and Thought.

ISBN 0977391515. • Tallerman, M. and K. Gibson (eds), 2012. The Oxford Handbook of Language Evolution. Oxford: Oxford University Press. • Tomasello, M. 2008. Origins of Human Communication. Cambridge, MA: MIT Press. • Zahavi, A. and A. Zahavi 1997. The Handicap Principle. A missing piece in Darwin's puzzle. New York and Oxford: Oxford University Press. Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Lihat informasi mengenai glottogony di Wiktionary.

• (Inggris) Lieberman, Philip; McCarthy, Robert C.; Strait, David (May 2006). "The recent origin of human speech". J. Acoust. Soc. Am. 119 (5): 3441–3441. Diakses tanggal June 2010. Periksa nilai tanggal di: -accessdate= ( bantuan) [ pranala nonaktif permanen] • (Inggris) Lieberman, P.

(2007). "The evolution of human speech: Its anatomical and neural bases" (PDF). Current Anthropology. 48 (1): 39–66. doi: 10.1086/509092. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2014-06-11. Diakses tanggal 2011-07-27. Kategori tersembunyi: • Templat webarchive tautan wayback • Pemeliharaan CS1: Penggunaan et al.

yang eksplisit • Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list • Halaman dengan referensi PMID yang tak lengkap • Galat CS1: ISBN • Galat CS1: konflik URL–wikilink • Galat CS1: pranala luar • Halaman dengan rujukan yang memiliki parameter duplikat • Galat CS1: tanggal • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • Galat CS1: karakter tidak terlihat • Artikel dengan ISBN salah • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Halaman yang menggunakan rujukan dengan accessdate dan tanpa URL • Halaman dengan rujukan yang tidak memiliki judul • Halaman dengan rujukan yang memiliki URL kosong • Halaman yang menggunakan pranala magis ISBN • Halaman menggunakan pranala magis PMID • Artikel yang memiliki kalimat yang harus diperbaiki • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan Februari 2022 • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda MA • Halaman ini terakhir diubah pada 7 Februari 2022, pukul 10.17.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •

PSIKOLINGUISTIK - BAGAIMANA MANUSIA MEMPERSEPSI UJARAN




2022 www.videocon.com