Minyak goreng naik

minyak goreng naik

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga minyak goreng premium mengalami kenaikan di berbagai daerah setelah pemerintah mencabut kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET). Berdasarkan penelusuran Kompas.com di wilayah Karang Anyar, Jakarta Pusat, harga minyak goreng kemasan di minimarket kini mencapai Rp 44.900 hingga Rp 51.000 untuk kemasan 2 liter.

Harga tersebut mengalami kenaikan hingga dua kali lipatnya dari harga saat masih diterapkan HET yaitu Rp 28.000 untuk kemasan dua liter. Baca juga: Krisis Minyak goreng naik Goreng, YLKI: Pemerintah Seharusnya Belajar dari Subsidi Gas Melon.

Asisten Toko Alfamart Karang Anyar Sopiyan mengatakan, meski harga naik, namun masyarakat tetap menyerbu minyak goreng kemasan. Ia menceritakan, pasokan minyak goreng kemasan merek Fraiswell datang sebanyak 10 karton pada Rabu (16/3/2022). Namun minyak goreng minyak goreng naik langsung habis saat itu juga. "Hari ini rata-rata sudah naik.

Kemarin datang sudah (langsung) diserbu," ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (17/3/2022). Sementara di Sumedang, Jawa Barat, harga minyak goreng kemasan di berbagai minimarket mengalami kenaikan sejak hari ini. Harga minyak goreng kemasan 2 liter kini sudah mencapai Rp 40.000, sedangkan sebelumnya hanya seharga Rp 28.000.

"Kalau di Indomaret ada (minyak goreng), cuma harganya Rp 40.000 tapi bukan merek yang terkenal," ujar ibu rumah tangga, Sri Sulyanti kepada Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Kamis (17/3/2022).

Sementara stok minyak goreng saat ini terbilang cukup banyak dibandingkan sebelumnya yang benar-benar sulit ditemukan di minimarket daerah Sumedang.

minyak goreng naik

Berita Terkait Cermati Kinerja GoTo Jelang IPO: Catatkan Rugi Bersih sejak Didirikan hingga Akui Bakal Sulit Cetak Laba Begini Cara OJK Mengukur Tingkat Digitalisasi Perbankan Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 6,7 Triliun Per Februari 2022 Krisis Minyak Goreng, YLKI: Pemerintah Seharusnya Belajar dari Subsidi Gas Melon.

PLN dan IBC Mulai Bangun "Battery Energy Storage System" Tahun Ini Berita Terkait Cermati Kinerja GoTo Jelang IPO: Catatkan Rugi Bersih sejak Didirikan hingga Akui Bakal Sulit Cetak Laba Begini Cara OJK Mengukur Tingkat Digitalisasi Perbankan Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 6,7 Triliun Per Februari 2022 Krisis Minyak Goreng, YLKI: Pemerintah Seharusnya Belajar dari Subsidi Gas Melon.

PLN dan IBC Mulai Bangun "Battery Energy Storage System" Tahun Ini Cermati Kinerja GoTo Jelang IPO: Catatkan Rugi Bersih sejak Didirikan hingga Akui Bakal Sulit Cetak Laba https://money.kompas.com/read/2022/03/17/142112626/cermati-kinerja-goto-jelang-ipo-catatkan-rugi-bersih-sejak-didirikan-hingga https://asset.kompas.com/crops/YEcNM2lDRWLMSIsTrr_3So2z-nw=/0x0:3464x2309/195x98/data/photo/2022/03/15/623093dba4ca8.jpg Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah ( Minyak goreng naik Palm Oil/CPO) naik tipis di sesi pembukaan perdagangan pada hari ini, Senin (9/5/2022), setelah pekan lalu terkoreksi tajam.

Apa penyebabnya? Mengacu pada data kepada Refinitiv, pukul 09:46 WIB harga CPO dibanderol di level MYR 6.469ton atau naik tipis 0,83%. Pekan lalu, harga CPO terkoreksi tajam sebanyak 9,91% dan menjadi koreksi mingguan paling parah sejak pekan kedua Maret.

Sumber: Refinitiv Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) telah memutuskan untuk melarang ekspor CPO dan produk-produk turunannya pada 28 April 2022, termasuk RPO (red palm oil), RBD (refined, bleached, deodorized) palm olein, pome, dan used cooking oil.

Sehingga, harga CPO kembali menyentuh rekor tertingginya sepanjang masa pada Jumat (29/5/2022) yang di banderol dengan harga MYR 7.104/ton. Level tersebut juga merupakan kenaikan harga mingguan tertinggi sejak pekan pertama di bulan Mei 2021. Wajar saja jika kebijakan dari pemerintah Indonesia dapat minyak goreng naik berpengaruh terhadap pergerakan harga CPO, karena Indonesia merupakan produsen sekaligus eksportir CPO terbesar di dunia.

Sementara itu, Malaysia yang merupakan produsen CPO kedua terbesar di dunia, tampaknya mendapat keuntungan saat Indonesia memberlakukan larangan ekspor CPO. Malaysia berencana untuk memanfaatkan kekurangan minyak nabati global karena ketegangan politik di Eropa untuk mendapatkan kembali pangsa pasar, setelah industri CPO Malaysia minyak goreng naik dituding dengan permasalahan deforestasi.

Baca: Sudah Naik Belasan Persen, Harga Minyak Turun Pagi Ini Menteri Industri dan Komoditas Perkebunan Malaysia Zuraida Kamaruddin mengatakan bahwa pemerintahnya tidak ingin menyia-nyiakan peluang tersebut.

Dia juga memprediksikan bahwa harga minyak nabati global kemungkinan akan tetap tinggi pada paruh pertama tahun 2022 dan permintaan Uni Eropa diperkirakan akan meningkat dalam waktu dekat karena terbatasnya pasokan minyak bunga matahari dan minyak kedelai.

Hal tersebut sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar bahwa pasokan CPO akan membeludak. Pada akhir April, persediaan CPO Malaysia diperkirakan naik 5,2% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya menjadi 1,55 juta ton, jika mengacu pada konsensus yang dihimpun Reuters. Produksi CPO di April diperkirakan 1,48 juta ton dan menjadi angka tertinggi sejak lima bulan.

Meskipun, nilai ekspor turun 5,6% ke 1,2 juta ton. Tidak hanya itu, Data ITS (perusahaan surveyor kargo), mengumumkan bahwa ekspor CPO Malaysia melonjak 67% pada periode 1-5 Mei jika dibandingkan dengan periode yang sama bulan sebelumnya. TIM RISET CNBC INDONESIA [Gambas:Video CNBC]
Suara.com - Predikat sebagai salah satu negara penghasil sawit terbesar di dunia tak membuat Indonesia terbebas dari problem minyak goreng.

Beberapa waktu terakhir pemerintah seperti tak kuasa mengendalikan harga minyak goreng serta kelangkaan komoditas yang terjadi di sejumlwah wilayah. Sejumlah upaya sudah dilakukan meski tak semuanya berjalan optimal sampai akhirnya Presiden Joko Widodo mengeluarkan kebijakan larangan ekspor crude palm oir (CPO). Kebijakan itu pun hingga kini masih memantik pro-kontra di kalangan pihak terkait. Mulai muncul permasalahan harga Problem minyak goreng kali pertama muncul pada Agustus 2021 ketika harga komoditas itu merangkak hingga menembus Rp20.000 per liter.

Padahal harga normal sebelumnya hanya sekitar Rp14.000 per liter. Hal ini membuat warga protes keras. Baca Juga: Legislator PDIP Pertanyakan Langkah Menko Airlangga Atasi Masalah Usai Larangan Ekspor Minyak Goreng Pada November 2021, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengklaim tingginya harga minyak goreng karena gangguan pasokan di dunia untuk bahan baku minyak nabati lain.

Alhasil, permintaan CPO meningkat sehingga harga naik. Invasi Rusia ke Ukraina juga diklaim memengaruhi harga barang pokok tersebut.

minyak goreng naik

Pemerintah sempat meramal harga sawit dunia akan turun sebelum pergantian tahun. Namun hal itu meleset. Pemerintah kemudian mengeluarkan jurus kebijakan minyak goreng satu harga yakni Rp14.000 per liter per 19 Januari 2022. Kebijakan ini direspons panic buying masyarakat yang menyebabkan ketersediaan stok menjadi langka setelah tiga hari. Pasokan minyak subsidi yang dijanjikan pemerintah pun juga seret yang membuat peritel dan pedagang kelimpungan.

Padahal pemerintah telah mengucurkan dana Rp7,6 triliun untuk membiayai subsidi 250 juta liter minyak goreng kemasan per bulan, atau setara 1,5 miliar liter selama 6 bulan untuk rakyat. Tak sampai enam bulan, kebijakan dicabut usai munculnya kelangkaan. Pemerintah menetapkan HET minyak goreng Tak kehabisan akal, Kemendag memberlakukan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO) minyak goreng supaya harga berangsur turun.

Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng per 1 Februari 2022 ditetapkan serentak, yakni minyak goreng curah Rp11.500 per liter, minyak goreng kemasan sederhana Rp13.500 per liter, dan minyak goreng kemasan premium Rp14.000 per liter. Baca Juga: Viral Video Kontainer Minyak Goreng Belasan Ton Diamankan Petugas, Akan Diekspor ke Hong Kong Kebijakan itu nyatanya tak berjalan mulus.

Minyak goreng masih langka di pasaran. Dugaan penyeludupan mulai menyeruak. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menduga ada praktif mafia yang menyebabkan kelangkaan minyak goreng.

Pada 15 Maret 2022, pemerintah menetapkan kebijakan baru yakni menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng naik goreng minyak goreng naik dari Rp11.500 menjadi Rp14.000 per liter dan menyerahkan harga minyak goreng ke mekanisme pasar demi menjamin ketersediaan minyak goreng.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS Ilustrasi minyak goreng. Photos by Salomonus (istockphoto) Penyebab Harga Minyak Goreng Meroket di Awal Tahun 2022 Sejak akhir tahun 2021 hingga awal tahun 2022, harga komoditi seperti minyak goreng terus meroket. Mulai dari angka Rp18.000,- hingga mencapai di atas Rp20.000 untuk di beberapa daerah perkotaan.

Kondisi minyak goreng langka adalah hal baru yang dialami masyarakat Indonesia. Tentunya, kondisi ini sangat menyulitkan terutama bagi masyarakat desa yang memiliki perekonomian mengenah ke bawah. Lantas, apa solusi yang diberikan oleh pemerintah dalam menghadapi harga minyak goreng 2022 yang terus naik ini? Apa saja penyebabnya? Mari temukan jawabannya dalam ulasan ini. 1.

Pandemi Covid-19 menjadi faktor utama yang mempengaruhi Dari tahun 2020, pandemi Covid-19 terus berlangsung yang melumpuhkan banyak sektor bisnis dan perekonomian negara. Hal ini juga menjadi penyebab tingkat produksi CPO menurun drastis dan mempengaruhi proses distribusi logistik. Karena dua faktor itulah, harga minyak kian meroket tajam. Sebab, terlalu banyak permintaan, tetapi jumlah produksi semakin turun. Penyebab lainnya adalah karena pemasok minyak sawit mulai berkurang produksinya.

Salah satunya ialah Malaysia yang menjadi salah satu di antara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Hal itu tentu mempengaruhi produksi minyak di beberapa negara, salah satunya Indonesia, yang berakibat ke harganya kian naik. 2. Lonjakan harga pada minyak nabati di dunia Faktor pertama yang minyak goreng naik penyebab naiknya harga minyak goreng ialah naiknya harga pada Minyak goreng naik Palm Oil (CPO) di dunia yang mencapai US$ 1.340/MT.

minyak goreng naik

Faktor lainnya yang mempengaruhi mahalnya harga minyak di pasaran saat ini adalah adanya lonjakan harga pada minyak nabati. Kenaikan harga pada CPO dan minyak nabati terjadi karena adanya gangguan cuaca yang akhirnya menekan nilai produksinya hingga 3,5% di akhir 2021. Demand terus bertambah, tetapi supply sedikit, secara otomatis akan memberi dampak kenaikan harga minyak goreng yang cukup drastis. Baca Juga: Dari Modal Kecil, Penjual Gorengan Ini Bisa Renovasi Rumah Diperkirakan, pada tahun 2022 ini, jumlah produksi dari minyak nabati pun tidak akan berbeda dengan tahun sebelumnya.

Jadi, dapat dipastikan bila harga minyak akan sangat kecil kemungkinannya untuk turun. Sebab, permintaan terus bertambah hingga mencapai sekitar minyak goreng naik juta ton. 3. Adanya permintaan biodiesel yang akan digunakan dalam program B30 Meroketnya harga minyak juga dipengaruhi dari kebijakan pemerintah yang mewajibkan untuk mencampur 30% biodiesel dan 70% solar untuk mengurangi impor BBM. Sehingga dalam program B30 tersebut, pemerintah bisa menaikkan nilai minyak goreng naik negara.

Akan tetapi, dalam kondisi yang tidak ideal ini, yang mana produksi CPO menurun dan kebutuhan akan minyak begitu tinggi, membuat program B30 dinilai merugikan.

minyak goreng naik

Sehingga, para pengusaha memberi usulan solusi minyak goreng mahal dengan mengurangi kewajiban mencampurkan minyak sawit dengan solar. Sehingga, minyak sawit dapat diarahkan untuk memperbanyak proses produksi minyak dan lonjakan harga pun dapat diredam. Harga minyak goreng memang kian hari kian naik. Meskipun saat ini sudah mulai ada solusi dari pemerintah dengan adanya subsidi, tetapi akan lebih baik jika kamu berjaga-jaga dengan menyisihkan sedikit hasil gaji untuk investasi P2P Lending Amartha.

Minyak goreng naik, ketika ada kenaikan harga lagi, kamu bisa tenang menghadapinya. Pasalnya, berinvestasi di Amartha akan memperoleh imbal hasil hingga 15% per tahun. Kamu juga bisa memilih sendiri mitra usaha yang akan kamu danai. Jadi, rencanakan keuangan dengan baik bersama Amartha.Â
ERROR: The request could not be satisfied 403 ERROR The request could not be satisfied.

Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time.

minyak goreng naik

There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation.

minyak goreng naik

Generated by cloudfront (CloudFront) Request ID: ou1hdEcer7htWm0_z6Ll6yOH7E_Eu7qnihQ0TeYtUJ9EurD2yH4ggg==
Jakarta - Kenapa harga minyak goreng mahal? Sejak akhir tahun 2021 kemarin, harga komoditas minyak goreng terus mengalami kenaikan secara signifikan hingga awal tahun 2022 ini. Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), secara nasional harga minyak goreng curah minyak goreng naik 29 Desember lalu hanya Rp 18.400/Kg.

Sedangkan per 5 Januari 2022 kemarin, harga komoditas minyak goreng ini menyentuh Rp 18.550/Kg. Melansir dari CNBC, berikut beberapa faktor kenapa harga minyak goreng mahal: 1.

Lonjakan Harga Minyak Nabati Dunia Kenaikan harga minyak goreng saat ini dipengaruhi oleh harga crude palm oil (CPO) dunia yang naik menjadi US$ 1.340/MT. Kenaikan harga CPO ini menyebabkan harga minyak goreng ikut naik cukup signifikan. Namun selain CPO ada juga faktor lain yakni kenaikan harga minyak nabati dunia.

minyak goreng naik

Penyebab kenaikan harga karena gangguan cuaca yang menekan tingkat produksi minyak nabati dunia. "Secara total, produksi minyak nabati dunia anjlok 3,5% di tahun 2021.

minyak goreng naik

Padahal, setelah lockdown mulai dilonggarkan, permintaan meningkat. Jadi, short supply picu kenaikan harga," kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (6/1/2022).

Produksi minyak nabati dunia tahun 2022 diprediksi tidak akan berbeda dibandingkan tahun 2021. Sementara permintaan dunia diprediksi naik jadi 240,4 juta ton dibandingkan tahun 2021 yang mencapai 240,1 juta ton.

minyak goreng naik

2. Permintaan Biodiesel untuk Program B30 Pemerintah memiliki program B30 yakni mewajibkan pencampuran 30% Biodiesel dengan 70% bahan bakar minyak jenis Solar. Tujuan program ini ialah agar semakin mengurangi laju impor BBM sehingga meningkatkan devisa negara. Namun, saat ini kondisinya sedang tidak ideal, di mana produksi CPO sedang menurun. Di sisi lain kebutuhan pangan akan minyak goreng tetap tinggi.

Baca juga: Wuedaan!

minyak goreng naik

Harga Minyak Goreng di Korea Utara Rp 719 Ribu per Liter Kenapa harga minyak goreng mahal? Ada desakan dari pengusaha agar mandatori B30 atau kewajiban pencampuran minyak sawit sebanyak 30% pada solar kembali dikurangi.

Dengan kata lain kebijakan mandatori B30 turut minyak goreng naik sasaran untuk menekan lonjakan harga minyak goreng di Tanah Air. GIMNI menyebut untuk menahan laju harga minyak goreng, harus dilakukan dengan memangkas konsumsi CPO di dalam negeri.

Untuk menekan laju permintaan yang diharapkan bisa membatasi lonjakan harga CPO dan produk turunannya, Sahat mengusulkan pemerintah untuk sementara menurunkan mandatori biodisel dari B30 menjadi B20. Hal ini bisa mengurangi tekanan permintaan. Sehingga bisa berimbas pada turunnya harga bahan baku minyak goreng. "Dengan begitu, konsumsi CPO untuk biodiesel akan berkurang 3 juta ton. Ini cukup untuk memenuhi kebutuhan 1 tahun minyak goreng curah di dalam negeri," kata Sahat.

3. Pandemi Covid-19 Pandemi Covid-19 menjadi penyebab utama harga minyak goreng terus merangkak naik. Pasalnya akibat Covid-19 produksi CPO ikut menurun drastis, selain itu arus logistik juga ikut terganggu. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan menyebut turunnya pasokan minyak sawit dunia seiring dengan turunnya produksi sawit Malaysia sebagai salah satu penghasil terbesar.

"Selain itu, juga rendahnya stok minyak nabati lainnya, seperti adanya krisis energi di Uni Eropa, Tiongkok, dan India yang menyebabkan negara-negara tersebut melakukan peralihan ke minyak nabati. Faktor lainnya, yaitu gangguan logistik selama pandemi Covid-19, seperti berkurangnya jumlah kontainer dan kapal," terang Oke beberapa waktu lalu.

Akibat terganggunya logistik, harga minyak goreng juga mengalami kenaikan cukup tajam. Adapun kebutuhan minyak goreng nasional sebesar 5,06 juta ton per tahun, sedangkan produksinya bisa mencapai 8,02 juta ton.

"Meskipun Indonesia adalah produsen crude palm oil (CPO) terbesar, namun kondisi di lapangan menunjukkan sebagian besar produsen minyak goreng tidak terintegrasi dengan produsen CPO.

Dengan entitas bisnis yang berbeda, tentunya para produsen minyak goreng dalam negeri harus membeli CPO sesuai dengan harga pasar lelang dalam negeri, yaitu harga lelang KPBN Dumai yang minyak goreng naik terkorelasi dengan harga pasar internasional. Akibatnya, apabila terjadi kenaikan harga CPO internasional, maka harga CPO di dalam negeri juga turut menyesuaikan harga internasional," jelas Oke.

Jadi gimana bun? Sekarang sudah tahu kan kenapa harga minyak goreng mahal. (fdl/fdl)Tesla Ungkap Kesepakatan Nikel dengan Induk Vale Indonesia (INCO) Efek Minyak Goreng dan Pertamax, BPS Catat Inflasi April 2021 Meroket 3,47 Persen IHSG Sesi I Sempat Tinggalkan 6.900, Asing Jual Saham Rp1,6 Triliun Mesin-Mesin Pertumbuhan Pulih, Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,01 Persen di Kuartal I/2022 LIVE : Harga emas masih terkapar (12:20 WIB) LIVE : Rupiah turun 77 poin (12:17 WIB) LIVE : IHSG lesu sesi I (11:30 WIB) Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan atau Kemendag melaporkan harga minyak goreng subsidi dan kemasan telah mengalami kenaikan yang signifikan secara tahunan (year-on-year/yoy).

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan kenaikan yang signifikan itu belakangan disebabkan karena harga bahan baku dalam negeri yang dikontrol sepenuhnya oleh fluktuasi pasar dunia. Kemendag mencatat harga minyak goreng curah per April 2022 berada di angka Rp18,759 per liter atau naik sebesar 50,3 persen dari torehan periode yang sama tahun lalu di posisi Rp12.475.

“Secara year-on-year, harga minyak sudah mengalami kenaikan 47 persen untuk minyak goreng curah dan 73 persen minyak goreng naik minyak goreng kemasan, kalau dibandingkan sebelum pandemi ini peningkatannya sudah dua kali lipat 100 persen lebih peningkatannya ini tentu berpengaruh pada daya beli masyarakat,” kata Oke dalam Webinar Dampak Konflik Geopolitik terhadap Komoditi CPO, Rabu (13/4/2022).

Oke mengakui reli kenaikan harga minyak goreng itu bakal menggerus daya beli konsumen yang sebagian besar adalah rumah tangga, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga pedagang gorengan. “Masyarakat beranggapan tidak seharusnya harga minyak goreng menjadi mahal mengingat bahan bakunya tersedia di dalam negeri. Namun demikian, harga CPO dalam negeri mengikuti fluktuasi pasar internasional menganut pasar bebas di pasar internasional,” tuturnya. Berdasarkan data yang diolah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), harga CPO CIF Minyak goreng naik sebagai minyak goreng naik harga CPO Internasional pada Maret 2022 sudah di posisi US$1.815 per ton atau naik 75 persen dibandingkan harga Januari 2021 di angka US$1.035 per ton.

Perkembangan serupa juga terjadi pada harga CPO referensi Kemendag sebagai dasar pengenaan pungutan ekspor pada Maret 2022 sebesar US$1.432 per ton atau meningkat 50 persen dibandingkan awal 2021 di angka US$952 per ton. Adapun, Kemendag telah menetapkan harga CPO referensi pungutan ekspor sebesar US$1.787 per ton minyak goreng naik April 2022.

Sebelumnya, Dewan Pengurus Wilayah Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) DKI Jakarta melaporkan harga minyak goreng subsidi sudah menyentuh di angka Rp18.000 per liter hingga Rp20.000 per liter pada pekan ini. Malahan, DPW Ikappi DKI Jakarta mengidentifikasi terjadi kelangkaan minyak goreng subsidi itu di sejumlah pasar.

Ketua DPW Ikappi DKI Jakarta Miftahudin mengatakan sejumlah pasar di berbagai daerah melaporkan adanya kelangkaan stok akibat pasokan yang minim dari distributor. Sementara, permintaan masyarakat selama lebaran tahun ini relatif kembali tinggi.

“Kami melihat fakta bahwa HET Minyak Goreng Curah masih tembus lebih dari Rp18.000 per liter sampai rp20.000 per liter di berbagai daerah bahkan masih terjadi kelangkaan di mana-mana, yang artinya pemerintah belum konsisten dalam pemerataan kebijakan dan tidak fokus menyelesaikan persoalan,” kata Miftahudin melalui siaran pers, Rabu (13/4/2022). Terpopuler • Menhub Imbau Pemudik Tunda Perjalanan Arus Balik Hari Ini • Mesin-Mesin Pertumbuhan Pulih, Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,01 Persen di Kuartal I/2022 • Negara G7 Sepakat Blokir Impor Minyak dari Rusia • Wabah Penyakit Serang Ternak di Jawa Timur, Ini Rekomendasi untuk Pemerintah • Kenaikan PDB Indonesia Tarik Minat Investor Asing di Sektor Properti
KOMPAS.com - Pemerintah resmi mencabut harga eceran tertinggi (HET) menyusul kelangkaan minyak goreng di pasaran dalam beberapa bulan terakhir.

Setelah pencabutan HET oleh pemerintah, stok minyak goreng pun langsung berlimpah di pasaran. Akan tetapi, harga minyak goreng justru melonjak tinggi karena harganya diserahkan ke mekanisme pasar. Berlimpahnya stok minyak goreng di pasaran tak lantas membuat masyarakat tenang. Sebaliknya, banyak warga justru terkejut dan heran dengan kenaikan harga minyak goreng yang signifikan.

minyak goreng naik

Sebagaimana diberitakan KOMPAS.com pada Kamis (17/3/2022), Titin (32), warga Jakarta Selatan, mempertanyakan alasan stok minyak goreng kembali melimpah saat harganya naik. Baca juga: Viral Pernyataan Megawati Soal Minyak Goreng, Bisa Masak Direbus atau Kukus: Kok Njimet Gitu Titin menilai, fenomena tersebut menunjukkan bahwa ada pihak yang selama ini sengaja menimbun minyak goreng naik goreng sehingga menimbulkan kelangkaan di pasaran.

"Jadi ini seperti memang ditunggu-tunggu supaya harganya naik dulu, baru dikeluarkan semua (stok minyak goreng)," kata Titin. Titin mengaku menjadi korban kelangkaan minyak goreng pada beberapa waktu lalu. Saat stok minyak goreng di rumahnya habis, Titin harus berkeliling ke sejumlah minimarket di ibu kota. "Sekira seminggu lalu mencari minyak goreng, susah banget.

Keliling ke beberapa tempat, baru akhirnya dapat.

minyak goreng naik

Itu juga pembeliannya dibatasi, hanya boleh 2 liter," ungkapnya. Titin mengatakan, kembali melimpahnya stok minyak goreng di pasaran saat ini membuktikan bahwa tak ada penimbunan yang dilakukan oleh ibu rumah tangga. Baca juga: Ketika Stok Minyak Goreng Kembali Melimpah setelah HET Dicabut… Berita Terkait Kisah Pilu Ibu Asal Berau yang Meninggal Kala Mengantri Minyak Goreng Mendag Menduga Ada Oknum yang Menimbun dan Menyelundupkan Minyak Goreng Murah Minyak Goreng Murah Langka, KKP: Pepes Ikan Lebih Bergizi dan Nikmat 10 Minyak goreng naik Penghasil Kelapa Sawit Terbesar di Indonesia, Kok Minyak Goreng Masih Langka?

Mendag Kembali Mangkir Rapat, Dedi Mulyadi Dorong DPR Bentuk Pansus Minyak Goreng Berita Terkait Kisah Pilu Ibu Asal Berau yang Meninggal Kala Mengantri Minyak Goreng Mendag Menduga Ada Oknum yang Menimbun dan Menyelundupkan Minyak Goreng Murah Minyak Goreng Murah Langka, KKP: Pepes Ikan Lebih Bergizi dan Nikmat 10 Provinsi Penghasil Kelapa Sawit Terbesar di Indonesia, Kok Minyak Goreng Masih Langka?

Mendag Kembali Mangkir Rapat, Dedi Mulyadi Dorong DPR Bentuk Pansus Minyak Goreng Tips Kartu Kerja, Simak Kriteria Apa yang Menentukan Lolos atau Tidak https://www.kompas.com/wiken/read/2022/03/19/080051881/tips-kartu-kerja-simak-kriteria-apa-yang-menentukan-lolos-atau-tidak https://asset.kompas.com/crops/cDU5bU2JMh3jwVTYwky-ND745Js=/0x7:595x404/195x98/data/photo/2022/02/08/6202755d7a31d.jpg

Ada Apa dengan Harga Minyak Goreng? Kok Harganya Naik?




2022 www.videocon.com