Najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut

najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut

Jakarta - Islam adalah agama yang sangat mencintai kebersihan.

najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut

Dalam seluruh bidang kehidupan, umat Islam wajib selalu bersih termasuk dalam ibadah. Syarat utama bebas dari hadas dan najis najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut terpenuhi. Dikutip dari buku Pintar Ibadah Dilengkapi: Tuntunan Shalat Wajib, Shalat Sunat, Zakat, Puasa, Haji, Shalawat, Doa-doa, najis adalah suatu kotoran. Najis tidak boleh menempel di tubuh saat hendak beribadah, contohnya sholat. "Jika kotoran tersebut menempel pada pakaian atau tempat, maka keduanya tidak dapat digunakan untuk beribadah misal sholat.

Pakaian atau tempat harus disucikan lebih dulu sesuai jenis najis yang menempel," tulis buku karya Ust H Fatkhur Rahman tersebut. Baca juga: Perbedaan Antara Hadas dan Najis dalam Bersuci, Ini Penjelasannya Buku tersebut menjelaskan macam-macam najis, contoh, dan cara membersihkannya. Dalam buku tersebut dijelaskan, cara membersihkan najis mughallazh tentu berbeda dangan mukhoffaffah. Macam-macam najis, contoh, dan cara membersihkannya: 1.

Najis mukhoffaffah atau ringan • Contoh: air kencing bayi laki-laki yang belum matang kecuali Air Susu Ibu (ASI). • Cara membersihkan: Najis bisa dibersihkan dengan memercikkan najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut pada pakaian, tempat, dan hal lain yang terkena najis mukhoffaffah.

2. Najis mutawasithah atau sedang (biasa) • Contoh: nanah, darah, kotoran yang keluar dari qubul dan dubur manusia atau binatang, dan bangkai. Najis mutawasithah terbagi menjadi dua jenis dengan contoh dan cara membersihkan yang berbeda. Berikut penjelasannya: a. Najis 'aniyah yaitu kotoran yang nampak zat dan sifatnya misal warna, bau, dan rasa • Cara membersihkan: mencuci hingga sifatnya hilang kemudian dibasuh dengan air yang suci b. Najis hukmiah yaitu najis yang tidak terlihat sifatnya, misal air kencing yang sudah kering • Cara membersihkan: membasuh atau mengalirkan air suci pada pakaian, tempat, atau hal lain yang terkena najis.

c. Najis mugholladhoh atau berat • Contoh: air liur anjing atau babi • Cara membersihkan: mencuci hingga tujuh kali dengan salah satunya dicampur debu atau tanah. Setelah itu dibasuh dan dialirkan air suci pada bagian yang terkena najis. Baca juga: Syarat Wajib Sholat dan Perbedaannya dengan Syarat Sah Sholat Selain macam-macam najis, contoh, dan cara membersihkannya yang telah dituliskan, Islam mengenal satu lagi jenis najis. Yaitu najis makfu yang artinya najis yang dimaafkan.

Najis makfu tidak wajib disucikan karena jumlahnya yang sangat sedikit, hingga tak bisa dibedakan bagian yang kena kotoran. Misal darah atau nanah yang sangat sedikit, bangkai hewan yang aliran darahnya tidak mengalir, dan percikan air najis. Demikian penjelasan macam-macam najis, contoh, dan cara membersihkannya.

Semoga bisa menambah pengetahuan detikers ya. (row/erd) Pengertian Najis – Agama Islam memiliki beberapa ketetapan-ketetapan dalam hal ibadah, aqidah, dan syariah. Salah satu aturan dalam beribadah untuk umat muslim adalah suci dari hadas (hadas besar dan hadas kecil). Oleh karena itu, sebelum melakukan ibadah wajib atau pun ibadah sunnah, umat muslim harus benar-benar menyucikan diri dari najis dan kotoran. Salah satu ibadah wajib umat muslim adalah Shalat.

Shalat sebagai tiang agama sangat berperan penting dalam menjaga keimanan umat muslim serta menegakkan agama Islam. Sesuai sabda Nabi Muhammad SAW. “Shalat adalah tiang agama, barang siapa mendirikan Shalat maka sungguh ia telah menegakkan agama (Islam).

Dan barang siapa meninggalkannya maka sungguh ia telah merobohkan agama (Islam) itu.” (HR. Baihaqi). Ibadah Shalat sebagai tiang agama Islam (sumber: iStock Photo) Shalat tidak akan sah apabila belum suci dari najis dan kotoran. Inilah mengapa pengetahuan mengenai najis dalam Islam adalah penting untuk diketahui. Melalui artikel berikut akan dijelaskan secara komprehensif mulai dari pengertian najis, pentingnya menyucikan diri dari najis, macam-macam najis, contoh najis, hingga cara menyucikannya.

Terus simak selengkapnya pada pembahasan berikut agar tak ketinggalan informasinya, ya! Selamat membaca! Daftar Isi • Pengertian Najis • Anda Mungkin Juga Menyukai • 1. Menurut Bahasa Arab • 2. Menurut Para Alim Ulama Syafi’iyah • 3. Menurut Al Malikiyah • Contoh-Contoh Najis • 1. Bangkai Makhluk Hidup • 2.

Air Liur Anjing • 3. Darah • 4. Nanah • 5. Babi • 6. Khamr atau Minuman Keras • Macam-Macam Najis dan Cara Mensucikannya • 1. Najis Mukhaffafah • Cara Membersihkan Najis Mukhaffafah • Menggunakan Percikan Air • Mandi dan Berwudhu • Mencuci Dengan Sabun • 2. Najis Mutawassithah • a. Najis ‘Ainiyah • b. Najis Hukmiyah • 3.

najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut

Najis Mughalladah • 4. Najis Ma’fu • Kesimpulan Pengertian Najis Islam sangat menganjurkan umatnya agar menjaga kebersihan, kesucian, dan kesehatan. Karena lingkungan yang kotor adalah sarang penyakit. Selain kebersihan diri sendiri, Islam juga berseru kepada umatnya untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kebersihan yang terjaga akan berdampak pula pada aktivitas ibadah yang menjadi lebih khusyuk dan tenang.

najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut

Seperti diriwayatkan dalam Al-Qur’an Surat Al Ma’idah ayat 6. “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan Shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.

Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” Rp 38.000 Najis sangat berpengaruh terhadap ibadah yang kita kerjakan (sumber: iStock Photo) Terdapat banyak pendapat yang dikemukakan berkaitan dengan pengertian najis, berikut akan dijabarkan beberapa.

1. Menurut Bahasa Arab Najis secara literal dan dalam bahasa arab (Al Qadzarah) memiliki makna segala sesuatu yang bersifat ‘kotor’. 2. Menurut Para Alim Ulama Syafi’iyah Menurut para alim ulama ahli bidang Fiqih yang tertuang dalam buku Riyadhul Badi’ah hal 26, najis adalah segala sesuatu yang kotor serta dapat mencegah keabsahan Shalat (membatalkan Shalat).

3. Menurut Al Malikiyah Al Malikiyah mendefinisikan najis sebagai sifat hukum suatu benda yang mengharuskan seseorang tercegah dari suatu kebolehan melakukan Shalat bila terkena atau berada di dalamnya.

Sederhananya, najis adalah kotoran yang menempel pada tubuh, tempat, maupun pakaian kita dan menyebabkan batalnya ibadah yang kita lakukan (salah satu contoh dari ibadah tersebut adalah Shalat).

Mengingat bahwa najis dan kotoran dapat menyebabkan batalnya ibadah, maka Islam mewajibkan untuk membersihkan diri kita terlebih dahulu sebelum melakukan ibadah.

Sesuai yang tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al Muddatstsir ayat 4. “Dan bersihkanlah pakaianmu!” Sesuai firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al Muddatstsir ayat 4 di atas, dapat dipahami bahwa jika kita ingin ibadah yang dilakukan diterima oleh Allah SWT maka wajib membersihkan diri dari najis dan kotoran terlebih dahulu.

Kewajiban membersihkan najis juga diperjelas dalam Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 222. “Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” Contoh-Contoh Najis Islam mendefinisikan najis ke dalam beberapa tingkatan, yaitu ringan, sedang, dan berat.

Berikut akan disebutkan apa saja hal yang digolongkan sebagai najis. Silakan disimak! 1. Bangkai Makhluk Hidup Bangkai makhluk hidup dapat dikategorikan sebagai najis. Semua bangkai adalah najis kecuali bangkai manusia, ikan, dan belalang. Sesuai yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dari Maimunah: “Dari Ibnu Abbas dari Maimunah bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang bangkai tikus yang jatuh ke dalam lemak (minyak samin).

Maka Beliau menjawab, “Buanglah bangkai tikus itu dan apa pun yang ada di sekitarnya.

najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut

Lalu makanlah lemak kalian.”” (HR. Al Bukhari). 2. Air Liur Anjing Bagian tubuh anjing yang termasuk najis adalah air liurnya.

Terdapat hadis dalam Islam yang memperkuat bahwa air liur anjing dikategorikan sebagai najis. Abu Hurairah ra meriwayatkan dari Rasulullah SAW: “Bersihkan bejana atau wadah kalian yang telah dijilat anjing dengan mencucinya sebanyak tujuh kali dan salah satunya dengan debu.” Terdapat hadis lain yang diriwayatkan pula oleh Abu Hurairah ra sesuai sabda Rasulullah SAW: “Jika anjing menjilat salah satu bejana kalian, maka buanglah isinya dan cucilah sebanyak tujuh kali”.

Selain dua hadis di atas, riset ilmiah juga membuktikan bahwa air liur anjing mengandung banyak bakteri dan virus sehingga dapat membahayakan manusia dan sekitarnya. Itulah mengapa diharuskan untuk membersihkan dan menyucikan sesuatu yang terkena air liur dari anjing (misalnya bekas jilatan anjing). 3. Darah Bukti bahwa darah dapat digolongkan menjadi najis tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al An’am ayat 145. Rijs seperti yang disebutkan pada ayat di atas memiliki pengertian najis dan kotor.

Darah yang termasuk sebagai najis adalah darah haid. Selain itu, di kalangan ulama masih terdapat perbedaan pendapat mengenai darah manusia dapat digolongkan sebagai najis atau tidak. Beberapa ulama seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, Ibnu Arabi, Al Qurthubi, An Nawawi, Ibnu Hajar, dan Imam Ahmad berpendapat bahwa darah manusia itu najis. Namun terdapat pengecualian pada darah syuhada dan darah yang hanya sedikit dapat ditolerir sebagai tidak najis.

Sedangkan ulama lainnya yaitu Asy Syaukani, Al Albani, Shiddiq Hasan Khan, dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berpendapat bahwa darah manusia tidaklah najis. Abu Hurairah ra meriwayatkan pula sebuah hadis dari sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya seorang Mukmin tidak menajisi” (HR. Bukhari nomor 285, Muslim nomor 371) Hadis di atas menjadi salah satu landasan bahwa darah manusia kecuali darah haid adalah suci dan tidak menyebabkan najis.

4. Nanah Banyak pendapat yang mengemukakan bahwa nanah adalah turunan dari darah. Hal tersebut karena nanah sejatinya merupakan sel darah putih yang telah mati dan bercampur dengan bakteri. Sehingga para ulama banyak yang bersepakat jika nanah yang keluar dari tubuh tergolong najis. Kitab Al Mughni meriwayatkan: “Nanah adalah segala turunan darah, hukumnya seperti darah.” 5. Babi Sama seperti hukum Islam yang berlaku terhadap anjing, maka babi juga dianggap najis.

Najis dari anjing dan babi dikelompokkan ke dalam najis berat. 6. Khamr atau Minuman Keras Belum banyak yang tahu jika selain haram, khamr atau minuman keras yang dapat memabukkan adalah najis. Namun, khamr dikatakan najis bukan karena kandungan yang terdapat di dalamnya, tetapi karena efek dari khamr yang dapat membuat seseorang mabuk dan kehilangan kesadaran. Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, terdapat contoh najis lainnya, yaitu muntah, semua yang keluar melalui qubul dan dubur, serta bagian anggota tubuh binatang yang dipotong ketika masih hidup.

Macam-Macam Najis dan Cara Mensucikannya Pentingnya mempelajari macam-macam najis dalam Islam (sumber: iStock Photo) Menurut Fiqih, najis dalam Islam dikelompokkan menjadi 3 (tiga) macam berdasarkan tingkatannya, yaitu Najis Mukhaffafah (ringan), Najis Mutawassitah (sedang), dan Najis Mughalladah (berat).

Nah, pada bagian kali ini kita akan membahas mengenai macam-macam najis tersebut. Terus simak ya! 1. Najis Mukhaffafah Najis Mukhaffafah adalah najis ringan. Salah satu contoh dari najis mukhaffafah adalah air kencing bayi berjenis kelamin laki-laki dengan usia kurang dari 2 tahun. Dan bayi tersebut hanya meminum air susu ibu, belum mengonsumsi makanan jenis lainnya. Selain itu, contoh selanjutnya dari najis ringan adalah madzi (air yang keluar dari lubang kemaluan akibat rangsangan) yang keluar tanpa memuncrat.

Cara Membersihkan Najis Mukhaffafah Cara membersihkan najis ini tergolong cukup mudah. Karena termasuk ke dalam najis ringan, maka hanya perlu dibersihkan dengan cara yang singkat.

Menggunakan Percikan Air Cara membersihkan najis ringan yang pertama yaitu dengan percikan air ke area tubuh, pakaian, atau tempat yang terkena najis mukhaffafah. Lalu diikuti dengan mengambil wudhu. Maksud dari percikan air yang disebutkan sebelumnya yaitu air mengalir yang membasahi seluruh tempat yang terkena najis. Dan air tersebut harus lebih banyak dibandingkan najisnya (misal air kencing bayinya).

Misalnya yang terkena najis mukhaffafah adalah pakaian, maka ketika pakaian tersebut telah diperciki air, maka selanjutnya dapat langsung dijemur dengan dikeringkan di bawah sinar matahari seperti biasa. Mandi dan Berwudhu Apabila yang terkena najis mukhaffafah adalah anggota tubuh, maka jika yang terkena sedikit bisa disucikan dengan berwudhu. Namun, jika yang terkena najis adalah banyak, maka Islam menganjurkan untuk mandi agar najis tersebut benar-benar hilang.

Mencuci Dengan Sabun Cara terakhir untuk bersuci dari najis mukhaffafah adalah mencuci yang terkena najis (misalnya anggota tubuh) dengan sabun hingga tidak berbau lalu dilanjutkan dengan berwudhu. 2. Najis Mutawassithah Najis Mutawassithah termasuk ke dalam najis sedang.

Contoh dari najis sedang ini adalah segala sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur manusia atau binatang (terkecuali air mani). Selain itu, contoh lainnya adalah khamr atau minuman keras dan susu hewan dari binatang yang tidak halal untuk dikonsumsi. Bangkai makhluk hidup (kecuali bangkai manusia, ikan, dan belalang) juga digolongkan sebagai najis mutawassithah.

Najis mutawassithah dibedakan kembali menjadi dua jenis, yaitu Najis ‘Ainiyah dan Najis Hukmiyah. a. Najis ‘Ainiyah Secara sederhana, najis ‘ainiyah adalah najis yang masih ada wujudnya. Najis ini dapat terlihat rupanya, dapat tercium baunya, serta dapat dirasakan rasanya.

Contoh dari najis ‘ainiyah adalah air kencing yang masih terlihat dengan jelas wujud dan baunya. Cara untuk membersihkan najis ‘ainiyah adalah dengan tiga kali mencuci menggunakan air lalu ditutup dengan menyiram lebih najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut pada bagian yang terkena najis.

b. Najis Hukmiyah Sedangkan jenis najis sedang lainnya yaitu najis hukmiyah. Najis hukmiyah adalah najis yang tidak bisa dilihat rupanya, tidak berbau, dan tidak ada rasa. Contoh najis hukmiyah adalah air kencing bayi yang telah mengering sehingga tidak meninggalkan bekas apa pun (baik dari segi rupa yang tidak terlihat oleh mata dan tidak berbau). Contoh lain najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut najis ini adalah air khamr yang telah mengering.

Cara membersihkan najis hukmiyah yaitu cukup dengan menggunakan air mengalir dengan volume yang lebih besar daripada najis tersebut. 3. Najis Mughalladah Najis mughalladah merupakan najis berat. Jenis najis ini adalah yang paling berat dan membutuhkan penanganan khusus untuk menyucikannya.

Yang termasuk ke dalam najis mughalladah adalah anjing, babi, dan darah. Apabila bagian tubuh atau pakaian tersentuh oleh babi, terkena air liur dari anjing, atau terkena darah baik secara sengaja atau pun tidak disengaja, maka termasuk dari najis berat. Cara untuk membersihkan najis ini cukup rumit. Cara yang dapat dilakukan untuk bersuci yaitu dengan membasuh bagian yang terkena najis sebanyak tujuh kali (salah satu dari ketujuh basuhan tersebut dengan menggunakan air yang tercampur dengan debu atau tanah), lalu disusul dengan membasuhnya menggunakan air.

Namun, sebelum dibersihkan menggunakan air, najis mughalladah yang mengenai tubuh atau pakaian harus benar-benar hilang wujudnya terlebih dahulu. 4.

najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut

Najis Ma’fu Jenis najis yang terakhir yaitu najis ma’fu. Sederhananya, najis ini adalah najis yang dimaafkan. Najis ma’fu dapat ditolerir sehingga yang terkena najis jenis ini dapat mengabaikan untuk membasuh atau mencuci. Contoh dari najis ma’fu adalah najis kecil yang tidak kasat mata seperti ketika kita buang air kecil tanpa melepas seluruh pakaian yang menempel di badan, secara tidak sengaja mungkin ada sedikit sekali percikan air kencing tersebut yang mengenai pakaian.

Nah, maka hal tersebut ditolerir sehingga tidak perlu bersuci. Karena sesungguhnya agama Islam adalah agama yang tidak memberatkan umatnya. Oleh karena itu, terdapat jenis najis yang dapat ditolerir. Ibadahnya (shalat dan membaca Al-Qur’an) umat muslim yang secara tidak sengaja terkena najis ma’fu tetap dianggap sah dan tidak batal. Kesimpulan Dalam agama Islam, sesuatu yang dianggap kotoran dan harus dihindari untuk terkena pada pakaian atau tubuh karena dapat membatalkan ibadah disebut dengan najis.

Sederhananya, najis adalah kotoran yang menempel pada tubuh, tempat, maupun pakaian kita dan menyebabkan batalnya ibadah yang kita lakukan (salah satu contohnya adalah shalat).

Sesuatu yang terkena najis harus segera disucikan. Cara menyucikan diri disebut dengan thaharah. Thaharah memiliki kedudukan yang utama dalam ibadah. Karena keabsahan sebuah ibadah yang dilakukan oleh umat muslim juga bergantung dari thaharah. Apabila seseorang menunaikan Shalat saat masih ada setetes najis yang ada di tubuhnya, maka ibadahnya dianggap tidak sah dan batal.

Najis digolongkan menjadi tiga jenis sesuai dengan tingkatannya.

najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut

Yang pertama yaitu najis mukhaffafah atau najis ringan, najis mutawassithah atau najis sedang, najis mughalladah atau najis berat, dan najis ma’fu atau najis yang dapat dimaafkan tanpa perlu bersuci.

Contoh-contoh najis yaitu air liur anjing, babi, darah, air kencing bayi laki-laki di najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut usia dua tahun, darah, nanah, khamr, segala sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur, hingga bangkai makhluk hidup kecuali bangkai manusia, ikan, dan belalang. Baca Juga: • Macam-macam Sujud dan Doanya • Doa-doa Nabi Sulaiman • Doa Ziarah Kubur • Doa dan Tata Cara Tayamum • Doa dan Tata Cara Sholat Jenazah • Doa dan Tata Cara Sholat Tahajud Nah, cukup sampai sekian pembahasan kali ini mengenai macam-macam najis.

Kalian telah mengetahui secara detail mulai dari pengertian najis, contoh, jenis, hingga cara membersihkannya. Jangan lupa baca dan ikuti terus artikel-artikel terbaru terbitan Gramedia karena akan ada topik menarik dan up to date yang akan dibahas.

Sampai jumpa! Judul Buku: Kena Najis, Bersihkan Yuk! Kategori: Teenlit Kategori • Administrasi 5 • Agama Islam 126 • Akuntansi 37 • Bahasa Indonesia 95 • Bahasa Inggris 59 • Bahasa Jawa 1 • Biografi 31 • Biologi 101 • Blog 23 • Business 20 • CPNS 8 • Desain 14 • Design / Branding 2 • Ekonomi 152 • Environment 10 • Event 15 • Feature 12 • Fisika 30 • Food 3 • Geografi 62 • Hubungan Internasional 9 • Hukum 20 • IPA 82 • Kesehatan 18 • Kesenian 10 • Kewirausahaan 9 • Kimia 19 • Komunikasi 5 • Kuliah 21 • Lifestyle 9 • Manajemen 29 • Marketing 17 • Matematika 20 • Music 9 • Opini 3 • Pendidikan 35 • Pendidikan Jasmani 32 • Penelitian 5 • Pkn 69 • Politik Ekonomi 15 • Profesi 12 • Psikologi 31 • Sains dan Teknologi 30 • Sastra 32 • SBMPTN 1 • Sejarah 84 • Sosial Budaya 98 • Sosiologi 53 • Statistik 6 • Technology 26 • Teori 6 • Tips dan Trik 57 • Tokoh 59 • Uncategorized 31 • UTBK 1
CARA mensucikan najis bisa dengan beberapa media seperti air, tanah, batu, daun termasuk sinar matahari.

Semua media itu bisa digunakan dengan syarat dan ketentuan syariat yang disesuaikan jenis zat najis yang akan dibersihkan.

najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut

Dikutip dari laman Republika, Ustadz Isnan Asory dalam bukunya Cara Mensucikan Benda Najis mengatakan para ulama sepakat cara mensucikan najis dari tanah adalah dengan menyiramnya dengan air.

Namun mereka berbeda pendapat, apakah terik sinar matahari bisa pula menghilangkan najis dari tanah, sekalipun tidak disiram terlebih dahulu dengan air? Pendapat mazhab pertama: Suci hanya dengan dijemur Pendapat mazhab kedua: Harus dibasuh air Mayoritas ulama (Maliki, Syafi’i, Hanbali) berpendapat terik matahari tidak cukup mensucikan tanah dari najis.

Mereka mensyaratkan sebelum dikeringkan oleh sinar matahari, tanah itu harus disiram terlebih dahulu dengan air. Secara umum para ulama sepakat media yang paling dominan untuk membersihkan benda yang terkena atau terkontaminasi oleh najis adalah air. Dan umumnya para ulama mengatakan najis itu mempunyai tiga indikator sifat, yaitu warna, rasa, dan aroma. Sehingga proses cara mensucikan najis lewat mencuci dengan air itu dianggap telah mampu menghilangkan najis manakala telah hilang warna, rasa, dan aroma najis setelah dicuci.

Dasar kesepakatan ini adalah Alquran surahAl-Furqan ayat 48 dan hadits berikut. “Dan telah kami turunkan air sebagai untuk bersuci. Ya Allah cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun. (HR. Bukhari Muslim). Namun dalam beberapa hadits dan atsar, diisyaratkan beragam metode tertentu yang dapat digunakan untuk cara mensucikan najis pada benda yang terkena najis.

Seperti pengerikan, penggosokan, dan penjemuran di bawah terik matahari. Berikut beberapa metode atau cara mensucikan najis pada benda-benda suci yang terkena najis. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, para ulama berbeda pendapat tentang kenajisan tubuh anjing dan babi saat masih hidup. Adapun jika telah mati dan disebut bangkai, mereka sepakat akan kenajisannya. Adapun bagaimana cara mensucikan najis pada benda yang terkena tubuh babi, para ulama juga dalam hal ini berbeda pendapat.

Mazhab Syafi’i dan Hanbali berpendapat bahwa metode pensuciannya adalah menggunakan air dan tanah. Adapun caranya yaitu dengan mengoleskan tanah tersebut secara merata najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut wilayah benda yang terkena najis.

Loading. Setelah itu dibilas dengan air sebanyak 7 kali. Adapun dalil pendapat ini adalah hadits berikut. Dari Abi Hurairah ra: Rasulullah SAW bersabda: “Sucinya wadah air kalian yang diminum anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, salah satunya dengan tanah.” (HR. Muslim) Mazhab Hanafi dan Maliki berpendapat menggunakan tanah, semata sunnah. Dalam arti untuk mensucikan benda yang terkenan najis babi dan anjing cukup dengan menggunakan air dan dianjurkan dengan tambahan tanah, namun tidak wajib.

Bahkan sekalipun hanya dengan satu basuhan. “Adapun argumentasi mereka adalah karena hadits di atas dianggap lemah karena riwayatnya yang tidak stabil (mudhtharib),” katanya.

Adapun pengertian najis dan macam-macamnya, adalah sebagai berikut: Najis (Najasah) menurut bahasa najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut adalah kotoran. Dan menurut Syara’ artinya adalah sesuatu yang bisa memengaruhi sahnya sholat. Seperti air kencing dan najis-najis lain sebagainya. Najis itu dapat dibagi menjadi Tiga Bagian : 1. Najis Mughollazoh Foto: Unsplash Yaitu Najis yang berat.

Yakni Najis yang timbul dari Najis Anjing dan Babi. Babi adalah binatang najis berdasarkan al-Qur`an dan Ijma’ para sahabat Nabi (Ijma’ush Shahabat) (Prof Ali Raghib, Ahkamush Shalat, hal.

33). Dalil najisnya babi adalah firman Allah SWT [artinya] : “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor (rijsun,” (QS Al-An’aam [6] : 145).

Adapun tentang najisnya Anjing, dapat dilihat dari salah satu hadits, Rasulullah SAW Bersabda : “Jika seekor anjing menjilat bejana salah satu dari pada kamu sekalian, maka hendaknya kamu menuangkan bejana itu (Mengosongkan isinya) kemudian membasuhnya tujuh kali,” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim Al Fiqhu Alal Madzhahibilj Juz I Hal.16).

Jika binatang itu termasuk jenis yang najis (babi dan juga anjing), maka semua bagian tubuhnya adalah najis, tidak peduli apakah dalam keadaan hidup atau mati. (Abdurrahman Al-Baghdadi, Babi Halal Babi Haram, hal. 47). Imam al-Kasani dalam kitabnya Bada’i’ush Shana’i` fii Tartib asy-Syara’i’ (I/74) mengatakan bahwa babi adalah najis pada zatnya dan babi tidak dapat menjadi suci jika disamak.

Cara mensucikan najis ini ialah harus terlebih dahulu dihilangkan wujud benda Najis tersebut. Kemudian baru dicuci bersih dengan air sampai 7 kali dan permulaan atau penghabisannya di antara pencucian itu wajib dicuci dengan air yang bercampur dengan Tanah (disamak). Cara ini berdasarkan Sabda Rasul : “Sucinya tempat (perkakas) mu apabila telah dijilat oleh Anjing, adalah dengan mencucikan tujuh kali.

Permulaan atau penghabisan diantara pencucian itu (harus) dicuci dengan air yang bercampur dengan Tanah”. (H.R. At-Tumudzy) 2. Najis Mukhofafah Foto: Unsplash Ialah najis yang ringan, seperti air kencing anak laki-laki yang usianya kurang dari dua tahun dan belum makan apa-apa, selain ASI.

Cara mensucikan najis ini cukup dengan memercikkan air bersih pada benda yang terkena najis tersebut sampai bersih betul. Kita perhatikan Hadits di bawah ini: “Barangsiapa yang terkena Air kencing Anak Wanita, harus dicuci. Dan jika terkena Air kencing Anak Laki-laki. Cukuplah dengan memercikkan Air pada nya”.

(H.R. Abu Daud dan An-Nasa’i) Tapi tidak untuk kencing anak perempuan, karena status kenajisannya sama dengan Najis Mutawassithah 3.

Najis Mutawassithah Foto: Unsplash Ialah Najis yang sedang, yaitu kotoran Manusia atau Hewan, seperti Air kencing, Nanah, Darah, Bangkai, minuman keras ; arak, anggur, tuak dan sebagainya (selain dari bangkai Ikan, Belalang, dan Mayat Manusia). Dan selain dari Najis yang lain selain yang tersebut dalam Najis ringan dan berat. BACA JUGA: Panduan Bersuci bagi Muslimah: Inilah 5 Cara Membersihkan Najis Najis Mutawassithah itu terbagi Dua : a. Najis ‘Ainiah, yaitu Najis yang bendanya berwujud.

Cara mensucikan najis. Pertama menghilangkan zat nya terlebih dahulu. Sehingga hilang rasanya. Hilang baunya. Dan Hilang warnanya. Kemudian baru menyiramnya dengan Air sampai bersih betul. b. Najis Hukmiah, yaitu Najis yang bendanya tidak berwujud : seperti bekas kencing. Bekas Arak yang sudah kering. Cara mensucikan najis ialah cukup dengan mengalirkan air pada bekas Najis tersebut. Najis yang dapat dimaafkan, antara lain : 1.

Bangkai Hewan yang darahnya tidak mengalir. Seperti nyamuk, kutu busuk. dan sebangsanya. 2. Najis yang sedikit sekali. 3. Nanah. Darah dari Kudis atau Bisul kita sendiri. 4. Debu yang terbang membawa serta Najis dan lain-lain yang sukar dihindarkan. Itulah penjelasan mengenai cara mensucikan najis dan beberapa jenis najis yang harus diketahui. [] Suci dari najis menjadi syarat sah dalam banyak ibadah, seperti salat, thawaf, wudhu, tayammum, mandi janabah, dan lain-lain.

Sementara itu, contoh mempengaruhi ibadah muamalah adalah batal atau rusaknya akad jual beli benda najis. Syarat sah jual beli adalah jika barang yang dijual adalah bukan barang najis.

najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut

" Salah seorang perempuan datang menemui Rasulullah dan berkata,’Salah seorang di antara kami bajunya terkena darah haid, apa yang mesti dilakukan?’ Beliau menjawab, 'Hendaknya kamu mengerik bekas darah tersebut, kemudian menggosoknya, lalu membasuhnya dengan air.

Setelah itu, pakaian tersebut dapat digunakan untuk shalat! " (Muttafaq'Alaih). " Seorang perempuan bertanya kepada Ummu Salamah, 'Pakainku sangat panjang sehingga ujungnya menyentuh tanah dan aku berjalan di tempat yang kotor?' Ummu Salamah berkata kepadanya, bahwa Rasulullah pernah bersabda ‘Tanah sesudahnya akan menyucikannya ," (HR.

Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani)
SELAMAT TAHUN BARU 1443 H, SEMANGAT HIJRAH MENUJU LEBIH BAIK DAN SEMANGAT MELAYANI -- MENSYUKURI TUJUH PULUH ENAM TAHUN KEMERDEKAAN INDONESIA BANGGA DAN CINTA BUATAN INDONESIA -- BERKURBAN MERUPAKAN SALAH SATU CARA MANUSIA MENUJU KESUCIAN JIWA -- KEBERHASILAN MUSA SEBAGAI RASUL BERAWAL DARI PENDIDIKAN SEORANG IBU YANG NOTABENENYA ADALAH ISTERI FIRAUN, IBU ADALAH PENDIDIK PERTAMA BAGI ANGGOTA KELUARGANYA -- DENGAN SEMANGAT PROKLAMASI KITA TINGKATKAN KINERJA PEMERINTAHAN YANG BERSIH, DAN SANTUN DALAM MELAYANI -- AWAS!

PENIPUAN MELALUI SMS/TELEPHONE OKNUM MENGATASNAMAKAN PEJABAT KEMENTERIAN AGAMA! -- 5 NIILAI BUDAYA KERJA KEMENTERIAN AGAMA : Integritas, Profesionalitas, Inovatif, Tanggung jawab dan Keteladanan -- Macam-macam Najis dan Cara Mensucikannya 2015-02-16 08:25:44 Dilihat dari kekuatan dan sumbernya, najis dibagi menjadi tiga, yaitu najis mugholladhah, mukhoffafah dan mutawassithoh.

1. Najis mugholladhah (najis berat) adalah najis dari anjing, babi dan segala keturunannya. Adapun cara mensucikan bagian suatu benda yang terkena najis mugholladhah adalah : Basuhlah daerah yang terkena najis mugholladhah dengan air sebanyak tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan debu.

Sabda Nabi SAW. : طَهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ.

najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut

﴿رواه مسلم عن أبى هريرة ﴾ “ Cara mencuci bejana seseorang di antara kamu apabila dijilat anjing hendaklah dibasuh tujuh kali, salah satunya dicampur dengan debu” (H.R. Muslim dari AbiHurairah). Adapun babi disamakan dengan anjing karena babi termasuk binatang keji. Firman Allah SWT. : . أَوْ لَحْمَ خِنْـزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْـسٌ .

﴿ الأنعام { 6} : 145 ﴾ “ . atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor. ” Q.S. al-An'ãm (6) : 145. 2. Najis mukhoffafah (najis ringan) adalah najis yang berupa air seni anak laki-laki yang belum genap berumur dua tahun dan belum pernah mengkonsumsi selain ASI. Adapun cara mensucikan najis mukhoffafah adalah dengan memercikkan air pada benda itu meskipun tidak mengalir.

عَنْ أُمِّ قَيْسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا أَنَّهَا جَاءَتْ بِابْنٍ لَهَا لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ فَأَجْلَسَهُ رَسُوْلُ اللهِ فِى حِجْرِهِ فَبَالَ عَلَيْهِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ. ﴿رواه البخارى ومسلم ﴾ “ Dari UmmiQais R.A. sesungguhnya ia pernah membawa seorang anak laki-lakinya yang belum makan makanan. Lalu anak itu dipangku oleh Rasulullah SAW.

dan anak itu kencing di pangkuannya. Kemudian Rasulullah SAW.meminta air, lalu memercikkan air itu ke bagian yang terkana kencingnya dan tidak dibasuhnya.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim). 3.Najis mutawassithoh(najis sedang)adalah najis selain kedua najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut yang telah disebut. Najis mutawassithoh ini terbagi menjadi dua bagian : a. Najis hukmiyah, yaitu najis yang kita yakini adanya akan tetapi tidak nyata dzat, bau, rasa maupun warnanya, seperti air kencing yang sudah lama kering, sehingga sifat-sifatnya telah hilang.

Cara mencuci najis ini cukup dengan mengalirkan air di atas benda yang terkena najis. b. Najis ‘ ainiyah, yaitu najis yang masih terdapat dzat atau salah satu sifatnya seperti bau, warna dan rasa. Cara mensucikan najis ini adalah dengan membasuh (menghilangkan) dzat, bau, warna dan rasanya. Apabila bau dan warna sulit untuk dihilangkan dengan cara dikerok, digosok maupun dicuci dengan sabun, maka hukumnya dimaafkan.

author, Drs. H. Mughni Labib, MSI. Makalah ini disampaikan pada acara Bimbingan Mental Pegawai Kankemenag Kab. Cilacap, Selasa 8 Mei 2012 di Aula Kankemenag Kab. Cilacap
tirto.id - Cara menyucikan najis berbeda-beda tergantung jenis najis berdasarkan fikih Islam. Terdapat 3 jenis najis, salah satunya mutawassitah. Secara bahasa, najis memiliki makna segala sesuatu yang dianggap kotor. Sedangkan dari segi istilah dalam Fiqih Islam, najis merupakan sesuatu yang kotor dan bisa menjadikan salat dan sejumlah ibadah lainnya tidak sah.

Najis yang dianggap menyebabkan ibadah tidak sah ini bisa saja mengenai tubuh manusia atau tempat-tempat yang digunakan untuk ibadah tersebut. Oleh sebab itu, najis perlu dibersihkan dan disucikan.

Selain itu, dengan tujuan najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut keabsahan ibadah yang akan dilangsungkan lantaran bisa berpengaruh terhadap amalannya.

Untuk bisa membersihkan atau menyucikan najis, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Hal itu tergantung berdasarkan dari jenis-jenis najis yang ada. Jenis-jenis Najis Mengutip artikel "Mengenal Barang-barang Najis Menurut Fiqih" di laman NU Online, terdapat tiga jenis najis dalam ilmu fiqih.

Ketiganya yaitu seperti dijelaskan sebagai berikut ini: 1. Najis Mughalladhah (Berat) Jenis najis Mughalladhah disebut sebagai najis berat lantaran perlu perlakukan khusus untuk membersihkannya atau menyucikannya.

Yang termasuk ke dalam golongan najis mughalladhah adalah najisnya anjing dan babi beserta anakan dari salah satu keduanya. 2. Najis Mukhaffafah (Ringan) Najis Mukhaffafah adalah najis yang berupa air kencingnya seorang bayi laki-laki yang belum berusia dua tahun serta belum makan selain air susu yang berasal dari ibunya (ASI). 3. Najis Mutawassithah (Sedang) Najis mutawassithah adalah jenis najis level sedang. Yang termasuk golongan najis mutawassithah yakni najis-najis lainnya, yakni yang bukan merupakan najis mughalladhah dan mukhaffafah.

Yang termasuk najis Mutawassithah, ialah air kencing, tahi, air madzi, nanah, apa pun yang keluar dari lambung, bangkai (selain manusia, ikan dan belalang), darah (selain hati dan limpa) dan lainnya. Cara Menyucikan Najis Terdapat perbedaan cara menyucikan najis, sesuai dengan golongannya. Berikut adalah ketentuan untuk menyucikan jenis-jenis najis seperti disebutkan di atas.

1. Cara Menyucikan Najis Mughalladhah Pertama, cara menyucikan najis mughalladhah adalah dengan membasuhnya menggunakan air sebanyak tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan debu.

Sebelum dibasuh dengan air sebaiknya dibersihkan terlebih dauhulu wujud dari najisnya tersebut. Sehingga secara kasat mata menjadi hilang dan tidak ada lagi bau yang ditimbulkan. Metode mencampur air dengan debu guna menyucikan najis mughalladhah, dapat menggunakan salah satu dari tiga cara.

Ketiganya yaitu mencampurnya secara bersama-sama kemudian diletakkan pada tempat yang ada najisnya, atau meletakkan debu di atas tempat yang terkena najis dan kemudian memberi air dan mencampurnya hingga terbasuh. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan cara memberi air, baru kemudian debu, dan mencampurnya hingga terbasuh. 2. Cara Menyucikan Najis Mukhaffafah Kedua, najis mukhaffafah.

Cara untuk menyucikan najis yang berasal dari air kencing bayi laki-laki yang belum makan selain ASI dan belum berumur dua tahun ini cukup mudah. Yaitu dengan cara memercikkan air ke tempat yang terkena najis tersebut. Meskipun demikian, air yang dipercikkan haruslah cukup kuat hingga mampu membasahi tempat yang terkena najis. Airnya pun mesti lebih banyak daripada air kencing yang dikeluarkan.

najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut

Setelah itu, baru kemudian dikeringkan. 3. Cara Menyucikan Najis Mutawassithah Ketiga, cara menyucikan najis mutawassithah ialah dengan dihilangkan najis ‘ainiyahnya terlebih dahulu, yaitu yang berupa warna, bau serta rasa. Dilanjutkan dengan proses menyiram dengan menggunakan air yang suci dan menyucikan.Secara bahasa najis berarti segala sesuatu yang dianggap kotor meskipun suci. Bila berdasarkan arti harfiah ini maka apa pun yang dianggap kotor masuk dalam kategori barang najis, seperti ingus, air ludah, air sperma dan lain sebagainya.

Sedangkan secara istilah ilmu fiqih najis adalah segala sesuatu yang dianggap kotor yang menjadikan tidak sahnya ibadah shalat (lihat Muhammad Nawawi Al-Jawi, Kaasyifatus Sajaa [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah: 2008], hal.

72). Di dalam fiqih najis dikelompokkan dalam 3 kategori, yakni najis mukhaffafah, najis mutawassithah, dan najis mughalladhah. Sebagaimana ditulis oleh para fuqaha dalam kitab-kitabnya, salah satunya oleh Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safiinatun Najaa: فصل النجاسات ثلاث: مغلظة ومخففة ومتوسطةالمغلظة نجاسة الكلب والخنزير وفرع احدهما والمخففة بول الصبي الذي لم يطعم غير اللبن ولم يبلغ الحولين والمتوسطة سائر النجاسات Artinya:“Fashal, najis ada tiga macam: mughalladhah, mukhaffafah, dan mutawassithah.Najis mughalladhah adalah najisnya anjing dan babi beserta anakan salah satu dari keduanya.

Najis mukhaffafah adalah najis air kencingnya bayi laki-laki yang belum makan selain air susu ibu dan belum sampai usia dua tahun. Sedangkan najis mutawassithah adalah najis-najis lainnya.” Untuk lebih rincinya perihal apa saja yang termasuk barang najis—terutama najis mutawassithah—silakan baca artikel berjudul "Mengenal Barang-barang Najis menurut Fiqih ". Ketiga kategori najis tersebut masing-masing memiliki cara tersendiri untuk menyucikannya.

Namun sebelum membahas lebih jauh tentang bagaimana cara menyucikan ketiga najis tersebut perlu diketahui istilah “najis ‘ainiyah” dan “najis hukmiyah” terlebih dahulu. Najis ‘ainiyah adalah najis yang memiliki warna, bau dan rasa. Sedangkan najis hukmiyah tidak ada lagi adalah najis yang tidak memiliki warna, bau, dan rasa.

Dengan kata lain najis ‘ainiyah adalah najis yang masih ada wujudnya, sedangkan najis hukmiyah adalah najis yang sudah tidak ada wujudnya namun secara hukum masih dihukumi najis. Pengertian ini akan lebih jelas pada pembahasan tata cara menyucikan najis.

Adapun tata cara menyucikan najis sebagai berikut: 1. Najis mughalladhah dapat disucikan dengan cara membasuhnya dengan air sebanyak tujuh kali basuhan di mana salah satunya dicampur dengan debu. Namun sebelum dibasuh dengan air mesti dihilangkan terlebih dulu ‘ainiyah atau wujud najisnya. Dengan hilangnya wujud najis tersebut maka secara kasat mata tidak ada lagi warna, bau dan najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut najis tersebut.

Namun secara hukum (hukmiyah) najisnya masih ada di tempat yang terkena najis tersebut karena belum dibasuh dengan air. Untuk benar-benar menghilangkannya dan menyucikan tempatnya barulah dibasuh dengan air sebanyak tujuh kali basuhan di mana salah satunya dicampur dengan debu.

Pencampuran air dengan debu ini bisa dilakukan dengan tiga cara: Pertama, mencampur air dan debu secara berbarengan baru kemudian diletakkan pada tempat yang terkena najis. Cara ini adalah cara yang lebih utama dibanding cara lainnya. Kedua, meletakkan debu di tempat yang terkena najis, lalu memberinya air dan mencampur keduanya, baru kemudian dibasuh. Ketiga, memberi air terlebih dahulu di tempat yang terkena najis, lalu memberinya debu dan mencampur keduanya, baru kemudian dibasuh. Baca juga: Bisakah Sabun Menggantikan Debu untuk Menyucikan Najis Anjing?

2. Najis mukhaffafah yang merupakan air kencingnya bayi laki-laki yang belum makan dan minum selain ASI dan belum berumur dua tahun, dapat disucikan dengan cara memercikkan air ke tempat yang terkena najis. Cara memercikkan air ini harus dengan percikan yang kuat dan air mengenai seluruh tempat yang terkena najis.

Air yang dipercikkan juga mesti lebih banyak dari air kencing yang mengenai tempat tersebut. Setelah itu najis yang dapat dibersihkan dengan memercikkan air secara kuat disebut diperas atau dikeringkan. Dalam hal ini tidak disyaratkan air yang dipakai untuk menyucikan harus mengalir. 3. Najis mutawassithah dapat disucikan dengan cara menghilangkan lebih dahulu najis ‘ainiyah-nya.

Setelah tidak ada lagi warna, bau, dan rasan najis tersebut baru kemudian menyiram tempatnya dengan air yang suci dan menyucikan. Sebagai contoh kasus, bila seorang anak buang air besar di lantai ruang tamu, umpamanya, maka langkah pertama untuk menyucikannya adalah dengan membuang lebih dahulu kotoran yang ada di lantai.

Ini berarti najis ‘ainiyahnya sudah tidak ada dan yang tersisa adalah najis hukmiyah. Setelah yakin bahwa wujud kotoran itu sudah tidak ada (dengan tidak adanya warna, bau dan rasa dan lantai juga terlihat kering) baru kemudian menyiramkan air ke lantai yang terkena najis tersebut. Tindakan menyiramkan air bisa cukup di area najis saja, dan sudah dianggap suci meski air menggenang atau meresap ke dalam. Selanjutnya kita bisa mengelapnya lagi agar lantai kering dan tak mengganggu orang.

Mengetahui macam dan tata cara menyucikan najis adalah satu ilmu yang mesti diketahui oleh setiap Muslim mengingat hal ini merupakan salah satu syarat bagi keabsahan shalat dan ibadah lainnya yang mensyaratkannya.

Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)
Masyarakat kerajaan Alam Melayu menjalankan kegiatan pembuatan yang terdiri daripada barang perhiasan emas, tembikar, cuka kelapa, garam, gula, minyak …membuat mi daripada beras dan sebagainya. Berdasarkan pengetahuan sejarah anda, bagaimanakah kita dapat mengkomersilkan hasil pembuatan barangan tersebut?​

Membersihkan Najis Hanya dengan Lap Basah? - Buya Yahya Menjawab




2022 www.videocon.com