Cerpen horor komedi

cerpen horor komedi

• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud cerpen horor komedi Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Cerpen horor komedi • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World cerpen horor komedi Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Part 1 : gelang antik "Ayo, diharapkan semuanya berbaris, sebentar lagi bus kita akan datang, seluruh peserta wajib untuk mengecek barang pribadi dan kelompoknya masing-masing.

jangan sampai ada yang ketinggalan." terdengar suara panitia menggunakan pengeras suara yang dipegangnya dengan keringat yang bercucuran ditengah lapangan yang luas dibawah sinar matahari langsung yang menyengat, Kebetulan cuaca hari ini sangat panas. "Eh beras kita didalam kotak ini kok tidak ada ya." ujar Juki dengan muka cemasnya sambil memeriksa kotak dan kantong yang lain. "Berasnya benar-benar tidak ada. Don, bukannya tadi kamu yang memegang kantong beras kita." Tanya Juki kepada Doni.

Terlihat Doni berpikir seperti mengingat sesuatu. "Astaga, Berasnya ketinggalan ditoilet dekat Ruang Laboratorium, aku akan mengambilnya." Terlihat doni langsung ijin ke panitia dan berlari seperti kucing mengejar tikus.

Ia cerpen horor komedi sangat pelupa jika kita tidak mengingatkannya. Hari ini adalah hari dimana kami akan mengikuti kegiatan ukm yang bersifat kerohanian menjelang liburan setelah ujian akhir semester. Kegiatan ini diadakan setiap tahun yang diikuti oleh peserta khusus mahasiswa baru semester satu dipegang oleh kepengurusan kakak senior kami, tahun ini akan diadakan di sebuah kampong yang berada dibawah bukit Sarang Burung di kota Singkawang.

sebenarnya saya tidak ingin mengikuti kegiatan ini karena ingin pulang kampung saja, namun teman-temanku si Juki dan lainnya memaksaku untuk ikut. Mereka adalah temanku saat disana, orang yang pertama kali menyapaku saat aku tidak mengenal siapapun ketika pertama kali memasuki cerpen horor komedi baru, mahasiswa baru semester satu ialah Proses dimana seseorang yang beralih dari sifat remaja menuju dewasa. Kebetulan Doni adalah satu daerah denganku, ia orangnya sangat pelupa dan sedikit lembut seperti wanita namun tegas melebihi seorang pria jika sedang serius, ditambah gaya bicaranya yang ceplas-ceplos serta sangat suka bercerita hal-hal yang berbau mistis padahal dia sendiri orangnya sangat penakut.

sedangkan Juki dan Heri adalah orang jawa, mereka punya sifat yang sangat berbeda, Juki yang lebih banyak bicara,punya tipikal orang yang ingin selalu benar cerpen horor komedi kumis tebalnya dan punya jiwa pemimpin yang bagus namun terkadang hilang sat bertengkar dengan Doni serta hobinya yang suka memasak dan suka makan pentol , sedangkan Heri orang jawa sunda berkacamata yang sifatnya sangat lembut dan bicaranya yang paling sopan seperti orang ceramah atau memberikan tausiah tak heran kami memberinya gelaran pak ustadznya kami.

Satu lagi anggota kelompok kami si Yudi berasal dari kabupaten yang berbeda dari kami ia tipikal orang yang jarang berbicara kecuali ketika meminjam uang, eh bercanda hehe, maksud saya ketika saat yang penting saja, kuakui sulit menebak sifatnya yudi yang penuh misterius dan sedikit bodoh.

Sedangkan aku? Nama ku Yasa, Yasa Barista.suka dengan photografi, buat puisi dan aku yang biasa menjadi penegah diantara mereka ketika bertengkar. Ah nanti kalian akan tahu sendiri ketika membaca cerita ini. itulah anggota kelompok kami, kami hanya berlima mewakili kelas kami khusus ikhwan. aku sangat beruntung punya teman-teman aneh seperti mereka, kelompok yang tidak pernah diam. Kami kuliah disalah satu Universitas di Kalimantan Barat. "Teeeeeeeet," Horor merupakan sesuatu yang menimbulkan perasaan ngeri atau takut yang amat sangat.

Adegan horor tersebut bisa dikemas dalam berbagai wahana, lho. Baik dalam bentuk film, novel, maupun cerpen. Cerpen horor biasanya terdiri dari cerita dan adegan yang mencekam serta membuat takut para pembacanya. Apakah kamu salah satu orang yang senang membaca cerpen horor?

Jika iya, maka kamu perlu membaca artikel ini sampai habis, ya. Daftar Isi • 1 Labirin Pertama • 2 Pamali • 3 Darah yang Tersisa • 4 Bernyanyi Bersama • 5 Perempuan yang Datang dari Kegelapan • 6 Ingat Saya • 7 Lihat Lebih Dekat • 8 Sendiri • 9 Debu • 10 Qorin Labirin Pertama Sumber foto: PublicDomainPictures dari Pixabay Peta yang aku temukan di atas loteng rumah mengarahkanku pada semak rumput setinggi dua meter, sebuah labirin berukuran besar yang sebelumnya tak pernah kutemui.

Seakan labirin muncul ketika peta ini kutemui untuk pertama kalinya. Pelataran labirin ini dipenuhi oleh dedaunan kering, menutupi seluruh tanah yang kupijak, tingginya hampir sebatas mata kaki. Hampir tidak ada angin yang berembus di sini, terlampau sunyi sampai takut untuk berpijak dan menimbulkan suara berisik dari daun cerpen horor komedi. Tempat ini pun bisa dibilang cukup sempit, sampai bahuku bersentuhan dengan dua sisi tembok labirin.

Hampir empat puluh menit aku berjalan di sini, sialnya aku tak menemukan tanda-tanda jalan keluar dari tempat ini. Langkahku mulai kelelahan, dan rasanya semakin pengap. Baru ingin mengistirahatkan tubuhku, aku mendengar sebuah suara ganjil dari ujung labirin, kontras sekali dari suasana sunyi sebelumnya.

Ada suara cekikikan yang semakin keras, sukses membuat bulu kudukku berdiri. Sampai suara itu terasa merambat dan terdengar tepat di samping telingaku, tubuhku membeku. Berusaha bangun dan berbalik menjauhi sumber suara, dengan paksa aku menyeret kedua kakiku yang masih kaku saking terkejutnya.

Kini, suara itu semakin mengaung liar, ditambah langkah-langkah kaki tak karuan yang terdengar di setiap jengkal tubuhku yang menjauh. “Arrrkkk” suara itu seolah menghantuiku. Sampai akhirnya aku tak sanggup lagi untuk membawa diriku, menghentikan setiap pergerakan dengan dedaunan yang menenggelamkan sekujur tubuhku dengan perlahan.

Suara itu terdengar semakin gila, sampai mataku yang semakin berat melihat sosok yang begitu tinggi dan lebar, melihatnya membuatku semakin menggigil seakan ia akan melahap diriku hidup-hidup, wajahnya yang terlihat jauh di atas sana menampilkan seringai lebar, dan akhirnya darah berjatuhan dari atas langit. Baca juga: 10 Cerpen Remaja Pamali “Perempuan jangan duduk di depan pintu!” “Jangan pulang malam-malam!” “Jangan mandi magrib!” “Jangan menyapu halaman malam!” Begitulah berbagai macam pamali atau larangan yang dilontarkan ibu kepadaku.

Apakah kau mempercayainya? Sebetulnya aku tak percaya. Namun, saat makhluk aneh itu selalu mengikuti setelah pulang kerja. Mungkin aku mempercayainya. Makhluk itu entah perempuan atau lelaki. Badannya kekar seperti lelaki, tapi rambutnya panjang seperti perempuan. Bajunya compang-camping penuh darah. Pertama kali aku bertemu dengannya ia membuatku kaget dengan kemunculannya di tengah jalan menghalangi laju motorku.

Lalu ia terus mengikutiku bahkan sampai rumah. Seminggu pertama, aku demam tinggi. Ibu sampai khawatir dengan apa yang terjadi. Ia memberikanku obat dokter pun tak mempan. Sampai akhirnya, ibu membawakan orang pintar ke rumah. “Ada yang mengikuti anak ibu saat Si Neng pulang kerja. Saat ini masih di sini” ujar bapak-bapak tersebut. Segera Ibu meminta bapak tersebut mengusirnya. Bapak itu pun membaca sesuatu, lalu seolah berpikir. Kurasakan tubuhku meregang di ambang sadar dan tidak sadar.

Perlahan muncul satu bayangan, makhluk tersebut, ia berbicara kepadaku pelan. “Aku merindukan adikku. Ia sepertimu.” Bayangan itu pun menghilang setelah ia mengucapkan kalimat tersebut. Badanku melemas dan tak sadarkan diri.

Darah yang Tersisa Sumber foto: Ewa Urban dari Pixabay Aku membalik dua potong roti tawar yang cerpen horor komedi sisinya telah menjadi cokelat keemasan, kembali mengoles mentega dan menunggu sisi lainnya siap.

Sambil menunggu, dengan telaten aku mencampur dua gelas jus dengan takaran yang tepat, setidaknya sampai kadar nutrisinya sesuai. Aroma menggoda dari roti isi telur dan daging panggang telah siap di atas meja makan, kami berhadapan dan memulainya dengan merapalkan doa.

“Terima kasih untuk sarapan hari ini, kau luar biasa sayang.” Aku mengulum senyum dengan malu, telah satu minggu kami tinggal satu atap dan pujiannya terasa semakin manis setiap harinya. Jemarinya dengan terampil mengiris potongan roti isi agar sesuai dengan suapan untuk mulutnya, bibirnya berwarna merah merona kontras sekali dengan kulitnya yang telah putih pucat.

Ketika potongan berikutnya, ia terlihat agak kesulitan untuk memotongnya. Sepertinya, daging di sebelah kiri belum masak dengan sempurna. “Sini kubantu untuk memotongnya.” Ia mengulas senyum tipisnya, senang sekali di pagi hari sudah cerpen horor komedi senyuman favoritku. Aku berlalu di belakang tubuhnya, memotong dengan tipis lapisan roti isi tersebut. Dadaku berdegup semakin cepat ketika lengan kami bersentuhan. Wajahku juga berubah semerah apel.

“Eh, maaf aku memotongnya terlalu jauh.” Saus kemerahan mengalir cukup banyak saat kuangkat pisau makan tersebut, meninggalkan jemarinya untuk isian tambahan untuk roti lapisnya. Kulihat wajahnya, yang pucat pasi. Ia tak menyangka dengan apa yang ia lihat, lalu cerpen horor komedi karena ketakutan. Bernyanyi Bersama Kabarnya saat malam semakin tinggi, ketika sunyi telah menyelimuti seluruh makhluk hidup di bumi.

Itu adalah waktu yang tepat bagi mereka yang tak ingin wujudnya tampak untuk keluar, mereka akan mulai dengan kegiatan normalnya seperti kami di siang hari. Mulai dari sosok tinggi besar yang menghalangi rambu-rambu lalu lintas atau wanita berseragam putih yang lalu lalang bak di atas karpet merah. Aku tak begitu peduli dengan mitos tersebut, namun cerita itu sepertinya telah begitu lekat dengan kehidupan masyarakat di sini. Walaupun begitu, tentu saja selintingan cerita yang kudengar setiap hari sukses membuatku gemetar jika harus pulang kerja tengah malam seperti ini.

Berusaha menetralkan pikiran, aku memasang pemutar musik mendengar lagu dengan irama yang cepat dan berisik. Langkahku terus tertuju ke depan menapak lurus mengikuti lampu-lampu jalanan yang dipasang berjauhan, kanan kiri jalan dipenuhi oleh ilalang setinggi tubuhku. Angin halus muncul dari arah belakang, terasa kontras di tengah kesunyian malam ini. Tubuhku sedikit meremang, namun berusaha kualihkan dengan melanjutkan bait berikutnya dari lagu yang tengah kudengar. Sampai ketika usahaku mengikuti untaian lirik lagu tersebut berhenti, ketika suara yang kudengar hanya gumaman sumbang suaraku dan suara lain yang begitu berat dari pengeras suara.

Tepat di bagian kiri, aku menoleh ke arahnya melihat wajah dengan separuh luka bakar dan mata yang nyaris keluar dari kelopaknya, ditambah bibirnya yang menyungging begitu lebar sampai rasanya suara berat itu terus mengiang di kepalaku. Baca juga: 10 Contoh Cerpen Cinta Perempuan yang Datang dari Kegelapan Sumber foto: Selver Učanbarlić dari Pixabay Beberapa hari ini, ada satu hal yang mengganjal dan membuatku tak tenang barang sehari pun.

Saat sekeranjang buah apel yang ditaruh di halaman rumah minggu lalu. Awalnya kupikir bukan itu penyebabnya, namun mimpi itu selalu datang setiap potongan apel tersebut kumakan. Mimpi sama yang membuatku meneteskan air mata ketika bangun di pagi hari. Tentang jeritan misterius yang datang dari balai kota, suaranya redup begitu memilukan.

Suara permintaan tolong yang hadir di setiap malam saat bulan penuh berada tepat di atas langit. Semakin banyak kumakan apel itu, potongan-potongan puzzle itu terasa semakin lengkap, dan membuatku yakin untuk menemukan jawaban dari mimpi-mimpi ini. Tepat tengah malam, atap dan jalanan yang sepi disinari oleh sinar rembulan.

Aku mengendap, memastikan diriku cerpen horor komedi tak terlihat. Ada satu peraturan untuk penduduk di sini agar tak keluar di malam hari, tak ada alasan yang dapat kutemui tapi tak ada satu pun warga yang melanggarnya. Aku berdiri di hadapan balai kota, sebelumnya aku tak pernah sadar jika gedung putih yang berdiri megah ini akan terlihat semencekam ini, pepohonan yang merunduk di sisi kanan dan kiri bergerak dengan perlahan.

Lalu, tiang-tiang yang menyangga gedung terlihat seputih tulang. Patung yang biasanya dijadikan tempat bermain anak-anak terlihat begitu menyeramkan bahkan untuk orang dewasa. Aku meneguk ludah meyakinkan diriku untuk tetap berlalu. Suara tangis yang sama mulai mengaung dengan samar, aku meniti setiap jalanan dengan berat.

Kakiku gemetar ketika suara itu terdengar semakin nyata. Terdapat sebuah gubuk tepat di belakang gedung balai kota, tak terlihat begitu rahasia namun ini pertama kalinya bagiku tahu kalau balai kota memiliki gubuk seperti ini. Tangis tersebut mengalun dari gubuk di hadapanku, aku membuka pintu tersebut dengan keringat yang telah membanjiri pelipis. “Kau tahu terlalu banyak, tinggallah selamanya di sini.” ujar perempuan dengan tubuh penuh luka itu.

Ingat Saya Sepertinya ini hari kelima aku tinggal jauh dari keluarga, di sebuah kamar kos seukuran dua kali dua meter, cukup untuk memosisikan tubuhku telentang. Aku tahu dapat melanjutkan studiku di kampus elit ini adalah impianku sejak lama, alih-alih senang sepertinya kepalaku sudah eror akibat hampir tak dapat tertidur sejak pertama kali aku membuka kunci pintu kamar ini. Aku cerpen horor komedi sosok pria di belakangku, setelah seharian pura-pura tak melihatnya, ia hanya duduk memojok sambil menekuk wajahnya.

Sebetulnya tak tega, tapi tolong ingatkan aku kalau dia adalah makhluk halus. Hampir pukul delapan malam dan aku masih betah dengan posisiku sejak siang tadi, sampai suara perutku terdengar sangat nyaring, sampai rasanya tetangga kamarku akan mendengarnya. Ketukan pelan terasa di belakang punggungku, jemarinya kecil dan agak dingin. “Ma-maaf kalau aku mengganggumu, tapi jika kau lapar aku tak akan mengganggumu, aku akan pura-pura tak lihat,” ucapnya setengah berbisik.

Kondisi perutku memang tak bisa diajak kompromi lagi, ini akan berakhir tragis jika aku tak makan sekarang juga. Akhirnya aku bergegas mengambil jaket dan dompet untuk membeli makanan di warung depan. Sekembalinya di kamar, aku membuka dua bungkus nasi lengkap dengan sayur dan ikan balado favoritku, aku sempat terkejut, kenapa juga aku membeli dua bungkus. “Kamu tidak bisa makan ya?” lengkap sekali, sepertinya kelaparan membuatku lebih bodoh.

Pria itu hanya mengangguk pelan. “Sebetulnya aku juga ingin makan, lauknya terlihat begitu menggoda sampai rasanya aku bisa merasakannya di mulutku.” Setelah mengisi perutku, ditambah teh segar yang meluncur lancar di kerongkongan aku akhirnya dapat berpikir lebih lancar. “Kenapa mataku dapat melihatmu?” “Entah.” Kenapa ia jadi irit sekali berbicara. “Tapi, aku merasa sudah mengenalmu sejak lama,” lanjutnya.

“Rasanya sejak pertama bertemu denganmu, membuatmu ingin mengucapkan sesuatu.” “Apa itu?” “Tolong ingat aku.” Suaranya menusuk indra pendengaranku, diikuti bunyi dengung dan cahaya cerpen horor komedi berlarian mengitariku. “Ka-kau Fazka?” Ia tersenyum pasi. Walau seperti cerpen horor kisahku ini, tapi entah mengapa aku tak merasa ketakutan bertemu dengan Fazka, mantan kekasihku yang meninggal karena penyakit ginjalnya.

Lalu ia menghilang begitu saja, entah ke mana. Lihat Lebih Dekat Sumbe foto: Peter H dari Pixabay Gerbang telah dibuka dengan lebar, menandakan sore yang telah tiba. Waktunya kembali, dan bersembunyi dari bayang-bayang yang muncul di kegelapan. Kekuatan yang ia miliki lebih besar dari rasa takut, dan kemampuanku sekarang belum cukup untuk membunuhnya. Namun, gerbang di hadapanku tak dapat kulalui, ada batas transparan yang kasat mata.

Terlihat beberapa pasang mata yang mengintip dari balik jendela, matanya yang berwarna merah kentara sekali di antara gelap yang mulai menyala.

Kepakan sayap hitam juga terbang menjauh ke arah barat, tak sedikit ada angin yang berlalu membuat suasana sunyi berubah semakin mencekam. Lenganku yang gemetar memegang erat pelatuk, siap meluncurkan peluru jika ia datang. Apakah aku dijadikan tumbal warga desa, malam itu aku tahu jika enam orang yang sebelumnya pergi bukanlah menghilang seperti kabar yang diberikan, sepertinya nasibku juga akan berakhir sama dengan mereka, nyaris tak ada kesempatan untuk manusia bertahan hidup di luar gerbang.

Kini gelap telah melahap habis sisa cahaya, mataku membola berusaha mencari setitik cahaya di mana pun ia berada. Aku mendekat pada tembok gerbang saat terlihat cahaya serupa kilat berkedip begitu cepat dari arah jam tiga. Tak ada sedikit pun suara, namun cahaya itu berhasil mencuri perhatianku.

cerpen horor komedi

Dengan langkah ragu aku menuju titik cahaya tersebut. Makin dekat, sampai kilat yang tadinya berwarna putih memencar menjadi begitu banyak warna dan terlihat semakin nyata. Aku semakin merinding seperti membaca cerpen horor.

cerpen horor komedi

Tubuhku berjalan begitu ringan seakan eksistensi gravitasi telah hilang dalam beberapa saat. Tanganku menjulur ke depan, menggenggam pistol semakin erat, dan ketika cahaya itu sampai di hadapanku, dengan lantang aku menekan pelatuk. Bunyi ledakan terdengar begitu nyaring, sinar itu berubah menjadi dunia yang sangat luas dipenuhi gelas-gelas anggur dan buah-buahan yang melimpah.

Setelah itu, terlihat enam sosok tubuh yang digantung terbalik mengerling ke arahku. Sayang, ketika senyuman itu bertemu pandanganku, aku tak ingat sedikit pun apa yang terjadi setelahnya. Baca juga: 10 Cerpen Persahabatan Sendiri Dinding ini berubah menjadi lembap, dengan noda kehijauan yang telah menyelimuti sekelilingnya. Aku menutup pintu itu, menahannya begitu keras diiringi raungan yang datang dari luar.

Terdengar suara gesekan kasar secara perlahan mendekat menuju pintu. Suara tersebut diikuti dengan erangan dari tubuh yang diseret paksa setelah berhasil jatuh di tangan kecokelatan yang dipenuhi oleh sisik dan kulit yang kasar. Mataku mengintip, berharap langkah-langkah tersebut tak berhenti di hadapannya, napasnya yang masih tersengal berusaha untuk meredam sekecil apa pun suara yang keluar.

Sambil merapalkan mantra pelindung, aku menutup mataku menguatkan secercah energi positif guna menangkal makhluk buas di luar sana. Mulutnya yang dipenuhi taring tak dapat ditutup dengan sempurna, mengeluarkan asap kelabu yang kelaparan.

Aku bertahan sampai sejauh ini, meninggalkan temanku yang bersimbah darah di luar sana. Tidak ada lagi sisa-sisa teriakan dan erangan yang tersisa. Mengikuti nyawa-nyawa yang terkurung setelahnya.

Bibirku terangkat dengan senyum tipis, lega karena pertarungan ini akhirnya berakhir dan dia menjadi satu-satunya pemenang di sini, meninggalkan orang-orang bodoh di luar sana sebagai tameng dirinya. Makhluk buas itu juga sepertinya nyaris mati karena keserakahannya, cerpen horor komedi yang sebelumnya berwarna hitam dengan kilat kemerahan kini berubah sepenuhnya menjadi putih dan akhirnya melalui pintu tersebut. Aku mengeluarkan kitab biru yang menjadi kunci dari dunia ini, akhirnya aku dapat menjadi entitas terkuat yang pernah ada, tak ada lagi ruang dan waktu yang tersisa.

Seluruhnya berada di bawah kuasaku. “Kau. tidak. sendiri.” Debu Sumber foto: Liselotte Brunner dari Pixabay Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar.

Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan. Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan.

Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta. Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada.

Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan, “Halo teman-teman, maaf ya telat” “Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda “Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku.

Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut. Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya cerpen horor komedi basah dan dingin, mungkin cerpen horor komedi panik.

Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan. Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih.

Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku cerpen horor komedi Rendi.

Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik.

cerpen horor komedi

Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar. Qorin “Kemarin gue lihat lo di ruang kelas sendirian, Lan, ngapain lu, yang lain udah pada bubar?” Tanya Rangga usai solat magrib dan hendak kembali ke ruang BEM. “Emang iya? Bukannya lo tegur” Lana tidak mengingatnya, apakah memang iya aku sendirian di kelas? Ah, mungkin saat aku mengerjakan laporan.

Gumamnya dalam hati. “Lo sibuk gitu” Percakapan Lana dengan Rian berakhir sampai di situ, karena Rian mendadak perlu menemui seseorang. Setelah sampai di ruang BEM, Lana menemui teman-temannya yang lain.

Ada Jaka, Riana, dan Wana. Mereka sedang menyusun proposal acara yang mau diadakan tiga bulan lagi. Mendadak percakapan mereka berganti topik. “Lan, dua hari yang lalu lo dandanan gak seperti biasanya deh. Pake gamis serba putih gitu, terus gue panggil gak nyaut.” Ujar Jaka.

“Bener, Ran. Padahal biasanya lo kalo ke kampus kan stylish banget tuh. Kita yang tadinya mau solat magrib, sedikit telat gara-gara manggil lo doang” tambah Riana “Hah?” Lana terkejut “Gue gak ke kampus dua hari yang lalu.” “Lah terus itu siapa dong? Sumpah muka, badan, mirip lo banget” Jaka bertanya keheranan “Ih jadi takut gue.

Lo gak bercanda, kan?” Riana menimpali percakapan. “Ya enggaklah, Ri. Ngapain juga.” Mereka saling pandang memandang dan keheranan. Terlebih lagi Lana yang berusaha mencerna terhadap apa yang telah terjadi. Sementara itu, tanpa mereka ketahui, sosok yang mirip Lana memandangi mereka dari luar jendela.

Meneyeringai dan tertawa pelan, tak ada yang mengetahuinya, kecuali Lana yang menengok ke arah jendela. Baca juga: 10 Contoh Cerpen Pendidikan Begitulah 10 cerpen horor yang bisa membuatmu merinding. Semoga dapat membantumu.
• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis cerpen horor komedi Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Cerpen horor komedi • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Cerpen horor komedi • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Setengah jam perjalanan kami pun sampai dilokasi kegiatan persis ketika panitia dan peserta lain melaksanakan sholat.

kami pun bergegas turun untuk berwudhu meski rasa lelah masih terasa disekujur tubuh. Setelah sholat subuh kami pun dipanggil oleh abang desta. Terlihat mukanya sangat dingin, kami pun saling melempar pandangan dan sudah menduga pasti kami akan introgasi dan dimarahi. "Alhamdulillah akhirnya kalian selamat, abang kira kalian hilang." Sebuah kalimat yang tidak kami duga.

cerpen horor komedi

Bang desta segera memeluk kami dengan tangisannya yang terisak, tak sadar air mataku jatuh entah kenapa, yang jelas aku mengingat hal mengerikan yang kami alami. Ia pun mengajak kami ke tepi pantai untuk mengobrol bersama kebetulan saat itu waktunya istirahat dan acara lainnya masih 2-3 jam lagi. Daun kelapa melambai dengan irama yang lembut seperti mengipasi tuan sang raja yang sedang kepanasan.

Cahaya sinar pagi seakan menyambut kami berlima yang sedang duduk diatas pohon kepala yang tumbang. "Iya setan, setan bule bang, anaknya cantik banget, terus ayahnya semalam hampir menembak kami dengan senapang miliknya, andai saja Yasa cerpen horor komedi mengeluarkan Gelang setannya pasti kami udah mati sekarang." Jelas Doni dengan mulutnya yang begitu cepat. Abang Desta mengkerutkan dahinya seolah berpikir, anak ini pasti udah gesrek, atau halusinasi. Kemudian ia memandangi kami berempat.

"Sepertinya ada yang salah dengan teman kalian satu ini." Bisik Bang desta kepada kami. Terlihat Doni masih meneruskan ceritanya tanpa berhenti. "Iya bang, Doni habis tersesat semalam, emang rasa sinting." Juki dengan kejahiliannya untuk membuat Doni seolah-olah ia sedang mengarang cerita. • Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Cerpen horor komedi • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Perjalanan masih kami lanjutkan, rasanya semakin lama semakin ada yang aneh, ditepi jalan terdapat bambu yang halus memanjang sepanjang perjalanan.

"Ini jalannya benar atau nggak sih, kok dari tadi kita gak nemu panitia atau posko gitu, mana capek lagi, kakiku pada gatel semua digigit nyamuk." Keluh Doni sambil menggaruk kedua kakinya. "Benarlah, kamu gak liat warna tali tadi, kalo capek mending pingsan aja palingan nanti kami biarin kamu tidur ditanah sampai subuh." Cerpen horor komedi Juki dengan muka yang sudah mulai emosi lagi. Tiba-tiba.

cerpen horor komedi

Sontak mata kami tertuju kearah belakang, ternyata Yudi pingsan, tersungkur diatas tanah dengan bentuk badannya yang sedikit bulat dan bertubuh pendek seperti Gajah jatuh ditembak Pemburu. "Nah ada yang pingsan, Kuy Lanjut." Seru Doni dengan mengejek ucapan Juki tadi. "Doni apaan sih, tolong bantu." Pukasku. Kami semua bergegas menghampiri Yudi. Badannya sangat dingin, kemudian langsung kami dudukkan dengan memegang kepalanya supaya memudahkan oksigen masuk kedalam tubuhnya.

"Aduh Gimana ni, ditengah hutan lagi, kasih dia minum Her." keluh Juki, sepertinya Yudi kelelahan. "Tenang saja," Doni mengeluarkan sesuatu cerpen horor komedi kantungnya ternyata ia mengambil sebuah tisu basah kemudian cerpen horor komedi pun memasukkannya kedalam bajunya dengan mengangkat lengan tangan sebelahnya, ia pun menggosokkannya dengan ketiaknya dengan perlahan, sangat menjijikkan.

"Gila kamu Don." Seru Juki, ia pun tergopoh-gopoh menjauh sedangkan Heri mencoba memercikkan air ke muka Yudi berharap ia sadar, namun tidak ada reaksi apapun. "Stttt, minggir ini pasti manjur." Kemudian Doni pun menempelkannya kehidup Yudi ditengah pingsannya. Sontak kami semua mual seperti mau muntah, anak itu memang ada saja kelakuannya,beberapa detik kemudian tiba-tiba tangan Yudi bergerak dengan cepat mencekik leherku dengan kuat, sehingga membuatku terbaring ke tanah.

Yudi pun mengambil posisi tepat menindih badanku. matanya berubah berwarna merah pekat seperti darah. Sedangkan Heri sedikit menjauh.
Cerpen Lucu (Humor) Berikut ini merupakan kumpulan Cerpen Lucu (Humor) terbaru karya para sahabat cerpenmu yang telah diterbitkan, total diketemukan sebanyak 613 cerita pendek untuk kategori ini.

Untuk mencari cerita pendek (Cerpen) berdasarkan kata kunci tertentu, Kamu bisa gunakan Kotak pencarian di bawah ini!

cerpen horor komedi

Humor Santri Cerpen Kiriman: Anang Zunaidi - Lolos Moderasi Pada: 26 April 2022 Mencuci Beras Zubaid, begitu dimanjakan oleh orangtuanya. Ia jarang sekali membantu bapak ibunya dalam mengerjakan tugas-tugas rumahan. Setelah lulus dari SMP, ia dipondokkan. Tradisi pondok, biasanya jika ada santri baru maka ia harus digojlok agar kerasan, oleh para seniornya. » Baca lanjutan ceritanya. Mudik Copid Cerpen Kiriman: Anang Zunaidi - Lolos Moderasi Pada: 23 April 2022 Korona melanda Cerpen horor komedi hampir setahun.

Segala aktifitas lumpuh. Proposal-proposal yang telah dibuat manusia menjadi ambyar. Suasana mencekam, ketakutan yang luar biasa. Meski berangsur manusia kembali berbenah, tapi bayangan korona layaknya Izrail sedang mencermati data antrian yang siap dijemput, siap » Baca lanjutan ceritanya. Bocah Tanah Wakaf Cerpen Kiriman: Yayah Uyah - Lolos Moderasi Pada: 17 April 2022 “Liat nih gaya salto, Yuyu! Cyiaaaat!” BYUR! Sorakan dan tepuk tangan bocah-bocah cilik membahana di tanah wakaf Haji Aeng.

Badan Yuyu, bocah perempuan berusia tujuh tahun yang sempat tenggelam di air dalam lubang, timbul kembali dengan senyum lebar menunjukkan » Baca lanjutan ceritanya. Sebotol Minuman Dari Balai Lelang Christie Cerpen Kiriman: Sri Romdhoni Warta Kuncoro - Lolos Moderasi Pada: 13 April 2022 “Kalian berempat harus ke kantor polisi”.

Aku tidak menyangka kalau tindakan kami akan berujung pelaporan. Semuanya berawal dari keisengan. Gegara mengambil minuman beralkohol di sebuah tempat yang telah dikunci dengan sandi, petaka itu harus kami terima. Apa istimewa minuman » Baca lanjutan ceritanya. J-Jaehyun? Cerpen Kiriman: Xiuzeen - Lolos Moderasi Pada: 4 March 2022 Cerpen horor komedi, Devi.

cerpen horor komedi

Pecinta Kpop, Kdrama dan Kfoods. Saking sukanya, kamar dan sampul bukuku berhias wajah para idolku yang biasa disebut juga bias, mulai dari para member Cerpen horor komedi, NCT sampai BTS. Dari sekian banyak bias, my favorite boy is Jung » Baca lanjutan ceritanya. Kita Bicarakan Bentar Ya? Cerpen Kiriman: Halub - Lolos Moderasi Pada: 11 February 2022 Menuduh dan menyudutkan orang lain sebagai pecinta juga penikmat zona nyaman adalah hal yang mudah, tetapi ketika bertanya pada diri sendiri “Apakah saya juga pecinta zona nyaman?” Tentu jawabannya, “Oh, tidak, aku seorang pejuang.” Nikmat betul memang bilang menyalahkan » Baca lanjutan ceritanya.

Aku Dan Jin Milenial Cerpen Kiriman: Hangga Rezka - Lolos Moderasi Pada: 13 January 2022 Senja yang memunculkan tanya, di sinilah aku yang sedang berjalan di tengah keramaian yang terasa hening di Taman Buana(bualan belaka) seraya tangan kiriku memijit kepalaku yang lelah, karena kepala berkecamuk tentang acara keluarga yang akan diselenggarakan di rumah, sementara » Baca lanjutan ceritanya.

Calak Limbung Cerpen Kiriman: Anggalih Bayu Muh Kamim - Lolos Moderasi Pada: 28 December 2021 Pagi-pagi buta sudah asyik sendiri. Selepas sholat shubuh ditatanya berbagai peralatan di meja. Berharap rezekinya tidak dipatok ayam. Dia berdoa hari ini pelanggan bakal datang tidak seperti sebelum-sebelumnya.

cerpen horor komedi

Debu-debu dan kotoran di lantai disapu dan dihempaskan ke luar rumahnya. » Baca lanjutan ceritanya.

cerpen horor komedi

Tukang Comot Dompet Cerpen Kiriman: Seli Oktavia - Lolos Moderasi Pada: 25 November 2021 Gue Andika. Mahasiswa semester satu di salah satu perguruan tinggi di kota kembang.

cerpen horor komedi

Baru lulus sekolah menengah beberapa bulan lalu. Gue punya temen namanya Eza, dia orang sunda tulen. Beda dengan gue yang setengah campuran jawa tengah. Gue kenal » Baca lanjutan ceritanya. Matinya Gimana? Cerpen Kiriman: Hugo - Lolos Moderasi Pada: 16 October 2021 Waktu malam hari adalah tempat berkumpulnya para Hantu gentayangan.

Para Hantu ini biasanya membahas kehidupan masa lalu mereka, salah satunya membahas bagaimana mereka mati.

Pada perkumpulan ada dua Hantu yang asyik sekali membahasnya. “Sudah lama nggak ketemu ya bro.” » Baca lanjutan ceritanya. Kategori Cerpen • Cerpen Anak (2,468) • Cerpen Bahasa Daerah (26) • Cerpen Bahasa Inggris (124) • Cerpen Bahasa Jawa (104) • Cerpen Bahasa Sunda (50) • Cerpen Budaya (92) • Cerpen Cinta (4,698) • Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam) (1,132) • Cerpen Cinta Islami (855) • Cerpen Cinta Pertama (350) • Cerpen Cinta Romantis (1,082) • Cerpen Cinta Sedih (2,465) cerpen horor komedi Cerpen Cinta Segitiga (970) • Cerpen Cinta Sejati (163) • Cerpen Covid 19 (Corona) (31) • Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat) (154) • Cerpen Fabel (Hewan) (255) • Cerpen Fantasi (Fiksi) (1,854) • Cerpen horor komedi Fiksi Penggemar (Fanfiction) (95) • Cerpen Galau (1,094) • Cerpen Gokil (177) • Cerpen Horor (Hantu) (1,173) • Cerpen Inspiratif (359) • Cerpen Islami (Religi) (889) • Cerpen Jepang (359) • Cerpen Kehidupan (1,722) • Cerpen Keluarga (3,305) • Cerpen Kisah Nyata (472) • Cerpen Korea (293) • Cerpen Kristen (53) • Cerpen Liburan (171) • Cerpen Lingkungan (153) • Cerpen Lucu (Humor) (613) • Cerpen Malaysia (9) • Cerpen Mengharukan (190) • Cerpen Misteri (1,043) • Cerpen Motivasi (657) • Cerpen Nasihat (561) • Cerpen Nasionalisme (85) • Cerpen Olahraga (32) • Cerpen Patah Hati (1,575) • Cerpen Penantian (318) • Cerpen Pendidikan (381) • Cerpen Pengalaman Pribadi (501) • Cerpen Pengorbanan (475) • Cerpen Penyesalan (1,283) • Cerpen Perjuangan (350) • Cerpen Perpisahan (672) • Cerpen Persahabatan (3,287) • Cerpen Petualangan (142) • Cerpen Ramadhan (108) • Cerpen Remaja (4,071) • Cerpen Renungan (10) • Cerpen Rindu (49) • Cerpen Rohani (62) • Cerpen Romantis (672) • Cerpen Sastra (123) • Cerpen Sedih (2,519) • Cerpen Sejarah (24) • Cerpen Slice Of Life (202) • Cerpen Terjemahan (9) • Cerpen Thriller (Aksi) (297)
• ► 2016 (1) • ► January (1) • ► 2015 (2) • ► August (1) • ► January (1) • ► 2014 (2) • ► May (1) cerpen horor komedi ► February (1) • ► 2013 (13) • ► September (3) • ► August (4) • ► June (6) • ► 2012 (9) • ► December (1) • ► November (1) • ► June (5) • ► March (2) • ► 2011 (125) • ► December (17) • ► May (18) • ► April (30) • ► March (47) • ► February (11) • ► January (2) • ▼ 2010 (158) • ► December (22) • ► November (43) • ▼ October (74) • Ngedit foto Online - Gratis • Menghilangkan sifat MALAS • Bikin banner gratis disini • Ngerjain temen lewat facebook • Tulisan Terbalik di facebook • SUMPAH PEMUDA 28 Oktober • CODEBREAKER for HM friends on mineral town GBA • SHINee - LUCIFER • LagiIPA atau IPS • Hape gw rusak • Bikin Blog Gratis di WordPress • 10 Orang Terpopuler di Twitter • Merubah DESAIN TEMPLATE BLOG • TWITTER BUTTON • Create Your Own Plurk Layout !

• Trik Hacking Facebook • 5 kode unik FaceBook • HATI HATI NAM ! • HACKER dan CRACKER • PLURK • Tipe Manusia dalam Facebook • Membuat Blog di Facebook • Jam Unik di BLOG • Aturan Baru dari FB • What The FACT ! • Teoti Planetesimal • Cerpen horor komedi Ujian Sukses untuk Murid Sekolah Dasar • Cerpen Horor Komedi : RUMAH HANTU • Contoh Makalah IPS : Penggunaan Lahan dan Pola Per. • Contoh Makalah Ekosistem kelas 7 • My Documents • Sambungan posting - jaman dulu 4lay • Ternyata Dulu gw 4lay • Vans Era • USER ID OPERATOR UNTUK MODEM • Vans Old School • Vans Zappatto • Kartu Tarot • Contoh makalah tema : Kemiskinan • Lirik One day just like this • Lirik Forever - Killing me inside • Lirik Ingin hilang ingatan - RocketRockers • Liri lagu Ambrosia - alesana • Lirik lagu this Conversation its over • Lirik lagu Early Morning - alesana • Lirik lagu Toxic • Lirik + chord Diary Depresiku - Last Child • Lirik Party in Your Bedroom - Cash cash • Contoh Pidato Bahasa Indonesia Tema : Globalisasi • Lirik lagu Tilting the Hourglass - Alesana • Lirik lagu Nero's Decay - Alesana • Upacara Adat Minangkabau - presentasi • Lirik Dari Mata Sang Garuda - PWG • Lirik Mona Lisa - The All American Rejects • Lirik Penantian - Last Child • Lirik Kembali - Last Child • Lirik Memories of You - Last Child • Lirik Anak Kecil - Last Child • Lirik Dorks Never Say Died - Pwg • Lirik Somebody To Love - Justin Bieber • Lirik U Smile - Justin Bieber • Lirik lagu NightMare - Avenged Sevenfold • Lirik Broken Heart - CloseHead • Friday Wishes • new hobby, my target • wished 'gain on my midtes • isengggg • IPA vs IPS • tormented by midtes • 10 Band indie melodic • 10 band metal • SMA AZGA :) • Mau Storyyyyyyyyyyyy :) • Udah lama gw gak ngentri tulisan gue sendiri • ► September (5) • ► July (3) • ► April (2) • ► March (6) • ► January (3) • ► 2009 (4) • ► September (4)Cerpen Horor (Hantu) Berikut ini merupakan kumpulan Cerpen Horor (Hantu) terbaru karya para sahabat cerpenmu yang telah diterbitkan, total diketemukan sebanyak 1173 cerita pendek untuk kategori ini.

Untuk mencari cerita pendek (Cerpen) berdasarkan kata kunci tertentu, Kamu bisa gunakan Kotak pencarian di bawah ini! Kang Ketuk Cerpen Kiriman: Miftah - Lolos Moderasi Pada: 2 May 2022 “Kamu yakin tidak apa-apa?” tanya Ailin melalui telepon, merasa tak enak dengan sahabatnya di seberang sana.

“Iya gapapa kok, kita sudah sepakat siapapun yang Nathan pilih kita tidak akan saling cemburu.” Clara menyakinkan Ailin. cerpen horor komedi deh aku masih gak » Baca lanjutan ceritanya. Hantu Toilet Sekolah Cerpen Kiriman: Kiki - Lolos Moderasi Pada: 28 April 2022 Namaku Tiara Aku bersekolah di salah satu sekolahan yang cukup bagus tapi sayangnya sekolahku Banyak setannya kata orang-orang sih aku sendiri belum pernah melihat atau merasakan keberadaan mereka.

Kata orang-orang setiap siswa dan siswi yang bersekolah di sekolahku ini » Baca lanjutan ceritanya. Pita Putih Di Pohon Pinus Cerpen Kiriman: Bambang Winarto - Lolos Moderasi Pada: 23 April 2022 “Pencuri!” teriakku. Tukang parkir mengejarnya, menambrakan badannya ke pencuri. Pencuri pun jatuh, berdiri, terus melarikan diri. Jantungku berdebar ketika tukang parkir tersebut mengembalikan sepeda motorku.

“Neng …, hati hati, saya Juna, Arjuna,” katanya sambil cerpen horor komedi tangan. “Terima kasih, saya » Baca lanjutan ceritanya. Gedung Nomor 302 Cerpen Kiriman: Dinda Dewi - Lolos Moderasi Pada: 15 April 2022 Namaku Jessi, seorang mahasiswi di salah satu universitas yang ada di Seoul.

Di umurku yang sudah menginjak 22 tahun ini aku memilih untuk tinggal terpisah dengan orangtuaku. Aku tinggal di sebuah apartemen yang berada tak jauh dari kampusku. Aku » Baca lanjutan ceritanya. Kejadian di Hutan Cerpen Kiriman: Ega Ardiana - Lolos Moderasi Pada: 15 April 2022 Namanya Agung, anak laki-laki yang tinggal di sebuah desa yang dikenal dengan sebutan desa keramat.

Tinggal hanya bersama neneknya saja, dengan kondisi yang sudah tua renta. Hidupnya bertopang dengan hasil hutan di sekitarnya, mencari kayu lalu dijual. Desanya dekat » Baca lanjutan ceritanya. Penghuni Rumah Terbengkalai Cerpen Kiriman: Shofa Nur Annisa Deas - Lolos Moderasi Pada: 13 April 2022 Cerita ini terjadi sudah sangat lama saat aku melakukan suatu hal yang paling bodoh dalam hidupku yaitu mengunjungi sebuah rumah yang terbengkalai.

Aku pergi kesana sendirian karena teman-temanku tidak ada yang berani mengikutiku karena banyak sekali cerita-cerita dan juga » Baca lanjutan ceritanya. Teror Di Karantina Cerpen Kiriman: Hardianti Kahar - Lolos Moderasi Pada: 13 April 2022 Karina merasa tidak enak badan.

Segera keluar dari kamarnya. Ia perlu menenangkan diri dari gadget yang selalu berbunyi, hingga suatu ketika Karina mendengar panggilan dari Mamanya Alice. “Sayang kamu gak ke mana-mana kan?” “Nggak Ma, lagipula aku kurang enak » Baca lanjutan ceritanya. Patung Pengantin Cerpen Kiriman: Shofa Nur Annisa Deas - Lolos Moderasi Pada: 7 April 2022 Rasanya sangat senang jika diterima pekerjaan setelah satu tahun menganggur.

Sekarang aku akan bekerja menjadi penjahit di toko gaun kota. Menurutku pekerjaan ini sangat mewah, karena toko ini selalu ramai didatangi wanita maupun pria meski kebanyakan wanita untuk mencari » Baca lanjutan ceritanya. Bunga Kematian Cerpen Kiriman: Shofa Nur Annisa Deas - Lolos Moderasi Pada: 7 April 2022 Pernah mendengar BUNGA KEMATIAN?.

Jika membaca Namanya apa yang dipikirkan bunga? Bunga yang dapat membawa kematian? Kematian?. Tidak semua itu bukan jawabannya. Menurut cerita turun-temurun yang ada di desa, BUNGA KEMATIAN adalah sebuah nama untuk seorang wanita yang datang » Baca lanjutan ceritanya. Sama (Part 2) Cerpen Kiriman: IllegalCreature41 - Lolos Moderasi Pada: 5 April 2022 Hujan turun membasahi kota. Rintiknya begitu deras, sampai-sampai membuat celanaku sudah kuyup lebih dulu. Aku termangu di depan gedung tempat ibu mendaftarkanku pada les sebuah mata pelajaran sebab musim ujian sudah tiba.

Tak lama kulihat sebuah mobil mendekat ke » Baca lanjutan ceritanya. Kategori Cerpen • Cerpen Anak (2,468) • Cerpen Bahasa Daerah (26) • Cerpen Bahasa Inggris (124) • Cerpen Bahasa Jawa (104) • Cerpen Bahasa Sunda (50) • Cerpen Budaya (92) • Cerpen Cinta (4,698) • Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam) (1,132) • Cerpen Cinta Islami (855) • Cerpen Cinta Pertama (350) • Cerpen Cinta Romantis (1,082) • Cerpen Cinta Sedih (2,465) • Cerpen Cinta Segitiga (970) • Cerpen Cinta Sejati (163) • Cerpen Covid 19 (Corona) (31) • Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat) (154) • Cerpen Fabel (Hewan) (255) • Cerpen Fantasi (Fiksi) (1,854) • Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction) (95) • Cerpen Galau (1,094) • Cerpen Gokil (177) • Cerpen Horor (Hantu) (1,173) • Cerpen Inspiratif (359) • Cerpen Islami (Religi) (889) • Cerpen Jepang (359) • Cerpen Kehidupan (1,722) • Cerpen Keluarga (3,305) • Cerpen Kisah Nyata (472) • Cerpen Korea (293) • Cerpen Kristen (53) • Cerpen Liburan (171) • Cerpen Lingkungan (153) • Cerpen Lucu (Humor) (613) • Cerpen Malaysia (9) • Cerpen Mengharukan (190) • Cerpen Misteri (1,043) • Cerpen Motivasi (657) • Cerpen Nasihat (561) • Cerpen Nasionalisme (85) • Cerpen Olahraga (32) • Cerpen Patah Hati cerpen horor komedi • Cerpen Penantian (318) • Cerpen Pendidikan (381) • Cerpen Pengalaman Pribadi (501) • Cerpen Pengorbanan (475) • Cerpen Penyesalan (1,283) • Cerpen Perjuangan (350) • Cerpen Perpisahan (672) • Cerpen Persahabatan (3,287) • Cerpen Petualangan (142) • Cerpen horor komedi Ramadhan (108) • Cerpen Remaja cerpen horor komedi • Cerpen Renungan (10) • Cerpen Rindu (49) • Cerpen Rohani (62) • Cerpen Romantis (672) • Cerpen Sastra (123) • Cerpen Sedih (2,519) • Cerpen Sejarah (24) • Cerpen Slice Of Life (202) • Cerpen Terjemahan (9) • Cerpen Thriller (Aksi) (297)
Pict on: clipartlord.com Menulis cerpen horror itu susah enggak, sih?

Bagaimana dengan komedi? Nah, kalau keduanya digabungkan? Dobel susah kali, ya?! Cerpen horor komedi pernah ‘nekad’ mengikuti salah-satu lomba yang diadakan Grup Untuk Sahabat aka UNSA, yakni tentang horror atau cerita menyeramkan.

Karena dari awal sudah pesimis, hasilnya pun… kalah. Dan dari sana, rasanya daku tak akan ikut-ikutan lagi. Hehe… Soal komedi, rasanya akan selalu hadir menjadi bumbu, ya. Sensasi humor akan menjadi penyedap atau penambah rasa untuk sebuah cerita. Baik itu yang bergenre romantis, cerita ala detektif, fantasi, dsb. Tapi bagaimana jadinya kalau komedi ini disandingkan dengan… horror? Nah, lho?! Baca Juga : Resensi Buku "The Book of SEO" Rianto Astono Uncle Dang Aji Sidik kemudian melempar tema HorKom atau Horror Komedi, untuk dijadikan tantangan bagi 8 besar UNSA Ambassador 2016.

Ah ya, selamat ya bagi yang sudah lolos sampai tahap ini. Sementara untuk yang tereliminasi… kalian tetap keren. Bagaimana pun, terjungkal di event yang adakan UNSA itu termasuk keren.

cerpen horor komedi

🙂 Tugas 2 UNSA Ambassador aka UNSAM Tahun 2016 Ketentuan: • Setiap finalis Top 8 membuat sebuah cerpen bertema: Hantu Entrepreneur (entrepreneur di dunia perhantuan) • Genre: Horor Komedi • Aturan naskah: 3 s/d 4 halaman, kertas A4, spasi 1.5, TNR 12, margin standar. • Pada naskah tidak perlu melampirkan biodata hanya menulis nama pena di bawah judul cerpen.

• Naskah dikirim ke email: unsam016@gmail.com, subyek : “tugas 2 unsam 2016” • Batas waku mengirim naskah: 15 s/d 18 Sept 2015, jam 12 siang. • Finalis yang mengirim tugas melewati batas waktu yang sudah ditetapkan maka otomatis terelimnasi. • Tiga finalis dengan nilai terendah dari juri undangan akan masuk bottom 3.

2 finalis akan tereliminasi, dan 1 akan diselamatkan admin Unsa. • Lima naskah pilihan Juri akan diposting di wall Fb UNSA. Baca Juga : 11 Tips Trik Menulis yang Aneh, Unik, dan Menarik Selamat menulis, -Pansel Unsam 2016 Tips untuk Menulis Cerpen Horror Cerpen horor komedi Yang satu ini bisa dengan mudah didapatkan di Google, atau bertanya cerpen horor komedi mereka yang sudah ahli di bidangnya.

Dari kacamata orang awam, daku menilai kalau cerita horror itu mesti bisa mendeskripsikan segala sesuatunya dengan detail dan jelas. Sementara untuk komedinya memang relatif. Pernah waktu menonton Stand Up Comedy, daku ngakak sendirian.

Sementara itu Mimih hanya melongo dan menganggapnya tidak lucu. -_- Gampang-gampang, susah. Mungkin kita mesti tahu konteksnya juga. Cerita tersebut tentang apa, ditujukan untuk siapa, ditulis di tahun kapan, pemilihan katanya bagaimana, dsb. Contoh Cerpen Horror Komedi Oh ya, ternyata daku juga pernah menulis cerpen sejenis ini. Sudah lama. Tapi siapa tahu ada yang pengin baca, silakan baca, ya.

Judulnya: The Pocong Is My Best Friend. #RD

cerpen horor komedi

Ketika Bakso Setan dipalak Preman #HORORKOMEDI




2022 www.videocon.com