Askep kejang demam

askep kejang demam

Serangan kejang biasanya terjadi 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat askep kejang demam kejang dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun sejenak tapi setelah beberapa detik atau menit anak akan sadar tanpa ada kelainan saraf.

Penyebab kejang demam adalah infeksi respiratorius bagian atas dan astitis media akut. Pemberian antibiotik yang adekuat untuk mengobati penyakit tersebut. Pada pasien yang diketahui kejang lama pemeriksaan lebih askep kejang demam seperti fungsi lumbal, kalium, magnesium, kalsium, natrium dan faal hati. Bila perlu rontgen foto tengkorak, EEG, ensefalografi, dll. • ▼ 2012 (9) • ▼ Agustus (8) • ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN LUKA BAKAR (.

• ASKEP PADA PASIEN DENGAN NYERI DADA (CHEST PAIN) • ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN SNAKE BITE • PNEUMONIA + GAGAL NAFAS • ASKEP PADA PASIEN DENGAN ANGINA PEKTORIS • ASKEP PADA PASIEN DENGAN KEJANG DEMAM • ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INTOKSIKASI INSEKT. • ASKEP PADA PASIEN DENGAN AKUT MIOCARD INFARK (AMI) • ► April (1) • ► 2011 (3) • ► Desember (2) • ► Oktober (1) • Home • Keperawatan • Anatomi Fisiologi • Askep • Blogger • Coretan Perawat • Farmakologi • Kumpulan Materi • Kumpulan SAP • Maternitas • Rumus • Serba Serbi • Umum • Diagnosa • NANDA 2012 • NANDA 2014 • NANDA 2015 • NANDA 2017 • NANDA 2018 • NANDA 2018-2020 • UKOM • Hasil UKOM • Strategi UKOM • UKOM D3 • UKOM Ners • Kami • Disclamier • Kontak Kami • Peta Situs • Privacy Policy • Tentang Kami • Diagnosa dan Intervensi Asuhan Keperawatan Kejang Demam Anak pdf, doc Part 2 A.

Definisi Kejang Demam merupakan bangkitnya kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.

Consensus Statement on Febrile Seizure (1980), kejang demam yaitu suatu kejadian pada bayi atau anak, dan umumnya terjadi antara usia 3 bulan dan 5 tahun. Perbedaan antara kejang dengan epilepsi, yaitu epilepsi kejang berulang tanpa demam. ( Mansjoer, 2000 : 434 ) Post Kejang merupakan sebuah insiden pasca pasien mengalami sebuah kejang dalam beberapa menit. Kejang renjatan terjadi secara singkat, dan penyimpangan kesadaran secara askep kejang demam.

Kejang renjatan lebih sering terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa. Seseorang yang mengalami kejang mungkin terlihat seperti dia menatap kosong ke ruang angkasa selama beberapa detik dengan disertai renjatan pada kedua lengan dan kaki. Kemudian, ada kembali cepat ke tingkat kewaspadaan normal. Jenis kejang ini biasanya tidak menyebabkan cedera fisik. Ketiadaan kejang biasanya dapat dikontrol dengan obat anti kejang. Beberapa anak yang memilikinya juga mengalami kejang lain. Di usia remaja biasanya kejadian kejang akan berkurang dan akan hilang ketika dewasa.

B. Etiologi Sampai sekarnag belum diketahui dengan pasti penyebab kejang tersebut. Demam sering disebabkan infeksi saluran pernafasan atas, OMA, pneumonia, gastroenteritis serta juga ISK.

Kejang tidak selalu timbul pada keadaan suhu anak yang tinggi. Kadang – kadang demam juga dapat terjadi disuhu demam yang rendah. (Mansjoer, 2000 : 434 ). Banyak anak-anak tampaknya memiliki kecenderungan genetik terhadap kejang ketidakhadiran. Secara umum, kejang disebabkan oleh impuls listrik abnormal dari sel-sel saraf (neuron) di otak. Sel-sel saraf otak biasanya mengirim sinyal listrik dan kimia di seluruh sinapsis yang menghubungkan mereka.

Pada orang yang mengalami kejang, aktivitas listrik otak yang biasa berubah. Selama tidak ada kejang, sinyal-sinyal listrik berulang askep kejang demam dalam pola tiga detik.

Orang-orang yang mengalami kejang mungkin juga telah mengubah tingkat kurir kimia yang membantu sel-sel saraf berkomunikasi satu sama lain (neurotransmiter). C. Gejala Indikasi kejang ketidakhadiran sederhana adalah tatapan kosong, yang mungkin keliru untuk selang perhatian yang berlangsung sekitar 10 detik, meskipun mungkin berlangsung selama 20 detik, tanpa kebingungan, sakit kepala atau mengantuk sesudahnya.

Tanda dan gejala kejang meliputi: • Tiba-tiba berhenti bergerak tanpa askep kejang demam • Mengecap bibir • Kelopak mata berdebar-debar • Gerakan mengunyah • Menggosok jari • Gerakan kecil kedua tangan Setelah itu, tidak ada ingatan tentang kejadian itu.

Beberapa orang memiliki banyak episode setiap hari, yang mengganggu kegiatan sekolah atau sehari-hari. Seorang anak mungkin mengalami kejang untuk beberapa waktu sebelum orang dewasa mengetahui kejang, karena mereka begitu singkat. Penurunan kemampuan belajar anak mungkin menjadi tanda pertama gangguan ini. Guru dapat berkomentar tentang ketidakmampuan anak untuk memperhatikan atau bahwa seorang anak sering berkhayal.

D. Patofisiologi Kejang dapat terjadi akibat lepasnya muatan paroksismal yang berlebihan dari sebuah fokus kejang atau dapat juga yang berasal dari jaringan normal yang mengalami gangguan akibat suatu keadaan patologik.

Sebagian aktivitas kejang bergantung pada lokasi dimana muatan yang berlebihan tersebut berada. Lesi di yang berasal dari otak tengah, talamus, dan korteks serebrum kemungkinan besar memiliki sifat apileptogenik, sedangkan untuk lesi di serebrum dan juga batang otak umumnya tidak menimbulkan kejang. Di membran sel, memperlihatkan beberapa fenomena pada sel fokus kejang yaitu biokimiawi, termasuk yang berikut : • Instabilitas membran sel saraf, yang akan menyebabkan sel lebih mudah mengalami pengaktifan.

• Ambang untuk melepaskan muatan menurun pada Neuron-neuron hipersensitif dan apabila terpicu akan terjadi pelepasan muatan secara berlebihan.

askep kejang demam

• Abnormal polarisasi (polarisasi berlebihan, hipopolarisasi, atau juga selang waktu dalam repolarisasi) disebabkan oleh berbagai kelebihan asetilkolin atau juga disebabkan oleh defisiensi asam gama-aminobutirat (GABA). • Ketidakseimbangan ion dalam mengubah keseimbangan antara asam-basa atau elektrolit, yang mengganggu homeostatis kimiawi neuron sehingga akan mengakibatkan kelainan depolarisasi neuron.

Keadaan ini menyebabkan peningkatan berlebihan neurotransmitter aksitatorik atau juga deplesi neurotransmitter inhibitorik. Perubahan metabolik yang terjadi selama kejang dan segera setelah kejang sebagian besar dipacu oleh meningkatkannya kebutuhan energi yang disebabkan oleh hiperaktivitas neuron.

Selama terjadi kejang, kebutuhan metabolik mengalami peningkatan, lepas muatan listrik sel-sel saraf motorik askep kejang demam menjadi 1000 per detik.

Aliran darah otak akan meningkat, serta respirasi dan glikolisis jaringan juga meningkat. Asetilkolin berada di cairan serebrospinalis (CSS) selama dan setelah terjadinya kejang. Asam glutamat mungkin akan mengalami deplesi selama aktivitas kejang terjadi. Umumnya, tidak dijumpai kelainan yang nyata pada saat dilakukan autopsi. Bukti histopatologik menunjang hipotesis menunjukkan bahwa keadaan lesi lebih bersifat neurokimiawi dan bukan struktural.

Kelainan fokal di dalam metabolisme kalium serta asetilkolin dijumpai diantara kedua kejadian kejang. Fokus kejang sangat peka terhadap asetikolin. E. Faktor risiko Faktor-faktor tertentu umum terjadi pada anak-anak yang mengalami kejang, termasuk: • Usia. Ketiadaan kejang lebih sering terjadi pada anak-anak antara usia 4 dan 14 tahun. • Jenis Kelamin. Ketiadaan kejang lebih sering terjadi pada anak perempuan.

• Anggota keluarga yang mengalami kejang. Hampir setengah dari anak-anak dengan kejang ketidakhadiran memiliki kerabat dekat yang memiliki kejang. F. Komplikasi Sebagian besar anak-anak yang mengalami kejang harus mengatasi kejang dengan beberapa cara, di antaranya: • Harus mengambil obat anti-seizure sepanjang hidup untuk mencegah kejang • Akhirnya mengalami kejang penuh, seperti kejang tonik-klonik umum Komplikasi lain dapat termasuk: • Kesulitan belajar • Masalah perilaku • Isolasi sosial G.

Pemeriksaan Diagnostik Tim medis akan meminta penjelasan rinci tentang kejang dan melakukan pemeriksaan fisik. Tes mungkin termasuk: • Electroencephalography (EEG). Prosedur tanpa rasa sakit ini mengukur gelombang aktivitas listrik di otak. Gelombang otak ditransmisikan ke mesin EEG melalui elektroda kecil yang melekat pada kulit kepala dengan pasta atau topi elastis. Pernapasan cepat (hiperventilasi) selama studi EEG menyatakan bawah hiperventilasi dapat memicu kejang.

Selama askep kejang demam, pola pada EEG berbeda dari pola normal. • MRI. Dalam ketiadaan kejang, studi pencitraan otak, seperti magnetic resonance imaging (MRI), akan normal. Tetapi tes seperti MRI dapat menghasilkan gambar otak yang terperinci, yang dapat membantu menyingkirkan masalah lain, seperti stroke atau tumor otak. Karena anak perlu diam untuk waktu yang lama, bicarakan dengan dokter tentang kemungkinan penggunaan sedasi.

H. Pengobatan Selama terjadi kejang harap segera lakukan tindakan berikut ini : • Buka pakaian anak atau longgarkan pakaiannya.

askep kejang demam

• Posisikan keadaan kepala miring agar mencegah aspirasi lambung ke paru. • Bebaskan jalan nafas agar menjamin kebutuhan oksigen bila perlu lakukan intubasi atau trakeostomi. • Lakukan suction secara teratur dan diberikan oksigen, bila perlu. Dokter mungkin akan mulai dengan dosis terendah obat anti-kejang mungkin dan meningkatkan dosis yang diperlukan untuk mengontrol kejang.

askep kejang demam

Anak-anak mungkin dapat mengurangi obat anti-kejang, di bawah pengawasan dokter, setelah mereka bebas kejang selama dua tahun. Obat yang diresepkan untuk tidak adanya kejang meliputi: • Ethosuximide (Zarontin).

Ini adalah obat yang paling dimulai oleh Tim medis karena tidak ada kejang. Dalam kebanyakan kasus, kejang merespon dengan baik terhadap obat ini. Kemungkinan efek samping termasuk mual, muntah, kantuk, kesulitan tidur, hiperaktif. • Asam valproat (Depakene). Gadis yang terus membutuhkan pengobatan hingga dewasa harus mendiskusikan potensi risiko asam valproik dengan dokter mereka. Asam valproat telah dikaitkan dengan risiko cacat lahir yang lebih tinggi pada bayi, dan Tim medis menyarankan wanita untuk tidak menggunakannya selama kehamilan atau ketika mencoba untuk hamil.

• Tim medis mungkin merekomendasikan penggunaan asam valproik pada anak-anak yang memiliki kejang absensi dan kejang grand mal (tonik-klonik).

• Lamotrigin (Lamictal). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa obat ini kurang efektif daripada ethosuximide atau asam valproic, tetapi memiliki efek samping yang lebih sedikit. Efek samping mungkin termasuk ruam dan mual. I. Gaya hidup dan pengobatan rumah Terapi diet Mengikuti diet yang tinggi lemak dan rendah karbohidrat, yang dikenal sebagai diet ketogenik, dapat meningkatkan kontrol kejang.

Ini hanya digunakan jika obat tradisional gagal mengendalikan kejang. Diet ini tidak mudah untuk dipertahankan, tetapi berhasil mengurangi kejang untuk beberapa orang. Variasi pada diet tinggi lemak, rendah karbohidrat, seperti indeks glikemik dan diet Atkins yang dimodifikasi, meskipun kurang efektif, tidak begitu ketat seperti diet ketogenik dan mungkin juga memberikan manfaat.

Opsi tambahan Berikut adalah langkah-langkah lain yang mungkin di ambil askep kejang demam membantu dengan kontrol kejang: • Minum obat dengan benar. Jangan menyesuaikan dosisnya sebelum berbicara dengan Tim medis. Jika Askep kejang demam merasa obat Anda harus diubah, diskusikan dengan Tim medis. • Tidur yang cukup. Kurang tidur dapat memicu kejang. Pastikan untuk cukup istirahat setiap malam. • Kenakan gelang peringatan medis. Ini akan membantu personil darurat mengetahui cara memperlakukan Anda dengan benar jika Anda memiliki kejang lain.

• Tanyakan kepada Tim medis tentang mengemudi atau pembatasan rekreasi. Seseorang dengan gangguan kejang harus bebas kejang selama jangka waktu yang wajar (interval bervariasi dari satu negara bagian ke negara bagian) sebelum dapat mengemudi. Jangan mandi atau berenang kecuali ada orang lain di dekatnya untuk membantu jika diperlukan. j. Koping dan Suport Jika anak hidup dengan gangguan kejang, Anda mungkin merasa cemas atau stres tentang masa depan Anda.

Stres dapat memengaruhi kesehatan mental Anda, jadi penting untuk berbicara dengan Tim medis tentang perasaan Anda dan mencari sumber bantuan. • Di rumahAnggota keluarga Anda dapat memberikan dukungan yang sangat dibutuhkan. Beri tahu mereka apa yang Anda ketahui tentang gangguan kejang.

Beri tahu mereka bahwa mereka dapat mengajukan pertanyaan, dan buka percakapan tentang kekhawatiran mereka. Bantu mereka memahami kondisinya dengan berbagi materi pendidikan atau sumber daya lain yang diberikan Tim medis.

• Di sekolahBicaralah dengan guru anak Anda dan pelatih tentang gangguan kejang anak Anda dan bagaimana hal itu mempengaruhi anak Anda di sekolah. Diskusikan apa yang mungkin dibutuhkan anak Anda dari mereka jika kejang terjadi di sekolah.

• Kamu tidak sendiriIngat, Anda tidak harus melakukannya sendiri. Jangkau keluarga dan teman-teman. Tanyakan kepada Tim medis tentang kelompok dukungan lokal atau bergabung dengan komunitas dukungan online. Jangan takut untuk meminta bantuan. Memiliki sistem pendukung yang kuat penting untuk hidup dengan kondisi medis apa pun.

• Membuat Daftar Pertanyaan dan JawabanMenyiapkan daftar pertanyaan akan membantu Anda memanfaatkan waktu dengan Tim medis. Untuk ketiadaan kejang, beberapa pertanyaan dasar untuk ditanyakan kepada Tim medis meliputi: • Apa penyebab yang paling mungkin dari gejala-gejala ini? • Tes askep kejang demam yang dibutuhkan? Apakah tes-tes ini memerlukan persiapan khusus? • Apakah kondisi ini sementara atau bertahan lama? • Perawatan apa yang tersedia, dan mana yang Anda rekomendasikan?

• Apa efek samping dari perawatan? • Apakah ada alternatif umum untuk obat yang Anda resepkan? • Dapatkah anak saya juga mengembangkan tipe kejang grand mal?

• Apakah pembatasan aktivitas diperlukan? Apakah kegiatan fisik, seperti sepak bola, sepak bola, dan berenang, oke? • Apakah Anda memiliki brosur atau askep kejang demam cetak lainnya yang bisa saya ambil? Situs web apa yang Anda rekomendasikan? • Tim medis Anda mungkin akan menanyakan beberapa pertanyaan, seperti: • Kapan gejala dimulai?

• Seberapa sering gejala-gejalanya terjadi? • Bisakah Anda menggambarkan kejang khas? • Berapa lama serangan terakhir? • Adakah kesadaran tentang apa yang terjadi setelah kejang?

K. Konsep Asuhan Keperawatn Kejang Demam Anak • Riwayat kesehatan bayi atau anak. Riwayat kelahiran atau ketika dalam neonatus, penyakit kronis, neoplasma, immunosupresi, infeksi telinga dalam atau OMA, meningitis atau enchepalitis, tumor otak.

• Pemeriksaan fisik. Kejang tumumnya terjadi pada usia 6 bulan – 4 tahun. Pemeriksaan fisik juga dipengaruhi oleh usia dan organime penyebab, perubahan tingkat kesadaran, irritable, kejang tonik-klonik, tonik, klonik, takikardi, dan pola nafas, muntah serta hasil pungsi lumbal yang terlihat abnormal. • Psikososial atau askep kejang demam perkembangan.

Umur, tingkat perkembangan, dan juga kebiasaan (apakah anak merasa nyaman, tidur teratur dan puas, benda yang difavoritkan), mekanisme koping, dan juga riwayat penyakit sebelumnya.

askep kejang demam

• Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga. • Kelainan dalam perkembangan atau juga ditemukan kelainan saraf sebelum anak menderita kejang demam askep kejang demam Lama berlangsungnya kejang. • Frekuensi terjadinya kejang dalam 1 tahun. • Adanya anggota keluarga yang pernah menderita kejang sebelumnya. Pengkajian Neurologik • Tanda – Tanda Vital Suhu, tekanan darah, denyut jantung, TD, Denyut nadi. • Hasil pemeriksaan kepala a. Fontal : menonjol, rata, dan cekung.

b. Lingkar kepala ( di bawah umur 2 tahun ) c. Bentuk umum. • Reksi pupil a. Ukuran b. Reaksi terhadap cahaya c. Kesamaan respons • Tingkat kesadaran a. Kewaspadaan (respon terhadap panggilan dan perintah ) b.

Iritabilitas c. Letargi dan rasa mengantuk d. Orientasi terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan. • Afek Alam perasaan, labilitas. • Aktivitas kejang Jenis dan lamanya. • Fungsi sensoris a. Reaksi terhadap nyeri b. Reaksi terhadap suhu • Refleks a. Refleks tendo superfisial dan dalam b. Adanya refleks patologik ( misalnya : Babinski ) • Kemampuan intelektual a.

askep kejang demam

Kemampuan menulis dan menggambar b. Kemampuan membaca • Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kelelahan otot pernapasan • Ketidak efektifan bersihan jalan nafas b'd peningkatan sekresi mucus • Nyeri berhubungan dengan perubahan metabolisme, ditandai dengan : klien secara non verbal menunjukkan gambar yang mewakili rasa sakit yang dialami,menangis askep kejang demam meringis • Hipertermi bd efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus • Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses patologis • Gangguan volume cairan kurang dari kebutuhann tubuh b'd peningkatan suhu tubuh • Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurangnya informasi • Resiko kurangnya volume cairan dan elektrolit • Resiko tinggi Kerusakan sel otak • Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan perubahan kesadaran, kerusakan kognitif selama kejang, atau kerusakan mekanisme perlindungan diri.

• Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b'd intake yang adekuat Oke Sekianlah artikel kami yang membahas mengenai Asuhan Keperawatan Kejang Demam Anak pdf, doc, semoga artikel ini bermanfaat bagi teman-teman semua, dan jangan lupa share artikel kami ini jika bermanfaat dan tetap mencantumkan link blog kami. Jangan bosan untuk membaca artikel lainnya disini, Sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Kejang demam merupakan salah satu kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada bayi dan anak.

Dari penelitian oleh beberapa pakar didapatkan bahwa sekitar 2,2%-5% anak pernah mengalami kejang demam sebelum mereka mencapai umur 5 tahun. Penelitian di jepang bahkan mendapatkan angka kejadian (inseden) yang lebih tinggi, yaitu Maeda dkk, 1993 mendapatkan angka 9,7% (pada pria 10,5% dan pada wanita 8,9% dan Tsuboi mendapatkan angka sekitar 7%.

Kejadian kejang demam diperkirakan 2-4% da Amerika Serikat, Amerika Selatan dan Eropa Barat. Di Asia lebih tinngi kira-kira 20% kasus merupakan kejang demam komplek.Akhir-akhir ini kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 golongan yaitu kejang demam sederhana yang berlangsung kurang dari 15 menit dan umum, dan kejang demam komplek yang berlangsung lebih dari dari 15 menit, fokal atau multifel (lebih dari 1 kali kejang demam dalam 24 jam) (Arif Manajer, 2000). Kejang demam bisa diakibatkan oleh infeksi ekstrakranial seperti ISPA, radang telinga, campak, cacar air.

Dalam keadaan demam, kenaikan suhu tubuh sebesar 1 0C pun bisa mengakibatkan kenaikan metabolisme basal yang mengakibatkan peningkatan kebutuhan oksigen jaringan sebesar 10 – 15 % dan otak sebesar 20 %. Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka anak akan kejang. Umumnya kejang tidak akan menimbulkan dampak sisa jika kejang tersebut berlangsung kurang dari 5 menit tetapi anak harus tetap mendapat penanganan agar tidak terjadi kejang ulang yang biasanya lebih lama frekuensinya dari kejang pertama.

Timbulnya kejang pada anak akan menimbulkan berbagai masalah seperti resiko cidera, resiko terjadinya aspirasi atau yang lebih fatal adalah lidah jatuh ke belakang yang mengakibatkan obstruksi pada jalan nafas. Hemiparesis biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama (berlangsung lebih dari setengah jam) baik bersifat umum maaupun fokal, kelumpuhannya sesuai dengan kejang vokal yang terjadi.

Mula-mula kelumpuhannya bersifat flasid, tetapi setelah 2 minggu spasitisitas. Milichap (1998) melaporkan dari 1990 anak menderita kejang demam, hanya 0,2 % saja yang mengalami hemiparese sesudah kejang lama. Dengan melihat latar belakang tersebut, masalah atau kasus ini dapat diturubkan melalui upaya pencegahan dan penanggulangan optimal yang diberikan sedini mungkin pada anak.

Dan perlu diingat bahwa askep kejang demam penanggulangan kejang demam ini bukan hanya masalah di rumah sakit tetapi mencskup permasalahan yang menyeluruh dimulai dari individu anak tersebut, keluarga, kelompok maupun masyarakat.

Berdasarkan hal diatas bahwa energi otak adalah glukosa yang melalui proses oxidasi, dan dipecah menjadi karbon dioksida dan air. Sel dikelilingi oleh membran sel. Yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dengan mudah dapat dilalui oleh ion Kalium (K +).

Akibatnya konsentrasi K + dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi NA + rendah. Sedangkan di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya,karena itu terdapat perbedaan jenis dan askep kejang demam ion didalam dan diluar sel. Maka terdapat perbedaan membran yang disebut potensial membran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NA, K, ATP yang terdapat pada permukaan sel.

Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Dan karena itu pada anak tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam singkat terjadi difusi di ion K + maupun ion NA + melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan listrik. Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter sehingga mengakibatkan terjadinya kejang.

Kejang yang yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea, NA meningkat, kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis.

Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat : misalnya tonsilitis, otitis media akut, ISPA, UTI, serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam,berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik.

EEG merupakan cara untuk askep kejang demam aktivitas listrik otak melalui tengkorang yang utuh untuk menentukan adanya kelainan pada SSP, EEG dilakukan sedikitnya 1 minggu setelah suhu normal. Tidak menunjukkan kelainan pada kejang demam sederhana, gelombang EEG yang lambat di daerah belakang dan unilateral menunjukkan kejang demam kompleks Seringkali kejang berhenti sendiri.

Pada waktu kejang pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan napas harus bebas agar oksigennisasi terjamin. Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu, pernapasan dan fungsi jantung.

Suhu tubuh tinggi diturunkan dengan kompres air dan pemberian antipiretik. Obat yang paling cepat menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan intravena atau intrarektal.

Dosis diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1-2 mg/menit dengan dosis maksimal 20 mg. bila kejang berhenti sebelum diazepam habis, hentikan penyuntikan, tunggu sebentar, dan bila tidak timbul kejang lagi jarum dicabut.

Bila diazepam intravena tidak tersedia atau pemberiannya sulit gunakan diazepam intrarektal 5 mg (BB≤10 kg) atau 10 mg(BB≥10kg) bila kejang tidak berhenti dapat diulang selang 15 menit kemudian. Bila tidak berhenti juga, berikan fenitoin dengan dosis awal 10-20 mg/kgBB secara intravena perlahan-lahan 1 mg/kgBb/menit.

Setelah pemberian fenitoin, harus dilakukan pembilasan dengan Nacl fisiologis karena fenitoin bersifat basa dan menyebabkan iritasi vena. Bila kejang berhenti dengan diazepam, lanjutkan dengan fenobarbital diberikan langsung setelah kejang berhenti. Dosis awal untuk neonatus 30 mg, bayi 1 bulan -1 tahun 50 mg dan umur 1 tahun ke atas 75 mg secara intramuscular. Empat jama kemudian diberikan fenobarbital dosis rumat. Untuk 2 hari pertama dengan dosis 8-10 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis, untuk hari-hari berikutnya dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis.

Selama keadaan belum membaik, obat diberikan secara suntikan dan setelah membaik per oral. Perhatikan bahwa dosis total tidak melebihi 200mg/hari. Efek sampingnya adalah hipotensi,penurunan kesadaran dan depresi pernapasan.

askep kejang demam

Bila kejang berhenti dengan fenitoin,lanjutkna fenitoin dengan dosis 4-8mg/KgBB/hari, 12-24 jam setelah dosis awal. Penyebab dari kejang demam baik kejang demam sederhana maupun kejang epilepsi yang diprovokasi oleh demam biasanya ISPA dan otitis media akut.

Pemberian antibiotika yang tepat dan adekuat utnuk mengobati infeksi tersebut.

askep kejang demam

Biasanya dilakukan pemeriksaan fungsi lumbal untuk mengetahui faktor resiko infeksi di dalam otak, misalnya: meningitis. Apabila menghadapi penderita dengan kejang demam lama, pemeriksaan yang intensif perlu dilakukan, seperti: pemeriksaan darah lengkap. 1) Pengobatan profilaksis intermiten: untuk mencegah terulangnya kejadian demam dikemudian hari, orang tua atau pengasuh harus cepat mengetahui bila anak menderita demam.

Disamping pemberian antipiretik, obat yang tepat untuk mencegah kejang waktu demam adalah diazepam intrarektal. Diberiakan tiap 12 jam pada penderita demam dengan suhu 38,5 oC atau lebih. Dosis Diazepam diberikan 5 mg untuk anak kurang dari 3 tahun dan 7,5 mg untuk anak lebih dari 3 tahun atau dapat diberikan Diazepam oral 0,5 mg/kgBB pada waktu penderita demam (berdasarkan resep dokter).

Merupakan tahap terakhir dalam proses keperawatan. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan dalam keperawatan tercapai atau tidak untuk melakukan pengkajian ulang untuk menilai apakah tujuan tercapai sebagian, seluruhnya atau tidak tercapai dapat dibuktikan dari perilaku pasien dan pemeriksaan penunjang lainnya.

Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang sering dijumpai pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat. Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam.

Anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku, kelojotan dan memutar matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, napas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah kejang, anak akan segera askep kejang demam kembali. Kejang biasanya berakhir kurang askep kejang demam 1 menit, tetapi walaupun jarang dapat terjadi selama lebih dari 15 menit.

• ► 2022 (15) • ► April (2) • ► Maret (2) • ► Februari (11) • ► 2021 (24) • ► Agustus (1) • ► Juli (1) • ► Juni (4) • ► Mei (5) • ► Maret (1) • ► Februari (11) • ► Januari (1) • ► 2020 (862) • ► Agustus (1) • ► Juni (21) • ► Mei (185) • ► April (388) • ► Maret (215) • ► Februari (18) • ► Januari (34) • ► 2019 (2) • ► Januari (2) • ► 2018 (10) • ► Maret askep kejang demam • ► Februari (2) • ► 2017 (237) • ► Juni (31) • ► Mei (76) • ► April (23) • ► Maret (29) • ► Februari (34) • ► Januari (44) • ► 2016 (98) • ► Desember (38) • ► November (11) • ► Oktober (7) • ► September (42) • ► 2015 (3) • ► April (3) • ► 2014 (13) • ► November (1) • ► Oktober (1) • ► September (3) • ► Agustus (1) • ► Juli (1) • ► Maret (2) • ► Februari (2) • ► Januari (2) • ▼ 2013 (43) • ► Desember (2) • ► November (2) • ► Oktober (3) • ► September (2) • ► Agustus (2) • ► Juli (4) • ► Juni (2) • ► Mei (5) • ► April (6) • ▼ Maret (9) • MAKALAH ASKEP BAYI DENGAN ASFIKSIA NEONATURUM • MAKALAH ASKEP PLASENTA PREVIA • MAKALAH ASKEP PERDARAHAN POST PARTUM • MAKALAH ASKEP PASIEN ANAK DENGAN KEJANG DEMAM • MAKALAH ASKEP PADA PASIEN DENGAN BUNUH DIRI • MAKALAH ASKEP PADA ANAK DENGAN KEKURANGAN VITAMIN A • MAKALAH ASKEP PADA ANAK DENGAN CEREBRAL PALSY • MAKALAH ASKEP MENINGITIS PADA ANAK • MAKALAH ASKEP MATERNITAS RETENSIO PLASENTA • ► Februari (5) • ► Januari (1) • ► 2012 (32) • ► Desember (11) • ► November (6) • ► Oktober (15) KEJANG DEMAM • PENGERTIAN Kejang merupakan perubahan fungsi otak mendadak dan sementara sebagai akibat dari aktivitas neuronal yang abnormal dan pelepasan listrik serebral yang berlebihan.(betz & Askep kejang demam Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh ( suhu rektal diatas 38 0 C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.

Jadi kejang demam adalah kenaikan suhu tubuh yang menyebabkan perubahan fungsi otak akibat perubahan potensial listrik serebral yang berlebihan sehingga mengakibatkan renjatan berupa kejang. • ETIOLOGI Infeksi ekstrakranialmisalnya OMA dan infeksi respiratorius bagian atas • PATOFISIOLOGI Peningkatan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam askep kejang demam singkat terjadi difusi ion kalium dan natrium melalui membran tersebut dengan akibat teerjadinya lepas muatan listrik.

Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmiter dan terjadi kejang.

askep kejang demam

Kejang demam yang terjadi singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama ( lebih dari 15 menit ) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat yang disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat yang disebabkan oleh makin meningkatnya aktivitas otot, dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat.

Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mngakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang dikemudian hari sehingga terjadi serangan epilepsi spontan, karena itu kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis diotak hingga terjadi epilepsi.

Pathway MANIFESTASI KLINIK • Kejang parsial ( fokal, lokal ) • Kejang parsial sederhana : Kesadaran tidak terganggu, dapat mencakup satu atau lebih hal berikut ini : • Tanda – tanda motoris, kedutan pada wajah, atau salah satu sisi tubuh; umumnya gerakan setipa kejang sama.

• Tanda atau gejala otonomik: muntah, berkeringat, muka merah, dilatasi pupil. • Gejala somatosensoris atau sensoris khusus : mendengar musik, merasa seakan ajtuh dari udara, parestesia. • Gejala psikis : dejavu, rasa takut, visi panoramik. • Kejang parsial kompleks • Terdapat gangguankesadaran, walaupun pada awalnya sebagai kejang parsial simpleks • Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik : mengecap – ngecapkan bibir,mengunyah, gerakan menongkel yang berulang – ulang pada tangan dan gerakan tangan lainnya.

• Dapat tanpa otomatisme : tatapan terpaku • Kejang umum ( konvulsi atau non konvulsi ) • Kejang absens • Gangguan kewaspadaan dan responsivitas • Ditandai dengan tatapan terpaku yang umumnya berlangsung kurang dari 15 detik • Awitan dan akhiran cepat, setelah itu kempali waspada dan konsentrasi penuh • Kejang mioklonik • Kedutan – kedutan involunter pada otot atau sekelompok otot yang terjadi secara mendadak.

• Sering terlihat pada orang sehat selaam tidur tetapi bila patologik berupa kedutan keduatn sinkron dari bahu, leher, lengan atas dan kaki.

• Umumnya berlangsung kurang askep kejang demam 5 detik dan terjadi dalam kelompok • Kehilangan kesadaran hanya sesaat. • Kejang tonik klonik • Diawali dengan kehilangan kesadaran dan saat tonik, kaku umum pada otot ekstremitas, batang tubuh dan wajah yang berlangsung kurang dari 1 menit • Dapat disertai hilangnya kontrol usus dan kandung kemih • Saat tonik diikuti klonik pada ekstrenitas atas dan bawah.

• Letargi, konvulsi, dan tidur dalam fase postictal • Kejang atonik • Hilngnya tonus secara mendadak sehingga dapat menyebabkan kelopak mata turun, kepala menunduk,atau jatuh ke tanah. • Singkat dan terjadi tanpa peringatan. • KOMPLIKASI • Aspirasi • Asfiksia • Retardasi mental • UJI LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK • Elektroensefalogram ( EEG ) : dipakai unutk membantu menetapkan jenis dan fokus dari kejang.

• Pemindaian CT : menggunakan kajian sinar X yang lebih sensitif dri biasanya untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan. • Magneti resonance imaging ( MRI ) : menghasilkan bayangan dengan menggunakan lapanganmagnetik dan gelombang radio, berguna untuk memperlihatkan daerah – daerah otak yang itdak jelas terliht bila menggunakan pemindaian CT • Pemindaian positron emission tomography ( PET ) : untuk mengevaluasi kejang yang membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi, perubahan metabolik atau alirann darah dalam otak • Uji laboratorium • Pungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler • Hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematokrit • Panel elektrolit • Skrining toksik dari serum dan urin • GDA • Kadar kalsium darah • Kadar natrium darah • Kadar magnesium darah • PENATALAKSANAAN MEDIS • Memberantas kejang Secepat mungkin Diberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih dalam keadaan kejang, ditunggu selama 15 menit, bila masih terdapat kejang diulangi suntikan kedua dengan dosis askep kejang demam sama juga secara intravena.

Setelah 15 menit suntikan ke 2 masih kejang diberikan suntikan ke 3 dengan dosis yang sama tetapi melalui intramuskuler, diharapkan kejang akan berhenti. Bila belum juga berhenti dapat diberikan fenobarbital atau paraldehid 4 % secara intravena.

• Pengobatan penunjang Sebelum memberantas kejang tidak boleh Dilupakan perlunya pengobatan penunjang • Semua pakaian ketat dibuka • Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung • Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen, bila perlu dilakukan intubasi atau trakeostomi.

• Penhisapan lendir harus dilakukan secara tertur dan diberikan oksigen. • Pengobatan rumat • Profilaksis intermiten Untuk mencegah kejang berulang, diberikan obat campuran anti konvulsan dan antipietika.

Profilaksis ini diberikan sampai kemungkinan sangat kecil anak mendapat kejang demam sederhana yaitu kira – kira sampai anak umur 4 tahun. • Profilaksis jangka panjang Diberikan pada keadaan • Epilepsi yang diprovokasi oleh demam • Kejang demam yang mempunyai ciri : • Terdapat gangguan perkembangan saraf seperti serebral palsi, retardasi perkembangan dan mikrosefali • Bila kejang berlangsung lebih dari 15 menit, berdifat fokal atau diikiuti kelainan saraf yang sementara atau menetap • Riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik • Kejang demam pada bayi berumur dibawah usia 1 bulan • Mencari dan mengobati penyebab ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM • Pengkajian Pengkajian neurologik : • Tanda – tanda vital • Suhu • Pernapasan • Denyut jantung • Tekanan darah • Tekanan nadi • Hasil pemeriksaan kepala • Fontanel : menonjol, rata, cekung • Lingkar kepala : dibawah 2 tahun • Bentuk Umum • Reaksi pupil • Ukuran • Reaksi terhadap cahaya • Kesamaan respon • Tingkat kesadaran • Kewaspadaan : respon terhadap panggilan • Iritabilitas • Letargi dan rasa mengantuk • Orientasi terhadap diri sendiri dan orang lain • Afek • Alam perasaan • Labilitas • Aktivitas kejang • Jenis • Lamanya • Fungsi sensoris • Reaksi terhadap nyeri • Reaksi terhadap suhu • Refleks • Refleks tendo superfisial • Reflek patologi • Kemampuan intelektual • Kemampuan menulis dan menggambar • Kemampuan membaca • Diagnosa keperawatan • Resiko tinggi cidera • Gangguan citra tubuh • Resiko tinggi koping keluarga dan koping individu tidak efektif • Intervensi keperawatan • Kejang • Lindungi anak dari cidera • Jangan mencoba untuk merestrain anak • Jika anak berdiri atau duduk sehingga terdapat kemungkinan jatuh, turunkan anak tersebut agar tidak jatuh • Jangan memasukan benda apapun kedalam mulut anak • Longgarkan pakaiannya jika ketat • Cegah anak agar tidak trpukul benda tajam, lapisi setiap benda yang mungkin terbentur dengan anak dan singkirkan semua benda tajam dari daerah tersebut • Miringkan badan anak untuk mem fasilitasi bersihan jalan nafas dari sekret • Lakukan observasi secara teliti dan catat aktiitas kejang untuk membantu diagnosis atau pengkajian respon pengobatan • Waktu awitan dan kejadian pemicu • Aura • Jenis kejang • Lamanya kejang • Intervensi selama kejang • Tanda tanda vital DAFTAR PUSTAKA • Betz Cecily L, Sowden Linda A.

(2002). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC. • Sacharin Rosa M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa : Maulanny R.F. Jakarta : EGC. • Arjatmo T.(2001). Keadaan Gawat Yang Mengancam Jiwa. Jakarta : gaya baru ASKEP BRONKOPNEUMONIA FORM STERILISASI RSUD PALRATU • CSSD RSUD PLRATU Recent Comments Kondom Tidak Menjami… on Kondom Tidak Menjamin Bebas HI… Archives • June 2019 • June 2018 • May 2018 • June 2016 • August 2014 Categories • ASUHAN KEPERAWATAN • Uncategorized Meta • Register • Log in • Entries feed • Comments feed • WordPress.com Search for: Recent Posts • CSSD RSUD PLRATU • ASKEP APPENDIKSITIS • ASKEP ASTMA BRONCHIALE • ASKEP ARITMIA • ASKEP DENGAN HIV Recent Comments Kondom Tidak Menjami… on Kondom Tidak Menjamin Bebas HI… Archives • June 2019 • June 2018 • May 2018 • June 2016 • August 2014 Categories • ASUHAN KEPERAWATAN • Uncategorized Meta • Register • Log in • Entries feed • Comments feed • WordPress.com
none
Kejang demam adalah kejang yang disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih askep kejang demam 38,40°c tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut pada anak berusia di atas 1 bulan tanpa riwayat kejang sebelumnya (IDAI, 2009).

Kejang demam dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks (Schwartz, 2005). Di Asia sekitar 70% - 90% dari seluruh kejang demam merupakan kejang demam sederhana dan sisanya merupakan kejang demam kompleks (Karemzadeh, 2008). Otak kecil yang merupakan pusat keseimbangan dan koordinasi gerakan.Pada daerah serebelum terdapat sirkulus willisi, pada dasar otak disekitar kelenjar hipofisis, sebuah lingkaran arteri terbentuk diantara rangkaian arteri carotis interna dan vertebral, lingkaran inilah yang disebut sirkulus willisi yang dibentuk dari cabang-cabang arteri carotis interna, anterior dan arteri serebral bagian tengah dan arteri penghubung anterior dan posterior.

Arteri pada askep kejang demam willisi memberi alternative pada aliran darah jika salah satu aliran darah arteri mayor tersumbat. Merupakan cairan yang bersih dan tidak berwarna dengan berat jenis 1,007 diproduksi didalam ventrikel dan bersirkulasi disekitar otak dan medulla spinalis melalui sistem ventrikular.

Cairan Serebrospinal atau Liquor Cerebro Spinalis (LCS) diproduksi di pleksus koroid pada ventrikel lateral ketiga dan keempat, secara organik dan non organik LCS sama dengan plasma tetapi mempunyai perbedaan konsentrasi. LCS mengandung protein, glukosa dan klorida, serta immunoglobulin.Secara normal LCS hanya mengandung sel darah putih sedikit dan tidak mengandung sel darah merah.Cairan LCS didalam tubuh diserap oleh villiarakhnoid.

Saraf spinal mengandung saraf sensorik dan motorik, serat sensorik masuk medula spinalis melalui akar belakang dan serat motorik keluar dari medula spinalis melalui akar depan kemudian bersatu membentuk saraf spinal. Saraf-saraf ini sebagian berkelompok membentuk pleksus (anyaman) dan terbentuklah berbagai saraf (nervus) seperti saraf iskiadikus untuk sensorik dan motorik daerah tungkai bawah. Daerah askep kejang demam tidak membentuk anyaman tetapi masing-masing lurusdiantara tulang kosta (nervus inter kostalis).

Umumnya didalam nervus ini juga berisi serat autonom, terutama serat simpatis yang menuju ke pembuluh darah untuk daerah yang sesuai. Serat saraf dari pusat di korteks serebri sampai ke perifer terjadi penyeberang askep kejang demam lateral) yaitu yang berada di kiri menyeberang ke kanan, begitu pula sebaliknya. Jadi apabila terjadi kerusakan di pusat motorik kiri maka yang mengalami gangguan anggota gerak yang sebelah kanan. Sistem olfaktorius dimulai dengan sisi yang menerima rangsangan olfaktorius.

S istem ini terbagi dari bagian berikut : mukosa olfaktorius pada bagian atas kavum nasal, fila olfaktoria, bulbus subkalosal pada sisi medial lobus orbitalis. Saraf ini merupakan saraf sensorik murni yang serabut-serabutnya berasal dari membran mukosa hidung dan menembus area kribriformis dari tulang etmoidal untuk bersinaps di bulbus olfaktorius, dari sini traktus olfaktorius berjalan dibawah lobus frontal dan berakhir di lobus temporal bagian medial sisi yang sama. Sistem olfaktorius merupakan satu-satunya sistem sensorik yang impulsnya mencapai korteks tanpa dirilei disalurkan di talamus.

Bau-bauan yang dapat merangsang timbulnya nafsu makan dan induksi salivasi serta bau busuk yang dapat menimbulkan rasa mual dan muntah menunjukkan bahwa sistem ini ada kaitannya dengan emosi. Saraf optikus merupakan saraf sensorik murni yang dimulai di retina.Serabut-serabut saraf ini, ini melewati foramen optikum di dekat arteri optalmika dan bergabung dengan saraf dari sisi lainnya pada dasar otak untuk membentuk kiasma optikum.

Orientasi spasial serabut-serabut dari berbagai bagian fundus maih utuh sehingga serabut-serabut dari bagian bawah retina ditemukan pada bagian inferior kiasma optikum dan sebaliknya. Serabut-serabut dari lapangan visual temporal (separuh bagian nasal retina) menyilang kiasma, askep kejang demam yang berasal dari lapangan visual nasal tidak menyilang. Serabut-serabut untuk indeks cahaya yang berasal dari kiasma optikum berakhir di kolikulus superior, dimana terjadi hubungan dengan kedua nuklei saraf okulomotorius.

Sisa serabut yang meninggalkan kiasma berhubungan dengan penglihatan dan berjalan didalam trakus optikus menuju korpus genikulatum lateralis.

Dari sini serabut-serabut yang berasal dari radiasio optika melewati bagian posterior kapsula interna dan berakhir dikorteks visual lobus oksipital. Dalam perjalanannya serabut-serabut tersebut memisahkan diri sehingga serabut-serabut untuk kuadran bawah melalui lobus parietal sedangkan untuk kuadran atas melalui lobus temporal.

Akibat dari dekusasio serabut-serabut tersebut pada kiasma optikum serabut-serabut yang berasal dari lapangan penglihatan kiri berakhir di lobus oksipital kanan dan sebaliknya. Nukleus saraf okulomotorius terletak sebagian di depan substansia grisea periakuaduktal (Nukleus motorik) dan sebagian lagi di dalam substansia grisea (Nukleus otonom). Nukleus motorik bertanggung jawab untuk persarafan otot-otot rektus medialis, superior, dan inferior, otot oblikus inferior dan otot levator palpebra superior.

askep kejang demam

Nukleus otonom atau nukleus Edinger-westhpal yang bermielin sangat sedikit mempersarafi otot-otot mata inferior yaitu spingter pupil dan otot siliaris Nukleus saraf troklearis terletak setinggi kolikuli inferior di depan substansia grisea periakuaduktal dan berada di bawah Nukleus okulomotorius.

Saraf ini merupakan satu-satunya saraf kranialis yang keluar dari sisi dorsal batang otak.Saraf troklearis mempersarafi otot oblikus superior untuk menggerakkan mata bawah, kedalam dan abduksi dalam derajat kecil. Saraf trigeminus bersifat campuran terdiri dari serabut-serabut motorik dan serabut-serabut sensorik. Serabut motorik mempersarafi otot masseter dan otot temporalis. Serabut-serabut sensorik saraf trigeminus dibagi menjadi tiga cabang utama yaitu saraf oftalmikus, maksilaris, dan mandibularis.

Daerah sensoriknya mencakup daerah kulit, dahi, wajah, mukosa mulut, hidung, sinus. Gigi maksilar dan mandibula, dura dalam fosa kranii anterior dan tengah bagian anterior telinga luar dan kanalis auditorius serta bagian membran timpani. Saraf fasialis mempunyai fungsi motorik dan fungsi sensorik fungsi motorik berasal dari Nukleus motorik yang terletak pada bagian ventrolateral dari tegmentum pontin bawah dekat medula oblongata.

Fungsi sensorik berasal dari Nukleus sensorik yang muncul bersama nukleus motorik dan saraf vestibulokoklearis yang berjalan ke lateral ke dalam kanalis akustikus interna. Serabut motorik saraf fasialis mempersarafi otot-otot ekspresi wajah terdiri dari otot orbikularis okuli, otot buksinator, otot oksipital, otot frontal, otot stapedius, otot stilohioideus, otot digastriktus posterior serta otot platisma.

Serabut sensorik menghantar persepsi pengecapan bagian anterior lidah. Saraf glosofaringeus menerima gabungan dari saraf vagus dan asesorius pada waktu meninggalkan kranium melalui foramen tersebut, saraf glosofaringeus mempunyai dua ganglion, yaitu gonglion intrakranialis superior dan ekstrakranialis inferior. Setelah melewati foramen, saraf berlanjut antara arteri karotis interna dan vena jugularis interna ke otot stilofaringeus. Diantara otot ini dan otot stiloglosal, saraf berlanjut ke basis lidah dan mempersarafi mukosa faring, tonsil dan sepertiga posterior lidah.

Saraf asesorius mempunyai radiks spinalis dan kranialis.Radiks kranialis adalah akson dari neuron dalam nukleus ambigus yang terletak dekat neuron dari saraf vagus. Saraf aksesorius adalah saraf motorik yang mempersarafi otot sternokleidomastoideus berfungsi memutar kepala ke samping dan otot trapezius memutar skapula bila lengan diangkat ke atas.

Merupakan refleks yang paling penting. Refleks ini hanya dijumpai pada penyakit traktus kortikospinal. Untuk melakukan test ini, goreslah kuat-kuat bagian lateral telapak kaki dari tumit kearah jari kelingking dan kemudian melintasi bagian jantung kaki. Respon babinski timbul bila ibu jari kaki melakukan dorsifleksi dan jari-jari lainnya tersebar.Respon yang normal adalah fleksi plantar semua jari kaki.

Etiologi dari kejang demam masih tidak diketahui. Namun pada sebagian besar anak dipicu oleh tingginya suhu tubuh bukan kecepatan peningkatan suhu tubuh. Biasanya suhu demam diatas 38,8°C dan terjadi disaat suhu tubuh naik dan bukan pada saat setelah terjadinya kenaikan suhu tubuh (Dona Wong L, 2008). Pada keadaan demam, kenaikan suhu sebanyak 1º C akan menyebabkan kenaikan kebutuhan metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen meningkat sebanyak 20%.

Pada seorang anak yang berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%.

Pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat menyebabkan terjadinya perubahan keseimbangan dari membran sel neuron. Dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, akibatnya terjadinya lepasan muatan listrik.

Lepasan muatan listrik ini dapat meluas ke seluruh sel maupun membran sel tetangganya dengan bantuan neurotransmitter dan terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung pada tinggi atau rendahnya ambang kejang seseorang anak pada kenaikan suhu tubuhnya. Kebiasaannya, kejadian kejang pada suhu 38ºC, anak tersebut mempunyai ambang kejang yang rendah, sedangkan pada suhu 40º C atau lebih anak tersebut mempunyai ambang kejang yang tinggi. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah (Latief et al., 2007).

Kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik atau tonik klonik bilateral. Seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis.

Adapun tanda- tanda kejang demam meliputi Pemeriksaan ini tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi askep kejang demam dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau keadaan lain misalnya gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan misalnya darah perifer, elektrolit, gula darah dan urinalisis (Saharso et al., 2009). Selain itu, glukosa darah harus diukur jika kejang lebih lama dari 15 menit dalam durasi atau yang sedang berlangsung ketika pasien dinilai (Farrell dan Goldman, 2011).

Pemeriksaan cairan serebrospinal dengan pungsi lumbal dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada pasein kejang demam pertama. Pungsi lumbal sangat dianjurkan untuk bayi kurang dari 12 bulan, bayi antara 12 - 18 bulan dianjurkan untuk dilakukan dan bayi > 18 bulan tidak rutin dilakukan pungsi lumbal. Pada kasus kejang demam hasil pemeriksaan ini tidak berhasil (Pusponegoro dkk, 2006). Pemeriksaan ini tidak direkomendasikan setelah kejang demam sederhana namun mungkin berguna untuk mengevaluasi pasien kejang askep kejang demam kompleks atau dengan faktor risiko lain untuk epilepsi.

EEG pada kejang demam dapat memperlihatkan gelombang lambat di daerah belakang yang bilateral, sering asimetris dan kadang-kadang unilateral (Jonston, 2007). Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti computed tomography scan (CT-scan) atau magnetic resonance imaging (MRI) askep kejang demam sekali dikerjakan dan dilakukan jika ada indikasi seperti kelainan neurologis fokal yang menetap (hemiparesis) atau kemungkinan adanya lesi struktural di otak (mikrosefali, spastisitas), terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial (kesadaran menurun, muntah berulang, UUB membonjol, paresis nervus VI, edema papil) (Saharso et al., 2009).

Obat yang dapat diberikan oleh orangtua atau di rumah adalah diazepam rektal. Dosisnya sebanyak 0,5-0,75 mg/kg atau 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang daripada 10 kg dan 10 mg untuk anak yang mempunyai berat badan lebih dari 10 kg. Selain itu, diazepam rektal dengan dosis 5 mg dapat diberikan untuk anak yang dibawah usia 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak di atas usia 3 tahun.

Apabila kejangnya belum berhenti, pemberian diapezem rektal dapat diulangi lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval askep kejang demam 5 menit. Anak seharusnya dibawa ke rumah sakit jika masih lagi berlangsungnya kejang, setelah 2 kali pemberian diazepam rektal. Di rumah sakit dapat diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg (UUK Neurologi IDAI, 2006). Jika kejang tetap belum berhenti, dapat diberikan fenitoin secara intravena dengan dosis awal 10-20 mg/ kg/ kali dengan kecepatan 1 mg/ kg/ menit atau kurang dari 50 mg/menit.

Sekiranya kejang sudah berhenti, dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/ kg/ hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal. Jika kejang belum berhenti dengan pemberian fenitoin maka pasien harus dirawat di ruang intensif. Setelah kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam, apakah kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor risikonya (UUK Neurologi IDAI, 2006). Seterusnya, terapi antipiretik tidak mencegah kejang kekambuhan. Kedua parasetamol dan NSAID tidak mempunyai manfaatnya untuk mengurangi kejadian kejang demam.

Meskipun mereka tidak mengurangi risiko kejang demam, antipiretik sering digunakan untuk mengurangi demam dan memperbaiki kondisi umum pasien. Dalam prakteknya, kita menggunakan metamizole (dipirone), 10 sampai 25 mg/ kg/ dosis sampai empat dosis harian (100 mg/ kg/ hari), parasetamol 10 sampai 15 mg/ kg/ dosis, juga sampai empat dosis harian (sampai 2,6 g/hari) dan pada anak-anak di atas usia enam bulan, diberikan ibuprofen sebanyak 5 sampai 10 mg/ kg/ dosis dalam tiga atau empat dosis terbagi (sampai 40 mg/ kg/ hari pada anak-anak dengan berat kurang dari 30 kg dan 1200 mg) (Siqueira, 2010).

Pengobatan jangka panjang atau rumatan hanya diberikan jika kejang demam menunjukkan ciri-ciri berikut seperti kejang berlangsung lebih dari 15 menit, kelainan neurologi yang nyata sebelum atau selapas kejadian kejang misalnya hemiparesis, paresis Todd, palsi serebal, retardasi mental dan hidrosefalus, dan kejadian kejang fokal.

Pengobatan rumat dipertimbangkan jika kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam, kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan dan kejang demam berlangsung lebih dari 4 kali per tahun.

Obat untuk pengobatan jangka panjang adalah fenobarbital (dosis 3-4 mg/ kgBB/ hari dibagi 1-2 dosis) atau asam valproat (dosis 15-40 mg/ kgBB/ hari dibagi 2-3 dosis). Dengan pemberian obat askep kejang demam, risiko berulangnya kejang dapat diturunkan dan pengobatan ini diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian secara bertahap selama 1-2 bulan (Saharso et al., 2009).

TD, Nadi, Respirasi, Temperatur yang merupakan tolak ukur askep kejang demam keadaan umum pasien / kondisi pasien dan termasuk pemeriksaan dari kepala sampai kaki dengan askep kejang demam prinsip-prinsip (inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi), disamping itu juga penimbangan BB untuk mengetahui adanya penurunan BB karena peningkatan gangguan nutrisi yang terjadi, sehingga dapat dihitung kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan (Wijaya,2013).

Fase terakhir dari proses keperawatan adalah evaluasi terhadap asuhan keperawatan yang diberikan dengan melihat perkembangan masalah klien sehingga dapat diketahui tingkatan-tingkatan keberhasilan intervensi.

Evaluasi hasil perencanaan keperawatan dari masing-masing diagnosa keperawatan dapat dilihat pada kriteria hasil intervensi keperawatan.KEJANG DEMAM A.

Konsep Dasar 1. Pengertian Istilah kejang demam digunakan untuk bangkitan kejang yg timbul akibat kenaikan suhu tubuh. “Kejang demam ialah bangkitan kejang yg terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal 38°C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (Hasan, 1995). Banyak pernyataan yang dikemukakan mengenai kejang demam, salah satu diantaranya adalah : “Kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi pada umur 3 bulan sampai 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu.

Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk. Kejang demam harus dapat dibedakan dengan epilepsi, yaitu ditandai dengan kejang berulang tanpa demam (Mansjoer, 2000). 2. Anatomi Fisiologi Sistem Persarafan Seperti yang dikemukakan Syaifuddin (1997), bahwa system saraf terdiri dari system saraf pusat (sentral nervous system) yang terdiri dari cerebellum, medulla oblongata dan pons (batang otak) serta medulla spinalis (sumsum tulang belakang), system saraf tepi (peripheral nervous system) yang terdiri dari nervus cranialis (saraf-saraf kepala) dan semua cabang dari medulla spinalis, system saraf gaib (autonomic nervous system) yang terdiri dari sympatis (sistem saraf simpatis) dan parasymphatis (sistem saraf parasimpatis).

Otak berada di dalam rongga tengkorak (cavum cranium) dan dibungkus oleh selaput otak yang disebut meningen yang berfungsi untuk melindungi struktur saraf terutama terhadap resiko benturan atau guncangan. Meningen terdiri dari 3 lapisan yaitu duramater, arachnoid dan piamater. Sistem saraf pusat (Central Nervous System) terdiri dari : • Cerebrum (otak besar) Merupakan bagian terbesar yang mengisi daerah anterior dan superior rongga tengkorak di mana cerebrum ini mengisi cavum cranialis anterior dan cavum cranialis media.

Cerebrum terdiri dari dua lapisan yaitu : Corteks cerebri dan medulla cerebri. Fungsi askep kejang demam cerebrum ialah pusat motorik, pusat bicara, pusat sensorik, pusat pendengaran / auditorik, pusat penglihatan / visual, pusat pengecap dan pembau serta pusat pemikiran. Sebagian kecil substansia gressia masuk ke dalam daerah substansia alba sehingga tidak berada di corteks cerebri lagi tepi sudah berada di dalam daerah medulla cerebri.

Pada setiap hemisfer cerebri inilah yang disebut sebagai ganglia basalis. Yang termasuk pada ganglia basalis ini adalah : 1) Thalamus Menerima semua impuls sensorik dari seluruh tubuh, kecuali impuls pembau yang langsung sampai ke kortex cerebri.

Fungsi thalamus terutama penting untuk integrasi semua impuls sensorik. Thalamus juga merupakan pusat panas dan rasa nyeri. 2) Hypothalamus Terletak di inferior thalamus, di dasar ventrikel III hypothalamus terdiri dari beberapa nukleus yang masing-masing mempunyai kegiatan fisiologi yang berbeda.

Hypothalamus merupakan daerah penting untuk mengatur fungsi alat demam seperti mengatur metabolisme, alat genital, tidur dan bangun, suhu tubuh, rasa lapar dan haus, saraf otonom dan sebagainya. Bila terjadi gangguan pada tubuh, maka akan terjadi perubahan-perubahan. Seperti pada kasus kejang demam, hypothalamus berperan penting dalam proses tersebut karena fungsinya yang mengatur keseimbangan suhu tubuh terganggu akibat adanya proses-proses patologik ekstrakranium.

3) Formation Reticularis Terletak di inferior dari hypothalamus sampai daerah batang otak (superior dan pons varoli) ia berperan untuk mempengaruhi aktifitas cortex cerebri di mana pada daerah formatio reticularis ini terjadi stimulasi / rangsangan dan penekanan impuls yang akan dikirim ke cortex cerebri. • Serebellum Merupakan bagian terbesar dari otak belakang yang menempati fossa cranial posterior.

Terletak di superior dan inferior dari cerebrum yang berfungsi sebagai pusat koordinasi kontraksi otot rangka. System saraf tepi (nervus cranialis) adalah saraf yang langsung keluar dari otak atau batang otak dan mensarafi organ tertentu. Nervus cranialis ada 12 pasang : 1) N. I : Nervus Olfaktorius 2) N. II : Nervus Optikus 3) N. III : Nervus Okulamotorius 4) N. IV : Nervus Troklearis 5) Askep kejang demam. V : Nervus Trigeminus 6) N. VI : Nervus Abducen 7) N.

VII : Nervus Fasialis 8) N. VIII : Nervus Akustikus 9) N. IX : Nervus Glossofaringeus 10) N. X : Nervus Vagus 11) N. XI : Nervus Accesorius 12) N. XII : Nervus Hipoglosus. System saraf otonom ini tergantung dari system sistema saraf pusat dan system askep kejang demam otonom dihubungkan dengan urat-urat saraf aferent dan efferent. Menurut fungsinya system saraf otonom ada 2 di mana keduanya mempunyai serat pre dan post ganglionik yaitu system simpatis dan parasimpatis.

Yang termasuk dalam system saraf simpatis adalah : 1) Pusat saraf di medulla servikalis, torakalis, lumbal dan seterusnya 2) Ganglion simpatis dan serabut-serabutnya yang disebut trunkus symphatis 3) Pleksus pre vertebral : Post ganglionik yg dicabangkan dari ganglion kolateral.

System saraf parasimpatis ada 2 bagian yaitu : Serabut saraf yang dicabagkan dari medulla askep kejang demam • Serabut saraf yang dicabangkan dari otak atau batang otak • Serabut saraf yang dicabangkan dari medulla spinalis 3. Etiologi Penyebab Febrile Convulsion hingga kini belum diketahui dengan Pasti, demam sering disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu tinbul pada suhu yang tinggi.

Kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang (Mansjoer, 2000). Kejang dapat terjadi pada setiap orang yang mengalami hipoksemia (penurunan oksigen dalam darah) berat, hipoglikemia, asodemia, alkalemia, dehidrasi, intoksikasi air, atau demam tinggi.

Kejang yang disebabkan oleh gangguan metabolik bersifat reversibel apabila stimulus pencetusnya dihilangkan (Corwin, 2001). 4. Patofisiologi Sel neuron dikelilingi oleh suatu membran. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium dan ion lain, kecuali ion clorida. Akibatnya konsentrasi natrium menurun sedangkan di luar sel neuron terjadi keadaan sebaliknya.

Dengan perbedaan jenis konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dan ini dapat dirubah dengan adanya : • Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler • Rangsangan yang datangnya mendadak, misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya • Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan. Pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik.

Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya sehingga terjadi kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda, tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang tersebut. Pada anak dengan ambang kejang rendah, kejang dapat terjadi pada suhu 38° C, sedang pada ambang kejang tinggi baru terjadi pada suhu 40° C atau lebih 5.

Tanda dan Gejala Secara teoritis pada klien dengan Kejang Demam didapatkan data-data antara lain klien kurang selera makan (anoreksia), klien tampak gelisah, askep kejang demam klien panas dan berkeringat, mukosa bibir kering (Ngastiyah, 1997). 6. Komplikasi Pada penderita kejang demam yang mengalami kejang lama biasanya terjadi hemiparesis.

Kelumpuhannya sesuai dengan kejang fokal yang terjadi. Mula – mula kelumpuhan bersifat flasid, tetapi setelah 2 minggu timbul spastisitas. Kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak sehingga terjadi epilepsy. Ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada klien dengan kejang askep kejang demam : • Pneumonia aspirasi • Asfiksia • Retardasi menta 7.

Penatalaksanaan / Pengobatan Ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu : Memberantas kejang secepat mungkin Bila penderita datang dalam keadaan status convulsion, obat pilihan utama adalah diazepam secara intravena.

Apabila diazepam tidak tersedia dapat diberikan fenobarbital secara intramuskulus. • Pengobatan Penunjang Semua pakaian yang ketat dibuka. Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung, usahakan jalan nafas bebas agar oksigen terjamin, penghisapan lendir secara teratur dan pengobatan ditambah dengan pemberian oksigen. Tanda – tanda vital diobservasi secara ketat, cairan intravena diberikan dengan monitoring.

2. Pengobatan di rumah Setelah kejang diatasi harus disusul dengan pengobatan rumah. Pengobatan ini dibagi atas 2 golongan yaitu : 1) Profilaksis intermitten Untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari diberikan obat campuran anti konvulsan dan anti piretik yang harus diberikan pada anak bila menderita demam lagi 2) Profilaksis jangka panjang Gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis terapeutik yang stabil dan cukup di dalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang di kemudian hari.

3. Mencari dan mengobati penyebab Penyebab dari kejang demam baik sederhana maupun epilepsy yang diprovokasi oleh demam, biasanya infeksi traktus respiratorius bagian atas dan otitis media akut. B. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan untuk mengumpulkan data serta menganalisa data sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan klien (Gaffar, 1997). Dalam upaya pengumpulan data sebagai langkah awal dari proses keperawatan penulis melakukan pengkajian, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kegiatan yang dilakukan dalam pengkajian adalah pengumpulan data dan merumuskan prioritas masalah. Sedangkan tujuan dari pengkajian keperawatan adalah mengumpulkan data–data, mengelompokkan dan menganalisa data sehingga ditemukan diagnosa keperawatan (Gaffar, 1997).

Tahapan pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu. Oleh karena itu pengkajian yang akurat dan lengkap sesuai dengan kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam merumuskan suatu diagnosa keperawatan sesuai dengan respon individu sebagaimana yang ditentukan dalam standar praktek keperawatan dari American Nursing Association.

Pengkajian keperawatan data dasar yang komprehensif adalah kumpulan data yang berisikan mengenai status kesehatan klien untuk mengelola kesehatan terhadap dirinya sendiri dan hasil konsultasi dari medis (terapis) atau profesi kesehatan lainnya (Taylor, Lilis Le Mone, 1997). Berdasarkan sumber data, data dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder.

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari klien, yaitu data tersebut diperoleh dari klien yang sadar maupun klien tidak sadar sehingga tidak dapat berkomunikasi misalnya data tentang kebersihan diri atau data tentang kesadaran. Data sekunder adalah data yang diperoleh selain dari klien, seperti dari perawat, dokter, catatan perawat, serta dari pemeriksaan seperti pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan diagnostik lainnya, dari keluarga atau dari kerabat dekat.

Secara umum ada beberapa cara pengumpulan data dengan observasi, konsultasi, validasi data, anamnesa, pemeriksaan fisik, observasi adalah pengumpulan data melalui hasil pengamatan (melihat, meraba atau mendengarkan) tentang kondisi klien dalam kerangka asuhan keperawatan.

Konsultasi adalah seorang spesialis diminta untuk mengidentifikasikan cara–cara untuk pengobatan dan penanganan penyakit klien. Anamnesa atau wawancara adalah cara pengumpulan data melalui inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Inspeksi adalah pengamatan secara seksama terhadap status kesehatan klien, seperti inspeksi kesimetrisan pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu pernafasan, inspeksi adanya lesi pada kulit dan sebagainya.

Perkusi adalah pemeriksaan fisik dengan cara mengetukkan jari tengah kejari tengah yang lainnya untuk normal atau tidaknya suatu organ tubuh.

Palpasi adalah jenis pemeriksaan fisik dengan cara meraba klien seperti lokasi pada rongga abdomen untuk mengetahui lokasi nyeri atau untuk mengetahui adanya massa. Auskultasi adalah cara pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop, misalnya auskultasi dinding abdomen untuk mengetahui bising usus, mendengarkan suara paru – paru, bunyi jantung.

Adapun pengkajian untuk mengumpulkan data–data yang akurat terhadap Kejang Demam yaitu dimulai dengan anamnesa kepada askep kejang demam dan keluarga kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Hal – hal yang perlu dikaji antara lain : • Identitas pasien dan keluarga 1) Nama Pasien (initial), umur, jenis kelamin,agama, suku bangsa dan alamat 2) Nama Ayah (initial), umur, askep kejang demam, pendidikan, pekerjaan, suku dan bangsa 3) Nama Ibu (initial), umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku dan bangsa.

• Kesehatan fisik 1) Pola nutrisi Tidak ada nafsu makan (anoreksia), mual dan bahkan dapat disertai muntah. Perlu dikaji pola nutrisi sebelum sakit, porsi makan sehari – hari, jam makan, pemberian makan oleh siapa, frekuensi makan, nafsu makan, serta alergi terhadap makanan. 2) Pola eliminasi 3) Pola tidur Yang perlu dikaji meliputi jam tidur, waktu tidur dan lamanya tidur serta kebiasaan sebelum tidur 4) Pola hygiene tubuh Mengkaji mengenai kebiasaan mandi, cuci rambut, potong kuku dan rambut 5) Pola aktifitas Anak tampak lemah, gelisah atau cengeng.

• Riwayat kesehatan yang lalu 1) Riwayat prenatal Dikaji mengenai kehamilan ke berapa, tempat pemeriksaan kehamilan, keluhan ibu saat hamil, kelainan kehamilan dan obat – obatan yang diminum saat hamil. 2) Riwayat kelahiran Kelahiran spontan atau dengan bantuan – bantuan, aterm atau premature. Perlu juga ditanyakan berat badan lahir, panjang badan, ditolong oleh siapa dan melahirkan di mana.

3) Riwayat yang berhubungan dengan hospitalisasi Pernahkah dirawat di rumah sakit, berapa kali, sakit apa, pernahkah menderita penyakit yang gawat. Riwayat kesehatan dalam keluarga perlu dikaji kemungkinan ada keluarga askep kejang demam pernah menderita kejang.

4) Askep kejang demam kembang Mengkaji mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan tingkat usia, baik perkembangan emosi dan sosial. 5) Imunisasi Yang perlu dikaji adalah jenis imunisasi dan umur pemberiannya. Apakah imunisasi lengkap, jika belum apa alasannya.

• Riwayat penyakit sekarang 1) Awal serangan : Sejak timbul demam, apakah kejang timbul setelah 24 jam pertama setelah demam 2) Keluhan utama : Timbul kejang (tonik, klonik, tonik klonik), suhu badan meningkat 3) Pengobatan : Pada saat kejang segera diberi obat anti konvulsan dan apabila pasien askep kejang demam di rumah, tiindakan apa yang dilakukan untuk mengatasi kejang. 4) Riwayat sosial ekonomi keluarga Pendapatan keluarga setiap bulan, hubungan sosial antara anggota keluarga dan masyarakat sekitarnya.

5) Riwayat psikologis Reaksi pasien terhadap penyakit, kecemasan pasien dan orang tua sehubungan dengan penyakit dan hospitalisasi. • Pemeriksaan fisik 1) Pengukuran pertumbuhan : Berat badan, tinggi badan, lingkar askep kejang demam 2) Pengukuran fisiologis : Suhu biasanya di atas 38° C, nadi cepat, pernafasan (mungkin dyspnea nafas pendek, nafas cepat, sianosis) 3) Keadaan umum : Pasien tampak lemah, malaise 4) Kulit : Turgor kulit dan kebersihan kulit 5) Kepala : Bagaimana kebersihan kulit kepala askep kejang demam warna rambut serta kebersihannya 6) Mata : Konjungtiva, sklera pucat / tidak, pupil dan palpebra 7) Telinga : Kotor / tidak, mungkin ditemukan adanya Otitis Media Akut / Kronis 8) Hidung umumnya tidak ada kelainan 9) Mulut dan tenggorokan : Bisa dijumpai adanya tonsillitis 10) Dada : Simetris / tidak, pergerakan dada 11) Paru – paru : Bronchitis kemungkinan ditemukan 12) Jantung : Umumnya normal 13) Abdomen : Mual – mual dan muntah 14) Genetalia dan anus : Ada kelainan / tidak 15) Ekstremitas : Ada kelainan / tidak.

Setelah selesai mengumpulkan data maka selanjutnya data tersebut dikelompokkan. Pengelompokan data dapat dibagi atas data dasar dan data khusus (Carpenito, 1997). Data dasar terdiri dari data fisiologis, data psikologis, data sosial dan spiritual. Sedangkan data khusus adalah data yang bersifat khusus, misalnya pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rontgen dan sebagainya. 2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa Keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status atau masalah kesehatan aktual atau rester / resti (Gaffar, 1997).

Pada tahap diagnosa keperawatan penulis akan menganalisa data yang diperoleh dari hasil pengkajian dan mengidentifikasi masalah keperawatan, baik yang dapat dicegah, dapat dikurangi maupun yang dapat ditanggulangi dengan tindakan keperawatan.

Diagnosa keperawatan dibagi sesuai dengan masalah kesehatan klien yaitu : • Aktual, yaitu diagnosa keperawatan yang menjelaskan masalah yang nyata saat ini dengan data klinis yang ditemukan. • Rester, yaitu diagnosa keperawatan yang menjelaskan bahwa masalah kesehatan yang nyata yang akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi keperawatan, saat ini masalah belum ada tetapi etiologi sudah ada. • Possible, yaitu diagnosa keperawatan yang timbul akibat adanya tambahan masalah Komponen – komponen berikut ini askep kejang demam tiga bagian pernyataan perubahan keperawatan • Diagnosa keperawatan, merupakan pernyataan yang menggambarkan perubahan status kesehatan klien.

Perubahan–perubahan menyebabkan masalah dan perubahan yang tidak menguntungkan pada kemampuan klien untuk berfungsi. Diagnosa keperawatan adalah frase atau pernyataan yang ringkas, diagnosa keperawatan memberikan dasar untuk membuat kriteria hasil asuhan keperawatan dan menentukan intervensi – intervensi yang diperlukan untuk mencapai kriteria hasil.

• Etiologi, pernyataan etiologi mencerminkan penyebab masalah klien yang menimbulkan perubahan–perubahan pada status kesehatan klien. Penyebab tersebut dapat berhubungan dengan tingkah laku klien, patofisiologi, psikososial, perubahan–perubahan situasional pada gaya hidup, usia perkembangan, faktor budaya dan lingkungan. Diagnosa keperawatan dapat diterapkan untuk semua area keperawatan, seperti medikal bedah, kesehatan ibu dan anak, pediatrik, kesehatan komunitas.

Batasan karakteristik, merupakan kelompok petunjuk klinis yang menggambarkan tingkah laku, tanda dan gejala yang menggambarkan diagnosa keperawatan.

Batasan karakteristik diperoleh selama tahap pengkajian, memberikan bukti bahwa ada masalah kesehatan gejala (data subjektif) adalah perubahan yang dirasakan oleh klien dan diekspresikan secara verbal kepada perawat.

Tanda (data objektif) adalah perubahan yang diamati pada status kesehatan klien. Identifikasi minimal tiga tanda dan gejala sebagai bukti yang cukup untuk mendukung pemilihan diagnosa keperawatan. Adapun masalah keperawatan pada klien dengan kasus Febrile Convulsion menurut Ngastiyah (19997) adalah : • Resiko tinggi terhadap kerusakan sel otak berhubungan dengan kejang • Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme rata-rata, proses infeksi • Resiko terjadi bahaya / komplikasi berhubungan dengan aktifitas kejang • Gangguan rasa aman dan nyaman berhubungan dengan tindakan invasif, prosedur tindakan • Kurang pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurangnya informasi.

Menurut Doenges (2000), diagnosa keperawatan pada Febrile Convulsion adalah : • Resiko terhadap henti nafas berhubungan dengan perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot besar dan kecil • Ketidakefektifan pola pernafasan / bersihan jalan nafas berhubungan dengan gangguan neuromuskuler, hypersekresi trakeobronkial • Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme basal rata-rata, proses infeksi • Kurang pengetahuan keluarga mengenai kondisi, dan aturan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi.

Sedangkan menurut Carpenito (1990), diagnosa keperawatan askep kejang demam terdapat pada kasus Febrile Convulsion adalah : • Resiko tinggi tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan relaksasi lidah, sekunder terhadap gangguan inversi otot • Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme rata-rata, proses infeksi • Perencanaan Perencanaan merupakan tahap yang paling penting yang dibuat setelah merumuskan diagnosa keperawatan.

Tujuan perencanaan adalah untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan klien, sehingga tercapai kondisi kesehatan klien yang optimal (Gaffar, 1997). Pada tahap perencanaan setelah memprioritaskan masalah keperawatn, penulis menetapkan tujuan dan kriteria tindakan yang dapat mencegah, mengurangi dan menanggulangi masalah kesehatan yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan klien saat ini serta menuliskan tujuan yang ditetapkan harus nyata, dapat diukur dan mempunyai batasan waktu pencapaian.

Adapun komponen tahap perencanaan adalah : Membuat prioritas urutan diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan diurutkan dengan prioritas tinggi, sedang, ringan masalah dengan prioritas tinggi mencerminkan situasi yang mengancam hidup (misalnya bersihan jalan nafas). Masalah dengan prioritas rendah tidak berhubungan secara langsung dengan keadaan sakit atau prognosis yang spesifik (misalnya masalah keuangan).

Masalah dengan prioritas tingi membutuhkan perhatian yang cepat dibandingkan dengan prioritas rendah. Hirarki kebutuhan Maslow (1968) membantu perawat untuk memprioritaskan urutan diagnosa keperawatan, kerangka hirarki ini termasuk kebutuhan fisiologis dan psikologis. Lima tingkatan hirarki ini adalah fisikologis, keselamatan dan keamanan, mencintai dan memiliki, harga diri dan aktualisasi diri. Adapun rencana tindakan pada kasus Febrile Convulsion menurut Doenges (2002), yaitu : • Diagnosa keperawatan I Resiko tinggi terhadap henti nafas berhubungan dengan perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot besar dan kecil Tujuan dan kriteria hasil : Henti nafas dan trauma tidak terjadi dengan kriteria : q Menunjukkan efektifitas pernafasan selama kejang dan sesudahnya q Tidak terdapat tanda injuri, perlukaan di seluruh organ tubuh Rencana Tindakan : 1.1 Gali bersama-sama keluarga berbagai stimulasi yang dapat menjadi pencetus kejang Rasional : Mengetahui dan dapat menanggulangi sedini mungkin komplikasi yang dapat terjadi 1.2 Pertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat tidur yang terpasang dengan posisi tempat tidur rendah Rasional : mengurangi trauma saat kejang selama berada di tempat tidur 1.3 Gunakan termometer dengan bahan metal atau dapatkan suhu melalui lubang telinga jika perlu Rasional : mengurangi resiko klien menggigit dan cedera mulut 1.4 Tinggallah bersama klien dan keluarga dalam waktu beberapa lama / setelah kejang Rasional : Meningkatkan rasa aman keluarga, mengobservasi gejala lanjut 1.5 Masukkan jalan nafas buatan yang terbuat dari plastik.

Miringkan kepala ke salah satu sisi dan lakukan suction pada jalan nafas sesuia indikasi Rasional : Memfasilitasi ekspansi dada maksimal, drainage sekret, dan memfasilitasi saat melakukan suction 1.6 Atur kepala, tempatkan di atas daerah yang empuk (lunak) atau bantu meletakkan pada lantai jika keluar dari tempat tidur Rasional : Menurunkan resiko cedera • Diagnosa keperawatan II Ketidakefektifan pola pernafasan / bersihan jalan nafas berhubungan dengan gangguan neuromuskuler, hypersekresi trakeobronkial Tujuan dan kriteria hasil : Pola nafas efektif yang ditunjukkan dengan frekuensi nafas dalam batas normal, jalan nafas bersih Rencana Tindakan : 2.1 Kosongkan mulut klien dari benda / zat makanan Rasional : menurunkan resiko aspirasi 2.2 Letakkan klien pada posisi miring, permukaan datar, miringkan kepala, selama serangan kejang Rasional : Meningkatkan aliran (drainage), sekret, mencegah lidah jatuh, dan menyumbat jalan nafas 2.3 Tanggalkan pakaian pada daerah leher, dada, dan abdomen Rasional : Memfasilitasi usaha bernafas dan ekspansi dada 2.4 Masukkan spatel lidah/jalan nafas buatan atau golongan benda lunak sesuai dengan indikasi Rasional : Mencegah tergigitnya lidah dan memfasilitasi saat melakukan suction 2.5 Melakukan pengisapan (suction) sesuai indikasi Rasional : Menurunkan resiko aspirasi dan asfiksia • Diagnosa keperawatan III Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme basal rata-rata, proses infeksi Tujuan dan kriteria hasil : Suhu tubuh dalam batas normal, yang ditunjukkan dengan mendemontrasikan suhu dalam batas normal, bebas dari kedinginan, tidak mengalami komplikasi yang berhubungan Rencana Tindakan : 3.1 Pantau suhu tubuh Rasional : Suhu 38,9-41,1 menunjukkan adanya proses infeksius akut.

Pola demam dapat membantu dalam diagnosis 3.2 Pantau suhu lingkungan, batasi / tambahkan penggunaan seprai di tempat tidur sesuai indikasi Rasional : Suhu ruangan / jumlah selimut harus dirubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal 3.3 Berikan kompres hangat Rasional : Membantu menurunkan demam dengan efek vasodilatasi air hangat melalui proses evaporase 3.4 Kolaborasi : Berikan antipiretik Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentranya pada hipotalamus meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme dan meningkatkan autodekstruksi sel-sel yang terinfeksi.

4 Diagnosa keperawatan IV Kurang pengetahuan (kurang belajar) mengenai kondisi, dan aturan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi, kesalahan persepsi Tujuan dan kriteria hasil : Mengungkapkan pemahaman tentang gangguan berbagai rangsang yang dapat menyebabkan aktifitas kejang, dengan kriteria : Keluarga dapat mengemukakan kondisi dan pengobatan secara sederhana.

Rencana Tindakan : 4.1 Jelaskan kembali mengenai patofisiologi / prognosis penyakit Rasional : Memberikan kesempatan mengklarifikasi kesalahan persepsi dan keadaan penyakit yang ada sesuai dengan yang ditangani 4.2 Tinjau kembali obat-obat yang didapat Rasional : Tidak ada pemahaman terhadap obat-obatan yang dapat merupakan penyebab kecemasan keluarga 4.

Pelaksanaan Pelaksanaan adalah intervensi yang dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, penugasan ketrampilan interpersonal, intelektual dan teknikal (Gaffar, 1997, 49). Pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien vulnus scissum untuk memenuhi antara lain : askep kejang demam infeksi, meningkatkan penyembuhan luka, meningkatkan kondisi kesehatan dan koping individu dan keluarga serta mencegah komplikasi cedera selanjutnya. Tahap pelaksanaan merupakan bentuk tindakan untuk direncanakan sebelumnya dan disesuaikan dengan situasi secara cermat dan efisien.

Dalam melaksanakan tindakan keperawatan penulis menyesuaikan dengan kondisi yang sesuai dengan kebutuhan klien saat itu, tidak semata – mata berdasarkan prioritas masalah yang direncanakan sebelumnya serta disesuaikan dengan waktu pelaksanaan tindakan. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan penulis juga melaksanakan tindakan observasi dan pengumpulan data untuk melihat perkembangan klien selanjutnya.

Komponen tahapan dalam menyusun implementasi : • Tindakan keperawatan mandiri dilakukan tanpa perintah dokter, tindakan keperawatan mandiri ini ditetapkan dengan standar praktik American Nursing Association (1973), undang–undang praktik perawat negara bagian dan kebijakan institusi perawat kesehatan.

• Tindakan keperawatan kolaboratif, diimplementasikan bila perawat bekerja dengan anggota tim perawatan kesehatan yang lain dalam membuat keputusan bersama yang bertujuan untuk mengatasi masalah – masalah klien.

• Dokumentasi tindakan keperawatan dan respons klien terhadap tindakan keperawatan, dokumentasi merupakan pernyataan dari kejadian atau aktifitas yang otentik dengan mempertahankan catatan – catatan yang tertulis.

Dokumentasi merupakan wahana untuk komunikasi dari salah satu profesional ke profesional lainnya tentang status klien. Dokumentasi klien memberikan bukti tindakan keperawatan mandiri dan kolaboratif yang diimplementasikan oleh perawat 5. Evaluasi Merupakan fase akhir dari proses keperawatan adalah evaluasi terhadap asuhan keperawatan yang diberikan (Gaffar, 1997).

Evaluasi asuhan keperawatan adalah tahap akhir proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai hasil akhir dari keseluruhan tindakan keperawatan yang dilakukan. Hasil akhir yang diinginkan dari perawatan pasien Kejang Demam meliputi pola pernafasan kembali efektif, suhu tubuh kembali normal, anak menunjukkan rasa nymannya secara verbal maupun non verbal, kebutuhan cairan terpenuhi seimbang, tidak terjadi injury selama dan sesudah kejang dan pengatahuan orang tua bertambah.

Evaluasi ini bersifat formatif, yaitu evaluasi yang dilakukan secara terus menerus untuk menilai hasil tindakan yang dilakukan disebut juga evaluasi tujuan jangka pendek. Dapat pula bersifat sumatif yaitu evaluasi yang dilakukan sekaligus pada akhir dari semua tindakan yang pencapaian tujuan jangka panjang.

Komponen tahapan evaluasi : • Pencapaian kriteria hasil Pencapaian dengan target tunggal merupakan meteran untuk pengukuran. Bila kriteria hasil telah dicapai, kata “ Sudah Teratasi “ dan datanya ditulis di rencana asuhan keperawatan. Jika kriteria hasil belum tercapai, perawat mengkaji kembali klien dan merevisi rencana asuhan keperawatan. • Keefektifan tahap – tahap proses keperawatan Faktor – faktor yang mempengaruhi pencapaian kriteria hasil dapat terjadi di seluruh proses keperawatan.

1) Kesenjangan informasi yang terjadi dalam pengkajian tahap satu. 2) Diagnosa keperawatan yang salah diidentifikasi pada tahap dua 3) Instruksi perawatan tidak selaras dengan kriteria hasil pada tahap tiga 4) Kegagalan mengimplementasikan rencana asuhan keperawatan tahap empat.

5) Kegagalan mengevaluasi kemajuan klien pada tahap ke lima.

Kel 4 Askep Kejang Demam kelas C




2022 www.videocon.com