Putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia

putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia

Share on Pinterest Share Kebijaksanaan Cendol Emha Ainun Nadjib Diterbitkan dalam buku “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”, 1983 Karena akan menerima tamu dari Thailand, maka Kiai itu merasa harus menyuguhkan Jawa.

Segala yang nampak pada Pondok Pesantren yang dipimpinnya, sebenarnya relatif sudah mengekspresikan tradisionalitas Jawa. Potret desa, model-model bangunan dan irama kehidupannya. Sang Tamu besok mungkin akan mendengar para santri berbincang dalam bahasa Arab atau Inggris. Tapi tentu bukan itu masalahnya. Yang penting Kiai kita ini tidak akan mungkin menyodorkan Coca Cola ke depan hidung tamunya dari tanah Thai ini. Demikianlah akhirnya sekalian santriyah yang tergabung dalam Qismul Mathbah (Departemen Dapur) bertugas memasak berbagai variasi menu Jawa.

Dari sarapan grontol, makan siang nasi brongkos, malam gudeg, besoknya pecel, lalu sayur asem dengan snack lemet dan limpung. Sang Kiai sendiri ’ cancut tali wondo’ mempersiapkan suguhan ekstra siang hari yang diperkirakan bakal terik. Ia dengan vespa kunonya melaju, membawa semacam tempat sayur yang besar. Empat kilometer ditempuh, dan sampailah ia ke warung kecil di tepi jalan.

Seorang Bapak tua penjual cendol. Sang Kiai sudah perhitungkan waktunya untuk sampai pada Bapak Cendol ini pada dinihari saat jualannya. Yakni saat stok masih melimpah. Terjadilah dialog dalam bahasa Jawa krama-madya.

“Masih banyak, Pak?” “Masih, Den. Wong baru saja bukan beberan.” “Alhamdulillah, ini akan saya beli semua. Berapa?” Pak Cendol kaget. “Lho, jangan Den!” jawabnya spontan. Sang Kiai tak kalah kagetnya. “Kok jangan.” “Lho, kalau dibeli semua bagaimana saya bisa berjualan?” Sang Kiai terbelalak. Hatinya mulai knocked-down, tapi belum disadarinya. “Lho kan saya beli semuanya, jadi Bapak tak usah repot-repot berjualan lagi di sini hari ini.” Pak Cendol tertawa.

Sang Kiai makin terperangah. “Orang jualan kan untuk dibeli. Kalau sudah laku semua kan malah beres?” Pak Cendol makin terkekeh.

putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia

“ Panjenengan ini bagaimana tho Den! Kalau dagangan saya ini dibeli semua, nanti kalau orang lainnya mau beli bagaimana! Mereka kan tidak kebagian!” Knocked-out-lah Sang Kiai. Ia terpana.

putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia

Pikirannya terguncang. Kemudian sambil tergeregap ia berkata: “Maafkan, maafkan saya, Pak. Baiklah sekarang Bapak kasih berapa saja yang Bapak mau jual kepada saya…” Seperti seorang aktor di panggung yang disoraki penonton, ia kemudian segera mendapatkan vespanya dan ngeloyor pulang. Sesampainya di Pondok ia langsung kasih itu cendol ke dapur dan memberi beberapa penugasan kepada Santriyah, kemudian ia menuju kamar, bersujud syukur dan mengucap istighfar, lantas melemparkan tubuhnya di ranjang.

Alangkah dini pengalaman batinku, gumamnya dalam hati, sembahyang dan latihan hidupku masih amat kurang. Aku sungguh belum apa-apa di depan orang luar biasa itu. Ia tak silau oleh rejeki nomplok. Ia tak ditaklukkan oleh kemudahan-kemudahan memperoleh uang. Ia terhindar dari sifat rakus. Ia tetap punya darma kepada sesama manusia sebagai penjual kepada pembeli-pembelinya.

Ia bukan hanya seorang pedagang. Ia seorang manusia! *** Reporter kecil ini sebenarnya sudah sangat kuat tampil sebagai ”karya seni” yang tidak lagi memerlukan deskripsi atau tangan panjang yang merentang dijelaskannya lebih lanjut. Apalagi ia bukan reporter fiktif. Ia kejadian nyata, meskipun ia tidak akar, bisa menjadi ”big-news” di koran-koran seperti kalau seorang Panglima negara mengutuk komentar-komentar umum atas kasus Tampomas II.

Komando Jihad yang superfiktif. Adegan kecil itu berlangsung di pinggiran Muntilan, sebuah kota kecil. Tokoh-tokohnya pun kecil-kecil. Pak Cendol itu seekor teri di antara puluhan juta teri yang hanya bisa menjadi berita apabila kereta api yang mereka tumpangi tabrakan atau kapal mereka meledak dan tenggelam. Tapi soalnya, apa kira-kira bunyi refleksi ”zaman” ini atas repertoar itu. Di mripat kita yang ”modern” (’Majulah Bersama Bir Bintang’) terlihatlah betapa bodoh itu Pak Cendol.

Ia tidak realistis.

putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia

Sok moralis. Kenes. Bahkan sok arif dan snob. Kalau pelaku adegan itu ialah Anda yang berpakaian necis, Anda bisa dituduh, jangan-jangan Cuma mau cari popularitas! Akan tetapi, Pak Cendol ini berbeda dengan Yenni Rachman yang memakai gaun seharga 1,25 juta rupiah dan mengacungkan tinju angkat bicara soal keadilan sosial.

putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia

Berbeda juga dengan ironi tak terelakkan dari sebuah seminar tentang kemiskinan yang bertempat di hotel kelas satu. Atau seminar dakwah bagaimana memanfaatkan sagu sebagai makanan pokok yang diakhiri dengan dinner-party yang menyuguhkan beras istimewa serta seperangkat menu super lainnya. Berbeda juga dengan ’karya masterpiece klasik’ seorang pemimpin penganjur hidup sederhana yang meneriakkan kata-kata bijak dari atas gunung, kebun-kebun komoditas serta dari tiap atas pabrik-pabrik raksasa.

Pak Cendol sungguh-sungguh orang tepian jalan yang terlepas dari mata sejarah, meskipun sabuk antiknya bisa saja suatu hari dibeli oleh jenderal anu dari ibu kota. Sabuk antik atau batu akik dengan harga amat mahal, berkhasiat untuk memperbesar datangnya sarana modal, sehingga keuntungan meningkat, kemudian modal pun meningkat, untuk keuntungan yang akan berlipat-lipat.

Demikian jenjang tangga yang harus ditempuh oleh seorang wiraswastawan yang baik. Orang tidak boleh mandek saja dengan setiap hari bertanya ”Apa besok makan?”. Ia mesti berusaha keras untuk bisa bertanya ”Besok makan apa?”, lalu ”Besok makan di mana?”, dan akhirnya ”Besok makan siapa?” Dagang adalah dagang.

Kehidupan adalah keuntungan. Kemajuan ialah merebut peruntungan. Gobloklah siapa pun yang menolak keuntungan, seperti Pak Cendol itu. Bahkan keuntungan, keuntungan material tentu saja, haruslah menjadi satu-satunya yang substansial dalam hidup ini kalau bisa. Begitu, bukan? Cita-cita harus untuk sukses. Sukses harus dibeli, dengan ongkos apa pun. Dengan sekolah, belajar, menggenggam kerja dan kesempatan, mengeruk untuk sebanyak-banyaknya, apa boleh buat dengan sedikit atau banyak penipuan, kalau bisa halus kalau tak bisa ya kasar.

Sesekali, atau dua tiga empat kali, boleh juga dengan korupsi. Temukan sistem yang memberi peluang untuk itu. Boleh juga dengan pisau, kekuasaan, senapan.

putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia

Kita hidup bukanlah untuk gagal! Seorang mbakyu dari Srandakan Bantul menggendong sekian sisir pisang. Dijual antara 50 sampai 100 perak sesisir. Dan bayangkanlah di sebuah Hotel Lux harga itu menjadi 200 perak per biji. Ini adalah sistem. Ini adalah berkat struktur. Seorang wiraswastawan yang kreatif harus bisa menembus tabir jarak itu untuk memperoleh keuntungan yang setinggi-tingginya. Manfaatkan sistem. Jadilah makelar.

Baik makelar motor, mobil, atau makelar ide, atau makelar yang menjual kepala orang lain kepada taring harimau. Apa pun profesimu, apa pun bidang kerjamu, di mana pun tempat tinggalmu, tapi yang terpenting capailah sukses. Anak istri mesti dibikinkan rumah sendiri, kalau bisa yang luks tak kalah sama tetangga sebelah dan sedulur di kota sana. Cukupi kesejahteraan kalau perlu sampai anak turun kelak. Apa pun caranya. Perlihatkan makmur subur raharjamu.

Hidup ini yang penting sosok penampilan, gleger rumahmu, properti, dan kostum serta make up raga jiwamu. Ya tho? *** Tetapi rupanya Pak Cendol tidak sedang berdagang. Ia bukan wiraswastawan yang baik. Ia bukan pedagang yang kreatif. Maklum tak tahu Pancasila dan tak mungkin dapat giliran, ditatar P-4. Ia tak tahu bagaimana mesti hidup. Tak paham prinsip kemajuan.

Tak ngerti jenjang karier. Tak sadar mesti merangkak memperjuangkan peningkatan taraf hidup sampai ke puncak Monas yang bergelimang emas, sambil mata jeli sigap merebut setiap bayangan keuntungan yang melintas di depan hidung.

Puncak Monas, Bung, puncak Monas. Simbol dari tingkat tertinggi kejiwaan manusia: tak terguncang oleh badai, tak lapuk karena panas, tak lumutan karena hujan. Bahkan tak mungkin ditabrak Colt yang ngebut mengejar jumlah uang setoran. Pak Cendol tak paham dunia luas. Tak bisa membayangkan Jakarta.

Tak menemukan metafor bahwa hidup ini bagaikan naik lift, atau karena suratan nasib terpaksa naik tangga biasa saja. Pak Cendol hanya menengadah ke puncak candi Borobudur, lambang jiwa moksa itu. Tapi Borobudur adalah nostalgia.

Nostalgia belaka. Hanya tempat pariwisata. Tempat melancong sejenak, sejenak saja. Pak Cendol tak tahu itu semua. Ia hanya orang yang setia kepada orang-orang lain teman hidupnya di alam semesta ini. Kepada para pembeli yang merupakan bagian yang erat dari komunitasnya.

Ia hanya seorang manusia. Ia hanya menjalankan—tanpa pengertian yang rasional-intelektual—naluri kemanusiaannya untuk memelihara keutuhan, keseimbangan, keadilan, dan kebersamaan. Ia berdagang, tapi bukan dagang itu sendiri esensi perbuatannya. Dagang hanya suatu jalan, suatu jalur, suatu lorong menuju titik yang lebih inti dari proses manusianya. Untuk manusia Jawa seperti Pak Cendol ini, tujuan adalah jalan itu sendiri, sebab dalam mengalami jalan itu ia berada secara satu dengan jagatnya, Gustinya.

Sehingga titik yang dituju itu ”berada” di dalam dirinya sendiri. Sikapnya kepada Sang Kiai itu adalah suatu sujud, samadi, demi kerinduannya terhadap Guru Sejati, inti yang berada dalam dirinya sendiri. Pak Cendol sendiri pastilah tidak tahu perumusan semacam ini. Ia hanya mengalami saja.

Ia hanya hidup, melakoni secara alam saja. Ia ’tidak akan pernah maju’: Fuji Kodak akan tetap menangkap baju kumalnya sepanjang tahun sampai akhir ajalnya. Ia juga bukan tampil sebagai cuatan, alienasi, atau suatu fenomena di tengah galau zaman yang sama sekali sudah menjadi lain. Tidak tertimbun. Terkubur. Mungkin ia sudah ”tidak ada”. Ia hanya sisa lagu monoton dari sayup masa lalu. Deru Boeing 747 dan perjudian buah-buah catur sistem dan struktur nilai modern menggilasnya, mengibaskannya lenyap ke angkasa.

Pak Cendol adalah seonggok batu kuno yang terlindas ban-ban mobil dan truk kemudian terlempar ke dasar sungai yang curam. Sangat boleh jadi ia juga bukan sebuah prasasti. Masa lalu itu mungkin saja tidak akan ada yang bakal menemukannya kembali.

*** Pak Cendol barangkali tidak dilemparkan. Ia hanya terlempar. Abad ini bukanlah milik orang yang tak praktis, tak prospektif, tak dinamis.

Orang macam ini jumud, beku, mandek. Persis warung Gua Hira kecil di plengkung Ngasem Yogya yang begitu-begitu terus keadaannya dari tahun 1946 sampai sekarang.

Yu Reso di seberang rumah sakit Pugeran menganggap warungnya sebagai ”kesenian” yang ia nikmati betul. Ia buka warungnya kapan saja ia mau, terkadang pukul 22.00, terkadang pukul 02.00, kapan saja ia syuur. Ia tidak kelihatan putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia meningkatkan langganannya putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia dengan kepekaan terhadap mekanisme pembeli. Paralel dengan susur dan keningnya: ia kunyah dan kulum kapan saja ia suka.

Para langganan pembeli pun tidak menuntut ”disiplin waktu” darinya, atau turut menikmati ”kesenian” ini sehingga tercipta irama kebersamaan yang khas. Berjualan tidak identik dengan berdagangnya baginya—kalau saja Yu Reso bisa merumuskan konsepnya sendiri.

Berjualan, seperti juga bernapas, mandi, istirahat, sembahyang, dikerjakan kapan saja ia ”in”. Sebab sembahyang tanpa niat murni, tanpa kondisi ”in”, berarti dipaksakan. Dan dipaksakan itu sia-sia.

Yu Reso ini suatu tipologi karakter yang lain, tetapi dengan Pak Cendol ia berada bersama dalam intensitas diri dan sikap bulat. Pak Wongso pemilik warung klasik di barat perempatan Wirobrajan terkantuk-kantuk sepanjang malam tatkala meladeni tamu-tamu pembeli jualannya.

Kalau kau mau cari nasi atau rondo-kemul-nya gampang sekali. Atau sikat itu rempeyek dan pisang goreng sepuluh biji, nanti bilang saja cuma habis tiga. Pak Wongso tak akan menangkap basah setiap pencuri. Ia ‘ ‘fly” terus. Ia pasti sudah bayangkan kemungkinan pencurian itu, tapi ia pasrah.

Putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia ketitik ala ketara. Ada piwales. Ada walat. Maka, ia ngantuk terus. Mesti pesen teh kental tiga empat kali baru dibikinkan.

Dia raih gelas, memasukkan sendok ke toples gula, sang tangan tertidur sebentar di dalamnya sampai Anda tegur untuk meneruskan kegiatannya. Ia mengambil ceret air panas dan menumpahkan air itu ke gelas itu sambil tidur hingga meluber dan air panas itu melimpah menciprati pahanya, baru ia terbangun kembali. Ia mengembalikan uang kembali Anda dengan mengantuk.

Mungkin saja ia memberikan lembaran ribuan untuk yang seharusnya ratusan. Bu Wongso setali tiga uang. Mencuci gelas dan piring dengan ”fly” juga. Besok pagi tiba-tiba mereka lenyap tak berjualan sampai beberapa lama. Ternyata pulang mudik. Ke daerah Madiun, jalan kaki. Kok tidak naik bus atau sepur? ” Wong jalan kaki saja bisa kok, repot-repot naik bis, nak!” Ini sebuah batu purba juga, bukan? Pak Wongso berjualan tidak dengan keketatan disiplin bisnis. Berjualan adalah wujud ungkapan hidupnya, lengkap dengan integritasnya, moralitas, kesetiaan.

Bahkan wujud kesatuan dan kepasrahannya dengan Kang Murbeng Dumadi. Eksistensi ialah ”lenyap” ke Sang Nya itu. Sehingga perlakuan para penipu itu terpulang kepada-Nya. Betapa keriuhan hidup dunia ini ”tak terlampau penting”, betapa sementara, amat sementara.

Pak Wongso tidak gandrung terhadap Dewa Kemajuan. Di Parangkusuma Parangtritis, Pak Amat meninggal dunia beberapa waktu yang lalu dengan tetap pada sikap kulturalnya: Silakan Mas menginap di kamar-kamar jelek yang saya sediakan ini tanpa bayar, cukup mengganti beras dan lauk pauk yang akan saya suguhkan kepada Mas.

Tentu saja pola integritas semacam ini dungu dan tidak menguntungkan. Tentu saja usahanya ”tak berkembang”. Ia tak berusaha membangun penginapannya menjadi lebih representatif, kalau perlu menjadi semacam losmen yang mendatangkan banyak income.

Tetapi mungkin saja ada sesuatu yang lain berkembang pada hidup Pak Amat, di sisi keuangannya yang tak berkembang. Pak Amat nampaknya memang tidak sedang melakukan suatu usaha dagang dalam konteks ekonomi seperti yang kini dianut orang banyak. Ia sekadar melakukan upaya pengakraban, penyatuan, kebersamaan, kesetiaan, pengabdian, komitmen, solidaritas terhadap sesama jagat yang lebih riil bagi dirinya.

Disadari atau tidak. Seperti juga Pak Cendol, Yu Reso, Bu Gua Hira, Pak Wongso, Pak Amat tidak berdagang buat berdagang. Secara naluri dan tradisi, mereka mungkin melakukan sesuatu yang lebih tinggi, paling tidak sesuatu yang lain.

Seperti juga orang-orang Jawa itu nonton wayang, tidaklah dalam rangka ”nonton kesenian”. Tidak untuk berhenti pada wayang itu sendiri. Melainkan untuk meneguhkan kembali sesuatu yang lebih dalam, lebih inti, dan lebih murni dalam jiwa manusia mereka. Mungkin falsafah nilai, mungkin sikap hidup, mungkin kekariban bersama.

putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia

Mungkin nonton wayang ialah semacam latihan memelihara keyakinan akan kebenaran, memelihara kesatuan dengan Yang Lebih Inti daripada yang nampak sehari-hari. Meneguhkan kembali keyakinan itu, menggarisbawahi, menjustifikasi, menyatakan sumpah kembali secara diam-diam dalam batin jiwa, segala komitmen kemanusiaan mereka.

Lebih dari itu mereka memang bukanlah manusia modern yang mampu mengungkapkan kepada masyarakat lingkungannya sikap dan ’agama’-nya itu. Mereka juga bukan mahasiswa Fakultas Anu yang bisa me- release di mass media serta mengabadikan di kaos-kaos kenangan mereka segala kegiatan masyarakat mereka yang luhur; yang tidak boleh tidak harus dicatat oleh sejarah betapa lebih dekatnya mereka dengan Pancasila beserta P-4nya.

Bukan pula pimpinan Yayasan Lotre Nasional yang mendengungkan betapa melimpah bantuan mereka kepada anak-anak yatim piatu. Atau bukan pula seorang Menteri Perhubungan yang meskipun sekian ratus orang terkubur di lautan oleh kapal penumpang yang tenggelam, tak bakalan mengundurkan diri dari jabatannya, justru untuk lebih menunjukkan darma baktinya kepada negara dan bangsa. Pak Cendol hanya Pak Cendol, yang tak tahu ekshibisi. Yu Reso hanya Yu Reso, yang bekerja begitu saja, Pak Amat hanya Pak Amat, yang tak membanggakan kerja, Pak Wongso hanya Pak Wongso, yang tak menyadari nilai kepahlawanannya.

Atas nama apa pun kita tidak akan melanjutkan kejumudan semacam itu. Kita jangan bikin zaman jadi koyak moyak. Tak cocok dengan derap abad ke-20. Sang Kiai itu memang tak akan menyuguhkan Coca Cola untuk tamu Thailand itu. Apa salahnya Coca Cola. Ia toh memberi kesegaran yang lain.

Tapi kalau kita berfoto dengan menggenggam botol Coca Cola sambil memakai surjan blangkon, memang hasil potret jadi lain. Jadi baur identitas. Jadi rancu, sosok fisik kita, dan barangkali juga struktur batin kita. Tetapi Coca Cola ada di mana-mana, putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia saja, dan siapa saja. Tak bisa kita elakkan, dan memang tak perlu dielakkan. Cuma kita belum menguasainya. Belum menggenggamnya, sebagai fenomena baru yang bisa mematangkan kesempurnaan manusia kita.

Kita masih digenggamnya. Demikian ’ paribasan’nya. [] Sumber : CakNun.Com Top Ad INIPASTI.COM Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) dilanda banjir imbas hujan lebat yang turun cukup lama sejak Sabtu 25 Desember 2021 dini hari hingga memakan korban jiwa. Salah satu korban banjir adalah Sulasih (47) di kawasan Jalan Dipo, Lorong Sulawesi, Kelurahan Kertapati yang meninggal dunia akibat terseret banjir. Sulasih adalah pengemudi ojek online yang tergabung dalam ‘Asosiasi Driver Online-ADO’ Palembang.

Dilansir di laman CNN, Selain Sulasih, korban lain adalah Azili (53) di Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarame yang meninggal dunia akibat tersengat aliran listrik pada saat rumahnya terendam banjir.

Korban banjir itu adalah Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.

putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia

Banjir Palembang dan Tanah Longsor Lahat, Tak Ada Korban Jiwa Mengutip Antara, Wali Kota Palembang Harojoyo mengatakan hujan yang turun cukup ekstrem sehingga terjadi genangan air yang cukup tinggi di sejumlah kawasan permukiman penduduk dan jalan protokol.

Sejumlah kawasan permukiman penduduk dan beberapa ruas jalan protokol di Kota Palembang, Sumatera Selatan, terendam banjir hingga sekitar 50 centimeter lebih akibat hujan lebat berlangsung beberapa jam sejak Sabtu 25 Desember 2021 dini hari hingga pagi.

Hujan di Kota Palembang, yang berlangsung hingga Sabtu pukul 10.00 WIB, mengakibatkan drainase, kolam retensi dan anak Sungai Musi meluap dan merendam/menggenangi beberapa lokasi permukiman penduduk dan ruas jalan protokol.

Kawasan pemukiman penduduk yang tergenang seperti di kawasan Sekip, Demang Lebar Daun, Angkatan 66, Kertapati, Dwikora, dan beberapa ruas jalan seperti di kawasan Jalan Kolonel H Barlian, Soekarno Hatta, Basuki Rahmad, R Sukamto, Mayor Ruslan. Jalan Kapten A Rivai akses ke kantor Gubernur Sumsel, dan Jalan Supeno kawasan kambang Iwak sekitar rumah dinas Wali Kota Palembang dan sejumlah tempat lainnya.

Air hujan yang menggenangi beberapa ruas jalan protokol dan kawasan permukiman penduduk tersebut, mengakibatkan pula arus lalu-lintas mengalami kemacetan panjang serta tidak sedikit kendaraan roda dua dan empat mogok karena mesin kemasukan air.

Seorang warga kawasan Sekip, Fatma mengatakan hujan yang turun cukup lama pada akhir pekan putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia menggenangi jalan akses menuju ke kawasan pemukiman tempat tinggalnya serta sejumlah rumah warga sekitar kawasan yang terdapat Sungai Bendung itu.

Genangan air hujan tersebut biasa terjadi, melihat kondisi ini pihaknya mengharapkan kepada Wali Kota Palembang membuat program pengendalian banjir yang lebih baik sehingga pada saat hujan lebat turun tidak menimbulkan genangan air di mana-mana, kata warga.

Pemkot Palembang memohon maaf kepada seluruh warga kota atas banjir yang terjadi kali ini dan akan dilakukan perbaikan sistem pengendalian banjir dengan menambah kolam retensi dan fasilitas pendukung lainnya. Kepala Bagian Operasi Basarnas Palembang Agus Mujiono mengatakan, ada sebanyak 250 warga yang dievakuasi di Graha Sukawinatan, Jalan Perjuangan, Kelurahan Sukajaya Kecamatan Sukarame, Palembang karena rumah mereka digenangi air setinggi lebih dari 100 cm.

Mereka yang dievakuasi terdiri atas anak-anak, lansia dan ibu hamil menggunakan perahu karet secara bergiliran dari rumah ke tempat yang lebih aman (syakh/cnn) • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) • Click to share on Tumblr (Opens in new window) • • Click to share on Pinterest (Opens in new window) • Click to share on Pocket (Opens in new window) • • Click to share on Skype (Opens in new window) • Click to share on Reddit (Opens in new window) • • Click to print (Opens in new window) •
Berikut tiga kabar yang dirangkum, sebagaimana dilansir di laman CNN, dalam Kilas Internasional pagi ini: • Vladimir Putin: Hina Nabi Muhammad Bukan Ekspresi Kebebasan Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan penghinaan terhadap Nabi Muhammad tidak bisa dianggap sebagai ekspresi kebebasan seni.

Putin menyebut penghinaan terhadap nabi adalah pelanggaran kebebasan beragama. Dalam konferensi pers akhir tahun dikutip dari TASS, Putin juga mengkritik unggahan foto Nazi di situs web seperti yang berjudul Resimen Abadi dan didedikasikan untuk Rusia yang tewas dalam Perang Dunia Kedua.

Putin mengatakan tindakan ini menimbulkan pembalasan ekstremis seperti serangan terhadap kantor redaksi majalah Charlie Hebdo di Paris setelah penerbitan kartun nabi. • Uskup Agung Afsel Desmond Tutu Meninggal Dunia di Usia 90 Desmond Tutu, seorang Uskup Agung berkulit hitam pertama di Afrika Selatan, meninggal dunia pada usia ke-90. Kabar duka ini disampaikan langsung oleh Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa pada Minggu 26 Desember 2021.

Tidak hanya seorang Uskup Agung, Desmond bahkan pernah menerima Nobel Peace Prize pada 1984. Anugerah tersebut diberikan lantaran ia berperan aktif memerangi apartheid dan orang Afrika Selatan terakhir yang menerima penghargaan tersebut.

putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia

Ia juga memegang peran penting dalam masa transisi pada era apartheid. Desmond juga pernah mengabdi di bawah pemerintahan Presiden Nelson Mandela sebagai Ketua Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. • Flu Burung Merebak di Israel, 2.000 Bangau Liar Mati Wabah flu burung menewaskan lebih dari 2.000 burung bangau liar di cagar alam di Israel utara.

putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia

Jumlah bangau yang mati itu terbilang luar biasa tinggi untuk flu musiman. Melansir AFP, seorang spesialis di Otoritas Taman dan Alam Israel Ohad Hatsofe mengatakan sebanyak 10.000 bangau lainnya kemungkinan telah terinfeksi flu burung.

Virus itu mempengaruhi Israel setiap tahun, tetapi wabah tahun ini jauh lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya, kata Uri Naveh, seorang ilmuwan senior di otoritas tersebut (syakh/cnn) • Click to share on LinkedIn (Opens in new window) • Click to share on Tumblr (Opens in new window) • • Click to share on Pinterest (Opens in new window) • Click to share on Pocket (Opens in new window) • • Click to share on Skype (Opens in new window) • Click to share on Reddit (Opens in new window) • • Click to print (Opens in new window) • Share on Pinterest Share (Wartamuslimin) — Sultan Alauddin Ri’ayat Syah pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam mengirim surat kepada Turki Utsmani yang dipimpin Sultan Sulaiman al-Qanuni.

Dalam suratnya Sultan Alauddin Ri’ayat Syah meminta bantuan untuk menghadapi Portugis yang sedang merebut bandar-bandar atau kota pelabuhan dan akan menyerang Aceh Darussalam. Beberapa tahun kemudian Turki Utsmani mengirim 15 kapal perang kecil dan dua kapal perang besar beserta pasukan militer dan perlengkapannya ke Aceh Darussalam.

Semua kapal perang dan pasukan tersebut dipersiapkan untuk membantu Aceh Darussalam melawan Portugis. Surat dari Sultan Aceh Darussalam ke penguasa Turki Utsmani diabadikan dalam buku Turki Utsmani-Indonesia Relasi dan Korespondensi Berdasarkan Dokumen Turki Utsmani yang diterbitkan Hitay tahun 2017. Pada arsip I buku tersebut, dijelaskan isi surat Sultan Aceh Darussalam kepada Sultan Sulaiman al-Qanuni. Di dalam suratnya, Sultan Alauddin Ri’ayat Syah menyampaikan bahwa Kesultanan Aceh Darussalam tidak memiliki perlindungan atau tempat mengadu selain kepada Kesultanan Turki Utsmani.

Aceh Darussalam percaya seandainya Turki Utsmani mengetahui mereka sedang berperang atas nama Allah melawan penjajahan, mungkin saja Turki Utsmani akan membantu. Sebab menolong Islam adalah tanggungjawab sultan yang baik.

putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia

Sultan Alauddin Ri’ayat Syah dalam suratnya juga menyampaikan, mengharapkan bantuan tentara, senjata dan ahli-ahli yang memiliki pengalaman perang dari Turki Utsmani. Aceh Darussalam juga meminta bantuan agar Turki Utsmani mengirim kuda-kuda terlatih dan para ahli untuk membangun benteng, membuat meriam dan kapal perang.

Untuk itu, Aceh Darussalam meminta bantuan atas nama Allah dan Nabi agar Turki Utsmani mengirim bantuan itu untuk berjihad bersama mengalahkan kaum kafir. Apabila Turki Utsmani tidak mengirim bantuan, kaum kafir akan tetap mengancam dan mengganggu di rute pelayaran jamaah haji dari Asia Tenggara. Selain itu, kaum kafir juga telah merebut wilayah-wilayah Muslim di sekitar Aceh dan Selat Malaka. Mereka akan segera menyerang Aceh Darussalam.

Namun, bantuan untuk Aceh Darussalam baru bisa dikirim oleh Sultan Selim II anak dari Sultan Sulaiman al-Qanuni. Karena saat surat permohonan bantuan dari Sultan Aceh Darussalam tiba di Turki Utsmani, Sultan Sulaiman al-Qanuni sedang berperang bersama pasukannya di Hongaria. Saat di Hongaria, Sultan Sulaiman al-Qanuni meninggal dunia karena sakit.

Pada tahun 1566 M, Sultan Selim II menggantikan kedudukannya. Selanjutnya Sultan Selim II membalas surat Sultan Alauddin Ri’ayat Syah. Di dalam suratnya, dia menyampaikan Turki Ustmani menyiapkan 15 kapal perang kecil dan dua kapal perang besar. Selain itu, Turki Utsmani juga menyiapkan peluru meriam, peluru meriam kecil, bubuk mesiu, 300 kapak dan 300 sekop.

putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia

Di dalam kapal ada kapten kapal, ahli senjata, prajurit, awak kapal, peralatan perang, senjata dan amunisi yang lengkap. Gaji setahun untuk tentara sudah dibayar dan perbekalan gandum untuk setahun diangkut ke atas kapal agar tidak kekurangan makanan selama perjalanan. Pimpinan utusan dari Turki Utsmani ini diserahkan ke Kurdoglu Hizir yang telah ditunjuk sebagai kapten dan Seraskier panglima perang pasukan militer yang dikirim ke Aceh Darussalam pada tahun 1568-1569 M.

Ketua Umum Lembaga Masyarakat Peduli Sejarah Aceh, Mizuar Mahdi menerangkan, Sultan Aceh Darussalam menyampaikan kepada Sultan Turki Utsmani bahwa Portugis merebut bandar-bandar dengan membawa misi-misi lain. Sebagai buktinya, masyarakat Muslim di Manila bagian utara Filipina sebagian besar murtad oleh Spanyol.

Mizuar juga menceritakan, di masa lalu Selat Malaka adalah wilayah paling strategis yang dulunya dikawal dan dikontrol oleh Muslim. Ketika Selat Malaka diganggu atau direbut oleh Portugis, proses pengiriman calon jamaah haji dari berbagai daerah melalui jalur ini terganggu.

“Jadi perjuangan Aceh Darussalam melawan Portugis juga demi umat Islam dari berbagai wilayah agar bisa menunaikan ibadah haji dengan aman melalui Selat Malaka,” tukas Mizuar. Menurutnya, bila Selat Malaka dikuasai Portugis maka urusan kesultanan dengan dunia Islam di berbagai penjuru dunia juga ikut terganggu. Inilah sebabnya menyerang Portugis menjadi agenda utama Kesultanan Aceh Darussalam untuk kepentingan umat Islam.

“Jadi menyerang Portugis adalah agenda paling utama Kesultanan Aceh Darussalam selama seratus tahun lebih, karena memang Portugis sebelumnya merebut bandar-bandar yang dulunya dikelola masyarakat Muslim,” jelasnya.

Mizuar menerangkan, ketika utusan dari Turki Utsmani tiba di Aceh Darussalam untuk membantu perjuangan melawan penjajah. Pada saat itu mulai ditempah meriam besar buatan Turki Utsmani yang diajarkan ke orang-orang Aceh. Sehingga Aceh bisa menciptakan meriam-meriam bercorak Turki. Sebagian dari utusan Turki Utsmani menetap di wilayah Aceh Darussalam.

putin soroti penghina nabi hingga uskup agung afsel meninggal dunia

Sementara, sebagian lagi kembali ke Turki Utsmani setelah selesai melaksanakan tugas dan kewajibannya. “Sejak saat itu hubungan Kesultanan Aceh Darussalam dan Turki Utsmani terus berlanjut,” pungkasnya. Sumber: Republika
Jakarta, Indonesia — Berita soal Presiden Rusia Vladimir Putin menyoroti aksi menghina Nabi Muhammad jadi berita hangat hingga pagi ini.

Begitu pula berita Uskup Agung asal Afrika Selatan, Desmond Tutu, meninggal dunia jadi salah satu berita yang ramai. Berikut tiga kabar yang dirangkum dalam Kilas Internasional pagi ini: Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan penghinaan terhadap Nabi Muhammad tidak bisa dianggap sebagai ekspresi kebebasan seni.

Putin menyebut penghinaan terhadap nabi adalah pelanggaran kebebasan beragama. Dalam konferensi pers akhir tahun dikutip dari TASS, Putin juga mengkritik unggahan foto Nazi di situs web seperti yang berjudul Resimen Abadi dan didedikasikan untuk Rusia yang tewas dalam Perang Dunia Kedua.

Putin mengatakan tindakan ini menimbulkan pembalasan ekstremis seperti serangan terhadap kantor redaksi majalah Charlie Hebdo di Paris setelah penerbitan kartun nabi. Desmond Tutu, seorang Uskup Agung berkulit hitam pertama di Afrika Selatan, meninggal dunia pada usia ke-90.

Kabar duka ini disampaikan langsung oleh Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa pada Minggu (26/12). Tidak hanya seorang Uskup Agung, Desmond bahkan pernah menerima Nobel Peace Prize pada 1984.

Anugerah tersebut diberikan lantaran ia berperan aktif memerangi apartheid dan orang Afrika Selatan terakhir yang menerima penghargaan tersebut. Ia juga memegang peran penting dalam masa transisi pada era apartheid. Desmond juga pernah mengabdi di bawah pemerintahan Presiden Nelson Mandela sebagai Ketua Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Wabah flu burung menewaskan lebih dari 2.000 burung bangau liar di cagar alam di Israel utara.

Jumlah bangau yang mati itu terbilang luar biasa tinggi untuk flu musiman. Melansir AFP, seorang spesialis di Otoritas Taman dan Alam Israel Ohad Hatsofe mengatakan sebanyak 10.000 bangau lainnya kemungkinan telah terinfeksi flu burung.

Virus itu mempengaruhi Israel setiap tahun, tetapi wabah tahun ini jauh lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya, kata Uri Naveh, seorang ilmuwan senior di otoritas tersebut. (tim/bac) [Gambas:Video ] Recent Posts • Polwan dan Pendeta di Ambon Digerebek Terkait Dugaan Perzinaan • Garam Termahal di Dunia Ada di Korea, Harganya Rp1,4 Juta per 250 Gram • Anggota TNI Kodam Jaya Bertarung Lawan 9 Begal di Kebayoran Baru • Timnas U-23 vs Timor Leste: Peluang Emas Pepet Vietnam • Arab Saudi Beberkan Kondisi Raja Salman usai Masuk RS

Intelijen AS Dalang Dibalik Penyerangan Kapal Rusia, Ikut Ukraina Bunuh Jenderal




2022 www.videocon.com